Batagor Bandung, Kisah Kang Isan Pada 1973

Jajanan Bandung legendaris ada banyak macamnya, salah satunya adalah batagor.

Batagor Bandung sudah menjadi salah satu makanan wajib pengunjung kota kembang ini. Selain untuk jajan makan di tempat, juga untuk oleh-oleh di bawa pulang ke rumah.

Batagor Bandung

Buat sebagian orang Jakarta, Bandung kadang seperti kantin jaman sekolah saja. Tempat untuk jajan makanan-makanan enak. Kadang cuma untuk isi perut ps “istirahat siang”. Salah satu yang mudah dan diincar kalau ke Bandung tentu saja adalah Batagor, alias bakso tahu goreng. Makanan berbahan ikan dengan bumbu saus kacang.

Ada beberapa kedai batagor Bandung di ibukota Jawa Barat ini, yang terkenal di kalangan pecinta kuliner. Sebut saja nama-nama Batagor Kingsley, Batagor Riri, Batagor Cuplis, atau Batagor Haji Isan. Yang terakhir ini mungkin namanya beberapa tahun terakhir tidak sepopuler yang lain, namun jangan salah, konon, yang terakhir inilah yang disebut-sebut “penemu” makanan yang kemudian disebut batagor tersebut.

EyquIUwh Batagor Bandung shutterstock
Batagor Bandung dari cemilan menjadi makanan favorit bahkan oleh-oleh. Foto Shutterstock

Batagor adalah kuliner yang tercipta karena ketidaksengajaan. Dari laporan sejumlah media, beberapa pendapat menyebut jika batagor adalah kuliner yang secara tidak sengaja dibuat oleh perantau asal Purwokerto, Jawa Tengah, yakni Isan sekitar tahun 1973. Ia kala itu merantau ke Bandung dengan niat mencari pekerjaan.

Tapi, seperti kisah-kisah perantau pencari kerja, Isan tak juga mendapatkan pekerjaan. Sekadar untuk mengisi waktu dan tidak menganggur, Isan kemudian coba-coba jualan bakso dengan berkeliling. Selama bertahun-tahun ia melakoni masuk-keluar gang dengan pikulan dagangannya, berkeliling di daerah tempat tinggalnya di seputaran Jalan Kopo.

Tapi, biasalah, seperti pedagang makanan lainnya. Tak setiap hari dagangan Isan laris manis. Bahkan setiap hari ada saja tahu bakso dagangannya yang tidak terjual habis. Selalu saja ada sisa tahu baksonya.

Pada awalnya, Isan melakukan hal sederhana untuk dagangannya yang tidak laku itu agar tidak mubadzir. Ia membagi-bagikan sisa tahu baksonya ke para tetangganya. Sampai suatu ketika, ketika tahu baksonya tersisa sangat banyak. Tetangganya mungkin juga tak nyaman menerima pemberian yang banyak. Apa akal?

Batagor Bandung seperti pangsing shutterstock
Batagor Bandung intinya adalah digoreng. Foto: ilustrasi shutterstock

Di tengah kebingungannya, ia lantas mencoba menggoreng tahu baksonya. Niatnya hanya agar tahu bakso tak serta merta jadi basi. Namun kemudian ia mencoba makan tahu bakso hasil gorengannya. Unik. Walhasil, selain ia konsumsi sendiri, bakso yang ia goreng ia bagikan juga ke para tetangga di gang Situ Saeur, Kopo, Bandung. Dan ternyata mereka justru makin suka.

Tahu bakso yang telah digorengnya kemudian ia beri saus kacang yang ia racik khusus. Rupanya, para tetangganya sangat suka dengan tahu bakso goreng tersebut. Bahkan, tetangganya mulai memesan tahu bakso goreng buatannya. Mulai saat itulah, Isan membuat kuliner yang kemudian disebut batagor atau batagor Bandung

Menurut cerita, awalnya Isan masih mengkukus dulu bakso tahunya. Sesuai jualannya seperti sebelumnya. Bahkan sempat masih berjualan dua varian: bakso tahu kukus dengan kuah, dan yang digoreng. Namun, belakangan ia lebih banyak berjualan batagor. Caranya pun tak lagi dikukus terlebih dahulu, namun langsung digoreng dari bahan mentahnya. Hasilnya ternyata lebih disukai konsumennya.

Usaha Isan makin tumbuh dan berkembang. Tak hanya pelanggan atau pembeli dari kota Bandung. Orang dari tempat dan kota lain pun mulai datang mendengar keunikan makanan Bandung ini. Dengan kian berkembangnya usahanya, pada 1985, Isan memindahkan tempat dagangnya ke rumah yang lebih luas di Jalan Bojongloa nomor 38. Di tempat ini, konsumen makin mudah menikmati batagor Isan.

Jajanan Bandung legendaris ada banyak macamnya, salah satunya adalah batagor.

Pada 1991, Isan menunaikan ibadah haji, sejak itu batagor dagangannya lebih dikenal sebagai Batagor Haji Isan. Ia meninggal pada 2010, usaha batagornya diteruskan keponakannya, karena Haji Isan tidak memiliki putra.

Meski begitu, kreatifitasnya menciptakan batagor telah menginspirasi banyak orang. Batagor kini telah dikenal banyak masyarakat Indonesia dan tersebar luas di berbagai kota di Indonesia. Bahkan di kota-kota besar di Indonesia banyak pedagang dorongan yang berjualan batagor.

Di Bandung sendiri ada sejumlah tempat yang kemudian menjadi ikon kuliner kota ini karena berjualan batagor. Batagor H. Isan sendiri kini telah memiliki beberapa cabang, yakni di Jalan Cikawao, di jalan Lodaya, atau di jalan Ciateul. Sementara itu, tempat-tempat kuliner batagor di Bandung yang jadi ikon adalah Batagor Kingsley di Jalan Veteran; Batagor Riri di Jalan Burangrang, atau Batagor Abuy, juga Batagor H. Darto.

Batagor mana yang jadi favoritmu?

agendaIndonesia

******

Selat Solo, Sejarah Dan 5 Yang Terenak

Selat Solo adalah maksakan campuran tradisional Jawa dan Eropa. Kreasi Kraton SOlo. Foto: shutterstock

Selat Solo adalah masakan khas kota Solo, Jawa Tengah, yang dalam penyajiannya memiliki pengaruh masakan Eropa. Pada masa kolonial, warga Belanda dan orang Eropa membawa bahan-bahan makanan serta teknik memasak khas Eropa. Pengaruh inilah yang tampil dalam masakan selat.

Selat Solo

Awal mula lahirnya masakan ini berawal sejak benteng Vastenburg dibangun sekitar tahun 1745, tepat di depan gapura Keraton Surakarta Hadiningrat. Di sini sering terjadi pertemuan dan rapat antara pihak keraton dan Belanda. Setiap pertemuan biasanya disajikan masakan oleh pihak keraton. namun tidak sesuai dengan selera masyarakat Belanda.

Petinggi atau bangsawan Belanda saat ini menginginkan makanan berbahan utama daging, sedangkan sang raja terbiasa dengan sajian sayur. Atas dua kebiasaan ini, dikreasikan lah menu baru dengan mengkombinasikan bahan seperti kentang, wortel, buncis, timun, daun selada, telur, dan kuah kecap. Kemudian dari pertemuan dua kebudayaan tersebut melahirkan satu kuliner khas Kota Surakarta, yaitu selat Solo.

Selat Solo perpaduan antara beefsteak Eropa dan Salad.
Telur rebus atau semur telur adalah ciri khas Selas SOlo. Foto: shutterstock

Dalam perkembangannya, terjadi penyesuaian tampilan. Petingi Belanda menginkan ada daging steak, dalam bahasa Belanda disebut biefstuk, yang disajikan dalam ukuran besar dan dimasak setengah matang dalam selat.

Sementara itu, sang raja atau bangsawan Solo terbiasa makan dengan sajian sayur dan tidak terbiasa makan daging besar. Alhasil, daging yang semestinya dimasak setengah matang diubah menjadi daging cincang yang dicampur sosis, telur, dan tepung roti.
Selat Solo sendiri sering disebut perpaduan antara bistik atau beefsteak dan salad. Nama selat diambil dari kata dalam bahasa Belanda, slachtje, yang artinya salad.

