Perjalanan di Tano Niha Selama 3 Hari

Perjalanan di Tano Niha atau Tanah Nias selama tiga hari adalah perjalanan menikmati bentang alam yang sangat indah dan jejak warisan budaya yang terjaga dengan baik. Tiga hari sesungguhnya bukan waktu yang cukup.

Perjalanan di Tano Niha

Langit biru dan udara bulan Oktober berembus sejuk saat saya menjejakkan kaki di Bandara Binaka, Gunungsitoli, ibu kota Kabupaten Nias. Hanya dalam dua jam penerbangan dari Jakarta, saya bisa menikmati suasana berbeda. Ada beberapa turis asing menenteng papan selancar. Tampak mereka siap menaklukkan ombak di pantai-pantai Pulau Nias.

Pengenalan saya terhadap pulau seluas 5.625 kilometer persegi ini bermula dari ilustrasi bagian belakang uang kertas pecahan Rp 1.000 pada zaman Orde Baru. Di sana tertulis: “Lompat Batu Pulau Nias”. Pikiran saya segera mengembara selepas saya turun dari pesawat. Tidak sabar rasanya untuk memulai perjalanan di Tano Niha atau Tanah Nias.

Hari Pertama: Atraksi Hombo Batu

Hujan perlahan reda ketika saya memasuki Desa Bawomataluo, yang terletak di Kabupaten Nias Selatan. Dari Kota Gunungsitoli, menjangkau desa ini butuh waktu perjalanan kurang-lebih enam jam. Perjalanan panjang membuat di hari pertama saya hanya mendatangi satu lokasi.

Begitu tiba, pandangan saya tertumbuk pada deretan rumah adat yang terjaga dengan baik. Salah seorang warga mengatakan di desa ini terdapat 1.250 rumah adat tradisional Nias yang berumur ratusan tahun. Berbentuk empat persegi panjang dan berdiri di atas batu, rumah-rumah itu menyerupai perahu. Batu sebagai landasan mencerminkan pijakan hidup. Di sini, ada satu rumah adat besar yang diberi nama omonifolasara. Lasara sendiri berarti mulut naga.

Menurut cerita warga, pengetahuan membangun rumah diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada semangat dari masyarakat untuk melestarikan kebudayaan dan kearifan nenek moyang. Selain berbentuk empat persegi panjang, rumah adat di Nias Utara ada yang bulat dengan denah lantai oval. Sedangkan rumah adat di Nias Tengah beratap bulat dengan denah lantai segi empat.

Atraksi yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Meskipun tidak sedang ada kegiatan budaya, atraksi Hombo Batu bisa ditampilkan sesuai dengan permintaan pengunjung. Saya senang sekali dapat melihat langsung atraksi yang sebelumnya hanya tergambar dalam imajinasi lewat selembar pecahan uang kertas itu. Menurut sejarah, lahirnya tradisi lompat batu berbarengan dengan tari perang.

Dahulu kala, suku-suku di Nias sering terlibat peperangan. Sebagai persiapan, setiap si’ulu atau kepala suku mengumpulkan pemuda desa untuk dilatih berperang. Salah satunya melalui lompat batu.

Hari Kedua: Pantai-pantai Nias Selatan

Saya dan rekan fotografer menginap di Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan. Sopir yang mengantar kami bercerita tentang pantai nan indah di sekitar Teluk Dalam dengan ombak yang katanya bisa mencapai tinggi lima meter. Keesokannya, Pantai Sorake pun menjadi sasaran pertama kami.

Cerita sopir tersebut tak meleset. Pantai Sorake menawarkan keindahan alam yang menakjubkan. Airnya jernih memantulkan warna biru menawan dengan pasir putih bersih. Di sekitar pantai terdapat batu karang. Eksotis. Inilah surga para peselancar. Kabarnya, pantai ini tempat selancar terbaik kedua setelah Hawaii. Tak mengherankan jika turis asing banyak berselancar di pantai ini, selain di Pulau Asu, Pulau Bawa, dan Pulau Telo.

Sekitar dua kilometer dari Pantai Sorake terdapat Pantai Lagundri. Di pantai itu pemandangan alam bawah lautnya sangat indah. Bagi yang suka menyelam, inilah spot menarik yang perlu dicoba. Di sekitar pantai ini Anda juga bisa menghabiskan waktu untuk berjemur di atas lembutnya pasir putih, sambil menikmati embusan angin laut dan sinar matahari yang berlimpah.

Perjalanan ke Tano Niha salah satunya menyaksikan batu peninggalan zaman Megaltih di Desa Moro'o Nias Selatan.
Perjalanan ke Tano Niha salah satunya menyaksikan batu peninggalan zaman Megaltih di Desa Moro’o Nias Selatan. Foto: Lourentius/TL

Hari Ketiga: Menhir Desa Sisarahili dan Museum Pusaka Nias

Setelah dua hari berada di Nias Selatan, saatnya menuju kota melewati Nias Barat. Di salah satu desa, yaitu Desa Sisarahili, saya singgah untuk melihat dari dekat kekayaan warisan budaya Nias yang lain. Kali ini dalam bentuk megalit atau menhir. Ada beberapa pelancong yang turut mampir. Di desa ini terdapat sebuah batu besar yang berdiri tegak. Batu itu diukir menyerupai bentuk wajah raja atau balugu lengkap dengan pakaian kebesarannya. Warga setempat menyatakan, hanya orang yang berhasil memburu ratusan atau ribuan ekor babi yang bisa dinobatkan sebagai balugu.

Saya pun kembali ke Gunungsitoli. Tujuan berikutnya, Museum Pusaka Nias di Jalan Yos Sudarso Nomor 134 A. Berdiri pada 1991, museum ini menyimpan kekayaan warisan budaya Suku Nias. Dari artefak, keramik, hingga replika rumah adat. Di area museum ini juga terdapat kebun binatang mini sebagai upaya perlindungan terhadap fauna yang langka dan berhubungan dengan tradisi lisan Nias, seperti ular, buaya, kancil, monyet, biawak, kura-kura, kijang, dan beo.

Sorenya, saya menghabiskan waktu dengan melihat senja yang perlahan turun di sebuah pantai di Gunungsitoli dengan latar tulisan Ya’ahowu atau berarti “salam”. Kata itu selalu diucapkan dengan ramah oleh warga dalam setiap perjumpaan. Ini malam terakhir saya di Tanah Nias. Besok pagi, saya terbang kembali ke Jakarta. “Ya’ahowu, Tano Niha.”

agendaIndonesia/Aris Darmawan/Lourentius/TL

*****

Jalur Mudik Selatan, Ini 6 Spot Wisatanya

Jalur mudik Selatan menyimpan sejumlah tempat untuk dikunjungi.

Jalur mudik Selatan saat libur Lebaran mulai dikampanyekan sebagai jalur alternatif dari jalur tol TransJawa. Selain diperkirakan tak terlalu padat, ada sejumlah pilihan wisata di sepanjang jalur mudik selatan ini.

Jalur Mudik Selatan

Lebaran memang selalu identik dengan libur yang lumayan panjang. Momen ini dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk mudik ke kampung halaman, sekaligus kumpul bersama keluarga besar saat Hari Idulfitri. 

Namun menariknya, selain bertemu dengan keluarga, momen mudik lebaran juga bisa dimanfaatkan pemudik untuk sarana wisata singkat. Apalagi bagi mereka yang mudik melintasi jalur mudik Selatan Jawa. Sepanjang Jalur Lintas Selatan ini terdapat banyak destinasi wisata yang menarik untuk disinggahi.

Pantai Timur Pangandaran juga berada di lintasan jalur mudik selatan
Pantai Pangandaran juga berada di jalur mudik selatan.

Ada enam provinsi yang dilintasi dalam rute mudik Jalur Lintas Selatan Jawa, yakni Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Ada beberapa rekomendasi destinasi wisata di sepanjang jalur mudik di Jalur Lintas Selatan Jawa yang bisa pemudik singgahi.

Pantai Tanjung Layar

Salah satu pantai yang tak boleh pemudik lewatkan saat memulai perjalanan dari Banten adalah Pantai Tanjung Layar. Berlokasi di Desa Sawarna, Bayah, Lebak, Pantai Tanjung Layar memiliki ombak khas Laut Selatan yang bergelora. Saking tingginya, ombak pantai mampu menghempas dinding batu karang dengan sangat cantik. 

Menjelang senja, pemudik yang melintasi jalur mudik selatan dapat menyaksikan semburat merah keemasan dengan latar belakang batu-batuan karang yang eksotis di Pantai Tanjung Layar. Sangat cocok bagi mereka yang ingin memanjakan diri sejenak saat baru tiba di Pulau Jawa dari Pulau Sumatera.

Gedung Sate

Memasuki Jawa Barat, pemudik bisa mampir melihat bangunan bersejarah di Kota Bandung, Gedung Sate. Destinasi wisata ini berada di Jalan Diponegoro, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung. Gedung Sate dibangun pada 1924, dan masih berdiri kokoh hingga sekarang. 

Selain menikmati keindahan arsitektur dari Gedung Sate, pemudik bisa berkunjung ke dalam museum di dalamnya, serta melihat berbagai macam koleksi seni dan tahapan pembangunan Gedung Sate.

Di belakang Gedung Sate juga terdapat salah satu kuliner unik yang bisa Sobat Parekraf cicipi, yakni Sate Jando. Lokasinya hanya berjarak sekitar 260 meter dari Gedung Sate.

