Nasi Lengko Haji Barno, Langka Sejak 1968

Nasi Lengko Haji Barno Cirebon menjadi pilihan bagi para vegetarian.

Nasi Lengko Haji Barno bisa dikatakan merupakan salah satu kuliner tradisional kebanggaan warga Cirebon. Meski mungkin popularitasnya tak seperti kuliner Cirebon lain, nyatanya ada saja penggemarnya dan semakin hari semakin banyak yang penasaran untuk mencoba.

Nasi Lengko Haji Barno

Cirebon biasanya dikenal dengan beberapa kuliner tradisional khas yang populer seperti empal gentong dan nasi jamblang. Bagi pecinta kuliner yang sudah pernah mencoba makanan tersebut, maka alternatif menarik lainnya adalah mencoba nasi lengko.

Secara umum, nasi atau sega lengko adalah makanan berupa nasi yang dilengkapi dengan lauk seperti tahu dan tempe goreng, serta sayuran seperti taoge, timun dan daun kucai. Dinamakan ‘lengko’ atau langka, karena ketiadaan bahan baku hewani dalam olahannya.

Dalam penyajiannya, nasi lengko dengan lauk dan sayuran tersebut kemudian diguyur dengan bumbu kacang, kecap manis dan bawang goreng. Hasilnya, sensasi rasa gurih dan manis berpadu dengan nikmat di lidah.

Nasi lengko haji Barno merupakan salah satu 'landmark' kota Cirebon.
Pantai Kejawanan, Cirebon (Rosana)

Kuliner ini diperkirakan sudah ada sejak masa kesultanan bertahun-tahun yang lalu. Konon, makanan yang cenderung sederhana ini sesuai bagi keadaan saat itu, di mana perekonomian rakyat yang sempat sulit dan bahan makanan seperti daging kurang begitu terjangkau.

Selain itu, karakter nasi lengko yang merupakan olahan dari bermacam jenis bahan baku makanan disebut-sebut sebagai representasi warga pesisir kala itu. Masyarakat pesisir di kota seperti Cirebon terdiri dari berbagai macam suku seperti Sunda, Tionghoa, Arab dan lainnya.

Ada pula yang menyebut bahwa sembilan elemen utama dari makanan ini, yakni nasi, tahu, tempe, taoge, timun, daun kucai, bumbu kacang, kecap dan bawang goreng merupakan representasi dari sembilan wali, alias Wali Songo.

Nasi lengko lantas dikenal sebagai kuliner tradisional yang populer di area pesisir pantai utara antara perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, seperti Tegal, Indramayu, Brebes, Majalengka dan tentunya Cirebon. Di masing-masing kota pun terkadang memiliki ciri khasnya sendiri.

Di Indramayu, misalnya, nasi lengko di sana umumnya tidak menggunakan daun kucai. Atau di wilayah Brebes dan Tegal, di mana nasi lengko disajikan dengan pelengkap seperti kerupuk mie, sementara di daerah lain biasanya disantap dengan kerupuk biasa.

Selain karena rasanya yang enak, kuliner tradisional ini disenangi warga setempat karena bahan bakunya yang plant based dan sederhana namun sarat akan gizi. Dan karena kesederhanaannya itu pula, membuatnya tergolong mudah dan harga jualnya termasuk terjangkau.

Ditambah lagi, ia terbilang cocok untuk disantap kapan saja. Ada yang senang makan nasi lengko untuk sarapan, ada juga yang gemar menyantapnya untuk makan siang atau malam. Maka tak heran jika cukup mudah untuk mendapatkan warung penjual nasi lengko di Cirebon.

Nasi Lengko Cirebon shutterstock
Makanan yang terdiri dari sembilan bahan. Foto: dok. shutterstock

Salah satu yang paling kondang dan legendaris adalah nasi lengko haji Barno, yang kabarnya sudah mulai berjualan sejak 1968 silam. Bisa dikatakan, warung ini turut berandil besar dalam mempopulerkan dan melestarikan kuliner ini.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan nasi lengko haji Barno begitu laris dan meraih banyak pelanggan. Salah satunya adalah metode memasak dengan menggunakan kayu bakar dan anglo yang masih dipertahankan hingga kini. Ini untuk menjaga cita rasa yang asli.

Bahan baku yang digunakan pun juga selalu diusahakan tetap sama. Misalnya, kecap yang digunakan selalu menggunakan merek kecap Matahari yang umum digunakan oleh warga lokal, dengan karakter rasa manis namun cenderung lebih cair.

Tahu dan tempe yang dipakai juga dibuat dan dipesan secara khusus dari desa Wanasaba, yang berada di wilayah kabupaten Cirebon. Desa ini khusus memproduksi tahu dan tempe yang secara spesifik akan digunakan untuk membuat nasi lengko.

Kemudian, untuk meraih konsumen penyuka makanan berdaging, mereka juga lantas menawarkan menu sate kambing sebagai teman makan nasi lengko haji Barno. Bahan daging yang digunakan pun dikhususkan kepada daging kambing muda yang lebih empuk dan tidak bau.

Langkah ini terbukti ampuh, karena menu ini juga turut jadi salah satu primadona warung ini. Kini, sehari-harinya mereka membutuhkan sekurangnya sekitar 30 sampai 40 kilogram daging kambing muda untuk memenuhi permintaan konsumen.

Tak hanya itu, mereka juga memiliki menu khas lainnya yaitu es durian. Menu pencuci mulut ini mirip seperti es puter, namun sebenarnya merupakan olahan dari potongan buah durian yang dingin nan lembut, yang dipadukan dengan rasa manis sirup rasa pisang susu.

Last but not least, adalah harganya yang terhitung cukup ramah dengan kantong beragam kalangan. Harga satu porsi nasi lengko haji Barno komplit dihargai Rp 12 ribu, sedangkan untuk sate kambing muda harganya Rp 4 ribu per tusuk, dan semangkuk es durian dibandrol Rp 10 ribu.

Dulunya, warung nasi lengko haji Barno yang buka setiap hari dari jam 06.00 hingga jam 22.00 ini terlihat sederhana dan hanya mampu memuat sekitar 40 orang. Seiring berjalan waktu, untuk memenuhi banyaknya pengunjung dilakukan renovasi agar kini bisa menampung 100 hingga 120 orang.

Maka warung ini biasanya sudah ramai oleh pengunjung sejak pagi hari oleh mereka yang ingin menyantap sarapan. Meski sudah diperluas agar mampu menerima lebih banyak pengunjung, tak ada salahnya jika datang lebih awal, baik saat jam sarapan, makan siang atau malam.

Nasi Lengko Haji Barno

Jalan Pagongan Nomor 15B, Cirebon

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

3 Menu Sarapan di Pasar Kanoman

Tahi Gejrot Wardi

3 menu sarapan di Pasar Kanoman, Cirebon, Jawa Barat, ini terlihat biasa. Mungkin karena sebagian dari kita sudah biasa menikmatinya di kota asal. Mungkin di Jakarta. Atau kota lainnya. Tapi, selalu saja ada nuansa lain ketika menikmatinya di tempat makanan itu berasal. Originalitas, mungkin.

3 Menu Sarapan di Pasar Kanoman

Di kota Udang ini, banyak makanan khas yang selalu saja ngangeni jika lama tak disantap. Tapi kali ini kita tak bicara makanan besar, seperti layaknya empal gentong atau empal asem yang lebih asyik dimakan siang hari. Kuah yang panas dan sambal… hhff…

Kali ini kita menyambangi Cirebon untuk menikmati sarapan. Denyut kehidupan warga Cirebon, seperti juga di kota-kota lain di Indonesia bisa jadi bermula dari pasar-pasar tradisional. Makanan-makanan ndeso yang maknyus di banyak kota dan jadi klangenan umumnya memang ditemui di pasar tradisional. Di Cirebon, kita bisa menemukannya di pasar Kanoman. Dinamai demikian mungkin karena letaknya yang di depan Keraton Kanoman ini.

Dari sejarahnya, pada zaman Belanda sekitar abad 19, pasar ini dibangun oleh pemerintahan kolonial untuk menggembosi kekuasaan dan wibawa sultan. Para pedagang dari segala penjuru digiring ke pasar tersebut supaya keadaan makin ramai dan eksistensi keraton makin tenggelam. Dari latar cerita yang demikian, tak heran bila kini, di pasar itu terdapat beragam jejak peninggalan sejarah, termasuk kuliner, yang masih bertahan. Berikut 3 kuliner yang layak dicicipi jika mampir ke Pasar Kanoman.

