Adat Sekaten, Beda Yogya dan Solo (2)

Adat Sekaten Solo secara umum sama dengan yang digelar Kraton Yogyakarta, urutan detilnya yang ada perbedaan. Foto: Surakarta.go.id

Adat Sekaten yang diselenggarakan di Surakarta atau Solo secara garis besar, rentetan kegiatan serta pelaksanaannya bisa dibilang cukup serupa dengan yang diadakan di Yogyakarta. Kalau pun ada perbedaan, itu lebih pada detail-detail kecil.

Adat Sekaten

Adat Sekaten Solo juga diadakan selama sepekan dan pada kurun waktu yang sama pula dengan yang di Yogyakarta. Rangkaian acaranya pun mirip, ditandai dengan dikeluarkannya gamelan pusaka keraton Kasunanan Surakarta menuju ke Masjid Agung Surakarta.

Selama satu minggu, kedua gamelan pusaka Surakarta, Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, dimainkan selama gelaran adat Sekaten berlangsung. Di sela-sela permainan tersebut, juga aka nada pembacaan doa-doa serta ayat-ayat suci Al-Quran.

Adat Sekaten Solo memiliki beberapa hal yang berbeda dengan yang diselenggarakan di Yogyakarta.
Keraton Surakarta Hadiningrat. Foto: shutterstock

Konon, gamelan Kyai Guntur Madu merupakan peninggalan dari era Sri Susuhunan Pakubuwono IV, sementara Kyai Guntur Sari adalah peninggalan dari masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo di kerajaan Mataram.

Sebelum kegiatan tersebut, ada pula ritual yang dilakukan bagi para pengrawit (pemain seni karawitan) yang bertugas. Melakukan puasa, memberikan sesajen berupa kembang dan buah buahan kepada kedua gamelan pusaka, serta mengenakan seragam khusus selama acara berlangsung merupakan beberapa di antaranya.

Acara dibuka dengan adat Miyos Gongso, yaitu dibawanya kedua gamelan pusaka tersebut menuju area bangsal utara dan selatan masjid oleh sekitar 120 abdi dalem keraton. Dari situ, Kyai Guntur Madu akan dimainkan terlebih dulu, baru setelahnya Kyai Guntur Sari dimainkan.

Adat permainan pembuka kedua gamelan tersebut, yang disebut sebagai Ungeling Gongso, dianggap sebagai representasi akan dua kalimat syahadat. Ketika Kyai Guntur Madu dimainkan pertama kali, gending yang dimainkan berjudul ‘Rabbuna’ yang berarti Tuhan, representasi dari kalimat ‘aku percaya tiada Tuhan selain Allah’.

Setelahnya, pengrawit memainkan Kyai Guntur Sari dengan gending berjudul ‘Roukhun’. Secara etimologi, kata ini bermakna nabi atau khalifah, yang kemudian bisa dimaknai sebagai kalimat ‘aku percaya Nabi Muhammad adalah rasul Allah’.

Setiap harinya gamelan akan dimainkan mulai dari jam 09.00 sampai waktu sholat Dzuhur. Kemudian dimainkan lagi setelah sholat Ashar sampai waktu Maghrib. Setelah Isya, gamelan dimainkan kembali sampai pukul 24.00.

Gamelan juga tidak boleh dimainkan dari Maghrib di hari Kamis hingga setelah sholat Jumat. Kesemuanya menjadi tanda menghormati sholat lima waktu serta hari Jumat yang sakral bagi umat Muslim, sejalan dengan khitah Sekaten sebagai alat syiar Islam.

Ada pula beberapa adat lain yang serupa, misalnya seperti mengunyah sirih ketika gamelan pertama kali mulai dimainkan. Adat ini dipercaya sebagai doa agar senantiasa sehat dan awet muda.

Begitu pula budaya pasar malam sebagai pelengkap perayaan Sekaten. Di Solo, pasar malam Sekaten diadakan di alun alun utara dan selatan. Warga pun dapat datang serta berpartisipasi dengan berjualan kuliner-kuliner khas Solo, sebagai wujud turut meramaikan gelaran tersebut.

Tetapi memang ada beberapa perbedaan kecil pada detail pelaksanaan acara. Seperti misalnya tidak adanya budaya pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW serta Udhik-Udhik, alias menebarkan koin logam, beras dan bunga seperti yang dilakukan Sri Sultan di Yogyakarta.

Pada perayaan adat Sekaten di Solo juga tidak terdapat adat Numpak Wajik sebagai tanda persiapan pembuatan gunungan yang akan diarak pada acara puncak Grebeg Mulud. Tidak ada pula prosesi Kundur Gongso, yaitu pengembalian gamelan-gamelan pusaka kembali ke tempatnya.

Sebaliknya, salah satu adat Sekaten Solo yang tidak terdapat di perayaan Sekaten Yogyakarta adalah penggunaan janur kuning sebagai hiasan di bangsal masjid. Nantinya, beberapa janur tersebut akan diperebutkan warga sekitar sebagai tanda keberkahan.

Selain itu, di Yogyakarta gamelan-gamelan pusaka sudah mulai dimainkan pada malam sebelum pekan puncak perayaan Sekaten dilangsungkan. Pertunjukan gamelan ini berlangsung dari pukul 19.00 hingga 23.00.

Setelahnya, baru akan terjadi prosesi pemindahan gamelan-gamelan tersebut menuju Masjid Gede Kauman. Sementara di Solo, gamelan baru mulai dimainkan setelah prosesi Miyos Gongso dilaksanakan.

Perbedaan lainnya juga terletak pada detail pelaksanaan acara puncak, yakni Grebeg Mulud. Di Yogyakarta, gunungan yang dibuat biasanya sekitar 5 hingga 6 buah. Adapun di Solo, gunungan yang dibuat hanya ada dua, yaitu gunungan jaler dan estri.

Gunungan jaler merepresentasikan gunungan laki-laki, sedangkan gunungan estri sebagai gunungan perempuan. Lain daripada itu, gunungan tersebut sama-sama diarak dari keraton menuju masjid untuk didoakan, sebelum dibawa keluar dan diperebutkan oleh warga.

Adat Sekaton Solo diselenggarakan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.
Patung Slamet Riyadi sebagai salah satu landmark Surakarta yang berada di mulut masuk Alun-ALun Utara Keraton Solo. Foto: Dok. shutterstock

Isi dari gunungan tersebut pun sama-sama hasil alam seperti sayuran, buah-buahan dan bahan makanan lainnya. Warga setempat juga sama-sama percaya bahwa isi dari gunungan tersebut bermakna keberkahan, sehingga berebut mengambil isinya turut menjadi budaya.

Selebihnya, kedua upacara adat tersebut bisa dikatakan tak punya perbedaan signifikan lainnya. Niat dan semangat luhur dari keduanya pun sama-sama untuk merayakan, serta rasa syukur sebagai umat Islam dalam rangka hari raya Maulid Nabi Muhammad SAW.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Ulos, Persaudaraan, Pengharapan dan Sebuah Nasehat (Bagian 1)

Ulos Kain tradisional Batak shutterstock

Ulos dalam adat dan tradisi Batak bukan sekadar lembaran kain yang dipakai dalam upacara-upacara istiadat. Di dalamnya mengandung makna yang luar biasa dalam. Ia juga mengandung arti persaudaraan, pegharapan dan nasehat.

Ulos, Adat Dan Tradisi

Di sepotong siang yang terik, pada sebuah rumah berlantai semen berdinding tembok tanpa cat di Desa Penampangan, Samosir, Sumatera Utara, Rini yang kini berusia 12 tahun itu tengah berasyik-masyuk bersama hasoli dan turak. Di sekitarnya tampak pula pagabe, baliga, hatudungan, sidurukan, pamapan, panghulhulan, dan juga panggiunan. Berbagai nama tersebut di atas bukanlah nama teman bermain dari sang dara, melainkan bagian-bagian dari alat tenun. Di sudut yang lain si nenek memendangi sang cucu yang tengah martonung (menenun), dengan rasa bungah.

Hasoli adalah  tempat gulungan benang dan turak  yang terbuat dari bambu kecil yang berfungsi memasukkan benang di sela-sela benang yang ditenun.  Turak dan hasoli menyatu dan berjalan seiring. Turak lah yang membuka jalan sehingga benang bisa menari di antara untaian benang lain sehingga membentuk beragam motif. Pendukung lainnya, pagabe berupa dua potong kayu yang mengapit tubuh, sehingga menopang tubuh sekaligus menjadi penahan alat tenun. Pamapan termasuk bagian utama dari alat tenun, berupa kayu besar dan dua kayu di kiri dan kanan.

Di bagian tengah, di antara benang dan kain setengah jadi, ada baliga, yang memadatkan benang-benang yang terjalin. Sidurukan adalah tempat menaruh baliga. Ada pula panghulhulan berfungsi seperti palet pada mesin jahit, penggiunan adalah penarik benang. Benangnya sendiri disebut giun, dan alat untuk memasang benang sebelum ditenun adalah hatonungan. Lantas alat tenun itu sendiri tak lain alat tradisional gedogan.

Itulah seperangkat alat tenun yang telah menjadi teman akrab Rini sejak kelas 5 Sekolah Dasar, Jemarinya yang lentik selalu memainkannya lidi-lidi yang membentuk konfigurasi benang menjadi motif atau corak kain. Ini dilakukannya selama 2-3 jam saban pulang sekolah. Kini Rini biasa merampungkan selembar ulos berukuran panjang 1,5 meter lebar 40 sentimeter dalam sepekan. “Dia masih anak-anak, lidi yang dipakai baru lima, belum bisa bikin yang pakai banyak warna,” kata si opung.

