Betutu 1 Kuliner Khas Bali

ayam betutu Bali

Betutu 1 kuliner khas Bali, ini pasti tak ada yang membantahnya. Bisa jadi, banyak orang mengaitkannya dengan nama masakan Ayam Betutu atau Bebek Betutu. Itu tak salah. Sebab, betutu sejatinya memang menunjuk pada masakan yang terdiri dari ayam atau bebek, biasanya utuh, yang diberi bumbu dan kemudian dibakar.

Betutu 1 Kuliner Khas Bali

Dari sejarahnya, betutu berasal dari kata ‘tutu’ yang artinya dibakar, dan awalan ‘be’ yang berarti daging. Jadilah ia satu kuliner khas Bali berupa daging ayam atau bebek utuh yang dibakar dengan bumbu khususnya.

Di Bali, awalnya sajian betutu berasal dari daerah Gianyar dan Gilimanuk. Jika Anda main ke Bali dan sedang berada di kawasan Gianyar cobalah perhatikan, di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Gianyar dan wilayah-wilayah sekitarnya, bertebaran warung-warung tradisional yang memasang papan “nasi campur betutu”.

Di sini, kita bisa memesan ayam betutu seperti umumnya, namun kebanyakan memang penampakannya lebih mirip nasi campur. Sebab, dalam piring, tersaji beragam lauk. Ada lawar—bisa juga diganti dengan urap Bali, sate lilit, telur rebus, dan potongan ayam betutu.

Pada masa lampau, masakan tradisional ini, dihidangkan khusus untuk upacara keagamaan. Cara mengolahnya pun tak sembarangan. Ayam atau bebek, sebagai komponen utama dalam sajian betutu, harus ditanam dalam lubang tanah, ditutup degan bara api, dan dimasak dalam sekam selama belasan jam.

Namun, kita tahu, waktu berjalan dan perubahan pun terjadi. Masakan betutu makin tak kaku dan tak terlampau mengikuti pakem. Variannya makin berkembang, cara memasaknya juga semakin modern. Pun, tak harus dihidangkan ketika ada upacara. Siapa pun, kapan pun bisa menikmati. Masakan ini juga gampang ditemukan di warung-warung di Bali, bahkan sudah banyak kota lain di Indonesia yang mempunyai tempat-tempat makan yang menyajikan ayam dan bebek betutu.

Begitu pun, jika ada wisatawan mau berkunjung ke Bali dan hendak mencoba mencicipi masakan Betutu, berikut ada tiga rumah makan yang bisa menjadi alternatif pilihan.

Betutu Halal Warung Rahayu Wayan Rupa

Setelah berputar melewati Patung Kebo Iwa di dekat Kantor DPRD Kota Gianyar, tepatnya di Jalan Mahendradata, jalur menuju Kecamatan Payangan, sebuah warung sederhana berdiri di kiri jalan. Warung ini direkomendasikan oleh Putu, warga asli Gianyar, yang saya temui di sentra pembuatan kaus barong. “Kalau mau makan ayam betutu yang halal dan paling enak di Gianyar, lagi murah, ada namanya Warung Rahayu Wayan Rupa,” tuturnya.

Warung sederhana ini telah berdiri sejak awal 2000. Setiap hari orang ramai datang untuk mengambil pesanan. Ternyata pemiliknya lebih sering menerima order dalam jumlah besar daripada menerima tamu yang makan di tempat. Pantas saja kursi dan meja yang disediakan tak terlalu banyak. “Untung datang cepat. Ini tinggal lima piring lagi,” kata si pemilik kepada saya. Padahal hari masih siang. Memang, harus bergelut dengan pengunjung lain untuk sekadar menikmati sepiring nasi betutu Rahayu.

Tak heran. Sebab, masakan perempuan separuh baya itu punya rasa yang khas. Aromanya sangat nikmat, bahkan tercium dari halaman depan. Rempah-rempahnya kuat melekat di daging yang disuwir besar-besar. Daging yang bertemu beragam bumbu di atas pembakaran menghadirkan sensasi panggangan yang nikmat. Tak ada satu bagian daging pun terasa hambar. Meski menggunakan ayam potong, dagingnya juga tak alot sewaktu dikunyah. Cara mengolah, kata dia, sangat berpengaruh terhadap tekstur daging. Alat masak yang masih menggunakan tungku tradisional juga menambah nikmat olahan.

Selain ayam betutu, telur rebus, serundeng kacang, dan urap kacang panjang turut dihidangkan. Komponen pendamping ini membuat piring jadi kelihatan tak sepi.

Warung Rahayu Wayan Rupa

Jalan Mahendradata, Bitera, Gianyar

Buka pukul 08.00-17.00 (biasanya pukul 14.00 sudah habis)

Betutu Kukus Kedewatan Ibu Mangku

Rasanya hampir semua travel blogger merekomendasikan wisatawan yang datang ke Bali untuk jajan ayam betutu di Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Kabarnya, olahan si empunya warung membikin orang ketagihan.

Warung cabang yang berlokasi di Seminyak menjadi pilihan. Selain dekat dengan lokasi wisata, tempatnya luas dan cukup asyik untuk nongkrong serta ngobrol bersama kerabat. Dulu, nasi ayam yang kesohor itu memang hanya buka di Kedewatan, Ubud. Namun, beberapa tahun belakangan, si pemilik melebarkan usahanya di Badung dan Denpasar.

Soal menu tentu tak berbeda. Sebab, Ibu Mangku hanya menyediakan dua varian: nasi campur dan nasi pisah. Lauknya sama, yakni ayam betutu dengan potongan cukup besar (boleh memilih paha atau dada), ayam suwir bumbu pedas, jeroan goreng, sate lilit, urap, telur rebus, kacang goreng, dan pepes ayam. Yang membikin nampol adalah sambal matahnya.

Soal cara memasak, ayam betutu di sini berbeda dengan Warung Rahayu. Secara tampilan, daging ayam di restoran ini berwarna lebih cokelat. Tak ada bekas panggangan juga di sisi-sisi dagingnya. Cara memasaknya dikukus lama sampai daging matang. Tentu dimasak bersama bumbu-bumbu rahasia dalam waktu cukup lama. Alhasil, daging ayam terasa empuk dengan bumbu yang meresap sampai ke tulang.

Bila lauk di piring kurang, tamu bisa menikmatinya dengan jajanan ringan, semacam kacang Bali, keripik, atau camilan lain yang tersedia di samping mesin kasir.

Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku

Jalan Kayu Jati No. 12, Patitenget, Seminyak, Kuta, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Badung

Buka pukul 09.00-21.00

Betutu Berkuah Bu Ina

Kalau ingin memilih masakan betutu dengan aliran yang berkuah, mengembaralah seputar Mengwi. Di sana, banyak sekali warung rumahan yang menjual olahan betutu ala Gilimanuk. Salah satunya ialah warung milik keluarga Ina. Tempat makan yang bisa ditempuh dalam jangka waktu kurang dari 30 menit dari Tanah Lot ini adalah cabang kedua.

Berbeda dengan dua warung sebelumnya, ayam betutu di sini disajikan dengan bumbu kuah kuning. Bumbu kuning dihasilkan dari campuran kunyit dan rempah-rempah lainnya, seperti sereh, cabai, bawang putih, bawang merah, jahe, laos, dan ketumbar. Komplemen itu membikin rasa jadi kaya. Namun, asin dan pedas paling mendominasi. Masakan ini cocok bagi pengunjung yang suka dengan masakan berbumbu bold.

Selain cara masak, penyajiannya pun berlainan. Ayam betutu tersebut dihidangkan berdampingan dengan ca kangkung, kacang goreng, dan sambal matah. Jadi bukan disantap dengan lawar atau urap, seperti yang umum disajikan di warung-warung nasi Bali. Ca kangkung dimasak polos, tanpa bumbu macam-macam. Berkebalikan dengan ayam betutu.

Ayam Betutu Bu Ina 2

Jalan Raya Mengwitani Nomor 22A, Mengwi, Badung

Buka pukul 09.00-21.00

F. Rosana

Nasi Pindang Kudus, Lezatnya Mulai 1400

Nasi Pindang Kudus menggunakan daging kerbau.

Nasi pindang Kudus adalah salah satu masakan tradisional yang memanfaatkan bumbu kluwak atau kluwek, selain rawon di Jawa Timur dan brongkos di Yogya dan Solo. Nasi pindang ini sesuai namanya berasal dari Kudus, Jawa Tengah.

Nasi Pindang Kudus

Tidak jelas betul kapan masakan ini mulai dikenal oleh masyarakat Kudus, namun diperkirakan masakan ini sudah ada sejak tahun 1400-an. Ini mengingat masakan ini sering dikaitkan dengan ajaran Sunan Kudus, salah satu dari Wali Sanga.

