Tato Orang Mentawai, 7 Motif Titi Sebagai Identitas

Tato Orang Mentawai

Tato orang Mentawai atau Titi, dalam masyarakat Mentawai bukan sekadar rajah di kulit mereka. Ia mengandung makna dan menjadi ciri khas masyakat setempat. Ada pula pembuat khusus, ia disebut sipatiti.

Tato Orang Mentawai

Di sejumlah desa di Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, seperti Desa Madobag atau Ugai, masyarakat asli setempat masih melakukan rajah pada kulit mereka. Jika kita berkunjung ke uma, ini sebutan untuk rumah tradisional suku Mentawai, biasanya saat bertemu dengan yang empunya uma, kita akan melihat torehan garis lurus, lengkung, tebal, halus, hingga setiap titik berwarna kehitaman di sekujur kulit tubuhnya. Itulah yang disebut titi, tato khas mereka.

Bagi mereka yang tak memahami titi, mungkin goresan itu hanya sebagai jenis motif rajah saja. Tapi tunggu dulu, ternyata setiap bentuk goresan itu ada maknanya. Termasuk posisi mereka dalam masyarakat tersebut.

Dua orang laku-laku dengan usia yang sama, misalnya, titi-nya bisa berbeda. Bahkan kadang buat mata awam, bisa saja rajah di kedua pria tersebut terlihat sama. Tapi ternyata ada bagian yang berbeda. Misalnya, yang satu tidak memiliki dua simbol di bahu kanan-kirinya. Atau, seorang pria muda Mentawai, bisa saja sama sekali tak punya titi di kulit tubuhnya.

Seni tato Mentawai memang memiliki daya tarik tersendiri. Konon, ini merupakan salah satu seni rajah tubuh tertua di dunia, bahkan ada yang menyebut ia lebih tua dari seni tato di Mesir. Sayangnya, titi perlahan memudar. Masyarakat Mentawai masa kini tak lagi suka memaparkan identitas diri mereka melalui medium sekujur kulitnya. Terutama di kalangan generasi mudanya. Padahal, dulunya itu adalah simbol jati diri mereka dari waktu ke waktu.

Selain harus melalui ritual, pembuatan tato bagi suku Mentawai harus dilakukan bertahap. Tahap pertama dilakukan saat seseorang berusia 11-12 tahun atau masa akil balig. Rajahnya pun hanya boleh dilakukan di bagian pangkal lengan. Tahap kedua, kala orang tersebut berusia 18-19 tahun dan rajahan dilanjutkan ke bagian paha. Tahap ketiga, di masa dewasa di bagian tubuh lain.

Setiap motif titi, yang dirajahkan pada kulit tubuh, memiliki arti. Masing-masing merepresentasikan simbol-simbol penghormatan orang-orang suku Mentawai pada roh dan pada keyakinannya. Secara umum, dikenal tujuh macam motif yang berlaku bagi laki-laki dan tiga motif bagi perempuan, yaitu Sarepak Abak, Durukat, Sikaloinan, Gagai, Boug, Saliou, dan Soroi.

Tato Orang Mentawai Proses Mentato
Proses membuat titi di masyarakat Mentawai.

Sarepak abak, biasanya ditorehkan di punggung, melambangkan keseimbangan kehidupan di alam. Ini merupakan representasi dari cadik (penyeimbang) pada pompon (perahu) yang menjadi alat transportasi sehari-hari.

Durukat, ditorehkan di bagian dada, simbol jati diri suku, menunjukkan batas wilayah kesukuan. Umumnya memanfaatkan garis-garis halus yang kemudian diisi titik-titik dan motif lokpok (bentuknya menyerupai daun). Sikaloinan, ditorehkan pada bagian pangkal lengan hingga siku, simbol jati diri suku, merepresentasikan paipai sikaloinan (ekor buaya).

Gagai, ditorehkan pada lengan laki-laki/perempuan, simbol kepiawaian menangkap ikan. Motif Boug, ditorehkan pada bagian paha, simbol jati diri suku, penggambarannya memanfaatkan bentuk garis-garis lengkung. Saliou, ditorehkan pada betis hingga pergelangan kaki dengan ragam rias lengkung garis yang indah.

Sementara itu, Soroi, khusus kaum pria, simbol jati diri kesukuan, biasanya ditorehkan pada bagian pusar, merepresentasikan keindahan rumbai-rumbai bulu ekor ayam.

Satu catatan penting, terlihat sekali bahwa seorang sipatiti tidak boleh mengabaikan faktor simetris dalam pelaksanaan tugasnya. Pengaturan jarak dari setiap gores garis hingga titik diperhitungkan dengan penuh presisi dalam hitungan satu jari, dua jari, tiga jari, empat jari, dan seterusnya.

Untuk membuat titi, tidak bisa dilakukan sembarang orang. Untuk melakukannya, suku Mentawai mengenal keberadaan sipatiti. Meski tidak diangkat secara adat, ia adalah seorang laki-laki dan tidak boleh perempuan yang dipercaya sebagai sang pembuat tato. Ia seorang yang memiliki keahlian merajah sekaligus memahami simbol-simbol yang lazim digunakan termasuk maknanya. Setiap pertemuan, jasa seorang sipatiti akan dibayar dengan seekor babi atau beberapa ekor ayam.

Proses pembuatan titi tidak sesederhana. Sebelumnya, harus digelar acara adat Punen Kepa untuk menyingkirkan pengaruh jahat dan ancaman terjadinya malapetaka di kampung yang warga yang akan membuat titi. Pada puncak punen, biasanya dilakukan perjalanan ke Siberut, yang diyakini sebagai asal orang Mentawai. Perjalanan laut yang dikenal dengan istilah bulepak itu dilakukan beramai-ramai dalam satu sampan bermuatan cukup besar. Di daerah itu, mereka harus mengambil manik-manik khas Siberut sebagai syarat.

Apabila semua berhasil membawa manik-manik khas Siberut kembali dengan selamat, warga bisa memulai menjalani upacara inisiasi pembuatan titi, yang dikenal dengan nama Punen Enegat. Upacara tersebut dipimpin oleh sikerei atau seorang dukun Mentawai dan dilakukan di putukurat, yang merupakan tempat khusus berlangsungnya proses pembuatan titi.

Titi adalah sebuah kearifan lokal, ia tak harus menjadi milik semua orang, namun tentu sayang jika ini akan terus memudar.

agendaIndonesia

*****

Bakmi Jawa, Istimewa Dimasak Setiap 1 Pesanan

Bakmi Jawa SHUTTERSTOCK

Bakmi Jawa atau bakmi Yogya seperti menyeruak di antara masakan-masakan bakmi yang umumnya cenderung berasosiasi dengan masakan Tionghoa. Terlepas dari material bakminya mendapat pengaruh dari mana, namun bakmi Jawa memang origin khas Yogyakarta.

Bakmi Jawa

Pada awalnya yang dikenal sebagai bakmi Jawa adalah bakmi kuning yang diolah mengunakan bumbu-bumbu khas masakan Jawa dengan cara direbus. Orang Yogya menyebutnya bakmi godog. Biasanya orang menikmatinya dengan menyruput wedang ronde.

Namun, aslinya, bakmi Jawa mempunyai varian lain dari bakmi godog. Pilihan lainnya tentu saja ada bakmi goreng. Dalam perkembangannya, ada pedagang bakmi Jawa yang juga menyediakan bihun rebus dan bihun goreng, nasi goreng, dan, nah ini yang khas, ada pula menu yang disebut Magelangan.

Adakah hubungannya dengan kota Magelang di Jawa Tengah? Tidak salah. Di Muntilan dan Magelang, yang hanya berjarak 30 dan 42 kilometer dari Yogyakarta, jarang sekali ada yang mengenal sebutan nasi goreng Magelangan. Sebabnya, orang Muntilan atau Magelang kalau membuat nasi goreng, mereka secara otomatis menambahkan bakmi ke dalam racikan nasi gorengnya. Gaya ini yang kemudian “diadopsi” para penjual bakmi Jawa di Yogya, juga kota-kota lain.

Satu lagi cara mengolah bakmi Jawa yang khas, yakni bakmi nyemek. Dari namanya, bisa ditebak kalau bakmi jenis ini berada di antara bakmi godog dan bakmi goreng. Bakmi nyemek cenderung lebih ke bakmi godog yang kuahnya nyaris dihabiskan, sehingga meninggalkan bakmi seperti hasil digoreng namun masih cukup basah. Jenis ini biasanya tidak terlalu manis seperti jenis bakmi goreng.

