Gudeg Yogya menjadi masakan yang dibenci tapi rindu oleh banyak penggemar kuliner Indonesia. Dibenci, karena masakan ini punya rasa manis yang jarang disukai orang dari luar Yogyakarta. Tapi dirindu, karena meski tak pernah makan gudeg di kota asalnya, wisatawan tetap saja mengagendakan menyantap masakan ini jika ke Yogya.
Gudeg Yogya
Selama ini orang menerima saja jika disebut gudeg adalah kuliner khas kota pelajar ini. Jarang yang mencari tahu bagaimana muasal makanan ini muncul di kota itu.
Sesungguhnya tak ada catatan yang pasti bagaimana asal-usul makanan ini. Begitupun ada sebuah buku hasil penelitian seorang guru besar sekaligus peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PMKT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, namanya Murijati Gardjito. Istri almarhum penerbang TNI Angkatan Udara ini, menerbitkan buku hasil penelitiannya pada 2017.
Menurut Murdijati, kemunculan Gudeg diperkirakan bebarengan dengan pembentukan wilayah Yogyakarta. Ia memperkirakan, kemungkinan bahkan tepat sebelum kota ini ada.
Berdasar buku Gudeg, Sejarah dan Riwayatnya karya Murdijati tersebut, sejarah gudeg dimulai kala abad ke-16. Makanan ini bahkan sudah ada sebelum Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta berdiri. Konon, resep gudeg ditemukan pada masa Panembahan Senopati (1587-1601), pendiri Kesultanan Mataram Islam.
Saat hendak mendirikan Kesultanan Mataram Islam, Panembahan Senopati harus membuka hutan belantara yang dikenal sebagai Alas Mentaok. Para prajurit Panembahan Senopati membabat hutan yang kelak bernama Yogyakarta ini. Alas ini ada di sebelah selatan Yogyakarta. Kawasan yang dibabat alas itu, kini lokasinya kira-kita ada di kawasan Kotagede. Ternyata di hutan tersebut terdapat banyak pohon nangka dan kelapa.
Nangka muda dan kelapa itu kemudian diolah untuk santapan bersama. Nangka muda dimasak dengan santan dari kelapa ditambah gula aren, berbagai macam bumbu, serta rempah-rempah, di dalam kuali besar yang diaduk-aduk dengan menggunakan sendok besar mirip dayung.
Dalam buku diceritakan, setelah ditebangi : “Para prajurit yang jumlahnya ratusan itu kemudian berusaha memasak nangka dan kelapa. Karena jumlah mereka sangat banyak, nangka dan kelapa dimasak di dalam ember besar yang terbuat dari logam. Pengaduknya pun besar, seperti dayung perahu.”
Tentu saja makanan hasil masak para prajurit tersebut belum ada namanya. Belum ada nama “gudeg”. Para prajurit tersebut hanya mengatakan masakan itu dengan sebutan Hangudek, yang artinya mengaduk.
Karena yang menemukan dan mencoba mengolahnya adalah para prajurit, tentu saja, kuliner ini dulunya hanya populer di kalangan prajurit. Namun lambat laun diketahui ia mulai masuk dalam daftar kuliner para ningrat, dan juga masyarakat umum. Banyak yang menggemarinya, karena bahannya mudah ditemui dan rasanya yang lezat.
Dan sejarah kemudian mencatat, gudeg dikenal sebagai salah satu jenis kuliner khas Yogyakarta. Ia menjadi salah satu tujuan kuliner yang jarang dilewatkan, sekaligus dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Gudeg umumnya terbuat dari nangka muda atau gori yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan rasa legit, manis, sekaligus gurih.
Saat ini ada dua jenis gudeg yang diketahui publik, yakni gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg biasanya disajikan bersama tahu, tempe, ayam, atau telur, yang dimasak dengan cara dibacem, dan tentunya dimakan dengan nasi putih. Selain dari gori, gudeg kemudian juga bisa dibuat dari bunga kelapa atau manggar, terkadang ditambahkan rebung alias bambu muda dan potongan daging.
Awalnya masyarakat lebih menegnal gudeg basah. Biasanya karena disantap untuk saat itu juga, gudeg masih memiliki sedikit sisa kuah dari santennya. Namun, seiring perkembangan, ada wistawan yang menginginkan gudeg sebagai oleg-oleh saat kembali ke kota asalnya, maka munculah gudeg kering.
Gudeg kering ini baru muncul sekitar tahun 60-an atau awal 70-an. Bahan-bahan betul-betul dimasak hingga hampir habis kuah santennya. Sifatnya yang kering inilah yang membuatnya tahan lama dan dimanfaatkan sebagai oleh-oleh. Kadang, agar membuatnya agak basah, gudeg yang kering itu disertakan areh. Ii dibuat dari santan kental yang diberi bumbu tertentu.
Dulu orang yang ingin membawa gudeg dari Yogya sebagai buah tangan, oleh restorannya gudeg dan ubo-rampenya diletakkan dalam kendil. Semacam mangkok bertutup dari bahan tanah liat. Kini dengan makin sempurnya cara memasak gudeg sehingga tahan lama, gudeg dikemas dalam besek.
DI manakah kita bisa menikmati gudeg yang enak di Yogyakarta? Untuk gudeg basah berikut restoran yang menyajikannya:
GUDEG PERMATA (BU NARTI); Jl. Gajah Mada No.2, Gunungketur, Pakualaman, Kota Yogyakarta.
GUDEG PAWON, Jalan janturan UH/IV No.36, Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta
Ini adalah 8 kuliner tradisional sedap di Malang yang bisa jadi rekomendasi bagi wisatawan yang hendak berlibur ke kota berjuluk Paris of East Java ini. Malang selama ini dikenal sebagai lokasi liburan keluarga dengan berbagai macam destinasi wisatanya, seperti Museum Angkut, Jatim Park, dan sebagainya. Namun, Malang juga memiliki sejumlah destinasi kuliner hits nan legendaris yang tak kalah menarik. Bahkan, beberapa di antaranya sudah berusia sekitar satu abad. Ini 8 kuliner tradisional sedap di Malang.
8 Kuliner Tradisional Sedap di Malang
Alun-alun Tugu Malang, bisa jadi untuk memulai menikmati 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock
Pecel Kawi Hj. Musilah
Salah satu destinasi dari 8 kuliner sedap di Malang adalah Pecel Kawi Hj. Musilah, yang berada di jalan Kawi Atas nomor 43b. Kedai nasi pecel yang sudah berdiri sejak 1975 ini bertahun-tahun begitu melegenda dan sudah menjadi favorit banyak warga lokal dan wisatawan pecinta kuliner. Tak jarang, pada waktu makan siang kedai ini dipenuhi pengunjung hingga harus mengantre.
Nasi pecel yang dijajakan di sini tergolong unik karena cenderung menyesuaikan dengan selera lidah orang Jawa Timur. Dalam artian, bumbu pecel yang digunakan memiliki cita rasa lebih gurih dan pedas, ketimbang nasi pecel di wilayah Jawa Tengah yang biasanya memiliki rasa bumbu pecel yang lebih manis.
Pecel Kawi kota Malang menjadi salah satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock
Bumbu pecel yang digunakan juga cenderung lebih pekat dan kental, dengan aroma kencur yang menambah keunikannya. Dan yang juga menarik, pengunjung bisa memesan bumbu pecel berdasarkan tingkat kepedasannya sesuai selera, sehingga pengunjung yang tidak terlalu tahan atau suka pedas tak perlu khawatir akan kepedasan.
Selain itu, harga seporsi nasi pecel yang dihargai Rp 17,5 ribu juga tergolong cukup ekonomis. Di dalamnya, terdapat isian sayur-sayuran seperti taoge, kacang panjang, kangkung dan kembang turi yang kemudian dilumuri bumbu pecel. Tak ketinggalan, tempe dan rempeyek juga hadir sebagai pelengkap.
Selebihnya, pengunjung juga dapat memesan tambahan lauk-lauk lainnya, seperti daging empal, dadar jagung alias bakwan jagung, telur bacem, telur asin, sate buntel, sate komoh atau sate sapi dengan potongan daging yang besar, dan lain lain. Beberapa pilihan minumannya pun juga menarik, seperti es timun, es buah kawista, jus buah naga, dan sebagainya.
Terdapat pula menu makanan lain yang banyak digemari pengunjung, seperti nasi rawon, nasi lodeh, serta nasi campur yang merupakan nasi dengan isian lauk ayam bumbu cabe, mie goreng, oseng kentang, serta sayur buncis dan pare. Dengan ragam menu menarik tersebut, tak heran kedai yang buka dari jam 06.30 hingga 18.00 ini selalu ramai oleh pengunjung, bahkan sejak pagi.
Bakso President
Kuliner legendaris Malang lainnya adalah Bakso President, yang terletak di jalan Batanghari nomor 5. Lokasinya terbilang cukup unik karena bersebelahan langsung dengan rel kereta api. Kedai bakso Malang ini sudah eksis sejak 1977, dan bahkan disebut-sebut sebagai salah satu pelopor maraknya hidangan bakso Malang saat ini.
Usut punya usut, kedai bakso ini awalnya merupakan usaha bakso pikulan. Seiring waktu, banyaknya pelanggan membuat usaha ini kemudian beralih menggunakan gerobak dorong, dan pada prosesnya terus berkembang dan semakin banyak penggemarnya, sampai pada akhirnya bisa berjualan menggunakan bangunan sendiri.
