Pindang Ala Palembang, 4 Pilihan Sedap

Pindang ala Palembang, kulinari yang mampu membangkitkan selera makan

Pindang ala Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan ini, menyodorkan sejumlah sajian yang menggugah selera. Tidak hanya pempek dan sejenisnya. Ada pula hidangan menyegarkan yang pas dipadu dengan nasi, yakni aneka pindang.

Pindang Ala Palembang

Bahan bakunya bermacam-macam ikan. Namun bumbunya sama: bawang merah, bawang putih, lengkuas, salam, serai, jahe, tomat, cabai, kunyit, dan asam. Tidak mengherankan jika kemudian namanya berbeda-beda. Umumnya, menggunakan ikan patin, gabus, dan baung, yang biasa ditemukan di Sungai Musi. Namun ada pula yang berbahan tulang iga.

Selain itu, hidangan ini diberi nama sesuai dengan daerah asalnya. Namun semuanya bisa ditemukan di Palembang. Nama-nama menu yang cukup dikenal adalah Pindang Musi Rawas, Pindang Kuyung (khas Sekayu, Muba), Pindang Meranjat (khas Ogan Ilir), dan Pindang Sophia (spesial pindang udang satang). Tambahannya bisa berupa nanas, terasi, kemangi, dan irisan cabai.

Pindang Patin dan Ayam

Dari namanya, sudah jelas memang rumah makan ini menyediakan sajian istimewa serba pindang. RM Makan Pindang Tirta Anugerah terletak di Jalan Soekarno-Hatta, Talang Kelapa. Sebelum masuk ke menu pindang, ada menu pembuka berupa ikan seluang. Merupakan ikan air tawar yang banyak terdapat di Sungai Musi. Bentuknya kecil-kecil. Di Jawa, biasa disebut ikan wader. Ikan ini disajikan dengan cara digoreng kering dan ditemani sambal petai, sambal buah bacang, juga sambal tempoyak.

Sambal buah bacang tak lain sambal mentah dengan irisan bacang (sejenis mangga), yang baunya harum. Sensasi rasa pedas dan asam bertemu dengan aroma bacang yang kuat. Sedangkan sambal tempoyak berbahan dasar durian matang yang telah difermentasi dengan campuran garam. Mula-mula bahan itu diaduk dan disimpan di wadah tertutup rapat. Biasanya, dalam stoples kaca. Setelah sekitar sepekan, tutup wadah dibuka, adonan diaduk kembali agar rata, lalu siap disantap. Biasanya, disajikan terpisah dengan

sambal cabai mentah. Namun bisa disesuaikan pula dengan selera kon- sumen. Sebab, biasanya ada pula yang meminta disajikan dengan dicampur sambal mentah.

Pindang disajikan sebagai menu utama dengan harga rata-rata per porsi Rp 40 ribuan. Sebenarnya, menu pindang satu sama lain memiliki kuah yang mirip, hanya berbeda bahan ikannya. Kuah pindang berwarna merah segar. Benar-benar menggoda selera! Pindang patin tentu berbahan dasar ikan patin, yang berdaging lembut. Rasanya segar

pedas. Apalagi dibumbui semerbak daun kemangi dan buah nanas di atasnya. Benar-benar membuat keringat saya bercucuran di tengah cuaca Palembang yang panas akhir Oktober lalu. Di Palembang, ada beberap tempat lain untuk mencicipi pindang ikan patin, yakni:

Rumah Makan Pindang Musi Rawas; Jalan Angkatan 45 Nomor 18;

Rumah Makan Sri Melayu; Jalan Demang Lebar Daun;

Pindang Meranjat Bu Ucha, Jalan Demang Lebar Daun Nomor 14.

Pindang ala palembang ada yang unik karena berbahan dari tulang iga.
Pindang ala Palembang tak semua berbahan ikan, ada pula yang dari iga sapi. Foto: Dok. Shutterstock

Pindang Tulang

Mungkin yang mengundang tanya bagi orang yang tidak kenal jenis-jenis pindang adalah pindang tulang. Benar- benar sesuai dengan namanya, bahan utama sajian ini adalah tulang iga sapi yang dimasak hingga empuk. Mirip dengan sop iga sebenarnya, hanya berbeda kuahnya. Begitu pula pindang udang. Berisi udang sungai sebesar ibu jari kaki dicampur dengan kuah pindang, yang manis, pedas, dan segar.

RM Makan Pindang Tirta Anugerah, Jalan Soekarno-Hatta Kilometer 10. Kelurahan Talang Kelapa, Keca- matan Sukarame, Palembang

Rumah Makan Pindang Musi Rawas; Jalan Angkatan 45 Nomor 18, Palembang


Rumah Makan Sri Melayu; Jalan Demang Lebar Daun, Palembang.

Pindang Meranjat Bu Ucha; Jalan Demang Lebar Daun Nomor 14, Palembang

Pindang ala Palembang tak selamanya berbahan ikan, ada pula yang dari ayam.
Salah satu pilihan Pindang ala Palembang adalah pindang ayam. Foto: dok. shutterstock

Pindang Kepala Patin

ASYIK rasanya menikmati Sungai Musi sambil mencicipi menu spesial Palembang. Pilihan resto di tepi sungai yang membelah ibu kota Sumatera selatan itu adalah River Side Restaurant. Arena bersantap yang terapung di pinggir sungai ini menyuguhkan pemandangan spektakuler jika kita bersantap makan di malam hari. Deretan lampu LED yang membingkai Jembatan Ampera menjadi pesona tersendiri. Dipadu dengan embusan angin basah Sungai Musi yang mengalir gagah. Sungguh menawan.

Menu utama restoran ini di antaranya Tenggiri Bakar, Udang Mayones, Kepiting Lada Hitam, Sayuran Dua Rasa, dan Pindang Kepala Patin. Yang membedakan pindang tersebut dari jenis pindang lainnya tentu kepala ikan patin sebagai bahan utama. Kepala ikan patin yang diolah cukup besar. Disajikan dalam kondisi dibelah menjadi dua. Dapat dinikmati dengan kuah pindang asam, manis, dan pedas; daun kemangi, yang wangi; serta potongan nanas segar.

Pindang Kepala Patin dapat dipadu dengan menu lain, seperti Tenggiri Bakar seharga Rp 18 ribu per ons dan Udang Mayones Rp 55 ribu per porsi. Ada juga Kepiting Lada Hitam serta Sayuran Dua Rasa yang dipatok Rp
50 ribu per porsi. Ini menu yang unik. Berisi campuran telur hitam, telur bebek asin, dan daging kepiting. Baunya memang agak amis, tapi rasanya cukup menggugah selera.

River Side Restaurant; Kawasan Wisata Sungai Musi. Jalan Rumah Bari, Kompleks Benteng Kuto Besak, Palembang

Pindang Kepala Baung

SATU lagi rumah makan yang menyajikan menu pindang unik adalah RM Pindang Begagan H. Abdul Halim. Pindang kepala ikan baung selalu tersedia di sini. Padahal, ikan penghuni Sungai Musi itu saat ini cukup sulit diperoleh di Palembang karena populasinya mulai berkurang. Tak mengherankan jika harga pindang kepala baung cukup mahal, per porsi dipatok Rp 75 ribu. Terdiri atas kepala ikan baung besar yang dibelah dua. Disajikan dengan kuah pindang kemerahan, segar, asam, manis, dan pedas serta daun kemangi. Tak lupa ada potongan kecil nanas.

RM Pindang Begagan H. Abdul Halim; Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 3,5, Palembang

Nugroho A/TL/agendaIndonesia

*****

4 Restoran Asyik di Kota Hujan

Maracca

4 restoran asyik di kota hujan ini bisa menemani malam-malam sambil menikmati rintik-rintik gerimis kota Bogor, Jawa Barat.

Akhir pekan di Kota Hujan, Bogor, Jawa barat, tak melulu harus mengunjungi curug, puncak, atau kebun raya. Aktivitas berkembara lidah pun bisa menjadi opsi yang menarik. Sebab, kota ini menyempurnakan diri sebagai wilayah layak kunjung dengan membangun sejumlah restoran nyaman. Tentu nyaman untuk bersantap dan bersantai.

