Saung Angklung Udjo, Bergoyang Mulai 1966

Saung Angklung Udjo Bandung melestarikan budaya dengan cara gembira. Foto: Saung Angklung Udjo

Saung Angklung Udjo puluhan tahun menjadi salah satu identitas budaya tradisional Sunda di Bandung, Jawa Barat. Utamanya, tentu, mengenalkan alat musik khas masyarakat Sunda, yakni angklung. Di sini tak sekadar pertunjukan, pengunjung juga dapat belajar tentang sejarah angklung, cara memainkannya, serta menonton beragam pertunjukan seni tradisional Sunda.

Saung Angklung Udjo

Sejatinya, tempat ini didirikan sebagai upaya edukasi dan pelestarian budaya tradisional Sunda, termasuk seni musik angklung. Dengan format yang ringan, sederhana dan menyenangkan bagi pengunjungnya, diharapkan semakin banyak yang tertarik melestarikan budaya tersebut.

Didirikan pada 1966, tempat ini memiliki panggung serta etalase untuk memamerkan alat musik tradisional seperti angklung, calung, arumba dan lain lainnya. Selain itu, karya seni lainnya seperti lukisan dan sebagainya kerap dipamerkan pula di sini.

Adalah seorang seniman tradisional Sunda bernama Udjo Ngalagena yang merasa tergerak untuk berkontribusi lebih besar pada kesenian yang membesarkan namanya serta memberinya penghidupan. Sebagai tanda kontribusinya, ia pun mendirikan tempat ini.

Angklung sendiri merupakan salah satu alat musik tradisional Sunda yang diyakini muncul pertama kali sekitar abad ke-12. Angklung lazim digunakan dalam ritual budaya dan keagamaan di masa kerajaan kala itu.

Saung Angklung Udjo ikut mengembangkan teknik permainan angklung.
Alat musik angklung seperti yang diajarkan di Saung Angklung Udjo Bandung. Foto: dok. shutterstock

Salah satu ritual tersebut dilakukan bagi para kaum tani. Pada masa kerajaan Hindu, kepercayaan masyarakat kala itu meyakini bahwa permainan angklung akan membawa berkah dari Dewi Sri, dewi kesuburan. Harapannya, pertanian mereka selalu subur dan sukses panen.

Angklung digunakan pula sebagai penanda perang atau keadaan bahaya. Dan pada perkembangannya, ia juga digunakan dalam pertunjukan musik yang diselenggarakan kerajaan saat itu. Dari situlah, budaya seni musik angklung berlanjut hingga kini.

Alat musik ini terbuat dari bambu yang dibuat menyerupai pipa-pipa yang tersangga. Untuk memainkannya, angklung digoyangkan agar badan pipa bambu tersebut berbenturan dan menimbulkan suara.

Setiap angklung memiliki nada yang berbeda-beda, sehingga dibutuhkan lebih dari satu angklung untuk dapat membuat sebuah pertunjukan musik. Oleh karena itulah seni musik angklung biasanya dimainkan secara ensemble.

Nama angklung sendiri disebut berasal dari sebuah istilah dari bahasa Sunda yaitu angkleung-angkleung, yang kurang lebih artinya gerakan yang mengikuti irama. Ini didasari pada cara memainkan angklung yang digoyang-goyangkan.

Secara etimologi, angklung juga disebut berasal dari kata angka yang berarti nada dan kata lung yang berarti patah atau putus. Ini merujuk pada jenis suara yang dikeluarkan oleh alat musik ini biasanya cenderung putus-putus atau hanya satu kali suara.

Walaupun angklung biasanya dimainkan dengan cara digoyangkan, tetapi ada juga teknik-teknik lain, seperti misalnya cetok yang berarti pipa bambu ditarik-tarik dengan cepat. Atau tengkep dimana salah satu pipa bambu ditahan saat digoyangkan.

Pada 1938, seorang maestro angklung bernama Daeng Soetigna menciptakan angklung dengan nada diatonis. Angklung jenis ini dapat memainkan lagu-lagu dengan kunci dan tangga nada pada umumnya, sehingga bisa digunakan pada orkestra sekalipun.

Angklung jenis inilah yang kemudian paling dikenal secara luas hingga kini. Udjo, yang kebetulan merupakan sang murid pada saat itu pun kemudian turut membantu mempopulerkan jenis serta kesenian alat musik ini.

Namun seperti halnya kebanyakan seni budaya tradisional pada umumnya, perkembangan zaman menjadi tantangan berat dalam melestarikannya. Kekhawatiran inilah yang membuat pria yang akrab dipanggil mang Udjo tersebut memutuskan mendirikan Saung Angklung Udjo.

Di tempat ini ia pun mengembangkan teknik-teknik permainan angklung, serta rajin menggelar pertunjukan seni musik angklung. Bersama sang istri, Uum Sumiati, ia dengan giat mengelola tempat ini dalam upaya mempopulerkan kesenian tersebut agar tak punah dimakan waktu.

Baginya, Saung Angklung Udjo didirikan agar menjadi pusat pertunjukan seni budaya tradisional seperti angklung dan lain lainnya yang mampu menarik banyak pengunjung. Tetapi lebih dari itu, ia juga ingin tempat ini berfungsi sebagai media edukasi bagi setiap pengunjungnya.

Pada perkembangannya Saung Angklung Udjo pun menjadi pusat pertunjukan, pengembangan dan edukasi bagi seni musik angklung serta kesenian tradisional Sunda lainnya. Bahkan setelah mang Udjo tutup usia pada tahun 2001, tempat ini terus dikelola oleh anak-anaknya.

Saung Angklung Udjo Konser Saung Angklung Udjo
Salah satu pertunjukan di Saung Angklung Udjo, di mana penonton kadang ikut tampil. Foto: Saung Angklung Udjo

Satu ciri khas dari Saung Angklung Udjo adalah pertunjukan yang biasanya diadakan pada sore hari. Biasanya setiap jam 15.00 hingga jam 17.00 tempat ini mengadakan beragam pagelaran seni budaya Sunda seperti angklung, arumba, tari topeng, sampai wayang golek.

Begitu padatnya pengunjung yang berminat menonton pertunjukan ini, beberapa kali diadakan pula pertunjukan pada pagi atau siang hari. Pada 1995 pun dibangun panggung yang cukup besar yang mampu menampung kapasitas sekitar 500 orang.

Tak hanya itu, beberapa kali seniman-seniman dari Saung Angklung Udjo ditanggap untuk tampil di tempat lain dalam berbagai acara. Yang lebih hebat lagi, beberapa di antaranya bahkan berlangsung di luar negeri.

Selain menghidupi seniman-seniman yang berkarya di sana, Saung Angklung Udjo juga menjadi sumber rejeki bagi para pengrajin alat musik tradisional Sunda. Di tempat ini pengnjung juga bisa membeli dan/atau memesan beragam jenis alat musik tradisional tersebut sebagai souvenir.

Selain menjual dan mempromosikan, tempat ini juga berkomitmen untuk membantu para pengrajin agar senantiasa mendapatkan bahan baku terbaik. Ditambah lagi, mereka juga memberi pelatihan agar kualitas alat musik buatan mereka senantiasa baik.

Sesuai dengan semangat ‘memberi kembali’, banyak warga lokal sekitar yang diberdayakan menjadi pengrajin. Selain itu, beberapa dari penghasilan tempat ini juga disisihkan untuk membiayai pendidikan anak-anak kurang mampu di sekitarnya.

Kalau tertarik untuk berkunjung, harga tiket masuknya Rp 60 ribu untuk hari biasa dan Rp 70 ribu pada akhir pekan. Untuk wisatawan mancanegara, harga tiketnya menjadi 110 ribu saat weekdays dan Rp 120 ribu kala weekend.

Selain pertunjukan seni tradisional Sunda serta edukasi tentang kesenian Sunda, di tempat ini juga disediakan beragam jenis hidangan ala Sunda. Cocok bagi yang ingin santap siang sekaligus menikmati setiap pengalaman yang ditawarkan tempat ini.

Adapun harga souvenir seperti angklung beragam dari ukurannya. Untuk yang berukuran besar dihargai Rp 300 ribu, sedangkan yang berukuran sedang harganya Rp 250 ribu. Selain itu ada pula alat musik lain, misalnya gambang yang dijual Rp 275 ribu.

