Sate Lilit Bali, 5 Warung Layak Dicoba

Sate lilit Bali dagingnya dililitkan ke tusuk yang dari sereh. Foto: iStock

Sate lilit Bali kabarnya menjadi salah satu menu yang disajikan pada perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, November 2022. Selain, tentu saja menu ayam betutu. Sate sudah menjadi salah satu menu kuliner Indonesia yang mendunia, layaklah dinikmati para tamu negara.

Sate Lilit Bali

Sate lilit memang salah satu makanan khas Bali. Sate lilit Bali awalnya adalah makanan khas wilayah Klungkung. Namun saat ini sate lilit bisa ditemukan di seluruh wilayah di Bali lainnya seperti Badung, Gianyar, dan Denpasar. Bahkan di sejumlah daerah lain di Indonesia ada resto-resto yang menyajikannya.

Dirangkum dari berbagai sumber, sate lilit Bali dulunya hanya dihidangkan saat ada upacara-upacara keagamaan saja. Kini, masakan ini bisa ditemukan di berbagai kesempatan dan di rumah makan atau bahkan pedagang pinggir jalan.
Awalnya sate lilit oleh masyarakat Bali hanya dibuat dari daging babi dan ikan laut. Tentu hal ini karena mayoritas penduduk Pulau Bali memeluk agama Hindu dan untuk mereka daging babi halal dikonsumsi.

Sate Lilit bali awalnya terbuat dari daging babi dan ikan, kini sudah mempunya varian yang beraneka dan halal.
Sate lilit Bali cocok dimakan dengan sambal matah. Foto: shutterstock

Namun, sesuai perkembangan zaman, di mana makin banyak orang dari luar Bali yang berkunjung ke daerah ini dan tidak mengkonsumsi daeging tersebut, saat ini masakan tersebut juga ada yang buat dari daging ayam, sapi, kambing, bahkan kura-kura sebagai pengganti.

Sate lilit Bali sendiri memiliki filosofi yakni menyimbolkan masyarakat yang selalu bersatu. Masakan ini juga menjadi simbol ‘kejantanan’ pria. Bukan perkara yang itu. Namun, alasannya, sate lilit sejak dulu hanya boleh dikerjakan oleh para kaum pria. Mulai dari menyembelih hewannya, meracik adonan hingga proses membakar atau pemanggangan juga hanya boleh dilakukan kaum pria. Jika seorang pria tidak bisa membuat sate lilit, maka akan dipertanyakan kejantanannya.


Dahulu, karena dibuat untuk keperluan acara keagamaan, sate lilit Bali selalu dibuat dalam jumlah banyak atau skala besar. Bisa sampai melibatkan 100 orang pria untuk membuatnya.

Lalu kenapa disebut dengan nama lilit? Tidak seperti sate yang lain yang proses pemanggangannya daging ditusuk oleh potongan bambu, sate lilit berasal dari kata ‘lilit’ yang artinya ‘dibelit’. Sesuai namanya, hidangan yang satu ini dagingnya direkatkan ke tusuk bambu berbentuk pipih ataupun sereh.


Sate lilit Bali menjadi hidangan andalan yang sering diburu turis saat mengunjungi Pulau Dewata. Sate ini memiliki tampilan yang khas, yakni berwarna kuning yang menggugah selera. Warna tersebut berasal kunyit dari bumbu basa genep yang dicampur dengan adonan daging dan kelapa parut.


Sate lilit memiliki cita rasa yang gurih, manis, dan sedikit pedas. Cara menikmati sate lilit tidak perlu memakai bumbu kacang seperti sate pada umumnya. Wisatawan bisa langsung menikmati sate lilit saja atau bisa ditambah dengan sambal matah dan hidangan lain.

Sate lilit Bali disebutkan menjadi simbol kejantanan para pria.
Sate lilit disimbolkan sebagai lambang kejantanan para pria. Foto: shutterstock


Lalu di manakah bisa menikmati sate lilit Bali yang enak jika berkunjung ke pulau ini? Saat ini banyak tempat menyediakan hidangan ini, namun lima tempat makan ini bisa dicoba.

Sate Lilit Muslim Pekambingan

Warung Muslim Sate Lilit Pekambingan karena tempat ini hanya menyediakan daging halal bagi warga muslim. Tempat makan sate lilit halal di Denpasar ini menawarkan menu sate lilit yang terbuat dari ikan dengan harga sekitar Rp 1.500 per tusuknya.

Berada di Jalan Pulau Buru Nomor 10, Dauh Puri, Kota Denpasar, warung ini buka dari pukul 06.30-15.00 WITA. Selain Sate Lilit, ada menu lainnya seperti Tum Ayam, Pepes Ikan, dan Sate Plecing Ikan yang bisa dicoba dicicipi.

Ayam Betutu Mbok Iwuk

Nama yang ‘djual’ memang menu atam betutu, namun Ayam Betutu Mbok Iwuk yang berada di Jalan Taman Sekar IX Nomor 4, Padangsambian, Kota Denpasar, ini juga menyedikan sate lilit. Buka sejak pukul 08.00-16.00 WITA, warung ini menyediakan menu sate lilit halal dengan harga sekitar Rp 15 ribu per 10 tusuknya. Selain itu, ada menu lawar Bali yang bisa dipesan dengan harga Rp 25 ribu per beseknya.
Warung Wardani

Warung Wardani ini berlokasi di Jalan Yudistira Nomor 2, Dangin Puri Kauh, Denpasar. Mereka buka dari pukul 08.00-16.00 WITA. Ada menu Nasi Campur dengan isian Nasi, Telor, Ayam Suwir, Udang, Sate Tusuk, Sate Lilit, Sayur, dan Sambal dengan harga sekitar Rp 38 ribu. Jika ingin menambah sate lilit, bisa dipesan terpisah dengan isian lima tusuk seharga Rp 15 ribu
Warung Sari Alit

Warung Sari Alit berada di Jalan WR Supratman Nomor 332, Kesiman Kertalangu, Denpasar. Tempat makan sate lilit di Denpasar ini menawarkan sate dengan olahan ikan seperti Sate Lilit, Pepes Ikan Laut, Sate Tusuk Ikan Laut. Harganya mulai dari Rp 1.000 per tusuknya.
Warung Ari
Warung ini berlokasi di Jalan Tukad Pakerisan Nomor 6, Panjer, Dauh Puri Klod, Denpasar. Buka dari pukul 06.30-16.00 WITA. Di sini, pengunjung bisa menikmati sate lilit enak di Denpasar dengan harga sekitar Rp 82 ribu untuk 50 tusuk. Cocok untuk menu makan bersama keluarga atau teman.

agendaIndonesia

*****

Kuliner Sungai Kahayan, 5 Yang Unik

Kuliner Sungai Kahayan

Kuliner Sungai Kahayan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, rasanya banyak yang belum cukup mengenalnya. Selain daerah ini belum cukup diserbu wisatawan, pilihan yang khas mungkin memang masih sedikit.

Kuliner Sungai Kahayan

Spot kunjungan paling terkenal di Kalimantan Tengah tentu saja masih Taman Nasional Tanjung Putting. Habitat penting orang utan di Indonesia. Rasanya banyak orang berkunjung ke provinsi ini untuk menuju spot tersebut. Kulinernya?

Kuliner Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah, setelah berkunjung ke Tanjung Puting.
Orang Utan di Taman Nasional Tanjung Puting. Foto: Dok. Unsplash

Saat menyambangi kota-kota di Provinsi Kalimantan Tengah, mulai dari ibukotanya Palangkaraya, Sampit atau Pangkalan Bun, Biasanya orang terbayang untuk mencicipi hidangan khas suku Dayak daerah ini. Sayangnya, cukup sulit ditemukan sajian khas yang dimaksud. Walhasil perburuan santapan otentik menjadi tak mudah.

Tak seperti masakah Padang atau Jawa yang memasang kata-kata menu atau masakan yang khas daerah-daerah itu, rumah makan yang menyajikan masakan khas masyarakat Dayak memilih menjual nama umum saja.

