Bakpao Unik di Kastil Dimsum Sarinah Lt 2

Bakpao unik di Kastil Dimsum di Sarinah Jaya Lantai 2. Foto: Dok. Kastil Dimsum.

Bakpao unik seperti durian memang tidak biasa, meskipun sudah ada yang mencoba mengkreasikannya. Tapi, bakpao yang bentuknya seperti buah durian dan ketika digigit isinya juga durian beberapa waktu ini sedang hip di Jakarta. Ya ini atraksi yang masih baru di Kastil Dimsum.

Bakpao Unik

Sesungguhnya ini bukan resto yang baru banget, sebab ini adalah bagian dari kelompok usaha Imperial Group Culinary Concept. Jaringan usaha kuliner yang sudah berdiri sejak 1993 ini sudah banyak tersebar di Jakarta. Ada yang berupa resto, ada yang bentuknya cakery.

Produk baru mereka ini, Kastil Dimsum, tampaknya menarik perhatian penggemar kulineri. Terlebih lokasinya juga di tempat yang sedang hip, Sarinah Jaya Lantai 2 di Jalan MH Tamrin, Jakarta Pusat. Yang beredar di banyak grup percakapan digital adalah bakpao unik sebagai bagian dari sajian dimsum mereka.

Bakpao unik yang bentuknya seperti durian dan isinya durian ada di Kastil Dimsum.
Suasana interios Kastil Dimsum di Sarinah. Foto: Dok. Kastil Dimsum

Mungkin gerai ini dibuka pada waktu yang tepat, yakni ketika pemerintah mulai melonggarkan pertemuan tatap muka bagi masyarakat. Mereka yang selama dua tahun tak melakukan kopi darat, seperti mendapat pilihan tempat nongkrong dan ngobrol sesame kawan dan kerabat.

Kastil Dimsum tampaknya juga jeli memanfaatkan lokasi dan kondisi bangunan. Mereka menyedian ruang makan di dalam bangunan, namun juga menyediakan area luar ruang yang lebih bebas. Terutama untuk kumpul dan makan di sore hingga malam hari. Tentu jika tidak hujan.

Selain itu pilihan variasi sajian yang ditawarkan juga cukup lengkap. Selain masakan-masakan oriental seperti disajikan di Imperial Kitchen lainnya, salah satu yang menjadi andalan di  gerai Sarinah ini adalah aneka dimsum.

Seperti disebut di muka, salah satu andalan yang menjadi daya tarik publik adalah aneka jenis bakpao. Keunikannya tidak saja dalam penyajian bentuknya saja, namun juga sensasi rasa yang ditawarkan. Serba bakpao unik.

Ada aneka bakpao yang bentuknya beraneka, mulai dari buah-buahan atau sayuran seperti durian tadi, jagung bakar, bit, jambu, atau lainnya. Ada pula yang bentuknya seperti tea set, cangkir dan tekonya. Diisi susu cair yang bisa dituang ke dalam cangkir, lalu cangkir yang sudah berisi susu tinggal kita …lep.. masuk mulut. Aneka bakpao ini bisa dipilih pada menu Kastil Windsor.

Bakpao unik di Kastil Dimsum juga ada yang berbentuk sepasang panda.
Kastil Paraha, siomao dan hakau dalam penyajian yang unik. Foto: dok. Kastil Dimsum

Pilihan lain adalah dimsum Kastil Praha. Ini juga disusun seperti undakan di kastil dengan aneka pilihan dimsum siomay dan hakau yang bentuknya seperti money bag. Bentuknya tak terlalu besar, tapi cukup mengenyangkan jika satu set dimakan sendiri.

Tapi, seperti kebiasaan santapan dimsum, di mana pengunjung memilih sejumlah menu dan menyantapnya bersama-sama kerabat dan handai taulan seraya berbagi cerita. Dimsum bukanlah menu tunggal untuk makan siang atau malam. Bentuk yang beraneka menjadikan kelucuan saat nongkrong bersama kawan-kawan.

Misalnya saja memilih menu bakpao unik yang diberi nama bakpao oreo. Dari Namanya pasti sudah bisa menebak varian isinya. Bentuknya lucu, dua panda dengan isiannya oreo lumer. Ada sedikit remahan oreo juga untuk mempercantik tampilannyanya. Rasanya ini cocok untuk mereka yang sudang nge-date. Untuk lucu-lucuan.

Bagi yang ingin makan besar, pilihannya cukup bervariasi. Mulai dari bubur hingga bebek peking. Yang terakhirnya ini seperti kebanyakan chinesse food resto, bebeknya disajikan sesuai keinginan pengunjung. Bisa juga disajikan dalam pilihan kungpao sedikit pedas.

Dari seluruh menu yang ditawarkan umumnya memang enak, tapi yang khas dan masih menjadi perhatian orang adalah bakpao uniknya. Dengan tempat yang sedang hit, resto ini masih terus didatangi pelanggan. Karena itu, jika ingin ke tempat ini, pilih waktu yang tak biasa. Hindari jam-jam orang makan atau nongkrong, karena sudah pasti penuh. Melakukan reservasi adalah pilihan yang bijak jika tak ingin kecewa karena tak dapat tempat.

Dari soal harga, rasanya buat mereka yang sudah biasa bersantap di Imperial Kitchen tak akan terkejut. Masih cukup aman buat kantong. Satu set Kastil Windsor, misalnya, dipatok Rp 58 ribu. Rata-rata orang mengabiskan Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu untuk bersantap di sini.

Jadi sebelum kudet dengan kuliner Jakarta, ayo agendakan nongkrong di Dimsum Kastil. Ada juga pilihan lain di Sarinah.

agendaIndonesia

*****

5 Kudapan Enak Khas Kota Semarang

5 kudapan enak khas kota Semarang rasanya hampir semua orang sudah tahu. Tapi tidak ada salahnya kita bahas satu-satu keunikan jajanan kota yang sering disebut juga kota Atlas, ini sebutan di tahun 80-an yang artinya: aman, tertib, lancar, asri dan sehat.

5 Kudapan Enak Khas Kota Semarang

Rasanya semua traveler setuju, salah satu keasyikan melakukan perjalanan ke kota-kota lain adalah mencicipi jajanan khas di kota tersebut. Dan, sejumlah kota di Jawa termasuk yang kaya dengan pilihan kudapannya. Ibu kota Jawa Tengah ini mempunyai pilihan berlimpah kalau soal camilan. Pengunjung bisa berkeliling mencari gerai-gerai penjaja makanan ringan, dari lapak di pinggir jalan hingga restoran.

Berikut ini ada lima pilihan camilan enak khas kota Semarang, bisa menjadi alternatif saat main ke kota jamu ini, sebutan ini mengacu pada banyaknya industri besar jamu di Indonesia.

Es Krim Jadul di Oen

Restoran ini termasuk ikon Semarang, sering dipenuhi turis dari luar negeri yang asyik mengobrol santai sambil makan. Menjadi tempat pilihan bersantap bagi orang yang ingin mengenang masa lalu. Restoran Oen konsisten menjajakan kudapan khas Belanda sejak 1936. Ada poffertjes, kaasstengel, janhagel, kattetong, dan sebagainya. Semuanya enak, tapi yang sering jadi pilihan utama adlah es krimnya dalam berbagai rasa. Setelah berwisata di kawasan kota tua Semarang, mampir ke resto lawas di Jalan pemuda, dekat dengan kota tua.

Yang tergolong paling laris adalah es krim Tutti Fruti dan Oen’s Symphony. Satu potong es krim Tutti Fruti dengan taburan sukade benar-benar terasa segar. Demikian pula Oen’s Symphony, yang terdiri atas empat sendok es krim dengan rasa berbeda-beda dan krim serta hiasan kue lidah kucing di bagian atas.

Restoran Oen; Jalan Pemuda Nomor 52, Semarang

5 kudapan enak khas kota Semarang yang layak buat dicicipi saat mampir ke kota ini.
Tahu Pong Semarang, tahu goreng kosong dengan tambahan bakwan udang dan telur rebus goreng. Foto: Dok. shutterstock

Tahu Pong dan Gimbal

Tahu goreng ini dinamakan tahu pong karena kopong atau kosong. Dikenal sejak 1930-an di Semarang, tahu ini tampak padat di luar. Namun setelah digigit, Anda akan menemukan bagian yang berlubang di tengah tahu. Camilan satu ini memiliki beberapa cara penyajian. Anda bisa menambahkan nasi jika menginginkannya sebagai salah satu menu makan berat.

