Berburu Batik di 6 Kampungnya di Jawa

Berburu batik semakin asyik jika langsung ke tempat atau kampung sentra produksinya.

Berburu batik bisa dilakukan sambal melakukan tur ke Jawa dengan menyusuri kampung-kampung batik. Perjalanan bisa dilakukan dari barat menuju timur, dari Jakarta dan berakhir di Madura. Atau bisa sebaliknya, dari Surbaya menuju Cirebon.

Berburu Batik

Batik menjadi warisan budaya yang tak ternilai di Indonesia ini. Bahkan kecintaan pada batik membuat kemunculan beragam jenis batik dari berbagai daerah.

Meski pada awalnya batik identik dengan Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sejumlah kota di pulau ini pun melengkapi dengan wisata khusus batik dengan menata kampung batiknya.

Tidak sekadar melihat-lihat tentunya, berburu batik pun menjadi aksi yang menarik bagi wisatawan. Wisata batik bisa dimulai dari Cirebon dan berakhir di Bangkalan, Madura. Ini perjalanan berburu batik di enam kota sepanjang Jawa.

Batik Pesisir Jawa Barat

Dari Jakarta, sebaiknya berangkat pagi. Tujuan pertama dalam berburu batik ini adalah Cirebon, Jawa Barat, yang mempunyai khas corak pesisir. Jarak 231 kilometer itu bisa ditempuh dalam 2-3 jam dengan kendaraan beroda empat melalui jalan tol.

Berburu batik bisa diawali ke Cirebon, tepatnya ke Trusmi.

Di Kota Udang yang biasa dikunjungi adalah Batik Trusmi. Di sana wisatawan bisa mencermati beragam motif batik Cirebonan.

Selain butik batik yang berada di Jalan Trusmi Kulon nomor 129, Plered, Cirebon, telah berdiri pula toko kedua di Jalan Trusmi Kulon nomor 148 Plered, yang lebih luas dan lengkap. Bahkan dilengkapi dengan arena bermain untuk anak-anak.Berburu

Selain busana batik untuk santai maupun acara formal, bisa ditemukan beragam aksesori bercorak batik. Harga bervariasi, mulai terendah sekitar puluhan ribu hingga bernilai jutaan.

Untuk yang ingin membawa oleh-oleh berupa makanan, bisa juga dibeli di sini. Bahkan jika ingin mencicipi empal gentong dan lain-lain, para penjaja bisa ditemukan di dekat pusat belanja ini. Jadi, bisa sekalian makan siang.

Batik Trusmi, Jalan Trusmi Kulon Nomor 129, Plered, Cirebon

Kota Batik Pekalongan

Puas dengan batik Cirebonan yang berwarna menyegarkan, saatnya melaju ke Kota Batik di Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 140 kilometer dari Cirebon. Pekalongan adalah nama kota yang sudah begitu lekat dengan warisan budaya Nusantara yang satu ini.

Sebagai “gudang” batik, ada beberapa pilihan kampung batik, seperti Kampung Batik Kauman, yang berada di seberang alun-alun. Jalan masuk berupa gang kecil yang di sisi kiri-kanannya dipenuhi rumah yang telah menjadi toko atau pabrik batik.

Salah satu pilihannya Nulaba Bati dan Garmen. Busana yang ditawarkan dari daster, celana, kemeja, hingga lembaran kain yang dipatok mulai Rp 50 ribu. Di kampung ini, kegiatan membatik sudah lekat pada 1950-an dan sekarang bisa ditemukan sekitar 200 pembatik. Produknya beragam, dari batik tulis, cap, hingga cetak.

Pilihan lain berburu batik di Pekalongan adalah Kampung Pesindon, di Jalan Hayam Wuruk. Ada pula Kampung Wiradesa dan Kedungwuni. Lokasinya tidak berjauhan, sehingga Anda mudah menelusurinya. Bila sudah terlalu sore bisa langsung ke sentra penjualan batik yang berada di jalur utama Pantura. Di antaranya Pusat Grosir Batik Setono Pekalongan dan Pusat Grosir Batik Wiradesa. Di kota tersebut, Anda juga bisa singgah ke Museum Batik.

Bila ingin menjelajahi semua kampung dan juga museum, sebaiknya Anda menginap di kota ini. Cukup banyak penginapan di sini.  

Kampung Batik Kauman, Jalan Kauman, Pekalongan

Kampung Pesindon, Jalan Hayam Wuruk, Pekalongan

Batik Tulis Mataram

Esok paginya setelah perburuan batik di Pekalongan rampung, saatnya menuju Yogyakarta yang berjarak sekitar 183 kilometer. Perjalanan mengasyikkan melewati jalur penuh kehijauan. Bisa memilih jalur tol via Semarang dan Solo. Bisa pula melalui jalur lama via Magelang.

Berburu batik di Yogyakarta bisa langsung menuju ke kampung batik Giriloyo yang sudah ada sejak abad 17.
Kampung batik Giriloyo. Foto. Dok. shutterstock

Ada beberapa lokasi yang menarik di daerah istimewa ini, seperti Kampung Batik Giriloyo di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Hanya berjarak sekitar 17 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Yogyakarta. Dikenal sebagai tempat perajin batik tulis khas Keraton Mataram. Tidak hanya menemukan batik tulis, turis bisa juga ikut kursus singkat membatik.

Kampung batik, yang bisa menjadi pilihan lain, berada di Kali Tirto, Mangunan, Berbah, Sleman. Bahkan kawasan ini telah menjadi desa wisata dengan tawaran komplet bagi turis. Tidak hanya soal batik, berbagai tradisi seni—seperti bermain gamelan dan wayang—pun diperkenalkan.

Apabila ingin melihat pembuatan batik dengan media lain, bisa mendatangi Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Awalnya, penduduk desa kebanyakan perajin topeng kayu, wayang, dan mebel. Pada 1998, penduduk desa membuat hiasan corak batik pada beragam aksesori, topeng, dan lain-lain.

Di kota pelajar ini, sempatkan menginap satu malam sebelum menuju lokasi berburu batik selanjutnya. Jika ingin berbelanja batik dengan harga cukup murah, bisa mampir di Pasar Beringharjo.

Batik Laweyan & Kauman

Setelah puas di Yogya, coba habiskan waktu seharian di Solo. Ada satu kampung yang sering dituju wisatawan saat berkunjung ke Solo, yaitu Kampung Laweyan. Tidak hanya hasil karya batik dengan warna-warna terang yang menarik, tapi suasana kampung yang khas. Terdiri atas bangunan lawas yang masih terjaga rapi.

Jangan lupa mampir ke Museum Batik Kuno Danar Hadi. Anda juga bisa mampir ke kampung batik yang berada tak jauh dari keraton. Kampung Batik Kauman namanya. Lingkungannya berupa gang-gang sempit. Jadi sebaiknya Anda memilih untuk berjalan kaki.

Ciri khas batiknya ada pada pewarnaan yang lebih gelap, seperti cokelat kehitaman. Dikelilingi jalan-jalan utama dan keramaian Pasar Klewer, Beteng dan Gladak. 

Seperti perkampungan batik umumnya, rumah pun disulap menjadi gerai batik. Pilihan batik di sini lebih banyak bercorak khas keraton, terutama batik tulisnya. Selain itu, ada pula produk batik murni cap dan kombinasi batik tulis dan cap.

Kampung Batik Kauman, Jalan  Trisula, Kauman Timur, Solo

Kampung Batik Laweyan, Kecamatan Laweyan, Solo

Batik Blasteran Oriental Lasem

Lasem adalah sebuah kota kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dan terkenal dengan produksi batik. Daerah ini memiliki banyak penghasil batik terbaik di Jawa dengan ciri khas batik pesisir yang indah melalui pewarnaan yang berani.

Berburu batik jangan sampai melewatkan mampir ke Lasem. Di sini ada batik dengan motif campuran oriental dan Jawa.
Pembatik di Lasem. Foto: dok. shutterstock

Dari Solo, butuh perjalanan sekitar 4 jam menuju Rembang. Karena itu, perlu berangkat pagi-pagi setelah menginap semalam di Solo. Atau, berangkat malam dan menginap di di Rembang, sebelum keesokan harinya menuju Lasem yang cukup dekat.

Lasem kadang disebut juga sebagai Tiongkok Kecil atau La Petite Chine dalam bahasa Prancis. Alasannya, kota ini merupakan daerah pertama yang dikunjungi ekspedisi Tiongkok di pantai utara Jawa di abad 13 dan 14.

