Almond Crispy Surabaya, Kekinian Sejak 2012

Almond Crispy Surabaya dari Wisata Rasa menjadi oleh-oleh kekinian dari kota ini.

Almond Crispy Surabaya sudah 10 tahun terakhir menjadi salah satu camilan kekinian yang banyak digemari masyarakat. Ia juga menjadi salah satu ikon oleh-oleh kota Pahlawan ini, melengkapi buah tangan lain seperti kerupuk udang hingga sambel Ibu Rudy.

Almond Crispy Surabaya

Awal kemunculannya memang belum cukup lama, namun Almond Crispy Surabaya sudah berhasil menjadi primadona oleh-oleh khas ibu kota Jawa Timur ini. Jajanan yang terlihat sederhana dan terbuat dari telur, tepung, gula, susu bubuk juga keju juga kacang almond sebagai topping, rasanya bikin kangen banyak wisatawan yang berkunjung ke sini.

Saat ini sudah banyak produk kudapan yang menggunakan sebutan ‘almond crispy’. Ia seakan menjadi istilah generik untuk penganan yang bertekstur sangat tipis, lembut, dan renyah di mulut. Begitu digigit, keju dan almondnya akan meleleh di dalam mulut pengudapnya. Rasa gurih dan manisnya terasa menyatu.

Almond crispy Surabaya melengapi banyak ikon wisata Surabaya, seperti Jembatan Suramadu
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura

Kini ada ratusan merek produk almond crispy cheese di Surabaya. Akan tetapi, yang merek asli atau brand pertama yang memperkenalkannya adalah Wisata Rasa. Saat awal kemunculannya pada 2012, puluhan orang rela mengantre di toko Wisata Rasa demi bisa membeli satu kotak produk ini.

Wisata Rasa atau toko Wisata Rasa sendiri sudah buka sejak tahun 2004 yang lalu dan saat ini sudah ada beberapa cabang di Surabaya. Sementara produk Almond Crispy-nya  baru muncul beberapa tahun kemudian. Resep Almond Crispy Surabaya asli lahir dari Wisata Rasa.

Sejumlah ahli cookies mengatakan almond crispy Surabaya ini mirip dengan almond tuiles dari Prancis Bentuk atau tampilanya sekilas memeng mirip, begitupun almond crispy dan almond tuiles berbeda. Secara tekstur pun ke duanya berbeda.

Almond tuiles dari Prancis bantuknya lebih tebal dan mirip cookies. Rasanya pun berbeda. Jika para pecinta biskuit pernah mencoba almond tuiles yang biasa dijual di restoran Prancis, rasanya ada vanilla dan cinnamon atau kayu manisnya. Sementara almond crispy cheese rasanya lebih ke gurih, manis, dan renyah.

Almond Crispy Surabaya penganan ringan bentukny tipis dan bundar.

Seperti disebut di muka, Almond crispy Surabaya terbuat dari kacang almond, keju, mentega, tepung, dan gula yang dicetak berbentuk bulat pipih lalu dipanggang. Bentuknya yang bulat tipis dengan taburan kacang almond dan parutan keju membuat tekstur almond crispy cheese renyah.

Rasanya yang gurih dan manis dipadu dengan tekstur yang renyah membuat banyak orang sanggup menghabiskan satu kotak produk ini tanpa merasa mual sama sekali. Adanya taburan kacang almond membuat rasa almond crispy makin kaya dengan aroma yang harum.

Pada awalnya, Almond Crispy Surabaya diproduksi atau hadir dengan tiga varian rasa, yaitu original, cokelat dan green tea. Belakangan, karena tingginya permintaan, Almond Crispy  memiliki banyak varian rasa yang lebih banyak dan bisa dipilih: ada rasa almond crispy cheese –ini yang biasa disebut original, almond crispy cheese green tea, almond choco cheese, dan almond mocca cheese. Semua varian rasa tersebut enak dan mterus mengunyahnya.

Cemilan khas Surabaya ini memang beda dari makanan khas daerah pada umumnya. Selain rasanya yang enak dan renyah, produk ini sejak awal juga dikemas bagus, sehingga bisa dibawa begitu saja untuk oleh-oleh atau ketika langsung dikonsumsi dari kemasannya bersama kerabat.

almond crispy Surabaya toko wisata rasa

Lantaran tingginya permintaan, produsen Almond Crispy Surabaya, Wisata Rasa, yang pada awalnya baru ada memiliki satu toko, kini memiliki tujuh toko yang tersebar di Kota Surabaya. Selain itu mereka juga memiliki satu outlet di Sidoarjo, dan satu gerai di kota Malang.

Bila wisatawan sedang main ke Surabaya dan bingung ingin membeli oleh-oleh apa dari kota ini, mereka bisa datang  ke Wisata Rasa, dan membeli  Almond Crispy. Selain produk tersebut, toko-toko ini juga menjual oleh-oleh Surabaya lainnya.


Setiap pengunjung yang datang ke toko ini sering kali memborong 30 boks Almond Crispy sebagai oleh-oleh. Pada hari-hari biasa keramaiannya biasa, namun bila hari libur, ramainya luar biasa. Saat liburan Wisata Rasa bisa menjual 1000-2000 boks Almond Crispy per harinya.

Wisata Rasa berada di Jalan Mayjend Sungkono nomor 135 Surabaya. Untuk nomor teleponnya sendiri adalah 031-5611954 / Fax 5610165. Cabang lainnya yang juga berada di kawasan Surabaya antara lain yakni di Genteng, Jemursari, Tunjungan dan Meir.  Wisata Rasa yang terletak di Jalan Raya Jemursari No. 164.

agendaIndonesia

*****

Sumenep 2 Peninggalan Sejarah

Masjid Agung Sumenep

Sumenep 2 peninggalan sejarah Indonesia di pulau Madura, Jawa Timur. Satu tentang kisah keraton Sumenep dan lainnya soal Sumenep sebagai penghasil garam.

Sumenep 2 Peninggalan Sejarah

Lantunan salawat para ibu terdengar nyaring dari Kubah Bindara Saod, salah satu raja Sumenep yang bernama asli Raden Tumengung Tirtonegoro. Terdengar juga suara lirih doa dari Kubah Pangeran Jimat, raja Sumenep yang lain. Kubah mereka memang bersebelahan. Saya terdiam di pagi yang hangat, di Asta Tinggi, kompleks pemakaman raja-raja Sumenep, Madura. Kompleks itu berada di daerah perbukitan. Angin yang bertiup perlahan menyadarkan saya, yang sudah terlalu lama terpaku.

Meninggalkan kompleks pemakaman penuh warna itu, kaki melewati makam-makam lain, yang tentu saja masih keluarga keraton. Uniknya, beberapa dipulas warna-warni. Ada beberapa gapura dan bangunan atau kubah yang dipoles warna-warna terang juga. Di pemakaman yang didirikan pada 1750 ini, ada juga makam Pangeran Diponegoro.

Jajaran ibu penjaja kembang dan air mawar pun saya tinggalkan. Sementara di sisi kiri-kanan saya, para peziarah silih berganti memasuki pemakaman. Setelah menghirup udara segar dalam-dalam, saya melewati gapura putih megah yang menjadi pintu masuk dan keluar. Berada di Kebon Agung, jarak dari pusat kota, hanya sekitar 2,6 kilometer. Hingga saya memilih melepas lapar di Rumah Makan Kartini, di Jalan Diponegoro. Suguhan khasnya cakee—lontong kuah kari—tentunya cukup mengenyangkan. Pilihan lain yang cukup menggoda, nasi campur.

Tak lama, azan Zuhur pun terdengar. Saatnya saya bergeser ke Masjid Agung Sumenep yang hanya beberapa meter dari rumah makan ini. Gerbang putih dengan polesan keemasan di beberapa titik itu langsung menyedot perhatian saya. Orang berduyun-duyun melewatinya. Saya pun tak mau ketinggalan. Melangkah di bawah gapura atap bersusun yang kental dengan budaya Tiongkok itu, saya menengadah mencermati arsitektur salah satu masjid tertua di negeri ini. Merupakan perpaduan beragam budaya; Cina, Eropa, Jawa, dan Madura.

Dibangun pada 1779-1787, dulu dikenal sebagai Masjid Jamik Sumenep. Kini menjadi Masjid Agung Sumenep. Saya melipir ke sisi kiri, karena kaum perempuan hanya mendapat bagian di teras masjid. Namun, seusai salat, saya menengok ke bagian dalam. Ada mihrab dan mimbar ganda dengan detail unik.

Sebagian jemaah siang itu ternyata para pelaku wisata religi. Sumenep memang gudang sejarah yang kental dengan keagamaan. Masjid yang dibangun Kanjeng R. Tumengung Ario Anggadipa, penguasa Sumenep XXI, ini salah satunya. Dulu merupakan tempat ibadah keluarga keraton, lokasinya memang tak jauh dari Keraton Sumenep. Setelah menunaikan ibadah, giliran istana yang saya jelajahi.

Gerbang keraton atau Labang Mesem mirip dengan gapura Masjid Agung Sumenep, hanya dalam ukuran lebih kecil dan sederhana. Warna yang digunakan sama, putih dan kuning. Ada limasan berundak tiga di bagian puncaknya. Arsiteknya ternyata sama dengan Masjid Agung, yakni warga keturunan Tionghoa bernama Lauw Piau Ngo.

