Pulau Berhala, Eksotisme 15 Hektare di Selat Malaka

Pulau Berhala di Selat Malaka adalah pulau terluar di perbatasan Indonesia. Di barat Sumatera dan di timur Semenajung Malaysia, pulau terluar ini menebar pesona.

Pulau Berhala

Sopir menancap pedal gasnya tanpa ragu di pagi-pagi buta itu. Selain jalan yang masih sepi, dia sudah paham betul tujuan saya dan fotografer. Mencapai Pulau Berhala di Serdang Berdagai, Sumatera Utara, memang perlu waktu tak sedikit. Saya memulai perjalanan dari Medan. Setelah melaju hampir dua jam, pukul 08.30 saya menginjakkan kaki di sebuah dermaga mungil. Tepatnya di Tempat Penampungan Ikan (TPI) Tanjung Beringin, Kabupaten Deli, Serdang, Sumatera Utara.

Saya masih harus berlayar sekitar 3 jam 30 menit untuk tiba di daratan rindang seluas 14,75 hektare yang menjadi perbatasan Indonesia dan Malaysia. Diberi nama unik, menurut warga setempat, konon pada zaman dulu pulau ini sering dijadikan lokasi ritual pemujaan. Berbeda dengan TPI yang masuk wilayah Deli Serdang, pulau ini berada dalam lingkup Kabupaten Serdang Bedagai.

Hanya beberapa menit berangkat dari TPI Tanjung Beringin, pemandangan sepanjang sungai membuat saya berdecak kagum. Terutama karena aksi sekawanan burung bangau putih. Beberapa hinggap di pohon bakau siapi-api dan sebagian lagi asyik berada di tepi sungai. Mereka seakan dengan sengaja menemani para nelayan.

Tak lama laut luas terhampar di depan mata. Terlihat di ujung mata, garis horizontal permukaan laut Selat Malaka yang ditaburi siluet deretan kapal-kapal nelayan.  Pada waktu yang bersamaan, ubur-ubur pun menampakkan diri di sekitar kapal. Sekawanan binatang laut itu mengiringi pelayaran kami menuju salah satu pulau yang menjadi titik terluar Indonesia itu. Menakjubkan!

Tepat pukul 12.00, kapal pun berhenti melaju. Pasir putih dan air jernih sontak membuat saya ingin segera turun. Terumbu karang, ikan-ikan cantik, dan benda-benda laut lain di dasar air tampak begitu jelas terlihat dari dermaga. Sebagai pulau terluar, kehadiran sejumlah anggota marinir yang bertugas pun menjadi ciri khas. Menurut salah seorang personelnya, Pulau Berhala mulai dilengkapi Basis Jaga Perbatasan pada 2004.

Dengan ramah, para marinir yang tengah berjaga menyambut saya dan kawan-kawan dengan beberapa gelas kopi Aceh dan obrolan renyah. Mata saya pun dibuat terbuka dan terasa segar kembali. “Meski lokasi Pulau Berhala cukup jauh dari Kota Medan, setiap Sabtu dan Minggu banyak pengunjung yang rekreasi ke sini. Baik pengunjung lokal maupun dari luar kota,” kata Andriansyah, personel peleton Pulau Berhala.

Pulau Berhala di Selat Malaka yang merupakan salah satu pulau terluar ternyata menyimpan eksotisme untuk dikunjungi.
Dermaga Pulau Berhala, pintu masuk ke pulau di sisi terluar Indonesia. Foto: Lourent/Dok TL


Pulau ini, selain menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna, memiliki kekayaan alam berupa keindahan terumbu karang bawah laut dan hutan tropis dengan keanekaragaman hayati tinggi. Sedangkan dari sisi vegetasi, Pulau Berhala terdiri atas hutan lahan basah, hutan lahan kering, serta lahan terbuka yang beberapa bagiannya ditumbuhi pepohonan kelapa. Walhasil, ada banyak kegiatan yang bisa dijajal.

Menyelam, snorkeling, trekking, dan menyimak langkah-langkah penyu karena Pulau Berhala merupakan tempat penangkaran hewan bertempurung itu. Menikmati keindahan mentari tenggelam dan sekadar santai di bibir pantai pun tentu menjadi keasyikan tersendiri.

