3 Sarapan Maknyus di Gang Gloria Glodok

ketuoat Lam Gang Gloria

3 sarapan maknyus di gang Gloria Glodok ini bisa menjadi pilihan menikmati kulinari di Jakarta. Gang dekat pasar Glodok, Jakarta Barat, tersebut penuh penjaja makanan, termasuk jenis kari, soto, dan ketupat sayur. Tertarik mencobanya untuk sarapan?

3 Sarapan Maknyus di Gang Gloria

Kari Lam

Akiong buru-buru berganti kemeja ketika pelanggan mulai berdatangan. “Sebentar ya, saya baru datang,” ujarnya kepada dua tamu yang duduk di ruangan berukuran sekitar 100 meter persegi itu. Lantas ia pun sibuk menyuwir daging ayam kampung sembari menyisir bihun. Jam belum genap menunjukkan pukul 09.00, waktu buka warung kari ayam dan sapi Kari Lam. Kemudian, ia membuka tutup kuali kuah kari. Asap pun membubung tinggi, bau harum santan bercampur daging ayam langsung tercium.

Sambil membubuhkan bawang goreng ke mangkuk kari, ia pun berkisah. “Warung ini sudah ada sejak 1973 di Gloria, Jakarta. Mulanya di Medan. Bapak saya yang bikin,” katanya. Nama Lam diambil dari sapaan ayah Akiong, Alam. “Jadi Kari Lam berarti Kari si Alam,” ujarnya.

Sudah tiga kali warung ini berpindah tempat, tapi selalu di Gang Gloria, dekat dengan Pasar Glodok. Terakhir 1990-an, dan saat itu pula warung itu dipegang penuh oleh Akiong. Selama tiga dekade terakhir ia melihat penurunan jumlah pengunjung, terutama setelah 1990-an. Pemicunya, warga etnis Tionghoa yang bermukim di wilayah Glodok dan sekitarnya mulai pindah ke perumahan Kelapa Gading, Serpong, dan Pantai Indah Kapuk. Belum lagi adanya krisis moneter.

Meski begitu, sampai sekarang masih ada pelanggan setia yang datang. Mereka biasanya yang kangen rasa kuah santan racikan keluarga Cina-Medan yang sangat khas: mlekoh, tapi tidak medok dan tak bikin enek. Selain itu, tekstur spesial daging ayam kampung yang empuk. Bila tak terlampau doyan ayam, Akiong juga menjual kari sapi.

Kari Lam

Ujung Gang Gloria, Jalan Pancoran, Glodok, Jakarta Barat

Buka: Pukul 09.00-15.30

Harga: Rp 40-45 ribu

Soto Betawi Afung

Soto Betawi Afung
Soto Betawi Afung di Gang Gloria, Glodok, Jakarta. Dok. TL/Frann

Bukan sekali-dua kali Siti Maemunah, pramusaji di warung milik Ho Tjiang Fung, mendengar pertanyaan para pengunjung ihwal kedai milik majikannya. “Cina kan biasanya identik jual mi, kok ini jual soto? Soto Betawi pula,” begitulah perempuan separuh baya tersebut menirukan ujaran para tamunya. Pertanyaan itu juga yang sempat terbersit kala TL menyusuri Gang Gloria dan membaca plakat berwarna kuning yang menggantung di pintu masuk warung.

“Soto ini memang yang punya asnawi, asli Cina-Betawi,” tutur Siti berseloroh. Mulanya, si empu warung membuka bisnis buah impor. Sayangnya, pada masa pemerintahan Soeharto, ujar Siti, importir sulit masuk ke Tanah Air. Karena itu, ia beralih jalur bisnis. Tepatnya pada 1982, Afung, yang dikenal memiliki keterampilan meracik masakan berkuah santan, membuka warung soto Betawi. Tak dinyana, warungnya eksis hingga kini.

Soto Betawi Afung memiliki rasa yang beda karena kuah santan yang dicampur dengan sumsum. Sementara dari penampilannya pun enak dipandang mata: semangkuk soto tersaji lengkap dengan isian daging sapi beserta urat, babat, plus paru yang digoreng garing. Bisa juga tambahan sumsum bila pelanggan kurang puas. “Tapi kalau kolesterolnya tinggi, sebaiknya jangan (menambah sumsum),” ujar Siti.

Soto Betawi Afung

Gang Gloria, Jalan Pancoran, Glodok, Jakarta Barat

Buka: Pukul 06.00-16.00

Harga: Rp 42 ribu

Ketupat Sayur Gloria Kartika Chandra

Lapaknya menyempil, hampir tak terlihat dari jalan setapak di gang pecinan. Jadi Anda harus bertanya untuk menemukan warung yang berdiri sejak 1960 tersebut. “Ya, dari dulu gini-gini saja. Hanya menggelar meja di depan toko orang, tapi syukurlah pelanggan sudah tahu (lokasinya),” tutur Sujono Chandra, si empunya dagangan.

Di lapak sederhana itu, 150 ketupat habis terjual dalam sehari. Generasi kedua pemegang warisan warung sayur asli Betawi itu malah bingung mengapa orang-orang dari berbagai daerah rela datang demi mencicipi masakannya. “Saya rasa olahannya sama dengan lainnya. Santannya sama, isinya sama. Mungkin sambal ebinya yang bikin nikmat,” katanya. Penampilan ketupat sayur yang kondang tersebut memang biasa. Hanya, porsinya sangat besar, cukup untuk dua orang. Namun ada sambal ebi yang disiram di atas racikan ketupat sayur.

Benar seperti yang dikatakan Sujono. Santan dan ketupat memang rasanya standar. Tapi yang membikin spesial adalah sambalnya. Gurih pedas yang muncul dari racikan sambal ebi, diperkuat oleh aroma legit santan. “Ini nikmatnya tiada tara, lho,” tutur seorang pengunjung berusia separuh baya yang saya temui. Sujono menggelar dagangannya dari pagi. Namun siang hari ia berpindah ke mulut gang. “Soalnya gentian sama pedagang lain. Ya begitulah nasibnya, pindah-pindah,” tuturnya.

Ketupat Sayur Gloria

Gang Gloria, Jalan Pancoran, Glodok, Jakarta Barat

Buka: 08.00-16.00

Harga: Rp 52 ribu (ketupat sayur plus ayam kampung), Rp 20 ribu (ketupat sayur saja)

F. Rosana/Frann

Bakmi Halal di Kelapa Gading, 6 Yang Lezat

Bakmi halal di Kelapa Gading menjadi pilihan bagi mereka yang senang mie tapi menyaratkan kehalalan. Foto: milik instagram penggila_bakmi

Bakmi halal di Kelapa Gading, Jakarta Utara, mungkin banyak yang mencari. Maklum daerah ini termasuk kawasan yang lebih banyak dihuni masyarakat Tionghoa, sehingga bagi mereka yang muslim yang menduga kuliner di sini lebih banyak yang non-halal.

Bakmi Halal di Kelapa Gading

Betulkah begitu? Ternyata tidak. Bahwa lebih banyak makanan yang non-halal karena menggunakan bahan dari daging babi memang betul. Namun ternyata bakmi halal di Kelapa Gading banyak juga pilihannya. ali ini agendaIndonesia mencoba mendata bakmi halal apa saja yang ada di Kelapa Gading. Selain halal, tentu saja mereka terkenal lezat dan layak dikunjungi. Beberapa bahkan termasuk legendaris. Berikut pilihannya.

Bakmi Ayam Kampung Atjuan

Melihat namanya, sudah pasti milik orang Tionghoa, namun ini adalah satu kedai bakmi halal di Kelapa Gading. Buat yang muslim pastinya aman makan di sini. Spesialnya Bakmi Atjuan, topping daging ayamnya melimpah.

Daging ayam yang digunakan adalah ayam kampung. Tak heran jika cita rasanya gurih dan tekstur nikmatnya khas. Selain ayam, topping lainnya ada swekiau, bakso sapi, dan pangsit rebus. Khusus ayamnya, karena ayam kampung, cenderung agak kering. Buat mereka yang senang daging yang lebih moist, bisa minta tambahan minyak sayur.

Pilihan bakmienya ada mie halus, lebar, bihun, hingga mie alot. Tekstur mie alotnya tebal, padat dan kenyal.

Kedai ini buka dari hari Selasa hingga Minggu mulai pukul 7-14.00 WIB. Setiap Senin bakmi Atjuan tutup, jadi jangan salah hari.

Bakmi Atjuan; Jl. Summagung I Blok A4 Nomor 2, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Acong Pelopor Bakmi Halal

Ini boleh disebut pelopor bakmi halal di Jakarta Utara. Awalnya Bakmi Acong memulai usahanya di Pulomas pada 1977, sebelum memindahkan gerainya ke Kelapa Gading. Kedai bakmi sederhana ini termasuk yang legendaris. Hingga saat ini Bakmi Acong masih eksis. Pelanggan setianya daatang dari lintas generasi. Bagi penikmat bakmi ayam yang tinggal di kawasan Kelapa Gading tentu sudah tak asing lagi dengan warung Bakmi Acong yang nikmatnya oke banget ini.

