Nasi Goreng di Jakarta Selatan, 5 Pilihan Yang Maknyus

Nasi goreng di Jakarta Selatan mungkin ada ratusan, bahkan mungkin ribuan. Tapi selalu saja ada yang menonjol. Sama-sama nasi goreng, tapi campuran dan bumbunya berbeda-beda.

Nasi Goreng di Jakarta Selatan

Nasi goreng sejatinya memang bukan milik Indonesia. Konon, olahan ini sudah disajikan bangsa Tionghoa sejak 4.000 SM. Dalam catatan sejarah, nasi goreng rupanya juga menjadi menu alternatif bagi orang Belanda yang tidak begitu menyukai nasi putih. Kini, di banyak tempat di dunia hidangan ini tersebar di berbagai negara. Baik di restoran Tionghoa, Vietnam, atau Indonesia.

Yang unik dari nasi goreng, meski namanya sama, bumbu dan rasanya bisa berbeda. Bahkan diberi label daerah asal, sehingga menambah kekhasannya. Berikut ini lima pilihan nasi goreng di Jakarta Selatan.

Nasi Goreng di Jakarta Selatan banyak ragamnya, dari yang kambing hingga yang seafood.
Nasi goreng kambing Kebon Sirih. Foto: Dok TL

Rasa Rempah dari Kebon Sirih

Jika melihat namanya sudah bisa ditebak kedai ini pasti ada hubunganya dengan Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Betul, kedai nasi goreng ini memang pertama kali buka di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Kemudian buka cabang di beberapa lokasi, salah satunya di Jalan Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Ciri khasnya, aroma minyak samin yang harum sudah tercium saat kita memasuki kedai ini.

Satu kuali nasi goreng yang sudah siap saji tampak dalam wajan yang dipanaskan dengan kompor gas. Model menglahnya sama dengan yang di Kebon Sirih, satu kali masak bisa untuk puluhan porsi. Saat dihidangkan, yang pertama kali tercium adalah aroma rempah-rempah khas Timur Tengah. Rasanya memang kaya rempah. Bumbunya antara lain kapulaga, kunyit, sereh, dan lada. Cara memasaknya serupa dengan nasi kebuli, sehingga memunculkan rasa gurih di setiap suapan.

Nasi Goreng Kebon Sirih; Jalan Karang Tengah Nomor 1C, Lebak Bulus, Jakarta Selatan

nasi goreng di Jakarta Selatan ada ratusan, bahkan ribuan, tapi ada beberapa yang menonjol.
Nasi Goreng Kambing di sekitar Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: Dok. TL

Ramuan Kambing di Pedurenan

Untuk menuju kedai ini, dari gedung Dharma Wanita, kita cukup berjalan lurus dan mengamati sisi kanan jalan, temukan spanduk bergambar siluet kambing. Di kedai nasi goreng NGK, daging kambing dimasak terlebih dulu secara terpisah dengan cara direbus bersama bumbu-bumbu. Jadi, dagingnya terasa lebih empuk. Daging kambing itu kemudian diolah menjadi sajian nasi goreng yang gurih. Tidak mengherankan kalau NGK masih tetap diminati sejak berdiri pada 1986. Tersedia pilihan rasa pedas dan sedang, sesuai dengan selera.

Nasi Goreng Kambing NGK Dharma Wanita; Jalan Pedurenan Masjid; Belakang Gedung Dharma Wanita Kuningan, Jakarta Selatan

Seafood di Blok S

Di ujung Jalan Bhakti, Blok S, Kebayoran, tampak spanduk putih bertulisan “Nasi Goreng Betawi 99”. Warungnya buka mulai pukul 16.00, dari Senin sampai Minggu. Di kedai ini, nasi goreng seafood menjadi pesanan yang paling sering ditulis pramusaji. Seafood sebelumnya diolah dengan bumbu tersendiri. Kemudian, sebagian diolah menjadi nasi goreng. Sedangkan sebagian lagi dimasak dengan api kecil dan diberi bumbu lain. Hidangan laut yang dimasak terpisah itu pun ditata di atas nasi goreng.

Pilihan lainnya, nasi goreng dengan daging kambing yang direbus terlebih dulu dalam ramuan jahe, asam, kunyit, dan sereh sebelum dicampur dengan nasi. Sebagai penutup, cobalah minuman primadona kedai ini: jus alpukat. Terasa legit dengan campuran susu kental, sirup, dan es serut.

Nasi Goreng Betawi 99; Jalan Bhakti 1 Blok S, Senopati, Jakarta Selatan

Sedap dengan Aroma Arang

Rumah Makan Bumen Jaya di Pejompongan, Jakarta Selatan, termasuk yang sudah lama mengibarkan olahan nasi goreng. Hidangan andalan Bumen adalah Nasi Goreng Ayam dan Mi Godog. Usia rumah makan ini sudah sekitar 49 tahun. Dimasak menggunakan anglo dengan bahan bakar arang membuat aroma nasi goreng ayamnya terasa khas. Pada setiap gigitan nasi goreng terselip rasa kaldu sapi yang sebelumnya dicampur dengan beras. Walhasil, selain pulen, nasi goreng menjadi legit.

Karena tidak begitu banyak menggunakan minyak, tekstur nasinya kering legit. Yang menjadi idaman adalah suwiran ayam di Bumen Jaya, yang ditabur begitu banyak di atas nasi dan kemudian ditambahkan telur mata sapi. Porsi nasi goreng Jawa ini cukup besar, sehingga benar-benar klop untuk memadamkan rasa lapar. Jika ingin variasi lain, di sini juga ada nasi goreng kambing.

Nasi Goreng Bumen Jaya; Jalan Pejompongan 1; Jakarta Selatan

Sajian Ala Pekalongan

Bila Anda ingin merasakan nasi goreng yang komplet, coba singgah ke Nasi Goreng Pekalongan. Campurannya berupa daging, ayam, udang, cumi-cumi, dan ati ampela untuk nasi goreng spesial.

Didirikan pada 1986, Nasi Goreng Pekalongan masih mempertahankan rasa pedas yang khas. Bumbu merah terlihat dominan ketika nasi goreng ini dihidangkan. Campuran rempah-rempah dan sedikit kecap membuat tampilan nasi begitu padat.

Kehadiran daging di dalam sepiring nasi goreng juga tak kalah enak. Selain itu, ada cumi-cumi yang kenyal, udang yang matang, serta ayam yang dagingnya terasa manis. Benar-benar memperkaya rasa nasi goreng. Bagi penggemar rasa pedas, Nasi Goreng Pekalongan bisa jadi salah satu pilihan karena pedasnya tidak merusak cita rasa aslinya.

Nasi Goreng Pekalongan; Jalan Rumah Sakit Fatmawati 1; Pondok Labu, Jakarta Selatan

agendaIndonesia

*****

Jajanan Enak ala Pontianak, 5 Yang Wajib Icip

Jajanan enak ala Pontianak ada banyak macamnya, selain kwetiau atau mitiau yang sudah dikenal banyak orang. Ada pilihan lain jika kebetulan main ke ibu kota Kalimantan Barat ini, Dari sajian hidangan laut, es krim, hingga kopi.

Jajanan Enak ala Pontianak

Sajian kuliner Nusantara begitu beragam. Ada makanan yang selintas terlihat sama, namun begitu diicipi, ternyata rasanya berbeda. Hal serupa juga ditemukan di Kota Khatulistiwa ini. Menu sajian kuliner di Pontianak ada juga yang terlihat sama dengan jenis makanan atau masakan di Jawa ataupun daerah lainnya, tapi ternyata isinya berbeda. Di antaranya pengkang. Jika mendengar penjelasannya yang berbahan ketan, rasanya ini mengingatkan kita dengan lemper. Tampilannya saja yang berbeda karena dijapit bambu. Ada pula olahan kepiting serta sajian pedas khas Melayu. Berikut 5 jajanan Pontianak yang bisa dicoba karena beda dan pasti enak.