“Sumber air tawar di sini masih cukup bagus. Yang disayangkan dari pulau ini, enggak bisa meraih sinyal telepon. Jadi, kalau mau komunikasi agak susah. Mesti ke tengah laut dulu, lalu kembali lagi ke sini. Kami selalu bergantian dengan petugas yang lain untuk menelepon,” kata Nababan, bintara peleton yang berjaga di Pulau Berhala.  

Klimaks dari serentetan aktivitas adalah perjalanan menuju mercusuar.

Hutan pun harus saya susuri dan anak tangga sebanyak 770 buah harus dinaiki. Bukan main perjuangannya. Tapi begitu tiba rasa puas dan bangga bergema dalam hati melihat simbol Burung Garuda bertengger gagah di puncak mercusuar Pulau Berhala. 

Masih kuat mendaki terus melangkah 85 anak tangga lagi untuk mencapai puncak menara. Tiba di bagian teratas, sebuah “hadiah” menunggu, tak lain pemandangan  laut luas dan pulau di sekitarnya. Di dekat Pulau Berhala, ada Pulau Sokong Seimbang dan Sokong Kakek yang mengapitnya.  Membikin pilihan untuk menyelam dan snorkeling pun ada di beberapa titik.

Memang tak ada penginapan di pulau ini. Sebab, penghuninya hanya sekelompok marinir, namun turis boleh mendirikan tenda. Hanya, harus terlebih dulu mengurus izin. Kamar mandi tersedia. Cuma, bahan makanan harus dibawa sendiri. Rasanya puas bila bisa semalam di sini, tapi saya tidak bisa berlama-lama.

Menjelang matahari tergelincir, saya bertolak pulang kembali ke Medan. Keindahannya saya cermati sesaat. Saya pun bergumam, berbisik pada alam akan keinginan untuk kembali dan mencecap keindahannya lebih lama. l.

Tips Pejalanan

Kebanyakan wisatawan memulai perjalanan dari Sumatera Utara hingga dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta bisa memilih rute ke Kualanamu, Deli Serdang. Lantas dilanjutkan dengan kendaraan roda empat ke TPI Tanjung Beringin.

Selain dari Tanjung Beringin, Deli Serdang, wisatawan juga bisa menyeberang dari beberapa pelabuhan di pantai timur Sumatera Utara. Misalnya, Pantai Cermin, Serdang Bedagai, dan Pelabuhan Tanjung Tiram di Kabupaten Batubara.

Pengunjung bisa menyewa perahu nelayan untuk mencapai  Pulau Berhala, karena belum ada fasilitas kapal penyeberangan umum. Biaya sewa kapal nelayan berkisar Rp 800 ribu-Rp 1,5 juta per malam. Berangkat dalam rombongan tentu bisa menghemat biaya.

Berbagai jenis terumbu karang (Intertidal Coral Reef dan Karang Tengah) bisa ditemukan dalam radius 200 m dari bibir pantai dengan jumlah tidak kurang dari 22 spesies. Sedangkan jenis ikan karang sekitar 11 spesies.

November-Februari merupakan saatnya penyu-penyu datang dan bertelur di sekitar pantai Pulau Berhala. Bulan-bulan tersebut menjadi waktu yang tepat untuk berkunjung. Aktivitas snorkeling dan menyelam menjadi pilihan aktivitas selain trekking dan memancing.

agendaIndonesia/Sandi/Lourent/TL

*****

Ombak Canggu Bali, 3 Pantai Berpasir Hitam

Ombak Canggu Bali dengan pantai-pantainya yang berpasir hitam.

Ombak Canggu Bali bisa ditemui di tiga pantai di kawasan itu. Pantai-pantai di lokasi ini memiliki pasir hitam yang terkesan biasa. Tidak langsung terlihat indah dibandingkan pantai-pantai dengan pasir putih. Namun, Bali selalu punya aura yang tak bisa ditolak.

