Keju Lokal Indonesia, Ini 5 Yang Creamy

Produk keju menjadi penguat rasa pada resep-resep masakan.

Keju lokal Indonesia pasti sudah banyak yang sering mengkonsumsinya. Mungkin tanpa sadar mengetahui jika itu adalah produk buatan sejumlah daerah di Indonesia, karena membelinya di jaringan supermarket dunia.

Keju Lokal Indonesia

Keju memang bukan makanan asli Indonesia, ia masuk dan dikenal di negeri ini karena dibawa orang-orang Belanda pada zaman kolonial. Produk ini merupakan salah satu makanan yang terbuat dari susu.

Untuk konsumsinya, keju dapat disantap langsung atau dijadikan bahan campuran pada hidangan. Cita rasa keju umumnya manis dan asin. Rasa ini dapat ditemukan di banyak produk pastry dan kue seperti puff pastry, cheese cake, roti isi , atau masakan-masakan pasta Italia. 


Bertahun lamanya, masyarakat Indonesia memahaminya kalau keju adalah buatan luar negeri. Produk impor, atau setidaknya jika diproduksi di Indonesia ia menggunakan merek luar negeri.

Keju lokal Indonesia ada berbagai macam jensnya dari cheddar, mozarella, hingga keju danke.


Ternyata beberapa daerah di Indonesia sudah dikenal memproduksi keju  dengan mengandalkan bahan-bahan lokal. Meski mungkin keju Eropa masih mendominasi pasar dunia, tapi keju lokal Indonesia juga merupakan produk  berkualitas. Pabriknya tersebar di beberapa daerah.


Keju lokal Indonesia punya kualitas yang tak kalah baik. Produsen keju lokal ini tak main-main soal kualitas dan rasa. Berikut lima keju lokal Indonesia yang patut dicoba dan menjadi pilihan utama.


Keju Indrakila Boyolali
Di Boyolali, Jawa Tengah, selain jadi sentra susu sapi, juga ada produsen keju yang cukup terkenal. Indrakila adalah pabrik keju pertama di Jawa Tengah, pendirinya pemuda asli Boyolali bernama Noviyanto.


Keju Indrakila ini mulai dibuat pada 2009 lalu dan kini produksinya sudah terbilang besar. Dalam sehari, pabrik mampu menghasilkan 50 kilogram keju dari sembilan varian berbeda. Keju Indrakila bahkan membuat keju jenis Boyobert yang berasal dari kata Boyolali Camembert.

Keju Lokal Indonesia dari Boyolali jenis mozarella
Keju MOzarella Indrakila dari Boyolali.

Berawal memanfaatkan kelebihan produksi susu sapi di daerahnya, Noviyanto kemudian mengolahnya menjadi produk keju dengan nama Indrakila. Keju Indrakila mempunyai kualitas yang tak kalah dari produk keju buatan luar negeri.

Pembuatan keju Indrakila ini  menggunakan 99 persen susu sapi segar lokal yang sudah dipanaskan dicampur dengan garam dan bakteri Lactobacillus untuk mengasamkan susu dan bakteri Streptococcus untuk menggumpalkan susu.

Salah satu varian keju Indrakila adalah jenis mozzarella diakui sebagai keju dengan rasa yang paling mendekati keju mozarella impor.

Keju Baros Sukabumi
Di kawasan Sukabumi juga ada pabrik keju bernama Baros. Keju yang dihasilkan awalnya jenis keju gouda dengan empat varian. Selain memproduksi keju, pabrik ini juga menyediakan paket tur untuk pengunjung yang ingin mengetahui proses pembuatan keju.

Bagipenggemar keju, keju gouda bukan jenis yang asing. Namanya mengacu pada Kota Gouda, Belanda, yang tak lain merupakan asal mula produk keju jenis ini. Keju gouda berwarna kuning tua, termasuk dalam golongan keju semi padat (semi hard cheese) hingga padat (hard cheese).

Rachmantio adalah nama pengusaha keju lokal Indonesia dengan bendera PT Bukit Baros Cempaka di Sukabumi. Pengusaha kelahiran Cirebon ini mengolah dan memproduksi keju gouda dengan masa pemeraman antara 1,5 bulan hingga lebih dari empat bulan.

Keju Baros Sukabumi IG
Keju gouda Baros dari Sukabumi.

Berkat ketekunannya, produk keju gouda bermerek Baros sejajar dengan produk-produk keju impor di rak-rak supermarket. Ia mengaku memilih gouda, dan bukan cheddar, karena kualitasnya.

Awalnya, Keju Baros fokus memproduksi jenis keju gouda. Belakangan mereka juga memproduksi keju jenis lain.

Agar rasa dan kualitasnya sama seperti keju asal kota Gouda, perusahaan ini sempat mendatangkan  ahli keju Gouda dari Belanda untuk mengajarkan cara pembuatan keju kepada karyawannya. Susu sebagai bahan utamanya berasal dari sapi Friesian Holstein yang didatangkan langsung dari Belanda.

Keju Lembang Bandung
Keju yang diproduksi di Bandung ini punya merek Keju Lembang. Usaha produksi keju skala mikro ini didirikan sejak 2013 di kawasan Lembang yang terkenal sebagai salah satu pusat susu Indonesia.


Produk keju mozzarella di pabrik ini terkenal dengan kualitasnya yang lezat dan mirip seperti keju Italia. Kualitas keju produksi ini bahkan diawasi langsung oleh ahli keju di bawah supervisi akedmisi dari Teknik Kimia, ITB.

Keju Yogyakarta
Dari kota pelajar Yogyakarta ada juga produsen keju artisan yang menarik. Keju dengan label Mazaarat ini mengusung tagline sebagai keju alami yang sehat dan berkualitas. Total ada 14 jenis keju yang dibuat di pabrikan ini. Mulai dari keju mozzarella, halloumi, feta, ricotta hingga keju gouda. Keju di tempat ini diproduksi dalam skala kecil namun tetap mengandalkan kualitas premium.


Bahan utama keju Mazaraat Artisan Cheese adalah susu kambing dan sapi namun organik. Artinya, sapi dan kambing tersebut dipastikan hanya memakan rumput yang bebas pestisida atau pupuk kimiawi serta bebas dari suntikan hormon antibiotik pemacu produksi susu.

Selain itu, keju Mazaraat Artisan Cheese tidak mengandung bahan pengawet, aditif, perasa buatan, pewarna kimiawi atau bahan GMO (genetically modified organism) sehingga tidak bisa disimpan terlalu lama

Keju Rosalie Bali
Rosalie Cheese menciptakan keju spesial dengan sentuhan unik pada rasa lokal. Produsen keju yang pabriknya berada di Denpasar, Bali, ini menggunakan bahan-bahan alami, tanpa pengawet dan pewarna. Susu yang digunakannya pun berasal dari kambing etawa dan saanen yang diambil dari peternak di Kecamatan Negara, Bali.

Salah satu alasan menggunakan susu kambing adalah karena kambing beranak dan melahirkan secara natural dan tidak perlu disuntik seperti sapi.

Selain itu, susu kambing juga lebih mudah dicerna tubuh manusia serta cocok untuk mereka yang intoleransi terhadap laktosa.

Rosalie Cheese menyediakan beberapa varian antara lain black-pepper goat, plain goat feta, black and white cheese, camembert dengan moringa (daun kelor), serta crotting cheese dengan bungkus daun anggur.

Ayo mulai mengkosumsi keju lokal Indonesia yang creamy-nya tak kalah dengan keju impor.

agendaIndonesia

*****

1 Senja di Lombok Timur, Mengejar Ribuan Buih

Pantai Gili Pasir

1 senja di Lombok Timur, memburu ribuan buih air laut, dan menapak di jutaan pasir. Pulau-pulau kecil dengan pasir halus, tersebar dari Tanjung Luar sampai Sekaroh.

1 Senja di Lombok Timur

Udara mulai bergeser terik, meski masih terbilang pagi. Meninggalkan Pantai Seger di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, saya tak ingin hanya berputar di sekitar kawasan wisata Kuta. Jadilah kendaraan melaju ke bagian timur. Maklum, kabarnya ada sebongkah keindahan di sana. Melewati perkampungan yang adem karena penuh pepohonan, hingga akhirnya melaju di atas aspal mulus dengan salah satu sisi yang tandus. Aroma khas pesisir mulai tercium. Perjalanan satu jam sudah.

Setelah melaju di Jalan TGH Moh. Mutawalli, kendaraan pun berbelok ke kanan di depan kantor Desa Serumbung, Kecamatan Jerowaru. Rasa panas pun menerpa, saya menutup jendela rapat-rapat. Tak ada arahan menuju pantai, tapi saya percaya dengan pengemudi yang paham betul Lombok.

Di pertigaan terlihat kerumunan warga yang baru ke luar dari kantor Kepala Desa Ekas Buana. Saya lihat kiri-kanan kebun jagung yang mengering, jalan kecil tanah pun berdebu. Namun, hanya dalam jarak 400 meter, samudra pun sudah di depan mata. Debur ombak nyaring terdengar. Pantai yang begitu panjang, diapit dua bukit bebatuan.

Perjalanan 1 jam lebih dari Kuta pun menjadi tak terasa. Saya memilih menaiki bukit batu agar bisa memandang pantai dan samudra dari ketinggian. Apalagi di balik bukit ternyata ada pantai kecil yang juga begitu sepi. Di ujung lain, terlihat ada bagian pantai dengan pasir putih, sedangkan di dekat saya berdiri, tepian pantai penuh dengan karang. Tak ada turis berkeliaran. Ketika menuruni bukit, baru saya bertemu dua ibu yang membawa keranjang. Rupanya mereka hendak mencari kerang-kerang yang bersembunyi di balik karang.