Nasi pindang Kudus bukan sekadar makanan biasa bagi masyarakat kota ini, tetapi juga menyimpan sejarah yang menarik. Sunan Kudus dikenal sebagai tokoh yang toleran dan bijaksana dalam berdakwah. Ia menghormati kepercayaan dan budaya masyarakat setempat

Ketika mulai mengajarkan Islam di utara Jawa, di mana masih banyak pemeluk agama Hindu yang ia paham sangat menghormati sapi. Oleh karena itu, ia mengajarkan kepada murid dan masyarakat setempat untuk menggunakan daging kerbau dalam masakan mereka. Ia tak ingin melukai perasaan umat Hindu di sana yang meyakini sapi adalah hewan suci.

Nasi pindang Kudus merupakan salah satu peninggalan Sunan Kudus, seperti Menara Masjid Kudus
Menara Kudus. Foto: shutterstock


Hal yang mungkin sering membingungkan adalah nama “pindang” pada masakan ini. Orang sering mengira ada kaitannya dengan pindang bandeng yang sentra produksinya tak jauh dari Kudus. Padahal ke duanya tak ada hubungannya.

Meskipun belum ada informasi yang pasti, masyarakat setempat menduga karena menggunakan daging kerbau yang lebih liat dibandingkan daging sapi. Karena itu, ketika memasak pindang kerbau, dagingnya direbus terlebih dahulu hingga menjadi lebih empuk.  
Secara tampilan, nasi pindang Kudus mirip dengan rawon, karena kuahnya sama-sama berwarna hitam akibat pemakaian kluwek. Namun tentu ada bedanya. Pindang Kudus menggunakan santan dan daun mlinjo.

Secara masakan mungkin lebih dekat ke brongkos, hanya saja santannya lebih tipis. Pindang kerbau juga tidak memakai kacang tholo.

Penyajian masakan ini biasanya terdiri dari nasi putih yang disajikan dengan lauk pindang daging kerbau. Disajikan di piring yang diberi alas daun pisang. Kadang juga daun jati. Lalu disiram kuah pindang. Daging pindang ini memiliki rasa yang gurih, pedas, dan sedikit manis serta dilengkapi dengan sambal kacang, lalapan, dan kerupuk.

Seiring berjalannya waktu, beberapa penjual nasi pindang di kota kretek ini sudah ada yang menggunakan daging sapi dan ayam sebagai bahan utamanya. Begitupun penjual nasi pindang berdaging sapi ini tak sebanyak nasi pindang kerbau.

Nasi Pindang Kudus shutterstock
Foto: shutterstock

Kini pun nasi pindang Kudus ini dijual mulai dari di pinggir jalan hingga restoran mewah dengan harga yang bervariasi. Berikut ada beberapa warung yang sudah terkenal. Bisa dicicipi jika kebetulan dolan ke Kudus.

Pindang Kudus Haji Sulichan

Lokasi warungnya terdapat di sentra makanan Taman Bojana di seberang Simpang 7. Ini tipikal warung makan soto da nasi pindang yang menggunakan bangku panjang serta menggunakan display aneka lauk pelengkap. Sajian seperti satai paru; perkedel; telur, atau tempe goreng; juga kerupuk tersaji di meja.

Warung ini buka sepanjang minggu mulai pukul 7 pagi hingga 9 malam. Selain nasi pindang kerbau, mereka juga menyediakan pindang ayam, juga soto Kudus. Baik yang menggunakan daging kerbau maupun daging ayam.

Warung ini termasuk yang paling terkenal. Selain makanannya enak, harganya tidak bikin kantong kebol. Semangkok soto Kudus daging kerbau, misalnya, dipatok harga Rp 15 ribu. Jika tambah lauk tentu harganya akan bertambah.

Pindang Kudus Haji Sulichan, Pusat Kuliner Bojana, Kudus

Kluwek shutterstock

Nasi Pindang Kerbau Sidodadi

Tempat makan nasi pindang dan soto khas kudus yang mulai buka sore hari. Di warungnya tertulis Pindang Kerbau, namun ada pilihan daging kerbau atau daging ayam. Tersedia aneka lauk baceman, seperti tahu dan telur bacem. Lauk bacemannya bisa minta dipotong-potong dan bumbunya enak sebagai pelengkap lauk

Selain nasi pindang, warung ini juga menyediakan soto Kudus yang kuahnya bening. Ini tipe soto yang segar. Mereka buka Senin sampai Minggu, kecuali hari Kamis yang tutup.

Pindang Kerbau & Soto Kerbau Sidodadi, Wegu Kulon, Kecamatan Kota, Kudus

Nasi Pindang Mapan 58

Warung ini baru buka sore hari, sekitar pukul 17. Jadi cocoknya memang untuk makan malam. Tempat duduknya tidak terlalu besar, sehingga pada saat jam makan malam situasinya cukup padat.

Ini termasuk pindang kerbau yang paling enak. Meskipun tidak biasa, daging pindangnya bisa diminta dipisah dari nasinya. Lauknya juga tersedia dan bisa dipilih.

Nasi Pindang Mapan 58; Jalan Johar, Nganguk, Kramat, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus 

agendaIndonesia

*****

Nasi Bali, 4 Yang Khas Dan Bikin Kangen

Nasi Bali selalu menarik untuk sarapan hingga makan malam.

Nasi Bali, siapa yang tak meneteskan air liur jika mengingatnya. Setiap kali ada tawaran liburan lagi ke Bali? Ehmmm… pikiran rasanya langsung berpikir, saatnya memanjakan perut. Bisa menikmatinya sambal tetap sembari leyeh-leyeh di tepi pantai atau di tengah kesejukan. Bisa ketika blusukan ke pasar.

Nasi Bali

Banyak pilihan yang halal sehingga siapa pun bisa menjajal. Bila tiba di Bali masih pagi atau sebelum pukul 12.00 waktu setempat, dari Bandara Ngurah Rai wisatawan bisa langsung menuju kawasan wisata Sanur.

Ada dua pilihan, tapi di jalan yang berbeda. Salah satunya ialah tidak jauh dari titik keberangkatan speedboat menuju Nusa Lembongan, Ceningan atau Penida. Tepatnya di Jalan Hang Tuah.

Plang Rumah Makan Mak Beng tampak jelas. Buka pukul 08.00 hingga pukul 21.00, tapi keramaian terjadi saat makan siang. Jadi sebaiknya pilih di luar waktu tersebut. Hanya dua menu yang disodorkan oleh Mak Beng yang memulai usahanya pada 1941. Ikan goreng dengan sambal dan sup ikan.

Hanya dua, tapi tidak pernah membosankan. Buktinya, antrian selalu terlihat, apalagi pada musim liburan. Satu paket sup ikan yang cukup bening dan segar serta ikan goreng plus nasi dan sambal dipatok Rp 55 ribu. Supnya saja sekitar Rp 35 ribu. Demikian juga ikan gorengnya. Belum termasuk minuman.

Pesanan biasanya akan datang dengan cepat: sup ikan, ikan goreng, nasi, dan sambal plus es jeruk. Beberapa kali terdengar teriakan orang meminta tambahan ikan goreng dan nasi. Saya melihat para pria dengan keringat bercucuran.

Dengan penuh semangat mereka menyuap ikan goreng yang garing plus sambal dan disusul menyeruput sup ikannya. Ehmmm… kenikmatan luar biasa yang mereka rasakan tentunya! Bayangkan ikan segar hasil tangkapan teranyar para nelayan ditambah sambal yang pedas.

Kawasan Sanur yang terkenal dengan keindahan mentari terbitnya tak hanya menawarkan olahan ikan ala Mak Beng. Di Jalan Segara Ayu ada warung sederhana lain yang juga diburu turis.

Nasi Bali bisa ditemui di Men (Ibu) Weti di sekitaran Sanur.

Berlokasi tak jauh dari pantai, warung Men (Ibu) Weti hanya terdiri atas satu meja yang penuh dengan beberapa baskom besar. Isinya tak lain ialah sayuran, telur, sambal, ayam suwir, dan lain-lain yang merupakan perpaduan sajian nasi campur Bali.

Hati-hati jika saat mampir ke sana terlalu siang. Biasanya sebagian baskom sudah kosong. “Tapi masih ada sambalnya, jadi masih enak lah,” ucap seorang bapak yang rupanya juga harus menerima nasib hanya kebagian sisa sajian hari itu.

Padahal, sejatinya, menunya berlimpah, seperti ayam betutu, ayam goreng, urap, sate lilit, kerupuk kulit ayam, ikan laut, dan telur. Tentunya semua jenis menu itu ditambahkan sambal khas Bali. Satu porsi cukup ditebus dengan kisaran Rp 15 ribu. Harga juga bergantung pada pilihan lauknya.

