3 Jajanan Pagi Bali di Pasar Ubud

BR2016042714

Ubud, Gianyar, Bali memang mempunyai segudang pesona, bahkan jika Anda menyusuri pasar tradisionalnya. Meski sekarang terlihat lebih padat karena belum renovasi setelah terbakar pada 2016. Rencananya, tahun ini Pemerintah Daerah Gianyar akan melakukan revitalisasi. Namun, dalam kondisi padat sekalipun, mencicipi jajanan pagi Bali di pasar saat sarapan tentunya tetap menarik untuk dinikmati. Pilihannya kali ini ke pasar tradisional Ubud.

Pilihan Jajanan Pagi Bali

Bagi yang tidak biasa jalan atau melanglang ke pasar-pasar tradisional, mungkin tawaran sarapan di tempat seperti ini kurang menarik. Bayangan pasar yang sumpek dan mungkin becek bikin tidak nyaman memilihnya. Tapi bagaimana jika tak perlu masuk-masuk?

Di pasar tradisional Ubud, pengunjung tak perlu masuk ke bagian dalam, karena para penjual sarapan ini berada di bagian luar, atau emperan toko di bagian depan. Turun dari kendaraan umum, atau parkiran kendaraan pribadi, pengunjung sudah dapat melihat pedagang jajanan menggelar dagangannya.

Sedikitnya ada tiga pilihan yang khas, yakni bubur Bali, nasi campur, dan jajanan yang manis. Umumnya berdagang dari pukul 04.00-10.00, meski ada juga yang bertahan hingga siang hari. 

Bubur Rasa Pedas 

Ini bukan bubur biasa. Tampilannya memang berbeda dengan bubur yang biasa ditemui di Jakarta atau Pulau Jawa pada umumnya. Di pasar ini, ditempatkan dalam selembar daun pisang dengan cara dipincuk, bubur dari beras putih itu nyaris tak terlihat karena di bagian atas bertumpuk macam-macam olahan. Di antaranya sambal Bali, bawang goreng, serundeng, urap yang terdiri atas tauge, daun singkong, rumput laut, dan telur pindang. Rasa pedasnya tentu menonjol. 

Saya bertemu dengan Gusti Biang Ayu dari Taman Unud. Ia mengaku sudah berjualan bubur Bali sejak kelas 6 SD. Saat itu yang membuat olahan buburnya adalah ibunya sendiri. Kini tentunya ia membuat sendiri, mengikuti jejak ibunya. Ia duduk berjajar dengan ibu-ibu penjual sajian lain sejak pagi hingga pukul 10.00. Per porsi dipatoknya pada kisaran Rp 5.000.

Nasi Campur Plus Ayam Suwir 

Nasi rames khas Bali ini pun bisa ditemukan di sini. Dalam porsi yang ringan bisa ditemukan di bagian depan, tapi di bagian dalam pun ada warung-warung yang menjajakan dengan menu lengkap. Nah, untuk sarapan yang tidak berat tentunya lebih baik yang simpel, yang dijual para ibu yang berdagang di emperan.

Mirip gambaran nasi campur atau nasi rames di tempat lain. Satu porsinya terdiri atas ayam suwir bumbu Bali yang rasanya pedas, orek tempe, mi goreng, serundeng, dan telur pindang. Untuk memulai hari, rasanya cukup mengenyangkan. Soal harga, satu porsinya cukup merogoh kantong sebesar Rp 5.000. Murah bukan?

Ingin nasi campur dengan pilihan lauk berlimpah? Coba masuk ke bagian dalam, ada deretan warung dengan tawaran nasi campur, dengan lauk berpiring-piring. Cuma hati-hati bagi yang Muslim, kadang ada makanan-makanan yang tidak halal. Seperti yang dijajakan Bu Ketut dari Tegalalang, ada telur pindang, sosis babi, jeroan ayam yang digoreng dengan mi telur, ikan asin, sayur nangka, dan ayam merah. Berjualan dari pukul 04.00 hingga pukul 13.00, per hari ia mengolah 10 ekor ayam. Per porsi dijual Rp 10-20 ribu. 

Jaje Bali yang manis 

Ingin memulai hari dengan hidangan manis? Ada beragam pilihan juga di Pasar Ubud. Dikenal sebagai jaje atau jajanan Bali. Dalam satu wadah, seperti yang dijual Made Musti, 56 tahun, ada beberapa olahan. Perempuan asal Gianyar itu menyebutkan satu per satu dagangannya, seperti batun bedil yang mirip seperti kolak biji salak. Selain itu, ada jajan ketan—olahan ketan yang dibubuhi kelapa muda,laklak alias serabi hijau berukuran kecil, dan bubur injin yang terbuat dari ketan hitam. 

Setiap pedagang yang menjajakan olahan manis ini memang mempunyai satu wadah khusus untuk bermacam-macam bubur. Tak hanya bubur ketan hitam, ada juga bubur sumsum yang berwarna hijau karena dibubuhi air daun pandan. Hingga aromanya pun tercium khas. Ibu Mudri dari Klungkung mengaku menjual per hari hingga 100 bungkus aneka bubur rasa manis buatannya sendiri tersebut.

Rita N.

Tembok Bukittinggi, Tembok 1,5 Kilometer

Tembok Bukittinggi disebut sebagai Tembok Besar berukuran mini.

Tembok Bukittinggi atau orang juga menyebutnya Jajang Koto Gadang adalah wisata trekking yang layak dicoba jika mengunjungi Sumatera Barat. Meskipun rutenya tak terlalu Panjang, tapi tetap perlu stamina yang prima jika ingin menjajalnya

Tembok Bukittinggi

Jadi ceritanya, di kota Bukittinggi, Sumatera Barat, sekitar 10 tahun terakhir ada obyek wisata mirip great wall di Cina, tapi berskala mini. Diresmikan Januari 2013, setiap akhir pekan tembok tersebut selalu dipadati turis domestik maupun asing.

Disebut Tembok Besar Mini karena panjangnya “hanya” 1,5 kilometer, tinggi 2 meter, dan lebar 2 meter, dengan sekitar 1.000 anak tangga. Bentuk bangunannya melingkar-lingkar mirip Tembok Besar Cina. Trek ini menghubungkan dua tebing yang telah dikenal dengan obyek wisata Ngarai Sianok dan Goa Jepang.