Dalam adat Batak, remaja yang baru belajar menenun memang hanya diperboleh membuatkan ulos parompa yang digunakan untuk menggendong anak. Tingkat kemahiran ditentukan oleh jumlah lidi yang digunakan. Pada tingkat mahir, penenun biasanya menggunakan tujuh buah lidi sekaligus. Itu yang disebut marsipitu lili. Pada level ini, mereka telah bisa membuat semua jenis ulos. Dalam membuat ulos, semakin banyak lidi yang digunakan, maka corak pun semakin beraneka.

Menurut penuturan si nenek Rini, masyarakat sekarang cenderung menyukai ulos yang dipenuhi dengan benang emas. Menurut si opung, makin banyak warna makin tinggi nilai rupiahnya. Ulos biasa dijual pada kisaran harga Rp 150-400 ribu. Tak jauh dari rumah Rini itu, ada pula beberapa rumah yang juga memproduksi ulos. Biasanya, dalam setiap rumah prosuksi, paling tidak ada lima perempuan penganggit. Seorang di antaranya sudah dalam tingkat mahir, atau beraksi dengan 12 lidi.

Di desa yang berlokasi sekitar 40 km dari Tomok, pelabuhan kecil untuk penyeberangan feri ke Parapat, ini memang dihuni oleh banyak penenun, hingga menjadi magnet tersendiri bagi para pedagang ulos. Di satu jalan desa saja, dalam jarak hanya 500 meter sudah ada tiga kelompok penenun, salah satunya memiliki keunikan karena masih tinggal di rumah adat dan mereka menggelar tikar di depan rumah dan duduk beramai-ramai menenun. Selalu ada pedagang dari luar yang rutin datang mengumpulkan kain adat tersebut.

Di halaman tanah memanjang itu ada dua kelompok perempuan asik dengan gedogan. Salah satunya perempuan boru Silalahi, 62 tahun. Di kiri kanan diapit saudaranya. Tak hanya ulos tapi juga songket Batak pun dibuatnya. Kain songket dalam warna kuning dan biru tampak mencolok. Semuanya ia pajang di tali yang merentang di depannya sehingga mirip jemuran. Perempuan ramah itu mengaku bisa membuat ulos jenis apapun dan dari daerah manapun di Sumatera Utara. “Bisa pesan kalau mau,” ujarnya.

Jenis ulos setiap wilayah di Sumatera Utara berbeda. Ibu lima anak itu bisa dengan rinci menjelaskan beberapa perbedaan itu. Ulos Batak Toba, misalnya, kebanyakan bercirikan  warna redup, dominasi pada hitam dan abu-abu dengan corak yang lebih simpel. Berbeda lagi dengan ulos Karo. Banyak menggunakan warna dasar merah dan terang. Dan kain tradisional itu disebut sebagai uis. Sedangkan ulos Tarutung  memunculkan corak beragam dan warna cerah. Demikian juga dengan ulos Simalungun yang bermain dalam warna biru, merah, dan oranye selain juga hitam. Dikenal sebagai hoiu.

Hanya beberapa meter dari boru Silalahi, empat perempuan lanjut usia tengah tenggelam dalam keasyikan memainkan baliga dan lidi. Tanpa bersuara. Keempatnya menenun dengan teknik ikat lungsi – mengikat benang yang disusun memanjang – dan ketekunan menjadi modal utamanya. Tak mengherankan lebih banyak kaum Hawa dan lebih dominan juga yang berusia lanjut ketimbang remaja. Beruntung di Samsosir, jumlah penenun masih cukup banyak. Di Desa Perbaba, dekat Pangururan, pun bisa ditemukan lagi kelompok penenun.

Bahkan pengusaha kain ulos di Pematang Siantar pun, banyak yang belajar menenun di Samosir, dan beberapa malahan memang berasal dari kabupaten tersebut. Di Parluasan, tak jauh dari pasar, penenun berkumpul di beberapa rumah, setiap rumah ada sekitar 5-7 penenun. Sejumlah penenun Samosir pun mengadu nasib ke Medan. Di ibu kota Sumut, aneka ulos dan songket itu dijual di Pasar Sentral atau tepatnya di Pusat Pasar Lama. 

Ada sekitar 12 kios yang menjajakan aneka kain tradisional, tak hanya ulos tapi juga aneka songket, lengkap dengan kebaya. Salah satunya milik boru Simbolon yang mengusung nama UD Parna Tex, ia menjual kain dari harga Rp 15 ribu hingga Rp 1,5 juta. Satu motif pun bisa berbeda harga, tergantung jenis benang dan pengerjaannya, misal ulos ragi hotang ada yang dijual Rp 50 ribu, tapi ada pula yang lebih halus Rp 150-200 ribu.

Ulos memang tak bisa terpisahkan dari kehidupan suku Batak. Dalam suka maupun duka. Bahkan setiap masa penting dalam kehidupan seseorang pun tak lepas dari ulos. Ada tiga momen penting yang dimaknai dengan ulos, yakni kelahiran, pernikahan, dan kematian. Setiap kesempatan itu, ulos yang digunakan berbeda. Sewaktu lahir, kakek nenek memberi ulos parompa atau ulos gendong, kemudian ketika menikah akan menerima ulos hela (ulos untuk menantu) dan ketika meninggal mendapat ulos saput. Pemberinya adalah kelompok marga dari istri atau dalihan natulo yang disebut sebagai hula-hula.

Jadilah mangulosi atau memberi ulos menjadi ritual yang penting dalam adat Batak. Pemberian itu tak hanya seperti kado biasa, ketika seorang pelancong membeli ulos sebagai suvenir dan menyebarkannya kepada handai tulan atau sahabat ketika kembali ke kota asalnya. Melainkan mengandung makna yang dalam, yakni pemberian restu, menunjukkan rasa kasih sayang, pengharapan pada hal-hal yang baik. Makna itu tersurat dalam pepatah lawas, Ijo pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong. Maknanya, jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya, maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.

Maka ketika diberikan kepada menantu laki-laki, ulos berarti sebuah nasehat agar paham kerabat yang harus dihormati, hormat kepada kerabat istri dan lemah lembut kepada keluarga. Bagi wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, ulos juga menjadi sebuah penghormatan terhadap jasanya sebagai istri. Sekaligus juga menjadi tanda bahwa dia telah menjadi janda. Secara umum, ada beberapa ketentuan dalam ritual adat ini. Misal yang diberi ulos haruslah secara silsihan keturunan berada pada tingkatan di bawah pemberi ulos, kemudian jenis yang diberikan juga harus sesuai dengan kesempatannya. Apakah kelahiran, pernikahan atau kematian? Motif dan warnanya selalu berbeda.

Dari motif ada pula nama-nama khususnya dan corak pun menjadi sebuah simbol. Beberapa yang dikenal luas adalah ragidup, ragi hotang. bintang maratur, sadum, suri-suri panjang, mangiring. Lantas dari penggunaannya, ulos bisa digunakan di beberapa bagian tubuh, seperti di kepala, penutup bahu, selendang, di bagian tubuh bawah hingga menjadi kain gendongan. Makna, fungsi dan kesempatan penggunaannya membuat ulos memang begitu kompleks sekaligus menjadi sebuah kebanggaan bangsa ini.

Rita N./Toni H./Dok. TL

Keliling Bogor, 2 Hari yang Menyegarkan

Keliling Bogor adalah salah satu cara refreshing yang paling memungkinkan saat ini di tengah pendemi yang belum usai. Dan pilihan yang lebih ideal adalah menikmati alam di kota hujan di Jawa Barat ini.

Keliling Bogor

Akhir pekan pekan yang asyik di tengah suasana yang belum longgar ini, kita tidak perlu jauh-jauh, Bogor bisa menjadi pilihan. Kota Hujan, yang hanya berjarak 48 kilometer dari Jakarta, memiliki pilihan obyek wisata alam dan kuliner menggoda. Dengan beberapa teman atau keluarga, berikut pilihan liburan selama dua hari bisa membuat tubuh dan pikiran kembali segar serta rileks.

Keliling Bogor dalam 2 hari yang terbaik adalah menikmati keindahan alam kota ini, salah satunya Curug Seribu.
Curug Seribu, Bogor. Foto: Dok. shutterstock

Hari 1: Alam Gunung Salak

Sebaiknya Anda berangkat pagi hari agar perjalanan tidak terhambat kemacetan. Begitu tiba di pusat Kota Bogor, arahkan kendaraan menuju Jalan Suryakencana untuk mencari sarapan. Di sepanjang jalan ini, terutama di sekitar Gang Aut, berderet warung makan dan gerobak penjaja makanan, seperti soto mi, taoge goreng, dan es pala.

Setelah perut kenyang, baru Anda pergi ke Wana Wisata Gunung Salak Endah. Jalur termudah adalah dengan melewati kampus Institut Pertanian Bogor di Dramaga menuju Ciampea. Sekitar satu jam perjalanan, Anda akan tiba di pintu masuk kawasan dan disambut keteduhan pohon pinus yang menjulang di kanan-kiri jalan utama. Ada banyak obyek wisata di kawasan ini, seperti Curug Seribu, Curug Cigamea, Curug Ngumpet, dan Kawah Ratu. Curug adalah bahasa lokal untuk air terjun.

Di antara sederet air terjun tersebut, Curug Seribu dan Cigamea paling populer. Bagi yang menyukai tantangan, bisa terus melangkah ke Curug Seribu, yang jalan masuknya sejauh 3 kilometer dengan bebatuan terjal dan licin. Kesulitan menuju lokasi ini terbayar ketika Anda tiba di air terjun yang tingginya mencapai 100 meter itu. Sayangnya, Curug Seribu hanya dibuka sampai pukul 13.00 karena sering turun hujan, sehingga jalan menjadi lebih licin dan berbahaya.

