3 Hari Seputar Medan: Sejarah, Belanja dan Kuliner

Istana Maimu Medan nizar kauzar unsplash

3 Hari seputar Medan kita bisa menikmati paket lengkap sebuah liburan. Mulai dari mengenal sejarah, hewan liar, tempat ibadah, serta tentunya menikmati sajian laut.

3 Hari Seputar Medan

Luas Sumatera Utara memang luar biasa, yaitu 72.981,23 kilometer persegi. Itu mencakup 33 kota dan kabupaten. Untuk mengenal semua obyek wisata di provinsi ini memang diperlukan waktu panjang dan tekad bulat. Selain luas, wilayahnya dipenuhi kelokan dan perbukitan, membuat perjalanan berlangsung lebih lama dibanding dengan kota-kota yang lebih memiliki jalan rata dan lurus.

Bila hanya memiliki waktu sehari, pilihan Anda adalah mengunjungi obyek wisata di dalam Kota Medan. Jika mempunyai waktu hingga dua hari, pada hari kedua Anda bisa meluncur ke Berastagi. Sebelum kembali ke kota asal di hari ketiga, bila menggunakan kendaraan roda empat, Anda juga bisa menikmati pantai-pantai yang berada tidak jauh dari bandara baru, Kuala Namu, di Deli Serdang.

Hari Pertama: Tjong A Fie, Satwa Liar, dan Belawan

Anda sebaiknya memilih penerbangan pagi dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, semisal pukul 7 pagi. Jadi, kegiatan melancong bisa langsung dimulai di hari pertama. Setelah menaruh koper atau ransel di penginapan di Medan, mulailah perjalanan dengan menuju obyek wisata dalam kota, yakni Rumah Tjong A Fie.

Terletak di pusat kota, atau tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Medan, rumah milik pengusaha asal Cina ini masih berdiri kokoh dan terawat di lingkungan bangunan tua. Sebagian besar bangunan bisa dicermati turis dengan membayar tiket masuk Rp 35 ribu per orang. Masih ada bangunan yang ditinggali cucu-cucu dari bankir yang hidup antara 1860 dan 1911 itu. Mengelilingi rumah tersebut, kita seperti mempelajari sejarah awal perkembangan Kota Medan.

Berkeliling selama satu jam rasanya cukup. Kemudian, Anda bisa singgah di resto untuk makan siang. Tujuan berikutnya adalah Rahmat International Wildlife Museum & Gallery di Jalan S. Parman Nomor 309, yang menampilkan beragam jenis satwa dari berbagai negara. Tercatat ada sekitar 1.000 spesies serangga dan hewan liar di tempat ini. Galeri tersebut dimiliki pengusaha Rahmat Shah, yang gemar berburu. Untuk mengamati hewan-hewan yang ditempatkan di tiga lantai itu, pengunjung harus mengeluarkan uang Rp 25 ribu.

Jika masih ingin bertemu dengan hewan liar, silakan langsung melaju ke Taman Buaya di Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang. Dengan membayar tiket masuk seharga Rp 6 ribu, wisatawan bisa menemukan berbagai buaya, dari yang kecil hingga yang berusia 40 tahunan, dalam bak khusus. Selain itu, ada kumpulan buaya yang berendam dalam sebuah danau. Taman Buaya ini didirikan oleh Lo Than Mok pada 1959. Sebelum sore menjelang, Anda perlu beranjak dari sana agar bisa menikmati wisata belanja di Belawan.

Ada deretan toko di Jalan Simalungun dan Jalan Veteran Belawan yang sering diburu para turis penggemar barang bermerek. Yang paling menonjol tentu saja kerajinan keramik, terutama guci yang tingginya mencapai 2 meter dengan harga berkisar Rp 15 juta rupiah. Selain itu, ada produk keramik mini senilai Rp 35 ribu. Pelancong yang gemar tampil wah, biasanya mencari aksesori, seperti tas, sepatu, dan ikat pinggang. Puas berbelanja, saatnya untuk menyantap ikan laut yang memang menjadi hidangan khas Belawan. Anda bisa mencicipi kepiting, kerang, dan sejenisnya. Setelah perut kenyang, tinggal kembali ke hotel untuk beristirahat.

Hari Kedua: Berastagi, Pagoda, dan Wihara

Setelah menikmati sarapan, wisatawan sebaiknya langsung melaju ke Berastagi untuk menikmati kesejukan kota yang berada pada ketinggian 1.220 meter di atas permukaan laut itu. Ada gunung cantik di sekitarnya, yakni Gunung Sibayak. Sejatinya ada dua, satunya adalah Guung Sinabung. Sayangnya beberapa tahun terakhir Sinabung dalam situasi waspada setelah erupsi. Jika situasi aman, bisa juga meluncur ke

 Danau Lau Kawar di kaki Gunung Sinabung. Dalam perjalanan menuju danau ini, Anda akan melintasi kebun-kebun sayur.

Terdapat arena berkemah di Lau Kawar. Bila ingin mengelilingi danau, pengunjung bisa menyewa perahu dengan tarif Rp 10 ribu. Obyek wisata ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Karo, yang biasanya ramai di akhir pekan atau masa libur. Jika masih ingin menikmati pemandangan serba hijau, saat kembali ke arah Berastagi, mampirlah ke Bukit Gundaling. Bukit itu berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kota. Sebenarnya, paling tepat Bukit Gundaling disinggahi pada malam hari. Sebab, dari lokasi inilah bisa dilihat kerlap-kerlip Kota Berastagi dan Karo.

Melaju ke arah Medan, masih ada satu lokasi lagi yang menarik dikunjungi, yakni Taman Alam Lumbini. Di taman tersebut, replika Pagoda Shwedagon menyeruak di antara kebun sayur dan tampak mencolok dalam warna keemasan. Replika pagoda itu benar-benar mempesona karena warna dan bentuk bangunan yang khas. Untuk mencermati tempat ibadah umat Buddha dan taman di sekelilingnya, yang berada di Desa Tongkeh Kecamatan Dolat Rakyat, Kabupaten Karo, tidak dipungut biaya.

Puas dengan kesegaran udara di Berastagi dan beres mengisi perut, waktunya kembali ke Medan. Masih ada yang bisa ditengok di kota ini, seperti Istana Maimun, gedung-gedung tua, dan klenteng. Pengunjung pun bisa menghabiskan sore hari di sekitar Maha Vihara Maitreya, yang terletak di Perumahan Cemara Asri, Jalan Boulevard Utara, Medan.

Sebagai salah satu wihara terbesar di Asia Tenggara, Maha Vihara Maitreya ramai dikunjungi tidak hanya oleh umat Buddha, tapi juga penganut agama lain. Apalagi wihara yang berdiri di atas lahan 4,5 hektare itu berada di lingkungan yang asri, yang dipenuhi pepohonan dan taman sebagai tempat persinggahan burung bangau pada sore hari. Di salah satu sisi taman itu, bisa ditemukan aneka jajanan.

Ketika langit mulai gelap, saatnya untuk beranjak. Wisatawan memiliki pilihan bersantap di resto yang berada tidak jauh dari wihara. Berbagai warung makan berderet, menyediakan beragam hidangan laut. Atau, pengunjung bisa menuju pusat kuliner di Jalan Wajir atau Jalan Kolonel Sugiono di tengah Kota Medan. Rata-rata warung di kawasan ini pun menawarkan hidangan laut yang segar dengan bumbu melimpah. Berada di emperan toko, warung-warung ini hanya buka di malam hari.

Hari Ketiga: Wisata Kuliner dan Pantai Sekitar Kuala Namu

Untuk mencapai Bandara Kuala Namu dari Medan, sebaiknya wisatawan menggunakan kereta api. Namun bila memiliki waktu luang di hari ketiga, sebelum kembali terbang ke Jakarta atau kota lain, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda empat serta mampir menjajal wisata kuliner dan bahari. Setelah membeli aneka oleh-oleh di pusat kota, dapat singgah untuk melahap makan siang di rumah makan Wong Rame, Jalan Raya Tanjung Morawa. Tidak hanya dikenal dengan hidangan ikan bakar, seperti ikan patin, gurame, ataupun bawal, tapi ada juga minuman spesial, yakni jus durian. Bila tidak sedang musim durian, harga per gelas jus spesial itu dipatok Rp 25 ribu.

Jika ingin menikmati pantai, ada dua pilihan yang bisa disinggahi, yakni Pantai Pondok Permai dan Pantai Cermin, yang bersisian. Masuk dalam wilayah Serdang Bedagai, yang bersebelahan dengan Deli Serdang, kedua pantai itu memiliki fasilitas liburan yang lengkap berupa wahana bermain dan resor.

