Abhayagiri Resto, 1 Senja di Timur Yogya

Abhayagiri Resto

Abhayagiri Resto, ini sebuah jamuan lengkap di senja hari di Yogyakarta. Menu istimewanya, lanskap segaris antara Abhayagiri, Candi Prambanan, dan Gunung Merapi.

Abhayagiri Resto, Menikmati Sunset

 Di pelataran restoran Abhayagiri, Yogyakarta, turis dari beragam latar belakang saling berjumpa. Mereka berganti-gantian memincing spot foto. Meja-meja makan yang berantakan ditinggalkan begitu saja tatkala burit mulai muncul. Maklum, di seberang utara, pemandangan Gunung Merapi disapu langit oranye dibelah atap-atap rumah warga menjadi primadona. Tak ketinggalan Candi Prambanan yang bertengger gagah tepat di muka “ancala”, menyempurnakan amatan.

Setengah bagian Yogyakarta, beserta ikon-ikonnya, sore itu sukses dibingkai dengan gangsar dari atas bukit. Ya, Abhayagiri memang bernaung di salah satu babakan tertinggi di “nagari kesultanan”, sebaris dengan Bukit Boko. Sesuai dengan namanya, abhaya berarti tidak ada bahaya atau aman, sedangkan giri artinya bukit atau gunung. Jadi Abhayagiri merupakan tempat di atas bukit yang tenang, jauh dari kerawanan.

Untuk menjangkaunya, perlu berkendara lebih-kurang 40 menit dari pusat kota melewati jalan menanjak dan berkelok, searah dengan tujuan Candi Boko dan Candi Ijo. Tak mengherankan, kalau banyak pengunjung, sengaja ingin menepi di tempat ini untuk sekadar menikmati kudapan, menjangkau ketenangan, lalu berswafoto dengan latar belakang panorama yang apik.

Di salah satu sudut yang menghadap ke barat daya, sebuah beranda petak beralas kayu dikelilingi lampu taman dengan penerangan temaram menjadi titik yang paling banyak diincar, khususnya untuk memotret. Sebab, di sana, tamu akan menghadapi jamuan pandang yang langka, yakni lanskap segaris antara Abhayagiri, Candi Prambanan, dan Gunung Merapi.

Dari titik itu pula, kawasan restoran yang lapang membentang dan terbagi atas beberapa paruhan tampak gamblang. Di sisi kanan, ada rumah joglo beralas rumput sintetis, juga kolam renang. Pengunjung, yang umumnya keluarga, mengobrol asyik sembari berseloroh di bawah bangunan persegi panjang dengan dominasi elemen kayu.

Di bagian rusuk atau tengah, segaris dengan beranda pandang, terhampar halaman dengan kursi serta meja yang ditata rapi mengitari sebuah batu besar. Batu itu tak pernah disingkirkan oleh pihak restoran, mulai proses pembangunan hingga Abhayagiri berdiri pada 2012—tentu sampai sekarang. Justru keberadaannya memperdalam kesan natural.

Di titik ini, pasangan-pasangan muda mengobrol intim. Suasana romantis terbangun dari pemandangan lampu-lampu kota yang mengitari, hawa dingin yang langsung menerpa kulit, serta tumbuhnya ilalang yang mendramatisasi keadaan.

Sementara itu, di bibir kiri, terhampar sebuah panggung alam, tempat pentasnya pergelaran seni Ramayana yang dihelat pada waktu-waktu tertentu. Panggung ini terbuat dari bebatuan. Letaknya menghadap tepat ke candi. Bangunan kuno tersebut sungguhan, bukan rekaan. Namanya serupa dengan lokasi bernaungnya restoran: Sumberwatu. Dalam papan keterangan tertulis, benda sejarah yang diperkirakan dibangun pada abad ke-9 oleh para penganut agama Buddha tersebut telah dikonservasi lembaga warisan budaya setempat pada 2013.

Keberadaannya membangkitkan sangkaan magis, sekaligus menguatkan kesan kejawen.

Petang tiba. Cokekan, musik tradisional asli Jawa Tengah—jenis kesenian yang kini nyaris punah—mengiramakan malam. Larasnya berpadu dengan bunyi tonggeret atau garengpung—atau nama ilmiahnya Cicada.Karena itu, griya tempat berkudap sekalian berkongko yang dibangun di atas lahan 3 hektare ini seketika jadi riuh. Bukan hanya karena musiknya yang membubung, melainkan juga makin sesaknya pengunjung.

“Biasanya tak seramai sekarang. Hari ini, semua bangku sudah ludes direservasi. Mungkin karena bertepatan dengan hari libur atau juga karena kami sedang menggelar promo menu buffet,” tutur Dewi, perempuan berparas njawani yang menjadi pramusaji itu.

Memang, di momen-momen tertentu, seperti akhir tahun, restoran yang dilengkapi fasilitas vila dan hotel ini memasang menu khusus. Kala Travelounge bertandang pun, Abhayagiri sedang menawarkan promosi all-you-can-eat seharga Rp 150 ribu per orang dengan waktu kunjungan maksimal 120 menit. Dengan demikian, kudapan bergaya lokal dan western yang kesohor, semisal Chicken Steak Teriyaki, Abhayagiri Duck Speciale, Pan Roasted Salmon, Apple Crumble, Nasi Campur, Archila Churros, dan Beef Black Pepper, tak tersaji.

Sementara itu, hidangan yang bebas dilahap tamu adalah menu-menu yang umumnya disajikan kala masyarakat Jawa Tengah punya hajat, semisal soto ayam, rawis (juga dikenal dengan sebutan karedok), bakmi Jawa, dan dori goreng tepung untuk menu utama. Tersedia pula hidangan cuci mulut, seperti brownies, mini pie,dan cake green tea kukus yang menyandang predikat jawara.

Umumnya, rasa masakan yang tersaji kurang menggelitik lidah. Semisal bakmi Jawa, kuah yang dihidangkan terlalu asin. Hidangan lain, seperti soto ayam, pun tak terlalu berkarakter. Namun hal itu tak diambil hati oleh para pengunjung karena umumnya mereka datang dengan tujuan utama menikmati pemandangan, bukan buat berselancar lidah. l

Abhayagiri Restaurant

Sumberwatu Heritage Resort, Sumberwatu RT 02 RW 01

Sambirejo, Prambanan,

Sleman, DI Yogyakarta

Operasional

Setiap hari pukul 11.00-22.00

Menu

Abhayagiri Chicken Steak

Beef Black Pepper

Bakmi Jawa

Soto Ayam

Harga

Antara Rp 35 ribu hingga Rp 200 ribu.

F. Rosana/Hindra/Dok-TL

Kopi Merapi, 1 Peninggalan Kolonial Belanda

Kopi Merapi di Cangkringan, Yogyakarta

Kopi Merapi adalah satu peninggalan kolonial Belanda. Mungkin di sekitar tahun 1930-an ia mulai ditanam, tapi baru belakangan setelah erupsi gunung Merapi pada 2010 tempat ini menjadi omongan dan belakangan jadi tujuan wisata.

Kopi Merapi, Peninggalan Kolonial

Kopi yang ditanam di lereng Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta ini bukan cuma mengharumkan nama kopi Nusantara, namun juga menjadi catatan bangkitnya perekonomian penduduk lokal dari erupsi besar-besaran yang terjadi 10 tahun lalu.

Kini saat liburan ke kawasan Kaliurang dan sekitarnya, ada satu warung kopi yang tak boleh dilewatkan. Kopi Merapi, begitu namanya, terletak di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman. Di warung ini pengunjung dapat menikmati seduhan biji kopi yang ditanam langsung di tanah vulkanik lereng Merapi, baik jenis arabika maupun robusta.

Sebelum erupsi, warga yang terhimpun dalam Koperasi Merapi memiliki lahan seluas 800 hektare. Namun, sewaktu fenomena alam itu terjadi, lahan tersebut tertutup abu hingga lahan yang tersisa tinggal 50 hektare. “Warga mulai menanam kembali kopi dan kini sudah sekitar 500 hektare lahan bisa dimanfaatkan kembali,” kata Ketua Koperasi Merapi Sumijo di Kaliurang, Yogyakarta.