Meski Men Weti dengan usia 60-70- an tahun masih hadir di warungnya, ia tak lagi melayani pembeli karena sudah digantikan anaknya. Namun ia tetap membuat olahannya sendiri.

Sebaiknya datang sebelum pukul 12 karena banyak diburu untuk menu sarapan. Lagi pula warung dibuka mulai pukul 6 pagi. Jadi, sebaiknya, bila berada di Sanur, pilih sarapan di warung Men Wati, kemudian makan siang nasi Bali di Mak Beng.

Setelah bersantai, saat mulai gelap, terbit keinginan melaju ke Denpasar. Terbayang pada nasi jinggo. Awalnya disebut “jenggo” karena harganya Rp 1.500. Dalam bahasa Hokkien memang “jeng go” berarti 1.500. Kini harganya dua kali lipat alias pada kisaran Rp 3 sampai 5 ribu. Bungkusannya kecil, karena isinya sekepal nasi ditemani mi, suwiran ayam, dan sambal.

Nasi Bali ada yang dijual model bungkusan seperti sego kucing di Yogya, namanya sego Jenggo.

Paling tidak begitulah yang ditemukan di Jalan Gajah Mada. Pengunjung bisa bersua dengan sang penjaja, Lengkong. “Ibu saya mulai berjualan pada 1980-an,” ucap pria berumur 30-an. Lokasi dagangnya tidak berpindah, yakni di ujung Gang VI/BEJ. Yang ditawarkan sebenarnya merupakan hasil olahan orang lain.

Awalnya, sang ibu hanya menjual 25 bungkus hingga masa puncaknya 250 bungkus. Pria kurus itu menyebutkan buka mulai pukul 19 hingga pagi. Bermodal meja dan dua wadah besar dari bambu untuk memisahkan yang pedas dan yang tidak pedas.

Dua porsi nasi campur super sederhana akhirnya membuat perut saya terasa penuh. Kebanyakan pelanggan membawanya pulang. Namun tidak jauh dari ujung gang tempat Lengkong berdiri ada pula nasi jinggo dengan gaya lesehan bagi para pembeli yang ingin makan di tempat.

Hari berikutnya petualangan mencicipi sajian kuliner masih berlanjut. Berniat menikmati kesejukan, pilihan berikutnya adalah Ubud. Sengaja berangkat sedari pagi, memang berniat sarapan nasi kadewatan Ibu Mangku.

Berada tepat di depan Pura Kadewatan, di Jalan Raya Kadewatan, pengunjung akan  disambut dengan gamelan khas Bali. Ada pilihan sajian berderet di balik kaca. Cobalah memilih nasi campur seharga Rp 20 ribu dan makan lesehan di balai-balai di tengah taman.

Sambil menunggu hidangan, pengunjung bisa menelusuri taman hingga menemukan dapur terbuka dengan kuali superbesar dengan aroma cabai yang benar-benar menggoda. Dua wanita sibuk membuat olahan sambal dan ayam suwir.

Pada awal usaha pak Mengku berjualan berkeliling bersama dengan istrinya pada masa penjajahan. Ia tetap mempertahankan rasa dan tidak berniat menjual tambahan di luar yang berbahan ayam dan sayuran. Hanya karena banyak wisatawan asing yang tak terlalu suka masakan pedas, tingkat kepedasannya yang diturunkan.

Nah, kapan ke Bali lagi? Ayo agendakan buat sarapan nasi Bali yang enak.

agendaIndonesia

*****

Orem-orem Malang, Ini 5 Yang Gurihnya Nyos

Orem-orem Malang satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang

Orem-orem Malang masih banyak belum diketahui orang di luar kota ini atau di luar Jawa Timur. Jika baru pertama melihat, banyak yang bertanya apakah makanan ini sejenis soto?

Orem-orem Malang

Makanan Malang yang disebut orem-orem ini memang menggunakan kuah santan berwarna kuning. Lalu isiannya ada tempe yang diiris tipis segi empat, toge, dan biasanya disantap dengan ketupat. Kuah kuning itu yang kadang membuat orang luar Malang mengira ini sejenis soto.

Pedagang sekarang ini biasanya menyediakan lauk  lain untuk menemani pembeli bersantap, yakni tempe goreng dan mendol. Penyajiannya dengan potongan ketupat atau lontong.

Hampir mirip banyak masakan di daerah-daerah Indonesia, asal-usul orem-orem Malang erat kaitannya dengan masa sulit zaman penjajahan. Belanda atau Jepang. Saat itu bahan makanan relatif mahal dan sulit didapatkan. Akibatnya banyak rumah tangga berkreasi menyiapkan masakan untuk keluarga.

Orem-orem Malang  mungkih kalah popular dengan bakwan Malang.
Salah satu kawasan perkampungan di Malang dengan atap warna-warninya. Foto: KAI

Saat zaman pendudukan Jepang, untuk menikmati semangkok soto ayam atau daging terasa sangat mahal dan mewah. Untuk mengobati rasa kangen pada soto, para ibu rumah tangga saat itu menampilkan irisan tempe tipis dan kecil. Jadilah orem-orem Malang yang disajikan dengan kuah kuning tanpa kaldu.

Seperti disebut di muka, sepintas orem-orem ini seperti soto. Sebagian lain mengatakan mirip lodeh yang berkuah kuning. Tampilan orem-orem Malang yang sangat menyiratkan rasa kesederhanaan.

Tambahan tauge sebagai tambahan agar terdapat unsur sayur dalam makanan. Sebelumnya, ketika masa sulit akses perpindahan barang di Malang,Jawa Timur, menimbulkan kesulitan mendapatkan sayur segar. Untuk penggantinya, orang kemudian membuat kacang-kacangan dikecambahkan untuk menjadi sayur pengganti.

Malang juga dikenal dengan kuliner khas tempe beserta olahannya. Sebut saja, keripik tempe, tempe menjes, tempe penyet, dan tempe kacang atau mendol. Tempe mendol inilah yang menjadi bahan dasar orem-orem. Tempe mendol merupakan olahan dari tempe kacang yang sudah mulai menghitam.

Saat ini harga orem-orem Malang bervariasi mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 15 ribu. Harganya bisa lebih mahal bila menambah lauk lain seperti telur asin, ayam goreng, krupuk ataupun tempe mendol.

Orm-orem Malang dengan kuah kuning  mirip dengan soto
Tempe mendol atau tempe yang dibusukan sebagai bahan orem-orem. Foto: dok. sajiansedap.id

Bila tengah dolan ke Malang, tak ada salahnya mencoba mencicipi kuliner ini karena ringan di kantong dan bisa bernostalgia. Wisatawan bisa membeli orem-orem ini di daerah pasar Comboran, jalan Gatot Subroto, maupun sepanjang jalan Juanda sisi barat di Kota Malang.

Orem-orem Khas Arema

Warung makan ini telah berdiri sejak tahun 1995 dan terus mempertahankan rasa yang konsisten enaknya. Pecinta kuliner khas dapat mencobanya setiap hari mulai dari jam 8 hingga 4 sore. Bukan hanya orem-orem Malang original yang bisa dinikmati di sini, ada banyak lauk tambahan seperti telur asin dan potongan ayam.

Orem Khas Arema ini berkuah santan yang ringan namun tetap gurih, sehingga tidak akan mudah bosan saat menyantapnya. Sangat pas disantap dengan ketupat yang empuk dan pulen dengan irisan tempe yang cukup banyak. Di sini  bisa sekalian memesan minuman spesial seperti teh tarik untuk penetral rasa orem.

Warung Makan Orem orem Khas Arema,  Jalan Blitar Nomor 14, Sumbersar, Lowokwaru, Malang.

Warung Pak Tikmanan

Warung orem selanjutnya yang tidak kalah rame dibanding Warung Khas Arema, yakni Warung Orem Pak Tikmanan yang berdiri sejak 1967.  Buka mulai dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore. Telat sedikit pengunjung hapir pasti tidak akan kebagian.

Di warung ini pengunjung dapat menikmati orem-orem tempe dengan aneka gorengan. Gorengannya juga berbahan tempe sehingga menambah nikmat orem-oremnya, selain tempe goreng ada juga mendol.

Warung Pak Tikmanan, Jalan Irian Jaya Nomor 1, Comboran, Malang.

Orem orem Telor Tempe Malang shutterstock
Orem-orem masa kini sudah dengan variasi isi dan lauk. Foto: shutterstock

Orem Pak Syahkri

Pengunjung bisa  menikmati orem nikmat khas Malang ini mulai pada pukul 9 pagi hingga 5 sore. Saat ini cukup menyediakan uang Rp 8 ribu untuk menikmati kelezatan orem-orem tempe di warung ini.

