Dolan ke Lombok, Ini 5 Atraksi Kerennya

Dolan ke Lombok salah satunya bisa snoekeling di Gili gili Lombok, Foto: unsplash

Dolan ke Lombok di Nusa Tenggara Barat cocok dilakukan para pelancong di Maret ini. Banyak atraksi yang unik dan keren berlangsung di tempat ini. Yang utama tentu ajang balap motor kelas dunia.

Dolan ke Lombok

Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah ajang balap motor kelas dunia, World Superbike 2023 (WSBK 2023). Sama seperti tahun lalu, World Superbike 2023 bakal digelar di Pertamina Mandalika International Street Circuit, atau Sirkuit Mandalika, pada 3-5 Maret 2023.

Sirkuit Mandalika merupakan sirkuit balap kelas dunia yang terletak di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Desa Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan panjang 4,31 kilometer, Sirkuit Mandalika memiliki total 17 tikungan yang siap ditaklukan oleh pembalap dunia dalam ajang perlombaan World Superbike 2023. 

Dola ke Lombok harus main ke  rumah adat Sasak.
Rumah adat Sasak. Foto: shutterstock

Dolan ke Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) sangat disarakan karena tempat ini disebut-sebut akan menjadi destinasi tujuan wisatawan minat khusus dalam bidang olahraga atau sport tourism. Pertama karena NTB mempunyai sirkuit berskala internasional, yakni Sirkuit Mandalika.

Selain sirkuit berskala internasional tersebut sebagai salah satu daya tarik sport tourism, dolan ke Lombok juga terkenal akan bentang alam yang sangat indah. Nusa Tenggara Barat memiliki pantai-pantai yang indah, sejumlah kawasan selam, gunung Rinjani yang asyik didaki dan budaya yang masih terjaga dengan baik, hingga desa wisata yang menyimpan sejuta pesona.

Bagi para pelancong yang ingin merasakan sensasi berlibur yang berbeda di Nusa Tenggara Barat, bisa berkunjung antara Februari atau Maret. Pada saat ini akan ada berbagai event internasional dan festival budaya yang digelar di bulan-bulan tersebut.

Lalu tempat dan atrakasi apa sajakah yang layak didatangi saat dolan ke Lombok? Berikut setidaknya lima destinasi wisata andalan di NTB yang bisa wisatawan kunjungi. 

Peonton MotoGp di Sirkuit Mandalika.
Penonton balapan MotoGP.

Kawasan Mandalika 

Dolan ke Lombok kurang lengkap kalau tidak singgah di Mandalika. Sebagai salah satu Destinasi Super Prioritas (DSP), Mandalika menyimpan banyak pesona. Salah satu yang sudah disinggung di muka sebelumnya adalah Sirkuit Mandalika. 

Sirkuit Mandalika akan kembali menggelar ajang balap motor kelas dunia, yakni World SuperBike 2023 (WSBK) pada 3-5 Maret 2023, dan akan masuk kalender balap MotoGP 2023 pada Oktober mendatang. Ada satu keunikan dari Sirkuit Mandalika. Pada tikungan ke-15 dan 16, terdapat motif tenun Suku Sasak yang menjadi ciri khas dari sirkuit di dekat pantai ini.

Bukit Merese

Destinasi wisata alam di NTB yang menawarkan keindahan perbukitan hijau, bentang pasir putih, dan gradasi warna air laut yang memesona, Bukit Merese. Berlokasi di Lombok Tengah, untuk menuju puncak bukit dan melihat langsung keindahan alam yang dimiliki Nusa Tenggara Barat, para pelancong hanya perlu berjalan kaki selama 15 menit.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi Bukit Merese adalah pagi hari atau menjelang matahari tenggelam. Karena tempat ini menawarkan bentang alam yang tak berujung, lengkap dengan sunset yang indah dan memanjakan mata.

Dolan ke Lombok belum lengkap kalau belum main ke Gili-Gili
Main ke Lombok belum lengkap kalau belum main ke Gili-Gili. Foto: unsplash

Gili Nanggu

Seperti yang kita ketahui, Nusa Tenggara Barat terkenal akan Gili-gili yang indah. Gili atau pulau kecil ini tersebar hampir di beberapa perairan Lombok. Salah satu gili yang wajib wisatawan kunjungi adalah Gili Nanggu. 

Lokasinya berada di Selat Lombok atau di pesisir barat Pulau Lombok. Gili Nanggu merupakan pulau tak berpenghuni yang berada di wilayah Kecamatan Sekotong, Lombok Barat.

Di sini pengunjung bisa menikmati keindahan alam bawah laut dengan aktivitas snorkeling maupun menyelam. Ikan-ikan dan terumbu karang yang masih terjaga dengan baik akan menyambut kita di bawah perairannya.

Desa Adat Sade

Bagi wisatawan yang menyukai budaya lokal, tak ada salahnya mengunjungi Desa Adat Sade saat dolan ke Lombok. Salah satu desa wisata di NTB ini berada di Rembitan, Lombok Tengah.

Di desa ini kita bisa melihat langsung keseharian dari masyarakat Suku Sasak. Salah satunya menenun kain yang menjadi cenderamata khas dari Desa Sade.

Menariknya lagi, kita juga bisa melihat langsung rumah adat Suku Sasak yang tergolong unik. Karena dindingnya terbuat dari anyaman dengan atap alang-alang kering. Sementara bagian lantai rumahnya terbuat dari campuran kotoran kerbau, tanah liat, dan jerami.

Festival Bau Nyale

Selain mengunjungi desa wisata di NTB, tak ada salahnya para wisatawan mencoba tradisi menangkap cacing di sekitar Pantai Kuta dan Pantai Seger. Tradisi ini dikenal dengan istilah Bau Nyale, yang biasanya diadakan setiap tanggal 20 bulan 10 menurut penanggalan Suku Sasak. 

Masyarakat Sasak percaya, tradisi berburu nyale ini dapat mendatangkan kesejahteraan. Nantinya cacing yang didapat dalam perburuan akan ditaburkan di sawah-sawah, atau diolah menjadi makanan. Bagi para pelancong yang ingin menyaksikan atau ikut langsung Festival Bau Nyale, biasanya festival ini akan digelar sekitar bulan Februari atau Maret.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Kota Batu Dan Apel, 2 Hal Tak Terpisahkan

Kota batu dan Apel, wisata sambil memetik apel

Kota Batu dan apel rasanya seperti dua hal yang tak terpisahkan. Anggapan ini tidaklah berlebihan jika melihat tumbuhnya parwisata di kota Batu, yang secara administratif ditetapkan pada 6 Maret 1993 lalu menjadi kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang pada 17 Oktober 2001.

Kota Batu dan Apel

Batu, selain memiliki potensi keindahan alam tersendiri, sejak lama menjadi ikon buah apel di Indonesia. Kota Batu sendiri adalah sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak 90 kilometer sebelah barat daya Surabaya atau 15 kilometer sebelah barat laut kota Malang.


Buah ini baru muncul di sekitar Malang pada sekitar 1934.  Ini seiring dengan dibawa masuknya bibit apel ke Indonesia pada sekitar 1930-an oleh Belanda. Sesungguhnya, wilayah pertama yang menjadi tempat penanaman apel justru bukan daerah Malang Raya, tapi di Nongko Jajar di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.


Di Malang, apel pertama kali masuk pada tahun 1929 dan pertama ditanam di desa Nglebo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Terdapat 20 varietas apel yang dibawa dan semuanya berasal dari Australia. Dekade sekitar tahun 50-an dan 60-an merupakan masa-masa apel mulai banyak dikenal dan ditanam petani di wilayah ini.

Pada awal persebarannya, petani dan penanamnya hanya terbatas pada orang-orang Belanda yang menjadi tuan tanah. Pada tahun 1934 mulai ada petani etnis Tionghoa di Batu yang juga menanam apel walaupun dengan varian yang berbeda.

Tanaman apel mulai banyak dibudidayakan di wilayah Batu sejak sekitar 1950-an sebagai pengganti jeruk yang banyak mati diserang penyakit. Mulai saat itulah wilayah Malang semakin identik dengan apel terutama ketika tanaman ini juga mulai dikembangkan di daerah Poncokusumo.


Tahun 1970-an merupakan saat-saat produksi apel Malang mulai jauh meningkat baik dari segi kualitas dan kuantitas. Sejak tahun 70-an hingga 90-an, apel menjadi produk andalan wilayah sekitar Malang, terutama Batu dan Poncokusumo. Kerena jumlah yang banyak serta buah yang lezat dari apel Malang ini, sampai muncul sebutan Malang kota apel. Meskipun aslinya sentra apel ada di Batu.

Sejak akhir tahun 80-an di Batu tumbuh semangat mengembangkan perkebunan apel tidak sekedar produksi buah, namun juga sebagai pusat wisata. Di sejumlah perkebunan pengunjung bisa berwisata sambil memetik apel langsung dari pohonnya. Di sana juga ada banyak pilihan tempat wisata petik apel yang bisa dikunjungi.


Jenis apel yang ditanam di Malang dan Batu, ada lima jenis, yaitu Apel Manalagi, Apel Rome Beauty, Apel Granny Smith, Apel Anna, dan Apel Wanglin. Tiap jenis apel memiliki rasa dan tekstur daging buah yang berbeda.

Jika ingin main ke Batu dan mampir ke perkebunan apel yang menyediakan kesempatan memetik buahnya langsung dari pohonnya, berikut ada tiga perkebunan yang bisa dijadikan referensi.

