Es Krim Zangrandi 90 Tahun Meleleh Enaknya

Es krim Zangrandi adalah ikon dan legenda kuliner Surfabaya. Foto. ilustrasi unsplash

Es krim Zangrandi atau yang bernama resmi Graha Es Krim Zangrandi, adalah nama yang cukup dikenal publik sebagai salah satu kedai es krim paling legendaris yang terletak di Surabaya. Kini kedai yang sarat sejarah ini sudah beroperasi lebih dari 90 tahun.

Es Krim Zangrandi

Kedai es krim yang berada di kawasan Genteng, tepatnya di jalan Yos Sudarso, ini sudah eksis sejak 1930. Bisa dibilang, kedai ini merupakan salah satu kedai es krim tertua yang ada dan masih eksis di Indonesia saat ini.

Asal usul kedai ini beserta namanya merunut kepada sang pendiri dan pemilik awal kedai, yaitu Roberto Zangrandi. Pria keturunan Italia ini kala itu sedang tinggal di Surabaya bersama keluarganya.

Surabaya sendiri memang dikenal sebagai kota dengan iklim dan suhu yang panas dan gerah. Kebetulan, istri Roberto memiliki keahlian membuat handmade ice cream, sehingga kemudian tercetus keinginan untuk membuka kedai es krim.

Es Krim Zangrandi didirikan pasangan sumai istri asal Italia karena hawa panas Surabaya.
Kedai pertama Es Krim Zangrandi. Foto: Dok Wikimapia.org

Pada 1930 mereka mendirikan kedai Zangrandi Ice Cream. Sejak kemunculannya, tempat ini langsung menjadi salah satu tempat pelesir yang populer, mengingat es krim yang dingin dan manis menjadi kudapan favorit yang cocok bagi iklim kota pahlawan tersebut.

Kedai ini dulunya banyak disinggahi oleh kaum sosialita Belanda pada masa pendudukan. Oleh mereka, kedai ini kerap disebut ‘Mevrouw Zangrandi’, sebuah panggilan mereka kepada sang istri, yang kurang lebih secara harafiah artinya ‘Nyonya Zangrandi’.

Saat itu, ada empat menu andalan yang disediakan, yakni rasa coklat, vanilla, mocca, dan strawberry. Biasanya, es krim kemudian disajikan di piring masih dengan kertas pembungkusnya, yang kemudian menjadi salah satu ciri khas kedai ini.

Dalam perkembangannya, mereka pun berinovasi dengan rasa-rasa lain. Misalnya rasa tutti frutti dan macadonia yang khas dan digemari banyak orang, dengan cita rasa rum­-nya yang kuat. Bahkan, ada pula es krim soda yang unik dan berbeda dari es krim umumnya.

Suasana Resto Es Krim Zangrandi
Suasana Graha Es Krim Zangrandi. Foto: dok busniness site Zangrandi Ice Cream

Namun setelah 30 tahun berjualan, pada 1960 Roberto Zangrandi bersama keluarganya berniat untuk pulang kampung ke Italia. Mengingat kedai es krimnya telah kadung populer dan menjadi ikon tersendiri, ia lantas mencari orang yang mau mengambil alih dan mengelola kedai.

Adalah Adi Tanumulia, seorang pebisnis di bidang winery, yang kemudian melihat peluang bisnis dan memutuskan untuk membeli kedai tersebut. Sepeninggal keluarga Zangrandi, dialah yang kemudian melanjutkan bisnis kedai es krim ikonik ini.

Ia mendapat izin untuk terus menggunakan nama Zangrandi, sehingga kedai bersalin nama menjadi Graha Es Krim Zangrandi yang hingga kini menjadi nama resmi kedai ini. Selain itu, ia juga mendapatkan resep membuat homemade ice cream milik keluarga Zangrandi.

Alhasil, cita rasa es krim Zangrandi yang legendaris itu dapat terus dipertahankan sampai sekarang.  Bahkan belakangan muncul menu-menu baru seperti rasa kopyor, durian, dan raspberry.

Selain itu, kedai ini pun terus berinovasi mengikuti perkembangan jaman dan menelurkan beragam menu-menu baru. Misalnya noodle ice cream, yang dibentuk seakan-akan mirip mie dengan warna kuning khasnya, dipadu dengan saus coklat, taburan kacang dan buah cherry.

Ada pula menu unik nan ikonik yang dinamakan love deal. Menu ini menawarkan enam scoop es krim dengan rasa yang berbeda, yang dipadu dengan saus coklat dan disajikan di atas piring berbentuk hati. Hingga kini, ini merupakan salah satu menu favorit pelanggan.

Menu Es Krim Zangrandi
Menu andalan Zangrandi Surabaya. Foto: dok. Zangrandi Ice Cream business site

Menu-menu es krim lain yang populer seperti banana split dan avocadocano pun turut dihadirkan. Selain itu, kini pengunjung juga bisa menikmati es krim dalam format scoop yang disajikan dalam satu cup berukuran kecil, atau menggunakan cone.

Belakangan kedai ini tak hanya menyajikan es krim saja, tetapi juga menawarkan penganan cemilan lainnya seperti risoles, pastel, kroket, siomay dan lumpia. Harganya mulai dari Rp 13 ribu sampai 16 ribu.

Tak hanya itu, minuman bertemakan es krim pun juga kini tersedia. Contohnya dazzling night yang merupakan minuman rasa sarsaparilla yang dipadu dengan es krim vanilla, atau lovely shake yang berupa susu murni dipadu dengan es krim rasa pilihan pengunjung.

Hingga kini, keluarga Tanumulia masih menjadi pemilik kedai ini, dengan sang cucu Felix Tanumulia yang sehari-harinya mengurus dan mengelola kedai. Komitmen mereka dalam mempertahankan bisnis ini terlihat dari pemugaran kedai, serta inovasi dan kualitas menu.

Beberapa ciri khas kedai ini masih berusaha dipertahankan, semisal proses pembuatan es krim yang masih menggunakan tangan dan meminimalisir penggunaan mesin. Bahan baku yang digunakan juga alami, seperti susu, gula, dan buah-buahan asli, tanpa pewarna dan pengawet.

Sampai sekarang pun, kalau berkunjung ke kedai ini masih sangat terasa nuansa arsitektur gaya kolonial tempo dulu. Meja dan kursi rotan berwarna merahnya masih terus dipertahankan hingga kini. Bangunan bergaya klasik mirip joglo itu pun tak banyak berubah.

Tersedia area indoor maupun outdoor untuk menikmati es krim ini. Di bagian indoor, pengunjung dapat bernostalgia sambil melihat berbagai koleksi foto-foto suasana kedai ini di masa lalu, yang dipamerkan di dinding-dinding kedai.

Dengan nilai sejarahnya yang begitu tinggi, akhirnya di tahun 2009 silam Graha Es Krim Zangrandi resmi ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Walikota Surabaya pada saat itu, Bambang Dwi Hartono.

Untuk urusan harga, sebagian besar menu-menu di kedai ini memang tak begitu murah, namun juga tak tergolong sangat mahal. Es krim scoop misalnya, berkisar dari Rp 30 ribu sampai 33 ribu, bergantung dari penggunaan cup atau cone.

Kemudian untuk sliced ice cream yang masih disajikan dengan kertas pembungkus khasnya itu, kini dijual seharga Rp 37 ribu. Sedangkan harga menu-menu specialties seperti banana split, noodle ice cream dan avocadocano harganya berkisar mulai Rp 45 ribu hingga 49 ribu.

Khusus menu andalan love deal, menjadi menu termahal di kedai ini dengan harga Rp 69 ribu. Yang unik, kini setiap bulannya kedai ini akan menyajikan menu-menu specialties seharga Rp 49 ribu untuk menarik animo pengunjung.

Adapun harga menu-menu minuman dihargai Rp 45 ribu. Di luar menu-menu tersebut, Graha Es Krim Zangrandi juga menawarkan pemesanan ice cream tart, dengan ukuran diameter 21 cm dibandrol Rp 390 ribu, serta untuk diameter 29 cm harganya Rp 450 ribu.