Pantai Pink
Wisata pantai di Lombok Timur, salah satunya ke pantai Pink. shutterstock.

Saat kendaraan baru beranjak, barulah saya bersua dengan dua turis bule yang mengendarai sepeda motor. Mereka mengarah ke pasir putih yang berada di sisi kiri. Di sana memang lebih nyaman untuk berjemur atau sekadar leyeh-leyeh di tepi pantai. Pantai landai dengan pasir yang lembut.

Satu surga harus saya tinggalkan siang itu. Karena Lombok Timur masih menyimpan “surga-surga” lain, kali ini saya masih harus berkendara satu jam lagi dari Desa Ekas Buana menuju sisi yang berlawanan, yakni Tanjung Luar. Ada sejumlah pulau kecil, dan tentunya Pantai Pink, yang namanya sudah berkibar di kalangan pelancong.

Atas saran pengemudi, saya dan kawan mendatanginya via laut, alias berperahu. “Lewat darat harus lewat hutan Sekaroh dengan jalan rusak, dan kalau kemalaman pas pulang, gelap itu,” ujarnya. Sebagai orang yang tak paham wilayah, saya sepenuhnya percaya kepada pria asli Lombok itu.

Jadi kami pun menuju sebuah pelabuhan kecil di Dusun Telong Elong, Desa Pringgasela Timur, Lombok Timur. Sebenarnya, bisa juga berperahu dari Labuan Pandan, tapi lagi-lagi menurut si pengemudi yang bernama Kadir itu, jaraknya terlalu jauh. Kadir berbaik hati pula memesan pisang goreng sebelum kami tiba. Dengan bekal minuman dan pisang goreng panas, kaki pun melangkah riang. Sudah terbayang keindahan pantai-pantai di Tanjung Luar.

Mendung seperti tiba-tiba menyergap. Saya segera ke perahu nelayan, paling tidak tentunya berharap hanya gerimis yang turun dan langit pun segera cerah kembali. Perahu melaju melewati Gili Re, pulau dengan penduduk terbanyak di Tanjung Luar. Di sini pula, Mak Heri, nelayan yang mengantar kami, tinggal. Keramba terlihat di sekeliling pulau. Tujuan pertama rupanya Gili Pasir, yang dicapai hanya dalam 15 menit. Ehmm… Benar-benar hanya ada gundukan pasir, bendera merah putih, dan bintang-bintang laut yang menampakkan diri di tepian pantai.

Sederhana suasananya tapi bahagia rasanya dan saya ingin berlari menuju dua sisi pasir yang tak seberapa luas itu. Sayang, tak lama hujan deras turun dan sempat masuk ke dalam perahu. Tapi kami mencoba menunggu dan berharap hujan segera berhenti. Doa rupanya terkabul, hujan hanya sesaat. Saya pun kembali berlari di pasirnya yang halus dan tertawa lepas.

Tak bisa terlalu lama rupanya, karena perjalanan ke pulau selanjutnya lebih panjang. Melewati tambak-tambak ikan, juga tempat pembudidayaan mutiara. Sang nelayan sempat menunjuk Pantai Pink 2 yang dari kejauhan terlihat pasirnya yang merah muda. Terlihat sepi, tapi perahu terus melaju hingga sekitar 30 menit, dan tibalah di Gili Petelu. Pulau kecil dengan tiga bukit karang, juga pantai berpasir putih yang mini. Terlihat satu keluarga tengah menikmati keindahan bawah lautnya. Perairannya yang jernih memang menggoda.

Meski tidak bisa terbilang istimewa, menjajal snorkeling di sini bisa menjadi pilihan. Bila tidak, cukuplah dengan menebar remah-remah roti, rombongan ikan pun menampakkan diri. Saat langit mulai tak terang lagi, perahu kembali dinaiki. Di sisi kanan Gili Petelu sudah terlihat hamparan Pantai Pink, yang ternyata warna kemerahannya tak terlalu kuat bila dibanding Pantai Pink 2. Bisa jadi, karang-karang merah yang membikin pasir menjadi kemerahan sudah tak lagi banyak singgah di pantai yang terletak di Desa Sekaroh ini.

Ombak begitu tenang di tepi pantai. Berjajar beberapa perahu, terasa sepi. Hanya ada satu anak seusia siswa taman kanak-kanak bermain di pantai, dan orang tuanya menunggu di tepian. Kelompok turis bisa jadi sudah pulang karena senja sudah menjelang. Tinggal segerombol nelayan yang nongkrong di sebuah warung. Sejenak saya ingin menikmati pantai dalam keheningan, sementara rekan saya langsung mendaki bukit yang ada di salah satu sisi. Tentunya untuk mencari tempat pengambilan foto terbaik.

Anjing-anjing berlarian, gonggongannya memecah hening. Saya menengadah ke langit, rupanya warnanya mulai gelap. Saatnya menyusul teman, mendaki ke bukit. Segerombolan kambing dan seorang nenek saya temukan di atas bukit, plus setumpuk kelapa muda. Duduk di bangku kayu sembari menyeruput air kelapa hijau tampaknya bisa bikin menanti senja semakin nikmat. Langit mulai menguning, memerah, dan rekan saya tiba-tiba muncul dari ujung bukit. Masih ada warna merah dan berbaur gelap di langit, tapi kami memilih kembali ke perahu. Lebih asyik menikmati senja di tengah lautan.

Perasaan saya perjalanan pulang lebih panjang. Mungkin karena perahu tak mampir-mampir. Lampu-lampu di tempat budi daya mutiara, dan bagan ikan yang terapung, menjadi penerang laju perahu. Tak ada satu pun yang berbicara. Sesekali Mak Heri menyapa rekannya yang menjaga bagan ikan. Hanya ada suara ombak terhantam perahu dan mesin perahu yang saling bersahutan. Kami kembali dalam hening, seakan tak rela meninggalkan langit yang jingga. Apalagi dermaga kecil di Dusun Telong Elong yang dituju tampak gelap gulita. l

Rita N/Fran-TL

Berburu Batik di 6 Kampungnya di Jawa

Berburu batik semakin asyik jika langsung ke tempat atau kampung sentra produksinya.

Berburu batik bisa dilakukan sambal melakukan tur ke Jawa dengan menyusuri kampung-kampung batik. Perjalanan bisa dilakukan dari barat menuju timur, dari Jakarta dan berakhir di Madura. Atau bisa sebaliknya, dari Surbaya menuju Cirebon.

Berburu Batik

Batik menjadi warisan budaya yang tak ternilai di Indonesia ini. Bahkan kecintaan pada batik membuat kemunculan beragam jenis batik dari berbagai daerah.

Meski pada awalnya batik identik dengan Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sejumlah kota di pulau ini pun melengkapi dengan wisata khusus batik dengan menata kampung batiknya.

Tidak sekadar melihat-lihat tentunya, berburu batik pun menjadi aksi yang menarik bagi wisatawan. Wisata batik bisa dimulai dari Cirebon dan berakhir di Bangkalan, Madura. Ini perjalanan berburu batik di enam kota sepanjang Jawa.

Batik Pesisir Jawa Barat

Dari Jakarta, sebaiknya berangkat pagi. Tujuan pertama dalam berburu batik ini adalah Cirebon, Jawa Barat, yang mempunyai khas corak pesisir. Jarak 231 kilometer itu bisa ditempuh dalam 2-3 jam dengan kendaraan beroda empat melalui jalan tol.

Berburu batik bisa diawali ke Cirebon, tepatnya ke Trusmi.

Di Kota Udang yang biasa dikunjungi adalah Batik Trusmi. Di sana wisatawan bisa mencermati beragam motif batik Cirebonan.

Selain butik batik yang berada di Jalan Trusmi Kulon nomor 129, Plered, Cirebon, telah berdiri pula toko kedua di Jalan Trusmi Kulon nomor 148 Plered, yang lebih luas dan lengkap. Bahkan dilengkapi dengan arena bermain untuk anak-anak.Berburu

Selain busana batik untuk santai maupun acara formal, bisa ditemukan beragam aksesori bercorak batik. Harga bervariasi, mulai terendah sekitar puluhan ribu hingga bernilai jutaan.

Untuk yang ingin membawa oleh-oleh berupa makanan, bisa juga dibeli di sini. Bahkan jika ingin mencicipi empal gentong dan lain-lain, para penjaja bisa ditemukan di dekat pusat belanja ini. Jadi, bisa sekalian makan siang.

Batik Trusmi, Jalan Trusmi Kulon Nomor 129, Plered, Cirebon

Kota Batik Pekalongan

Puas dengan batik Cirebonan yang berwarna menyegarkan, saatnya melaju ke Kota Batik di Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 140 kilometer dari Cirebon. Pekalongan adalah nama kota yang sudah begitu lekat dengan warisan budaya Nusantara yang satu ini.

Sebagai “gudang” batik, ada beberapa pilihan kampung batik, seperti Kampung Batik Kauman, yang berada di seberang alun-alun. Jalan masuk berupa gang kecil yang di sisi kiri-kanannya dipenuhi rumah yang telah menjadi toko atau pabrik batik.

Salah satu pilihannya Nulaba Bati dan Garmen. Busana yang ditawarkan dari daster, celana, kemeja, hingga lembaran kain yang dipatok mulai Rp 50 ribu. Di kampung ini, kegiatan membatik sudah lekat pada 1950-an dan sekarang bisa ditemukan sekitar 200 pembatik. Produknya beragam, dari batik tulis, cap, hingga cetak.

Pilihan lain berburu batik di Pekalongan adalah Kampung Pesindon, di Jalan Hayam Wuruk. Ada pula Kampung Wiradesa dan Kedungwuni. Lokasinya tidak berjauhan, sehingga Anda mudah menelusurinya. Bila sudah terlalu sore bisa langsung ke sentra penjualan batik yang berada di jalur utama Pantura. Di antaranya Pusat Grosir Batik Setono Pekalongan dan Pusat Grosir Batik Wiradesa. Di kota tersebut, Anda juga bisa singgah ke Museum Batik.

