Pulau Berhala, Eksotisme 15 Hektare di Selat Malaka

Pulau Berhala di Selat Malaka adalah pulau terluar di perbatasan Indonesia. Di barat Sumatera dan di timur Semenajung Malaysia, pulau terluar ini menebar pesona.

Pulau Berhala

Sopir menancap pedal gasnya tanpa ragu di pagi-pagi buta itu. Selain jalan yang masih sepi, dia sudah paham betul tujuan saya dan fotografer. Mencapai Pulau Berhala di Serdang Berdagai, Sumatera Utara, memang perlu waktu tak sedikit. Saya memulai perjalanan dari Medan. Setelah melaju hampir dua jam, pukul 08.30 saya menginjakkan kaki di sebuah dermaga mungil. Tepatnya di Tempat Penampungan Ikan (TPI) Tanjung Beringin, Kabupaten Deli, Serdang, Sumatera Utara.

Saya masih harus berlayar sekitar 3 jam 30 menit untuk tiba di daratan rindang seluas 14,75 hektare yang menjadi perbatasan Indonesia dan Malaysia. Diberi nama unik, menurut warga setempat, konon pada zaman dulu pulau ini sering dijadikan lokasi ritual pemujaan. Berbeda dengan TPI yang masuk wilayah Deli Serdang, pulau ini berada dalam lingkup Kabupaten Serdang Bedagai.

Hanya beberapa menit berangkat dari TPI Tanjung Beringin, pemandangan sepanjang sungai membuat saya berdecak kagum. Terutama karena aksi sekawanan burung bangau putih. Beberapa hinggap di pohon bakau siapi-api dan sebagian lagi asyik berada di tepi sungai. Mereka seakan dengan sengaja menemani para nelayan.

Tak lama laut luas terhampar di depan mata. Terlihat di ujung mata, garis horizontal permukaan laut Selat Malaka yang ditaburi siluet deretan kapal-kapal nelayan.  Pada waktu yang bersamaan, ubur-ubur pun menampakkan diri di sekitar kapal. Sekawanan binatang laut itu mengiringi pelayaran kami menuju salah satu pulau yang menjadi titik terluar Indonesia itu. Menakjubkan!

Tepat pukul 12.00, kapal pun berhenti melaju. Pasir putih dan air jernih sontak membuat saya ingin segera turun. Terumbu karang, ikan-ikan cantik, dan benda-benda laut lain di dasar air tampak begitu jelas terlihat dari dermaga. Sebagai pulau terluar, kehadiran sejumlah anggota marinir yang bertugas pun menjadi ciri khas. Menurut salah seorang personelnya, Pulau Berhala mulai dilengkapi Basis Jaga Perbatasan pada 2004.

Dengan ramah, para marinir yang tengah berjaga menyambut saya dan kawan-kawan dengan beberapa gelas kopi Aceh dan obrolan renyah. Mata saya pun dibuat terbuka dan terasa segar kembali. “Meski lokasi Pulau Berhala cukup jauh dari Kota Medan, setiap Sabtu dan Minggu banyak pengunjung yang rekreasi ke sini. Baik pengunjung lokal maupun dari luar kota,” kata Andriansyah, personel peleton Pulau Berhala.

Pulau Berhala di Selat Malaka yang merupakan salah satu pulau terluar ternyata menyimpan eksotisme untuk dikunjungi.
Dermaga Pulau Berhala, pintu masuk ke pulau di sisi terluar Indonesia. Foto: Lourent/Dok TL


Pulau ini, selain menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna, memiliki kekayaan alam berupa keindahan terumbu karang bawah laut dan hutan tropis dengan keanekaragaman hayati tinggi. Sedangkan dari sisi vegetasi, Pulau Berhala terdiri atas hutan lahan basah, hutan lahan kering, serta lahan terbuka yang beberapa bagiannya ditumbuhi pepohonan kelapa. Walhasil, ada banyak kegiatan yang bisa dijajal.

Menyelam, snorkeling, trekking, dan menyimak langkah-langkah penyu karena Pulau Berhala merupakan tempat penangkaran hewan bertempurung itu. Menikmati keindahan mentari tenggelam dan sekadar santai di bibir pantai pun tentu menjadi keasyikan tersendiri.

“Sumber air tawar di sini masih cukup bagus. Yang disayangkan dari pulau ini, enggak bisa meraih sinyal telepon. Jadi, kalau mau komunikasi agak susah. Mesti ke tengah laut dulu, lalu kembali lagi ke sini. Kami selalu bergantian dengan petugas yang lain untuk menelepon,” kata Nababan, bintara peleton yang berjaga di Pulau Berhala.  

Klimaks dari serentetan aktivitas adalah perjalanan menuju mercusuar.

Hutan pun harus saya susuri dan anak tangga sebanyak 770 buah harus dinaiki. Bukan main perjuangannya. Tapi begitu tiba rasa puas dan bangga bergema dalam hati melihat simbol Burung Garuda bertengger gagah di puncak mercusuar Pulau Berhala. 

Masih kuat mendaki terus melangkah 85 anak tangga lagi untuk mencapai puncak menara. Tiba di bagian teratas, sebuah “hadiah” menunggu, tak lain pemandangan  laut luas dan pulau di sekitarnya. Di dekat Pulau Berhala, ada Pulau Sokong Seimbang dan Sokong Kakek yang mengapitnya.  Membikin pilihan untuk menyelam dan snorkeling pun ada di beberapa titik.

Memang tak ada penginapan di pulau ini. Sebab, penghuninya hanya sekelompok marinir, namun turis boleh mendirikan tenda. Hanya, harus terlebih dulu mengurus izin. Kamar mandi tersedia. Cuma, bahan makanan harus dibawa sendiri. Rasanya puas bila bisa semalam di sini, tapi saya tidak bisa berlama-lama.

Menjelang matahari tergelincir, saya bertolak pulang kembali ke Medan. Keindahannya saya cermati sesaat. Saya pun bergumam, berbisik pada alam akan keinginan untuk kembali dan mencecap keindahannya lebih lama. l.

Tips Pejalanan

Kebanyakan wisatawan memulai perjalanan dari Sumatera Utara hingga dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta bisa memilih rute ke Kualanamu, Deli Serdang. Lantas dilanjutkan dengan kendaraan roda empat ke TPI Tanjung Beringin.

Selain dari Tanjung Beringin, Deli Serdang, wisatawan juga bisa menyeberang dari beberapa pelabuhan di pantai timur Sumatera Utara. Misalnya, Pantai Cermin, Serdang Bedagai, dan Pelabuhan Tanjung Tiram di Kabupaten Batubara.

Pengunjung bisa menyewa perahu nelayan untuk mencapai  Pulau Berhala, karena belum ada fasilitas kapal penyeberangan umum. Biaya sewa kapal nelayan berkisar Rp 800 ribu-Rp 1,5 juta per malam. Berangkat dalam rombongan tentu bisa menghemat biaya.

Berbagai jenis terumbu karang (Intertidal Coral Reef dan Karang Tengah) bisa ditemukan dalam radius 200 m dari bibir pantai dengan jumlah tidak kurang dari 22 spesies. Sedangkan jenis ikan karang sekitar 11 spesies.

November-Februari merupakan saatnya penyu-penyu datang dan bertelur di sekitar pantai Pulau Berhala. Bulan-bulan tersebut menjadi waktu yang tepat untuk berkunjung. Aktivitas snorkeling dan menyelam menjadi pilihan aktivitas selain trekking dan memancing.

agendaIndonesia/Sandi/Lourent/TL

*****

Ombak Canggu Bali, 3 Pantai Berpasir Hitam

Ombak Canggu Bali dengan pantai-pantainya yang berpasir hitam.

Ombak Canggu Bali bisa ditemui di tiga pantai di kawasan itu. Pantai-pantai di lokasi ini memiliki pasir hitam yang terkesan biasa. Tidak langsung terlihat indah dibandingkan pantai-pantai dengan pasir putih. Namun, Bali selalu punya aura yang tak bisa ditolak.

Ombak Canggu Bali

Masih pukul 15.30 waktu setempat ketika  saya beranjak dari Jalan Raya Kerobokan, Kuta Utara, Badung, Bali. “Harus cepat-cepat kalau mau lihat sunset di Canggu, jalanan kalau sore suka macet,” ucap seorang teman. Maka saya dan kawan fotografer lantas saja  bergegas. Jalan-jalan di kawasan Seminyak yang sempit memang cukup padat pada sore hari. Beruntung, pengemudi paham rute tersingkat ke lokasi. Penelusuran sederet pantai di kawasan ini pun dengan segera dimulai.