Ciri khas bakmi Jawa atau bakmi Yogya adalah cara memasaknya dengan tungku tanah liat atau anglo dan menggunakan bahan bakar arang. Pada masanya, pedagang bakmi Jawa membuat pesanan bakminya dengan memasaknya satu per satu setiap porsi. Sesuai pesanan. Mereka banyak yang menolak memasak banyak pesanan dalam satu wadah wajan.

Alasannya, tentu saja soal rasa. Memasak satu per satu dianggap membuat hasil masakannya maksimal, dari kematangan dan pencampuran bumbunya. Namun, efeknya memang luar biasa. Di sejumlah tempat yang masih menggunakan cara ini, pembeli bisa antre berjam-jam. Kadang bisa ditinggal pergi untuk keperluan lain terlebih dahulu. Tapi itulah Yogya. Sungguh luar biasa cara menikmati makanan mereka.

bakmi Jawa Sedang dimasak

Kondimen bakmi Jawa sesungguhnya tidak terlalu rumit. Irisan kol, tomat, telur ayam atau bebek, irisan daun bawang, dan suwiran daging ayam. Ayam yang digunakan dalam masakan bakmi Jawa tidak digoreng terlebih dahulu. Biasanya ayam-ayam ini direbus dengan sejumlah bumbu dasar untuk diperoleh air kaldunya. Yang unik, apapun pesanan bakmi kita, selalu saja bakmi akan disiram dengan air kaldu ayam tersebut.

Kekhasan lain dari bakmi Jawa adalah, sejumlah bagian dari ayam-ayam yang dimasak untuk membuat kaldu tersebut, dipisahkan untuk pesanan khusus. Misalnya saja, cakarnya, leher dan kepala, ati-ampela, juga brutunya. Bagian-bagian ini memang memiliki penggemar tersendiri.

Di sejumlah pedagang bakmi Jawa, kini kadang juga menambahkan kondimen berupa gorengan tepung, seperti bakwan namun tanpa varian campuran seperti daun-daunan atau wortel dan kecambah, yang dipotong-potong. Ini mengingatkan orang pada kekian di masakan Tionghoa.

Bakmi Jawa atau bakmi Yogya umumnya para pedagang atau juru masaknya berasal dari Desa Piyaman di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Para penjual bakmi Jawa yang berasal dari desa tersebut kini berdagang menyebar di berbagai kota di Jawa.

Di Yogyakarta sendiri, penjual bakmi Jawa biasanya mulai keluar untuk berdagang pada waktu senja dengan meletakkan gerobak di tempat mereka biasa berdagang. Hampir tak ada kedai atau warung bakmi Jawa di Yogya yang memiliki tempat jual sendiri.

Lalu, bakmi Jawa Mana di Yogya yang paling enak? Soal rasa kembali ke selera, tapi jika ingin mencicipi yang sudah dikenal banyak orang berikut pilihannya:

Bakmi Jawa Mbah Hadi, SPBU Terban, Jalan C Simanjuntak. Letaknya ada di belakang SPBU.

Bakmi Jawa Pak Pele, Alun-alun Utara, Pojok Timur Keraton Yogyakarta. Atau cabangnya: di Desa Sembungan Bangunjiwo Bantul (sebelah barat pabrik gula Madukismo) dan di Jalan Godean (Pertigaan Bantulan). 

Bakmie Lethek Mbah Mendes, Imogiri dan Maguwo.

Bakmi Jawa Mbah Rebo, Jalan Brigjen Katamso Nomor 167.

Bakmi Kadin, Jalan Bintaran Kulon Nomor 3

Bakmi Harjo Geno, Pasar Prawirotaman, Kidul Pojok Beteng Wetan

Manapun pilihanmu, jangan lupa agendakan makan bakmi Jawa saat ke Yogya.

agendaIndonesia

*****

Kuliner Pinggiran, Ini 5 Yang Sedap

Kuliner pinggiran tidak saja tempatnya yang menyempil, namun juga cita rasa yang sedap.

Kuliner pinggiran jangan pernah diremehkan, tak sedikit yang justru lezat dan bikin kangen. Adalah hal hal yang wajar kalau wisata kuliner menjadi primadona dan daya tarik wisata. Hampir sebagian besar wisatawan yang liburan ke suatu daerah pasti menyempatkan waktu untuk berburu makanan khas nan legendaris di tempat itu.

Kuliner Pinggiran

Banyak wisatawan rela blusukan mencari tempat-tempat makan  yang menyediakan kuliner tradisional yang khas. Meski lokasinya terpencil dan sulit dijangkau, kelezatan hidangan di setiap makanan tradisional di berbagai daerah ini tidak bisa dianggap remeh. Ibarat menemukan sebuah “harta karun”, para wisatawan akan dibuat kagum dengan cita rasa yang autentik dari setiap kedai.

Lokasi tempat makan kuliner pinggiran tidak melulu berada di pinggir sawah, di pojok desa atau di dalam gang sempit saja. Para wisatawan bisa menemukan berbagai tempat makan yang menyediakan makanan tradisional di dalam pasar, tengah sawah, atau gang di dusun.

Berikut lima kuliner pinggiran yang bisa jadi pilihan ketika liburan.

Ayam Betutu Pak Sanur 

Kuliner pinggiran di Bali bisa dicoba ke Ayam Betutu Pak Sanur di Ubud

Berlokasi di Ubud, Bali, Ayam Betutu Pak Sanur turut menjadi tempat makan kuliner pinggiran yang wajib dikunjungi. Tempat makan legendaris yang berada di dalam Gang Arjuna ini sudah terkenal dengan olahan ayam betutu kaya rempah dan menggugah selera. 

Selain lezat, ayam betutu legendaris ini juga terkenal dengan daging ayam yang sangat empuk. Saking empuknya, setiap irisan daging bisa lepas dari tulang dengan mudah. Meski lokasinya ngumpet, Ayam Betutu Pak Sanur tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan, olahan ayam betutu khas Pak Sanur kerap ludes dalam waktu singkat. Wisatawan harus datang lebih awal agar tidak kehabisan

Ayam Betutu Pak Sanur; Jl. Arjuna Nomor 19, Ubud, Bali

Es Dawet Telasih Bu Dermi 

Es Dawet Bu Dermi Tokped

Tak melulu makanan tradisional, Solo memiliki minuman tradisional yang menarik dicicipi dan lokasinya cukup tersembunyi. Bukan di tengah sawah maupun di dalam gang, kuliner legendaris yang sudah ada sejak 1930-an ini berada di tengah Pasar Gede Solo.

Es Dawet Telasih Bu Dermi merupakan salah satu kuliner pinggiran di kota Solo yang selalu dipenuhi pengunjung dengan rasa penasaran tinggi untuk mencicipi kesegaran es dawet di tengah pasar ini. Seporsi es dawet berisikan cendol, bubur sumsum, ketan hitam, tape, dan biji selasih yang disiram dengan kuah santan. Saat diaduk, kita akan merasakan rasa gurih, manis, dan segar dalam setiap suapan. 

Es Dawet Bu Dermi, Pasar Gede, Solo

Pawon Mbah Gito 

Kuliner pinggiran yang berada di kota Yogyakarta, adalah Pawon Mbah Gito. Tepatnya berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Pawon Mbah Gito menawarkan pengalaman makan makanan tradisional di tengah sawah yang sangat asri.

Pawon Mbah Gito menghadirkan suasana jadul ala pedesaan dengan konsep bangunan berbentuk rumah tradisional. Karena mengusung konsep prasmanan, kita bisa mengambil berbagai makanan tradisional sesuai selera. Minumannya juga komplet, mulai dari wedangan tradisional, serta berbagai olahan kopi maupun teh. 

Pawon Mbah Gito; Jl. Pasir Luhur, Area Sawah, Ngaglik Sleman

Mangut Lele Mbah Marto 

Mangut Lele Mbah Marto shutterstock
Lele tengah diasap di Warung Mangut Lele Mbah Marto. Foto: shutterstock

Ini kuliner pinggiran yang sudah kondang. Kalau bosan makan gudeg di Yogyakarta, wisatawan harus mencicipi hidangan Mangut Lele Mbah Marto yang berlokasi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bisa dibilang, tempat makan ini kuliner pinggiran, karena orang harus masuk ke tengah pemukiman warga. Walau sulit dijangkau, Mangut Lele Mbah Marto hampir tidak pernah sepi pengunjung.

Layaknya di rumah nenek, saat tiba di tempat para wisatawan akan langsung diarahkan masuk ke dalam pawon (dapur), dan mengambil makanan sesuai keinginan. Setelah itu, kita bisa langsung menyantap hidangan mangut lele dengan cita rasa yang autentik. 