Kopi Merapi pun mulai diproduksi dan dikirim ke luar daerah, seperti Jakarta, Bandung, Bogor, dan Tangerang. Saatmengunjungi koperasi tersebut dan menyaksikan berkarung-karung biji kopi siang sangrai ditumpuk di gudang. “Ini pesanan,” kata Juwanto, pegawai koperasi Kopi Merapi yang ditemui di tempat yang sama.

Pada zaman dulu, cerita Sumijo, kopi hasil perkebunan di sekitar Merapi dikenal dengan sebutan kopi meneer. Disebut demikian sebab awalnya tanaman kopi di lereng Merapi itu diperkenalkan pada masa kolonial Belanda. Orang-orang Belanda yang tinggal di Jawa Tengah dan sekitar Yogyakarta melihat lereng Merapi yang sejuk cocok untuk ditanami kopi.

Selain kopi meneer atau menir, kopi Merapi pernah pula disebut sebagai kopi Turgo. Ini merujuk pada lokasi perkebunannya di dekat wilayah Desa Turgo. Namun, tentu saja,  nama Turgo jarang orang yang tahu. Kecuali saat terjadi erupsi Merapi yang lalu. Akhirnya, mereka kemudian menyebut nama komoditas mereka sebagai kopi Merapi.

Begitupun, perjalanan kopi merapi sebagai komoditas tidaklah meroket. Bahkan nyaris jarang diketahui orang. Bahkan bagi masyarakat Yogyakarta, yang posisinya di kaki gunung Merapi, keberadaan kopi Merapi tak banyak dikenal.

Baru beberapa tahun belakangan ini, masyarakat mengenal adanya Kopi Merapi. Ini bisa dipahami, sebab meski sudah mulai diperkenalkan sebagai tanaman sejak zaman kolonial, warga sekitar lereng Merapi mulai menanam secara intensif pada sekitar 1984-an. Kopi yang ditanam berjenis Robusta. Sedangkan kopi Arabika mulai dikembangkan di sini sejak 1990-an awal.

Selain itu, kopi hasil panen kebun-kebun kopi di sekitar Merapi, yang kawasannya tak terlalu besar itu, oleh para petaninya lebih banyak dijual dalam bentuk mentah atau biji basah. Hal ini membuat penghasilan dari menanam kopi menjadi tak maksimal.

Baru pada 2004, menurut Sumijo, dirinya mencoba membuat rintisan Koperasi Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama Kebun Makmur. KUB didirikan untuk menyiasati agar harga kopi yang dijual para petani harganya stabil dan tak dimainkan para tengkulak.

Berbagai inovasi pernah mereka lakukan supaya harga kopinya bisa mengalami peningkatan ekonomi. Setelah sekian “percobaan’,  akhirnya koperasi membuat kopi kemasan atau siap saji. Mereka kemudian juga mencoba menjual biji kopi kering maupun kopi serbuk dalam bungkus kiloan dan sachet.

Selain membuat berbagai olahan produk kopi, Sumijo juga membuat sebuah warung Kopi Merapi di daerah Cangkringan. Pada 17 November 2012, Sumijo dan Sukirah istrinya, secara resmi membuka warung kopi Merapi di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Sumijo menjelaskan konsep yang diusung di warung Kopi Merapi miliknya adalah tradisional. Artinya cara pengolahan biji kopi semua dengan cara tradisional nenek moyang zaman dulu.

Kopi Merapi memiliki jenis arabika dan robusta. Keduanya ditanam di ketinggian 700-1.200 mdpl. Kopi ini hidup di kawasan Kaliadem, tepat di kaki gunung.

Menjelang Mei, petani setempat bersiap menyambut panen raya kopi. Biji-biji yang telah dipanen lalu akan diproses di Koperasi Merapi, yakni di Jalan Kaliuran KM 20, Sleman. Wisatawan yang datang pun dapat melihat proses lengkapnya. Mulai penjemuran kopi, sangrai, hingga penggilingan.

Pada saat-saat panen, pengunjung bisa menyaksikan kopi yang baru mulai dipanen itu diproses di koperasi. Lantas, berkesempatan pula untuk menjajal rasa asli kopi arabica. Kopi Merapi memiliki keistimewaan after taste atau rasa yang tertinggal dengan karakter fruitty alias buah-buahan yang kuat.  Sebab, kopi ini ditanam di dekat tanaman cokelat, mangga, kelapa, dan buah-buahan lainnya.

Bila diminum tanpa gula, seteguk kopi Merapi pun akan terasa lembut. “Bodinya ringan,” kata Sumijo.

Wisatawan bisa membawa pulang kopi Merapi sebagai buah tangan. Per 250 gram arabica, kopi Merapi dijual RP 50 ribu, sedangkan robusta Rp 30 ribu. Selain bisa menikmati kopi, pelancong yang datang ke koperasi dapat bermain-main di kebun kopi. Letaknya tepat di belakang gedung koperasi.

F. Rosana

Kopi Toko Djawa, Dari Jalan Braga Nomor 81

Kopi Toko Djawa Bandung cabang Jalan Teuku Umar.

Kopi Toko Djawa saat ini menjadi salah satu romantisme menikmati kota Bandung. Kopi dan masa lalu yang asyik.

Kopi Toko Djawa

Sebagai kedai kopi, sesungguhnya tempat ini bukanlah tempat yang sudah memiliki rekam jejak yang panjang. Praktis ia baru berdiri pada 2017. Namun tempat awal berdirinya menjadi pertanda yang unik bagi kota dan orang Bandung.

Nama tempat ngopi ini, Kopi Toko Djawa, bagi orang Bandung asli pasti sudah tahu kalau sebelumnya adalah Toko Buku Djawa. Toko buku ini berada di Jalan Braga Nomor 81 ini adalah toko buku legendaris yang sudah ada sejak 1955.

Kopi Toko Djawa berada di pusat kenangan orang tentang Bandung.

Perubahan zaman dan disrupsi teknologi menyebabkan toko buku terdesak dan mulai ditinggalkan pembeli buku yang beralih ke e-book. Melalui sejumlah pertimbangan, toko buku ini beralih menjadi kedai kopi. Mungkin pilihan bisnis yang tepat, bisa pula momentum waktunya pas, kedai kopi ini menjadi hit.

Orang Indonesia, juga orang Bandung, bagaimana pun menyimpan romantisme yang bagus. Dan bagi orang Bandung, Jalan Braga adalah pusat masa lalu yang penuh kenangan. Tempat orang selalu ingin kembali. Tempatnya, gedung-gedungnya.

Setiap tempat pasti memiliki kenangan tersendiri, entah itu karena peninggalan sejarah, atau pun karena ikatan emosional yang dimiliki para pengunjung atas tempat tersebut.

Maka berdirilah kedai Kopi Toko Djawa di sini. Ia tampak begitu asyik karena berada di gedung kolonial yang penuh pesona dengan gaya art deco-nya. Pemiliknya tak perlu melakukan renovasi habis-habisan karena gedungnya sendiri sudah indah.

Toko Kopi Djawa IG TKD

Hal itulah yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan seorang Alvin Januardi, sebagai pemilik Kopi Toko Djawa. Ia menggubah Toko Buku Djawa yang menyimpan banyak kenangan di masa kejayaannya dulu menjadi sebuah kedai kopi.

Usaha kopi, kedai maupun biji kopinya, memang menjamur dalam beberapa tahun terakhir di banyak kota di Indonesia. Namun, situasi itu tak menggoyahkan niat Alvin membangun kedainya sendiri.

Setelah mengurus berbagai urusan tetek bengek usaha, Alvin dan dua partnernya yang pernah tinggal di Australia membuka kedai ini pertama kali pada 2017. Mereka memutuskan untuk tetap mempertahankan nama “Djawa” untuk kedai kopi itu, pertimbangannya agar orang teringat kenangan mereka.