Batik Lasem merupakan salah satu jenis batik pesisiran yang memiliki ciri khas tersendiri. Kekhasan tersebut merupakan hasil dari akulturasi dari budaya Tiongkok dan Jawa.
Pola hias batik digunakan untuk kepentingan keagamaan bersifat simbolis dan bermakna sakral, seperti ragam hias Kawung, Bunga Padma Ceplok, Kalacakra atau Nitik Ceplok, Sayap Garuda (Lar, Sidomukti), Gringsing (Urna) dan Parang yang hanya digunakan oleh Raja dan anggota kerajaan.
Sore atau malam selepas puas belajar gaya batik Lasem, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Surabaya. Tidur satu malam di ibukota Jawa Timur ini. Sebelum keesokan paginya menyeberang jembatan Suramadu ke Madura.

Batik Pusaka Beruang, Jalan Eyang Sambu, Jatirogo, Lasem

Batik Pewarnaan Madura

Ini adalah tujuan terakhir berburu batik sepanjang pulau Jawa. Pagi-pagi wisatawan bisa menyeberang ke Madura. Begitu sampai di seberang, tak jauh dari sana, pengunjung sudah disuguhi pajangan batik-batik warna-warni khas batik Madura,

Batik Madura bukan hanya memiliki keindahan, tapi juga cerminan watak msyarakatnya. Keberanian dan ketegasan orang Madura memunculkan warna-warna berani. Berevolusi lewat adukan beragam budaya, batik madura adalah cermin karakter dinamis, egalitarian, kesukaan untuk serba praktis, sekaligus keinginan untuk tampil berbeda.

Sejarah batik Madura tidak terlepas dari keberadaan kerajaan di Pamelingan yang saat ini dikenal dengan nama Pamekasan. Kemudian, batik tulis Madura mulai dikenal oleh masyarakat umum antara abad ke-16 dan ke-17.

Nah lengkap sudah perjalanan berburu batik sepanjang pulau Jawa ini. Batik Madura dimasukkan karena masih berada di Provinsi Jawa Timur.

Batik Naraya, Jalan Pelabuhan Sarimuna, Peseseh, Tanjungbumi, Bangkalan, Madura

agendaIndonesia

*****

Masyarakat Baduy Minta Pembatasan Kunjungan

Suasana Kampung Baduy

Masyarakat Baduy minta pembatasan kunjungan ke perkampungan mereka. Para tetua adat masyarakat suku ini meminta pemerintah membantu pembatasan sementara kunjungan masyarakat ke perkampungan Baduy di Desa Kenekes, Kabupaten Lebak, Banten. Selain karena situasi saat ini memang tidak kondusif, secara umum masyarakat Baduy juga ingin kondisi perkampungan mereka tetap lestari dan seimbang.

Masyarakat Baduy Minta Pembatasan, Pemerintah Setuju

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Keatif mendukung permintaan masyarakat Suku Baduy tersebut. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Hari Santosa Sungkari, dalam kunjungannya ke Desa Kanekes, Sabtu 18 Juli 2020, mengatakan, pengunjung yang hendak berkunjung ke Desa Kanekes atau yang ingin berkunjung ke perkampungan Suku Baduy dalam harus menghormati dan mematuhi aturan adat yang sudah ada.

Indonesia, kata hari, menganut Sustainable Tourism. Pariwisata yang lestari dan berkelanjutan. Artinya semua pihak menjaga agar wisatawan tidak berjibun-jibun yang datang. “Dan tetap menjaga keseimbangan lingkungan fisik dan budaya sehingga budaya itu tetap eksis, fisiknya tetap lestari,” kata Hari.

Dalam kesempatan tersebut, Perwakilan Suku Baduy, Uday Suhada, mengungkapkan keinginan Suku Baduy untuk mengganti istilah “Wisata Budaya Baduy” menjadi “Saba Budaya Baduy”. Istilah ini sebenarnya telah dicetuskan dan ditulis dalam Peraturan Desa (Perdes) Saba Budaya pada 2007. Namun, hingga kini tampaknya belum sepenuhnya dipahami masyarakat umum.

Saba, kata Uday, ini bermakna silaturahmi, saling menghargai dan menghormati antar adat istiadat masing-masing. Di atas itu semua, bersilaturahmi ini mengandung makna saling menjaga dan melindungi nilai-nilai yang berkembang dan hidup di masyarakat setempat dan masyarakat yang datang berkunjung. “Saling menghormati,” ungkap Uday.

Hal senada juga ditambahkan oleh salah seorang tetua adat Suku Baduy Dalam, Ayah Mursid. Ia meminta agar aturan Saba Budaya Baduy lebih diperjelas dan disosialisasikan dengan optimal. Ia menilai banyak pihak, terutama dari kalangan masyarakat umum yang masih awam dengan adat dan tradisi Baduy. Mereka dinilainya masih menilai perkampungan Baduy seperti layaknya perkampungan lainnya.

“Kami berharap saba budaya diperjelas aturannya. Mana saja rute yang boleh dan tidak boleh dilewati menuju Kampung Baduy, dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dikerjakan,” ujar Mursid.

Mursid juga memberikan masukan agar didirikan pusat informasi mengenai Suku Baduy di luar perkampungan adat. Sehingga, calon pengunjung yang ingin mendatangi Kawasan Adat Baduy bisa mempelajari terlebih dahulu apa saja adat istiadat yang ada serta menjelaskan tujuan kedatangannya.

Hal ini disambut baik oleh Hari. Ia mengatakan pihaknya akan menampung segala aspirasi yang telah disampaikan oleh para perwakilan tetua adat Suku Baduy.

Hari juga mempertimbangkan rencana pembuatan aplikasi sebagai pusat informasi dan sarana pendaftaran bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Kawasan Adat Suku Baduy.

Pusat inofrmasi itu nantinya bisa berbentuk aplikasi. Jadi siapa yang mau berkunjung, kapan waktu kedatangan, kalau sudah melebih batas pengunjung ini akan ada pemberitahuan atau notifikasi bahwa kapasitasnya sudah berlebih. “Sehingga tidak terulang lagi ada peristiwa ribuan orang berkunjung ke perkampungan Baduy, yang belum tentu mendatangkan manfaat,” tutur Hari.

Masyarakat Baduy
Masyarakat Baduy minta pembatasan kunjungan. Doc. Kemenparekraf

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, menyampaikan dukungan terhadap segala upaya pelestarian budaya Suku Baduy sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan. Pemerintah Daerah Lebak selama ini terus berkonsolidasi dengan masyarakat Suku Baduy dalam upaya Saba Budaya Baduy.

Saat ini, menurut Bupati Iti, pihaknya sedang dalam proses penyedian lahan di dekat perkampungan Baduy untuk dijadikan sebagai Information Center agar wisatawan lebih mengetahui bagaimana budaya Baduy pada umumnya dan informasi kegiatan Saba Baduy pada khususnya. “Sebelum mereka masuk ke Perkampungan Baduy,” katanya.

Acara ini juga dihadiri oleh Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Kemenparekraf/Baparekraf Oni Yulfian; Kapolres Lebak Ajun Komisaris Besar Polisi Firman Andreanto; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak Imam Rismahayadin; Kepala Desa Kanekes Jaro Saija, serta sejumlah tetua adat Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam. Acara ini diakhiri dengan penyerahan bantuan secara simbolis berupa masker dan hand sanitizer bagi Suku Baduy sebagai simbol keikutsertaan masyarakat Baduy dalam program perlawanan pada pandemi Covid-19.

****

Ayam Goreng Pak Supar, Gurihnya Sejak 1974

Ayam Goreng Pak Supar sudah memanjakan lidah orang sejak 1974.

Ayam goreng Pak Supar Semarang mungkin tenggelam di antara nama-nama besar kuliner di ibukota Jawa Tengah itu. Maklum saja, di kota ini ada begitu banyak makanan enak. Sebut saja aneka soto yang begitu banyak dijajakan, atau tahu pong dan babat gongso. Pokoknya semua makanan enak.

Ayam Goreng Pak Supar

Di antara rimba kuliner enak itu, terselip satu kedai ayam goreng yang sesungguhnya sudah lama menjajakan menu andalannya. Nama kedainya Ayam Goreng Sop Buntut Pak Supar.

Pak Supar sudah menjajal kebolehannya memasak sejak 1974. Awalnya, ia menjajakan masakannya dengan gerobak dorong. Dalam perjalanan waktu, dagangannya laris dan terus berkembang. Saat ini ia sudah mempunyai sebuah rumah makan yang selalu membuat para penggemarnya mengantri.

Ayam goreng Pak Supar bisa jadi kulner, tapi alau oleh-oleh bisa ke kampoeng semarang
Kampung Semarang, pusat oleh-oleh.

Kedai ayam goreng Pak Supar tempatnya tidak terlalu luas, mungkin kapasitas tempat duduknya sekitar 50 orang saja. Jadi jika pecinta kuliner tengah mampir ke Semarang dan ingin mencicipi ayam goreng atau sop buntut di sini, bersiaplah dengan antrian pengunjung yang memenuhi bagian depan tempat makan.