Namun, jika pengunjung cukup jeli dan rajin bertanya, sebenarnya ada beberapa rumah makan yang melestarikan kuliner warisan leluhur masyarakat Dayak. Umumnya menu lokal didominasi ikan-ikan sungai, termasuk udang sungai yang terkenal itu. Namun, tak hanya olahan udang dan ikan sungai, ada pula masakan sayuran. Bahkan ada sayuran yang berbahan rotan yang menjadi menu khas di Palangkaraya.

Supaya memudahkan pencarian, mungkin ada baiknya kami pilihkan dulu restorannya untuk menikmati kuliner Sungai Kahayan, Yang pertama ada Rumah Makan Kampung Lauk yang terletak di Jalan Bukit Rawi, Pahandut Seberang, Pahandut, Palangkaraya. Restoran ini sudah berdiri sejak 2006. Rumah makannya terdiri atas 37 saung yang berada di tepi Sungai Kahayan sehingga pemandangannya memanjakan mata. Saat ini, rumah makan tersebut menjadi salah satu tujuan wisata kuliner, baik masyarakat lokal maupun interlokal. Walhasil, setiap hari selalu ramai.

Pilihan ke dua ada Rumah Makan Samba yang berlokasi di Jalan R.T.A Milono nomor 15, Palangka Raya. Rumah makan ini menjadi salah satu rujukan bagi pemburu sajian khas tradisional Kalimantan Tengah. Berdiri sejak 1996, hingga sekarang pemilik rumah makan tetap konsisten menyajikan sajian khas suku Dayak. Menu andalannya adalah ikan bakar. Sebaiknya tidak datang terlalu sore karena sajian sudah ludes.
Pilihan lain adalah berkunjunga ke Rumah Makan Pelangi di Jalan G. Obos, Palangka Raya. Berdiri sejak 2000, rumah makan ini sudah beberapa kali pindah tempat. Menunya cukup beragam, mulai ikan-ikan sungai hingga udang galah. Menu favoritnya lais bakar, udang galah asam manis/sop/bakar, jelawat bakar, ayam bakar madu, dan sop ikan nila.

Lalu menu apa yang wajib dicoba jika mengunjungi Palangkaraya dan ingin mencicipi masakan khas masyarakat Dayak? Berikut lima yang menarik dicoba.


Sayur Umbut Rotan

Kuliner Sungai Kahayan di antaranya adalah sayur umbutt rotan
Sayur Umbut Rotan khas Kalimantan Tengah. Foto: Dok. TL

Orang biasanya terperanjat mendengar namanya. Tak terbayang bagaimana rasanya menggigit rotan. Namun rotan yang satu ini beda dengan rotan bahan anyaman. Kuliner Sungai Kahayan yang disebut “juhu singkah” dalam bahasa Dayak Ngaju ini terbuat dari tunas rotan yang masih muda. Durinya dibersihkan terlebih dulu, kemudian kulitnya dibuang. Tersisa bagian dalamnya berwarna putih, kemudian dipotong-potong kecil.

Rotan muda diolah dengan direbus untuk mengurangi rasa pahit dan melunakkan batangnya. Sesudah diaduk dengan berbagai bumbu, sayur pun siap dihidangkan. Biasanya olahan ini disajikan bersama terong asam, ubi keladi, dan tomat. Memang sedikit pahit, tapi tetap nikmat di lidah. Apalagi wanginya khas dan cukup menggoda. Menurut warga setempat, lebih sedap bila disantap dengan ikan bakar, seperti patin atau baung.

Ikan Jelawat Bakar
Ragam ikan air tawar mendominasi sajian khas di kota yang berada di tepian Sungai Kahayan ini. Dulu memang mudah ditemukan sehingga menjadi santapan utama masyarakat Dayak. Saat ini, seiring dengan tercemarnya sungai, ikan pun sulit didapat. Ikan-ikan yang dihidangkan sekarang sebagian besar adalah hasil budi daya.

Kuliner Sungai Kahayan tentu saja banyak yang berrbahan dari sungai tersebut.
Ikan Jelawat Bakar. Foto: Dok. TL

Ikan bakar biasanya disajikan dengan nasi putih dan sambal. Jenisnya patin, jelawat, lais, haruan atau gabus, dan baung. Salah satu yang spesial adalah ikan jelawat. Ikan ini hanya ditemukan di sungai-sungai Kalimantan. Dagingnya terkenal gurih dengan teskstur sedikit berminyak, mirip ikan patin. Biasanya dimakan bersama sambal bawang Banjar. Namun, saat menyantap, harap berhati-hati karena durinya besar dan menyebar.

Udang Galah Sungai
Udang sungai atau udang galah merupakan salah satu primadona olahan di Kalimantan, khususnya Palangka Raya. Ukurannya lebih besar dari jenis udang lain. Rasanya pun gurih. Selain dibakar dan digoreng, bisa dijuga disajikan dalam bentuk kuah sup atau asam manis.


Sambal Kandas Sarai
Berbeda dengan sambal di daerah lain, sambal khas masyarakat Dayak Ngaju ini bukan sebagai hidangan pelengkap, tapi sajian utama. Ini salah satu kuliner Sungai Kahayan yang khas. Sambal ini berbahan dasar serai, yang dibakar di atas bara, kemudian diiris kecil-kecil. Setelah halus, dicampur dengan berbagai bumbu rempah serta suwiran ikan air tawar panggang atau goreng yang telah dibuang tulangnya. Biasanya jenis ikan yang digunakan ialah ikan tak bersisik, seperti baung, lais, patin sungai, atau lele. Saat disajikan, sepintas seperti abon. Tatkala dicecap, rasanya terasa pedas dan cenderung asam.


Sayur Kelakai
Kalakai adalah jenis pakis yang banyak ditemukan di hutan tropis Kalimantan. Tanaman ini dikenal memiliki banyak khasiat sehingga dimanfaatkan masyarakat untuk pengobatan. Sayuran ini kerap dijadikan santapan harian. Rasanya gurih. Umumnya bagian yang diambil adalah pucuk. Sebab, teksturnya lebih lunak. Biasanya dibuat sup, sayur bening, atau oseng. Bahkan kini banyak diolah jadi camilan, seperti keripik untuk oleh-oleh.

agendaIndonesia/TL

*****

Minuman Dingin Bandung, 5 Yang Segeeer

Minuman dingin Bandung sepertinya tidak pas, karena ibu kota Jawa Barat masih dipersepsi sebagai kota dengan hawa yang sejuk. Betulkah demikian? Anggapan bahwa hawa kota Bandung selalu sejuk sepertinya tak sepenuhnya benar. Di malam hariu bisa jadi ia dingin, namun di kala siang, saat matahari berada pada puncaknya, Bandung sama saja panasnya dengan Jakarta.

Minuman Dingin Bandung

Walhasil, minuman dingin pun kerap dicari. Apalagi di bulan Ramadan, berbuka puasa dengan minuman yang menyegarkan tentu menjadi pilihan banyak orang. Tidak sulit untuk menemukan sajian serba dingin. Tersedia hidangan tradisional dan modern. Meski demikian, semuanya punya satu kesamaan, yaitu dingin-dingin empuk.

Es Goyobod

ADA satu kedai es goyobod yang terkenal di Bandung, namanya Gokil— singkatan dari Goyobod Kliningan. Julukan itu mengacu pada alamat kedai di Jalan Kliningan, Bandung. Menurut sang pemilik kedai, nama tersebut diberikan oleh para pengunjung.

Minuman yang berisi agar-agar, mutiara, roti, santan, sirup, dan susu ini sebenarnya berasal dari Garut, Jawa Barat. Namun pada tahun 2000 pemiliknya membuka usaha di Bandung dan melakukan berbagai modifikasi. Salah satunya dengan menambahkan es serut di atasnya dengan susu kental manis. Harga per gelas hanya Rp 7.000.

Es Goyobod Kliningan; Jalan Kliningan Nomor B9 Turangga, Lengkong; Bandung

Minuman dingin Bandung yang segeer makin cocok dengan hawa Bandung yang panas di siang hari.
Es Alpukat tumbuk ala Rumah Makan Linggar Jati, Bandung, Jawa Barat. Foto: Prima M./Dok TL

Alpukat Tumbuk

BIASANYA alpukat disajikan dengan cara dibikin jus. Namun lain halnya di tempat ini. Alpukat mentega yang di- pilih tidak dilumatkan dengan blender, melainkan ditumbuk sampai halus.