Saung Angklung Udjo buka dari jam 08.00 hingga jam 17.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (022) 7271714 atau via email info@angklung-udjo.co.id serta mengunjungi situs resmi angklungudjo.com dan akun Instagram resmi @angklungudjo.

Saung Angklung Udjo

Jl. Padasuka no. 118, Bandung

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Museum UGM, 1 Kenangan Masa Kecil Obama

Museum UGM Yogyakarta menjadi tempat pembelajaran bagi generasi muda.

Museum UGM atau Museum Universitas Gadjah Mada di kawasan Bulaksumur, Yogyakarta, mungkin nyaris luput dari pantauan wisatawan Indonesia. Bisa jadi karena museum belum merupakan spot destinasi wisata yang digandrungi para pelancong. Bisa pula karena spot ini masih belum banyak yang mengetahuinya.

Museum UGM

Padahal, Museum UGM sudah berdiri dan terbuka untuk umum sejak 2013. Hampir sepuluh tahun. Ada sejumlah atraksi di dalam museum ini yang menarik. Mulai dari sejarah berdirinya salah satu universitas terbesar dan tertua di Indonesia ini, hingga satu spot kecil tentang mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Indonesia sangat lekat dalam ingatan mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Sebab ia pernah menikmati masa kecilnya di negeri ini. Kenangan akan jejak-jejak Obama itu terbingkai di beberapa tempat. Misalnya sebuah sekolah dasar di kawasan Menteng, Jakarta. Atau, sebuah rumah di kawasan perumahan dosen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Museum UGM menjadi saksi pernah disinggahinya kawasan Bulaksumur UGM oleh Obama.
Salah satu kamar tempat Barack Obama pernah menginap. Foto: dok. MuseumUGM.ac.id

Salah satu tempat yang mengabadikan kenangan masa kecilnya adalah Museum Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulak Sumur, Yogyakarta. Eks perumahan dosen  pergutuan tinggi negeri itu yang kini disulap menjadi ruang edukasi. Salah satunya dulu merupakan tempat tinggal paman tiri Obama, Profesor Iman Sutiknjo.

“Dulu, ketika libur sekolah, Obama sering menginap di sini,” kata Uun, edukator Museum UGM, saat ditemui di Yogyakarta. Ia lalu mengantarkan sejumlah tamu menuju sebuah ruangan khusus yang dinamai Ruang Obama.

Ruang yang lebih mirip kamar berukuran 3×4 meter itu seperti mesin waktu. Aura masa lampau alias tempo dulu begitu terasa. Apalagi di dalam kamar ini berisi barang-barang kuno, seperti tempat tidur kayu, kasur ukuran single, meja dan kursi belajar, serta kumpulan foto masa kecil sang mantan presiden.

Konon, kamar itulah yang sering ditinggali Obama selama ia berlibur di kota pelajar. Sebuah ruangan yang sempat disinggahi seorang tokoh dunia.

Museum UGM tak cuma mematri kenangan masa kecil Obama. Ruangan untuk mengenang Prof. Dr. Sardjito juga dihadirkan di dalamnya. Dr Sardjito adalah rektor pertama UGM sekaligus ilmuwan pertama yang menciptakan obat calcusol. Calcusol terkenal sampai sekarang sebagai obat penyembuh batu ginjal berharga murah.

Di Ruangan Sardjito, tertampil benda-benda peninggalannya. Seperti radio lawas, cangkir, mesin ketik, dan meja-kursi. Ada juga patung Sardjito memakai setelan jas yang lengkap di tengah ruangan. Di sampingnya, tergantung toga dan pakaian doktornya. 

Di samping ruang khusus Sardjito, ada ruangan luas yang menyimpan benda-benda ilmiah karya para mahasiswa. Ada pula di dalam Museum UGM itu tempat khusus untuk mengenal perjalanan UGM dari masa dibangun sampai kini. 

Pendirian Museum UGM sendiri berangkat dari pertimbangan bahwa Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah universitas negeri tertua dan terbesar di Indonesia. Dalam sejarah pendiriannya, UGM tidak terlepas dari peran para tokoh pejuang dan pendiri bangsa dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia.

Museum UGM ingin mengabadikan sejumlah karya dan perjalanan universitas ini sejak berdirinya hingga kini.
Salah satu sudut Gedung Pusat UGM Yogyakarta. Foto. Dok. Unsplash

Berbagai tokoh pejuang perang kemerdekaan telah berjasa melahirkan Universitas Gadjah Mada. Maka tidak heran bila Universitas Gadjah Mada dikatakan sebagai Universitas perjuangan dan berkerakyatan.

Di samping itu, UGM juga menjadi media transformatif dalam bidang keilmuan, kemasyarakatan, dan kebangsaan. Dengan peran yang dimiliki oleh UGM tersebut telah mendekatkan diri dengan masyarakat karena telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan.

Dokumentasi yang melimpah tentang sumbangsih UGM baik dalam pengabdian masyarakat, pendidikan, dan penelitian perlu dikenalkan, dikelola, dan dibudidayakan supaya tetap terpelihara. Selain itu, dengan dokumentasi di dalam bentuk museum ini masyarakat bisa mengenal lebih dekat lagi melalui rekam jejak UGM dan sumbangsihnya dari masa ke masa.

Museum UGM menempati dua lahan eks perumahan dosen. Museum UGM terletak di Kompleks Bulaksumur, tepatnya di rumah yang berada di Blok D6 dan D7 di Kompleks Bulaksumur. Bulaksumur sendiri adalah kompleks UGM yang berada di sisi Timur Jalan Kaliurang.

Sebelum menjadi museum, kedua rumah ini merupakan tempat tinggal dua orang guru besar Universitas Gadjah Mada. Rumah D6 pernah ditinggali oleh Prof. Kardono Darmojuwono, seorang dekan Fakultas Geografi UGM. Sedangkan rumah D7 pernah ditinggali Prof. Drs. Iman Soetiknjo, seorang dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM.

Museum ini mulai dibuka untuk umum pada 2013. Para wisatawan umumnya datang saat libur lebaran atau akhir tahun. Jumlah pengunjung pada tanggal merah mencapai 100 orang per hari. Tak ada retribusi untuk masuk museum.

Jadi, meskipun bukan alumni universitas ini, tak ada salahnya mengagendakan kunjungan ke Museum UGM sekali-sekali.

agendaIndonesia

*****

Ini 3 Toko Oleh-Oleh Keren di Tasikmalaya

Ladu Tasik yang bisa diperoleh di 3 toko oleh-oleh keren di Tasikmalaya.

Ini adalah 3 toko oleh-oleh keren kala berkunjung ke kota Tasikmalaya. Kota yang dikenal sebagai kota santri itu terletak di wilayah selatan Jawa Barat. Ia dikenal sebagai salah satu pusat keagamaan di provinsi tersebut, serta sarat akan kebudayaannya yang khas, tak terkecuali ragam penganan ringan tradisionalnya yang bisa menjadi oleh-oleh menarik.

Curug Dengdeng Tasikmalaya dirparbud jabarprov
Curug Dengdeng, kalau ke sini jangan lupa mampir ke 3 toko oleh-oleh keren di Tasikmalaya. Foto: disparbud.jabarprov

3 Toko Oleh-oleh Keren di Tasikmalaya

  1. Ladu Tasik Campernik

Salah satu kudapan ringan yang identik dengan Tasikmalaya adalah kue ladu. Ladu adalah penganan bercita rasa manis yang terbuat dari beras ketan hitam, gula aren, dan parutan kelapa. Secara penampilan dan bentuknya, ia terlihat agak mirip seperti dodol Garut, melonjong seperti tabung dan bertekstur lembut.

Ladu biasanya disajikan kalau ada acara tertentu, misalnya ketika perayaan hari raya Idul Fitri. Meski demikian, ia juga nikmat sebagai cemilan saat minum teh atau kopi. Ia termasuk penganan ringan yang populer di Tasikmalaya dan beberapa daerah di Jawa Barat lainnya, namun tak mudah untuk menemukannya di banyak tempat lain, menjadikannya pilihan oleh-oleh khas yang sayang untuk dilewatkan.

Satu dari 3 toko oleh-oleh keren penjual ladu yang paling populer dan ramai dikunjungi di Tasikmalaya adalah Ladu Tasik Campernik. Saat ini ada dua cabang yang tersedia, yakni di jalan A.H. Nasution nomor 172, serta di jalan Yudanegara nomor 55. Kedua toko tersebut buka setiap harinya dari jam 08.00 sampai 19.00.