Pertama Wisata Petik Apel Agro Rakyat. Letaknya di Jalan raya Sidomulyo, Kecamatan Batu dan buka setiap hari antara jam 7 pagi hingga 6 sore. Tempat wisata petik apel ini hanya memiliki 4 dari 5 jenis apel yang umumnya ada di Batu.


Wisata Petik Apel Agro Rakyat ini menawarkan harga tiket masuk kebun apel malang sekitar Rp 25 ribu per orang dan bila ingin membungkus hasil petikan apel kamu harus mengeluarkan uang sekitar Rp 12 ribu per kilonya. Umumnya, dalam berwisata petik apel ini wisatawan bisa makan apel sepuasnya di tempat dan hanya boleh memetik apel sesuai area yang telah ditentukan petugas kebun.


Pilihan ke dua adalah Agro Wisata Petik Apel Kelompok Tani Makmur Abadi atau KTMA. Di sini pengunjung bisa datang kapan sepanjang tahun alias tidak memiliki musim. Ini karena mereka menyediakan area lahan pohon apel yang dikhususkan untuk menjaga ketersediaan buah apel bagi para pengunjung.


Terletak di Jalan Pangeran Diponegoro kawasan Tulungrejo, Bumiaji, Batu. Mereka mengenakan tiket masuk Rp 20 ribu per orang saat hari-hari biasa dan Rp 25 ribu per orang di akhir pekan. Dengan harga segitu, selain bebas makan di kebun, pengunjung juga mendapatkan

welcome drink. Untuk membawa hasil petikan apel, pengunjung harus menebusnya sebesar Rp 20 ribu per kilogramnya. Selain itu, pengunjung bisa menikmati beberapa fasilitas berbayar, seperti memeras susu sapi, permainan anak dan outbond.


Pilihan lainnya untuk memetik apel ada di Kusuma Argowisata. Uniknya, Kusuma tidak hanya menyediakan wisata petik apel ,tetapi juga buah strawberry. Jika pengunjung berencana datang bersama rombongan, sebaiknya mengambil paket yang disediakan pihak pengelola, yaitu paket agro edukasi dan paket study tour yang minimal terdiri dari 30 orang.

Rombongan akan didampingu seorang pemandu wisata saat mengelilingi perkebunan. Di sini pengunjung diwajibkan membeli tiket seharga Rp 85 ribu per orang. Meskipun cukup mahal, tapi pengunjung bisa menikmati berbagai keuntungan, selain memetik dan makan apel, strawberry dan jambu biji di tempat, mereka juga mendapatkan bonus 1 porsi Pancake Strawberry Ice Cream dan 1 botol Yoghurt buah produksi Kusuma Agrowisata yang berada di Jalan Abdul Gani Atas di kawasan Ngaglik, Batu.

Tertarik? Ayo agendakan petik apelmu.

******

Desa Mas Ubud, Mengukir Patung Sejak 1920

Desa Mas ubud pusat kerajinan ukiran patung Bali. Foto: Dok. Marriot Bonvoy

Desa Mas Ubud seperti tak pernah habis pesonanya. Saat jalan-jalan ke kawasan ini, selain menikmati pemandangan indah nan asri, sempatkan juga mampir ke desa Mas. Desa wisata di Kabupaten Gianyar ini kondang sebagai sentra kerajinan patung ukir dari kayu di Bali.

Desa Mas Ubud

Desa Mas terletak di bagian selatan Ubud, berjarak sekitar 23 kilometer dari Denpasar. Dari ibukota Bali ini waktu tempuhnya kurang lebih 30 menit dengan kendaraan pribadi. Selain bertani, sebagian besar warga desa ini memang berprofesi sebagai pengrajin patung ukir.

Asal-usul desa Mas Ubud disebut berasal dari kisah seorang Brahmana dari kerajaan Majapahit bernama Dang Hyang Nirartha. Ia diundang untuk pindah ke Bali oleh beberapa arya-arya kerajaan Majapahit. Setelah berhasil menduduki wilayah Bali, mereka memutuskan menetap karena merasa kondisi Majapahit sedang menurun dan terancam runtuh.

Dang Hyang Nirartha kemudian memutuskan untuk pindah. Di Bali ia disambut Raden Mas Willis, salah seorang dari arya tersebut. Pada prosesnya, mereka kemudian memiliki hubungan sebagai guru dan murid, utamanya dalam hal agama, sosial dan seni budaya.

Hingga suatu ketika, Dang Hyang Nirartha dinikahkan oleh Raden Mas Willis dengan putrinya. Setelahnya, keturunan mereka disebut sebagai Brahmana Mas, yang hingga saat ini tinggal di desa tersebut.

Raden Mas Willis pun kemudian dinobatkan oleh Dang Hyang Nirartha sebagai Pangeran Manik Mas, pemimpin daerah tersebut. Dari situlah, daerah tersebut kemudian dipanggil sebagai desa Mas.

Masih menurut kisah yang sama, Dang Hyang Nirartha juga diceritakan pernah menancapkan sebatang kayu, yang konon kini menjadi pohon Tangi yang berada di area Pura Taman Pule Mas. Ia kemudian bersabda bahwa warga desa Mas akan sejahtera dari hasil kerajinan kayu.

Desa Mas Ubud Bali kini akrab disebut sebagai Home of the Wood Carvers, rumah para pemahat kayu.
Pelbagai karya ukir patung kayu khas Desa Mas ubud. Foto: DOk. Balitoursclub.net

Namun desa Mas Ubud yang kini akrab disebut sebagai Home of the Wood Carvers atau rumah para pemahat kayu, justru tidak serta merta identik dengan seni patung ukirnya. Dulunya, seni tersebut lebih banyak diperuntukkan sebagai persembahan bagi para raja di Bali.

Adalah maestro seni pahat Ida Putu Taman yang mempopulerkan budaya seni mematung kepada warga desa Mas pada 1920-an. Berkerajinan patung ukir tidak lagi dipandang secara eksklusif, melainkan sesuatu yang datang dari hati.

Seni mematung lantas dipandang sebagai wujud rasa iman dan syukur kepada sang Pencipta. Maka tak heran, ada beberapa hasil patung ukir dari desa Mas Ubud yang juga berfungsi sebagai alat sembahyang, atau terinpirasi dari kisah-kisah pewayangan dan kehidupan warga Bali sehari-hari.

Karya-karya tersebut merupakan representasi dari imajinasi para perajinnya. Mereka menganggap, patung-patung itu menjadi wujud respon mereka terhadap filosofi dan dinamika dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya tersebut, yang kemudian disebut dengan istilah ‘ngayah’, berhasil mendorong warga untuk lebih aktif berkarya dan melestarikan seni patung ukir. Oleh karena itulah, desa Mas perlahan mulai dikenal dengan seni patung ukirnya pada era 1930-an.

Desa Mas Ubud kini memeiliki ribuan warga yang berprofesi sebagai pengukir patung.
Seorang pemahat patung dari Desa Mas Ubud, Bali. Foto: DOk. Kemenparekraf

Memasuki era pasca kemerdekaan, seni kerajinan patung ukir kemudian juga berkembang secara komersial. Para perajin mulai memperjualbelikan patung hasil kerajinannya, ini seiring dengan berkembangnya pariwisata di Bali.

Ketenaran desa Mas semakin mencuat karena Presiden Soekarno saat itu beberapa kali datang berkunjung. Kebetulan, lokasi desa tersebut berada di tengah rute antara bandar udara Ngurah Rai dan istana kepresidenan Tampaksiring.

Lewat publisitas tersebut, peluang bisnis patung ukir semakin terbuka karena semakin banyak wisatawan dalam dan luar negeri yang tertarik berkunjung dan membeli kerajinan tersebut sebagai souvenir. Sehingga pada periode 1970-an hingga 1990-an kerajinan patung ukir desa Mas mencapai masa jayanya.

Namun pada perjalanannya bisnis dan kerajinan ini tidak selamanya mulus. Ketika industri pariwisata Bali diguncang tragedi bom Bali pada 2002 dan 2005, merosotnya jumlah wisatawan yang datang turut mencekik perekonomian para perajin patung ukir. Banyak dari mereka terpaksa banting setir mencari pekerjaan lain demi menghidupi keluarganya.

Butuh waktu lama untuk industri kerajinan patung ukir dapat bangkit kembali, terlebih dengan ketatnya persaingan dengan kerajinan serupa dari tempat lainnya. Hingga pada era 2010-an jumlah pengrajin patung ukir mulai naik kembali hingga ribuan.

Di tengah berbagai tantangan berat, para perajin di desa Mas Ubud terus mempertahankan eksistensinya dengan konsistensi dan kualitas. Salah satunya diwujudkan dengan pemilihan jenis kayu berkualitas, dari kayu bonggol jati, suar, meranti, eboni, waru dan sebagainya yang didatangkan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Filosofi mereka dalam berkarya juga terus dipertahankan. Ada sebuah paham yang dianut oleh warga setempat, yakni Tri Hita Karana; keharmonisan antara hubungan antar manusia (Pawongan), manusia dengan Tuhan (Parahyangan) serta manusia dengan alam (Palemahan).

Paham tersebut yang senantiasa menjadi konsep berkesenian perajin desa Mas, yang kemudian dituangkan ke dalam karya patung-patung yang memadukan desain modern dan kontemporer.

Secara umum ada dua jenis patung ukir yang dibuat, yaitu realis dan surealis. Realis merupakan jenis patung yang menyerupai bentuk dan postur tubuh manusia atau makhluk hidup lainnya, sementara surealis bentuk dan posturnya bisa lebih hiperbola dan imajiner.