Uniknya, bangunan tersebut berada di dekat sebuah gedung yang dulunya merupakan bioskop bernama President, sebelum kemudian kini beralih fungsi menjadi sebuah penginapan bernama Hotel Savana. Alhasil, oleh pelanggan setianya kedai bakso ini kadung dikenal sebagai ‘Bakso President’, hingga sekarang. Kini ini satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang.
Dan seperti halnya bakso Malang yang banyak dikenal sekarang, banyak jenis bakso serta isian lainnya yang bisa dipilih. Dari baksonya saja, terdapat bermacam jenis seperti bakso kecil, bakso besar, bakso urat, bakso goreng, bakso tulang muda, bakso telur dan bakso bakar. Kemudian pilihan isiannya meliputi siomay goreng, siomay basah, ati ampela, paru, urat bakar dan tahu.
Pengunjung bisa memilih jenis bakso, isiannya serta jumlahnya sesuai selera, atau memilih paket-paket yang terdiri dari beragam kombinasi bakso serta isiannya. Mulai dari paket bakso kecil isi 5 buah, sampai campur komplit dengan semua jenis bakso dan isian. Paket campur komplit ini bahkan kerap dipesan untuk dimakan berdua, lantaran porsinya sangat banyak untuk dimakan sendirian.
Harga bakso dan isiannya secara satuan berkisar dari Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu, sementara untuk pilihan paketnya mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 34 ribu. Kalau ingin mencoba sesuatu yang berbeda, bakso bakar bisa juga dipesan dan dimakan dengan bumbu kacang. Ragam pilihan menu tersebut menjadikannya tempat favorit warga dan wisatawan untuk bersantap ringan, menikmati sore hingga malam sambil melihat kereta-kereta yang melintas.
Depot Hok Lay
Selain bakso, kuliner lainnya yang bisa dibilang cukup identik dengan Malang adalah cwie mie dan menjadi salah satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Cwie mie sejatinya serupa dengan mie ayam pada umumnya. Perbedaannya, ia disajikan dengan daging ayam yang sudah dicincang halus, serta irisan daun selada. Sebagai pelengkap, ia kemudian ditaburi dengan daun bawang dan bawang goreng.
Cwie Mie Malang adalah salah satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock
Cita rasa asin dan gurih yang otentik dari cwie mie membuatnya selalu diburu pecinta kuliner saat berwisata di Malang. Pun, tak sulit mencari kedai cwie mie di kota apel ini, serta banyak dari mereka yang kerap direkomendasikan. Dari beberapa di antaranya, Depot Hok Lay yang terletak di jalan KH. Ahmad Dahlan nomor 10 adalah salah satu yang cukup mencolok.
Yang menarik dari kedai cwie mie ini adalah nuansa retro yang kental, lewat bangunannya yang sudah ada sejak 1946. Masuk ke dalam, terlihat jejeran ubin, meja dan kursi yang masih original membawa suasana kembali ke Malang tempo dulu. Jejeran foto dan pajangan yang menghiasi dinding seakan bercerita tentang sejarah kedai yang namanya secara dialek Hokkian kurang lebih berarti ‘hoki datang’.
Seperti kedainya yang terkesan sederhana, menu yang ditawarkan Depot Hok Lay juga terbilang tak neko-neko. Karena ternyata, tempat ini dulunya memang lebih diperuntukkan sebagai kedai es manisan. Belakangan, mereka juga menawarkan beberapa menu makanan pendamping, seperti cwie mie-nya yang legendaris.
Cwie mie Depot Hok Lay terkenal dengan tekstur mie buatan homemade yang cenderung halus dan tipis, serta daging ayam gilingnya yang gurih. Cwie mie kemudian disajikan dengan pangsit goreng sebagai teman makan. Kalau kurang, pengunjung juga bisa memesan tambahan pangsit goreng secara terpisah.
Selain cwie mie, ada pula beberapa menu makanan lain yang banyak digemari pengunjung. Seperti lo mie, pangsit kuah, nasi bakmoy, serta lumpia yang sudah dimodifikasi dengan resep sendiri. Menurut mereka, lumpia ala Semarang biasanya cenderung bercita rasa manis, sedangkan lumpia buatan mereka lebih asin dan gurih, menyesuaikan lidah orang Jawa Timur.
Terkenal dengan ragam menu makanan resep keluarga turun temurun, tak membuat mereka lupa dengan jati diri mereka sebagai penjaja es manisan. Menu es manisan nan segar seperti es campur, es limun, es lidah buaya, es cincau, es susu kedelai dan es puding manalagi menjadi beberapa menu unggulan di kedai ini.
Bahkan, salah satu menu minuman original mereka yang tak ditemui di tempat lain adalah es fosco, yakni minuman yang terbuat dari susu sapi murni yang diolah dengan coklat. Minuman kemudian dikemas ke dalam botol minuman soda. Rasanya terbilang unik, mirip seperti minuman kekinian salted caramel ice chocolate yang terasa manis bercampur asin.
Harga makanan dan minumannya tergolong moderat dan tak begitu mahal. Harga makanannya berkisar dari Rp 28 ribu sampai 34 ribu, sementara range harga minuman mulai dari Rp 5 ribu hingga 20 ribu. Sebagai catatan, kedai ini punya dua jam buka sehari-harinya, dari jam 09.00 sampai 13.30 pada siang hari, serta jam 17.00 hingga 19.30 saat sore. Kedai juga tutup setiap hari Selasa.
Warung Sate Gebug
Kuliner yang satu ini usianya sudah satu abad lebih. Usaha kedai sate ini sudah eksis sejak 1920 silam. Bahkan, bangunannya sudah berusia lebih tua lagi, karena sebelumnya bangunan tersebut dimiliki orang Belanda dan dipergunakan sebagai toko es batu. Setelahnya, bangunan itu dibeli untuk dipakai berjualan sate.
Sate yang dijajakan pun terbilang unik. Gebug dalam bahasa Jawa bermakna dipukul, dan ini merujuk kepada proses pembuatan sate ini, dimana potongan daging sapi yang sudah dibumbui rempah-rempah kemudian dipukul-pukul sebelum dibakar. Teknik tersebut disinyalir membuat daging menjadi lebih empuk dan bumbunya terasa lebih meresap.
Sate kemudian disajikan dengan sepiring nasi dan bumbu sambal kecap. Sebagai teman makan, disediakan pula tempe goreng dan tempe mendol, alias olahan tempe yang diulek dan dibuat adonan, bercampur dengan cabe, kencur, bawang merah, ketumbar, garam, gula dan jeruk purut. Setelah berfermentasi selama 1-2 jam, adonan kemudian digoreng dan disajikan.
Kalau ingin tambahan kuah, tersedia juga menu-menu seperti sop, soto dan rawon. Harga seporsi sate berkisar dari, Rp 30 ribu sampai 35 ribu, tergantung dari pilihan sate dengan bagian daging berlemak atau tanpa lemak. Adapun menu sop, soto dan rawon semuanya dihargai Rp 25 ribu.
Yang menarik, kedai sate yang buka dari jam 08.00 hingga 16.30 ini tergolong agak kecil. Dari tepi jalan Jenderal Basuki Rahmat, posisinya agak sedikit masuk ke dalam. Bagian eksterior serta interior bangunan juga tidak banyak berubah dari zaman pendudukan Belanda dulu, sehingga kini ditetapkan sebagai cagar budaya. Perlu diingat pula, bahwa Warung Sate Gebug selalu tutup pada hari Jumat dari hari besar Islam.
Warung Lama Haji Ridwan
Satu lagi destinasi 8 kuliner tradisional sedap di Malang yang tahun ini telah genap berusia seabad. Warung Lama Haji Ridwan diketahui sudah berjualan di area Pasar Besar Malang sejak 1925, hanya sekitar setahun setelah pasar tersebut resmi berdiri dan beroperasi. Bahkan, disebut-sebut bahwa warung ini aslinya sudah berjualan dengan gerobakan di area tersebut dari 1914, sebelum kompleks Pasar Besar dibangun.
Di warung berwujud kios kecil ini, pengunjung akan mendapatkan pilihan menu-menu masakan rumahan yang murah meriah. Beberapa di antaranya meliputi nasi rawon, nasi campur, nasi kari ayam, nasi soto daging dan sate komoh. Sebagai teman makan, disediakan juga lauk seperti telur asin, tempe goreng, tempe mendol dan perkedel.
Nasi campur menjadi salah satu menu yang paling digemari pelanggannya. Dalam seporsi nasi campur, pengunjung akan mendapatkan nasi dengan lauk tahu dan telur bumbu Bali, krengsengan daging, kering tempe, serta sayur wortel. Sate komoh yang dagingnya besar nan empuk, dengan lumuran bumbu Bali juga menjadi favorit.
Dan yang pasti, dengan porsinya yang mengenyangkan, harganya pun cukup enteng di kantong. Harga makanan di warung ini berkisar dari Rp 20 ribu hingga 25 ribu. Buka dari jam 08.00 sampai 16.00, warung yang berada di area lantai dasar ini jadi alternatif menarik untuk santap siang atau brunch.
Ini 5 rekomendasi kuliner halal di Manado, Sulawesi Utara. Meski dikenal dengan beragam jenis kuliner tradisionalnya yang menggoda lidah, penting juga untuk diingat bahwa tidak semuanya merupakan kuliner halal, mengingat banyak dari warganya yang memeluk agama non-Muslim. Sehingga menarik untuk diperhatikan apa saja kuliner khas kota 1001 gereja ini yang halal dikonsumsi bagi wisatawan Muslim.