Kata ini sesungguhnya juga bermakna hasil penyembelihan daging yang dalam penyajiannya dalam bentuk potongan kecil. Masyarakat Jawa pada wakti itu mungin sedikit kesulitan menyebut kata slachtje, kemudian mereka mengucapkannya dengan kata selat.

Hidangan Selat Solo kini umumnya terdiri dari galantine, sayur wotel, buncis, selada air, kentang goreng serta saus asam manis yang berasal dari perbaduan tomat dan kecap manis yang dikentalkan.

Galantine sendiri bisa disebut sebagai hidangan utama atau main course pada selat.

Ini umumnya berbasis daging sapi, ayam, bebek atau unggas lainnya. Pembuatannya daging cincang yang dicampur sosis, telur, dan tepung roti dicampur kemudian dibentuk menyerupai lontong dan dibungkus menggunakan daun pisang.

Ketika hendak disajikan daging yang sudah dicampur tersebut dikukus hingga matang. Daging yang sudah matang didinginkan, kemudian daging diiris tebal dan digoreng menggunakan sedikit margarine. Kadang ada pula restoran yang mengganti galantine dengan daging semur.

Saat ini jika wisatawan mampir ke restoran di Solo dan memesan Selat Solo, tampilannya terdiri dari daging olahan yang telah digoreng atau daging yang dimasak dengan kuah encer khas Jawa, wortel rebus, buncis rebus, irisan tomat, daun selada, dan kentang goreng untuk memberikan rasa kenyang. Di atas daun selada bisanya diberi saus mustard.

Selat Solo karena Raja Solo yang suka sayuran.
sajian lengkap Selat Solo di resto Adem Ayem. Foto: IG Adem Ayem

Ciri khas Selat Solo lainnya saat ini adalah adanya irisan telur rebus. Kombinasi ini menjadikan Selat Solo berwarna dan menggugah selera. Sementara perbedaan Selat Solo dan steak Eropa adalah steak Eropa biasanya disajikan selagi panas, sedangkan Selat bisa disajikan dalam kondisi dingin. Namun sejumlah rumah makan dapat menyajikannya dalam kondisi hangat sesuai permintaan tamu.
Lalu jika tengah main ke Solo dan ingin menikmati selat, restoran manakah yang sajiannya paling enak? Berikut lima restoran atau warung yang terkenal dengan sajian selatnya.

Warung Selat Mbak Lies

Warung makan ini terkenal dengan selat solonya dan sudah berdiri sejak 1978. Meski tempatnya agak tersembunyi karena harus melewati gang, tidak sedikit orang yang berburu ke sini untuk mencicipi seporsi selat solo yang sungguh nikmat.

Selain rasanya yang gurih dan manis, selat solo di sini juga dilengkapi dengan lidah sapi, telur, kentang, wortel, buncis, dan juga mustard khas Belanda. Jangan kaget dengan kuah selat solo yang dingin karena memang penyajiannya demikian.

Warung Selat Solo Mbak Lies

Jalan Veteran, Gg. 2 No.42, Serengan, Surakarta

Selat Kusumasari

Restoran ini sudah buka sejak 1990 dan hingga kini tetap mempertahankan rasa selat yang mereka sajikan sejak awal berdiri. Di sini tidak hanya selat, namun juga menawarkan aneka makanan yang tak kalah enak seperti seperti gado-gado dan es krim.

Selat Kusumasari

Jalan Slamet Riyadi No.111, Kemlayan, Serengan, Surakarta

Stasiun Balapan Solo KAI
Turun dari kereta di Stasiun Balapan bisa langsung menuju Vien’s. Foto: KAI

Selat Vien’s

Resto ini memiliki beberapa cabang namun yang paling banyak dikunjungi adalah yang di Jalan Hasanudin. Mungkin karena lokasinya yang dekat dengan Stasiun Kereta Balapan. Karena banyak pengunjung, pengunjung harus agak sabar mengantri.

Selat Vien’s

Jalan Hasanudin No.99 C, Punggawan, Surakarta

Omah Selat

Omah selat adalah restoran di Solo yang masih menempati bangunan rumah khas Jawa yang klasik. Interior tempat ini juga didominasi barang-barang kuno sehingga nuansa masa lalunya masih sangat terasa.

Omah Selat

Jalan Gotong Royong No.13, Jagalan, Surakarta

Selat Tenda Biru Pak Bejo

Selat segar dibanderol Rp16.000 dengan porsi daging yang memuaskan. Dilengkapi telur rebus dan aneka sayuran khas seperti selada, kentang goreng, wortel, dan buncis.

Jika pengunjung beruntung makan, bisa mencoba es gempol pleret. Minuman tradisional ini sangat terkenal di sini. Terdiri dari gempol dan pleret dari adonan tepung beras. Teksturnya unik, lembut sekaligus kenyal pas dikunyah. Disajikan sama kuah santan, gula jawa cair dan es batu.

Selat Tenda Biru Pak Bejo

Jalan KH Samanhudi No 10, Purwosari, Laweyan, Solo. 

agendaIndonesia

*****

Konro Karebosi, Direbus 2 Kali Hingga Empuk

Konro Karebosi mulai berjualan sejak 1968. Foto: shurtterstock

Konro Karebosi sudah jadi salah satu ciri khas Makassar. Ia seakan ‘landmark’ ibukota Sulawesi Selatan itu. Kuliner dari kota Angin Mamiri ini sudah lekat di benak banyak orang selama bertahun-tahun lamanya, walaupun kini sudah banyak restoran-restoran dengan menu masakan konro lainnya.

Konro Karebosi

Konro, atau iga sapi dalam bahasa Bugis, merupakan salah satu kuliner yang tak boleh dilewatkan kala berkunjung ke ibu kota Sulawesi Selatan ini. Baik dalam format sop konro maupun konro bakar, keduanya sama-sama bercita rasa unik dan menggugah selera. Satu kata: enak.

Konon, kuliner ini dulu tercipta dari budaya orang Makassar saat merayakan hari raya atau perhelatan besar seperti pernikahan. Uniknya, dulu justru bukan sapi sebagai bahan dasar makanan ini, melainkan kerbau.

Kepercayaan masyarakat ini meyakini bahwa kerbau adalah hewan yang spesial dan hanya boleh dimakan pada acara tertentu saja. Inilah sebabnya beberapa dari kuliner asli Makassar awalnya juga terbuat dari daging kerbau, seperti Pallu Basa dan Coto Makassar.

Konto Karebosi awalnya berjualan di kawasan Lapangan Karebosi, Makassar.
Konto Karebosi awalnya berupa sop. Foto: shutterstock

Ketika itu, kerbau yang disembelih akan diambil bagian tulang iganya, kemudian dimasak dengan racikan kuah yang berasal dari kacang tanah yang telah direbus dan kemudian dihaluskan. Kuah kemudian akan cenderung berwarna coklat gelap.

Seiring berjalannya waktu, populasi kerbau mulai menurun dan warga mulai kesulitan mencari bahan baku iga kerbau, apalagi harganya ikut menjadi mahal. Oleh sebab itu, masyarakat beralih menggunakan iga sapi karena lebih mudah ditemukan dan harganya lebih terjangkau.

Ditambah dengan bumbu-bumbu dapur seperti merica, buah kluwek, pala, ketumbar, kencur, kunyit, cengkeh dan kayu manis membuat rasanya begitu gurih bercampur spicy. Aromanya pun tajam dan kuat, khas rempah-rempah Indonesia.

Kuliner ini kemudian dipopulerkan oleh seorang pria bernama H. Hanafing. Dulunya sehari-hari berprofesi sebagai guru, ia kemudian mengisi waktu luangnya dengan berjualan sop konro di kawasan lapangan Karebosi pada 1968. Mulailah era Konro Karebosi.

Tak disangka, warungnya tersebut menjadi ramai oleh pengunjung dan laris manis. Akhirnya sekitar empat tahun kemudian, ia memutuskan untuk memindahkan warungnya ke ruko di jalan Gunung Lompo Battang.

Tempatnya tak jauh dari lokasi awal warung pertama kali buka. Alasan dipindahkannya warung tersebut agar dapat melayani lebih banyak konsumen. Namun sebagai identitas agar tetap dikenali, nama Konro Karebosi lantas tetap dipertahankan.

Lantas, apa alasan sop konro buatan Konro Karebosi ini begitu digemari? Ternyata, rahasianya ada pada bagaimana konro Karebosi tersebut diolah. Mengolah iga sapi memerlukan teknik khusus dan proses yang tak sebentar.