Tahu Gejrot Wardi

Wardi menggelar tampah pikulnya di sudut Pasar Kanoman, tepat di pojok perempatan jalan menghadap ke arah Mall Cirebon. Tampah pikul itu berisi penuh tahu pong dan botol-botol air gula Jawa—disebut juga juruh. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar 3.000 biji tahu dan puluhan botol juruh di sana. “Ini pasti habis dalam sehari,” kata pria 40-an itu, yang sedang sibuk membuat ulekan bawang merah dan cabai hijau—bumbu utama tahu gejrot. Bumbu itu ditaruhnya di piring tanah atau layah berkuran segenggaman tangan orang dewasa. Sepuluh biji tahu dimasukkan ke dalamnya, diiris-iris, lantas disirami juruh hingga tampak mengambang memenuhi piring.

Yang namanya tahu gejrot, kata Wardi, sudah mendarah daging buat orang Cirebon. Apalagi buat anak-anak muda. Penganan ini biasanya menjadi teman nongkrong sambil menyeruput teh. “Kalau Manado punya pisang goreng, kami punya tahu gejrot,” katanya.

Dua belas tahun sudah pria itu membuka lapak kecilnya di Pasar Kanoman. Setiap jam tampah pikulnya ramai dikerubuti pengunjung yang kelar belanja. Memang, tahu gejrot Wardi punya rasa yang khas. Apalagi, tak seperti penjaja tahu gejrot lain, Wardi tak memakai bawang putih untuk memberi rasa gurih pada racikannya. Cukup bawang merah dan cabai rawit hijau. “Kuncinya perbanyak bawang merah supaya rasa gurihnya lebih keluar,” tuturnya. Wardi menyediakan kemasan tahu gejrot bungkus buat pengunjung yang kepingin membawanya sebagai oleh-oleh.

Tahu Gejrot Wardi

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga Rp 10 ribu per porsi

Docang, Lontong dan Oncom Bertemu

francisca christy rosana docang 2
Kuliner Cirebon, Docang. Dok. Rosana

Pagi-pagi benar, orang-orang Cirebon gemar menyantap penganan ini untuk menu sarapan, selain nasi Jamblang. Penampakannya sangat sederhana. Dalam sepiring docang, hanya terdapat lontong, bodo atau baceman oncom, irisan daun singkong, tauge, dan kerupuk. Lantas, semua komplemen itu disiram dengan kuah rebusan oncom yang diproses dalam waktu 4-5 jam.

Dilihat sekilas, docang memang mirip dengan lontong sayur. Hanya, kuahnya lebih bening lantaran tidak menggunakan santan. Rasanya juga tak macam-macam karena tak kaya bumbu. Orang Jawa bilang, masakan ini cenderung tercecap anyep. Juga, ada rasa getir yang tersisa di lidah setelah sesuap docang masuk ke perut.

Kendati punya rasa dan penampakan yang sangat sederhana, docang memiliki jejak histori yang tak main-main. Makanan ini oleh warga setempat dipercaya sebagai penganan para wali zaman dulu. Racikan sederhana ini disesuaikan dengan kehidupan para penyebar agama yang penuh keprihatinan.

Docang mulai sulit ditemukan di Cirebon. Orang-orang setempat bilang, tak banyak yang bisa atau mau memasaknya. Di Pasar Kanoman, makanan ini hanya dapat ditemukan di depan deretan warung oleh-oleh di sebrang gapura utama.

Docang Pasar Kanoman

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga per porsi Rp 12 ribu

Buka mulai pukul 06.00-10.00

Apem yang Tak Manis

Lain Jawa Tengah, lain lagi Jawa Barat. Lain bahasanya, lain pula karakter penganan daerahnya. Apem, misalnya. Jawa Tengah punya jajanan ini. Jawa Barat pun demikian. Sama bentuk dan penampakan luarnya. Bahan dasarnya juga tak jauh beda. Namun keduanya memiliki rasa yang berlainan. Di Jawa Barat, apem, yang umum dijual para penjaja penganan tradisional, punya rasa yang gurih dan cenderung asin. Berbeda dengan Jawa Tengah yang memiliki rasa manis.

Namun, kala bertandang ke Pasar Kanoman, perpaduan lidah Sunda dan Jawa justru tercitra dari makanan yang punya wujud bulat tersebut. Lantaran berada di wilayah pertemuan dua masyarakat dari kelompok yang berbeda ini, apem, sebagai makanan tradisional, pun terdampak akulturasi. Apem di Cirebon memiliki padanan rasa yang gurih bercampur manis. Manisnya berasal jadi air gula Jawa yang disiramkan di atasnya. Kala menyantap apem Cirebon, yang terbayang adalah pertemuan lidah Sunda dan Jawa dalam sebuah produk budaya.

Jajanan Pasar Kanoman

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga per porsi Rp 6.000

F. Rosana

Museum Geologi Bandung, Unik Sejak 1929

Museum Geologi Bandung menjadi salah satu ikon wisata di ibukota Jawa Barat.

Museum Geologi Bandung merupakan salah satu objek wisata ibu kota Jawa Barat bagi mereka yang ingin belajar lebih dalam mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu kebumian di Indonesia. Di museum ini terdapat beragam koleksi material geologi di Indonesia, seperti fosil, batuan dan sebagainya.

Museum Geologi Bandung

Berlokasi di jalan Diponegoro, museum ini berdekatan dengan dua landmark ikonik kota kembang lainnya, yakni Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Museum ini didirikan pada 16 Mei 1929, bertepatan dengan 4th Pacific Science Congress yang diadakan di Bandung kala itu.

Pembangunan dimulai sejak setahun sebelumnya, dengan gaya art deco yang diarsiteki H. M. van Schouwenburg. Awalnya, gedung ini dalam masa pendudukan Belanda diperuntukkan sebagai pusat penelitian geologi dan sumber daya mineral di Indonesia.

Museum Geologi Bandung awalnya merupakan Geologisch Laboratorium untuk penelitian geologi, mineral dan pertambangan.
Bagian depan Museum Geologi. Foto: Dok Wikimedia

Gedung ini lantas dinamakan Geologisch Laboratorium, dimana lembaga penelitian geologi, mineral dan pertambangan Belanda Dienst van den Mijnbouw bekerja. Tugasnya meliputi laporan serta pengumpulan contoh-contoh temuan seperti batuan, mineral dan fosil.

Setelahnya, dilakukan pemetaan, analisa dan penyimpanan temuan-temuan itu di gedung tersebut. Tujuannya untuk mengetahui lokasi-lokasi di tanah air yang sarat akan bahan tambang, serta dokumentasi akan kegiatan pertambangan tersebut.

Tampuk pengelolaan gedung ini pun turut berpindah-pindah dari masa ke masa. Saat Jepang mengambil alih, gedung ini sempat berganti nama dua kali menjadi Kogyo Zimusho dan Chishitsu Chosacho.

Pasca kemerdekaan, gedung ini kemudian dikelola oleh Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG). Pada perkembangannya, mereka sempat harus memindahkan pekerjaan beserta dokumen terkait di berbagai kota lain, lantaran upaya Belanda merebut kekuasaan kembali.

Setelah Indonesia mendapatkan kedaulatannya lagi, gedung tersebut kembali dioperasikan seperti semula. Kini fungsinya tak hanya sebagai pusat penelitian dan dokumentasi, namun juga sebagai sarana eksibisi dan edukasi kepada masyarakat umum tentang ragam ilmu kebumian.

Selain batuan mineral, Museum Geologi Bandung juga menampilkan sejumlah fosil yang ada di Indonesia.

Untuk meremajakan bangunan tersebut, pada 1999 dilakukan renovasi yang turut disponsori pemerintah Jepang lewat lembaganya Japanese International Cooperation Agency (JICA), yang mengurusi bantuan pembangunan pada negara-negara berkembang.

Setelah pengerjaan renovasi selesai, pada 23 Agustus 2000 Museum Geologi Bandung kembali dibuka untuk umum oleh wakil presiden Republik Indonesia saat itu, Megawati Soekarnoputri. Museum kemudian dikelola oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hingga saat ini.

Secara mendasar, Museum Geologi Bandung adalah bangunan dua lantai yang masing-masing terdiri atas tiga ruangan utama. Ada tiga kategori utama yang dipertunjukkan di museum ini, yaitu sejarah geologi Indonesia, kemudian perkembangannya, serta fungsinya bagi kehidupan masyarakat.

Jika dirinci, museum ini menjadi rumah bagi 250 ribu jenis temuan batuan dan mineral, serta 60 ribu jenis temuan fosil. Selain memamerkan beragam koleksi tersebut, terdapat juga peragaan-peragaan yang dikemas dalam bentuk maket.

Masuk ke Museum Geologi Bandung, pengunjung akan menemukan pusat informasi terkait museum, serta relief peta Indonesia beserta detail geografisnya dan informasi terkait geologi yang dipertunjukkan dalam layar lebar dengan animasi.

Dari sini, pengunjung bisa memasuki area sayap barat atau sayap timur. Pada area sayap barat, dapat ditemukan koleksi batuan dan mineral, ditambah maket yang memperagakan lempeng tektonik di sekitar Indonesia, serta gunung berapi aktif dan contoh material vulkaniknya.