Warung yang berdiri sejak 1989 ini selalu konsisten memberikan rasa masakan yang akan menggoyang lidah. Isi orem-orem di sini antara lain potongan ketupat, irisan tempe dan toge rebus. Diguyur dengan kuah santan gurih yang encer. Orem disini bisa kamu nikmati dengan perkedel kentang, mendol, kerupuk dan tempe goreng,

Jika kalian menyukai rasa orem orem yang otentik, ini adalah pilihan tempat makan yang tepat. Warung Pak Syahri  masih sangat setia dengan memasak orem-orem  menggunakan tungku arang.

Orem Pak Syahri, di Jalan Gatot Subroto Nomor 72, Jodipan, Blimbing, Malang.

Warung Orem-orem Marem

Warung yang satu ini buka mulai  jam 7 pagi dan tutup pada jam 9 malam. Harga satu porsi orem-orem mulai dari Rp 8 ribu. Komposisi orem-orem Malang di sini adalah tauge rebus, ketupat, dan bawang goreng serta disiram dengan tempe dan kuah santan hangat yang menggugah selera.

Pengnjung juga bisa memesan orem dengan tahu telur. Tahu yang digoreng dengan telur dan disajikan bersama bumbu kacang yang gurih. Rasa yang sangat cocok disajikan dengan tauge rebus dan potongan lontong.

Warung Marem, Jalan K.H. Ahmad Dahlan Nomor 15, Sukoharjo, Klojen, Malang.

Warung Orem-orem Kulon Kali

Warung yang sederhana namun memiliki cita rasa orem-orem yang akan menggugah selera makan. Buka mulai dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Orem di sini cukup istimewa karena disajikan dengan lauk lele goreng.

Satu porsi orem-orem di sini Rp10 ribu. Pengunjung  bisa memesan menu lain di warung ini, seperti lalapan lele, lalapan ayam, gado-gado, dan lainnya. Lalapan di warung ini bisa dicolek ke sambal tomat, sambal ijo atau sambal bawang.

Warung Orem Kulon Kali, Jalan Kedawung 1, Lowokwaru, Malang.

agendaIndonesia

*****

Lontong Balap Surabaya, Ini 6 Yang Enak

Lontong balap Surabaya jelas tak ada hubungannya dengan dunia otomotif atau olah raga pacuan. Cukup bayangkan sepiring makanan yang terdiri dari potongan lontong berkuah dengan isian tauge, tahu, dan lentho. 

Lontong Balap Surabaya

Lentho ini sejenis gorengan terdiri dari kacang tholo dengan tepung. Tidak ketinggalan lontong balap diguyur dengan sambal petis yang merupakan ciri khasnya.

Nama lontong balap sendiri muncul dari sebutan masyarakat melihat para penjualnya berangkat menjajakan penganannya. Ada dua versi dari “balapan” para penjualnya.

Versi pertama muncul dari kisah pemilik kedai Cak Pri. Menurut cucu dari pemilik kedai yang sudah berjualan sejak 1913 itu, para pedagang lontong ini semuanya berjualan di daerah kebun binatang. Setiap pagi mereka keluar rumah dengan naik sepeda untuk menjual lontong dan saling berkebut-kebutan menuju lapaknya.

Lontong Balap Surabaya mejadi ikon kuliner kota ini, seperti Jembatan Suramadu.
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura

Sementara versi lainnya, sejarah nama lontong balap ini bermula dari wadah serupa gentong yang dipikul penjualnya. Agar tidak ketinggalan pembeli, para penjual ini memikul dagangannya dengan setengah berlari sehingga terlihat seolah saling balapan.

Tapi intinya, dinamakan lontong balap karena penjualnya saat itu menjual dengan cara dipikul. Karena isi pikulan banyak bahan makanan, sehingga membuatnya terasa berat. Jadi untuk mengatasinya penjualan berjalan cepat seperti balapan.

Lontong balap Surabaya kini menjadi favorit, tidak saja bagi masyarakat kota Pahlawan ini, tapi juga banyak pengunjung dari daerah lain. Ini karena cita rasanya yang enak. Tampilannya mungkin mirip kupat tahu Magelang, tapi rasanya tentu berbeda.

Dan seperti disebut di atas, ciri khas lain lontong balap Surabaya ini adalah adanya lentho. Lentho terbuat dari kacang yang direndam dengan berbagai bumbu selama satu malam yang kemudian ditumbuk. Hasilnya dibentuk dengan dikepal lalu digoreng.

lntho Surabaya shutterstock
Lentho sebagai side dish makan lontong balap Surabaya. Foto shutterstock

Lontong balap kini dapat dijumpai di berbagai titik di Surabaya, seperti di Jalan Kranggan, di daerah Wonokromo, dan di banyak sentra Kuliner yang dikelola Pemerintah Kota Surabaya. Harga yang ditawarkan pun cukup murah, yakni pada kisaran mulai Rp 10 ribu per porsinya hingga Rp 15 ribu.

Bila berkunjung ke ibu kota Jawa Timur ini, lontong balap Surabaya bisa jadi pilihan makan siang atau sore hari. Lebih maknyus lagi jika disantap dengan sate kerang dan kerupuk.

Lalu di mana pecinta kuliner bisa menikmati lontong balap Surabaya yang maknyus? Berikut pilihannya.

Kedai Cak Pri

Ini termasuk yang legendaris karena sudah berjualan sejak  1913. Kini sudah ada di tangan generasi ke tiga. Dulunya berjualan di Jalan Semarang, Kecamatan Bubutan. Menurut pemiliknya, waktu itu bahkan belum disebut lontong balap.
Saat ini Kedai Cak Pri ada di Jalan Kebalen (Sampoerna), Surabaya.

Lontong Balap Pak Gendut Asli

Tempat ini memiliki sejarah cukup panjang. Lontong Balap Pak Gendut dimulai pada 1958. Saat itu, cara berjualan keluar masuk kampung dengan ditemani rombong pikulan khas lontong balap.

Pada 1970-an Pak Gendut mulai membantu orang tuanya dengan melanjutkan jualan lontong balap di depan Bioskop Garuda. Bioskop di jalan Kranggan ini dikenal sebagai tempat mangkal penjual lontong balap. Kerap kali dijuluki sebagai lontong balap Garuda karena masih memakai lapak kaki lima persis di depan bioskopnya.

Lalu pada 1995 lontong balap Garuda milik Pak Gendut diubah menjadi lontong balap Pak Gendut karena julukan dari para pelanggan yang mungkin tidak tahu nama asli dari Pak Gendut. Jadi pelanggan setia Pak Gendut memberikan julukan itu karena memang poster tubuhnya yang gendut.

Dalam seporsi lontong balap Pak Gendut, pecinta kuliner akan mendapatkan beberapa irisan lontong, lentho, kecambah, kecap, kuah segar, dan bawang goreng. Rasa yang gurih dan nikmat menjadikan tempat ini menjadi tempat terfavorit berburu lontong balap. Kedai ini juga menyajikan sate kerang yang nikmat.

Kedai ini bisa ditemui di Jalan Prof. Dr. Moestopo dan buka mulai pukul 09.00 – 21.00 WIB. Harga yang dibandrol untuk 1 porsi lontong balap ini juga cukup murah cukup Rp 14 ribu.

Lontong Balap Khas Surabaya shutterstock
Masakan ini cocok di makan siang hari atau sore hari sebelum makan malam. Foto: shutterstock

Lontong Balap Cak Brengos

Lontong balap ini telah berdiri sejak 1989. Lontong balap ini diberi nama Cak Brengos karena pendirinya memiliki kumis (brengos dalam bahasa Jawa) yang tebal. Tempat makan ini berada di jalan Anjasmoro (samping pengadilan). Buka pada pukul 08.00-16.00

Kedai Lontong Balap Cak No

Kedai yang sudah berjualan selama 17 tahunan ini juga terbilang kedai lontong balap legend. Harganya yang murah meriah dan bikin kenyang membuatnya memiliki begitu banyak pelanggan tetap. Ya, harga untuk seporsi lontong balap ini dibandrol kisaran Rp 10 ribu. Porsinya juga cukup banyak.
Dalam sehari kedai lontong balap Cak No ini mampu meracik kisaran 350 porsi lontong balap. Nah, bagaimana dengan weekend? Di hari Sabtu dan Minggu, konon katanya kedai ini mampu meracik hingga 500 porsi lebih.
Kedai lontong balap Cak No terletak di Jalan Bromo No 7 Kecamatan Sawahan Surabaya. Buka setiap hari dari pagi pukul 07.00 sampai pukul 12.00 atau sampai habis.

Kedai Artomoro

Kedai lontong balap Artomoro tak hanya menyediakan lontong balap, ada kuliner tradisional khas Sidoarjo yang juga dijual di sini, lontong kupang. Seperti namanya, lontong kupang berbahan dasar kupang yang disajikan dengan lontong.