Biasanya, cara memasak konro adalah merebusnya paling tidak dua kali dengan air rebusan yang berbeda. Ini dilakukan agar konro menjadi empuk, mudah dipisahkan dari tulang, dan tidak amis.

Dalam resep yang dipakai Konro Karebosi, setiap kali konro direbus akan memakan waktu hingga empat jam. Hasilnya, selain cita rasa dari iga serta bumbunya benar-benar meresap, daging pun jadi terasa begitu lembut dan mudah lumer di mulut.

Kombinasi antara daging iga yang begitu empuk, serta bumbu yang sedap untuk diseruput, membuat Konro Karebosi senantiasa kebanjiran pengunjung. Bahkan setelah kini usaha dijalankan oleh sembilan anak H. Hanafing dan sudah buka cabang di tempat lain, restoran aslinya tak pernah sepi.

Setelah resep ini terbukti disukai banyak orang, mereka pun mencoba berinovasi dengan menu baru agar mampu menjaring lebih banyak pelanggan. Maka pada sekitar tahun 1990-an, mereka mulai mencoba bereksperimen dan mencari resep baru yang berbeda.

Setelah rangkaian trial and error, akhirnya pada tahun 2000-an muncullah menu konro bakar yang juga digemari banyak orang. Makanan ini terinspirasi oleh steak pada umumnya yang dibakar lalu dibumbui, tetapi kemudian konro bakar diramu dengan bumbu ala Makassar.

Konro bakar merupakan mengembangan menu yang pintar.
Konro Bakar from Makassar Indonesia

Awalnya konro akan diolah seperti biasanya, sebelum kemudian dibakar dengan olesan kecap. Setelah dibakar, daging iga tersebut akan terasa garing di luar, namun tetap empuk di dalamnya.

Bumbu kacang yang digunakan juga dipadu dengan cabe dan perasan jeruk nipis, yang menambah sensasi unik di lidah. Serta tak lupa taburan bawang goreng di atasnya, membuat makanan ini juga cepat akrab di lidah dan menggaet penggemar tersendiri.

Baik sop konro maupun konro bakar biasanya ditemani buras sebagai teman makannya. Buras ini seperti lontong. Khusus konro bakar, biasanya Konro Karebosi juga menyediakan kuah sop untuk menambah cita rasa saat menyantap.

Secara harga, sop konro dan konro bakar dihargai sekitar Rp 40 ribu hingga 50 ribu. Harga tersebut belum termasuk buras atau nasi. Harga ini termasuk cukup bersahabat, karena di restoran lain atau cabang-cabang di kota lainnya, harga menunya bisa sampai kisaran Rp 60 ribu hingga 70 ribu.

Selain itu, menu di restoran aslinya hanya itu dan tidak berubah sampai sekarang. Berbeda dengan restoran lain, atau cabang-cabang di kota lain yang terkadang menambahkan menu-menu lain seperti Coto Makassar, dan cemilan seperti es Pallubutung, es Pisang Ijo dan lain-lain.

Konro Karebosi buka setiap hari dari jam 10.30 sampai jam 22.30. Untuk info lebih lanjut dapat mengunjungi laman Instagram resmi @sopkonrobakarkarebosi.

Konro Karebosi; Jl. Gunung Lompo Battang no. 41-43, Makassar

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Adem Ayem Solo, Legendaris Sejak 1969

Adem Ayem Solo adalah legenda kulinari kota ini. Foto IG Adem Ayem

Adem Ayem Solo layak disebut salah satu legenda kota Solo atau Surakarta, Jawa Tengah. Ia bisa menjadi salah satu opsi destinasi kuliner kala bertandang ke kota ini. Restoran ini menyediakan beragam pilihan kuliner khas kota ini, mulai dari gudeg Solo, nasi timlo, dan lain lainnya.

Adem Ayem Solo

Rumah makan ini sudah menemani masyarakat menikmati andrawina, tak hanya di kalangan warga Solo, tetapi menjadi klangenan wisatawan yang dolan ke Solo. Maklum, restoran ini sudah berdiri sejak 1969 dan dalam kurun waktu tersebut mampu meraih banyak pelanggan setia.

Salah satu pelanggan restoran ini adalah presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto. Semasa hidupnya, ia disebut-sebut kerap memesan hingga puluhan gudeg kendil, saat sedang berada di kediaman keluarganya di Ndalem Kalitan.

Begitu pula mendiang presiden Indonesia ke empat Abdurrahman Wahid yang juga pernah menjadi pelanggan, sejak sebelum menjadi presiden. Bahkan, pria yang akrab dengan panggilan Gus Dur ini dulunya punya area meja dan kursi favoritnya sendiri.

Adem Ayem Solo yang berdiri sejak1969 menjadi salah satu ikon kulinari kota Solo.
Patung Slamet Riyadi menjadi ikon kota Solo, sama seperti rumah makan Adem Ayem. Foto: shutterstock

Tak lupa, presiden Joko Widodo pun dikabarkan cukup sering makan di Adem Ayem Solo ini sejak masih menjabat sebagai Walikota Solo. Kabar yang beredar, ia kerap memesan gudeg kendil dan memberikannya kepada tamu-tamunya sebagai oleh-oleh.

Dengan reputasi yang demikian tersohor, tak ayal Adem Ayem Solo menjadi salah satu destinasi kuliner favorit di Solo. Sang pendiri dan pemilik restoran, Lies Rosmijati, hingga kini masih terus mengomandoi jalannya aktivitas restoran sehari-hari.

Tak tanggung-tanggung, wanita berusia 74 tahun ini bahkan masih berbelanja kebutuhan bahan-bahan masakan setiap paginya. Ia pun masih turut serta dalam proses mengolah dan memasak, sembari mengawasi kinerja pegawai-pegawainya.

Pada masa-masa awal ia mulai membuka restoran ini, beberapa pelanggan sempat mengeluhkan cita rasa masakan yang kurang pas, lantaran ibu lima anak kelahiran Yogyakarta itu terbiasa dengan masakan khas kota pelajar tadi yang cenderung lebih terasa manis.

Perlahan-lahan ia mencoba mengubah racikan masakan-masakannya, sehingga dapat menyesuaikan lidah orang Solo yang lebih gemar kuliner bercita rasa gurih. Usahanya pun berhasil dan restorannya semakin dibanjiri pengunjung.

Komitmen ini menjadi wujud usahanya untuk mempertahankan reputasi Adem Ayem Solo yang sudah melegenda. Ia bahkan pernah mencoba membuka cabang di kota lain, dan meskipun responnya cukup baik, ia memutuskan untuk menutupnya dan fokus pada restoran aslinya.

Adem Ayem Solo sendiri dikenal menyajikan beberapa menu-menu kuliner khas Solo. Salah satu menu andalannya adalah gudeg Solo, yang disajikan dengan nasi dan tambahan ayam, telur dan sambal goreng krecek pada satu porsinya.

Nasi Gudeg Adem Ayem Solo adem ayem IG
Gudeg Solo berbeda dengan gudeg Yogya yang cenderung manis, Ini lah salah satu sajian andalan Adem Ayem Solo. Foto: IG Adem Ayem

Kalau datang beramai-ramai bersama keluarga atau teman, bisa juga memesan gudeg kendil, yaitu gudeg yang disajikan dengan kendil, atau tempat penyimpanan dan penyajian makanan dari tanah liat. Gudeg kendiltersedia dalam pilihan ukuran kecil maupun besar.

Bagi kebanyakan orang, gudeg mungkin lebih identik sebagai kuliner khas Yogyakarta, namun rupanya Solo memiliki versi gudeg sendiri. Gudeg Solo disebut lebih bercita rasa gurih, berbeda dengan gudeg Yogyakarta yang cenderung terasa manis.

Kuliner lainnya yang patut dicoba adalah nasi liwet. Kuliner populer dari kota batik ini merupakan olahan nasi yang dimasak dengan air santan, dan disajikan dengan sayur labu siam, ayam suwir dan telur rebus.

Konon, nasi liwet Solo tercetus dari budaya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Warga setempat merayakan hari besar tersebut dengan makan nasi yang diolah minyak samin, yang disebut merupakan salah satu makanan favorit Rasulullah.

Namun karena minyak samin tidak banyak beredar dan agak sulit untuk didapatkan, maka sebagai gantinya nasi kemudian diolah dengan air santan. Resep tersebut lantas menjadi populer dan kini sangat lazim ditemukan di Solo.