Sedangkan Curug Cigamea lebih ramah pengunjung. Jalan sepanjang 1,5 kilometer sudah dipasangi paving block serta pagar besi pengaman. Ada dua air terjun, yang pertama lebih pendek dengan curahan air terpencar dinding batu, sementara yang kedua diapit tebing dengan curahan air lebih deras dan langsung mengalir ke sungai.

Airnya bening dan dingin dengan arus yang tenang, sehingga aman untuk bermain di bawahnya. Di sekitar curug juga ada banyak pedagang yang menjajakan makanan dan suvenir. Bahkan, ada kolam bola dan kolam terapi relaksasi ikan.

Pengunjung bisa bermain di sekitar air terjun sepuasnya hingga sebelum gelap. Keluar dari Gunung Salak Endah, ada banyak resor dan vila yang bisa menjadi tempat untuk menghabiskan malam dengan pemandangan Kota Hujan dari pegunungan, seperti Michael Resort. Pilihan lainnya, berkemah di alam terbuka di Bumi Perkemahan Gunung Bunder dekat pintu masuk kawasan itu. Jika tidak, Anda bisa langsung menuju Kota Bogor, yang memiliki sederet hotel bintang maupun non-bintang.

Sebelum beristirahat, lebih baik mampir ke Jalan Pangrango untuk bersantap malam. Di sepanjang jalan ini hingga Taman Kencana, ada sederet tempat makan dan nongkrong dengan beragam sajian. Para penyuka hidangan Barat, seperti pizza dan pasta, bisa mampir ke Kedai Kita. Jika mencari penganan ringan, cobalah pie khas Pia Apple Pie atau macaroni Panggang. Semua tempat itu bersuasana nyaman.

Keliling Bogor pastikan beli roti unyil venus, oleh-oleh khas Bogor
Roti Unyil Venus, Bogor. Foto: Dok. shutterstock

Hari kedua: Oleh-oleh dan Seputar Sentul

Sebelum meninggalkan Bogor, tidak ada salahnya mencari oleh-oleh. Dari yang sudah lama ngetop, seperti asinan, dan roti unyil, hingga yang terbaru berupa aneka kue dari talas. Roti unyil bisa ditemukan di Venus, yang ada di Ruko V Point, sebelah Ekalokasari Plaza, Sukasari. Jika menginginkan sajian segar, Anda bisa mampir ke Asinan Gedung Dalam di Jalan Siliwangi. Atau, di sebelah toko Venus pun ada cabangnya. Apa Anda doyan lapis talas Sangkuriang? Penganan ini bisa dibeli tidak jauh dari toko Asinan Gedong Dalam, yakni di Kompleks Ruko Bantar Kemang, Jalan Pajajaran. Tersedia dalam beragam rasa, seperti keju, teh hijau, cokelat, dan tiramisu.

Setelah puas berbelanja, saatnya menuju Sentul untuk menikmati air terjun dan air panas. Letak obyek wisata ini searah dengan perjalanan ke Jakarta, sehingga Anda bisa sekalian pulang. Ada dua pilihan. Bila membawa anak, Anda bisa mampir di Sentul Paradise, yang menawarkan wisata air terjun, kolam bermain, dan flying fox. Untuk mencapainya, tinggal arahkan kendaraan menuju perumahan Sentul City, tepatnya ke Jungleland. Sebelum pintu masuk Jungleland, bila ingin langsung menuju Wana Wisata Gunung Pancar, ambil jalan ke kanan menuju Desa Karang Tengah. Sebaliknya, jika ingin mampir ke Sentul Paradise, Anda harus berbelok ke kiri.

Keliling Bogor dan menikmati keindahan alamnya, salah satunya mengunjungi Wana Wisata Gunung Pancar.
Bebatuan di Kawasan Gunung Pancar, Sentul, Bogor. Foto: Dok. shutterstock

Berada di ketinggian, di antara bukit-bukit, pemandangan di sini cukup menyegarkan. Setelah itu, Anda bisa kembali ke arah Sentul dan menuju Desa Karang Tengah untuk mencapai Gunung Pancar, yang dikelilingi hutan pinus bertanah merah. Jalannya yang menanjak sering kali digunakan sebagai jalur bersepeda juga.

Ada tiga macam pemandian di sini. Yang paling banyak dikunjungi untuk terapi adalah yang terbawah dan terpanas. Kolamnya dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan. Tidak ada tambahan biaya buat menikmati pemandian ini. Pengunjung disarankan hanya berendam 20-30 menit. Jika tak ingin bercampur dengan pengunjung lain, Anda bisa menyewa kolam VIP di bagian atas pemandian pertama. Ada tujuh kolam yang disewakan seharga Rp 100 ribu per keluarga untuk satu jam. Selain itu, pengunjung bisa merasakan terapi pijat dengan tekanan air panas. Berjalan lebih ke atas, ada pemandian ketiga yang lebih besar dengan tiga jenis kolam, yakni bersuhu panas, hangat, dan dingin. Di dekat kawasan ini ada juga resor, yakni Vila Sidomukti, bagi yang ingin menginap dengan nyaman.

Namun bila memiliki jadwal padat, apalagi tubuh sudah terasa segar, Anda bisa langsung kembali ke Jakarta. Sebelumnya, isi dulu perut di resto sekitar Sentul, seperti Panjang Jiwo atau Gumati. Di Panjang Jiwo, Anda dapat menikmati suasana pedesaan selagi menyantap nasi timbel dan es kelapa muda dengan dikelilingi kolam ikan serta pepohonan rindang.

agendaIndonesia

*****

Tradisi Sekaten, Apa Beda Yogya dan Solo (1)

Tradisi Sekaten menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Foto: Dok. Dinas Pariwisata Yogyakarta

Tradisi Sekaten bagi masyarakat Jawa adalah saat di mana kegembiraan dan rasa syukur dirayakan. Dalam budaya Jawa, tradisi ini merupakan kegembiraan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara ini biasanya dilakukan setahun sekali, merunut pada kalender Jawa dari tanggal 5 hingga 11 Mulud, atau Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah.

Tradisi Sekaten

Tahun ini perayaan tersebut tengah berlangsung dan diselenggarakan antara 16 September hingga 16 Oktober. Dengan puncaknya saat Maulid Nabi Muhammad SAW pada 7-8 Oktober.

Ada beberapa versi mengapa perayaan ini disebut Sekaten. Yang paling populer adalah nama ini menyadur dari sebuah kata dari bahasa Arab ‘syahadatain’ yang bisa diartikan sebagai persaksian, sebagaimana umat Islam bersaksi akan kepercayaan mereka terhadap Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW dalam kalimat syahadat.

Tradisi Sekaten merupakan kegembiraan menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.
Tradisi Sekaten Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Foto: dok. shutterstock

Versi lainnya menyebutkan bahwa Sekaten berasal dari gabungan kata ‘suka’ dan ‘ati’ dalam pelafalan Jawa. Artinya, Sekaten dimaknai sebagai rasa suka cita masyarakat Jawa dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ada pula versi yang mengatakan bahwa tradisi Sekaten terinspirasi dari nama salah satu gamelan pusaka milik keraton Yogyakarta, yang dinamai Kanjeng Nyai Sekati. Gamelan pusaka ini biasanya akan digunakan dalam rangkaian perayaan tradisi tersebut.

Asal-usul acara perayaan ini sendiri diyakini bermula dari jaman kerajaan Demak. Kala itu, salah seorang anggota Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga, menyelenggarakan acara ini sebagai media berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam.

Acara tersebut biasanya berupa pentas seni karawitan atau musik gamelan yang dilaksanakan di halaman Masjid Agung Demak pada saat itu. Menurutnya, mayoritas masyarakat Jawa ketika itu menggemari acara karawitan, sehingga banyak yang kemudian akan berbondong-bondong datang.

Lewat seni karawitan tersebut, ia lantas memanfaatkan momen itu untuk berkhotbah dan membacakan ayat-ayat suci Al-Quran. Dari situlah, banyak orang yang kemudian ikut tertarik untuk belajar dan memeluk agama Islam.

Budaya tersebut kemudian dicampur dengan adat kerajaan Majapahit yang melakukan arak-arakan dengan menggunakan sesajen. Hal ini sebagai wujud penghormatan pada arwah leluhur, dalam konteks tradisi Sekaten sebagai penghormatan bagi Nabi Muhammad SAW sekaligus doa agar rakyat senantiasa sejahtera dan berkehidupan seperti sang suri teladan.

Upacara adat ini kemudian lazim dilaksanakan oleh dua keraton kesultanan Mataram Jawa, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Yogyakarta dan di Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Solo. Secara umum kedua acara dilaksanakan dengan adat yang mirip, walaupun ada juga beberapa perbedaannya.

Di Yogyakarta dulunya acara ini diadakan di halaman Masjid Gede Kauman Yogyakarta, yang terletak di area alun-alun utara. Acara biasanya dimulai dari jam 16.00 hingga 24.00, selama sepekan kecuali pada malam Jumat atau Kamis malam. Gamelan pusaka tak boleh dimainkan pada periode tersebut sampai setelah sholat Jumat.

Sebelum acara dimulai, tiga gamelan pusaka keraton yakni Kanjeng Nyai Sekati, Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga dikeluarkan dari keraton dan diletakkan di halaman masjid. Prosesi ini menandakan bahwa upacara adat siap dilaksanakan.

Para Abdi Dalem keraton yang bertugas memainkan gamelan pusaka juga diminta melakukan ritual tertentu sebelum pergelaran dimulai. Mereka diharuskan berpuasa sambil melakukan siram jamas (mandi sambil keramas) sebelum dibolehkan berpartisipasi.

Gamelan pusaka tersebut konon dibuat oleh Sunan Giri yang pandai berkesenian karawitan. Alat pemukulnya terbuat dari tanduk kerbau, yang dapat menghasilkan bunyi yang jernih dan nyaring. Cara memukulnya pun harus diangkat setinggi dahi sebelum dipukul.

