Sate Ponorogo Tukri Sobikun, Manis 70 Tahun

Sate Ponorogo H. Tukri Sobikun salah satu kuliner khas Ponorogo.

Sate Ponorogo Tukri Sobikun disinyalir merupakan salah satu pelopor kepopuleran kuliner sate ayam di kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ini. Lewat resep yang sudah diramu sejak sekitar 70 tahun lalu, mereka telah menahun jadi standar cita rasa sate ayam khas kota reog itu.

Sate Ponorogo Tukri Sobikun

Bagi yang mengaku penggemar kuliner sate, tentu sudah pernah mendengar tentang nikmatnya sate Ponorogo. Maklum, sate ayam Ponorogo punya beberapa karakteristik yang membuatnya punya cita rasa unik dibanding sate-sate di segala penjuru nusantara lainnya.Salah satu keunikan sate ayam khas Ponorogo dapat dilihat dari cara penyajiannya.

Kalau sate kebanyakan dibuat dengan memotong daging ayam pada bentuk dan ukuran yang padat dan tebal, sate Ponorogo dibuat dengan mengiris daging ayam hingga cenderung berbentuk pipih.Dari penggunaan teknik ini, kemudian didapatkan irisan daging ayam yang lebih bebas dari lemak.

Sate Ponorogo Tukri Sobikun adalah salah satu ikon kulner kota Ponorogo.
Tumpukan sate ayam Ponorogo Tukri Sobikun sedang dibakar. Foto: IG

Sebelum dibakar, irisan daging ini direndam terlebih dulu ke dalam bumbu, agar rasa dari bumbu tersebut dapat meresap lebih baik ke dalam daging.Bumbu ini, yang biasa disebut sebagai bumbu bacem, terbuat dari rempah-rempah seperti ketumbar, merica, laos, kunyit, kemiri, jahe, dan gula Jawa. Rempah-rempah tersebut diolah menjadi bumbu dengan cara diulek dan direbus, hingga berwujud bumbu cair.

Setelah itu, barulah irisan daging tersebut dipasangkan dengan masing-masing tusuknya dan kemudian dapat mulai dibakar, selama sekitar tiga sampai lima menit. Selama proses pembakaran, sate kembali diolesi dengan bumbu untuk menambah kuat rasa.Keunikan lainnya ada ketika sate telah disajikan. Umumnya, sate ayam Ponorogo bisa dimakan dengan tambahan bumbu kacang tanah yang kental, namun sejatinya bila sate dimakan tanpa bumbu pun dagingnya sudah terasa nikmat berkat bumbunya yang meresap.

Ketika dipadu dengan bumbu kacangnya, maka sensasi rasa manis dan pedas dari bumbu plus gurih dan empuknya daging sate membuatnya begitu mengundang selera. Keunikan tersebut membuatnya menjadi varian sate di Indonesia yang punya banyak penggemar.

Di Ponorogo sendiri, kehadiran resep sate ayam tersebut konon sudah muncul sejak era abad ke-15. Sate ini disebut menjadi salah satu penganan favorit para warok, alias tokoh-tokoh figur publik yang terkait dengan politik, sosial, seni dan budaya pada tatanan masyarakat kala itu.

Bertahun dan berabad setelahnya, resep sate ini terus dilestarikan dan menjadi salah satu penganan yang lazim dijajakan untuk masyarakat umum. Mayoritas pedagang sate saat itu banyak yang berjualan sambil berkeliling memikul sate dagangannya, beserta alat memasaknya.Salah satu pedagang sate keliling tersebut adalah H. Tukri Sobikun, yang sudah merintis usahanya sejak sekitar tahun 1950-an. Seiring berjalan waktu, sate racikannya mulai meraih reputasi sebagai salah satu sate ayam terenak di Ponorogo.

Warung Sate Ponorogo H. Tukri Sobikun IG
Kedai Sate Ayam Ponorogo H. Tukri Sobikun. Foto: IG

Setelah meraih cukup banyak pelanggan, ia lantas menetap di area trotoar jalan Ahmad Yani pada 1970-an. Dari situ, popularitas sate buatannya terus meningkat, tak hanya dari kalangan warga Ponorogo tetapi juga pelancong dari luar kota.

Maka pada tahun 1995 ia membuka kedai kecil berukuran empat meter persegi di area garasi rumahnya sendiri di jalan Lawu. Pada lokasi inilah kedai sate Ponorogo Tukri Sobikun hingga kini berjualan, dengan usaha saat ini sudah dijalankan oleh generasi ketiga.

Yang unik, area jalan Lawu ini sekarang juga kerap dikenal sebagai “gang sate”, lantaran di area tersebut juga terdapat berbagai kedai sate ayam Ponorogo lainnya. Bahkan ada yang menyebut bahwa gang ini merupakan salah satu sentra penjual sate terbesar di Indonesia.Usut punya usut, banyak warga di sekitar jalan tersebut juga sudah lama menyambung hidup dengan berjualan sate. Seperti halnya H. Tukri Sobikun, beberapa di antaranya juga pernah menjajakan satenya sambil berjalan keliling kota.

Sejak kemunculan kedai sate Ponorogo H. Tukri Sobikun di area tersebut, beberapa pedagang sate mulai ikut-ikutan mendirikan kedai sate serupa. Sehingga area jalan tersebut mulai akrab dengan sebutan “gang sate”.

Namun, bisa dikatakan kedai sate Ponorogo Tukri Sobikun merupakan salah satu yang tertua, serta yang paling populer dan turut menaikkan pamor sate ayam Ponorogo. Sate buatan mereka juga disebut-sebut punya keunggulan tersendiri dibanding sate ayam Ponorogo lainnya.

Cara mereka meracik sate memang cukup spesifik dan terus dijaga hingga saat ini, demi menjaga cita rasa asli. Semisal dari bagaimana daging yang sudah dibumbui kemudian diasapi terlebih dulu sebelum bisa dibakar, agar kadar lemak di dalam daging dapat ternetralisir.

Mereka juga masih menggunakan tungku pemanggang dari semen yang sama sejak dulu. Ketika ada bagian yang rusak pun, pasti akan sebisa mungkin diperbaiki. Mereka percaya bahwa penggunaan tungku ini turut memberikan cita rasa tersendiri pada sate.

Bahkan arang yang digunakan spesifik menggunakan arang dari pohon asam. Arang dari pohon asam disebut memiliki daya panas yang lebih tahan lama. Ini dipadu dengan penggunaan tungku tersebut, agar cita rasa gurih yang diinginkan tercapai dan tidak menjadi terlalu asin.

Selain itu, cara pembakarannya pun sedikit rumit, karena sate dibakar berulang kali sambil diolesi bumbu, dengan tingkat kematangan yang terukur. Ini dilakukan agar rasa bumbu dapat betul-betul meresap, sekaligus menghilangkan aroma amis dari daging.

Mungkin karena tingkat kesulitan itu pula, harga jualnya mencapai Rp 37 ribu per porsi, dengan pasangan nasi atau lontong. Tidak terlalu murah, terlebih harga naik saat hari libur. Tetapi menimbang rasa yang unik dan nikmat, tak mengherankan bila kedai ini terus ramai dikunjungi.

Sate Ponorogo H. Tukri Sobikun untuk Oleh oleh IG
Sate Ayam Ponorogo H. Tukri Sobikun menyediakan paket untuk oleh-oleh. Foto: IG

Dari yang dulu awalnya hanya menghabiskan sekitar lima sampai sepuluh potong ayam, kini kedai sate Ponorogo Tukri Sobikun bisa menghabiskan seratus potong ayam untuk memenuhi permintaan sehari-hari. Angka ini bisa meningkat kala akhir pekan atau hari libur.

Pelanggannya pun tak sembarangan. Tercatat, presiden Joko Widodo dan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi sosok figur publik yang turut menggemari sate mereka. Konon, sate buatan mereka pernah beberapa kali dipesan untuk Istana Negara.

Yang cukup unik, mereka kini juga melayani penjualan sate untuk dibungkus dalam besek sebagai oleh-oleh, dengan bumbu mentahan layaknya bumbu lekas jadi untuk gado-gado dan sejenisnya. Sate yang sudah dibakar dan matang diklaim mampu bertahan hingga satu pekan.

Dan satu hal yang menarik pula, sate Ponorogo Tukri Sobikun sehari-harinya buka dari jam 06.00 sampai jam 20.00. Ternyata, mereka sudah bersiap-siap untuk berjualan sejak subuh dan buka dari jam 06.00, lantaran banyak pelanggan yang datang sejak pagi untuk sarapan sate. 