Kedua ujung tembok itu menghubungkan wilayah Panorama dengan Koto Gadang, sehingga sering juga disebut Jajang Koto Gadang (Tembok Koto Gadang). Lokasinya sekitar 5 kilometer dari jam gadang dan terletak satu kompleks dengan Goa Jepang dan Ngarai Sianok, yang berpanorama indah. Warga setempat menyebut lokasi ini dengan nama Panorama.

Meskipun baru diresmikan pada 2013, sejatinya lintasan tembok Bukittinggi ini sudah ada dari zaman kolonial yang berfungsi sebagai penghubung dua Nagari, yaitu Nagari Koto Gadang dan Nagari Ngarai. Dahulunya masyarakat memanfaatkan sebagai jalur pengantaran logistik. Pengunjung bisa membayangkan perjuangan masyarakat dahulu untuk saling membantu.

Janjang Koto Gadang menghubungkan kawasan Bukittinggi dan Agam. Dilongok dari situs resmi Pemerintah Sumatera Barat, objek baru ini menambah ikon bagi pariwisata di Sumatera Barat. Tembok Bukittinggi atau Great Wall ala Sumatera Barat ini, karena menghubungkan dua tempat, maka ada dua pintu masuk bagi wisatawan yang ingin menapakkan kaki di tembok raksasa kecil ini.

Tembok Bukittinggi merupakan trek yang cukup panjang, sekitar 1,5 kilometer, dan menghubungkan dua spot wisata di Sumatera Barat.
Jalur mendaki dari Tembok Bukittinggi. Foto: Dok. TLTembok Bukittinggi

Dari Bukittinggi, wisatawan bisa masuk lewat pintu yang letaknya tak jauh dari Lobang Jepang. Dari sana, wisatawan akan melalui jalan yang menurun. Sebaliknya, jika memilih memulai perjalanan dari sisi Ngarai Sihanok, maka jalanan cenderung agak mendaki. Begitupun, trek ini tetap berkontur naik turun. Sesuai kontur daerah tersebut.

Jalur trekking yang dilewati jelas tidaklah landai, melainkan berkontur naik dan turun dengan ribuan anak tangga. Walau begitu terdapat dua pilihan trek yaitu trek menurun yang dimulai dari pintu Goa Jepang, dan trek berkelok dan sempit jika ditempuh dari Ngarai Sianok.

Untuk menikmati wisata Great Wall of Bukittinggi, wisatawan tidak dikenai tiket masuk. Namun jika membawa kendaraan pribadi, ada biaya parkir.

Wisatawan memulai perjalanan dari mulut Goa Jepang, keluar dari gua, dan berjalan sepanjang 300 meter menuju tangga pertama Tembok Besar Bukittinggi. Terbuat dari batako, sepanjang kanan-kiri tembok dipenuhi pemandangan indah lembah Ngarai Sianok.

Siap-siap terpana dengan pemandangan yang disuguhkan. Mata pengunjung akan segera dihadapkan dengan kemegahan Ngarai Sianok, persawahan dan tebing-tebing gahar. Jangan sia-siakan kesempatan untuk mengabadikan momen lewat jepretan lensa kamera. Berposelah layaknya berada di Tembok Besar Cina. Cari spot yang mirip-mirip. Pengambilan jarak jauh perlu dipertimbangkan dengan latar belakang tembok yang meliuk-liuk.

adli hadiyan munif IRT hol0XUA unsplash
Tembok Bukittinggi juga memberi spot untuk melihat jam Gadang di Kota Bukittinggi. Foto: Dok. unspalash

Sepanjang lintasan pengunjung disuguhkan hijaunya pemandangan alam. Penampakan Jam Gadang akan terlihat saat pengunjung berada di puncak lintasan. Pengunjung juga dapat melihat Taman Panorama di bukit seberang. Di akhir lintasan, pengunjung akan berdiri di tengah lembah tempat mengalirnya Batang Sianok.

Selain treking, di sana juga ada jembatan gantung dan anak tangga yang tinggi. Beberapa titik pun disiapkan pos-pos pemberhentian. Selain untuk tempat beristirahat, pos-pos ini juga bisa dipakai menikmati pemandangan sungai, sawah, dan tebing.

Wisatawan perlu memiliki stamina kuat untuk menjelajahi tempat ini. Jika ingin menuntaskan perjalanan Janjang Koto Gadang ini, sebaiknya pengunjung menyiapkan air minum. Jarak tempuh sejauh 1,5 kilometer ini akan membuat tenggorokan kering kehausan. Dan ingat, tak ada orang berjualan di dalam trek.

Menariknya, objek wisata ini dikelilingi tebing terkenal yaitu Ngarai Sianok dengan pemandangan alam yang indah. Selain itu udara di kawasan ini juga cukup segar sehingga cocok untuk melepas penat dan berjalan-jalan.

Keasrian dan kesan alami masih terjaga di sekitar kawasan wisata. Tidak jarang satwa liar menghampiri pengunjung. Para kera ekor panjang sering beratraksi dan mencuri perhatian pengunjung. Kera-kera ini kerap berlari dan bergelantungan ke pohon jika didekati para pengunjung. Begitupun pengunjung tetap harus hati-hati.

agendaIndonesia

*****

Kerajinan Cirebon, 4 Yang Bisa Dikoleksi

Kerajjnan Cirebon ternyata banyak macamnya, ada yang dari kaca.

Kerajinan Cirebon tak Cuma batik Trusmi yang sudah sangat popular itu. Ada kerajinan lain di kota Udang ini yang perlu dilirik dan bisa dikoleksi. Tentu, Trusmi tetap wajib dikunjungi jika mampir ke kota di pesisir utara Jawa Barat ini.

Kerajinan Cirebon

Cirebon ternyata merupakan gudang aneka kerajinan tangan dengan bahan baku yang beragam. Kulit kerang, kaca, dan rotan dimunculkan dalam corak dan nuansa berbeda karena kentalnya perpaduan budaya Cina, Arab, dan domestik Jawa Barat, khususnya Cirebon sendiri. Pengunjung pasti leluasa dan nyaman berjalan-jalan karena bisa membeli cenderamata itu di lokasi perajin maupun toko-toko suvenir yang ada di tengah kota.

Berikut ada 4 kerajinan Cirebon yang bisa menjadi pertimbangan dikoleksi atau jadi cindera mata.