Begitupun, tanpa nasi pun sebenarnya seporsi tahu pong sudah sangat mengenyangkan. Apalagi jika Anda memilih menu dengan tambahan gimbal, semacam bakwan goreng dengan udang goreng tepung, dan telur rebus yang juga digoreng. Untuk penyedap rasa, tahu pong dihidangkan dengan kuah petis hitam lengkap dengan sepiring acar. Tambahkan cabe rawit yang diulek jika Anda suka pedas. Walhasil, rasanya lengkap: asin, gurih, dan pedas.

Tahu Pong; Jalan Gajah Mada Nomor 63; Semarang

Pisang Plenet

Bila tahu pong masih satu keluarga dengan tahu gejrot di Cirebon, pisang plenetbisa jadi merupakan saudara dari jajanan pisang epe di Makassar. Namun orang yang menjajakan pisang plenet tidak sebanyak penjual pisang epe di Pantai Losari. Bahkan, istilahnya, sudah bisa dihitung dengan jari orang yang masih setia menjajakan pisang plenet. Kuliner jalanan ini bisa ditemukan pada malam hari.

Penganan ini terbuat dari pisang kepok yang sangat manis. Pisang itu dibakar di atas bara arang. Setelah agak kecokelatan, pisang bakar ini di-plenet atau ditekan-tekan hingga tipis. Penampakannya langsung berubah menyerupai pancake, saking gepengnya. Taburan di atas pisang bisa beragam, dari keju, cokelat meises, hingga selai buah-buahan. Pisang plenet makin nikmat disantap selagi hangat.

Pisang Plenet; Pasar Malam Pecinan, Semawis

Pisang Plenet Pak Turdi; Jalan Pemuda, depan Pasaraya Sri Ratu dekan Oen, Semarang

5 kudapan enak khas kota Semarang, salah satunya kue leker Paimo, makanan pinggir jalan yang layak dicoba.
Kue leker Paimo, kudapan ringan pinggiran jalan yang sering bikin kangen penikmatnya. Foto: Dok. shuterstock

Leker Paimo yang Lezat

Terbuat dari adonan tepung dan telur, kue leker memang cukup dikenal sebagai camilan yang sedap. Umumnya, kue ini berisi cokelat meises, potongan pisang, susu kental manis, dan keju. Nah, Leker Pak Paimo berupaya menyajikan kenikmatan yang lain. Diambil dari bahasa Belanda, yang berarti enak, leker memang lezat untuk disantap sore hari. Apalagi Pak Paimo cukup kreatif mengolah menu ini.

Siapa sangka, lapak mini yang berada di depan salah satu sekolah menengah favorit di Semarang itu tak pernah sepi dijejali pembeli, baik tua maupun muda. Kompor yang beroperasi hanya satu, sehingga pengunjung harus sabar antre. Yang menarik, di sini tersedia leker dengan berbagai macam isi. Dari yang standar, seperti selai atau cokelat, hingga jagung rebus, sosis, telur, sayuran, keju mozzarella, dan potongan tuna.

Leker Pak Paimo; Jalan Karanganyar; Depan SMA Kolese Loyola; Semarang

5 kudapan enak khas kota Semarang, yang paling terkenal tentu saja loenpia, makanan peranakan yang menjadi ikon kota ini.
Loenpia Goreng Semarang, makanan peranakan yang menjadi ikon ibukota Jawa tengah ini. Foto: Dok. shutterstock

Loenpia Basah & Kering

Semarang hampir selalu identik dengan kudapan satu ini. Aslinya, lumpia merupakan makanan khas bangsa Tionghoa yang dibawa oleh para pendatang ke kota ini di masa silam. Banyak orang mengingat kekhasan camilan ini pada irisan rebungnya. Memang lunpia (loenpia) atau kemudian dikenal sebagai lumpia terdiri atas campuran rebung, telur, sayuran, daging, dan ikan laut yang digulung dalam adonan tepung gandum sebagai kulit pembungkus.

Biasanya, semakin mahal isinya, semakin tinggi pula harganya. Harga lumpia isi udang dan kepiting tentu tidak sama dengan isi rebung. Harga standarnya sekitar Rp 15 ribuan. Lumpia juga menjadi oleh-oleh andalan dari Semarang karena bisa dibeli dalam bentuk yang belum digoreng. Jadi, ada lumpia basah dan lumpia kering. Dikudap di kedai penjual pun lumpia terasa pas dengan guyuran saus tauco dan acar mentimun.

Loenpia Gang Lombok; Gang Lombok Nomor 11; Kranggan, Semarang

Loenpia Mbak Lin; Jalan Pemuda; seberang Sri Ratu, Semarang

Loenpia Cik Meimei; Jalan Gadjahmada, Semarang

agendaIndonesia

*****

Menikmati Pangandaran Dalam 1 hari

Pantai Timur Pangandaran juga berada di lintasan jalur mudik selatan

Menikmati Pangandaran dalam 1 hari rasanya memang sulit saat ini, sebab jaraknya yang lumayan jauh dari Jakarta. Namun, ketika infrastruktur jalan tol lintas selatan sudah selesai, mungkin kesulitan itu memudar. Larut dalam legenda gua, kuliner laut, serta keindahan pantai, plus mentari terbenam.

Menikmati Pangandaran Dalam 1 Hari

Menempuh perjalanan sekitar 400 kilometer dari Jakarta ke Pangandaran, Jawa Barat, sangat melelahkan. Namun rasa lelah langsung sirna setibanya di Pantai Pangandaran. Betapa tidak, obyek wisata alam andalan di kabupaten itu beragam dan lokasinya berdekatan. Pilihannya pun tak melulu pantai. Ada cagar alam, gua, dan tentu sajian kuliner khas pesisir. Bahkan pelancong dapat menikmati keindahan mentari terbit dan tenggelam di tempat yang sama. Tinggal mencari posisi yang paling tepat untuk menjemput dan mengantar sang surya kembali ke peraduan.

Menjemput Mentari

Pantai Timur Pangandaran menjadi tujuan pertama yang harus saya kunjungi pagi ini untuk menyaksikan terbitnya sang mentari. Sempat terpikir untuk naik sepeda atau sepeda listrik yang banyak disewakan. Berhubung jaraknya relatif tidak terlalu jauh, saya pun memutuskan berjalan kaki saja. Hitung-hitung berolahraga.

Benar saja tebakan saya. Sekitar 10 menit, saya sudah tiba di pinggir pantai. Sang surya sudah mulai bersinar menampakkan keperkasaannya. Kemilau jingganya mulai menyapu laut dan perahu-perahu yang bersandar. Pantai Timur memang sudah dari dulu menjadi tempat bersandarnya perahu-perahu nelayan Pangandaran. Yang menarik perhatian saya, ketika melihat para nelayan saling bekerja sama menarik jala dari laut ke daratan. Ikan laut beraneka jenis terjerat di jala-jala itu. Lumayan hasil jeratannya.

Di Pantai Timur ini tersedia pula sarana rekreasi air yang bisa memuaskan adrenalin para wisatawan, seperti banana boat, aqua glade flyfish, tornado, dansederet nama lain yang menggoda. Tapi saya kurang begitu tertarik. Saya lebih terpikat dengan cagar alam yang menyimpan banyak kisah.

Menyusuri Cagar Alam

Hanya berjalan beberapa ratus meter dari pusat rekreasi air dan melewati kios-kios suvenir khas pantai yang masih tutup, tiba-lah saya di gerbang Cagar Alam Pangandaran. Petualangan dimulai setelah membayar tiket masuk. Jalan setapak yang saya lalui terlihat rapi. Jauh berbeda dibandingkan pada 1990-an saat saya pertama kali menjejakkan kaki di cagar alam ini. Sejak resmi dimekarkan pada 25 Oktober 2012, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, tampaknya terus berbenah.