Bakmi halal di kelapa Gading menjadi pilihan penyuka bakmi namun mensyaratkan kuliner halal. Ternyata ada pilihan yang cukup banyak, berikut 6 bakmi yang halal dan lezat,
Bakmi ayam Acong. Foto: milik Gadingeat

Jenis mie yang dipakai di kedai ini adalah mie keriting dengan topping ayam yang sudah diberi bumbu manis dan jamur. Rasa mienya khas berpadu dengan siraman kuah kaldu ayam yang gurih. Pangsit goreng dan baksonya juga enak. Warungnya buka setiap hari pukul 06.30-15.00 WIB.

Warung Bakmi Acong, Jl. Kelapa Kopyor Raya Blok M1 Nomor 12A, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Bakmi Kepiting Tanjung Pura

Ini adalah buat mereka yang pernah mencicipi bakmi kepiting di Pontianak. Untuk mengobati rasa kangen bisa datang ke sini. Ini termasuk bakmi halal di Kawasan Kelapa Gading. Mereka buka sejak jam 8 pagi dan tutup jam 21.30 malam. Rentang waktu yang cukup fleksibel untuk dikunjungi.

Bakmi halal di Kelapa Gading salah satunya adalah Bakmi Kepiting Tanjung Pura khas Pontianak.
Bakmi halal di Kelapa Gading pilihannya bisa mie kepiting Tanjung Pura khas Pontianak. Foto: milik full_tummy-yummy

Keistiewaannya tentu saja pada toppingnya berupa capit kepiting yang umumnya besar. Kepiting yang dipakai adalah dari Papua.

Awalnya kedai ini buka di ITC Mangga Dua dan sudah terkenal di Kawasan perdagangan itu. Bakmi ini rasanya masuk ke dalam kelompok bakmi terlezat di Jakarta dan wajib dicoba.

Keistimewaan bakmi ini terletak pada topping capit kepitingnya yang besar. Porsinya juga mengenyangkan. Jenis mienya keriting dengan kekenyalan yang pas. Rasanya pun gurih. Dan jika bakmi tak cukup mengenyangkan, bisa memilih nasi goreng kepiting yang tak kalah lezatnya.

Bakmi Kepiting Tanjung Pura, Jl. Boulevard Raya Blok WA2 Nomor 25, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Bakmi Ayam Honey Yang Warna-warni

Yang ini selain sebagai pilihan bakmi halal, juga buat yang senang dengan kegembiraan. Sebab yang spesial dari mie di sini adalah menu bakmi ayam pelangi yang berwarna-warni. Nggak perlu takut karena pewarna bakmienya menggunakan bahan organik. Potongan daging ayamnya juga diberi berlimpah.

Jika ingin menambah kerenyahan bisa memesan pangsit gorengnya. Kedai ini buka dari pagi dan tutup pada pukul 10 malam.

Bakmi Honey, Jl. Boulevard Bar. Raya, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara

Bakmi Pedas Ala Mie Zhou

Ada yang berbeda bakmi halal di kedai ini, yakni pilihan bakmi pedasnya. Tentu ini bagi mereka yang menyenangi rasa makanan yang mengigit. Tambahan bakso goreng udangnya juga enak dan layak dicoba.

Bakmi Halal di Kelapa Gading bisa menjadi pilihan bagi masyarakat muslim ke tika wisata kuliner di daerah itu.
Mie Zhou adalah pilihan bakmi halal di Kelapa Gading. Foto: Mie Zhou

Mienya juga terasa fresh karena tampaknya dibuat setiap hari. Dibuat dan ‘harus’ habis pada hari yang sama. Pemiliknya adalah dari Medan, jadi rasanya dekat dengan mie-mie dari ibukota Sumatera Utara itu.

Spesialisasinya dari kedai bakmi yang buka dari pagi dan tutup pukul 8.30 malam ini adalah mie Dan Dan. Ada dua pilihan, mie dan dan kering atau mi dan dan celup yang basah. Dua-duanya enak dan layak dicoba.

Mie Zhou, Jl. Boulevard Raya Blok RA1 No.12, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Mie Garing Bethanie

Pilihan bakmi halal lainnya di Kelapa Gading adalah Mie Garing Bethanie. Jenis bakminya keriting yang disajikan garing dengan kuah yang cenderung gurih asin.  

Yang perlu dicoba jika mampir ke kedai yang buka pagi hingga pukul 2 siang ini adalah suikiaw-nya yang cocok dimakan dengan bakmi dan kuahnya. 

Jika ingin mencoba menu lain, bisa dicicipi bubur saponya.

Mie Garing Bethanie, Blok EA 1 No 1 Kelapa Gading, Jl. KLP. Cengkir Timur I,  Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara

Manapun pilihannya, buat pecinta bakmi, terutama mereka yang mensyaratkan soal kehalalan, semua bakmi di atas layak diagendakan.

agendaIndonesia

*****

Serabi Solo Notosuman, Legitnya Sejak 1923

Serabi Solo Notosuman menjadi penganan khas dari kota di Jawa Tengah itu.

Serabi Solo Notosuman sudah pasti menjadi salah satu kuliner pilihan ketika berkunjung ke kota di pusat Jawa Tengah ini. Ia sudah seperti lunpia bagi kota Semarang.

Serabi Solo Notosuman

Serabi Solo sendiri adalah jajanan tradisional yang  diperkirakan sudah ada atau dikenal sejak zaman Kerajaan Mataram Islam. Dikutip dari sejumlah sumber, makanan ini beberapa kali disebut dalam Serat Centhini yang ditulis para pujangga Keraton Surakarta pada 1814 hingga 1823 atas perintah Sri Sunan Pakubuwana V.


Penganan serabi Solo ini adalah makanan khas Solo yang aslinya bentuknya bulat seperti piring dengan sedikit kerak di sekelilingnya. Tekstur serabi Solo ini kenyal namun di tengahnya tetap lembut, dan memiliki rasa yang sangat legit.

Serabi Solo Notosuman berbeda dengan surabi dari Bandung, meskipun bentuknya mirip.
Serabi Solo disebut-sebut dalam Serat Centini dari abad 19. Foto: shutterstock


Serabi Solo memiliki perbedaan dengan kue surabi Bandung. Jika penganan dari ibukota Jawa Barat itu menggunakan bahan dasar tepung terigu dan disiram dengan kuah gula kelapa cair, serabi dari Solo terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan santan  dan gula. 

Ini membuat yang dari Solo sudah memiliki rasa manis dan gurih. Karena itu serabi Solo ini dihidangkan tanpa dressing kuah manis.
Tiap daerah tentu memiliki kekhasan masing-masing. Ada serabi kering ada serabi basah dengan memakai kuah. Ada pula yang menambahkan topping dengan beragam rasa dan aroma.

Serabi Solo diolah dari bahan-bahan yang terdiri dari tepung beras, pandan, vanilla, gula, santan kelapa, dan garam. Biasanya dimasak menggunakan semacam tembikar kecil terbuat dari tanah liat dan dipanggang di atas arang.

Pemasakan serabi Solo umumnya dilakukan sekaligus dalam beberapa tembikar yang dipanaskan di atas tungku arang. Proses pemasakan biasanya selama kurang lebih tiga menit. Jadi setelah adonan dituang ke tembikar, ia ditutup. Sesekali tutupnya diintip untuk melihat kematangannya.


Proses penyajian atau menyantapnya pun berbeda dengan surabi Bandung. Di kota Paris van Java itu, surabi biasanya disajikan dalam piring. Bentuknya pun tetap bulat. Di atasnya diberi topping pilihan konsumen.

Serabi Solo Notosuman digulung dan  dibungkus daun pisang.
Serabi Solo Notosuman dibungkus dengan daun pisang. Foto: shutterstock


Sementara itu, saudaranya di Solo, setelah matang serabi digulung dengan daun pisang agar mudah ketika dimakan. Serabi Solo tersedia dalam beberapa varian rasa, seperti rasa original, cokelat, dan nangka. Saat ini ada pula varian lain.

Setelah melewati sejulah masa, serabi Solo yang paling terkenal adalah Serabi Solo Notosuman. Serabi Notosuman ini pada awalnya dirintis oleh pasangan suami istri, Hoo Geng Hok dan Tan Giok Lan pada 1923.

Serabi Solo Notosuman lahir dari ketidaksengajaan. Menurut Hoo Khik Nio, anak dari Ny. Hoo Ging Hok dan Tan Giok Lan, pada  mulanya, orang tuanya tidaklah bermaksud membuat serabi, tapi apem. Penganan Jawa lainnya yang bentuknya mirip serabi. Biasanya bentuknya lebih padat.

