Ibu kota Kabupaten Manggarai Barat dengan suguhan senja berupa siluet pulau-pulau berbentuk kerucut dan dataran.
Sebagai tempat persinggahan sebelum menuju Pulau Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sesungguhnya memberi tawaran wisata yang tak kalah menarik. Dari objek wisata berupa bukit, pantai, gua, sampai kehidupan masyarakatnya. Penjelajahan kota ini membutuh waktu sekitar dua hari.
Labuan Bajo Hari Ke Dua
Pulau Kelor
Awak kapal mulai menarik tali jangkarnya. Biduk besar yang saya tumpangi akan berderu selama satu jam, meninggalkan daratan Labuan Bajo menuju Pulau Kelor. Pulau ini termasuk satu dari gugusan pulau kecil yang ada di sekitar kota di barat Nusa Tenggara Timur tersebut. Tak banyak orang tahu keindahannya lantaran jarang disinggahi turis. Padahal, ada dua lanskap yang menawan ditawarkan, yakni di laut dan di bukit. Pulau Kelor terdiri atas bukit berbentuk kukusan dengan bibir pantai yang cukup luas. Dari atas, tampak hamparan laut bersama gradasinya yang memukau. Di bibir pantai, orang bisasnorkelingmenyaksikan koral warna-warni menari.
Ciao Hostel & Resto
Kala matahari meninggi di pulau, ide yang paling baik adalah kembali ke darat untuk mengisi perut. Ada sebuah restoran dengan masakan western cukup ternama tak jauh dari Pelabuhan Labuan Bajo. Lokasinya berada di lantai dua Ciao Hostel. Pilihannya berupa spageti atau pasta lainnya yang dimasak dengan beragam cara. Harganya berkisar Rp 43-73 ribu. Selain itu, ada aneka jus. Di semua sudut Restoran Ciao ini, tamu bisa langsung menghadap ke laut lepas. Ada gugusan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Pelabuhan Labuan Bajo
Menjelang senja, beranjak ke Pelabuhan Labuan Bajo di Jalan Soekarno Hatta adalah ide menarik. Di sana, terlihat surya pulang ke peraduannya diiringi suara mesin kapal yang masih melaut. Pulau-pulau berbentuk kerucut dan dataran Flores yang tak ada putusnya mulai berubah warna jadi hitam, mengabarkan siluet. Pendar-pendar lampu mercusuar menyala, mengesankan alam pada malam yang romantis. Di situ pula, tergambar keaslian kehidupan masyarakat sekitar. Tak perlu mengeluarkan bujet untuk menikmati sore menjelang petang yang syahdu di sini.
La Cucina
Kembali malam, suasana Kampung Tengah sebagai sentra berkumpulnya para turis mulai menampakkan kehidupannya. Kafe-kafe berjajar di sepanjang jalan. Namun ada satu yang paling menarik lantaran interiornya banyak menggambarkan pernik bahari. Namanya La Cucina. Konsepnya fusi Italia-Nusantara. Warna yang diangkat dominan putih dan biru. Kafe ini dulu pernah disinggahi Valentino Rossi ketika ia menyambangi Labuan Bajo. Ada tulisan tangan pembalap kesohor itu di salah satu sudut ruangan disertai tanda tangannya. Harga per porsinya tak terlampau mahal mulai Rp 20 ribu. l
Ibu kota Kabupaten Manggarai Barat dengan suguhan senja berupa siluet pulau-pulau berbentuk kerucut dan dataran. Sebagai tempat persinggahan sebelum menuju Pulau Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sesungguhnya memberi tawaran wisata yang tak kalah menarik.
Dari objek wisata berupa bukit, pantai, gua, sampai kehidupan masyarakatnya. Penjelajahan kota ini membutuh waktu sekitar dua hari.
Labuan Bajo Hari Pertama
Tempat Pelelangan Ikan
Pagi-pagi betul, nelayan turun dari kapal membawa berember-ember ikan yang berisi dari kerapu tungsing, kerapu batik, kue, cumi-cumi, sampai tuna. Penjaja hasil laut memajang ikan-ikan besar nun segar yang dijual dengan harga murah. Tuna seberat 15 kilogram, misalnya, dilelang tak sampai Rp 400 ribu.
Menyelisik kehidupan asli masyarakat Labuan Bajo di tempat pelelangan ikan yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, tepatnya di dermaga nelayan Kampung Ujung, menjadi pemandangan budaya yang menarik. Di sini, mereka berbicara menggunakan bahasa Manggarai. Umumnya, mama-mama penjual ikan memakai masker kuning dari kunyit untuk menghindari udara laut yang membikin kulit perih. Bila bosan, pengunjung bisa mencoba jajanan pasar tradisional seperti kompyang yang cocok disantap bersama kopi. Mencapainya cukup berjalan kaki sekitar 15 menit dari sentra hotel di Kampung Tengah. Bisa juga naik ojek selama 10 menit dengan biaya Rp 5.000 dari Bandar Udara Komodo.
Goa Batu Cermin
Berkendara sekitar 20 menit dari Bandar Udara Komodo, gua besar dengan luas kurang lebih 19 hektare dengan ketinggian kira-kira 75 meter bisa dijumpai. Seorang arkeolog dari Belanda, yang juga berprofesi sebagai pastor, Theodore Verhoven, menemukan gua itu lantas menggalinya sebagai potensi pariwisata sejak 1951. Di bagian atap, terdapat sebuah lubang udara yang memantulkan cahaya. Verhoven kemudian menamakannya gua batu cermin karena dari dalam sana, cahaya yang masuk memberikan efek berkaca-kaca layaknya reflektor. Namun, untuk menuju tengah gua ini, perlu jalan membungkuk demi menerobos celah antara stalatit dan stalagmit dengan jalur yang licin. Menariknya, ada fosil penyu di salah satu sisi atap gua. Ada pula jangkrik gua (Rhaphidophora sp) serta kelelawar yang hidup menggelantung.
Bukit Sylvia
Dulunya, bukit ini tak punya nama. Hingga akhirnya salah satu operator hotel mendirikan resor di kawasan tersebut dengan nama Sylvia Resort. Jadilah orang-orang menamainya Bukit Sylvia. Tempat ini berlokasi tak terlalu jauh dari Bandar Udara Komodo kira-kira 20 menit menggunakan kendaraan. Namun jalannya cukup ekstrem. Buat menuju puncak, pengunjung pun harus trekking kurang lebih 15 menit. Sampai di atas, lanskap bukit-bukit Teletubbies tersaji, di antaranya Pulau Bajo dan Pulau Monyet. Menengok sedikit ke sisi matahari berpulang, tampak Pulau Sabolo dan Kukusan. Daratan Flores 360 derajat pun seakan mengelilingi tubuh. Tak jauh dari Bukit Sylvia, terdapat pantai yang terkenal dengan keindahan pasir putihnya, Wai Cicu.
Festival Komodo
Festival ini memang rutin diadakan tiap tahun dan umumnya digelar di bulan kedua atau ketiga. Pusatnya di kawasan Gua Batu Cermin, Labuan Bajo. Umumnya, perayaan ini diawali dengan parade patung komodo dengan titik awal Kampung Ujung. Selanjutnya, tiap malam, diadakan pentas tari tradisional, lagu-lagu daerah, dan penampilan grup musik di panggung. Masyarakat bisa menyaksikannya secara gratis. Kala Travelounge bertandang, pertunjukan yang bisa dinikmati pukul 19.00-22.00.
Bajo Paradise
Tak jauh dari Bukit Sylvia, sekitar 10 menit berkendara, kafe ini menjadi tempat yang wajib dikunjungi. Pemiliknya, Maxim, mengatakan kafe yang dibangun sejak 10 tahun lalu itu memang untuk mewadahi para pendatang menikmati sore atau malam ala pantai. Bajo Paradise langsung menghadap ke laut dengan pemandangan pulau-pulau berbentuk kukusan, kapal-kapal berlabuh, dan dermaga putih. Spot bar di ujung kafe menjadi lokasi favorit pelancong menikmati kesyahduan Labuan Bajo. Selain itu, setiap pukul 20.00, selalu ada sekelompok grup musik reggae menghibur pengunjung. Salah satu penyanyinya, Karon Harum, punya warna suara Rasta Bob Marley yang menonjolkan karakter khas Jamaika. Nuansa demikian enak dinikmati dengan meneguk minuman khas Flores, sopi, dan lain-lain.
