Kampung Wae Rebo Dihuni Generasi ke 18

Kampung Wae Rebo di Manggarai Nusa Tenggara Timur merupakan kampung adat yang masih mempertahankan adat istiadatnya.

Kampung Wae Rebo di Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur terus menjadi tujuan eksotik untuk dikunjungi wisatawan. Ia masih merupakan kampung adat dengan segala tata kramanya yang luhur.

Kampung Wae Rebo


Dari balik bukit adalah sebuah kampung dengan tujuh rumah kerucut, sebuah kampung kecil yang dikelilingi lembah hijau itu. Dari ke tujuh rumah yang ada, biasanya yang disinggahi adalah niang gendang maro. Ini salah satu rumah adat utama dari tujuh niang, sebutan untuk rumah adat berbentuk kerucut, yang digunakan khusus untuk menjamu tamu dari luar.

Bangunan setinggi 14 meter itu lebih tinggi daripada enam rumah lain dan diyakini sebagai tempat leluhur pertama yang datang dari Minangkabau. Bila ada pengunjung atau ada tamu dari luar kampung Wae Rebo, akan diadakan wae lu’u—upacara untuk untuk memohon izin kepada para leluhur karena menerima tamu dari luar.

Kampung Wae Rebu merupakan kampung adat yang kini dihuni oleh generasi ke 18 dan sudah berdisi selama 100 tahun lebih.
Niang gendang maro merupakan rumah terbesar dari ke tujuh rumah yang ada di kampung Wae Rebo. Foto: ash hayes-unsplash

Di ujung atap Niang Gendang Maro ditancapkan ngando, yang disimbolkan kepala kerbau—hewan yang dianggap terbesar. Penanda tersebut sekaligus merupakan pengesahan rumah adat dan kekuatan budaya rumah tersebut.

Enam niang lain adalah niang gena mandok, niang gena jekong, niang gena ndorom, niang gendang maro, niang gena pirong, dan niang gena jintam. Jumlah rumah adat tak boleh lebih dari tujuh. Setiap rumah dihuni 6-8 keluarga. Jika anggota keluarga bertambah dan dirasa perlu membangun rumah baru, maka rumah baru itu harus dibangun di luar kampung adat.

Bentuk rumah di kampung adat itu sangat khas. Pada bagian bawah atau ruangan dalam berbentuk bulat dan bagian atas mengerucut. Atap yang digunakan berasal dari daun lontar, mirip rumah adat honai di Papua. Keseluruhan dindingnya ditutup ijuk. Bahan bangunan mbaru niang terbuat dari kayu worok dan bambu serta dibangun tanpa paku. Tali rotan digunakan untuk mengikat konstruksi bangunan.

Bagian dalam rumah adat yang berbentuk bulat mengandung filosofi kesatuan pola hidup manusia yang mengisyaratkan kehidupan yang bulat, tidak diwarnai konflik, tetapi ketulusan, kebulatan hati, dan keadilan. Itu sebabnya, musyawarah di rumah adat mengambil posisi duduk melingkar.

Di bagian tengah, ada tiang utama yang disebut bongkok. Wujudnya dua batang kayu yang disambung. Inilah papa ngando dan ngando, yakni simbol perkawinan lelaki dan perempuan.

Rumah adat juga ditopang sembilan tiang utama. Ini menggambarkan kehidupan dari janin menjadi bayi selama sembilan bulan dalam rahim. Ada pula molang di bagian belakang rumah, yang terbagi dalam tiga bagian, yakni dapur, ruang aktivitas keluarga, dan bilik tidur keluarga.

Menurut kisah adat kampung tersebut, saat bayi lahir ia akan didekatkan ke periuk di dapur. Sebab nyala api di sana dapat menghangatkan tubuh bayi.

Kampung Wae Rebo terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Penduduk setempat meyakini bahwa kampung mereka dijaga oleh tujuh kekuatan alam.

Nenek moyang mereka disebut maro, yang diyakini berasal dari Minangkabau. Dari riwayat sejarah turun-temurun, sebelum menetap di kampung ini, leluhur mereka berpindah-pindah. Perpindahan itu antara lain di Wriloka, ujung barat Pulau Flores, kemudian ke Pa’ang, lalu bergeser ke daerah pegunungan Todo, lantas ke Popo.

Ada peristiwa yang menyebabkan warga Wae Rebo tidak berani menyakiti, apalagi memakan daging musang. Masyarakat menyebutnya kula.

Bagi masyarakat setempat, daging musang pantang (ireng) dimakan karena dianggap berjasa menyelamatkan moyang Wae Rebo. Konon ada suami-istri. Sang istri hamil tua, tapi tak kunjung melahirkan juga. Tujuh hari pun lewat dari waktunya, lalu diputuskan membelah perut sang ibu agar bayi selamat.

Bayi laki-laki itu selamat, tetapi sang ibu meninggal. Keluarga sang ibu yang berasal dari kampung lain tidak bisa menerima. Mereka kemudian menyerang Kampung Maro. Namun pada tengah malam itu muncul musang di rumah Maro. ”Maro pun berucap: kalau musang membawa berita baik harus tenang. Namun bila musang membawa kabar buruk, diminta mengeluarkan suara. Musang itu pun mengeluarkan suara dan menjadi penunjuk jalan ke tempat yang aman bagi Maro.”

Musang menuntun warga Maro menjauh dari Popo. Di tempat yang tinggi, mereka melihat kampungnya dibumihanguskan. Mereka berpindah-pindah, ke Liho, Ndara, Golo Damu, dan Golo Pandu.

Di Golo Pandu, Maro bermimpi bertemu roh leluhur yang menyebutkan mereka harus menetap di satu tempat dan tidak boleh pindah lagi. Letaknya tidak jauh dari Golo Pandu. Di sana terdapat sungai dan mata air. Itulah Wae Rebo.

Itulah tempat mereka. Dari tempat tersebut tampak kota dengan gemerlap cahaya. Masyarakat setempat meyakini bahwa daerah yang mereka tinggali itu dikelilingi tujuh kekuatan alam yang berperan sebagai penjaga kampung.

Tujuh titik itu adalah di Ponto Nao, Regang, Ulu Wae Rebo, Golo Ponto, Golo Mehe, Hembel, dan Polo. Mereka tidak boleh melupakan ritual adat agar warga tidak terkena bencana. Empo Maro mendirikan kampung Wae Rebo lebih dari 100 tahun lalu, kini yang menghuninya generasi ke-18.

Kearifan penduduk Wae Rebo tecermin lewat cara mereka menjaga alam. Warga percaya bahwa tanah atau hutan memiliki perasaan. Karena itu, ada ritual yang harus dilakukan sebelum bercocok tanam: meminta izin kepada para penunggu lahan. Ritual adat itu antara lain kasawiang, yang biasanya digelar pada Mei, saat perubahan cuaca akibat pergerakan angin dari timur ke barat.

Sebaliknya, saat angin bergerak dari barat ke timur, diadakan ritual adat pada Oktober. Menginjak November, yang merupakan tahun baru adat, ditandai awal musim menanam.  Mereka akan melakukan upacara yang disebut penti.

Kampung Wae Rebo masyarakatnya percaya daerah mereka dikelilingi tujuh kekuatan alam.
Perempuan Wae Rebo sedang menenun kain. Foto: dok. shutterstock

Alam di kampung ini terpelihara dengan baik. Para pengunjung bisa ikut menyelami kedekatan warga dengan alam. Mencermati beberapa warga bekerja di kebun dari pagi, atau yang sibuk memanen kopi dan mengolah kacang. Bisa juga melihat  beberapa perempuan yang menenun songket tradisional.

Masyarakat Wae Rebo percaya neka hemong kuni agu kalo, yang berarti di sini semua berawal dan akan terus berlanjut sebagai tanah tumpah darah warga Wae Rebo. Tak mengherankan, jika pada 2012, UNESCO Asia-Pasifik menobatkan Wae Rebo sebagai konservasi warisan budaya.

agendaIndonesia/TL/Fran

*****

Alat Musik Sasando, 1 Alat Berbagai Dawai

Alat musik sasando berasal dari Pulau Rote Nusa Tenggara Timur.

Alat musik sasando adalah instrumen asli Nusantara. Ia tepatnya adalah alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sasando merupakan alat musik berdawai yang dimainkannya dengan cara dipetik menggunakan jari.
Dari segi bentuk, sasando sudah bisa menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Karena, alat musik petik ini terbuat dari daun lontar yang melengkung, berbentuk setengah lingkaran.

Alat Musik Sasando

Sasando memiliki bentuk yang unik dan berbeda dengan alat musik berdawai lainnya. Pada bagian utama Sasando berbentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu khusus. Bagian bawah dan atas bambu terdapat tempat untuk memasang dan mengatur kencangnya dawai.


Pada bagian tengah bambu biasanya diberi senda atau penyangga, di mana dawai direntangkan. Senda sendiri berfungsi untuk mengatur tangga nada dan menghasilkan nada yang berbeda setiap petikan dawai. Sedangkan wadah berfungsi untuk resonansi yang berupa anyaman daun lontar yang sering disebut haik.


Dari segi suara, resonansi yang dihasilkan daun lontar menghasilkan suara yang khas, dan tidak bisa ditemukan pada alat musik lainnya. Petikan sasando menghasilkan suara yang sangat indah, romantis dan sangat khas. Tak heran kalau keunikan bentuk, bahan, dan melodi dari sasando berhasil menarik perhatian banyak wisatawan yang berkunjung ke NTT.