Sedangkan sayap timur memamerkan beragam koleksi temuan fosil dan artefak makhluk hidup di masa lalu. Contohnya kura-kura raksasa, gajah, badak dan ikan air tawar purba, serta tengkorak manusia purba yang ditemukan di lokasi seperti Trinil, Ngandong dan Sangiran.

Museum Geologi Bandung AntaraNews
Sejumlah koleksi fosil dan kerangka di Museum Geologi. Foto: Dok. Antaranews

Serta koleksi yang menjadi ikon dari museum ini adalah kerangka serta cetakan kaki dari Tyrannosaurus Rex, salah satu dinosaurus karnivor paling terkenal. Selain itu, terdapat pula maket penjelasan mengenai proses pembentukan fosil dan minyak bumi.

Naik ke lantai dua, pengunjung akan disambut oleh maket pertambangan emas di area Pegunungan Tengah di Papua. Pertambangan emas ini disebut sebagai yang terbesar di Indonesia, dan konon bahkan salah satu yang terbesar di dunia.

Di sebelah maket tersebut, dapat ditemukan pula beberapa contoh batuan yang ditemukan di area pertambangan tersebut, yang disimpan di dalam lemari kaca. Tak jauh dari situ, terdapat pula miniatur peragaan alat pengeboran minyak dan gas alam.

Khusus di lantai dua, area sayap barat dikhususkan kepada staf museum saja. Namun, di area sayap timur, terdapat setidaknya 7 section yang memberi penjelasan tentang bagaimana aspek-aspek geologi mempengaruhi kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Misalnya, di salah satu section dijelaskan tentang sebaran sumber daya mineral di Indonesia dan apa saja manfaat serta kegunaannya. Section lainnya mendokumentasikan kegiatan-kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di tanah air.

Kemudian terdapat area yang menceritakan upaya pembudidayaan sumber daya mineral, baik secara tradisional maupun modern. Diperlihatkan pula barang-barang dari bahan mineral yang lazim dipakai sehari-hari, seperti sendok, garpu, panci, piring, cangkir, tabung gas dan lainnya.

Ada pula area yang memaparkan hal-hal terkait sumber daya air. Mulai dari apa saja kegunaan dan pemanfaatannya, serta apa saja yang bisa mempengaruhi kelestariannya dan cara-cara yang dapat dilakukan agar mampu membantu melestarikannya.

Area lain menjelaskan pengolahan atas beragam jenis komoditas mineral dan energi lainnya, serta beragam kegunaan dan manfaatnya. Tak lupa, dipaparkan pula bagaimana pentingnya mengelola sumber daya tersebut serta upaya-upayanya.

Serta dua section lainnya yang tak kalah penting adalah mengenai aspek geologi yang terkait dengan gunung berapi, mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia.

Satu area menceritakan apa saja sisi positif yang dimiliki Indonesia dengan banyaknya gunung berapi aktif tersebut. Di sisi lain, area lainnya juga menjelaskan apa saja bahayanya dari segi potensi bencana alam dan cara-cara untuk mengantisipasinya.

Saat ini, Museum Geologi Bandung buka hampir setiap hari kecuali pada hari Senin, Jumat dan setiap hari libur nasional. Khusus untuk hari Senin, pengelola museum menawarkan layanan virtual tour yang diadakan lewat siaran langsung di Youtube, atau lewat live conference via Zoom.

Lain daripada itu, museum buka pada hari lainnya mulai dari jam 09.00 hingga jam 15.00 pada hari biasa, dan jam 14.00 pada akhir pekan. Untuk tiket masuk, dikenakan biaya Rp 3 ribu untuk umum, Rp 2 ribu untuk pelajar dan Rp 10 ribu untuk wisatawan mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal pengadaan virtual tour dan hal-hal lain terkait Museum Geologi, dapat menghubungi (022) 7213822, atau lewat akun resmi Instagram @geomuzee.

Museum Geologi Bandung

Jl. Diponegoro no. 57, Bandung

agendaIndonesia/Audha Alief P./Berbagai Sumber

*****

Batik Motif Pekalongan, Keren Sejak Abad 17

Batik motif Pekalongan muncul sejak abad 17, dengan motif yang berkembang sesuai zamannya.

Batik motif Pekalongan adalah salah satu  batik yang termasuk jenis klasik di Indonesia. Batik dari kota di Jawa Tengah ini sudah melampui perjalanan sejak abad 17.

Batik Motif Pekalongan

Pekalongan memang telah menjadi salah satu pusat produksi batik di Indonesia, ia juga dikenal sebagai Kota Batik. Sejarah batik Pekalongan bisa dirunut sejak abad 17, masa ini kerajinan batik mulai berkembang di sini.

Pada masa itu, batik motif Pekalongan popular sebagai kain yang dipakai sebagai pakaian formal dan upacara adat. Selama berabad-abad, motif-motif batik Pekalongan terus berkembang, mencerminkan pengaruh budaya lokal dan internasional.

Pekalongan merupakan kota di wilayah utara pulau Jawa dan berada di Provinsi Jawa Tengah. Dari Jakarta kota ini berjarak 384 kilometer, sedangkan dari Semarang jaraknya sekitar 100 kilometer.

Batik motif Pekalongan memiliki pengaruh dari Arab, Cina dan Jawa.
Museum Batik di Pekalongan, di mana orang bisa belajar tentang sejarah batik. Foto: wikimedia commons

Batik Pekalongan mencatat adanya  pengaruh kebudayaan dari masyarakat sekitar yang selalu berubah-ubah dan saling meniru pada awalnya. Ini menimbulkan kreativitas para perajin batik Pekalongan untuk selalu membuat motif batik baru.

Salah satu daya tarik utama batik pekalongan adalah keunikan motifnya. Corak dan motif yang dipergunakan mencakup berbagai elemen, seperti bunga, binatang, tokoh wayang, dan pola geometris. Desainnya yang indah dan rumit mencerminkan keahlian tangan para perajin batik motif Pekalongan.

Satu hal yang mencolok dari batik daerah ini adalah warna-warna yang dipakai dalam membatik yang membuatnya menarik perhatian. Penggunaan warna-warna yang cerah dan kontras memberi citra yang menawan.

Dari kisahnya, batik di sini menjadi lebih berkembang setelah ada pengusaha batik Belanda bernama Eliza Van Zuylen membangun workshop di wilayah tersebut. Berdasarkan arahan Eliza, ada motif-motif batik Pekalongan baru yang berhasil diciptakan oleh para perajin batik.

Interior Museum Batik Pekalongan wikimedia commons
Ruangan dalam Museum Batik Pekalongan. Foto: dok. wikimedia common

Eliza Van Zuylen dari catatan sejarahnya merupakan salah satu orang yang memiliki peran besar atas kemunculan motif-motif baru batik. Melalui tangannya, batik Pekalongan mampu menembus pangsa pasar Eropa. 

Para pembeli batik Van Zuylen rata-rata memang para bangsawan Eropa. Eliza popular di Eropa dalam rentang waktu antara  1923 hingga akhir 1946.

Pengusaha ini sangat terkenal dengan produk batiknya yang dikenal kehalusan kainnya dengan motif batik tumbuh-tumbuhan. Hingga sampai saat ini batik seperti itu dikenal sebagai ciri khas batik motif Pekalongan, di samping motif Jlamprang.

Apa saja sesungguhnya motif-motif batik Pekalongan ini? Berikut ini beberapa ciri motif batik daerah sini.

Motif asli Pekalongan adalah motif Jlamprang, yaitu suatu motif semacam nitik yang tergolong motif batik geometris. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa motif ini merupakan suatu motif yang dikembangkan oleh pembatik keturunan Arab.

Motif batik jlamprang diyakini dan diakui oleh beberapa pengamat motif batik, sebagai motif asli Pekalongan. S.K. Sewan Santoso dalam bukunya Seni Kerajinan Batik Indonesia yang diterbitkan Balai Penelitian Batik dan Kerajinan , Lembaga Penelitian dan Pendidikan Industri, Departemen Perindustrian RI (1973), mengatakan bahwa motif Jlamprang di Pekalongan dipengaruhi oleh Islam.

Artinya, motif ini lahir dari perajin batik di daerah ini ada yang keturunan arab yang beragama Islam. Seperti diketahui, agama ini melarang menggambar binatang maupun manusia atau mahluk hidup lainnya dalam kain batik maupun lukisan. Ini membuat para perajin batik memiliki ide kreatif yaitu dengan membuat motif batik secara geometris dengan cara nitik pada motif batik jlamprang.

Namun ada pendapat berbeda. Pendapat berbeda ini menilai Jlamprang merupakan motif batik yang muncul karena pengaruh kebudayaan Hindu Syiwa.

