Kue Keranjang, Rasa Manis Sejak Abad 1 SM

Kue keranjang atau nian gao menjadi tradisi turun temurun hingga melampui abad-abad masa.

Kue keranjang saat ini identik dengan perayaan tahun baru semi atau tahun baru lunar yang kita kenal sebagai Imlek. Penganan ini memang identik dengan masyarakat Tionghoa yang merayakan pergantian tahun lunar tersebut. Saat kue keranjang mulai menjamur dijajakan di pasaran atau pun pertokoan, itu pertanda Imlek sebentar lagi tiba.

Kue Keranjang

Kue keranjang dan Imlek di Indonesia memang menjadi tradisi yang diwariskan masyarakat Tionghoa. Belum bisa dipastikan kapan tepatnya makanan ini hadir dalam dunia perkulineran Indonesia. Yang sudah pasti, kue cokelat manis ini dibawa orang-orang Tiongkok yang migrasi ke Indonesia sejak abad 1 Sebelum Masehi.

Kue keranjang disebut juga Nian Gao. Sebutan Nian Gao ini dari suku kata ‘Nian’ yang berarti ‘lengket’, namun pelafalannya mirip dengan kata ‘tahun’. Sementara itu kata ‘Gao’ diartikan sebagai ‘tinggi’. Jika disatukan membuat kue ini mempunyai makna filosofis peningkatan kemakmuran dan tingginya rezeki sepanjang tahun. Karenanya, Kue keranjang menjadi salah satu kudapan wajib saat Imlek sebagai ‘doa’ untuk kemakmuran. Selain Nian gao, kue keranjang punya banyak nama. Antara lain disebut juga kue beras, kue puding, atau dodol Cina.

Jika masuknya ke Indonesia saja abad 1 sebelum Masehi, keberadaan kue keranjang di tanah leluhurnya tentu lebih lama lagi. Dikutip dari laman tempo.co, kue keranjang diperkirakan sudah ada lebih dari 2.000 tahun lalu atau sebelum penanggalan Tionghoa ditetapkan pada Dinasti Zhou di abad ke-11 sampai tahun 256 sebelum masehi. Masyarakat Tionghoa mempersembahkan nian gao sebagai persembahan kepada dewa dan leluhur.

Dalam buku ‘Tahun Baru Cina: Fakta dan Cerita Rakyat’ karya William C. Hu tertulis kue keranjang awalnya disantap pada hari ke sembilan di bulan ke sembilan, bukan saat tahun baru lunar atau Imlek. Baru pada Dinasti Tang di tahun 618 sampai 907 masehi, nian gao menjadi makanan tradisional masyarakat Tionghoa yang disantap saat Festival Musim Semi.

Kemudian di masa Dinasti Qing periode 1636 sampai 1912, kue keranjang berkembang menjadi camilan masyarakat yang dapat dimakan kapan saja. Meski begitu, kue beras ini tetap punya posisi penting di setiap festival.

Secara filosofis, kue keranjang yang dijual di pasar atau toko menjelang Imlek biasanya berbentuk bundar. Konon bentuk kue keranjang yang bulat ini memiliki makna khusus, yakni melambangkan persatuan. Rasa manisnya pun memiliki makna agar siapapun yang memakan kue ini akan berkata yang baik-baik dan manis saja. Teksturnya yang lengket bermakna agar hubungan keluarga semakin erat.

Lalu dari mana penamaan “keranjang” pada nian gao ini? Dari cerita mulut ke mulut penamaan ini muncul dari wilayah Jawa Timur, di mana saat pembuatannya kue ini ditempatkan dalam keranjang-keranjang kecil. Nama ini kemudian meluas ke banyak wilayah di Indonesia.

Proses pembuatan kue keranjang ini sesungguhnya mudah. Adonan tepung ketan dan gula diaduk-aduk hingga mengental kemudian dikukus. Saat proses pengukusan, dibutuhkan keranjang untuk mengukus adonan tepung dan gula tadi. Dahulu kue keranjang dikukus dan dibungkus menggunakan daun pisang. Aroma yang keluar pun lebih wangi. Kini, seiring waktu dan kepraktisan, kue keranjang dibungkus menggunakan plastik bening.

Kue keranjang atau nian gao atau dodol Tionghoa menjadi makanan wajib saat pergantian tahun lunar atau datangnya musim semi.
Kue keranjang yang dihidangkan dengan dipotong-potong. Foto: shutterstock

Awalnya perpaduan tepung ketan dan gula sebagai bahan dasar menghasilkan kue berwarna cokelat. Kemudian, seiring berkembang zaman, kini banyak dijumpai kue keranjang dengan berbagai pilihan warna dan rasa. Cara penyajian kue keranjang pun beragam. Ada yang memakannya secara langsung. Ada juga yang mengirisnya tipis dan menggorengnya dengan dilumuri telor. Bahkan ada juga yang memasukkannya ke dalam sup.

Di Indonesia setidaknya ada lima sentra kue keranjang yang sudah yang sudah memproduksinya puluhan tahun. Yang paling dekat dengan Jakarta, tentu saja Tangerang, Banten. Kue keranjang legendaris tak bisa meninggalkan kue keranjang Ny. Lauw di Tangerang. Sejak 1962, ia menjalankan usaha rumahan kue keranjang di Jalan Bouraq. Tapi itu bukan awal berpoduksi, sebab ia adalah generasi ketiga yang menjalankan bisnis tersebut dalam keluarga ini.

Yang paling tua kemungkinan adalah keluarga Atik Susiana di Mojokerto, Jawa Timur. Atik mempertahankan resep kue keranjang ini dari kakek dan neneknya sekitar 60 tahun lalu. Ia merupakan generasi ketiga pembuat kue keranjang. Ia hanya membuatnya tiap Imlek.

Sentra produksi lain adalah di Kudus, Jawa Tengah. Di kota kretek ini ada kue keranjang legendaris buatan Panjunan. Toko roti di Jalan Wahid Hasyim. Ini cukup besar karena sudah memakai metode pembagian tugas produksi. Karyawannya memiliki tugas sendiri-sendiri, seperti mengolah adonan, memasukkan adonan ke cetakan, sampai memasukan cetakan ke kukusan yang sudah mendidih airnya.

Di ibukota Jawa Tengah, Semarang, juga ada kue keranjang legendaris buatan Eng Hwat. Ia generasi ketiga pembuat kue keranjang di Jalan Kentangan Tengah 67. Pesanan kue keranjang di sini biasanya mulai dibuat 10 hari menjelang imlek. Meski skalanya rumahan, kue keranjang di sini bisa diproduksi hingga 10 ton. Hingga saat ini kue keranjang di sini masih dibungkus daun pisang.

Sentra produksi kue keranjang lain yang tak kalah melegenda adalah Tegal, Jawa Tengah. Salah satu pembuat kue keranjang ternama di sini adalah Mindayani Wirdjono atau Oey Tong Gwat, warga keturunan Tionghoa berusia 79 tahun. Sudah lebih dari 40 tahun ia membuat kue keranjang.

Ribuan tahun diproduksi dan diperjualbelikan, Nian Gao atau kue keranjang rasanya sudah menjadi bagian dari tradisi Indonesia yang beraneka ragam. Ia selalu menjadi sisi manis dari bangsa ini. Jangan lupa ya agendakan makan nian gao saat pergantian musim semi.

agendaIndonesia

*****

Camilan Khas Bali, 4 Yang Asin Manis

Pie susu Bali dapat diperoleh di banyak toko-toko oleh-olh seperti Krisna Bali.

Camilan khas Bali ada bermacam-macam. Di sejumlah toko oleh-oleh di kawaasan Kuta, Badung; atau di Denpasar, seperti Krisna, Keranjang atau lainnya, kita bisa mendapatkan pilihan yang beraneka.