Daftar lagu-lagu yang dimainkan juga khusus untuk acara ini, dan dinamakan Gendhing Sekaten. Beberapa lagu ini dulunya disebut menjadi lagu yang dimainkan pada acara karawitan di jaman kerajaan Demak.

Di sela-sela pementasan tersebut, akan diselipkan beberapa kegiatan yang melengkapi rangkaian acara, seperti tari tradisional dan pembacaan ayat suci Al-Quran. Ketika acara dimulai ada pula budaya mengunyah sirih di sekitar halaman masjid. Budaya ini diyakini sebagai wujud doa agar sehat selalu dan awet muda.

Lalu, pada malam hari, ketika Sri Sultan Hamengkubuwono hadir di tempat, ia akan melakukan Udhik-Udhik atau menyebarkan koin logam kepada guru besar masjid, Abdi Dalem dan warga yang hadir. Koin-koin tersebut dipercaya sebagai simbol meraih keberuntungan dan kesejahteraan.

Sri Sultan biasanya akan hadir pada saat pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW. Pada momen itu, beliau akan dipasangkan bunga cempaka pada telinga sebelah kanan. Biasanya ini terjadi pada malam terakhir perayaan Sekaten.

Di luar masjid, akan terdapat banyak penjual nasi gurih beserta lauk pauknya yang dinamakan nasi wudug, yaitu nasi yang dibuat dengan minyak samin. Nasi ini konon disebut sebagai salah satu makanan kesukaan Nabi Muhammad SAW.

Biasanya akan terdapat pula pasar malam Sekaten yang diselenggarakan di area alun-alun. Walaupun akhir-akhir ini, acara tidak lagi diadakan di sana untuk menjaga kebersihan dan ketertiban di area alun-alun.

Secara teknis pasar malam bukan bagian utama dari acara. Tetapi gelaran ini tetap dilaksanakan selama sebulan penuh dalam kurun waktu bersamaan dengan tradisi Sekaten, agar warga dapat turut andil dalam meramaikan perayaan tersebut.

Antara hari keempat hingga keenam perayaan, akan dilakukan adat tradisional yang disebut Numplak Wajik. Pada momen ini, kentongan dan lumpang akan dibunyikan. Kegiatan ini juga biasa disebut ‘kotekan’, yang menandai dimulainya persiapan pembuatan gunungan yang akan diarak pada acara puncak.

Pada akhir acara di hari terakhir, akan ada prosesi pengembalian gamelan pusaka kembali ke tempatnya di keraton, yang dinamakan Kondur Gongso. Prosesi ini sekaligus menandai berakhirnya rangkaian perayaan tradisi Sekaten.

Tradisi Sekaten diselenggarakan dua kraton di Jawa, Yogyakarta dan Surakarta. Walaupun semangatnya sama, ada sejumlah perbedaan di natara ke duanya.
Gunungan Sekaten yang terdiri dari hasil bumi sebagai simbol kesejahteraan. Foto: DOk. shutterstock

Namun puncak acara akan berlangsung pada keesokan harinya, persis pada hari Maulid Nabi, yang lazim disebut Grebeg Maulud. Ini merupakan acara arak-arakan gunungan oleh seluruh brigade pasukan keraton. Acara ini biasanya berlangsung dari jam 08.00 sampai 11.00.

Gunungan yang dimaksud di sini adalah makanan dan bahan bakunya seperti beras ketan, sayuran dan buah-buahan yang disusun menggunung. Gunungan tersebut melambangkan rasa syukur atas kemakmuran hasil bumi.

Biasanya, gunungan dibagi menjadi beberapa jenis dan simbolnya, seperti gunungan kakung, putri, dharat, gepak dan pawuhan. Gunungan kakung memiliki simbol sebagai sang baginda raja, gunungan putri sebagai permaisuri, gunungan dharat dan gepak sebagai para pangeran dan putri, serta gunungan pawuhan sebagai cucu-cucunya.

Gunungan-gunungan tersebut kemudian dibawa ke Masjid Gede untuk didoakan. Setelah selesai, gunungan lantas dibawa ke area alun-alun untuk diperebutkan warga. Lazimnya, beberapa di antara mereka adalah petani. DI masa kini tentu saja semua warga masyarakat.

Mereka percaya gunungan yang telah didoakan bernilai sakral, sehingga bagian dari gunungan yang mereka dapatkan akan ditanam di sawah dan ladang mereka. Harapannya, sawah dan ladang mereka akan senantiasa subur, bebas bencana dan dapat dipanen hasil yang terbaik.

Namun secara mendasar Grebeg Maulud ini menjadi simbol kepedulian Sri Sultan dan keraton kepada warganya, agar mereka dapat turut hidup dalam keberkahan dan kesejahteraan. Sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW untuk senantiasa murah hati, bersedekah dan membantu mereka yang membutuhkan.

(Bersambung ke Bagian 2)

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Menikmati Pulau Bintan Dalam 2 Hari

Menikmati pulau Bintan di Kepulauan Riau sejatinya disarankan seorang teman setidaknya dalam tiga hari. Selain banyaknya wisata alam yang sangat layak dikunjungi, pulau ini juga memiliki sejumlah istiadat dan tradisi yang menarik. Juga kulinarinya.

Menikmati Pulau Bintan

Apa boleh buat, dalam kunjungan kali ini waktu yang tersedia hanya dua hari untuk mengitari seluruh Bintan. Tentu, sebisa mungkin. Itu pun di di hari pertama perjalanan sudah diganggu hujan. Rintik hujan sudah turun saat kaki baru menjejak di Bandara Raja Haji Ali Fisabilillah, Tanjung Pinang, ibu kota Kepulauan Riau. Untunglah, selepas tengah hari, matahari mulai muncul.

Dengan waktu kunjung yang sempit, sambil menunggu hujan reda, pilihan pertama menikmati Bintan kemudian adalah menjajal kuliner. Pilihannya ada di Tanjung Lanjut—restoran ikan laut di tepi sungai yang dihiasi gerombolan pohon bakau. Gonggong rebus, jenis siput laut yang menjadi ikon Tanjung Pinang, menjadi pilihan utama. Rasanya unik, mirip cumi-cumi.

Ketika hujan tak lagi mengganggu, perjalanan mengitari pulau dimulai. Tujuan pertama adalah wihara di Tanjung Uban, yang bisa dicapai dalam waktu sekitar 15 menit dari pusat kota. Tiba di Batu 14, istilah masyarakat setempat untuk menunjukkan jarak, semburat cahaya kuning keemasan menyinari jejeran patung Buddha dan Dewi Kwan In, yang mengapit kiri-kanan pelataran Vihara Avalokitesvara—salah satu wihara terbesar di Asia Tenggara.

Menikmati pulau Bintan salah satunya adalah wisata religi ke sejumlah vihara, juga ke Masjid besar.
Patung Buddha Tidur di Tanjung Uban, Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Foto: Dok. shutterstock

Perjalanan menyusuri jalanan aspal mulus di perbukitan menuju Senggarang, desa di pinggir pantai yang menjadi tempat awal kedatangan orang Tionghoa di Tanjung Pinang pada 1777-1784. Banyak kelenteng tua yang menarik untuk dikunjungi. Kerukunan beragama begitu terasa kental. Orang Melayu dan keturunan Tionghoa guyub berbaur. Sekolah Islam berdekatan dengan kelenteng.

Ada kelenteng tua yang unik karena ditutupi akar pohon. Agak susah mencari tahu nama kelenteng itu, warga sekitar malah menggelengkan kepala saat ditanya. Menurut literatur, namanya Kelenteng Tien Shang Miao.

Beberapa ratus meter dari sana, ada wihara yang dibangun pada 1790-an. Pintu gerbangnya dipulas merah. Kompleks Vihara Dharma Sasana itu tidak seluas Vihara Avalokitesvara Graha, tapi suasananya lebih tenang dan teduh karena terdapat pepohonan. Wihara ini terkenal dengan patung Dewi Kwan Im Seribu Tangan, selain patung naga, Buddha, dan beberapa dewa berwujud binatang.

Masih ada sejumlah kelenteng tua yang menarik di sini, tapi mengingat keterbatasan waktu, perjalanan dilanjutkan ke Vihara Ksitigarbha Bodhisattva. Viahara ini terkenal dengan 1.000 patung Buddha. Perjalanan dilakukan menuju bukit.

Di batu 13, Jalan Kijang, mobil yang kami tumpangi berbelok menuju bukit. Di puncak bukit, terlihat gerbang dengan empat tiang batu yang dililit ukiran naga, empat patung singa bersisik ikan di bagian atas, dan dua patung penjaga berparas garang memegang golok. Gapuranya dibikin mirip dengan tembok raksasa Cina. Di balik gapura itulah ditemukan Seribu Buddha.

Patung-patung Buddha berkepala plontos berjejer rapi dengan awan sebagai latar belakang. Patung-patung itu memiliki ukuran seragam, tetapi ekspresinya berbeda-beda, mengingatkan saya pada tentara Terakota di Cina. Semua patung tersebut dibuat oleh perajin Cina dan dikirim dengan kapal. Di bangunan lainnya, ada sebuah patung Buddha keemasan.

menikmati pulau Bintan tak lengkap tanpa mengunjungi Pulau Penyengat.
Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, Bintan. Foto: Dok. shuterstock

Ada satu lagi obyek wisata religi dengan suasana berbeda yang akan perlu dikunjungi, yakni Pulau Penyengat. Di pulau ini terdapat masjid dan makam para pembesar Kerajaan Riau Lingga. Berjarak 3 kilometer dari Tanjung Pinang, pulau ini bisa dicapai menggunakan perahu pompong hanya dalam 15 menit.