Atau di hari terakhir, bagi para pencinta kopi, dijadikan kesempatan untuk menikmati kopi Sidikalang yang menjadi ciri khas Sumut. Bisa menjajal seduhan kopi di kedai kopi lawas di Jalan Hindu.

Rita N./Dhemas R./Dok. TL

Taman Nasional Bunaken, Indah Sejak 1885

Taman Nasional Bunaken adalah sorga bawah laut di Sulwesi Utara.

Taman Nasional Bunaken di Provinsi Sulwesi Utara merupakan bagian dari  kawasan Segitiga Terumbu Karang dunia. Istilah Segitiga Terumbu Karang itu sendiri adalah istilah geografis untuk perairan di Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste yang kaya akan terumbu karang.

Taman Nasional Bunaken

Bunaken merupakan sorga bawah laut di Indonesia yang boleh disebut paling dikenal oleh para penyelam. Jauh sebelum kawasan Raja Ampat di Papua Barat dan Wakatobi di Sulawesi Tenggara menjadi idola keindahan laut selanjutnya.

Jadi, sudah bisa dibayangkan betapa indah pemandangan laut yang bisa dijelajahi para pecinta alam bawah laut di Taman Nasional Bunaken. Untuk para pecinta wisata alam bawah laut, layak mengagendakan untuk menyelami keindahan dan pesona dari Taman Nasional Bunaken, surga bawah laut di Sulawesi Utara.

Senja di kota Manado, Sulawesi Utara.
Senja di Manado

Indonesia adalah negara kepulauan dengan luas wilayah yang didominasi oleh perairan. Oleh karena itu Indonesia dikenal akan kekayaan lautnya. Tak hanya dalam hal sumber daya perikanannya, bentang alam bawah laut Indonesia juga tersohor keindahannya.

Bunaken adalah taman nasional seluas 890,65 kilometer persegi, di mana 97 persennya merupakan habitat perairan laut. Sisa tiga persennya merupakan daratan. Wilayah daratan ini meliputi beberapa pulau, yakni pulau Bunaken, pulau Manado Tua, pulau Mantehage, pulau Naen, serta pulau Siladen.

Di dalam kawasan Taman Nasional Bunaken terdapat pula Gunung Manado Tua yang sudah tak lagi aktif. Kedekatan dengan gunung itu memang karena secara administratif kawasan ini terletak di Kecamatan Wori, Kotamadya Manado, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

Jarak Bunaken dari pelabuhan Manado dibutuhkan waktu tempuh sekitar 20 menit untuk menyebrang ke pulau terdekat, yakni pulau Siladen. Sementara itubutuh waktu sekitar 60 menit untuk menuju pulau terjauh di Taman Nasional Bunaken yakni pulau Naen.

Taman Nasional Bunaken penetapannya berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 730/Kpts-II/1991 yang diteken pada 15 Oktober 1991. Sedangkan peresmian Taman Nasional Bunaken dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 Desember 1992 di Bongohulawa.

Dalam penetapannya itu, fungsi pokok Taman Nasional Bunaken antara lain memberikan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa. Selain itu juga berfungsi sebagai pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Meski baru ditetapkan pada 1991, nama Bunaken  sudah dikenal sejak 1885. Itu terjadi ketika masyarakat Tanjung Parigi memilih pindah ke arah tenggara, tepatnya di tepi pantai yang menghadap Kota Manado.

Terumbu Karang Taman Nasional Bunaken shutterstok
Snorkeling di Taman Nasional Bunaken. Foto: shutterstock


Tempat baru itu oleh masyarakat yang pindah itu disebut sebagai Wunakeng, yang berasal dari kata Kiwunakeng yang artinya tempat tinggal. Seiring berjalannya waktu, daerah ini disebut juga dengan nama Bunaken yang berasal dari kata Pamunakeng yang artinya tempat singgah kapal-kapal.

Keindahan dan keanekaragaman hayati alam bawah laut di kawasan Taman Nasional Bunaken sendiri telah dikenal oleh para penyelam sejak 1975. Lalu pada 2005, Taman Nasional didaftarkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Sebuah taman nasional yang terkenal karena kekayaan terumbu karangnya.

Dari data yang ada, setidaknya ditemukan 390 spesies terumbu karang yang dapat ditemukan di wilayah perairan Bunaken. Area terumbu karang terdiri dari fringing, patch reef, serta barrier. Terdapat pula reef plat yang mengelilingi pulau-pulau yang ada di Bunaken, kecuali pulau Manado Tua.

Kekayaan alam lain di Bunaken adalah beberapa spesies alga yang kebanyakan berasal dari suku Halimeda, Caulerpa, dan Padina. Atau rumput laut yang didominasi spesies Thalassia hemprichii, Thalassaodendron ciliatum, dan Enhallus acoroides.

Di kawasan Taman Nasional Bunaken juga masih terdapat beberapa vegetasi di kawasan hutan bakau seperti Rhizophora sp., Sonneratia sp., Lumnitzera sp., dan Bruguiera sp. serta vegetasi yang hidup di daratan seperti woka, sagu, kelapa, beberapa jenis palem, pisang, mangga, silar, dan lainnya.

Taman Nasional Bunaken TN Bunaken

Selain vegetasi, kawasan perairan Bunaken merupakan rumah bagi berbagai spesies ikan, mamalia laut, reptil, hingga moluska. Setidaknya ada sekitar 91 spesies ikan seperti ikan kakatua, ikan kuda gusumi, ikan lolosi ekor kuning, hingga ikan moorish idol dan berbagai ikan lainnya.

Selain itu, terdapat pula biota lain seperti ikan duyung, kima raksasa, penyu sisik, penyu belimbing, hingga penyu hijau yang hidup di perairan ini.

Untuk wilayah daratan  Taman Bunaken, bisa ditemukan satwa-satwa seperti kuskus beruang, kuskus kerdil Sulawesi, monyet hitam Sulawesi, babi Sulawesi, tarsius, rusa, burung camar, merpati laut, hingga burung bangau.

Jika sedang jalan ke Sulawesi Utara, jangan sapai ketinggalan memasukkan Bunaken dalam agenda perjalanan. Selain tentu Likupang yang sedang naik daun.

agendaIndonesia

*****

Jajanan Yogya, 4 Yang Bikin Kangen

Bakmi Mbah Hadi salah satu ikon kuliner di Yogyakarta.

Jajanan Yogya selalu bikin kangen, terutama buat mereka yang pernah tinggal atau mengenyam pendidikan di kota pelajar ini. Yogya memang kota yang penuh daya tarik dan membuat orang yang pernah berkunjung kesana selalu merasa ingin “kembali” ke jajanan tempo dulu mereka .

Jajanan Yogya Tempo Dulu

Meskipun di tengah gempuran kuliner kontemporer dan waralaba raksasa, baik dari dalam maupun luar negeri, sejumlah jajanan asli Yogja masih tetap bisa bertahan hingga sekarang. Selain karena rasa dan lokasinya yang bikin kangen, juga suasana guyup, santai, dan klangenan yang membuat mereka mampu menembus jaman. Beberapa destinasi wisata jajanan tradisional hingga saat ini tetap kebanjiran pecintanya, berikut empat di antaranya.

Bakmi Pele Alun-Alun Utara

Bakmi Jawa yang sangat populer di Yogya adalah Bakmi Pele. Lokasinya yang sangat strategis di area pojok timur Pagelaran Alun-Alun Utara, membuat warung ini sangat mudah diingat. Didirikan pertama kali pada 1983 oleh Suharjiman, yang sehari-harinya bekerja sebagai pelatih bola anak-anak. Karena ada kaitannya dengan sepakbola itulah, maka tempat ini kemudian dikenal sebagai Bakmi Pak Pele atau Bakmi Pele.

Begitu warung dibuka di senja hari, antrian sudah mulai terlihat. Kalau pas akhir pekan atau libur panjang di Yogya, jangan harap pesanan kita bisa segera hadir di meja dengan cepat. Bisa-bisa harus menunggu cukup lama. Pada musim liburan mereka biasa menjual hingga 500 porsi per harinya. Dahsyat ya? Tips kami, sebaiknya jangan datang ke sini dalam keadaan sangat lapar. Hal tersebut dikarenakan mereka memasak pesanan kita maksimal hanya dua porsi untuk sekali masak. Sekali lagi, konon ini untuk menjaga cita rasanya.

Menu-menu yang tersedia di sini sangat bervariasi: selain mie rebus, mie goreng dan mie nyemek. Yang khas dari mie di sini adalah campuran tambahan telor bebeknya dan kol. Selain mie jawa, rupanya mereka juga punya menu andalan ayam rica-rica yang tidak ada di list dan hanya dibuat “based on request”. Adapun minuman andalan di sini yang menjadi favorit pengunjung yaitu wedang jahe panas yang diseduh dengan gula jawa.