Wisata jalur mudik selatan salah satunya bisa menikmati spot wisata di sekitar Cilacap
Di sekitar Benteng Pendem Cilacap juga ada Teluk Penyu. Foto: shutterstock

Benteng Pendem Cilacap

Terletak di Dusun Kebonjati, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Benteng Pendem merupakan peninggalan Belanda di pesisir Pantai Teluk Penyu. Benteng ini dibangun pada 1861 dan dulunya menjadi markas pertahanan tentara Hindia Belanda.

Di dalamnya terdapat gudang senjata, benteng pengintai, benteng pertahanan, gudang mesiu, penjara, ruang perwira, hingga dapur.
Benteng Pendem Cilacap berjarak kurang lebih tiga kilometer dari Stasiun Cilacap dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit. Tempat ini mudah dicapai bagi mereka yang melintasi jalur mudik selatan.

Benteng Van Der Wijck

Selepas Cilacap di pantai Selatan Jawa, pemudik bisa melanjutkan perjalanan Jalur Lintas Selatan di Jawa Tengah. Melintasi Kabupaten Kebumen para  pemudik yang menggunakan kendaraan darat bisa singgah sejenak melihat megahnya Benteng Van Der Wijck di Desa Sidayu, Gombong, Kebumen.  

Benteng Van Der Wijck Shutterstock
Benteng Vam Des Wijck di Kebumen-Gombong. Foto: shutterstock

Benteng Van Der Wijck adalah peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada abad ke 18 M. Berbeda dengan benteng peninggalan Belanda lainnya, benteng ini terbuat dari batu bata. Sehingga memberi kesan warna merah yang estetik. 

Selain menikmati keindahan arsitektur benteng, bagi para pemudik yang mengajak buah hati juga bermain wahana perahu angsa, mobil-mobilan, kincir putar, hingga kereta mini. Jadi anak tidak bosan selama perjalanan mudik.

Candi Prambanan 

Memasuki Yogyakarta, para pemudik akan melewati kawasan Candi Prambanan. Destinasi wisata populer di Yogyakarta satu ini merupakan kompleks candi Hindu terbesar di dunia, dan sudah ditetapkan sebagai sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage) oleh UNESCO.

Di dalam kompleks candi, pemudik bisa berjalan kaki mengitari kompleks candi untuk mengabadikan momen dengan latar belakang rerumputan dan kemegahan Candi Prambanan. Kalau bosan berjalan kaki, pemudik bisa menaiki mobil wisata untuk berkeliling menikmati pemandangan candi. Di sekitar Candi Prambanan juga terdapat Candi Sewu dan beberapa candi lainnya.

Taman Nasional Alas Purwo

Mendekati ujung Jalur Lintas Selatan Jawa, para pemudik akan memasuki provinsi Jawa Timur. Di provinsi paling ujung Pulau Jawa ini, terdapat salah satu destinasi wisata yang menyajikan sabana luas, yakni Taman Nasional Alas Purwo. Destinasi wisata ini berada Tegaldlimo, Purwoharjo, Banyuwangi. 

Taman Nasional Alas Purwo memiliki luas mencapai 43 ribu hektare, di sini pemudik bisa mengunjungi berbagai destinasi wisata yang masuk dalam kawasan Taman Nasional, yakni Sabana Sadengan, Pantai Pancur, Gua Istana, Pura Giri Selaka, hutan bambu, hingga hutan mangrove. Cocok banget dijadikan tempat istirahat sejenak sebelum meninggalkan Pulau Jawa.

Jadi, jangan lupa singgah sejenak untuk beristirahat sambil menikmati ragam pariwisata di Jalur Mudik Lintas Selatan Jawa. Selamat mudik dan bertemu keluarga di kampung halaman.

agendaIndonesia/kemenparekaf

*****

Bodhi dan Pagoda 45 Meter di Watugong

Pesona Bodhi dan Pagoda Setinggi 45 Meter di Watugong, Semarang

Bodhi dan Pagoda di Vihara Buddhagaya Watugong di Semarang diyakini penganut agama Budha sebagai salah satu vihara penting dalam penyebaran agama Buddha di pulau Jawa.

Bodhi dan Pagoda

Langit kelabu mulai menggelayut seakan bersiap menyambut senja. Semilir angin menampar dedaunan pohon Bodhi di pelataran Vihara Buddhagaya Watugong, yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Semarang, Jawa Tengah. Meski memiliki batang pokok relatif pendek, pohon bernama latin Ficus religiosa itu memiliki banyak dahan dan ranting serta berdaun lebat. Usianya diperkirakan lebih dari 80 tahun!

Oey Poen Kiat, pemandu wisata yang menemani saya, mengatakan pohon Bodhi itu boleh dibilang merupakan situs sejarah. Menurut dia, pohon tersebut dibawa langsung dari Sri Lanka oleh seorang biksu bernama Narada. “Narada Mahatera datang ke Indonesia membawa dua pohon Bodhi pada 1934. Keduanya ditanam di kawasan Borobudur, Magelang. Namun, pada 1955, salah satu pohon dibawa dan ditanam di halaman Vihara Buddhagaya ini,” ujar Oey tentang pesona Bodhi dan Pagoda.

Dalam agama Buddha, Oey menyebutkan, pohon ini dipercaya sebagai tempat Sang Buddha Gautama bermeditasi dan memperoleh pencerahan agung. Mungkin, karena itu pula, di bawah pohon terdapat patung Buddha berwarna emas yang tengah bersila. Pria berusia 65 tahun itu juga meyakini Vihara Buddhagaya Watugong merupakan vihara pertama yang menyebarkan agama Buddha di Pulau Jawa, setelah kejatuhan Kerajaan Majapahit.

Pesona Bodhi dan pagoda setinggi 45 meter di Vihara Watugong, Semarang, jawa Tengah.
Pesona Bodhi dan pagoda di Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang, Jawa Tengah. Foto: N. Dian/TL

Tak jauh dari pohon Bodhi, menjulang PagodaAvalokitesvara. Pagoda ini memiliki warna cerah yang menyita perhatian. Yang menarik, pagoda dibuat tujuh tingkat untuk melambangkan makna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesuciannya pada tingkat ketujuh. Bagian dalam pagoda berbentuk segi delapan dengan ukuran 15X15 meter. Tingginya disebut mencapai 45 meter.

Tingkat satu menjadi tempat bersembahyang. Di tingkat 1 ini, terdapat pula patung Kwan Im Po Sat, yang tingginya sekitar 5,1 meter. Mulai tingkat kedua hingga keenam dipasang patung Dewi Welas Asih, yang menghadap empat penjuru mata angin. Hal ini bertujuan agar Sang Dewi memancarkan kasih sayangnya ke segala arah. Sedangkan pada tingkat ketujuh, terdapat patung Amitaba, yakni guru besar para dewa dan manusia.

Di puncak pagoda terdapat stupa untuk menyimpan relik mutiara Sang Buddha. Namun sayangnya, pengunjung tidak dapat ke puncak pagoda karena tidak disediakan tangga untuk mengakses puncaknya. Patung di pagoda yang disebut juga sebagai Pagoda Metta Karuna, yang berarti pagoda cinta dan kasih sayang, itu berjumlah 30 buah.

Pembangunan pagoda, diperkirakan Oey, berbarengan dengan ditanamnya pohon Bodhi. Kemudian direnovasi pada 2006. Pagoda Avalokitesvara, yang identik dengan perpaduan warna merah dan kuning khas bangunan Cina, diresmikan pada tahun yang sama oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) sebagai pagoda tertinggi di Indonesia.

Bukan hanya bangunan pagoda yang mempunyai daya tarik, keberadaan dua gazebo yang mengapit di kanan dan kiri bangunan yang digunakan untuk tambur dan lonceng juga memikat. Sama memikatnya dengan patung Buddha tertidur di samping bangunan pagoda. Ya, Pagoda Avalokitesvara memang bisa dikatakan sebagai ikon dari kawasan Vihara Buddhagaya Watugong Semarang, yang berdiri di atas lahan seluas 2,25 hektare.

Selain Pagoda Avalokitesvara, bangunan lain yang mencolok di kawasan hijau dan asri ini adalah Vihara Dhammasala. Lokasinya tak jauh dari pagoda, dibangun pada 1955. Terdiri atas dua lantai, bentuknya segi empat. Di dalamnya terdapat patung Buddha berlapis emas dengan ukuran besar.

Sebelum memasuki Vihara Dhammasala, pengunjung sebaiknya mengikuti ritual khusus, yakni menginjak relief ayam, ular, dan babi, yang ada di lantai pintu masuk. Relief-relief ini memiliki arti khusus. Ayam melambangkan keserakahan, ular melambangkan kebencian, dan babi melambangkan kemalasan. “Melalui ritual ini, diharapkan umat yang beribadah dapat menghilangkan ketiga karakter yang ada di badan setiap manusia, hingga pada akhirnya bisa masuk surga,” Oey menjelaskan.

Semua unsur di bangunan ini memiliki makna, termasuk dinding sekeliling vihara. Dindingnya dihiasi relief Paticca Samuppada, yang menceritakan tentang proses hidup manusia, dari mulai lahir hingga meninggal. Selain sebagai tempat ibadah, vihara merupakan tempat untuk melakukan kegiatan sosial. Di kompleks vihara, ada satu bangunan yang digunakan sebagai kegiatan belajar masyarakat setempat. Ada pula taman membaca yang dapat dipakai untuk semua agama.

Di area ibadah ini juga terdapat penginapan. Terbuat dari kayu dan bentuknya seperti rumah panggung. Biasanya dijadikan tempat tinggal pengunjung vihara saat ada acara-acara keagamaan.

agendaIndonesia/Andry T./N. Dian/TL

8 Danau Unik di Indonesia Akibat Fenomena Alam

8 danau unik di Indonesia akibat fenomena alam.