Selain itu, kuliner kota Solo yang sayang untuk dilewatkan di restoran ini adalah nasi timlo. Makanan berkuah bening ini cukup mirip dengan soto, yang disajikan dengan ayam suwir, potongan ati ampela, irisan sosis Solo, bihun dan telur pindang.

Selat Solo Adem Ayem Adem Ayem IG
Kulinari Solo lain yang disajikan adalah Selat SOlo. Foto: IG Adem Ayem

Bagi pecinta ayam goreng, Adem Ayem Solo juga menyediakan ayam goreng kremes yang juga direkomendasikan. Ayam yang digunakan adalah ayam kampung, yang dimasak dengan bumbu yang gurih dan kremesan yang renyah.

Menu-menu yang lebih ringan seperti galantin dan selat Solo pun juga tersedia di Adem Ayem. Untuk minuman, teh kampul alias teh dengan irisan jeruk peras yang segar turut melengkapi jajaran kuliner khas Solo di restoran ini.

Harga makanan-makanan tersebut pun tergolong relatif terjangkau. Nasi gudeg istimewa dengan tambahan lauk komplit misalnya, harganya Rp 37 ribu. Adapun nasi liwet dan nasi timlo, masing-masing dihargai Rp 33,5 ribu dan Rp 28 ribu.

Bagi yang ingin memesan gudeg kendil, harganya Rp 263 ribu untuk yang ukuran besar dan Rp 230 ribu untuk ukuran kecil. Sedangkan ayam goreng disediakan dalam wujud utuh seharga Rp 116 ribu atau Rp 29 ribu per potong.

Untuk hidangan ringan seperti galantin atau selat Solo sama-sama dihargai Rp 31,5 ribu, sementara teh kampul harganya Rp 16 ribu. Pilihan minuman lainnya bervariasi dari es cincau, es kelapa muda gula Jawa dan lainnya yang berkisar dari Rp 5,5 ribu hingga Rp 26,5 ribu.

Adem Ayem terletak di area pusat kota Solo, tepatnya di kawasan jalan Slamet Riyadi. Untuk mencari restoran ini pun terbilang cukup mudah, lantaran lokasinya tak jauh dari Loji Gandrung, bangunan bersejarah yang kini difungsikan sebagai rumah dinas walikota Solo.

Sebagai catatan bagi yang tertarik mencoba, restoran ini biasanya lebih ramai pada akhir pekan dan hari libur, utamanya pada musim liburan seperti saat libur Idul Fitri. Selain itu, saat malam hari biasanya kerap ada pertunjukan live music keroncong.

Adem Ayem buka setiap hari dari jam 06.00 hingga jam 21.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0271) 712891, atau lewat akun resmi Instagram @ademayem_solo.

Rumah Makan Adem Ayem; Jl. Slamet Riyadi no. 342, Solo

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

Sensasi Langit Jakarta Dari Pencakar Langit Lantai 49

Sensasi Langit Jakarta di Cloud

Sensasi Langit Jakarta bisa dinikmati dari mana saja, sesungguhnya. Tapi tak ada salahnya sekali-kali memandang langit ibukota dari lantai 49 sebuah gedung pencakar langit. Cloud menawarkan sensasi menikmati senja dan pemandangan kota malam hari.

Sensasi Langit Jakarta

Matahari yang condong ke ufuk barat mulai membentuk lembayung senja. Cahayanya mengubah cakrawala menjadi merah jingga. Sebuah momen yang mungkin jarang ditemui di sudut langit Jakarta. Sebuah momen indah yang memperlihatkan betapa masih cantiknya Ibu Kota.

Tanpa ada yang mengomandoi, puluhan pengunjung Cloud Lounge & Dining Room langsung mengabadikan momen tersebut. Suasana yang tadinya relatif cukup senyap, mendadak riuh. Kesempatan ber-selfie dengan latar belakang lembayung senja itu tak dilewatkan oleh pengunjungnya begitu saja.

Bertempat di Lantai 49 Gedung The Plaza Office Tower di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, lounge yang berada di luar ruangan itu memang menawarkan sensasi pemandangan langit Jakarta dari sudut berbeda. Kita dapat menikmatinya saat matahari tenggelam. Setelah fajar menyingsing, yang tersisa hanyalah hamparan langit pekat dan lampu-lampu gedung perkantoran yang mulai berpendar. Lampu-lampu rumah dan kendaraan yang berlalu-lalang di bawahnya tampak seperti kunang-kunang.

Pemandangan indah Kota Jakarta, dipadu dengan interior yang elegan, membuat nyaman para pengunjungnya dan jauh dari hiruk pikuk kemacetan Ibu Kota. Kebanyakan meja di lounge luar ruangan ini didominasi oleh sofa-sofa memanjang. Namun ada pula pilihan untuk duduk-duduk di dekat flaming bar. Setiap sore menjelang malam, ada api yang berkobar pada bagian atap bar.

Cloud juga menawarkan pengalaman berbeda untuk pengunjungnya. Di salah satu sudut lounge luar ruangan terdapat sebuah vodka room. “Ruangan ini memiliki suhu minus 2 derajat Celcius,” ujar General Manager Cloud Lounge & Dining Room.

Di ruangan ini pengunjung dapat menikmati pengalaman berbeda saat menikmati Grey Goose Vodka, salah satu vodka terbaik di dunia. Untuk memasuki ruangan ini, pihak manajemen menyediakan jaket penahan dingin.

Selain di luar ruangan, Cloud menyediakan lounge dalam ruangan. Desain interior pun terkesan elegan. Langit-langitnya menggunakan unsur kayu. Sedangkan ornamen dinding ruangan yang disapu warna keemasan menimbulkan kesan mewah. Sama seperti lounge di luar, di dalam pun terdapat sebuah bar. Di sudut ruangan terdapat sebuah dining room. “Ruangan ini memang sengaja kami hadirkan untuk pengunjung yang ingin menikmati makan malam,” katanya.

Setelah cukup lama menghabiskan waktu berkeliling dan mengagumi keseluruhan tempat, saya memutuskan duduk di luar ruangan dan memulai petualangan kuliner. Chocolate Lava Cake hadir pertama menyapa. Hidangan ini berupa kue cokelat dengan taburan gula halus di atasnya dan es krim cokelat. Saat kue dipotong, lelehan cokelat panas mengalir seperti lava yang mencair.

Saat dicicipi, rasa cokelatnya benar-benar menggoda. Es krim yang menggunakan cokelat asal Belgia pun tak kalah menggiurkan. Hidangan seharga Rp 55 ribu ini memberi sensasi panas-dingin dalam waktu bersamaan. Sebagai saran, sebaiknya Chocolate Lava Cake langsung disantap ketika dihidangkan.

Sensasi langit Jakarta sambil menikmati Steak di Cloud

Setelah dibuat terkesan oleh hidangan pertama, saya lantas mencicipi Beef Tataky with Vegetables and Achimichurri Sauce. Sajian dengan nama yang cukup rumit ini terbagi atas berbagai jenis sayuran, seperti asparagus, tomat ceri, jamur, kentang kecil, dan diapit potongan daging sapi sirloin yang sudah teriris. Tumpukan potongan kentang goreng tersaji di sudut piring. Mereka tertata rapi.

Pada gigitan pertama, daging sapi dengan tingkat kematangan yang tepat terasa amat empuk dan kaya rempah. Tak ada rasa yang mengecewakan memang untuk hidangan seharga Rp 260 ribu ini. Achimichurri Sauce asal Argentina itu benar-benar melengkapi kesempurnaan Tataky with Vegetables and Achimichurri Sauce.

Kegiatan makan tersebut memang belum lengkap tanpa hadirnya minuman. Saatnya untuk menuntaskan hari yang penat bersama racikan signature para bartender Cloud. Saya berkesempatan untuk menyeruput jejeran cocktail andalan mereka di antaranya Purple Widow dan Tiramisu. Purple Widow berupa perpaduan antara vodka, blueberry syrup, cranberry juice, dengan pecahan es batu. Daun basil di bibir gelas menjadi penghias pelengkap minuman seharga Rp 150 ribu ini. Minuman dingin ini memang menyegarkan. Perpaduan rasa ketiganya bercampur harmonis.

Minuman yanghadir belakangan, Tiramisu, terlihat mempesona. Penyajian minuman seharga Rp 130 ribu ini unik. Potongan es batu tidak dicampur ke dalam minuman, tapi diletakkan terpisah dalam gelas yang berada di bawahnya. Bubuk cokelat dan krim mengambang di atas campuran rum, Irish liquer, coffee liquer, dan noisette syrup.