Es Krim Petrus

Karena tokonya tepat berada di depan sekolah Santo Petrus, warga Pontianak lebih mengenal Toko Es Krim Angi ini dengan nama es krim Petrus. Berbeda dengan es krim pada umumnya, es krim tersebut menggunakan wadah dari kelapa muda. Dengan begitu, selain dapat menikmati segarnya es krim, pengunjung dapat sekalian menikmati daging kelapa mudanya.

Es krimnya lumayan lembut. Kabarnya, resep es krim itu dibuat secara turun-menurun lebih dari 60 tahun. Pilihan rasanya juga beragam, mulai  cokelat, vanila, stroberi, durian, nangka, ketan, cempedak, hingga alpukat. Satu porsi es krim ukuran kecil Rp 12,500, sedangkan ukuran besar dengan batok kelapa Rp 23 ribu.

Es Krim Angi; Jalan KS Tubun No 8; Pontianak

Jajanan enak ala Pontianak di antaranya adalah pengkang yang mirip dengan lemper. Hanya saja pengkang berisi udang ebi.
Pengkang, makanan khas Pontianak, Kalimantan Barat. Foto: Dok. TL

Pengkang, Lemper Isi Udang

Namanya Pengkang. Sekilas menu ini mirip lemper. Sama-sama terbuat dari ketan yang dibungkus daun pisang dan dibakar. Cuma bedanya, pengkang berisi udang kering alias ebi. Bedanya lagi, saat dibakar, pengkang dijepit dengan bambu yang diikat tali yang terbuat dari alang-alang. Warga sekitar menyebutnya tali pundung.

Pengkang disajikan dengan sambal kerang. Harga per buah rekannya lemper ini hanya Rp 9.000. Sedangkan sambal kerang yang benar-benar membuat lidah bergoyang dipatok Rp 25 ribu per porsi. Es lidah buaya atau es biji selasih seharga Rp 15 ribu bisa menjadi minuman pilihan yang menyegarkan.

Pondok Pengkang Peniti; Jalan Raya Peniti Luar Km 30; Pontianak

Jajanan enak ala Pontianak bisa dipilih dari yang seafood atau sekadar ngopi.
Kepiting asap yang bisa dicicipi di Pontianak, Kalimantan Barat. Foto: Dok. TL

Kepiting Asap

Sajian dari ikan laut sepertinya jadi ikon sajian kuliner tak resmi Kota Pontianak. Betapa tidak, rumah makan yang populer di Kota Bumi Khatulistiwa itu kebanyakan adalah rumah makan yang menyajikan hidangan laut. Salah satu yang terkenal adalah menu kepiting asap di restoran yang pernah dikunjungi Presiden RI ke-7, Joko Widodo, yakni Pondok Kakap Seafood Restaurant.

Cara memasaknya terbilang tak lazim. Dua ekor kepiting kira-kira berukuran 8 ons yang sudah diberi rempah-rempah dibungkus dengan aluminium foil lalu dibakar. Rasanya lumayan pedas, tapi memang pas di lidah. Dalam penyajiannya disertakan pula dua pilihan sambal: cabai rawit yang diblender dan sambal terasi yang diberi jeruk nipis. Satu porsi untuk dua ekor kepiting berukuran 8 ons dihargai Rp 150 ribu.

Pondok Kakap Seafood; Jalan Ismail Marzuki No 33; Pontianak

Pedas Menyegarkan

Rumah makan Pondok Ale-Ale di Jalan Putri Candramidi ini menyediakan menu khas Melayu Kalimantan Barat. Yang jadi menu andalannya adalah asam pedas Ketapang. Sesuai dengan nama menunya, makanan ini memang terasa pedas dan menyegarkan. Rasa asamnya muncul dari penggunaan asam Jawa, nanas, dan terong asam dalam masakan.

Tingkat kepedasannya dapat diatur sesuai dengan selera, dari level I sampai level III untuk yang paling pedas. Perbedaan tingkat kepedasannya mirip dengan keripik pedas terkenal asal Jawa Barat. Untuk pilihan lauknya dapat berupa ikan atau kerang. Harga per porsinya mulai Rp 35 ribu. Menu tersebut cocok bagi penggemar masakan pedas.

Pondok Ale-Ale; Jalan Putri Candramidi No 10; Pontianak

Kopi Malam

Jika ingin menikmati kopi pada malam hari, berkunjunglah ke Jalan Gajah Mada, Pontianak. Di jalan ini boleh dibilang sentranya warung kopi. Di sepanjang jalan hampir dipenuhi deretan warung kopi yang selalu dipenuhi para penikmat kopi setiap malamnya. Saya sempat mampir di salah satu warung kopi yang berada di seberang hotel berbintang.

Rasa kopinya tidak terlalu heboh. Tapi suasana untuk bercengkerama amatlah mendukung. Kopi yang disediakan juga beragam, mulai kopi saring, kopi bubuk, hingga kopi susu. Sebagai pendamping minuman disediakan pisang goreng, martabak, dan kue. Harga per cangkir kopi mulai Rp 10 ribu.

Warung Kopi Winny; Jalan Gajah Mada No 159; Pontianak

agendaIndonesia/Andry T./Aditya N./TL

*****

Sop Buntut Ibu Samino, Enak Sejak 1973

Sop Buntur Ibu Samino adalah masakan legendaris di Jakarta.

Sop Buntut Ibu Samino di Jakarta rasanya hampir sama legendarisnya dengan sop buntut Borobudur. Secara racikan ke duanya berbeda. Sop buntut Borobudur kuahnya lebih kental dan berwarna merah karena tomat. Sementara di tempat ibu Samino lebih bening, meski gurihnya sangat terasa.

Sop Buntut Ibu Samino

Hal lain yang membedakan ke duanya adalah lokasi. Yang pertama di hotel berbintang lima, sedangkan Ibu Samino ada di warung kecil. Harganya tentu menjadi berbeda pula.

Buat yang sudah lama tinggal di Jakarta, Ibu Samino sudah berjualan menu sopnya sejak lama. Dulu sekali ia membuka warungnya di bagian belakang kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dulu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Adalah suami istri Samino yang melihat peluang berjualan menu sop buntut di Jakarta. Pada 1973 itu masih sangat jarang ada restoran atau warung makan yang berjualan menu tersebut. Karenanya, mulailah mereka berjualan sop buntut, menu yang merupakan peninggalan orang-orang Belanda di masa colonial.

Sop Buntur Ibu Samino buka mulai 1973 di belakang kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.
Gerai Ibu Samino di Rasuna Said, Jakarta. Foto: IG Sop Buntut Ibu Samino

Dulu di awal-awal warung Sop Buntut Ibu Samino buka, orang suka menyebut warung ini sebagai “sop buntut nopo malih?” (Sop buntut apa lagi?). Ini karena pemesanan dilakukan dengan kertas seadanya atau kadang cuma secara lisan. Ketika mau membayar, ibu Samino sang juru hitung akan bertanya, “nopo malih?” Dan ia berhitung dengan cepat, seolah ada kalkulator di kepalanya.

Waktu berlalu, warung Sop Buntut Ibu Samino berpindah lokasi. Yang terlama ada di Jalan Arteri Permata Hijau atau Jalan Tentara Pelajar di seputar Patal Senayan. Ada pula beberapa gerai cabang lainnya. Dan tak ada lagi ibu Samino yang akan bertanya, nopo malih? Semua sudah dilakukan karyawannya.

Warung ini menjadi legendaris karena utamanya menyajikan menu spesialis sop buntut dengan varian yang rasanya paling komplit. Mulai dari sop buntut biasa, goreng, bakar, cabe ijo, atau balado. Semua disajikan dengan kuah sop buntutnya yang khas.

Masih di seputar buntut sapi, Sop Buntut Ibu Samino juga menyediakan masakan non-sop namun dengan bahan buntut sapi. Misalnya saja ada soto Betawi buntut. Yang ini kuahnya berbeda dengan sop buntut. Masakannya berkuah dengan santan namun dengan buntut sapi yang empuk. Masih di sop Betawi, ada pula pilihan dagingnya berupa iga sapi. Kuahnya sama dengan sop Betawi buntut. Yang tak disertai kuah hanyalah nasi goreng buntut.