Batik Trusmi yang Mendunia

Urutan pertama kerajinan Cirebon yang wajib kunjung tentu saja pusat pembuatan batik Trusmi bila berkunjung ke kota ini. Pertama kali memasuki Kampung Trusmi, Kecamatan Plered, yang berjarak 4 kilometer dari pusat Kota Cirebon, biasanya pengunjung akan melihat beberapa pekerja menjemur kain batik yang masih berlapis lilin dalam cuaca terik.

Kerajinan Cirebon paling popular tentu saja batik Trusmi dengan motif megamendung
Batik Cirebon dengan morif yang maling terkenal, mega mendung. Foto: dok.shutterstock

Coba saja masuki salah satu dari puluhan toko yang menjual batik di pusat pembuatan dan penjualan batik Cirebon itu. Biasanya akan tampak puluhan pekerja sibuk menyelesaikan pembuatan batik. Ada teknik berbeda-beda, di antaranya tulis, cap, atau kombinasi keduanya.

Batik Cirebon memiliki kekhasan dalam warna dan motif. Dari corak, sedikitnya ada lima jenis, yakni batik wadasan atau Keratonan, geometris, byur, Pangkaan, dan Semarangan. Tapi yang paling sering diburu pengunjung adalah batik Keratonan.

Motif yang khas adalah singo barong, naga seba, sawat, dan mega mendung dengan warna-warna cerah. Batik ini dijual seharga Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah.

Batik Trusmi, Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Cirebon

Dekorasi Rumah dari Kerang

Di sebuah industri rumahan di Desa Astapada, seberang flyover tol Kecamatan Tengah Tani, Cirebon Barat, para pekerja menyulap limbah kerang menjadi perabotan unik dan berkualitas. Usaha berlabel Multi Dimensi Shell Craft ini dimiliki Nur Handiah Jaime Taguba. Bingkai foto, cermin, lampu gantung, kursi, tempat tidur, dan bahkan helm tak luput dilapisi kulit kerang. Harganya sangat variatif, dari Rp 10 ribuan hingga jutaan.

WA2013051425
Kerjainan Cirebon yang berbahan kerang. Foto: Dok. TL

Mulanya, Nur mengekspor kerang sebagai bahan baku ke Korea. Kemudian, ia pun tergerak untuk mengolah sendiri. Ia menggunakan kerang simping, yang lebar, sebelum bereksperimen dengan jenis kerang lainnya. Karya kerajinan Nur awalnya hanya punya dua warna dasar, yakni perak dan emas, tapi lantas diberi warna beragam. Pemesannya pun berasal dari mancanegara, seperti Timur Tengah, Amerika, Eropa, dan juga Asia, semisal Jepang.

Multi Dimensi Shell Craft, Desa Astapada, Kecamatan Tengah Tani,  Kabupaten Cirebon

Lukisan Kaca Terbalik

Pada siang yang terik di sebuah galeri di Jalan Kartini, Hendy, sibuk mengelap kaca berukuran 50 sentimeter. Kuas dan cat besi berserakan. Ia memang menggunakan kaca bening tak berwarna untuk menuangkan imajinasi.

Uniknya, ia melukis secara terbalik atau di belakang kaca, sehingga gambar bisa dinikmati dari sisi depan. Teknik melukis ini diperkirakan hadir di Cirebon sejak empat abad silam bersamaan dengan masuknya Islam ke Kota Udang.

Di masa pemerintahan Panembahan Ratu, lukisan kaca digunakan untuk media dakwah karena obyek lukisan adalah tokoh wayang dan kaligrafi ayat Al-Quran atau hadis. Kemudian, lukisan kaca berkembang mengikuti zaman, para seniman seperti Hendy pun melukis motif tradisional Cirebon secara abstrak.

Ada ratusan pelukis kaca di kota ini. Mereka kebanyakan menggambar obyek karakter wayang, seperti Arjuna, Kresna, dan Rama, selain potret pribadi atau keluarga. Harga lukisan mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah, tergantung tingkat kesulitan gambar. Beberapa kali Hendy mengaku melukis dengan tiga atau lima lapis kaca untuk menguatkan dimensi lukisan pesanan pembeli. Tentunya kreasi itu harus dibayar dengan harga tinggi.

Galeri Lukisan Kaca, Kedai Kopi Rempah Brana, Jalan Kartini No 20, Cirebon

Kerajinan dan Perabotan Rotan

Jika pengunjung keluar dari gerbang tol Plumbon, sekitar 500 meter di kanan-kiri Jalan Tegalwanangi menuju Kota Cirebon, mereka akan menemukan deretan kios penjual kerajinan Cirebon berbahan rotan. Desa Tegalwangi adalah sentra kerajinan rotan, yang menjadi salah satu komoditas unggulan Cirebon.

Jika masuk lebih jauh ke dalam desa itu, wisatawan bisa menyaksikan puluhan pegawai industri rumahan tengah membuat kursi, meja, pembatas ruangan, kuda-kudaan, keranjang, tutup makanan, dan lain-lain.

Jika perlu, jangan langsung menentukan satu toko untuk membeli. Cona masuki tiga atau empat tempat produksi rotan yang memiliki fungsi berbeda. Pertama, tempat pemotongan rotan dan, kedua, tempat pengolahan bahan baku rotan menjadi berbagai kerajinan.

Kaum pria biasanya membuat kerangka dan memanaskan rotan dengan api, sehingga bisa dibentuk sesuai keinginan. Sedangkan kaum perempuan menganyam rotan dan mematenkan anyaman ke kerangka dengan menggunakan strapless listrik.

Rampung dibuat, rotan dibawa ke lokasi ketiga untuk tahap finishing. Serabut dihilangkan dengan cara ditempelkan ke api. Proses terakhir adalah pewarnaan dengan mencelupkan rotan ke dalam bak yang telah diisi pewarna. Setelah itu, rotan dijemur dan siap untuk didistribusikan.

Industri rotan ini kini tak seramai beberapa tahun lalu karena para perajin semakin sulit memperoleh bahan baku rotan dari Kalimantan. Beberapa pengusaha pun menggantinya dengan rotan sintetis. Namun sebenarnya masih cukup banyak permintaan kerajinan rotan dari berbagai daerah di Indonesia. Harga barang bisa dipatok mulai puluhan ribu hingga Rp 2 juta untuk satu set meja dan kursi.

