Canting Batik, Ini 5 Jenis dan Fungsinya

Canting batik bukan sekadar alat menulis motif, ada sejarah di belakangnya.

Canting batik dikenal luas di kalangan masyarakat Jawa, khususnya di daerah-daerah yang menghasilkan komoditas kain batik. Canting sendiri diyakini berasal dari bahasa Jawa yang artinya alat untuk menulis atau melukis motif batik.

Canting Batik

Secara umum ini adalah alat pokok dalam membatik secara tradisional yang menentukan apakah hasil pekerjaan tersebut disebut batik tulis atau bukan. Atau bahkan menentukan sebuah kain disebut batik atau bukan batik.

Alat ini memang dipergunakan untuk menulis, atau mungkin lebih tepatnya melukis dengan cairan malam, untuk membuat motif yang diinginkan. Membatik dapat dikatakan sebagai penerapan teknologi, karena proses melekatnya lilin pada kain harus menggunakan canting.

Batik juga dikatakan seni karena gambar motifnya merupakan ekspresi perasaan, keinginan, atau suasana hati seorang pembatik

Pemilihan canting batik dalam membatik sangat menentukan baik dan tidaknya motif yang dihasilkan. Hal ini karena setiap titik dan garis pada batik memiliki ukuran (canting) yang telah ditentukan.

Aneka Batik dari Jawa shutterstock
Aneka motif dan jenis batik dari Jawa. Foto: shutterstock



Sesungguhnya dari mana teknik menciptakan motif kain dengan menggunakan cairan malam ini? Ternyata ceritanya sangat panjang.

Pada awalnya teknik tersebut dikenal di Mesir, yakni sejak abad sebelum masehi. Perkiraan ini muncul karena ditemukannya kain pembungkus mumi yang dilapisi dengan (cairan) malam yang membentuk pola.

Namun Mesir bukan satu-satunya tempat dikenalnya teknik “membatik”. Di Asia, teknik ini digunakan pula oleh bangsa Tiongkok di masa Dinasti Tang (618-907). Ini juga ditemukan di India serta di  Jepang pada periode Nara (645-794). Sedangkan di Afrika sendiri teknik yang menyerupai batik ini dikenal oleh suku Yoruba di Negeria, suku Soninke, dan Wolof di Sinegal.

Sementara itu, di Indonesia seni membatik dikenal sejak zaman Majapahit.  Senin ini semakin populer pada akhir abad XVIII atau awal abd XIX. Pada zaman ini hingga awal abad XX semua jenis batik yang dihasilkan adalah batik tulis. Sedangkan sekitar 1920-an atau setelah Perang Dunia I produk batik dengan teknik cap baru dikenal.

Sejarah awal mulanya batik memang belum memiliki keterangan yang cukup jelas, karena beberapa pakar dan peneliti memiliki pandangan yang berbeda dalam hal ini. Dikutip dari kompas.com, GP Roufaer dalam bukunya De Batik- Kunst, menerangkan bahwa kehadiran batik Jawa sendiri tidak tercatat, namun dimungkinkan bahwa teknik batik diperkenalkan dari India dan Sri Lanka pada abad ke-6 atau ke-7.

Sementara J. L. A. Brandes, seorang arkeolog dari Belanda dan F. A. Sutjipto, sejarawan Indonesia menyimpulkan bahwa tradisi batik merupakan tradisi asli dari daerah Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Daerah-daerah tersebut tidak dipengaruhi oleh Hidhuisme, namun memiliki tradisi kuna membuat batik.

Canting Kecil Cucuk Cecek blibli
Macam-macam jenis canting. Foto: shutterstock

Lalu bagaimana dengan canting batik? Sejak kapan ia dipergunakan untuk membuat motif batik. Soal ini belum ada catatan yang jelas. Belum pula ditemukan dokumentasi soal originalitas canting batik sebagai alat khas batik Indonesia.

Begitupun, dari banyak narasi yang ada, semuanya sama menyebutkan bahwa canting batik adalah alat yang terdiri dari tiga bagian, yaitu cucuk, nyemplung, dan pegangan.

Pertama, cucuk atau carat, berfungsi seperti mata pena sebagai ujung keluarnya cairan malam (lilin). Cucuk terbuat dari tembaga yang merupakan material yang baik untuk mengantarkan panas.

Bagian ke dua disebut nyamplung, ini berfungsi sebagai tempat untuk memasukkan malam atau lilin panas. Seperti halnya cucuk, nyemplung juga terbuat dari tembaga. Sedangkan bagian ke tiga adalah pegangan canting batik yang terbuat dari bambu atau kayu.

Meskipun bentuknya sama atau mirip, canting batik memiliki jenis yang terkait dengan fungsinya ketika membatik. Berikut jenis-jenis canting:

Canting Reng-rengan. 

Canting Reng-rengan dipergunakan sebagai awal proses membatik, yaitu proses membuat pola. Namun, awalnya pola dibuat terlebih dahulu baru kemudian dilanjutkan dengan menggunakan canting reng-rengan.

Canting Isen. 

Canting Isen merupakan canting yang berfungsi untuk mewarnai atau mengisi pola dari kerangka dasar yang sudah jadi. Canting isen memiliki cucuk tunggal dengan diameter 0,5 mm – 1,5 mm serta digunakan untuk detail yang lebih kecil.

Canting Cecek.

Canting berukuran kecil yang fungsinya untuk memberikan isen-isen pada motif batik.

Canting Klowong. 

Canting ini digunakan untuk membuat pola utama batik dimana membutuhkan detail yang lebih besar. Motif yang dibuat biasanya akan mendominasi batik secara keseluruhan.

Canting Tembok.

Canting ini memiliki cucug yang lebih lebar. Cucuk ini berfungsi agar mempermudah proses membatik untuk mengeblok motif secara keseluruhan. Canting ini biasanya digunakan untuk menutup motif secara keseluruahan.

agendaIndonesia/dari berbagai sumber

*****

Dolan Ke Kalimantan, Ini 6 Desa Yang Keren

Dolan ke Kalimantan ternyata banyak pilihan menarik yang bisa dikunjungi selain tempat-tempat wisata yang sudah dikenal umum. Kali ini main ke desa-desa wisata di provinsi-provinsi di Kalimantan.

Dolan Ke Kalimantan

Kalimantan adalah surga tempat wisata tersembunyi. Pulau terbesar di Indonesia ini tidak hanya dikelilingi berbagai macam pantai dan perbukitan yang menawan, tapi Kalimantan juga banyak memilikit desa-desa wisata keren yang menarik untuk dikunjungi saat liburan.

Dolan ke Kalimatan dan main ke desa wisata di beberapa daerah di pulau ini boleh dibilang akan menjadi momen yang unik dan baru bagi siapa saja. Pasalnya, wisatwan akan mendapatkan sekaligus mengenal berbagai kearifan lokal yang ada di setiap desa wisata dengan ciri khas dan daya tariknya masing-masing.

Berikut ini ada 6 desa wisata yang bisa dipilih saat dolan ke Kalimantan. Dimulai dari Provinsi Kalimantan Selatan.

Desa Wisata Loksado di Kalimantan Selatan

Nama desa wisata ini memang belum banyak dikenal wisatawan, namun Desa Wisata Loksado menyimpan harta terpendam yang sangat indah dan sayang dilewatkan saat dolan ke Kalimantan. Salah satunya adalah Air Terjun Haratai yang menjadi primadona pariwisata di Loksado, Kabupten Hulu Sungai Selatan. 

Selain air terjun, atraksi wisata di Loksado yang tidak kalah populer adalah Balanting Paring, yakni susur sungai menggunakan rakit bambu. Tergolong cukup ekstrem dan menantang, mengingat arus sungai yang cukup deras. Namun, rakit bambu ini merupakan salah satu transportasi tradisional masyarakat Loksado. Mereka sudah sangat piawai mengnahkodai rakit.

Desa Wisata Mandikapau di Kalimantan Selatan

Desa wisata di Provinsi Kalimantan Selatan ini tidak kalah menarik dibandingkan Desa Loksado. Adalah Desa Wisata Mandikapau, yang berlokasi di Danau Tamiyang, Kalimantan Selatan. Keunggulan Danau Tamiyang terletak pada air yang berwarna biru jernih, dengan latar belakang perbukitan hijau yang indah nan eksotis.