Bakmi Pele

Arel Pojok Timur Pagelaran Alun-Alun Utara Yogyakarta

Buka jam 17.30 – 24.00

Lotek  Dan Gado-Gado Teteg Baciro

Disebut Lotek Teteg karena di awal berdiri pada 1968 lokasinya berada di sekitar teteg sepur (bahasa Jawa yang artinya pintu palang kereta api) di daerah Baciro. Karena pertimbangan keselamatan perkeretaapian, warung ini pindah lokasi di areal parkir Kantor DPD Golkar di Baciro.

Lotek merupakan makanan khas Jawa yang kaya sayur-sayuran. Bumbunyaterdiri dari kacang goreng, gula merah, cabe, bawang putih, kencur, air asam, dan garam. Campuran bumbu tersebut diuleg di dalam cobek batu hingga halus. Bumbu inilah yang kemudian dicampur dengan rebusan beberapa sayuran seperti bayam, kangkung, tauge, kol, kacang panjang . Dalam penyajiannya dilengkapi dengan kerupuk bawang.

Yang menarik perhatian di warung Lotek Teteg ini adalah cobek besar dengan ukuran diameter sekitar 80 cm. Diperlukan ketrampilan dan tenaga yang cukup kuat dalam proses menguleg bumbu tersebut. Tak heran, tugas menguleg bumbu dilakukan oleh seorang laki-laki .

Lotek dan Gado-gado Teteg

Jl. Argolubang 184 , Baciro, Yogyakarta

(timur Stasiun Lempuyangan)

Buka jam 8.30-16.00

Lotek Dan Gado-Gado Bu Bagyo Colombo

Masih menu makanan yang sama, gado-gado dan lotek. Ini nama lain yang legendaris di kota pelajar ini. Bermula dari usaha kecil di Jalan Moses Colombo, di samping Universitar Sanata Darma pada 1985. Sekarang pemiliknya telah membuka cabang di lebih dari 10 lokasi menyebar se antero Yogya dan sekitarnya. Jumlah karyawan yang bekerja di sini hampir 150 orang.

Untuk menjaga cita rasanya, setiap karyawan yang bertugas meng”uleg” adonan harus melewati pelatihan intensif selama kurun waktu tertentu. Bahkan untuk gado-gadonya, bumbunya dikirim langsung dari pusatnya di Colombo.

Yang khas dari racikan Lotek dan Gado-Gado Colombo ini adalah selain campuran bumbu kacang dan rebusan aneka sayur, tersedia bakwan goreng yang dipotong kecil-kecil yang diaduk bersama bumbunya. Rasa bakwan yang renyah dan gurih ini yang membuat penikmatnya ketagihan untuk menghabiskan hingga sendok terakhir.

Lotek dan Gado-gado Bu Bagyo Colombo

Pusat; Jl. Moses Gatotkaca No.3 Yogyakarta

(samping kampus Universitas Sanata Dharma)

Buka jam 09.00-17.00

SGPC Bu Wiryo

Destinasi kuliner ini merupakan tempat sarapan pagi yang cukup terkenal di Yogyakarta. SGPC sendiri kependekan dari Sego Pecel. Bagi sebagian orang yang pernah kuliah di Universitas Gadjah Mada dan sekitarnya, biasanya rasanya ada yang kurang bila belum absen sarapan di warung ini.

Pada awalnya SGPC berlokasi di sebuah lahan sempit di fakultas Tekonolgi Pertanian UGM, atau di sebelah timur Kantor Pusat UGM, dan didirikan sejak 1959 oleh keluarga Wiryosoenarto. Sejak 1994 mereka pindah ke areal yang lebih luas di Jl. Agro sebelah Utara Selokan Mataram atau utara Fakultas Peternakan.

Menu utama yang disediakan tentunya nasi pecel berisikan aneka sayuran seperti bayam, kangkung, kacang panjang, tauge dan kol. Ada juga menu tambahan lain, yakni  nasi sop. Nasi sop nya unik karena dikombinasikan dengan sayur bayam. Yang khas dari warung ini adalah semua kelengkapan menu, yaitu lauk pauknya, disajikan rapi berjajar di satu meja memanjang. Kita tinggal pilih dan ambil sesuai selera. Apa saja? Ada telor ceplok, tahu tempe goreng, aneka camilan gorengan tempo dulu dan juga sate kerang dan sate telor puyuh.

Kalau masih belum puas makan di tempat, kita bisa membeli bumbu pecelnya saja. Harganya? Siap-siap merogoh kocek lebih dalam, Rp 150 ribu/kg. Cukup mahal untuk ukuran bumbu pecel. Tapi bagi sebagian orang yang  punya keterikatan emosional dengan rasa SGPC Bu Wiryo aang membelinya.

SGPC Bu Wiryo

Jl. Agro CT VIII No. 10, Klebengan Yogyakarta

Buka : jam 06.00 – habis (sore)

7 Puncak Indonesia, Indah Dan Menantang

7 puncak indonesia dcngan titik tertinggi di Puncak Jaya Wijaya di Papua. (shutterstock)

7 Puncak Indonesia bagi para pendaki gunung di negeri ini merupakan impian untuk menggapainya. Semuanya merupakan titik tertinggi dari Sabang sampai Merauke, dengan keindahan dan tantangannya masing-masing.

7 Puncak Indonesia

Indonesia tidak hanya dikenal sebagai jalur cincin api (ring of fire) atau rangkaian gunung-gunung berapi, ia juga dikenal karena memiliki banyak gunung tertinggi. Daftar puncak tertinggi di Indonesia ini membawa nama Indonesia menjadi tujuan destinasi sport tourism, khususnya bagi wisatawan yang menikmati tantangan alam.

Sport tourism merupakan wisata yang mengkombinasikan antara olahraga dan pariwisata. Kegiatan ini banyak disukai baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.

7 puncak Indonesia dengan puncak tertinggi di Sumatera adalah Gunung Kerinci.
Gunung Kerinci merupakan gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara. Foto: shutterstock

Salah satu sport tourism yang punya banyak penggemar adalah mendaki gunung danjuga treking. Di dunia para pendaki memiliki daftar gunung yang termasuk dalam World Seven Summits atau tujuh puncak benua yang diidam-idamkan untuk didaki.

Dalam konteks yang lebih kecil, para pendaki gunung di dalam negeri juga memiliki daftar “Seven Summit Indonesia” atau 7 puncak Indonesia. Selain karena ketinggiannya, 7 puncak Indonesia itu juga seakan mewakili pulau-pulau di di Indonesia. Mulai dari Sumatera, Kalimantan, hingga di tanah  Papua.

Carstensz Pyramid atau Puncak Jaya di Papua

Puncak Jaya atau yang juga dikenal dengan Carstensz Pyramid di Papua, merupakan gunung dengan puncak tertinggi di Indonesia. Gunung yang menjadi lokasi sport tourism ini memiliki ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Puncak tertinggi di Indonesia ini merupakan sebuah gunung karang (limestone) dengan salju abadi. Selain menjadi 7 puncak Indonesia, Carstensz Pyramid juga dinobatkan sebagai salah satu dari World Seven Summits.

Untuk mencapai puncak Seven Summit Indonesia ini, pendaki harus memiliki keahlian panjat tebing yang mumpuni. Jalur pendakian untuk mencapai puncak Carstensz Pyramid ada dua, yakni dari melalui Ilaga dan lewat Sugapa.

Gunung Kerinci di Sumatera

Menjadi gunung tertinggi di pulau Sumatera, Gunung Kerinci layak dinobatkan sebagai salah satu 7 puncak Indonesia. Gunung Kerinci memiliki ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Lokasi Gunung Kerinci berada di perbatasan antara Sumatera Barat dan Jambi. Gunung Kerinci terletak di Taman Nasional Kerinci Seblat yang juga menjadi taman nasional terbesar di Indonesia.

Salah satu 7 puncak Indonesia ini telah ditetapkan sebagai World Heritage Site dengan kategori Tropical Rainforest Heritage of Sumatra. Selain itu, Gunung Kerinci juga menyandang status sebagai gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara.

Gunung Semeru Atap Jawa

Pegunungan Semeru dengan latar depan Gunung  Bromo. Foto husniati salma unsplash
Pegunungan Semeru dengan Puncak Mahameru sebagai Atap Pulau Jawa. Foto: unsplash

Terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Gunung Semeru masuk dalam jajaran puncak tertinggi di Indonesia. Gunung Semeru memiliki ketinggian 3.676 mdpl.