Belum jauh kaki melangkah, Gua Panggung di sebelah kiri jalan seakan sudah menyambut. Berdasarkan keterangan di bagian depan, disebut Gua Panggung karena kondisinya menyerupai panggung. Di dalamnya terdapat sebuah makam bernama Embah Jaga Lautan. Konon beliau bertugas menjaga lautan di daerah Jawa Barat.

Sekitar 100 meter dari gua tersebut, ada Gua Parat. Dalam bahasa Sunda, ‘parat’ berarti tembus. Gua ini memang bisa dilewati hingga mulut gua yang menghadap Laut Selatan. Sama halnya dengan Gua Panggung, Gua Parat juga memiliki petilasan yang menyimpan kisah tersendiri. Tak ada kesan mistis yang membuat takut. Yang ada justru kekaguman pada relief dinding gua yang indah.

Selain dua gua tersebut, Cagar Alam Pangandaran memiliki gua lain, seperti Gua Sumur Mudal, Gua Lanang, Gua Cirengganis, dan Gua Jepang. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri, serta ada informasi yang dipasang di depan tiap pintu masuknya. Sehingga pengunjung mendapat detail tentang gua tersebut. Sungguh mengasyikkan bisa larut dalam legenda gua-gua tersebut. Apalagi selama perjalanan banyak ditemui kera dengan tingkah pola yang menggemaskan. Terkadang mengkhawatirkan jika kera-kera itu akan menyerang. Beruntung, tak ada satu pun kera yang “nakal”.

Mengantar Surya

Lewat tengah hari, rasa lapar mulai mendera. Mengelilingi Cagar Alam Pangandaran memang lumayan menguras energi. Ke luar dari kawasan tersebut, saya menemukan kuliner khas pesisir di tempat ini dengan mudah. Maklum saja, banyak berdiri rumah makan yang menawarkan aneka makanan laut. Saya mampir di salah satu rumah makan dan memesan cumi asam-manis. Ehmm, nikmatnya.

Setelah perut terisi dan cukup beristirahat, saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Barat. Pantai yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Pantai Timur. Berada di semenanjung, posisi Pangandaran memang strategis. Diapit oleh dua pantai; Pantai Timur dan Barat.

Berbeda dengan Pantai Timur, suasana wisata pantai lebih terasa di Pantai Barat ini. Wisatawan dapat berenang, bermain pasir, dan bermain sepak bola atau voli. Bahkan ada yang berkuda di sepanjang pantai, serta ada pula yang mencoba bermain ombak dengan papan selancar mini. Tak hanya itu, turis juga dapat menyewa perahu untuk mengelilingi taman laut.

Waktu tak terasa cepat berlalu. Senja mulai menjelang. Bersandar di kursi kayu dengan ditemani kelapa muda dan semilir angin pantai, saya mengantar sang surya masuk ke peraduannya kembali. l

Andry T./P. Mulia/Dok. TL

Menikmati Kemacetan Jakarta Dari Lantai 14

Skyloft Jakarta

Menikmati Kemacetan Jakarta? Bagaimana caranya bisa melakukan itu sambil ngobrol santai dengan teman dan makan camilan yang enak? Dari Lantai 14 sebuah hotel, sore hari dengan suguhan pemandangan khas Jakarta dengan menu lokal yang berlimpah.

Menikmati Kemacetan Jakarta

Menikmati Jakarta yang macet di sore hari? Kenapa tidak? Masalah Ibu Kota yang satu ini sesekali bisa dijadikan “teman” menghabiskan sore atau malam hari. Ada banyak pilihan, tapi kali ini saya dan rekan-rekan memilih All Seasons Thamrin, hotel bintang tiga yang berada di Jalan Teluk Betung Nomor 2, Jakarta. Di lantai 14, lantai tertinggi bangunan ini, terdapat Skyloft, resto dan bar dengan pemandangan gedung-gedung tinggi khas kota besar di sekelilingnya. Di depannya ialah Jalan Sudirman-Thamrin yang kental dengan deretan kendaraan setiap harinya. Kala mentari menuju peraduan, tetamu pun mendapat suguhan khas. Mempersembahkan sebuah sore atau malam yang cukup menggoda tentunya!

Rooftop resto & bar ini terbagi menjadi dua bagian, sebagian besar berupa ruang tertutup tapi dengan dinding-dinding kaca, sehingga para tamu pun leluasa memandang langit dan gedung-gedung di sekitar. Bila ingin merasakan kenyamanan khas ruangan dengan mesin pendingin ruangan, tentunya pilih ruang yang tertutup. Suasana luar tetap bertangkap, sedangkan kehangatan dari ruangan dengan dominasi warna cokelat itu tetap bisa diresapi. Saya dan rekan-rekan, karena ingin menikmati sore, memilih di luar.

Bagian luar belum lama ditata ulang. Semula sofa panjang berbentuk L memenuhi tepian ruangan dan di pojok lain ada model kursi bar yang tinggi dengan meja yang mungil. Kini sofa berwarna terang itu tak terlihat lagi, berganti dengan furnitur kayu yang memunculkan kesan rustic. Kursi bar diganti dengan kursi kayu yang simpel dan di langit-langit pun berhiaskan potongan kayu yang dirangkai bak sebuah karya seni.

“Tema desain baru ini back to nature, jadi lebih banyak menggunakan material kayu,” papar Nicodemus Deissen, Digital Marketing Coordinator All Seasons Thamrin. Ia menambahkan, untuk bagian ruang luar tersebut, pihak all seasons menggunakan jasa Larc Studio Bandung dengan desainer Ogi. Lewat konsep kembali ke alam, ruang luar pun terasa lebih hangat.

Menunya pun tak kalah menghangatkan perut di malam hari. Semisal sop buntut dan soto Lamongan. Selain itu, ada bebek lombok ijo dan nasi goreng Skyloft. Atau boleh juga nasi kuning plus udang rendang dengan buncis dan keripik ubi ungu. Menu Indonesia banyak menjadi favorit, bisa jadi karena pihak lembaga pemerintahan kerap menggelar rapat di sini. Acara kumpul-kumpul di sini pun tak kalah sering, termasuk arisan—kegiatan khas kaum perempuan. Paket menu tersebut umumnya dipatok dengan kisaran Rp 125-200 ribu.

Deissen menyebutkan, sebanyak 60 persen tamu Skyloft bukanlah tamu hotel. Pada Jumat malam, tempat duduk banyak dipenuhi kaum muda yang ingin kongko, melepas penat setelah berkutat lima hari kerja. Selain itu, di sini beberapa kali diadakan acara spesial. “Bisa berupa romantic dinner, kadang baby shower, atau wedding shower,” ia memaparkan. Kapasitas Skyloft nyaman sekitar 100 orang, tapi maksimal bisa juga hingga 120 orang.

Buat yang kongko, tentunya ada pula hidangan ringan berupa sandwich. Seperti Rouben sandwich, roti panggang dengan kol, daging sapi, dan keju yang dipadu dengan saus thousand island. Atau bisa juga pilih roti burger ala Hawaii yang dipadu dengan kentang goreng. Selain itu, ada ragam pasta dan piza yang bisa dimakan beramai-ramai. Yang unik di antaranya berupa piza bebek yang dibubuhi keju mozarella. Sedangkan untuk penyuka hidangan internasional, ada beef tenderloin, char grilled granted Australian rib eye. Mau olahan dari ikan? Coba cicipi red snapper pesmol, alias pesmol kakap merah, yang dipadu unik dengan perkedel kental. Hidangan dalam mangkuk besar ini dipatok Rp 165 ribu.

Bila ingin mencicipi buffet, tersedia tema khusus pada hari tertentu, semisal untuk Selasa dan Kamis, giliran suguhan ala Mediterania yang dimunculkan. Tentunya menu tersedia mulai sarapan, karena sebagian tamu adalah yang menginap di hotel. Namun, karena terdapat bar, Skyloft pun beroperasi hingga lewat tengah malam. Jadi tersedia pilihan, bisa menikmatinya di pagi, siang, atau sore hari menjelang malam seperti saya dan kawan-kawan.

  • Liputan sebelum masa Pandemi Covid-19

Rita N./Rully K./Dok. TL

Serba Pisang di Makassar Ini 6 Yang Lezat

Serba pisang dari Makassar, ini 6 makanan yang lezat berbahan pisang.