Secara mendasar, ada tiga paket yang ditawarkan kepada konsumen, yaitu paket Premium Box, Simple Box dan Family Box. Rinciannya, Premium Box yang berisi 10 buah ladu dengan harga Rp 22,5 ribu, Simple Box yang berisi 15 buah ladu dengan harga Rp 31,5 ribu, serta Family Box yang berisi 24 buah ladu dengan harga Rp 46 ribu.

  • Radja Sale

Penganan ringan tradisional lainnya yang terkenal di Tasikmalaya adalah sale pisang. Sale pisang merupakan kudapan yang terbuat dari irisan pisang yang diasapkan dan dikeringkan. Teknik ini dilakukan untuk mengurangi kadar air di dalam pisang, sehingga pisang tersebut lebih tahan lama untuk dikonsumsi.

Pisang Sale shutterstock
Pisang Sale khas Tasikmalaya yang bisa diperoleh di 3 toko oleh-oleh keren. Foto: shutterstock

Secara umum ada dua cara penyajian sale pisang, yakni sale pisang basah yang langsung disajikan setelah proses pembuatan, atau digoreng terlebih dulu dengan dibaluri tepung terigu agar terasa lebih garing. Keduanya dapat ditemukan di 3 toko oleh-oleh keren di sekitaran Tasikmalaya, seperti misal yang populer adalah Radja Sale.

Berlokasi di jalan R.E. Martadinata nomor 30, Radja Sale buka setiap hari dari jam 08.30 hingga 21.00. Tokonya berukuran agak kecil dengan produk dagangan dipajang berjejeran rapat, sehingga harus sedikit berhati-hati dan bersabar manakala toko sedang ramai pengunjung, khususnya pada akhir pekan maupun hari libur.

Produk andalannya tentu saja sale pisang, yang tersedia dalam beberapa bentuk, seperti oval yang pipih, lidah yang memanjang, atau gulung yang berukuran kecil. Sementara varian rasanya terdiri dari original dan pilihan rasa seperti wijen, keju, kacang dan susu. Semuanya dibungkus dalam kemasan berbobot 250 gram dan 500 gram.

Harganya bervariasi, mulai dari Rp 14 ribu sampai 35,5 ribu, tergantung dari pilihan rasa serta bobot kemasannya. Selain itu, terdapat pula produk seperti keripik pisang dengan varian bawang, madu dan mocca dengan harga Rp 14 ribu untuk kemasan 250 gram dan Rp 29 ribu untuk yang 500 gram. Adapun sale pisang basah tersedia dalam kemasan 250 gram seharga Rp 22,5 ribu dan 300 gram seharga 27 ribu.

  • Sentral Kue Aci Sinar Berkat

Kue aci juga termasuk salah satu kudapan yang populer di Tasikmalaya. Kue kering ini dikenal dengan cita rasa manis nan legit, serta karakternya yang renyah di luarnya, namun ketika masuk ke dalam mulut menjadi lumer dan lembut. Aci sendiri merupakan istilah bahasa Sunda bagi tepung tapioka, yang menjadi bahan dasar pembuatan kue kering tersebut.

Kue Asi atau kue Sagu Tasikmalaya IGkuekeringtasik
Kue Aci atau kue sagu khas Tasikmalaya. Foto: IG kuekeringtasik

Di beberapa daerah di Jawa Barat sendiri, aci kerap digunakan untuk membuat beragam jenis penganan ringan tradisional, seperti cilok, cireng dan tentunya kue aci, yang di tempat lain juga dikenal sebagai kue sagu. Di Tasikmalaya, toko penjaja kue aci yang terbilang kondang dan legendaris adalah Sentra Kue Aci Sinar Berkat.

Di toko yang sudah eksis lebih dari 20 tahun ini, terdapat berbagai macam varian kue aci yang dapat dipilih. Mulai dari vanilla, coklat, jahe, mocca, lemon, keju, kopi ginseng hingga susu spesial. Semua varian rasa tersedia dalam pilihan kemasan 250 gram dan 500 gram, yang kisaran harganya mulai dari Rp 19 ribu sampai 52 ribu.

Selain itu, toko yang terletak di jalan R.E. Martadinata nomor 4 itu juga menyediakan berbagai jenis produk oleh-oleh lainnya, seperti opak ketan, opak singkong kecimpring, keripik ubi ungu, keripik sukun, rengginang terasi, comring alias oncom garing, dorokdok atau kerupuk kulit sapi, dan sebagainya. Toko ini buka setiap hari dari jam 08.00 hingga 21.00.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Candi Adan-Adan, Situs Dari Abad Ke 11

Candi Adan-Adan di Kediri merupakan peninggalan dari abad 11.

Candi Adan-Adan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjadi penemuan istimewa peninggalan masa lalu selama 10 tahun terakhir. Kabupaten Kediri sendiri memang mempunyai banyak situs candi peninggalan sejarah. Salah satu situs yang istimewa adalah Situs Adan-Adan di Desa Adan-Adan Kecamatan Gurah.

Candi Adan-Adan

Situs Adan-Adan merupakan candi yang memiliki latar belakang agama Budha aliran Mahayana. Diperkirakan ukuran candi induk 28×28 meter dan luas situs diperkirakan mencapai kurang lebih 784 meter persegi, sehingga merupakan candi Budha terbesar di Jawa Timur.

Penelitian terhadap candi ini sudah dilakukan selama lima tahap oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), sejak 2016 sampai 2021. Dari proses penelitian diketahui bahwa Candi Adan-Adan dibangun dengan dua bahan utama, yakni batu bata dan batu andesit. Candi ini diasumsikan menghadap ke arah barat laut.

“Situs Candi Adan-adan memiliki karakteristik bentuk arsitektur peralihan gaya Jawa Tengah ke Jawa Timur atau ‘mata rantai’ perkembangan arsitektur candi Jawa Tengah ke Jawa Timur,” ujar Adi Suwignyo, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Candi Adan-Adan di Kediri merupakan candi Budha terbesar di Jawa Timur.

Dari sejumlah temuan dari situs, bisa terlihat teknologi pembangunan yang digunakan pendirinta dahulu. Candi ini menyerupai Candi Surowono dan Candi Tegowangi yang juga ada di Kediri. Kedua candi tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit. 

Candi Adan-Adan yang mempunyai latar belakang agama Buddha Mahayana diperkirakan dibangun pada abad ke-11 Masehi. Namun sumber lain menyebutkan bahwa candi ini didirikan bertepatan dengan masa Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur.

Sayangnya, situs yang cukup besar ini sampai terpendam terpendam dan baru saja ditemukan. Soal terendamnya ini bisa dipahami sebab di wilayah ini telah mengalami tiga kali bencana alam besar dan tiga kali pembangunan. Kendati demikian, ahli sejarah Belanda sebenarnya telah mencatatkan situs tersebut sebagai temuan candi yang terbuat dari batu bata dan batu andesit pada masa penjajahan.

Candi ini awalnya ditemukan di Kediri di mana lokasinya berdekatan dengan aliran Kali Serinjing yang menjadi aliran lahar dingin Gunung Kelud yang ada di Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah. Oleh sebab itu, ahli sejarah menamainya sebagai Candi Adan-Adan.

Sebelum penemuan itu, ditemukan adanya dua makara yang akhirnya menguatkan asumsi arkeolog bahwa dulunya pernah berdiri sebuah candi di lokasi tersebut. Kemudian, arkeolog pun melakukan ekskavasi pada tahun 2016.

Candi Adan Adan Dinas Pariwisata Kediri
Proses ekskavakasi di Situs Adan-Adan, Kediri. Foto: Dinas Pariwisata Kediri


Sesudah dilakukan penggalian, dua makara tersebut ternyata memiliki bentuk yang sempurna dengan ketinggian 2,3 meter. Makara itu sekaligus menjadi makara tertinggi dan terbesar di Indonesia.

Pada penelitian tahap selanjutnya, peneliti menemukan dua arca Buddha, yakni Arca Amithaba dengan sikap tangan dhyani mudra dan Arca Bodhisattva bagian kepala. Tak hanya itu, terdapat pula lapik arca bagian kaki dengan motif padmasana ganda serta bebatuan pada bagian candi 
Lalu pada tahap selanjutnya, yakni pada tahun 2017, kembali ditemukan Arca Dwarapala dengan ketinggian 180 sentimeter di titik yang tidak jauh dari lokasi ditemukannya dua makara. Arca tersebut terpendam di kedalaman 80 sentimeter dari permukaan tanah.