Di Penyengat, pengunjung bisa berjalan kaki jika cukup punya waktu dan tenaga, jika tidak bisa menyewa bemot atau becak motor untuk mengelilingi pulau berukuran sekira 2.500 x 750 meter ini. Di kampung yang bersih ini, dengan jalan berupa paving block, alat transportasi yang digunakan hanya sepeda motor dan sepeda kayuh.

Menurut sejarah, pulau ini merupakan mas kawin yang diberikan Sultan Mahmud kepada Engku Putri Raja Hamidah—anak Raja Haji Fisabilillah, yang juga dimakamkan di sini. Selain itu, ada makam Raja Haji Ali, pujangga yang membuat Gurindam Dua Belas, yang syairnya dituliskan di dinding makam Engku Putri. Peninggalan Kesultanan Riau lainnya adalah Istana Kantor—istana sekaligus kantor Raja Ali, Gedung Mesiu, benteng pertahanan, dan Balai Adat. Saya sempat membasuh muka dengan air sumur petak di bawah Balai Adat, yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

Ada pula Masjid Raya Sultan Riau, yang konon untuk membangunnya menggunakan adonan putih telur. Tak ada yang memastikan hal itu. Dibangun pada 1832 atas prakarsa Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdurrahman, masjid ini mempunyai empat menara dengan dua bangunan tambahan di kedua sisi. Masjid didominasi warna kuning.

Menikmati pulau Bintan salah satunya adalah mengunjungi pantai-pantainya yang indah.
Pantai Trikora di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Foto: Dok. shutterstock

Pukul dua siang, matahari berada di puncaknya. Saatnya mulai menikmati alam Bintan. Perjalanan dimulai dengan menikmati keindahan pantai di Tanjung Pinang. Banyak pilihan pantai berpasir putih di sini, misalnya di kawasan Lagoi, yang banyak diburu wisatawan Singapura. Tapi karena waktu yang sempit, pilihan jatuh ke Pantai Trikora, yang memiliki garis pantai sampai 25 kilometer. Pantai Trikora merupakan pantai terpanjang di Kepulauan Riau. Berada di wilayah Kabupaten Bintan, pantai ini berjarak 60 kilometer, sekitar satu jam berkendara, dari Tanjung Pinang.

Melintasi jalan nan mulus, Pantai Trikora di sisi kanan jalan. Pohon kelapa menghias kiri-kanan jalan. Batu-batu hitam sebesar rumah sesekali terlihat di ladang kelapa. Agak susah menemukan spot bagus di pantai publik karena lokasi indah rata-rata dikuasai resor. Atas dasar itu, akhirnya pilihannya memang mencoba masuk ke resor. Pilihannya adalah Bintan Cabana Beach Resort, yang memiliki pantai jernih dihiasi bebatuan besar. Beberapa pengunjung hotel asik berenang dan melompat di antara bebatuan.

Matahari mulai meredupkan cahayanya, waktunya menikmati kuliner khas Tanjung Pinang, yang terkenal dengan hidangan Melayu dan Cina. Pilihannya jatuh ke Akau Potong Lembu, salah satu sentra kuliner yang wajib dikunjungi di Bintan. Berada di kawasan pecinan, dekat dengan Pelabuhan Sri Bintan Pura, sentra kuliner ini buka dari sore hingga tengah malam. Soal harga, rasanya  terjangkau, sehingga tidak perlu merogoh saku terlalu dalam. Karena suasananya yang asyik, tak terasa sudah hampir tengah malam.

Rully K./TL/agendaIndonesia

*****

Gerabah Plered, Dibakar Api 1000 Derajat

Gerabah Plered memiliki jejak sejak zaman Neolitikum. Foto: Disparbud Jabar

Gerabah Plered dikenal banyak orang bahkan hingga manca negara. Tempat ini memang dikenal sebagai sentra kerajinan gerabah dan keramik tradisional. Bahkan, konon, jejaknya sudah ada sejak zaman neolitikum. Betulkah begitu?

Gerabah Plered

Mungkin banyak yang belum tahu sejarah panjang dari kerajinan Plered ini, yang merupakan sebuah kecamatan di daerah Purwakarta, Jawa Barat. Kawasan dengan jumlah penduduk lebih dari 54 ribu jiwa ini dulunya merupakan perkebunan kopi dalam politik tanam paksa pemerintah kolonial Belanda.

Kala itu, hasil perkebunan daerah tersebut dibawa ke Bandung untuk dikirim ke Tanjung Priok via sungai Citarum. Untuk membawa hasil perkebunan, digunakanlah pedati yang oleh warga setempat menyebutnya ‘palered’. Diyakini inilah asal-usul nama daerah ini.

Selain itu, tempat ini sudah memiliki budaya membuat gerabah dan keramik dari sejak zaman Neolitikum. Pada saat itu, di area tersebut ditemukan artefak seperti kapak persegi, periuk, dan lain-lainnya beserta alat untuk membuatnya.

Gerabah Plered mencapai masa kejayaannya sejak 1990-an.
Tempat pembakaran gerabah Plered, Purwakarta. Foto: Dok. Disparbud Jawa Barat

Dari situ, teknik kerajinan gerabah dan keramik diturunkan dari generasi ke generasi. Meski tak banyak yang tahu secara pasti bagaimana budaya ini berkembang dan diwariskan, tetapi sebuah desa di kawasan Plered bernama desa Anjun disebut sebagai tempat kerajinan ini pertama kali muncul.

Memang pada saat itu kerajinan ini belum populer di kalangan warga. Tapi pada sekitar 1790-an beberapa warga sudah terlihat memiliki lio atau alat pembakaran tanah liat yang digunakan untuk berkerajinan. Bahkan atap rumah di sekitar tempat itu sudah tidak lagi menggunakan ijuk, alang-alang atau daun kelapa, tapi menggunakan genteng.

Barulah pada sekitar era awal 1900-an kerajinan ini mulai lebih diperhatikan. Terdapat sebuah gedung yang difungsikan sebagai pabrik untuk membuat gerabah dan keramik. Lambat laun, warga mulai berbondong-bondong ikut bekerja di situ.

Sejak 1935, usaha ini berkembang menjadi industri rumah tangga. Ada juga perusahaan dari Belanda yang mendirikan pabrik serupa, dengan nama Hendrik de Boa. Image kerajinan gerabah dan keramik pun semakin lekat dengan warga Plered.

Industri ini sempat mengalami kemunduran pada masa pendudukan Jepang dan gerakan perjuangan menuju kemerdekaan. Banyak warga yang turut berperang, atau harus bekerja romusha. Praktis, kegiatan produksi gerabah dan keramik bisa dibilang terhenti.

Tetapi setelah penyerahan kedaulatan Indonesia pada 1949, industri ini perlahan berangsur pulih. Kegiatan usaha kerajinan ini malah kemudian menjadi salah satu mata pencaharian utama warga setempat.

Pada 1950, Wakil Presiden Mohammad Hatta meresmikan pabrik tersebut dengan nama Induk Keramik. Fungsinya untuk memproduksi dan mengurusi hal-hal seperti bahan baku, permodalan dan desain. Warga juga bisa datang untuk belajar menjadi perajin.

Selain itu, dikirimkan juga mesin-mesin penghalus tanah liat buatan Jerman untuk menunjang produksi. Hasilnya, secara kuantitas dan kualitas industri gerabah dan keramik Plered mulai berkembang pesat, bahkan mulai mampu mengekspor produk-produknya.

Dalam perjalanannya, industri ini sempat mencatat beberapa pencapaian. Seperti misalnya pembuatan gentong besar setinggi 170 cm dan berdiameter 150 cm dalam rangka perhelatan Game of the New Emerging Force (Ganefo).

Tak hanya itu, mereka juga turut berpartisipasi dalam pembangunan masjid Istiqlal. Bagian badan utama dan menaranya terbuat dari batu bata merah hasil produksi Induk Keramik. Konon, tanah liat dari Plered bersifat lebih padat dan lengket, sehingga lebih kuat digunakan untuk bangunan.

Meski demikian, industri ini juga sempat mengalami kemunduran kala Induk Keramik mengalami kebangkrutan. Masa-masa pada tahun 1960 hingga 1970-an bisa dikatakan merupakan masa yang cukup sulit bagi mereka.

Gerabah Plered berinovasi dengan dibakar hanya satu kali kemudian digosok dan divernis.
Salah satu sentra porduksi gerabah dan keramik Plered. Foto: DOk. Disparbud Jawa Barat

Kemudian pada era 1980-an, industri ini mulai mencoba berinovasi. Gerabah dan keramik yang tadinya diproses dalam pembakaran sebanyak dua kali, kini hanya dilakukan sekali. Setelahnya, produk digosok, dicat dan dipernis agar terlihat lebih bagus. Lahirlah gerabah Plered era baru.

Ternyata, inovasi ini membuahkan hasil. Kuantitas dan kualitas produksi kembali meningkat, bahkan permintaan dari luar negeri pun mulai melonjak kembali. Akhirnya, sejak 1990-an industri ini kembali menemukan masa jayanya.

Dewasa ini, industri kerajinan tersebut masih terhitung cukup produktif dan laris di pasaran. Kendati sempat dihantam situasi tertentu yang menyebabkan permintaan turun seperti pandemi COVID-19, mereka tidak lagi mengalami kesulitan seperti di masa lalu.

Hanya saja, justru kini mereka terkadang sulit memenuhi permintaan konsumen yang cukup deras. Alasannya, kurangnya regenerasi perajin keramik dan gerabah Plered. Ini karena anak-anak muda di sana lebih memilih menjadi buruh pabrik atau kuli bangunan dengan gaji lebih besar ketimbang menjadi perajin.

Pemerintah setempat lantas mendirikan UPTD Litbang (Unit Pelaksana Teknis Dinas Penelitian dan Pengembangan) Sentra Keramik Plered. Ini merupakan satu-satunya bagi industri kerajinan keramik dan gerabah di Indonesia.