Peminat sajian andalan Pak Supar ini seolah tak ada habisnya. Terlebih pada jam makan siang atau makan malam. Selain kadang harus antre, jika sudah duduk pun jarak antarmeja pun tak terlalu longgar.

Meski bukan makanan khas kota ini, ayam goreng Pak Supar digemari banyak penikmatnya. Bukan pemandangan yang aneh saat menjelang makan siang atau malam, pengunjung harus antre hingga satu jam untuk mendapatkan kursi.

Tak sedikit pengunjung yang kemudian memilih untuk membawa pulang ayam goreng atau sop buntutnya. Begitupun tak sedikit pula yang rela untuk menunggu demi mencicipi langsung hidangan ayam kampung goreng dan sop buntut andalan kedai ini.

Menurut para pelayannya, hidangan kedai ini yang menjadi incaran para pelanggannya sudah pasti adalah ayam goreng dan sup buntut. Untuk hidangan ayam goreng, pihak kedai hanya menggunakan ayam kampung dengan umur tertentu.

Ayam Goreng Pak Supar Semarang Legendaris shutterstock

Ayam itu kemudian diolah dengan bumbu khas mereka yang berbeda dari kedai ayam goreng yang lain. Menurut pelayannya, setelah pembumbuan, ayamnya digoreng hingga tenggelam dalam minyak. “Seperti direbus minyak, jadi empuk,” kata salah seorang pelayan.

Salah satu yang juga berbeda dengan tempat makan ayam goreng lainnya, di Ayam Goreng Pak Supar ini, jika ada tamu datang dan duduk makan pelayan akan datang dan bertanya pesanannya.

Jika memesan ayam goreng, biasanya tidak ditanya jumlah potongan yang dipesan. Biasanya pelayan akan menghitung jumlah pembeli lalu nantinya akan membawa satu piring berisi ayam goreng sejumlah pembeli.

Untuk penyajian ayam disesuaikan dengan jumlah yang datang. Jika pengunjung datang beramai-ramai, pelayan akan menyajikan sepiring penuh ayam, yang nanti akan dihitung seberapa banyak yang dihabiskan pelanggan. Namun jika datang sendirian, biasanya disajikan sepotong dada, paha dan sepasang ati ampela.

Soal rasa? Benar saja, saat dicoba, ayam kampung yang umumnya lebih liat dibandingkan ayam negeri menjadi amat empuk. Bisa jadi ini karena proses penggorengan yang terendam minyak.

Sebagai pendamping, pengunjung bisa memilih tiga jenis sambal, yakni sambal manis, yang biasanya langsung disajikan bersama lalapan dan ayam. Selain itu tamu bisa memesan sambal bawang –kadang disebut juga sebagai sambal korek, atau sambal terasi dengan harga Rp 5 ribu/cobek.

Dari ke tiga jenis sambal tersebut, yakni sambal korek, sambal terasi, juga sambal manis khas kedai ini, umumnya rasanya cenderung manis. Untuk yang suka pedas direkomendasikan memilih sambal korek yang paling pedas di antara ketiganya.

Sebelum makan ayam goreng, ada baiknya makan pembuka berupa sup buntut. Dihidangkan masih mengepu panas, sungguh hidangan ini menggoda selera. Daging buntut yang tersaji cukup banyak, dan dipotong besar-besar. 
Saat disesap kuahnya, kaldu pun begitu terasa di mulut. Daging buntut yang empuk sambil sesekali menyesap potongan serat daging yang menempel pada tulangnya.

Besar dan banyaknya daging buntut yang empuk menjadi alasan kepuasan pelanggan di sini. Dalam sehari, Ayam Goreng Pak Supar bisa menghabiskan 10 kilogram daging buntut sapi dan 40-50 kilo daging sapi bagian lainnya.

Daging buntut dipresto sampai dua jam sehingga menjadi empuk. Sedangkan untuk membuat kaldunya, kedai ini menggunakan rebusan tulang yang amat banyak sehingga terasa kental dan keruh.
Jadi kalau dolan ke Semarang dan bingun mau makan apa, bisa jadi Ayam Goreng Pak Supar bisa jadi alternatif.

Ayam Goreng Sop Buntut Pak Supar

Lokasi di Jalan Moh.Suyudi Nomor 48, Miroto, Semarang Tengah, Jawa Tengah.

Buka mulai pukul 10.00 – 22.30 WIB

agendaIndonesia

*****

Rumah Jenderal Nasution, Museum 1 Oktober

Rumah Jenderal nasution menjadi saksi peristiwa 30 September 1965.

Rumah Jenderal Nasution masih jarang dikunjungi orang, baik warga Jakarta, maupun pengunjung dari daerah lain. Padaal museum kecil ini menjadi saksi peristiwa malam 30 September, di mana seorang anak kecil menjadi korban. Jadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa.

Rumah Jenderal Nasution

Matahari sudah meninggi. Rumah besar dan berhalaman luas di Jalan Teuku Umar No. 40, Menteng, Jakarta Pusat, itu terlihat sepi. Dari balik pagar, patung Jenderal Abdul Haris Nasution kokoh berdiri. Bagi yang sering atau setidaknya pernah melintasi jalan ini mungkin tak mengira bahwa di rumah ini sebuah peristiwa tragis pernah terjadi.

Ya, tepatnya pada 1 Oktober 1965. Saat hari masih terlalu pagi, sekitar pukul 04.00 WIB, sejumlah tentara Cakrabirawa merangsek ke kediaman Abdul Haris Nasution, yang akrab disapa Pak Nas.

“Mereka melepaskan enam kali tembakan tepat ke kamar Pak Nas,” kata Sersan Mayor Afrianto, yang menemani kami siang itu. Empat peluru mengenai tubuh Irma Suryani Nasution, anak bungsu Pak Nas. Sedangkan dua peluru lagi melukai tangan Mardiah, adik Pak Nas, yang saat itu tengah menggendong untuk menyelamatkan Ade—panggilan akrab Irma Suryani Nasution. Ade memang sempat dirawat di RSPA Gatot Subroto, Jakarta, selama 6 hari. Namun sayang, nyawanya tidak tertolong. Pada 6 Oktober 1965, Ade Irma Suryani Nasution, yang masih berusia sekitar 5 tahun, mengembuskan napas terakhir.

Peristiwa mengerikan yang terjadi pada 55 tahun silam itu sepertinya masih terlihat jelas di kamar Pak Nas. Kamar tempat Ade sering tidur bersama kedua orang tuanya. Lubang tembakan peluru di daun pintu dan dinding kamar pun masih membekas. Letak tempat tidur, meja, kursi, serta lemari masih dibiarkan pada posisi awal. Hanya ada tambahan diorama Pak Nas yang berkemeja putih dan kain sarung.

“Sejak 3 Desember 2008, kediaman Pak Nas ini resmi menjadi museum,” ucap Kepala Museum Jenderal Besar A.H. Nasution, Kapten ARH Dwi Prasetianto. Bentuk bangunan utama tidak mengalami perubahan. “Dibiarkan sama sejak peristiwa 1 Oktober 1965.”

Pintu utama merupakan pintu masuk menuju ruang tamu tempat Pak Nas biasa menerima tamu, baik dari kalangan militer, kerabat, maupun masyarakat. Di ruang tamu ini terpampang beberapa foto Pak Nas saat menjabat Panglima Divisi Siliwangi, KSAD, dan Menkonhankam.

Lebih dalam lagi, terdapat ruang kerja lengkap dengan rak buku di belakangnya. Terlihat diorama Pak Nas sedang menulis di ruangan ini. Di ruangan ini pula, konon, ide dan buah pikiran Pak Nas dituangkan ke dalam bentuk buku yang tersimpan di etalase ruangan.

Sementara itu, di seberang ruang kerja, terdapat satu ruangan berwarna serba kuning, yang disebut sebagai “ruang kuning”. Ruangan memang didominasi warna kuning. Entah itu meja, sofa, gorden, ataupun dindingnya, semua memakai warna kuning. Ruangan ini digunakan Pak Nas untuk menerima tamu-tamu VVIP (very very important person).

Di samping ruang kuning, terdapat kamar yang dijadikan ruang senjata yang menyimpan koleksi senjata sang pemilik. Sejatinya, kamar ini dulu merupakan kamar putri sulung Pak Nas yang bernama Hedrianti Sahara Nasution. Di seberang ruang itu terdapat kamar tidur Pak Nas yang menjadi saksi bisu tertembaknya Ade Irma.

Di kamar ini terhubung kamar yang biasa diisi tamu. Namun kamar itu kini berisikan diorama Pak Nas saat melompati tembok ke Kedutaan Besar Irak untuk menyelamatkan diri dari usaha pembunuhan. Pintu luar kamar ini memang menuju tembok samping yang berbatasan dengan Kedutaan Irak.

