Tenun Rangrang, 3 Warna-warni Nusa Penida

Tenun Rangrang adalah kerajinan khas Nusa Penida, Bali. Foto: milik Wak Laba

Tenun Rangrang adalah jenis tenunan tradisional Bali yang semakin dilirik kaum perempuan di Indonesia. Ini merupakan kreasi penduduk Nusa Penida, jenis tenunan ini menunjukkan keragaman karya perajin Pulau Dewata. Disebut rangrang, ternyata karena jenisnya yang berlubang-lubang atau jarang-jarang.

Tenun Rangrang

Saat ke Bali dan mampir ke Dian’s Rumah Songket dan Endek di Kabupaten Klungklung, ternyata bisa ditemukan tenun rangrang di antara kain songket, cepuk, dan endek. Khusus tenun rangrang, biasanya sang pemiliki langsung memesan ke perajin dari Banjar Karang, Nusa Penida.

Tenun Rangrang adalah produk kerajinan dari masyarakat Nusa Penida, Bali,
Salah satu spot di Nusa Penida. Foto: shutterstock

Tidak sekedar memesan, ia bahkan mengirim benang-benang katun ke sana agar hasil tenun berkualitas baik. Termasuk juga benang dari bahan alam. Menurut sejumlah butik di Klungkung, sudah tujuh tahun ini tenun rangrang semakin digemari orang.

Sebelumnya, konon cukup susah mempromosikan tenun rangrang ini. Namun promosi yang terus menerus membuat pamor tenun jenis ini terus terkerek, harganya pun ikut melonjak. Untuk kualitas terbaik, dengan benang dari bahan alam, selembar kain tenun rangrang berukuran 90 x 200 sentimeter bisa mencapai Rp 1,5-2 juta.

Harga tenunan bervariasi atau bergantung pada ukuran kain. Paling rendah Rp 600 ribu. Bila sudah menjadi pakaian, dipatok mulai Rp 700 ribu. Kain rangrang, yang menggunakan benang sintetis, dijual pada kisaran Rp 400 ribu.

Padahal saat belum naik daun, hasil tenunan  ini dijual mulai Rp 200 ribu. Kini tenun rangrang pun dibuat beragam produk, tak hanya blazer, kemeja, blus, tapi juga dompet, sarung bantal, tas, dan lain-lain.

Keindahan dan harga tinggi tenun rangrang itu pun membikin penasaran. Esok harinya, dari pantai Sanur, agendaIndonesia melaju dengan perahu bermotor menuju Nusa Penida, yang termasuk Kabupaten Klungkung. Sekitar 40 menit perjalanan sudah menginjak pasir putih Dermaga Toyapakeh.

Rupanya, kampung perajin tidak berada dekat pantai. pengunjung harus naik sepeda motor turun-naik bukit sekitar satu jam dari dermaga. Jalanan pun tidak selalu mulus. Mengarah ke sisi timur pulau ini dan menyusuri pantai menaiki beberapa bukit berkapur, akhirnya kendaraan beroda dua berhenti di Banjar Ampel, Desa Pejukutan, yang berada di sebuah bukit.

Banjar Karang, yang banyak disebut juga sebagai kampung perajin rangrang, berada setelah kampung ini. Jauh dari pantai, tak mengherankan jika tak ada seorang pun yang berprofesi sebagai nelayan ataupun petani rumput laut seperti umumnya warga Nusa Penida.

Tua-muda, laki-laki ataupun perempuan beraksi dengan benang plus alat tenun. Di belakang rumah dibuat bangunan terbuka. Diisi beberapa perangkat tenun, sehari-hari mereka bisa ditemukan di sana. Biasanya menenun berkelompok 3-4 orang. Kebanyakan satu keluarga besar atau tetangga. Saya pun bertemu dengan Nyoman Terima—perempuan berusia 60-an tahun yang terhitung sebagai penenun tertua di antara 200 penenun di kampung ini.

Dalam dua tahun terakhir, para remaja pun tergoda menyentuh alat tenun. Putu Wahyudi, 21 tahun, salah seorang di antaranya. Bila kebanyakan anak laki-laki di kota besar bermain dengan gadget atau di depan komputer bermain game, ia anteng menyalin benang. Bahkan umumnya anak perempuan di kampung ini sejak kelas 3 SD sudah mulai menenun.

“Perempuan yang kerja di kota pun kembali dan menenun juga,” ujar Nyoman Widastra, 51 tahun. Ia pun sebelumnya menjajal segala jenis pekerjaan, termasuk menjadi kuli bangunan. Setelah 35 tahun beralih, ia menjadi penenun. “Enak teduh (tidak kepanasan) dan bisa kerja semalaman pula,” ujarnya.

Nyoman bisa melakukannya hingga tengah malam, bahkan sampai pukul 03.00. Pekerjaan menenunnya dimulai dari mengurai benang hingga memintalnya. Setelah itu, ia baru bisa menenun. Rata-rata untuk kain yang paling pendek, yakni 60 sentimeter  x 2 meter, diperlukan waktu sekitar dua hari. “Biasanya untuk selendang.”

Mayoritas perajin menyerahkan hasil kerja mereka kepada pengepul yang sebagian besar menerapkan sistem bayar belakang saat  kain sudah terjual. Bisa juga warga menjual langsung kepada turis mancanegara yang kerap datang. “Kadang mereka beli 2-3 buah gitu,” kata Nyoman.

Mayoritas perajin menggunakan alat tenun terbaru, model lama atau alat tenun cacag tidak lagi digunakan. Bahkan penenun tua pun sudah beralih. Posisi di punggung bawah harus ikut menahan alat tenun dan posisinya yang harus duduk di bawah, membuat mereka lebih cepat lelah. Dibanding alat tenun baru, penenun bisa duduk di bangku dengan posisi lebih nyaman.

Tenun Rangrang membuat banyak anak muda kembali ke desanya di Nusa Penida.
Tenun Rangrang. Foto: shutterstock

Di Dusun Ampel, Banjar Pejukutan, umumnya penenun menggunakan benang sintetis dengan pilihan warna terang atau lembut. “Biasanya pakai tiga warna. Motifnya, kebanyakan bianglala, wajik, dan alam,” kata Nyoman Widastra.

Tidak seluruh kain penuh dengan corak. Yang lazim pada tenunan yang dibuat dengan teknik ikat tunggal ini lantaran ada latar warna. Kemudian di tengahnya berupa corak tertentu. Menurut pengakuan penenun, motif yang dipilih kerap bergantung pada permintaan pengepul.

Tidak hanya paduan warna-warni yang menyuguhkan keindahan, tetapi sesungguhnya kain rangrang juga memuat filosofi mengenai hidup dan kepercayaan masyarakat Bali terhadap alam, karmapala, dan tridarma dalam agama Hindu.

Dalam masyarakat Bali, sebenarnya dikenakan untuk upacara adat. Namun, seperti pengakuan sejumlah perajin, mereka justru tak lagi memiliki kain rangrang. “Kita bikin buat dijual,” ucap Nyoman seraya menyebutkan dirinya yang sehari-hari menenun tak memilikinya.

Harga yang tinggi menjadi salah satu alasan bagi warga setempat mengapa tak lagi mengenakan kain rangrang. Membuat rangrang hanya untuk mendapat penghasilan, bukan untuk dipakai sendiri.

Rangrang dibikin pun hanya untuk memenuhi permintaan pasar. Warna dan corak sering bergantung pada permintaan. Tidak lagi muncul model lama dengan hiasan pinggiran seperti kupu-kupu, bunga julit, daun bakung, atau katak.

Warga pun tak lagi menggunakan warna alam seperti akar mengkudu dan kayu secang untuk warna merah, bunga delima yang dikeringkan untuk warna kuning, dan daun mangga untuk warna hijau. Kecuali tentu jika ada pesanan.

agendaIndonesia/TL/Rita N./C. Adristy

*****

Pantai Pandawa Bali 1 Yang Sembunyi di Balik Tebing

Pantai Pandawa Bali dengan orang-orang Berenang

Pantai Pandawa berpasir putih dengan ombak yang tenang berada di balik bukit kapur yang berhias arca. Pantai berpasir putih ini seperti memanggil-manggil dari bawah ke mereka yang masih di atas bukit.