Tak mengherankan jika hidangan itu dikenal dengan nama alpukat tumbuk. Saat berkunjung ke Bandung beberapa waktu lalu, saya pun mencicipinya.

Penumbukan dilakukan untuk mencegah daging alpukat mengeluarkan air berlebih, sehingga tidak mempengaruhi rasa minuman. Sebagai topping, diberi serutan es batu yang disiram dengan sirup moka dan susu kental manis. Rasanya memang benar-benar berbeda. Harga Rp 28 ribu per gelas rasanya setimpal dengan kepuasan yang diberikan.

RM Linggarjati; Jalan Balonggede Nomor I, Bandung

Nyendol di Elizabeth

SEPERTINYA semua orang sudah kenal cendol. Minuman khas Indone- sia yang terbuat dari tepung beras serta disajikan dengan santan, es serut, dan gula merah cair ini memang menyegar- kan. Istilah cendol diduga berasal dari kata “jendol”, merujuk pada sensasi jendolan yang dirasakan ketika memi- num es cendol.

Di daerah Sunda, istilah nyendol digunakan untuk kegiatan meminum cendol. Warna hijaunya khas karena menggunakan bahan alami dari daun suji. Di Bandung, es cendol sangat mudah didapatkan, terutama di pusat kota. Dari yang dijual di gerobak hingga di kedai khusus. Pilihannya juga beragam. Ada es cendol ketan hitam, nangka, alpukat, dan es krim. Harganya relatif murah, mulai Rp 6.000 per gelas. Salah satu yang legendaris tentu Es Cendol Elizabeth, yang awalnya memang buka di toko tas bernama Elizabeth.

Es Cendol Elizabeth; Jalan Otto Iskandardinata (Otista) Nomor 518, Bandung


Jus Strobery

LELAH sehabis mengelilingi factory outlet (FO) di kawasan Dago, Bandung, Jawa Barat? Silakan mampir ke Pojok Stroberi, yang juga berada di sekitar daerah tersebut. Sembari melepaskan dahaga, kita dapat melepaskan lelah di sana. Sesuai dengan namanya, tempat ini memang menjagokan buah stroberi sebagai bahan minuman menyegarkan.

Namun tidak seperti jus stroberi yang biasanya lebih banyak mengandung air atau susu, minuman satu ini benar- benar terasa stroberi. Jadi, tidak perlu jauh-jauh lagi datang ke kebun stroberi jika hanya ingin menikmati jusnya. Cukup membayar Rp 20 ribu per gelas, Anda sudah dapat menyegarkan diri. Semakin terasa nikmat untuk buka puasa.

Sam’s Strawberry Corner; Jalan Ir H Djuanda Nomor 315, Bandung

Cincau Wale

UMUMNYA dikenal dua jenis es cincau, yakni hitam dan hijau. Cincau hijau tampaknya kurang populer ketimbang cincau hitam. Padahal, cincau hijau dipercaya dapat menurunkan suhu badan dan mencegah gangguan pencernaan. Di Bandung, Jawa Barat, tak banyak yang menjual cincau hijau. Salah satunya Warung Lela di Rancak- endal.

Warung ini tutup hingga pukul 21.00. Selain untuk berbuka, es cincau hijau bisa menjadi hidangan penutup. Es cincau disajikan dalam gelar besar. Isinya campuran antara cincau, santan, sirup, dan es batu. Kekenyalan cincau hijau dan seratnya yang khas benar-benar membawa kita bernostalgia. Satu gelasnya hanya dipatok Rp 17 ribu.

Warung Lela (Wale); Jalan Kupa Nomor 6 Rancakendal, Bandung

agendaIndonesia

*****

Kayak Arus Deras, Berputar di Arus Sejak 2012

Kayak arus deras menjadi alternatif menikmati sungai nerarus deras.

Kayak arus deras adalah alternatif jika ingin memompa adrenalin di derasnya arus sungai. Selain arung jeram yang sudah lama dikenal, olahraga atau aktivitas ini kian digemari. Untuk memulainya, minimal punya pengetahuan soal teknik dasar olahraga kayak.

Kayak Arus Deras

Arus Sungai Cipunagara, Subang, Jawa Barat, mengalir sangat deras. Seakan tak rela dilintasi benda apa pun. Siapa saja yang melintas niscaya diempas kuat-kuat. Bagi kayaker, arus yang memicu adrenalin ini justru menggoda untuk dikalahkan. Berbekal teknik dan kegigihan, seorang kayaker mencoba melintas. Yup, bukan main, ia berhasil melewati derasnya arus sungai dengan tingkat jeram tinggi tersebut. Luar biasa!

Kayak arus deras memang tidak sepopuler arung jeram di sungai. Medan yang cukup sulit dan risiko tinggi, seperti tenggelam, mungkin menyebabkan olahraga ini tidak punya banyak penggemar. Atas dasar itulah Muhammad Ihsan, Tedy Bugiana, dan Ira Shintia, dibantu Toto Triwidarto, Puji Jaya, Agus Hermansyah, serta Sigit Setianto dari Sekolah Kayak Tirtaseta, mendirikan Bandung Kayak Community (BKC).

“Keberadaan BKC ini sebenarnya hanya untuk mencoba menghimpun penggemar dan peminat serta berupaya memasyarakatkan olahraga kayak arus deras,” kata Kang Ihsan—panggilan Muhammad Ihsan suatu kali. Komunitas yang didirikan Januari 2012 itu biasanya memanfaatkan liburan akhir pekan dengan mendatangi sungai-sungai yang berada di sekitar Bandung. Di antaranya Sungai Cipunagara dan Ciherang di Subang, Sungai Cimanuk di Garut, dan Sungai Ciwulan di Tasikmalaya.

Jika menyambangi lokasi yang relatif jauh dari Bandung, para anggota komunitas biasanya berkoordinasi terlebih dulu untuk mendiskusikan segala hal yang berhubungan dengan pengarungan, transportasi, dan urusan teknis lainnya. Sedangkan untuk latihan rutin, BKC melakukannya di Sungai Cikapundung, yang masih berada di Kota Bandung.

Hingga saat ini komunitas yang bermarkas di Jalan Dago Hegar, Bandung, itu memiliki 45 anggota. Yang paling muda berusia 10 tahun, sementara yang paling tua 50 tahun. Profesi anggotanya beragam. Dari pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, mahasiswa, hingga pekerja profesional. Ada juga perempuan.

Kayak arus deras bisa menjadi alternatif bagi yang ingin memompa adrealin di arus deras.
Seorang kayaker sedang berusaha melintasi arus deras. Foto: Dok. Bandung Kayak Community.

Untuk bergabung dalam komunitas ini, tentu ada persyaratannya. Yang pasti, tidak wajib memiliki peralatan kayak sendiri. Maklum, peralatan kayak belum diproduksi di dalam negeri. BKC biasanya menyediakan peralatan kayak yang dimiliki anggota lainnya untuk digunakan bersama-sama saat latihan dan pengarungan. Menurut Kang Ihsan, sejatinya siapa pun boleh bergabung dengan BKC—sebagai organisasi berbasis komunitas. Namun sebaiknya, Kang Ihsan menyarankan, calon anggota pernah mengikuti kursus kayak bersertifikat atau alumnus sekolah kayak.

Namun bagi calon anggota yang belum pernah kursus kayak, tak usah khawatir. BKC juga mendirikan sekolah khusus kayak. Sekolah Kayak BKC namanya. Di sekolah yang didirikan lewat kerja sama dengan Sekolah Kayak Tirtaseta dari Purbalingga ini, ada pelajaran soal teknik kayak, seperti membalikkan kayak sendiri ketika terbalik (rolling), menyelamatkan diri (self-rescue), dan mendayung maju-mundur (eddies-in and eddies-out).