Kedai lontong balap terkenal di Sidoarjo ini memiliki ciri khas kuah yang gurih, asin, manis dan pedas. Nah, ciri khas inilah yang menjadi daya tarik dari kedai lontong balap Artomoro. Selain itu harga yang dipatok disini cukup murah dan disediakan juga es kelapa muda yang menyegarkan.
Kedai lontong balap Artomoro berlokasi di Jalan Raya Menur.

Lontong Balap Rajawali

Kedai lontong balap Surabaya ini menawarkan seporsi lontong balap dengan potongan tahu goreng, tauge, sambal petis, kecap, bawang goreng dan lentho yang lezat. Harga untuk seporsinya kisaran Rp 15 ribu.

Seperti kedai lontong lainnya, kedai lontong satu ini juga menyediakan sate kerang dengan banderol harga Rp. 15.000 untuk 1 porsinya (1 porsi = 10 tusuk).
Kedai legendaris yang sudah buka sejak 956 ini bisa ditemui di jalan Krembangan Nomor 32 Surabaya atau lebih tepatnya berada di depan SPBU Rajawali. Jam operasionalnya setiap hari Senin-Sabtu mulai pukul 06.00 sampai dengan 16.30.

Ayo agendakan balapan kulineran ke lontong balap Surabaya.

agendaIndonesia

*****

Kupat Tahu Pojok Magelang, 80 Tahun Enaknya

Kupat tahu Pojok Magelang klangenan para jendral.

Kupat tahu Pojok Magelang, ini campuran potongan ketupat, tahu goreng, toge dan kol yang disiram bumbu kacang dan.kecap. Sederhana, tapi membuat banyak orang terus menggemarinya

Kupat Tahu Pojok Magelang

Warung makan Kupat Tahu Pojok Magelang mungkin tidak hanya menjadi salah satu destinasi favorit penggemar kuliner tradisional di kota Bukit Tidar ini, tetapi juga telah menjadi salah satu kepingan sejarah kota getuk tersebut. Maklum, warung sederhana ini sudah eksis sejak 1942.

Secara umum, kupat tahu merupakan sebuah kuliner tradisional yang populer pada beberapa daerah di Jawa Tengah, khususnya Magelang. Isi di dalam makanan ini beragam, mulai dari tahu, bakwan, ketupat, taoge, kol, seledri, dan terkadang juga mie kuning.

Kupat Tahu Pojok Magelang bisa menjadi alternatif wisata kuliner jika dola ke Candi Borobudur.
Candi Borobudur di dekat Magelang.

Olahan bahan makanan tersebut kemudian dipadu dengan racikan bumbu yang terbuat dari kecap, gula merah, kacang tanah, asam jawa, serta ada pula yang menggunakan petis. Bagi yang suka sensasi pedas, ada kalanya kupat tahu juga disajikan dengan cabe rawit.

Hidangan ini disebut-sebut terinspirasi oleh pengaruh masakan ala Tiongkok. Secara peranakannya, makanan ini masih tergolong satu rumpun dengan kuliner nusantara lainnya seperti tahu gimbal, ketupat sayur, ketoprak, dan sebagainya.

Yang menarik, meski kelihatannya serupa, nyatanya kupat tahu tidak sama dengan tahu kupat. Tahu kupat biasanya memiliki isian lebih sederhana ketimbang kupat tahu, tahu yang digunakan berjenis tahu kuning alih-alih tahu putih, serta menggunakan bumbu kacang yang ditumbuk.

Dalam sejarahnya, kupat tahu Pojok Magelang disinyalir sebagai warung kupat tahu tertua di Indonesia, sekaligus salah satu pelopor munculnya kuliner ini. Setu Ahmad Danuri, sang pendiri usaha, sudah memulai usahanya sejak era pra kemerdekaan.

Awalnya, ia menyambung hidup dengan menjajakan kupat tahu buatannya sambil berkeliling kota Magelang dengan gerobaknya. Perlahan mengumpulkan uang dan pelanggan, ia kemudian mampu menyewa warung semi permanen yang terletak di area alun-alun Magelang.

Tadinya, warung tersebut dikenal dengan nama warung Ngesengan, karena wujudnya yang terbuat dari seng. Lama kelamaan, karena letaknya yang di pojok alun-alun, orang-orang juga menyebutnya sebagai warung kupat tahu Pojok, dan nama itu yang melekat sampai sekarang.

Kupat Tahu Pojok Magelang awalnya didagangkan dengan berkeliling.
Warung Kupat Tahu Pojok kini dikelola generasi ke tiga pemiliknya. Foto: dok. Harian Jogja.com

Kini, warung tersebut sudah berpindah ke kawasan jalan Tentara Pelajar. Dari luar, warung yang dominan berwarna hijau tersebut cukup mencolok dan mudah ditemukan. Operasional warung sehari-hari kini dilanjutkan oleh Sri Kuntari dan beberapa generasi ke tiga usaha ini yang lainnya.

Salah satu pelanggan utama warung ini datang dari kalangan tentara, yang datangnya dari Akademi Militer, yang juga berada di kota sejuta bunga ini. Dari kadet yang masih belajar, hingga para jenderal sudah pernah menyambangi warung kupat tahu legendaris ini.

Salah satunya adalah mendiang presiden ke dua Republik Indonesia, Soeharto. Ia bahkan dikabarkan pernah beberapa kali memesan kupat tahu buatan warung ini sebagai salah satu menu jamuan makan dalam beberapa perayaan hari kemerdekaan di Istana Negara.

Presiden ke enam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, juga termasuk salah satu pelanggan setia warung ini. Dan tak hanya kalangan militer saja, berbagai figur publik lain dari ranah politik hingga dunia hiburan sudah pernah mampir ke sini.

Kalau mampir ke warung ini sekarang, akan banyak didapati foto-foto beragam figur publik tersebut di sekeliling dinding warung. Seakan menjadi bukti sahih akan eksistensi kupat tahu Pojok Magelang selama lebih dari 80 tahun, yang sudah begitu melegenda hingga kini.

Salah satu kunci kesuksesan kupat tahu Pojok Magelang mempertahankan popularitasnya adalah konsistensi dalam menu yang disajikan. Sejak dulu, mereka tidak pernah menambah atau memodifikasi menu mereka secara signifikan.

Kupat Tahu Pojok Magelang Dok. cookpad
Racikan potongan ketupat, tahu goreng, toge dan kol, bakwan goreng yang disiram kecap kacang. Foto: dok. CookPad

Ditambah lagi, mereka juga konsisten dalam penggunaan bahan baku makanan, demi menjaga cita rasanya. Bahan baku seperti tahu, taoge, dan kol selalu didatangkan dari pemasok yang sama, sementara bumbunya dibuat sendiri dengan resep keluarga turun temurun.

Bahkan, Sri Kuntari mengaku masih sering meracik bumbunya sendiri, demi mendapatkan rasa yang pas. Cara memasak tahunya pun juga masih menggunakan anglo, serta baru dimasak setelah dipesan, agar mendapatkan karakter rasa yang otentik.

Cita rasa kupat tahu di sini cenderung manis dan gurih, meskipun bagi yang penyuka pedas dapat meminta tambahan sambal sesuai selera. Tahunya juga terasa lembut karena dimasak setengah matang.

Sebagai teman makan, tersedia tambahan seperti sate udang, rempeyek kacang, emping, serta berbagai jenis gorengan dan kerupuk. Beberapa minuman tradisional juga tersedia di sini, mulai dari wedang ronde, es dawet sampai es campur.

Dengan harga seporsi kupat tahu seharga Rp 12,5 ribu, harganya bisa dibilang bersahabat dengan kantong, terlebih untuk ukuran porsi yang cukup besar dan mengenyangkan. Begitu pula harga minumannya yang berkisar dari Rp 7 ribu hingga 11 ribu.

Buka dari jam 09.00 hingga 20.00, umumnya warung ini ramai pada jam makan siang dan malam. Tapi yang cukup menarik, banyak pula yang datang pada sekitar jam 16.00-17.00, karena kupat tahu dianggap sebagai makanan yang juga nikmat disantap kala sore hari.

Kupat Tahu Pojok Magelang

Jalan Tentara Pelajar no. 14, Magelang

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

Nasi Lengko Haji Barno, Langka Sejak 1968

Nasi Lengko Haji Barno Cirebon menjadi pilihan bagi para vegetarian.

Nasi Lengko Haji Barno bisa dikatakan merupakan salah satu kuliner tradisional kebanggaan warga Cirebon. Meski mungkin popularitasnya tak seperti kuliner Cirebon lain, nyatanya ada saja penggemarnya dan semakin hari semakin banyak yang penasaran untuk mencoba.

Nasi Lengko Haji Barno

Cirebon biasanya dikenal dengan beberapa kuliner tradisional khas yang populer seperti empal gentong dan nasi jamblang. Bagi pecinta kuliner yang sudah pernah mencoba makanan tersebut, maka alternatif menarik lainnya adalah mencoba nasi lengko.

