Kuliner khas Aceh mendapat pengaruh dari Arab, persia dan India.
Continue readingSurabi Bandung, 100 Tahun Kudapan Sedap
Surabi Bandung atau yang terkadang juga disebut serabi, bisa disebut salah satu warisan budaya tradisional Bandung, utamanya dalam hal kuliner. Konon, makanan cemilan mirip pancake ini sudah dinikmati masyarakat kota ini sekitar satu abad lamanya.
Surabi Bandung
Kudapan ini disebut atau dituliskan sebagai ‘surabi’ karena berasal dari istilah Bahasa Sunda ‘sura’, yang kira-kira artinya besar atau agung. Penamaan demikian dikarenakan makanan ini dulunya lebih umum disajikan kepada kaum kerajaan dan bangsawan.
Pada perkembangannya, surabi Bandung masa kini juga terinspirasi dari pancake yang disukai orang-orang Belanda di zaman kolonial dulu. Sehingga surabi kemudian tidak hanya muncul sebagai makanan khas Bandung saja, tetapi juga daerah-daerah lainnya di tanah air.
Kendati demikian, masing-masing serabi memiliki beberapa perbedaan dan ciri khasnya sendiri. Serabi Solo misalnya, cenderung mempunyai rasa yang manis dengan adonan yang tipis, sementara surabi Bandung bercita rasa gurih dengan adonan yang lebih tebal.
Pun begitu, pada dasarnya serabi-serabi tersebut merupakan kudapan yang terbuat dari bahan-bahan yang kurang lebih sama, seperti tepung beras, santan dan parutan kelapa. Bahan-bahan tersebut dibuat menjadi adonan yang kemudian dimasak di atas tungku kayu bakar atau arang.

Surabi Bandung sendiri selain dimasak dengan cara demikian, juga menggunakan cetakan berbentuk mangkok dari tanah liat untuk adonannya. Dengan menggunakan cetakan ini, surabi biasanya cenderung lebih gosong di bagian bawah dan lembut di bagian atasnya.
Cara memasak surabi ini secara umum masih coba terus dipertahankan hingga kini. Alasannya, serabi yang dibuat dengan metode demikian memiliki tekstur, bentuk, aroma serta rasa yang khas. Cita rasa ini sangat sulit didapatkan jika menggunakan peralatan masak yang modern.
Keunikan surabi Bandung yang asli adalah rasanya yang cenderung gurih dan kerap menggunakan pelengkap seperti abon atau oncom. Alhasil, cita rasanya lebih mengarah ke gurih, asin dan bahkan pedas.
Walau demikian, seiring perkembangan jaman surabi juga memiliki beragam variasi baru untuk dapat mengikuti selera konsumen hingga kini. Surabi kinca misalnya, merupakan varian yang menggunakan topping kinca atau gula merah cair.

Selain itu, banyak pedagang-pedagang surabi Bandung yang kini mulai berkreasi dengan bermacam jenis tambahan topping lainnya. Mulai dari keju, coklat, vanilla, bakso, sosis, mayonnaise, buah-buahan seperti pisang, durian dan lain-lainnya.
Kalau tertarik untuk mencoba serabi di sekitar kota kembang, ada beberapa rekomendasi tempat yang mungkin bisa jadi pilihan menarik. Salah satunya adalah Surabi Cihapit yang berada di Jalan Sabang, kawasan Bandung bagian timur.
Surabi Cihapit boleh dibilang merupakan salah satu kedai serabi yang paling terkenal di Bandung. Sejak 1993, mereka sudah berjualan surabi dengan menggunakan gerobak, hingga kini memiliki kedai sendiri.
Layaknya penjual surabi kaki lima lainnya, awalnya mereka lebih banyak berjualan serabi tradisional. Namun seiring berjalan waktu, mereka kini juga turut menawarkan beragam jenis varian serabi seperti keju, coklat, pisang, kismis, abon, sosis dan sebagainya.
Biasanya mereka berjualan pada dua sesi, setiap pagi pada jam 6 sampai 12 serta sore pada pukul 15 hingga 21. Namun khusus pada hari Minggu, Surabi Cihapit hanya beroperasi pada pagi hari.
Harganya pun tergolong cukup terjangkau. Kalau ingin mencoba jenis surabi tradisional dengan oncom atau kinca, satu porsinya sekitar Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu. Sedangkan ragam varian lainnya berkisar dari Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu.

Tempat lain yang tak kalah menarik untuk dicoba adalah Surabi Kinca Suji Ekarasa. Terletak di area Jalan Burangrang, surabi yang mereka jajakan terkenal dengan aroma dan cita rasa pandan yang khas, dengan warna kehijauan dan tekstur yang lembut.
Seperti namanya, surabi yang menjadi jualan utama di tempat ini adalah surabi kinca. Namun beberapa jenis surabi lain seperti serabi oncom, atau serabi durian dengan paduan rum juga dapat ditemukan di sini. Harganya pun bersahabat, mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 9 ribu.
Kedai surabi Bandung lainnya yang sayang untuk dilewatkan adalah Surabi Radja. Berlokasi di Jalan Pluto Selatan II, kedai ini memang baru mulai berjualan sejak tahun 2006, tetapi dengan cepat mereka berhasil meraih banyak pelanggan.
Salah satu alasannya adalah penggunaan telur pada proses pembuatannya, yang kemudian membuat tekstur surabi yang begitu lembut sampai terasa lumer di mulut. Pengunjung akan mendapat pilihan surabi yang dibuat dengan atau tanpa telur.
Tak hanya itu, varian yang ditawarkan juga begitu banyak, mulai dari kinca, oncom, pisang, coklat, keju, sosis, abon, strawberry, serta beragam perpaduan dari pilihan topping tersebut. Ditambah lagi, harganya juga terbilang murah dibanding kedai-kedai serabi Bandung lainnya.
Satu porsi dengan satu pilihan topping berkisar dari Rp 4 ribu hingga Rp 7,5 ribu. Kalau ingin memadukan dua atau tiga jenis pelengkap, harganya mulai dari Rp 4,5 ribu sampai Rp 12 ribu. Surabi Radja buka setiap hari pada pagi (06.30 – 09.00) dan sore hari (16.30 – 21.00).
Akhirnya, satu hal yang perlu diperhatikan bagi yang ingin mencoba adalah serabi pada umumnya merupakan makanan yang tidak begitu tahan lama. Maka disarankan untuk menyantapnya langsung selagi hangat atau setidaknya dihabiskan pada hari itu juga.
agendaIndonesia/Audha Alief P.
*****
Taman Nasional Alas Purwo, Suaka Sejak 1939
Taman Nasional Alas Purwo adalah sebuah sorga di ujung tenggara pulau Jawa. Bagi banyak pecinta jelujur gelombang laut, ujung selatan kawasan ini adalah sebuah paradiso.
Taman Nasional Alas Purwo
Kawasan Alas Purwo sendiri sebelum menjadi taman nasional semula berstatus Suaka Margasatwa Banyuwangi Selatan. Ini diketahui berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6 stbl 456 tanggal 01 September 1939. Luas areanya mencapai 62 ribu hektare.
Pada 1992, di zaman pemerintahan Presiden Suharto, Suaka Margasatwa ini diubah menjadi Taman Nasional Alas Purwo dengan luas kawasan 43 ribu hektare. Dan pada 2014 luasnya menjadi 44.037,30 Hektare.

Secara geografis Taman Nasional Alas Purwo yang terletak ujung Tenggara Pulau Jawa berada di antara 8,446456°-8,780444° Lintang Selatan dan 114,224625°-114,605157° Bujur Timur. Secara administrasi berada di wilayah pemerintahan Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.
Untuk menuju ke sini, pertama-tama wisatawan menuju ke Banyuwangi. Bisa dari Surabaya menyurus pantai utara Jawa Timur. Atau dari Jember melalui jalur selatan. Bisa pula dari Bali dengan menyeberang dari pelabuhan Gilimanuk ke pelabuhan Ketapang. Dari Banyuwangi kemudian menuju ke selatan masuk kawasan Alas Purwo.
Taman Nasional Alas Purwo merupakan kawasan hutan yang mempunyai berbagai macam tipe ekosistem yang tergolong utuh di pulau Jawa. Ekosistem yang dimiliki mulai dari pantai (hutan pantai) sampai hutan hujan dataran rendah, hutan mangrove, hutan bambu, savana buatan dan hutan tanaman.
Keanekaragaman jenis flora darat di kawasan Alas Purwo termasuk tinggi. Ini diketahui dari lebih 700 jenis tumbuhan, mulai dari tingkat tumbuhan bawah sampai tumbuhan tingkat pohon dari berbagai formasi vegetasi. Tumbuhan khas pada taman nasional ini adalah Sawo Kecik dan jenis yang dilindungi yaitu Sadeng.