Jika melihat dari lokasi-lokasi situs yang ditemukan, Candi Adan-Adan awalnya diperkirakan memiliki luas hingga 784 meter persegi. Namun setelah dilaksanakan penelitian lanjutan, luas candi itu diyakini lebih dari luas awal tersebut.


Pada tahun 2021, tim Puslit Arkenas melakukan ekskavasi di tiga sektor, yaitu sektor utama dengan penemuan berupa struktur batu bata kuno yang merupakan bangunan candi induk. Kemudian sektor timur laut ditemukan struktur batu bata kuno yang merupakan bagian dari bangunan pendukung Candi Adan-Adan.

Yang terakhir sektor barat daya dengan hasil temuan struktur batu bata kuno yang diduga sebagai pagar ke dua dari Candi Adan-Adan. Di lokasi tersebut juga ditemukan pecahan keramik Cina abad 13-14 (Dinasti Yuan). Lalu, yang tak kalah menyita perhatian adalah ditemukannya dua buah gentong berbahan batu andesit yang saat ini disimpan di Museum Bagawanta Bhari, Kabupaten Kediri.

Melalui penyajian tiga artefak di situs Adan-adan, masyarakat dapat memperoleh informasi tentang sejarah, kebudayaan, arkeologi, teknologi dan ragam seni rupa Kediri masa lalu sehingga dapat menginspirasi untuk memajukan Kabupaten Kediri di masa depan.

Kegiatan di Situs Candi Adan-Adan saat ini masih mengambil tema Penelitian Arkeologi Situs Candi Adan-Adan Tahap ke-5 (Tinjauan Arsitektur, Religi dan Kronologi).

Situs Adan-Adan sudah tercatat dalam laporan Belanda yang memberitakan adanya gundukan candi berbentuk bata, dan beberapa komponen bangunan candi dari batu andesit berupa Makara, kepala kala, arca dwārāpala dan lain-lain.

agendaIndonesia/berbagai sumber

*****

Kerajaan Sunda Kuno, Jejak Peradaban Nusantara (Bagian 1)

Kerajaan Sundo Kuno merupakan peninggalan jejak peradaban Nusantara

Kerajaan Sunda kuno merupakan sedikit dari kerajaan di Provinsi Jawa Barat yang menorehkan kejayaannya pada catatan peradaban Nusantara. Dari serpihan-serpihan peninggalan yang masih tersisa, para pelancong akan disuguhi keanggunan budaya tradisional dan jejak romantisme masa silam.

Kerajaan Sunda Kuno

Jauh sebelum Kesultanan Cirebon, tersebutlah kerajaan besar yang tak bisa ditaklukkan oleh Majapahit sekalipun. Menurut penulis Portugis, Tome Pires, dalam catatan perjalanannya Summa Oriental, kerajaan ini menguasai separuh Pulau Jawa dan batasnya berada di Sungai Chi Manuk. Itulah Sunda Galuh atau lebih dikenal dengan Kerajaan Pajajaran.

Luasnya meliputi daerah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sisi barat Jawa Tengah. Hal yang membuatnya begitu besar dikarenakan Sunda Galuh merupakan gabungan dua imperium, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kerajaan Sunda yang terbentuk sejak abad ke-7 berpusat di Pajajaran dan beribukota di Pakuan (Bogor), sedangkan Kerajaan Galuh yang hadir sejak abad ke-8 beribukota di Kawali (Ciamis).

Pada suatu masa, salah satu putra mahkota, Jayadarma menikah dengan keturunan Kerajaan Singasari, yakni Dyah Lembu Tal. Keduanya memiliki anak bernama Raden Wijaya yang kelak mendirikan Kerajaan Majapahit. Namun apa lacur, justru pada pemerintahan cucu Raden Wijaya, yakni Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda berseteru dalam Perang Bubat. Sejak itulah, kerabat keraton Sunda ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit (Jawa).

Perang yang lebih hebat terjadi saat Sunda Galuh didesak oleh kerajaan-kerajaan Islam di sekitarnya, seperti Cirebon, Demak, dan Banten. Untuk memperkuat diri, Sunda Galuh bekerja sama dengan Portugis. Alfonso d’Albouquerque menyambut baik ajakan ini. Namun sayang, Cirebon dan Banten tetap lebih kuat, sehingga Sunda Galuh memasuki era kejatuhannya.

Berikut sejumlah jejak peninggalan Kerajaan Sunda Galuh yang masih ada dan layak dikunjungi.

Candi Cangkuang

Tak banyak peninggalan Kerajaan Sunda Galuh yang tersisa. Namun justru itulah yang membuat perjalanan ke Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut menjadi begitu bermakna. Di sana ada Candi Cangkuang yang telah dibangun pada zaman Kerajaan Galuh pada abad ke delapan.

Dari pintu masuk ke kompleks candi, pengunjung masih harus menyeberangi danau sejauh 250 meter menggunakan rakit yang sudah disediakan. Deretan pepohonan Cangkuang di segala sisi pulau siap memayungi para wisatawan dari terik matahari. Selain itu, ada pemukiman adat Kampung Pulo yang terdiri dari enam rumah yang saling berhadapan.

Ke enam rumah ini mencerminkan jumlah anak dari tokoh pendiri kampung, yaitu Embah Dalem Arief Muhammad. Dia adalah seorang tentara Kerajaan Mataram yang menyebarkan agama Islam pada penduduk Desa Cangkuang. Makamnya pun dapat ditemui di dekat area candi.

Alamat: Leuwigoong, Karanganyar, Cangkuang, Leles, Kabupaten Garut
Tarif sewa rakit
: Rp 5.000 per orang
Akomodasi: Tersedia penginapan dan bungalow dengan tarif mulai Rp 250,000 sampai Rp 300.000 per malam

Situs Ciung Wanara Karangkamulyan

Ciung Wanara adalah tokoh legenda di Jawa Barat. Ia mewarisi kesaktian dari ayahnya, seorang raja yang sudah diambil alih kekuasaannya oleh orang lain. Raja baru dan salah satu permaisuri pun merasa terancam dengan kelahiran Ciung Wanara, sehingga membuangnya ke sungai. Namun bayi itu selamat dan kelak ketika dewasa berjuang menuntut keadilan pada raja dan ratu yang lalim.

Kisah ini berlatar di Kerajaan Galuh. Karenanya, situs Ciung Wanara pun bertempat di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis yang pernah menjadi pusat aktivitas kerajaan. Begitu menjejakkan kaki di sini, kerimbunan rumpun bambu akan menyambut dengan kesejukannya.

Di balik pepohonan berumur ratusan tahun, terdapat sejumlah bangunan peninggalan Kerajaan Galuh. Di bagian depan ada Pangcalikan, yaitu batuan bertingkat segi empat yang biasanya digunakan sebagai altar pemujaan. Bagian selanjutnya adalah Sahyang Bedil, berupa ruangan batu dengan menhir di dalamnya. Ada pula tempat bernama Lambang Peribadatan dan Panyabungan Hayam, yang digunakan Ciung Wanara untuk menyabung ayam.

Alamat: Jalan Raya Banjar Ciamis, Cijeungjing, Karangkamulyan, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis
Jam buka
: 07.00–20.00

Kerajaan Sunda Kuno dengan peninggalan Prasasti Batutulis. Prasasti ini masih ada di tempat aslinya.
Prasasti Batutulis yang merupakan salah satu bukti adanya Kerajaan Sunda. Foto: Dok. Javalane

Prasasti Batutulis

Luas kompleks Batutulis hanya sekitar 17 x 15 meter, tetapi nilai historisnya sangat penting. Batu berangka tahun 1455 Saka (1533 Masehi) ini merupakan bukti keberadaan Kerajaan Sunda. Statusnya in situ, yaitu masih terletak di lokasi aslinya alias sama sekali tidak dipindahkan.

Pada batu terukir beberapa baris kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuna. Teks tersebut dibuat oleh Prabu Surawisesa untuk mencatatkan jasa dan kebesaran ayahandanya, Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi.