Secara umum, nasi atau sega lengko adalah makanan berupa nasi yang dilengkapi dengan lauk seperti tahu dan tempe goreng, serta sayuran seperti taoge, timun dan daun kucai. Dinamakan ‘lengko’ atau langka, karena ketiadaan bahan baku hewani dalam olahannya.

Dalam penyajiannya, nasi lengko dengan lauk dan sayuran tersebut kemudian diguyur dengan bumbu kacang, kecap manis dan bawang goreng. Hasilnya, sensasi rasa gurih dan manis berpadu dengan nikmat di lidah.

Nasi lengko haji Barno merupakan salah satu 'landmark' kota Cirebon.
Pantai Kejawanan, Cirebon (Rosana)

Kuliner ini diperkirakan sudah ada sejak masa kesultanan bertahun-tahun yang lalu. Konon, makanan yang cenderung sederhana ini sesuai bagi keadaan saat itu, di mana perekonomian rakyat yang sempat sulit dan bahan makanan seperti daging kurang begitu terjangkau.

Selain itu, karakter nasi lengko yang merupakan olahan dari bermacam jenis bahan baku makanan disebut-sebut sebagai representasi warga pesisir kala itu. Masyarakat pesisir di kota seperti Cirebon terdiri dari berbagai macam suku seperti Sunda, Tionghoa, Arab dan lainnya.

Ada pula yang menyebut bahwa sembilan elemen utama dari makanan ini, yakni nasi, tahu, tempe, taoge, timun, daun kucai, bumbu kacang, kecap dan bawang goreng merupakan representasi dari sembilan wali, alias Wali Songo.

Nasi lengko lantas dikenal sebagai kuliner tradisional yang populer di area pesisir pantai utara antara perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, seperti Tegal, Indramayu, Brebes, Majalengka dan tentunya Cirebon. Di masing-masing kota pun terkadang memiliki ciri khasnya sendiri.

Di Indramayu, misalnya, nasi lengko di sana umumnya tidak menggunakan daun kucai. Atau di wilayah Brebes dan Tegal, di mana nasi lengko disajikan dengan pelengkap seperti kerupuk mie, sementara di daerah lain biasanya disantap dengan kerupuk biasa.

Selain karena rasanya yang enak, kuliner tradisional ini disenangi warga setempat karena bahan bakunya yang plant based dan sederhana namun sarat akan gizi. Dan karena kesederhanaannya itu pula, membuatnya tergolong mudah dan harga jualnya termasuk terjangkau.

Ditambah lagi, ia terbilang cocok untuk disantap kapan saja. Ada yang senang makan nasi lengko untuk sarapan, ada juga yang gemar menyantapnya untuk makan siang atau malam. Maka tak heran jika cukup mudah untuk mendapatkan warung penjual nasi lengko di Cirebon.

Nasi Lengko Cirebon shutterstock
Makanan yang terdiri dari sembilan bahan. Foto: dok. shutterstock

Salah satu yang paling kondang dan legendaris adalah nasi lengko haji Barno, yang kabarnya sudah mulai berjualan sejak 1968 silam. Bisa dikatakan, warung ini turut berandil besar dalam mempopulerkan dan melestarikan kuliner ini.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan nasi lengko haji Barno begitu laris dan meraih banyak pelanggan. Salah satunya adalah metode memasak dengan menggunakan kayu bakar dan anglo yang masih dipertahankan hingga kini. Ini untuk menjaga cita rasa yang asli.

Bahan baku yang digunakan pun juga selalu diusahakan tetap sama. Misalnya, kecap yang digunakan selalu menggunakan merek kecap Matahari yang umum digunakan oleh warga lokal, dengan karakter rasa manis namun cenderung lebih cair.

Tahu dan tempe yang dipakai juga dibuat dan dipesan secara khusus dari desa Wanasaba, yang berada di wilayah kabupaten Cirebon. Desa ini khusus memproduksi tahu dan tempe yang secara spesifik akan digunakan untuk membuat nasi lengko.

Kemudian, untuk meraih konsumen penyuka makanan berdaging, mereka juga lantas menawarkan menu sate kambing sebagai teman makan nasi lengko haji Barno. Bahan daging yang digunakan pun dikhususkan kepada daging kambing muda yang lebih empuk dan tidak bau.

Langkah ini terbukti ampuh, karena menu ini juga turut jadi salah satu primadona warung ini. Kini, sehari-harinya mereka membutuhkan sekurangnya sekitar 30 sampai 40 kilogram daging kambing muda untuk memenuhi permintaan konsumen.

Tak hanya itu, mereka juga memiliki menu khas lainnya yaitu es durian. Menu pencuci mulut ini mirip seperti es puter, namun sebenarnya merupakan olahan dari potongan buah durian yang dingin nan lembut, yang dipadukan dengan rasa manis sirup rasa pisang susu.

Last but not least, adalah harganya yang terhitung cukup ramah dengan kantong beragam kalangan. Harga satu porsi nasi lengko haji Barno komplit dihargai Rp 12 ribu, sedangkan untuk sate kambing muda harganya Rp 4 ribu per tusuk, dan semangkuk es durian dibandrol Rp 10 ribu.

Dulunya, warung nasi lengko haji Barno yang buka setiap hari dari jam 06.00 hingga jam 22.00 ini terlihat sederhana dan hanya mampu memuat sekitar 40 orang. Seiring berjalan waktu, untuk memenuhi banyaknya pengunjung dilakukan renovasi agar kini bisa menampung 100 hingga 120 orang.

Maka warung ini biasanya sudah ramai oleh pengunjung sejak pagi hari oleh mereka yang ingin menyantap sarapan. Meski sudah diperluas agar mampu menerima lebih banyak pengunjung, tak ada salahnya jika datang lebih awal, baik saat jam sarapan, makan siang atau malam.

Nasi Lengko Haji Barno

Jalan Pagongan Nomor 15B, Cirebon

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

3 Menu Sarapan di Pasar Kanoman

Tahi Gejrot Wardi

3 menu sarapan di Pasar Kanoman, Cirebon, Jawa Barat, ini terlihat biasa. Mungkin karena sebagian dari kita sudah biasa menikmatinya di kota asal. Mungkin di Jakarta. Atau kota lainnya. Tapi, selalu saja ada nuansa lain ketika menikmatinya di tempat makanan itu berasal. Originalitas, mungkin.

3 Menu Sarapan di Pasar Kanoman

Di kota Udang ini, banyak makanan khas yang selalu saja ngangeni jika lama tak disantap. Tapi kali ini kita tak bicara makanan besar, seperti layaknya empal gentong atau empal asem yang lebih asyik dimakan siang hari. Kuah yang panas dan sambal… hhff…

Kali ini kita menyambangi Cirebon untuk menikmati sarapan. Denyut kehidupan warga Cirebon, seperti juga di kota-kota lain di Indonesia bisa jadi bermula dari pasar-pasar tradisional. Makanan-makanan ndeso yang maknyus di banyak kota dan jadi klangenan umumnya memang ditemui di pasar tradisional. Di Cirebon, kita bisa menemukannya di pasar Kanoman. Dinamai demikian mungkin karena letaknya yang di depan Keraton Kanoman ini.

Dari sejarahnya, pada zaman Belanda sekitar abad 19, pasar ini dibangun oleh pemerintahan kolonial untuk menggembosi kekuasaan dan wibawa sultan. Para pedagang dari segala penjuru digiring ke pasar tersebut supaya keadaan makin ramai dan eksistensi keraton makin tenggelam. Dari latar cerita yang demikian, tak heran bila kini, di pasar itu terdapat beragam jejak peninggalan sejarah, termasuk kuliner, yang masih bertahan. Berikut 3 kuliner yang layak dicicipi jika mampir ke Pasar Kanoman.

Tahu Gejrot Wardi

Wardi menggelar tampah pikulnya di sudut Pasar Kanoman, tepat di pojok perempatan jalan menghadap ke arah Mall Cirebon. Tampah pikul itu berisi penuh tahu pong dan botol-botol air gula Jawa—disebut juga juruh. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar 3.000 biji tahu dan puluhan botol juruh di sana. “Ini pasti habis dalam sehari,” kata pria 40-an itu, yang sedang sibuk membuat ulekan bawang merah dan cabai hijau—bumbu utama tahu gejrot. Bumbu itu ditaruhnya di piring tanah atau layah berkuran segenggaman tangan orang dewasa. Sepuluh biji tahu dimasukkan ke dalamnya, diiris-iris, lantas disirami juruh hingga tampak mengambang memenuhi piring.

Yang namanya tahu gejrot, kata Wardi, sudah mendarah daging buat orang Cirebon. Apalagi buat anak-anak muda. Penganan ini biasanya menjadi teman nongkrong sambil menyeruput teh. “Kalau Manado punya pisang goreng, kami punya tahu gejrot,” katanya.