8 danau unik di Indonesia dengan berbagai ketidakbiasaannya. Danau-danau ini menunjukkan fenomena alam yang tidak biasa. Mulai danau asin, musiman, hingga yang berubah warna. Layak menjadi kekayaan alam dan pariwisata Indonesia. Apa saja danau-danau itu?

8 Danau Unik di Indonesia

Asin

Danau Satonda terletak di tengah Pulau Satonda dan termasuk wilayah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Danau ini menyerupai angka delapan dengan diameter masing-masing 950 meter (sebelah selatan) dan 400 meter (sebelah timur). Danau purba ini terbentuk dari letusan Gunung Satonda beribu-ribu tahun lampau. Gunung api Satonda konon berumur lebih tua daripada Gunung Tambora, atau tumbuh bersamaan dengan beberapa gunung api parasit yang tersebar di sekeliling Tambora. 

Danau Satonda dulunya terisi air tawar. Namun letusan Gunung Tambora yang mengakibatkan tsunami mengantar air laut mengisi kawah tersebut dan mengubahnya menjadi danau air asin hingga hari ini. Satu hal yang menarik dan terbilang ajaib dari danau ini adalah riak air danau yang seolah bergerak seiring degnan pasang-surut air laut yang berada di sekeliling Pulau Satonda.

8 danau unik di Indonesia, salah satunya danau Satonda
8 danau unik di Indonesia, salah satunya Danau Satonda. Foto: Dok. ekowisata.org

Musiman 

Danau unik lain adalah Danau Sentarum. Danau ini terletak di sebelah cekungan Sungai Kapuas, yaitu sekitar 700 kilometer dari muara yang menuju Laut Cina Selatan. Sebenarnya danau ini adalah daerah hamparan banjir (lebak lebung). Karena letaknya berada di tengah-tengah jajaran pegunungan, kawasan ini menjadi daerah tangkapan hujan.

Danau Sentarum merupakan danau musiman. Saat musim hujan, kompleks Danau Sentarum akan terendam air akibat aliran air dari pegunungan di sekelilingnya dan dari luapan Sungai Kapuas. Tapi, saat musim kemarau, Danau Sentarum menjadi hamparan kering dan terkadang ditumbuhi rumput seperti padang golf.

8 danau unik di Indonesia yang terjadi karena fenomena alam.
8 danau unik di Indonesia, salah satunya Danau Kelimutu di Ende, Nusa Tenggara Timur. Foto: ilustrasi-dok. TL

Berubah Warna

Di Taman Nasional Kelimutu, Flores, Nusa Tenggara Barat, terdapat tiga danau yang terletak di puncak Gunung Kelimutu. Ketiga danau tersebut memiliki tiga warna berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Kendati begitu, warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.

Konon, danau berwarna biru merupakan tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama dia hidup selalu melakukan kejahatan. Sedangkan danau yang berwarna putih merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Kaca

Desa Lempur, Kerinci, Provinsi Jambi, mempunyai sebuah danau menakjubkan yang dikenal dengan nama Danau Kaco. Danau ini merupakan bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat. Danau Kaco memiliki nama yang berarti “Danau Kaca”. Airnya berwarna biru cemerlang, seolah dicelup cat biru laut.

Yang menjadikan danau ini istimewa adalah airnya yang bisa menyala di malam hari, terutama saat bulan purnama. Tak jarang, wisatawan sengaja berkemah di sekitar Danau Kaco saat bulan purnama. Danau yang konon sangat dalam ini juga menjadi habitat bagi ribuan ikan semah.

Kembar

Bukan hanya manusia yang bisa kembar. Ternyata danau juga. Buktinya, dua danau yang bernama Danau di Atas dan Danau di Bawah ini. Terletak di pinggir jalan raya Padang-Muaralabuh-Kerinci, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kedua danau itu sering juga disebut sebagai ”Danau Kembar” karena letaknya yang berdampingan. Jaraknya hanya terpaut sekitar 300 meter.

Wisatawan dapat membuktikan kemiripan kedua danau tersebut dengan menaiki puncak bukit di antara Danau di Atas dan Danau di Bawah. Untuk berkeliling Danau di Atas, wisatawan bisa ikut kapal motor antar-nagari yang biasa digunakan petani setempat. Tapi untuk Danau di Bawah, turis tidak bisa berkeliling naik kapal.

Merah

Danau Pagaralam, yang berlokasi di perbukitan Raje Mandare di Provinsi Bengkulu, lain daripada yang lain. Biasanya air danau berwarna jernih, hijau, atau biru. Tapi air di danau seluas 6 hektare ini justru berwarna merah darah. Danau ini ditemukan pada 2010 oleh masyarakat sekitar dan sempat membuat heboh karena warna airnya yang tak biasa itu.

Meski berwarna merah darah, saat diambil dengan tangan atau wadah, airnya berwarna seperti air pada umumnya. Menurut warga sekitar, pada malam hari di lokasi sekitar danau ini akan tercium aroma pandan. Di sekitar danau terdapat banyak sisa bangunan yang diyakini sebagai sisa candi dari sebuah kerajaan pada masa silam.

Terperangkap
Danau Kakaban di Pulau Kakaban, Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, ini memiliki luas sekitar 5 kilometer persegi dan berdinding karang terjal setinggi 50 meter. Air laut yang sempat masuk ke danau terperangkap sehingga tidak bisa keluar lagi. Karena perubahan dan evolusi oleh air hujan dan air tanah sejak dua juta tahun silam, air danau ini kemudian menjadi lebih tawar dibanding air laut yang ada di sekitarnya.

Perubahan ini berdampak juga terhadap adaptasi fauna laut yang ada di dalam danau itu. Ubur-ubur, misalnya. Karena terbatasnya makanan, akhirnya ia beradaptasi dengan melakukan simbiosis mutualisme dengan alga, sehingga tidak menyengat. Kakaban merupakan danau prasejarah pada zaman peralihan Holosen.

Cermin

Sesuai dengan namanya, Danau Labuan Cermin memang mengkilap seperti cermin. Tak mengherankan jika danau yang terletak di Desa Batu Putih, Kecamatan Biduk-biduk, Berau, Kalimantan Timur, ini dijuluki “Mirror Lake”karena orang dapat melihat refleksi di atasnya. Keunikan lainnya, Danau Labuan Cermin memiliki dua jenis air, yaitu air tawar dan air asin.

 Bukan hanya itu, dua jenis organisme air juga hidup di danau ini. Ikan air tawar hidup di permukaan danau, sedangkan ikan air asin hidup di dasar danau, karena kedua jenis air tidak bercampur. Batas air laut dan air tawar ini terlihat seperti lapisan awan di dalam danau.

Dari ke delapan danau tersebut, danau mana yang pernah Anda kunjungi? Jika belum satu pun, ayo kalau ada waktu dan pandemi sudag berlalu, agendakan kunjunganmu.

agendaIndonesia

*****

Ombak 5 Meter Impian di Tanjung Setia

Ombak 5 meter di Tanjung Setia Lampung sorga peselancar.

Ombak 5 meter, apalagi jika memiliki panjang gulungan hingga 200 meter, pastilah menjadi impian para surfer atau peselancar. Lucunya, ombak tak selalu bergulung, di saat air laut surut, pantai pun menjadi laboratorium kelautan.

Ombak 5 Meter

Cerita ombak 5 meter ini bukan di Bali atau G-Land Banyuwangi, tapi di pesisir barat Lampung, tepatnya di Tanjung Setia, Pekon, atau Desa Tanjung Setia, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Lampung Barat. Untuk menuju ke lokasi ini, pengunjung bisa terbang selama 40 menit dari Soekarno Hatta ke Bandara Raden Inten II di Bandar Lampung.

Dari bandara, perjalanan dilanjutkan sekitar enam jam dengan jalur darat yang cukup lenggang. Melewati tiga kota —Pring Sewu, Tanggamus, dan Kota Agung, sebelum akhirnya membelah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan menyisir pesisir Barat Provinsi Lampung.

Cobalah memulai menyusuri wilayah ini pada pagi hari. Pantai dengan pasir putih yang masih sepi menjadi pemandangan yang menenangkan. Tenang? Lalu ke mana ombak 5 meter yang dicari peselancar.

Tunggu dulu. Jika kita penyusuri pantai hingga sampai di satu titik pada bagian tanah yang menjorok ke laut alias tanjung, pengunjung baru bisa melihat gulungan ombak yang dikenal luas di antara para peselancar dari pelbagai belahan dunia.

Di situ pengunjung pantai akan mulai terlihat. Umumnya orang asing berkulit putih dengan ‘tentengan’ papan selancar. Kebanyakan pria, tapi ada juga satu-dua kawan perempuan mereka.

Ombak 5 meter menjadi impinan para peselancar di Tanjung Setia. Lampung
Seorang peselancar sedang menikmati gulungan ombak. Foto: Dok. TL

Pria-pria berkulit putih itu tak henti-hentinya menggulung diri dengan ombak dan menantang laut dengan sebilah papan. Ketika lelah, mereka mengaso di halaman homestay yang menghadap ke laut. Namun kadang tak lama mereka kembali menyapa laut dengan tariannya di atas papan.

Cerita para pencinta ombak lebih lengkap diceritakan t dari pemilik penginapan, Dewi. Perempuan asal Sukabumi itu membuka usaha Homestay Utopia pada sekitar sembilan tahun lalu saat Tanjung Setia mulai berkembang.

