Sekolah Hijau Bali, 1 Cara Belajar Hidup

Sekolah hijau Bali membangun jembatan dari bahan bambu yang lebih ramah lingkungan.

Sekolah Hijau Bali, atau Green School Bali, bukanlah sekolah lingkungan biasa. Ini sebuah sekolah yang mengajarkan hal “lebih” tentang kehidupan.

Sekolah Hijau Bali

Suara-suara ceria dan musik upbeat langsung tertangkap telinga, ehmm… bikin penasaran saja. Kedua kaki saya menjejaki jalan berkerikil menuju sumber suara itu. Begitu tiba di sebuah aula bambu besar terlihat sejumlah orang menari-nari, melompat, dan bernyanyi gembira. Mereka benar-benar menikmati suasana.

Saya bukan berada dalam sebuah festival siang itu, melainkan berada di tengah sebuah sekolah di Jalan Raya Sibang Kaja di wilayah Badung, Bali. Tepatnya di Green School Bali. Bukan sembarangan sekolah memang.

Didirikan oleh John dan Cynthia Hardy yang berdarah Amerika dan Kanada. Mereka dulu adalah pencinta perhiasan. Keduanya telah menjadi penduduk Bali lebih dari 30 tahun. Green School dibangun tujuh tahun lalu dengan harapan mereka bisa membawa para murid keluar dari batas-batas struktural, konseptual, dan fisik yang ditemukan di berbagai sekolah konvensional.

Sekolah ini tidak hanya menyediakan ilmu mengenai green living, namun juga mempersiapkan kehidupan anak-anak mereka. “Karena kami tidak mempersiapkan murid-murid kami (untuk masuk ke sekolah Ivy League). Kami mempersiapkan lebih dari itu untuk mereka,” kata Francis, pemandu wisata hari itu, yang juga guru di sekolah tersebut.

Sekolah pun terus berusaha agar bisa semandiri mungkin. Dihadapkan dengan kondisi sumber daya air di Bali yang semakin berkurang, sekolah membangun penampungan air sendiri. Kemudian, mendaur ulang melalui osmosis terbalik untuk memproduksi air bersih yang aman. Air tersebut digunakan di sekolah dan diambil dari penampungan air serta sungai.

“Kemandirian sekolah tidak berhenti hanya di air. Sekolah ini telah membangun sebuah pusaran air, di mana pembangunannya sudah memasuki tahap akhir untuk menghasilkan listriknya sendiri. Hingga saat ini, proyek yang berumur tujuh tahun ini merupakan satu-satunya turbin air vertikal di Bali,” kata Francis menjelaskan.

Selain itu, sekolah ini mendaur ulang limbah, termasuk kamar mandinya. Juga menyediakan botol air yang terbuat dari besi untuk murid-muridnya, membuat mobil listrik bambu sebagai kendaraan ramah lingkungan, dan menggunakan bambu untuk semua struktur di dalam wilayah Green School.

sekolah hijau Bali tidak sekedar mengajarkan tentang lingkungan, tapi juga kehidupan.
Sekolah Hijau Bali dengan ruang kelasnya yang tidak konvensional. Foto: Shutterstock

Lebih jauh, Francis mengungkapkan, bambu merupakan salah satu material yang memiliki kemampuan untuk menyimpan karbon. Selain itu, bambu dapat didaur ulang. Namun, jika tidak di daur ulang, maka akan kembali pada alam. Bahkan jembatan sekolah, yang dapat menahan hingga 200 orang dewasa, seluruhnya terbuat dari bambu. Jembatan ini berdiri anggun di atas Sungai Ayung dan menjadi jembatan bambu teranggun dan terkokoh yang pernah saya lihat.

Francis memimpin kami menuju salah satu ruang kelas. Sebagai orang yang hidup di perkotaan, saya harus mengakui berjalan di seputar Green School bukanlah hal yang mudah. Tidak ada jalan di sekolah ini yang terbuat dari semen. Semakin jauh saya berjalan, semakin besar usaha yang saya lakukan. Jalan di sekolah masih pada bentuk awalnya: terbuat dari batuan vulkanik.

Francis menyebutkan kondisi jalan tersebut sebenarnya ada tujuannya. Diharapkan, anak-anak akan berjuang dan ketika mereka terjatuh jadi paham rasa sakitnya. Tapi mereka tentu akan bangun dan melanjutkan perjalanan. “Begitu juga dengan menjalani hidup,” ucapnya.

Yang lebih menarik dari jalanan vulkanik adalah lubang lumpur. Terletak di sebelah salah satu kelas dan studio yoga, lubang lumpur merupakan bagian dari berbagai aktivitas sekolah. Terinspirasi dari mepantigan—sebuah bentuk pergulatan dan ilmu bela diri dari Bali—anak-anak dianjurkan untuk ikut serta dalam “pertarungan” seru di dalam lumpur. Dengan aktivitas ini, sekolah memperkenalkan kepada anak-anak tentang latar belakang dari kultur lokal. Selain itu, kegiatan itu bertujuan mengajarkan bahwa tanah tidaklah kotor.

Sama seperti sekolah lain, jiwa dari Green School ini terletak pada kurikulum yang ditawarkannya. Green School merupakan sekolah yang berpusat pada anak-anak dan mereka dianjurkan dapat berkembang dalam kecepatan masing-masing.

Francis menyebutkan sistem penilaian konvensional sudah tidak memiliki tempat di sini meski ada beberapa pengecualian, antara lain, sekolah tetap mempersiapkan murid-murid senior untuk ujian masuk perguruan tinggi.

Di sisi lain, dengan belajar di dalam kelas dan mengikuti suatu sistem yang dinamakan thematics oleh sekolah, para murid dapat melihat subyek yang mereka pelajari dari berbagai perspektif yang berbeda. Di sekolah, para murid juga belajar dengan praktek. Anak Francis rupanya juga bersekolah di sini. “Anak saya terlibat dalam pembangunan sebuah generator. Saat ini, sekolah ini memang sedang membangun bendungan di sungai, bendungan sungguhan,” kata dia.

Green School juga mengajarkan murid-murid mereka agar tidak hanya menghargai bumi ini, tapi juga orang-orang dan budaya di sekeliling. Contohnya, murid sekolah dasar diwajibkan untuk belajar bahasa Indonesia. Sementara itu, untuk murid yang tidak dapat hadir di sekolah selama satu tahun penuh ataupun  orang dewasa yang ingin merasakan pengalaman green living di Bali telah disediakan Green Camp. Di area ini, peserta belajar soal kepemimpinan melalui pengalaman belajar di luar ruang.

Francis pun menyimpulkan secara sederhana: “Sekolah ini bukan hanya tentang kepalanya, ini juga tentang tangan dan hatinya. Di sini kami ingin murid-murid juga mengetahui bahwa mereka dapat membuat perubahan.”

agendaIndonesia/ F. Ramdhani/TL

*****

5 Tempat Gembok Cinta di Asia

5 tempat gembok cinta di asia, salah satunya di Ancol Jakarta

5 tempat gembok cinta di Asia, termasuk yang ada di Indonesia, ini tentu bukan yang pertama dan asli. Tapi latar belakang tempat itu muncul tetap sama: ada pasangan-pasangan yang tengah kasmaran yang ingin mengabadikan kisah kasih mereka dan syukur-syukur cinta mereka bisa terikat selamanya.