Taman Margasatwa Ragunan atau kadang masih sering disebut sebagai Kebun Binatang Ragunan adalah salah satu jejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda.Taman Margasatwa Ragunan ini didirikan pada 19 September tahun 1864 di Batavia dengan nama “Planten en Dierentuin”.
Taman Margasatwa Ragunan
Ini adalah salah satu tempat wisata paling popular di DKI Jakarta. Setiap libur panjang, salah satunya saat libur Lebaran, taman ini dipenuhi warga masyarakat yang ingin sekadar piknik atau liburan sambil memberi edukasi pada anak-anak.
Tempat ini pertama kali di kelola oleh perhimpunan penyayang Flora dan Fauna Batavia atau Culture Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia. Taman ini awalnya berdiri di atas lahan seluas 10 hektare di Jalan Cikini Raya No 73 yang di hibahkan oleh Raden Saleh, seorang pelukis ternama di Indonesia.
Kebun Binatang Ragunan merupakan kebun binatang tertua dan terbesar di Indonesia. Meski berdiri pada 1864, kebun ini baru dibuka untuk umum pada 22 Juni1966.
Pengunjung memadati Taman Masgasatwa Ragunan. Foto: milik antara Foto
Sejarah kebun binatang ini, atau sekarang lebih dipopularkan sebagai taman margasatwa, mencerminkan bagaimana Indonesia pernah menjadi salah satu tujuan pariwisata paling populer di Asia pada masa kolonial Belanda.
Pada awalnya, taman ini didirikan sebagai tempat penelitian dan pemeliharaan hewan oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kebun binatang ini mulai menarik perhatian masyarakat dan menjadi tempat wisata yang populer. Kebun binatang ini berlokasi di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, dengan luas sekitar 147 hektar.
Selain sebagai tempat wisata, Kebun Binatang Ragunan juga berfungsi sebagai pusat penelitian dan konservasi hewan. Beberapa program konservasi yang dilakukan di kebun binatang ini meliputi penyelamatan satwa-satwa yang terancam punah, serta peningkatan populasi hewan-hewan tertentu. Kebun Binatang Ragunan juga aktif melakukan kegiatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk kegiatan pelatihan dan pengenalan satwa.
Setelah Indonesia merdeka, pada 1949 namanya diubah menjadi Kebun Binatang Cikini. Begitupun, dengan perkembangan Jakarta, Cikini kemudian juga menjadi tidak cocok lagi untuk peragaan satwa.
Pada 1964. Pada masa Gubernur DKI Jakarta dijabat Dr. Soemarno dibentuk Badan Persiapan Pelaksanaan Pembangunan Kebun Binatang untuk memindahkan dari Jl. Cikini Raya Nomor 73 ke kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Pemerintah DKI Jakarta menghibahkan lahan seluas 30 hektare di Ragunan, Pasar Minggu. Jaraknya kira-kira 20 kilomter dari pusat kota. Kepindahan dari Kebun Binatang Cikini ke Ragunan membawa lebih dari 450 ekor satwa yang merupakan sisa koleksi terakhir dari Kebun Binatang Cikini.
Saat ini Taman Margasatwa Ragunan luasnya sudah mencapai 147 hektare. Koleksinya juga semakin lengkap, ada sekitar 295 spesies dengan jumlah satwa mencapai sekitar empat ribu.
Terdapat berbagai jenis hewan yang dapat ditemukan di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, seperti gajah, harimau, singa, zebra, jerapah, kuda nil, beruang, monyet, burung-burung, reptil, dan masih banyak lagi. Banyak yang termasuk satwa langka, seperti Orang utan.
Bahkan sejak 1998 dibangun Pusat Primata Schmutzer. Ini adalah salah satu pusat primata berkelas internasional yang mempunyai peranan dalam konservasi primata Indonesia dan sekaligus sebagai Jendela Informasi Primata.
Pusat Primata Schmutzer di Ragunan. Foto: shutterstock
Berbagai jenis primata Indonesia terwakili di sini dengan beberapa primata eksotisnya, antara lain orang utan, gorilla, simpanse, dan jenis-jenis primata langka dari dalam dan luar negeri lainnya. Kompleks seluas 13 hektare ini dirancang dengan konsep open zoo di mana satwa yang tinggal di dalamnya seolah-olah berada di habitat aslinya.
Memasuki area pusat Primata Schmutzer pengunjun akan melihat sebuah enklosur yang tertata secara menarik dan artistik. Koleksi satwa yang menjadi andalan adalah dari jenis primata dengan icon orangutan dan gorilla. Pintu gerbangnya berbentuk setengah lingkaran menyerupai kubah raksasa dengan tangga menuju ke jembatan yang merupakan salah satu cara melihat gorilla dataran rendah dari atas jembatan tersebut.
Tiket masuk ke Pusat Primata berbeda dengan tiket masuk Taman Masrgasatwa Ragunan Jakarta. Yang terakhir dapat dibeli di loket yang terdapat di pintu masuk dengan harga yang terjangkau. Untuk informasi lebih lanjut, bisa mengunjungi situs resmi atau menghubungi pihak kebun binatang.
Taman Maragsatwa Ragunan Jakarta menyediakan berbagai kegiatan edukatif, seperti pengenalan jenis-jenis hewan, penjelasan tentang kehidupan satwa, dan kegiatan berkunjung untuk sekolah atau kelompok tertentu.
Kebun Binatang Ragunan Jakarta memiliki koleksi hewan yang sangat lengkap dan merupakan kebun binatang terbesar di Indonesia. Selain itu, kebun binatang ini juga aktif mengadakan kegiatan edukatif dan konservasi. Ya, Kebun Binatang Ragunan Jakarta menyediakan layanan pemandu wisata yang dapat membantu pengunjung untuk mengetahui lebih banyak tentang hewan-hewan yang ada di dalam kebun binatang.
Waktu yang tepat untuk mengunjungi Kebun Binatang Ragunan Jakarta adalah di pagi hari, saat cuaca masih sejuk dan hewan-hewan sedang aktif bergerak.
Hingga saat ini, Kebun Binatang Ragunan masih menjadi salah satu objek wisata yang populer di Jakarta. Kebun binatang ini menjadi tujuan utama bagi wisatawan yang ingin melihat berbagai jenis hewan, dan juga menjadi tempat belajar bagi anak-anak dan pelajar.
Dengan sejarah yang panjang dan prestasi yang gemilang, Kebun Binatang Ragunan menjadi bagian penting dari warisan budaya Jakarta dan Indonesia secara keseluruhan.
Tidak ada batasan umur atau ketentuan khusus saat berkunjung ke Kebun Binatang Ragunan Jakarta. Namun, pengunjung diharapkan untuk mengikuti aturan yang ada dan tidak merusak lingkungan atau mengganggu hewan-hewan yang ada di dalam kebun binatang.
Dari Sabang hingga Takengon sesungguhnya jarak dan ruang yang cukup jauh. Begitu banyak hal bisa dilakukan untuk menikmati negeri Serambi Mekah ini, tak adil rasanya jika harus “dikunyah” cepat-cepat.
Dari Sabang Hingga Takengon
Apa boleh buat kadang untuk pekerja, waktu adalah barang yang sangat mewah. Maka ketika cuma memiliki waktu lima hari dan ingin merambah begitu banyak tempat di Nangroe Aceh Darusalam, pilihan perjalanan dari Sabang hingga ke Takengon ini bisa dicoba diagendakan. Jika terasa berat dan melelahkan, bisa dipilih yang lebih tenang menikmatinya.
Hari Pertama: Tiba di Banda Aceh
Sudah pasti mengelilingi kota Banda Aceh setelah menapakkan kaki di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda adalah agenda yang masuk akal. Bagi teman-teman muslim, jika datang saat sekitar waktu sholat, rasanya wajib mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman yang terletak di Jalan Moh. Jam.