Perpaduan aroma asap dari proses pengasapan lele meresap ke daging yang lembut dan gurih seakan langsung menyelimuti lidah. Belum lagi, kuah mangut berwarna oranye seakan membuat lidah tersetrum berkat rasa gurih pedas yang bikin ketagihan.

Mangut Lele Mbah Marto; Jl. Sewon Indah, Panggungharjo, Sewon, Bantul

Warung Tuman

Selanjutnya adalah Warung Tuman, yaitu tempat makan yang memberikan pengalaman sarapan dan makan siang yang unik. Pasalnya, tempat makan hidden gem yang berlokasi di Tangerang Selatan ini mengangkat konsep berbaur dengan alam. 

Warung Tuman mengajak seluruh pengunjung blusukan ke perkampungan, melewati jalan setapak dan pepohonan bambu, hingga melintasi tempat pemakaman umum terlebih dahulu. 

Meski terasa merepotkan, namun kita akan langsung dibuat kagum setibanya di Warung Tuman. Pecinta kuliner akan merasakan suasana asri khas pedesaan yang menenangkan. Dijamin bikin perut kenyang dan betah berlama-lama di sini.

Warung Tuman; Jl. Ciater Tengah, Serpong, Tangerang Selatan

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Kereta Api Indonesia dan 50 Railfans

Kereta Api Indonesia atau KAI ternyata punya penggemar atau railfans.

Kereta Api Indonesia ternyata memiliki penggemar fanatik. Setiap orang pasti memiliki sesuatu yang disukai, terutama jika hal tersebut sudah menjadi suatu hobi. Hobi dengan bidang transportasi tentunya hal yang biasa di dengar misalnya mobil dan motor. Hal tidak biasa yang muncul adalah hobi dengan alat transportasi umum seperti bis, pesawat, kapal laut bahkan kereta api . yang dikelola Kereta Api Indonesia

Kereta Api Indonesia

Di kereta api para penggemarnya biasa disebut dengan railfans atau komunitas pecinta kereta api. Masyarakat yang tempat tinggalnya terkoneksi dengan jalur kereta api tentunya tidak asing dengan orang-orang yang tiba-tiba muncul membawa sejumlah kamera dan alat perekam digital. Ini terutama di daerah yang memiliki spot menarik bagi seorang railfans untuk mengabadikan kereta api yang lewat.

Mereka umumnya tahu bahwa jalur kereta api bukan tempat untuk bermain. Sehingga hal yang di utamakan adalah keselamatan yang harus selalu di patuhi saat hunting foto-foto atau video kereta api. 

Kereta Api Indonesia memiliki penggemar yang disebut sebagai railfans.
Salah satu rangkaian kereta api Indonesia yang sedang melakukan perjalanan. Foto: Dok. PT KAI

Railfans tidak hanya senang fotografi atau videografi saja, namun kehadiran mereka juga membantu PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam melayani para pelanggan. Seperti pada masa angkutan Lebaran tahun 2022 lalu, para railfans dari berbagai daerah secara sukarela terlibat dalam memberikan pelayanan yang prima kepada para pelanggan perjalanan kereta di stasiun-stasiun.

Mereka kebanyakan berasal dari pelajar yang merelakan waktu liburan sekolah untuk menjadi relawan dengan membantu pelanggan atau masyarakat yang hendak menggunakan kereta api. Terkadang untuk membantu masyarakat yang sekadar bertanya terkait jadwal perjalanan kereta api di stasiun.

Jumlah railfans ini tak cukup besar. Di wilayah operasional KAI Jawa dan Sumatera saja terdapat setidaknya 50 komunitas railfans binaan KAI yang sering berkolaborasi dengan manajemen KAI melakukan kegiatan sosialisasi dan berkontribusi dengan cara mereka sendiri untuk kemajuan perkeretaapian Indonesia.

Dari 50 komunitas railfans tersebut 23 di antaranya membantu KAI dalam posko angkutan Lebaran tahun 2022 ini, yakni Jejak Railfans, Train Photograph Railfans Indonesia, Edan Sepur Wilayah Jakarta, Bandung, serta Cirebon, GM-MarKA, RD One, National Railfans, Sedulur Sepur, Forum Railfans Area 1, Victory Railfans.

Kemudian ada Sahabat Kereta Api Daop 2 bandung dan Daop 8 surabaya, Railfans Cianjur, KRDE Daop 4 semarang dan Daop 9 jember, Spoorlimo, Railfans Jombang +43, Railfans Enam Delapan Kediri, Pecel +64 Madiun, Si Puong, RF+444 Malang, dan terakhir Osing Train Community.

Masing-masing Railfans ini memiliki anggota yang bervariasi jumlahnya, yakni di kisaran 20 hingga 400 orang dan rata-rata masih berstatus pelajar.  Selama posko, terdapat sejumlah kegiatan yang dikerjakan oleh para anggota railfans tersebut secara sukarela. Di antaranya, mengantarkan pelanggan agar tak salah nomor kursi dan masuk kereta.

Kereta Api Indonesia terbantu dengan adanya railfans, terutama di saat peak season.
Railfans KAI membantu melayani secara sukarela masyarakat yang membutuhkan informasi kereta api. Foto: Dok. PT KAI

Selain itu mereka juga membantu melakukan pengawasan protokol kesehatan, membantu memberikan informasi aturan perjalanan kereta, membawakan tas milik pelanggan, membantu pelanggan yang kebingungan saat melakukan boarding atau check in, dan memberitahukan informasi jadwal keberangkatan maupun kedatangan kereta. Mereka juga tidak segan untuk membantu lansia dan pelanggan yang memiliki kebutuhan khusus.

Vice President Public Relations PT KAI Joni Martinus mengaku senang dan bangga bisa berkolaborasi dengan railfans yang selalu mendukung KAI dalam segala hal. KAI memberikan apresiasi yang tinggi kepada komunitas pecinta KA atau railfans atas kontribusi pada angkutan Lebaran tahun 2022.

“Di balik kelancaran angkutan Lebaran ini tentunya ada peranan railfans yang membantu. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman railfans karena telah bahu membahu menyukseskan angkutan Lebaran tahun 2022 dengan memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dan mewujudkan perjalanan kereta api yang aman, nyaman, sehat, dan selamat,” ucap Joni.

Kehadiran railfans di stasiun, selain membantu pelayanan juga memberikan semangat kepada para pekerja KAI lainnya dalam melaksanakan tugas selama posko. 

Keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan di KAI tidak terbatas hanya pada posko angkutan Lebaran saja, namun juga pada posko Nataru (Natal dan Tahun Baru), kerja bakti membersihkan stasiun, serta melakukan edukasi dan sosialisasi keselamatan di perlintasan sebidang.  Kegiatan ini pun di pandang positif oleh masyarakat bahkan oleh dinas terkait.

Joni mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh beberapa railfans khususnya dalam mengedukasi keselamatan perjalanan kereta api kepada masyarakat. Bahkan, beberapa aksi tersebut adalah inisiatif railfans itu sendiri. Hal ini merupakan bentuk kecintaan pada perkeretaapian secara nyata.

Bagi KAI, peran railfans sangat strategis dalam upaya mendukung kemajuan perkeretaapian, dimana masing-masing dari mereka mempunyai tujuan yang sama guna memajukan perkeretaapian di Indonesia.

“Railfans memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan perkeretaapian yang terus dilakukan oleh KAI. Dari kegiatan-kegiatan positif tersebut diharapkan mampu menambah kualitas pelayanan dan memberikan citra positif untuk KAI maupun bagi railfans itu sendiri,” tutup Joni.

agendaIndonesia

*****

Menyusur Pesisir Selatan Bali Dalam 2 hari

Menyusur Pesisir Selatan Bali Batu Belig

Menyusur pesisir Selatan Bali, mengikuti garis pantai yang terentang dari Badung sampai Tabanan. Sekali lagi Bali, tak ada habis-habisnya menikmati pulau Dewata ini.

Menyusur Pesisir Selatan Bali

Kuta dan Mengwi—berlokasi di Kabupaten Badung, dan Kediri di Kabupaten Tabanan— Bali, disatukan oleh garis pantai yang merentang panjang. Kedekatan secara geografis ini membuat tipikal pantai-pantai di wilayah ini memiliki kemiripan, seperti konturnya yang landai dan ruang “bermain pasir” yang cukup luas. Cukup dengan berkendara dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai kira-kira 30 menit. Bila ingin menyisir pantai, lebih baik kala pagi, sebelum matahari tampil terlalu terik.