5 Tempat Gembok Cinta di Asia

Tahukan Anda, aslinya tempat pertama munculnya gembok cinta adalah di kota Vranjcka Banja, sebuah kota kecil di Serbia. Negeri di kawasan Semenanjung Balkan bekas negeri Yugoslavia. Gembok Cinta itu tepatnya ada di Jembatan Most Ljubavi. Ini tentang kisah cinta sepasang anak muda yang akhirnya kandas dengan latar belakang perang Austria dan Serbia pada saat Perang Dunia II. Si pemuda rupanya jatuh cinta dengan perempuan lain di wilayah di mana ia bertugas. Patah hati, si kekasih meninggal karena kesedihan hatinya.

Anak-anak muda Serbia yang ikut sedih atas kisah cinta mereka, lalu pergi ke jembatan itu dan membawa gembok yang bertuliskan nama mereka dan pasangan masing-masing. Mereka mengaitkan gembok itu di jembatan seraya berharap cinta mereka tak lekang oleh waktu.

Kisah terbentuknya gembok cinta ini kemudian menyebar ke perbagai kawasan. Munculah tempat-tempat dengan gembok cinta di sejumlah negara. Tidak saja di beberapa negara Eropa, di Asia pun juga punya tempat untuk memasang gembok cinta. Termasuk di Indonesia. Mau tahu di mana saja? Berikut 5 tempat gembok cinta yang mungkin akan membuatmu mengaitkan gembok cinta kalian saat hari Valentine.

Dermaga Hati Jakarta

Di Indonesia, ada Dermaga Hati di Beach Pool, Taman Impian Jaya Ancol. Papan kayu yang berbentuk simbol cinta itu dilengkapi rantai sepanjang dermaga. Di rantai inilah biasanya para kekasih menggantungkan gembok cinta mereka. Sejak dibuka pada Februari 2011, Dermaga Hati menjadi salah satu tempat favorit muda-mudi Jakarta dan sekitarnya untuk berpacaran.

5 tempat gembok cinta di Asia, di antaranya di Jakarta dan di Bandung. Di ibukota Jawa barat ini bahkan ada 4 lokasi.
Gembok Cinta di kompleks Balaikota Bandung, jawa Barat. Foto: Dok. rajatourbandung.com

Taman Balai Kota Bandung

Kompleks Balai Kota Bandung di Jalan Wastukencana, Bandung, Jawa Barat, juga punya menara cinta. Terbuat dari besi dan kawat ram dengan bentuk prisma berukuran 2,5 meter persegi dan tinggi dua meter. Di atasnya terdapat huruf “love” berwarna merah. Gembok cinta di Bandung ini berhiaskan lampu warna-warni pada malam hari.

Di monumen cinta ini, pasangan setelah menulis namanya di gembok akan  mengunci dan memasangnya, lalu membuang kuncinya ke kolam Patung Badak di depannya. Gembok cinta yang terpasang pada monumen yang diresmikan pada September 2014 ini memang belum banyak. Salah satunya adalah milik Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan istri. Selain di tempat ini, Bandung juga punya gembok cinta lain, yakni di Farmhouse Susu Lembang, Rabbit Town di Ciubuleuit; dan Dago Dream Park.

North Seoul Tower

North Seoul Tower di Korea Selatan atau  disebut juga dengan nama Seoul Tower atau Namsan Tower sudah dikenal sebagai tempat yang dianggap cocok untuk menggantungkan gembok cinta. Para pasangan kekasih yang merasa bosan dengan suasana perkotaan pergi ke tempat ini untuk menikmati suasana romantis. Di tempat ini biasanya pula mereka memasang gembok cinta sebagai sumpah tidak akan pernah berpisah. Saking popularnya, dibuat sebuah tanda yang bertuliskan: ”Sebuah Janji untuk Cinta Tiada Akhir”. Diperkirakan jumlahnya mencapai ribuan gembok cinta.

Huangshan

Salah satu tempat terkenal untuk menggantungkan gembok cinta adalah di Gunung Huang atau Huangshan, Anhui, Tiongkok. Tempat ini terkenal sebagai gunung paling romantis di Tiongkok karena pemandangannya nan indah. Nah, jembatan yang terdapat di gunung itulah yang menjadi sasarannya.

Suasana romantis tersebut didukung oleh  legenda lokal. Tentang  seorang wanita cantik yang jatuh cinta dengan pria miskin. Ayahnya tidak menyetujui keinginannya dan menjodohkan si wanita dengan pria kaya. Namun pada hari pernikahannya, si wanita cantik itu justru kabur bersama pria miskin ke Huangshan. Keduanya melompat dari gunung tersebut dengan harapan dapat hidup bersama selamanya.

Enoshima

Enoshima adalah pulau kecil di Jepang dan memang terkenal sebagai salah satu tempat romantis di negeri ini. Di puncak bukit Pulau Enoshima  ada menara observasi dan di dekatnya ada sebuah laut yang disebut lover cove atau Teluk Kekasih. Di sini ada sebuah bel bagi para kekasih yang dapat dibunyikan sebagai tanda keabadian cinta mereka. Di samping bel itu, terpasang pula sekumpulan gembok cinta yang bertuliskan nama-nama pasangan.

agendaIndonesia

*****

Roti Bagelen, Manis dan Kering 1 Tangkup

Roti bagelen adalah warmbollen yang dipanggang menjadi kering. Foto: shutterstock

Roti bagelen atau roti bundar yang biasa disebut bun seperti dipergunakan pada burger yang disajikan dalam kondisi kering. Rasanya manis dengan sedikit gurih karena di tengahnya tadinya ada olesan buttercream.

Roti Bagelen

Jenis penganan yang juga sering dijadikan oleh-oleh ini tersebar dari Solo hingga Bandung. Banyak toko makanan dan oleh-oleh yang membuatnya. Biasanya toko-toko ini juga menjual roti bundar dengan olesan buttercream yang bun-nya masih lembut, alias belum dipanggang. Orang menyebut penganan seperti itu sebagai roti semir.

Banyak yang menyukainya. Sebut saja jika wisatawan pergi ke Solo, Jawa Tengah, dan mampir ke toko Orion di Jalan Urip Sumiharjo, salah satu yang diburu adalah roti semir ini. Di Bandung yang terkenal dan melegenda adalah roti Abadi di Jalan Purnawarman di kawasan Tamansari.

Masih banyak nama lain yang menjajakan roti bagelen sebagai jajanan untuk oleh-oleh, namun ternyata istilah roti bagelen punya sejarah lain. Meski belum ada catatan sejarah yang resmi, orang mengenal roti bagelen dari daerah dengan nama sama, dari Bagelen.

Roti Bagelen omigayocom
Ciri khasnya adalah dikeringkan dengan dipanggang. Foto milik Omigayo.com

Bagelen adalah nama sebuah daerah atau wilayah yang berada dalam seputaran Purworejo, Jawa Tengah. Roti bagelen paling terkenal dari distrik tersebut datang dari sebuah toko roti bernama Begelen yang beroperasi di Kutoarjo. Kota kecil ini hanya berjarak sekitar 12 kilometer.

Dari bungkus roti yang dijual toko tersebut, disebutkan mereka sudah menghasilkan roti bagelen yang termasyhur sejak 1906. Mengingat tulisan di bungkusnya yang bertitel “Begelen Biscuit” dan gambar nyonyah berbusana ala barat lengkap dengan apron, bisa dipastikan bahwa makanan ini punya pengaruh Eropa yang cukup kuat.

Sejatinya, sebelum toko roti Bagelen menjual produk roti warmbollen keringnya di Kutoarjo, konon ada sebuah toko lain di Garut, Jawa Barat, yang berjualan makanan sejenis, yakni pabrik dan toko roti Kho Pek Goan. Ia disebut telah berjualan roti jenis ini pada 1885.

