Wisata Kuningan Dan 8 Spot Yang Asyik

Wisata Kuningan dan menikmati sejumlah spot di kawasan ini.

Wisata Kuningan di Jawa Barat rasanya kalah popular dengan beberapa daerah di sekitarnya, seperti Cirebon, atau Sumedang. Padahal daerah ini tak kurang hal menarik untuk dinikmati. Dipadukan dengan sejumlah spot di Cirebon, ia bisa menjadi pilihan liburan. Termasuk di telaga-telaga yang kini menjadi ikon wisata di daerah yang terletak di kaki gunung Ciremai itu.

Wisata Kuningan

Nasi Jamblang Mang Dul

Sebelum berkendara ke Kuningan, ada baiknya sarapan lebih dulu di warung legendaris yang menjajakan nasi Jamblang sepaket dengan aneka ragam lauknya. Warung yang berlokasi di Jalan DR. Cipto Mangunkusumo Nomor 8, Pekiringan, Kesambi, Kota Cirebon, yang berkapasitas tak lebih dari seratus pengunjung, ini, setiap pagi riuh dipenuhi pengunjung. Tamu dari beragam daerah datang pada pukul 08.00-09.00, yakni pada jam-jam sarapan. Kursi-kursi yang ditata memanjang, sejajar, dan berhadap-hadapan tak pernah lowong. Memang, nasi Jamblang yang kesohor lantaran merupakan langganan bekas Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, itu, jadi warung favorit di Cirebon.

Nasi Jamblang Mang Dul sama seperti nasi Jamblang yang dijual ditempat lain: dikemas kecil-kecil, dibungkus dengan daun jati, dan dihidangkan dengan beragam lauk. Yang membedakan adalah rasa olahan lauk-pauknya yang seolah lebih berbumbu dan nasinya yang punya aroma lebih wangi. Bila ke mari, tahu semur, sontong, dan sambal merah harus menjadi lauk utama yang dipilih.

Telaga Nilem

Telaga ini merupakan spot vakansi alam yang bisa menjadi salah satu alternatif seusai pelancong “membabat” habis wisata keraton di Kota Cirebon. Jaraknya dengan kota santri itu tak terlampau bikin punggung pegal. Kira-kira hanya dua puluh kilometer. Umumnya, kalau dijangkau menggunakan kendaraan bermotor, telaga yang masuk kawasan wisata Desa Kaduela tersebut bisa ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit.

Di areal Taman Nasional Gunung Ciremai, Nilem seolah menjadi gerbang pembuka. Sebab, lokasinya berada paling muka, dekat dengan portal masuk. Jadi, umumnya, orang-orang mengunjungi telaga itu pagi-pagi benar. Di sana, mereka bisa melihat danau alami yang memiliki air sangat jernih. Saking jernihnya,  biota yang hidup dalam air tampak dari permukaan.

Para pelancong biasanya memanfaatkan kolam ini buat snorkeling. Tak perlu khawatir bila tak bisa berenang. Di kawasan telaga, terdapat warung-warung yang menyediakan pelampung. Pun, bila tidak membawa baju ganti, para penjual tersebut jua menyewakan pakaian renang dengan biaya rata-rata Rp 20 ribu per pasang.

 Telaga Remis

Sebelum embun-embun luruh dan cahaya matahari merasuk penuh, danau 3,25 hektare yang letaknya tak sampai 500 meter dari Telaga Nilem ini punya lanskap yang menarik. Airnya jernih serupa cermin, memantulkan bayangan pepohonan, yang seakan-akan membentuk pagar alami guna mengelilingi kolam raksasa itu. Kalau pagi, telaga dikunjungi warga sekitar yang berniat mencari ikan. Macam-macam jenis ikan air tawar hidup di sini. Semisal bawal dan nila.

Menurut kepercayaan warga sekitar, ada juga bulus raksasa yang berdiam. Bulus kadang-kadang muncul kalau dipanggil dengan ritual khusus. Memang, bulus disinyalir merupakan penunggu telaga, yang konon adalah jelmaan Pangeran Purabaya, utusan Kerajaan Mataram, yang berseteru dengan Sultan Matangaji, pemimpin Keraton Cirebon. Sementara itu, kalau siang, pengunjung kebanyakan merupakan keluarga berpiknik. Karena itu, di Telaga Remis banyak disediakan wahana untuk anak-anak, seperti sepeda air, bebek-bebekan, dan perahu mini.

Hutan Pinus

Masih dalam kompleks yang sama dengan Telaga Remis, hutan pinus berada di sisi kanan dan kiri pintu gerbang. Luas arealnya mencapai lebih dari 13 hektare. Pepohonan jangkung itu tumbuh rapat, membikin sejuk suasana sekitar telaga. Di dalam hutan, terdapat beberapa bangku buatan yang bisa dipakai untuk menikmati suasana.

Biasanya, keberadaan hutan dimanfaatkan para anggota keluarga untuk menggelar bekalnya. Sementara untuk muda-mudi, areal ini kerap dipakai buat lokasi foto. Beberapa bahkan memanfaatkan untuk lokasi pre-wedding. Sayangnya, keasrian hutan sedikit rusak dengan sampah anorganik yang menumpuk di beberapa sisi.

Telaga Biru

Warga sekitar mengenalnya dengan sebutan Situ Cicerem. Lokasinya masih berada di Kecamatan Pesawahan dengan jarak tempuh kurang lebih 1 kilometer dari Telaga Remis menuju arah Paniis. Telaga ini punya julukan “Si Biru” lantaran warna airnya benar-benar biru, seperti rona air laut dalam. Di situ berdiam ribuan ikan bawal hitam dan nila merah yang selalu kelihatan menari-nari dan bergerombol bila diteropong dari atas telaga atau jalan.

Tempat ini dulu dikenal sebagai lokasi singgahnya para wali ketika menyebarkan agama. Karena itu, di sekitar telaga, bisa ditemui rumah-rumah “sesepuh” yang kerap didatangi orang-orang dari kota untuk mencari wangsit. Di telaga ini pula, menurut warga sekitar, ikan yang hidup dipercaya tak boleh dipancing karena memiliki pertalian dengan hal-hal yang berbau metafisika.

Belakangan, Telaga Biru menjadi lokasi incaran para selebgram. Dari atas sebuah batu, mereka bisa berfoto dengan latar kosong berupa telaga, ikan-ikan, dan pagar-pagar pepohonan yang rimbun serta ranum.

Bukit Batu Luhur

Butuh usaha lebih untuk menjangkau bukit batu kapur ini bila pelancong menempuhnya dari Telaga Biru. Lokasinya cukup jauh, kurang lebih 5 kilometer dari telaga, dengan kondisi jalanan sempit, berkelok-kelok, naik-turun, serta melewati hutan-hutan yang sepi. Jika belum hafal medan atau tak fasih-fasih benar mengemudi, sebaiknya mengajak orang lokal untuk mengantarkan sampai tujuan. Meski demikian, usaha buat mencapai bukit yang baru kesohor belakangan tersebut tak sia-sia.

Pemandangan berupa hamparan gundukan batu, dikelilingi hutan-hutan yang asri, langsung menyapa tatkala wisatawan tiba di lokasi. Di perbukitan lepas pandang itu, ada sebuah tebing dengan retakan kerucut tak sempurna. Masih di lokasi yang sama, terdapat kolam-kolam buatan yang langsung menghadap ke lanskap perbukitan. Juga ada rumah pohon yang bisa dipakai muda-mudi untuk berfoto.

Kimabalu Resto

Menjelang siang hampir sore, sewaktu lelah bermain di bukit yang membutuhkan trekking lumayan untuk mencapai titik-titik foto, singgah di restoran yang masih masuk kawasan Bukit Batu Luhur ini merupakan ide menarik. Di sana tersedia ragam olahan makanan Nusantara dan western. Menu favoritnya adalah BBQ Chicken, yang dimasak bergaya campuran—Indonesia dan Eropa: disajikan dengan hot plate, dimakan bersama kentang, namun diolah dengan bumbu tradisional.

Bersantap di Kimabalu terasa sensasional lantaran saat makan, pengunjung dihadapkan langsung dengan lanskap Bukit Batu Luhur dari ketinggian. Pun, konsep restorannya tampak asyik karena memadukan gaya bar dan suasana yang rustic. Menjelang sore, langit dengan sepuhan keemasan dan mega-mega lembayung yang menggelayut di atas bukit bisa disaksikan dari sana.

Wisata Kuningan salah satunya musti mampir. ke kawasan batik Trusmi

Kampung Batik Trusmi

Sebelum kembali ke kota asal, mencari oleh-oleh seakan-akan menjadi sebuah keharusan. Di jalan utama menuju Jakarta, tepatnya di daerah Plered, 3 kilometer dari Gerbang Jalan Tol Plumbon 2, terdapat sebuah perkampungan batik warisan Ki Gede Trusmi, pengikut setia Sunan Gunung Jati. Di kampung sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer itu, hampir semua rumah memiliki kesibukan yang sama, yakni membatik. Ada yang menggunakan cara tradisional—dengan canting—ada pula yang sudah modern, yakni membatik dengan sistem cap.

Kalau ingin melihat proses membatik, pelancong bisa mendatangi warga yang umumnya bermukim di gang-gang sempit. Mereka beraktivitas sekitar pukul delapan pagi sampai pukul lima sore. Sedangkan kalau hanya ingin belanja, wisatawan bisa mengunjungi show room yang tersebar di sepanjang jalan perkampungan itu. Umumnya, mereka menjual batik motif mega mendung, khas Cirebon, dengan harga mulai Rp 80 ribu untuk batik tulis dan Rp 35 ribu untuk batik cap per lembar.

agendaIndonesia/F. Rosana

Sentra Gudeg Wijilan Dimulai Sejak 1942

Sentra Gudeg Wijilan Yogyakarta dimulai sejak 1942.

