Di Pasar Kranggan Yogya Menyantap 3 Kuliner Ndeso

Jogja Travel Mart 2022 mempertemukan buyer dan seller--FotoYogyakarta iStock

Di Pasar Kranggan Yogya menyantap 3 kuliner ndeso pada pagi hari sungguh sebuah perjalanan menikmati Yogyakarta. Konon sebuah kota bisa dipelajari dari lanskap makanan jalanan atau penganan di pasar tradisional. Dan, jajanan pasar memang selalu bikin kangen, selain tentunya bikin kenyang.

Di Pasar Kranggan Yogya

Pasar memang tempat semua hal berkumpul, termasuk deretan hidangan. Tak terkecuali di Pasar Kranggan, Yogyakarta. Di pagi hari, selain urusan belanja kebutuhan sehari-hari, sejatinya kita bisa mencecap sejumlah makanan yang enak. Meskipun jenisnya “cuma” kuliner ndeso Yogya.

Ada yang ringan dan hangat, seperti wedang tahu, menu sarapan gandos rangin, atau yang mengenyangkan semisal soto. Cukup lengkap!

Kehangatan Sereguk Wedang Tahu

Wedang Tahu Pasar Kranggan
Menikmati kuliner ndeso, Yogyakarta wedang tahu. Dok. TL

Di perempatan Jalan Kranggan, Yogyakarta, ada sebuah gerobak kecil berwarna merah dengan kain rentang bertuliskan “Wedang Tahu Jogja”. Aromanya menggoda. Tak tahan segera memesan. Dan kuah kecokelatan yang disiram mangkuk putih berornamen merah khas Tionghoa langsung membikin ngiler. Hangatnya wedang sudah tercitra sebelum minuman itu masuk ke tubuh. Kenikmatan makin genap kala bahan utama sari tahu diciduk dari kuali. Teksturnya lembut dan kenyal saat disendok. Sekali regukan, wedang dipercaya dapat mengusir masuk angin.

Yang membikin warung ramai, selain unik, adalah keramahan si empunya lapak. Sukardi tak pelit ilmu. Kepada siapa pun ia berbagi resep. “Sari kedelai di-blender, diperas, lalu dikasih campuran pengental. Itu sudah langsung jadi. Tinggal tambah kuahnya, pakai racikan rempah-rempah biasa. Jahenya pakai yang emprit, kecil tapi pedas. Oh iya, kedelainya pakai yang impor dari Amerika, kalau lokal, sulit dijumpai di pasar,” tuturnya mencerocos.

Perempuan yang sudah punya lima cabang warung itu mengaku belajar dari majikannya dulu yang keturunan Tionghoa. Minuman ini memang dari Negeri Bambu. Sejak akhir abad ke-19, para imigran asal Cina yang bertandang ke Indonesia mendobrak cara orang mengkonsumsi tahu dengan suguhan berupa minuman hangat.

Wedang Tahu Bu Sukardi

Jalan Kranggan Nomor 75, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta,

Buka pukul 06.30-09.00

Harga Rp 6.000 per mangkuk

Babad Semangkuk Soto Sampah

Bukan berarti komponennya terdiri atas bahan-bahan sisa makanan, tapi terselip cerita khusus di baliknya. “Yang memberi nama soto sampah justru pelanggan, karena dulu di depan warung ini ada bak sampah besar,” tutur Fina Kurniawati, generasi kedua pemegang tampuk kepemimpinan warung yang berdiri pada 1970-an itu. Tapi bisa jadi karena lauknya beragam, yang bila diteropong dari jauh, wujudnya mirip meja yang berserakan sampah makanan. Maklum, ada sekitar 30 pilihan, di antaranya sate usus, telur puyuh, ayam, paru goreng, jeroan, dan aneka gorengan.

Soto berkuah bening dengan nasi yang dicampur di dalam mangkuk. Isinya pun standar, seperti kubis, bihun jagung, bawang goreng, seledri, dan taoge pendek. Yang membikin spesial dagingnya. Bukan daging ayam atau daging sapi yang dipilih, melainkan tetelan yang membuat kaldu terasa gurih. Warung buka hingga dinihari, atau 20 jam dalam sehari. Hanya dipatok Rp 5.000 per mangkuk. Sedangkan lauk-pauk dibanderol mulai Rp 1.000 hingga Rp 5.000.

Soto Sampah Kranggan

Jalan Kranggan Nomor 2, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta

Buka pukul 07.00-03.00

Harga Rp 5.000 per mangkuk soto

Alih Budaya Si Legit Gandos

Kue pancong namanya di Jakarta. Masyarakat Betawi menggubahnya dari kelapa, tepung beras, dan gula. Namun di Bandung disebut bandros. Lantas di Yogyakarta, dikenal sebagai gandos rangin. “Bahannya sama, hanya rasanya disesuaikan dengan masyarakat setempat. Kalau di Yogya, karena orang-orangnya suka manis, adonannya diberi banyak gula,” tutur Siti Kholimah, perempuan 35 tahun yang membuka lapak di perempatan Pasar Kranggan.

Puan keturunan Sunda-Jawa itu menyebut kelapa yang dipakai yang masih muda, lantas diparut. Selanjutnya, semua bahan dicampur, dibubuhi air secukupnya. Sesudahnya, tinggal dimasukkan ke cetakan hingga warnanya menjadi kecokelatan. Setelah matang, umumnya, orang Sunda memberi tambahan saus gula merah. Masyarakat Jawa menyebutnya juruh. “Kalau di Yogyakarta sih biasanya hanya pakai taburan gula pasir,” ucap Siti. Menjadi favorit untuk sarapan. Harganya dibanderol Rp 5.000 untuk sepuluh potong kue. Tak heran kalau gerobak sederhananya sejak 1999 diburu warga.

Gandos Rangin Siti

Perempatan Pasar Kranggan, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta

Buka pukul 07.00-10.00

Harga Rp 5.000 per sepuluh potong

F. Rosana/Hindra/TL

Mangut Lele Mbah Marto, Diasap Sejak 1960

Mangut Lele Mbah Marto di Bantul menjadi pilihan kuliner ketika ke kota pelajar ini. Foto: Kompas

Mangut lele Mbah Marto menjadi salah satu kuliner klangenan di Yogyakarta, khususya di Kabupaten Bantul. Mangut sendiri merupakan masakan khas Mataraman atau sekitar daerah Jogja, Solo, Semarang, dan Kendal yang sangat terkenal.

Mangut Lele Mbah Marto

Sejatinya masakan seperti apakah mangut ini? Untuk orang Jawa daratan, menu olahan ikan lele ini untuk menambah variasi masakan berbahan ikan. Di sana ada bumbu-bumbu yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai merah, kemiri, dan jahe.

Semuanya diulek menjadi satu. Bumbu yang dihaluskan dengan proses ulek tentunya akan mengeluarkan minyak alami dari bahan-bahan mentah yang akan membuat bumbu lebih beraroma.

Mangut lele Mbah Marto menjadi salah satu ikon Kabupaten Bantul, selain ada Parntai Parangtritis dan lainnya.
Pantai Parangtritis ikon wisata di Bantul, selain ada Mangut Lele. Foto: shutterstock

Proses selanjutnya adalah menumis bumbu yang telah dihaluskan tadi bersama dengan gula merah, cabai merah besar, daun salam, daun jeruk, serai, serta lengkuas. Bila sudah wangi ditambahkan santan, berikut lelenya.

Makanan mangut tentu saja sesungguhnya tidak menjadi monopoli lele, bisa saja menggunakan ikan lain atau bahkan ayam. Namun olahan ikan lele dengan bumbu santan yang gurih, biasanya dengan kuah pedas ini sungguh  menerbitkan selera.

Dan berbeda dengan mangut lele daerah lain, di Bantul lele yang akan dibuat mangut biasanya diasapi terlebih dahulu. Setelah itu baru dimasak dengan bumbu-bumbu tadi.

Di warung Mangut Lele Mbah Marto, ikan lele dalam masakan mangut lele diasap bukan digoreng. Tujuannya agar lele lebih tahan lama dan tidak cepat tengik.

Selain itu, hasilnya ada aroma khas yang smoky den tekstur kenyal daging lele yang tetap terjaga. Rasanya menjadi semakin sedap setelah dimasak dengan santan dan bumbu mangut.

Mangut Lele Yogya Sajian Sedap
Mangut adalah pilihan lain mengolah dan menikmati lele. Foto: milik sajian sedap.id

Salah satu tempat terbaik untuk menikmati mangut lele asap di Yogyakarta tentu saja di Warung Mangut Lele Mbah Marto di Bantul. Warungnya  berada di tengah desa dan untuk mencapainya cukup sulit, karena mencari lokasinya agak tersembunyi.

Lokasi persisnya cukup nyempil alias bersembunyi di tengah kampung. Dapur asli Mangut Lele Mbah Marto ini tepatnya berada di Jalan Sewon Indah RT 04, Ngireng-ireng, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada petunjuk arah, saat pelancong masuk dari Jalan Parangtritis.

Mbah Marto sudah mulai berjualan mangut lele di Bantul ini sejak 1960. Ia kemudian tumbuh menjadi kuliner yogya yang legendaris dan termasyhur. Banyak pencinta kuliner yang jauh-jauh datang untuk menikmati makanan bercita rasa pedas itu.

Belakangan, sejak beberapa tahun lalu, ada tiga rumah makan yang sama-sama mengklaim sebagai penerus mangut lele Mbah Marto sehingga kadang membuat pelanggan bingung. Tapi sudahlah, cobalah ke semuanya dan tentukan mana yang paling enak.

