Daya Tarik Dongeng, 4 Yang Melegenda  

Daya tarik dongeng menjadi salah satu kekuatan destinasi wisata di Indonesia.

Daya tarik dongeng tentang sebuah tempat banyak membuat orang mengunjungi destinasi tersebut. Dan rasanya hampir semua tempat wisata di Indonesia mempunyai kisah, cerita, atau bahkan dongeng yang mengharu biru, membuat orang ingin datang ke sana.

Daya Tarik Dongeng

Magnet sebuah obyek wisata tentu saja awalnya berupa keindahan alam, atau keunikan tradisi dan budayanya. Tetapi bisa juga soal daya tarik dongeng atau legendanya. Ada yang terlihat ada kaitannya, tapi tak sedikit yang berupa metafor.

Cerita rakyat pun menjadi magnet pada sejumlah tujuan wisata. Kisah-kisahnya seolah benar adanya. Entah siapa dan bagaimana cerita-cerita itu dapat meninggalkan jejak hingga kini. Beberapa di antaranya memang melekat dengan obyek, tapi ada pula yang terabaikan.

Tak sedikit yang bisa menggabungkan keindahan alam, keunikan tradisi dan budayanya, dengan dongeng yang bisa jadi merupakan cerita yang bisa bagi teladan untuk anak-anak. Jadi, berwisata sambil memberi pendidikan buat anak-anak.

Gadis Terjepit Batu

Seruni, gadis cantik asal Sumatera Utara, sudah memiliki kekasih. Tapi dia dijodohkan oleh orang tuanya. Seruni pun tak setuju dan memilih bunuh diri dengan cara terjun dari tebing curam.

Namun, sebelum tiba di sana, dia terperosok ke lubang sebuah batu besar. Seruni memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di lubang itu, ia lantas berteriak, “Parapat, parapat!”, yang artinya “Merapat, merapat!” Tujuannya, agar lubang pada batu itu merapat dan mengimpit tubuhnya hingga ia tewas. Keinginan Seruni ternyata terkabul.
Nah, batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan yang seolah menggantung di tepi tebing itu kini ditemui di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Masyarakat setempat menyebutnya Batu Gantung. Konon, nama Parapat berasal dari kata terakhir yang diucapkan Seruni.

Cinta Terlarang

Setelah mengetahui kekasihnya ternyata anaknya sendiri, Dayang Sumbi langsung memutuskan kisah cintanya. Namun Sangkuriang tetap ngotot ingin menikahi ibunya. Tak kehabisan akal, Dayang Sumbi menyatakan bersedia dinikahi asalkan dibuatkan telaga dan perahu dalam waktu semalam. Sangkuriang menyanggupi. Dengan dibantu jin, Sangkuriang hampir mampu menyelesaikannya.  

Hanya, Dayang Sumbi menebarkan kain putih hasil tenunannya. Dalam sekejap, kain itu mengeluarkan sinar bagaikan cahaya fajar di ufuk timur dan membuat jin-jin pergi karena mengira telah pagi.

Sangkuriang marah sekali. Ia menendang perahu sehingga menelungkup dan berubah menjadi gunung, yang kini dikenal dengan nama Gunung Tangkuban Perahu yang kawahnya kini ramai dikunjungi di Lembang, Jawa Barat.
Putri yang Dikutuk
Pemuda ini sakti mandraguna. Namanya Bandung Bondowoso. Ia jatuh cinta kepada putri cantik bernama Roro Jonggrang, putri dari kerajaan yang ditaklukkannya.

Daya tarik dongeng bisa memperkuat kekuaran sebuah destinasi wisata.
Candi Sewu di Yogyakarta. Foto: apabedanya unt. unsplash

Namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Roro Jonggrang mencoba menolaknya dengan memberi persyaratan yang tak masuk akal: minta dibuatkan 1.000 candi dalam waktu semalam, sebelum ayam berkokok.

Bandung menyanggupi. Bahkan, menjelang dinihari, 999 candi telah dibuat. Roro Jonggrang panik dan meminta para wanita agar memukul lesung, sehingga ayam-ayam terbangun dan berkokok.

Bandung marah karena dicurangi. Ia pun mengutuk putri itu menjadi batu, dan kini dikenal dengan nama Candi Roro Jonggrang lokasinya ada di kompleks Candi Prambanan di Sleman, Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah.

Sementara candi-candi lain yang telah dibuat berada di dekat Candi Prambanan. Seperti bertetangga dan dinamakan Candi Sewu.

Kisah Anak Durhaka

Satu lagi destinasi wisata di Indonesia yang punya daya tarik dongeng dan kisah legenda yang popular. Kisahnya tumbuh di kalangan masyarakat Pantai Air Manis di Sumatera Barat.

Daya tarik dongeng bisa menjadi materi edukasi ketika membawa anak-anak mengunjunginya.
Gunung dan kawah Tangkuban Perahu, Bandung, Indonesia. Foto: shutterstock

Kita tentu sudah tidak asing dengan cerita legenda anak yang durhaka kepada ibunya. Cerita ini adalah tentang Malin Kundang, anak laki-laki yang tinggal bersama dengan ibunya yang seorang janda di Perkampungan Nelayan Pantai Air Manis, Padang Selatan, Sumatera Barat.

Malin dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Hingga pada suatu hari, ada kapal besar yang merapat ke Pantai Air Manis. Malin yang sudah dewasa berpamitan kepada ibunya untuk merantau dan akhirnya dia pun pergi bersama dengan kapal tersebut.

Setelah merantau, Malin tak pernah pulang. Hingga suatu hari kapal megah merapat di Pantai Air Manis. Dari kapal tersebut, turun seorang laki-laki kaya dan menggandeng seorang perempuan. Ibu Malin menyadari bahwa laki-laki tersebut adalah anaknya dan ia memanggilnya. Namun Malin yang malu melihat ibunya malah menghardik sang ibu dan pura-pura tidak mengenali.

Karena sakit hati karena tidak diakui oleh anaknya sendiri, maka sang ibu mengutuk Malin menjadi batu. Sang anak sempat menyatakan penyesalannya lalu dan bersujud di depan ibunya.

Itulah sebabnya, wisatawan bisa menemukan batu yang menyerupai orang sedang bersujud di di Pantai Air Manis. Tak hanya batu orang yang bersujud, terdapat juga batu besar yang konon dipercaya sebagai pecahan kapal yang membawa Malin Kundang.

Ada puluhan lagi tempat wisata di Indonesia dengan daya tarik dongeng nya. Ayo agendakan kunjunganmu ke tempat-tempat ini.

agendaIndonesia

*****

Motif Tenun Siak, 3 Siku dan 3 Pucuk

Tenun Siak

Motif tenun Siak, 3 siku dan 3 pucuk barangkali sangat sedikit orang di luar wilayah Riau yang mengerti dan memahaminya. Tak hanya itu, bahkan secara wisata, Pekanbaru dan Riau masih sangat sedikit dilirik wisatawan. Baik lokal maupun manca negara. Padahal, di daerah ini dulunya adalah salah satu pusat kebudayaan Melayu.

Motif Tenun Siak

Sejak Indonesia merdeka, mungkin pengetahuan orang mengenai Siak, Pekanbaru atau Provinsi Riau umumnya, erat dengan sawit dan minyak,. Padahal Pekanbaru ternyata punya berlaksa kisah masa lampau yang menarik buat diulik.

Pada masa kolonial Belanda, kota ini pernah menjadi urat nadi perdagangan, khususnya di Sumatera. Lewat sungai Siak yang membelah Kota Pekanbaru, lalu-lintas perdagangan dari luar, seperti Semenanjung Malaya, menuju pedalaman Sumatera, yakni Tapung, Minangkabau, dan Kampar, berlangsung. Kota yang dulunya berjuluk Senapelan ini bahkan pernah menjadi lokasi ditumpuknya berbagai komoditas.

Posisi yang strategis membuat Senapelan berjaya. Orang-orang berbondong datang dari berbagai daerah membawa beragam logistik. Mereka menaiki kapal-kapal tongkang demi barter dan saling-silang kebutuhan pokok.

Makin ke sini, Pekanbaru bukan lagi seperti dulu. Denyut perdagangan lewat Sungai Siak hampir berhenti lantaran jalur darat mulai lancar. Pun dengan sejumlah tradisi Melayu lawasnya. Di antaranya tenun Siak.

Tenun Siak atau sering orang menyebutnya pula sebagai songket Siak tentu saja berasal dari Siak, Provinsi Riau. Kota yang letaknya sekitar 100-an kilometer dari Pekanbaru, ibukota Riau. Tradisi tenun ini dimulai sejak zaman kesultanan Siak Sri Indrapura. Tepatnya saat Tengku Said Ali, yang bergelar Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Baalawi bertakhta di Kesultanan Siak. Dari cerita mulut ke mulut, konon tradisi tenun Siak ini mendapat pengaruh dari Kesultanan Trengganu di Malaysia.

Kini praktis tak cukup banyak perajin kain tenun atau songket Siak tradisional. Kalau pun ada, umumnya menggunakan tenun mesin. Di antara yang tak banyak itu, jika Anda tertarik menelusurinya, cobalah datang kawasan Kampung Bandar di sekitar Pelabuhan Bunga Tanjung, pelabuhan rakyat yang menghubungkan Kota Pekanbaru dan Selat Panjang.

Di belakang pelabuhan itu, masih bisa ditemui rumah panggung tradisional khas Siak yang dibangun sejak 1887 yang memproduksi tenun Siak tradisional. Bunyi dari rumah panggung itu seperti beras yang diayak di atas nyiru. Terus kontinyu selama satu hingga dua jam. Paling di antaranya jeda sesekali. Suaranya tenang sekejap, kira-kira 3-5 menit. Setelahnya, bunyi mesin kayu berderu lagi.

Di rumah itulah Wawa Endi, seorang perajin tenun Siak, tinggal dan berproduksi. Di tangannya, alat tenun manual sepanjang kira-kira 160 sentimeter terus-terusan bergemeretak dari pagi sampai sore. Rot penggulung benang dan kain, yang letaknya berseberangan, serta berfungsi merentangkan benang-benang sepanjang dua meter, berputar ganti-gantian.