Di samping kaya akan jenis flora, Taman Nasional Alas Purwo juga kaya fauna daratan, baik kelas mamalia, aves, dan herpetofauna (reptil dan amfibi). Sampai saat ini teridentifikasi 45 jenis mamalia ditemukan di Alas Purwo.
eberapa jenis mamalia yang sering dijumpai di kawasan Alas Purwo di antaranya Banteng (Bos javanicus), Rusa Timor (Rusa timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Lutung Budeng (Tracypithecus auratus) dan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis).
Sedangkan jenis burung-burungan atau aves teridentifikasi lebih dari 250 jenis burung. Beberapa jenis burung yang sering dijumpai di antaranya Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster), Elang Ular Bido (Spilornis cheela), Ayam Hutan Hijau (Galus varius), Ayam Hutan Merah (Gallus gallus), Kuntul Kecil (Egreta garzeta), Rangkong Badak (Buceros rhinoceros), Merak Hijau Jawa (Pavo muticus muticus), Dara Laut Jambul (Sterna bergii) dan Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris).
Dari kelas amfibi dan reptil, sampai saat ini telah teridentifikasi 70 jenis herpetofauna yang terdiri 17 jenis amfibi dan 53 jenis reptil. Di antara jenis yang ditemukan terdapat 7 jenis reptil yang dilindungi yaitu Penyu Lekang/ Abu-Abu (Lepidochelys olivacea), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Biawak Abu-Abu (Varanus nebulosus), Ular Sanca Bodo (Python bivittatus) dan Buaya Muara (Crocodylus porosus).
Terdapat banyak lokasi obyek dan daya tarik wisata di dalam taman nasional, ini, di antaranya beberapa pantai yang unik dan potensial seperti ombak yang cocok untuk olah raga surfing, pantai tempat peneluran penyu, pantai yang berpasir putih, terumbu karang serta laguna yang dipenuhi burung migran pada musim-musim tertentu.

Savana terdapat di padang pengembalaan Sadengan. Walaupun padang pengembalaan Sadengan dibuat oleh manusia, padang pengembalaan sekunder, namun keberadaannya menjadi sangat penting karena merupakan habitat bagi mamalia besar seperti banteng, kijang, dan rusa.
Sadengan dibuka sebagai feeding ground seluas kurang lebih 80 hektare pada 1978. Setelah dilakukan pembukaan hutan kemudian mulai ditanami jenis-jenis rumput seperti rumput balung (Arudinella setosa), Dischantium caricosum, lamuran (Polytrias amaura) dan merakan (Heteropgon contortus).
Vegetasi hutan alam yang ada di Taman Nasional Alas Purwo sebagian besar terdapat pada zona inti, yaitu kawasan bagian timur dan sebagian kecil pada zona rimba yang terletak di bagian selatan timur kawasan dan tengah kawasan (sebelah timur zona penyangga).
Jenis-jenis vegetasi pohon dominan di formasi vegetasi ini antara lain: kepuh (Sterculia foetida), bendo (Artocarpus elastica), kedawung (Parkia roxburghii), kemiri (Aleurites moluccana), beringin (Ficus benjamina), kedondong hutan (Spondias pinnata).
Sedangkan hutan tanaman di Alas Purwo terdiri dari hutan tanaman jati (Tectona grandis), kesambi (Schleichera oleosa), mahoni (Swietenia macrophylla), johar (Casia siamea), legaran (Alstonia villosa), akasia (Acacia auriculiformis) dan sonokeling (Dalbergia latifolia).
Hutan tanaman yang ada merupakan bekas milik Perhutani yang sekarang menjadi bagian dari kawasan. Hutan Tanaman tersebar di beberapa blok di antaranya Blok Buyukan sampai Bedul dengan jenis tanaman mahoni, pada Blok Kucur dan Curah Jero.
Hutan Mangrove di kawasan ini sebagian besar terdapat di sepanjang Sungai Segoro Anak, terdapat di beberapa Blok Hutan seperti Blok Pondok Welit, Teluk Pangpang dan Perpat.
Dari hasil identifikasi yang dilakukan oleh Taman Nasional Alas Purwo, di temukan tidak kurang dari 26 jenis mangrove yang sebagian besar didominasi oleh beberapa jenis mangrove seperti Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorhyza, Avicennia marina, Xylocarpus granatum, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris.
Vegetasi pantai terdapat di bagian selatan dan bagian utara. Pada bagian selatan membentang dari arah Grajagan (Segoro Anak) sampai Plengkung dengan panjang bentangan sekitar 30 kilometer, dan Plengkung–Tanjung Slakah dengan panjang bentang sekitar 50 kilometer.
Vegetas pantai bagian utara membentang dari Tanjung Sembulungan sampai Tanjung Slakah dengan panjang sekitar 40 kilometer dan lebar rata-rata vegetasinya dari pantai ke daratan (ke arah atas) sekitar 250 – 300 m. Jenis tanaman yang mendominasi formasi hutan pantai adalah ketapang, sawo kecik, waru laut, keben, dan nyamplung.
Ayo agendakan perjalananmu ke Banyuwangi dan kunjungi Alas Purwo.
agendaIndonesia
*****
Masyarakat Tengger di Bromo, 2 Abad Kearifan Lokal
Masyarakat Tengger di Bromo, biasa disebut wong Tengger atau wong Brama, adalah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi sekitaran kawasan pegunungan Bromo-Semeru, Jawa Timur. Penduduk suku ini menempati sebagian wilayah kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Probolinggo, dan Kabupaten Malang.
Masyarakat Tengger di Bromo
Di sebuah pagi yang dingin berkabut segerombolan anak bermain di jalanan Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Beberapa anak di antara bocah cillik yang pipinya bersemu merah terlihat memiliki rambut berbeda. Sekilas seperti potongan rambut yang sengaja dibuat gimbal layaknya gaya anak-anak muda perkotaan yang meniru penyanyi reggae Bob Marley. Bahkan ada yang dibiarkan panjang dibuat buntut. Berlarian di antara rumah-rumah berdinding kayu bercat warna-warni.
Desa Ngadisari merupakan gerbang menuju kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Di desa ini lah masyarakat Tengger menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang. Umumnya mereka beragama Hindu.
Pada 100 tahun sebelum masehi, penganut Hindu Waisya yang beragama Brahma tinggal di daerah pesisir. Seseiring masuknya agama Islam di Jawa pada 1.426 M, mereka terdesak dan mencari tempat yang sulit terjangkau oleh pendatang. Pegunungan Tengger menjadi pilihan mereka yang akhirnya membuat kelompok yang dikenal dengan Tiang Tengger (orang Tengger).