Motif Batik Pekalongan shutterstock
Salah satu motif batik Pekalongan yang dekoraif. Foto: shutterstock

Dr. Kusnin Asa memiliki pendapat bahwa motif batik Jlamprang merupakan suatu bentuk motif yang kosmologis dengan mengedepankan satu pola ceplokan dalam bentuk lung-lungan juga bunga padma yang menunjukan sebuah makna mengenai peran dunia kosmis yang datang sejak agama Buddha dan Hindu berkembang di tanah Jawa.

Pola ceplokan pada motif yang distilisasi dalam bentuk yang lebih dekoratif menunjukan bahwa corak tersebut merupakan peninggalan dari masa prasejarah yang selanjutnya menjadi warisan agama Hindu juga Buddha.

Begitupun batik motif Pekalongan yang klasik sejatinya adalah motif semen. Motif ini hampir sama dengan motif klasik semen dari daerah Jawa Tengah lain, seperti Solo dan Yogyakarta.

Di dalam motif semen terdapat ornamen berbentuk tumbuhan dan garuda/sawat. Perbedaan antara batik di sini dan batik Solo atau  Yogyakarta adalah pada produk Pekalongan klasik hampir tidak ada cecek. Pada batik klasik, semua pengisian motif berupa garis-garis.

Selain itu, beberapa kain batik yang diproduksi di Pekalongan mempunyai corak Cina. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ornamen Liong berupa naga besar berkaki dan burung Phoenix pada motif batiknya. Burung Phoenix merupakan sejenis burung yang bulu kepala dan sayapnya berjumbai, serta bulu ekor berjumbai juga bergelombang.

Kain batik pekalongan yang dikembangkan oleh pengusaha batik halus keturunan China kebanyakan memiliki motif berupa bentuk-bentuk realistis dan banyak menggunakan cecek-cecek, serta cecek sawut (titik dan garis).

Sementara itu, soal pewarnaan yang cerah, disebutkan bahwa penduduk daerah pantai menyukai warna-warna yang cerah seperti warna merah, kuning, biru, hijau, violet, dan orange. Sedangkan warna soga kain batik berasal dari pewarnaan tumbuhan.

agendaIndonesia

*****

Manado Dalam 1 Cangkir Kopi

Manado dalam 1 cangkir kopi

Manado dalam 1 cangkir kopi, mungkin ini jarang dibayangkan orang tentang ibukota Sulawesi Utara itu. Kulinari Manado, tentu saja, dipersepsi banyak orang dari luar wilayah ini adalah masakan-masakan eksotis. Kita mungkin akan membayangkan Pasar Beriman Tomohon. Tapi, kopi?

Manado Dalam 1 Cangkir Kopi

Dalam beberapa tahu terakhir ini, sesungguhnya kota Manado mulai dibanjiri warung-warung kopi. Ini terjadi seiring dengan hadirnya tempat-tempat nongkrong anak muda di sana. Misalnya saja, di kawasan perekonomian Gunung Mas. Atau tempat yang sering disebut boulevard.

Ada yang warung kopi biasa, tapi tak kurang kafe-kafe kopi modern. Ini memunculkan kebiasaan atau coffee culture baru di sini. Bersosialisasi seraya mencecap secangkir kopi.

Gaya ini segera saja meluas ke belbagai kota di sekitar Manado, termasuk Tomohon. Di tanah yang dingin itu, kopi menjadi sahabat pergaulan.

Jika sempat mampir ke Manado, ada beberapa pilihan kedai kopi yang layak dikunjungi sambil menikmati kota Tinutuan ini.

Secangkir Kopi Para Egalitarian

Ada sebuah gang kecil bernama Jalan Roda bila pelancong menjejakkan langkah 500 meter dari Zero Point Manado. Namun, kalau tak teliti betul, Warung Jarod—begitulah warga sekitar biasa menyebut— yang terletak di area Pecinan, tidak bakal tampak. Sebab, muka gang dipenuhi oleh parkir kendaraan roda dua. Gang itu juga bukan jalan lalu lintas umum. Keberadaannya sudah disulap menjadi tempat nongkrong.

Tepat di badan gang, kursi-kursi plastik dan meja kayu ditata memanjang. Dari pangkal sampai ujung, kedai-kedai sederhana berdiri. Seluruhnya menjajakan kopi, juga pisang goreng sambal roa khas Negeri Celebes. Aroma khas biji kopi Kotamobagu yang sudah dihaluskan merebak memenuhi gang, mulai pukul 7 pagi hingga tengah malam.

Pengunjung yang datang tak terbatas pada kalangan tertentu. Pejabat, pegawai negeri sipil, anak muda, ibu rumah tangga, buruh kasar, dan pengangguran, semua terlibat dalam obrolan satu meja. Sembari meneguk kopi seharga Rp 6.000 yang nikmat, juga pisang goreng Rp 10 ribu per 20 biji, mereka riuh membicarakan isu-isu terhangat. Soal politik, ekonomi, budaya, hingga gosip para pemeran opera sabun. Warkop Jarod, nama bekennya, mencitrakan sebuah tempat ngopi yang egaliter: tak membedakan kelas, meleburkan semua status sosial.

Warkop Jarod

Alamat: Jalan Roda, Pinaesaan, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara

Kopi, Musik, dan Senandung Para Dara

Lain Warkop Jarod, lain pula Rumah Kopi Billy. Kafe sederhana yang sudah 5 tahun berdiri, dan berlokasi di Jalan Sam Ratulangi, Manado, itu jadi tempatnya anak muda mengobrol santai sembari berbagi canda. Tak tampak wajah-wajah separuh baya menduduki kursi. Pun begitu dengan ibu-ibu rumah tangga. Semuanya berwajah 20-30-an. Sambil mengobrol, suara-suara merdu pengamen, yang umumnya mahasiswa mencari dana untuk kegiatan, memenuhi ruangan. Gerombolan silih berganti. Mayoritas yang bersenandung adalah dara-dara manis, sementara para pria bertugas menabuh cajon atau memetik gitar.

Suasana makin cair ditemani secangkir kopi. Sama dengan Warkop Jarod, kopi di sini menggunakan kopi asli Kopikotamobagu. Kopi robusta itu rasa dan aroma khas. Nikmat disantap bersama susu kental manis. Perpaduan gurih, manis, dan pahit bercampur, layaknya obrolan yang terceletuk dari muda-mudi yang mengobrol seru di tempat itu.

Umumnya, kopi seharga Rp 9.000 ini enak disantap bersama pisang goroho goreng seharga Rp 20 ribu atau mi cakalang seharga Rp 18 ribu. Kenikmatannya mencapai puncak kala kopi disajikan bersama klapertart khas Manado yang bisa dibeli di tempat terpisah, misalnya di Klapertart Chstine, yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso.

Bila Rumah Kopi Billy di Jalan Sam Ratulangi penuh, pengunjung bisa beranjak ke cabangnya yang terletak di Jalan 17 Agustus.

Rumah Kopi Billy

Jl. Sam Ratulangi No.134, Titiwungan Utara, Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara

Minum Kopi Berlatar Danau Linow

Minum kopi saja sudah nikmat, apalagi sambil memandang lanskap yang menawan. Di kompleks wisata Danau Linouw, terdapat restoran yang menyajikan hidangan utama kopi Kotamobagu dan pisang goroho tepung goreng. Ada juga pisang spatu yang jadi pemanis. Kedai cukup mewah itu tak bernama. Namun orang sering menyebutnya Kafe atau Restoran Linow.

Pemilik, yang juga seorang aktivis keagamaan, mengelola restoran sekaligus danau. Jadi, pengunjung cukup membayar Rp 25 ribu untuk secangkir kopi Kotamobagu sekaligus sebagai dana retribusi masuk danau. Sementara, pisang goreng dijual Rp 25 ribu per piring.

Di muka danau, kopi yang memang sudah memiliki citra rasa legit, terasa tambah nikmat. Menyeruput secangkir, sembari memandang keindahan bentang alam, serta bukit yang mengelilingi, menjadi cara untuk menyempurnakan liburan di Tomohon.   

Restoran Danau Linow

Alamat: Lahendong, Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Sulawesi Utara

F. Rosana

Keindahan Seputar Singkarak Dalam 3 Hari

Keindahan seputar singkarak dapat dinikmati dalam 3 hari.

Keindahan seputar Singkarak menjadi salah satu rute tur yang bisa dipertimbangkan untuk menikmati liburan. Nama Singkarak 12 tahun terakhir semakin terkenal karena adanya event olahraga balap sepeda internasional Tour de Singkarak yang mulai diselenggarakan sejak 2009.

Keindahan Seputar Singkarak

Jika di Prancis ada tour wisata yang mengikuti event Tour de France, mungkin menarik juga jika dibuat paket seperti itu di Sumatera Barat. Tentu harus dipilih rute dan spot yang menarik untuk dinikmati sebagai paket liburan.