Camilan Khas Bali

Camilan kacang sudah biasa menjadi oleh-oleh, bahkan pilihan pun beragam karena dibikin dengan variasi rasa. Anda mencari yang manis, kacang disko khas Bali ini pun ada yang dibubuhi rasa manis, bisa pedas-manis, ataupun asin-manis. Selain itu, ada sederet pilihan untuk olahan legit. Kebanyakan berupa pia dan pie. Cuma, meski sama-sama pia, ada perbedaan rasa. Pia dan pie juga diluncurkan dalam merek berbeda-beda. Ada yang tipis, kecil, juga besar, dan cukup mengenyangkan.

Kacang Disko Manis

Kacang disko memang punya rasa khas, gurih, dan renyah. Tentunya bikin Anda  ketagihan. Camilan dengan bahan utama kacang tanah tersebut memang tak tampil polos. Dengan tambahan berupa telur, tepung kanji dan maizena, gula merah, santan, serta bumbu, si kacang pun seperti berselimut. Dan lapisan penutupnya itulah yang bikin rasanya menjadi manis.

Walhasil, bagi yang tak terlalu doyan camilan yang benar-benar manis, kacang disko dengan rasa manis ini juga bisa menjadi pilihan. Beragam jenis kacang disko bisa ditemukan di gerai oleh-oleh di Pulau Dewata. Setiap merek bahkan memberi varian rasa yang berlainan, seperti rasa ayam betutu, rendang, dan ayam taliwang. Kisaran harga untuk kemasan 200 gram sekitar Rp 20 ribu.

Krisna; Jalan Nusa Indah; Denpasar

camilan khas Bali seperti Pia Legong terkenal sebagai oleh-oleh yang dibawa dari melancong ke pulau Dewata.
Pia Legong Bali, salah satu camilan khas Bali yang bisa jadi oleh-oleh. Foto: Istimewa.

Pia Legong Renyah

Siap-siap antre atau pesanlah melalui telepon lebih dulu jika memesan dalam jumlah banyak! Itulah yang harus diingat ketika hendak membeli buah tangan berupa pia legong. Berlogokan penari legong, camilan yang satu ini hanya bisa diperoleh di Jalan Raya Bypass Ngurah Ruko Kuta Megah 15 di kawasan Kuta.

Pia legong dibuat setiap hari secara manual dan benar-benar hanya untuk hari itu, sehingga tidak memiliki persediaan. Karena produksinya terbatas, sering kali pembeli harus antre. Bila antrean sudah panjang, kerap diberlakukan pembatasan jumlah pembelian per orang. Seperti orang hanya dibolehkan membeli dua kotak. Untuk pemesanan dalam jumlah banyak, pembeli harus memesan lebih dulu via telepon. Sebanyak delapan pia berdiameter 8 sentimeter ini dikemas dalam kotak merah.

Dibuat sejak 2006, pia ini tersedia dalam tiga rasa, yakni kacang hijau yang merupakan rasa asli, cokelat, dan keju. Satu kotak berisi 8 pia dibanderol Rp 90 ribu. Pia cokelat dan  keju bisa tahan hingga dua minggu, sedangkan khusus kacang cuma tujuh hari. Isi yang berlimpah dengan lapisan luar yang renyah menjadi ciri khasnya.

Selain pia legong, ada pia-pia dengan label lain yang dijual di berbagai gerai oleh-oleh yang tersebar di pulau ini. Pia memang bukan hanya makanan khas di Yogyakarta. Seperti halnya bakpia Yogya, pia Bali yang asli pun, pada bagian dalamnya, diisi dengan kacang hijau. Ragam pia ini bisa ditemukan di pusat oleh-oleh.

Pia Legong; Jalan Raya Bypass Ngurah; Ruko Kuta Megah 15; Kuta, Badung

Pie Tipis Garing

Yang satu ini, meski sama-sama manis seperti pia, bentuknya tidak tebal, melainkan benar-benar tipis. Pie ini berbahan utama susu sehingga disebut pie susu. Seperti umumnya pie, kulitnya memang terasa renyah. Selain susu, ada tambahan bahan lain, seperti gula dan telur. Dan, seperti pia, ada beragam merek pie, meski yang dikenal memang Pie Susu Asli Enaaak, yang diluncurkan pada 1989. Namun, seperti halnya pia legong, pie merek ini hanya bisa ditemukan di tiga lokasi, selain di pusatnya di Jalan Nangka, Denpasar, yaitu di Jalan Wahidin Nomor 35, Denpasar, serta Jalan Dewi Sri VIII Blok B-8, Pertokoan Kuta Plaza.

Satu kota berbentuk persegi panjang berisi 10 pie dipatok seharga Rp 35 ribu. Selain ada rasa orisinal, ada rasa cokelat, keju, stroberi, dan lain-lain. Daya tahan pie mencapai satu minggu, asalkan dimasukkan ke lemari es. Ada pula pie dengan merek lain, seperti Pie Susu Dhian dan Pie Susu Krisna.

Pie Susu Asli Enaak; Jalan Nangka Selatan No. 163; Denpasar

Dodol Klobot dan Buah

Oleh-oleh manis lain yang bisa ditemukan di Bali adalah dodol. Tak hanya satu jenis, tapi lagi-lagi beragam. Ada sejumlah buah yang membuat rasa dodol ini menjadi berbeda antara satu dan yang lain. Campuran tepung dengan gula ini dibikin dengan rasa yang berbeda karena dipadu dengan buah, semisal nangka, salak, dan durian. Ada pula dodol rasa rumput laut, yang tak terlalu manis dan umumnya lebih segar. Harga per kotak beragam dodol ini dimulai dari Rp 12 ribu.

Selain rasa buah, di pusat oleh-oleh bisa ditemukan dodol “jadul”, seperti dodol khas Buleleng yang dibungkus dengan daun jagung kering atau klobot. Dodol legit dan wangi ini dibuat di industri rumahan di kabupaten yang terletak di Bali utara. Bahan bakunya berupa ketan hitam, santan, dan gula merah.

Kemasannya pun berbeda dengan dodol lainnya: sebanyak 10 buah yang diuntai. Tahan selama tiga minggu, dalam masyarakat Bali, dodol ini juga menjadi pelengkap sesajen upacara keagamaan. Dijual pada kisaran harga Rp 25 ribu per ikat, dodol Buleleng dan dodol rasa buah ini bisa ditemukan di pusat oleh-oleh, seperti Krisna.

Krisna; Sunset Road, Kuta; Badung

agendaIndonesia/Rita N./TL

******

Oleh-oleh Solo, 4 Yang Klasik dan Enak

Serabi Solo Notosuman digulung dan dibungkus daun pisang.

Oleh-oleh dari Solo banyak macamnya, dari yang baru hingga yang masih tradisional bahkan klasik. Artinya, oleh-oleh ini sudah ada sejak zaman kakek-nekak kita dan tetap ngangeni hingga sekarang.

Oleh-oleh Solo

Bermunculan sajian dari daerah lain dan mancanegara, namun warga Solo tetap setia pada sajian tradisional. Wisatawan pun memburunya sebagai oleh-oleh. Makanan yang umumnya diproses secara alami tanpa bahan pengawet ini memang rasanya jempolan. Para produsennya juga mempertahankan cita rasa asli dan cara pembuatan yang masih tradisional selama bertahun-tahun. Dengan rasa manis dan gurih, ada serabi, intip, dan abon. Bagi yang ingin manfaat lebih, jamu-jamu tradisional juga tersedia dalam kemasan praktis sebagai oleh-oleh.

Serabi Gurih Nikmat

Siapa yang tak suka dengan makanan yang satu ini? Garing di bagian pinggir dan kenyal di bagian tengah. Serabi khas Solo bisa dimakan tanpa guyuran kuah. Yang terkenal adalah Serabi Notosuman, yang gerainya bertebaran di sepanjang wilayah Notosuman. Konon, serabi ini sudah dijajakan pada 1923. Terbuat dari tepung beras, santan, gula, garam, dan tambahan daun pandan sebagai pewangi. Adonannya kemudian dituang ke wajan kecil dan diberi penutup dari tanah liat serta dibiarkan matang selama kurang lebih 3 menit. Hasilnya serabi yang harum dan legit.