Pelatihan kayak tingkat dasar dilakukan selama tiga hari dan terdiri atas beberapa sesi. Sesi pertama, biasanya diadakan di kolam renang untuk membiasakan diri dengan air. Namun sesi-sesi berikutnya dilakukan di sungai. Dalam pelatihan tersebut, para peserta diharapkan menguasai setidaknya 95 persen kurikulum pelatihan. Untuk dapat mengikuti pelatihan tersebut, setiap peserta hanya dikenai biaya Rp 1,5 juta. Khusus pelatihan di sungai, para peserta akan dibawa ke Sungai Cipunagara, Subang.

Hingga saat ini Sekolah Kayak BKC sudah menghasilkan lima angkatan. Mayoritas lulusannya langsung bergabung dengan BKC. Tak mengherankan jika BKC selalu diidentikkan dengan Sekolah Kayak BKC. Padahal, menurut Kang Ihsan, siapa pun bisa menjadi anggota BKC. “Cuma kebetulan, BKC mayoritas diisi lulusan dari Sekolah Kayak BKC.”

Di usianya yang relatif masih muda, BKC terus menata organisasi. “Insya Allah, ke depan akan disusun lebih baik lagi. Mengingat jumlah anggota yang sudah semakin banyak,” ujar Kang Ihsan. Yang terpenting, ia menambahkan, olahraga kayak arus deras mendapat tempat di hati warga Bandung, sehingga bisa dikembangkan bersama-sama. Ayo, dayung terus!

agendaIndonesia/Andry T./Bandung Kayak Community

*****

Tari Kecak, Seni Tari Popular Mulai 1930

Tari Kecak Bali, kesenian tradisional yang mengandung makna spiritual. Foto: unsplash

Tari kecak rasanya salah satu seni tari tradisional Bali yang sudah sangat popular. Di Tengah acara G20 di Bali November 2022 ini, rasanya seni ini yang akan mendapat cukup banyak perhatian, selain tari Pendet yang ditampilkan untuk menyambut para tamu negara. Tetapi mungkin belum banyak yang mengetahui makna spiritual yang menjadi alasan ikon budaya pulau Dewata ini menjadi tradisi yang terus dilestarikan hingga kini.

Tari Kecak

Secara umum, tari kecak merupakan seni tari yang diperagakan oleh sejumlah laki-laki yang duduk melingkar. Jumlah penari ini bisa mencapai puluhan hingga ratusan orang, ditambah beberapa penari yang tampil di tengah-tengah para penari laki-laki yang melingkar tersebut.

Penari-penari yang tampil di tengah lingkaran tersebut lantas menampilkan sendratari epos Ramayana, yakni kisah Rama yang berupaya menyelamatkan Shinta dari Rahwana. Dalam upayanya ini Rama dibantu pasukan kera yang dipimpin Hanoman.

Para penari yang melingkar itu adalah representasi dari pasukan kera tersebut, sebagai latar dari lakon yang diperagakan. Para penari biasanya akan tampil dengan kain kotak-kotak yang dikenakan seperti sarung di pinggang, tanpa mengenakan baju.

Tari Kecak merupakan simbol taolak bala dalam masyarakat Bali.
Tari Kecak Bali merupakan bagian dari cerita Ramayana. Foto: DOk. Kemenparekraf

Sebagai latar lakon yang dipertunjukkan, para penari tersebut kemudian akan menari dengan mengangkat tangannya ke atas dan menggoyangkannya ke kanan atau ke kiri, sambil berseru kata ‘cak’, atau ‘cak-cak’ berulang kali secara berirama. Bagi telinga awam, seruan ‘cak’ yang berulang inilah mengapa tari ini kemudian lazim disebut tari kecak.

Dalam pertunjukan tari ini, tidak ada alunan musik dari alat musik yang dimainkan untuk mengiringi jalannya pertunjukan. Hanya ada suara kerincing yang dipakai di kaki dan tangan para penari di dalam lingkaran, serta tentunya seruan ‘cak’ dan ‘kecak’ yang khas itu. Kadang ditambah tiruan gamelan dari mulut para penari. Semacam acapela.

Di balik lakon bertema pewayangan Hindu tersebut, tari kecak disebut punya keterkaitan dengan seni tradisional Bali lainnya, yaitu ritual tari sanghyang. Ritual ini merupakan perpaduan unsur mistik dengan kepercayaan luhur masyarakat Bali.

Ritual ini diyakini telah ada sejak masa pra-Hindu di wilayah Bali. Pada dasarnya, para penampil ritual ini adalah orang-orang yang disebut tidak sadarkan diri dan disusupi oleh hyang (roh), sehingga dapat bergerak dan menari sendiri tanpa terkendali.

Bahkan, para penari ritual tersebut dapat menginjak api sambil menari atau melakukan gerakan tarian yang tak lazim dilakukan manusia pada umumnya. Konon, ini merupakan cara berinteraksi secara spiritual dengan sang Pencipta, meminta agar dihindarkan dari keburukan.

Ritual ini pun sejatinya bukanlah sebuah pertunjukkan yang marak dipertontonkan untuk umum, karena nilai sakralnya. Biasanya ritual ini dilakukan pada situasi tertentu yang dianggap mencemaskan, seperti saat serangan wabah penyakit, dan lain sebagainya.

Tari Kecak Bali PARIWISATA ATRAKSI shutterstock 1332483425 Aries Hendrick Apriyanto 660c40fe2d
Tari Kecak dibawakan oleh puluhan hingga ratusan penari. Foto: Shutterstock

Tari kecak sendiri secara mendasar juga ditujukan sebagai ritual penolak bala. Beberapa elemen dari ritual tersebut seperti beberapa penari-penarinya yang juga dirasuki dan menginjak bara api, serta sesajen juga kerap terdapat pada pementasan tari ini.

Selain itu, penampilan kisah Ramayana dalam pertunjukannya juga mengandung pesan moral seperti usaha dan perjuangan yang pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan. Serta pentingnya untuk tidak serakah, pun selalu ingat dan berserah diri kepada sang Pencipta.

Menurut sejarahnya, tari kecak mulai dipopulerkan pada tahun 1930-an. Semua berawal ketika Walter Spies, seorang seniman asal Jerman yang tinggal di Bali sedang mendalami kesenian tradisional setempat, termasuk ritual tari sanghyang.

Ritual tersebut meninggalkan impresi yang mendalam baginya, sehingga ia kemudian berdiskusi dengan temannya, seorang seniman tradisional Bali bernama I Wayan Limbak. Mereka lantas berkolaborasi dan mengaransemen pertunjukan tari kecak seperti yang dikenal saat ini.

Kala itu, I Wayan Limbak sendiri tengah mengembangkan gerakan-gerakan baru pada tari baris, yakni tari tradisional Bali yang berakar pada tari perang di masa lalu, sebagai tanda pemuda-pemuda dianggap sudah dewasa dan siap bertarung. Tari ini biasanya diiringi oleh gamelan.

Dari kolaborasi itu, tercetus ide untuk mengintegrasikan gerakan yang tengah dikembangkan tersebut ke dalam sendratari Ramayana. Namun alih-alih diiringi gamelan, penampilan tersebut kemudian diiringi oleh seruan ‘cak’ dan ‘kecak’ yang berirama, layaknya sebuah ritual.

Irama tersebut lantas diatur oleh aba-aba seseorang di dalam kumpulan lingkaran tersebut layaknya seorang konduktor. Seseorang lainnya kemudian bernyanyi sesuai alur ceritanya, didampingi oleh sang dalang yang menarasikan jalan cerita.

Setelah aransemen secara keseluruhan telah jadi, tari ini kemudian dipertunjukan kepada umum di beberapa desa, utamanya di wilayah Gianyar. Setelah populer, kini tari ini dipentaskan di berbagai tempat lainnya, seperti Uluwatu, Tanah Lot, dan Garuda Wisnu Kencana.

prabu panji SXM0NC45wU0 unsplash
Rama dan Sinta sebagai bagian pergelaran Tari Kecak. Foto: unsplash

I Wayan Limbak juga sempat membawa pertunjukan tari ini ke berbagai negara-negara lain, sehingga banyak turis mancanegara yang tertarik untuk melihat pentas tari ini secara langsung. Dewasa ini, tari kecak juga kerap jadi pertunjukan dalam festival atau perayaan tertentu di Bali.