Keindahan seputar singkarak dengan mengikuti rute dari tour de singkarak dan ditempuh hanya dalam 3 hari.
Rumah Gadang di Bukittinggi. Foto: angrri Yulio for unspalsh

Tour de Singkarak sendiri diikuti atlet sepeda dari berbagai negara menyusuri jalan-jalan di Sumatera Barat. Dalam balapan sepeda ini, jarak yang ditempuh sepanjang 1.250 kilometer. Ini melewati 18 dari 19 kota kabupaten di provinsi ini. Rute kompetisi ini sejatinya memanjakan para pembalap dengan suguhan pemandangan alam nan elok, keindahan seputar Singkarak, dan budaya unik Ranah Minang.

Bagaimana jika menjajal rute ala para pembalap sepeda itu untuk menikmati keindahan seputar Singkarak. Tidak perlu hingga 9 hari selayaknya balapan sepeda tersebut, tiga hari di akhir pekan yang panjang rasanya cukup menggoda. Kita coba sisir rute yang menarik. Namun, bila penasaran dengan rute asli para pembalap, bisa direncanakan perjalanan saat balap sepeda tahunan ini digelar.

Hari Pertama: Bukittinggi

Perjalanan tentu dimulai dengan terbang ke ibukota Sumatera Barat, Padang. Pilih penerbangan pagi dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Minangkabau. Etape pertama biasanya dimulai di Padang Pariaman, hanya saja karena kita memilih perjalanan hanya tiga hari, tour kita mulai dari Bukittinggi. Kota berhawa dingin ini menarik untuk menginap.

Jam Gadang sebagai ikon Bukit Tinggi bahkan Sumatera Barat. Pemandangan di titik ini sangat instagramable. Jangan melewatkan menikmati suasana di pusat keramaian kota ini.

Selain itu, banyak pilihan lain yang bisa dinikmati di sini. Bahkan cukup dengan berjalan kaki di jalanan yang kebanyakan turun-naik. Lubang Jepang, Ngarai Sianok, Janjang 1.000 di Ngarai Sianok ke Koto Gadang, Benteng Fort de Kock, Jembatan Limpapeh, dan Rumah Kelahiran Bung Hatta. Pilihan yang berlimpah. Semuanya bagian dari keindahan seputar SIngkarak.

Mengunjungi beberapa obyek wisata tersebut, waktu sudah tersita selama seharian. Tapi, jangan lewatkan, salah satu sajian khasnya ialah nasi kapau, masakan khas Minang dari Nagari Kapau di Kabupaten Agam, yang dijual di pasar lereng yang tak jauh dari Pasar Atas. 

Hari Kedua: Danau Maninjau

Dari Bukittinggi Tour de Singkarak biasanya akan melanjutkan rute di antaranya melalui Kelok 44 Danau Maninjau yang hanya berjarak 30 kilometer dari kota tersebut.

Kelok 44 adalah spot yang dijuluki “ratu” Tour de Singkarak tersebuyt karena menjadi tantangan terberat bagi pembalap untuk menaklukkan tanjakannya. Bagi pelancong pun, melalui rute dengan kelokan sempit dan puluhan ini menjadi atraksi tersendiri. Apalagi pemandangan di sekeliling yang menawan dan pada titik tertentu bisa menikmati Danau Maninjau dari kejauhan.

Menikmati alam danau di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, ini termasuk makan siang dengan rinyua dan ikan bada beraroma sedap. Keduanya merupakan penghuni asli Danau Maninjau. Setelah itu, baru melanjutkan perjalanan ke Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Datar, yang berjarak sekitar 73 kilometer. Dan menginap di kota ini. 

 Hari Ketiga: Tanah Datar-Sawahlunto

Kabupaten Tanah Datar mempunyai obyek wisata unggulan berupaIstano Basa Pagaruyung yang terletak di Batu Sangkar yang juga merupakan ibu kota kabupaten. Istana megah ini juga menjadi ikon dari Tour de Singkarak. Bila datang saat digelar Tour de Singkarak, suasana sekitar istana ini benar-benar meriah karena dijadikan titik akhir salah satu stage.

Keindahan seputar Singkarak salah satunya menikmati peninggalan pertambangan ombilin di Sawahlunto.
Bekas Pertambangan Ombilin Sawahlunto Warisan Dunia UNESCO (Dok. Kementrian Pariwisata)

Istano Basa juga menjadi tempat menyambut para pembalap dan ofisial untuk jamuan  makan siang pada kegiatan balapan. Biasanya para pembalap menghadiri acara makan bajamba dengan mengenakan kain songket.Sejumlah atraksi kesenian tradisional juga banyak ditampilkan untuk menyambut para pembalap.  

Bagi pelancong pada umumnya, Istano Basa Pagaruyung adalah bangunan arsitektur Rumah Gadang terbesar di Sumatera Barat yang memiliki daya tarik tersendiri. Bangunan didirikan di lahan bekas kerajaan Pagaruyung dan terbuka untuk wisatwan. Di dalamnya, bisa ditemukan beberapa benda koleksi kerajaan di masa silam.

 Sebagai lokasi bekas Kerajaan Pagaruyung, Batu Sangkar memiliki sejumlah peninggalan zaman Hindu-Buddha, khususnya era Raja Adityawarman. Juga warisan  kerajaan Alam Minangkabau. Batu bertulis (batu basurek) yang menceritakan zaman keemasan kerajaan pada masa Adityawarman terdapat di beberapa lokasi. Walhasil, tidak hanya melihat istana, pengunjung bisa melihat beberapa prasasti batu bertulis di Pagaruyung.

Siang harinya bisa dilanjutkan ke Sawahlunto yang berjarak 40 kilometer dari Batu Sangkar dengan melewati tepian Danau Singkarak di Ombilin. Ini juga rute dalam Tour de Singkarak. Pembalap danofisial biasanya juga bermalam di kota ini.

Sawahlunto memiliki sederet obyek wisata kota tua  yang dikelola dengan baik. Ada Lubang Tambang Mbah Soero, bekas lubang tambang batu bara di zaman kolonial Belanda. Dari situ, kita bisa menikmati bangunan-bangunan peninggalan perusahaan batu bara pada zaman penjajahan Belanda, Museum Gudang Ransum, serta Museum Kereta Api, yang bisa dijangkau dengan jalan kaki.  

Petang hari, saatnya kembali ke Padang. Jarak kedua kota sekitar 98 kilometer yang bisa dicapai dengan jalan darat selama sekitar 3 jam. Jika tepat waktu, pengunjung langsung memilih penerbangan malam hari. Jika khawatir terlalu mepet, bisa memilih menginap satu malam di Padang dan terbang keesokan harinya.

Menarik? Ayo agendakan liburanmu menikmati keindahan seputar Singkarak. 

agendaIndonesia

*****

Tengkleng Solo, Dicecap Mulai Abad 19

Tengkleng Solo berawal dari tulang kambing yang tak disukai orang Belanda.

Tengkleng Solo adalah makanan khas kota ini, tampilannya mirip gulai kambing. Tentu ada bedanya, bahan dasar tengkleng adalah tulang belulang dan jeroan. Kuahnya juga lebih encer dibandingkan gulai daging kambing.

Tengkleng Solo


Tulang belulang kambing yang diolah menjadi masakan dan disukai orang memang unik. Ini ada latar belakangnya. Tengkleng Solo mulai dikenal ketika Indonesia masih dalam zaman kolonialisme Belanda di abad 19.

Dari catatan Wikipedia, sajian tengkleng muncul karena dulu para bangsawan dan orang-orang Belanda saja yang bisa menikmati gulai daging kambing. Sedangkan para pekerja dan tukang masak hanya kebagian kepala, kaki, tulang, dan jerohan saja.

Sementara versi lain menyebut, tengkleng lahir di era pendudukan Jepang di Indonesia. Saat itu terjadi kesulitan mencari bahan pangan. Untuk bertahan hidup, masyarakat terpaksa mengolah limbah bahan pangan seperti tulang belulang dan jeroan kambing.

Tengkleng Solo lahir menjadi kulinari karena kreatifitas orang Solo terhadap bahan pangan.
Semangkok tengkleng Solo bisa menjadi teman yang hangat. Foto: shutterstock

Namun kreatifitas orang Solo memang luar biasa. Para tukang masak tak kehilangan akal, mereka mengolah bahan-bahan tersebut menjadi makanan yang sedap dengan banyak bumbu. Justru ciri khas utama Tengkleng adalah pada bahan dasarnya.

Bahan utama tengkleng adalah tetelan atau tulang belulang kambing beserta bagian-bagian tubuh kambing yang tak diinginkan bangsawan pada masa itu. Kulit, jerohan, kaki, tulang-tulang iga, bahkan kepala kambing.

Tulang dan jeroan kambing itu dimasak dengan bumbu yang ada seperti kelapa, kunyit, serai, jahe, lengkuas, daun jeruk, daun salam, kayu manis, cengkeh, garam, bawang putih, bawang merah, pala, dan kemiri. Kuah gulai yang tidak begitu kental dengan kaldu tulang memberikan citarasa lebih nikmat jika dibandingkan gulai daging kambing biasa.