Alamat: Jalan Batutulis Nomor 54, Batutulis, Bogor
Jam buka: 08.00–17.00

agendaIndonesia

*****

Kerajaan Tarumanagara, Jejak Kebudayaan Nusantara (Bagian 2)

Kerajaan Tarumanagara merupakan sedikit dari kerajaan di Provinsi Jawa Barat yang menorehkan kejayaannya pada catatan peradaban Nusantara. Dari serpihan-serpihan peninggalan yang masih tersisa, para pelancong akan disuguhi keanggunan budaya tradisional dan jejak romantisme masa silam.

Kerajaan Tarumanagara

Tarumanagara pada abad keempat hingga ketujuh, geliat kehidupan penduduk di kawasan ini begitu bergelora. Pembangunan kanal dan penemuan karya sastra pada sejumlah prasasti membuktikan majunya peradabanT arumanagara.

Sejarah mengenai Kerajaan Tarumanagara tercatat secara cukup rinci dalam naskah Wangsakerta. Sayangnya, keaslian tulisan ini masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Menurut sumber tersebut, kerajaan didirikan oleh seorang Maharesi sekaligus pengungsi dari India bernama Jayasinghawarman.

Sumber valid mengenai sejarah kerajaan ini hanyalah berasal dari tulisan-tulisan pada prasastinya. Pada Prasasti Ciaruteun misalnya, dibahas mengenai kemiripan kaki Raja Purnawarman dan kaki Dewa Wisnu. Pembandingan dengan sosok dewa menunjukkan kebesaran Sang Raja yang berhasil memimpin rakyat secara bijaksana, baik, dan berani.

Hal itu didukung oleh isi Prasasti Tugu yang mencatat keberhasilan Purnawarman dalam membangun kanal yang menghubungkan Sungai Candrabaga dan Sungai Gomati dengan laut. Beberapa ahli mengkaji infrastruktur ini dibuat untuk menanggulangi banjir. Ada pula yang menduga saluran berguna untuk irigasi pertanian.

Satu hal yang pasti, dari berbagai prasasti, Raja Purnawarman adalah yang paling sering disebut. Dengan begitu pada masa pemerintahannyalah Kerajaan Tarumanagara mencapai masa keemasan.

Isi 7 Prasasti

Tulisan pada prasasti dari era Kerajaan Tarumanagara ditulis menggunakan bahasa Sanskerta dengan huruf Palawa. Terdapat sekitar delapan prasasti yang ditemukan dan dijadikan objek wisata sejarah. Sebagian besar berada di Situs Ciaruteun. Sementara sisanya tersebar di penjuru Kota dan Kabupaten Bogor.

  1. Prasasti Ciaruteun

Prasasti ini memiliki sejumlah gambar, yaitu telapak kaki, laba-laba, umbi, dan sulur-suluran. Teks yang terukir menjelaskan bahwa itu adalah telapak kaki Raja Purnawarman yang mirip dengan kaki Dewa Wisnu. Situs sejarah ini berada di Situs Ciaruteun, Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat sebagai salah satu kerjaan tertua di indonesia merupakan jejak peradaban Nusantara.
Prasasti Tapak Gajah, karena ada jejak sepasang kaki gajah, merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Foto: Dok. javalane
  • Prasasti Kebon Kopi

Pada batu besar ini terpahat bentuk sepasang telapak kaki gajah. Di dekatnya terdapat kalimat yang menjelaskan bahwa gambar itu melambangkan Airawata, yaitu gajah penguasa Kerajaan Tarumanagara. Lokasinya berada di seberang jalan masuk ke Prasasti Ciaruteun.

  • Prasasti Muara Cianten

Sampai sekarang teks prasasti belum bisa dibaca atau diartikan oleh para ahli sejarah. Ini karena tulisan tersebut berbentuk ikal atau berupa huruf sangkha. Lokasinya di tepi Sungai Cianten, Desa Ciaruteun dan belum diangkat ke tempat yang lebih aman.

  • Prasasti Tugu

Bentuknya unik, yaitu bulat lonjong seperti telur dengan tinggi kira-kira 1 meter. Isinya pun sangat menarik, yaitu mengenai penggalian sungai sepanjang 6.122 tongkat atau busur agar tersambung ke laut. Proyek berlangsung selama 21 hari. Ada juga penjelasan mengenai pemberian seribu sapi kepada kaum Brahmana. Kini Prasasti Tugu tersimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.

Kerajaan Tarumanagara meninggalkan banyak prasasti dan candi, salah satunya Prasasti Jambu yang juga dikenal sebagai Prasasti Pasir Koleangkak.
Prasasti Jambu sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Foto; Dok. Javalane
  • Prasasti Jambu

Sesuai namanya, prasasti ini ditemukan di perkebunan jambu Bukit Koleangkak, sehingga dikenal juga sebagai Prasasti Pasir Koleangkak. Tulisannya menggambarkan tentang keberanian Raja Purnawarman saat berperang di medan laga.

  • Prasasti Cidanghiyang

Prasasti ini disebut juga Prasasti Lebak karena ditemukan di Desa Lebak, Kabupaten Pandeglang, Banten. Isinya masih menggambarkan tentang keberanian dan kebesaran Raja Purnawarman.

  • Prasasti Pasir Awi

Prasasti Pasir Awi berada di Bukit Pasir Awi, Kawasan Cipamingkis, Kabupaten Bogor. Pada batu tersebut terdapat gambar dahan dan ranting, buah-buahan, dedaunan, serta pahatan sepasang telapak kaki.

Ekspedisi 4 Candi

Sekitar 44 kilometer dari Kota Karawang, jauh dari ingar-bingar aktivitas pabrik, hamparan sawah Kecamatan Batujaya menyimpan romantisme masa silam. Di kompleks tersebut, kurang lebih terdapat 62 candi peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Meski identik dengan suhu panas daerah pesisir, Kompleks Percandian Batujaya justru menjadi oasis pariwisata sejarah di sisi utara Jawa Barat.

Dari sekian banyak candi, terdapat empat yang sudah dipugar dan menjadi objek wisata, yakni Candi Jiwa, Blandongan, Serut, dan Telagajaya. Pada proses pemugaran tersebut ditemukan pula benda-benda peninggalan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Kini warisan sejarah tersebut sudah dipindahkan dan dipajang di Museum Situs Candi Jiwa. Maka selain candi, museum ini juga menjadi daya tarik tersendiri.

Candi Jiwa

Menurut warga sekitar, candi ini diberi nama jiwa karena proses penemuannya cukup mistis. Dulunya, unur atau gundukan tanah yang menutupi candi sering dilewati oleh kambing. Uniknya, beberapa kambing mati tanpa sebab yang jelas. Dari situ masyarakat menganggap tempat itu memiliki jiwa.

Candi Jiwa berbentuk tumpukan lempengan batu yang berukirkan relief Buddha, keramik, serta prasasti berisi mantra Buddha. Ini menunjukkan bahwa bangunan ini merupakan peninggalan agama Buddha. Apalagi bentuk utuhnya mirip bunga teratai yang kemungkinan bagian atasnya terdapat stupa seperti halnya Candi Borobudur.

Kerajaan Tarumanagara meninggalkan sejumlah candi dan prasasi, salah satunya adalah Candi Blandongan.
Candi Blandongan sebagai salah satu jejak peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Foto: Dok. Javalane

Candi Blandongan

Berbeda dengan candi lain yang sudah rusak atau terpotong bagian atasnya, Candi Blandongan masih cukup utuh. Bentuknya persegi dengan ukuran 25×25 meter dan anak tangga pada setiap sisinya. Di bagian bawah candi terdapat lorong yang memisahkan antara bangunan dan dinding samping. Di tengah ada bangunan lagi dengan ukuran 12×12 meter. Presisi ukuran ini mencerminkan majunya peradaban saat itu.

Candi Serut

Setelah gundukan tanah diangkat, terlihat beberapa bagian bangunan yang sudah rusak cukup parah. Ada yang tingginya 6 meter, ada juga yang 8 meter. Namun situs ini masih memiliki daya tarik melalui ornamen dan arca yang berbentuk hewan dan manusia. Dilihat dari penampang luar, candi ini mirip dengan pondasi rumah dengan kamar-kamar, sumur, dan lantai papan di dalamnya.