Bermain Sasando shutterstock
Seorang anak sedang belajar memetik sasando. Foto: dok. shutterstock

Dalam beberapa kesempatan kenegaraan, sasando ikut meramaikan kegiatan. Misalnya pada acara KTT ASEAN di Labuan Bajo. Sebelum gelaran acara tersebut, sasando pun telah mendunia karena pernah tampil dalam salah satu side event G20 di Labuan Bajo 2022 lalu.

Pada acara G20 itu, sasando ditampilkan pada ajang Spouse Program yang dihadiri 19 anggota G20, enam negara undangan, dan sembilan organisasi internasional. Alat musik sasando inipun menjadi cendera mata yang diberikan oleh Ibu Iriana Joko Widodo kepada Ibu Negara Tiongkok, Madam Peng Liyuan.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, popularitas sasando di dunia juga pernah dipresentasikan oleh sosok bernama Djitron Pah. Ia  mengenalkan alat musik sasando ke dunia lewat ajang Asia’s Got Talent pada 2015.

Melalui ajang pencarian bakat tersebut, Djitron Pah berhasil membawa sasando mendunia melalui rangkaian tur ke Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Belanda, Italia, Finlandia, Jerman, hingga Taiwan. Melihat dari berbagai aspek, memang sangatlah layak jika sasando mendunia.

Namun, dari mana sesungguhnya alat musik sasando lahir? Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Sasando bermula dari kisah Sangguana yang terdampar di Pulau Ndana dan jatuh cinta dengan putri Raja. Mengetahui Sangguana jatuh cinta terhadap putrinya, sang raja memberikan syarat kepada Sangguana untuk membuat alat musik yang berbeda dari musik lainnya.

Sangguana pun bermimpi, dalam mimpi tersebut ia memainkan alat musik yang berbentuk indah dan memiliki suara yang merdu. Kemudian ia membuat Sasando dan diberikan kepada sang raja. Sang raja lalu mengizinkan Sangguana, menikahkaan putrinya dengan Sangguana.
Sasando sendiri berasal dari bahasa Rote, yaitu Sasandu yang berarti bergetar atau berbunyi. Sasando sering dimainkan untuk mengiringi nyanyian syair,tarian tradisional dan menghibur keluarga yang berduka.

Orang NTT Memainkan Sasando shutterstock
Pemetik tradisional alat musik sasando. Foto: shutterstock


Jika kita mengulik lebih dalam tentang alat musik sasando khas NTT ini, ternyata ada banyak jenisnya. Setidaknya ada tiga jenis sasando yang populer, yaitu sasando gong, sasando biola, dan sasando elektrik.

Pertama, sasando gong khas Pulau Rote, yang merupakan sasando autentik dengan 12 dawai dari tali senar nilon sehingga ketika dipetik akan menghasilkan suara mengalun, lembut, dan merdu. Alat musik sasando jenis ini kerap dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional masyarakat Rote.

Ke dua, jenis sasando biola. Kabarnya, sasando biola mulai berkembang di Kupang pada akhir abad ke-18. Alat musik petik ini merupakan hasil modifikasi dari Edu Pah, pakar pemain sasando. Bedanya dengan sasando gong, sasando biola bentuknya yang lebih besar dan memiliki 48 buah dawai. 

Karena dimodifikasi agar menyerupai biola, sasando jenis ini bisa menghasilkan suara halus dan merdu seperti biola. Biasanya sasando biola dimainkan untuk mengiringi lagu pada tarian tradisional masyarakat NTT.

Mengikuti perkembangan teknologi, kini ada pula jenis sasando elektrik. Alat musik ini pertama kali diciptakan oleh Arnoldus Edon pada 1960-an. Alasannya karena sasando tradisional hanya bisa didengarkan pada jarak dekat saja, sehingga perangkat elektronik ditambahkan agar suaranya bisa didengar lebih jauh.

Umumnya, sasando elektrik terdiri dari 30 dawai. Badan sasando tetap menggunakan daun lontar untuk mempertahankan bentuk aslinya. Perbedaan sasando elektrik terdapat pada spul atau transduser yang mengubah getaran dawai menjadi energi listrik, yang kemudian masuk ke dalam amplifier untuk menghasilkan suara yang lebih kencang.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Nain dan Siladen, 2 Rahasia Laut Manado

Senja di kota Manado, Sulawesi Utara.

Nain dan Siladen, 2 rahasia Laut Manado betul-betul belum banyak yang tahu. Pulau-pulau di perairan Minahasa Utara yang menawan ini kini menjadi alternatif jika berkunjung ke Manado dan Sulawesi Utara. Terutama jika sudah pernah ke Bunaken.

Nain dan Siladen, Wisata Laut Manado

Dari sebuah gedung gergasi di Jalan Boulevard Kota Manado, yang condong menghadap ke barat daya, tampak perairan Celebes membentang luas tak ada habisnya. Di muka pandangan, garis laut tegas membelah langit dan laut dengan marka imajiner. Disapu kabut tipis bekas gerimis, air di beranda Samudra Pasifik menjadi tampak misterius dan penuh teka-teki. Di tengah laut, semu-semu pulau seluas tak lebih dari 10 kilometer persegi menampakkan diri. Namanya Taman Laut Bunaken, di baliknya terdapat Gunung Manadotua.

Kring. Notifikasi berbunyi. Nama “Daeng” muncul mengirim pesan. “Hari ini cerah. Mudah-mudahan besok juga. Kalau cuaca oke, kita berangkat ke Pulau Nain dan Siladen. Jangan lagi ke Bunaken atau Manadotua kalau mau betul bertualang.” Begitulah pesan Daeng, penduduk suku Bajau, yang bermukim di Manado, mengingatkan pertemuan. Penawaran menarik.

Pagi-pagi sekali, berbekal nasi kuning yang dibeli di rumah makan legendaris bernama Saroja, kaki saya asyik meniti lorong Pelabuhan Calaca. Lokasinya tepat di depan Pasar 45, dekat pusat perdagangan Manado tempo dulu. Sembari celingak-celinguk mencari Daeng, bau ikan cakalang fufu mengalihkan fokus. Gorengan pisang goroho berona kuning keemasan juga turut merayu. Kopi Kotamobagu—perpaduan arabika dan robusta—menyeruak penciuman. Namun langkah tak boleh berbelok. Maklum, jarum jam mengejar.

Jauh di ujung dermaga, pria 30 tahun berkulit legam, berkaus puntung dan bercelana boxer, melambaikan tangan. “Yang ini jo kapalnya,” kata dia sembari menunjuk speed boat putih-ungu.

Tak lama kemudian, kapal kami melaju cepat melewati Jembatan Soekarno yang menjadi ikon baru kota multikultural ini. Pemandangan di samping berupa daratan Manado yang didominasi kontur berbukit, sementara lanskap di hadapan adalah laut lepas dan mercusuar kecil, yang menimbulkan efek dramatis.

“Kita mau ke Pulau Nain (Naen), pulau tempat saya lahir,” tutur Daeng memecah lamunan. Ini adalah pulau terjauh dalam kawasan Taman Nasional Bunaken. Bahkan lebih jauh daripada Mantehage, yang bisa dijangkau dengan waktu tempuh 1,5 jam dari daratan. Secara administratif, Nain termasuk bagian dari Kecamatan Wori, Minahasa.

Pulau tersebut terbagi atas dua wilayah, yaitu Nain Besar dan Nain Kecil. Nain Besar berpenduduk padat. Mayoritas merupakan suku Bajo atau Bajau. Suku ini berasal dari Kepulauan Sulu, Filipina Selatan. Umumnya mereka hidup di atas laut. Sering disebut gipsi laut. Sedangkan Nain Kecil merupakan pulau tak bertuan. Misterius, tapi menawan.

Bunyi mesin kapal mendadak mati. “Baling-baling tersangkut plastik,” kata Daeng. Kapal bergoyang, melanting ke kanan dan kiri. Untungnya gelombang belum besar. Padahal di daerah laut dalam itu, kalau cuaca buruk, ombak bisa menggulung hingga 5 meter. Lewat dua jam, kapal melaju memecah samudra. Lamat-lamat pulau di ujung Minahasa Utara itu mulai tampak. Nain Besar dan Nain Kecil dari kejauhan berhadapan. “Kita akan bersandar di sana, Nain Kecil,” ujar Daeng.

Air laut biru tua berubah tosca. Perairan dangkal mengucapkan selamat datang dan ragam karang pun tampak. Aduhai, pulau itu seperti tempat yang menyimpan banyak misteri. Dingin, tapi cantik. Di pinggirnya terdapat bebatuan layaknya pantai-pantai di Belitung. Pasirnya putih dan halus.

Tumbuhan bakau leluasa hidup mempercantik serambi samping. Di muka pulau, Nain Besar berdiri gagah. Lekuk-lekuk bentang alamnya nyata terlihat. Konturnya seperti membentuk bukit-bukit kecil. Rumah-rumah warga tersaru pepohonan subur. Di Nain Kecil, ada banyak rumah panggung, tapi tak berpenghuni. Pulau ini hanya menjadi persinggahan petani rumput laut. Tak heran, keramba bertebaran sepanjang perjalanan menuju pulau itu.