Nama tengkleng sendiri juga muncul pada zaman itu, di mana banyak warga masyarakat makan menggunakan piring dari kaleng atau seng. Masakan yang terdiri dari tulang-belulang itu bertemu dengan piring seng menimbulkan bunyi “kleng-kleng-kleng”.

Meski berawal dari sejarah yang kurang enak, tengkleng justru tumbuh menjadi salah satu makanan khas Solo. Tengkleng Solo digemari bukan saja oleh warga lokal, tapi juga wisatawan pemburu makanan enak.
Lalu kalau wisatawan mencari tempat makan tengkleng Solo yang paling enak, kemanakah pilihannya? Berikut lima pilihannya.

Tengkleng Solo berkembang menjadi kuliner dengan aneka pilihan daging atau bahannya.
Sepincuk tengkleng dari Warung Bu Edi Pasar Klewer. Foto: Milik Kompas

Tengkleng Klewer Bu Edi

Ini warung tengkleng Solo yang legendaris, wisatawan wajib mampir ke kedai makan milik Bu Edi. Tengkleng di sini sudah menjadi favorit masyarakat Solo sejak 1970-an.

Keunikan tengkleng di sini adalah cara penyajiannya yang menggunakan daun pisang dipincuk. Warung Tengkleng Bu Edi berlokasi di Pasar Klewer, Gajahan, atau tepatnya di Jalan DR. Radjiman, Kauman, Ps. Kliwon, Surakarta.

Harga yang ditawarkan untuk satu porsi tengkleng Solo paling enak sangat murah yaitu 25 ribu saja. Pengunjung bisa menikmati tengkleng istimewa ini setiap hari mulai pukul 12.00 sampai 16.00 WIB .

Warung Tengkleng Bu Pon

Daging kambing memiliki bau yang khas sehingga banyak orang enggan mengkonsumsi olahan kuliner ini. Padahal, citarasa daging kambing tidak kalah enak dengan daging lain.Tapi cobalah tengkleng kambing yang memiliki rasa istimewa di Tengkleng Bu Pon

Warungnya berlokasi di Shelter Lojiwetan, Jalan Kapten Mulyadi, Surakarta. Mereka buka setiap hari mulai pukul 09.00 sampai dengan 16.00 WIB. Harga seporsi makanan lumayan terjangkau kantong pelajar dan mahasiswa alias sekitar 25 ribu rupiah saja.

Tengkleng Bu Pon ini memiliki varian sangat lengkap mulai iga, sumsum atau bagian kepala kambing yang khas. Sensasi rasa menikmati tengkleng Solo paling enak Bu Pon juga bisa disesuaikan dengan selera pengunjung. Mau level lebih pedas dan panas? Konsumen bisa meminta tambahan cabai rawit lebih banyak.

Kedai Tengkleng Bu Jito Dlidir

Salah satu rekomendasi tengkleng Solo yang tak kalah enak dan popular di kalangan masyarakat Solo adalah tengkleng Bu Jito Dlidir. Istimewa karena memiliki citarasa kuah yang gurih. Rasa rempah yang kuat akan membuat pecinta kuliner kambing langsung jatuh cinta dengan olahan tulangannya.

Di sini selain tengkleng, pengunjung juga bisa menikmati aneka masakan lain seperti sate, gulai, dan tongseng kambing. Harga yang dibandrol di sini berkisar mulai 20 ribu ke atas sesuai menu yang dipesan.

Warung ini berlokasi di kawasan Jalan Kolonel Sugiyono Nomor 67, Kadipiro, Surakarta. Buka mulai pukul 09.00 sampai pukul 16.00 WIB.

Warung Tengkleng Pak Manto

Ini pilihan untuk mereka yang ingin mencoba sensasi pedas. Wisatawan wajib datang ke Tengkleng Rica Pak Manto. Menu tengkleng Solo paling enak di sini memang ditawarkan khusus untuk para pecinta pedas.

Penyajian yang berbeda dengan citarasa sedap tak kalah dengan rasa tengkleng biasa. Dijamin pecinta kuliner bakal ketagihan menikmati setiap gigitan rica daging kambing di tempat Pak Manto ini.

Atau, jika ingin menikmati tengkleng dengan rasa yang berbeda, tapi tak suka sensasi pedas, pengunjung bisa memesan tengkleng goreng yang lebih diterima lidah.

Alamat tengkleng Solo Pak Manto ini berada di Jalan Honggowongso Nomor 36, Sriwedari, Laweyan. Mereka buka setiap hari mulai pukul 9 pagi sampai 9 malam. Harga satu porsi tengkleng di tempat Pak Manto sekitar 30 ribu rupiah.

Tengkleng Kepala Kambing Mbak Diah

Tertarik mencoba tengkleng kepala kambing yang anti mainstream? Anda harus mencicipi seporsi tengkleng di Desa Tanjunganom ini. Kuah yang begitu gurih dengan citarasa kuat membuat Tengkleng Mbak Diah digandrungi banyak orang.

Porsi melimpah bisa dinikmati pengunjung dengan mengeluarkan uang sebesar sekitar 25 ribu rupiah saja untuk satu porsi. Warung Tengkleng Mbak Diah berlokasi di Desa Tanjunganom RT 002/RW 001, Kwarasan, Grogol, Tj. Ongih, Sukoharjo.

Ayo kapan ke Solo dan menikmati tulang kambing yang maknyus.

agendaIndonesia

*****

Di Pasar Kranggan Yogya Menyantap 3 Kuliner Ndeso

Jogja Travel Mart 2022 mempertemukan buyer dan seller--FotoYogyakarta iStock

Di Pasar Kranggan Yogya menyantap 3 kuliner ndeso pada pagi hari sungguh sebuah perjalanan menikmati Yogyakarta. Konon sebuah kota bisa dipelajari dari lanskap makanan jalanan atau penganan di pasar tradisional. Dan, jajanan pasar memang selalu bikin kangen, selain tentunya bikin kenyang.

Di Pasar Kranggan Yogya

Pasar memang tempat semua hal berkumpul, termasuk deretan hidangan. Tak terkecuali di Pasar Kranggan, Yogyakarta. Di pagi hari, selain urusan belanja kebutuhan sehari-hari, sejatinya kita bisa mencecap sejumlah makanan yang enak. Meskipun jenisnya “cuma” kuliner ndeso Yogya.

Ada yang ringan dan hangat, seperti wedang tahu, menu sarapan gandos rangin, atau yang mengenyangkan semisal soto. Cukup lengkap!

Kehangatan Sereguk Wedang Tahu

Wedang Tahu Pasar Kranggan
Menikmati kuliner ndeso, Yogyakarta wedang tahu. Dok. TL

Di perempatan Jalan Kranggan, Yogyakarta, ada sebuah gerobak kecil berwarna merah dengan kain rentang bertuliskan “Wedang Tahu Jogja”. Aromanya menggoda. Tak tahan segera memesan. Dan kuah kecokelatan yang disiram mangkuk putih berornamen merah khas Tionghoa langsung membikin ngiler. Hangatnya wedang sudah tercitra sebelum minuman itu masuk ke tubuh. Kenikmatan makin genap kala bahan utama sari tahu diciduk dari kuali. Teksturnya lembut dan kenyal saat disendok. Sekali regukan, wedang dipercaya dapat mengusir masuk angin.

Yang membikin warung ramai, selain unik, adalah keramahan si empunya lapak. Sukardi tak pelit ilmu. Kepada siapa pun ia berbagi resep. “Sari kedelai di-blender, diperas, lalu dikasih campuran pengental. Itu sudah langsung jadi. Tinggal tambah kuahnya, pakai racikan rempah-rempah biasa. Jahenya pakai yang emprit, kecil tapi pedas. Oh iya, kedelainya pakai yang impor dari Amerika, kalau lokal, sulit dijumpai di pasar,” tuturnya mencerocos.

Perempuan yang sudah punya lima cabang warung itu mengaku belajar dari majikannya dulu yang keturunan Tionghoa. Minuman ini memang dari Negeri Bambu. Sejak akhir abad ke-19, para imigran asal Cina yang bertandang ke Indonesia mendobrak cara orang mengkonsumsi tahu dengan suguhan berupa minuman hangat.

Wedang Tahu Bu Sukardi

Jalan Kranggan Nomor 75, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta,

Buka pukul 06.30-09.00

Harga Rp 6.000 per mangkuk

Babad Semangkuk Soto Sampah

Bukan berarti komponennya terdiri atas bahan-bahan sisa makanan, tapi terselip cerita khusus di baliknya. “Yang memberi nama soto sampah justru pelanggan, karena dulu di depan warung ini ada bak sampah besar,” tutur Fina Kurniawati, generasi kedua pemegang tampuk kepemimpinan warung yang berdiri pada 1970-an itu. Tapi bisa jadi karena lauknya beragam, yang bila diteropong dari jauh, wujudnya mirip meja yang berserakan sampah makanan. Maklum, ada sekitar 30 pilihan, di antaranya sate usus, telur puyuh, ayam, paru goreng, jeroan, dan aneka gorengan.

