Kayak Arus Deras, Olahraga Sejak 2000 Tahun Lalu

Kayak Arus Deras dari kegiatan masyarakat menjadi olah raga

Kayak arus deras tidak sepopular olah raga air lainnya. Kegiatan ini bahkan tidak sepopuler arung jeram di sungai. Medan yang cukup sulit dan risiko tinggi, seperti tenggelam, mungkin menyebabkan olahraga ini tidak punya banyak penggemar.

Kayak Arus Deras

Arus Sungai Cipunagara, , Jawa Barat, mengalir sangat deras. Seakan tak rela dilintasi benda apa pun. Siapa saja yang melintas niscaya diempas kuat-kuat. Bagi kayaker, arus yang memicu adrenalin ini justru menggoda untuk dinikmati. Berbekal teknik dan kegigihan, seorang kayaker mencoba melintas. Yup, bukan main, ia berhasil melewati derasnya arus sungai dengan tingkat jeram tinggi tersebut. Luar biasa!

Sejarah kayak bermula dari kawasan Siberia, orang-orang yang tinggal di sana membuat perahu dari kerangka kayu terbuka yang diikat bersama-sama dengan tali atau tali tanaman, dan ditutup dengan kulit anjing laut yang dijahit menyatu. Cikal bakal kayak ini disebut dengan umiak. Perahu ini terus dipakai oleh orang-orang yang menetap di Kutub Utara yang kemudian dikenal sebagai orang Inuit. 

Untuk masyarakat Inuit, kayak telah menjadi cara hidup sekaligus alat transportasi dan berburu selama lebih dari 2000 tahun. Mereka membangun kayak dengan bekal pengetahuan yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Kemampuan mengendarai kayak menjadi salah satu ukuran kesuksesan individu dan bagaimana mereka terhubung dengan komunitasnya. 

Tak jelas kapan kayak sebagai sebuah cabang kegiatan luar ruang masuk di Indonesia. Namun, mendayung adalah salah satu kegiatan masyarakat di banyak daerah yang memiliki aliran sungai yang kemudian menjadi jalur transportasi. Yang jelas pula, banyak tempat di Indonesia yang memiliki spot untuk berkayak. Termasuk untuk kayak arus deras seperti di Sungai Cipunagara tadi.

kayak arus deras menjadi salah satu pilihan berkegiatan di air.
Kayak menjadi kegiatan air yang menyenangkan, terutama di Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Atas dasar itulah Muhammad Ihsan, Tedy Bugiana, dan Ira Shintia, dibantu Toto Triwidarto, Puji Jaya, Agus Hermansyah, serta Sigit Setianto dari Sekolah Kayak Tirtaseta, mendirikan Bandung Kayak Community (BKC). “Keberadaan BKC ini sebenarnya hanya untuk mencoba menghimpun penggemar dan peminat serta berupaya memasyarakatkan olahraga kayak arus deras,” kata kang Ihsan suatu kali.

Komunitas yang didirikan Januari 2012 itu biasanya memanfaatkan liburan akhir pekan dengan mendatangi sungai-sungai yang berada di sekitar Bandung. Di antaranya Sungai Cipunagara dan Ciherang di Subang, Sungai Cimanuk di Garut, dan Sungai Ciwulan di Tasikmalaya.

Jika menyambangi lokasi yang relatif jauh dari Bandung, para anggota komunitas biasanya berkoordinasi terlebih dulu untuk mendiskusikan segala hal yang berhubungan dengan pengarungan, transportasi, dan urusan teknis lainnya. Sedangkan untuk latihan rutin, BKC melakukannya di Sungai Cikapundung, yang masih berada di Kota Bandung.

Hingga saat ini komunitas yang bermarkas di Jalan Dago Hegar, Bandung, itu memiliki puluhan anggota. Yang paling muda berusia 8 tahun, sementara yang paling tua 50-an tahun. Profesi anggotanya beragam. Dari pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, mahasiswa, hingga pekerja profesional. Ada juga perempuan.

Kayak Arus Deras merupakan kegiatan yang bisa dilakukan oleh siapa saja, laki-laki maupun perempuan.
Kayak cocok dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk untuk perempuan. Foto: Dok. shutterstock

Untuk bergabung dalam komunitas ini, tentu ada persyaratannya. Yang pasti, tidak wajib memiliki peralatan kayak sendiri. Maklum, peralatan kayak belum diproduksi di dalam negeri. BKC biasanya menyediakan peralatan kayak yang dimiliki anggota lainnya untuk digunakan bersama-sama saat latihan dan pengarungan. Sejatinya siapa pun boleh bergabung dengan BKC—sebagai organisasi berbasis komunitas. Begitupun, calon anggota diharapkan pernah mengikuti kursus kayak bersertifikat atau alumnus sekolah kayak.

Namun bagi calon anggota yang belum pernah kursus kayak, tak usah khawatir. BKC juga mendirikan sekolah khusus kayak. Sekolah Kayak BKC namanya. Di sekolah yang didirikan lewat kerja sama dengan Sekolah Kayak Tirtaseta dari Purbalingga ini, ada pelajaran soal teknik kayak, seperti membalikkan kayak sendiri ketika terbalik (rolling), menyelamatkan diri (self-rescue), dan mendayung maju-mundur (eddies-in and eddies-out).

Pelatihan kayak tingkat dasar dilakukan selama tiga hari dan terdiri atas beberapa sesi. Sesi pertama, biasanya diadakan di kolam renang untuk membiasakan diri dengan air.

Namun sesi-sesi berikutnya dilakukan di sungai. Dalam pelatihan tersebut, para peserta diharapkan menguasai setidaknya 95 persen kurikulum pelatihan. Untuk dapat mengikuti pelatihan tersebut, setiap peserta hanya dikenai biaya, tentu saja. Khusus pelatihan di sungai, para peserta akan dibawa ke Sungai Cipunagara, Subang.

Hingga saat ini Sekolah Kayak BKC sudah menghasilkan sejumlah angkatan. Mayoritas lulusannya langsung bergabung dengan BKC. Tak mengherankan jika BKC selalu diidentikkan dengan Sekolah Kayak BKC. Padahal, siapa pun bisa menjadi anggota BKC. “Cuma kebetulan, BKC mayoritas diisi lulusan dari Sekolah Kayak BKC.”

Di usianya yang relatif masih muda, BKC terus menata organisasi. “Insya Allah, ke depan akan disusun lebih baik lagi. Mengingat jumlah anggota yang sudah semakin banyak,” ujar Ihsan. Yang terpenting, ia menambahkan, olahraga kayak arus deras mendapat tempat di hati warga Bandung, sehingga bisa dikembangkan bersama-sama. Ayo, dayung terus!

Andry T./TL/agendaIndonesia

*****

2 Hari Menyusuri Badung sampai Tabanan (Hari 2)

Maskapai Batik Air melakukan penernangan ke dua kota di Australia. Keberangkatan dari Bali.

2 hari menyusuri Badung sampai Tabanan wisatawan bisa menikmati sejumlah pantai dan spot wisata. Kuta dan Mengwi—berlokasi di Kabupaten Badung, dan Kediri di Kabupaten Tabanan—disatukan oleh garis pantai yang merentang. Kedekatan secara geografis ini membikin tipikal pantai-pantai di sana memiliki kemiripan, seperti konturnya yang landai dan ruang “bermain pasir” yang cukup luas. Cukup dengan berkendara dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai kira-kira 30 menit. Bila ingin menyisir pantai, lebih baik kala pagi, sebelum matahari tampil terlalu terik. 

2 Hari Menyusuri Badung Sampai Tabanan: Hari Ke-2

Memulai hari di Bali tak melulu harus dengan  bubur kuning atau nasi jinggo. Ada juga  lak-lak—jajanan khas Singaraja. Bentuknya serupa dengan serabi, hanya berukuran lebih kecil. Di atasnya dibubuhi parutan kelapa dan gula merah cair. Saat menyusuri Krobokan, tepatnya di Jalan Raya Canggu, saya menemukan warung kecil yang menjual penganan ini. Wangi daun suji langsung merebak. Dua-tiga biji langsung habis dilahap. Enaknya dilahap hangat-hangat. Tentu dinikmati bersama dengan kopi Bali. Sepiring berisi lima lak-lak dibanderol Rp 5.000. Ada penganan lain di sini, seperti olen-olen (kue yang berbahan dasar ketan hitam) dan pisang rai (pisang yang diolah bersama dengan tepung beras).