Candi Sumur

Bangunan ini berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 11 meter dan lebar sekitar 7,5 meter. Dinamakan Candi Sumur karena berupa sebuah kolam dengan kedalaman masih belum diketahui. Tebal dinding sebelah timur mencapai 4 meter dan di dinding lain 1,7 meter.

agendaIndonesia

****

Situs Trowulan, Jejak Sejarah Abad 14

Situs Trowulan merupakan jejak Kerajaan Majapahit dari abad 14

Situs Trowulan dikenal sebagai pertanda dan peninggalan dari kejayaan Kerajaan Majapahit. Kerajaan terbesar dari masa lalu, yang membuat jejak wilayah Nusantara hampir seperti Indonesia saat ini.

Situs Trowulan

Situs ini merupakan kawasan kepurbakalaan dari sejarah Indonesia periode klasik. Lokasinya  berada di Kecamatan Trowulan, Kabupten Mojokerto, Jawa Timur. Jika diperluas dari peninggalan-peninggalan yang ada, sebagian lagi lokasinya masuk Kabupaten Jombang di provinsi yang sama.

Berbagai temuan yang ditemukan di kawasan sini menunjukkan ciri-ciri pemukiman atau peradaban yang cukup maju. Sesungguhnya kaitan situs ini dengan Kerajaan Majapahit masih dugaan berdasarkan prasasti, simbol, dan catatan yang ditemukan di sekitar wilayah tersebut.

Luas situs perkotaan masa klasik Indonesia itu sebesar 11 x 9 kilometer itu sebagian terdapatdi Kecamatan Trowulan dan Sooko, sebagian juga ada di Kecamatan Mojoagung dan Mojowarna, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ada ratusan ribu peninggalan Majapahit terserak di kaki jajaran tiga gunung, yakni Gunung Penanggungan, Gunung Anjasmara, dan Gunung Welirang.

Situs Trowulan bisa membawa kita merasakan keberadaan Kerajaan Majapahit dari abad 14.
Salah satu relief dan patung peninggalan Majapahit di Museum Trowulan. Foto: ist. TL.

Jika mengunjungi Situs Trowulan, kita bisa mencoba merasakan keberadaan Majapahit melalui bangunan batu bata yang terserak, yang terkadang tak utuh. Berdasarkan cerita Empu Prapanca dalam kitab Negarakertagama; keraton Majapahit dikelilingi tembok bata merah yang tinggi dan tebal. Di dekatnya terdapat pos tempat para punggawa berjaga. Gerbang utama menuju keraton atau kompleks istana terletak di sisi utara tembok. 

Dari segi usia peninggalan bisa dilihat dari candi-candi di wilayah itu, Candi Brahu, misalnya. Dari hasil analisis jejak karbon yang dilakukan badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), candi ini berasal dari masa 1410-1646.

Selain itu, dilihat dari gaya bangunan dan profil hiasan pada atap yang diduga berbentuk stupa, candi ini terlihat seperti candi umat Buddha, berbeda dengan candi lain di sekitarnya. Candi tersebut juga berumur lebih tua.

Berdasarkan Prasasti Alsantan yang ditemukan tak jauh dari situsnya, Candi Brahu ini berasal dari kata “waharu
atau warahu” yang difungsikan untuk menyimpan abu jenazah. Candi dengan tinggi 25,7 meter dan lebar 20,7 meter ini terdiri atas kaki, tubuh, dan atap.

Bagian tubuh Candi Brahu sebagian merupakan susunan batu bata baru yang dipasang pada masa pemerintahan Belanda. Bajang Ratu merupakan sebutan bagi candi yang diduga berasal dari abad ke-13 hingga ke-14 itu.

Candi Bajang Ratu memiliki pintu gerbang tipe paduraksa, yaitu gapura beratap. Berbeda dengan candi-candi lain di kawasan Mojokerto yang mempunyai banyak detail. Relief yang dipahat di bagian mahkota candi membuat bangunan terlihat ramping dan feminin.

Relief tersebut bercerita tentang Sri Tanjung dan Sayap Garuda yang mempunyai arti lambang pelepasan Jayanegara kembali ke dunia Wisnu. Candi ini berdiri di atas tanah setinggi 16,5 meter di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Pada atap candi ini terdapat hiasan berupa kepala Kala yang diapit singa, relief matahari, naga berkaki, kepala garuda, dan relief bermata satu. Relief tersebut berfungsi sebagai pelindung atau penolak mara bahaya.

Candi lain yang bisa dilihat di situs Trowulan ini adalah Candi Tikus. Ini bukan sekadar candi yang berdiri di atas tanah. Kompleks bangunan ini justru berupa cekungan di bawah tanah di Desa Temon, Kecamatan Trowulan.

Bentuk kompleks candi yang demikian karena dulunya memang berupa tempat pemandian. Menikmati pemandangan di permukaan air yang memantulkan refleksi bangunan setinggi 5,2 meter berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 22,5 x 22 meter itu pasti menyenangkan.

Keberadaan air tersebut masih bisa
 kita saksikan hingga sekarang. Membayangkan pada masa itu, tentu airnya tidak berwarna hijau. Pada dinding bagian bawah serta batur candi terdapat jaladwara (pancuran) yang menurut catatan sejarah berjumlah 49 buah. Saat ini tinggal 19 buah. Sisanya tersimpan di Museum Trowulan.

Bentuk pancuran ada dua macam, yaitu bunga lotus dan makara. Semua pancuran ini dulu mendapatkan pasokan air dari saluran yang ada di bagian selatan candi, tepatnya di belakang candi induk. Sedangkan saluran pembuangan terletak di lantai dasar.

Di atas tubuh candi terdapat menara semu, masing-masing berjumlah 5 buah. Di atas tubuh candi terdapat4 buah menara di setiap sudutnya. Puncak menara ini sudah hilang, sehingga tidak diketahui jelas bentuk aslinya. Namun, menara-menara ini melambangkan Gunung Mahameru sebagai pusat makrokosmos.

Situs Trowulan dinamakan demikian karena berada di Kecamatan Trowulan, Jawa Timur.
Kawasan Kabupaten Mojokerto di Jawa Timur sebagai tempat situs Trowulan. Foto: Dok. unsplash

Menapak sisa-sisa Majapahit di situs Trowulan tak lengkap bila tidak mengunjungi Gapura Wringin Lawang di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan. Kata Jatipasar digunakan oleh Gubernur jendral Inggris Raffles untuk menamai gapura ini. Ini tercantum dalam buku karyanya, History of Java (1815).

Adapun nama Gapura Wringin Lawang diambil dari catatan Knebel pada 1907. Gapura setinggi 15,5 meter dengan panjang 13 meter dan lebar 11,5 meter ini diyakini merupakan pintu masuk Kerajaan Majapahit. Sisa kerajaannya sendiri belum ditemukan karena diduga terbuat dari bahan yang mudah terbakar sehingga tak bersisa. Wringin Lawang merupakan gapura yang tersusun dari batu bata, kecuali anak tangganya yang terbuat dari batu.

Jika punya waktu, kunjungi situs Trowulan untuk mengenal kebesaran Majapahit pada masa lampau.

agendaIndonesia/TL

*****

Menikmati Eksotisme Banten Dalam 2 hari

menikmati eksotisme Banten salah satunya dengan mengunjungi kampung adat Baduy.

Menikmati eksotisme Banten selama akhir pekan bisa dilakukan dan memperoleh dua suasana yang berbeda. Selama dua hari dengan dua sisi pariwisata di Provinsi Banten.

Menikmati Eksotisme Banten

Potensi wisata Banten tak hanya kekayaan dan keindahan alamnya saja, terutama wisata baharinya. Keindahan pantai daerah ini membentang dari kawasan Anyer yang ada di bagian barat laut provinsi ini hingga di wilayah Bayah di Lebak yang letaknya ada di selatan. Atau menikmati Taman Nasional Ujung Kulon. Wisatawan yang berkunjung ke Banten tentu saja dapat menyelami eksotisme kehidupan di tengah masyarakat Baduy.

Apabila ingin mendapatkan dua hal sekaligus: keindahan alam dan keunikan kampung adat Baduy, wisatawan dapat memadukan kunjungan ke pantai Tanjung Lesung yang berada di barat daya Banten, di mana lokasinya cukup dekat dengan kampung masyarakat Baduy. Dengan cara seperti itu, liburan akhir pekan wisatawan bisa mendapatkan banyak hal sekaligus. Berikut paket liburan dua hari di akhir pekan.