Tujuan dari UPTD Litbang utamanya untuk meriset jenis keramik dan gerabah yang diproduksi, sehingga dapat membantu proses pengembangan produk dan pemasarannya. Selain itu, mereka juga menjadi sarana edukasi baik bagi pengrajin baru maupun bagi wisatawan yang tertarik untuk belajar.

Diharapkan, para perajin gerabah Plered yang sudah eksis bisa terus berkarya dan berinovasi agar produknya terus digemari oleh konsumen. Selain itu, generasi muda juga didorong untuk mau melestarikan budaya kerajinan ini.

Jika ingin mampir, di sepanjang jalan raya Anjun hingga mengarah ke Pasar Plered lama banyak berjejer pusat produksi serta toko gerabah dan keramik. Dari catatan UPTD Litbang, setidaknya saat ini terdapat 221 pusat produksi gerabah dan keramik di Plered.

Jenis barang yang tersedia pun beragam. Umumnya, yang paling laris adalah pot dan vas bunga. Selain pasar domestik, pot dan vas bunga buatan mereka juga diekspor ke negara-negara di benua Asia, Eropa dan Amerika.

Selain barang tersebut, pengunjung juga bisa menemukan barang lain seperti cangkir, piring, celengan, kendi, dan lain-lain. Harganya beragam; ada yang berukuran kecil dengan motif sederhana dengan harga sekitar Rp 5 ribu hingga 8 ribu, tetapi yang berukuran besar dengan motif lebih rumit bisa ditemukan dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Sebagai catatan, gerabah dan keramik dibedakan dari bahan baku, proses pembuatan serta hasil akhirnya. Gerabah merupakan tanah liat murni yang dibakar dalam suhu di bawah 1000 derajat Celsius, dan baru dicat setelah jadi. Biasanya hasilnya cenderung bertekstur lebih kasar.

Sedangkan keramik adalah tanah liat dengan bahan campuran tertentu yang dibakar dalam suhu lebih dari 1000 derajat Celsius, dan sudah dicat sebelum dibakar. Hasilnya, produk lebih punya tekstur yang halus. Harganya pun relatif lebih mahal.

Kalau ingin belajar lebih lanjut tentang sejarah serta detail mengenai industri kerajinan gerabah dan keramik Plered, bisa mengunjungi Museum Keramik Plered. Atau bisa juga mengunjungi UPTD Litbang Sentra Keramik Plered bagi yang ingin belajar dan merasakan pengalaman membuat kerajinan gerabah dan keramik tradisional khas Plered.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Oleh-oleh dari Medan, 3 Yang Dari Kebun

Oleh-oleh dari Medan, Sumatera Utara, memiliki banyak macamnya. Oleh-oleh kreasi warga Medan pun terus berkembang. Tidak lagi hanya sirop markisa, bika Ambon, dan bolu Merant,i tapi juga tersedia pilihan hasil kebun yang menyegarkan.

Oleh-oleh dari Medan

Manisan, jus buah, dan kopi membikin mata serta pikiran langsung terbuka. Medan memang surga segala jenis hidangan. Dari sajian untuk sarapan hingga hidangan laut yang biasa dikonsumsi malam hari. Berbagai hasil perkebunan di sekitar Sumatera diramu untuk menggoda selera. Hasil olahan menyegarkan tersebut termasuk kopi. Cairan hitam ini tak kalah nikmat, apalagi jika aromanya sudah menggoda hidung.

Manisan Buah Yenny

Yenny sudah dikenal sebagai pembuat manisan jambudi Medan sejak 1980-an. Ia bekerja dengan suaminya membuat olahan ini. Hasilnya berupa manisan jambu renyah yang ia sebut tidak bisa tahan lama. Selain menggunakan gula asli, olahan ini tanpa pengawet. Para wisatawan lazimnya mampir ke toko ini sebelum menuju bandara untuk pulang ke daerah masing-masing. “Hanya tahan dua hari, di lemari es paling empat hari,” Yenny mengungkapkan.

Yenny menggunakan jambu klutuk atau jambu biji hasil perkebunan di Berastagi. Pembuatannya paling singkat dibanding dengan jenis manisan lain, hanya dikupas kemudian dimasukkan ke cairan gula sebentar.

Bentuknya dibiarkan bulat, dengan warna asli bagian luar kehijauan dan daging yang putih. Rasanya segar dan renyah. Buah ini paling pas dikunyah siang hari di tengah hawa Kota Medan yang panas. Ada beberapa lokasi yang menjadi pusat penjualan manisan jambu klutuk. Hanya, bila Anda ingin membawanya sebagai oleh-oleh, lebih baik menuju Jalan S. Parman. Tidak jauh dari Museum dan Galeri Rahmat, ada sebuah jalan kecil yang dikenal sebagai Gang Pasir. Tepat di ujung gang, ada dua toko. Nah, di sisi kanan berdiri Toko Manisan Yenny.

Berada di provinsi yang memiliki lahan perkebunan luas, Medan menyodorkan banyak olahan manisan buah. Yenny mengaku mencari jenis buah terbaik dan menggunakan gula asli. Proses pengolahan manisan ini cukup panjang, bahkan hingga satu minggu agar rasa manis benar-benar meresap pada buah.

Selain jambu biji, buah lain yang digunakan untuk manisan adalah buah khas Sumatera Utara, seperti mangga Medan, yang berukuran kecil. Diolah ketika mangga masih muda, manisan yang dijual per kilogram ini terasa asam manis. Jika masih ingin mencicipi yang segar-segar, pengunjung bisa memilih manisan asam gelugur, yang dipatok seharga Rp 50 ribu per kilogram. Ada juga manisan kedondong, pepaya, dan cabai, yang harganya cukup tinggi.

Manisan Yenny; Jalan S. Parman Gang Pasir No 21; Medan

oleh-oleh dari Medan tak sedikit yang merupakan produk perkebunan.
Juise buah bisa menjadi oleh-oleh dari Medan, salah satunya juice Terong Belanda. Foto: Dok. shutterstock

Jus Buah Asli

Banyak orang mengenal oleh-oleh Medan berupa sirop markisa dan terung Belanda. Sirop itu memiliki aroma yang kuat, meski rasa markisanya sudah berkurang. Penggemar buah ini bisa menemukan produk tersebut di toko manisan, di antaranya gerai milik Yenny. Selain menjual jus markisa dan terung Belanda, serta campuran keduanya yang disebut martabe, toko ini menjajakan beragam jus buah.

Ada jus jeruk Kietna dalam botol untuk ukuran 600 mililiter. Ada pula jus markisa, martabe, dan jus kedondong yang menyegarkan. Bagi penggemar sirsak, tersedia pula jus buah tersebut dalam botol.

Manisan Yenny; Jalan S. Parman Gang Pasir No 21; Medan

Oleh-oleh dari Medan ada yang berasal dari olehan perkebunan, di antaranya kopi.
Kopi di Oppal Coffee, selain yang bisa dibawa dalam bentuk biji atau serbuk, juga bisa dinikmati di tempat. Foto: Dok. TL/Dhemas

Kopi Beraroma Mantap

Kopi tentu menjadi oleh-oleh yang tak kalah menyegarkan dari Medan. Kopi Sidikalang salah satunya. Ada banyak produk minuman sedap ini karena memang Sumatera Utara gudangnya kopi. Namun jika benar-benar penikmat kopi, dan ingin memilih yang berkualitas ekspor, Anda bisa mencicipi produk Opal Coffee.

Kopi ini dikeluarkan oleh PT Sari Makmur Tunggal Mandiri, yang memiliki lahan sekitar 500 hektare di Sidikalang. Kopi yang diolah 100 persen hasil lahan sendiri. Ada 15 varietas kopi yang ditanam, sehingga pembeli bisa memilih sesuai dengan selera. Menurut Michael Wonggo, Operation Manager Opal Coffee Division, kopinya juga menjadi langganan hotel-hotel berbintang di Medan.

Beberapa jenis kopi dari Opal Coffee bisa ditemukan di kafe yang dikelola perusahaan ini di Medan. Berlokasi di Griya Riatur, beraneka kopi Sumatera dan daerah lain dijual pada kisaran Rp 200 ribuan per kilogram, baik yang masih berupa butiran maupun hasil sangrai dadakan.

Opal Coffee Café & Resto; Kompleks Griya Riatur Blok C-56; Medan

Rita N./ Dhemas RA/TL/agendaIndoensia

*****

Sepeda Bambu, Sudah Nggowes Sejak 2013

Sepeda bambu merek Spedagi merupakan karya anak Indonesia. Foto: dok. Spedagi.com

Sepeda bambu menjadi popular tak kala Presiden Joko Widodo mengajak Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menggunakannya di Istana Bogor, Jawa Barat, 6 Juni lalu. Keduanya rupanya memilih melakukan pembicaraan dengan nggowes bareng.

Sepeda Bambu

Awalnya mungkin banyak yang menganggap sepeda yang dipergunakan ke dua pemimpin negara tersebut adalah sepeda road bike biasa. Belakangan, pihak Istana mengabarkan bahwa sepeda yang dipakai ke dua pemimpin adalah Spedagi, alias sepeda berbahan bambu karya anak Indonesia.

Dari informasi yang sama, diketahui bahwa sepeda bambu yang digunakan Presiden Jokowi dan PM Albanese itu memang dirancang untuk digunakan di jalan raya. Masuk kategori road bike. Banyak yang penasaran dengan sepeda Spedagi tersebut? Produk barukah?

Sepeda bambu sudah diekspor ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, bahkan Prancis.
Salah satu tipe Spedagi. Foto: spedagi.com

Spedagi adalah sepeda bambu asli buatan Indonesia. Sepeda ini dirancang Singgih S. Kartono yang berasal dari Temanggung, Jawa Tengah. Nama “Spedagi” berasal dari kata “sepeda pagi”, yaitu kegiatan yang rutin dilakukan oleh Singgih untuk menjaga kesehatan.