Pantai Batu Bolong

Setelah mengisi perut, saatnya bergerak ke utara. Lebih-kurang 10 menit atau sekitar 3 kilometer dari Jalan Raya Krobokan, ada pantai yang menjadi favorit turis. Pantai Batu Bolong yang berkarang. Bahkan, di beberapa titik, terdapat karang-karang besar yang memberikan efek estetis. 

Pasirnya halus, meski tak terlampau putih. Ruang bermain, juga berjemur, cukup luas. Orang bisa bersantai menikmati lanskap. Dapat juga berenang di pinggir pantai, berselancar, atau berwisata religi. Selain terkenal sebagai pantainya para surfer, Batu Bolong memang kesohor lantaran terdapat pura besar di sana. Jadi mereka bisa melihat orang-orang Hindu bersembahyang atau menggelar upacara. 

Echo Beach

Cukup berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer dari Pantai Batu Bolong, jajaran kafe dan restoran di sebuah gang berderet rapi. Muaranya adalah Echo Beach. Makin mendekat ke pantai itu, tempat-tempat nongkrong semakin banyak. Berupa pantai berkarang dengan air yang tak terlalu jernih dan pasir yang sudah berubah kecokelatan. Tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain duduk-duduk menikmati suara ombak atau angin sepoi-sepoi sembari menyeruput segelas koktail

Pantai Seseh

Lepas menikmati siang di Echo Beach, yang juga menjadi penanda ujungnya pantai di Badung, saatnya beranjak menuju Mengwi. Sekitar 20 menit berkendara menuju utara, melewati persawahan dan kebun-kebun pohon kelapa, sebuah pantai dengan dominasi abu-abu menyapa. Entah, siang itu memang rona Seseh menunjukkan atmosfer yang kalem. Berbeda jauh dengan pantai-pantai sebelumnya, yang penuh ingar-bingar kafe, bean bag, lazy chair, dan warna-warni papan selancar. Rupanya, pantai ini  kental dengan upacara adat. Pasca-hari raya Galungan, Kuningan, dan sebagainya, pantai ramai dikunjungi warga lokal. 

Tanah Lot

Selain Kuta, primadonanya Pulau Dewata adalah Tanah Lot. Pantai yang bisa dijangkau 18 menit dari Pantai Seseh atau 1 jam dari Bandara Internasional Ngurah Rai, ini memiliki pesona yang komplet, memadukan keindahan lanskap, budaya, mitos, religi, dan sejarah yang kental. Di pintu masuk, tamu disuguhi pemandangan gapura khas arsitektur Bali yang megah menghadap ke pantai. Di samping kiri, di sebuah pendopo, sekelompok pemusik gamelan memainkan alatnya masing-masing. 

Di ujung, terlihat pura besar dikelilingi air laut yang biru. Orang hanya bisa ke sana kalau gelombangnya surut. Sementara itu, di sisi lain, terdapat sebuah karang besar dengan lubang di bagian tengahnya. Apalagi kala senja, saat langit memerah, Tanah Lot seperti terbingkai dalam lukisan. 

Pie Susu Dhian

Ke Bali tak lengkap kalau tak membeli piesusu. Oleh-oleh khas Pulau Seribu Pura yang punya cita rasa manis campur gurih itu memang bisa ditemukan di berbagai toko oleh-oleh. Namun, kalau ingin memborong, sebaiknya langsung datang ke sentranya, yakni di Jalan Nangka Selatan, Dangin Puri Kaja, Denpasar. Sekitar 55 menit bila berkendara dari Tanah Lot. Piesusu berisi 25 buah dibanderol dengan harga Rp 35 ribu, sedangkan paket yang berisi 50 buah dihargai Rp 70 ribu. 

Rosana & A. Prasetyo

*****

Mekotekan Galah Pengusir Bencana

andi prasetyo mekotekan 31

Mekotekan galah mengusir bencana mungkin masih jarang diketahui masyarakat. Namun bagi masyarakat Bali, khususnya di Desa Adat Munggu, ini adalah hal yang biasa. Bahkan telah menjadi tradisi.

Mekotekan Galah Pengusir Bencana

Sepuluh kilometer dari barat Kota Denpasar, penjor-penjor di sepanjang Desa Adat Munggu, Mengwi, bergoyang disapu angin. Bau bambu kemarin sore yang baru ditebang menyapa penciuman. Janur yang menjadi ikon utama Pulau Seribu Pura pun masih kuning segar, belum mengering. Bunga tabur terlihat belum lama diganti. Canang masih utuh, belum juga disauk anjing. Begitu pun, bara belum habis membakar dupa. Atmosfer demikian lekat dengan ritual keagamaan yang hendak atau baru digelar. 

“Pagi tadi, masyarakat Hindu sembahyang di pura dalam. Selama 210 hari sekali, mereka merayakan Kuningan, seperti hari ini,” kata Made Arya, pegiat wisata asal Singaraja, pada pertengahan April lalu. Pantas, suasana perdesaan lebih meriah. Matahari tepat di atas kepala kala kami tiba di desa adat itu. Tok tok tok. Kulkul (kentongan) Pura Puseh dipukul bertala-tala, mengucapkan selamat datang. 

Para pemuda dari 13 banjar di Desa Adat Munggu berhamburan ke luar dari kediaman masing-masing. Mereka mengenakan kostum upacara lengkap, mulai sarung hingga udeng. Satu per satu memenuhi jalan utama menuju pura. 

Made menginjak pedal rem mobilnya pelan-pelan. “Jalan ini dekat dengan persimpangan. Hampir setiap percabangan jalan di Desa Munggu dilalui arak-arakan ngerebek. Jadi tidak bisa parkir di sini,” katanya. Ia lantas membelokkan setir ke depan rumah toko, 500 meter dari simpang empat Jalan Raya Tanah Lot dan Pantai Seseh. 

Setelah memarkir kendaraan, Made tak langsung membaur ke pura. Ia lebih dulu mengeluarkan kamen—kain sepanjang dua meter—model prada Bali dari bagasi. “Kalau mau bergabung ikut upacara mekotekan, pakai kain dulu,” ujarnya. Ia lantas berujar, “Caranya seperti pakai sarung. Kalau perempuan, panjangnya sampai tumit”. Sedangkan laki-laki hanya sampai betis. 

Selepas melilitkan kamen, Made menyodorkan senteng kepada saya. Secarik kain yang menyerupai syal itu dipakai di bagian perut. Dilingkarkan, lalu diikat kuat. Atribut lengkap harus dikenakan. Musababnya, mengikuti ritual mekotekan bukan sekadar menonton pertunjukan budaya. Mekotekan disakralkan sebagai upacara keagamaan lantaran menjadi wujud pertalian antara adat dan hari raya Kuningan oleh masyarakat Hindu di Munggu. Apalagi, rangkaiannya meliputi areal-areal sakral. 

Setelah berjibaku dengan kain, terdengar bebunyian nyaring yang menarik perhatian. Klotek… klotek…. suara kayu beradu aspal mengudara seketika. Tangan para pemuda banjar tampak menggenggam erat kayu pulut setinggi tiga meter. Di ujungnya, terdapat tamiang yang terbuat dari ron atau busung. Juga tersemat bendera kuning dan putih bersimbol dewa-dewa. Beberapa di antaranya menggambarkan ikon Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Tujuannya, sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbolisasi keimanan. 

Kemunculan seribuan pemuda itu seperti kelompok barisan prajurit yang hendak maju perang, membentuk pleton-pleton. Ceng-ceng atau kecrak menjadi bebunyianritmis pengantarnya. Iramanya bak genderang penyemangat. Di muka barisan, sejumlah pedanda atau pendeta lebih dulu masuk ke pura. Tugasnya, mendoakan supaya ritual berjalan lancar. 

Di tangan para pemuka agama, digenggam genta atau lonceng dari kuningan. Selama sembahyang, benda itu akan digoyang-goyang hingga memunculkan onomatope nyaring. Kalau sudah berbunyi, berarti ritual pemujaan dan permohonan restu untuk ritual dimulai. 

Klian Desa Adat Munggu, I Made Rai Sujana, ikut dalam rombongan pedanda. Sebelum masuk gapura tempat sembahyang, ia mampir ke wantilan atau balai tempat masyarakat berkumpul guna menjemput para pengiring dan penabuh gamelan. “Saya mau memastikan kalau semua petugas sudah siap,” ujarnya. 