Tak terasa, malam terus merangkak naik. Alunan musik genre house music masih tetap mengalun. Momen melepas penat sembari ditemani pemandangan malam yang indah dari ketinggian terasa sempurna sudah. Cloud sukses memberi pengalaman lengkap dalam rupa lounge dengan sensasi tersendiri.

Cloud Lounge & Dining Room

The Plaza Office Tower Lantai 49

Jalan M.H Thamrin Kav 28-30, Jakarta Pusat

Andry T./Frann/Doc. TL

Rujak Cingur, 1 Sedap Pedas Dari Surabaya

Rujak cingur berbeda dengan bayangan rujak yang umum dikenal masyarakat. Kuliner tradisional dari Surabaya ini memiliki ciri khas yang membuatnya spesial dari rujak kebanyakan.

Rujak Cingur

Secara umum, rujak merupakan kudapan populer yang agak mirip salad. Biasanya ia terdiri dari beberapa jenis buah dan sayuran seperti mangga, nanas, bengkuang, taoge, timun dan lainnya yang disajikan dengan bumbu campuran kacang tanah, gula merah dan cabe. Sebuah kombinasi rasa manis, segar sekaligus sensasi pedas yang telah menempel di lidah banyak orang Indonesia dari generasi ke generasi.

Pada hakikatnya, rujak cingur tak terlalu jauh berbeda dari rujak kebanyakan, utamanya rujak ulek. Tetapi, rujak ini memiliki beberapa keunikan, utamanya tambahan potongan moncong sapi yang direbus. Kata ‘cingur’ sendiri dalam bahasa Jawa berarti mulut. Hidangan tersebut juga dilengkapi dengan lontong, kacang panjang, kangkung, tahu, tempe, dan bumbu rujak yang diolah menggunakan petis.

Rujak cingur konon aslinya berasal dari Madura yang dibawa sujumlah orang ke Surabaya.
Warna hitam yang mendominasi berasal dari petis. Foto: shutterstock

Asal-usul terciptanya resep masakan ini belum diketahui pasti. Namun ada cerita yang mengatakan bahwa pada 1930-an beberapa orang Madura yang mengadu nasib ke Surabaya membawa resep tersebut untuk dijajakan di kota Pahlawan tersebut.

Karena Surabaya saat itu sudah mulai ramai sebagai kota pusat perdagangan yang disinggahi dan ditinggali banyak orang, makanan ini pun mampu meraih pelanggan dan ketenaran. Sampai akhirnya makanan ini justru menjadi lebih lekat sebagai makanan khas Surabaya.

Pada perkembangannya, rujak ini juga dibedakan atas beberapa versi. Yang pertama adalah versi campur yang isiannya lengkap seperti biasa. Versi lainnya adalah ‘matengan’ yang tidak memakai buah-buahan.

Di Surabaya, pelancong bisa menemukan beberapa kedai-kedai penjual kuliner ini yang terbilang populer, baik di kalangan warga lokal dan wisatawan. Beberapa bahkan sudah bisa dikatakan legendaris lantaran sudah berjualan sejak puluhan tahun lalu.

Rujak cingur ada yang versi matengan yang artinya tidak memakai buah-buahan,
Menu lengkap menggunakan buah-buahan. Foto: dok. shutterstock

Salah satunya adalah Rujak Cingur Achmad Jais, yang terletak di jalan Achmad Jais. Kedai satu ini boleh jadi salah satu yang paling populer. Kendati harganya cukup mahal dibanding kedai lain, nyatanya animo pengunjung tak pernah surut.

Kedai ini sudah berdiri sejak 1970. Sang pendiri, Lim Sian Neo, adalah ibu rumah tangga yang kerap membantu pedagang cingur keliling yang tunanetra dengan membeli dagangannya. Dari situ, ia terinspirasi untuk mengolah cingur tersebut menjadi rujak cingur dan menjualnya.

Ia kemudian membuka kedai di rumahnya, menjajakan rujak cingur dengan dibantu oleh anaknya, Ng Giok Cu. Hingga kini, kedai tersebut masih bertahan dan usaha dijalankan oleh sang cucu, Sioe Sin.

Seperti disebutkan di atas, harganya tergolong premium, berkisar antara Rp 60 ribu hingga Rp 80 ribu. Tetapi anda juga mendapatkan porsi yang besar, begitu pula dengan bumbunya yang unik karena tidak dibuat dengan kacang tanah, melainkan kacang mede. Petisnya pun berkualitas tinggi, sehingga bertekstur halus di lidah.

Rujak cingur buatan kedai yang buka dari jam 11.00 hingga 17.00 itu juga disebut lebih awet dan tahan lama, diklaim dapat tahan setidaknya enam jam dalam suhu ruangan. Dengan segala keunikan dan kelebihan tersebut, tak heran banyak yang meminati Rujak Cingur Ahmad Jais, termasuk mantan presiden (alm.) KH Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri.

Kedai rujak cingur lainnya yang tak kalah legendaris adalah Rujak Cingur Genteng Durasim. Berlokasi di jalan Genteng Durasim, ia berada cukup dekat dengan pusat oleh-oleh pasar Genteng.

Yang menarik, kedai ini bahkan sudah ada sejak 1936. Adalah Maryam dan ibunya yang akrab dipanggil mbah Woro yang mendirikan usaha kedai ini. Banyak yang menyebut kedai ini adalah kedai rujak cingur tertua di Surabaya.

Salah satu saksi sejarah yang terdapat di kedai ini adalah cobek yang digunakan untuk meramu bumbunya. Dulu, cobek ini dibuat oleh seorang teman Maryam dari Magelang pada 1942.

Cobek lalu diantarkan jauh-jauh menggunakan sepeda. Nilai sejarah itulah alasan cobek tersebut terus dipertahankan. wisatawan bahkan bisa melihat langsung cobek tersebut yang sudah kelihatan mencekung karena usia pakai.

Pada perjalanannya, bisnis sempat melesu pada 1980-an karena jumlah pengunjung mulai menurun. Selepas meninggalnya Maryam, bisnis dilanjutkan oleh Hendri Soedikto, sang anak.

Untuk menaikkan kembali animo pengunjung, ia berinovasi dengan memperkenalkan menu sop buntut racikannya sendiri. Selain itu, ia berusaha meningkatkan kualitas rujak cingur buatannya dengan menggunakan petis yang lebih bagus.

Usahanya membuahkan hasil dan kini Rujak Cingur Genteng Durasim masih terus eksis. Tersedia menu biasa yang dihargai Rp 25 ribu, tapi kalau ingin merasakan menu dengan petis ekstra maka harus memesan yang spesial yang harganya Rp 45 ribu. Adapun sop buntut seharga Rp 40 ribu.

Harga yang tidak terlalu mahal, tapi mungkin tidak juga dibilang murah. Tetap saja, nyatanya kedai yang buka dari jam 11.00 hingga 17.30 tersebut masih terus ramai pengunjung. Bahkan salah satu pelanggannya adalah Wakil Presiden ke enam Indonesia, Try Sutrisno.

Selain kedai-kedai tersebut masih ada banyak pilihan lainnya yang menarik untuk anda coba, seperti misalnya Kedai Delta yang viral karena menyajikan rujak cingur dengan tambahan mi kuning.

Ada juga Kedai Joko Dolog yang kondang dengan porsi ekstra besarnya dengan harga hanya Rp 25 ribu. Atau Kedai Sedati Bu Nur Aini yang tak kalah unik dengan racikan bumbunya yang menggunakan pilihan tujuh jenis petis yang berbeda.

Cari rujak cingur porsi besar seukuran tampah untuk acara khusus? Bisa merujuk ke Rujak Cingur Cak No TVRI. Atau cari kedai yang bisa order buah dan sayurannya mentah, direbus atau keduanya? Rujak Cingur BBM pilihannya. Apapun itu, rujak cingur sudah jadi kuliner khas Surabaya yang pantang untuk dilewatkan.