HARI PERTAMA: Petitenget, Batu Belig, Berawa.

Pantai Petitenget

Di pantai ini, orang bisa menikmati pagi dengan menyaksikan orang bersembahyang di Pura Petitenget, pura besar yang terletak di muka gerbang pantai. Atau joging, berkuda,dan mengajak anjingnya jalan-jalan santai dari ujung ke ujung. Lokasinya di Desa Seminyak, Kuta Utara, Badung, Bali. Hanya 15 menit bila berkendara dari Jalan Raya Seminyak. Di kawasan pantai, berkumpul hotel dengan varian harga dan kelas yang berbeda, mulai melati hingga bintang lima.

Pantai Batu Belig

Lokasinya di Jalan Batu Belig, Seminyak, Kuta Utara. Dari Pantai Petitenget, bisa dicapai dalam 18 menit. Pasirnya luas membentang. Sayangnya, kontur pantai ini tak selandai Pantai Petitenget. Pasirnya juga lebih hitam. Itulah yang membikin wisatawan jarang datang. Lantaran sepi, orang bisa leluasa berjemur, juga menikmati suara debur ombak, tanpa takut terusik pengunjung lain. Banyak lazy chair dan bean bag yang disewakan penduduk lokal. Umumnya yang menyewa adalah turis asing.

Pantai Berawa (Finns Beach)

Berada di area Finns Beach Club, Canggu, Kuta Utara, pantai ini ditempuh dengan waktu 20 menit dari Batu Belig itu. Di sini anak-anak muda yang doyan party di klub berdatangan. Pantai Barawa memang berada di area eksklusif. Namun orang tak harus masuk ke klub bila tak ingin membayar mahal. Ada jalan setapak masuk menuju pantai yang terbuka untuk umum. Namun pantainya tak lapang. Jadi tidak memungkinkan untuk berlama-lama berjemur atau bermain pasir di sini.

Umumnya, turis datang untuk berselancar. Tersedia paket bimbingan berselancar bagi pemula. Per paket dibanderol Rp 350 ribu per 2 jam untuk membayar instruktur. Untuk sewa papan selancar berkisar Rp 50 ribu per jam.

Warung Mina

Matahari mulai bergerak ke barat. Petang lalu mendarat. Saatnya mengisi perut. Melipir ke arah timur, menuju pusat Kota Denpasar, tepatnya di Jalan Tukad Gangga Nomor 1, Renon, Panjer, Denpasar Selatan, terdapat sebuah restoran keluarga dengan menu laut khas Bali. Menu favorit pengunjung adalah gurami dengan beragam bumbu (seperti asam pedas, menyatnyat, santan kemangi, serta bumbu kuning), sate lilit, dan plecing kangkung. Plus sambal matah khas Pulau Dewata. Karena datang beramai-ramai, diputuskan untuk memilih menu paket dengan harga yang lebih ekonomis, yakni hanya Rp 252 ribu untuk empat orang.

HARI KE DUA: Batu Bolong, Echo Beach, Pantai Seseh, dan Tanah Lot

Lak-lak Bali Rama

Memulai hari di Bali tak melulu harus dengan  bubur kuning atau nasi jinggo. Ada juga  lak-lak—jajanan khas Singaraja. Bentuknya serupa dengan serabi, hanya berukuran lebih kecil. Di atasnya dibubuhi parutan kelapa dan gula merah cair. Saat menyusuri Krobokan, tepatnya di Jalan Raya Canggu, saya menemukan warung kecil yang menjual penganan ini. Wangi daun suji langsung merebak. Dua-tiga biji langsung habis dilahap. Enaknya dilahap hangat-hangat. Tentu dinikmati bersama dengan kopi Bali. Sepiring berisi lima lak-lak dibanderol Rp 5.000. Ada penganan lain di sini, seperti olen-olen (kue yang berbahan dasar ketan hitam) dan pisang rai (pisang yang diolah bersama dengan tepung beras).

Menyusur Pesisir Selatan Bali Batu Bolong

Pantai Batu Bolong

Setelah mengisi perut, saatnya bergerak ke utara. Lebih-kurang 10 menit atau sekitar 3 kilometer dari Jalan Raya Krobokan, ada pantai yang menjadi favorit turis. Pantai Batu Bolong yang berkarang. Bahkan, di beberapa titik, terdapat karang-karang besar yang memberikan efek estetis.

Pasirnya halus, meski tak terlampau putih. Ruang bermain, juga berjemur, cukup luas. Orang bisa bersantai menikmati lanskap. Dapat juga berenang di pinggir pantai, berselancar, atau berwisata religi. Selain terkenal sebagai pantainya para surfer, Batu Bolong memang kesohor lantaran terdapat pura besar di sana. Jadi mereka bisa melihat orang-orang Hindu bersembahyang atau menggelar upacara.

Echo Beach

Cukup berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer dari Pantai Batu Bolong, jajaran kafe dan restoran di sebuah gang berderet rapi. Muaranya adalah Echo Beach. Makin mendekat ke pantai itu, tempat-tempat nongkrong semakin banyak. Berupa pantai berkarang dengan air yang tak terlalu jernih dan pasir yang sudah berubah kecokelatan. Tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain duduk-duduk menikmati suara ombak atau angin sepoi-sepoi sembari menyeruput segelas koktail.

Pantai Seseh

Lepas menikmati siang di Echo Beach, yang juga menjadi penanda ujungnya pantai di Badung, saatnya beranjak menuju Mengwi. Sekitar 20 menit berkendara menuju utara, melewati persawahan dan kebun-kebun pohon kelapa, sebuah pantai dengan dominasi abu-abu menyapa. Entah, siang itu memang rona Seseh menunjukkan atmosfer yang kalem. Berbeda jauh dengan pantai-pantai sebelumnya, yang penuh ingar-bingar kafe, bean bag, lazy chair, dan warna-warni papan selancar. Rupanya, pantai ini  kental dengan upacara adat. Pasca-hari raya Galungan, Kuningan, dan sebagainya, pantai ramai dikunjungi warga lokal.

Tanah Lot

Selain Kuta, primadonanya Pulau Dewata adalah Tanah Lot. Pantai yang bisa dijangkau 18 menit dari Pantai Seseh atau 1 jam dari Bandara Internasional Ngurah Rai, ini memiliki pesona yang komplet, memadukan keindahan lanskap, budaya, mitos, religi, dan sejarah yang kental. Di pintu masuk, tamu disuguhi pemandangan gapura khas arsitektur Bali yang megah menghadap ke pantai. Di samping kiri, di sebuah pendopo, sekelompok pemusik gamelan memainkan alatnya masing-masing.

Di ujung, terlihat pura besar dikelilingi air laut yang biru. Orang hanya bisa ke sana kalau gelombangnya surut. Sementara itu, di sisi lain, terdapat sebuah karang besar dengan lubang di bagian tengahnya. Apalagi kala senja, saat langit memerah, Tanah Lot seperti terbingkai dalam lukisan.

Pie Susu Dhian

Ke Bali tak lengkap kalau tak membeli pie susu. Oleh-oleh khas Pulau Seribu Pura yang punya cita rasa manis campur gurih itu memang bisa ditemukan di berbagai toko oleh-oleh. Namun, kalau ingin memborong, sebaiknya langsung datang ke sentranya, yakni di Jalan Nangka Selatan, Dangin Puri Kaja, Denpasar. Sekitar 55 menit bila berkendara dari Tanah Lot. Pie susu berisi 25 buah dibanderol dengan harga Rp 35 ribu, sedangkan paket yang berisi 50 buah dihargai Rp 70 ribu.

agendaIndonesia

*****

Ini 8 Kuliner Tradisional Khas Malang (2)

Toko Oen Malang satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang. Foto shutterstock

Ini bagian ke dua 8 kuliner tradisional khas Malang yang bisa jadi rekomendasi bagi wisatawan yang hendak berlibur ke kota berjuluk Paris of East Java ini. Malang selama ini dikenal sebagai lokasi liburan keluarga dengan berbagai macam destinasi wisatanya, seperti Museum Angkut, Jatim Park, dan sebagainya. Namun, Malang juga memiliki sejumlah destinasi kuliner hits nan legendaris yang tak kalah menarik. Bahkan, beberapa di antaranya sudah berusia sekitar satu abad. Nah ini 8 kuliner tradisional khas Malang.

Kota Malang shutterstock
Salah satu landmark Kota Malang. Foto: shutterstock

Ini 8 Kuliner Tradisional Khas Malang

  • Toko Oen Malang

Malang tak hanya dikenal dengan destinasi kuliner main course saja, tapi beberapa kedai kudapannya juga menarik untuk dicoba. Seperti misalnya Toko Oen Malang, yang sudah berjualan penganan cemilan seperti es krim dan produk pastry seperti roti, kue basah dan kue kering sejak 1930.