Sekarang di desa tersebut tak sulit untuk menemukan jejeran artshop di sepanjang jalan utama, menawarkan beragam jenis patung ukir. Di desa ini, tiap warganya – terutama yang wanita – sudah diajarkan teknik memahat dan memoles patung kayu sejak anak-anak.

Tak jarang wisatwan bisa melihat secara langsung pengrajin patung ukir yang mengerjakan karyanya. Pengunjung pun juga dapat berkesempatan merasakan belajar membuat patung ukir sendiri.

Harga patung-patung ukiran tersebut sangat bervariasi. Tingkat kerumitan sangat berpengaruh, selain juga lama pengerjaan serta jenis dan kualitas kayu yang digunakan. Ada yang harganya ratusan ribu, ada juga yang sampai menyentuh ratusan juta rupiah.

Hal ini disebabkan proses pengerjaan yang begitu mendetail. Lama pengerjaan setiap patung berkisar antara satu hingga empat bulan lebih. Pengukiran patung dilakukan dalam berbagai tahapan, dimulai dari pembuatan bentuk pahatan secara kasar.

Setelahnya baru dirapikan detail-detailnya dengan sayatan pisau atau pahatan-pahatan kecil. Terakhir, patung yang sudah jadi dihaluskan dengan amplas, terkadang juga dipoles sesuai pesanan.

Yang tak kalah unik, karya satu perajin bisa memiliki ciri khas tertentu dibanding perajin lainnya. Kekhasan itulah yang membuat patung ukir buatan desa Mas begitu diminati. Selain diburu oleh wisatawan domestik dan mancanegara, patung ukir mereka juga diekspor ke berbagai belahan dunia, baik negara-negara di benua Asia, Eropa, maupun Amerika.

Selayaknya sebuah desa wisata, anda juga dapat menemukan beragam kerajinan lainnya seperti topeng dan wayang Bali. Dan lokasinya terhitung strategis karena cukup berdekatan dengan spot wisata lain seperti Kintamani, Gua Gajah dan beberapa museum di sekitar kawasan tersebut.

Tersedia juga beberapa pilihan penginapan, serta pilihan tur wisata di kawasan desa tersebut. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 081237250266, via email ke info@desawisatamas.com atau kunjungi situs resmi desawisatamas.com.

Desa Wisata Mas

Jl. Raya Mas no. 110, Desa Mas, Ubud, Bali

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Ubud Bali, Keselarasan Hidup di 14 Desa

Desa Tegallalang Bali menjadi tempat untuk menikmati alam.

Ubud Bali adalah keselarasan manusia dan alam, melalui capaian seni dan budaya. Pasti bukan hanya Elizabeth Gilbert, penulis buku Eat, Pray, Love yang mengamini itu.

Ubud Bali

Sempat dinobatkan majalah travel Amerika Condé Nast Traveler sebagai tujuan wisata terbaik di dunia, Ubud memang sangat kuat memberikan harmoni. Baik yang terlihat mata dan telinga, juga yang tertangkap oleh rasa. Ubud adalah pedesaan di Kabupaten Gianyar, Bali, merupakan paduan 14 desa berbalut hutan dan sawah terasering yang teduh menghijau, di mana seni dan laku spiritualitas menjadi denyut nadinya yang sangat kuat.

Begitulah, jauh di masa lampau, tepatnya pada abad ke 8, desa Ubud bahkan diyakini lahir dari kata “ubad” yang berarti “obat” karena di sinilah pusat meditasi dan penyembuhan pada zaman itu. Ada satu kisah, seorang resi terkemuka hijrah dari Jawa ke daerah ini untuk bermeditasi di muara sungai Campuan dan membangun kehidupan baru di Bali.

Warisan sebagai pusat spiritualitas di masa lalu tersebut membuat Ubud kaya dengan balian (para penyembuh tradisional) maupun seniman dengan karya masterpiece-nya. Paduan kearifan dari masa lampau dan kekinian secara unik berpadu di Ubud dengan harmonis, menjadikan daya tarik wisata kawasan ini yang tak akan cukup dijelajahi hanya dengan satu atau dua hari kunjungan.

Ubud bukanlah Kuta yang bising dengan wisatawan “anak pantai”-nya. Kawasan ini rasanya lebih teduh dan kerap turun hujan di sore hari pada sepanjang musim penghujan (Oktober hingga Maret). Itu sebabnya banyak pelancong lebih banyak mencari wisata budaya dan spiritual di sini. Tak heran, kegiatan retreat dengan yoga dan meditasi menjadi salah satu paket wisata yang banyak berkembang di Ubud.

Kegiatan para wisatawan di Ubud biasa dimulai dengan yoga di alam terbuka pada awal hari. Salah satu pusat retreat, yoga serta meditasi di Ubud adalah Yoga Barn. Acara di pagi hari bisa dilanjutkan dengan berjalan-jalan menikmati pertokoan dan butik yang artistik di pusat kota, menikmati Pasar Seni Ubud, atau mengunjungi ratusan monyet yang seolah setia menjaga Pura Dalem Padangtegal di Wanara Wana yang kini lebih dikenal dengan nama Monkey Forest.

 Ubud juga sohor dengan wisata treking dan bersepeda menyusuri sawah dan bukit. Di antara jasa tur sepeda di Ubud yang kerap dicari wisatawan manca negara adalah Bali Baik, Bali on Bike (BoB) dan Banyan Tree. Bersepeda sekitar 5 km dari Ubud menuju Tegal Lalang, suatu pusat seni kerajinan kayu, bisa dilakukan dengan melalui rute Dusun Ceking untuk bisa menikmati panorama sawah yang memesona. Tak jauh dari Tegal Lalang adalah desa Pakudui di Sebatu yang sohor dengan  patung dan ukiran kayu aneka jenis dan harga.

Pada sisi timur Pakudui terdapat Pura Gunung Kawi, Sebatu, yang anggun. Pengunjung dapat memasuki pura dengan memakai busana yang sopan dilengkapi kain kamen (sarung) yang bisa disewa di gerbang.  Pura lain di Ubud yang wajib dikunjungi adalah Pura Taman Saraswati yang dibangun anggun di tengah kolam penuh teratai. Pura ini dapat dinikmati pada pagi hari untuk sekadar berfoto di bibir keindahannya  sedangkan pada malam harinya ada pertunjukan tari. Pengunjung juga bisa menikmati tarian yang selalu dipentaskan kecuali pada Jumat malam.

 Salah satu sumber seni dan budaya di Ubud adalah adanya keraton Puri Agung yang menjadi jantung kehidupan di Ubud. Setiap hari pelancong dapat menyaksikan anak-anak yang berlatih menari dan juga pementasannya di Puri Agung. Bahkan pada Jaba Puri, yang menjadi semacam balairung keraton, setiap tahunnya digunakan untuk membuka pekan sastra internasional Ubud Writers and Readers festival.

Sebagai pusat seni, budaya dan spiritual, Ubud menjadi rumah berbagai kegiatan sejenis, baik untuk tingkat lokal hingga internasional. “Setiap tahun di Ubud diselenggarakan Bali Meditation Festival dan Bali Spirit Festival,” ungkap Noviana Kusumawardhani, warga Ubud. Selain dua festival besar itu  juga terdapat berbagai kegiatan spiritualitas nyaris setiap hari di Ubud. Kegiatan spiritualitas lain yang banyak dicari di Ubud adalah retreat dan melakukan meditasi.

Sejenak meninggalkan dunia spiritualitas, untuk mengagumi keunikan alam bisa dilakukan di di Desa Petulu yang  merupakan habitat burung bangau atau kokokan. Di desa peraih Kalpataru yang berada 2,5 km di sebelah utara Ubud tersebut terdapat ratusan bangau yang bersarang pada pepohonan di sepanjang jalan pedesaan.

Setiap pagi, kokokan berangkat bersama-sama matahari terbit untuk terbang mencari makan dan kembali bersama-sama ke sarang mereka selepas pukul lima petang. Wisatawan, terutama penggemar fotografi telah bersiap pada pukul 5 sore untuk mengabadikan pemandangan bangau yang menjejakkan kaki dari udara untuk hinggap ke sarangnya.

Lukisan seolah menjadi keharusan sebagai oleh-oleh dari Ubud. Pecinta seni akan sangat dimanjakan oleh aneka pilihan lukisan dari berbagai aliran. Adanya lima museum utama di Bali yang juga menyediakan galeri yang memperjual belikan lukisan dan deretan art shop di sepanjang Jalan Raya Ubud dan Jalan Monkey Forest tak akan cukup dijelajahi hanya dalam waktu satu atau dua hari. Selain lukisan, pahatan dan ukiran, Ubud juga sohor dengan karya fashion dan accesories.

Ubud Bali salah satu yang perlu dikunjungi adalah Pasar ubud

Terdapat pula Pasar Ubud yang eksotik bagi para wisatawan manca. Di sini pengunjung dapat menemukan aneka sarung Bali, aneka barang seni dan jajanan dengan seni tawar menawar yang seru. Jika hendak mengunjungi Pasar Ubud disarankan untuk menghindari pasar ini pada tengah hari lantaran menjadi waktu favorit untuk mampirnya bis berisi rombongan turis dari luar kota yang membuat pasar kecil tersebut menjadi sesak.