Mitos lainnya, suku Tengger merupakan keturunan terakhir dari peradaban Majapahit. Mereka adalah keturunan Roro Anteng, putri Raja Brawijaya dan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama Tengger diambil dari akhir nama kedua pasangan itu, yaitu ’Teng’ dari Roro Anteng dan ’Ger’ dari Joko Seger.
Asal muasal upacara Kasodo juga berawal Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji menyerahkan putra terakhir mereka kepada Dewa. Sampai saat ini suku Tengger masih teguh menjunjung tinggi adat-istiadat Hindu lama. Budaya yang ditinggalkan nenek moyang tetap dilestarikan walau kunjungan wisatawan dari berbagai belahan bumi tidak pernah berhenti setiap harinya.
Kepercayaan yang tinggi terhadap ajaran leluhur menanamkan nilai-nilai luhur dan mengajarkan toleransi dalam memandang keberagaman. Masuknya beragam agama, bagi mereka merupakan konsekuensi bahwa Suku Tengger hidup di tengah-tengah masyarakat yang selalu berubah dan berkembang. Berkembangnya zaman dan semakin beragamnya agama tidak juga melunturkan adat istiadat yang selalu dipegang teguh masyarakat Tengger. Masyarakat tetap melaksanakan ritual adat yang sedari dulu diturunkan leluhur mereka, seperti Pujan, Melasti, Piodalan, Entas-entas, Unan-unan, Karo, hingga yang banyak dikenal yaitu Yadnya Kasada.
Maka tidaklah aneh jika kemudian ada kubah mesjid, salib, mau pun patung Budha terlihat di sebuah desa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Di desa yang di kala menjelang pagi suhunya mencapai 10 derajat Celcius, terlihat sebuah kearifan lokal yang menunjukkan toleransi terhadap keberagaman.
Lalu kapan sebaiknya kita mengadendakan kunjungan ke Bromo? Seharusnya, bulan-bulan Juni-Agustus saat memasuki musim kemarau adalah waktu terbaik datang ke tempat ini. Umumnya saat itu cuaca cukup cerah, sehingga salah satu agenda menikmati atraksi matahari terbit dengan latar pegunungan Bromo-Semeru bisa jelas.
Namun, karena pengaruh pemanasan global, perubahan cuaca kadang kala menjadi tidak pasti. Pagi terang benderang, siang hari hujan turun begitu deras. Atau sebaliknya. Pun, terkadang meskipun curah hujan tidak begitu tinggi, namun cuaca tidak bersahabat. Pemandangan matahari terbit di Penanjakan walapun tetap terlihat indah, tapi bukan sunrise yang terindah.
Selain soal waktu, hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah cara pencapai kawasan Bromo. Ada banyak pilihan, mulai dari jalur udara, jalan darat dengan moda kereta api, atau menggunakan jalan darat. Baik menumpang bus atau kendaraan pribadi.
Bila memilih kereta api, wisatawan bisa memilih menuju kota Malang terlebih dahulu, baru ke Bromo. Atau, pilihan lain, berangkat ke Surabaya lalu dilanjutkan ke Bromo. Beberapa kereta dari Jakarta yang bisa membawa ke Malang antara lain kereta ekonomi Jayabaya maupun Matarmajaya. Untuk kereta dari Jakarta ke Surabaya pilihannya lebih banyak lagi, mulai dari kelas ekonomi hingga kereta eksklusif. Tergantung budget yang disiapkan.
Dari stasiun Malang, perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan umum ke Bromo dari Terminal Arjosari. Dari terminal ini, wisatawan menuju Terminal Bus Bayuangga di Probolinggo dan berganti angkutan desa ke Cemoro Lawang, Ngadisari.
Jika pilihannya melalui Surabaya, nantinya dari kota ini wisatawan menyambung perjalanan menggunakan kereta ke Probolinggo. Dari Stasiun Probolinggo perjalanan sama seperti dari Malang, bisa naik angkutan kota ke Terminal Bus Bayuangga untuk ganti angkutan desa ke arah Cemoro Lawang, ke arah Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura sebagai titik masuk ke wilayah Gunung Bromo. Ada baiknya, wisatawan tiba di Terminal Bayuangga sebelum sore, karena makin sore jumlah kendaraan umum semakin sedikit.
Di Ngadisari, wisatawan bisa menikmati suasana pegunungan dan bertemu dengan masyarakat Tengger yang umumnya bercocok tanam. Perbincangan umumnya menyenangkan, karena mereka adalah masyarakat yang terbuka.
Kalau ingin sesekali menikmati matahari terbit di Penanjakan, wisatawan bisa memilih menyewa jip atau sepeda motor. Jika perjalanan dilakukan lebih dari 3 orang, lebih murah kalau sewa jip. Tapi bila yang melakukan perjalanan hanya sendiri atau berdua, lebih hemat jika menyewa sepeda motor.
****
Pantai Sukamade, Tempat Penyu Bertelur Ditemukan Pada 1927
Pantai Sukamade, pantai tempat penyu mendarat dan bertelur adalah temuan kolonial Belanda pada 1927. Bertahun-tahun kemudian, pantai ini masih menjadi tempat terfavorit Penyu Hijau untuk menetaskan turunannya.
Pantai Sukamade
Malam sudah turun. Suasana di Sukamade praktis gelap, ketika beberapa orang terlihat berjalan menembus hutan, melintasi jalan tanah berlapiskan dedaunan kering. Mereka rombongan wisatawan asing yang ditemani petugas jagawana berjalan menuju pantai dengan panduan cahaya senter.
Sesekali petugas jagawana menyorotkan cahaya senternya menerangi jalan selebar tiga meter yang di kiri-kanan dipenuhi pepohonan besar khas hutan tropis. Sekitar satu kilometer berjalan menembus hutan, sinar bulan yang kala itu sedang penuh mulai menembus lebatnya ‘kanopi’ pohon. Makin jauh sinarnya semakin menerangi jalan. Jalan tanah berlapiskan daun beralih menjadi berpasir, keheningan hutan berganti dengan deburan ombak. Senter pun dimatikan, saatnya puncak atraksi di pantai itu: menunggu kedatangan penyu yang akan bertelur.
Pantai Sukamade di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dikenal sebagai habitat tempat penyu bertelur secara alami. Belakangan, mungkin sekitar 30-an tahun terakhir, tempat ini memiliki fasilitas penetasan telur-telur penyu semi alami yang menambah nilai tersendiri bagi penikmat wisata pantai. Pasalnya wisatawan yang datang dapat mengikuti kegiatan pelepasan tukik, anak penyu, sebagai bentuk usaha dari konservasi penyu.
Pantai ini merupakan salah satu tempat bertelurnya beberapa spesies penyu, di antaranya penyu belimbing, penyu hijau, penyu sisik, penyu slengkrah. Dari ke empat jenis itu, penyu hijau-lah yang paling sering ditemui di pantai ini.
Lokasinya sendiri berjarak sekitar 97 km ke arah barat daya dari Banyuwangi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu dari Segitiga Emas Banyuwangi, yaitu satu dari tiga tempat tujuan wisata utama yang ada di Banyuwangi, dua di antaranya Gunung Ijen, atau lebih dikenal sebagai Kawah Ijen, dan Pantai Plengkung. Sejarah pantai ini pertama kali di temukan pada masa pendudukan Belanda tahun 1927.
Sukamade memang berada di dalam kerimbunan perkebunan kopi dan coklat yang sekarang dikelola PTPN. Dulunya perkebunan-perkebunan ini pengelolaannya di tangan pemerintahan pendudukan Belanda.
Perjalanan menuju pantai ini dari Banyuwangi memiliki keasyikan tersendiri. Walaupun hampir seluruh jalan di Banyuwangi beraspal mulus, tapi sekitar 20 kilometer terakhir jalanannya berbatu sehingga lebih pas jika menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda. Sepuluh kilometer setelah memasuki kawasan taman nasional jalan makadam menghadang.
Separuh jalanan di hutan lebat adalah menaiki bukit, separuhnya lagi menurun sebelum mencapai pantai. Bagi yang senang kegiatan alam bebas menggunakan kendaaan SUV yang mengguncang guncang badan dan menyeberangi sungai tanpa jembatan merupakan keasyikan tersediri sebelum menikmati ketenangan di pantai Sukamade.
Setidaknya ada dua sungai yang harus diseberangi tanpa jembatan. Kadang, jika beruntung, pengunjung bisa mengekor di belakang traktor perkebunan yang kebetulan sedang membawa hasil kebun melintasi sungai selebar sekitar 30-40-an meter. Setidaknya mereka hapal jalur yang tidak dalam atau berbatu. Ke dalaman air sekitar 25-50 centimeter. Jika tak bertemu traktor, ada baiknya ada yang turun untuk mengamati kedalaman sungai.
Sebagai tempat tujuan ekowisata di kawasan konservasi, di tempat ini wisatawan dapat secara langsung menyaksikan penyu bertelur, melepas tukik, camping hingga berkano pada sore hari sambil menunggu matahari tenggelam. Terdapat beragam fasilitas yang ada di pantai Sukamade antara lain pondok wisata, camping ground yang dilengkapi pendopo sebagai ruang pertemuan, jalan trail wisata, information center, laboratorium dan pondok kerja. Tentu saja, atraksi utama tetap penyu bertelur dan pelepasan tukik.
Di Sukamade penyu biasa datang untuk bertelur pada malam hari, karenanya segala jenis alat penerang dilarang digunakan di pantai di sini. Ini agar penyu bisa merasa nyaman. Setiap malam petugas mengamati kedatangan penyu, selain untuk mendata juga untuk menyelamatkan telur dari predator seperti babi hutan dan ulah manusia yang menjual telurnya.
Telur dikumpulkan untuk kemudian dibawa ke tempat penetasan. Seperti malam itu, saat AgendaIndonesia mampir, kami menunggu datangnya penyu dari jam 20.00 – 24.00 sambil menemani petugas berpatroli menyusuri pantai. Hampir setiap malam selalu ada penyu datang bertelur. Jika beruntung, kita bisa melihat penyu datang dari laut lalu menggali pasir untuk meletakkan telur-telurnya.
Petugas jagawana biasanya mengambil telur-telur dari lubang aslinya, lalu ditanam kembali di lubang-lubang penetasan yang dilindungi pada keesokan harinya. Seperti yang dilakukan setelah malam itu.
Matahari belum terlalu tinggi, ketika petugas menanam kembali telur-telur penyu yang diambil malam sebelumnya. Selain menanam telur, petugas juga mengajak wisatawan yang datang untuk melepaskan telur yang sudah menetas, dinamai dengan sebutan tukik, ke habitatnya, lautan luas.
Anak penyu atau tukik secara naluri akan kembali ke laut, berenang mengarungi samudra kehidupannya. Hingga suatu saat, jika mereka survive, tukik-tukik yang sudah menjadi penyu dewasa kembali ke Sukamade. Bertelur.
Rully K./Dok. TL
Tahu Bungkeng Sumedang, 1 Abad Sejarah Tahu
Tahu Bungkeng Sumedang, yang usianya kini sudah lebih dari satu abad, bisa dibilang merupakan saksi sejarah terciptanya salah satu kudapan favorit masyarakat Indonesia dewasa ini, yakni tahu sumedang. Lewat sejarahnya yang panjang, ia turut mempopulerkan jajanan rakyat tersebut.
Tahu Bungkeng Sumedang
Di masa sekarang, akan terhitung cukup mudah untuk menemukan tahu Sumedang. Dari beragam penjual aneka gorengan di pinggir jalan, hingga toko-toko makanan seperti kue basah dan sejenisnya, kerap ditemukan tahu Sumedang yang turut dijajakan.
Populernya kudapan ini bukanlah tanpa sebab. Tahu Sumedang sendiri merupakan jenis olahan tahu yang memiliki ciri-ciri seperti bentuk yang relatif kecil, bagian kulit yang agak garing, isi di dalamnya yang cenderung kosong serta rasa yang gurih.
Karakteristik tersebut membuatnya mudah dan enak untuk dikonsumsi dalam beragam kesempatan, seperti saat ingin ngemil makanan ringan ataupun sebagai hidangan pembuka sebelum makan siang atau malam. Apalagi tahu terasa semakin nikmat saat disantap hangat.