Bila ingin menjelajahi semua kampung dan juga museum, sebaiknya Anda menginap di kota ini. Cukup banyak penginapan di sini.  

Kampung Batik Kauman, Jalan Kauman, Pekalongan

Kampung Pesindon, Jalan Hayam Wuruk, Pekalongan

Batik Tulis Mataram

Esok paginya setelah perburuan batik di Pekalongan rampung, saatnya menuju Yogyakarta yang berjarak sekitar 183 kilometer. Perjalanan mengasyikkan melewati jalur penuh kehijauan. Bisa memilih jalur tol via Semarang dan Solo. Bisa pula melalui jalur lama via Magelang.

Berburu batik di Yogyakarta bisa langsung menuju ke kampung batik Giriloyo yang sudah ada sejak abad 17.
Kampung batik Giriloyo. Foto. Dok. shutterstock

Ada beberapa lokasi yang menarik di daerah istimewa ini, seperti Kampung Batik Giriloyo di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Hanya berjarak sekitar 17 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Yogyakarta. Dikenal sebagai tempat perajin batik tulis khas Keraton Mataram. Tidak hanya menemukan batik tulis, turis bisa juga ikut kursus singkat membatik.

Kampung batik, yang bisa menjadi pilihan lain, berada di Kali Tirto, Mangunan, Berbah, Sleman. Bahkan kawasan ini telah menjadi desa wisata dengan tawaran komplet bagi turis. Tidak hanya soal batik, berbagai tradisi seni—seperti bermain gamelan dan wayang—pun diperkenalkan.

Apabila ingin melihat pembuatan batik dengan media lain, bisa mendatangi Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Awalnya, penduduk desa kebanyakan perajin topeng kayu, wayang, dan mebel. Pada 1998, penduduk desa membuat hiasan corak batik pada beragam aksesori, topeng, dan lain-lain.

Di kota pelajar ini, sempatkan menginap satu malam sebelum menuju lokasi berburu batik selanjutnya. Jika ingin berbelanja batik dengan harga cukup murah, bisa mampir di Pasar Beringharjo.

Batik Laweyan & Kauman

Setelah puas di Yogya, coba habiskan waktu seharian di Solo. Ada satu kampung yang sering dituju wisatawan saat berkunjung ke Solo, yaitu Kampung Laweyan. Tidak hanya hasil karya batik dengan warna-warna terang yang menarik, tapi suasana kampung yang khas. Terdiri atas bangunan lawas yang masih terjaga rapi.

Jangan lupa mampir ke Museum Batik Kuno Danar Hadi. Anda juga bisa mampir ke kampung batik yang berada tak jauh dari keraton. Kampung Batik Kauman namanya. Lingkungannya berupa gang-gang sempit. Jadi sebaiknya Anda memilih untuk berjalan kaki.

Ciri khas batiknya ada pada pewarnaan yang lebih gelap, seperti cokelat kehitaman. Dikelilingi jalan-jalan utama dan keramaian Pasar Klewer, Beteng dan Gladak. 

Seperti perkampungan batik umumnya, rumah pun disulap menjadi gerai batik. Pilihan batik di sini lebih banyak bercorak khas keraton, terutama batik tulisnya. Selain itu, ada pula produk batik murni cap dan kombinasi batik tulis dan cap.

Kampung Batik Kauman, Jalan  Trisula, Kauman Timur, Solo

Kampung Batik Laweyan, Kecamatan Laweyan, Solo

Batik Blasteran Oriental Lasem

Lasem adalah sebuah kota kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dan terkenal dengan produksi batik. Daerah ini memiliki banyak penghasil batik terbaik di Jawa dengan ciri khas batik pesisir yang indah melalui pewarnaan yang berani.

Berburu batik jangan sampai melewatkan mampir ke Lasem. Di sini ada batik dengan motif campuran oriental dan Jawa.
Pembatik di Lasem. Foto: dok. shutterstock

Dari Solo, butuh perjalanan sekitar 4 jam menuju Rembang. Karena itu, perlu berangkat pagi-pagi setelah menginap semalam di Solo. Atau, berangkat malam dan menginap di di Rembang, sebelum keesokan harinya menuju Lasem yang cukup dekat.

Lasem kadang disebut juga sebagai Tiongkok Kecil atau La Petite Chine dalam bahasa Prancis. Alasannya, kota ini merupakan daerah pertama yang dikunjungi ekspedisi Tiongkok di pantai utara Jawa di abad 13 dan 14.

Batik Lasem merupakan salah satu jenis batik pesisiran yang memiliki ciri khas tersendiri. Kekhasan tersebut merupakan hasil dari akulturasi dari budaya Tiongkok dan Jawa.
Pola hias batik digunakan untuk kepentingan keagamaan bersifat simbolis dan bermakna sakral, seperti ragam hias Kawung, Bunga Padma Ceplok, Kalacakra atau Nitik Ceplok, Sayap Garuda (Lar, Sidomukti), Gringsing (Urna) dan Parang yang hanya digunakan oleh Raja dan anggota kerajaan.
Sore atau malam selepas puas belajar gaya batik Lasem, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Surabaya. Tidur satu malam di ibukota Jawa Timur ini. Sebelum keesokan paginya menyeberang jembatan Suramadu ke Madura.

Batik Pusaka Beruang, Jalan Eyang Sambu, Jatirogo, Lasem

Batik Pewarnaan Madura

Ini adalah tujuan terakhir berburu batik sepanjang pulau Jawa. Pagi-pagi wisatawan bisa menyeberang ke Madura. Begitu sampai di seberang, tak jauh dari sana, pengunjung sudah disuguhi pajangan batik-batik warna-warni khas batik Madura,

Batik Madura bukan hanya memiliki keindahan, tapi juga cerminan watak msyarakatnya. Keberanian dan ketegasan orang Madura memunculkan warna-warna berani. Berevolusi lewat adukan beragam budaya, batik madura adalah cermin karakter dinamis, egalitarian, kesukaan untuk serba praktis, sekaligus keinginan untuk tampil berbeda.

Sejarah batik Madura tidak terlepas dari keberadaan kerajaan di Pamelingan yang saat ini dikenal dengan nama Pamekasan. Kemudian, batik tulis Madura mulai dikenal oleh masyarakat umum antara abad ke-16 dan ke-17.

Nah lengkap sudah perjalanan berburu batik sepanjang pulau Jawa ini. Batik Madura dimasukkan karena masih berada di Provinsi Jawa Timur.

Batik Naraya, Jalan Pelabuhan Sarimuna, Peseseh, Tanjungbumi, Bangkalan, Madura

agendaIndonesia

*****

Ayam Goreng Pak Supar, Gurihnya Sejak 1974

Ayam Goreng Pak Supar sudah memanjakan lidah orang sejak 1974.

Ayam goreng Pak Supar Semarang mungkin tenggelam di antara nama-nama besar kuliner di ibukota Jawa Tengah itu. Maklum saja, di kota ini ada begitu banyak makanan enak. Sebut saja aneka soto yang begitu banyak dijajakan, atau tahu pong dan babat gongso. Pokoknya semua makanan enak.

Ayam Goreng Pak Supar

Di antara rimba kuliner enak itu, terselip satu kedai ayam goreng yang sesungguhnya sudah lama menjajakan menu andalannya. Nama kedainya Ayam Goreng Sop Buntut Pak Supar.

Pak Supar sudah menjajal kebolehannya memasak sejak 1974. Awalnya, ia menjajakan masakannya dengan gerobak dorong. Dalam perjalanan waktu, dagangannya laris dan terus berkembang. Saat ini ia sudah mempunyai sebuah rumah makan yang selalu membuat para penggemarnya mengantri.

Ayam goreng Pak Supar bisa jadi kulner, tapi alau oleh-oleh bisa ke kampoeng semarang
Kampung Semarang, pusat oleh-oleh.

Kedai ayam goreng Pak Supar tempatnya tidak terlalu luas, mungkin kapasitas tempat duduknya sekitar 50 orang saja. Jadi jika pecinta kuliner tengah mampir ke Semarang dan ingin mencicipi ayam goreng atau sop buntut di sini, bersiaplah dengan antrian pengunjung yang memenuhi bagian depan tempat makan.

Peminat sajian andalan Pak Supar ini seolah tak ada habisnya. Terlebih pada jam makan siang atau makan malam. Selain kadang harus antre, jika sudah duduk pun jarak antarmeja pun tak terlalu longgar.

Meski bukan makanan khas kota ini, ayam goreng Pak Supar digemari banyak penikmatnya. Bukan pemandangan yang aneh saat menjelang makan siang atau malam, pengunjung harus antre hingga satu jam untuk mendapatkan kursi.

Tak sedikit pengunjung yang kemudian memilih untuk membawa pulang ayam goreng atau sop buntutnya. Begitupun tak sedikit pula yang rela untuk menunggu demi mencicipi langsung hidangan ayam kampung goreng dan sop buntut andalan kedai ini.

Menurut para pelayannya, hidangan kedai ini yang menjadi incaran para pelanggannya sudah pasti adalah ayam goreng dan sup buntut. Untuk hidangan ayam goreng, pihak kedai hanya menggunakan ayam kampung dengan umur tertentu.

Ayam Goreng Pak Supar Semarang Legendaris shutterstock

Ayam itu kemudian diolah dengan bumbu khas mereka yang berbeda dari kedai ayam goreng yang lain. Menurut pelayannya, setelah pembumbuan, ayamnya digoreng hingga tenggelam dalam minyak. “Seperti direbus minyak, jadi empuk,” kata salah seorang pelayan.