Salah satu gerainya ada di Jalan M. Yamin Nomor 28. Mudah dicapai, dari jalan utama Slamet Riyadi, berbelok ke arah Honggowongso hingga menemukan perempatan menuju Jalan M. Yamin. Kemudian, belok ke kiri dan Anda akan menemukan tokonya di sisi kiri dengan papan penunjuk besar. Ada dua pilihan rasa, yakni putih polos dan cokelat. Satu kotak berisi 10 serabi dengan dua kombinasi rasa yang harganya Rp 21 ribu. Sedangkan satu kotak dengan satu varian rasa dihargai Rp 20 ribu. Karena dibuat tanpa  pengawet, serabi hanya bertahan selama 24 jam.

Serabi Notosuman; Jalan Moch. Yamin Nomor 28, Solo

Abon Daging Tanpa Campuran

Di Solo ternyata masih bisa ditemukan abon asli tanpa campuran apa pun. Terbuat dari daging sapi atau ayam saja. Hasilnya, abon pun terlihat menggumpal karena serat dagingnya masih rapat. Kedai Pangan Varia, sang produsen, mempertahankan cara pembuatan ini sejak awal produksi pada 1935. Daging juga digoreng dengan menggunakan minyak kopra untuk mencegah bau tengik dan mudah lembek. Tanpa bahan pengawet, abon ini bisa bertahan hingga sebulan.

Abon ayam atau sapi masing-masing memiliki dua pilihan rasa, yakni pedas dan manis. Abon daging sapi pedas harganya Rp 85 ribu, sedangkan yang manis lebih murah sedikit. Untuk abon ayam, yang pedas hanya Rp 65 ribu, sedangkan yang manis Rp 60 ribu. Dibuat dalam kemasan 250 gram. Harga abon sapi bisa naik sewaktu-waktu, bergantung pada harga daging di pasaran. Kedai ini bisa ditemukan di Jalan Honggowongso yang tidak jauh dari lokasi Serabi Notosuman. Di gerai ini, Anda juga bisa membeli penganan lain, seperti serundeng, dendeng, intip, ampyang, dan lainnya.

Kedai Pangan Varia; Jalan Honggowongso Nomor 89, Solo

Intip Asli dari Kerak Nasi

Dulu, masyarakat Solo membuat intip dengan cara mengorek kerak nasi di dasar panci atau alat menanak mereka, lalu menggorengnya. Kini intip dibuat dengan cetakan. Nasi sengaja dikeringkan dalam cetakan khusus, sehingga bentuknya pun lebih rapi dan tebal. Masih mencari intip zadul? Coba ke Pasar Gede.

Kios Mbah Buniyem di Pasar Gede mungkin satu-satunya kios yang masih menjual intip asli dari kerak nasi. Masih cukup banyak pembeli yang mencari intip asli karena ada rasa khas pada kerak nasi liwet tersebut. Di kios ini, setengah kilogram intip dihargai 18 ribu. Kerak nasi dikeringkan terlebih dulu sebelum digoreng, lalu dibiarkan selama satu hari, baru digoreng kembali dan ditaburi cairan gula Jawa.

Intip Mbah Buniyem; Pasar Gede, Solo

oleh-oleh Solo di antaranya ada jamu tradisional yang bisa dinikmati di tempat dan bisa dibawa pulang.

Jamu Berkhasiat

Selama berwisata, Anda mungkin merasa lemas dan lelah. Nah, saatnya menjajal jamu tradisional. Beras kencur, misalnya, yang bisa menyegarkan badan, menghalau masuk angin, dan tidak pahit seperti jamu pada umumnya. Tidak jauh dari kompleks Keraton, di Jalan Tamtaman, ada produksi jamu rumahan berlabel Putri Solo. Jamu andalannya adalah beras kencur, kunir asem, dan gula asem.

Bahan-bahannya dibeli langsung dari Pasar Legi, Solo, untuk satu kali produksi. Jamu dibuat berdasarkan pesanan. Pilihan aman bagi pembuatnya karena bahan-bahan jamuu yang alami mudah membusuk. Jamu-jamunya dikemas dalam botol kaca 600 ml dan tidak dipasarkan ke toko-toko. Pembeli bisa langsung datang ke tempat produksinya atau memesan lewat telepon. Harga per botol jamu ini adalah Rp 20 ribu. Jika belum dibuka segelnya, bisa bertahan selama satu hingga dua bulan. Jika sudah dibuka segelnya, hanya bertahan dua hari atau empat hari bila dimasukkan ke lemari es.

Jamu Putri Solo; Jalan Tamtaman II/ 99; Baluwati, Solo

agendaIndonesia/Yolanda F./Shutterstock

*****

Wayang Potehi, Pertunjukan Boneka Sejak Abad 16

Wayang potehi mungkin ingatan orang langsung ke pertunjukan wayang ala peranakan. Tak salah, meski tak 100 persen tepat. Pertunjukan yang hampir musnah ini lahir dari proses akulturasi budaya yang mengajarkan filosofi kehidupan.

Wayang Potehi

Tik-tik-tik-tik-ceng…. Tik-tik-ceng… Bunyi piak ko yang disusul siauw loo muncul silih berganti. Kaisar Lie Sie Bin yang baru saja naik takhta memasuki istana. Dengan suara lantang, sang kaisar memerintahkan pasukannya untuk segera menginvasi wilayah Utara Tiongkok—tempat tinggal bangsa Pak Hoan.

Tak sekadar memerintah, Lie Sie Bin juga turun langsung ke medan perang. Kaisar didampingi oleh jago-jago tua, seperti Cin Siok Po, Uttie Kiong, Thia Kauw Kim, dan penasehatnya yang cerdas, Cie Bouw Kong. Tak ketinggalan, seorang pemuda gagah bernama Lo Tong Ceng Souw Pak atau Lo Tong.

Lo Tong sebagai tokoh utama dikisahkan mengalami banyak konflik. Mulai dendamnya kepada salah seorang panglima Negeri Tong hingga intrik pernikahannya dengan seorang putri dari Negeri Pak Hoan. Pernikahannya hanyalah satu strategi untuk menjatuhkan musuh.

Tik-tik-tik-tik-ceng…. Tik-tik-ceng… Pukulan kayu dan gembreng kecil kembali berbunyi nyaring. Sorot mata anak-anak masih terpaku pada panggung pertunjukan wayang Potehi dengan lakon Lo Tong Ceng Souw Pak yang digelar ketika itu. Mereka begitu antusias menyaksikan pergelaran wayang yang memang jarang digelar tersebut.

Maklum saja, wayang Potehi biasanya memang hanya digelar di kelenteng-kelenteng dan pada waktu-waktu tertentu saja. Namun kini wayang Potehi bisa disaksikan di pusat belanja yang berlokasi di Jakarta Barat itu.

Wayang Potehi sejatinya merupakan seni pertunjukan boneka tradisional asal Tiongkok. Potehi sendiri berasal dari akar kata pou yang berarti kain, te berarti kantong, dan hi yang berarti wayang. Secara harfiah Potehi bermakna wayang yang berbentuk kantong dari kain.

Dalam setiap pertunjukkannya, wayang Potehi diiringi sejumlah alat musik tradisional Tiongkok. Alat musik dari wayang ini biasanya berupa toa loo (gembreng besar), hian na (rebab), piak ko (kayu), bien siauw (suling), siauw loo (gembreng kecil), tong ko (gendang), dan thua jwee (terompret).

Sang dalang, Sugiyo Waluyo Subur, memperkirakan kesenian Potehi dibawa masuk oleh pedagang Tionghoa ke Nusantara pada abad ke-16. ”Kali pertama dimainkan di Kota Semarang,” ujar pria yang dikenal dengan sebutan dalang Subur itu.