Sentra gudeg Wijilan, Yogyakarta, ternyata bukan sekadar kawasan dengan deretan penjual masakan khas Yogyakarta dari bahan nagka muda itu. Kawasan ini menyimpan sejarah panjang kuliner yang ikut menyokong perekonomian masyarakat, bahkan tradisi dan kebudayaan.

Sentra Gudeg Wijilan

Wijilan satu kawasan yang terkenal sekaligus bersejarah yang berhubungan dengan masakan gudeg. Kampung Wijilan terletak di sebelah Selatan Plengkung Tarunasura atau yang lebih dikenal dengan sebutan Plengkung Wijilan. Kampunya ada di sebelah Timur Alun Alun Utara. Begitu melewati plengkung, di jalan ini berjejer tempat makan yang menjajakan gudeg.

Sentra Gudeg Wijilan selain menjadi pusat kuliner juga tempat belajar sejarah gudeg.
Salah satu sudut Kampung Wijilan, sentra gudeg di Yogyakarta. Foto: Dok. Shutterstock

Plengkung itu sendiri menandai bahwa Kampung Wijilan ini menjadi bagian apa yang disebut sebagai jeron beteng, di dalam benteng (kraton). Ini artinya Wijilan masuk dalam kompleks Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang ditinggali oleh para keluarga abdi dalem. Nama-nama jalan di kawasan ini memperlihatkan posisi para abdi dalam.

Menurut cerita sejumlah pedagang gudeg di kawasan itu, gudeg adalah salah satu makanan khas keluarga kraton. Ini membuat para istri abdi dalem memiliki kemampuan membuat gudeg.

Namun, kisah terbentuknya kampung Wijilan menjadi sentra kuliner gudeg dimulai ketika seorang penjual bernama ibu Slamet merintis usaha warung gudeg pada 1942. Pada saat itu, meski di tempat lain ada penjual atau pembuat gudeg, namun di wilayah itu dialah yang merintis menjadi pedagang pertamanya.

Beberapa tahun kemudian warung gudeg di daerah itu bertambah dua, yakni Warung gudeg Campur Sari dan Warung Gudeg Djuwariah. Yang terakhir ini belakangan kemudian dikenal dengan sebutan gudeg Yu Djum. Ia menjadi salah satu ikon kuliner yang terkenal saat ini.

Pada 1980, warung gudeg Campur Sari tutup tetapi tempat makan lain seperti warung gudeg Bu Lies dan lain-lain buka di sana. Hingga saat ini, toko gudeg milik Yu Djum, Bu Slamet, dan Bu Lies masih ditemui di Sentra Gudeg Wijilan. Meskipun beberapa memindahkan dapur utamanya.

Pasang surut usaha gudeg memang sempat dialami oleh warung gudeg yang ada di kampung Wijilan. Termasuk tutupnya warung gudeg Campur Sari tadi. Butuh waktu sekitar 13 tahun baru warung gudeg di kampung tersebut menjadi ramai seperti saat ini tepatnya pada 1993. Makanan dengan citarasa manis dan gurih ini kini menjadi incaran para pengunjung yang sedang berwisata di Jogja.

Gudeg yang dibuat oleh toko di Sentra Gudeg Wijilan umumnya memiliki rasa hampir mirip, yakni manis dan cenderung jenis gudeg kering. Karena itu, gudeg di sentra ini juga cocok menjadi buah tangan karena tidak mudah basi dan bahkan mampu tahan selama tiga hari.      

Gudegnya adalah jenis gudeg kering dengan rasa manis. Sebagai lauk pelengkap, daging ayam kampung dan telur bebek yang dipindang kemudian direbus. Sedangkan rasa pedas datang dari paduan sayur tempe dan sambal krecek.

Gudeg Yogya umumnya memang berbeda dengan gudeg Solo yang basah. Di kota pelajar ini gudeg justru kering karena tidak menggunakan areh yang diencerkan. Areh merupakan kuah santan kental yang biasanya disajikan dengan cara disiram di atas nasi atau lauk. Di daerah lain seperti Solo, areh yang dipakai berbentuk lebih encer dan terkesan menjadi seperti kuah.

Dan seperti disebut di depan, bagi masyarakat Yogyakarta selain menjadi santapan dan oleh-oleh, gudeg Kampung Wijilan dulu juga dipakai sebagai ubo rampe keperluan keluarga Sultan saat melakukan kembul bujono.

Sentra Gudeg Wijilan dimulai dari warung gudeg milik bu Slamet pada 1942.
Sepiring gudeg yang dialasi daun pisang. Foto: Dok. shutterstock

Kembul bujono merupakan istilah untuk menamai kegiatan makan bersama-sama dengan menggunakan daun pisang sebagai alasnya. Tak hanya mengisi perut, aktivitas ini juga melambangkan kekompakan dan kerukunan.

Yang juga unik dari gudeg-gudeg di Sentra Gudeg Wijilan adalah beberapa penjual tidak keberatan menunjukkan cara memasak gudeg kepada para pengunjung. Bahkan di warung gudeg Yu Djum menawarkan paket wisata memasak gudeg kering bagi anda yang ingin memasak sendiri dengan pengarahan langsung dari Yu Djum. Saat ini dilanjutkan anak keturunannya.
Dengan berwisata gudeg, pengunjung tidak hanya akan mencicipi gudeg, namun seharian penuh mereka akan belajar meracik bumbu dan mamasak gudeg. Prosesnya di mulai dari mulai merajang gori (nangka muda), meracik bumbu, membuat telur pindang, sampai mengeringkan kuah gudeg di atas api.

Sentra Gudeg Wijilan juga tempat untuk mencari oleh-oleh, di antaranya gudeg dalam kaleng.
Gudeg Dalam kaleng. Foto. ist.

Rata-rata warung gudeg di Wijilan buka dari pukul 5.30 pagi hingga pukul 8 malam. Gudeg yang disajikan pun berbeda-beda, tergantung selera.

Sentra Gudeg Wijilan pada akhirnya tak hanya sekadar spot wisata, namun juga pusat konservasi kulineri Yogyakarta. Tertarik? Ayo agendakan kunjunganmu ke sini.

agendaIndonesia

****

Keheningan Ubud, 1 Cangkir Kopi Dan Pasar

Keheningan Ubud selalau saja mebuat wisatawan terpesona. Ia memberi inspirasi dan ketenangan.

Keheningan Ubud, Bali, tak pernah melahirkan kebosanan. Cerita tentang ketentraman dan harmoni. Saya menikmati keheningan itu lewat satu cangkir kopi. Dan Pasar Ubud yang memiliki keramahan.

Keheningan Ubud

Tanpa aba-aba, Putu menarik tuas mesin kopi. Tangan kanannya yang mungil cergas beradu dengan kotak besi yang lebarnya dua kali badannya. Sedangkan tangan kiri perempuan 24 tahun itu menyerong-nyerongkan cangkir keramik berwarna putih.

“Srrrrr…..” Nyaring bunyi perkakas memenuhi ruang 60 meter persegi di sebuah gang sempit di lambung Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Di tangan Putu, mesin kopi itu menghasilkan secangkir latte art berpola mirip kembang kamboja.

“Satu hot latte single shot aroma Arabica Kintamani siap menemani,” ujar Putu sembari meladeni pesanan yang menumpuk. Bau khas biji kopi yang digiling kasar, pahit rasa seteguk latte, dan gurih susu murni dengan aroma yang masih segar menjadi pembuka sempurna perjalanan menjamah Ubud. Di sinilah halaman pertama itu dimulai, di ruang para seniman meracik kopi: Seniman Coffee.

**

Tak terperi ramainya kafe—yang lebih mirip galeri itu—kala akhir pekan di awal Februari lalu. Turis-turis dari Benua Eropa, Amerika, Australia, Afrika, berganti-gantian masuk-keluar; sekadar duduk menyeruput kopi; atau berlama-lama diskusi. Mereka asyik membincangkan perjalanan yang lalu sambil menyusun rencana baru.

Di antara riuh obrolan itu, saya duduk di tepi. Bar kayu yang menghadap ke jalanan Ubud menjadi pilihan yang pas. Sesekali, saya menimpali obrolan berbahasa Inggris. Sisanya, saya lebih suka melongok ke trotoar yang bersih dan menyaksikan penjor-penjor dengan aroma janur yang masih segar.

Sekali waktu, saya memperhatikan detail kafe sembari berdecak. Visual Seniman Caffee begitu terekam baik bagi para penggemar seni. Interior di dalam bangunan penyuka kopi ini begitu artsy. Kursi, misalnya. Pemilik kafe menggubah kursi plastik menjadi kursi goyang. Bagian bawah kursi itu dilapisi kayu berbentuk melengkung. Ia lantas punya sebutan khusus: the bar rocker.

Di sisi lain, tampak dua sepeda ontel menggantung di bawah atap beranda. Posisi keduanya yang simetris seolah-olah mengaminkan bahwa sepeda ontel itu adalah tiang penyangga atap. Tangan seniman jelas ikut campur dalam pembangunannya.

Kecak dance, kecak dance. Don’t miss to watch kecak dance show tonight, Sir, Maddam.” Suara setengah berteriak tiga laki-laki berkostum kamen dan bertopi udeng memecah fokus. Intonasinya khas warga lokal Pulau Dewata.