Sentra Kerajinan Rotan, Desa Tegalwangi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon

agendaIndonesia/TL

*****

Menoreh Restaurant, 1 Kuliner di Kawasan Borobudur

Interior Menoreh Restaurant

Plataran Heritage Borobudur, Hotel & Convention Hall, memang seperti dikepung bukit dan persawahan. Selain perbukitan Tidar di sekitar Magelang, jauh di depannya, terlihat Bukit Menoreh. Mungkin karena itu, tempat makan di hotel tersebut menggunakan nama Menoreh Restaurant. Lokasinya tidak jauh dari kawasan Candi Borobudur.

Interior Menoreh Restaurant

Sesuai dengan tema hotel yang bergaya kolonial, restoran ini pun berhias pernak-pernik jadul alias jaman dulu. Timbangan lawas salah satunya. Kemudian juga keramik-keramik tinggi, yang biasanya sebagai tempat minum, menjadi hiasan di antara wadah-wadah dari tanah liat pada tatanan menu prasmanan. Pada salah satu keramik, tertulis Bacterievrij Akiz-Filter, sementara yang lain ada yang berlukiskan pohon nyiur dan beberapa polos tanpa tulisan ataupun gambar. Piring keramik kuno pun menghiasi salah satu dinding. 

Seluruh tatanan dan dekorasi ini memberi kesan kuat nuansa masa lalu. Terutama kaitannya dengan jaman Belanda. Tak cuma dekorasi, interiornya pun memperkuat kesan masa lalu itu.

Tak ketinggalan, di bagian bawah pun dipasangi ciri khas jadul berupa ubin warna-warni model lama. Dari putih-hitam sampai yang penuh ornamen dalam beberapa warna. Semua hiasan klasik itu terlihat harmonis dan membuahkan kenyamanan. 

Kursi-kursi makan dipilih berbentuk simpel dalam warna cokelat tua. Tentunya tak memberi kesan terlalu formal. Di sanalah saya duduk dan langsung memesan teh jahe yang hangat untuk memulihkan tubuh setelah perjalanan panjang dari Jakarta, sembari menunggu hidangan utama dari resto yang menyuguhkan menu Indonesia dan Asia ini. Untuk yang memilih menu prasmanan, ada minuman lokal yang tidak boleh terlewatkan, yakni kunyit asam yang rasanya menyegarkan. Selain itu, tersedia beras kencur. Restoran bisa disambangi saat sarapan, makan siang, dan malam. Jam operasional memang cukup panjang, yakni pukul 06.00-23.00. 

Siang itu, pilihan menu Saya adalah gurame asam manis. Ikan gurame yang dibalut tepung terasa gurih tanpa rasa amis. Dan tentunya guyuran saus asam manis yang menyegarkan. Pilihan yang tepat untuk makan siang. Gurame asam manis memang salah satu menu unggulan meski bukan satu-satunyaandalan. Masih ada pilihan lain, seperti nasi uduk komplet. Nasi yang gurih ini dipadu dengan ayam goreng, potongan telur dadar, sambal kacang, irisan mentimun, dan yang mengejutkan ada beberapa keping jengkol. 

Bila tak ingin icip-icip hidangan lokal, Menoreh juga menawarkan olahan Asia. Penggemar nasi briyani, misalnya, bisa memilih prawn sauteed brochette, yang tak lain adalah paduan nasi briyani dengan udang bakar, mango chutney, dan yogurt tanpa rasa. Soal yogurt ini, Menoreh memproduksinya sendiri. Rasanya lembut. Untuk penutup hidangan, bisa juga ditemukan yogurt dengan berbagai rasa di menu prasmanan. 

Bila singgah saat makan malam, pilihan bisa dijatuhkan pada Duo of Australian Lamb, dua potong daging kambing yang penampilannya terlihat cantik karena ditemani eggplant-ratatouille involitinidan pommes gratin. Untuk bagian akhir, ada yang manis, yang membuat acara bersantap menjadi berkesan. Chef Iqbal Batubara, sang maestro di dapur hotel ini, menawarkan baked pear surprise, buah pear panggang yang dipadu dengan saus berry, juga coffee trio, paduan tiga sajian coffee panna coltacoffee and chocolate tart, dan mocha parfait. Lengkap sudah! 

Rita N

Batik Madura (2), yang Unik dan Ngejreng Khas Pamekasan

RK27012017008

Setiap kota di Madura memiliki batik khas, termasuk Sampang dan Sumenep. Selain batik Madura khas Bangkalan dan batik Pamekasan juga tengah naik daun. Kedua kota ini berjarak sekitar 96 kilometer. Pamekasan berada di sisi selatan, sedangkan Sumenep berada di ujung timur pulau ini. Warna-warna ngejreng menjadi ciri khas dari batik Pamekasan. Di kota ini, seperti juga di Bangkalan, ada pasar khusus batik. Namanya Kompleks Pasar 17 Agustus. Lokasinya terletak di Jalan Pintu Gerbang. Hampir semua kios menjual batik serupa, tapi kebanyakan batik Pamekasan. 

Kampung Batik Madura

Lokasi kampung batiknya tak terlalu jauh dari pusat kota. Kecamatan Proppo memiliki beberapa kampung batik, di antaranya Desa Rangperang Daya dan Desa Klampar. Untuk menuju ke sana, hanya memerlukan waktu 10-15 menit dari pusat kota. Suatu pagi, di Dusun Banyumas, Desa Klampar, saya melihat kaum ibu membatik di depan rumahnya. Salah satunya Khatimah, 30 tahun, yang langsung tersenyum ketika saya dekati. 

Ibu dua anak ini sudah membatik sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kini kegiatan itu ia lakukan hampir setiap hari setelah mengurus anak dan memasak. “Kadang sambil ngerumpi juga,” ujarnya sembari tertawa. Ia membatik di atas kain samporis, motif sederhana yang dengan cepat diselesaikannya. “Motifnya di sini besar-besar dan gablak (warna-warni),” katanya. Menurut Khatimah, batik yang sedang tren adalah pancawarna. “Cirinya berwarna terang dan tabrakan,” ucapnya. Warna kinclong itu tentunya dari pewarna kimiawi. Warna batik Pamekasan memang ke luar dari pakem batik umumnya. Batik ini memunculkan warna menyala, terutama oranye, ungu, kuning, juga hijau.

Soal harga, batik Pamekasan tergolong miring. Tergantung kain yang digunakan, corak, serta warna. Coraknya pun cenderung tak memenuhi lembaran kain. Harga terendah berkisar Rp 50-75 ribu. Rupanya harga tersebut justru yang paling banyak dibeli. Untuk batik yang menggunakan katun super, harga terendah Rp 100 ribu. Tapi kisaran harga umumnya antara Rp 65-350 ribu per lembar. Di kampung ini, batik yang tengah naik daun adalah motif sekar jagad. “Maksudnya, segala corak masuk, pokoknya sejagad. Rumput, daun, dan garis-garis,” tuturnya. 