Serba pisang di Makassar memberi gambaran beragamnya camilan lezat dari kota anging Mamiri ini. Beberapa jenis makanan menjadi pilihan saat berbuka puasa di bulan Ramadhan. Ada pula yang bisa tiap sore dinikmati sembari menikmati ibu kota Sulawesi Selatan ini.

Serba Pisang di Makassar

Pisang tergolong jenis bahan pangan yang memiliki gizi hampir sempurna lantaran mengandung air, gula, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Selain itu, karena rasanya yang enak, pisang disukai semua kalangan, anak-anak hingga orang dewasa. Tumbuh di daerah beriklim tropis, yang panas dan lembap, terutama di dataran rendah, pisang banyak ditemukan di Nusantara. Salah satunya di Sulawesi Selatan. Dengan hasil buah yang melimpah, masyarakat Sulawesi Selatan bisa menghasilkan beragam olahan dari pisang. Tak hanya manis, tapi juga ada hidangan yang gurih.

Es Pisang Ijo

Penampilannya cukup menggoda dengan warna hijau yang khas. Karena warna itu pula sajian ini disebut pisang ijo. Tampilannya terlihat semakin cantik dalam rendaman vla santan putih dan sirop DHT Pisang Ambon berwarna merah muda. Serutan es batu yang dituangkan ke dalamnya benar-benar membikin segar, apalagi bila dinikmati saat cuaca panas. Penganan yang satu ini juga cocok menjadi menu berbuka puasa.

Bahan utamanya adalah pisang raja yang dibungkus dengan adonan hijau berbentuk seperti kulit pisang. Warna hijau berasal dari perasan daun pandan, yang juga menimbulkan aroma wangi. Vla dibuat dari campuran tepung beras, santan, gula pasir, dan garam. Rasa manisnya lebih dominan dibanding dengan gurih.

Biasanya pisang ijo disajikan di atas piring, tapi ada juga kreasi yang berbeda. Di toko Kue dan Es Krim Mama, misalnya, pisang ijo ditawarkan dalam bentuk yang lebih mungil dengan ditemani cendil serta bubur hitam. Meski dipadukan dengan hidangan Jawa, cita rasa kebangsawanan Bugis-Makassar tetap terasa dalam pisang ijo tersebut.

 Pallubutung Nan Legit

Tampilannya agak mirip pisang ijo. Terbuat dari pisang plus vla putih nan manis. Bedanya, pallubutung menggunakan pisang kepok. Pisang itu dikukus terlebih dulu. Setelah masak, kulitnya dikupas, lalu pisang dipotong-potong serong. Irisan pisang kemudian dimasukkan ke dalam vla. Pallubutung bisa dinikmati dalam kondisi hangat, tapi jauh lebih enak jika dihidangkan dingin dengan tambahan serutan es batu. Jika tak suka dengan rasa polos alias orisinal, Anda bisa menambahkan susu kental manis dan sirop DHT Pisang Ambon. Penganan ini pun menjadi salah satu menu favorit untuk berbuka puasa.

serba pisang di Makassar memperlihatkan bagaimana buah ini bisa menjelma menjadi camilan-camilan yang lezat.
Barongko, makanan tradisional dari Makassar yang berbahan dasar dari pisang. Foto: Dok. shutterstock

 Kue Barongko

Kue ini menjadi salah satu menu wajib dalam kegiatan pesta dan upacara adat masyarakat Bugis-Makassar. Ada banyak kafe dan toko kue yang menjajakan barongko. Sebab, kue ini memang diminati banyak orang. Karena memiliki rasa yang manis dan segar, kue ini pun kerap disantap saat berbuka puasa.

Bahan dasarnya sama dengan pallubutung, tapi pisang kepoknya dihaluskan dan dicampur dengan gula, telur, dan santan. Adonan tersebut diaduk hingga rata, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus kurang-lebih 30 menit. Barongko paling pas dinikmati dalam kondisi dingin, dengan memasukkannya ke lemari es terlebih dulu. Kadang kala diberikan variasi berupa irisan nangka dan cincangan kenari sebelum dikukus. Aroma nangka, pisang, dan, daun pisang menyatu, sementara kenari memberikan sensasi gurih di antara rasa manis yang dominan.

Serba pisang di Makassar salah satunya adalah pisang epe yang banyak dijumpai di kawasan pantai Losari.
Pisang bakar khas Makassar, pisang epe, yang mudah ditemui di kawasan pantai Losari. Foto: Dok. shutterstock

 Pisang Epe, Digepuk dan Dibakar

Menikmati sore sambil menunggu mentari tenggelam di Pantai Losari tak akan lengkap tanpa ditemani sajian pisang epe alias banana press—sebagian orang menyebutnya demikian karena pisang ini ditekan-tekan agar gepeng setelah dibakar. Bahan utama yang digunakan adalah pisang kepok. Pisang yang telah gepeng itu lalu disirami vla gula merah atau gula aren. Di musim durian, vla biasanya ditambahi daging durian, sehingga aromanya lebih menggoda.

Pisang epe mudah ditemukan di kawasan Pantai Losari, seperti di Jalan Penghibur, Jalan Ujung Pandang, Jalan Maipa, dan Jalan Lamaddukelleng. Pilihannya juga semakin bervariasi. Ada rasa cokelat, keju, atau kombinasi, selain rasa orisinal dengan vla gula merah.

Sanggara Pep’pe nan Gurih

Tampilannya agak mirip dengan pisang epe. Namun, untuk membuat hidangan ini, pisang kepok harus digoreng, lalu ditumbuk agar berbentuk gepeng. Sanggara memang berarti digoreng, sementara pep’pe dipukul-pukul. Meski tampilannya mirip dengan pisang epe, rasanya jauh berbeda. Jika pisang epe identik dengan manis, sanggara pep’pe menonjolkan rasa gurih. Penganan satu ini biasanya dinikmati dengan sambal.

Roko-Roko Unti Nan legit

Rasanya yang legit benar-benar memanjakan lidah. Roko-roko unti (bungkus-bungkus pisang) tak jauh berbeda dengan kue nagasari. Lagi-lagi berbahan utama pisang. Dalam hidangan ini, pisang disembunyikan di tengah adonan vla putih yang gurih dan kental. Adonan itu dimasak dengan cara dibungkus daun pisang, kemudian dikukus. Nah, ada banyak jenis pisang bisa digunakan untuk membuat roko-roko unti, tapi pisang kepok dan pisang raja menjadi pilihan utama. Biasanya, hidangan ini dijual dengan harga Rp 4.000 per bungkus.

Bagi yang sedang  main ke Makassar dan ingin mencicipi makanan-makanan tersebut, coba main ke tempat-tempat ini

Café Mama; Jalan Seruni dan Jalan Bougenville, Makassar

Kios Bravo; Jalan Andalan No 154, Makassar

Kios Hawai; Jalan Ranggong, Makassar

Pisang Epe; Kawasan Pantai Losari

TL/agendaIndonesia

*****

Payung Geulis, Fashion Cantik Pada1920-an

Payung geulis khas Tasikmalaya pada zamannya adalah ikon fashion. Foto shutterstock

Payung geulis Tasikmalaya rasanya bukan alat pelindung air hujan. Bahannya yang terbuat dari kertas rasanya tak cukup kuat untuk menahan guyuran air dari langit. Pelindung matahari? Bisa jadi ini lebih masuk akal.

Payung Geulis

Tetapi tahukah Anda bahwa di masa silam payung juga digunakan sebagai bagian dari fashion? Sebagai pernak-pernik penambah gaya, dan sebagai salah satu lambang kecantikan wanita tempo dulu?

Payung Kertas Geulis Asephi
Payung khas Tasikmalaya yang banyak diekspor. Foto: Dok. milik Asephi

Payung di waktu itu tidak hanya dipandang dari sisi fungsi saja, tetapi juga sebagai alat pendongkrak image, sebuah fashion statement. Dan payung Geulis, sebuah kerajinan tangan tradisional khas Tasikmalaya, adalah salah satu saksi sejarah tren penggunaan pernik fashion di era tersebut.

Anda mungkin pernah melihat payung tradisional berbahan kertas dengan corak-corak cantik berwarna-warni dari beberapa negara. misalnya Jepang. Payung Geulis pun tak ubahnya demikian.