Masakan ini cocoknya dimakan untuk makan siang. Meski bisa saja dimakan malam. Jika mampir ke Warung Mangut Lele Mbah Marto menjelang maka siang,akan terlihat asap-asap dari sisa pengasapan lele dan pemasakan  berdesakan keluar dari dapur yang berukuran sekitar 4×4 meter melalui lubang-lubang ventilasi.

Dapur Mangut Lele Mbah Marto IG%40backpackerid
Suasana dapur Mangut Lele Mbah Marto. Foto: milik IG @backpacker.id

Suasana dapur cukup ramai, terutama ketika jam makan siang, meski masakan-masakan utama sudah siap saji, ada saja masakan tambahan yang dikerjakan asisten warung ini. Banyak juga pembeli yang langsung mengambil lauk di dapur ini.

Di warung Mbah Marto ini, pengunjung memang diperbolehkan masuk ke dapur untuk mengambil makanan sendiri. Terserah mau mengambil lauk atau sayur yang mana, atau lele mau dipadukan dengan beberapa sayur juga boleh, asal nanti ketika membayar disebutkan tambahan lauk yang dipakai.

Orang yang membantu memasak terlihat sesekali mengaduk isi beberapa panci berukuran besar di atas tungku. Atau memasukkan kayu ke tungku agar api tidak mati. Dinding batu bata di seputar dapur itu telah berubah menjadi hitam karena jelaga perapian.

Di dapur itu juga terlihat meja atau lincak bambu dengan nasi di bakul besar yang bisa diambil sendiri pembeli. Lalu ada baskom-baskom yang berjejer berisi sayur dan lauk. Ada setidaknya enam baskom berisi mangut lele, gudeg, krecek, telur dan tahu areh, juga ayam opor, dan lainnya.

Suasana di dapur Mangut Lele Mbah Marto ini memang benar-benar tradisional. Mungkin itu yang membuat para pemburu kuliner tidak terlalu bermasalah untuk blusukan ke tempat makan ini demi bisa berburu menu andalan warung Mbah Marto yaitu mangut lele.

Cobalah jika mampir ke Yogyakarta, arahkan tujuan ke selatan kota ini, ke Bantul dan mencoba mangut lele khas mbah Marto ini. Satu porsi mangut lele ini biasanya dibanderol dengan harga kisaran Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung jumlah ikan.

agendaIndonesia

*****

Negeri di Atas Awan, 1 Keunikan Sumbawa Barat

Pulau Kenawa

Negeri di Atas Awan Sumbawa Barat ternyata betul-betul ada. Ini membuktikan Nusa Tenggara, baik Barat maupun Timur, memiliki begitu banyak kekayaan alam yang tak terpermanai. Kali ini kami mendaki Bukit Mantar untuk menatap Selat Alas, disambung menikmati senja di Pulau Kenawa.

Negeri di Atas Awan

Siraman sinar mentari terasa menyubit kulit. Meski berada di daerah perbukitan, cahaya hangat mulai berubah menjadi menyengat. Padahal, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00. Mungkin memang begitu pagi di Bumi Undru – nama lain dari Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Niat ingin segera menikmati keindahan Desa Wisata Mantar di Kecamatan Poto Tano, tampaknya harus tertunda beberapa saat. Saya harus tertahan di Dusun Tapir, kampung terdekat desa wisata tersebut.

Jadilah pagi yang resah buat saya karena kendaraan 4 WD yang dinanti tak kunjung tiba. Padahal, menuju desa wisata yang kini secara administratif berada di Desa Tuananga dengan ketinggian 630 meter di atas permukaan laut itu, cuma bisa dicapai menggunakan jenis kendaraan tersebut. Jarum jam terus bergeser. Hal yang dinanti tak kunjung tiba. Tak ada pilihan selain menumpang sepeda motor. Jadilah rekan saya dibonceng warga desa yang hendak pulang, sedangkan saya meminta anak pemilik warung mengantar.

Rupanya perlu kesabaran lebih untuk bisa menginjak desa yang dikenal sebagai Negeri di Atas Awan itu. Apalagi jalur yang dilalui memang tak lurus dan lapang. Selepas jalan datar dengan persawahan dan menemukan gerbang Desa Mantar, perjuangan pun dimulai. Akhir tahun lalu, saat saya menginjakkan kaki di sana, jalur menanjak di perbukitan baru tahap awal diperbaiki. Jadi saya masih merasakan jalur terjal penuh batu dengan di salah satu sisi jurang.

Rasa ngeri semakin terasa ketika si pengemudi mengatakan belum lama ada kecelakaan maut karena pengendara tak cermat. Jalan berkelok, sempit, dan terjal memang perlu kehati-hatian yang tinggi. Lengah sedikit, kendaraan bisa terperosok ke jurang. Maka untuk menghilang rasa takut, sesekali saya panjatkan doa.

Jalur kelok berbahaya pun lewat, saya memasuki perkampungan, hingga bertemu tanah lapang di ketinggian. Inilah punggung Bukit Mantar, tempat para penyuka paralayang bisa mengudara dan penikmat keindahan bisa duduk termangu menatap Selat Alas, Pulau Panjang, dan kumpulan pulau-pulau kecil di Sumbawa Barat. Ada Pulau Kenawa, Pulau Mendaki, Pulau Paserang, Pulau Belang, Pulau Ular, Pulau Nako, dan Pulau Kalong yang dikenal sebagai Gili Balu – delapan pulau kecil. Selepas dari desa ini, pulau-pulau ini memang menjadi tujuan saya berikutnya.

Pagi yang cerah, Gunung Rinjani pun dari kejauhan kentara jelas. Desa-desa di bawah seperti Seteluk dan Senayan pun tertangkap mata dengan jelas. Saya datang bukan di hari libur, jadi suasana cukup sepi. Kios yang ada pun tutup. Namun tak lama ada sekelompok anak-anak yang datang mengagetkan menggunakan bersepeda motor. Ahhhh… saya sediki ngeri karena di sisi lain punggung bukit ternganga jurang. Di sanalah biasanya para pegiat paralayang meluncur bebas. Dalam bingkai foto, selintas anak-anak itu seperti melaju di antara awan-awan. Seperti juga sekumpulan kambing dan sepintas layaknya merumput di sebuah negeri jauh di atas awan.

Desa Mantar sebenarnya punya banyak keunikan. Kehadiran keturunan Portugis yang dulu terdampar di perairan di bawah Bukit Mantar dan rumah-rumah yang unik. Hanya karena akan singgah ke kawasan Gili Balu, maka desa tempat lokasi pengambilan gambar film Serdadu Kumbang ini pun saya jelajahi dengan waktu singkat. Lantas, sepeda motor pun kembali ke jalan yang berliku dan sempit. Sekitar 25 menit, saya sudah tiba kembali ke lokasi kendaraan diparkir di Dusun Tapir. Rasanya jalur kembali lebih cepat, mungkin karena jalan yang menurun.

Sayangnya, hanya sekejap menikmati desa yang telah ditata sebagai desa wisata ini. Rencananya, setelah menikmati dari ketinggian, dua pulau akan segera saya singgahi. Jadi tak ada pilihan selain bergegas turun dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Poto Tano. Bagi saya, tentu tak kalah menggairah menyentuh laut langsung setelah menatapnya dari kejauhan.

Selepas Jalan Raya Seteluk ditelusuri, disambung Jalan Senayan Poto Tano, saya temukan Pelabuhan Poto Tano, tempat penyeberangan Lombok-Sumbawa. Tak jauh dari pelabuhan, terdapat gerbang menuju jalan kecil dan di atasnya tertulis “Kawasan Wisata Bahari Pulau Kenawa”. Tak lama kami langsung menemukan Bachtiar, pemilik perahu. Harga pelayaran ke Kenawa Rp 300 ribu, tapi untuk dua pulau, yakni Kenawa dan Paserang, ia meminta Rp 500 ribu.

Perlu persiapan ternyata, jadi perahu tak langsung segera berangkat. Jadilah, saya mencermati bocah-bocah yang tengah bermain di dermaga. Mereka serasa berada di kolam super besar, bergantian menceburkan diri, berenang, dan tertawa lepas. Masa anak-anak yang sederhana, tapi menyenangkan. Tiba-tiba bahu saya ditepuk. Saya diberi tahu bahan bakar perahu sudah didapat dan pelambung pun sudah ditenteng pemilik perahu. Dari atas perahu, kali ini giliran saya yang tersenyum lebar dan melambaikan tangan saat meninggalkan dermaga. Laut memang membawa keriangan.

Laut di Selat Alas tergolong tenang. Sekitar 30 menit, Pulau Paserang sudah di depan mata. Dermaga kayu menyambut, sementara pantai berpasir putih seperti memohon untuk segera dijejaki. Perlahan saya naik ke dermaga. Ilalang tinggi terlihat di bagian tengah pulau seluas 54,77 hektare itu. Rupanya, pulau telah disiapkan untuk destinasi wisata. Ada para pekerja yang tengah menyiapkan sejenis cottage plus fasilitasnya. Hingga wisatawan bisa menginap dengan nyaman di sini. Pilihan lain, tentunya menggelar tenda.

Menatap kedalaman laut, tiba-tiba saya melihat pari kecil lewat sekelebat. Sayangnya, tak sempat menatap lama. Selebihnya, ada sejumlah ikan-ikan kecil wara-wiri, lumayan untuk yang gemar snorkeling. Ada juga sekumpulan terumbu karang meski tak tampak warna-warni. Menyusuri pantai yang panjangnya mencapai 2,5 km bisa menjadi pilihan untuk menikmati pasir putihnya yang halus.