Saat pertama dolan ke Kalimantan dan tiba di Desa Wisata Mandikapau, para wisatawan akan disambut dengan jembatan warna-warni sepanjang 130 meter yang membelah danau. Wisatawan juga bisa duduk bersantai di gazebo pinggir danau dan menikmati berbagai kuliner, sambil melihat pemandangan danau yang luas.

Dolan ke Kalimantan jangan lewatkan main ke desa-desa wisata di daerah ini.
Desa wisata Tiwingan Lama di Kaliantan Selatan. Foto: shutterstock

Desa Wisata Tiwingan Lama

Masih di Kalimantan Selatan, kali ini tepatnya di Kabupaten Banjar. Di sini terdapat Desa Wisata Tiwingan Lama dengan potensi luar biasa yang menjadi magnet bagi seluruh wisatawan.

Puncak Matang Kaladan menjadi salah satu potensi dan destinasi wisata andalan dari Desa Wisata Tiwingan Lama. Sebab, Puncak Matang Kaladan digadang-gadang memiliki keindahan alam yang menyerupai Raja Ampat. Menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Desa Wisata Pampang di Kalimantan Timur

Berbeda dengan desa wisata lainnya, Desa Wisata Pampang yang terletak di Kecamatan Samarinda Utara, Kalimantan Timur, ini menjadi rumah bagi suku Dayak Apo Kayan dan Dayak Kenyah. 

Dolan ke Kalimantan dan berkunjung ke Desa Pampang untuk mengenal budaya masyarakat Dayak.
Perempuan Dayak di Desa Pampang. Foto: dok Shutterstock

Menjadi salah satu aset budaya di Kalimantan, Desa Wisata Pampang menjadi destinasi liburan yang tepat untuk mengenal Suku Dayak dari dekat. Wisatawan bisa melihat langsung rumah adat megah yang dipenuhi ukiran khas Dayak, serta berbagai pertunjukan tarian di Desa Wisata Pampang, seperti Bangen Tawai, Kanjet Anyam Tali, dan banyak lagi.

Desa Wisata Miau Baru

Masih di Provinsi Kalimantan Timur, wisatawan bisa datang ke Desa Wisata Miau Baru yang tak kalah menarik untuk dikunjungi karena masih menjaga budaya asli dengan sangat baik. 

Sebut saja salah satunya kompleks pemakaman yang dikelilingi oleh ukiran motif Dayak Kayan yang khas, dan hanya ditemukan di Desa Wisata Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kalimantan Timur. Di sini juga sering diadakan pertunjukan seni tari Suku Dayak Kayan yang masih dilestarikan hingga sekarang.

Desa Wisata Sungai Kupah di Kalimantan Barat

Berlokasi di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Desa Wisata Sungai Kupah merupakan desa wisata yang dikelilingi keindahan alam bahari dan budaya lokal yang kental. 

Kerajinan Desa SUngai Kupah Kemenparekraf
Kerajinan Desa Sungai Kupah di Kalimantan Barat. Foto: dok. Kemenparekraf

Daya tarik desa wisata di Kalimantan ini adalah menjadi tempat pengembangan wisata mangrove. Wisatawan bisa menyusuri hutan mangrove, susur sungai dan jika beruntung dapat melihat spesies monyet langka, hingga berkunjung ke kampung nelayan setempat.

Pengunjung juga bisa melihat langsung seni budaya yang khas di Desa Wisata Sungai Kupah, seperti tari Mangrove yang menggambarkan kondisi lingkungan mangrove saat ini. Lalu, ada juga seni budaya Tundang atau pantun dendang, yaitu penampilan pantun yang diiringi dengan gendang.

Dengan mengunjungi desa-desa wisata yang ada di Pulau Kalimantan tersebut, wisatawan dapat merasakan langsung budaya lokal yang masih terjaga kelestariannya hingga sekarang. Tentu perjalanan tersebut juga bisa dikombinasikan ke spot-spot wisata yang lain.

Ketika dolan ke Kalimantan Selatan, misalnya, pengunjung bisa bermain ke Pasar Terapung. Atau, main juga ke Taman Nasional Tanjung Putting di Kalimantan Tengah untuk menyambangi habitat Oran Utan.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Batagor Kingsley, Jajanan Sedap Sejak 1982

batagor kingsley sudah berjualan sejak 1982 di Bandung.

Batagor Kingsley, enah kenapa, hampir selalu menjadi pilihan pertama saya kalau sedang mampir ke Bandung. Padahal ada banyak pilihan gerai makanan yang menawarkan batagor di kota kembang ini.

Batagor Kingsley

Berbicara soal penganan dan oleh-oleh dari Bandung, tentu tak lengkap jika tidak membicarakan bakso tahu goreng alias batagor. Jajanan satu ini memang ikonik Paris van Java tersebut. Siapapun akan begitu mudah menemukan batagor di Bandung, mulai dari warung pinggir jalan hingga restoran besar.

batagor Kingsley menjadi salah satu ikon kuliner kota Bandung sejak 1982.
Gerai Batagor Kingsley di Bandung. Foto: Dok. Batagor Kingsley

Seperti disebut di muka, dari berbagai penjual batagor yang tersebar di Bandung, bisa dikatakan salah satu yang paling legendaris dan dikenal banyak orang adalah Batagor Kingsley. Gerai utamanya terletak di kawasan Jalan Veteran.

Kingsley tentu bukan yang pertama yang “menemukan” jajanan ini. Kita tahu, dari cerita sejarahnya, konon makanan ini tercipta secara tidak sengaja oleh seorang pedagang siomay yang akrab dipanggil kang Isan di Bandung pada 1970-an.

Pada saat itu, ia mencoba menggoreng sisa-sisa siomay yang tidak laku terjual. Tak disangka-sangka, ternyata hasil kreasinya tersebut justru amat disukai orang, bahkan banyak pula orang yang kemudian meniru dan menjajakan resep tersebut.

Lambat laun batagor pun berkembang menjadi salah satu kuliner populer khas Bandung hingga saat ini. Tak heran jika pada 2021 Google Trends mendaulat batagor sebagai salah satu kuliner yang paling dicari konsumen.

Batagor sendiri secara umum adalah penganan berbahan baku tahu dan adonan ikan tenggiri serta tepung, kurang lebih mirip seperti siomay. Keduanya lalu digabungkan dan digoreng, kemudian disajikan dengan bumbu kacang dan kecap manis, sambal dan/atau perasan jeruk nipis.

Lantas bagaimana dengan Batagor Kingsley? Apa yang kemudian membuatnya begitu terkenal dan disukai?

Mulai berdiri dan berjualan sejak 1982, Batagor Kingsley perlahan membangun reputasi sebagai salah satu penjaja batagor paling tersohor di Bandung. Ini berkat kualitas dan cita rasanya yang spesial.

Beberapa alasan yang membuatnya begitu digandrungi orang-orang adalah penggunaan bahan baku berkualitas tinggi. Misalnya seperti tahu yang digunakan. Mereka menggunakan tahu Yun Yi yang dikenal memiliki tekstur dan kelembutan lebih baik dari kebanyakan tahu-tahu lainnya.

Selain itu, kualitas adonan ikan tenggiri serta tepungnya pun dibuat pas, kenyal dan tidak amis. Ukurannya pun relatif agak lebih besar dari rata-rata, sehingga satu porsinya akan cukup mengenyangkan bagi kebanyakan orang.

Dalam satu porsi, biasanya mereka juga menawarkan batagor dengan tambahan variasi siomay goreng, yaitu adonan tepung, ikan tenggiri dan tahu yang dibalut kulit pangsit yang digoreng layaknya siomay pada umumnya. Setelah digoreng, ia akan menambah tekstur renyah saat disantap.

Kesemuanya lantas dipadu dengan bumbu kacang yang diracik kental serta pas rasa gurih dan pedasnya. Ini biasanya ditambah kecap serta sambal atau perasan jeruk nipis sesuai selera.