Jika pengunjung mengikuti tur harian dari Denpasar ke Ubud, biasanya sang pemandu akan mengajak mampir ke berbagai desa seni yang  dilewati. Ubud memang dikelilingi banyak desa seni yang menjual karya langsung dari sang seniman. Desa Batubulan, misalnya, adalah rumah para pemahat batu yang menyediakan aneka rupa stone-carving penghias rumah. Selepas Batubulan, akan tiba di desa Celuk yang sohor dengan kerajinan perak. Wisatawan dari Denpasar ke Ubud biasanya juga menyempatkan diri untuk mampir di Pasar Seni Sukawati, mencari lukisan tradisional di desa Batuan, dan ukiran kayu di desa Mas.

Jika pengunjung  ingin membeli sesuatu yang lebih personal,  terdapat pula para seniman yang membuka workshop dan pelatihan, misalnya di Chez Monique. Pada studio pembuatan perhiasan perak milik I Wayan Sunarta dan istrinya, Monique, di rumah sekaligus bengkel mereka di Jalan Dewi Sita, Ubud, tersebut tersedia pelatihan dasar membuat perhiasan dari perak, selama sekitar 4 jam.

Tertarik? Ayo agendakan perjalananmu ke Ubud.

*****

Liburan ke Cilacap, Menikmati Tradisi Sejak 1875

Ini 5 tempat Wisata asyik di Cilacap yang ada di jalur mudik selatan salah satunya bisa menikmati spot wisata di sekitar Cilacap

Liburan ke Cilapacap, Jawa Tengah, pengunjung bisa menikmati atraksi sedekah laut. Ebuah tradisi yang sudah berjalan lebih hampir 150 tahun. Selain itu, masih ada Teluk Penyu dan Benteng Pendem menjadi kegiatan wisata yang mencuri perhatian wisatawan. Cilacap Tak lagi hanya dikenal karena Pulau Nusakambangan.

Liburan ke Cilacap

Bulan Suro dalam penanggalan Jawa memiliki makna penting bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap, Jawa Tengah. Bagaimana tidak, sebagai masyarakat bahari, warga Cilacap memiliki kalender rutin sedekah laut. Ini merupakan upacara adat nelayan berupa prosesi Larung Sesaji yang disebut Jolen ke Laut Selatan sebagai wujud rasa syukur serta permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan nelayan dapat makmur sentosa.

Liburan ke Cilacap salah satunya mennikmati rangkaian tradisi larung sesaji.
Larung Sesaji, tradisi memberikan melarung sesaji di Cilacap sejak 1875. Foto: Dok. shutterstock

Merunut sejarah, kegiatan tersebut bermula dari perintah Bupati Cilacap III, Kanjeng Adipati Raden Bei Tjakrawerdana III (1873-1877) kepada sesepuh nelayan Pandanarang yang bernama Ki Ansa Manawi untuk melarung sesaji atau Jolen ke Laut Selatan pada Jumat Kliwon di bulan Suro tahun 1875. Tujuannya, untuk menjaga keselamatan warga Cilacap.

Tetapi tradisi tersebutsempat terhenti danbaru dihidupkan kembalipada masa Bupati Poedjono Pranjoto pada tahun 1982 hingga saat ini terus dilestarikan sebagai salah satu atraksi budaya di Kabupaten Cilacap yang dilaksanakan tiap Jumat atau Selasa Kliwon di Bulan Sura.

Rangkaian gelar budaya sedekah laut diawali dengan berziarah ke Karang Bandung di Pulau Nusakambangan oleh para sesepuh nelayan, sehari sebelum prosesi larungansesaji. Pada malam harinya dilakukan tasyakuran di Pendopo Wijayakusuma Sakti Kab. Cilacap yang dihadiri para nelayan dan pejabat di lingkungan Pemkab Cilacap. Prosesi Larunganpada upacara ini berlangsungdi Pantai Selatan Cilacap dan meriah karena melibatkan banyak kelompok nelayan dan masyarakat sekitar.

Iring-iringan kirab tersebut terdiri dua perempuan berkuda, barisan prajurit bertombak, barisan umbul-umbul, 14 putri domas,14 putri pengiring, kereta kuda yang membawa Bupati Cilacap dan istri serta pejabat lainnya, sejumlah becak, dan prajurit pembawa jolen. Prosesi dimulai dari pelepasan iring-iringan kelompok nelayan yang dipimpin Tumenggung Duta Pangarsa dengan membawa Jolen (sesaji berupa kepala kerbau yang dihias meriah) oleh Bupati Cilacap dari Pendopo Kabupaten menuju Pantai Teluk Penyu. Di Pantai Teluk Penyu, Tumenggung Duta Pangarso meminta izin kepada Bupati untuk memerintahkan para nelayan melarung jolen di Laut Selatan (sebelah selatan Pulau Nusakambangan).

Liburan ke Cilacap, selain menikmati tradisi lama, juga ada wisata pantai di teluk Penyu.
Panorama pantai Teluk Penyu di Cilacap, Jawa, Tengah. Foto:: Dok. shutterstock

Keunikan budaya di Cilacapitu tak bisa dipisahkan dari geografis wilayahnya yang berada di Jawa Tengah, tapi berbatasan pula dengan Provinsi JawaBarat. Sehingga budaya yang berakulturasi yaitu Jawa dan Sunda begitu lekat di Cilacap Ini. Pesona alamnya yang sebagian berada di pesisir pantai selatan memiliki keindahan luar biasa. Di antaranya Pantai Teluk Penyu yang berlatarkan Pulau Nusakambangan yang eksotis dan misterius.

Pantai Teluk Penyu initerletak sekitar 2 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Cilacap ke arah selatan. Kondisi pantainya landai, dan jika dilihat dari atas berbentuk seperti bulan sabit dengan pemandangan Pulau Nusakambangan serta kapal-kapal nelayan, dengan latar belakang Benteng Pendem Cilacap. Dinamakan Teluk Penyu karena konon, dahulu banyak terdapat penyu di sekitar teluk ini. Sedikit berbeda dengan pantai selatan pada umumnya yang memiliki ombak besar, Pantai Teluk Penyu karena terlindung Pulau Nusakambangan dari arah Samudera Hindia, maka ombaknyapun tidak terlalu besar.

Berbagai atraksi dan rangkaian kegiatan besar pariwisata sering diselenggarakan di Pantai Teluk Penyu diantaranya Gelar Budaya Adat Nelayan Sedekah Laut setiap Selasa atau Jumat Kliwon di bulan Sura, Festival Perahu Naga (Dragon Boat Race Open Tournament) tiap Maret dan Festival Layang-layang tingkat Nasional tiap September.

Di dekat pintu masuk dan sepanjang Pantai Teluk Penyu terdapat aneka cenderamata serta makanan khas hasil laut yangdapat dinikmati sambil merasakan sejuknya semilir angin laut selatan di bawah pohon waru atau di payung-payung pantai yang terdapat di sepanjang pantai tersebut.

Liburan ke Cilacap orang bisa menikmati Benteng Pendem peninggalan Belanda.
Benteng Pendem peninggalan zaman Belanda yang masih tersisa di Cilacap. Foto: Dok. shutterstock

Berwisata ke Cilacap, tak lengkap tanpa berkunjung ke Benteng Pendem Cilacap atau dalam bahasa Belanda disebut “Kusbatterij op de Landtong te Tjilatjap” terletak 0,5 km arah selatan Pantai Teluk Penyu. Benteng ini merupakan peninggalan Hindia Belanda yang dibangun rentang 1861 – 1879 sebagai benteng pertahanan dengan luas 10,5 hektare. Keseluruhan bangunan benteng ini masih dipertahankan seperti bentuk aslinya yang terdiri dari barak atau ruang prajurit, klinik, terowongan, penjara, ruang amunisi, ruang akomodasi, dan landasan meriam, yang dikelilingi parit dengan kedalaman 3 meter.

Sejak selesai dibangun mulai 1861 hingga 1942, benteng ini dipergunakan sebagai markas tentara Belanda untuk pertahanan pantai Pulau Jawa di bagian selatan karena letaknya yang strategis dan terlindung oleh Pulau Nusakambangan. Kemudian pada 1942 sampai 1945 Benteng Pendem dimanfaatkan sebagai Markas Tentara Dai Nippon (Jepang) di era penjajahan Jepang.

Setelah Jepang kalah perang, antara 1945-1950 Benteng Pendem itu diambil alih kembali oleh tentara Belanda sampai 1950.

Selanjutnya, Benteng Pendem tidak berfungsi apapun, hingga pada 1952-1965 dijadikan markas TNI/Pasukan Banteng Loreng
dan dalam perkembangannya dimanfaatkan sebagai tempat latihan pasukan RPKAD (sekarang Kopassus) sampai 1965 dan meninggalkan bangunan monumen dua peluru di pintu gerbang selatan. Kemudian, sekitar 21 tahun setelah itu, Benteng Pendem terlantar tanpa ada yang memanfaatkannya.

Benteng Pendem baru mulai kembali dimanfaatkan keberadaanya pada 1986 dengan sebagian areal Benteng Pendem seluas 4 hektare untuk dibangun dermaga kapal dan kantor serta tangki-tangki minyak area 70. Hingga akhirnya pada 26 November 1986, seorang warga Cilacap bernama Ady Wardoyo (Pemilik CV. Wardoyo) mencoba menggali dan menata kembali lingkungan Benteng Pendem dan mulai 28 April 1987 secara resmi dibuka sebagai tempat wisata sampai saat ini.

