Komunitas Drone, 1 Pesawat Sejuta Angle

Komunitas drone semakin banyak di Indonesia, selain belajar menerbangkan pesawat, mereka juga belajar fotografi dan videografi

Komunitas drone adalah satu kelompok kegiatan dengan mengejar sejumlah kompetensi. Bukan sekadar menerbangkan pesawat nirawak, namun juga menumbuhkan kemampuan fotografi, videografi. Bahkan memberikan manfaat lain seperti dokumentasi. Jadi ini bukan sekadar hobi semata.

Komunitas Drone

Matahari siang bolong pada awal Maret lalu benar-benar perkasa. Teriknya memanggang siapa dan apa pun yang ada di bawahnya. Beberapa gumpalan tipis awan putih berarak menghindari keperkasaannya.

Entah dari mana munculnya, sebuah pesawat mungil melintas di udara. Sesekali terbang merendah dan kembali meninggi meski tidak menembus awan. UFO (unidentified flying object) kah? Rupanya bukan. Karena benda itu tak lain dari drone alias unmanned aerial vehicle (UAV) yang sedang dicoba seorang pembeli.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, drone kian populer. Di kalangan militer dikenal sebagai ”mesin pembunuh” karena memiliki serangan yang mematikan dan daya jelajah yang sangat luas.

Beberapa tahun lalu chief executive officer  raksasa retail online Amazon, Jeff Bezos, mengenalkan konsep layanan Amazon Prime Air. Yang memungkinkan barang yang dipesan konsumen di Amazon.com akan diantar menggunakan drone dalam waktu 30 menit setelah mereka menekan tombol “beli”.

Menurut Asha Wadya, anggota DJI Phantom Indonesia, pemanfaatan pesawat nirawak itu pun kini berkembang luas hingga menyentuh penghobi. Selain hobi juga dapat digunakan untuk menunjang pekerjaan sebagai fotografer ataupun videografer. ”Bisa dibilang drone ini menggabungkan tiga hobi sekaligus: radio control, videografi, dan fotografi,” kata dia. Bahkan, ia menambahkan, beberapa media massa sudah memanfaatkan drone ini.

Komunitas drone tumbuh untuk meningkatkan apresiasi dan kompetensi memanfaatkan pesawat nirawak.
Drone jenis Phantom. Foto: Dok. Unsplash

Pemanfaatan drone, kata Asha, tak lepas dari kemampuan yang dimilikinya. Drone lebih stabil, sehingga memungkinkan untuk mengabadikan gambar atau video. Pesawat yang dikendalikan melalui remote control dengan frekuensi 2,4 dan 5,8 Ghz juga mampu terbang setinggi 400 meter dan sejauh lebih dari 1,5 kilometer.

”DJI Phantom II bisa terbang selama 15-20 menit sekali terbang,” ia mengungkapkan sambil menyebut seri terbaru bisa terbang lebih tinggi dan durasi yang lebih lama.

Selain itu, drone dilengkapi dengan fasilitas GPS. Jika kehilangan jejak, fitur ini memungkinkan pesawat akan kembali ke titik keberangkatan semula. ”Tinggal diatur dan dikunci saja GPS-nya,” ujar Asha.

Tak jarang pesawat tersebut dijual sepaket dengan mounting (dudukan) action camera seperti GoPro yang didesain ringan, kompak, dan memiliki lensa lebar. Walhasil, tidak repot merakit perangkat tambahan lain.

Komunitas drone mengembangkan minat dan hobi sekaligus menjadi profesi yang menjanjikan.
Drone sedang mengudara. Foto: Dok. unsplash

Hasil foto ataupun video dengan drone ini mengagumkan. Sudut pandang aerial dengan perspektif menghadap ke bawah membuat foto ataupun video menjadi dramatis dan menakjubkan.

Lantas, berapa harga sebuah drone yang dinilai cocok buat pemula? Asha menyebut sekitar belasan juta untuk sebuah drone DJI Phantom 2. Itu belum termasuk action camera. Jika ingin sudah lengkap dengan kamera bisa mencapai Rp 20 juta lebih. Asha memperkirakan perkembangan drone akan semakin pesat di Tanah Air. ”Tahun 2015 mungkin dapat dibilang sebagai awal tahunnya drone,” ucapnya.

Aman dan Bertanggung Jawab

Kendati Phantom keluaran DJI Innovations termasuk paling mudah dikendalikan di kelasnya, namun Asha menyarankan pemula yang baru mencoba drone untuk berlatih di lapangan terbuka, bermain rendah, dan berlatih orientasi sesering mungkin sebelum terbang lebih tinggi.

”Jika terjadi crash, selain bisa merusak drone, bisa membahayakan orang lain di sekitarnya,” katanya. Oleh karena itu, komunitas drone DJI Phantom Indonesia menjunjung semboyan flysafe & fly responsible.

Komunitas drone yang didirikan pada 11 Mei 2014 itu merupakan wadah berkumpulnya pengguna drone buatan Da-Jiang Innovations Science and Technology Co, Ltd (DJI) Phantom asal Cina. Perusahaan ini didirikan Frank Wang pada 2006 di Shenzhen, Tiongkok.

Meski usia DJI Phantom Indonesia kurang dari setahun, anggotanya kian bertambah. Sampai tulisan ini diturunkan, setidaknya ada 600 anggota yang terdaftar dalam media sosial DJI Phantom Indonesia. “Anggota kami datang dari berbagai profesi. Mulai dari siswa SMP, kalangan media, penghobi, videografer, fotografer, dosen, DJ, hingga musikus,” katanya.

Asha mempersilakan siapa saja yang tertarik bergabung dengan DJI Phantom Indonesia. ”Silakan saja bergabung lewat media sosial Facebookkami. Tak perlu harus punya drone terlebih dulu,” kata dia.

Hal itu diakui oleh Agung Setiawan. Pria berusia 37 tahun yang berprofesi sebagai DJ ini mengaku awalnya mengenal drone berawal dari kebiasaan mendokumentasikan kegiatannya saat ia beraksi di luar kota. ”Namun setelah mempelajari lebih jauh, ternyata kamera yang saya gunakan bisa dipasangkan dengan drone. Sejak saat itu, saya langsung tertarik dengan drone. Hitung-hitung sekalian belajar jadi videografer,” ujarnya merendah.

agendaIndonesia/TL/Andry T.

*****

Istana Brillian Toko Oleh-Oleh Semarang

istana brilian

Istana Brillian toko oleh-oleh yang berada di kawasan Simpang Lima, Semarang. Toko ini menjajakan beragam jenis kue lapis mandarin yang dinamakan Brillian Super Cake.

Istana Brillian Toko Oleh-oleh

Istana Brillian toko oleh-oleh yang berada di kawasan Simpang Lima, Semarang. Toko ini menjajakan beragam jenis kue lapis mandarin yang dinamakan Brillian Super Cake.

Dinamakan demikian karena dengan kue ini dibungkus vacuum berlapis dan tanpa pengawet, ternyata mampu bertahan serta masih layak dikonsumsi hingga 60 hari, dan ini telah tercatat pula oleh MURI. Karena toko ini tidak membuka cabang dimana pun, kue-kue ini lantas menjadi salah satu oleh-oleh khas Semarang yang hanya bisa didapatkan di toko ini.

Awalnya toko ini bernama Luciana Cake Shop yang didirikan pada tahun 1980-an oleh sepasang suami istri. Pada saat itu toko ini hanya membuatkan kue tart berdasarkan pesanan, sekaligus menjadi bisnis sampingan supplier bahan-bahan roti. Sempat mengalami kesulitan dan stagnansi, mereka kemudian berfokus pada bisnis supplier margarin dan selai coklat di tahun 1990an.