Graha Es Krim Zangrandi buka setiap hari dari jam 10.00 hingga jam 22.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (031) 5345820 atau mengunjungi akun resmi Instagram @zangrandi.icecream.

Zangrandi Ice Cream

Jl. Yos Sudarso no. 15, Surabaya

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Pulau Kelor Labuan Bajo, Bukan Sekadar Persinggahan

Tarian Komodo, Pulau Kelor di labuan Bajo

Pulau Kelor Labuan Bajo punya banyak keindahan, hanya saja selama ini tidak banyak yang langsung mengunjunginya. Ia hanya “kadang-kadang” ikut dikunjungi jika ada wisatawan yang datang ke Pulau Komodo atau kawasan di sekitar itu.

Pulau Kelor Labuan Bajo

 Pernah mendengar gaung Pulau Kelor di Nusa Tenggara Timur? Tentu namanya tak sekondang Pulau Padar atau Pulau Komodo. Julukannya adalah tempat mampir. Citranya sebagai “pulau persinggahan” melekat dalam daftar trip berlayar atau sailing.

Biasanya, pulau ini disinggahi pelancong sebelum mereka kembali mendarat di kota Labuan Bajo. Atau, malah jadi tempat “pemanasan” sebelum berlayar menuju tujuan utama, yakni Pulau Komodo atau Pulau Padar. “Biasanya, para tamu latihan tracking dulu di Pulau Kelor. Baru setelahnya melanjutkan sailing,” kata Lulang, nakhoda kapal, yang mengantar penulisawal Januari lalu di Labuan Bajo.

Padahal, keindahan Kelor patut bersanding dengan pulau-pulau lainnya. Di pulau itu, terdapat sebuah bukit kecil. Pengunjung bisa mendaki. Tak tinggi-tinggi amat, tapi cukup terjal. Kemiringannya hampir 60 derajat.

Cukup sulit untuk pendaki pemula. Bukitnya licin lantaran ditumbuhi rerumputan. Juga tak ada penampangnya di kanan dan kiri. Namun, kalau sudah sampai puncak, hamparan laut bergradasi jadi obat letih.

Puncak Kelor menghadapkan pendakinya pada gugusan Pulau Menjaga. Bentuknya mirip jajaran kerucut yang berbaris dan berlapis-lapis. Pemandangan kapal yang mendarat di bibir pantai juga tak pelak menyempurnakan eksotisme Pulau Kelor.

Pengunjung tak cuma disajikan keindahan dari puncak bukit. Dengan aktivitas snorkeling pun, penampakan biota laut yang sehat turut menjadi “menu” utama. Ratusan jenis ikan berseliweran dan terumbu karang yang berwarna-warni terlihat seperti lukisan bawah laut yang hidup.

Pulau Kelor 02
Pantai Pulau Kelor tempat mendarat

Untuk menikmati Pulau Kelor lebih lama, pengunjung bisa berkemah semalaman dan menggelar tenda dom. Namun, perlu membawa logistik yang lengkap. Sebab, tak ada warung atau rumah penduduk di sini. Pastikan pula membawa kembali sampah-sampah bekas makanan atau minuman, supaya pulau tak ternoda oleh limbah.

Pulau Kelor letaknya cukup dekat dengan Kota Labuan Bajo. Kalau berlayar, waktu tempuhnya tak sampai 30 menit. Bahkan, bisa naik kapal nelayan kecil. Biaya sewa kapal untuk menuju pulau ini berkisar Rp 600 ribu pergi-pulang. Satu kapal muat untuk enam hingga tujuh orang.

 

Rosana

Barapan Kebo Sumbawa, Memacu 2 Kerbau

Barapan kebo Sumnbawa dilakukan setalah panen.

Barapan kebo Sumbawa memang tidak setenar karapan sapi di Madura, Jawa Timur, atau pacu jawi di Sumatera Barat. Namun, soal keseruannya, balapan ini jelas tak kalah. Sawah berlumpur pun menjadi arena pesta. Kerbau berpacu dan penonton pun duduk di pematang sawah.

Barapan Kebo Sumbawa

Buat yang sekali-kali ingin mengagendakan menonton atraksi ini, bisa memulai perjalanan dari pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dari sana menumpang kapal feri, pengunjung bisa menuju Sumbawa. Sebuah perjalanan yang asyik, sebab di kapal mendekati pulau di timur Lombok ini, terlihat pemandangan yang memukau: Gunung Tambora tampak bagai bayangan tipis, cantik sekaligus penuh misteri.

Gunung jangkung dengan ketinggian hampir mencapai 2.850 meter itu pernah meletus pada 1825, tepatnya dua abad silam. Letusan dengan guncangan penuh abu itu tidak hanya mengubur kerajaan-kerajaan kaya di Sumbawa dan menggelapkan langit Nusantara, tapi juga langit di belahan Barat sana.

Letusan yang membuat sedikitnya satu tahun tanpa sinar matahari di Eropa. Year Without Summer, kata sebuah buku. Letusan yang membuat ribuan ternak mati dan menewaskan hampir 100 ribu jiwa.

Barapan kebo SUmbawa mungkin belum setenar karapan sapi di Madura atau Pacu Jawi di Sumatera Barat. Meskipun atraksinya mirip.
Barapan kebo Sumbawa menjadi atraksi menarik setelah panen. Foto: Dok. shutterstock

Namun kita tak hendak mendaki gunung itu. Panen baru saja selesai di pulau ini dan barapan kebo Sumbawa atau balapan kerbau pun digelar di mana-mana. Atraksi itulah yang mendorong orang berkunjung ke pulau ini.

Dari Poto Tano, pelabuhan di barat Sumbawa, pengunjung bisa menumpang bus melewati jalan berliku serta menyusuri pantai berpasir hitam di barat laut pulau itu. Rumah-rumah beratap tembikar kusam, pohon-pohon bakau tua dengan akar menghunjam ke muara dangkal, serta hamparan sabana luas dipenuhi kerbau dan kuda.

Di petak-petah sawah yang datar karena panen sudah selesai di sebuah desa di Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, agendaIndonesia melihat sebuah pesta yang bernama barapan kebo Sumbawa baru usai. Penonton telah bubar.  Rupanya, terlambat datang. Tapi jangan khawatir. Cobalah tanya ke masyarakat sekitar, pasti ada informasi di mana lagi barapan kebo digelar. Saat setelah panen, masih banyak acara seperti ini. Dari sana, ada kota kecil di Bima sebuah pesta akbar akan digelar.

Ketika tiba di sana, di tengah lahan datar, sepanjang mata memandang ini, ratusan lelaki telah berkumpul, bergerombol. Sepertinya pesta ini tidak hanya milik kaum lelaki. Di persawahan yang penuh lumpur, perempuan-perempuan berbondong-bondong datang dengan pakaian warna-warni.

Matahari mulai menyengat ketika mobil-mobil serta truk semakin banyak yang dating. Mereka menurunkan kerbau-kerbau lengkap dengan para joki. Ini bintang utama barapan kebo Sumbawa.

Beberapa anak menarik kerbau mengarah ke tempat tenda-tenda gelanggang dan arena pacu yang telah dipenuhi canda-tawa. Para petani Sumbawa sepertinya tengah bergembira. Dan memang, ini hari mereka berpesta, menyenang-nyenangkan hati setelah panen raya.

Barapan kebo Sumbawa menjadi pesta bagi para petani di pulau tersebut. Ada 8 kelas yang dilombakan.
Dua ekor kerbau berpacu di lahan bekan panen. Foto: Dok. Shutterstock

“Beginilah pesta kami seusai panen,” kata seorang tua tengah mendandani kerbaunya dengan tali kekang berwarna mewah. Dalam pesta barapan kebo ini siapa saja boleh melihat dan ikut serta serta tak tertutup kemungkinan ikut bertaruh. Bertaruh tentunya secara sembunyi-sembunyi. Di Kabupaten Sumbawa Barat dan Sumbawa, pesta adu cepat dan akurat lari kerbau ini digelar tiap selesai panen. 