Pembuatan itu terjadi tanpa disengaja, karena ada tetangga yang minta bantuan dibuatkan apem untuk selamatan. Pada saat itu sang tetangga meminta agar apem pesanannya bentuknya lebih pipih atau tipis.

Ternyata “apem” buatan Ny. Hoo Ging Hok enak karena teksturnya yang lembut. Sang tetangga pun tak menyebutnya sebagai apem karena bentuknya yang berbeda. Ia lebih memilih menamainya sebagai serabi. Sejak itulah makanan apem pipih itu dikenal dengan nama serabi. 

Serabi Dari Solo shutterstock
Serabi Solo Notosuman lebih lembut dari kue apem. Foto: shutterstock

Nama Serabi Solo Notosuman atau sering disebut sebagai Serabi Notosuman ini diambil dari nama Jalan Notosuman di Solo, lokasi toko milik pasangan suami istri berada. Jalan Notosuman sendiri kini sudah berganti nama menjadi Jalan Muhammad  Yamin.

Sejak dirintis oleh Hoo Geng Hok dan Tan Giok Lan, saat ini kedai Serabi Notosuman sudah diteruskan oleh generasi keempat. Di Jalan Muh, Yamin itu ada beberapa kedai penjual serabi Solo Notosuman. Mereka umumnya masih kerabat atau tetangga.
Kualitas rasa dan bahan baku tetap diutamakan agar rasa serabinya sama seperti resep turun temurun yang diwariskan. Salah satu rahasia kelezatan serabi Notosuman adalah penggunaan beras cendani yang berkualitas dan sengaja ditumbuk sendiri untuk menjaga kualitas rasa, tekstur, dan kebersihannya.
Bahan-bahan lain yang digunakan dalam pembuatan Serabi Notosuman Solo sebenarnya biasa saja. Serabi Notosuman hanya menggunakan tepung beras, pandan, gula, santan, garam, dan vanila. Karena menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet, Serabi Notosuman ini hanya dapat bertahan selama 24 jam saja.

agendaIndonesia

*****

Seruit Dan 3 Jenis Sambal Lampung

Seruit dan 3 sambal

Seruit dan 3 jenis sambal Lampung adalah acara makan bersama dengan sajian ikan dan sambal yang khas.

Mencari makanan khas Lampung tergolong sulit. Ketika menyusuri rumah makan atau restoran yang berada di Bandar Lampung atau Teluk Betung, kebanyakan yang ada ialah hidangan dari daerah lain, bisa khas Jawa atau Padang. Hingga saya menemukan kata yang mungkin terbilang cukup asing dan bikin penasaran; seruit.

Seruit dan 3 Jenis Sambal

Inilah rupanya hidangan asli di Provinsi Lampung dan disantap secara turun-temurun. Beruntung masih ada restoran yang menyajikannya, meski mencarinya memang tergolong jarang.

Sajian seruit lazimnya dimakan bersama-sama. Kenikmatan dan kebersamaan memberi warna pada nyeruit atau makan seruit.  Terdiri atas tiga sajian, yakni ikan, sambal, dan lalapan, selain tentunya nasi hangat. Tapi yang tersaji tampak begitu berlimpah karena pilihan ikannya beragam. Demikian juga sambal dan lalapannya.

Ragam Ikan

Untuk prosesnya, terdiri atas dua pilihan; digoreng atau dibakar. Untuk rasa yang gurih, tentu lebih baik digoreng. Ikan bakar pun memiliki aroma khas yang menggundang selera. Jenis ikan umumnya ikan besar penghuni sungai yang banyak ditemukan di provinsi ini, semisal ikan belida, baung, layis, dan ikan mas yang lebih mudah ditemukan saat ini. Saya pertama kali mencicipi sajian seruit dengan ikan mas. Beruntung kemudian mencicipi ikan baung yang memang khas daerah ini.

Proses pembuatannya, setelah dibersihkan, ikan diberi bumbu yang dihaluskan. Bumbu terdiri atas bawang putih, garam, kunyit, dan jahe. Setelah itu, ikan dibakar selama 10 menit. Saat sudah setengah matang, ikan diolesi kecap manis dan campuran bawang putih, garam, serta ketumbar.

Tiga Jenis Sambal

Terasi, Mangga, dan Tempoyak. Tiga jenis sambal ini bikin bersantap seruit menjadi meriah. Ketiganya menggoda. Sambal terasi ialah campuran dari cabe merah, cabe rawit, garam, dan terasi bakar. Aroma terasinya menggoda. Apalagi rasa pedas membuat nafsu makan meningkat. Warna merahnya pun cukup menggoda.

Sambal tempoyak tak kalah soal aroma. Aromanya khas durian. Tempoyak memang hidangan khas di meja makan penduduk Pulau Sumatera, tidak terkecuali di Lampung. Sambal ini terbuat dari buah durian yang sudah difermentasi. Daging durian matang yang telah diberi garam dan cabe disimpan dalam stoples tertutup kurang lebih selama 4 hari. Lebih baik menyimpannya di dalam ruangan dengan suhu stabil, bukan di lemari es.

Tempoyak berumur 4-5 hari cocok dijadikan sambal karena sudah terasa asam, tapi juga masih ada manisnya. Membuat sambal tempoyak cukup mudah. Siapkan irisan bawah merah dan bawang putih serta cabe merah, kemudian digoreng dan tambahkan tempoyak. Bisa ditambahkan sedikit gula, tergantung selera.

Sambal mangga, terlihat dengan irisan mangga yang kelihatannya begitu segar. Sambal ini menggunakan kuini muda sehingga rasa asamnya benar-benar terasa. Bahannya seperti pada umumnya sambal, yakni cabe merah, bawang merah, terasi bakar, sedikit garam dan gula, serta buah kuini yang dicincang kasar. Cabe dan bawang merah diulek kasar, baru diberi bumbu lain dan campurkan dengan kuini.

Pelengkap lain selain ikan dan sambal serta nasi hangat adalah lalapan. Selain berupa sayuran umum, seperti daun kemangi, jengkol, selada air, dan daun jambu monyet, ada yang unik, yakni terong bakar.

Kebanyakan rumah makan menyajikan ikan dengan sambal secara terpisah. Namun sesungguhnya tradisi menyantap seruit ialah mencampurkan ikan dengan sambal. Setelah digoreng atau dibakar, ikan dipilih dagingnya, lalu dicampurkan ke dalam sambal.

Pilihan Rumah Makan

1. Rumah Makan Rusdi Gendut

Jalan Pangeran Tirtayasa Sukabumi, Bandar Lampung.

Karena di Lampung sangat jarang rumah makan yang menjual makanan khas Lampung, Rusdi pun berusaha untuk memulainya. Ia ingin melestarikan tradisi makan seruit. 

2. Dapoer Tatu

Jalan Putri Balau no 24, Kedamaian

Bandar Lampung

Rumah makan dijalankan oleh sebuah keluarga, pasangan Sunda-Lampung, dengan bentuk bangunan berupa saung-saung yang nyaman.

Kisaran Harga

Seruit kerap dijual dalam bentuk paket sehingga Anda tidak perlu repot-repot memilih menu. Paket seruit meliputi nasi, ikan, beberapa jenis sambal, dan lalapan yang dipatok pada kisaran Rp 45 ribu.

Rita N/A. Probel

Nasi Liwet Yu Sani, Gurihnya Sejak 1980

Nasi Liwet Yu Sani solo adalah salah satu legenda kuliner khas kota ini.

Nasi Liwet Yu Sani selama bertahun-tahun menjadi salah satu ikon kuliner tradisional Solo, Jawa Tengah. Dari sejak masih berjualan keliling hingga menjadi tenda kaki lima di tepi jalan, penggemarnya tak pernah surut dan kini selalu diburu wisatawan penggemar kuliner.

Nasi Liwet Yu Sani

Berbicara soal nasi liwet, sebenarnya ada dua jenis nasi liwet yang dikenal umum di Indonesia, yakni nasi liwet ala Sunda dan Jawa. Nasi liwet di Solo sendiri merupakan jenis nasi liwet Jawa, yang mirip dengan nasi uduk karena dimasak menggunakan santan.

Pertama, nasi dimasak dengan santan sehingga terasa lebih pulen dan harum. Selain itu, nasi juga dibumbui dengan beberapa rempah-rempah seperti pala, jahe, daun salam, daun serai dan kayu manis agar aroma dan cita rasanya semakin kuat.

Nasi Liwet Yu Sani cuma memiliki dua cabang. Dua-duanya selalu diserbu penggemarnya.
Ilustrasi nasi liwet Solo. Foto: dok. milik sajiansedap.id

Setelah jadi, nasi kemudian diguyur kuah dan sayur labu siam hangat yang memberikan sensasi gurih pedas. Dan sebagai pelengkap, nasi kemudian ditambahkan lauk pauk seperti ayam suwir dan telur pindang rebus.