Pantai Pandawa Bali

Jalan terus menanjak dari arah Jimbaran Bali, melewati bukit-bukit kapur. Setelah itu, baru ditemukan jalan mulus dan lebih lapang. Saya langsung merasa senang. Padahal papan penunjuk Pantai Pandawa belum terlihat. Lagipula, saya masih berada di daerah perbukitan, tentu pantai masih jauh. masih jauh?

Namun, tak lama kemudian, ternyata kami menemukan pertigaan lebar yang menunjukkan arah ke Pantai Pandawa. Setelah melewati sebuah vila yang tengah dibangun di sebuah belokan, terlihat gerbang lebar menuju Pantai Pandawa yang berada di Desa Kutuh, Kabupaten Badung, Bali. Pantai ini dapat dijangkau sekitar satu jam dari Bandara Ngurah Rai.

Gerbang pantai tak menandakan bahwa lokasi sudah dekat. Jadi jangan harap Anda akan langsung melihat bibir pantai. Para pengunjung “dibawa” meliuk-liuk di kelokan yang menurun. Terlihat Pantai Pandawa dari ketinggian. Ombak yang kadang terlihat seperti melambai-lambai memanggil untuk segera sampai dan menyelupkan kaki ke air laut yang mengayun di sepanjang pantai

Di sepanjang jalanan yang turun dan meliuk itu, terlihat tebing-tebing yang dilobangi di sepanjang jalan menuju pantai. Di dalam lekukan-lekukan tebing itu terlihat patung Pandawa Lima, yakni Yudhistira, Bima, Arjuna, serta si kembar Nakula dan Sadewa, berdiri berjajar .

Pantai Pandawa Bali
Suasana Pantai Pandawa Bali.

Keberadaan Pandawa Lima ini mempunyai makna tersendiri. Informasi ini saya dengar dari sang pengemudi yang mengantarkan kami siang itu. Kisahnya diambil dari cuplikan cerita Mahabarata saat kelima pandawa dikurung dalam Gua Gala-gala. Ketut, pria yang bekerja di balik kemudi itu, menjelaskan satu per satu tokoh yang muncul dalam pewayangan tersebut. Lantas, ia bertutur dalam cerita ini, kelima dewa berhasil menyelamatkan diri dengan membuat terowongan hingga mencapai hutan dan mendirikan Kerajaan Amertha.

Dinding-dinding kapur, yang dihiasi arca, tidak saya singgahi lebih dulu. Saya tunda saat pulang saja. Maklum, dari ketinggian, ombak dan pasir putih pantai seperti memanggil-manggil. Pantai itu benar-benar berada di balik tebing. Namun saya datang di saat yang kurang tepat, yakni pada Minggu dan siang hari. Di akhir pekan, pantai yang tengah naik daun ini tumplek dengan turis dari berbagai wilayah, mulai yang berkulit gelap hingga yang pucat. Kursi-kursi di tepian pantai pun terisi penuh.

Belum lagi teriknya menyengat. Walhasil, setelah sempat berjalan beberapa saat, saya memilih duduk di sebuah warung miliki Nenek Giri Yono. “Enaknya di sini kalau sore, siang gini panas,” ucapnya. Saya pun menyeruput minuman dingin. “Tapi ini ramai karena hari libur,” tuturnya. Ibu tua itu mengaku warga asli Desa Kutuh, Kabupaten Badung. Sejak banyak wisatawan datang ke Pantai Melasti—namanya sebelum berganti menjadi Pandawa, ia mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Dulu di sini tempat upacara Melasti,” ujarnya. Katanya, tak banyak turis yang datang. Melasti adalah rangkaian perayaan Nyepi.

Terik masih terasa meski sudah mulai pukul 15.00. Tidak lama setelah berbincang hangat dengan ibu tua yang mengaku hidup berdua dengan suaminya itu, saya menyusuri jajaran kios di salah satu sisi. Aneka aksesori khas pantai, seperti topi, ikat kepala, dan kain menjadi benda yang banyak dijajakan. Di pantai, tak peduli mentari yang tengah bersinar kuat, anak-anak, remaja, maupun orang tua asik berperahu. Ada pula yang mendayung kano perlahan atau melaju kencang dengan banana boat. Ombak yang tenang menjadi teman yang mengasikkan.

Dengan bingkai langit nan biru dan awan putih, para pengandrung paralayang bergaya seperti burung besar, melayang-layang di antara keindahan langit dan air laut. Saya berjalan perlahan, menjauh dari keriuhan, mampir ke penjaja es potong dan meninggalkan bibir pantai, menatap tebing dengan tulisan “Pantai Pandawa”, sebelum akhirnya merebahkan diri di mobil. Seperti niat awal, sebelum benar-benar meninggalkan lokasi, saya singgah di depan patung lima Pandawa sembari menatap pantai dari kejauhan. l

Rita N/Fazzu F/Dok TL

Geliat 3 Batik: Betawi, Semarangan, dan Besurek

5 sentra belaja batik di kota SOlo-- Kampung Batik Andreas Hie shutterstock

Geliat 3 Balik khas Jakarta, Semarangan, dan Bengkulu menyusul batik-batik tradisional yang selama ini sudah dikenal masyarakat. Ini makin memperkayai khasanah batik sebagai warisan budaya adiluhung yang dimiliki masyarakat Indonesia.

Geliat 3 Batik

Kain batik jelas bukan barang langka di bumi Nusantara ini. Pekalongan, Yogyakarta, dan Solo bisa disebut sebagai gudang kain bercorak khas ini. Setiap kota tampaknya juga mempunyai ciri khas. Salah satu yang sedang naik daun batik Garutan. Kota lain pun punya kain khas. Jakarta, misalnya, punya batik Betawi dengan perjalanan panjang yang naik-turun. Juga Semarang dan Bengkulu. Masing-masing memiliki kekhasan.

Batik Betawi boleh dibilang kurang populer. Padahal para perempuan Betawi sudah pintar memainkan canting dan menembok, alias menutup corak batik dengan lilin, sejak masa penjajahan. Bahkan ada perkampungan khusus di Terogong. Namun tradisi ini terhenti pada 1970. Keluarga pembatik di Jakarta Selatan ini baru membangkitkannya lagi pada 2012.

Keunikan batik Betawi terletak pada motifnya yang menampilkan ikon-ikon khas betawi. “Ada yang bergambar ondel-ondel, penari ronggeng Betawi, alat musik tanjidor, atau landmark, seperti Monas dan Patung Pancoran,” ujar Aap Hafizoh, salah seorang pengelola batik Betawi Terogong.

Aap menambahkan, beberapa motif lain tak kalah unik dan malah menggambarkan hal-hal berkaitan dengan Betawi yang belum diketahui banyak orang. Contohnya, motif burung hong dan Masjid Krukut, yang merupakan salah satu bangunan bersejarah. “Namun yang menjadi ciri khas motif batik Betawi Terogong adalah motif mengkudu dan cermai.”

Menurut Aap, pohon mengkudu (Morinda citrifolia)dan cermai (Phyllanthus acidus) dijadikan motif khas Batik Betawi Terogong karena memiliki kenangan tersendiri. Dia mengatakan kedua pohon itu tumbuh di halaman belakang rumah. Proses produksi batik Betawi Terogong memang memanfaatkan lahan milik keluarga yang kini dihuni sekitar enam kepala keluarga.

Yang jarang terdengar, meski dikelilingi kota-kota yang terkenal dengan kreasi batiknya, adalah batik Semarangan. Kampung Batik Semarang pernah mengalami kejayaan pada 1919-1925. Namun, karena krisis yang menyebabkan sulitnya mendapatkan bahan sandang, akhirnya banyak perajin gulung tikar. Baru mulai menggeliat lagi sekitar 2004, saat Pemerintah Kota Semarang memiliki keinginan mengembalikan nama besar batik Semarangan yang dulu pernah mencapai masa keemasan.

Ketua Paguyuban Sentral Batik Semarang Tri Mujiono menyebutkan, motif batik Semarang menonjolkan unsur flora dan fauna. “Misalnya, buah asem arang dan burung blekok,” katanya. Burung blekok putih memang banyak ditemukan di kawasan Srondol, Semarang, di masa lalu. Kini susah melihat burung berparuh panjang itu. Begitu pula asem arang, yang dulu banyak tumbuh di Semarang. Konon, nama Semarang diambil dari nama pohon asem, yang tumbuhnya saling berjauhan tersebut.