Seorang sandro (sebutan untuk dukun) mulai memacangkan sebuah tiang setinggi 1 meter ke tengah lumpur sawah. Tiang kayu itu dinamai saka—tiang finish yang harus dilewati dua ekor kerbau yang dikendalikan seorang joki. Pengeras suara berteriak keras dari tenda panitia.

Tak berapa lama, para joki mengambil tempat. Sawah sepanjang hampir 100 meter dan lebar 20 meter ini disulap jadi arena lintasan kerbau untuk bertanding. Beberapa sandro telah berdiri menghadap ke hamparan sawah yang penuh genangan air. Juri atau wasit pertandingan ini juga seorang sandro pilihan.

Pengeras suara sejak dari tadi berseru dalam bahasa Sumbawa. Terkadang memakai bahasa Indonesia dengan dialek setempat yang meledak-ledak penuh dengan lelucon dan olok-olok. Entah kenapa, beberapa penonton melawan olok-olokan dari pengeras suara itu juga dengan berolok-olok. 

Lelaki-lelaki yang memenuhi arena duduk bergelantur seadanya, berkelompok-kelompok mengenakan topi dan sarung untuk menghambat terik yang kian menyengat. Gadis-gadis datang memakai payung. Mereka tidak berteriak dan bersorak. Hanya berbisik-bisik satu dan lainnya serta menunjuk-nunjuk kerbau yang tengah dipacu joki di arena.

Seorang sandro tampak sibuk mengelus kepala dua ekor kerbau yang nanti hendak berlaga di gelanggang pacuan. Dengan jamu dan beberapa ramuan, ia membacakan mantra, menghadap ke selatan, dan kemudian meminumkannya pada dua ekor kerbau. Setelah itu, dipasangkan kayu pengepit yang menghubungkan keduanya.

Balapan dibagi dengan delapan kelas yang ditandai pertama dengan kelas paling bawah dengan anak-anak yang menjadi joki. Kelas berikutnya ialah orang dewasa. Setelah empat kelas turun dan selesai, empat kelas berikutnya adalah kelas serius dan sangat dinantikan. Kelas ini menentukan seberapa kaliber kerbau dan seberapa jago jokinya.

Pengeras suara kembali berujar lantang. Ini kelas yang ditunggu-tunggu. Kelas terakhir. “Ini kelas berat sekali,” ucap seorang pria tua lainnya sembari membenarkan posisi duduk di pematang sawah.

Dua ekor kerbau dan jokinya tengah bersiap dan pengeras suara berkoar lagi. Sebuah ledakan berbunyi sebagai penanda balapan dimulai. Penonton mulai berteriak-teriak keras sekali, kadang mengumpat kencang sekali ketika joki jagoan mereka tergelincir atau terjungkir karena lari kerbau yang tak serempak.

Penonton lain tertawa terbahak-bahak secara serempak. Arena riuh sekali hingga petang menjelang. Siapa yang menang? Tidak penting buat penonton. Yang penting adalah kegembiraan setelah panen.

Pulau yang dihuni petani dan penggembala ini mengadakan pesta sederhana yang penuh tawa. Sebuah agenda acara yang layak dipertimbangkan bukan?

agendaIndonesia/Dok. TL

******

Kunstkring, Galeri dan Resto di Teuku Umar Nomor 1

Kunstkring, atau dahulu lengkapnya Bataviasche Kunstkring, adalah bangunan bersejarah dilestarikan. Bangunan yang dipergunakan untuk seni dan galeri. Kini dipadu antara pertunjukan seni dan hidangan jadul.

Kunstkring

Mencari bangunan lawas di daerah Menteng, Jakarta Pusat, bukan lah hal yang sulit. Namun gedung yang terletak di Jalan Teuku Umar Nomor 1 ini memang berbeda. Berada di pojok jalan tak jauh dari rel kereta api Gondangdia, di bagian depan tertera namanya Tugu Kunstkring Paleis. Di bagian bawah tertulis, Gallery & Shop, Dining & Lounging, Bread Corner, Tea House. Di masa lalu dikenal sebagai Kantor Imigrasi Jakarta. Kemudian sempat ngetop di kalangan muda dan gedung lawas itu tetap digunakan meski berganti nama.

Menurut catatan Wikipedia, Bataviasche Kunstkring adalah organisasi seni yang didirikan pada zaman Pemerintah Hindia Belanda yang sangat menonjol akivitasnya pada tahun 1920-an . Di sini diposisikan sebagai pusat dari semua Kunstkring yang tersebar di Batavia atau Jakarta, Bandung dan Surabaya serta beberapa kota besar lain.

Bataviasche Kunstkring kerap menyelenggarakan pameran yang merupakan kulminasi reputasi seni dari daerah-daerah. Bahkan mengadakan pameran bond kunstkring, atau pameran bersama dari berbagai kunstkring. Kunstkring beranggotakan seniman-seniman Belanda atau Eropa yang berdiam di Indonesia.

Pameran pertama menampilkan karya-karya pelukis Belanda kelahiran Indonesia. Ruang-ruang yang luas dipergunakan untuk pertunjukkan musik dan ceramah, antara lain dari Prof. Djajadiningrat dan H.P. Berlage. Perpustakaan menyediakan buku-buku kesenian untuk kalangan umum.

“Kini diberi nama Bataviasche Kunstkring. Dalam bahasa Belanda “kunst” berarti seni dan “kring” bermakna lingkaran. Karena di masa penjajahan Belanda, gedung ini difungsikan sebagai balai seni Jakarta, di mana seniman-seniman Belanda memamerkan karyanya,” kata Manajer Humas Tugu Kunstkring Paleis. Tentunya, seniman Indonesia kala itu tidak mendapat tempat di gedung ini.

Kunstkring, galeri dan resto yang menggunakan gedung kuno di Jalan Teuku Umar Nomor 1, Jakarta
Interior Tugu Kunstkring Paleis di Teuku Umar No. 1, Jakarta. Foto: Dok. Kunstkring

Tak hanya menawarkan sajian dengan gaya fine dining, Tugu Kunstkring Paleis juga menjadi tempat asik buat berkumpul bagi kaum sosialita. Yang tak kalah mengejutkan dalam operasionalnya, Kunstkring pun tetap setia pada seni budaya dan sejarah. Nilai-nilai sejarah tetap dipertahankan, sementara operasional resto berjalan seperti lazimnya sebuah usaha.

Hal ini ditunjukkan dengan hadirnya galeri seni, ruang pamer dan ruang-ruang privat dengan tema-tema yang berbeda-beda. Semuanya diharapkan bisa memberi kontribusi pada pelestarian sejarah, seni dan budaya.

Untuk para tamu, ada pilihan 85 tempat duduk mewah di ruang makan utama di lantai pertama. Disebut Ruang Dipenogoro, dengan ciri lukisan 4×9 meter saat penangkapan Pangeran Dipenogoro. Namun pemilik Tugu Grup, Anhar Setjadibrata, pemilik Tugu Group menyebutnya The Fall of Java.

Menu di resto ini pun kental dengan unsur budaya dan sejarah. Menyajikan makanan Indonesia jaman dulu, Asia Tenggara dan Barat, saat saya berkunjung tiga menu pun menjadi pilihan. Yakni, steamed salmon ravioli topped with crispy smoked beef bacon yang disajikan dengan saus kepiting. Harganya Rp 98 ribu. Ada juga garnaal mielie, crisp beer-battered fried prawn yang disajikan dengan spinach gnocchi, tomato and green salad senilai Rp158 ribu. Untuk penutup, saya mencoba coconut crème brulee (Rp 62 ribu) dan segelas Mystique Mocktail (Rp45 ribu). Yang menjadi juara, saya memilih udang goreng.

Kunstkring Jakarta selain menjadi tempat pameran dan pertunjukan seni juga menjadi resto.
Menu Udang Goreng di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta. Foto: Rully K/Dok. TL

Bagi yang ingin sesuatu yang bermakna sejarah, coba gaya makanan zaman kolonial Belanda, yakni ala rijsttafel. Sejumlah pelayan akan menyajikan sederet hidangan khusus Betawi dalam satu meja. “Di Kunstkring, kami ingin menghidupkan lagi budaya rijsttafel. Dengan jumlah tamu minimal lima orang, kami pun bisa menyajikan menu Betawi Grand Rijsttafel yang terdiri dari 12 jenis hidangan. Semua sajian itu disajikan pelayan dengan menggunakan pikulan, sementara ada beberapa orang yang menari untuk menghibur para tamu. Dipilih Betawi karena sajian lokal ini makin tergusur,” jelas manajer humasnya.