Pada awal kemunculannya ia juga sebuah payung tradisional yang terbuat dari rangka bambu dan tudung berbahan kertas. Untuk mempercantiknya, para pengrajinnya lantas secara manual melukiskan bagian tudung payung tersebut dengan beragam motif.

Biasanya motif yang dibuat dapat bervariasi, mulai dari motif hias geometris yang berbentuk garis-garis lurus atau melengkung, atau motif hias non geometris seperti corak bunga. Motif bunga memang yang terbanyak.

Mungkin karena dulu payung geulis lazim digunakan Mojang-mojang Tasikmalaya sebagai lambang kecantikan. Tak heran, payung tersebut kemudian dinamakan ‘geulis’ yang dalam bahasa Sunda artinya cantik, elok dan molek.

Jika ditilik latar belakangnya, payung geulis awalnya lebih banyak diperuntukkan kepada gadis muda berkebaya di kawasan Tasikmalaya untuk bersolek. Terutama ketika cuaca sedang panas terik. Payung ini justru tidak lazim digunakan saat cuaca hujan, lantaran bahan kertasnya yang tidak tahan air.

Karena kegunaannya tersebut, pada masa penjajahan Belanda, utamanya pada 1920-an, noni-noni muda pendatang dari negeri kincir angin tersebut ikut mengadopsi Payung Geulis sebagai bagian dari fashion mereka. Dari situlah, popularitas produk ini semakin terangkat.

Pada puncaknya di era 1950-an hingga 1960-an banyak warga Tasikmalaya yang ikut mengais rezeki sebagai pengrajin payungnya. Begitu lekatnya image barang ini pada kota Tasikmalaya, bahkan lambang kota ini pun terdapat gambar payung geulis.

Tetapi dalam perkembangannya, payung Tasikmalaya ini menghadapi banyak tantangan zaman dan lambat laun ketenarannya tergerus. Setelah era 1960-an, di Indonesia mulai banyak beredar payung-payung impor yang punya kualitas tinggi dan yang paling krusial adalah mereka jauh lebih fungsional, sebagai pelindung di saat hujan.

Pada awalnya, para pengrajin payung Tasikmalaya tinggal diam. Mereka mencoba beradaptasi dengan kebutuhan konsumen. Salah satu upayanya adalah beralih menggunakan bahan kain atau kanvas sebagai tudung payung yang mampu menahan air saat hujan, sehingga nilai fungsional baik.

Namun persoalannya tidak berhenti di situ, karena sebagai industri kreatif rumahan jumlah produksi mereka tentu tidak sebanding dengan payung buatan pabrik. Terlebih karena proses pembuatan payung tradisional ini  biasanya memakan waktu cukup lama, utamanya proses menggambar motif payung-payung tersebut.

Pada akhirnya payung geulis menjadi produk niche yang hanya tersedia berdasarkan pesanan. Para pengrajin memang tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar dan waktu yang singkat pula.

Pada 1980-an sempat ada insentif untuk menjadikan payung geulis sebagai souvenir dan hiasan kerajinan khas Tasikmalaya, agar industrinya dapat bergerak kembali. Meski mulai terlihat mendapatkan ‘peran’ baru dalam tatanan sosial warga Tasikmalaya, tetapi memang sebagai industri kreatif rumahan jumlah produksinya pun tetap terbatas.

Akibatnya, pengrajinnya kebanyakan hanya mengandalkan pemasukan dari para pelancong yang mencari souvenir atau oleh-oleh. Alasan lainnya, payung khas Tasikmalaya itu kemudian lebih banyak digunakan dalam kegiatan atau upacara adat.

Tantangan terbesar bagi payung Tasikmalaya adalah fakta bahwa kebanyakan pengrajinnya sudah lanjut usia dan generasi penerusnya terbilang minim. Rendahnya minat meneruskan budaya kerajinan ini dikarenakan pemasukan yang tidak seberapa dibandingkan dengan proses produksi yang membutuhkan waktu lama serta jumlah produksi yang minim.

Di sisi lain, pengrajin payung geulis yang masih eksis pun saat ini agaknya terlalu ‘nyaman’ dengan kondisi sekarang. Belum tergerak untuk kembali berinovasi atau membuat variasi-variasi baru untuk menarik minat konsumen, misalnya model-model corak yang baru.

Pemerintah daerah sesungguhnya terus berupaya menyelamatkan industri kerajinan payung ini. Salah satunya dengan mewajibkan penggunaannya sebagai hiasan di hotel, restoran dan gedung perkantoran di wilayah Tasikmalaya.

Mereka juga mulai menggalakkan pembinaan berupa pelatihan dan bantuan peralatan bagi para pengrajin lama dan baru agar dapat terus berkreasi, berinovasi, meningkatkan kualitas produksi dan pada akhirnya turut melestarikan penggalan budaya Tasikmalaya ini.

Saat ini, pusat kerajinan payung geulis berada di desa Panyingkiran, Tasikmalaya. Produk yang biasanya tersedia terdiri dari ukuran kecil dengan diameter 40 sentimeter, ukuran sedang berdiameter 1 meter dan ukuran besar berdiameter dua meter.

Yang berukuran kecil biasanya digunakan untuk hiasan dan dekorasi, sedangkan yang ukuran besar lebih umum dipakai dalam upacara adat atau pernikahan. Soal harga, payung berukuran kecil dibandrol sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Payung ukuran sedang dihargai Rp 50 hingga Rp 70 ribu, dan payung ukuran besar berkisar dari Rp 90 hingga Rp 300 ribu.

Di desa Panyingkiran tersebut terdapat beberapa toko pengrajin payung Geulis, seperti Mandiri, Naila dan Karya Utama yang bisa untuk Anda sambangi dan memesan produknya. So, Anda tertarik membeli dan ikut melestarikan ikon budaya Tasikmalaya ini?

Pengrajin Payung Geulis

Mandiri; Jl. Panyingkiran No. 1, Tasikmalaya, Instagram: @payunggeulis_mandiri

Karya Utama; Jl. Panyingkiran No. 47, Tasikmalaya

Naila; Jl. Panyingkiran No. 17, Tasikmalaya

agendaIndonesia

*****

Ayam Goreng Mbah Karto, Lezat Sejak 1960

Ayam Goreng Mbah Karto menjadi salah satu kuliner andalan kota SOlo.

Ayam Goreng Mbah Karto di Solo atau mungkin aslinya yang di Sukoharjo, Jawa Tengah, mungkin belum setenar ayam goreng Suharti atau Mbok Berek di Yogyakarta. Namun buat pecinta kuliner, khususnya ayam goreng, nama Mbah Karto adalah jaminan mutu ayam goreng yang enak.

Ayam Goreng Mbah Karto

Perjalanan rumah makan ini pun tidak pendek. Ia telah eksis bahkan sejak tahun 1960-an. Ayam goreng Mbah Karto menjadi favorit banyak kalangan, bahkan Presiden Joko Widodo dan keluarga pun menggemarinya.

Ayam Goreng Mbah Karto, kadang dikenal juga dengan sebutan Ayam Kampung Goreng Mbah Karto Tembel, memulai perjalanannya dari Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Rumah makan pertamanya berlokasi di Jalan Jaksa Agung Raya Suprapto Nomor 8, Gabusan, Jombor, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo.

Ayam Goreng Mbah Karto Tembel hanya berjualan ayam kampung goreng sejak dahulu.
Warung Ayam Goreng Mbah Karto. Foto” Milik Tribun Solo

Untuk yang kurang paham posisi geografis, warung pertamanya ini kadang disebut juga sebagai berada di kota Solo. Karena sesungguhnya tempat tersebut memang berimpitan dengan kota batik tersebut.

Rumah makan pertama tersebut boleh dikata sangat sederhana bernuansa Jawa. Mirip dengan rumah pinggiran Solo. Ini terlihat dari ruang makan utama yang berupa pendopo kayu. Seperti pada warung pada umumnya, meja dan kursi kayu disediakan supaya pelanggan lebih nyaman saat makan.

Walaupun sederhana, tetapi Ayam Goreng Mbah Karto berhasil bertahan melampui zaman dan masih ramai dikunjungi penggemar ayam goreng sampai sekarang. Tempat makan legendaris ini sekarang dikelola oleh generasi ke dua keluarga Mbah Karto.