 

  1. Maraca Books and Coffee

Menyenangkan bagi penggemarnya: kopi dan buku, dipadu jadi satu. Kafe ini menyediakan ruang dengan konsep yang unik, yakni menyajikan pengalaman bagi penikmat kopi dan pembaca buku sekaligus. Seperti perpustakaan, Maraca Books and Coffee memajang sejumlah koleksi buku yang bisa dibaca sambil menyeruput kopi.

Kopi yang tersedia ialah kopi-kopi lokal khas Nusantara. Semisal kopi Aceh Gayo. Sebagai teman minumnya, tersedia penganan ringan. Di antaranya spicy wings, cheese cake, little kebab, dan makanan bergaya Eropa, yakni lasagna. Bila pengunjung emohmemesan kopi, kafe ini juga menyediakan aneka the, susu, dan cokelat.

Maraca Books and Coffee cocok dikunjungi saat Anda ingin mencari kesunyian. Cukup datang seorang diri, pilih tempat yang sunyi, pesan kopi, lalu baca buku. Tempatnya yang nyaman akan membuat Anda betah berlama-lama di sini. Harga kopi di kafe ini dibanderol mulai Rp 30 ribuan.

Alamat: Jalan Jalak Harupat Nomor 9A, Bogor Tengah, Bogor

Jam buka: 09.00–22.00

Telepon: 0812 8024 6380

 

  1. Death By Chocolate & Spaghetti

Terdengar seram namanya: death by chocolate. Kafenya pun berarsitektur semi-gothic yang menorehkan kesan misterius. Kafe ini memiliki ornamen yang dekat dengan hal-hal mistis. Lampunya pun remang-remang. Dijamin bulu kuduk bakal berkuduk ketika masuk kafe ini. Namun justru inilah yang membuat kafe Death By Chocolate & Spaghetti populer dan dikenal banyak orang.

Rata-rata pengunjung penasaran dengan sensasi misterius yang diangkat pada kafe populer itu. Guna menambah seram suasana, pramusaji biasanya akan melayani tamu dengan pakaian ala monster atau setan interlokal. Mereka akan berekting mengeilingi tamu saat mereka sedang makan, bak setan mencari mangsa.

Anda berani datang dan mencicipi cokelat dengan suasana yang lain? Biasanya tempat ini menarik perhatian anak-anak muda. Menunya pun dibuat bernada seram, seperti dibentuk dalam cetakan kuburan dan sebagainya. Tertarik datang?

Alamat: Jalan Ceremai Ujung Nomor 23, Bantarjati, Bogor Tengah, Bogor
Jam Buka: 07.00–22.00
Telepon: 0251-837-777-25

 

Death By Chocolate amp Spaghetti

  1. Anthology Coffee and Tea

Kafe ini belum lama dibuka, yakni sejak awal tahun 2018. Adanya di kawasan Sentul. Lokasinya tak jauh dari gerbang jalan tol Sentul Selatan. Tempatnya cukup mudah dijangkau, baik dari Kota Bogor maupun Jakarta.

Kafe tersebut mulai viral dari media sosial. Netizen mengunggah kafe yang letaknya persis di tepi Danau Teratai. Tampak asyik untuk kongko dan berfoto. Ada beberapa ruang favorit pengunjung di sana. Kafe itu terdiri atas dua lantai. Ruang favoritnya ialah yang menghadap langsung ke danau. Suasana ini memang nyaman dan asri.

Interiornya rata-rata terbuat dari kayu. Ada juga hiasan tanaman yang digantung di pot-pot. Back to nature. Begitulah kalimat singkat untuk menggambarkan suasana kafe.

Pengunjung biasanya datang saat pagi hari sebelum matahari terik. Sebab, suasananya masih segar dan belum terlalu padat dikunjungi pengunjung.

Soal menu, kafe ini menyajikan kopi dan teh dengan pilihan lengkap. Ada kopi lokal yang diseduh manual atau blend atau campuran. Sedangkan menu teh terdiri atas teh tradisional dan yang sudah dicampur bergaya western. Menu-menu ini enak disantap bersama beragam cemilan. Semisal beef teriyaki, cinnamon roll, spiced carrot cake, sampai potato balls.

Alamat: Jalan M.H. Thamrin, Sentul, Bogor

Jam buka: 08.00-22.00

Telepon: 0812-1970-0478

Anthology Coffee and Tea

 

  1. Cimory Resto

Minum susu sambil menyasikan pemandangan alam yang asri, mau? Cobalah Anda menyambangi Cimory Resto. Restoran ini berlokasi di Jalan Raya Puncak. Ada dua pilihan restoran, yakni Cimory River Side dan Cimory Mountain Side. Keduanya hanya dibedakan oleh pemandangan. Tentu saja pemandangan yang disajikan keduanya adalah sungai dan gunung.

Cimory kesohor lantaran memiliki produk susu dan yoghurtyang diklaim alami. Produknya pun sejatinya sudah didistribusikan ke seluruh Indonesia melalui mini market.

Bila berkunjung langsung ke restoran tersebut, Anda akan merasakan sensasi yang berbeda. Suasana restoran bergaya Indonesia-Eropa lekat dirasakan. Selain itu, pemandangannya cukup sejuk menyapu mata. Sepanjang amatan hujau dan segar. Restoran ini menjadi favorit keluarga untuk bersantai, menepi dari hiruk-pikuk.

Alamat: Jalan Raya Puncak Km 76 Cipayung Puncak, Bogor.

Jam buka: 08.00-22.00

Telepon: 021 – 587 4630

Cimory Resto

Kereta Api Wisata, Keseruan Di Akhir 2022

Kereta Api wisata untuk liburan akhir tahun.

Kereta Api Wisata bisa menjadi pilihan keseruan liburan akhir tahun ini. Tahun 2022 akan segera berakhir. Akhir tahun nanti akan ada libur Natal dan Tahun Baru yang biasanya dibarengi dengan cuti bersama.

Kereta Api Wisata

Apakah traveler sudah menyiapkan rencana untuk mengisi liburan akhir tahun ini? Bagaimana kalau jalan-jalan saja bersama keluarga atau teman-teman terdekatmu? Kalau itu menjadi pilihan, mungkin jalan-jalan keluar kota naik kereta bisa seru banget.

Sekarang ini kereta api tak cuma jadi alat transportasi. Ada yang berbeda dari salah satu anak usaha PT Kereta Api Indonesua (KAI), yakni KAI Wisata. Mereka punya kereta wisata yang siap membawa wisatawan liburan di berbagai objek wisata di Indonesia. Kerennya lagi, kereta ini dilengkapi berbagai fasilitas yang bikin wisatawan tak akan mati gaya di sepanjang perjalanan. 

Kereta Api Wisata memiliki pilihan ikut pada rangkaian kereta reguler, atau yang KAI Istimewa bisa memilih rute dan jadwal sendiri.
Interior KAI Wisata Bali yang cozy. Foto: DOk. KAI Wisata

Pengen tahu lebih banyak tentang kereta wisata? Yuk cek informasi berikut ini.

Jenis Kereta Wisata

Bicara soal kereta perjalanan khusus ini, apakah wisatawan sudah tahu apa bedanya dengan kereta pada umumnya? Sesuai dengan namanya, kereta ini didesain sebagai alat transportasi sekaligus sarana rekreasi.

Kereta ini sangat cocok untuk wisata secara kelompok karena konsepnya berupa sewa kereta oleh rombongan wisatawan. Saat ini sudah tersedia beberapa jenis kereta khusus ini, seperti Kereta Wisata Nusantara, Kereta Wisata Bali, Kereta Wisata Sumatera, Kereta Wisata Jawa, Kereta Wisata Imperial, Kereta Wisata Priority, Kereta Wisata Toraja, dan Kereta Wisata Retro. Kereta-kereta ini nantinya akan dirangkaikan dengan kereta regular sesuai rute dan waktu perjalanan yang diminta oleh wisatawan. 

Kereta Api Wisata KAI Wisata
Interior lain KAI Wisata. Foto: Dok. KAI Wisata

Selain kereta pariwisata, juga ada kereta istimewa. Kereta ini sedikit berbeda dengan kereta wisata karena tidak dirangkaikan dengan kereta regular dalam perjalanannya. Jadi wisatawan lebih bebas mengatur destinasi dan waktu perjalanan.