Sop Buntut Ibu Samino
Sop Buntut Ibu Samino reguler. Foto: IG Ibu Samino

Rahasia kelezatan sop buntut di sini ada pada bumbu khas yang diracik sendiri oleh ibu Samino. Cita rasa yang disajikan terasa sangat kuat dan membuat lidah bergoyang. Terutama ketika menyeruput kuahnya.

Selain varian pengolahan atas buntutnya, ada pula varian berdasar porsinya. Porsi biasa umumnya terdiri dari tiga potong buntut yang dagingnya sangat empuk dan hamper lepas dari tulang buntutnya. Ada pula porsi spesial yang isinya dua kali lipat porsi biasa.

Warung Sob Buntut Ibu Samino tak cuma melayani pesanan sop buntut. Masih di soal sop, di rumah makan ini ada juga punya menu sop iga sapi yang tak kalah gurihnya. Selain itu ada pula menu-menu lain, umumnya masakan Jawa Tengah.

Bagi yang tak suka masakan olahan sapi, ada pula yang serba ayam. Ada ayam goreng biasa, ayam goreng kremes, ayam bakar, juga ayam balado. Mereka juga menyediakan menu bebek, variannya sama dengan masakan ayam. Ada yang goreng, bakar atau balado.

Sop Buntut Balado Ibu Samino
Sop Buntut Balado. Foto IG Ibu Samino

Sebelum pandemi restoran ini juga menyediakan masakan Yogya seperti gudeg. Namun tampaknya menu ini cukup rumit dan penggemarnya tak banyak di sini, sehingga kemudian dihilangkan dan kembali fokus ke menu andalan sop buntut.

Untuk minuman di restoran Sop Buntut Ibu Samino tersedia menu yang cukup variative. Mulai dari aneka juice buah segar hingga aneka kopi yang kekinian, misalnya Kopi Jack (Jakarta With Love) dan Kopi Tubruk Hitam. Ada pula minuman tradisional seperti beras kencur. Ini tampaknya sesuai dengan citra tempat makan ini menjual menu-menu Jawa.

Sop Buntut Ibu Samino

Jalan Tentara Pelajar (Arteri Permata Hijau-Patal Senayan) Nomor 22, Kelurahan Grogol Utara, Jakarta Selatan

Jalan Pakubuwono VI No.11E Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

agendaIndonesia

*****

Lontong Cap Go Meh, Kuliner Khusus di Hari Ke15

Lontong Cap Go Meh hari-hari ini banyak disajikan di resto-resto tanpa mengenal waktu. Padahal, pada mulanya, ini adalah sajian khas penutupan perayaan tahun baru Imlek. Khususnya di hari ke 15, cap go meh.

Lontong Cap Go Meh

Dari namanya, orang bisa langsung mahfum jika lontong cap go meh berkaitan erat dengan budaya dan tradisi masyarakat Tionghoa. Persepsi itu tidak keliru, meski harus hati-hati melihatnya. Masakan ini sebenarnya hanya masuk khasanah khusus Peranakan-Jawa. Sedangkan kaum peranakan di Kalimantan dan Sumatera tidak mengenal hidangan ini. Oleh karena itu, hidangan ini hanya ada pada perayaan Imlek di kalangan masyarakat Tionghoa di Jawa, khususnya Semarang, Jawa Timur, dan  Betawi.

Dari cerita mulut ke mulut, lontong Cap Go Meh ini disebut-sebut sebagai adaptasi masyarakat Tionghoa terhadap masakan lokal Indonesia, khususnya di Jawa. Dahulu pendatang Tionghoa pertama kali bermukim di kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa, seperti Semarang, Pekalongan, Lasem dan Surabaya. Masakan ini dipercaya sebagai lambang asimilasi budaya antara kaum peranakan dan masyarakat Jawa.

Lontong Cap Go Meh sendiri sebenarnya tidak berbeda dari lontong sayur biasa. Kondimennya pun mirip, yaitu lontong yang sudah terpotong-potong disajikan dengan opor ayam, sayur lodeh atau sayur labu siam, sambal goreng hati, acar, telur pindang, bubuk koya, abon sapi, sambal, serta tidak lupa kerupuk.

Lalu di mana percampuran budayanya? Apa bagian dari masakan ini yang dibawa masyarakat Tionghoa?

Sebelum masuk Indonesia, masyarakat Tionghoa mempunyai masakan sejenis lontong, yakni yuanxiao. Ini adalah bola-bola tepung beras yang padat kuliner khas Ca Go Meh di Tionghoa. Ada anggapan tradisional Tionghoa yang menyatakan bahwa Yuanxiao yang padat melambangkan keberuntungan.

Masakan yang padat ini penting sebagai kebalikan dari bubur yang “diharamkan” saat perayaan Imlek. Bubur yang encer diangap membawa sial jika disajikan saat Imlek hingga hari ke 15.

Pada saat Laksamana Cheng Ho pada Dinasti Ming, sekitar tahun 1368-1644, masuk ke wilayah pesisir Jawa, terutama di sisi Semarang, banyak angota pasukannya yang berinteraksi dengan masyarakat setempat. Dari pertemuan ini  terjadi perkawinan dengan perempuan-perempuan Jawa.


Dalam kehidupan sehari-hari, mereka lantas melihat ada lontong yang mirip Yuanxiao, hanya bentuknya panjang. Ini dianggap semakin melengkapi dengan falsafah saat perayaan Imlek yang biasanya identik dengan doa panjang umur. Bentuk lontong yang panjang juga dianggap melambangkan umur yang panjang.

Bagi masyarakat peranakan di Jawa, lontong Cap Go Meh dipercaya sebagai makanan yang membawa keberuntungan. Selain bentuk lontong yang melambangkan umur yang panjang, telur ayam dalam berbagai budaya juga dipercaya sebagai simbol keberuntungan, sedangkan kuah santan serta bumbu dengan kunyit dipercaya sebagai lambang emas dan kemakmuran.

Nama Cap Go Meh sendiri diambil dari dialek Hokkian yang berarti ‘malam ke 15’ alias malam bulan purnama menurut penanggalan Imlek. Dan Cap Go Meh adalah penutup dari perayaan tahun baru Imlek.

Rupanya kemudian berkembang, masyarakat peranakan melihat tradisi kuliner ketupat lebaran dan opor ayam. Mereka melihat bagaimana para santrai yang tersebar di banyak kota di pesisir utara Jawa merayakan Lebaran dengan menyantap ketupat atau lontong opor. Ini yang kemudian diadopsi dan dikawinkan dengan tradisi Imlek.

Lontong Cap Go Meh ada di banyak kota di pesisir pulau Jawa.
Lontong Cap Go Meh memiliki berbagai variasi, sesuai karakter masyarakat setempat. Foto: Unsplash

Dalam perjalanannya, lontong Cap Go Meh bisa berbeda di sejulah daerah. Di kawasan pecinan di Jakarta, Semarang, maupun Surabaya paduan kondimen lontong Cap Go Meh bisa tidak sama. Di Jakarta, misalnya, lontong Cap Go Meh biasanya menggunakan sayur lodeh. Sedangkan di kawasan lain bisa. Yang wajib adalah harus ada lontong dan opor ayam, sambel goreng jeroan, sama kerupuk udang.
Lalu, di mana orang bisa mendapatkan lontong Cap Go Meh yang enak? Rasa tentu saja selera, tapi berikut ada beberapa tempat yang menyajikannya.

Gado-gado Bonbin; Jl. Cikini IV No. 1, Jakarta Pusat

Gado Gado Bon Bin memang terkenal banget nih sama gado-gadonya yang melegenda. Tapi Selain gado-gado, lontong cap go meh di sini tidak kalah enak.

Lontong Cap Go Meh & Rujak Cingur Surabaya; Summarecon Mall Lt2

Lokasi Serpong yang jauh nggak akan terasa kalau dibalas dengan kelezatan lontong cap gomeh yang satu ini. Dengan sentuhan resep khas Surabaya

Sate Khas Senayan

Di resto ini menu lontong Cap Go Meh tersedia hampir sepanjang waktu dan dengan kondimen yang lengkap. Gerainya yang banyak memudahkan orang mendapatkan menu ini.

agendaIndonesia

*****

Kuliner Bulevar PIK, 5 Pembangkit Selera

Kuliner Bulevar PIK semakin menjadi pilihan untuk bersantap dan berkumpul handai taulan.