Kendati terkadang dipertunjukkan pada siang atau malam hari, tari kecak idealnya dipentaskan pada waktu petang saat matahari terbenam, kira-kira jam 18.00. Terutama jika pengunjung menonton di pura-pura seperti di Uluwatu atau Tanah Lot.

Yang menarik, tari kecak bisa dibilang masih merupakan salah satu seni tradisional yang sangat dibanggakan dan dijaga oleh masyarakat Bali. Banyak dari para penarinya yang sehari-hari merupakan pekerja di berbagai bidang lain.

Setelah selesai bekerja, mereka baru tampil sebagai penari kecak. Meskipun umumnya mereka juga mendapat penghasilan dari tiket penonton yang kerap kali ramai, tetapi justru semangat mereka lebih kepada usaha melestarikan kebudayaan Bali yang begitu ikonik ini.

Terlebih dengan nilai-nilai ajaran Hindu yang terkandung di dalamnya, serta kepercayaan luhur agar terhindar dari hal-hal buruk, membuatnya menjadi kesenian yang sangat lekat dan dipegang teguh oleh masyarakat Bali hingga kini.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Ogoh-ogoh di Malam Bulan Mati Ke-9

Ogoh-ogoh identik dengan hari Nyepi, hari sakral bagi masyarakat hindu Bali. Ia diibaratkan nafsu atau hal buruk yang harus dilepaskan dari diri. Figur-figur ogoh-ogoh dulu seperti bentuk raksasa atau mahluk yang seram. Makin ke sini, bentuknya tidak melulu menyeramkan, tapi juga ada yang cantik atau lucu.

Ogoh-ogoh

Tahun 2021 ini mungkin Hari Raya Nyepi akan semakin sepi, sebab pawai ogoh-ogoh sudah dipastikan tidak diizinkan digelar merujuk pada situasi pandemi Covid-19. Tentu ada yang terasa ‘hilang’ bagi masyarakat Bali. Namun ini adalah situasi yang harus dihadapi. Artikel ini adalah kisah pelaksanaan ogoh-ogoh beberapa tahun silam.

Malam masih belum jatuh betul, masih ada sedikit cahaya ketika keramaian itu muncul di sejumlah banjar atau kampung di Bali. Tetabuhan dipukul. Patung raksasa dengan wajah menyeramkan, yang dikenal sebagai ogoh-ogoh, tampak menonjol di antara barisan pria dengan balutan kain kotak-kotak di bagian bawah tubuhnya. Busana tradisional itu dilengkapi udeng atau ikat kepala yang menjadi ciri pria Pulau Dewata.

Situasi itu adalah hal yang biasa saat menyambut Hari Nyepi, masyarakat menggelar Malam Pengerupukan atau Malam Penyepian. Boneka raksasa ogoh-ogoh memang khusus dimunculkan sehari sebelum Hari Raya Nyepi atau pada tilem sasih kesanga (bulan mati yang ke sembilan). Tahun 2021 ini, dalam kalender Masehi, jatuh pada 14 Maret.

Ogoh-ogoh merupakan simbolisasi menjauhkan hal-hal yang buruk bagi masyarakat Bali.
Pawai mengarak ogoh-ogoh di malam menjelang Hari Raya Nyepi di Bali. Foto: Dok. shutterstock

Sebelumnya, umat Hindu melakukan upacara yang disebut Bhuta Yadna dalam bentuk Mecaru mulai di tingkat keluarga, banjar, desa, hingga kecamatan. Tujuannya, mensucikan diri dari segala bentuk kotoran sekaligus memohon kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala, dan Batara Kala supaya mereka tidak mengganggu lagi. Ogoh-ogoh pun baru diarak saat senja mulai turun atau sekitar pukul 6 sore.

Ogoh-ogoh mungkin semcam seni patung dalam tradisi Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu, Bhuta Kala simbol kekuatan alam semesta dan waktu yang tidak terukur. Dalam perwujudannya digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan. Biasanya berupa raksasa, terkadang juga makhluk hidup lain dalam penampakannya yang tidak biasa.

Banyak pula yang mengambil tokoh-tokoh pewayangan lengkap dengan fragmen tarinya. Belakangan, tak hanya ogoh-ogoh dalam tampilan yang menyeramkan yang diarak warga, ada juga yang cantik atau lucu serupa tokoh kartun di televisi.

Biasanya, ogoh-ogoh terbuat dari bahan yang ringan, seperti koran, kertas semen, styrofoam,dan kapas. Ini agar ketika sudah jadi ia jadi mudah diarak, termasuk oleh anak-anak. Sebab bentuknya umumnya gigantis. Besar sekali. Ada puluhan orang dari satu banjar yang ikut mengarak ogoh-ogoh dengan iringan musik, baik gong, gamelan, maupun baleganjur, alias bunyi-bunyian dari bambu, semisal kentongan. Terkadang dilengkapi penari serta lelucon, sehingga masyarakat benar-benar terhibur. Ingar-bingar gamelan, kentongan, dan bunyi-bunyian berlangsung dari sore hingga menjelang malam. Biasanya, ogoh-ogoh kembali ke banjar masing-masing sekitar pukul 22.00. Namun tak jarang arak-arakan dilakukan sampai larut malam.

Anak-anak dan orang dewasa ikut memeriahkan Malam Pengerupukan. Semua aktivitas tersebut baru berhenti total saat kulkul atau kentongan besar di banjarberbunyi. Itu tanda bahwa seluruh aktivitas harus disudahi. Akhirnya, setelah diarak, ogoh-ogoh dibakar atau dipralina. Diharapkan roh jahat yang ada dalam diri raksasa tidak mengganggu umat Hindu.

Sebagai karya seni, ogoh-ogoh tidak dibuat dalam semalam. Perlu persiapan sebulan. Sepulang bersekolah atau bekerja, para pemuda melakukan persiapan di balai banjar masing-masing. Tidak hanya membuat ogoh-ogoh, tapi mereka juga berlatih baleganjur. Lebih tepatnya, melakukan harmonisasi antara tarian ogoh-ogoh dan tetabuhan. Seminggu sebelumnya, latihan intensif dilakukan.

Atraksi inilah yang mengundang kekaguman wisatawan. Meski pada Hari Nyepi itu Bali seperti pulau tanpa kehidupan, banyak wisatawan datang sebelum perayaan. Prosesi ke masa hening menarik perhatian turis. Tepat di hari H, semuanya sepi dan sunyi. Hanya suara burung berkicau dan kukuruyuk ayam dari kejauhan yang terdengar begitu nyaring. Bahkan anjing pun ikut diam karena tidak ada orang yang melintas.

Hari itu suasana Bali benar-benar seperti pulau mati. Tidak ada aktivitas apa pun. Umat Hindu menyebutnya Catur Brata, yaitu amati geni (tidak ada cahaya atau api), amati lelungan (tidak bepergian), amati karya (tidak melakukan pekerjaan sehari-hari) dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Bagi yang mampu, dianjurkan juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadiHari ini biasanya digunakan untuk merenung agar menjadi manusia yang lebih baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan.

Ogoh-ogoh pada akhirnya dibakar setelah diarak keliling banjar, ini menyimbolkan hal-hal buruk menjauh dari masyarakat.
Pembakaran ogoh-ogoh di akhir pawai menandakan agar hal-hal buruk hilang dan enyah dari masyarakat Bali. Foto: Dok. shutterstock

Rangkaian Acara Sebelum Nyepi

Hari Raya Nyepi merupakan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan atau kalender Caka, yang dimulai pada 78 Masehi. Jatuh pada tilem kesanga atau bulan mati kesembilan, yang dipercaya hari penyucian para dewa di pusat samudra. Para dewa itu membawa intisari amerta atau air hidup. Untuk itu, umat Hindu memuja mereka. Tujuan utama peringatan Hari Raya Nyepi adalah memohon kepada Ida Sang Hyang Wishi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) untuk mensucikan Bhuana Alit,alam manusia mikrokosmos,dan Bhuana Agung, makrokosmos.