Gunung Semeru merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia, sehingga kurang lebih 20 menit sekali kawahnya mengeluarkan abu vulkanik. Seven Summit Indonesia ini berada di bawah pengawasan administrasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Daya tarik utama Gunung Semeru adalah karakteristik medannya yang bervariasi. Kita dapat menemukan lanskap padang sabana, hutan cemara, danau gunung, hingga hutan montana dalam perjalanan menuju puncak Gunung Semeru. Jalur ke Semeru merupakan salah satu yang terindah.

Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat

Masuk dalam salah satu dari 7 puncak Indonesia, Gunung Rinjani merupakan gunung tertinggi di gugusan kepulauan Sunda Kecil. Gunung Rinjani memiliki ketinggian 3.726 mdpl.

PARIWISATA WISATA ALAM shutterstock 755563108 Chanwit Ohm d167fb33a1
Gunung Rinjani di Lombok. Foto: dok. shutterstock

Gunung Rinjani menjadi gunung berapi aktif kedua tertinggi di Indonesia. Salah satu puncak tertinggi di Indonesia ini berada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Salah satu daya tarik Gunung Rinjani adalah danau kaldera yang berada di puncaknya.

Untuk mencapai puncak tertinggi di Indonesia ini kita bisa melewati dua jalur pendakian, yakni dari Sembalun dan Senaru.

Gunung Bukit Raya di Kalimantan

Pulau Kalimantan juga menjadi salah satu lokasi sport tourism yang masuk dalam Seven Summit Indonesia. Gunung Bukit Raya memiliki ketinggian 2.278 mdpl dan masuk dalam jajaran puncak tertinggi di Indonesia.

Gunung Bukit Raya berada di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Secara administratif puncak tertinggi di Indonesia ini berada di bawah pengawasan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya. Gunung Bukit Raya bukan termasuk dalam gunung berapi.

Gunung Latimojong Atap Sulawesi

Seven Summit Indonesia juga terdapat di Pulau Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Selatan yakni Gunung Latimojong yang memiliki ketinggian 3.430 mdpl. Puncak tertinggi Gunung Latimojong berada di puncak Rantemario.

Salah satu daya tarik dari Gunung Latimojong adalah ragam jenis satwa yang menghuni lokasi ini. Jika beruntung, kita dapat menjumpai anoa dan babi rusa selama pendakian. Jalur pendakian yang umum dipakai untuk mencapai puncak Rantemario adalah jalur Kecamatan Baraka.

Gunung Binaiya di Maluku

Gunung Binaiya merupakan salah satu puncak tertinggi di Indonesia yang terletak di Kepulauan Maluku. Puncak Binaiya memiliki ketinggian 3.027 mdpl dan berada di pulau Seram, Maluku.

Gunung Binaiya termasuk dalam pegunungan karst dan tidak aktif. Keunikan dari gunung ini adalah medannya yang bervariasi. Gunung Binaiya memiliki hutan dengan ekosistem pantai, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan, hingga hutan subalpin.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

UNESCO Global Geopark 4 Baru di Indonesia

UNESCO Global Geopark kini ada 10 yang terletak di Indonesia. Salah satunya Toba.

UNESCO Global Geopark menetapkan empat geopark baru di Indonesia. Berdasarkan putusan Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-216 di Paris, ada empat geopark Indonesia yang telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGG). Penetapan empat geopark Indonesia dalam jaringan UNESCO Global Geopark untuk memperkuat pengembangan pariwisata Indonesia.

UNESCO Global Geopark

Sebelumnya, sudah ada enam geopark di Indonesia yang masuk dalam jaringan UNESCO Global Geopark: Geopark Batur (2012), Geopark Gunung Sewu (2015), Gunung Rinjani (2018), Geopark Ciletuh (2018), Geopark Belitung (2020), dan Kaldera Danau Toba (2020).  

Hingga saat ini, ada 10 geopark di Indonesia yang masuk dalam jaringan UNESCO Global Geopark. Pencapaian ini diharapkan bisa menjadi kekuatan untuk mendorong promosi pariwisata Indonesia, agar semakin dikenal dan menarik minat kunjungan wisatawan.

Lantas, apa saja empat geopark di Indonesia yang berhasil masuk tersebut?

Kawah Biru Ijen Geopark shutterstock
Kawah Biru Ijen. Foto: shutterstock

Ijen Geopark

Terletak di Jawa Timur, Ijen menjadi salah satu geopark di Indonesia yang masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark. Daya tarik geopark Ijen adalah keunikan pada geologi, biologi, budaya, serta fenomena alam blue fire di kawasan Gunung Ijen yang telah mendunia. 

Geopark yang secara administratif terletak di dua wilayah, yaitu Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso ini memiliki danau paling asam di dunia. Ditambah lagi, geopark Ijen memiliki 14 jenis flora, 27 jenis fauna, serta 6 jenis mamalia. 

Maros Pangkep Geopark

Selanjutnya adalah geopark Maros Pangkep di Sulawesi Selatan. Geopark Maros Pangkep memiliki lanskap kelas dunia dengan tipe tower karst, yang menjulang tinggi dan tersusun dari bebatuan gamping yang khas.

Keunikan Geopark Maros Pangkep bukan sekadar memiliki lanskap karst kelas dunia. Geopark yang juga dikenal sebagai kawasan karst terbesar ke-2 di dunia, setelah Cina Selatan, memiliki flora dan fauna serta nilai-nilai ilmiah dan sosial budaya yang tinggi. 

Keunikan lain dari UNESCO Global Geopark Maros Pangkep ini adalah ratusan gua yang pernah menjadi tempat tinggal manusia prasejarah. Bahkan, gua-gua yang menjadi “rumah” bagi jutaan spesies kupu-kupu.

Merangin Jambi Geopark

Geopark di Indonesia yang masuk dalam jaringan UNESCO Global Geopark lainnya adalah Geopark Merangin. Salah satu keunikan dari Geopark Merangin adalah terdapat fosil flora Jambi. Hal ini dibuktikan dari adanya fosil tanaman yang ditemukan pada sebagian formasi batuan yang diperkirakan sudah ada sejak 296 juta tahun silam. 

Jenis fosil flora yang ditemukan di Geopark Merangin Jambi bermacam-macam. Mulai dari lumut, tumbuhan runjung primitif, dan pakis yang bereproduksi melalui penyebaran biji. Selain itu, situs purbakala ini juga dinobatkan sebagai salah satu spot rafting terbaik. Pasalnya, wisatawan berkesempatan untuk mengarungi Sungai Batang Merangin sambil melihat fosil di beberapa tempat pemberhentian. 

Raja Ampat Geopark

Satu lagi UNESCO Global Geopark terbaru di Indonesia, yakni Raja Ampat. Geopark Raja Ampat memiliki gugusan kepulauan karst yang diperkirakan sudah berusia sekitar 439 juta tahun, yang terletak di Pulau Misool. 

Beragam ekosistem laut turut menjadi salah satu alasan mengapa Raja Ampat layak ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark. Pasalnya, sampai saat ini Geopark Raja Ampat menjadi habitat bagi berbagai jenis satwa dan tumbuhan endemik yang tidak bisa ditemukan di belahan Bumi manapun. 

Pengembangan geopark sama halnya dengan mengembangkan aspek ilmu pengetahuan di Indonesia. Pasalnya geopark sering kali menjadi lokasi untuk penelitian geologi hingga flora dan fauna. Sejauh ini ada beragam geopark di Indonesia yang telah dinobatkan sebagai UNESCO Global Geoparks.

Geopark Batur

Geopark pertama di Indonesia yang ditetapkan oleh UNESCO pada 2012. Geopark Batur memamerkan keindahan alam berkat letusan besar gunung berapi yang membentuk kaldera ganda dan danau purba.

Bahkan sampai saat ini Gunung Batur masih aktif dan menghasilkan beragam batuan yang dapat dimanfaatkan warga untuk membangun rumah. Total ada 21 situs warisan alam yang tersebar di kawasan Geopark Batur, tepatnya di Kecamatan Kintamani dan Kabupaten Batur.

Saat berkunjung ke Geopark Batur kita juga dapat melihat-lihat peninggalan bersejarah hebatnya letusan Gunung Batur di Museum Geopark Batur.

Gunung Sewu

Geopark Gunung Sewu telah diakui oleh UNESCO sejak 2015. Letaknya membentang di antara tiga kabupaten, yakni Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan. Geopark Gunung Sewu menyimpan kekayaan arkeologis warisan budaya manusia masa lalu.