Para pengiring, yakni perempuan berusia 14 hingga 40 tahun, dari tiga banjar yang sudah ditunjuk sebelumnya. Mereka mengenakan pakaian adat lengkap. Tugas mereka, membawa canang persembahan. Di belakangnya, berbaris para penabuh gamelan Bali. Mayoritas anggotanya ialah remaja yang belum genap berusia 20 tahun. “Sudah lengkap, ayo masuk,” ujar si klian. 

“Ritual pertama adalah nedunanIda Bathara di pura dalam,” ucapnya. Hanya ritual pembuka dari depan gapura. Doa mohon keselamatan ini hanya berlangsung 15 menit. Mendekati pukul 14.00, rombongan pedanda ke luar dari area sembahyang. Suara kotekan kembali terdengar. Makin lama, makin santer. Diantar para pemuka agama dan pengiring, rombongan pembawa kayu itu berjalan pelan-pelan mengitari desa. 

Mereka berjalan dengan langkah biasa sambil sesekali bersenda gurau. Belum 300 meter melangkah, di tikungan dekat pohon beringin besar, yang menjadi pintu masuk desa adat, satu per satu anggota pasukan mendekati tetua, yang mereka sebut sebagai anak buah pendeta. Pria berusia 60-an tahun bersorban putih itu memercikkan air rendaman kantil, pandan arum, dan daun kelawo di ubun-ubun peserta atraksi. Daun lala amangan digunakan sebagai perantaranya. Setelah memperoleh “jimat”, si “anak-anak teologi” dianggap sah melakoni ritual. 

Lepas dari ritual percikan air, pasukan dari masing-masing banjar lantas berlarian membentuk kubu. Di setiap persimpangan atau tikungan, sekumpulan pemuda pembawa tongkat pulut membentuk lingkaran. Tongkatnya diangkat, dipusatkan ke titik tengah. Dari kejauhan tampak seperti kerucut raksasa. 

Pemuda banjar lain melakukan hal yang sama. Kubu demi kubu melakukan penyerangan. Tak tek tak tek…. Irama perang kayu membahana. 

Adegan makin barbar ketika seorang dari masing-masing kubu memanjat ke atas galah. Mereka seolah menjadi ujung tombak regu. “Lawan…Dorong…” begitulah teriakan itu memenuhi jalanan sepanjang desa adat. Sesekali, sarung si pemanjat tersangkut tongkat, membuat formasi goyang. Gelak tawa terdengar kompak tak tertahan. 

Kesempatan tersebut dipakai lawan buat menyerang. Mereka mendorong kubu rival dengan tongkat hingga lingkarannya roboh. Lagi-lagi, sorai tawa penonton pecah. Pemandangan akan terus seperti ini. Tak ada patokan kapan ritual berakhir. Selagi masih semangat, mereka akan bertempur. 

Sedangkan para perempuan setia duduk-duduk di emperan jalan atau beranda rumah menyaksikan perang kayu—yang selalu dijumpai setiap enam bulan sekali—sampai bubar. Niluh Sarmini, ibu berusia 45 tahun, yang sudah tiga dasawarsa menjadi pengiring, mengatakan umumnya mekotekan kelar seiring dengan ayun-temayun surya. “Kalau langit sudah kekuningan, semangat sudah kendor, satu per satu membubarkan diri,” ucapnya sambil melucuti kepangan rambut. 

*****

andi prasetyo mekotekan 21
Adat Mekotekan sebagai perayaan penolak bala di Bali. (A. Prasetyo)

PERAYAAN PENOLAK BALA

Bila ditarik ke belakang, secara historis, ritual yang digelar berbarengan dengan hari raya Kuningan ini diadakan sebagai pengingat perjuangan para prajurit Kerajaan Mengwi menaklukkan Kerajaan Blambangan. Dulu kala, Raja Mengwi berkuasa di desa adat tersebut. Namun sekonyong-konyong, wilayah hendak direbut Raja Blambangan. 

Pasukan Mengwi lantas melakukan penyerangan. Untuk menghadapi musuh, Raja Mengwi diberkahi sebuah tombak dan tameng dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Setelah menang, mereka merayakan dengan cara yang unik, yakni saling serang antarteman. 

Ngrebek mekotek sudah berjalan sejak 1934. Namun ritual adat yang ditetapkan sebagai warisan budaya nasional nonbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu pernah dibekukan pada 1940 oleh Belanda. Alasannya, berpotensi memunculkan perlawanan. Akibatnya, pada 1946, Desa Munggu dilanda bencana besar dengan angka kematian tinggi. Selain itu, gagal panen dan keributan. Mereka percaya, kemalangan ini lantaran tradisi mekotekan dihentikan. 

Tentang Kayu Pulut:

1. Kayu pulut harus dicari di hutan di kawasan Bangli hingga Singaraja. 

2. Kayu pulut diyakini sebagai replika bambu yang punya bentuk lurus hampir sempurna. 

3. Jenis kayu ini sangat kuat, biasa dipakai untuk bahan bangunan. Namun tak dapat digunakan buat kayu bakar karena bergetah. 

4. Makin lama, kayu pulut makin kuat. Jadi setelah digunakan untuk ritual, pulut akan disimpan untuk dipakai di upacara selanjutnya. 

Rosana & Andi Prasetyo

2 Hari Menyusuri Badung sampai Tabanan (Hari 1)

Pantai Finns Bali 1

2 hari menyusuri Badung sampai Tabanan adalah jalan-jalan yang senantiasa menyenangkan. Kuta dan Mengwi—berlokasi di Kabupaten Badung, dan Kediri di Kabupaten Tabanan—disatukan oleh garis pantai yang merentang.

Kedekatan secara geografis ini membikin tipikal pantai-pantai di sana memiliki kemiripan, seperti konturnya yang landai dan ruang “bermain pasir” yang cukup luas. Cukup dengan berkendara dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, kira-kira 30 menit. Bila ingin menyisir pantai, lebih baik kala pagi, sebelum matahari tampil terlalu terik. 

2 Hari Menyusuri Badung Sampai Tabanan: Hari Pertama

Pantai Petitenget

Di pantai ini, orang bisa menikmati pagi dengan menyaksikan orang bersembahyang di Pura Petitenget, pura besar yang terletak di muka gerbang pantai. Atau jogingberkuda,dan mengajak anjingnya jalan-jalan santai dari ujung ke ujung. Lokasinya di Desa Seminyak, Kuta Utara, Badung. Hanya 15 menit bila berkendara dari Jalan Raya Seminyak. Di kawasan pantai, berkumpul hotel dengan varian harga dan kelas yang berbeda, mulai melati hingga bintang lima. 

Pantai Batu Belig 

Lokasinya di Jalan Batu Belig, Seminyak, Kuta Utara. Dari Pantai Petitenget, bisa dicapai dalam 18 menit. Pasirnya luas membentang. Sayangnya, kontur pantai ini tak selandai Pantai Petitenget. Pasirnya juga lebih hitam. Itulah yang membikin wisatawan jarang datang. Lantaran sepi, orang bisa leluasa berjemur, juga menikmati suara debur ombak, tanpa takut terusik pengunjung lain. Banyak lazy chair dan bean bag yang disewakan penduduk lokal. Umumnya yang menyewa adalah turis asing. 

Pantai Berawa (Finns Beach)

Berada di area Finns Beach Club, Canggu, Kuta Utara, pantai ini ditempuh dengan waktu 20 menit dari Batu Belig itu. Di sini anak-anak muda yang doyan party di klub berdatangan. Pantai Barawa memang berada di area eksklusif. Namun orang tak harus masuk ke klub bila tak ingin membayar mahal. Ada jalan setapak masuk menuju pantai yang terbuka untuk umum. Namun pantainya tak lapang. Jadi tidak memungkinkan untuk berlama-lama berjemur atau bermain pasir di sini. 

Umumnya, turis datang untuk berselancar. Tersedia paket bimbingan berselancar bagi pemula. Per paket dibanderol Rp 350 ribu per 2 jam untuk membayar instruktur. Untuk sewa papan selancar berkisar Rp 50 ribu per jam. 