Yang pertama saya singgahi adalah Pantai Batu Beliq yang tidak jauh dari Seminyak. Saya tiba di sana saat langit masih benderang. Menjelang sore, pantai yang masih berada di wilayah administratif Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, ini tidak terlalu ramai. Sebelum menjejak di pasirnya yang hitam, ada beberapa pilihan akomodasi bagi turis. Papan-papan selancar pun berdiri di beberapa titik. Batu Beliq tergolong pantai para peselancar karena ombaknya cukup menggoda. 

Tak berlama-lama di Batu Beliq, pantai di sebelahnya kemudian diburu. Pantai Batu Bolong saya temukan setelah melalui jalan-jalan kecil dan persawahan. Ada deretan hotel dan resor sebelum menginjak pantainya. Lebih tertata dibanding pantai sebelumnya. Cukup landai sehingga lebih nyaman untuk menikmati empasan ombak di tepian. Juga bisa sekadar  berjalan kaki, berlari, atau bermain-main. Bahkan cuma duduk-duduk di tepi pantai seperti yang dilakukan sekelompok turis lokal.

Ombak Canggu Bali bisa ditemui di sejumlah pantai, di antaranya di pantai Batu Belig.
Pantai Batu Belig di kawasan selatan Bali. Foto: unsplash

Saya juga bertemu dengan wanita asing yang tengah menyusuri pantai bersama anjingnya. Jalan sore berdua tak harus dengan kekasih. Dengan hewan kesayangan pun sama-sama mengasyikkan. Pantai juga cenderung lebih bersih dibanding Batu Beliq. Sesuai dengan namanya di bagian ujung, saya menemukan karang yang menjorok ke tengah laut dengan lubang di tengahnya. Rupanya, inilah batu yang bolong itu.

Tepat di sebelah Pantai Karang Bolong bisa ditemukan Pantai Echo yang lebih “hidup”. Sebelumnya, pantai itu dikenal sebagai Pantai Batu Mejan. Ada pilihan kafe-kafe di tepi pantai yang letaknya lebih tinggi daripada pantai. Di sisi lain, pantai bisa ditemukan bangunan non-permanen yang memutar musik keras-keras dengan ritme yang mengentak-entak. Di sanalah tampak para peselancar melepas penat setelah menari-nari di atas ombak.

Bila masuk dari jalan raya, Anda bisa menemukan sebuah pura yang menjadi tanda keberadaan pantai tersebut. Itu tak lain dari Pura Batu Mejan. Pantai berada di sisi bawah, sehingga harus meniti jalur kecil yang menurun. Pantai Echo lebih banyak batu karangnya. Apalagi sore itu ketika pantai surut. Hamparan batu karang pun tampak jelas.

Ombak Canggu Bali di antaranya diburu wisatawan yang menggemari berselancar.
Pantai Echo di kawasan Canggu, Bali, menjadi slah satu tujuan peselancar. Foto: unsplash

Saya mungkin kurang beruntung, setelah menemukan langit yang bersih dan mentari yang bulat oranye, tiba-tiba awan datang. Awan menutup secara perlahan hingga keindahan mentari tenggelam yang bisa ditemukan di Pantai Echo tidak bisa dinikmati seutuhnya. Ketika langit benar-benar gelap, saya masih enggan untuk beranjak.

Akhirnya, saya memilih menikmati debur ombak sembari mencicipi menu hidangan laut yang disuguhkan sebuah kafe. Jimbaran seafood grill yang saya pilih di Dian Cafe. Kafe yang berdiri sejak tujuh tahun lalu ini posisinya paling dekat ke pantai, sehingga ramai dikunjungi turis. Aroma beragam ikan yang dibakar pun menggugah selera untuk singgah. Pada hari libur, menurut seorang warga yang mengaku bernama Billy, lebih ramai lagi. Bisa jadi, saya tidak akan kebagian duduk santai menikmati hidangan kalau datang terlalu malam. “Biasanya turis  bergeser dari Legian dan Kuta, karena di suasana (di sini) yang lebih sepi,” ujarnya.

Pantai Echo sebenarnya bukan akhir dari deretan pantai di sini. Sebab, jika terus melangkah, sejumlah pantai lain masih bisa ditemukan. Yang terindah adalah perjalanan berakhir di Tanah Lot, Tabanan. Sayang sekali, saya terlalu sore untuk memulai penelusuran pantai di sana. Maka cukuplah mencecap senja dan malam di tengah embusan angin kencang di Pantai Echo.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Asyiknya Mengintip Burung, Hobi Yang Ada Sejak 1901

Asyiknya mengintip burung atau birdwatching bukan hobi yang baru muncul. Kegemaran ini sudah pernah ditulis oleh ornitolog asal Inggris pada 1901. Ini bukan sekadar menikmati keindahan karya sang Pencipta, tapi juga memahami, mencatat dan melestarikannya. Mengendap-endap, mengintip via teropong, mencermati, dan mencatat jenis burung yang dilihat.

Asyiknya Mengintip Burung

Cuaca memang belum bersahabat pada pada waktu itu. Maklum, hujan masih rajin mengguyur Kota Bogor, Jawa Barat. Namun Santi dan Jihad dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) tetap bersemangat menemani Stuart Marden, peneliti burung dari Manchester University, Inggris. Saat azan Subuh menggema, mereka sudah bergegas menuju kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat. Beruntung hujan tidak turun hari itu, meskipun mendung menggelayut.

Tepat pukul 07.00, mereka sudah tiba di pintu masuk Cibodas, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor Taman Nasional. Perjalanan yang harus mereka tempuh masih panjang. Meskipun tidak terlalu berat, jalur trekking memiliki rute berkelok dan naik-turun. Tak hanya itu, selama perjalanan mereka juga tak boleh menimbulkan suara gaduh. Bahkan terkadang mereka harus jalan mengendap-endap dan siap membidikkan teropong berlensa binokulersaat tampak burung bertengger.

Orang awam yang melihatnya mungkin akan menganggap apa yang mereka lakukan ini sebagai kurang kerjaan. Betapa tidak, mereka hanya “tukang intip” burung-burung liar yang hidup di alam bebas. Padahal, pengamatan burung atau lebih kerennya disebut birdwatching merupakan suatu kegiatan observasi. Istilah ini pertama kali muncul sebagai judul buku yang ditulis oleh ornitolog Inggris, Edmund Selous, pada 1901. Belakangan birdwatching berkembang menjadi kegiatan yang bersifat rekreasi.

Dari tahun ke tahun, organisasi pengamat dan pemerhati burung di Indonesia terus bertambah. Baik yang bernaung di lingkup perguruan tinggi maupun berdiri secara independen. Terkadang pula birdwatching diselipi kegiatan fotografi menggunakan burung sebagai obyek pemotretan.

Meski bersifat hiburan, kegiatan ini dapat menambah wawasan para birdwatcher, sebutan untuk pengamat burung. Sebab, dengan mengintip via teropong itulah mereka bisa mengetahui jenis-jenis burung endemik atau burung perkotaan yang ada di Indonesia. Apalagi birdwatching bisa dilakukan di mana saja, asalkan tempat tersebut merupakan habitat komunitas burung.

asyiknya mengintip burung bukan saja melihat keindahan karya sang pencipta, tapi juga sarana melestarikannya.
Burung Sikatan Ninon. Foto: Tri Susanti-Burung Indonesia

Kendati demikian, untuk menjadi birdwatcher perlu pengetahuan mendasar sebelum terjun ke lapangan. “Perlu tips tersendiri,” ujar Rahmadi Rahmad, Media and Communication Officer Burung Indonesia, waktu itu, yang juga sering menjadi birdwatcher. Jebolan Universitas Padjadjaran, Bandung, ini menyarankan agar para birdwatcher tidak mengenakan pakaian berwarna mencolok saat melakukan pengamatan. “Warna pakaian yang mencolok akan mengganggu burung. Sebaiknya, gunakan pakaian berwarna khaki atau yang senada dengan alam,” ia memaparkan.

 Selain itu, Rahmadi menyebutkan, birdwatcher disarankan menggunakan teropong binokuler dan menghindari monokuler. Alasannya, teropong monokuler agak merepotkan penggunaannya karena perlu dilengkapi tripod dan terasa kurang praktis.