Kedai-kedai Rujak Cingur Surabaya

Achmad Jais; Jl. Achmad Jais Nomor 40, Genteng, Surabaya

Genteng Durasim; Jl. Genteng Durasim Nomor 29, Genteng, Surabaya

Delta; Jl. Kayon Nomor 46D, Genteng, Surabaya

Sedati Bu Nur Aini; Jl. Raya Sedati Gede Nomor 66, Sedati, Sidoarjo

Cak No TVRI; Jl. Raya Dukuh Kupang Nomor 214, Dukuh Pakis, Surabaya

Rujak Cingur BBM; Jl. Tenggilis Timur VII Nomor 1, Mejoyo, Surabaya

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Suguhan Fusion 3 Bangsa di Ebisu Restaurant

Ebisu Mercure Surabaya RK

Suguhan fusion 3 bangsa di Ebisu Restaurant Grand Mecure Mirama Surabaya menyuguhkan hidangan Jepang dengan bumbu Korea dan Cina plus interior hangat khas Negeri Sakura. Ini merupakan alternatif kuliner saat ingin menikmati hidangan internasional selagi berada di Surabaya, Jawa Timur. Berada di dalam hotel berbintang, namun bisa dinikmati tanpa harus menginap.

Suguhan Fusion 3 Bangsa

Senja baru tenggelam. Di luar, Jalan Raya Darmo, Tegalsari, Surabaya, masih dipadati kendaraan. Menepi sejenak ke Mercure Grand Miramar—hotel bintang empat yang memiliki empat restoran—bisa menjadi pilihan untuk mengusir keroncongan perut. Apalagi ada gerai yang tergolong baru dengan sajian olahan dari Negeri Sakura. Doyan akan kehangatan udon, atau ngemil sushi, yang sekali suap ke mulut rasanya tak perlu dipikir panjang.

Berada di bagian perluasan hotel, saya langsung menangkap kehangatan khas Jepang. Tetamu akan dengan mudah mengenali resto ini karena di bagian depan dipasang mon atau gapura khas Jepang yang kerap ditemukan di sejumlah kuil. Dua tiang bulat yang menjadi penyangga dipulas dengan warna merah menyala sehingga begitu kentara. Di tengah gapura ada tulisan Ebisu yang dibikin kaligrafi mirip huruf Kanji.

Sebelum gerbang, ada pula meja bagi staf resto. Uniknya, meja dilapisi kertas dekorasi berupa koran Jepang, demikian juga dinding di dekatnya. Sementara di dinding tengah resto terpampang gambar lebar Dewa Ikan. Ternyata, Ebisu memang nama Dewa Ikan. Tak mengherankan bila di menu bertebaran nama-nama penghuni laut, meski tetap ada olahan dari daging sapi dan ayam.

Warna merah lain muncul di bagian atas dengan hiasan lampu-lampu model lampion. Selebihnya, kehangatan muncul karena penggunaan kayu-kayu dengan warna alami. Tempat duduk dibagi dalam tiga baris. Di bagian pinggir, diisi sofa warna hijau dipadu dengan kursi tunggal di depannya, sementara di bagian tengah tertata meja dan kursi panjang berbahan kayu.

Suguhan fusion 3 bangsa di Ebisu Mercure Surabaya

Belum menikmati kelezatan suguhannya, saya sudah merasakan sambutan hangat dari interiornya. Langkah saya kali ini menuju bagian ujung ruangan. Menuju meja tempat para juru masak beraksi. Ada seorang koki yang menunjukkan kepiawaian membuat sushiCalifornia maki. Aksi menggulung pun terjadi dan hasilnya terlihat begitu menggoda. Di bagian dalam antara lain ada alpukat dan kepiting, sedangkan di bagian luar bertaburan tobiko—telur ikan terbang—yang membuat tampilan sushi seharga Rp 68 ribu itu terlihat kinclong. Selain menyajikan California maki, masih ada pilihan gulungan sushi lain. Semisal ebi tempura maki yang berisi udang goreng tempura, shake maki dengan irisan ikan salem segar, dan lain-lain.

Ingin menambah kehangatan dengan menyantap hidangan berkuah panas? Pilihan bisa berupa udon atau ramen. Ada beragam udon, di antaranya seafood udon senilai Rp 158 ribu. Mi khas Jepang itu dipadu dengan beragam ikan laut, yakni udang, salem, kakap, dan kepiting. Jika ingin yang berasa daging sapi, ada niku udon dan niku sobai. Untuk ramen, pilihannya berupa shoyu ramen. Saat saya datang, ada suguhan spesial di bulan tersebut berupa cheese ramen yang gurih karena rasa keju yang kental. Dipatok seharga Rp 78 ribu, memang suguhan satu itu berbeda dari yang lain.

Masih ada menu khas Jepang lain, seperti yakiniku, tepanyaki set menu, teishoku set, dan yakimono atau hidangan panggang. Ada pula curry rice, bento, dan sejumlah hidangan kuah panas—nabemono. Namun jangan kaget bila dalam daftar menu ada yang beraroma Korea, seperti beef kimchi itame yang tak lain merupakan beef kimchie set. Ebisu Restaurant memang memilih menyuguhkan olahan fusion. Hidangan Jepang pun dipadu dengan bumbu dari Korea dan Cina.

Dewa Ikan Ebisu tanpanya memang tak mau tanggung-tanggung, segala suguhan bisa disajikan di ruang makan yang lokasinya tak jauh dari lobi hotel ini. Dari yang digoreng, kuah panas, dipanggang, sampai yang dingin. Di tengah kehangatan, sushi, ramen, dan tempura pun membuat perut penuh terisi. Jalan sedikit mulai lenggang, saatnya untuk beranjak. Peraduan sudah menunggu, terbayang tidur lelap dengan perut terisi penuh.

Ebisu Japanese Restaurant, Mercure Grand Miramar Surabaya

Rita N./R. Kesuma/Dok. TL

Resto J Sparrows, 1 untuk Penghuni Samudra

Resto J. Sparrows untuk hidangan seafood

Resto J Sparrows memunculkan aneka menu berbahan ikan laut. Mulai dari makanan pembuka hingga utama hingga main course.

Resto J Sparrows

Biasanya matahari berada tepat di atas kepala kala jarum panjang-pendek yang terpampang di jam tangan bertubrukan. Namun kali ini tidak. Langit bulan kesepuluh di Ibu Kota ibarat padang guram yang hanya menyimpan mega serta halimun. Sekali ditegur angin, titik-titik air tumpah membasahi tanah.

Di luar gedung-gedung gergasi kawasan Mega Kuningan, orang-orang kantoran bergegas mencari tempat berteduh. Padahal baru beberapa langkah menjamah jalanan. Cuaca demikian membuat pekerja gamang bepergian, apalagi sekadar untuk makan siang. Saya pun begitu. Malas basah-basahan, restoran terdekat dari tempat berjejak lantas menjadi incaran—kala itu saya sedang berada di gedung Noble House.

Kebetulan ada restoran anyar yang belum genap sebulan buka. Dari dekat, nama restoran terpampang jelas: J Sparrow’s. Sekilas mirip-mirip dengan nama tokoh bajak laut dalam film trilogi Pirates of the Caribbean. Namun, alih-alih menemukan properti para perompak kapal, yang saya temukan deretan botol wine tertata apik.

Ruangan berkapasitas lebih dari 100 orang itu tak jua terlihat seperti kapal yang dijarah. Malahan terpandang rapi, klasik, nyaman, dan asri. Kursi-kursi kayu ditata acak di tengah ruangan. Di bagian pinggir, terdapat bar membujur lurus ke counter rum—minuman beralkohol hasil fermentasi dan distilasi molase. Sedangkan di bagian pojok, sejumlah sofa abu-abu disusun berhadapan. Warna cokelat akrab menyapa sejauh mata memandang.

Saya kemudian memilih duduk di sofa agar bisa menikmati pemandangan luar. Namun tak jarang kepala menuruti hasrat untuk tur visual: menengok ke belakang, kanan-kiri, dan atas-bawah. Bila dicermati, bagian atapnya mirip bentuk langit-langit Kapel Sistina karya Michelangelo. Bedanya, tak terdapat lukisan di sini.

“Desainer interiornya Martha dan Andrew, yang juga mendesain Bluegrass Bar and Grill di Bakrie Tower Rasuna Said. Kebetulan Bluegrass dan J Sparrow’s satu manajemen,” tutur staf public relations untuk manajemen tersebut, yang kebetulan mendampingi kala itu. J Sparrow’s memang dibangun dengan konsep Eropa klasik.