Sate Ponorogo Tukri Sobikun

Jl. Lawu no. 43K, Gang Sate, Ponorogo

Instagram: sateayamtukrisobikun 

agendaIndonesia/audha alief praditra 

*****

Café Two Stories Bogor , 1 Dinding Mengabadikan Cerita

Cafe Two Stories Bogor Menu

Café Two Stories Bogor belum lama hadir di kota hujan ini. Baru sekitar dua tahun. Namun ia layak dijadikan pilihan menuliskan kisah Anda.

Cafe Two Stories Bogor

Sore menuju petang di kota hujan, Bogor, lampu-lampu mulai berpendar. Jalanan tak ubahnya sebuah etalase manusia yang lalu-lalang dengan kendarannya. Deru klakson tak henti menghantam kuping, membuat pendengaran kebal kebisingan.

Kala itu, awal tahun ini, Bogor tampak padat aktivitas. Setelah hampir menyerah menyusuri Jalan Raya Pajajaran, kendaraan saya membelok ke sebuah gang besar menuju suatu kompleks. Suasananya ramai, tapi tak padat. Belum jauh berkendara, di tepi kanan, tampak sebuah bangunan asimetris yang unik.

Gedung itu penuh unsur kotak-kotak, seperti lego raksasa yang ditumpuk tak beraturan. Di temboknya terpampang susunan batako yang rapi. Di tengahnya ada lingkaran kecil bertuliskan Two Stories Café & Lounge. Tampaknya bangunan ini adalah kedai kekinian, tempat muda-mudi nongkrong.

Saya memarkir kendaraan di lahan yang cukup luas, lantas memasuki bangunan kafe yang lebih mirip fine dining restaurant. Ada dua bagian lantai di dalamnya. Lantai pertama yang saya singgahi mula-mula menawarkan konsep lawas.

Ada kesan rustic dan industrial yang berbaur menjadi satu. Di hampir semua sisi, tampak meja dan kursi yang terbuat dari kayu. Cat warna cokelat natural dipoleskan pada interior. Rona ini langsung memunculkan kesan natural.

Adapun temboknya dibiarkan polos tanpa cat dan dihiasi macam-macam karikatur karakter kelinci. Tampak seperti lukisan tinta hitam yang digambar oleh anak-anak, kemudian dialihwahanakan dari kertas menuju dinding. Lantainya tak kalah artistik. Tampak tegel kunci tempo dulu yang sarat motif bunga-bunga. Tegel ini seperti yang pernah saya jumpai di rumah-rumah milik bangsawan di keraton.

Di beberapa bagian, terlihat rak-rak tua dibiarkan menyekat meja demi meja, menciptakan kesan pemisah. Pada rak tersebut dipajang sejumlah hiasan botol-botol kaca atau tanaman rambat. Bagi yang awam desain interior, penataan ini tampak sangat estetis.

Lantai satu banyak dipilih tamu yang membawa serta keluarganya untuk makan malam. Penampakan ini tentunya meruntuhkan hipotesis awal saya yang menyebut bahwa Two Stories Café & Lounge adalah tempat nongkrongnya muda-mudi.

Saya lantas beranjak ke lantai dua. Bangunan di lantai dua jauh berbeda dengan ruangan yang saya masuki sebelumnya. Ada kesan lebih muda. Tatanannya eye catching. Kursi-kursinya pun beragam, ada yang berbentuk rotan, ada pula kursi kayu yang dicat warna-warni.

Ruangan lantai dua terpisah atas dua bagian, yakni dalam dan luar ruangan. Di bagian dalam, ruangan bak terbungkus dinding-dinding kaca. Namun tamu di dalamnya bisa melihat suasana luar.

Cafe Two Stories


Sementara di bagian luar, tertampil sebuah lanskap lokasi nongkrong yang seru, fancy, dan asyik. Apalagi ada tulisan yang sangat ikonis, yakni “TELL YOUR STORY”. Tulisan itu terdapat di tembok yang terbuat dari batu bata. Dinding ini konon menjadi lokasi favorit para pengunjung untuk berfoto lantaran sangat Instagenic.

Lukisan TELL YOUR STORY seakan mengajak pengunjung untuk mengungkapkan apa saja yang ingin diceritakannya kepada kawan-kawan nongkrongnya. Dinding ini membingkai suasana menjadi hangat dan akrab.

Usut punya usut, kafe ini dirancang oleh Robert Wanasida dari Gagareska Urban Arsitektura. Ia menerapkan dua gaya desain yang berbeda di tiap lantainya. Lantai bawah yang non-smoking tentu berbeda dengan lantai atas.Peruntukannya pun berlainan. Lantai bawah untuk keluarga, sedangkan lantai atas untuk muda-mudi.

Soal menu, kafe ini menyediakan pilihan yang cukup beragam. Mulai makanan ala western sampai Asia. Sebagai menu pembuka, misalnya, tersedia pilihan salad dan sup. Ada salad sayur dan buah yang harganya berkisar Rp 25 ribu per porsi. Ada pula sup ayam dan jamur yang dibanderol Rp 20-30 ribuan.

Untuk makanan utama, jika datang beramai-ramai, memilih pizza rasanya tepat. Terdapat pilihan pepperoni pizza sampai pizza khusus vegetarian dengan harga Rp 40-80 ribuan. Sedangkan untuk menu Asian, Anda dapat memilih berbagai macam masakan udon dan nasi goreng ala Jepang yang dibanderol Rp 40 ribuan.

Kalau emoh bergelut dengan menu-menu luar, Anda bisa memilih makanan Nusantara. Terdapat pilihan sop iga hingga nasi goreng kampung yang berkisar Rp 40-80 ribuan. Sementara itu untuk minuman, Anda bisa memilih beragam olahan teh, kopi, cokelat, atau bir.Harganya pun masuk di kantong, tak lebih dari Rp 50 ribu.

Two Stories Café and Lounge; Jalan Pajajaran Indah 5 Nomor 7, Bogor Timur, Bogor

Buka setiap hari pukul 10.00-23.00

Soto Pak Sholeh, Sudah 70 Tahun Segarnya

Soto Sholh al barokah Yogyakarta sebagai legenda kulner kota pelajar.

Soto Pak Sholeh layak disebut sebagai salah satu spot kuliner, utamanya bagi pecinta soto, yang sayang untuk dilewatkan kala melancong ke Yogyakarta. Soto berbahan dasar daging sapi ini sudah 70 tahun lebih menjadi salah satu legenda kuliner kota pelajar tersebut.

Soto Pak Sholeh

Kedai bernama lengkap Soto Pak Sholeh Al Barokah ini sudah menahun jadi salah satu rekanan utama bagi warga Yogyakarta dalam khasanah kuliner soto mereka, terutama soto daging sapi. Saat jam makan siang, tempat ini jadi primadona dan selalu penuh pengunjung.

Saking melegendanya, banyak pula yang datang karena bernostalgia kala pulang kampung. Beberapa di antara pengunjung tersebut juga merupakan wisatawan yang mendengar cerita-cerita mengenai nikmatnya menyantap soto daging yang segar, empuk dan gurih tersebut.

Soto Pak Sholeh Al Barokah di Yogyakarta khusus dengan daging sapi.
Soto dan ditemani tempe dan es tape ketan yang segar. Foto: agendaIndonesia

Menilik dari namanya, kemudian diketahui bahwa usaha ini bermula dari seorang pria bernama Muhammad Sholeh yang sudah berprofesi sebagai pedagang soto sejak 1952. Waktu itu, ia masih kerap berjualan dengan berkeliling jalan kaki sambil memikul dagangannya.

Dari berjualan keliling, Sholeh lantas mampu perlahan-lahan membangun bisnis dan reputasi sebagai salah satu pedagang soto paling digandrungi warga kota gudeg itu. Hingga akhirnya ia dapat membuka sebuah kedai soto rumahan di kawasan Tegalrejo.

Kedai itulah yang kemudian menjadi cabang pusat soto Pak Sholeh. Sejak saat itu, kedai tersebut nyaris tak pernah sepi pengunjung. Bahkan pada akhir pekan dan hari libur, tak mengherankan bila pengunjung kedai tersebut kerap penuh membludak.