Setelah bisnis mulai bangkit kembali, mereka mulai mencoba bereksperimen lagi dengan resep-resep kue dan akhirnya memutuskan untuk kembali membuka toko kue, yang kini dikenal sebagai Istana Brillian. Sempat berencana untuk membuka cabang, akhirnya rencana tersebut diurungkan karena mereka memilih untuk mempertahankan keunikan dan orisinalitas, serta keinginan agar kue ini menjadi salah satu ikon oleh-oleh khas Semarang.

Ada beberapa varian rasa yang tersedia, yaitu coklat, almond, keju, kismis, cappuccino, ovomaltine serta brauneo, sebuah varian yang dikembangkan dengan menggabungkan rasa coklat dengan rasa krim ala biskuit Oreo. Harganya sendiri berkisar antara Rp. 100.000,00 hingga Rp. 110.000,00. Toko ini buka setiap hari dari jam 7.30 pagi hingga jam 9 malam, hari libur pun tetap buka. Selain kue-kue, kini toko ini juga menjajakan beberapa penganan oleh-oleh lainnya.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi (024) 8456456.

Alamat: Jl, Simpang Lima no. 2, Semarang

Singkawang Kota Oriental Sejak Tahun 1800-an

Singkawang, kota oriental sejak tahun 1800-an

Singkawang kota oriental yang khas di Indonesia. Kota di Kalimantan Barat ini memang identik dengan etnis Tionghoa dan perayaan Cap Go Meh.

Singkawang Kota Oriental

Kota yang dijuluki Kota Seribu Kuil karena vihara atau kelenteng ada di setiap sudut kotanya ini memang tumbuh dari etnis Tionghoa. Tahun 1800-an saat Belanda masih menjajah Indonesia, Singkawang menjadi tempat transit para penambang emas dan pedagang dari Cina. Percampuran etnis Tionghoa, Dayak, Melayu, Jawa dan lain-lain di Singkawang menghasilkan budaya yang beragam.

Letaknya strategis, dikelilingi gunung, sungai dan laut, maka dalam bahasa Tionghoa (Hakka) disebut San Kew Jong yang berarti “terletak antara Gunung (dan) Mulut Lautan” atau suatu tempat yang terletak di kaki gunung menghadapke laut.

Singkawang, kota oriental yang dikenal juga dengan sebutan kota 1000 kelenteng.
Kelenteng Budi Dharma, kelenteng yang terbesar di kota Singkawang, Kalimantan Barat. Foto: dok. shutterstock

Kini sebagai kota perdagangan terbesar kedua di Kalimantan Barat, Singkawang memperdagangkan hasil bumi seperti produk pertanian, tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan, hasil kerajinan dan industri kecil. Ia juga menampung dan mendistribusikan barang sandang, alat-alat pertanian dan lainnya. Pabrik pupuk organik terbesar se-Asia Tenggara, Sinka Sinye Agrotama (SSA) dan pasokan ayam, telur serta ternak babi terbesar se-Kalimantan Barat berada di sini.

Kota ini dikelilingi beberapa gunung atau bukit, yaitu Gunung Poteng dan Gunung Raya yang menjadi jalur trekking wisatawan dan tempat tumbuhnya bunga Raflesia Arnoldi (bunga terbesar di dunia) dan Anggrek Singkawang.

Selain itu ada Gunung Passi yang memiliki cagar alam seluas 2.760 hektare, serta Gunung Sari dengan hotel dan restoran yang berpemandangan ke Kota Singkawang.

Di lereng Gunung Poteng ini terdapat Batu Belimbing, yaitu sebuah batu besar berlekuk-lekuk hampir menyerupai buah belimbing. Ada yang berpendapat batu ini adalah bagian dari asteroid yang jatuh ke bumi. Areal taman tempat batu ini berjarak sekitar 8 kilometer sebelah timur pusat Kota Singkawang.

Obyek wisata lain adalah pantai Pasir Panjang. Pantai berpasir putih dan berombak tenang ini menghadap ke laut Natuna serta beberapa pulau kecil seperti Pulau Lemukutan, Pulau Kabung dan Pulau Randayan. Wisatawan bisa menyewa perahu kecil atau speed boat untuk menuju pulau tersebut.

Singkawang, kota oriental juga memiliki potensi wisata alam, salah satunya adalah pantai Pasir Panjang.
Pantai Pasir Panjang di luar kota SIngkawang yang menjadi andalan pariwisata kota ini. Foto: Dok. shutterstock

Di sekitar pantai terdapat hotel, cottage, toko dan fasilitas lainnya. Pasir Panjang dan Palm Beach yang sepesisir sangat cocok untuk menikmati pemandangan matahari terbit dan tenggelam, seka- dar bermain pasir atau memancing.

Sinka Island Park adalah obyek wisata yang terletak di selatan kota Singkawang. Berbagai fasilitas hiburan modern dan alami untuk keluarga tersedia. Berjarak 500 meter darinya terdapat Sinka Zoo yang menampilkan hewan-hewan langka lokal maupun luar daerah. Sedangkan danau Serantangan di Singkawang Selatan merupakan danau alami seluas 400 hektare yang disukai pemancing karena banyak ikannya.

Sekitar 6 kilometer dari pusat kota juga terdapat Danau Biru. Danau ini sebenarnya bekas tambang emas ilegal beberapa tahun lalu. Pemandangan matahari terbit dan terbenam di danau ini sangat indah berupa paduan langit yang biru lazuardi dan air berwarna biru turquoise dengan kebun kelapa sawit yang rindang dan rapi di kejauhan, gunung-gunung bernuansa hijau tua serta hamparan bebatuan yang terbentuk oleh air hujan.

Jumlah penduduk Singkawang sekitar 241 ribu orang dengan mayoritas penduduk adalah orang Hakka/Kek sekitar 42 persen; selebihnya orang Melayu, Dayak, Jawa dan pendatang lainnya. Namun percampuran etnis yang harmonis tampak terlihat di pusat Kota Singkawang di mana Mesjid Jami yang terbesar berdiri tidak jauh dari Vihara TriDharma Bumi Raya, kelenteng tertua di Singkawang.

Kawasan pusat kota yang dihiasi bangunan-bangunan tua bertingkat dua khas Tionghoa ini berubah saat malam hari. Selepas waktu magrib Jalan Setiabudi dan sekitarnya menjadi kawasan kuliner yang disebut Pasar Hong Kong. Hingga dini hari area tersebut diramaikan gerobak-gerobak penjual makanan khas malam seperti martabak, mie bakso ayam, kwetiau goreng, nasi goreng, kue-kue basah dan lain-lain. Label halal dan non-halal tertera di gerobak sehingga pembeli mudah memilih. Di beberapa sudut juga ada pedagang pasar tradisional yang berjualan sayur mayur, buah atau daging.

Singkawang, kota oriental tercermin juga pada makanannya, seperti choipan dan bakmi.
Choi pan atau Caikue, makanan khas Singkawang dan Pontianak. Foto: dok shutterstock

Pengunjung dapat menyantap makanan sambil duduk di bangku-bangku yang tersedia di pelataran depan bangunan tua yang tampak eksotis saat malam hari. Kalau enggan makan di luar, masih banyak toko yang buka, misalnya Bakmi 68 di sudut Jalan Pangeran Diponegoro. Bakmi yang terkenal enak dan sudah ada sejak tahun 1960 ini tidak pernah sepi, walaupun malam hari.

Menurut Herry Liu, pemiliknya, bakminya khas dengan isi yang beragam

yaitu bakso daging sapi, udang, babat, daging ayam, tauge, dan lain-lain. Yang juga menarik bagi pembeli adalah cara Harry meniriskan mie dengan melemparkannya ke udara. Cara serupa juga dipakai oleh Haji Aman di warung mie keringnya yang maknyus. Di tempat ini mie-nya lebih tipis dan cara menyantapnya tidak mengguyur kuah bakso ke dalam mangkuk mi, melainkan dihirup terpisah.