Sedangkan untuk soal waktu, kata Rahmadi, pagi-pagi merupakan yang terbaik. Sebab, saat itu burung-burung sangat aktif mencari makan, sehingga mudah ditemukan. “Sore hari juga merupakan waktu pengamatan yang baik, karena biasanya burung mencari makan sebelum mereka beristirahat pada malamnya.”

Di sisi lain, kegiatan mengamati burung ini bertujuan untuk penelitian ilmiah. “Dari hasil birdwatching, kita dapat mengetahui populasi burung yang ada di Indonesia,” ujar Tri Susanti, Communication and Publications Officer Burung Indonesia. Menurut lajang yang akrab dipanggil Santi itu, Indonesia negara terbesar kelima di dunia dan terbesar di Asia yang memiliki 1.605 jenis burung dan 380 jenis burung endemik. Sayangnya, Indonesia juga negara terbesar ketiga yang burung-burungnya terancam punah.

Santi mencontohkan populasi burung yang ada di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Pada 1960-an diperkirakan terdapat 160 jenis burung. Namun, ketika diadakan pengamatan kembali pada 2009, jumlah populasinya diperkirakan berkurang hingga separuh. Hal itu, kata Santi, menandakan telah terjadi pengurangan ruang terbuka hijau di Kota Bogor.

“Banyak ruang terbuka hijau yang telah berganti peran dengan berdirinya kompleks perumahan ataupun pertokoan,” katanya. Karena itu, Santi menyatakan Burung Indonesia sebagai organisasi konservasi burung berupaya mengadakan kerja sama dengan pemerintah setempat dalam pelestarian lingkungan agar habitat burung-burung tersebut tetap terjaga.

agendaIndonesia/Andry T./TL/Foto: Dok. Burung Indonesia

*****

7 Kuliner Halal di Medan (Bagian 1)

Ini 7 kuliner halal di Medan Sumatera Utara. Foto shutterstock

Ini dia 7 kuliner halal di Medan, Sumatera Utara. Medan dikenal sebagai kota dengan kemajemukan di antara warganya. Sebagai kota terbesar di pulau Sumatera dan di luar pulau Jawa secara keseluruhan, ia menjadi domisili dan melting pot berbagai jenis suku bangsa beserta adatnya, seperti Batak, Melayu, Tionghoa, Jawa, Minangkabau dan sebagainya.

7 Kuliner Halal di Medan

Oleh karenanya, tidak mengherankan bila begitu banyak budaya yang pada prosesnya saling berpadu satu sama lain, tak terkecuali kuliner. Dari percampuran tersebut, muncullah berbagai jenis kuliner unik yang lantas menjadi ikon di kota berjuluk Paris van Sumatera ini, serta senantiasa dicari dan disukai pecinta kuliner.

Ini dia 7 kuliner halal di Medan yang bisa dikunjungi setelah melawat ke Istana Maimun di kota ini.
Ini 7 kuliner halal di Medan. Istana Maimun di ibukota Sumatera Utara. Foto: shutterstock

Hanya saja, karena kemajemukannya itu pula, kadang kala tak semua hidangan khas tersebut tergolong halal bagi kaum muslim. Namun tak perlu khawatir, karena masih ada banyak pilihan kuliner nikmat dan halal yang bisa menjadi alternatif bagi wisatawan muslim kala berkunjung ke ibu kota Sumatera Utara ini. Berikut adalah 7 kuliner halal di Medan yang di antaranya direkomendasikan.

  1. Lontong Kak Lin

Lontong Medan termasuk satu dari 7 kuliner halal di Medan dan terfavorit di kota ini. Biasanya makanan ini jadi favorit warga setempat saat sarapan pagi. Kuah yang terbuat dari santan dan tauco, yang menghasilkan cita rasa gurih dan pedas, berpadu dengan lontong, sayur nangka, wortel, buncis, labu siam, bihun, tahu, tempe, kerupuk dan sebagainya sebagai pelengkap.

Maka tak heran jika banyak warung lontong Medan yang dapat ditemui, utamanya di kala pagi hari. Seperti misalnya Lontong Kak Lin, salah satu warung lontong Medan paling populer dan legendaris. Sudah berdiri sejak 1985, warung ini sejak lama telah menjadi salah satu tempat sarapan terfavorit di Medan.

Lontong Kota Medan shutterstock
Ini 7 kuliner halal di Medan, Sumatera Utara. Foto: shutterstock

Kuah yang kental, gurih dan menyegarkan menjadi ciri khas dari lontong Medan di warung yang terletak di jalan Teuku Cik Ditiro nomor 8m ini. Tak hanya itu, pengunjung juga dapat memilih lauk rendang, ayam, perkedel atau telur rebus. Porsinya pun cukup banyak, sehingga terhitung mengenyangkan untuk sarapan ataupun makan siang.

Selain lontong Medan, warung ini juga menyediakan beberapa menu lain seperti lontong pecal alias racikan lontong sayur dengan menggunakan bumbu pecal atau pecel, nasi gurih, mie sayur dan sebagainya. Harga menu-menu tersebut berkisar dari Rp 16 ribu sampai 70 ribu, tergantung dari kelengkapan dan jenis lauk yang dipilih.

Meski tak sepenuhnya terbilang murah, namun tidak mengurangi animo pengunjung yang tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi tak jarang pula turis mancanegara. Sebagai catatan, warung yang berada di depan SMA Negeri 1 Medan ini biasanya tutup lebih awal saat weekend, yakni jam 14.00 di hari Sabtu dan jam 12.00 pada hari Minggu.

  • Rumah Makan Tabona

Menu halal khas Medan lainnya yang jadi rekomendasi adalah kari ayam dan sapi. Disinyalir terpengaruh dari budaya India, makanan ini tadinya beredar di beberapa daerah Sumatera Utara, seperti Pematang Siantar. Namun, pada perkembangannya muncul pula penjaja makanan ini di sekitar kota Medan.

Seperti contohnya Rumah Makan Tabona, yang sudah berjualan kari di Pematang Siantar sejak 1972, dan akhirnya 10 tahun kemudian pindah ke Medan. Rumah makan yang berlokasi di jalan Mangkubumi nomor 17 itu lantas terus melayani pelanggan hingga kini dan menjadi salah satu ikon kuliner Medan.

Meski hanya menawarkan menu kari ayam dan sapi, namun cita rasa dan keunikannya masih senantiasa digemari dan diburu pecinta kuliner. Dalam semangkok kari, akan berisikan potongan kentang dan daging sapi atau ayam kampung. Kuahnya cenderung encer, dengan paduan cita rasa asin, gurih dan pedas.

Kari kemudian disantap dengan nasi atau bihun. Pengunjung juga bisa memilih pilihan daging yang dipakai, misalnya memilih kari ayam suwir biasa, atau khusus bagian paha saja. Atau jika memesan kari sapi, bisa meminta tambahan bagian jeroan. Bisa juga memesan kari dengan daging ayam dan sapi. Pilihan porsinya pun ada yang standar, maupun yang jumbo.

Sebagai pelengkap, pengunjung akan disediakan acar bawang merah, acar cabe potong, emping dan opak. Kalau masih kurang, bisa juga menambah topping telur bebek. Last but not least, rumah makan ini juga menyediakan dessert puding pandan yang terasa pas sebagai hidangan pencuci mulut.

Memang, harus diakui harga menunya cukup premium. Untuk kari porsi standar harganya Rp 60 ribu, sementara untuk porsi jumbo dibandrol Rp 90 ribu. Namun, cita rasa nikmat yang otentik tetap menjadi alasan mengapa rumah makan yang buka setiap hari dari jam 06.30 hingga 16.30 ini selalu ramai pengunjung, khususnya jam makan siang.

Bihun kari Dok The Sultan Hotel Jakarta
Ini salah satu dari 7 kuliner halal di Medan, salah satunya kari bihun. Foto: dok. The Sultan Hotel Jakarta
  • Sate Memeng

Seperti halnya berbagai daerah lainnya di Tanah Air, Medan juga memiliki kultur kuliner malam yang tak kalah menarik. Salah satu destinasi kuliner malam legendaris di kota ini adalah sate Memeng, yang berlokasi di jalan Irian Barat nomor 2. Sang pendiri warung, H. Muhammad Saimin atau yang akrab dipanggil Memeng, sudah berjualan sate sejak 1945.

Buka setiap hari dari jam 17.00 hingga 23.00, warung sate ini dikenal dengan beberapa keunikan tersendiri. Semisal dari pilihan daging yang disajikan, dimana pengunjung dapat memilih sate dengan potongan daging sapi, kambing atau ayam. Potongan daging yang besar menjadi salah satu ciri khas warung sate ini.