Di sebelah kiri gerbang atau di sebelah timur, ada Taman Sare yang dulu merupakan pemandian keluarga kerajaan. Di istana ini ada beberapa hal unik, seperti Al Quran tulisan tangan berukuran raksasa, kereta kencana Kerajaan Sumenep, dan kereta kuda hadiah dari Kerajaan Inggris. Tepat di seberang Labang Mesem, ada Museum Keraton dengan sejumlah koleksi, seperti pedang, foto-foto kerajaan di masa lalu, kereta kencana, dan alat musik jadul.

Siang yang teduh di akhir Januari, kota yang ditempuh dalam empat jam dari Surabaya ini tak lagi diterpa sinar mentari yang terik. Cukup nyaman bagi saya menengok berbagai peninggalan PT Garam untuk mengenang Sumenep sebagai penghasil garam tersohor di masa lalu. Dari pusat kota, saya pun perlahan menuju Kalianget, kawasan yang dibangun VOC, kemudian diteruskan di masa penjajahan Belanda saat ingin menguasai pusat garam di Madura ini.

Di sebuah jalan dengan kiri-kanan pepohonan rimbun, mata saya menangkap deretan bangunan lawas yang lebih-kurang didirikan pada 1914-1925. Rupanya, saya sudah memasuki kawasan Kalianget. Mata kian awas menyimak kiri-kanan, di mana rumah-rumah tua terus berbaris. Ada pula lapangan tenis. Hingga kendaraan berhenti di sebuah gedung tua tanpa label. Setelah maju beberapa meter, terlihat bangunan dengan papan nama PT Garam (Persero) yang masih terpasang.

Di seberangnya, terlihat bangunan tua lain, konon dulu digunakan sebagai tempat hiburan, sejenis bioskop. Sedangkan gedung tua sebelum kantor PT Garam, ternyata Gedung Sentral yang menjadi pusat listrik. Tak jauh dari sana, saya menemukan lapangan dengan gapura sederhana. Untaian besi di atas gapura bertuliskan “Lapangan Taman Merdeka”. Di tengah lapangan ada sebuah tugu mini. Puncaknya dicat merah, juga di bagian bawahnya. Sederhana, tapi bikin saya penasaran.

Sebuah sepeda ontel berdiri tanpa teman di taman itu. Pemiliknya rupanya bapak tua yang tengah menyambit rumput. “Itu Tugu Kemerdekaan,” ujarnya. Kemudian saya bertemu dengan penarik becak berbaju garis merah-putih khas Madura. Ia menjelaskan lebih detail. Tugu Merdeka didirikan untuk memperingati perlawanan terhadap Belanda. Ia bertutur Belanda menyerang dari arah laut, dan rakyat pun berjuang menahannya di lapangan ini. Hingga ada lubang atau benteng pertahanan mini di ujung lapangan.

Lantas, Eri—begitu bapak itu menyebut namanya—bercerita tentang PT Garam di masa kejayaannya. Ia pun menunjukkan bekas gudang dan penampung air di bagian belakang kantor perusahaan itu. “Rumah-rumah bekas karyawan sekarang disewain dengan harga murah,” ucapnya. Sedangkan gudang-gudang dan kantor kosong, hanya menyimpan seonggok kenangan dan kejayaan saat Sumenep menjadi penghasil garam terkenal, saat kapal-kapal dari berbagai negara singgah di pelabuhan ini.

Langit mulai gelap. Ketika hujan sering turun di Bumi Pertiwi ini, Sumenep pun tak ketinggalan diguyur air dari atas. Saya harus beranjak, dan tentunya akan kembali esok pagi, karena perjalanan ke Gili Labak, dimulai dari Dermaga Kalianget. l

Gili Berpasir Putih

gili labak di Sumenep, Madura, Jawa Timur
Wisata Sumenep di Gili Labak. Dok. Rully K-TL

Dengan bantuan staf hotel, saya mendapat kontak pemilik perahu yang akan membawa ke Gili Labak. Sewa per kapal cukup tinggi, sekitar Rp 1 juta. Jadi saya pun bergabung dengan sejumlah penumpang lain dengan biaya per orang cukup Rp 75 ribu.

Selepas subuh, kendaraan melaju langsung ke Dermaga Kalianget. Semangkuk mi dan teh panas mengisi perut yang kosong sebelum saya menuju rumah pemilik perahu. Terbagi dari beberapa rombongan, dan akhirnya saya mendapat jatah rombongan terakhir yang baru berangkat pukul 06.30. Perahu berkapasitas 20 orang itu mulai melewati Pulau Talango, tepat di seberang dermaga. Pulau ini terkenal diburu peziarah karena di sana ada makam Sayyid Yusuf.


Awalnya laut tenang, tapi di tengah perjalanan, apalagi menjelang Gili Labak, ombak mengajak bergoyang. Akhirnya, setelah 2 jam di laut, kaki menginjak pantai berpasir putih nan halus. Saya mencoba berkeliling pulau kecil dengan ukuran 5 hektare itu. Tidak terlalu lama, sekaligus tak melelahkan. Ada beberapa pilihan spot untuk selfie atau wefie, dari jembatan, dermaga, sampai pepohonan kering. Tentunya bikin pelancong, yang kebanyakan lokal, bisa mejeng sana-sini.

Terlihat beberapa tenda berdiri di tepi pantai. Ada juga rumah-rumah penduduk yang disewakan. Sedangkan ikan-ikan lebih banyak berada di sisi belakang pulau. Hanya sayang, karena kerap surut, terumbu karang pun sering diinjak-injak hingga terlihat banyak yang mati. Seperti saat pulang, karena di bagian depan ombak begitu tinggi, perahu menaikkan penumpang dari sisi belakang.


Jangan terlena hingga sore di Gili Labak. Sebab, lewat siang, ombak terus meninggi. Berangkat sekitar pukul 14.00 pun ombak tak berhenti mengayun-ayun perahu, dan semburan air membuat penumpang di bagian depan basah kuyup. Seperti yang saya alami, rasa asin begitu lekat di badan. Dengan ombak tinggi, perjalanan pulang pun akhirnya berakhir setelah 2,5 jam. l

Rita N./Rully K./Dok TL

Kampung Adat Naga Dan 112 Rumah Mereka

Kampung Adat Naga di Tasikmalaya, sebuah perkampungan yang masih sangat memegang tradisi leluhur.

Kampung adat Naga di Jawa Barat selalu menarik perhatian mereka yang menyintai budaya dan adat istiadat. Dan itu semua dimiliki kampung yang konon sudah ada sejak abad 16.

Kampung Adat Naga

Kampung Adat Naga ini terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Yang unik letak kampung ini yang berada di lembah. Tidak hanya itu, Kampung Naga ini masih mempertahankan kearifan lokal dan budaya yang mereka jaga sejak dahulu.
Untuk mencapai Kampung Adat Naga ini dari Garut memakan waktu sekitar 1 jam. Letak kampungnya di sebelah kiri jalan. Uniknya adalah tata letak rumah dan arsitektur yang khas, sesaat sebelum masuk kampung kita harus melapor terlebih dahulu. Dan jangan mencari plang atau gapura tanda masuk desanya. Karena hal itu tidak ada.

Kampung adat Naga di Tasikmalaya menyimpan banyak menyimpan kearifan lokal. Misalnya soal jumlah rumah yang tak boleh berubah agar terga kelestarian alamnya.
Ratusan anak tangga menuju Kampung Naga. Foto: Dok. shutterstock

Nama Naga sendiri selalu menjadi pertanyaan mereka yang pertama kali mengunjungi kampung adat ini. Dan pada kenyataannya hamper tak ada dokumen otentik yang bisa menerangkan hal tersebut. Tentu ada kisah atau cerita legenda yang mencoba menjelaskannya.Dan semuanya menarik hingga kampung ini, sebelum pandemi, rata-rata dikunjungi 300 wisatawan setiap bulannya.

Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah “Pareum Obor”. Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Maka bila diterjemahkan secara singkat artinya matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah Kampung Naga itu sendiri. Mereka tidak mengetahui asal-usul kampungnya.

Naga sendiri kita tahu berasal dari hewan mitologi Tiongkok, namun nama kampung ini bukan melambangkan hewan mitos tersebut. Nama ini berasal dari bahasa Sunda nagawir, yang berarti dikelilingi tebing atau jurang (gawir).

Nama itu kemungkinan diambil dari kepercayaan bahwa leluhur masyarakat Kampung Naga berasal dari Kerajaan Galunggung, bernama Sembah Dalem Eyang atau Eyang Singaparna yang merupakan anak dari Prabu Rajadipuntang (Raja Galunggung ke-7).

 Ketika terjadi pergolakan penurunan tahta, Prabu Rajadipuntang berhasil meloloskan diri dengan membawa sejumlah pusaka kerajaan. Ia kemudian menemukan sebuah muara di antara Sungai Cikole dan Sungai Cihanjatan. Prabu Rajadipuntang kemudian membagikan pusaka kerajaan ke masing-masing putranya.

Eyang Singaparna mendapatkan warisan ilmu kabodoan (kebodohan). Dengan ilmunya itu, ia mendapat ilham agar mendapat ketenangan hidup bila bersembunyi di sebuah tempat yang terang.