Ombak Canggu Bali

Masih pukul 15.30 waktu setempat ketika  saya beranjak dari Jalan Raya Kerobokan, Kuta Utara, Badung, Bali. “Harus cepat-cepat kalau mau lihat sunset di Canggu, jalanan kalau sore suka macet,” ucap seorang teman. Maka saya dan kawan fotografer lantas saja  bergegas. Jalan-jalan di kawasan Seminyak yang sempit memang cukup padat pada sore hari. Beruntung, pengemudi paham rute tersingkat ke lokasi. Penelusuran sederet pantai di kawasan ini pun dengan segera dimulai.

Yang pertama saya singgahi adalah Pantai Batu Beliq yang tidak jauh dari Seminyak. Saya tiba di sana saat langit masih benderang. Menjelang sore, pantai yang masih berada di wilayah administratif Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, ini tidak terlalu ramai. Sebelum menjejak di pasirnya yang hitam, ada beberapa pilihan akomodasi bagi turis. Papan-papan selancar pun berdiri di beberapa titik. Batu Beliq tergolong pantai para peselancar karena ombaknya cukup menggoda. 

Tak berlama-lama di Batu Beliq, pantai di sebelahnya kemudian diburu. Pantai Batu Bolong saya temukan setelah melalui jalan-jalan kecil dan persawahan. Ada deretan hotel dan resor sebelum menginjak pantainya. Lebih tertata dibanding pantai sebelumnya. Cukup landai sehingga lebih nyaman untuk menikmati empasan ombak di tepian. Juga bisa sekadar  berjalan kaki, berlari, atau bermain-main. Bahkan cuma duduk-duduk di tepi pantai seperti yang dilakukan sekelompok turis lokal.

Ombak Canggu Bali bisa ditemui di sejumlah pantai, di antaranya di pantai Batu Belig.
Pantai Batu Belig di kawasan selatan Bali. Foto: unsplash

Saya juga bertemu dengan wanita asing yang tengah menyusuri pantai bersama anjingnya. Jalan sore berdua tak harus dengan kekasih. Dengan hewan kesayangan pun sama-sama mengasyikkan. Pantai juga cenderung lebih bersih dibanding Batu Beliq. Sesuai dengan namanya di bagian ujung, saya menemukan karang yang menjorok ke tengah laut dengan lubang di tengahnya. Rupanya, inilah batu yang bolong itu.

Tepat di sebelah Pantai Karang Bolong bisa ditemukan Pantai Echo yang lebih “hidup”. Sebelumnya, pantai itu dikenal sebagai Pantai Batu Mejan. Ada pilihan kafe-kafe di tepi pantai yang letaknya lebih tinggi daripada pantai. Di sisi lain, pantai bisa ditemukan bangunan non-permanen yang memutar musik keras-keras dengan ritme yang mengentak-entak. Di sanalah tampak para peselancar melepas penat setelah menari-nari di atas ombak.

Bila masuk dari jalan raya, Anda bisa menemukan sebuah pura yang menjadi tanda keberadaan pantai tersebut. Itu tak lain dari Pura Batu Mejan. Pantai berada di sisi bawah, sehingga harus meniti jalur kecil yang menurun. Pantai Echo lebih banyak batu karangnya. Apalagi sore itu ketika pantai surut. Hamparan batu karang pun tampak jelas.

Ombak Canggu Bali di antaranya diburu wisatawan yang menggemari berselancar.
Pantai Echo di kawasan Canggu, Bali, menjadi slah satu tujuan peselancar. Foto: unsplash

Saya mungkin kurang beruntung, setelah menemukan langit yang bersih dan mentari yang bulat oranye, tiba-tiba awan datang. Awan menutup secara perlahan hingga keindahan mentari tenggelam yang bisa ditemukan di Pantai Echo tidak bisa dinikmati seutuhnya. Ketika langit benar-benar gelap, saya masih enggan untuk beranjak.

Akhirnya, saya memilih menikmati debur ombak sembari mencicipi menu hidangan laut yang disuguhkan sebuah kafe. Jimbaran seafood grill yang saya pilih di Dian Cafe. Kafe yang berdiri sejak tujuh tahun lalu ini posisinya paling dekat ke pantai, sehingga ramai dikunjungi turis. Aroma beragam ikan yang dibakar pun menggugah selera untuk singgah. Pada hari libur, menurut seorang warga yang mengaku bernama Billy, lebih ramai lagi. Bisa jadi, saya tidak akan kebagian duduk santai menikmati hidangan kalau datang terlalu malam. “Biasanya turis  bergeser dari Legian dan Kuta, karena di suasana (di sini) yang lebih sepi,” ujarnya.