Bahkan jika tak pas waktu sholat pun, rasanya mengunjungi masjid ini wajib. Ini adalah bangunan yang sangat ikonik dan bersejarah. Terlebih jika mengingat tragedi tsunami 2004 lalu, di mana bangunan masjid ini kokoh berdiri meski diterjang bah.
Dari Masjid Baiturrahman, sempatkan mengunjungi Museum Tsunami di tengah kota, menaiki kapal PLTD apung di Punge Blang Cut. Kapal itu merupakan pengingat akan kuatnya gelombang air laut yang menghantam Aceh pada 2004.
Namun keliling kota perlu dipersingkat. Ada tempat yang juga layak dikunjungi, Kilometer 0 di Pulau Weh.Jadi, setelah mengelilingi Banda Aceh, pengunjung bisa menuju Pelabuhan Ulee Lheu. Desau angin dan empasan ombak seakan memanggil untuk menyeberang.
Tugu Kilometer 0 di Pulau Weh, Aceh, . Foto: Dok. shutterstock
Kapal membuang jangkar sore hari di Pelabuhan Balohan, setelah menyeberang dengan feri dari Ulee Lheu. Dermaga Pulau Weh rasanya cukup sesak oleh pedagang. Jika tak terlalu terlalu sore, segeralah menuju ke bukit yang berjarak 29 kilometer dan bisa dicapai sekitar 1,5 jam berkendara. Di sanalah Tugu 0 Kilometer berada.
Hari ke dua: Keliling Sabang, Kembali ke Banda Aceh
Pagi hari, cobalah berkeliling dari pantai ke pantai, berperahu di Danau Aneuklaot yang sejuk dan sepi, kemudian duduk minum kopi di depan Gedung Kesenian Kota Sabang. Jalanan di Kota Sabang sangat sejuk. Orang di sini menaruh hormat pada pohon. Saat membuat jalan pun pepohonan tidak ditebang. Tak mengherankan, di tengah jalan kota, ada pohon menghunjam agak ke tengah jalan. Sore, kembali menyebarang ke Banda Aceh. Waktu memang mepet untuk menikmati Aceh dari Sabang hingga Takengon.
Hari Ke Tiga: Mencari Kopi ke Takengon
Dari Banda Aceh terentang jarak 400 kilometer menuju dataran tinggi Gayo—daerah pusat kopi arabika di provinsi ini. Tiga kabupaten di Tanah Gayo dipenuhi tumbuhan penghasil kafein itu, salah satunya Takengon. Ini adalah bagian ke dua perjalanan dari Sabang hingga Takengon.
Kota kecil peninggalan pemerintah kolonial yang dibangun abad ke-20 ini terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Dataran tinggi di tengah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam itu merupakan salah satu penyuplai kopi arabika terbesar dunia.
Perlu tujuh jam menuju daerah ini. Umumnya pengunjung sampai Takengon sudah sore. Atau, jika berangkat skitar pukul 21.00, saat subuh mini bus dari Banda Aceh tiba di sana setelah membelah hutan dan memanjati lika-liku jalan yang mulus menuju pedalaman.
Di Takengon, pengunjung bisa dengan mudah menjangkau sentra perkebunan kopi. Hanya perlu waktu 30 menit berkendara dari pusat kota. Untuk menikmati secangkir kopi arabika, silakan mampir di warung-warung yang tersebar di kota ini.
Bila ingin cita rasa berbeda, Anda dapat mencicipi kopi khas penduduk Gayo: kopi robusta dataran tinggi. Sembari menyeruput kopi, Anda bisa menikmati embusan angin yang dingin.
Hari Ke Empat: Kopi Gayo Dan Danau Laut Tawar
Di pagi dan senja, kabut tipis turun di sekeliling bukit-bukit hijau perkebunan kopi. Ada sebagian kebun yang agak tandus berwarna abu-abu kecokelatan. Perpaduan warna cerah dan suram itu tampak menawan jika dipandang dari kejauhan.
Kawasan di sekitar Danau Laut Tawar, Aceh Tengah. Foto: Dok. Unsplash
Gayo punya tradisi berkuda. Penghormatan atas kuda masih terasa di sini. Kenangan akan kuda yang dipacu mengingatkan orang-orang pada sejarah. Kuda adalah mesin perang mereka yang tangkas, di samping sebagai pengangkut karung-karung kopi.
Bila tertarik berkuda, pemilik kuda akan mengantar berkeliling memasuki perkebunan kopi. Bayaran untuk naik kuda ini terserah para wisatawan. Jika ingin menonton pacuan kuda, datanglah pada bulan tertentu, misalnya Agustus. Pada Mei setiap tahun, pemerintah mengadakan Festival Danau Laut Tawar dengan berbagai perlombaan.
Danau ini dikelilingi gundukan tanah yang ditanami kopi. Ke mana mata diarahkan, pohon-pohon kopilah yang tampak. Hanya sebagian kecil dataran yang ditanami padi. Pengunjung bisa juga mengelilingi Danau Laut Tawar dengan menyewa perahu sembari, lagi-lagi, menikmati kopi. Pemandangan hijau terhampar berkelok-kelok di sekeliling.
Menyeduh kopi. Foto: Dok. unsplash
Hari Ke Lima: Kembali ke Banda Aceh dan Jakarta
Hari ini saatnya kembali ke Banda Aceh dengan menumpang bus.Jika tiba cepat dan masih ada waktu. Di Banda, sebelum terbang kembali ke Jakarta, sempatkan membeli oleh-oleh khas Aceh. Kalau kopi, tentu saja sudah dibawa dari Gayo.
Nikmati pulau Taman-taman kota yang sejuk, jalanan, dan perumahan telah dibuat teratur. Warung-warung kopi mengeluarkan aroma sedap yang memanjakan hidung. Aroma martabak daging dan mi Aceh, dengan bawang putih plus minyak dan merica, berebut masuk ke hidung saya. Aah… lima hari sungguh waktu yang kejam buat menikmati Aceh dari Sabang hingga Takengon.
Kampung adat Jawa Barat, seperti juga sejumlah kampung adat di banyak daerah di Indonesia makin hari keberadaannya makin terpinggirkan. Perkembangan peradaban mendorong bergesernya fungsi kebutuhan primer. Bahan makanan menjadi komoditas dan rumah menjadi instrumen investasi. Di tengah laju modernitas, sejumlah daerah di Jawa Barat masih mempertahankan pola kehidupan tradisional.
Kampung Adat Jawa Barat, Warisan dan Zaman
Masyarakat adat ini teguh memegang warisan leluhur untuk senantiasa hidup selaras dengan alam. Masing-masing kampung adat memiliki nilai yang berbeda satu sama lain. Ada yang sama sekali menolak alat elektronik, tetapi ada pula yang terbuka terhadap kemajuan teknologi. Ada yang tinggal secara permanen dan ada yang berpindah-pindah tempat. Meski demikian, kampung adat Jawa Barat lekat dengan pola dan ciri masyarakat agraris.
Sebagian besar menggantungkan mata pencaharian sebagai petani. Mereka menjaga kelestarian lingkungannya dengan menghindari produk-produk sintetis, seperti pupuk, plastik, obat, dan sabun dari bahan kimia. Dengan keunikan karakteristik ini, kampung adat justru menjadi magnet bagi orang-orang yang jenuh dengan aktivitas serba instan dan udara kota yang polutif.
Maka, melambatlah sejenak dan rasakan ketenteraman hidup di tengah alam yang masih murni. Masyarakat adat akan dengan senang hati menyambut wisatawan yang ingin bersilaturahmi dan mengenal budaya setempat. Budaya Kampung adat Jawa Barat.
KAMPUNG NAGA
Naga pada nama kampung ini bukan melambangkan hewan mitos, melainkan berasal dari bahasa Sunda nagawir, yang berarti dikelilingi tebing atau jurang (gawir). Masyarakat Desa Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya tersebut masih memegang erat adat istiadat dari leluhurnya. Mereka hidup dalam kesahajaan, tanpa alat elektronik dan kendaraan. Inilah satu dari 6 adat Jawa Barat.