Seperti namanya, tahu Sumedang memang terlahir di salah satu kabupaten provinsi Jawa Barat tersebut, sekitar 45 kilometer dari kota Bandung. Begitu identiknya tahu sebagai identitas dan makanan khas mereka, Sumedang lantas juga kerap dikenal sebagai kota tahu.
Yang menarik, tahu Sumedang ternyata merupakan resep yang dibawa dari Tiongkok. Semua berawal pada awal tahun 1900-an, ketika seorang imigran dari Tiongkok bernama Ong Kino datang ke Indonesia untuk pindah dan menetap.
Setelah tiba di Sumedang, ia kemudian memutuskan tinggal di sana bersama keluarganya. Masa-masa awal kepindahan mereka ke Tanah Air terasa agak sulit, lantaran istrinya yang merasa homesick dan kangen dengan masakan tradisional Tiongkok.
Sebagai usaha untuk mengatasi kerinduan tersebut, Ong Kino kerap mencoba memasak beberapa makanan-makanan khas Tiongkok yang biasa mereka santap dulu. Salah satu resep yang ia buat adalah olahan tahu yang kemudian menjadi cikal bakal tahu Sumedang.
Tahu, atau doufu/tofu dalam bahasa Mandarin, memang merupakan salah satu makanan yang populer bagi masyarakat Tiongkok. Berkat cara pengolahannya yang mudah serta harganya yang ekonomis, tahu disinyalir sudah populer dikonsumsi rakyat Tiongkok sejak tahun 950 Masehi.
Biasanya, mereka membuat tahu dari olahan kacang kedelai yang direndam air sekitar 4-6 jam, kemudian digiling, direbus, disaring dan diendapkan sehingga berbentuk padat. Setelahnya, tahu kemudian dipotong-potong lebih kecil, umumnya dengan bentuk kotak-kotak.
Awalnya, resep tersebut hanya dibuat oleh Ong Kino untuk sang istri, serta beberapa tetangga, kerabat dan sanak saudara sesama imigran di kala perayaan hari raya etnis Tionghoa. Ternyata, banyak dari mereka yang menyukai tahu buatannya tersebut.

Usut punya usut, tahu buatan Ong Kino dinilai mempunyai cita rasa gurih yang unik, yang membuatnya dianggap lebih nikmat dari tahu-tahu kuning dan putih yang umumnya beredar saat itu. Dari testimoni positif tersebut, ia memberanikan diri untuk menjualnya untuk umum.
Kebetulan, setelah pindah ke Sumedang, ia mencari nafkah sebagai penjual ragam makanan ringan seperti keripik singkong dan tapioka. Tempatnya berjualan di kawasan jalan Sebelas April, hingga kini menjadi lokasi toko Tahu Bungkeng.
Meskipun terhitung mendapatkan respon positif dari pembelinya, saat itu tahu buatannya belumlah mencapai popularitas puncaknya. Hingga pada 1917, salah satu anaknya bernama Ong Boenkeng menyusul datang ke Indonesia untuk membantunya berbisnis.
Salah satu langkah besar yang dilakukan Ong Boenkeng dalam membantu bisnis ayahnya, adalah dengan memodifikasi resep tahu tersebut. Setelah tahu sudah jadi, ia mencoba bereksperimen dengan cara menggorengnya.
Caranya menggoreng tahu pun terhitung unik. Ia mencoba menggoreng tahu-tahu itu dengan api yang cukup besar, sehingga hasilnya tahu menjadi garing di bagian kulitnya dan kopong di bagian dalamnya. Ini kemudian menjadi karakteristik utama dari tahu Sumedang.
Suatu ketika bupati Sumedang saat itu, Pangeran Aria Soeriaatmadja, yang kebetulan melintas di depan toko, mencium aroma harum dari tahu yang sedang dimasak. Ia kemudian memutuskan untuk singgah dan mencoba tahu yang dimasak oleh Ong Boenkeng kala itu.
Sang bupati ternyata sangat menyukai tahu tersebut, dan mendorongnya agar terus berjualan dan meraih kesuksesan. Sejak saat itu, dari mulut ke mulut popularitas tahu Bungkeng Sumedang semakin meningkat dan pelanggan semakin bertambah, bahkan dari luar kota dan luar negeri.
Setelah Ong Boenkeng mengambil alih usaha dari sang ayah pada tahun 1940-an, orang-orang pada umumnya kemudian menyebut tokonya sebagai tahu Bungkeng atau tahu Bungkeng Sumedang, yang pada prinsipnya merupakan pelafalan namanya secara kearifan lokal.

