Percikan Air Terjun Subang Selama 2 Hari

Percikan air terjun memberikan kesegaran, bisa dinikmati di wilayah Subang Selatan.

Percikan air terjun bisa menyegarkan pikiran dan raga yang jenuh dengan kesibukan di kota. Tak perlu jauh-jauh melakukan perjalanan. Bagi mereka yang biasa berakhir pekan e Bandung, atau sebaliknya yang dari ibukota Jawa Barat itu ke Jakarta, sekali-kali bisa membelokkan kendaraannya sedikit.

Percikan Air Terjun

Ada pilihan destinasi yang tidak itu-itu saja di antara Jakarta dan Bandung, kali ini sedikit melipir ke . Tepatnya di Subang Selatan. Ada kesejukan percikan air terjun, atau dalam bahsa Sunda disebut curug.

Jalur untuk mencapainya juga menawarkan jejak petualangan baru. Dari Jakarta, jaraknya 157 kilometer. Sedangkan dari pusat Kota Subang ke arah selatan, jaraknya 37 kilometer. DI sana ada hamparan perkebunan teh nan hijau dengan sederet air terjun.

Walaupun masuk wilayah Subang, lokasinya lebih dekat dengan kota Purwakarta. Dari tol Cipularang, wisatawan bisa keluar di pintu tol Sadang, Purwakarta, dan melanjutkan perjalanan ke arah Wanayasa. Bila berangkat dari Bandung, jaraknya 63 kilometer ke utara melalui Jalan Raya Ciater.

Lalu ada apa saja sajian wisatanya? Pilihan destinasinya ada Curug Cikondang, Cilémpér, Cijalu, hingga Cileat. Semburan air dan hawa sejuknya menyegarkan badan dan pikiran. Obyek wisata ini bisa dijajal dalam dua hari di akhir pekan.

Percikan air terjun Cijalu di Subang menarik meskipun masih dikeramatkan.
Percikan Air Terjun Cijalu menyegarkan meskipun kaum hawa mesti menahan diri. Foto: DOk. TL

Hari Pertama: Curug Cijalu

Berangkat pagi dari Jakarta atau Bandung. Bila berangkat pukul 06.00 dari Jakarta, dalam kisaran tiga jam pengunjung sudah tiba di Jalan Raya Ciater, Subang. Sedangkan dari Bandung, tidak sampai dua jam.

Tiba di Subang, wisatawan akan disambut hamparan kehijauan perkebunan teh yang berkabut. Selanjutnya, tinggal menuju Jalan Raya Ciater hingga menemukan jalan ke arah Serangpanjang.

Di sana tujuan pertamanya adalah Wisata Curug Cijalu. Pengunjung harus membayar tiket masuk Rp 10 ribu per orang. Adapun tarif kendaraan sebesar Rp 3 ribu-10 ribu, tergantung ukurannya. Kawasan wisata yang berada di Desa Cipancar, Kecamatan Serangpanjang, ini tidak sulit dicapai. Jalan masuknya beraspal. Area parkir utama akan ditemui setelah 20 menit berkendara dari gerbang. Selanjutnya berjalan kaki.

Sudah ada juga beberapa warung makanan dan cenderamata. Tersedia pula ruang lapang bagi pengunjung yang ingin beraktivitas atau bahkan untuk mereka yang ingin berkemah.

Sekitar 10 menit berjalan dari area parkir, wisatawan bisa menemukan air terjun kecil menuruni batuan alami di sisi kiri, namanya curug Cikondang. Tingginya kira-kira 30 meter. Percikan air terjun nya cukup memberikan kesegaran.

Berjalan kaki lagi 10 menit, ada teras air terjun yang airnya berasal dari Gunung Sunda. Di area sebelum teras, pengunjung bisa menemukan sejumlah kupu-kupu bersayap panjang. Yang indah, kupu-kupu ini dari bagian belakang tubuhnya seperti terlihat semprotan cairan setiap sekitar dua detik sekali.

Kupu-kupu tersebut dikenal sebagai The Green Dragon Tail (Lamproptera meges), biasanya hidup di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Ternyata, meski dikenal sebagai Curug Cijalu, air terjun utama setinggi 50-60 meter tersebut aslinya bernama Cilémpér. Menurut sejumlah pedagang di sana.

Sudah dua curug, tapi belum juga bertemua dengan curug Cijalu. Maka timbul pertanyaan, di manakah Curug Cijalu yang sebenarnya?”

Rupanya cucug yang satu ini masih dikeramatkan. Penduduk, jika tak sedang sibuk berladang, biasanya tidak segan mengantarkan hingga ke air terjun itu.

Perlu tambahan waktu sekitar satu jam untuk menemukannya dari Curug Cilémpér, dengan melintasi jalur basah dan hutan kecil. Selain itu, ada syarat khusus, yakni hanya pengunjung laki-laki yang boleh bermain atau mandi di air terjun yang satu ini. Kaum hawa harus menahan diri untuk menikmati percikan air terjun. Sepulang dari air terjun setinggi 15-20 meter itu, saatnya beristirahat.

Malam bisa dihabiskan menginap di sekitar Ciater. Ada sejumlah penginapan yang menawarkan beragam akomodasi.

Hari Kedua: Curug Cileat

Keesokan harinya, waktunya mengunjungi Curug Cileat. Jalurnya lebih menantang dibanding dengan tiga air terjun sebelumnya. Letaknya juga tidak dekat dari ketiganya. Harus berkendara lagi untuk mencapai Dusun Cibago, Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang.

Kawasan air terjun ini dikelola penduduk sekitar. Tiket masuknya Rp 5 ribu. Disarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal karena lama perjalanannya sekitar 2-2,5 jam. Jalurnya menanjak, berupa medan tanah dan batu yang bersisian langsung dengan hutan kecil dan jurang. Pastikan perbekalan air minum dan makanan mencukupi karena tidak ada warung di sepanjang perjalanan.

Percikan air terjun perlu usaha yang lebih karena letaknya yang cukup jauh.
Percikan air terjun perjalanannya harus melewati pemukiman penduduk yang menjemur paneh hasil bumi. Foto: Dok TL.

Sebelum keluar dari Cibago, berhati-hatilah melangkah. Warga memiliki rutinitas menjemur hasil panen di ruas jalan, semisal biji kopi. Bila merasa lelah, Anda dapat beristirahat sejenak sambil menikmati percikan air di beberapa sisi dinding tebing. Saat bersentuhan dengan sinar matahari, percikan air ini akan memunculkan pelangi. Tak hanya itu, sambil beristirahat, mungkin ada kupu-kupu, capung warna-warni, dan bahkan elang Jawa yang menemani.

Setelah melalui apitan batu menyempit yang dirimbuni pepohonan dan semak terakhir, titik-titik air akan mulai terasa menerpa wajah. Tak lama berselang, terlihat jelas curahan air dari ketinggian sekitar 100 meter di lekuk dinding tebing. Cantik sekali. Itulah sambutan “Selamat Datang” dari percikan air terjun Cileat.