Tak jauh dari Desa Klampar, ada Desa Rangperang Daya. “Di Rangperang Daya, batiknya lebih halus,” kata Kholili dari Batik Podhek Al-Barokah di Rangperang Daya. Selain itu, ada kampung batik di Desa Kowel yang lebih banyak menggunakan warna dasar putih. l

Rita N

Batik Madura, (1) Pewarnaan di Dalam Gentong

Batik Madura dengan pewarnaan alami

Madura tak selalu identik dengan karapan sapi, garam, atau bebek Sinjay. Pulau di utara Jawa Timur ini juga punya batik. Beberapa tahun terakhir, batik Madura sinarnya makin benderang bagi pecinta batik di Indonesia, juga mancanegara.

Adalah Kampung Batik Tanjungbumi di pesisir utara pulau garam ini yang menjadi semacam sentra batik khas Madura. Sesungguhnya, jika wisatawan menuju Madura melewati jembatan Suramadu, maka begitu lepas jembatan yang menghubungkan dengan Surabaya ini, di Kota Bangkalan mereka sudah disuguhi gerai batik Madura.

Motif Batik Madura

Lokasi Kecamatan Tanjungbumi yang terkenal dengan batik Gentongan, batik yang menggunakan pewarnaan alami dan proses pembuatan nan panjang sekitar satu jam perjalanan dari Bangkalan. Atau sekitar 45 kilometer dari kota itu.

Aroma laut tercium ketika kendaraan mulai masuk ke jalan kecil tak jauh dari pasar. Tak lama papan nama perajin batik pun bermunculan. Papan nama Batik Naraya, Jalan Pelabuhan Sarimuna, Peseseh, Tanjungbumi, Bangkalan, yang dipasang tampak memudar. Maklum, usaha batik ini sudah turun-temurun diwariskan dari nenek dan ibunya. 

Ada sekitar empat perempuan yang tengah bekerja. Masing-masing menangani hal berbeda-beda. Seorang ibu tengah memberi malam pada motif, sedangkan di bagian belakang, perempuan lain menyelupkan kain bercorak ke air pewarna yang mendidih. Perempuan lain menjemur kain batik setelah mencelupkannya ke air bersih. Satu lagi, berada di depan batik yang tengah digantung. Tangan-tangan bergerak naik-turun di atas batik, membuang malam yang tersisa. “Itu lagi melorot, membuang malam terus mengais, dan membersihkan sisa-sisanya,” kata Misnari, pemilik Batik Naraya. 

Nyaris setiap perempuan di Tanjungbumi bisa membatik. Tapi untuk pewarnaan, kata Misnari, hanya ada di tiga tempat di kecamatan itu.

“Proses pewarnaannya pakai gentong,” ujar mbak Nari, sapaan akrab Misnari menjelaskan asal nama Gentongan. Kain batik bercorak direndam dalam gentong pewarna selama berbulan-bulan. Ciri warnanya memang cenderung gelap karena variasi pewarna alami tak berlimpah. Warna cerah yang muncul biasanya merah dan biru. Itu pun tak terlalu menonjol. Kain cenderung penuh dengan corak yang beragam. Proses pembuatan kain Gentongan memerlukan waktu panjang, yakni enam bulan hingga setahun. “Pewarnaannya itu saja. Paling cepat tiga bulan,” ucapnya. Tak heran jika harganya dipatok antara Rp 3-5 juta. 

Ia menyatakan batik Gentongan berbeda dengan batik sederhana, seperti jenis torcetor yang hanya memerlukan waktu seminggu. Bahkan dalam sehari, bisa mendapat dua lembar kain. Sedangkan, dalam satu lembar batik Gentongan, bisa muncul beberapa corak dan pewarnaannya dua sisi. Sebab, kedua sisi kain Gentongan dibatik. Berbeda dengan batik umumnya yang hanya satu sisi. Belum lagi proses membuat pewarna alami yang memakai saga, mengkudu, dan lain-lain. 

Berada di daerah pesisir dengan mata pencarian utama para pria sebagai nelayan, membuat corak berbau bahari banyak menjadi inspirasi. “Motif asli sini adalah sik malaya, pantai, serta berlayar. Hal ini karena suami nelayan dan ini jadi khas Madura,” tuturnya. 

Dengan berpatok pada ide mengenai perahu, berlayar, dan pantai, memunculkan banyak variasi corak. Ditambah pula beberapa motif lain khas Tanjungbumi, seperti panji susi, pempadi (bunga padi), bulu ayam, tesate (tusuk sate), turun hujan, mo’ramo’ (akar-akaran), beragam bunga, juga burung. Motif itu terus berkembang seiring waktu. Namun, menurut Nari, yang tergolong baru adalah telenteh (lidi) dengan warna campuran alami dan kimiawi. 

Ia mengatakan dahulu batik digunakan hanya untuk salat. Kini pengrajin membuat perangkat lengkap, yakni dari kainsampai selendang untuk membuat perempuan tampil prima dalam balutan batik Gentongan. Untuk paket lengkap tersebut, bisa mencapai Rp 5 juta. Meski demikian, ia tetap membuat batik tulis sederhana yang pengerjaannya sekitar seminggu dengan nilai jual mulai Rp 100 ribu. 

Rita N

Tanjungpinang, Antara Kesultanan Melayu dan Wisata Religi

Vihara Avalokitesvara

Terdapat sekitar 2.408 pulau besar dan kecil di Provinsi Kepulauan Riau. Hanya saja, yang paling dikenal adalah Pulau Batam dan Pulau Bintan. Adapun Pulau Bintan adalah tempat Kota Tanjungpinang berada. Dengan budaya Melayunya yang kental, di sini wisatawan bisa mengenal lebih dekat kesultanan Melayu, mengunjungi vihara unik, dan tentunya menikmati keindahan pantai Pulau Bintan. 