Menurut Afrianto, Pak Nas, yang sudah berada di atas tembok, berniat hendak turun lagi untuk memberi pertolongan dan perlawanan setelah melihat Ade Irma tertembak. Tapi Johana Sunarti Nasution, istri Pak Nas, melarangnya dan memohon kepada Pak Nas untuk segera menyelamatkan diri.

Di samping kamar Pak Nas inilah sebenarnya kamar tidur Ade. Dalam kamar itu terdapat sebuah lemari kaca yang memuat gaun dan seragam tentara milik Ade. Di sebelah lemari terpampang sebuah foto Ade Irma dengan tulisan yang digoreskan oleh ibunya. Di sana tertera kata-kata yang diucapkan Ade sebelum akhirnya meninggal. “Ade sayang Mama. Ade sayang Papa. Tapi kenapa Ade ditembak? Salah Ade apa, Ma?”

Di depan kamar Ade terdapat ruang makan. Di ruangan ini ada patung Johana atau Bu Nas sedang menggendong Ade yang terluka parah karena tembakan di hadapan lima tentara bersenjata lengkap. Tangan Ade terlihat melingkari leher ibunya. Adegan ini membuat bulu kuduk saya berdiri. Membayangkan betapa kuatnya Bu Nas menghadapi para tentara yang sudah siap membunuh suaminya.

Di samping kanan bangunan utama terdapat semacam paviliun. Dulunya merupakan kamar ajudan yang salah satunya ditempati Letnan Satu Czi Pierre Tendean. Sang ajudan inilah yang kemudian diangkut ke Lubang Buaya dan gugur sebagai perisai bangsa. Kini bangunan itu berisikan diorama Pierre Tendean ketika menghadapi todongan senjata para tentara Cakrabirawa.

Kisah tragis ini berhasil membawa saya tenggelam pada masa 50 tahun lalu. Di rumah 1 Oktober ini pula lagu Ade Irma karya A.T. Mahmud melayang-layang dalam ingatan.

Akan kuingat selalu Ade Irma Suryani

Waktu dipeluk dipangku ibu

Dengan segala kasih

Kini ia terbaring di pangkuan Tuhan

Senang dan bahagia hatinya

Kini ia terlena tertidur terbaring

Nyenyak di pelukan Tuhannya

Andry T./Subekti/TL/agendaIndonesia

*****

Makan Beramai Ala Botram, 4 Pilihannya

Makan beramai ala botram mulai menjadi tren publik pada 2017.

Makan beramai ala botram sangat menyenangkan dan beberapa tahun terakhir menjadi trend. Tidak saja resto yang membuat gaya ini, tapi juga ketika ada acara-acara keluarga di rumah-rumah pribadi. Masing-masing orang membawa makanan sendiri, untuk kemudian saling bertukar dan mencicipi makanan satu sama lain dan makan beramai ala botram.

Makan Beramai Ala Botram

Beberapa lembar daun pisang terhampar di atas lantai. Di atasnya digelar tempe goreng, tahu, ikan asin, ikan gurame, dan ayam goreng bertumpuk-tumpuk mengelilingi nasi putih hangat yang disusun memanjang. Di sana-sini tersaji sambal dan beragam dedaunan sebagai lalapan.

Makanan sebanyak itu disiapkan oleh sejumlah orang secara bergotong-royong untuk kemudian dinikmati bersama. Itulah yang disebut botram atau makan beramai ala botram.

Makan beramai ala botram juga dibuat paket menu makan ala-ala di sejumlah restoran.
Resto Alas Daun, salah satu penyaji makan ala botram. Foto: dok Javalane

Orang kerap kesulitan membedakan istilah botram, liwetan, dan balakecrakan. Balakecrakan adalah kegiatan makan bersama, sedangkan liwetan lebih mengacu pada jenis makanan dan cara penyajiannya. Sementara botram merupakan cara penyiapan makanan yang dibawa oleh masing-masing peserta.

Tidak ada istilah tuan rumah dalam konsep makan beramai ala botram. Semua peserta makan adalah setara. Masing-masing membawa makanan sendiri, lalu nantinya saling bertukar makanan dan saling mencicipinya. Juga tak ada ketentuan pasti harus membawa seberapa banyak. Hal ini mencerminkan sifat masyarakat Sunda yang menganut moralitas egaliter, yaitu bahwa semua manusia diciptakan sama dan sederajat.

Tradisi makan beramai ala botram umumnya diselenggarakan ketika sebuah keluarga atau komunitas sedang berkumpul, seperti saat rekreasi, arisan, atau menyambut bulan Ramadan. Lokasinya pun bervariasi, dari di dalam rumah, halaman, ladang, atau kebun. Jika mengacu pada aspek sejarahnya, nasi liwet khas Sunda berasal dari masyarakat perkebunan yang membekali dirinya dengan nasi untuk makan dari pagi sampai siang di ladang. Karena itu, makan ala botram di tengah kebun merupakan pilihan tepat untuk mendapatkan atmosfer masyarakat Sunda masa silam.

Dago Panyawangan
Dago Panyawangan yang juga menyedian makan beramai ala botram.

Setelah lama tenggelam, tradisi ini kembali mencuat, bahkan sempat viral pada 2017. Saat itu foto orang yang makan bersama dengan alas daun pisang berseliweran di media sosial. Kehadiran media sosial dan keunikan tradisi menjadi faktor yang memicu botram kembali naik ke permukaan.

Sejumlah restoran di Jawa Barat bahkan menyediakan paket menu botram bagi pengunjung. Di Bandung misalnya, ada restoran Moza Cafe, Maka Gallery Cafe, Kelapa Lagoon, Alas Daun, Dago Panyawangan, dan Pinch of Salt. Sementara di Caringin, Kabupaten Bogor, ada penginapan Land Of Blessing Farmstay yang menawarkan sensasi makan botram di tengah areal persawahan.

Virus botram juga melanda warung makan di luar Jawa Barat, terutama Jakarta. Beberapa di antaranya adalah Warung Teteh di Jalan Petogogan, Warung Sunda Ceu Kokom di Jalan Raya Pos Pengumben, dan Bebek Asap Balcon di Kebon Jeruk. Sejumlah nama kemudian sempat hilang ketika pandemi Covid19 sejak 2020 lalu.

Tentu esensi botramnya hilang karena semua makanan disediakan oleh pihak restoran. Namun paling tidak jenis makanan dan cara penyajiannya tetap mempertahankan gaya liwetan khas Sunda.

Nasi liwet Sunda berbeda dengan nasi liwet khas Jawa Tengah. Saat melakukan teknik liwet, orang Jawa mencampur beras dengan santan, sedangkan liwet Sunda tidak menggunakan santan. Nasi liwet Sunda biasanya memakai bumbu garam, bawang merah, bawang putih, daun salam, sereh, lengkuas, cabai, santan, minyak kelapa, atau ikan asin, sesuai selera masing-masing.

Land Of Blessing Farmstay
Land of Farmstay, menikmati alam Sunda.

Untuk lalapannya tak ada aturan baku. Namun biasanya yang paling sering muncul adalah daun sawi, kemangi, dan mentimun karena murah dan mudah ditemukan. Duo lalapan sedap tapi berbau menyengat, jengkol dan petai, juga menjadi ciri khas dari acara makan ini. Pada beberapa rumah makan di Jawa Barat umumnya masih bisa ditemukan lalapan unik, seperti bunga honje atau kecombrang.


Selain berbagi makanan, orang-orang yang makan juga berbagi cerita dan lelucon. Namun ada semacam aturan tak tertulis yang melarang kita untuk berbagi cerita sedih karena akan merusak suasana. Pasalnya, inti dari kegiatan makan bersama ini adalah terwujudnya keceriaan dan silaturahmi yang berujung pada semakin eratnya ikatan kekeluargaan.

Berikut empat pilihan untuk menikmati makan beramai ala botram

  • Alas Daun

Jam buka: Setiap hari, pukul 10.00–22.00

Alamat: Jalan Citarum No.34, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung

  • Dago Panyawangan

Jam buka: Setiap hari, pukul 10.00–23.00

Alamat: Jalan Ir. H.Djuanda No.127, Lebak Siliwangi, Coblong, Kota Bandung

  • Land Of Blessing Farmstay

Jam buka: Berdasarkan perjanjian

Alamat: Jl. Curug Kalong RT 01 RW 04, Desa Tangkil, Caringin,Bogor

  • Waroeng Botram Cianjur

Jam buka: 11.00–21.00 (Senin-Jumat) dan 11.00–22.00 (Sabtu-Minggu)

Alamat: Jalan Masjid Agung No. 126, Pamoyanan, Cianjur

agendaIndonesia

*****

Soto Tangkar Betawi, Ini Dia 5 Jawaranya

Soto tangkar Betawi bermula dari iga sapi yang tak dimakai dalam masakan meneer Belanda.

Soto tangkar Betawi mungkin kalah pamor sedikit dibandingkan kuliner khas masyarakat Betawi lainnya, soto Betawi. Padahal dari segi rasa, tak kalah nikmatnya.