Hari Pertama: Kampung Adat Baduy

Pilihan awal tentu saja mengunjungi Kampung Baduy. Untuk menuju ke wilayah ini, pengunjung dapat melalui Ciboleger yang merupakan gerbang masuk wisata. Tempat ini berjarak 45 kilometer dari Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak. Ini menjadi pilihan awal sebab meski jaraknya lumayan pendek, namun harus ditempuh selama 2-3 jam. Jalan yang dilalui cukup baik, meski harus melewati tikungan-tikungan tajam. Tidak ada angkutan umum dari Rangkasbitung, sehingga wisatawan harus menyewa mobil atau membawa mobil pribadi.

Pengunjung harus trekking di perbukitan untuk mencapai kampung terdekat dalam perjalanan ke perkampungan Baduy Luar. Menuju perkampungan Baduy Dalam tentu butuh jalan lebih jauh lagi. Waktu yang direkomendasikan menuju ke sini adalah pagi hari hingga pukul 12.00 karena perjalanan menuju kampung Cibeo kurang lebih 5 jam. Tidak ada penerangan di sepanjang jalan menuju Baduy Dalam. Karena itu, sebaiknya wisatawan telah tiba sebelum matahari terbenam dan bermalam di rumah penduduk.

Bagi yang tidak ingin bermalam, dapat berjalan satu jam hingga Kampung Gajeboh. Jalannya berbatu dan menanjak. Trek berat, namun pengunjung akan dimanjakan pemandangan dan udara bersih sepanjang perjalanan. Yang menarik, saat kita berpapasan dengan warga Baduy Dalam yang lebih suka disebut Urang Kanekes ini, tidak terlihat lelah sedikit pun.

Dalam perjalanan menuju Kampung Gajeboh, wisatawan akan melewati Kampung Kaduketuk, Balingbing, dan Marengo. Terlihat sejumlah rumah menjajakan kerajinan khas Baduy, salah satunya kain tenun. Sedangkan untuk penggemar durian, dapat menjadwalkan kunjungan pada masa panennya. Masa panen durian biasanya akhir tahun hingga Februari.

Di Kampung Gajeboh, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, wisatawan bisa bermalam di rumah warga. Sayangnya, wisatawan asing dilarang masuk ke wilayah Baduy Dalam. Wajib diingat, pengunjung harus mematuhi sejumlah peraturan adat, seperti dilarang menggunakan sabun dan pencuci rambut karena mengandung zat kimia serta menyalakan alat elektronik, seperti ponsel dan kamera di wilayah Baduy Dalam. Pengunjung juga dilarang masuk wilayah Baduy Dalam saat masa Kawalu atau bulan puasa, menurut penganut kepercayaan Sunda Wiwitan ini.

Menikmati eksotisme Banten dalam dua hari salah satunya bisa dilakukan dengan mengunjungi pantai Tanjung Lesung.
Pantai Tanjung Lesung menjadi salah satu andalan wisata di Provinsi Banten. Foto:Ilustrasi-shutterstock

Hari Kedua: Tanjung Lesung

Pantai Tanjung Lesung terkenal sebagai wisata pantai berpasir putih dan resor mewah di  Pandeglang. Namun, sebenarnya, di kawasan ini bisa ditemukan beragam akomodasi mulai hotel berbintang hingga rumah yang disewakan. Dari Jakarta sekitar 160 kilometer melalui Jalan Tol Merak. Selain membawa kendaraan pribadi, wisatawan dapat menggunakan bis umum menuju Labuan dari Terminal Kalideres, Kampung Rambutan, dan Pulo Gadung, lalu mencari kendaraan yang bisa mengantar hingga Tanjung Lesung.

Jalan menuju Tanjung Lesung cukup mulus dan nyaman. Dari Rangkasbitung dibutuhkan waktu sekitar 4 jam. Bagi yang belum sempat sarapan, dapat mencicipi kue balok yang berbahan dasar singkong sambil menyruput wedang bandrek. Ini bisa diperoleh di Warung Ibu Haji Djamsinah di Jalan Labuan, Menes, Pandeglang.

Memasuki kawasan wisata Tanjung Lesung, pengunjung akan dikenakan tarif Rp 40 ribu per kepala dan mobil Rp 50 ribu. Bagi yang akan bermalam, disediakan sejumlah resor mewah, ada pula vila dengan fasilitas private swimming pool.

Memasuki kawasan ini tempat pertama yang dapat dituju tentu saja Beach Club dengan hamparan pasir putih dan dermaga kayu. Di pantai berpasir putih ini, juga terdapat fasilitas permainan olahraga air, seperti banana boat, slider boat, wake board, dan jet ski. Indahnya pemandangan bawah laut juga dapat dinikmati dengan snorkeling atau glass botom boat. Ada dua lokasi snorkeling yang ditawarkan, Jetty dan Lagoon.

Bukan hanya keindahan di Tanjung Lesung yang dapat dinikmati, pengunjung dapat menyewa kapal menuju pulau-pulau terdekat, seperti Panaitan dan Peucang di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, bahkan menikmati pemandangan di Anak Gunung Krakatau. Bagi yang ingin berkemah di dekat pantai,  disediakan camping ground,  juga tenda dan MCK yang nyaman.

Setelah bermain di Tanjung Lesung, saatnya pulang kembali ke Jakarta.

agendaIndonesia

*****

Rumah Gadang, Pasak Untuk Sambungan 2 Bagian

Dolan ke Sumatera Barat biasanya orang berkunjung ke rumah gadang. Foto: shutterstock

Rumah Gadang boleh dikata adalah salah satu rumah tradisional di Indonesia yang paling indah. Bentuk atapnya memiliki beberapa kisah yang menginspirasi penciptaannya.

Rumah Gadang

Entah kenapa, di Indonesia setiap rumah makan masakan Minangkabau atau Padang senantiasa menyertakan elemen rumah tradisional suku bangsa ini. Sebuah atap yang melengkung. Ada yang dengan niat serius membangun replika atap rumahnya sebagai eksterior rumah makan, meski tak sedikit yang membuat gambarnya di kaca etalase lauk-pauk. Apapun bentuknya, ini membuat semua orang langsung paham: ini rumah makan padang.

Rumah Gadang atau Rumah Godang merupakan nama umum yang disematkan orang pada rumah adat masyarakat Minangkabau. Sering pula disebut dengan nama Rumah Baanjuang dan Rumah Bagonjong. Semua nama ini sesuai dengan maksud penyebutannya.

Rumah adat masyarakat dari Provinsi Sumatera Barat ini mempunyai sejumlah ciri yang sangat khas dan indah. Yang pertama tentu saja bentuk atap yang melengkung seperti tanduk kerbau, dan badan rumah landai seperti badan kapal. Bentuk atap yang melengkung dan runcing ke atas itu disebut gonjong. Oleh karena itulah mengapa rumah gadang disebut juga rumah bagonjong.

Mengutip dari Wikipedia, asal-usul bentuk bentuk atap rumah gadang yang mirip tanduk kerbau sering dihubungkan dengan cerita rakyat “Tambo Alam Minangkabau”. Cerita tersebut bercerita tentang kemenangan orang Minang dalam peristiwa adu kerbau melawan orang Jawa.

Selain cerita tersebut, versi lain menyebutkan kalau atap berbentuk tanduk di rumah adat minangkabau itu terinspirasi dari bentuk kapal “Lancang” yang melintasi Sungai Kampar. Saat tiba di muara sungai, kapal diangkat ke daratan dan diberikan atap dengan menggunakan tiang layar yang diikat dengan tali. Namun karena bebannya berat, maka tiang pun menjadi miring dan melengkung yang serupa dengan gojong.

Manapun kisah yang betul, atau yang dipercaya, rumah gadang ratusan tahun telah menjadi simbol kebesaran masyarakat setempat. Ia sekaligus menjadi sesuatu yang dianggap mewakili jati diri warga Minangkabau.

Selain soal nama, hal menarik dari rumah Gadang adalah dari teknologi konstruksinya. Rumah Gadang yang asli dibangun dengan tidak menggunakan paku untuk merekatkan dan menyambungkan dua bagian kayu untuk bangunan. Untuk itu, masyarakat setempat menggunakan pasak kayu bergoyang. Dasar pemikirannya adalah kearifan lokal untuk menyiasati jika terjadi gempa. Jadi saat terjadi gempa, rumah akan berayun mengikuti ritme gempa. Akibatnya, rumahnya tidak akan roboh.