Masih jarang pelancong datang. “Wisatawan hanya datang kalau Pasir Timbul, harta karun Pulau Nain, menampakkan diri, misalnya pada Juni hingga Agustus,” tutur Daeng. Pasir Timbul adalah secuil nirwana di pulau ini. Di masa-masa tertentu dan di jam-jam khusus, seperti kala purnama, di siang hari, ketika air sedang surut, pulau yang hanya berisi pasir putih itu unjuk diri. “Setiap hari sebenarnya juga akan kelihatan, tapi tergantung keadaan. Hanya alam yang tahu kapan pulau itu tampak, kapan dia akan tenggelam,” tuturnya.

Tak lama di Nain, kapal kami bergerak ke Siladen, pulau yang bisa ditempuh dengan waktu 30 menit dari Bunaken. Di tengah perjalanan, Daeng berkisah, sepanjang pelayaran nanti, kalau beruntung, kami bisa menyaksikan lumba-lumba menari mengikuti laju kapal. “Namun lagi-lagi itu rahasia laut. Tak ada yang tahu lumba-lumba kapan datang,” tuturnya. Sampai mendarat di Siladen, tak ada satu pun mamalia laut itu yang muncul.

Untungnya senyum anak-anak bermain ayunan di pinggir pulau memantik gembira. “Halo cici—sapaan untuk kakak perempuan.” Satu per satu mereka mengajak berjabat tangan. Di sampingnya, para orang tua berkumpul sembari minum kopi. “Selamat datang di Siladen. Jangan kaget kalau sepi. Pulau ini hanya dihuni 128 keluarga,” ucap Daniel, penduduk setempat.

Saya pun duduk di antara warga suku Sanger, menikmati bibir pantai. Di seberang lautan, Pulau Bunaken terlihat jelas. Begitu juga dengan Manadotua. Orang-orang asing lalu-lalang, tak peduli terik. Mereka menenteng alat snorkel untuk sekadar bersemuka dengan ikan goropa atau nemo. Juga dengan koral berwarna-warni. “Di sini cocok buat orang yang mencari ketenangan. Makanya bule suka dengan Siladen,” tutur Daniel menyela lamunan.

Di balik kecantikannya, sejatinya pulau ini menyimpan setitik pilu. Daniel berkisah lahan di pulau ini sebagian besar dimiliki John Rahasia, sejarawan yang berpengaruh pada masa Orde Baru sekaligus penulis Penemuan Kembali Tagaroa. Sehingga belum sepenuhnya merdeka. Selain itu, listrik belum optimal dirasakan. “Hanya ada pukul 6 sore sampai 11 malam,” kata dia. Mereka bisa melakukan perputaran uang lantaran bantuan keluarga John Rahasia, yakni dengan merekrut masyarakat setempat bekerja di resornya.

Infrastruktur juga belum maksimal. Terutama kesehatan dan pendidikan. Hanya ada SD. “Kalau kesehatan, hanya ada puskesmas. Itu pun belum tentu buka,” ujarnya. Warga setempat dan pelancong yang tengah menginap dan mengalami gangguan kesehatan, tutur Daniel, lebih memilih pergi ke Kota Manado untuk memeriksakan diri. “Kala sakit, kami dan para tamu yang datang biasanya ke Siloam Manado saja, yang jelas pelayanannya,” ucapnya berkisah. Mereka biasa memanfaatkan kapal cepat milik resor atau menumpang kapal nelayan untuk menuju kota.

Obrolan terus diramu sampai jauh. Anak-anak ikut bercengkerama. Kadang menarik tangan untuk turut berlari-lari kecil menyusuri pantai dengan pasir selembut susu bubuk. Juga meremas-remas biskuit dan menebarnya di tepi pantai, berharap ikan-ikan hias mendekat.

Matahari tak sadar jatuh ke barat, menggantung di atas Manadotua. Lamat-lamat langit berubah oranye. Daeng mengajak saya beranjak. Siladen makin jauh dari pandangan. Pulau itu tampak seperti rumah baru. Lagi-lagi laut mengutarakan berlaksa kisah istimewanya lewat penghuni pulau. Di ujung bilik kapal cepat milik Daeng, rahasia-rahasia samudra akan segera menepi di daratan Negeri Nyiur Melambai.

F. Rosana/A. Prasetyo

2 Wajah Labuan Bajo

labuan Bajo

2 wajah Labuan Bajo mengiringi saya dalam perjalanan ke Nusa Tenggara Timur kali itu. Daratan nan hijau dan laut yang biru.

Jo memegang kendali setir. Tangannya luwes memutar kemudi, ke kiri, lantas ke kanan. Mobil beringsut membelah Bukit Melo, bergeser ke arah timur daratan Flores. Sekonyong-konyong, kakinya menginjak rem.

2 Wajah Labuan Bajo

Tangannya ayal-ayal membuka jendela. “Lihat ke kanan,” katanya. Serentak, tiga orang—saya, Andi, dan Lorens—menggeser pandangan. Karpet-karpet alam bersanding dengan bentangan bahar terhampar membangun komposisi yang pas, biru laut, hijau bukit, dan putih markah cumulonimbus. Lapisan lanskap Labuan Bajo bisa leluasa kami pandang dari ketinggian kurang lebih 700 meter.

Tak lama kemudian, Jo menginjak pedal gas. “Kita harus sampai Cunca Wulang sebelum terik,” ujarnya dengan logat Manggarai. Tempat yang dimaksud adalah air terjun yang berlokasi di Kampung Warsawe. Pamornya memang belum terlampau kesohor layaknya Pulau Komodo atau Rinca. Namun keunikannya tak bisa dipandang sebelah mata.

Menuju ke kepingan nirwana di “tanah bunga” butuh kesabaran. Hampir dua jam kami melewati jalan terjal, berliku, dan hanya bisa dilalui satu mobil. Pemandangan kanan-kiri berupa hutan. Jurang menganga lebar. Jalan hotmix berjawat menjadi aspal rusak. Tak ada kendaraan lalu-lalang, juga warga yang bermukim.

labuan bajo 01
Cunca Wulang di Labuan Bajo. Dok. TL

Kabut pagi luruh. Pendar surya memantul di kaca mobil. Sejangkauan pandang di depan, rumah-rumah penduduk tampak samar-samar. Bentuknya stereotipe, pendek dan beratap seng. Oto—istilah orang Manggarai untuk menyebut mobil—berhenti di depan pondok kecil. Pria berperawakan ceking, berambut ikal, dan berkulit legam mendekat. “Tabe gula (selamat pagi). Dopo no’o kali oto ho’o (mobil hanya bisa sampai sini),” ujarnya sambil menyunggingkan senyum. Tangannya mengajak berjabat. “Siprianus Kabe.”

 Sipri mengajak kami memarkir kendaraan di ujung jalan setapak. Lima meter di depannya, tampak jalan tanah menurun. Hanya bisa dilalui satu orang. Jalurnya licin lantaran hujan menerpa beberapa hari terakhir. “Perjalanan dimulai,” ucap Lorens, local guide yang turut mendampingi, membakar semangat.

Sipri, Lorens, saya, Andi, dan Jo beriringan menyintas medan tak terduga. Sesekali bersiul, lalu berdendang untuk menampik lelah. Pemandangan sana-sini berupa pohon kemiri, komoditas utama warga setempat. Akarnya yang melintang membantu menahan tubuh supaya tak terpeleset jalur berlumpur. Keringat merebas, padahal matahari belum terik. Sraaak. Kaki terperosok. “Tenang, sebentar lagi jalan berbatu,” tutur Sipri.

Sejurus kemudian, jalur yang dimaksud si anak Manggarai itu kami jumpai. Lebih lebar dan mudah dilalui. Orang-orang bilang ini “bonus”. Sayangnya tak terlampau panjang. Sekitar 15 menit melintas, tantangan kembali menghadang. Hutan alami membentang. Derik siye—serangga hutan—lamat-lamat sampai ke kuping. Lorens mengambil posisi paling muka, menuntun rombongan memasuki lorong gelap. “Kalau berjumpa piton, jangan panik. Biasa saja,” ucap Sipri.

Hati berdebar. Bukan lantaran harus menempuh jalur terjal dan berlumpur, melainkan cemas bertemu binatang liar. Selain mungkin menjumpai ular, sewaktu-waktu juga dapat bersemuka dengan babi hutan, babi landak, dan babirusa. Daripada memikirkan kemungkinan yang tidak-tidak, pandangan pun saya alihkan ke kanan-kiri.

Ada yang menarik. Tali-tali alami menjuntai dari pepohonan besar, mirip dengan yang sering dijumpai dalam film Tarzan. Kalau beruntung, monyet-monyet bergelantungan di sana, menemani perjalanan. Gedebuk. Tubuh kembali terantuk akar, menandakan pandangan harus fokus.

Rasanya sudah banyak percakapan dan nyanyian didendangkan, tapi suara air terjun belum terdengar. Malahan jalan yang harus dilewati kian menggila. Kadang membuat kaki terkesot-kesot mengikuti turunan yang kemiringannya nyaris 90 derajat, atau melompat melintasi pohon tumbang.

Peluh mengalir, tuturan melirih. Sengal-sengal napas tertangkap kuping. Gemericik air yang laun terdengar tiba-tiba membangkitkan spirit. Ritme langkah mengencang. Tak sampai seputaran jam, sungai berbatu dialiri air tosca menyapa pandang.

Di ujung sana, air terjun setinggi 70 meter berdiri gagah. Debitnya deras menghantam batu kali. Cipratannya meruap dan airnya meletup-letup laksana kembang api. Di kanan dan kirinya terdapat tebing berjenjang. Umumnya digunakan untuk atraksi lompat. Jebuuur. Lorens menerjunkan badan dari tebing setinggi 30 meter. “Segar,” teriaknya dari bawah.