Salah satu yang juga berbeda dengan tempat makan ayam goreng lainnya, di Ayam Goreng Pak Supar ini, jika ada tamu datang dan duduk makan pelayan akan datang dan bertanya pesanannya.

Jika memesan ayam goreng, biasanya tidak ditanya jumlah potongan yang dipesan. Biasanya pelayan akan menghitung jumlah pembeli lalu nantinya akan membawa satu piring berisi ayam goreng sejumlah pembeli.

Untuk penyajian ayam disesuaikan dengan jumlah yang datang. Jika pengunjung datang beramai-ramai, pelayan akan menyajikan sepiring penuh ayam, yang nanti akan dihitung seberapa banyak yang dihabiskan pelanggan. Namun jika datang sendirian, biasanya disajikan sepotong dada, paha dan sepasang ati ampela.

Soal rasa? Benar saja, saat dicoba, ayam kampung yang umumnya lebih liat dibandingkan ayam negeri menjadi amat empuk. Bisa jadi ini karena proses penggorengan yang terendam minyak.

Sebagai pendamping, pengunjung bisa memilih tiga jenis sambal, yakni sambal manis, yang biasanya langsung disajikan bersama lalapan dan ayam. Selain itu tamu bisa memesan sambal bawang –kadang disebut juga sebagai sambal korek, atau sambal terasi dengan harga Rp 5 ribu/cobek.

Dari ke tiga jenis sambal tersebut, yakni sambal korek, sambal terasi, juga sambal manis khas kedai ini, umumnya rasanya cenderung manis. Untuk yang suka pedas direkomendasikan memilih sambal korek yang paling pedas di antara ketiganya.

Sebelum makan ayam goreng, ada baiknya makan pembuka berupa sup buntut. Dihidangkan masih mengepu panas, sungguh hidangan ini menggoda selera. Daging buntut yang tersaji cukup banyak, dan dipotong besar-besar. 
Saat disesap kuahnya, kaldu pun begitu terasa di mulut. Daging buntut yang empuk sambil sesekali menyesap potongan serat daging yang menempel pada tulangnya.

Besar dan banyaknya daging buntut yang empuk menjadi alasan kepuasan pelanggan di sini. Dalam sehari, Ayam Goreng Pak Supar bisa menghabiskan 10 kilogram daging buntut sapi dan 40-50 kilo daging sapi bagian lainnya.

Daging buntut dipresto sampai dua jam sehingga menjadi empuk. Sedangkan untuk membuat kaldunya, kedai ini menggunakan rebusan tulang yang amat banyak sehingga terasa kental dan keruh.
Jadi kalau dolan ke Semarang dan bingun mau makan apa, bisa jadi Ayam Goreng Pak Supar bisa jadi alternatif.

Ayam Goreng Sop Buntut Pak Supar

Lokasi di Jalan Moh.Suyudi Nomor 48, Miroto, Semarang Tengah, Jawa Tengah.

Buka mulai pukul 10.00 – 22.30 WIB

agendaIndonesia

*****

Makan Beramai Ala Botram, 4 Pilihannya

Makan beramai ala botram mulai menjadi tren publik pada 2017.

Makan beramai ala botram sangat menyenangkan dan beberapa tahun terakhir menjadi trend. Tidak saja resto yang membuat gaya ini, tapi juga ketika ada acara-acara keluarga di rumah-rumah pribadi. Masing-masing orang membawa makanan sendiri, untuk kemudian saling bertukar dan mencicipi makanan satu sama lain dan makan beramai ala botram.

Makan Beramai Ala Botram

Beberapa lembar daun pisang terhampar di atas lantai. Di atasnya digelar tempe goreng, tahu, ikan asin, ikan gurame, dan ayam goreng bertumpuk-tumpuk mengelilingi nasi putih hangat yang disusun memanjang. Di sana-sini tersaji sambal dan beragam dedaunan sebagai lalapan.

Makanan sebanyak itu disiapkan oleh sejumlah orang secara bergotong-royong untuk kemudian dinikmati bersama. Itulah yang disebut botram atau makan beramai ala botram.

Makan beramai ala botram juga dibuat paket menu makan ala-ala di sejumlah restoran.
Resto Alas Daun, salah satu penyaji makan ala botram. Foto: dok Javalane

Orang kerap kesulitan membedakan istilah botram, liwetan, dan balakecrakan. Balakecrakan adalah kegiatan makan bersama, sedangkan liwetan lebih mengacu pada jenis makanan dan cara penyajiannya. Sementara botram merupakan cara penyiapan makanan yang dibawa oleh masing-masing peserta.

Tidak ada istilah tuan rumah dalam konsep makan beramai ala botram. Semua peserta makan adalah setara. Masing-masing membawa makanan sendiri, lalu nantinya saling bertukar makanan dan saling mencicipinya. Juga tak ada ketentuan pasti harus membawa seberapa banyak. Hal ini mencerminkan sifat masyarakat Sunda yang menganut moralitas egaliter, yaitu bahwa semua manusia diciptakan sama dan sederajat.

Tradisi makan beramai ala botram umumnya diselenggarakan ketika sebuah keluarga atau komunitas sedang berkumpul, seperti saat rekreasi, arisan, atau menyambut bulan Ramadan. Lokasinya pun bervariasi, dari di dalam rumah, halaman, ladang, atau kebun. Jika mengacu pada aspek sejarahnya, nasi liwet khas Sunda berasal dari masyarakat perkebunan yang membekali dirinya dengan nasi untuk makan dari pagi sampai siang di ladang. Karena itu, makan ala botram di tengah kebun merupakan pilihan tepat untuk mendapatkan atmosfer masyarakat Sunda masa silam.

Dago Panyawangan
Dago Panyawangan yang juga menyedian makan beramai ala botram.

Setelah lama tenggelam, tradisi ini kembali mencuat, bahkan sempat viral pada 2017. Saat itu foto orang yang makan bersama dengan alas daun pisang berseliweran di media sosial. Kehadiran media sosial dan keunikan tradisi menjadi faktor yang memicu botram kembali naik ke permukaan.

Sejumlah restoran di Jawa Barat bahkan menyediakan paket menu botram bagi pengunjung. Di Bandung misalnya, ada restoran Moza Cafe, Maka Gallery Cafe, Kelapa Lagoon, Alas Daun, Dago Panyawangan, dan Pinch of Salt. Sementara di Caringin, Kabupaten Bogor, ada penginapan Land Of Blessing Farmstay yang menawarkan sensasi makan botram di tengah areal persawahan.

Virus botram juga melanda warung makan di luar Jawa Barat, terutama Jakarta. Beberapa di antaranya adalah Warung Teteh di Jalan Petogogan, Warung Sunda Ceu Kokom di Jalan Raya Pos Pengumben, dan Bebek Asap Balcon di Kebon Jeruk. Sejumlah nama kemudian sempat hilang ketika pandemi Covid19 sejak 2020 lalu.

Tentu esensi botramnya hilang karena semua makanan disediakan oleh pihak restoran. Namun paling tidak jenis makanan dan cara penyajiannya tetap mempertahankan gaya liwetan khas Sunda.

Nasi liwet Sunda berbeda dengan nasi liwet khas Jawa Tengah. Saat melakukan teknik liwet, orang Jawa mencampur beras dengan santan, sedangkan liwet Sunda tidak menggunakan santan. Nasi liwet Sunda biasanya memakai bumbu garam, bawang merah, bawang putih, daun salam, sereh, lengkuas, cabai, santan, minyak kelapa, atau ikan asin, sesuai selera masing-masing.

Land Of Blessing Farmstay
Land of Farmstay, menikmati alam Sunda.

Untuk lalapannya tak ada aturan baku. Namun biasanya yang paling sering muncul adalah daun sawi, kemangi, dan mentimun karena murah dan mudah ditemukan. Duo lalapan sedap tapi berbau menyengat, jengkol dan petai, juga menjadi ciri khas dari acara makan ini. Pada beberapa rumah makan di Jawa Barat umumnya masih bisa ditemukan lalapan unik, seperti bunga honje atau kecombrang.


Selain berbagi makanan, orang-orang yang makan juga berbagi cerita dan lelucon. Namun ada semacam aturan tak tertulis yang melarang kita untuk berbagi cerita sedih karena akan merusak suasana. Pasalnya, inti dari kegiatan makan bersama ini adalah terwujudnya keceriaan dan silaturahmi yang berujung pada semakin eratnya ikatan kekeluargaan.

Berikut empat pilihan untuk menikmati makan beramai ala botram

  • Alas Daun

Jam buka: Setiap hari, pukul 10.00–22.00

Alamat: Jalan Citarum No.34, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung

  • Dago Panyawangan

Jam buka: Setiap hari, pukul 10.00–23.00

Alamat: Jalan Ir. H.Djuanda No.127, Lebak Siliwangi, Coblong, Kota Bandung

  • Land Of Blessing Farmstay

Jam buka: Berdasarkan perjanjian

Alamat: Jl. Curug Kalong RT 01 RW 04, Desa Tangkil, Caringin,Bogor

  • Waroeng Botram Cianjur

Jam buka: 11.00–21.00 (Senin-Jumat) dan 11.00–22.00 (Sabtu-Minggu)

Alamat: Jalan Masjid Agung No. 126, Pamoyanan, Cianjur

agendaIndonesia

*****

Soto Tangkar Betawi, Ini Dia 5 Jawaranya

Soto tangkar Betawi bermula dari iga sapi yang tak dimakai dalam masakan meneer Belanda.

Soto tangkar Betawi mungkin kalah pamor sedikit dibandingkan kuliner khas masyarakat Betawi lainnya, soto Betawi. Padahal dari segi rasa, tak kalah nikmatnya.