Soto Tangkar Betawi

Soto tangkar pada awalnya adalah soto berkuah gurih dengan isian berupa tangkar atau tulang iga. Dari Kuliner Betawi: Selaksa Rasa dan Cerita karya Akademi Kuliner Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama, dalam bahasa Betawi tangkar artinya tulang iga.

Lalu apa bedanya dengan soto Betawi? Warna kuah soto tangkar sedikit lebih kemerahan dan rasanya lebih ringan dibanding soto Betawi. Penyebabnya, soto tangkar menggunakan air asam jawa, kencur, dan lengkuas yang membuat rasanya lebih segar.

Saat ini, selain menggunakan tangkar atau iga, ada pula pedagang soto tangkar yang mencampur isian soto dengan potongan daging. Ada pula yang menambahkan kelapa sangrai halus sehingga kuahnya jadi lebih gurih dan kental.

Soto tangkar Betawi biasanyaisiannya  disipakan dalam mangkok-mangkok dan baru disiram kuah saat akan dihidangkan.


Soto tangkar Betawi sendiri punya sejarah yang cukup panjang, bahkan hingga ke masa kolonial Belanda. Kala itu masyarakat hanya mampu membeli bagian tangkar yang punya sedikit daging dan lebih murah dari pada daging sapi.

Selain itu, ada cerita lain yang mengatakan bahwa para pejabat dan tuan-tuan Belanda jika mengadakan jamuan makan masak makanan mewah dari daging sapi. Bagian lain seperti iga dan jeroan sapi akan diberikan kepada para pekerja lokal. Bagian-bagian inilah kemudian yang dimasak dengan bumbu tradisional, salah satunya soto tangkar Betawi.


Soto tangkar Betawi juga disebut mengalami percampuran budaya antara banyak bangsa yang datang ke Batavia. Misalnya saja dari budaya kulinari Tionghoa. Tak hanya Tionghoa, soto tangkar juga mengalami percampuran budaya India dan Arab yang masuk melalui penggunaan minyak samin dalam soto tangkar dan soto Betawi. Percampuran selera Betawi dan lokal, pengaruh Tionghoa, Arab, dan India menyatu.
Saat ini masyarakat semakin mudah mendapatkan soto tangkar. Selain menikmati masakan dari warung yang legendaris, misalnya, yang berpusat di daerah Pasar Pagi Glodok, Jakarta Barat.Orang juga bisa menikmati warung-warung kecil yang mulai menjajakannya.

Perbedaan soto-soto tangkar legendaris dengan soto-soto tangkar baru biasanya pada komposisi campuran susu dan santennya. Di warung-warung terkenal biasanya lebih banyak susunya, bahkan ada yang tanpa santan. Selain itu, semuanya mirip. Dalam semangkuk soto, selain  daging sapi terdapat potongan tomat, daun bawang, babat, kikil dan jeroan sapi.

soto tangkar Betawi mirip dengan soto Betawi namun berbeda dalam bumbu dan ketebalan kuahnya.
Soto Tangkar Betawi mempunyai kuah yang berwarna orange dengan iga sapi dan daging sapi. Foto: shutterstock

Soto Tangkar Haji Diding

Bagi warga Jakarta dan para peminat soto tangkar pasti sudah tak asing lagi dengan gerai soto tangkar ini. Memiliki banyak cabang, pusatnya Soto Tangkar H. Diding berada di Pasar Pagi Lama.

Soto tangkar di sini sangat menjaga keasliannya dari waktu ke waktu. Maka tak heran jika peminat soto tangkar Haji Diding juga terus bertambah seiring berjalannya waktu. Tak hanya soto tangkar, di sini pecinta kuliner juga dapat mencicipi sate kuah dengan daging sapi empuk. 

Lokasi di Jalan Pasar Pagi II, RT.2/RW.2, Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. 

Soto Tangkar Jumanta

Pilihan lainnya, jika sedang melewati kawasan Glodok, mampirlah ke Gang Kalimati yang di dalamnya terdapat soto tangkar Pak Jumanta. Sudah berjualan sejak 1970-an, soto tangkar Pak Jumanta masih eksis hingga kini.

Sebaiknya datang waktu pagi hari karena sekitar jam 12 siang soto tangkarnya biasanya sudah terjual habis. Untuk dapat menyantap semangkuk soto tangkar, pengunjung hanya perlu menyiapkan uang kurang lebih Rp 25 ribu.

Lokasi di Jalan Pancoran Gang Kalimati, Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta.

Soto Tangkar Jakarta shutterstock
Ini merupakan campuran budaya lokal, Tionghoa, India dan Arab. Foto: shutterstock

Soto Tangkar Omah Sendok

Kalau yang Ini merupakan sebuah restoran yang menyediakan soto tangkar dengan kuah yang lebih merah dan kental. Untuk soal rasa, soto tangkar omah sendok ini sudah tak dapat diragukan lagi, karena memang sangat enak. Isiannya pun sangat berlimpah. Mulai dari daun bawang, potongan tomat, sampai daging yang lunak, dan gurih berlimpah. 

Lokasi di Jalan Empu Sendok No. 45, RT.8/RW.3, Jakarta Selatan

Soto Tangkar Tanah Tinggi

Kedai ini sudah dibuka sejak 1946. Warung soto tangkar ini didirikan pak Haji Ikhsan.

Keunikan dari soto tangkar di sini adalah kuahnya yang kental serta berwarna kemerahan. Isiannya pun sangat komplit, mulai dari daging sapi, babat, paru, iso, kikil, tulang muda dan tulang rawan telinga. 

Lokasi di Jalan Tanah Tinggi III No. 15, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat. 

Soto Tangkar Gunawan

Ini pilihan soto tangkar yang enak lainnya. Kedainya terletak di pinggir jalan dengan gerobak tradisional namun rasa dari soto tangkar di sini tak kalah dengan yang terdapat di restoran. Jika ingin menyantap semangkuk soto tangkar di sini, usahakan hindari makan siang, karena tempat ini akan dikerubungi pelanggan saat jam makan siang tiba. 

Lokasi di Jala Warung Jati Barat No. 48, Kalibata, Jakarta Selatan.

agendaIndonesia

*****

De Tjolomadoe, Masih Manis Seperti Tahun 1861

De Tjolomadoe, bekas pabrik gula sejak 1861 kini diubah menjadi museum.

De Tjolomadoe bagi masyarakat Surakarta, Jawa Tengah, identik dengan pabrik gula. Tidak salah, sebab sejak 1861, Tjolomadoe atau dulu dikenal menuliskannya Colomadu, memang merupakan tempat memproduksi gula pasir tebu. Namanya kini memang menjadi De Tjolomadoe. Sebuah museum dan destinasi wisata unggulan di sekitar Surakata.

De Tjolomadoe

Awalnya ia bernama Pabrik Gula Colomadu yang didirikan pada 1861 di Karanganyar oleh Mangkunegaran IV. Tahun 1928, pabrik ini mengalami perluasan area lahan tebu dan perombakan arsitektur. Dinamakan Colomadu karena memiliki arti gunung madu. Ini yang menjadi pijakan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro IV, raja masa penjajahan Belanda yang memiliki jiwa bisnis atau wiraswasta untuk mendirikan pabrik gula (PG) Colomadu di Desa Malangjiwan pada 1861.

De Tjolomadoe dari pabrik gula merevolusi menjadi museum destinasi wisata unggulan.
Salah satu sisi bangunan De Tjolomadoe saat ini. Foto: Dok. shutterstock


Mengubah sebuah pabrik gula menjadi museum tentu tidak mudah. Bahkan di saat awal rencana mengubah pabrik ini banyak isu berseliweran. Misalnya, ada kabar angin Colomadu akan diratakan, dan sebuah superblok modern siap menggantikannya.

Pabrik gula itu sebenarnya memang sudah berhenti berproduksi sekitar dua dekade ketika diputuskan untuk tak lagi beroperasi, yakni pada 1997 saat dikelola PTPN IX. Maka pabrik gula itu pun ‘mangkrak’.

Pada 1997, ketika berhembus kabar pabrik beralih tangan, nasib bangunan pabrik yang tersisa pun terancam hal sama. Pabrik yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini, pada seakan menunggu keruntuhannya untuk kedua kalinya.

Bagi masyarakat Surakarta, pabrik ini bukan sekadar bangunan. Ada pusara Nyi Pulungsih di tengah perkampungan, tak jauh dari pabrik. Ia adalah salah satu selir KGPAA Mangkunegara IV yang bertakhta pada 1853-1881. Sang selir diyakini berperan penting, terutama dalam urusan finansial, dalam membantu suaminya mendirikan usaha agroindustri itu pada 1861.