Dalam perjalannya mencari kesahajaan hidup tersebut, Singaparna sampai di tempat yang dianggap aman dan tenang, sebuah lembah di pinggi Sungai Ciwulan. Sebuah lembah yang subur dan indah dengan dikelilingi perbukitan itulah yang kemudian menjadi Kampung Naga.

Kisah tersebut hampir mirip dengan versi sejarah yang ceritanya bermula pada masa kewalian Sunan Gunung Jati. Kisahnya, ada seorang abdi Sunan Gunung Jati bernama Singaparana yang ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari.


Di tempat tersebut sang abdi bersemedi dan dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga

Ada yang mencoba mengaitkan dengan sebuah prasasti yang disebut Piagam Naga. Namun jejak prasasti ini hilang saat terjadi pemberontakan DI/TII Karto Suwiryo pada 1957.
Apa pun versi ceritanya, yang pasti masyarakat Desa Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya tersebut masih memegang erat adat istiadat dari leluhurnya. Mereka hidup dalam kesahajaan, tanpa alat elektronik dan kendaraan.

Perbedaan tersebut sangat terlihat jelas, jika dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Adat Naga. Kehidupan masyarakat lokal kampung tersebut terlihat dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan lokal yang masih tradisional dalam kehidupan yang masih sangat melekat sehari-hari.

Hal lain yang terlihat soal kebersahajaan masyarakat kampung tersebut adalah dari rumah-rumah pemukiman penduduk. Bila diperhatikan, rumah penduduk di Kampung Naga ini seperti tanaman berjamur yang berjajar rapih. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik dan keunikan dari letak tatanan rumah di kawasan kampung tersebut.

Seluruh bangunan di kampung ini pun sama persis, yakni rumah panggung yang terbuat dari kayu. Atapnya berupa daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu.

Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung (gedong).

Rumah harus menghadap ke utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah barat-timur. Di sini rumah memiliki dua pintu yang sejajar. Bukan pintu depan dan belakang. Masyarakat di sini meyakini adanya pintu belakang akan membuat rezeki yang masuk dari pintu depan bisa keluar lewat belakang.

Jumlah rumah di Kampung Naga juga tidak pernah berubah, yakni 112 unit. Jika ada penduduk yang ingin membangun rumah baru, harus berada di luar kampung. Mereka kemudian akan menyandang predikat warga adat luar.

Kampung Naga memang merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari, di sini masyarakatnya masih memegang adat tradisi nenek moyang mereka. Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut.
Penduduk Kampung Naga semuanya beragama Islam. Begitupun, sebagaimana masyarakat adat lainnya, mereka juga sangat taat memegang adat-istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya.

Kampung Adat Naga semua warganya memluk agama Islam, namun seraya tetap memegang teguh tradisi leluhur.
Bedug dan kentongan di masjid di Kampung Naga. Foto: Dok. shutterstock


Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka.


Misalnya saja, kepercayaan masyarakat Kampung Naga kepada mahluk halus yang masih dipegang kuat. Percaya adanya jurig cai, yaitu mahluk halus yang menempati air atau sungai, terutama bagian sungai yang dalam. Kemudian “ririwa” yaitu mahluk halus yang senang mengganggu atau menakut-nakuti manusia pada malam hari.
Jika pengunjung ada yang ingin menginap, dapat membuat janji terlebih dulu dengan pemandu setempat. Namun pelancong hanya boleh menginap maksimal satu hari.

Jangan lupa pelajari aturan tinggal di sini. Salah satunya, tidak boleh memasuki kawasan hutan larangan, apalagi memetik buahnya. Ini bukan karena alasan mistis, melainkan agar alamnya tetap lestari. Bahkan penduduk yang membutuhkan kayu bakar pun hanya boleh mengambil ranting yang sudah jatuh di sungai atau tanah sekitar hutan.

Berkunjung ke sini belum lengkap jika tidak mencoba sajian kulinernya. Ada pipis, kue singkong yang diisi gula. Menyantap makanan ini lebih nikmat jika ditemani bajigur yang hangat dan manis. Selain kuliner, sempatkan pula membeli kerajinan tangan dari penduduk Kampung Naga.

Sudah punya agenda mengunjungi Kampung Adat Naga?

agendaIndonesia

*****

Toko Roti Sidodadi, Jadul Sejak 1954

Toko Roti Sidodadi satu legenda kuliner Bandung.

Toko Roti Sidodadi Bandung adalah kenang-kenangan kota Paris van Java ini sejak awal kemerdekaan Indonesia. Toko roti ini dibuka sekitar 1954, setahun sebelum Konferensi Asia Afrika diselenggarakan di kota ini.

Toko Roti Sidodadi

Untuk banyak orang, Toko Roti Sidodadi merupakan prasasti bagi hidup mereka. Berusia sekitar 70 tahun, banyak pelanggan mereka yang sudah sepuh, namun mereka tetap berkunjung ke toko ini jika mampir ke ibukota Jawa Barat ini.

Awalnya, Toko Sidodadi ini hanya memproduksi kue carabikang yang terbuat dari tepung beras. Hingga kini, kue tersebut masih dibuat. Setiap pengunjung bisa menyaksikan langsung pembuatan carabikang secara tradisional di bagian depan toko.

Toko Roti Sidodadi sudah ada sejak tahun 1954, setahun sebelum KTT Asia Afrika.
Jalan Oto Iskandar Dinata, Bandung. Foto: unsplash

Baru pada 1960-an, Sidodadi membuat roti yang dibuat secara tradisional dengan tangan. Mereka juga membuatnya tanpa bahan pengawet, sehingga rotinya hanya bisa bertahan 3-4 hari.

Proses pembuatan adonan rotinya menghabiskan waktu satu malam. Sementara pemanggangannya dilakukan pada pagi hari. Jadi selalu fresh. Mereka memanggang dua kali, pagi-pagi sekali untuk dijajakan pada pukul 10 pagi, dan pemanggangan siang untuk dijajakan pada pukul 4 sore.

Dalam perkembangannya, toko ini kemudian juga memproduksi roti-roti dan kue-kue yang lain. Aneka jajanan roti disediakan di sini, mulai dari roti manis dan asin. Tak hanya itu, mereka juga menyajikan berbagai makanan gorengan dan jajanan pasar.

Untuk roti rasa manisnya, ada roti cokelat, susu, kopi, kismis, nanas dan rasa manis lainnya. Sedangkan untuk rasa asinnya ada roti sosis, bakso sapi, smoked beef, bakso ayam dan roti kornetnya. Masing-masing memiliki penggemarnya.

Toko Roti Sidodadi kompas
Toko Sidodadi di Bandung. Foto: Milik kompas.com

Toko Roti Sidodadi ini tetap bertahan menjadi toko roti favorit di Bandung. Ini bisa terlihat dari ramainya pelanggan yang berasal dari berbagai kalangan yang mengantre untuk memesan roti di sini.

Toko Roti Sidodadi itu sendiri merupakan usaha roti keluarga. Sejak awal mengambil lokasi di Jalan Otto Iskandar Dinata Nomor 255, Kecamatan Astanaanyar, Bandung. Letaknya yang tidak jauh dari Alun-Alun Kota Bandung menjadikan toko roti ini menjadi pilihan favorit masyarakat Bandung dan mereka yang pernah tinggal di kota ini.

Bangunan Toko Roti Sidodadi hingga kini masih terlihat kuno. Di sisi depannya ada tulisan cukup besar bertuliskan “Toko Sidodadi” dengan huruf berwarna merah.

Bangunannya praktis tak banyak berubah sejak dulu. Di bagian luar toko, atau di pinggir jalan, masih terlihat pedagang-pedagang kecil buah atau penganan ikut menjajakan dagangan mereka dengan ember atau baskom.  

Suasana di dalam toko pun masih mirip masa lalu. Ia bukanlah bakery-bakery modern yang berhawa sejuk. Jejeran showcase-nya juga masih terlihat model lama. Pendek kata, bagi mereka yang pernah datang ke toko ini 30 tahun lalu akan mendapatkan kesan yang sama.

Menariknya, rasa roti dari toko yang satu ini tidak berubah dari zaman dahulu kala. Teksturnya empuk, rasanya yang enak menjadikan toko Roti Sidodadi selalu dipenuhi para pengunjung atau pelanggan setianya.

Toko Roti Sidodadi saat ini telah dikelola oleh generasi ke tiga dari pendiri awalnya. Penamaan “Toko Sidodadi” itu sudah ada sejak zaman awal toko tersebut berdiri. 

Tak ada penjelasan kenapa nama itu yang diambil dan mengapa dalam bahasa Jawa. Nama yang berarti “Jadi Dilakukan” atau “Jadi Dibuat” dalam bahasa Jawa.

Produk Roti Toko Sidodadi IG wa.nk
Roti dan kemasan Toko Sidodadi. Foto: Dok. IG wa.nk

Tak hanya itu keunikan toko roti ini. Hal lain yang tak berubah dari sejak awal toko ini beroperasi adalah kemasannya yang melegenda. Bungkus atau packaging rotinya sangat terkesan jadul.

Terbuat dari plastik berwarna putih dengan gambar berwarna merah seorang perempuan membawa roti tawar. Di bagian atas gambar terdapat tulisan nama toko roti dan alamatnya.