Sehingga pada 2003, dibuka pula cabang lainnya yang terletak di area stadion Kridosono. Hingga kini Soto Pak Sholeh memiliki delapan cabang yang selalu dipenuhi pengunjung.

Sepeninggal Sholeh yang menghadap sang Khalik pada 2004 silam, bisnis ini terus dijalankan oleh anak dan cucunya. Sampai sekarang, tak banyak yang berubah dari pilihan menu dan makanan yang disajikan, demi terus mempertahankan reputasi.

AI Soto Sholeh Al Barokah Kridosono
Cabang di Stadion Kridosono Yogyakarta. Foto: agendaIndonesia

Sejatinya, secara isi dan tampilan soto daging racikan pak Sholeh tak terlalu berbeda dari soto daging kebanyakan. Tetapi yang menjadi beberapa alasan mengapa soto ini begitu disukai banyak pelanggannya adalah dagingnya yang sangat empuk serta rasanya yang gurih manis.

Untuk mencapai karakter daging sapi yang empuk tersebut, ada beberapa kriteria yang mereka miliki dalam memilih daging yang akan dimasak. Misalnya, daging sapi yang biasanya mereka gunakan adalah sapi yang diternakkan di Jawa.

Selain itu, mereka juga selalu memasak daging yang diambil dari penyalurnya pada hari itu juga. Pada dini hari, sebelum mereka memasak dan berjualan, daging sapi sudah dipilihkan dan diambil untuk kemudian dimasak.

Mereka juga hanya mengambil jatah daging yang akan habis dimasak pada hari itu juga, karena mereka tidak akan menyisakan daging lagi dan menyimpannya untuk esok hari. Itulah mengapa mereka kerap hanya berjualan hingga siang atau sore hari setelah ludes terjual.

Usut punya usut, ternyata itu merupakan salah satu metode yang digunakan demi menjaga kualitas soto yang mereka hidangkan. Menurut mereka, daging sapi yang fresh dari sejak disembelih akan lebih mudah dimasak hingga empuk, ketimbang yang disimpan di kulkas.

Tak hanya itu, mereka percaya bahwa daging sapi yang langsung dimasak menjadi soto setelah dipotong akan memberikan cita rasa tersendiri pada kuahnya. Konon, kalau daging sapi yang dimasak sudah disimpan dari hari sebelumnya, rasa soto menjadi cenderung hambar.

Metode inilah yang mampu menjadikan soto Pak Sholeh begitu mahsyur dan senantiasa dicari banyak pecinta kuliner hingga kini. Dagingnya yang begitu empuk saat disantap membuatnya nyaman untuk dikonsumsi siapapun.

Keunikan soto Pak Sholeh tak berhenti di situ. Sedikit berbeda dari soto kebanyakan yang cenderung memiliki paduan rasa antara gurih dan asin pada kuah kaldunya, soto Pak Sholeh disebut mempunyai perpaduan rasa gurih dan manis.

Lauk di Soto Sholeh
Ada tambahan lauk daging. Foto soto pak sholeh IG

Perpaduan cita rasa ini diklaim karena menyesuaikan selera warga Yogyakarta pada umumnya yang memang punya kecenderungan lebih menyukai kuliner bercita rasa manis. Pada prosesnya, ini juga menjadi keunikan tersendiri bagi soto tersebut.

Dan tentunya daya tarik lainnya selayaknya hidangan soto, adalah harganya yang cukup terjangkau. Semangkok soto daging dihargai Rp 20 ribu, dengan pilihan teman makan seperti daging empal, olahan otak, paru, dan lidah yang dibacem, serta aneka kerupuk dan rempeyek.

Soto yang disajikan berisikan nasi, daging, taoge dan potongan kubis, meski bisa meminta soto dan nasi yang dipisah. Kalau dagingnya masih dirasa kurang, bisa meminta tambahan daging empal yang sudah dipotong-potong kecil.

Soto Pak Sholeh buka setiap hari dari jam 07.00 sampai sore, biasanya jam 15.00 atau jam 16.00. Tetapi perlu diperhatikan, sering kali karena begitu ramainya pengunjung dan mereka hanya memasak untuk porsi jualan hari itu, soto sudah habis sejak setelah jam makan siang.

Terkadang pula, dalam kondisi seperti saat bulan suci Ramadhan, kedai bisa buka hingga lepas waktu Maghrib untuk menerima pengunjung yang hendak berbuka puasa. Namun secara umum tetap disarankan untuk datang lebih awal, utamanya saat makan siang, agar tidak kehabisan.

Soto Pak Sholeh Al Barokah

Jl. Wiratama no. 84, Yogyakarta

Jl. Yos Sudarso no. 28, Parkir Stadion Kridosono, Yogyakarta

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Sate Ambal Pak Kasman, Legenda Sejak 1963

Sate Ambal Pak Kasman Kebumen yang legendaris. Foto: Dok. Budaya-Indonesia.org

Sate Ambal Pak Kasman identik dengan kulinari Kebumen, Jawa Tengah. Buat yang sering melakukan perjalanan darat via jalur selatan biasanya melalui kota ini. Rasanya nama sate ambal Pak Kasman sudah menjadi alternatif utama untuk mampir makan.

Sate Ambal Pak Kasman

Namun bagi pelancong yang hobi makan sate dan belum pernah mampir Kebumen, rasanya perlu menambahkan Sate Ambal Pak Kasman ke dalam daftar wajip kunjung satenya. Resep kuliner legendaris dari Kebumen ini terbilang unik dan berbeda dari sate-sate kebanyakan.

Sate ini merupakan jenis sate ayam yang berasal dari desa Ambalresmi, sebuah daerah di tepi pesisir selatan Kebumen, Jawa Tengah. Yang membuatnya unik dari sate ayam kebanyakan, ia tidak dibumbui dengan bumbu kacang atau kecap seperti biasanya, melainkan bumbu yang terbuat dari tempe.

Sate Ambak pak Kasman sudah terkenal sejak 1963 dan terus menjadi pilihan kuliner khas Kebumen.
Bumbunya dibuat dari tempe. Foto: dok limakaki

Jadi bumbunya terbuat dari tempe yang direbus. Setelah matang, tempe kemudian dihaluskan dan dicampur dengan gula merah, cabe, bawang putih dan bawang merah hingga menjadi bumbu layaknya bumbu kacang.

Sementara daging ayam yang akan dibakar dibumbui dengan campuran bawang putih, bawang merah, ketumbar, kemiri, merica, kunyit, pala dan jahe yang sudah dihaluskan. Kemudian daging didiamkan selama sekitar 2 jam agar bumbunya meresap.

Sate kemudian disajikan dengan ketupat, alih-alih dengan lontong sebagaimana biasanya. Lagi-lagi, ini menambah sensasi rasa yang unik dan berbeda. Sate kemudian ditambahkan irisan timun, tomat, bawang merah, cabe rawit dan taburan bawang goreng.

Hasilnya, sate dengan bumbunya terlihat kuning kecoklatan, dengan rasa manis, gurih dan pedas yang bercampur. Konon katanya, resep ini sudah ada sejak abad 19, ketika pemimpin daerah setempat ingin daerahnya memiliki resep kuliner yang unik dan khas.

Di sana warung-warung sate Ambal kini sudah menjamur, terutama banyak ditemui di sekitar jalan raya Daendels di wilayah Kebumen. Bahkan, mayoritas warga sekitar desa Ambalresmi kini hidup dari berjualan sate.

Tapi butuh waktu hampir satu abad hingga sate Ambal mulai laris dijual sebagai penganan khas, kala pria bernama H. Kasman sukses berjualan dan mempopulerkan resep sate ini. Ia adalah generasi ketiga dari keluarga yang memprakarsai kulinari ini.

Ayah dan kakeknya, Sabar dan Samikin, disebut sebagai tokoh-tokoh di balik terciptanya sate ambal. Pada awalnya, sang ayah dan kakek menjajakan sate sambil memikul dagangannya berkeliling daerah sekitar sejak akhir 1890-an.

Berpuluh tahun kemudian, pada 1963 keluarga mereka akhirnya mampu mendirikan warung dan mulai berjualan di situ. Dari situlah, Kasman meneruskan resep keluarga tersebut dan ikut membantu berjualan warung makan sate Ambal.

Ternyata warung sate ini jadi ramai peminat, terlebih bagi para pelancong yang tengah bepergian melewati jalur pantai selatan tersebut. Lambat laun, sate Ambal mulai meraih populeritas dan pada tahun 1970-an mulai bermunculan lagi warung-warung sate lainnya.