Belakangan, motif batik Semarangan kian berkembang. Ikon Kota Semarang, seperti Gedung Lawang Sewu, Tugu Muda, dan Sam Poo Kong, menjadi ciri khas lain batik Semarangan. Sedangkan untuk pewarnaannya, batik Semarang dikenal memiliki warna-warna terang, seperti biru, merah, dan cokelat.

Geliat 3 batik: Jakarta, semarangan dan besurek
Membuat patron di kain untuk dijadikan batik.

Tak hanya kota-kota di Pulau Jawa yang punya corak batik, Bengkulu, salah satu kota di Sumatera, juga dikenal dengan batik khasnya. Namanya batik besurek. “Besurek” sebenarnya berarti tulis. Jadi kain besurek tak lain adalah batik tulis, yang merupakan teknik awal dari pembuatan batik. Cuma, karena yang banyak dimunculkan selain flora dan fauna adalah huruf Arab, muncul juga makna lain dari kain ini, yakni kain dengan tulisan huruf Arab.

Kain besurek, yang merupakan kain tradisional ini, digunakan masyarakat Bengkulu dalam berbagai upacara adat, pernikahan, cukur bayi, mengantar jenazah ke kuburan, hingga acara kesenian. Untuk setiap kesempatan, tentunya berbeda pula corak kain batik yang dikenakan. Setiap motif menunjukkan simbol yang berbeda. Misalnya, perpaduan rembulan dengan kaligrafi dalam kain berdasar merah melambangkan nilai ciptaan Tuhan. Kain bercorak ini dikenakan pengantin putri dalam pernikahan atau acara mandi saat prosesi pernikahan. Ada pula motif burung kuau dan kaligrafi berwarna biru, yang bermakna kehidupan alam.

Dirunut dari sejarahnya, kain besurek sudah berkembang pada abad ke-16 saat agama Islam berkembang di provinsi ini. Ketika Sentot Alibasya, panglima perang Pangeran Diponegoro, diasingkan ke Bengkulu bersama sanak saudaranya pada abad ke-18, para pedagang berkebangsaan India, Cina, Arab, dan Eropa sudah menenteng kain besurek dari Bengkulu. Kreasi sesungguhnya asli Bengkulu, meski bahan bakunya didatangkan dari tanah Jawa.

Kini, tidak lagi selalu ada kaligrafi atau huruf Arab gundul sebagai corak kainnya, tapi banyak juga dimunculkan bunga Rafflesia arnoldi, yang memang menjadi ikon kota ini. Sejumlah corak lama juga kerap dimunculkan, seperti burung kuau, kembang cengkeh, kembang cempaka, relung paku, dan burung. Toko-toko suvenir pun mulai banyak menawarkan kain khas ini. Padahal, beberapa tahun lalu, cukup sulit mencari kain besurek. Padahal jelas kain ini lekat dengan masyarakat sejak masa lampau.

Lekatnya imaji kain besurek dengan masyarakat Bengkulu juga bisa disimak pada lagu Kain Besurek: “Uncu, marolah dekek siko, cubo tolong sayo.

Buekkan kain besurek selambar sajo. Buek kenangan kawan nan tercinto. Uncu,

dasarnya halus pulo. Raginya ragi lamo. Peninggalan datuk kek andung dahulu

kalo. Yang perlu kita lestarikan besamo. Kain. Kain besurek ragi lamo. Kini

banyak nan dapek membueknyo. Pacak dibuek jadi kenangan. Dipakai baju oi elok

nian. Uncu … Liek ado nan datang. Samo samo kesiko. Katonyo ndak pesan kain

besurek pulo.”

(Bibi, marilah ke sini, coba tolong saya. Buatkan kain besurek, selembar saja. Buat

kenangan teman tercinta. Dasarnya yang halus. Motifnya ragi lama. Peninggalan

kakek dan nenek dahulu kala. Yang perlu kita lestarikan bersama. Kain. Kain

besurek motif ragi lama. Kini banyak yang dapat membuatnya. Bisa dijadikan

kenang-kenangan. Dijadikan baju juga indah sekali. Bibi, lihat ada yang datang.

Sama-sama ke sini, katanya mau pesan kain besurek juga). l

Andry T/Rita N./Dok. TL

Café Dangdut New York, 1 Citra Indonesia

cafe dagdut new york memperkenalkan kuliner dan budaya Indonesia di New York. Foto: KJRI New York

Café Dangdut New York, nama ini rasanya langsung ‘menonjok’ rasa ingin tahu yang mendengarnya. Apa yang dijual di sini: kopi atau musik dangdut?

Cafe Dangdut New York

Nama Café Dangdut terdengar sangat Indonesia. Itulah alasan Fitri Carlina, seorang penyanyi yang besar melalui musik dangdut di Indonesia, bersama dua rekannya, Dina Fatimah dan Romy Sembiring, mendirikan Café Dangdut di Long Island City, New York, Amerika Serikat. Bersama Dina, atau yang dikenal dengan panggilan Eski, Fitri melihat bahwa budaya Indonesia sangat layak dan potensial untuk diperkenalkan di Amerika Serikat.

“Ide mendirikan Café Dangdut New York muncul sekitar awal Maret 2021. Saat itu, kebetulan saya juga tampil di acara Super Bowl Week,” kata Fitri. Menurutnya, istilah ‘dangdut’ mulai dikenal di negeri Abang Sam itu. 

Cafe Daangdut New York tidak saja memperkenalkan kulinari Indonesia, tapi juga budaya pop melalui musik dangdut.
Kopi adalah salah satu budaya masyarakat Amerika. Foto: Dok. shutterstock

Lalu, terpikir untuk membuat coffee shop bernuansa dangdut di New York bersama Eski yang juga terlibat dalam acara Super Bowl Week. Dalam waktu sebulan, mereka memikirkan ide, logo, dan menyiapkan coffee truck. Akhirnya pada September 2021, Café Dangdut soft launching. “Saat itu kami masih menggunakan coffee truck dan booth,” kata Fitri.

Kebetulan pula ketika itu ada acara Indopop Movement, sebuah organisasi atau yayasan yang bertujuan untuk membantu dan mendukung potensi Indonesia, baik kuliner, fesyen, budaya, di Amerika, khususnya New York. Momentum ini dimanfaatkan oleh Fitri dan Eski untuk mempromosikan Café Dangdut di depan Time Square.

Akhirnya, setelah berjalan beberapa bulan dengan mengikuti bazar dan festival di sana-sini, ke duanya memutuskan untuk membuka Café Dangdut secara permanen di Long Island City. Sambutannya cukup bagus. Bahkan antrean orang yang ingin mencoba kopi di Café Dangdut sangat panjang.

“Mas Menteri Sandiaga Uno juga sudah datang ke Café Dangdut. Rasanya tidak menyangka bisa seperti ini,” kata Eski.

Cafe Dangdur NewYork
Menteri Pariwisata Sandiaga Uno berkesempatan mampir ke Cafe Dangdut New York. Foto: Cafe Dangdut.

Meski sudah memiliki gerai permanen, Fitri dan Eski memutuskan untuk terus melakukan mempromosikan Café Dangdut New York dengan coffee truck selama setahun. Tujuannya, kata Fitri, untuk menarik lebih banyak orang dan membuat penasaran warga sekitar.

“Sampai saat ini, Café Dangdut masih menggunakan coffee truck dalam rangka promosi kopi. Kami membagikan kopi secara gratis kepada customer yang datang,” lanjut Eski.

Sambil promosi, proses pengurusan izin dan inovasi menu terus dilakukan. Pelan-pelan, Fitri dan Eski mencari barista dari Diaspora karena ingin memperlihatkan kepada warga sekitar tentang hospitality yang ramah khas Indonesia. Sempat menemukan beberapa kendala, tapi ke duanya bisa menyelesaikannya dengan baik.

“Beruntung Diaspora di sini sangat suportif. Banyak pengusaha swasta dan owner kafe Indonesia lainnya juga yang mendukung kehadiran Café Dangdut. Kami mendirikan Café Dangdut New York bukan untuk menjadi saingan, tapi justru untuk menambah khasanah kuliner Indonesia di Amerika,” ujar Fitri.

Diakui juga oleh ke duanya, mendirikan tempat makan di New York harus siap menerima syarat dan izin yang cukup ketat dari pemerintah setempat. Café Dangdut New York berkomitmen untuk menjaga kualitas bahan baku. Namun, masalah distribusi dan logistik harus dihadapi oleh Fitri dan Eski dan cukup berpengaruh pada harga makanan dan minuman serta ketersediaan supply di Café Dangdut.