Soto berkuah bening dengan nasi yang dicampur di dalam mangkuk. Isinya pun standar, seperti kubis, bihun jagung, bawang goreng, seledri, dan taoge pendek. Yang membikin spesial dagingnya. Bukan daging ayam atau daging sapi yang dipilih, melainkan tetelan yang membuat kaldu terasa gurih. Warung buka hingga dinihari, atau 20 jam dalam sehari. Hanya dipatok Rp 5.000 per mangkuk. Sedangkan lauk-pauk dibanderol mulai Rp 1.000 hingga Rp 5.000.

Soto Sampah Kranggan

Jalan Kranggan Nomor 2, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta

Buka pukul 07.00-03.00

Harga Rp 5.000 per mangkuk soto

Alih Budaya Si Legit Gandos

Kue pancong namanya di Jakarta. Masyarakat Betawi menggubahnya dari kelapa, tepung beras, dan gula. Namun di Bandung disebut bandros. Lantas di Yogyakarta, dikenal sebagai gandos rangin. “Bahannya sama, hanya rasanya disesuaikan dengan masyarakat setempat. Kalau di Yogya, karena orang-orangnya suka manis, adonannya diberi banyak gula,” tutur Siti Kholimah, perempuan 35 tahun yang membuka lapak di perempatan Pasar Kranggan.

Puan keturunan Sunda-Jawa itu menyebut kelapa yang dipakai yang masih muda, lantas diparut. Selanjutnya, semua bahan dicampur, dibubuhi air secukupnya. Sesudahnya, tinggal dimasukkan ke cetakan hingga warnanya menjadi kecokelatan. Setelah matang, umumnya, orang Sunda memberi tambahan saus gula merah. Masyarakat Jawa menyebutnya juruh. “Kalau di Yogyakarta sih biasanya hanya pakai taburan gula pasir,” ucap Siti. Menjadi favorit untuk sarapan. Harganya dibanderol Rp 5.000 untuk sepuluh potong kue. Tak heran kalau gerobak sederhananya sejak 1999 diburu warga.

Gandos Rangin Siti

Perempatan Pasar Kranggan, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta

Buka pukul 07.00-10.00

Harga Rp 5.000 per sepuluh potong

F. Rosana/Hindra/TL

Mangut Lele Mbah Marto, Diasap Sejak 1960

Mangut Lele Mbah Marto di Bantul menjadi pilihan kuliner ketika ke kota pelajar ini. Foto: Kompas

Mangut lele Mbah Marto menjadi salah satu kuliner klangenan di Yogyakarta, khususya di Kabupaten Bantul. Mangut sendiri merupakan masakan khas Mataraman atau sekitar daerah Jogja, Solo, Semarang, dan Kendal yang sangat terkenal.

Mangut Lele Mbah Marto

Sejatinya masakan seperti apakah mangut ini? Untuk orang Jawa daratan, menu olahan ikan lele ini untuk menambah variasi masakan berbahan ikan. Di sana ada bumbu-bumbu yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai merah, kemiri, dan jahe.

Semuanya diulek menjadi satu. Bumbu yang dihaluskan dengan proses ulek tentunya akan mengeluarkan minyak alami dari bahan-bahan mentah yang akan membuat bumbu lebih beraroma.

Mangut lele Mbah Marto menjadi salah satu ikon Kabupaten Bantul, selain ada Parntai Parangtritis dan lainnya.
Pantai Parangtritis ikon wisata di Bantul, selain ada Mangut Lele. Foto: shutterstock

Proses selanjutnya adalah menumis bumbu yang telah dihaluskan tadi bersama dengan gula merah, cabai merah besar, daun salam, daun jeruk, serai, serta lengkuas. Bila sudah wangi ditambahkan santan, berikut lelenya.

Makanan mangut tentu saja sesungguhnya tidak menjadi monopoli lele, bisa saja menggunakan ikan lain atau bahkan ayam. Namun olahan ikan lele dengan bumbu santan yang gurih, biasanya dengan kuah pedas ini sungguh  menerbitkan selera.

Dan berbeda dengan mangut lele daerah lain, di Bantul lele yang akan dibuat mangut biasanya diasapi terlebih dahulu. Setelah itu baru dimasak dengan bumbu-bumbu tadi.

Di warung Mangut Lele Mbah Marto, ikan lele dalam masakan mangut lele diasap bukan digoreng. Tujuannya agar lele lebih tahan lama dan tidak cepat tengik.

Selain itu, hasilnya ada aroma khas yang smoky den tekstur kenyal daging lele yang tetap terjaga. Rasanya menjadi semakin sedap setelah dimasak dengan santan dan bumbu mangut.

Mangut Lele Yogya Sajian Sedap
Mangut adalah pilihan lain mengolah dan menikmati lele. Foto: milik sajian sedap.id

Salah satu tempat terbaik untuk menikmati mangut lele asap di Yogyakarta tentu saja di Warung Mangut Lele Mbah Marto di Bantul. Warungnya  berada di tengah desa dan untuk mencapainya cukup sulit, karena mencari lokasinya agak tersembunyi.

Lokasi persisnya cukup nyempil alias bersembunyi di tengah kampung. Dapur asli Mangut Lele Mbah Marto ini tepatnya berada di Jalan Sewon Indah RT 04, Ngireng-ireng, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada petunjuk arah, saat pelancong masuk dari Jalan Parangtritis.

Mbah Marto sudah mulai berjualan mangut lele di Bantul ini sejak 1960. Ia kemudian tumbuh menjadi kuliner yogya yang legendaris dan termasyhur. Banyak pencinta kuliner yang jauh-jauh datang untuk menikmati makanan bercita rasa pedas itu.

Belakangan, sejak beberapa tahun lalu, ada tiga rumah makan yang sama-sama mengklaim sebagai penerus mangut lele Mbah Marto sehingga kadang membuat pelanggan bingung. Tapi sudahlah, cobalah ke semuanya dan tentukan mana yang paling enak.

Masakan ini cocoknya dimakan untuk makan siang. Meski bisa saja dimakan malam. Jika mampir ke Warung Mangut Lele Mbah Marto menjelang maka siang,akan terlihat asap-asap dari sisa pengasapan lele dan pemasakan  berdesakan keluar dari dapur yang berukuran sekitar 4×4 meter melalui lubang-lubang ventilasi.

Dapur Mangut Lele Mbah Marto IG%40backpackerid
Suasana dapur Mangut Lele Mbah Marto. Foto: milik IG @backpacker.id

Suasana dapur cukup ramai, terutama ketika jam makan siang, meski masakan-masakan utama sudah siap saji, ada saja masakan tambahan yang dikerjakan asisten warung ini. Banyak juga pembeli yang langsung mengambil lauk di dapur ini.

Di warung Mbah Marto ini, pengunjung memang diperbolehkan masuk ke dapur untuk mengambil makanan sendiri. Terserah mau mengambil lauk atau sayur yang mana, atau lele mau dipadukan dengan beberapa sayur juga boleh, asal nanti ketika membayar disebutkan tambahan lauk yang dipakai.

Orang yang membantu memasak terlihat sesekali mengaduk isi beberapa panci berukuran besar di atas tungku. Atau memasukkan kayu ke tungku agar api tidak mati. Dinding batu bata di seputar dapur itu telah berubah menjadi hitam karena jelaga perapian.

Di dapur itu juga terlihat meja atau lincak bambu dengan nasi di bakul besar yang bisa diambil sendiri pembeli. Lalu ada baskom-baskom yang berjejer berisi sayur dan lauk. Ada setidaknya enam baskom berisi mangut lele, gudeg, krecek, telur dan tahu areh, juga ayam opor, dan lainnya.

Suasana di dapur Mangut Lele Mbah Marto ini memang benar-benar tradisional. Mungkin itu yang membuat para pemburu kuliner tidak terlalu bermasalah untuk blusukan ke tempat makan ini demi bisa berburu menu andalan warung Mbah Marto yaitu mangut lele.

Cobalah jika mampir ke Yogyakarta, arahkan tujuan ke selatan kota ini, ke Bantul dan mencoba mangut lele khas mbah Marto ini. Satu porsi mangut lele ini biasanya dibanderol dengan harga kisaran Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung jumlah ikan.

agendaIndonesia

*****

Negeri di Atas Awan, 1 Keunikan Sumbawa Barat

Pulau Kenawa

Negeri di Atas Awan Sumbawa Barat ternyata betul-betul ada. Ini membuktikan Nusa Tenggara, baik Barat maupun Timur, memiliki begitu banyak kekayaan alam yang tak terpermanai. Kali ini kami mendaki Bukit Mantar untuk menatap Selat Alas, disambung menikmati senja di Pulau Kenawa.