Kuliner lain khas Singkawang adalah bubur. Salah satunya Bubur Kelenteng, disebut demikian karena letak warungnya yang persis di depan Vihara TriDharma. Berbeda dengan bubur ayam biasa, bubur ini berkuah. Rasanya gurih dan nikmat. Ada pula ‘bubur ped- as’ yang tidak pedas melainkan sangat sehat karena campurannya berupa sayur kangkung, tauge, wortel, kacang tanah, ikan teri, irisan daging sapi dengan kuah dari kaldu daging sapi. Tampilan bubur ini agak hitam akibat beras yang disangrai dahulu sebelum dimasak. Tapi rasanya sangat enak.

Singkawang juga memiliki industri kerajinan keramik yang istimewa karena handmade, proses pembuatannya tradisional dan merupakan warisan leluhur yang dikerjakan secara turun temurun. Keramik ini sangat disukai karena seni artistiknya tinggi, dan kini sudah diekspor ke mancanegara. Pabriknya bernama Sinar Terang, berlokasi di Desa Sakok, 10 menit dari Singkawang. Pemanggangannya yang menggunakan ‘tungku naga’ adalah satu-satunya pengerjaan yang masih bertahan di dunia.

agendaIndonesia

*****

Wingko Babat, Panganan Oleh-oleh Sejak 1898

Wingko babat, oleh-oleh khas Semarang.

Wingko babat menjadi salah satu keunikan masa lalu ketika orang bepergian antarkota dengan menumpang kereta api. Biasanya, jika melewati wilayah Jawa Tengah, khususnya ketika lewat jalur utara Jawa, di stasiun-stasiun pemberhentian di dekat kota Semarang penumpang akan mendapat tawaran pedagang asongan. “Wingko, wingko … babat, yang babat.”

Wingko Babat

Pada masa lalu, ada dua kerancuan akibat situasi tersebut. Pertama, ada yang mengira itu adalah sejenis panganan yang berbahan jerohan sapi. Dan, ke dua, wingko babat seakan menjadi oleh-oleh khas Semarang, ibukota Jawa Tengah. Ia seakan seperti lunpia.

Yang pertama sudah pasti salah, sebab makanan ini tak ada kaitannya dengan jerohan sapi sama sekali. Ia bahkan sejenis makanan yang berasa manis. Yang ke dua, sejatinya wingko babat juga bukan berasal dari Semarang.

wingko babat oleh-oleh khas Semarang ternyata dari Lamongan
Wingko babat, oleh-oleh khas dari Semarang. Foto: Milik oleholehsemarang.id

.Sebenarnya oleh-oleh makanan ini malah berasal dari luar Jawa Tengah. Ia berasal dari Lamongan, Jawa Timur. Nama Babat diambil dari Kecamatan Babat yang terdapat di Kabupaten Lamongan.

Wingko babat sudah mulai diproduksi jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Panganan ini pertama kali dibuat pada 1898 oleh Loe Soe Siang, warga Tionghoa yang menetap di Kecapatan Babat. Ia memulai mencari nafkah dengan membuat jajanan wingko yang terbuat dari kelapa dengan proses yang sangat tradisional.

Wingko, yang kemudian dikenal dengan sebutan wingko babat, sendiri terbuat dari bahan dasar kelapa, beras ketan dan gula. Komponen bahan tersebut yang membuat cita rasa manis dan gurih yang khas.

Makanan ini sebenarnya merupakan kudapan khas masyarakat Babat, Lamongan. Warga Babat biasanya menyebut kudapan berbahan baku utama tepung ketan dan kelapa muda itu dengan nama kue wingko.

Tak sekadar panganan, di daerah Babat kue wingko tidak pula digunakan sebagai oleh-oleh. Makanan ini menjadi bagian dari seserahan seorang lelaki kepada perempuan yang akan dinikahinya. Kue wingko merupakan simbol keseriusan lelaki untuk meminang seorang perempuan.

Lalu kenapa wingko babat justru dikenal sebagai oleh-oleh khas Semarang? Ini ada ceritanya. Ada dua versi kisah makanan ini kemudian menempel dengan ibukota Jawa Tengah itu.

Versi pertama, makanan ini selain menjadi penganan tradisi, ia juga mulai dipasarkan ke warga lain daerah. Salah satunya dipasarkan melalui jalur kereta api sepanjang Babat, Bojonegoro, Cepu, hingga Semarang. Sebagai kota terbesar dari rangkaian jalur tersebut, makanan ini menjadi populer di sekitar stasiun Tawang Semarang.

Versi ke dua dari citra wingko sebagai makanan Semarang adalah kisah tentang wingko babat yang pertama kali dibawa ke Semarang oleh seorang perempuan asal Babat bernama Loe Lan Hwa. Menilik Namanya, bisa jadi ia adalah anak turun Loe Soe Siang.

Saat itu, Lan Hwa bersama suaminya, The Ek Tjong (D Mulyono) dan kedua anaknya, mengungsi dari Babat ke Semarang menjelang kemerdekaan Indonesia.

Mereka beserta kedua anaknya yang masih kecil-kecil, The Giok Kwie (6 tahun) dan The Gwat Kwie (4 tahun), mengungsi dari Babad di Lamongan di Jawa Timur ke Semarang sekitar 1944. Di tengah suasana panas Perang Dunia II, dari Babad yang dilanda huru-hara, mereka datang ke Semarang untuk mencari kehidupan yang lebih aman.

Pada tahun-tahun itu, Indonesia ada di bawah cengkeraman Jepang. Mereka mengungsi untuk mencari kehidupan yang lebih aman. Dampak kekalahan Jepang di Perang Dunia II rupanya juga ikut dirasakan warga Babat. Waktu itu, banyak terjadi kerusuhan di daerah-daerah.

Sekitar 1946 Loe Lan Hwa dan suaminya mulai memasarkan wingko di Semarang dengan nama atau merek Millens. Pada saat makanan ini mulai dijajakan keluarga itu, belum ada orang atau warga Semarang yang mengenal panganan ini.

Kue wingko tersebut dijajakan dari rumah ke rumah, di samping dititip-jual di sebuah kios sederhana yang menjual makanan di stasiun kereta api Tawang Semarang. Setiap kereta berhenti, petugas kios menjajakan kue wingko beserta makanan lainnya kepada penumpang di dalam kereta api.

Juga kepada para calon penumpang yang akan berangkat ke luar kota dengan label “oleh-oleh” dari Semarang. Dibandingkan dengan lunpia, wingko umumnya memang lebih awet rasa dan kesegarannya. Jadi seakan cocok sebagai buah tangan.

Kue wingko buatan Loe Lan Hwa ini banyak disenangi orang Semarang. Banyak di antara mereka yang menanyakan nama kue tersebut kepada Loe Lan Hwa. Untuk memenuhi keingintahuan pembelinya dan sekaligus sebagai kenang-kenangan terhadap kota Babat tempat dia dibesarkan, Loe Lan Hwa menyebut kue buatannya itu sebagai wingko babat.

Saat ini, wingko babat sudah beredar lebih luas. Tak hanya ada di stasiun dan toko oleh-oleh di Semarang. Bahkan toko-toko oleh-oleh di Yogyakarta atau Solo menjualnya.

Di Semarang, makanan ini banyak dijual oleh masyarakat umum di toko oleh-oleh. Merek dan produsennya pun sudah bukan dari keluargaLoe Lan Hwa, tapi sudah puluhan merek.

Wingko Babat kini sudah diproduksi oleh berbagai produsen dan dibuat dengan pelbagai rasa.
Wingko Babat kini memiliki anega rasa. Foto: Dok. Tokopedia

Beragam merek wingko yang populer antara lain : Wingko Babad Cap Kereta Api, Wingko Babat NN Meniko, Wingko Babat Dyriana, dan Wingko Babat cap Tiga Kelapa Muda.