Saya menengok, mencari-cari asal suara itu. Rupanya, mereka berdiri di tepi jalur pedestrian. Ketiganya tengah menawarkan pertunjukan tari kecak kepada wisatawan yang melintas. Ternyata, kafe ini dihimpit tempat menonton pertunjukan tari khas Bali.

Tak jauh dari Seniman Coffee, terdapat sejumlah wantilan atau balai desa yang kerap dipakai untuk tempat pentas para penari. Hampir saban malam, tari kecak, tari barong, dan pertunjukan tradisional lainnya ditampilkan di pelataran wantilan.

Saya mengingat, tak ada yang berubah dari Ubud; tahun demi tahun. Meski kedai-kedai kopi sederhana telah berubah menjadi kafe, suasana orisinal dari kehidupan masyarakat lokal tetap menonjol.

Belum lama memperhatikan interaksi tiga laki-laki Bali paruh baya dengan para wisatawan yang melintas, seseorang di belakang tiba-tiba menepuk punggung. “My eyes on the painting. Flowery painting shop in Ubud Market,” katanya. Ia seorang turis asal Jerman. Jane, yang baru saya kenal ketika mengobrol sekejap di Seniman Coffee, menceritakan kekagumannya pada Pasar Ubud.

Keheningan Ubud juga bisa dinikmati di Pasar Ubud yang orang-orangnya begitu ramah.
Keheningan Ubud, salah satunya bisa diperoleh dengan menikmati keramahan Pasar Ubud. Foto: Ilusatrasi-iStock

Kalimat Jane memantik kenangan di masa lalu: Ubud yang syahdu dan nyanyi pasar yang lugu. Ah, tiba-tiba saya rindu menyusuri lorong-lorong pasar tradisional itu. Bergegas, saya mengambil tas jinjing, membayar secangkir kopi, dan mengayun langkah menuju pasar.

Tak sampai 15 menit, kaki saya berhenti pada lantai-lantai berwarna terakota. Suara orang ribut tawar-menawar memekakan telinga. Riuh, namun inilah sensasinya. Pasar Ubud selalu menyajikan kehidupan pasar Nusantara yang berbeda: para penjual menjajal berbahasa Inggris, para turis berusaha menimpali dengan bahasa lokal.                                 

Wangi rotan merasuk seketika. Begitu juga bau cat air yang bergesekan dengan kanvas. Inilah sejatinya Pasar Ubud. Tak seperti pasar lain yang menjual kebutuhan pokok, pasar yang terletak di jantung kota seni tersebut lebih banyak menjajakan karya-karya seniman lokal.

Tas-tas bermodel ate bergelantungan. Lukisan warna-warni berjajar. Para turis ramai memburunya. Di sudut lain, pajangan dinding berulir motif bunga kamboja, pura, dan perempuan Bali menjadi benda yang merayu pandang.

Saya menyusuri petak demi petak, koridor demi koridor. Ada sebuah jalan turunan menuju pasar bagian bawah. Di bagian itulah pedagang menjajakan sayur-mayur. Ketimbang turis, di petak tersebut, orang-orang lokal lebih banyak dijumpai.

“Cari apa gek?” ucap seorang ibu.  Gek. Saya familiar dengan panggilan ini. Gek alias jegek berarti cantik. Orang-orang Bali memang lazim menyapa perempuan lebih muda menggunakan sapaan tersebut. Saya berdesir, lagi tersanjung.

Ia, seorang ibu paruh baya yang menyapa tak lama tadi, melambaikan tangan. “Kamu mau buah?” ujarnya. Di depannya, berjejer keranjang jeruk Bali, apel, salak, dan rambutan. Di kepala Niluh, nama ibu itu, terlilit sebuah kain mirip handuk. Kain ini digunakan sebagai bantalan ketika ia membawa bertumpuk-tumpuk keranjang buah di kepalanya.

“Sini, gek, ambil saja untuk sarapan,”ujarnya. Ia, yang ramah, menawarkan buah cuma-cuma. Saya mendekat. Kamera di tangan seketika membidik aktivitasnya merapikan buah. Di layar kamera itu, keriputnya terlihat jelas.

Niluh, orang lokal asli Ubud, tak absen menyambangi pasar saban hari. Meski berusia senja, dia mengaku masih kuat bekerja. Niluh mencitrakan perempuan-perempuan Bali yang tangguh. Lama saya mengobrol dengan Niluh. Kami bercerita soal Ubud masa lalu yang nyenyat hingga lambat laun kota kecil ini mulai penuh wisatawan.

Menurut ceritanya, orang-orang Eropa paling gemar ke Ubud. Mereka menggemari relaksasi di tengah kota yang penuh terasering sawah dan hawa yang sejuk. Belakangan, turis India mulai masuk. Umumnya, mereka mengikuti kelas yoga seiring dengan meluasnya spektrum olahraga spiritual ini di Ubud.

Semburat oranye lambat-laun menyiram dari sudut barat pasar. Langit berangsur kekuningan. “Sudah sore, jalan-jalanlah ke tepi sawah,” kata Niluh. Saya tak menolak. Berkelana di Ubud memang tak komplet tanpa menyambangi persawahannya.

Menunggang motor matic berspion bulat, saya melaju pelan ke sisi utara Ubud. Sekitar 15 menit dari pasar tersebut, ada sebuah tempat menyaksikan lanskap terasering yang populer. Nama tempat itu Tegalalang. Tegalalang kerap mejeng di halaman-halaman muka kalender.

Keheningan Bali langsung memancar dari deretan sawah-sawah terasering.
Keheningan Ubud meruap dari pundakan terasering sawah-sawah di kawasan ini. Foto: ilustrasi-iStock

Tegalalang kini menjadi destinasi utama. Dulu, kawasan itu hanya persinggahan bagi yang hendak ingin bepergian ke Danau Batur. Lanskap utama Tegalalang adalah hamparan berhektare-hektare sawah. Membentuk terasering, persawahan yang tampak dari jalan raya ini bak karpet hijau.

Semilir angin membuat padi di lahan bertingkat-tingkat itu bergoyang. Inilah keheningan Bali sesungguhnya. Saya membatin, ingin lebih dekat hingga menjangkaunya.

Jalan satu-satunya menuju persawahan itu adalah jalur setapak di antara kafe-kafe. Memang, jalanan di tepi Tegalalang dipenuhi kedai kopi fancy. Saya memilih masuk dari sebuah kafe milik warga lokal Bali. “Swatiastu, Bli. Numpang lewat,” kata saya menyapa laki-laki muda yang tampaknya seorang barista.

Dari kafe ini, ada jalan setapak menuju persawahan. Jalan itu berundak-undak. Mulanya tangga dari semen, lalu berganti tanah. Beberapa kali saya menyeberang sungai kecil. Airnya mengalir dan amat jernih.

Sekitar 30 menit petak-petak sawah itu saya lewati. Lalu saya bertemu sejumlah petani. “Hati-hati, gek, licin,” kata mereka yang tampak sedang mengairi sawah. Tak lama kemudian, saya tiba di bagian paling tinggi di terasering sawah tersebut. Saya memilih duduk di tepi jalan setapak. Kala itu, matahari mulai lesap.

Saya menikmati angin yang terasa makin semilir. Bunyi tenggoret bersahut-sahutan menjadi lagu alam paling merdu saat itu. Lambat-laun, persawahan itu oranye disapu sinar sore. Ujung daun padi ini terlihat kemilauan. Inilah waktu paling pas menikmati Ubud yang bersahaja.

Tak sampai hitungan jam, langit mulai gelap. Cahaya magenta dan awan yang menggelayut menjadi gerbang pembuka malam. Di hamparan sawah itu, Ubud berbicara: tak ada yang lebih sunyi dari udara yang berembus di antara padi, rotan, cat, dan kanvas. Bagi seniman, Ubud adalah sepetak ruang yang pas untuk berkontemplasi.

agendaIndonesia/F. Rosana

*****

Remote Control Boat, 1 Balapan Air di Darat

Remote Control Boat adalah permainan di atas air. Biasanya di danau kecil atau sungai yang arusnya tidak terlalu deras. Meskipun permainan air, pemainnya tida berbasah-basah, mereka memacu adrenalin di pinggiran danau.

Remote Control Boat

Perahu mungil itu melesat. Ia membelah permukaan air Danau Sunter, Jakarta Utara,https://jakarta.go.id/ begitu cepat. Beberapa pemancing di pinggir danau seakan tak terganggu dengan kehadiran perahu-perahu mungil berkecepatan tinggi yang mengelilingi danau di Minggu siang itu.

Sesekali, perahu berwarna kuning itu bermanuver lincah. Berbelok mengitari cone di tengah danau dengan tak kalah gesit, lalu kembali melesat. Entah sudah berapa kali mengelilingi arena, perahu tadi kemudian terlihat melaju pelan dan merapat ke dermaga. Sang pemilik yang sudah berada di pinggir dermaga kemudian mengangkatnya ke darat. Aura kepuasan terpancar dari raut wajahnya.

“Ada kenikmatan tersendiri saat memainkan RC (remote control) boat racing ini,” ungkap Abui kepada TL yang menemuinya siang itu. “Saya seakan meraih kepuasan saat memainkan RC boat racing.”

Kepuasan yang tak dapat dijabarkan lewat kata-kata itu dirasakan pula oleh Ivan. Pria ini mengaku mengenal RC boat racing 15 tahun lalu. Sebelumnya, Ivan mengungkapkan sempat memainkanRC car dan RC flight. “Namun sensasi kenikmatan saya rasakan lewat RC boat racing ini,” ujarnya. “Saya memang suka dengan kecepatan,” tuturnya.