Warung Mina 

Matahari mulai bergerak ke barat. Petang lalu mendarat. Saatnya mengisi perut. Melipir ke arah timur, menuju pusat Kota Denpasar, tepatnya di Jalan Tukad Gangga Nomor 1, Renon, Panjer, Denpasar Selatan, terdapat sebuah restoran keluarga dengan menu laut khas Bali. Menu favorit pengunjung adalah gurami dengan beragam bumbu (seperti asam pedas, menyatnyat, santan kemangi, serta bumbu kuning), sate lilit, dan plecing kangkung. Plus sambal matah khas Pulau Dewata. Karena datang beramai-ramai, diputuskan untuk memilih menu paket dengan harga yang lebih ekonomis, yakni hanya Rp 252 ribu untuk empat orang. 

F. Rosana & A. Prasetyo

*****

Ikat Prailiu, Satu Kain Ditenun 6 Bulan

Ikat Prailiu tenun khas Sumba yang selembarnya ditenun hingga 6 bulan.

Ikat Prailiu adalah kain tenun khas masyarakat Sumba, khususnya Sumba Timur. Budaya sejumlah suku di Nusantara tak bisa lepas dari kain tradisional. Selain penuh makna, kain itu kerap dikenakan pada ritual tertentu. Tenun ikat Prailiu salah satunya. Kain tenun ini kaya akan nilai budaya, spiritual, dan ekonomi.

Ikat Prailiu

Prailiu adalah kerajaan yang letaknya tak jauh dari pusat Kota Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Ditilik dari riwayat sejarahnya, Pulau Sumba ini dahulu dihuni beberapa kerajaan. Ini seperti laiknya daerah lain di Nusantara. Namun banyak di antara kerajaan itu yang tergerus zaman. Prailiu sendiri belum melakukan pengangkatan raja lagi setelah wafatnya raja terakhir pada 2008.

Jika Anda cukup sering bepergian ke Kawasan Timur Indonesia, perjalanan ke Sumba Timur jangan sampai luput dari agenda mengunjungi Prailiu. Daya tarik lain dari Prailiu adalah melihat para ibu yang sedang menenun kain khas Sumba. 

Ikat Praliu, ada 100 kain yang dimasukkan ke makam raja Prailiu.
Makam Raja Prailiu. Foto.Dok TL

Meskipun masyarakat di sini banyak yang merupakan keturunan raja, para anggota keluarga ini sangat ramah dan rendah hati. Pengunjung pasti akan betah berlama-lama mendengarkan berbagai cerita sejarah yang mengalir dari mulut mereka. Termasuk tentang kisah-kisah tradisi menenun kain ikat prailiu.

Pulau Sumba dikenal sebagai tanah air penganut Marapu, kepercayaan yang meyakini dan memuja roh leluhur. Banyak benda yang dikeramatkan masyarakat Marapu sebagai media penghubung dengan leluhur. Perlahan, jumlah penganut kepercayaan ini mulai berkurang seiring masuknya agama lain ke Sumba. Namun adat istiadat tetap tidak bisa mereka tinggalkan begitu saja, seperti pembuatan tenun ikat ini.

Dalam tradisi Marapu, selembar kain tenun ikat digunakan pada prosesi perkawinan, sebagai mahar, dan upacara kematian. Rambu Ana, putri bungsu raja terakhir Prailiu, berujar, “Di dalam kubur batu ayahku, Tamu Umbu Ndjaka, terdapat sekitar 100 tenun persembahan dari warga dan kerabat. Mereka memohon agar kain-kain itu ikut dikubur bersama raja sebagai bentuk penghormatan.”

Kain ini juga dikenakan sebagai pakaian adat saat upacara spiritual, dari Wulla Podduhingga Pasola. Hinggi Kalambung adalah kain tenun yang digunakan di pinggang seperti sarung, sedangkan yang diselempangkan di bahu disebut Hinggi Nduku.

Rambu Ana biasanya akan mengajak wisatawan berkunjung ke rumah salah seorang kerabatnya yang perajin tenun ikat. Jaraknya tak jauh, sekitar 15 menit berkendara dari Prailiu, sudah sampai di tempat tujuan. Kita bisa melihat proses pewarnaan biru di rumah Ngana Ana, tak semua penenun bisa meramu biru.

Seperti siang itu. Ketika sampai di rumah wanita bernama Ngana Ana itu, saat itu ia sedang asyik mengurus beberapa babi dan kuda di halaman rumah. Saat bersalaman dengan wanita itu, pengunjung langsung memperhatikan tangan hingga separuh lengannya yang berwarna biru kegelapan. Dia seperti baru bermain tinta.

“Tangan-tangan ini bekas merendam benang pintal,” ucap Rambu Ana menjawab pandangan pengunjung yang keheranan. Benar saja, rupanya Ngana Ana baru melakukan proses pewarnaan di belakang rumah.

Warna biru alami ini berasal dari daun nila yang dapat ditemukan di halaman rumahnya. Daun hijau yang besarnya hanya sekitar satu sentimeter itu bisa menghasilkan warna biru yang khas. Paduan warna tenun Prailiu memang tak terlalu banyak, hanya merah, hitam, kuning, dan biru. Untuk warna merah, penenun menggunakan ekstrak akar mengkudu.

Ngana Ana kemudian menjabarkan proses pembuatan tenun ikat Sumba Timur. Bahan dasarnya ada dua macam, yaitu benang buatan pabrik yang biasanya sudah dijual berwarna-warni dan benang yang dipintal sendiri dari kapas, seperti dipakai Ngana Ana.

Selesai dipintal, benang akan melewati proses pewarnaan menggunakan bahan alami tadi. Sebelum ditenun, ada proses penggambaran motif terlebih dulu. Hebatnya, nenek moyang mereka tak pernah menggambar, melainkan langsung menenun dengan benang yang dipilih.

Setiap wilayah di Sumba memiliki kekhasan motif tenun. Ngana Ana menyebutkan bahwa dia lebih sering membuat motif hewan, seperti buaya, penyu, ayam, kakatua, dan udang. Ada pula beberapa tamu yang membeli tenun dengan motif sendiri.

Ikat Prailiu biasanya menggunakan motif berbau alam, tumbuhan atau hewan.
Macam-macam motif tenun ikat Prailiu. Foto: Dok. shuterstock

Proses pemintalan hingga menjadi kain tenun siap pakai bisa memakan waktu paling lama enam bulan. Harganya bervariasi. Rambu Ana mengatakan pernah melihat kain tenun Prailiu dijual seharga Rp 10 juta.

Sebagai salah satu penerus warisan budaya leluhur Prailiu, Rambu Ana ingin mempertahankan tradisi membuat tenun ikat. Selain regenerasi keahlian menenun, tentu pemasaran harus dikembangkan agar tenun ikat dikenal masyarakat di luar Pulau Sumba. Apalagi harga jualnya cukup tinggi. Sebaliknya, wisatawan hendaknya menghargai proses pembuatan tenun yang panjang dan pasti melelahkan itu.

agendaIndonesia

*****

Senja di Banda Neira, Menikmati 6 Pulau indah

Senja di banda Neira, Maluku Tengah, menikmati sejarah Indonesia.

Senja di Banda Neira sungguh sebuah perjalanan wisata yang sangat menyenangkan. Setidaknya buat kami. Pulau-pulau yang indah, hawa laut yang hangat, gunung-gunung yang sejuk, perkebunan pala, juga masyarakatnya yang ramah.

Senja di Banda Neira

Banda Neira di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Malauku, adalah salah satu tujuan perjalanan yang diangankan banyak orang, terutama mereka yang menikmati perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Selain alamnya yang indah, banyak pemimpin bangsa ini yang pernah dikucilkan di kawasan ini. Termasuk para bapak bangsa Indonesia. Banyak sejarah panjang zaman kolonial dan kemerdekaan Indonesia bermula dari kepulauan ini.

Karena itu, ketika bunyi peluit kapal Express Bahari berbunyi keras menandakan mereka akan sandar di pelabuhan Neira, kami bergegas menuju ke dek kapal. Dan Banda Neira ada di muka kami. Mendadak kelelahan perjalanan laut selama hampir tujuh jam dari Ambon seakan sirna.

Hari hampir menjempur sore, sekitar jam 4, matahari masih bersinar hangat meski sudah conding ke barat. Ada rinai hujan dan gunung api di sisi kanan. Kapal segera bersandar di pelabuhan. Rasanya terbayang saat bapak bangsa seperti M. Hatta dan Sutan Sjahrir dalam pengasingannya di pulau ini.

Kami segera bergegas turun dari kapal menemui seorang kenalan yang akan memandu selama beberapa hari di sini. Malam itu, kami memang merencanakan menginap di Pulau Banda Besar. Di sebuah penginapan kecil, agar bisa bercakap-cakap dengan pemilik penginapan atau masyarakat sekitar. Selain tentu saja lebih hemat.