Nuansa era pra kemerdekaan itu masih amat kental terasa dari gaya eksterior dan interior bangunannya, yang masih dipertahankan dan kini telah menjadi cagar budaya. Plang tulisan berbahasa Belanda dan barisan pramuniaga berseragam pelayan ala Eropa tempo dulu akan menyambut pengunjung begitu memasuki kedai ini. Ini satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang.

Faktanya, Toko Oen merupakan sebuah rantai usaha kedai makanan ringan yang pertama kali buka di Yogyakarta pada 1910, sebelum kemudian membuka cabang-cabang lainnya seperti di Semarang, Malang dan Jakarta. Pada perkembangannya, kedai di Yogyakarta dan Jakarta akhirnya tutup dan menyisakan cabang di Semarang dan Malang saja.

Bahkan, Toko Oen Malang secara kepemilikan sudah tak lagi dipegang oleh keluarga pemilik usaha aslinya, karena mereka kini hanya fokus mengelola cabang Semarang. Namun tak perlu khawatir, karena pengelola yang baru memastikan bahwa otentisitas dan kualitas menu-menu yang ditawarkan di kedai ini tetap dipertahankan.

Berada di area pusat kota, tepatnya jalan Jenderal Basuki Rahmat nomor 5 yang berdekatan dengan Alun-Alun Kota Malang, Gereja Kayutangan dan pusat perbelanjaan Sarinah, menjadikannya lokasi yang strategis bagi siapapun untuk berkunjung dan klangenan, melepas penat sambil menyantap ragam kudapan ringan yang ditawarkan.

Es krim buatan homemade menjadi salah satu menu primadona. Pengunjung bisa memilih es krim single scoop dengan pilihan rasa seperti coklat, vanilla, mocca, strawberry, sampai durian. Selain itu, tersedia juga varian kombinasi dan sundae seperti tutti frutti, napolitaine, banana split, tropicana cream, chocolate parfait, dan sebagainya.

Menu makanan ringan dan salad mereka juga banyak diminati pengunjung. Mayoritas merupakan makanan yang bergaya Belanda karena kedai ini dulunya digemari orang-orang Belanda. Contohnya pilihan pastry seperti saucijzenbrood, kippenbrood dan garnalebrood yang sejatinya adalah roti puff dengan isian daging giling sapi, ayam dan udang.

Ada pula pilihan salad seperti huzarensalade, italiaansesalade, dan groentensalade, yakni salad daging, salad ayam dan salad sayur serta buah-buahan. Belakangan, mereka juga menawarkan beberapa menu main course seperti steak, burger, galantin, dan sandwich yang terbilang cukup digemari.

Yang menjadi catatan, karena memang sejak dulu didesain untuk menjadi kedai kudapan kelas atas, harga makanannya juga tak bisa dibilang murah. Seperti es krim yang punya range harga dari Rp 25 ribu hingga 60 ribu, atau salad yang berkisar dari Rp 35 ribu sampai 50 ribu. Makanan main course seperti steak juga dihargai mulai dari Rp 75 ribu sampai 80 ribu.

Tetapi, pengunjung datang ke sini bukan hanya membeli cita rasa makanannya, tetapi juga membeli pengalaman selayaknya kembali ke era kolonial; melihat dan merasakan bagaimana suasana nongkrong di masa itu, sambil menyicipi menu-menu otentik yang menjadi kegemaran kaum Belanda tempo dulu.

  • Orem Orem Arema

Nama makanan yang satu ini mungkin belum begitu familiar bagi sebagian besar orang, tapi tetap menjadi salah satu yang direkomendasikan bagi para pemburu 8 kuliner tradisional khas Malang. Dan kedai penjual orem orem paling hits di Malang adalah Orem Orem Arema, yang berada di jalan Blitar nomor 14.

Orem orem sejatinya merupakan jenis makanan berkuah yang berisikan potongan tempe, ketupat, ayam suwir, telur asin, taoge dan ditaburi bawang goreng. Adapun kuahnya terbuat dari rempah-rempah seperti jahe, kencur, kunyit, daun salam, lengkuas, daun jeruk, ketumbar, dan kemiri yang diolah dengan menggunakan santan.

Orem-orem Malang satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang
Orem-orem Malang. Foto: shutterstock

Kemunculan makanan ini disinyalir berawal dari kehidupan masyarakat di masa pra kemerdekaan. Saat itu, untuk sekedar bisa membuat dan makan soto ayam atau daging saja terasa sulit, karena kelangkaan dan harga daging ayam dan sapi yang oleh sebagian besar kalangan saat itu dianggap mahal.

Oleh karena itu, beberapa orang kemudian berkreasi membuat makanan sejenis soto dengan menggunakan isian potongan tempe, yang dianggap lebih terjangkau. Dari situ, orem orem kemudian hadir sebagai alternatif soto pada umumnya. Bahkan, tak jarang ia khusus disajikan dalam hajatan tertentu saja.

Meski demikian, pada perkembangannya kebanyakan orem orem yang bisa ditemukan saat ini sudah dilengkapi dengan beberapa tambahan isian di dalamnya. Seperti halnya di Orem Orem Arema, dimana pengunjung dapat memilih orem orem original atau dengan tambahan telur dan ayam suwir.

Dan sejak mereka mulai berjualan pada 1995, mereka terus menjadi salah satu rekanan utama kedai orem orem di Malang. Cita rasa gurih dan segarnya orem orem yang otentik menjadi daya tarik utama. Apalagi, dengan harganya yang hanya dibandrol Rp 8 ribu untuk orem orem original, serta Rp 11 ribu dengan tambahan telur asin dan Rp 12 ribu dengan tambahan ayam suwir, membuatnya sangat ramah kantong.

  • Tahu Lontong Lonceng

Satu lagi rekomendasi 8 kuliner tradisional khas Malang legendaris adalah Tahu Lontong Lonceng. Berlokasi di jalan R.E. Martadinata nomor 66, kedai tahu lontong yang sudah berjualan sejak 1935 ini dulunya berada di bawah sebuah tugu lonceng milik Belanda, sehingga pelanggannya kemudian kerap memanggilnya sebagai Tahu Lontong Lonceng.

Secara tampilannya, kedai ini cenderung terlihat kecil dan sederhana. Pun demikian dengan menunya, yang secara umum menawarkan tiga jenis makanan: tahu telur dengan lontong, tahu telur dengan nasi, serta tahu lontong tanpa telur. Harganya pun terbilang terjangkau, hanya Rp 11 ribu untuk tahu lontong tanpa telur, dan Rp 13 ribu untuk tahu telur dengan lontong maupun nasi.

Tahe Tek shutterstock
Tahu Tek yang mirip Tahu Lontong. Foto: shutterstock

Dilihat dari penampilannya pun, ia terlihat seperti kuliner olahan tahu dan lontong pada umumnya. Dalam satu porsinya, terdapat irisan tahu dan taoge, dengan atau tanpa telur, yang dilumuri bumbu kacang dan disajikan dengan lontong atau nasi, serta dapat disantap dengan beberapa pilihan kerupuk.

Namun, satu hal yang membuatnya unik adalah hampir semua bahan bakunya dibuat sendiri alias homemade. Hal ini dilakukan agar dapat senantiasa menjaga tahu lontong buatannya selalu dengan cita rasanya yang otentik. Seperti tahunya yang dikenal terasa lembut, serta bumbu kacangnya yang berpadu gurih.

Otentisitas rasa, ditambah dengan harga yang ekonomis, membuatnya masih banyak digemari orang dari berbagai kalangan, dari warga sampai wisatawan, baik orang kantoran sampai anak kuliahan. Tak heran, jika kedai kecil yang buka dari jam 11.00 hingga jam 22.00 ini masih kerap dipenuhi pengunjung setiap jam makan siang dan malam.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Sate Buntel Solo, 2 Tusuk Serasa 10 Tusuk

Sate Buntel Solo SHUTTERSTOCK

Sate buntel Solo adalah keunikan kuliner kota Solo yang sering menjadi target untuk dinikmati lagi dan lagi. Banyak orang yang belum pernah mencicipinya beranggapan sate ini sama saja dengan sate, terutama yang berbahan daging kambing, lainnya.

Sate Buntel Solo

Sate buntel Solo punya perbedaan yang signifikan dengan sate-sate lainnya. Sate ini umumnya menggunakan daging kambing, meskipun belakangan ada pula yang mencoba menggunakan daging sapi. Perbedaan sate kambing biasa dan sate buntel terletak pada pengolahan daging kambingnya.

