Getuk Goreng Haji Tohirin, Asli Sejak 1918

Getuk goreng Haji Tohirin menjadi oleh-oleh khas Banyumas yang ikonik.

Getuk goreng Haji Tohirin bisa jadi adalah jawaban kebanyakan orang Banyumas ketika ditanya soal kuliner asli kota mereka. Tak mengherankan, karena kudapan tradisional ini sudah eksis sejak 1918, dan hingga kini toko-tokonya masih menjamur di kota ini.

Getuk Goreng Haji Tohirin

Sebagai sebuah kabupaten, Banyumas punya ciri khas sendiri yang membuatnya unik. Terletak di bagian barat provinsi Jawa Tengah, kabupaten ini punya beberapa daya tarik bagi turis, seperti Baturraden dan gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah.

Secara budaya tradisional mereka juga punya keunikan tersendiri dari wilayah lainnya di Jawa Tengah. Kebanyakan dari adat dan seni budaya tersebut bahkan disebut sebagai Banyumasan, karena kekhasannya dan keunikannya dengan daerah tersebut.

Getuk goreng haji Tohirin adalah ikon dari Banyumas, selain tugu pesawat tempur ini.

Misalnya, seni budaya seperti salawatan Jawa, kuda lumping Ebeg, alat musik calung dan bongkel, batik ala Banyumasan, hingga yang paling identik dan dikenal banyak orang adalah bahasa Jawa bergaya Banyumasan. Bahasa yang juga kerap disebut dengan istilah ngapak.

Dan bila dilihat dari sisi khazanah kulinernya pun, Banyumas tak kalah menariknya. Cukup banyak kuliner tradisional yang terlahir di sini, seperti tempe mendoan, sroto alias soto ala Banyumas, hingga tentunya getuk goreng yang begitu khas dan unik.

Kelahiran getuk goreng tersebut tak lepas dari andil pencetusnya, Sanpirngad, yang dulunya merupakan penjaja nasi rames dengan beragam sayur dan lauk pauk. Salah satu pilihan di antara sayur dan lauk pauk tersebut adalah getuk singkong.

Getuk singkong sendiri bukanlah makanan yang asing bagi warga Banyumas. Sejak dulu, sawah-sawah yang berada di area ini kerap ditanami singkong, lantaran singkong sering digunakan sebagai makanan pengganti nasi.

Awalnya, usaha yang ia dirikan bersama istrinya Sayem itu hanya diminati segelintir orang, dan terkadang setelah warung tutup masih ada sisa-sisa makanan yang belum ludes terjual. Singkong tersebut adalah salah satu yang kerap masih tersisa dan kurang disukai pelanggan.

Karena merasa sayang dengan sisa makanan yang belum habis itu, Sanpirngad kemudian mulai mencoba mengolah ulang beberapa makanan tersebut. Misalnya, sisa-sisa getuk singkong ia olah kembali dengan cara ditumbuk dan dicampur dengan gula merah dan parutan kelapa.

Getuk Goreng Banyumas Tokped
Getuk goreng Haji Tohirin biasanya dikemas dalam besek dari bambu. Foto: tokped

Setelah pengolahan ulang tersebut, munculah kudapan baru yang sebetulnya terasa nikmat dan ketika dijajakan lumayan disukai pelanggan. Namun karena warungnya sendiri masih sepi pengunjung, makanan tersebut jadi ikut-ikutan bersisa dan tak cukup laris pula.

Sanpirngad lagi-lagi mencoba memutar otak agar dagangannya tersebut dapat laris manis dan membawa lebih banyak pengunjung yang datang. Akhirnya, olahan getuk yang masih tersisa itu ia goreng agar awet dan bisa dicoba untuk dijual kembali esok harinya.

Siapa sangka, percobaannya yang kesekian tersebut mampu membawa peruntungan baru yang mengubah hidupnya. Getuk goreng buatannya justru diminati pelanggannya, bahkan perlahan-lahan menuai popularitas lewat obrolan warga dari mulut ke mulut.

Sejak saat itu, banyak pengunjung yang datang ke warungnya khusus untuk mencoba getuk gorengnya. Saking terkenalnya, oleh pelanggannya getuk tersebut juga sempat disebut getuk kamal, karena saat itu warungnya berada di bawah pohon kamal.

Mulai dari kemunculannya di sekitaran tahun 1918, getuk goreng terus menjadi salah satu kuliner primadona Banyumas. Usaha tersebut lantas dijalankan pula oleh anak dan menantunya. Salah satu di antaranya adalah Tohirin, menantu laki-lakinya.

Selepas berpulangnya Sanpirngad pada 1967, Tohirin terpilih untuk mengambil alih usaha dan meneruskannya. Di bawah pengelolaannya, bisnis semakin maju pesat dan getuk goreng semakin dikenal luas, tak hanya oleh warga setempat tetapi juga bagi kalangan turis.

Warung nasi rames berwujud gubuk semi permanen tersebut diubah menjadi bangunan kios permanen. Usahanya kemudian berfokus pada getuk goreng saja, agar dapat memenuhi banyaknya permintaan konsumen sekaligus mempertahankan konsistensi kualitas makanan.

Terlebih lagi, ia melihat pergeseran pola konsumen getuk goreng saat itu. Kalau sebelumnya pelanggannya merupakan warga lokal yang sekedar mencari kudapan, kini banyak pula yang datang untuk membeli getuk goreng sebagai oleh-oleh.

Hingga kini, bangunan tersebut masih berdiri menerima pengunjung lokal dan pendatang, dengan plang bertuliskan ‘Getuk Goreng H. Tohirin Asli’ alias Getuk Goreng Haji Tohirin. Penggunaan kata ‘asli’ di sini menjadi penting, seiring persaingan yang makin ketat dengan munculnya gerai getuk goreng lainnya.

Toko Oleh oleh Getuk Kemendikbud
Toko-toko oleh-oleh memajang nama getuk goreng dan Asli. Foto: kemendikbud Jawa Tengah

Kendati demikian, getuk goreng dagangannya boleh berbangga hati karena memang menjadi pionir bagi getuk goreng lainnya. Dan berkat otentisitasnya itu pula, kios getuk gorengnya tak pernah sepi pengunjung.

Kini, bisnis dijalankan oleh anak-anak dan cucunya, serta sudah memiliki kurang lebih sekitar 10 cabang yang tersebar di seputaran Banyumas. Kebanyakan kios-kios cabang tersebut bernuansa jingga, agar membedakan dengan kios aslinya yang bernuansa hijau.

Kalau datang ke kios yang asli getuk goreng Haji Tohirin, pengunjung masih bisa melihat proses pembuatannya secara langsung. Pertama, singkong dikukus terlebih dulu dengan metode tradisional, menggunakan dandang serta kayu bakar.

Singkong yang sudah dikukus langsung ditumbuk dan diolah dengan gula merah dan parutan kelapa menggunakan lumpang, kemudian digoreng sampai matang. Pendekatan tradisional ini adalah upaya agar cita rasa otentik getuk goreng dapat terjaga,

Getuk goreng yang sudah matang tersebut lantas dipotong-potong, kemudian langsung dikemas dan disajikan kepada pengunjung. Biasanya pengunjung punya dua pilihan kemasan, dengan ukuran ½ kg dan 1 kg yang masing-masing harganya Rp 21 ribu dan Rp 39 ribu.

Umumnya, rasa getuk goreng Haji Tohirin yang original merupakan perpaduan dari gurih dan manis. Tetapi kini konsumen juga bisa mendapatkan berbagai pilihan rasa lainnya, seperti rasa coklat, nanas, durian dan nangka. Yang jelas, semua pilihan rasa tidak menggunakan pengawet.

Pengunjung bisa memilih khusus satu pilihan rasa, atau campuran semua pilihan rasa. Kemasannya berupa besek dengan masing-masing pilihan ukurannya. Meskipun tidak mengguanakan pengawet, getuk goreng diklaim dapat bertahan sampai sepuluh hari.

Seiring dengan pergeseran bisnisnya, kios getuk goreng Haji Tohirin kini juga berfokus sebagai sentra oleh-oleh tradisional. Di sini dapat ditemukan juga aneka kudapan tradisional lainnya seperti nopia, keripik tempe, klanting, olahan buah carica, dan lain sebagainya.

Getuk goreng Haji Tohirin buka dari jam 09.00 sampai jam 21.00. Karena kios aslinya kerap ramai pengunjung, khususnya pada akhir pekan dan hari libur, maka tak ada salahnya pula sesekali mampir ke cabang-cabangnya, yang terkadang juga buka sedikit lebih awal.

Getuk Goreng Haji Tohirin (Asli)

Jl. Jend. Sudirman no. 151, Sokaraja, Banyumas

Telp. (0281) 6441216

Instagram @getukgoreng.aslihajitohirin

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Kain Songket Palembang, Kisah 71 Motif Tradisional

Kain Songket Palembang shutterstock

Kain songket Palembang menjadi salah satu kain tradisional yang seakan wajib dikoleksi oleh orang Indonesia. Banyak yang memburunya jika tengah berkunjung ke ibukota Sumatera Selatan itu. Diburu meskipun harganya hingga puluhan bahkan konon ratusan juta.

Kain Songket Palembang

Songket adalah sejenis kain tenun tradisional Melayu di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darusalam. Ia bisa digolongkan dalam model tenunan brokat, yakni ditenun menggunakan tangan dengan benang emas dan perak. Benang logam yang tertenun berlatar kain menimbulkan efek kemilau.