Malam itu kami hanya duduk mengobrol di penginapan, mengobrol sekaligus melepas penat perjalanan. Keesokan harinya kami baru berencana berkeliling.

Senja di Banda Neira dan menikmati banyak peninggalan masa lalu.
Barang-barang kuno peninggalan masa lalu di Banda Neira. Foto: Dok.shutterstock

Dan betul, pagi harinya setelah mandi dan sarapan, kami ditemani seorang teman, memulai napak tilas sejarah di Pulau Neira. Kami berkunjung ke museum lokal yang disebut Rumah Budaya, rumah ini milik almarhum Des Alwi. Des pada masa mudanya adalah saksi kedatangan para bapak bangsa ketika diasingkan ke pulau ini. Pada Des muda inilah, Hatta atau Sjahrir kadang berbagi informasi tentang Indonesia sebagai sebuah cita-cita kebangsaan.

Lukisan, dokumen, dan beberapa benda kuno yang ada di pulau ini dipamerkan di sana. Penataannya memang tak terlalu indah, juga berdebu dan gelap. Namun cukuplah untuk mendapatkan gambaran awal dalam perjalanan kali ini. Tentang salah satu keping bangunan bernama Indonesia.

Bersebelahan dengan Rumah Budaya, ada rumah pengasingan Sutan Sjahrir. Tidak cukup banyak yang bisa dilihat di rumah ini, hanya ada mesin tik tua dan foto-foto milik Sjahrir. Kami memilih duduk di teras dan menikmati hari di lorong jalan yang padat bangunan tua itu.  

Puas duduk merenung tentang Indonesia masa lalu, kami bergeser lokasi. Sekitar 10 menit berjalan kaki dari tempat tinggal Sjahrir, kami melintasi Benteng Belgica dan tiba di rumah pengasingan Bung Hatta. Rumah ini cukup luas, di sisi belakang terdapat beberapa kelas tempat Bung Hatta mengajar anak-anak setempat.

Jalan kaki memang cara terbaik menikmati pulau Banda Besar ini, karena situs sejarah bertebaran hampir setiap “jengkal” tanah. Termasuk di Pulau Run, pulau hasil tukar guling Belanda-Inggris dengan Manhattan dalam Perjanjian Breda pada 1667. Napak tilas ini menjadi pembuktian dari buku-buku yang pernah diterbitkan tentang gugusan Kepulauan Banda Neira dan sejarahnya.

Sepanjang perjalanan ke Kepulauan Banda Neira itu, kami mengunjungi enam pulau, yaitu Neira, Hatta, Banda Besar, Run, Ayi, dan Gunung Api. Termasuk wisata menikmati kekayaan bawah laut, kecantikan gunung berapi, eksotisme perkebunan pala
dan tentu saja sejarah Banda Neira.

Perjalanan ini rasanya seperti sedang menikmati Indonesia masa lalu. Indonesia yang hangat dan ramah. Keramahan warga lokal terhadap pendatang bukan sekadar basa-basi. Mereka tidak segan mengajak pendatang masuk ke rumah, lalu menghidangkan minuman dan camilan, yang tentu saja gratis.

Ini terjadi kepaa kami saat turun dari Gunung Api. Perjalanan turun dari ketinggian 600 meter yang cukup curam memaksa kami berjalan cepat, bahkan setengah berlari. Ini membuat nafas kami ‘ngos-ngosan’. Tiba di kaki gunung, seorang ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya dan melihat kondisi kami, spontan  mengajak kami singgah dan menyuguhkan air minum.

Senja di Banda Neira dan menikmati hawa laut yang hangat dan air laut yang jernih.
Kora-kora, perahu tradisional dari Banda Neira. Foto: Dok. Shutterstock

 Keramahan penduduk setempat juga terasa ketika pada keesokannya kami hndak bersnorkeling di Pulau Hatta tapi lupa membawa peralatan. Dalam 10 menit, kami mendapat pinjaman perlengkapan. Tanpa dipungut bayaran. Bahkan, hari terakhir di Neira, kami mendapat tiga undangan makan bersama. Pemilik penginapan menghidangkan ikan berkuah untuk makan siang. Malam harinya, ibu teman yang memandu selama di Banda Neira mengundang makan di rumahnya dengan menu telur ikan tuna.

Saya akhirnya memberanikan diri bertanya kepada seorang teman, “Kenapa orang Banda itu baik-baik?” Jawabannya, “Alam. Hidup kami memang keras, tapi alam selalu membuat kami bahagia.”

Pilihan hiburan bagi warga terbatas. Untuk memeriahkan hari, mereka membuat hiburan sendiri. Pada senja hari, misalnya, sayup-sayup terdengar suara gitar dan nyanyian para pria yang duduk di dermaga. Kami menikmatinya sambil memandang laut dan matahari yang turun ke peraduan.

agendaIndonesia

****

4 Makanan Kenangan Indah Malang

Ronde Titoni 02

4 makanan kenangan indah Malang. Menu otentik dari kota ini yang bertahan lebih dari setengah abad. 

Malang, Jawa Timur, memang penuh hal-hal yang berbau kenangan, termasuk olahan dapurnya. Ada sejumlah penjaja makanan yang bertahan lebih dari setengah abaddan tetap menyuguhkan rasa otentik sejak hadir puluhan tahun lalu. Dalam penjelajahan satu hari pun, berbagai makanannya yang unik itu menjadi suguhan yang tak terlupakan di kota yang berhawa sejuk ini. 

4 Makanan Kenangan Indah Malang

Bagi yang pernah tinggal di kota Malang, Jawa Timur, mungkin punya beberapa makanan yang menjadi kenangan. Dan terus menjadi klangenan. Berikut 4 menu makanan yang mungkin kenangan tersebut.

Sate Komoh di Warung Lama

Warung Lama Haji Ridwan menjadi persinggahan pertama menjelajahi kuliner Malang. Letaknya di dalam Pasar Besar Malang.Mencarinyapun tidak susah. Bila pertama kali datang, orang-orang di dalam pasar akan membantu Anda menunjukkan arah menuju warung makan yang telah berdiri sejak 1925 ini. Sebelumnya, sang pemilik, Haji Ridwan,telah berjualan makanan menggunakan pikulan sejak 1919. Kini, warung tersebut dikelola generasi ketiga, Pak Yusuf, dibantu tiga karyawan.

Pada daftar menu, ada yang unik, namanya Sate Komoh. Bahan dasar sate ini adalah daging sapi. Bila sate pada umumnya berbentuk pipih dan antara satu daging dandaging lain terpisah, tidak demikian halnya dengan Sate Komoh yang bentuknya terlihat bulat sertadagingnya menyatu. Sate ini berlimpah bumbu rempah sehingga “komoh-komoh” atau dalam bahasa Jawa, komoh berarti basah dan melimpah.Mungkin penamaan sate ini berasal dari arti tersebut. Rasa sate yang dijual per tusuk Rp 5.000 ini pun sungguh lezat. Selain Sate Komoh, warung makan ini menyajikan menu rawon, gule daging sapi, ayam bumbu rujak, dan masih banyak lagi. Harga per porsi antara Rp 15-20 ribu. 

Warung Lama Haji Ridwan

Pasar Besar Malang

Jalan Pasar Besar Nomor 1 A, Sukoharjo, Klojen, Kota Malang

Buka pukul 08.00-16.00.

Orem-orem Gurih

Siang hari, sepiring orem-orem di Rumah Makan Orem-oremArema sudah menunggu untuk disantap. Ini salah satu makanan khas Malang yang terdiri atas irisan ketupat diberi taoge, tempe, dan disiram dengan kuah gurih yang hangat serta diberi taburan bawang goreng. Rasanya sedap jugagurih. Kuahnya sendiri seperti kuah opor,tapi lebih kental. Anda bisa menambahkan telur asin atau ayam sebagai lauk. Harga per porsi antara Rp 7.000 sampai Rp 15 ribu,tergantung tambahan lauk yang Anda pilih.