Permainan RC boat racing di Indonesia sejatinya sudah dikenal lama. Namun terasa kurang populer dibandingkan dengan RC car atau RC flight. Mungkin karena RC boat racing butuh area khusus, seperti danau untuk dapat memainkannya. Namun, kata Ivan, RC boat racing mulai digemari sekitar dua tahun lalu seiring dengan maraknya pertandingan RC boat racing.

Sekadar informasi, RC Boat International Race pernah digelar di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Desember 2015. Ajang berskala internasional itu diikuti oleh peserta dari beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Vietnam, dan Thailand. Pertandingan serupa juga kerap digelar di negara-negara Asia Tenggara tersebut. Ivan mengaku beberapa kali sempat bertanding di negara-negara tersebut.

Atau bisa jadi, karena cara pengoperasian dianggap sulit, RC Boat kurang diminati. “Padahal gampang kok. Pemain hanya cukup mengoperasikannya lewat pengendali jarak jauh alias remote control,” kata Rudy. Pelatuk di remote, katanya, cukup ditekan atau dilepaskan untuk menambah atau mengurangi kecepatan. Sementara tombol putar digunakan untuk mengendalikan arah perahu ke kiri atau ke kanan.

Sedangkan untuk perahu sendiri memang butuh pengetahuan karena menggunakan mesin bermotor jenis dua tak. “Tapi tetap tidak sulit. Paling setahun kita sudah dapat memahaminya,” ujar Abui yang memiliki koleksi enam buah RC boat racing menimpali. Lagipula, menurut Abui, mengutak-atik perahu memberikan keasyikan tersendiri.

Abui menyebutkan, RC boat memiliki beberapa jenis yang disesuaikan dengan umur atau kapasitas penggunaannya. Untuk pemula, ada beberapa varian perahu yang bisa dipilih, di antaranya jenis Catamaranyang mudah dioperasikan. Namun bagi yang sudah mahir, biasanya memilih RC Boat jenis balap yang memilki banyak varian, seperti Formula One.

Harganya pun bervariasi. Harga RC boat racing berkualitas sedang, kata Abui, harganya di bawah Rp 10 juta. Sementara yang berkualitas lebih baik biasanya mencapai Rp 14 juta. Perawatannya relatif mudah dan murah. ”Kocek yang dikeluarkan setidaknya setimpal dengan kepuasan yang kita peroleh,” ujarnya sembari terkekeh.

remote control boat tidak semuanya jenis racing. Ada pula yang lebih santai bermainnya.
Remote control boat tak semuanya jenis racing, ada juga yang lebih santai. Foto: unsplash

Abui, Ivan, dan Rudy merupakan anggota yang tergabung dalam Jakarta Boat Modeling Club (JBMC). Klub yang berdiri pada 2006 ini terus berkembang. Para anggotanya berasal dari berbagai kalangan dan profesi. Saat kopi darat untuk bermain RC boat, mereka biasanya berbagi pengetahuan, pengalaman, dan hal-hal lainnya tentang RC boat. Lewat media sosial, seperti Facebook, anggota JBMC terus bertambah. Hingga kini sudah ada sekitar 700 orang di Indonesia.

”Jerih payah saya bersama teman-teman untuk mengumpulkan para penggila RC boat terealisasi,” kata Andy Lofri, mantan Ketua JBMC yang kini menjabat sebagai bidang organisasi.

Bergabung dengan JBMC tidak sulit. Para penggemar RC boat racing cukup mendaftarkan diri dan membayar iuran setiap bulan sebesar Rp 100 ribu. Uang itu digunakan untuk pengelolaan sarana dan prasarana, misalnya membayar tim penyelamat (rescue team) yang selalu sigap untuk mengambil perahu jika perahu terjungkal atau mati mesin di tengah danau.

Tim penyelamat yang menggunakan perahu bermotor ini jelas sangatlah penting. Kehadiran mereka sangat membantu mewujudkan para penggemar RC boat racing meraih kenikmatan di atas air.

agendaIndonesia/Andry T./ Wisnu AP/untuk TL

*****

Sate Klatak Yogya, Satu Porsi 2-3 Tusuk Saja

Sate Klatak Yogya menjadi alternatif wisata kuliner jika berkunjung ke Yogyakarta

Sate klatak Yogya menambah kekayaan kulinari Yogyakarta. Setelah gudeg, kini kota pelajar itu punya wisata kuliner lain yang layak diburu dan dinikmati.

Sate Klatak Yogya

Untuk warga Yogya, sesungguhnya sudah lama mengenal sate klatak ini. Namun, harus diakui, untuk skala yang lebih luas makanan ini baru diketahui publik ketika salah satu warung yang berjualan sate klatak menjadi lokasi pembuatan film Ada Apa Dengan Cinta 2.

Yogyakarta memang istimewa, seperti semboyan warga kotanya. Mereka memiliki berbagai macam kekayaan kuliner, salah satunya adalah sate yang hanya ditemukan di sini, berbeda dengan sate kebanyakan. Sate Klatak muncul dari kawasan Imogiri, Kabupaten Bantul. Tepatnya di pasar Jejeran, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Ya, lokasinya di pasar Jejeran yang kalau siang dipakai sebagai pasar tradisional. Warung Sate Klatak di sini memang baru hidup pada malam hari, mulai pukul 18.00 WIB.

Keistimewaan pertama jenis sate ini adalah bahan bakunya. Sate Klatak adalah sate kambing. Jadi jangan mencari sate klatak berbahan daging sapi atau atau, atau malah daging hewan lain.

Perpedaan ke dua dengan sate lain, adalah bumbu saat mengolahnya dan kemudian saat penyajiannya. Sate klatak tidak menggunakan bumbu kecap atau kacang, dan hanya dibumbui dengan garam. Konon, menurut salah satu versi cerita, karena bumbu garam inilah yang ketika dipanggang di atas bara menimbulkan efek bunyi “klatak, klatak” atau “kletek, kletek” maka masakan ini disebut sate klatak.

O iya, walaupun dengan bumbu pengolahan sangat sederhana, sate klatak sangat diminati pengunjung. Umumnya mereka justru mengatakan menemukan rasa khas daging kambingnya karena bumbu yang simpel tersebut.

Sate klatak Yogya salah satu ciri khasnya dibakar dengan menggunakan jeruji sepeda.
Sate klatak Yogya, pembakarannya dengan menggunakan jeruji sepeda sehingga matang sampai ke dalam. Foto: Shutterstock

Keistimewaan sate klatak yang lain tidak berhenti sampai di situ, keistimewaan lain Sate Klatak adalah pada proses pembakarannya. Daging kambing yang sudah dipotong-potong dadu tidak ditusuk dengan tusukan dari bambu, namun menggunakan besi jeruji sepeda. Penggunaan jeruji ini dipercaya dapat menghantarkan panas yang lebih baik sehingga daging matang hingga ke bagian dalam.

Perbedaan yang lain, satu porsi sate klatak biasanya hanya berisi dua sampai tiga tusuk saja. Potongan dagingnya memang lebih besar dari sate kambing biasa. Satu porsi sate klatak biasanya disajikan bersama kuah yang mirip dengan kuah gulai. Bagi yang suka pedas, bisa meminta irisan cabai rawit untuk dicampurkan ke dalam kuah kare.

Melihat sejumlah perbedaan atau keistimewannya, tentu timbul pertanyaan dari mana asal-usul sate ini. Ada satu-dua versi tentang hal ini. Satu cerita menyebut, sate klatak bermula dari seorang bernama mbah Ambyah yang memiliki ide menjual sate kambing karena memiliki banyak kambing. Awalnya ia berjualan sate di bawah pohon melinjo. Buah mlinjo ini kadang disebut sebagai buah klatak. Dari buah mlinjo yang berserakan sekitar warung sate inilah muncul nama sate klatak.

Versi yang lain menyebut, sate klatak ini bermula ketika seorang kusir andong yang bernama Jupaini. Suatu ketika ia memutuskan beralih mata pencaharian dengan berjualan sate kambing. Namun sate yang ia jual berbeda dengan sate yang lainnya, dimana ia hanya membumbui daging kambingnya dengan garam saja sebelum dibakar. Seperti disebut di muka, pada saat sate itu dibakar lantas mengeluarkan suara “klatak klatak” yang bersal dari garam tersebut. Jupaini inilah yang disebut berinovasi menggunakan jeruji sepeda sebagai penggati tusuk satenya.

Manapun versi yang benar, akhirnya konsumen penggemar sate kambinglah yang diuntungkan, karena memperoleh alternatif menikmati kuliner dari hewan ini. Warung-warung sate klatak mudah dijumpai di sepanjang Jalan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Meskipun belakangan, ada juga yang membuka warung sate klatak di Yogyakata sebelah utara.

Sate klatak Yogya dibakar dengan menggunakan arang, bumbu garam yang menetes menyebabkan bunyi klatak-klatak...
Sate klatak Yogya dibakar dengan tungku dan areng. Foto:iStock

Lalu manakah sate klatak yang paling enak? Enak tentu saja subyektif, namun berikut ini ada beberapa warung sate klatak yang bisa dijadikan pilihan.

Warung Sate Klatak Pak Jupaini; Jalan Imogiri Timur, Bantul, Yogyakarta

Warung sate ini menggunakan nama sang pelopor sate klatak dan termasuk salah satu warung sate klatak yang cukup fenomenal dan hampir selalu ramai. Mungkin karena sejarah bahwa warung ini adalah menemukan resep sate klatak.

Pengunjung yang ingin mencicipi lezatnya menu kambing di warung ini harus sabar menunggu hingga satu jam, karena ramainya warung sate ini. Selain sate klataknya yang terkenal, ada beberapa menu lain yang juga favorit, seperti tengkleng dan tongseng otak kepala kambing.