Walaupun sudah dikelola oleh generasi ke duanya, menurut pecintanya, menu dan racikan Ayam Goreng Mbah Karto tetap sama dengan generasi pertama. Menu andalan mereka tetap ayam goreng kampung.

Sri Sukarni, pemilik dan pengelola rumah makan tersebut saat ini mengatakan sejak dahulu tempatnya memang hanya menyediakan satu varian menu. “Di sini cuma ada ayam goreng saja sama sambalnya,” kata Sri sambil menjelaskan itu sesuai ketika masih dikelola orang tuanya.
Dengan logat bicara Jawa, Sri menjelaskan bahwa mungkin senang dengan masakan warungnya karena beberapa keunggulan ayam goreng racikannya. Gurih legit daging ayam kampung ini karena diolah dari ayam segar.


“Kami pakainya hanya ayam kampung segar, jadi setekah disembelih langsung diolah, digoreng,” jelas Sri seraya menyebut pihaknya tidak pernah menyimpan ayam ke dalam lemari pendingin. Semua ayam yang dipotong hari itu harus habis hari itu juga.

Ia lantas menceritakan rahasia kelezatan ayam goreng Mbah Karto. Menurutnya itu karena pemilihan ayamnya sampai bumbunya. Ayam yang dipakai adalah ayam kampung muda, lebih kurang berusia tiga bulan.


Setelah dipotong, ayam kampung diberi bumbu bacem, bawang putih, dan rempah lainnya. Ayam lalu diungkep dalam wadah di atas kompor kayu bakar. Setelah diungkep, barulah digoreng.

Untuk membuat daging ayam kampung empuk dan lezat, Sri menjelaskan, proses memasaknya ayam direbus dengan bumbu dan santan kelapa. “Proses ini memakan waktu hingga 1,5 jam,” katanya.


Setelah ayam empuk dan bumbu meresap, kemudian ayam diangkat dan digoreng hingga matang. Sementara bumbu santannya tetap dimasak hingga mengental dan menjadi hitam gelap. Sari dari santan inilah yang kemudian dijadikan sambal blondho.


Blondho inilah kunci lain kelezatan ayam goreng Mbah Karto. Sambal blondho terbuat dari ampas minyak endapan santan kental atau areh matang. Untuk penyajiannya, blondho yang berwarna hitam gelap ini bisa ditampilkan sendiri, namun bisa juga dicampur dengan sambal bawang.

Ayam Goreng Mbah Karto
Banyak yang ingin membawa pulang.

Hal lain yang istimewa dari rumah makan ayam goreng Mbah Karto adalah pengunjung tak harus membeli satu ekor ayam utuh. Mereka bisa memilih ayam 1/4 ekor atau bagian kepala, hati, dan ampela. Untuk dapat menikmati satu porsi Ayam Goreng Mbah Karto potongan siapkan budget lebih kurang Rp 24 ribu.

Sedangkan jika ingin membeli utuh siapkan uang Rp 107 ribu. Itu sudah termasuk kepala dan cekernya.

Selain sambal blondho dan sambal bawang, pengunjung juga bisa menikmati lalapan, sayur urap, dan tentunya nasi putih. Sebagai pedamping makan, pengujung juga bisa memesan minuman jamu khas Ayam Goreng Mbah Karto seperti es beras kencur, es kunyit asam, dan lainnya.

Untuk yang ingin mencoba mengagendakan menyantap ayam goreng Mbah Karto, bisa langsung menuju rumah makan pertamanya berada di Jalan Jaksa Agung Raya Suprapto No. 8, Gabusan, Jombor, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo. Mereka buka mulai pukul 7 dan tutup pada jam 8 malam. Warung Ayam Goreng Mbah Karto ini berada di Sukoharjo berjarak lebih kurang 12 kilometer dari pusat Kota Solo

Buat yang ingin tak terlalu jauh untuk menikmatinya, bisa mampir ke gerai Ayam Kampung Goreng Mbah Karto di Jalan Kepatihan No. 7, Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Solo. Bukanya mulai pukul 8 pagi dan tutup jam 7 malam.

agendaIndonesia/audha alief P.

*****




8 Suguhan Laut Sulawesi di Jakarta

Makan bareng saat diet perlu memberhatikan tiga hal ini. Foto: Fran TL

8 suguhan laut Sulawesi bisa dinikmati di Jakarta. Semua bahan utama didatangkan dari Celebes atau Sulawesi. Dan kerinduan menikmati kuliner khas Sulawesi pun terobati.

8 Suguhan Laut Sulawesi

Segelas jus dari sirop markisa mendarat di meja kayu. Warnanya jingga cerah, serona layung yang melungsur di balik bangunan-bangunan jangkung di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Bila diaduk, di bagian atasnya mengapung buih-buih putih alami, membentuk gradasi warna yang cukup membuat mata kepincut. “Sirop ini asli Makassar dan dibuat secara manual, dari buah asli, bukan sari,” tutur salah seorang pramusaji Restoran Sulawesi, memecah konsentrasi.

Di Sulawesi@Mega Kuningan, rumah makan premium yang baru buka pada Juni 2016—hasil ekspansi dari Restoran Sulawesi—hampir semua bahan utama yang mereka olah didatangkan langsung dari pulau berjuluk Celebes. Pemiliknya, Darmawan Halim dan keluarga, ingin membumikan kenikmatan penganan khas Sulawesi, khususnya Makassar, di kota-kota urban, layaknya Jakarta.

Tak heran kalau sirop markisa, yang sejatinya bisa ditemukan di mana pun, harus didatangkan langsung dari daerah asalnya. “Karena rasanya pasti berbeda. Yang dibeli langsung di Makassar punya cita rasa lebih segar dan orisinal,” ujar Diah, karyawan di resto ini. Memang lidah tak bisa menepis. Rasa markisa yang meluncur ke dalam mulut punya karakter kuat. Manisnya alami dan tak bikin tenggorokan sakit.

Segelas minuman autentik ini baru jadi pembuka untuk rentetan menu khas Sulawesi yang bakal dipesan selanjutnya. Pelayan yang ramah merekomendasikan beberapa kudapan andalan, yang juga umum digemari pengunjung. “Biasanya, tamu memilih seafood,” kata salah satu pramusaji.

Memang jagoan piring di sini adalah para penghuni laut. Ada beragam jenis ikan yang disajikan, seperti sukang, kaneke, baronang, katamba, kudu-kudu, papakulu, gelama, sunu, dan leccukan. Kedengarannya asing karena jenis itu umumnya hanya ditemukan di perairan timur Indonesia.

Sebagai awalan, keneke bakar tradisional menjadi pilihan. Ikan yang disajikan kala itu berukuran lebih-kurang 1,3 kilogram. Cukup disantap ramai-ramai sekitar lima orang. Cara pembakaran yang menggunakan arang batok membikin aroma ikan makin mencagun, menggelitik nafsu untuk segera melibasnya. Tekstur dagingnya tak rusak karena waktu pembakarannya pas.

Ikan ini nikmat disantap dengan tiga sambal khas yang ditata di sebelahnya, yaitu dabu-dabu, mangga camangi, dan petis. Meski judulnya sambal, rasa pedasnya tak terlalu mencuat dan tidak merusak rasa asli ikan.

Menu selanjutnya sukang rica. Ikan itu cukup berdaging dan tak banyak duri. “Memang makan di sini tak perlu ripuh memilah daging dengan duri,” ucap pramusaji tadi lagi. Selain gampang menyantapnya, bumbu khas yang disiram di atas ikan membikin lidah tak berhenti bergoyang. Ada dua bumbu yang bisa dipilih, yakni rica (pedas) dan parepe (manis).

Bumbu manis dibikin dari bawang putih, gula aren, dan bumbu rahasia lain. Meski bawang terlihat mendominasi, aromanya tak mencolok dan tidak membuat mulut bau. Selain berfungsi sebagai penyelaras, keberadaannya berjasa memperkaya tekstur dengan serat yang ditimbulkan dari tumbukan kasar. Sedangkan bumbu pedas dikhususkan bagi pecinta sambal. Cabai yang digunakan berjenis rawit. Aroma dan warnanya segar serta menggugah selera makan.