Selain itu tertera pula bahan baku yang digunakan serta nomor perizinan. Di paling bawah kemasan terdapat imbauan bertuliskan “Jadilah Peserta KB Lestari” dan “Buanglah Sampah pada Tempatnya”.
Kemasan ini menambah kesan klasik dari roti Sidodadi. Sang pemilik sepertinya ingin mempertahankan kesan atau image itu. Citra bahwa roti atau toko roti mereka adalah legenda kuliner Bandung, yang bahkan kemasannya pun tak berubah sejak dulu.


Ayo sekali-kali agendakan jajan roti di Sidodadi. Dengan harga yang terjangkau, para pelanggan dapat merasakan roti legendaris di Kota Bandung dengan berbagai varian rasa yang tidak kurang dari 30 pilihan rasa.

agendaIndonesia

*****

Pasar Triwindu Solo Antik Sejak 1939

Pasar Triwindu Solo berdiri sejak tahun 1939.

Pasar Triwindu Solo, Jawa Tengah, menjadi salah satu tujuan khusus wisatawan yang mengunjungi kota ini. Ia seakan menjadi surga bagi pecinta barang antik atau tiruannya, ya pasar ini memang dikenal sebagai pusatnya penjualan barang-barang antik dan kuno.

Pasar Triwindu Solo

Pasar Triwindu Solo berada di sisi selatan Pura Mangkunegaran, ia hanya berjarak sekitar 350 meter dari kraton itu. Kedekatan lokasi itu karena memang Triwindu merupakan peninggalan Raja Pura Mangkunegaran. Pasar ini dibangun di selatan kompleks Kraton Mangkunegaran, tepatnya di sisi timur kalan raya yang mengarah ke gapura istana. Secara administratif berada di wilayah kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta atau Solo.

Pasar Triwindu Solo dibangun untuk memperingati 24 tahun masa bertahta KGPAA Mangkunegara VII.
Pasar Triwindu Solo yang terletak di Jalan Diponegoro. Foto: dok. shutterstock

Ia disebut Triwindu karena dibangun pada 1939 oleh KGPAA Mangkunegara VII sebagai peringatan 24 tahun (atau tiga windu) masa pemerintahannya. Pada 5 Juli 2008, pasar ini dipugar dan dibuat bangunan baru yang disesuaikan dengan arsitektur budaya Solo. Awalnya, tempat ini bernama Windujenar lantas seiring perkembangan berubah menjadi Pasar Triwindu.

Pasar Triwindhu Ngarsapura adalah pasar barang antik, tiruannya, serta onderdil khusus (klithikan). Barang klithikan ini, misalnya, tuts mesin ketik kuno. Atau lampu sepeda onthel lawas yang sudah tak ada di toko-toko sepeda.

Bagi kolektor barang antik, Solo menjadi surga yang menyediakan beragam benda bernilai sejarah dan suvenir jaman dulu. Pasar Windujenar atau yang lebih dikenal sebagai Pasar Triwindu menjadi sentranya. Terletak di kawasan Ngarsopura di Jalan Diponegoro, pasar ini menawarkan keunikan bertransaksi: berbagai barang antik yang boleh ditawar.

Pasar ini ketika dipugar dibuat menjadi dua lantai, sehingga kios-kios yang awalnya berhimpitan menjadi agak longgar. Pada lantai satu digelar barang-barang lawas dan antik. Sementara itu di lantai dua, mayoritas barang yang ditawarkan adalah onderdil kendaraan tua.

Di lantai satu dagangan yang digelar mulai gramofon buatan Eropa, senjata pusaka, kamera tua, ukiran, peralatan rumah tangga lawas hingga mainan antik. Ada juga mata uang kuno, baik yang berbentuk koin atau kertas, misalnya yang dikeluarkan pada 1800-an; topeng, piring kuno buatan 1960, aneka kain batik lawas, dan perkakas rumah tangga. Kemudian ada radio kuno, jam tangan bekas, patung, lampu hias kuno, hingga mainan tradisional tempo dulu, seperti dakon dan lainnya.

Seperti disebut di muka, keunikan penjualan barang-barang antik dan kuno yang dijual di pasar ini harganya bervariasi. Mulai harga yang termurah dari ribuan rupiah saja, ratusan ribu hingga puluhan juga rupiah. Para pembeli yang datang ke pasar ini sebagian besar para pelancong yang hobi mengkoleksi barang-barang antik dan kuno. Mereka tidak saja dari segala penjuru daerah di Indonesia, tetapi juga kolektor dari mancanegara (luar negeri). Seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, Belanda dan lainnya.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Triwindu Sudarsono bercerita bahwa lahan yang digunakan sebagai pasar tersebut awalnya difungsikan sebagai alun-alun Mangkunegaran. Pembangunan sebagai Pasar Triwindu menurutnya memiliki dua versi. Versi pertama adalah ketika pada 1939, ketika Pura Mangkunegaran dipimpin KGPAA Mangkunegara VII, ia membangunnya sebagai ulang tahun jumeneng yang ke 24.

Sedangkan versi kedua, menurut Sudarsono, adalah KGPAA Mangkunegara VII berniat memberi hadiah ulang tahun ke 24 untuk putrinya, Gusti Putri Mangkunegara VII yang bernama Noeroel Kamaril.

iNamun bisa jadi kebaradaan pasar ini merupakan gabungan kedua versi tersebut, yakni membangun pasar sebagai perayaan bertahta selama tiga windu dan kemudian pasar itu kemudian dihadiahkan kepada Gusti Noeroel bertepatan dengan ulang tahunnya ke 24. Nama Triwindu berasal dari kata ‘Tri’, dalam bahasa Jawa yang berarti tiga. Sedang ‘windu’ artinya delapan. Kemudian diterjemahkan dalam bilangan angka 24 yang berarti tiga kali delapan.

“Nama Pasar Windujenar pada Juni 2011 berubah nama jadi Pasar Triwindu hingga sekarang,” kata pria tersebut.

Pasar Triwindu dimanfaatkan sekitar 200an pedagang menjajakan koleksinya. Selain tujuan kdiriolektor barang antik dan kuno, Pasar Triwindu juga menjadi tujuan wisata. Menurutnya, pengunjung pasar Triwindu ada tiga kategori. “Wisatwan dari Solo sendiri, dari luar kota, dan mancanegara. Tetapi kebanyakan yang belanja di sini dari luar kota,” katanya.

Seorang pedagang Pasar Triwindu mengaku sudah lama berjualan barang antik sejak pasar itu masih bernama Windujenar. Menurutnya, banyak pembeli datang membeli barang antik dan kuno selain untuk koleksi pribadinya, namun tak sedikit untuk dijual kembali di kota asalnya.

Menurutnya, ada perbedaan antara pembeli kolektor dengan pembeli pedagang atau setengah kolektor-pedagang. Kolektor umumnya tak banyak menawar harga barang jika sudah cocok dengan barang yang diinginkannya. Sementara yang berpikir untuk menjual kembali biasanya melakukan tawar menawar.

Pasar Triwindu Solo dengan koleksi dagangannya menjadi incaran para kolektor barang antik
Salah satu sudut Pasar Triwindu Solo dengan koleksi dagangannya. Foto: dok. shuterstock

Tren barang antik yang dicari para pembeli rupanya juga selalu berganti sesuai jamannya. Periode 1970-1990, misalnya, banyak pembeli dari mancanegara yang datang membeli barang antik dan kuno. Barang antik atau kuno yang dibeli kebanyakan keris, patung, dan arca. Pembelinya adalah kolektor dari Belanda, Inggris dan Australia. Kemudian pada era 1990-2000-an para pembeli yang datang ke Pasar Triwindu mencari lampu kristal kuno atau perabotan rumah tangga.

Triwindu, yang sampai sekarang muka sejak pukul sembilan pagi dan tutup kadang sampai malam menjadi primadona dan pilihan bagi para kolektor yang ingin mencari barang-barang antik dan kuno.

Jika pandemi sudah mereda dan ada rencana ke Solo, tak ada salahnya agendakan kunjungan ke Triwindu.

agendaIndonesia

Menikmati 1 Tradisi Batik Pecinan Lasem

Berburu batik jangan sampai melewatkan mampir ke Lasem. Di sini ada batik dengan motif campuran oriental dan Jawa.

Menikmati 1 tradisi pecinan Lasem, Jawa Tengah, seperti menggambarkan perjalanan sejarah Nusantara yang tak lepas dari terpaan budaya Tionghoa. Lasem telah kesohor sebagai kota pecinan tua di Indonesia. Konon, kota ini merupakan peradaban masyarakat Tionghoa pertama di tanah Jawa.

Menikmati 1 Tradisi Batik Pecinan

Mengunjungi Lasem seperti menyusuri lorong waktu. Di sini, waktu seakan berhenti. Gedung-gedung bangunan milik masyarakat setempat di sana masih lawas. Pemiliknya hidup mempertahankan keaslian warisan pendahulu mereka. Little China atau Tiongkok Kecil, begitulah orang-orang menyematkan julukan pada Lasem, sebuah kecamatan kecil di Rembang, Jawa Tengah. Kota ini kemudian menjadi magnet bagi para penyuka sejarah. Juga para pegiat budaya Cina.

Lasem tak ayal kian hari menjadi derah tujuan wisata. Namanya lekat dengan embel-embel destinasi sejarah. Pariwisata Lasem berkembang seiring dengan meningkatnya hobi masyarakat Indonesia untuk berwisata. Dari sini pula dikenal sesuatu karya seni khas, batik Lasem yang telah dikenal seantero Nusantara.