Dikutip dari Buku Rumah Gadang yang Tahan Gempa tulisan Gantino Habibi pada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tiang-tiang rumah Gadang tidak ditanamkan ke tanah tetapi bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Ini juga dilakukan dengan pemikran untuk menyiasati ketika terjadi gempa. Rumah Gadang akan bergerak di atas batu datar tempat tiang itu berdiri.

Rumah bagonjong menurut aturan aslinya memiliki beberapa karakteristik atau ketentuan khusus. Misalnya saja, soal jumlah ruangan yang ditentukan dari jumlah perempuan yang menghuni rumah tersebut. Anak-anak dan perempuan yang telah berumur memiliki kamar yang lebih dekat ke arah dapur. Sedangkan gadis remaja umumnya ditempatkan di satu kamar di ujung yang berseberangan. Ruangan dalam rumah terbagi menjadi lanjar dan ruang, dengan jumlah ruang dalam satu rumah berjumlah ganjil antara 3 hingga 11.

Pada pelataran atau halaman rumah, terdapat sepasang bangunan yang berfungsi sebagai lumbung, namanya rangkiang. Selain itu, tak jauh dari bangunan rumah biasanya terdapat surau. Selain berfungsi sebagai tempat beribadah, surau juga menjadi tempat tinggal lelaki dewasa yang belum menikah.

Rumah Gadang memiliki ornamen pada dinding-dinding kayunya. Ornamen yang membuatnya lebih indah.
Rumah Gadang dengan ornamen indah pada dindingnya.

Salah satu karakteristik rumah gadang adalah hiasan eksterior bangunan berupa ornamen ukiran kayu yang menjadi pengisi bidang persegi dan lingkaran di permukaan luar bangunan. Motif ukiran yang umum ditemukan adalah tumbuhan merambat, bunga, dan buah. Ada juga motif-motif geometris segitiga, segi empat, dan jajar genjang (belah ketupat). Motif-motif ini memenuhi dinding, daun jendela, tiang-tiang, dan daun pintu

Jendela rumah Gadang biasanya memiliki ukuran yang besar. Bentuk jendelanya mengikuti bentuk rumahnya yang miring dan tidak simetris. Pada jendela terdapat bingkai yang terbuat dari papan. Jumlah jendela rumah Gadang biasanya terdiri dari 8 jendela di bagian depan, dua  di bagian kiri, dan dua di bagian kanan.

Rumah gadang biasanya didirikan di atas tanah milik keluarga induk dalam suatu suku atau kaum. Rumah ini diwariskan antargenerasi berdasarkan garis keturunan perempuan, sesuai asas matrilineal yang dianut masyarakat Minangkabau.

Dulunya tidak semua wilayah di Sumatera Barat dapat dibangun rumah adat seperti ini. Rumah bagonjong hanya didirikan di kawasan tertentu yang berstatus nagari. Karena itulah, eksistensi rumah bagonjong atau rumah gadang di luar Minangkabau terjadi karena aturan adat yang melemah seiring perkembangan zaman.

agendaIndonesia

*****

Dolan Ke Purwokerto, 3 Hari Yang Asyik

Dolan ke Purwokerto bisa menjadi pilihan liburan keluarga.

Dolan ke Purwokerto di Jawa Tengah mungkin belum menjadi alternatif mereka yang mencari liburan keluarga. Padahal kota ini memiliki banyak tempat untuk dikunjungi. Ia memang kalah popular dibandingkan Yogyakarta atau Solo.

Dolan Ke Purwokerto

Ada cukup banyak tempat untuk didatangi dan mendapatkan pengalaman baru saat dolan ke Purwokerto. Mulai dari wisata heritage, alam hingga ke kuliner yang maknyus.

Berikut adalah rencana perjalanan yang bisa menjadi pilihan wisatawan yang ingin menghabiskan tiga harridan dua  malam di Purwokerto.

Dolan ke Purwokerto salah satunya saatnya menikmati Sroto Sokaraja, pilihan santap di Banyumas
Sroto Sokaraja, kuliner khas saat Dolan ke Purwokerto. Foto: shutterstock

Hari Pertama

Saat dolan ke Purwokerto paling nyaman menggunakan kereta api atau kendaraan pribadi. Jika menggunakan kereta api, cukup banyak tempat persewaan mobil atau sepeda motor di kota ini. dan langsung sarapan di salah satu warung makan lokal.

Kereta api umumnya masuk ke Purwokerto pada pagi hari, kadang bahkan di dini hari. Ketika itu kemungkinan belum bisa check in di hotel.

Cobalah sarapan khas Purwokerto: sroto Banyumas atau sroto Sokaraja. Tempat makan sroto yang banyak dikenal adalah Sroto H. Loso. Tempat ini kadang dikenal juga dengan nama Soto Ayam Jalan Bank dan RM Sroto Khas Purwokerto. Warung Soto H. Loso beralamat di Jalan RA Wiryaatmaja Nomor 15, Pesayangan, Kedungwuluh, dan buka mulai sekitar pukul 8.

Selesai sarapan, kunjungi Baturaden, sebuah kawasan wisata pegunungan dengan udara sejuk dan kolam renang alami. Nikmati pemandangan alam sekitar dan coba aktivitas seperti berjalan-jalan atau berenang.

Selesai berenang menuju ke hotel sambal mampir makan siang di sepanjang Baturaden ke kota ada banyak pilihan makan dengan pemandangan bagus. Pilihannya antara lain Taman Langit atau Watu Dungkul

Jika masih ingin menikmati alam yang cantik, wisatawan mungkin jangan dulu menuju hotel. Dari tempat makan, perjalanan bisa dilanjutkan ke Telaga Sunyi, dan nikmati suasana tenang dan indah di sekitar danau tersebut. Jaraknya sekitar 30-40 menit dari Baturaden.

Senja, setelah istirahat sejenak di hotel, wisatawan bisa makan malam di salah satu restoran lokal. Cobalah restoran Djago Djowo, ini ayam goreng khas daerah ini.

Getuk goreng Haji Tohirin menjadi oleh-oleh khas Banyumas yang ikonik.
Getuk goreng bisa menjadi oleh-oleh dari Purwokerto. Foto: Kemendikbud

Hari Kedua:

Setelah sarapan, wisatawan saat dolan ke Purwokerto bisa memilih untuk mengitari kota Purwokerto yang tak terlalu besar. Puas menikmati denyut kota, hari ini perjalanan dilanjutkan ke arah Baturaden lagi, namun kali ini mengunjungi wisata Curug Telu yang berada di Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden. Wisata Curug Telu ini memiliki tiga tempat sekaligus yang dapat di kunjungi, yakni Curug Lawang, Kedung Pete, dan Curug Telu yang menjadi wisata utama.

Dari Curug Telu, perjalanan dilanjutkan ke situs Candi Arca Dawuhan terletak di sebuah perbukitan Dawuhan Wetan. Di dalamnya terdapat peninggalan benda-benda purbakala bersejarah yang berjumlah lebih dari satu situs yang ada dalam komplek situs Candi Arca.

Nikmati kuliner malam di Alun-Alun Purwokerto, pusat keramaian malam di kota ini. Ada banyak warung makan dan kedai kopi di sekitar alun-alun yang bisa Anda kunjungi.

Hari Ketiga

Menjelang pulang pada sore atau malam hari, wisatawan bisa mencoba mampir ke Pasar Manis sebagai bagian dolan ke Purwokerto. Ini pasar tradisional dengan pengelolaan terbaik di Indonesia. Selain ada dagangan umum, di sini juga ada pusat kuliner. Bisa mencicipi makanan atau jajan pasar di sini.

Dari Pasar Manis masih sempat mampir ke Museum BRI berada di Jalan Jendral Sudirman No. 57, Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Museum ini didirikan pada19 Desember 1990 sebagai bukti cikal bakal didirikannya sebuah bank di Indonesia.

Museum BRI memiliki tiga bangunan utama yang semuanya berada di satu area, yaitu museum itu sendiri, patung Raden Aria Wirjaatmadja, dan replika gedung De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank.

Selesai mengunjungi Museum BRI, saatnya belanja oleh-oleh. Ada beberapa tempat yang memiliki banyak toko oleh-oleh. Ada banyak pilihan buah tangan, sebut saja nopia, getuk goreng, atau tempe mendoan, baik yang masih mentah maupun yang sudah matang.

Setelah itu siap-siap untuk pulang.

agendaIndonesia

*****