Orem-orem Arema

Jalan Blitar Nomor14, Sumbersari, Lowokwaru, Kota Malang

Buka pukul 09.00-16.00

Es Krim Kompeni 

Menjelang sore hari, menikmati es krim di Toko Oen rasanya waktu yang tepat. Begitu memasuki tempat ini, Anda akan disambut ucapan selamat datang dalam bahasa Belanda yang tertera pada sebuah spanduk: Welkom in Malang, Toko Oen Die Sinds 1930 Aan De Gasten Gezelligheid Geeft , yang kira-kiraberarti Selamat Datang di Malang, Toko Oen Berdiri Sejak 1930-an. 

Toko Oen merupakansalah satu bangunan peninggalan kompeni Belanda yang masih berdiri kokoh sampai saat ini. Dulu merupakan tempat kumpul favorit noni-noniBelanda. Tidak mengherankan bila pengelolanya mencoba menghadirkan kembali nuansa Belanda kala itu. Dari aksen berupa mejadan kursi yang konon masih asli dari zaman Belanda, seragam pegawainya yang putih-putih, sampai menunya. Sebut saja,belegde broodjesatau sandwichhuzarensaladeatau beef salad, dan sebagainya.Menu lain yang tidak boleh dilewatkan, apalagi kalau bukan es krimnya. Anda bisa memesan es krim Oen’s Spesial, misalnya, atau banana split. Keduanya memiliki rasa yang legit di lidah. Harga per mangkuk es krim tersebut Rp 55 ribu. 

Toko Oen

Jalan Jenderal Basuki Rahmat Nomor 5, Kauman, Klojen, Kota Malang 

Buka pukul 08.00-21.00

Kehangatan Titoni 

Pada malam hari, saatnya beranjak ke Ronde Titoni untuk menikmati wedang ronde dan angsle yang hangat. Ada tiga jenis ronde yang disajikan di warung yang telah berdiri sejak 1948 ini, yaitu ronde basah, ronde kering, juga ronde campur. Ronde basah adalah ronde yang berisi bola-bola tepung ketan diisi kacang tanah yang disiram dengan kuah jahe hangat. Sedangkan ronde kering, kuah diganti dengan bubuk kacang itu sendiri. Danronde campur adalah ronde kering yang kemudian disajikan dengan kuah jahe. 

Adapun angsle terdiri atas putu mayang, mutiara, potongan roti, sertakacang ijo yang diguyur kuah santan. Harga ronde dan angsle,yaitu Rp 7.000, sedangkan ronde kering Rp 8.000. Melengkapi dua menu tersebut, ada roti goreng dan cakwe dengan harga masing-masing Rp 3.000. 

Ronde Titoni

Jalan Zainul Arifin Nomor 17, Sukoharjo, Klojen, Kota Malang

Buka pukul 18.00-00.00

ARIS DARMAWAN 

Keindahan 3 Danau di Luwu Timur

Keindahan 3 danau di Luwu Timur, salah satunya danau Matano.

Keindahan 3 danau di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, rasanya masih banyak yang belum mengetahuinya. Apalagi menyambangi tempat ini. Luwu Timur memang cukup jauh untuk ditempuh dari Makassar. Sekitar 13 jam, namun rasanya perjalanan panjang itu terbayarkan dengan keindahan 3 danau yang alami.

Keindahan 3 Danau

Salah satu yang sering dituju pengunjung di Luwu Timur tentu saja adalah Danau Matano. Danau ini terletak di Kecamatan Nuha. Desa Soroako, yang terletak di sisi barat danau. Kecamatan itu sendiri telah berkembang menjadi kota yang rapi. Pendorong utamanya karena sebagian besar daerah ini dikelola PT Vale Indonesia (dulu PT Inco), perusahaan tambang nikel yang beroperasi sejak 1968.

Keindahan 3 danau di Luwu Timur masih jarang dikunjungi wisatawan
Sungai yang menghubungkan tiga danau. Foto: DOk. TL

Danaunya memang tak sebesar Toba di Sumatera Utara, namun kecantikannya, sebagai bagian dari keindahan 3 danau, tidaklah kalah. Yang pasti, ini adalah danau terdalam di Indonesia. Begitupun di sini anak-anak remaja tak sungkan bermain air.

Biasanya, dari dermaga kayu kecil yang menjorok sekitar 20 meter ke tengah danau anak-anak muda terjun menukik. Mereka melesat ke dalam air yang jernih dan tenang. Dari pingiran terlihat pula serombongan opudi, ikan kecil endemis di danau ini, berenang lamat-lamat di sela tiang penyangga kade. Sementara di kejauhan terlihat jajaran bukit Torukuno Lela.

Keindahan 3 danau di sini bisa dinikmati sejak fajar. Matahari perlahan muncul dari celah-celah bukit tersebut. Danau Matano, pada fajar itu, sungguh pemandangan yang layak diperjuangkan.

Air danaunya sungguh dingin. Dasar danau dipenuhi tumbuhan air berwarna cokelat. Juga ikan-ikan yang berkeliaran. Penduduk Soroako, ibukota Luwu Timur, menyebut kawasan ini Pantai Ide, meski tak ada laut di sini. Satu kilometer ke arah barat laut, ada Pantai Salonsa, tanpa dermaga dengan tepian dangkal yang lebih luas. Kedua kawasan wisata ini terawat baik dan terbilang bersih.

Dengan kedalaman sekitar 590 meter, Matano menjadi danau terdalam di Asia Tenggara, juga terdalam kedelapan di dunia. Danau ini tersambung oleh sungai dengan Danau Mahalona dan Danau Towuti di bagian selatan. Sungguh keindahan 3 danau.

DanauTowuti, yang luasnya 561 kilometer persegi, merupakan danau terluas kedua di Indonesia. Ketiga danau ini, menurut riwayatnya, terbentuk akibat kegiatan tektonik jutaan tahun silam.

Soroako dapat ditempuh dengan angkutan udara dan darat dari Makassar. Ada penerbangan khusus dari ibukota Sulawesi Selatan it uke bandara Soroako.

Tak ada angkutan umum di desa ini. Ojeklah yang bisa membawa wisatawan ke hotel yang menghadap ke Danau Matano. Jika tiba lepas tengah hari, habiskan sisa hari untuk menikmati Pantai Ide dan Pantai Salonsa. Pantai tanpa dermaga dengan air tak dalam.

Tujuan utama menikmati Matano adalah mengunjungi dua desa di seberang danau. Melaluinya dari Dermaga Soroako, yang merupakan gerbang utama menuju dua desa di seberang danau: Desa Matano dan Desa Nuha, Kecamatan Nuha. Wisatawan bisa menyewa ketinting, sejenis perahu bermotor, yang disewa untuk menyusuri danau.

 Biasanya perahu bercadik itu bergerak tak jauh dari tepi danau, sehingga pengunjung bisa menikmati Pantai Ide dan Salonsa serta perumahan milik Vale, yang semuanya dari kayu dan tanpa pagar.

Tak jauhh dari dermaga, sekitar seperempat jam, perahu merapat ke tebing karang. Persis di bawah tebing itu, tampak sebuah lubang yang sebagian tenggelam dalam air. “Ini gua bawah air. Anda bisa menyelam dan muncul di dalam gua sana atau melompat dari lubang di atas,” cerita pemilik perahu.

Dari daratan, pemandangan ke bawah lubang tampak air yang tenang dan hijau berkilauan. Tinggi lubang ini 10-15 meter. Gua di bawah air luasnya kira-kira separuh lapangan badminton. Airnya jernih. Kolam itu hijau ditimpa cahaya matahari dari lubang tadi dan lubang kecil yang menghadap ke danau. Betul-betul gua rahasia. Kecantikannya hanya bisa dinikmati dengan memasukinya.

Banyak gua di sepanjang tepian danau. Hanya beberapa menit dari gua bawah air, pengunjung bisa tiba di gua lain. Gua umumnya, kering dan berbatu. Tak seberapa luas, tapi ada tulang berserakan. Penduduk menyebutnya Gua Tengkorak. Tulang-belulang manusia konon sudah ada di sini sejak masa pra-Islam.

Selain itu, ada obyek wisata menarik lain, seperti Pulau Kucing, gugusan karang kecil dengan dua pohon mangga besar, dan Kali Dingin, yang airnya tetap dingin hingga bertemu dengan air danau yang hangat.

Air Danau Matano mengalir ke Danau Mahalona melalui Sungai Petea hingga Danau Towuti. Towuti merupakan danau terluas kedua di Indonesia. Danau ini dipenuhi rumah penduduk dan hutan.