Tanjungpinang dan kesultanan Melayu

Sejarah Kesultanan Melayu bisa didapat bila pelancong singgah ke Pulau Penyengat yang bisa dicapai hanya 15 menit perjalanan dengan perahu dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjungpinang. Di pulau berukuran 3,2 kilometer persegi ini, wisatawan bisa menelusuri sejarah Kesultanan Melayu karena pada abad ke-18 merupakan pusat Kesultanan Johor-Riau. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Raya Sultan Riau. Selain itu, ada beberapa peninggalan lain, seperti tempat pemandian Perigi Puteri, gudang mesiu, makam raja, rumah-rumah asli, dan meriam di Bukit Kursi. 

Ketika kembali ke Tanjung Pinang, terdapat tempat ibadah umat Budha yang menarik untuk dikunjungi, yaitu Vihara Avalokitesvara Graha yang berada di jalur Tanjung Pinang-Uban. Vihara itu disebut-sebut sebagai vihara terbesar se-Asia Tenggara. Di bagian dalamnya, ada patung Dewi Kuan Yin dengan tinggi 16,8 meter yang berlapis emas 22 karat. Selain itu, ada sejumlah wihara lain yang unik. Misalnya, Vihara Patung Seribu yang memiliki 1.000 patung Budha dengan ekspresi dan gaya yang berbeda-beda.

Saat perut keroncongan, ada beragam sajian khas kota ini, seperti gonggong, sup ikan, ikan asam pedas, nasi lemak, hingga mi lendir, mi kuning basah yang diguyur dengan kuah kacang encer. Adapun bila ingin bersantai, ada deretan kedai kopi yang biasa dijadikan tempat nongkrong oleh warga. 

Malam hari, bisa Anda habiskan untuk menikmati pantai dan hembusan angin laut. Tanjungpinang memiliki garis pantai yang cukup panjang, dan yang menarik adalah pesisir timurnya. Dari mulai Pantai Trikora, pantai yang berpasir putih dengan hiasan batu-batu granit. Selain itu, ada sejumlah akomodasi bagi wisatawan yang ingin mencecap suasana lebih lama dan nyaman.Melangkah lebih jauh lagi atau sekitar 65 kilometer dari Tanjung Pinang, ada Pantai Lagoi yang dipenuhi resor dan hotel berbintang. Akomodasi dan sarananya lengkap, bahkan terdapat lapangan golf. Kawasan wisata di Kabupaten Bintan ini digandrungi turis Korea, Cina, Jepang, dan Singapura. Bagi warga dari Negeri Jiran, Malaysia, dapat mencapainya lebih cepat dengan kapal feri khusus dari Tanah Merah, Singapura, dengan jumlah keberangkatan empat kali dalam sehari. l

F. Rossana

Indahnya 1.000 Batuan di Pantai Ranai

Batuan di Pantai Ranai, Natuna

Menjelajahi Natuna, di Provinsi Kepulauan Riau, mungkin banyak yang belum tertarik. Pilihan terbangnya pun harus dari Jakarta ke Batam atau ke Tanjungpinang, baru lanjut ke Natuna. Jika mengunjunginya, sempatkan mampir ke Pantai Ranai.

Pantai Ranai di Pulau Bunguran

Kabupaten merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan sejumlah negara dan mempunyai potensi wisata berlimpah, selain potensi perikanan dan migasnya. 

Terdiri atas 272 pulau dan merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Tujuh, Natuna memiliki pilihan beragam untuk wisata bahari. Namun bila cuaca sedang tidak bersahabat atau Anda hanya memiliki waktu pendek, berkeliling di Pulau Bunguran, tempat Ibu Kota Kabupaten Natuna berada, pun tetap menyenangkan. Di sana ada beberapa titik di seputar Ranai yang menarik untuk disinggahi. 

Batu-batu kecil dan besar yang bertaburan di tepian pantai menjadi ciri dari pantai-pantai seputar Ranai. Salah satu lokasi yang tidak jauh dari pusat Kota Ranai adalah Batu Sindu. Untuk bisa melihat bebatuan yang berserakan di bagian bawah atau di dekat tebing, Anda harus menaiki Bukit Senubing. Di sana Anda akan melihat bebatuan dengan ukuran dan bentukyang berbeda-beda, serta terlihat unik. Selain itu, batuan tidak hanya berada di bagian bawah, tapi juga bertebaran di perbukitannya. 

Tidak jauh dari Batu Sindu, masih ada keindahan bebatuan lain yang lebih tertata dan diberi label Alif Stone Park. Bahkan, ada juga homestay bagi Anda yang ingin menginap di sini. Lokasinya di Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, dari Ranai sekitar 7 kilometer atau bisa dicapai dalam 10 menit. Di lokasi favorit untuk selfie atau wefie bagi kebanyakan wisatawan ini, Anda bisa menikmati laut dan bebatuan yang bertebaran. 

Setelah Alif Stone Park, sekitar 4 kilometer bisa ditemukan objek wisata lain, yakni Pantai Tanjung. Pantai ini menjadi tujuan favorit penduduk Ranai menghabiskan akhir pekan. Pantai panjang berpasir putih itu biasanya memang hanya ramai pada Sabtu dan Minggu. Namun di hari biasa pun, sebagian kedai yang berada di sepanjang pantai tetap buka. Jadi, wisatawan bisa mampir, duduk, dan bersantap, sembari menatap Pulau Senoa dari kejauhan. Pulau Senoa dikenal yang dengan bentuknya seperti ibu hamil itu, bisa dicapai dengan perahu cepat sekitar 15 menit. Pulau tersebut memiliki pasir putih dan spot untuk snorkeling maupun menyelam.

Saat duduk-duduk di Pantai Tanjung ini, jangan lupa mencicipi camilan khas lokal yang bernama kernas. Kernas terbuat dari ikan tongkol dengan sagu dan ada benjolan putih dari bahan sagu. Sehingga sekilas terlihat mirip onde-onde, hanya saja bentuknya gepeng dan berwarna cokelat tua. Kernas yang dicocol sambel rasanya gurih dan pedas. Apalagi kalau masih panas, sedap rasanya. 

Sore atau pagi hari, ada pilihan pantai juga di tengah kota. Pantai Kencana dengan taman di depannya, bisa menjadi pilihan saat duduk-duduk di sore hari atau jalan di pagi hari sembari menghirup udara segar. Selain ini, tentunya masih banyak pilihan objek wisata meski lokasinya lebih jauh dari pusat kota. 