Cara memainkannya dengan memasukkan tangan ke dalam pakaian yang dikenakan wayang. Jari tengah digunakan untuk mengendalikan kepala. Sedangkan ibu jari dan kelingking untuk mengendalikan tangan wayang.

Wayang Potehi merupakan akulutrasi kebudayaan Tiongkok dan kearifan lokal Nusantara.
Pertunjukan wayang potehi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang penontonnya tidak terlalu banyak. Foto: shutterstock

Konon, wayang Potehi disebut-sebut berasal dari balik jeruji penjara kerajaan Tiongkok. Alkisah, lima orang narapidana akan dieksekusi mati karena pelanggaran hukum berat. Berita eksekusi ini menciutkan nyali empat orang di antara pesakitan tersebut. Mereka pun sedih meratapi nasib.

Hal yang berbeda justru terlihat pada seorang pesakitan. Sang narapidana ini justru menyambut sisa hidupnya dengan gembira. Ia mengajak rekan-rekannya tersebut untuk mengisi detik-detik terakhir hidupnya dengan menghibur diri sendiri. Akhirnya, mereka secara spontan membuat pertunjukan boneka dari kain dengan iringan bunyi-bunyian yang berasal dari berbagai benda yang ada di sel mereka.

Tak disangka, dari beraneka barang yang ada, seperti piring, panci, dan perkakas hadir musik yang enak didengar. Pertunjukan boneka ini pun ternyata tidak saja menghibur mereka, tapi juga narapidana lain dan bahkan para sipir penjara. Cerita tentang pertunjukan kelima orang narapidana ini akhirnya sampai ke telinga kaisar. Atas kebijaksanaan sang kaisar, kelima narapidana tersebut mendapatkan kesempatan melakukan pertunjukan di hadapan sang kaisar dan memperoleh pengampunan.

Di Indonesia sendiri, kesenian tradisional ini mengalami pasang-surut sepanjang perjalanan sejarahnya. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, kesenian ini cukup populer di tengah masyarakat. ”Tetapi pada awal era Orde Baru berkembang, sentimen negatif terhadap budaya Tionghoa membuat seni wayang ini mengalami masa surut. Keberadaannya hilang di tengah masyarakat,” kata dalang Subur menceritakan.

Seiring era Reformasi, perlahan kesenian ini kembali menggeliat. Kesenian Potehi mulai dipentaskan di berbagai tempat seperti kelenteng atau pada saat perayaan ritual keagamaan. Bahkan saat ini pertunjukan wayang Potehi pun marak merambah ke sejumlah pusat belanja, khususnya saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh. ”Wayang Potehi telah menjadi budaya Indonesia dan perlu dilestarikan,” ujar Rida Kusrida, Public Relations Mal Ciputra, Jakarta.

Sebagai sebuah kesenian, wayang Potehi menunjukkan bahwa ia lahir dari sebuah proses akulturasi yang panjang. Potehi mampu bertahan menjadi sebuah kesenian yang dapat merontokkan sekat-sekat kesukuan dan membentuk kesenian serta kebudayaan Indonesia. Satu hal yang jelas kentara ialah dalang Potehi tidak melulu dimainkan oleh orang Tionghoa. Contohnya ialah dalang Subur ini. Pria asal Surabaya ini justru berasal dari suku Jawa. ”Saya sendiri memeluk agama Islam,” kata dalang Subur.

Dalang yang memulai kariernya saat masih berusia 12 tahun itu mengungkapkan kisah-kisah wayang Potehi seperti Lo Tong Ceng Souw Pak, Sun Go Kong, Sie Jin Kui, Cu Hun Cau Kok, dan sebagainya serta mengajarkan filosofi kehidupan manusia yang masih berlaku pada masa kini.

agendaIndonesia/Andry T./Frann./TL/shutterstock

*****

Sekolah Hijau Bali, 1 Cara Belajar Hidup

Sekolah hijau Bali membangun jembatan dari bahan bambu yang lebih ramah lingkungan.

Sekolah Hijau Bali, atau Green School Bali, bukanlah sekolah lingkungan biasa. Ini sebuah sekolah yang mengajarkan hal “lebih” tentang kehidupan.

Sekolah Hijau Bali

Suara-suara ceria dan musik upbeat langsung tertangkap telinga, ehmm… bikin penasaran saja. Kedua kaki saya menjejaki jalan berkerikil menuju sumber suara itu. Begitu tiba di sebuah aula bambu besar terlihat sejumlah orang menari-nari, melompat, dan bernyanyi gembira. Mereka benar-benar menikmati suasana.

Saya bukan berada dalam sebuah festival siang itu, melainkan berada di tengah sebuah sekolah di Jalan Raya Sibang Kaja di wilayah Badung, Bali. Tepatnya di Green School Bali. Bukan sembarangan sekolah memang.

Didirikan oleh John dan Cynthia Hardy yang berdarah Amerika dan Kanada. Mereka dulu adalah pencinta perhiasan. Keduanya telah menjadi penduduk Bali lebih dari 30 tahun. Green School dibangun tujuh tahun lalu dengan harapan mereka bisa membawa para murid keluar dari batas-batas struktural, konseptual, dan fisik yang ditemukan di berbagai sekolah konvensional.

Sekolah ini tidak hanya menyediakan ilmu mengenai green living, namun juga mempersiapkan kehidupan anak-anak mereka. “Karena kami tidak mempersiapkan murid-murid kami (untuk masuk ke sekolah Ivy League). Kami mempersiapkan lebih dari itu untuk mereka,” kata Francis, pemandu wisata hari itu, yang juga guru di sekolah tersebut.

Sekolah pun terus berusaha agar bisa semandiri mungkin. Dihadapkan dengan kondisi sumber daya air di Bali yang semakin berkurang, sekolah membangun penampungan air sendiri. Kemudian, mendaur ulang melalui osmosis terbalik untuk memproduksi air bersih yang aman. Air tersebut digunakan di sekolah dan diambil dari penampungan air serta sungai.

“Kemandirian sekolah tidak berhenti hanya di air. Sekolah ini telah membangun sebuah pusaran air, di mana pembangunannya sudah memasuki tahap akhir untuk menghasilkan listriknya sendiri. Hingga saat ini, proyek yang berumur tujuh tahun ini merupakan satu-satunya turbin air vertikal di Bali,” kata Francis menjelaskan.

Selain itu, sekolah ini mendaur ulang limbah, termasuk kamar mandinya. Juga menyediakan botol air yang terbuat dari besi untuk murid-muridnya, membuat mobil listrik bambu sebagai kendaraan ramah lingkungan, dan menggunakan bambu untuk semua struktur di dalam wilayah Green School.

sekolah hijau Bali tidak sekedar mengajarkan tentang lingkungan, tapi juga kehidupan.
Sekolah Hijau Bali dengan ruang kelasnya yang tidak konvensional. Foto: Shutterstock

Lebih jauh, Francis mengungkapkan, bambu merupakan salah satu material yang memiliki kemampuan untuk menyimpan karbon. Selain itu, bambu dapat didaur ulang. Namun, jika tidak di daur ulang, maka akan kembali pada alam. Bahkan jembatan sekolah, yang dapat menahan hingga 200 orang dewasa, seluruhnya terbuat dari bambu. Jembatan ini berdiri anggun di atas Sungai Ayung dan menjadi jembatan bambu teranggun dan terkokoh yang pernah saya lihat.

Francis memimpin kami menuju salah satu ruang kelas. Sebagai orang yang hidup di perkotaan, saya harus mengakui berjalan di seputar Green School bukanlah hal yang mudah. Tidak ada jalan di sekolah ini yang terbuat dari semen. Semakin jauh saya berjalan, semakin besar usaha yang saya lakukan. Jalan di sekolah masih pada bentuk awalnya: terbuat dari batuan vulkanik.