Warung Sate Klatak Jogja Pak Pong; dekat  hutan pinus Imogiri, Bantul

Ini terkenal dengan menu satenya yang bebas bau kambing. Bumbunya juga spesial meresap sampai ke dalam. Pak Pong adalah Cucu dari Pak Jupaini, sang penemu resep sate klatak. Jadi wajar jika cita rasanya otentik. Menu lain yang nggak kalah unik, yaitu tengkleng gajah. Bukan dari tulang gajah, tentu, melainkan karena porsinya yang jumbo. Selain itu, ada juga nasi goreng yang digoreng menggunakan arang sehingga aromanya sangat khas.

Warung Sate Klatak Jogja Pak Bari; Pasar Wonokromo Imogiri Timur, Bantul

Warung ini baru dibuka setelah pasar Wonokromo Imogiri timur tutup dan buka sampai dini hari. Warung sate klatak ini sudah cukup melegenda, berjualan sejak tahun 1940-an, pak Bari merupakan generasi ke-3 penerus usaha kuliner ini. Yang lebih istimewa, warung pak Bari lah yang dipergunakan sebagai lokasi film Ada Apa dengan Cinta 2.

Buat wisatawan yang menginap di Yogyakarta bagian utara, nggak perlu jauh-jauh ke selatan untuk menikmati gurihnya sate klatak Yogya. Di wilayah bagian utara juga terdapat warung sate klatak yang juga nikmat cita rasanya.

Sate Klatak Jogja Pak Jede, di Jalan Nologaten, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Di warung ini sate klatak disajikan dengan bumbu sederhana, yaitu garam, merica, serta tambahan kuah. Selain sate klatak, warung makan ini juga menyediakan menu lain seperti tongseng kambing, nasi goreng kambing, gulai kambing, sate kambing, tengkleng, gulai jeroan. Yang asyik, warung ini buka mulai siang, pukul 11.00 sampai dengan 23.00.

Warung Sate Klatak Pangestu; Jalan Damai No. 10, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman.

Warung ini termasuk laris konon dan sampai membutuhkan tiga ekor kambing per hari untuk membuat berbagai menu daging kambing, seperti sate klatak, tongseng, tengkleng, nasi goreng kambing, bahkan hingga olahan jeroan kambing.

Manapun yang dipilih, semuanya enak. Tinggal kamu agendakan kunjungannya.

agendaIndonesia

*****

Liburan 2 Hari di Tanjung Bira

Liburan 2 hari di Tanjung Bira Suawesi Selatan

Liburan 2 hari di Tanjung Bira mungkin bisa menjadi pilihan liburan. Terletak di ujung selatan Sulawesi Selatan, atau tepatnya berada di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Pantai Tanjung Bira menjanjikan pantai dengan pasir putih lembut.

Liburan 2 Hari di Tanjung Bira

Menuju ke Tanjung Bira memang perlu sedikit usaha karena loksinya yang berada sekitar 40 kilometer dari kota Bulukumba, atau 200 kilometer dari Makassar, ibukota Sulawesi Selatan. Butuh waktu sekitar 3-4 jam atau enam jam melalui jalan darat untuk mengunjunginya.

Menghabiskan waktu pada akhir pekan sebenarnya ada banyak pilihan. Terbang ke Makassar pengunjung tak hanya bisa menikmati satu pantai, tapi dua pantai yang berdekatan, Bira dan Bara. Ini bisa membuat liburan dua-tiga hari jadi luar biasa. Keindahan alam, beragam cita rasa, dan bahkan pesona budayanya menjadi pengalaman nan komplet.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan selama liburan 2 hari di Tanjung Bira itu? Ini mungkin bisa menjadi alternatif berlibur.

Hari Pertama: Jeneponto, Bantaeng, dan Pantai Bira

Ada pilihan beragam tiba di Makassar untuk liburan 2 hari di Tanjung Bira dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Hanya dalam waktu 2,5 jam, pengunjung sudah menginjakkan kaki di Bandara Internasional Hasanuddin, Makassar. Dengan penerbangan pukul 05.00 pada pukul 08.30 waktu setempat, Anda sudah bisa ke luar dari bandara dan segera meluncur ke Tanjung Bira di Kabupaten Bulukumba.

Dibutuhkan waktu sekitar enam jam dengan kendaraan roda empat untuk melintasi Takalar-Jeneponto-Bantaeng-Bulukumba hingga tiba di Bira. Saran saja, untuk dapat menikmati keindahan warna langit saat matahari terbenam, sebaiknya memang berangkat ke tempat ini sebelum tengah hari.

Jangan khawatir akan mengalami perjalanan panjang yang membosankan. Justru sebaliknya, pengunjung akan menemukan pemandangan yang berlainan di setiap daerah. Saat melintasi Jeneponto, mungkin pengunjung memang akan menemukan nuansa gersang. Sejauh pandang mata hanya hamparan padang rumput menguning, pepohonan meranggas, serta jajaran pohon Tala. Ini dikenal sebagai pohon siwalan atau lontar. Selain itu ada kuda-kuda berkulit gelap, bahkan ladang-ladang garam.

Bila merasa lelah, pengunjung dapat singgah di warung-warung buah-buahan segar. Di lintasan Jeneponto, kita akan dapat menemukan Ballo: sejenis tuak atau arak tradisional khas Sulawesi Selatan. Rasanya manis, harganya dipatok mulai Rp 15 ribu dalam kemasan botol plastik berukuran besar dan sedang. Dulu minuman itu hanya dinikmati di perjamuan-perjamuan kalangan istana.

Jika masih memiliki waktu, terutama bagi petualang kuliner, jangan lewatkan coto kuda khas Bumi Turatea—sebutan untuk Jeneponto. Konon coto tersebut berkhasiat menyembuhkan sejumlah penyakit. Selain itu, bagi yang percaya, coto itu dapat menghilangkan pegal-pegal dan nyeri tulang serta meningkatkan gairah dan vitalitas tubuh. Seporsi coto kuda itu dihargai Rp 20-25 ribu.

Selepas Jeneponto yang gersang, Butta Toa—julukan untuk Kabupaten Bantaeng—menyambut dengan penuh kesejukan. Jalan-jalan terutama di pusat kota kabupaten dipayungi rimbun pepohonan dan diwarnai hijau persawahan. Tampak sekali daerah ini begitu tertata.

Dalam kisaran 60-90 menit perjalanan dari Bantaeng, pengunjung akan memasuki Kawasan Wisata Tanjung Bira. Setiap pengunjung dikenai biaya retribusi sebesar Rp 5.000 untuk anak-anak, Rp 10 ribu untuk dewasa, dan khusus turis mancanegara harganya berbeda. Apabila membawa mobil pribadi, ada biaya tambahan.

Untuk akomodasi tak perlu khawatir, ada beragam jenis penginapan dalam kawasan Wisata Tanjung Bira. Biaya terendah sekitar Rp 200 ribu untuk satu malam dengan kamar berlantai kayu dan berdinding bambu serta dua tempat tidur. Selain itu, dilengkapi kipas angin dan kamar mandi yang berada dalam, namun tanpa sarapan. Untuk yang ingin kenyamanan tinggi bisa memilih resor dan hotel dengan tarif yang bervariasi

Selanjutnya, saatnya menikmati senja pertama dan malam di Pantai Bira. Selama tidak datang pada masa liburan dan akhir pekan, pengunjung tidak akan terganggu oleh keramaian.

Liburan 2 hari di Tanjung Bira bisa dilakukan juga untuk mengunjungi pembuatan kapal Phinisi.
Kapal Phinisi yang merupakan produksi Tanjung Bira dalam sebuah pelayaran. Foto: Dok. Unsplash-Johny Africa

Hari Kedua: Pantai Bara dan Tana Beru

Hanya dalam 15 menit dari Pantai Bira menuju arah barat bisa ditemukan Pantai Bara. Suasana yang ditemukan sungguh berbanding terbalik: bersih, tenang, tak ada deretan panjang warung, dan keramaian orang.  

Belakangan tak sedikit pengunjung, terutama anak muda, memilih bermalam di tepian Bara. Mereka membawa bekal kantong tidur, tenda, hingga makanan dan minuman. Alasannya sederhana saja, mereka ingin tenggelam dalam suasana dari detik-detik terbenamnya matahari, ketenangan pada malam hari dengan musik debur halus ombak, dan keindahan fajar pada pagi harinya. Tentunya tanpa melewatkan sensasi halus pasir putih yang hangat.

Dan tidak sah rasanya apabila telah datang ke Butta Panritta Lopi—tanah para ahli pembuat Perahu Pinisi—namun tidak menyempatkan singgah di Tana Beru yang merupakan sebuah kelurahan di Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba.

Tana Beru merupakan pusat pembuatan alat transportasi laut terandal. Jika masyarakat setempat sedang mengerjakan pesanan, beruntunglah pengunjung dapat melihat pembuatan perahu pinisi secara langsung.

Liburan 2 hari di Tanjung Bira bisa dilakukan melalui jalan laut dari Pelabuhan Makassar.
UnsPelabuhan Makassar. FotoL Dok. Arif hidayat-unsplash

Selepas makan siang, saatnya kembali ke Makassar. Bila ingin langsung kembali ke Jakarta bisa pilih penerbangan terakhir pada pukul 21.30 WIT. Solusi alternatif dapat menginap semalam di Makassar dan kembali ke Jakarta esok pagi. Bila harus segera kembali bisa pilih jadwal penerbangan paling pagi pukul 06.00.

agendaIndonesia/TL

*****

Ayam Tangkap Khas Aceh, 1 Ekor Dipotong 24

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Nangroe Aceh Darusalam. Ada banyak pilihan di sini, salah satu yang terkanal adalah ayam tangkap.