Kombinasi menggiurkan inilah yang membuat Kingsley bertahun-tahun menjadi favorit banyak kalangan. Ia kerap menjadi rekomendasi bagi setiap orang yang hendak mencari kuliner khas kota kembang ini, baik para pelancong maupun warga lokal.

Yang tak kalah unik, Batagor Kingsley juga menjajakan satu jenis batagor yang mungkin berbeda dari kebanyakan, yakni batagor basah atau batagor kuah. Batagor jenis ini disajikan dengan kuah yang hangat dan gurih. Ini memberikan sensasi yang berbeda dan cocok disantap saat cuaca hujan Bandung yang dingin.

Seiring waktu, Batagor Kingsley pun tak hanya menyajikan batagor, kini menu makanan lain yang dapat ditemui di Batagor Kingsley meliputi mi kocok –salah satu jajanan khas Bandung lainnya, serta mi/yamin ayam; tahu Yun Yi goreng; siomay goreng; cilok; martabak dan otak-otak ikan tenggiri.

Dengan ketenarannya, tentu menjadi wajar bila Batagor Kingsley selalu ramai dikunjungi konsumen, terlebih karena mereka tak membuka cabang di lokasi lainnya. Maka tak jarang jika pengunjung harus mengantri cukup panjang, terlebih bila ingin bersantap di tempat; walaupun makanan disajikan relatif cepat, sekitar 10-15 menit.

Selain pilihan makan di tempat, batagor juga bisa dibawa pulang secara mentah sebagai oleh-oleh. Batagor Kingsley mengklaim batagor mereka dapat disimpan dan awet selama sekitar 15 jam di suhu ruangan atau empat hingga lima hari jika disimpan di lemari pendingin.

Dari sisi harga, menu makanan di Batagor Kingsley berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 45 ribu ke atas. Untuk beberapa kalangan mungkin tidak terbilang murah, tetapi jika mempertimbangkan rasa serta kualitas yang ditawarkan, harga yang dipatok masih cukup wajar. Terlebih melihat animo konsumen yang tak pernah surut, sepertinya harga tidak menjadi soal yang signifikan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan, Batagor Kingsley biasa buka setiap harinya dari jam 08.30 hingga malam, tetapi terkadang menjelang petang sudah tutup karena sudah habis. Terlebih pada hari-hari libur di mana pengunjung lebih padat dari biasanya. Selain itu, dalam seminggu Batagor Kingsley juga biasa tutup pada hari Kamis.

Batagor Kingsley; Jl. Veteran no. 25, Kebon Pisang, Bandung

Atau kunjungi akun Instagram @batagorkingsley.id.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Danau Sentarum, Perjalanan 700 Kilo dari Pontianak

Danau Sentarum shutterstock

Danau Sentarum adalah perjalanan 700 kilometer dari Pontianak via jalur darat. Pernah mendengar tentang danau ini? Delapan dari 10 orang teman yang saya tanya mengatakan tidak.

Danau Sentarum di Kalimantan Barat

Cobalah meng-googling di internet soal danau-danau di Indonesia, percayalah yang muncul di layar adalah nama-nama seperti Danau Toba di Sumatera Utara, Sagara Anak di Lombok, Maninjau dan Singkarak di Padang, Kelimutu di Flores, Sentani di Papua, Batur di Bali, atau bahkan Rawa Pening di Jawa Tengah. Nama-nama yang sudah menjadi daerah tujuan wisata.

Danau Sentarum memang tidak sepopuler nama-nama di atas. Mungkin karena jarang dipublikasikan. Mungkin juga karena memang belum tersentuh industri pariwisata. Atau, mungkin karena jaraknya yang cukup jauh, yakni di perbatasan Indonesia-Malaysia. Ini membuatnya luput dari perhatian wisatawan lokal, internasional, bahkan pemerintah. Padahal danau seluas 80 ribu hektare ini terhitung istimewa karena bentuknya berupa cekungan datar atau Lebak Lebung  (Floodplain) yang merupakan daerah ekosistem hamparan banjir yang dikelilingi jajaran pegunungan.

Danau Sentarum berada di Taman Nasional Danau Sentarum yang berada di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kira-kira 700 kilometer arah Timur Laut kota Pontianak, ibukota provinsi tersebut. Membentang di garis khatulistiwa, taman nasional seluas 1.320 kilometer persegi ini di wilayah perbatasan Indonesia dan Serawak, Malaysia.

Kawasan Danau Sentarum merupakan kumpulan tidak kurang dari 83 danau-danau besar dan kecil yang saling terhubung oleh sungai sungai besar dan kecil sehingga menjadikan kawasan ini lahan basah paling luas di Asia Tenggara setelah Danau Tonle Sap di Kamboja.

Perjalanan menuju Sentarum memang petualangan tersediri. Jika wisatawan memutuskan menggunakan jalur darat, itu artinya harus siap dengan perjalanan sepanjang 10-14 jam. Rute yang dilalui dari kota Khatulistiwa itu adalah menuju kota Sintang, lalu kota kecil Semitau. “Dari Semitau disambung perahu motor jurusan Desa Lanjak,” kata Uke, seorang teman di Pontianak.

Sentarum juga bisa dicapai melaui jalur udara, yakni dengan penerbangan dari Bandara Supadio di Pontianak menuju Bandara Pangsuma di Putusibau. Jarak tempuhnya terpangkas jauh dibanding lewat darat. “Penerbangan cuma sekitar 45 menit,” kata Uke lagi sambil bercerita, dari kota itu perjalanan dilanjutkan via darat menuju Lanjak selama 2-3 jam untuk jarak sekitar 120 kilometeran.

Ada pilihan petualangan lain, susur sungai. Seru juga mencapai taman nasional Sentarum dengan menyusuri Sungai Kapuas. Bisa dimulai dari Sintang. Rute Sintang-Semitau-Danau Sentarum dengan speedboad perlu waktu sekitar 4 jam. Untuk mencapai Sintang dari Pontianak bisa dengan pesawat terbang selama 40 menit atau via darat selama 8 jam.

Danau Sentarum merupakan kawasan konservasi. Ia berfungsi sebagai pengatur air bagi daerah aliran Sungai Kapuas yang panjangnya mencapai lebih dari seribu kilometer, sungai terpanjang di Indonesia. Berfungsi seperti sebuah tandon air raksasa, menampung air di kala musim hujan dan sebaliknya mengalirkan air ke Sungai Kapuas saat musim kemarau.

Sebagai objek wisata utama, danau ini sangat unik. Jika penghujan tiba, ia akan tergenang air sedalam 6 sampai 14 meter. Pemandangan kontras muncul saat kemarau, di mana 80 persen wilayah Danau Sentarum akan mengering. Pada saat inilah, masyarakat setempat dengan mudah memanen ikan-ikan di danau. Baik saat kemarau maupun penghujan, danau ini sama-sama menarik dan uniknya. Wisatawan akan menemukan flora dan fauna yang berbeda.

Ada banyak jenis hewan yang bisa ditemukan di taman nasional ini. Termasuk juga orangutan, meski dalam jumlah tidak sebanyak di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Selain itu ada juga bekantan, kera ekor panjang, elang bondol, dan lain-lain. Tentunya jangan lewatkan mencermati aneka anggrek dan kantong semar.

Kawasan Danau Sentarum di musim hujan akan tergenang selama sekitar 10 bulan. Keadaan kontras, kering kerontang terlihat di musim kemarau yang hanya menyisakan alur-alur sungai kecil di tengah bentangan cekungan danau. Di lahan basah inilah dua kelompok masyarakat Dayak dan Melayu hidup berdampingan.

Masyarakat Dayak yang mayoritas terdiri dari suku Dayak Iban, Kantuk, Embaloh, Sebaruk, Sontas, Kenyah dan Punan adalah peladang dan pemburu yang tangguh tinggal di perbukitan. Salah satu atraksi yang menarik adalah menyaksikan panen madu lebah hutan (Apis dorsata) yang dikelola oleh masyarakat Dayak setempat.

Sedangkan masyarakat Melayu tinggal di kawasan danau  memiliki mata pencaharian sebagai nelayan yang terbiasa menjala, memukat, memasang sentaban (jebakan ikan), memelihara ikan dalam keramba serta mengumpulkan ikan-ikan hias. Masyarakat Melayu di kawasan dana Sentarum adalah sisa jejak Kerajaan Melayu Selimbau di Kalimantan Barat di masa silam. Sayangnya tidak cukup banyak jejak kerajaan di sini. Ada sebuah Masjid Jami berwarna kuning peninggalan kerajaan masih terawat dengan baik bisa di sini.