Menjangkau Lasem dari Jakarta tidaklah sulit. Bahkan, jikapun memiliki bujet terbatas, Anda masih bisa nekat menyambangi kota itu dengan cara murah dan nyaman. Langkah pertama dari Jakarta ialah memilih transportasi kereta api menuju Semarang, ibu kota Jawa Tengah.

Ada kereta api ekonomi-AC KA Tawang Jaya yang berangkat dari Jakarta pukul 23.00 dari Stasiun Pasar Senen dan tiba di Stasiun Poncol Semarang pukul 06.30. Atau bisa memakai kereta Tawang Jaya Premium dengan jadwal keberangkatan pagi. Namun waktu tiba di Semarang pukul 13.35. Bila memilih kereta ini, Anda akan tiba di Lasem sore menuju malam.

Di Semarang, setelah tiba di stasiun, wisatawan harus menuju Terminal bus Turboyo di pinggiran kota Semarang arah Demak. Biaya bus patas menuju Lasem ialah Rp 45 ribu. Ada juga pilihan bus ekonomi dengan tarif Rp 25 ribu. Namun, karena akan menempuh perjalanan lebih-kurang 3 jam, sebaiknya memilih patas AC agar nyaman.

Bisa pula menggunakan angkutan udara. Dari Bandara Soekarno Hatta atau Halim Perdanakusuma menuju bandara Ahmad Yani di Semarang. Dari sana bisa menggunakan mobil sewaan atau seperti di atas, menggunakan bus antarkota dari Turboyo.

Sesampainya di Lasem, wisatawan akan merasakan atmosfer yang lain, yang mungkin belum pernah dirasakan di kota mana pun. Ada begitu banyak peninggalan yang memiliki warna Tionghoa di kota ini. Mulai dari arsitektur bangunannya, dari rumah tinggal hingga ke masjid. Dan tentu saja batik Lasem-nya yang khas.

Dahulu pada era 1950-an, batik masih begitu berjaya di kota itu. Kota Lasem begitu ramai pendatang saban hari. Orang dari mana pun, seperti Surabaya, Semarang, Kudus, Solo, berkunjung khusus untuk belanja batik.

Namun para pengusaha batik ini kemudian harus gigit jari pada era Orde Baru. Usaha batik meredup. Bahkan motif batik pun yang boleh diproduksi dibatasi. Pola khas Lasem yang memiliki corak pecinan seperti barong, naga, tulisan Mandarin dan sejenisnya tak boleh diproduksi. Ini tentu berkaitan dengan kondisi sosial politik saat itu. Ada sensitifitas jika berkaitan dengan Tionghoa atau Cina pasca tumbangnya rezim Orde Lama.

Padahal, menurut Opa Gandor, warga Lasem yang dituakan di kawasan pecinan kota ini, keturunan Cina di Lasem adalah warga asli Nusantara. Peradaban Cina masuk Lasem sudah ratusan tahun dideteksi keberadaannya. Keturunannya pun sudah sampai garis kedelapan atau sembilan saat ini sejak Cina masuk ke Lasem sekitar tahun 1300-an. Diperkirakan ada sekitar 7.000-an orang Cina masuk Lasem waktu itu dan semuanya pria yang lalu menikah dengan perempuan setempat.

Saat ini praktis industri batik di Lasem umumnya adalah produksi rumahan. Ada beberapa yang merupakan peninggalan pengusaha lama yang tersisa. Misalnya, Batik Pusaka Beruang milik pengusaha bernama Santoso Hartono atau biasa dipanggil pak San. Menurut Opa Gandor, pak San adalah satu dari segelintir pebisnis batik yang bertahan di Lasem.

Lalu apa istimewanya batik Lasem dibandingkan dengan motif batik lain di tanah air. Sebab kita tahu, batik merupakan kain tradisional khas Nusantara yang memiliki beragam jenis dari berbagai penjuru daerah di Indonesia, bahkan sudah diakui dunia sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non-bendawi oleh UNESCO.

Tradisi membatik di sejumlah kota di Jawa,] sampai sekarang masih dilestarikan dengan baik. Sebutlah Solo, Yogyakarta, Pekalongan, kemudian ada Cirebon, bahkan Madura. Dari banyaknya jenis batik dari berbagai daerah di Indonesia itu membuat setiap perajin batik di tiap daerah memiliki motif yang unik dan berbeda-beda.

Dan batik Lasem memiliki keunikan tersendiri. Dari sejarahnya di atas, lahir batik dengan motif yang merupakan perpaduan antara dua budaya, yakni Jawa dan Tionghoa. Dari paduan antar dua budaya tersebut terciptalah batik Lasem.

Menurut sejarah, munculnya batik Lasem terkait erat dengan kisah Laksamana Cheng Ho, panglima perang dari Tiongkok yang mendarat di tanah Jawa. Lasem adalah tempat mendarat pertama kali pasukan Cheng Ho dalam ekspedisinya ke selatan pada sekitar tahun 1403-1433. Kota ini juga diperkirakan sebagai daerah yang pertama kali kedatangan masyarakat Tionghoa di Jawa.

Dalam Babad Lasem yang ditulis ulang oleh Raden Panji Kamzah pada 1858, diceritakan bahwa Bi Nang Un selaku anak buah kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Tiongkok bersama istrinya bernama Na Li Ni memutuskan tinggal di Bonang, Jawa Tengah. Dari babad tersebut diyakini kalau Na Li Ni adalah orang pertama yang membuat batik lasem bermotif burung hong, seruni, liong, mata uang, dan banji dengan warna merah ciri khas masyarakat Tionghoa.

Seiring dengan berkembangnya zaman, batik Lasem yang berciri khas warna mencolok, seperti merah, hijau botol, dan biru tua ini mulai mempunyai berbagai motif. Corak yang ada pada batik lasem dominan dengan motif hewan yang dipadukan dengan motif tumbuh-tumbuhan khas Jawa.

Secara umum, batik Lasem memiliki dua motif utama, yakni motif Tionghoa dengan gambar burung hong, naga, ayam hutan, dan sebagainya, sedangkan motif non-Tionghoa bergambar sekar jagad, kendoro kendiri, kricak, grinsing, dan lainnya. Motif kricak, atau kricakan, juga diketahui sebagai bentuk “dokumentasi” pembatik Lasem atas kerja rodi membangun jalan raya pos di masa Gubernur Jendral Daendels.

Tertarik main ke Lasem? Berikut beberapa nama perajin dan sentra batik di kota pecinan ini.

Batik Pusaka Beruang

Berlokasi di Jalan Eyang Sambu-Jatirogo

 

Batik Bu Kiok

Berlokasi di Karangturi Gang 6

 

Batik Nyah Sutra

Terletak di Karangturi.

 

Batik Maranatha

Berlokasi di Karangturi

 

Kampung Batik Babagan

F. Rosana

Bakmi Mbah Hadi, Di 1 Sudut SPBU Terban

Bakmi Mbah Hadi salah satu ikon kuliner di Yogyakarta.

Bakmi Mbah Hadi bisa jadi menjadi satu cerita tentang bakmi Jawa dari kota Yogyakarta yang bertahan puluhan tahun. Gumbreg Hadisumarto pemilik sekaligus perintis warung ini bahkan hampir lupa kapan ia mulai berjualan. Yang jelas bakmi ini sudah ada sejak sebelum tahun 1990.

Bakmi Mbah Hadi

Mbah Hadi, begitu ia biasa dipanggil, sama seperti cerita banyak kuliner legendaris di Indonesia, memulai usahanya dari kecil. Dulu sekali ia membuka usahanya dengan gerobal dorong yang kemudian mangkal di bagian depan terminal bus kecil di kawasan Terban, atau di sisi barat Jalan C. Simanjuntak.

Ketika itu gerobaknya hanya dilengkapi satu meja dan dua bangku panjang. Kebanyakan pembeli membawa pulang, karena hampir pasti tak mendapat tempat duduk.

Bakmi mbak Hadi di Yogya lokasinya ada di dalam SPBU, menjadi slah satu ikon bakmi Jawa seperti Tugu Pal Putih
Tugu Pal Putih Yogya, landmark kota pelajar. Foto: shutterstock

Bakmi Jawa memang merupakan salah satu makanan khas dan favorit masyarakat di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Bakmi Jawa atau mi Jawa awalnya dikenal sebagai bakmi rebus atau dalam bahasa jawa disebut bakmi godhog yang dimasak dengan bumbu dan rempah yang khas masakan Jawa.

Meskipun awalnya pembeli umumnya memilih memesan bakmi godhog, bakmi jawa memiliki banyak variasi masakannya. Ada bakmi rebus yag berkuah, bakmi goreng, bakmi nyemek, ini kembangan dari bakmi godhog yang kuahnya sudah hampir habis.

Penjual bakmi jawa di Yogyakarta biasanya  juga menjual nasi goreng. Dan yang tak kalah unik adalah gaya magelangan di dalam menu masakannya. Ini adalah nasi goreng yang dicampur dengan mie goreng.

Keistimewaan bakmi jawa adalah pada cara pengolahannya. Penjualnya masih memasak menggunakan anglo yakni tungku dari tanah liat dan api dari arang. Setiap pembeli bakmi jawa meskipun memesan dengan jumlah posri yang banyak, namun penjual bisanya membuatnya tetap satu per satu porsi.