Pada saat usaha dikelola oleh generasi ketiga Ong Yoekim di kisaran tahun 1970 hingga 1980-an, tahu Bungkeng Sumedang meraih puncak kesuksesan dengan rata-rata produksi 2.000 hingga 3.000 tahu per hari. Bahkan saat permintaan memuncak toko bisa memproduksi sampai 7.000 tahu.
Meski demikian, sejak tahun 1990-an mulai banyak toko-toko yang menjual tahu sejenis, bahkan beberapa di antaranya merupakan usaha dari mantan pegawai di toko tahu Bungkeng Sumedang. Sejak itu, orang-orang mulai menyebut tahu tersebut secara umum sebagai tahu Sumedang.
Walaupun tahu Sumedang sudah menjadi jajanan yang umum dan mudah ditemukan di mana pun, bukan berarti pamor tahu Bungkeng meredup total. Bagaimana pun, status mereka sebagai pionir tahu Sumedang yang asli membuatnya senantiasa spesial dan diburu wisatawan.
Oleh Ong Chechiang alias Suriadi, bersama dengan anak-anaknya sebagai generasi keempat dan kelima dari usaha ini, toko tahu Bungkeng Sumedang hingga kini masih terus berjualan dan menjadi kepingan sejarah tempat lahirnya kudapan rakyat khas Sumedang tersebut.
Cita rasa asli tahu Bungkeng sebagai sang pelopor tahu Sumedang selalu dipertahankan, lewat penggunaan kacang kedelai jenis lurik yang dinilai punya sari pati lebih bagus dan banyak, serta metode memasak tahu dan kualitas air untuk mengolah kedelai yang senantiasa dijaga.
Alhasil, ciri khas tahu yang gurih, berkulit garing serta isian yang kopong pun selalu konsisten. Bahkan ada anggapan, harus mencoba tahu Bungkeng untuk merasakan cita rasa tahu Sumedang yang asli, karena konon tahu lainnya terkadang kalah gurih, bahkan cenderung asam.
Satu ciri khas lainnya yang unik adalah tahu yang disajikan bisa dipasangkan dengan sambal yang diracik menggunakan cabe rawit, tomat dan tauco. Rasa pedas dan segar berpadu apik dengan tahu hangat yang bercita rasa gurih.
Selain itu, tahu Bungkeng juga bisa disantap dengan lontong atau nasi. Harga tahu per potongnya pun hanya sekitar Rp 1 ribu, dengan tambahan Rp 1 ribu untuk lontong, Rp 5 ribu untuk nasi dan Rp 3 ribu untuk sambalnya.
Seiring perkembangannya, tahu Bungkeng pun senantiasa berinovasi dengan ragam produknya. Seperti tahu gehu alias tahu isi, atau Nori Tofu yang sejatinya merupakan tahu Sumedang dengan tambahan nori atau olahan rumput laut ala Jepang.
Wisatawan yang datang untuk membeli sebagai oleh-oleh juga dapat membeli tahu yang masih mentah. Jika membeli yang sudah dimasak, bisa memesan dari 10 hingga 100 tahu dalam satu kemasannya, dengan perkiraan awet sekitar satu setengah hingga dua hari.
Dan untuk menjangkau lebih banyak konsumen, tahu Bungkeng kini memiliki dua cabang tambahan. Satu di antaranya terletak di kawasan jalan Jendral Sudirman, Bandung. Setiap cabangnya buka dari jam 07.00 sampai jam 18.00.
Tahu Bungkeng
Jl. Sebelas April no. 53, Sumedang
Jl. Mayor Abdurachman no. 80, Sumedang
Jl. Jendral Sudirman no. 393, Bandung
Instagram: tahu.bungkeng
agendaIndonesia/audha alief praditra
*****
Eksotisme Kepulauan Selayar, 157 Kilometer dari Makassar
Eksotisme Kepulauan Selayar jarang dirambah traveler Indonesia. Mungkin karena jaraknya yang cukup jauh dari Makassar, 157 kilometer, dan melewati laut. Menikmati udara sejuk, laut jernih, dan sajian daging ikan yang manis, adalah pesona yang dijanjikan pulau ini.
Eksotisme Kepulauan Selayar
Langit terlihat sembuat jingga di Pelabuhan Pamatata, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Dua jam perjalanan dengan Kapal Motor Feri Bontoharu dari Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba, terasa sangat menyenangkan. Berteduh di bawah langit biru yang dihiasi titik-titik awan putih, dengan sesekali ada atraksi lumba-lumba dan ikan terbang yang melompat ke permukaan air. Wow, menyenangkan.
Begitu kapal sandar di pelabuhan, perjalanan dilajutkan dengan bus sekitar 1,5 jam menuju Benteng, ibu kota Kabupaten Selayar. Malam sudah menyelimuti Benteng saat bus tiba di kota kecil itu. Sepiring nasi santan, sambal belimbing, dan ikan bakar kikang, yang menjadi salah satu sajian khas daerah kepulauan ini, menjadi hal pertama yang menyambut perjalanan kami malam itu. Tampilan kikangsebenarnya biasa saja, tak tercium bau amis sama sekali. Dagingnya putih, bersih, dan empuk. Rasanya manis.
Setelah urusan perut selesai, dua rekan di sana, kami sempat menjelajahi sudut-sudut kota di malam hari sebelum akhirnya beristirahat. Ini kegiatan yang layak dilakukan jika perjalanan ke tempat baru. Benteng kotanya tak terlalu besar, sehingga tak lama menikmatinya di malam hari
Agenda pertama keesokan harinya adalah perjalanan ke Pulau Gusung. Pulau ini membentang di depan Kota Benteng. Jalan-jalan ke pulau ini untuk melihat “tabungan ikan” dalam keramba tancap dan keramba apung milik warga Desa Bontolebang, Kecamatan Bontoharu. Seperti namanya, tiang-tiang keramba tancap itu ditancapkan ke laut dengan kedalaman sekitar 5 meter. Jaring yang digunakan berbentuk persegi, setiap bagian ujungnya terpaut pada sebuah pancang.
Di dalam kotak inilah terperangkap ikan kerapu jenis sunu yang dibudidayakan warga. Menurut warga Desa Bontolebang, bibit ikan ditangkap dari alam. Warna-warni ikan sunu dengan tubuh berbintik-bintik ini sungguh menyajikan pemandangan menakjubkan. “Akuarium alam,” begitu orang biasa menyebutnya.
Pelayaran menuju Desa Bontolebang dilakukan dengan perahu jo’lloro bermesin motor milik Kepala Desa. Tampak tiang-tiang keramba dihinggapi bangau. Mendekati Pulau Gusung, air laut terlihat hijau karena tanaman lamun, senada dengan pohon-pohon kelapa yang berjejer rapi di tepian pulau. Sambutan warga seramah lambaian nyiur. Rumah-rumah berdiri dengan begitu teratur di antara rimbunan pohon kelapa, berjejer menghadap jalan kecil yang terbuat dari paving block. Suguhan kelapa muda dari warga melengkapi perjalanan kali ini.
Sebelum kembali ke Benteng, pengunjung diajak lagi melihat bagaimana ikan-ikan dalam “akuarium alam” diberi makan. Saharuddin alias Opa, seorang petugas, menenteng ember berisi potongan ikan segar. Begitu suguhan itu dimasukkan, seketika ikan-ikan berkerumun dan berebutan pakan. Jangan coba-coba Anda menurunkan tangan maupun kaki ke keramba, bisa-bisa menjadi sasaran ikan karena dianggap pakan.
Perjalanan di hari yang gerah dan melelahkan itu ditutup dengan menikmati ketenangan sore di Pantai Baloiya, Desa Patikarya, Kecamatan Bontosikuyu. Obyek wisata yang disebut-sebut mirip Tanah Lot di Bali ini berjarak sekitar 10 kilometer dari Benteng. Saat menuju Pantai Baloiya, pengunjung akan melewati museum tempat penyimpanan Gong Nekara. Gong ini memiliki luas lingkaran 396 sentimeter persegi, luas lingkar pinggang 340 sentimeter persegi, dan tinggi 95 meter. Konon, ini adalah gong terbesar di Asia Tenggara dan tertua di dunia.
Dari cerita penduduk setempat, Gong Nekara tidak sengaja ditemukan oleh Sabuna dari Kampung Rea-rea pada 1686 di sawah Raja Putabangun, Papaniohea. Gong bercorak unik ini lantas dipindahkan ke Bontobangun dan menjadi kalompoang atau arajang—benda yang dikeramatkan setelah berakhirnya pemerintahan Dinasti Putabangun pada 1760.
Setelah melewati Bontobangun, kami memasuki kawasan Bontosikuyu. Hanya sekitar 15 menit berkendaraan roda empat pemandangan pantai yang eksotis dengan keindahan hamparan pasir putih menyambut ramah. Panjang pantai mencapai 300 meter. Sebuah batu besar di tengah pantai tampak bagian atasnya ditumbuhi tanaman asoka.