Apa yang ditawarkan oleh Kopi Toko Djawa dapat memberikan pengalaman berbeda dalam menikmati kopi dan berbagai hidangan lainnya.

Pada saat itu, kedai ini masih kecil. Tempat pertama di Jalan Braga itu paling bisa memuat 10-15 orang. Itu pun tak langsung hit. Baru setelah 1-2 bulan berjalan mulailah mereka mendapat respon yang lumayan.

Kopi Toko Djawa Bandung IG TKD

Dengan respon pasar yang membaik, dan ada ruang di bagian belakang ruang kedainya, tempat ngopi itu diperluas ke belakang. Waktu berjalan dan usaha pun semakin berkembang. Sampai saat ini Kopi Toko Djawa telah memiliki delapan gerai.

Di Bandung ada di Jalan Braga, Jalan Riau, Ciumbuleuit, Critical 11, Teuku Umar, dan di Buah Batu. Tak berhenti di Bandung, kedi kopi ini juga memperluas usahanya kei Jakarta dengan dua gerai. Di Menteng dan Pondok Indah.

Selain keunikan bangunan gerai pertama mereka, ada beberapa hal yang menjadi kekuatan Kopi Toko Djawa ini.

Selain berbagai menu yang ditawarkan, mereka berusha menonjolkan nilai-nilai kebudayaan Indonesia untuk jadi daya tarik tersendiri, terlihat dari interior kedainya yang dibalut dengan kain-kain Sumba dan banyak berkolaborasi dengan perajin lokal untuk menciptakan lingkungan.

Selain itu, yang unik di sini adalah tidak adanya fasilitas wifi. Tak seperti kebanyakan warung kopi kekininan yang berlomba memberi fasilitas sambungan internet ke pelanggannya, kedai ini justru menghindarinya.

Jadi jangan berpikir bawa laptop dan bekerja di sini sambil menyeruput kopi.  Tempat ini di mana pengunjung datang untuk ngobrol bareng teman dan menikmati kopi.

Sama seperti toko-toko kopi lainnya, Kopi Toko Djawa pun memiliki berbagai menu signature. Betul, variasi menu di kedai ini tak jauh berbeda dari kedai kopi lainnya, namun sekali-kali datang dan cobalah Es Kopi Awan, ini bukan sekadar es kopi biasa. Ini kopi dengan gula aren dan foam susu yang tebal.

Atau coba jugalah es kopi dengan gula jawa. Ini adalah specialty lain mereka dan semua orang sepertinya sangat suka es kopi ini.

Hal lain yang bisa dilakukan pengunjung jika datang ke gerai di Braga, adalah mencari pernik-pernik kecil di lantai dua. Mulai dari kartu pos, tote bag, produk organik dan banyak lagi.

Ruang duduk di lantai dua juga bisa untuk ngopi, ini terbagi dua ruangan. Di ruang agak tertutup dan ruang agak terbuka karena terkena sinar matahari berkat jendelanya yang besar. Tapi semuanya enak buat ngopi.

Kopi Toko Djawa

Jalan Braga Nomor 81, Bandung

Jalan RE Martadinata (Riau) Nomor 205, Bandung

Jalan Ciumbeleuit Nomor 73, Bandung

Jalan Buah Batu Nomor 163, Bandung

agendaIndonesia

*****

3 Menu Minahasa Nan Pedas dan Berempah

Cakalang Fufu di Minahasa

3 menu Minahasa nan pedas dan berempah ini layak untuk diburu saat kita pergi ke Manado dan sekitarnya.

3 Menu Minahasa Aroma laut

Melancong ke Sulawesi Utara memang tak lengkap rasanya kalau tidak menjajal olahan hasil baharinya. Di tanah yang kondang dengan sebutan Celebes itu, beragam jenis ikan bisa ditemui. Sebut saja ikan cakalang, roa, dan nike. Bila diolah dengan bumbu-bumbu lokal yang khas—pedas dan berempah—nikmatnya bakal menggoyang lidah. Berikut 3 pilihannya.

Cakalang Fufu Ahmad Yani

Bila melintas di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Sario—kurang lebih 2,7 kilometer dari Zero Point—mata akan disegarkan dengan deretan penjual yang menjajakan cakalang fufu. Mereka membuka lapaknya di pinggir-pinggir jalan. Dagangannya dibiarkan terpajang di atas meja. Orang lewat akan tergoda melihat olahan ikan yang dibumbui garam dan bubuk soda, diasap, dan dijepit kerangka bambu itu. Tampilan yang cokelat keemasan dan aroma anyir laut yang merebak tak mampu ditampik.

Di sana, cakalang fufu ditawarkan dalam aneka ukuran, mulai 500 gram hingga 2 kilogram. Harganya pun dibanderol mulai Rp 50 ribu untuk ikan yang paling kecil hingga Rp 200 ribu untuk yang paling besar. Meski bisa dimakan langsung, menjadi makanan pendamping nasi, atau diolah lagi. Misalnya dimasak woku, dengan komplemen bumbu khas Minahasa. Enak juga dipotong kecil-kecil dan dimakan dengan nasi hangat. Tentu plus sambal roa atau dabu-dabu.

Cakalang fufu bisa dijadikan alternatif oleh-oleh untuk kerabat di luar kota. Sebab, teksturnya kering dan tidak berair. Bila disimpan di tempat sejuk, bisa tahan sampai satu pekan. Tak cuma bisa menemui cakalang fufu, di sepanjang Jalan Ahmad Yani, pelancong bisa berbelanja sambal roa dan terasi ikan, yang diproduksi langsung dari Buton.

Oleh-oleh Cakalang Fufu

Jalan Ahmad Yani, Sario, Manado, Sulawesi Utara

Buka pukul 09.00-21.00 Wita

Perkedel Nike Raja Oci

Olahan nike, ikan yang hanya hidup di Danau Tondano Tomohon—dan Sungai Bone Gorontalo—menjadi makanan yang dicari para pelancong tatkala mereka bertandang ke Manado. Salah satu restoran yang menyajikan masakan ikan mungil berwarna transparan ini adalah Raja Oci, yang beralamat di Jalan Sudirman. Orang beramai-ramai datang ke kedai makan yang telah buka sejak 1994 tersebut.

Fajar Anggun Putra, si pemilik restoran, berhasil mengenalkan perkedel nike yang membuat pengunjung ketagihan. Rasanya unik. Sedikit amis, tapi tidak membuat eneg. Teksturnya lebih keras daripada perkedel perkedel kentang atau perkedel daging. Namun rasanya jauh lebih gurih. Ada aroma ikan yang khas, yang tidak bisa ditemui di olahan perkedel pada umumnya. Bentuknya pun tak bundar, namun gepeng layaknya bakwan jagung.

Perkedel nike cocok dinikmati bersama pakis tumis pepaya, goropa atau kerapu woku, dan oci atau ikan gembung bakar. Tentu makin lezat bila dicocol sambal dabu-dabu yang pedas menggugah selera, plus nasi putih hangat. Harga seporsi perkedel, isi lima, Rp 30 ribu.

Raja Oci

Jalan Jendral Sudirman Nomor 85, Pinaesaan, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara

Buka pukul 11.00-22.00 Wita

Mujair Woku Si Neleyan

Masakan woku memang tak bisa dilepaskan dari budaya makan masyarakat Minahasa. Sajian berkuah kuning kental ini selalu berhasil menggoda penikmat kuliner untuk menjajalnya sewaktu berkunjung ke Sulawesi Utara. Salah satu yang patut dicoba adalah masakan woku di restoran milik Wali Kota Tomohon Jimmy Eman. Lokasinya di Tomohon, satu jam waktu perjalanan dari Zero Point Manado.

Bila biasanya bahan utama woku adalah ikan laut, di restoran berkapasitas 200 orang ini, woku disajikan menggunakan air tawar. Ikannya menggunakan mujair yang segar lantaran langsung dijaring dari kolam yang berlokasi di samping warung tersebut. Mujair diolah matang, namun tak terlalu masak. Tekstur ikannya tidak rusak. Bagian-bagian tubuhnya pun masih utuh, tak ada yang meluruh atau larut dengan bumbu. Ikan seberat 500 gram itu lantas disiram dengan kuah kuning. Warna kuning berasal dari kunyit.