Semakin mendekat, air semakin deras memercik. Hati-hati bila membawa kamera. Lantas, bila tergoda untuk mengelilingi Cileat, menerobos ke balik air terjun seperti yang dilakukan oleh umumnya para pemandu, Anda perlu mewaspadai permukaan pijakan yang licin. Setelah perjalanan panjang, asiknya berlama-lama di lokasi hingga benar-benar puas menghirup udara segar dan tepercik air dingin. Sore nanti, tentu saja harus kembali ke kota asal.

agendaIndonesia

*****

Getuk Pisang Kediri, Enak Sejak 1940

Getuk pisang Kediri menjadi alternatif oleh-oleh selain tahu.

Getuk pisang Kediri seperti ingin “menyaingi” popularitas tahu sebagai oleh-oleh dari kota di Jawa Timur itu. Bedanya, jika yang satu gurih asin, yang ini rasanya manis.

Getuk Pisang Kediri

Makanan bercita rasa asam manis itu cukup mudah dijumpai di kawasan yang terbelah arus Sungai Brantas. Di warung-warung, pasar tradisional, maupun tempat wisata, getuk pisang Kediri dijajakan sebagai penganan di kala bersantai atau menjadi oleh-oleh bagi pelancong yang berkunjung ke kota tersebut.

Lahirnya penganan ini dari kisah masyarakat setempat, sesungguhnya akibat masa kelam orang Kediri di masa penjajahan Jepang. Rakyat Indonesia, tentu saja termasuk masyarakat Kediri, saat itu berada di bawah invasi tentara Nippon, diterpa kesulitan ekonomi.

Getukpisang Kediri menjadi salah satu kebanggaan masyarakatnya.
Salah satu sudut kota Kediri yang punya penganan getuk pisang. Foto: shutterstock

Akibatnya terjadi kesulitan pangan. Bahan makanan yang sulit ditemukan membuat warga mengalami krisis pangan. Masyarakat setempat lantas mencari bahan pangan untuk bertahan hidup.

Kebetulan di bantaran Sungai Brantas banyak tumbuh pohon pisang raja nangka. Ya tentu saja pisang bisa dimakan langsung. Tapi tak mungkin terus-menerus mengkonsumsi pisang secara langsung, selain pisang pun bisa menjadi busuk.

Dari kondisi itu akhirnya timbul ide menjadikan olahan pisang menjadi getuk agar dapat menyambung hidup. Jenis pisang raja nangka yang ukuran buahnya cenderung besar ini kemudian diolah menjadi getuk, agar terasa lebih nikmat ketika dikonsumsi. Getuk pisang menjadi makanan alternatif yang mengeyangkan.

Berdasarkan kajian literatur yang dilakukan Komunitas Pelestasi Sejarah Budaya Kadhiri (PASAK), pembuat pertama kali getuk gedang adalah seorang nenek yang tinggal kawasan Mojoroto, Kota Kediri. Informasi ini ditemukan dari naskah tua di perpustakaan Universitas Negeri Malang.

Jejak pembuatan getuk pisang Kediri pertama kali ditemukan saat masa penjajahan Jepang yang berlangsung pada 1940-an. Pada masa tersebut, masyarakat benar-benar sengsara dan mengalami kondisi kelaparan yang sangat mengenaskan.

Getuk Pisang Kediri kediripedia
Salah satu gerai oleh-oleh di Kediri yang menjual getuk pisang. Foto: dok. milik kediripedia.com

Ribuan pohon pisang raja nangka yang tumbuh di sepanjang Sungai Brantas menjadi anugerah untuk masyarakat kala itu. Ukuran pisang yang besar lantas dicoba diolah dengan cara dikukus. Hasilnya, adonan kukusan pisang ini memiliki rasa yang enak dan mampu menjadi makanan pengganti untuk masyarakat yang kelaparan.

Dari awalnya hanya sebagai makanan darurat, getuk pisang mulai diperjualbelikan. Bentuk jajanan berwarna merah maron ini dulunya dijual dengan cara ditaruh pada cetakan loyang. Apabila ada pembeli, maka akan diiris kotak, seperti halnya penjual getuk lindri yang berbahan dasar singkong.  

Berdasar data dari Pasak, bentuk getuk pisang berubah ketika mulai dipasarkan oleh orang-orang Tionghoa Kediri. Transformasi getuk pisang mencapai puncaknya ketika mulai dikembangkan oleh warga keturunan Tionghoa Kediri ini. Makanan ini, mulai dimasak dengan cara yang lebih baik sehingga rasa yang dihasilkan menjadi lebih lezat.

Salah satunya adalah proses pengukusan pisang yang menggunakan daun pisang sehingga membuat aroma dan rasa makanan ini semakin kompleks. Tak hanya itu, dengan proses memasak yang alami, membuat kandungan nutrisi dari pisang tetap terjaga.

Perubahan yang paling menonjol adalah ketika penyajian tidak lagi menggunakan loyang. Bahan mentah berupa pisang yang telah ditumbuk, lalu dibungkus daun pisang kemudian dikukus. Secara fisik, bentuknya menjadi lonjong menyerupai lontong. Wujud getuk pisang itu tak mengalami perubahan hingga sekarang.

Getuk Pisang Pemkot Kediri
Getuk pisang Kediri bentuknya lonjong seperti lontong. Foto: milik Pemkot Kediri

Getuk pisang Kediri menurut cerita masyarakat setempat paling enak dibuat dari pisang raja nangka, meskipun bisa juga dari jenis pisang lainnya. Keistimewaan pisang raja nangka ini adalah cita rasanya yang khas, yakni asam dan manis meski, misalnya, tanpa tambahan gula.

Rasa manis inilah yang menjadikan getuk banyak disukai orang untuk terus dinikmati. Selain itu, karena dibungkus dengan daun pisang yang hijau, aroma dari getuk ini semakin menggoda. 

Getuk pisang Kediri berbentuk bulat lonjong mirip sekali dengan lontong. Dengan panjang sekitar 15–20 cm. Warnanya merah kecoklatan, teksturnya kenyal tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras.

Untuk mendapatkan getuk pisang ketika mampir ke kota Kediri tidaklah sulit. Pelancong bisa menemukannya di setiap sudut kota itu, mulai dari warung-warung kecil, pedagang asongan, hingga toko oleh-oleh. Harganya pun sangat terjangkau, berkisar antara Rp 2.500 – 5.000 perbuahnya tergantung ukuran dan mereknya.

Jika pun belum mempunyai agenda perjalanan ke Kediri, Anda bisa mencoba membuatnya sendiri. Cara membuat getuk pisang cukup mudah.

Pertama kukus pisang hingga matang, kupas. Setelah itu tumbuk halus dan campur pisang dengan gula serta garam. Disarankan untuk menumbuknya saat pisang masih panas sehingga lebih mudah halus. Setelah semua bahan tercampur, siapkan daun pisang dan bungkus adonan tersebut seperti membuat lontong, dan Anda bisa langsung menikmatinya.