Kain songket umumnya merupakan kain tenun mewah yang dikenakan saat resepsi, perayaan, atau pesta. Songket dapat dikenakan melilit tubuh seperti sarung, disampirkan di bahu, atau sebagai destar atau tanjak, yakni hiasan ikat kepala. Tanjak adalah semacam topi dari kain songket yang lazim dipakai sultan dan pangeran serta bangsawa kesultanan melayu.

Secara tradisional dan dari sejarah Indonesia, kain songket yang berkilau keemasan itu senantiasa dikaitkan dengan kegemilangan Sriwijaya. Kerajaan maritim terbesar di Indonesia pada abad ke-7 hingga ke-13 dan berpusat di sekitar Sumatera Selatan. Mungkin itu sebabnya, pusat kerajinan songket paling terkenal di Indonesia adalah kota Palembang. 

Pada awalnya, songket adalah kain mewah yang secara origin memang memerlukan sejumlah emas asli untuk dijadikan benang emas. Benang ini kemudian ditenun dengan tangan menjadi kain.

Kata songket secara bahasa berasal dari istilah sungkit, sebuah kata yang berasal dari bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, yang artinya mengait atau mencungkil. Pada proses pembuatannya, songket memang menggunakan cara mengaitkan dan mengambil sejumput benang, dan kemudian menyelipkan benang emas. 

Pada bahasan lain, ada pula yang menyebut jika kata songket kemungkinan berasal dari kata songka atau songko atau peci khas Palembang. Songko ini dipercaya sebagai produk atau barang pertama yang tenunannya menggunakan benang emas.

Dari cerita rakyat Palembang yang dikisahkan turun-temurun, songket adalah perpaduan dari tiga hal, yakni kain sutra yang dibawa pedagang Tiongkok dan mampir ke Sriwijaya; emas yang dibawa pedagang India dan Timur Tengah, dan kemahiran orang Melayu dalam menenun.

Kain songket Palembang memiliki ciri khas pada motifnya dan itu terlihat cukup lebih rumit. Karena itu, untuk menghasilkan selembar kain songket Palembang, seorang pengrajin bahkan bisa menghabiskan waktu tiga bulan untuk pengerjaannya.

Pembuatan songket Palembang biasanya menggunakan bahan baku benang sutera asli. Benang ini biasanya berwarna putih sebelum diberi lapisan emas. Benang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam alat tenun bingkai Melayu yang biasa disebut dengan istilah dayan.

Kain Songket Palembang proses pembuatannya
Proses pembuatan kain songket Palembang.

Semua bagian dayan, yaitu cagak dan beliro, mempunyai fungsi masing-masing untuk menarik benang, untuk kemudian diganti benang yang lain. Begitu seterusnya hingga benang-benang yang ada menjadi satu kesatuan membentuk motif pada kain songket.

Biasanya, satu lembar songket dikerjakan oleh satu orang. Penyebabnya, pembuatnya harus hapal urutan tarikan benang. Jika tidak, meskipun kainnya tetap bisa selesai, namun bentuk motif-motif di dalam kain songketnya menjadi tidak sempurna. Tentu menjadi merepotkan, sebab beberapa kain songket tradisional sumatera memiliki pola yang mengandung makna tertentu.

Songket harus melalui delapan tahapan sebelum menjadi sepotong kain dan masih ditenun secara tradisional. Dan songket Palembang merupakan songket terbaik di Indonesia diukur dari segi kualitas dan tampilannya, karena itu ia sering disebut sebagai Ratu Segala Kain.

Dahulunya para penenun songket umumnya berasal dari desa atau pedalaman, karena itu tidak mengherankan jika motif-motif kainnya dipolakan dengan flora dan fauna lokal. Motif ini juga dinamai dengan kue lokal Melayu seperti sarikaya, wajik, dan tepung talam, yang diduga merupakan kegemaran raja-raja.

Songket memiliki motif-motif tradisional yang sudah merupakan ciri khas budaya wilayah penghasil kerajinan tersebut. Misalnya, motif Saik Kalamai, Buah Palo, Barantai Putiah, Barantai Merah, Tampuak Manggih, Salapah, Kunang-kunang, Api-api, Cukie Baserak, Sirangkak, Silala Rabah, dan Simasam adalah khas songket Pandai Sikek, Minangkabau.

Hal yang mungkin harus menjadi perhatian adalah, beberapa pemerintah daerah telah mendaftarkan hak intelektual motif songket tradisional mereka. Sayangnya, dari 71 motif songket yang dimiliki Sumatera Selatan, baru 22 motif yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dari 22 motif songket Palembang yang telah terdaftar di antaranya motif Bungo Intan, Lepus Pulis, Nampan Perak, dan Limar Beranti. Sementara 49 motif lainnya belum terdaftar.

Saat ini, songket yang dijual tidak melulu dalam bentuk kain bentangan, tapi tak sedikit yang sudah teraplikasi dalam berbagai produk fashion, seperti pakaian, selendang, maupun kerudung. Adakah songket dalam koleksi kainmu?

agendaIndonesia

*****

Sate Bandeng, Jejak Kuliner Kesultanan Banten Di Abad 16

Selama ini Banten dikenal dengan sate bandengnya.

Sate bandeng menjadi salah satu makanan yang paling sering diburu untuk dimakan di tempat dan menjadi oleh-oleh dari perjalanan ke Serang, Provinsi Banten. Kuliner ini menjadi alternatif bagi pecinta bandeng, selain model presto khas Juwana, Jawa Tengah.

Sate Bandeng

Sate bandeng sepertinya kisah sederhana, cerita tentang makanan yang tumbuh di suatu daerah. Namun nyatanya tak demikian. Masakan ini memiliki jejak sejarah yang panjang. Dimulai pada abad 16.

Adalah Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten, yang menjadi titik awal lahirnya sate Banten. Tentu, bukan ia yang menciptakan, namun berkat permintaannya ke dapur kraton-lah, sate ini ‘tercipta’.

Sultan Maulana sendiri adalah salah seorang putera dari Syarif Hidayatullah, raja atau sunan di Kasunanan Cirebon. Pada saatnya, Sunan Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Sanga, saat menyebarkan ajaran agama Islam di Jawa Barat.

Maulana, sebagai putera Sunan Syarif Hidayatullah, ikut membantu Kesultanan Demak ketika menyerang Sunda Kelapa. Dari sana, ia memperluas kekuasaan Kasunanan Cirebon ke arah barat, dan kemudian menjadi Sultan atau Sunan ketika Banten menjadi kerajaan sendiri. Maulana Hasanuddin memerintah Banten dari 1522 hingga 1570.

Sebagai daerah pesisir, Banten memiliki hasil laut dan perairan yang cukup melimpah. Salah satunya bandeng. Namun ikan jenis yang satu ini punya banyak sekali duri. Dari yang besar hingga yang sangat halus. Ini menjadi soal tersendiri bagi dapur istana jika menyajikan masakan berbahan bandeng. Konon cukup sering anggota keluarga Kesultanan yang punya masalah dengan duri bandeng ini.

Juru masak kerajaan pun kebingungan. Di satu sisi, keluarga kesultanan menyukai masakan berbahan bandeng, namun di sisi lain Sultan tidak menyukai jika keluarganya mengalami masalah dengan duri. Sang juru masak pun pun memutar otak untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan duri yang tertanam di daging bandeng.

Berbagai cara pun dicoba sang juru masak. Sampai suatu ketika ia mendapatkan cara untuk mengeluarkan duri dari badan ikan. Rupanya, sang juru masak memukul-mukul badan ikan hingga dagingnya hancur dan terpisah dari kulitnya. Daging yang telah hancur itu kemudian dikeluarkan dengan cara mencabut tulang dari bagian insangnya atau bawah kepala. Hal tersebut untuk membuang duri-duri halus yang terkandung dalam ikan.

Daging ikan yang ikut keluar kemudian dicampur dengan santan dan bumbu rempah tertentu. Setelah itu, melihat kulit ikan yang masih utuh, daging yang telah berbumbu itu dimasukan lagi ke dalamnya. Kulit ikan bandeng yang keras membuat ikan terlihat seperti utuh kembali. Setelah itu ikan pun dibakar. Untuk menguatkan bentuk ikan, dipakailah bilah bambu untuk tusukan atau pegangan ketika membakarnya. Tusukan bambu inilah yang kemudian menyebutnya sebagai sate bandeng.

Selamatlah sang juru masak. Masakan bandeng bisa dinikmati keluarga kerajaan, dan mereka aman dari duri. Masakan ini bahkan kemudian menjadi andalan bagi kesultanan ketika menjamu tamu-tamunya. Bertahun-tahun kemudian sate bandeng pun keluar tembok istana dan menjadi makanan khas masyarakat Banten.

Saat ini sate bandeng telah tumbuh menjadi industri rumahan di Serang yang berkembang dengan pesat. Ada puluhan toko atau kedai yang menyajikan olahan ikan ini yang dapat dikonsumsi secara langsung di tempat atau untuk dibawa pulang sebagai buah tangan. Biasanya sate ini akan dibuat pada hari yang sama dan harus habis saat itu juga karena tidak tidak memakai pengawet.

Untuk dapat menikmati sate bandeng, saat ini sudah banyak tempat yang menjualnya di Serang, Banten. Pengunjung dari luar kota ini, bahkan dapat menemuinya begitu keluar dari tol Jakarta-Serang. Ada deretan toko oleh-oleh yang menjualnya. Tetapi, jika ada yang penasaran dan ingin membelinya langsung di tempat produksinya, ada tiga produsen sate bandeng yang terkenal di Serang.