Kendati demikian, ada beberapa keistimewaan yang membuat sate buatan Kasman spesial dan warung satenya selalu ramai oleh pengunjung. Misal, daging ayamnya selalu dipilih yang banyak gajihnya, seperti daging ayam betina.

Selain itu, tusuk sate yang digunakan menggunakan sodo atau lidi daun kelapa. Konon katanya, sodo dapat menambah aroma dan cita rasa dari sate tersebut. Bahan baku tempe pun selalu dipilih yang terbaik agar kualitas rasa terjaga.

Kini warung sate miliknya sudah punya setidaknya sekitar tujuh cabang, yang kini juga dikelola anak dan cucunya, seperti warung sate Pak Alip dan Bu Klendet. Namun demikian, warung pertama yang terletak di jalan raya Daendels hingga kini masih tetap dipenuhi pengunjung.

Di depan warung terdapat papan bertuliskan “Sate Ayam Ambal Pak Kasman Pertama”, menandakan inilah warung yang pertama kali berdiri. Di dalamnya dapat menampung sekitar 70 sampai 80 pengunjung, dan pengunjung dapat memilih duduk di bangku dan meja panjang atau lesehan.

Dalam satu porsi, pengunjung bisa memilih sate 10 tusuk, 20 tusuk atau memesan satuan per tusuk sesuai selera. Biasanya sate disajikan dengan ketupat, tetapi pengunjung juga bisa memesan sate dengan nasi. Selain sate ambal, ada juga pilihan menu lain seperti sate kambing dan sup ayam.

Harga sate Ambal di sini bervariasi dari porsinya, dan hari biasa atau libur. Pada hari biasa, sate 10 tusuk dihargai Rp 18 ribu, sementara 20 tusuk seharga Rp 35 ribu. Tetapi pada hari libur, terutama seperti saat lebaran, harganya bisa naik menjadi Rp 22,5 ribu untuk 10 tusuk dan Rp 45 ribu untuk 20 tusuk.

Adapun harga menu seperti sate kambing berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu, serta sup ayam sekitar Rp 17 ribu sampai Rp 20 ribu. Harga tersebut juga tergantung dari hari biasa atau hari libur.

Sate Ambal Pak Kasman buka setiap hari dari jam 07.00 sampai jam 23.00. Untuk info lebih lanjut, bisa menghubungi 081390028657 (cabang Pak Alip), 082225195190 (cabang Bu Klendet) atau mengunjungi laman Instagram resmi @sate_hkasmanpertama dan @sateambal.h.kasman.

Sate Ambal Pak Kasman

Warung Pertama: Jl. Daendels, Desa Ambalresmi, Kebumen

Cabang Kutowinangun: Jl. Kutowinangun, Kebumen

Cabang Pak Alip 1; Jl. Pahlawan no. 128, Kebumen

Cabang Pak Alip 2: Jl. Lingkar Selatan, Kebumen

Cabang Pak Alip 3: Jl. Urut Sewu, Kebumen

Cabang Bu Klendet 1: Jl. Ambal – Ketawang, Kebumen

Cabang Bu Klendet 2: Jl. Ambal – Petahanan, Kebumen

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Resto Brick And Barrel, Tempat Nongkrong Sejak 2014

Brick & Berrel Bistro Bandung

Resto Brick And Barrel Bandung punya interior yang dibubuhi benda-benda vintage, dengan gaya rustic yang hangat. Selain enak untuk nongkrong, juga asyik buat makan malam yang hangat.

Resto Brick And Barrel Bandung

Saya tiba menjelang sore di bistro yang terletak di Jalan Sersan Bajuri, Bandung, ini. Boleh dibilang makan siang yang terlambat. Suasana kafe terlihat sepi, membuat saya dan kawan-kawan ragu masuk. Namun ciri tong kayu besar, sesuai dengan namanya, barrel, di bagian luar memang mengundang untuk menengok lebih dalam. Ternyata, di saat makan siang ataupun sore, area makan dan kongko ini buka meski cenderung sepi. “Sore tamu mulai datang, malam baru ramai,” ujar Dian, salah satu staf.

Bistro ini menjadi tempat nongkrong sembari menikmati ragam minuman hasil kreasi bartender. Bar diposisikan di bagian tengah, di antara tiga ruang yang ada di dalam bistro. Lounge dengan bentuk tong kayu berada di sisi kanan. Di bagian tengah terdapat jendela kaca besar sehingga pengunjung bisa melihat kehijauan, tempat yang asik untuk menyantap makanan. Posisinya lebih tinggi daripada ruang lain, dan ada tangga tepat di depan bar. Di sisi lain, dengan sebagian ruang terbuka, tampaknya banyak dipilih tamu yang datang untuk nongkrong.

Masih terlalu sore, tapi saat itu saya memang berniat mengisi perut yang keroncongan setelah berkeliling Bandung Barat. Jadilah saya langsung melihat daftar hidangan. Dalam menu, untuk sajian yang mengenyangkan ada dua pilihan, olahan lokal dan Barat. Jadi pilih sesuai selera. Menurut salah satu staf, yang menjadi andalan adalah steak, terutama lamb chop steak. 

Bila tak doyan kambing, ada beragam steak dengan bahan berbeda, seperti chicken steak, tenderloin steak, sirloin steak, dan T-bone steak. Lantas, ada pula grilled ribs dan grilled salmon. Harga rata-rata berkisar Rp 100 ribu, tertinggi hanya lamb chop steak, yang dipatok Rp 115 ribu. Bagi yang doyan pasta juga ada pilihan berupa spaghetti with meatball and tomato sauce, fettucini carbonara, chili tuna spaghetti, meat lasagna,dan pumpkin lasagna

Karena perut benar-benar keroncongan, saya memilih yang mengenyangkan, alias sajian dengan kandungan karbohidrat tinggi. Merupakan khas menu Sunda pula, yakni nasi tutug oncom. Ada pula nasi timbel. Untuk penggemar hidangan berkuah, ada sop buntut, atau buntut goreng, juga buntut bakar. Dengan perut kenyang, saatnya duduk santai melihat kehijauan dari balik kaca. Di sekeliling saya ada sofa yang simpel, kursi kayu, dinding tak berlapis semen, dan lantai kayu yang berkesan rustic tapi hangat.

Bila ingin menghabiskan malam hari untuk mengisi perut sekaligus nongkrong, cobalah pilih Senin malam. “Ada promo barbeque hanya Rp 20 ribu, dengan pilihan delapan menu, dari tenderloin, squid (cumi), ayam, sampai kambing,” kata Dian. Ia menambahkan, mulai Senin hingga Kamis, di malam hari ada suguhan yang asyik dinikmati, yakni penampilan para pemain akustik. Di malam-malam tertentu ada juga program musik yang spesial dan lebih menghentak. Semua serba menghangatkan!

Tong Kayu & Batu Bata

resto Brick and Berrel Bandung, salah satu sudut interior

Brick & Barrel Bistro, namanya sudah menunjukkan jelas gaya interior dan konsepnya. Salah satu ruangan, yakni lounge, dibentuk seperti sebuah tong kayu yang biasanya pada masa lalu menjadi tempat penyimpanan bir, atau menunjukkan ukuran dari bir seperti halnya galon. Sedangkan brick alias bata merah memang menjadi gaya interior ruangannya. Di sebagian dinding sengaja ditunjukkan bata merah tanpa lapisan semen yang bikin unik.

Sebenarnya bukan area baru buat nongkrong. Label ini baru dibeli pada 2014, tapi sebelumnya sudah muncul dengan nama lain, yakni Balcony. Hanya konsepnya memang jauh berbeda. Konsep Balcony berupa fine dining, sedangkan konsep terbaru lebih padabistro dengan atmosfer lebih santai, nyaman, dan bisa merangkul kalangan lebih luas. Bisa untuk kumpul-kumpul sembari makan, tapi asyik juga untuk tempat nongkrong melepas kejenuhan. 

Selain dinding berbatu bata tanpa lapisan semen, ada dinding-dinding dengan papan tulis hitam dan tulisan dari kapur. Juga dinding kaca yang memberi kesan ruangan luas, sehingga tamu bisa melihat kehijauan di luar. Bistro ini banyak menggunakan kayu, seperti pada lantai, juga perangkat kursi dan mejanya, dalam bentuk segi empat dan bundar. Ditempatkan sofa-sofa yang simpel, ditambah hiasan bergaya vintage, seperti tumpukan koper jadul di salah satu sisi.