Getuk pisang khas Kediri hanya bertahan satu hingga dua hari saja karena tidak memakai bahan pengawet. Jika disimpan dalam lemari pendingin, getuk pisang bisa bertahan empat sampai lima hari.

agendaIndonesia

*****



4 Hari di Seputar Belitung Yang Mengasyikan

Senja Liburan 4 hari di Belitung

Bisa 4 hari di seputar Belitung? Liburan mendadak ternyata bisa juga dibikin seru. Meski tiket pesawat dan harga sewa kendaraan roda empat tinggi,  karena pilihannya adalah 4 hari di seputar Belitung, ganjalan dana itu seperti terkikis. Maklum, empat hari di pulau, yang merupakan bagian dari Kepulauan Bangka Belitung (Babel), ini benar-benar mengasyikkan.  Bagi saya dan banyak turis, bisa jadi liburan ini nmerupakan liburan yang ingin diulang kembali.  Apalagi pilihannya tak melulu pantai, tapi juga jejak film Laskar Pelangi, bukit hijau, dan tentu sajian kuliner.

4 Hari di Seputar Belitung: Belitung Timur Hari 1

Hari Pertama: Belitung Timur

Penerbangan pendek selama 45 menit ke Tanjung Pandan sungguh tak terasa. Lubang-lubang bekas galian tambang tampak dari atas, tersebar di mana-mana. Pengemudi yang siap mengantar saya rupanya sudah menunggu di pintu ke luar Bandara H.A.S Hanandjoeddin. Ketika kendaraan bergerak, saya menemukan jalan yang mulus dan sepi, tanah kering, serta rumah dengan jarak berjauhan. Hal ini menjadi pemandangan pertama yang saya lihat. Saya berencana menghabiskan waktu empat hari di pulau ini. “Enak itu, kalau cuma tiga hari, keburu-buru banget,” ucap Iqbal, yang menjadi pengemudi merangkap pemandu wisata.

Iqbal menyarankan tujuan wisata hari pertama ialah ke Belitung Timur (Beltim). Setelah melahap ilak bakar, sajian ikan bakar khas pulau dengan tumis kangkung, saya pun berangkat. Perjalanan ditempuh sekitar 1-1,5 jam. Kunjungan pertama ialah ke sekolah, tempat syuting Laskar Pelangi. Kemudian, mampir ke Museum Kata-kata Andre Hirata sembari menikmati kopi kuli.

Keasyikan menikmati kopi, akhirnya kunjungan ke Pantai Burung Mandi batal karena hari sudah terlalu sore. Namun bila Anda punya waktu panjang, tentu jangan dilewatkan. Akhirnya, saya pun kembali ke Tanjung Pandan.

Hari kedua: Tanjung Kelayang & Tanjung Tinggi

Pantai Kelayang salah satu pantai selama 4 hari liburan di Belitung
Pantai Kelayang dalam 4 hari di seputar Belitung

Hari kedua, saatnya melaut. Saya berangkat sekitar pukul 08.00. Tujuan pertama ialah Tanjung Kelayang dan pemilik perahu sudah menelepon. Ia sudah siap mengantar keliling pulau. Pagi yang hening, kendaraan melaju di jalan aspal yang mulus. Tak lama, anak panah ke Pantai Tanjung Kelayang pun tampak. Saya melihat area parkir sudah penuh. Maklum, musim liburan.

Kemudian, saatnya berputar-putar di laut, mulai dari Pulau Pasir, yang hanya berupa seonggok pasir, tempat saya menemukan sejumlah bintang laut, hingga  Pulau Lengkuas dengan mercusuar yang menonjol. Saatnya snorkeling! Setelah lelah mengambang di air, saatnya beranjak. Pengemudi kapal menyarankan untuk tidak membersihkan diri di Pulau Lengkuas, tapi di Pulau Kepayang, sekalian menikmati makan siang.

Rekomendasi yang tepat. Begitu mendekati pulau yang juga disebut Pulau Babi itu, suara musik terdengar nyaring. Rupanya, hanya ada satu restoran di sana. Setelah membilas badan, saatnya kembali menikmati ikan bakar dan tumis kangkung. Benar juga, di pulau ini air di kamar mandi bersih. Meski ada beberapa kamar mandi , tetap harus antre karena jumlah turis membludak.

Di Pulau Kelayang, selain ada penangkaran penyu, ternyata ada penginapan dan bisa menjadi pilihan bagi turis yang ingin menyepi. Perut kenyang, saatnya menyinggahi pulau-pulau lain yang ternyata meski sama-sama penuh dengan batu, bentuknya berbeda-beda.  Misalnya Pulau Batu Belayar dan Pulau Burung, hingga akhirnya kembali berlabuh di Tanjung Kelayang. Saya berniat menyisakan sore untuk menikmati mentari tenggelam di Tanjung Tinggi.

Tiba di Tanjung Tinggi, area parkir penuh lagi. Kondisi cukup ramai karena saya datang di masa liburan. Karena terlalu ramai, waktu kunjungan pun dipersingkat. Lebih baik beristirahat dulu karena kami ingin menikmati makan malam di Pantai Tanjung Pendam yang berada di pusat kota.

Hari Ketiga: Bukit Mentas, Bukit Berahu, dan Icip-icip

Hari ketiga, dicoba pilihan wisata bukan pantai. Tujuan wisata ialah Bukit Mentas, dengan suasana hutan dan sungai yang juga penuh bebatuan. Saya menemukan  Tarsius , si monyet mini  dalam kandangnya. Sore hari, akhirnya kembali ke pantai. Pilihannya ialah Pantai Bukit Berahu di Tanjung Binga dengan restoran di atas  bukit, serta pantai di bawahnya dengan deretan cottage.  Pantai ini berpasir putih nan bersih. Akhirnya, tercapai juga merekam keindahan senja.

Malamnya, hidangan Belitung  jadul di Restoran Belitong Timpo Duluk, Jalan Lettu Mad Daud, Tanjung Pandan menjadi pilihan icip-icip. Hidangan yang sudah jarang dijumpai di pulau ini pun terpapar di meja dengan interior unik. Dinding-dinding dipenuhi perangkat tempo dulu dan benda-benda jadul lainnya.

Hari keempat: Warung Kopi Kong Djie dan Danau Kaolin

Hari terakhir, sebelum terbang kembali ke Jakarta, saya menyeruput kopi di Warung Kopi Kong Djie di Jalan Siburik, Tanjung Pandan. Warung ini didirikan pada 1945 dan menawarkan hidangan kopi serta kopi susu. Ada juga teman minum kopi berupa gorengan. Dilanjutkan menuju toko oleh-oleh, membeli  terasi, aneka kerupuk ikan, juga berbagai sambal khas dari ikan laut.

Persinggahan terakhir adalah Danau Kaolin di Desa Air Raya, yang jalurnya searah dengan perjalanan ke bandara. Danau terbentuk karena galian penambangan kaolin, yang akhirnya menciptakan lubang besar. Airnya terlihat berwarna biru tosca , sedangkan sekelilingnya berupa lahan putih. Tampilan warna ini menciptakan kontras. Tentu menggoda untuk menjadikannya obyek foto. Setelah berfoto, perjalanan menuju bandara dilanjutkan. Kemudian, mengucapkan “Selamat Tinggal Belitung!”

Naskah & Foto: Rita N/TL

Sirup Kawista, 1 Minuman Kola Asli Jawa

Sirup Kawista adalah minuman lokal dengan rasa kola.