Soto Tangkar Betawi

Soto tangkar pada awalnya adalah soto berkuah gurih dengan isian berupa tangkar atau tulang iga. Dari Kuliner Betawi: Selaksa Rasa dan Cerita karya Akademi Kuliner Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama, dalam bahasa Betawi tangkar artinya tulang iga.

Lalu apa bedanya dengan soto Betawi? Warna kuah soto tangkar sedikit lebih kemerahan dan rasanya lebih ringan dibanding soto Betawi. Penyebabnya, soto tangkar menggunakan air asam jawa, kencur, dan lengkuas yang membuat rasanya lebih segar.

Saat ini, selain menggunakan tangkar atau iga, ada pula pedagang soto tangkar yang mencampur isian soto dengan potongan daging. Ada pula yang menambahkan kelapa sangrai halus sehingga kuahnya jadi lebih gurih dan kental.

Soto tangkar Betawi biasanyaisiannya  disipakan dalam mangkok-mangkok dan baru disiram kuah saat akan dihidangkan.


Soto tangkar Betawi sendiri punya sejarah yang cukup panjang, bahkan hingga ke masa kolonial Belanda. Kala itu masyarakat hanya mampu membeli bagian tangkar yang punya sedikit daging dan lebih murah dari pada daging sapi.

Selain itu, ada cerita lain yang mengatakan bahwa para pejabat dan tuan-tuan Belanda jika mengadakan jamuan makan masak makanan mewah dari daging sapi. Bagian lain seperti iga dan jeroan sapi akan diberikan kepada para pekerja lokal. Bagian-bagian inilah kemudian yang dimasak dengan bumbu tradisional, salah satunya soto tangkar Betawi.


Soto tangkar Betawi juga disebut mengalami percampuran budaya antara banyak bangsa yang datang ke Batavia. Misalnya saja dari budaya kulinari Tionghoa. Tak hanya Tionghoa, soto tangkar juga mengalami percampuran budaya India dan Arab yang masuk melalui penggunaan minyak samin dalam soto tangkar dan soto Betawi. Percampuran selera Betawi dan lokal, pengaruh Tionghoa, Arab, dan India menyatu.
Saat ini masyarakat semakin mudah mendapatkan soto tangkar. Selain menikmati masakan dari warung yang legendaris, misalnya, yang berpusat di daerah Pasar Pagi Glodok, Jakarta Barat.Orang juga bisa menikmati warung-warung kecil yang mulai menjajakannya.

Perbedaan soto-soto tangkar legendaris dengan soto-soto tangkar baru biasanya pada komposisi campuran susu dan santennya. Di warung-warung terkenal biasanya lebih banyak susunya, bahkan ada yang tanpa santan. Selain itu, semuanya mirip. Dalam semangkuk soto, selain  daging sapi terdapat potongan tomat, daun bawang, babat, kikil dan jeroan sapi.

soto tangkar Betawi mirip dengan soto Betawi namun berbeda dalam bumbu dan ketebalan kuahnya.
Soto Tangkar Betawi mempunyai kuah yang berwarna orange dengan iga sapi dan daging sapi. Foto: shutterstock

Soto Tangkar Haji Diding

Bagi warga Jakarta dan para peminat soto tangkar pasti sudah tak asing lagi dengan gerai soto tangkar ini. Memiliki banyak cabang, pusatnya Soto Tangkar H. Diding berada di Pasar Pagi Lama.

Soto tangkar di sini sangat menjaga keasliannya dari waktu ke waktu. Maka tak heran jika peminat soto tangkar Haji Diding juga terus bertambah seiring berjalannya waktu. Tak hanya soto tangkar, di sini pecinta kuliner juga dapat mencicipi sate kuah dengan daging sapi empuk. 

Lokasi di Jalan Pasar Pagi II, RT.2/RW.2, Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. 

Soto Tangkar Jumanta

Pilihan lainnya, jika sedang melewati kawasan Glodok, mampirlah ke Gang Kalimati yang di dalamnya terdapat soto tangkar Pak Jumanta. Sudah berjualan sejak 1970-an, soto tangkar Pak Jumanta masih eksis hingga kini.

Sebaiknya datang waktu pagi hari karena sekitar jam 12 siang soto tangkarnya biasanya sudah terjual habis. Untuk dapat menyantap semangkuk soto tangkar, pengunjung hanya perlu menyiapkan uang kurang lebih Rp 25 ribu.

Lokasi di Jalan Pancoran Gang Kalimati, Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta.

Soto Tangkar Jakarta shutterstock
Ini merupakan campuran budaya lokal, Tionghoa, India dan Arab. Foto: shutterstock

Soto Tangkar Omah Sendok

Kalau yang Ini merupakan sebuah restoran yang menyediakan soto tangkar dengan kuah yang lebih merah dan kental. Untuk soal rasa, soto tangkar omah sendok ini sudah tak dapat diragukan lagi, karena memang sangat enak. Isiannya pun sangat berlimpah. Mulai dari daun bawang, potongan tomat, sampai daging yang lunak, dan gurih berlimpah. 

Lokasi di Jalan Empu Sendok No. 45, RT.8/RW.3, Jakarta Selatan

Soto Tangkar Tanah Tinggi

Kedai ini sudah dibuka sejak 1946. Warung soto tangkar ini didirikan pak Haji Ikhsan.

Keunikan dari soto tangkar di sini adalah kuahnya yang kental serta berwarna kemerahan. Isiannya pun sangat komplit, mulai dari daging sapi, babat, paru, iso, kikil, tulang muda dan tulang rawan telinga. 

Lokasi di Jalan Tanah Tinggi III No. 15, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat. 

Soto Tangkar Gunawan

Ini pilihan soto tangkar yang enak lainnya. Kedainya terletak di pinggir jalan dengan gerobak tradisional namun rasa dari soto tangkar di sini tak kalah dengan yang terdapat di restoran. Jika ingin menyantap semangkuk soto tangkar di sini, usahakan hindari makan siang, karena tempat ini akan dikerubungi pelanggan saat jam makan siang tiba. 

Lokasi di Jala Warung Jati Barat No. 48, Kalibata, Jakarta Selatan.

agendaIndonesia

*****

Kampung Tematik Semarang, Ini 4 Yang Unik

Kampung tematik Semarang jadi pilihan kunjungan jika dlan ke kota ini.

Kampung tematik Semarang bisa dibilang menjadi terobosan yang tergolong cukup baru dan unik dalam dunia pariwisata lokal. Beberapa contohnya yang cukup ramai diminati oleh masyarakat saat ini adalah beberapa kampung tematik di Semarang, Jawa Tengah.

Kampung Tematik Semarang

Kampung tematik sendiri merupakan area tempat tinggal yang umumnya dikhususkan sebagai pusat budaya dan kesenian. Ini salah satu usaha pemerintah daerah dalam pemenuhan sarana dan pra-sarana pemukiman, serta peningkatan kualitas lingkungan tempat tinggal.

Dibentuknya kampung tematik Semarang ini bertujuan agar kondisi pemukiman dapat diperbaiki dan tidak menjadi kumuh, serta meningkatkan potensi ekonomi dan sosial warga setempat. Usaha ini didasari partisipasi warga secara aktif, dan ciri khas pada lokasi tersebut yang unik dan kuat.

Kampung tematik Semarang menjadi andalan kota ini menarik wisatawan.

Di dalam kampung tematik ini, biasanya akan ditemukan beberapa jenis kerajinan tangan dan kuliner khas setempat, dengan usaha berbasis home industry. Semua ditata rapi dan ramah dengan lingkungan, serta sesuai dengan budaya, tradisi dan kearifan lokalnya.

Bagi pengunjung dan wisatawan, hal ini juga semakin menambah alternatif destinasi wisata, yang mampu memberi nuansa berbeda dari lokasi-lokasi wisata yang sudah ada. Ditambah lagi, semakin mudah untuk mencari kuliner dan kerajinan tangan pada lokasi yang sudah terpusat.

Kampung Batik Semarang

Ambil contoh kampung batik yang terletak di area kelurahan Rejomulyo, tidak jauh dari Museum Kota Lama Semarang. Sejak 2005, mereka sudah dikenal sebagai sentra produksi serta penjualan batik, dengan setidaknya sekitar 20-an merek atau jenama batik yang aktif saat ini.

Selain memproduksi kerajinan batiknya sendiri, mereka juga kerap menerima titipan produk dari luar kampung batik tersebut. Tak hanya itu, di tempat ini juga dapat ditemui atraksi lain seperti mural bergaya batik yang menggambarkan kisah pewayangan sebagai spot foto cantik.

Kampung tematik Semarang lainnya yang serupa adalah kampung Alam Malon, yang terletak di area kaki gunung kawasan Ungaran. Di sini juga dapat ditemui beragam produsen batik tulis tradisional dengan kisaran harga produk dari Rp 70 ribu hingga Rp 200 ribu.

Yang cukup spesial, proses produksinya masih terbilang sangat otentik dan tradisional, dengan penggunaan bahan baku yang alami seperti dedaunan kering, sabut kelapa, batang pohon mahoni, dan lain-lainnya. Hal ini tak banyak ditemui lagi di sentra produksi batik lainnya.

Berawal dari beberapa perajin batik di area tersebut yang sudah membuat dan berjualan batik sejak 40 tahun lalu, kini area tersebut dikembangkan sebagai salah satu kampung tematik. Selain menemukan produk-produk batik, pengunjung juga dapat belajar membatik sendiri.

Kampung Misoa

Bagi yang ingin berburu kuliner tradisional, dapat mencoba mengunjungi kampung tematik Semarang seperti kampung Misoa. Misoa, yang merupakan singkatan dari Mie dan Soto Ayam, terletak di area kelurahan Brumbungan, kawasan pusat kota Semarang.