Ayam tangkap khas Aceh menjadi salah satu ikon kuliner masyarakat Serambi Mekah, selain bakmi Aceh. Dedaunan dan rempah bumbunya menjadi pembeda dengan sajian ayam goreng dari daerah lain.

Ayam Tangkap Khas Aceh

Nama masakan ayam tangkap sendiri sampai saat ini belum ada yang tahu dari mana asal-usulnya. Secara bercanda, masyarakat Aceh suka menyebut jika nama tersebut muncul dari kebiasaan orang setempat yang baru menangkap ayamnya ketika akan dimasak. Bisa jadi informasi ini cuma guyon, namun bisa jadi hal itu benar. Dan menunjukkan bagaimana “fresh”-nya bahan utama masakan ini sebelum disajikan.

Meskipun tak diketahui sejak kapan masakan ini ada dalam khasanah budaya kulinari Aceh, namun banyak sumber menyebut jika masakan ini sudah ada sejak lama. Setidaknya sudah ada lima-enam generasi di belakang.

Keunikan ayam tangkap ini dibandingkan jenis kuliner ayam goreng lain adalah saat disajikan. Ayam goreng tersebut, selain ukuran potongannya yang kecil-kecil tak seperti layaknya potongan ayam yang dibagi empat atau delapan, disajikan dengan daun-daunan. Ada daun temurui dan daun pandan yang dirajang kasar serta digoreng renyah. Apabila dicicipi daun-daun tersebut mungkin terasa aneh meskipun chrunchy. Tapi bila mengunyahnya dipadukan dengan ayam gorengnya, akan menghasilkan cita rasa yang khas dan nikmat.

Ayam tangkap ini terbuat dari bahan dasar ayam potong, daun temurui, daun pandan dan cabe hijau. Untuk cabe hijaunya biasanya menggunakan yang panjang yang nantinya akan disajikan bersama dengan daun temurui dan daun pandan. Sedangkan bumbu yang digunakan di antaranya bawang putih, bawang merah, cabe rawit, kunyit, jahe, dan air asam jawa.

Dalam proses pembuatan tangkap ini, seperti disebut di muka, biasanya dipotong kecil-kecil. Dari banyak resep yang beredar di masyarakat, umumnya satu ekor ayam akan dipotong menjadi 24 bagian. Ada yang menyebut, karena ditangkap dan disembelih sesaat akan diolah, pemotongan kecil-kecil itu agar bumbu dan rempah cepat meresap ke dalam daging. Begitupun, saat ini banyak juga yang memotong ayam sesuai dengan keinginan.

Setelah itu, potongan daging kemudian direndam bersama bumbu hingga meresap, meskipun tak terlalu lama –kurang lebih 15 hingga 30 menit– lalu daging ayam digoreng hingga matang. Ketika mendekati matang, daun temurui, cabe hijau dan daun pandan dimasukan dan digoreng bersama daging ayam tadi. Setelah semuanya matang, semua lalu tiriskan. Ayam Tangkap biasanya disajikan langsung bersama dengan daun-daunan yang sudah digoreng tersebut.

ayam tangkap khas Aceh, sebagai salah satu ikon kuliner Serambi Mekah.
Ayam Tangkap Khas Aceh sebagai ikon kuliner negeri Serambi Mekah. Foto:shutterstock

Di banyak rumah makan masakan Aceh, penyajian ayam tangkap biasanya dengan dedaunan yang menutupi ayam sehingga terlihat ayam sengaja diletakkan di bawah dedaunan. Dedaunan ini selain sebagai daya tarik hidangan, sekaligus bisa dijadikan sebagai lalapan kering pelengkap potongan ayam.

Pada umumnya, para pencinta ayam tangkap ketika menyantapnya akan mengkombinasikan dengan sambal kecap yang telah dicampur dengan potongan bawang merah dan cabai hijau. Sebagian lagi menggunakan bawang goreng. Satu hal yang pasti, hampir semua restoran Aceh menggunakan ayam kampung sebagai bahan utama. Hal ini untuk mempertahankan cita rasa.

Lalu di mana ayam tangkap ini di Banda Aceh dapat dinikmati? Berikut sejumlah restoran atau warung makan yang cukup dikenal dengan ayam tangkapnya.

Rumah Makan Hasan; di Jalan Profesor Ali Hasyimi, Pango, Ulee Kareng, Banda Aceh.

Ini konon merupakan salah satu tempat makan ayam tangkap paling enak di Aceh. Kelezatan ayam tangkap yang dihidangkan di tempat ini bisa dibuktikan dari eksistiensinya yang sudah ada sejak 1989. Rumah makan ini memiliki tiga cabang di Aceh. Restoran ini berada yang buka setiap hari mulai pukul 10 pagi sampai 9 malam.

Rumah Makan Specifik Aceh; di Jalan Hasan Dek nomor 14-16, Banda Aceh.

Rumah makan ini dimiliki warga asli Aceh dan dianggap sebagai ayam tankap dengan rasa yang original. Warung makan yang buka setiap hari ini hampir selalu ramai pengunjung.

Ayam Pramugari; di Jalan Bandara Sultan Iskandar Muda, Paya-Ue, Blang Bintang

Nama rumah makan ini diambil karena awalnya banyaknya pramugari yang membeli ayam tangkap di tempat ini. Mungkin karena dekat dengan bandar udara. Nama yang unik ini mampu membuat orang penasaran mencicipinya.

Rumah Makan Ayam Tangkap Cut Dek; Jalan Panglima Nyak Makam, Lampineung, Banda Aceh.

Ini merupakan satu rumah makan yang menyajikan ayam tangkap paling enak di Aceh. Bahkan rumah makan yang berdiri sejak 1996 ini hampir selalu ramai pembeli. Rumah Makan ini buka setiap hari mulai pukul 10 pagi sampai dengan 10 malam

Rumah makan Bu Sie Itek Bireun; di Jalan Teuku Umar, Setui, Banda Aceh, di sebelah masjid masjid Meukeutop

Ini merupakan salah satu rumah makan yang populer di kalangan pelancong luar kota. Mungkin karena mereka juga menyediakan menu gulai bebek. 

Lalu di mana jika orang ingin mencicipi ayam tangkap di Jakarta?

Ayam Tangkap Aceh Jakarta; Jl. Menteng No.10 Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat 

Ayam & Bebek Tangkap Atjeh Rayeuk; Jl. Ciranjang No.36, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Sudah pernah mencicipi ayam tangkap? Ayo agendakan tangkap ayammu.

agendaIndonesia

****

Pasar Apung Banjarmasin, Sensasi Belanja Sejak 1526

Pasar apung Banjarmasin menjadi salah satu ikon pariwisata kota ini, selain sebagai prasarana ekonomi.

Pasar apung Banjarmasin, atau kadang disebut pasar terapung, adalah ikon ibukota Kalimantan Selatan. Bukan sekedar ikon kota, ia bahkan tumbuh sebagai potensi pariwisata di daerah ini.

Pasar Apung Banjarmasin

Pasar apung Banjarmasin atau dikenal juga sebagai Pasar Apung Lokbang Intan ternyata sudah berusia lebih tua dari kotanya. Bahkan jauh lebih tua dari usia Indonesia. Ia ternyata sudah ada sejak tahun 1526. Jauh bahkan sebelum Kerajaan Banjar berdiri.

Di Banjarmasin sesungguhnya ada dua pasar terapung besar, di Muara Kuin dan Siring Pierre Tendean di sungai Martapura. Namun yang banyak dikenal memang yang di Muara Kuin. Ini pasar terapung tertua.

Tertua? Ya, ternyata sejarah pasar apung ini sangat panjang. Menurut catatan sejarah setempat keberadaan dan berkembangnya Pasar Apung Lokbang Intan tak lepas dengan berdirinya Kerajaan Banjar. Berdasar catatan, pasar tersebut bahkan lebih tua dari usia kerajaannya. Jika Kerajaan Banjar ada sekitar 1595, pasar ini sudah ada sejak abad ke-14. Berdirinya Kerajaan Banjar membuat pasar tersebut menjadi semakin hidup.

Kawasan pasar apung itu tadinya merupakan bagian dari pelabuhan sungai yang bernama Bandarmasih. Pelabuhan sungai ini meliputi aliran Sungai Barito, dari Sungai Kuin hingga Muara Sungai Kelayan, Banjarmasin Selatan. Berdasarkan catatan sejarahnya, Pasar Terapung merupakan pasar yang tumbuh secara alami karena posisinya yang berada di pertemuan beberapa anak sungai sehingga menjadikan kawasan ini sebagai tempat perdagangan.

Banjar atau Banjarmasin memang memiliki kondisi alam dengan banyaknya aliran sungai. Saking banyaknya aliran sungai yang melintas di kota atau kawasan ini, konon sampai mencapai 60 sungai besar dan kecil, mulai dari sungai Martapura, sungai Barito dan sungai Kuin serta puluhan sungai lainnya yang membelah wilayah Banjarmasin dan menjadikan kawasan ini sebagai delta atau kepulauan.

Banyaknya sungai juga membuat Banjarmasin dikenal dengan sebutan negeri beribu sungai. Itu sebabnya kawasan ini memiliki prasarana transportasi sungai. Demikian pula roda perekonomiannya. Dengan membuka lapak di sungai memudahkan para pedagang yang membawa barang dagangan berupa hasil bumi dari arah hulu untuk melakukan jual-beli.