Sementara untuk menuju Danau Mahalona bisa dicapai dengan menuju Towuti terlebih dulu, sekitar satu jam dari Soroako. Dari sana pengunjung bisa berkendara ke Desa Timampu. Jalanannya menanjak dengan hutan di kiri-kanan. Selama satu jam kendaraan pengunjung menyusuri jalan itu. Hingga akhirnya bertemu dengan jembatan beton dan desa di seberangnya.

Keindahan 3 danau di Sulawesi Selatan.
Keindahan 3 danau di Sulawesi Selatan. Foto: Dok. shuterstock

Desa Tolu menjadi desa pertama dari deretan lima desa, sementara Desa Mahalona sebagai desa induk di paling ujung. Penduduknya kebanyakan berkebun merica.

Dari sana kita bisa menggunakan perahu menyusuri Sungai Tominanga menuju Danau Mahalona. Danau terkecil dari tiga danau di Luwu Timur ini. Perahu berlabuh di daratan yang agak luas dengan lantai dari batu yang nyaris rata.

Air danau itu jernih dan biru. Tepiannya banyak ditumbuhi semak dan bakau. Permukaan airnya tenang. Warga desa sering piknik ke sana bila air sedang surut. Ketiga danau di Luwu Timur ini memang sulit dicapai. Namun keindahan 3 danau tersembunyi itu tentu menggoda untuk dikunjungi.

agendaIndonesia/TL

*****

3 Kampung Kumuh Berganti Rupa

original BPW2017042104

3 Kampung kumuh berganti rupa kini. Sebelumnya ketiganya tak banyak dilirik orang. Kini malah menjadi salah satu tujuan wisata.

Mulai pangkal timur di Jawa Timur, hingga ujung barat, Pulau Jawa tak ubahnya sebuah daratan padat penduduk—bila dipotret melalui kamera udara. Di titik-titik tertentu, utamanya di wilayah perkotaan, area-area kumuh bermunculan. Namun belakangan beberapa titik itu disulap menjadi permukiman berwarna-warni, layaknya wahana berfoto yang memanjakan mata. Langkah ini berhasil mengubah citra kampung-kampung yang terkenal cemar menjadi solek. 

3 Kampung Kumuh Berganti Rupa dan Bersolek

Berikut adalah tiga contoh kampung yang tadinya berkesan kumuh yang diubah dan didandani menjadi tenpat yang bahkan layak dibanggakan warga kotanya. Tak sedikit warga yang membawa tamunya untuk sekadar berswafoto di kampung-kampung tersebut.

KAMPUNG PELANGI GUNUNG BRINTIK SEMARANG

Sekitar 900 meter dari Lawang Sewu, kota Semarang, Jawa Tengah, berdiri sebuah kampung—tempat bermukimnya 325 keluarga—bernama Gunung Brintik. Sedari dulu, perkampungan ini “dipotret” sebagai area kumuh di kota administrasi. Warga sekitar pesimistis wilayah tersebut bakal memiliki kehidupan yang baik lantaran kondisinya cukup memprihatinkan. Misalnya, tembok-tembok tak terplester dengan semestinya. Tumbuhan-tumbuhan liar merambat sesuka hati, tak dibersihkan atau dipotong.

Namun, mulai bulan keempat 2017, kampung tersebut disulap menjadi berwarna-warni, layaknya kampung pelangi. Pemerintah Kota Semarang setempat menginisiasinya. Renovasi Kampung Brintik tercatat dalam rencana perbaikan Pasar Kembang Kalisari, yang berada tepat di depannya.

Pemerintah menggandeng swasta untuk merenovasi kampung itu. Dana sekitar Rp 3 miliar digelontorkan untuk mengecat hampir semua sisi kampung dengan warna dan pola yang bervariasi. Ada juga mural-mural khas anak muda yang bisa dimanfaatkan sebagai latar swafoto. Selain itu, kampung ini menjadi wahana baru bagi para fotografer untuk membidik gambar.

Dengan begini, Gunung Brintik menjadi salah satu alternatif tujuan wisata yang bisa didatangi pelancong, selain Kota Tua dan Gereja Belenduk. Untuk menuju ke sana, wisatawan cukup berjalan kaki lebih-kurang 13 menit dari Lawang Sewu atau Tugu Muda menuju Pasar Kembang Kalisari. Kampung itu letaknya tepat di muka pasar. Kampung ini jadi kebanggaan warga Jawa Tengah.

KAMPUNG JODIPAN MALANG

Beranjak ke Jawa bagian timur, di Desa Jodipan, Blimbingan, Malang, ada sebuah permukiman yang menyajikan pemandangan serupa, seperti yang terdapat di Semarang. Letaknya persis di pusat kota, dan bisa diakses melalui jalan utama Malang-Blitar. Dulunya, kampung yang berada di bantaran Sungai Brantas ini merupakan kawasan camar, rawan banjir, dan tak terawat. Kini, setelah ide dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)—dan pengusaha cat lokal—untuk merenovasi tercetus, Jodipan berubah wajah menjadi kampung yang tak lagi buruk rupa. 

Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan berkontur tak rata itu dicat dengan beragam warna. Tembok dan gentingnya molek, layaknya pelangi penuh rona—merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. 

Cat yang digunakan untuk memoles tentu yang memiliki karakter mencolok sehingga menarik perhatian siapa pun yang melintas, lebih-lebih para pemburu gambar.

Kampung Jodipan lantas menjadi arena foto yang “seksi”. Sebab, memotret permukiman ini bisa dilakukan dan dibidik dari mana saja. Bisa dari dalam kampung, bisa juga di atas jembatan Sungai Brantas. 

Pengunjung yang ingin bertandang disarankan datang menggunakan sepeda motor karena keterbatasan akses. Biaya parkirnya Rp 2.000. Dapat jua berjalan kaki dari Stasiun Kota Baru menuju Jalan Gatot Subroto (Pecinan). Sedangkan untuk masuk kampung, pelancong tak bakal dipungut biaya. 

KAMPUNG CODE YOGYAKARTA

Pada pertengahan 1980, kampung yang dipenuhi dengan bangunan kayu yang kumuh dan tak terawat itu disulap menjadi arena seni oleh pemuka agama Katolik sekaligus arsitek kesohor, Y.B. Mangunwijaya.

Bentuk rumah yang semula tumpang-tindih mulai ditata mengikuti kontur. Fasilitas umum, layaknya toilet dan balai pertemuan, mulai dibangun. Tembok kosong dilukis penuh mural berisi kritik sosial. Pot-pot bunga diletakkan di pinggir aliran Kali Code, kota Yogyakarta.

 Perubahan terjadi lagi pada 2015. Rumah-rumah dicat warna-warni menyerupai perkampungan di Rio de Janeiro, Brasil. Sejak itu,travelermemasukkan Kampung Code ke list itinerary. Tak hanya bisa berfoto, pelancong dapat berwisata sejarah di tempat tersebut, memahami bagaimana proses perkampungan kumuh itu kini menjadi arena yang estetis. Untuk menuju Kampung Code, wisatawan bisa jalan kaki lebih-kurang 20 menit dari Stasiun Tugu atau Malioboro. Sebab, letaknya persis berada di jantung kota.

*****

4 Pulau di Wakatobi, Dan Misteri yang Menyelimutinya

NTT Menjadi Tuan Rumah API 2020, di mana salah satu nominasi destinasi wisata yang menjadi nominasi adalah Wakatobi.

4 pulau di Wakatobi menyimpan banyak kisah. Juga misteri. Wakatobi kini adalah tujuan utama wisata bahari di Sulawesi Tenggara. Masih banyak yang belum paham jika Wakatobi sesungguhnya akronim dari empat pulau:Wanci, Kaledupa, Tomia, juga Binongko.

Kue karasi dan secangkir teh menyambut saya serta kawan-kawan di Dusun Bante, Desa Makoro, Pulau Binongko, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Lumayan menghangatkan perut yang sejak matahari terbit terguncang di atas perahu kayu cepat berkapasitas 20 penumpang.Butuh waktu satu setengah jam perjalanan dari Dermaga Pulau Tomia ke Pulau Binongko. Belum lagi menempuh gelombang dan angin laut pada Agustus yang cukup keras menerpa kapal yang saya tumpangi.

4 Pulau di Wakatobi

La Ode Muhamad Syafii, pemuka warga, yang menemui rombongan agak heran dengan kedatangan kami di musim laut yang tak ramah ini. “Jarang ada orang luar yang datang di musim laut seperti ini,” katanya. Saya hanya tersenyum sambil melirik ke Seto dan Rudi, dua orang pemandu lokal asal Wanci serta Kaledupa, yang tertawa kecil mendengar perkataan La Ode. 