Bentang yang menawan genap membayar kesulitan kami menjangkau lokasi ini. Angin yang menyapu bambu belang mengiramakan nada alam serta memalingkan kepenatan. Dua turis asal Jerman melucut pakaian, lalu asyik memeragakan gaya katak di sela-sela bebatuan. Menyelam, lantas mentas. Sekejap kemudian, kakinya asyik melompat di bebatuan laksana kancil.

Lanskap yang membikin hati ria kabarnya makin elok saat musim kering tiba. Ada pantulan cahaya membentuk bulan menggantung di atas air terjun kala siang. Itulah yang membuatnya dinamakan Cunca Wulang yang berarti bulan di atas air terjun. Pelangi kadang-kadang muncul melengkung di antara tebing yang mengapit gerojogan.

Sipri mengeluarkan ponsel pintar, lalu mengajak saya menuju spot terbaik untuk berfoto. Meloncat dari satu batu ke batu lain, tibalah kami di titik tengah. Dalam bingkai lensa, saya diapit tebing dengan lata belakang air meluncur hebat.

“Saya unggah di Facebook, ya,” tutur Sipri. Saya heran bagaimana ia bisa mengakses Internet di tengah hutan begini. “Tenang, jaringan Telkom sudah kencang,” ucapnya menyamber. “Kalau ingin lebih kencang, ada Wi-Fi ID, tapi di kota nanti (Labuan Bajo),” tuturnya seakan membaca kerutan tak percaya lawan bicaranya.

Sejurus setelah asyik berselancar di media sosial, Sipri lantas tak henti menyerocos tentang keindahan Labuan Bajo dan titik-titik nirwana yang mengelilinginya. Darat ataupun laut tak terbantahkan keelokannya. “Ini baru darat, besok kau harus ke laut,” katanya. Menggenapi tantangan Sipri, saya lantas gerak cepat. Pulau Kelor ada di angan-angan. Bukan lagi Komodo atau Rinca.

Deru kapal milik Ibrahim, pelaut berusia 60-an, pada pagi selanjutnya mengantarkan kami menuju surga di sisi barat Labuan Bajo. Geber lanskap samudera mulai tersibak. Ikan-ikan melompat mengikuti tarian ombak, mengantarkan kapal menuju lokasi. Di sisi kiri terhampar daratan Flores dengan bukit-bukit membentuk kukusan. Musim hujan membikin barisan kerucut-kerucut alam itu menghijau, membawa ingatan pada bukit Gurten di Swiss.

Kapal kami mengikuti arus, menuju sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Selama 2 jam tubuh digoyang ombak di atas dek kayu, hingga akhirnya Ibrahim melemparkan tali, mencari tempat bersandar. Ikan-ikan mendekat, koral warna-warni mengucapkan selamat datang. Di tengah pulau terbentang bukit kerucut. Bentuknya hampir presisi, mendekati sempurna. Ada jalur kecil berbatu kapur untuk mengantarkan kami menuju puncak.

Kemiringan 80 derajat harus ditempuh. Keringat lagi-lagi tak terelak. Kaki harus seimbang menopang bobot tubuh dan menyisihkan batu-batu rapuh. Perjuangan terbayar saat sampai di puncak. Pemandangan laut bersanding dengan gugusan daratan Nusa Tenggara Timur bagian barat menjadi sajian utama. Segaris dengan amatan, tampak gradasi air dengan rona tosca, biru muda, dan biru tua meliuk-liuk mengikuti garis laut.

Tak ingin hanya mengecap keindahan dari atas bukit Pulau Kelor, kaki merayu kembali turun ke bibir pantai. Nemo mengajak menari di dalam air, memaksa badan menceburkan diri dengan alat snorkeling yang lengkap. Tanpa dipantik repih-repih roti atau makanan ikan, para penghuni laut datang mendekat.

Sepi dan sunyi membikin saya merasa memiliki pulau seutuhnya. Di tempat itu memang hanya ada segelintir orang, rombongan kami dan rombongan satu kapal yang baru saja mendarat. Salah satu penumpangnya bernama Carita. Turis asal Jakarta yang lama tinggal di Swedia itu langsung berlari-lari kecil, lantas berteriak histeris melambungkan kegembiraan. “Ah, tidak usah sampai ke tengah laut, di pinggir saja banyak ikan. Cantik sekali,” tuturnya.

Lantaran terlampau antusias, Carita sampai lupa melakoni pemanasan sebelum menceburkan diri di air. “Hati-hati kram dan cedera,” ujar saya berteriak kepadanya. “Sulit mencari pertolongan medis,” ujar saya lagi.

Umar, awak kapal yang mengantarkan Carita sampai di pulau itu, langsung menceletuk. “Soal medis tak usah khawatir, sudah ada rumah sakit di sini. Rumah Sakit Siloam. Baru satu tahun lalu dibuka. Letaknya di Jalan Gabriel Campur,” tuturnya menyamber. Carita dan saya sama-sama menyunggingkan senyum dan sekonyong-konyong merasa aman.

Surya lambat laun meruyup ke barat. Angin sepoi-sepoi berganti lantam. Saatnya kembali ke darat. Ibrahim sudah menghidupkan kembali mesin kapalnya. Biduk yang kami tumpangi berbelot, melawan arus. Sayup-sayup lagu Bandaneira mengiringi perjalanan pulang. Laut dan langit dan hal-hal yang tak kita bicarakan, biar jadi rahasia, menyublim ke udara, hirup dan sesalkan jiwa.

Boks

Akses: Dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pilih penerbangan langsung ke Bandara Udara Labuan Bajo dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Waktu tempuhnya kurang-lebih 2 jam 25 menit. Bisa juga transit melalui Bandara Internasional Ngurah Rai yang berlokasi di Pulau Bali. Maskapai yang tersedia, di antaranya Sriwijaya, Lion Air, Batik Air, AirAsia, dan Garuda, lantas disambung dengan pesawat perintis NAM dan Wings Air.

F. Rosana/A. Prasetyo

Dodol Picnic, 70 Tahun Oleh-oleh Dari Garut

Dodol Picnic sebagai salah satu merek dodol Garut yang terdepan dan menjadi ikon oleh-oleh Garus.

Dodol Picnic pasti bukan nama yang asing buat orang Indonesia. Ini terutama untuk mereka yang senang melakukan perjalanan lewat jalur darat. Baik dengan menggunakan bis antarkota dan, terutama, menumpang kereta api di pulau Jawa.

Dodol Picnic

Orang suka menyebut dodol Garut merek Picnic atau Dodol Picnic dari Garut untuk menyebut penganan yang satu ini. Ia boleh dikata salah satu legenda buah tangan dari mereka yang melakukan perjalanan, boleh dikata ia sama popularnya dengan wingko Babat. Cuma yang terakhir ini tak menyebut merek.

Dodol garut merupakan salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat yang sangat terkenal. Makanan ini biasanya memiliki bentuk memanjang atau bulat dengan tekstur yang lembut dan rasa yang manis. Dodol garut biasanya disajikan sebagai camilan di daerah Jawa Barat, terutama sekitar Garut, Tasik, dan Bandung.

Industri dodol Garut mulai berkembang semenjak 1926. Adalah Ibu Karsinah, tokoh di balik berkembangnya popularitas dodol ini. Ia merupakan pengusaha yang memulai usaha dodol tersebut pertama kalinya.

Penganan ini bahan bakunya terbuat dari santan, tepung ketan, parutan kelapa, dan gula merah. Untuk membuat dodol Garut biasanya pemasaknya mencampur tepung ketan, parutan kelapa, santan, dan gula merah serta sedikit garam lalu dipanaskan. Setelah mengental, tambahkan gula pasir, dan kembali rebus hingga adonan benar-benar kental.

Adonan yang kental ini kemudian dituang ke dalam loyang yang sudah diberi minyak goreng. Proses pemasakannya praktis sudah selesai sampai di sini. Tinggal menunggu hingga adonan mengeras.

Jika awalnya dodol Garut hanya memiliki satu rasa, manis gula jawa yang bercampur dengan santan. Dalam perkembangannya, saat ini sudah terdapat dodol dengan berbagai varian rasa, seperti coklat, strawberi, jambu, durian, dan rasa lainnya. Soal rasa coklat, kini ada juga salah satu produsen dodol yang memadukan coklat dan dodol untuk dijadikan oleh-oleh khas dari kota tersebut yang biasa disebut ‘chocodot’ atau cokelat dodol.

Lalu kenapa dodol Garut ini nyaris identik dengan Dodol Picnic? Setelah lama dodol yang memiliki cita rasa yang khas dan digemari masyarakat luas, adalah H. Iton Damiri yang pada 1949 merintis pembuatan usaha dodol Garut. Pada waktu itu perusahaannya masih berskala rumah tangga dengan jumlah tenaga kerja sebanyak lima orang dan daerah pemasarannya masih terbatas di sekitar kota Garut saja dan ia masih menggunakan merek yang “Halimah”.

Dodol Picnic adalah perjalanan panjang mengenalkan penganan lokal menjadi oleh-oleh yang khas.
Pendiri Dodol Picnic. Foto: DOk. Dodol Picnic

Dalam perjalanannya, perusahaan dodol ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Untuk mengantisipasi perkembangan dan untuk makin mendorong kemajuan, pada 1957 Haji Iton mengajak adiknya, Aam MAwardi, bergabung mengelola usaha ini. Pada tahun itu, nama perusahaan pun berubah, mereka menggunakan nama ‘Herlinah’, yang diambil dari salah satu nama anggota keluarga.