Wawa adalah satu dari sangat sedikit penenun kain Siak tradisional. Jarinya lihai mengayun lidi pungut untuk membentuk beragam motif bunga cengkeh, sebuah simbol kekayaan masyarakat Melayu. Juga menarikan pola, membentuk berekor-ekor kalong yang berjajar mekanis. Tangan kirinya kadang mengangkat benang yang direntangkan vertikal, sedangkan tangan kanannya menyusupkan lembar-lembar benang emas sesuai pola.

Motif tenun Siak
Motif Tenun Siak. Dok TL-A. Prasetyo

Lembaran emas yang disematkan di kain tenun khas Siak itu diimpor dari Cina. Ada juga yang dari Singapura. Keduanya punya kualitas yang sama dan harganya pun tak jauh beda. Hanya, benang emas dari Singapura membuat kain bertekstur lebih kaku. Biasanya, kain dengan sentuhan benang emas Singapura dipakai untuk sarung, bagi laki-laki, dan selendang bagi perempuan. Sedangkan kain dengan sentuhan benang emas dari Cina acap dijahit menjadi baju.

Nuansa tenunan emas tersebut memperkuat kesan ‘calak’ yang melekat pada selembar kain tenun. Maklum, tenun kebesaran orang-orang Melayu ini memiliki ciri warna-warna cerah dan berani. Dari sejarahnya, benang yang dipakai untuk menghasilkan tenun Siak memiliki warna hijau, kuning, dan merah. Namun dalam perkembangannya, beragam inovasi muncul mendobrak aturan terhadap warna yang dipakai. Warna kain tenun Siak menjadi lebih beragam.

Menyematkan lembar emas di antara 3.486 helai benang tentu tak mudah. Satu lembar kain tenun Siak umumnya selesai dalam waktu 10 hari. Bisa lebih cepat jika si perajin sedang giat bekerja. Atau pesanan yang waktunya mendesak.

Corak atau motif kain tenun Siak Salah satunya kaya akan bunga cengkeh. Bunga cengkeh menyiratkan komoditas utama masyarakat yang tinggal di bumi Melayu. Selain bunga cengkeh, terdapat motif bertabur kalong, yang memiliki filosofi sifat berwibawa dan bertanggung jawab, representasi seorang pemimpin atau raja.

Memang, seturut dengan budayanya, kain tenun Siak merupakan simbol prestisius bagi pemakainya. Kain ini mulanya hanya dipakai di lingkungan kerajaan Siak Sri Indrapura. Yang mengenakan pun orang-orang kalangan bangsawan atau keturunan darah biru. Tak khayal, dari segi motif, tenun Siak mengangkat corak-corak yang mengandung nilai-nilai sakral, loyalitas, dan pengabdian—representasi seorang pemimpin.

Secara umum kain Siak memiliki 3 motif Siku dan 3 motif Pucuk. Masing-masing dengan maknanya. Ada Siku Keluang, Siku Awan, dan Siku Tunggal. Siku Keluang memiliki maknapribadi yang memiliki sifat bertanggung jawab yang menjadi idaman orang Melayu Riau. Siku Awan berartibudi pekerti, sopan santun, dan kelembutan akhlak, menjadi asas tamadun Melayu.

Sedangkan Siku tunggalmencerminkan sikap atau perilaku orang Melayu yang amat mengutamakan “persebatinan iman atau perpaduan umat” baik antara sesama Melayu atau pendatang. Landasan ini yang membuat orang Melayu menerima siapa saja yang datang.

Sementara itu, motif Pucuk juga ada tiga, yakni Pucuk rebung kaluk pakis bertingkat; Pucuk rebung bertabur bunga ceremai, dan Pucuk rebung penuh bertali.

Pucuk rebung kaluk pakis bertingkat berarti Pucuk rebung (kesuburan) mengandung makna kemakmuran hidup lahiriah dan batiniah. Kaluk pakis bertingkat (nilai tahu diri) merupakan sifat yang amat penting, sesuai dengan ungkapan tahu diri dengan perintah, tahu duduk dengan tegaknya, tahu alur dengan patutnya.

Pucuk rebung bertabur bunga ceremai bermakna nilai kasih saying, hormat-menghormati, lemah lembut, dan bersih hati, menjadi acuan dalam budaya Melayu Riau, banyak dilambangkan dengan hampir semua motif bunga. Serta Pucuk rebung penuh bertali yang berarti nilai budaya Melayu sangat dipengaruhi nilai-nilai Islam yang memberi tuntunan dan bimbingan agar manusia memiliki akhlak mulia sehingga menjalankan kehidupan yang benar.

Di luar motif Siku dan Pucuk, masih ada motif Daun tunggal mata panah tabir bintang, yakni corak dasar Melayu bersumber dari alam flora (bunga, kuntum, daun, dan buah), mengandung nilai falsafah keluhuran, kehalusan budi, keakraban, dan kedamaian. Dan motif Wajik sempurna yang melambangkan sifat Allah yang pemurah agar mendapatkan kasih dan kemurahan dari Allah, sepatutnya manusia bersyukur atas nikmat serta kurnia yang dilimpahkan.

Sehari-hari, kelompok perajin tenun Siak tradisional ini menggarap pesanan dari berbagai kalangan. Mereka menenun dari pukul 10 pagi sampai pukul 4 sore. Penggarapnya berganti-gantian lantaran alat tenun yang tersedia cuma tiga. Sisanya akan menggarap pekerjaan lain, semisal memintal benang, mengemas kain yang sudah selesai ditenun, sampai memasak untuk makan siang.

Waktu berjalan, budaya berganti. Perempuan dari keluarga Siak biasa pun kemudian diajari untuk menyungkit kain warisan kerajaan tersebut. Kemudian, tenun Siak juga tak cuma dipakai kaum bangsawan untuk rangkaian upacara atau seremoni tertentu. Seperti batik, tenun Siak meluas fungsinya menjadi kain yang digunakan untuk beragam acara.

Penduduk biasa pun mulai membuka usaha tenun, di sepanjang Sungai Siak—yang membentang dari Tapoeng, Kampar, dan bermuara di Selat Panjang. Budaya menenun kain merembet sampai Pekanbaru. Bahkan, tenun ini kini lebih populer ditemukan di Pekanbaru daripada di tanah muasalnya.

Beberapa orang mengatakan alasannya karena pasar yang lebih jelas. Selain itu, relevansi historis ternyata turut mempengaruhi. Sejarah Riau mencatat, pada 1762, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah memindahkan pusat Kerajaan Siak Sri Indrapura dari Mempura Besar ke Bukit Senapelan, wilayah Kampung Bandar. Banyak orang asli Siak bermigrasi ke sana. Mereka disebut sebagai orang Pokan, yakni orang yang merantau akibat perdagangan. Mereka lantas membuka usaha tenun.

Meski dihantam inovasi atau bergerak meluas dari tanah asalnya, tak ada yang berubah dari nilai simbol tenun Siak, utamanya perihal motif. Penenun tetap mempertahankan corak demi corak, sesuai bentuk mula tenun tersebut berkembang. Stylisasi flora, fauna, dan alam sekitar, terjaga utuh di lembaran kain berharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah itu.

F. Rosana/A. Prasetyo

Ternate, Pulau Vulkanik Dengan 2 Warna

Danau Ngade

Ternate, pulau vulkanik dengan 2 warna tradisi belum banyak diketahui orang. Dari pelajaran sejarah, kita hanya dikenalkan adanya Kesultanan Ternate dan Tidore. Tapi jejaknya seperti apa, lebih banyak orang yang kurang paham dari daerah di kawasan Maluku Utara ini.

Ternate, Pulau Vulkanik Dengan 2 Warna

Berada di kaki Gunung Gamalama, Ternate yang dikelilingi laut sesungguhnya tak hanya menawarkan wisata bahari. Pulau yang berada di Provinsi Maluku Utara ini juga menarik ditelusuri sejarahnya melalui peninggalannya. Maklum, seperti disebut di muka, pada abad ke-13 di pulau ini berdiri Kesultanan Ternate, yang tradisinya hingga sekarang masih dipertahankan.

Pemerintah daerah setempat pun menggelar Festival Legu Gam setiap tahun untuk merayakan ulang tahun Sultan Ternate. Festival itu biasanya digelar setiap April.

Pada kesempatan itu, rakyat Ternate berpesta. Masyarakat berkumpul di Kedaton atau Istana Sultan Ternate. Di sana, digelar prosesi adat, pagelaran seni dan budaya, serta pameran yang terkait dengan usaha kecil dan sumber alam provinsi yang terdiri atas delapan pulau ini. Termasuk kerajinan tangan lokal. Kemeriahan sudah pasti berlangsung selama festival, yang biasa digelar hingga dua minggu ini.

Tentu tak harus sampai dua minggu untuk menikmati Ternate. Setiap hari ada penerbangan langsung dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Jika kehabisan tiket penerbangan langsung, wisatawan masih bisa mencari penerbangan sambungan (connecting). Bisa dari Makassar, atau Manado. Dari Manado, penerbangan hanya berlangsung sekitar 30 menit. Sedangkan jika dari Jakarta, penerbangan akan berlangsung 3 jam dan 45 menit. Ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Ternate, yakni dua jam.

Ternate, tentu, bukan kota besar. Namun, menariknya, jika kita berkeliling kota, banyak nuansa kolonial Portugis mewarnai kotanya. Semisal, Benteng Tolukko yang dibangun bangsa Portugis pada 1540 agar bisa tetap menguasai cengkeh yang menjadi hasil khas pulau ini. Lokasinya strategis karena berada di puncak bukit.

Selain itu, ada Benteng atau Fort Oranje yang menjadi pusat pemerintahan VOC sebelum dipindahkan ke Batavia pada abad ke-17. Tak hanya dua benteng yang dibangun Portugis, masih ada Benteng Kalamata, Benteng Kota Janji, dan Benteng Kastela. Fort Oranje dibangun abad 15 dan sekarang sering menjadi tempat pementasan seni budaya lokal.