Kuliner Bulevar PIK kian hari kian menjadi pilihan untuk bersantap atau sekadar nongkrong dan bersosialisasi. Bersenang-senang. PIK atau Pantai Indah Kapuk pernah tidak dianggap sebagai pilihan untuk wisata kuliner, beberapa tahun terakhir sinarnya makin mencorong. Apa lagi setelah kini hadir PIK 2.

Kuliner Bulevar PIK

Pantai Indah Kapuk makin menjadi salah satu destinasi kuliner populer. Ada sebuah bulevar dengan deretan kafe yang menggoda, dari makanan hingga interiornya. Mulai steak, pasta, hingga bubble tea dan es parut. Sulit juga jika sekali waktu harus memilih rumah makan terbaik di sini. Hingga beberapa tempat yang sama populernya tidak ditulis di sini. Pilihan di bawah ini pastinya dapat memuaskan lidah nusantara dan internasional serta bagi pencari menu yang mencari rasa autentik.

Bulevar Crown Golf merepukan kawasan ruko yang berlokasi di PIK 1, ada banyak pilihan makanan. Jika belum pernah menyambanginya, ada baiknya melakukan riset kecil-kecilan agar waktu tak habis hanya untuk menimbang-nimbang mana yang dipilih.

Buat Yang Seneng Nongkrong

Namanya Eighteen Pies, dari namanya sudah ketahuan apa sajian andalan mereka, meski menu lainnya juga banyak. Menu makanan beratnya juga ada. Cafe ini menyajikan beragam pastry yang bikin kita betah nongkrong, terutama untuk kaum hawa. Buka apa-apa, desain interiornya mengusung tema modern klasik dengan sentuhan feminin yang kuat.

Menu yang ditawarkan ada ragam kuliner Indonesia dan Chinnese. Jika cuma ingin santai dan menantap yang ringan, ada kue-kue yang enak. Ragam pastry juga banyak. Misalnya, bisa cobainspecialty cake-nya: nastar crumble, yang dikombinasikan dengan teh panas. Ada berbagai pilihan teh. Bila ingin yang agak berat, karena waktunya nanggung untuk makan besar, bisa memilih sandwich. Misalnya saja croissant dengan isian chicken katsu, sunny side egg alias telur ceplok, mayo dan disajikan dengan salad. 

Eighteen Pies; Ruko Crown Golf, Blok D No. 16, Bukit Golf Mediterania; Jl. Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Bebek Nomor 1

Bihun Bebek A Eng, restoran dari Medan, memiliki sejarah yang panjang. Kisahnya dimulai sejak Perang Dunia II. Yakni ketika satu keluarga dari Guang Dong, Cina, bermigrasi ke ibu kota Sumatera Utara. Untuk bertahan hidup, mereka membuka kedai bakmi sederhana di Jalan Semarang, Medan, dengan berbekal resep keluarga dari Tiongkok. Rupanya, rasanya cocok dengan lidah setempat, sehingga sajian itu pun dengan cepat dikenal luas. Kini tak perlu ke Medan untuk bisa mencicipinya, karena telah ada cabangnya di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Seperti halnya bakmi ayam, sajiannya merupakan paduan antara bakmi dan irisan daging bebek rebus. Bakminya lembut, tapi tidak lembek dan daging bebeknya sangat empuk. Yang membikin kian lezat adalah kuahnya. Bakmi ini disajikan dalam sebuah mangkuk besar.

Bihun Bebek A Eng; Ruko Crown Golf Block A 36; Bukit Golf Mediterania; Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Kehangatan ala Jepang

Demam Jepang tampaknya tak pernah hilang di Jakarta. Yang paling populer tentu ramen. Ada banyak restoran ramen di kota ini. Tapi beberapa penggemar ramen mengklaim bahwa Ikkudo Ichi di Pantai Indah Kapuk merupakan salah satu yang terbaik.

IKKUDO ICHI

Ketika saya singgah ke resto ini, sang pelayan menyebutkan pilihan favorit tamu adalah ikkudo tori kara. Merupakan paduan irisan daging ayam, telur setengah matang, daun bawang, dan biji wijen, ramen ini dicampur dengan saus kara spesial sehingga menambah rasa pedas. Untuk temannya, bisa pesan age tori gyoza alias bakpau ayam. Tentu juga dengan secangkir ocha atau teh Jepang.

Ikkudo Ichi; Rukan Crown Golf Block D No. 2-3; Bukit Golf Mediterania; Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Alternatif untuk Keluarga

Kebanyakan tempat makan berlomba memberikan rasa dan tempat terbaik. Shao Kao, restoran sate barbeku Cina, dihadirkan dengan penataan sederhana. Bisa ditemukan di sebelah Sate Khas Senayan. Benar-benar sebuah rumah makan yang bersahaja. Hal ini menjadikan Shao Kao pilihan yang tepat untuk makan dan bersantai bersama keluarga dan teman.

SHAO KAO 2

Pilihan hidangannya bermacam-macam, antara lain, bakmi, nasi, sayuran, dan sate—daging sapi, kambing, ayam, dan babi. Selain itu, ada kulit ayam dan beragam jamur. Plus, otak-otak dan pao. Tamu bisa meminta untuk dibuatkan sajian pedas sesuai selera.

Shao Kao; Ruko Cordoba Block F No. 6; Bukit Golf Mediterania; Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Pilihan Sechuan Hot Pot

Untuk yang senang shabu-shabu atau pangang-memanggang sendiri, ada pilihan Shu Guo Yin Xiang,  Chinese restaurant dengan specialisasi Sechuan hot pot. Penggemarnya cukup banyak, sehingga karena lokasinya di ruko yang tidak terlalu besar, jika pas jam makan siap-siap antri saja.

Suasananya sangat oriental jadi sangat pas jika ingin merayakan Imlek atau Cap Go Meh di sini. Dari luar terlihat biasa saja, namun ketika kita masuk ke dalamnya ternyata daftar tunggunya cukup panjang. Rata-rata meja di sini di siapkan untuk 4 orang.

Utamanya makan di sini tentu saja shabu-shabu, tapi yang istimewa pilihan saus atau sambel atau bumbu celupnya sangat banyak. Yang tidak biasa mungkin bisa bingung, jangan ragu untuk bertanya ke waiter. Termasuk jika ingin mencampur atau antara satu bumbu dan saos yang lain.
Shu Guo Yin Xiang; Ruko Crown Golf, Blok D No. 62-63, Bukit Golf Mediterania; Jl. Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta

agendaIndonesia/Fiz R./Arcaya M.

******

Jajanan Enak Kelapa Gading, 5 Jadi Pilihan

Jajanan enak Kelapa Gading, dari yang tradisional sampai yang legendaris.

Jajanan enak Kelapa Gading pilihannya bisa berlimpah. Mulai dari yang tradisional hingga yang melegenda.

Jajanan Enak Kelapa Gading

Jarum jam menunjukkan pukul 12.20. Matahari semestinya sedang gagah memperlihatkan kekuatannya. Namun siang itu awan kelabu menutupi keperkasaan matahari. Di tengah suasana mendung, di sepanjang Jalan Boulevard Raya, Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara, orang-orang mampir dengan penuh semangat. Kendaraan beroda empat menyesaki pelataran parkir di deretan rumah makan di kawasan tersebut. Hampir tak ada rumah makan yang sepi pengunjung di lingkungan 1001 kuliner. Ada beragam menu dan setiap orang punya pilihan sesuai dengan selera masing-masing. Namun ada beberapa menu yang diburu sebagian besar penggemar kuliner. Empat di antaranya diulas di bawah ini.