Dewi menyebut tamunya datang dari berbagai penjuru dunia. Dari Eropa, Australia, Amerika Serikat, dan negara-negara belahan lain, seperti Brasil, hingga Jepang. Lama tinggalnya tidak seperti wisatwan lokal yang hanya berakhir pekan, tapi mereka bisa sampai sebulan hingga dua bulan.

Mayoritas yang datang memang wisatawan asing yang berminat dengan olahraga khusus tersebut. Bahkan ada beberapa homestay yang tidak membuka pintu bagi tamu lokal. Kamar yang disewakan hanya untuk warga asing. Dua hari di Tanjung Setia, agendaIndonesia memang tidak bertemu dengan wisatawan domestik.

Tanjung Setia memang seperti banyak disebut lebih dikenal di mancanegara. Tumbuhnya deretan homestay pun kebanyakan untuk mengakomodasi para pencinta ombak tersebut. Kebanyakan berupa bangunan sederhana. Akhir September lalu, saat kami menyusuri jalan di kawasan itu, ada sebuah homestay yang dibikin lebih apik. Masih terbuat dari kayu, namun dengan pembuatan yang lebih baik. Mungkin menjadi akomodasi paling “mewah”. Tidak hanya di lahan yang menghadap ke laut, tapi juga di sisi lainnya.

Menurut Dewi, Pantai Tanjung Setia yang dikenal dengan ombak 5 meter dan panjang 200 meter bukan satu-satunya yang dipilih para peselancar. “Mereka juga suka ke Way Jambu. Enggak jauh kok dari sini,” ujarnya.

Penasaran, kami pun ke sana. Benar saja, belum tiba di pantai, serombongan peselancar baru saja usai bercanda dengan ombak yang diberi nama khusus “The Sumatran Pipeline” itu. Tak hanya melaju dari pantai ke pantai dengan kendaraan roda empat, tetapi juga tak jarang peselancar yang ditemui seperti di Bali: naik sepeda motor dengan papan selancar yang memburu pantai-pantai dengan ombak tinggi.

Pantai Melasti dan Mandiri, yang tidak jauh dari Pantai Tanjung Setia, pun menjadi pilihan lagi bagi peselancar. Saat tengah menikmati suasana Pantai Labuhan Jungkung yang berada di pusat kota Krui, ibu kota Kabupaten Lampung Barat, tampak sepasang wisatawan tengah bermain dengan ombak. Rupanya yang perempuan baru latihan tahap awal berselancar. Ia memulainya dengan mempelajari gulungan ombak. Dan itu dilakukan di tengah terik sinar mentari.

Ombak 5 meter menjadi tujuan para peselancar di tanjung Setia dan Way Jambu, Lampung.
Pantai Way Jambu di Pesisir Barat Lampung. Foto: Dok. TL

Namun Tanjung Setia tak melulu soal selancar. Pantai ini punya keunikan lain. Pada sisinya yang lain, air lautnya justru terlihat tenang. Terlebih jika sedang surut.

Pada sejumlah bagian, kadang kita akan berpikir ini bukanlah pantai yang asyik untuk bersantai. Pantai tidak terlalu landai dan selebihnya penuh karang. Karang-karang tampak muncul di tepi pantai.

Namun rupanya karang-karang itu punya pesonanya sendiri. Saat air laut surut ternyata membawa keindahan tersembunyi. Pengunjung bisa menemukan bermacam-macam bentuk teripang, landak laut, bulu babi, udang, anemon, kepiting berwarna merah, ikan buntal hingga scorpion fish. Luar biasa!

Ombak 5 meter bukan satu-satunya atraksi, ada pertunjukan laut lain seperti anemon dan lainnya.
Anemon di Pantai Tanjung Setia, Lampung

Rasa bungah benar-benar memenuhi dada. Tanpa harus bersusah payah menyelam, pengunjung dapat menemukan keragaman biota laut. Cobalah ajak teman yang cukup mengenal kehidupan laut, pastilah kita akan dapat pelajaran biologi. Ahai…

Sungguh asyik, sambil mengamati satu per satu karang yang hendak dipijak, pengunjung bisa digoda oleh ikan-ikan kecil yang berlarian. Bahkan ikan-ikan tersebut tak sekadar berlari, tapi melompat untuk menghindar. Mereka mencari tempat yang lebih aman. Kepiting pun tak mau diganggu. Hewan kecil dengan capit itu langsung bersembunyi di balik karang. Serasa berada di dunia lain. Di tengah kehangatan sang surya yang belum lama muncul, “kawan-kawan baru” di laut ini semakin membuat suasana menyenangkan.

Tertarik? Jika perjalanan enam jam dianggap terlalu lama, ada beberapa alternatif jalan menuju Tanjung Setia.

Cobalah cari penerbangan langsung ke Bandara Seray, Krui, di Lampung Barat. Dari sana hanya perlu 30 menit untuk mencapai Tanjung Setia. Bila memilih jalur darat, setelah menyeberang dari Merak ke Bakahuni, dari Terminal Rajabasah bisa memilih bus menuju Krui melalui Jalan Raya Trans-Sumatera sisi barat.

agendaIndonesia/TL/Rita

*****

Museum Angkut Batu, Unjuk 300 Transporter

Museum Angkut Batu memiliki koleksi sekitar 300 an alat transportasi. Foto: shutterstock

Museum Angkut Batu, atau orang suka juga menyebutnya Museum Angkut Malang karena posisi kota Batu yang menempel dengan kota tersebut, beberapa tahun terakhir menjadi salah satu destinasi wisata saat melancong ke Jawa Timur. Menarik, sebab museum ini menyimpan beragam jenis mode transportasi dari yang paling sederhana sampai yang termutakhir.

Museum Angkut Batu

Museum Angkut Batu, lokasi tepatnya berada di kawasan gunung Panderman. Tidak begitu jauh dari Malang, berjarak kurang lebih sekitar 20 kilometer. Museum ini pertama kali dibuka dan diresmikan pada 9 Maret 2014.

Oleh pendiri dan pengelolanya, museum jenis ini diklaim sebagai yang pertama di Asia Tenggara. Dibangun dan dibukanya tempat ini merupakan wujud apresiasi dan sekaligus edukasi tentang industri transportasi dunia, serta sejarahnya dari masa ke masa.

Dibangun di atas lahan seluas 3,8 hektare, Museum Angkut Batu kini memamerkan lebih dari 300 jenis mode transportasi, dari yang tradisional hingga modern. Kesemuanya dibagi dalam zona-zona tersendiri, dengan arsitektur dan penataan yang disesuaikan dengan temanya masing-masing.

Saat pertama masuk, pengunjung akan langsung memasuki zona aula utama. Ruangan ini didesain untuk terkesan mewah dan memamerkan beragam jenis kendaraan terpopuler di dunia, baik yang asli maupun yang berupa replika dan miniatur.

Museum Angkut Batu mempunyai sejumlah zona yang menunjukan kekhasan koleksi yang ditampilkan di sana.
Ada zona yang memperlihatkan kendaraan yang dipergunakan kepolisian di Museum Angkut Batu. Foto: Koleksi Museum Angkut

Selanjutnya, terdapat zona Garbarata yang sarat akan sejarah industri otomotif, baik di tanah air maupun luar negeri. Zona ini dikhususkan bagi jenis-jenis kendaraan yang memiliki nilai sejarah tinggi, atau cerita-cerita unik di baliknya.

Ini misalnya ada Chrysler Windsor Deluxe yang pernah digunakan sebagai mobil kepresidenan oleh presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Atau Land Rover buatan tahun 1958 yang pernah digunakan anggota kerajaan Inggris, termasuk mendiang ratu Elizabeth II.

Yang dipamerkan pun tak hanya jenis-jenis kendaraan zaman dulu. Kendaraan masa kini yang modern dan futuristis, namun bernilai sejarah pun juga ada. Misalnya Tucuxi, prototype mobil listrik yang dimiliki mantan menteri BUMN, Dahlan Iskan.

Selain melihat kendaraan yang dipamerkan, pengunjung juga akan menemukan bioskop mini di zona ini. Di bioskop ini wisatawan dapat menonton film dokumenter tentang sejarah transportasi dari masa ke masa.

Masuk lebih dalam lagi, pengunjung akan menemukan zona Batavia. Sesuai namanya, zona ini dikhususkan untuk mengenang mode transportasi di era pra kemerdekaan. Tak hanya yang ada di Jakarta, meski Batavia adalah nama Jakarta masa lalu. Sepeda, dokar, pedati, hingga kereta kuda zaman kerajaan dapat ditemui di sini.

Sedangkan di zona Pecinan, nuansa pasca kemerdekaan lebih terasa. Desain dari zona ini terinspirasi dari Stasiun Kota Jakarta tempo dulu. Di sini terdapat transportasi umum masyarakat di kala itu seperti becak, bajaj dan bemo.

Tak hanya di lantai dasar, pada bangunan dengan tiga lantai ini pengunjung dapat menemukan beberapa jenis transportasi lainnya di bagian lantai atas. Seperti zona Runway 27 yang mengupas sejarah dunia aviasi serta memamerkan beberapa jenis pesawat dan helikopter.

Contohnya Bell 47J yang merupakan pesawat kepresidenan pertama di era Soekarno. Atau sebuah helikopter milik Amerika Serikat yang disinyalir digunakan oleh intel yang tertangkap di wilayah Indonesia. Sebagai permohonan maaf, helikopter itu dihibahkan kepada Indonesia.

Selain pameran pesawat dan helikopter beserta sejarahnya, di bagian ini pengunjung juga dapat mencoba flight simulator yang didesain mirip seperti yang biasa dipakai oleh pilot untuk berlatih. Untuk mencobanya, wisatawan perlu membayar tarif tambahan seharga Rp 300 ribu.