Ada berbagai peninggalan budaya paleolitikum-neolitikum di geopark ini. Jika ditotal Geopark Gunung Sewu memiliki 33 situs warisan alam yang tersebar di Gunung Kidul (13 geosite), Wonogiri (7 geosite), dan Pacitan (13 geosite).

Kawasan karst di Pegunungan Sewu ini juga menyuguhkan panorama keindahan alam dari gugusan bebatuan nan indah. Memiliki sekitar 40 ribu bukit karst membuat Geopark Gunung Sewu menjadi kawasan karst terpanjang di Jawa.

Ciletuh geopark salah satunya di air terjun Tengah shutterstock
Geopark Ciletuh

Geopark Ciletuh

Geopark di Indonesia selanjutnya adalah Geopark Ciletuh. Geopark ini ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2018, sekaligus menjadi penopang ekonomi masyarakat setempat.

Geopark Ciletuh dikelilingi oleh hamparan aluvial dengan bebatuan unik dan pemandangan yang indah. Tidak hanya perbukitan batu, Geopark Ciletuh juga memiliki pantai dengan ombak yang disukai para peselancar dunia.

Kawasan ini memiliki luas 126.000 hektare yang mencakup delapan kecamatan. Ada beberapa objek wisata eksotis yang terdapat di kawasan Geopark Ciletuh, yakni Air Terjun Awang, Taman Purba, Bukit Panenjoan, dan masih banyak lagi.

Geopark Gunung Rinjani

Geopark Rinjani masuk sebagai Global Geoparks setelah dinobatkan oleh UNESCO pada 2018. Memenuhi separuh Pulau Lombok bagian utara, geopark membentang di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Utara, dan Kabupaten Lombok Timur.

Geopark ini memiliki kombinasi keanekaragaman hayati, fenomena kegunungapian, dan keragaman budaya masyarakat di dalamnya. Geopark Gunung Rinjani memiliki keragaman flora dan fauna yang sebagian besar merupakan endemik.

Geopark Danau Toba

Kawasan Danau Toba menyusul kawasan geopark lainnya sebagai UNESCO Global Geoparks. Prestasi Kaldera Danau Toba ini tidak bisa dilepaskan dari keragaman hayati dan budaya di kawasan ini.

Geopark Belitung

Kawasan Pulau Belitung dengan pantai-pantai berbatuan ditetapkan pula sebagai geopark global oleh UNESCO.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Kerajinan Kulit Manding, Besar Sejak 1958

Kerajinan kulit Manding, Bantul, Yogyakarta, dengan ikon patungnya. Foto: Kemenparekraf

Kerajinan kulit Manding di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, adalah salah satu yang legendaris serta sarat sejarah. Di seluruh desa ini penduduknya bekerja dalam industry kreatif kerajinan kulit. Lokasinya tepatnya di Dusun Manding, Desa Sabdodadi, Bantul.

Kerajinan Kulit Manding

Di jalan Parangtritis sebuah gerbang menyambut wisatawan yang hendak berkunjung ke dusun ini. Sepajang jalan sejak gerbang di kanan kiri terhampar gerai-gerai yang menawarkan produk kulit.

Kerajinan kulit Manding di Bantul, menjadi sentra kerajinan kulit terbesar di Yogyakarta.
Gerbang masuk ke Sentra Kerjainan Kulit Manding di Bantul. Foto: Dok. Kabupaten Bantul

Sentra kerajinan kulit Manding ini disebut sarat sejarah karena industri kulit ini sudah eksis sejak tahun 1950-an. Semua bermula dari tiga orang pemuda dusun Manding bernama Prapto Sudarmo, Ratno Suharjo dan Wardi Utomo yang pada tahun 1947 pergi ke pusat kota Yogyakarta. Mereka melihat perajin yang membuat pelana dari kulit di kawasan Rotowijayan, yang kini menjadi Museum Kereta Keraton.

Merasa tertarik dengan seni kerajinan kulit tersebut, mereka lantas melamar bekerja di tempat itu. Setelah 11 tahun lamanya mereka bekerja di sana, akhirnya dengan pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan, mereka kemudian memberanikan diri untuk membuka usaha kerajinan kulit sendiri di dusun mereka pada 1958.

Berbekal bahan kain bekas, mereka mulai membuat sendiri produk kerajinan kulit seperti sepatu, tas, ikat pinggang, dompet, jaket dan lain-lainnya. Dari tiga serangkai tersebut, semakin banyak warga dusun Manding yang ikut tertarik dengan usaha kerajinan kulit ini. Puncaknya, pada 1970-an bisnis ini mulai mengemuka dan karya kerajinan kulit Manding mulai dikenal banyak orang.

Barang-barang hasil produksi warga dusun Manding tersebut awalnya diperjualbelikan di Pasar Ngasem, tetapi karena semakin diminatinya produk-produk ini oleh wisatawan dalam dan luar negeri, serta terus bertambahnya perajin dari dusun tersebut yang membuka usahanya, akhirnya pada tahun 1980-an mereka mulai membuka toko-toko sendiri di dusun Manding.

Pada perkembangannya, industri rumahan ini bukannya tanpa tantangan zaman. Seiring maraknya barang-barang sejenis dengan bahan serupa atau berbeda-beda seperti kain, plastik dan sebagainya yang menyerbu pasaran, tentu tidak mudah menarik perhatian lebih banyak konsumen.

Begitupun mereka menjawabnya dengan menyajikan produk yang punya kualitas dan keunikan tersendiri dibanding pesaingnya, misalnya dengan penggunaan kulit sapi, kambing dan domba yang berkualitas, untuk menjamin keawetan produk.

Salah satu karakteristik lain yang dimiliki produk kulit Manding yaitu penggunaan teknik ‘tatah timbul’ yang memberikan efek timbul pada bagian kulit yang diukir para perajinnya. Ini kemudian menjadi salah satu ciri khas produk kerajinan kulit Manding.

Ditambah lagi dengan jahitannya yang menggunakan tangan, serta bagaimana mereka memadukan kulit dengan bahan-bahan lainnya seperti serat pandan, lidi, eceng gondok dan lain-lain. Alhasil, dengan kualitas dan kreatifitas produk yang dapat bersaing dengan produk lain, namun dijajakan dengan harga yang relatif miring, membuat produk kerajinan kulit Manding mempunyai daya tarik sendiri.

Perjalanan mereka tak selamanya mulur. Industri kerajinan kulit Manding juga sempat dilanda musibah ketika gempa bumi menggoyang keras Yogyakarta pada 2006 silam. Utamanya bagian selatan Yogya, termasuk kawasan Bantul, yang membuat dusun Manding turut porak poranda.

Namun berkat banyaknya bantuan donatur, terutama Bank Indonesia yang menjadikan dusun Manding sebagai desa binaan, serta maraknya lahan-lahan yang disewakan di sekitar dusun Manding, tak butuh waktu lama bagi industri ini untuk kembali bangkit. Bahkan dari sebelumnya yang hanya terdapat sekitar 10 toko, kini setidaknya terdapat 40 toko yang menjamur di sepanjang Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo tersebut.

Kini, selain menjadi sentra produksi dan penjualan kerajinan kulit Manding di Yogyakarta, dusun Manding ini juga sudah didesain menjadi desa wisata yang tidak hanya menjajakan barang-barang hasil produksinya saja kepada para pelancong. Kini dusun ini juga menawarkan kesempatan untuk ikut merasakan pengalaman membuat kerajinan kulit sendiri, termasuk belajar menggunakan teknik khusus seperti ‘tatah timbul’ yang unik itu.

Harga barang-barang produk kerajinan kulit Manding relatif terjangkau. Misalnya sepatu yang harganya berkisar Rp 150 ribu, dompet yang dihargai mulai Rp 90 ribu atau tas yang dijual sekitar Rp 200 ribu, tergantung dari bentuk dan modelnya.

Jika menimbang kualitas produk yang dikenal tahan lama, maka harga tersebut termasuk bersahabat di kantong. Tak heran, produk kerajinan kulit ini pun terus populer hingga ke negara-negara luar seperti Australia, India dan sebagainya.

Tak sulit menemukan lokasi dusun Manding. Seperti disebut di muka, di bagian depan sebelum masuk anda akan menemukan gapura bertuliskan ‘Sentra Industri Kerajinan Kulit Manding’. Dari situ, terlihat deretan toko-toko yang siap menawarkan produk berkualitas dengan harga reasonable. Cocok bagi anda yang sedang mencari oleh-oleh atau yang ingin mencoba pengalaman baru membuat kerajinan tangan secara tradisional, yang kini telah diwariskan dan dilestarikan turun-temurun sejak 65 tahun lalu.