Benteng Pendem Cilacap kini telah dilengkapi dengan fasilitas berupa gazebo, ayunan atau tempat bermain, area pemancingan, perahu bebek, motor ATV, mushola, panggung hiburan dan toko cenderamata. Berbagai kegiatan pariwisata sering dilaksanakandi tempat ini antara lain lomba menggambar dan mewarnai, memancing, festival musik, tari dan calung Banyumasan.

agendaIndonesia

*****

Kota Pontianak, Kota Multietnik di Garis Lintang 0

Pontianak Tugu Khatulistiwa

Kota Pontianak adalah kota yang tepat dilewati garis Khatulistiwa atau equator, atau garis lintang 0 derajat. Ia berada di tengah-tengah titik utara dan titik selatan bumi. Memiliki banyak tradisi Melayu, kota ini kaya dengan warisan kuliner Tionghoa.

Kota Pontianak

Menuju ibukota Kalimantan Barat ini tentu saja paling mudah melewati jalur udara melalui Bandara Supadio. Dari Bandara Soekarno Hatta memerlukan penerbangan dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Supadio sendiri berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat kota Pontianak.

AgendaIndonesia berkesempatan mengunjungi kota ini akhir tahun lalu. Sesungguhnya agak nanggung datang ke Pontianak pada bulan Desember, sebab saat itu kotanya sedang tak terlalu ramai. Kota ini ramai justru saat perayaan Imlek, dan dua minggu setelahnya, yakni perayaan Cap Go Mei. Maklum saja, sekitar 32 persen warga kotanya adalah masyarakat keturunan Tionghoa. Lebih besar dari warga Melayu yang sekitar 26 persen.

Saat Imlek, yang biasanya jatuh di akhir Januari atau awal Februari, suasana kota sungguh meriah. Cobalah pada hari-hari itu mampir ke pasar-pasar tradisional. Warna-warni merah mendominasi suasana pasar. Dan, sama seperti ketika Lebaran di kota-kota di Jawa, saat Imlek banyak warga saling mengunjungi.

Agama tak menghalangi tradisi saling kunjung dan makan besar. Meskipun banyak warga Tionghoa yang sudah memeluk agama Katolik, selain Budha dan Konghucu, Imlek adalah perayaan tahun baru semi. Dirayakan oleh semuanya. Di kota ini bahkan warga non-tionghoa pun ikut saling mengunjungi. Sungguh suasana kekeluargaan yang hangat.

Tapi sudahlah, karena bukan saat perayaan Imlek, ketika sampai Pontianak, dengan mencarter mobil, kami berpikir untuk pertama-tama mengunjungi ikon kota ini: Tugu Khatulistiwa. Dari Bandara kami menuju ke wilayah Sungai Raya atau warga setempat menyebutnya Sei raya. Saat ini sudah ada dua jembatan yang menghubungkan wilayah Pontianak kota dan Pontianak Utara. Keduanya membentang sepanjang sekitar setengah kilometer, 420 meter dan 560 meter. Jembatan I dulunya adalah jembatan tol, namun pada 1990-an dibuka untuk umum tanpa berbayar.

Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dan Sungai Landak. Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia yang melintasi 5 kawasan, termasuk Pontianak. Panjang sungai ini mencapai 1.143 kilometer, sedangkan lebarnya sekitar 70-250 meter. Sebutan sungai Kapuas diambil dari daerah Kapuas Hulu yang mengaliri aliran sungai tersebut.

Dulunya, sebelum tahun 1982, warga Pontianak Kota yang ingin pergi ke wilayah lain di Kalimantan Barat harus menyeberangi Kapuas dengan kapal feri menuju wilayah Siantan. Dari sana baru perjalanan darat menuju Singkawang, Sambas, atau Kapuas Hulu dilanjutkan.

Tugu Khatulistiwa ini rasanya wajib kunjung, karena sesuai julukannya, Pontianak dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena posisinya dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang dilalui garis lintang nol derajat bumi.

Tugu Khatulistiwa bentuknya sederhana saja, sebuah menara dari bahan kayu belian berwarna hitam dengan dua lingkaran di mana salah satunya memiliki anak panah yang menandakan lintasan titik 0 derajat lintang bumi. Menara ini dibangun oleh tim ekspedisi geografi yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda.

Sesungguhnya tugu atau menara Khatulistiwa ini biasa saja. Namun, memang ada sensasi lucu ketika berdiri di bawahnya. Berdiri tepat di tengah-tengah lingkaran utara-selatan bumi. Sayangnya belum ada penelitian, adakah efek berada di titik 0 bagi manusia. Jika ada, dan positif, bisa jadi daerah ini akan makin ramai mendatangkan wisatawan.

Dari tugu, kami kembali ke kota. Hari itu kami cuma berencana menikmati kuliner Pontianak. Pertama-tama tentu saja kwetiau, atau masyarakat Pontianak menyebutnya mi tiau. Sama saja, keduanya merujuk pada bakmi dari tepung beras berwarna putih dan pipih lebar.

Kota Pontianak di  Pusat oleh olehnya

Ada beberapa pilihan restoran yang kondang di kota ini, tapi kami memilih Kwetiau Antasari. Dari namanya pasti sudah bisa diduga kalau lokasi berjualan rumah makan ini sekaligus menjadi nama atau branding dari rumah makannya ada di Jalan Antasari. “Ini sudah buka sejak aku kelas 2 SD,” kata Uke, seorang kawan yang menemani makan siang, itu artinya merujuk pada tahun 1972.

Kami siang itu memesan menu andalan, yakni kwetiau goreng spesial. Kata spesial ini merujuk pada kondimen yang terdiri dari bakso sapi gepeng, daging sapi, daging babat, sayuran hijau, tauge, kikil dan ditambahkan lagi telur mata sapi di atas kwetiau gorengnya. “Itu belum termasuk telur yang dicampur dalam gorengannya,” kata Uke sambil bercerita, jika pesan bungkus, maka bungkusannya masih menggunakan daun jati. Persis seperti puluhan tahun lampau.

Jika ingin mencoba kwetiau atau mitiau lain, ada pilihan Kwetiau Seroja Baru, juga Kwetiau Apolo. Yang terakhir ini, yang kami coba besoknya, terlihat lebih gelap karena faktor kecap.

Usai makan, kami lanjut ke tempat lain yang tak kalah terkenalnya di Pontianak: es krim Angi atau lebih dikenal dengan sebutan es krim Petrus, karena dengan dengan SMA Petrus. Tadinya mau mencoba kopi Asiang yang dekat dari Antasari, tapi warungnya penuh. Dan di tengah panas siang hari, es krim rasanya asik.

Es Krim Petrus ini ternyata juga sudah melegenda, sebab sudah melayani pelanggan sejak tahun 1950-an. Para pelanggan menyebut rasa es krimnya tidak berubah sejak pertama kali. Dan itulah yang menjadi daya tarik penikmatnya untuk kembali lagi dan lagi. Satu hal yang membuat banyak orang datang kembali untuk mencecap es krimnya adalah cara penyajiannya dengan menggunakan kelapa muda. Pilihan rasanya cukup banyak, mulai dari durian, cempedak, strawberi, nangka, vanila, coklat, dan beberapa lainnya.

Kami sempat mengunjungi hutan kota (Arboretum Sylva Untan) yang berlokasi di kawasan Universitas Tanjungpura. Hutan seluas 3,2 hektare ini memiliki koleksi tanaman khusus dari Kalimantan Barat, yaitu 190 jenis pohon, 86 anggrek, 176 perdu, dan tumbuhan bawah, dan sebagainya. Ada juga sarana untuk berlari, bersepeda, ekowisata, dan aktivitas outbound.

Sore menjelang malam hari, kami meluncur ke pinggiran sungai Kapuas, ada atraksi menarik berupa air mancur warna-warni. Untuk menikmati Kapuas, mampirlah ke Taman Alun Kapuas yang berlokasi di tepi Sungai Kapuas. Di tempat ini, pelancong bisa menikmati embusan angin Sungai Kapuas dan keindahan mentari tenggelam. Jangan risaukan urusan perut, sekitar Alun Kapuas banyak makanan jalanan yang lumayan.

Usai menikmati Kapus, bagi penikmat kopi, jangan lewatkan deretan kedai kopi di Jalan Gajah Mada. Salah satunya, Warung Kopi Liem yang buka dari malam hingga pagi.

*****

Dataran Dieng, 2100 Meter Di Atas Tanah Jawa

Dataran Dieng disebut sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa

Dataran Dieng, di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, biasanya orang akan langsung teringat dengan keindahan alam pegunungan, di atas ketinggian 2.093 meter di atas permukaan laut. Tidak salah memang, karena sebagian dari Dieng masuk di wilayah kabupaten ini. Beberapa obyek wisata unggulan pun terdapat di kawasan berudara dingin tersebut.

Dataran Dieng

Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Jawa Tengah, keberadaan hotel mulai kelas melati hingga hotel berbintang boleh jadi salah satu indikator sebagai daerah tujuan wisata baik wisatawan dalam maupun luar negeri. Di saat akhir pecan, suasana Kecamatan Wonosobo, pusat pemerintahan kabupaten ini terasa lebih ramai. Mereka kebanyak- kan wisatawan yang menginap dikota Wonosobo untuk berwisata ke kawasan Dieng.

Wisata alam merupakan satu dari sekian banyak keunggulan pariwisata kabupaten ini. Kawasan Dieng menjadi pusat wisata alam. Serunya, aktivitas wisata alam di Kabupaten Wonosobo sudah bisa lakukan sejak dinihari dengan menikmati terbitnya matahari (sunrise) di Bukit Sikunir, Desa Sembungan.

Desa Sembungan berada di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Bukit Sikunir menjadi tempat untuk menikmati saat terbitnya matahari dengan latar pegunungan. Desa yang disebut sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa ini (2.300 meter di atas permukaan laut) hampir tidak pernah sepi dari wisatawan. Bukit Sikunir pun menjadi lokasi favorit para pemburu foto lansekap.