Iga Penantang

Daging iga sapi bakar dengan siraman bumbu kacang di atasnya benar-benar menantang untuk disantap. Saat dipotong dengan sendok, dagingnya relatif mudah dipisahkan dari tulang. Maklum saja, sebelum dibakar, daging iga sapi yang masih dilengkapi tulang itu direbus dengan bumbu-bumbu selama tiga jam. Alhasil, selain empuk, bumbu meresap ke dalam daging iga.

Menu seharga Rp 50 ribuan ini dilengkapi kuah sop konro secara terpisah. Kuahnya terlihat lebih encer ketimbang coto Makassar. Menurut sang pemilik, menu ini paling banyak dipesan. Padahal, menu masakan Makassar lainnya juga tersedia. Ia mengaku dalam sehari dapat menghabiskan 500 kilogram iga sapi.

Sop Konro Karebosi;Jalan Boulevard Raya TA II/38;Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

Jajanan enak Kelapa gading kita bisa mencicipi kwetiau goreng Pontianak yang legendaris di kawasan ini.
Kwetiau goreng Pontianak di Kelapa Gading. Foto: Dok. TL

Jagoan Nila

Lain lagi dengan rumah makan Ikan Nila Pak Ugi. Sesuai dengan namanya, rumah makan ini memang mengandalkan ikan nila sebagai menu utama. Tersedia beragam menu, mulai nila bakar, nila goreng, nilai saus Padang, hingga nila telur asin. Dari semua olahan tersebut, yang paling banyak dipesan nila bakar. Saya pun mencoba pilihan terbanyak itu.

Saat ikan dibakar, aroma harum langsung tercium dan menggoda selera. Setelah setengah matang, ikan nila yang telah dipotong dan dibersihkan itu diberi bumbu racikan Pak Ugi. Saat bumbu meresap, ikan dibakar sampai matang dengan siraman kecap. Rupanya, di situlah letak rahasia kenikmatannya. Pantas saja nila bakar itu sanggup membuat lidah bergoyang.

Ikan Nila Pak Ugi; Jalan Boulevard Raya FX I/1;Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

Dim Sum

Sajian dim sum lengkap biasanya hanya ditemui di restoran-restoran besar. Tapi di Kelapa Gading, olahan khas dari Negeri Tirai Bambu ini dapat ditemukan di warung rumahan. Sang pemilik warung memanfaatkan teras rumah sebagai area makan. Ia menyodorkan menu pilihan dim sum yang mayoritas banyak disukai, seperti siomay, chicken pou, hakau, lumpia udang, pangsit udang, dan ceker ayam.

Meski dijual ala rumahan, rasa sajian yang biasa disantap saat sarapan ini boleh diadu. Daging ayam atau udang dicincang setengah halus. Tak mengherankan jika setiap gigitan menimbulkan sensasi tersendiri. Harganya dihitung per porsi dan tidak terlalu mahal. Sebagai pendamping makanan, Anda bisa memesan secangkir kopi Sumatera asal Sidikalang. Kenikmatan kopi bisa diteguk dengan membayar Rp 5.000 per cangkir.

Jajanan enak Kelapa Gading kita bisa mencoba sop konro atau konro bakar Karebosi Makassar di daerah Kelapa Gading Boulevard.
Sop Konro from Makassar Indonesia. Foto: shutterstock

Kwetiau Kawakan

Bicara kwetiau, mungkin, Anda tidak boleh melupakan kwetiau khas Pontianak yang satu ini. Sejak 1991 hingga sekarang, rumah makan ini konsisten menyajikan kwetiau saja. Jadi, jangan harap menemukan menu lain di tempat ini. Mungkin karena itu pula banyak yang sudah mengenalnya.

Sekadar menyegarkan ingatan, rumah makan ini hanya menyediakan tiga pilihan olahan kwetiau: kwetiau goreng, kwetiau siram, dan kwetiau kuah. Setiap sajian itu dipatok dengan harga yang sama, yaitu Rp 32 ribu per porsi. Kokinya juga dari dulu belum berganti. Masih orang yang sama dan dengan teknik memasak yang sama pula. Ia memasukkan telur ayam saat masakan sudah setengah matang.

Kwetiau Sapi Hayam Wuruk 61; Jalan Boulevard Raya TN II/30-31; Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

Bubur Sapo

Tak usah khawatir bila tengah malam perut Anda keroncongan. Jika kebetulan berada di Kelapa Gading Permai, Anda dapat mengunjungi rumah makan yang buka 24 jam ini. Ada beberapa menu ala Singapura yang dapat dijadikan pilihan. Namun menu bubur tetaplah menjadi pilihan favorit pengunjung.

Memiliki keunikan tersendiri. Bubur tidak dihidangkan di mangkuk biasa. Tetapi disajikan dalam sapo, yaitu mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Mungkin karena itu sajian ini kemudian disebut bubur sapo. Penggunaan sapo menjadikan bubur tetap hangat hingga suapan terakhir. Harga bubur ayam dipatok Rp 30 ribu per porsi.

Bubur Sapo Bun Ong; Jalan Boulevard Raya WB I/30; Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

agendaIndonesia/Andry T./TL/shutterstock

*****

Semarang Kota Soto, Ini 5 Soto Yang Maknyus

Liburan di musim hujan saat nya menikmati kuliner khas yang lenih nikmat disanpat saat hujan turun.

Semarang Kota Soto rasanya tidak ada yang akan protes. Penjual soto bertebaran di segala penjuru ibukota Jawa Tengah ini. Semua enak dan semua mempunyai pelanggan yang fanatik.

Semarang Kota Soto

Soto termasuk jenis makanan yang mudah ditemukan di Semarang. Pedagang soto bertebaran. Anda tinggal pilih. Sepertinya tak berlebihan jika Semarang kita juluki sebagai Kota Soto, selain Kota Lumpia.

Mayoritas penjajanya menggunakan tambahan embel-embel nama penjualnya, seperti Soto Pak Man, Soto Pak No, Soto Mbak Lin, Soto Bangkong, dan sebagainya. Ciri lain dari soto di Semarang ialah dalam satu mangkuknya sudah tercampur nasi dan daging ayam sebagai bahan baku utamanya. Harganya yang relatif murah menjadikan soto sebagai pilihan untuk sarapan, makan siang, atau makan malam. Pada Ramadan ini cocok juga untuk berbuka puasa karena menghangatkan sekaligus mengenyangkan.

Soto Tanpa Santan

Soto Pak Man tampaknya paling ramai dikunjungi para pembeli di Semarang. Bahkan mulai pukul 10.00 hampir semua kursi sudah penuh terisi. Entahlah, mereka makan pagi atau makan siang. Tak penting juga bukan, yang penting makan soto. Soto disajikan dalam sebuah mangkuk yang berisi potongan daging ayam, soun, seledri, daun bawang, taoge, dan bawang goreng. Tak ketinggalan nasi  di dalamnya.

Harga per porsi ialah Rp 15 ribu. Sebagai temannya bisa pilih tempe goreng, perkedel, berbagai jenis sate, dari harga Rp 2.000 per buah. Ciri khas soto Pak Man ini tidak menggunakan santan dalam kuahnya.

Soto Pak Man; Jalan Pamularsih No. 32; Semarang

Soto Legendaris

Rumah makan soto ini memang didominasi warna hijau tua. Namun bukan karena catnya yang menyebabkan rumah makan ini dinamakan “soto idjo”. Atau bukan pula karena sotonya yang berwarna hijau. Menurut Purwadi, sang pemilik, rumah makan miliknya itu mengalami masa kejayaan pada era 1980-an dan banyak pembeli yang berasal dari kalangan tentara. Karena itulah, banyak yang menjulukinya sebagai soto idjo.

Rasa sotonya juga tak kalah enak dengan soto-soto yang lain. Isinya juga masih sama. Ada potongan daging ayam, soun, seledri, daun bawang, taoge, dan bawang goreng. Bahkan soto idjo menyediakan peyek udang, selain tahu goreng, tempe goreng, perkedel, dan satai. Harga per porsinya juga relatif murah.