Pada gilirannya, pasar apung ini tidak saja sebagai tempat untuk berdagang, tapi menjadi pusat segala macam kegiatan bagi warganya. Termasuk kemudian jadi tujuan wisata. Selain sungainya yang punya daya pikat tersendiri, masih banyak destinasi menarik yang sangat sayang jika hanya dilihat sambil lalu.

Pasar Apung Banjarmasin menjadi ikon wisata ibukota Kalimantan Selatan.
Patung Bekantan di Kota Banjarmasin ikon wisata kota ini selain Pasar Apung Banjarmasin. Foto: ilustrasi shutterstock

Jika punya kesempatan mengunjungi Banjarmasin, kota yang bisa ditempuh sekitar 1 jam dan 45 menit dari Jakarta ini, via penerbangan, rasanya wajib untuk mencoba menikmati sensasi belanja di atas sungai. Kabarnya proses jual-beli, kadang antarpedagang masih terjadi proses jual beli model barter, sudah berlangsung sejak pukul tiga pagi. Namun, ramainya perdagangan mulai pukul enam pagi.

Untuk bisa mendatangi pasar yang berada di desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, orang biasanya bangun subuh untuk menuju lokasi yang berjarak sekitar 50 menit perjalanan dari pusat kota Banjarmasin. Para pelancong harus sudah menyiapkan diri sejak usai shalat subuh atau sekitar pukul 5 Waktu setempat. Banjarmasin masuk wilayan waktu Indonesia bagian Tengah (WITA).

Cara bergegas ini, selain karena membutuhkan jarak tempuh yang cukup lama menuju lokasi dengan menggunakan perahu klotok, dari lokasi penyewaan kapal klotok di Warung Soto Banjar Bang Amat, pasar ini juga hanya beroperasi mulai pukul 6 hingga sekitar pukul 9 saja.

Satu kapal klotok bisa disewa dengan tarif Rp 350-400 ribu. Kapal jenis ini bisa ditumpangi 15 hingga 20 orang. Jadi jika kebetulan hanya bepergian sendirian atau berdua, jangan ragu berkenalan dengan orang dan sharing biaya. Jikapun mampu membayar sendiri biaya sebesar itu, perjalanan beramai-ramai sangat menyenangkan. Termasuk ketika harus sharing barang belanjaan. Sebab kadang ada pisang yang dijual satu tandan, padahal kita hanya menginginkan satu sisir saja.

Perjalanan dini hari di atas kapal pun menyenangkan. Sambil membelah sungai Martapura dengan kapal klotok, wisatawan akan disajikan pemandangan berupa aktifitas keseharian warga yang tinggal dipinggiran sungai tersebut. Mulai dari memancing ikan, masak, mandi juga berbagai kegiatan lainnya.

Begitu kapal klotok yang kita tumpangi tiba di pasar terapung Lok Baintan, para pedagang yang menggunakan perahu dayung langsung saling berlomba merapat ke perahu klotok agar bisa menjajakan barang dagangannya. Perahu pedagang yang sangat banyak inilah yang mampu menampilkan pemandangan unik dan menawan. Di sini juga para pelancong bisa menjajal naik ke perahu pedagang, pindah atau turun ke kapal mereka. Duduk di kapal mereka sambil menawar barang dagangan rasanya pemandangan yang cukup instagramable.

Rata-rata pedagangnya wanita berumur. Uniknya, di zaman seperti saat ini, sistem barter kadang masih berlaku. Biasanya memang sesama pedagang saja, namun, bisa saja jika memiliki barang yang cukup berharga untuk kebutuhan sehari-hari coba saja tawarkan.

Adapun barang yang dijual oleh para pedagang di pasar terapung Lok Baintan ini berupa beragam sayuran, buah-buahan, makanan tradisional, hingga suvenir. Bahkan sambil berbelanja kebutuhan atau barang oleh-oleh, dengan harga yang sangat terjangkau para pelancong juga bisa menikmati sajian kuliner seperti sate di atas perahu.

Menarik? Ayo kalau ada kesempatan main ke Banjarmasin dan mencoba belanja di pasar terapung.

agendaIndonesia

*****

Danau Kembar, Keindahan Di 1900 Meter

Danau kembar di Kabupaten Solok, menikmati matahari terbit di Danau Diateh.

Danau Kembar di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mungkin masih kurang dikenal banyak pecinta traveling. Danau Kembar ini adalah Danau Di Atas, atau masyarakat Minang suka menyebutnya Danau Diateh, dan Danau Di Bawah.

Danau Kembar

Keindahan alam Solok tak hanya Danau Diateh dan Dibawah, tapi juga Danau Talang, dan terlihat pula Danau Singkarak. Pelengkap untuk menikmati keindahan itu tentu saja secangkir kopi arabika Solok.

Danau kembar terdiri dari Danau Diateh dan Danau Di bawah. Lokasinya berdekatan.
Keindahan Danau Diateh di Kabupaten Solok, Sumatera Utara. Foto: Dok. TL


Jika punya waktu, cobalah mampir menikmati keindahan Danau Kembar. Atau, sempatkan menginap di resor milik di tepi Danau Diateh. Ada satu dua resor, di antaranya milik Pemerintah Kabupaten Solok yang disewakan untuk para pengunjung. Bisa menikmati keindahan danau dari kamar, atau menanti matahari terbit dengan latar danau.

Seperti pagi itu. Di tengah hawa dingin dan desiran angin di sela-sela pohon pinus, kita bisa keluar dari vila dan menyusuri jalan setapak. Matahari muncul di balik bukit di ujung danau. Air danau tampak biru keperakan. Walau matahari belum muncul, langit sudah terang dengan warna biru muda. Bukit-bukit di seberang danau juga sudah bermandikan cahaya.

Pinggiran danau sebagian besar ditumbuhi tanaman air dan rumput. Inilah kelebihan Danau Diateh, banyak vegetasinya. Rumput di sekitarnya membuat danau begitu alami. Untaian embun yang menempel di rumput berkelip terkena cahaya. Ada pula rumput yang sedang berbunga. Seraya duduk di rerumputan, kita bisa menunggu saat-saat kemunculan sang mentari di balik bukit.

Perlahan cahaya jingga yang memanjang mulai ke luar. Panorama sekitar tiba-tiba merona jingga. Bahkan rumput yang seakan berbunga merah. Sepotong pagi yang sempurna.

Pagi itu bisa pengunjung habiskan dengan berkeliling resor, menuruni tangga batu ke tepi danau. Resor itu dikepung hutan pinus. Di ujung danau di sebelah barat daya terlihat Gunung Talang yang jika pagi seperti memantulkan cahaya, dengan latar langit biru di belakangnya.

Di pinggir danau, bebek-bebek berenang dengan damainya. Tempat ini paling indah di tepi danau. Kadang kita harus memutar sedikit ketika menyusuri pinggiran danau, karena jalan setapak dari beton dan batu kali kadang terhalang dengan rambatan rumput riang-riang yang tingginya hingga dua meter.

Seusai menikmati sunrise, pengunjung bisa melakukan perjalanan ke Bukit Cambai, jaraknya sekitar 3 kilometer dari resor.  Tempat ini menjanjikan pemandangan tiga danau dari atas bukit tertinggi di kawasan wisata Danau Kembar yang berada di ketinggian 1.900 meter dari atas permukaan laut (mdpl). Hanya beda 697 meter dari puncak Gunung Talang yang tingginya 2.597 mdpl.

Tiga rangkaian danau di kaki Gunung Talang ini adalah Danau Dibawah, Danau Diateh, dan Danau Talang. Danau Diateh dan Danau Dibawah adalah danau tektonik yang terbentuk dari pergeseran patahan Sumatera, sedangkan Danau Talang merupakan danau vulkanik yang dulunya salah satu kawah Gunung Talang yang meletus.

Danau Diateh dan Danau Dibawah sering dijuluki Danau Kembar karena letaknya berdampingan dengan jarak terdekat sekitar 500 meter. Ke duanya hanya dipisahkan ladang sayuran dan jalan raya.

Di Danau Diateh, pengunjung bisa berperahu dengan ikut kapal nelayan. Danau seluas 17,20 kilometer persegi ini permukaan airnya berada pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut dengan bagian terdalamnya sekitar 44 meter. Tidak banyak aktivitas wisata di danau yang indah ini. Hanya ada beberapa orang nelayan yang memukat ikan dari atas perahu.

Sementara Danau Di Bawah panoramanya indah, air danaunya biru tua dikelilingi punggungan bukit yang hijau dan dipenuhi sayuran. Permukaan airnya pada ketinggian 1.462 meter di atas permukaan laut lebih rendah daripada Danau Diateh. Karena itulah dinamakan Danau Di Bawah. Luasnya 16.90 kilometer persegi, tapi kedalamannya ada yang mencapai 86 meter.

Danau Talang jaraknya agak jauh dari dua danau ini. Dari Danau Di Bawah, sekitar 4,5 kilometer. Namun lebih dekat dengan Gunung Talang, karena terbentuk dari salah satu kawah gunung yang meletus pada masa lampau. Jalan menuju ke danau ini tidak mudah, melewati medan yang berat dan mendaki. Jika hujan turun, banyak kubangan lumpur dan batunya juga besar-besar. Mungkin karena itulah Danau Talang jarang dikunjungi.

Danaunya tidak terlalu luas, tapi tampak alami. Di pinggirnya masih banyak pohon dan tanaman perdu. Gunung Talang yang berada di belakangnya kelihatan lebih dekat. Danau Talang ini dikelilingi ladang sayuran yang sangat subur dengan tanah yang gembur dan hitam. Mungkin karena letusan Gunung Talang pada 11 April 2005.