Dua belas tahun sudah pria itu membuka lapak kecilnya di Pasar Kanoman. Setiap jam tampah pikulnya ramai dikerubuti pengunjung yang kelar belanja. Memang, tahu gejrot Wardi punya rasa yang khas. Apalagi, tak seperti penjaja tahu gejrot lain, Wardi tak memakai bawang putih untuk memberi rasa gurih pada racikannya. Cukup bawang merah dan cabai rawit hijau. “Kuncinya perbanyak bawang merah supaya rasa gurihnya lebih keluar,” tuturnya. Wardi menyediakan kemasan tahu gejrot bungkus buat pengunjung yang kepingin membawanya sebagai oleh-oleh.

Tahu Gejrot Wardi

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga Rp 10 ribu per porsi

Docang, Lontong dan Oncom Bertemu

francisca christy rosana docang 2
Kuliner Cirebon, Docang. Dok. Rosana

Pagi-pagi benar, orang-orang Cirebon gemar menyantap penganan ini untuk menu sarapan, selain nasi Jamblang. Penampakannya sangat sederhana. Dalam sepiring docang, hanya terdapat lontong, bodo atau baceman oncom, irisan daun singkong, tauge, dan kerupuk. Lantas, semua komplemen itu disiram dengan kuah rebusan oncom yang diproses dalam waktu 4-5 jam.

Dilihat sekilas, docang memang mirip dengan lontong sayur. Hanya, kuahnya lebih bening lantaran tidak menggunakan santan. Rasanya juga tak macam-macam karena tak kaya bumbu. Orang Jawa bilang, masakan ini cenderung tercecap anyep. Juga, ada rasa getir yang tersisa di lidah setelah sesuap docang masuk ke perut.

Kendati punya rasa dan penampakan yang sangat sederhana, docang memiliki jejak histori yang tak main-main. Makanan ini oleh warga setempat dipercaya sebagai penganan para wali zaman dulu. Racikan sederhana ini disesuaikan dengan kehidupan para penyebar agama yang penuh keprihatinan.

Docang mulai sulit ditemukan di Cirebon. Orang-orang setempat bilang, tak banyak yang bisa atau mau memasaknya. Di Pasar Kanoman, makanan ini hanya dapat ditemukan di depan deretan warung oleh-oleh di sebrang gapura utama.

Docang Pasar Kanoman

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga per porsi Rp 12 ribu

Buka mulai pukul 06.00-10.00

Apem yang Tak Manis

Lain Jawa Tengah, lain lagi Jawa Barat. Lain bahasanya, lain pula karakter penganan daerahnya. Apem, misalnya. Jawa Tengah punya jajanan ini. Jawa Barat pun demikian. Sama bentuk dan penampakan luarnya. Bahan dasarnya juga tak jauh beda. Namun keduanya memiliki rasa yang berlainan. Di Jawa Barat, apem, yang umum dijual para penjaja penganan tradisional, punya rasa yang gurih dan cenderung asin. Berbeda dengan Jawa Tengah yang memiliki rasa manis.

Namun, kala bertandang ke Pasar Kanoman, perpaduan lidah Sunda dan Jawa justru tercitra dari makanan yang punya wujud bulat tersebut. Lantaran berada di wilayah pertemuan dua masyarakat dari kelompok yang berbeda ini, apem, sebagai makanan tradisional, pun terdampak akulturasi. Apem di Cirebon memiliki padanan rasa yang gurih bercampur manis. Manisnya berasal jadi air gula Jawa yang disiramkan di atasnya. Kala menyantap apem Cirebon, yang terbayang adalah pertemuan lidah Sunda dan Jawa dalam sebuah produk budaya.

Jajanan Pasar Kanoman

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga per porsi Rp 6.000

F. Rosana

Manado Dalam 1 Cangkir Kopi

Manado dalam 1 cangkir kopi

Manado dalam 1 cangkir kopi, mungkin ini jarang dibayangkan orang tentang ibukota Sulawesi Utara itu. Kulinari Manado, tentu saja, dipersepsi banyak orang dari luar wilayah ini adalah masakan-masakan eksotis. Kita mungkin akan membayangkan Pasar Beriman Tomohon. Tapi, kopi?

Manado Dalam 1 Cangkir Kopi

Dalam beberapa tahu terakhir ini, sesungguhnya kota Manado mulai dibanjiri warung-warung kopi. Ini terjadi seiring dengan hadirnya tempat-tempat nongkrong anak muda di sana. Misalnya saja, di kawasan perekonomian Gunung Mas. Atau tempat yang sering disebut boulevard.

Ada yang warung kopi biasa, tapi tak kurang kafe-kafe kopi modern. Ini memunculkan kebiasaan atau coffee culture baru di sini. Bersosialisasi seraya mencecap secangkir kopi.

Gaya ini segera saja meluas ke belbagai kota di sekitar Manado, termasuk Tomohon. Di tanah yang dingin itu, kopi menjadi sahabat pergaulan.

Jika sempat mampir ke Manado, ada beberapa pilihan kedai kopi yang layak dikunjungi sambil menikmati kota Tinutuan ini.

Secangkir Kopi Para Egalitarian

Ada sebuah gang kecil bernama Jalan Roda bila pelancong menjejakkan langkah 500 meter dari Zero Point Manado. Namun, kalau tak teliti betul, Warung Jarod—begitulah warga sekitar biasa menyebut— yang terletak di area Pecinan, tidak bakal tampak. Sebab, muka gang dipenuhi oleh parkir kendaraan roda dua. Gang itu juga bukan jalan lalu lintas umum. Keberadaannya sudah disulap menjadi tempat nongkrong.

Tepat di badan gang, kursi-kursi plastik dan meja kayu ditata memanjang. Dari pangkal sampai ujung, kedai-kedai sederhana berdiri. Seluruhnya menjajakan kopi, juga pisang goreng sambal roa khas Negeri Celebes. Aroma khas biji kopi Kotamobagu yang sudah dihaluskan merebak memenuhi gang, mulai pukul 7 pagi hingga tengah malam.

Pengunjung yang datang tak terbatas pada kalangan tertentu. Pejabat, pegawai negeri sipil, anak muda, ibu rumah tangga, buruh kasar, dan pengangguran, semua terlibat dalam obrolan satu meja. Sembari meneguk kopi seharga Rp 6.000 yang nikmat, juga pisang goreng Rp 10 ribu per 20 biji, mereka riuh membicarakan isu-isu terhangat. Soal politik, ekonomi, budaya, hingga gosip para pemeran opera sabun. Warkop Jarod, nama bekennya, mencitrakan sebuah tempat ngopi yang egaliter: tak membedakan kelas, meleburkan semua status sosial.

Warkop Jarod

Alamat: Jalan Roda, Pinaesaan, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara

Kopi, Musik, dan Senandung Para Dara

Lain Warkop Jarod, lain pula Rumah Kopi Billy. Kafe sederhana yang sudah 5 tahun berdiri, dan berlokasi di Jalan Sam Ratulangi, Manado, itu jadi tempatnya anak muda mengobrol santai sembari berbagi canda. Tak tampak wajah-wajah separuh baya menduduki kursi. Pun begitu dengan ibu-ibu rumah tangga. Semuanya berwajah 20-30-an. Sambil mengobrol, suara-suara merdu pengamen, yang umumnya mahasiswa mencari dana untuk kegiatan, memenuhi ruangan. Gerombolan silih berganti. Mayoritas yang bersenandung adalah dara-dara manis, sementara para pria bertugas menabuh cajon atau memetik gitar.

Suasana makin cair ditemani secangkir kopi. Sama dengan Warkop Jarod, kopi di sini menggunakan kopi asli Kopikotamobagu. Kopi robusta itu rasa dan aroma khas. Nikmat disantap bersama susu kental manis. Perpaduan gurih, manis, dan pahit bercampur, layaknya obrolan yang terceletuk dari muda-mudi yang mengobrol seru di tempat itu.

Umumnya, kopi seharga Rp 9.000 ini enak disantap bersama pisang goroho goreng seharga Rp 20 ribu atau mi cakalang seharga Rp 18 ribu. Kenikmatannya mencapai puncak kala kopi disajikan bersama klapertart khas Manado yang bisa dibeli di tempat terpisah, misalnya di Klapertart Chstine, yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso.

Bila Rumah Kopi Billy di Jalan Sam Ratulangi penuh, pengunjung bisa beranjak ke cabangnya yang terletak di Jalan 17 Agustus.