Menjelang sore, saatnya melaju ke Pulau Kenawa. Menangkap keindahan mentari tenggelam dari pulau yang memiliki savana dan bukit unik tersebut. Pulau seluas 13,8 hektar itu sering menjadi pilihan bagi para turis kelas ransel untuk bermalam dengan mendirikan tenda. Rasanya memang menggoda. Dari tiupan angin kencang yang membuat ilalang menari-nari, laut yang tenang, sampai bukit di tengah pulau. Sayang, saya hanya singgah untuk berayun-ayun di bawah pohon sembari menanti langit semakin memerah. Kemudian, menyusuri pasir putih dan ilalangnya, sebelum akhirnya harus rela meninggalkan pulau sebelum angin bertiup kian kencang dan langit semakin gelap. l

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Pilih rute penerbangan menuju Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.  Dilanjutkan dengan kendaraan roda empat selama 2 jam menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, yang menjadi tempat penyeberangan menuju Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat.

Secuplik Info

1. Penyeberangan Lombok-Sumbawa sekitar 1,5 jam, tapi dengan proses kapal merapat total menghabiskan waktu 2 jam.

2. Jadwal penyeberangan antara dua pelabuhan ini tersedia dalam 24 jam.

3. Desa Mantar lokasinya sekitar 27 km dari Pelabuhan Poto Tano.

4. Untuk mencapai Desa Mantar tersedia kendaraan 4 WD dari Dusun Tapir dengan biaya Rp 25 ribu per orang. Bisa juga dengan sepeda motor atau ojek dengan biaya Rp 50 ribu per orang sekali jalan.

5. Sewa perahu menuju Pulau Paserang dan Kenawa bisa didapat langsung di dermaga kecil menuju Kawasan Gili Balu. Biasanya harga dimulai Rp 300 ribu dan sudah termasuk perlengkapan snorkeling

R. Nariswari/Frann/TL

Kampung Wae Rebo Dihuni Generasi ke 18

Kampung Wae Rebo di Manggarai Nusa Tenggara Timur merupakan kampung adat yang masih mempertahankan adat istiadatnya.

Kampung Wae Rebo di Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur terus menjadi tujuan eksotik untuk dikunjungi wisatawan. Ia masih merupakan kampung adat dengan segala tata kramanya yang luhur.

Kampung Wae Rebo


Dari balik bukit adalah sebuah kampung dengan tujuh rumah kerucut, sebuah kampung kecil yang dikelilingi lembah hijau itu. Dari ke tujuh rumah yang ada, biasanya yang disinggahi adalah niang gendang maro. Ini salah satu rumah adat utama dari tujuh niang, sebutan untuk rumah adat berbentuk kerucut, yang digunakan khusus untuk menjamu tamu dari luar.

Bangunan setinggi 14 meter itu lebih tinggi daripada enam rumah lain dan diyakini sebagai tempat leluhur pertama yang datang dari Minangkabau. Bila ada pengunjung atau ada tamu dari luar kampung Wae Rebo, akan diadakan wae lu’u—upacara untuk untuk memohon izin kepada para leluhur karena menerima tamu dari luar.

Kampung Wae Rebu merupakan kampung adat yang kini dihuni oleh generasi ke 18 dan sudah berdisi selama 100 tahun lebih.
Niang gendang maro merupakan rumah terbesar dari ke tujuh rumah yang ada di kampung Wae Rebo. Foto: ash hayes-unsplash

Di ujung atap Niang Gendang Maro ditancapkan ngando, yang disimbolkan kepala kerbau—hewan yang dianggap terbesar. Penanda tersebut sekaligus merupakan pengesahan rumah adat dan kekuatan budaya rumah tersebut.

Enam niang lain adalah niang gena mandok, niang gena jekong, niang gena ndorom, niang gendang maro, niang gena pirong, dan niang gena jintam. Jumlah rumah adat tak boleh lebih dari tujuh. Setiap rumah dihuni 6-8 keluarga. Jika anggota keluarga bertambah dan dirasa perlu membangun rumah baru, maka rumah baru itu harus dibangun di luar kampung adat.

Bentuk rumah di kampung adat itu sangat khas. Pada bagian bawah atau ruangan dalam berbentuk bulat dan bagian atas mengerucut. Atap yang digunakan berasal dari daun lontar, mirip rumah adat honai di Papua. Keseluruhan dindingnya ditutup ijuk. Bahan bangunan mbaru niang terbuat dari kayu worok dan bambu serta dibangun tanpa paku. Tali rotan digunakan untuk mengikat konstruksi bangunan.

Bagian dalam rumah adat yang berbentuk bulat mengandung filosofi kesatuan pola hidup manusia yang mengisyaratkan kehidupan yang bulat, tidak diwarnai konflik, tetapi ketulusan, kebulatan hati, dan keadilan. Itu sebabnya, musyawarah di rumah adat mengambil posisi duduk melingkar.

Di bagian tengah, ada tiang utama yang disebut bongkok. Wujudnya dua batang kayu yang disambung. Inilah papa ngando dan ngando, yakni simbol perkawinan lelaki dan perempuan.

Rumah adat juga ditopang sembilan tiang utama. Ini menggambarkan kehidupan dari janin menjadi bayi selama sembilan bulan dalam rahim. Ada pula molang di bagian belakang rumah, yang terbagi dalam tiga bagian, yakni dapur, ruang aktivitas keluarga, dan bilik tidur keluarga.

Menurut kisah adat kampung tersebut, saat bayi lahir ia akan didekatkan ke periuk di dapur. Sebab nyala api di sana dapat menghangatkan tubuh bayi.

Kampung Wae Rebo terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Penduduk setempat meyakini bahwa kampung mereka dijaga oleh tujuh kekuatan alam.

Nenek moyang mereka disebut maro, yang diyakini berasal dari Minangkabau. Dari riwayat sejarah turun-temurun, sebelum menetap di kampung ini, leluhur mereka berpindah-pindah. Perpindahan itu antara lain di Wriloka, ujung barat Pulau Flores, kemudian ke Pa’ang, lalu bergeser ke daerah pegunungan Todo, lantas ke Popo.

Ada peristiwa yang menyebabkan warga Wae Rebo tidak berani menyakiti, apalagi memakan daging musang. Masyarakat menyebutnya kula.

Bagi masyarakat setempat, daging musang pantang (ireng) dimakan karena dianggap berjasa menyelamatkan moyang Wae Rebo. Konon ada suami-istri. Sang istri hamil tua, tapi tak kunjung melahirkan juga. Tujuh hari pun lewat dari waktunya, lalu diputuskan membelah perut sang ibu agar bayi selamat.

Bayi laki-laki itu selamat, tetapi sang ibu meninggal. Keluarga sang ibu yang berasal dari kampung lain tidak bisa menerima. Mereka kemudian menyerang Kampung Maro. Namun pada tengah malam itu muncul musang di rumah Maro. ”Maro pun berucap: kalau musang membawa berita baik harus tenang. Namun bila musang membawa kabar buruk, diminta mengeluarkan suara. Musang itu pun mengeluarkan suara dan menjadi penunjuk jalan ke tempat yang aman bagi Maro.”

Musang menuntun warga Maro menjauh dari Popo. Di tempat yang tinggi, mereka melihat kampungnya dibumihanguskan. Mereka berpindah-pindah, ke Liho, Ndara, Golo Damu, dan Golo Pandu.

Di Golo Pandu, Maro bermimpi bertemu roh leluhur yang menyebutkan mereka harus menetap di satu tempat dan tidak boleh pindah lagi. Letaknya tidak jauh dari Golo Pandu. Di sana terdapat sungai dan mata air. Itulah Wae Rebo.

Itulah tempat mereka. Dari tempat tersebut tampak kota dengan gemerlap cahaya. Masyarakat setempat meyakini bahwa daerah yang mereka tinggali itu dikelilingi tujuh kekuatan alam yang berperan sebagai penjaga kampung.

Tujuh titik itu adalah di Ponto Nao, Regang, Ulu Wae Rebo, Golo Ponto, Golo Mehe, Hembel, dan Polo. Mereka tidak boleh melupakan ritual adat agar warga tidak terkena bencana. Empo Maro mendirikan kampung Wae Rebo lebih dari 100 tahun lalu, kini yang menghuninya generasi ke-18.

Kearifan penduduk Wae Rebo tecermin lewat cara mereka menjaga alam. Warga percaya bahwa tanah atau hutan memiliki perasaan. Karena itu, ada ritual yang harus dilakukan sebelum bercocok tanam: meminta izin kepada para penunggu lahan. Ritual adat itu antara lain kasawiang, yang biasanya digelar pada Mei, saat perubahan cuaca akibat pergerakan angin dari timur ke barat.

Sebaliknya, saat angin bergerak dari barat ke timur, diadakan ritual adat pada Oktober. Menginjak November, yang merupakan tahun baru adat, ditandai awal musim menanam.  Mereka akan melakukan upacara yang disebut penti.

Kampung Wae Rebo masyarakatnya percaya daerah mereka dikelilingi tujuh kekuatan alam.
Perempuan Wae Rebo sedang menenun kain. Foto: dok. shutterstock

Alam di kampung ini terpelihara dengan baik. Para pengunjung bisa ikut menyelami kedekatan warga dengan alam. Mencermati beberapa warga bekerja di kebun dari pagi, atau yang sibuk memanen kopi dan mengolah kacang. Bisa juga melihat  beberapa perempuan yang menenun songket tradisional.