Restoran juga kerap menggelar pameran berskala besar dan pertunjukan seni. Tahun 1936 dibuka museum yang menyajikan lukisan-lukisan berkelas internasional yang dipinjam dari berbagai museum di Eropa, antara lain karya Marc Chagall, Van Gogh dan Picasso. Tahun 1935 diselenggarakan pertunjukkan Peralatan Perak.

Atau pada Juni 2015 lalu, misalnya, Tugu Kunskring Paleis bekerja sama dengan Ballet.id mengadakan “Reviving the Glory of Kunstkring”,  dengan suguhan repertoire balet klasik Rusia, yang diadaptasi dari tarian tradisional Indonesia dengan interpretasi balet Hong Kong “Suzie Wong”. Rasanya, benar-benar di Tugu Kunstkring Paleis, kita bisa mencicipi budaya, seni, sejarah dan makanan di satu tempat.

agendaIndonesia/Fiz R./Rully K./TL

*****

Sate Lilit Bali, 5 Warung Layak Dicoba

Sate lilit Bali dagingnya dililitkan ke tusuk yang dari sereh. Foto: iStock

Sate lilit Bali kabarnya menjadi salah satu menu yang disajikan pada perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, November 2022. Selain, tentu saja menu ayam betutu. Sate sudah menjadi salah satu menu kuliner Indonesia yang mendunia, layaklah dinikmati para tamu negara.

Sate Lilit Bali

Sate lilit memang salah satu makanan khas Bali. Sate lilit Bali awalnya adalah makanan khas wilayah Klungkung. Namun saat ini sate lilit bisa ditemukan di seluruh wilayah di Bali lainnya seperti Badung, Gianyar, dan Denpasar. Bahkan di sejumlah daerah lain di Indonesia ada resto-resto yang menyajikannya.

Dirangkum dari berbagai sumber, sate lilit Bali dulunya hanya dihidangkan saat ada upacara-upacara keagamaan saja. Kini, masakan ini bisa ditemukan di berbagai kesempatan dan di rumah makan atau bahkan pedagang pinggir jalan.
Awalnya sate lilit oleh masyarakat Bali hanya dibuat dari daging babi dan ikan laut. Tentu hal ini karena mayoritas penduduk Pulau Bali memeluk agama Hindu dan untuk mereka daging babi halal dikonsumsi.

Sate Lilit bali awalnya terbuat dari daging babi dan ikan, kini sudah mempunya varian yang beraneka dan halal.
Sate lilit Bali cocok dimakan dengan sambal matah. Foto: shutterstock

Namun, sesuai perkembangan zaman, di mana makin banyak orang dari luar Bali yang berkunjung ke daerah ini dan tidak mengkonsumsi daeging tersebut, saat ini masakan tersebut juga ada yang buat dari daging ayam, sapi, kambing, bahkan kura-kura sebagai pengganti.

Sate lilit Bali sendiri memiliki filosofi yakni menyimbolkan masyarakat yang selalu bersatu. Masakan ini juga menjadi simbol ‘kejantanan’ pria. Bukan perkara yang itu. Namun, alasannya, sate lilit sejak dulu hanya boleh dikerjakan oleh para kaum pria. Mulai dari menyembelih hewannya, meracik adonan hingga proses membakar atau pemanggangan juga hanya boleh dilakukan kaum pria. Jika seorang pria tidak bisa membuat sate lilit, maka akan dipertanyakan kejantanannya.


Dahulu, karena dibuat untuk keperluan acara keagamaan, sate lilit Bali selalu dibuat dalam jumlah banyak atau skala besar. Bisa sampai melibatkan 100 orang pria untuk membuatnya.

Lalu kenapa disebut dengan nama lilit? Tidak seperti sate yang lain yang proses pemanggangannya daging ditusuk oleh potongan bambu, sate lilit berasal dari kata ‘lilit’ yang artinya ‘dibelit’. Sesuai namanya, hidangan yang satu ini dagingnya direkatkan ke tusuk bambu berbentuk pipih ataupun sereh.


Sate lilit Bali menjadi hidangan andalan yang sering diburu turis saat mengunjungi Pulau Dewata. Sate ini memiliki tampilan yang khas, yakni berwarna kuning yang menggugah selera. Warna tersebut berasal kunyit dari bumbu basa genep yang dicampur dengan adonan daging dan kelapa parut.


Sate lilit memiliki cita rasa yang gurih, manis, dan sedikit pedas. Cara menikmati sate lilit tidak perlu memakai bumbu kacang seperti sate pada umumnya. Wisatawan bisa langsung menikmati sate lilit saja atau bisa ditambah dengan sambal matah dan hidangan lain.

Sate lilit Bali disebutkan menjadi simbol kejantanan para pria.
Sate lilit disimbolkan sebagai lambang kejantanan para pria. Foto: shutterstock


Lalu di manakah bisa menikmati sate lilit Bali yang enak jika berkunjung ke pulau ini? Saat ini banyak tempat menyediakan hidangan ini, namun lima tempat makan ini bisa dicoba.

Sate Lilit Muslim Pekambingan

Warung Muslim Sate Lilit Pekambingan karena tempat ini hanya menyediakan daging halal bagi warga muslim. Tempat makan sate lilit halal di Denpasar ini menawarkan menu sate lilit yang terbuat dari ikan dengan harga sekitar Rp 1.500 per tusuknya.

Berada di Jalan Pulau Buru Nomor 10, Dauh Puri, Kota Denpasar, warung ini buka dari pukul 06.30-15.00 WITA. Selain Sate Lilit, ada menu lainnya seperti Tum Ayam, Pepes Ikan, dan Sate Plecing Ikan yang bisa dicoba dicicipi.

Ayam Betutu Mbok Iwuk

Nama yang ‘djual’ memang menu atam betutu, namun Ayam Betutu Mbok Iwuk yang berada di Jalan Taman Sekar IX Nomor 4, Padangsambian, Kota Denpasar, ini juga menyedikan sate lilit. Buka sejak pukul 08.00-16.00 WITA, warung ini menyediakan menu sate lilit halal dengan harga sekitar Rp 15 ribu per 10 tusuknya. Selain itu, ada menu lawar Bali yang bisa dipesan dengan harga Rp 25 ribu per beseknya.
Warung Wardani

Warung Wardani ini berlokasi di Jalan Yudistira Nomor 2, Dangin Puri Kauh, Denpasar. Mereka buka dari pukul 08.00-16.00 WITA. Ada menu Nasi Campur dengan isian Nasi, Telor, Ayam Suwir, Udang, Sate Tusuk, Sate Lilit, Sayur, dan Sambal dengan harga sekitar Rp 38 ribu. Jika ingin menambah sate lilit, bisa dipesan terpisah dengan isian lima tusuk seharga Rp 15 ribu
Warung Sari Alit

Warung Sari Alit berada di Jalan WR Supratman Nomor 332, Kesiman Kertalangu, Denpasar. Tempat makan sate lilit di Denpasar ini menawarkan sate dengan olahan ikan seperti Sate Lilit, Pepes Ikan Laut, Sate Tusuk Ikan Laut. Harganya mulai dari Rp 1.000 per tusuknya.
Warung Ari
Warung ini berlokasi di Jalan Tukad Pakerisan Nomor 6, Panjer, Dauh Puri Klod, Denpasar. Buka dari pukul 06.30-16.00 WITA. Di sini, pengunjung bisa menikmati sate lilit enak di Denpasar dengan harga sekitar Rp 82 ribu untuk 50 tusuk. Cocok untuk menu makan bersama keluarga atau teman.

agendaIndonesia

*****

Kuliner Sungai Kahayan, 5 Yang Unik

Kuliner Sungai Kahayan

Kuliner Sungai Kahayan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, rasanya banyak yang belum cukup mengenalnya. Selain daerah ini belum cukup diserbu wisatawan, pilihan yang khas mungkin memang masih sedikit.