5 Rekomendasi Kuliner Halal di Manado
Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara. Foto; shutterstock
Dego Dego Cafe
Ini yang pertama dari 5 rekomendasi kuliner halal di Manado adalah Dego Dego Cafe yang kerap menjadi salah satu tempat warga Manado dan wisatawan bersantap pagi. Dego Dego sendiri dalam bahasa lokal Manado kurang lebih berarti balai dari bambu, dan kafe ini memang secara visual terlihat sederhana dan tidak terlalu besar.
Namun, setiap paginya kafe tersebut dipenuhi oleh pengunjung, baik warga setempat maupun turis pecinta kuliner yang mencari sarapan. Usut punya usut, ternyata salah satu alasannya adalah kafe ini memiliki menu andalan kuliner tradisional yang lazim menjadi menu sarapan warga Manado, yakni Tinutuan.
Tinutuan, alias bubur Manado, adalah sebuah kuliner tradisional yang begitu populer di Manado. Warnanya cenderung kuning dan sedikit kehijauan, karena di dalamnya terdapat beberapa macam sayuran, seperti bayam dan kangkung. Warna kuning tersebut juga berasal dari olahan labu yang digunakan dalam pembuatannya.
Bubur dibuat dengan mencampurkan beras dan olahan labu, ubi dan jagung yang oleh warga setempat disebut sambiki. Setelah menjadi bubur dan mengental, barulah bubur bisa disajikan dengan menambahkan sayuran yang baru direbus setelah dipesan, serta tambahan daun kemangi untuk menambah aroma sedap.
Bubur Manado atau Tinutuan. Foto: Dok. Sajian Sedap
Sensasi hangat dan gurihnya bubur, serta segarnya sayuran menjadikannya salah satu pilihan utama santap pagi bagi warga Manado. Bahkan, karena warga Manado dikenal suka makanan pedas, tinutuan kerap dimakan dengan menambahkan ragam sambal khas Manado, seperti sambal ikan roa atau sambal bakasang, yaitu sambal yang terbuat dari isi perut ikan cakalang.
Seporsi tinutuan pun terhitung murah, hanya sekitar Rp 7 ribu. Begitu populer dan merakyatnya kuliner ini, hingga terkadang kini Manado juga dipanggil sebagai kota tinutuan. Selain tinutuan, di kafe ini juga terdapat sejumlah makanan 5 rekomendasi kuliner halal di Manado yang khas lainnya, seperti mie cakalang, nasi goreng cakalang, nasi goreng ikan roa, dan lain sebagainya. Kalau tertarik mampir, Dego Dego Cafe terletak di jalan Wakeke nomor 3.
Warung Afisha
Bicara soal 5 rekomendasi kuliner halal di Manado, maka akan identik dengan beragam jenis sajian seafood. Dan terbilang tidak sulit untuk menemukan restoran-restoran yang menjajakan aneka masakan seafood otentik. Dari restoran tersebut, salah satu yang cukup tenar dan mencolok dengan menu-menu uniknya adalah Warung Afisha, yang berlokasi di jalan Balai Kota.
Ada beberapa menu yang paling direkomendasikan di restoran ini. Salah satu dari 5 rekomendasi kuliner halal di Manado adalah woku belanga, yaitu olahan ikan yang dimasak di dalam belanga atau kuali yang terbuat dari tanah liat. Olahan ikan tersebut diramu dengan bumbu woku yang terbuat dari rempah-rempah seperti daun jeruk, daun kunyit, daun pandan, kemangi dan sebagainya.
Ikan yang diolah biasanya berkisar antara ikan mas. Ikan nila atau ikan kerapu. Walaupun terkadang sering juga dijumpai woku belanga yang menggunakan olahan udang, kepiting, atau bahkan ayam. Ia banyak disukai karena cita rasanya yang pedas dan gurih, serta aromanya yang begitu harum dan menggoda selera.
Menu lainnya yang menjadi primadona adalah rahang ikan tuna bakar. Setelah dibersihkan, ia dimarinasi bumbu sebelum kemudian dibakar sembari dilumuri sambal. Pengunjung juga bisa memesan rahang ikan tuna yang dimasak dengan woku, atau dengan direbus menggunakan kuah asam.
Lain dari itu, Warung Afisha juga menawarkan bermacam jenis ikan lainnya, seperti ikan tude, ikan goropa, ikan tindarung, ikan bobara, dan sebagainya. Yang menarik, dua jenis sambal andalannya, dabu dabu lilang dan rica bakar tampurung, dapat diambil sendiri sepuasnya oleh pengunjung.
Pengunjung diberikan pilihan paket nasi, lauk dan sayur yang harganya mulai dari Rp 40 ribu. Pengunjung tinggal memilih jenis lauk yang diinginkan, serta memilih sayur seperti cah kangkung, acar timun atau terong bakar. Bagi yang tidak terlalu suka pedas, juga bisa meminta agar ikan tidak dibakar menggunakan sambal.
Wisata Bahari
Satu lagi restoran seafood yang jadi salah satu dari 5 rekomendasi kuliner halal di Manado adalah Wisata Bahari, yang terletak di Bahu Mall Complex, jalan Wolter Monginsidi Nomor 1. Keistimewaan restoran ini bukan hanya dari aneka masakan seafood yang menggoyang lidah saja, tetapi juga karena ia berlokasi persis di tepi teluk Manado, menyajikan suasana makan di tepi pantai dengan pemandangan laut.
Memandang ke luar, akan terlihat panorama pulau Bunaken dan pulau Manado Tua yang berwujud gunung berapi aktif. Semakin terasa menarik ketika pengunjung menempati area outdoor dari restoran, yang menjadi spot favorit manakala waktu santap malam sambil menikmati pemandangan sunset.
Tak hanya nuansa dan pemandangan yang apik, pilihan menu makanannya pun tak kalah menarik. Menu-menu seperti ikan bobara bakar rica, lobster lada hitam, kepiting saus tiram, cumi cah jamur hitam, dan salad ikan goropa merupakan beberapa yang direkomendasikan. Harga makanannya berkisar dari Rp 20 ribu sampai Rp 140 ribu.
Buka dari jam 11.00 hingga 23.00, Wisata Bahari umumnya cocok menjadi tempat makan bersama teman dan keluarga. Meski berkapasitas sekitar 300 orang, namun restoran ini hampir tak pernah sepi pengunjung, sehingga jika berencana datang beramai-ramai disarankan untuk membuat reservasi terlebih dulu.
Rumah Makan Saroja
Siapa sangka, ternyata satu dari 5 rekomendasi kuliner halal di Manado juga memiliki gayanya sendiri dalam menikmati hidangan nasi kuning. Bagi pecinta kuliner yang penasaran ingin mencoba resep nasi kuning ala Manado, Rumah Makan Saroja bisa menjadi pilihan destinasi, karena restoran yang berada di jalan Diponegoro Nomor 9 ini terkenal dengan nasi kuningnya yang unik nan ikonik.
Sudah sejak 1977 restoran ini menjajakan nasi kuning khas Manado, dan sejak itu pula ia menjadi salah satu kuliner paling disukai warga lokal dan paling diburu pelancong. Bahkan, restoran ini pernah diganjar penghargaan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penjual nasi kuning terbanyak, karena begitu laris manisnya nasi kuning buatannya.
Yang membuat nasi kuning Manado ini lumayan berbeda dari biasanya adalah lauk pauknya. Di atas sepiring nasi kuning yang porsinya cukup besar, terdapat isian seperti abon ikan cakalang, semur daging sapi suwir, potongan ubi, kering kentang, bawang goreng, telur rebus, serta sambal. Seporsi nasi kuning komplit dihargai Rp 25 ribu.
Tak jarang yang datang ke restoran ini untuk santap pagi, lantaran sudah buka dari jam 06.00. Tetapi yang menarik, banyak pula yang membeli untuk dibawa pulang, bahkan sebagai oleh-oleh, karena setiap porsi nasinya dibungkus dengan daun roka. Disinyalir, penggunaan daun roka tersebut menambah aroma harum serta menjaga nasi tidak cepat basi.
Kios Es Miangas
Tak cuma kuliner main course saja, Manado juga punya beberapa kudapan manis otentik yang menarik untuk dicoba. Salah satu kedai penjual penganan ringan tersebut adalah Kios Es Miangas, kedai kudapan manis yang terhitung legendaris di Manado. Maklum, kedai ini beserta bangunannya sudah eksis sejak 1976 silam.
Es kacang merah yang segar. Foto: shutterstock
Terletak di satu sudut jembatan Miangas, di area jalan Jenderal Sudirman, menu-menu yang ditawarkan juga tidak banyak berubah sejak dulu. Beberapa di antaranya meliputi es buah, rujak buah, aneka juice buah, serta beberapa kue basah khas Manado seperti balapis, lalampa, kolombeng polote, dan sebagainya. Namun, dua menu yang dianggap paling ikonik adalah es brenebon dan gohu.
Es brenebon pada dasarnya adalah kudapan kacang merah yang disajikan dengan es serut, gula merah dan susu kental manis coklat. Sedangkan gohu merupakan potongan buah pepaya yang diracik dengan cuka, cabe, jahe, gula aren dan bakasang, alias isi perut ikan cakalang yang mengandung telur dan sudah melewati proses fermentasi.