Masyarakat Wae Rebo percaya neka hemong kuni agu kalo, yang berarti di sini semua berawal dan akan terus berlanjut sebagai tanah tumpah darah warga Wae Rebo. Tak mengherankan, jika pada 2012, UNESCO Asia-Pasifik menobatkan Wae Rebo sebagai konservasi warisan budaya.

agendaIndonesia/TL/Fran

*****

Alat Musik Sasando, 1 Alat Berbagai Dawai

Alat musik sasando berasal dari Pulau Rote Nusa Tenggara Timur.

Alat musik sasando adalah instrumen asli Nusantara. Ia tepatnya adalah alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sasando merupakan alat musik berdawai yang dimainkannya dengan cara dipetik menggunakan jari.
Dari segi bentuk, sasando sudah bisa menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Karena, alat musik petik ini terbuat dari daun lontar yang melengkung, berbentuk setengah lingkaran.

Alat Musik Sasando

Sasando memiliki bentuk yang unik dan berbeda dengan alat musik berdawai lainnya. Pada bagian utama Sasando berbentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu khusus. Bagian bawah dan atas bambu terdapat tempat untuk memasang dan mengatur kencangnya dawai.


Pada bagian tengah bambu biasanya diberi senda atau penyangga, di mana dawai direntangkan. Senda sendiri berfungsi untuk mengatur tangga nada dan menghasilkan nada yang berbeda setiap petikan dawai. Sedangkan wadah berfungsi untuk resonansi yang berupa anyaman daun lontar yang sering disebut haik.


Dari segi suara, resonansi yang dihasilkan daun lontar menghasilkan suara yang khas, dan tidak bisa ditemukan pada alat musik lainnya. Petikan sasando menghasilkan suara yang sangat indah, romantis dan sangat khas. Tak heran kalau keunikan bentuk, bahan, dan melodi dari sasando berhasil menarik perhatian banyak wisatawan yang berkunjung ke NTT.

Bermain Sasando shutterstock
Seorang anak sedang belajar memetik sasando. Foto: dok. shutterstock

Dalam beberapa kesempatan kenegaraan, sasando ikut meramaikan kegiatan. Misalnya pada acara KTT ASEAN di Labuan Bajo. Sebelum gelaran acara tersebut, sasando pun telah mendunia karena pernah tampil dalam salah satu side event G20 di Labuan Bajo 2022 lalu.

Pada acara G20 itu, sasando ditampilkan pada ajang Spouse Program yang dihadiri 19 anggota G20, enam negara undangan, dan sembilan organisasi internasional. Alat musik sasando inipun menjadi cendera mata yang diberikan oleh Ibu Iriana Joko Widodo kepada Ibu Negara Tiongkok, Madam Peng Liyuan.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, popularitas sasando di dunia juga pernah dipresentasikan oleh sosok bernama Djitron Pah. Ia  mengenalkan alat musik sasando ke dunia lewat ajang Asia’s Got Talent pada 2015.

Melalui ajang pencarian bakat tersebut, Djitron Pah berhasil membawa sasando mendunia melalui rangkaian tur ke Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Belanda, Italia, Finlandia, Jerman, hingga Taiwan. Melihat dari berbagai aspek, memang sangatlah layak jika sasando mendunia.

Namun, dari mana sesungguhnya alat musik sasando lahir? Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Sasando bermula dari kisah Sangguana yang terdampar di Pulau Ndana dan jatuh cinta dengan putri Raja. Mengetahui Sangguana jatuh cinta terhadap putrinya, sang raja memberikan syarat kepada Sangguana untuk membuat alat musik yang berbeda dari musik lainnya.

Sangguana pun bermimpi, dalam mimpi tersebut ia memainkan alat musik yang berbentuk indah dan memiliki suara yang merdu. Kemudian ia membuat Sasando dan diberikan kepada sang raja. Sang raja lalu mengizinkan Sangguana, menikahkaan putrinya dengan Sangguana.
Sasando sendiri berasal dari bahasa Rote, yaitu Sasandu yang berarti bergetar atau berbunyi. Sasando sering dimainkan untuk mengiringi nyanyian syair,tarian tradisional dan menghibur keluarga yang berduka.

Orang NTT Memainkan Sasando shutterstock
Pemetik tradisional alat musik sasando. Foto: shutterstock


Jika kita mengulik lebih dalam tentang alat musik sasando khas NTT ini, ternyata ada banyak jenisnya. Setidaknya ada tiga jenis sasando yang populer, yaitu sasando gong, sasando biola, dan sasando elektrik.

Pertama, sasando gong khas Pulau Rote, yang merupakan sasando autentik dengan 12 dawai dari tali senar nilon sehingga ketika dipetik akan menghasilkan suara mengalun, lembut, dan merdu. Alat musik sasando jenis ini kerap dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional masyarakat Rote.

Ke dua, jenis sasando biola. Kabarnya, sasando biola mulai berkembang di Kupang pada akhir abad ke-18. Alat musik petik ini merupakan hasil modifikasi dari Edu Pah, pakar pemain sasando. Bedanya dengan sasando gong, sasando biola bentuknya yang lebih besar dan memiliki 48 buah dawai. 

Karena dimodifikasi agar menyerupai biola, sasando jenis ini bisa menghasilkan suara halus dan merdu seperti biola. Biasanya sasando biola dimainkan untuk mengiringi lagu pada tarian tradisional masyarakat NTT.

Mengikuti perkembangan teknologi, kini ada pula jenis sasando elektrik. Alat musik ini pertama kali diciptakan oleh Arnoldus Edon pada 1960-an. Alasannya karena sasando tradisional hanya bisa didengarkan pada jarak dekat saja, sehingga perangkat elektronik ditambahkan agar suaranya bisa didengar lebih jauh.

Umumnya, sasando elektrik terdiri dari 30 dawai. Badan sasando tetap menggunakan daun lontar untuk mempertahankan bentuk aslinya. Perbedaan sasando elektrik terdapat pada spul atau transduser yang mengubah getaran dawai menjadi energi listrik, yang kemudian masuk ke dalam amplifier untuk menghasilkan suara yang lebih kencang.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Nain dan Siladen, 2 Rahasia Laut Manado

Senja di kota Manado, Sulawesi Utara.

Nain dan Siladen, 2 rahasia Laut Manado betul-betul belum banyak yang tahu. Pulau-pulau di perairan Minahasa Utara yang menawan ini kini menjadi alternatif jika berkunjung ke Manado dan Sulawesi Utara. Terutama jika sudah pernah ke Bunaken.

Nain dan Siladen, Wisata Laut Manado

Dari sebuah gedung gergasi di Jalan Boulevard Kota Manado, yang condong menghadap ke barat daya, tampak perairan Celebes membentang luas tak ada habisnya. Di muka pandangan, garis laut tegas membelah langit dan laut dengan marka imajiner. Disapu kabut tipis bekas gerimis, air di beranda Samudra Pasifik menjadi tampak misterius dan penuh teka-teki. Di tengah laut, semu-semu pulau seluas tak lebih dari 10 kilometer persegi menampakkan diri. Namanya Taman Laut Bunaken, di baliknya terdapat Gunung Manadotua.

Kring. Notifikasi berbunyi. Nama “Daeng” muncul mengirim pesan. “Hari ini cerah. Mudah-mudahan besok juga. Kalau cuaca oke, kita berangkat ke Pulau Nain dan Siladen. Jangan lagi ke Bunaken atau Manadotua kalau mau betul bertualang.” Begitulah pesan Daeng, penduduk suku Bajau, yang bermukim di Manado, mengingatkan pertemuan. Penawaran menarik.

Pagi-pagi sekali, berbekal nasi kuning yang dibeli di rumah makan legendaris bernama Saroja, kaki saya asyik meniti lorong Pelabuhan Calaca. Lokasinya tepat di depan Pasar 45, dekat pusat perdagangan Manado tempo dulu. Sembari celingak-celinguk mencari Daeng, bau ikan cakalang fufu mengalihkan fokus. Gorengan pisang goroho berona kuning keemasan juga turut merayu. Kopi Kotamobagu—perpaduan arabika dan robusta—menyeruak penciuman. Namun langkah tak boleh berbelok. Maklum, jarum jam mengejar.

Jauh di ujung dermaga, pria 30 tahun berkulit legam, berkaus puntung dan bercelana boxer, melambaikan tangan. “Yang ini jo kapalnya,” kata dia sembari menunjuk speed boat putih-ungu.

Tak lama kemudian, kapal kami melaju cepat melewati Jembatan Soekarno yang menjadi ikon baru kota multikultural ini. Pemandangan di samping berupa daratan Manado yang didominasi kontur berbukit, sementara lanskap di hadapan adalah laut lepas dan mercusuar kecil, yang menimbulkan efek dramatis.

“Kita mau ke Pulau Nain (Naen), pulau tempat saya lahir,” tutur Daeng memecah lamunan. Ini adalah pulau terjauh dalam kawasan Taman Nasional Bunaken. Bahkan lebih jauh daripada Mantehage, yang bisa dijangkau dengan waktu tempuh 1,5 jam dari daratan. Secara administratif, Nain termasuk bagian dari Kecamatan Wori, Minahasa.

Pulau tersebut terbagi atas dua wilayah, yaitu Nain Besar dan Nain Kecil. Nain Besar berpenduduk padat. Mayoritas merupakan suku Bajo atau Bajau. Suku ini berasal dari Kepulauan Sulu, Filipina Selatan. Umumnya mereka hidup di atas laut. Sering disebut gipsi laut. Sedangkan Nain Kecil merupakan pulau tak bertuan. Misterius, tapi menawan.