Tak jauh dari tempat itu, terdapat gua alam Baloiya, jaraknya sekitar 500 meter. Di Desa Patikarya ada beberapa gua yang saling berhubungan. Jika waktu kunjungan cukup, pengunjung bisa menjelajahi goa-goa tersebut. Sayang, kunjungan kali ini waktu kami terbatas, sehingga perjalanan ke Baloiya terpaksa disudahi. Kami bergegas kembali ke Benteng untuk makan malam dan istirahat. Tentu tak lupa mencari sedikit buah tangan, selain olahan serba ikan, Selayar terkenal sebagai penghasil emping, kenari, dan jeruk Selayar. Jangan sungkan membawanya, sebab Selayar tak setiap hari kita kunjungi. Dari Benteng kita harus naik feri ke Pelabuhan Bira, Bulukumba. Lalu, disambung perjalanan sekitar 5 jam via darat menuju Makassar.
Taman Nasional Takabonerate
Selayar juga terkenal dengan Taman Nasional Takabonerate—taman laut yang mempunyai kawasan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshalla dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Luasnya mencapai 220 ribu hektare dengan sebaran terumbu karang mencapai 500 kilometer persegi.
Rasanya perlu waktu sekitar sepekan untuk menikmati secara lengkap pesona Selayar karena infrastruktur yang belum lengkap. Jika perjalanan dilakukan mulai dari Jakarta, maka pengunjung harus terbang dulu ke Makassar di Sulawesi Selatan, baru ke Kepulauan Selayar. Bila beruntung, kadang ada jadwal penerbangan dari Makassar langsung ke Selayar dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. Ini akan membantu menghemat waktu perjalanan.
Irma/TL/agendaIndonesia
*****
10 Kampung Batik, Semua Unik Dan Khas
10 kampung batik di pulau Jawa ini mungkin bisa menjadi panduan bagi para pelancong ketika jalan-jalan dan mencari oleh-oleh. Kesepuluhnya memiliki keunikan dan kekhasannya masing-masing.
10 Kampung Batik
Batik Indonesia sejak 2 Oktober 2009 telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya. Sejak itu, industri batik Indonesia semakin berkembang pesat. Itu juga membesarkan sentra-sentra dan kampung-kampung batik di berbagai daerah di Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, sentra industri kreatif batik tidak hanya mendatangkan potensi di subsektor fashion saja, banyak potensi lain muncul dengan menjadikan pusat-pusat pengrajin batik sebagai destinasi wisata budaya. Berikut ini adalah 10 kampung batik yang ada di Pulau Jawa.

Kampung Batik Palbatu Jakarta
Dimulai dari ujung Barat Pulau Jawa, kampung batik juga terdapat di kawasan ibukota, yakni di Palbatu, Jakarta. Pusat batik ini diberi nama Kampung Batik Palbatu yang berlokasi di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan. Meski tergolong masih baru, kampung batik Palbatu telah menorehkan dua rekor MURI, yaitu jalan batik terpanjang dan rumah warga yang paling banyak dilukis motif batik.
Di sentra batik Palbatu terdapat sebuah sanggar yang dijadikan tempat bagi wisatawan belajar membatik. Ciri khas dari sentra batik ini adalah motif batik Betawi. Hal ini pun yang melatarbelakangi berdirinya sentra batik Palbatu, yaitu melestarikan motif batik Betawi.
Kampung Batik Trusmi Cirebon
Selanjutnya 10 kampung batik ada Batik Trusmi Cirebon. Sejak dulu Cirebon dikenal sebagai salah satu pusat pengrajin batik terbaik di Indonesia. Sentra Batik Trusmi terletak di kawasan Plered, atau sekitar empat kilometer sebelah barat Kota Cirebon. Terletak tak jauh dari jalur utama Pantura, membuat sentra batik ini mudah diakses oleh wisatawan.

Kampung batik Trusmi sendiri merupakan sebuah desa yang dihuni oleh para pengrajin batik di Cirebon. Hingga saat ini, terdapat lebih dari 3.000 pelaku industri kreatif di sana. Motif batik premium di kawasan ini adalah motif Batik Mega Mendung dan Paksi Naga Liman. Wisatawan dapat memasuki daerah sentra batik Trusmi dan belajar membatik langsung dari para pengrajin batik.
Kampung Batik Kauman Pekalongan
Pekalongan merupakan salah satu kota yang tersohor akan kualitas batiknya. Pekalongan telah diresmikan sebagai sentra batik sejak 2007. Selain berhasil membuat berbagai batik berkualitas, Kampung Kauman Pekalongan sukses menjadi desa wisata nasional.
Di kawasan ini ada berbagai macam motif batik, dan dibuat dengan berbagai teknik, mulai dari tulis, cap, maupun kombinasi keduanya. Keunikan batik Pekalongan adalah motifnya yang banyak dipengaruhi oleh budaya Arab, Tionghoa, Melayu, India, Jepang, hingga Belanda.
Kampung Batik Kauman tidak hanya menjadi destinasi wisata budaya, namun juga salah satu 10 kampung batik pusat berbelanja batik Indonesia yang orisinal. Sama seperti pusat batik lain, di kawasan ini wisatawan juga diperbolehkan untuk belajar membuat batik sendiri dengan bimbingan pengrajin.
Kampung Batik Semarang
Masih di wilayah Jawa Tengah, satu dari 10 kampung batik juga terletak di kawasan Semarang. Kawasan Kampung Batik Semarang berlokasi di dekat Kota Lama dan Pasar Johar. Kampung batik ini berfungsi sebagai pusat produksi motif baru yang mencerminkan Kota Semarang.
Selain menjadi pusat pembuatan batik, sentra batik ini juga dibuka untuk kunjungan wisatawan. Untuk menarik wisatawan, sentra batik Semarang dihias menggunakan lukisan dinding bermotif batik yang menambah keindahan dan menarik perhatian.