Harga penganan-penganannya pun terhitung murah. Seperti gohu yang dihargai Rp 10 ribu, rujak buah Rp 12 ribu, es brenebon Rp 15 ribu, serta kue-kue basah yang masing-masing dihargai Rp 3 ribu per buah. Pengunjung bisa bersantai melepas dahaga dengan kudapan manis, sambil menikmati nuansa retro dari bangunan tua tersebut.
Timlo Solo tak seperti banyak masakan khas suatu daerah yang cepat berkembang ke daerah lain. Atau setidaknya punya outlet cabang atau rumah makan yang punya menu ini. Tapi, Timlo seperti betah hanya ‘berkibar’ di kota Batik itu.
Timlo Solo
Setiap lebaran atau akhir tahun, Rumah Makan Timlo Solo di Jalan Urip Sumoharjo kota itu seperti menjadi satu paket dengan kunjungan ke toko Roti Orion bagi warga Solo yang sudah menetap di kota lain. Letak keduanya memang berdekatan, hanya terpisah sekira 200-an meter. Dan ke duanya menjadi serbuan mereka yang mudik liburan. Kadang sampai antri.
Apa sesungguhnya timlo ini? Tak cukup banyak catatan sejarah mengenai asal muasal masakan ini. Namun, dari banyak penulisan artikel mengenainya, garis besarnya timlo adalah salah satu dari begitu banyak resep kuliner yang dibawa pedagang asal Tiongkok ke Jawa. Asal makanan timlo Solo memang diduga terinspirasi dari sup kimplo yang populer di budaya Tionghoa.
Dugaan tersebut terjadi karena orang memahami kimlo sebagai jenis hidangan berkuah yang berasal dari Cina. Masakan tersebut di area Jawa Timur dan Jawa Tengah berkembang menjadi sup dan beredar di kawasan Pecinan.
Untuk timlo sendiri, ada yang mengatakan kalau masakan ini sejenis sup. Namun, tak kurang ada jpula yang mengatakan ia merupakan gabungan sup dan soto. Memang, hidangan ini berkuah bening mirip sup tetapi rasanya gurih menyegarkan seperti soto.
Bumbunya sesungguhnya cukup sederhana, yakni terdiri dari air kaldu ayam, bawang putih, pala, lada, dan taburan bawang goreng di atas nasi. Saat menyantap timlo dengan nasi, bisanya nasinya dipisah atau dicampurkan ke dalamnya seperti ketika kita menyantap soto atau bakso.
Sedangkan kondimennya bisa sangat bervariasi, yakni hati ampela, telur pindang ayam atau kadang telur bebek, daging ayam, dan, nah ini yang paling khas, sosis Solo. Sosis Solo ini seperti risol dengan kulit dari telur dadar dan isian, biasanya, daging sapi giling yang sudah dibumbui. Ada yang basah, alias tidak digoreng, ada sosis Solo yang digoreng.
Sosis Solo itulah kunci kelezatan masakan timlo. Kuah dan isian lain mungkin bisa diduplikasi, namun sosisnya sangat khas.
Saat ini tidak cukup banyak restoran atau rumah makan yang menjual timlo Solo yang enak. Salah satu yang terkenal sudah disebut tadi di depan, RM Timlo Solo di Jalan Urip Sumoharjo. Rumah makan ini sudah berjualan sejak awal tahun 1960-an. Hingga kini lokasinya masih tetap. Interior restorannya pun relatif masih sama.
Seperti juga kedai-kedai soto di Jawa, selain masakan utama yang disajikan dalam mangkok, pengunjung juga disuguhi pelengkap lain yang diletakkan di piring-piring di atas meja. Begitu pula di rumah makan ini. Jika tak cukup puas dengan potongan-potongan sosis yang ada dalam mangkok, pengunjung bisa menambahkan sendiri. Tentu hitungannya terpisah.
Kedai lain penjual Timlo yang sangat terkenal dan sudah sangat lama berjualan di Solo adalah Timlo Sastro. Warung makan ini konon mulai berjualan sejak 1962 di daerah Pasar Gede, Solo. Tepatnya di sekitar belakang pasar. Sama seperti Rumah Makan Timlo Solo, Timlo Sastro hingga kini tetap mempertahankan Timlo sebagai menu utamanya.
Timlo Sastro, dikenal juga sebagai timlo Balong, karena diambil dari nama sang pendiri tempat usaha ini, almarhum Pak Sastro. Ia membuka warung tersebut awalnya hanya berupa tenda kaki lima sederhana di sebelah barat pasar. Adanya renovasi pasar suatu ketika membuat Pak Sastro harus memindahkan warungnya ke sudut belakang Pasar Gede.
Yang unik dari Timlo Sastro adalah jam buka yang cukup awal, sekitar pukul 6.30. Ini sudah berlaku sejak awal berdiri. Karena itu, sering kali warung ini menjadi tempat mampir mereka yang baru mendarat dari penerbangan pagi untuk sarapan kuliner Solo.
Pada jam-jam tertentu, ambil menikmati hidangan Timlo, pembeli dihibur oleh alunan musik tradisional, keroncong dan campursari, yang dimainkan dengan kreatif oleh sekelompok pengamen Solo. Nglaras, kata orang Solo.
Pernah mencicipi timlo Solo? Jika belum ayo agendakan kulinermu ke Solo. Berikut pilihannya:
RM Timlo Solo; di Jalan Jend. Urip Sumoharjo No.94, Purwodiningratan, Jebres, Surakarta
Timlo Sastro; di Jalan Kapten Mulyadi No.8, Sudiroprajan, Jebres, Surakarta
Timlo Maestro; di Jalan K.H. Ahmad Dahlan No.60, Keprabon, Banjarsari, Surakarta
Mana yang mau dipilih, sesuai selera saja. Masing-masing warung punya ciri isi timlo tersendiri.
Sop Buntut Ma’Emun menjadi alternatif makan siang yang enak di sekitar Bogor, terutama ketika hujan mengguyur kota ini. Sesuai nama kotanya, kota hujan karena kerap diguyur hujan hampir setiap hari ini, tentu terasa cocok menyantap kuliner berkuah yang hangat dan segar.
Sop Buntut Ma’Emun Bogor
Sop buntut memang bukan asli kuliner Bogor, Jawa Barat. Bahkan merunut sejarahnya, masakan ini bukan asli dari tanah air. Di luar negeri, sop buntut pertama kali muncul pada masa abad ke-17 di Inggris. Konon resep makanan ini dibawa kaum imigran dari Prancis dan Belgia. Sop dengan kuah yang kental dan gurih ini pun mulai populer pada abad ke-18.
Dari resep dan bahannya ketika itu, tidak terlalu jauh berbeda dari sop buntut yang kita kenal di sini. Potongan daging ekor sapi yang diolah dan dimasak dengan kentang, tomat, serta ragam bumbu dan rempah-rempah seperti bawang putih dan lain sebagainya.
Bahan utama Sop Buntut Ma;Emun tentu saja adalah buntut sapi. Foto: dok. shutterstock
Pada perkembangannya, kuliner ini juga muncul di negara-negara lain dengan karakteristiknya masing-masing. Misalnya di Tiongkok, kuliner ini disajikan dengan cara daging buntut dan kuahnya dipisah.
Di Indonesia, kita juga mengenal gaya serupa, biasanya ini disajikan untuk menu sop buntut goreng atau sop buntur bakar. Alih-alih direbus dan disajikan bersama dengan kondimen lainnya, daging buntut dibumbui dan digoreng atau dibakar terlebih dulu, sebelum disajikan bersama sop atau kuah yang terpisah.
Namun ada pula beberapa kemiripan pada setiap jenis sop buntut di seluruh dunia. Selain bahan bakunya, umumnya daging dan bahan lainnya direbus bersama agar dagingnya menjadi empuk dan bumbu serta kondimennya luruh menyatu di dalam kuah.
Di Indonesia, salah satu sop buntut yang diyakini muncul pertama kali sebagai sebuah menu resmi di restoran adalah di Bogor Café, salah satu restoran yang berada di Hotel Borobudur, Jakarta. Sop buntut ini begitu ikonik karena kuahnya yang menyatu dengan tomat sehingga menjadi begitu kental dan gurih.
Sejak kemunculan menu ini pertama kali di awal 1970-an, sontak ia menjadi kuliner yang begitu disukai banyak tamu dan pengunjung. Saking melegendanya, ketenaran menu tersebut sampai ke telinga para pengusaha kuliner yang tertarik mencoba dan membuatnya sendiri.
Tak lama berselang, satu per satu mulai muncul menu-menu serupa di tempat lain, dari kelas restoran hingga warung pinggir jalan. Semakin hari, sop buntut pun menjadi makanan yang digemari oleh masyarakat Indonesia hingga kini.
Salah satu yang ikut tergugah untuk membuat warung sop buntutnya sendiri saat itu adalah Siti Maemunah, yang sehari-hari akrab dipanggil Ma’Emun. Sejak kuliner ini booming di era 1970-an, ia pun turut membuka warung sop buntutnya sendiri di Bogor.
Semua berawal ketika halaman rumahnya digunakan sebagai tempat menyembelih hewan kurban pada hari raya Idul Adha. Ia pun mencoba memasak sop buntut dengan resep sendiri untuk acara syukuran setelahnya. Ternyata, sop buntut buatannya disukai tetangga sekitar. Maka mulailah era Sop Buntut Ma’Emun di Bogor.