Jalanan dari beton di Bukit Cambai sengaja dibangun untuk menjadikan kawasan itu destinasi wisata di kawasan Danau Kembar. Di atas bukit malah sudah dibangun menara untuk mengamati tiga danau. Bahkan, bukan tiga danau saja, melainkan Danau Singkarak juga kalau langit cerah akan kelihatan dari jauh. Jadi dari bukit itu pengunjung bisa menikmati empat danau.

Danau Kembar di Kabupaten Solok juga mempunyai keunggulan soal kopi arabika.
Salah satu keunggulan Kabupaten Solok adalah kopi arabikanya yang sudah mulai mendunia. Foto: Dok. TL

 Namun Solok tak hanya danau, ada suguhan lain: kopi arabika. Mungkin belum cukup dikenal secara umum, namun para pecinta kopi umumnya sudah mengenal meski masih jarang ditemukan di pasaran. Di daerah itu, ada Gabungan Kelompok Tanikopi di Surian, jaraknya sekitar 35 kilometer dari danau.

Kopi arabika Solok sedang naik daun. Ditanam petani di dataran tinggi Danau Kembar, Lembah Gumanti hingga ke Surian. Karena berada pada jajaran dataran tinggi yang sama, aromanya juga hampir mirip, beraroma rempah, ada aroma serai, kulit kayu manis, dan lemon. Pada Maret 2016, kopi honey dari Solok Radjo bahkan meraih penghargaan di ajang Melbourne International Coffee Expo 2016 dan meraih medali perak.

agendaIndonesia/Dok. TL

*****

Ayam Lodho Pak Yusuf, Gurihnya Dari 1987

Ayam lodho Pak Yusuf adalah ikon kuliner khas Trenggalek, Jawa Timur.

Ayam Lodho Pak Yusuf bisa menjadi pilihan kuliner utama untuk dicoba saat sedang berada di daerah Trenggalek. Rasanya tak berlebihan jika makanan yang satu ini disebut-sebut sebagai salah satu hidden gem, khususnya di antara kuliner-kuliner asli Jawa Timur.

Ayam Lodho Pak Yusuf

Di atas kertas, ayam lodho terlihat cukup sederhana sebagai sebuah hidangan. Dari pandangan visual, sekilas ia terlihat agak mirip seperti ayam opor, terlebih dengan penggunaan kuah bersantan, meski secara cara penyajian dan pelengkapnya sedikit ada perbedaan.

Kalau ayam opor dimasak dengan cara merebusnya dengan bumbu-bumbu pelengkapnya, ayam lodho disajikan dengan cara dibakar terlebih dulu sembari dilumuri bumbu. Setelah jadi dan daging lebih empuk, barulah ia direbus dan dihidangkan dengan kuah pelengkapnya.

Ayam Lodho Pak Yusuf menjadi daya tarik wisata di Trenggalek, selain Goa Lowo.
Goa Lowo di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Foto Humas Pemkab Trenggalek

Istilah ‘lodho’ sendiri kurang lebih berarti empuk atau lunak, yang mana merujuk pada daging ayam yang empuk setelah dibakar sedemikian rupa. Meski ada pula yang mengatakan bahwa ‘lodho’ juga dapat merujuk pada cita rasa kental di mulut karena kuah santannya.

Oleh karenanya pula, ayam yang digunakan dalam memasak makanan ini umumnya merupakan jenis ayam kampung. Diyakini, daging ayam kampung bila dimasak lama tidak menjadi hancur dagingnya, dan cita rasa kuahnya dapat lebih meresap serta berpadu lebih baik dengan daging gurihnya.

Sebelum dibakar, ayam akan terlebih dulu dilumuri garam. Setelah daging menjadi lebih empuk dan kadar airnya berkurang, barulah ia dimasak dengan kuah yang dibuat dari rempah seperti ketumbar, cabe, kemiri, merica, lengkuas, sereh, kunyit, bawang putih dan merah, serta santan.

Dalam penyajiannya, ayam lodho umumnya dihidangkan dengan nasi gurih, atau racikan nasi yang agak mirip dengan nasi uduk. Sebagai sayurnya, kerap pula ditambahkan sayur urap yang berisikan daun singkong, taoge, timun dan parutan kelapa.

Secara umum, tak diketahui secara pasti kapan makanan ini pertama kali muncul. Ada yang meyakini bahwa kuliner ini sudah berumur puluhan hingga ratusan tahun, karena ia berasal dari budaya persembahan sesajen kepada leluhur.

Budaya tersebut lazim disebut slametan njangkar, yang diadakan tiap sebulan sekali oleh para nelayan setelah munculnya bulan purnama. Berlangsungnya adat ini tak lepas dari kepercayaan warga saat itu kepada Nyi Roro Kidul, yang diyakini sebagai penguasa laut selatan Jawa.

Ayam Opor shutterstock
Ayam Opor yang lebih dikenal di banyak daerah di Jawa. Foto: shutterstock

Harapannya, dengan hajatan dan persembahan sesajen ini para warga yang berprofesi sebagai nelayan dapat senantiasa dilindungi saat melaut. Selain itu, mereka dapat pulang dengan selamat sambil membawa berkah hasil laut yang melimpah dan menguntungkan.

Dari budaya tersebut, makanan ini kemudian menjelma menjadi salah satu santapan merakyat yang masih terus dilestarikan dan diminati hingga kini. Cita rasa kuah yang kental, serta gurih dan pedasnya ayam menyatu harmonis dengan hangatnya nasi dan segarnya sayur urap.

Dan bisa dibilang, warung ayam lodho pak Yusuf merupakan salah satu yang berada di garda terdepan dalam mempopulerkan kuliner ini. Sejak kemunculannya pada 1987, warung ini mampu merintis jalannya menjadi warung penjaja ayam lodho paling populer.

Disinyalir, masakan ayam lodho Pak Yusuf masih terasa otentik dan mendekati resep dari leluhur di masa lalu. Maka jangan heran jika warung aslinya yang berada di kawasan jalan raya Kedunglurah, Trenggalek, ini masih kerap dipenuhi pengunjung, baik lokal maupun pendatang.

Meski demikian, warung ini berproses bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya bisa diterima dan disukai konsumen. Saat pertama kali membuka warungnya, pengunjung tidak langsung berbondong-bondong datang.

Awalnya, banyak yang mempertanyakan mengapa Yusuf, si empunya warung, berani menjajakan makanan yang hanya populer sebagai sesajen bagi kalangan tua warga setempat. Namun, ia bergeming dan terus berusaha menyempurnakan racikan ayam lodhonya.

Bisa dibilang, usaha ini hampir sepenuhnya merupakan usaha mandiri keluarganya. Ayam yang digunakan berasal dari peternakan yang dikelola keluarganya, dan beberapa rempah diambil langsung dari kebun di belakang warung tersebut.

Lambat laun, masakan ayam lodho Pak Yusuf mulai bisa diterima di lidah dan disenangi pengunjungnya. Perpaduan rasa gurih dan pedasnya dianggap pas dengan selera umumnya, terutama bagi warga sekitaran Jawa Timur.

Semakin lama, semakin banyak pula yang mendatangi warungnya. Dari yang tadinya hanya berupa bangunan kecil dan sederhana dari bambu, kini warung tersebut sudah berubah wujud menjadi bangunan permanen yang lebih luas untuk menampung banyaknya pengunjung.

Ayam Lodho Khas Trenggalek Pemkab Trenggalek
Ayam Lodho siap disantap. Foto: Humas Pemkab Trenggalek

Kendati demikian, resep, bahan baku serta cara penyajiannya masih sama dari dulu. Di bawah pengelolaan Ayub, sang anak, beberapa upaya menjaga kualitas masakan ayam lodho pak Yusuf meliputi bahan baku yang dipasok mandiri, cara memasak yang menggunakan tungku kayu bakar, dan sebagainya.

Hal ini membuatnya amat disenangi warga setempat maupun pelancong karena dianggap masih terasa otentik hingga kini. Bahkan karena tingginya permintaan, akhirnya mereka membuka beberapa cabang di kota-kota tetangga, seperti Tulungagung, Kediri, dan Blitar.

Dari pilihan menunya, dalam satu porsi dengan nasi dan sayur urapnya, dibagi berdasarkan ukuran sepotong ayamnya: kecil, reguler, medium dan super. Masing-masing dihargai dari Rp 25 ribu hingga Rp 40 ribu, yang bisa disantap langsung atau dibungkus sebagai nasi kotak.

Pengunjung juga bisa memesan ayam atau sayur urapnya secara terpisah. Tak hanya itu, ada juga pilihan untuk memesan ayam satu ekor utuh, dengan pilihan ukuran kecil, reguler, medium, super dan jumbo yang harganya mulai dari Rp 75 ribu hingga Rp 130 ribu.

Tak mengherankan bila kini pelanggannya begitu beragam. Mulai dari warga lokal yang sekedar menikmati santap pagi, siang atau malam, turis yang ingin mencoba kuliner otentik, hingga pesanan-pesanan nasi kotak untuk acara tertentu, bahkan pesanan dari luar kota.

Ayam lodho pak Yusuf buka setiap hari dari jam 07.00 hingga jam 22.00. Karena buka dari pagi, maka warung ini hampir bisa dipastikan selalu ramai dari sejak waktu sarapan, makan siang hingga makan malam, sehingga disarankan untuk datang lebih awal di jam-jam tersebut.

Ayam Lodho Pak Yusuf

Jl. Raya Kedunglurah, Trenggalek

Telp. (0355) 879311 / 081335123770

Instagram @ayamlodho

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****