Untuk menikmati lanskap Danau Sentarum paling bagus adalah dengan mendaki Bukit Tekenang. Bukit yang satu ini menjadi tujuan wisata wajib saat ke Taman Nasional Daun Sentarum, karena dari ketinggiannya wisatawan bisa leluasa menyaksikan lanskap Sentarum. Selain mendaki bukit, bisa juga memancing di Danau Merebung yang menjadi habitat arwana, atau bersantai di Pantai Melayu atau Pantai Sepandan.


Ayo sekali-kali agendakan perjalanan ke Sentarum.

Rully K./Dok.TL

****

Pantai Sawarna Nan Cantik, 230 Kilometer Dari Jakarta

Pantai Sawarna nan cantik di Sukabumi, Jawa Barat, 230 kilometer dari Jakarta.

Pantai Sawarna nan cantik, pantai berpasir putih dengan hiasan karang-karang, masih cukup jarang menjadi pembicaraan wisatawan domestik. Padahal, pantai ini cukup lama menjadi perhatian wisatawan asing, khususnya para peselancar. Ini kisah dua peselancar tiga tahun lampau.

Pantai Sawarna nan Cantik

Demian dan Alex, dua pemuda Prancis, telah tiga bulan menghabiskan liburan di Asia Tenggara. Pertama, sasarannya Thailand, dilanjutkan ke Indonesia dengan persinggahan di Bali, Lombok, Flores, Bromo, dan Yogyakarta. Dari Indonesia, mereka terbang lagi ke Thailand, terus main ke Kamboja, Vietnam, dan Malaysia. Sepuluh hari sebelum waktu liburan berakhir, mereka memutuskan kembali ke Indonesia. “Kami sudah mengunjungi banyak kota dan tempat wisata di Asia Tenggara, kini saatnya mencari tempat menyepi sebelum pulang,” ujar Demian, yang ditemui sedang berselancar di Pantai Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten.

Turis backpacker inimengaku, ketika di Bangkok, mencari informasi soal pantai di Asia Tenggara yang paling asyik untuk menyendiri. Beberapa orang pun merekomendasi Pantai Sawarna di Desa Sawarna, Bayah, Banten. Mereka lantas terbang dari Bangkok ke Bali, terus ke Yogyakarta, dan melanjutkan perjalanan lewat darat ke Pantai Sawarna melintasi Cilacap, Pangandaran, dan Pelabuhan Ratu. “Sepi sekali di sini, hanya ada suara angin dan ombak. Sudah seminggu di sini baru bertemu seorang Spanyol, dan hari ini ada dua Jerman berkunjung sebentar. Mereka menginap di Pelabuhan Ratu,” tutur Demian.

Selama di Pantai Sawarna, kegiatan pria ini hanya tidur, makan, jalan-jalan di sepanjang garis pantai, dan berselancar. “Kebanyakan turis ke Sawarna memang untuk mencari sepi. Belum ada bar, diskotek, kafe, atau restoran. Turis menginap di rumah warga,” ujar Bimbim, peselancar di Pantai Sawarna. Bimbim mempunyai warung kecil di bibir pantai. Ia juga menyewakan papan selancar dan memberikan kursus selancar bagi pemula. Setiap hari Demian dan Alex menghabiskan waktu di warung Bimbim, pria berkulit legam dengan rambut dicat pirang dan busana khas anak pantai.

Menurut Bimbim, ia orang pertama yang mempopulerkan Pantai Sawarna sebagai lokasi selancar. “Saya sudah main di sini lebih 10 tahun. Dulu sepi sekali, sekarang mulai ramai dengan wisatawan domestik, tapi masih sepi untuk turis asing. Pantai ini cocok untuk peselancar pemula,” ia mengungkapkan.

Pantai Sawarna nan Cantik merupakan pantai yang masih cukup tersembunyi meskipun sudah menjadi pilihan peselancar yang datang ke indonesia.
Tanjung Layar di kawasan Pantai Sawarna dengan batu-batu karang yang eksotis. Foto: Dok. shutterstock

Sekitar 20 tahun lalu, nama Pantai Sawarna tidak pernah terdengar. Berada di tengah persawahan luas dan tersembunyi di balik hutan lebat sepanjang dua kilometer dari jalan masuk, orang segan menempuh perjalanan ke pantai ini. Baru awal 2000-an, pantai ini populer setelah para wisatawan yang berkunjung mengunduh foto-foto hasil jepretan mereka ke sosial media. “Kini hampir 1.000 wisatawan domestik berkunjung setiap pekan. Ada sekitar 40-an tempat penginapan sederhana yang diusahakan oleh masyarakat. Semuanya masih sederhana, belum ada industri yang masuk. Kami memang berusaha mempertahankan kesederhanaan ini,” ujar Suhanda, Kepala Desa Sawarna.

Kecantikan Sawarna terletak pada pantai yang luas, panjang, dan berpasir putih. Pemandangan Pantai Sawarna paling cantik jika dilihat dari tanjakan Bukit Cariang, yang berada 1,5 kilometer dari pintu masuk pantai. Tidak hanya pantai berpasir putih, Sawarna juga menawarkan pemandangan keindahan lanskap gunung, hutan tropis dengan koleksi tanaman langka, sungai, persawahan, bukit karang terjal, gua, dan kehidupan masyarakat yang sederhana.

Jembatan Gantung Sawarna

Jembatan gantung di atas Sungai Sawarna menjadi pintu masuk ke pantai dan merupakan ikon wisata Sawarna. Dengan panjang 50 meter dan lebar 1 meter, jembatan ini menjadi urat nadi kawasan pantai menuju jalan utama Desa Sawarna. Jembatan tersebut dibuat dari kayu dan ditambatkan dengan besi yang dipulas merah. Ketika melewatinya, setiap wisatawan dikenai tiket masuk ke lokasi Pantai Sawarna Rp 3.000 per orang. Hati-hati, banyak penduduk yang lewat dengan sepeda motor maupun sepeda. l

Pantai Ciantir

Pantai Ciantir adalah pantai utama Sawarna yang menjadi tujuan wisata favorit. Setelah melewati Jembatan Gantung Sawarna, pengunjung akan langsung menuju Pantai Ciantir. Pasirnya putih bersih, enak buat nongkrong atau berlarian. Ombak cukup besar, sehingga mesti hati-hati jika ingin berenang. Satuan penjaga pantai selalu siap menjaga keselamatan pengunjung. Area berselancar berada di sisi paling kiri pantai ini, menawarkan ombak dengan ketinggian hingga 1,5 meter. Dipinggirnya, belasan perahu nelayan ditambatkan. Keindahan mentari tenggelam dapat dinikmati dari pantai ini.

Karang Tanjung Layar

Dua karang raksasa saling menempel membentuk formasi seperti layar kapal sedang mengembang. Keunikan formasi ini menjadi obyek fotografi paling populer di Pantai Sawarna. Ikon dengan lanskap karang dan ombak itu berada di sisi timur Pantai Sawarna. Untuk menempuhnya, pengunjung harus berjalan dulu melewati sawah dan hamparan karang dengan air selutut saat surut.

Pantai Legon Pari

Pantai yang satu ini tersembunyi di balik perbukitan Pantai Sawarna. Untuk mencapainya, wisatawan harus melewati jembatan gantung, persawahan, dan perbukitan terjal. Sebuah jalan alternatif bisa ditempuh menggunakan ojek dengan jarak yang cukup jauh. Pantai ini lebih sepi dibanding dengan Pantai Sawarna, banyak pengunjung memilih menyepi di sini.

Pantai Sawarna nan cantik di Lebak memiliki banyak potensi wisata, salah satunya Karang Taraje.
Karang Teraje di kawasan Sawarna, Lebak, Banten. Foto: Dok. shutterstock

Pantai Karang Taraje

Berada sekitar satu kilometer dari Pantai Legon Pari. Disebut Pantai Karang Taraje karena, untuk mencapainya, pengunjung harus melewati bukit karang terjal berbentuk tangga, yang dalam bahasa Sunda disebut taraje. Karang-karangnya menjulang, menghasilkan suara debur ombak yang keras ketika dihempas gelombang. Cocok buat penyendiri.