Selain diwarnai peninggalan kolonial Portugis dan Belanda, Ternate yang dulunya Kesultanan juga pekat dengan nuansa Islam. Kesultanan ini dulunya memang dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur.

Karena itu, saat wisatawan berada di pusat kota, langsung mendapat suguhan dua peninggalan zaman Kesultanan Ternate, yakni Kedaton (istana) Ternate dan Masjid Kesultanan Ternate.

Sebagai daerah kesultanan, Ternate mempunyai istana yang dikenal sebagai Kedaton Ternate. Bangunan berwarna kuning muda itu menyimpan koleksi kesultanan. Ada mahkota berumur 500 tahun. Kemudian sebuah lemari kaca yang menyimpan sejumlah pedang atau kelewang. Masih ada pula singgasana sultan, ruang makan, dan lain-lain.
Istana yang dibangun pada 24 November 1813 ini berada di atas lahan seluas 1,5 hektare dan berada di pusat kota.

Hanya berjarak 100 meter lokasinya dari Kedaton Ternate, terletak  Masjid Kesultanan Ternate. Masjid ini didirikan pada masa  Sultan Ternate yang kedua atau awal abad ke-17. Memiliki arsitektur unik, berbentuk limas dengan enam undakan. Terbilang sederhana, bangunan terbuat dari batu yang direkatkan oleh getah kayu pohon Kalumpang. Setiap Ramadan, ada tradisi unik antara sultan dan rakyatnya.

Selain masjid lawas peninggalan kesultanan, Pemerintahan Kota Ternate kini menambahkan sebuah ikon kota sebagai penanda warisan tradisi agama Islam di daerah ini, yakni Masjid Al-Munawaroh. Yang unik, masjid ini dibangun pemerintah Kota Ternate tepat di bibir pantai. Terlihat begitu menawan saat dipandang dari arah laut. Tak mengherankan, masjid yang berdiri di atas lahan seluas enam hektare ini sekarang menjadi landmark kota ini. Empat menara yang menjulang dan keramiknya yang indah ternyata diterbangkan langsung dari Turki.

Tentu tidak sah bagi penyunjung Ternate, terutama mereka para pencinta bahari, jika tidak berperahu ke pulau-pulau lain di sekeliling kota ini. Keindahan laut bisa dinikmati dengan mampir ke Pantai Sulamadaha.

Pantai di pulau ini benar-benar tak boleh dilewatkan selama liburan akhir tahun di Ternate. Di dekat pantai berpasir hitam nan luas ini temukan juga Teluk Saomahada, dengan air hijau toska dan tenang, inilah salah satu spot favorit di sana. Berbentuk mirip laguna, wisatawan bisa berperahu dengan tenang atau berenang di sini. Juga snorkeling. Objek wisata ini bisa dicapai dalam 30 menit dari pusat kota Ternate. Ada pula pantai yang jaraknya cukup jauh, yakni 20 kilometer dari pusat kota, yakni Pantai Bobaneha Ici.

Pantai lain yang bisa dikunjungi wisatawan saat di Ternate adalah Pantai Tobololo. Berada di utara Ternate, pantai ini termasuk dalam Kelurahan Tobololo dan bisa dicapai dalam 20 menit dari pusat kota. Lokasinya boleh dibilang diapit Pulau Halmahera dan Pulau Hiri. Di beberapa titik tertentu, bisa temukan air panas yang bersumber dari Gunung Galamalama. Jarak pantai dengan air panas biasanya tergolong dekat, sekitar 1 meter.

Atau bila ingin duduk manis sembari menikmati alam, bisa singgah ke Danau Tolire yang berada di kaki Gunung Gamalama. Ada dua danau yang bisa ditemukan. Namanya sesuai ukuran, yakni Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil. Luasnya mencapai 5 hektare dengan kedalaman 50 meter. Di latar belakang tampak Gunung Gamalama nan gagah, apalagi bila langit tengah cerah.

Datanglah di sore hari, karena keindahan mentari tenggelam sempurna dari lokasi ini. Dengan latar laut, langit memunculkan senja nan indah. Lokasi Danau Tolire Kecil lebih dekat dengan laut. Jadi dua danau yang bersebelahan ini diapit gunung di satu sisi dan di sisi lainnya laut. Lokasinya sekitar 10 kilometer dari pusat kota.

Selain Danau Tolire, masih ada DanauNgade yang berair tawar, meskipun berdekatan sekali dengan laut. Dilihat dari ketinggian hanya ada batas tipis antara danau dan laut. Di sekeliling danau penuh dengan warna kehijauan. Spot foto pun benar-benar instagrammable. Kini bahkan sudah dilengkapi dengan restoran yang menawarkan menu ikan tawar, hingga menikmati danau pun bisa sembari wisata kuliner.

Jadi kapan Anda main-main ke Ternate? L

R. Nariswari

Lontong Balap Surabaya, Ini 6 Yang Enak

Lontong balap Surabaya jelas tak ada hubungannya dengan dunia otomotif atau olah raga pacuan. Cukup bayangkan sepiring makanan yang terdiri dari potongan lontong berkuah dengan isian tauge, tahu, dan lentho. 

Lontong Balap Surabaya

Lentho ini sejenis gorengan terdiri dari kacang tholo dengan tepung. Tidak ketinggalan lontong balap diguyur dengan sambal petis yang merupakan ciri khasnya.

Nama lontong balap sendiri muncul dari sebutan masyarakat melihat para penjualnya berangkat menjajakan penganannya. Ada dua versi dari “balapan” para penjualnya.

Versi pertama muncul dari kisah pemilik kedai Cak Pri. Menurut cucu dari pemilik kedai yang sudah berjualan sejak 1913 itu, para pedagang lontong ini semuanya berjualan di daerah kebun binatang. Setiap pagi mereka keluar rumah dengan naik sepeda untuk menjual lontong dan saling berkebut-kebutan menuju lapaknya.

Lontong Balap Surabaya mejadi ikon kuliner kota ini, seperti Jembatan Suramadu.
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura

Sementara versi lainnya, sejarah nama lontong balap ini bermula dari wadah serupa gentong yang dipikul penjualnya. Agar tidak ketinggalan pembeli, para penjual ini memikul dagangannya dengan setengah berlari sehingga terlihat seolah saling balapan.

Tapi intinya, dinamakan lontong balap karena penjualnya saat itu menjual dengan cara dipikul. Karena isi pikulan banyak bahan makanan, sehingga membuatnya terasa berat. Jadi untuk mengatasinya penjualan berjalan cepat seperti balapan.

Lontong balap Surabaya kini menjadi favorit, tidak saja bagi masyarakat kota Pahlawan ini, tapi juga banyak pengunjung dari daerah lain. Ini karena cita rasanya yang enak. Tampilannya mungkin mirip kupat tahu Magelang, tapi rasanya tentu berbeda.

Dan seperti disebut di atas, ciri khas lain lontong balap Surabaya ini adalah adanya lentho. Lentho terbuat dari kacang yang direndam dengan berbagai bumbu selama satu malam yang kemudian ditumbuk. Hasilnya dibentuk dengan dikepal lalu digoreng.

lntho Surabaya shutterstock
Lentho sebagai side dish makan lontong balap Surabaya. Foto shutterstock

Lontong balap kini dapat dijumpai di berbagai titik di Surabaya, seperti di Jalan Kranggan, di daerah Wonokromo, dan di banyak sentra Kuliner yang dikelola Pemerintah Kota Surabaya. Harga yang ditawarkan pun cukup murah, yakni pada kisaran mulai Rp 10 ribu per porsinya hingga Rp 15 ribu.

Bila berkunjung ke ibu kota Jawa Timur ini, lontong balap Surabaya bisa jadi pilihan makan siang atau sore hari. Lebih maknyus lagi jika disantap dengan sate kerang dan kerupuk.

Lalu di mana pecinta kuliner bisa menikmati lontong balap Surabaya yang maknyus? Berikut pilihannya.

Kedai Cak Pri

Ini termasuk yang legendaris karena sudah berjualan sejak  1913. Kini sudah ada di tangan generasi ke tiga. Dulunya berjualan di Jalan Semarang, Kecamatan Bubutan. Menurut pemiliknya, waktu itu bahkan belum disebut lontong balap.
Saat ini Kedai Cak Pri ada di Jalan Kebalen (Sampoerna), Surabaya.

Lontong Balap Pak Gendut Asli

Tempat ini memiliki sejarah cukup panjang. Lontong Balap Pak Gendut dimulai pada 1958. Saat itu, cara berjualan keluar masuk kampung dengan ditemani rombong pikulan khas lontong balap.

Pada 1970-an Pak Gendut mulai membantu orang tuanya dengan melanjutkan jualan lontong balap di depan Bioskop Garuda. Bioskop di jalan Kranggan ini dikenal sebagai tempat mangkal penjual lontong balap. Kerap kali dijuluki sebagai lontong balap Garuda karena masih memakai lapak kaki lima persis di depan bioskopnya.

Lalu pada 1995 lontong balap Garuda milik Pak Gendut diubah menjadi lontong balap Pak Gendut karena julukan dari para pelanggan yang mungkin tidak tahu nama asli dari Pak Gendut. Jadi pelanggan setia Pak Gendut memberikan julukan itu karena memang poster tubuhnya yang gendut.

Dalam seporsi lontong balap Pak Gendut, pecinta kuliner akan mendapatkan beberapa irisan lontong, lentho, kecambah, kecap, kuah segar, dan bawang goreng. Rasa yang gurih dan nikmat menjadikan tempat ini menjadi tempat terfavorit berburu lontong balap. Kedai ini juga menyajikan sate kerang yang nikmat.

Kedai ini bisa ditemui di Jalan Prof. Dr. Moestopo dan buka mulai pukul 09.00 – 21.00 WIB. Harga yang dibandrol untuk 1 porsi lontong balap ini juga cukup murah cukup Rp 14 ribu.