Seluruh bangunan di kampung ini pun sama persis, yakni rumah panggung yang terbuat dari kayu. Atapnya berupa daun nipah, ijuk, atau alang-alang. Rumah di sini memiliki dua pintu yang sejajar. Pasalnya, masyarakat meyakini adanya pintu belakang akan membuat rezeki yang masuk dari pintu depan bisa keluar lewat belakang.
Jumlah rumah di Kampung Naga juga tidak pernah berubah, yakni 112 unit. Jika ada penduduk yang ingin membangun rumah baru, harus berada di luar kampung. Mereka kemudian akan menyandang predikat warga adat luar.
Jika ingin menginap, dapat membuat janji terlebih dulu dengan pemandu setempat. Namun pelancong hanya boleh menginap maksimal satu hari. Jangan lupa pelajari aturan tinggal di sini. Salah satunya, tidak boleh memasuki kawasan hutan larangan, apalagi memetik buahnya. Ini bukan karena alasan mistis, melainkan agar alamnya tetap lestari. Bahkan penduduk yang membutuhkan kayu bakar pun hanya boleh mengambil ranting yang sudah jatuh di sungai atau tanah sekitar hutan.
Berkunjung ke sini belum lengkap jika tidak mencoba sajian kulinernya. Ada pipis, kue singkong yang diisi gula. Menyantap makanan ini lebih nikmat jika ditemani bajigur yang hangat dan manis. Selain kuliner, sempatkan pula membeli kerajinan tangan dari penduduk Kampung Naga.
KAMPUNG ADAT CIPTAGELAR
Pagi menjelang, tetapi suhu di Kampung Ciptagelar tak beranjak dari 20 derajat celsius. Pasalnya, kampung adat Jawa Barat ini berada pada ketinggian 1.050 meter di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan dikelilingi banyak gunung lain, seperti Gunung Kendeng, Karancang, dan Surandil.
Ciptagelar juga kerap disebut sebuah kasepuhan karena mengusung model kepemimpinan adat dari orang tua atau sesepuh. Kasepuhan ini telah beberapa kali memindahkan pusat pemerintahan desa yang disebut Kampung Gede. Penduduknya memang masih menjalankan tradisi berpindah tempat berdasarkan perintah leluhur (wangsit). Saat ini, Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar berada di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
Kampung Ciptagelar di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Karena itulah rumah warga berupa bangunan tidak permanen. Rangkanya terbuat dari kayu dengan anyaman bambu dan beratapkan pelepah aren yang dikeringkan. Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani. Sementara sisanya berdagang, beternak, menjadi buruh, dan pegawai.
Setahun sekali, mereka menanam padi secara serentak dengan memperhatikangejalaastronomi. Karena masih terikat pada tradisi, petani tidak menggunakan pupuk kimia, pestisida, traktor, dan mesin giling. Semua hasil panen tidak boleh dijual, melainkan hanya dikonsumsi sendiri. Ini membuatKasepuhan Ciptagelar mampu berswasembada pangan hingga beberapa tahun kedepan.
Jika berminat merasakan tinggal di tengah hamparan sawah dan sungai yang jernih, wisatawan bisa menginap di permukiman warga. Empunya rumah tidak mematok tarif dan menyerahkannya pada tamu yang menginap. Warga Ciptagelar juga terbuka pada kemajuan teknologi. Sudah ada listrik, sehingga wisatawan tak perlu ragu untuk berfoto atau mengecas ponsel.
KAMPUNG ADAT CIRENDEU
Kampung Cirendeu berada di kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Berbeda dari kampung adat lainnya, tanaman pertaniannya bukan padi, melainkan singkong. Maka, masyarakat tidak mengonsumsi beras sebagai makanan pokok, tetapirasi, singkatan dari beras singkong.
Demi kelestarian alam, penduduk membagi hutan menjadi tiga bagian, yaitu leuweung larangan (hutan larangan), leuweung tutupan(hutan reboisasi), dan leuweung baladahan (hutan pertanian). Hutan larangan tidak boleh ditebang agar ketersediaan air tetap terjaga. Pohon hutan reboisasi boleh ditebang untuk pembangunan tetapi harus ditanami lagi. Sementara hutan pertanian boleh dibuka untuk bercocok tanam ketela, jagung, atau umbi-umbian.
Salah satuprinsip hidupnya adalah “Ngindungka waktu, mibapa ka jaman.” Artinya, senantiasa melestarikan cara, ciri, dan keyakinan masing-masing, tetapi tetap beradaptasi pada perubahan zaman. Misalnya, mengikuti perkembangan teknologi berupa listrik, televisi, atau ponsel.
Jika berkunjung pada malam tahun baru Saka Sunda yang biasanya jatuh pada Oktober,wisatawan akan berkesempatan menyaksikan Upacara Syura-an yang dirayakan sebagai rasa syukur atas rahmat Tuhan. Para pemuka adat, warga, dan pemerintah kota akan datang dan turut meramaikan acara adat tersebut.
KAMPUNG ADAT KUTA
Kerap dijuluki sebagai kampung seribu pantangan, kampung adat Kuta memang memiliki banyak peraturan. Tujuannya, tak lain untuk menjaga agar alam sekitar dan tradisi leluhur tetap lestari. Salah satunya adalah pantangan membangun rumah dari tembok dan genting. Semuanya harus terbuat dari bambu atau kayu, dengan atap rumbia atau ijuk. Masyarakat meyakini jika ada warga yang membangun rumah dari tembok, seluruh kampung akan mendapat musibah.
Warga juga dilarang membuat kamar mandi atau jamban di masing-masing rumah. Sebagai gantinya, mereka menggunakan kamar mandi umum yang biasanya menyatu dengan kolam ikan. Bentuknya berupa bilik bambu setengah terbuka. Sementara airnya berasal dari mata air yang mengalir melalui pancuran. Ketiadaan tangki septik diyakini dapat mencegah pertumbuhan bakteri dan nyamuk penular demam berdarah di sekitar rumah.
Selain itu, warga tidak boleh menguburkan jenazah di kawasan kampung agar air tanah tidak tercemar. Sumur bor pun tidak boleh dibangun karena tanah di di Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis ini tergolong labil.
Pantangan juga hadir di beberapa situs bersejarah bekas peninggalan Kerajaan Galuh. Ada hutan keramat Leuweung Gede, Gunung Barang yang diyakini sebagai tempat penyimpanan barang kerajaan, dan tempat pemandian Ciasihan.
Di sini, masyarakat sering mementaskan kesenian calung, reog, sandiwara, tagoni, jaipongan, kasidah, ronggeng, dan dangdut. Berwisata ke Kampung Kuta akan menambah pengalaman sekaligus mengasah kearifan pemikiran sesuai tradisi nenek moyang.
KAMPUNG ADAT PULO
Di dalam kompleks Candi Cangkuang, terdapat perkampungan adat yang didirikan oleh Embah Dalem Arif Muhammad pada abad ke-17. Ia merupakan seorang pejuang Mataram yang kemudian singgah dan menyebarkan agama Islam di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.
Ia memiliki tujuh anak, yakni enam perempuan dan satu laki-laki. Karenanya, terdapat enam rumah dan satu musala di Kampung Pulo. Dari masa ke masa, tidak boleh ada penambahan rumah, harus tetap berjumlah tujuh pokok bangunan. Anak yang menikah harus meninggalkan kampung. Baru kalau orang tuanya meninggal, keluarga anak perempuan boleh masuk kembali untuk menggantikannya.
Masyarakat adat Kampung Pulo juga tidak boleh beternak binatang besar berkaki empat, seperti kambing, sapi, atau kerbau. Kehadiran hewan besar tersebut dikhawatirkan dapat merusak sawah, kebun, dan makam yang tersebar di berbagai area kampung.