Bila sukang dan keneke cocok diolah dengan bumbu khas Makassar, kudu-kudu tak demikian. Ikan jenis ini lebih nikmat dimakan dengan ramuan populer, layaknya goreng asam manis. Sebab, ketika sedang menyantapnya, bukan bumbu yang dinikmati, tapi teksturnya yang unik. Dagingnya kenyal dan lentur. Cara membunuhnya juga harus dengan teknik tertentu supaya tidak muncul aroma anyir. Misalnya, menusuk ujung kepala ikan dengan besi khusus hingga terkena bagian sarafnya.

Waktu menyantap jenis ikan-ikanan pun selesai. Selanjutnya, sebagai teman menikmati langit meredup, menyaksikan lampu Ibu Kota yang mulai berpendar, dan mengintip para raja jalanan menyemut di sepanjang jalur Prof Dr Satrio, yang tampak dari jendela restoran yang bertengger di lantai dua Menara BTPN Mega Kuningan, kepiting woku lantas menjadi pilihan.

Woku merupakan bumbu khas Manado. Rasa dan aromanya cukup tebal karena dipadukan dengan rempah-rempah beraneka ragam. Untuk yang tak biasa, mereka bakal merasa enek setelah menyantapnya. Namun yang disajikan di sini lain dari biasanya. Ahli masak mengontrol jumlah rempah-rempah sehingga tak ada yang berlebihan dan tidak terasa ada salah satu bahan yang mendominasi.

Meski perut sudah penuh, keinginan mengeksplorasi menu masih menjadi-jadi. Udang bakar bumbu tradisional dan menu-menu berkuah pun dipilih. Di antaranya udang sitto xl tradisional, sop pallu basa (yang serasi dinikmati bareng buras), dan mi titi. Ditambah lagi dengan nasi goreng merah seafood dengan cita rasa istimewa.

Yang spesial dari sup pallu basa adalah kuahnya yang berpadu dengan kelapa parut ditambah pala, rempah-rempah, dan bumbu istimewa sehingga memunculkan wewangian khas yang selalu dijumpai pada masakan Nusantara. Sedangkan sunu kuah asam menjadi favorit lantaran ikan yang digunakan masih segar. Irisan tomat dan cabai menguatkan aroma kaldu, apalagi ketika kuah masih mengepul.

Keenakan mengecap satu per satu para penghuni laut yang sudah tak berdaya di piring bidang, larut ternyata makin luruh. Alunan jazz Ain’t No Sunshine versi saksofon lantas membikin mata sedikit-sedikit mulai mengatup. Saat seperti ini lebih asyik dimanfaatkan untuk menikmati suasana malam Jakarta yang bisa diintip jelas dari dalam restoran. Di sisi lain, para tamu lain masih sibuk memburu kenikmatan. Bangku-bangku berkapasitas 150 orang malam itu tampak penuh. Sehari-harinya pun begitu.

F. Rosana/Frann/Dok TL

*****

Tana Toraja dan Keajaiban 400 Tahun Ke’te kesu

Tana Toraja

Tana Toraja di Sulawesi Selatan adalah daerah dengan kekayaan adat budaya yang luar biasa. Ia adalah salah satu keajaiban yang dimiliki Indonesia dari rangkaian Sabang sampai Merauke. Toraja adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi di negeri ini.

Tana Toraja dan Keajaibannya

Dari Makassar, jika tak membawa kendaraan sendiri, ada bus-bus antarkota yang berangkat hampir sepanjang hari. Sejak pukul 9 pagi, hingga jam 9 malam. Waktu tempuh untuk jarak sekitar 320-an kilometer dibutuhkan sekitar 8 jaman. Harga tiket bus yang berangkat pagi biasanya lebih murah jika dibandingkan yang berangkat malam. Masing-masing dengan kelebihannya.

Untuk menuju Tana Toraja bagi tentu saja kita harus menuju Makassar terlebih dahulu. Tentu, bagi mereka yang tinggal di Palu, Sulawesi Tengah, ada jalur darat yang tak perlu harus ke ibukota Sulawesi Selatan itu dulu. 

Jika memilih berangkat pagi, wisatawan bisa menikmati keindahan kota-kota yang dilintasi. Juga pemandangan alam yang mempesona. Biasanya sampai di Toraja wisatawan akan langsung tidur terlebih dahulu sebelum keesokannya menikmati ragam budaya tempat itu. Sementara itu, jika memilih perjalanan malam hari, praktis sepanjang perjalanan akan dipakai untuk tidur.

Sesungguhnya ada penerbangan dari Makassar menuju Tana Toraja. Dari Bandara Hasanuddin mendarat di Bandara Pongtiku yang terletak di Rantepao, sekitar 10 kilometer dari kota Makale. Hanya saja, hingga saat ini, jadwal penerbangannya belum setiap hari. Umumnya Selasa dan Jumat. Itu pun hanya satu penerbangan per hari.

Tana Toraja lazimnya ramai dikunjungi wisatawan antara Juni-Desember. Pada masa itu ada ritual Rambu Solo’, yakni ritual penghormatan bagi mereka yang sudah meninggal diselenggarakan di Desa Ke’te Kesu. Ini merupakan desa tradisional kuno unik yang tersembunyi di wilayah pegunungan TanaToraja, Sulawesi Selatan. Ia terletak di tengah hamparan sawah luas dan merupakan desa tertua di Kecamatan Sanggalangi.

Usia Desa Ke’te kesu diperkirakan sudah mencapai 400 tahun. Uniknya, ia tidak pernah mengalami perubahan sejak pertama kali berdiri. Jika melihat keadaannya saat ini, bisa dibilang desa ini menjadi semacam museum hidup. Orang yang mengunjunginya dapat secara langsung melihat budaya dan tradisi unik dari masyarakat Toraja.

AgendaIndonesia beruntung pernah berkunjung ke TanaToraja. Desa Ke’te Kesu biasanya menerima penghunjung mulai pukul 8 pagi. Ada retribusi masuk yang dikenakan bagi wisatawan lokal sebesar Rp 10 ribu dan dua kali lipat untuk turis asing. Bagi peminat arsitektur permukiman tradisional Indonesia, Ke’te Kesu akan membuat betah. Detail-detail rumah adat Toraja, yang biasa disebut tongkonan, yang berusia ratusan tahun dapat dinikmati detail dan filosofinya, seraya berbincang dengan masyarakat setempat.

Selain tongkonan, di Ke’te Kesu pengunjung dapat melihat beberapa makam adat meski tidak semuanya. Beberapa peti mati tua berbahan kayu atau disebut erong dengan berbagai bentuk segera menyita perhatian di sisi kanan tangga naik.

Selain mengunjungi Ke’te Kesu, masih terkait dengan ritual penghormatan kepada arwah, kita juga bisa mengunjungi Desa Bori, Kecamatan Sesean. Di sini terdapat Rante, yakni lapangan tempat upacara pemakaman untuk kaum bangsawan tertua di Tana Toraja. Lokasinya berjarak sekitar lima kilometer arah utara Rantepao. Mata dipuaskan dengan hamparan batuan menhir tegak yang disusun dan dibentuk sedemikian rupa setiap kali ada jenasah dimakamkan. 

Di Bori Kalimbuang, wisatawan bisa melihat 102 menhir yang berasal dari era megalitikum. Batu menhir ini dipasang berdiri tegak sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang. Sebanyak 54 menhir kecil, 24 berukuran sedang, dan 24 lain berukuran lebih tinggi daripada manusia tersebar di Bori Kalimbuang. Tempat ini diperkirakan telah ada sejak 1718, di mana menhir pertama didirikan pada 1657.

Perjalanan ke TanaToraja yang tak kalah penting adalah Lo’ko’ Mata di lereng Gunung Sesean, di ketinggian 1.400 mdpl, di sisian perlintasan Lembang Tonga Riu, berjarak sekitar 30 kilometer dari Rantepao. Bentuknya yang bundar mirip kepala manusia yang menyebabkan dinamai Lo’ko’ Mata. Batu kubur alam berdiameter sekitar 20 meter yang digunakan sebagai makam tersebut lebih dikenal sebagai Dassi Dewata atau Burung Dewa. Sebab, liang-liang yang ada di sana sering ditempati berbagai jenis burung dengan bulu warna-warni dan suara khas. Hingga saat ini, di area seluas kurang-lebih satu hektare itu sudah ada sekitar 60 liang.