Sentra Industri Kerajinan Kulit Manding

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, dusun Manding, desa Sabdodadi, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Iket Kepala Pria, 1 Tradisi Unik Nusantara

Iket kepala pria seperti sudah menjadi tradisi bagi laki-laki di Indonesia.

Iket kepala pria seperti menjadi ciri khas yang unik bagi pria di Indonesia. Ini terlihat hampir merata di banyak daerah. Dikembangkan dari iket, misalnya, blangkonbagi laki-laki Jawa terus melekat dalam keseharian masyarakatnya.

Iket Kepala Pria

Penutup kepala yang merupakan paduan busana tradisional untuk lelaki Jawa ini memang unik. Bahkan antara Yogyakarta dan Solo saja, yang bersebelahan, terdapat perbedaan model. Blangkon Yogya dikenal dengan benjolan di bagian belakang. Pada dasarnya blangkon adalah iket, kain batik persegi yang diikatkan di kepala dengan teknik tertentu. Nah, agar lebih efisien dan praktis, para seniman mengembangkannya menjadi blangkon. Hanya dibutuhkan separuh bahan kain iket untuk menghasilkan blangkon. Kini, para pria tinggal memasang blangkon di kepala tanpa perlu repot menyimpulkan ujung-ujung kainnya. Tidak jauh berbeda dengan mengenakan topi.

Jenis penutup kepala tradisional ini memang beragam. Blangkon Yogya dilengkapi mondholan, yakni tonjolan di belakang. Sebenarnya tonjolan tersebut menunjukkan rambut pria pada masa silam yang umumnya panjang. Jadi, ketika mereka menggunakan iket, muncul tonjolan di bagian belakang sebesar telur ayam. Para perajin di Yogyakarta, seperti yang bisa ditemukan di pabrik blangkon Santi, Kampung Bugisan, Kecamatan Wirobrajan, mengisi bagian belakang blangkon dengan serbuk kayu sisa gergajian.

iket kepala pria menjadi ciri khas yang unik bagi pria di Indonesia.
Blangkon dikembangkan dari iket kepala dan menjadi khas iket pria di Jawa. Foto: Dok. shutterstock

Blangkon buatan pabrik yang beroperasi sejak 1975 ini tidak hanya khas Yogya, tapi juga Solo, yang dikenal dengan model trepes. Ini adalah modifikasi dari model Yogya. Dibikin seperti itu karena para pria kemudian lebih banyak berambut pendek. Di perusahaan keluarga tersebut, setiap hari diproduksi sekitar 140 blangkon yang dijual ke berbagai daerah di dalam maupun luar Pulau Jawa.

Kampung Bugisan RT 32 RW 06, Kecamatan Wirobrajan, sejak 1974 memang dikenal sebagai kampung blangkon. Dulu, hampir semua warga di sini berprofesi sebagai pembuat blangkon. Kebanyakan produknya dijual di Pasar Beringharjo dan Jalan Malioboro, Yogyakarta. Kini hanya beberapa yang bertahan, salah satunya pabrik blangkon Santi.

Tidak ada yang memastikan kapan blangkon mulai hadir di Pulau Jawa. Hanya, penutup kepala ini disebut sebagai hasil pengaruh budaya para pendatang, seperti pedagang Gujarat yang umumnya keturunan Arab. Serban penutup kepala khas para pedagang Gujarat menginspirasi orang Yogya mengenakan iket, yang kemudian dikembangkan menjadi blangkon.

Tidak hanya Yogyakarta dan Jawa Tengah yang memiliki penutup kepala khas. Di Jawa Timur dan Jawa Barat pun bisa ditemukan hal serupa. Di Parahyangan aksesori ini dikenal dengan nama bendo atau iket, yang tertutup hingga bagian belakang dan biasa dipadukan dengan busana tradisional. Bentuknya kurang-lebih mirip dengan blangkon Solo. Saat ini, bendo hanya dipakai dalam upacara pernikahan atau pementasan tari tradisional. Tidak seperti di Yogya dan Solo, di mana masyarakatnya, apalagi di lingkungan Keraton, masih lekat dengan penutup kepala yang satu ini.

iket kepala pria memiliki berbagai model, tergantung kebiasaan daerah di mana masyarakat itu tinggal.
Iket kepala pria menjadi ciri khas saat menjalankan kegiatan-kegiatan tradisional masyarakat di daerah. Foto: Dok. shutterstock

Iket Sunda hingga Lombok

Blangkon ataupun bendo terbuat dari iket atau kain persegi yang digunakan untuk menutup kepala. Berbagai model blangkon tersebar di Jawa, Bali, hingga Lombok. Di setiap daerah, penutup kepala ini disebut dengan nama berbeda. Masyarakat Jawa Barat mengenalnya dalam tiga nama, yakni iket, totopong,sertaudeng, sementara orang Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menyebutnya iket. Adapun di Pulau Dewata dikenal sebagai udeng dan di Pulau Lombok disebut sapuk.

Di Jawa Barat, tradisi mengenakan penutup kepala ini dilestarikan dengan membentuk kelompok khusus, yakni Komunitas Iket Sunda (KIS), yang pernah menggelar perhelatan Jambore Iket Sunda internasional di Pangandaran, Ciamis. Di tataran Sunda, totopong dulu dikenal terdiri atas beberapa jenis: barangbang semplak, julang ngapak, kuda ngencar, parekos nangka, parengkos jengkol, maung heuay, porteng, dan kekeongan, yang di daerah Banten disebut borongkos keong.

Iket tetap memiliki model baru karena masyarakat terus berkreasi. Yang tergolong anyar adalah candra sumirat, maung leumpang, dan hanjuang nantung. Penutup kepala ini dikenal masyarakat Jawa Barat pada 1450 atau masa Kerajaan Padjadjaran. Selain dikenakan untuk melindungi kepala dari terik mentari, pada masa kolonial iket muncul sebagai identitas pejuang atau simbol perlawanan terhadap penjajah.

Bentuk iket terbilang unik. Sebab, kain persegi ini tidak sepenuhnya bercorak batik. Sebagian kain yang dipotong secara diagonal berwarna polos, sisanya bercorak. Corak batik yang digunakan biasanya sida mukti, kumeli, katuncar mawur, eurih, kalangkang ayakan, kangkung, kawung ece, dan lain-lain. Jenis ikatannya juga menunjukkan kelas masyarakat, dari bangsawan hingga rakyat biasa. Berarti, di masa lalu totopong menggambarkan status sosial. Dan satu lagi, setiap bentuk ikatan mengandung filosofi sendiri-sendiri.

Ikat kepala pun melekat dalam kehidupan masyarakat Bali. Para pria di pulau ini menggunakan udeng dalam kegiatan sehari-hari, termasuk saat beribadah. Tidak perlu repot untuk mengenakan udeng karena sudah siap pakai. Tersedia dalam beragam ukuran, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Perajin ikat kepala ini bisa ditemukan di Karangasem, salah satunya Desa Sidemen, yang memang warganya dikenal sebagai perajin kain. Udeng tersedia dalam model polos atau bercorak, seperti batik dan metalik. Sisi kanan udeng lebih tinggi daripada yang kiri. Sengaja dibuat asimetris untuk mengingatkan bahwa kita harus melakukan kebajikan, yang biasanya disimbolkan dengan sisi kanan.

Mungkin karena dipengaruhi tradisi Bali, warga Lombok turut mengenakan ikat kepala, yang dikenal dengan nama sapuk. Modelnya hampir serupa dengan di Bali, yang sangat berbeda dari jenis ikat kepala di Pulau Jawa.

Masyarakat Yogya pun tidak lepas dari kreasi dalam soal iket. Agustus tahun lalu, mahasiswa dan dosen Universitas Negeri Yogyakarta membuat jenis iket berbeda. Dibikin lebih praktis, tapi masih mempertahankan gaya khas Yogya. Iket ini fleksibel karena ukurannya bisa disesuaikan dengan sang pemakai, selain terlihat lebih modis dan bisa dipadu dengan beragam busana. Iket hasil modifikasi tersebut menggabungkan corak lurik dan batik. Lurik digunakan di bagian bawah dan pengikat, sedangkan batik di atas serta samping. Sungguh modis.

Rita N./TL/agendaIndonesia

*****

Liburan Glamping, Layaknya Hotel Berbintang 5

liburan glamping, kemah dengan fasilitas hotel bintang 5

Liburan glamping, atau glamorous camping, bisa menjadi pilihan yang berbeda untuk liburan. Ia tak sekadar tenda besar, tapi benar-benar menginap lebih dekat ke alam dengan fasilitas seperti hotel bintang lima.