Kala dihirup, aromanya kental dengan rempah-rempah. Yang paling menyengat adalah daun woka– daun lontar yang umum dipakai untuk membungkus nasi. Aroma lain, yang berasal dari daun jeruk, daun pandan, dan jahe, melengkapi dan menyeimbangkan, menghasilkan wewangian yang khas, lagi harmonis. Tak ada yang terlalu tajam dan membikin eneg.

Mujair woku ini dibanderol dengan harga Rp 60 ribu, bisa dinikmati bersama dua orang lainnya. Makannya disandingkan dengan kangkung bunga pepaya untuk menyamarkan bau amis dan perkedel jagung untuk memberikan sensasi kriuk. Tak lupa disantap dengan nasi putih hangat.

Si Neleyan

Jalan Raya Tomohon, Talete 1, Tomohon, Sulawesi Utara

Buka pukul 09.00-21.00 Wita

F. Rosana/A. Prasetyo

3 Suguhan Warisan Kuliner Bagansiapiapi

Soto Bagan di Bagansiapiapi

3 suguhan warisan kuliner Bagansiapiapi menjadi pelengkap saat mengunjungi kota di Provinsi Riau ini. Kota ini mungkin nyaris tak terdengar, hingga beberapa tahun lalu ketika tradisi Bakar tongkangmenjadi  sebuah tradisi yang makin dilirik sebagai atraksi pariwisata Indonesia.

3 Suguhan Warisan Kuliner Bagansiapiapi

Awalnya tradisi ini hanya menjadi atraksi masyarakat Bagansiapi-api, Provinsi Riau. Namun, beberepa tahun terakhir ia menjadi wisata bakar tongkang yang makin banyak diminati untuk disaksikan. Bahkan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia, juga wisatawan manca negara.

Kota ini tak ubahnya sebuah muara pertemuan budaya antara Tionghoa dan Melayu. Beragam peninggalan masa lampau bersisa. Kuliner adalah salah satunya. Jenis makanan, cara masak, dan kaidah menyajikan menjadi warisan yang turun-temurun dapat dinikmati penduduk asli, juga pelancong yang sengaja bertandang.

Sepiring Kenikmatan Kwetiau Melayu

“Saya Chinese dan suami saya Bugis. Warung ini dimiliki oleh keluarga dengan latar belakang kultur yang sangat berbeda.” Indrawati meracik kwetiau sambil berkisah. “Sedangkan kami tinggal di tanah Melayu. Makanya punya masakan dengan cita rasa campuran,” tuturnya, membuka obrolan. “Sreeng….” Bau wangi merebak. Muasalnya dari bumbu, kaldu udang, telur, dan potongan mi khas Tionghoa.

Di kota kecil Bagansiapiapi, yang dihuni mayoritas warga keturunan Fujian, Cina Selatan, memang gampang ditemukan warung kwetiau semacam ini. Maklum, masakan tersebutlah yang sejatinya paling mula diperkenalkan orang Hokkian dan Tio Ciu di kota itu. Meski banyak saingan, warung Indrawati dan suami, yang diberi nama warung Wira—Wira adalah nama anaknya—termasuk yang paling ramai lantaran punya cita rasa khas, lagi halal. Orang-orang menyebutnya warung kwetiau Melayu. “Yang makan pun kebanyakan orang Melayu,” katanya.

Sudah 14 tahun Indrawati rutin meladeni pesanan mi tebal berbahan tepung beras itu. Jadi, meski sambil mengobrol, konsentrasinya tak bakal buyar. Satu per satu bumbu dapur—bawang, merica, dan komplemen lain—tak terlewat masuk wajan. Masakannya yang terkenal nikmat dan kepiawaiannya menjamu tamu menjadi modal utama untuk mengundang pelanggan. “Rahasianya hanya bawang putih. Asal bisa memperkuat rasa bawang putihnya, tanpa berlebihan, masakan akan jadi enak. Plus harus ramah,” ucapnya sembari berseloroh.

Tentu, kenikmatannya memuncak dengan campuran udang khas Bagan yang punya cita rasa gurih. Tak perlu menambah daging sapi atau ayam buat membikin rasa menjadi kaya. “Ya, kekuatannya memang juga berasal dari udang Bagan, tak perlu lain-lain lagi,” tuturnya. Kalau sedang musim pasang mati, mereka akan menyimpan udang sebanyak-banyaknya supaya tak kehabisan stok.

Sepiring kwetiau racikan Indrawati dihargai Rp 13 ribu. Murah dan lezat. Plus, ditambah dengan kopi Bagan, keasyikan menikmati kota tua itu makin komplet. Tak heran kalau nama perempuan separuh baya berkulit putih dan bermata sipit ini belakangan kerap mejeng di halaman berita lokal.

Warung Kwetiau Wira

Buka pukul 06.00-12.00 (cabang Wira II buka sampai malam)

Alamat: Jalan Pahlawan, Bagansiapiapi, Riau

Sate kerang bagansiapiapi
Sate kerang Bagansiapiapi. Dok. A. Prasetyo-TL

Wangi Asap Pembakaran Kerang

Olahan kerang memang umum ditemui di pesisir, tak terkecuali Bagansiapiapi. Kerang bisa dimasak segala rupa. Namun salah satu yang paling kesohor dan populer di kalangan wisatawan yang mengunjungi Bagan, juga masyarakat sekitarnya, ialah olahan sate. Sebetulnya, secara spesifik, yang terkenal adalah sate kerang di warung sederhana milik Ismini. Perempuan keturunan Melayu itu namanya selalu disebut-sebut oleh pelancong kalau mereka menyambangi gerbang sisi barat Provinsi Riau ini.

Gerobak Ismini memang bukan gerobak yang masih berusia hijau muda. Sudah 17 tahun keberadaannya nangkring di Jalan Perdagangan, di sebuah ruko di persimpangan. Di sana, ia berbagi tempat bersama sejumlah penjaja makanan lain.

Warung Ismini mulai hidup sore hingga malam. Sejak pukul 16.00 hingga 23.00, asap dari pembakaran selalu mengepul. Aromanya merebak. Bebauan wangi laut bercampur arang menjadi ucapan selamat datang buat pengunjung. Kala rombongan kami berkunjung, Ismini sedang asyik menyiramkan kuah kacang ke piring berisi sepuluh tusuk sate kerang. Saya memesan satu porsi dan sejurus kemudian sudah mendarat di meja.

Tampilannya tak berlainan dengan sate ayam. Hanya, dagingnya lebih hitam sehingga terkesan gosong. Tatkala masuk mulut, kerang bercampur bumbu kacang itu seakan pecah. Krispy, namun tetap juicy. Bau amis sudah hilang, tersaru bumbu kacang yang digiling tak terlalu halus. Yang membikin enak adalah lontongnya. Lontong berpotongan dadu ini punya tekstur kenyal, mirip dengan gendar atau puli, tak umum seperti yang biasanya dibikin penjaja sate. Sepiring kenikmatan sate kerang bisa dibayar hanya dengan Rp 12 ribu.

Sate Kerang Ismini

Alamat: Jalan Perdagangan, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 16.00-23.00

Bihun Goreng dalam Semangkuk Soto Bagan

Dalam semangkuk soto, yang umum dijumpai adalah bihun rebus bersama daging ayam atau sapi, kol, dan tauge. Namun tak demikian dengan soto yang ditemui di Bagansiapapi. Kasman, pegiat budaya asal Pekanbaru, yang mengatarkan kami berkeliling di kota kecil itu, mengharuskan saya mencicipi soto autentik yang berlokasi di Jalan Perdagangan.