Untuk bisa menikmati keindahan sunrise di Bukit Sikunir harus bersiap mulai jelang subuh, jika berangkat dari kawasan Dieng, pukul 4 sudah harus meninggalkan penginapan, sementara jika menginap di kota Wonosobo aktivitas harus sudah dimulai sejak pukul 3 pagi.

Selain menyiapkan diri dengan jaket tebal, sepatu khusus trekking, kaus tangan dan penutup kepala, stamina pun harus dalam kondisi prima, maklum untuk mencapai Bukit Sikunir harus dilalui dengan jalan kaki menanjak yang cukup menguras tenaga. Namun semua perjuangan itu akan terbayar lunas saat detik-detik matahari mulai menampakkan wujudnya. Semburat jingga mentari pagi bakal muncul indah dibalik kokohnya Gunung Sindoro, Sumbing, dan Gunung Slamet.

Puas menikmati dan mengabadikan keindahan matahari terbit, setelah turun bukit, istirahat sejenaklah di Danau Cebong. Hamparan air dengan latarbelakang perbukitan menjadi pe- mandangan yang cukup menyegarkan, sinar tipis matahari pagi semakin menghangatkan suasana.

Dataran Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, merupakan salah satu pusat kunjungan wisata terkenal di Indonesia.
Telaga Cebong di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Foto: Dok. shutterstock

Biasanya setelah menyaksikan sunrise dan menikmati segarnya suasana Danau Cebong, perjalanan wisata dilanjutkan dengan mengunjungi Telaga Warna. Keindahan salah satu obyek wisata unggulan Kabupaten Wonosobo ini sudah sangat popular. Saat akhir pekan wisatawan asal Yogyakarta, Semarang, Jakarta, hingga wisatawan asing banyak yang berkunjung ke telaga ini.

Danau ini disebut sebagai Telaga Warna karena memiliki keunikan air telaga ini sering berubah terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni mirip pelangi. Kandungan sulfur yang cukup tinggi merupakan salah satu faktor mengapa air telaga ini bisa berubah saat terkena sinar matahari.

Suasana damai juga senantiasa melingkupi kawasan telaga warna, tidak heran jika banyak wisatawan yang betah berlama-lama menikmati suasana di obyek wisata ini. Selain itu rimbun pepohonan yang mengelilingi telaga menambah suasana semakin damai. Berdekatan dengan Telaga Warna ada Telaga Pengilon dengan air jernih dan suasana alam sekitarnya yang juga menenangkan.

Dataran Dieng di ketinggian 2100 meter di atas permukaan laut memiliki beberapa danau, salah satunya Telaga Warna.
Telaga Warna di Dataran Tinggi Dieng. Foto: Dok. shutterstock

Jangan pernah melewatkan pula Dieng Plateu Theater (DPT). Inilah pusat informasi tentang Dieng. Segala po- tensi alam dan budaya masyarakat di dataran tinggi Dieng tesaji di sini. Bios- kop mini dengan kapasitas sekitar 100 orang ini memutar film dokumenter yang memaparkan sejarah dan ke- hidupan di Dataran Tinggi Dieng. Film berjudul “Dieng Negeri Khayangan” tersebut berdurasi sekitar 23 menit.

Meski terbilang singkat, namun film tersebut mampu merangkum dan memberikan informasi lengkap mulai kejadian geologi, seni dan budaya, obyek wisata, kehidupan sosial masyarakat Dieng hingga fenomena rambut gimbal anak-anak Dieng, termasuk informasi mengenai embun salju yang turun pada musim kemarau atau biasa disebut “embun upas”.

Sempatkan juga untuk mempir ke Telaga Menjer. Luas telaga ini mencapai 70 hektare dengan latar elakang bukit berhiaskan hijaunya pepohonan. Telaga ini terletak di Desa Maron, Kecamatan Garung. Air telaga ini dimanfaatkan menjadi sumber tenaga bagi pembangkit tenaga listrik.

Wonosobo masih memiliki obyek wisata Taman Rekreasi dan Olahraga Kalianget. Destinasi wisata ini merupakan tempat pemandian air panas. Taman Rekreasi dan Olahraga Kalianget jarangat hanya sekitar tiga kilometer dari pusat kota Wonosobo. Ada dua tempat di pemandian ini yakni berupa kolam besar dan pemandian kamar- kamar.

Kandungan air panas di Kalianget berasal dari aliran sungai kecil, kandungan sulfurnya cukup tinggi dan bermanfaat untuk obat bagi yang meiliki masalah kesehatan kulit. Sumber air hangat di Kalianget sangat melimpah, memanfaatkan potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Wonosobo sekarang ini sedang mengembang-
kan wisata kesehatan dengan konsep rumah sehat.

Puas menikmati semua keindahan alam Wonosobo, tentunya mencicipi kuliner khas kabupaten ini tidak boleh terlewatkan. Mie Ongklok, salah satu makanan khas merupakan ikon wisata kuliner Wonosobo. Mie ini memiliki cita rasa yang gurih.

Mie ongklok disajikan dengan kuah yang kental bercampur sayuran segar ditemani dengan tusukan-tusukan sate daging sapi yang diiris kecil-kecil. Rasa sate yang manis gurih menambah sedapnya rasa Mie Ongklok. Warung makan yang menyajikan menu Mie Ongklok cukup banyak di Wonosobo

Larung Sukerto

Larung Sukerto merupakan tradisi yang unik dan masih dipertahankan masyarakat di Kabupaten Wonosobo. Kata Larung artinya terapung dibawa air, dan Sukerto memiliki arti masalah. Jadi secara haraah tradisi ini memiliki arti membuang segala masalah. Tradisi membuang masalah ini dilambangkan dengan menghanyutkan berbagai macam sesaji ke Sungai Semagung.

Upacara adat ini sudah dilakukan secara turun-temurun. Tidak ada literature yang pasti sejak kapan tradisi ini dimulai. Larung Sukerto dilaksanakan setiap malam 1 Syuro (penanggalan jawa). Tradisi ini dimulai tepat pada pukul 00.00 tempuran.

Tenong Suran

Ritual tradisional ini dilaksanakan sebagai upacara menyambut hari jadi Dusun Gianti di Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto. Tenong Suran dilaksanakan setiap Syura (Muharam). Prosesi upacara tenongan diawali ziarah ke makam sesepuh desa Adipati Mertoloyo yang dipercaya sebagai pembuka Dusun Giyanti.

Ratusan warga mengenakan pakaian khas Jawa membawa makanan dalam tempat makan yang disebut tenong. Prosesi ini juga diiringi dengan kesenian seperti lengger, barongan, serta kuda kepang. Setelah prosesi upacara kegiatan dilanjutkan dengan pagelaran seni tradisional semalam suntuk di desa yang mendapat julukan sebagai Dusun Wisata tersebut.

agendaIndonesia

*****

Taman Nasional Baluran, 1 Lanskap Afrika

Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur, sering disebut Africa van Java. Foto: shutterstock

Taman Nasional Baluran di Jawa Timur menjadi alternatif wisata alam dan konservasi flora dan fauna Indonesia. Tempat ini kerap dijuluki Africa van Java karena bentang alamnya yang mirip dengan padang sabana Afrika dan terletak di kawasan desa Wonorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Taman Nasional Baluran

Nama Baluran karena kawasan taman nasional tersebut juga merupakan lokasi Gunung Baluran. Meski berada di wilayah kabupaten Situbondo, tetapi lingkup wilayahnya yang begitu luas membuatnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Banyuwangi.

Diresmikan pada 6 Maret 1980, Taman Nasional Baluran memiliki luas sekitar 25 ribu helktare, yang mayoritas merupakan padang sabana seluas 10 ribu hektare. Ini merupakan padang sabana terluas di Pulau Jawa.

Taman Nasional Baluran selain masuk Kabupaten Situbondo, sebagain juga masuk Kabupaten Banyuwangi.
Kawanan Fauna di Taman Nasional Baluran. Foto: Dok. shutterstock

Awalnya tempat ini ditetapkan sebagai area suaka margasatwa pada jaman pendudukan Belanda di tahun 1937. Sebelum akhirnya pada 6 Maret 1980, bertepatan dengan Hari Strategi Pelestarian Sedunia dan Kongres Taman Nasional Sedunia di Bali, pemerintah menetapkan statusnya sebagai taman nasional.

Wilayah Taman Nasional Baluran terdiri dari padang sabana, hutan bakau, pantai dan pegunungan, yang menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna di dalamnya. Sekitar 40 persen atau lebih dari sepertiga lahannya merupakan padang sabana.

Tercatat sekitar 444 jenis flora yang dapat ditemukan di sini, yang meliputi 265 tumbuhan obat, 24 tumbuhan eksotik dan 37 jenis tumbuhan mangrove. Contohnya seperti Pilang, Mimba, Asam Jawa, Kemiri, Salam, Kepuh, Api-api dan lain sebagainya.

Sedangkan jenis-jenis fauna yang ada meliputi 28 jenis mamalia, 155 jenis burung, serta beberapa jenis serangga, reptil dan ikan lainnya. Dari jenis-jenis fauna tersebut, sekitar 47 di antaranya termasuk spesies langka yang dilindungi.

Beberapa fauna yang dapat ditemui semisal kijang, kancil, banteng, kera abu-abu ekor panjang, macan tutul Jawa, kucing bakau, burung merak, burung rangkong, burung bangau tongtong, ayam hutan dan lain lain. Banteng sendiri menjadi maskot dari Taman Nasional Baluran.