Sate Bandeng Hj. Maryam

Sate bandeng yang dulu dikelola Hj. Maryam ini termasuk legenda di Serang karena sudah mulai memproduksinya sejak 1970. Saat ini, pengelola dari sate bandeng ini adalah cucu dari ibu Hj. Maryam dan anaknya. Semua resep yang dipakai sejak dahulu tetap sama dan tidak berubah.

Pusat pembuatannya cukup dekat dengan alun-alun kota Serang, yakni di Jalan Ki Uju Nomor 63, Kaujon Tengah, Kecamatan Serang. Di tempat ini pengunjung bisa memilih dua rasa sate bandeng, yang pedas atau yang manis. Mereka buka mulai dari jam 7 pagi hingga 10 malam.

Sate Bandeng Bu Amenah

Sate Bandeng Bu Amenah lebih banyak dipasarkan secara daring atau online. Sate yang ditawarkan Bu Amenah ini memiliki cita rasa yang nikmat dan antiduri halus. Sate produksi tempat ini bisa tahan selama satu atau dua hari kalau berada di luar kulkas dan satu atau dua minggu kalau di dalam kulkas sebelum digoreng.

Jika tidak ingin memesan online dan ingin datang langsung, lokasi pembuatan sate bandeng Bu Amenah ada di Jalan Syabulu KM 1, Lingkungan Dalung Nomor 11, Kecamatan Cipokok Jaya. Ia buka dari jam 7 pagi hingga 9 malam.


Sate Bandeng Ibu Aliyah

Ini adalah pilihan sate bandeng lainnya. Tempat produksinya di Jalan Lopang Gede III nomor 7, Kecamatan Serang. Tempat ini buka dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam.

Sate Bandeng Kang Agus

Sate Bandeng Kang Agus juga oleh-oleh yang banyak dicari wisatawan yang berkunjung ke Serang. Sayangnya lokasi dari tempat oleh-oleh ini sering berpindah. Agar bisa mendapatkan sate bandeng buatan Kang Agus, wisatawan bisanya membeli secara online dan akan diantar oleh kurir ke penginapan atau tempat yang disepakati.

Sudah pernah menikmati sate bandeng khas Banten? Ayo agendakan kuliner sate bandeng ini kapan-kapan….

agendaIndonesia

*****

Kopi Bajawa Flores, Dari Atas 1000 MDPL

Kopi Bajwa Flores menjadi salah satu jenis kopi terbaik di dunia.

Kopi Bajawa Flores telah disebut-sebut sebagai salah satu jenis kopi Arabica terbaik di dunia. Kenikmatan serta keunikannya telah tersohor sampai ke mancanegara, bahkan sampai belahan dunia barat seperti Eropa dan Amerika.

Kopi Bajawa Flores

Flores telah puluhan tahun dikenal sebagai lokasi budidaya sekaligus penyumbang ekspor kopi terbesar di Indonesia. Di kawasan perairan selatan Nusa Tenggara Timur ini terdapat dua jenis kopi yang cukup dikenal luas di kalangan pecinta kopi, yaitu Manggarai dan Bajawa.

Bajawa dinamai demikian karena perkebunannya terletak di kawasan kecamatan Bajawa. Konon nama ini berasal dari bahasa setempat yang terdiri dari dua kata, yaitu ‘bha’ yang berarti lembah dan ‘jawa’ yang berarti sejahtera.

Lokasinya memang berada di area dataran tinggi yang diapit oleh dua gunung berapi, Inerie dan Abulobo. Ketinggian tempat ini rata-rata berkisar antara 1.000 hingga 1.550 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tanah di sekitar area ini merupakan tanah andosol vulkanik yang amat subur.

Kopi Bajawa Flores menggunakan bibit kopiArabika dari Jember, Jawa Timur.
Buah kopi Arabika mulai matang di pohon. Foto: Dok, Unsplash

Budidaya kopi berjenis Arabica ini mulai digalakkan oleh pemerintah sejak tahun 1977. Awalnya, mereka menggunakan bibit kopi dari Jember, Jawa Timur. Karena lokasinya yang sesuai dan hasilnya bagus, maka perkebunan kopi ini terus dikembangkan hingga kini.

Kopi Arabica sendiri merupakan salah satu varian kopi yang populer, sekitar 60 persen dari populasi kopi di dunia. Dulunya populer karena merupakan salah satu komoditas utama pedagang dari Arab di abad ke-12. Mereka pun turut mempopulerkan minuman dan cara penyeduhan kopi ini.

Dalam khasanah kopi, Arabica terbilang jenis kopi yang paling spesial dan bernilai tinggi dari jenis kopi lainnya. Hal ini disebabkan oleh karakteristiknya yang unik antara satu jenis kopi Arabica dengan yang lainnya, tergantung dari tempat serta cara pembudidayannya.

Beberapa keunikannya meliputi jenis aroma serta cita rasanya yang berbeda-beda namun cenderung kuat. Kadar kafein di dalamnya pun tergolong rendah, sehingga cocok bagi anda yang menghindari kafein berlebih.

Kopi Arabica pada umumnya direkomendasikan untuk dibudidayakan pada daerah dataran tinggi yang sejuk. Dengan suhu rata-rata 15 sampai 25 derajat Celsius, ditambah tanah vulkanik di sekitar area pegunungan, membuat Flores begitu cocok untuk membudidayakan kopi ini.

Lokasi yang subur dan sejuk, ditambah curah hujan yang cukup tinggi, serta teknik budidaya kopi yang organik tanpa menggunakan pestisida, menjadikan hasil perkebunan kopi tersebut memiliki kualitas yang tinggi, dengan rasa yang unik pula.

Tingkat kapasitas produksi di perkebunan tersebut pun tergolong tinggi, bisa mencapai empat hingga lima kilogram dalam satu pohon. Terlebih pohon kopi di sini termasuk cepat tumbuh dan produktif menghasilkan kopi.

Kendati demikian, nyatanya harga kopi ini di pasaran bisa dibilang relatif lebih mahal dibanding jenis kopi lokal lainnya. Aroma serta rasanya yang unik memang menjadi daya tarik dan nilai jual yang begitu kuat bagi para penggemar kopi.

Lazimnya, beberapa ciri kesamaan dari berbagai jenis varian kopi Arabica adalah aromanya yang kuat, rasanya yang cenderung pahit, dengan body (kekentalan) yang tinggi. Selain itu, tingkat keasaman kopi jenis ini juga tergolong cukup tinggi dibandingkan varian kopi lainnya.

Kopi Bajawa Flores pada umumnya memiliki aroma karamel dan nutty yang amat kuat, dipadu dengan bau mirip tembakau yang unik dan jarang ditemui di jenis kopi lainnya. Selain itu, ia juga mempunyai tingkat body yang cukup tinggi.

Kopi Bajawa Flores menjadi salah satu andalan komoditas Flores dan Nusa Tenggara Timur.
Manual brew kopi arabika bajawa banyak disukai para penikmat kopi. Foto: ilustrasi unpslash

Namun, berbeda dari kopi Arabica pada umumnya, kopi Bajawa Flores juga dikenal dengan tingkat keasaman sedang/medium. Rasanya pun cenderung dominan manis, dengan perpaduan cita rasa caramel, macadamia, hazelnut, hingga herbal yang menambah sensasi spicy.

Sehingga meskipun kopi Bajawa Flores tetap memiliki karakteristik seperti kental dan aroma yang kuat, tetapi ia diklaim lebih bersahabat dengan lambung karena tak terlalu asam. Kopi ini juga cocok bagi anda yang tak terlalu suka dengan kopi pahit.

Karakteristik yang unik tersebut dihasilkan oleh metode budidaya kopi Flores yang tradisional. Pupuk yang digunakan selalu berjenis organik, serta mereka tidak menggunakan pestisida atau bahan kimia apapun.

Setiap pohon kopi juga diberi pelindung agar terhindar dari sinar matahari yang berlebih, serta curah hujan tinggi yang dapat beresiko membuat rontok. Biji kopinya, yang berwarna cenderung hijau keabu-abuan, juga diseleksi agar mendapatkan hasil yang terbaik.

Ini berkaitan erat dengan kepercayaan serta tradisi masyarakat di kawasan Bajawa tersebut. Mereka meyakini bahwa kekayaan alam serta hasilnya merupakan rahmat dari arwah leluhur mereka, sehingga penting untuk senantiasa merawat dan menjaganya.

Kopi Bajawa Flores menjadi pilihan oleh-oleh saat berkunjung ke Flores dan NTT.
Kopi Bajawa Flores dalam sebuah pameran. Foto milik AntaraFoto

Setelah dipanen, kopi Bajawa kemudian bisa diolah basah atau digiling kering. Walaupun secara alami kopi ini sudah memiliki rasa yang begitu unik dan khas, tetapi pada perkembangannya kemudian kopi ini juga kerap diracik dengan gaya house blend dengan cita rasa yang berbeda.

Produk ini sekarang menjadi salah satu andalan oleh-oleh kika berkunjung ke Flores khususnya, atau Nusa Tenggara Timur pada umumnya.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

5 Sentra Belanja Batik di Kota Solo

Pasar Klewer adalah salah satu dari 5 sentra belanja batik di kota SOlo.