Soto Idjo; Jalan Dr. Cipto No. 102; Semarang

Soto Buka 24 Jam

Saat berkeliling di Kota Semarang, beberapa kali saya menemukan rumah makan soto yang menggunakan nama dagang “Soto Pak No”. Beruntung, sopir yang mengantar saya selama di Semarang tahu keberadaan Soto Pak No yang asli. Pak Fauzi, nama sang pengemudi, memang sudah lama tinggal di Semarang. Dia tahu seluk-beluk soal kota ini. Setibanya di rumah makan yang dituju, terpampang spanduk yang bertuliskan Soto Ayam Asli RM Pak No.

Menurut seorang pelayan, kata RM bisa berarti rumah makan atau bisa juga inisial dari nama anak Pak No, yaitu Rokhmat dan Maryamah. Soto yang disajikan dalam mangkuk mungil ini juga tak berbeda dengan soto yang lain. Ada taoge, soun, daging ayam, seledri, bawang goreng, dan nasi putih. Harga per porsi terbilang murah. Yang membedakan dari rumah makan ini, yakni jam bukanya hingga 24 jam.

Soto Pak No; Jalan M.H. Thamrin No 28; Semarang

Semarang kota Soto ditandai dengan banyaknya warung soto yang legendaris di kota ini. Semuanya enak dan punya pelanggan yang fanatik.
Rumah makan Soto Mbak Lin di Jalan Kimangun Sarkoro, Semarang. Foto: Nita D./TL

Soto Rasa Kudus

Jika penjual soto yang lain di Semarang mayoritas kaum pria, lain halnya dengan rumah makan soto yang satu ini. Penjual soto ini justru pemiliknya perempuan. Tengok saja namanya, Soto Mbak Lin. Yang juga tak kalah laris dan punya pelanggan tersendiri.

Meski berjualan di Semarang, Soto Mbak Lin ini justru berasal dari Kudus. Seperti soto khas Kudus lain, kaldu kuahnya terasa lebih kental dan gurih. Soal isi tak jauh berbeda. Ada taoge, soun, daging ayam, seledri, bawang goreng, dan nasi putih. Harga per porsinya mirip dengan tempat lain. Sate kerang seharga Rp 3.500 per tusuk boleh dicoba.

Soto Mbak Lin; Jalan Kimangun Sarkoro; Semarang

Semarang kota soto karena kota ini memiliki begitu banyak warung soto legendaris dengan masakan yang enak.
Soto Bangkong, salah satu legenda soto di Semarang. Foto: shutterstock

Soto Bersantan

Soto yang terletak di ujung Jalan Brigjen Katamso, Semarang, ini porsinya tak berbeda dengan soto-soto lain. Mulai soun, taoge, seledri, bawang goreng, daging ayam, dan nasi putih tercampur dalam setiap mangkuknya. Bedanya hanya kuah santannya.

Selain itu, perbedaannya lagi, gorengan seperti tempe dan perkedel disajikan dengan cara ditusuk. Walhasil, dinamakan satai tempe dan satai perkedel. Satai kerang dan satai telur juga tak luput disajikan. Harganya mulai Rp 1.500 per tusuk. Harga soto di tempat ini relatif lebih tinggi dibanding yang lain, yakni Rp 15 ribu per porsi. Soal rasa tak jauh berbeda dengan yang lain.

Soto Bangkong; Jalan Brigjen Katamso No I; Semarang

agendaIndonesia/Andry T./Nita D./TL/shutterstock

*****

Asam Gurih Khas Sipirok, 5 Kuliner Enak

Asam gurih khas Sipirok menjadi agenda saya ketika mengunjungi Medan, Sumatera Utara. Ini soal kulinari. Ada berbagai macam masakan khas daerah ini yang terkenal enak. Berbahan daging dan tulang kerbau atau ikan dengan rempah-rempah asli setempat.

Asam Gurih Khas Sipirok

Sebagian masyarakat Medan, Sumatera Utara, tentu sepakat jika hidangan Sipirok memiliki cita rasa yang jempolan. Terbukti, sebuah rumah makan Sipirok di Medan menjadi salah satu tempat sajian kuliner favorit warga kota tersebut dan bahkan diburu para turis. Menu dari tulang kerbau membuat pecinta sajian kuliner selalu ingin kembali. Beruntung saya berkesempatan menikmati langsung sajian tersebut langsung di daerah asalnya di Sipirok, Tapanuli Selatan. Di kota yang tahun lalu menggelar Festival Kopi ini, bukan hanya sumsum tulang kerbau pilihannya, tapi ada juga daging bakar dan hidangan dari ikan.

Daging Bakar Sambal Asam

Selintas menu ini mirip dendeng balado yang biasa disajikan di rumah makan Padang. Tapi daging bakar khas Sipirok ini memiliki potongan daging yang lebih mungil. Potongan-potongan kecil daging bakar berupa kerbau atau sapi ini disajikan dengan saus sambal asam dengan rajangan bawang  merah.

Rasa asam muncul dari perasan jeruk nipis. Sedangkan sambalnya yang sangat pedas menggunakan cabai rawit asal daerah tersebut. Dalam proses pengolahannya, daging sapi atau kerbau dibakar lalu dikukus. Agar menjadi lembut, hanya digunakan daging bagian dalam yang ada di antara pinggul dan paha. Satu porsinya Rp 20 ribu.

RM Siang Malam; Jalan Merdeka No 37; Sipirok, Tapanuli Selatan

Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, di antaranya  ikan mas Sinyarnyar.
Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, menjadi cita rasa kuliner yang dirindukan. Foto: Andri/dok. TL

Ikan dengan Sinyarnyar

Menu ikan bakar ini berbeda dengan sajian ikan bakar lain. Ada tambahan khusus berupa bumbu sinyarnyar atau yang disebut andaliman. Salah satu jenis makanan khas dari Sipirok itu terlihat berminyak dengan bintik-bintik hitam sinyarnyar. Ikan mas digunakan sebagai bahan baku utamanya.

Begitu mencicipi, rasa sedikit pedas langsung menyengat. Selanjutnya, lidah akan tersengat getah sinyarnyar yang menjadi bumbu utama ikan bakar tersebut. Anehnya, ”sengatan” itu justru memancing suapan berikutnya. Rajangan bawang merah dan perasan jeruk nipis kian menambah nafsu makan. Harga per porsinya hanya Rp 25 ribu.

RM Ikan Bakar; Jalan Tarutung; Sipirok, Tapanuli Selatan

Kikil Kaki Kerbau

Di sekitar alun-alun Pasar Sipirok, ada sebuah warung makan yang relatif cukup ramai didatangi pengunjung saat makan siang tiba. Hampir sebagian besar pengunjung rupanya memesan sup kikil kaki kerbau yang memang menjadi andalan warung makan tersebut.

Jika dilihat tampilannya memang kurang terlalu meyakinkan. Namun jangan salah. Silakan coba dulu. Kuah supnya yang hangat begitu terasa rempah-rempahnya. Belum lagi kikilnya yang lunak. Menurut sang pemilik, proses perebusan butuh waktu sekitar 3 jam agar membuat kikil empuk. Kemudian, dimasukkan rempah-rempah, seperti lengkuas, cengkeh, bawang putih, tomat, dan lain-lain. Harga per porsinya hanya Rp 25 ribu—sudah termasuk nasi.

RM Sibualbuali; Jalan Tengah; Sipirok, Tapanuli Selatan

Kesegaran Terong Belanda

Saat melanjuti perjalanan dari Sibolga menuju Sipirok, saya sempat mampir di sebuah warung untuk melepaskan dahaga. Mata saya tertumbuk pada satu susunan buah berbentuk bulat telur di lemari etalase yang disebut terong Belanda. Isinya yang berwarna oranye kekuningan inilah yang diambil dan kemudian diblender atau dihancurkan.

Dengan tambahan es batu, jus terong Belanda ini terasa menyegarkan dan menjadi manis dengan penambahan gula dan susu. Memang ini bukan minuman khas Sipirok, tapi terkenal di Sumatera Utara. Harganya yang Rp 8.000 sudah mampu melepaskan dahaga. Ehm, benar-benar menyegarkan.