Bagi yang ingin rehat sejenak sambil makan dan minum, di zona ini juga tersedia food court. Uniknya, food court ini didesain dengan tema dan nuansa yang membuat seakan-akan sedang berada di dalam pesawat.

Museum Angkut Batu juga ada Zona Broadway yang memamerkan koleksi mobil yang dipergunakan di film.
Museum Angkut Batu tak hanya ada di dalam ruang. Foto: dok. shutterstock

Di bagian luar pun terdapat zona-zona yang tak kalah menarik. Seperti misalnya zona Broadway yang didesain bernuansa film-film zaman dulu. Di sini pengunjung dapat berfoto dengan replika bangunan depan Broadway Theater atau dengan mobil-mobil klasik di masa itu.

Di zona ini terkadang juga dilangsungkan pertunjukan parade musikal ala Broadway. Ini merupakan salah satu daya tarik utama di museum ini. Wisatawan bisa menikmati pertunjukan parade tersebut sambil berfoto-foto.

Selain itu, terdapat pula zona Eropa, yang menampilkan suasana mirip negara-negara Eropa dengan replika bangunan-bangunan bersejarahnya, seperti menara Eiffel, Buckingham Palace dan lain sebagainya.

Pada zona ini pula pengunjung akan menemukan berbagai mobil dan motor klasik buatan Eropa yang disesuaikan dengan latar belakangnya. Pada latar perkotaan dan pedesaan Jerman kuno, terdapat mobil-mobil keluaran Mercedes-Benz dan Volkswagen di masa itu.

Lalu pada latar Italia terdapat Fiat dan Vespa klasik. Sedangkan di bagian Inggris, terdapat ragam mobil klasik seperti Mini Cooper dan Rolls Royce, serta kereta kerajaan yang digunakan pada acara kenegaraan di Buckingham Palace.

Terdapat pula zona Las Vegas dengan latar dan gaya arsitektur ala kota kasino tersebut. Selain nuansanya yang khas, mobil-mobil yang terpajang pun menggambarkan tunggangan miliarder yang berkeliaran di sana, mulai dari Lamborghini hingga Hummer.

Dan yang tak kalah unik adalah zona Hollywood yang memamerkan mobil-mobil yang pernah dipakai dalam film-film Hollywood ternama. Misalnya mobil yang digunakan dalam serial film James Bond, dan dalam film Scooby Doo dan Batmobile alias tunggangan karakter Batman.

Khusus untuk Batmobile, terdapat wahana VR (virtual reality) yang menawarkan sensasi seakan-akan sedang mengendarai kendaraan karakter superhero tersebut. Untuk dapat merasakannya, pengunjung perlu membayar tarif sekitar Rp 20 ribu.

Tak hanya itu, kini juga tersedia simulator Formula 1 mirip seperti yang digunakan tim-tim balap jet darat tersebut untuk pengembangan dan latihan. Cukup membayar biaya tambahan Rp 25 ribu, wisatawan dapat mencobanya.

Terakhir, terdapat zona Pasar Apung yang menjajakan berbagai makanan tradisional serta souvenir untuk oleh-oleh. Di sini pengunjung akan menaiki perahu untuk dapat mengelilingi zona ini. Untuk menaiki perahu tersebut, anda dapat menyewanya dengan tarif Rp 10 ribu.

Untuk masuk ke Museum Angkut Batu, pengunjung akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp 100 ribu, baik dewasa maupun anak-anak dan baik weekdays maupun weekend. Namun bagi yang membawa kamera dan ingin berfoto, akan diminta membayar tambahan Rp 30 ribu.

Fasilitas seperti toilet, musholla, charging station, wi-fi dan penitipan barang pun tersedia di museum ini. Untuk mobilitas di sekitar museum, disediakan pula kursi roda serta shuttle car secara gratis.

Museum Angkut buka setiap hari dari jam 12.00 sampai jam 20.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0341) 595007 atau mengunjungi akun resmi Instagram @museumangkut.

Museum Angkut

Jl. Terusan Sultan Agung no. 2, Batu

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Wisata Religi, Mengirim Doa Ke 9 Wali

Wisata Religi Demak ke Masjid Agung . Foto :shutterstock

Wisata religi banyak dilakukan umat muslim ketika memasuki bulan Ramadan. Salah satu yang kerap dilakukan umat muslim di Indonesia adalah melakukan perjalanan religi. Banyak yang beranggapan, dengan melakukan hal itu dapat memberikan ketenangan batin dalam diri.

Wisata Religi

Sekadar informasi, wisata religi dan wisata halal merupakan dua jenis wisata yang berbeda. Menurut Wapres Ma’ruf Amin. “Kalau mengunjungi masjid itu bukan wisata halal, itu namanya wisata religi. Kalau wisata halal itu mengunjungi wisata-wisata, semua wisata yang ada, destinasi wisata yang ada, cuma di destinasi itu ada layanan halal,” ucap Wapres Ma’ruf Amin.

Sedangkan wisata religi bisa diartikan sebagai destinasi wisata yang berhubungan dengan sejarah, tokoh, hingga tempat ibadah. Wisata ini memiliki banyak manfaat bagi mental dan spiritualitas seseorang. Mulai dari meningkatkan keimanan, menambah wawasan keagamaan, hingga menambah wawasan budaya dan sejarah suatu tempat.

Wisata Religi Masjid Kudus Shutterstock
Menara Kudus mejadi ikon dari kota ini. Foto: shutterstock

Perlu diingat kembali, perjalanan religi itu tidak hanya untuk umat muslim saja. Seperti yang kita ketahui, di Indonesia ada enam agama yang diakui: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Setiap ajaran agama memiliki wisata religinya tersendiri.

Contoh, umat Buddha berwisata ke Candi Borobudur, Jawa Tengah. Sedangkan umat Hindu ke pura yang ada di Bali. Namun, bukan berarti jika wisatawan tidak menganut ajaran agama tersebut tidak bisa mengunjungi destinasinya.

Meski tidak sesuai keyakinan, wisatawan tetap bisa berkunjung dan belajar mengenal budaya dari setiap destinasi religi. Dengan kata lain, wisata religi ini juga dapat meningkatkan toleransi antarumat beragama di Indonesia. Namun, saat berkunjung kita harus tetap menghargai umat yang beribadah dan peraturan yang ada.

Menjelang Ramadan dan Idulfitri, umat Islam kerap melakukan perjalanan religi dengan mengunjungi berbagai masjid bersejarah, maupun makam para Wali Songo, dengan tujuan untuk berziarah dan meningkatkan keimanan. 

Wisata religi sambil berziarah ke makam para Wali Songo seakan menjadi sebuah tradisi yang kerap dilakukan umat muslim di Indonesia. Kesembilan makam para Wali ini tersebar di Pulau Jawa. Ada lima makam Wali di Jawa Timur, tiga makam di Jawa Tengah, dan satu makam di Jawa Barat. 

Selain mengunjungi makam-makam Wali Songo, berkunjung dan beribadah ke masjid-masjid juga merupakan bentuk wisata yang bisa dilakukan umat Islam di bulan Ramadan. Ada beberapa rekomendasi masjid bersejarah di Indonesia yang bisa wisatawan kunjungi untuk wisata religi.

Mulai dari Masjid Istiqlal (Jakarta), Masjid Agung Demak, Masjid Agung Sunan Ampel (Surabaya), Masjid Jogokariyan (Yogyakarta), Masjid Agung (Semarang), hingga Masjid Kuno Bayan Beleq (Lombok). 

Interior Masjid Sunan Ampel Surabaya
Masjid Sunan Ampel Surabaya

Tak hanya untuk meningkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadan saja, wisata di masjid-masjid seluruh Indonesia juga bisa menjadi ajang berburu kuliner halal khas dari setiap daerah. Sebab, banyak masjid di berbagai daerah yang ramai dikunjungi wisatawan untuk ngabuburit saat Ramadan. Bahkan, ada beberapa menu khas yang hanya ada saat bulan Ramadan tiba.

Bulan Ramadan kerap dijadikan momentum untuk melakukan perjalan spiritual bagi umat Islam. Salah satu daya tarik wisata di Indonesia adalah ziarah ke makam Wali Songo. Hal ini dilakukan sebagai bentuk mengenang para teladan dalam mengajarkan dan menyebarkan ajaran Islam di Indonesia.

Bagi wisatawan yang ingin melakukan wisata religi ke makam Wali Songo, berikut ini lokasi makam para Wali yang selalu ramai dikunjungi para peziarah.

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga merupakan tokoh yang sangat fenomenal karena berhasil menciptakan karakter-karakter baru pewayangan, seperti Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng. Selain itu, beliau juga menggubah tembang yang sarat akan muatan Islam, Kidung Rumeksa ing Wengi dan Lir-ilir. Jika ingin berziarah, makam Wali Songo ini berada di Desa Kadilangu, sekitar tiga kilometer dari Masjid Agung Demak.

Sunan Ampel

Bukti sumbangsih Sunan Ampel terhadap kemajuan Islam terlihat dari adanya Kesultanan Demak, berdirinya Masjid Agung Demak dan ajaran Moh Limo. Bagi Sobat Parekraf yang ingin ziarah ke Makam Sunan Ampel bisa datang ke Jalan Ampel Masjid No. 53, Kota Surabaya.