Salah satu ciri khas nasi liwet Solo lainnya adalah cara penyajiannya. Secara tradisional, nasi liwet di Solo biasanya disajikan dengan menggunakan pincuk daun pisang, yang dibuat berbentuk kerucut.

Bagi warga Solo sendiri, nasi liwet sudah menjadi bagian dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kuliner tradisional ini masih menjadi salah satu favorit warga kota batik ini untuk sarapan, santap siang maupun malam. Warung-warung penjaja nasi liwet pun mudah untuk ditemukan.

Bahkan, nasi liwet merupakan salah satu makanan yang banyak beredar kala gelaran Grebeg Maulud, perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang sudah menjadi tradisi setiap tahunnya di Solo.

Disinyalir, salah satu alasan mengapa nasi liwet sangat populer pada perayaan tersebut adalah karena pada masa lalu, perayaan Grebeg Maulud diwarnai dengan pembuatan nasi samin, alias nasi yang dibuat menggunakan minyak samin.

Nasi samin disebut-sebut merupakan salah satu makanan favorit Rasulullah pada masanya. Namun, karena sulitnya mendapatkan minyak samin di Solo masa itu, akhirnya sebagai alternatif nasi dimasak dengan menggunakan santan yang lebih terjangkau.

Sayur Labu Siam shutterstock
Sayur labu siam menjadi pendamping wajib nasi liwet Solo. Foto: shutterstock

Menurut keterangan resmi pemerintah kota Solo, nasi liwet Solo pertama kali dibuat oleh warga Desa Menuran, Kabupaten Sukoharjo. Resep tersebut kemudian dijual kepada umum, termasuk warga Solo.

Ternyata, kuliner ini disukai banyak orang dan terus populer hingga kini. Bisa jadi, selera warga Solo yang cenderung menyukai kuliner dengan cita rasa gurih menjadi salah satu alasan mengapa nasi liwet begitu populer dan menjadi salah satu ikon kuliner kota Solo.

Di Solo mungkin banyak penggemar kuliner mengenal nasi liwet adanya di kawasan Keprabon. Penjualnya yang terkenal adalah Wongso Lemu. Belakangan, banyak penjual menempelkan kata “Wongso Lemu” pada gerainya. Ini membuat keraguan konsumen.

Tak heran penjual nasi liwet di Solo begitu menjamur. Jika sudah pernah mencoba di Keprabon, tak ada salahnya mencoba salah satu yang bisa dibilang juga legendaris, yakni nasi liwet Yu Sani. Yang kini berjualan di kawasan jalan Veteran, tak jauh dari Alun-alun Kidul/Selatan Solo.

Usut punya usut, Yu Sani termasuk sang perintis usaha ini. Dulunya ia berjualan nasi liwet dengan berkeliling kota Solo. Dari tempat tinggalnya di desa Baki, selatan kota Solo, ia berjalan keliling kota menjajakan nasi liwet buatannya sejak 1980.

Telur Pindang shutterstock
Telur pindang adalah lauk nasi liwet selain ayam suwir. Foto: shutterstock

Setelah semakin populer dan digemari, ia akhirnya membuka warung tenda kaki lima di jalan Veteran. Belakangan, terdapat pula satu cabang di area Solo Baru, tepatnya di jalan Ir. Soekarno, dusun II Langenharjo, Kabupaten Sukoharjo.

Yang cukup unik di nasi liwet Yu Sani adalah ketika disajikan, nasinya juga diguyur santan kental, yang tentunya semakin menambah cita rasa gurih. Tambahan lauk pauknya pun beragam, mulai dari telur pindang rebus, tahu dan tempe bacem, usus, ati ampela, dan lain lain.

Ayam yang digunakan pun berjenis ayam kampung, begitu pula telurnya. Pengunjung nantinya bisa memilih tambahan bagian tubuh dari ayam yang disuwir, mulai dari sayap, tepong/dada, paha, kepala, uritan, hingga jeroan, hingga brutu.

Masuk ke dalam warung tenda Nasi Liwet Yu Sani, pengunjung akan disambut dengan baskom-baskom pilihan lauk pelengkap nasi liwet. Untuk pilihan tempat duduk, disediakan area meja dengan kursi, atau area lesehan.

Yang tak kalah menarik, salah satu daya tarik utama nasi liwet Solo yang membuatnya populer adalah harganya yang ekonomis. Satu porsi nasi liwet dengan lauk ayam suwir saja harganya hanya Rp 9 ribu.

Kalau mau menambah ayam suwiran, harganya berkisar antara Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu. Sedangkan dengan menambah lauk seperti telur, usus, tahu dan tempe, harganya mulai dari Rp 11 ribu hingga Rp 14 ribu.

Maka jangan heran, kendati warung nasi liwet Yu Sani biasa buka dari jam 17.00 hingga jam 23.00, sering kali makanan sudah ludes terjual sebelum jam tutup. Maklum, sejak warung dibuka pun pengunjung kerap sudah mengantre, sehingga disarankan untuk datang lebih awal.

Nasi Liwet Yu Sani

Jl. Veteran, Solo

Jl. Ir. Soekarno no. 8, Solo Baru

agendaIndonesia/audha alief P

*****

Hangat-hangat ala Bandung, 4 Minuman Asyik

hangat-hangat ala bandung, minuman yang membuat badan tidak kedinghinan

Hangat-hangat ala bandung saat udara mulai terasa dingin ketika memasuki musim hujan, ada pilihan asik, yakni bandrek, bajigur, ronde, atau sekoteng. Keempatnya bisa menjadi teman nongkrong yang menyenangkan.

Hangat-hangat ala Bandung

Di saat musim hujan dan masa liburan di Bandung, rasanya ada yang bisa dilakukan selain diam . Tapi, ayo cari penghdi kamar hotel. Minuman hangat tersebar di beberapa titik di kota Kembang ini. Ada beberapa minuman khas Parahyangan yang sengaja disajikan untuk membuat tubuh tisa diserak lagi kedinginan. Sebut saja bandrek yang bisa diseruput sambil nongkrong berdua bersama teman.

hangat-hangat ala Bandung menjadi pilihan saat memasuki musim hujan.
Bandrek, minuman hangat khas masyarakat tanah Pasundan. Foto: dok. shutterstock

 Bandrek di Hutan Pinus

Sekelompok pengendara sepeda motor trail memacu tunggangannya melintasi jalan berkelok, melewati beberapa orang yang mengayuh sepeda perlahan. Mereka berada di antara pohon pinus dataran tinggi Bandung bagian utara Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Tujuan mereka sama, yakni menuju warung bandrek Ibu Ipah di sekitar hutan pinus Tahura Ir. H. Djuanda yang buka sejak 2004.

Minuman hangat ini merupakan campuran jahe, cabai Jawa (cabe areuy dalam bahasa Sunda), gula aren, kolang-kaling, dan serutan kelapa. Ada dua jenis bandrek yang disajikan. Pertama, bandrek orisinal dengan rasa jahe yang dominan seharga Rp 10 ribu per gelas. Bila tidak terlalu suka rasa jahe yang kuat, Anda bisa memilih jenis kedua. Jenis kedua merupakan bandrek spesial dengan tambahan susu kental manis seharga Rp 12 ribu per gelas. Kudapan yang paling pas berupa aneka gorengan (pisang, peuyeum, tahu isi) seharga Rp 2 ribuan, atau tape ketan hitam yang dibungkus daun jambu.

Warung Bandrek Ibu Ipah; Tahura Ir. H. Djuanda, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan,

Bandung

Bandrek Sejak 1958

Bajigur adalah minuman hangat asli Tanah Pasundan, perpaduan antara santan, gula Jawa, dan kolang-kaling. Santan cukup dominan dengan rasa manis dan gurih. Harganya Rp 10 ribu per gelas. Teman untuk menikmatinya ialah gorengan. Berada di pusat kuliner Jalan Cilaki, Bandung, warung ini menyediakan gorengan tahu, pisang, nangka, dan nanas dengan harga satuan  Rp 2 ribuan.Warung bajigur Hj Siti Maemunah tergolong warung bajigur tertua yang masih bertahan di Bandung.

Dirintis oleh Maemunah sejak 1958, tak heran jika warung bajigur ini memiliki banyak pelanggan fanatik dari beberapa kota besar. Dulu, warung ini dikenal dengan nama Bajigur Supratman karena awalnya dibuka di Jalan Supratman. Setelah ada penataan kawasan, warung pindah ke Jalan Cilaki. Karenanya, kini terkenal dengan nama Warung Bajigur Hj. Siti Maemunah. Setelah Maemunah wafat, warung ini dikelola oleh anak-anaknya dan menjadi salah satu ikon kuliner malam Kota Bandung. Lokasi warung ini hanya sekitar 300 meter dari Gedung Sate.