Rumah Bu Nengsih; Jalan Padang Sidimpuan; Sibolga, Tapanuli Tengah

Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, yang tercermin pada kulinarinya yang serba enak.
Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, di antaranya sumsum kerbau. Foto: Andri/Dok TL

Sup Sumsum Kerbau

Saat pertama kali mendatangi rumah makan ini, saya terpaksa harus menggigit jari. Pasalnya, sup sumsum kerbau khas Sipirok yang tersohor itu sudah habis terjual. Mau tidak mau, keesokan harinya saya harus kembali datang untuk mencoba sup yang terkenal hingga ke Medan itu. Dan beruntung, kali itu masih ada.

Pesanan sup sumsum kerbau pun datang dan disajikan dalam sebuah piring besar. Tulang kerbau kira-kira berukuran 25 sentimeter dibiarkan terbaring di atas piring dan lengkap dengan kuahnya. Selain pisau, disediakan pula sedotan untuk menyeruput sumsum yang ada di dalam tulang. Rasa sumsumnya mirip dengan sumsum sapi, tapi ini lebih kental. Harganya Rp 70 ribu per porsi. Sajian ini sebaiknya segera disantap saat panas.

RM Siang Malam; Jalan Merdeka No 37; Sipirok, Tapanuli Selatan

agendaIndonesia/Andry T./TL

Kuliner Unik Banyuwangi, 2 Hidangan Jadi 1

Kuliner unik Banyuwangi, Jawa Timur, dua hidangan yang kita kenal masing-masing sebagai masakan khas dihadirkan sebagai satu kesatuan. Bagi yang tak terbiasa, ini mungkin terasa aneh. Namun, setelah satu dua suap, lidah pun mulai beradaptasi dan merasakan kenikmatannya. Ini mungkin cerminan karakter khas masyarakat daerah ini.

Kuliner Unik Banyuwangi

Untuk mengetahui karakter masyarakat di satu daerah sebenarnya mudah. Coba tengok sajian kulinernya. Di Banyuwangi, sebagian besar sajiannya merupakan hasil kolaborasi  cita rasa dari berbagai daerah. Dua atau tiga olahan daerah lain dipadukan sehingga lahir sajian baru yang khas. Rasanya, seperti disebut di muka, awalnya agak lucu, tapi pada akhirnya yang ada adalah masakan yang jempolan.  

Pecel Plus Rawon

Nasi pecel rawon mungkin sudah akrab bagi sebagian besar masyarakat Banyuwangi. Namun bagi pelancong menu ini justru mengundang penasaran. Sebab, selama ini lebih dikenal nasi rawon atau nasi pecel. Sajian ini ternyata benar-benar nasi pecel yang diberi kuah rawon.

Nasi diberi rebusan sayuran seperti bayam, taoge, dan kacang panjang yang disiram bumbu kacang. Tak cukup di situ saja, makanan tersebut lantas disiram dengan kuah rawon. Dalam satu piring, menu seharga Rp 20-25 ribu itu terbilang amat lengkap. Ada bakwan jagung, empal, rempeyek kacang, rempeyek udang, dan dendeng sapi. Perpaduan rasa antara pecel dan rawon benar-benar unik: rasa gurih kacang bercampur dengan kaldu rawon yang kaya rempah.

Rumah Makan Pecel Ayu; Jalan Adisucipto No. 55, Banyuwangi

Kuliner unik Banyuwangi yang memadukan dua masakan menjadi satu. Awalnya terasa aneh, namun kemudian terasa lezatnya.
Kuliner unik Banyuwangi, Jawa Timur, di antaranya Rujak Soto yakni Soto yang dihidangkan bersama rujak. Foto: shutterstock

Rujak dan Soto

Rujak sudah terkenal sebagai sajian kuliner khas Surabaya. Demikian juga dengan soto yang variannya dimiliki hampir seluruh daerah di Indonesia. Di Banyuwangi, dua sajian kuliner itu dikolaborasikan menjadi menu baru: rujak soto. Pemerintah Banyuwangi memilih rujak soto sebagai ikon sajian kuliner karena kemunculannya paling tua.

Rujak soto ini tanpa nasi, hanya lontong yang dipadukan dengan kangkung, taoge, irisan mentimun, dan kacang panjang. Aneka sayuran tersebut disiram dengan bumbu rujak berbahan kacang. Giliran kuah soto hangat berisi kulit sapi disiram hampir memenuhi bibir mangkuk. Terakhir, irisan telur asin, tempe, tahu, dan kerupuk udang ditabur di bagian atasnya. Sajian seharga Rp 25 ribuan itu cukup gurih dan segar untuk menu makan siang.

Pondok Rujak Soto “Murah Meriah”; Jalan Basuki Rahmat No. 43, Banyuwangi

Pecel dengan Kare

Kare atau kari ayam adalah hidangan umum di Asia Selatan seperti India. Di Jawa, varian kare lebih mirip hidangan opor ayam. Pedagang Banyuwangi menyatukan keduanya hingga lahir pecel kare yang dikreasikan pada 2000-an setelah rujak soto dan pecel rawon. Rasa kare yang gurih berpadu dengan sedikit pedas bumbu pecel.

Pecel kare terdiri atas nasi yang diberi taburan potongan kacang panjang, taoge, tempe, dan tahu yang kemudian disiram bumbu pecel. Terakhir, seluruh nasi digerojokkare berisi ayam yang kuahnya berwarna kuning. Hidangan seharga Rp 20 ribuan tersebut harus disantap bersama rempeyek kacang yang renyah.

Rest Area Istana Gandrung; Jl Raya Rogojampi, Kecamatan Kabat;Banyuwangi

Rujak Campur Bakso

Bakso telah menjadi santapan umum orang Indonesia. Tapi kalau rujak bakso yang saya santap hanya ada di Banyuwangi. Ya, seperti namanya, sajian kuliner ini memang campuran rujak dan bakso. Rujaknya adalah olahan rujak cingur khas Surabaya. Rujak yang kaya sayur dan pedas dipadu dengan segarnya kuah bakso.

Olahan rujak diulekjadi satu di dalam cobek. Isinya: lontong, taoge, sayur genjer, selada, bayam, serta potongan cingur. Rujak kemudian dipindah ke sebuah mangkuk, lalu diguyur dengan kuah bakso hangat dan dilengkapi empat bakso sapi. Dengan membayar Rp 15 ribu, saya bisa menyantap hidangan bakso yang berbeda: bakso yang “ramai” dan kental.

Warung Bu Mur; Jalan Raya Srono 100, Kecamatan Srono, Banyuwangi

Sego Cawuk

Sego dalam bahasa Banyuwangi adalah nasi. Sedangkan cawuk tak lain makan dengan tangan. Cara ini lazim dipakai orang Banyuwangi sebelum ada sendok. Sego cawuk merupakan varian makanan bersantan. Namun santannya menyertakan parutan kelapa, mentimun yang dipotong dadu kecil, dan serutan jagung muda. Rasanya gurih dan sedikit asin.

Bila menyukai pedas, nasi bersantan tersebut bisa disiram bumbu rujak yang berisi dendeng. Agar lebih nikmat, saya menambahkan lauk berupa telur, pepes cumi, dan pepes teri plus kerupuk rambak alias kulit sapi. Hidangan yang cocok untuk sarapan ini seharga Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung pada lauk yang ditambahkan.

Warung Bu Mantih; Jalan Stasiun No 43, Desa Prejengan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi

Tertarik mencobanya? Jika kondisi telah memungkinkan, agendakan perjalannanmu ke Banyuwangi, dan cicipi keunikan dua masakan Jawa Timur yang dipadukan ini.

agendaIndonesia

*****

Rabeg Haji Naswi, Eksperiman Abad 1500-an

Rabeg Haji Naswi menjadi salah satu kuliner Banten sejak abad 15.

Rabeg Haji Naswi layak jadi salah satu rekomendasi utama kala sedang berpetualang mencicipi kuliner khas kota Serang, Banten. Masakan ini sudah hadir di tengah-tengah warga kota itu sejak era Kesultanan Banten.

Rabeg Haji Naswi

Sesungguhnya dari khasanah kulinernya, Serang masih memiliki beberapa makanan khas yang belum banyak terekspos dan dikenal publik. Beberapa yang sudah dikenal di antara seperti sate bandeng, pecak bandeng, dan nasi sumsum.