Berlatar belakang sebagai desainer yang hobi sepedaan, membuat Singgih tertarik dengan berbagai desain sepeda, salah satunya sepeda bambu dari Amerika. Ia dibuat takjub dengan sepeda bambu karya Craig Calfee dari AS. Tidak hanya terbuat dari bambu, tapi sepeda tersebut juga dibuat dengan metode kerajinan tangan.

Dari ketertarikan tersebut dan berkat stok bambu yang melimpah di Indonesia, Singgih terdorong untuk membuat dan mengembangkan desain sepeda bambu asli Indonesia. Hingga akhirnya, pada awal 2013 Singgih mulai mengembangkan desain dan memulai produksi sepeda bambu.

Dengan tujuan menemukan jenis bambu yang tepat, desain frame sepeda yang kuat, nyaman, serta estetik. Akhirnya dipilihlah Bambu Petung (Dendrocalamus asper), yaitu salah satu jenis bambu terkuat dan tersedia melimpah di pedesaan. Bambu dengan diameter besar dan dinding tebal ini selain kuat, juga memungkinkan untuk membuat batang rangka sepeda dengan ukuran yang seragam

Untuk menjaga kualitas dan kenyamanan saat bersepeda, sepeda bambu dibuat dengan menggunakan jenis bambu yang tepat. Tujuannya agar sepeda bambu tetap kuat, nyaman, dan pastinya terlihat estetik.

Sepeda bambu merek Spedagi menggunakan bahan bambu petung.

Seperti sepeda pada umumnya, Spedagi kemudian dikembangkan dengan beberpa pilihan desain. Ini dilakukan agar pembeli bisa memilih sesuai kebutuhannya. Singgih paham kalau penggiat sepeda ada yang senang berjalan di jalan raya, di sekitar perumahan saja dan sebagainya.

Karena itu, untuk mereka yang senang bersepeda santai di jalan raya dan trek agak keras khas pedesaan ada produk yang dinamakan Spedagi Dwiguna, atau dual track. Sedangkan jika ingin mencari yang nyaman di jalan panjang yang mulus, pecinta sepeda bisa memilih produk Spedagi Dalanrata. Ini jenis road bike.

Singgih tampaknya cukup mengenal kesukaan para goweser. Ia juga melihat banyak pesepeda di Indonesia yang jenisnya funbiker, bersepeda untuk santai dan senang-senang di sekitar perkotaan. Untuk itu ia merancang jenis Spedagi Gowesmulyo dan Spedagi Rodacilik. Dari namanya rasanya orang bisa menebak sepeda jenis apa ke duanya. Ke duanya menggunakan roda kecil.

Meski tampilannya terlihat sederhana dan berbahan bamboo, Spedagi nyaman dipergunakan. Dan, menariknya, sepeda bambu Spedagi bahkan sudah lolos uji kendaraan Jakarta-Madiun dengan jarak 750 kilometer, dan menanggung total beban 90 kilogram, dan tanpa kerusakan apapun.

Karena keunikannya, sepeda bambu Spedagi sudah banyak dilirik dan dibeli banyak orang. Tidak saja para pecinta sepeda di dalam negeri, namun juga mereka yang menggilai sepeda dari luar negeri.Yang membanggakan, 95 persen produk Spedagi karya Singgih dan timnya itu bahkan terserap oleg pasar internasional. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Brazil, Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Singapura, Australia, Selandia Baru, juga beberapa negara Eropa sudah mengimpornya.

Spedagi, sepeda bambu oroduk asli Indonesia asal Temanggung sudah merambah ke negara Eropa seperti Prancis. Selain itu, karya Singgih ini juga mendapatkan penghargaan dari berbagai pihak, termasuk dari mancanegara. Salah satunya pada 2017, Spedagi mendapatkan penghargaan Good Design Award oleh Asean-Japan Centre.

Tertarik untuk memilikinya? Ada beberapa tipe sepeda bambu karya Singgih ini.

  • Dwiguna (DG-R-26), adalah sepeda bambu tipe MTB dengan harga mulai dari Rp5,5 juta.
  • Gowesmulyo (joy bike), adalah sepeda yang dirancang untuk alat transportasi jarak dekat, harga mulai dari Rp5,5 juta.
  • Rodacilik, adalah sepeda tipe minivelo, sepeda dewasa dengan ukuran ban 20”, harga mulai dari Rp6 juta.
  • Dalanrata, adalah sepeda ramping dan ringan, cocok untuk jalanan yang rata, harga mulai dari Rp6,5 juta.

agendaIndonesia

*****

5 Oleh-oleh Medan Yang Memikat dan Nikmat

5 oleh oleh Medan bolu meranti

5 oleh-oleh Medan ini kian hari kian memikat dan tetap nikmat. Bika Ambon masih jadi sesuatu yang khas, tapi tidak lagi hanya itu, karena pilihan terus bertambah.

5 Oleh-oleh Medan

Tak mengherankan jika ada orang Medan yang menyebutkan, kalau sudah pulang kampung, berat badan langsung naik. Di Medan, memang begitu mudah ditemukan sajian yang menggoda. Bila Anda bersiap meninggalkan Medan, tapi masih ingin mencecap sajian kota itu, tidak ada salahnya membawa oleh-oleh. Paling tidak, dalam beberapa hari Anda masih bisa menikmati sajian khas Sumatera Utara. Mulai yang sudah lama dikenal seperti sirop markisa, sirop terung Belanda, bika ambon, manisan jambu, dodol duren, hingga yang kini digandrungi: bolu gulung Meranti dan pancake durian. Semua bisa dikemas agar siap dibawa langsung ke bandara.

Bika Ambon

Sepanjang Jalan Majapahit, Medan, sudah lama menjadi sasaran turis ataupun warga Medan untuk mendapati oleh-oleh khas bika ambon. Mulai ramai sejak 1990-an, hingga kini deretan toko yang menjual oleh-oleh semakin bertambah. Ada sekitar 20 toko. Mungkin karena bika ambon dari tahun ke tahun selalu diburu sebagai oleh-oleh. Dengan kreativitas, bahkan bika ambon tersedia dalam berbagai rasa, dari yang orisinal berwarna kuning hingga muncul rasa pandan, keju, cokelat, vanila, nangka, dan durian.

Nama kue ini bika. Tapi konon, karena awalnya ada pemuda Ambon yang setiap kali makan kue ini selalu dengan lahap, disebutlah bika ambon. Kue berpori-pori dengan rasa legit ini bisa ditemukan dalam berbagai ukuran. Semula memang dijual dalam ukuran kecil, tapi kue setebal 5-6 sentimeter itu kini kebanyakan diproduksi dalam ukuran besar.

Ada dua merek yang cukup dikenal, yakni Bika Ambon Zulaikha dan Bika Ambon Ati. Bika Ambon Ati disebut sebagai yang pertama membuka usaha penganan tersebut di jalan ini. Adapun pemilik bika ambon Zulaikha membuka tokonya pada 2003, meski pembuatan bika ambon sudah dilakukannya sejak 2000. Rata-rata per loyang besar dihargai Rp 50 ribu. Kue yang terbuat dari tepung sagu dan telur ini bahkan dikemas khusus jika hendak dibawa naik pesawat, sehingga bika ambon pun aman di perjalanan. Di toko Bika Ambon Zulaikha juga bisa ditemukan beragam oleh-oleh khas Medan lainnya.

Bika Ambon Ati; Jalan Majapahit Nomor 11; Medan

Bika Ambon Zulaikha; Jalan Majapahit 96-D-E-F; Medan

Bolu Meranti

Kini jenis bolu gulung ini seperti menjadi oleh-oleh wajib bagi para pengunjung Kota Medan. Gerai yang lebarnya sekitar 6 meter itu pun selalu dipenuhi pengunjung. Di dinding dipajang foto-foto artis yang pernah mampir dan berbelanja di Bolu Meranti, di Jalan Kruing, Sekip, Medan.

Ada beragam rasa bolu gulung di sini, seperti stroberi, cokelat, moka, kopi, vanila, blueberry, pandan, dan ada campuran dua rasa: cokelat-stroberi, moka-kopi, cokelat-moka, dan lain-lain. Ada juga yang dibubuhi keju, kacang, atau meses.

Toko itu didirikan pada 2005, dan menggunakan nama Meranti, karena semula menjualnya di Jalan Meranti, meski pembuatnya tinggal di Jalan Kruing. Ciri khas bolu ini adalah teksturnya yang lembut. Selain itu, ada lapis legit, brownies, dan kue sus. Cuma kebanyakan yang dicari sebagai oleh-oleh bolu dan lapis legit. Selain bolu Meranti, kini bermunculan jenis bolu yang sama tapi dengan merek lain.

Bolu Meranti; Jalan Kruing Nomor 2-K; Medan

Sirop Markisa & Terung Belanda

Pertanian di sekeliling Medan tumbuh subur. Alhasil, dalam soal sayuran dan buah-buahan, kota ini mempunyai banyak pilihan. Salah satu pemasok besar datang dari dataran tinggi Tanah Karo dan Berastagi. Kedua daerah ini berada di kaki Gunung Sibayak. Untuk buah-buahan, selain ada jeruk, tersedia markisa dan terung Belanda. Sirop markisa sudah lama menjadi oleh-oleh dari Medan. Dengan semakin banyaknya hasil pertanian berupa terung Belanda, buah berwarna ungu ini pun diolah menjadi sirop.