Wahyuana/TL/agendaIndonesia

*****

Geplak Bantul, Warisan Budaya Sejak 2018

Geplak Bantul kudapan yang menjadi warisan budaya tak benda Yogyakarta. Foto: shutterstock

Geplak Bantul sejak lama menjadi oleh-oleh tradisional dari Yogyakarta. Kudapan ini memang dikenal sebagai salah satu kudapan khas masyarakat kota pelajar itu.

Geplak Bantul

Begitupun, sesungguhnya geplak ternyata juga dimiliki masyarakat Betawi. Belum ada catatan sejarah adakah kaitan antara geplak Bantul dan geplak Betawi. Rasa ke duanya mirip-mirip karena menggunakan bahan yang sama.

Yang membedakan ke duanya adalah, geplak Betawi hanya berasal dari gula tebu dan warnanya biasanya hanya putih keabu-abuan. Kudapan ini pun tak muncul setiap hari, biasanya muncul pada saat ada pernikahan di antara masyarakat Betawi.

Geplak, makanan yang lebih dikenal dari Bantul terbuat dari parutan kelapa dan gula pasir atau gula jawa. Rasanya sudah pasti manis. Cemilan ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Geplak Bantul lahir karena daerah itu kaya dengan kelapa dan tanaman tebu.
Geplak dulunya dikemas dengan besek. Foto: shutterstock

Dikutip dari laporan di liputan6.com, disebutkan bahwa dalam naskah Mustikarasa yang ditemukan pada 1967, geplak ini terkait erat dengan Pangeran Pekik, adik ipar Sultan Agung Mataram. Geplak sebagai makanan kreasi dari kelapa disebutkan satu kali dalam Serat Centhini VI.

Jadi ceritanya dalam serat itu, berisi tentang pengembaraan Syech Amongraga, salah satu dari tiga putra-putri Sunan Giri. Dalam perjalanan spiritual setelah mengalami kekalahan dari Pangeran Pekik. Kudapan ini disebut-sebut disajikan sebagai hidangan dalam pernikahan kerajaan Mataram Islam pada ketika itu.

Naskah tersebut juga menyebutkan geplak Bantul sebagai kudapan yang dapat ditemukan di banyak tempat di Yogyakarta beserta cara membuatnya. Khususnya di Bantul.

Secara geografis, wilayah Bantul berada di dataran rendah, sehingga daerah ini sangat cocok untuk tanaman kelapa. Pada saat itu pun lahan di daerah Bantul lebih banyak ditanami Tebu.

Ada sekitar enam pabrik gula yang ada di daerah Bantul saat itu, tapi saat ini hanya satu saja yang masih beroperasi, yaitu pabrik gula Madukismo. Ini merupakan sebuah pabrik gula terbesar di Asia Tenggara pada awal Republik Indonesia ini berdiri.

Karena melimpahnya bahan baku kelapa dan tebu, sehingga terciptalah geplak khas Bantul-Jogja. Pada zaman dahulu masyarakat setempat menjadikan geplak sebagai makanan utama pengganti beras. Pada saat paceklik, warga biasa mengonsumsi geplak sebagai makanan pokok.

Geplak Srihardono Bantul
Tampilan lain geplak yang diserut daging kelapanya. Foto : Pemda Bantul

Waktu berjalan, kini geplak Bantul lebih dikenal sebagai makanan kecil sekaligus oleh-oleh khas Bantul dan Jogja. Produksinya juga semakin banyak. Hal tersebut karena banyaknya bahan pembuat geplak, yaitu daging kelapa serta berlimpahnya lahan tebu yang diolah untuk menjadi gula.

Pada mulanya, geplak Bantul hanya dapat dibuat menggunakan gerabah yang berasal dari Kasongan. Tempat ini hingga sekarang merupakan penghasil gerabah di Yogyakarta.

Namun, karena gerabah yang digunakan dalam suhu tinggi hanya mampu bertahan empat hari, kemudian diganti menggunakan kenceng. Kenceng yang dipilih pun bukan sembarangan, yakni berasal dari tembaga yang diproduksi di Kotagede, Yogyakarta.

Dalam perkembangannnya kemudian, makanan khas Bantul tersebut lebih terkenal sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta dengan rasa manis. Konon rasanya lebih nikmat dan lezat ketika menikmati geplak selagi masih panas.

Pada masa awalnya, geplak Bantul hanya memiliki dua warna, yaitu jika menggunakan gula pasir warna geplak akan putih dan jika menggunakan gula jawa maka warnanya akan coklat. Namun sekarang telah banyak variasinya warna antara lain, merah, kuning, coklat, hijau, dan putih.

Geplak Bantul telah mengalami banyak perubahan, sejak pertama dibuat pada abad ke-19 hingga 1960. Pada tahun itu, geplak Srintil disebut-sebut sebagai yang masih autentik dan sama persis dengan kudapan Kerajaan Mataram Islam pada saat itu. Namun, kini geplak Srintil hampir tak lagi dapat dijumpai. Warnanya yang kurang menarik dan kurang variasi membuat geplak autentik ini berangsur-angsur hilang.

Begitupun masyarakat Bantul terus memproduksi geplak. Produksi kelapa dan gula yang melimpah membuat ketika menjadi kudapan gula dan kelapa tersebut mempunyai nilai tambah. Terlebih lagi pembuatannya termasuk sederhana.

Toko Geplak Kelurahan Balbaplang Bantul
Toko Geplak Mbok Tumpuk di Palbaplang, Bantul. Foto: dok. Kelurahan Palbaplang Bantul

Bahan-bahannya terdiri dari tepung ketan, kelapa parut, gula pasir, minyak cengkeh, air putih, dan garam. Untuk membuat geplak diperlukan peralatan berupa baskom (untuk membuat adonan), parutan kelapa, mangkok, panci untuk memasak, sothil untuk mengaduk, cetakan geplak, kompor atau onglo arang, dan tampah atau nyiru yang dipergunakan untuk mengangin-anginkan geplak ketika sudah matang.

Saat ini kabarnya gula yang dipakai bukan lagi gula lokal Madukismo, satu-satunya pabrik gula yang masih tersisa di Bantul. Yang dipakai hanya gula tebu yang warnanya putih bersih. Pasalnya, kalau gula tebunya berwarna kelabu, warna geplaknya pun ikut menjadi kelabu. Sebagai makanan menjadi kurang menarik meskipun enaknya sama saja.

Sesuai perkembangan zaman, kini rasa dari geplak pun tidak hanya gurih dan manis namun sudah bervariasi. Rasanya ada yang durian, strawberi, coklat, juga lainnya. Geplak Bantul sangat mudah mudah diperoleh di pusat kota Bantul, pusat oleh-oleh di kota Jogja, terminal, dan di pasar-pasar.

Meski tampak sederhana, soal rasa tak perlu diragukan. Rasa manis dan legit geplak dapat membuat ketagihan. Geplak ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Yogyakarta pada 2018.

agendaIndonesia/berbagai sumber

*****

Berlian Martapura, Berkilau Sejak Abad 16

Berlian Martapura, Kalimantan Selatan, adalah produk perhiasan terbesar di Indonesia. Foto: dok. BUkalapak

Berlian Martapura adalah salah satu permata kekayaan Indonesia yang moncer hingga ke pelosok dunia. Berjarak sekitar 40 kilometer atau kurang lebih satu jam perjalanan darat dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Martapura kondang sebagai sentra tambang dan penjualan berlian terbesar di Indonesia.

Berlian Martapura

Secara turun temurun, bisnis penambangan dan perdagangan berlian sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak warga di sekitar tepi sungai Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tersebut. Tak heran, kota tersebut juga kerap disebut sebagai ‘kota intan’.

Satu hal yang mungkin masih banyak orang awam belum paham soal perbedaan istilah intan dan berlian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), intan merupakan batu mulia yang berbentuk kristal dari karbon murni. Sedangkan berlian adalah intan yang telah digosok atau diasah sehingga menjadi berkilau. Singkatnya, intan adalah bahan bakunya, sementara berlian adalah yang sudah diolah.