 Di samping Malam Pengerupukan dengan atraksi ogoh-ogoh, dua hari atau tergantung kesepakatan masyarakat adat setempat, sebelum Penyepian, ada kegiatan yang disebut Melasti atau Mekiis. Pada hari tersebut, semua sarana persembahyangan yang ada di pura diarak ke pantai atau danau. Sebab, laut atau danau dianggap sebagai sumber air suci yang bisa digunakan untuk mensucikan segala leteh atau kotoran yang ada dalam diri manusia dan alam. Selain menampilkan iring-iringan umat Hindu yang membawa sesajen dan benda sakral dari pura, ada suguhan kesenian. Orang-orang beriringan ke pantai atau danau sambil melakukan sembahyang.

agendaIndonesia/TL

*****

Resto di Lahan 2 Hektare, Congo di Dago Bandung

Resto di lahan 2 hektare pastilah dirancang tak main-main. Cobalah Congo Gallery & Café di kawasan Dago, Bandung, Jawa Barat. Tempatnya asyik, furniture dan aksen berbahan kayu solid menambah keasrian kafe ini. Lalu kenapa memilih nama yang erat hubungannya dengan Afrika?

Resto di Lahan 2 Hektare

Sebentar lagi surya akan tenggelam. Namun gerimis yang jatuh di kawasan Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat, pengujung April lalu belum juga reda. Beruntung Congo Gallery and Café, yang akan saya kunjungi, sudah dekat. Benar saja. Setelah melintasi jalan berbelok dan menanjak, saya tiba di depan gerbang Congo. Di kedua sisi gerbang besarnya, menjulang batang pohon besar dengan tulisan Congo di tengah. Saya seakan memasuki dunia lain. Begitu nyaman, asri, dan sejuk. Congo Gallery and Café menempati lahan yang benar-benar lapang. Luasnya mencapai dua hektare.

Tak jauh dari gerbang, tampak Congo Café menghadap ke taman. Nuansa kayunya begitu kental. Penataan taman yang cantik dikombinasikan dengan bebatuan semakin menguatkan kesan alami tempat ini. “Kami menyebut kafe pada area ini dengan istilah outdoor,” kata Anne Muthia, General Manager Congo Gallery and Café.

Resto di lahan seluas 2 hektare di kawasan Dago Resort, Bandung, jawa Barat, Congo Gallery & Cafe.
Interior Congko Gallery & Cafe di kawasan Dago, Bandung, didominasi kayu. Foto: Prima M./Dok TL

Di sisi yang berseberangan dengan area outdoor, terdapat gedung berlantai dua. Di depan pintu masuk gedung, terpampang mesin pemotong kayu berukuran besar. Lantai pertama gedung ini disebut area sofa. Sesuai dengan namanya, kafe di ruangan ini dilengkapi sofa. Sedangkan lantai kedua disebut area VIP (very important person).

Berbeda dengan area lain, di area VIP pengunjung dikenai biaya minimum Rp 1 juta untuk satu meja yang dapat memuat 10-12 orang. Ruangan yang berdinding kaca ini memang paling mengesankan. Betapa tidak, kaca-kaca tinggi besar memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan Bandung Timur dari ketinggian. Pada malam hari, pengunjung dapat melihat kerlap-kerlip lampu kota. Rasanya sangat tepat untuk makan malam yang romantis.

Meski terbagi atas berbagai area, Congo Café memiliki satu kesamaan, yakni sama-sama menggunakan meja yang terbuat dari kayu solid. Dalam ruangan VIP misalnya, terdapat meja makan berukuran 250 x 90 sentimeter dari kayu utuh.

Unsur kayu yang sangat mendominasi Congo rupanya tak terlepas dari bisnis utama sang pemilik. Menurut Anne, sang pemilik berbisnis kayu. Karena itu, ia menambahkan, Congo lebih mengedepankan galeri ketimbang kafenya. Kendati demikian, Congo Café justru lebih terkenal ketimbang galerinya.

Congo Gallery berada di gedung terpisah. Lokasinya di atas kedua kafé tadi. Seperti galeri pada umumnya, Congo Gallery menampilkan karya seni, meja, dan kursi yang terbuat dari kayu solid. Ada kayu trembesi, jati, sonokeling, eboni, dan sebagainya. Harganya pun beragam. Kabarnya, ada yang mencapai lebih dari Rp 1 miliar. Luar biasa!

Kembali ke kafe, sepertinya kita tak boleh melupakan menunya. Di tempat ini tersedia berbagai masakan, dari olahan tradisional hingga internasional. Sebagai pembuka, kebanyakan pengunjung Congo memesan Tahu Pletok. Kadang jika masih ingin nongkrong, makanan ini juga dipesan. Makanan khas Sunda ini berupa tahu yang diberi tepung tapioka dan digoreng garing. Sebagai teman makan, tersedia kecap manis dengan potongan cabe rawit hijau. Atau, ada singkong goreng yang sebelumnya dikukus, sehingga meskipun telah digoreng tetap renyah dikunyah. Untuk menu utama, lagi-lagi sajian tradisional menjadi andalan. Misalnya aneka varian berbahan buntur sapi. Ada Sop Buntut, Buntut Goreng, dan Buntut Bakar. Untuk menu internasional, Ebony Steak paling banyak dipesan.

Resto di lahan 2 hektare di Bandung dengan aneka menu yang menggoda.
Saint Berry dari Congo Gallery & Cafe Bandung. Foto: Prima M./Dok TL

Jika dilihat dari menu andalan tersebut, rasanya pilihan pengunjung sudah tepat. Sebab, makanan-makanan itu disajikan hangat dan memang paling pas disantap di kafe yang sejuk ini. Kemudian, sebagai hidangan penutup, Girl Best Friend paling banyak dipilih di antara deretan hidangan pencuci mulut lainnya. Hidangan ini berupa cake hangat dan diberi es krim. Di akhir pekan, pada saat kondisi normal, kafe yang buka mulai pukul 10.00 sampai 24.00 ini memberikan hiburan berupa light music. “Pilihan musik ini menyesuaikan dengan konsep kafe yang asri,” kata Anne.

Selesai menghabiskan kopi di cangkir, sempat terbersit pertanyaan di benak saya kenapa kafe di kawasan Dago ini diberi nama Congo. Mirip dengan nama negara di Afrika Tengah. Anne membenarkan bahwa nama Congo memang diambil dari negara tersebut. Sebab, menurut dia, di negara itu terdapat jenis kayu eboni yang sangat langka. “Dan kelangkaan itulah yang menginspirasi pemberian nama galeri dan kafe ini,” ucapnya.

Congo Gallery and Café; Jalan Rancakendal Luhur Nomor 8; Bandung

Menu Chicken ala Congo; Nasi Campur Bali; Sop Buntut Bakar/Goreng; Kakap Dabu-dabu; Ebony Steak

agendaIndonesia/Andry T./Prima M./Dok. TL

*****

Sarapan Enak di Locale 24 Diner & Bar

Sarapan enak di Locale 24 Diner & Bar, menjadi alternatif segar untuk menikmati sarapan ataupun kongko tengah malam. Terutama jika bosan dengan kedai-kedai makanan cepat saji.

Sarapan Enak

Bus  itu “diparkir” di deretan Rukan Garden House, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, tanpa pernah dipindahkan. Rukan tersebut berada di Blok B 10-11 sejak akhir 2013. Bus itu unik karena rodanya tidak pernah menggelinding. Di depannya pun tertata sejumlah kursi. Di pintu masuk, dipasang pula kanopi. Penasaran, saya pun memutuskan untuk singgah.

Seperti bagian luar yang dominan warna tosca, di dalam pun pulasan warna serupa mengisi beberapa bagian, selain putih dan abu-abu. Dining booth terdapat di setiap sudut ruangan. Papan tulis hitam memamerkan menu spesial di belakang bar. Sedangkan di depannya,  kursi bar berkaki aluminium menjadi tempat ideal untuk mereka yang tak memiliki banyak waktu bersantap. Inilah Locale 24 Diner & Bar, restoran yang dirancang menyerupai diner atau warung makan ala Amerika.