Kampung Batik Giriloyo Yogyakarta
Yogyakarta merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang sangat identik dengan budaya membatik. Satu dari 10 kampung batik tulis khas Keraton Yogyakarta berada di kampung batik tulis Giriloyo. Suasana industri kreatif kriya di daerah ini sangat kental terasa, karena hampir 90 persen penduduknya berprofesi sebagai pengrajin batik.
Lokasi sentra batik ini berada di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Di samping mengembangkan ekonomi kreatif pada subsektor kriya, kampung batik Giriloyo juga menyediakan paket pendidikan pariwisata batik. Paket ini menawarkan perjalanan wisata ke rumah-rumah tradisional dan makam raja-raja Mataram di puncak Bukit Imogiri.
Kampung Batik Laweyan Solo
Sama dengan Yogyakarta, Surakarta juga memiliki beberapa kampung batik yang dapat dikunjungi wisatawan. Sentra batik yang paling banyak menarik minat wisatawan adalah kampung batik Laweyan. Perjalanan industri kriya di Laweyan sudah dimulai sejak abad ke-19. Hingga saat ini kampung batik Laweyan telah memproduksi sekitar 250 motif batik khas dan telah dipatenkan.
Sebagian besar penduduk di Laweyan bekerja sebagai pengrajin batik dan distributor. Selain bergerak dalam industri kriya, masyarakat setempat juga mengembangkan bisnis pariwisata, yakni dengan menyediakan paket wisata lokakarya membatik.
Kampung Batik Girli Kliwonan Sragen
Berlokasi tidak jauh dari Kota Surakarta, wisatawan juga dapat mengunjungi kampung batik Girli Kliwonan di Sragen. Nama Girli diambil dari letak sentra batik ini yang berada di pinggir Sungai Bengawan Solo.
Karya batik yang dihasilkan di lokasi ini identik dengan warna hitam kecokelatan dengan motif geometris, bintang-bintang, bunga, dan corak khas lainnya. Saat ini, masyarakat di kampung batik Girli Kliwonan Sragen tidak hanya berprofesi sebagai pengrajin batik, namun juga mengembangkan bisnis homestay.
Sentra Batik Lasem Rembang
Memiliki motif yang khas, membuat sentra batik Lasem Rembang sangat direkomendasikan untuk dikunjungi. Batik Lasem memiliki ciri khas warna merah, biru, dan hijau tua yang menunjukkan kesan berani. Sedangkan motifnya tergolong sangat kompleks dibandingkan jenis batik lainnya.
Namanya yang kesohor mengantarkan batik Lasem sebagai salah satu komoditi ekspor Indonesia. Wisatawan dapat mengunjungi sentra batik ini untuk sekadar belajar membatik atau membeli batik langsung dari pengrajin.
Kampung Batik Jetis Sidoarjo
Beranjak ke Jawa Timur, ada pusat industri kreatif batik Indonesia, yakni kampung batik Jetis Sidoarjo. Sentra batik ini berlokasi di Desa Lemahputro, Sidoarjo. Masyarakat setempat sudah bergelut dengan industri kriya batik sejak 1970-an.
Batik Jetis memiliki kekhasan dari warna yang berani, seperti merah, biru, kuning, dan hijau. Sedangkan motif yang terkenal dari batik Jetis ini adalah motif burung merak. Serupa dengan sentra batik lainnya, wisatawan dapat berkunjung ke wilayah ini untuk belajar mengenai batik, sekaligus berbelanja langsung dari tangan pengrajin.
Kampung Batik Putat Jaya Surabaya
Kawasan yang dahulu terkenal sebagai pusat hiburan malam di Surabaya kini beralih fungsi sebagai kampung batik populer. Karena sempat terkenal dengan nama Gang Jarak, motif yang dikembangkan di sentra batik ini juga bertemakan nama tersebut, yakni daun dan buah jarak.
Lokasi kampung batik ini berada di Gang 8B, Putat Jaya, Surabaya. Jenis industri kreatif yang dikembangkan di area ini selain membuat seni kriya adalah paket wisata dan workshop.
agendaIndonesia/kemenparekraf
*****
Kuliner Khas Maluku, Ini 6 Harus Dicoba
Kuliner khas Maluku sudah tentu menjadi hal yang layak dicicipi saat traveler jalan-jalan ke Ambon. Ada banyak ragam kuliner yang menggugah selera dan sayang jika dilewatkan.
Kuliner Khas Maluku
Makanan paling ikonik dari Ambon, juga Maluku dan Papua, tentu saja adalah papeda. Menu makanan utama ini terbuat dari sagu ini biasanya disantap bersama sup ikan dengan lauk sampingan lain, seperti sambal colo-colo, kohu-kohu, atau ikan komu asar. Buat yang mencari masakan berbahan beras atau nasi ada nasi lapola.
Selain makanan utama, ada juga camilan yang tak kalah enak, beberapa di antaranya adalah rujak natsepa, pisang asar, asida, dan roti kering kenari. Makanan Khas Maluku banyak sekali variasi dan rasanya.
Masyarakat Maluku mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokoknya. Hasil laut yang melimpah melahirkan aneka makanan khas Maluku. Ada juga kue khas yang juga lezat rasanya. Selera kudapan itu ternyata digemari wisatawan.

Papeda
Ini, seperti disebut di muka, kuliner khas Maluku dan Papua. Bahan dasarnya adalah tepung sagu, yang dimasak hingga terlihat seperti bubur. Teksturnya kental dan lengket dengan warna putih, rasanya tawar. Sekilas penampilannya mirip lem kertas.
Makanan tradisional ini biasanya disantap bersama mubara atau ikan tongkol, yang sudah ditambahkan bumbu kunyit. Kandungan serat di dalam papeda sangat tinggi, tapi rendah kalori.
Cara memakan papeda sangat unik, yakni dengan menyeruputnya langsungdari piring. Bisa juga menggulungnya menggunakan sumpit. Bagi yang tidak terbiasa biasanya merasa kesulitan. Tapi itulah keunikan menyantap papeda.
Ikan Asar
Ini adalah kuliner khas Maluku berupa ikan asap atau ikan asar yang diolah secara sederhana dengan diasap. Soal rasa, sangat lezat. Ikan yang digunakan biasanya ikan cakalang atau ikan tuna. Karena dagingnya lebih tahan ketika proses pengasapan.
Selain disantap di tempat, wisatawan bisa menjadikannya buah tangan buat keluarga atau kerabat. Karena ikan asar memiliki daya tahan hingga tujuh hari. Kuliner ini bisa disantap bersama nasi dan sambal colo-colo (sambal khas Maluku).
Cara pengasapan ikan asar adalah dengan ditusuk menggunakan bambu. Pengasapan biasanya membutuhkan waktu satu jam. Biasanya saat dijual ikan masih tertusuk bambu.

Gohu Ikan Maluku
Kalau di Jepang ada sashimi, di Maluku dan Maluku Utara ada Gohu Ikan, yang merupakan makanan khas Maluku berbahan dasar daging ikan mentah. Biasanya masyakat menggunakan ikan cakalang dan ikan tuna. Cara pembuatannya terbilang mudah, dengan memotong daging ikan seperti dadu. Kemudian mencucinya, dan melumurinya dengan perasan lemon, dan garam. Sesudah itu bisa menambahkan daun kemangi. Lalu adonan itu didiamkan beberapa saat.
Untuk menambah selera, biasanya ditambahkan bumbu tumisan cabe rawit, dan bawang merah yang dirajang. Bumbu itu dituangkan di atas ikan, dan siap dinikmati.

Ikan Kuah Pala Banda
Masyarakat Maluku memang kreatif dalam mengolah hasil lautnya. Ikan Kuah Pala Banda adalah kreasi kuliner yang wajib wisatawan cicipi. Sesuai namanya, kudapan ini berasal dari Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Di mana daerah ini sangat terkenal sebagai penghasil komoditi rempah-rempah, yang sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda.
Santapan lezat ini menggunakan bahan dasar ikan kerapu atau ikan kakap. Berbagai bumbu digunakan, seperti merica, pala, dan jenis rempah lainnya. Rasanya asam bercampur dengan rasa pedas. Dulunya, makanan ini adalah hidangan istimewa untuk para pejabat Belanda. Kudapan ini makin nikmat disantap bersama nasi, ulang-ulang, dan sambal bekasang.
Nasi Lapola
Nasi juga digemari masyarakat Maluku. Nasi lapola adalah bukti kuliner khas Maluku, yang menjadi makanan pokok sebagian masyarakatnya. Bahan dasarnya adalah beras, parutan kelapa muda, dan kacang tolo. Biasanya kudapan ini disantap berbarengan dengan lauk, seperti kohu-kohu (olahan ikan teri atau tongkol basah), dan lalapan mentah.
Memasak berasnya harus menggunakan api kecil, agar hasilnya lebih bagus. Beras dimasak hingga setengah matang, dan ditambahkan pula kelapa parut yang sudah diberikan bumbu bawang putih, bawang merah, cabai merah, dan jeruk nipis. Sesudah itu, adonan nasi lapola dikukus sampai matang. Biasanya juga dinikmati dengan sambal colo-colo. Sambal khas Maluku dengan komposisi kecap, bawang merah, cabai rawit, dan tomat.
Woku Komo-komo
Kuliner khas Maluku ini terbuat dari tepung, yang merupakan hasil olahan dari teras batang rumbia. Sehingga woku komo-komo sebenarnya lebih cocok sebagai lauk makanan pokok. Proses pembuatannya dengan merendam sagu di dalam air. Supaya meningkatkan citarasanya digunakan beragam bumbu pilihan, seperti jahe, serai, bawang putih, yang ditumis bersamaan.
Kemudian ditambahkan juga jeroan ikan dan juga air. Semuanya dimasak sampai terlihat matang. Lalu, bawang putih dan bawang merah ditumis sampai nampak kecoklatan. Selanjutnya, menambahkan irisan daun bawang, merica, garam, dan santan kental.
Sesudah matang, sagunya didiamkan terlebih dahulu hingga dingin. Jeroan ikannya dipotong-potong seperti bentuk dadu. Seterusnya jeroan ikan dan sagu yang sudah dipotong-potong dibungkus dengan daun woka. Nah, tahapan terakhir adalah memanggang bungkusan daun woka tersebut menggunakan bara api.
Panggang sampai terlihat kering daunnya, sebagai pertanda makanan sudah matang. Selain dikenal dengan sebutan woku komo-komo, kudapan ini juga dikenal dengan nama sagu komo-komo.
Perjalanan menuju ke Kota Ambon bisa ditempuh melalui transportasi laut dan udara. Untuk jalur laut, Ambon memiliki sebuah pelabuhan bernama Pelabuhan Yos Sudarso yang terletak di Jl. Yos Sudarso, Kel Honipopu, Sirimau, Kota Ambon. Pelabuhan ini menyediakan perjalanan antar pulau, seperti dari Jakarta, Surabaya, Makassar, Kupang, dan Jayapura.
Sedangkan untuk transportasi udara, Sobat Pesona bisa mengambil rute perjalanan menuju Bandara Internasional Pattimura Ambon dari beberapa kota besar di Indonesia, antara lain Medan, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Makassar.
Ayo ke Ambon dan nikmati kuliner khas Maluku.
agendaIndonesia
*****
Getuk Trio Magelang, Manis 5 Lapis
Getuk Trio Magelang senantiasa tampil unik dan manis dalam lima lapis dan tiga warna khasnya. Aslinya ini adalah ragam jenis getuk lindri. Makanan tradisional berbahan dasar singkong ini sudah umum dikenal sebagai salah satu penganan dan oleh-oleh khas kota Magelang dan telah lama menjadi bagian penting dari budaya warga kota sejuta bunga ini.
Getuk Trio Magelang
Getuk umumnya terbuat dari singkong yang direbus dan dihaluskan dengan cara digiling atau ditumbuk, kemudian diberi gula dan pewarna makanan. Terkadang getuk juga diberi tambahan parutan kelapa sebagai pelengkap. Konon makanan ini tercipta pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1940-an.