Pantai Echo sebenarnya bukan akhir dari deretan pantai di sini. Sebab, jika terus melangkah, sejumlah pantai lain masih bisa ditemukan. Yang terindah adalah perjalanan berakhir di Tanah Lot, Tabanan. Sayang sekali, saya terlalu sore untuk memulai penelusuran pantai di sana. Maka cukuplah mencecap senja dan malam di tengah embusan angin kencang di Pantai Echo.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Pulau Pisang Lampung, Ombak 7-12 Meter

Pulau Pisang Lampung mempunyai segudang potensi pariwisata.

Pulau Pisang Lampung berada di sisi paling barat provinsi ini. Suguhannya beragam: pantai berpasir putih, blue marlin, hingga penenun tapis. Dan ombak yang semakin diincap para peselancar.

Pulau Pisang Lampung

Janji bertemu di Dermaga Krui, Pesisir Barat, sebenarnya pukul 08.00, tapi masih 30 menit dari waktu yang disepakati, telepon seluler saya berbunyi terus. Rupanya pemilik perahu sudah menunggu sejak pukul 07.00 di dermaga yang berada di wilayah barat Lampung tersebut. Dermaga kecil itu tak jauh dari Pasar Krui yang dilintasi bus-bus luar antarkota yang memilih jalur selatan Sumatera.

Tak tampak dari luar karena deretan jungkung—perahu kayu—tertutup gerbang. Tapi akhirnya bisa ditemukan juga dermaga itu. Tak terbayang akan menggunakan jungkung yang disebutkan bisa menampung 20 orang tersebut. “Sebagian kan berdiri,” ujar Yusri, penduduk Krui yang mengantar saya dan rekan-rekan pagi itu. Saya pun terdiam, membayangkan 20 orang terombang-ambing di tengah laut. Beruntung, pagi itu rombongan hanya terdiri atas delapan orang, termasuk juru mudi. Saya pun bisa duduk nyaman di bagian tengah. Mentari masih hangat. Perjalanan biasanya ditempuh selama sekitar satu jam.

Sebenarnya ada pilihan lain dengan waktu lebih pendek, atau 20 menit dari dermaga Tembakak. “Hanya, sekarang ombak lagi besar-besarnya. Bisa-bisa jungkung kebalik,” ujar Yusri.  Wah… tak apalah lebih lama, pikir saya, yang penting selamat.

Saya disambut laut yang tenang dan sinar surya yang hangat pagi itu. Nikmat sekali terayun-ayun di perahu kayu di tengah laut. Hening, hanya kecipak air yang beradu dengan tepi perahu. Bisa jadi setiap orang terdiam karena tengah asyik dengan lamunan masing-masing. Tiba-tiba sebuah lompatan di udara tampak dari kejauhan. Wah… aksi apakah itu?

Lumba-lumba,” ujar juru mudi. Senyum saya pun melebar, perahu diarahkan menuju hewan mamalia tersebut. Namun rupanya tak hanya ada sepasang karena, tak lama kemudian, belasan lumba-lumba seperti memberi sambutan. Mereka mengiringi perahu di sisi kiri dan kanan. Jenis Tursiops truncates atau lumba-lumba hidung botol itu terlihat menggemaskan. Gerakan bagian kepala dan ekornya membuat saya terus tertawa dan berteriak. Karena perahu kami satu-satunya di perairan itu, banyak lumba-lumba yang mengerubungi. Bila ada beberapa perahu, biasanya mereka pun berpencar.

Tak lama pulau pun tampak dari kejauhan. “Dari kejauhan, bentuknya seperti pisang,” ucap salah satu pengantar. Saya mencoba mencermatinya. Bisa jadi memang seperti pisang, tapi yang pasti tak banyak pohon pisang di sana, seperti bayangan saya. Yang pertama menyambut saya malahan ombak yang kencang sehingga perlu waktu yang tepat untuk turun dari perahu.