Soto Neon Pak Nie Semarang
Warung Soto Neon Pak Nie sebagai bagian dari Kampung Tematik Semarang di Kampung Misoa. Foto: DOk. Soto Neon

Kampung tematik Semarang ini dinamakan demikian karena mayoritas warganya merupakan penjual ragam makanan seperti soto ayam, tahu pong, mie ayam, dan lain sebagainya. Sehingga sejak 2018, area ini diresmikan sebagai salah satu kampung tematik bertema kuliner.

Hingga saat ini, kampung Misoa sudah mampu menandai eksistensinya sebagai salah satu sentra kuliner khas Semarang. Beberapa destinasi wisata kuliner unggulan di tempat ini, seperti Soto Neon dan Tahu Pong Brumbungan, kini ramai diminati banyak pengunjung.

Kampung Petis

Kampung tematik bertema kuliner lainnya adalah kampung petis dan mangut di kelurahan Tambakharjo, wilayah barat Semarang. Kampung tematik ini masih cukup baru karena baru diresmikan tahun 2021 lalu, dan menawarkan aneka olahan petis dan mangut khas Semarang.

Umumnya, warga di kawasan ini mayoritas berprofesi sebagai nelayan, dengan hasil tangkapan seperti ikan sembilang dan sebagainya. Dari hasil tangkapan tersebut, ada yang kemudian diolah menjadi petis dan mangut.

Kampung Tematik Semarang ada bermacam-macam, dari kerajinan seperti batik, kuliner, hingga kampung tanaman bonsai.
Kuliner khas Semarang Petis Bumbon. Foto: dok. jatengprov.go.id

Petis adalah olahan udang atau ikan yang dimasak bersama gula merah, karamel dan garam hingga menjadi saus berwarna hitam pekat, dengan rasa manis gurih. Adapun mangut merupakan sejenis gulai ikan yang dimasak dengan santan dan cabe, bercita rasa pedas gurih.

Sejak 2021 silam, tempat ini diresmikan pula sebagai salah satu kampung tematik kuliner. Bersamaan dengan itu, dibangunlah sebuah pujasera yang menjadi wadah sekaligus pusat penjualan petis dan mangut di kampung ini.

Kampung Bonsai Semarang

Uniknya, terkadang kampung tematik tidak melulu bertemakan kerajinan atau kuliner tradisional saja. Kampung Bonsai di kelurahan Ponganan, misalnya, merupakan kampung tematik yang menjadi sentra tanaman bonsai di Semarang.

Awalnya, warga di sekitar area ini kebanyakan berprofesi sebagai pengrajin pot. Seiring semakin maraknya seni budidaya tanaman bonsai, beberapa di antaranya juga mulai menjajakan beragam hasil tanaman bonsai.

Oleh karenanya, pada 2010 lalu area ini ditetapkan sebagai kampung tematik yang menjadi sentra penjualan bibit serta tanaman bonsai. Tak kurang sekitar 40 pengrajin tanaman bonsai yang kini melayani demand lokal dan nasional, bahkan tiga di antaranya sudah go international.

Harga tanaman bonsai yang dijual di sini bervariasi, mulai dari raturan ribu hingga puluhan juta rupiah. Ada beberapa aspek yang dapat mempengaruhi harga, seperti proses pembuatannya, umur tanaman, hingga kualitas estetika dari tanaman tersebut.

Selain itu, masih banyak lagi jenis-jenis kampung tematik lainnya di Semarang, seperti kampung Jajan Pasar yang menjadi sentra penjualan dan eduwisata ragam jajanan pasar, atau kampung Konveksi yang kini mampu memproduksi ribuan potong kaos dan jaket per minggu.

Ke semuanya memiliki ciri khas, gaya, serta produk menarik bagi wisatawan yang berburu kuliner atau oleh-oleh. Ke depannya, tren dan konsep kampung tematik ini akan terus menjadi salah satu opsi bagi pemerintah daerah dalam menggali potensi pariwisata di daerahnya.

Kampung-kampung Tematik Semarang

Kampung Batik Rejomulyo

Jl. Batik Gedong, Rejomulyo, Semarang

Kampung Alam Malon

Kelurahan Gunungpati, Semarang

Kampung Misoa

Kelurahan Brumbungan, Semarang

Kampung Petis dan Mangut

Kelurahan Tambakharjo, Semarang

Kampung Bonsai

Kelurahan Ponganan, Semarang

Kampung Jajan Pasar

Jl. Stonen Timur, Gajahmungkur, Semarang

Kampung Konveksi

Desa Sodong, Purwosari, Semarang

agendaIndonesia/audha alief P

*****

Museum Zoologi Bogor, Unik Sejak 1894

Museum Zoologi Bogor adalah salah satu rujukan tentang hewan yang ada di Nusantara.

Museum Zoologi Bogor mungkin kalah pamor dibandingkan Kebun Raya atau Istana Bogor. Padahal, museum ini berada di dalam satu komplek dengan Kebun Raya tersebut.

Museum Zoologi Bogor

Ia patut menjadi salah satu pilihan alternatif tujuan wisata kala melancong di kota hujan, Bogor. Museum yang menampilkan koleksi kerangka fosil dan spesimen hewan yang diawetkan ini adalah salah satu museum fauna terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara.

Lokasinya berada di dalam area salah satu objek wisata utama Bogor lainnya, yakni Kebun Raya Bogor. Maklum, museum ini dulunya merupakan laboratorium penelitian terkait dengan botani dan zoologi yang dilakukan di sekitar wilayah Kebun Raya Bogor.

Museum Zoologi Bogor berada di dalam kompleks Kebun Raya Bogor.
Kebun Raya Bogor. Foto: shutterstock

Didirikan pada 23 Agustus 1894, tempat ini diprakarsai oleh seorang ahli dan peneliti botani dari Belanda bernama Dr. J. C. Koningsberger. Awalnya, tempat ini dinamai Landbouw Zoologish Laboratorium, merujuk kepada fungsi utamanya sebagai laboratorium penelitian.

Seiring berjalannya waktu, selain melakukan kegiatan penelitian terhadap flora dan fauna, Koningsberger kemudian juga berupaya mengumpulkan dan menghimpun koleksi spesimen hewan-hewan yang pernah ditemuinya selama berada di Indonesia.

Dari kegiatan inventarisasi kekayaan fauna Indonesia tersebut, maka pada 1901 dibangunlah gedung tambahan sebagai ruang koleksi dan pameran. Fungsi tempat ini pun turut bertambah sebagai museum dan sarana edukasi untuk umum, hingga saat ini.

Nama tempat ini pun sempat berubah beberapa kali. Misalnya, pada masa setelah kemerdekaan, museum ini berganti nama menjadi Museum Zoologicum Bogoriense. Kemudian sempat berubah-ubah, sampai akhirnya ditetapkan bernama resmi Museum Zoologi Bogor.

Zoologi sendiri merupakan istilah dari bahasa Yunani yang berasal dari gabungan dua kata, zoios dan logos. ‘Zoios’ artinya hewan, sedangkan ‘logos’ adalah ilmu atau studi mengenai sesuatu. Jadi, zoologi adalah studi dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hewan.

Dengan luas lahan sebesar, 1.500 m2 dan luas bangunan sekitar 750 m2, tempat ini memiliki tujuh ruangan utama yang berisi koleksi berbagai jenis fauna, mulai dari mamalia, burung, ikan, reptil, amfibi, moluska, serangga, serta hewan invertebrata non serangga dan moluska lainnya.

Pada 1997, sempat dilakukan peremajaan yang didanai oleh Bank Dunia dan dibantu oleh pemerintah Jepang. Kendati ruangan-ruangannya diperbarui dan dilengkapi beberapa diorama, arsitektur bangunannya yang kental bergaya kolonial tetap dipertahankan hingga kini.

Museum Zoologi Bogor Kemendikbud
Pintu masuk Museum Zoologi Bogor. Foto: Kemendikbud.

Setelah rampung, pada tahun 2000 museum ini resmi dikelola oleh divisi zoologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sekarang Badan Riset dan Ilmu Pengetahuan Indonesia (BRIN). Fungsi museum Zoologi Bogor sebagai pusat penelitian, inventarisasi dan edukasi kepada masyarakat umum pun terus dilakukan sampai sekarang.

Tercatat, hingga saat ini terdapat koleksi 650 jenis mamalia, 12.000 jenis ikan, 1.000 jenis burung, 763 jenis reptil dan amfibi, 12.000 jenis serangga, 959 jenis moluska, serta 700 jenis hewan invertebrata non serangga dan moluska, seperti cumi-cumi, ubur-ubur, dan lainnya.

Dari koleksi tersebut, terdapat beberapa koleksi unik yang pantang untuk dilewatkan kala berkunjung ke museum ini. Salah satunya yang cukup legendaris adalah kerangka paus biru yang dulu ditemukan mati terdampar di pantai Pameungpeuk, Garut pada Desember 1916.

Hewan yang dikenal sebagai spesies mamalia terbesar di dunia tersebut ditemui dengan panjang mencapai 27,25 meter, dan bobotnya sekitar 116 ton. Bahkan, berat kerangka tulangnya saja disebut-sebut seberat 64 ton.

Maka tak heran dibutuhkan waktu kurang lebih sekitar dua bulan untuk dapat memindahkannya ke Museum Zoologi Bogor. Sesampainya di museum pun, dibutuhkan ruangan tersendiri untuk dapat menyimpan kerangkanya secara utuh, lantaran ukurannya yang begitu raksasa.

Koleksi lain yang cukup unik adalah badak Jawa, salah satu satwa langka yang dilindungi. Konon populasinya kini hanya sekitar puluhan ekor, dan mayoritas habitatnya saat ini berada di taman konservasi Ujung Kulon, Banten.

Badak yang memiliki ciri khas bercula satu dan kecil ini menjadi langka dan terancam punah akibat kerap diburu untuk diambil culanya. Tak terkecuali badak berbobot sekitar dua ton tersebut yang juga mati oleh pemburu cula badak.