Francis menyebutkan kondisi jalan tersebut sebenarnya ada tujuannya. Diharapkan, anak-anak akan berjuang dan ketika mereka terjatuh jadi paham rasa sakitnya. Tapi mereka tentu akan bangun dan melanjutkan perjalanan. “Begitu juga dengan menjalani hidup,” ucapnya.

Yang lebih menarik dari jalanan vulkanik adalah lubang lumpur. Terletak di sebelah salah satu kelas dan studio yoga, lubang lumpur merupakan bagian dari berbagai aktivitas sekolah. Terinspirasi dari mepantigan—sebuah bentuk pergulatan dan ilmu bela diri dari Bali—anak-anak dianjurkan untuk ikut serta dalam “pertarungan” seru di dalam lumpur. Dengan aktivitas ini, sekolah memperkenalkan kepada anak-anak tentang latar belakang dari kultur lokal. Selain itu, kegiatan itu bertujuan mengajarkan bahwa tanah tidaklah kotor.

Sama seperti sekolah lain, jiwa dari Green School ini terletak pada kurikulum yang ditawarkannya. Green School merupakan sekolah yang berpusat pada anak-anak dan mereka dianjurkan dapat berkembang dalam kecepatan masing-masing.

Francis menyebutkan sistem penilaian konvensional sudah tidak memiliki tempat di sini meski ada beberapa pengecualian, antara lain, sekolah tetap mempersiapkan murid-murid senior untuk ujian masuk perguruan tinggi.

Di sisi lain, dengan belajar di dalam kelas dan mengikuti suatu sistem yang dinamakan thematics oleh sekolah, para murid dapat melihat subyek yang mereka pelajari dari berbagai perspektif yang berbeda. Di sekolah, para murid juga belajar dengan praktek. Anak Francis rupanya juga bersekolah di sini. “Anak saya terlibat dalam pembangunan sebuah generator. Saat ini, sekolah ini memang sedang membangun bendungan di sungai, bendungan sungguhan,” kata dia.

Green School juga mengajarkan murid-murid mereka agar tidak hanya menghargai bumi ini, tapi juga orang-orang dan budaya di sekeliling. Contohnya, murid sekolah dasar diwajibkan untuk belajar bahasa Indonesia. Sementara itu, untuk murid yang tidak dapat hadir di sekolah selama satu tahun penuh ataupun  orang dewasa yang ingin merasakan pengalaman green living di Bali telah disediakan Green Camp. Di area ini, peserta belajar soal kepemimpinan melalui pengalaman belajar di luar ruang.

Francis pun menyimpulkan secara sederhana: “Sekolah ini bukan hanya tentang kepalanya, ini juga tentang tangan dan hatinya. Di sini kami ingin murid-murid juga mengetahui bahwa mereka dapat membuat perubahan.”

agendaIndonesia/ F. Ramdhani/TL

*****

5 Tempat Gembok Cinta di Asia

5 tempat gembok cinta di asia, salah satunya di Ancol Jakarta

5 tempat gembok cinta di Asia, termasuk yang ada di Indonesia, ini tentu bukan yang pertama dan asli. Tapi latar belakang tempat itu muncul tetap sama: ada pasangan-pasangan yang tengah kasmaran yang ingin mengabadikan kisah kasih mereka dan syukur-syukur cinta mereka bisa terikat selamanya.

5 Tempat Gembok Cinta di Asia

Tahukan Anda, aslinya tempat pertama munculnya gembok cinta adalah di kota Vranjcka Banja, sebuah kota kecil di Serbia. Negeri di kawasan Semenanjung Balkan bekas negeri Yugoslavia. Gembok Cinta itu tepatnya ada di Jembatan Most Ljubavi. Ini tentang kisah cinta sepasang anak muda yang akhirnya kandas dengan latar belakang perang Austria dan Serbia pada saat Perang Dunia II. Si pemuda rupanya jatuh cinta dengan perempuan lain di wilayah di mana ia bertugas. Patah hati, si kekasih meninggal karena kesedihan hatinya.

Anak-anak muda Serbia yang ikut sedih atas kisah cinta mereka, lalu pergi ke jembatan itu dan membawa gembok yang bertuliskan nama mereka dan pasangan masing-masing. Mereka mengaitkan gembok itu di jembatan seraya berharap cinta mereka tak lekang oleh waktu.

Kisah terbentuknya gembok cinta ini kemudian menyebar ke perbagai kawasan. Munculah tempat-tempat dengan gembok cinta di sejumlah negara. Tidak saja di beberapa negara Eropa, di Asia pun juga punya tempat untuk memasang gembok cinta. Termasuk di Indonesia. Mau tahu di mana saja? Berikut 5 tempat gembok cinta yang mungkin akan membuatmu mengaitkan gembok cinta kalian saat hari Valentine.

Dermaga Hati Jakarta

Di Indonesia, ada Dermaga Hati di Beach Pool, Taman Impian Jaya Ancol. Papan kayu yang berbentuk simbol cinta itu dilengkapi rantai sepanjang dermaga. Di rantai inilah biasanya para kekasih menggantungkan gembok cinta mereka. Sejak dibuka pada Februari 2011, Dermaga Hati menjadi salah satu tempat favorit muda-mudi Jakarta dan sekitarnya untuk berpacaran.

5 tempat gembok cinta di Asia, di antaranya di Jakarta dan di Bandung. Di ibukota Jawa barat ini bahkan ada 4 lokasi.
Gembok Cinta di kompleks Balaikota Bandung, jawa Barat. Foto: Dok. rajatourbandung.com

Taman Balai Kota Bandung

Kompleks Balai Kota Bandung di Jalan Wastukencana, Bandung, Jawa Barat, juga punya menara cinta. Terbuat dari besi dan kawat ram dengan bentuk prisma berukuran 2,5 meter persegi dan tinggi dua meter. Di atasnya terdapat huruf “love” berwarna merah. Gembok cinta di Bandung ini berhiaskan lampu warna-warni pada malam hari.

Di monumen cinta ini, pasangan setelah menulis namanya di gembok akan  mengunci dan memasangnya, lalu membuang kuncinya ke kolam Patung Badak di depannya. Gembok cinta yang terpasang pada monumen yang diresmikan pada September 2014 ini memang belum banyak. Salah satunya adalah milik Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan istri. Selain di tempat ini, Bandung juga punya gembok cinta lain, yakni di Farmhouse Susu Lembang, Rabbit Town di Ciubuleuit; dan Dago Dream Park.

North Seoul Tower

North Seoul Tower di Korea Selatan atau  disebut juga dengan nama Seoul Tower atau Namsan Tower sudah dikenal sebagai tempat yang dianggap cocok untuk menggantungkan gembok cinta. Para pasangan kekasih yang merasa bosan dengan suasana perkotaan pergi ke tempat ini untuk menikmati suasana romantis. Di tempat ini biasanya pula mereka memasang gembok cinta sebagai sumpah tidak akan pernah berpisah. Saking popularnya, dibuat sebuah tanda yang bertuliskan: ”Sebuah Janji untuk Cinta Tiada Akhir”. Diperkirakan jumlahnya mencapai ribuan gembok cinta.

Huangshan

Salah satu tempat terkenal untuk menggantungkan gembok cinta adalah di Gunung Huang atau Huangshan, Anhui, Tiongkok. Tempat ini terkenal sebagai gunung paling romantis di Tiongkok karena pemandangannya nan indah. Nah, jembatan yang terdapat di gunung itulah yang menjadi sasarannya.

Suasana romantis tersebut didukung oleh  legenda lokal. Tentang  seorang wanita cantik yang jatuh cinta dengan pria miskin. Ayahnya tidak menyetujui keinginannya dan menjodohkan si wanita dengan pria kaya. Namun pada hari pernikahannya, si wanita cantik itu justru kabur bersama pria miskin ke Huangshan. Keduanya melompat dari gunung tersebut dengan harapan dapat hidup bersama selamanya.