Selain pola hidup sehari-hari, penduduk Kampung Pulo juga masih melestarikan tradisi Hindu. Misalnya dengan memandikan benda pusaka, syukuran, serta ritual lainnya. Terkait kejadian-kejadian pada masa silam, warga tidak boleh memukul gong besar dan dilarang berziarah pada hari Rabu.
Berkunjung ke kawasan ini akan memberikan beragam pengalaman sekaligus, dari wisata budaya, sejarah, hingga pesona magis Kampung Pulo yang seolah-olah terisolasi oleh Situ Cangkuang.
KAMPUNG ADAT URUG
Menurut penuturan masyarakat setempat, pernah ada penelitian mengenai kontruksi bangunan Kampung Urug. Hasilnya, terdapat kesamaan sambungan kayu dengan bangunan peninggalan Kerajaan Pajajaran di Cirebon. Karenanya, warga adat meyakini mereka masih memiliki garis keturunan Prabu Siliwangi.
Sama dengan kampung adat lain, rumah di Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor ini juga terbuat dari bambu dan kayu. Mayoritas penduduknya bertani padi. Hasil panennya harus disimpan di leuit(lumbung) dan tak boleh diambil sembarangan.
Setiap tahun, masyarakat rutin mengadakan seren taun, yakni ritual adat sebagai wujud syukur sekaligus doa untuk kemakmuran di bidang pertanian. Selain seren taun, terdapat salametan ngabuli untuk memperingati tutup tahun dan salametan Mauluduntuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW).
Berbagai masalah adat dan sosial diselesaikan melalu musyawarah di bangunan bernama Gedong Ageung. Bangunan ini juga sering kali berfungsi sebagai tempat menerima tamu. Di depan Gedong Ageung terdapat rumah panggung yang tinggi bernama Gedong Luhur atau Gedong Paniisan. Tempat ini digunakan sebagai tempat bersemedi tetua adat yang disebut Abah Kolot.
Kayak arus deras tidak sepopular olah raga air lainnya. Kegiatan ini bahkan tidak sepopuler arung jeram di sungai. Medan yang cukup sulit dan risiko tinggi, seperti tenggelam, mungkin menyebabkan olahraga ini tidak punya banyak penggemar.
Kayak Arus Deras
Arus Sungai Cipunagara, , Jawa Barat, mengalir sangat deras. Seakan tak rela dilintasi benda apa pun. Siapa saja yang melintas niscaya diempas kuat-kuat. Bagi kayaker, arus yang memicu adrenalin ini justru menggoda untuk dinikmati. Berbekal teknik dan kegigihan, seorang kayaker mencoba melintas. Yup, bukan main, ia berhasil melewati derasnya arus sungai dengan tingkat jeram tinggi tersebut. Luar biasa!
Sejarah kayak bermula dari kawasan Siberia, orang-orang yang tinggal di sana membuat perahu dari kerangka kayu terbuka yang diikat bersama-sama dengan tali atau tali tanaman, dan ditutup dengan kulit anjing laut yang dijahit menyatu. Cikal bakal kayak ini disebut dengan umiak. Perahu ini terus dipakai oleh orang-orang yang menetap di Kutub Utara yang kemudian dikenal sebagai orang Inuit.
Untuk masyarakat Inuit, kayak telah menjadi cara hidup sekaligus alat transportasi dan berburu selama lebih dari 2000 tahun. Mereka membangun kayak dengan bekal pengetahuan yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Kemampuan mengendarai kayak menjadi salah satu ukuran kesuksesan individu dan bagaimana mereka terhubung dengan komunitasnya.
Tak jelas kapan kayak sebagai sebuah cabang kegiatan luar ruang masuk di Indonesia. Namun, mendayung adalah salah satu kegiatan masyarakat di banyak daerah yang memiliki aliran sungai yang kemudian menjadi jalur transportasi. Yang jelas pula, banyak tempat di Indonesia yang memiliki spot untuk berkayak. Termasuk untuk kayak arus deras seperti di Sungai Cipunagara tadi.
Kayak menjadi kegiatan air yang menyenangkan, terutama di Indonesia. Foto: Dok. shutterstock
Atas dasar itulah Muhammad Ihsan, Tedy Bugiana, dan Ira Shintia, dibantu Toto Triwidarto, Puji Jaya, Agus Hermansyah, serta Sigit Setianto dari Sekolah Kayak Tirtaseta, mendirikan Bandung Kayak Community (BKC). “Keberadaan BKC ini sebenarnya hanya untuk mencoba menghimpun penggemar dan peminat serta berupaya memasyarakatkan olahraga kayak arus deras,” kata kang Ihsan suatu kali.
Komunitas yang didirikan Januari 2012 itu biasanya memanfaatkan liburan akhir pekan dengan mendatangi sungai-sungai yang berada di sekitar Bandung. Di antaranya Sungai Cipunagara dan Ciherang di Subang, Sungai Cimanuk di Garut, dan Sungai Ciwulan di Tasikmalaya.
Jika menyambangi lokasi yang relatif jauh dari Bandung, para anggota komunitas biasanya berkoordinasi terlebih dulu untuk mendiskusikan segala hal yang berhubungan dengan pengarungan, transportasi, dan urusan teknis lainnya. Sedangkan untuk latihan rutin, BKC melakukannya di Sungai Cikapundung, yang masih berada di Kota Bandung.
Hingga saat ini komunitas yang bermarkas di Jalan Dago Hegar, Bandung, itu memiliki puluhan anggota. Yang paling muda berusia 8 tahun, sementara yang paling tua 50-an tahun. Profesi anggotanya beragam. Dari pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, mahasiswa, hingga pekerja profesional. Ada juga perempuan.
Kayak cocok dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk untuk perempuan. Foto: Dok. shutterstock
Untuk bergabung dalam komunitas ini, tentu ada persyaratannya. Yang pasti, tidak wajib memiliki peralatan kayak sendiri. Maklum, peralatan kayak belum diproduksi di dalam negeri. BKC biasanya menyediakan peralatan kayak yang dimiliki anggota lainnya untuk digunakan bersama-sama saat latihan dan pengarungan. Sejatinya siapa pun boleh bergabung dengan BKC—sebagai organisasi berbasis komunitas. Begitupun, calon anggota diharapkan pernah mengikuti kursus kayak bersertifikat atau alumnus sekolah kayak.
Namun bagi calon anggota yang belum pernah kursus kayak, tak usah khawatir. BKC juga mendirikan sekolah khusus kayak. Sekolah Kayak BKC namanya. Di sekolah yang didirikan lewat kerja sama dengan Sekolah Kayak Tirtaseta dari Purbalingga ini, ada pelajaran soal teknik kayak, seperti membalikkan kayak sendiri ketika terbalik (rolling), menyelamatkan diri (self-rescue), dan mendayung maju-mundur (eddies-in and eddies-out).
Pelatihan kayak tingkat dasar dilakukan selama tiga hari dan terdiri atas beberapa sesi. Sesi pertama, biasanya diadakan di kolam renang untuk membiasakan diri dengan air.
Namun sesi-sesi berikutnya dilakukan di sungai. Dalam pelatihan tersebut, para peserta diharapkan menguasai setidaknya 95 persen kurikulum pelatihan. Untuk dapat mengikuti pelatihan tersebut, setiap peserta hanya dikenai biaya, tentu saja. Khusus pelatihan di sungai, para peserta akan dibawa ke Sungai Cipunagara, Subang.
Hingga saat ini Sekolah Kayak BKC sudah menghasilkan sejumlah angkatan. Mayoritas lulusannya langsung bergabung dengan BKC. Tak mengherankan jika BKC selalu diidentikkan dengan Sekolah Kayak BKC. Padahal, siapa pun bisa menjadi anggota BKC. “Cuma kebetulan, BKC mayoritas diisi lulusan dari Sekolah Kayak BKC.”
Di usianya yang relatif masih muda, BKC terus menata organisasi. “Insya Allah, ke depan akan disusun lebih baik lagi. Mengingat jumlah anggota yang sudah semakin banyak,” ujar Ihsan. Yang terpenting, ia menambahkan, olahraga kayak arus deras mendapat tempat di hati warga Bandung, sehingga bisa dikembangkan bersama-sama. Ayo, dayung terus!