Brick & Barrel Bistro 

Jalan Sersan Bajuri Nomor 100, Bandung 

Operasional 

Pukul 10.00-24.00 

Menu 

Lamb Chop Steak 

Fettucini Carbonara 

Spaghetti with Meatball and Tomato Sauce 

Meat Lasagna 

Oxtail Soup 

Grille Oxtail 

Nasi Tutug Oncom 

Nasi Liwet 

Rita N./Rully K./Dok. TL

Rawon Surabaya, Ini 5 Resto Paling Enak

Rawon Surabaya terkenal dengan sebutan black soup. Foto: dok. liputa6

Rawon Surabaya adalah masakan tradisional khas kota Pahlawan yang terkenal dengan cita rasa gurih dan kuahnya yang berwarna hitam pekat. Sejarah rawon Surabaya sendiri kabarnya sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit bahkan ada yang menyebut sudah ada sejak 1000 tahun lampau, namun lebih populer pada masa kolonial Belanda.

Rawon Surabaya

Soal asal-usul nama rawon Surabaya ada sejumlah versi. Satu versi menyebut nama “rawon” berasal dari bahasa Jawa “rau” yang berarti daging dan “wan” yang berarti matang. Awalnya, rawon hanya dimasak pada acara-acara adat tertentu seperti saat upacara potong gigi, namun kini telah menjadi salah satu makanan yang paling terkenal di Surabaya.

Versi lain berdasar sebuah catatan menyebut rawon Surabaya ini sudah ada sejak 1.000 tahun lalu. Ini bedasar penemuan sebuah prasasti bernama Prasasti Taji. Dalam prasasti tersebut rawon disebut sebagai hidangan dengan nama rarawwan.

Hal tersebut tercantum dalam prasasti Taji, tercatat pada 901 Masehi  yang ditemukan di dekat Ponorogo Jawa Timur. Dalam prasasti itu, rawon disebut dengan rarawwan atau sayur rawon.

Rawon Surabaya kono sudah berusia lebih dari 1000 tahun.
Rawon kabarnya sudah berusia lebih dari 1000 tahun. Foto: shutterstock

Karena dicatat pada sebuah prasasti, bisa disimpulkan bahwa sajian ini dulunya hanya disantap oleh kalangan kerajaan yang mengeluarkan prasasti Taji itu.

Bukti sejarah tentang keberadaan rawon sebagai santapan kuliner kerajaan juga datang dari catatan dalam Serat Wulangan Olah-olah Warna-warni. Ini merupakan catatan resep koleksi Istana Mangkunegaran Surakarta yang dicetak pada 1926.

Rarawwan ini adalah rawon yang saat ini kita kenal. Ternyata, hidangan rawon ini juga memiliki banyak jenisnya, dengan sentuhan khas berbeda di masing-masing wilayahnya.

Bahan utama dalam pembuatan rawon Surabaya adalah daging sapi yang dipotong kecil-kecil dan dimasak dengan bumbu khas seperti kluwek (buah yang berasal dari pohon keluak), lengkuas, jahe, bawang putih, dan bawang merah.

Kuahnya yang berwarna hitam pekat dihasilkan dari campuran kluwek dan rempah-rempah tersebut. Biasanya, rawon Surabaya disajikan dengan nasi putih, tauge, daun bawang, emping, sambal dan telur asin.

Dalam sejarahnya, rawon Surabaya menjadi populer di kalangan masyarakat Jawa pada masa kolonial Belanda karena daging sapi yang menjadi bahan utamanya hanya dijual pada toko-toko yang dimiliki oleh orang Eropa. Namun, saat ini rawon Surabaya bisa ditemukan di berbagai tempat makan dan restoran di seluruh Indonesia.

Saking populernya pada Februari 2021 lalu, rawon menempati posisi pertama sebagai sup terenak se-Asia tahun 2020 versi TasteAtlas. Masyarakat barat menyebutnya sebagai black soup.

Rawon Surabaya di Banyuwangi.
Rawon meski terkenal dari Surabaya,bisa ditemui di banyak kota di Jawa Timur. Foto: shutterstock

Jika melakukan jalan-jalan ke Surabaya dan ingin menyoba kuliner ini, berikut ini adalah lima rumah makan rawon paling terkenal dan enak di Surabaya.

Rawon Setan Bu Kris

Ini merupakan salah satu rumah makan rawon yang paling terkenal di Surabaya. Tempatnya yang sederhana dan ramai, tetapi rasa rawonnya sangat lezat dan khas.

Rawon Setan Bu Kris; Jalan Kayoon Nomor 46B, Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya

Jam buka: 09.00 – 21.00 WIB

Rawon Pak Pangat

Kalau yang ini merupakan rumah makan yang legendaris di Surabaya dan telah beroperasi selama lebih dari 60 tahun. Rawon yang disajikan memiliki citarasa khas yang membuatnya menjadi favorit di kalangan warga Surabaya.

Rawon Pak Pangat; Jalan Ketintang Baru Selatan I Nomor 15, Ketintang, Kecamatan Gayungan, Surabaya

Jam buka: 08.00 – 21.00 WIB

Rawon Kalkulator

Rumah makan yang terkenal dengan konsep uniknya, yaitu menyajikan rawon dengan menggunakan kalkulator sebagai alat untuk menghitung harga pesanan. Rasa rawonnya sangat lezat dan cocok untuk dinikmati bersama teman atau keluarga.

Rawon Kalkulator; Sentra PKL Tamam Bungkul, Jalan Raya Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya

Jam buka: 07.00 – 17.00 WIB

Rawon Nguling

Ini rumah makan yang terkenal dengan rasa rawon yang pedas dan gurih. Tempatnya yang nyaman dan bersih membuat pengunjung betah untuk berlama-lama di sana.

Rawon Nguling; Jalan Rajawali Nomor 110, Perak Timur, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya

Jam buka: 07.00 – 16.00 WIB

Rawon Ibu Soepinah

Rumah makan yang sudah ada dari 1966 ini menyediakan sajian rawon yang begitu lezat ketika mendarat di lidah. Campuran rawon, nasi, dan empal srundeng akan membuat para penyantapnya ingin kembali lagi ke Surabaya.

Rawon Ibu Soepinah; Jalan Pasar Kembang Nomor 85, Wonorejo, Kecamatan Tegalsari, Surabaya

Semua jam buka tersebut dapat berubah sewaktu-waktu, jadi disarankan untuk mengkonfirmasi kembali alamat dari rumah makan yang ingin dikunjungi sebelum pergi ke sana. Ayo main ke Surabaya dan agendakan menyantap rawon.

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

Hujan Locale di Sriwedari Nomor 7 Ubud

Hujan Locale di Ubud, Bali

Hujan Locale, ya nama restoran di kawasan Ubud, Gianyar, Bali ini memang demikian. Entahlah, adakah nama itu terinspirasi dari hujan yang cukup sering turun di kawasan Ubud, ataukah itu makna kiasan yang terdengar unik saja. Namun, ini bisa jadi pilihan untuk nongkrong di Ubud.

Hujan Locale di Ubud

Di tengah keramaian tak jauh dari Pasar Ubud,Bali, saya menemukan juga Jalan Sri Wedari. Tidak terlalu lebar, ukuran dua mobil. Yang saya cari ternyata tidak jauh dari mulut jalan. Berada di sisi kiri, saya pun melihat rumah lawas bertingkat dengan jendela yang terbuka. Ada tulisan jelas “hujan” yang begitu jelas di dindingnya dalam warna putih, kemudian di bagian bawah baru ada tulisan ‘Locale”, yang tidak terlalu tampak karena warna tulisannya cokelat, serupa dengan dinding.

Hujan Locale Ubud, suasana restonya

Hujan Locale, nama yang unik untuk sebuah restoran. Saya pun menerka menu yang akan disajikan. Ubud siang itu terbilang panas hawanya. Meski masih terhitung di musim penghujan. Staf resto yang ramah yang pertama memberi kesegaran, kemudian buah- buahan tropis yang menghiasi dinding dalam warna hitam-putih, interior yang klasik, juga tentu jendela-jendela yang lebar dan terbuka membuat saya segera melupakan udara panas yang menyergap.