Deretan perahu nelayan memberi warna khas di pesisirnya. Tak lama kemudian, perahu lain berisi turis asing pun tiba. Sebelumnya, kami sempat bertemu dengan mereka di kawasan wisata Tanjung Setia. Mereka tengah bermain selancar. Rupanya mereka mencari ombak lain yang menantang. Sekitar pulau ini terkenal akan ombak yang tingginya 5-7 meter, bahkan mencapai 12 meter, pada bulan-bulan tertentu.

Pulau Pisang Lampung punya banyak potensi wisata, di antaranya surfing.
Salah satu magnet Pulau Pisang adalah ombaknya yang bagus untuk berselancar. Foto: Ilustrasi-unsplash

Setelah menyusuri pasir putih hingga ke dermaga, saya tergoda untuk mencermati hasil tangkapan nelayan.  Kecamatan ini memang dikenal dengan hasil laut yang ditangkap dengan cara tradisional. Dan blue marlin, salah satu ikan yang khas. Selain itu, ada kucingan yang mirip dengan kepiting. Melintasi kelompok yang tengah membakar ikan, aromanya begitu menggoda. Tak ada rumah makan di pulau ini, tapi turis bisa memesan ikan dan membakarnya. Pagi menjelang siang itu cukup membahagiakan karena saya pun mendapat suguhan ikan goreng dari keluarga pengantar, yang memang asli Pulau Pisang.

Setelah mengisi perut, saatnya menyusuri pulau seluas 148,82 hektare itu. Jalan kaki menjadi pilihan. Saya melewati rumah-rumah kayu atau lamban balak, menemukan orang yang tengah membuat minyak kelapa asli. Ada petunjuk arah nama-nama desa di beberapa titik. Seperti  Labuhan, Lok, Sukadana, Pasar, Sukamarga, dan Bandardalam. Tak lama, di sebuah rumah lawas, saya menemukan penyulam emas di atas tapis. Kain tradisional khas Lampung ini memang juga menjadi ciri khas Pulau Pisang. Berbentuk sarung yang bisa dikenakan atau hiasan dinding. Para penenun yang bisa ditemukan di sekitar Bandar Lampung, umumnya berasal dari pulau ini.

Tak puas dengan memperlihatkan aktivitas warga, Sang pengantar pun mengajak saya dan rekan ke kebun cengkeh di atas bukit. Uniknya, jalan sudah disemen sehingga para petani bisa melaju di jalan kecil mulus dengan sepeda motor. Beberapa kali saya harus menepi karena kendaraan roda dua lewat.

Beruntung, masih banyak pohon sehingga cukup teduh meski sebenarnya sinar mentari mulai terik. Akhirnya tiba juga di balik bukit dan, di depan mata, Samudra Hindia tampak sedang menyuguhkan permainan ombaknya. Gulungannya besar dan langsung menghantam bukit karang. Masih ada pantai berpasir putih meski tak begitu landai. Hanya sejenak, saya kembali ke balik pepohonan berjalan menuju sisi lain dari pulau dan menemukan sebuah kapal terdampar. Tepatnya, kapal tunda atau tug boat. Dan menjadi lokasi yang akhirnya sering dikunjungi turis. Apalagi di sekitarnya berdiri karang-karang menghias perairan.

Tak jauh dari tempat kapal terdampar tersebut, ada jajaran pohon kelapa dan rumput hijau, dan pantai pun cukup landai. Saya pun menikmati deburan ombak keras dari sana. Kaki saya dibiarkan berselonjor. Lumayan juga perjalanan naik-turun bukit.

Kembali ke dermaga, jalan menurun dilalui. Melewati kampung dengan sederet lumban balak yang tidak terawat, bahkan juga masjidnya. Para pemiliknya sudah jarang datang sehingga rumah-rumah kayu itu menjelang roboh. Jalan menurun bukit, melewati sebuah sekolah dasar, hingga akhirnya kembali ke rumah-rumah di pekon Labuhan dan beristirahat di rumah warga.