Warung Bajigur Hj. Siti Maemunah; Jalan Cilaki, Bandung

hangat-hangat ala Bandung menjadi ciri kota yang ng berhawa dingin ini.cenderu
Sekoteng Bandung, bisa dipesan dingin, bisa pula dibuat yang hangat. Foto: Dok. shutterstock

Denting Tukang Sekoteng

Dentingan mangkok yang khas di malam hari kerap menjadi penanda penjaja sekoteng mulai berkeliling menyusuri jalanan, meski ada juga yang mangkal di tempat keramaian. Sekoteng terdiri atas air jahe dan campuran rempah lain, air gula, lalu diberi taburan potongan roti tawar berbentuk dadu, pacar cina, kacang tanah, dan kue simping manis. Menurut salah seorang pedagang sekoteng keliling yang sudah berjualan sejak 1975, jarang ada tukang sekoteng mangkal.

“Hampir semuanya keliling, tapi sekarang semakin jarang. Mungkin orang-orang sekarang tidak terlalu suka ya,” ujarnya. Dengan harga Rp 15 ribu per mangkok, pedagang sekoteng lain tetap setia menyusuri jalanan kota. Sesekali mereka berhenti di tempat-tempat ramai, seperti Gedung Sate atau taman-taman kota yang kerap dikunjungi warga.

Tukang Sekoteng Keliling; Sekitar Gedung Sate, Bandung

Ronde Jahe Alketeri

Nyempil di mulut gang dengan suasana warung kuno sederhana justru menjadi ciri khas dan daya tarik sendiri dari Warung Ronde Jahe Alketeri  di Jalan Alketeri, Bandung. Area warung sangat sempit dan memanjang sekitar 5 x 2 meter. Kondisinya masih sama seperti pertama kali buka pada 1984. Nyonya Guat, 83 tahun, masih tetap setia menyapa para pelanggannya. Ia juga meracik pesanan dengan sabar.

Ronde jahe atau wedang ronde buatannya berupa ronde dari tepung beras ketan yang dibentuk bulat tanpa isi. Ada pula yang bulat besar dengan isi kacang. Ronde disiram air jahe panas, air pandan, dan gula aren. Bagi yang tidak suka gula aren, bisa diganti dengan gula pasir cair. Rasanya enak dengan tekstur empuk kenyal dan air jahe yang manis, segar, sera harum. Harganya Rp 20 ribu per mangkok. Nyonya Guat tinggal di kawasan ini sejak 1940-an. Ia pernah berganti-ganti usaha, mulai warung nasi, warung sate, hingga akhirnya menemukan usahanya yang pas dan tetap bertahan hingga kini, yaitu ronde jahe.

Ronde jahe Alketeri kini dikenal sebagai salah satu warisan kuliner Bandung yang wajib dicicipi para pemburu kuliner. Hasil kerja keras Nyonya Guat kini berbuah 11 cabang yang tersebar di beberapa pusat perbelanjaan modern di Bandung dan satu cabang di Palembang.

Ronde Jahe Alketeri; Jalan Alkateri Bandung

TL/agendaIndonesia

*****

Keju Lokal Indonesia, Ini 5 Yang Creamy

Produk keju menjadi penguat rasa pada resep-resep masakan.

Keju lokal Indonesia pasti sudah banyak yang sering mengkonsumsinya. Mungkin tanpa sadar mengetahui jika itu adalah produk buatan sejumlah daerah di Indonesia, karena membelinya di jaringan supermarket dunia.

Keju Lokal Indonesia

Keju memang bukan makanan asli Indonesia, ia masuk dan dikenal di negeri ini karena dibawa orang-orang Belanda pada zaman kolonial. Produk ini merupakan salah satu makanan yang terbuat dari susu.

Untuk konsumsinya, keju dapat disantap langsung atau dijadikan bahan campuran pada hidangan. Cita rasa keju umumnya manis dan asin. Rasa ini dapat ditemukan di banyak produk pastry dan kue seperti puff pastry, cheese cake, roti isi , atau masakan-masakan pasta Italia. 


Bertahun lamanya, masyarakat Indonesia memahaminya kalau keju adalah buatan luar negeri. Produk impor, atau setidaknya jika diproduksi di Indonesia ia menggunakan merek luar negeri.

Keju lokal Indonesia ada berbagai macam jensnya dari cheddar, mozarella, hingga keju danke.


Ternyata beberapa daerah di Indonesia sudah dikenal memproduksi keju  dengan mengandalkan bahan-bahan lokal. Meski mungkin keju Eropa masih mendominasi pasar dunia, tapi keju lokal Indonesia juga merupakan produk  berkualitas. Pabriknya tersebar di beberapa daerah.


Keju lokal Indonesia punya kualitas yang tak kalah baik. Produsen keju lokal ini tak main-main soal kualitas dan rasa. Berikut lima keju lokal Indonesia yang patut dicoba dan menjadi pilihan utama.


Keju Indrakila Boyolali
Di Boyolali, Jawa Tengah, selain jadi sentra susu sapi, juga ada produsen keju yang cukup terkenal. Indrakila adalah pabrik keju pertama di Jawa Tengah, pendirinya pemuda asli Boyolali bernama Noviyanto.


Keju Indrakila ini mulai dibuat pada 2009 lalu dan kini produksinya sudah terbilang besar. Dalam sehari, pabrik mampu menghasilkan 50 kilogram keju dari sembilan varian berbeda. Keju Indrakila bahkan membuat keju jenis Boyobert yang berasal dari kata Boyolali Camembert.

Keju Lokal Indonesia dari Boyolali jenis mozarella
Keju MOzarella Indrakila dari Boyolali.

Berawal memanfaatkan kelebihan produksi susu sapi di daerahnya, Noviyanto kemudian mengolahnya menjadi produk keju dengan nama Indrakila. Keju Indrakila mempunyai kualitas yang tak kalah dari produk keju buatan luar negeri.

Pembuatan keju Indrakila ini  menggunakan 99 persen susu sapi segar lokal yang sudah dipanaskan dicampur dengan garam dan bakteri Lactobacillus untuk mengasamkan susu dan bakteri Streptococcus untuk menggumpalkan susu.

Salah satu varian keju Indrakila adalah jenis mozzarella diakui sebagai keju dengan rasa yang paling mendekati keju mozarella impor.

Keju Baros Sukabumi
Di kawasan Sukabumi juga ada pabrik keju bernama Baros. Keju yang dihasilkan awalnya jenis keju gouda dengan empat varian. Selain memproduksi keju, pabrik ini juga menyediakan paket tur untuk pengunjung yang ingin mengetahui proses pembuatan keju.

Bagipenggemar keju, keju gouda bukan jenis yang asing. Namanya mengacu pada Kota Gouda, Belanda, yang tak lain merupakan asal mula produk keju jenis ini. Keju gouda berwarna kuning tua, termasuk dalam golongan keju semi padat (semi hard cheese) hingga padat (hard cheese).

Rachmantio adalah nama pengusaha keju lokal Indonesia dengan bendera PT Bukit Baros Cempaka di Sukabumi. Pengusaha kelahiran Cirebon ini mengolah dan memproduksi keju gouda dengan masa pemeraman antara 1,5 bulan hingga lebih dari empat bulan.

Keju Baros Sukabumi IG
Keju gouda Baros dari Sukabumi.

Berkat ketekunannya, produk keju gouda bermerek Baros sejajar dengan produk-produk keju impor di rak-rak supermarket. Ia mengaku memilih gouda, dan bukan cheddar, karena kualitasnya.

Awalnya, Keju Baros fokus memproduksi jenis keju gouda. Belakangan mereka juga memproduksi keju jenis lain.

Agar rasa dan kualitasnya sama seperti keju asal kota Gouda, perusahaan ini sempat mendatangkan  ahli keju Gouda dari Belanda untuk mengajarkan cara pembuatan keju kepada karyawannya. Susu sebagai bahan utamanya berasal dari sapi Friesian Holstein yang didatangkan langsung dari Belanda.

Keju Lembang Bandung
Keju yang diproduksi di Bandung ini punya merek Keju Lembang. Usaha produksi keju skala mikro ini didirikan sejak 2013 di kawasan Lembang yang terkenal sebagai salah satu pusat susu Indonesia.


Produk keju mozzarella di pabrik ini terkenal dengan kualitasnya yang lezat dan mirip seperti keju Italia. Kualitas keju produksi ini bahkan diawasi langsung oleh ahli keju di bawah supervisi akedmisi dari Teknik Kimia, ITB.

Keju Yogyakarta
Dari kota pelajar Yogyakarta ada juga produsen keju artisan yang menarik. Keju dengan label Mazaarat ini mengusung tagline sebagai keju alami yang sehat dan berkualitas. Total ada 14 jenis keju yang dibuat di pabrikan ini. Mulai dari keju mozzarella, halloumi, feta, ricotta hingga keju gouda. Keju di tempat ini diproduksi dalam skala kecil namun tetap mengandalkan kualitas premium.