Berlian Martapura dulunya adalah bisnis keluarga raja dan bangsawan Kasultanan Banjar.
Masjid Agung Al Karomah, landmark kota Martapura, Kalimantan Selatan. Foto: DOk. shutterstock

Tradisi penambangan dan perdagangan berlian ini bisa dirunut sejak abad ke-16, atau pada masa kesultanan Banjar. Kebetulan Martapura sempat menjadi ibu kota, dan bisnis berlian yang dikelola oleh raja, bangsawan dan tuan tanah setempat merupakan salah satu mata pencaharian yang banyak membawa kesuksesan, sehingga kesultanan Banjar meraih masa kejayaannya pada masa itu.

Setelah kedatangan Belanda dan runtuhnya kesultanan Banjar pun, warga setempat masih melakukan penambangan berlian, di samping penambangan oleh pihak swasta di masa itu. Ketika memasuki era pasca-kemerdekaan, penambangan berlian mulai berjaya lagi pada era 1950-an.

Pada 1965 ditemukan berlian seberat 166,75 karat, yang kemudian dinamakan Intan Trisakti oleh Presiden Soekarno pada saat itu. Konon katanya, hingga saat ini berlian tersebut masih menjadi salah satu yang terbesar dan termahal yang pernah ditemukan di Indonesia, harganya dengan nilai saat ini ditaksir bisa mencapai Rp 10 triliun.

Bagi warga Martapura, budaya penambangan dan perdagangan berlian ini tidak lagi hanya dipandang sebagai mata pencaharian semata, tetapi juga bagian dari tradisi dan jati diri yang diwariskan leluhur. Oleh karena itu, akhirnya pada 1970-an didirikanlah Pasar Intan Martapura.

Pasar Intan ini untuk mengakomodasi banyaknya para penambang dan pengrajin berlian yang ingin menjual hasil temuan dan kerajinannya. Selain itu juga menjadi tujuan konsumen yang datang tidak hanya dari dalam tapi juga luar negeri.

Penambangan berlian di Martapura sendiri hingga kini masih dilakukan secara tradisional. Para pendulang secara berkelompok -sekitar delapan hingga sepuluh orang, akan berusaha menyedot bagian dasar sungai, sebelum dibersihkan kembali dengan air.

Hasil sedotan tersebut kemudian disaring kembali menggunakan linggang, sebuah alat penyaring yang berbentuk mirip caping berukuran besar. Dari situlah kemudian kemungkinan akan ditemukan intan.

Intan tersebut kemudian akan digosok dan diolah menjadi berlian, yang kemudian dikemas menjadi barang perhiasan seperti cincin, kalung, liontin, anting, gelang dan sebagainya. Sebagian lainnya pun juga dijual secara mentahan.

Tak jarang, pengunjung Pasar Intan Martapura tidak hanya para wisatawan yang singgah mencari cenderamata berua perhiasan jadi, tetapi juga pedagang maupun pengrajin yang mencari berlian utuh untuk kemudian diolah dan dijual kembali lebih mahal.

Memang, di pasar ini harga berlian serta barang kerajinannya berkisar antara ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah. Ini tergantung pada keunikan dan kelangkaannya, sehingga produknya tak bisa dikatakan murah.

Namun, harga yang dipatok disebut masih lebih murah ketimbang harga di tempat-tempat lain, apalagi berlian Martapura serta kerajinannya disebut punya kualitas yang bagus dan bahkan mampu bersaing dengan berlian impor buatan Eropa.

Adapun karakteristik berlian buatan Martapura cenderung berbeda dari berlian impor. Ini jika disinari tidak memancar seterang berlian impor yang punya tingkat keterbiasan lebih tinggi. Ini disebabkan proses penggosokan berlian di sini notabene masih dilakukan secara tradisional.

Begitupun, nyatanya hal tersebut justru menjadi daya tarik dan keunikan tersendiri bagi banyak orang. Maka wajar bila berlian Martapura juga diburu oleh pedagang, turis dan kolektor manca negara seperti dari Singapura, Malaysia, Myanmar, India hingga Afrika Selatan.

Pasar Intan Martapura sejak dulu hingga kini berada di Jalan Ahmad Yani. Lokasinya berada persis di pinggir jalan, berdekatan dengan Masjid Agung Al-Karomah, sehingga mudah untuk ditemui. Hingga kini, tercatat setidaknya sekitar 80-an toko berjualan di pasar ini.

Sehari-hari, pasar ini selalu dipadati pengunjung dengan perkiraan 10 ribu orang per hari, namun angka ini bisa melonjak hingga 20 ribu orang per hari pada akhir pekan dan hari libur. Pada perkembangannya, selain menjajakan berlian dan kerajinannya dari hasil olahan sendiri, pasar ini kemudian juga menjual beragam jenis batu mulia lain, bahkan yang datang dari luar negeri, seperti zamrud, ruby, giok, mutiara, safir, opal, topaz dan lain-lain.

Yang juga perlu menjadi catatan, dengan kesadaran dewasa ini akan adanya ancaman pemalsuan batu mulia, kini di Martapura juga terdapat Lembaga Pengembangan dan Sertifikasi Batu Mulia (LPSB). Lembaga ini turut membantu menjaga dan menjamin keabsahan batu berlian serta batu mulia lainnya yang diperjualbelikan. Siapapun konsumen yang hendak membeli barang-barang kerajinan berlian Martapura dapat memeriksa dan memastikan bahwa barang yang dibelinya asli.

Sudah pernah ke Martapura? Ayo agendakan jalan-jalan ke Kalimantan Selatan dan beli berlian Martapura.

agendaIndonesia

*****

4 Kuliner Tasikmalaya Pilihan Saat Perjalanan

Prasmanan Nini Anteh

4 kuliner Tasikmalaya ini bisa menjadi pilihan saat melintasi kota di Jawa Barat itu saat perjalanan ke arah Jawa Tengah. Atau sebaliknya. Tentu ada banyak restoran yang juga terkenal di jalur tersebut, namun empat tempat ini bisa menjadi alternatif. Pilihannya mulai dari yang ringan seperti keong sawah atau biasa disebut tutut, hingga nasi tutug oncom yang mengenyangkan.

4 Kuliner Tasikmalaya

Melintasi atau khusus berkunjung ke Tasikmalaya tak hanya dibikin senang dengan pilihan belanja berupa barang-barang kerajinan tangannya yang beragam. Seperti kelom geulis, atau payung kertas, dan wayang glek. Selepas berbelanja, wisatawan perlu sajian untuk sekadar isi perut atau eksplorasi kuliner khas.

Kupat Tahu Esah

Kupat tahu ada di banyak kota, namun ada juga yang merupakan sajian khas Tasik. Di kota ini, ada warung kupat tahu yang sudah buka sejak 1958, yakni warung Kupat Tahu Hj. Esah. Penyajiannya sama seperti umumnya. Tahu dan ketupat dibelah, lalu dicampuri bumbu kacang tanah. Selain tahu dan ketupatnya, yang membedakan kupat tahu Hj Esah dengan yang lain adalah bumbunya,. ” Ada rasa tersendiri dan beda dari yang lain,” ujar seorang pengunjung warung tersebut.

Tahu yang disajikan tergantung permintaan konsumen, bisa digoreng garing, setengah matang, ada pula yang meminta tahu hanya sebentar digoreng lalu disajikan. “Ada yang minta tahu tanpa ketupat dan ketupatnya saja,” kata Asep Suja’i, anak kandung Hj Esah. Seporsi kupat tahu dibanderol Rp 15 ribu. Warungnya berada di pertigaan Jalan Empang dan Jalan Pemuda atau 150 meter dari bekas kantor Bupati Tasikmalaya.

Kupat Tahu Esah

Jalan Empang Nomor 24

Tasikmalaya


Tutut Gule Nini Anteh
Olahan dari tutut alias  keong sawah atau siput air sekarang mulai dikenal. Bila Anda penggemar siput ini, saat berkunjung ke Tasik bisa mampir ke Rumah Makan Nini Anteh, yang dikenal dengan olahan tutut gule alias gulai tutut. Pengelola Nini Anteh, , awalnya pesimistis tutut gule akan diminati pengunjungnya.Ternyata, tamu tua dan muda menyukainya.