Enoshima

Enoshima adalah pulau kecil di Jepang dan memang terkenal sebagai salah satu tempat romantis di negeri ini. Di puncak bukit Pulau Enoshima  ada menara observasi dan di dekatnya ada sebuah laut yang disebut lover cove atau Teluk Kekasih. Di sini ada sebuah bel bagi para kekasih yang dapat dibunyikan sebagai tanda keabadian cinta mereka. Di samping bel itu, terpasang pula sekumpulan gembok cinta yang bertuliskan nama-nama pasangan.

agendaIndonesia

*****

Roti Bagelen, Manis dan Kering 1 Tangkup

Roti bagelen adalah warmbollen yang dipanggang menjadi kering. Foto: shutterstock

Roti bagelen atau roti bundar yang biasa disebut bun seperti dipergunakan pada burger yang disajikan dalam kondisi kering. Rasanya manis dengan sedikit gurih karena di tengahnya tadinya ada olesan buttercream.

Roti Bagelen

Jenis penganan yang juga sering dijadikan oleh-oleh ini tersebar dari Solo hingga Bandung. Banyak toko makanan dan oleh-oleh yang membuatnya. Biasanya toko-toko ini juga menjual roti bundar dengan olesan buttercream yang bun-nya masih lembut, alias belum dipanggang. Orang menyebut penganan seperti itu sebagai roti semir.

Banyak yang menyukainya. Sebut saja jika wisatawan pergi ke Solo, Jawa Tengah, dan mampir ke toko Orion di Jalan Urip Sumiharjo, salah satu yang diburu adalah roti semir ini. Di Bandung yang terkenal dan melegenda adalah roti Abadi di Jalan Purnawarman di kawasan Tamansari.

Masih banyak nama lain yang menjajakan roti bagelen sebagai jajanan untuk oleh-oleh, namun ternyata istilah roti bagelen punya sejarah lain. Meski belum ada catatan sejarah yang resmi, orang mengenal roti bagelen dari daerah dengan nama sama, dari Bagelen.

Roti Bagelen omigayocom
Ciri khasnya adalah dikeringkan dengan dipanggang. Foto milik Omigayo.com

Bagelen adalah nama sebuah daerah atau wilayah yang berada dalam seputaran Purworejo, Jawa Tengah. Roti bagelen paling terkenal dari distrik tersebut datang dari sebuah toko roti bernama Begelen yang beroperasi di Kutoarjo. Kota kecil ini hanya berjarak sekitar 12 kilometer.

Dari bungkus roti yang dijual toko tersebut, disebutkan mereka sudah menghasilkan roti bagelen yang termasyhur sejak 1906. Mengingat tulisan di bungkusnya yang bertitel “Begelen Biscuit” dan gambar nyonyah berbusana ala barat lengkap dengan apron, bisa dipastikan bahwa makanan ini punya pengaruh Eropa yang cukup kuat.

Sejatinya, sebelum toko roti Bagelen menjual produk roti warmbollen keringnya di Kutoarjo, konon ada sebuah toko lain di Garut, Jawa Barat, yang berjualan makanan sejenis, yakni pabrik dan toko roti Kho Pek Goan. Ia disebut telah berjualan roti jenis ini pada 1885.

Berdasar catatan yang ada, bungkus roti milik Kho Pek Goan tampil lebih klasik dibandingkan yang asal Kutoarjo. Gambar perempuan cantik berkonde yang sedang tersenyum terpampang di situ. Begitupun, roti produk Kho Pek Goan tidak menampilkan kata bagelen.

Sayangnya tidak ada catatan yang menghubungkannya dengan roti bagelen di Purworejo atau Kutoarjo itu. Begitupun toko roti milik Kho Pek Goan juga tidak terlihat memiliki hubungan dengan produsen lain asal Jawa Barat, almarhum Ateng Adiwidjaja, pembuat bagelen dengan merek Abadi.

Menurut website resminya, bagelen Abadi sampai ke publik pertama kali pada 1947, dari pabriknya di Garut, Jawa Barat. Baru pada 1967, Abadi memindahkan operasinya ke Bandung. Dan baru pada 1969 berjualan di tokonya yang ada saat ini.

Rori Warmbollen Abadi Abadibagelen
Warmbollen produksi Abadi. Foto: Dok. Abadibagelen.com

Tak bisa dipungkiri bahwa bangsa Indonesia memang memiliki banyak sekali resep kuliner atau makanan yang merupakan pengaruh dari resep kuliner Belanda. Pada masa penjajahan, masyarakat Indonesia mulai mengenal roti warmbollen yang merupakan salah satu roti manis Belanda. Warmbollen ini merupakan roti basah yang memiliki isian buttercream.

Roti bagelen sejatinya memang dibuat dari roti manis yang diberi olesan buttercream, persis dengan roti semir, kemudian dikeringkan dengan cara dipanggang. Inilah cikal bakal terlahirnya bagelen, roti yang mirip warmbollen dengan olesan buttercream atau mentega, hanya saja teksturnya lebih garing.

Ada pula jenis roti bagelen yang diberi olesan margarin, yang ini biasanya menghasilkan rasa yang asin gurih serta lapisan rotinya akan terlihat lebih kuning. Sedangkan yang diolesi buttercream akan menghasilkan aroma yang lebih wangi dengan tekstur yang renyah.

Sejarah roti ini bisa dirunut ke produk ‘warmbollen’ yang kemudian “dikeringkan” dengan cara dipanggang kembali untuk mencegah jamuran. Semula, roti bagelen adalah cara masyarakat setempat mencegah roti agar tak terbuang akibat berjamur.

Betul, pada awalnya, salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mensiasati roti manis atau roti tawar yang akan berjamur adalah dengan cara mengubahnya menjadi roti kering atau sekarang disebut bagelen. Dan istilah ini seakan menjadi sebutan untuk roti kering.

Siapapun yang pertama membuat roti ini, yang pasti makanan ini sudah akrab dengan masyarakat. Dan unik. Wisatawan yang bepergian dari Jawa Tengah membawa roti bagelen, ketika dari Bandung juga membawa makanan sejenis.

agendaIndonesia

*****

Jalinan 3000 Ketak Nyurbaya Menyapa Jepang

Jalinan ketak kerajinan khas Lombok Barat

Jalinan 3000 ketak Nyurbaya, Lombok Barat, setiap tiga bulan dikirim ke negeri matahari terbit. Ketak adalah sejenis tanaman paku-pakuan yang lebih halus dari rotan. Di tangan-tangan trampil warga Nyurbaya hasilnya adalah produk-produk kerajinan yang modis.

Jalinan 3000 Ketak Nyurbaya

Sudah siang sebenarnya, tapi saya merasa masih menikmati suasana khas pagi. Maklum dalam perjalanan dari Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat, ke Lombok Barat terus-terusan diiringi rintik hujan. Saat memasuki daerah perbukitan, mata dibikin segar oleh pepohonan tinggi dan kehijauan di mana-mana.

Perjalanan tidak terlalu lama. Sekitar 30 menit sudah melewati Pura Lingsar dan 10 menit kemudian sudah tiba di Dusun Nyurbaya Gawah, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Saya tidak disambut oleh deretan toko-toko berisi hasil kerajinan ketak—sejenis tanaman paku-pakuan—yang menjadi ciri khas dusun ini. Tanaman ini dikenal dengan nama paku hata atau Lygodium circinnatum. Mirip dengan rotan, tapi ukurannya lebih kecil, sehingga lebih halus.

Yang ada malahan keranjang-keranjang bambu berisi rambutan dan manggis di pinggir jalan. Tampilannya masih segar karena baru dipetik dari pohon. Berada di lingkungan yang asri, dusun ini tak hanya memiliki penduduk dengan jari-jari yang menyulap ketak menjadi hiasan rumah, perabot, atau aksesori. Tapi juga sebagian warganya bekerja sebagai petani dan hasilnya berupa buah-buah yang menggoda selera seperti yang saya temukan.