Lontong Balap Khas Surabaya shutterstock
Masakan ini cocok di makan siang hari atau sore hari sebelum makan malam. Foto: shutterstock

Lontong Balap Cak Brengos

Lontong balap ini telah berdiri sejak 1989. Lontong balap ini diberi nama Cak Brengos karena pendirinya memiliki kumis (brengos dalam bahasa Jawa) yang tebal. Tempat makan ini berada di jalan Anjasmoro (samping pengadilan). Buka pada pukul 08.00-16.00

Kedai Lontong Balap Cak No

Kedai yang sudah berjualan selama 17 tahunan ini juga terbilang kedai lontong balap legend. Harganya yang murah meriah dan bikin kenyang membuatnya memiliki begitu banyak pelanggan tetap. Ya, harga untuk seporsi lontong balap ini dibandrol kisaran Rp 10 ribu. Porsinya juga cukup banyak.
Dalam sehari kedai lontong balap Cak No ini mampu meracik kisaran 350 porsi lontong balap. Nah, bagaimana dengan weekend? Di hari Sabtu dan Minggu, konon katanya kedai ini mampu meracik hingga 500 porsi lebih.
Kedai lontong balap Cak No terletak di Jalan Bromo No 7 Kecamatan Sawahan Surabaya. Buka setiap hari dari pagi pukul 07.00 sampai pukul 12.00 atau sampai habis.

Kedai Artomoro

Kedai lontong balap Artomoro tak hanya menyediakan lontong balap, ada kuliner tradisional khas Sidoarjo yang juga dijual di sini, lontong kupang. Seperti namanya, lontong kupang berbahan dasar kupang yang disajikan dengan lontong.

Kedai lontong balap terkenal di Sidoarjo ini memiliki ciri khas kuah yang gurih, asin, manis dan pedas. Nah, ciri khas inilah yang menjadi daya tarik dari kedai lontong balap Artomoro. Selain itu harga yang dipatok disini cukup murah dan disediakan juga es kelapa muda yang menyegarkan.
Kedai lontong balap Artomoro berlokasi di Jalan Raya Menur.

Lontong Balap Rajawali

Kedai lontong balap Surabaya ini menawarkan seporsi lontong balap dengan potongan tahu goreng, tauge, sambal petis, kecap, bawang goreng dan lentho yang lezat. Harga untuk seporsinya kisaran Rp 15 ribu.

Seperti kedai lontong lainnya, kedai lontong satu ini juga menyediakan sate kerang dengan banderol harga Rp. 15.000 untuk 1 porsinya (1 porsi = 10 tusuk).
Kedai legendaris yang sudah buka sejak 956 ini bisa ditemui di jalan Krembangan Nomor 32 Surabaya atau lebih tepatnya berada di depan SPBU Rajawali. Jam operasionalnya setiap hari Senin-Sabtu mulai pukul 06.00 sampai dengan 16.30.

Ayo agendakan balapan kulineran ke lontong balap Surabaya.

agendaIndonesia

*****

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan (Bagian 2)

Wisata Kuningan dan menikmati sejumlah spot di kawasan ini.

Jelajah gunung tanah Parahyangan, Jawa Barat, mungkin tidak sepopuler kawasan Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau Gunung Bromo dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Namun, seperti dua daerah lainnya tersebut, wilayah Jawa barat juga memiliki kontur geografis yang bergunung-gunung.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan

Tanah Pasundan malah dinilai memiliki kontur tanah yang naik turun dari ujung ke ujung wilayah. Mungkin karena itulah Jawa Barat dikenal juga sebagai tanah Parahyangan: Para Hyang atau para dewa. Mereka yang dipercaya menghuni tempat-tempat yang tinggi. Parahyangan bisa berarti tempat tinggal para dewa.

Setelah menikmati dua Taman Nasional di Jawa Barat pada artikel sebelumnya, kali ini cerita berlanjut ke sejumlah loka yang umumnya bisa dinikmati wisatawan umum. Pengunjung yang mencapai kawasan-kawasan ini tak melulu para pecinta alam, tapi banyak yang sekadar ingin menikmati petualangan tipis-tipis. Berikut artikel ke dua dari kisah penjelajahan gunung-gunung di tanah Parahiyangan.

Gunung Tangkuban Perahu

Tangkuban Perahu shutterstock
Gunung Jawa Barat, Gunung dan dan kawah Tangkuban Perahu. shutterstock

Siapa tak kenal tokoh Sangkuriang dan ibunya, Dayang Sumbi? Perseteruan keduanya telah membuat Sangkuriang mengamuk dan menendang perahu bikinannya hingga menjadi sebuah gunung. Tentu ini hanyalah kisah legenda. Namun tak bisa dipungkiri wujud Tangkuban Perahu memang mirip perahu yang terbalik. Juga ragam bentang alam di sekitarnya, mampu memukau setiap mata yang memandang.

Untuk menuju puncak gunung, tak perlu repot mendaki. Tempat parkirnya berada di dekat bibir kawah yang menjadi daya tarik utama. Destinasi pertama, Kawah Ratu, merupakan yang terluas dari sembilan kawah di Tangkuban Perahu.

Tanahnya berwarna putih dengan batu-batu kekuningan karena kandungan belerang. Di sejumlah sudut, asap putih yang membubung menandakan masih aktifnya kawah tersebut. Biasanya pengunjung tidak boleh turun ke bawah karena posisinya berada di kedalaman gunung dan menguapkan gas beracun.

Dari Kawah Ratu, wisatawan dapat berjalan kaki sekitar 1,2 kilometer atau naik kendaraan ke Kawah Domas. Di kawah ini pengunjung boleh melihat kawah dari dekat, bahkan membasuh diri atau merebus telur di sumber air panasnya. Selain itu, ada pula beberapa orang yang menyediakan jasa spa lumpur yang diyakini bermanfaat menyembuhkan penyakit kulit.

Kawah ketiga yang cukup populer adalah Kawah Upas yang berjarak sekitar satu kilometer dari Kawah Ratu. Letak kedalaman kawah mirip dengan Kawah Ratu, sehingga pengunjung tidak boleh terlalu dekat berada di inti kawah.

Ke kawah mana pun Anda menuju, jangan lupa mengenakan jaket untuk menghangatkan badan. Dengan ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut, suhu Tangkuban Perahu berkisar 17 derajat Celcius pada siang hari dan 2 derajat Celcius di kala malam. Jika tak jua hangat, bisa juga mencoba menyeruput teh hangat dan ketan bakar yang merupakan kuliner khas Lembang.

Jelajah Lembang

Udara yang sejuk dan alam yang permai mendorong hadirnya berbagai destinasi wisata di lereng Tangkuban Perahu, tepatnya di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Bagi para pencinta aksi petualangan, terdapat aneka alternatif wisata outbound, dari yang ramah untuk anak hingga yang ekstrem.

Salah satunya, Dusun Bambu Family Leisure Park yang cocok menjadi tempat rekreasi bersama keluarga. Di sini anak-anak bisa mengenal satwa sembari memberi makan kelinci, bebek, domba, dan kura-kura. Untuk mengasah bakat seni, bisa juga mengikuti kelas mengecat keramik. Ada pula wahana panahan, air soft gun, dan All Terrain Vehicle (ATV) untuk menjelajah alam bebas.

Masih di Lembang, pengalaman yang disuguhkan Bandung Treetop Adventure Park tak kalah menantang. Tempat ini memiliki arena menjelajah hutan dari ketinggian. Rasakan sensasi melayang dengan melintasi flying-fox atau berjalan dari pohon ke pohon di atas jembatan tali.

Setiap wahana telah dirancang sedemikian rupa dengan tingkat kesulitan yang bertahap sehingga bisa dinikmati segala usia. Anak usia 4 tahun dapat menjajal ketangkasannya pada ketinggian 2 meter, sementara pecandu adrenalin dapat beraksi pada ketinggian 20 meter di atas pohon. Tak perlu takut jatuh karena semua sirkuit sudah dilengkapi life-line support untuk menjamin keamanan.

Destinasi wisata unik lainnya adalah De Ranch yang menawarkan konsep tamasya di peternakan kuda. Pengunjung dapat berkuda dengan aksesori lengkap ala koboi. Ada pula wahana permainan lain seperti trampolin, the gold hunter, balon air, panahan, peti luncur, hingga flying-fox.

Usai menjelajah alam di alam bebas, tak ada salahnya menyempatkan berbelanja di Pasar Terapung Lembang. Sesuai namanya, para pedagang di sini menjajakan makanannya di atas perahu yang mengapung di kawasan danau buatan. Bahan makanan yang dijual pun menarik untuk dicoba, di antaranya sayuran, ikan, atau jajanan tradisional khas Jawa Barat seperti karedok, batagor, dan durian bakar.

Gunung Papandayan

Mendaki gunung tak melulu identik dengan kegiatan ekstrem yang menguras energi. Di Papandayan, rute sampai ke puncak didominasi medan yang landai dan dilengkapi prasarana yang cukup memadai. Ini membuatnya menjadi destinasi yang tepat bagi para pendaki pemula atau penyuka wisata alam dengan trek yang bersahabat.

Jalur yang dimaksud adalah melalui Desa Cisurupan, Kabupaten Garut. Namun jika ingin lintasan yang lebih menantang dapat memilih mendaki via Pengalengan, Kabupaten Bandung. Selain itu, di sepanjang jalan pendaki juga dapat menemukan sumber air bersih dengan mudah.

Lalu jika sewaktu-waktu ingin buang hajat, tak usah repot menggali tanah. Terdapat beberapa toilet yang bisa digunakan pada jalur pendakian. Bahkan sudah tersedia warung makan yang menjual mi instan atau nasi goreng sehingga Anda tidak perlu memasak. Karena ada warung, tentu ransel pun menjadi lebih ringan karena tak perlu membawa air minum terlalu banyak.

Meski telah dilengkapi berbagai fasilitas, Gunung Papandayan tetap menyajikan lanskap yang menawan. Berada di Kabupaten Garut, gunung berapi stratovolcano setinggi 2.665 mdpl ini memiliki kawah luas yang terbentuk akibat beberapa kali erupsi. Satu lagi yang tak kalah memukau, yakni hamparan padang bunga Edelweis bernama Tegal Alun. Berada di tengah bunga keabadian akan memberikan sensasi istimewa yang tak terlupakan.