2 hari menyusuri Badung sampai Tabanan wisatawan bisa menikmati sejumlah pantai dan spot wisata. Kuta dan Mengwi—berlokasi di Kabupaten Badung, dan Kediri di Kabupaten Tabanan—disatukan oleh garis pantai yang merentang. Kedekatan secara geografis ini membikin tipikal pantai-pantai di sana memiliki kemiripan, seperti konturnya yang landai dan ruang “bermain pasir” yang cukup luas. Cukup dengan berkendara dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai kira-kira 30 menit. Bila ingin menyisir pantai, lebih baik kala pagi, sebelum matahari tampil terlalu terik.
2 Hari Menyusuri Badung Sampai Tabanan: Hari Ke-2
Memulai hari di Bali tak melulu harus dengan bubur kuning atau nasi jinggo. Ada juga lak-lak—jajanan khas Singaraja. Bentuknya serupa dengan serabi, hanya berukuran lebih kecil. Di atasnya dibubuhi parutan kelapa dan gula merah cair. Saat menyusuri Krobokan, tepatnya di Jalan Raya Canggu, saya menemukan warung kecil yang menjual penganan ini. Wangi daun suji langsung merebak. Dua-tiga biji langsung habis dilahap. Enaknya dilahap hangat-hangat. Tentu dinikmati bersama dengan kopi Bali. Sepiring berisi lima lak-lak dibanderol Rp 5.000. Ada penganan lain di sini, seperti olen-olen (kue yang berbahan dasar ketan hitam) dan pisang rai (pisang yang diolah bersama dengan tepung beras).
Pantai Batu Bolong
Setelah mengisi perut, saatnya bergerak ke utara. Lebih-kurang 10 menit atau sekitar 3 kilometer dari Jalan Raya Krobokan, ada pantai yang menjadi favorit turis. Pantai Batu Bolong yang berkarang. Bahkan, di beberapa titik, terdapat karang-karang besar yang memberikan efek estetis.
Pasirnya halus, meski tak terlampau putih. Ruang bermain, juga berjemur, cukup luas. Orang bisa bersantai menikmati lanskap. Dapat juga berenang di pinggir pantai, berselancar, atau berwisata religi. Selain terkenal sebagai pantainya para surfer, Batu Bolong memang kesohor lantaran terdapat pura besar di sana. Jadi mereka bisa melihat orang-orang Hindu bersembahyang atau menggelar upacara.
Echo Beach
Cukup berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer dari Pantai Batu Bolong, jajaran kafe dan restoran di sebuah gang berderet rapi. Muaranya adalah Echo Beach. Makin mendekat ke pantai itu, tempat-tempat nongkrong semakin banyak. Berupa pantai berkarang dengan air yang tak terlalu jernih dan pasir yang sudah berubah kecokelatan. Tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain duduk-duduk menikmati suara ombak atau angin sepoi-sepoi sembari menyeruput segelas koktail.
Pantai Seseh
Lepas menikmati siang di Echo Beach, yang juga menjadi penanda ujungnya pantai di Badung, saatnya beranjak menuju Mengwi. Sekitar 20 menit berkendara menuju utara, melewati persawahan dan kebun-kebun pohon kelapa, sebuah pantai dengan dominasi abu-abu menyapa. Entah, siang itu memang rona Seseh menunjukkan atmosfer yang kalem. Berbeda jauh dengan pantai-pantai sebelumnya, yang penuh ingar-bingar kafe, bean bag, lazy chair, dan warna-warni papan selancar. Rupanya, pantai ini kental dengan upacara adat. Pasca-hari raya Galungan, Kuningan, dan sebagainya, pantai ramai dikunjungi warga lokal.
Tanah Lot
Selain Kuta, primadonanya Pulau Dewata adalah Tanah Lot. Pantai yang bisa dijangkau 18 menit dari Pantai Seseh atau 1 jam dari Bandara Internasional Ngurah Rai, ini memiliki pesona yang komplet, memadukan keindahan lanskap, budaya, mitos, religi, dan sejarah yang kental. Di pintu masuk, tamu disuguhi pemandangan gapura khas arsitektur Bali yang megah menghadap ke pantai. Di samping kiri, di sebuah pendopo, sekelompok pemusik gamelan memainkan alatnya masing-masing.
Di ujung, terlihat pura besar dikelilingi air laut yang biru. Orang hanya bisa ke sana kalau gelombangnya surut. Sementara itu, di sisi lain, terdapat sebuah karang besar dengan lubang di bagian tengahnya. Apalagi kala senja, saat langit memerah, Tanah Lot seperti terbingkai dalam lukisan.
Pie Susu Dhian
Ke Bali tak lengkap kalau tak membeli piesusu. Oleh-oleh khas Pulau Seribu Pura yang punya cita rasa manis campur gurih itu memang bisa ditemukan di berbagai toko oleh-oleh. Namun, kalau ingin memborong, sebaiknya langsung datang ke sentranya, yakni di Jalan Nangka Selatan, Dangin Puri Kaja, Denpasar. Sekitar 55 menit bila berkendara dari Tanah Lot. Piesusu berisi 25 buah dibanderol dengan harga Rp 35 ribu, sedangkan paket yang berisi 50 buah dihargai Rp 70 ribu.
Mekotekan galah mengusir bencana mungkin masih jarang diketahui masyarakat. Namun bagi masyarakat Bali, khususnya di Desa Adat Munggu, ini adalah hal yang biasa. Bahkan telah menjadi tradisi.
Mekotekan Galah Pengusir Bencana
Sepuluh kilometer dari barat Kota Denpasar, penjor-penjor di sepanjang Desa Adat Munggu, Mengwi, bergoyang disapu angin. Bau bambu kemarin sore yang baru ditebang menyapa penciuman. Janur yang menjadi ikon utama Pulau Seribu Pura pun masih kuning segar, belum mengering. Bunga tabur terlihat belum lama diganti. Canang masih utuh, belum juga disauk anjing. Begitu pun, bara belum habis membakar dupa. Atmosfer demikian lekat dengan ritual keagamaan yang hendak atau baru digelar.
“Pagi tadi, masyarakat Hindu sembahyang di pura dalam. Selama 210 hari sekali, mereka merayakan Kuningan, seperti hari ini,” kata Made Arya, pegiat wisata asal Singaraja, pada pertengahan April lalu. Pantas, suasana perdesaan lebih meriah. Matahari tepat di atas kepala kala kami tiba di desa adat itu. Tok tok tok. Kulkul (kentongan) Pura Puseh dipukul bertala-tala, mengucapkan selamat datang.
Para pemuda dari 13 banjar di Desa Adat Munggu berhamburan ke luar dari kediaman masing-masing. Mereka mengenakan kostum upacara lengkap, mulai sarung hingga udeng. Satu per satu memenuhi jalan utama menuju pura.
Made menginjak pedal rem mobilnya pelan-pelan. “Jalan ini dekat dengan persimpangan. Hampir setiap percabangan jalan di Desa Munggu dilalui arak-arakan ngerebek. Jadi tidak bisa parkir di sini,” katanya. Ia lantas membelokkan setir ke depan rumah toko, 500 meter dari simpang empat Jalan Raya Tanah Lot dan Pantai Seseh.
Setelah memarkir kendaraan, Made tak langsung membaur ke pura. Ia lebih dulu mengeluarkan kamen—kain sepanjang dua meter—model prada Bali dari bagasi. “Kalau mau bergabung ikut upacara mekotekan, pakai kain dulu,” ujarnya. Ia lantas berujar, “Caranya seperti pakai sarung. Kalau perempuan, panjangnya sampai tumit”. Sedangkan laki-laki hanya sampai betis.
Selepas melilitkan kamen, Made menyodorkan senteng kepada saya. Secarik kain yang menyerupai syal itu dipakai di bagian perut. Dilingkarkan, lalu diikat kuat. Atribut lengkap harus dikenakan. Musababnya, mengikuti ritual mekotekan bukan sekadar menonton pertunjukan budaya. Mekotekan disakralkan sebagai upacara keagamaan lantaran menjadi wujud pertalian antara adat dan hari raya Kuningan oleh masyarakat Hindu di Munggu. Apalagi, rangkaiannya meliputi areal-areal sakral.