Seperti diner pada umumnya, restoran ini bernuansa retro. Sajiannya pun layaknya menu diner di Amerika Serikat, yang kebanyakan terdiri atas hidangan sarapan. Breakfast in the bus, salah satunya, terdiri atas telur mata sapi atau dadar, sosis, bacon, dan roti bakar. Rentang rasa pada menu sederhana seperti ini tentu tak jauh. Dengan kata lain, sajian seharga Rp 56 ribu tersebut tergolong standar. Appetizer platter senilaiRp 62 ribu pada menu pembuka malah lebih menggugah selera. Menyajikan pilihan chicken wings, tortilla, potato wedges, dan fish fingers yang terasa gurih.

Tak cuma menu sarapan ala Barat yang menjadi pilihannya. Ada  juga sajian ala Timur dan Indonesia, seperti singapore laksa with udon, tom yum seafood with rice, hainan chicken rice, nasi goreng locale, mi kangkung, dan ketoprak.  Harganya bervariasi, yakni Rp 38 ribu-106 ribu. Layaknya kebanyakan restoran modern di Jakarta, Locale 24 Diner & Bar juga menawarkan pilihan pasta, burger,dan steak.

sarapan enak di locale 24 diner & bar bisa menjadi alternatif segar jika bosen dengan kedai-kedai makanan capat saji,
Sarapan enak di Locale 24 Diner & Bar dengan pilihan aneka menu. Foto: Arcaya M./Dok TL

Melengkapi aneka hidangan, diner ini pun menawarkan berbagai jus buah, kopi dan teh. Mungkin karena melihat tren gaya hidup Ibu Kota, diner ini juga menyediakan beraneka ragam minuman beralkohol yang harganya tergolong miring. Satu sloki wiski Jameson, contohnya, dipatok dengan harga yang sedikit di bawah tempat lain. Semua menu ini dapat dinikmati kapan pun. Tidak ada alokasi menu untuk waktu tertentu—cocok untuk para foodie yang fleksibel dengan pilihan makanan mereka.

Sesuai dengan namanya, Locale 24 Diner & Bar awalnya memang buka 24 jam. Menyesuaikan dengan pasar dan pertimbangan berbagai hal, di waktu normal akhirnya dipilih waktu operasional pukul 10.00-04.00. Namun sejak pandemi, jam bukanya pun menyesuaikan. Di tengah pilihan sajian tengah malam yang didominasi restoran cepat saji, tampaknya Locale 24 Diner & Bar menjadi sebuah alternatif yang menyegarkan. Bahkan ketika banyak restoran lain tutup pada masa liburan, diner ini tetap membuka pintunya.

Berangkat dari konsep sarapan, diner ini menghadirkan sebuah paradoks. Semakin larut, Locale 24 Diner & Bar justru semakin ramai. Berkat konsep, hidangan serta harga yang ditawarkan, tempat makan ini menjadi magnet muda-mudi metropolitan. Mereka datang dari segala penjuru angin. Satu yang menjadi catatan, pemesanan kopi tidak dapat dilakukan lewat pukul 22.00 atau 23.00, apalagi ketika diner sangat sibuk. Alasannya, kopi diutamakan untuk pesanan saat sarapan. Masuk akal.

Locale 24 Diner & Bar memiliki beberapa bagian. Bagian depan diperuntukkan sebagai area bebas dari asap rokok, sedangkan di dalam sebagian besar area diner dengan bar yang merupakan area merokok. Ada juga area lantai dua yang diutamakan untuk acara privat. Karena alasan tersebut, tidak dianjurkan untuk mengunjungi Locale 24 Diner & Bar dengan keluarga lewat pukul 21.00.

Namun, saat buka pukul 10.00 hingga makan siang, Locale 24 Diner & Bar bisa menjadi tempat sarapan atau brunch yang tepat untuk keluarga. Inilah saat di mana diner tidak dipenuhi asap rokok dan celotehan riang anak muda. Dengan tenang, Anda bisa menghirup aroma kopi yang menggugah selera atau menikmati manisnya jus buah segar. l

Locale 24 Diner & Bar; Rukan Garden House Blok B 10-11; Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara

Menu

Singapore Laksa with Udon ; Tom Yum Seafood with Rice ; Hainan Chicken Rice; Nasi Goreng Locale; Country Steak with Milk Gravy; Mi kangkung; Ketoprak

agendaIndonesia/Fiz R./Arcaya Manikotama/Dol. TL

*****

Oleh-oleh Jadul dari Cianjur, 5 Yang Unik

Oleh-oleh dari Cianjur ada bermacam-macam yang unik, salah satunya manisan buah.

Oleh-oleh jadul dari Cianjur, Jawa Barat, ternyata banyak yang unik. Ada taoco yang produknya sudah mulai memproduksi sejak tahun 1880. Lantas ada manisan yang tokonya sudah berjualan sejak 1960-an, dan ada pula kacang asin sejak zaman Belanda.

Oleh-oleh Jadul dari Cianjur

Jika mau manisan, datanglah ke Cianjur. Manisan di kota ini memang sudah dikenal sejak lama. Toko-toko penjual manisan dapat dengan mudah ditemukan dalam satu jalur, tepatnya di Jalan Muwardi. Selain itu, bisa ditemukan di beberapa lokasi lain. Bahkan, tak cuma itu, kota ini juga terkenal dengan taoco dan kacang asin yang telah diolah sejak zaman Belanda. Di samping itu, sale jari yang terbuat dari pisang ambon dan bandrek juga cocok dijadikan buah tangan saat singgah ke kota yang terletak di antara Jakarta-Bandung via Puncak ini.

Buatan Sendiri

Jika Anda berkendara dari arah Puncak menuju Bandung, di sepanjang Jalan Dr. Muwardi, Cianjur, bisa ditemukan deretan toko manisan. Namun jika Anda ingin mencoba yang agak berbeda, bisa mampir ke Jalan H.O.S Cokroaminoto. Di toko Manisan Mulia Sari, manisan dibuat sendiri alias homemade.

Toko manisan ini sudah dibuka sejak 1960-an dan kini ditangani oleh generasi ketiga. Menurut empunya, manisan tersebut dibuat tanpa menggunakan gula bibit dan bahan pengawet. Alhasil, rasa manisannya memang terasa lebih segar. Yang menjadi favorit para pembeli adalah manisan mangga muda, kedondong, salak, dan pala. Harganya mulai Rp 12.500 per seperempat kilogram.

Manisan Mulia Sari; Jalan HOS Cokroaminoto No. 205; Cianjur

Pakai Patiman

Bagi Anda penggemar taoco, pastinya sudah dengar ketenaran taoco cap Meong. Taoco asal Cianjur itu memang sudah lama ada. Diperkirakan, mulai beroperasi sejak 1880. Bangunan tokonya pun masih berupa bangunan lama. Di depan tokonya terpampang sebuah plang yang bertuliskan “Tauco No. 1 Buatan Nyonya Tasma, Cap Meong”.

Dalam soal rasa, para penggemarnya mengakui taoco ini memiliki rasa yang prima. Proses pengolahannya terbilang masih tradisional. Pemilik menggunakan baskom tanah liat atau yang biasa disebut patiman untuk melakukan proses fermentasiselama 3 bulan. Itu pun kalau cuaca sedang bagus. Jika tidak, proses fermentasi akan berlangsung lebih lama lagi. Taoco dijual dalam kemasan botol berukuran 200 ml, 350 ml, dan 1 liter. Harganya mulai Rp 15 ribu per botol.

Tauco Meong; Jalan HOS Cokroaminoto No. 160; Cianjur

Seukuran Jari

Jika Anda berangkat dari arah Sukabumi menuju Cianjur, Anda mungkin akan menemukan sebuah pusat jajanan di sisi kanan jalan. Lokasinya sudah mendekati Kota Cianjur. Oleh-oleh di tempat yang merupakan usaha kecil dan menengah  ini lumayan lengkap. Mulai kerupuk, manisan, rengginang, hingga—yang spesial—sale jari.

Jika sale pisang biasanya lunak dan berukuran besar, lain halnya dengan sale yang terbuat dari pisang ambon ini. Salenya justru renyah. Selain itu, ukurannya mungil. Kira-kira seukuran jari telunjuk dewasa. Mungkin karena bentuknya itu, dijuluki sale jari. Untuk satu bungkus dengan berat seperempat kilogram dijual Rp 10 ribu.