Berdasar catatan yang ada, bungkus roti milik Kho Pek Goan tampil lebih klasik dibandingkan yang asal Kutoarjo. Gambar perempuan cantik berkonde yang sedang tersenyum terpampang di situ. Begitupun, roti produk Kho Pek Goan tidak menampilkan kata bagelen.

Sayangnya tidak ada catatan yang menghubungkannya dengan roti bagelen di Purworejo atau Kutoarjo itu. Begitupun toko roti milik Kho Pek Goan juga tidak terlihat memiliki hubungan dengan produsen lain asal Jawa Barat, almarhum Ateng Adiwidjaja, pembuat bagelen dengan merek Abadi.

Menurut website resminya, bagelen Abadi sampai ke publik pertama kali pada 1947, dari pabriknya di Garut, Jawa Barat. Baru pada 1967, Abadi memindahkan operasinya ke Bandung. Dan baru pada 1969 berjualan di tokonya yang ada saat ini.

Rori Warmbollen Abadi Abadibagelen
Warmbollen produksi Abadi. Foto: Dok. Abadibagelen.com

Tak bisa dipungkiri bahwa bangsa Indonesia memang memiliki banyak sekali resep kuliner atau makanan yang merupakan pengaruh dari resep kuliner Belanda. Pada masa penjajahan, masyarakat Indonesia mulai mengenal roti warmbollen yang merupakan salah satu roti manis Belanda. Warmbollen ini merupakan roti basah yang memiliki isian buttercream.

Roti bagelen sejatinya memang dibuat dari roti manis yang diberi olesan buttercream, persis dengan roti semir, kemudian dikeringkan dengan cara dipanggang. Inilah cikal bakal terlahirnya bagelen, roti yang mirip warmbollen dengan olesan buttercream atau mentega, hanya saja teksturnya lebih garing.

Ada pula jenis roti bagelen yang diberi olesan margarin, yang ini biasanya menghasilkan rasa yang asin gurih serta lapisan rotinya akan terlihat lebih kuning. Sedangkan yang diolesi buttercream akan menghasilkan aroma yang lebih wangi dengan tekstur yang renyah.

Sejarah roti ini bisa dirunut ke produk ‘warmbollen’ yang kemudian “dikeringkan” dengan cara dipanggang kembali untuk mencegah jamuran. Semula, roti bagelen adalah cara masyarakat setempat mencegah roti agar tak terbuang akibat berjamur.

Betul, pada awalnya, salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mensiasati roti manis atau roti tawar yang akan berjamur adalah dengan cara mengubahnya menjadi roti kering atau sekarang disebut bagelen. Dan istilah ini seakan menjadi sebutan untuk roti kering.

Siapapun yang pertama membuat roti ini, yang pasti makanan ini sudah akrab dengan masyarakat. Dan unik. Wisatawan yang bepergian dari Jawa Tengah membawa roti bagelen, ketika dari Bandung juga membawa makanan sejenis.

agendaIndonesia

*****

Jalinan 3000 Ketak Nyurbaya Menyapa Jepang

Jalinan ketak kerajinan khas Lombok Barat

Jalinan 3000 ketak Nyurbaya, Lombok Barat, setiap tiga bulan dikirim ke negeri matahari terbit. Ketak adalah sejenis tanaman paku-pakuan yang lebih halus dari rotan. Di tangan-tangan trampil warga Nyurbaya hasilnya adalah produk-produk kerajinan yang modis.

Jalinan 3000 Ketak Nyurbaya

Sudah siang sebenarnya, tapi saya merasa masih menikmati suasana khas pagi. Maklum dalam perjalanan dari Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat, ke Lombok Barat terus-terusan diiringi rintik hujan. Saat memasuki daerah perbukitan, mata dibikin segar oleh pepohonan tinggi dan kehijauan di mana-mana.

Perjalanan tidak terlalu lama. Sekitar 30 menit sudah melewati Pura Lingsar dan 10 menit kemudian sudah tiba di Dusun Nyurbaya Gawah, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Saya tidak disambut oleh deretan toko-toko berisi hasil kerajinan ketak—sejenis tanaman paku-pakuan—yang menjadi ciri khas dusun ini. Tanaman ini dikenal dengan nama paku hata atau Lygodium circinnatum. Mirip dengan rotan, tapi ukurannya lebih kecil, sehingga lebih halus.

Yang ada malahan keranjang-keranjang bambu berisi rambutan dan manggis di pinggir jalan. Tampilannya masih segar karena baru dipetik dari pohon. Berada di lingkungan yang asri, dusun ini tak hanya memiliki penduduk dengan jari-jari yang menyulap ketak menjadi hiasan rumah, perabot, atau aksesori. Tapi juga sebagian warganya bekerja sebagai petani dan hasilnya berupa buah-buah yang menggoda selera seperti yang saya temukan.

Namun, buah-buahan bukan tujuan utama saya mengunjungi dusun ini. Kendaraan terus melaju hingga rodanya berhenti tepat di sebuah toko yang dipenuhi beragam produk dari ketak. Sebuah papan nama bertuliskan Mawar Art Shop di bagian depannya. Saya langsung bisa mengintip aneka wadah, tempat tisu, tatakan gelas, nampan, hingga aneka tas yang cantik. Dalam warna cokelat muda maupun cokelat tua. Ada yang murni berbahan ketak. Ada pula yang sudah dipadu dengan material lain seperti kayu dan kain. Hari itu Mawa—sang pemilik—tengah mengikuti pameran di luar negeri. Saya menemukan Suhartono—sang suami—yang menjadi mitra usahanya.

Tokonya lebih besar dibanding toko sebelahnya. Rupanya memang jumlah toko kerajinan ketak sudah menurun. Tinggal dua toko, yakni milik Mawar dan suaminya, serta di sebelahnya ada toko yang tak lain dari kakaknya Mawar. Suhartono menyebutkan sang istri memang benar-benar menangani masalah pemasaran dan produksi. Tak mengherankan bermunculan permintaan dari luar negeri. “Terutama Jepang, produknya biasanya tas-tas perempuan,” ujarnya. Pengiriman ke Negeri Sakura ini rutin dilakukan dengan total 3.000 buah per tiga bulan sekali. Beberapa kali memang Mawar, menurut Suhartono, mengikuti pameran di Jepang selain di Korea Selatan.  

Suhartono dan istrinya memang tidak mengerjakan sendiri produknya. Mereka menampung hasil karya dari para perajin yang ada di sekitar toko. Siang itu, saya hanya menemukan satu perajin setelah menyusuri perkampungan. Rupanya, saya datang tepat acara Mauludan digelar di rumah-rumah, sehingga sebagian warga bepergian untuk memenuhi undangan acara yang umumnya di daerah ini dilakukan di rumah-rumah.

Jalinan 3000 ketak Nyurbaya sebagai produk kerajinan dari Lombok telah mampu menembus pasa ekspor di Jepang.
Jalinan ketak, kerajinan dari Nyurbaya, Lombok Barat. Foto: Dok. shutterstock

Sang perajin mengatakan bahwa dirinya membuat produk tergantung pada jumlah ketak yang dimiliki. Ia memang membeli bahan mentah ketak dan kemudian menjalinnya. Kalau hanya bisa membeli dalam jumlah kecil, ia pun hanya membuat produk mini seperti tatakan gelas saja—tempat perhiasan mini. Bila membuat produk besar, ia pun bisa membuat nampan atau wadah lainnya. Harga jual pun beragam atau tergantung pada ukurannya. Yang termurah ialah tatakan gelas yang dibuat bulat atau segi empat berdiameter 10 sentimeter umumnya per buah Rp 6 ribu. Ukuran 30×40 sentimeter yang biasanya digunakan untuk alas piring dipatok pada kisaran Rp 50 ribu.