Liburan Glamping

Biasanya banyak di antara kita yang berlibur akhir tahun bersama keluarga ataupun pasangan dengan menginap di hotel. Namun, karena rutin, bisa jadi liburan itu terasa membosankan. Tidak ada salahnya jika sekali-kali Anda mencoba menginap di hotel ala camping. Sejumlah hotel di Indonesia kini telah menawarkan konsep camping dengan sejuta kenyamanan. Istilahnya dikenal dengan glamping alias glamorous camping. Penasaran?  Pilihannya bisa disimak empat glamping berikut ini.

Resor Tenda

Terletak di utara Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Pulau Moyo memang sudah sangat dikenal sebagai salah satu destinasi bulan madu karena suasananya yang romantis. Di pulau ini terdapat Amanwana Resort yang merupakan satu-satunya resor tenda. Resort ini menyediakan 20 tenda mewah yang bisa ditempati untuk menikmati liburan romantis dan eksklusif bersama pasangan.

Para tamu dapat memilih tenda dengan pemandangan laut atau hutan sesuai keinginan. Semua tenda mewah ini punya fasilitas dan kenyamanan yang sama: lantai kayu yang hangat, atap kanvas, perabotan lengkap, pendingin udara, dan seprai linen yang lembut.Selama di Pulau Moyo, pelancong dapat pula menikmati berbagai aktivitas seperti trekking dan hiking karena pulau ini memiliki taman nasional untuk konservasi hewan seperti babi hutan, biawak, rusa liar maupun kera pemakan kepiting. Selain itu, Amanwana Resort juga menyediakan pilihan aktivitas lain, seperti scuba diving, snorkeling, kayak hingga windsurfing. Tarif kamarnya dari Rp 8 juta per malam.

Amanwana Resort, Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat

liburan glamping, bergaya hotel bintang lima di Amanwana Resort
Amanwana Resort di Pulau Mojo, Nusa Tenggara Barat

Suasana Mongol

Hanya sekitar dua jam perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, para pelancong sudah dapat menikmati kenyamanan tenda bintang lima bernuansa Mongolia di Highland Park Resort-Hotel. Dengan latar belakang pemandangan Gunung Salak yang indah berdiri 35 tenda mewah berlantai marmer dan ditutup atap vinyl.

Suasana khas Mongolia terasa ketika memasuki tenda bertirai yang ditata menyerupai tenda ala Raja Mongol. Tak perlu khawatir kehilangan fasilitas modern selama menginap di tempat yang berdiri di atas lahan seluas 12 hektare ini. Setiap tenda dilengkapi dengan TV LCD 32 inci, tempat tidur besar serta kamar mandi. Tertarik mengunjungi perkemahan mewah ini? Siapkan saja dana Rp 2 juta untuk tenda standar atau Rp 2,5 juta per malam untuk tenda deluxe.

Highland Park Resort, Bogor, Jawa Barat

Bergaya Rustic

Nama Jeeva Beloam Beach Camp semakin familiar di telinga para pelancong lokal maupun mancanegara. Betapa tidak, Jeeva Beloam menyajikan panorama pantai spektakuler di Tanjung Ringgit, Lombok Timur, dengan nuansa rustic menawan serta perabotan dari kayu. Berdiri di atas lahan seluas 55 hektare, Jeeva Beloam memiliki 11 beach camp atau disebut “Beruga”. Awalnya, Jeeva hanya memiliki 5 bungalow. Namun seiring meningkatnya  popularitasnya, pihak pengelola kemudian membangun 6 bungalow baru.

Jangan berharap dapat menikmati TV ataupun Wi-Fi untuk mengakses dunia maya. Bahkan, Jeeva Beloam harus mengandalkan generator untuk pasokan listriknya, karena daerah ini belum dialiri listrik. Listrik pun hanya digunakan malam hari. Untuk menginap di Jeeva Beloam, tamu harus merogoh kocek sekitar Rp 3,5 juta per malam. Tarif tersebut sudah termasuk sarapan, makan siang, dan makan malam untuk dua orang.

Jeeva Beloam Beach Camp, Tanjung Ringgit, Lombok

Suasana Pedesaan

Sandat Glamping, namanya. Terletak di Ubud, Bali. Penginapan ini menyediakan tenda-tenda mewah yang menjanjikan suasana pedesaan dengan hamparan sawah hijau yang tenang dan indah. Hanya berjarak 10 menit dari Ubud Central, Sandat Glamping menawarkan lima tenda mewah dan juga tiga vila berbentuk lumbung tradisional Bali yang dipadukan dengan fasilitas modern.

Seluruh tenda dan vila didekorasi dengan warna-warna netral dan mengadopsi desain rustic chic ala safari Afrika. Tidak perlu khawatir soal kenyamanan karena setiap vila dan tenda dilengkapi dengan kolam renang pribadi, lantai kayu, fasilitas air panas serta perabotan mewah, dan anggun ala Eropa. Tarif menginap di tenda mewah ini dari Rp 2,5 juta per malam.

Sandat Glamping; Ubud; Bali

Andry T./Dok. TL

Canting Batik, Ini 5 Jenis dan Fungsinya

Canting batik bukan sekadar alat menulis motif, ada sejarah di belakangnya.

Canting batik dikenal luas di kalangan masyarakat Jawa, khususnya di daerah-daerah yang menghasilkan komoditas kain batik. Canting sendiri diyakini berasal dari bahasa Jawa yang artinya alat untuk menulis atau melukis motif batik.

Canting Batik

Secara umum ini adalah alat pokok dalam membatik secara tradisional yang menentukan apakah hasil pekerjaan tersebut disebut batik tulis atau bukan. Atau bahkan menentukan sebuah kain disebut batik atau bukan batik.

Alat ini memang dipergunakan untuk menulis, atau mungkin lebih tepatnya melukis dengan cairan malam, untuk membuat motif yang diinginkan. Membatik dapat dikatakan sebagai penerapan teknologi, karena proses melekatnya lilin pada kain harus menggunakan canting.

Batik juga dikatakan seni karena gambar motifnya merupakan ekspresi perasaan, keinginan, atau suasana hati seorang pembatik

Pemilihan canting batik dalam membatik sangat menentukan baik dan tidaknya motif yang dihasilkan. Hal ini karena setiap titik dan garis pada batik memiliki ukuran (canting) yang telah ditentukan.

Aneka Batik dari Jawa shutterstock
Aneka motif dan jenis batik dari Jawa. Foto: shutterstock



Sesungguhnya dari mana teknik menciptakan motif kain dengan menggunakan cairan malam ini? Ternyata ceritanya sangat panjang.

Pada awalnya teknik tersebut dikenal di Mesir, yakni sejak abad sebelum masehi. Perkiraan ini muncul karena ditemukannya kain pembungkus mumi yang dilapisi dengan (cairan) malam yang membentuk pola.

Namun Mesir bukan satu-satunya tempat dikenalnya teknik “membatik”. Di Asia, teknik ini digunakan pula oleh bangsa Tiongkok di masa Dinasti Tang (618-907). Ini juga ditemukan di India serta di  Jepang pada periode Nara (645-794). Sedangkan di Afrika sendiri teknik yang menyerupai batik ini dikenal oleh suku Yoruba di Negeria, suku Soninke, dan Wolof di Sinegal.

Sementara itu, di Indonesia seni membatik dikenal sejak zaman Majapahit.  Senin ini semakin populer pada akhir abad XVIII atau awal abd XIX. Pada zaman ini hingga awal abad XX semua jenis batik yang dihasilkan adalah batik tulis. Sedangkan sekitar 1920-an atau setelah Perang Dunia I produk batik dengan teknik cap baru dikenal.

Sejarah awal mulanya batik memang belum memiliki keterangan yang cukup jelas, karena beberapa pakar dan peneliti memiliki pandangan yang berbeda dalam hal ini. Dikutip dari kompas.com, GP Roufaer dalam bukunya De Batik- Kunst, menerangkan bahwa kehadiran batik Jawa sendiri tidak tercatat, namun dimungkinkan bahwa teknik batik diperkenalkan dari India dan Sri Lanka pada abad ke-6 atau ke-7.

Sementara J. L. A. Brandes, seorang arkeolog dari Belanda dan F. A. Sutjipto, sejarawan Indonesia menyimpulkan bahwa tradisi batik merupakan tradisi asli dari daerah Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Daerah-daerah tersebut tidak dipengaruhi oleh Hidhuisme, namun memiliki tradisi kuna membuat batik.

Canting Kecil Cucuk Cecek blibli
Macam-macam jenis canting. Foto: shutterstock

Lalu bagaimana dengan canting batik? Sejak kapan ia dipergunakan untuk membuat motif batik. Soal ini belum ada catatan yang jelas. Belum pula ditemukan dokumentasi soal originalitas canting batik sebagai alat khas batik Indonesia.