Mereka mengaku sudah banyak melakukan audiensi ke berbagai pihak, mulai dari pemerintah setempat di Chicago dan lembaga Indonesia terkait mengenai kendala logistik. Karena masalahnya bahan baku dan sangat penting. Jika biasanya bahan baku bisa tiba dua bulan, kini harus menunggu bahkan sampai empat bulan. “Akhirnya ada beberapa bahan baku yang kami hand carry agar bisa stabil antara supply dan demand-nya,” ucap Eski.

Meskipun banyak kendala yang menghampiri, Fitri dan Eski mengaku puas dengan apa yang sudah mereka capai bersama Café Dangdut New York. Hampir 70 persen pembeli atau pelanggan mereka adalah warga lokal, ini sesuai target mereka. Lokasi Café nya pun cukup strategis dan mudah ditemukan.

Cafe Dangdut berada di lingkungan anak-anak muda dan hipster elit, dekat dengan stasiun, kampus, serta tempat nongkrong anak-anak muda dan komunitas warga Indonesia. 

Biji Kopi Arabica shutterstock
Aneka biji kopi arabica. Foto: dok. shutterstock

Menurut Eski, rata-rata pelanggannya suka dengan cita rasa kopi Indonesia yang manis, khususnya kopi Gayo. “Kami juga menjual kopi lainnya, seperti kopi luwak, kopi dari Papua dan daerah lainya. Warga lokal sini penasaran dengan jenis-jenis kopi dari Indonesia,” imbuh Fitri.

Dengan adanya Café Dangdut di New York, Fitri dan Eski berharap bisa memperkenalkan Indonesia. Tidak hanya dengan kopi dan hidangan saja, tetapi juga dengan budaya dan lifestyle Indonesia.

Selain kopi dan beberapa kudapan khas Indonesia, Café Dangdut memperkenalkan musik dangdut dan fesyen Indonesia melalui brand Plus 62. Fitri dan Eski ingin hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia menjadi mainstream dengan langkah awal memperkenalkannya melalui Café Dangdut.

“Meskipun namanya dangdut, Café Dangdut kami tampilkan dengan konsep kontemporer. Bisa membawa nama dangdut hingga ke New York, seperti hal yang mustahil, tapi ternyata bisa kami lakukan,” ujar Fitri.

Melalui serangkaian pencapaian ini, Fitri dan Eski berharap Café Dangdut bisa bertahan di New York. Saat ini, Fitri dan Eski tengah berkomunikasi dengan beberapa investor. Jika tidak ada kendala, Café Dangdut juga akan hadir di New Jersey dan negara lain seperti Singapura serta Filipina.

“Kami ingin menjalankan bisnis ini untuk waktu yang lama, bukan hanya lima tahun, tapi jangka panjang. Tentunya untuk mempertahankan bisnis, hal-hal seperti masalah logistik dan lainnya bisa segera ditemukan solusinya. Dan, kami berharap pemerintah Indonesia bisa terus mendukung pelaku bisnis di luar negeri yang membawa misi memperkenalkan budaya, kuliner, dan apapun yang berkaitan dengan potensi Indonesia,” ucap Eski.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Kya-kya Surabaya Dibuka Lagi 17 Agustus

Menikmati masa lalu Surabaya di malam hari di antaranya mengunjungi Kya-kya Surabaya.

Kya-kya Surabaya atau lebih dikenal sebagai lokasi wisata pecinan kya-kya akan dibuka kembali oleh Pemerintah Kota Surabaya. Pembukaannya akan dilakukan pada Ulang Tahun Republik Indoesia ke 77 pada 17 Agustus tahun ini.

Kya-kya Surabaya

Wisata Kya-kya di Jalan Kembang Jepun, sehingga terkadang disebut pula wisata Kembang Jepun, pertama kali diresmikan pada 31 Mei 2003. Pembangunan Kya-kya Surabaya awalnya diinisiasi Dahlan Iskan, yang saat ini mempin sebuh grup media di Surabaya. Dengan tujuan awal untuk membangun pusat jajanan (food court) terbesar di Indonesia. Khususnya di malam hari.


Sebagai kawasan pasar malam, Kya-kya Surabaya selalu ramai pengunjung saat itu. Jalan sepanjang 730 meter dan lebar 20 meter itu bisa menampung 200 pedagang, 2.000 kursi, dan sekitar 500 meja. Tidak hanya jajanan, di sana ada pula pedagang yang menjual pernak-pernik khas Tionghoa, hingga lapak ramalan jodoh, karier, dan kesehatan.

Kya-kya Surabaya menjadi salah satu destinasi kuliner malam di Surabaya pada 2003 hingga 2008.
Suasana malam hari saat Kya-kya Surabaya masih buka dulu. Foto: Milik Bappeko.Surabaya.Go.id


Karena dimaksudkan sebagai pusat wisata pecinan, di sana selalu ramai orang berwisata kuliner. Ada pedangan makanan halal dan, tentu saja, ada yang non-halal. Selain itu, ada pula pernak-pernik khas Cina, bahkan peramal-peramal Tionghoa. Lapak peramal ini kono selalu laris, karena banyak yang penasaran.

Sayangnya seiring waktu dan kontrak lokasi, Kya-kya Surabaya meredup setelah lima tahun beroperasi. Pada 2008, tempat ini pun tutup. Ada dua-tiga lokasi yang kemudian mencoba menjadi tempat wisata pecinan, namun Kya-kya memang sebuah fenomena buat ibukota Jawa Timur ini.

Kya-Kya Kembang Jepun ini adalah tempat yang dulunya sangat ramai sebagai pasar malam yang berada di kawasan pecinan di kota Surabaya. Di sepanjang jalan trotoar jalan kembang Jepun berdiri kios kios yang menjual berbagai makanan, baik makanan Tionghoa, maupun berbagai makanan lainnya. Kata “kya-kya” sendiri diambil dari dialek bahasa Tionghoa yang berarti jalan-jalan.

Kembang Jepun Surabaya, sebelum Kya-Kya Surabaya dibuka memang mempunyai akar sejarah yang sangat panjang, sepanjang perjalanan sejarah Surabaya. Banyak pedagang dari pihak asing yang berlabuh di lokasi sekitar Kembang Jepun.

Perjalanan sejarah seakan menorehkan Jalan Kembang Jepun segaris membujur dari timur ke barat kota. Lurus dengan sungai Kalimas, jalan Kembang Jepun lantas menjadi ikon Kota Surabaya yang silih berganti tampilan dengan membawa perannya.

Pada Zaman Belanda, pemerintahan colonial saat itu membagi wilayah ini menjadi dua Kawasan, yaitu Pecinan di selatan sungai Kalimas, dan Kawasan kampung Arab dan Melayu di Utara Sungai Kalimas. Ke dua Kawasan dibatasi oleh Jalan Kembang Jepun Bangsa Belanda sendiri tinggal di Barat Kalimas yang kemudian mendirikan komunitas “Eropa Kecil”.

DI era pemerintahan kolonial Belanda, Jalan Kembang Jepun dulunya disebut sebagai Handelstraat. Handel ini berarti perdagangan dan straat yang berarti jalan. Wilayah ini

kemudian tumbuh sangat dinamis.

Pada zaman pendudukan Jepang lah nama Kembang Jepun menjadi begitu terkenal. Nama Kembang Jepun identik dengan masa itu.

Ketika banyak serdadu Jepang, yang dipanggil warga lokal dengan sebutan Jepun memiliki teman-teman wanita (kembang) di sekitar daerah ini. Pada era di mana banyak pedagang Tionghoa menjadi bagian dari napas dinamika Kembang Jepun, sebuah gerbang kawasan yang bernuansa arsitektur Tionghoa pernah dibangun di depan jalan ini. Kemudian banyak fasilitas hiburan didirikan.

Letak Kembang Jepun atau yang pernah disebut sebagai Kya Kya Surabaya berada di samping Jembatan Merah. Ini tidak jauh dari Kawasan wisata Religius Makam Sunan Ampel.

Setelah sekitar 12 tahun redup, kini pemerintah Kota Surabaya mencoba menghidupkan kembali Kawasan wisata Pecinan ini. Ini seiring dengan pengembangan wisata Kota Tua Surabaya. Kya-kya Surabaya menjadi bagian dari rencana tersebut.