Pada sate kambing reguler, sebut saja begitu untuk membedakannya, menggunakan daging yang dipotong kecil-kecil lalu setiap 3-5 potong ditusuk dengan potongan bambu atau kayu. Sementara itu, sate buntel ini menggunakan daging yang dicincang lembut.

Dalam proses pembuatannya, daging kambing dicincang sampai lembut lalu dicampur dengan bumbu-bumbu khusus. Karena bumbu dicampurkan pada daging cincang yang lembut, rasa bumbu terserap dengan sempurna. Tapi itu belum semua.

Setelah bumbu dan daging tercampur penuh, kemudian ‘adonan’ itu dibentuk kepalan pada tusuk sate yang terbuat dari bambu. Tusuk sate ini lebih besar dari tusuk sate pada umumnya, agar kepalan daging tersebut bisa menempel pada tusuk satenya. Setelah berbentuk kepalan, daging kambing itu dibungkus atau dibentel dengan lapisan lemak daging, lalu di bakar hingga matang. Jadi bisa dibayangkan bagaimana bumbunya betul-betul meresap ke dalam daging.

‘Buntel’ dalam bahasa Jawa berarti ‘bungkus’ atau ‘balut’. Hal tersebut mengacu pada daging kambing cincang yang di-buntel  menggunakan lemak daging kambing tipis sebelum dibakar.

Sate buntel biasanya disajikan dengan saus kecap manis dan beberapa bahan pelengkap seperti irisan tomat, cabe, bawang merah dan kubis atau kol. Untuk menambah rasa pada saus kecap biasanya ditambahkan merica bubuk, sehingga menambah kelezatan pada saus kecap ini.

Cara menikmati sate buntel ini juga unik. Meskipun saat dibakar ia menggunakan tusukan dari bambu, namun umumnya saat disajikan tusukan satenya dicabut dan hanya bungkusan dagingnya yang sampai di meja. Secara original, makan sate buntel biasanya dilakukan termasuk dengan lemak dagingnya. Namun, kadang ada yang menikmatinya dengan membuka bungkusan lemaknya. Mungkin untuk mengurangi efek lemaknya… ahh.

Begitupun, mana cara yang dipilih, sate buntel harus disantap ketika masih panas, karena pada saat keadaan masih panas, lemak yang membungkus daging masih meleleh. Sehingga memberikan sensasi yang khas saat menyantapnya. Teman makannya biasanya nasi putih, meskipun kadang ada yang menyandingnya dengan nasi goreng. Terserah saja.

Lalu mana saja sate buntel yang paling enak di Solo? Rasanya semuanya sama enaknya. Namun, jika ingin lebih pasti, ada beberapa warung sate buntel yang cukup legendaris di kota ini.

Pertama, tentu saja Sate Buntel Tambak Segaran. Nama ini dulunya diambil dari jalan tempat kedainya berjualan. Letaknya strategis, ada di antara dua pasar berskala besar, yakni Pasar Gede Hardjonagoro (di sebelah timur-selatannya) dan Pasar Legi (di sebelah barat-utaranya). Kini nama jalannya telah berubah menjadi jalan Sutan Syahrir. Kedainya buka di nomor 39.

Peringatan saja, bagi wisatawan muslim, hati-hati jika hendak menuju ke warung ini. Dalam satu deret ada dua warung sate buntel, pastikan masuk ke warung yang berjualan daging kambing. Sebab, warung lainnya yang hanya berselisih dua warung, menggunakan daging non-halal.

Buntelan daging kambingnya cukup besar. Satu porsi sate buntel biasanya berisi dua buntelan daging. Meski cuma dua, porsinya rasanya sama saja dengan 10 tusuk sate kambing reguler. Selain sate buntel, di warung ini penggemar kuliner bisa menikmati berbagai menu lain seperti sate kikil (kaki kambing) dan gulai kambing.

Pilihan ke dua adalah Warung Sate Kambing Mbok Galak, lokasinya ada di Jalan Ki Mangun Sarkoro nomor 112. Warung ini sudah berdiri sejak tahun 1980 dan digemari banyak pejabat pemerintahan Indonesia. Konon, sate buntel dari tempat ini digemari mantan Presiden Suharto dan sejumlah menterinya. Selain sate buntelnya, yang juga banyak dipesan adalah thengkleng-nya.

Jika masih masih penasaran, bisa mencoba Sate Warung Sate Kambing Pak Manto yang terletak di Jalan Honggowongso 36, Solo. Meskipun di sini sate buntelnya juga enak, namun yang lebih dikenal adalah thengkleng kambing bumbu rica-rica.

Sate Buntel Solo Pak Manto

Pilihan sate buntel lainnya adalah Sate Buntel Bu Hj. Bejo. Ini mulai terkenal ketika pak Jokowi menjadi Presiden Indonesia dan kegemaran kulinernya diungkap di media massa. Salah satunya adalah Sate Buntel Bu Hj. Bejo. Berlokasi di Jalan Sungai Sebakung, Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Solo. Selain bisa memesan sate buntel khas Solo di sini, ada pula ragam olahan kambing lainnya seperti tengkleng, sate kambing reguler, juga tongseng.

Ayo kapan-kapan agendakan kuliner kambingmu ke Solo dan menjajal sate buntel langsung di asalnya.

agendaIndonesia

*****

Pia Apple Pie Bogor, Manisnya Sejak 1999

Pie Apple pie Bogor pilihan oleh-oleh yang manis berbahan apel.

Pia Apple Pie sudah jadi nama yang begitu lekat dengan kota Bogor, Jawa Barat. Acap kali siapapun sedang mampir ke kota hujan ini, tempat ini seperti menjadi salah satu pilihan membeli oleh-oleh atau bahkan untuk sekedar nongkrong.

Pia Apple Pie Bogor

Seperti namanya, tempat ini memang menawarkan homemade apple pie sebagai dagangan utamanya. Tetapi pelancong juga dapat menemukan berbagai jenis pie dengan beragam isian serta ukuran dan bentuknya di sini.

Telah memulai usahanya sejak 1999, Pia Apple Pie Bogor berawal dari kreasi resep rumah tangga dari para penggagasnya. Dari niat berkreasi tersebut, muncullah berbagai menu-menu cemilan yang kemudian mereka coba jajakan kepada khalayak luas.

Ternyata, sambutan publik Bogor cukup antusias, bahkan dari mulut ke mulut nama tempat ini mulai dikenal semakin banyak orang. Peminat yang kemudian datang pun tidak hanya dari dalam kota, namun juga pelancong luar kota yang berwisata ke Bogor dan mencari oleh-oleh.

Pie Appel Pie
Pia Apple Pie Bogor tak cuma pie apel, ada pelbagai pilihan lain.

Sejak saat itu, Pia Apple Pie menjadi ikon tersendiri dalam khasanah kuliner dan oleh-oleh khas Bogor. Dalam hari biasa saja, mereka rata-rata mampu menjual sekitar 200 loyang pie dengan beragam pilihan rasanya. Pada hari libur nasional, angka ini bisa melonjak tiga kali lipat.

Populeritas yang diraih Pia Apple Pie Bogor memang tak lepas dari menu-menu kudapan yang begitu unik dan menarik kala kemunculannya. Terutama tentunya adalah ragam pilihan pie seperti apple pie atau chicken pie yang menggoda lidah.

Pie umumnya adalah makanan mirip kue kering yang dipanggang dan mempunyai kulit yang renyah seperti pastel. Biasanya diberi isian (filiing) yang manis seperti buah, selai, coklat atau daging seperti ayam dan ikan di dalamnya, atau di bagian atasnya (topping).

Di Pia Apple Pie, apple pie buatan mereka terlihat mirip seperti pastel yang kulitnya tipis, renyah dan gurih. Dipadukan dengan isian selai apel serta potongan buah apel yang memberi sensasi rasa manis dan asam, membuatnya jadi cemilan yang begitu unik.

Jika pelancong tak suka rasa apel, masih tersedia pilihan isian rasa lainnya. Mulai dari chocolate pie, bluberry pie, sampai blueberry cheese pie. Kesemuanya juga tersedia dalam beragam ukuran, dari small, medium hingga large. Bahkan terdapat pula pie dengan bentuk hati.

Kalau pengunjung sedang tak mencari yang manis-manis, ada juga pilihan menu utama lainnya yakni chicken pie. Secara wujud ia mirip dengan apple pie, namun isiannya adalah racikan bumbu ayam dan jamur. Di atasnya juga diberi keju panggang garing yang menambah cita rasa.