Namun, buah-buahan bukan tujuan utama saya mengunjungi dusun ini. Kendaraan terus melaju hingga rodanya berhenti tepat di sebuah toko yang dipenuhi beragam produk dari ketak. Sebuah papan nama bertuliskan Mawar Art Shop di bagian depannya. Saya langsung bisa mengintip aneka wadah, tempat tisu, tatakan gelas, nampan, hingga aneka tas yang cantik. Dalam warna cokelat muda maupun cokelat tua. Ada yang murni berbahan ketak. Ada pula yang sudah dipadu dengan material lain seperti kayu dan kain. Hari itu Mawa—sang pemilik—tengah mengikuti pameran di luar negeri. Saya menemukan Suhartono—sang suami—yang menjadi mitra usahanya.

Tokonya lebih besar dibanding toko sebelahnya. Rupanya memang jumlah toko kerajinan ketak sudah menurun. Tinggal dua toko, yakni milik Mawar dan suaminya, serta di sebelahnya ada toko yang tak lain dari kakaknya Mawar. Suhartono menyebutkan sang istri memang benar-benar menangani masalah pemasaran dan produksi. Tak mengherankan bermunculan permintaan dari luar negeri. “Terutama Jepang, produknya biasanya tas-tas perempuan,” ujarnya. Pengiriman ke Negeri Sakura ini rutin dilakukan dengan total 3.000 buah per tiga bulan sekali. Beberapa kali memang Mawar, menurut Suhartono, mengikuti pameran di Jepang selain di Korea Selatan.  

Suhartono dan istrinya memang tidak mengerjakan sendiri produknya. Mereka menampung hasil karya dari para perajin yang ada di sekitar toko. Siang itu, saya hanya menemukan satu perajin setelah menyusuri perkampungan. Rupanya, saya datang tepat acara Mauludan digelar di rumah-rumah, sehingga sebagian warga bepergian untuk memenuhi undangan acara yang umumnya di daerah ini dilakukan di rumah-rumah.

Jalinan 3000 ketak Nyurbaya sebagai produk kerajinan dari Lombok telah mampu menembus pasa ekspor di Jepang.
Jalinan ketak, kerajinan dari Nyurbaya, Lombok Barat. Foto: Dok. shutterstock

Sang perajin mengatakan bahwa dirinya membuat produk tergantung pada jumlah ketak yang dimiliki. Ia memang membeli bahan mentah ketak dan kemudian menjalinnya. Kalau hanya bisa membeli dalam jumlah kecil, ia pun hanya membuat produk mini seperti tatakan gelas saja—tempat perhiasan mini. Bila membuat produk besar, ia pun bisa membuat nampan atau wadah lainnya. Harga jual pun beragam atau tergantung pada ukurannya. Yang termurah ialah tatakan gelas yang dibuat bulat atau segi empat berdiameter 10 sentimeter umumnya per buah Rp 6 ribu. Ukuran 30×40 sentimeter yang biasanya digunakan untuk alas piring dipatok pada kisaran Rp 50 ribu.

Dusun Nyurbaya bukan satu-satunya kampung perajin ketak di Pulau Lombok. Anda bisa juga menemukannya para perajin anyaman ketak di Desa Beleka, Praya, Lombok Tengah. Dari Mataram jaraknya sekitar 57 km. Hanya, para perajin di desa tersebut juga mengerjakan kerajinan rotan. Baik ketak maupun rotan memang menggunakan teknik yang sama, yakni anyaman. Produknya juga beragam, dari aneka wadah untuk kebutuhan rumah tangga hingga hiasan dan tas untuk kaum hawa.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Jember Jawa Timur, Kota 1.000 Oleh-oleh

Jember Jawa Timur, kota 1000 oleh-oleh di antaranya opak gulung

Jember Jawa Timur tidak cuma identik dengan suwar-suwir. ,Kota ini juga punya sederet alternatif buah tangan lain yang menarik untuk dibawa pulang.

Jember Jawa Timur

Jember menyandang segudang julukan. Mulai dari yang agak bercanda karena banyaknya polisi tidur di jalanan sehingga ada yang memberi nama Kota 1.000 Polisi Tidur, Kota Tapal Kuda, Kota 1.000 Bukit, Kota Tembakau, Kota Karnaval, hingga Kota Suwar-Suwir. Julukan itu amat mungkin berangkat dari sudut pandang si pemberi julukan.

Namun, jika saja si pemberi sebutan tersebut mengambil dari sudut pandang oleh-oleh, mungkin dia akan menjuluki kota di Jawa Timur ini sebagai Kota 1.000 Oleh-oleh. Ya, bisa saja begitu. Karena Jember punya beragam buah tangan yang bisa dibawa pulang para pelancong. Apa saja itu?

Suwar-suwir

Rasanya kurang afdal jika tidak memasukkan penganan ini sebagai oleh-oleh khas Jember. Namun bagi orang awam yang belum pernah makan penganan khas Jember ini pasti akan bertanya-tanya jenis makanan apa ini? Bentuknya kotak-kotak kecil memanjang menyerupai kotak balok mini. Warna pun beraneka ragam, dari hijau, cokelat, putih, hingga merah.

Oleh-oleh khas Jember ini sekilas mirip dodol, tapi strukturnya lebih padat. Hanya, saat digigit begitu lembut dan lumer di lidah. Rasanya legit, manis, dan bercampur kecut. Selintas seperti sedang mencicipi tape. Oleh-oleh ini dibuat dari bahan tape, gula, dan tepung. Kemudian, dijemur matahari supaya kering dan tahan lama. Penganan ini cocok dijadikan teman camilan minum teh. Harganya ialah Rp 15 -20 ribu per kotak.

Prima Rasa; Jalan H.O.S. Cokroaminoto No 6; Jember

Opak Gulung

Banyak nama yang diberikan untuk jajanan ringan tradisional Indonesia ini. Ada yang menamakannya opak gambir, kue semprong, atau opak gulung. Kendati berbeda, semuanya memiliki karakteristik yang sama, yaitu renyah saat dikunyah. Camilan ini dibuat dari tepung tapioka, gula, telur, wijen, dan santan. Semua bahan dibuat adonan, kemudian dipanggang di atas api.

Bentuk umum yang sering dijumpai di pasaran adalah digulung atau dilipat menjadi empat dan ada juga yang berbentuk kipas. Di Jember, pelengkap sajian yang biasanya hadir pada saat Lebaran itu akrab dinamai opak gulung. Per bungkus dikenai harga Rp 27 ribu.

Depot Jawa Timur; Jalan Gatot Subroto No 8; Jember

Tas Batik

Batik Jember mungkin tak setenar batik Solo atau batik Yogyakarta. Meski begitu, batik kota ini tak kalah menarik. Dikenal memiliki corak yang khas, yakni motif daun tembakau. Dipilih corak tersebut karena Jember merupakan salah satu kota penghasil tembakau terbesar di Indonesia.

Selain dijual dalam bentuk lembaran kain, batik Jember sudah banyak yang dijadikan tas atau kemeja pria. Kain batik Jember dipasarkan mulai Rp 135 ribu sampai Rp 1 juta. Sedangkan untuk kemeja pria dijual seharga Rp 187 ribu. Lain halnya dengan tas batik yang dijual dari harga Rp 85 ribu.

Toko Primadona; Jalan Trunojo No 137; Jember

Terasi Udang

Rasanya kurang lengkap jika kita mengunjungi Jember, tapi tidak membeli terasi. Maklum saja, kota ini memang dikenal sebagai salah satu kota penghasil terasi. Jenis penyedap masakan ini diolah di Puger—daerah penghasil udang terbaik di kota ini. Terasi dari daerah ini terkenal berkualitas tinggi dan beraroma harum. Bahkan konon sudah terkenal hingga ke Belanda.

Saking banyaknya merek dan ukuran yang dijual terkadang membuat kita justru bingung memilihnya. Apalagi semua produknya mengklaim berasal dari Puger. Karena itu, jangan segan bertanya kepada penjual atau meminta rekomendasi kepada teman yang sudah pernah mencicipinya. Namun yang pasti harganya mulai dari Rp 10 ribu.