Kuliner Sungai Kahayan

Spot kunjungan paling terkenal di Kalimantan Tengah tentu saja masih Taman Nasional Tanjung Putting. Habitat penting orang utan di Indonesia. Rasanya banyak orang berkunjung ke provinsi ini untuk menuju spot tersebut. Kulinernya?

Kuliner Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah, setelah berkunjung ke Tanjung Puting.
Orang Utan di Taman Nasional Tanjung Puting. Foto: Dok. Unsplash

Saat menyambangi kota-kota di Provinsi Kalimantan Tengah, mulai dari ibukotanya Palangkaraya, Sampit atau Pangkalan Bun, Biasanya orang terbayang untuk mencicipi hidangan khas suku Dayak daerah ini. Sayangnya, cukup sulit ditemukan sajian khas yang dimaksud. Walhasil perburuan santapan otentik menjadi tak mudah.

Tak seperti masakah Padang atau Jawa yang memasang kata-kata menu atau masakan yang khas daerah-daerah itu, rumah makan yang menyajikan masakan khas masyarakat Dayak memilih menjual nama umum saja.

Namun, jika pengunjung cukup jeli dan rajin bertanya, sebenarnya ada beberapa rumah makan yang melestarikan kuliner warisan leluhur masyarakat Dayak. Umumnya menu lokal didominasi ikan-ikan sungai, termasuk udang sungai yang terkenal itu. Namun, tak hanya olahan udang dan ikan sungai, ada pula masakan sayuran. Bahkan ada sayuran yang berbahan rotan yang menjadi menu khas di Palangkaraya.

Supaya memudahkan pencarian, mungkin ada baiknya kami pilihkan dulu restorannya untuk menikmati kuliner Sungai Kahayan, Yang pertama ada Rumah Makan Kampung Lauk yang terletak di Jalan Bukit Rawi, Pahandut Seberang, Pahandut, Palangkaraya. Restoran ini sudah berdiri sejak 2006. Rumah makannya terdiri atas 37 saung yang berada di tepi Sungai Kahayan sehingga pemandangannya memanjakan mata. Saat ini, rumah makan tersebut menjadi salah satu tujuan wisata kuliner, baik masyarakat lokal maupun interlokal. Walhasil, setiap hari selalu ramai.

Pilihan ke dua ada Rumah Makan Samba yang berlokasi di Jalan R.T.A Milono nomor 15, Palangka Raya. Rumah makan ini menjadi salah satu rujukan bagi pemburu sajian khas tradisional Kalimantan Tengah. Berdiri sejak 1996, hingga sekarang pemilik rumah makan tetap konsisten menyajikan sajian khas suku Dayak. Menu andalannya adalah ikan bakar. Sebaiknya tidak datang terlalu sore karena sajian sudah ludes.
Pilihan lain adalah berkunjunga ke Rumah Makan Pelangi di Jalan G. Obos, Palangka Raya. Berdiri sejak 2000, rumah makan ini sudah beberapa kali pindah tempat. Menunya cukup beragam, mulai ikan-ikan sungai hingga udang galah. Menu favoritnya lais bakar, udang galah asam manis/sop/bakar, jelawat bakar, ayam bakar madu, dan sop ikan nila.

Lalu menu apa yang wajib dicoba jika mengunjungi Palangkaraya dan ingin mencicipi masakan khas masyarakat Dayak? Berikut lima yang menarik dicoba.


Sayur Umbut Rotan

Kuliner Sungai Kahayan di antaranya adalah sayur umbutt rotan
Sayur Umbut Rotan khas Kalimantan Tengah. Foto: Dok. TL

Orang biasanya terperanjat mendengar namanya. Tak terbayang bagaimana rasanya menggigit rotan. Namun rotan yang satu ini beda dengan rotan bahan anyaman. Kuliner Sungai Kahayan yang disebut “juhu singkah” dalam bahasa Dayak Ngaju ini terbuat dari tunas rotan yang masih muda. Durinya dibersihkan terlebih dulu, kemudian kulitnya dibuang. Tersisa bagian dalamnya berwarna putih, kemudian dipotong-potong kecil.

Rotan muda diolah dengan direbus untuk mengurangi rasa pahit dan melunakkan batangnya. Sesudah diaduk dengan berbagai bumbu, sayur pun siap dihidangkan. Biasanya olahan ini disajikan bersama terong asam, ubi keladi, dan tomat. Memang sedikit pahit, tapi tetap nikmat di lidah. Apalagi wanginya khas dan cukup menggoda. Menurut warga setempat, lebih sedap bila disantap dengan ikan bakar, seperti patin atau baung.

Ikan Jelawat Bakar
Ragam ikan air tawar mendominasi sajian khas di kota yang berada di tepian Sungai Kahayan ini. Dulu memang mudah ditemukan sehingga menjadi santapan utama masyarakat Dayak. Saat ini, seiring dengan tercemarnya sungai, ikan pun sulit didapat. Ikan-ikan yang dihidangkan sekarang sebagian besar adalah hasil budi daya.

Kuliner Sungai Kahayan tentu saja banyak yang berrbahan dari sungai tersebut.
Ikan Jelawat Bakar. Foto: Dok. TL

Ikan bakar biasanya disajikan dengan nasi putih dan sambal. Jenisnya patin, jelawat, lais, haruan atau gabus, dan baung. Salah satu yang spesial adalah ikan jelawat. Ikan ini hanya ditemukan di sungai-sungai Kalimantan. Dagingnya terkenal gurih dengan teskstur sedikit berminyak, mirip ikan patin. Biasanya dimakan bersama sambal bawang Banjar. Namun, saat menyantap, harap berhati-hati karena durinya besar dan menyebar.

Udang Galah Sungai
Udang sungai atau udang galah merupakan salah satu primadona olahan di Kalimantan, khususnya Palangka Raya. Ukurannya lebih besar dari jenis udang lain. Rasanya pun gurih. Selain dibakar dan digoreng, bisa dijuga disajikan dalam bentuk kuah sup atau asam manis.


Sambal Kandas Sarai
Berbeda dengan sambal di daerah lain, sambal khas masyarakat Dayak Ngaju ini bukan sebagai hidangan pelengkap, tapi sajian utama. Ini salah satu kuliner Sungai Kahayan yang khas. Sambal ini berbahan dasar serai, yang dibakar di atas bara, kemudian diiris kecil-kecil. Setelah halus, dicampur dengan berbagai bumbu rempah serta suwiran ikan air tawar panggang atau goreng yang telah dibuang tulangnya. Biasanya jenis ikan yang digunakan ialah ikan tak bersisik, seperti baung, lais, patin sungai, atau lele. Saat disajikan, sepintas seperti abon. Tatkala dicecap, rasanya terasa pedas dan cenderung asam.


Sayur Kelakai
Kalakai adalah jenis pakis yang banyak ditemukan di hutan tropis Kalimantan. Tanaman ini dikenal memiliki banyak khasiat sehingga dimanfaatkan masyarakat untuk pengobatan. Sayuran ini kerap dijadikan santapan harian. Rasanya gurih. Umumnya bagian yang diambil adalah pucuk. Sebab, teksturnya lebih lunak. Biasanya dibuat sup, sayur bening, atau oseng. Bahkan kini banyak diolah jadi camilan, seperti keripik untuk oleh-oleh.

agendaIndonesia/TL

*****

Minuman Dingin Bandung, 5 Yang Segeeer

Minuman dingin Bandung sepertinya tidak pas, karena ibu kota Jawa Barat masih dipersepsi sebagai kota dengan hawa yang sejuk. Betulkah demikian? Anggapan bahwa hawa kota Bandung selalu sejuk sepertinya tak sepenuhnya benar. Di malam hariu bisa jadi ia dingin, namun di kala siang, saat matahari berada pada puncaknya, Bandung sama saja panasnya dengan Jakarta.

Minuman Dingin Bandung

Walhasil, minuman dingin pun kerap dicari. Apalagi di bulan Ramadan, berbuka puasa dengan minuman yang menyegarkan tentu menjadi pilihan banyak orang. Tidak sulit untuk menemukan sajian serba dingin. Tersedia hidangan tradisional dan modern. Meski demikian, semuanya punya satu kesamaan, yaitu dingin-dingin empuk.