Siang itu, tentu saya datang untuk makan siang. Bertemu dengan Dinar dari Sarong Group. Ia telah menunggu di lantai dua, ruangan terbuka dengan lampu-lampu klasik dan kursi rotan di bagian ujung berupa bar. Kehangatan khas lokal pun terasa.

Hujan Locale memang masih kreasi dari Chef Will Meyrick, juru masak yang gandrung berkeliling Asia, sudah tentunya di Indonesia, untuk mencari tahu hidangan asli setempat. Ia lantas mengolah hidangan orisinal dari berbagai daerah ini untuk menu spesial di restorannya. Hujan Locale salah satunya, dan yang satu ini ternyata benar-benar merupakan buah tangannya berkeliling Indonesia. Sebab, menunya mayoritas khas Nusantara.

Dipilih nama “hujan” karena kata ini bermakna pada kemakmuran, masa panen, keberuntungan. “Hujan Locale sebuah apresiasi terhadap para petani yang telah mendukung resto di bawah Sarong Group selama ini. Konsepnya Indonesia sekali,” ujar Dinar.

Pilihan menunya sangat lokal. Anda bisa mencicipi bakso dan bebek Madura, seperti yang saya nikmati siang itu. Bebek yang empuk dengan sambal hijau yang menambah nafsu makan. Diberi label Madura crispy duck with sambal mango sambal hijau ikan asin manis and lemon basil, sajian yang dipatok seharga Rp 150 ribu ini memang terasa segar karena paduan lengkap tersebut.

Masih banyak kreasi lain tentunya di restoran yang dibuka pada akhir 2014 ini. Doyan olahan dari Aceh? Silakan pilih ayam tangkap, ayam dalam balutan daun pandan. Tak hanya itu, ada pula olahan kari khas Aceh, seperti Acehnese curry of sea bass with tomato okra belimbing wuluh asam kandis and curry leaf, selain udang dengan kuah kari. Penggemar daging kambing, bisa mencicipi tengkleng cingcang ala Yogya. Sedangkan penyuka dapur Minang, di sini ada pilihan berupa rendang.

Untuk yang gemar sayuran, ada olahan hijau dengan nama stir fried Asian green alias kumpulan sayuran hijau yang ditumis. Diberi tempat berupa wajan hitam membuat sajian sederhana ini menjadi menarik. Olahan dari Bali tentunya juga tak ketinggalan, seperti Karangasem sambal udang yang lagi- lagi ditata berbeda karena disajikan dalam piring kaleng yang sudah somplak bagian pinggirnya.

Anda datang sekadar untuk ngobrol sambil ngemil? Jagung bakar yang telah dipipil dan disajikan dalam piring kaleng bisa jadi teman yang asik. Bila ingin yang rasa lokal dan dingin, coba kreasi minuman bersantan dari Chef Will Meyrick.

 Diberi label coco lychee crush, minuman seharga Rp 35 ribu ini tergolong unik karena merupakan perpaduan buah leci, lemon, dan santan. Pilihan lain yang berasal dari kelapa adalah mojito coconut, yang merupakan perpaduan rum, air kelapa, lemon, dan dua daun mint. Kelapa memang banyak memberi inspirasi sang juru masak.

Untuk penutup pun Chef Will tak ingin melepaskan ciri khas lokal. Lihat saja kreasinya berupa durian panacota with white sticky rice and vanila ice cream. Idenya kemungkinan dari Sumatera, 
di mana masyarakatnya terbiasa memadukan durian dengan ketan uli. Ehmm… ditambah es krim, tentu rasanya menjadi lebih segar. 


HUJAN LOCALE; Jalan Sri Wedari No 7, Ubud Gianyar, Bali

Operasional : Pukul 12.00-23.00

Rita N./Dok. TL

Tauto Pekalongan, Ini 5 Warung Topnya

Tauto Pekalongan adalah masakan soto khas kota Pekalongan, Jawa Tengah.

Tauto Pekalongan adalah kuliner soto versi kota batik di Jawa Tengah ini. Ia adalah kembangan dari masakan berkuah dari Tiongkok yang dibawa warganya yang berimigrasi ke Indonesia.

Tauto Pekalongan

Masakan tauto Pekalongan memang berasal dari nama makanan Tiongkok yang bernama Caudo. Makanan berkuah ini pertama kali dipopulerkan di wilayah Semarang, ibukota Jawa Tengah. Lambat laun orang Jawa menyebut caudo menjadi Soto yang berasal dari homofon tjaudo atau caudo.

Di Indonesia masakan ini berkembangan dan beradaptasi dengan lidah masyarakat setempat. Namanya pun kemudian mengalami penyesuaian sesuai lidah masyarakat setempat. Di Makassar masakan ini disebut coto, di Banyumas namanya sroto, sedangkan di Pekalongan disebut tauto.

Awalnya makanan ini memang hanya dikonsumsi oleh kalangan peranakan Tionghoa, tetapi seiring  waktu, warga lokal pun menjadikan makanan ini sebagai bagian dari kuliner mereka. Tak terkecuali masyarakat Pekalongan yang menikmati dan menyesuaikan olahan caudo ini dengan bumbu-bumbu khusus agar pas dengan lidah mereka.

Kota Pekalongan
Salah satu landmark kota Pekalongan. Foto; Dok DPMTPST

Dulunya, tauto Pekalongan dijajakan dengan dibopong atau dipikul para pedagang Tionghoa keluar-masuk kampung. Pesebaran soto di Nusantara memang tak lepas dari pengaruh para pedagang Tionghoa. Bukti antropologis menyebutkan bahwa soto sebagai sajian berkuah yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa ke Jawa Tengah sekitar pertengahan abad ke-18 Masehi.

Masakan ini mulai menyebar ketika orang-orang Jawa yang pada saat itu menjadi para pembantu bagi penjual caudo ikut keliling memikul dagangan. Seiring berkembangnya zaman karena tidak ada generasi keturunan Tionghoa yang mau meneruskan usaha ini, akhirnya warga pribumi berinisiatif untuk meneruskan usaha kuliner yang khas ini.

Kekhasan tauto yang diracik masyarakat lokal  Pekalongan adalah dengan menggunakan mie putih atau soun. Ini kemudian ditambah bumbu sambal goreng (tauco) yang berbahan dasar kedelai serta menggunakan bahan daging kerbau, bukan daging sapi

Tauco Fermentasi Kedelai shutterstock
Taudo adalah fermentasi dari kedelai. Foto: shutterstock

Tauto Pekalongan hadir di setiap sudut wilayah kota dan kabupaten yang dikenal sebagai salah satu sentra batik ini. Wisatwan dapat menemukannya di warung-warung pinggiran jalan pantura, pusat kota, ataupun pedagang keliling dari kampung ke kampung yang menjajakan soto yang unik dan khas ini.

Hampir semua lidah masyarakat Pekalongan, baik dari kalangan elit pejabat, artis maupun masyarakat non-elite, baik etnis Jawa, Arab, maupun Tionghoa yang tinggal di wilayah Pekalongan sangat menerima dan menyukai soto yang diramu dengan bumbu khasnya yakni tauco.
Bila mudik lewat Pekalongan, Jawa Tengah, tak salah jika mampir sebentar untuk mencicipi soto tauto Pekalongan sebagai pilihan untuk berwisata kuliner. Soto dengan pilihan daging kerbau, sapi atau ayam ini diberi bumbu khas yaitu penggunaan tauco. Berikut lima warung tauto Pekalongan yang bisa menjadi pertimbangan.
Tauto Klego Haji Kunawi

Warung H. Kunawi adalah pilihan yang mantap jika pelancong mencari Tauto Pekalongan. Bumbu tauco pada kuah begitu terasa dan kental. Apalagi saat wisatawan menikmatinya dengan irisan tempe goreng.

Pengunjung biasanya akan mendapatkan satu mangkuk tauto ditambah dengan sepiring nasi. Segera nikmati selagi masih hangat. Soal tempat memang tidak terlalu luas, namun cukup bersih dan nyaman.

Tauto Klego Haji Kunawi;  Klego Gang 5, Pekalongan Timur, Kota Pekalongan
Warung Tauto Pak Tjarlam

Di sekitaran Pasar Senggol Pekalongan ada warung tauto yang legendaris. Pemiliknya mengaku jika tempat jualannya itu telah buka sejak tahun 60-an. Pengunjung bisa menyebutnya sebagai Warung Pak Tjarlam.