Dusun Nyurbaya bukan satu-satunya kampung perajin ketak di Pulau Lombok. Anda bisa juga menemukannya para perajin anyaman ketak di Desa Beleka, Praya, Lombok Tengah. Dari Mataram jaraknya sekitar 57 km. Hanya, para perajin di desa tersebut juga mengerjakan kerajinan rotan. Baik ketak maupun rotan memang menggunakan teknik yang sama, yakni anyaman. Produknya juga beragam, dari aneka wadah untuk kebutuhan rumah tangga hingga hiasan dan tas untuk kaum hawa.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Jember Jawa Timur, Kota 1.000 Oleh-oleh

Jember Jawa Timur, kota 1000 oleh-oleh di antaranya opak gulung

Jember Jawa Timur tidak cuma identik dengan suwar-suwir. ,Kota ini juga punya sederet alternatif buah tangan lain yang menarik untuk dibawa pulang.

Jember Jawa Timur

Jember menyandang segudang julukan. Mulai dari yang agak bercanda karena banyaknya polisi tidur di jalanan sehingga ada yang memberi nama Kota 1.000 Polisi Tidur, Kota Tapal Kuda, Kota 1.000 Bukit, Kota Tembakau, Kota Karnaval, hingga Kota Suwar-Suwir. Julukan itu amat mungkin berangkat dari sudut pandang si pemberi julukan.

Namun, jika saja si pemberi sebutan tersebut mengambil dari sudut pandang oleh-oleh, mungkin dia akan menjuluki kota di Jawa Timur ini sebagai Kota 1.000 Oleh-oleh. Ya, bisa saja begitu. Karena Jember punya beragam buah tangan yang bisa dibawa pulang para pelancong. Apa saja itu?

Suwar-suwir

Rasanya kurang afdal jika tidak memasukkan penganan ini sebagai oleh-oleh khas Jember. Namun bagi orang awam yang belum pernah makan penganan khas Jember ini pasti akan bertanya-tanya jenis makanan apa ini? Bentuknya kotak-kotak kecil memanjang menyerupai kotak balok mini. Warna pun beraneka ragam, dari hijau, cokelat, putih, hingga merah.

Oleh-oleh khas Jember ini sekilas mirip dodol, tapi strukturnya lebih padat. Hanya, saat digigit begitu lembut dan lumer di lidah. Rasanya legit, manis, dan bercampur kecut. Selintas seperti sedang mencicipi tape. Oleh-oleh ini dibuat dari bahan tape, gula, dan tepung. Kemudian, dijemur matahari supaya kering dan tahan lama. Penganan ini cocok dijadikan teman camilan minum teh. Harganya ialah Rp 15 -20 ribu per kotak.

Prima Rasa; Jalan H.O.S. Cokroaminoto No 6; Jember

Opak Gulung

Banyak nama yang diberikan untuk jajanan ringan tradisional Indonesia ini. Ada yang menamakannya opak gambir, kue semprong, atau opak gulung. Kendati berbeda, semuanya memiliki karakteristik yang sama, yaitu renyah saat dikunyah. Camilan ini dibuat dari tepung tapioka, gula, telur, wijen, dan santan. Semua bahan dibuat adonan, kemudian dipanggang di atas api.

Bentuk umum yang sering dijumpai di pasaran adalah digulung atau dilipat menjadi empat dan ada juga yang berbentuk kipas. Di Jember, pelengkap sajian yang biasanya hadir pada saat Lebaran itu akrab dinamai opak gulung. Per bungkus dikenai harga Rp 27 ribu.

Depot Jawa Timur; Jalan Gatot Subroto No 8; Jember

Tas Batik

Batik Jember mungkin tak setenar batik Solo atau batik Yogyakarta. Meski begitu, batik kota ini tak kalah menarik. Dikenal memiliki corak yang khas, yakni motif daun tembakau. Dipilih corak tersebut karena Jember merupakan salah satu kota penghasil tembakau terbesar di Indonesia.

Selain dijual dalam bentuk lembaran kain, batik Jember sudah banyak yang dijadikan tas atau kemeja pria. Kain batik Jember dipasarkan mulai Rp 135 ribu sampai Rp 1 juta. Sedangkan untuk kemeja pria dijual seharga Rp 187 ribu. Lain halnya dengan tas batik yang dijual dari harga Rp 85 ribu.

Toko Primadona; Jalan Trunojo No 137; Jember

Terasi Udang

Rasanya kurang lengkap jika kita mengunjungi Jember, tapi tidak membeli terasi. Maklum saja, kota ini memang dikenal sebagai salah satu kota penghasil terasi. Jenis penyedap masakan ini diolah di Puger—daerah penghasil udang terbaik di kota ini. Terasi dari daerah ini terkenal berkualitas tinggi dan beraroma harum. Bahkan konon sudah terkenal hingga ke Belanda.

Saking banyaknya merek dan ukuran yang dijual terkadang membuat kita justru bingung memilihnya. Apalagi semua produknya mengklaim berasal dari Puger. Karena itu, jangan segan bertanya kepada penjual atau meminta rekomendasi kepada teman yang sudah pernah mencicipinya. Namun yang pasti harganya mulai dari Rp 10 ribu.

Prima Rasa

Jalan H.O.S. Cokroaminoto No 6; Jember

Jember Jawa Timur menyandang berbagai julukan, mungkin salah satunya adalah kota 1000 oleh-oleh karena banyaknya buah tangan yang bisa dibawa dari kota ini.
Proll tape, cake tradisional di Jember, Jawa Timur, yang berbahan baku dari tape singkong. Foto: dok. shutterstock

Proll Tape

Pelancong yang ingin membawa oleh-oleh khas Jember mungkin bisa memilih proll tape sebagai alternatif. Kue yang terbuat dari tepung terigu, tape singkong, susu, mentega, dan telur ini rasanya hampir seperti cake, tapi aroma rasa tapenya sangat terasa. Dibubuhi tambahan yang  beragam, dari keju, kismis, hingga cokelat.

Proll tape dapat dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh yang berada di sepanjang Jalan Gajah Mada dan Jalan Trunojoyo. Biasanya dikemas dalam kardus dari berbagai merek, antara lain, Purnama Jati dan Anis. Harganya adalah Rp 19 ribu untuk ukuran kecil dan Rp 23 ribu untuk ukuran besar.

Sumber Madu; Jalan Gajah Mada No 103; Jember

agendaIndonesia/Andry T./Aditya H/TL

*****

Tradisi Pasola Sumba, di Antara 200 Makam Megalit

Tradisi pasola di Sumba Nusa Tenggara Timur merupakan ritual yang mengharapkan berkah yang Kuasa.

Tradisi pasola, sebuah tradisi perang berkuda dengan senjata tombak di padang rumput di tengah makam-makam megalitikum. Sebuah tradisi para ksatria dan penghormatan bagi kuda.

Tradisi Pasola Sumba

Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur punya satu tradisi yang unik, pasola. Ini merupakan tradisi tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak. Dulu yang digunakan adalah betul-betul lembing tajam. Kata pasola sendiri dicuplik dari kata sola atau hola yang berarti lembing kayu. Dalam konteks tradisi, pasola merupakan perang adat dengan dua kelompok ksatria berkuda saling berhadapan dengan menunggang kuda dan membawa lembing atau tombak.

Pasola digelar setahun sekali di sejumlah kampung di Pulau Sumba sebelah barat. Biasanya tradisi ini dilakukan di bulan Februari atau bulan Maret, tergantung desa atau kampung yang menyelenggarakan.