Negeri di Atas Awan

Siraman sinar mentari terasa menyubit kulit. Meski berada di daerah perbukitan, cahaya hangat mulai berubah menjadi menyengat. Padahal, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00. Mungkin memang begitu pagi di Bumi Undru – nama lain dari Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Niat ingin segera menikmati keindahan Desa Wisata Mantar di Kecamatan Poto Tano, tampaknya harus tertunda beberapa saat. Saya harus tertahan di Dusun Tapir, kampung terdekat desa wisata tersebut.

Jadilah pagi yang resah buat saya karena kendaraan 4 WD yang dinanti tak kunjung tiba. Padahal, menuju desa wisata yang kini secara administratif berada di Desa Tuananga dengan ketinggian 630 meter di atas permukaan laut itu, cuma bisa dicapai menggunakan jenis kendaraan tersebut. Jarum jam terus bergeser. Hal yang dinanti tak kunjung tiba. Tak ada pilihan selain menumpang sepeda motor. Jadilah rekan saya dibonceng warga desa yang hendak pulang, sedangkan saya meminta anak pemilik warung mengantar.

Rupanya perlu kesabaran lebih untuk bisa menginjak desa yang dikenal sebagai Negeri di Atas Awan itu. Apalagi jalur yang dilalui memang tak lurus dan lapang. Selepas jalan datar dengan persawahan dan menemukan gerbang Desa Mantar, perjuangan pun dimulai. Akhir tahun lalu, saat saya menginjakkan kaki di sana, jalur menanjak di perbukitan baru tahap awal diperbaiki. Jadi saya masih merasakan jalur terjal penuh batu dengan di salah satu sisi jurang.

Rasa ngeri semakin terasa ketika si pengemudi mengatakan belum lama ada kecelakaan maut karena pengendara tak cermat. Jalan berkelok, sempit, dan terjal memang perlu kehati-hatian yang tinggi. Lengah sedikit, kendaraan bisa terperosok ke jurang. Maka untuk menghilang rasa takut, sesekali saya panjatkan doa.

Jalur kelok berbahaya pun lewat, saya memasuki perkampungan, hingga bertemu tanah lapang di ketinggian. Inilah punggung Bukit Mantar, tempat para penyuka paralayang bisa mengudara dan penikmat keindahan bisa duduk termangu menatap Selat Alas, Pulau Panjang, dan kumpulan pulau-pulau kecil di Sumbawa Barat. Ada Pulau Kenawa, Pulau Mendaki, Pulau Paserang, Pulau Belang, Pulau Ular, Pulau Nako, dan Pulau Kalong yang dikenal sebagai Gili Balu – delapan pulau kecil. Selepas dari desa ini, pulau-pulau ini memang menjadi tujuan saya berikutnya.

Pagi yang cerah, Gunung Rinjani pun dari kejauhan kentara jelas. Desa-desa di bawah seperti Seteluk dan Senayan pun tertangkap mata dengan jelas. Saya datang bukan di hari libur, jadi suasana cukup sepi. Kios yang ada pun tutup. Namun tak lama ada sekelompok anak-anak yang datang mengagetkan menggunakan bersepeda motor. Ahhhh… saya sediki ngeri karena di sisi lain punggung bukit ternganga jurang. Di sanalah biasanya para pegiat paralayang meluncur bebas. Dalam bingkai foto, selintas anak-anak itu seperti melaju di antara awan-awan. Seperti juga sekumpulan kambing dan sepintas layaknya merumput di sebuah negeri jauh di atas awan.

Desa Mantar sebenarnya punya banyak keunikan. Kehadiran keturunan Portugis yang dulu terdampar di perairan di bawah Bukit Mantar dan rumah-rumah yang unik. Hanya karena akan singgah ke kawasan Gili Balu, maka desa tempat lokasi pengambilan gambar film Serdadu Kumbang ini pun saya jelajahi dengan waktu singkat. Lantas, sepeda motor pun kembali ke jalan yang berliku dan sempit. Sekitar 25 menit, saya sudah tiba kembali ke lokasi kendaraan diparkir di Dusun Tapir. Rasanya jalur kembali lebih cepat, mungkin karena jalan yang menurun.

Sayangnya, hanya sekejap menikmati desa yang telah ditata sebagai desa wisata ini. Rencananya, setelah menikmati dari ketinggian, dua pulau akan segera saya singgahi. Jadi tak ada pilihan selain bergegas turun dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Poto Tano. Bagi saya, tentu tak kalah menggairah menyentuh laut langsung setelah menatapnya dari kejauhan.

Selepas Jalan Raya Seteluk ditelusuri, disambung Jalan Senayan Poto Tano, saya temukan Pelabuhan Poto Tano, tempat penyeberangan Lombok-Sumbawa. Tak jauh dari pelabuhan, terdapat gerbang menuju jalan kecil dan di atasnya tertulis “Kawasan Wisata Bahari Pulau Kenawa”. Tak lama kami langsung menemukan Bachtiar, pemilik perahu. Harga pelayaran ke Kenawa Rp 300 ribu, tapi untuk dua pulau, yakni Kenawa dan Paserang, ia meminta Rp 500 ribu.

Perlu persiapan ternyata, jadi perahu tak langsung segera berangkat. Jadilah, saya mencermati bocah-bocah yang tengah bermain di dermaga. Mereka serasa berada di kolam super besar, bergantian menceburkan diri, berenang, dan tertawa lepas. Masa anak-anak yang sederhana, tapi menyenangkan. Tiba-tiba bahu saya ditepuk. Saya diberi tahu bahan bakar perahu sudah didapat dan pelambung pun sudah ditenteng pemilik perahu. Dari atas perahu, kali ini giliran saya yang tersenyum lebar dan melambaikan tangan saat meninggalkan dermaga. Laut memang membawa keriangan.

Laut di Selat Alas tergolong tenang. Sekitar 30 menit, Pulau Paserang sudah di depan mata. Dermaga kayu menyambut, sementara pantai berpasir putih seperti memohon untuk segera dijejaki. Perlahan saya naik ke dermaga. Ilalang tinggi terlihat di bagian tengah pulau seluas 54,77 hektare itu. Rupanya, pulau telah disiapkan untuk destinasi wisata. Ada para pekerja yang tengah menyiapkan sejenis cottage plus fasilitasnya. Hingga wisatawan bisa menginap dengan nyaman di sini. Pilihan lain, tentunya menggelar tenda.

Menatap kedalaman laut, tiba-tiba saya melihat pari kecil lewat sekelebat. Sayangnya, tak sempat menatap lama. Selebihnya, ada sejumlah ikan-ikan kecil wara-wiri, lumayan untuk yang gemar snorkeling. Ada juga sekumpulan terumbu karang meski tak tampak warna-warni. Menyusuri pantai yang panjangnya mencapai 2,5 km bisa menjadi pilihan untuk menikmati pasir putihnya yang halus.

Menjelang sore, saatnya melaju ke Pulau Kenawa. Menangkap keindahan mentari tenggelam dari pulau yang memiliki savana dan bukit unik tersebut. Pulau seluas 13,8 hektar itu sering menjadi pilihan bagi para turis kelas ransel untuk bermalam dengan mendirikan tenda. Rasanya memang menggoda. Dari tiupan angin kencang yang membuat ilalang menari-nari, laut yang tenang, sampai bukit di tengah pulau. Sayang, saya hanya singgah untuk berayun-ayun di bawah pohon sembari menanti langit semakin memerah. Kemudian, menyusuri pasir putih dan ilalangnya, sebelum akhirnya harus rela meninggalkan pulau sebelum angin bertiup kian kencang dan langit semakin gelap. l

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Pilih rute penerbangan menuju Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.  Dilanjutkan dengan kendaraan roda empat selama 2 jam menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, yang menjadi tempat penyeberangan menuju Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat.

Secuplik Info

1. Penyeberangan Lombok-Sumbawa sekitar 1,5 jam, tapi dengan proses kapal merapat total menghabiskan waktu 2 jam.

2. Jadwal penyeberangan antara dua pelabuhan ini tersedia dalam 24 jam.

3. Desa Mantar lokasinya sekitar 27 km dari Pelabuhan Poto Tano.

4. Untuk mencapai Desa Mantar tersedia kendaraan 4 WD dari Dusun Tapir dengan biaya Rp 25 ribu per orang. Bisa juga dengan sepeda motor atau ojek dengan biaya Rp 50 ribu per orang sekali jalan.

5. Sewa perahu menuju Pulau Paserang dan Kenawa bisa didapat langsung di dermaga kecil menuju Kawasan Gili Balu. Biasanya harga dimulai Rp 300 ribu dan sudah termasuk perlengkapan snorkeling

R. Nariswari/Frann/TL