Tak lama duduk di salah satu sudut restoran, bau olahan dari penghuni laut menggoda penciuman. Wanginya khas dan memantik hasrat untuk segera memesan makanan. Staf resto begitu tanggap, dan buku menu pun lantas dengan cepat mendarat di hadapan. Ternyata sajian andalan di restoran ini memang berbahan ikan laut. Ada yang berbahan dasar kepiting, cumi-cumi, udang, hingga lobster.
 

Untuk pembuka pilihan saya jatuhkan pada Tuna Tartare. Hadir dalam cetakan bulat. Dari luar tampak seperti puzzle daging tuna berwarna pink segar bercampur mangga kecil-kecil. Di lidah, rasanya amat segar. Perpaduan asam dan manis mendominasi. Bikin selera makan langsung melonjak.

Selanjutnya, giliran Frutti di Mare yang ada di depan mata. Sepintas seperti carbonara, hanya rasanya lebih datar. Pasta yang digunakan dibuat sendiri—disebut pasta signature—rasanya lebih empuk dan tidak terlalu kenyal. Tambah nikmat ketika disantap dengan daging udang yang segar.

Sajian selanjutnya yang mendarat di meja saya adalah Killpatrick. Bahan utamanya kerang dengan cangkang berkapur. Kerang itu dimasak menggunakan saus worcestershire dibubuhi daun peterseli. Yang satu ini, ada yang ditambah bacon atau daging babi asap, ada juga tanpa potongan daging yang satu itu.

Hidangan andalan cukup berlimpah. Satu lagi adalah New York Shower, yang wujudnya seperti menara tiga tingkat. Ada udang segar di atas tumpukan bongkahan-bongkahan es bercampur potongan lemon. Yang satu ini, khusus bagi penyuka hidangan laut mentah.

Setelah itu, datang Cajun Mud Crab. Menelusup daging kepiting yang bersembunyi di balik cangkang jadi kenikmatan sendiri. Asyiknya disantap beramai-ramai jadi seru. Kepiting berukuran jumbo itu dilengkapi dengan sosis ayam dan sapi. Satu lagi yang tak kalah menggoda adalah The Lobster. Daging lobster dibiarkan merekah di balik cangkang yang dibiarkan terbuka. Warnanya keemasan, sedangkan cangkangnya berona merah matang. Harumnya merayu minta segera disantap. Saya mengiris daging itu dengan pisau. Ternyata, daging di bagian dalam berwarna putih bersih. Bumbu yang pas tidak merusak rasa aslinya. Juga teksturnya.

Beragam menu yang mengenyangkan ini enaknya ditutup dengan yang manis. Royal Bermuda Yacht Club jadi pilihan yang tepat, konsepnya seperti kapal karam. Bongkahan cokelat lokal yang manis berbentuk kapal akan cair kala disiram white spicy chocolate sauce. Rasanya nano-nano, manis dan mint bercampur jadi satu. Petualangan kuliner saya kali ini pun diakhiri dengan sajian cocktail yang segar. Rum yang menjadi andalan mengalir dalam kerongkongan, menghangatkan badan dan menyelimuti dari udara yang dingin siang itu. l

J Sparrow’s

Noble House Building, Lantai Dasar

Jalan Mega Kuningan Barat, Kuningan, Jakarta

F. Rosana/Dhemas RA/Dok TL

Bakmi Jawa Pak Rebo, 1 Yang Otentik

Bakmi Jawa Pak Rebo adalah salah saru kuliner bakmi otentik khas Yogyakarta.

Bakmi Jawa Pak Rebo layak jadi pilihan pecinta kuliner yang sedang mencari santapan khas Yogyakarta. Cita rasa dan otentisitasnya tak perlu diragukan lagi, lantaran sudah teruji dan disukai warga kota pelajar tersebut sejak masa pra kemerdekaan.

Bakmi Jawa Pak Rebo

Kalau berbicara soal kuliner khas Yogyakarta, maka sudah pasti salah satu yang disebut adalah gudeg atau bakmi Jawa. Kuliner yang terakhir ini umumnya muncul di kala sore menuju malam hari dan menyajikan masakan mie dan nasi dengan kearifan lokal dan selera khas lidah orang Jawa.

Jenis masakannya pun cukup beragam. Ada mie goreng, mie godog atau rebus, mie nyemek, nasi goreng, serta magelangan, alias masakan mie dan nasi yang dicampur dan digoreng bersamaan. Dalam masakannya terdapat pelengkap seperti ayam kampung, telur bebek, dan sebagainya.

Bakmi Jawa Pak Rebo adlah pilihan ketika akan menikmati bakmi Jawa yang otentik.
Warung Bakmi Pak Rebo di Yogyakarta. Foto: istimewa

Cara memasaknya pun kebanyakan masih menggunakan anglo tua dan arang, ketimbang kompor modern. Alasannya, suhu yang digunakan untuk memasak lebih pas, serta memberikan aroma khas tersendiri setelah masakan jadi dan dihidangkan.

Yang unik, karena metode memasak itu pula, kerap kali setiap pesanan dimasak satu per satu karena wajan yang digunakan pun tidak besar. Maka terkadang menunggu pesanan tiba bisa sedikit lama, tetapi di sisi lain pengunjung bisa memesan detail pesanan secara personal.

Hal itu tak pernah menyurutkan animo warga Yogyakarta pada kuliner yang disinyalir sudah ada sejak masa pra kemerdekaan ini. Bahkan, tak jarang wisatawan yang mampir ke kota gudeg ini hanya untuk sekedar mencicipi dan menyantap sepiring hangat bakmi Jawa.

Tak sulit pula untuk mencari pedagang bakmi Jawa di kota ini, dengan segala resep dan keunikannya masing-masing. Beberapa di antaranya bahkan sudah berjualan sejak sekian dekade lamanya, seperti halnya bakmi Jawa pak Rebo.

Diceritakan bahwa pak Rebo sudah berjualan bakmi Jawa sejak tahun 1940-an. Ia menjajakan dagangannya sambil memikul alat masaknya dan berkeliling kota, khususnya di sekitar jalan Brigjen Katamso, tempat warung bakmi Jawa pak Rebo sekarang berada.

Warung itu sendiri berdiri pada tahun 1960-an. Hingga kini, wujudnya tak banyak berubah. Dari luar terlihat kecil, bahkan hingga tertutupi oleh gerobak masaknya, sehingga mudah untuk terlewatkan kalau tidak hapal atau tidak melihat spanduknya.

Di spanduknya, tertuliskan “Bakmi Jawa Pak Rebo Kintelan”, karena di belakang warung tersebut merupakan sebuah kampung yang bernama Kintelan. Penanda lainnya yang memudahkan, adalah warung ini berdekatan dengan area wisata Purawisata/Mandira Baruga.

bakmi Jawa Sedang dimasak saru per satu.

Tak hanya itu, sejak dulu hingga kini mereka hanya melayani pengunjung dengan dua anglo untuk memasak, itu pun setiap pesanannya dimasak satu per satu. Sehingga jangan heran kalau sejak warung buka pukul 16.00, sudah banyak pengunjung yang mengantri menunggu pesanan.

Kendati begitu, tetap saja pengunjung silih berganti ramai berdatangan, bahkan kadang-kadang dagangan sudah terjual ludes sebelum jam tutup. Salah satu menu andalan mereka yang paling banyak dicari adalah mie nyemek.

Sejatinya, mie nyemek merupakan varian masakan bakmi Jawa yang berwujud seperti perpaduan antara mie goreng dan mie rebus. Nyemek sendiri dalam istilah bahasa Jawa kurang lebih berarti ‘agak basah’, atau tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering.

Mie nyemek dimasak sedemikian rupa sehingga hanya menyisakan sedikit kuah kental di bawahnya, sehingga mie di atasnya cenderung lebih kering. Sebuah kompromi bagi mereka yang ingin mie goreng dengan sedikit kuah, atau yang ingin mie rebus dengan kuah dikurangi.

Satu hal yang cukup unik di bakmi Jawa pak Rebo adalah beragam opsi yang bisa dipilih mengenai bagaimana mie dimasak. Opsi pertama yang bisa dipilih adalah untuk menggunakan atau tidak menggunakan kecap.

Umumnya, bakmi Jawa dimasak menggunakan kecap untuk memadukan rasa manis dengan rasa gurih racikan bumbunya. Tetapi, di warung ini ada opsi mie yang dimasak tanpa kecap dan hanya mengandalkan rasa gurih dari kaldu dan telur bebeknya.