Kemajuan bukan sesuatu yang mudah. Di 10 tahun pertama itu, dodol Garut bikinan Herlinah masih cukup sulit menembus pasar. Pertama karena masih dianggap makanan lokal, di mana banyak warga Garut yang juga membuatnya. Dan, ke dua, pemasarannya masih lokal saja.

Pada masa-masa itu, produk ini bahkan sulit untuk menembut toko-toko panganan yang ada di Garut. Dari sana kemudian muncul ide untuk menjual dodol mereka ke salah satu pasar ternama di kota Bandung. Toko itu berada di daerah Pasir Koja, bernama Toko Picnic yang memang merupakan toko penjual makanan terbesar di kota kembang pada masanya. Setelah menimbang soal pemberian nama, maka dijuallah dodol mereka dengan nama Dodol Picnic.

Dari kota Bandung inilah dodol Picnic menyebar ke seluruh Indonesia, yakni dari mereka yang ingin membawa buah tangan khas. Seperti disebut di muka, seperti wingko Babat yang menjadi viral karena ditenteng orang saat naik kereta api, bus antarkota, bahkan pesawat terbang. Hingga saat ini ia sudah terkenal hingga mancanegara, seperti Singapura, Malaysia, atau Brunei Darusalam.

Dodol Picnic adalah ikon buah tangan khas Indnoesia yang sudah melewati tantangan zaman.
Pada masanya, bahkan kemasan dan mereknya ditiru kompetitor. Foto: Dok. Dodol Picnic

Zaman terus berkembang, kian lama semakin banyak buah tangan dari kota-kota besar di Indonesia. Pilihan makin banyak, namun dodol Picnic tetap menjadi salah satu ikon buah tangan. Pada masanya, bahkan banyak produk dodol Garut yang meniri kemasan merek ini.

Nah, jika Anda sedang berwisata ke Garut, jangan lupa untuk membeli makanan ini sebagai buah tangan atau disimpan sebagai camilan di rumah. Untuk mendapatkannya sangatlah mudah. Anda bisa menjumpai toko-toko atau warung yang menjual dodol garut di sepanjang jalan kota di Jawa Barat ini, terutama di jalan-jalan dekat pintu gerbang dari Garut menuju daerah lain sekitarnya.

agendaIndonesia

*****

Dolan Ke Pulau Macan, 2 Jam Dari Jakarta

Dolan ke Pulau Macan bisa menjadi alternatif wisata bahari di sekitar Jakarta.

Dolan ke Pulau Macan di Kepulauan Seribu menjadi salah satu alternatif jika ingin liburan di pantai berpasir putih yang bagus dan tak perlu jauh-jauh dari Jakarta. Berada di kawasan Kepulauan Seribu, Pulau Macan menjanjikan liburan bahari yang asyik.

Dolan Ke Pulau Macan

Di antara barisan pulau di wilayah Kepulauan Seribu, Pulau Macan bisa menjadi pilihan staycation yang tenang di akhir pekan. Pulau ini menawarkan eksklusivitas dibandingkan pulau-pulau lain di kawasan ini.

Dolan ke Pulau Macan ini nyaman untuk yang senang ketenangan, karena setiap hari hanya menerima paling banyak 40 wisatawan.

Pulau ini wajib dikunjungi untuk pelancong yang menyukai wisata alam yang tenang dan privat. Terdiri dari Pulau Macan Besar dan Pulau Macan Kecil, pulau ini menyuguhkan konsep yang unik yaitu eco resort dengan fasilitas lengkap. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini.

Dolan ke Pulau Macan cocok untuk yang enang laut dan staycation.
Snorkeling bisa enjadi pilihan ketika dolan ke Pulau Macan. Foto: pulaumacan.id

Secara administratif, Pulau Macan Besar berada di wilayah Kelurahan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Luas pulau hanya sekitar 6,13 hektare. Pulau resort ini dimiliki dan dikelola oleh swasta dan diperuntukkan untuk pariwisata dengan nama Tiger Islands Village and Eco Resort.

Pulau Macan boleh dikatakan merupakan salah satu wisata Pulau Seribu yang paling bagus karena mengusung konsep eco-resort. Meskipun pulau ini tidak begitu luas, namun memiliki  fasilitas yang lengkap, pemandangan keren di pagi dan sore hari, arus laut yang tenang, dan peralatan watersport yang bisa dipergunakan secara gratis.

Soal nama, meskipun namanya Pulau Macan, pengunjung tak perlu membayangkan sesuatu yang ‘sangar’ seperti macan. Jangan khawatir, tidak ada hewan macan di pulau ini. Bahkan, nuansa yang bisa dinikmati selama berwisata di pulau ini jauh dari kata-kata ‘ngeri’.

Salah satu hal unik ketika dolan ke Pulau Macan adalah setiap bangunan kamarnya dibangun di tepian pantai. Ini membuat pengunjung dapat langsung berenang di laut atau duduk santai, bahkan ketika baru bangun tidur.

Dolan ke pulau Macan, bia tidur dengan ilustrasi musik gelombang air laut.
Kamar-kamar yang langsung menhadap ke laut, bangun tidur bisa langsung nyemplung. Foto: dok pulaumacan.id

 

Atau, bisa juga sekadar bermalas-malasan sambil  mata menyapu cahaya matahari terbit dengan laut biru. Hal unik lainnya adalah, pada saat air laut surut, wisatawan akan menemukan sebuah pulau kecil yang diikuti barisan pasir putih memanjang yang menyambung dengan pulau utama. Bisa dikunjungi dengan berjalan kaki, atau menggunakan kayak.


Fasilitas akomodasi yang disediakan oleh pengelola adalah sejumlah cottage privat dengan akses langsung ke laut. Kapasitas cottage bervariasi, mulai dari untuk dua  orang hingga 7 orang.

Nama-nama cottage yang disediakan menunjukkan konsep eco-resort yang diusung, seperti eco cabin, redbrick room, driftwood hut, tropical bungalow, island hut, sunset hut, zet hut, atau coral hut.

Di antara beberapa jenis cottage ini, type Sunset Hut adalah yang paling populer, terutama bagi wisatawan yang senang menikmati matahari tenggalam. Cottage-nya menghadap ke barat dengan pandangan bebas hambatan ke arah matahari terbenam.

Kapasitas cottage ini maksimal untuk empat orang, sehingga ideal untuk keluarga. Di dalamnya juga terdapat kamar mandi utama.

Kapasitas masing-masing cottage yang kecil menunjukkan kalau pulau ini memang mengusung tema eco-wisata yang sangat privat dan eksklusif. Mudah ditebak jika harga paket wisatasaat dolan ke Pulau Macan relatif lebih mahal.

Kayak di Pulau Macan pulaumacanid
Berkayak bia hop in hop off di seputar Pulau Macan. foto: dok. pulaumacan.id

Ketika dolan ke Pulau Macan, pengunjung juga dapat menikmati makanan yang diolah langsung dari hasil kebun organik milik pengelola.  

Pulau Macan yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu mudah dijangkau dari ibukota. Pelancong bisa pergi hari Sabtu pagi dan kembali ke Jakarta pada Minggu sore.

Akses akomodasi ke Pulau Macan tidak sulit. Ada dua alternatif keberangkatan kapal yang bisa dipilih wisatawan, yaitu melalui Ancol atau lewat  Muara Angke (Kali Adem). Kedua pemberangkatan tersebut menggunakan jenis kapal yang berbeda, tentu dengan harga yang berbeda pula.


Harga kapal cepat via Ancol bergantung tujuan pulau yang dikehendaki. Semakin jauh pulau yang dituju, maka semakin mahal ongkos yang dikeluarkan. Secara umum, tiket kapal cepat via Ancol berkisar antara Rp125 ribu sampai Rp375 ribu per orang untuk sekali jalan.
Kapal feri mungkin lebih ekonomis. Harganya juga bergantung tujuan pulau yang dituju. Begitupun bila tujuan pulau yang dituju jauh, harga tiket masih cukup terjangkau.


Secara umum, harga tiket kapal feri via Kali Adem Muara Angke berkisar antara Rp85 ribu sampai Rp105 ribu untuk sekali jalan.
Untuk jam keberangkatan kapal, kapal cepat via Ancol berangkat pukul 08.00 WIB dan kapal feri via Muara Angke berangkat pukul 07.30 WIB. Jika berangkat dari Muara Angke, wisatawan sebaiknya datang lebih awal, agar tidak mengantre lama dan panjang.


Bagi Anda yang pergi ke Muara Angke menggunakan kendaraan pribadi, Anda dapat menitipkan kendaraan Anda di lahan parkir khusus yang disediakan. Besaran tarif parkir menginap Rp 25 ribu untuk motor dan Rp 50 ribu untuk mobil.

agendaIndonesia

*****

2 Hari Menikmati Merapi Dari Kaliurang

Gunung Merapi shutterstock

2 hari menikmati Merapi dari Kaliurang, Yogyakarta. Cuaca sejuk, obyek wisata yang beragam, dan camilannya memicu wisatawan ingin kembali.

Gunung Merapi, Yogyakarta, selalu memberikan kesan magis yang bikin tamunya rindu. Tampaknya seperti kekuatan alam besar yang muncul tanpa wujud. Bagi yang sudah pernah datang, mereka akan jatuh cinta. Entah terpikat dengan cuaca yang sejuk, penduduk yang ramah, atau lokasi wisata yang bervariasi. Berakhir pekan di seputar Kaliurang pun bisa memupus kangen.