Begitupun, dari banyak narasi yang ada, semuanya sama menyebutkan bahwa canting batik adalah alat yang terdiri dari tiga bagian, yaitu cucuk, nyemplung, dan pegangan.

Pertama, cucuk atau carat, berfungsi seperti mata pena sebagai ujung keluarnya cairan malam (lilin). Cucuk terbuat dari tembaga yang merupakan material yang baik untuk mengantarkan panas.

Bagian ke dua disebut nyamplung, ini berfungsi sebagai tempat untuk memasukkan malam atau lilin panas. Seperti halnya cucuk, nyemplung juga terbuat dari tembaga. Sedangkan bagian ke tiga adalah pegangan canting batik yang terbuat dari bambu atau kayu.

Meskipun bentuknya sama atau mirip, canting batik memiliki jenis yang terkait dengan fungsinya ketika membatik. Berikut jenis-jenis canting:

Canting Reng-rengan

Canting Reng-rengan dipergunakan sebagai awal proses membatik, yaitu proses membuat pola. Namun, awalnya pola dibuat terlebih dahulu baru kemudian dilanjutkan dengan menggunakan canting reng-rengan.

Canting Isen. 

Canting Isen merupakan canting yang berfungsi untuk mewarnai atau mengisi pola dari kerangka dasar yang sudah jadi. Canting isen memiliki cucuk tunggal dengan diameter 0,5 mm – 1,5 mm serta digunakan untuk detail yang lebih kecil.

Canting Cecek.

Canting berukuran kecil yang fungsinya untuk memberikan isen-isen pada motif batik.

Canting Klowong. 

Canting ini digunakan untuk membuat pola utama batik dimana membutuhkan detail yang lebih besar. Motif yang dibuat biasanya akan mendominasi batik secara keseluruhan.

Canting Tembok.

Canting ini memiliki cucug yang lebih lebar. Cucuk ini berfungsi agar mempermudah proses membatik untuk mengeblok motif secara keseluruhan. Canting ini biasanya digunakan untuk menutup motif secara keseluruahan.

agendaIndonesia/dari berbagai sumber

*****

Dolan Ke Kalimantan, Ini 6 Desa Yang Keren

Dolan ke Kalimantan ternyata banyak pilihan menarik yang bisa dikunjungi selain tempat-tempat wisata yang sudah dikenal umum. Kali ini main ke desa-desa wisata di provinsi-provinsi di Kalimantan.

Dolan Ke Kalimantan

Kalimantan adalah surga tempat wisata tersembunyi. Pulau terbesar di Indonesia ini tidak hanya dikelilingi berbagai macam pantai dan perbukitan yang menawan, tapi Kalimantan juga banyak memilikit desa-desa wisata keren yang menarik untuk dikunjungi saat liburan.

Dolan ke Kalimatan dan main ke desa wisata di beberapa daerah di pulau ini boleh dibilang akan menjadi momen yang unik dan baru bagi siapa saja. Pasalnya, wisatwan akan mendapatkan sekaligus mengenal berbagai kearifan lokal yang ada di setiap desa wisata dengan ciri khas dan daya tariknya masing-masing.

Berikut ini ada 6 desa wisata yang bisa dipilih saat dolan ke Kalimantan. Dimulai dari Provinsi Kalimantan Selatan.

Desa Wisata Loksado di Kalimantan Selatan

Nama desa wisata ini memang belum banyak dikenal wisatawan, namun Desa Wisata Loksado menyimpan harta terpendam yang sangat indah dan sayang dilewatkan saat dolan ke Kalimantan. Salah satunya adalah Air Terjun Haratai yang menjadi primadona pariwisata di Loksado, Kabupten Hulu Sungai Selatan. 

Selain air terjun, atraksi wisata di Loksado yang tidak kalah populer adalah Balanting Paring, yakni susur sungai menggunakan rakit bambu. Tergolong cukup ekstrem dan menantang, mengingat arus sungai yang cukup deras. Namun, rakit bambu ini merupakan salah satu transportasi tradisional masyarakat Loksado. Mereka sudah sangat piawai mengnahkodai rakit.

Desa Wisata Mandikapau di Kalimantan Selatan

Desa wisata di Provinsi Kalimantan Selatan ini tidak kalah menarik dibandingkan Desa Loksado. Adalah Desa Wisata Mandikapau, yang berlokasi di Danau Tamiyang, Kalimantan Selatan. Keunggulan Danau Tamiyang terletak pada air yang berwarna biru jernih, dengan latar belakang perbukitan hijau yang indah nan eksotis.

Saat pertama dolan ke Kalimantan dan tiba di Desa Wisata Mandikapau, para wisatawan akan disambut dengan jembatan warna-warni sepanjang 130 meter yang membelah danau. Wisatawan juga bisa duduk bersantai di gazebo pinggir danau dan menikmati berbagai kuliner, sambil melihat pemandangan danau yang luas.

Dolan ke Kalimantan jangan lewatkan main ke desa-desa wisata di daerah ini.
Desa wisata Tiwingan Lama di Kaliantan Selatan. Foto: shutterstock

Desa Wisata Tiwingan Lama

Masih di Kalimantan Selatan, kali ini tepatnya di Kabupaten Banjar. Di sini terdapat Desa Wisata Tiwingan Lama dengan potensi luar biasa yang menjadi magnet bagi seluruh wisatawan.

Puncak Matang Kaladan menjadi salah satu potensi dan destinasi wisata andalan dari Desa Wisata Tiwingan Lama. Sebab, Puncak Matang Kaladan digadang-gadang memiliki keindahan alam yang menyerupai Raja Ampat. Menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Desa Wisata Pampang di Kalimantan Timur

Berbeda dengan desa wisata lainnya, Desa Wisata Pampang yang terletak di Kecamatan Samarinda Utara, Kalimantan Timur, ini menjadi rumah bagi suku Dayak Apo Kayan dan Dayak Kenyah. 

Dolan ke Kalimantan dan berkunjung ke Desa Pampang untuk mengenal budaya masyarakat Dayak.
Perempuan Dayak di Desa Pampang. Foto: dok Shutterstock

Menjadi salah satu aset budaya di Kalimantan, Desa Wisata Pampang menjadi destinasi liburan yang tepat untuk mengenal Suku Dayak dari dekat. Wisatawan bisa melihat langsung rumah adat megah yang dipenuhi ukiran khas Dayak, serta berbagai pertunjukan tarian di Desa Wisata Pampang, seperti Bangen Tawai, Kanjet Anyam Tali, dan banyak lagi.

Desa Wisata Miau Baru

Masih di Provinsi Kalimantan Timur, wisatawan bisa datang ke Desa Wisata Miau Baru yang tak kalah menarik untuk dikunjungi karena masih menjaga budaya asli dengan sangat baik. 

Sebut saja salah satunya kompleks pemakaman yang dikelilingi oleh ukiran motif Dayak Kayan yang khas, dan hanya ditemukan di Desa Wisata Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kalimantan Timur. Di sini juga sering diadakan pertunjukan seni tari Suku Dayak Kayan yang masih dilestarikan hingga sekarang.

Desa Wisata Sungai Kupah di Kalimantan Barat

Berlokasi di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Desa Wisata Sungai Kupah merupakan desa wisata yang dikelilingi keindahan alam bahari dan budaya lokal yang kental. 

Kerajinan Desa SUngai Kupah Kemenparekraf
Kerajinan Desa Sungai Kupah di Kalimantan Barat. Foto: dok. Kemenparekraf

Daya tarik desa wisata di Kalimantan ini adalah menjadi tempat pengembangan wisata mangrove. Wisatawan bisa menyusuri hutan mangrove, susur sungai dan jika beruntung dapat melihat spesies monyet langka, hingga berkunjung ke kampung nelayan setempat.

Pengunjung juga bisa melihat langsung seni budaya yang khas di Desa Wisata Sungai Kupah, seperti tari Mangrove yang menggambarkan kondisi lingkungan mangrove saat ini. Lalu, ada juga seni budaya Tundang atau pantun dendang, yaitu penampilan pantun yang diiringi dengan gendang.

Dengan mengunjungi desa-desa wisata yang ada di Pulau Kalimantan tersebut, wisatawan dapat merasakan langsung budaya lokal yang masih terjaga kelestariannya hingga sekarang. Tentu perjalanan tersebut juga bisa dikombinasikan ke spot-spot wisata yang lain.

Ketika dolan ke Kalimantan Selatan, misalnya, pengunjung bisa bermain ke Pasar Terapung. Atau, main juga ke Taman Nasional Tanjung Putting di Kalimantan Tengah untuk menyambangi habitat Oran Utan.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****