Ini sedikit berbeda dari kebanyakan bakmi Jawa yang lebih umum dengan lidah warga Yogyakarta yang menyenangi penganan bercita rasa manis. Tetapi, keunikan ini justru membuatnya punya banyak pelanggan tersendiri.

Bakmi Jawa Goreng shutterstock
Bakmi Jawa Goreng. Foto: shutterstock

Cita rasa gurih tersebut berpadu apik dengan pelengkap seperti suwiran ayam kampung, sayur sawi dan bawang goreng. Pengunjung juga dapat menambahkan ekstra bawang goreng dan acar untuk menambah sedap rasa.

Opsi lainnya yang bisa diambil adalah memesan mie goreng, rebus atau nyemek spesial. Di pilihan ini, pengunjung dapat memilih tambahan suwiran ayam yang akan ditambahkan ke dalam masakan, seperti paha, dada, sayap, kepala, ati, ampela, brutu dan uritan.

Sepiring porsi bakmi Jawa pak Rebo dihargai Rp 22 ribu, sedangkan untuk yang spesial dengan tambahan potongan ayam dibandrol Rp 29 ribu. Sebagai catatan, pengunjung juga bisa memilih ingin menggunakan mie atau bihun dengan harga yang sama.

Beberapa pilihan minuman di sini juga cukup menarik. Selain teh, jeruk, tape dan secang panas atau dingin seharga Rp 4 ribu hingga Rp 6 ribu, tersedia beragam wedang hangat seperti wedang sere, wedang jahe, dan wedang uwuh dengan kisaran harga Rp 6 ribu sampai 8 ribu.

Bakmi Jawa pak Rebo buka setiap hari dari jam 16.00 hingga jam 22.00. Namun seperti disebutkan di atas, karena warung hampir selalu ramai oleh pengunjung, maka untuk menghindari kehabisan sebaiknya datang lebih awal dari jam makan malam.

Bakmi Jawa Pak Rebo

Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta

agedandaIndonesia/audha alief praditra

*****

Resto Da Maria, 1 Sentuhan Naples di Seminyak

Resto Da Maria andi prasetyo

Resto Da Maria menawarkan sejumlah menu Italia. Kesan Osteria menonjol pada ruangan dan menu diolah dengan cara tradisional Italia.

Resto Da Maria

Pesan pendek Joseph Oliver mendarat di ponsel ketika mobil kami terjebak di antrean kemacetan Jalan Raya Seminyak, Bali. “Sudah sampai mana?” tuturnya dalam pesan itu. “Tak usah dibalas dulu, kita sebentar lagi sampai. Lokasi restorannya cuma di muka jalan ini,” ujar Priyo, pria Jawa tulen yang kini berdomisili di Bali, kala mengantar kami menuju Da Maria.

Sekitar 15 menit seusai pesan Joseph terbaca, mobil berpelat DK itu memasuki halaman kecil sebuah gedung bergaya minimalis. Tembok pagarnya dipenuhi tumbuhan merambat. Di ujung kanan dan kiri gedung, terdapat ayunan besi, mirip yang umumnya ditemukan di resor mewah.

Sejurus kemudian, pramusaji membawa kami ke bagian dalam restoran yang sangat luas, bisa menampung lebih dari 200 orang. Kesan Osteria langsung menyapa pandangan. Reinterpretasi kontemporer keramahan Italia klasik menjadi kekuatan yang ditonjolkan. Interior bergaya Eropa modern, mulai besi autentik di kursi, meja yang memberi sentuhan klasik-elegan, hingga penataan sendok-garpu-piring-pisau yang mengesankan konsep formal dinning, dikonsep begitu rapi dalam komposisi dan tatanan yang pas.

Ruangan ini dibagi menjadi dua bagian, yakni dalam dan luar. Di bagian dalam, restoran menyajikan kesan cukup formal—tempat orang-orang bersantap dengan momen yang cukup serius. Sedangkan di luar, orang bisa mengobrol lebih santai. Kursi dan mejanya dibuat berbentuk seperti ayunan.

Di tengah ruang—tempat yang membelah bar, sisi luar dan dalam, ditempatkan air mancur mini. Bila diingat, tatanannya mirip dengan konsep ruang dansa di kastil milik Pangeran Irakus dalam kartun Cinderella. Air mancur ini sederhana, namun klasik. Inspirasinya datang dari biara Santa Chiara di Naples. Tujuannya memberikan ketenangan kala orang tengah bersantap. Di samping air mancur bergaya Romawi itu, Joseph Olive duduk menunggu. Tangannya melambai.

“Naik mobil di Bali memang kurang asyik sekarang. Pasti kena macet di jalanan,” tutur public relations itu membuka perbincangan. Tak banyak basa-basi, pria oriental ini lantas menyodorkan buku menu. Tak hanya bangunan yang bergaya Italia, menu pun begitu. Maurice Terzini dan Adrian Reed, si pemilik Da Maria, juga pesohor di bidang kuliner internasional, terinspirasi gaya restoran Maurice Terzini yang berlokasi di Australia ketika membangun usaha kulinernya di Bali. Karena itu, menu utamanya adalah pizza.

Berlainan dengan pizza Amerika, yang punya daging tebal, pizza di sini dimasak lebih tipis. Cara memanggangnya masih tradisional, menggunakan oven kuno. Tak cuma itu, resepnya khusus memakai komplemen tradisional yang kerap digunakan masyarakat yang tinggal di jantung Laut Mediterania tersebut.

Selain itu, secara alami, pizza difermentasi selama 24 jam. Cara ini terinspirasi gaya memasak Neapolitan yang memanfaatkan oven lava lokal. Ada macam-macam pizza dengan taburan yang berbeda. Semisal, Antica Margherita, berisi fior di latte, basil, dan parmesan. Ada pula Marinara berisi black olive, white anchovy, oregano, juga garlic. Selanjutnya, Capricciosa berisi fior di latte, mushroom, artichoke, dan olive. Yang paling spesial, yakni Gamberetto berisi prawn, zucchini, fior di latte, juga chilli; Salami berisi salami, fior di latte, dan artichoke; serta Da Maria berisi goats cheese, roasted peppers, fior di latte, juga pinenuts. Pizza dibanderol antara Rp 90-150 ribu.

Ada pizza, tentu ada pula pasta. Kala itu, yang direkomendasikan Joseph adalah primi  ber-topping tonnarelli al nero, clams, spicy sausage, dan parsley. Pasta berbentuk spageti ini dimasak dengan gaya aglio olio. Kental dengan kekhasan Italia, spageti diolah dengan bumbu sederhana yang mengandalkan bawang putih dan minyak. Rasanya plain, ringan, juga pedas lantaran dibubuhi cabai kering. Cita rasa semacam ini cocok buat lidah orang Eropa. Primi dibanderol mulai Rp 100-160 ribu per porsi. Ukurannya tak terlalu besar. Hanya bisa disantap satu sampai dua orang. Berbeda dengan pizza yang bisa dikudap empat hingga enam orang.

Tak cukup dengan olahan gandum, pramusaji mendaratkan sepiring la panarda. Orang Indonesia menyebutnya sate. Daging yang digunakan adalah daging domba muda yang masih empuk, segar, dan merah. Orang-orang Italia menyajikan makanan ini umumnya saat menggelar upacara tradisional. Mereka menamainya dengan perayaan mengudap makanan terpanjang sedunia.

Domba itu dipanggang sampai masak, namun tetap tak menghilangkan tekstur dagingnya. Aroma amisnya hilang lantaran dibubuhi rosemary salt dan lemon segar. Sepiring la panarda berisi 10 tusuk daging. Cukup disantap dua hingga tiga orang.

Sembari memburu makanan bergaya Eropa, mata disegarkan dengan desain klasik arsitek Romawi—Lazarini Pickering—yang menyoroti keragaman makanan, anggur, musik, mode, dan seni yang padu. Gemerencing bunyi gelas sparkling wine dengan bowl tinggi dan ramping, bertubrukan dengan botol anggur, turut menjadi pelengkap yang membawa pengunjung serasa bersantap di daratan Eropa. Tawa renyah mayoritas tamu berkulit putih dan bermata biru membuat kami lupa kalau siang itu tengah berada di jantung Dewata, bukan di pesisir Amalfi, Italia. l

Da Maria

Jalan Petitenget Nomor 170, Kerobokan Kelod, Kuta Utara

Denpasar, Bali

Operasional

Buka pukul 12.00–02.00

F. Rosana/Andi P./Dok. TL