Konon, dulunya ia hanya berjualan sop buntut dari tenda kecil di bawah pohon di satu sudut kota Bogor. Barulah sekitar tahun 1990-an dan 2000-an mulai berdiri satu per satu cabang dari warung tersebut agar dapat menampung lebih banyak pengunjung.
Yang cukup spesial dari resep sop buntut buatannya adalah bagaimana daging buntut direbus dalam waktu cukup lama. Ini membuat daging terasa begitu empuk, sampai mudah lepas dari tulangnya. Sementara bagian dalam dagingnya masih terlihat kemerahan meskipun sudah sangat matang.
Karena dimasak lama pula, lemak alami dari daging pun membaur dengan kuah, sehingga terasa kental namun segar ketika diseruput. Selain itu, sop buntut disajikan di dalam mangkok berbahan stainless steel, ini agar panas kuah dapat bertahan lama.
Di dalam semangkok sop buntut Mak’Emun tersebut, juga potongan wortel, kentang, daun bawang dan seledri yang menambah sedap aroma serta rasa. Resep ini masih terus bertahan hingga kini, selepas beliau berpulang dan bisnisnya dilanjutkan oleh cucu-cucunya.
Dan hingga kini pula, sop buntut Mak’Emun makinh banyak penggemarnya, bahkan termasuk dari kalangan Istana. Saat dalam masa bakti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, warung ini kerap diminta menyediakan sop buntut sebagai konsumsi pada acara kenegaraan di Istana Bogor.
Saat ini, paling tidak terdapat empat cabang asli warung sop buntut Ma’Emun ini di Bogor. Kesemuanya dikelola oleh cucu-cucunya, namun memang masih menggunakan nama Ma’Emun sebagai tanda otentisitas.
Porsi semangkok sop buntut Mak’Emun cukup besar, sehingga terasa cukup mengenyangkan. Selain ditemani dengan nasi, biasanya tersedia juga perkedel dan kering kentang Mustofa yang konon juga banyak digemari oleh pengunjung.
Satu porsi sop buntut ini dihargai Rp 38 ribu, meski dapat naik menjadi sekitar Rp 40 hingga 45 ribu kala hari libur. Sebuah harga yang masih termasuk terjangkau, mengingat banyak sop buntut lainnya yang harganya bisa mencapai Rp 50 ribu, bahkan Rp 60 ribu lebih.
Salah satu cabang Sop Buntur Ma’Emun yang dikelola salah satu cucunya. Foto: Ma”emun Ibu Imas
Jam buka warung-warung tersebut biasanya antara jam 09.00 sampai 18.00. Tetapi perlu dicatat, karena selalu ramainya warung-warung ini, kadang kala sop buntut sudah habis sebelum jam tutup, sehingga lebih baik datang dari awal sebelum kehabisan.
Loenpia Semarang menjadi salah satu pilihan buah tangan jika wisatawan berkunjung ke ibukota Jawa Tengah. Loenpia atau sering juga disebut lumpia adalah satu lagi contoh makanan hasil akulturasi dua kebudayaan yang kemudian menjadi ikon tersendiri.
Loenpia Semarang
Perjalanan loenpia telah melampui lebih dari 1 abad dengan pelbagai perkembangannya. Dari berbagai sumber, konon lahirnya loenpia bermula saat seorang pria warga Fujian, atau Provinsi Fu Kien, Tiongkok, bernama Tjoa Thay Joe memutuskan pindah dan tinggal di Semarang. Ia mencoba peruntungan dengan berjualan makanan asal negerinya di kota itu.
Tjoa awalnya membuka bisnis makanan khas negerinya berupa makanan pelengkap berisi daging babi dan rebung. Belakangan ia kemudian bertemu Wasih, orang Jawa yang juga berjualan makanan yang hampir sama, hanya saja rasanya lebih manis dan berisi kentang juga udang. Ke duanya berjualan di tempat yang berdekatan.
Seiring waktu, mereka ternyata saling jatuh cinta dan kemudian menikah. Bisnis makanan yang mereka jalankan pun dilebur dengan beberapa perubahan yang saling melengkapi. Isi lumpia diubah menjadi ayam atau udang yang dicampur dengan rebung, serta dibungkus dengan kulit lumpia khas Tionghoa. Jadilah loenpia seperti yang dikenal saat ini.
Soal penamaan makanannya sendiri, ada dua pendapat. Pertama, nama lunpia berasal dari dialek Hokkian, “lun” atau “lum” berarti lunak dan “pia” artinya kue. Pada awalnya loenpia Semarang tidak digoreng, sehingga sesuai makna lumpia, kue yang lunak.
Pendapat lain menyebutkan, nama makanan itu muncul karena Tjoa dan Wasi menjual jajanan mereka itu di pasar malam Belanda bernama Olympia Park. Masyarakat lalu mengenal panganan hasil akulturasi tersebut dengan nama lumpia karena kesulitan menyebut Olympia. Mana yang benar, walahualam. Yang jelas loenpia atau lumpia kemudian berkembang menjadi salah satu kekhasan Semarang. Termasuk ketika keduanya kemudian membuka usaha secara menetap di Gang Lombok Nomor 11, Semarang.
Dari pasangan ini, loenpia kemudian menyebar. Awalnya pusaka kuliner Tjoa Thay Yoe–Wasih ini diteruskan oleh keluarga Siem Gwan Sing- Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal Tjoa-Wasih. Dari pasangan generasi ke dua tersebut, loenpia makin melebar ketika ketiga anak Siem Gwan-Tjoa Po, yakni Siem Swie Hie, Siem Hwa Nio, dan Siem Swie Kiem, masing-masing membuka usaha loenpia.
Ketiganya mengembangkan loenpia dengan gaya dan resep masing-masing. Semacam diferensiai produk. Loenpia dari trah Tjoa-Wasih kini praktis sudah berada di tangan generasi ke empat dan ke lima.
Warung tertua saat ini, peninggalan Tjoa dan Wasih, masih buka di Gang Lombok Nomor 11, bersebelahan dengan Klenteng Tay Kak Sie. Loenpia Gang Lombok ini kini dikelola oleh generasi ke empat, yakni Purnomo Usodo yang akrab disapa Pak Untung. Ia adalah anak dari Siem Swie Kiem, anak ke tiga Tjoa-Wasih.
Untung tetap setia melayani konsumennya di kios warisan ayah dan kakeknya di Gang Lombok 11. Keistimewaan lumpia Gang Lombok ini menurut sejumlah penggemarnya adalah racikan rebungnya tidak berbau “pesing”, juga campuran telur dan udangnya tidak amis.
Lumpia buatan generasi keempat lainnya dapat kita peroleh di kios lumpia Mbak Lien alias Siem Siok Lien (43) di Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran. Mbak Lien meneruskan kios almarhum Siem Swie Hie, yang merupakan abang dari Siem Swie Kiem, di Jalan Pemuda (mulut Gang Grajen) sambil membuka cabang di Jalan Pandanaran, yakni di depan toko bandeng presto Juwana. Kekhasan loenpia Mbak Lien ini adalah isinya yang ditambahi racikan daging ayam kampung.
Adapun generasi keempat lainnya, yaitu anak-anak dari almarhum Siem Hwa Nio (kakak perempuan dari Siem Swie Kiem) meneruskan kios ibunya di Jalan Mataram, atau sekarang Jalan MT Haryono, seraya membuka kios-kios baru di beberapa tempat di Semarang.
Selain keluarga-keluarga leluhur pencipta loenpia Semarang tersebut, sekarang banyak juga orang-orang di luar trah tersebut yang membuat lumpia. Mereka umumnya mantan karyawan dari ketiga keluarga awal. Mereka yang mempunyai hobi kuliner juga turut meramaikan bisnis lumpia semarang dengan membuat lumpia sendiri, seperti Lumpia Ekspres, Phoa Kiem Hwa dari Semarang International Family and Garden Restaurant di Jalan Gajah Mada, Semarang.
Manakah dari semua merek loenpia ini yang paling enak? Semua kembali kepada selera.
Ini dia 7 destinasi utama kuliner di Cirebonb bagi para wisatawan yang hendak menikmati santapan khas Cirebon. Ada berbagai jenis kuliner khas dan otentik yang dapat dicoba, mulai dari makanan hangat berkuah, kudapan ringan, kuliner malam hari, hingga ragam racikan menu nasi yang menarik dan dapat mencakup bermacam-macam selera. Ini dia 7 destinasi utama kuliner di Cirebon.
7 Destinasi Utama Kuliner Di Cirebon
Nasi Jamblang Ibu Nur
Salah satu destinasi kuliner paling terkenal di Cirebon saat ini adalah Nasi Jamblang Ibu Nur, yang terletak di Jalan Cangkring 2 Nomor 34, di area pusat kota yang tidak jauh dari alun-alun Kejaksan. Berada di pinggir jalan dengan bangunan berwarna hijau, tidak sulit untuk menemukan rumah makan hits ini.
Sejatinya, nasi jamblang merupakan nasi dengan porsi moderat yang disajikan di atas daun jati, bersama dengan beragam pilihan lauk pauk, seperti ayam goreng, serundeng, oseng cumi saus tiram, terong balado, pepes jamur, telur asin, semur ati dan ampela, ikan pari cabe ijo, sate kerang, serta bermacam gorengan seperti tahu, tempe, perkedel dan lain lain.