Selain itu, pengunjung juga dapat meminta bagian potongan khusus seperti hati, usus, paru atau dicampur semua. Dan yang tak kalah menarik, pengunjung juga dapat memilih bumbu sate yang dipakai. Ada bumbu kecap, bumbu kacang, serta bumbu khas sate Memeng yang menyerupai bumbu sate Padang.

Keunikan-keunikan tersebut, ditambah dengan cita rasa bumbu yang meresap nikmat, menjadikannya spot kuliner malam Medan yang senantiasa ramai oleh pengunjung. Apalagi dengan harga seporsinya yang terhitung cukup moderat, sekitar Rp 24 ribu. Sebagai catatan, menu mie rebus yang tersedia, dengan topping kentang, taoge dan kerupuk, juga menjadi salah satu favorit pengunjung dengan harga Rp 14 ribu saja.

  • Mie Balap Wahidin

Kuliner unik nan ikonik lainnya di Medan adalah mie balap. Dinamakan demikian karena cara penyajiannya yang unik, dimana sang juru masak akan menumis mie, telur, sayuran dan pilihan daging ayam, sapi atau seafood secara cepat. Bahkan, cara memasaknya terkadang terlihat seperti terburu-buru, seperti sedang ‘balapan’ atau dikejar sesuatu.

Tak terbilang sulit untuk menemukan warung penjual mie balap yang enak di sini, seperti misalnya mie balap Wahidin yang berada di jalan Bambu Runcing nomor 25. Warung mie balap yang sudah eksis berjualan sejak 1990-an ini dikenal dengan gaya memasaknya yang tradisional, dengan menggunakan kayu bakar, agar aromanya lebih terasa khas.

Selain itu, cita rasanya cenderung lebih pedas dengan kuah yang lebih kental. Pengunjung juga dapat memilih jenis mie yang digunakan, baik itu mie kuning, miehun atau bihun, atau mietiaw alias kwetiau. Sebagai topping, pengunjung bisa memesan racikan daging ayam cincang atau ragam lauk seafood. Masakan kemudian disajikan di atas daun pisang.

Sepiring porsi mie balap di warung ini dihargai Rp 19 ribu, untuk semua jenis mie dan lauknya. Harga yang tergolong moderat, ditambah dengan jam buka warung ini dari jam 07.00 hingga 13.00, menandakan bahwa mie balap ini umumnya cukup populer di kalangan warga setempat sebagai opsi sarapan pagi atau santap siang.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Nasi Goreng di Jakarta Selatan, 5 Pilihan Yang Maknyus

Nasi goreng di Jakarta Selatan mungkin ada ratusan, bahkan mungkin ribuan. Tapi selalu saja ada yang menonjol. Sama-sama nasi goreng, tapi campuran dan bumbunya berbeda-beda.

Nasi Goreng di Jakarta Selatan

Nasi goreng sejatinya memang bukan milik Indonesia. Konon, olahan ini sudah disajikan bangsa Tionghoa sejak 4.000 SM. Dalam catatan sejarah, nasi goreng rupanya juga menjadi menu alternatif bagi orang Belanda yang tidak begitu menyukai nasi putih. Kini, di banyak tempat di dunia hidangan ini tersebar di berbagai negara. Baik di restoran Tionghoa, Vietnam, atau Indonesia.

Yang unik dari nasi goreng, meski namanya sama, bumbu dan rasanya bisa berbeda. Bahkan diberi label daerah asal, sehingga menambah kekhasannya. Berikut ini lima pilihan nasi goreng di Jakarta Selatan.

Nasi Goreng di Jakarta Selatan banyak ragamnya, dari yang kambing hingga yang seafood.
Nasi goreng kambing Kebon Sirih. Foto: Dok TL

Rasa Rempah dari Kebon Sirih

Jika melihat namanya sudah bisa ditebak kedai ini pasti ada hubunganya dengan Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Betul, kedai nasi goreng ini memang pertama kali buka di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Kemudian buka cabang di beberapa lokasi, salah satunya di Jalan Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Ciri khasnya, aroma minyak samin yang harum sudah tercium saat kita memasuki kedai ini.

Satu kuali nasi goreng yang sudah siap saji tampak dalam wajan yang dipanaskan dengan kompor gas. Model menglahnya sama dengan yang di Kebon Sirih, satu kali masak bisa untuk puluhan porsi. Saat dihidangkan, yang pertama kali tercium adalah aroma rempah-rempah khas Timur Tengah. Rasanya memang kaya rempah. Bumbunya antara lain kapulaga, kunyit, sereh, dan lada. Cara memasaknya serupa dengan nasi kebuli, sehingga memunculkan rasa gurih di setiap suapan.

Nasi Goreng Kebon Sirih; Jalan Karang Tengah Nomor 1C, Lebak Bulus, Jakarta Selatan

nasi goreng di Jakarta Selatan ada ratusan, bahkan ribuan, tapi ada beberapa yang menonjol.
Nasi Goreng Kambing di sekitar Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Dok. TL

Ramuan Kambing di Pedurenan

Untuk menuju kedai ini, dari gedung Dharma Wanita, kita cukup berjalan lurus dan mengamati sisi kanan jalan, temukan spanduk bergambar siluet kambing. Di kedai nasi goreng NGK, daging kambing dimasak terlebih dulu secara terpisah dengan cara direbus bersama bumbu-bumbu. Jadi, dagingnya terasa lebih empuk. Daging kambing itu kemudian diolah menjadi sajian nasi goreng yang gurih. Tidak mengherankan kalau NGK masih tetap diminati sejak berdiri pada 1986. Tersedia pilihan rasa pedas dan sedang, sesuai dengan selera.

Nasi Goreng Kambing NGK Dharma Wanita; Jalan Pedurenan Masjid; Belakang Gedung Dharma Wanita Kuningan, Jakarta Selatan

Seafood di Blok S

Di ujung Jalan Bhakti, Blok S, Kebayoran, tampak spanduk putih bertulisan “Nasi Goreng Betawi 99”. Warungnya buka mulai pukul 16.00, dari Senin sampai Minggu. Di kedai ini, nasi goreng seafood menjadi pesanan yang paling sering ditulis pramusaji. Seafood sebelumnya diolah dengan bumbu tersendiri. Kemudian, sebagian diolah menjadi nasi goreng. Sedangkan sebagian lagi dimasak dengan api kecil dan diberi bumbu lain. Hidangan laut yang dimasak terpisah itu pun ditata di atas nasi goreng.

Pilihan lainnya, nasi goreng dengan daging kambing yang direbus terlebih dulu dalam ramuan jahe, asam, kunyit, dan sereh sebelum dicampur dengan nasi. Sebagai penutup, cobalah minuman primadona kedai ini: jus alpukat. Terasa legit dengan campuran susu kental, sirup, dan es serut.

Nasi Goreng Betawi 99; Jalan Bhakti 1 Blok S, Senopati, Jakarta Selatan

Sedap dengan Aroma Arang

Rumah Makan Bumen Jaya di Pejompongan, Jakarta Selatan, termasuk yang sudah lama mengibarkan olahan nasi goreng. Hidangan andalan Bumen adalah Nasi Goreng Ayam dan Mi Godog. Usia rumah makan ini sudah sekitar 49 tahun. Dimasak menggunakan anglo dengan bahan bakar arang membuat aroma nasi goreng ayamnya terasa khas. Pada setiap gigitan nasi goreng terselip rasa kaldu sapi yang sebelumnya dicampur dengan beras. Walhasil, selain pulen, nasi goreng menjadi legit.

Karena tidak begitu banyak menggunakan minyak, tekstur nasinya kering legit. Yang menjadi idaman adalah suwiran ayam di Bumen Jaya, yang ditabur begitu banyak di atas nasi dan kemudian ditambahkan telur mata sapi. Porsi nasi goreng Jawa ini cukup besar, sehingga benar-benar klop untuk memadamkan rasa lapar. Jika ingin variasi lain, di sini juga ada nasi goreng kambing.

Nasi Goreng Bumen Jaya; Jalan Pejompongan 1; Jakarta Selatan

Sajian Ala Pekalongan

Bila Anda ingin merasakan nasi goreng yang komplet, coba singgah ke Nasi Goreng Pekalongan. Campurannya berupa daging, ayam, udang, cumi-cumi, dan ati ampela untuk nasi goreng spesial.