Bagian-bagian kecil yang ada di kawasan Kembang Jepun akan dicoba dioptimalkan, sehingga Agustus nanti bisa buka. Selain dilakukan penataan, kawasan hiburan Kya-Kya juga akan dilengkapi dengan kuliner khas Tionghoa serta hiburan seni dan budayanya. Pertunjukan yang disiapkan ini dikemas dengan konsep ala Pecinan.

Nantinya, akan tersedia alat transportasi becak untuk melayani para wisatawan. Pengunjung akan diantar untuk menikmati rute destinasi wisata malam di kawasan Kya-Kya hingga Kota Tua.

Dalam perencanaannya, nanti kan ada pula becak yang bisa melayani pengunjung rute destinasi wisata dari Kya-Kya ke Jalan Karet dan Jalan Gula. Jadi, selain street food juga ada kesenian yang kita tampilkan. Misalnya pertunjukan Barongsai, Liang-Liong dan musik ala chinese.

Kya-kya Surabaya akan terkoneksi dengan wisata kota tua Surabaya.
Ilustrasi Nasi empal. Foto: Dok. shutterstock

Untuk kuliner, saat ini di Kawasan Kembang Jepun masih ada jajanan seperti Bakwan Pak Di, atau ada pula Sate Gule Kambing Kembang Jepun. Atau jika mau jalan sedikit ke Jalan Kapasan, yang satu jalur dengan Kembang Jepun, ada pula Warung Asrep yang dikenal dengan Nasi Lodehnya atau Nasi Empalnya. Di daerah ini juga ada Rawon Greget.

Jadi jika Kya-kya Surabaya nanti dibuka lagi pada 17 Agustus 2022, jangan lupa agendakan wisata kulinermu ke tempat ini.

agendaIndonesia

*****

Pesisir Selatan Minangkabau Dalam 3 hari

Pesisir selatan Minangkabau salah satunya mengunjungi Danau Langkisau

Pesisir selatan Minangkabau dalam 3 hari mungkin bisa menjadi alternatif saat mengunjungi Sumatera Barat. Bagi yang ingin menikmati wisata bahari di provinsi ini, cobalah melipir ke pesisir.

Pesisir Selatan Minangkabau

Berjarak 77 kilometer atau bisa ditempuh sekitar 2-3 jam dari Padang, ada sederet obyek yang menggoda. Mulai bukit hijau, air terjun, hingga pantai. Lumayan komplet. Dikenal dengan Kabupaten Pesisir Selatan atau disingkat Pessel. Dengan penerbangan pagi dari Bandara Internasional Minangkabau, Anda bisa langsung melaju ke kota ini.

HARI PERTAMA

Jembatan Akar

Merupakan jembatan alami dari jalinan akar-akar pohon beringin yang berada di dua sisi sungai yang berlawanan. Terletak di Kampung Pulut, Kecamatan Bayang Utara, Pesisir Selatan, sekitar 65 kilometer dari Padang. Jembatan ini dibuat pada 1916. Di bawahnya mengalir air sungai yang jernih dan sejuk, juga menyegarkan.

Air Terjun Bayang Sani

Dua buah air terjun bisa ditemukan di Kampung Koto Baru, Kecamatan Bayang Utara, hanya berjarak 5 kilometer dari jembatan akar. Air Terjun Bayang Sani tidak jauh dari area parkir. Bagian bawah berbentuk kolam, sehingga pengunjung bisa berenang. Satu lagi berada di posisi lebih tinggi, harus dicapai dengan jalan mendaki sekitar 15 menit, dikenal dengan nama Palangai Gadang.

Sulaman Bayangan

Seperti kota lain, Pesisir Selatan memiliki sulaman khas, yakni sulaman bayangan. Anda bisa menemukan beragam produk dengan sulaman bayangan, seperti kerudung dan mukena, di beberapa toko di Barung-Barung Belantai, Kecamatan Koto XI Tarusan, ini. Jaraknya sekitar 23 kilometer sebelum masuk ke Kota Painan, Ibu Kota Kabupaten Pesisir Selatan.

Senja di Bukit Langkisau

Painan bisa dijejaki di sore hari. Anda bisa langsung menuju Bukit Langkisau untuk menikmati mentari membenamkan diri. Ada deretan pantai yang menghadap Samudra Indonesia terlihat dari ketinggian. Di akhir pekan biasanya ada para penggemar paragliding dan kegiatan outbound di sini.

HARI KE DUA

Air Terjun Timbulun

Obyek wisata ini hanya 3 kilometer dari pusat kota, mengarah ke perbukitan di utara. Saya pun langsung menangkap kesegaran khas hutan dan perbukitan. Tepatnya di Kampung Painan Timur, Nagari Painan, Kecamatan IV Jurai. Dicapai dengan nyaman karena ada jalan setapak yang tertata sepanjang 500 meter di tengah pepohonan. Hingga tiba di sungai berair jernih dengan bebatuan cokelat, kuning, dan kehijauan. Terlihat di bagian ujung Air Terjun Timbulun yang memiliki tujuh tingkatan, sehingga disebut juga Pincuran Tujuh Tingkat.

Gulai Lokan

Obyek selanjutnya adalah Pantai Sungai Nipah. Meski bisa menikmati debur ombak, tujuan utama saya adalah rumah makan yang berada di tepian pantai. Hanya berjarak 5 kilometer dari pusat Kota Painan, di sini Anda bisa mencicipi hidangan Minang yang berbeda. Bahan utamanya kebanyakan dari laut, selain siput darat yang menjadi ciri khas dan dikenal dengan nama gulai lokan.

Pinukuik

Camilan khas dari kota ini adalah pinukuik Batang Kapas. Dari Sungai Nipah, perjalanan berlanjut ke arah selatan menuju perbukitan. Dalam waktu sekitar 15 menit, Anda akan tiba di depan tumpukan sajian kue putih kecokelatan dengan aroma kelapa yang harum. Bahan utamanya tepung dan kelapa. Adapun kedai kue berada di Jalan Raya Pasar Kuok, Batang Kapas.

Pantai Carocok & Pulau Batu Kereta

Pantai Carocok dan Pulau Batu Kereta yang menjadi tujuan selanjutnya berada di pusat kota. Pulau yang satu ini bisa dicapai dengan berjalan kaki melalui jembatan yang dibuat memanjang dari Pantai Carocok.

Pulau Cingkuak

Pulau yang satu ini dapat dicapai dengan mudah dari Pantai Carocok, hanya sekitar 10-15 menit berperahu. Tak hanya ada pantai berpasir putih, yang di hari libur banyak dipenuhi pelancong yang bermain, sekadar berenang-renang, juga menaiki banana boat atau snorkeling. Di bagian tengah pulau, terdapat sisa-sisa benteng Portugis.

HERI KE TIGA

Semangki Besar & Semangki Kecil

Pesisir Selatan tak hanya punya Pulau Batu Kereta dan Cingkuak, tapi juga sejumlah pulau. Yang tergolong tak jauh adalah Pulau Semangki Besar dan Semangki Kecil. Terlihat dari Pantai Carocok. Memiliki pasir putih dan pantai yang landai.

Aur Ketek & Aur Gadang

Ingin menikmati pasir pantai yang halus sembari memancing, cobalah berperahu lebih jauh. Dalam satu jam, Anda bisa menemukan Pulau Aur Ketek dan Aur Gadang. Di depan pantai pasir putih dengan air biru tosca, sedangkan di belakang batu karang terdengar terhantam ombak berkali-kali.

Karabak & Penyu

Bila mempunyai waktu panjang, sebenarnya bisa melaju lagi sekitar satu jam lagi untuk melihat penyu di Pulau Penyu. Di sini memang tempat penyu bertelur. Selain itu, ada Pulau Karabak yang memiliki ciri mercusuar. Kedua pulau ini bisa dicapai sekitar dua jam perjalanan dari Pantai Carocok.

Puncak Mandeh

Bila Anda hanya melaju hingga Pulau Aur, tampaknya Anda masih bisa mengejar keindahan sang surya tenggelam di Mandeh, Tarusan. Lokasinya sekitar 56 kilometer dari Padang. Melalui jalur menanjak di perbukitan, sebuah tontonan alam menanti. Laut yang tenang dengan pulau-pulau. Ketika mentari tenggelam, keindahan itu sempurna. l

Rita N./Wisnu AP/Dok. TL

Desa Zaman Megalitikum, 6 Yang Unik

Desa zaman megalitikum ada dari Sumatera hingga ujung timur Indonesia. Foto: shutterstock

Desa zaman megalitikum ternyata masih tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Mulai dari Sumatera Utara, Jawa, hingga kawasan Nusa Tenggara Timur. Semuanya unik dan layak untuk dukunjungi. Enam di antaranya sudah menjadi desa wisata.