Seiring berjalan waktu, Pia Apple Pie Bogor memang terus berkreasi dan berinovasi agar dapat mempertahankan animo pelanggan. Beberapa menu baru pun bermunculan, misalnya biscuit pie yang punya pilihan rasa seperti apel, blueberry, blueberry cheese dan Nutella hazelnut.

Selain itu ada pula tarte tatin, yaitu resep kue panggang asal Prancis yang terdiri dari kulit kue renyah di bawahnya, dengan topping buah berlapis karamel di atasnya. Di tempat ini, tarte tatin tersedia dengan pilihan topping leci, peach dan fruit cocktail.

Ada juga pilihan pie berukuran mini untuk dikonsumsi secara personal. Pilihannya dari apple pie, chicken pie hingga cheese pie. Lalu pilihan lainnya adalah apple strudel, kue kering ala Austria yang didalamnya berisi potongan apel, kismis, serta paduan rum dan kayu manis.

Dan yang tak kalah menarik adalah picnic roll, yaitu kue puff yang di dalamnya diisi dengan paduan daging giling, telur dan lain lain. Tersedia pilihan ukuran reguler atau personal yang lebih kecil.

Pia apple pie Bogor menjadi pilihan oleh-oleh khas Bogor.
Kedai Pia Apple Pie Bogor di Jalan Pangrango 10, Bogor. Foto: Pemkab Bogor.

Yang perlu dicatat, semua penganan di sini dibuat tanpa bahan pengawet. Kendati demikian, Pia Apple Pie Bogor menjamin makanan buatan mereka bisa tahan sekitar dua hingga empat hari pada suhu ruangan, atau kira-kira sekitar dua minggu jika diletakkan di kulkas.

Untuk harga, pie ukuran besar harganya berkisar dari Rp 125 ribu sampai Rp 145 ribu. Kemudian pie ukuran medium dari Rp 69 ribu hingga Rp 77 ribu. Adapun pie ukuran kecil harganya sekitar Rp 35 ribu sampai Rp 47 ribu.

Sementara itu, pilihan kudapan lain seperti biscuit pie harganya berkisar dari Rp 52 ribu hingga Rp 72 ribu, tergantung pilihan rasa. Tarte tatin ukuran kecil dihargai Rp 44 ribu, sementara yang medium Rp 125 ribu.

Pie ukuran mini harganya Rp 10 ribu untuk semua pilihan rasa. Kemudian apple strudel dihargai Rp 74 ribu. Adapun picnic roll ukuran personal harganya Rp 68 ribu, sedangkan ukuran reguler Rp 120 ribu.

Selain tempat membeli oleh-oleh, Pia Apple Pie juga cocok untuk jadi tempat nongkrong dan bersantai dengan teman dan keluarga. Tersedia tempat duduk di dalam rumah tua bergaya kolonial, dan balai-balai kecil untuk berkumpul sambil menikmati kudapan fresh from the oven.

Bahkan kini Pia Apple Pie juga menawarkan menu-menu main course unik dengan olahan saus apel. Seperti misalnya apple fried rice, spaghetti apple sauce, iga bakar saus apel, apple salad dan lain lainnya. Harga makanannya pun cukup terjangkau, dari Rp 20 ribu hingga Rp 55 ribu.

Jangan lupa pula untuk mencoba bajigur dan bandrek apel di sini yang begitu unik dan melegenda. Konon, minuman ini dipilih oleh mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu konsumsi dalam acara resepsi pernikahan anaknya.

Pia Apple Pie buka setiap hari dari jam 08.00 sampai jam 20.00 pada weekdays dan jam 21.00 saat weekend. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0251) 8324169 atau kunjungi akun resmi Instagram @pia_applepie.

Pia Apple Pie; Jl. Pangrango no. 10, Bogor

Telp. (0251) 8324169

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Pulau Morotai Di Maluku Utara Dengan 33 Surganya

Wings Air rute Ternate-Morotai mulai terbang lagi

Pulau Morotai masih jarang diperbincangkan dalam peta pariwisata Indonesia. Sekitar lima tahun lalu, kawasan ini sempat disebut-sebut ketika pemerintah hendak mendorongnya sebagai salah satu sentra industri kelautan. Belakangan rencana ini seperti agak memudar.

Pulau Morotai

Morotai sendiri merupakan nama sebuah pulau di Kepulauan Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Pulau ini adalah salah satu pulau terluar di Indonesia.

Lucunya, meski berada di Kepulauan Halmahera, Morotai sendiri sejatinya adalah gugusan pulau-pulau kecil. Pulau ini merupakan yang terbesar dengan luas 2.400-an kilometer persegi.

Sebagai pulau yang terbesar, Morotai dikelilingi 32 pulau kecil. Sehingga totalnya gugusan ini ada 33 pulau. Dari jumlah tersebut, hanya tujuh pulau yang berpenghuni, sisanya kosong alias tidak berpenghuni. Tujuh pulau yang berpenghuni adalah Morotai, pulau Kolorai, pulau Ngele-ngele Kecil, pulau Ngele-ngele Besar, pulau Golo-golo, pulau Rao, dan pulau Saminyamau.

Nama Morotai berasal dari pemberian nama Kerajaan Moro di Filipina. Kerajaan Morotai sendiri merupakan daerah jajahan Moro pada abad 15-17. Kerajaan Moro menamakan jajahan mereka dengan dua nama, yaitu Morotia yang berarti Moro daratan, dan Morotai yang berarti Moro lautan. Tapi, jauh sebelum itu, Morotai berada di bawah Kesultanan Ternate.

Sebagai pulau yang berbatasan dengan Samudera Pasifik dan Filipina, Morotai pernah digunakan Jepang sebagai basis pertahanan mereka selama Perang Dunia II. Setelah itu, pulau ini diambil alih Sekutu dan digunakan sebagai landasan pesawat untuk menyerang wilayah Filipina dan Borneo Timur.

Karena itu, pulau ini banyak menyimpan sisa-sisa peningggalan Perang Dunia II. Ada gua persembunyian, landasan pesawat, juga kendaraan lapis baja yang masih utuh walaupun berkarat. Salah satu gua yang terkenal bernama Nakamura, yang jadi tempat persembunyian para tentara Jepang setelah Pulau Morotai diambil alih Sekutu. Nama tersebut diambil dari nama tentara Jepang, yang konon bersembunyi di sana selama 30 tahun.

Pada 2018, pemerintah memekarkan Morotai menjadi kabupaten. Pertimbangannya daya tarik pulau-pulaunya, keanekaragaman biota laut, dan pesona sejarah yang kuat. Pulau Morotai diyakini bakal menjelma menjadi salah satu wisata laut terindah. Bahkan tahun 2016 Morotai ditetapkan sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata utama di Indonesia untuk jadi 10 ‘Bali Baru’.

Pulau Morotai tidak memiliki penduduk asli yang menetap secara turun temurun. Penduduk yang ada saat ini adalah berasal dari Suku Tobelo dan Suku Galela di Pulau Halmahera, tepatnya di Kabupaten Halmahera Utara. Kedua sub-etnis tersebut mendominasi mayoritas penduduk Morotai hingga kini.

Untuk menuju Morotai dari Jakarta, umumnya menggunakan penerbangan menuju Bandara Sultan Babullah Ternate. Penerbangan yang panjang, karena memakan waktu 3 jam 45 menit. Biasanya pesawat akan terbang tengah malam dari Jakarta dan tiba di Ternate sekitar jam 7 waktu setempat. Dari sini penerbangan dilanjutkan menuju pangkalan AU Leo Wattimena di Galela, Morotai sekitar lewat tengah hari. Penerbangannya sendiri cuma sekitar 45 menit, tapi umumnya harus menunggu, sebab jadwalnya belum cukup sering.

Sejatinya Morotai adalah salah satu surga milik Indonesia. Pulau-pulaunya masih belum banyak terjamah hiruk-pikuk pariwisata. Keindahan alam pulau-pulau di Morotai tak hanya tercermin lewat bawah lautnya, tapi juga daratannya. Hamparan pasir putih yang luas bisa memanjakan siapa pun yang menginjakkan kaki di sana. Panorama matahari terbit dan tenggelam menjadi salah satu momen paling dinanti wisatawan.

Ada setidaknya 28 titik penyelaman yang menyuguhkan keindahan bawah laut. Bisa jadi, ini adalah rangkaian keindahan dari Bunaken ke raja Ampat. Spot-spot penyelaman itu ada Tanjung Wayabula, Dodola Point, Batu Layar Point, Tanjung Sabatai Point, hingga Saminyamau. Semuanya luar biasa indah, dengan perairan jernih berwarna biru tua. Biota lautnya tak terhingga, hidup di antara terumbu karang yang terawat.