Ini dia 5 sentra belanja Batik di kota Solo yang direkomendasikan bagi wisatawan yang hendak berbelanja pakaian maupun kain batik khas kota ini. Selaras dengan panggilannya sebagai kota batik, Solo dikenal dengan budaya batiknya yang melegenda. Batik Solo, yang cenderung berwarna coklat atau gelap sebagai simbol kesederhanaan dan kerendahan hati, dikenal dengan beragam jenis motifnya, dengan masing-masing filosofi dan peruntukannya.

Ini 5 sentra belanja batik di kota Solo untuk oleh-oleh
Tugu Slamet Riyadi di Gladak, Solo, menuju Pasar Klewet sebagai satu dari 5 sentra belanja batik di kota Solo. Foto: shutterstock

5 Sentra Belanja Batik di Kota Solo

Seperti motif Sidomukti yang melambangkan kemakmuran dan keberkahan, sehingga kerap digunakan pada adat pernikahan Jawa. Atau motif Parang, yang melambangkan semangat pantang menyerah, dan dulu kerap digunakan oleh pasukan perang saat akan bertempur. Beragam motif-motif tersebut kini dapat ditemui di berbagai pusat belanja seperti di 5 sentra belanja batik di kota Solo berikut ini.

  1. Pasar Klewer

Salah satu dari 5 sentra belana batik di kota Solo yang paling terkenal dan ikonik adalah Pasar Klewer, yang berlokasi di jalan Dr. Radjiman Wedyadiningrat nomor 5A. Berupa bangunan dua lantai yang kini menampung ribuan kios dan pedagang, khususnya batik, Pasar Klewer adalah sentra perbelanjaan garmen terbesar di Solo.

Dulunya, tempat ini merupakan tempat perhentian kereta api yang juga digunakan sebagai tempat berdagang. Oleh warga setempat, lokasi ini awalnya lazim dikenal sebagai Pasar Slompretan, yang merujuk kepada suara klakson kereta api yang dianggap menyerupai suara slompret, atau terompet dalam bahasa Jawa.

Belakangan, tempat ini kemudian didominasi oleh pedagang batik, yang kerap berkeliaran menawarkan batik dagangannya sambil diletakkan di pundaknya. Banyaknya batik yang dibawa di pundak mereka, membuatnya terlihat berantakan atau kleweran dalam bahasa Jawa. Maka kemudian area tersebut juga dikenal sebagai Pasar Klewer.

Kawasan perdagangan ini semakin ramai dan berkembang sejak pasca kemerdekaan, sehingga muncul wacana untuk membangun sebuah pasar terpadu untuk menampung pedagang-pedagang batik tersebut. Maka pada 1970 di area tersebut didirikanlah bangunan dua tingkat, yang setahun kemudian diresmikan menjadi Pasar Klewer oleh Presiden Soekarno.

Banyak hasil kerajinan batik yang dapat ditemui di sini, baik itu batik tulis maupun batik cap. Mulai dari kain, baju, seprai, sarung bantal, hingga beragam aksesoris bermotif batik. Selain itu, pasar ini juga kerap menampung kerajinan batik dari luar Solo, seperti batik Yogyakarta, Semarang, Banyumas, Pekalongan dan sebagainya.

5 sentra belaja batik di kota SOlo-- Kampung Batik Andreas Hie shutterstock

Pada perkembangannya, Pasar Klewer tak hanya menjadi satu dari 5 sentra belanja batik di kota Solo saja, tapi juga menjadi tempat berkumpulnya pedagang kerajinan tangan lainnya, seperti kayu ukir. Bahkan, terdapat beberapa kedai-kedai makanan yang menarik untuk dicoba pecinta kuliner, seperti Warung Selat Gajahan, Tengkleng Klewer bu Edi, dan Gule Goreng pak Samin.

Lokasinya yang berdekatan dengan Keraton Solo dan Masjid Agung Surakarta, menjadikannya sebagai lokasi belanja batik yang strategis, terutama bagi wisatawan yang mencari batik untuk oleh-oleh. Tak hanya itu, pasar yang buka setiap hari dari jam 09.00 sampai 16.00 ini juga dikenal dengan harganya yang murah dan masih bisa ditawar.

  • Kampung Batik Kauman

Salah satu alternatif lain bagi wisatawan yang hendak berbelanja di 5 sentra belanja batik di kota Solo adalah dengan beberapa kampung wisata tematik yang menjadi pusat kerajinan batik. Seperti misalnya Kampung Batik Kauman, yang merupakan pusat industri batik tertua di Solo. Lokasinya pun tak jauh dari Keraton Solo, Pasar Klewer dan Masjid Agung Surakarta.

Di sepanjang area jalan Trisula III, berjejer deretan sekitar 30 toko dan pabrik batik rumahan yang dapat dikunjungi. Wilayah ini aslinya merupakan kawasan pemukiman abdi dalem Keraton, yang mana banyak dari kalangan abdi dalem tersebut yang berprofesi sebagai pembatik yang bertugas untuk menyuplai kebutuhan sandang Keraton.

Oleh karenanya, kebanyakan hasil kerajinan batik di sini banyak dipengaruhi dengan motif-motif batik yang sering digunakan oleh Keraton. Meski dalam perkembangannya kini, selain ragam motif klasik ala Keraton yang masih berupa batik tulis dari tangan, tersedia pula varian batik cap serta batik yang mengkombinasikan teknik batik tulis dan cap.

Yang istimewa, selain bisa berbelanja ragam produk batik yang dijajakan, pengunjung juga dapat mengambil paket workshop membatik bersama beberapa orang dalam satu sesi. Layanan workshop tersebut saat ini dikelola oleh dua usaha batik setempat, Batik Gunasti dan Batik Gunawan.

Dalam workshop tersebut, pengunjung akan belajar dan merasakan proses pembuatan batik tulis secara tradisional. Dari cara menata kain yang akan dibatik, melihat pewarnaan cairan malam atau cairan yang akan digunakan untuk mencanting, sampai proses mencanting di atas kain tersebut.

Yang perlu dicatat, bagi yang tertarik untuk mencoba workshop tersebut harus membuat reservasi terlebih dulu, dan dalam rombongan atau jumlah orang tertentu. Layanan workshop tersebut tersedia setiap hari Senin sampai Sabtu, dari jam 08.00 hingga 15.00, dan pengunjung akan dikenakan biaya Rp 55 ribu.

Nuansa klasik ala kampung Jawa tempo dulu juga menjadikan tempat ini lokasi yang menarik untuk berfoto dan bersantai, serta tersedia beberapa kafe di sekitarnya untuk melepas penat setelah berkeliling dan berbelanja batik. Buka dari jam 08.00 hingga 18.00, direkomendasikan untuk berkunjung kala pagi atau sore hari, agar tidak kepanasan.

  • Kampung Batik Laweyan

Kampung sentra industri dan perbelanjaan batik Solo lainnya adalah Kampung Batik Laweyan. Lokasinya berada di jalan Dr. Radjiman Wedyadiningrat nomor 521. Dari arah Kampung Batik Kauman dan Keraton Solo, tinggal menyusuri jalan Dr. Radjiman Wedyadiningrat ke arah barat sampai di lokasi.

Kampung dengan area seluas 24 hektare ini merupakan kawasan tempat tinggal pengusaha dan pedagang batik, serta menjadi salah satu pusat syiar dakwah agama Islam pada masanya. Bahkan, tempat ini menjadi saksi berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI), asosiasi dagang pribumi pertama di Indonesia, yang didirikan oleh pahlawan nasional K.H. Samanhudi.

Disinyalir, nama Laweyan berasal dari istilah jawa ‘nglawiyan’, yang kurang lebih artinya berlebih-lebih. Ini merujuk kepada komunitas di area tersebut yang didominasi pengusaha batik yang tergolong kaum orang kaya, atau dianggap orang dengan harta serta gaya hidup berlebih kala itu.

Ada pula versi yang mengatakan bahwa nama Laweyan berasal dari kata ‘lawe’, bahasa Jawa untuk kain atau bahan pakaian. Alasannya, daerah ini dulunya merupakan kebun kapas yang menjadi bahan baku pembuatan kain atau pakaian kala itu. Disebut bahwa industri garmen dan batik di daerah ini sudah ada sejak masa kerajaan Pajang di abad 15, dan semakin maju pada tahun 1900-an.

Karena itu pula, produk batik buatan Kampung Batik Laweyan cenderung lebih berani dan berwarna, yang belakangan sering disebut dengan batik sudagaran. Batik sudagaran merupakan jenis batik yang bermotif lebih unik dan ekspresif karena tidak terbatasi oleh pakem tertentu, berbeda dengan Kampung Batik Kauman yang batiknya bermotif lebih klasik karena banyak dipakai untuk keperluan resmi pihak Keraton Solo.

Nuansa di kampung ini juga didominasi oleh bangunan-bangunan berdinding tinggi dan gang-gang kecil, cukup menarik bagi yang ingin berfoto di sekitar area kampung ini. Di sepanjang jalan berderet puluhan toko dan pabrik batik – buka dari jam 08.00 hingga 21.00 – yang menjajakan beragam produk batik dan kerajinan tangan bertemakan batik dengan harga bersahabat.

Yang unik, pengunjung bisa memesan produk batik tertentu, dengan pilihan motif serta bahan sesuai selera. Terkadang, hasil pesanan juga bisa diambil dan dibayar hari itu juga. Atau bagi yang ingin merasakan pengalaman membatik, tersedia paket kursus singkat membatik selama 2 jam, dengan biaya Rp 30 ribu.