Sudah pernah mencicipi wingko babat? Atau sudah pernah membawa wingko untuk oleh-oleh?Jika belum, cobalah agendakan sekali-kali.

agendaIndonesia

*****

Jalan Daendels 1000 Kilo Penyambung Jawa

Tugu Nol Kilometer di Anyer 4

Jalan raya Daendels adalah jalan penyambung pulau Jawa. Gubernur Jendral Belanda itu dikenal kejam, namun ia meninggalkan selarik jalan yang masih dipergunakan saat ini.

Jalan Daendels

Jalan Daendels adalah jalan penyambung pulau Jawa. Gubernur Jendral Belanda itu dikenal kejam, namun ia meninggalkan selarik jalan yang masih dipergunakan saat ini.

Awal abad kesembilan belas, armada laut Inggris terus merangsek ke Batavia, atau namanya sekarang Jakarta . Pulau Onrust dihujani bom besi. Sekoci-sekoci dilepas dari kapal perang, mengejar dan membakar kapal Belanda yang melarikan diri. Menghadapi ancaman ini, Raja Belanda Louis Napoleon, adik Napoleon Bonaparte, mengirim “orang kuat” untuk mempertahankan Jawa. Dialah Marsekal Herman Willem Daendels.

Kekuatan Daendels, jika tidak mau dibilang keganasan, benar-benar terbukti. Untuk mengamankan Jawa, Gubernur Jenderal ke-36 ini menginstruksikan pembangunan jalan strategis militer dari Anyer sampai Panarukan. Hanya dalam setahun, 1808–1809, sekitar 1.000 kilometer jalan selesai dibangun.

 

 

Rute ini disebut Jalan Raya Pos (De Grote Postweg), sebelum dikenal sebagai jalan Daendels, karena Daendels mendirikan 50 pos antara Batavia (Jakarta) dan Surabaya untuk mempercepat komunikasi dengan aparatnya. Perhubungan antarpos masih menggunakan kuda sebagai pengangkutnya. Maka dari itu, pada setiap pos sudah tersedia kuda baru untuk menggantikan kuda yang sudah kelelahan berjalan dari pos sebelumnya. Dengan begitu, stamina dan kesehatan kuda akan selalu terjaga.

Etape pertama pembangunan dimulai dari tempat istana sang gubernur jenderal berada, yakni Buitenzorg (Bogor) menuju Karangsambung di Karesidenan Cirebon. Jalan sejauh 250 kilometer ini terdiri atas ruas Cisarua-Cianjur-Rajamandala-Bandung-Parakanmuncang-Sumedang-Karangsambung.

Baru dimulai, rentetan masalah sudah menghadang. Berbeda dengan daerah lain di Pulau Jawa, wilayah Jawa Barat didominasi perbukitan berbatu cadas dan gunung-gunung tinggi. Apalagi kala itu sebagian besar masih berupa hutan belantara. Karenanya, para pekerja harus bersusah payah membuka hutan terlebih dulu dengan menebang pepohonan besar.

Ruas Megamendung hingga Cadas Pangeran merupakan medan yang paling berat. Konturnya sangat terjal dan berbatu-batu. Saat itu penggunaan dinamit untuk membuka jalan belum lazim. Akibatnya, tangan-tangan letih pribumi jugalah yang harus memapras punggung gunung hanya dengan linggis, kampak, atau pacul. Alhasil, banyak pekerja meninggal akibat tertimpa bebatuan besar atau tertimbun tanah longsor saat musim hujan.

Melihat hal ini, Bupati Sumedang Kusumadinata IX, yang kelak diberi gelar Pangeran Kornel, berang. Ia meminta proyek membobol bukit berbatu cadas itu dibatalkan. Sebagai gantinya, rute jalan dipindahkan ke bibir tebing agar lebih mudah digarap.

Namun sebanyak apa pun korban berjatuhan, Daendels tak ambil pusing. Ia bahkan menyuruh 38 bupati se-Jawa untuk melanjutkan pembangunan sampai ke ujung timur, yaitu Panarukan. Mau tak mau, mereka menurut saja. Pasalnya, sejak awal pemerintahannya, Daendels telah menerapkan sentralisasi kekuasaan. Ia tak sudi hormat kepada raja-raja, apalagi bupati dan residen.

Tak seperti para pendahulunya, Gubernur Jenderal Daendels memiliki wewenang untuk mengatur birokrasi sampai level paling bawah. Dengan cara ini, ia bisa memecat siapa pun yang dianggap membangkang dan melakukan apa saja untuk membuat pemerintahan berjalan efektif. Semua yang menentang perintahnya, orang Belanda sekalipun, akan ditembak mati.

Sebagai pengagum Napoleon, ini tentu bertentangan dengan nilai mulia Revolusi Prancis, yakni Liberte, Egalite, Fraternite (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan). Sepanjang 1.000 kilometer jalan yang ia bangun, hanya ada penindasan, kesenjangan, dan permusuhan. Jalan Pos dibangun di atas nyawa belasan ribu pribumi yang mati akibat kecelakaan, kelaparan, dan malaria.Tak heran jika kemudian orang menjulukinya Tuan Besar Guntur, atas kekejamannya yang begitu menggetarkan semua orang.

Namun kediktatorannya juga yang menjatuhkan kariernya. Rakyat yang marah kemudian melakukan protes dan perlawanan. Di Banten dan Cirebon terjadi pemberontakan, sementara di Yogyakarta, Daendels berkonflik dengan Sultan Hamengkubuwana II. Bahkan orang Belanda sendiri tak jenak dengan kebijakan Daendels. Masalah-masalah ini akhirnya sampai juga ke telinga Louis Napoleon, sehingga pada 1811 ia dipanggil pulang dan diganti oleh Jan Willem Janssens.

Meski dibangun dengan mengorbankan jiwa anak-anak negeri, tak bisa dipungkiri jalan Daendels ini memang memberikan sejumlah keuntungan. Daerah Priangan yang telah lama dikenai koffie-stelselalias tanam paksa kopi, biasanya hanya menghasilkan 120 ribu pikul per tahun. Dengan adanya jalan ini, tentu produksinya meningkat. Daendels sendiri menargetkan 300 ribu pikul. Kopi yang dulunya menumpuk di gudang-gudang Sumedang, Cisarua, Limbangan, dan Sukabumi, kini bisa diangkut ke Pelabuhan Cirebon dan Indramayu.

Selain itu, kehadiran jalan baru yang cukup mulus pada masanya juga memicu tumbuhnya kota-kota baru. Para ahli tata kota mengungkapkan bahwa Weleri, Plered, Pacet, Sidoarjo, Bangil, Gempol, dan Kraksaan tadinya hanyalah pasar kecil yang bertransformasi menjadi kota karena lokasinya berada di persilangan Jalan Pos. Bahkan ibukota Kabupaten Bandung, yang awalnya bertempat di Dayeuhkolot, dipindahkan ke Kota Bandung sekarang.

 

Tugu 1000 Kilometer Panarukan

 

Pun sepeninggal Daendels, Jalan Pos masih tetap bermanfaat, baik sebagai pendukung aktivitas ekonomi, sosial, maupun pariwisata. Ruas di sepanjang Pantai Utara Jawa misalnya, tak pernah sepi dari truk-truk besar yang mengangkut logistiknya ke kota lain.

Atas kekejamannya, orang-orang memelesetkan gelar Maarschalk atau Marsekal di depan nama Daendels menjadi Mas Galak. Hanya tiga tahun ia memerintah, tetapi warisannya begitu melimpah. Di satu sisi ada tangis dan darah, di sisi lainnya terhampar modernisasi administrasi dan prasarana. Seperti halnya lalu-lalang kendaraan yang tak henti-henti di Jalan Raya Pos, demikian pula seharusnya ingatan akan kepingan riwayatnya.

Bengkalis dan Rupat, 2 Keindahan Tersembunyi di Riau

Bengkalis dan Rupat merupakan 2 keindahan tersembunyi di Riau.

Bengkalis dan Rupat rasanya kalah popular dibandingkan Pekanbaru, Siak atau bahkan Dumai. Padahal dua pulau ini tak kalah menariknya. Ke duanya bahkan intan yang belum diasah.