Di kereta ini, para wisatwan juga bisa melihat langsung pemandangan dari depan kabin masinis. Wow. Pasti ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan sekali. Melihat rute di depan.

Karena sifat perjalanannya yang fleksibel, pihak KAI-Wisata juga menawarkan beberapa paket wisata untuk berkunjung ke objek-objek yang dilalui selama perjalanan dari titik keberangkatan ke titik tujuan. Hhmm, asyik banget kan? Perjalanan akan lebih mengesankan karena banyak sekali objek wisata yang dapat dikunjungi sepanjang jalur kereta.

Memiliki Fasilitas Lengkap

Wisatawan pengguna kereta ini rasanya tidak akan bosan di sepanjang perjalanan. Ada berbagai aktivitas seru yang bisa dilakukan. Selain memiliki kursi yang lebar dan empuk, buat yang suka nyanyi, penumpang bisa karaoke sepuasnya di ruangan yang sudah tersedia.

Ingin santai sambil nonton film kesayangan? Bisa banget, karena ada juga TV layar lebar dengan audio yang mumpuni yang disediakan khusus buat para penumpang. Prama dan prami, semavam pramugari, di kereta ini juga akan selalu siaga memenuhi kebutuhan kamu selama perjalanan. Semua gerbongnya dilengkapi dengan toilet ekslusif. 

Selain itu, ada beberapa fasilitas tambahan yang membedakan antara satu jenis kereta dengan yang lain. Contohnya, Kereta Retro yang memiliki kapasitas 20 tempat duduk didesain dengan nuansa klasik dan furniture yang sangat retro sehingga memberikan pengalaman perjalanan yang berbeda.

Kereta ini cocok untuk wisatawan yang suka swafoto selama perjalanan karena interiornya sangat instagramable. Kalau mau merasakan nuansa Pulau Sumatera, kamu bisa pilih KW Sumatera yang memiliki interior serta pernak-pernik yang menonjolkan seni dan keindahan budaya Sumatera. Memiliki kapasitas 22 tempat duduk dan dilengkapi dengan ruang serbaguna untuk rapat maupun menjadi meja makan keluarga, seru ya?

Paket Wisata Yang Tersedia

Selain menyediakan keretanya, KAI Wisata juga menyediakan beberapa paket perjalanan ke berbagai destinasi menarik di Indonesia, seperti Lawang Sewu dan Museum Ambarawa. Kedua destinasi tersebut masih menjadi favorit masyarakat untuk menghabiskan liburan akhir tahun bersama keluarga. 

KAI Wisata juga melayani permintaan paket tur khusus sesuai dengan keinginan wisatwan. Jadwal perjalanan dan destinasi wisata serta akomodasinya dapat ditentukan sendiri oleh wisatawan.

Paket perjalanan yang disediakan juga bukan hanya untuk rombongan, bisa juga untuk individual. Untuk ini bisa cek informasi lengkapnya dengan mengunjungi website resmi KAI Wisata di kaiwisata.id.

Perjalanan kereta wisata atau kereta istimewa tentu akan memberikan kesan dan pengalaman yang berbeda dengan kereta regular. Ini dapat menjadi salah satu cara menghabiskan liburan akhir tahun yang unik dan luar biasa yang ditawarkan oleh KAI Grup.

“Kami senantiasa melakukan berbagai inovasi untuk memberikan layanan terbaik bagi para pelanggan dengan adaptif mengakomodasi keinginan masyarakat untuk bertranspotasi terutama di masa liburan Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 nanti.” tutup VP Public Relations KAI, Joni Martinus.

Jadi, sudah siapkah kamu menghabiskan liburan akhir tahunmu dengan cara berbeda bersama kereta api khusus? Rasanya akan menyenangkan karena fasilitas dan pelayanannya yang istimewa.

agendaIndonesia

*****

Bakar Tongkang Bagansiapi-api

Bakar Tongkang1

Bakar tongkang Bagansiapi-api sebuah tradisi yang makin dilirik sebagai atraksi pariwisata Indonesia. Awalnya tradisi ini hanya menjadi atraksi masyarakat Bagansiapi-api. Namun, beberepa tahun terakhir ia menjadi wisata bakar tongkang yang makin banyak diminati untuk disaksikan. Bahkan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia, juga wisatawan manca negara.

Bakar Tongkang Bagansiapi-api

Masyarakat Bagasiapiapi, Provinsi Riau, memiliki tradisi unik yang diselenggarakan setiap tahun dan selama beberapa tahun terakhir menjadi atraksi menarik bagi wisatawan. Umumnya agenda ini diselenggarakan pada bulan Juni, dan untuk 2019 ini digelar pada 17 hingga 19 Juni lalu. Ritual turun-temurun dari nenek moyang ini memang dilaksanakan selama tiga hari.

Bakar tongkang Bagansiapi-api sebuah tradisi yang makin dilirik sebagai atraksi pariwisata Indonesia. Awalnya tradisi ini hanya menjadi atraksi masyarakat Bagansiapi-api. Namun, beberepa tahun terakhir ia menjadi wisata bakar tongkang yang makin banyak diminati untuk disaksikan. Bahkan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia, juga wisatawan manca negara.

Menurut Kepala Dinas Provinsi Riau Fahmizal, puluhan ribu paket wisata yang terkait Bakar Tongkang terjual setiap tahunnya. “Tahun lalu 52 ribu kunjungan,” kata Fahmizal di kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta Pusat.

Bakar Tongkang2 1
Ornamen pada tongkang dalam Festival Bakar Tongkang Bagansiapi api. (Rosana)

Bakar Tongkang memang berhasil menarik minat kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun. Pada 2017, dari 52 ribu kunjungan, 20 ribu di antaranya merupakan kunjungan wisatawan asing atau wisman. “Kebanyakan dari Singapura, Malaysia, Cina,” katanya.

Adapun wisatawan Nusantara yang masuk ke Bagan—sebutan pendek Bagansiapapi—tercatat mencapai 32 ribu. Masuknya wisatawan ke kota bekas persinggahan Cina ini membuat kuota hunian sejumlah homestay dan hotel di kawasan kota Bagan penuh.

Animo turis terhadap agenda budaya pun memacu pemerintah setempat bekerja keras untuk menyiapkan akomodasi. Tak jarang, rumah-rumah warga di sekitar lokasi perayaan dibuka untuk menampung para wisatawan.

Tahun-tahun berikutnya, untuk menyiasati tingginya permintaan terhadap jumlah kamar, pemerintah setempat tengah merancang konsep nomadic tourism. “Bisa dengan konsep nomadic, yaitu dengan tenda atau glamcamp seperti yang tengah dicanangkan Kementerian Pariwisata,” kata Fahmizal.

Bakar tongkang secara turun-temurun diyakini sebagai ritual untuk memperingati hari ulang tahun Dewa Kie Ong Ya, yakni dewa pelindung masyarakat setempat. Perayaannya jatuh pada penanggalan lunar di hari ke-16 bulan kelima, dihitung pasca-Imlek. Secara historis, upacara itu merupakan sebuah penanda untuk memperingati hikayat asal-muasal Kota Bagansiapiapi.

Agenda ini tahun lalu dinobatkan sebagai atraksi budaya terpopuler dalam Anugerah Pesona Indonesia (API). Bakar Tongkang juga berkontribusi mendorong Riau meraih juara umum penghargaan pariwisata berstandar nasional tersebut.

Puncak Festival  Bakar Tongkang merupakan saat yang selalu dinanti warga setempat dan juga wisatawan. Saat itu dilakukan pembakaran replika tongkang, yang diiringi dengan perasaan penasaran warga. Mereka harap-harap cemas, ke mana tiang utama akan jatuh. Warga percaya bahwa arah jatuhnya tiang akan menentukan nasib mereka di tahun mendatang. Jika tiang jatuh ke laut, mereka percaya keberuntungan sebagian besar akan datang dari laut. Tetapi ketika jatuh di darat, maka keberuntungan untuk tahun itu sebagian besar akan datang dari darat.