Prima Rasa

Jalan H.O.S. Cokroaminoto No 6; Jember

Jember Jawa Timur menyandang berbagai julukan, mungkin salah satunya adalah kota 1000 oleh-oleh karena banyaknya buah tangan yang bisa dibawa dari kota ini.
Proll tape, cake tradisional di Jember, Jawa Timur, yang berbahan baku dari tape singkong. Foto: dok. shutterstock

Proll Tape

Pelancong yang ingin membawa oleh-oleh khas Jember mungkin bisa memilih proll tape sebagai alternatif. Kue yang terbuat dari tepung terigu, tape singkong, susu, mentega, dan telur ini rasanya hampir seperti cake, tapi aroma rasa tapenya sangat terasa. Dibubuhi tambahan yang  beragam, dari keju, kismis, hingga cokelat.

Proll tape dapat dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh yang berada di sepanjang Jalan Gajah Mada dan Jalan Trunojoyo. Biasanya dikemas dalam kardus dari berbagai merek, antara lain, Purnama Jati dan Anis. Harganya adalah Rp 19 ribu untuk ukuran kecil dan Rp 23 ribu untuk ukuran besar.

Sumber Madu; Jalan Gajah Mada No 103; Jember

agendaIndonesia/Andry T./Aditya H/TL

*****

Tradisi Pasola Sumba, di Antara 200 Makam Megalit

Tradisi pasola di Sumba Nusa Tenggara Timur merupakan ritual yang mengharapkan berkah yang Kuasa.

Tradisi pasola, sebuah tradisi perang berkuda dengan senjata tombak di padang rumput di tengah makam-makam megalitikum. Sebuah tradisi para ksatria dan penghormatan bagi kuda.

Tradisi Pasola Sumba

Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur punya satu tradisi yang unik, pasola. Ini merupakan tradisi tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak. Dulu yang digunakan adalah betul-betul lembing tajam. Kata pasola sendiri dicuplik dari kata sola atau hola yang berarti lembing kayu. Dalam konteks tradisi, pasola merupakan perang adat dengan dua kelompok ksatria berkuda saling berhadapan dengan menunggang kuda dan membawa lembing atau tombak.

Pasola digelar setahun sekali di sejumlah kampung di Pulau Sumba sebelah barat. Biasanya tradisi ini dilakukan di bulan Februari atau bulan Maret, tergantung desa atau kampung yang menyelenggarakan.

Kodi, Wanokaka, Wainyapu,dan Tosi adalah sejumlah kampung penyelenggaranya. Kampung-kampung tersebut bisa dicapai dengan berkendaraan darat dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Perjalanan hampir tiga jam, melalui jalan-jalan kecil berliku serta membelah sabana yang luas. Di beberapa perkampungan yang dilewati kita akan disuguhi pemandangan sejumlah kuburan batu megalit dan makam-makam yang menghitam.

Pasola diawali dengan adat nyale, yakni upacara rasa syukur masyarakat Sumba atas anugerah yang diperoleh yang ditandai dengan datangnya musim panen dan cacing laut yang melimpah di pinggir pantai. Cacing laut dalam bahasa Sumba disebut sebut sebagai nyale.

Adat tersebut dilaksanakan pada waktu purnama dan cacing-cacing laut keluar di tepi pantai. Para Rato, yakni pemuka suku, akan memprediksi saat nyale keluar pada pagi hari. Saat nyale pertama didapat oleh Rato, akan dibahas apakah ia gemuk, sehat, dan berwarna-warni, atau sebaliknya. Jika gemuk dan sehat, itu konon pertanda pada  tahun tersebut masyarakat akan mendapatkan kebaikan dan panen yang berhasil. Jika sebaliknya, kemungkiakan akan ada malapetaka.

Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan segenap warga dari kedua kelompok yang bertanding dan masyarakat umum. Belakangan, ketika adat ini menjadi atraksi, ia juga disaksikan wisatawan asing maupun lokal.

Di hamparan padang datar nan luas dan rumah adat beratap ilalang yang bagian tengahnya tinggi sekali itu dilingkari lebih dari 200 makam megalit berwarna kehitaman. Kemudian, para rato atau tetua adat melafalkan mantra meminta agar cuaca cerah.

Setiap kelompok terdiri atas lebih dari 100 pemuda bersenjatakan tombak yang dibuat dari kayu berujung tumpul. Walaupun berujung tumpul, permainan ini kadang dapat menjatuhkan. Dalam pasola, ke dua kelompok ksatria Sumba saling berhadapan, kemudian memacu kuda secara lincah sambil melesatkan lembing ke lawan. Para peserta juga mesti tangkas menghindari terjangan lembing yang dilempar lawan.

Dahulu, saat pasola dipergunakan lembing kayu bermata tajam. Namun kemudian penggunaan lembing kayu dilarang pemerintah kolonial Belanda karena dianggap dapat memicu gangguan ketertiban. Ritual perang berkuda “yang berdarah-darah” di Sumba sesungguhnya telah lama dilarang pemerintah. Kemudian, perang berkuda pun dipoles menjadi lebih ramah dan aman. Lembing bermata tajam diganti tombak kayu tumpul. Tetapi kuda tetap digunakan. Sebab, dalam ritual adat ini, kuda merupakan bagian yang penting.

Bahkan ada mantra yang dilafalkan para rato untuk memberkati kuda yang hendak berangkat perang. Kenapa kuda yang didoakan, bukan penunggangnya? Pararato menyebut, di Sumba kuda begitu dihormati. Saat perang, penunggang boleh saja tewas, tapi kuda harus tetap hidup. Sebab, kuda akan dikorbankan dalam sebuah ritual. Roh sang kuda disebutkan akan mengikuti sang pemiliknya, sehingga tetap menjadi tunggangannya di alam lain.

Tradisi pasola merupakan ritual tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak.
tradisi Pasola menjadi ritual budaya di awal tahun untuk meminta berkah bagi tanah Sumba.

Setelah doa dipanjatkan rato, masyarakat yang menonton mengeluarkan teriakan panjang tak henti-henti: “Nyale! Nyaleeee…”. Beberapa saat kemudian kuda nyale dibawa tiga orang rato keluar dari medan pertempuran. Ini merupakan tanda pertempuran dimulai. “Kuda nyale” merupakan kuda titisan dewi pesisiran yang bersemayam di dasar lautan itu. Kuda nyale juga merupakan kuda yang pertama memasuki arena pasola untuk memulai peperangan.

Kadang suasana agak menghangat, karena penonton saling lempar ejekan. Beberapa ksatria pasola yang sebelumnya panas karena minum peci, minuman khas Sumba, terkadang hanyut dalam suasana yang memanas. Juga lembing-lembing pun beterbangan di udara terik. Penonton pun sering ikut suasana bersorak dan mendesak ke tengah arena. Saat itulah, polisi memohon dengan sangat sopan agar penonton kembali ke area pinggiran arena. Tapi permintaan itu seperti lesap ditelan gemuruh penonton.

Meski suasana memanas, ada pantangan saat melempar lembing kayu. Pada saat kuda yang ditunggangi salah satu pihak bermanuver dan membelakangi lawan untuk kembali ke kubunya, adalah pantangan untuk dijadikan sasaran. Terlebih jika si ksatria di atas kuda tersebut telah kehabisan senjata.

Derap kaki kuda yang menggemuruh di tanah lapang, suara ringkikan kuda, dan teriakan garang penunggangnya menjadi musik alami yang mengiringi permainan ini. Pekikan para penonton perempuan yang menyemangati para peserta pasola, menambah suasana menjadi tegang dan menantang. Pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur dianggap berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panen.

Jika pandemi usai, catat di agendamu Februari atau Maret untuk berkunjung ke Sumba dan menikmati semangat pasola.

agendaIndonesia

*****