Di Lo’ko’ Mata kita bisa memutari sudut-sudut seutuhan batu dan memperhatikan beberapa tau-tau, yakni patung kayu yang mewakili orang yang dimakamkan, serta ornamen-ornamen pada pintu liang dan tongkonan-tongkonan mini yang menarik perhatian.

Kunjungan selanjutnya adalah Londa. Berbeda ketika ke Ke’te Kesu, Londa seperti lemari arsip kisah  Toraja yang lain lagi. Ada dua gua di sini. Di gua pertama sebaran erong serta serakan tulang dan tengkorak berpadu dengan kegelapan. Gua kedua lebih dalam, sekitar 1,5 kilometer, di mana di pintu masuknya dihiasi satu erong berhiaskan pa’ barre allo (ukiran matahari bulat utuh) di kanan-kiri. Balkonnya ramai dengan tau-tau pelbagai usia.

tana Toraja dengan Patung Yesusnya

Setelah kunjungan ke tempat-tempat perziarahan kuno, sejak 2015 TanaToraja juga memiliki tempat perziarahan baru yang gigantik. Ini khususnya bagi umat kristiani. Di sana juga ada patung Yesus Buntu Burake yang konon disebut tertinggi di dunia.

Patung Yesus Memberkati ini berada di atas puncak bukit Buntu Burake yang berketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut. Tinggi badannya diperkirakan sekitar 45 meter dan dibuat dari perunggu. Patung ini yang dibangun pada Mei 2015 dan memakan biaya sekitar Rp 22 miliar.

Jadi, pernah mengunjungi TanaToraja? Ayo agendakan Indonesia-mu.

*****

Bolu Meranti Medan, Oleh-Oleh Sejak 2000

Bolu Meranti Medan mengubah diri dari bekal sekolah menjadi oleh-oleh khas Medan,

Bolu Meranti Medan sudah menjadi salah satu pilihan utama buah tangan jika berkunjung ke ibukota Sumatera Utara. Ia menjadi alternatif oleh-oleh, selain bika Ambon, duren kupas atau pancake durian Medan, atau kopi Sidikalang.

Bolu Meranti Medan

Makanan ini termasuk yang meroket selama 20-an tahun terakhir sebagai buah tangan. Bisa jadi penganan ini yang menginspirasi munculnya roti atau cake artis yang sempat menjadi trend 3-4 tahun lalu. Bedanya, jika trend cake artis memadam, Bolu Meranti justru terus tumbuh.

Lucunya bolu Meranti pada awalnya justru tidak pernah dimaksudkan menjadi makanan oleh-oleh. Ai Ling, founder sekaligus produsen bolu ini, hanyalah seorang ibu rumah tangga yang gemar memasak dan berkreasi di dapur. Awalnya kegemarannya membuat kue dan roti juga hanya untuk bekal sekolah anak-anaknya.

Tak disangka, dari kegemarannya tersebut ia menemukan resep bolu gulung yang begitu digemari keluarganya, bahkan kemudian tetangganya juga senang. Mereka kemudian kerap memesan bolu gulung buatannya.

Bolu Meranti Medan kini memiliki 3 gerai di Medan.
Karyawan Bolu Meranti di gerai mereka. Foto: Dok. Bolu Meranti

Melihat hal tersebut, pada awal 2000-an ia akhirnya tergugah untuk mencoba menjajakan bolu gulungnya tersebut. Pertama ia menitipkan di salah satu saudaranya yang punya usaha di Jalan Meranti, Medan. Dari sinilah kelak kemudian lahir nama bolu gulung Meranti.

Mungkin memang karena produknya enak dan pas di lidah banyak orang, tak butuh waktu lama, pembeli pun semakin banyak berdatangan. Bolu Meranti mulai popular, awalnya di kalangan konsumen lokal di Medan. Belakangan ada yang membawanya keluar kota dan membuat nama bolu ini kian popular.

Permintaan yang semakin meningkat drastis dan antrian di toko Jalan Meranti kerap membludak, membuat Ai Ling memutuskan membuka gerai baru di Jalan Kruing pada 2005. Toko inilah yang akhirnya kini menjadi gerai pusat sekaligus pusat produksi.

Sebuah bisnis yang awalnya hanya industri rumah tangga lambat laun berkembang semakin besar. Mereka melayani bukan saja konsumen lokal, tetapi juga luar kota bahkan di luar negari. Hingga kini, bisnis terus dikelola Ai Ling bersama empat anaknya yang ikut membantu mengurusi manajemen produksi, keuangan dan penjualan bolu Meranti.

Selain gerai pusat di Jalan Kruing, terdapat dua cabang lainnya dan produk juga didistribusikan ke kios oleh-oleh di bandara Kuala Namu. Ini untuk menjangkau wisatawan lebih mudah.

Kalau sekarang pengunjung Medan ditanya apa oleh-oleh khas kota ini? Mungkin sebagian besar akan menjawab bolu gulung Meranti. Boleh dibilang, bolu ini sekarang sudah menjadi ikon tersendiri dalam khasanah kuliner dan oleh-oleh khas Medan. Ia ibarat bakpia jika di Yogya.

Bolu Meranti sendiri sebenarnya merupakan bolu gulung dengan berbagai pilihan rasa seperti blueberry, strawberry, coklat, keju, mocca, nanas, cappuccino hingga abon. Terkadang, bolu juga bisa ditambahkan topping seperti keju, meses atau kacang.

Terlepas dari berbagai pilihan rasa dan topping tersebut, satu karakteristik yang membuat bolu Meranti spesial adalah kue bolunya yang tebal dan bertekstur lembut dan creamy. Cita rasa butter berkualitas tingginya terasa dominan. Ciri khas inilah yang membuatnya menjadi penganan primadona Medan dan diburu banyak orang, bahkan hingga ke manca negara, seperti Singapura, Malaysia, Jepang dan Tiongkok.

Secara umum, harga bolu Meranti Medan berkisar antara Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu, tergantung dari pilihan rasanya. Bila ingin ditambah dengan topping, harganya menjadi Rp 90 ribu  hingga Rp 105 ribu.

Bolu Meranti Medan semakin berkembang dan memiliki aneka pilihan makanan yang bisa menjadi oleh-oleh Medan.
Bolu Meranti dengan empat pilihan rasa dalam satu tempat. Foto: Dok. Bolu Meranti

Tersedia juga paket 3 atau 4 bolu gulung yang dijual di kisaran harga Rp 95 ribu hingga Rp 115 ribu. Memang harganya tergolong premium, tetapi harus diakui sebanding dengan kualitas kue bolunya yang menggunakan bahan-bahan baku berkualitas tinggi.

Sebagai catatan, bolu ini disebut mampu tahan hingga tiga hari di luar lemari pendingin, selebihnya perlu dimasukkan ke kulkas agar lebih awet. Setelah diletakkan dalam kulkas pun, bolu juga diklaim masih akan tetap lembut dan tak mengeras.

Kini gerai-gerai Bolu Meranti Medan tidak hanya menjajakan bolu gulung saja, mereka juga mulai menjajakan beberapa produk penganan khas Medan lain seperti Bika Ambon, Pancake Durian hingga beragam jenis kue lapis, seperti lapis legit hingga lapis keju.

Bolu Meranti semakin menancapkan diri sebagai one stop shopping bagi wisatawan yang mencari oleh-oleh. Ini pun sejalan dengan visi mereka yang menginginkan setiap pelancong yang pulang dari Medan membawa kardus oleh-oleh dengan gambar dari slogan mereka “Jangan Tinggalkan Medan Tanpa Membawa Bolu Meranti”.

Semua gerai mereka buka setiap hari, dengan gerai utama Jalan Kruing buka dari jam 07.00, sementara dua gerai lainnya buka dari jam 10.00. Sementara semua gerai tutup pukul 20.00.

Bolu Meranti;

Gerai Pusat: Jl. Kruing Simpang Razak no. 7C, Medan

Cabang Sisimangaraja: Jl. Sisimangaraja no. 19B, Medan

Cabang Ringroad: Jl. Ringroad no. 16, Komplek OCBC, Medan

agendaIndonesia/audha Alief P

*****