Bengkalis dan Rupat

Senja hampir beranjak pergi, ketika rombongan kecil kami menjejakkan kaki di Dermaga Tanjung Medang, Pulau Rupat Utara, di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, ini. Rasa lelah karena perjalanan dengan speed boat yang ditempuh sekitar 1,5 jam dari Pelabuhan Dumai terhapuskan dan segala rasa penasaran sirna.

Rupat Utara adalah salah satu dari 16 pulau utama yang berada di Kabupaten Bengkalis. Ia sejak lama sudah menjadi buah bibir masyarakat setempat. Pantainya yang berpasir putih, sepanjang kurang lebih 13 kilometer, kerap menjadi persinggahan bagi mereka yang sekadar hendak menikmati suasana santai dan tenang. Untuk menikmati indahnya sunrise di pagi hari pun, di sinilah tempatnya.

Kabupaten Bengkalis yang padasisi utaranya berbatasan dengan Selat Malaka, ini memang tak bisa dipisahkan dengan kehidupan pesisir yang kental. Kabupaten yang berpenduduk sekitar 530 ribu jiwa ini memiliki dua pulau terbesar, yakni Pulau Bengkalis dan Pulau Rupat.

bengkalis dan rupat menyimpan keindahan yang masih tersembunyi, misalnya pantai berpasir putih sepanjang 13 kilometer
Pantai Rupat Utara di kabupaten Bengkalis, Riau, dengan pantai berpasit putih sepanjang 13 kilometer. Foto: Dok. shutterstock

Sungai Siak, yang membentang luas pun menjadi salah satu dari tiga sungai besar yang membelah kabupaten ini. Selain Sungai Siak yang merupakan sungai terdalam di Indonesia, masih ada Sungai Bukit Batu, Sungai Lubuk Muda, dan Sungai Mandau.

Menyebut nama Bukit Batu, bagi mereka yang mengikuti kisah tanah Melayu Sumatera, akan langsung mengingatkan pada sebuah nama besar, tokoh legendaris asal tanah Bengkalis ini. Alkisah, tersebutlah Datuk Laksamana Raja Di Laut, pahlawan Melayu nan sohor. Makam dari Sang Datuk yang amat dihormati masyarakat setempat ini, berada di Kecamatan Bukit Batu. Makam ini, dan kisah sejarah yang melatar belakanginya, menjadi salah satu destinasi wisata utama kabupaten ini.

bengkalis dan rupat merupakan bagia dari Provinsi Riau yang menyimpan potensi pariwisata.
Kota Bengkalis dari udara, menyimpan keindahan. Foto: Dok. shutterstock

Pemerintah Kabupaten Bengkalis terlihat sedang melakukan pembenahan obyek wisata unggulan di daerah tersebut. Sebagai salah satu kabupaten tertua di Riau, Bengkalis punya potensi yang luar biasa dari sisi pengembangan pariwisatanya. Selain obyek wisata sejarah, kulinernya yang khas yakni lempok durian dan ikan terubuk, juga menjadi kekayaan wisata pantai yang siap merebut hati wisatawan baik lokal maupun dari negeri tetangganya, Malaysia.

Pulau Rupat Utara sendiri sejak lama dipersiapkan menjadi pintu gerbang utama masuk ke Provinsi Riau. Eperti disebut di muka, ia terletak di Selat Malaka dan hanya selangkah saja ke Negeri Jiran. Pulau Rupat Utara merupakan salah satu pulau terluar di Kabupaten Bengkalis. Keelokan pantai pasir putihnya sejatinya bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan, dan bukan sekadar ‘keindahan yang tersembunyi’.

Bagi masyarakat Bengkalis, Pulau Rupat disebut pulau harapan. Pulau ini sangat strategis. Karena dari perencanaan ASEAN Bridge, jembatan yang digadang-gadang akan menghubungkan Sumatera dan Semenanjung Malaysia, bakal melewati Pulau Rupat. Rencananya, sekitar 10 kilometer pantainya akan menjadi bagian yang eksklusif.

Bahkan, tarian asli Bengkalis ‘zapin api’ yang berunsur magis, dan amat menarik untuk ditonton, juga merupakan aset wisata budaya pulau ini.

Selain kondisi alamnya, kebudayaan setempat seperti tarian asli daerah ini, Zapin Api yang agak berunsur magis, cukup banyak menarik pengunjung untuk menikmatinya saat datang ke Kabupaten Bengkalis. Rupat sendiri sudah terdaftar di Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai destinasi pariwisata nasional. Hanya memang persoalan infrastrukturnya yang masih harus banyak dibenahi.

Kondisi Pulau Rupat saat ini, jika membandingan dengan negeri tetangganya di seberang, memang agak ironi. Negeri di seberang sudah terkesan terang benderang, sementara saat kita memandang ke Pulau Rupat, pulau elok ini acapkali menyuguhkan suasana cenderung gelap, seolah tanpa penghuni, dikarenakan masih minimnya fasilitas listrik.

Dari sisi akses pun, jika ingin menyeberang ke Malaka, warga di Pulau Rupat hanya butuh waktu 45 menit untuk sampai ke sana dengan speed boat. Perihal infrastruktur ini, masyarakat setempat menginginkan ada pelabuhan internasional sehingga wisatawan dari Malaysia pun bisa langsung menyeberang ke Pulau Rupat. Karena belum ada, maka semua harus melalui Bengkalis, atau Dumai.

 Nantinya jika sesuai rencana, akan ada feri langsung dari Pelabuhan Pakning (di Pulau Sumatera) dan berhenti di Pelabuhan Bengkalis, dan langsung menuju ke Pelabuhan Rupat Utara. Jika infrastruktur bagus, promosi gencar, maka wisatawan akan banyak yang tertarik.

Saat ini, Bengkalis sedang giat-giatnya menjaring investor. Karena Pulau Rupat masih minim akomodasi, begitu pula resor, resto, tempat-tempat makan yang memadai.

Berbagai kegiatan yang berhubungan dengan wisata pantai dan luar ruang akan dilengkapi di pulau ini. Seperti, motocross pantai, banana boat, sepeda air, outbound dan camping. Termasuk, wind surfing plus perahu kano yang digemari masyarakat dan wisatawan. Diharapkan, fasilitas ini akan menjadi daya tarik tersendiri, dan membawa Pulau Rupat hadir sejajar dengan destinasi favorit dunia lainnya.

Untuk sementara ini, ia masih menjadi permata yang tersembunyi. Tapi buat mereka yang ingin menikmati keindahan yang masih alami, cobalah sekali-kali agendakan kunjungan ke Bengkalis dan Rupat.

agendaIndonesia

*****

Oleh-Oleh Bakpia Kurnia Sari Yogyakarta

Toko Nusa Indah juga mnyediakan Bakpia Kurnia Sari dari Yogakarta

Oleh-oleh Bakpia Kurnia Sari adalah toko yang menjajakan bakpia khas Yogyakarta. Berbeda dengan banyak pendahulunya di kota pelajar ini, toko bakpia tidak menggunakan angka sebagai merek dagangannya.

Oleh-oleh Bakpia Kurnia Sari

Oleh-oleh Bakpia Kurnia Sari adalah toko yang menjajakan bakpia khas Yogyakarta. Ada  berbagai pilihan rasa seperti keju, kacang hijau, susu, coklat, kumbu hitam, tiramisu, kopi, ubi ungu, durian susu dan green tea. Bakpia Kurnia Sari  Yogyakarta pun kini memiliki  beberapa cabang seperti di kawasan Gelagahsari, Kaliurang, Godean, Pogung dan lain lainnya.