Sirup Kawista rasanya masih cukup banyak orang yang belum mengetahuinya. Bahkan namanya saja masih cukup asing. Padahal bahan minuman ini sudah ada di Rembang, Jawa Tengah, sejak tahun 1925. Hampir satu abad.

Sirup Kawista

Mendengar nama Rembang rasanya yang terbayang di benak orang adalah RA Kartini, pendekar emansipasi itu. Tapi kota di pantai utara Jawa Tengah ini bukan saja tentang pahlawan nasional tersebut.

Sekali-kali jika dolan ke Rembang untuk napak tilas perjuangan Kartini, pulangnya jangan lupa membawa sirup kawista sebagai buah tangan. Ada juga beberapa oleh-oleh khas kota ini, seperti krupuk udang dan krupuk ikan, atau beberapa camilan ringan seperti dumbeg atau kue satru.

Sirup kawista merupakan produk khas Kabupaten Rembang.

Khusus minuman kawista, pernahkah pelancong mencobanya? Sirup ini sering dinggap sebagai minuman kola atau root beer dari Jawa. Tentu, bukan berarti sirup ini sama persis dengan produk minuman dari Amerika Serikat itu.

Kola dari Jawa ini bukan terbuat dari hasil penelitian, melainkan dari pengolahan buah kawis. Cara mengkonsumsinya bisa sederhana. Misalnya, seperti sirup biasa. Cukup ditambahkan air putih dan es. Tapi kalau mau seru, bisa juga ditambahkan air soda dan es. Rasanya nggak kalah dari minuman kola yang terkemuka itu.

Omong-omong soal kawis, buah ini sesungguhya termasuk buah langka. Ia masih satu keluarga dengan jeruk meski ukurannya biasanya lebih besar dan cenderung mirip dengan melon.

Warna kulitnya juga berbeda jika dibandingkan dengan jeruk pada umumnya, yakni gelap kecokelatan. Kulitnya cenderung lebih keras. DI Indonesia sesungguhnya ada beberapa daerah penghasil kawis. Khusus Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, bisa dianggap sebagai sentra penghasil buah ini.

Buah Kawis Wikipedia
Buah kawis sebagai bahan pembuat sirup kawista. Foto: dok wikipedia

Buah kawista bentuknya menyerupai buah melon, namun ukurannya lebih kecil dengn kulit atau tempurung yang keras. Buah kawista disebut juga java cola karena rasanya mirip cola atau sarsaparilla.

Di Rembang, seperti diceritakan di atas, kawis bisa dijadikan bahan sirup kawista, kecap, selai, hingga madu mongso. Namun, khusus untuk sirup kawista, minuman ini dijadikan produk unggulan dari kabupaten yang ada di pesisir utara Jawa tersebut.

Seperti disebut di muka, sirup kawista ada satu merek yang sudah ada sejak 1925, yakni Cap Dewa Burung. Awalnya produk ini menggunakan merek Cap Jago. Namun, sejak 1952, namanya berubah jadi Cap Dewa Burung.

Buah kawis dipercaya mempunyai manfaat untuk mengobati penyakit antara lain: panas, sebagai tonikum, dan obat sakit perut.

Di Kabupaten Rembang sendiri sebenarnya terdapat beberapa produsen sirup buah kawista ini. Sirup Kawista memang telah menjadi oleh-oleh khas Rembang dan terkenal di seluruh Indonesia bahkan hingga luar negeri.

Selain merek Dewa Burung yang terkenal, ada pengusaha lain yang juga memproduksi sirup kawista ini, yaitu Imam Tohari di Desa Gegunung Kulon, Jalan Gajah Mada, Gg. Dorongan Tengah Nomor 7 Rembang.

Begitupun sirup buah kawista Dewa Burung, merupakan produk home industry yang dikelola oleh Nyoo Tiam Kiem, paling dikenal. Produk sirup buah kawista Dewa Burung yang asli hanya dijual di Rembang. Namun dari luar daerah (Jakarta, Surabaya, Semarang, Palembang dan lain-lain) sering memesan, yang kemudian setelah beberapa hari diambil.

Setiap hari home industry sirup buah kawista Dewa Burung selalu berproduksi, besarnya produksi tergantung permintaan. Biasanya produksi akan meningkat menjelang lebaran. Rasa sirup buah kawista berbeda dari sirup buah lainnya. Sirup buah kawista merupakan gabungan rasa manis, sepet, pahit dan segar.

Sirup Kawista
Sirup kawista yang disedu dengan air soda mejadi minuman kola.

Untuk membuat sirup, buah kawista akan dibuat ekstrak terlebih dahulu. Proses pengekstrakan merupakan rahasia perusahaan karena inilah yang membedakan olahan kawista berbeda dengan produk lain. Ekstrak buah kawista dicampur dengan gula tebu yang dicairkan.

Berbeda dengan sirup pada umumnya, sirup kawista memiliki perpaduan rasa yang unik, yaitu perpaduan antara sirup plus soda yang legit sehingga membuat sirup ini dijuluki sebagai cola van Java atau kola-nya Jawa. Minuman ini jarang didapatkan di kota-kota lain.

Nah, jika sedang dolan ke Rembang dan pengin mencicipi segarnya es sirup kawista, bisa mampir ke Toko Kawista Dewa Burung yang berlokasi di Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 45, Rembangan, Tasikagung, Kecamatan Rembang Kota. Tokonya buka dari pukul 08.00 sampai 20.00 WIB.

Bagi orang Jakarta yang pingin mencoba kola Jawa ini bisa mampir di Toko Nusa Indah di Kebayoran Baru. Atau membeli lewat market place.

agendaIndonesia

*****

Jejak Bangsa Pelaut Di Titik 0 Meridian

Jejak bangsa pelaut ada di Museum Bahari Jakarta termasuk soal Titik 0 Miridian.

Jejak bangsa pelaut untuk orang Indonesia ada tersebar di mana-mana, dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari jenis-jenis kapal yang dimiliki suku-suku bangsa di Indonesia, hingga jejak peninggalan penjelajahan bangsa Indonesia di banyak tempat.

Jejak Bangsa Pelaut

Salah satu tempat yang juga merupakan jejak bangsa pelaut untuk orang Indonesia adalah Museum Bahari yang ada di Jakarta. Lokasi tepatnya ada di Jalan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara.

Jejak bangsa pelaut orang Indonesia bias ditelusuri di Museum Bahari Jakartam termasuk titik 0 miridian sebagai patokan bagi para pelaut.
Jejak bangsa pelaut orang Indonesia bisa ditemukan di Museum Bahari Jakarta. Foto: Dok. TL

Ada yang baru di Museum Bahari ini. Bertepatan dengan hari jadinya yang ke-45 pada 7 Juli 2022 lalu, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta membuka Ruang Pameran Garis Nol (Titik Nol) Meridian Batavia di museum ini. Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, Mis’ari, menjelaskan bahwa ruang pameran ini ditujukan guna meluruskan persepsi masyarakat dan narasi yang selama ini beredar mengenai titik nol kilometer sebagai acuan berlayar.