  • Pusat Grosir Solo

Bagi yang sekedar ingin mencari produk batik Solo dengan mudah dalam satu tempat yang terpadu, Pusat Grosir Solo alias PGS jadi pilihannya. Bertempat di jalan Mayor Sunaryo, lokasinya strategis dan mudah dijangkau, di area pusat kota Solo dan terapit antara Benteng Vastenburg dan Alun-Alun Lor Surakarta.

Berdiri sejak 2005, PGS menjadi salah satu dari 5 sentra belanja batik di kota Solo, di mana sekitar ratusan pedagang batik melayani pembelian secara grosir maupun eceran. Tak hanya itu, di dalam bangunan lima lantai tersebut kini terdapat pula kios-kios pedagang kerajinan tangan, serta area khusus kuliner tradisional dan pusat oleh-oleh.

Lokasinya yang strategis dan gaya one stop shopping yang diusung menjadikannya pilihan mudah dan nyaman manakala ingin berbelanja produk batik Solo. Apalagi, sekarang tersedia pula aplikasi khusus yang menghubungkan konsumen dengan pedagang di PGS, sehingga info seperti barang yang tersedia, hingga pemesanan secara online dapat diakses langsung secara online.

House of Danar Hadi sebagai satu dari 5 sentra belanja batik di kota SOlo.
Ruang pamer batik di House of Danar Hadi
  • House of Danar Hadi

Dalam industri batik, ada beberapa nama yang cukup tersohor di kalangan umum. Salah satunya adalah Danar Hadi, yang sudah eksis sejak 1967. Mereka kini sudah memiliki beberapa cabang di berbagai kota, seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Bandung, Yogyakarta, dan tentu saja Solo. Ini satu dari 5 sentra belanja batik di kota Solo.

Namun, cabang Danar Hadi atau yang biasa mereka sebut sebagai House of Danar Hadi di Solo memiliki keunikan tersendiri. Yang pertama, House of Danar Hadi Solo terletak di jalan Slamet RIyadi nomor 261, tepatnya di sebuah area cagar budaya bernama Ndalem Wuryaningratan, yakni bekas kediaman Pangeran Wuryaningrat yang merupakan cucu dari Pakubuwono IX.

Keunikan lainnya, tempat ini bukan hanya sekedar gerai produk batik Danar Hadi saja, tetapi juga merupakan sebuah museum batik. Tersimpan setidaknya sekitar 10.000 jenis kain batik, dengan motif dan dari periode yang berbeda-beda. Capaian ini dianugerahi penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai koleksi batik terbanyak.

Bahkan, museum ini tidak hanya menampilkan batik-batik dari berbagai daerah di Indonesia saja. Namun terdapat pula batik-batik yang berasal atau terinspirasi dari budaya luar, seperti batik Jawa Hokokai yang terpengaruh budaya Jepang, atau batik-batik yang terinspirasi dari budaya seperti Belanda dan Tiongkok.

Keunikan tersebut menjadikannya destinasi belanja batik Solo yang menarik, sekaligus tempat untuk belajar tentang sejarah dan jenis-jenis batik. Museum buka setiap hari dari jam 09.00 hingga 16.30, dengan pengunjung membeli tiket masuk Rp 35 ribu untuk umum, dan Rp 8 ribu untuk pelajar.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Tato Orang Mentawai, 7 Motif Titi Sebagai Identitas

Tato Orang Mentawai

Tato orang Mentawai atau Titi, dalam masyarakat Mentawai bukan sekadar rajah di kulit mereka. Ia mengandung makna dan menjadi ciri khas masyakat setempat. Ada pula pembuat khusus, ia disebut sipatiti.

Tato Orang Mentawai

Di sejumlah desa di Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, seperti Desa Madobag atau Ugai, masyarakat asli setempat masih melakukan rajah pada kulit mereka. Jika kita berkunjung ke uma, ini sebutan untuk rumah tradisional suku Mentawai, biasanya saat bertemu dengan yang empunya uma, kita akan melihat torehan garis lurus, lengkung, tebal, halus, hingga setiap titik berwarna kehitaman di sekujur kulit tubuhnya. Itulah yang disebut titi, tato khas mereka.

Bagi mereka yang tak memahami titi, mungkin goresan itu hanya sebagai jenis motif rajah saja. Tapi tunggu dulu, ternyata setiap bentuk goresan itu ada maknanya. Termasuk posisi mereka dalam masyarakat tersebut.

Dua orang laku-laku dengan usia yang sama, misalnya, titi-nya bisa berbeda. Bahkan kadang buat mata awam, bisa saja rajah di kedua pria tersebut terlihat sama. Tapi ternyata ada bagian yang berbeda. Misalnya, yang satu tidak memiliki dua simbol di bahu kanan-kirinya. Atau, seorang pria muda Mentawai, bisa saja sama sekali tak punya titi di kulit tubuhnya.

Seni tato Mentawai memang memiliki daya tarik tersendiri. Konon, ini merupakan salah satu seni rajah tubuh tertua di dunia, bahkan ada yang menyebut ia lebih tua dari seni tato di Mesir. Sayangnya, titi perlahan memudar. Masyarakat Mentawai masa kini tak lagi suka memaparkan identitas diri mereka melalui medium sekujur kulitnya. Terutama di kalangan generasi mudanya. Padahal, dulunya itu adalah simbol jati diri mereka dari waktu ke waktu.

Selain harus melalui ritual, pembuatan tato bagi suku Mentawai harus dilakukan bertahap. Tahap pertama dilakukan saat seseorang berusia 11-12 tahun atau masa akil balig. Rajahnya pun hanya boleh dilakukan di bagian pangkal lengan. Tahap kedua, kala orang tersebut berusia 18-19 tahun dan rajahan dilanjutkan ke bagian paha. Tahap ketiga, di masa dewasa di bagian tubuh lain.

Setiap motif titi, yang dirajahkan pada kulit tubuh, memiliki arti. Masing-masing merepresentasikan simbol-simbol penghormatan orang-orang suku Mentawai pada roh dan pada keyakinannya. Secara umum, dikenal tujuh macam motif yang berlaku bagi laki-laki dan tiga motif bagi perempuan, yaitu Sarepak Abak, Durukat, Sikaloinan, Gagai, Boug, Saliou, dan Soroi.

Tato Orang Mentawai Proses Mentato
Proses membuat titi di masyarakat Mentawai.

Sarepak abak, biasanya ditorehkan di punggung, melambangkan keseimbangan kehidupan di alam. Ini merupakan representasi dari cadik (penyeimbang) pada pompon (perahu) yang menjadi alat transportasi sehari-hari.

Durukat, ditorehkan di bagian dada, simbol jati diri suku, menunjukkan batas wilayah kesukuan. Umumnya memanfaatkan garis-garis halus yang kemudian diisi titik-titik dan motif lokpok (bentuknya menyerupai daun). Sikaloinan, ditorehkan pada bagian pangkal lengan hingga siku, simbol jati diri suku, merepresentasikan paipai sikaloinan (ekor buaya).

Gagai, ditorehkan pada lengan laki-laki/perempuan, simbol kepiawaian menangkap ikan. Motif Boug, ditorehkan pada bagian paha, simbol jati diri suku, penggambarannya memanfaatkan bentuk garis-garis lengkung. Saliou, ditorehkan pada betis hingga pergelangan kaki dengan ragam rias lengkung garis yang indah.

Sementara itu, Soroi, khusus kaum pria, simbol jati diri kesukuan, biasanya ditorehkan pada bagian pusar, merepresentasikan keindahan rumbai-rumbai bulu ekor ayam.

Satu catatan penting, terlihat sekali bahwa seorang sipatiti tidak boleh mengabaikan faktor simetris dalam pelaksanaan tugasnya. Pengaturan jarak dari setiap gores garis hingga titik diperhitungkan dengan penuh presisi dalam hitungan satu jari, dua jari, tiga jari, empat jari, dan seterusnya.

Untuk membuat titi, tidak bisa dilakukan sembarang orang. Untuk melakukannya, suku Mentawai mengenal keberadaan sipatiti. Meski tidak diangkat secara adat, ia adalah seorang laki-laki dan tidak boleh perempuan yang dipercaya sebagai sang pembuat tato. Ia seorang yang memiliki keahlian merajah sekaligus memahami simbol-simbol yang lazim digunakan termasuk maknanya. Setiap pertemuan, jasa seorang sipatiti akan dibayar dengan seekor babi atau beberapa ekor ayam.

Proses pembuatan titi tidak sesederhana. Sebelumnya, harus digelar acara adat Punen Kepa untuk menyingkirkan pengaruh jahat dan ancaman terjadinya malapetaka di kampung yang warga yang akan membuat titi. Pada puncak punen, biasanya dilakukan perjalanan ke Siberut, yang diyakini sebagai asal orang Mentawai. Perjalanan laut yang dikenal dengan istilah bulepak itu dilakukan beramai-ramai dalam satu sampan bermuatan cukup besar. Di daerah itu, mereka harus mengambil manik-manik khas Siberut sebagai syarat.

Apabila semua berhasil membawa manik-manik khas Siberut kembali dengan selamat, warga bisa memulai menjalani upacara inisiasi pembuatan titi, yang dikenal dengan nama Punen Enegat. Upacara tersebut dipimpin oleh sikerei atau seorang dukun Mentawai dan dilakukan di putukurat, yang merupakan tempat khusus berlangsungnya proses pembuatan titi.

Titi adalah sebuah kearifan lokal, ia tak harus menjadi milik semua orang, namun tentu sayang jika ini akan terus memudar.

agendaIndonesia

*****

Kereta Api Indonesia dan 50 Railfans

Kereta Api Indonesia atau KAI ternyata punya penggemar atau railfans.