Desa Zaman Megalitikum

Desa wisata menjadi salah satu destinasi yang memegang peranan penting dalam kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia pasca pandemi. Pasalnya, kehadiran desa wisata turut membuka peluang usaha baru bagi para pelaku industri kreatif lokal.

Selain unsur alam, desa wisata di Indonesia juga menonjolkan unsur budaya khas wilayah tersebut. Bahkan, tidak sedikit desa wisata yang memiliki situs peninggalan kuno dari era megalitikum yang menjadi salah satu daya tarik wisata.

Desa Megalitihkum shutterstock
Batu-batu besar umumnya menjadi ciri peninggalan zaman megalitikum. Foto: dok kemenparekraf

Salah satu peninggalan kuno yang banyak ditemui di desa wisata adalah peninggalan zaman megalitikum, yakni berupa batu-batu besar.  Hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia, berikut ini adalah enam desa wisata dengan situs peninggalan megalitikum yang layak dikunjungi.

Desa Adat Bena Bajawa di Flores

Desa zaman megalitikum yang memiliki suasana asri dan eksotis di antaranya adalah Kampung Adat Bena Bajawa di Flores, Nusa Tenggara Timur. Mempertahankan konsep tata wilayah khas megalitikum, rumah-rumah di Kampung Adat Bena Bajawa dibangun mengikuti kontur tanah. Sehingga ketika dilihat dari kejauhan desa wisata ini tampak berundak.

Masyarakat setempat percaya jika Kampung Adat Bena telah ada sejak 1.200 tahun silam. Salah satu buktinya terdapat pada peninggalan megalitikum, berupa batu besar berbentuk lonjong yang dinamakan Watu Lewa. Selain itu ada juga batu berbentuk meja yang diberi nama Nabe. Kedua batu ini digunakan dalam ritual adat masyarakat Bajawa.

Desa Kamal di Jember

Berada di Kecamatan Arjasa, Jember, Jawa Timur desa wisata ini terdapat beragam jenis batu peninggalan megalitikum yang tersebar di berbagai tempat. Mulai dari persawahan, rumah warga, hingga halaman kantor desa.

Peninggalan megalitikum di Desa Kamal berupa batu kenong, tugu batu, hingga menhir. Batu kenong merupakan jenis peninggalan yang paling unik dari Desa Kamal. Sebutan batu kenong muncul karena tonjolan di bagian atas batu, yang sekilas menyerupai kenong (alat musik gamelan). Hingga saat ini telah ditemukan 59 batu kenong di Desa Kamal.

Masing-masing batuan memiliki satu hingga dua tonjolan. Jumlah tonjolan pada batu kenong punya makna tersendiri pada zaman megalitikum. Batu dengan satu tonjolan melambangkan lokasi penguburan, sedangkan batu dengan dua tonjolan digunakan sebagai alas bangunan rumah.

Kampung Praiyawang di Sumba

Di Sumba terdapat satu desa zaman megalitikum yang sangat menarik untuk dikunjungi, yakni Kampung Praiyawang yang berada di Desa Rindi, Kecamatan Rindi, Sumba Timur. Letaknya sekitar 69 km ke sebelah timur Kota Waingapu.

Jika berkunjung ke desa wisata ini, wisatawan tidak hanya bisa melihat peninggalan megalitikum, namun juga menemukan suasana desa yang kental dengan adat istiadat perkampungan Sumba.

Kesan kuno nan magis di Kampung Praiyawang terlihat dari arsitektur rumahnya dan barisan kuburan tua megalitikum untuk kalangan bangsawan. Pada kuburan batu tersebut terdapat pahatan-pahatan yang menjadi simbol filosofi dari si pemilik makam.

Kampung Siallagan di Pulau Samosir

Batu Kurs Raja Sialagan Infobudaya net
Meja dan kursi Raja Siallagan di Samosir menjadi peninggalan era megalitikum. Foto; Dok infobudaya.net

Dalam bahasa Batak, wilayah ini disebut dengan Huta Siallagan, yang berarti Kampung Siallagan. Terletak di salah satu lokasi Destinasi Super Prioritas, Huta Siallagan konon telah ada sejak ratusan tahun silam.

Kampung Siallagan memiliki luas sekitar 2.400 meter persegi, dan dikelilingi tembok batu yang membentuk pagar setinggi 1,5-2 meter. Berdasarkan cerita turun-temurun, fungsi batu-batu tersebut adalah perlindungan desa dari binatang liar dan serangan suku lainnya.

Selain pagar batu, peninggalan desa zaman megalitikum yang ada di Huta Siallagan berupa batu berbentuk kursi dan meja, yang dulunya digunakan sebagai tempat menghukum para pelanggar adat.

Desa Bawomataluo di Pulau Nias

Desa zaman megalitikum yang juga menyandang status sebagai desa budaya warisan dunia UNESCO ini memiliki peninggalan megalitikum yang ikonik. Peninggalan megalitikum di Desa Bawomataluo disatukan dalam Situs Tetegewo.

Situs ini menyimpan berbagai batu peninggalan megalitikum mulai dari berbentuk meja persegi, tugu, hingga meja bundar. Umumnya batu-batu di Situs Tetegewo digunakan sebagai tempat pesta. Peninggalan megalitikum di Desa Bawomataluo diperkirakan telah ada sejak 5.000 tahun silam.

Desa Patemon di Situbondo

Desa Patemon Situbondo Dinas Pariwisata Kabupaten Situbondo
Batu-batu sisa peninggalan zaman megalitikum di Petemon. Foto: Dinas Pariwisata Situbondo.

Situbondo juga memiliki desa wisata megalitikum bernama Desa Patemon. Di desa ini diidentifikasi sedikitnya terdapat 26 peti jenazah dari batu atau sarkofagus. Serta ditemukan juga sisa perburuan liar pada zaman megalitikum yang terletak di dekat sarkofagus.

Lebih unik lagi, tim peneliti juga menemukan berbagai bekal kubur berupa manik-manik, fragmen gerabah, serta fragmen alat pertukangan dari zaman megalitikum di Desa Patemon, Situbondo.

Itulah enam desa yang memiliki peninggalan megalitikum di Indonesia. Selain berlibur, tentunya berkunjung ke desa zaman megalitikum di atas juga dapat menambah wawasan akan sejarah Indonesia di masa lampau.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

4 Satai Leker Khas Lombok

Sate Rembiga di Lombok

4 satai leker khas Lombok ini adakah yang sudah mencobanya? Lombok di Nusa Tenggara Barat mungkin lebih dikenal dengan kuliner ayam Taliwang-nya. Ternyata kuliner di pulau ini tak cuma itu. Mereka juga menyimpan masakan khas berupa sate.

Ada berbagai macam jenis satai. Ada yang dari daging sapi, ayam, satai jerohan, bahkan dari ikan. Mereka jenis kuliner Lombok yang pantas dipertimbangkan untuk dicoba saat berada di Lombok.

4 Satai Leker Khas Lombok

Pedas Manis Satai Sapi

Asap memenuhi Warung Sate Rembiga yang berada di pusat Kota Mataram ini. Daging sapi yang sudah dibumbui bertemu dengan bara api, menyebar wangi yang membangkitkan selera. Ketika satai beralas daun dan piring bambu tersaji pun tidak perlu aba-aba lagi, langsung tandas meski rasa pedas tak tertahan. Beruntung berbaur rasa manis. Paduannya adalah lontong. Bila ditambah plecing kangkung, lidah benar-benar bakal terbakar.

Rembiga merupakan daerah di mana sejumlah penduduknya membuka usaha warung satai. Salah satunya Warung Rembiga milik Ibu Sinaseh yang memulai usahanya 28 tahun lalu. Sebenarnya bumbunya sederhana, yaitu cabai rawit, terasi, bawang putih, garam dan gula, selain bahan utama daging sapi yang dipotong-potong. Ramuan yang pas dan bumbu yang meresap ke dalam daging, itulah yang membikin nikmat. Per tusuk Rp 2.000. Selain satai dan plecing kangkung, ada pula urap dan sop balungan.