Gunung Ciremai

Dengan ketinggian mencapai 3.078 mdpl, Ciremai menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat. Kawasannya sendiri telah menjadi sebuah taman nasional dengan luas lebih dari 15 ribu hektare. Maka wajar jika rimba yang menyelimutinya merupakan habitat flora dan fauna langka, seperti elang Jawa, surili, dan macan kumbang.

Secara administratif, Taman Nasional Gunung Ciremai menempati dua kabupaten, yakni Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Karenanya, gunung ini memiliki cukup banyak alternatif jalur pendakian, di antaranya lewat Linggasana, Palutungan, Apuy, dan Linggarjati. Bagi penyuka tantangan, cobalah mendaki dari jalur Linggarjati. 

Layaknya sebuah taman nasional, cukup banyak tujuan wisata yang bisa dikunjungi di Ciremai. Sebut saja air terjun yang tersebar di berbagai sudut, seperti Curug Sawer, Curug Sabuk, Curug Putri, dan Curug Tonjong. Dari aspek budaya, kawasan ini memiliki tempat bernilai historis tinggi dan dikeramatkan, di antaranya Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).

Di puncaknya, Gunung Ciremai mempunyai dua buah kawah. Kawah pertama beradius 400 meter yang terpotong oleh kawah kedua di timur dengan radius 600 meter. Keunikan lainnya adalah keberadaan Gowa Walet yang terbentuk akibat letusan. Titik ini merupakan salah satu tempat favorit pendaki untuk mendirikan tenda.

Gunung Cikuray

Bagi orang awam, namanya memang kurang populer. Namun para pendaki justru memiliki kesan tersendiri ketika menjelajahi gunung ini. Lokasinya sulit diakses dengan angkutan umum. Begitu mendaki, sulit menemukan sumber air di sepanjang jalan. Hanya medan yang curam dan jurang yang menganga. Di baliknya, kisah peradaban kuno Nusantara semakin menambah seru petualangan.

Berdasarkan naskah kuno, lereng Gunung Cikuray pernah menjadi mandala atau pusat pertapaan para pendeta dan pembelajaran beragam ilmu. Waktu itu adalah era Kerajaan Sunda Galuh yang berpusat di Pakuan Pajajaran. Tulisan ini masih tersimpan rapi di perpustakaan Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Kabupaten Garut.

Untuk mencapai puncak Cikuray, bisa memilih lewat Bayongbong, Cikajang, atau yang terfavorit, rute pemancar di Cilawu. Dinamakan jalur pemancar karena terdapat beberapa stasiun pemancar televisi di situ.

Puncaknya sendiri merupakan tanah datar yang cukup luas. Pada ketinggian 2.821 mdpl, Anda dapat menyaksikan matahari terbit di tengah lautan awan. Sementara di kejauhan, Gunung Ceremai dan Gunung Slamet tampak menjulang.

Tenun Sutera Sengkang, Budaya Sejak 1400

Tenun Sutera Sengkang khas masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan.

Tenun sutera Sengkang dari Sulawesi Selatan memperlihatkan kekayaan budaya dan tradisi Indonesia, khususnya bagi masyarakat Bugis. Sulawesi Selatan dengan masyarakat Bugis-nya merupakan salah satu masyarakat di Indonesia yang memiliki budaya menenun kain sutera sejak tahun 1400-an.

Tenun Sutera Sengkang

Ada begitu banyak keunikan adat istiadat mulai dari tradisi dan upacara adat, hingga rumah adat yang dimiliki suku ini. Salah satu di antaranya adalah kain tenun sutera.

Sutera dalam bahasa Bugis disebut “sabbe”, hasil dari ulat sutera ini kemudian dijadikan kerajinan tenun yang menjadi kebanggaan suku Bugis. Hasilnya dipergunakan anggota masyarakat sebagai pakaian adat. Dan di antara motif kain sutera Bugis yang terkenal, adalah kain tenun sutera Sengkang.

Kain tenun Sengkang adalah kain sutera motif warisan nusantara Sulawesi Selatan. Sengkang merupakan ibu kota dari Kabupaten Wajo di Sulawesi Selatan. Berjarak kurang lebih 250 kilometer dari Makassar, Sengkang dikenal sebagai kota penghasil sutera terbesar di Sulawesi Selatan

Tenun Sutera Sengkang menjadi ciri khas produksi masyarakat Kabupaten Wajo.
Danau Tempe yang ada di kabupaten ini. Foto: situs Desa Lampulung

Bagi masyarakat Bugis kain tenun memiliki nilai tradisi dan budaya dari nenek moyang mereka yan sudah berusia ratusan tahun. Kain tenun menjadi pakaian keseharian dan sebagai alat untuk menutup tubuh dalam dalam menahan pengaruh dari alam sekitar.

Kain tenun sutera Sengkang juga digunakan sebagai hadiah dan simbol status  yang dianggap suci. Tak hanya itu kain tenun juga merupakan pakaian dan benda yang digunakan dalam upacara adat.

Di Kabupaten Wajo terdapat mulai dari petani ulat sutera hingga perajin tenun sutera. Salah satu desa di kabupaten ini, yakni Desa Pakanna, bahkan dijuluki sebagai kampung penenun. Wajo merupakan daerah penghasil sutera terbesar di Sulawesi Selatan.

Dari hulu ke hilir, hampir seluruh wilayah di Kabupaten Wajo ini dipenuhi oleh petani ulat sutera hingga perajin tenun sutera. Produktivitas sutera tersebut, memicu pengembangan produksi kain tenun Sengkang yang dikenal sebagai kain sutera motif warisan nusantara dari Sulawesi Selatan.

Proses pembuatan benang sutera menjadi kain kain sutera oleh masyarakat umumnya masih dengan cara tradisional. Demikian pula dengan proses penenunan dari benang menjadi kain, masih menggunakan peralatan tenun tradisional.

Alat tenun tradisional di sini disebut alat tenun gedongan. Dari alat ini diproduksi kain-kain tenun sutera dengan bergabai macam motif dan corak. 

Tenun Sutera Sengkang memakai alat tenun tradisional. Foto: iStock

Pelbagai jenis corak dan motif yang diproduksi seperti “Balo Tettong”, ini motif bergaris atau tegak; motif “Makkulu” yang artinya melingkar; motif “Mallo’bang” yang berarti berkotak kosong; atau motif “Balo Renni” ini artinya berkotak kecil.

Selain itu ada juga diproduksi dengan mengkombinasikan atau menyisipkan “Wennang Sau” atau lusi timbul serta corak “Bali Are” dengan sisipan benang tambahan yang mirip dengan kain Damas.

Motif khas tenun sutera Sengkang di antaranya adalah Sirsak Coppobola, Ballo Makalu, Ballo Renni, Cabosi dan Lagosi serta motif nusantara lainnya.

Setiap motif kain tenun Sengkang memiliki makna simbolisnya masing-masing. Misal saja, motif Mappagiling. Motif ini konon dibuat oleh seorang wanita yang ditinggal  suaminya namun akhirnya suaminya kembali pulang karena melihat motif tersebut yang dibelinya dari seorang pedagang sutera yang menjual kain motif hasil tenunan istrinya.

Setiap warna juga dipertimbangkan, sebab bagi masyarakat Bugis, setiap warna memiliki makna tertentu. Misalnya saja warna merah yang berarti berani karena benar, putih yang berarti kesucian, hijau yang berarti subur dan makmur, dan kuning yang berarti indah serta mulia.

Dalam penggunaan warna sering juga dihubungkan dengan sifat kejiwaan seseorang, seperti warna hitam dihubungkan dengan kedukaan, merah dihubungkan dengan perasaan gembira, dan putih dihubungkan dengan kesucian.

Tenun sutera Sengkang dengan aneka motifnya. Foto: IG Tenun Sengang

Ciri khas dari kain sutra Sengkang ini adalah motifnya yang memiliki warna warni mencolok dan berpola vertikal. Masing-masing motif memiliki makna tersendiri yang menunjukan status pemakainya seperti misalnya perbedaan motif kain untuk wanita lajang dan sudah menikah.

Kerajinan tenun sutera Sengkang tersebut memperkaya budaya dan keragaman di Indonesia. Masih banyak anggota masyarakat yang menggunakannya sebagai pakaian adat. Juga kain tenun sutera Sengkang ini. 

Kain tenun Sengkang, selain memiliki nilai tradisi dan budaya adat yang digunakan dalam upacara adat, kain tenun Sengkang tersebut juga digunakan sebagai hadiah dan sebagai simbol yang dianggap suci.

Untuk mendapatkan kain tenun Sengkan ini pecinta kain Nusantara selain bisa melancong ke Sengkan di Wajo. Bisa pula main ke Makassar, di mana cukup banyak toko cindera mata di sini yang menjualnya. Salah satunya di pusat oleh-oleh Makassar, Toko Aneka Sutra. 

Harga kain sutera Sengkang sangat bervariasi tergantung kerumitan pembuatannya dan lebar kain. Harga yang dibanderol untuk sutera sutera Sengkang ini bervariasi mulai dari Rp150 ribu hingga jutaan rupiah.

agendaIndonesia

*****

De Javasche Bank 1829, Cabang Jadi Museum

De Javasche Bank di Surabaya yang kini menjadi Museum Bank Indonesia.

De Javasche Bank hampir pasti tidak dikenal anak-anak milenial. Bahkan mereka yang berasal dari generasi X dan Y pun rasanya tak banyak yang tahu. Betul, ini memang nama bank di zaman kolonial Belanda.

De Javasche Bank

Pada zaman Hindia Belanda, ini adalah bank central yang memakai nama De Javasche Bank itu. Bank-nya sendiri kini, tentu, sudah tidak ada, tinggal gedungnya saja. Fungsi perbankan dan keuangannya sudah diambil alih pemerintah Indonesia dan menjadi Bank Indonesia.

De Javsche Bank di Surabaya menjadi saksi perjalanan perbankan dan keuangan di Indonesia.
Gedung De Javasche Bank yang kini menjadi gedung Bank Indonesia di Surabaya. Foto: tourism.surabaya.go.id

Gedungnya menjadi kantor Bank Indonesia di Surabaya, dan sebagian dialihfungsikan menjadi museum. Kini ia memang menjadi Museum Bank Indonesia, meski sejumlah orang Surabaya mungkin masih suka menyebutnya dengan nama lamanya, De Javasche Bank. Perjalanannya sama dengan kantor utamanya di Jakarta dulu, sama-sama menjadi Museum Bank Indonesia.