Demikian juga yang dilakukan di warung bakmi Mbah Hadi. Mereka memasak satu er satu setiap pesanan. Saat ini mereka menggunakan tiga juru asak dengan tiga anglo agar pembeli bisa cepat terlayani.

bakmi Mbah Hadi sedang dimasak  dengan anglo.
Bakmi Jawa biasanya dimasak porsi demi porsi dengan anglo dari tembikar. Foto: shutterstock

Keistimewaan bakmi Mbah Hadi adalah pada suwiran daging ayam kampung dan telur bebek sebagai bahan membuatnya. Rasa yang akan diperoleh dari bahan-bahan tersebut akan membuat rasa bakmi Jawa menjadi khas.

Penjual bakmi Jawa umumnya berasal dari Desa Piyaman, Wonosari, Gunung kidul, Yogyakarta. Dulu penjualnya juga biasanya mulai menjajakan dagangannya mulai senja dengan menggunakan gerobak tempat memasak bakmi di depan tempat usaha mereka.

Waktu berlalu, Terminal bus Terban direvitalisasi dan warung gerobag bakmi mbah Hadi pun terpaksa tersingkir. Sesungguhnya ia bisa saja berjualan di tempat lain, namun orang Yogya kadung mengenal bakminya juga dengan sebutan bakmi Terban.

Mbah Hadi dan keluarganya pun kemudian berupaya mencari lokasi di sekitar tempat lama. Kebetulan stasiun pompa bensin umum Terban yang terletak di sekatan terminal juga tengah direvitalisasi, jadilan warung bakmi Mbah Hadi mendapat tempat di belakang SPBU Terban ini.

Warung bakmi ini memang terletak di dalam area SPBU, tepatnya di pojok utara. Jadi untuk menuju ke sini adalah masuk ke dalam SPBU. Jangan kaget kalau warung mbah Hadi ini berupa bangunan mungil yang cukup modern.

Selain di dalam warung, pengunjung juga bisa memilih area luar ruangan yang berada di belakang. Banyak yang suka dengan yang di luar, sebab di sini ada pemandangannya. Suasana Kali Code dan kerlap-kerlip lampu kota.

Bakmi Godog Jogja shutetrstock
Kuah bakmi godhog enak ketika disruput, hangatnya sampai ke seluruh badan. Foto: shutterstock

Porsi masakan bakmi di warung ini cukup besar. Jadi sesungguhnya cukup memesan satu porsi untuk satu orang. Namun kadang ada pula pelanggan yang memasan dua secara bergantian: godhog dulu, lalu disusul dengan yang goreng.

Dengan tiga tungku dan tiga pemasak berikut tiga asisten masak (mereka bertugas mengatur kipas, mengisi arang, dan menyiapkan piring), pelayanannya cukup cepat. Meski pada jam-jam sibuk, orang tetap harus sabar mengantre.

Kuah bakmi rebusnya benar-benar enak dan gurih. Pemakaian telur bebeknya membuat kuahnya betul-betul terasa istimewa. Belum lagi bumbunya yang cukup berani. Satu hal lagi yang menarik adalah tekstur bakminya yang kenyal dan besar. Benar-benar pas untuk disantap dengan bumbu-bumbu yang digunakan.

Hal yang menarik juga dari mbah Hadi adalah di sini pembeli bisa mengajukan permintaan khusus untuk campuran bakmiya. Di warung bakmi jawa ini, misalnya, pengunjung bisa meminta daging ayam yang dipakai adalah brutu atau kepala. Sepanjang masih ada, permintaan akan dilayani.

Warung bakmi Jawa Mbah Hadi ini buka antara pukul 18.00 – 23.00 WIB. Jika ingin lebih nyaman, hindari datang pada pukul 19.00 hingga 21.00, karena itu adalah puncak keramaian. Meski buka hingga pukul 23, mereka menerima pesanan terakhir pada pukul 22.

Warung Bakmi Jawa Mbah Hadi;  Jalan C. Simanjuntak Nomor 1 (di dalam SPBU Pertamina Terban), Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. 

agendaIndonesia

*****

Krisna Bali, Dari Kaos ke 10 Toko Oleh-oleh

Krisna Bali pusat oleh-oleh di Pulau Dewata yang tumbuh sebagai spot wisata tersendiri.

Krisna Bali pasti sudah menempel di benak semua wisatawan yang pernah menginjakkan kakinya di pulau Dewata ini. Setidaknya buat mereka yang mengunjungi Bali 15 tahun terakhir. Jika liburan identik dengan oleh-oleh, maka liburan ke Bali berarti Krisna.

Krisna Bali

Toko Krisna Bali saat ini memang pusat oleh-oleh terbesar di Bali. Di sini pengunjung bisa menemukan berbagai macam produk, mulai dari makanan, kerajinan tangan, hingga aneka produk spa yang biasa dijadikan buah tangan oleh para pelancong.

Krisna Bali identik dengan aneka oleh-oleh Bali yang khas.
Toko Krisna Bali di Jalan Nusa Kambangan, Denpasar. Foto: Dok. Krisna Bali

Krisna Bali merupakan toko yang menawarkan berbagai produk ciri khas Bali yang menarik berupa beranekaragam bentuk design kaos kartun tentang Bali yang diproduksi sendiri, unik, lucu dan menarik yang tidak ada di toko atau tempat lain. Jika menarik sejarah perjalanan toko ini, produk kaos unik ini memang cikal bakal  berdirinya “imperium” gerai oleh-oleh di Bali ini.

Pembangunan Krisna Bali berawal dari pemikiran Gusti Ngurah Anom, yang saat itu merupakan pemilik Cok Konfeksi. Ngurah Anom, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Anom atau sekarang lebih sering disebut sebagai Ajik (bapak) Krisna, ketika setiap hari menggeluti usaha konveksinya, melihat celah pangsa pasar yang lebih besar. Bisnis oleh-oleh.

Melihat kondisi bisnis Ajik Krisna saat ini yang seperti berada di menara emas, orang mungkin tak tahu bahwa ia meraihnya dari anak tangga paling bawah. Dari usianya yang masih muda. Sang pemilik jaringan Krisna Bali ini hanyalah lulusan SMP.

Ajik Krisna ini terlahir sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara yang hidup dalam keluarga yang kurang mampu. Ayahnya merupakan seorang petani, sementara ibunya berjualan kue di pasar. Untuk membantu perekonomian keluarga, Ajik Krisna ketika itu harus membantu pekerjaan kedua orangtuanya. Bahkan di usianya yang masih kecil ia sudah bekerja sebagai buruh angkat kayu di tempat usaha kakeknya. 

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada awal 1992 Ajik Krisna memberanikan diri membuka toko baju kaos dengan nama Cok Konfeksi di Jalan Nusa Indah, Denpasar. Ia adalah contoh kegigihan. Cok Konfeksi tak memerlukan waktu lama untuk diperhitungkan sebagai salah satu usaha yang tumbuh membesar besar di Bali.

Setelah sukses dengan usahanya tersebut, Ajik Krisna kembali memikirkan peluang bisnis yang berpotensi laris manis. Idenya kemudian ia wujudkan dalam bentuk bisnis sentral oleh-oleh Bali bernama Krisna Oleh-Oleh Khas Bali yang pertama berdiri pada 16 Mei 2007. Bisnis ini merupakan anak usaha di bawah manajemen Cok Konfeksi. Inilah Krisna Bali pertama yang berlokasi di Jalan Nusa Indah Nomor 79 Denpasar, Bali.

Krisna Bali dimulai dari konveksi kaos lalu tumbuh menjadi bisnis oleh-oleh yang menggurita.
Suasana interior Krisna Bali di Jalan Tuban, Denpasar. Foto: Dok. Krisna Bali

Mulanya, Ajik Krisna hanya menjual kaos sebagai cenderamata. Ia melibatkan para desainer terkemuka untuk menciptakan desain karikatur pada kaosnya. Selanjutnya, ia terus mengembangkan produknya mengikuti permintaan pasar.

Dalam waktu singkat, Krisna Oleh-Oleh Khas Bali menjadi sangat populer dan gerainya telah dibuka di beberapa tempat lain. Hingga kini, sentral oleh–oleh khas Bali gagasan Ajik Krisna telah menjadi pusat oleh-oleh terbesar di Pulau Dewata.

Ia berdiri, berkembang dan menjadi raksasa bisnis oleh-oleh sampai saat ini. Sukses sebagai pusat oleh-oleh nomor 1 di Bali. Bagi para pelancong yang berkunjung ke Bali pastinya tak pernah melewatkan Toko Krisna Oleh-Oleh. Bukan pantai, bukan juga tempat wisata lain, namun tempat ini tak pernah sepi pengunjung. 

Di Toko Krisna Oleh-oleh atau Krisna Bali ini selain kaos dan konveksi sebagai produk awal mereka, kini juga terdapat cemilan, kerajinan tangan, bed cover, pernak pernik, tas kreasi, perak, lukisan, seni pahat, anyaman dan masih banyak produk-produk hasil karya para pengrajin Bali yang tidak kalah bagusnya.