Warung Sate Rembiga Utama

Jalan Wahadin Sudirohusodo Nomor 5, Mataram

Buka pukul 09.00-23.00

Bumbu Kacang Plus Santan

Di Taman Udaya, Mataram, yang menjadi tempat nongkrong di malam hari, bisa ditemukan sajian satai lain, yakni satai bulayak. Makannya pun lesehan di bawah pepohonan. Satai ini sesungguhnya khas Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Bahannya berupa ayam atau sapi, terkadang diberi jeroan, yang ditusuk dengan lidi pohon aren.

Yang berbeda dibanding satai dari daerah lain adalah bumbu kacangnya. Kacang tanah yang sudah disangrai, ditumbuk, lalu direbus dengan santan dan bumbu dapur lain sehingga aromanya sedap. Bumbunya antara lain cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kemiri, merica, dan garam. Sapi atau ayam pun sebelum dibakar diberi bumbu seperti ini. Satai pun jadi terasa gurih dan pedas. Paduannya adalah lontong yang dibalut melingkar dengan daun aren. Nah, lontong inilah yang disebut bulayak. Satu porsi Rp 20 ribu, untuk 10 tusuk satai, termasuk bulayak.

Sate Bulayak

Taman Udayana

Jalan Udaya Nomor 4 Mataram

Buka pukul 18.00-24.00

Lembutnya Satai Ikan

Di Kabupaten Lombok Utara, tepatnya Kecamatan Tanjung, ada lagi satai yang khas. Dikenal sebagai satai tanjung, yang tak lain berarti satai ikan. Sebagai daerah pesisir, beragam ikan dengan mudah didapat dalam kondisi segar. Pedagang berjajar di dekat terminal atau pasar. Ada satu wadah tempat potongan ikan yang sudah dibumbui hampir semalaman. “Kadang tidak hanya satu jenis ikan, tapi dua ikan yang dicampur,” kata salah satu pedagang. Umumnya cakalang, tapi bisa juga jenis ikan lain.

Campuran ikan tersebut berwarna kuning, karena ikan yang telah diambil dagingnya itu dicampur dengan santan, merica, bawang putih, dan rempah-rempah lain. Ketika dibakar, aroma sedap langsung menyebar. Satai ikan ini terasa lembut dengan gurih. Harga per tusuk Rp 1.000. Para pedagang berjualan mulai pukul 16.00, dan kadang pukul 18.00 sudah habis terjual. Namun ada pula yang bertahan hingga pukul 21.00. l

Sate Tanjung

Sekitar Pasar Tanjung atau Terminal Tanjung

Jalan Raya Tanjung

Lombok Utara

Buka pukul 16.00-19.00

Satai Campuran Kelapa Muda

Seperti kebanyakan satai di Lombok yang menggunakan bumbu berlimpah. Jenis satai ini bisa ditemukan di rumah makan atau restoran yang menyajikan makanan khas Lombok. Bahannya bisa daging sapi atau ikan laut, semisal ikan tenggiri. Bila menggunakan daging, diolah dengan cara diiris tipis, kemudian direndam bumbu. Sedangkan ikan harus dihaluskan terlebih dulu.

Kemudian, ikan diberi campuran bumbu utama, seperti parutan kelapa muda dan merica, ketumbar, cabai merah, gula, garam, terasi, juga kemiri. Karena sudah kaya dengan bumbu, satai disajikan tanpa bumbu kacang atau sejenisnya.

RM Suranadi

Jalan Taman Wisata Nomor 7

Kecamatan Narmada

Lombok Barat

Buka pukul 11.00-21.00

Rita N./Zulkarnain/Dok. TL

Wisata Kota Tua di 3 Kota

Wisata kota tua di kota Jakarta

Wisata kota tua makin populer di dalam negeri. Apalagi usaha untuk menjaganya mulai digencarkan. Berikut wisata di kota tua di tiga kota.

Wisata Kota Tua

Kota tua bagi turis menjadi daya tarik tersendiri. Kembali mencecap suasana masa silam banyak digandrungi para pelancong yang gemar dengan destinasi berlabel sejarah. Di Pulau Jawa, setidaknya ada tiga kota tua yang menggoda untuk ditelusuri. Sebab, tiga kota itu masih menyimpan peninggalan masa silam, mulai bangunan hingga tradisi. Sediakan waktu di akhir pekan, sekitar 2 atau 3 hari dan Anda bisa memilih mengunjungi satu dari tiga kota di bawah ini. Berikut wisata kota tua di Jakarta; Semarang, Jawa Tengah, dan Surabaya di Jawa Timur.

Kota Tua Jakarta

Bila tidak berencana ke luar kota, menikmati kawasan kota tua bisa dilakoni di Jakarta saja. Meski belum seperti sejumlah kota di dunia yang benar-benar menata kawasan kota tuanya sebagai daya tarik wisata, dengan koleksi gedung-gedung lawas, sebenarnya potensi kawasan Kota Tua Jakarta besar sekali. Sudah ada tur untuk menyusuri jejak-jejak masa silam di wilayah Barat Jakarta itu. Langkah revitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta pun terus dilakukan.

Umumnya, peninggalannya berupa bangunan tua warisan Belanda pada abad ke-19 dan ke-20. Bahkan, saat ini, sejumlah acara dipusatkan di Taman Fatahillah, depan Museum Fatahillah. Ada beberapa museum yang bisa ditemukan di kawasaan kota itu, yakni Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan Museum Bank Indonesia. Untuk menikmati ruangan tua dengan nyaman, ada Cafe Batavia, yakni bangunan tua yang telah difungsikan sebagai kafe.

Sedikit ke luar dari lingkaran Taman Fatahillah, ada Toko Merah di Jalan Kali Besar Barat. Bangunan berwarna merah ini adalah rumah dari Baron Van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC, yang juga pendiri Istana Bogor. Selain itu, ada sejumlah bangunan lain yang bisa disimak. Saat berada di wilayah Kota Tua Jakarta, jangan lupa juga mampir ke Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari yang berada di sisi lain. Cobalah menginap di hotel daerah Kota Tua Jakarta sehingga Anda benar-benar bisa meresapi masa silam dan memanfaatkan waktu 2 hari untuk berwisata.

Kota Lama Semarang

Ibu kota Jawa Tengah ini memiliki kawasan kota tua di seputar Jalan Brajangan, Semarang bagian utara, dengan bangunan-bangunan yang masih terpelihara. Karenanya, bangunan-bangunan ini sangat asyik untuk dinikmati. Salah satunya Gereja Blenduk atau Nederlandsch Indische Kerk dengan ciri-ciri terdapat kubah berwarna merah bata. Gedung ini telah berusia 2,5 abad. Di seberangnya, ada gedung kuno yang juga tak kalah menarik. Kawasan kota lama ini masih memiliki koleksi bangunan tua lain, seperti bekas pabrik rokok, yakni Pabrik Rokok Praoe Lajar, serta bangunan Stasiun Tawang yang masih berfungsi.  Di depannya juga ada bangunan tua, Polder Tawang.

Selain itu, ada bangunan tua lain yang tentu menarik disimak, seperti Gedung Marba, Kantor Pos Pusat, Samudera Indonesia, Djakarta Lloyd, dan Titik Nol KM Semarang. Ada pula yang dikenal berbau mistis, yakni Lawang Sewu. Gedung berpintu banyak ini bergaya Art Deco. Dibangun pada 1904, Lawang Sewu dulu adalah kantor pusat perusahaan kereta api milik Belanda. Selanjutnya, Jembatan Berok yang dulunya merupakan pintu masuk ke kawasan Kota Lama Semarang.

Surabaya Heritage Track

Inilah nama tur untuk mengelilingi kawasan kota tua yang terletak di ibu kota Jawa Timur. Tur berdurasi 1-2 jam dan dalam sehari ada tiga jadwal. Tur digelar tiap hari, kecuali Senin. Waktunya pukul 09.00-16.30. Sejumlah bangunan yang dikunjungi sesuai dengan jadwal tur terletak di Surabaya bagian utara. Bangunan-bangunan itu di antaranya Masjid Tua Sunan Ampel sebagai salah satu tempat ziarah Walisongo, Tugu Pahlawan, Masjid Cheng Hoo  yang  bergaya kelenteng, dan Jembatan Merah yang merupakan simbol perlawanan rakyat Surabaya terhadap pendudukan Belanda.