Dikenal sebagai perempuan peranakan Tionghoa, Nyi Pulungsih tidak diketahui nama lahirnya. Colomadu adalah nama yang disematkan sang raja, yang berarti limpahan madu. Orang Jawa di masa itu lazim mengidentikkan rasa manis dengan sebutan madu.

Sebagai balas jasanya, setiap tahun digelar cengbeng—tradisi ziarah dan jamasan (mencuci) makam sang selir sebelum memulai musim giling. Hal yang sama juga dilakukan pada Monumen Mangkunegara IV yang berdiri di depan gerbang pabrik.

Colomadu mulai berproduksi dua tahun setelah didirikan. Waduk Cengklik yang berjarak 10 kilometer di sebelah barat laut pabrik-lah yang mengairi lahan tebu di sekitarnya. “Manis”-nya Colomadu menggoda sang empunya, sehingga sebuah suiker fabriek didirikan lagi pada 1871 yang berlabel Tasikmadu, yang juga masih di Karanganyar. Sekali lagi R. Kampf, seorang insinyur Jerman, dipercaya menjadi juru bangunnya.

Ketika terjadi peralihan kekuasaan, Mangkunegara V yang bertakhta pada 1881-1896 ternyata tak selihai pendahulunya. Beberapa cerita menyebut ia bukan raja yang cakap. Yang lain menganggapnya sebagai hedonis penghambur harta. Bahkan Colomadu yang menjadi aset kerajaan sempat dikelola VOC untuk membayar utang.

Saat kembali terjadi suksesi kekuasaan, misi penyelamatan pun digelar. Mangkunegara VI yang berkuasa pada 1896-1916 melakukan penghematan akbar. Upah pekerja dipotong. Konon ia sendiri juga memotong haknya sampai nyaris setengah. Kebijakan yang kontroversial, namun ternyata keputusan itu jitu. Colomadu tak lagi tercekik utang.

Politik bergolak pascaproklamasi di banyak wilayah, termasuk di Jawa Tengah. Mangkunegaran dan Kasunanan Surakarta dihapus lalu dilebur dalam Dewan Pertahanan Daerah Surakarta. Perubahan drastis ini turut berimbas pada aset Mangkunegaran.

Pada 1947 pemerintah Republik mengeluarkan peraturan tentang Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia (PPRI). Mulai saat itu Colomadu dan Tasikmadu berada di bawah kuasa Republik. PPRI sendiri adalah cikal BUMN PT Perkebunan (PTPN).

Di luar perubahan admisitrasinya, usia uzur mereduksi daya dua bersaudara pabrik gula itu. Kelangkaan onderdil dan mahalnya biaya perawatan membuat salah satunya harus dikorbankan. Colomadu terpilih karena luas lahan tebu di sekitarnya menciut drastis. Mayoritas berubah menjadi sawah dan permukiman. Musim giling terakhir pada 1997 adalah pamungkas. Setelah itu banyak mesin dibongkar dan dibawa ke Tasikmadu sebagai suku cadang.

Yang tersisa kemudian hanyanya bangunan utama pabrik dan beberapa bangunan lain, seperti garasi lori, menara air, rumah kepala masinis lori, dan Ndalem Besaran. Yang disebut terakhir ialah rumah kepala administratur alias direktur. Griya besar ini sempat menjalani perbaikan dalam rangka pengambilan gambar sebuah film.

Bangunan itu lebih mujur daripada deretan rumah tak terurus di depan pabrik yang dulu dihuni para pejabat pabrik. Bagian dalam pabrik juga tak lebih baik. Besi rongsok dan serpihan material adalah warisan utama sekaligus saksi bisu kejayaan masa lalu. Lebih mirip lokasi uji nyali.

Aset negara yang pernah berjaya itu mangkrak hampir 20 tahun, sebelum kemudian Kementerian BUMN menugaskan empat BUMN untuk berkongsi membentuk PT Sinergi Tjolomadoe. Tugasnya mengubah fungsi bekas pabrik gula itu menjadi Museum De Tjolomadoe pada 2017.

De Tjolomadoe peninggalan Mangkunegara IV kini diubah menjadi museum pabrik gula.
Bekas mesin refinery air tebu di Colomadu. Foto: dok. shutterstock


Kini halaman depan pabrik dijadikan area kebun bunga berwarna-warni. Dinding dinding pabrik diwarnai kuning gading sehingga tampak cerah dan bersih. Sementara area dalam pabrik penggilingan dijadikan area museum gula. Mesin-mesin penggilingan berukuran raksasa berjajar rapi dan masih terlihat kokoh.

Sedang area Stasiun Ketelan disulap menjadi pusat kuliner, dengan stand-stan yang menawarkan beragam jenis makanan dan minuman. Stasiun Penguapan menjadi area arcade, dan Stasiun Karbonasi menjadi area kesenian dan kerajinan.

Selain itu, di dalam bekas pabrik gula ini juga terdapat restoran berdesain interior yang instagramable, sehingga cocok untuk berswafoto. Begitu halnya di luar ruang, persisnya di bagian timur kompleks, wisatawan juga diberi tempat swafoto di depan cerobong asap yang menjulang ke langit.

De Tjolomadoe kini kembali manis. Ia menjadi destinasi wisata yang kembali membuat bangga warga Surakarta. Lokasinya yang dekat dengan bandara dan juga pintu exit tol, menjadikan wisawatan mudah mengunjungi.

TL/agendaIndonesia

*****

Percikan Air Terjun Subang Selama 2 Hari

Percikan air terjun memberikan kesegaran, bisa dinikmati di wilayah Subang Selatan.

Percikan air terjun bisa menyegarkan pikiran dan raga yang jenuh dengan kesibukan di kota. Tak perlu jauh-jauh melakukan perjalanan. Bagi mereka yang biasa berakhir pekan e Bandung, atau sebaliknya yang dari ibukota Jawa Barat itu ke Jakarta, sekali-kali bisa membelokkan kendaraannya sedikit.

Percikan Air Terjun

Ada pilihan destinasi yang tidak itu-itu saja di antara Jakarta dan Bandung, kali ini sedikit melipir ke . Tepatnya di Subang Selatan. Ada kesejukan percikan air terjun, atau dalam bahsa Sunda disebut curug.

Jalur untuk mencapainya juga menawarkan jejak petualangan baru. Dari Jakarta, jaraknya 157 kilometer. Sedangkan dari pusat Kota Subang ke arah selatan, jaraknya 37 kilometer. DI sana ada hamparan perkebunan teh nan hijau dengan sederet air terjun.

Walaupun masuk wilayah Subang, lokasinya lebih dekat dengan kota Purwakarta. Dari tol Cipularang, wisatawan bisa keluar di pintu tol Sadang, Purwakarta, dan melanjutkan perjalanan ke arah Wanayasa. Bila berangkat dari Bandung, jaraknya 63 kilometer ke utara melalui Jalan Raya Ciater.

Lalu ada apa saja sajian wisatanya? Pilihan destinasinya ada Curug Cikondang, Cilémpér, Cijalu, hingga Cileat. Semburan air dan hawa sejuknya menyegarkan badan dan pikiran. Obyek wisata ini bisa dijajal dalam dua hari di akhir pekan.

Percikan air terjun Cijalu di Subang menarik meskipun masih dikeramatkan.
Percikan Air Terjun Cijalu menyegarkan meskipun kaum hawa mesti menahan diri. Foto: DOk. TL

Hari Pertama: Curug Cijalu

Berangkat pagi dari Jakarta atau Bandung. Bila berangkat pukul 06.00 dari Jakarta, dalam kisaran tiga jam pengunjung sudah tiba di Jalan Raya Ciater, Subang. Sedangkan dari Bandung, tidak sampai dua jam.

Tiba di Subang, wisatawan akan disambut hamparan kehijauan perkebunan teh yang berkabut. Selanjutnya, tinggal menuju Jalan Raya Ciater hingga menemukan jalan ke arah Serangpanjang.

Di sana tujuan pertamanya adalah Wisata Curug Cijalu. Pengunjung harus membayar tiket masuk Rp 10 ribu per orang. Adapun tarif kendaraan sebesar Rp 3 ribu-10 ribu, tergantung ukurannya. Kawasan wisata yang berada di Desa Cipancar, Kecamatan Serangpanjang, ini tidak sulit dicapai. Jalan masuknya beraspal. Area parkir utama akan ditemui setelah 20 menit berkendara dari gerbang. Selanjutnya berjalan kaki.

Sudah ada juga beberapa warung makanan dan cenderamata. Tersedia pula ruang lapang bagi pengunjung yang ingin beraktivitas atau bahkan untuk mereka yang ingin berkemah.

Sekitar 10 menit berjalan dari area parkir, wisatawan bisa menemukan air terjun kecil menuruni batuan alami di sisi kiri, namanya curug Cikondang. Tingginya kira-kira 30 meter. Percikan air terjun nya cukup memberikan kesegaran.