Bunyi mesin kapal mendadak mati. “Baling-baling tersangkut plastik,” kata Daeng. Kapal bergoyang, melanting ke kanan dan kiri. Untungnya gelombang belum besar. Padahal di daerah laut dalam itu, kalau cuaca buruk, ombak bisa menggulung hingga 5 meter. Lewat dua jam, kapal melaju memecah samudra. Lamat-lamat pulau di ujung Minahasa Utara itu mulai tampak. Nain Besar dan Nain Kecil dari kejauhan berhadapan. “Kita akan bersandar di sana, Nain Kecil,” ujar Daeng.

Air laut biru tua berubah tosca. Perairan dangkal mengucapkan selamat datang dan ragam karang pun tampak. Aduhai, pulau itu seperti tempat yang menyimpan banyak misteri. Dingin, tapi cantik. Di pinggirnya terdapat bebatuan layaknya pantai-pantai di Belitung. Pasirnya putih dan halus.

Tumbuhan bakau leluasa hidup mempercantik serambi samping. Di muka pulau, Nain Besar berdiri gagah. Lekuk-lekuk bentang alamnya nyata terlihat. Konturnya seperti membentuk bukit-bukit kecil. Rumah-rumah warga tersaru pepohonan subur. Di Nain Kecil, ada banyak rumah panggung, tapi tak berpenghuni. Pulau ini hanya menjadi persinggahan petani rumput laut. Tak heran, keramba bertebaran sepanjang perjalanan menuju pulau itu.

Masih jarang pelancong datang. “Wisatawan hanya datang kalau Pasir Timbul, harta karun Pulau Nain, menampakkan diri, misalnya pada Juni hingga Agustus,” tutur Daeng. Pasir Timbul adalah secuil nirwana di pulau ini. Di masa-masa tertentu dan di jam-jam khusus, seperti kala purnama, di siang hari, ketika air sedang surut, pulau yang hanya berisi pasir putih itu unjuk diri. “Setiap hari sebenarnya juga akan kelihatan, tapi tergantung keadaan. Hanya alam yang tahu kapan pulau itu tampak, kapan dia akan tenggelam,” tuturnya.

Tak lama di Nain, kapal kami bergerak ke Siladen, pulau yang bisa ditempuh dengan waktu 30 menit dari Bunaken. Di tengah perjalanan, Daeng berkisah, sepanjang pelayaran nanti, kalau beruntung, kami bisa menyaksikan lumba-lumba menari mengikuti laju kapal. “Namun lagi-lagi itu rahasia laut. Tak ada yang tahu lumba-lumba kapan datang,” tuturnya. Sampai mendarat di Siladen, tak ada satu pun mamalia laut itu yang muncul.

Untungnya senyum anak-anak bermain ayunan di pinggir pulau memantik gembira. “Halo cici—sapaan untuk kakak perempuan.” Satu per satu mereka mengajak berjabat tangan. Di sampingnya, para orang tua berkumpul sembari minum kopi. “Selamat datang di Siladen. Jangan kaget kalau sepi. Pulau ini hanya dihuni 128 keluarga,” ucap Daniel, penduduk setempat.

Saya pun duduk di antara warga suku Sanger, menikmati bibir pantai. Di seberang lautan, Pulau Bunaken terlihat jelas. Begitu juga dengan Manadotua. Orang-orang asing lalu-lalang, tak peduli terik. Mereka menenteng alat snorkel untuk sekadar bersemuka dengan ikan goropa atau nemo. Juga dengan koral berwarna-warni. “Di sini cocok buat orang yang mencari ketenangan. Makanya bule suka dengan Siladen,” tutur Daniel menyela lamunan.

Di balik kecantikannya, sejatinya pulau ini menyimpan setitik pilu. Daniel berkisah lahan di pulau ini sebagian besar dimiliki John Rahasia, sejarawan yang berpengaruh pada masa Orde Baru sekaligus penulis Penemuan Kembali Tagaroa. Sehingga belum sepenuhnya merdeka. Selain itu, listrik belum optimal dirasakan. “Hanya ada pukul 6 sore sampai 11 malam,” kata dia. Mereka bisa melakukan perputaran uang lantaran bantuan keluarga John Rahasia, yakni dengan merekrut masyarakat setempat bekerja di resornya.

Infrastruktur juga belum maksimal. Terutama kesehatan dan pendidikan. Hanya ada SD. “Kalau kesehatan, hanya ada puskesmas. Itu pun belum tentu buka,” ujarnya. Warga setempat dan pelancong yang tengah menginap dan mengalami gangguan kesehatan, tutur Daniel, lebih memilih pergi ke Kota Manado untuk memeriksakan diri. “Kala sakit, kami dan para tamu yang datang biasanya ke Siloam Manado saja, yang jelas pelayanannya,” ucapnya berkisah. Mereka biasa memanfaatkan kapal cepat milik resor atau menumpang kapal nelayan untuk menuju kota.

Obrolan terus diramu sampai jauh. Anak-anak ikut bercengkerama. Kadang menarik tangan untuk turut berlari-lari kecil menyusuri pantai dengan pasir selembut susu bubuk. Juga meremas-remas biskuit dan menebarnya di tepi pantai, berharap ikan-ikan hias mendekat.

Matahari tak sadar jatuh ke barat, menggantung di atas Manadotua. Lamat-lamat langit berubah oranye. Daeng mengajak saya beranjak. Siladen makin jauh dari pandangan. Pulau itu tampak seperti rumah baru. Lagi-lagi laut mengutarakan berlaksa kisah istimewanya lewat penghuni pulau. Di ujung bilik kapal cepat milik Daeng, rahasia-rahasia samudra akan segera menepi di daratan Negeri Nyiur Melambai.

F. Rosana/A. Prasetyo

2 Wajah Labuan Bajo

labuan Bajo

2 wajah Labuan Bajo mengiringi saya dalam perjalanan ke Nusa Tenggara Timur kali itu. Daratan nan hijau dan laut yang biru.

Jo memegang kendali setir. Tangannya luwes memutar kemudi, ke kiri, lantas ke kanan. Mobil beringsut membelah Bukit Melo, bergeser ke arah timur daratan Flores. Sekonyong-konyong, kakinya menginjak rem.

2 Wajah Labuan Bajo

Tangannya ayal-ayal membuka jendela. “Lihat ke kanan,” katanya. Serentak, tiga orang—saya, Andi, dan Lorens—menggeser pandangan. Karpet-karpet alam bersanding dengan bentangan bahar terhampar membangun komposisi yang pas, biru laut, hijau bukit, dan putih markah cumulonimbus. Lapisan lanskap Labuan Bajo bisa leluasa kami pandang dari ketinggian kurang lebih 700 meter.

Tak lama kemudian, Jo menginjak pedal gas. “Kita harus sampai Cunca Wulang sebelum terik,” ujarnya dengan logat Manggarai. Tempat yang dimaksud adalah air terjun yang berlokasi di Kampung Warsawe. Pamornya memang belum terlampau kesohor layaknya Pulau Komodo atau Rinca. Namun keunikannya tak bisa dipandang sebelah mata.

Menuju ke kepingan nirwana di “tanah bunga” butuh kesabaran. Hampir dua jam kami melewati jalan terjal, berliku, dan hanya bisa dilalui satu mobil. Pemandangan kanan-kiri berupa hutan. Jurang menganga lebar. Jalan hotmix berjawat menjadi aspal rusak. Tak ada kendaraan lalu-lalang, juga warga yang bermukim.

labuan bajo 01
Cunca Wulang di Labuan Bajo. Dok. TL

Kabut pagi luruh. Pendar surya memantul di kaca mobil. Sejangkauan pandang di depan, rumah-rumah penduduk tampak samar-samar. Bentuknya stereotipe, pendek dan beratap seng. Oto—istilah orang Manggarai untuk menyebut mobil—berhenti di depan pondok kecil. Pria berperawakan ceking, berambut ikal, dan berkulit legam mendekat. “Tabe gula (selamat pagi). Dopo no’o kali oto ho’o (mobil hanya bisa sampai sini),” ujarnya sambil menyunggingkan senyum. Tangannya mengajak berjabat. “Siprianus Kabe.”

 Sipri mengajak kami memarkir kendaraan di ujung jalan setapak. Lima meter di depannya, tampak jalan tanah menurun. Hanya bisa dilalui satu orang. Jalurnya licin lantaran hujan menerpa beberapa hari terakhir. “Perjalanan dimulai,” ucap Lorens, local guide yang turut mendampingi, membakar semangat.

Sipri, Lorens, saya, Andi, dan Jo beriringan menyintas medan tak terduga. Sesekali bersiul, lalu berdendang untuk menampik lelah. Pemandangan sana-sini berupa pohon kemiri, komoditas utama warga setempat. Akarnya yang melintang membantu menahan tubuh supaya tak terpeleset jalur berlumpur. Keringat merebas, padahal matahari belum terik. Sraaak. Kaki terperosok. “Tenang, sebentar lagi jalan berbatu,” tutur Sipri.

Sejurus kemudian, jalur yang dimaksud si anak Manggarai itu kami jumpai. Lebih lebar dan mudah dilalui. Orang-orang bilang ini “bonus”. Sayangnya tak terlampau panjang. Sekitar 15 menit melintas, tantangan kembali menghadang. Hutan alami membentang. Derik siye—serangga hutan—lamat-lamat sampai ke kuping. Lorens mengambil posisi paling muka, menuntun rombongan memasuki lorong gelap. “Kalau berjumpa piton, jangan panik. Biasa saja,” ucap Sipri.