Pemahaman masyarakat, kata Mis’ari, mengenai titik nol atau garis nol sebagai acuan waktu berlayar itu yang ada di Tugu Nol Kilometer Yogyakarta dan Titik Nol Kilometer Indonesia di Pulau Weh, Sabang, Aceh. Padahal, sebenarnya titik nol atau garis nol yang ada di Museum Bahari inilah yang merupakan acuan waktu yang benar saat berlayar.

Titik nol meridian ini terletak di Menara Sinyal yang dibangun pada 1839 dan berada di kawasan museum ini. Di gedung tersebut tersimpan jam paling akurat beserta kelengkapannya. Di bagian atapnya ada sebuah sinyal waktu yang bisa dilihat dari kejauhan. Dengan mengamati sinyal harian, awak kapal yang berlabuh di teluk Batavia bisa menyesuaikan jam kapal mereka.

Penjaga waktu sangat dibutuhkan pelayar pada masa itu guna menentukan posisi mereka selama pelayaran. Titik nol merididan Batavia ini juga masih digunakan untuk produksi peta Indonesia sampai 1942, meskipun sejak 1883 meridian Greenwich sudah diterima secara universal sebagai meridian utama.

Selain titik Nol Meridien, banyak jejak bangsa pelaut yang ada di museum ini sebagai panduan mengenali kehidupan negeri maritim. Bangunan yang sekarang menjadi Museum Bahari ini didirkan pada 1652-1771. Bangunan ini diambil alih Pemerintah DKI Jakarta di zaman Gubernur Ali Sadikin. Museum Bahari diresmikan pada 7 Juli 1977

Bangunan Museum Bahari berada di muara Sungai Ciliwung dan terdiri atas dua sisi, yakni sisi barat dikenal dengan sebutan “Westzijdsche Pakhuizen” atau Gudang Barat (dibangun secara bertahap mulai 1652-1771). Sedangkan yang disisi timur disebut “Oostzijdsche Pakhuizen” atau Gudang Timur.

Jejak bangsa pelaut bisa dilihat dari Museum Bahari Jakarta.
Jejak bangsa pelaut bisa dilihat dari catatan di sudut tentang Pangeran Fatahilah, pendiri Jakarta. Foto: Dok. TL

Gudang barat terdiri atas empat unit bangunan, dan tiga unit di antaranya yang sekarang digunakan sebagai Museum Bahari. Museum Bahari direnovasi pada  2014. Renovasi dilakukan untuk memperbaiki sekaligus menambah fasilitas museum sehingga lebih menarik pengunjung.

Ruangan di dalam bangunan yang berdiri sejak 1652 ini begitu lapang. Tentu itu sesuai dengan fungsinya sebagai tempat penyimpanan barang. Jendela-jendela kayu besar berjajar, dilengkapi teralis dengan daun jendela dan kusen warna cokelat tua. Ruangannya pun dihiasi tiang-tiang penyangga dari kayu ulin yang memperkuat aksen gudang tua.

Tak ada karung berisi cengkih, pala, kayu manis, atau rempah-rempah lain dalam bangunan panjang tersebut. Yang bisa ditemukan pengunjung adalah model-model perahu yang ditata di bagian tengah ruangan. Mulai yang kecil hingga yang berukuran sebenarnya.

Tidak hanya dari satu daerah, tapi juga dari Sabang sampai Merauke. Jumlahnya mencapai 126 jenis. Dan hanya 19 yang berukuran sesuai dengan aslinya. Phinisi Nusantara dan perahu cadik Papua, yang panjang, merupakan model perahu yang menunjukkan jiwa pelaut bangsa ini.

Koleksi museum bahari ada sebanyak 850 item yang merupakan saksi bisu kejayaan nenek moyang di laut. Ada koleksi perahu yang berupa miniatur (107 buah) dan 19 perahu asli. Selain itu ada alat-alat navigasi, foto-foto, biota laut, dan lain-lainnya.

Ada pula koleksi mancanegara, seperti kapal hadiah dari Negeri Belanda. Dilengkapi juga dengan beragam perlengkapan untuk melaut, seperti jangkar dan teropong. Dengan segala keunikan dan kekhasan di setiap sudut ruangnya, tak mengherankan jika pemotretan dan pengambilan gambar untuk film kerap dilakukan di seputar museum.

Cerita tentang Pelabuhan Sunda Kelapa pun bisa ditemukan di Museum Bahari. Setelah memandangi satu demi satu pajangan di tengah ruangan maupun di dinding, dan mengintip pot-pot kembang besar di luar ruangan, saya meninggalkan bangunan yang menghadap ke Teluk Jakarta itu.

Jika ingin melihat dari dekat deretan kapal yang bersandar di pelabuhan tua. Pelabuhan dapat dicapai dari museum hanya dalam beberapa langkah. Pengunjung bisa membayangkan masa kejayaan pelabuhan ini sebagai pusat perdagangan di wilayah Asia. Kapal-kapal dari berbagai negara datang mengangkut barang dagangan yang berlainan.

Kini, pelabuhan hanya digunakan untuk pelayaran antar-pulau. Masih banyak kuli pikul yang bermandikan keringat disiram terik mentari siang menjelang sore itu. Meski bukan lagi karung rempah-rempah yang diangkutnya seperti di masa silam, pekerjaan mereka sama beratnya.

Jika ingin lebih meresapi suasana negeri maritim, Anda bisa naik perahu mengelilingi pelabuhan. Ada sejumlah perahu nelayan yang disewakan bagi turis yang ingin menikmati suasana pelabuhan. Pilihlah waktu menjelang sore agar nyaman dan dapat menikmati pemandangan nan indah.

Untuk ke Museum Bahari, dan menikmati jejak bangsa pelaut, dapat dicapai dengan menggunakan bus Transjakarta arah Halte Kota. Dari halte itu pelancong dapat menumpang Metromini Kopami ke arah Muara Angke. Pengunjung bisa turun di simpang Pasar Ikan, lalu jalan sedikit ke arah museum.

Ayo sekali-kali agendakan perjalananmu untuk menikmati jejak bangsa pelaut di Museum Bahari.

agendaIndonesia

*****

Pedang-pedang Indah Cibatu Sejak 1985

Pedang-pedang indah Sukabumi, selain indah juga syarat sejarah. Foto: TL-Rully kesuma

Pedang-pedang indah Cibatu, Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, adalah kerajinan yang tak hanya elok, pedang-pedang ini pun dipesan karena nilai sejarahnya. Tak selamanya alat yang berkesan keras dan berbahaya ini sesungguhnya memiliki nlai seni yang tinggi. Bahkan juga ada syiar agama.

Pedang-pedang Indah

Betul, ada kisah sejarah perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya terkait pedang-pedang indah itu. Kisahnya, di seantero jazirah Arab orang mengenal Amru bin Abda Wudd sebagai kesatria Quraisy yang ganas. Ketika Perang Khandaq berlangsung, ia menantang duel para pengikut Nabi Muhammad. “Siapa di antara pengikut Muhammad yang berani berduel denganku?” ujarnya.

Tantangan tersebut tak ayal membuat para sahabat Nabi kecut. Mereka mengenal betul siapa Amru bin Abda Wudd. Tak hanya memiliki tubuh yang besar dan tegap, Amru mahir memainkan tombak dan pedang. Suasana menjadi hening dan mencekam. Tak seorang pun menerima tantangan tersebut.