Salah satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon adalah nasi Jamblang. Foto: shutterstock
Semua pilihan lauk pauk tersebut dapat dipilih secara prasmanan. Pengunjung akan disediakan sepiring nasi di atas daun jati, dan kemudian pramusaji akan mengambilkan lauk pauk pilihan sesuai selera. Harga seporsi nasi jamblang bergantung pada lauk yang dipilih, namun biasanya pengunjung menghabiskan sekitar Rp 20 ribu ke atas.
Kuliner merakyat sebagai salah satu 7 destinasi utama kuliner di Cirebon ini dengan kesederhanaannya diperkirakan sudah ada sejak zaman pra-kemerdekaan. Nama ‘jamblang’ sendiri disebut berasal dari sebuah daerah di area tepi kota udang tersebut. Kala itu, masyarakat yang hidup sederhana dan tidak punya banyak uang menggunakan daun jati sebagai alas untuk makan, karena daun pisang lebih sulit dan mahal untuk didapatkan.
Kuliner tersebut lantas populer sebagai makanan tradisional khas warga pesisir di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Seiring perkembangan zaman, mulai muncul pula restoran-restoran yang menyediakan nasi jamblang. Nasi Jamblang Ibu Nur misalnya, adalah usaha keluarga yang sudah eksis sejak 2007 dan masih berupa warung tenda.
Masakan rumahan nan tradisional yang lezat, dengan harga yang ringan di kantong, menjadi sejumlah alasan Nasi Jamblang Ibu Nur menjadi begitu populer dan didatangi warga lokal dan wisatawan pemburu kuliner. Buka dari jam 07.00 hingga 20.30, rumah makan ini tak jarang sudah dipenuhi pengunjung yang mencari sarapan sejak pagi.
Sebagai catatan, oseng cumi saus tiram merupakan salah satu menu andalan yang paling dicari pengunjung. Meski harganya paling mahal dibanding menu lauk lainnya – sekitar Rp 28 ribu sampai 35 ribu, tergantung ukurannya – namun bisa dibilang inilah menu paling menarik dan otentik di restoran ini. Maklum, cumi blakutak yang dimasak bersama tinta hitamnya itu merupakan salah satu hasil laut yang populer di Cirebon.
Empal Gentong Haji Apud
Kurang afdol rasanya jika membicarakan 7 destinasi utama kuliner di Cirebon tanpa menyebut empal gentong. Makanan olahan daging sapi berkuah hangat ini sudah lama menjadi primadona kuliner tradisional kota wali tersebut. Salah satu kedainya yang paling populer saat ini adalah Empal Gentong Haji Apud.
Yang menarik, di kedai tersebut tersedia dua jenis menu utama yang ditawarkan, yakni empal gentong dan empal asem. Pada prinsipnya, keduanya sama-sama makanan berkuah dengan isian daging sapi dan jeroannya seperti usus, babat, limpa, paru, kikil dan sebagainya. Perbedaannya, empal gentong menggunakan santan dalam memasaknya, sementara empal asem berkuah bening. Keduanya pun sama-sama dibanderol Rp 25 ribu semangkuk, jadi pengunjung tinggal memilih sesuai selera.
Nama empal gentong sendiri berasal dari cara pembuatannya. Olahan daging sapi beserta rempah-rempah kuahnya dimasak di dalam gentong tanah liat yang diletakkan di atas kayu bakar, selama lebih dari 10 jam. Metode tradisional ini dipercaya mampu membuat masakan menjadi lebih beraroma khas, rasa lebih sedap serta daging yang lebih empuk.
Tidak sulit mencari kedai empal gentong di sekitaran kota Cirebon. Namun bisa dikatakan bahwa Empal Gentong Haji Apud, yang sudah ada sejak 1995, adalah salah satu yang paling terkenal dan paling banyak didatangi pengunjung. Bahkan, selain kedai pusatnya yang berada di jalan Ir. Juanda nomor 24, kini terdapat pula sejumlah cabang seperti di jalan Tuparev nomor 43 dan jalan Otto Iskandardinata, tepatnya di area komplek Pasar Batik Trusmi, untuk memenuhi banyaknya pengunjung.
Nasi Lengko Haji Barno
Yang satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon ini juga sayang untuk dilewatkan. Nasi Lengko Haji Barno jadi salah satu alternatif wisata kuliner yang menarik, khususnya bagi mereka yang vegetarian, atau sekedar menginginkan santapan ringan nan sederhana yang cukup mengenyangkan. Harganya pun terbilang sangat ramah kantong.
Nasi lengko juga merupakan kuliner tradisional yang sudah ada sejak lama. Disebut-sebut makanan ini sudah ada sejak era Sunan Gunung Jati, dimana masyarakat hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan, termasuk dalam hal bahan makanan. Nama ‘lengko’ sendiri bermakna langka, yang menggambarkan kelangkaan bahan makanan di masa itu.
Nasi Lengko menjadi satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon. Foto: shutterstock
Ia kemudian terlahir dari hasil racikan bahan makanan yang masih tersedia kala itu, seperti taoge, tahu, tempe dan timun yang dilumuri bumbu kacang. Dipadu dengan nasi, ia lantas berkembang menjadi makanan merakyat yang populer dan masih menjadi kuliner tradisional yang banyak dicari orang hingga kini.
Nasi Lengko Haji Barno, misalnya, sudah berjualan sejak 1978 dan masih terus mempertahankan popularitasnya. Disinyalir, cara memasaknya yang menggunakan metode dan alat tradisional seperti kompor arang dan kayu bakar menjadi salah satu kunci mengapa cita rasanya terus terjaga dan pelanggannya terus datang kembali.
Sepiring nasi lengko dihargai Rp 12 ribu saja, tetapi itu pun sudah terhitung porsi yang cukup mengenyangkan. Kalau masih terasa kurang, kedai ini juga menawarkan sate kambing yang dibanderol Rp 4 ribu per tusuk. Lokasinya yang terletak di jalan Pagongan nomor 15B, juga mudah dijangkau lantaran berada di area pusat kota dan tak jauh dari alun-alun Kejaksan.
Mie Koclok Mang Sam
Mie Koclok Mang Sam menjadi salah satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon, khususnya saat malam hari. Berlokasi di jalan Pekiringan nomor 110, warung gerobak sederhana ini biasanya buka dari jam 18.00 hingga 23.00 dan kerap menjadi pilihan warga setempat dan turis yang hendak mencari makan malam.
Mie koclok sendiri merupakan olahan mie yang dimasak menggunakan santan dan tepung kanji. Hasilnya, kuahnya menjadi berwarna putih yang begitu kental dan gurih. Di dalam semangkuk mie koclok juga terdapat ayam suwir, telur rebus, taoge dan kol. Disarankan menyantapnya saat masih hangat, karena kuahnya bisa cepat mengental dan kaku.
Sebagai pilihan, pengunjung juga bisa memilih bihun sebagai ganti mie. Tak hanya itu, ada pula menu racikan mie atau bihun yang dicampur dengan gado-gado yang tak kalah unik dan menarik untuk dicoba. Semua ragam menu tersebut dihargai sekitar Rp 25 ribu.
Sate Kalong
Satu lagi dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon malam yang populer adalah sate kalong. Dinamakan demikian bukan karena ia menggunakan daging kalong atau kelelawar, melainkan karena para penjaja sate kalong biasanya baru berjualan saat malam hari, layaknya kalong yang baru aktif berkeliaran ketika hari mulai gelap.
Sate kalong sendiri aslinya menggunakan olahan daging kerbau. Kemunculannya di awal 1900-an berasal dari banyaknya warga setempat yang masih menganut agama Hindu. Dalam ajaran agama Hindu, sapi dianggap sebagai hewan yang disucikan dan pantang untuk dimakan, dan sate ini masih kerap dihidangkan dalam acara adat dan keagamaan, sehingga sebagai gantinya sate disajikan menggunakan daging kerbau.
Pada perkembangannya, saat ini banyak sate kalong yang dijajakan dengan pilihan antara daging kerbau maupun sapi. Yang tak berubah adalah cara penyajiannya, mulai dari daging yang direbus dengan rempah-rempah seperti bawang putih, bawang merah dan ketumbar, kemudian diolesi gula merah sebelum dibakar, serta penyajiannya yang menggunakan bumbu kacang yang diracik dengan oncom.
Cita rasa dagingnya yang cenderung manis, berpadu dengan bumbu kacangnya yang creamy dan legit, membuatnya jadi satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon yang begitu ikonik. Warung-warung penjual sate kalong umumnya banyak ditemukan di lokasi seperti jalan Lemahwungkuk atau jalan Kesambi, dan umumnya baru mulai buka dari sore – sekitar jam 17.00 atau 18.00 – hingga tengah malam.
Es Cuwing
Bagi para pecinta kudapan ringan nan segar, bisa mencoba es cuwing yang merupakan sajian ringan segar khas Cirebon. Di tengah teriknya siang hari di kota ini, es cuwing kerap menjadi pilihan pelepas dahaga yang manis dan segar. Wujudnya sering disebut agak mirip seperti es cincau.
Es cuwing sendiri memang juga terbuat dari olahan daun cuwing yang banyak terdapat di area pesisir seperti Cirebon dan Indramayu. Namun berbeda dengan daun cincau yang lebih lebar dan tebal, daun cuwing cenderung kecil dan tipis. Selain itu, santan yang digunakan juga bertekstur lebih kental.
Penyajiannya kerap menggunakan es serut dan sirup. Di dalamnya juga terdapat beragam isian seperti bubur sumsum, dawet, serta serutan kelapa. Pembeli biasanya juga dapat memilih isiannya sesuai selera. Dalam satu porsi sajiannya, es cuwing umumnya dihargai sekitar Rp 5 ribu hingga 6 ribu.