Lelah masih bergelayut setelah berkeliling pulau sekitar 2 jam, tapi seorang pemuda datang, menyebutkan bahwa kami sudah ditunggu di perahu. Kembali ke Krui tidak boleh lebih dari pukul 14.00. Sebab, lewat waktu tersebut, ombak akan meninggi. Masih enggan untuk berdiri, kaki pun melangkah dengan berat. Rupanya, kelompok turis asing yang bersamaan datang dengan kami sudah berangkat lebih dulu. Saya melihat perahu mereka sudah melaju.

Pasir putih pun terus saya jejaki, belum puas rasanya menyentuh kehalusannya. Ombak tampak kian besar. Saya pun bersiap-siap menghadapi guncangan. Perjalanan pulang, bisa jadi lebih panjang karena perahu akan terus digoyang ombak. Dan…  tak ada pula lumba-lumba yang menggoda. Saya pun duduk pasrah berselonjor di tengah perahu. Tak lama kemudian, air mulai menyembur masuk membasahi wajah dan pakaian. Bukannya kaget, saya malah tergelak.

Memang tak perlu cemas dan takut. Para nelayan sudah biasa bergelut dengan ombak “nakal” ini. Mendekati dermaga Krui, godaan di laut itu mereda. Tapi apa mau dikata, saya sudah basah kuyup. Seharusnya memang saya menginap dan baru esok pagi kembali ke Krui, sehingga bisa merasakan kembali laut yang tenang dan tarian lumba-lumba.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Bali Botanical Garden, Begonia dan 68 Jenis Kaktus

Bali Botanical garden perpustakaan tumbuhan di Bali.

Bali Botanical Garden atau masyarakat Bali menyebut nama aslinya sebagai Kebun Raya Eka Karya masih cukup jarang disebut para pelancong yang mengunjungi pulau Dewata ini. Kalah moncer dengan pantai-pantai.

Bali Botanical Garden

Di Indonesia, bukan hanya Bogor yang memiliki kebun raya. Pulau Bali pun mempunyai kekayaan wisata dengan beraneka tumbuhan. Berada di seberang Danau Beratan, Bedugul, Kabupaten Tabanan kebun raya ini terletak. Orang sering menyebutnya Kebun Raya Bedugul, namun aslinya namanya adalah Kebun Raya Eka Karya.

Lokasinya tak terlalu jauh dari Denpasar, kebun raya ini cuma berjarak sekitar 80 kilometer dan dapat dicapai dalam waktu sekitar 1,5 jam dari Denpasar menuju ke arah utara, Singaraja.

Kebun Raya Bali ini memiliki luas 157,5 hektare dan bisa dikatakan merupakan yang terluas di Indonesia. Terletak pada ketinggian 1.240 meter dari permukaan laut, yang artinya lokasinya berada di dataran tinggi, membuat obyek wisata kebun raya ini senantiasa berhawa dingin dan sering berkabut.

Seperti layaknya mengunjungi kebun raya di mana pun, masuk ke tempat ini seperti memasuki perpustakaan botani yang sangat besar. Pengunjung bisa mempelajari keragaman flora koleksi taman ini. Karcis masuknya tergolong murah, hanya Rp 9 ribu per orang. Jika membawa mobil, dikenai karcis masuk Rp 6 ribu. Yang menarik, lokasinya yang berseberangan dengan Danau Beratan. Bisa dibayangkan indahnya kan.

Dibangun pada 1959, Kebun Raya Bali ini menjadi satu-satunya yang dibangun setelah kemerdekaan sekaligus satu-satunya pula yang berada di luar Jawa. Indonesia saat ini mempunyai empat kebun raya, yakni Bogor, Cibodas atau Cianjur, dan Purwodadi.

Kebun Raya Bali ini pada mulanya diperuntukkan bagi konservasi tumbuhan runjung atau konifera. Koleksi awalnya didatangkan dari Kebun Raya Bogor dan Cibodas, seperti Araucaria bidwillii, Cupresus sempervirens, dan Pinus masoniana. Jenis lainnya berupa tumbuhan asli daerah ini, seperti Podocarpus imbricatus dan Casuarina junghuhniana.