Hati berdebar. Bukan lantaran harus menempuh jalur terjal dan berlumpur, melainkan cemas bertemu binatang liar. Selain mungkin menjumpai ular, sewaktu-waktu juga dapat bersemuka dengan babi hutan, babi landak, dan babirusa. Daripada memikirkan kemungkinan yang tidak-tidak, pandangan pun saya alihkan ke kanan-kiri.

Ada yang menarik. Tali-tali alami menjuntai dari pepohonan besar, mirip dengan yang sering dijumpai dalam film Tarzan. Kalau beruntung, monyet-monyet bergelantungan di sana, menemani perjalanan. Gedebuk. Tubuh kembali terantuk akar, menandakan pandangan harus fokus.

Rasanya sudah banyak percakapan dan nyanyian didendangkan, tapi suara air terjun belum terdengar. Malahan jalan yang harus dilewati kian menggila. Kadang membuat kaki terkesot-kesot mengikuti turunan yang kemiringannya nyaris 90 derajat, atau melompat melintasi pohon tumbang.

Peluh mengalir, tuturan melirih. Sengal-sengal napas tertangkap kuping. Gemericik air yang laun terdengar tiba-tiba membangkitkan spirit. Ritme langkah mengencang. Tak sampai seputaran jam, sungai berbatu dialiri air tosca menyapa pandang.

Di ujung sana, air terjun setinggi 70 meter berdiri gagah. Debitnya deras menghantam batu kali. Cipratannya meruap dan airnya meletup-letup laksana kembang api. Di kanan dan kirinya terdapat tebing berjenjang. Umumnya digunakan untuk atraksi lompat. Jebuuur. Lorens menerjunkan badan dari tebing setinggi 30 meter. “Segar,” teriaknya dari bawah.

Bentang yang menawan genap membayar kesulitan kami menjangkau lokasi ini. Angin yang menyapu bambu belang mengiramakan nada alam serta memalingkan kepenatan. Dua turis asal Jerman melucut pakaian, lalu asyik memeragakan gaya katak di sela-sela bebatuan. Menyelam, lantas mentas. Sekejap kemudian, kakinya asyik melompat di bebatuan laksana kancil.

Lanskap yang membikin hati ria kabarnya makin elok saat musim kering tiba. Ada pantulan cahaya membentuk bulan menggantung di atas air terjun kala siang. Itulah yang membuatnya dinamakan Cunca Wulang yang berarti bulan di atas air terjun. Pelangi kadang-kadang muncul melengkung di antara tebing yang mengapit gerojogan.

Sipri mengeluarkan ponsel pintar, lalu mengajak saya menuju spot terbaik untuk berfoto. Meloncat dari satu batu ke batu lain, tibalah kami di titik tengah. Dalam bingkai lensa, saya diapit tebing dengan lata belakang air meluncur hebat.

“Saya unggah di Facebook, ya,” tutur Sipri. Saya heran bagaimana ia bisa mengakses Internet di tengah hutan begini. “Tenang, jaringan Telkom sudah kencang,” ucapnya menyamber. “Kalau ingin lebih kencang, ada Wi-Fi ID, tapi di kota nanti (Labuan Bajo),” tuturnya seakan membaca kerutan tak percaya lawan bicaranya.

Sejurus setelah asyik berselancar di media sosial, Sipri lantas tak henti menyerocos tentang keindahan Labuan Bajo dan titik-titik nirwana yang mengelilinginya. Darat ataupun laut tak terbantahkan keelokannya. “Ini baru darat, besok kau harus ke laut,” katanya. Menggenapi tantangan Sipri, saya lantas gerak cepat. Pulau Kelor ada di angan-angan. Bukan lagi Komodo atau Rinca.

Deru kapal milik Ibrahim, pelaut berusia 60-an, pada pagi selanjutnya mengantarkan kami menuju surga di sisi barat Labuan Bajo. Geber lanskap samudera mulai tersibak. Ikan-ikan melompat mengikuti tarian ombak, mengantarkan kapal menuju lokasi. Di sisi kiri terhampar daratan Flores dengan bukit-bukit membentuk kukusan. Musim hujan membikin barisan kerucut-kerucut alam itu menghijau, membawa ingatan pada bukit Gurten di Swiss.

Kapal kami mengikuti arus, menuju sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Selama 2 jam tubuh digoyang ombak di atas dek kayu, hingga akhirnya Ibrahim melemparkan tali, mencari tempat bersandar. Ikan-ikan mendekat, koral warna-warni mengucapkan selamat datang. Di tengah pulau terbentang bukit kerucut. Bentuknya hampir presisi, mendekati sempurna. Ada jalur kecil berbatu kapur untuk mengantarkan kami menuju puncak.

Kemiringan 80 derajat harus ditempuh. Keringat lagi-lagi tak terelak. Kaki harus seimbang menopang bobot tubuh dan menyisihkan batu-batu rapuh. Perjuangan terbayar saat sampai di puncak. Pemandangan laut bersanding dengan gugusan daratan Nusa Tenggara Timur bagian barat menjadi sajian utama. Segaris dengan amatan, tampak gradasi air dengan rona tosca, biru muda, dan biru tua meliuk-liuk mengikuti garis laut.

Tak ingin hanya mengecap keindahan dari atas bukit Pulau Kelor, kaki merayu kembali turun ke bibir pantai. Nemo mengajak menari di dalam air, memaksa badan menceburkan diri dengan alat snorkeling yang lengkap. Tanpa dipantik repih-repih roti atau makanan ikan, para penghuni laut datang mendekat.

Sepi dan sunyi membikin saya merasa memiliki pulau seutuhnya. Di tempat itu memang hanya ada segelintir orang, rombongan kami dan rombongan satu kapal yang baru saja mendarat. Salah satu penumpangnya bernama Carita. Turis asal Jakarta yang lama tinggal di Swedia itu langsung berlari-lari kecil, lantas berteriak histeris melambungkan kegembiraan. “Ah, tidak usah sampai ke tengah laut, di pinggir saja banyak ikan. Cantik sekali,” tuturnya.

Lantaran terlampau antusias, Carita sampai lupa melakoni pemanasan sebelum menceburkan diri di air. “Hati-hati kram dan cedera,” ujar saya berteriak kepadanya. “Sulit mencari pertolongan medis,” ujar saya lagi.

Umar, awak kapal yang mengantarkan Carita sampai di pulau itu, langsung menceletuk. “Soal medis tak usah khawatir, sudah ada rumah sakit di sini. Rumah Sakit Siloam. Baru satu tahun lalu dibuka. Letaknya di Jalan Gabriel Campur,” tuturnya menyamber. Carita dan saya sama-sama menyunggingkan senyum dan sekonyong-konyong merasa aman.

Surya lambat laun meruyup ke barat. Angin sepoi-sepoi berganti lantam. Saatnya kembali ke darat. Ibrahim sudah menghidupkan kembali mesin kapalnya. Biduk yang kami tumpangi berbelot, melawan arus. Sayup-sayup lagu Bandaneira mengiringi perjalanan pulang. Laut dan langit dan hal-hal yang tak kita bicarakan, biar jadi rahasia, menyublim ke udara, hirup dan sesalkan jiwa.

Boks

Akses: Dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pilih penerbangan langsung ke Bandara Udara Labuan Bajo dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Waktu tempuhnya kurang-lebih 2 jam 25 menit. Bisa juga transit melalui Bandara Internasional Ngurah Rai yang berlokasi di Pulau Bali. Maskapai yang tersedia, di antaranya Sriwijaya, Lion Air, Batik Air, AirAsia, dan Garuda, lantas disambung dengan pesawat perintis NAM dan Wings Air.

F. Rosana/A. Prasetyo

Dodol Picnic, 70 Tahun Oleh-oleh Dari Garut

Dodol Picnic sebagai salah satu merek dodol Garut yang terdepan dan menjadi ikon oleh-oleh Garus.

Dodol Picnic pasti bukan nama yang asing buat orang Indonesia. Ini terutama untuk mereka yang senang melakukan perjalanan lewat jalur darat. Baik dengan menggunakan bis antarkota dan, terutama, menumpang kereta api di pulau Jawa.

Dodol Picnic

Orang suka menyebut dodol Garut merek Picnic atau Dodol Picnic dari Garut untuk menyebut penganan yang satu ini. Ia boleh dikata salah satu legenda buah tangan dari mereka yang melakukan perjalanan, boleh dikata ia sama popularnya dengan wingko Babat. Cuma yang terakhir ini tak menyebut merek.

Dodol garut merupakan salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat yang sangat terkenal. Makanan ini biasanya memiliki bentuk memanjang atau bulat dengan tekstur yang lembut dan rasa yang manis. Dodol garut biasanya disajikan sebagai camilan di daerah Jawa Barat, terutama sekitar Garut, Tasik, dan Bandung.

Industri dodol Garut mulai berkembang semenjak 1926. Adalah Ibu Karsinah, tokoh di balik berkembangnya popularitas dodol ini. Ia merupakan pengusaha yang memulai usaha dodol tersebut pertama kalinya.

Penganan ini bahan bakunya terbuat dari santan, tepung ketan, parutan kelapa, dan gula merah. Untuk membuat dodol Garut biasanya pemasaknya mencampur tepung ketan, parutan kelapa, santan, dan gula merah serta sedikit garam lalu dipanaskan. Setelah mengental, tambahkan gula pasir, dan kembali rebus hingga adonan benar-benar kental.