Toko Manisan Putra Sawargi; Jalan Raya Sukabumi-Cianjur, Warung Kondang; KM 9 No. 9; Cianjur

Oleh-oleh jadul dari Cianjur ada yang sudah digemari masyarakat sejak tahun 1880.
Oleh-oleh dari Cianjur berupa kacang asin cap Pohon Beringin yang sudah ada sejak zaman Belanda. Foto: Rully K./Dok TL.

Kacang dari Zaman Belanda

Oleh-oleh terkenal dari Cianjur lainnya adalah kacang asin cap Pohon Beringin. Kacang asin itu konon sudah ada sejak zaman Belanda. Kini sudah diteruskan ke generasi kedua. Selain renyah, rasa asinnya pas dan tidak terlalu berlebihan di lidah saat dikunyah.

Selain dapat ditemukan di toko pembuatnya, kacang asin yang merupakan industri rumahan ini dapat dengan mudah ditemui di pusat jajanan di Cianjur. Dijual dalam kemasan 250 gram dan 500 gram. Harganya masing-masing Rp 10 ribu dan Rp 20 ribu.

Kacang Asin Pusaka; Cap Pohon Beringin; Jalan Suroso No. 7; Cianjur

Bandrek dan Bansus

Masih dari Cianjur, ada satu minuman khas Sunda yang terkenal, yakni bandrek. Bandrek jika dikonsumsi secara rutin diyakini dapat memperlancar peredaran darah, mempercepat penyembuhan stroke, mencegah impotensi, dan meningkatkan vitalitas pria. Menurut cerita, bandrek sebenarnya adalah minuman keluarga. Namun kini berkembang menjadi industri.

Ada dua merek bandrek terkenal dari Cianjur, yakni cap 2 Pigeons dan Penguin. Meskipun sama-sama menggunakan gula aren dan rempah-rempah, penjual menyebut “bandrek” untuk cap 2 Pigeons dan “bansus” untuk cap Penguin. Harganya Rp 10 ribu per pak dengan isi 10 kotak.

Toko Alam Sari; Jalan Dr. Muwardi No. 54; Cianjur

agendaIndonesia/Andry T./Rully K./TL

*****

Jajanan Legendaris Bandung, 5 Yang Bikin Kangen

Jajanan Bandung legendaris ada banyak macamnya, salah satunya adalah batagor.

Jajanan legendaris Bandung ada beraneka ragam. Rasanya bahkan setiap bulan muncul satu jajanan baru yang langsung hip. Semua orang langsung membicarakan dan ingin mencobanya.

Jajanan Legendaris Bandung

Kota Bandung, Jawa Barat, memang boleh dibilang memang pusatnya jajanan. Hampir di setiap sudut kota terdapat toko atau warung jajanan. Tak hanya itu, tren penganan juga selalu muncul dari Kota Kembang. Namun beberapa buah tangan berikut ini seperti mengalami pengecualian. Kudapan tersebut masih bertahan sejak dulu sampai kini. Kehadirannya seakan tak tergerus tren. Ada yang memulai usaha sejak 1930 dan diteruskan ke generasi berikutnya. Ada pula yang sudah berkembang menyediakan berbagai variasi jajanan.

Peuyeum Tradisional

Mencari jajanan yang benar-benar tradisional bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Berun- tung masih ada Colenak Murdi Putra. Colenak, singkatan dari “dicocol enak”, memang jajanan terkenal di Bandung sejak dulu. Pengolahan penganan khas Jawa Barat ini masih sangat tradisi- onal. Peuyeum alias tape singkongnya dipanggang dengan arang. Sedangkan gula sebagai cocolan peuyeum dimasak memakai kayu bakar.

Rasanya? Benar-benar membawa kita bernostalgia. Sejak dibuka pada 1930, Colenak Murdi Putra masih konsisten menggunakan peuyeum putih asal Cimenyan. Harganya hanya Rp 8.000 per porsi dengan pilihan rasa: orisinal, durian, dan nangka. Selain
di gerai pusat dan cabang, colenak
ini dapat diperoleh di berbagai pasar swalayan di Bandung.

Colenak Murdi Putra; Jalan Ahmad Yani No 733, Bandung Jalan Raya Cibiru No 3, Bandung

Lemper ala Julie

Jika biasanya dibuat dengan cara dikepal-kepal, lain halnya lemper yang satu ini. Lemper ala Julie dibuat di loyang dengan berlapis-lapis isian. Lapisan pertama berisi ketan, lapisan berikutnya daging cincang, dan lapisan terakhir ketan. Karena cara pem- buatan itulah penganan ini disebut lapis lemper.

Daging yang dipakai juga bukan daging ayam yang biasa digunakan lemper pada umumnya, melainkan daging sapi segar. Alhasil, potongan lemper terlihat lebih rapi dengan mem- perlihatkan isi daging. Resep khas Julie Sutardjana atau Oma Julie ini dicip- takan pada 1960-an. Harga per buah hanya Rp 3.500.

Kedai Nyonya Rumah; Jalan Naripan No 92C, Bandung Jalan Trunojoyo No 29, Bandung

Batagor

Jika berkunjung ke Bandung, hampir pasti dengan mudah kita menemukan batagor di setiap sudut jalan. Salah satunya, Batagor Isan. Belakangan ini namanya semakin naik daun menyaingi batagor yang lebih dulu terkenal. Bumbu batagor ini terlihat lebih merah meskipun sama-sama menggunakan bahan dasar kacang tanah.

Rasa yang ditawarkan juga berbeda, dengan harga relatif lebih murah. Harganya tak sampai Rp 15 ribu per buah. Selain cocok dimakan di tempat, tahu berisi adonan sagu dan ikan tenggiri itu dapat dibawa pulang. Sebelumnya, batagor digoreng setengah matang agar tidak mudah basi. Pertama kali buka di daerah Bojong Loa pada 1980-an, sampai sekarang sudah ada 13 gerai cabang Batagor Isan tersebar di Kota Bandung.

Batagor & Mi Baso Isan; Jalan Mohammad Toha No 118, Bandung

Jajanan legendaris Bandung begitu banyak ragamnya, mulai dari penganan tradisional hingga kopi yang hampir menapai 1 abad.
Kopi Aroma Bandung menjadi salah satu legenda Kota Kembang ini. Foto: Dok. Kopi Aroma Bandung.net

Kopi Legendaris

Di antara toko-toko bahan bangunan dan onderdil di kawasan Banceuy, terselip sebuah toko kopi yang popularitasnya mencapai mancanegara. Didirikan pada 1930 oleh Tan Houw Sian, toko kopi sekaligus pabrik itu kini ditangani anaknya, Widyapratama.

Selain dijual dalam bentuk bubuk, terdapat kopi yang masih berupa biji. Tersedia dua jenis kopi, yakni kopi robusta berusia lima tahun dan kopi arabika delapan tahun. Menjual kopi jenis kopi robusta dengan harga yang relatif murah.

Kopi Aroma; Jalan Banceuy No 51, Bandung

Jajanan legendaris Bandung tak bisa melupakan Bollen Pisang khas Kartika Sari.
Bollen Pisang Kartika Sari yang selalu bikin kangen. Foto: Dok. Kartika Sari

Dominasi Bollen

Berbicara ihwal tren jajanan di Kota Kembang, mungkin kita tidak bisa melupakan Kartika Sari. Toko kue yang mulai buka pada 1980-an ini terkenal karena menjadi pelopor pisang bollen keju. Sampai saat ini sudah ada tujuh cabang Kartika Sari tersebar di Bandung dengan lebih dari 126 varian jajanan. Namun pisang bollen keju masih mendominasi penjualan Kartika Sari. Selain bollen pisang, kini mereka juga menjual varian lain seperti tape dan lainnya. Ini selalu cocok dijadikan oleh-oleh jika kita bepergian ke Bandung.

Kartika Sari; Jalan Haji Akbar No 4, Kebon Kawung, Bandung

agendaIndonesia/TL

*****