Bila cukup punya nyali, cobalah mampir ke Pulau Mitita yang juga menjadi salah satu spot diving. Keistimewaannya, di sini wisatawan bisa berenang bersama hiu pada waktu tertentu.Rupanya sejumlah jenis hiu di sana sudah terbiasa berenang dengan penyelam.

Apa bila tak ingin menyelam dan hanya ingin menikmati keindahan pantainya, berenang pun bisa dilakukan sepuasnya. Bagian pinggir pantai cukup dangkal. Kegiatan  snorkeling ataupun berenang sangat direkomendasikan. Atau sekadar menikmati matahari terbit dan matahari tenggelam.

Nah yang terakhir ini mungkin bisa sambil menjelajahi Pulau Dodola. Pulau ini terdiri dari Pulau Dodola Besar dan Dodola Kecil. Uniknya, kedua pulau ini tersambung menjadi satu saat air laut sedang surut dan membantang jalan pasir yang menghubungkan keduanya.

Pulau Morotai Dermaga Daruba

Pulau Dodola terletak di sebelah barat Pulau Morotai. Dari Daruba, ibukota Morotai, perjalanan ditempuh dengan menggunakan seedboat menuju Pulau Dodola yang memakan waktu tempuh sekitar 20 menit. Jaraknya sekitar 12 kilometer. Sayangnya biaya sewa speedboad masih cukup mahal, sekitar Rp 1 juta untuk berangkat dan pulang.

Keindahan kedua Dodola Besar dan Kecil tidak berbeda jauh. Pasir pantainya sangat putih dan halus. Pemandangan lautnya yang hijau, jernih dan kebiruan.
Jika sedang surut, kedua pulau ini terhubungkan oleh pasir putih. Ya, pasir putih tersebut seolah jembatan tersembunyi. Panjangnya sekitar 500-an meter. Sungguh luar biasa dan sangat cantik. Wisatawan bisa berjalan di atas pasirnya sekitar 5 menit untuk menyeberang.

Jika pandemi telah lewat, ayo agendakan kunjunganmu ke Morotai.

agendaIndonesia

*****

Gudeg Yogya, Gara-gara Prajurit Hangudeg Masakan di Abad 16

Gudeg Yogya

Gudeg Yogya menjadi masakan yang dibenci tapi rindu oleh banyak penggemar kuliner Indonesia. Dibenci, karena masakan ini punya rasa manis yang jarang disukai orang dari luar Yogyakarta. Tapi dirindu, karena meski tak pernah makan gudeg di kota asalnya, wisatawan tetap saja mengagendakan menyantap masakan ini jika ke Yogya.

Gudeg Yogya

Selama ini orang menerima saja jika disebut gudeg adalah kuliner khas kota pelajar ini. Jarang yang mencari tahu bagaimana muasal makanan ini muncul di kota itu.

Sesungguhnya tak ada catatan yang pasti bagaimana asal-usul makanan ini. Begitupun ada sebuah buku hasil penelitian seorang guru besar sekaligus peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PMKT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, namanya Murijati Gardjito. Istri almarhum penerbang TNI Angkatan Udara ini, menerbitkan buku hasil penelitiannya pada 2017.

Menurut Murdijati, kemunculan Gudeg diperkirakan bebarengan dengan pembentukan wilayah Yogyakarta. Ia memperkirakan, kemungkinan bahkan tepat sebelum kota ini ada.

Berdasar buku Gudeg, Sejarah dan Riwayatnya karya Murdijati tersebut, sejarah gudeg dimulai kala abad ke-16. Makanan ini bahkan sudah ada sebelum Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta berdiri. Konon, resep gudeg ditemukan pada masa Panembahan Senopati (1587-1601), pendiri Kesultanan Mataram Islam.

Saat hendak mendirikan Kesultanan Mataram Islam, Panembahan Senopati harus membuka hutan belantara yang dikenal sebagai Alas Mentaok. Para prajurit  Panembahan Senopati membabat hutan yang kelak bernama Yogyakarta ini. Alas ini ada di sebelah selatan Yogyakarta. Kawasan yang dibabat alas itu, kini lokasinya kira-kita ada di kawasan Kotagede. Ternyata di hutan tersebut terdapat banyak pohon nangka dan kelapa.

Nangka muda dan kelapa itu kemudian diolah untuk santapan bersama. Nangka muda dimasak dengan santan dari kelapa ditambah gula aren, berbagai macam bumbu, serta rempah-rempah, di dalam kuali besar yang diaduk-aduk dengan menggunakan sendok besar mirip dayung.

Dalam buku diceritakan, setelah ditebangi : “Para prajurit yang jumlahnya ratusan itu kemudian berusaha memasak nangka dan kelapa. Karena jumlah mereka sangat banyak, nangka dan kelapa dimasak di dalam  ember besar yang terbuat dari logam. Pengaduknya pun besar, seperti dayung perahu.”

Tentu saja makanan hasil masak para prajurit tersebut belum ada namanya. Belum ada nama “gudeg”. Para prajurit tersebut hanya mengatakan masakan itu dengan sebutan Hangudek, yang artinya mengaduk.

Karena yang menemukan dan mencoba mengolahnya adalah para prajurit, tentu saja, kuliner ini dulunya hanya populer di kalangan prajurit. Namun lambat laun diketahui ia mulai masuk dalam daftar kuliner para ningrat, dan juga masyarakat umum. Banyak yang menggemarinya, karena bahannya mudah ditemui dan rasanya yang lezat.

Dan sejarah kemudian mencatat, gudeg dikenal sebagai salah satu jenis kuliner khas Yogyakarta. Ia menjadi salah satu tujuan kuliner yang jarang dilewatkan, sekaligus dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Gudeg umumnya terbuat dari nangka muda atau gori yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan rasa legit, manis, sekaligus gurih.

Saat ini ada dua jenis gudeg yang diketahui publik, yakni gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg biasanya disajikan bersama tahu, tempe, ayam, atau telur, yang dimasak dengan cara dibacem, dan tentunya dimakan dengan nasi putih. Selain dari gori, gudeg kemudian juga bisa dibuat dari bunga kelapa atau manggar, terkadang ditambahkan rebung alias bambu muda dan potongan daging.

Awalnya masyarakat lebih menegnal gudeg basah. Biasanya karena disantap untuk saat itu juga, gudeg masih memiliki sedikit sisa kuah dari santennya. Namun, seiring perkembangan, ada wistawan yang menginginkan gudeg sebagai oleg-oleh saat kembali ke kota asalnya, maka munculah gudeg kering.

Gudeg Yogya dengan areh

Gudeg kering ini baru muncul sekitar tahun 60-an atau awal 70-an. Bahan-bahan betul-betul dimasak hingga hampir habis kuah santennya. Sifatnya yang kering inilah yang membuatnya tahan lama dan dimanfaatkan sebagai oleh-oleh. Kadang, agar membuatnya agak basah, gudeg yang kering itu disertakan areh. Ii dibuat dari santan kental yang diberi bumbu tertentu.

Dulu orang yang ingin membawa gudeg dari Yogya sebagai buah tangan, oleh restorannya gudeg dan ubo-rampenya diletakkan dalam kendil. Semacam mangkok bertutup dari bahan tanah liat. Kini dengan makin sempurnya cara memasak gudeg sehingga tahan lama, gudeg dikemas dalam besek.

DI manakah kita bisa menikmati gudeg yang enak di Yogyakarta? Untuk gudeg basah berikut restoran yang menyajikannya:

GUDEG PERMATA (BU NARTI); Jl. Gajah Mada No.2, Gunungketur, Pakualaman, Kota Yogyakarta.

GUDEG PAWON, Jalan janturan UH/IV No.36, Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta 

GUDEG BASAH MBOK MANDEG, Jl. Parangtritis No.Km. 2,5, Mantrijeron, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta

GUDEG SAGAN; Jl. Prof. herman Yohanes No. 53, Caturtunggal, Samirono, Yogyakarta

Sedangkan untuk gudeg kering pilihannya;

GUDEG YU JUM 167; Jl. Wijilan No.167, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta

GUDEG BU HJ. AHMAD; Jl. Kaliurang KM.4,5 Blok CT3 No.5, Kocoran, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman,

GUDEG BU TJITRO 1925; Jl. Janti No.330, Modalan, Banguntapan, Kec. Banguntapan, Bantul

agendaIndonesia

*****