Festival bakar tongkang selalu digelar secara meriah. Replika kapal dapat berukuran hingga 8,5 meter, lebar 1,7 meter dan berat mencapai 400 kg. Kapal akan disimpan selama satu malam di Kuil Eng Hok King, diberkati, dan kemudian dibawa dalam prosesi melalui kota ke lokasi tempat pembakaran.

Prosesi Tongkang juga melibatkan atraksi Tan Ki. Sejumlah orang menunjukkan kemampuan fisik mereka dengan menusuk diri dengan pisau atau tombak. Namun, aksi tersebut tidak melukai meskipun senjata yang digunakan tajam. Aksi ini agak mirip dengan tradisi Tatung di Singkawang, Kalimantan Barat.

 

 

 

*****

 

Café D’Pakar Dago 1 Cangkir Kopi dari Bibir Hutan

andi prasetyo cafe dpakar bandung 4

Cafe D’Pakar Dago 1 cangkir kopi dari bibir hutan Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat. Hawa dingin Bandung sebelah utara ini cocok untuk menikmati cecapan hangat kopi dan kudapan lezat.

Cafe D’Pakar Dago

Sepanjang jalan menuju kafe yang sedang naik daun di Dago Pakar itu, tak ada pemandangan lain selain hutan dan pepohonan yang rimbun di sekitarnya. Medan dengan jalur yang rusak, aspal-aspal retak, dan lubang yang menganga lebar mengharuskan roda mobil berbelok-belok tak tentu. Plus, monyet yang seliweran menandai kalau hutan yang cuma berjarak 12 kilometer dari Kota Bandung ini benar-benar merupakan alam liar.

Sekilas, saya merasa sedang berada dalam bingkai film kanak-kanak Petualangan Sherina yang mengambil lokasi shooting di Bandung.. Tiga ratus meter sebelum sampai di kafe, beberapa monyet mejeng mengamati kendaraan yang lewat.

Kawanan anggota primata itu barangkali berharap, kalau-kalau ada penduduk dari kota yang membawa bekal buah-buahan dan berkenan merelakan satu-dua biji pisang, apel, atau jeruk miliknya, untuk diberikan. Sayangnya, para penunggu hutan ini kudu menelan kecewa tatkala orang—begitu juga kami—melaju kencang, dan langsung berbelok di pekarangan kafe yang dari muka tampak bergaya rustic itu.

shutterstock 524061637andi prasetyo cafe dpakar bandung 12shutterstock 524061637

“Dihadang monyet ya tadi?” Tutur Maryati Santoso, pemilik D’Pakar, ketika kami—saya dan teman-teman—tiba di kafe itu. “Kawasan di sini memang masih cukup liar. Tempat ini saja dulu bekas kebun, lalu saya bangun jadi kafe karena tanamannya banyak dirusak monyet,” katanya.

Saya mengangguk paham. Tak kepingin diikuti monyet, saya lantas bergegas masuk melewati pintu loket yang bercokol tepat di samping gerbang. “Rp 25 ribu untuk tiket masuk. Anggap saja minimal order,” ujarnya. Tiket ini nantinya bisa ditukarkan dengan makanan atau minuman.

Lalu kami dituntun masuk menuju kebun hijau yang ditanami rumput teki seluas 3.000 meter persegi. Perempuan separuh baya asal Bogor ini meneruskan ceritanya tentang awal mula ia membuka kafe. Yang dulu, kata dia, tempat tersebut cuma dibangun kecil-kecilan. Orang-orang bilang, warung di tengah hutan. Begitulah citra awalnya kafe ini. “Semacam warung biasa yang melayani petani sekitar atau para atlet sepeda,” ujarnya. Dago Pakar memang dulu cuma jadi jalur pesepeda atau pelari, selain tentunya areal perkebunan. “Mulainya dari Kota Bandung, finis di Tebing Kraton,” ucapnya, melanjutkan.

Suara Maryati yang terus berkisah sekonyong-konyong terdengar lamat-lamat di kuping. Sebab, saya mendadak mengalihkan fokus pada hamparan hutan yang jaraknya hanya beberapa jengkal dari tempat berdiri. Mata juga seketika dibikin terperangah dengan konsep kafe kebun yang diusung, dengan membiarkan beberapa bangku kayu tersebar tak tentu di lahan luas.

Beberapa bunga begonia dibiarkan tumbuh, memberi warna yang padu tatkala disandingkan dengan rona hijau dari pepohonan dan rupa cokelat dari bangku dan meja-meja kayu. Di sisi depan, terdapat rumah joglo sederhana berkapasitas tak lebih dari 50 orang menghadap ke kebun. Pengunjung bisa memilih hendak makan di area indoor atauoutdoor. Yang jelas, keduanya menawarkan konsep serupa: menghadap langsung ke taman hutan rakyat.

Dari pintu sampai beranda belakang, bentuk D’Pakar berundak-undak tak rata. Pemiliknya mengatakan bahwa ia tengah mempertahankan kontur asli. Dibikin begini, ujar Maryati, supaya ia tak kehilangan bentuk asal dari kebun yang merentang seluas 1 hektare, yang sudah ia miliki selama 20 tahun lalu itu.

Hari hampir sore kala kami tiba di sana, dan sialnya, bangku sudah hampir seluruhnya penuh dipesan. Kami sempat berputar, menemukan beberapa titik yang seru. Ada bangku dengan model replika kapal kayu, yang dibikin menghadap ke hutan, ada juga kursi panjang yang jaraknya hanya beberapa meter dari jurang. Atau, bangku-bangku bulat yang berjajar manis di samping pagar ilalang. Cantik untuk dipotret kosong atau berfoto diri dengan latar demikian. Sayang, seluruhnya sudah berpenghuni alias ditempati tetamu.

Kami duduk di dek paling atas, dekat dengan joglo. Hanya itu satu-satunya bangku tersisa. Namun tak sial-sial benar lantaran kami justru bisa memandang luas semua lanskap yang ditawarkan di kafe itu. Di tengah desau embusan ilalang dan suara derik serangga hutan, kami meramu obrolan, sembari memilih menu apa saja yang cocok di santap di tempat sedingin itu. “Kopi Aroma, kopi khas tanah Pasundan,” kata Maryati. “Harus dicoba. Menyantapnya ditemani roti bakar green tea dan martabak Nutella,” katanya.

Saya mengangguk setuju tanpa berpikir lagi. Tak lama, kopi hitam yang masih mengepul itu mendarat bersama kawan minumnya. Wanginya mendaraskan kisah masa lalu: secangkir robusta yang sudah ditemukan sejak 1930. Kopi ini tak pelaknya sebuah legenda yang menandai tumbuhnya kawasan pecinan di Bandung sejak era kolonial. Kopi itu saya minum tanpa pemanis. Saya ingin tahu rasa aslinya. Dan benar, ada rasa yang menimbulkan kegirangan kala dua-tiga teguk melewati kerongkongan.

Kopi yang sempurna, diminum di tempat yang tepat. Seperti itulah saya mendeskripsikan kopi aroma kala diseruput di Kafe D’Pakar. Plus, jajanan manis yang melengkapinya memberikan taste yang komplet.

Tak cuma makanan ringan. Maryati juga menyediakan penganan berat, seperti nasi goreng, pempek, ramen, dan jenis-jenis mi lainnya. Menariknya, seluruh menu aman di kantong mahasiswa. Makanan berat dibanderol Rp 20 hingga 40 ribuan, dan minuman dibanderol tak lebih dari Rp 30 ribu. Pantas saja pengunjung rata-rata merupakan mojang Bandung, yang datang sekadar ingin mengobrol dengan teman-teman atau orang terkasih. Tentu di tengah hutan dengan suasana yang syahdu.

Waktu yang tepat untuk bersantai di kafe ini berkisar antara pukul empat sore hingga setengah enam petang. Pada jam tersebut, kemilau surya meronakan cahaya keemasan, memberi semburat yang molek. Pun, cahaya yang merasuk di antara pepohonan menimbulkan lanskap yang hampir boleh dikatakan dramatis. Lagu-lagu alam paling merdu, seperti suara angin sore bercampur kicau burung-burung hutan yang akan kembali ke rumah-rumahnya turut menyumbangkan harmonisasi yang laras.