Didirikan pada 1986, Nasi Goreng Pekalongan masih mempertahankan rasa pedas yang khas. Bumbu merah terlihat dominan ketika nasi goreng ini dihidangkan. Campuran rempah-rempah dan sedikit kecap membuat tampilan nasi begitu padat.

Kehadiran daging di dalam sepiring nasi goreng juga tak kalah enak. Selain itu, ada cumi-cumi yang kenyal, udang yang matang, serta ayam yang dagingnya terasa manis. Benar-benar memperkaya rasa nasi goreng. Bagi penggemar rasa pedas, Nasi Goreng Pekalongan bisa jadi salah satu pilihan karena pedasnya tidak merusak cita rasa aslinya.

Nasi Goreng Pekalongan; Jalan Rumah Sakit Fatmawati 1; Pondok Labu, Jakarta Selatan

agendaIndonesia

*****

Pulau Pisang Lampung, Ombak 7-12 Meter

Pulau Pisang Lampung mempunyai segudang potensi pariwisata.

Pulau Pisang Lampung berada di sisi paling barat provinsi ini. Suguhannya beragam: pantai berpasir putih, blue marlin, hingga penenun tapis. Dan ombak yang semakin diincap para peselancar.

Pulau Pisang Lampung

Janji bertemu di Dermaga Krui, Pesisir Barat, sebenarnya pukul 08.00, tapi masih 30 menit dari waktu yang disepakati, telepon seluler saya berbunyi terus. Rupanya pemilik perahu sudah menunggu sejak pukul 07.00 di dermaga yang berada di wilayah barat Lampung tersebut. Dermaga kecil itu tak jauh dari Pasar Krui yang dilintasi bus-bus luar antarkota yang memilih jalur selatan Sumatera.

Tak tampak dari luar karena deretan jungkung—perahu kayu—tertutup gerbang. Tapi akhirnya bisa ditemukan juga dermaga itu. Tak terbayang akan menggunakan jungkung yang disebutkan bisa menampung 20 orang tersebut. “Sebagian kan berdiri,” ujar Yusri, penduduk Krui yang mengantar saya dan rekan-rekan pagi itu. Saya pun terdiam, membayangkan 20 orang terombang-ambing di tengah laut. Beruntung, pagi itu rombongan hanya terdiri atas delapan orang, termasuk juru mudi. Saya pun bisa duduk nyaman di bagian tengah. Mentari masih hangat. Perjalanan biasanya ditempuh selama sekitar satu jam.

Sebenarnya ada pilihan lain dengan waktu lebih pendek, atau 20 menit dari dermaga Tembakak. “Hanya, sekarang ombak lagi besar-besarnya. Bisa-bisa jungkung kebalik,” ujar Yusri.  Wah… tak apalah lebih lama, pikir saya, yang penting selamat.

Saya disambut laut yang tenang dan sinar surya yang hangat pagi itu. Nikmat sekali terayun-ayun di perahu kayu di tengah laut. Hening, hanya kecipak air yang beradu dengan tepi perahu. Bisa jadi setiap orang terdiam karena tengah asyik dengan lamunan masing-masing. Tiba-tiba sebuah lompatan di udara tampak dari kejauhan. Wah… aksi apakah itu?

Lumba-lumba,” ujar juru mudi. Senyum saya pun melebar, perahu diarahkan menuju hewan mamalia tersebut. Namun rupanya tak hanya ada sepasang karena, tak lama kemudian, belasan lumba-lumba seperti memberi sambutan. Mereka mengiringi perahu di sisi kiri dan kanan. Jenis Tursiops truncates atau lumba-lumba hidung botol itu terlihat menggemaskan. Gerakan bagian kepala dan ekornya membuat saya terus tertawa dan berteriak. Karena perahu kami satu-satunya di perairan itu, banyak lumba-lumba yang mengerubungi. Bila ada beberapa perahu, biasanya mereka pun berpencar.

Tak lama pulau pun tampak dari kejauhan. “Dari kejauhan, bentuknya seperti pisang,” ucap salah satu pengantar. Saya mencoba mencermatinya. Bisa jadi memang seperti pisang, tapi yang pasti tak banyak pohon pisang di sana, seperti bayangan saya. Yang pertama menyambut saya malahan ombak yang kencang sehingga perlu waktu yang tepat untuk turun dari perahu.

Deretan perahu nelayan memberi warna khas di pesisirnya. Tak lama kemudian, perahu lain berisi turis asing pun tiba. Sebelumnya, kami sempat bertemu dengan mereka di kawasan wisata Tanjung Setia. Mereka tengah bermain selancar. Rupanya mereka mencari ombak lain yang menantang. Sekitar pulau ini terkenal akan ombak yang tingginya 5-7 meter, bahkan mencapai 12 meter, pada bulan-bulan tertentu.

Pulau Pisang Lampung punya banyak potensi wisata, di antaranya surfing.
Salah satu magnet Pulau Pisang adalah ombaknya yang bagus untuk berselancar. Foto: Ilustrasi-unsplash

Setelah menyusuri pasir putih hingga ke dermaga, saya tergoda untuk mencermati hasil tangkapan nelayan.  Kecamatan ini memang dikenal dengan hasil laut yang ditangkap dengan cara tradisional. Dan blue marlin, salah satu ikan yang khas. Selain itu, ada kucingan yang mirip dengan kepiting. Melintasi kelompok yang tengah membakar ikan, aromanya begitu menggoda. Tak ada rumah makan di pulau ini, tapi turis bisa memesan ikan dan membakarnya. Pagi menjelang siang itu cukup membahagiakan karena saya pun mendapat suguhan ikan goreng dari keluarga pengantar, yang memang asli Pulau Pisang.

Setelah mengisi perut, saatnya menyusuri pulau seluas 148,82 hektare itu. Jalan kaki menjadi pilihan. Saya melewati rumah-rumah kayu atau lamban balak, menemukan orang yang tengah membuat minyak kelapa asli. Ada petunjuk arah nama-nama desa di beberapa titik. Seperti  Labuhan, Lok, Sukadana, Pasar, Sukamarga, dan Bandardalam. Tak lama, di sebuah rumah lawas, saya menemukan penyulam emas di atas tapis. Kain tradisional khas Lampung ini memang juga menjadi ciri khas Pulau Pisang. Berbentuk sarung yang bisa dikenakan atau hiasan dinding. Para penenun yang bisa ditemukan di sekitar Bandar Lampung, umumnya berasal dari pulau ini.

Tak puas dengan memperlihatkan aktivitas warga, Sang pengantar pun mengajak saya dan rekan ke kebun cengkeh di atas bukit. Uniknya, jalan sudah disemen sehingga para petani bisa melaju di jalan kecil mulus dengan sepeda motor. Beberapa kali saya harus menepi karena kendaraan roda dua lewat.

Beruntung, masih banyak pohon sehingga cukup teduh meski sebenarnya sinar mentari mulai terik. Akhirnya tiba juga di balik bukit dan, di depan mata, Samudra Hindia tampak sedang menyuguhkan permainan ombaknya. Gulungannya besar dan langsung menghantam bukit karang. Masih ada pantai berpasir putih meski tak begitu landai. Hanya sejenak, saya kembali ke balik pepohonan berjalan menuju sisi lain dari pulau dan menemukan sebuah kapal terdampar. Tepatnya, kapal tunda atau tug boat. Dan menjadi lokasi yang akhirnya sering dikunjungi turis. Apalagi di sekitarnya berdiri karang-karang menghias perairan.

Tak jauh dari tempat kapal terdampar tersebut, ada jajaran pohon kelapa dan rumput hijau, dan pantai pun cukup landai. Saya pun menikmati deburan ombak keras dari sana. Kaki saya dibiarkan berselonjor. Lumayan juga perjalanan naik-turun bukit.

Kembali ke dermaga, jalan menurun dilalui. Melewati kampung dengan sederet lumban balak yang tidak terawat, bahkan juga masjidnya. Para pemiliknya sudah jarang datang sehingga rumah-rumah kayu itu menjelang roboh. Jalan menurun bukit, melewati sebuah sekolah dasar, hingga akhirnya kembali ke rumah-rumah di pekon Labuhan dan beristirahat di rumah warga.

Lelah masih bergelayut setelah berkeliling pulau sekitar 2 jam, tapi seorang pemuda datang, menyebutkan bahwa kami sudah ditunggu di perahu. Kembali ke Krui tidak boleh lebih dari pukul 14.00. Sebab, lewat waktu tersebut, ombak akan meninggi. Masih enggan untuk berdiri, kaki pun melangkah dengan berat. Rupanya, kelompok turis asing yang bersamaan datang dengan kami sudah berangkat lebih dulu. Saya melihat perahu mereka sudah melaju.