Begitu pula dengan rabeg, yang punya sejarah panjang dalam kehadirannya di tengah kehidupan warga ibu kota provinsi Banten tersebut. Disinyalir, makanan ini merupakan hasil sebuah eksperimen pada masa Kesultanan Banten di pertengahan tahun 1500-an.

Rabeg Haji Naswi dihasilkan dari eksperimen mencari masakan yang mirip dari tanah Arab ketika Sultan Maulana pergi ke sana.
Kota Serang di malam hari. Foto: dok. Kesbangpol Kota Serang

Dikisahkan bahwa Sultan Maulana Hasanudin, yang berkuasa pada saat itu, hendak melaksanakan ibadah haji dan kemudian berlayar menuju Tanah Suci. Sesampainya di sana, ia berlabuh di sebuah kota di tepi Laut Merah bernama Rabigh.

Di kota tersebut, ia sempat mencoba sebuah kuliner asli setempat, yang berupa olahan daging kambing dengan kuah yang sedap nan gurih. Makanan sejenis ini lazim disebut thareed, yakni racikan sayur dan daging berkuah di Arab yang konon adalah salah satu kuliner kesukaan Rasulullah SAW.

Ternyata, Sultan Maulana begitu menyukai makanan tersebut, hingga terus terbayang olehnya setelah selesai beribadah dan berlayar kembali ke Tanah Air. Sekembalinya, ia menitahkan juru masak istana untuk mencoba membuatkan masakan yang serupa.

Namun, tak mudah untuk mendapatkan hasil masakan yang serupa, karena perbedaan bumbu dan rempah nusantara dengan Arab. Hingga pada satu percobaan, ia mencicipi masakan tersebut dan merasa bahwa inilah yang paling mendekati dengan makanan yang ia coba.

Masakan tersebut pun menjadi salah satu hidangan favorit sang Sultan. Bahkan ada yang meyakini bahwa ia lebih suka hasil eksperimen tersebut ketimbang aslinya. Sebagai penghormatan, ia menyebutnya sebagai ‘rabeg’, alias masakan ala-ala kuliner kota Rabigh.

Rabeg Haji Naswi adalah olahan masakan menggunakan daging kambing, belakangan dipakai juga daging sapi.
Rabeg daging kambing. Foto: Milik Kecap Bango

Dari hidangan kaum bangsawan dan priyayi di istana, lambat laun resep tersebut juga turun kepada masyarakat luas. Dan nyatanya, mereka pun ikut menyukai kuliner tersebut, sehingga sejak saat itu pula rabeg menjadi kuliner yang identik dengan warga Banten, khususnya Serang.

Pada perkembangannya, rabeg menjadi salah satu hidangan yang dibuat pada acara hajatan dalam adat Banten, seperti acara pernikahan, akikah atau khitanan. Selain itu, ada pula adat menyantap rabeg di bulan suci Ramadhan dengan ketan bintul, atau ketan dengan serundeng.

Menurut sejarahnya, adat ini bermula dari kebiasaan Sultan Maulana Hasanudin yang gemar menyantap rabeg dengan ketan bintul sebagai santapan saat berbuka puasa. Selain itu, tamu-tamu istana juga kerap dijamu dengan sajian tersebut.

Secara filosofis, ketan bintul sendiri dengan wujudnya yang lengket dianggap punya nilai luhur keraketan, atau yang kurang lebih berarti melekatkan. Sehingga diharapkan dengan menyantap makanan tersebut bersama-sama dapat mendekatkan dan menyatukan sesama manusia.

Rabeg sendiri secara umum merupakan olahan daging dan jeroan kambing, atau kemudian juga menggunakan daging sapi, yang dimasak dengan kuah berbumbu rempah seperti jahe, bawang merah, laos, ketumbar, lada, kayu manis dan sebagainya. Cita rasanya merupakan perpaduan dari manis, pedas dan gurih.

Berbeda dengan gulai, rabeg tidak menggunakan santan dalam pembuatannya. Secara sepintas, ia mungkin terlihat cenderung mirip seperti tongseng, tengkleng atau semur. Namun, secara aroma dan rasanya, ia diklaim lebih kuat dan berkarakter.

Karena keeratannya dengan budaya warga Banten, maka tidaklah mengherankan jika pedagang rabeg cukup menjamur di kawasan ini. Banyak dari mereka yang sudah berjualan kuliner ini sejak bertahun-tahun lamanya.

Salah satunya adalah rabeg Haji Naswi, yang jika ditelusuri sudah eksis sejak tahun 1952. Haji Sani, generasi pertama dari usaha ini, mulanya berjualan rabeg di banyak perhelatan hiburan rakyat, seperti pasar malam, pertunjukan tari Jaipong, layar tancap atau wayang golek.

Selama ini Banten dikenal dengan sate bandengnya.
Sate bandeng khas Banten. Foto: shutterstock

Usaha ini terus berlanjut hingga era 1970 dan 1980-an, kala usaha dikelola oleh generasi kedua dan ketiga, Hj. Jenah dan H. Naswi. Dari sini, mereka mulai menetap di warung semi permanen yang dinamakan rabeg Haji Naswi sebagai penanda dan pembeda dari penjaja rabeg lainnya.

Hingga kini, warung di kawasan jalan Mayor Safei itu masih eksis dan jadi salah satu pilihan bagi warga lokal maupun wisatawan yang ingin menyantap kuliner khas ini. Lokasinya yang berseberangan dengan Rutan Serang juga membuatnya cukup mudah ditemukan.

Usaha kini dilanjutkan oleh anak-anak H. Naswi, dengan tetap mempertahankan beberapa keunggulan yang dimiliki oleh rabeg buatan mereka. Seperti misalnya cita rasa yang otentik dengan rasa dan aroma jahe yang kuat, serta daging kambing yang empuk dan tidak bau.

Menurut resep turun temurun keluaga ini, cita rasa jahe adalah salah satu kunci membuat rabeg yang otentik. Diyakini, bahwa rasa jahe yang pedas dan hangat di tubuh ini menjadi pembeda rabeg dengan makanan sejenis, seperti tongseng atau semur.

Meskipun diakui pula bahwa kuah rabeg buatan mereka kini dibuat lebih cair ketimbang dulu untuk menyesuaikan selera pelanggan, tetapi mereka mengantisipasinya dengan selalu memberi ekstra jahe demi cita rasa yang kuat.

Selain itu, daging kambing haruslah empuk dan tidak berbau. Untuk mencapai hal ini, ada beberapa tahapan yang mereka lewati, seperti pemilihan jenis kambing yang spesifik, serta usia kambing yang tak boleh terlalu muda maupun tua.

Saat daging dicuci pun, harus benar-benar sampai bersih dari kotoran dan darah. Bahkan, setelah daging masuk proses perebusan, akan tetap dicek apakah masih berbau. Jika masih ada sisa bau amis, air rebusan akan diganti dan daging direbus ulang hingga hilang baunya.

Kombinasi kuah bercita rasa kuat nan unik, daging yang empuk tanpa bau, dengan sepiring nasi hangat serta tambahan seperti emping dan sebagainya itulah yang membuat rabeg Haji Naswi begitu disukai penggemarnya dan diburu oleh pemburu kuliner.

Satu porsi rabeg Haji Naswi dihargai Rp 31,5 ribu, dengan pilihan daging saja atau dengan tulangnya. Tersedia pula menu-menu pelengkap untuk menemani pengunjung menyantap rabeg, seperti sate kambing, sapi atau ayam yang harganya berkisar dari Rp 40-50 ribu.

Rabeg Haji Naswi buka dari jam 10.00 hingga jam 24.00. Meski warungnya berukuran cukup kecil dan berada di pinggir jalan, namun tersedia area untuk parkir. Mulai dari sore jam 16.00, tempat ini juga dipakai untuk berjualan nasi uduk, nasi timbel, ayam goreng dan bebek goreng.

Rabeg Haji Naswi

Jl. Mayor Safei no. 30, Serang

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****