Bakpia Kurnia Sari bermula pada tahun 1996, ketika bisnis bakpia mulai populer dan menjadi penganan oleh-oleh yang paling diburu para wisatawan dan pelancong ke kota Yogyakarta. Awalnya bakpia yang dijual hanya 5 buah dalam sebungkus kemasan dan dititipkan pada sejumlah toko oleh-oleh Yogyakarta dan pasar serta dijajakan lewat metode door to door. Lama kelamaan produk ini semakin laku dan populer sejak tahun 2000-an dan akhirnya menjadi salah satu merek bakpia terpopuler di Yogyakarta.

Salah satu alasan mengapa Bakpia Kurnia Sari menjadi salah satu bakpia terpopuler adalah bentuknya yang lebih besar dari bakpia kebanyakan. Ini yang kemudian menjadi keunikan dan ciri khas bakpia ini.

Selain itu teksturnya yang lebih lembut dan tipis memberikan kenikmatan yang berbeda dari bakpia lain, yang biasanya cenderung lebih renyah dan berkulit tebal. Dan dengan metode khusus yang mereka aplikasikan pada proses pembuatannya membuat bakpia ini awet hingga 10 hari di luar kulkas dan sekitar 2-3 minggu jika dimasukkan ke dalam kulkas.

Harga Bakpia Kurnia Sari berkisar dari Rp 52 ribu hingga Rp  65 ribu dengan isi bakpia 15 buah per kemasan. Selain jenis-jenis rasa yang disebut di awal, tersedia juga varian mix 3 rasa seperti rasa keju, coklat dan kacang hijau. Keju dan kacang hijau sendiri biasanya merupakan varian yang paling laku dan dicari oleh konsumen. Lain daripada bakpia, toko ini sekarang juga menjual produk lain seperti ampyang, gula jawa dan produk-produk UKM lainnya.

Toko-toko mereka biasa buka dari jam 9 pagi hingga jam 8.30 malam, dengan toko pusat/pabrik di Gelagahsari tutup lebih awal di jam 5.30 sore. Karena ramainya konsumen, demi mencegah kehabisan direkomendasikan untuk memesan terlebih dulu.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi (0274) 625279 atau via email: support@kurniasari.co.id

 

Cabang-cabang:

– Jl. Gelagahsari no. 91C (toko pusat), telp. (0274) 380502

– Jl. Gelagahsari no. 112, telp. (0274) 375030

– Ruko Permai, Pogung Lor no. 6-7, Jl. Ring Road Utara, telp. (0274) 625279

– Jl. Godean no. 23 Km. 5, telp. (0274) 5014587

– Jl.Kaliurang Km. 14,5, telp. (0274) 2861433

– Jl.Kusumanegara no. 5, telp. (0274) 2924224

Wayang Golek Jawa Barat, Bukan Boneka Biasa

original SB2012120317

Wayang golek Jawa Barat, bukan boneka biasa. Rasanya bagi yang menggemari kebudayaan tanah Pasundan tahu betul keistimewaan atraksi ini.

Wayang Golek Jawa Barat

Kala menyaksikan wayang golek, penonton akan disuguhi beragam aksi seni pertunjukan yang komplet, dari teater, lagu, orkestra, hingga sastra.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam ketika para pesinden melantunkan tembang berbahasa Sunda. Itulah tanda dimulainya pertunjukan wayang golek. Para penonton pun bersiap menyaksikan pagelaran teater boneka khas Jawa Barat yang umumnya berlangsung hingga pukul tiga atau empat dini hari.

Wayang golek memang lekat dengan kehidupan masyarakat Sunda. Penyebarannya terjadi pada masa ekspansi Kerajaan Mataram ke Jawa Barat. Dari yang tadinya menggunakan bahasa Jawa berganti menjadi bahasa Sunda. Bentuk, variasi lakon, dan nama-nama tokohnya juga menyesuaikan dengan tradisi setempat.

Bermula dari sarana penyebaran agama Islam dalam rupa kesenian, fungsi wayang golek meluas ke dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Salah satu fungsinya pada tradisi kuno adalah ngaruatatau meruwat. Artinya, membersihkan orang tertentu dari kemungkinan malapetaka. Kegiatan lain yang membutuhkan kehadiran wayang golek ialah syukuran, dari sunatan sampai perkawinan.

Sebagai sarana hiburan rakyat yang bersifat kedaerahan, wayang golek tak boleh dipandang sebelah mata. Pasalnya untuk mewujudkan pertunjukan yang sukses, dalang harus menguasai garapatau keterampilan teknis pementasan yang tidak mudah. Unsur-unsur penentunya antara lain lakon, sabet, kakawen,dan antawacana.

Lakonadalah tema atau peristiwa yang menentukan jalannya cerita. Untuk itu seorang dalang harus menguasai pengetahuan sastra, dari klasik hingga modern. Seperti semua jenis wayang, kisah yang populer adalah Ramayana dan Mahabarata dengan berbagai pilihan lakon, seperti Kumbakarna Gugur atau Kresna Duta.

Selain itu, wayang golek juga kerap mengangkat lakon dari carangan, yaitu cerita yang dibuat sendiri oleh dalang berdasarkan kehidupan sehari-sehari atau cerita rakyat Jawa Barat. Apa pun sumber ceritanya, wayang golek konsisten menyampaikan pesan moral dan kritik sosial. Tentunya dibalut dengan selentingan humor agar penonton bisa terus terhibur.

Sabet adalah segala macam ekspresi dalang yang tertuang melalui gerakan wayang. Salah satu jenisnya adalah cepenganalias teknik memegang wayang. Genggaman tangan saat adegan menari, berjalan, dan perang tentu berbeda-beda.

Jenis sabet lainnya ialah tancepanalias teknik menancapkan wayang ke gedebok pisang. Seorang dalang tidak boleh asal menancapkan wayang. Posisinya disesuaikan dengan kedudukan tokoh. Seorang raja akan ditancapkan di sebelah kanan agak ke atas, sedangkan patih berada di kiri agak ke bawah.Selain menunjukkan kedudukan, tancepanberguna menggambarkan keadaan batin si tokoh.

Kakawenatau suluk merupakan teknik vokal ketika bernyanyi. Di dalamnya ada timbre atauwarna suara, senggol atauornamentasi melodis, rumpaka atau syair, dan gending atau pilihan lagu yang mengiringi. Oleh karena itu, seorang dalang harus memiliki kemampuan olah vokal yang baik agar bisa membangun atmosfer pertunjukan.

Antawacanajuga mengarah pada teknik vokal, tetapi saat terjadi dialog. Dalam satu lakon, biasanya muncul banyak tokoh. Sang dalang harus pintar-pintar mengubah-ubah intonasi dan warna suaranya agar satu tokoh dengan yang lainnya terdengar berbeda. Tentu tak cuma sekadar berbeda, tetapi juga harus konsisten.

Karena cukup rumitnya keterampilan yang perlu dikuasai, dalang tidak bisa bekerja sendiri. Di sampingnya, ada pengrawit (pemain musik), pesinden, dan wirasuara (penyanyi pria) yang turut memberi ‘nyawa’ pada boneka-boneka kayu tersebut. Bertolak dari aneka unsur tersebut, jelas bahwa wayang golek merupakan seni pertunjukan yang kompleks dan menjadi warisan budaya yang amat berharga.

Tokoh Populer

  • Anoman: Kera berbulu putih ini merupakan putra Batara Guru dari Dewi Anjani. Ajiannya antara lain Pancasona, yaitu tahan terhadap bacokan dan Sirna Bobot atau kemampuan meringankan tubuh.
  • Arjuna: Ia adalah putra Pandu ketiga dari ibu Dewi Kunti. Sosoknya halus, tampan, pandai, dan pemberani sehingga disukai wanita. Ia memiliki pusaka keris Pancaroba, Ali-ali Ampal, dan panah Pasopati.
  • Bambang Sumantri: Dia mempunyai adik yang buruk rupa bernama Sukrasana. Suatu hari ia tak sengaja membunuh adiknya sendiri dengan senjata pemusnahnya, Cakrabaskara.
  • Cepot: Astrajingga alias Cepot adalah anak pertama dari pasangan Semar Badranaya dan Sutiragen. Wataknya humoris, emosional, tak membedakan siapa pun, baik ksatria, raja maupun dewa. Lewat banyolan, dia memberikan petuah dan kritik sosial.
  • Dawala:Ia adalah adik dari Cepot. Dawala senantiasa menemani kakaknya pergi, sembari menenangkan kakaknya yang terlalu cepat marah.