Gedung De Javasche Bank, atau sekarang Gedung Bank Indonesia Surabaya, mengusung konsep neo-Renaissance yang memiliki ciri khas unsur simetris.  Bangunan seluas 1.000 meter persegi ini sebenarnya adalah hasil pemugaran yang dilakukan pada 1910. Pemerintah Hindia Belanda memutuskan membangun gedung baru di tempat yang sama dengan alasan modernisasi. Bangunannya didesain lebih ramah terhadap iklim tropis di Indonesia.

Gedung ini difungsikan pertama kali pada 14 September 1829, sekitar setahun setelah De Javasche Bank berdiri di Jakarta. Gedung ini sendiri sudah tidak digunakan untuk kegiatan perbankan pada 70-an. Hingga pada 2012, kabar gembira pun datang bagi para penikmat sejarah bangunan tua. Bangunan eks De Javasche Bank resmi dibuka sebagai museum dan ruang pamer.

Buat siapa saja, bangunan-bangunan dari zaman kolonial selalu punya kesan megah. Termasuk untuk gedung-gedung di sekitar Surabaya Utara ini. Termasuk gedung yang kini menjadi Museum Bank Indonesia Surabaya ini. Sebuah gedung megah yang ikonik.

Sayangnya ia sering terlewat. Bagaimana tidak? Pintu utama bank yang berhias pilar-pilar raksasa sering tertutup oleh terminal bayangan angkutan kota. Praktis, masuk ke museum pun harus melalui bagian belakang yang tak jauh dari area parkir.

Jika berkunjung ke Surabaya, sempatkanlah berkunjung ke museum ini dan mempelajari sejarah perbankan dam keuangan Indonesia. DI sini pengunjung akan dibawa berkeliling oleh seorang pemandu.

Pengunjung bisa melihat deretan foto-foto hitam putih De Javasche Bank di masa lalu. Seperti disebut di muka bank yang didirikan pada 1828 di Batavia. Lalu, dibangun cabang di Surabaya setahun kemudian.

Gaya arsitektur neo-renaissance selain di luar juga terlihat di dalam. Bersiap-siaplah ternganga dengan kemegahan gedung berusia lebih dari seabad ini. Ada beberapa ruang utama yang bisa dicermati pengunjung, seperti ruang transaksi perbankan, ruang brankas, dan ruang mesin-mesin lawas berikut dengan koleksi mata uang zaman dahulu.

Selama berkeliling di museum, pengunjung akan diajak untuk merasakan menjadi nasabah bank zaman lampau. Contohnya, saat berada di ruang transaksi utama tempat kesibukan kegiatan perbankan dulu berpusat.

Ada bilik-bilik kayu berjeruji besi yang hanya muat satu orang dan terhubung langsung dengan loket teller. Di sinilah transaksi keuangan terjadi. Bilik ini pun bisa dikunci dari dalam. Gunanya untuk menjamin keamanan transaksi mengingat kemungkinan kejahatan bisa terjadi.

Mengunjungi ruang brankas juga menjadi pengalaman menarik. Terlebih di masa itu, nasabah harus membuka pintu berjeruji besi seperti di penjara. Jadi, setelah nasabah masuk, pintu jeruji digembok dari dalam. Lanjut masuk ke lorong bertembok putih.

Tidak ada apa-apa di sepanjang lorong sempit itu. Hingga tiba di ujung sebelum berbelok, Anda akan menemukan satu cermin. Begitu pula di ujung lorong berikutnya.

Ternyata, cermin-cermin ini dapat memantulkan bayangan nasabah yang sedang bertransaksi di ruang brankas. Tentu saja, nasabah lain tidak boleh masuk ruang brankas jika masih ada yang sedang transaksi di sana. Pantulan dari cermin pun bisa diketahui nasabah lain.

Desain keamanan lorong di ruang brankas ini sukses membuat pengunjung terpana. Pemikiran yang canggih pada saat kamera keamanan yang lebih praktis belum tercipta.

Di bekas ruang direktur bank, pemandu bercerita bahwa dulu terdapat tangga spiral yang khusus digunakan oleh pemimpin bank saja. Tangga ini menghubungkan area utama perbankan dengan ruangan pemimpin. Semacam pintu rahasia. Namun tangga spiral tersebut sekarang sudah tertutup oleh tembok.

Di akhir sesi, pemandu biasanya menyelipkan cerita-cerita unik dari masa ke masa yang akan membuat bulu kuduk berdiri. Aha…tentu ini tentang makhluk-makhluk tak kasat mata berkebangsaan Belanda yang sering muncul.

Percaya atau tidak? Tentu itu pilihan pengunjung. Yang jelas, mengunjungi Museum De Javasche Bank di akhir pekan bisa menjadi pilihan menarik sekaligus menambah wawasan sejarah.

agendaIndonesia

*****

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan (Bagian 1)

Gunung Parango shutterstock

Jelajah gunung tanah Parahyangan, Jawa Barat, mungkin tidak sepopuler kawasan Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau Gunung Bromo dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Namun, seperti dua daerah lainnya tersebut, wilayah Jawa barat juga memiliki kontur geografis yang bergunung-gunung.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan

Tanah Pasundan malah dinilai memiliki kontur tanah yang naik turun dari ujung ke ujung wilayah. Mungkin karena itulah Jawa Barat dikenal juga sebagai tanah Parahyangan: Para Hyang atau para dewa. Mereka yang dipercaya menghuni tempat-tempat yang tinggi. Parahyangan bisa berarti tempat tinggal para dewa.

Pada wilayah inilah, wisatawan terus berdatangan, seolah tersihir oleh udaranya yang senantiasa sejuk, air yang melimpah ruah, dan segala rupa flora yang tumbuh subur. Mereka yang datang tak melulu para pecinta alam, tapi juga banyak yang sekadar ingin menikmati petualangan tipis-tipis di tanah yang indah ini. Artikel diturunkan dalam dua penayangan.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Sejak pagi hingga sore hari, pintu masuk pendakian Cibodas tak juga sepi dari lalu-lalang manusia beransel besar. Umumnya mereka mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) sebagai salah satu syarat menjelajahi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat.

Dari situ, langkah kaki menjejaki jalan setapak yang dikelilingi rimbunnya pohon-pohon rasamala yang menjulang hingga 20 meter. Jika beruntung, kehadiran pendaki kerap kali disambut dengan nyanyi merdu merpati hutan atau lengkingan segerombol owa Jawa. Yang terakhir ini satwa yang semakin langka.

Oksigen yang melimpah dan tenaga yang masih utuh membuat perjalanan 1,5 kilometer tak terasa jauh. Tahu-tahu, hamparan danau berwarna kebiruan tersaji di depan mata. Itulah Telaga Biru, yang warna airnya bisa berubah-ubah akibat ulah ganggang di dasar danau. Untuk melintasinya, pendaki harus berjalan di atas jembatan kayu yang mulai reyot tergerus cuaca.

Jembatan ini pula yang mengantarkan para penjelajah ke Rawa Gayang Agung yang berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jika sudah melewati jembatan, trek kembali didominasi bebatuan dan tanah padat. Tak berapa jauh, Anda akan sampai di Pos Panyancangan Kuda.

Di pos ini terdapat bangunan kecil tempat orang berlindung dari hujan atau sekadar beristirahat sejenak. Selain itu, jalur akan terbelah menjadi dua. Belok kanan menuju Curug Cibereum, sedangkan yang lurus menuju ke puncak Pangrango. Jika punya tenaga dan waktu lebih, tak ada salahnya mampir ke Curug Cibereum dan menikmati guyuran air dari ketinggian 40 meter, sebelum kembali ke jalur pendakian.

Puas membasuh diri di percikan air terjun, jalanan berbatu menuju pos selanjutnya akan semakin terjal dan berliku. Karenanya tak ada salahnya mengambil rehat sejenak di beberapa pos yang tersedia. Jika mulai banyak bonus turunan dan tanah landai, itu berarti Anda akan segera sampai di sumber air panas.

Namun jangan senang dulu. Zona air panas ini berupa deretan panjang lereng curam, licin, dan sempit. Di bawahnya, mengalir jurang air panas dengan suhu mencapai 70 derajat celsius. Bersabarlah mengantre ketika berpapasan dengan pendaki lain yang datang dari arah berlawanan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Lepas dari situ, Anda akan sampai di Pos Kandang Batu yang berada di ketinggian 2.220 mdpl. Tak jarang para pendaki berlama-lama bersantai di tempat ini karena ada aliran sungai berair hangat yang memanjakan tubuh.

Setelah trek ini, terhampar area tanah datar yang cukup luas. Inilah Kandang Badak, tempat para pendaki mendirikan tenda dan mengisi persediaan air. Setelah pos terakhir ini, hanya ada tanjakan curam dan seolah tak habis-habisnya menuju puncak Pangrango. Di sinilah ketahanan fisik pendaki benar-benar diuji. Seiring dengan suhu yang terus menurun, begitu pula suplai oksigennya.

Namun jika berhasil melewati jalan menanjak sekitar tiga kilometer, segala letih dan jerih itu terbayarkan. Di Puncak Pangrango atau Puncak Mandalawangi, pada ketinggian 3.019 mdpl, Gunung Gede dan panorama alam Parahyangan terbentang megah. Sementara turun sedikit ke arah barat, di Lembah Mandalawangi, permadani bunga Edelweis menyapa dengan ronanya.

Gede dan Pangrango adalah dua puncak gunung dari satu deret pegunungan yang sama dan berdekatan. Meski tampak dekat, perjalanan dari Pangrango ke Puncak Gede tak kalah terjal. Bentuknya yang memanjang menyajikan pemandangan dua kawah, yaitu Kawah Wadon dan Kawah Ratu. Sesekali, bau menyengat belerang menusuk hidung.

Jika Pangrango punya Lembah Mandalawangi, Gunung Gede punya Alun-Alun Surya Kencana. Lagi-lagi bentangan taman Edelweis menyelimuti tanah lapang, berpadu dengan sumber air jernih yang tak henti-hentinya mengaliri permukaan bumi. 