2 Hari Menikmati Merapi

Hari Pertama

Taman Gardu Pandang Kaliurang

Dengan berkendara 60 menit dari titik nol kilometer, tempat untuk “mengintai” Merapi ini sudah bisa dijangkau. Lanskap utamanya ialah Bukit Turgo, yang berdiri gagah di muka Sang Pasak Bumi. Beberapa langkah dari gerbang masuk, ada sebuah bangunan berpola lingkaran dengan atap membentuk payung. Di sana, pengunjung otomatis bakal mengenang erupsi besar yang terjadi pada 2010. Abu vulkanik di patera pepohonan sudah bertolak diri, tapi aromanya tetap lekat. Setelah erupsi, taman sekaligus gardu pandang ini hancur. Wahana-wahana bermain yang berkarat karena panas, kini telah kembali dipoles sehingga siap menjadi tempat wisata lagi. Tiket masuknya hanya Rp 2.000 per orang dewasa dan Rp 1.000 per anak.

Air Terjun Tlogo Muncar

Berkendara 5 menit dari Gardu Pandang Kaliurang, ada Taman Nasional Kaliurang dengan sejumlah daya tarik. Salah satunya Air Terjun Tlogo Muncar. Lokasinya satu lingkup dengan Terminal Tlogo Putri. Untuk menuju titik gerojokan, pengunjung perlu melewati jalan kecil membelah hutan. Kanan-kiri, beragam pohon besar menyejukkan pandangan. Bertemu dengan puluhan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Setelah berjalan lebih-kurang 300 meter, suara gemericik air akan terdengar. Mendongakkan kepala sedikit ke ujung jalan, air terjun setinggi lebih-kurang 40 meter sudah dapat dipandang. Sayangnya, kala Travelounge bertandang, debit airnya tak besar. Memang, sejak erupsi, air yang mengalir tak selaju dulu.

Jalur ke Puncak Pronojiwo
Jalur ke Puncak Pronojiwo saat 2 hari menikmati Merapi. Dok TL

Puncak Pronojiwo

Prono berarti terpesona, sedangkan jiwo adalah jiwa. Itu artinya, jiwa orang akan terpana ketika sampai di puncak ini karena melihat pemandangan alam yang indah dari ketinggian 1.040 mdpl. Lokasinya masih di kawasan Taman Nasional Kaliurang. Hanya, untuk menjangkau puncak itu, turis harus trekking melewati hutan dengan jalur menanjak. Di sepanjang jalan menuju puncak, selain bakal menjumpai monyet ekor panjang, pengunjung akan menemukan burung sepah gunung (Pericrocotus miniatus). Suaranya lantang dan menebalkan kesan alam.

Warung Ijo

Di tengah perjalanan dari Gardu Pandang Kaliurang menuju Terminal Tlogo Putri, tepatnya di Jalan Pramuka Nomor 58, ada sebuah warung yang berdiri pada 2013. Lebih terlihat seperti galeri ketimbang tempat makan. Meja dan kursinya terbuat dari batu besar yang dipangkas. “Batu ini bekas erupsi Merapi 2010,” tutur Supardi, si pemilik warung. Ada juga kerajinan tangan berupa tas rotan dan sepatu lukis yang dibikin Supardi sekeluarga. Namun menu yang ditawarkan biasa saja, seperti roti bakar dan nasi goreng. Yang bikin betah memang atmosfer seni bercampur alam. Sambil makan, tamu bisa menikmati pemandangan hutan pakis. Harga menu antara Rp 4.000 hingga Rp 16.500.

Taman Lampion

Sejak 2015, setiap akhir tahun tiba, PT Taman Pelangi menghadirkan ratusan lampion di lereng Merapi. Lokasinya satu kompleks dengan gardu pandang. Lahan seluas 3 hektare itu disulap menjadi wahana lampu yang memukau dengan bentuk yang berlainan. Ada yang menyerupai ular naga, istana boneka, candi, bunga-bunga, juga tokoh-tokoh kartun. Tak heran kalau 4.900 pengunjung datang tiap hari. Festival taman lampion hadir sepanjang Desember hingga Februari setiap hari, dari pukul 17.00 sampai 22.00. Harga tiket Rp 15 ribu pada Senin-Kamis dan Rp 20 ribu pada Jumat-Minggu.

Wedang Ronde Taman Kaliurang

Malam tiba, suhu makin turun. Untuk menghangatkan tubuh, cobalah menepi sejenak ke Taman Kaliurang. Di sepanjang jalan di muka lokasi wisata itu, banyak penjual yang menjajakan wedang ronde istimewa. Mereka mulai menjajarkan gerobaknya pukul 19.00 hingga dinihari.

Rasanya nikmat karena disantap di dataran tinggi dengan suhu di bawah 15 derajat.

Hari kedua

Museum Ullen Sentalu

Museum yang “bersembunyi” di pusar Kaliurang ini memiliki bangunan yang menonjolkan unsur seni bernilai tinggi. Gedungnya serupa kastel dengan pagar menjulang jangkung. Akar-akar pepohonan dibiarkan tumbuh liar di dinding, menorehkan kesan heritage’s class version.

Koleksi berupa kebudayaan Jawa lengkap, dari silsilah sampai kesusastraannya, bikin bulu roma berdiri karena teramat membuka jendela pengetahuan. Terdapat juga kampung kambang, yakni rumah di atas kolam, dengan ruang-ruang yang menyimpan beragam koleksi batik tulis dari Yogyakarta dan Surakarta dengan rentang usia 30-80 tahun. Setengah perjalanan, pemandu bakal mengajak pengunjung menikmati wedang ratumas, minuman racikan kerajaan. Tur Ullen Sentalu berlangsung 50 menit. Sayangnya, pengunjung tak diperkenankan mengambil foto di dalam museum.

Museum Gunung Merapi

Dari Ullen Sentalu, museum ini bisa dijangkau dengan berkendara sekitar 15 menit. Lokasinya di Jalan Boyong, Dusun Banteng. Sejak berdiri pada 2009, Museum Gunung Merapi tak pernah sepi pengunjung. Keberadaannya memang tepat sebagai lokasi wisata edukasi lantaran menyajikan informasi mengenai gunung-gunung api di Indonesia secara lengkap. Selain itu, dipaparkan penjelasan khusus tentang Gunung Merapi, termasuk erupsi yang terjadi dari masa ke masa.

Jadah Tempe Mbah Carik

Bertandang ke lereng Merapi, Pakem, juga sekitarnya, rugi rasanya kalau tidak mencicipi dua sejoli jadah dan tempe masakan Mbah Carik. Sejak 1950, warung di simpang lima patung Kaliurang itu melegenda. Jadahnya yang gurih dan legit cocok dipadu dengan tempe bacem. Rasa dan aromanya istimewa, karena dimasak dengan menggunakan kayu bakar. Cara makannya bak melahap burger. Jadah menjadi roti, sedangkan tempe selayaknya patty. Penganan tradisional ini disajikan bersama wedang teh Poci nasgitel atau panas, legi, kentel. Enak juga disandingkan dengan wajik yang manis dan legit. Seporsi jadah-tempe dihargai Rp 20 ribu (berisi 10 jadah dan 10 tempe). Warung ini buka pukul 07.00-18.00.

Slondok Renteng Pak Mul

Saatnya berburu buah tangan, dan bila mencari yang autentik, Slondok Renteng Pak Mul adalah pilihan tepat. Slondok dirangkai menggunakan bambu yang disayat tipis. Kebiasaan itu diadopsi Pak Mul mulai 1965 hingga generasi ketiganya sekarang. Sebungkus slondok berisi 30 rangkai dihargai Rp 13 ribu. Wisatawan bisa berkunjung langsung ke rumah produksinya, yakni di Boyong RT 01 RW 10, Hargobinangun. Bila hari libur, jangan berkunjung setelah makan siang karena sudah ludes diburu.

F. Rosana/TL

Wisata Sekitar Jalur Kereta, 6 Pilihannya

wisata sekitar jalur kereta belum popular di Indonesia, saatnya mengenalkan ke publik.

Wisata sekitar jalur kereta api belum popular di Indonesia. Umumnya wisatawan baru menikmati moda kereta api untuk menuju ke satu destinasi, baru dari sana mereka menyebar ke spot wisata lain. Di sisi lain, saat ini operator kereta api belum memiliki paket perjalanan yang memberi kesempatan penumpang hop in-hop off di satu spot dari sebuah rute perjalanan tanpa tambahan biaya.

Wisata Sekitar Jalur Kereta

Jadi, misalnya, seorang penumpang membeli tiket rute Jakarta-Surabaya, lalu ia bisa turun di Cirebon untuk menikmati wisata di kota ini satu malam sebelum besoknya melanjutkan perjalanan dengan kereta api yang sama tanpa dikenai charge baru. Tentu ia ketika turun di Cirebon perlu lapor dulu ke sistem KAI. Mudah-mudahan di masa datang ini bisa dilakukan.

Namun liburan ke berbagai kota kini memang semakin mudah dengan beragam pilihan moda transportasi. Salah satu opsi transportasi yang menyenangkan untuk dipilih adalah kereta api.

Wisata sekitar jalur kereta api bisa dinikmati sesaat menjalang perjalanan dengan kereta.
Rangkaian kereta melewati Kampung Jodipan, Malang. Foto: Dok KAI

Ada banyak kota dengan segudang pilihan wisata seru dan menarik yang bisa kamu kunjungi untuk liburan. Kamu bisa menggunakan kereta api yang cepat dan nyaman untuk mengunjungi berbagai tempat wisata tersebut.