Sebelumnya warung ini ada di salah satu sudut Alun-Alun Pekalongan, namun saat ini pindah ke dekat Pasar Senggol. Kepemilikan diwariskan pada generasi ke dua, yaitu anaknya yang bernama Amat. Kalau soal rasa sudah jelas enak.Terbukti Tauto ini masih tetap eksis hingga sekarang.

Warung Tauto Pak Tjarlam, Kios Pasar Senggol Sugih Waras, Jalan Dr Cipto, Kelurahan Kauman, Kota Pekalongan

Sambal Tauco shuterstock
Sambal tauco. Foto: shutterstock


Warung Tauto Bang Dul

Yang juga ada di urutan pertama untuk dipilih untuk menikmati tauto Pekalongan adalah Bang Dul. Ini memang menjadi salah satu kuliner legendaris di Kabupaten Pekalongan, dan menjadi tempat tauto paling favorit di Kabupaten Pekalongan. Di warung Tauto Bang Dul pengunjung bisa memilih ingin menggunakan campuran daging sapi, daging ayam, ataupun jeroan. Untuk rasa memang Soto Tauto Bang Dul sangat lezat, gurih, dan manis menjadi perpaduan yang sempurna saat disantap.

Warung Tauto Bang Dul; Jalan Doktor Sutomo, Gamer, Kabupaten Pekalongan.

Kedai Tauto Rochmani

Tauto Rochmani yang berada di kawasan Mataram, Pekalongan, ini memang ada di lokasi strategis, dan berada dipinggir jalan. Tempatnya juga luas, cocok untuk yang lagi cari tempat makan bersama teman-teman, ataupun keluarga. Warung Rochmani ini memang menyajikan tauto yang memiliki rasa gurih, manis, dan dagingnya lembut. Harga yang ditawarkanpun bersahabat, cocok untuk yang cari kuliner enak namun harganya bersahabat di Kabupaten Pekalongan.

Kedai Tauto Rochmani; Jalan Kurinci No.40, Bendan, Kabupaten Pekalongan.

Tauto PPIP Bu Bawon

Masakan tauto PPIP Bu Bawon yang terdiri dari daging ayam yang lembut, kuah kaldu gurih dengan campuran tauco, memang sangat khas. Rasanya agak berbeda dengan tauto lainnya di Kabupaten Pekalongan. Karena Tauto PPIP Bu Bawon memiliki rasa yang gurih dan sangat lezat dinikmati dengan nasi atau lontong.

Warung Tauto PPIP Bu Bawon ini bolehlah menjadi pilihan untuk dicicipi saat berada di Kabupaten Pekalongan. Kedai Bu Bawon ini selalu ramai dengan pengunjung setiap harinya.

Warung Tauto PPIP Bu Bawon; Jalan Dokter Wahidin Nomor 83, Noyontaan, Pekalongan

agendaIndonesia

*****

Kuliner di Pantai Seger, 40 Kilo dari Mataram

Kuliner di Pantai Seger di Spice Market Novotel

Kuliner di pantai Seger di kawasan Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, bisa menjadi pilihan segar selama jalan-jalan di Lombok. Meskipun berada di dalam hotel dengan posisi di pinggir pantai tak menghalangi pengunjung non-tamu bersantap sambil menikmati pantai.

Kuliner di Pantai Seger

Bangunan tradisional khas Lombok yang terbuka itu terasa hangat me- nyambut. Beratap ilalang kering dengan dominasi kayu dalam interiornya, termasuk lantainya. Setelah menikmati nuansa cokelat di sekeliling, bukan sajian yang pertama saya lirik. Melainkan pasir putih di depan restoran dan debur ombak yang nyaring terdengar. Pantai Putri Nyale atau Seger memang ada di depan mata. Pantai ini berada tepat di sebelah Pantai Kuta, Lombok Tengah.

Kala pagi, kehangatan terasa. Ketika bergeser ke siang, panas agak terasa menyengat, khas hawai pantai. Namun sepoi-sepoi angin membuat duduk di kursi-kursi kayu tetap terasa nyaman. Teguklah Fruit Punch atau Virgin Mochito nan segar untuk membuat tubuh adem.

Malam hari tentunya akan terasa lebih romantis. Menikmati sajian dengan iringan debur ombak. Pilihan atmosfer yang berbeda-beda memang bisa dirasakan di restoran di Novotel Lombok Resort & Villas, yang berada di Mandalika Resort Pantai Putri Nyale, Kuta, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ini. Tak perlu menjadi tamu hotel untuk menikmati sajian mereka.

Berada tak jauh dari bibir pantai,resto ini mempunyai suguhan istimewa yang alami. Khas daerah pesisir pulau ini; pasir putih yang lembut, dengan perbukitan di sekelilingnya. Untuk sajian di meja makannya, tak kalah beragam. Sajian lokal, tentunya mendapat tempat khusus. Authentic Ayam Taliwang, salah satunya. Paduan ayam panggang dengan nasi dan sayuran ini dipatok Rp 140 ribu. Tak ada gambar cabai yang menjadi simbol pedas dalam menu. Saat dicicipi, memang tak ada rasa menyengat. Rupanya, soal pedas tergantung permintaan. Maklum, sebagian besar tamu datang dari mancanegara. Namun bumbu khas Lombok melekat kental pada ayam tersebut.

Dengan mengusung nama Spice Market, beragam suguhan Indonesia yang kaya rempah pun menjadi pilihan. Hidangan juara dunia dari Sumatera Barat pun bisa dicicipi di sini. Padang’s Beef Rendang yang dihargai Rp 155 ribu itu cukup mengenyangkan karena mengandung 540 kalori. Rasa rendang aslinya tetap terasa kuat. Di tepi laut, sering kali yang dicari orang adalah menu berbahan ikan laut. Doyan ikan bakar? Ada pilihan Grilled Mahi Mahi dengan sambal matah atau Grilled Baby Fish dengan sambal dabu-dabu yang terasa segar.

kuliner di pantai Seger Lombok Tengah, Spice Market Lombok

Sate yang menjadi hidangan khas Indonesia pun masuk daftar menu. Sate kambing, ayam, dan sapi dipadu dalam sebuah wadah dengan kuah kacangnya plus asinan. Penggemar bebek bisa mencicipi Bebek Betutu yang menjadi khas pulau di seberang Lombok. Semua sajian lokal dipadu dengan nasi. Ikan tawar pun ada dalam daftar menu, di antaranya Ikan Nila Goreng Lalapan, yang dibanderol Rp 95 ribu.

Untuk yang gemar sayuran, ada plecing kangkung, gado-gado Lombok, Seafood Nyale Beach Salad, serta salad lain, seperti Thai Chicken Noodle Salad, Papaya Salad, Green Garden Salad, dan lain-lain. Sebagian tamu yang da- tang adalah keluarga. Suguhan pun ada yang dibuat untuk kelompok anak-anak. Ada pilihan sandwich dan burger, dengan isi beragam, mulai ikan, daging sapi, ayam, hingga kambing. Selain itu, ada pizza dengan berbagai topping.


Di malam hari, ingin yang berkuah dan hangat, bisa mencicipi Lombok Oxtail Soup, Soto Ayam, Thai Tom Yam Goong yang terasa pedasnya, Wonton Soup, atau Cream of Mushroom Soup. Selain itu, tersedia beragam steak. Terlihat memang ada beberapa tamu yang berpasangan. Berada di pulau yang menjadi destinasi halal ini, menurut seorang sales & marketing hotel bintang empat ini, hidangan yang tersedia merupakan sajian halal.

Lantas, untuk tamu yang tinggal dalam jangka panjang pun, tak bakal dibikin bosan dengan pilihan hidang- annya. “Setiap hari dibuat tema khusus untuk buffet di malam hari. Juga ada hiburan spesial,” katanya. Seperti pada hari Minggu, ditawarkan Seafood Beach Barbeque dengan Romantic Beach Bonfire. Pada Rabu, disajikan Italian Buffet dengan hiburan Novotel Band, sedangkan Selasa, prasmanan berupa Unlimited BBQ dengan suguhan budaya tari sasak Lombok.

Bahkan, ia menyebutkan, untuk membuat kemeriahan di restoran, karyawan hotel dan restoran pun kadang dilibatkan. Misalnya, pada Jumat, selain disajikan hidangan prasmanan berupa All American Buffet, dihadirkan hiburan dari para karyawan yang dikemas sebuah acara pencarian bakat. Dibikin meriah sehingga tamu dan karyawan sama-sama merasakan kegembiraan.