Berjalan kaki lagi 10 menit, ada teras air terjun yang airnya berasal dari Gunung Sunda. Di area sebelum teras, pengunjung bisa menemukan sejumlah kupu-kupu bersayap panjang. Yang indah, kupu-kupu ini dari bagian belakang tubuhnya seperti terlihat semprotan cairan setiap sekitar dua detik sekali.

Kupu-kupu tersebut dikenal sebagai The Green Dragon Tail (Lamproptera meges), biasanya hidup di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Ternyata, meski dikenal sebagai Curug Cijalu, air terjun utama setinggi 50-60 meter tersebut aslinya bernama Cilémpér. Menurut sejumlah pedagang di sana.

Sudah dua curug, tapi belum juga bertemua dengan curug Cijalu. Maka timbul pertanyaan, di manakah Curug Cijalu yang sebenarnya?”

Rupanya cucug yang satu ini masih dikeramatkan. Penduduk, jika tak sedang sibuk berladang, biasanya tidak segan mengantarkan hingga ke air terjun itu.

Perlu tambahan waktu sekitar satu jam untuk menemukannya dari Curug Cilémpér, dengan melintasi jalur basah dan hutan kecil. Selain itu, ada syarat khusus, yakni hanya pengunjung laki-laki yang boleh bermain atau mandi di air terjun yang satu ini. Kaum hawa harus menahan diri untuk menikmati percikan air terjun. Sepulang dari air terjun setinggi 15-20 meter itu, saatnya beristirahat.

Malam bisa dihabiskan menginap di sekitar Ciater. Ada sejumlah penginapan yang menawarkan beragam akomodasi.

Hari Kedua: Curug Cileat

Keesokan harinya, waktunya mengunjungi Curug Cileat. Jalurnya lebih menantang dibanding dengan tiga air terjun sebelumnya. Letaknya juga tidak dekat dari ketiganya. Harus berkendara lagi untuk mencapai Dusun Cibago, Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang.

Kawasan air terjun ini dikelola penduduk sekitar. Tiket masuknya Rp 5 ribu. Disarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal karena lama perjalanannya sekitar 2-2,5 jam. Jalurnya menanjak, berupa medan tanah dan batu yang bersisian langsung dengan hutan kecil dan jurang. Pastikan perbekalan air minum dan makanan mencukupi karena tidak ada warung di sepanjang perjalanan.

Percikan air terjun perlu usaha yang lebih karena letaknya yang cukup jauh.
Percikan air terjun perjalanannya harus melewati pemukiman penduduk yang menjemur paneh hasil bumi. Foto: Dok TL.

Sebelum keluar dari Cibago, berhati-hatilah melangkah. Warga memiliki rutinitas menjemur hasil panen di ruas jalan, semisal biji kopi. Bila merasa lelah, Anda dapat beristirahat sejenak sambil menikmati percikan air di beberapa sisi dinding tebing. Saat bersentuhan dengan sinar matahari, percikan air ini akan memunculkan pelangi. Tak hanya itu, sambil beristirahat, mungkin ada kupu-kupu, capung warna-warni, dan bahkan elang Jawa yang menemani.

Setelah melalui apitan batu menyempit yang dirimbuni pepohonan dan semak terakhir, titik-titik air akan mulai terasa menerpa wajah. Tak lama berselang, terlihat jelas curahan air dari ketinggian sekitar 100 meter di lekuk dinding tebing. Cantik sekali. Itulah sambutan “Selamat Datang” dari percikan air terjun Cileat.

Semakin mendekat, air semakin deras memercik. Hati-hati bila membawa kamera. Lantas, bila tergoda untuk mengelilingi Cileat, menerobos ke balik air terjun seperti yang dilakukan oleh umumnya para pemandu, Anda perlu mewaspadai permukaan pijakan yang licin. Setelah perjalanan panjang, asiknya berlama-lama di lokasi hingga benar-benar puas menghirup udara segar dan tepercik air dingin. Sore nanti, tentu saja harus kembali ke kota asal.

agendaIndonesia

*****

Getuk Pisang Kediri, Enak Sejak 1940

Getuk pisang Kediri menjadi alternatif oleh-oleh selain tahu.

Getuk pisang Kediri seperti ingin “menyaingi” popularitas tahu sebagai oleh-oleh dari kota di Jawa Timur itu. Bedanya, jika yang satu gurih asin, yang ini rasanya manis.

Getuk Pisang Kediri

Makanan bercita rasa asam manis itu cukup mudah dijumpai di kawasan yang terbelah arus Sungai Brantas. Di warung-warung, pasar tradisional, maupun tempat wisata, getuk pisang Kediri dijajakan sebagai penganan di kala bersantai atau menjadi oleh-oleh bagi pelancong yang berkunjung ke kota tersebut.

Lahirnya penganan ini dari kisah masyarakat setempat, sesungguhnya akibat masa kelam orang Kediri di masa penjajahan Jepang. Rakyat Indonesia, tentu saja termasuk masyarakat Kediri, saat itu berada di bawah invasi tentara Nippon, diterpa kesulitan ekonomi.

Getukpisang Kediri menjadi salah satu kebanggaan masyarakatnya.
Salah satu sudut kota Kediri yang punya penganan getuk pisang. Foto: shutterstock

Akibatnya terjadi kesulitan pangan. Bahan makanan yang sulit ditemukan membuat warga mengalami krisis pangan. Masyarakat setempat lantas mencari bahan pangan untuk bertahan hidup.

Kebetulan di bantaran Sungai Brantas banyak tumbuh pohon pisang raja nangka. Ya tentu saja pisang bisa dimakan langsung. Tapi tak mungkin terus-menerus mengkonsumsi pisang secara langsung, selain pisang pun bisa menjadi busuk.

Dari kondisi itu akhirnya timbul ide menjadikan olahan pisang menjadi getuk agar dapat menyambung hidup. Jenis pisang raja nangka yang ukuran buahnya cenderung besar ini kemudian diolah menjadi getuk, agar terasa lebih nikmat ketika dikonsumsi. Getuk pisang menjadi makanan alternatif yang mengeyangkan.

Berdasarkan kajian literatur yang dilakukan Komunitas Pelestasi Sejarah Budaya Kadhiri (PASAK), pembuat pertama kali getuk gedang adalah seorang nenek yang tinggal kawasan Mojoroto, Kota Kediri. Informasi ini ditemukan dari naskah tua di perpustakaan Universitas Negeri Malang.

Jejak pembuatan getuk pisang Kediri pertama kali ditemukan saat masa penjajahan Jepang yang berlangsung pada 1940-an. Pada masa tersebut, masyarakat benar-benar sengsara dan mengalami kondisi kelaparan yang sangat mengenaskan.

Getuk Pisang Kediri kediripedia
Salah satu gerai oleh-oleh di Kediri yang menjual getuk pisang. Foto: dok. milik kediripedia.com

Ribuan pohon pisang raja nangka yang tumbuh di sepanjang Sungai Brantas menjadi anugerah untuk masyarakat kala itu. Ukuran pisang yang besar lantas dicoba diolah dengan cara dikukus. Hasilnya, adonan kukusan pisang ini memiliki rasa yang enak dan mampu menjadi makanan pengganti untuk masyarakat yang kelaparan.

Dari awalnya hanya sebagai makanan darurat, getuk pisang mulai diperjualbelikan. Bentuk jajanan berwarna merah maron ini dulunya dijual dengan cara ditaruh pada cetakan loyang. Apabila ada pembeli, maka akan diiris kotak, seperti halnya penjual getuk lindri yang berbahan dasar singkong.  

Berdasar data dari Pasak, bentuk getuk pisang berubah ketika mulai dipasarkan oleh orang-orang Tionghoa Kediri. Transformasi getuk pisang mencapai puncaknya ketika mulai dikembangkan oleh warga keturunan Tionghoa Kediri ini. Makanan ini, mulai dimasak dengan cara yang lebih baik sehingga rasa yang dihasilkan menjadi lebih lezat.

Salah satunya adalah proses pengukusan pisang yang menggunakan daun pisang sehingga membuat aroma dan rasa makanan ini semakin kompleks. Tak hanya itu, dengan proses memasak yang alami, membuat kandungan nutrisi dari pisang tetap terjaga.

Perubahan yang paling menonjol adalah ketika penyajian tidak lagi menggunakan loyang. Bahan mentah berupa pisang yang telah ditumbuk, lalu dibungkus daun pisang kemudian dikukus. Secara fisik, bentuknya menjadi lonjong menyerupai lontong. Wujud getuk pisang itu tak mengalami perubahan hingga sekarang.

Getuk Pisang Pemkot Kediri
Getuk pisang Kediri bentuknya lonjong seperti lontong. Foto: milik Pemkot Kediri

Getuk pisang Kediri menurut cerita masyarakat setempat paling enak dibuat dari pisang raja nangka, meskipun bisa juga dari jenis pisang lainnya. Keistimewaan pisang raja nangka ini adalah cita rasanya yang khas, yakni asam dan manis meski, misalnya, tanpa tambahan gula.