Selain berfungsi sebagai tempat konservasi flora dan fauna, serta tempat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan alam, Taman Nasional Baluran juga menjadi spot ekspedisi dan wisata alam. Ada beberapa titik-titik lokasi yang bisa anda kunjungi di sini.

Taman Nasional Baluran menjadi tempat untuk mempelajari ratusan flora dan fauna yang khas pulau Jawa.
Dabana Bekol sebagai landmark Baluran. Foto: Dok. shutterstock

Salah satunya adalah Gua Jepang, yang berada di dekat pintu masuk Taman Nasional ini. Dinamai demikian karena dulunya gua ini digunakan sebagai gudang amunisi dan benteng pertahanan tentara Jepang pada masa pendudukan Jepang.

Gua seluas 12 meter persegi ini kini sering menjadi tempat burung merak untuk kawin, biasanya pada sekitar Oktober hingga November. Selain itu, tempat ini juga kerap menjadi lokasi untuk berkemah.

Masuk lebih ke dalam, wisatawan akan menemukan hutan Evergreen. Sesuai namanya, hutan ini selalu terlihat hijau dan rimbun sepanjang tahun karena tanahnya yang subur dan dialiri air. Melewati hutan ini dengan mobil, pengunjung bisa menemui beberapa satwa liar di dalamnya seperti kijang, burung merak, macan tutul Jawa, dan ayam hutan.

Selepas melewati hutan Evergreen, maka pengunjung akan tiba di Padang Sabana Bekol. Ini adalah salah satu bagian utama dari Taman Nasional Baluran. Pemandangan padang rumput yang begitu luas, dengan beberapa pohon besar dan latar belakang pegunungan, menjadi daya tarik utama area ini.

Tersedia menara pandang setinggi 30 meter untuk bisa melihat sekitar Padang Sabana Bekol dengan daya pandang lebih baik. Kawanan kijang, banteng dan lain-lain bisa terlihat di sini. Ada juga area wisma penginapan bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman menginap di alam liar.

Taman Nasional Baluran menjadi tempat wisata keluarga termasuk untuk menginap, berkemah atau treking.
Sabana Bekol dengan latar belakang pegunungan layaknya Afrika. Foto: shutterstock

Satu yang perlu dicatat, di Padang Sabana Bekol ini juga terkadang bisa terlihat ular yang melintas. Maka setiap pengunjung diharapkan agar tetap berhati-hati dan menjaga jarak agar tidak mengganggu.

Tidak jauh dari Padang Sabana Bekol, berjarak sekitar tiga kilometer pengunjung bisa menemukan pantai Bama dan Balanan. Pantai-pantai ini dikenal dengan pemandangan pasir putih dan hutan mangrove yang indah. Selain itu, pantai ini juga jadi habitat kucing bakau, burung rangkong dan kera abu-abu berekor panjang.

Tak hanya itu, di pantai-pantai tersebut wisatawan juga bisa melakukan aktivitas seperti memancing dan snorkeling sambil melihat hamparan terumbu karang dan beragam biota laut yang cantik. Tersedia pula penginapan bagi yang ingin menikmati suasana pantai yang masih alami dan berombak tenang.

Selain tempat-tempat tersebut, masih ada spot wisata lainnya seperti Air Kacip dan Manting, yaitu sumber air alami yang tak pernah habis sepanjang tahunnya. Ada juga Curah Tangis, area khusus bagi yang ingin berolahraga panjat tebing, dengan tebing setinggi 10-30 meter.

Jika berminat untuk datang, ada beberapa hal yang perlu diingat. Misalnya, jangan membawa makanan untuk diberikan kepada satwa liar. Pengunjung juga disarankan membawa topi dan payung, agar lebih terlindung dari terik panas dan hujan. Yang membawa mobil juga perlu berhati-hati dan tidak ngebut sembarangan.

Harga tiket masuknya dibedakan bagi wisatawan domestik dan manca negara. Untuk wisatawan domestik tiket masuk pada hari biasa seharga Rp 16,5 ribu, sementara hari libur Rp 18,5 ribu. Adapun turis asing perlu membayar ekstra, pada hari biasa dikenai Rp 150 ribu dan hari libur Rp 225 ribu.

Bagi yang membawa kendaraan bermotor, tarif parkir juga dibedakan. Untuk hari biasa pengendara motor membayar Rp 5 ribu, mobil Rp 10 ribu dan bus Rp 50 ribu. Sedang pada hari libur pengendara motor bertarif Rp 7,5 ribu, mobil Rp 15 ribu dan bus Rp 75 ribu.

Taman Nasional Baluran buka untuk umum setiap hari dari jam 07.30 sampai jam 16.30. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0333) 461650, via email di balurannationalpark@gmail.com atau kunjungi situs resmi balurannationalpark.id dan laman resmi Instagram @btn_baluran.

Taman Nasional Baluran

Jl. Raya Banyuwangi-Situbondo km 35, Desa Wonorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur

Telp. (0333) 461650

Email balurannationalpark@gmail.com

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Kota Solo, Peninggalan Mataram Dari Abad 17

Kraton Solo Hadiningrat

Kota Solo di Jawa Tengah adalah salah satu kota yang wajib dikunjungi saat berwisata ke Jawa Tengah. Berdasar Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, Solo seperti kembaran Yogyakarta.

Kota Solo

Solo di akhir pekan biasanya lebih ramai dari biasanya. Jangan tanya saat libur Idul Fitri, mirip dengan Yogyakarta, kota di jantung pulau Jawa ini bisa macet. Hotel-hotel dan penginapan habis dipesan wisatawan. Untuk makan di restoran-restoran klangenan orang bisa berjam-jam.

AgendaIndonesia mengunjungi Solo saat low season. Jauh dari libur lebaran atau akhir tahun, dan bukan di akhir pekan. Dan suasana Solo jauh lebih menyenangkan. Kami sedang liputan untuk sebuah buku pariwisata, dan Solo jadi wajib untuk ditulis.

Pilihan pertama tentu saja ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Posisinya tentu saja ada di pusat kota. Dari Jalan Slamet Siyadi, di daerah yang oleh orang Solo disebut dengan Gladak dan ditandai dengan adanya patung Slamet Riyadi, wisatawan bisa belok ke kanan dan langsung bertemu dengan Alun-alun Utara Solo. Untuk mengunjungi Kraton Solo, kita memutari seperempat alun-alun dan berbelok ke timur.

Selain bisa melihat kraton Surakarta yang masih ditinggali keluarga raja Surakarta, di sini wisatawan bisa menikmati Museum Keraton Surakarta.

Museum Keraton Surakarta biasanya dibuka pukul 9 pagi. Namun kadang pada saat-saat peak season, pengelola akan mempercepat waktu buka 30 menit lebih awal. Pemandangannya tentu sama dengan tempat wisata lainnya: rombongan keluarga tampak bergantian mengabadikan keberadaan mereka di sudut-sudut tertentu: di depan patung Pakubuwana X, di halaman luar dekat papan silsilah raja-raja, di sebelah kereta-kereta lama, bahkan berdampingan dengan  patung penggawa yang berada di bagian dalam.

Bangunan Keraton Surakarta Hadiningrat yang ada saat ini adalah yang didirikan Pakubuwana II pada 1744. Ini merupakan pengganti bangunan sebelumnya, yang hancur akibat tragedi Geger Pacinan pada 1740-1743.

Setelah berputar di museum, pengunjung bisa masuk sebentar ke halaman keraton untuk menyaksikan Panggung Sangga Buwana, yang hingga saat ini masih digunakan raja, atau sunan dalam terminologi Keraton Solo, untuk bermeditasi.

Puas berkeliling keraton Solo, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi lain: Pasar Klewer. Ini adalah tempat belanja paling legendaris di Solo. Lokasinya berada di barat keraton Solo, atau tepat di akses keluar Alun-alun Utara sebelah barat.  Boleh dikata bangunan pasar ini bersebelahan dengan alun-alun.

Pasar Klewer dua tahun terakhir menempati bangunan baru setelah terbakar pada 2014 lalu. Buat para pecinta batik, inilah surga perburuan batik. Selain menjual eceran, di sini banyak juragan batik yang menjual untuk kulakan. Tak heran jika suasana pasar ini begitu padat, karena pembeli satuan bersaing dengan pedagang yang mau beli dalam jumlah besar.

Jika tak ingin berdesakan di pasar, peminat batik bisa melanjutkan perjalanan ke arah barat. Kali ini perjalanan harus dilakukan dengan kendaraan bermotor karena lokasinya sekitar 3-4 kilometer dari alun-alun. Tujuannya adalah Laweyan. Ini adalah kampung batik.

Namun, tunggu dulu, jika setelah berkeliling Klewer waktunya pas dengan jam makan siang, ada satu pilihan kuliner legendaris di seputar pasar ini yang patut dicoba: Tengkleng Ibu Edi. Ini makanan seperti gulai kambing namun biasanya tanpa santan. Jikapun memakai, umumnya sangat tipis. Hampir tanpa memakai daging, tapi tulangan kambing dengan lemak yang mak nyuss. Bagi yang tak menyukai kambing, di pasar klewen terdapat satu lantai yang berisi jualan makanan.

Awalnya Tengkleng Bu Edi, yang mulai ada di Klewer sejak 1971, kiosnya berada di bawah Gapura Klewer. Tapi, sjak ada peraturan pedagang tidak boleh berjualan di bawah gapura Klewer, akhirnya Tengkleng Bu Edi pindah di Pendopo Taman arkir Pasar Klewer.