Tentang D’Pakar:

  • Alamat: Jalan Dago Pakar Utara, Sekejolang, Ciburial, Cimenyan, Bandung
  • Harga: Rp 10-43 ribu
  • Buka pukul 11.00 – 18.00
  • Tutup setiap Senin
  • Rekomendasi menu: kopi aroma, roti bakar green tea, martabak Nutella, nasi tutug oncom gepuk penyet

Es Krim Zangrandi 90 Tahun Meleleh Enaknya

Es krim Zangrandi adalah ikon dan legenda kuliner Surfabaya. Foto. ilustrasi unsplash

Es krim Zangrandi atau yang bernama resmi Graha Es Krim Zangrandi, adalah nama yang cukup dikenal publik sebagai salah satu kedai es krim paling legendaris yang terletak di Surabaya. Kini kedai yang sarat sejarah ini sudah beroperasi lebih dari 90 tahun.

Es Krim Zangrandi

Kedai es krim yang berada di kawasan Genteng, tepatnya di jalan Yos Sudarso, ini sudah eksis sejak 1930. Bisa dibilang, kedai ini merupakan salah satu kedai es krim tertua yang ada dan masih eksis di Indonesia saat ini.

Asal usul kedai ini beserta namanya merunut kepada sang pendiri dan pemilik awal kedai, yaitu Roberto Zangrandi. Pria keturunan Italia ini kala itu sedang tinggal di Surabaya bersama keluarganya.

Surabaya sendiri memang dikenal sebagai kota dengan iklim dan suhu yang panas dan gerah. Kebetulan, istri Roberto memiliki keahlian membuat handmade ice cream, sehingga kemudian tercetus keinginan untuk membuka kedai es krim.

Es Krim Zangrandi didirikan pasangan sumai istri asal Italia karena hawa panas Surabaya.
Kedai pertama Es Krim Zangrandi. Foto: Dok Wikimapia.org

Pada 1930 mereka mendirikan kedai Zangrandi Ice Cream. Sejak kemunculannya, tempat ini langsung menjadi salah satu tempat pelesir yang populer, mengingat es krim yang dingin dan manis menjadi kudapan favorit yang cocok bagi iklim kota pahlawan tersebut.

Kedai ini dulunya banyak disinggahi oleh kaum sosialita Belanda pada masa pendudukan. Oleh mereka, kedai ini kerap disebut ‘Mevrouw Zangrandi’, sebuah panggilan mereka kepada sang istri, yang kurang lebih secara harafiah artinya ‘Nyonya Zangrandi’.

Saat itu, ada empat menu andalan yang disediakan, yakni rasa coklat, vanilla, mocca, dan strawberry. Biasanya, es krim kemudian disajikan di piring masih dengan kertas pembungkusnya, yang kemudian menjadi salah satu ciri khas kedai ini.

Dalam perkembangannya, mereka pun berinovasi dengan rasa-rasa lain. Misalnya rasa tutti frutti dan macadonia yang khas dan digemari banyak orang, dengan cita rasa rum­-nya yang kuat. Bahkan, ada pula es krim soda yang unik dan berbeda dari es krim umumnya.

Suasana Resto Es Krim Zangrandi
Suasana Graha Es Krim Zangrandi. Foto: dok busniness site Zangrandi Ice Cream

Namun setelah 30 tahun berjualan, pada 1960 Roberto Zangrandi bersama keluarganya berniat untuk pulang kampung ke Italia. Mengingat kedai es krimnya telah kadung populer dan menjadi ikon tersendiri, ia lantas mencari orang yang mau mengambil alih dan mengelola kedai.

Adalah Adi Tanumulia, seorang pebisnis di bidang winery, yang kemudian melihat peluang bisnis dan memutuskan untuk membeli kedai tersebut. Sepeninggal keluarga Zangrandi, dialah yang kemudian melanjutkan bisnis kedai es krim ikonik ini.

Ia mendapat izin untuk terus menggunakan nama Zangrandi, sehingga kedai bersalin nama menjadi Graha Es Krim Zangrandi yang hingga kini menjadi nama resmi kedai ini. Selain itu, ia juga mendapatkan resep membuat homemade ice cream milik keluarga Zangrandi.

Alhasil, cita rasa es krim Zangrandi yang legendaris itu dapat terus dipertahankan sampai sekarang.  Bahkan belakangan muncul menu-menu baru seperti rasa kopyor, durian, dan raspberry.

Selain itu, kedai ini pun terus berinovasi mengikuti perkembangan jaman dan menelurkan beragam menu-menu baru. Misalnya noodle ice cream, yang dibentuk seakan-akan mirip mie dengan warna kuning khasnya, dipadu dengan saus coklat, taburan kacang dan buah cherry.

Ada pula menu unik nan ikonik yang dinamakan love deal. Menu ini menawarkan enam scoop es krim dengan rasa yang berbeda, yang dipadu dengan saus coklat dan disajikan di atas piring berbentuk hati. Hingga kini, ini merupakan salah satu menu favorit pelanggan.

Menu Es Krim Zangrandi
Menu andalan Zangrandi Surabaya. Foto: dok. Zangrandi Ice Cream business site

Menu-menu es krim lain yang populer seperti banana split dan avocadocano pun turut dihadirkan. Selain itu, kini pengunjung juga bisa menikmati es krim dalam format scoop yang disajikan dalam satu cup berukuran kecil, atau menggunakan cone.

Belakangan kedai ini tak hanya menyajikan es krim saja, tetapi juga menawarkan penganan cemilan lainnya seperti risoles, pastel, kroket, siomay dan lumpia. Harganya mulai dari Rp 13 ribu sampai 16 ribu.

Tak hanya itu, minuman bertemakan es krim pun juga kini tersedia. Contohnya dazzling night yang merupakan minuman rasa sarsaparilla yang dipadu dengan es krim vanilla, atau lovely shake yang berupa susu murni dipadu dengan es krim rasa pilihan pengunjung.

Hingga kini, keluarga Tanumulia masih menjadi pemilik kedai ini, dengan sang cucu Felix Tanumulia yang sehari-harinya mengurus dan mengelola kedai. Komitmen mereka dalam mempertahankan bisnis ini terlihat dari pemugaran kedai, serta inovasi dan kualitas menu.

Beberapa ciri khas kedai ini masih berusaha dipertahankan, semisal proses pembuatan es krim yang masih menggunakan tangan dan meminimalisir penggunaan mesin. Bahan baku yang digunakan juga alami, seperti susu, gula, dan buah-buahan asli, tanpa pewarna dan pengawet.

Sampai sekarang pun, kalau berkunjung ke kedai ini masih sangat terasa nuansa arsitektur gaya kolonial tempo dulu. Meja dan kursi rotan berwarna merahnya masih terus dipertahankan hingga kini. Bangunan bergaya klasik mirip joglo itu pun tak banyak berubah.

Tersedia area indoor maupun outdoor untuk menikmati es krim ini. Di bagian indoor, pengunjung dapat bernostalgia sambil melihat berbagai koleksi foto-foto suasana kedai ini di masa lalu, yang dipamerkan di dinding-dinding kedai.

Dengan nilai sejarahnya yang begitu tinggi, akhirnya di tahun 2009 silam Graha Es Krim Zangrandi resmi ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Walikota Surabaya pada saat itu, Bambang Dwi Hartono.

Untuk urusan harga, sebagian besar menu-menu di kedai ini memang tak begitu murah, namun juga tak tergolong sangat mahal. Es krim scoop misalnya, berkisar dari Rp 30 ribu sampai 33 ribu, bergantung dari penggunaan cup atau cone.

Kemudian untuk sliced ice cream yang masih disajikan dengan kertas pembungkus khasnya itu, kini dijual seharga Rp 37 ribu. Sedangkan harga menu-menu specialties seperti banana split, noodle ice cream dan avocadocano harganya berkisar mulai Rp 45 ribu hingga 49 ribu.

Khusus menu andalan love deal, menjadi menu termahal di kedai ini dengan harga Rp 69 ribu. Yang unik, kini setiap bulannya kedai ini akan menyajikan menu-menu specialties seharga Rp 49 ribu untuk menarik animo pengunjung.