Namun seiring perjalanan waktu, koleksi Kebun Raya Bali berkembang hingga mencakup tumbuhan pegunungan tropis kawasan timur Indonesia. Beberapa koleksi di antara lain anggrek, kaktus, pakis, bambu, lumut, palma, hingga tumbuhan air dan tanaman obat. Selain itu, nah ini dia, koleksi begonia bahkan merupakan yang terlengkap di dunia. Ini tanaman yang sedang populer di masa pandemi ini.

Bali Botanical Garden atau Kebun Raya Bali menawarkan liburan yang lain di pulau Dewata selain pantai.
Salah satu sudut Bali Botanical Garden, Tabanan, Bali. Foto: Shutterstock

Setiap jenis tumbuhan menempati kawasan yang didesain unik. Tanaman kaktus, misalnya, menempati kawasan yang diberi nama Cactus Glass House. Dalam rumah kaca seluas sekira lapangan basket ini dikembangkan 68 jenis kaktus dari pelbagai negara, seperti Meksiko, Jerman, Selandia Baru, dan Argentina.

Agak mengherankan juga melihat kaktus, yang biasa hidup di kawasan gurun, mampu berkembang di dataran tinggi berhawa dingin seperti Bedugul itu. Bentuk-bentuk kaktusnya pun tak unik-unik. Ada yang lonjong, ada yang bulat. Ada yang berduri keras, ada pula yang berambut uban. Bahkan, beberapa menyerupai hewan. Jenis Echinocactus grusonii, misalnya, lebih tampak sebagai landak laut (Echinoidea) berwarna hijau. Sedangkan kaktus Cephalocereus senilis hampir serupa ulat bulu besar dalam posisi berdiri.

Di seberang rumah kaktus, ada Orchid Park, bangunan berstruktur tenda yang menampung lebih dari 293 jenis anggrek di Indonesia, khususnya dari wilayah timur. Berbagai anggrek liar dikumpulkan dari berbagai hutan di Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, juga Papua. Jika ingin melihat banyak anggrek yang tenga berbunga cobalah datang antara Maret dan Juni.

Salah satu koleksi yang membuat kebun raya ini berbeda adalah tanaman untuk upacara agama Hindu. Koleksi tanaman yang dianggap sakral ini salah satu manifestasi falsafah agama Hindu, Tri Hita Karana, yang menganggap penting aspek pelestarian lingkungan. Terdapat beberapa tumbuhan yang biasa digunakan sebagai hiasan pura, material bangunan suci, dan sesajen upacara keagamaan di Bali. Di antaranya kembang cempaka, pohon beringin, buah trijata, sarai, dan majegau.

Lalu adakah pohon-pohon “raksasa” seperti layaknya yang ada di kebun-kebun raya? Tentu saja ada. Misalnya saja beringin raksasa. Letaknya menjulang di pojok utara, pohon tersebut bahkan sudah ada sebelum kebun raya ini dibangun. Umurnya diperkirakan sudah ratusan tahun. Beberapa wisatawan asing terlihat takjub melihat pohon gigantik ini. Beberapa wisatawan menjadikan pohon ini sebagai latar belakang untuk swafoto.

Harmoni antara lingkungan dan kebudayaan Bali juga terlihat dengan dibuatnya cultural trail menuju dua pura dan satu situs, yaitu Pura Batu meringgit dan Terataibang di sisi barat daya kompleks, serta situs kuno patung singa mendekam yang berlumut di sisi timur Museum Etnobotani.

agendaIndonesia/TL

*****

Pulau Kemaro Palembang dan Perayaan Hari Ke 15

Pulau Kemaro Palembang menjadi salah satu daya tarik saat Imlek dan Cap Go Meh.

Pulau Kemaro Palembang, Sumatera Selatan, ramai dikunjungi peziarah dan pelancong. Selain pada hari-hari biasa, paling ramai didatangi saat Imlek dan puncaknya ketika perayaan Cap Go meh, atau hari ke 15 setelah Hari Raya Imlek setiap tahun.

Pulau Kemaro Palembang

Deru mesin perahu motor menandai dimulainya pelayaran saya ke Pulau Kemaro dari tepi Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Daratan seluas lima hektare ini sesungguhnya hanya berjarak sekitar enam kilometer dari Benteng Kuto Besak, sehingga bisa dicapai dalam waktu singkat. Cukup dengan membayar Rp 15 ribu, saya bisa mengunjungi pulau itu.