Kala itu, bahan pangan pokok seperti beras sangat langka dan tidak terjangkau oleh masyarakat kelas bawah. Kemudian sebagai substitusi beras, banyak warga Magelang yang membuat, membeli dan mengonsumsi getuk, karena saat itu singkong lebih murah dan mudah ditemui.
Cerita Getuk Trio sendiri dimulai pada 1958. Hendra Samadhana, sang pendiri, sebelumnya bekerja sebagai pemilik bengkel. Namun melihat popularitas getuk sebagai penganan khas warga Magelang, Jawa Tengah, yang terus naik, terbersit niatnya untuk membuat produk getuk yang tak hanya diminati kalangan kelas bawah, tapi juga menengah ke atas.
Lantas bersama istrinya, Setiawati, ia mulai berkreasi membuat getuk yang unik dan spesial dari getuk lain yang sudah ada. Menggunakan perkakas dan komponen yang ada di bengkel, ia membuat mesin penggiling singkong agar hasilnya getuk bisa lebih halus dan lembut.
Selain itu, Hendra dan Setiawati juga memberikan satu ciri khas pada getuk buatannya: tiga warna berbeda berupa coklat, putih dan merah muda. Ciri ini pula yang terus dipertahankan hingga kini.
Pemilihan ciri khas tiga warna tersebut bukan tanpa sebab. Ketiga warna itu melambangkan ketiga anak mereka, serta usaha bengkel dan toko kelontong milik keluarga mereka yang kebetulan sama-sama bernamakan ‘Trio’. Dari situlah pula nama Getuk Trio lahir.
Mulanya, sang istri menjajakan getuknya kepada orang tua teman anak-anaknya di sekolah. Mulai mendapat respon bagus dan minat yang tinggi, Getuk Trio mulai dititipkan lewat beberapa toko roti di Magelang. Secara kebetulan, salah satu toko roti tersebut merupakan langganan dari Akademi Militer (Akmil) Magelang, sehingga getuk mereka pun mulai populer di kalangan Akmil, utamanya jika sedang ada perhelatan tertentu.
Pada 1960, Ratu Thailand pada saat itu, Ratu Sirikit, tengah melakukan kunjungan ke Akmil. Toko roti tersebut pun seperti biasanya didaulat untuk menyediakan konsumsi makanan pada acara mereka.
Salah satu makanan yang dihidangkan adalah Getuk Trio, dan ketika Ratu Sirikit mencobanya, ia berdecak kagum dan mengaku sangat menyukai penganan tersebut. Sampai-sampai, Getuk Trio Magelang pernah dijuluki ‘getuk Sirikit’ kala itu.
Publisitas tersebut mengangkat pamor produk Hendra itu sebagai salah satu getuk terpopuler di Magelang. Lebih hebatnya lagi, getuk lainnya secara umum juga ikut terangkat kodratnya dari pengganti makanan pokok warga kelas bawah menjadi kudapan masyarakat menengah ke atas. Getuk tak lagi hanya identik sebagai makanan ‘murahan’ dan mulai diminati banyak kalangan, bahkan semakin banyak merek-merek baru penjual getuk bermunculan.
Menghadapi persaingan yang semakin marak, Getuk Trio Magelang dapat terus bertahan sampai sekarang dengan kualitasnya yang selalu terjaga. Beberapa upaya mempertahankan kualitas tersebut terlihat dari pemilihan singkong yang digunakan selalu berumur maksimal satu tahun. Selain itu, singkong yang digunakan juga khusus jenis Singkong Kinanti yang diklaim punya cita rasa manis secara alami.
Satu hal yang juga perlu diperhatikan, khususnya bagi yang ingin membeli untuk oleh-oleh, Getuk Trio tidak menggunakan bahan pengawet, agar tidak mengganggu cita rasa aslinya. Karena itu orang harus maklum jika makanan ini biasanya hanya awet sekitar dua sampai tiga hari.
Sangat dianjurkan untuk dikonsumsi segera atau dibawa dalam perjalanan tak lebih dari sehari. Ini juga membuat pengiriman ke luar kota dan terlebih ke luar negeri menjadi agak sulit. Pada kemasan, bisanya tertempel tanggal produksinya. Alias tanggal saat dijual. Mereka selalu mengingatkan getuknya harus habis sebisa mungkin 24 jam setelah pembelian.
Saat ini, bisnis Getuk Trio dijalankan oleh sang anak, Herry Wiyanto, selepas wafatnya sang ayah. Sentra penjualannya kini terdapat di Jalan Mataram, Magelang, dengan satu cabang di Jalan Tentara Pelajar. Selain itu, mereka juga masih menjaga kemitraan dengan toko roti dan penganan lainnya seperti toko Mekar; toko Sari Rasa; toko Lezat; toko Endang Jaya; toko Barokah Agung; toko 88; toko Tape Ketan Muntilan, dan beberapa lainnya.
Getuk Trio biasanya dikemas dalam kotak karton, dengan harga bergantung dari berapa isi di dalamnya. Kotaknya sendiri masih berdesain sama dari ketika dulu produk ini mulai dijual untuk umum. Alasannya demi melestarikan jati diri dan sejarahnya sebagai salah satu merk top getuk Magelang. Yang cukup umum dibeli oleh konsumen adalah satu kotak isi 12 atau 16 buah yang harganya sekitar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu.
Berita baiknya, toko-toko resmi Getuk Trio kini juga menjadi pusat oleh-oleh dan turut menjajakan berbagai jenis penganan lainnya, seperti wajik, tape ketan, ledre pisang, roti jahe, dan lain lainnya. Semakin memudahkan bagi wisatawan yang sedang mencari oleh-oleh, bisa langsung datang dan mendapatkan segala macam produk penganan di satu tempat.
Toko di Jalan Mataram buka dari jam 08.00 hingga jam 17.30, sementara cabang Jalan Tentara Pelajar buka dari jam 08.30 sampai jam 18.00. Dalam seminggu, mereka selalu buka kecuali pada hari Selasa. Untuk pemesanan atau info lebih lanjut dapat menghubungi mereka, atau mengunjungi situs resmi getuktrio.co.id dan laman Instagram resmi @getuktrio58.
Getuk Trio Magelang
Jl. Mataram no. 47, telp. (0293) 363536
Jl. Tentara Pelajar no. 58, telp. (0293) 364538
agendaIndonesia/Audha Alief P.
*****