Ali bin Abi Thalib, yang mendengarkan tantangan itu, gelisah. Ia memohon izin kepada Nabi untuk melayani tantangan tersebut, tapi tak dikabulkan. Beberapa kali memohon, akhirnya Ali diizinkan juga.

Pertarungan dahsyat tak terelakkan lagi. Suara keras benturan pedang terjadi berulang-ulang. Tak beberapa lama, pertarungan berhenti. Tubuh Amru bin Abda Wudd ambruk dengan bahu terbelah. Wajah Rasulullah berseri-seri melihat kemenangan Ali. Beliau lantas bersujud syukur di atas tanah dan mengucapkan, “Laa saifa illa Dzulfiqar wa laa fataa illa Ali.” Artinya, tidak ada pedang kecuali Pedang Dzulfiqar dan tidak ada pemuda segagah Ali.

“Kalimat itu tergores di sarung Pedang Dzulfiqar atau Dzulfaqor,” kata Haji Aas Asyari, perajin pedang, golok, dan pisau di Cibatu, Sukabumi. Ia pun menunjuk ke salah satu pedang berwarna emas.

Pedang-pedang indah Cibatu, SUkabumi, dipesan untuk kecintaan pada keindahan, bukan kekerasan,
Pedang-pedang indah karya Pak Haji Aas Asyari, Sukabumi. Foto: Dok. TL/Rully K

Pedang yang dipajang di salah satu dinding ruangan itu memang lebih mencolok ketimbang pedang-pedang indah lainnya. Selain warnanya berkilau, desainnya menawan. Bentuk pedang itu melengkung khas pedang Arab. Begitu pula gagangnya.

Namun, kata pria yang akrab disapa Pak Haji itu, pedang tersebut hanyalah replika pesanan dari salah satu konsumen. “Pedang yang asli konon sudah tidak ada lagi. Karena sudah dibuang ke laut. Sebab, berbahaya jika jatuh ke tangan orang lain,” ujarnya.

Selain memiliki pedang bermata dua yang memiliki simbol jihad dan keberanian Ali bin Abi Thalib itu, Haji Aas menyimpan Pedang Al-Battar. Sama halnya dengan Pedang Dzulfiqar, pedang ini replika pesanan seorang konsumen. Meski replika, kata Pak Haji, pedang itu dibuat nyaris sama dengan bentuk aslinya.

Untuk Pedang Al-Battar, misalnya, di sarung dan gagangnya terdapat 555 butir batu permata. Khusus di gagangnya, bertabur 150 butir permata. Walhasil, pedang dengan panjang hampir 100 sentimeter itu lumayan berat. Menurut dia, pedang aslinya masih tersimpan di Museum Topkapi, Istanbul, Turki.

Pria 61 tahun ini mengaku mewarisi keahlian ayahnya, Haji Syarifudin, yang memulai usaha sedari muda, pada 1985. Selain melayani pembuatan pedang-pedang indah untuk para kolektor, Haji Aas melayani pembuatan samurai, golok, dan pisau dari perguruan bela diri, termasuk Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI. Pelanggan tetapnya adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia dan Persatuan Pencak Silat dari Belanda.

Mengenai harga, ia mengatakan tergantung pada bahan dan tingkat kerumitan. “Karena desain yang rumit membutuhkan waktu pengerjaan yang lama,” ucapnya. Untuk senjata tajam jenis golok, harganya bisa lebih dari Rp 250 ribu. Sedangkan harga pedang atau samurai mencapai setidaknya Rp 5 juta.

Meskipun masih menggunakan peralatan sederhana, perajin yang menamai usahanya Golok Pusaka itu sudah menghasilkan ribuan senjata tajam. Pedang-pedang indah karyanya tidak hanya dipesan pelanggan atau peminat dari Indonesia, tapi juga hingga mancanegara, seperti negeri seberang Brunei Darusalam dan Malaysia.

Lalu, apakah Pak Haji melayani pembuatan golok pusaka yang konon memiliki kesaktian? “Bisa saja. Tapi sekarang sudah jarang yang memesan golok seperti itu. Pembuatannya lebih rumit dan lama karena butuh ritual. Yang mengerjakannya juga harus berpuasa terlebih dulu dan menentukan tanggal pembuatannya,” ujar Pak Haji, yang mengaku masih memiliki kemampuan seperti itu. Wow!

DI Cibatu sendiri kini tumbuh semacam sentra kerajinan senjata tajam. Tak hanya pedang dan golok, namun juga pisau-pisau khusus. Banyak pelanggan luar negeri yang dating untuk memesan pisau-pisau ini.

agendaIndonesia/TL/Andry T./Rully K.

*****

Bakpia Balong Solo, 1 Kotak Isi 5

Bakpia Balong Solo, pia khas Solo, alternatif oleh-oleh.

Bakpia Balong Solo tentu tidak terlalu akrab di telinga pecinta cemilan. Hal ini disebabkan karena dua hal. Pertama bakpia lebih dikenal sebagai makanan oleh-oleh khas dari Yogya, dan ke dua bakpia Solo ini masih belum bersertifikasi halal. Jadi memang harus hati-hati untuk yang muslim.

Bakpia Balong Solo

Bakpia sendiri adalah makanan khas Tionghoa yang telah berasimilasi dengan budaya lokal Indonesia, khususnya Jawa. Bakpia adalah semacam pastri khas Fujian, salah satu daerah di Tiongkok, berupa kue yang terdiri dari gulungan kulit panggang dengan varian isi.

Kulit bakpia dibuat dari campuran tepung terigu, gula, dan garam yang kemudian dibentuk menjadi adonan. Adonan tersebut kemudian diisi dengan isian, apapun isiannya, dan dibentuk bulat pipih.

Kota Solo memiliki kekayaan kulinari yang luar biasa, terasuk Bakpia Balong SOlo.

Pada awalnya, isian bakpia berisi daging babi (non-halal) dan kundur yang memiliki nama lain bakpia asin. Namun karena diasimiliasi dengan budaya Indonesia yang mayoritas beragama Islam, isian bakpia ini diganti dengan varian lain, seperti kacang hijau, keju, dan varian lainnya.

Jika pembuat bakpia di Yogyakarta cepat melakukan penyesuaian terkait kehalalan makanan ini, rupanya tidak demikian dengan produsen di Solo. Mereka membuat produknya tetap dengan patron resep lama mereka.

Barangkali itu sebabnya, jika mendengar kata ‘bakpia,’ mungkin yang terbayang di pikiran orang adalah Yogyakarta. Namun, sebenarnya Kota Bengawan ternyata juga memiliki bakpia legendaris yang sudah menjadi andalan cukup lama.

Adalah Bakpia Balong Solo, yang diproduksi dan dijual toko ‘Sumber Rejeki’. Ini adalah makanan khas peranakan Tionghoa-Jawa yang sudah cukup melegenda di Kota Solo.