Adonan yang kental ini kemudian dituang ke dalam loyang yang sudah diberi minyak goreng. Proses pemasakannya praktis sudah selesai sampai di sini. Tinggal menunggu hingga adonan mengeras.

Jika awalnya dodol Garut hanya memiliki satu rasa, manis gula jawa yang bercampur dengan santan. Dalam perkembangannya, saat ini sudah terdapat dodol dengan berbagai varian rasa, seperti coklat, strawberi, jambu, durian, dan rasa lainnya. Soal rasa coklat, kini ada juga salah satu produsen dodol yang memadukan coklat dan dodol untuk dijadikan oleh-oleh khas dari kota tersebut yang biasa disebut ‘chocodot’ atau cokelat dodol.

Lalu kenapa dodol Garut ini nyaris identik dengan Dodol Picnic? Setelah lama dodol yang memiliki cita rasa yang khas dan digemari masyarakat luas, adalah H. Iton Damiri yang pada 1949 merintis pembuatan usaha dodol Garut. Pada waktu itu perusahaannya masih berskala rumah tangga dengan jumlah tenaga kerja sebanyak lima orang dan daerah pemasarannya masih terbatas di sekitar kota Garut saja dan ia masih menggunakan merek yang “Halimah”.

Dodol Picnic adalah perjalanan panjang mengenalkan penganan lokal menjadi oleh-oleh yang khas.
Pendiri Dodol Picnic. Foto: DOk. Dodol Picnic

Dalam perjalanannya, perusahaan dodol ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Untuk mengantisipasi perkembangan dan untuk makin mendorong kemajuan, pada 1957 Haji Iton mengajak adiknya, Aam MAwardi, bergabung mengelola usaha ini. Pada tahun itu, nama perusahaan pun berubah, mereka menggunakan nama ‘Herlinah’, yang diambil dari salah satu nama anggota keluarga.

Kemajuan bukan sesuatu yang mudah. Di 10 tahun pertama itu, dodol Garut bikinan Herlinah masih cukup sulit menembus pasar. Pertama karena masih dianggap makanan lokal, di mana banyak warga Garut yang juga membuatnya. Dan, ke dua, pemasarannya masih lokal saja.

Pada masa-masa itu, produk ini bahkan sulit untuk menembut toko-toko panganan yang ada di Garut. Dari sana kemudian muncul ide untuk menjual dodol mereka ke salah satu pasar ternama di kota Bandung. Toko itu berada di daerah Pasir Koja, bernama Toko Picnic yang memang merupakan toko penjual makanan terbesar di kota kembang pada masanya. Setelah menimbang soal pemberian nama, maka dijuallah dodol mereka dengan nama Dodol Picnic.

Dari kota Bandung inilah dodol Picnic menyebar ke seluruh Indonesia, yakni dari mereka yang ingin membawa buah tangan khas. Seperti disebut di muka, seperti wingko Babat yang menjadi viral karena ditenteng orang saat naik kereta api, bus antarkota, bahkan pesawat terbang. Hingga saat ini ia sudah terkenal hingga mancanegara, seperti Singapura, Malaysia, atau Brunei Darusalam.

Dodol Picnic adalah ikon buah tangan khas Indnoesia yang sudah melewati tantangan zaman.
Pada masanya, bahkan kemasan dan mereknya ditiru kompetitor. Foto: Dok. Dodol Picnic

Zaman terus berkembang, kian lama semakin banyak buah tangan dari kota-kota besar di Indonesia. Pilihan makin banyak, namun dodol Picnic tetap menjadi salah satu ikon buah tangan. Pada masanya, bahkan banyak produk dodol Garut yang meniri kemasan merek ini.

Nah, jika Anda sedang berwisata ke Garut, jangan lupa untuk membeli makanan ini sebagai buah tangan atau disimpan sebagai camilan di rumah. Untuk mendapatkannya sangatlah mudah. Anda bisa menjumpai toko-toko atau warung yang menjual dodol garut di sepanjang jalan kota di Jawa Barat ini, terutama di jalan-jalan dekat pintu gerbang dari Garut menuju daerah lain sekitarnya.

agendaIndonesia

*****

Dolan Ke Pulau Macan, 2 Jam Dari Jakarta

Dolan ke Pulau Macan bisa menjadi alternatif wisata bahari di sekitar Jakarta.

Dolan ke Pulau Macan di Kepulauan Seribu menjadi salah satu alternatif jika ingin liburan di pantai berpasir putih yang bagus dan tak perlu jauh-jauh dari Jakarta. Berada di kawasan Kepulauan Seribu, Pulau Macan menjanjikan liburan bahari yang asyik.

Dolan Ke Pulau Macan

Di antara barisan pulau di wilayah Kepulauan Seribu, Pulau Macan bisa menjadi pilihan staycation yang tenang di akhir pekan. Pulau ini menawarkan eksklusivitas dibandingkan pulau-pulau lain di kawasan ini.

Dolan ke Pulau Macan ini nyaman untuk yang senang ketenangan, karena setiap hari hanya menerima paling banyak 40 wisatawan.

Pulau ini wajib dikunjungi untuk pelancong yang menyukai wisata alam yang tenang dan privat. Terdiri dari Pulau Macan Besar dan Pulau Macan Kecil, pulau ini menyuguhkan konsep yang unik yaitu eco resort dengan fasilitas lengkap. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini.

Dolan ke Pulau Macan cocok untuk yang enang laut dan staycation.
Snorkeling bisa enjadi pilihan ketika dolan ke Pulau Macan. Foto: pulaumacan.id

Secara administratif, Pulau Macan Besar berada di wilayah Kelurahan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Luas pulau hanya sekitar 6,13 hektare. Pulau resort ini dimiliki dan dikelola oleh swasta dan diperuntukkan untuk pariwisata dengan nama Tiger Islands Village and Eco Resort.

Pulau Macan boleh dikatakan merupakan salah satu wisata Pulau Seribu yang paling bagus karena mengusung konsep eco-resort. Meskipun pulau ini tidak begitu luas, namun memiliki  fasilitas yang lengkap, pemandangan keren di pagi dan sore hari, arus laut yang tenang, dan peralatan watersport yang bisa dipergunakan secara gratis.

Soal nama, meskipun namanya Pulau Macan, pengunjung tak perlu membayangkan sesuatu yang ‘sangar’ seperti macan. Jangan khawatir, tidak ada hewan macan di pulau ini. Bahkan, nuansa yang bisa dinikmati selama berwisata di pulau ini jauh dari kata-kata ‘ngeri’.

Salah satu hal unik ketika dolan ke Pulau Macan adalah setiap bangunan kamarnya dibangun di tepian pantai. Ini membuat pengunjung dapat langsung berenang di laut atau duduk santai, bahkan ketika baru bangun tidur.

Dolan ke pulau Macan, bia tidur dengan ilustrasi musik gelombang air laut.
Kamar-kamar yang langsung menhadap ke laut, bangun tidur bisa langsung nyemplung. Foto: dok pulaumacan.id

 

Atau, bisa juga sekadar bermalas-malasan sambil  mata menyapu cahaya matahari terbit dengan laut biru. Hal unik lainnya adalah, pada saat air laut surut, wisatawan akan menemukan sebuah pulau kecil yang diikuti barisan pasir putih memanjang yang menyambung dengan pulau utama. Bisa dikunjungi dengan berjalan kaki, atau menggunakan kayak.


Fasilitas akomodasi yang disediakan oleh pengelola adalah sejumlah cottage privat dengan akses langsung ke laut. Kapasitas cottage bervariasi, mulai dari untuk dua  orang hingga 7 orang.

Nama-nama cottage yang disediakan menunjukkan konsep eco-resort yang diusung, seperti eco cabin, redbrick room, driftwood hut, tropical bungalow, island hut, sunset hut, zet hut, atau coral hut.

Di antara beberapa jenis cottage ini, type Sunset Hut adalah yang paling populer, terutama bagi wisatawan yang senang menikmati matahari tenggalam. Cottage-nya menghadap ke barat dengan pandangan bebas hambatan ke arah matahari terbenam.

Kapasitas cottage ini maksimal untuk empat orang, sehingga ideal untuk keluarga. Di dalamnya juga terdapat kamar mandi utama.

Kapasitas masing-masing cottage yang kecil menunjukkan kalau pulau ini memang mengusung tema eco-wisata yang sangat privat dan eksklusif. Mudah ditebak jika harga paket wisatasaat dolan ke Pulau Macan relatif lebih mahal.

Kayak di Pulau Macan pulaumacanid
Berkayak bia hop in hop off di seputar Pulau Macan. foto: dok. pulaumacan.id

Ketika dolan ke Pulau Macan, pengunjung juga dapat menikmati makanan yang diolah langsung dari hasil kebun organik milik pengelola.  

Pulau Macan yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu mudah dijangkau dari ibukota. Pelancong bisa pergi hari Sabtu pagi dan kembali ke Jakarta pada Minggu sore.

Akses akomodasi ke Pulau Macan tidak sulit. Ada dua alternatif keberangkatan kapal yang bisa dipilih wisatawan, yaitu melalui Ancol atau lewat  Muara Angke (Kali Adem). Kedua pemberangkatan tersebut menggunakan jenis kapal yang berbeda, tentu dengan harga yang berbeda pula.


Harga kapal cepat via Ancol bergantung tujuan pulau yang dikehendaki. Semakin jauh pulau yang dituju, maka semakin mahal ongkos yang dikeluarkan. Secara umum, tiket kapal cepat via Ancol berkisar antara Rp125 ribu sampai Rp375 ribu per orang untuk sekali jalan.
Kapal feri mungkin lebih ekonomis. Harganya juga bergantung tujuan pulau yang dituju. Begitupun bila tujuan pulau yang dituju jauh, harga tiket masih cukup terjangkau.