Pasir putih pun terus saya jejaki, belum puas rasanya menyentuh kehalusannya. Ombak tampak kian besar. Saya pun bersiap-siap menghadapi guncangan. Perjalanan pulang, bisa jadi lebih panjang karena perahu akan terus digoyang ombak. Dan…  tak ada pula lumba-lumba yang menggoda. Saya pun duduk pasrah berselonjor di tengah perahu. Tak lama kemudian, air mulai menyembur masuk membasahi wajah dan pakaian. Bukannya kaget, saya malah tergelak.

Memang tak perlu cemas dan takut. Para nelayan sudah biasa bergelut dengan ombak “nakal” ini. Mendekati dermaga Krui, godaan di laut itu mereda. Tapi apa mau dikata, saya sudah basah kuyup. Seharusnya memang saya menginap dan baru esok pagi kembali ke Krui, sehingga bisa merasakan kembali laut yang tenang dan tarian lumba-lumba.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Museum Bank Indonesia, Sejarah Ekonomi Sejak 1828

Museum Bank Indonesia di antaranya memiliki koleksi koin emas derham.

Museum Bank Indonesia barangkali bisa menjadi alternatif pilihan tempat wisata yang bersifat edukatif. Tak cuma untuk anak-anak, mahasiwa bahkan orang awam pun mungkin bisa mendapatkan pengetahuan penting di sini.

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia memamerkan berbagai koleksi uang yang pernah digunakan Indonesia dari masa ke masa. Sementara itu, benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah di dalamnya akan sangat berguna bagi masyarakat. Di sebuah gedung lawas, perjalanan perekonomian bangsa ini diulas. 

Wilayah barat Jakarta disiram sinar mentari yang terik pada November lalu, tapi tak mengurungkan niat sejumlah orang untuk melangkah ke kawasan Kota dan mengunjungi Museum Bank Indonesia. Berada di Jalan Pintu Besar Utara No 3, bangunan ini dari luar memang menggoda untuk ditengok. Maklum merupakan gedung lawas dengan arsitektur neo-klasik.

Bangunan sudah hadir pada masa pendudukan Belanda. Hanya, pada awalnya digunakan sebagai rumah sakit. Beralih menjadi kantor perbankan pada 1828 dan digunakan oleh De Javasche Bank. Saat Indonesia meraih kemerdekaan, bank pun dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia (BI) pada 1958. Tak lama digunakan BI, pada 1962 pindah ke gedung baru dan bangunan lama pun difungsikan sebagai museum.

Museum Bank Indonesia terdiri dari dua lantai yang berisi segala pengetahuan mengenai ekonomi, moneter, dan perbankan yang diperlukan masyarakat. Berkunjung ke tempat ini akan memberikan pemahaman tentang latar belakang serta dampak dari kebijakan-kebijakan Bank Indonesia yang diambil dari waktu ke waktu.

Memasuki museum, saya menemukan beragam informasi mengenai peran Bank Indonesia dan kebijakan-kebijakan bank sentral ini dalam perekonomian Indonesia. Segala hal yang berkaitan dengan perekonomian Indonesia dulu bisa ditemukan di sini. Museum menyuguhkan informasi dalam beberapa media, di antaranya multimedia. Awalnya, pengunjung dibawa ke sebuah ruangan dengan sejumlah info ihwal pendirian Bank Indonesia. Nah, dengan menggunakan teknologi itu, pengunjung bisa merasakan perjalanan BI pada masa lalu tersebut.

 Dari ruangan sejarah, saya berpindah ke ruang teater berdaya tampung 60 orang. Ruangan ini tentu menampilkan sejarah BI. Kemudian, disambung memasuki sebuah ruangan Numismatic. Di ruangan ini, pengunjung bisa melihat koleksi mata uang dari awal masa kerajaan Hindu-Buddha, kerajaan Islam, kolonial, hingga setelah merdeka. Ruangan dengan cahaya yang redup dan dingin ini menciptakan suasana tenang dan nyaman. Dengan bantuan kaca pembesar, saya melihat koleksi mata uang yang ada di sini.

Dari sana pengunjung bisa meneruskan langkah ke ruang lain. Kali ini ruang “bersinar” karena berisi emas dan diberi nama ruang Moneter Gold. Ada tumpukan replikasi emas batangan dan pengunjung bisa memegang serta mengangkat satu batang replika yang sudah ada di salah satu sudut ruangan. Dengan begitu, kita bisa memperkirakan berapa berat satu batang emas. Ada pula koleksi koin emas derham atau dirham yang dipergunakan untuk perdagangan di Aceh pada masa lalu.

Selain itu, ada ruangan percetakan uang yang digabung bersama ruangan sirkulasi uang. Di sini, pengunjung bisa menyimak proses uang dicetak dan diedarkan. Dari perencanaan, mencetak, distribusi, peredaran, hingga menariknya kembali. Saya juga melihat replika dari pesawat Bank Indonesia yang pertama kali mendistribusikan uang ke seluruh wilayah di Indonesia di ruang ini.

Ada sebuah ruangan yang dikhususkan untuk pameran yang diadakan pada waktu-waktu tertentu. Biasanya yang ditampilkan berupa karya fotografi, lukisan, batik, dan lain-lain. Ke luar dari museum, ada buah tangan yang bisa dijadikan kenang-kenangan. Bisa dilihat di ruangan khusus ini, silakan disimak juga bila berminat. Sesekali tengok juga website Museum Bank Indonesia, siapa tahu ada pameran yang sedang digelar, sehingga bisa satu kayuh dayung, dua kegiatan dilakukan.

Hanya, seperti sejumlah museum, di sini juga ada sejumlah peraturan. Di antaranya, di beberapa ruangan, meski boleh mengambil gambar dengan kamera, tidak boleh menggunakan bantuan flash. Sejak dilakukan peresmian yang kedua kalinya pada 2009 oleh presiden kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono, memang antusiasme orang untuk berkunjung meningkat. Baik wisatawan lokal maupun asing. Sebenarnya museum dibuka pertama kali pada 15 Desember 2006, tapi pembukaan secara resmi baru pada 2009. Pengunjung dipungut biaya Rp 5 ribu, sedangkan khusus pelajar, mahasiswa dan anak-anak di bawah 3 tahun bisa menikmati secara bebas menikmati perjalanan perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

Museum Bank Indonesia; Jalan Pintu Besar Utara No 3; Jakarta Barat

Buka:Selasa-Minggu, pukul 08.00-16.00

Tutup: Hari Senin dan hari libur nasional

agendaIndonesia

*****

Jajanan Enak ala Pontianak, 5 Yang Wajib Icip

Jajanan enak ala Pontianak ada banyak macamnya, selain kwetiau atau mitiau yang sudah dikenal banyak orang. Ada pilihan lain jika kebetulan main ke ibu kota Kalimantan Barat ini, Dari sajian hidangan laut, es krim, hingga kopi.

Jajanan Enak ala Pontianak

Sajian kuliner Nusantara begitu beragam. Ada makanan yang selintas terlihat sama, namun begitu diicipi, ternyata rasanya berbeda. Hal serupa juga ditemukan di Kota Khatulistiwa ini. Menu sajian kuliner di Pontianak ada juga yang terlihat sama dengan jenis makanan atau masakan di Jawa ataupun daerah lainnya, tapi ternyata isinya berbeda. Di antaranya pengkang. Jika mendengar penjelasannya yang berbahan ketan, rasanya ini mengingatkan kita dengan lemper. Tampilannya saja yang berbeda karena dijapit bambu. Ada pula olahan kepiting serta sajian pedas khas Melayu. Berikut 5 jajanan Pontianak yang bisa dicoba karena beda dan pasti enak.

Es Krim Petrus

Karena tokonya tepat berada di depan sekolah Santo Petrus, warga Pontianak lebih mengenal Toko Es Krim Angi ini dengan nama es krim Petrus. Berbeda dengan es krim pada umumnya, es krim tersebut menggunakan wadah dari kelapa muda. Dengan begitu, selain dapat menikmati segarnya es krim, pengunjung dapat sekalian menikmati daging kelapa mudanya.