Adapun harga menu-menu minuman dihargai Rp 45 ribu. Di luar menu-menu tersebut, Graha Es Krim Zangrandi juga menawarkan pemesanan ice cream tart, dengan ukuran diameter 21 cm dibandrol Rp 390 ribu, serta untuk diameter 29 cm harganya Rp 450 ribu.

Graha Es Krim Zangrandi buka setiap hari dari jam 10.00 hingga jam 22.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (031) 5345820 atau mengunjungi akun resmi Instagram @zangrandi.icecream.

Zangrandi Ice Cream

Jl. Yos Sudarso no. 15, Surabaya

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Pulau Kelor Labuan Bajo, Bukan Sekadar Persinggahan

Tarian Komodo, Pulau Kelor di labuan Bajo

Pulau Kelor Labuan Bajo punya banyak keindahan, hanya saja selama ini tidak banyak yang langsung mengunjunginya. Ia hanya “kadang-kadang” ikut dikunjungi jika ada wisatawan yang datang ke Pulau Komodo atau kawasan di sekitar itu.

Pulau Kelor Labuan Bajo

 Pernah mendengar gaung Pulau Kelor di Nusa Tenggara Timur? Tentu namanya tak sekondang Pulau Padar atau Pulau Komodo. Julukannya adalah tempat mampir. Citranya sebagai “pulau persinggahan” melekat dalam daftar trip berlayar atau sailing.

Biasanya, pulau ini disinggahi pelancong sebelum mereka kembali mendarat di kota Labuan Bajo. Atau, malah jadi tempat “pemanasan” sebelum berlayar menuju tujuan utama, yakni Pulau Komodo atau Pulau Padar. “Biasanya, para tamu latihan tracking dulu di Pulau Kelor. Baru setelahnya melanjutkan sailing,” kata Lulang, nakhoda kapal, yang mengantar penulisawal Januari lalu di Labuan Bajo.

Padahal, keindahan Kelor patut bersanding dengan pulau-pulau lainnya. Di pulau itu, terdapat sebuah bukit kecil. Pengunjung bisa mendaki. Tak tinggi-tinggi amat, tapi cukup terjal. Kemiringannya hampir 60 derajat.

Cukup sulit untuk pendaki pemula. Bukitnya licin lantaran ditumbuhi rerumputan. Juga tak ada penampangnya di kanan dan kiri. Namun, kalau sudah sampai puncak, hamparan laut bergradasi jadi obat letih.

Puncak Kelor menghadapkan pendakinya pada gugusan Pulau Menjaga. Bentuknya mirip jajaran kerucut yang berbaris dan berlapis-lapis. Pemandangan kapal yang mendarat di bibir pantai juga tak pelak menyempurnakan eksotisme Pulau Kelor.

Pengunjung tak cuma disajikan keindahan dari puncak bukit. Dengan aktivitas snorkeling pun, penampakan biota laut yang sehat turut menjadi “menu” utama. Ratusan jenis ikan berseliweran dan terumbu karang yang berwarna-warni terlihat seperti lukisan bawah laut yang hidup.

Pulau Kelor 02
Pantai Pulau Kelor tempat mendarat

Untuk menikmati Pulau Kelor lebih lama, pengunjung bisa berkemah semalaman dan menggelar tenda dom. Namun, perlu membawa logistik yang lengkap. Sebab, tak ada warung atau rumah penduduk di sini. Pastikan pula membawa kembali sampah-sampah bekas makanan atau minuman, supaya pulau tak ternoda oleh limbah.

Pulau Kelor letaknya cukup dekat dengan Kota Labuan Bajo. Kalau berlayar, waktu tempuhnya tak sampai 30 menit. Bahkan, bisa naik kapal nelayan kecil. Biaya sewa kapal untuk menuju pulau ini berkisar Rp 600 ribu pergi-pulang. Satu kapal muat untuk enam hingga tujuh orang.

 

Rosana

Barapan Kebo Sumbawa, Memacu 2 Kerbau

Barapan kebo Sumnbawa dilakukan setalah panen.

Barapan kebo Sumbawa memang tidak setenar karapan sapi di Madura, Jawa Timur, atau pacu jawi di Sumatera Barat. Namun, soal keseruannya, balapan ini jelas tak kalah. Sawah berlumpur pun menjadi arena pesta. Kerbau berpacu dan penonton pun duduk di pematang sawah.

Barapan Kebo Sumbawa

Buat yang sekali-kali ingin mengagendakan menonton atraksi ini, bisa memulai perjalanan dari pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dari sana menumpang kapal feri, pengunjung bisa menuju Sumbawa. Sebuah perjalanan yang asyik, sebab di kapal mendekati pulau di timur Lombok ini, terlihat pemandangan yang memukau: Gunung Tambora tampak bagai bayangan tipis, cantik sekaligus penuh misteri.

Gunung jangkung dengan ketinggian hampir mencapai 2.850 meter itu pernah meletus pada 1825, tepatnya dua abad silam. Letusan dengan guncangan penuh abu itu tidak hanya mengubur kerajaan-kerajaan kaya di Sumbawa dan menggelapkan langit Nusantara, tapi juga langit di belahan Barat sana.

Letusan yang membuat sedikitnya satu tahun tanpa sinar matahari di Eropa. Year Without Summer, kata sebuah buku. Letusan yang membuat ribuan ternak mati dan menewaskan hampir 100 ribu jiwa.

Barapan kebo SUmbawa mungkin belum setenar karapan sapi di Madura atau Pacu Jawi di Sumatera Barat. Meskipun atraksinya mirip.
Barapan kebo Sumbawa menjadi atraksi menarik setelah panen. Foto: Dok. shutterstock

Namun kita tak hendak mendaki gunung itu. Panen baru saja selesai di pulau ini dan barapan kebo Sumbawa atau balapan kerbau pun digelar di mana-mana. Atraksi itulah yang mendorong orang berkunjung ke pulau ini.

Dari Poto Tano, pelabuhan di barat Sumbawa, pengunjung bisa menumpang bus melewati jalan berliku serta menyusuri pantai berpasir hitam di barat laut pulau itu. Rumah-rumah beratap tembikar kusam, pohon-pohon bakau tua dengan akar menghunjam ke muara dangkal, serta hamparan sabana luas dipenuhi kerbau dan kuda.

Di petak-petah sawah yang datar karena panen sudah selesai di sebuah desa di Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, agendaIndonesia melihat sebuah pesta yang bernama barapan kebo Sumbawa baru usai. Penonton telah bubar.  Rupanya, terlambat datang. Tapi jangan khawatir. Cobalah tanya ke masyarakat sekitar, pasti ada informasi di mana lagi barapan kebo digelar. Saat setelah panen, masih banyak acara seperti ini. Dari sana, ada kota kecil di Bima sebuah pesta akbar akan digelar.

Ketika tiba di sana, di tengah lahan datar, sepanjang mata memandang ini, ratusan lelaki telah berkumpul, bergerombol. Sepertinya pesta ini tidak hanya milik kaum lelaki. Di persawahan yang penuh lumpur, perempuan-perempuan berbondong-bondong datang dengan pakaian warna-warni.

Matahari mulai menyengat ketika mobil-mobil serta truk semakin banyak yang dating. Mereka menurunkan kerbau-kerbau lengkap dengan para joki. Ini bintang utama barapan kebo Sumbawa.

Beberapa anak menarik kerbau mengarah ke tempat tenda-tenda gelanggang dan arena pacu yang telah dipenuhi canda-tawa. Para petani Sumbawa sepertinya tengah bergembira. Dan memang, ini hari mereka berpesta, menyenang-nyenangkan hati setelah panen raya.

Barapan kebo Sumbawa menjadi pesta bagi para petani di pulau tersebut. Ada 8 kelas yang dilombakan.
Dua ekor kerbau berpacu di lahan bekan panen. Foto: Dok. Shutterstock

“Beginilah pesta kami seusai panen,” kata seorang tua tengah mendandani kerbaunya dengan tali kekang berwarna mewah. Dalam pesta barapan kebo ini siapa saja boleh melihat dan ikut serta serta tak tertutup kemungkinan ikut bertaruh. Bertaruh tentunya secara sembunyi-sembunyi. Di Kabupaten Sumbawa Barat dan Sumbawa, pesta adu cepat dan akurat lari kerbau ini digelar tiap selesai panen. 