Es Goyobod

ADA satu kedai es goyobod yang terkenal di Bandung, namanya Gokil— singkatan dari Goyobod Kliningan. Julukan itu mengacu pada alamat kedai di Jalan Kliningan, Bandung. Menurut sang pemilik kedai, nama tersebut diberikan oleh para pengunjung.

Minuman yang berisi agar-agar, mutiara, roti, santan, sirup, dan susu ini sebenarnya berasal dari Garut, Jawa Barat. Namun pada tahun 2000 pemiliknya membuka usaha di Bandung dan melakukan berbagai modifikasi. Salah satunya dengan menambahkan es serut di atasnya dengan susu kental manis. Harga per gelas hanya Rp 7.000.

Es Goyobod Kliningan; Jalan Kliningan Nomor B9 Turangga, Lengkong; Bandung

Minuman dingin Bandung yang segeer makin cocok dengan hawa Bandung yang panas di siang hari.
Es Alpukat tumbuk ala Rumah Makan Linggar Jati, Bandung, Jawa Barat. Foto: Prima M./Dok TL

Alpukat Tumbuk

BIASANYA alpukat disajikan dengan cara dibikin jus. Namun lain halnya di tempat ini. Alpukat mentega yang di- pilih tidak dilumatkan dengan blender, melainkan ditumbuk sampai halus.

Tak mengherankan jika hidangan itu dikenal dengan nama alpukat tumbuk. Saat berkunjung ke Bandung beberapa waktu lalu, saya pun mencicipinya.

Penumbukan dilakukan untuk mencegah daging alpukat mengeluarkan air berlebih, sehingga tidak mempengaruhi rasa minuman. Sebagai topping, diberi serutan es batu yang disiram dengan sirup moka dan susu kental manis. Rasanya memang benar-benar berbeda. Harga Rp 28 ribu per gelas rasanya setimpal dengan kepuasan yang diberikan.

RM Linggarjati; Jalan Balonggede Nomor I, Bandung

Nyendol di Elizabeth

SEPERTINYA semua orang sudah kenal cendol. Minuman khas Indone- sia yang terbuat dari tepung beras serta disajikan dengan santan, es serut, dan gula merah cair ini memang menyegar- kan. Istilah cendol diduga berasal dari kata “jendol”, merujuk pada sensasi jendolan yang dirasakan ketika memi- num es cendol.

Di daerah Sunda, istilah nyendol digunakan untuk kegiatan meminum cendol. Warna hijaunya khas karena menggunakan bahan alami dari daun suji. Di Bandung, es cendol sangat mudah didapatkan, terutama di pusat kota. Dari yang dijual di gerobak hingga di kedai khusus. Pilihannya juga beragam. Ada es cendol ketan hitam, nangka, alpukat, dan es krim. Harganya relatif murah, mulai Rp 6.000 per gelas. Salah satu yang legendaris tentu Es Cendol Elizabeth, yang awalnya memang buka di toko tas bernama Elizabeth.

Es Cendol Elizabeth; Jalan Otto Iskandardinata (Otista) Nomor 518, Bandung


Jus Strobery

LELAH sehabis mengelilingi factory outlet (FO) di kawasan Dago, Bandung, Jawa Barat? Silakan mampir ke Pojok Stroberi, yang juga berada di sekitar daerah tersebut. Sembari melepaskan dahaga, kita dapat melepaskan lelah di sana. Sesuai dengan namanya, tempat ini memang menjagokan buah stroberi sebagai bahan minuman menyegarkan.

Namun tidak seperti jus stroberi yang biasanya lebih banyak mengandung air atau susu, minuman satu ini benar- benar terasa stroberi. Jadi, tidak perlu jauh-jauh lagi datang ke kebun stroberi jika hanya ingin menikmati jusnya. Cukup membayar Rp 20 ribu per gelas, Anda sudah dapat menyegarkan diri. Semakin terasa nikmat untuk buka puasa.

Sam’s Strawberry Corner; Jalan Ir H Djuanda Nomor 315, Bandung

Cincau Wale

UMUMNYA dikenal dua jenis es cincau, yakni hitam dan hijau. Cincau hijau tampaknya kurang populer ketimbang cincau hitam. Padahal, cincau hijau dipercaya dapat menurunkan suhu badan dan mencegah gangguan pencernaan. Di Bandung, Jawa Barat, tak banyak yang menjual cincau hijau. Salah satunya Warung Lela di Rancak- endal.

Warung ini tutup hingga pukul 21.00. Selain untuk berbuka, es cincau hijau bisa menjadi hidangan penutup. Es cincau disajikan dalam gelar besar. Isinya campuran antara cincau, santan, sirup, dan es batu. Kekenyalan cincau hijau dan seratnya yang khas benar-benar membawa kita bernostalgia. Satu gelasnya hanya dipatok Rp 17 ribu.

Warung Lela (Wale); Jalan Kupa Nomor 6 Rancakendal, Bandung

agendaIndonesia

*****

Resto di Lahan 2 Hektare, Congo di Dago Bandung

Resto di lahan 2 hektare pastilah dirancang tak main-main. Cobalah Congo Gallery & Café di kawasan Dago, Bandung, Jawa Barat. Tempatnya asyik, furniture dan aksen berbahan kayu solid menambah keasrian kafe ini. Lalu kenapa memilih nama yang erat hubungannya dengan Afrika?

Resto di Lahan 2 Hektare

Sebentar lagi surya akan tenggelam. Namun gerimis yang jatuh di kawasan Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat, pengujung April lalu belum juga reda. Beruntung Congo Gallery and Café, yang akan saya kunjungi, sudah dekat. Benar saja. Setelah melintasi jalan berbelok dan menanjak, saya tiba di depan gerbang Congo. Di kedua sisi gerbang besarnya, menjulang batang pohon besar dengan tulisan Congo di tengah. Saya seakan memasuki dunia lain. Begitu nyaman, asri, dan sejuk. Congo Gallery and Café menempati lahan yang benar-benar lapang. Luasnya mencapai dua hektare.

Tak jauh dari gerbang, tampak Congo Café menghadap ke taman. Nuansa kayunya begitu kental. Penataan taman yang cantik dikombinasikan dengan bebatuan semakin menguatkan kesan alami tempat ini. “Kami menyebut kafe pada area ini dengan istilah outdoor,” kata Anne Muthia, General Manager Congo Gallery and Café.

Resto di lahan seluas 2 hektare di kawasan Dago Resort, Bandung, jawa Barat, Congo Gallery & Cafe.
Interior Congko Gallery & Cafe di kawasan Dago, Bandung, didominasi kayu. Foto: Prima M./Dok TL

Di sisi yang berseberangan dengan area outdoor, terdapat gedung berlantai dua. Di depan pintu masuk gedung, terpampang mesin pemotong kayu berukuran besar. Lantai pertama gedung ini disebut area sofa. Sesuai dengan namanya, kafe di ruangan ini dilengkapi sofa. Sedangkan lantai kedua disebut area VIP (very important person).

Berbeda dengan area lain, di area VIP pengunjung dikenai biaya minimum Rp 1 juta untuk satu meja yang dapat memuat 10-12 orang. Ruangan yang berdinding kaca ini memang paling mengesankan. Betapa tidak, kaca-kaca tinggi besar memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan Bandung Timur dari ketinggian. Pada malam hari, pengunjung dapat melihat kerlap-kerlip lampu kota. Rasanya sangat tepat untuk makan malam yang romantis.

Meski terbagi atas berbagai area, Congo Café memiliki satu kesamaan, yakni sama-sama menggunakan meja yang terbuat dari kayu solid. Dalam ruangan VIP misalnya, terdapat meja makan berukuran 250 x 90 sentimeter dari kayu utuh.

Unsur kayu yang sangat mendominasi Congo rupanya tak terlepas dari bisnis utama sang pemilik. Menurut Anne, sang pemilik berbisnis kayu. Karena itu, ia menambahkan, Congo lebih mengedepankan galeri ketimbang kafenya. Kendati demikian, Congo Café justru lebih terkenal ketimbang galerinya.