Rasa manis inilah yang menjadikan getuk banyak disukai orang untuk terus dinikmati. Selain itu, karena dibungkus dengan daun pisang yang hijau, aroma dari getuk ini semakin menggoda. 

Getuk pisang Kediri berbentuk bulat lonjong mirip sekali dengan lontong. Dengan panjang sekitar 15–20 cm. Warnanya merah kecoklatan, teksturnya kenyal tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras.

Untuk mendapatkan getuk pisang ketika mampir ke kota Kediri tidaklah sulit. Pelancong bisa menemukannya di setiap sudut kota itu, mulai dari warung-warung kecil, pedagang asongan, hingga toko oleh-oleh. Harganya pun sangat terjangkau, berkisar antara Rp 2.500 – 5.000 perbuahnya tergantung ukuran dan mereknya.

Jika pun belum mempunyai agenda perjalanan ke Kediri, Anda bisa mencoba membuatnya sendiri. Cara membuat getuk pisang cukup mudah.

Pertama kukus pisang hingga matang, kupas. Setelah itu tumbuk halus dan campur pisang dengan gula serta garam. Disarankan untuk menumbuknya saat pisang masih panas sehingga lebih mudah halus. Setelah semua bahan tercampur, siapkan daun pisang dan bungkus adonan tersebut seperti membuat lontong, dan Anda bisa langsung menikmatinya.

Getuk pisang khas Kediri hanya bertahan satu hingga dua hari saja karena tidak memakai bahan pengawet. Jika disimpan dalam lemari pendingin, getuk pisang bisa bertahan empat sampai lima hari.

agendaIndonesia

*****



4 Hari di Seputar Belitung Yang Mengasyikan

Senja Liburan 4 hari di Belitung

Bisa 4 hari di seputar Belitung? Liburan mendadak ternyata bisa juga dibikin seru. Meski tiket pesawat dan harga sewa kendaraan roda empat tinggi,  karena pilihannya adalah 4 hari di seputar Belitung, ganjalan dana itu seperti terkikis. Maklum, empat hari di pulau, yang merupakan bagian dari Kepulauan Bangka Belitung (Babel), ini benar-benar mengasyikkan.  Bagi saya dan banyak turis, bisa jadi liburan ini nmerupakan liburan yang ingin diulang kembali.  Apalagi pilihannya tak melulu pantai, tapi juga jejak film Laskar Pelangi, bukit hijau, dan tentu sajian kuliner.

4 Hari di Seputar Belitung: Belitung Timur Hari 1

Hari Pertama: Belitung Timur

Penerbangan pendek selama 45 menit ke Tanjung Pandan sungguh tak terasa. Lubang-lubang bekas galian tambang tampak dari atas, tersebar di mana-mana. Pengemudi yang siap mengantar saya rupanya sudah menunggu di pintu ke luar Bandara H.A.S Hanandjoeddin. Ketika kendaraan bergerak, saya menemukan jalan yang mulus dan sepi, tanah kering, serta rumah dengan jarak berjauhan. Hal ini menjadi pemandangan pertama yang saya lihat. Saya berencana menghabiskan waktu empat hari di pulau ini. “Enak itu, kalau cuma tiga hari, keburu-buru banget,” ucap Iqbal, yang menjadi pengemudi merangkap pemandu wisata.

Iqbal menyarankan tujuan wisata hari pertama ialah ke Belitung Timur (Beltim). Setelah melahap ilak bakar, sajian ikan bakar khas pulau dengan tumis kangkung, saya pun berangkat. Perjalanan ditempuh sekitar 1-1,5 jam. Kunjungan pertama ialah ke sekolah, tempat syuting Laskar Pelangi. Kemudian, mampir ke Museum Kata-kata Andre Hirata sembari menikmati kopi kuli.

Keasyikan menikmati kopi, akhirnya kunjungan ke Pantai Burung Mandi batal karena hari sudah terlalu sore. Namun bila Anda punya waktu panjang, tentu jangan dilewatkan. Akhirnya, saya pun kembali ke Tanjung Pandan.

Hari kedua: Tanjung Kelayang & Tanjung Tinggi

Pantai Kelayang salah satu pantai selama 4 hari liburan di Belitung
Pantai Kelayang dalam 4 hari di seputar Belitung

Hari kedua, saatnya melaut. Saya berangkat sekitar pukul 08.00. Tujuan pertama ialah Tanjung Kelayang dan pemilik perahu sudah menelepon. Ia sudah siap mengantar keliling pulau. Pagi yang hening, kendaraan melaju di jalan aspal yang mulus. Tak lama, anak panah ke Pantai Tanjung Kelayang pun tampak. Saya melihat area parkir sudah penuh. Maklum, musim liburan.

Kemudian, saatnya berputar-putar di laut, mulai dari Pulau Pasir, yang hanya berupa seonggok pasir, tempat saya menemukan sejumlah bintang laut, hingga  Pulau Lengkuas dengan mercusuar yang menonjol. Saatnya snorkeling! Setelah lelah mengambang di air, saatnya beranjak. Pengemudi kapal menyarankan untuk tidak membersihkan diri di Pulau Lengkuas, tapi di Pulau Kepayang, sekalian menikmati makan siang.

Rekomendasi yang tepat. Begitu mendekati pulau yang juga disebut Pulau Babi itu, suara musik terdengar nyaring. Rupanya, hanya ada satu restoran di sana. Setelah membilas badan, saatnya kembali menikmati ikan bakar dan tumis kangkung. Benar juga, di pulau ini air di kamar mandi bersih. Meski ada beberapa kamar mandi , tetap harus antre karena jumlah turis membludak.

Di Pulau Kelayang, selain ada penangkaran penyu, ternyata ada penginapan dan bisa menjadi pilihan bagi turis yang ingin menyepi. Perut kenyang, saatnya menyinggahi pulau-pulau lain yang ternyata meski sama-sama penuh dengan batu, bentuknya berbeda-beda.  Misalnya Pulau Batu Belayar dan Pulau Burung, hingga akhirnya kembali berlabuh di Tanjung Kelayang. Saya berniat menyisakan sore untuk menikmati mentari tenggelam di Tanjung Tinggi.

Tiba di Tanjung Tinggi, area parkir penuh lagi. Kondisi cukup ramai karena saya datang di masa liburan. Karena terlalu ramai, waktu kunjungan pun dipersingkat. Lebih baik beristirahat dulu karena kami ingin menikmati makan malam di Pantai Tanjung Pendam yang berada di pusat kota.

Hari Ketiga: Bukit Mentas, Bukit Berahu, dan Icip-icip

Hari ketiga, dicoba pilihan wisata bukan pantai. Tujuan wisata ialah Bukit Mentas, dengan suasana hutan dan sungai yang juga penuh bebatuan. Saya menemukan  Tarsius , si monyet mini  dalam kandangnya. Sore hari, akhirnya kembali ke pantai. Pilihannya ialah Pantai Bukit Berahu di Tanjung Binga dengan restoran di atas  bukit, serta pantai di bawahnya dengan deretan cottage.  Pantai ini berpasir putih nan bersih. Akhirnya, tercapai juga merekam keindahan senja.

Malamnya, hidangan Belitung  jadul di Restoran Belitong Timpo Duluk, Jalan Lettu Mad Daud, Tanjung Pandan menjadi pilihan icip-icip. Hidangan yang sudah jarang dijumpai di pulau ini pun terpapar di meja dengan interior unik. Dinding-dinding dipenuhi perangkat tempo dulu dan benda-benda jadul lainnya.

Hari keempat: Warung Kopi Kong Djie dan Danau Kaolin

Hari terakhir, sebelum terbang kembali ke Jakarta, saya menyeruput kopi di Warung Kopi Kong Djie di Jalan Siburik, Tanjung Pandan. Warung ini didirikan pada 1945 dan menawarkan hidangan kopi serta kopi susu. Ada juga teman minum kopi berupa gorengan. Dilanjutkan menuju toko oleh-oleh, membeli  terasi, aneka kerupuk ikan, juga berbagai sambal khas dari ikan laut.

Persinggahan terakhir adalah Danau Kaolin di Desa Air Raya, yang jalurnya searah dengan perjalanan ke bandara. Danau terbentuk karena galian penambangan kaolin, yang akhirnya menciptakan lubang besar. Airnya terlihat berwarna biru tosca , sedangkan sekelilingnya berupa lahan putih. Tampilan warna ini menciptakan kontras. Tentu menggoda untuk menjadikannya obyek foto. Setelah berfoto, perjalanan menuju bandara dilanjutkan. Kemudian, mengucapkan “Selamat Tinggal Belitung!”

Naskah & Foto: Rita N/TL