Secara umum, harga tiket kapal feri via Kali Adem Muara Angke berkisar antara Rp85 ribu sampai Rp105 ribu untuk sekali jalan.
Untuk jam keberangkatan kapal, kapal cepat via Ancol berangkat pukul 08.00 WIB dan kapal feri via Muara Angke berangkat pukul 07.30 WIB. Jika berangkat dari Muara Angke, wisatawan sebaiknya datang lebih awal, agar tidak mengantre lama dan panjang.


Bagi Anda yang pergi ke Muara Angke menggunakan kendaraan pribadi, Anda dapat menitipkan kendaraan Anda di lahan parkir khusus yang disediakan. Besaran tarif parkir menginap Rp 25 ribu untuk motor dan Rp 50 ribu untuk mobil.

agendaIndonesia

*****

2 Hari Menikmati Merapi Dari Kaliurang

Gunung Merapi shutterstock

2 hari menikmati Merapi dari Kaliurang, Yogyakarta. Cuaca sejuk, obyek wisata yang beragam, dan camilannya memicu wisatawan ingin kembali.

Gunung Merapi, Yogyakarta, selalu memberikan kesan magis yang bikin tamunya rindu. Tampaknya seperti kekuatan alam besar yang muncul tanpa wujud. Bagi yang sudah pernah datang, mereka akan jatuh cinta. Entah terpikat dengan cuaca yang sejuk, penduduk yang ramah, atau lokasi wisata yang bervariasi. Berakhir pekan di seputar Kaliurang pun bisa memupus kangen.

2 Hari Menikmati Merapi

Hari Pertama

Taman Gardu Pandang Kaliurang

Dengan berkendara 60 menit dari titik nol kilometer, tempat untuk “mengintai” Merapi ini sudah bisa dijangkau. Lanskap utamanya ialah Bukit Turgo, yang berdiri gagah di muka Sang Pasak Bumi. Beberapa langkah dari gerbang masuk, ada sebuah bangunan berpola lingkaran dengan atap membentuk payung. Di sana, pengunjung otomatis bakal mengenang erupsi besar yang terjadi pada 2010. Abu vulkanik di patera pepohonan sudah bertolak diri, tapi aromanya tetap lekat. Setelah erupsi, taman sekaligus gardu pandang ini hancur. Wahana-wahana bermain yang berkarat karena panas, kini telah kembali dipoles sehingga siap menjadi tempat wisata lagi. Tiket masuknya hanya Rp 2.000 per orang dewasa dan Rp 1.000 per anak.

Air Terjun Tlogo Muncar

Berkendara 5 menit dari Gardu Pandang Kaliurang, ada Taman Nasional Kaliurang dengan sejumlah daya tarik. Salah satunya Air Terjun Tlogo Muncar. Lokasinya satu lingkup dengan Terminal Tlogo Putri. Untuk menuju titik gerojokan, pengunjung perlu melewati jalan kecil membelah hutan. Kanan-kiri, beragam pohon besar menyejukkan pandangan. Bertemu dengan puluhan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Setelah berjalan lebih-kurang 300 meter, suara gemericik air akan terdengar. Mendongakkan kepala sedikit ke ujung jalan, air terjun setinggi lebih-kurang 40 meter sudah dapat dipandang. Sayangnya, kala Travelounge bertandang, debit airnya tak besar. Memang, sejak erupsi, air yang mengalir tak selaju dulu.

Jalur ke Puncak Pronojiwo
Jalur ke Puncak Pronojiwo saat 2 hari menikmati Merapi. Dok TL

Puncak Pronojiwo

Prono berarti terpesona, sedangkan jiwo adalah jiwa. Itu artinya, jiwa orang akan terpana ketika sampai di puncak ini karena melihat pemandangan alam yang indah dari ketinggian 1.040 mdpl. Lokasinya masih di kawasan Taman Nasional Kaliurang. Hanya, untuk menjangkau puncak itu, turis harus trekking melewati hutan dengan jalur menanjak. Di sepanjang jalan menuju puncak, selain bakal menjumpai monyet ekor panjang, pengunjung akan menemukan burung sepah gunung (Pericrocotus miniatus). Suaranya lantang dan menebalkan kesan alam.

Warung Ijo

Di tengah perjalanan dari Gardu Pandang Kaliurang menuju Terminal Tlogo Putri, tepatnya di Jalan Pramuka Nomor 58, ada sebuah warung yang berdiri pada 2013. Lebih terlihat seperti galeri ketimbang tempat makan. Meja dan kursinya terbuat dari batu besar yang dipangkas. “Batu ini bekas erupsi Merapi 2010,” tutur Supardi, si pemilik warung. Ada juga kerajinan tangan berupa tas rotan dan sepatu lukis yang dibikin Supardi sekeluarga. Namun menu yang ditawarkan biasa saja, seperti roti bakar dan nasi goreng. Yang bikin betah memang atmosfer seni bercampur alam. Sambil makan, tamu bisa menikmati pemandangan hutan pakis. Harga menu antara Rp 4.000 hingga Rp 16.500.

Taman Lampion

Sejak 2015, setiap akhir tahun tiba, PT Taman Pelangi menghadirkan ratusan lampion di lereng Merapi. Lokasinya satu kompleks dengan gardu pandang. Lahan seluas 3 hektare itu disulap menjadi wahana lampu yang memukau dengan bentuk yang berlainan. Ada yang menyerupai ular naga, istana boneka, candi, bunga-bunga, juga tokoh-tokoh kartun. Tak heran kalau 4.900 pengunjung datang tiap hari. Festival taman lampion hadir sepanjang Desember hingga Februari setiap hari, dari pukul 17.00 sampai 22.00. Harga tiket Rp 15 ribu pada Senin-Kamis dan Rp 20 ribu pada Jumat-Minggu.

Wedang Ronde Taman Kaliurang

Malam tiba, suhu makin turun. Untuk menghangatkan tubuh, cobalah menepi sejenak ke Taman Kaliurang. Di sepanjang jalan di muka lokasi wisata itu, banyak penjual yang menjajakan wedang ronde istimewa. Mereka mulai menjajarkan gerobaknya pukul 19.00 hingga dinihari.

Rasanya nikmat karena disantap di dataran tinggi dengan suhu di bawah 15 derajat.

Hari kedua

Museum Ullen Sentalu

Museum yang “bersembunyi” di pusar Kaliurang ini memiliki bangunan yang menonjolkan unsur seni bernilai tinggi. Gedungnya serupa kastel dengan pagar menjulang jangkung. Akar-akar pepohonan dibiarkan tumbuh liar di dinding, menorehkan kesan heritage’s class version.

Koleksi berupa kebudayaan Jawa lengkap, dari silsilah sampai kesusastraannya, bikin bulu roma berdiri karena teramat membuka jendela pengetahuan. Terdapat juga kampung kambang, yakni rumah di atas kolam, dengan ruang-ruang yang menyimpan beragam koleksi batik tulis dari Yogyakarta dan Surakarta dengan rentang usia 30-80 tahun. Setengah perjalanan, pemandu bakal mengajak pengunjung menikmati wedang ratumas, minuman racikan kerajaan. Tur Ullen Sentalu berlangsung 50 menit. Sayangnya, pengunjung tak diperkenankan mengambil foto di dalam museum.

Museum Gunung Merapi

Dari Ullen Sentalu, museum ini bisa dijangkau dengan berkendara sekitar 15 menit. Lokasinya di Jalan Boyong, Dusun Banteng. Sejak berdiri pada 2009, Museum Gunung Merapi tak pernah sepi pengunjung. Keberadaannya memang tepat sebagai lokasi wisata edukasi lantaran menyajikan informasi mengenai gunung-gunung api di Indonesia secara lengkap. Selain itu, dipaparkan penjelasan khusus tentang Gunung Merapi, termasuk erupsi yang terjadi dari masa ke masa.

Jadah Tempe Mbah Carik

Bertandang ke lereng Merapi, Pakem, juga sekitarnya, rugi rasanya kalau tidak mencicipi dua sejoli jadah dan tempe masakan Mbah Carik. Sejak 1950, warung di simpang lima patung Kaliurang itu melegenda. Jadahnya yang gurih dan legit cocok dipadu dengan tempe bacem. Rasa dan aromanya istimewa, karena dimasak dengan menggunakan kayu bakar. Cara makannya bak melahap burger. Jadah menjadi roti, sedangkan tempe selayaknya patty. Penganan tradisional ini disajikan bersama wedang teh Poci nasgitel atau panas, legi, kentel. Enak juga disandingkan dengan wajik yang manis dan legit. Seporsi jadah-tempe dihargai Rp 20 ribu (berisi 10 jadah dan 10 tempe). Warung ini buka pukul 07.00-18.00.

Slondok Renteng Pak Mul

Saatnya berburu buah tangan, dan bila mencari yang autentik, Slondok Renteng Pak Mul adalah pilihan tepat. Slondok dirangkai menggunakan bambu yang disayat tipis. Kebiasaan itu diadopsi Pak Mul mulai 1965 hingga generasi ketiganya sekarang. Sebungkus slondok berisi 30 rangkai dihargai Rp 13 ribu. Wisatawan bisa berkunjung langsung ke rumah produksinya, yakni di Boyong RT 01 RW 10, Hargobinangun. Bila hari libur, jangan berkunjung setelah makan siang karena sudah ludes diburu.

F. Rosana/TL