Selain itu, ada beberapa bangunan kuno bergaya Eropa klasik yang masih terawat dengan baik. Bangunan pun masih difungsikan sebagai kantor maupun hotel, seperti  Hotel Ibis Surabaya, Hotel Majapahit, Kantor Gubernur Jawa Timur, kantor Bappeda, Bank Mandiri, Kantor Pos Besar, dan Kantor PTPN. Ada juga Hotel Majapahit, yang dulu merupakan hotel Oranje atau Yamato, tempat para pejuang merobek bagian biru bendera Belanda hingga menjadi bendera merah-putih. Ada pula kawasan Pecinan di Jalan Kembang Jepun atau Kya-kya, yang kemudian difungsikan sebagai destinasi wisata kuliner. 

agendaindonesia.com

Petik Laut Banyuwangi, Melarung Sejak 1900

Petik Laut Banyuwangi merupakan tradisi para nelayan mengucapkan syukur atas hasil tangkapan mereka. Foto: AntaraFoto

Petik laut Banyuwangi, atau sering pula disebut petik laut Muncar, karena pelabuhan di Banyuwangi itu berada di Muncar, senantiasa ramai. Baik mereka yang terlibat dalam ritualnya, maupun para pelancong yang ingin melihat upacara melepas sesaji ke laut, seraya berucap syukur, berharap rezeki, dan jauh dari mara bahaya.

Petik Laut Banyuwangi

Petik Laut adalah simbol tradisi budaya pesisir nelayan Jawa yang mengandung makna memohon doa sekalius berucap terima kasih dari para nelayan yang memetik, mengambil, atau memperoleh hasil laut berupa ikan.

Petik Laut Banyuwangi melarung sesaji sebagai puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perlindungan dan rezeki yang diberikan.
Melarung githik ke laut. Foto: milik AntaraFoto

Tradisi serupa bisa ditemukan juga di beberapa wilayah pesisir Indonesia dengan istilah dan cara yang beragam. Misalnya saja, Simah Laut di KotawaringinTimur, Kalimantan Tengah, atau Pararakan Laut di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Di Muncar, yang berjarak 35 kilometer dari pusat kota Banyuwangi, Jawa Timur, menurut masyarakat setempat, tradisi petik laut Banyuwangi ini sudah berlangsung sejak masyarakat mendiami Muncar pada 1900. Dan berlangsung hingga kini.

Awalnya, petik laut Banyuwangi digelar dengan hitungan pranata mangsa—penentuan musim menurut kebiasaan pemahaman suku Jawa, khususnya dari kalangan petani dan nelayan. Namun kemudian disepakati dalam hitungan pasti, yaitu setiap tanggal 15 bulan Syura penanggalan Jawa.

Upacara ini mempunyai makna rasa syukur atas rahmat Tuhan dengan berlimpahnya hasil penangkapan ikan. Upacara ini juga harapan untuk perlindungan dari mara bahaya. Kabarnya, Petik Laut Banyuwangi di Muncar termasuk yang paling meriah dari kegiatan sejenis di Jawa. Maklum, Muncar adalah pelabuhan nelayan penghasil ikan terbesar di Indonesia setelah Bagan Siapiapi. Komoditas laut yang dihasilkan antara lain ubur ubur, lemuru, dan tongkol. Umumnya diekspor ke pasar internasional.

Ritual ini biasanya berawal dari Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. Selain warga local, ada wisatawan domestik dan pelancong asing yang datang khusus untuk menyaksikan upacara petik laut.

Kesibukan petik laut sebenarnya sudah berlangsung sejak malam sebelumnya. Masyarakat Muncar melakukan tirakatan di tempat pembuatan sesaji. Tirakatan yang berupa doa bersama bertujuan agar nelayan dijauhkan dari musibah serta diberi kemudahan dalam mencari rezeki.

Di beberapa surau dan rumah juga diadakan pengajian atau semaan. Kegiatan ini berlangsung sampai pagi sebelum githik yang dipersiapkan di rumah pawang kemudian diarak keliling perkampungan nelayan mulai jam 6 pagi dengan diiringi kesenian terbangan dan gandrung.

Githik adalah replika perahu kayu berukuran 5 meter yang di dalamnya berisi aneka sesajen, seperti nasi tumpeng, nasi gurih, nasi lawuh, 44 jenis kue, buah-buahan, kinangan sirih, serta dilengkapi kepala kambing “Kendit”, dan dua ekor ayam hidup. Githik itulah yang nanti akan dilarung ke laut.

Ritual pagi itu dimulai dengan penyelipan pancing emas ke lidah kepala kambing oleh kepala daerah. Hal ini bermakna pemimpin diberi amanah mewakili rakyatnya untuk memohon diberi hasil ikan melimpah.

Petik Laut Banyuwangi dilakukan dengan melepaskan githik yang berisi berbagai sajian.
Githik yang akan dilepaskan ke lautan. Foto: Dok. TL

Setelah itu, githik secara perlahan digotong menuju kapal utama yang bersandar di dekat panggung. Perahu tersebut akan berlayar ke tengah laut mengomandoi ratusan kapal lain. Mulai jenis jukung yang paling kecil hingga slereg yang paling besar.

Pagi itu pengunjung menyemut di sekitar Pelabuhan Muncar.Jumlahnya mungkin ribuan. Maklum, ini menjadi hajatan terbesar di pesisir timur Jawa.

Puluhan kapal sudah bersandar di dermaga. Mereka umumnya dihias dengan meriah, dengan. umbul-umbul warna-warni. Tidak sedikit yang dilengkapi pengeras suara bertenaga besar yang memekikkan irama musik, menggiring warga bergoyang-ria di atas dek kapal. Benar-benar sebuah pesta di tengah lautan.


Kapal-kapal ini akan segera bertolak menuju titik larung yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari pelabuhan. Dalam hitungan menit, hampir semua kapal sudah dijejali penumpang tambahan hingga penuh sesak.

Terdengar musik bertalu-talu, tanda iring-iringan githik yang telah diarak keliling lingkungan perkampungan nelayan sejak pagi tiba di lokasi upacara pelepasan sesaji ini.


Satu kapal bisa disesaki sekitar 100 orang. Beberapa awak memberi isyarat supaya warga tidak berlompatan ke kapal. Jika tak dibatasi, makin banyak warga yang mencoba ikut. Akibatnya bisa berbahaya buat kapal. Meskipun, akhirnya kapal tetap penuh sesak.


Bunyi mesin disel kapal pun menderu membelah ombak. Semua kapal melaju cepat. Semua bersemangat. Tak ada aroma kecemasan dengan kapasitas yang melebihi daya tampung. Yang terlihat hanya pancaran kegembiraan dari semua wajah yang memenuhi setiap jengkal dek.
Ritual dilakukan di sebuah lokasi yang disebut Plawangan, yaitu perairan tenang, dekat Semenanjung Sembulungan. Setelah tiba, semua perahu berhenti sejenak.

Dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak. Belasan warga menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan sesaji. Nelayan juga menyiram air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. Konon mereka mempercayai air tersebut menjadi pembersih malapetaka.


Dari Plawangan, sebagian perahu bergerak menuju Tanjung Sembulungan. Di tempat ini, nelayan melarung sesaji ke dua. Hanya saja jumlahnya lebih sedikit. Konon sesaji ini berkaitan dengan kepercayaan akan “penguasa” kawasan ini.

Rombongan juga mampir di Pantai Sembulungan, tempat terdapat makam Sayid Yusuf, yang dikenal sebagai tetua masyarakat Muncar. Tempat ini dipakai sebagai persinggahan akhir rangkaian upacara Petik Laut.

Pada masa hidupnya, Sayid Yusuf diceritakan menyukai tarian gandrung, sehingga kuburannya disebut dengan makam gandrung. Kesenian gandrung pun dipentaskan di sini. Para penari gandrung terbaik yang telah dipilih menari di sekitar makam diiringi alunan musik gamelan klasik suku Osing.


Menjelang sore, setelah berziarah, upacara disudahi dengan selamatan dan doa. Perahu-perahu kemudian kembali ke Pelabuhan Muncar. Saat berlabuh, beberapa perahu terlihat disiram dengan air laut sebagai bentuk harapan akan berkah dari Shang Hyang Iwak sebagai Dewi Laut.
Petik laut Banyuwangi betul-betul sebuah pesta bagi para nelayan merayakan hasil laut yang menghidupi mereka.

agendaIndonesia

*****