Setelah berjibaku dengan kain, terdengar bebunyian nyaring yang menarik perhatian. Klotek… klotek…. suara kayu beradu aspal mengudara seketika. Tangan para pemuda banjar tampak menggenggam erat kayu pulut setinggi tiga meter. Di ujungnya, terdapat tamiang yang terbuat dari ron atau busung. Juga tersemat bendera kuning dan putih bersimbol dewa-dewa. Beberapa di antaranya menggambarkan ikon Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Tujuannya, sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbolisasi keimanan.
Kemunculan seribuan pemuda itu seperti kelompok barisan prajurit yang hendak maju perang, membentuk pleton-pleton. Ceng-ceng atau kecrak menjadi bebunyianritmis pengantarnya. Iramanya bak genderang penyemangat. Di muka barisan, sejumlah pedanda atau pendeta lebih dulu masuk ke pura. Tugasnya, mendoakan supaya ritual berjalan lancar.
Di tangan para pemuka agama, digenggam genta atau lonceng dari kuningan. Selama sembahyang, benda itu akan digoyang-goyang hingga memunculkan onomatope nyaring. Kalau sudah berbunyi, berarti ritual pemujaan dan permohonan restu untuk ritual dimulai.
Klian Desa Adat Munggu, I Made Rai Sujana, ikut dalam rombongan pedanda. Sebelum masuk gapura tempat sembahyang, ia mampir ke wantilan atau balai tempat masyarakat berkumpul guna menjemput para pengiring dan penabuh gamelan. “Saya mau memastikan kalau semua petugas sudah siap,” ujarnya.
Para pengiring, yakni perempuan berusia 14 hingga 40 tahun, dari tiga banjar yang sudah ditunjuk sebelumnya. Mereka mengenakan pakaian adat lengkap. Tugas mereka, membawa canang persembahan. Di belakangnya, berbaris para penabuh gamelan Bali. Mayoritas anggotanya ialah remaja yang belum genap berusia 20 tahun. “Sudah lengkap, ayo masuk,” ujar si klian.
“Ritual pertama adalah nedunanIda Bathara di pura dalam,” ucapnya. Hanya ritual pembuka dari depan gapura. Doa mohon keselamatan ini hanya berlangsung 15 menit. Mendekati pukul 14.00, rombongan pedanda ke luar dari area sembahyang. Suara kotekan kembali terdengar. Makin lama, makin santer. Diantar para pemuka agama dan pengiring, rombongan pembawa kayu itu berjalan pelan-pelan mengitari desa.
Mereka berjalan dengan langkah biasa sambil sesekali bersenda gurau. Belum 300 meter melangkah, di tikungan dekat pohon beringin besar, yang menjadi pintu masuk desa adat, satu per satu anggota pasukan mendekati tetua, yang mereka sebut sebagai anak buah pendeta. Pria berusia 60-an tahun bersorban putih itu memercikkan air rendaman kantil, pandan arum, dan daun kelawo di ubun-ubun peserta atraksi. Daun lala amangan digunakan sebagai perantaranya. Setelah memperoleh “jimat”, si “anak-anak teologi” dianggap sah melakoni ritual.
Lepas dari ritual percikan air, pasukan dari masing-masing banjar lantas berlarian membentuk kubu. Di setiap persimpangan atau tikungan, sekumpulan pemuda pembawa tongkat pulut membentuk lingkaran. Tongkatnya diangkat, dipusatkan ke titik tengah. Dari kejauhan tampak seperti kerucut raksasa.
Pemuda banjar lain melakukan hal yang sama. Kubu demi kubu melakukan penyerangan. Tak tek tak tek…. Irama perang kayu membahana.
Adegan makin barbar ketika seorang dari masing-masing kubu memanjat ke atas galah. Mereka seolah menjadi ujung tombak regu. “Lawan…Dorong…” begitulah teriakan itu memenuhi jalanan sepanjang desa adat. Sesekali, sarung si pemanjat tersangkut tongkat, membuat formasi goyang. Gelak tawa terdengar kompak tak tertahan.
Kesempatan tersebut dipakai lawan buat menyerang. Mereka mendorong kubu rival dengan tongkat hingga lingkarannya roboh. Lagi-lagi, sorai tawa penonton pecah. Pemandangan akan terus seperti ini. Tak ada patokan kapan ritual berakhir. Selagi masih semangat, mereka akan bertempur.
Sedangkan para perempuan setia duduk-duduk di emperan jalan atau beranda rumah menyaksikan perang kayu—yang selalu dijumpai setiap enam bulan sekali—sampai bubar. Niluh Sarmini, ibu berusia 45 tahun, yang sudah tiga dasawarsa menjadi pengiring, mengatakan umumnya mekotekan kelar seiring dengan ayun-temayun surya. “Kalau langit sudah kekuningan, semangat sudah kendor, satu per satu membubarkan diri,” ucapnya sambil melucuti kepangan rambut.
*****
Adat Mekotekan sebagai perayaan penolak bala di Bali. (A. Prasetyo)
PERAYAAN PENOLAK BALA
Bila ditarik ke belakang, secara historis, ritual yang digelar berbarengan dengan hari raya Kuningan ini diadakan sebagai pengingat perjuangan para prajurit Kerajaan Mengwi menaklukkan Kerajaan Blambangan. Dulu kala, Raja Mengwi berkuasa di desa adat tersebut. Namun sekonyong-konyong, wilayah hendak direbut Raja Blambangan.
Pasukan Mengwi lantas melakukan penyerangan. Untuk menghadapi musuh, Raja Mengwi diberkahi sebuah tombak dan tameng dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Setelah menang, mereka merayakan dengan cara yang unik, yakni saling serang antarteman.
Ngrebek mekotek sudah berjalan sejak 1934. Namun ritual adat yang ditetapkan sebagai warisan budaya nasional nonbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu pernah dibekukan pada 1940 oleh Belanda. Alasannya, berpotensi memunculkan perlawanan. Akibatnya, pada 1946, Desa Munggu dilanda bencana besar dengan angka kematian tinggi. Selain itu, gagal panen dan keributan. Mereka percaya, kemalangan ini lantaran tradisi mekotekan dihentikan.
Tentang Kayu Pulut:
1. Kayu pulut harus dicari di hutan di kawasan Bangli hingga Singaraja.
2. Kayu pulut diyakini sebagai replika bambu yang punya bentuk lurus hampir sempurna.
3. Jenis kayu ini sangat kuat, biasa dipakai untuk bahan bangunan. Namun tak dapat digunakan buat kayu bakar karena bergetah.
4. Makin lama, kayu pulut makin kuat. Jadi setelah digunakan untuk ritual, pulut akan disimpan untuk dipakai di upacara selanjutnya.
2 hari menyusuri Badung sampai Tabanan adalah jalan-jalan yang senantiasa menyenangkan. Kuta dan Mengwi—berlokasi di Kabupaten Badung, dan Kediri di Kabupaten Tabanan—disatukan oleh garis pantai yang merentang.
Kedekatan secara geografis ini membikin tipikal pantai-pantai di sana memiliki kemiripan, seperti konturnya yang landai dan ruang “bermain pasir” yang cukup luas. Cukup dengan berkendara dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, kira-kira 30 menit. Bila ingin menyisir pantai, lebih baik kala pagi, sebelum matahari tampil terlalu terik.
2 Hari Menyusuri Badung Sampai Tabanan: Hari Pertama
Pantai Petitenget
Di pantai ini, orang bisa menikmati pagi dengan menyaksikan orang bersembahyang di Pura Petitenget, pura besar yang terletak di muka gerbang pantai. Atau joging, berkuda,dan mengajak anjingnya jalan-jalan santai dari ujung ke ujung. Lokasinya di Desa Seminyak, Kuta Utara, Badung. Hanya 15 menit bila berkendara dari Jalan Raya Seminyak. Di kawasan pantai, berkumpul hotel dengan varian harga dan kelas yang berbeda, mulai melati hingga bintang lima.