 

 

*****

Pesta Sakura, 1 Pesta Hari Raya di Liwa

Pesta Sakura sebagai tradisi Idul Fitri di Liwa, Lampung

Pesta Sakura, ini tak ada kaitannya dengan musim bunga di Jepang. Juga tidak terlait dengan bunga khas matahari terbit itu. Ini adalah tradisi perayaan di saat Idul Fitri yang dilakukan masyarakat di Kabupaten Lampung Barat, Lampung.

Pesta Sakura

Kabut masih menggulung di depan kamar hotel yang terletak di salah satu jalan utama di Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Memang masih pukul 06.00 lewat beberapa menit, tapi suara anak-anak begitu nyaring terdengar. Saya membuka gorden sedikit dan terlihat sekelompok anak sekolah dasar dan menengah. Beberapa tampak tengah membalut dirinya dengan kain panjang bercorak batik. Baik bagian wajah maupun badan. Pesta sakura atau sering disebut sekura segera dimulai.

Pesta Sakura adalah tradisi merayakan Idul Fitri atau Syawalan di Lampung Barat.
Pesta topeng Sakura menjadi tradisi di Liwa, Lampung Barat. Foto: Dok. shutterstock

Memang bukan Hari Raya Idul Fitri seperti lazimnya acara sakura digelar yang umumnya pada 2-10 Syawal. Namun, seperti diungkapkan Bupati Liwa Drs Muchlis Basri dalam pembukaan perayaan ulang tahun kabupaten ini, sakura kini tak hanya setahun sekali, tapi juga diadakan saat perayaan ulang tahun Liwa. Meski hanya melalui parade di pusat kota dan lebih ingin menikmati kesukariaan itu, saya pun bergegas keluar. Sinar mentari perlahan muncul dan hawa mulai menghangat.

Dikelilingi pegunungan dan tak hanya dikenal sebagai penghasil kopi dan sayuran, Liwa juga lekat oleh tradisi seni topeng sakura. Seni ini melekat di beberapa kecamatan, seperti di Belalau, Batu Brak, Liwa, dan Sukau.

“Datang pas Lebaran, sekuraan (perayaan sakura atau pesta sakura) di kampung-kampungnya ramai sekali,” ucap Udin, warga yang saya temui di Batu Brak. Sembari menunjuk gang kecil di antara rumah panggung, ia menyebutkan, “Orang-orang keluar dari gang kemudian keliling pekon (desa).”

Biasanya dimulai pada pagi hari. Satu kelompok akan bergabung dengan kelompok lain hingga keriuhan pun tak terhindarkan. Banyak juga yang menonton. Udin menjelaskan, orang yang bersakura itu tak hanya berjalan, tapi juga berjingkrak-jingkrak dan menari-nari. “Lucu-lucu kadang-kadang,” ucapnya sembari tersenyum.

Sakura juga disebut topeng kayu, tapi kini penutup wajah dibuat lebih bermacam-macam. Selain kayu, ada kain, kertas, dan dedaunan. Tanpa harus ditata sehingga tercipta bentuk indah. Justru dibuat tak beraturan agar terkesan aneh atau lucu, sehingga bisa menghibur. Walhasil, selendang, sarung, daun pisang kering, daun pohon sagu, dan rok perempuan pun bisa dilekatkan pada tubuh orang yang bersakura itu.

Yang ambil bagian bisa anak-anak dan orang tua. Yang pasti ialah kaum Adam. Tak mengherankan di Museum Nasional Lampung bisa ditemukan sakura anak, topeng yang berbentuk kecil dengan wajah seperti menangis, dan sakura tuha yang menunjukkan ekspresi orang sepuh.

Keragaman itu membuat sakura terbagi atas dua jenis. Pagi itu saya menemukan anak-anak sekolah berbalut kain bersih. Inilah yang disebut dengan sakura helau atau betik yang berarti bersih—sakura dengan kain bersih dan rapi.

Selain itu, ada sakura kamak yang dikenal sebagai sakura kotor. Biasanya menggunakan pakaian dan topeng dari tanaman. Pakaian yang dikenakan bak orang bekerja di ladang atau sawah. Hiasannya yang ditempel pun memberi kesan kotor. Sering juga lebih menonjolkan kelucuan, seperti pria dengan gaya ibu hamil.

Salah satu ciri lain dari sakura adalah tingkah polahnya selama berjalan keliling kampung. Orang yang bersakura berniat menarik perhatian orang dan menghibur. Mereka menari-nari, bertingkah lucu, dan kerap juga bergaya seperti binatang. Tak mengherankan ditemukan topeng kayu dengan bentuk hewan beruk yang merupakan peninggalan masa lalu dan kini tersimpan di Museum Negeri Lampung.

Pesta sakura biasanya diakhiri oleh panjat pinang. Nah, sakura kamak-lah yang akan ambil bagian dalam atraksi ini. Sebaliknya, sakura betik hanya menjadi penonton atau penggembira. Yang bersekura betik pada masa lalu adalah pria yang belum menikah atau mekhanai. Sedangkan sekura kamak bisa pria lajang ataupun sudah beristri (khagah).

Pesta Sakura dilaksanakan setiap tanggal 2 hingga 10 Syawal.
Pesta Sakura biasa dilaksanakan antara tanggal 2 hingga 10 Syawal. Foto: Dok. shutterstock

Dalam sebuah pawai karnaval, saya juga menemukan sakura cakak buah. Ditampilkan oleh sebuah sekolah dasar, rupanya sakura yang satu ini merupakan bagian dari sakura kamak. Mereka membawa beberapa buah-buahan seperti yang biasa dibuat untuk panjat pinang. Ada pula kelompok orang bersakura dengan gaya yang superlucu seperti dandanan ala perempuan yang membuat saya tersenyum sendiri. Kreasi orang bersakura memang bermacam-macam. Dan, yang paling penting bisa memancing perhatian orang.

Kata sakura sendiri berasal dari kata sakukha yang berarti penutup muka atau penutup wajah. Tujuan pesta sekura selain menghibur ialah bersilaturahmi dan berakhir pada panjat pinang yang sifatnya bergotong royong atau beguai jejama. Akhir dari pesta siang itu, orang-orang yang bersakura langsung berkumpul di lapangan. Di sana sudah berdiri beberapa pohon pinang dengan hadiah bergelantungan di atas. Keriuhan kembali meruap.

Keahlian memanjat dan kerja sama yang baik membuat benda-benda di atas pohon pun beralih tangan dengan cepat. Wajah-wajah penuh senyum pun bubar. Pesta usai. l

Dua Versi

Masyarakat Liwa meyakini sakura merupakan seni paling tua peninggalan leluhurnya, yakni buay tumi. Pada saat itu, suku tersebut menganut animisme dan sakura pun merupakan salah satu bentuk pemujaan terhadap penguasa alam dan roh-roh nenek moyang yang cenderung berwajah jelek serta berbusana dari dedaunan atau seadanya.

Jejak dari suku pertama di wilayah Lampung Barat ini adalah Ratu Sekarmong yang memimpin masyarakat buay tumi pada akhir pengaruh Hindu. Pada masa itu, sakura digelar saat panen ataupun bulan purnama, meski tak seorang pun bisa memastikan awal kemunculan tradisi sakura ini.