Toko ini menjadi laris karena selain gerainya fancy, produknya lengkap, harga produk di Krisna Bali juga tidak jauh berbeda dengan di tempat lain, seperti misalnya di Sukawati. Pusat oleh-oleh tradisional lain di Bali. Di Krisna Bali pengunjung yang datang tidak perlu susah-susah menawar, bahannya sedikit lebih bagus dengan pilihan yang lebih banyak.

Krisna Bali tumbuh dari satu gerai menjadi 10 gerai sepanjang hampir 15 tahun ini.
Gerai oleh-oleh di Krisna Bali di Surabaya. Foto: Dok. Krisna Bali

Setelah gerai pertama di Jalan Nusa Indah, Denpasar, saat ini Krisna Bali sudah memiliki Sembilan gerai lainnya. Delapan berada di Bali, sedangkan dua sisanya ada di Surabaya dan Jakarta. Ragam oleh-oleh yang dijual pun semakin beragam.

Sejumlah tempat oleh-oleh tiga-empat tahun terakhir bermunculan di Bali, namun yang menjadi ikon pusat oleh-oleh masih tetap Krisna.

Sudah pernah mampir ke Krisna Bali? Kalau belum, agendakan untuk mampir jika liburan ke Bali lagi.

agendaIndonesia

*****

Keroncong Tugu Warisan Portugis Sejak Abad 16

Keroncong Tugu Warisan Portugis

Keroncong Tugu warisan Portugis sejak abad 16 hingga kini masih terus bergema di kawasan Jakarta Utara. Tak banyak lagi yang memainkannya, memang, tapi Keroncong Tugu seolah menjadi prasasti keberadaan bangsa Eropa pertama yang menancapkan kakinya di Nusantara itu di negeri ini.

Keroncong Tugu Warisan Portugis

Kangen musik keroncong? Cobalah sesekali mampir ke markas Keroncong Tugu di Koja, Jakarta Utara. Di sini sesekali kelompok musik yang terdiri dari delapan orang kadang manggung di gazebo yang disulap menjadi panggung musik. Delapan pemusik berpakaian koko, bertopi baret, dan berkalung syal ala Portugis berjajar di gazebo.

Adalah Guido Quiko yang kini sering tampil sebagai frontman. Ia sejatinya pemain gitar kelompok ini, namun sesekali ia ikut melantunkan lagu.

Dengan jumlah penonton yang tak terlalu banyak, Keroncong Tugu terus bersemangat memainkan nomor-nomor lama yang masih memanjakan telinga penggemar mereka. Seperti malam itu. Setelah menyapa pendek penonton, Guido lantas saling memberi isyarat ke pemusik lainnya. Layaknya sebuah kode, tujuh musikus di belakangnya langsung siap dengan alat masing-masing.

Guido lebih dulu membunyikan sepotong melodi. Terdengar alunan gitar yang harmonis. Entakan rebana lantas spontan menyambutnya. Begitu pula dengan contrabass, violoncello, macina, frunga, dan biola. Masing-masing membentuk melodi yang padu. Lagu Oud Batavia berdengung merdu.

Suara Guido masuk, melantunkan lirik dengan bahasa yang cukup asing: campuran antara Portugis Kreol, Belanda, dan Melayu. Dalam beberapa bagian, terucap satu-dua kata berdialek Betawi yang humoris. Pemusik lain juga menyelingi dengan celotehan yang memantik gelak tawa. Hasilnya, ketukan 4/4 dengan chord yang diulang-ulang tak membikin penonton bosan.

Meresapi lagu membawa ingatan ke zaman 1950-an. Di masa itu, Portugis melakukan pelayaran pertamanya ke Malaka, di bawah “asuhan” Alfonso de Albuquerque. Dalam bayangan, budak-budak kapal berpesta hampir tiap waktu. Mereka asyik bergoyang tarian Moresca. Ditambah dengan iringan rentak musik serupa.

Alunan crong-crong dari macina dan frunga makin lirih. Tempo rebana melambat. Suara Guido tak terdengar. Dentuman contrabass dan instrumen violoncello melambat. Hanya bunyi bow menggesek senar biola masih santer. Violinis separuh baya, yang mengambil posisi di samping Guido, menutup lagu dengan gangsar.

Tuntas menamatkan Oud Batavia, Gatu Matu giliran menjadi lagu pelipur. Kali ini Guido mengajak rekan penyanyinya, Nining Yatman, tampil di panggung. Perempuan dengan cengkok yang kental itu sudah lama bergabung dengan orkes Keroncong Tugu. Memakai setelan kebaya Betawi, Nining menampilkan figur sebagai “keturunan gang kelinci” sesungguhnya. Rautnya riang, gerakannya lincah. Kala berdendang, ia melafalkan lagu dengan laur, meski lirik harus diujarkan penuh lantaran bahasanya gado-gado. Penonton ikut bergoyang, terbius tarian Nining.

Lagu yang didendangkan Nining, yang bercerita tentang kucing hutan tapi dikisahkan dalam bahasa Portugis Kreol, itu makin mempertegas karakter permainan kelompok Guido dan kawan-kawan. Selain kostumnya yang menyerupai pengembara suku Moor—bertopi baret—dari irama, syair, dan gaya memainkan alat musik, nyata betul bahwa seni yang dibawakan merupakan hasil akulturasi budaya. “Kami memang keturunan Portugis yang ‘tertinggal’ di Batavia,” tutur Guido tersenyum.

Guido merupakan generasi keempat keluarga Quicko. Kemunculan musik keroncong tak lepas dari sejarah kedatangan moyang Guido ke Batavia—kini jadi Jakarta. Mulanya, ketika Belanda datang ke Malaka pada 1641, orang-orang Portugis, yang sebelumnya berkuasa, “dibuang”. Sekitar 23 dari 800 keluarga yang didepak Belanda disingkirkan ke kawasan hutan belukar di tenggara Batavia, yang kini menjadi Kampung Tugu. Di sana, mereka terasing dari keramaian. Sebagai hiburan, 23 keluarga itu menciptakan alat musik dari kayu waru dan pohon-pohon yang ada di sekitarnya. Bentuknya menyerupai gitar. Namun senarnya hanya lima. Mereka menyebutnya jitara. Kala dibunyikan, suaranya nyaring. Crong-crong. Karena itu, mereka menamai keroncong untuk perpaduan musik jitara dan bunyi-bunyian lain.

Lantas, berkembanglah jitara dengan ukuran yang lebih kecil. Namanya macina dan frunga. Macina memiliki empat senar, sedangkan frunga tiga senar. Keduanya memiliki ukuran yang berbeda, dengan suara yang berlainan pula. Setelan chor­d-nya pun tak sama. “Frunga memiliki setelan internasional. Kalau macina naik empat nada,” tutur Guido.

Macina dan frunga dibentuk dari kayu kembang kenanga agar kuat dan suaranya nyaring. Senarnya terbuat dari kulit kayu waru yang dikeringkan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, lantaran keterbatasan bahan baku dan alasan keefektifan, peranti tersebut dapat digantikan dengan senar pancing. Suaranya sama: memantulkan karakter yang tegas. Bahkan, di panggung terbuka, seperti malam itu, tanpa pengeras suara pun, irama garukan senar macina dan frunga terdengar paling nyaring.

Jitara kini tak dibuat lagi karena ukurannya terlalu besar. Guido pun memboyong gitar, bukan jitara, saat tampil. “Karena jitara besar, kayunya pun otomatis harus yang ukurannya besar. Selain terhambat pembuatan, pohon bisa habis ditebang untuk membikin jitara,” ujarnya. Yang dipertahankan dari tradisi moyangnya adalah frunga dan macina. Kedua alat musik itulah kini yang menjadi nyawa Keroncong Tugu.

Komponen lain yang dihadirkan untuk menyelaraskan musik adalah rebana, biola, violoncello, contrabass, dan gitar. “Rebana muncul untuk menguatkan kesan Betawi. Hanya kami (Keroncong Tugu) yang memakainya,” ucapnya. Rebana bertindak sebagai perkusi, sedangkan yang lain membentuk melodi.

Nyanyian-nyanyian berikutnya berkumandang. Larut kian membakar panggung. Selendang Mayang, Gang Kelinci, Cafrinho, dan Moressco berturut-turut menghibur. Jiwa-jiwa militan mengawinkan nada demi nada. Sekali garuk senar, nyawa satu sama lain menyatu. Tak heran kalau Malaysia, Timor Leste, Belanda, dan beberapa kota di Indonesia doyan mengundang kelompok itu manggung.

Mempertahankan Tradisi

Di masa lalu, Keroncong Tugu berhasil membius masyarakat sekitar. Lambat laun, perkampungan keturunan Portugis itu menjadi tenar. Dua-tiga di antaranya lantas “memboyong” keroncong ke luar dan mengembangkan dengan pakem baru.

Setelah kondang, Keroncong Tugu dibuat menjadi kelompok resmi. Pemukanya adalah Joseph Quicko. Ia bergerilya mulai 1925. Sayangnya, perjalanan musik Keroncong Tugu tak terlampau mulus. Saat keadaan politik tak stabil pada 1950-1970-an, kelompok ini dibekukan. Kala Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, baru ia meminta Keroncong Tugu kembali dihidupkan.