Sekilas, kala masuk ke warung sederhana bergaya ruko kuno ini, atmosfernya sama seperti kedai-kedai lain. Saat menengok gerobak di tempat itu, racikan dan bumbu-bumbu yang terpampang pun selayaknya gerobak soto di berbagai tempat. Namun, saat Subardi—ipar si empunya warung—meraup bihun, saya cukup tercengang. “Nah, di sini khasnya memang soto dengan isi bihun goreng,” kata Kasman. Bihun itu ditaburkan ke mangkuk hingga penuh, bahkan menutupi komplemen lain. Setelahnya, kuah santan kental bercampur bumbu soto, seperti bawang merah, bawang putih, dan ketumbar, disiramkan ke dalam mangkuk.

Sejurus kemudian, asap langsung mengepul. Bihun goreng yang semula chrispy berubah menjadi lembek dan berbuih. Di sinilah sensasi menikmati soto Bagan mencapai puncaknya. Dalam keadaan hangat hampir panas, bihun goreng yang sudah lembek masih menyisakan tekstur garing kala dikunyah. Gurihnya gorengan bercampur santan memunculkan rasa yang harmonis. Bila dirasa-rasa, kuahnya cukup mirip dengan soto Medan. Hanya, lebih kuat aroma kunyitnya.

Tak heran, sejak dibuka pukul 06.00, warung yang sudah berdiri 12 tahun ini selalu ramai. Orang-orang gemar menyantap keunikan rasa, juga harga yang murah. Seporsi soto Bagan dihargai Rp 15 ribu, plus nasi.

Soto Bagan

Jalan Peradagangan, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 06.00-23.00

F. Rosana/A. Prasetyo/Dok. TL

Mie Koclok Mang Sam, Gurih sejak 1951

Mie Koclok Mang Sam Cirebon, kuliner legendaris kota Udang.

Mie Koclok Mang Sam harus diakui sebagai salah satu kuliner kota Cirebon, Jawa Barat, yang paling diburu para pendatang. Wujudnya yang berkuah kental, serta disajikan saat hangat membuatnya jadi makanan yang kerap disantap warga setempat saat malam hari atau hujan.

Mie Koclok Mang Sam

Kita mungkin sudah pernah melihat atau menyantap ragam masakan mie berkuah, seperti mie rebus Jawa ala Yogyakarta, mie kocok Bandung, atau mie celor khas Palembang. Mie koclok sendiri agak mirip secara wujud, namun dalam penyajiannya memiliki keunikan tersendiri.

Mie yang digunakan adalah mie kuning telur yang dimasak dengan cara direbus seraya dikocok di dalam air panas selama beberapa saat. Konon, hal inilah yang menjadi alasan mengapa ia kemudian kondang disebut sebagai mie koclok.

Mie Koclok Mang Sam menjadi salah satu ikon Cirebon, selain Tari Topeng Cirebon
Tari Topeng Cirebon salah satu budaya kota ini. Foto: shutterstock

Cara memasaknya sebetulnya agak mirip dengan mie kocok Bandung, namun ada beberapa hal yang membedakannya. Kalau mie kocok didominasi bahan pelengkap dari sapi seperti kikil dan babat, maka bahan pelengkap mie koclok meliputi kol, taoge, ayam suwir, dan telur rebus.

Sementara itu, kuah hangat yang digunakan pada mie koclok berasal dari paduan kaldu ayam dan tepung tapioka, yang membuatnya terlihat lebih kental. Berbeda dengan mie kocok yang kuahnya menggunakan kaldu sapi dan terlihat bening.

Kuahnya yang cenderung bertekstur kental lantas menjadi keunikan tersendiri, ditambah racikan bumbunya yang memberikan sensasi rasa gurih. Terkadang, mie koclok juga dihidangkan dengan cabe, sambal atau merica, agar menambah cita rasa pedas di dalamnya.

Karena karakternya tersebut, maka tak heran bila kuliner satu ini umumnya lebih populer disantap kala malam hari. Kuah hangatnya dengan cita rasa gurih akan mampu menghangatkan tubuh. Dipadu dengan mie yang kenyal, membuatnya terasa pas dan nikmat di lidah.

Kuliner ini disinyalir sudah beredar di sekitaran kota udang tersebut sejak awal era kemerdekaan pada tahun 1945. Bahkan, warung mie koclok Mang Sam sendiri adalah salah satu warung penjual mie koclok tertua di Cirebon, karena sudah berdiri sejak tahun 1951 silam.

Mulanya, warung ini berjualan di area pasar Balong kini berada. Seiring pembangunan pasar Balong yang berlangsung pada sekitar tahun 1970-an, warung tersebut lantas berpindah tempat ke kawasan jalan Pekiringan, yang tidak jauh dari pasar Balong.

Mi Koclok Khas Cirebon IG Cynthchevyll
Kuah yang kental menjadi salah satu ciri khas mie koclok Cirebon. Foto: dok milik IG Cynthchevyll

Lokasinya berada di sebuah gang kecil yang berseberangan dengan Apotek Pasar Balong. Kendati sempat didapati beberapa warung mie koclok dengan nama serupa, nyatanya warung mie koclok Mang Sam yang asli tidak membuka cabang di tempat lain.

Lebih dari tujuh puluh tahun berselang, warung tersebut kini dikelola oleh generasi ketiga dari pendiri usaha tersebut. Namun nyatanya animo pengunjung masih terus tinggi, lantaran cita rasanya yang senantiasa konsisten terjaga.

Sejak dulu hingga kini, mereka masih mempertahankan metode memasak dengan menggunakan arang. Kuah mie koclok buatan mereka juga disebut-sebut tak terlalu kental dan pas dengan selera kebanyakan orang, sehingga tak membuat enek saat disantap.

Seiring berjalan waktu, warung mie koclok Mang Sam kemudian juga mulai bereksperimen dengan beberapa menu-menu baru nan unik yang turut menarik perhatian konsumen. Salah satunya adalah Mie Gado-gado, yang memadukan gado-gado dengan mie koclok.

Sebelumnya, mereka sudah sempat berjualan gado-gado di samping mie koclok seperti biasanya. Karena menu gado-gado tersebut cukup diterima baik, mereka kemudian mulai berinovasi dengan menggabungkan kedua menu itu.

Secara mendasar, hidangan ini merupakan perpaduan lontong, sayuran dan bumbu kacang selayaknya gado-gado pada umumnya. Namun gado-gado kemudian ditambahkan mie, ayam suwir, telor rebus dan guyuran kuah kental nan hangat ala mie koclok.

Sebagai pemanis, di atasnya diberikan remahan emping dan kerupuk udang. Ternyata, respons pengunjung terbilang positif terhadap eksperimen ini, dengan perpaduan antara kuah kentalnya dengan bumbu kacang gado-gado yang disebut unik dan berbeda dari yang lain.

Harga menu-menu tersebut pun terbilang cukup terjangkau, setiap seporsinya dihargai Rp 25 ribu. Bagi pengunjung yang lebih suka menyantap bihun ketimbang mie, warung mie koclok Mang Sam juga menyediakan pilihan menu-menu tersebut dengan menggunakan bihun putih.

Karena umumnya populer sebagai kuliner favorit ketika malam hari, maka salah satu teman makannya adalah menu minuman hangat seperti wedang ronde. Lain dari itu, tersedia pula beragam minuman dingin dan juice buah segar.

Jam buka warung pun biasanya mulai dari jam 15.00 hingga tengah malam. Tentunya ini untuk mengakomodasi konsumen yang umumnya ramai berdatangan untuk makan malam, atau hanya sekedar mencari kudapan hangat di tengah malam.

Mie Koclok Mang Sam

Jl. Pekiringan no. 110, Cirebon

agendaIndonesia/audha alief p.

****

Masakan Makassar, 5 Menu Untuk Makan Siang

Wisata kuliner memang asyik, tapi awa dengan metabolisme tubuh. Foto shutterstock

Masakan Makassar selalu menggoda selera. Kota yang pernah menjadi pusat transit perdagangan rempah-rempah terbesar pada masa kolonial, memiliki beragam warisan kekayaan. Salah satunya kuliner. Rasanya semua bahan pangan ada di kulinari kota Angin Mamiri ini.