Saat ini, Rumah Makan Nini Anteh mengolah minimal 5 kilogram tutut per hari. Untuk bahan baku, tutut masih banyak ditemukan di daerah Tasikmalaya dan Ciamis. “Dikirim dari Ciamis dan Gunung Galunggung,” kata seorang pengelola. Cara makannya pun cukup unik, yakni diseruput. Bisa saja tutut diambil dengan cara dicongkel dengan tusuk gigi. “Tapi seni makan tutut itu dikecrok atau diseruput,” ucap seorang pengunjung.


Selain tutut gule, kuliner Sunda zaman dulu juga disajikan di Rumah Makan Nini Anteh. Pengunjung bisa melahap angeun poloy atau talas, oseng ampas tahu, dan oseng jantung pisang. Menariknya, bangunan rumah makan ini merupakan bekas ruang kepala stasiun zaman Belanda. Kursi, meja, dan lemari yang digunakan pun buatan zaman baheula.

RM Prasmanan Nini Anteh
Jalan Dewi Sartika Nomor 14

Tasikmalaya



Tutug Oncom Kalektoran
Sajian yang tidak boleh terlewat saat mengunjungi Tasikmalaya adalah nasi tutug oncom. Makanan ini terdiri atas nasi putih yang dicampur oncom, yang sudah disangrai dan dibumbui. Tempat makan tutug oncom, yang cukup terkenal adalah Kalektoran. Nasi tutug oncom di sini terkenal karena kenikmatan oncom yang disajikan. Selain itu, ada sambal sebagai penambah kenikmatan tutug oncom. Nasi tutug oncom cocok disajikan dengan gorengan, telur ceplok, dan ayam goreng.


Tutug Oncom Kalektoran awalnya berlokasi di pinggir Jalan Kalektoran. Kini, tempat makan tersebut sudah memiliki bangunan permanen. “Awalnya di pinggir jalan sekitar 1999, tapi kami kemudian pindah ke sini,” kata Sumartini, pemilik Kalektoran.

TO Kalektoran
Jalan Kalektoran (100 meter dari Masjid Agung Kota Tasikmalaya)


Es Sirop Bojong Ibu Momoh
Setelah menyantap makanan khas Tasikmalaya, kini giliran mencicipi minuman khas, yakni es campur. Warung dikenal dengan nama Es Sirop Bojong Ibu Momoh yang sudah dijual sejak 1972. Es campur ini terdiri atas cincau hitam, tape ketan hitam, nangka, nanas, kelapa muda, alpukat, dan durian. Bahan-bahan tersebut ditambah santan, gula, dan es. Bahkan ad yang dicampur dengan durian, tentu ini bagi yang menggemarinya.

Penikmat es sirop Bojong ini berasal dari kalangan muda dan tua. Kalangan tua banyak yang mencicipi es ini untuk sekadar nostalgia. “Mereka ingin membandingkan ada perubahan rasa atau tidak. Insya Allah kami menjaga dan mempertahankan cita rasa,” kata Dodi, pemilik Kedai Es Sirop Bojong.


Es Sirop Bojong Ibu Momoh

Jalan Ampera Barat Nomor 207,  Panglayungan

Tasikmalaya

******


2 Hari Berlibur di Jember

Pantai Jember

2 hari berlibur di Jember apa saja yang bisa dikunjungi dan dilakukan? Kota di Jawa Timur ini praktis mulai ramai dibicarakan publik setelah ada penyelenggaraan Jember Fashion Carnaval (JFC). Namun, sebagai kota pariwisata ia belum banyak dilirik.

2 Hari Berlibur di Jember

Dari ukuran kotanya sendiri, Jember termasuk kota yang besar di provinsi ini. Ia dikenal sebagai kota perdagangan. Dan sesungguhnya kota ini mempunyai sederet atraksi untuk dikunjungi, mulai dari kebun kopi, pantai, museum, dan kampung wisata. Tentu, ia akan sangat menarik jika dikunjungi saat berlangsungnya JFC. Namun, di sela-sela menyaksikan karnaval, ada sejumlah spot yang bisa dinikmati pula. Berikut kunjungan yang bisa dilakukan wisatawan jika berkesempatan datang ke sini.

Hari 1: Kebun Kopi dan Pantai

Coffee Cacao Science and Techno Park

Setelah menempuh perjalanan 200 kilometer dari Surabaya, mungkin pagi bisa dimulai dengan menikmati suasana pedesaan sambil belajar tentang kopi dan cokelat. Untuk ini pilihannya adalah ke Desa Kaliwining, Rambipuji, sekitar 18 kilometer dari pusat kota. Nama tempatnya Coffee Cacao Science and Techno Park, atau lebih dikenal dengan institusi yang menaunginya, Puslitkoka atau Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.

Untuk ikut tur ke kebun kopi dan cokelat, juga fasilitas pengolahan kedua komoditas tersebut, setiap pengunjung dikenakan biaya Rp 10 ribu. Berkonsep eduwisata, peserta tur mendapat info tentang bermacam proses dalam pemanfaatan kopi dan kakao, dari hulu sampai hilir. Di pengujung tur, pengunjung dapat menikmati langsung hasil olahan akhir berupa aneka produk kopi dan cokelat yang dijual di kafetaria. Coffee Cacao Science and Techno Park juga menyediakan guest house yang dapat disewa pengunjung untuk menginap dan merasakan hawa segar perkebunan lebih lama.

Pantai Payangan

Puas menikmati perkebunan, wisatawan bisa bergerak ke daerah pantai yang cukup digandrungi, yakni Pantai Payangan. Berlokasi sekitar 36 kilometer dari pusat kota, tepatnya di Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu. Pantai ini diapit dua bukit sehingga memunculkan perairan yang menyempit. Itulah andalan utama Payangan, atau yang dikenal Teluk Love, karena bentuknya menyerupai hati. Titik terbaik untuk melihat teluk ini berada di bukit sisi timur yang oleh warga sekitar dinamai Bukit Domba. Menyaksikan nelayan melaut di sore atau pulang di pagi hari juga menjadi tontonan yang menarik. Tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbenam ada di bukit sisi barat yang dinamai Bukit Seribu Janji.

Pantai Pancer

Di jajaran Pantai Payangan, ada Pantai Pancer yang tidak boleh dilewatkan. Berada di Kecamatan Puger, sekitar 40 kilometer barat daya dari pusat kota, dari Payangan sekitar 25 kilometer. Di sore hari akan tampak keindahan matahari terbenam, di atas deretan pemecah ombak. Atraksi kapal nelayan melawan ombak saat melaut juga menjadi daya tarik tersendiri.

Tak jauh dari Pantai Pancer, terdapat TPI Puger yang berfungsi sebagai pasar ikan. Kumpulan kapal nelayan yang bersandar juga menjadi obyek yang menarik. Selain itu, di sini terdapat tempat pembuatan kapal nelayan. Tidak ada tiket masuk untuk dua obyek wisata ini.

Hari Kedua: Museum Tembakau dan Kampung Wisata


Museum Tembakau

Hari kedua, dimulai dari pusat kota. Dimulai dengan mengunjungi Museum Tembakau. Jember dikenal sebagai kota tembakau karena si daun emas tersebut telah lama menjadi denyut utama perekonomian setempat. Museum berada di Jalan Kalimantan Nomor 1, menyatu dengan kantor pemiliknya, UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang dan Lembaga Tembakau. Nama resminya adalah Tobacco Information Center (TIC). Didirikan sebagai sarana edukasi dan wisata bagi masyarakat.

Pengunjung dapat melihat berbagai koleksi museum, seperti aneka peralatan yang dipakai untuk pengolahan pra dan pascapanen, miniatur gudang pengeringan, dan sejumlah dokumentasi industri tembakau Jember di masa lalu. Beberapa contoh produk diversifikasi tembakau selain rokok dan cerutu dihadirkan, seperti parfum, pestisida alami, dan minyak tembakau. Pengunjung tidak dipungut biaya, museum dibuka dari Senin sampai Jumat, pada pukul 09.00-11.00. Namun, jika ada pengunjung yang datang sebelum jam kantor usai, yakni pukul 16.00, masih tetap akan dilayani.