Selain pelepas dahaga saat panas, es cuwing biasanya juga banyak diburu kala bulan suci Ramadhan sebagai hidangan berbuka puasa. Dan menjadiaknnya satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon. Bahkan terkadang ada yang membeli secara terpisah untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Salah satu penjual es cuwing yang cukup terkenal adalah Es Cuwing Mang Lilik yang berada di area jalan Kartini.
Kue Tapel
Alternatif pilihan kudapan tradisional khas Cirebon lainnya adalah kue tapel. Penganan satu ini sempat mulai langka dan agak sulit dicari, namun belakangan mulai naik daun kembali dan menjadi satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebob. Ini opsi yang menarik untuk dicoba, khususnya bagi para pelancong yang mencari oleh-oleh.
Ia terbuat dari adonan tepung beras dan parutan kelapa yang dimasak dengan ketan, potongan buah pisang dan gula merah. Sekilas secara penampilan, ia terlihat agak mirip percampuran kue crepe dan kerak telor khas Betawi. Tetapi di balik penampakan luarnya yang terlihat garing, ia terasa lembut ketika dimakan dan bercita rasa manis nan gurih.
Salah satu kedai yang masih menjajakan kue tapel adalah Kue Tapel Ibu Lena, yang terletak di jalan Pagongan, tepatnya di dalam gang Alas Demang 1. Meski sudah berjualan sejak 1968 dan berjualan di area gang kecil, usaha keluarga turun temurun ini masih bertahan dan menjaga kudapan tradisional ini tetap lestari.
Bahkan meskipun kedai ini biasanya buka dari jam 07.00 hingga 15.00, terkadang tak sampai sore hari dagangannya sudah laris manis. Harganya yang hanya Rp 7 ribu per porsi, serta cita rasa otentik yang didapat dari cara memasak dengan kayu bakar yang masih tradisional, boleh jadi menjadi beberapa alasannya memiliki banyak pelanggan setia.
Tahu Pong Gajah Mada Semarang boleh jadi salah satu favorit para pecinta penganan tahu. Kuliner tradisional legendaris ini telah bertahun-tahun menjadi salah satu destinasi pilihan bagi pemburu kuliner khas kota lumpia ini.
Tahu Pong Gajah Mada Atau Tahu Pong Semarang
Nama tahu pong sendiri disebut berasal dari kata kopong, yang berarti kosong atau tanpa isi. Alasannya, tahu ini digoreng sedemikian rupa dalam waktu yang lama, sehingga hasilnya bagian dalam tahu yang biasanya penuh dan padat menjadi kopong.
Ada pula yang mengatakan bahwa nama tahu pong berasal dari dialek Hokkian ‘phong’ yang artinya menggembung. Tahu pong sendiri memang wujudnya cenderung menggembung, dengan isi yang kopong serta kulitnya yang tipis dan garing.
Tahu pong Semarang lazimnya disajikan dengan bumbu kecap yang dicampur dengan petis dan bawang. Tahu lantas dinikmati dengan cara mencocol dengan bumbu kecap tersebut. Tahu yang crispy karena kopong, berpadu nikmat dengan bumbu kecap yang manis dan gurih.
Meski sejauh ini tak ada yang tahu secara persis kapan tahu pong pertama kali muncul, tetapi beberapa sumber meyakini bahwa tahu pong sudah populer beredar di kota Semarang sejak sekitar tahun 1930-an.
Dewasa ini, tahu pong juga disajikan dengan beberapa jenis olahan tahu lainnya. Misalnya, tahu gimbal yang merupakan campuran tahu dengan bakwan udang. Atau tahu emplek, sebutan bagi tahu putih goreng yang masih padat isinya.
Gerai Tahu Pong Gajah Mada, Semarang
Tetapi ada beberapa hal yang membuat tahu pong Gajah Mada terbilang spesial dibanding tahu pong lainnya. Misal, tahu pong mereka disebut masih ‘murni’ kopong, tanpa ditambah bumbu atau isian lainnya, mengingat sekarang ada beberapa tahu pong sudah dimodifikasi.
Selain itu, racikan bumbu kecap mereka diklaim unik dan merupakan resep warisan pendirinya dulu. Ada pula tambahan acar lobak putih sebagai teman makan yang menambah cita rasa khas dari tahu pong buatan mereka.
Ditambah lagi, mereka memiliki varian tahu spesial yang dinamakan tahu kopyok telur. Tahu ini dimasak dengan olahan telur yang mirip seperti adonan martabak telur. Setelah digoreng, wujud dan rasanya menjadi mirip seperti Fuyung Hai.
Semua keunikan itu membuat Tahu Pong Gajah Mada menjadi buruan para pecinta kuliner. Pelanggannya pun meliputi figur publik seperti Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan salah satu pengusaha terkaya Indonesia Michael Hartono.
Maka tak heran jika Tahu Pong Gajah Mada kini begitu terkenal dan melegenda. Usaha ini sendiri sudah eksis sejak tahun 1950-an. Kala itu, sepasang suami istri bernama Sutikno dan Ngatini membuka usaha warung kaki lima tahu pong di kawasan jalan Kranggan.
Setelah mulai mendapatkan banyak pelanggan, di tahun 1972 mereka akhirnya memutuskan pindah ke sebuah bangunan tetap di kawasan jalan Gajah Mada agar mampu menampung lebih banyak pengunjung. Kedai tersebut pun masih bertahan hingga kini.
Tahu goreng padat di Tahu Pong Gajah Mada. Foto: shutterstock
Tak sulit untuk mencari lokasi kedai ini. Dari Simpang Lima Semarang, jalan Gajah Mada berada di antara Masjid Baiturrahman dan Hotel Ciputra. Setelah melewati dua lampu merah, kedai akan berada di kiri jalan, berdekatan dengan Hotel Gumaya dan Gereja Bethel.
Saat ini, kedai itu dikelola oleh sang anak, Marsiah. Sehari-harinya ia juga dibantu oleh anak-anak serta menantunya. Kendati pengunjung terus ramai berdatangan di kedai dua lantai ini, mereka tidak membuka cabang di tempat lain.
Tak hanya itu, mereka terus berupaya mempertahankan kualitas agar tak kehilangan pelanggan. Tahu-tahu yang mereka gunakan dipesan khusus dari perajin tahu pilihan. Dalam sehari, rata-rata mereka bisa menjual 80 hingga 100 porsi tahu pong.
Resep racikan bumbu kecap serta acar lobak putih warisan turun temurun juga terus dipertahankan. Tahu kepyok telur yang menjadi ciri khas tersendiri bagi Tahu Pong Gajah Mada juga dibuat dari telur bebek pilihan.
Seperti pada umumnya, tahu pong di sini biasanya disajikan terpisah dengan bumbu kecapnya untuk dicocol. Namun, pengunjung juga bisa menyantapnya dengan mengguyur bumbu tersebut di atas tahu, atau dapat juga menambahkan nasi agar lebih kenyang.
Biasanya, satu porsi tahu pong isi komplit disajikan dengan ragam masakan tahu-tahu lainnya. Tetapi jika anda menginginkan jenis tahu pong saja atau yang lainnya, pengunjung juga bisa memesan menu satuan atau kombinasi untuk masing-masing jenis tahu.
Satu porsi tahu pong isi komplit dihargai Rp 35 ribu. Kalau pengunjung ingin memesan jenis tahu satuan atau kombinasi jenis-jenis tahu tertentu, harganya beragam mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu.
Tahu Pong Gajah Mada Semarang buka setiap hari Senin sampai Sabtu, dari jam 11.00 hingga 17.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (024) 3556440 atau mengunjungi akun resmi Instagram @specialtahupongsemarang.
Tahu Pong Gajah Mada Semarang; Jl. Gajah Mada no. 63B, Semarang
Di samping kerumunan itu, dua pemanggangan tradisional mengepul. Asap membumbung. Di baliknya, ada dua perempuan mengipasi arang. Mereka memastikan bahwa bara api tetap menyala. Sedangkan salah satu tangannya membolak-balikan sate yang jumlahnya puluhan tusuk.
Aroma daging dan sumsum yang sedang dibakar membuat pengunjung merasa tergoda mencicipi aneka sate yang ditawarkan di kedai sate tersebut. Inilah sate klopo Surabaya atau sate klopo Ondomohen Bu Asih yang tenar di Surabaya. Konon, ia bahkan sudah menjadi legenda. Usianya sama seperti usia bangsa Indonesia. Sebab, sate tersebut mulai eksis sejak 1945.
Bu Asih, pemiliknya, adalah generasi kedua penerus usaha sate keluarga. Mertua Bu Asih asli Madura. Keluarganya menjajakan sate khas Madura yang lain daripada sate pada umumnya.
Letaknya yang berada di tengah kota Surabaya menjadikan Sate Klopo Ondomohen ini mudah dijangkau dari mana saja. Disebut legendaris karenas elain sudah lama berdirinya, ia pun memiliki pengemar yang sangat luas. Tak terhenti pada warga Surabaya saja, tapi bagi siapa saja yang berkunjung ke kota ini.
Nama sate Klopo Surabaya sendiri sering membuat penasaran orang luar kota Surabaya. Pertama, tentu kata “Klopo”-nya. Dan ke dua, kata “Ondomohen”. Yang mudah dijelaskan tentu saja yang ke dua. Dulunya nama Jalan Walikota Mustajab ini adalah Jalan Ondomohen. Rupanya ini terus terbawa ketika nama jalannya berganti.