Masakan Makassar

Segala jenis olahan yang kaya bumbu terdapat di kota yang dulunya bernama Ujung Pandang itu. Misalnya rica-rica, coto, atau konro. Kekayaan kuliner dengan paduan bumbunya yang royal dihimpun dari perpaduan budaya masak berbagai bangsa melalui para pedagang yang konon pernah mampir di Makassar.

Buat orang Jakarta, untuk menyantap kuliner otentik Makassar tentu tak perlu jauh-jauh pergi ke Sulawesi Selatan. Kuliner itu sekarang sudah bisa ditemui di banyak kota. Termasuk Jakarta.

Ada sejumlah restoran yang khusus menyediakan kuliner Makassar dengan bahan-bahan masakan asli yang didatangkan dari Sulawesi Selatan. Ada restoran Sulawesi@Megakuningan yang berlokasi di Kawasan Mega Kuningan. Ada Sop Konro Karebosi di Jalan Boulevard Raya, Kelapa Gading. Semuanya enak.

Cobalah sekali-kali agendakan makan siang dengan menjajal beragam masakan di resto-resto dengan menu khas masakan Makassar. Berikut ini masakan kuliner khas Makassar yang bisa menjadi pilihan dan cocok untuk makan siang.

Ikan Kaneke Bakar Tradisional

Kaneke adalah ikan khas perairan Celebes dan Papua. Saat disajikan di restoran, ikan yang juga dikenal dengansebutan sweetlips ini umumnya dipilih yang memiliki ukuran besar dengan kisaran berat mencapai1,7 kilogram. Menyantapnya pun ramai-ramai, bahkan bisa untuk 10 orang.

Ikan kaneke dibakar menggunakan arang batok. Sistem pembakaran alami membuat aroma makin harum. Tekstur kaneke tidak rusak oleh pembakaran lantaran waktu memasaknya tidak terlalu lama, yakni berkisar 20 menit.

Ikan kaneke nikmat disantap dengan tiga sambal khas, yakni dabu-dabu, mangga camangi, dan petis. Meski judulnya sambal, rasa pedasnya tak terlalu menyiksa. Bila dicocol, pedasnya sambal juga tidak merusak rasa asli ikan.

Sukang Rica Parape

Ikan sukang atau dikenal juga dengan sebutan ikan kambing-kambing juga berasal dari perairan Sulawesi. Ikan ini cukup berdaging dan tak banyak durinya. Jadi kalau makan masakan Makassar ikan sukang tak perlu repot memilah daging dengan durinya.

Masakan Makassar sangat lengkap, dari ikan laut hingga olahan daging sapi.
Ikan Sukang Rica. Foto: Dok. shutterstock

Selain gampang disantap, bumbu khas yang disiram di atas ikan membikin lidah tak berhenti bergoyang. Menariknya, dalam sekali penyajian, ikan ini dihidangkan dengan dua bumbu yang bisa dipilih, yakni rica (pedas) dan parepe (manis).

Bumbu manis berasal dari bumbu bawang putih, gula aren, dan resep rahasia lainnya. Bawang, meski terlihat mendominasi, aromanya tak mencolok, juga tidak membuat mulut bau.

Sementara itu, bumbu rica pedas dikhususkan bagi pecinta sambal. Cabai yang digunakan ialah yang berjenis rawit. Aroma dan warnanya segar, menggugah selera makan.

Coto Makassar

Belum makan masakan Makassar rasanya kalau belum makan coto. Masakan ini sekilas tak ada bedanya dengan soto santan daging sapi. Namun kuahnya lebih keruh dan mlekoh. Ini karena kuahnya juga memanfaatkan kacang tanah.

Masakan Makassar yang terkenal tentu saja coto Makassar. Awalnya menggunakan jerohan sapi, kini banyak yang menyajikan daging juga.
Coto Makassar cocok disantap dengan buras. Foto: Dok. shutterstock

Mirip dengan soto Betawi, awalnya coto Makassar dimasak dengan jerogan sapi. Namun dalam perkembangannya banyak yang menawarkan daging sapi.

Orang-orang Makassar asli biasanya menyantap coto dengan buras. Buras mirip dengan ketupat, namun bentuknya persegi panjang dan ukurannya lebih kecil. Namun buat yang tak biasa menyantap buras, masakan ini bisa dimakan dengan nasi putih biasa.

Mie Titi

Mie titi adalah mi kering asli Makassar. Mie ini disajikan bersama kuah sagu yang kental. Kuahnya sendiri terasa kenyal dan gurih. Jika tak memiliki bayangan soal masakan Makassar ini, bisa membayangkan ifumi di resto-resto Chinese food. Mie-nya digoreng kering lalu disiram dengan masakan sayuran.

Masakan Makassar juga ada yang berupa bakmi kering dengan sayuran.
Mie Titi mirip dengan ifumi. Foto: dokumentasi milik Resep Koki

Sayurannya sendiri di dalamnya terdapat jamur hitam, bakso ikan, sawi putih, cumi-cumi, dan udang. Bila kuah disiram ke mie, tekstur mi yang kering akan melembek.

Ayam Topalada

Ayam topalada sebenarnya merujuk pada masakan ayam cabai merah. Namun bumbunya lebih royal karena dicampur dengan sereh dan rempah-rempah lainnya.

Ayam topalada merupakan alternatif bagi tamu yang tak suka olahan-olahan seafood. Merahnya ayam tak cuma berasal dari cabai, tapi juga saus merah. Bukan saus pabrikan, saus merah itu didatangkan langsung dari Makassar.

Tentu saja masih banyak masakan Makassar lain yang cocok disantap untuk makan siang. Ada konro, sop, atau palubasa. Semuanya enak.

Di Jakarta, selain di Sulawesi@MegaKuningan, pecinta kuliner Makassar juga bisa menemukan masakan Makassar serupa di beberapa restoran di Jakarta. Misalnya di Pondok Ikan Bakar Ujung Pandang. Restoran ini terletak di Jalan Gandaria 1, Jakarta Selatan. Menu yang tersaji pun serupa. Ada ikan kaneke, sukang, juga coto Makassar dan mie titi.

Bila ingin menyantap masakan khas Makassar dengan suasana yang lebih santai, Anda dapat melipir ke kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Daeng Tata, dengan kedainya  Mamink Daeng Tata, menjajakan menu-menu khas Makassar. Warung pinggir jalan ini menjajakan coto Makassar dan sop konro khas Sulawesi Selatan. Disediakan juga menu ikan. Namun, jenis yang tersedia tak cukup komplet.

agendaIndonesia/Rosana

*****

Nasi Jamblang Cirebon, 2 yang Legendaris

Nasi Jamblang Cirebon shutterstock

Nasi jamblang Cirebon sudah menjadi klangenan bagi mereka yang pernah mencobanya. Tidak saja untuk masyarakat Cirebon sendiri, namun juga mereka yang pernah melawat ke kota udang di Jawa Barat ini.

Nasi Jamblang Cirebon

Nasi jamblang barangkali mirip seperti nasi uduk yang lekat dengan Jakarta atau nasi kucing dengan warga Yogyakarta. Aslinya, nasi Jamblang punya ciri khas dengan bungkus daun jati. Tapi belakangan, mungkin karena alasan kepraktisan, ada yang menggantinya dengan daun pisang, bahkan tak kurang yang memilih menggunakan piring saja.

Asal usul nasi yang lezat untuk sarapan ataupun makan siang ini berasal dari  Desa Jampang, Kabupaten Cirebon. Karena unik dan juga murah, nasi jamblang akhirnya populer dan menyebar ke seantero Cirebon. Lauknya, antara lain ikan asin, sate kerang, perkedel, tahu sayur, tempe, aneka pepes, ayam goreng dan lauk yang paling khas seperti tumis cumi hitam dan paru goreng yang renyah dan gurih.

Jika Anda sesekali melawat ke Cirebon, atau melewatinya saat perjalanan dari Jakarta ke arah timur, atau sebaliknya, dan ingin menikmati kuliner khas Cirebon berikut dua pilihan nasi Jamblang yang legendaris.