Namun, selama ini, sakura terkait dengan perayaan Idul Fitri atau datangnya bulan Syawal, sehingga ada peneliti yang memperkirakan sakura di daerah ini muncul pada zaman Islam. Islam menyebar di pesisir Barat Lampung ini sekitar abad ke-13 hingga sakuraan pun diperkirakan dimulai pada masa itu. Sakuraan menjadi ungkapan untuk rasa syukur ketika bulan Syawal datang dan sukacita menyambut hari suci dan besar.

Sementara itu, peneliti yang berbeda memperkirakan sakura dimunculkan pada Hari Idul Fitri setelah masyarakat Liwa menganut Islam, yang sempat terhenti sebelumnya. Seperti diungkapkan salah tokoh masyarakat setempat Habbibur Rahman Lekat Haiman Sukri seperti dikutip dari Penelitian Sejarah Sekala Bekhak Lampung Barat yang dikeluarkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Liwa.

Ia menyatakan sakura pernah tidak memunculkan karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Namun akhirnya dihadirkan kembali saat Idul Fitri karena dinilai tepat sebagai acara silaturahmi atau ngejalang sesama warga. l

agendaIndonesia/TL/Rita N.

*****

Road Trip, 1 Cara Liburan Akhir Tahun

3 Pertimbangan menyewa mobil untukRoad Trip.

Road Trip menjadi salah satu trend perjalanan wisata yang naik daun sejak pandemi COVID-19 pada 2020 lalu. Alternatif wisata satu ini sangat cocok dilakukan bersama keluarga dengan menggunakan kendaraan pribadi, khususnya mobil. Ini terutama sejak infrastruktur jalan tol sudah menghubungkan hampir semua kota di Jawa, dan nantinya Sumatera dan pulau lain.

Road Trip

Secara sekilas trend ini mirip dengan tradisi mudik lebaran di Indonesia di mana orang menggunakan mobil untuk melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman. Hanya saja jika mudik Lebaran perjalanan dilakukan dengan menuju ke kampung halaman, maka road trip liburan betul-betul murni perjalanan liburan.

Saat mudik lebaran ini wajar saja dilakukan juga untuk liburan atau jalan-jalan wisata, mengingat di sekitar rute yang kerap dijadikan jalur mudik terdapat banyak destinasi wisata yang menarik untuk disinggahi. Hitung-hitung melakukan mudik sambil road trip sebagai sarana pelepas penat saat berjam-jam di jalan.

Road Trip memiliki banyak pilihan rute dan pilihan tempat untuk dikunjungi.
Perjalanan liburan akhir tahun via jalan darat seperti berpetualang. Foto: unsplash

Lebaran tahun 2022 memang sudah lewat, namun liburan ala-ala road trip bukan tidak mungkin dilakukan. Waktunya bisa dilakukan kapan saja sesungguhnya, namun bisa dicoba untuk menikmati libur akhir tahun ini. Ya, kenapa tidak?

Lalu jalur mana yang layak dicoba untuk jalan-jalan liburan dengan berkendara mobil? Berikut ini ada beberapa pilihan, lupakan sejenak jalan tol dan nikmati jalur konvensional.

Jalur Darat Selatan Jawa

Jalur darat liburan di selatan Pulau Jawa ini memiliki panjang 1.547 kilometer dan melewati 23 Kabupaten. Titik awal Jalur Selatan dimulai dari Kabupaten Serang di Provinsi Banten dan berakhir di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Selama menempuh jalur perjalanan darat Selatan Jawa ini, ada beberpa spot wisata yang layak dikunjungi. Misalnya saja Pantai Pangandaran di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bisa dijajaki untuk menginap. Ada beberapa hotel dan penginapan yang layak tinggal di sini.

Selain itu, ketika sudah masuk wilayah Jawa Tengah, wisatawan bisa mengunjungi Baturaden di wilayah Kebumen. Kawasan ini menawarkan ragam wisata, seperti air terjun, hutan pinus, kolam pemandian, hingga spot bunga warna-warni. Cocok sekali dijadikan tempat untuk melepas lelah.

Road Trip bisa memilih tempat untuk berhenti di spot wisata yang dikehendaki. Misalnya Air Terjun Tumpak Sewu.
Air Terjun Tumpak Sewu di Lumajang, Jawa Timur. Foto: unsplash

Tidak jauh dari Kebumen ada pula Gua Seplawan di Purworejo yang menjadi lokasi penemuan patung emas Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Semakin ke Timur tentu tak perlu disebutkan di jalur ini ada Yogyakarta, Solo atau di selatannya ada Wonogiri terus ke Pacitan. DI Lumajang, Jawa Timur wisatawan dapat singgah ke Air Terjun Tumpak Sewu, yang sekilas menyerupai tirai mirip Air Terjun Niagara.

Jalur Darat Utara Jawa

Jalur Utara Jawa memiliki panjang sekitar 1.300 kilometer dan menjadi salah satu rute terpadat selama ini di Jawa. Jalur ini melewati lima provinsi, yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Road Trip selain perjalanan juga menikmati buadaya seperti batik Trusmi di Cirebon.

Salah satu wisata budaya di rute road trip ini adalah Kampung Batik Trusmi di Cirebon, jawa Barat. DI sini wisatawan dapat mampir belanja batik dengan harga yang lebih miring, sekaligus belajar cara membuat batik. Lumayan untuk kenang-kenangan dari perjalanan liburan.

Lebih ke Timur wisatawan akan melintasi rute ke Pekalongan, satu spot batik terkenal lainnya. Dari Pekalongan rute mengarah ke Semarang dengan ikon bangunan bersejarahnya Lawang Sewu. Keindahan objek wisata ini terletak pada desain interior dan eksterior yang sangat khas bangunan Belanda. Menarik sekali untuk dikunjungi.

Jalur Darat Jawa-Sumatera

Jalur darat ini harus menyeberang pulau menggunakan kapal, namun jalur Jawa-Sumatera juga memiliki beragam destinasi wisata yang menarik. Destinasi wisata pertama yang bisa dikunjungi saat road trip melewati rute Jawa-Sumatera adalah Pantai Krui, Lampung. Menghadap langsung ke samudra, Pantai Krui ini konon memiliki ombak nomor tujuh tertinggi di dunia. 

Semakin ke Barat, Sobat Parekraf akan melintasi daerah Kabupaten Kerinci. Di sini ada Danau Gunung Tujuh yang membawa kita sekilas seperti berada di atas awan. Lalu lanjutkan road trip mudik melewati Kota Bukittinggi, dengan salah satu ikon populernya Jam Gadang dan tentunya kuliner yang lezat.

Jalur Darat Jawa-Bali-Nusa Tenggara

Rute road trip satu ini yang juga mengandalkan transportasi laut untuk menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Bali. Namun, sebelum menyebrang ke Bali Sobat Parekraf singgah dulu di Banyuwangi dan mengunjungi Hutan De Djawatan. Destinasi wisata ini seakan membawa kita masuk ke dalam hutan Fangorn ala film The Lord of The Rings.

Road trip membawa benefit lain, misalnya mengunjungi tempat-tempat yang tida tejangkau kendaraan umum.
Trees and bale at Kebun Raya Bali – Bali Botanical Garden in Bedugul, Tabanan, Bali, Indonesia.

Setelah memasuki wilayah Bali, destinasi wisata pertama yang bisa disinggahi adalah Taman Nasional Bali Barat yang berada tidak jauh dari pelabuhan Gilimanuk. Hutan satu ini menjadi habitat asli kera dan burung jalak Bali yang sudah mulai langka. 

Kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Pelabuhan Padang Bai dengan pemandangan berupa pantai-pantai yang indah. Setelah itu menyeberang kembali menggunakan kapal laut ke Nusa Tenggara Barat. Salah satu destinasi yang tengah naik daun sudah pasti Mandalika dengan pemandangan laut dan perbukitan yang indah.

Jika mau terus ke Timur, perjalanan bisa dilanjutkan hingga Nusa Tenggara Timur dan menyebarangi sejumlah selat. Bahkan bisa hingga ke Labuan Bajo.

agendaIndonesia/Sumber Kemenparekraf

*****