Ada beberapa merek untuk kedua jenis sirop ini, di antaranya Pyramid Unta, Pohon Pinang, Noerlen, dan Sarang Tawon. Harganya berkisar Rp 18-33 ribu. Setelah meneguk jus buah aslinya, ada baiknya Anda membawa oleh-oleh berupa siropnya, yang tentu juga tetap menyegarkan karena terbuat dari buah asli dan mengandung sejumlah manfaat bagi tubuh. Markisa disebutkan memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi dan vitamin A, B, serta C. Terung Belanda, yang berbentuk lonjong, berasa asam, dan dikenal mengandung vitamin A, B, C, dan E, ditambah lagi protein, kalsium, fosfor, zinc, zat besi, dan lain-lain. Sirop ini bisa didapat dengan mudah di toko oleh-oleh.  

5 Oleh oleh Medan di antaranya pancake durian

Pancake Durian

Durian umumnya lebih puas dinikmati di Medan. Apalagi jenis buah ini dilarang dibawa masuk ke dalam pesawat terbang. Namun rupanya orang Medan mempunyai trik agar durian tetap bisa dibawa sebagai oleh-oleh tanpa mengganggu penumpang lain. Durian pun dibuat lebih ringkas dengan mengolahnya menjadi pancake durian. Dibentuk dalam ukuran kecil untuk sekali makan dan dikemas dalam sebuah kotak kecil yang terdiri atas 10 pancake. Untuk membawanya ke dalam pesawat, si penjual biasanya membubuhkan kopi hingga aroma menyengatnya tidak muncul.

Untuk memuaskan pencinta durian, ada sebuah toko yang menjual macam-macam penganan dari durian, yakni Durian House. Aroma durian memenuhi ruangan, seperti pewangi ruangan rasanya. Pancake durian ini terbuat dari durian asli yang dibalut dengan kulit dari tepung. Rasa duriannya tetap kuat. Semakin mantap jika dimasukkan ke dalam lemari es terlebih dulu dan dikonsumsi dalam keadaan dingin.

Selain itu, di Durian House bisa ditemukan dodol durian, penganan yang sudah lama melekat dengan kota yang terkenal dengan duriannya ini. Juga bolu duren, roti puding durian, dan lain-lain. Bila ingin menikmati pancake durian di tempat, bisa mampir ke Taipan Chinese Restaurant di Jalan Putri Hijau Nomor 1, atau Restoran Sari Laut Nelayan di Merdeka Walk atau Jalan Putri Merak Jingga.

Durian House; Jalan Sekip Nomor 67-H, Medan

Manisan Jambu

Manisan jambu klutuk Medan sudah dikenal sejak dulu. Rasanya segar dan manis. Sebenarnya, selain jambu, di Medan aneka manisan memang sudah biasa diolah. Masyarakat Melayu Deli-lah yang mempunyai tradisi membuat manisan untuk sajian tamu saat Lebaran. Jenis buah yang sering dibuat manisan adalah salak, buah kana, asam jawa, tomat, nanas, mangga, plum, jambu, jambu biji, belimbing, pepaya, kedondong mini, jeruk kasturi, mangga samosir (mangga berukuran kecil-kecil), bahkan cabai. Hanya kemudian yang menjadi ciri khas untuk oleh-oleh adalah manisan jambu.

Ukuran jambu yang cukup besar, renyah, dan segar mungkin yang membuat orang menyukainya. Proses pembuatan manisan jambu juga membutuhkan waktu lebih singkat ketimbang jenis manisan lain yang memerlukan proses fermentasi. Pusat pembuatan manisan, sekaligus tokonya, ada di Gang Pasir, Jalan S. Parman. Anda bisa melihat pembuatannya, dan bisa juga memesan sebelum dibawa terbang ke kota asal. Kebanyakan pembuat manisan sudah turun-temurun, seperti toko manisan milik A Hai.

Rita N./Toni H./Dok. TL

Kota Lama Padang, Terbesar di Abad 19

Kota Lama Padang bisa dinikmati di sekitar Jembatan Siti Nurbaya.

Kota lama Padang merupakan bagian kuno dari ibukota Sumatera Barat. Dulunya ia menjadi tanda kebesaran Padang sebagai kota perdagangan di zaman kolonialisme Belanda di Indonesia. Sayangnya kini, akibat waktu dan gempuran gempa, sebagian bangunan semakin terbengkalai dan tidak terawat.

Kota Lama Padang

Hampir sepanjang abad ke-19, Padang boleh disebut menjadi kota terbesar di luar Pulau Jawa. Kota ini tumbuh menjadi pusat perdagangan, sekaligus “markas” militer Hindia Belanda, dalam hal ini diwakili oleh kongsi dagang VOC, untuk menaklukkan dan mempertahankan daerah-daerah di Sumatera. Tidak hanya dibangun oleh penguasa saat itu, kota ini juga tumbuh berkat partisipasi pihak swasta yang berasal dari berbagai bangsa, seperti Minangkabau, Belanda, Cina, India, dan Arab.

Sisa-sisa arsitektur masa keemasan zaman itu masih bisa dilihat di kawasan Padang Kota Lama. Lokasinya di sekitar Muara Padang, Jalan Batang Arau, dan Pasar Gadang. Namun akibat gempa besar 7,9 skala Richter, yang terjadi pada 30 September 2009, banyak bangunan rusak dan hanya beberapa yang bisa diperbaiki. Menikmati sisa-sisa kejayaan kolonial kota ini paling tepat dilakukan dari atas Jembatan Siti Nurbaya, yang terbentang di atas Sungai Batang Arau. Dari jembatan ini lanskap Kawasan Padang Kota Lama terlihat lebih jelas.

Kota Lama Padang menyimpan bukti kebesaran kota ini di masa lampau.
Sungai Batang Arau yang membelah kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Jalan Batang Arau terletak di sisi kanan Sungai Batang Arau, dekat muara. Di sana berderet puluhan bangunan tua dan besar menghadap ke jalan serta Sungai Batang Arau. Dulu, bangunan ini digunakan untuk kantor pemerintahan, perbankan, dan kantor dagang. Bangunan yang menonjol adalah Nederlansche Handels-Maatschappij (NHM), Padangsche Spaarbank, De Javansche Bank, dan NV Internatio, yang didirikan sebelum 1920. 

Atap bangunan bergaya arsitektur neo-klasik ini setinggi 24 meter, sementara dindingnya berbentuk gambrel dengan dua cerobong pada bagian puncak. NHM adalah kantor dagang swasta yang juga menjadi tempat bisnis beberapa perusahaan. Kini, kantor itu dijadikan gudang oleh PT Panca Niaga dan tampak tidak terawat.

Namun, ada juga bangunan yang masih terawat, seperti yang sekarang digunakan Bank Indonesia. Dulu, gedung ini dimanfaatkan De Javasche Bank, yang berlokasi di seberang NHM. Dibangun sekitar 1930, bangunan ini berarsitektur tropis dengan kubah kecil di bagian atas mirip atap masjid.

Kota Lama Padang memiliki sejumlah gedung kuno yang merupakan peninggalan Belanda dengan arsiteturnya yang khas.
Sebuah gedung kuno peninggalan Belanda di Padang yang masih sering dikunjungi wisatawan. Foto: Dok. shutterstock

Gedung lain yang menonjol adalah Padangsche Spaarbank, yang didirikan pada 1908. Gedung berlantai dua setinggi 35 meter yang berdiri membelakangi sungai ini bergaya neoklasik. Tampaknya bangunan tersebut terpengaruh arsitektur art-deco dengan gaya mahkota di bagian depan atas bertulisan “1908”. Bangunan ini sempat menjadi Hotel Batang Arau, yang banyak dikunjungi turis asing yang ingin berselancar di Mentawai.

Sejak gempa 2009, gedung itu kosong dan terlihat tidak terawat. Di sebelahnya terdapat gedung NV Internatio, yang dibangun sekitar 1910. Dengan gaya arsitektur neoklasik-modern, yang berkembang sebelum 1920, bangunan tersebut kini dimiliki Badan Usaha Milik Negara Cipta Niaga.

Selain di Jalan Batang Arau, ada banyak bangunan tua di tiga kawasan yang pada abad ke-19 menjadi pasar itu. Posisi pasar tersebut bersebelahan dengan Jalan Batang Arau, yakni Pasar Gadang (Pasar Hilir), Pasar Mudik, dan Pasar Tanah Kongsi. Bahkan, Pasar Gadang sampai pertengahan abad ke-19 menjadi urat nadi perekonomian kota. Pasar Gadang dipengaruhi arsitektur kolonial Belanda bercampur corak tradisional Cina. Sedangkan ukiran ornamen dinding dan atap pada beberapa bangunan di sana pengaruh arsitektur Minangkabau dan Melayu.


Pasar Mudik dibangun pertengahan abad ke-19 oleh perusahaan dagang Badu Ata & Co. Beberapa bangunan menonjol di sini adalah Hotel Nagara dan Gedung Juang 45. Gedung-gedung di Pasar Mudik berupa ruko serangkai. Pengaruh arsitektur Cina, Arab, India, dan Minang terlihat di bagian atapnya.

Adapun Pasar Tanah Kongsi didirikan warga keturunan Tionghoa. Karena itu, selain gaya kolonial Belanda, ada campuran arsitektur tradisional Cina. Gedung yang menonjol di sini adalah kelenteng yang dibangun pada abad ke-17 dan gedung Himpunan Bersatu Teguh (HBT). 

Di Kawasan Padang Kota Lama, ada juga Kelenteng See Hin Kiong, yang dijadikan tempat ibadah sejak 151 tahun lalu. Di luar kawasan ini, gedung-gedung tua juga tersebar di lokasi lain kota itu, seperti Balai Kota Padang, Kapel Susteran St Leo, dan Katedral. Sayangnya, Pemerintah Kota Padang belum memperlihatkan upaya untuk memulihkan Kawasan Padang Kota Lama. Gedung-gedung tua warisan zaman kolonial itu tampak kian telantar. Bisa dikatakan Kawasan Padang Kota Lama ini berada di ujung senja, seperti menunggu kehancuran saja.

TL/agendaIndonesia

****