Bahkan, ada juga tempat wisata keren yang jaraknya sangat dekat dari stasiun. Jadi, kamu hanya perlu jalan kaki sebentar untuk menikmati liburan seru, baik sendirian maupun ramai-ramai. Ini ada enam rekomendasi tempat wisata dekat stasiun kereta yang bisa kamu kunjungi. Ke enamnya bisa dicoba dinikmati menjelang keberangkatan dengan kereta.

Galeri Nasional Indonesia, Jakarta

Buat mereka yang menyukai dunia seni, tempat wisata sekitar jalur kereta ini bisa jadi pilihan untuk dikunjungi. Wisatawan hanya tinggal naik kereta dengan destinasi Stasiun Gambir, Jakarta. Tepat di seberang Stasiun Gambir ada Museum Galeri Nasional Indonesia. Tempat wisata yang satu ini menjadi sarana pameran seni dan kebudayaan, dari yang antik, kontemporer, sampai modern. Tak cuma pameran saja, kamu pun bisa menikmati seminar, fasilitas perpustakaan, dan laboratorium yang ada di dalamnya.

Kampoeng Plered Purwakarta

Berkunjung dan berjalan-jalan ke Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, sempatkan untuk mampir sejenak ke tempat yang satu ini. Adalah Kampung Maranggi, tempat makan khusus yang menyediakan Sate Maranggi, sebagai makanan khas dari Purwakarta.

Sate Maranggi di Purwakarta bisa jadi wisata sekitar jalur kereta.
Sate Maranggi khas Purwakarta.

Surga wisata kuliner yang berlokasi di alun-alun Kecamatan Plered tepatnya di samping halaman Stasiun Plered bisa jadi tempat menjawab rasa lapar selama perjalanan wisata ke Purwakarta. Untuk menuju Stasiun Plered, kamu bisa menggunakan kereta api Serayu, Garut Cibatuan, dan Bandung Raya Ekonomi.

Benteng Pendem Cilacap

Terletak di Dusun Kebonjati, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Benteng Pendem merupakan peninggalan Belanda di pesisir Pantai Teluk Penyu. Benteng ini dibangun pada 1861 dan dulunya menjadi markas pertahanan tentara Hindia Belanda.

Wisata sekitar jalur kereta salah satunya bisa menikmati spot wisata di sekitar Cilacap
Benteng Pendem Cilacap (Dutch : Kustbatterij op de Landtong te Cilacap ), is a Dutch fortress on the coast of Teluk Penyu in the district of Cilacap , Central Java, which was built in 1861

Di dalamnya terdapat gudang senjata, benteng pengintai, benteng pertahanan, gudang mesiu, penjara, ruang perwira, hingga dapur.
Benteng Pendem Cilacap berjarak kurang lebih tiga kilometer dari Stasiun Cilacap dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit. Kamu bisa menggunakan kereta api Kamandaka, Wijayakusuma, dan Joglosemarkerto untuk menuju Stasiun Cilacap. Ini bisa menjadi pilihan wisata sekitar jalur kereta.

Pantai Grand Watu Dodol Banyuwangi

Bila kamu memutuskan turun ke stasiun terakhir di Banyuwangi, yakni Stasiun Ketapang bisa coba berkunjung ke Pantai Grand Watu Dodol (GWD). Jarak yang harus ditempuh dari stasiun ke Pantai Grand Watu Dodol (GWD) kurang lebih 6,8 kilometer atau perjalanan sekitar 11 menit. Nah ini pilihan lain wisata sekitar jalur kereta.

Pantai GWD menyajikan wisata snorkeling, diving dan trip naik perahu ke Pulau Tabuhan. Bagi kamu yang dari Semarang ingin menuju Stasiun Ketapang, kamu bisa menggunakan kereta yang baru dijalankan pada momen libur Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 yaitu Blambangan Ekspres relasi Semarang Tawang – Ketapang (Banyuwangi) pp. Selain itu, masih tersedia banyak kereta api dari berbagai daerah yang bisa kamu gunakan menuju ke Stasiun Ketapang.

Wisata Kampung Warna-warni Jodipan Malang

Kampung warna-warni yang ada di Kelurahan Jodipan juga merupakan salah satu tempat wisata Malang yang dekat dengan Stasiun Malang. Buat kamu yang suka foto selfie, di sana ada ratusan rumah yang dicat warna-warni sehingga kampung ini menjadi tampak Instagramable untuk latar belakang berfoto. Lokasinya ada di Jalan Ir. H. Juanda 6, Jodipan, Kota Malang, Jawa Timur. Jaraknya dari Stasiun Malang sekitar 1,5 kilometer. Kamu bisa berkendara selama sekitar 5 menit atau jalan kaki kurang lebih 17 menit. 

Kampung Kuliner Binjai

Tempat wisata di Binjai dekat stasiun adalah Kampung Kuliner. Tempat wisata populer ini hanya berjarak sekitar 100 meter dari Stasiun Binjai. Kamu bisa mencoba berbagai kuliner khas Binjai hingga hidangan khas Sumatera Utara lain di tempat ini.

Tempat ini menawarkan konsep yang unik semacam food court dengan pilihan indoor maupun outdoor. Disini kamu bisa memilih untuk menikmati makanan di luar ruangan (outdoor) di mana tersedia banyak tenda dengan kursi-kursi dengan konsep yang keren. Bagi kamu yang ingin lebih private kamu bisa memlih makan di dalam ruangan (indoor) agar tidak terganggu dengan suasana keramaian.

Itu tadi enam rekomendasi tempat wisata dekat stasiun yang bisa dijangkau dengan kereta. Tak perlu jauh-jauh, kamu bisa hanya berjalan kaki sekitar 5-17 menit untuk mendapatkan pengalaman seru selama liburan.

Selain enam lokasi wisata tersebut, sebenarnya masih banyak lagi tempat-tempat wisata, baik wisata sejarah, seni, alam, hingga wisata kuliner di sekitaran stasiun-stasiun kereta api di berbagai daerah.

“Stasiun kereta api terletak di tempat-tempat strategis, sehingga masyarakat bisa langsung jalan-jalan tanpa menempuh perjalanan panjang lagi. KAI juga menyediakan berbagai tipe kereta yang dapat digunakan. Mulai dari kelas Ekonomi, Bisnis, Eksekutif, dan Luxury,” kata Joni dari PT Kereta Api Indonesia.

agendaIndonesia (sumber PT KAI)

*****

Nasi Goreng Babat Pak Karmin, Lezat 5 Dekade

Nasi Goreng Babat Pak Karmin Semarang jadi salah satu kuliner legendaris

Nasi goreng babat Pak Karmin sudah selayaknya disebut sebagai salah satu ikon kuliner kota Semarang. Maklum, usaha kuliner ini sudah eksis di ibukota provinsi Jawa Tengah tersebut sejak lima dekade lalu. Dan, ini yang perlu dicatat, masih kondang diburu penggemar kuliner hingga kini.

Nasi Goreng Babat Pak Karmin

Berbicara budaya kuliner di tanah air, nasi goreng rasanya sudah erat menjadi bagian hidup masyarakat Indonesia. Nasi goreng telah menjadi ikon kuliner nasional yang dianggap begitu identik dengan Indonesia, bahkan di kalangan masyarakat dunia.

Dengan budaya orang Indonesia yang suka makan nasi sehari-hari, maka menyantap nasi goreng dianggap sudah menjadi hal biasa. Baik itu memasak sendiri, maupun membeli dari penjaja nasi goreng yang menjamur dan mudah ditemukan.

Nasi Goreng Babat Pak Karmin menjadi salah satu ikonik Semarang, selain Tugu Muda dan Lawang Sewu.
Tugu Muda salah satu ikon kota Semarang. Foto shutterstock

Seiring berjalannya waktu, nasi goreng kemudian berevolusi dengan jenis-jenis yang berbeda dan beragam kreasi baru yang unik. Ada yang menambahkan nasi goreng dengan sosis, petai, daging buntut sapi, racikan ikan asin, dan sebagainya.

Dari bermacam-macam kreasi unik tersebut, salah satu yang cukup tersohor adalah nasi goreng babat, yang populer di kota lumpia itu. Sukarmin, atau yang akrab dipanggil pak Karmin, adalah yang turut berandil mempopulerkan resep nasi goreng babat tersebut.

Usaha nasi goreng Pak Karmin sudah berdiri sejak 1971. Kala itu, dirinya masih berusia 22 tahun, baru saja menikah dan punya anak. Berbekal resep turun temurun keluarganya, ia memutuskan untuk membuka warung nasi goreng yang terletak di dekat jembatan Mberok. Di dekat kota lama Semarang.

Awalnya, usaha tersebut tak mendatangkan keuntungan yang banyak, lantaran tak begitu ramai diminati dan minim pelanggan. Tak mau menyerah, Sukarmin lantas mencoba berinovasi dengan nasi goreng buatannya. Kali ini ia menambahkan racikan babat.

Dalam khasanah kuliner Indonesia, babat merupakan salah satu bagian tubuh sapi yang cukup sering dijadikan bahan makanan. Salah satu masakan babat yang cukup populer adalah babat gongso, yang kebetulan juga termasuk kuliner klangenan di Semarang.

Sejatinya, gongso dalam bahasa Jawa adalah sebuah istilah untuk masakan tumis, nyemek atau setengah kering. Sehingga babat gongso pada dasarnya adalah babat yang dimasak dengan cara menumisnya dengan bumbu seperti bawang putih, bawang merah, cabe merah dan kecap.