Kodi, Wanokaka, Wainyapu,dan Tosi adalah sejumlah kampung penyelenggaranya. Kampung-kampung tersebut bisa dicapai dengan berkendaraan darat dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Perjalanan hampir tiga jam, melalui jalan-jalan kecil berliku serta membelah sabana yang luas. Di beberapa perkampungan yang dilewati kita akan disuguhi pemandangan sejumlah kuburan batu megalit dan makam-makam yang menghitam.

Pasola diawali dengan adat nyale, yakni upacara rasa syukur masyarakat Sumba atas anugerah yang diperoleh yang ditandai dengan datangnya musim panen dan cacing laut yang melimpah di pinggir pantai. Cacing laut dalam bahasa Sumba disebut sebut sebagai nyale.

Adat tersebut dilaksanakan pada waktu purnama dan cacing-cacing laut keluar di tepi pantai. Para Rato, yakni pemuka suku, akan memprediksi saat nyale keluar pada pagi hari. Saat nyale pertama didapat oleh Rato, akan dibahas apakah ia gemuk, sehat, dan berwarna-warni, atau sebaliknya. Jika gemuk dan sehat, itu konon pertanda pada  tahun tersebut masyarakat akan mendapatkan kebaikan dan panen yang berhasil. Jika sebaliknya, kemungkiakan akan ada malapetaka.

Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan segenap warga dari kedua kelompok yang bertanding dan masyarakat umum. Belakangan, ketika adat ini menjadi atraksi, ia juga disaksikan wisatawan asing maupun lokal.

Di hamparan padang datar nan luas dan rumah adat beratap ilalang yang bagian tengahnya tinggi sekali itu dilingkari lebih dari 200 makam megalit berwarna kehitaman. Kemudian, para rato atau tetua adat melafalkan mantra meminta agar cuaca cerah.

Setiap kelompok terdiri atas lebih dari 100 pemuda bersenjatakan tombak yang dibuat dari kayu berujung tumpul. Walaupun berujung tumpul, permainan ini kadang dapat menjatuhkan. Dalam pasola, ke dua kelompok ksatria Sumba saling berhadapan, kemudian memacu kuda secara lincah sambil melesatkan lembing ke lawan. Para peserta juga mesti tangkas menghindari terjangan lembing yang dilempar lawan.

Dahulu, saat pasola dipergunakan lembing kayu bermata tajam. Namun kemudian penggunaan lembing kayu dilarang pemerintah kolonial Belanda karena dianggap dapat memicu gangguan ketertiban. Ritual perang berkuda “yang berdarah-darah” di Sumba sesungguhnya telah lama dilarang pemerintah. Kemudian, perang berkuda pun dipoles menjadi lebih ramah dan aman. Lembing bermata tajam diganti tombak kayu tumpul. Tetapi kuda tetap digunakan. Sebab, dalam ritual adat ini, kuda merupakan bagian yang penting.

Bahkan ada mantra yang dilafalkan para rato untuk memberkati kuda yang hendak berangkat perang. Kenapa kuda yang didoakan, bukan penunggangnya? Pararato menyebut, di Sumba kuda begitu dihormati. Saat perang, penunggang boleh saja tewas, tapi kuda harus tetap hidup. Sebab, kuda akan dikorbankan dalam sebuah ritual. Roh sang kuda disebutkan akan mengikuti sang pemiliknya, sehingga tetap menjadi tunggangannya di alam lain.

Tradisi pasola merupakan ritual tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak.
tradisi Pasola menjadi ritual budaya di awal tahun untuk meminta berkah bagi tanah Sumba.

Setelah doa dipanjatkan rato, masyarakat yang menonton mengeluarkan teriakan panjang tak henti-henti: “Nyale! Nyaleeee…”. Beberapa saat kemudian kuda nyale dibawa tiga orang rato keluar dari medan pertempuran. Ini merupakan tanda pertempuran dimulai. “Kuda nyale” merupakan kuda titisan dewi pesisiran yang bersemayam di dasar lautan itu. Kuda nyale juga merupakan kuda yang pertama memasuki arena pasola untuk memulai peperangan.

Kadang suasana agak menghangat, karena penonton saling lempar ejekan. Beberapa ksatria pasola yang sebelumnya panas karena minum peci, minuman khas Sumba, terkadang hanyut dalam suasana yang memanas. Juga lembing-lembing pun beterbangan di udara terik. Penonton pun sering ikut suasana bersorak dan mendesak ke tengah arena. Saat itulah, polisi memohon dengan sangat sopan agar penonton kembali ke area pinggiran arena. Tapi permintaan itu seperti lesap ditelan gemuruh penonton.

Meski suasana memanas, ada pantangan saat melempar lembing kayu. Pada saat kuda yang ditunggangi salah satu pihak bermanuver dan membelakangi lawan untuk kembali ke kubunya, adalah pantangan untuk dijadikan sasaran. Terlebih jika si ksatria di atas kuda tersebut telah kehabisan senjata.

Derap kaki kuda yang menggemuruh di tanah lapang, suara ringkikan kuda, dan teriakan garang penunggangnya menjadi musik alami yang mengiringi permainan ini. Pekikan para penonton perempuan yang menyemangati para peserta pasola, menambah suasana menjadi tegang dan menantang. Pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur dianggap berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panen.

Jika pandemi usai, catat di agendamu Februari atau Maret untuk berkunjung ke Sumba dan menikmati semangat pasola.

agendaIndonesia

*****

Levitasi Aksi Melayang 50 sampai 100 Centimeter

levitasi aksi melayang antara 50 hinga 100 centimeter

Levitasi, aksi melayang dalam proses pembekuan optikal menjadi menarik. Orang-orang seperti berada di udara, antara 50 hingga 100 centimeter. Terbang atau melayang. Gaya ini terinspirasi dari si “gadis melayang” Natsumi Hayashi, komunitas levitasi tumbuh marak di Indonesia. Lahirlah kreasi-kreasi-kreasi yang unik.

Levitasi Aksi Melayang

… Bebas lepas kutinggalkan saja semua beban di hatiku
Melayang kumelayang jauh
Melayang dan melayang…

Penggalan lagu Melayang yang dilantunkan penyanyi rap Iwa K. sepertinya cocok menggambarkan hasil kegiatan komunitas fotografi LevitasiHore. Betapa tidak, hasil karya fotografi mereka kebanyakan menampilkan obyek foto yang melayang di udara. Unik sekaligus kreatif.

“Foto levitasi berbeda dengan foto yang sekadar loncat (jump shot). Dalam foto levitasi, harus terlihat bahwa seseorang atau sesuatu sedang benar-benar melayang tanpa beban dengan tanpa bantuan apa pun. Ini didukung dengan kemampuan model untuk berpose melayang sepersekian detik saat dia melompat dan kemampuan fotografer untuk mengabadikan momen tersebut,” tutur Haryanto, admin LevitasiHore Bandung, Jawa Barat.

Menurut pria yang akrab disapa Boye itu, fotografi levitasi memiliki keunikan tersendiri daripada teknik fotografi lain. Dalam levitasi ini, keselarasan serta kekompakan antara fotografer dan model merupakan syarat mutlak agar gambar yang dihasilkan terlihat lebih alami.

Boye menegaskan bahwa fotografi levitasi jauh berbeda dengan pengambilan gambar jump shoot biasa. “Kalau fotografi biasa, semuanya tergantung pada fotografer. Tapi, kalau ini, antara fotografer dan model harus kompak. Yang jelas, gambar melayangnya harus natural, seolah tidak sedang meloncat. Hanya melayang di udara,” ujarnya. Karena itu,  mereka mengusung slogan “We levitate, not jump”.