Bahan utama keju Mazaraat Artisan Cheese adalah susu kambing dan sapi namun organik. Artinya, sapi dan kambing tersebut dipastikan hanya memakan rumput yang bebas pestisida atau pupuk kimiawi serta bebas dari suntikan hormon antibiotik pemacu produksi susu.

Selain itu, keju Mazaraat Artisan Cheese tidak mengandung bahan pengawet, aditif, perasa buatan, pewarna kimiawi atau bahan GMO (genetically modified organism) sehingga tidak bisa disimpan terlalu lama

Keju Rosalie Bali
Rosalie Cheese menciptakan keju spesial dengan sentuhan unik pada rasa lokal. Produsen keju yang pabriknya berada di Denpasar, Bali, ini menggunakan bahan-bahan alami, tanpa pengawet dan pewarna. Susu yang digunakannya pun berasal dari kambing etawa dan saanen yang diambil dari peternak di Kecamatan Negara, Bali.

Salah satu alasan menggunakan susu kambing adalah karena kambing beranak dan melahirkan secara natural dan tidak perlu disuntik seperti sapi.

Selain itu, susu kambing juga lebih mudah dicerna tubuh manusia serta cocok untuk mereka yang intoleransi terhadap laktosa.

Rosalie Cheese menyediakan beberapa varian antara lain black-pepper goat, plain goat feta, black and white cheese, camembert dengan moringa (daun kelor), serta crotting cheese dengan bungkus daun anggur.

Ayo mulai mengkosumsi keju lokal Indonesia yang creamy-nya tak kalah dengan keju impor.

agendaIndonesia

*****

1 Senja di Lombok Timur, Mengejar Ribuan Buih

Pantai Gili Pasir

1 senja di Lombok Timur, memburu ribuan buih air laut, dan menapak di jutaan pasir. Pulau-pulau kecil dengan pasir halus, tersebar dari Tanjung Luar sampai Sekaroh.

1 Senja di Lombok Timur

Udara mulai bergeser terik, meski masih terbilang pagi. Meninggalkan Pantai Seger di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, saya tak ingin hanya berputar di sekitar kawasan wisata Kuta. Jadilah kendaraan melaju ke bagian timur. Maklum, kabarnya ada sebongkah keindahan di sana. Melewati perkampungan yang adem karena penuh pepohonan, hingga akhirnya melaju di atas aspal mulus dengan salah satu sisi yang tandus. Aroma khas pesisir mulai tercium. Perjalanan satu jam sudah.

Setelah melaju di Jalan TGH Moh. Mutawalli, kendaraan pun berbelok ke kanan di depan kantor Desa Serumbung, Kecamatan Jerowaru. Rasa panas pun menerpa, saya menutup jendela rapat-rapat. Tak ada arahan menuju pantai, tapi saya percaya dengan pengemudi yang paham betul Lombok.

Di pertigaan terlihat kerumunan warga yang baru ke luar dari kantor Kepala Desa Ekas Buana. Saya lihat kiri-kanan kebun jagung yang mengering, jalan kecil tanah pun berdebu. Namun, hanya dalam jarak 400 meter, samudra pun sudah di depan mata. Debur ombak nyaring terdengar. Pantai yang begitu panjang, diapit dua bukit bebatuan.

Perjalanan 1 jam lebih dari Kuta pun menjadi tak terasa. Saya memilih menaiki bukit batu agar bisa memandang pantai dan samudra dari ketinggian. Apalagi di balik bukit ternyata ada pantai kecil yang juga begitu sepi. Di ujung lain, terlihat ada bagian pantai dengan pasir putih, sedangkan di dekat saya berdiri, tepian pantai penuh dengan karang. Tak ada turis berkeliaran. Ketika menuruni bukit, baru saya bertemu dua ibu yang membawa keranjang. Rupanya mereka hendak mencari kerang-kerang yang bersembunyi di balik karang.

Pantai Pink
Wisata pantai di Lombok Timur, salah satunya ke pantai Pink. shutterstock.

Saat kendaraan baru beranjak, barulah saya bersua dengan dua turis bule yang mengendarai sepeda motor. Mereka mengarah ke pasir putih yang berada di sisi kiri. Di sana memang lebih nyaman untuk berjemur atau sekadar leyeh-leyeh di tepi pantai. Pantai landai dengan pasir yang lembut.

Satu surga harus saya tinggalkan siang itu. Karena Lombok Timur masih menyimpan “surga-surga” lain, kali ini saya masih harus berkendara satu jam lagi dari Desa Ekas Buana menuju sisi yang berlawanan, yakni Tanjung Luar. Ada sejumlah pulau kecil, dan tentunya Pantai Pink, yang namanya sudah berkibar di kalangan pelancong.

Atas saran pengemudi, saya dan kawan mendatanginya via laut, alias berperahu. “Lewat darat harus lewat hutan Sekaroh dengan jalan rusak, dan kalau kemalaman pas pulang, gelap itu,” ujarnya. Sebagai orang yang tak paham wilayah, saya sepenuhnya percaya kepada pria asli Lombok itu.

Jadi kami pun menuju sebuah pelabuhan kecil di Dusun Telong Elong, Desa Pringgasela Timur, Lombok Timur. Sebenarnya, bisa juga berperahu dari Labuan Pandan, tapi lagi-lagi menurut si pengemudi yang bernama Kadir itu, jaraknya terlalu jauh. Kadir berbaik hati pula memesan pisang goreng sebelum kami tiba. Dengan bekal minuman dan pisang goreng panas, kaki pun melangkah riang. Sudah terbayang keindahan pantai-pantai di Tanjung Luar.

Mendung seperti tiba-tiba menyergap. Saya segera ke perahu nelayan, paling tidak tentunya berharap hanya gerimis yang turun dan langit pun segera cerah kembali. Perahu melaju melewati Gili Re, pulau dengan penduduk terbanyak di Tanjung Luar. Di sini pula, Mak Heri, nelayan yang mengantar kami, tinggal. Keramba terlihat di sekeliling pulau. Tujuan pertama rupanya Gili Pasir, yang dicapai hanya dalam 15 menit. Ehmm… Benar-benar hanya ada gundukan pasir, bendera merah putih, dan bintang-bintang laut yang menampakkan diri di tepian pantai.

Sederhana suasananya tapi bahagia rasanya dan saya ingin berlari menuju dua sisi pasir yang tak seberapa luas itu. Sayang, tak lama hujan deras turun dan sempat masuk ke dalam perahu. Tapi kami mencoba menunggu dan berharap hujan segera berhenti. Doa rupanya terkabul, hujan hanya sesaat. Saya pun kembali berlari di pasirnya yang halus dan tertawa lepas.

Tak bisa terlalu lama rupanya, karena perjalanan ke pulau selanjutnya lebih panjang. Melewati tambak-tambak ikan, juga tempat pembudidayaan mutiara. Sang nelayan sempat menunjuk Pantai Pink 2 yang dari kejauhan terlihat pasirnya yang merah muda. Terlihat sepi, tapi perahu terus melaju hingga sekitar 30 menit, dan tibalah di Gili Petelu. Pulau kecil dengan tiga bukit karang, juga pantai berpasir putih yang mini. Terlihat satu keluarga tengah menikmati keindahan bawah lautnya. Perairannya yang jernih memang menggoda.

Meski tidak bisa terbilang istimewa, menjajal snorkeling di sini bisa menjadi pilihan. Bila tidak, cukuplah dengan menebar remah-remah roti, rombongan ikan pun menampakkan diri. Saat langit mulai tak terang lagi, perahu kembali dinaiki. Di sisi kanan Gili Petelu sudah terlihat hamparan Pantai Pink, yang ternyata warna kemerahannya tak terlalu kuat bila dibanding Pantai Pink 2. Bisa jadi, karang-karang merah yang membikin pasir menjadi kemerahan sudah tak lagi banyak singgah di pantai yang terletak di Desa Sekaroh ini.

Ombak begitu tenang di tepi pantai. Berjajar beberapa perahu, terasa sepi. Hanya ada satu anak seusia siswa taman kanak-kanak bermain di pantai, dan orang tuanya menunggu di tepian. Kelompok turis bisa jadi sudah pulang karena senja sudah menjelang. Tinggal segerombol nelayan yang nongkrong di sebuah warung. Sejenak saya ingin menikmati pantai dalam keheningan, sementara rekan saya langsung mendaki bukit yang ada di salah satu sisi. Tentunya untuk mencari tempat pengambilan foto terbaik.