Kampung Wisata Tanoker

Anomali dengan hawa panas Jember yang mendominasi, kampung wisata ini berada di kaki Gunung Raung yang sejuk. Tempat ini berada 46 kilometer arah timur pusat kota, tepatnya di Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo. Selain menikmati hawa sejuk khas perdesaan, pengunjung bisa mengikuti berbagai kegiatan berbasis permainan tradisional, seperti polo lumpur dan egrang. Bahkan kampung ini telah tujuh kali mengadakan acara tahunan Festival Egrang yang mampu menyedot wisatawan lokal, nasional, bahkan internasional.

Nama Tanoker dicuplik dari bahasa Madura, suku yang banyak tinggal di sini, artinya kepompong. Ini sesuai dengan sasaran utamanya, yaitu anak-anak dan remaja, walaupun dewasa juga bisa ikut menikmati. Pemberdayaan anak-anak sekitar, yang kebanyakan orang tuanya bekerja sebagai TKI atau buruh, juga menjadi ide pengambilan nama kampung wisata ini. Selengkapnya tentang Tanoker bisa dilihat di www.tanoker.org.

Kafe Kolong

Kembali ke pusat kota, mungkin Anda ingin menikmati suasana malam di kota ini. Belum banyak pilihan, tapi bolehlah mampir ke Kafe Kolong di Jalan Mastrip. Sesuai dengan namanya, kafe ini berada di bawah Jembatan Bedadung, dan inilah yang membedakannya dengan tempat nongkrong lain sekaligus menjadi daya tarik utama. Pengunjung Kafe Kolong sebagian besar anak muda Jember, seperti halnya anak muda di kota lain, yang gemar menghabiskan waktu malam bersama teman sebaya.

Kafe ini wujud ide kreatif pemiliknya mengubah kolong jembatan yang identik dengan kesan kumuh dan negatif menjadi destinasi rekreasi. Sebelumnya, tempat ini sering digunakan untuk membuang sampah, mabuk-mabukan, mesum, dan lain-lain. Kini kafe yang berdiri pada 2012 ini setiap malam selalu ramai. Beragam kegiatan nonformal juga sering digelar di Kafe Kolong.

Rita N./Alfian/Dok. TL

******

Wayang Ental Bali, Unik Setinggi 1 Meter

Wayang Ental Bali, wayang kontemporer dari ujian akhir mahasiswa ISI Bali. Foto: Kura Kumara Agung

Wayang Ental Bali pasti belum sepopular wayang kulit, wayang golek atau bahkan wayang potehi. Meskipun sama-sama wayang, wayang ental memang baru muncul belakangan dibanding saudara-saudaranya yang lain.

Wayang Ental Bali

Wayang memang dikenal sebagai salah satu kebudayaan khas Indonesia yang sudah lahir sejak beberapa abad lalu. Setiap daerah bahkan memiliki jenis wayang yang berbeda-beda, seperti wayang kulit dari Yogyakarta dan Solo, wayang golek dari Jawa Barat, hingga wayang orang dari Jawa Tengah.

Dari beberapa jenis wayang di Indonesia, muncul satu wayang kontemporer baru yang cukup unik dari Bali yaitu wayang ental. Bisa dibilang wayang ental merupakan inovasi terbaru dalam dunia pewayangan.

Wayang Ental Orang orangandari Daun Ental Disbud Denpasar
Pertunjukan wayang ental Bali. Foto: Kuta Kumara Agung

Dari segi pembuatannya, wayang ental Bali berbeda dari wayang pada umumnya, yakni yang ini terbuat dari daun lontar. Sedangkan dari segi bentuk, wayang kontemporer dari Bali ini memiliki berbentuk tiga dimensi dan memiliki jenis dan gaya pergelarannya tersendiri.

Wayang ental Bali didesain khusus menampilkan badan fisik wayang secara utuh. Mulai dari tangan, kaki, hingga kepala yang semuanya dapat digerakkan. Sangat berbeda dengan wayang pada umumnya yang hanya menampilkan bentuk mini dan digerakkan pada tangannya saja.

Selain bentuknya yang tiga dimensi, wayang ental Bali juga dibuat berukuran jauh lebih tinggi dibandingkan wayang pada umumnya. Biasanya wayang ental memiliki tinggi 1 meter dengan lebar 30 cm. Salah satu keunikan dari wayang ental terdapat pada ekspresi wajah dari setiap tokoh pewayangan.

Wayang ental lahir dari pemikiran kreatif I Gusti Made Dharma Putra pada 2016. Wayang ental ini sesungguhnya pertama kali dibuat Dharma dalam rangka tugas akhir kelulusannya di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.

Pada awal pembuatannya, wayang ental Bali ini tidak langsung berbentuk tiga dimensi, namun dua dimensi. Barulah pada 2018 wayang ini berubah bentuk menjadi tiga dimensi.

Gusti Made Dharma Putra mengaku bahwa pembuatan wayang ental terinspirasi dari teknik permainan Bunraku dari Jepang. Kemudian teknik tersebut dikombinasikan dengan gaya wayang tradisional Bali, Tetikesan.

Secara desain, wayang ental dibuat dengan menyerupai manusia, yang menggabungkan teknik ulatan sumpe dan ulatan Jepang dalam pembuatannya. Ulatan adalah ekspresi wajah yang digunakan dalam membentuk wayang.

Wayang Ental Bali Antara News
Wayang Ental digerakkan oleh dua orang. Foto: Milik AntaraNews Bali

Selain itu, perbedaan antara bunraku dan wayang ental terletak pada bahan bakunya. Jika bunraku menggunakan tiga helai daun lontar, wayang ental hanya menggunakan dua helai saja

Dalam sekali pagelaran wayang ental dilakukan dengan durasi 45 menit. Kalau wayang pada umumnya dimainkan oleh satu orang dalang dengan pencahayaan khusus, wayang ental tidak demikian. Untuk memainkan wayang ental harus digerakkan oleh dua orang dalang.

Salah seorang dalang bertugas memegang bagian kaki wayang, sedangkan satu lagi menggerakan bagian kepala dan tangan wayang ental. Kedua dalang tersebut harus berkomunikasi selama pertunjukkan berlangsung agar wayang ental bisa bergerak selaras. Selama pertunjukkan dalang juga tidak diperbolehkan untuk bergerak berlebihan agar fokus penonton tetap pada wayangnya saja.

Pembeda wayang ental dari jenis wayang pada umumnya juga terletak pada pagelaran yang berlangsung. Tak seperti wayang kulit yang ditampilkan di belakang kelir, wayang ental sebaliknya. Dalam setiap pagelarannya wayang ental ditunjukkan tampak badan wayang secara utuh, serta bisa bergerak dari tangan, kaki, dan kepala.

Sebagai pelengkap, dalam setiap pagelaran wayang ental biasanya ditambahkan juga tarian pendukung alur cerita. Tarian ini bertujuan untuk menyuguhkan sebuah pementasan wayang yang menarik dan berbeda dari umumnya.

Total, dalam satu pagelaran wayang ental dibawakan oleh 20 seniman, mulai dari penggerak wayang (dalang), penari, hingga pembaca kisah.

Tokoh dan cerita dalam wayang ental juga tidak biasa. Jadi tidak hanya dari bentuk dan cara mainnya yang unik, dari segi penceritaan dan penokohan wayang ental juga memiliki perbedaan dari wayang pada umumnya. Pada pagelaran wayang umumnya nama-nama tokoh yang digunakan merujuk pada cerita Mahabharata.

Sedangkan, pada wayang ental nama tokoh menyesuaikan dari cerita yang akan dimainkan. Sejauh ini total ada delapan tokoh wayang ental yang telah dipentaskan, yakni tokoh Sutasoma, Purusdha, Dasabahu, Mredah, Delem, Sangut, Tualen, serta satu buah kayonan.

Inovasi dalam pagelaran wayang ental ini diharapkan dapat menarik minat para generasi muda pada seni pewayangan. Harapannya pecinta wayang di Indonesia terus bertambah dari hari ke hari.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****