Selain itu, untuk menghasilkan foto “melayang” yang indah dibutuhkan pencahayaan natural yang sangat baik serta waktuyang tepat dari sang fotografer saat mengambil gambar. Kendati begitu, teknik fotografi ini tidak membutuhkan kamera canggih seperti digital single lens reflect (DSLR). “Kamera saku atau kamera smartphone juga bisa digunakan,” kata mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung itu.

Andaikata membutuhkan peralatan khusus, kata Boye, paling hanya flash. “Itu pun kalau pencahayaan di sekitar dirasakan kurang. Atau memakai remote shutter jika untuk dipakai selfie, kan lagi musim tuh sekarang,” ia menambahkan sembari terkekeh.

Levitasi aksi melayang antara 50 sampai 100 centimeter sehingga seperti layaknya orang sedang terbang dalam bekuan optikal.
Levitasi aksi melayang merupakan kreasi dari para pecinta fotografi. Foto: Dok. Eldo Setiawan/LevitasiHore, Surabaya

Teknik levitasi yang anti-gravitasi itu memang kian digemari. Walhasil, komunitasnya tumbuh subur di beberapa daerah beberapa tahun belakangan ini. Awalnya bermula dari Jakarta yang dibentuk pada 25 Desember 2011. Kemudian menjalar cepat ke berbagai daerah seperti Bandung, Yogyakarta, Malang, Sukabumi, Kediri, Karawang, Surabaya, Solo, Semarang, dan luar pulau, seperti Padang, Palembang, Medan, Makasar, Jambi, dan lainnya.

Meski dalam penggarapannya tergolong serius, tapi komunitas penggemar fotografi levitasi lebih mengutamakan cara saling berbagi cara membuat foto levitasi dengan senang. “Senang itu bisa disamakan dengan ‘hore’. Bisa dibilang itulah alasan digunakan kata ‘hore’ di belakang komunitas ini,” kata dia.

Menurut Boye, komunitas ini berdiri karena terinspirasi dari Natsumi Hayashi. Hayashi menjadi sensasi Internet selepas ia mengunggah foto dirinya melayang hampir di semua tempat di Tokyo. Hasil karya Hayashi yang dimuat di yowayowacamera.com menuai pujian. Meski untuk mendapatkan hasil foto levitasi tersebut, Hayashi yang belakangan dijuluki si “Gadis Melayang” itu harus melompat berulang kali.

Bahkan ia sempat dikira gila karena melompat-lompat sendirian di depan sebuah toko. Sang pemilik toko juga hampir sempat memanggil polisi sebelum kemudian Natsumi menjelaskan maksudnya melakukan aksi loncat-loncat tersebut.

LevitasiHore Bandung sendiri terbentuk pada 3 April 2012. Anggotanya beragam, dari siswa SMA hingga pegawai bank. Kegiatan pemotretan dilakukan hampir di setiap tempat di kota Bandung, pinggir jalan kota Bandung, pusat sajian kuliner, gunung sampai, dan tebing Keraton yang sedang booming pun pernah dilakukan. Bukan hanya itu, LevitasiHore Bandung juga sempat mengadakan kolaborasi bersama komunitas lain, seperti Bulb, Kofipon, Urban Jedi, dan komunitas Cosplay.

LevitasiHore Surabaya, Jawa Timur, pun tak kalah seru. Komunitas yang didirikan pada 1 April 2012 ini bahkan sudah memiliki lebih dari 1.700 anggota yang terdaftar di media sosial mereka. “Biasanya kami rutin mengadakan kopi darat (pertemuan) tiap Jumat pukul 7 malam di warung kopi di Jalan Indrakila No 1, Surabaya,” ujar Eldo Setiawan, Ketua LevitasiHore Surabaya.

Kepada calon anggota yang berada di Surabaya, Eldo mempersilakan untuk bergabung tanpa dikenakan iuran. “Lewat komunitas ini, kita dapat berbagai teknik fotografi levitasi dan menemukan inspirasi lain,” ujarnya.

Nah, tertarik dengan fotografi levitasi? Untuk mengetahui kegiatan rutin dan mengenal levitasi, silakan saja follow Twitter @LevitasiHoreBDG atau @ LevitasiHoreSby. Dan bukan tak mungkin, suatu saat pembaca dapat memotret dengan gaya levitasi saat melancong. Melayang dan melayang…

agendaIndonesia/Andry T. for TL

******

Saparan Bekakak Tradisi Dimulai Pada 1755

Saparan Bekakak sebuah tradisi di Desa Ambarketawang, Sleman, Yogyakarta

Saparan Bekakak adalah ritual tolak bala di Desa Ambarketawang yang digelar masyarakat setempat agar tak ada lagi musibah di pegunungan kapurnya. Sebuah proses yang selalu diikuti ribuan masyarakat. Sempat terhenti selama pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2021, tahun ini dilaksanakan lagi pada September lalu.

Saparan Bekakak

Ribuan warga masyarakat menyaksikan upacara tradisi budaya ’Bekakak’ di Desa Amabarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat sore itu. Kegiatan budaya setiap bulan Sapar (kalender Jawa) itu diawali dengan kirab yang diikuti 5.000 orang lebih ini.

Saparan Bekakak dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati leluhur sekaligus cikal bakal Desa Ambarketawang, Kyai dan Nyai Wirosuto yang terkubur oleh guguran batu gamping di wilayah setempat.


Kegiatan sudah terasa sejak Kamis sore pada September lalu di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat sibuk menyiapkan sebuah acara spesial. Mereka membuat bekakaktemanten, yakni perwujudan sepasang pengantin Jawa yang terbuat dari hasil bumi.

Dibuat pula beberapa detail prosesi pernikahan khas Jawa pada bekakak, seperti midodareni. Malam harinya, “pasangan pengantin” tersebut dibawa ke balai desa bersama beberapa genderuwo raksasa. Mirip ogoh-ogoh atau genderuwo dalam perayaan Nyepi di Bali. Ini merupakan perwujudan roh jahat yang dianggap menjadi penyebab musibah.

Saparan Bekakak menjadi tradisi paling tua di Yogyakarta.
Ogoh-ogoh dalam Saparan Bekakak di Desa Ambarketawang Yogya. Foto: Dok. Kominfo

Puncak acara kegiatan adat itu adalah pawaiSaparan bekakak yang berlangsung Jumat selepas tengah hari. Masyarakat sudah menanti di pinggir jalan. Iring-iringan dimulai dengan  pertunjukan tari yang menceritakan kisah tentang bekakak.

Setelah itu rombongan mengawali pawai dari Lapangan Ambarketawang menuju Gunung Gamping. Daerah bekas bukit kapur ini menjadi awal munculnya tradisi yang digelar di bulan Sapar menurut tanggalan Jawa atau Safar menurut kalender Islam.

Saparan Bekakak, nama tradisi yang digelar untuk tolak bala ini, cukup disebut Bekakak. Seperti penyelenggaraan sebelumnya, kegiatan ini diikuti perwakilan dari semua dusun di Desa Ambarketawang dengan mengirimkan kelompok seni.

Umumnya mereka berdandan seperti bregada alias prajurit keraton yang membawa umbul-umbul dan alat musik. Satuan bregada tersebut adalah Wirabraja, Ketanggung, Patangpuluh, Surakarsa, Dhaeng, Mantrijero, Nyutra, Jagakarya, Prawiratama, dan Bugis.

Tak ketinggalan gunungan yang terbuat dari hasil bumi persembahan perwakilan pedagang di Pasar Gamping. Gunungan tersebut dibagikan pada penonton di sepanjang jalur pawai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran yang diberikan.