Badak itu kemudian disebut-sebut sebagai salah satu badak Jawa terakhir yang hidup di area Tasikmalaya. Karena tak sempat dipindahkan ke Ujung Kulon, akhirnya setelah wafat badak tersebut diabadikan di dalam museum pada 1934.

Selain itu, terdapat pula sampel kulit beserta foto dari komodo yang ditemukan pada tahun 1912 oleh Pieter Antonie Ouwens, direktur Landbouw Zoologish Laboratorium pada saat itu. Ini adalah pertama kalinya spesies komodo ditemukan dari ekspedisi di area Nusa Tenggara.

Yang juga tak kalah unik, ruangan untuk menyimpan spesimen burung memiliki kriteria khusus. Untuk menjaga spesimen agar senantiasa awet dan tidak rusak, maka suhu ruangan selalu dikondisikan setidaknya dalam suhu sekitar 22 derajat Celsius.

Bahkan, koleksi yang terdapat di museum ini tak hanya meliputi satwa nusantara saja. Beberapa di antaranya merupakan hewan-hewan yang ditemukan di negara-negara lain, seperti misalnya kepiting laba-laba Jepang yang merupakan kepiting terbesar di dunia.

Mengingat lokasinya yang masih berada di dalam wilayah Kebun Raya Bogor, untuk dapat masuk ke dalam perlu membayar tiket masuk menuju Kebun Raya Bogor terlebih dulu. Harganya Rp 16,5 ribu untuk hari biasa dan Rp 26,5 ribu saat akhir pekan.

Kemudian, lokasi museum ini berada bersebelahan dengan gedung Balai Industri Agro. Dari pintu masuk Kebun Raya Bogor, akan terdapat papan penunjuk arah menuju ke museum. Di dalam museum juga ada denah ruangan per kategori hewan, sehingga tak perlu takut tersasar.

Harga tiket masuk ke dalam museum adalah Rp 15 ribu untuk hari biasa, serta Rp 25 ribu kala akhir pekan. Jam operasional museum mulai dari jam 08.00 sampai 15.00 di hari biasa, sedangkan saat akhir pekan buka lebih awal pada jam 07.00.

Museum Zoologi Bogor; Jl. Ir. H. Juanda Nomor 9, Bogor

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Goyang Lidah ala Temanggung, 5 Yang Unik

Goyang lidah ala temanggung, Jawa Tengah di antaranya ada sego gono.

Goyang lidah ala Temanggung mungkin belum banyak yang hapal luar kepala. Maklum, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah masih belum menjadi destinasi utama. Kota kecil ini biasanya cuma dilewati jika orang hendak menuju Wonosobo dan Dataran Tinggi Dieng.  

Goyang Lidah ala Temanggung

Temanggung mungkin lebih dikenal sebagai salah satu penghasil kopi. Ya, sebagai penikmat kopi, Temanggung tentu tak asing. Kabupaten ini dikenal sebagai penghasil kopi terbesar di Jawa Tengah. Kopinya juga dipertimbangkan masyarakat dunia saat berhasil masuk delapan besar festival kopi di Swedia dan dipamerkan di pergelaran bertajuk Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Atlanta, Amerika Serikat. 

Menyeruput secangkir kopi tentu lebih nikmat jika dipadu dengan camilan, entah ringan maupun berat. Dan Temanggung punya punya padanan untuk kopinya. Tertarik? Ini ada 5 yang bisa jadi pilihan.

Sego Gono

Inilah makanan khas Temanggung yang kini jarang ditemukan di pasar-pasar tradisional. Namun, penganan ini bisa ditemukan di perhelatan tertentu. Sego gono disajikan ala kadarnya, tapi cita rasanya sama sekali tak sekadarnya. Nasi kukus berbumbu ini dilengkapi mbayung (daun lembayung, daun dari kacang panjang), kubis, tempe, teri, kacang, dan parutan kelapa muda. Aromanya begitu menggoda. Saat disantap hangat-hangat, rasanya jempolan.

Bila ditambahkan ikan asin goreng atau rempeyek, hmm… semakin enak. Kenikmatan ini bisa jadi timbul karena kesungguhan juru masaknya. Bisa juga karena menggunakan dandang gerabah dan kukusan bambu. Atau bisa jadi karena teknik mengukus dengan memperhatikan urutan, seperti nasi-sayuran-nasi-sayuran-dan seterusnya. Tak perlu merogoh kantung lebih dari Rp 5 ribu untuk dapat menikmati seporsi sego gono.

Pasar Papringan; Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kabupaten Temanggung

Pasar Entho; Jalan Diponegoro, Parakan,Kabupaten Temanggung

Goyang lidah ala Temanggung masih jarang ditengok orang, padahal banyak yang bisa jadi teman ngopi.
Kupat tahu dari Temanggung hampir mirip dengan saudaranya di Magelang. Foto: Dok. shutterstock

Kupat Tahu

Jarak Magelang ke Temanggung tak lebih dari satu jam perjalanan. Tak ayal,  kulinernya pun terpengaruh. Salah satunya ditandai dengan keberadaan kupat tahu. Penganan ini berisi potongan ketupat, tahu goreng, dan tauge, sama seperti yang disajikan di Magelang.

Selain itu, seporsi kupat tahu dilengkapi dengan bakwan sayur, potongan kol, cincangan kubis atau seledri, guyuran bumbu kacang setengah cair dengan rasa lebih manis dan gurih–karena dipadukan dengan gula merah cair, dan bawang goreng. Nah, seporsi kemewahan kupat tahu yang disajikan diganjar tak lebih dari Rp 15 ribu. 

Kupat Tahu Batoar; Jalan Gilingsari Pandean, Kabupaten Temanggung

Bakso Lombok Uleg

Bakso seoertinya hanya sajian biasa. Namun, di Temanggung, lain ceritanya. Ada bakso lombok uleg yang dikenal sejak 1950-an dan telah melekat dengan daerah tersebut. Tak sulit ditemukan. Jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer arah timur Alun-alun Temanggung, tepat di ruas Jalan Sudirman. Warung Bakso Lombok Uleg Pak Di, demikianlah warung itu dikenal.

Seporsi bakso lombok uleg seharga Rp 14 ribu terlihat punya tampilan berbeda. Hal yang pertama dilakukan penjual setelah pelanggan memesan menu adalah menghaluskan (uleg, dalam bahasa Jawa) cabai rawit di mangkuk. Tingkat kepedasannya dapat disesuaikan, yakni lima cabai untuk kategori sedang dan sepuluh cabai untuk kategori pedas. Setelah itu, potongan-potongan ketupat, tahu, dan bakso dimasukkan, lantas  disiram kuah kaldu panas. Pelengkapnya adalah kecap, bukan saus atau sambal.

Bakso Lombok Uleg Pak Di; Jalan Sudirman Nomor 48 A, Kabupaten Temanggung

Goyang lidah ala Temanggung ternyata banyak ragamnya, dari yang berkuah atau berbumbu kacang.
Pecel khas Temanggung dengan daun selada air. Foto: Dok. shutterstock

Pecel Kenci Pikatan

Jika ingin menikmati olahan selada air atau kenci–sebutan masyarakat Temanggung untuk selada air, seporsi pecel kenci Pikatan bisa jadi jawabannya. Di Pelataran Parkir Pikatan Water Park yang berada sekitar 3 kilometer arah tenggara pusat Kota Temanggung, beberapa warung makan sederhana menyajikan menu itu. Kenci Pikatan disajikan bersama mi kuning dan bumbu kacang yang sudah ditumbuk halus dengan tingkat pedas sesuai dengan selera. Seporsi pecel mi dihargai Rp 6 ribu. Bila tambah nasi putih, harganya menjadi Rp 10 ribu. 

Meski tampilannya biasa, manfaat mengkonsumsi kenci tidak main-main. Selain kaya akan kandungan vitamin sayuran rendah kalori ini mengandung fitonutrien alami yang berperan sebagai antioksidan. 

 Pecel Kenci Pikatan; Pikatan Water Park; Jalan Raya Pikatan Mudal, Kabupaten Temanggung

Jajan Pasar Temanggung

Bila singgah di Pasar Entho yang berjarak sekitar 10 kilometer arah barat laut dari Kota Temanggung, kemungkinan Anda akan teringat dengan Pasar Gang Baru di kawasan Pecinan, Semarang. Meski barang dagangan yang dijajakan berbeda, penampakannya hampir sama. Lantas, apa yang membuat Pasar Entho ini istimewa? Bisa jadi karena beragam penganan tradisional khas Temanggung yang dijual di sini, mulai Rp 1.000. 

Sebut saja entho cotot (singkong yang telah dihaluskan, kemudian diisi gula pasir dan digoreng), ndas borok (terbuat dari parutan singkong/ketela pohon, kelapa, dan gula jawa yang kemudian dikukus), pipis kopyor (berisikan roti tawar, pisang, kelapa kopyor, dilengkapi kuah santan), cetot (singkong yang digiling halus kemudian dicampur dengan kelapa parut sebelum dikukus, dimakan bersama srundeng manis), ketan jali (terbuat dari ketan dengan bulir besar, diolah dengan santan, dimakan dengan parutan kelapa yang sudah dimasak dengan gula merah), buntil daun lumbu (daun talas yang diisi dengan teri, petai Cina, tempe, kelapa parut), dan masih banyak lagi.

Pasar Entho; Jalan Dipenogoro, Parakan, Kabupaten Temanggung

TL/agendaIndonesia

*****

Menikmati 1 Masa Lalu Surabaya di Malam Hari

Tahu Telur Pak Jayen sesungguhnya adalah tahu tek.