Sunan Drajat

Jika Sunan Ampel memiliki ajaran Moh Limo, Sunan Drajat berdakwah dengan ajaran Pepali Pitu. Salah satu tembang terkenal karya Sunan Drajat adalah tembang tengahan Macapat Pangkur. Makam Sunan Drajat berada di Desa Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Sunan Gresik

Terletak di Jalan Malik Ibrahim, Gresik, makam salah satu Wali Songo ini juga tidak pernah sepi peziarah. Kiprah Sunan Gresik dalam mengajarkan ajaran Islam terbilang cukup unik, karena memakai pendekatan budaya. Beliau berdakwah dengan cara mengajarkan masyarakat untuk bercocok tanam dan bertani.

Sunan Kudus

Jejak dakwah Sunan Kudus dapat dilihat dari desain arsitektur Masjid Agung Kudus, Jawa Tengah yang mirip dengan candi. Kini, peninggalannya tersebut kerap didatangi para peziarah untuk berdoa di masjid tersebut. Sekaligus berziarah ke makam Sunan Kudus yang dimakamkan di bagian belakang Masjid Agung Kudus.

Sunan Bonang

Wali Songo satu ini menyebarkan Islam dengan alat musik, yakni gamelan. Selain itu, Sunan Bonang juga mahir memainkan wayang, serta menguasai seni dan sastra Jawa. Untuk mengenang jasa Sunan Bonang dalam menyebarkan ajaran Islam, wisatawan bisa ziarah ke Makam Wali Songo yang ada di Desa Kutorejo, Tuban, Jawa Timur.

Sunan Muria

Jika ingin wisata religi ke makam Sunan Muria, pengunjung bisa mengunjungi lereng Gunung Muria, Kecamatan Colo. Sama seperti tokoh Wali Songo lain, Sunan Muria juga merangkul tradisi dan budaya setempat. Selama periode dakwahnya, beliau melahirkan karya berupa tembang yang diberi judul Sinom dan Kinanthi.

Sunan Giri

Makam Wali Songo, Sunan Giri, berada di Jalan Sunan Giri, Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Selama masa hidupnya, Sunan Giri berdakwah melalui seni dan budaya. Sunan Giri menciptakan beragam tembang antara lain Padang Bulan, Jor, Gula Ganti, dan Cublak-cublak Suweng.

Sunan Gunung Jati

Perjuangan Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan ajaran Islam dilakukan lewat jalur politik. Beliau menjalin banyak kerja sama untuk mengokohkan dakwah Islam. Setelah wafat, Sunan Gunung Jati dimakamkan di Desa Astana, Cirebon Utara, yang selalu ramai para peziarah yang datang untuk mengenang jasa beliau.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Keunikan 3 Pulau yang Memukau di Indonesia

Keunikan 3 pulau yang memukau di Indonesia, mulai dari yang terkecil hingga bentuknya yang unik.

Keunikan 3 pulau yang memukau di Indonesia. Sebagai negara dengan puluhan ribu pulau, wajar saja jika Indonesia memiliki banyak pulau yang unik dan menarik untuk dikunjungi. Pulau-pulau unii tersebut, dari yang terkecil hingga yang hanya muncul di siang hari. Ada pula pulau yang mirip lumba-lumba. Ketiganya mestinya bisa menjadi potensi pariwisata di Indonesia.

Keunikan 3 Pulau

Pulau Terkecil

Indonesia merupakan negara kepulauan, karenanya tidak aneh jika negara ini memiliki banyak pulau-pulau kecil yang bisa dijadikan destinasi wisata. Namun yang luar biasa, ternyata pulau terkecil di dunia ternyata berada di Indonesia. Terkecil dalam arti pulau ini juga dihuni manusia. Meskipun sekarang tidak lagi. Pulau ini ternyata ditinggalkan oleh penduduknya karena mengalami abrasi parah.

Pulau Simping sudah diakui PBB sebagai pulau terkecil di dunia. Meski begitu, pulau ini tetap memiliki pemandangan yang menawan dan dicari wisatawan. Pulau ini terletak di Teluk Mak Jantu. Tepatnya di kawasan Pantai Sinka Island, Singkawang, Kalimantan Barat. Untuk menjangkau pulau ini dibutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Pontianak dengan menggunakan kendaraan pribadi. Meski air lautnya terbilang dangkal, Simping memiliki hamparan pantai yang panjang. Tak perlu menggunakan perahu atau kapal untuk dapat menjangkaunya. Dari Pantai Sinka, wisatawan dapat melewati sebuah jembatan.

Uniknya, Simping, yang terdiri atas pasir, bebatuan, dan pepohonan, sebelumnya disebut dengan nama Pulau Kelapa Dua, karena dulunya cuma ada dua pohon kelapa. Ukurannya sangat mini sebagai tempat tinggal penduduk, yakni kurang dari 1 hektare, saat ini kemungkinan bahkan tinggal setengah hektare.

Pulau Timbul-Tenggelam

Aslinya tentu saja bukan pulau timbul tenggelam. Adalah Pulau Segajah di Bontang Kuala, Kalimantan Timur, juga tak kalah unik dari pulau Simping. Bagaimana tidak, pulau ini hanya muncul saat siang hari ketika air laut surut. Sedangkan pada malam hari, Pulau Segajah seolah tenggelam dan tidak terlihat karena terkena air pasang. Karena itu, jika ingin mengunjungi pulau ini, jam idealnya adalah pagi hingga tengah hari.

Saat air laut surut, biasanya masyarakat sekitar sering mencari kerang di daratan pasirnya untuk diolah menjadi sambal goreng. Ini bisa menjadi salah satu atraksi menarik mengunjungi pulau ini, bahkan jika tertarik bisa ikut mencari kerang dan kemudian minta dimasakkan masyarakat setempat dengan sedikit uang jasa.

Segajah memiliki pasir yang putih dan air laut yang sangat jernih sehingga terlihat dasar lautnya yang dipenuhi bintang laut. Bahkan ada pula ikan badut (clown fish). Tak aneh jika Segajah sering dijadikan spot snorkeling atau diving. Untuk dapat mengunjungi pulau ini, wisatawan bisa menyewa perahu yang ada di Bontang Kuala. Perjalanannya lebih-kurang ditempuh sekitar 20 menit. Pastikan membawa tabir surya untuk melindungi kulit dari sengatan matahari karena tak ada tempat berteduh.

Pada perairan yang dangkal, dasar laut akan terlihat, di sana terdapat kerumunan bintang laut. Dari sekian banyak dominasi bintang laut berwarna cokelat dan kemerahan, terdapat sedikit bintang laut berwarna biru. Jika berniat snorkeling, yang perlu diwaspadai adalah batu karang tajam, serta bulu babi yang menempel pada karang-karang tersebut.

Keunikan 3 pulau yang memukau di Indonesia, mulau dari yang terkecil hingga ke bentuk yang unik.
Keunikan 3 pulau di Indonesia yang memukau, salah satunya pulau Lumba-lumba di Flores, Nusa Tenggara Timur. Foto: selasar.com

Lumba-lumba

Surga dunia, begitu kata orang yang sudah pernah menginjakkan kakinya di Flores, Nusa Tenggara Timur. Banyak tempat yang dapat dijadikan tujuan wisata di sini, seperti pantai berpasir putih, berpasir hitam, sampai yang berwarna pink, dengan air yang sangat jernih dihiasi latar belakang pegunungan yang sangat indah. Bahkan tak jarang, pelancong dapat menyaksikan lumba-lumba yang tengah berlompatan di tengah laut.

Konon, salah satu pulau di lepas pantai utara Pulau Flores memiliki bentuk yang menyerupai lumba-lumba. Dari ketinggian, pulau terumbu karang itu terlihat cantik karena bagai lumba-lumba yang sedang berenang dan muncul ke permukaan. Uniknya lagi, di sekitar pulau ini juga dihuni oleh beberapa lumba-lumba. Wow!

Rasanya jika punya kesempatan berkunjung ke salah satu daerah-daerah tersebut, misalnya sedang ke Singkawang, Kalimantan Barat, dan cukup punya waktu untuk bersantai, tak ada salahnya mengagendakan untuk meluncur ke pulau-pulau unik tersebut.

agendaIndonesia

*****

Wisata Kuningan Dan 8 Spot Yang Asyik

Wisata Kuningan dan menikmati sejumlah spot di kawasan ini.

Wisata Kuningan di Jawa Barat rasanya kalah popular dengan beberapa daerah di sekitarnya, seperti Cirebon, atau Sumedang. Padahal daerah ini tak kurang hal menarik untuk dinikmati. Dipadukan dengan sejumlah spot di Cirebon, ia bisa menjadi pilihan liburan. Termasuk di telaga-telaga yang kini menjadi ikon wisata di daerah yang terletak di kaki gunung Ciremai itu.

Wisata Kuningan

Nasi Jamblang Mang Dul

Sebelum berkendara ke Kuningan, ada baiknya sarapan lebih dulu di warung legendaris yang menjajakan nasi Jamblang sepaket dengan aneka ragam lauknya. Warung yang berlokasi di Jalan DR. Cipto Mangunkusumo Nomor 8, Pekiringan, Kesambi, Kota Cirebon, yang berkapasitas tak lebih dari seratus pengunjung, ini, setiap pagi riuh dipenuhi pengunjung. Tamu dari beragam daerah datang pada pukul 08.00-09.00, yakni pada jam-jam sarapan. Kursi-kursi yang ditata memanjang, sejajar, dan berhadap-hadapan tak pernah lowong. Memang, nasi Jamblang yang kesohor lantaran merupakan langganan bekas Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, itu, jadi warung favorit di Cirebon.