Walaupun sempat turun hujan, Saparan Bekakak yang berlangsung pada menjelang pertengahan September itu tetap meriah dengan hadirnya komunitas seni budaya dari berbagai daerah di luar Gamping. Bahkan ada yang dari Bantul. Total sekitar 45 grup ambil bagian dalam acara ini.

Tradisi tersebut diakhiri dengan “penyembelihan”bekakakdi lokasi terakhir. Namun sebelumnya dipanjatkan beberapa doa. Setelah itu, bekakak dan berbagai persembahan dibagikan kepada panitia acara dan warga yang hadir.

Selain kemeriahan, pawai ini juga memaksa petugas kepolisian bekerja keras menertibkan lalu lintas. Sebab, sebagian rute karnaval melintasi Jalan Wates yang berstatus sebagai jalan nasional. Antrean kendaraan besar, seperti bus dan truk, membentuk parkir massal.

Mungkin banyak pengguna jalan mengeluh, tapi sepertinya mereka tak bisa berbuat apa-apa bahkan protes sekalipun. Itu karena pamor Saparan Bekakak begitu besar. Sebab, usia acara ini jauh lebih tua dibanding status Jalan Wates sebagai jalan nasional, bahkan jika dibandingkan dengan umur republik ini.

Kemunculan tradisi ini dimulai pada 1755, kala Kerajaan Mataram Islam pecah menjadi dua sesuai dengan hasil penandatanganan Perjanjian Giyanti, Kasunanan yang berpusat di Surakarta (Solo) dan Kasultanan Ngayogyakarta di Yogyakarta. Tak lama kemudian, Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai raja pertama Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I.

Sambil menunggu pembangunan keraton baru selesai, Sultan memilih tinggal di pesanggrahan Ambarketawang yang terletak di daerah Gamping, Sleman. Di masa itu, daerah ini memang penuh dengan bukit gamping atau kapur. Dari situ pula nama daerah ini berasal.

Semasa tinggal di Ambarketawang, Sultan ditemani oleh beberapa abdi dalem alias pelayan raja. Mereka yang paling setia adalah sepasang suami-istri Ki Wirasuta-Nyi Wirasuta.

Setelah pembangunan keraton selesai, Sultan meninggalkan tempat tinggal sementaranya dan mendiami istana tanpa ditemani dua pelayan terbaiknya itu. Ki Wirasuta-Nyi Wirasuta memilih tetap tinggal di Ambarketawang karena merasa cocok dengan lingkungannya.

Keduanya bekerja sebagai penambang gamping, seperti kebanyakan warga setempat. Namun musibah terjadi. Suami-istri itu meninggal ketika sedang menambang. Mereka tertimbun batuan kapur yang longsor. Tragedi yang sama kembali berulang menimpa warga lain dan kebanyakan terjadi di bulan Sapar.

Pasangan Bekakak
Pasangan Bekakak yang akan dikorbankan.

Kesedihan melanda Sultan ketika mendengar cerita memilukan ini. Setelah bersemedi, ia memerintahkan warga Desa Ambarketawang untuk melakukan sebuah prosesi tolak bala setiap bulan Sapar. Tujuannya untuk meminta perlindungan kepada Tuhan.

Wujud upacara adat tersebut ialah penyembelihanbekakak. Biasanya, dibuat dari tepung ketan atau tepung beras yang di dalamnya diisi juruh alias sirup gula merah. Sedangkan untuk waktu pelaksanaannya ialah tiap bulan Sapar, tepatnya pada Jumat, antara tanggal 10 hingga 20.

Kini setelah lebih dari dua setengah abad, Saparan Bekakak masih hidup. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu upacara adat paling tua yang masih berlangsung di Yogyakarta. Bahkan di era modern, ritual ini bukan sekadar tradisi, melainkan berfungsi sebagai acara hiburan, sebab ada pawai seni budaya yang mengiringinya.

agendaIndonesia

*****

Tenun Bentenan Minahasa Unik Lahir di Abad Ke 7

Tenun Bentenan Minahasa awalnya dibuat pada abad ke-7 oleh suku Minahasa di Sulawesi Utara. Sempat memunculkan corak-corak baru, namun kini corak lama pun dimunculkan lagi.

Tenun Bentenan Minahasa

Hujan turun rintik-rintik di Desa Kolongan Atas Dua, Sonder, Kabupaten Minahasa Induk, Sulawesi Utara, suatu siang. Saya memasuki bangunan dengan halaman luas dan langsung menerobos ke bagian belakang menuju rumah kayu khas Minahasa. Ruangan tersebut tampak terbuka. Siang yang sejuk itu, di dalam ruangan, ada beberapa perempuan “bermain” dengan benang dan alat pintal. Mereka memang dibina oleh Bentenan Center agar bisa kembali menghasilkan karya-karya tenun warisan nenek moyang, yakni kain Bentenan.

Ati, salah satu perajin, menyebutkan sudah sulit menemukan perajin asli yang turun-temurun membuat tenunan Bentenan. Karena itulah untuk mengembalikan tradisi tenun Sulawesi Utara yang sudah tidak banyak dikenal lagi oleh masyarakat ini, didirikan Bentenan Center oleh Yayasan Kreasi Masyarakat Sulawesi Utara (Karema). Sejumlah perempuan diajari menenun yang khas Bentenan dari awal dan kini mereka rutin melakukannya setiap hari di tempat ini.

Motif lawas yang digunakan kerajaan zaman dulu, menurut Ati, juga dibuat kembali. Di antaranya Kalwu Patola, Tononton Mata, dan Pinatikan. Aslinya, kain Bentenan memiliki tujuh corak. Mulai Tonimala, tenunan dari benang putih di kain putih. Kemudian Sinoi, yang menggunakan benang warna-warni dengan corak garis-garis. Ada pula Pinatikan, yang berupa garis-garis dengan motif jala dan bentuk segi enam. Jenis kain Bentenan ini merupakan yang pertama kali dibuat di Minahasa, selain Tinompak Kuda, yang memunculkan beragam corak yang ditenun berulang. Sedangkan Tononton Mata bercorak manusia, Kalwu Patola bermotif tenun Patola India, serta terakhir Kokera bermotif kembang warna-warni dan dihiasi manik-manik.

 “Kain Bentenan asli yang berusia sekitar 200-an tahun hanya ada di sebuah museum di Belanda,” ucap Ati. Selain jumlah perajin yang minim, peninggalan kaum sepuh memang tidak lagi bisa ditemukan di Minahasa, daerah asalnya. Warisan tersebut ada di sejumlah museum yang kebanyakan berlokasi di luar negeri. Selain di Museum Nasional Jakarta, kain asli Bentenan di antaranya bisa ditengok di Tropenmuseum Amsterdam, Museum voor Landen Volkenkunde Rotterdam, dan Museum fur Volkenkunde Frankfurt am Main.

Kain tenun asli terakhir ditemukan di Ratahan pada 1900. Daerah itu memang, menurut Ati, merupakan asal dari perajin tenun ini. Bentenan tak lain dari nama desa di Pantai Timur Minahasa Tenggara, yang meliputi Distrik Pasan, Ratahan, Ponosakan, dan Tonsawang. Awalnya, tenunan ini dibuat suku Minahasa sekitar abad ke-7 dari serat kayu yang disebut fuya. Serat tersebut diambil dari pohon lahendong dan sawukouw,yang memang banyak tumbuh di daerah ini. Juga digunakan serat nanas dan pisang, yang disebut koffo. Ada pula serat bambu, yakni wa’u. Nah, baru pada abad ke-15, orang Minahasa beralih ke benang katun. Hasil tenunan inilah yang kemudian dikenal sebagai kain Bentenan.