Nasi Jamblang Pelabuhan

Lokasinya mungkin agak nyempil, di ujung gang senggol di Jalan Pasuketan, Panjunan Lemahwungkuk, Cirebon. Masyarakat setempat menyebutnya nasi Jamblang Pelabuhan. Petunjuk menuju tempat ini hanyalah sebuah papan nama kecil. Di sampingnya ada tanda panah yang mengarahkan orang menuju jalan setapak—jalan masuk ke warung itu.

Memang cukup sulit mencari papan penanda warung sederhana yang sudah buka sejak 1970 ini. Apalagi, kadang-kadang, papan nama nasi jamblang pelabuhan tertutup barisan mobil yang berjejalan parkir di depan gang.

Namun, kesulitan tersebut sebanding dengan rasa santapan yang didapat ketika pelancong sudah sampai di depan meja panjang yang digelar Asneri, penerus kedua warung nasi jamblang itu. Di meja tersebut tersedia berbagai menu rumahan yang tampak nikmati, lagi menggairahkan.

Ada tempe goreng, telur dadar, oseng kerang, daging sapi, dan yang paling spesial: sontong serta semur tahu. Semua menu itu dikemas sederhana, tapi punya cita rasa bintang lima.

Lauk-pauk selengkap ini nikmat disantap bersama nasi yang istimewa, yakni nasi jamblang. Nasi jamblang adalah nasi yang dibungkus daun jati dengan ukuran mini. Nasi jamblang umum menjadi menu sarapan sehari-hari orang Cirebon.

Nasi jamblang pelabuhan milik keluarga Asneri menjadi favorit lantaran punya aroma yang wangi. Musababnya, daun yang dipakai untuk membungkus adalah daun jati yang masih muda. Daun jati muda memberi aroma khas dan mempengaruhi citarasa. Tekstur nasinya juga pas, tak dimasak terlalu pulen, dan empuk seperti ketan.

Keunikan rasa nasi Jamblang miliki keluarga Asneri sudah diakui oleh orang luar maupun orang asli Cirebon. Kata Asneri, resep masakan yang dipakai untuk mengolah bumbu adalah resep temurun dari keluarga yang dipertahankan, waktu demi waktu.

Nasi Jamblang Mang Dul

Pilihan lain untuk menikmati nasi Jamblang di Cirebon adalah legenda yang lain, nasi Jamblang Mang Dul. Uhan, Mang Dul sudah buka sejak tahun 1970. Sama seperti nasi jambalng PelabWarung yang berlokasi di Jalan DR. Cipto Mangunkusumo Nomor 8, Pekiringan, Kesambi, Cirebon, ini lumayan lega. Meski tak luas sekali, warung makan yang berkapasitas tak lebih dari seratus pengunjung ini, setiap pagi riuh dipenuhi tamu.

Tamu dari beragam daerah datang pada pukul 08.00-09.00, yakni pada jam-jam sarapan. Kursi-kursi yang ditata memanjang, sejajar, dan berhadap-hadapan tak pernah lowong. Memang, nasi Jamblang yang kesohor lantaran merupakan langganan bekas Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, itu.

Nasi Jamblang Mang Dul sama seperti nasi Jamblang yang dijual ditempat lain: dikemas kecil-kecil, dibungkus dengan daun jati, dan dihidangkan dengan beragam lauk. Yang membedakan adalah rasa olahan lauk-pauknya yang seolah lebih berbumbu dan nasinya yang punya aroma lebih wangi. Bila berkunjung ke sini, cobalah nikmati tahu semur, sotong, dan sambal merahnya. Tapi jika ingin yang lain, pilihannya ada banyak.

Saat masuk ke warung, pelanggan akan langsung tertuju pada tempat pengambilan nasi yang disajikan secara prasmanan. Nasinya ditata dalam bungkusan-bungkusan daun jati yang khas. Penggunaaan daun jati ini, konon, terinspirasi sejak jaman Belanda, saat mengerjakan jalan raya Pos. Dan ini terus dilestarikan. Mungkin sebagai pembeda dengan nasi-nasi campur di daerah lain.

Pengunjung di warung ini bisa memilih berbagai lauk yang beraneka ragam. Pembeli dapat langsung mengambil sendiri lauk pilihannya. Dari sambal goreng, daging sapi dendeng, hati sapi, tahu kuah, tempe, telor dadar, perkedel, paruh, dan banyak lainnya.

Selain untuk sarapan, nasi Jamblang juga menjadi santapan favorit selama bulan Ramadhan. Banyak pengunjung yang datang sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga sambil mencicipi menu kaya akan lauk ini. Ramainya memang pas berbuka puasa. Kadang tak sedikit yang menikmatinya untuk sahur.

Nah, kapan punya agenda ke Cirebon? Yuk, agendakan Indonesia-mu.

RITA N/F. ROSANA/SHUTTERSTOCK

Bihun Bebek Asie, Legenda Medan Sejak 1930

Bihun Bebek Asie di Medan sudah berjualan sejak 1930.

Bihun Bebek Asie atau kadang disebut juga sebagai Bihun Bebek Kumango Medan adalah salah satu kulinari ibu kota Sumatera Utara itu yang umurnya lebih tua dari usia Indonesia. Ya, inilah salah satu spot kuliner legendaris Medan, rumah makan ini sudah ada sejak 1930.

Bihun Bebek Asie

Medan, kita tahu, adalah kota yang terkenal dengan berbagai destinasi kulinernya. Tidak saja rasanya enak, kota ini juga banyak memiliki tempat dan makanan yang hanya bisa ditemukan di sini. Bihun Beberk Asie Kumanggo adalah salah satu yang terkenal di sini. 

Bayangkanlah bihun yang ditaburi dengan daging bebek. Masakan ini memang merupakan salah satu kuliner Medan, Sumatra Utara yang populer. Sajian khas ini terdiri dari bihun, daun selada, daun bawang, dan daging bebek rebus yang dijamin empuk.

Istana Maimun Medan menjadi salah satu ikon ibu koya Sumatera Utara ini.

Aslinya warung makan ini adalah juga sebuah kedai kopi. Orang Medan menyebutnya kedai Bihun Bebek Asie atau kadang secara gampangan orang juga menyebutnya kedai kopi Kumango karena berada di Jalan Kumango, atau tepatnya berada di belakang kantor Harian Analisa.

Orang menyebut bihun bebek Asie karena pemilik kedai ini bernama Asie. Bihun bebek Asie terletak di deretan ruko-ruko tua dengan jendela-jendela lebar di bagian depannya. Tempatnya cukup mencolok karena paling ramai dengan deretan mobil-mobil di depannya.

Asie sudah berjualan di sini selama puluhan tahun dan mempunyai pelanggan yang setia, selain wisatawan dari luar kota yang ingin mencoba mencicipi gurihnya bihun bebek di sini.

Kedai di Jalan Kumango Medan itu sesungguhnya tampilannya sederhana saja. Namun tempatnya selalu ramai. Menu andalannya, dan satu-satunya menu makanan yang tersedia adalah bihun bebek.

Dan asal tahu saja, bihun bebek yang satu ini terkenal sebagai yang termahal di kota Medan. Per porsi bihun bebek di sini sejak akhir 2022 lalu dibandrol Rp 100 ribu.

Lantas apa ciri khas yang paling menonjol dari bihun bebek di sini? Pertama dan utama adalah porsi bihun dan daging bebeknya yang selalu melimpah.

Karena itu, jika ada yang bertanya kenapa harganya tidak dibuat murah atau lebih murah agar bisa dinikmati lebih banyak kalangan? Jawaban pemiliknya sederhana: orang sejak lama sudah mengenal mereka dengan porsi yang melimpah.

Bihun yang dipergunakan di kedai ini memiliki tekstur yang mirip dengan tanghun lantaran memanfaatkan tepung beras dan tepung kanji. Salah satu bagian terbaik tentu saja adalah daging bebeknya yang empuk namun tidak terlalu lembek.

Tidak ketinggalan taburan bawang goreng di atasnya yang menambah kenikmatan bihun bebek khas Medan ini. Biasanya, bihun bebek disajikan dengan dua macam pilihan kuah, yakni kuah rempah dan kuah kaldu bebek.