Dari Klewer, perjalanan berlanjut ke Laweyan. Lokasinya masih berada di seputaran Jalan Dr. Rajiman, ini adalah jalan terusan dari depan Pasar Klewer. Lurus ke arah barat.

Ada sejumlah outlet batik yang cukup besar di sepanjang Laweyan. Namun, jika punya cukup waktu, di belakang jalan besar ini terdapat sentra-sentra produksi batik. Rumah-rumah juragan sekaligus tempat produksinya. Jika ingin memesan dalam jumlah besar, kita bisa langsung ke sini.

Dari Laweyan, hari itu kami masih meneruskan perburuan batik dan sejarah Solo. Kami menuju Jalan Slamet Riyadi, tepatnya ke kawasan Sriwedari. Ini kawasan kebon binatang lama Solo. Sekarang sudah tidak lagi. Yang masih dipertahankan adalah gedung pertunjukan wayang orang Sriwedari pada malam hari

Tapi AgendaIndonesia tidak sedang mau bersantai nonton wayang. Siang itu, ada dua tujuan:  Museum benda-benda kuno peninggalan Kraton Surakarta dan Museum batik Danarhadi.

Sebagian benda-benda peninggalan Kraton Solo memang disimpan di Museum Radyapustaka, yang berada di Jalan Slamet Riyadi, tak jauh dari Taman Sriwedari. Jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari Keraton Surakarta. Tak cuma peninggalan kraton, di sini juga dikoleksi barang-barang arkeologi terkait kota Solo. Menarik sesungguhnya, sayangnya kurang terawat dengan baik. Namun lumayan untuk menambah pengetahuan.

Destinasi terakhir adalah Museum Batik Danarhadi. Tempatnya bisa dicapai dengan jalan kaki sekitar 5 menit dari Radyapustaka. Menjadi satu dengan butik milik merek batik terkenal itu. Tak harus membeli batik di sini untuk bisa menikmati perjalanan batik dari waktu ke waktu. Cukup membeli tiket masuk di meja kasir.

Sebuah pengalaman menarik, karena di sini kita bisa mempelajari beragam batik berikut motifnya. Pada masa lampau, penggunaan motif tertentu di kalangan bangsawan kraton. Bahkan ada motif batik yang hanya dipergunakan jika seorang bangsawan pria mendekati perempuan yang ditaksirnya. “Tanpa harus nembak, si perempuan tahu tamunya naksir dia,” kata pemandu di Museum Danarhadi.

Ia lantas juga bercerita ada berbedaan motif antara Solo dan Yogyakara, meskipun namanya mirip. Termasuk kepentingan dalam upacara tradisional. Di akhir tur, kita akan mendapat atraksi membatik. Baik tulis maupun batik cap.

Seharian AgendaIndonesia menikmati sejarah Solo dan batik. Kapan Anda mengagendakan main ke Solo?

*****

Tumpeng Menoreh, 24 Jam Menikmati 4 Gunung

Tumpeng Menoreh di Kulonprogo, Yogyakarta, jadi atraksi baru wisatawan. Nongkrong sambil menikmati 4 gunung. Foto-Dok. Tumpeng Menoreh

Tumpeng Menoreh di kawasan wisata Bukit Menoreh, Yogyakarta, adalah tempat menikmati setidaknya empat gunung dari satu tempat. Spot wisata ini merupakan kafe dan restoran yang menawarkan pemandangan perbukitan yang indah dengan latar belakang gunung-gunung di kawasan perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, seperti Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing.

Tumpeng Menoreh

Bukit Menoreh sendiri memang menjadi titik perbatasan antara Yogyakarta, tepatnya Kabupaten Kulonprogo, dan Jawa Tengah, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Purworejo. Selain dikenal dengan pemandangan indahnya, tempat ini juga menjadi saksi sejarah Perang Jawa melawan Belanda pada tahun 1825-1830 yang dipimpin Pangeran Diponegoro.

Tumpeng Menoreh di Kulonprogo, Yogyakarta, adalah tempat yang bisa menikmati setidaknya empat gunung di Yogya dan Jawa Tengah.
Puncak Tumpeng Menoreh untuk memandang ke 360 derajad. Foto: Dok. Tumpeng Menoreh

Salah satu titik terbaik untuk menikmati panorama Bukit Menoreh adalah Tumpeng Menoreh. Disebut demikian karena tempat ini dibangun heksagonal, bertumpuk dan mengerucut sampai ke puncaknya, mirip seperti nasi tumpeng. Setiap lantai terdapat gardu pandang dan di bagian atapnya terbuka, mirip seperti helipad.

Lokasi Tumpeng Menoreh berada cukup tinggi, di sekitar 950 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ditambah dengan sudut pandang penuh 360 derajat, sejauh mata memandang Anda dapat melihat hamparan hijau Bukit Menoreh berselimutkan awan, serta kebun teh Nglinggo di bawahnya.

Tempat ini dibuka pada Mei 2021, dengan diprakarsai oleh Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) Argo Inten Desa Ngargoretno, komunitas pemuda dan masyarakat Gelangprojo (Magelang-Kulonprogo-Purworejo), dan musisi Erix Soekamti, personel grup band asal Yogyakart Endank Soekamti.

Menurut Erix, filosofi di balik bangunan Tumpeng Menoreh terinspirasi dari fungsi nasi tumpeng dalam budaya Jawa, sebagai simbol rasa bersyukur dan doa mengharapkan kebaikan. Selain itu, adanya Tumpeng Menoreh merupakan wujud misinya untuk dapat membantu pemberdayaan pemuda dan masyarakat Gelangprojo, khususnya di sekitar Bukit Menoreh.

Atraksi utama Tumpeng Menoreh tentunya adalah sebagai kafe tempat berkumpul, berfoto dan bersantai sambil menikmati pemandangan asri, terlebih di saat sunrise dan sunset. Bangunannya pun terlihat apik dan menarik, terutama saat malam ketika lampu-lampu kecil menyala di sekelilingnya.

Namun, Tumpeng Menoreh juga dapat menjadi tempat bersantap pagi, siang atau malam yang unik. Dengan pilihan menu makanan seperti nasi gudeg, nasi rawon, nasi pecel, bakso, mi ayam dan lain lainnya, pengunjung bisa menikmati pengalaman breakfast, lunch maupun dinner sambil ditemani latar belakang panorama pegunungan beserta iklim sejuknya.

Tumpeng Menoreh dibangun untuk memberdayakan pemuda di sekitar kawasan itu.
Sajian kuliner di Tumpeng Menoreh. Foto: Dok. Tumpeng Menoreh

Tak hanya itu, sekitar 100 meter di bawah area tersebut, kini juga terdapat Tumpeng Ayu yang merupakan bagian dari area Tumpeng Menoreh dengan konsep indoor, berupa ruang lesehan. Untuk mengaksesnya disediakan semacam lift yang akan mengantar wisatawan naik dan turun.

Jika Anda berminat mampir, disarankan untuk lewat rute dari Yogyakarta, dikarenakan medan yang dilalui terbilang lebih mudah dan bersahabat. Dari arah Ringroad Barat, jalan menuju ke arah Godean sampai perempatan RSPKU Muhammadiyah, lalu belok kanan hingga perempatan Pasar Dekso.

Dari sana kemudian belok kiri dan ikuti jalan utama berkelok hingga bertemu gapura menuju kebun teh Nglinggo, di area dekat Pasar Plono. Dari situ, belok kanan dan ikuti jalan menanjak, sampai bertemu jalan masuk menuju Tumpeng Menoreh yang ada di sisi kiri jalan.

Jalan masuknya tergolong jalan setapak yang kecil, untuk mobil hanya cukup satu arah. Oleh karenanya akan ada petugas yang mengatur arus keluar masuk kendaraan. Jarak tempuh dari Yogyakarta total kira-kira sekitar 35 km, dengan estimasi waktu perjalanan kurang lebih satu jam.

Untuk bisa masuk, Anda akan dikenakan tarif tiket seharga Rp 50 ribu. Tarif ini termasuk Rp 25 ribu untuk tiket masuk sekaligus tambahan Rp 25 ribu berupa voucher makan yang bisa ditukarkan jika ingin menikmati hidangan makanan. Makanan apapun yang Anda ambil, tinggal menukarkan voucher ini. Kalau kurang tentu harus menambah.

Bila ingin turun ke area Tumpeng Ayu, pengunjung juga akan dikenakan Rp 50 ribu lagi. Ini juga sudah termasuk tiket terusan plus voucher makan. Secara umum, tarif masuknya tergolong worthed dan cukup masuk akal.

Sebelum ke sana, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya, dengan posisinya di di area perbukitan yang tinggi, biasanya hawanya akan cukup dingin. Sehingga disarankan bagi pengunjung untuk menggunakan pakaian hangat. Pengunjung juga diharapkan selalu berhati-hati karena posisi bangunannya yang berada di tepi bukit yang cukup curam.

Selain itu, disarankan untuk datang pada musim kemarau, tepatnya sekitar bulan Juli-Oktober. Ini dikarenakan intensitas hujan yang lebih berkurang dan matahari lebih bersinar cerah. Disarankan pula untuk datang pada hari biasa, mengingat tempat ini tengah naik daun dan jumlah pengunjung biasanya melonjak pada akhir pekan dan hari libur.

Tumpeng Menoreh buka setiap hari selama 24 jam. Untuk info lebih lanjut, dapat menghubungi 081904221889, atau mengunjungi laman Instagram @tumpengmenoreh.

Tumpeng Menoreh

Jl. Kebun Teh Nglinggo, Kabupaten Kulonprogo

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****