Rumah Kopi Billy

Jl. Sam Ratulangi No.134, Titiwungan Utara, Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara

Minum Kopi Berlatar Danau Linow

Minum kopi saja sudah nikmat, apalagi sambil memandang lanskap yang menawan. Di kompleks wisata Danau Linouw, terdapat restoran yang menyajikan hidangan utama kopi Kotamobagu dan pisang goroho tepung goreng. Ada juga pisang spatu yang jadi pemanis. Kedai cukup mewah itu tak bernama. Namun orang sering menyebutnya Kafe atau Restoran Linow.

Pemilik, yang juga seorang aktivis keagamaan, mengelola restoran sekaligus danau. Jadi, pengunjung cukup membayar Rp 25 ribu untuk secangkir kopi Kotamobagu sekaligus sebagai dana retribusi masuk danau. Sementara, pisang goreng dijual Rp 25 ribu per piring.

Di muka danau, kopi yang memang sudah memiliki citra rasa legit, terasa tambah nikmat. Menyeruput secangkir, sembari memandang keindahan bentang alam, serta bukit yang mengelilingi, menjadi cara untuk menyempurnakan liburan di Tomohon.   

Restoran Danau Linow

Alamat: Lahendong, Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Sulawesi Utara

F. Rosana

Tengkleng Solo, Dicecap Mulai Abad 19

Tengkleng Solo berawal dari tulang kambing yang tak disukai orang Belanda.

Tengkleng Solo adalah makanan khas kota ini, tampilannya mirip gulai kambing. Tentu ada bedanya, bahan dasar tengkleng adalah tulang belulang dan jeroan. Kuahnya juga lebih encer dibandingkan gulai daging kambing.

Tengkleng Solo


Tulang belulang kambing yang diolah menjadi masakan dan disukai orang memang unik. Ini ada latar belakangnya. Tengkleng Solo mulai dikenal ketika Indonesia masih dalam zaman kolonialisme Belanda di abad 19.

Dari catatan Wikipedia, sajian tengkleng muncul karena dulu para bangsawan dan orang-orang Belanda saja yang bisa menikmati gulai daging kambing. Sedangkan para pekerja dan tukang masak hanya kebagian kepala, kaki, tulang, dan jerohan saja.

Sementara versi lain menyebut, tengkleng lahir di era pendudukan Jepang di Indonesia. Saat itu terjadi kesulitan mencari bahan pangan. Untuk bertahan hidup, masyarakat terpaksa mengolah limbah bahan pangan seperti tulang belulang dan jeroan kambing.

Tengkleng Solo lahir menjadi kulinari karena kreatifitas orang Solo terhadap bahan pangan.
Semangkok tengkleng Solo bisa menjadi teman yang hangat. Foto: shutterstock

Namun kreatifitas orang Solo memang luar biasa. Para tukang masak tak kehilangan akal, mereka mengolah bahan-bahan tersebut menjadi makanan yang sedap dengan banyak bumbu. Justru ciri khas utama Tengkleng adalah pada bahan dasarnya.

Bahan utama tengkleng adalah tetelan atau tulang belulang kambing beserta bagian-bagian tubuh kambing yang tak diinginkan bangsawan pada masa itu. Kulit, jerohan, kaki, tulang-tulang iga, bahkan kepala kambing.

Tulang dan jeroan kambing itu dimasak dengan bumbu yang ada seperti kelapa, kunyit, serai, jahe, lengkuas, daun jeruk, daun salam, kayu manis, cengkeh, garam, bawang putih, bawang merah, pala, dan kemiri. Kuah gulai yang tidak begitu kental dengan kaldu tulang memberikan citarasa lebih nikmat jika dibandingkan gulai daging kambing biasa.


Nama tengkleng sendiri juga muncul pada zaman itu, di mana banyak warga masyarakat makan menggunakan piring dari kaleng atau seng. Masakan yang terdiri dari tulang-belulang itu bertemu dengan piring seng menimbulkan bunyi “kleng-kleng-kleng”.

Meski berawal dari sejarah yang kurang enak, tengkleng justru tumbuh menjadi salah satu makanan khas Solo. Tengkleng Solo digemari bukan saja oleh warga lokal, tapi juga wisatawan pemburu makanan enak.
Lalu kalau wisatawan mencari tempat makan tengkleng Solo yang paling enak, kemanakah pilihannya? Berikut lima pilihannya.

Tengkleng Solo berkembang menjadi kuliner dengan aneka pilihan daging atau bahannya.
Sepincuk tengkleng dari Warung Bu Edi Pasar Klewer. Foto: Milik Kompas

Tengkleng Klewer Bu Edi

Ini warung tengkleng Solo yang legendaris, wisatawan wajib mampir ke kedai makan milik Bu Edi. Tengkleng di sini sudah menjadi favorit masyarakat Solo sejak 1970-an.

Keunikan tengkleng di sini adalah cara penyajiannya yang menggunakan daun pisang dipincuk. Warung Tengkleng Bu Edi berlokasi di Pasar Klewer, Gajahan, atau tepatnya di Jalan DR. Radjiman, Kauman, Ps. Kliwon, Surakarta.

Harga yang ditawarkan untuk satu porsi tengkleng Solo paling enak sangat murah yaitu 25 ribu saja. Pengunjung bisa menikmati tengkleng istimewa ini setiap hari mulai pukul 12.00 sampai 16.00 WIB .

Warung Tengkleng Bu Pon

Daging kambing memiliki bau yang khas sehingga banyak orang enggan mengkonsumsi olahan kuliner ini. Padahal, citarasa daging kambing tidak kalah enak dengan daging lain.Tapi cobalah tengkleng kambing yang memiliki rasa istimewa di Tengkleng Bu Pon

Warungnya berlokasi di Shelter Lojiwetan, Jalan Kapten Mulyadi, Surakarta. Mereka buka setiap hari mulai pukul 09.00 sampai dengan 16.00 WIB. Harga seporsi makanan lumayan terjangkau kantong pelajar dan mahasiswa alias sekitar 25 ribu rupiah saja.

Tengkleng Bu Pon ini memiliki varian sangat lengkap mulai iga, sumsum atau bagian kepala kambing yang khas. Sensasi rasa menikmati tengkleng Solo paling enak Bu Pon juga bisa disesuaikan dengan selera pengunjung. Mau level lebih pedas dan panas? Konsumen bisa meminta tambahan cabai rawit lebih banyak.

Kedai Tengkleng Bu Jito Dlidir

Salah satu rekomendasi tengkleng Solo yang tak kalah enak dan popular di kalangan masyarakat Solo adalah tengkleng Bu Jito Dlidir. Istimewa karena memiliki citarasa kuah yang gurih. Rasa rempah yang kuat akan membuat pecinta kuliner kambing langsung jatuh cinta dengan olahan tulangannya.

Di sini selain tengkleng, pengunjung juga bisa menikmati aneka masakan lain seperti sate, gulai, dan tongseng kambing. Harga yang dibandrol di sini berkisar mulai 20 ribu ke atas sesuai menu yang dipesan.

Warung ini berlokasi di kawasan Jalan Kolonel Sugiyono Nomor 67, Kadipiro, Surakarta. Buka mulai pukul 09.00 sampai pukul 16.00 WIB.

Warung Tengkleng Pak Manto

Ini pilihan untuk mereka yang ingin mencoba sensasi pedas. Wisatawan wajib datang ke Tengkleng Rica Pak Manto. Menu tengkleng Solo paling enak di sini memang ditawarkan khusus untuk para pecinta pedas.

Penyajian yang berbeda dengan citarasa sedap tak kalah dengan rasa tengkleng biasa. Dijamin pecinta kuliner bakal ketagihan menikmati setiap gigitan rica daging kambing di tempat Pak Manto ini.

Atau, jika ingin menikmati tengkleng dengan rasa yang berbeda, tapi tak suka sensasi pedas, pengunjung bisa memesan tengkleng goreng yang lebih diterima lidah.

Alamat tengkleng Solo Pak Manto ini berada di Jalan Honggowongso Nomor 36, Sriwedari, Laweyan. Mereka buka setiap hari mulai pukul 9 pagi sampai 9 malam. Harga satu porsi tengkleng di tempat Pak Manto sekitar 30 ribu rupiah.

Tengkleng Kepala Kambing Mbak Diah

Tertarik mencoba tengkleng kepala kambing yang anti mainstream? Anda harus mencicipi seporsi tengkleng di Desa Tanjunganom ini. Kuah yang begitu gurih dengan citarasa kuat membuat Tengkleng Mbak Diah digandrungi banyak orang.

Porsi melimpah bisa dinikmati pengunjung dengan mengeluarkan uang sebesar sekitar 25 ribu rupiah saja untuk satu porsi. Warung Tengkleng Mbak Diah berlokasi di Desa Tanjunganom RT 002/RW 001, Kwarasan, Grogol, Tj. Ongih, Sukoharjo.

Ayo kapan ke Solo dan menikmati tulang kambing yang maknyus.

agendaIndonesia

*****