Seorang sandro (sebutan untuk dukun) mulai memacangkan sebuah tiang setinggi 1 meter ke tengah lumpur sawah. Tiang kayu itu dinamai saka—tiang finish yang harus dilewati dua ekor kerbau yang dikendalikan seorang joki. Pengeras suara berteriak keras dari tenda panitia.

Tak berapa lama, para joki mengambil tempat. Sawah sepanjang hampir 100 meter dan lebar 20 meter ini disulap jadi arena lintasan kerbau untuk bertanding. Beberapa sandro telah berdiri menghadap ke hamparan sawah yang penuh genangan air. Juri atau wasit pertandingan ini juga seorang sandro pilihan.

Pengeras suara sejak dari tadi berseru dalam bahasa Sumbawa. Terkadang memakai bahasa Indonesia dengan dialek setempat yang meledak-ledak penuh dengan lelucon dan olok-olok. Entah kenapa, beberapa penonton melawan olok-olokan dari pengeras suara itu juga dengan berolok-olok. 

Lelaki-lelaki yang memenuhi arena duduk bergelantur seadanya, berkelompok-kelompok mengenakan topi dan sarung untuk menghambat terik yang kian menyengat. Gadis-gadis datang memakai payung. Mereka tidak berteriak dan bersorak. Hanya berbisik-bisik satu dan lainnya serta menunjuk-nunjuk kerbau yang tengah dipacu joki di arena.

Seorang sandro tampak sibuk mengelus kepala dua ekor kerbau yang nanti hendak berlaga di gelanggang pacuan. Dengan jamu dan beberapa ramuan, ia membacakan mantra, menghadap ke selatan, dan kemudian meminumkannya pada dua ekor kerbau. Setelah itu, dipasangkan kayu pengepit yang menghubungkan keduanya.

Balapan dibagi dengan delapan kelas yang ditandai pertama dengan kelas paling bawah dengan anak-anak yang menjadi joki. Kelas berikutnya ialah orang dewasa. Setelah empat kelas turun dan selesai, empat kelas berikutnya adalah kelas serius dan sangat dinantikan. Kelas ini menentukan seberapa kaliber kerbau dan seberapa jago jokinya.

Pengeras suara kembali berujar lantang. Ini kelas yang ditunggu-tunggu. Kelas terakhir. “Ini kelas berat sekali,” ucap seorang pria tua lainnya sembari membenarkan posisi duduk di pematang sawah.

Dua ekor kerbau dan jokinya tengah bersiap dan pengeras suara berkoar lagi. Sebuah ledakan berbunyi sebagai penanda balapan dimulai. Penonton mulai berteriak-teriak keras sekali, kadang mengumpat kencang sekali ketika joki jagoan mereka tergelincir atau terjungkir karena lari kerbau yang tak serempak.

Penonton lain tertawa terbahak-bahak secara serempak. Arena riuh sekali hingga petang menjelang. Siapa yang menang? Tidak penting buat penonton. Yang penting adalah kegembiraan setelah panen.

Pulau yang dihuni petani dan penggembala ini mengadakan pesta sederhana yang penuh tawa. Sebuah agenda acara yang layak dipertimbangkan bukan?

agendaIndonesia/Dok. TL

******

Kunstkring, Galeri dan Resto di Teuku Umar Nomor 1

Kunstkring, atau dahulu lengkapnya Bataviasche Kunstkring, adalah bangunan bersejarah dilestarikan. Bangunan yang dipergunakan untuk seni dan galeri. Kini dipadu antara pertunjukan seni dan hidangan jadul.

Kunstkring

Mencari bangunan lawas di daerah Menteng, Jakarta Pusat, bukan lah hal yang sulit. Namun gedung yang terletak di Jalan Teuku Umar Nomor 1 ini memang berbeda. Berada di pojok jalan tak jauh dari rel kereta api Gondangdia, di bagian depan tertera namanya Tugu Kunstkring Paleis. Di bagian bawah tertulis, Gallery & Shop, Dining & Lounging, Bread Corner, Tea House. Di masa lalu dikenal sebagai Kantor Imigrasi Jakarta. Kemudian sempat ngetop di kalangan muda dan gedung lawas itu tetap digunakan meski berganti nama.

Menurut catatan Wikipedia, Bataviasche Kunstkring adalah organisasi seni yang didirikan pada zaman Pemerintah Hindia Belanda yang sangat menonjol akivitasnya pada tahun 1920-an . Di sini diposisikan sebagai pusat dari semua Kunstkring yang tersebar di Batavia atau Jakarta, Bandung dan Surabaya serta beberapa kota besar lain.

Bataviasche Kunstkring kerap menyelenggarakan pameran yang merupakan kulminasi reputasi seni dari daerah-daerah. Bahkan mengadakan pameran bond kunstkring, atau pameran bersama dari berbagai kunstkring. Kunstkring beranggotakan seniman-seniman Belanda atau Eropa yang berdiam di Indonesia.

Pameran pertama menampilkan karya-karya pelukis Belanda kelahiran Indonesia. Ruang-ruang yang luas dipergunakan untuk pertunjukkan musik dan ceramah, antara lain dari Prof. Djajadiningrat dan H.P. Berlage. Perpustakaan menyediakan buku-buku kesenian untuk kalangan umum.

“Kini diberi nama Bataviasche Kunstkring. Dalam bahasa Belanda “kunst” berarti seni dan “kring” bermakna lingkaran. Karena di masa penjajahan Belanda, gedung ini difungsikan sebagai balai seni Jakarta, di mana seniman-seniman Belanda memamerkan karyanya,” kata Manajer Humas Tugu Kunstkring Paleis. Tentunya, seniman Indonesia kala itu tidak mendapat tempat di gedung ini.

Kunstkring, galeri dan resto yang menggunakan gedung kuno di Jalan Teuku Umar Nomor 1, Jakarta
Interior Tugu Kunstkring Paleis di Teuku Umar No. 1, Jakarta. Foto: Dok. Kunstkring

Tak hanya menawarkan sajian dengan gaya fine dining, Tugu Kunstkring Paleis juga menjadi tempat asik buat berkumpul bagi kaum sosialita. Yang tak kalah mengejutkan dalam operasionalnya, Kunstkring pun tetap setia pada seni budaya dan sejarah. Nilai-nilai sejarah tetap dipertahankan, sementara operasional resto berjalan seperti lazimnya sebuah usaha.

Hal ini ditunjukkan dengan hadirnya galeri seni, ruang pamer dan ruang-ruang privat dengan tema-tema yang berbeda-beda. Semuanya diharapkan bisa memberi kontribusi pada pelestarian sejarah, seni dan budaya.

Untuk para tamu, ada pilihan 85 tempat duduk mewah di ruang makan utama di lantai pertama. Disebut Ruang Dipenogoro, dengan ciri lukisan 4×9 meter saat penangkapan Pangeran Dipenogoro. Namun pemilik Tugu Grup, Anhar Setjadibrata, pemilik Tugu Group menyebutnya The Fall of Java.

Menu di resto ini pun kental dengan unsur budaya dan sejarah. Menyajikan makanan Indonesia jaman dulu, Asia Tenggara dan Barat, saat saya berkunjung tiga menu pun menjadi pilihan. Yakni, steamed salmon ravioli topped with crispy smoked beef bacon yang disajikan dengan saus kepiting. Harganya Rp 98 ribu. Ada juga garnaal mielie, crisp beer-battered fried prawn yang disajikan dengan spinach gnocchi, tomato and green salad senilai Rp158 ribu. Untuk penutup, saya mencoba coconut crème brulee (Rp 62 ribu) dan segelas Mystique Mocktail (Rp45 ribu). Yang menjadi juara, saya memilih udang goreng.