Gelap sudah membayang ketika saya masuk Surabaya di malam hari, Ibu Kota Jawa Timur, dari arah Madura. Selepas Jembatan Suramadu, cukup lama saya menghabiskan waktu di Masjid Sunan Ampel. Jadilah masa lalu Surabaya menyambut dalam temaram, apalagi saat memasuki kawasan gudang-gudang tua. “Ini kawasan Pecinan,” ujar sang pengemudi yang mengantar. Ia pun mengajak berputar, tapi yang ada kegelapan. Jalan Gula, Jalan Karet, hingga Jalan Kembang Jepun, lokasi adanya Kya Kya Surabaya yang memperlihatkan gedung-gedung berpulas abu-abu tak terawat.

Menikmati masa lalu Surabaya di malam hari di antaranya mengunjungi Kya-kya Surabaya.

Meski kawasan Pecinan lebih banyak dipenuhi gedung-gedung lawas tak terawat, tapi pada pagi dan siang hari kawasan itu menjadi sasaran para pencinta foto, baik mereka yang amatiran maupun fotografer profesional. “Mbak mungkin harus lihat besok pagi,” ujar sang pengemudi memecah keheningan. Ia tak tahu, saya tengah menikmati masa lalu Surabaya di malam hari.

Masa Lalu Surabaya di Malam Hari

Nah, dari kawasan Pecinan, saya melewati Jembatan Merah. Jembatan yang menghubungkan jalan Kembang Jepun dan jalan Rajawali ini, menjadi saksi dari kisah heroik para pejuang Indonesia melawan kaum kolonial. Jembatan diberi penerangan cukup hingga terlihat menawan di malam hari. Lampu-lampu pun terlihat lebih bertebaran di seberang jembatan. Melintasi jalan tersebut, saya mengenang kisah Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, pemimpin tentara Inggris meregang nyawa tak jauh dari sini, tepatnya di Gedung Internatio, yang menjadi pusat tentara Sekutu.

Malam itu, gedung yang berada di jalan Jayengrono tersebut terlihat kokoh meski dalam kegelapan. Bangunan yang didirikan pada 1929 ini, tak jauh dari Gedung Cerutu dan De Javasche Bank Surabaya yang dikenal sebagai Gedung Garuda. Juga sebuah hotel yang tampak kental dengan aksen klasik di malam hari, Hotel Arcadia by Horison. Hotel itu tampak di pojokan, seperti menyambut orang yang melewati Jembatan Merah.

Saya membuka mata lebih lebar, gedung-gedung kuno itu semakin membuat saya penasaran. Jadi tak bisa rasanya hanya melewati sekali, meski malam hari saya masih penasaran untuk memutari kembali dan masuk ke dalam jalan-jalan kecil di antara gedung-gedung lawas tersebut. Ini memang menikmati masa lalu Surabaya di malam hari.

Di seputar Jembatan Merah, ternyata banyak juga gedung tua yang terawat dan difungsikan, seperti yang digunakan sebagai kantor oleh PT Perkebunan Nusantara X dan kantor Polwiltabes Surabaya dengan bangunan tahun 1850. Saya lebih terpana lagi saat mencermati bangunan yang digunakan Kantor PT Perkebunan Nusantara XI. Gedung yang digunakan kantor yang mengurusi perkebunan tebu dan pabrik gula itu begitu luas dan terlihat megah.

Pembangunannya disebut menghabiskan 3.000 meter kubik beton. Pilar-pilar besar menjadi salah satu ciri gedung berlantai dua tersebut dengan detail di beberapa bagian. Di masa lalu, gedung yang dibangun pada 1921 ini merupakan Gedung Serikat Dagang Amsterdam. Tak jauh dari PT Perkebunan Nusantara XI ada Maybank cabang Jembatan Merah yang mengunakan bangunan lawas, dulunya bernama Netherlands Spaarbank. Bangunan tersebut didirikan pemerintahan Belanda pada 1914.

Malam terus merambat, niat menikmati masa lalu Surabaya di malam hari berlanjut. Saya pun harus menuju ke hotel yang terletak dalam Jalan Darmo Raya. Lama tak menginjak kota ini, rasanya saya tak cukup untuk satu hari semalam menyimak sejarah kota lewat bangunan tuanya. Dalam perjalanan menuju hotel, saya kembali menyimak Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria dengan gaya arsitektur Gothic, Gedung Isola, dan Gedung Negara Granadi yang didirikan pada 1795, yang kini menjadi kediaman resmi Gubernur Jawa Timur.

Di pusat keramaian kota masih ada sederet titik yang menyimpan sejarah perjuangan bangsa ini. Salah satunya nan begitu populer adalah Hotel Majapahit Surabaya yang dibangun pada 1910. Di sinilah terjadi perobekan bendera Belanda yang terdiri atas tiga warna dan menjadi merah putih. Bendera tersebut berkibar megah di bangunan yang dulu bernama Hotel Oranje, yang kemudian berubah lagi menjadi Hotel Yamato. Sayang, malam itu badan saya sudah mulai berharap untuk rebahan. Hingga kendaraan tidak kembali berputar untuk mengitar seputar Tunjungan.

Menikmati Masa lalu Surabaya salah satunya mengunjungi kawasan Jembatan Merah.
Kawasan Jembatan Merah Surabaya. Foto: unsplash

Esok hari, perjalanan sejarah ini pasti akan diulang. Masih ada Gedung Kantor Pos Kebonrojo, Gedung Pertamina, Rumah WR Supratman, Balai Kota Surabaya, Gedung Suara Asia, Gedung PLN Gemblongan, serta Jembatan Petek’an, yang membuat saya memahami perjuangan warga kota ini untuk kemerdekaan, hingga predikat Kota Pahlawan pun wajib disematkan.

Es krim Zangrandi Surabaya
Es krim Freezing Barbeque di Kedai ice cream Zangrandi, Surabaya.

Kuliner Zangrandi & Pasar Blauran

Di tengah udara panas Surabaya, saat menapaki jejak sejarah, rasanya mampir ke restoran yang terletak di jalan Yos Sudarso Surabaya ini menjadi pilihan menggoda. Resto dengan suguhan spesial es krim ini, didirikan Renato Zangrandi dari Italia pada 1930. Suasana klasik masih dipertahankan di sini, ubin dengan corak zaman dulu dan kursi rotan lama masih mendominasi.

Untuk pilihan, tutti frutti yang menawarkan es krim dengan rasa buah-buahan, yang dulu digandrungi pun masih bisa dicicipi. Selain itu, ada pula sweet blossom dan fruit parade, yang harganya dipatok pada kisaran Rp 30 ribuan.

Ingin makanan tradisional sekaligus menikmati suasana pasar zaman dulu, bisa mampir ke Pasar Blauran. Namanya juga pasar, memang sulit untuk mendapat parkir kendaraan, tapi di bagian dalam aneka camilan dan tentu sajian khas, bisa dicicipi di lingkungan yang bersih dan rapih. Lontong mi, rujak cingur, atau es dawet, bisa membuat perut tak lagi keroncongan.

Interior Masjid Sunan Ampel Surabaya
Masjid Sunan Ampel Surabaya

Sunan Ampel dan Cheng Ho

Ada dua tujuan wisata religi yang saya jejaki sembari menyimak sejarah di Surabaya. Pertama, Masjid Sunan Ampel yang dibangun pada 1421, terasa hangat dengan pernak perniknya, membuat orang serasa di Arab Saudi. Selepas salat ashar saya pun menyusuri lorong-lorong seputaran masjid. Aneka kurma, pakaian dari abaya, sampai gamis kaum Adam memenuhi toko. Hingga saya pun terdampar di sebuah toko keturunan Arab dengan suguhan khas roti cane dan beberapa potong cane menjadi pengisi perut. Saat azan magrib terdengar, saya kembali bergegas kembali ke masjid, berduyun-duyun orang dari lorong yang berbeda mempunyai satu tujuan. Jumlah peziarah memang mencapai ribuan setiap harinya dan datang dari berbagai daerah. Di bagian belakang masjid juga terdapat makam Sunan Ampel, sang pendiri rumah ibadah sekaligus salah satu Wali Songo. Kegiatan berziarah tentu menjadi agenda dari para wisatawan religi itu.

Kedua, Masjid Cheng Ho di Surabaya, yang memang bukanlah bangunan tua. Namun sebaiknya tak dilewatkan karena masjid yang terletak di Jalan Gading, Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng, ini tetap terkait dengan sejarah. Dibangun pada 2001, rumah ibadah ini didirikan untuk menghormati Laksamana Cheng Ho yang berasal Cina. Bangunan ini didominasi warna khas Tiongkok, seperti merah, hijau, kuning, dan biru. Sebagian besar detail arsitekturnya pun dipenuhi ciri Negeri Bambu tersebut, meski ada beberapa detail khas Arab yang terlihat. Bangunan tidak terlalu besar, hanya memanjang dan di bagian depan terdapat lapangan, sehingga saat hari raya bisa menampung hingga 200 orang. Di dalam kompleks masjid terdapat taman kanak-kanak, salah satunya berguna sebagai tempat kursus bahasa Mandarin.

Rumah HOS Tjokroaminoto

Berada di Gang VII, Peneleh, Rumah HOS Tjokroaminoto terkesan teduh. Pagar berwarna hijau tosca menciptakan kesegaran. Tak hanya menyimpan jejak pahlawan nasional, tapi juga jejak sejumlah muridnya, termasuk Presiden Soekarno, Muso, Semaun, Alimin, Darsono, Tan Malaka, hingga Kartosuwiryo. Profil para murid ini terpampang di dinding-dinding dalam catatan khusus. Lantas, ada ruang spesial di atas yang menjadi favorit Bung Karno. Siapa pun bisa mengenal lebih dekat pemimpin Serikat Islam ini, lewat pajangan di dinding-dinding rumah yang dibangun pada 1870.

Rita N