Nasi Jamblang Mang Dul sama seperti nasi Jamblang yang dijual ditempat lain: dikemas kecil-kecil, dibungkus dengan daun jati, dan dihidangkan dengan beragam lauk. Yang membedakan adalah rasa olahan lauk-pauknya yang seolah lebih berbumbu dan nasinya yang punya aroma lebih wangi. Bila ke mari, tahu semur, sontong, dan sambal merah harus menjadi lauk utama yang dipilih.

Telaga Nilem

Telaga ini merupakan spot vakansi alam yang bisa menjadi salah satu alternatif seusai pelancong “membabat” habis wisata keraton di Kota Cirebon. Jaraknya dengan kota santri itu tak terlampau bikin punggung pegal. Kira-kira hanya dua puluh kilometer. Umumnya, kalau dijangkau menggunakan kendaraan bermotor, telaga yang masuk kawasan wisata Desa Kaduela tersebut bisa ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit.

Di areal Taman Nasional Gunung Ciremai, Nilem seolah menjadi gerbang pembuka. Sebab, lokasinya berada paling muka, dekat dengan portal masuk. Jadi, umumnya, orang-orang mengunjungi telaga itu pagi-pagi benar. Di sana, mereka bisa melihat danau alami yang memiliki air sangat jernih. Saking jernihnya,  biota yang hidup dalam air tampak dari permukaan.

Para pelancong biasanya memanfaatkan kolam ini buat snorkeling. Tak perlu khawatir bila tak bisa berenang. Di kawasan telaga, terdapat warung-warung yang menyediakan pelampung. Pun, bila tidak membawa baju ganti, para penjual tersebut jua menyewakan pakaian renang dengan biaya rata-rata Rp 20 ribu per pasang.

 Telaga Remis

Sebelum embun-embun luruh dan cahaya matahari merasuk penuh, danau 3,25 hektare yang letaknya tak sampai 500 meter dari Telaga Nilem ini punya lanskap yang menarik. Airnya jernih serupa cermin, memantulkan bayangan pepohonan, yang seakan-akan membentuk pagar alami guna mengelilingi kolam raksasa itu. Kalau pagi, telaga dikunjungi warga sekitar yang berniat mencari ikan. Macam-macam jenis ikan air tawar hidup di sini. Semisal bawal dan nila.

Menurut kepercayaan warga sekitar, ada juga bulus raksasa yang berdiam. Bulus kadang-kadang muncul kalau dipanggil dengan ritual khusus. Memang, bulus disinyalir merupakan penunggu telaga, yang konon adalah jelmaan Pangeran Purabaya, utusan Kerajaan Mataram, yang berseteru dengan Sultan Matangaji, pemimpin Keraton Cirebon. Sementara itu, kalau siang, pengunjung kebanyakan merupakan keluarga berpiknik. Karena itu, di Telaga Remis banyak disediakan wahana untuk anak-anak, seperti sepeda air, bebek-bebekan, dan perahu mini.

Hutan Pinus

Masih dalam kompleks yang sama dengan Telaga Remis, hutan pinus berada di sisi kanan dan kiri pintu gerbang. Luas arealnya mencapai lebih dari 13 hektare. Pepohonan jangkung itu tumbuh rapat, membikin sejuk suasana sekitar telaga. Di dalam hutan, terdapat beberapa bangku buatan yang bisa dipakai untuk menikmati suasana.

Biasanya, keberadaan hutan dimanfaatkan para anggota keluarga untuk menggelar bekalnya. Sementara untuk muda-mudi, areal ini kerap dipakai buat lokasi foto. Beberapa bahkan memanfaatkan untuk lokasi pre-wedding. Sayangnya, keasrian hutan sedikit rusak dengan sampah anorganik yang menumpuk di beberapa sisi.

Telaga Biru

Warga sekitar mengenalnya dengan sebutan Situ Cicerem. Lokasinya masih berada di Kecamatan Pesawahan dengan jarak tempuh kurang lebih 1 kilometer dari Telaga Remis menuju arah Paniis. Telaga ini punya julukan “Si Biru” lantaran warna airnya benar-benar biru, seperti rona air laut dalam. Di situ berdiam ribuan ikan bawal hitam dan nila merah yang selalu kelihatan menari-nari dan bergerombol bila diteropong dari atas telaga atau jalan.

Tempat ini dulu dikenal sebagai lokasi singgahnya para wali ketika menyebarkan agama. Karena itu, di sekitar telaga, bisa ditemui rumah-rumah “sesepuh” yang kerap didatangi orang-orang dari kota untuk mencari wangsit. Di telaga ini pula, menurut warga sekitar, ikan yang hidup dipercaya tak boleh dipancing karena memiliki pertalian dengan hal-hal yang berbau metafisika.

Belakangan, Telaga Biru menjadi lokasi incaran para selebgram. Dari atas sebuah batu, mereka bisa berfoto dengan latar kosong berupa telaga, ikan-ikan, dan pagar-pagar pepohonan yang rimbun serta ranum.

Bukit Batu Luhur

Butuh usaha lebih untuk menjangkau bukit batu kapur ini bila pelancong menempuhnya dari Telaga Biru. Lokasinya cukup jauh, kurang lebih 5 kilometer dari telaga, dengan kondisi jalanan sempit, berkelok-kelok, naik-turun, serta melewati hutan-hutan yang sepi. Jika belum hafal medan atau tak fasih-fasih benar mengemudi, sebaiknya mengajak orang lokal untuk mengantarkan sampai tujuan. Meski demikian, usaha buat mencapai bukit yang baru kesohor belakangan tersebut tak sia-sia.

Pemandangan berupa hamparan gundukan batu, dikelilingi hutan-hutan yang asri, langsung menyapa tatkala wisatawan tiba di lokasi. Di perbukitan lepas pandang itu, ada sebuah tebing dengan retakan kerucut tak sempurna. Masih di lokasi yang sama, terdapat kolam-kolam buatan yang langsung menghadap ke lanskap perbukitan. Juga ada rumah pohon yang bisa dipakai muda-mudi untuk berfoto.

Kimabalu Resto

Menjelang siang hampir sore, sewaktu lelah bermain di bukit yang membutuhkan trekking lumayan untuk mencapai titik-titik foto, singgah di restoran yang masih masuk kawasan Bukit Batu Luhur ini merupakan ide menarik. Di sana tersedia ragam olahan makanan Nusantara dan western. Menu favoritnya adalah BBQ Chicken, yang dimasak bergaya campuran—Indonesia dan Eropa: disajikan dengan hot plate, dimakan bersama kentang, namun diolah dengan bumbu tradisional.

Bersantap di Kimabalu terasa sensasional lantaran saat makan, pengunjung dihadapkan langsung dengan lanskap Bukit Batu Luhur dari ketinggian. Pun, konsep restorannya tampak asyik karena memadukan gaya bar dan suasana yang rustic. Menjelang sore, langit dengan sepuhan keemasan dan mega-mega lembayung yang menggelayut di atas bukit bisa disaksikan dari sana.

Wisata Kuningan salah satunya musti mampir. ke kawasan batik Trusmi

Kampung Batik Trusmi

Sebelum kembali ke kota asal, mencari oleh-oleh seakan-akan menjadi sebuah keharusan. Di jalan utama menuju Jakarta, tepatnya di daerah Plered, 3 kilometer dari Gerbang Jalan Tol Plumbon 2, terdapat sebuah perkampungan batik warisan Ki Gede Trusmi, pengikut setia Sunan Gunung Jati. Di kampung sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer itu, hampir semua rumah memiliki kesibukan yang sama, yakni membatik. Ada yang menggunakan cara tradisional—dengan canting—ada pula yang sudah modern, yakni membatik dengan sistem cap.

Kalau ingin melihat proses membatik, pelancong bisa mendatangi warga yang umumnya bermukim di gang-gang sempit. Mereka beraktivitas sekitar pukul delapan pagi sampai pukul lima sore. Sedangkan kalau hanya ingin belanja, wisatawan bisa mengunjungi show room yang tersebar di sepanjang jalan perkampungan itu. Umumnya, mereka menjual batik motif mega mendung, khas Cirebon, dengan harga mulai Rp 80 ribu untuk batik tulis dan Rp 35 ribu untuk batik cap per lembar.

agendaIndonesia/F. Rosana

Keheningan Ubud, 1 Cangkir Kopi Dan Pasar

Keheningan Ubud selalau saja mebuat wisatawan terpesona. Ia memberi inspirasi dan ketenangan.

Keheningan Ubud, Bali, tak pernah melahirkan kebosanan. Cerita tentang ketentraman dan harmoni. Saya menikmati keheningan itu lewat satu cangkir kopi. Dan Pasar Ubud yang memiliki keramahan.

Keheningan Ubud

Tanpa aba-aba, Putu menarik tuas mesin kopi. Tangan kanannya yang mungil cergas beradu dengan kotak besi yang lebarnya dua kali badannya. Sedangkan tangan kiri perempuan 24 tahun itu menyerong-nyerongkan cangkir keramik berwarna putih.

“Srrrrr…..” Nyaring bunyi perkakas memenuhi ruang 60 meter persegi di sebuah gang sempit di lambung Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Di tangan Putu, mesin kopi itu menghasilkan secangkir latte art berpola mirip kembang kamboja.

“Satu hot latte single shot aroma Arabica Kintamani siap menemani,” ujar Putu sembari meladeni pesanan yang menumpuk. Bau khas biji kopi yang digiling kasar, pahit rasa seteguk latte, dan gurih susu murni dengan aroma yang masih segar menjadi pembuka sempurna perjalanan menjamah Ubud. Di sinilah halaman pertama itu dimulai, di ruang para seniman meracik kopi: Seniman Coffee.