Bihun Bebek Medan shutterstock
Ilustrasi Tampilan bihun bebek pada umumnya. foto: shutterstock

Keunggulan Bihun Bebek Asie ini adalah resep mengolah kaldu bebeknya sampai kental dan super enak rasanya. Kuahnya sangat tajam dengan aroma kaldu bebek tapi minim minyak dan lemak. Jernih dan ringan rasanya, dengan taburan kucai tanpa aroma amis daging bebek. 

Dengan perpaduan bahan-bahan tersebut, rasanya para pecinta kuliner dapat merasakan citarasa yang begitu sedap. Sambelnya terasa sedikit dan samar-samar ada rasa asam juga. Bagian terbaik dari hidangan ini tentu saja suwiran daging bebek yang melimpah. Pengunjung juga diperkenankan memesan lauk tambahan, misalnya saja hati atau ampela.

Jalan-jalan ke kota Medan belum lengkap rasanya jika belum mencicipi bihun bebek satu ini. Di Medan, Bihun Bebek Asie memang di daulat menjadi kedai yang menyediakan bihun bebek yang paling enak.

Kedai ini mulai buka dan melayani pembeli Senin hingga Jumat mulai pukul 07.00 WIB. Warga Medan biasa mengunjungi kedai ini untuk menyantap sarapan.

Bihun Bebek Asie IG %40madeyogasudharma
Bihun Bebek Asie. Foto: milik IG Made Yoga Sudharma

Jadi sejak pagi sekali, kedai ini  sudah sangat ramai orang yang antri buat beli bihun bebeknya. Saran saja untuk pengunjung dari luar kota, agar bisa mendapat seporsi bihun ini, datanglah sebelum pukul 8 pagi. Atau akan kehabisan.Menu bihun di sini akan habis dalam beberapa jam saja.

Juga jangan datang Sabtu atau Minggu. Karena mereka melayani banyak pelanggan di hari biasa, kedai ini tutup saat weekend

Kedai Bihun Bebek Asie Kumango, Jalan Kumango Nomor 15, Kesawan, Medan.

agendaIndonesia

*****

Toko Roti Sidodadi, Jadul Sejak 1954

Toko Roti Sidodadi satu legenda kuliner Bandung.

Toko Roti Sidodadi Bandung adalah kenang-kenangan kota Paris van Java ini sejak awal kemerdekaan Indonesia. Toko roti ini dibuka sekitar 1954, setahun sebelum Konferensi Asia Afrika diselenggarakan di kota ini.

Toko Roti Sidodadi

Untuk banyak orang, Toko Roti Sidodadi merupakan prasasti bagi hidup mereka. Berusia sekitar 70 tahun, banyak pelanggan mereka yang sudah sepuh, namun mereka tetap berkunjung ke toko ini jika mampir ke ibukota Jawa Barat ini.

Awalnya, Toko Sidodadi ini hanya memproduksi kue carabikang yang terbuat dari tepung beras. Hingga kini, kue tersebut masih dibuat. Setiap pengunjung bisa menyaksikan langsung pembuatan carabikang secara tradisional di bagian depan toko.

Toko Roti Sidodadi sudah ada sejak tahun 1954, setahun sebelum KTT Asia Afrika.
Jalan Oto Iskandar Dinata, Bandung. Foto: unsplash

Baru pada 1960-an, Sidodadi membuat roti yang dibuat secara tradisional dengan tangan. Mereka juga membuatnya tanpa bahan pengawet, sehingga rotinya hanya bisa bertahan 3-4 hari.

Proses pembuatan adonan rotinya menghabiskan waktu satu malam. Sementara pemanggangannya dilakukan pada pagi hari. Jadi selalu fresh. Mereka memanggang dua kali, pagi-pagi sekali untuk dijajakan pada pukul 10 pagi, dan pemanggangan siang untuk dijajakan pada pukul 4 sore.

Dalam perkembangannya, toko ini kemudian juga memproduksi roti-roti dan kue-kue yang lain. Aneka jajanan roti disediakan di sini, mulai dari roti manis dan asin. Tak hanya itu, mereka juga menyajikan berbagai makanan gorengan dan jajanan pasar.

Untuk roti rasa manisnya, ada roti cokelat, susu, kopi, kismis, nanas dan rasa manis lainnya. Sedangkan untuk rasa asinnya ada roti sosis, bakso sapi, smoked beef, bakso ayam dan roti kornetnya. Masing-masing memiliki penggemarnya.

Toko Roti Sidodadi kompas
Toko Sidodadi di Bandung. Foto: Milik kompas.com

Toko Roti Sidodadi ini tetap bertahan menjadi toko roti favorit di Bandung. Ini bisa terlihat dari ramainya pelanggan yang berasal dari berbagai kalangan yang mengantre untuk memesan roti di sini.

Toko Roti Sidodadi itu sendiri merupakan usaha roti keluarga. Sejak awal mengambil lokasi di Jalan Otto Iskandar Dinata Nomor 255, Kecamatan Astanaanyar, Bandung. Letaknya yang tidak jauh dari Alun-Alun Kota Bandung menjadikan toko roti ini menjadi pilihan favorit masyarakat Bandung dan mereka yang pernah tinggal di kota ini.

Bangunan Toko Roti Sidodadi hingga kini masih terlihat kuno. Di sisi depannya ada tulisan cukup besar bertuliskan “Toko Sidodadi” dengan huruf berwarna merah.

Bangunannya praktis tak banyak berubah sejak dulu. Di bagian luar toko, atau di pinggir jalan, masih terlihat pedagang-pedagang kecil buah atau penganan ikut menjajakan dagangan mereka dengan ember atau baskom.  

Suasana di dalam toko pun masih mirip masa lalu. Ia bukanlah bakery-bakery modern yang berhawa sejuk. Jejeran showcase-nya juga masih terlihat model lama. Pendek kata, bagi mereka yang pernah datang ke toko ini 30 tahun lalu akan mendapatkan kesan yang sama.

Menariknya, rasa roti dari toko yang satu ini tidak berubah dari zaman dahulu kala. Teksturnya empuk, rasanya yang enak menjadikan toko Roti Sidodadi selalu dipenuhi para pengunjung atau pelanggan setianya.

Toko Roti Sidodadi saat ini telah dikelola oleh generasi ke tiga dari pendiri awalnya. Penamaan “Toko Sidodadi” itu sudah ada sejak zaman awal toko tersebut berdiri. 

Tak ada penjelasan kenapa nama itu yang diambil dan mengapa dalam bahasa Jawa. Nama yang berarti “Jadi Dilakukan” atau “Jadi Dibuat” dalam bahasa Jawa.

Produk Roti Toko Sidodadi IG wa.nk
Roti dan kemasan Toko Sidodadi. Foto: Dok. IG wa.nk

Tak hanya itu keunikan toko roti ini. Hal lain yang tak berubah dari sejak awal toko ini beroperasi adalah kemasannya yang melegenda. Bungkus atau packaging rotinya sangat terkesan jadul.

Terbuat dari plastik berwarna putih dengan gambar berwarna merah seorang perempuan membawa roti tawar. Di bagian atas gambar terdapat tulisan nama toko roti dan alamatnya.

Selain itu tertera pula bahan baku yang digunakan serta nomor perizinan. Di paling bawah kemasan terdapat imbauan bertuliskan “Jadilah Peserta KB Lestari” dan “Buanglah Sampah pada Tempatnya”.
Kemasan ini menambah kesan klasik dari roti Sidodadi. Sang pemilik sepertinya ingin mempertahankan kesan atau image itu. Citra bahwa roti atau toko roti mereka adalah legenda kuliner Bandung, yang bahkan kemasannya pun tak berubah sejak dulu.


Ayo sekali-kali agendakan jajan roti di Sidodadi. Dengan harga yang terjangkau, para pelanggan dapat merasakan roti legendaris di Kota Bandung dengan berbagai varian rasa yang tidak kurang dari 30 pilihan rasa.

agendaIndonesia

*****