Kereta Api Indonesia ternyata memiliki penggemar fanatik. Setiap orang pasti memiliki sesuatu yang disukai, terutama jika hal tersebut sudah menjadi suatu hobi. Hobi dengan bidang transportasi tentunya hal yang biasa di dengar misalnya mobil dan motor. Hal tidak biasa yang muncul adalah hobi dengan alat transportasi umum seperti bis, pesawat, kapal laut bahkan kereta api . yang dikelola Kereta Api Indonesia

Kereta Api Indonesia

Di kereta api para penggemarnya biasa disebut dengan railfans atau komunitas pecinta kereta api. Masyarakat yang tempat tinggalnya terkoneksi dengan jalur kereta api tentunya tidak asing dengan orang-orang yang tiba-tiba muncul membawa sejumlah kamera dan alat perekam digital. Ini terutama di daerah yang memiliki spot menarik bagi seorang railfans untuk mengabadikan kereta api yang lewat.

Mereka umumnya tahu bahwa jalur kereta api bukan tempat untuk bermain. Sehingga hal yang di utamakan adalah keselamatan yang harus selalu di patuhi saat hunting foto-foto atau video kereta api. 

Kereta Api Indonesia memiliki penggemar yang disebut sebagai railfans.
Salah satu rangkaian kereta api Indonesia yang sedang melakukan perjalanan. Foto: Dok. PT KAI

Railfans tidak hanya senang fotografi atau videografi saja, namun kehadiran mereka juga membantu PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam melayani para pelanggan. Seperti pada masa angkutan Lebaran tahun 2022 lalu, para railfans dari berbagai daerah secara sukarela terlibat dalam memberikan pelayanan yang prima kepada para pelanggan perjalanan kereta di stasiun-stasiun.

Mereka kebanyakan berasal dari pelajar yang merelakan waktu liburan sekolah untuk menjadi relawan dengan membantu pelanggan atau masyarakat yang hendak menggunakan kereta api. Terkadang untuk membantu masyarakat yang sekadar bertanya terkait jadwal perjalanan kereta api di stasiun.

Jumlah railfans ini tak cukup besar. Di wilayah operasional KAI Jawa dan Sumatera saja terdapat setidaknya 50 komunitas railfans binaan KAI yang sering berkolaborasi dengan manajemen KAI melakukan kegiatan sosialisasi dan berkontribusi dengan cara mereka sendiri untuk kemajuan perkeretaapian Indonesia.

Dari 50 komunitas railfans tersebut 23 di antaranya membantu KAI dalam posko angkutan Lebaran tahun 2022 ini, yakni Jejak Railfans, Train Photograph Railfans Indonesia, Edan Sepur Wilayah Jakarta, Bandung, serta Cirebon, GM-MarKA, RD One, National Railfans, Sedulur Sepur, Forum Railfans Area 1, Victory Railfans.

Kemudian ada Sahabat Kereta Api Daop 2 bandung dan Daop 8 surabaya, Railfans Cianjur, KRDE Daop 4 semarang dan Daop 9 jember, Spoorlimo, Railfans Jombang +43, Railfans Enam Delapan Kediri, Pecel +64 Madiun, Si Puong, RF+444 Malang, dan terakhir Osing Train Community.

Masing-masing Railfans ini memiliki anggota yang bervariasi jumlahnya, yakni di kisaran 20 hingga 400 orang dan rata-rata masih berstatus pelajar.  Selama posko, terdapat sejumlah kegiatan yang dikerjakan oleh para anggota railfans tersebut secara sukarela. Di antaranya, mengantarkan pelanggan agar tak salah nomor kursi dan masuk kereta.

Kereta Api Indonesia terbantu dengan adanya railfans, terutama di saat peak season.
Railfans KAI membantu melayani secara sukarela masyarakat yang membutuhkan informasi kereta api. Foto: Dok. PT KAI

Selain itu mereka juga membantu melakukan pengawasan protokol kesehatan, membantu memberikan informasi aturan perjalanan kereta, membawakan tas milik pelanggan, membantu pelanggan yang kebingungan saat melakukan boarding atau check in, dan memberitahukan informasi jadwal keberangkatan maupun kedatangan kereta. Mereka juga tidak segan untuk membantu lansia dan pelanggan yang memiliki kebutuhan khusus.

Vice President Public Relations PT KAI Joni Martinus mengaku senang dan bangga bisa berkolaborasi dengan railfans yang selalu mendukung KAI dalam segala hal. KAI memberikan apresiasi yang tinggi kepada komunitas pecinta KA atau railfans atas kontribusi pada angkutan Lebaran tahun 2022.

“Di balik kelancaran angkutan Lebaran ini tentunya ada peranan railfans yang membantu. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman railfans karena telah bahu membahu menyukseskan angkutan Lebaran tahun 2022 dengan memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dan mewujudkan perjalanan kereta api yang aman, nyaman, sehat, dan selamat,” ucap Joni.

Kehadiran railfans di stasiun, selain membantu pelayanan juga memberikan semangat kepada para pekerja KAI lainnya dalam melaksanakan tugas selama posko. 

Keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan di KAI tidak terbatas hanya pada posko angkutan Lebaran saja, namun juga pada posko Nataru (Natal dan Tahun Baru), kerja bakti membersihkan stasiun, serta melakukan edukasi dan sosialisasi keselamatan di perlintasan sebidang.  Kegiatan ini pun di pandang positif oleh masyarakat bahkan oleh dinas terkait.

Joni mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh beberapa railfans khususnya dalam mengedukasi keselamatan perjalanan kereta api kepada masyarakat. Bahkan, beberapa aksi tersebut adalah inisiatif railfans itu sendiri. Hal ini merupakan bentuk kecintaan pada perkeretaapian secara nyata.

Bagi KAI, peran railfans sangat strategis dalam upaya mendukung kemajuan perkeretaapian, dimana masing-masing dari mereka mempunyai tujuan yang sama guna memajukan perkeretaapian di Indonesia.

“Railfans memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan perkeretaapian yang terus dilakukan oleh KAI. Dari kegiatan-kegiatan positif tersebut diharapkan mampu menambah kualitas pelayanan dan memberikan citra positif untuk KAI maupun bagi railfans itu sendiri,” tutup Joni.

agendaIndonesia

*****

Menyusur Pesisir Selatan Bali Dalam 2 hari

Menyusur Pesisir Selatan Bali Batu Belig

Menyusur pesisir Selatan Bali, mengikuti garis pantai yang terentang dari Badung sampai Tabanan. Sekali lagi Bali, tak ada habis-habisnya menikmati pulau Dewata ini.

Menyusur Pesisir Selatan Bali

Kuta dan Mengwi—berlokasi di Kabupaten Badung, dan Kediri di Kabupaten Tabanan— Bali, disatukan oleh garis pantai yang merentang panjang. Kedekatan secara geografis ini membuat tipikal pantai-pantai di wilayah ini memiliki kemiripan, seperti konturnya yang landai dan ruang “bermain pasir” yang cukup luas. Cukup dengan berkendara dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai kira-kira 30 menit. Bila ingin menyisir pantai, lebih baik kala pagi, sebelum matahari tampil terlalu terik.

HARI PERTAMA: Petitenget, Batu Belig, Berawa.

Pantai Petitenget

Di pantai ini, orang bisa menikmati pagi dengan menyaksikan orang bersembahyang di Pura Petitenget, pura besar yang terletak di muka gerbang pantai. Atau joging, berkuda,dan mengajak anjingnya jalan-jalan santai dari ujung ke ujung. Lokasinya di Desa Seminyak, Kuta Utara, Badung, Bali. Hanya 15 menit bila berkendara dari Jalan Raya Seminyak. Di kawasan pantai, berkumpul hotel dengan varian harga dan kelas yang berbeda, mulai melati hingga bintang lima.

Pantai Batu Belig

Lokasinya di Jalan Batu Belig, Seminyak, Kuta Utara. Dari Pantai Petitenget, bisa dicapai dalam 18 menit. Pasirnya luas membentang. Sayangnya, kontur pantai ini tak selandai Pantai Petitenget. Pasirnya juga lebih hitam. Itulah yang membikin wisatawan jarang datang. Lantaran sepi, orang bisa leluasa berjemur, juga menikmati suara debur ombak, tanpa takut terusik pengunjung lain. Banyak lazy chair dan bean bag yang disewakan penduduk lokal. Umumnya yang menyewa adalah turis asing.

Pantai Berawa (Finns Beach)

Berada di area Finns Beach Club, Canggu, Kuta Utara, pantai ini ditempuh dengan waktu 20 menit dari Batu Belig itu. Di sini anak-anak muda yang doyan party di klub berdatangan. Pantai Barawa memang berada di area eksklusif. Namun orang tak harus masuk ke klub bila tak ingin membayar mahal. Ada jalan setapak masuk menuju pantai yang terbuka untuk umum. Namun pantainya tak lapang. Jadi tidak memungkinkan untuk berlama-lama berjemur atau bermain pasir di sini.

Umumnya, turis datang untuk berselancar. Tersedia paket bimbingan berselancar bagi pemula. Per paket dibanderol Rp 350 ribu per 2 jam untuk membayar instruktur. Untuk sewa papan selancar berkisar Rp 50 ribu per jam.