Dilansir dari sebuah sumber, kuliner ini disebutkan sudah ada sejak 1960-an dengan salah satu ciri khasnya dikenal karena ukurannya yang besar. Lebih besar dari ukuran bakpia dari yang selama ini dikenal dari Pathok Yogyakarta.

Pia Balong Solo IG
Bakpia Balong Solo ukurannya lebih besar. Foto IG Bakpia Balong

Bakpia Balong Solo ini sudah dikelola oleh tiga generasi dan menurut penjelasan pengelolanya saat ini, ukuran bakpia mereka yang lebih besar ini mengacu pada ukuran asli dari negara asalnya, yaitu Tiongkok. Pengelolanya pun mengetahuinya saat berkunjung ke Tiongkok.

Awalnya, Bakpia Balong Solo ini hanya tersegmentasi untuk komunitas masyarakat Tionghoa di Solo saja. Namun seiring berjalannya waktu, Bakpia Balong ini bisa dinikmati secara luas oleh kalangan masyarakat dan hingga sekarang menjadi oleh-oleh khas Solo.

Dalam perkembangannya pula varian isinya berkembang. Jika tadinya hanya daging saja, terutama daging babi yang non-halal, kemudian memakai isiannya memakai yang halal. Sayangnya, lagi-lagi, mereka belum memisahkan proses produksi yang halal dan non-halal.

Bakpia ini bisa ditemukan di kawasan Pecinan di Kota Solo, tepatnya di Jalan Kapten Mulyadi Nomor17, Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Surakarta atau tidak jauh dari lokasi Pasar Gede Hardjonagoro. Penamaan ‘Balong’ sendiri diambil dari kawasan Pecinan yang bernama Kampung Balong.

Bakpia ini terkenal sejak lama. Meskipun tokonya kecil tapi masih bertahan hingga saat ini. Sekarang tokonya dengan pintu kaca dan ruangannya sudah berpendingin udara. Kemasan bakpianya juga lebih modern dan satuan dikemas dalam box kecil warna putih. Rasanya pun lebih bervariasi. Ada buah-buahan, kopi, atau daging.

Kalau yang dulu familiar dengan kemasan Bakpia Balong Solo yang masih dibungkus plastik isi 5 pia, sekarang sudah berubah, pakai kotak. Kemasan saat ini lebih Clean and light. Mereka rupanya mulai mengikuti perkembangan zaman. Dari rasa isinya tetap sama, baik dari rasa maupun ukurannya.

Bakpia Balong saat ini sekarang memiliki tujuh varian rasa yaitu chocolate pie, cheese pie, red Bean pie, mung Bean pie, chocolate cheese pie, durian pie dan meat pie. Bagi pecintanya, semua rasanya enak dan layak menjadi buah tangan saat sedang ke solo. Tapi sekali lagi, hati-hati jika tidak mengkosumsi produk non-halal.

Bakpia Solo IG

Bagi yang senang, disebut rasa bakpianya khas dan beda dengan bakpia tempat lain. Rasa kacang ijonya dikombinasi dengan tangkue (manisan winter melon) yang belum pernah ditemui di bakpia produk lain di Yogyakarta.

Saat ini ukuran bakpianya, meski tetaplebih besar dari bakpia umumnya, sedikit lebih kecil dibandingkan dulu dan harganya pun sudah naik. Satu box berisi lima seharga Rp 30 ribu. Ini bisa jadi alternatif oleh-oleh dari Solo buat teman yang bukan muslim.

agendaIndonesia

*****

Jambi, 2 Situs Warisan Dunia

Taman Nasional Gunung Kerinci/shutterstock

Jambi mungkin masih jarang dilirik wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal untuk dikunjungi. Padahal daerah ini memiliki begitu banyak hal yang layak untuk dinikmati. Dua di antaranya bahkan merupakan situs warisan dunia.

Sesungguhnya banyak penerbangan menuju ke Jambi, ibukota provinsi Jambi. Baik dari Jakarta, maupun dari kota lain seperti Padang, Medan atau Batam.

Jambi dan Candi Muaro Jambi

Berada di daerah pesisir Sumatera, Bandar Udara (Bandara) Sultan Thaha Syarifudin Jambi dapat dicapai dengan penerbangan hanya dalam 1 jam 15 menit dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang. Jarak yang tergolong pendek. Di provinsi ini, ada berbagai objek wisata yang tergolong istimewa, yakni Candi Muaro Jambi dan Taman Nasional Kerinci Seblat. Keduanya telah dicatat Unesco sebagai situs warisan dunia yang harus dijaga selain beberapa tempat wisata seputar Jambi. 

Candi Muaro Jambi adalah peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Melayu. Candi ini merupakan salah satu kompleks candi terluas di Indonesia. Ciri khasnya adalah susunan batu bata merah pada semua bagian candi. Pada 2009, badan dunia United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan candi ini sebagai situs warisan dunia yang wajib dilindungi. Candi ini ditemukan oleh S.C Crooke, seorang letnan berkebangsaan Inggris pada 1820. Candi Muaro Jambi sempat dipugar oleh pemerintah Indonesia pada 1975. Hingga kini terhitung ada 61 buah candi yang sebagian besar tertutup tanah.

Bagi para pencinta alam, yang menarik dari provinsi ini tentunya, kawasan pegunungannya. Salah satunya, Gunung Kerinci, gunung berapi tertinggi di Indonesia. Umumnya, pendakian dimulai dari Desa Kersik Tua, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Desa dengan hamparan kebun teh nan luas. Salah satu yang terkenal dari Jambi memang buah tangan berupa teh Kayu Aro yang berkualitas ekspor. Kebun teh di Kersik Tuo merupakan bagian dari perkebunan teh Kayu Aro. 

Ada beberapa keistimewaan dari teh Kayu Aro. Di antaranya, merupakan perkebunan teh tertua di negeri ini karena sudah ada sejak masa penjajahan Belanda pada 1925. Tergolong terluas dan tertinggi kedua di dunia setelah perkebunan teh Darjeeling di India. Luasnya sekitar 2.500 hektare dan berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Selain itu, tehnya merupakan teh hitam berkualitas tinggi.

Di sekitar Gunung Kerinci juga ada Taman Nasional Kerinci Seblat yang menantang sekaligus menggoda bagi para pencinta alam. Taman Nasional ini juga telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Pesonanya tidak hanya keberagaman jenis flora dan fauna yang tumbuh, tapi juga keindahan Gunung Kerinci dan Danau Kerinci. Danau ini luasnya mencapai 5.000 meter persegi dengan tinggi 783 meter di atas permukaan laut. Danau ini pun kaya akan ikan-ikan. 

Di kawasan ini bisa ditemukan sejumlah objek wisata, seperti Danau Gunung Tujuh, yang dikelilingi oleh tujuh buah gunung. Gunung-gunung menjadi pembatas tepian. Danau ini merupakan salah satu danau terluas di Asia Tenggara. Danau seluas 960 hektare ini berada di Desa Pelompek Kecamatan Kayu Aro. Biasanya, untuk mencapainya para pencinta alam harus berjalan kaki selama 3-5 jam. Melelahkan sekaligus menggairahkan.