Membuat babat gongso tak terlalu sulit, karena racikan bumbunya cukup mudah untuk dibuat. Tetapi untuk membuat babat nikmat untuk disantap, perlu dipersiapkan terlebih dulu dengan cara merebusnya. Semakin lama direbus, babat akan semakin halus dan empuk.

Babat gongs Semarang merupakan kuliner kota ini yang wajib dicoba.
Babat gongso di Semarang menjadi sejoli dengan nasi goreng babat. Foto: shutterstock

Hal yang sama juga dilakukan oleh Sukarmin. Sebelum dimasak, babat dicuci dulu hingga berulang kali, agar terasa halus dan bersih. Setelahnya, bagian babat kemudian dipisahkan antara yang sudah halus dengan bagian yang dirasa masih agak kasar.

Bagian babat yang halus lantas direbus dulu dalam kurun waktu setidaknya tiga jam. Adapun untuk beberapa bagian babat yang lebih kasar akan direbus sampai sekitar delapan jam, agar benar-benar menjadi empuk.

Potongan babat tersebut kemudian diracik dengan bumbu-bumbu yang digunakan untuk membuat babat gongso. Namun, alih-alih menumisnya untuk menjadi babat gongso, ia kemudian menyampurkannya ke dalam nasi goreng.

Tak ayal, cita rasa nasi goreng tersebut semakin bertambah dengan sensasi pedas dan manis yang berpadu nikmat. Dari sinilah, nasi goreng babat pak Karmi mulai mendapat perhatian lebih, dan perlahan pelanggan dan pelancong yang penasaran mulai berdatangan.

Ia bahkan kemudian turut menjajakan babat gongso buatannya sebagai menu lauk yang terpisah. Belakangan, menu babat gongso tersebut turut menjadi populer dan kian menambah ramai warungnya.

Nasi goreng babat, ketika babat gongso dikolaborasika dengan nasi goreng.
Nasi goreng babat tengah dimasak. Foto: dok. Paxels

Kini, Suhari sang generasi kedua dari usaha ini yang terus melanjutkan aktivitas bisnis warung Nasi Goreng Babat Pak Karmin tersebut. Dalam sehari, mereka bisa menjual setidaknya sebanyak 600 piring. Oleh karenanya, kemudian dibukalah cabang di jalan M.H. Thamrin, Semarang, untuk dapat mengakomodasi ramainya pengunjung.

Harga satu porsi nasi goreng babat pak Karmin pun terbilang masuk akal. Seporsi nasi goreng babat dihargai Rp 25 ribu, atau Rp 28 ribu kalau pakai tambahan telur dadar maupun ceplok. Pengunjung juga bisa meminta tambahan seperti petai, serta mengatur level rasa pedas sesuai selera.

Sementara kalau ingin mencoba babat gongso, disarankan untuk membeli satu porsi dengan nasi putih hangat dan telur dadar atau ceplok sebagai teman makannya. Harga seporsinya dibandrol Rp 33 ribu.

Bagi yang mungkin tidak begitu menyukai babat, tersedia pula menu-menu seperti nasi goreng ayam, nasi goreng telur, serta racikan ayam atau telur yang digongso. Harganya berkisar dari Rp 18 ribu hingga Rp 28 ribu.

Warung nasi goreng babat pak Karmin sehari-harinya buka dari jam 08.00 hingga jam 22.00, tetapi disarankan untuk datang lebih awal saat waktu makan siang dan malam. Membludaknya pengunjung, terutama saat hari libur, berpotensi sulit mendapat tempat duduk dan kehabisan.

Nasi Goreng Babat Pak Karmin

Jl. Pemuda no. 2, Semarang

Jl. MH. Thamrin no. 84, Semarang

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

Solo dan 4 Pilihan Kulinernya

Penjaja makanan di Pasar christian siallagan unsplash

Solo dan 4 pilihan kulinernya. Mulai dari sarapan, makan siang, hingga nglaras sambil makan malam. Orang Solo, seperti juga orang Yogya, senang memanjakan lidahnya. Aksi goyang lidah ini dimulai dari usai subuh, hingga tengah malam menjalang.

Solo dan 4 Pilihan Kulinernya

Solo dan 4 pilihan kulinernya. Mulai dari sarapan, makan siang, hingga nglaras sambil makan malam. Kali ini bukan tengkleng dan sate buntel yang sudah terkenal itu. Ini ada 4 pilihan kuliner yang segar dan sedap, seperti pecel, soto, dan selat. Tentu masih ada pilihan nasi liwet untuk malam hari.

Soto Gading

Jika Anda mengunjungi Solo dan sampai masih dini hari, sementara acara utama masih dua-tiga jam lagi, ini kesempatan menikmati sarapan di kota Batik ini. Pilihan pertamanya adalah soto Gading. Kuah panasnya bisa menghangatkan pagi Anda.

Harganya, seperti juga banyak makanan kota ini, tak sampai puluhan ribu. Namun ia sudah kadung menjadi klangenan para petinggi negeri hingga pesohor. Sederet nama presiden Republik Indonesia dikabarkan gemar menyantap soto gading kala berdinas ke Solo.

Soto berkuah bening ini berisi nasi putih, lembaran sohun, dan suwiran ayam. Tampak sederhana, tapi kuah soto terasa segar dan ringan di lidah. Warung soto ini juga menyediakan berbagai sate sebagai tambahan lauk, seperti sate paru, babat, kikil, usus, dan sebagainya. Walaupun selalu ramai dikunjungi saat jam makan siang, Anda tak perlu khawatir, warung ini memiliki ruangan yang cukup besar.

Soto Gading
Jalan Brigjen Sudiarto Nomor 75, Pasar Kliwon

Solo

Buka mulai pukul 06.00-15.30

Pecel Solo 1
Solo dan 4 pilihan kulinernya. dok TL

Pecel Ndeso

Jika soto masih terlalu berat, wisatawan bisa memulai paginya di Solo dengan sepiring pecel dan segelas teh hangat. Pilihannya adalah Pecel nDeso. Pecel ini dihidangkan dengan nasi merah di atas selembar daun pisang. Sayuran seperti kenikir, taoge, kacang panjang, dan jantung pisang menjadi bahan utamanya.Di Warung Tempoe Doeloe, ada pula lauk sebagai temannya, seperti tempe bacem, berbagai olahan telur, juga sambal goreng ati.

Yang menjadi ciri khas adalah bumbu yang biasanya berbahan dasar kacang digantikan wijen hitam. Jadi jangan kaget bila penampakan nasi pecel lebih legam. Namun soal rasa tak perlu diragukan lagi. Sepiring pecel ndesotanpa lauk dihargai belasan ribu saja.

Waroeng Tempo Doeloe

Jalan Dr Soepomo Nomor 55, Pasar Beling

Solo

Buka pukul 07.30-16.00 dan pukul 18.00-24.00

Selat Bestik

Sore hari ingin menyantap makanan yang tak terlalu berat di perut? Cobalah mampir ke Warung Mbak Lies. Di sini ada sederet hidangan selat, sup, dan bestik yang cukup ringan dikudap sebagai selingan. Pertama kali datang ke Warung Mbak Lies, sudah pasti Anda akan ternganga dengan interiornya yang penuh keramik pecah belah. Tak perlu khawatir takut menyenggol barang-barang unik tersebut, karena keramik sudah ditempel kuat di lantai dan di dinding.

Uniknya lagi, seragam para pramusaji di sini sangat khas Eropa. Kuliner andalan Mbak Lies adalah selat bestik dan galantin. Kata selat sendiri konon merupakan pelesetan dari salad. Sepiring selat bestik berisi sepotong daging sapi empuk, disertai wortel, buncis, kentang, daun selada, acar bawang merah, plus acar mentimun. Kemudian, diguyur kuah berwarna kecokelatan bercita rasa manis dan asam yang menyegarkan. Untuk minumannya, Mbak Lies juga menyediakan beragam es.

Warung Selat Mbak Lies

Jalan Veteran Gang II Nomor 42, Serengan

Buka pukul 09.00-17.00

Nasi Liwet

Kuliner legendaris lain yang bisa dijadikan menu makan malam di Solo adalah nasi liwet Wongso Lemu. Warung nasi ini usianya sudah lebih dari setengah abad. Konon, nasi liwet memang banyak dijajakan secara berkeliling di jalanan di Solo. Itulah penyebab banyak sekali warung nasi liwet bertebaran di kota ini. Nasi liwet bercita rasa gurih karena disiram kuah areh,atau santan kental. Biasa dihidangkan di dalam sepucuk daun pisang, dilengkapi tumis labu siam, suwiran ayam, dan telur rebus.

Dengan komposisi seperti itu, nasi liwet di Warung Wongso Lemu dibanderol Rp 19 ribu. Anda juga bisa meminta lauk tambahan, seperti ati ampela ataupun potongan ayam kampung. Walaupun harganya lebih tinggi dibanding warung nasi liwet lain, setiap malam warung Bu Wongso ini tak pernah sepi dari pengunjung. Sambil melahap nasi liwet, jangan lupa memesan segelas es puter tradisional yang biasa dijual di depan warung. Nikmati juga alunan lagu tradisional dari sepasang penyanyi yang biasa menghibur pengunjung secara live.

Warung Wongso Lemu

Jalan Teuku Umar, Keprabon

Solo

Buka pukul 16.00-01.00