Anjing-anjing berlarian, gonggongannya memecah hening. Saya menengadah ke langit, rupanya warnanya mulai gelap. Saatnya menyusul teman, mendaki ke bukit. Segerombolan kambing dan seorang nenek saya temukan di atas bukit, plus setumpuk kelapa muda. Duduk di bangku kayu sembari menyeruput air kelapa hijau tampaknya bisa bikin menanti senja semakin nikmat. Langit mulai menguning, memerah, dan rekan saya tiba-tiba muncul dari ujung bukit. Masih ada warna merah dan berbaur gelap di langit, tapi kami memilih kembali ke perahu. Lebih asyik menikmati senja di tengah lautan.

Perasaan saya perjalanan pulang lebih panjang. Mungkin karena perahu tak mampir-mampir. Lampu-lampu di tempat budi daya mutiara, dan bagan ikan yang terapung, menjadi penerang laju perahu. Tak ada satu pun yang berbicara. Sesekali Mak Heri menyapa rekannya yang menjaga bagan ikan. Hanya ada suara ombak terhantam perahu dan mesin perahu yang saling bersahutan. Kami kembali dalam hening, seakan tak rela meninggalkan langit yang jingga. Apalagi dermaga kecil di Dusun Telong Elong yang dituju tampak gelap gulita. l

Rita N/Fran-TL

Berburu Batik di 6 Kampungnya di Jawa

Berburu batik semakin asyik jika langsung ke tempat atau kampung sentra produksinya.

Berburu batik bisa dilakukan sambal melakukan tur ke Jawa dengan menyusuri kampung-kampung batik. Perjalanan bisa dilakukan dari barat menuju timur, dari Jakarta dan berakhir di Madura. Atau bisa sebaliknya, dari Surbaya menuju Cirebon.

Berburu Batik

Batik menjadi warisan budaya yang tak ternilai di Indonesia ini. Bahkan kecintaan pada batik membuat kemunculan beragam jenis batik dari berbagai daerah.

Meski pada awalnya batik identik dengan Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sejumlah kota di pulau ini pun melengkapi dengan wisata khusus batik dengan menata kampung batiknya.

Tidak sekadar melihat-lihat tentunya, berburu batik pun menjadi aksi yang menarik bagi wisatawan. Wisata batik bisa dimulai dari Cirebon dan berakhir di Bangkalan, Madura. Ini perjalanan berburu batik di enam kota sepanjang Jawa.

Batik Pesisir Jawa Barat

Dari Jakarta, sebaiknya berangkat pagi. Tujuan pertama dalam berburu batik ini adalah Cirebon, Jawa Barat, yang mempunyai khas corak pesisir. Jarak 231 kilometer itu bisa ditempuh dalam 2-3 jam dengan kendaraan beroda empat melalui jalan tol.

Berburu batik bisa diawali ke Cirebon, tepatnya ke Trusmi.

Di Kota Udang yang biasa dikunjungi adalah Batik Trusmi. Di sana wisatawan bisa mencermati beragam motif batik Cirebonan.

Selain butik batik yang berada di Jalan Trusmi Kulon nomor 129, Plered, Cirebon, telah berdiri pula toko kedua di Jalan Trusmi Kulon nomor 148 Plered, yang lebih luas dan lengkap. Bahkan dilengkapi dengan arena bermain untuk anak-anak.Berburu

Selain busana batik untuk santai maupun acara formal, bisa ditemukan beragam aksesori bercorak batik. Harga bervariasi, mulai terendah sekitar puluhan ribu hingga bernilai jutaan.

Untuk yang ingin membawa oleh-oleh berupa makanan, bisa juga dibeli di sini. Bahkan jika ingin mencicipi empal gentong dan lain-lain, para penjaja bisa ditemukan di dekat pusat belanja ini. Jadi, bisa sekalian makan siang.

Batik Trusmi, Jalan Trusmi Kulon Nomor 129, Plered, Cirebon

Kota Batik Pekalongan

Puas dengan batik Cirebonan yang berwarna menyegarkan, saatnya melaju ke Kota Batik di Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 140 kilometer dari Cirebon. Pekalongan adalah nama kota yang sudah begitu lekat dengan warisan budaya Nusantara yang satu ini.

Sebagai “gudang” batik, ada beberapa pilihan kampung batik, seperti Kampung Batik Kauman, yang berada di seberang alun-alun. Jalan masuk berupa gang kecil yang di sisi kiri-kanannya dipenuhi rumah yang telah menjadi toko atau pabrik batik.

Salah satu pilihannya Nulaba Bati dan Garmen. Busana yang ditawarkan dari daster, celana, kemeja, hingga lembaran kain yang dipatok mulai Rp 50 ribu. Di kampung ini, kegiatan membatik sudah lekat pada 1950-an dan sekarang bisa ditemukan sekitar 200 pembatik. Produknya beragam, dari batik tulis, cap, hingga cetak.

Pilihan lain berburu batik di Pekalongan adalah Kampung Pesindon, di Jalan Hayam Wuruk. Ada pula Kampung Wiradesa dan Kedungwuni. Lokasinya tidak berjauhan, sehingga Anda mudah menelusurinya. Bila sudah terlalu sore bisa langsung ke sentra penjualan batik yang berada di jalur utama Pantura. Di antaranya Pusat Grosir Batik Setono Pekalongan dan Pusat Grosir Batik Wiradesa. Di kota tersebut, Anda juga bisa singgah ke Museum Batik.

Bila ingin menjelajahi semua kampung dan juga museum, sebaiknya Anda menginap di kota ini. Cukup banyak penginapan di sini.  

Kampung Batik Kauman, Jalan Kauman, Pekalongan

Kampung Pesindon, Jalan Hayam Wuruk, Pekalongan

Batik Tulis Mataram

Esok paginya setelah perburuan batik di Pekalongan rampung, saatnya menuju Yogyakarta yang berjarak sekitar 183 kilometer. Perjalanan mengasyikkan melewati jalur penuh kehijauan. Bisa memilih jalur tol via Semarang dan Solo. Bisa pula melalui jalur lama via Magelang.

Berburu batik di Yogyakarta bisa langsung menuju ke kampung batik Giriloyo yang sudah ada sejak abad 17.
Kampung batik Giriloyo. Foto. Dok. shutterstock

Ada beberapa lokasi yang menarik di daerah istimewa ini, seperti Kampung Batik Giriloyo di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Hanya berjarak sekitar 17 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Yogyakarta. Dikenal sebagai tempat perajin batik tulis khas Keraton Mataram. Tidak hanya menemukan batik tulis, turis bisa juga ikut kursus singkat membatik.

Kampung batik, yang bisa menjadi pilihan lain, berada di Kali Tirto, Mangunan, Berbah, Sleman. Bahkan kawasan ini telah menjadi desa wisata dengan tawaran komplet bagi turis. Tidak hanya soal batik, berbagai tradisi seni—seperti bermain gamelan dan wayang—pun diperkenalkan.

Apabila ingin melihat pembuatan batik dengan media lain, bisa mendatangi Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Awalnya, penduduk desa kebanyakan perajin topeng kayu, wayang, dan mebel. Pada 1998, penduduk desa membuat hiasan corak batik pada beragam aksesori, topeng, dan lain-lain.

Di kota pelajar ini, sempatkan menginap satu malam sebelum menuju lokasi berburu batik selanjutnya. Jika ingin berbelanja batik dengan harga cukup murah, bisa mampir di Pasar Beringharjo.

Batik Laweyan & Kauman

Setelah puas di Yogya, coba habiskan waktu seharian di Solo. Ada satu kampung yang sering dituju wisatawan saat berkunjung ke Solo, yaitu Kampung Laweyan. Tidak hanya hasil karya batik dengan warna-warna terang yang menarik, tapi suasana kampung yang khas. Terdiri atas bangunan lawas yang masih terjaga rapi.

Jangan lupa mampir ke Museum Batik Kuno Danar Hadi. Anda juga bisa mampir ke kampung batik yang berada tak jauh dari keraton. Kampung Batik Kauman namanya. Lingkungannya berupa gang-gang sempit. Jadi sebaiknya Anda memilih untuk berjalan kaki.

Ciri khas batiknya ada pada pewarnaan yang lebih gelap, seperti cokelat kehitaman. Dikelilingi jalan-jalan utama dan keramaian Pasar Klewer, Beteng dan Gladak. 

Seperti perkampungan batik umumnya, rumah pun disulap menjadi gerai batik. Pilihan batik di sini lebih banyak bercorak khas keraton, terutama batik tulisnya. Selain itu, ada pula produk batik murni cap dan kombinasi batik tulis dan cap.

Kampung Batik Kauman, Jalan  Trisula, Kauman Timur, Solo

Kampung Batik Laweyan, Kecamatan Laweyan, Solo

Batik Blasteran Oriental Lasem

Lasem adalah sebuah kota kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dan terkenal dengan produksi batik. Daerah ini memiliki banyak penghasil batik terbaik di Jawa dengan ciri khas batik pesisir yang indah melalui pewarnaan yang berani.