“Sebagian masyarakat Binongko dan Wakatobi percaya mereka berasal dari laut,” ucap La Ode sambil mempersilakan kami menikmati kue karasi yang berasal dari tepung beras itu. Di hari-hari tertentu, kata La Ode, beberapa warga akan berjalan ke tepi pantai menunggu ‘jemputan’ kerabatnya dari laut. “Percaya atau tidak, tapi itulah yang terjadi di desa kami,” ujarnya.

Kisah semacam ini juga saya temui di masyarakat yang berada di Pulau Wanci, Kaledupa, dan Tomia, Sulawesi Tenggara. Kisah ini hampir mirip dengan urban legendsuku Betawi asli yang sampai hari ini meyakini hubungan kekerabatan dengan buaya putih di Sungai Ciliwung yang membelah Jakarta.

Wakatobi, akronim dari empat pulau:Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia, juga Binongko, tak hanya menyimpan keindahan wisata laut semata, tapi juga menyajikan wisata budaya, sejarah, dan petualangan darat yang tak kalah menarik. Tentu saja pesona maritimnya tetap yang utama.

Saat menelusuri Pulau Binongko, misalnya, saya menemukan tenun pengukur kiamat di 

Dusun Ollo-ollo, Kelurahan Sowa, Kecamatan Togo Binongko. Desa nelayanyang berjarak satu jam perjalanan darat dari Dermaga Dusun Bante, Desa Makoro, Binongko, itu menyimpan kisah lokal yang melegenda dan dipercaya masyarakat setempat hingga kini. Warga menyebutnya homorua watontea. Di dalam kotak kayu yang telah dimakan usia berukurankardus sepatu dewasa, terdapat kain tenun sakral yang dikeramatkan penduduk. Kononkain itu bertambah panjang hanya10 tahun sekali. La Samudia, tokoh adat Togo Binongko, menuturkan jika kain tenun itu sudah berhenti memanjang, pertanda dunia akan berakhir. Itulah kenapa dinamakanhomorua(tenun) watontea (yang akan muncul), kiamat yang akan tampak. 

Binongko juga dikenal dengan nama Kampung Pandai Besi. Konondi sinilah, pedang Patimura yang terkenal itu dibuat oleh empu di Binongko. Di Desa Sowa, yang terkenal dengan kampung tukang besi itu, sebagian besar sudah menggunakan peralatan modern. Hanya beberapa yang masih menggunakan alat tradisionalseperti peniup udara manual untuk membakar besi. 

Pulau-pulau di Wakatobi cukup banyak memiliki benteng-benteng kuno peninggalan era Kerajaan Buton dan kerajaan kecil lainnya. Salah satunya Benteng Patua di Desa Kollo Patua, Pulau Tomia. Benteng ini terbuat dari susunan batu karang yang diatur sedemikian rupa menjadi tembok, menara pandang, tatakan bedhil (sebutan warga setempat untuk meriam), juga ruangan-ruangan lain.

Di salah satu gardu pandang terdapat makam dua tokoh perempuan setempat bernama Wa Ode Bula dan Wa Ode Kaaka. Hikayat setempat menyebutdua perempuan sakti itulahyangmembawa sendiri meriam-meriam tersebut seakan membawa tongkat untuk berjalandari bawah bukit ke puncak benteng.

Tomia sebenarnya lebih dikenal sebagai surga bagi penyelam karena terdapat sederet titik selam terbaik, sepertiKollo Soha Dive Spot, Ali Reef, juga Marimabuk. Berada sekitar tiga kilometer dari Pantai Tomia initerdapat pemandangan ikan-ikan nudibranch dan penyu yang berseliweran. Di sini, tempatnya ikanbig eye giant trevally serta bobara.

Tak hanya bawah laut yang memukau, berada di tempat tertinggi di pulau ini juga mengasyikkan. Dikenal sebagai Puncak Kahyangan, jika cuaca cerah, dari kejauhan akan tampak Pulau Binongko, Pulau Lentea, Pulau Sawa, serta Pulau Tolendano. Bukit karang ini dulunya berada di dasar lautan. Hal ini terbukti dari banyaknya fosil-fosil kerang berukuran besar yang berserakan di atas bukit. Lokasi ini kerap menjadi tujuan pemburu keindahan mentari tenggelam atau sunset sekaligusmenikmati bintang di malam hari. 

Di Tomia Timur, tak jauh dari Desa Kulati, ada pula tebing Ampomberoyang cocok untuk melepaskan pandangan luas ke arah Laut Banda. Dari atas tebing karang yang cukup tinggi itu, jika cuaca cerah, akan tampak Pulau Nda’a yang berderet di horizon. Bagi mereka yang menyukai snorkeling, bisa berlayar ke Pulau Hoga. Titik selam di sekitar Pulau Hoga cocok untuk snorkeling. Jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari daratan.

Sedangkan, di Pulau Wanci, yang menggoda tentunya ada spotuntuk menyelam.Terdapat Nua Shark Point. Di tempat ini, penyelam akan bertemu dengan kawananikan hiu sirip hitam. Pilihan obyek wisata lain berupa kolam sekaligus gua air tawar yang disebut kontamale. Kolam alam dengan bentuk tak beraturan itu terdapat beberapa bagian cukup dalam sehingga beberapa orang dapat melakukan atraksi terjun bebas setinggi 10 meter dari tebing di atasnya.

Kemudian ada pula air Moli’i Sahatu yang berada sekitar 200 meter dari Dermaga Patuno Resort. Moli’i Sahatu memiliki arti seratus mata air. Hikayat setempat mengatakan mata air ini berkhasiat membuat seseorang yang meminumnya akan awet muda. Jadi, baik air tawar maupun air laut, sama-sama menggoda di Wakatobi.

SUKU BAJO SAMPELA, PELAUT SEJATI 

Dikenal sebagai pelaut sejati, suku Bajo Sampela menghabiskan semuahidupnya di laut lepas. Pemukiman Bajo Sampela, yang sejak 1977, bernama Sama Bahari berada sekitar dua kilometer dari Pulau Kaledupa, salah satu dari empatpulau besar di Wakatobi. Berbeda dengan Suku Bajo Mola di Wangi-wangi yang lebih modern dan sebagian besar telah ‘mendarat’, Bajo Sampela masih mempertahankan tradisi rumah di laut lepas.

Ketika berada di sini, jangan lupa mencariLa Oda, si pejalan laut. Dialah manusia pejalan laut sesungguhnya. Keahlian yang mulai langka di masyarakat Bajo Sampela. La Oda, 42 tahun,merupakan penyelam bebas dari Suku Bajo Sampela, Dusun Katutuang.Sejak berusia 10 tahun, dia mulaimenyelam di kedalaman belasan meter mencari lobster dan ikan. Dia terbiasa menyelam dikedalaman 20 meter selama 4-5menit menggunakan carummeng– kacamata selam tradisional dari kayu kalingpapa. Hal yang luar biasanya, tentunya!

Bila sempat menginap, jangan lewatkanmenikmati pemandangan terindah saat mentari terbitsambil duduk di atas sampan di tepi perkampungan. Sayangnya, di tempat ini, pasokan listrik terbatas. Hanya menyala dari pukul 18.00-23.00.

WAKTU BERKUNJUNG TERBAIK 

1. Pada Mei-Juni atau September-Desember

Hal ini karena iklim dan cuaca laut pada masa itu relatif tenang.

2.Luangkan waktu 5-7 hari

Agar perjalanan Anda tak sia-sia karena biaya tergolong mahal. Maklum tujuan wisata tersebar di sejumlah pulau di kabupaten ini. 

DARI BANDARUDARAINTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA

Pilihan umumnya terbang terlebih dulu ke Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara. Penerbangan ke BandarUdara Haluoleo ini biasanya berlangsung sekitar 3 jamserta cukup beragam pilihan maskapai, seperti Garuda Indonesia, Batik Air, Lion Air, dan lain-lain. Kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke BandarUdaraMatahora di Pulau Wangi-wangi, Wakatobi, menggunakan maskapai Wings Air selama 45 menit. Selain jalur udara, Wakatobi bisa dicapai dengan kapal regular yang berangkat setiap Senin, Selasa, Kamis, serta Sabtu dari Kendari.

A. Nugroho

*****