Congo Gallery berada di gedung terpisah. Lokasinya di atas kedua kafé tadi. Seperti galeri pada umumnya, Congo Gallery menampilkan karya seni, meja, dan kursi yang terbuat dari kayu solid. Ada kayu trembesi, jati, sonokeling, eboni, dan sebagainya. Harganya pun beragam. Kabarnya, ada yang mencapai lebih dari Rp 1 miliar. Luar biasa!

Kembali ke kafe, sepertinya kita tak boleh melupakan menunya. Di tempat ini tersedia berbagai masakan, dari olahan tradisional hingga internasional. Sebagai pembuka, kebanyakan pengunjung Congo memesan Tahu Pletok. Kadang jika masih ingin nongkrong, makanan ini juga dipesan. Makanan khas Sunda ini berupa tahu yang diberi tepung tapioka dan digoreng garing. Sebagai teman makan, tersedia kecap manis dengan potongan cabe rawit hijau. Atau, ada singkong goreng yang sebelumnya dikukus, sehingga meskipun telah digoreng tetap renyah dikunyah. Untuk menu utama, lagi-lagi sajian tradisional menjadi andalan. Misalnya aneka varian berbahan buntur sapi. Ada Sop Buntut, Buntut Goreng, dan Buntut Bakar. Untuk menu internasional, Ebony Steak paling banyak dipesan.

Resto di lahan 2 hektare di Bandung dengan aneka menu yang menggoda.
Saint Berry dari Congo Gallery & Cafe Bandung. Foto: Prima M./Dok TL

Jika dilihat dari menu andalan tersebut, rasanya pilihan pengunjung sudah tepat. Sebab, makanan-makanan itu disajikan hangat dan memang paling pas disantap di kafe yang sejuk ini. Kemudian, sebagai hidangan penutup, Girl Best Friend paling banyak dipilih di antara deretan hidangan pencuci mulut lainnya. Hidangan ini berupa cake hangat dan diberi es krim. Di akhir pekan, pada saat kondisi normal, kafe yang buka mulai pukul 10.00 sampai 24.00 ini memberikan hiburan berupa light music. “Pilihan musik ini menyesuaikan dengan konsep kafe yang asri,” kata Anne.

Selesai menghabiskan kopi di cangkir, sempat terbersit pertanyaan di benak saya kenapa kafe di kawasan Dago ini diberi nama Congo. Mirip dengan nama negara di Afrika Tengah. Anne membenarkan bahwa nama Congo memang diambil dari negara tersebut. Sebab, menurut dia, di negara itu terdapat jenis kayu eboni yang sangat langka. “Dan kelangkaan itulah yang menginspirasi pemberian nama galeri dan kafe ini,” ucapnya.

Congo Gallery and Café; Jalan Rancakendal Luhur Nomor 8; Bandung

Menu Chicken ala Congo; Nasi Campur Bali; Sop Buntut Bakar/Goreng; Kakap Dabu-dabu; Ebony Steak

agendaIndonesia/Andry T./Prima M./Dok. TL

*****

Sarapan Enak di Locale 24 Diner & Bar

Sarapan enak di Locale 24 Diner & Bar, menjadi alternatif segar untuk menikmati sarapan ataupun kongko tengah malam. Terutama jika bosan dengan kedai-kedai makanan cepat saji.

Sarapan Enak

Bus  itu “diparkir” di deretan Rukan Garden House, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, tanpa pernah dipindahkan. Rukan tersebut berada di Blok B 10-11 sejak akhir 2013. Bus itu unik karena rodanya tidak pernah menggelinding. Di depannya pun tertata sejumlah kursi. Di pintu masuk, dipasang pula kanopi. Penasaran, saya pun memutuskan untuk singgah.

Seperti bagian luar yang dominan warna tosca, di dalam pun pulasan warna serupa mengisi beberapa bagian, selain putih dan abu-abu. Dining booth terdapat di setiap sudut ruangan. Papan tulis hitam memamerkan menu spesial di belakang bar. Sedangkan di depannya,  kursi bar berkaki aluminium menjadi tempat ideal untuk mereka yang tak memiliki banyak waktu bersantap. Inilah Locale 24 Diner & Bar, restoran yang dirancang menyerupai diner atau warung makan ala Amerika.

Seperti diner pada umumnya, restoran ini bernuansa retro. Sajiannya pun layaknya menu diner di Amerika Serikat, yang kebanyakan terdiri atas hidangan sarapan. Breakfast in the bus, salah satunya, terdiri atas telur mata sapi atau dadar, sosis, bacon, dan roti bakar. Rentang rasa pada menu sederhana seperti ini tentu tak jauh. Dengan kata lain, sajian seharga Rp 56 ribu tersebut tergolong standar. Appetizer platter senilaiRp 62 ribu pada menu pembuka malah lebih menggugah selera. Menyajikan pilihan chicken wings, tortilla, potato wedges, dan fish fingers yang terasa gurih.

Tak cuma menu sarapan ala Barat yang menjadi pilihannya. Ada  juga sajian ala Timur dan Indonesia, seperti singapore laksa with udon, tom yum seafood with rice, hainan chicken rice, nasi goreng locale, mi kangkung, dan ketoprak.  Harganya bervariasi, yakni Rp 38 ribu-106 ribu. Layaknya kebanyakan restoran modern di Jakarta, Locale 24 Diner & Bar juga menawarkan pilihan pasta, burger,dan steak.

sarapan enak di locale 24 diner & bar bisa menjadi alternatif segar jika bosen dengan kedai-kedai makanan capat saji,
Sarapan enak di Locale 24 Diner & Bar dengan pilihan aneka menu. Foto: Arcaya M./Dok TL

Melengkapi aneka hidangan, diner ini pun menawarkan berbagai jus buah, kopi dan teh. Mungkin karena melihat tren gaya hidup Ibu Kota, diner ini juga menyediakan beraneka ragam minuman beralkohol yang harganya tergolong miring. Satu sloki wiski Jameson, contohnya, dipatok dengan harga yang sedikit di bawah tempat lain. Semua menu ini dapat dinikmati kapan pun. Tidak ada alokasi menu untuk waktu tertentu—cocok untuk para foodie yang fleksibel dengan pilihan makanan mereka.

Sesuai dengan namanya, Locale 24 Diner & Bar awalnya memang buka 24 jam. Menyesuaikan dengan pasar dan pertimbangan berbagai hal, di waktu normal akhirnya dipilih waktu operasional pukul 10.00-04.00. Namun sejak pandemi, jam bukanya pun menyesuaikan. Di tengah pilihan sajian tengah malam yang didominasi restoran cepat saji, tampaknya Locale 24 Diner & Bar menjadi sebuah alternatif yang menyegarkan. Bahkan ketika banyak restoran lain tutup pada masa liburan, diner ini tetap membuka pintunya.

Berangkat dari konsep sarapan, diner ini menghadirkan sebuah paradoks. Semakin larut, Locale 24 Diner & Bar justru semakin ramai. Berkat konsep, hidangan serta harga yang ditawarkan, tempat makan ini menjadi magnet muda-mudi metropolitan. Mereka datang dari segala penjuru angin. Satu yang menjadi catatan, pemesanan kopi tidak dapat dilakukan lewat pukul 22.00 atau 23.00, apalagi ketika diner sangat sibuk. Alasannya, kopi diutamakan untuk pesanan saat sarapan. Masuk akal.

Locale 24 Diner & Bar memiliki beberapa bagian. Bagian depan diperuntukkan sebagai area bebas dari asap rokok, sedangkan di dalam sebagian besar area diner dengan bar yang merupakan area merokok. Ada juga area lantai dua yang diutamakan untuk acara privat. Karena alasan tersebut, tidak dianjurkan untuk mengunjungi Locale 24 Diner & Bar dengan keluarga lewat pukul 21.00.