Jalur Alternatif

Selain Cibodas, pendakian ke TNGGP juga bisa dilakukan melalui jalur Gunung Putri dan Selabintana. Jalur Gunung Putri bisa ditempuh baik dari arah Bogor-Jakarta atau Cianjur-Bandung. Anda dapat berpatokan pada Pasar Cipanas. Dari sana teruskan perjalanan menggunakan angkutan umum jurusan Pasir Kampung menuju Gunung Putri. Jika memilih via Selabintana, patokannya adalah Terminal Sukabumi. Dari sana dapat meneruskan perjalanan menuju Pondok Halimun menggunakan angkutan umum atau mencarter mobil.

Persyaratan Mendaki TNGGP

  • Calon pendaki memesan slot pendakian melalui situs booking.gedepangrango.org. Formulir berisi pilihan waktu, pintu masuk, pintu keluar, dan nama-nama anggota kelompok. Sebaiknya mendaftar jauh-jauh hari karena pada hari libur kuotanya sering kali habis dengan cepat. Operator akan melakukan proses validasi data calon pendaki maksimal tiga hari kerja.
  • Membayar tiket masuk dan asuransi senilai Rp 29.000 pada hari kerja dan Rp 34.000 pada hari libur. Khusus pelajar dan Warga Negara Asing (WNA) dikenakan tarif berbeda. Pembayaran bisa dilakukan secara transfer.
  • Pada hari pendakian, silakan mengambil Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) di pintu masuk dengan menunjukkan kopi identitas, bukti pembayaran, lembar pendaftaran, dan surat pernyataan standar pendakian. Informasi lengkap cek situs booking.gedepangrango.org.
Gunung Salak shutterstock
Jelajah gunung tanah Parahyangan di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.

Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Baik Gunung Salak maupun Halimun memang tak setinggi Gunung Gede Pangrango. Ketinggian Gunung Salak adalah 2.211 mdpl, sedangkan Gunung Halimun hanya 1.929 mdpl. Meski demikian, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan kawasan hutan hujan tropis terluas di Pulau Jawa. Tak ayal, keanekaragaman hayati yang tersebar sepanjang jalan begitu beragam, dari lutung, elang, bahkan macan tutul.

Apabila tujuan Anda adalah pengalaman mendaki yang memacu adrenalin, kompleks Gunung Salak yang memiliki enam puncak berbeda menjadi pilihan tepat. Namun jika sekadar ingin bertamasya, lepas dari rutinitas ibukota, Gunung Halimun menawarkan aneka area perkemahan yang ramah keluarga.

Tujuan favorit pendaki umumnya ialah Puncak Salak 1. Salah satu pilihan rutenya melalui Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Langsung saja mendaftar dan membayar Simaksi sebesar Rp 22.000 per orang di kantor TNGHS. Dari situ, terbentang satu kilometer jalanan aspal sampai ke gerbang pendakian.

Rute menuju Pos Bajuri terus menanjak, tetapi terbilang landai. Sudah ada bebatuan yang tersusun rapi agar langkah kaki tak mudah tergelincir. Pos Bajuri sendiri menyediakan lahan cukup luas untuk mendirikan tenda. Juga sudah ada sungai kecil sebagai sumber persediaan air minum. Kalau belum ingin berkemah, silakan lanjutkan perjalanan ke Puncak Bayangan.

Kali ini jalurnya lebih curam. Akar pohon yang centang perenang berupaya menghambat langkah yang mulai lelah. Ditambah lagi banyak lumpur yang membuat jalan menjadi licin. Selepas Puncak Bayangan, rintangan alam justru semakin menjadi-jadi. Kali ini jalan setapak diapit oleh jurang di kedua sisinya. Ada jembatan tali yang harus dilewati dengan sangat hati-hati.

Menuju puncak, trek berubah menjadi tanjakan yang hampir tegak lurus. Tentunya tak bisa lagi hanya mengandalkan kaki. Tangan harus berpegangan kuat pada akar pohon dan tali yang tersedia. Namun jika semua ini terlewati, Puncak Manik Salak 1 sudah menanti dengan hamparan tanah lapang yang tersaput awan tipis.

Tak jauh dari situ, menjulang Kawah Ratu dan Puncak Salak 2 yang menanti untuk dijelajahi. Jalurnya tergolong ekstrem, yaitu harus melintasi Titian Alam, punggung gunung yang terjal dan dikelilingi jurang. Maka tak perlu buru-buru melanjutkan langkah. Nikmati saja Puncak Manik 1, dengan pendaran jingga mentari yang menyapa di kala fajar.

Jalur Alternatif

Mendaki Gunung Salak juga bisa dilakukan lewat Pasir Reungit, Cimelati, dan Giri Jaya. Pasir Reungit umumnya dipilih jika pelancong ingin menyambangi Kawah Ratu terlebih dulu. Sementara Jalur Cimelati adalah jalur pendakian yang paling pendek, meski sedikit sumber airnya. Jika memilih jalur Giri Jaya, akan melewati Wana Wisata Curug Pilung yang berada di Kecamatan Cidahu, Sukabumi.

Destinasi Wisata di Kawasan TNGHS

  • Curug Cigamea

Curug Cigamea terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Sejatinya ada enam air terjun di sini, tetapi Curug Cigamea menjadi primadonanya. Bukan hanya deburan air dari ketinggian 30 meter yang jadi magnet, melainkan juga aksesnya. Menuju lokasi, terdapat tangga batu permanen yang diapit oleh pemandangan asri nan hijau.

  • Bumi Perkemahan Sukamantri

Banyak hal yang dapat dilakukan ketika berkemah di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Salah satunya menuju Air Terjun Surya Kencana yang berjarak sekitar satu kilometer melewati hutan Gunung Salak yang cukup lebat. Jika tak mau repot, tersedia deretan warung makan yang menjajakan aneka masakan sekaligus menyewakan tenda dan perlengkapannya.

  • Suaka Elang Loji

Suaka Elang Loji berada di Kampung Loji, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Di tengah rimbunnya rimba TNGHS, terdapat elang Jawa, elang brontok, dan burung lainnya. Di sini dilakukan upaya penyelamatan, pengembangbiakan, dan pelepasliaran elang ke alam bebas. Pengunjung juga dapat berkemah atau mengunjungi Curug Cibadak hanya berjarak sekitar 1,3 kilometer.

Kupat Tahu Pojok Magelang, 80 Tahun Enaknya

Kupat tahu Pojok Magelang klangenan para jendral.

Kupat tahu Pojok Magelang, ini campuran potongan ketupat, tahu goreng, toge dan kol yang disiram bumbu kacang dan.kecap. Sederhana, tapi membuat banyak orang terus menggemarinya

Kupat Tahu Pojok Magelang

Warung makan Kupat Tahu Pojok Magelang mungkin tidak hanya menjadi salah satu destinasi favorit penggemar kuliner tradisional di kota Bukit Tidar ini, tetapi juga telah menjadi salah satu kepingan sejarah kota getuk tersebut. Maklum, warung sederhana ini sudah eksis sejak 1942.

Secara umum, kupat tahu merupakan sebuah kuliner tradisional yang populer pada beberapa daerah di Jawa Tengah, khususnya Magelang. Isi di dalam makanan ini beragam, mulai dari tahu, bakwan, ketupat, taoge, kol, seledri, dan terkadang juga mie kuning.

Kupat Tahu Pojok Magelang bisa menjadi alternatif wisata kuliner jika dola ke Candi Borobudur.
Candi Borobudur di dekat Magelang.

Olahan bahan makanan tersebut kemudian dipadu dengan racikan bumbu yang terbuat dari kecap, gula merah, kacang tanah, asam jawa, serta ada pula yang menggunakan petis. Bagi yang suka sensasi pedas, ada kalanya kupat tahu juga disajikan dengan cabe rawit.

Hidangan ini disebut-sebut terinspirasi oleh pengaruh masakan ala Tiongkok. Secara peranakannya, makanan ini masih tergolong satu rumpun dengan kuliner nusantara lainnya seperti tahu gimbal, ketupat sayur, ketoprak, dan sebagainya.

Yang menarik, meski kelihatannya serupa, nyatanya kupat tahu tidak sama dengan tahu kupat. Tahu kupat biasanya memiliki isian lebih sederhana ketimbang kupat tahu, tahu yang digunakan berjenis tahu kuning alih-alih tahu putih, serta menggunakan bumbu kacang yang ditumbuk.

Dalam sejarahnya, kupat tahu Pojok Magelang disinyalir sebagai warung kupat tahu tertua di Indonesia, sekaligus salah satu pelopor munculnya kuliner ini. Setu Ahmad Danuri, sang pendiri usaha, sudah memulai usahanya sejak era pra kemerdekaan.

Awalnya, ia menyambung hidup dengan menjajakan kupat tahu buatannya sambil berkeliling kota Magelang dengan gerobaknya. Perlahan mengumpulkan uang dan pelanggan, ia kemudian mampu menyewa warung semi permanen yang terletak di area alun-alun Magelang.

Tadinya, warung tersebut dikenal dengan nama warung Ngesengan, karena wujudnya yang terbuat dari seng. Lama kelamaan, karena letaknya yang di pojok alun-alun, orang-orang juga menyebutnya sebagai warung kupat tahu Pojok, dan nama itu yang melekat sampai sekarang.

Kupat Tahu Pojok Magelang awalnya didagangkan dengan berkeliling.
Warung Kupat Tahu Pojok kini dikelola generasi ke tiga pemiliknya. Foto: dok. Harian Jogja.com

Kini, warung tersebut sudah berpindah ke kawasan jalan Tentara Pelajar. Dari luar, warung yang dominan berwarna hijau tersebut cukup mencolok dan mudah ditemukan. Operasional warung sehari-hari kini dilanjutkan oleh Sri Kuntari dan beberapa generasi ke tiga usaha ini yang lainnya.

Salah satu pelanggan utama warung ini datang dari kalangan tentara, yang datangnya dari Akademi Militer, yang juga berada di kota sejuta bunga ini. Dari kadet yang masih belajar, hingga para jenderal sudah pernah menyambangi warung kupat tahu legendaris ini.