Berburu batik jangan sampai melewatkan mampir ke Lasem. Di sini ada batik dengan motif campuran oriental dan Jawa.
Pembatik di Lasem. Foto: dok. shutterstock

Dari Solo, butuh perjalanan sekitar 4 jam menuju Rembang. Karena itu, perlu berangkat pagi-pagi setelah menginap semalam di Solo. Atau, berangkat malam dan menginap di di Rembang, sebelum keesokan harinya menuju Lasem yang cukup dekat.

Lasem kadang disebut juga sebagai Tiongkok Kecil atau La Petite Chine dalam bahasa Prancis. Alasannya, kota ini merupakan daerah pertama yang dikunjungi ekspedisi Tiongkok di pantai utara Jawa di abad 13 dan 14.

Batik Lasem merupakan salah satu jenis batik pesisiran yang memiliki ciri khas tersendiri. Kekhasan tersebut merupakan hasil dari akulturasi dari budaya Tiongkok dan Jawa.
Pola hias batik digunakan untuk kepentingan keagamaan bersifat simbolis dan bermakna sakral, seperti ragam hias Kawung, Bunga Padma Ceplok, Kalacakra atau Nitik Ceplok, Sayap Garuda (Lar, Sidomukti), Gringsing (Urna) dan Parang yang hanya digunakan oleh Raja dan anggota kerajaan.
Sore atau malam selepas puas belajar gaya batik Lasem, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Surabaya. Tidur satu malam di ibukota Jawa Timur ini. Sebelum keesokan paginya menyeberang jembatan Suramadu ke Madura.

Batik Pusaka Beruang, Jalan Eyang Sambu, Jatirogo, Lasem

Batik Pewarnaan Madura

Ini adalah tujuan terakhir berburu batik sepanjang pulau Jawa. Pagi-pagi wisatawan bisa menyeberang ke Madura. Begitu sampai di seberang, tak jauh dari sana, pengunjung sudah disuguhi pajangan batik-batik warna-warni khas batik Madura,

Batik Madura bukan hanya memiliki keindahan, tapi juga cerminan watak msyarakatnya. Keberanian dan ketegasan orang Madura memunculkan warna-warna berani. Berevolusi lewat adukan beragam budaya, batik madura adalah cermin karakter dinamis, egalitarian, kesukaan untuk serba praktis, sekaligus keinginan untuk tampil berbeda.

Sejarah batik Madura tidak terlepas dari keberadaan kerajaan di Pamelingan yang saat ini dikenal dengan nama Pamekasan. Kemudian, batik tulis Madura mulai dikenal oleh masyarakat umum antara abad ke-16 dan ke-17.

Nah lengkap sudah perjalanan berburu batik sepanjang pulau Jawa ini. Batik Madura dimasukkan karena masih berada di Provinsi Jawa Timur.

Batik Naraya, Jalan Pelabuhan Sarimuna, Peseseh, Tanjungbumi, Bangkalan, Madura

agendaIndonesia

*****

Ayam Goreng Pak Supar, Gurihnya Sejak 1974

Ayam Goreng Pak Supar sudah memanjakan lidah orang sejak 1974.

Ayam goreng Pak Supar Semarang mungkin tenggelam di antara nama-nama besar kuliner di ibukota Jawa Tengah itu. Maklum saja, di kota ini ada begitu banyak makanan enak. Sebut saja aneka soto yang begitu banyak dijajakan, atau tahu pong dan babat gongso. Pokoknya semua makanan enak.

Ayam Goreng Pak Supar

Di antara rimba kuliner enak itu, terselip satu kedai ayam goreng yang sesungguhnya sudah lama menjajakan menu andalannya. Nama kedainya Ayam Goreng Sop Buntut Pak Supar.

Pak Supar sudah menjajal kebolehannya memasak sejak 1974. Awalnya, ia menjajakan masakannya dengan gerobak dorong. Dalam perjalanan waktu, dagangannya laris dan terus berkembang. Saat ini ia sudah mempunyai sebuah rumah makan yang selalu membuat para penggemarnya mengantri.

Ayam goreng Pak Supar bisa jadi kulner, tapi alau oleh-oleh bisa ke kampoeng semarang
Kampung Semarang, pusat oleh-oleh.

Kedai ayam goreng Pak Supar tempatnya tidak terlalu luas, mungkin kapasitas tempat duduknya sekitar 50 orang saja. Jadi jika pecinta kuliner tengah mampir ke Semarang dan ingin mencicipi ayam goreng atau sop buntut di sini, bersiaplah dengan antrian pengunjung yang memenuhi bagian depan tempat makan.

Peminat sajian andalan Pak Supar ini seolah tak ada habisnya. Terlebih pada jam makan siang atau makan malam. Selain kadang harus antre, jika sudah duduk pun jarak antarmeja pun tak terlalu longgar.

Meski bukan makanan khas kota ini, ayam goreng Pak Supar digemari banyak penikmatnya. Bukan pemandangan yang aneh saat menjelang makan siang atau malam, pengunjung harus antre hingga satu jam untuk mendapatkan kursi.

Tak sedikit pengunjung yang kemudian memilih untuk membawa pulang ayam goreng atau sop buntutnya. Begitupun tak sedikit pula yang rela untuk menunggu demi mencicipi langsung hidangan ayam kampung goreng dan sop buntut andalan kedai ini.

Menurut para pelayannya, hidangan kedai ini yang menjadi incaran para pelanggannya sudah pasti adalah ayam goreng dan sup buntut. Untuk hidangan ayam goreng, pihak kedai hanya menggunakan ayam kampung dengan umur tertentu.

Ayam Goreng Pak Supar Semarang Legendaris shutterstock

Ayam itu kemudian diolah dengan bumbu khas mereka yang berbeda dari kedai ayam goreng yang lain. Menurut pelayannya, setelah pembumbuan, ayamnya digoreng hingga tenggelam dalam minyak. “Seperti direbus minyak, jadi empuk,” kata salah seorang pelayan.

Salah satu yang juga berbeda dengan tempat makan ayam goreng lainnya, di Ayam Goreng Pak Supar ini, jika ada tamu datang dan duduk makan pelayan akan datang dan bertanya pesanannya.

Jika memesan ayam goreng, biasanya tidak ditanya jumlah potongan yang dipesan. Biasanya pelayan akan menghitung jumlah pembeli lalu nantinya akan membawa satu piring berisi ayam goreng sejumlah pembeli.

Untuk penyajian ayam disesuaikan dengan jumlah yang datang. Jika pengunjung datang beramai-ramai, pelayan akan menyajikan sepiring penuh ayam, yang nanti akan dihitung seberapa banyak yang dihabiskan pelanggan. Namun jika datang sendirian, biasanya disajikan sepotong dada, paha dan sepasang ati ampela.

Soal rasa? Benar saja, saat dicoba, ayam kampung yang umumnya lebih liat dibandingkan ayam negeri menjadi amat empuk. Bisa jadi ini karena proses penggorengan yang terendam minyak.

Sebagai pendamping, pengunjung bisa memilih tiga jenis sambal, yakni sambal manis, yang biasanya langsung disajikan bersama lalapan dan ayam. Selain itu tamu bisa memesan sambal bawang –kadang disebut juga sebagai sambal korek, atau sambal terasi dengan harga Rp 5 ribu/cobek.

Dari ke tiga jenis sambal tersebut, yakni sambal korek, sambal terasi, juga sambal manis khas kedai ini, umumnya rasanya cenderung manis. Untuk yang suka pedas direkomendasikan memilih sambal korek yang paling pedas di antara ketiganya.

Sebelum makan ayam goreng, ada baiknya makan pembuka berupa sup buntut. Dihidangkan masih mengepu panas, sungguh hidangan ini menggoda selera. Daging buntut yang tersaji cukup banyak, dan dipotong besar-besar. 
Saat disesap kuahnya, kaldu pun begitu terasa di mulut. Daging buntut yang empuk sambil sesekali menyesap potongan serat daging yang menempel pada tulangnya.

Besar dan banyaknya daging buntut yang empuk menjadi alasan kepuasan pelanggan di sini. Dalam sehari, Ayam Goreng Pak Supar bisa menghabiskan 10 kilogram daging buntut sapi dan 40-50 kilo daging sapi bagian lainnya.

Daging buntut dipresto sampai dua jam sehingga menjadi empuk. Sedangkan untuk membuat kaldunya, kedai ini menggunakan rebusan tulang yang amat banyak sehingga terasa kental dan keruh.
Jadi kalau dolan ke Semarang dan bingun mau makan apa, bisa jadi Ayam Goreng Pak Supar bisa jadi alternatif.

Ayam Goreng Sop Buntut Pak Supar

Lokasi di Jalan Moh.Suyudi Nomor 48, Miroto, Semarang Tengah, Jawa Tengah.

Buka mulai pukul 10.00 – 22.30 WIB

agendaIndonesia

*****