Kala itu, kepemimpinan kelompok di tangan Jacobus Quicko, adik Joseph Quicko. Tak lama setelah bendera kelompok yang semula bernama Orkes Pusaka Keroncong Morresco Tugu Ano 1971 itu berkibar, Jacobus meninggal. Tampuk kepemimpinan diserahkan kepada Samuel Quicko, ayah Guido. Ia didapuk sebagai punggawa hingga 2006. Kini bendera kepemimpinan sudah beralih ke tangan Guido.

Meski sudah melewati fase empat kepemimpinan, formasi Keroncong Tugu tetap dipertahankan. Pakem, aransemen, dan gayanya tak membelot. “Sebab, kami mempertahankan tradisi,” ucap Guido.

F. Rosana/A. Prastyo

Alat-alat Musik

Biola atau fiddle dimainkan dengan cara digesek. Tugasnya, membangun melodi. Memiliki empat senar, di antaranya bernada G, D, A, dan E.

Violoncello atau disingkat cello masih satu keluarga dengan biola. Cara membunyikannya dengan digesek. Bisa pula dipetik. Tugasnya sebagai fondasi dalam suara orkestra.

Contrabass sering juga disebut doublebass karena suara yang dihasilkan lebih rendah dua oktaf dibandingkan dengan violoncello. Ukuran alat musiknya juga lebih besar. Bahkan paling besar di antara semuanya.

Gitar menjadi pembentuk melodi. Alat musik yang digunakan dalam keroncong ini fungsinya menggantikan jitera.

Macina adalah gitar kecil bersenar empat. Suaranya nyaring dan membentuk anomatope: crong-crong. Inilah yang disebut nyawanya keroncong.

Frunga lebih kecil daripada macina. Senarnya tiga, dengan setelan yang berbeda dengan macina. Frunga dibuat lebih kecil agar pukulan iramanya berbeda dan sebuah instrumen menjadi kaya nada.

Rebana menjadi alat musik khas dalam kelompok Keroncong Tugu. Tugasnya menjadi perkusi dan memperkuat tempo. Fungsinya mirip dengan gendang, hanya suaranya berlainan.

Lapis Bogor Sangkuriang, Lembut Mulai 2011

Lapis Bogor Sangkuriang menjadi ikon oleh-oleh dari Bogor.

Lapis Bogor Sangkuriang membawa keunikan tersendiri dalam khasanah kue lapis di Indonesia. Kalau biasanya lapis dibuat menggunakan bahan tepung terigu, lapis yang satu ini dibuat dari tepung talas yang membuat tekstur, rasa serta aromanya berbeda dari lapis kebanyakan.

Lapis Bogor Sangkuriang

Mungkin itulah alasan mengapa lapis talas yang kini akrab disebut lapis Bogor itu menjadi salah satu oleh-oleh populer dari kota hujan tersebut. Ia menjadi alternatif yang menarik bagi para wisatawan, disamping buah tangan lainnya seperti roti unyil, asinan dan sebagainya.

Talas sendiri memang cukup identik dengan kota Bogor. Tumbuhan berjenis umbi-umbian tersebut merupakan salah satu hasil bumi yang lazim ditemukan di sini, dan kerap digunakan sebagai bahan dalam membuat beragam jenis makanan.

Salah satu contoh makanan olahan talas yang umum ditemukan adalah talas kukus, yang juga cukup populer di Bogor sebagai cemilan hangat di kala hujan. Talas juga sering dijumpai di beberapa jenis masakan sayur-sayuran seperti sayur asem, sayur lodeh, dan sayur lompong.

Lapis Bogor Sangkuriang melengkapi khasanah pariwisata Bogor, seperti Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor
Kijang di pekarangan Istana Bogor. Foto: unsplash

Seiring berjalan waktu, orang-orang kemudian mulai bereksperimen dan membuat beragam jenis olahan kuliner dari talas yang baru. Muncullah penganan-penganan seperti puding talas, talas goreng tepung, es krim talas, dan lain lainnya.

Tak terkecuali Lapis Bogor Sangkuriang, yang dipelopori oleh pasangan suami istri Anggara Kasih Nugroho Jati dan Rizka Wahyu Romadhona. Kebetulan, mereka sudah pernah memiliki pengalaman usaha di bidang kuliner, kendati beberapa kali gagal.

Bahkan, mereka pernah sekedar berjualan bakso gerobak dengan modal seadanya, kendati terhitung relatif sukses. Namun, mimpi mereka berdua sebagai warga Bogor asli adalah memiliki bisnis penganan oleh-oleh yang bisa menjadi ikon di kota sendiri.

Saat memulai usaha lapis talas ini pun, konon modal yang dikeluarkan hanya sekitar Rp 500 ribu. Dengan mengandalkan proses produksi rumahan, mereka pun mulai bereksperimen hingga menemukan resep lapis talas tersebut.

Pada 2011, mereka pun memberanikan diri membuka toko pertama lapis Bogor Sangkuriang di kawasan jalan Soleh Iskandar. Setelah awalnya memproduksi dari rumah, proses produksi produk-produk kue lapis mereka lantas dipusatkan di toko tersebut.

Toko itu semakin menarik perhatian khalayak luas, dan pembeli pun terus ramai berdatangan. Hanya sekitar satu tahun berselang, mereka mampu mendirikan dua toko cabang di kawasan jalan Padjajaran dan di area wisata Puncak, untuk menjangkau lebih banyak konsumen.

Dengan permintaan konsumen yang semakin besar, pusat produksi lapis Bogor Sangkuriang sempat berpindah beberapa kali ke lokasi yang lebih besar. Awalnya pada 2013 pusat produksi dipindah ke area Tanah Baru, sebelum pada 2017 ditempatkan di Kawasan Industri Sentul.

Lapis Bogor IG
Aneka pilihan produk Lapis Bogor. Foto: IG Lapis Bogor

Dengan kapasitas mega produksi dan sekurangnya sekitar 14 cabang toko, ditambah beberapa toko mitra, lapis Sangkuriang telah menjelma menjadi salah satu penganan oleh-oleh Bogor terpopuler. Pelanggannya berkisar dari kalangan pelancong hingga warga lokal.

Tak hanya itu, kini lewat payung usaha PT Agrinesia Raya, mereka mampu melebarkan usaha mereka ke kota lain dengan produk-produk tersendiri yang khas. Seperti contohnya Bakpia Kukus Tugu Jogja, yang turut meraih sukses sebagai buah tangan ikonik di kota pelajar tersebut.

Kesuksesan tersebut berasal dari keunikan produk mereka yang tak dimiliki produk lain. Seperti halnya lapis Bogor Sangkuriang yang dibuat dengan tepung talas, sehingga memiliki ciri seperti warna ungu yang mencolok, tekstur yang lembut di mulut serta aroma harum yang begitu khas.

Biasanya pada varian original, lapis talas ini ditambahkan dengan topping parutan keju. Pada perkembangannya, muncul pula beragam jenis varian lainnya, seperti cocopandan, custard susu, chocolate vanilla keju, chocolate vanilla oreo, blackforest, kopi susu dan durian keju.

Tak hanya ragam varian rasa, produk juga tersedia dalam dua jenis ukuran, yakni ukuran mini 250 gram dan ukuran reguler 500 gram. Lapis berukuran mini dibandrol Rp 19 ribu, sementara lapis ukuran reguler harganya Rp 37 ribu.

Seakan tiada henti berinovasi, kini muncul pula produk-produk baru hasil pengembangan dari lapis talas tersebut. Misalnya pada 2019 silam, ketika mereka merilis lapis bunder alias lapis talas berwujud serupa donat, dengan ukuran yang lebih kecil dan praktis.

Lapis bunder tersedia dalam pilihan rasa coklat, keju dan coklat blueberry, dengan harga Rp 25 ribu. Lain daripada itu, baru-baru ini diluncurkan pula produk cupcake talas rasa keju dan coklat, yang dihargai Rp 20 ribu.

Toko Lapis Bogor Sangkuriang Darmaga IG
Gerai Lapis Bogor Sangkuriang di kawasan Dramaga, Bogor. Foto: IG Lapis Bogor

Selain inovasi produk-produk baru tersebut, tentunya mereka juga terus berupaya mempertahankan reputasi yang telah tersohor dan pelanggan yang kian hari terus bertambah. Seperti misalnya standar bahan baku yang senantiasa dipertahankan demi kualitas rasa.

Upaya lainnya adalah tidak digunakannya bahan pengawet, agar rasa setiap produknya konsisten. Lapis Bogor Sangkuriang sendiri lazimnya mampu bertahan awet sekitar empat hari, atau tujuh hari bila diletakkan di dalam kulkas.

Satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah biasanya tiap toko mendapatkan hasil produksi terbaru pada jam 07.00, 15.00 dan 19.00. Sehingga disarankan untuk datang pada jam-jam tersebut, karena kerap kali stok cepat habis akibat tingginya permintaan.

Disarankan pula untuk mampir membeli pada hari biasa. Lantaran saat akhir pekan atau hari libur, tak jarang toko-toko sudah diserbu pengunjung sejak dibuka jam 06.00 hingga tutup jam 22.00. Bahkan banyak yang rela menunggu di antara antrean yang mengular.

Lapis Bogor Sangkuriang

Jl. Soleh Iskandar no. 18C, Bogor

Jl. Padjajaran no. 20i, Bogor

Jl. Raya Dramaga no. 21, Bogor

Jl. Cahaya Raya Blok L, Kawasan Industri Sentul

Instagram: @lapisbogor

agendaIndonesia/audha alief P.

*****