1 Gendang Mengiring 3G Tari Jaipong

original PML2013100904

Sejak bonang dan gendang mulai ditabuh, hentakan irama rancak menjalar ke seluruh penjuru ruang pertunjukan. Di atas panggung, seorang penari bergerak mengikuti suara gendang menarikan gerakan tari jaipong berputar sembari memainkan selendangnya. Para penonton pun bersiap menyaksikan jaipong Jawa Barat, tari tradisional masyarakat Sunda yang bergulir sejak abad ke-20.

Sejarah Tari Jaipong

Asal-mula jaipong Jawa Barat memang belum terlalu lama, baru sekitar tahun 1976 ketika seniman bernama H. Suwanda (1950–2017) mulai mengulik seni musik dan tari di Karawang. Suwanda adalah seorang maestro seni tradisi Topeng Banjet, tari Ketuk Tilu, sekaligus juru kendang yang mahir. Berbagai kesenian khas Karawang ini ia padukan hingga membentuk irama baru, yang menjadi cikal bakal Tepak Jaipong.

Tepak atau tabuhan kendang Suwanda mengalun cepat dan patah-patah, memicu penari atau pemain teater di depannya untuk bergerak maju mundur dengan dinamis. Banyak orang meyakini bahwa nama jaipong sendiri merupakan onomatope atau kata yang berasal dari tiruan bunyi kendang.

Kreasi baru ini meraih banyak penggemar dengan cepat. Suwanda pun merespons peluang dengan merekam tabuhan kendangnya melalui media kaset. Ia membuat rekaman tanpa label dan mendistribusikannya secara swadaya ke wilayah Karawang dan sekitarnya. 

Gaung tepak kendang semakin meluas, hingga akhirnya sampai ke telinga seniman Bandung, Gugum Gumbira Tirasonjaya. Di tangan Gugum, jaipong menjadi sebuah paket seni pertunjukan yang matang dan lebih terstruktur. Sebagai seorang koreografer, ia mengenal betul perbendaharan pola gerak tari-tari Sunda. Hasilnya, Jaipong berkembang menjadi seni gerak dan irama yang khas dan bisa dinikmati semua kalangan, termasuk masyarakat modern.

Pada tahun-tahun berikutnya, popularitas Jaipong terus menanjak. Bahkan baik Suwanda maupun Gugum sempat mempertunjukkan kesenian ini di luar negeri. Salah satunya, pada 1984, Suwanda pernah melanglang buana ke kota-kota di Jerman Barat. Sementara Gugum, bersama istrinya, Euis Komariah, membentuk kelompok kesenian Dewi Pramanik dan mengadakan pertunjukan di luar negeri. 

Untuk memperkaya khasanah tariannya, Gugum juga menciptakan beberapa macam koreografi untuk Jaipongan, antara lain Keser Bojong, Rendeng Bojong, TokaToka, dan Sonteng. Tangan dingin Gugum telah melahirkan ribuan penari Jaipong yang gencar mengenalkan Jaipong ke penjuru dunia, seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. 

Kini, sudah tak terhitung sanggar tari yang mempelajari dan mempraktekkan tarian Jawa Barat ini. Bahkan ada yang mengkreasikannya dengan tarian daerah lain menjadi tarian nusantara. Jaipong adalah persembahan Jawa Barat bagi Indonesia dan dunia. Maka sudah sepantasnya Jaipong diusulkan ke Unesco untuk menjadi warisan budaya dunia.

Ketika merancang pola gerak tari Jaipong, Gugum Gumbira terinspirasi dari beragam nilai dan tradisi masyarakat Sunda. Terdapat unsur-unsur tarian tradisional Ketuk Tilu dan seni bela diri pencak silat di dalamnya. Sejumlah riset pun dilakukan, untuk menciptakan seni yang tidak hanya mengekspresikan dirinya, tetapi juga berkesan di hati penontonnya.

Ciri khas Jaipong, jika dibandingkan tari tradisional lain yang berkembang kala itu, adalah arah pandangan si penari. Sebagai tari pergaulan dan pertunjukan, mata penari harus selalu fokus memandangi penonton agar tercipta komunikasi yang intens. Penonton pun boleh terlibat secara aktif, salah satunya dengan naik ke panggung dan ikut menari bersama penari.

Selain pandangan mata penari, rangkain gerak Jaipong juga dibuat sedemikian rupa agar mampu menciptakan suasana keakraban dan kegembiraan. Terdapat empat bagian gerak tari Jaipong, yaitu:

  • Bukaan: Pada tahap pembukaan, biasanya sang penari berjalan berputar sambil memainkan atau memutar-mutar selendangnya yang dikenakan pada leher.
  • Pencugan: Ini adalah kumpulan berbagai gerakan lanjutan. Umumnya diiringi dengan tempo musik yang cepat.
  • Ngala: Ngala berarti titik atau perhentian. Gerakannya terlihat patah-patah atau menjadi titik perhentian sebuah gerakan.
  • Mincit: Ini adalah gerakan peralihan dari satu ragam gerak ke ragam gerak lain. Gerakan ini dilakukan setelah ada gerakan ngala.

Rangkaian gerakan yang dinamis tersebut otomatis menghasilkan lenggok pada seluruh bagian tubuh, terutama pinggul. Dari sinilah muncul persepsi masyarakat awam bahwa Jaipong identik dengan 3G, yaitu geol, gitek, goyang. Geol adalah gerakan pinggul yang memutar, gitek adalah gerakan pinggul yang menghentak dan mengayun, sedangkan goyang adalah gerakan pinggul mengayun tanpa hentakan.

Sebenarnya ketiganya bukanlah unsur yang melekat secara eksklusif pada Jaipong. Gerakan pinggul akan secara otomatis muncul pada segala jenis tarian, dari Pendet, Gambyong, sampai Serimpi. Hal yang membedakannya adalah tempo dan variasinya saja. Ritme tiba-tiba cepat dan tiba-tiba melambat ini justru perlu dilestarikan karena telah menjadi karakteristik khas Jaipong.

Dari segi penyajian, Jaipong mempunyai dua kategori, yakni ibing pola yang berarti diberi pola serta ibing saka yang berarti acak. Pada ibing pola, materi tari ditata secara khusus untuk kebutuhan sajian tontonan. Karenanya, kelompok penarinya harus berkemampuan tinggi dan menjalani latihan intensif. Sementara pada ibing saka, tidak ada aturan atau pola gerakan khusus. Penonton bahkan boleh ikut menari di atas panggung dan memberikan imbalan uang (sawer) kepada penari.