Es krimnya lumayan lembut. Kabarnya, resep es krim itu dibuat secara turun-menurun lebih dari 60 tahun. Pilihan rasanya juga beragam, mulai  cokelat, vanila, stroberi, durian, nangka, ketan, cempedak, hingga alpukat. Satu porsi es krim ukuran kecil Rp 12,500, sedangkan ukuran besar dengan batok kelapa Rp 23 ribu.

Es Krim Angi; Jalan KS Tubun No 8; Pontianak

Jajanan enak ala Pontianak di antaranya adalah pengkang yang mirip dengan lemper. Hanya saja pengkang berisi udang ebi.
Pengkang, makanan khas Pontianak, Kalimantan Barat. Foto: Dok. TL

Pengkang, Lemper Isi Udang

Namanya Pengkang. Sekilas menu ini mirip lemper. Sama-sama terbuat dari ketan yang dibungkus daun pisang dan dibakar. Cuma bedanya, pengkang berisi udang kering alias ebi. Bedanya lagi, saat dibakar, pengkang dijepit dengan bambu yang diikat tali yang terbuat dari alang-alang. Warga sekitar menyebutnya tali pundung.

Pengkang disajikan dengan sambal kerang. Harga per buah rekannya lemper ini hanya Rp 9.000. Sedangkan sambal kerang yang benar-benar membuat lidah bergoyang dipatok Rp 25 ribu per porsi. Es lidah buaya atau es biji selasih seharga Rp 15 ribu bisa menjadi minuman pilihan yang menyegarkan.

Pondok Pengkang Peniti; Jalan Raya Peniti Luar Km 30; Pontianak

Jajanan enak ala Pontianak bisa dipilih dari yang seafood atau sekadar ngopi.
Kepiting asap yang bisa dicicipi di Pontianak, Kalimantan Barat. Foto: Dok. TL

Kepiting Asap

Sajian dari ikan laut sepertinya jadi ikon sajian kuliner tak resmi Kota Pontianak. Betapa tidak, rumah makan yang populer di Kota Bumi Khatulistiwa itu kebanyakan adalah rumah makan yang menyajikan hidangan laut. Salah satu yang terkenal adalah menu kepiting asap di restoran yang pernah dikunjungi Presiden RI ke-7, Joko Widodo, yakni Pondok Kakap Seafood Restaurant.

Cara memasaknya terbilang tak lazim. Dua ekor kepiting kira-kira berukuran 8 ons yang sudah diberi rempah-rempah dibungkus dengan aluminium foil lalu dibakar. Rasanya lumayan pedas, tapi memang pas di lidah. Dalam penyajiannya disertakan pula dua pilihan sambal: cabai rawit yang diblender dan sambal terasi yang diberi jeruk nipis. Satu porsi untuk dua ekor kepiting berukuran 8 ons dihargai Rp 150 ribu.

Pondok Kakap Seafood; Jalan Ismail Marzuki No 33; Pontianak

Pedas Menyegarkan

Rumah makan Pondok Ale-Ale di Jalan Putri Candramidi ini menyediakan menu khas Melayu Kalimantan Barat. Yang jadi menu andalannya adalah asam pedas Ketapang. Sesuai dengan nama menunya, makanan ini memang terasa pedas dan menyegarkan. Rasa asamnya muncul dari penggunaan asam Jawa, nanas, dan terong asam dalam masakan.

Tingkat kepedasannya dapat diatur sesuai dengan selera, dari level I sampai level III untuk yang paling pedas. Perbedaan tingkat kepedasannya mirip dengan keripik pedas terkenal asal Jawa Barat. Untuk pilihan lauknya dapat berupa ikan atau kerang. Harga per porsinya mulai Rp 35 ribu. Menu tersebut cocok bagi penggemar masakan pedas.

Pondok Ale-Ale; Jalan Putri Candramidi No 10; Pontianak

Kopi Malam

Jika ingin menikmati kopi pada malam hari, berkunjunglah ke Jalan Gajah Mada, Pontianak. Di jalan ini boleh dibilang sentranya warung kopi. Di sepanjang jalan hampir dipenuhi deretan warung kopi yang selalu dipenuhi para penikmat kopi setiap malamnya. Saya sempat mampir di salah satu warung kopi yang berada di seberang hotel berbintang.

Rasa kopinya tidak terlalu heboh. Tapi suasana untuk bercengkerama amatlah mendukung. Kopi yang disediakan juga beragam, mulai kopi saring, kopi bubuk, hingga kopi susu. Sebagai pendamping minuman disediakan pisang goreng, martabak, dan kue. Harga per cangkir kopi mulai Rp 10 ribu.

Warung Kopi Winny; Jalan Gajah Mada No 159; Pontianak

agendaIndonesia/Andry T./Aditya N./TL

*****

Kopi Oksibil Papua, Ini 5 Keistimewaannya

Kopi Oksibil Papua menjadi salah keunggulan daerah itu dan sering disebut emas hitam.

Kopi Oksibil, Pegunungan Bintang, Papua, adalah salah satu biji kopi terbaik dari Indonesia. Kualitas biji kopi di Indonesia tak perlu diragukan lagi. Hampir setiap tahun, kopi dari berbagai daerah di Tanah Air memenangi kontes di level internasional.

Kopi Oksibil Papua

Kondisi geografis Indonesia yang berupa barisan pegunungan membuat kopi tumbuh dengan baik. Alhasil, selain menjuarai kompetisi kopi level dunia, Indonesia tercatat sebagai pemasok biji kopi ke tiga terbesar di dunia setelah Vietnam dan Brasil.

Bicara biji kopi Indonesia, hampir semua berkualitas baik. Namun, salah satu yang terbaik tumbuh di daratan Pegunungan Bintang, tepatnya di Oksibil, Papua. Seorang roaster yang memperoleh sertifikasi dari Speciality Coffee Associaton of America, Hideo Gunawan, pernah mengadakan penjelajahan singkat mengenai kopi Oksibil selama dua pekan pada Februari 2018.

Secara umum Hideo mengatakan, kopi Oksibil Papua berwarna hitam pekat. Ketika disruput, terasa pahit di mulut, tetapi lalu meninggalkan jejak rasa sitrun di lidah. Itulah pengalamannya mencicipi kopi Oksibil dari Pegunungan Bintang, Papua.

Kopi Oksibil Papua cocok diseduh dengan cara apapun, namun rasa sitrusnya keluar ketika diseduh dengan cara tubruk
Menyeduh kopi dengan cara V60.

Biji kopi jenis arabika typica ini dapat disajikan dengan berbagai metode, di antaranya V60, tubruk, atau dicampur dengan susu dan menjadi latte. Membandingkan penyeduhan V60 atau dicampur susu, rasa sitrun yang menjadi karakteristik utama kopi oksibil Papua ini paling terasa saat disajikan ternyata adalah kopi yang diseduh dengan metode tubruk. Pohon kopi arabika typica umumnya lebih besar dengan buah yang lebih sedikit dibandingkan dengan pohon kopi varietas lain, seperti yang banyak ditanam di Sumatera.

Pohon-pohon kopi yang ditanam pada ketinggian sekitar 1.900 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini juga memiliki usia produktif yang lebih lama, yakni mencapai 30 tahun, dibandingkan dengan pohon kopi jenis hibrida yang hanya sampai 10 tahun.

Suhu dingin berkisar 15 derajat Celcius, tanah yang subur, dan buah yang lebih sedikit menjadikan zat gizi yang tersimpan dalam biji kopi Oksibil makin tinggi dan rasanya menjadi lebih enak. Ada lima distrik yang sudah menghasilkan kopi. Peminatnya sudah tinggi dari luar negeri seperti Australia, Selandia Baru, atau Eropa.

Kalau ada yang memiliki kesempatan mengunjungi Oksibil di Papua, selain menikmati keindahan alamnya, saat mengunjungi kota kecil yang berpenduduk 100.686 jiwa ini wajib mencicipi kopinya. Orang sering menyebutnya sebagai Kopi Koteka khas Pegunungan Bintang atau orang juga menyebutnya kopi Oksibil Papua.

Kopi Papua dari Pegunungan Bintang merupakan kopi organik dengan kualitas terbaik. Ini berkat tanah Papua yang masih sangat subur sehingga kualitas kopi yang dihasilkan sangat baik. Kopi yang ditanam petani secara tradisional tanpa menggunakan pupuk kimia juga tanpa pestisida sehingga menghasilkan kopi kualitas baik.

Sejatinya apa saja keistimewaan kopi Osibil Papua ini? Seorang barista di Jakarta menjelaskan sejumlah keistimewaan kopi Oksibil. Di antaranya berikut ini.