Spice Market Restaurant

Novotel Lombok Resort & Villas Mandalika Resort Pantai Putri Nyale Kuta, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat

Operasional

Sarapan: pukul 07.00-10.30; Makan Siang: pukul 12.00-17.00; Makan Malam: pukul 18.30-20.30

Kapasitas

120 orang

Rita N./Frann/Dok. TL

Toko Oen Semarang, Nostalgia 90 Tahun

Toko Oen Semarang adalah kulinari peninggalan zaman Belanda.

Toko Oen Semarang hingga kini masih menjadi salah satu tempat klangenan bagi warga Semarang dan para pelancong yang datang berlibur. Hingga kini di usianya yang sekitar 90 tahun. Usaha keluarga turun temurun ini pun masih menawarkan hidangan otentik dengan nuansa kolonial yang kental.

Toko Oen Semarang

Sejatinya, meski bernama Toko Oen, tempat ini merupakan kedai makan yang awalnya menjajakan aneka kudapan seperti es krim, roti-rotian dan kue kering. Seiring berjalan waktu, kini mereka juga menawarkan ragam masakan Indonesia, Belanda dan Tiongkok.

Yang unik lagi, meski kini identik sebagai spot kuliner Semarang, namun toko ini justru muncul pertama kali di Yogyakarta pada 1910. Usaha ini diprakarsai oleh sepasang suami istri, Oen Tjoen Hok dan Liem Gien Nio.

Mulanya, mereka berjualan kudapan seperti es krim, kue kering dan aneka olahan roti yang saat itu disukai oleh orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia. Nama ‘Oen’ sendiri berasal dari panggilan mereka sehari-hari, opa dan oma Oen, dari istilah Belanda untuk yang ditetuakan.

Gerai Kue kue Kering IG Toko Oen
Toko Oen Semarang dengan gerai kue-kue keringnya. Foto: IG Toko Oen

Karena semakin banyak pelanggan dan bisnis semakin maju, belakangan mereka juga menjajakan beragam makanan besar ala Indonesia, Belanda dan Tiongkok. Tak hanya itu, mereka kemudian membuka beberapa cabang di kota-kota lain.

Cabang pertama mereka dibuka di Jakarta pada 1934, dan kemudian di Malang sekitar dua tahun setelahnya. Tak lama, mereka juga membuka cabang di Semarang setelah membeli gedung restoran milik seorang pengusaha asal Inggris, yang terletak di jalan Pemuda.

Toko terakhir itulah yang kemudian terus menjadi usaha keluarga dan sudah dikelola oleh generasi ke tiga hingga kini. Bahkan, Toko Oen Semarang bisa dikatakan sebagai salah satu usaha kuliner milik keluarga pribadi yang tertua di Indonesia.

Pun demikian, usaha ini bukannya tanpa pasang surut. Toko di Yogyakarta sudah tutup sejak 1937 agar berfokus pada tiga cabang baru, sementara pada 1973 cabang di Jakarta akhirnya dijual untuk dijadikan gedung perkantoran bank ABN (Algemene Bank Nederlands).

Toko cabang di Malang kemudian turut dijual pada 1990. Rencana pembangunan ulang dilarang oleh pemerintah kota Malang, dengan alasan gedung tersebut dianggap sebagai salah satu cagar budaya penting di kota apel itu.

Belakangan gedung tersebut justru digunakan kembali sebagai kedai makanan seperti semula, dan juga menggunakan nama ‘Oen’. Namun yang perlu diingat, toko ini sudah tidak lagi menjadi bagian dari usaha keluarga toko Oen yang asli.

Kendati begitu, lewat Oen Foundation yang merupakan lembaga pelestarian cagar budaya era kolonial di Indonesia, sekaligus perwakilan toko Oen yang asli, kemudian membolehkan usaha tersebut berjalan. Syaratnya, gedung beserta detail arsitekturnya tetap dipertahankan.

Bisa dibilang, otentisitas toko Oen Semarang lantas menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjungnya. Pelanggannya pun beragam, mulai dari warga lokal Semarang, hingga wisatawan lokal, mancanegara, serta mereka yang pulang kampung dan ingin bernostalgia.

Toko oen poffertjes
Poffertjes atau apem Belanda yang khas di resto ini. Foto: IG Toko Oen

Secara umum, menu yang ditawarkan masih sama sejak dulu dan terus dipertahankan. Menu makanan ringan seperti poffertjes, bitterballen, kroket, risoles dan lumpia masih jadi pilihan favorit bagi pengunjung yang sekedar ingin kudapan ringan sambil menikmati suasana.

Untuk yang ingin makan besar, tersedia menu utama dari dalam dan luar negeri, utamanya masakan otentik Belanda dan Tiongkok. Semisal chicken cream soup, kekian goreng, kit lian hai (udang goreng saus tomat), huzarensla (salad daging ala Belanda), aneka bistik, dan lainnya.

Ragam jenis es krimnya juga sayang untuk dilewatkan. Beberapa menu es krim yang cukup populer di sini misalnya napolitaine, chipolata, tutti frutti, mocca dan nutella nougatine, vruchten sorbet, tiramisu, rum raisin, kopyor, dan lain sebagainya.

Yang cukup unik, es krim di toko Oen Semarang hingga kini masih dibuat menggunakan mesin pembuat es krim dari Italia, yang konon sudah ada sejak 1920-an. Serta sebagai catatan, beberapa varian seperti rum raisin juga mengandung alkohol.

Toko Oen Semarang Ice Cream IG Toko Oen
Ice Cream Toko Oen masih dibuat dengan mesin Italia. Foto: IG Toko Oen

Selain itu, pengunjung juga bisa memesan es krim dalam ukuran satu liter dengan berbagai pilihan rasa untuk disantap beramai-ramai. Dan ada pula opsi untuk memesan es krim yang dipadu dengan poffertjes atau pannekoek.

Last but not least, mereka juga masih menawarkan aneka kue kering yang juga cocok sebagai oleh-oleh. Strawberry sprits, chocolate sprits, vanilla sprits, soes kering, kaasstengel, lidah kucing, ananas dan boterkrantjes merupakan beberapa kue kering favorit.

Setiap kue kering tersebut kemudian ditampilkan dalam jejeran toples dari kaca yang berukuran cukup besar. Pengunjung dapat melihat-lihat sambil mencicipi berbagai jenis kue kering yang beberapa di antaranya sudah mulai jarang dijual dan sulit untuk dicari.

Untuk ukuran restoran otentik, harga menunya pun terbilang cukup reasonable. Menu makanan ringan seperti poffertjes, bitterballen, risoles, kroket dan lumpia harganya berkisar dari Rp 17 ribu hingga Rp 35 ribu.

Kemudian untuk menu-menu seperti sup, salad, serta masakan Indonesia dan Tiongkok rata-rata berada di kisaran Rp 30 ribu-an sampai Rp 60 ribu-an. Sedangkan aneka ragam bistik dan bebakaran barbecue harganya di atas Rp 100 ribu.

Adapun untuk harga es krim berkisar dari Rp 20 ribu hingga Rp 45 ribu. Kalau ingin memesan es krim dengan poffertjes atau pannekoek harganya Rp 40 ribu. Sementara untuk es krim ukuran satu liter dijual mulai dari Rp 300 sampai 375 ribu, tergantung dari pilihan rasanya.

Selain dari beragam pilihan makanan otentik tersebut, daya tarik terbesar toko Oen Semarang tentulah nuansa kolonialnya yang kuat. Selain karena bangunannya yang lawas masih dipertahankan, dekorasi serta ornamen yang digunakan di dalam juga semakin menguatkan vibe tersebut.

Terdapat beragam barang-barang antik, foto-foto lama serta furnitur dari kayu dan rotan yang menampilkan kearifan lokal tempo dulu. Cocok bagi mereka yang ingin klangenan bersama keluarga dan teman, atau mereka yang ingin sekedar merasakan suasana ala masa kolonial.

Toko Oen Semarang biasa buka setiap hari dari jam 10.00 hingga jam 22.00. Yang menarik, umumnya saat ini toko Oen lebih ramai dikunjungi saat jam makan siang, ketimbang pada jam makan malam. Kala sore pun terkadang cukup ramai, utamanya mereka yang hanya ingin bersantai sambil ngemil.

Toko Oen Semarang

Jl. Pemuda no. 52, Semarang

Telp. (024) 3541683

Instagram: tokooen

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****