Di masa silam, kain tenun ini bermutu tinggi. Tak hanya karena teknik pembuatannya yang mengharuskan kain berupa lingkaran tanpa guntingan dan sambungan serta dipasangi lonceng kecil di sekelilingnya, sehingga disebut Pasolongan Rinegetan. Tapi juga karena ada ritual khusus berupa pujian kepada Tuhan.

Tenun Bentenan Minahasa, motifnya menjadi  latar belakang Manado Fiesta 201902
Tenun Bentenan Minahasa motifnya menjadi latar pentas Tarian tradisional saat pembukaan Manado Fiesta 2019. (Foto: Ilustrasi-Dok. Kemenpar)

Kain Bentenan kini telah menjadi oleh-oleh khas dari Manado dan Minahasa. Bila ingin berbelanja sekaligus melihat proses pembuatannya, sekalian menikmati alam Tomohon dan Minahasa yang sejuk, Anda bisa berkendara ke arah Tomohon. Jaraknya hanya 30 kilometer dari Manado. Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke arah Minahasa Induk. Bentenan Center tidak jauh dari Tomohon, meski berada di Kabupaten Minahasa Induk.

Di bagian depan Bentenan Center, ada ruang pamer untuk beragam produk. Tersedia dua jenis kain, yakni kain biasa dan songket (timbul). Bukan hanya tenunan, motif Bentenan cetak pun bisa menjadi pilihan para tamu. Menggunakan kain sutra maupun sifon, motif tersebut muncul dalam bentuk gaun, kemeja, hingga lembaran kain. Harga produk bervariasi, mulai Rp 300 ribu. Pada ASEAN Tourism Forum 2012 di Manado, corak Bentenan pun dikenakan para pejabat negeri ini.

agendaIndonesia/Rita N./Hariandi/TL

Sambal ala Belitung, 4 Bisa Jadi Oleh-oleh

Sambal ala Belitung, ada yang berbahan ikan laut, terbentuklah rusip, calok, belacan. Selain itu ada pula yang berbahan tauco.

Sambal ala Belitung

Belitung tak hanya menjadi destinasi untuk menikmati pantai dengan batuan yang mengagumkan. Atau jejak-jejak kisah Laskar Pelangi seperti di layar lebar. Karena sebagaian wilayahnya berupa laut, turis akan menemukan oleh-oleh dengan bahan utama ikan laut yang bisa menjadi hidangan khas di meja makan. Meski ada juga yang terbuat dari kedelai. Beberapa nama tergolong unik, beberapa juga dibuat di daerah lain. Umumnya bisa menjadi diolah kembali dengan bahan lain yang membuat rasa hidangan menjadi lebih sedap, tapi rasanya mantap jika dijadikan sambal. Bisa ditemukan di pasar tradisional seperti pasar tradisional Hatta yang terletak di Jalan Hayati Maklum, Tanjung Pandan. Di pasar ini, dari ikan segar hingga olahannya terbesar di beragai kios. Adapun ragam bumbu sambal itu seperti di bawah ini.

Rusip dari Ikan Bilis

Bisa jadi bagi turis dari luar Belitung, baru mendengar nama yang satu ini. Rusip tak lain ikan teri atau masyarakat Belitung menyebutkan bilis yang diolah dengan cara fermentasi. Ikan bilis terlebih dulu dicuci, dibuang kepala dan kotorannya lalu ditiriskan. Setelah benar-benar kering diberi garam, dengan cara diremas-remas. Disimpan dalam wadah tertutup selama sehari. Kemudian beri gula merah yang sudah dicairkan.

Simpan lagi dalam wadah tertutup selama seminggu. Jika telah menghasilkan aroma khas dan agak sedikit asam, tandanya rusip sudah siap dikonsumsi. Anda bisa langsung menjadikan sambal yang dilengkapi dengan lalapan. Ada pula sambal rusip yang diolah terlebih dulu dengan menambahkan bawang merah, serai dan cabe rawit plus jeruk kunci khas pulau ini juga. Sajian ini tergolong penggugah selera makan bagi warga setempat. Selain itu, rusip bisa juga menjadi bumbu dalam berbagai  olahan, seperti sajian ikan. Rasa kuah ikan pun kian maknyus dengan tambahan rusip. Di toko oleh-oleh maupun pasar tradisional bisa ditemukan dalam botol plastik ukuran 200 ml seharga Rp 25 ribu.

Calok dari Udang Mini

Banyak dipajang di toko-toko oleh-oleh ataupun di pasar, yang satu ini juga menjadi hidangan khas di meja makan. Sama-sama diberi wadah botol transparan, hanya calok terlihat muncul dalam warna kemerahan karena terbuat dari udang kecil yang masih segar atau warga setempat menyebutkan udang cencalo alias rebon. Proses pembuatannya kurang lebih sama dengan rusip. Udang terlebih dulu dicuci bersih kemudian dibubuhi garam yang berfungsi  sebagai pengawet.

Calok sama halnya dengan rusip membikin selera makan meningkat. Dipadu dengan nasi ditambahkan lalapan seperti mentimun, tomat atau sayuran lain. Harga per botol dengan ukuran minuman 200 ml sekitar Rp 35 ribu.

sambal ala Belitung dibuat dari berbagai macam bahan. Bisa jadi alternatif oleh-oleh.
Sambal Ala Belitung mempunya bahan yang bermacam-macam, semuanya bisa dijadikan oleh-oleh. Foto: Rita N.-TL

Belacan Sijok

Terasi menjadi hasil olahan yang banyak ditemukan di daerah pesisir, demikian juga di provinsi Bangka Belitung. Di Kepulauan ini, terasi yang bisa diolah menjadi sambal atau menjadi penyedap berbagai sajian tersebut bisa dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh atau yang lebih beragam di pasar. Saya menemukan terasi dari Belitung maupun Bangka di toko oleh-oleh. Di Belitung yang terkenal terasi dari Desa Sijok dalam kemasan anyaman pandan.

Namun karena saya kemudian saya berbelanja di pasar, saya menemukan potongan besar terasi dalam warna khas keunguan. Olahan dari rebon segar itu tinggal dipotong-potong sesuai keinginan pembeli. Rasanya memang cukup tajam dan sedikit kasar ketimbang terasi yang telah dikemas rapih.

Bila tak mau repot, Anda pun bisa membeli sambal terasi yang siap saji. Sudah dilengkapi dengan cabe merah sehingga botol sambal ini terlihat merah menggoda. Per botol pada kisaran 25 ribu. Bisa ditemukan di toko oleh-oleh maupun di pasar.

Tauco Keledai Utuh

Seperti halnya terasi, tauco juga tak hanya dikenal dari satu daerah. Di Jawa Barat tauco Cianjur, tapi ada pula tauco Pekalongan, dan kemudian Medan dan Kalimantan. Di Belitung pun, tauco menjadi salah satu pilihan untuk olahan sambal atau dipadu dengan bahan makanan lain. Hanya terlihat berbeda dari tauco umumnya, meski Anda hanya melihatnya sekilas. Pada umumnya tauco, kedelai sudah tidak terlihat bentuk utuhnya alias sudah hancur, paling hanya beberapa potongan kecil yang tampak. Berbeda dengan tauco Belitung, kacang kedelai terlihat utuh dan warnanya tidak cokelat tua melainkan kekuningan.

Dalam pengolahannya sambal tauco dibuat encer dengan ditambahi bawang putih, cabe rawit, jeruk songkit, dan gula pasir. Tak hanya dipadu dengan nasi tapi juga menjadi sambal paduan untuk otak-otak. Tauco ini bisa ditemukan di pasar dan toko oleh-oleh, per botol pada kisaran Rp 25-30 ribu. l

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****