F. Rossana

5 Makanan Khas Garut yang Unik

jajanan khas garut

Petualangan ke Talaga Bodas atau wisata sejarah ke Candi Cangkuang di Kabupaten Garut tak lengkap jika belum mencicipi makanan khas Garut ini. Aneka makanan ini umumnya manis, kecil, dan tahan lama sehingga sangat pas dijadikan buah tangan bagi kerabat di kota lain. Kebanyakan orang hanya mengenal dodol Garut. Padahal ada banyak pilihan lain yang tak kalah lezat.

Rekomendasi Makanan Khas Garut

makanan khas garut dodol

Dodol Garut

Garut telah begitu identik dengan dodolnya, seperti Semarang dengan lumpia dan Yogyakarta dengan bakpianya. Jenisnya sangat beragam, seperti dodol wijen, dodol kacang, dodol nanas, dodol nangka, dodol tomat, dodol durian, dan buah-buahan lainnya. Ada pula gabungan cokelat dan dodol yang populer dengan nama Chocodot.

Burayot Garut

Burayot adalah makanan dari campuran gula merah, tepung beras, dan kacang tanah, lalu diolah dengan minyak kelapa. Proses penggorengannya memunculkan aroma khas dari makanan tersebut. Seiring semakin banyaknya penggemar, kini tersedia varian rasa, dari rasa durian, cokelat, kacang hijau, dan masih banyak lagi.

makanan khas garut dorokdok

Dorokdok Garut

Jika dilihat sekilas, dorokdok tak ubahnya seperti kerupuk kulit pada umumnya, padahal bahan bakunya berbeda. Kerupuk kulit terbuat dari kulit kerbau, sedangkan dorokdok terbuat dari kulit sapi. Dorokdok diolah menggunakan rempah-rempah dan tanpa bahan pengawet. Pengolahannya memerlukan waktu lima sampai tujuh hari karena harus direbus dan dijemur dulu sebelum digoreng. Dorokdok tersedia dalam dua versi, original dan pedas.

makanan khas garut emplod

Emplod Garut

Emplod dikenal juga dengan sebutan endog lewo. Artinya, telur yang terbuat dari Kampung Lewo. Bahan dasarnya singkong yang telah digiling dan diperas, kemudian didiamkan selama 24 jam. Selanjutnya, singkong dicampur dengan parutan kelapa dan aneka bumbu. Adonan emplod dibentuk menjadi bulatan kecil sebesar kelereng, baru kemudian digoreng. 

makanan khas garut ladu

Ladu Garut

Tekstur ladu atau disebut juga dengan malangbong ini mirip dodol, tetapi sedikit lebih kasar dan keras. Ladu terbuat dari bahan dasar tepung ketan yang diolah bersama campuran gula aren dan parutan kelapa. Rasa manis yang tidak terlalu dominan memberikan perbedaan dengan dodol. Sementara teksturnya yang cenderung renyah memberi sensasi yang unik ketika digigit dari makanan khas Garut yang satu ini.

Demikian ulasan 5 makanan khas Garut, sebuah kabupaten di provinsi Jawa Barat yang layak Anda coba bila berkunjung ke kota yang terkenal dengan julukan ‘Garut Swiss van Java’ atau Swissnya Jawa ini.

Keliling Jawa Barat Dengan Kereta Api

Pandangan udara dari sebuah jembatan kereta api di lanskap sawah di Jawa Barat

Dari balik kaca kereta yang melaju, hutan dan sawah seolah berlarian ke belakang. Dunia para penumpangnya pun dibawa ke masa lampau, ketika roda-roda besi menggerakkan kehidupan di Jawa Barat. Hingga hari ini, jalur kereta dan artefak transportasi itu masih lestari. Lekaslah naik dan rasakan pengalaman melewati terowongan tua, jurang yang menganga, hingga stasiun-stasiun lawas dari abad kesembilan belas.

Jawa Barat Alamnya Indah

Romantisme masa silam tak hanya dapat dinikmati lewat artefak di museum-museum. Jawa Barat justru menawarkan sensasi ini melalui perjalanan di atas roda besi kereta api. Wisatawan dapat memilih bepergian naik kereta wisata dengan fasilitas mewah atau menggunakan kereta lokal yang sarat akan pengalaman unik. Stasiun-stasiun kecil, jembatan tinggi, terowongan tua, dan panorama pegunungan akan memberikan memori tak terlupakan ketika Anda menyusuri sudut-sudut Jawa Barat.

original SB2012031830
Stasiun Kereta Api Bandung, Jawa Barat .
  • Kereta Wisata Jakarta-Bandung

Jalan tol Jakarta-Bandung tak jua lelah menampung ribuan kendaraan dan berjam-jam kemacetan setiap harinya. Mengapa tak mencoba naik kereta dan merasakan eksotisme bentang alamnya? Tinggalkan ponsel Anda dan lihatlah keluar saat kereta melewati jembatan Cisomang, Kabupaten Purwakarta. Ini adalah jembatan kereta tertinggi di Indonesia yang masih aktif. Di kanan-kiri, hanya sungai dan jurang yang menganga sedalam 100 meter!

Naik apa? Perjalanan akan semakin lengkap dengan kereta wisata Argo Parahyangan Priority. Gerbongnya menyajikan kemewahan berupa interior eksklusif, video on demand, jaringan internet nirkabel, dan menu coffee break. Harga tiket Rp 250 ribu untuk sekali jalan.

  • Kereta Lokal Cibatu-Purwakarta

Cibatu adalah sebuah desa di Kabupaten Garut. Maka pengalaman yang akan Anda dapatkan pun identik dengan kehidupan pedesaan yang masih asri dan alami. Sepanjang jalan, hanya ada stasiun-stasiun kecil seperti Karang Sari, Cimindi, Maswati, Plered, dan Ciganea. Selain pemandangan serbahijau, kereta juga melewati terowongan terpanjang yang masih aktif, yaitu Sasaksaat. Lalu di dekat peron Stasiun Purwakarta, Anda akan menemui kuburan kereta warna-warni yang sempat viral di media sosial.

Naik apa? Kereta Simandra hanya bertarif Rp 8.000 sekali jalan. Tiketnya harus dibeli di stasiun Cibatu atau Purwakarta. Namun tiket Jakarta-Cibatu tersedia secara daring, yaitu menggunakan kereta Serayu dengan harga sekitar Rp 63.000.

  • Kereta Komersial Bogor-Sukabumi

Kabupaten Sukabumi memiliki segudang tempat wisata yang menarik, antara lain Situ Gunung dan Geopark Ciletuh. Bepergian ke sana paling pas tentu dengan naik kereta dari Stasiun Bogor Paledang. Selama 2 jam perjalanan, penumpang disuguhi pemandangan yang beragam, dari permukiman, persawahan, dan yang paling mencolok, kemegahan Gunung Salak. 

Naik apa? Kereta yang tersedia adalah Pangrango kelas ekonomi dan eksekutif. Pangrango ekonomi bertarif Rp 30.000 dengan fasilitas AC rumahan dan tempat duduk 2-2 yang berhadapan. Sementara Pangrango eksekutif bertarif Rp 70.000 dengan fasilitas AC khusus kereta dan tempat duduk yang bisa disandarkan.

Bahan dan Foto Dok. Javalane