Namun, saat buka pukul 10.00 hingga makan siang, Locale 24 Diner & Bar bisa menjadi tempat sarapan atau brunch yang tepat untuk keluarga. Inilah saat di mana diner tidak dipenuhi asap rokok dan celotehan riang anak muda. Dengan tenang, Anda bisa menghirup aroma kopi yang menggugah selera atau menikmati manisnya jus buah segar. l

Locale 24 Diner & Bar; Rukan Garden House Blok B 10-11; Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara

Menu

Singapore Laksa with Udon ; Tom Yum Seafood with Rice ; Hainan Chicken Rice; Nasi Goreng Locale; Country Steak with Milk Gravy; Mi kangkung; Ketoprak

agendaIndonesia/Fiz R./Arcaya Manikotama/Dol. TL

*****

Pulau Berhala, Eksotisme 15 Hektare di Selat Malaka

Pulau Berhala di Selat Malaka adalah pulau terluar di perbatasan Indonesia. Di barat Sumatera dan di timur Semenajung Malaysia, pulau terluar ini menebar pesona.

Pulau Berhala

Sopir menancap pedal gasnya tanpa ragu di pagi-pagi buta itu. Selain jalan yang masih sepi, dia sudah paham betul tujuan saya dan fotografer. Mencapai Pulau Berhala di Serdang Berdagai, Sumatera Utara, memang perlu waktu tak sedikit. Saya memulai perjalanan dari Medan. Setelah melaju hampir dua jam, pukul 08.30 saya menginjakkan kaki di sebuah dermaga mungil. Tepatnya di Tempat Penampungan Ikan (TPI) Tanjung Beringin, Kabupaten Deli, Serdang, Sumatera Utara.

Saya masih harus berlayar sekitar 3 jam 30 menit untuk tiba di daratan rindang seluas 14,75 hektare yang menjadi perbatasan Indonesia dan Malaysia. Diberi nama unik, menurut warga setempat, konon pada zaman dulu pulau ini sering dijadikan lokasi ritual pemujaan. Berbeda dengan TPI yang masuk wilayah Deli Serdang, pulau ini berada dalam lingkup Kabupaten Serdang Bedagai.

Hanya beberapa menit berangkat dari TPI Tanjung Beringin, pemandangan sepanjang sungai membuat saya berdecak kagum. Terutama karena aksi sekawanan burung bangau putih. Beberapa hinggap di pohon bakau siapi-api dan sebagian lagi asyik berada di tepi sungai. Mereka seakan dengan sengaja menemani para nelayan.

Tak lama laut luas terhampar di depan mata. Terlihat di ujung mata, garis horizontal permukaan laut Selat Malaka yang ditaburi siluet deretan kapal-kapal nelayan.  Pada waktu yang bersamaan, ubur-ubur pun menampakkan diri di sekitar kapal. Sekawanan binatang laut itu mengiringi pelayaran kami menuju salah satu pulau yang menjadi titik terluar Indonesia itu. Menakjubkan!

Tepat pukul 12.00, kapal pun berhenti melaju. Pasir putih dan air jernih sontak membuat saya ingin segera turun. Terumbu karang, ikan-ikan cantik, dan benda-benda laut lain di dasar air tampak begitu jelas terlihat dari dermaga. Sebagai pulau terluar, kehadiran sejumlah anggota marinir yang bertugas pun menjadi ciri khas. Menurut salah seorang personelnya, Pulau Berhala mulai dilengkapi Basis Jaga Perbatasan pada 2004.

Dengan ramah, para marinir yang tengah berjaga menyambut saya dan kawan-kawan dengan beberapa gelas kopi Aceh dan obrolan renyah. Mata saya pun dibuat terbuka dan terasa segar kembali. “Meski lokasi Pulau Berhala cukup jauh dari Kota Medan, setiap Sabtu dan Minggu banyak pengunjung yang rekreasi ke sini. Baik pengunjung lokal maupun dari luar kota,” kata Andriansyah, personel peleton Pulau Berhala.

Pulau Berhala di Selat Malaka yang merupakan salah satu pulau terluar ternyata menyimpan eksotisme untuk dikunjungi.
Dermaga Pulau Berhala, pintu masuk ke pulau di sisi terluar Indonesia. Foto: Lourent/Dok TL


Pulau ini, selain menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna, memiliki kekayaan alam berupa keindahan terumbu karang bawah laut dan hutan tropis dengan keanekaragaman hayati tinggi. Sedangkan dari sisi vegetasi, Pulau Berhala terdiri atas hutan lahan basah, hutan lahan kering, serta lahan terbuka yang beberapa bagiannya ditumbuhi pepohonan kelapa. Walhasil, ada banyak kegiatan yang bisa dijajal.

Menyelam, snorkeling, trekking, dan menyimak langkah-langkah penyu karena Pulau Berhala merupakan tempat penangkaran hewan bertempurung itu. Menikmati keindahan mentari tenggelam dan sekadar santai di bibir pantai pun tentu menjadi keasyikan tersendiri.

“Sumber air tawar di sini masih cukup bagus. Yang disayangkan dari pulau ini, enggak bisa meraih sinyal telepon. Jadi, kalau mau komunikasi agak susah. Mesti ke tengah laut dulu, lalu kembali lagi ke sini. Kami selalu bergantian dengan petugas yang lain untuk menelepon,” kata Nababan, bintara peleton yang berjaga di Pulau Berhala.  

Klimaks dari serentetan aktivitas adalah perjalanan menuju mercusuar.

Hutan pun harus saya susuri dan anak tangga sebanyak 770 buah harus dinaiki. Bukan main perjuangannya. Tapi begitu tiba rasa puas dan bangga bergema dalam hati melihat simbol Burung Garuda bertengger gagah di puncak mercusuar Pulau Berhala. 

Masih kuat mendaki terus melangkah 85 anak tangga lagi untuk mencapai puncak menara. Tiba di bagian teratas, sebuah “hadiah” menunggu, tak lain pemandangan  laut luas dan pulau di sekitarnya. Di dekat Pulau Berhala, ada Pulau Sokong Seimbang dan Sokong Kakek yang mengapitnya.  Membikin pilihan untuk menyelam dan snorkeling pun ada di beberapa titik.

Memang tak ada penginapan di pulau ini. Sebab, penghuninya hanya sekelompok marinir, namun turis boleh mendirikan tenda. Hanya, harus terlebih dulu mengurus izin. Kamar mandi tersedia. Cuma, bahan makanan harus dibawa sendiri. Rasanya puas bila bisa semalam di sini, tapi saya tidak bisa berlama-lama.

Menjelang matahari tergelincir, saya bertolak pulang kembali ke Medan. Keindahannya saya cermati sesaat. Saya pun bergumam, berbisik pada alam akan keinginan untuk kembali dan mencecap keindahannya lebih lama. l.

Tips Pejalanan

Kebanyakan wisatawan memulai perjalanan dari Sumatera Utara hingga dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta bisa memilih rute ke Kualanamu, Deli Serdang. Lantas dilanjutkan dengan kendaraan roda empat ke TPI Tanjung Beringin.

Selain dari Tanjung Beringin, Deli Serdang, wisatawan juga bisa menyeberang dari beberapa pelabuhan di pantai timur Sumatera Utara. Misalnya, Pantai Cermin, Serdang Bedagai, dan Pelabuhan Tanjung Tiram di Kabupaten Batubara.

Pengunjung bisa menyewa perahu nelayan untuk mencapai  Pulau Berhala, karena belum ada fasilitas kapal penyeberangan umum. Biaya sewa kapal nelayan berkisar Rp 800 ribu-Rp 1,5 juta per malam. Berangkat dalam rombongan tentu bisa menghemat biaya.

Berbagai jenis terumbu karang (Intertidal Coral Reef dan Karang Tengah) bisa ditemukan dalam radius 200 m dari bibir pantai dengan jumlah tidak kurang dari 22 spesies. Sedangkan jenis ikan karang sekitar 11 spesies.

November-Februari merupakan saatnya penyu-penyu datang dan bertelur di sekitar pantai Pulau Berhala. Bulan-bulan tersebut menjadi waktu yang tepat untuk berkunjung. Aktivitas snorkeling dan menyelam menjadi pilihan aktivitas selain trekking dan memancing.

agendaIndonesia/Sandi/Lourent/TL

*****