Kunstkring Jakarta selain menjadi tempat pameran dan pertunjukan seni juga menjadi resto.
Menu Udang Goreng di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta. Foto: Rully K/Dok. TL

Bagi yang ingin sesuatu yang bermakna sejarah, coba gaya makanan zaman kolonial Belanda, yakni ala rijsttafel. Sejumlah pelayan akan menyajikan sederet hidangan khusus Betawi dalam satu meja. “Di Kunstkring, kami ingin menghidupkan lagi budaya rijsttafel. Dengan jumlah tamu minimal lima orang, kami pun bisa menyajikan menu Betawi Grand Rijsttafel yang terdiri dari 12 jenis hidangan. Semua sajian itu disajikan pelayan dengan menggunakan pikulan, sementara ada beberapa orang yang menari untuk menghibur para tamu. Dipilih Betawi karena sajian lokal ini makin tergusur,” jelas manajer humasnya.

Restoran juga kerap menggelar pameran berskala besar dan pertunjukan seni. Tahun 1936 dibuka museum yang menyajikan lukisan-lukisan berkelas internasional yang dipinjam dari berbagai museum di Eropa, antara lain karya Marc Chagall, Van Gogh dan Picasso. Tahun 1935 diselenggarakan pertunjukkan Peralatan Perak.

Atau pada Juni 2015 lalu, misalnya, Tugu Kunskring Paleis bekerja sama dengan Ballet.id mengadakan “Reviving the Glory of Kunstkring”,  dengan suguhan repertoire balet klasik Rusia, yang diadaptasi dari tarian tradisional Indonesia dengan interpretasi balet Hong Kong “Suzie Wong”. Rasanya, benar-benar di Tugu Kunstkring Paleis, kita bisa mencicipi budaya, seni, sejarah dan makanan di satu tempat.

agendaIndonesia/Fiz R./Rully K./TL

*****

Sate Lilit Bali, 5 Warung Layak Dicoba

Sate lilit Bali dagingnya dililitkan ke tusuk yang dari sereh. Foto: iStock

Sate lilit Bali kabarnya menjadi salah satu menu yang disajikan pada perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, November 2022. Selain, tentu saja menu ayam betutu. Sate sudah menjadi salah satu menu kuliner Indonesia yang mendunia, layaklah dinikmati para tamu negara.

Sate Lilit Bali

Sate lilit memang salah satu makanan khas Bali. Sate lilit Bali awalnya adalah makanan khas wilayah Klungkung. Namun saat ini sate lilit bisa ditemukan di seluruh wilayah di Bali lainnya seperti Badung, Gianyar, dan Denpasar. Bahkan di sejumlah daerah lain di Indonesia ada resto-resto yang menyajikannya.

Dirangkum dari berbagai sumber, sate lilit Bali dulunya hanya dihidangkan saat ada upacara-upacara keagamaan saja. Kini, masakan ini bisa ditemukan di berbagai kesempatan dan di rumah makan atau bahkan pedagang pinggir jalan.
Awalnya sate lilit oleh masyarakat Bali hanya dibuat dari daging babi dan ikan laut. Tentu hal ini karena mayoritas penduduk Pulau Bali memeluk agama Hindu dan untuk mereka daging babi halal dikonsumsi.

Sate Lilit bali awalnya terbuat dari daging babi dan ikan, kini sudah mempunya varian yang beraneka dan halal.
Sate lilit Bali cocok dimakan dengan sambal matah. Foto: shutterstock

Namun, sesuai perkembangan zaman, di mana makin banyak orang dari luar Bali yang berkunjung ke daerah ini dan tidak mengkonsumsi daeging tersebut, saat ini masakan tersebut juga ada yang buat dari daging ayam, sapi, kambing, bahkan kura-kura sebagai pengganti.

Sate lilit Bali sendiri memiliki filosofi yakni menyimbolkan masyarakat yang selalu bersatu. Masakan ini juga menjadi simbol ‘kejantanan’ pria. Bukan perkara yang itu. Namun, alasannya, sate lilit sejak dulu hanya boleh dikerjakan oleh para kaum pria. Mulai dari menyembelih hewannya, meracik adonan hingga proses membakar atau pemanggangan juga hanya boleh dilakukan kaum pria. Jika seorang pria tidak bisa membuat sate lilit, maka akan dipertanyakan kejantanannya.


Dahulu, karena dibuat untuk keperluan acara keagamaan, sate lilit Bali selalu dibuat dalam jumlah banyak atau skala besar. Bisa sampai melibatkan 100 orang pria untuk membuatnya.

Lalu kenapa disebut dengan nama lilit? Tidak seperti sate yang lain yang proses pemanggangannya daging ditusuk oleh potongan bambu, sate lilit berasal dari kata ‘lilit’ yang artinya ‘dibelit’. Sesuai namanya, hidangan yang satu ini dagingnya direkatkan ke tusuk bambu berbentuk pipih ataupun sereh.


Sate lilit Bali menjadi hidangan andalan yang sering diburu turis saat mengunjungi Pulau Dewata. Sate ini memiliki tampilan yang khas, yakni berwarna kuning yang menggugah selera. Warna tersebut berasal kunyit dari bumbu basa genep yang dicampur dengan adonan daging dan kelapa parut.


Sate lilit memiliki cita rasa yang gurih, manis, dan sedikit pedas. Cara menikmati sate lilit tidak perlu memakai bumbu kacang seperti sate pada umumnya. Wisatawan bisa langsung menikmati sate lilit saja atau bisa ditambah dengan sambal matah dan hidangan lain.

Sate lilit Bali disebutkan menjadi simbol kejantanan para pria.
Sate lilit disimbolkan sebagai lambang kejantanan para pria. Foto: shutterstock


Lalu di manakah bisa menikmati sate lilit Bali yang enak jika berkunjung ke pulau ini? Saat ini banyak tempat menyediakan hidangan ini, namun lima tempat makan ini bisa dicoba.

Sate Lilit Muslim Pekambingan

Warung Muslim Sate Lilit Pekambingan karena tempat ini hanya menyediakan daging halal bagi warga muslim. Tempat makan sate lilit halal di Denpasar ini menawarkan menu sate lilit yang terbuat dari ikan dengan harga sekitar Rp 1.500 per tusuknya.

Berada di Jalan Pulau Buru Nomor 10, Dauh Puri, Kota Denpasar, warung ini buka dari pukul 06.30-15.00 WITA. Selain Sate Lilit, ada menu lainnya seperti Tum Ayam, Pepes Ikan, dan Sate Plecing Ikan yang bisa dicoba dicicipi.

Ayam Betutu Mbok Iwuk

Nama yang ‘djual’ memang menu atam betutu, namun Ayam Betutu Mbok Iwuk yang berada di Jalan Taman Sekar IX Nomor 4, Padangsambian, Kota Denpasar, ini juga menyedikan sate lilit. Buka sejak pukul 08.00-16.00 WITA, warung ini menyediakan menu sate lilit halal dengan harga sekitar Rp 15 ribu per 10 tusuknya. Selain itu, ada menu lawar Bali yang bisa dipesan dengan harga Rp 25 ribu per beseknya.
Warung Wardani

Warung Wardani ini berlokasi di Jalan Yudistira Nomor 2, Dangin Puri Kauh, Denpasar. Mereka buka dari pukul 08.00-16.00 WITA. Ada menu Nasi Campur dengan isian Nasi, Telor, Ayam Suwir, Udang, Sate Tusuk, Sate Lilit, Sayur, dan Sambal dengan harga sekitar Rp 38 ribu. Jika ingin menambah sate lilit, bisa dipesan terpisah dengan isian lima tusuk seharga Rp 15 ribu
Warung Sari Alit

Warung Sari Alit berada di Jalan WR Supratman Nomor 332, Kesiman Kertalangu, Denpasar. Tempat makan sate lilit di Denpasar ini menawarkan sate dengan olahan ikan seperti Sate Lilit, Pepes Ikan Laut, Sate Tusuk Ikan Laut. Harganya mulai dari Rp 1.000 per tusuknya.
Warung Ari
Warung ini berlokasi di Jalan Tukad Pakerisan Nomor 6, Panjer, Dauh Puri Klod, Denpasar. Buka dari pukul 06.30-16.00 WITA. Di sini, pengunjung bisa menikmati sate lilit enak di Denpasar dengan harga sekitar Rp 82 ribu untuk 50 tusuk. Cocok untuk menu makan bersama keluarga atau teman.

agendaIndonesia

*****