Warung Mina

Matahari mulai bergerak ke barat. Petang lalu mendarat. Saatnya mengisi perut. Melipir ke arah timur, menuju pusat Kota Denpasar, tepatnya di Jalan Tukad Gangga Nomor 1, Renon, Panjer, Denpasar Selatan, terdapat sebuah restoran keluarga dengan menu laut khas Bali. Menu favorit pengunjung adalah gurami dengan beragam bumbu (seperti asam pedas, menyatnyat, santan kemangi, serta bumbu kuning), sate lilit, dan plecing kangkung. Plus sambal matah khas Pulau Dewata. Karena datang beramai-ramai, diputuskan untuk memilih menu paket dengan harga yang lebih ekonomis, yakni hanya Rp 252 ribu untuk empat orang.

HARI KE DUA: Batu Bolong, Echo Beach, Pantai Seseh, dan Tanah Lot

Lak-lak Bali Rama

Memulai hari di Bali tak melulu harus dengan  bubur kuning atau nasi jinggo. Ada juga  lak-lak—jajanan khas Singaraja. Bentuknya serupa dengan serabi, hanya berukuran lebih kecil. Di atasnya dibubuhi parutan kelapa dan gula merah cair. Saat menyusuri Krobokan, tepatnya di Jalan Raya Canggu, saya menemukan warung kecil yang menjual penganan ini. Wangi daun suji langsung merebak. Dua-tiga biji langsung habis dilahap. Enaknya dilahap hangat-hangat. Tentu dinikmati bersama dengan kopi Bali. Sepiring berisi lima lak-lak dibanderol Rp 5.000. Ada penganan lain di sini, seperti olen-olen (kue yang berbahan dasar ketan hitam) dan pisang rai (pisang yang diolah bersama dengan tepung beras).

Menyusur Pesisir Selatan Bali Batu Bolong

Pantai Batu Bolong

Setelah mengisi perut, saatnya bergerak ke utara. Lebih-kurang 10 menit atau sekitar 3 kilometer dari Jalan Raya Krobokan, ada pantai yang menjadi favorit turis. Pantai Batu Bolong yang berkarang. Bahkan, di beberapa titik, terdapat karang-karang besar yang memberikan efek estetis.

Pasirnya halus, meski tak terlampau putih. Ruang bermain, juga berjemur, cukup luas. Orang bisa bersantai menikmati lanskap. Dapat juga berenang di pinggir pantai, berselancar, atau berwisata religi. Selain terkenal sebagai pantainya para surfer, Batu Bolong memang kesohor lantaran terdapat pura besar di sana. Jadi mereka bisa melihat orang-orang Hindu bersembahyang atau menggelar upacara.

Echo Beach

Cukup berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer dari Pantai Batu Bolong, jajaran kafe dan restoran di sebuah gang berderet rapi. Muaranya adalah Echo Beach. Makin mendekat ke pantai itu, tempat-tempat nongkrong semakin banyak. Berupa pantai berkarang dengan air yang tak terlalu jernih dan pasir yang sudah berubah kecokelatan. Tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain duduk-duduk menikmati suara ombak atau angin sepoi-sepoi sembari menyeruput segelas koktail.

Pantai Seseh

Lepas menikmati siang di Echo Beach, yang juga menjadi penanda ujungnya pantai di Badung, saatnya beranjak menuju Mengwi. Sekitar 20 menit berkendara menuju utara, melewati persawahan dan kebun-kebun pohon kelapa, sebuah pantai dengan dominasi abu-abu menyapa. Entah, siang itu memang rona Seseh menunjukkan atmosfer yang kalem. Berbeda jauh dengan pantai-pantai sebelumnya, yang penuh ingar-bingar kafe, bean bag, lazy chair, dan warna-warni papan selancar. Rupanya, pantai ini  kental dengan upacara adat. Pasca-hari raya Galungan, Kuningan, dan sebagainya, pantai ramai dikunjungi warga lokal.

Tanah Lot

Selain Kuta, primadonanya Pulau Dewata adalah Tanah Lot. Pantai yang bisa dijangkau 18 menit dari Pantai Seseh atau 1 jam dari Bandara Internasional Ngurah Rai, ini memiliki pesona yang komplet, memadukan keindahan lanskap, budaya, mitos, religi, dan sejarah yang kental. Di pintu masuk, tamu disuguhi pemandangan gapura khas arsitektur Bali yang megah menghadap ke pantai. Di samping kiri, di sebuah pendopo, sekelompok pemusik gamelan memainkan alatnya masing-masing.

Di ujung, terlihat pura besar dikelilingi air laut yang biru. Orang hanya bisa ke sana kalau gelombangnya surut. Sementara itu, di sisi lain, terdapat sebuah karang besar dengan lubang di bagian tengahnya. Apalagi kala senja, saat langit memerah, Tanah Lot seperti terbingkai dalam lukisan.

Pie Susu Dhian

Ke Bali tak lengkap kalau tak membeli pie susu. Oleh-oleh khas Pulau Seribu Pura yang punya cita rasa manis campur gurih itu memang bisa ditemukan di berbagai toko oleh-oleh. Namun, kalau ingin memborong, sebaiknya langsung datang ke sentranya, yakni di Jalan Nangka Selatan, Dangin Puri Kaja, Denpasar. Sekitar 55 menit bila berkendara dari Tanah Lot. Pie susu berisi 25 buah dibanderol dengan harga Rp 35 ribu, sedangkan paket yang berisi 50 buah dihargai Rp 70 ribu.

agendaIndonesia

*****

Pia Apple Pie Bogor, Manisnya Sejak 1999

Pie Apple pie Bogor pilihan oleh-oleh yang manis berbahan apel.

Pia Apple Pie sudah jadi nama yang begitu lekat dengan kota Bogor, Jawa Barat. Acap kali siapapun sedang mampir ke kota hujan ini, tempat ini seperti menjadi salah satu pilihan membeli oleh-oleh atau bahkan untuk sekedar nongkrong.

Pia Apple Pie Bogor

Seperti namanya, tempat ini memang menawarkan homemade apple pie sebagai dagangan utamanya. Tetapi pelancong juga dapat menemukan berbagai jenis pie dengan beragam isian serta ukuran dan bentuknya di sini.

Telah memulai usahanya sejak 1999, Pia Apple Pie Bogor berawal dari kreasi resep rumah tangga dari para penggagasnya. Dari niat berkreasi tersebut, muncullah berbagai menu-menu cemilan yang kemudian mereka coba jajakan kepada khalayak luas.

Ternyata, sambutan publik Bogor cukup antusias, bahkan dari mulut ke mulut nama tempat ini mulai dikenal semakin banyak orang. Peminat yang kemudian datang pun tidak hanya dari dalam kota, namun juga pelancong luar kota yang berwisata ke Bogor dan mencari oleh-oleh.

Pie Appel Pie
Pia Apple Pie Bogor tak cuma pie apel, ada pelbagai pilihan lain.

Sejak saat itu, Pia Apple Pie menjadi ikon tersendiri dalam khasanah kuliner dan oleh-oleh khas Bogor. Dalam hari biasa saja, mereka rata-rata mampu menjual sekitar 200 loyang pie dengan beragam pilihan rasanya. Pada hari libur nasional, angka ini bisa melonjak tiga kali lipat.

Populeritas yang diraih Pia Apple Pie Bogor memang tak lepas dari menu-menu kudapan yang begitu unik dan menarik kala kemunculannya. Terutama tentunya adalah ragam pilihan pie seperti apple pie atau chicken pie yang menggoda lidah.

Pie umumnya adalah makanan mirip kue kering yang dipanggang dan mempunyai kulit yang renyah seperti pastel. Biasanya diberi isian (filiing) yang manis seperti buah, selai, coklat atau daging seperti ayam dan ikan di dalamnya, atau di bagian atasnya (topping).

Di Pia Apple Pie, apple pie buatan mereka terlihat mirip seperti pastel yang kulitnya tipis, renyah dan gurih. Dipadukan dengan isian selai apel serta potongan buah apel yang memberi sensasi rasa manis dan asam, membuatnya jadi cemilan yang begitu unik.

Jika pelancong tak suka rasa apel, masih tersedia pilihan isian rasa lainnya. Mulai dari chocolate pie, bluberry pie, sampai blueberry cheese pie. Kesemuanya juga tersedia dalam beragam ukuran, dari small, medium hingga large. Bahkan terdapat pula pie dengan bentuk hati.

Kalau pengunjung sedang tak mencari yang manis-manis, ada juga pilihan menu utama lainnya yakni chicken pie. Secara wujud ia mirip dengan apple pie, namun isiannya adalah racikan bumbu ayam dan jamur. Di atasnya juga diberi keju panggang garing yang menambah cita rasa.

Seiring berjalan waktu, Pia Apple Pie Bogor memang terus berkreasi dan berinovasi agar dapat mempertahankan animo pelanggan. Beberapa menu baru pun bermunculan, misalnya biscuit pie yang punya pilihan rasa seperti apel, blueberry, blueberry cheese dan Nutella hazelnut.

Selain itu ada pula tarte tatin, yaitu resep kue panggang asal Prancis yang terdiri dari kulit kue renyah di bawahnya, dengan topping buah berlapis karamel di atasnya. Di tempat ini, tarte tatin tersedia dengan pilihan topping leci, peach dan fruit cocktail.

Ada juga pilihan pie berukuran mini untuk dikonsumsi secara personal. Pilihannya dari apple pie, chicken pie hingga cheese pie. Lalu pilihan lainnya adalah apple strudel, kue kering ala Austria yang didalamnya berisi potongan apel, kismis, serta paduan rum dan kayu manis.