Berjenis Arabica Tipika

Biji kopi Oksibil berjenis Arabica Tipika. Pohon kopi jenis ini bukan merupakan hibrida atau hasil perkawinan. Ciri-cirinya, jarak antar-dompol buah berjauhan. Ukuran pohonnya pun lebih besar. Ini menunjukkan kualitas varietal kopi lebih baik daripada kopi Arabica pada umumnya.

Pohon kopi Arabica Tipika memiliki usia produktif hingga 30 tahun. Berbeda dengan pohon hibrida yang batas usia produktifnya hanya sampai 10-11 tahun.

Ditanam di Ketinggian dan Suhu Ideal

Pohon kopi Oksibil ditanam di ketinggian lebih dari 1.900 mdpl, melampaui rata-rata kopi lainnya yang tumbuh di daratan 1.500 mdpl. Suhu di ketinggian itu berkisar 18-23 derajat. Ditilik dari ketinggian dan suhunya, ini merupakan lahan ideal bagi kopi Arabica untuk tumbuh baik.  

Makin dingin suatu tempat, biji akan makin lama matang. Alhasil, gizi pada kopi pun makin menumpuk. Proses pematangan yang lamban akan membuat biji biji memiliki acidity atau tingkat keasaman yang tinggi.

Proses Pengelolaan Manual

Segala proses pengelolaan kopi dilakukan secara manual di Oksibil, tapi petani setempat paham cara memperlakukan biji dengan tepat. Mulai pengulitan hingga penyangraian. Namun, tanpa diedukasi sebelumnya, insting petani untuk memperlakukan biji kopi diklaim sudah tepat.

Misalnya petani akan memetik biji yang benar-benar sudah merah. Lalu mereka tak menjemur biji kopi di atas lahan tanah, sehingga kualitas tetap terjaga.

Panen Hampir Sepanjang Tahun

Meski ada panen raya, biji kopi Oksibil akan terus diproduksi sepanjang tahun. “Panen per petani itu tidak sama waktunya sehingga kesannya biji kopi Oksibil ada terus,” kata Hideo. Adapun panen besar akan dirayakan umumnya bulan Mei. Tiap panen, petani yang masing-masing memiliki 1.000 pohon kopi akan memproduksi 300-600 kilogram biji.

Kopi Oksibil Papua ditanam dan dirawat dengan cara manual.
Biji kopi arabica

Dikemas Unik dengan Koteka

Koteka saja sudah unik, apalagi diisi dengan kopi. Kopi Koteka menjadi merek unggulan petani lokal. Pemerintah setempat tengah menggalakkannya menjadi oleh-oleh. Kopi Koteka telah dipromosikan ke beberapa negara di Eropa dan Australia. Keberadaannya sebagai kopi khas Papua banyak diminati orang asing.

Kopinya dinamakan koteka karena sesuai ciri khas masyarakat setempat. Tapi sesungguhnya koteka sendiri adalah singkatan dari kopi, ternak, dan kakao, program pembangunan ekonomi di kabupaten tersebut.

agendaIndonesia

*****

Sop Buntut Ibu Samino, Enak Sejak 1973

Sop Buntur Ibu Samino adalah masakan legendaris di Jakarta.

Sop Buntut Ibu Samino di Jakarta rasanya hampir sama legendarisnya dengan sop buntut Borobudur. Secara racikan ke duanya berbeda. Sop buntut Borobudur kuahnya lebih kental dan berwarna merah karena tomat. Sementara di tempat ibu Samino lebih bening, meski gurihnya sangat terasa.

Sop Buntut Ibu Samino

Hal lain yang membedakan ke duanya adalah lokasi. Yang pertama di hotel berbintang lima, sedangkan Ibu Samino ada di warung kecil. Harganya tentu menjadi berbeda pula.

Buat yang sudah lama tinggal di Jakarta, Ibu Samino sudah berjualan menu sopnya sejak lama. Dulu sekali ia membuka warungnya di bagian belakang kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dulu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Adalah suami istri Samino yang melihat peluang berjualan menu sop buntut di Jakarta. Pada 1973 itu masih sangat jarang ada restoran atau warung makan yang berjualan menu tersebut. Karenanya, mulailah mereka berjualan sop buntut, menu yang merupakan peninggalan orang-orang Belanda di masa colonial.

Sop Buntur Ibu Samino buka mulai 1973 di belakang kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.
Gerai Ibu Samino di Rasuna Said, Jakarta. Foto: IG Sop Buntut Ibu Samino

Dulu di awal-awal warung Sop Buntut Ibu Samino buka, orang suka menyebut warung ini sebagai “sop buntut nopo malih?” (Sop buntut apa lagi?). Ini karena pemesanan dilakukan dengan kertas seadanya atau kadang cuma secara lisan. Ketika mau membayar, ibu Samino sang juru hitung akan bertanya, “nopo malih?” Dan ia berhitung dengan cepat, seolah ada kalkulator di kepalanya.

Waktu berlalu, warung Sop Buntut Ibu Samino berpindah lokasi. Yang terlama ada di Jalan Arteri Permata Hijau atau Jalan Tentara Pelajar di seputar Patal Senayan. Ada pula beberapa gerai cabang lainnya. Dan tak ada lagi ibu Samino yang akan bertanya, nopo malih? Semua sudah dilakukan karyawannya.

Warung ini menjadi legendaris karena utamanya menyajikan menu spesialis sop buntut dengan varian yang rasanya paling komplit. Mulai dari sop buntut biasa, goreng, bakar, cabe ijo, atau balado. Semua disajikan dengan kuah sop buntutnya yang khas.

Masih di seputar buntut sapi, Sop Buntut Ibu Samino juga menyediakan masakan non-sop namun dengan bahan buntut sapi. Misalnya saja ada soto Betawi buntut. Yang ini kuahnya berbeda dengan sop buntut. Masakannya berkuah dengan santan namun dengan buntut sapi yang empuk. Masih di sop Betawi, ada pula pilihan dagingnya berupa iga sapi. Kuahnya sama dengan sop Betawi buntut. Yang tak disertai kuah hanyalah nasi goreng buntut.

Sop Buntut Ibu Samino
Sop Buntut Ibu Samino reguler. Foto: IG Ibu Samino

Rahasia kelezatan sop buntut di sini ada pada bumbu khas yang diracik sendiri oleh ibu Samino. Cita rasa yang disajikan terasa sangat kuat dan membuat lidah bergoyang. Terutama ketika menyeruput kuahnya.

Selain varian pengolahan atas buntutnya, ada pula varian berdasar porsinya. Porsi biasa umumnya terdiri dari tiga potong buntut yang dagingnya sangat empuk dan hamper lepas dari tulang buntutnya. Ada pula porsi spesial yang isinya dua kali lipat porsi biasa.

Warung Sob Buntut Ibu Samino tak cuma melayani pesanan sop buntut. Masih di soal sop, di rumah makan ini ada juga punya menu sop iga sapi yang tak kalah gurihnya. Selain itu ada pula menu-menu lain, umumnya masakan Jawa Tengah.

Bagi yang tak suka masakan olahan sapi, ada pula yang serba ayam. Ada ayam goreng biasa, ayam goreng kremes, ayam bakar, juga ayam balado. Mereka juga menyediakan menu bebek, variannya sama dengan masakan ayam. Ada yang goreng, bakar atau balado.

Sop Buntut Balado Ibu Samino
Sop Buntut Balado. Foto IG Ibu Samino

Sebelum pandemi restoran ini juga menyediakan masakan Yogya seperti gudeg. Namun tampaknya menu ini cukup rumit dan penggemarnya tak banyak di sini, sehingga kemudian dihilangkan dan kembali fokus ke menu andalan sop buntut.

Untuk minuman di restoran Sop Buntut Ibu Samino tersedia menu yang cukup variative. Mulai dari aneka juice buah segar hingga aneka kopi yang kekinian, misalnya Kopi Jack (Jakarta With Love) dan Kopi Tubruk Hitam. Ada pula minuman tradisional seperti beras kencur. Ini tampaknya sesuai dengan citra tempat makan ini menjual menu-menu Jawa.

Sop Buntut Ibu Samino

Jalan Tentara Pelajar (Arteri Permata Hijau-Patal Senayan) Nomor 22, Kelurahan Grogol Utara, Jakarta Selatan

Jalan Pakubuwono VI No.11E Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

agendaIndonesia

*****