**

Tak terperi ramainya kafe—yang lebih mirip galeri itu—kala akhir pekan di awal Februari lalu. Turis-turis dari Benua Eropa, Amerika, Australia, Afrika, berganti-gantian masuk-keluar; sekadar duduk menyeruput kopi; atau berlama-lama diskusi. Mereka asyik membincangkan perjalanan yang lalu sambil menyusun rencana baru.

Di antara riuh obrolan itu, saya duduk di tepi. Bar kayu yang menghadap ke jalanan Ubud menjadi pilihan yang pas. Sesekali, saya menimpali obrolan berbahasa Inggris. Sisanya, saya lebih suka melongok ke trotoar yang bersih dan menyaksikan penjor-penjor dengan aroma janur yang masih segar.

Sekali waktu, saya memperhatikan detail kafe sembari berdecak. Visual Seniman Caffee begitu terekam baik bagi para penggemar seni. Interior di dalam bangunan penyuka kopi ini begitu artsy. Kursi, misalnya. Pemilik kafe menggubah kursi plastik menjadi kursi goyang. Bagian bawah kursi itu dilapisi kayu berbentuk melengkung. Ia lantas punya sebutan khusus: the bar rocker.

Di sisi lain, tampak dua sepeda ontel menggantung di bawah atap beranda. Posisi keduanya yang simetris seolah-olah mengaminkan bahwa sepeda ontel itu adalah tiang penyangga atap. Tangan seniman jelas ikut campur dalam pembangunannya.

“Kecak dance, kecak dance. Don’t miss to watch kecak dance show tonight, Sir, Maddam.” Suara setengah berteriak tiga laki-laki berkostum kamen dan bertopi udeng memecah fokus. Intonasinya khas warga lokal Pulau Dewata.

Saya menengok, mencari-cari asal suara itu. Rupanya, mereka berdiri di tepi jalur pedestrian. Ketiganya tengah menawarkan pertunjukan tari kecak kepada wisatawan yang melintas. Ternyata, kafe ini dihimpit tempat menonton pertunjukan tari khas Bali.

Tak jauh dari Seniman Coffee, terdapat sejumlah wantilan atau balai desa yang kerap dipakai untuk tempat pentas para penari. Hampir saban malam, tari kecak, tari barong, dan pertunjukan tradisional lainnya ditampilkan di pelataran wantilan.

Saya mengingat, tak ada yang berubah dari Ubud; tahun demi tahun. Meski kedai-kedai kopi sederhana telah berubah menjadi kafe, suasana orisinal dari kehidupan masyarakat lokal tetap menonjol.

Belum lama memperhatikan interaksi tiga laki-laki Bali paruh baya dengan para wisatawan yang melintas, seseorang di belakang tiba-tiba menepuk punggung. “My eyes on the painting. Flowery painting shop in Ubud Market,” katanya. Ia seorang turis asal Jerman. Jane, yang baru saya kenal ketika mengobrol sekejap di Seniman Coffee, menceritakan kekagumannya pada Pasar Ubud.

Keheningan Ubud juga bisa dinikmati di Pasar Ubud yang orang-orangnya begitu ramah.
Keheningan Ubud, salah satunya bisa diperoleh dengan menikmati keramahan Pasar Ubud. Foto: Ilusatrasi-iStock

Kalimat Jane memantik kenangan di masa lalu: Ubud yang syahdu dan nyanyi pasar yang lugu. Ah, tiba-tiba saya rindu menyusuri lorong-lorong pasar tradisional itu. Bergegas, saya mengambil tas jinjing, membayar secangkir kopi, dan mengayun langkah menuju pasar.

Tak sampai 15 menit, kaki saya berhenti pada lantai-lantai berwarna terakota. Suara orang ribut tawar-menawar memekakan telinga. Riuh, namun inilah sensasinya. Pasar Ubud selalu menyajikan kehidupan pasar Nusantara yang berbeda: para penjual menjajal berbahasa Inggris, para turis berusaha menimpali dengan bahasa lokal.                                 

Wangi rotan merasuk seketika. Begitu juga bau cat air yang bergesekan dengan kanvas. Inilah sejatinya Pasar Ubud. Tak seperti pasar lain yang menjual kebutuhan pokok, pasar yang terletak di jantung kota seni tersebut lebih banyak menjajakan karya-karya seniman lokal.

Tas-tas bermodel ate bergelantungan. Lukisan warna-warni berjajar. Para turis ramai memburunya. Di sudut lain, pajangan dinding berulir motif bunga kamboja, pura, dan perempuan Bali menjadi benda yang merayu pandang.

Saya menyusuri petak demi petak, koridor demi koridor. Ada sebuah jalan turunan menuju pasar bagian bawah. Di bagian itulah pedagang menjajakan sayur-mayur. Ketimbang turis, di petak tersebut, orang-orang lokal lebih banyak dijumpai.

“Cari apa gek?” ucap seorang ibu.  Gek. Saya familiar dengan panggilan ini. Gek alias jegek berarti cantik. Orang-orang Bali memang lazim menyapa perempuan lebih muda menggunakan sapaan tersebut. Saya berdesir, lagi tersanjung.

Ia, seorang ibu paruh baya yang menyapa tak lama tadi, melambaikan tangan. “Kamu mau buah?” ujarnya. Di depannya, berjejer keranjang jeruk Bali, apel, salak, dan rambutan. Di kepala Niluh, nama ibu itu, terlilit sebuah kain mirip handuk. Kain ini digunakan sebagai bantalan ketika ia membawa bertumpuk-tumpuk keranjang buah di kepalanya.

“Sini, gek, ambil saja untuk sarapan,”ujarnya. Ia, yang ramah, menawarkan buah cuma-cuma. Saya mendekat. Kamera di tangan seketika membidik aktivitasnya merapikan buah. Di layar kamera itu, keriputnya terlihat jelas.

Niluh, orang lokal asli Ubud, tak absen menyambangi pasar saban hari. Meski berusia senja, dia mengaku masih kuat bekerja. Niluh mencitrakan perempuan-perempuan Bali yang tangguh. Lama saya mengobrol dengan Niluh. Kami bercerita soal Ubud masa lalu yang nyenyat hingga lambat laun kota kecil ini mulai penuh wisatawan.

Menurut ceritanya, orang-orang Eropa paling gemar ke Ubud. Mereka menggemari relaksasi di tengah kota yang penuh terasering sawah dan hawa yang sejuk. Belakangan, turis India mulai masuk. Umumnya, mereka mengikuti kelas yoga seiring dengan meluasnya spektrum olahraga spiritual ini di Ubud.

Semburat oranye lambat-laun menyiram dari sudut barat pasar. Langit berangsur kekuningan. “Sudah sore, jalan-jalanlah ke tepi sawah,” kata Niluh. Saya tak menolak. Berkelana di Ubud memang tak komplet tanpa menyambangi persawahannya.

Menunggang motor matic berspion bulat, saya melaju pelan ke sisi utara Ubud. Sekitar 15 menit dari pasar tersebut, ada sebuah tempat menyaksikan lanskap terasering yang populer. Nama tempat itu Tegalalang. Tegalalang kerap mejeng di halaman-halaman muka kalender.

Keheningan Bali langsung memancar dari deretan sawah-sawah terasering.
Keheningan Ubud meruap dari pundakan terasering sawah-sawah di kawasan ini. Foto: ilustrasi-iStock

Tegalalang kini menjadi destinasi utama. Dulu, kawasan itu hanya persinggahan bagi yang hendak ingin bepergian ke Danau Batur. Lanskap utama Tegalalang adalah hamparan berhektare-hektare sawah. Membentuk terasering, persawahan yang tampak dari jalan raya ini bak karpet hijau.

Semilir angin membuat padi di lahan bertingkat-tingkat itu bergoyang. Inilah keheningan Bali sesungguhnya. Saya membatin, ingin lebih dekat hingga menjangkaunya.

Jalan satu-satunya menuju persawahan itu adalah jalur setapak di antara kafe-kafe. Memang, jalanan di tepi Tegalalang dipenuhi kedai kopi fancy. Saya memilih masuk dari sebuah kafe milik warga lokal Bali. “Swatiastu, Bli. Numpang lewat,” kata saya menyapa laki-laki muda yang tampaknya seorang barista.

Dari kafe ini, ada jalan setapak menuju persawahan. Jalan itu berundak-undak. Mulanya tangga dari semen, lalu berganti tanah. Beberapa kali saya menyeberang sungai kecil. Airnya mengalir dan amat jernih.

Sekitar 30 menit petak-petak sawah itu saya lewati. Lalu saya bertemu sejumlah petani. “Hati-hati, gek, licin,” kata mereka yang tampak sedang mengairi sawah. Tak lama kemudian, saya tiba di bagian paling tinggi di terasering sawah tersebut. Saya memilih duduk di tepi jalan setapak. Kala itu, matahari mulai lesap.

Saya menikmati angin yang terasa makin semilir. Bunyi tenggoret bersahut-sahutan menjadi lagu alam paling merdu saat itu. Lambat-laun, persawahan itu oranye disapu sinar sore. Ujung daun padi ini terlihat kemilauan. Inilah waktu paling pas menikmati Ubud yang bersahaja.

Tak sampai hitungan jam, langit mulai gelap. Cahaya magenta dan awan yang menggelayut menjadi gerbang pembuka malam. Di hamparan sawah itu, Ubud berbicara: tak ada yang lebih sunyi dari udara yang berembus di antara padi, rotan, cat, dan kanvas. Bagi seniman, Ubud adalah sepetak ruang yang pas untuk berkontemplasi.

agendaIndonesia/F. Rosana

*****