Dan yang tak kalah menarik adalah picnic roll, yaitu kue puff yang di dalamnya diisi dengan paduan daging giling, telur dan lain lain. Tersedia pilihan ukuran reguler atau personal yang lebih kecil.

Pia apple pie Bogor menjadi pilihan oleh-oleh khas Bogor.
Kedai Pia Apple Pie Bogor di Jalan Pangrango 10, Bogor. Foto: Pemkab Bogor.

Yang perlu dicatat, semua penganan di sini dibuat tanpa bahan pengawet. Kendati demikian, Pia Apple Pie Bogor menjamin makanan buatan mereka bisa tahan sekitar dua hingga empat hari pada suhu ruangan, atau kira-kira sekitar dua minggu jika diletakkan di kulkas.

Untuk harga, pie ukuran besar harganya berkisar dari Rp 125 ribu sampai Rp 145 ribu. Kemudian pie ukuran medium dari Rp 69 ribu hingga Rp 77 ribu. Adapun pie ukuran kecil harganya sekitar Rp 35 ribu sampai Rp 47 ribu.

Sementara itu, pilihan kudapan lain seperti biscuit pie harganya berkisar dari Rp 52 ribu hingga Rp 72 ribu, tergantung pilihan rasa. Tarte tatin ukuran kecil dihargai Rp 44 ribu, sementara yang medium Rp 125 ribu.

Pie ukuran mini harganya Rp 10 ribu untuk semua pilihan rasa. Kemudian apple strudel dihargai Rp 74 ribu. Adapun picnic roll ukuran personal harganya Rp 68 ribu, sedangkan ukuran reguler Rp 120 ribu.

Selain tempat membeli oleh-oleh, Pia Apple Pie juga cocok untuk jadi tempat nongkrong dan bersantai dengan teman dan keluarga. Tersedia tempat duduk di dalam rumah tua bergaya kolonial, dan balai-balai kecil untuk berkumpul sambil menikmati kudapan fresh from the oven.

Bahkan kini Pia Apple Pie juga menawarkan menu-menu main course unik dengan olahan saus apel. Seperti misalnya apple fried rice, spaghetti apple sauce, iga bakar saus apel, apple salad dan lain lainnya. Harga makanannya pun cukup terjangkau, dari Rp 20 ribu hingga Rp 55 ribu.

Jangan lupa pula untuk mencoba bajigur dan bandrek apel di sini yang begitu unik dan melegenda. Konon, minuman ini dipilih oleh mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu konsumsi dalam acara resepsi pernikahan anaknya.

Pia Apple Pie buka setiap hari dari jam 08.00 sampai jam 20.00 pada weekdays dan jam 21.00 saat weekend. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0251) 8324169 atau kunjungi akun resmi Instagram @pia_applepie.

Pia Apple Pie; Jl. Pangrango no. 10, Bogor

Telp. (0251) 8324169

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Batik Cirebon Tumbuh Dalam 2 Versi

Road Trip selain perjalanan juga menikmati buadaya seperti batik Trusmi di Cirebon.

Batik Cirebon kian mendapat tempat di hati penggemar batik di Indonesia. Bahkan tak sedikit yang menjadi pengguna setia batik dari kota di pesisir utara Jawa Barat ini dibandingkan batik dari kota lain di Indonesia.

Batik Cirebon

Banyak orang yang menyangka batik Cirebon ini usianya lebih muda dari batik-batik dari kota lain di Indonesia, terutama Solo dan Yogyakarta. Namun, ternyata pendapat itu tidak sepenuhnya tepat. Batik Cirebon berkembang sejak awal perkembangan agama Islam di Jawa Barat, khususnya di Cirebon. Bila ini yang terjadi, berarti kerajinan batik di Cirebon bahkan telah ada sebelum berdirinya Keraton Mataram di Yogya dan Solo.

Sejarah batik Cirebon telah menjadi tradisi turun temurun sejak masa Pangeran Walangsungsang Cakrabuana memerintah di Keraton Cirebon pada 1469 Masehi. Tradisi tersebut terus berlanjut pada pemerintahan selanjutnya, yakni di masa Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati) pada tahun 1479 M. Ini diperkuat dengan ditemukannya naskah Sunda tertua perihal embrio batik di daerah Cirebon Selatan yang ditulis pada tahun 1440 Saka atau 1518 Masehi.

Perjalanan batik Cirebon kurang lebih sama dengan batik di Yogyakarta dan Solo. Mula-mula muncul di lingkungan keraton, lalu “menerobos” keluar melalui para abdi dalem yang tinggal di luar tembok keraton. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Cirebon kemudian memahami batik sebagai kerajinan yang bosa menjadi komoditas perdagangan.

Uniknya, selain tumbuh dari dalam keraton, batik Cirebon juga berkembang karena kota ini yang awalnya adalah bandar laut Muara Jati menjadi pertemuan sejumlah pedagang dari perlbagai tempat. Pelabuhan Muara Jati menjadi tempat persinggahan pedagang dari Tiongkok, Arab, Persia, India, Malaka, Tumasik (sekarang dikenal sebagai Singapura), Pasai, Jawa Timur, Madura dan Palembang. Para pedagang ini memberikan pengaruh pada percampuran ragam budaya.

Dalam konteks batik, dua pengaruh ini tanpa sengaja membuat batik Cirebon tumbuh dalam dua versi, gaya, atau klasifikasi, yakni batik keraton dan batik daerah pesisir atau yang dikenal dengan nama Trusmi. Batik keraton, kita tahu, lahir dari masyarakat dengan tradisi religius dan klasik, yaitu saat Sunan Gunung Jati pada abad 15-16 menyebarkan ajaran Islam di Jawa Barat. Selain itu, batik Keratonan juga mengandung pengaruh budaya Tiongkok.

Batik gaya Keratonan karenanya sarat nilai filosofis. Sedangkan batik gaya pesisiran lebih dinamis dalam mengikuti selera pasar dan tidak harus mengandung makna filosofis.

Umumnya batik keratonan memiliki warna yang cederung gelap. Penggunaan warna-warna seperti hitam, merah tua, coklat seringkali mendominasi. Ciri ini yang kemudian membedakan batik Keraton dengan batik pesisir. Batik pesisir memiliki warna dasar yang lebih cerah, seperti biru, hijau, dan merah. Dalam hal motif, batik pesisir atau Trusmi menggunakan motif yang berhubungan dengan keadaan sekitar, seperti motif udang, ikan, dan bunga.

Batik Keratonan juga khas melalui penonjolan motif-motif utama yang berupa lambang yang mengandung pesan-pesan tertentu. Biasanya tidak mengandung unsur pelengkap yang terlalu padat yang mengganggu motif utamanya. Kadang hanya diberi latar garis-garis kecil yang disebut galaran.

Beberapa ragam motif pokok batik Keratonan di antaranya adalah Wadasan, Megamendung, dan Pandanwangi. Ketiga ragam hias ini konon mendapatkan pengaruh besar dari tradisi Tiongkok. Ada juga beberapa yang menggunakan ragam hias pohon, seperti Lam AlifSinga BarongPaksi Naga Liman, dan Macan Ali.

Meski secara fisik muncul pengaruh seni rupa Tiongkok, namun ruh dari motif dan corak batik Cirebonan bernafaskan ajaran Islam. Ini merupakan perwujudan dari gerakan tarekat di Cirebon.

Pada perkembangannya, batik Cirebon Keraton terbagi menjadi tiga keraton dan satu peguron dengan ciri khasnya masing-masing. Keraton Kasepuhan terlihat menggunakan ragam hias Singa Barong, Keraton Kanoman ragam hiasnya Paksi Naga Liman, Keraton Kacirebonan ragam hias Bintulu; sementara Peguron Kaprabonan menggunakan ragam hias Dalung dan motif tanpa gambar hewan.

Sejauh ini, Wadasan dan Megamendung merupakan ragam hias yang paling sering digunakan dan mudah dikenali. Hal ini mungkin dikarenakan keduanya memiliki banyak ragam, bentuk, komposisi, dan warna. Terutama motif Megamendung yang kini menjadi ikon batik Cirebon.

Batik Cirebon Motif Megamendung warna oranye

Motif Megamendung memiliki filosofi yang cukup dalam. Ia memiliki unsur warna merah dan biru yang menggambarkan maskulinitas dan dinamis, kemungkinan ini dipengaruhi dalam proses pembuatannya lebih banyak campur tangan laki laki. Kaum laki-laki anggota tarekatlah yang pada awalnya merintis tradisi batik Cirebon. Warna biru dan merah tua juga menggambarkan psikologi masyarakat pesisir yang lugas, terbuka dan egaliter.

Selain itu, warna biru juga disebut-sebut melambangkan warna langit yang luas, bersahabat dan pembawa hujan sebagai simbol kesuburan dan kehidupan. Warna biru yang digunakan mulai dari warna biru muda sampai biru tua.

Batik Cirebon terus berkembang dengan ciri khasnya. Untuk memfasilitasi kreativitas perajin batik di Cirebon, daerah ini mempunyai pusat atau sentra batik. Berjarak 4 Km dari pusat kota, Desa Trusmi di Kelurahan Plered menjadi salah satu wisata belanja batik yang wajib dikunjungi wisatawan jika berkunjung ke kota ini. Berbagai model dengan harga yang ber-variatif ditawarkan di toko-toko sepanjang daerah Trusmi.

Sudah adakah motif batik Cirebon dalam koleksimu? Ayo agendakan berkunjung ke Trusmi.

agendaIndonesia

*****