Meskipun kebanyakan tarian tersebut hanya dimainkan oleh seorang wanita, pada dasarnya Jaipongan dapat dimainkan berpasangan maupun kelompok. Keselarasan gerak justru akan semakin terlihat jika Jaipong dimainkan oleh tiga sampai lima orang. 

Adapun busana yang dikenakan dalam sebuah pementasan Jaipong sangat beragam. Meski demikian, pada dasarnya seorang penari Jaipong selalu mengenakan sinjang, apok, dan sampur. Sinjang merupakan kain panjang yang berfungsi sebagai celana panjang. Apok adalah baju atau kebaya yang memiliki ciri khas pada pernik dan ornamennya. Sementara sampur adalah selendang yang dikenakan pada leher penari.

Kekayaan unsur itulah yang kemudian menjadikan Jaipong sebagai seni pertunjukan rakyat yang selalu mendapat tempat di hati masyarakat Sunda, Indonesia, dan dunia. Seperti kendang yang tidak dapat dilepaskan dari bonang, saron, gong, rebab, dan juru aloknya, Jaipong pun tak akan lestari tanpa cinta dan semangat generasi muda Sunda untuk terus menarikannya.

Dowa Bag Yogyakarta, Tas Rajut Premium Asli

dowa bag

Dewasa ini, produk tas rajut buatan tangan sudah menjadi salah satu fashion item yang trendy dan terkenal, bahkan hingga ke mancanegara. Beberapa pengrajin dan pebisnis produk semacam ini di Indonesia pun ikut terangkat popularitasnya, dengan salah satu merk yang paling populer saat ini adalah Dowa Bag Yogyakarta.

Buat wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal, Dowa Bag sudah menjadi salah satu alternatif pilihan oleh-oleh jika berkuncung ke kota pelajar ini. Harganya memang tidak masuk kategori murah, namun cukup layak untuk kualitas produknya. Jika beruntung, konsumen yang berkunjung ke gerai produk ini bisa mendapatkan produk desainnya mirip namun kualitasnya sama dengan merek berbeda.

Jangan salah. Ini bukan produk tiruan atau KW. Ini justru produk kualitas ekspor. Biasanya sisa ekspor ke Italia yang masih ada. Tentu, kadang pengunjung tidak bisa memilih warna atau desain. Namanya juga sisa ekspor. Tapi untuk koleksi tas, rasanya warna bukan satu-satunya pertimbangan bukan?

Awal Mula Dowa Bag Yogyakarta

Bermula dari Delia Murwihartini, seorang ibu rumah tangga yang memulai usaha kecil-kecilan untuk mengisi waktu luangnya dengan membuat tas rajut dan menjualnya kepada tetangga sekitar sejak tahun 1989. Mulai laku dan diminati, para tetangga pun ikut tertarik untuk membantu membuat tas-tas ini dan tak lama kemudian bisnis semakin berkembang. Produk tas ini kemudian dinamakan Dowa, yang dalam bahasa Sansekerta berarti doa.

Awalnya, tas-tas ini dijajakan di area penginapan turis di kawasan Prawirotaman, dimana target konsumen yang disasar merupakan turis baik domestik maupun luar negeri yang mencari barang-barang kerajinan tangan sebagai oleh-oleh. Ternyata kemudian tas-tas Dowa banyak diminati oleh berbagai turis, bahkan pada perkembangannya ada beberapa turis asing yang memborong tas dalam jumlah tertentu untuk kemudian diedarkan dan dijual di negara asalnya. Sontak popularitas Dowa meningkat drastis dan permintaan dari dalam maupun luar negeri terus bertambah. Pada prosesnya, Dowa kemudian bekerja sama dengan beberapa brand luar negeri seperti The Sak dan The Read’s untuk distribusi produk ke pasar Eropa dan Amerika.

Kemudian untuk memenuhi permintaan di area domestik yang juga meningkat, dibukalah showroom dan workshop pusat di kawasan Godean, dimana selain melayani pembelian tempat ini juga menjadi pusat pembuatan produk-produk Dowa. Konsumen bisa melihat langsung bagaimana proses tas dan fashion item lainnya dibuat secara handmade oleh para pengrajin asli Yogyakarta. Lalu belakangan, untuk bisa menjangkau lebih banyak lagi konsumen, beberapa cabang outlet turut dibuka seperti di kawasan Mangkubumi yang dekat dengan Tugu Yogyakarta, serta di beberapa hotel seperti hotel Inna Garuda, hotel Novotel Yogyakarta dan Solo.

Selain lokasi bisnis yang berkembang, produk-produk pun ikut dikembangkan dengan beragam varian. Selain tas wanita yang menjadi produk unggulan, kini Dowa juga memproduksi dompet, clutch, scarf, aksesoris seperti pouch, gantungan kunci, bahkan produk tas untuk pria. Tak hanya itu, Dowa kini tidak cuma berfokus pada tas rajut saja, tapi Dowa juga mulai memasarkan tas-tas berbahan kulit, kanvas dan rotan dengan kualitas yang sama-sama premium serta desain yang tak kalah unik.

Harga sendiri beragam, bergantung dari bahan yang digunakan, serta motif dan desain. Tas rajut misalnya, berkisar antara Rp. 650.000,00 hingga Rp. 1.200.000,00. Kemudian untuk dompet, clutch serta pouch dihargai dari Rp. 125.000,00 sampai Rp. 650.000,00. Adapun produk lain seperti tas kanvas dijual mulai Rp. 700.000 hingga Rp. 1.100.000,00 serta tas kulit berkisar dari Rp. 550.000,00 sampai Rp. 1.400.000,00. Harga yang tergolong premium, namun sesuai dengan target pasar yang premium pula dengan desain yang unik dan kualitas handmade yang apik.

Showroom pusat dan cabang outlet Dowa Bag buka setiap hari dari jam 08.00 pagi hingga jam 17.00 sore. Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi (0274) 6497555, via email di dowa@dowabag.co.id atau mengunjungi situs resmi di dowabag.co.id.

Dowa Bag

Showroom & factory: Jl. Godean km. 7, telp. (0274) 6497555

Outlet Mangkubumi: Jl. Mangkubumi no. 125, telp. (0274) 6429681

Outlet Inna Garuda: Jl. Malioboro no. 60, telp. (0274) 566322

Outlet Novotel Yogyakarta: Jl. Jend. Sudirman no. 89, telp. (0274) 521169

Outlet Novotel Solo: Jl. Slamet Riyadi no. 272, telp. (0271) 740242