Pantai Batu Belig
Lokasinya di Jalan Batu Belig, Seminyak, Kuta Utara. Dari Pantai Petitenget, bisa dicapai dalam 18 menit. Pasirnya luas membentang. Sayangnya, kontur pantai ini tak selandai Pantai Petitenget. Pasirnya juga lebih hitam. Itulah yang membikin wisatawan jarang datang. Lantaran sepi, orang bisa leluasa berjemur, juga menikmati suara debur ombak, tanpa takut terusik pengunjung lain. Banyak lazy chair dan bean bag yang disewakan penduduk lokal. Umumnya yang menyewa adalah turis asing.
Pantai Berawa (Finns Beach)
Berada di area Finns Beach Club, Canggu, Kuta Utara, pantai ini ditempuh dengan waktu 20 menit dari Batu Belig itu. Di sini anak-anak muda yang doyan party di klub berdatangan. Pantai Barawa memang berada di area eksklusif. Namun orang tak harus masuk ke klub bila tak ingin membayar mahal. Ada jalan setapak masuk menuju pantai yang terbuka untuk umum. Namun pantainya tak lapang. Jadi tidak memungkinkan untuk berlama-lama berjemur atau bermain pasir di sini.
Umumnya, turis datang untuk berselancar. Tersedia paket bimbingan berselancar bagi pemula. Per paket dibanderol Rp 350 ribu per 2 jam untuk membayar instruktur. Untuk sewa papan selancar berkisar Rp 50 ribu per jam.
Warung Mina
Matahari mulai bergerak ke barat. Petang lalu mendarat. Saatnya mengisi perut. Melipir ke arah timur, menuju pusat Kota Denpasar, tepatnya di Jalan Tukad Gangga Nomor 1, Renon, Panjer, Denpasar Selatan, terdapat sebuah restoran keluarga dengan menu laut khas Bali. Menu favorit pengunjung adalah gurami dengan beragam bumbu (seperti asam pedas, menyatnyat, santan kemangi, serta bumbu kuning), sate lilit, dan plecing kangkung. Plus sambal matah khas Pulau Dewata. Karena datang beramai-ramai, diputuskan untuk memilih menu paket dengan harga yang lebih ekonomis, yakni hanya Rp 252 ribu untuk empat orang.
Ikat Prailiu adalah kain tenun khas masyarakat Sumba, khususnya Sumba Timur. Budaya sejumlah suku di Nusantara tak bisa lepas dari kain tradisional. Selain penuh makna, kain itu kerap dikenakan pada ritual tertentu. Tenun ikat Prailiu salah satunya. Kain tenun ini kaya akan nilai budaya, spiritual, dan ekonomi.
Ikat Prailiu
Prailiu adalah kerajaan yang letaknya tak jauh dari pusat Kota Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Ditilik dari riwayat sejarahnya, Pulau Sumba ini dahulu dihuni beberapa kerajaan. Ini seperti laiknya daerah lain di Nusantara. Namun banyak di antara kerajaan itu yang tergerus zaman. Prailiu sendiri belum melakukan pengangkatan raja lagi setelah wafatnya raja terakhir pada 2008.
Jika Anda cukup sering bepergian ke Kawasan Timur Indonesia, perjalanan ke Sumba Timur jangan sampai luput dari agenda mengunjungi Prailiu. Daya tarik lain dari Prailiu adalah melihat para ibu yang sedang menenun kain khas Sumba.
Makam Raja Prailiu. Foto.Dok TL
Meskipun masyarakat di sini banyak yang merupakan keturunan raja, para anggota keluarga ini sangat ramah dan rendah hati. Pengunjung pasti akan betah berlama-lama mendengarkan berbagai cerita sejarah yang mengalir dari mulut mereka. Termasuk tentang kisah-kisah tradisi menenun kain ikat prailiu.
Pulau Sumba dikenal sebagai tanah air penganut Marapu, kepercayaan yang meyakini dan memuja roh leluhur. Banyak benda yang dikeramatkan masyarakat Marapu sebagai media penghubung dengan leluhur. Perlahan, jumlah penganut kepercayaan ini mulai berkurang seiring masuknya agama lain ke Sumba. Namun adat istiadat tetap tidak bisa mereka tinggalkan begitu saja, seperti pembuatan tenun ikat ini.
Dalam tradisi Marapu, selembar kain tenun ikat digunakan pada prosesi perkawinan, sebagai mahar, dan upacara kematian. Rambu Ana, putri bungsu raja terakhir Prailiu, berujar, “Di dalam kubur batu ayahku, Tamu Umbu Ndjaka, terdapat sekitar 100 tenun persembahan dari warga dan kerabat. Mereka memohon agar kain-kain itu ikut dikubur bersama raja sebagai bentuk penghormatan.”
Kain ini juga dikenakan sebagai pakaian adat saat upacara spiritual, dari Wulla Podduhingga Pasola. Hinggi Kalambung adalah kain tenun yang digunakan di pinggang seperti sarung, sedangkan yang diselempangkan di bahu disebut Hinggi Nduku.
Rambu Ana biasanya akan mengajak wisatawan berkunjung ke rumah salah seorang kerabatnya yang perajin tenun ikat. Jaraknya tak jauh, sekitar 15 menit berkendara dari Prailiu, sudah sampai di tempat tujuan. Kita bisa melihat proses pewarnaan biru di rumah Ngana Ana, tak semua penenun bisa meramu biru.
Seperti siang itu. Ketika sampai di rumah wanita bernama Ngana Ana itu, saat itu ia sedang asyik mengurus beberapa babi dan kuda di halaman rumah. Saat bersalaman dengan wanita itu, pengunjung langsung memperhatikan tangan hingga separuh lengannya yang berwarna biru kegelapan. Dia seperti baru bermain tinta.
“Tangan-tangan ini bekas merendam benang pintal,” ucap Rambu Ana menjawab pandangan pengunjung yang keheranan. Benar saja, rupanya Ngana Ana baru melakukan proses pewarnaan di belakang rumah.
Warna biru alami ini berasal dari daun nila yang dapat ditemukan di halaman rumahnya. Daun hijau yang besarnya hanya sekitar satu sentimeter itu bisa menghasilkan warna biru yang khas. Paduan warna tenun Prailiu memang tak terlalu banyak, hanya merah, hitam, kuning, dan biru. Untuk warna merah, penenun menggunakan ekstrak akar mengkudu.
Ngana Ana kemudian menjabarkan proses pembuatan tenun ikat Sumba Timur. Bahan dasarnya ada dua macam, yaitu benang buatan pabrik yang biasanya sudah dijual berwarna-warni dan benang yang dipintal sendiri dari kapas, seperti dipakai Ngana Ana.
Selesai dipintal, benang akan melewati proses pewarnaan menggunakan bahan alami tadi. Sebelum ditenun, ada proses penggambaran motif terlebih dulu. Hebatnya, nenek moyang mereka tak pernah menggambar, melainkan langsung menenun dengan benang yang dipilih.
Setiap wilayah di Sumba memiliki kekhasan motif tenun. Ngana Ana menyebutkan bahwa dia lebih sering membuat motif hewan, seperti buaya, penyu, ayam, kakatua, dan udang. Ada pula beberapa tamu yang membeli tenun dengan motif sendiri.
Proses pemintalan hingga menjadi kain tenun siap pakai bisa memakan waktu paling lama enam bulan. Harganya bervariasi. Rambu Ana mengatakan pernah melihat kain tenun Prailiu dijual seharga Rp 10 juta.
Sebagai salah satu penerus warisan budaya leluhur Prailiu, Rambu Ana ingin mempertahankan tradisi membuat tenun ikat. Selain regenerasi keahlian menenun, tentu pemasaran harus dikembangkan agar tenun ikat dikenal masyarakat di luar Pulau Sumba. Apalagi harga jualnya cukup tinggi. Sebaliknya, wisatawan hendaknya menghargai proses pembuatan tenun yang panjang dan pasti melelahkan itu.