Salah satunya adalah mendiang presiden ke dua Republik Indonesia, Soeharto. Ia bahkan dikabarkan pernah beberapa kali memesan kupat tahu buatan warung ini sebagai salah satu menu jamuan makan dalam beberapa perayaan hari kemerdekaan di Istana Negara.

Presiden ke enam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, juga termasuk salah satu pelanggan setia warung ini. Dan tak hanya kalangan militer saja, berbagai figur publik lain dari ranah politik hingga dunia hiburan sudah pernah mampir ke sini.

Kalau mampir ke warung ini sekarang, akan banyak didapati foto-foto beragam figur publik tersebut di sekeliling dinding warung. Seakan menjadi bukti sahih akan eksistensi kupat tahu Pojok Magelang selama lebih dari 80 tahun, yang sudah begitu melegenda hingga kini.

Salah satu kunci kesuksesan kupat tahu Pojok Magelang mempertahankan popularitasnya adalah konsistensi dalam menu yang disajikan. Sejak dulu, mereka tidak pernah menambah atau memodifikasi menu mereka secara signifikan.

Kupat Tahu Pojok Magelang Dok. cookpad
Racikan potongan ketupat, tahu goreng, toge dan kol, bakwan goreng yang disiram kecap kacang. Foto: dok. CookPad

Ditambah lagi, mereka juga konsisten dalam penggunaan bahan baku makanan, demi menjaga cita rasanya. Bahan baku seperti tahu, taoge, dan kol selalu didatangkan dari pemasok yang sama, sementara bumbunya dibuat sendiri dengan resep keluarga turun temurun.

Bahkan, Sri Kuntari mengaku masih sering meracik bumbunya sendiri, demi mendapatkan rasa yang pas. Cara memasak tahunya pun juga masih menggunakan anglo, serta baru dimasak setelah dipesan, agar mendapatkan karakter rasa yang otentik.

Cita rasa kupat tahu di sini cenderung manis dan gurih, meskipun bagi yang penyuka pedas dapat meminta tambahan sambal sesuai selera. Tahunya juga terasa lembut karena dimasak setengah matang.

Sebagai teman makan, tersedia tambahan seperti sate udang, rempeyek kacang, emping, serta berbagai jenis gorengan dan kerupuk. Beberapa minuman tradisional juga tersedia di sini, mulai dari wedang ronde, es dawet sampai es campur.

Dengan harga seporsi kupat tahu seharga Rp 12,5 ribu, harganya bisa dibilang bersahabat dengan kantong, terlebih untuk ukuran porsi yang cukup besar dan mengenyangkan. Begitu pula harga minumannya yang berkisar dari Rp 7 ribu hingga 11 ribu.

Buka dari jam 09.00 hingga 20.00, umumnya warung ini ramai pada jam makan siang dan malam. Tapi yang cukup menarik, banyak pula yang datang pada sekitar jam 16.00-17.00, karena kupat tahu dianggap sebagai makanan yang juga nikmat disantap kala sore hari.

Kupat Tahu Pojok Magelang

Jalan Tentara Pelajar no. 14, Magelang

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

Bertamu ke Orang Utan di Tanjung Puting

Kapal kapal klotok sandar

Bertamu ke orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, mungkin banyak yang berpikir: apa asyiknya? “Di Jakarta juga ada,” begitu sebagian orang berkata. Tapi, percayalah, bagi mereka yang senang berpetualang, bertamu ke rumah asli orang utan mempunyai sensasi tersendiri.

Bertamu ke Orang Utan

Di Taman Nasional Tanjung Puting adalah salah satu habitat asli orang utan di dunia. Berdasar data 2018 dari Orangutan Foundation International, sembilan dari ratusan jenis fauna itu merupakan spesies primata yang dikenal dengan nama orang utan Kalimantan. Tiga di antaranya merupakan primata endemik Kalimantan.

Spesies orang utan Kalimantan termasuk langka di dunia. Tak heran kalau orang dari banyak negara datang. Mereka ingin bertemu dengan hewan yang mampu bertahan hidup hingga umur 60 tahun ini. 

Berdasarkan data Balai Taman Nasional Tanjung Putting 2017, kunjungan ke kawasan ini terbanyak justru dari wisatawan asing. Berdasar data tersebut, tercatat sebanyak 24.693 pengunjung. Dari jumlah tersebut, 14.933 orang adalah wisatawan mancanegara, dan 9.760 wisatawan nusantara.

Dari kalangan wisatawan asing, kebanyakan berasal dari Eropa dan Australia. Sejumlah tokoh dan pesohor tercatat pernah mengunjungi Taman Nasional ini dan bertamu ke orang utan. Misalnya saja founder Microsoft Bill Gates. Atau aktris film Julia Robert.

Ada kira-kira lima titik atau camp (perkampungan) orang utan yang bisa dikunjungi wisatawan di Taman Nasional Tanjung Puting. Camp yang paling ramai adalah Leakey yang berlokasi di lumbung taman nasional. 

Orang Utan
Orang utan di Camp Leakey, Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Dok. Rosana

Camp Leakey termasuk habitat orang utan. Di sana, wisatawan dapat menyaksikan orang utan melakukan aktivitas harian, seperti makan, bermain dengan sesamanya, dan meloncat di pepohonan rindang. Mereka juga akan minum susu yang telah disediakan petugas taman nasional.

Pada musim kemarau, pengunjung dapat menyaksikan orang utan di camp dengan jumlah yang lebih banyak daripada saat musim hujan. Sebab, saat kemarau, buah-buahan di tengah hutan tak banyak tumbuh sehingga orang utan lebih suka menyambangi camp untuk menyantap buah yang disediakan petugas.

Jika ingin bertamu ke orang utan, ada waktu-waktu khusus untuk berkunjung ke camp. Misalnya, pada pukul 14.00 hingga 16.00, yakni saat orang utan makan siang. Petugas akan memanggilnya dengan teriakan sampai para orang utan muncul di camp.

Tentu saja pengunjung bisa melakukan tracking ke dalam hutan untuk melihat aktifitas orang utan langsung. Tapi sebaiknya datang ke Taman Nasional ini ketika musim hujan, atau sesudah musim hujan. DI mana buah-buahan banyak di hutan. Jika datang di musim kemarau, itu tadi, cukup bertamu di camp.

Sulitkan mengunjungi Taman Nasional Tanjung Putting? Jika menggemari liburan setengah bertualang, rasanya asyik-asyik saja.

Menuju Tanjung Putting, pertama-tama pengunjung harus menuju ke kota Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Dari pulau Jawa, ada tiga kota yang memiliki penerbangan langsung ke Pangkalan Bun: Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani rute ini. Dari Kalimantan, ada beberapa kota yang punya penerbangan ke Pangkalan Bun, seperti Balikpapan dan Banjarmasin.

Dari Pangkalan Bun, untuk menyambangi camp, wisatawan harus menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan kapal klotok dari Dermaga Kumai, Pangkalan Bun. Sungai Sekonyer membentang sepanjang 45 kilometer. Di titik dekat camp, kapal klotok akan menepi dan Anda beralih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki masuk ke hutan sejauh kurang lebih dua kilometer.

Makan Siang di kapal Klotok
Menu makan siang di atas kapal Klotok saat menyusuri Sungai Sekonyer. Dok. Rosana

Idealnya, wisatawan menginap di kapal klotok selama 3 hari 2 malam. Ini kapal yang tidak terlalu besar tapi lumayan lega. Biasanya terdiri dari 2 lantai. Lantai bawah untuk beristirahat, ada dipan untuk meluruskan badan. Dan ada dek untuk bersantai, makan di alam terbuka selama perjalanan menuju camp. Wisatawan akan merasakan sensasi bermalam di tengah hutan dan menyatu bersama ratusan jenis fauna. Biaya untuk live on board, perjalanan dan tinggal di kapal, di Sungai Sekonyer berkisar Rp 2 jutaan per orang.

Taman Nasional Tanjung Puting kini semakin menjadi destinasi alternatif yang cukup digemari orang. Para penikmat jalan-jalan mulai menyambangi kawasan penangkaran orang utan di Kalimantan Tengah itu. 

Tujuan mereka adalah merasakan sensasi bermalam di kapal klotok sembari menyusuri Sungai Sekonyer dengan hutan lebat di kedua sisi sungai. Jika malam tiba, pengunjung bisa menikmati suasana hutan, kadang diayun ombak kecil. Dan, tentu saja, menyaksikan orang utan langsung di habitat aslinya.

Namanya wilayah konservasi, tentu ada sejumlah aturan yang harus diikuti jika  pengunjung datang ke camp-camp di Taman Nasional Tanjung Puting. Peraturan pertama, para wisatawan dilarang memberi makan dan minum kepada orang utan. Aturan ini jelas tertera di sejumlah tempat di Camp Leakey.

Makanan dan minuman hanya boleh disediakan oleh pihak taman nasional. Selain faktor kesehatan para primata, aturan itu dibuat agar orang-orang utan tersebut tetap hidup dengan kondisi alami mereka.

Tak cuma tak boleh memberi makanan dan minuman, bahkan pada peraturan kedua, wisatawan tak diperkenankan minum atau makan di depan orang utan. Hal itu bermaksud supaya orang utan tidak terdistraksi dengan aktivitas pengunjung.

Peraturan ketiga, pengunjung tidak boleh bersuara lantang atau berisik saat berada di Camp Leakey. Ini agar orang utan tidak merasakan perubahan suasana hutan mereka.

Peraturan keempat, nah ini sangat penting, selama menyusuri hutan pengunjung tak boleh menceburkan diri di sungai atau rawa-rawa. Ini untuk keamanan, kenyamanan dan keselamatan para pengunjung itu sendiri. Sebab, di sana buaya hidup bebas. Untuk alasan keamanan, para wisatawan diminta berjalan sesuai dengan jalur yang sudah dibuat oleh petugas.

Rasanya Taman Nasional Tanjung Putting layak masuk agenda liburan Anda selanjutnya, dan bertamu ke orang utan.

F. Rosana