Lalu nama “Klopo”-nya. Sate Klopo ini, sesuai namanya, memang ketika proses memasaknya menggunakan tambahan kelapa. “Dagingnya satenya saya beri kelapa. Itulah kenapa namanya Sate Klopo. Klopo dalam bahasa Jawa berarti kelapa,” ungkap Asih Sudarmi (60), sang pemilik kedai Sate Klopo.
Seperti cerita bu Asih, sate klopo merupakan sate yang ditaburi dengan parutan kelapa. Sebelum dibakar, dan waktu akan diajikan ke pembeli. Unik dan berbeda. Tak heran, banyak pelanggan antre datang tiap hari. “Mereka suka dengan rasa kloponya,” kata salah pegawai Bu Asih yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui di warung, Minggu pagi itu.
Sebenernya Sate Klopo Ondomohen ini seperti layaknya sate kelapa kebanyakan. Daging yang akan ditusuk layaknya sate, dibaluri dengan bumbu parutan kelapa, dibakar dengan arang pake cara tradisional, dan tentunya disajikan dengan bumbu kacang.
Sat Klopo sedang dibakar.
Keunikan sate klopo Ondomohen khas Surabaya ini adalah bumbu olahannya. Sebelum dibakar daging dilumuri parutan kelapa yang sudah dibumbui terlebih dahulu. Sebagai pelengkap, saat penyajian sate yang suda matang ditambahkan kelapa parutan yang sudah dimasak. Kelapa ini diparut, lalu disangrai sampai matang hingga menyerupai serundeng. Lantas ditaburkan ke atas bagian sate yang sudah matang. Warnanya yang kecokelatan akan menyaru dengan rona sambal kacang.
Ada dua pilihan daging sate yang ditawarkan di sini, yakni daging sapi dan ayam. Tusuk per tusuk bagian satenya dipastikan berdaging. Artinya, tak berkulit sedikit pun. Daging sate itu dibakar sampai empuk. Bagian-bagian permukaannya mengkilap seperti kristal.
Tatkala digigit, tekstur daging yang juicy akan memenuhi seluruh bagian mulut. Tekstur demikian terasa begitu sempurna ketika dipadukan dengan parutan kelapa. Ada sensasi renyah yang mendampingi kecapan demi kecapan.
Harmonisasi makin terasa ketika klopo pada sate klopo Surabaya bertemu dengan bumbu kacang. Gurih dan manis akan berpadu nikmat. Tak heran banyak pengunjung rela antre.
Banyak pengunjung yang terlihat sudah sering menyambangi warung ini dan selalu rela mengantre untuk sekadar jajan sate. Menurut mereka, rasa sate klopo di warung Ondomohen tak tergantikan. “Juaranya sate klopolah,” ujar seorang pembeli saat ditemui di warung itu.
Sate klopo di sini harganya per porsi sate campur dibanderol Rp 28 ribu tanpa nasi. Harga yang sepadan menimbang rasa yang tak mengecewakan.
Warung sate ini buka mulai pukul 07.00 dan tutup pada pukul 23.00. Bila ingin berkunjung, sebaiknya Anda datang pagi-pagu benar pada hari biasa. Sebab, pada hari libur, pengunjung harus rela antre cukup lama.
Sate Sumsum Pak Oo Bogor atau lengkapnya Sate Sumsum dan Ginjal Pak Oo di Bogor, Jawa Barat, boleh dibilang cukup unik dibandingkan sate-sate pada umumnya. Kuliner yang cenderung anti-mainstream ini sudah punya penggemar tersendiri, dan bahkan telah menjadi bisnis turun temurun hingga generasi ketiga.
Sate Sumsum Pak Oo
Biasanya, sate terbuat dari potongan daging beragam jenis hewan. Jika tidak berupa daging secara keseluruhan, terkadang sate juga dikombinasikan dengan bagian lain hewan tersebut. Misalnya seperti kulit pada sate ayam, atau ati pada sate kambing.
Namun, di kedai ini pecinta kuliner akan menemukan dua jenis sate yang cukup tak lazim, yakni sate sumsum dan sate ginjal. Bahan yang digunakan adalah ginjal dan sumsum tulang belakang sapi.
Yang perlu menjadi catatan, sumsum tulang belakang ini mirip seperti otot yang memanjang dari leher sampai ekor. Ini tidak sama dengan sumsum kaki sapi yang umumnya kita temukan pada beberapa jenis kuliner lain, seperti bakso.
Bagian sumsum ini biasanya berwarna putih kemerahan. Yang unik, ketika sedang dibakar ia akan terlihat menggumpal dan berbusa. Aromanya pun cenderung lebih khas dan tercium lebih kuat dibandingkan daging sate pada umumnya.
Ilustrasi sate. Foto: dok shutterstock
Adapun bagian ginjal yang digunakan cenderung berwarna lebih gelap dan pekat. Saat disajikan, ia juga akan memberikan aroma mirip gula yang dibakar. Ini dikarenakan proses karamelisasi yang terjadi setelah dilumuri kecap dan dibakar.
Di kedai Sate sumsum Pak Oo ini, pelancong bisa memesan sate sumsum dan ginjal masing-masing satu porsi isi 10 tusuk, atau masing-masing 5 tusuk dalam satu porsi. Sate disajikan dengan bumbu kacang, lengkap dengan sambal dan perasan jeruk nipis, serta tambahan nasi atau lontong.
Ketika dimakan, sate sumsum pak Oo akan terasa lembut dan kenyal. Tidak sampai lumer di mulut, namun akan terasa sangat empuk dan gurih di mulut. Sementara sate ginjal terasa lebih mirip ati, namun lebih empuk dan minim serat.
Hal inilah yang membuatnya menjadi kuliner yang punya tempat tersendiri bagi penggemarnya. Keunikan cita rasa sate ini sulit dicari di tempat lain, membuat kedai sate ini selalu ramai pengunjung dan ludes terjual tiap harinya.
Usaha kedai sate ini sendiri bermula dari seorang pria yang akrab dipanggil pak Oo pada tahun 1950. Kala itu, ia masih berkeliling menjajakan satenya dengan pikulan dari jalan ke jalan di sekitar kota Bogor.
Seiring waktu berjalan, ia akhirnya mampu mendirikan tenda kaki lima pada 1965. Pada awalnya ia mangkal di area pecinan Bogor di sekitar Babakan Pasar, tetapi dalam perjalanannya warung tersebut sempat beberapa kali berpindah tempat.
Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah kota Bogor yang beberapa kali melakukan sweeping untuk membersihkan area pinggir jalan di sekitar kota hujan tersebut. Alhasil, warung sate itu pun ikut tergusur.
Warung pun sempat pindah ke beberapa tempat lain, seperti di jalan Pedati, di depan Vihara Danagun dan di seberang pasar Bogor. Kendati demikian, ternyata warung tersebut sudah punya penggemar yang setia mengikuti kemana pun mereka pindah dan tak pernah sepi pembeli.
Setelah beberapa kali pindah, akhirnya usaha ini menjadi kedai dengan bangunan tetap di kawasan Suryakencana pada 2004. Hingga kini, usaha kedai tersebut terus dijalankan oleh generasi ketiga alias cucu pak Oo.
Kawasan Jalan Suryakencana, Bogor, Jawa Barat. Foto: dok. unsplash
Lantas, apa alasan sate unik ini begitu digemari? Selain cita rasanya yang berbeda dari sate kebanyakan, kualitas rasanya juga disebut terus dipertahankan hingga kini. Kedai ini menjamin selalu menggunakan bahan baku yang diolah dari pagi harinya sebelum buka.
Setiap harinya, di pagi hari mereka mendapatkan pasokan ginjal dan sumsum tulang belakang sapi yang fresh. Bahan-bahan itu kemudian diolah dengan direbus untuk menghilangkan bau amis. Sesudahnya, baru dipotong-potong kecil dan dirangkai ke tusuk sate.
Bagi mereka, pantang untuk menggunakan bahan baku sisa kemarin. Sehingga kesegaran serta karakteristik asli dari kuliner ini pun selalu terjaga. Ini merupakan resep warisan yang diturunkan pak Oo kepada anak dan cucunya yang melanjutkan usaha ini.
Selain itu, sumsum tulang belakang sapi disebut kaya akan kandungan gizi seperti kalsium, protein, dan zat besi. Sehingga sate ini diyakini berkhasiat untuk menjaga fungsi jantung dan tekanan darah, meningkatkan zat besi, menguatkan tulang serta mencegah osteoporosis.
Tetapi yang penting untuk diingat adalah sate sumsum ini juga memiliki kadar lemak dan kolesterol yang cukup tinggi pula. Maka menyantap kuliner ini pun perlu kebijakan agar kadar koleterol dalam tubuh tak jadi berlebihan.
Harga satu porsi sate ini harganya sekitar Rp 50 ribu. Selain sate sumsum dan ginjal, ada pula sate daging dan ati sapi yang juga dihargai serupa. Menu sate ayam atau kulitnya pun juga tersedia, dengan harga berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu.
Yang tak kalah penting, walaupun kedai ini biasanya buka dari jam 15.00 sampai jam 20.30, namun kerap kali sekitar 250 tusuk sate yang tersedia setiap harinya sudah laris terjual sebelum jam tutup. Sehingga disarankan untuk datang lebih awal atau memesan terlebih dulu.