Kemaro berarti kemarau, atau musim panas. Meski air sungai meluap, menurut cerita warga setempat Pulau Kemaro tidak pernah kebanjiran. Saya memilih menyewa perahu karena ingin melihat sekeliling pulau dan juga sisi lain sungai yang membelah ibu kota Sumatera Selatan ini. Sebenarnya ada juga bus air, yang mengantar anak-anak berseragam pulang dari sekolah. Tapi ini tentu khusus anak sekolah dan “trayeknya” lebih tertentu. Dengan sewa perahu, selain lebih leluasa, rasanya tak melanggar hak anak-anak sekolah itu.

Tak lama perahu motor membelah air Sungai Musi, pulau yang saya tuju tampak di depan mata. Saya naik ke dermaga yang posisinya cukup tinggi. Di mana-mana terlihat pepohonan, sehingga tidak terasa hawa panas. Pedagang makanan dan minuman menyambut di bawah kerindangan pohon. Ketika kaki melangkah lebih jauh, tampak sekeliling pulau seperti hutan kecil. Jalan pun berujung pada sebuah rumah ibadah yang berupa pagoda.

Sebenarnya, pagoda berlantai sembilan itu baru dibangun pada 2006. Semula, ini Kelenteng Soei Goeat Kiong, yang lebih dikenal sebagai Kelenteng Kwan Im. Didirikan pertama kali pada 1962, kini tempat itu telah menjelma pagoda bertingkat didominasi warna merah dan kuning serta hiasan naga. Bangunan pagoda tinggi menjulang, tampak unik di tengah pepohonan. Ada pelataran dengan dua patung penjaga berwarna hitam di pintu masuk utama.

Tidak jauh dari sana, saya menemukan rumah penjaga pagoda yang ternyata sudah puluhan tahun turun-temurun tinggal di Pulau Kemaro. Seorang ibu tua yang berasal dari Pulau Jawa bertugas membersihkan lingkungan tersebut. Ibu itu lantas bercerita bagaimana pulau ini paling ramai dikunjungi ketika acara Cap Go Meh, perayaan 15 hari setelah Tahun Baru Imlek. Pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan negara lain.

Bagi muda-mudi, ada obyek wisata yang unik, yakni pohon cinta. Pohon dengan beberapa cabang ini diyakini bisa membantu menyatukan cinta. Caranya, cukup dengan mengukirkan nama kedua pasangan, maka keinginan untuk menikah akan kesampaian. Kisah cinta memang mencuat di pulau ini. Di sebuah batu, bisa dibaca legenda Pulau Kemaro. Berupa kisah percintaan antara putri Kerajaan Sriwijaya dan saudagar dari Cina, yakni Siti Fatimah dan Tan Bun An.

Pulau Kemaro Palembang dikenal dengan kisah cinta antara Tan Bun An dan Siti Fatimah. Ramai dikunjungi di hari ke 15 setelah tahun baru musim semi.
Batu Prasasti tentang Pulau kemaro, Palembang, Sumatera Selatan. Foto: shuterstock

Kisahnya, berdasar cerita ibu penjaga dan beberapa pengunjung setempat juga batu prasasti, suatu hari sang putri diajak ke Negeri Tiongkok. Saat pulang, mereka dibekali sejumlah guci. Di Sungai Musi, di dekat Pulau Kemaro, Tan Bun An memeriksa guci-guci tersebut. Ternyata cuma berisi sayuran. Pria Cina itu pun membuang semua guci ke sungai karena kesal. Salah satu guci pecah, dan terlihatlah kepingan koin emas. Ia kaget dan menyesal, lalu menyuruh pengawalnya melompat ke sungai untuk mengambil guci yang telah dibuang. Karena sang pengawal itu tak kunjung muncul kembali, ia pun ikut terjun ke dalam sungai. Langkah ini dilakukan pula oleh Siti Fatimah. Sayangnya ketiganya tak muncul lagi.

Delta kecil yang menjadi daratan awal Pulau Kemaro itu pun meluas, sehingga dianggap sebagai kuburan sang putri dan lambang cinta keduanya. Masyarakat menyebutnya tempat keramat. Legenda itu terus didengungkan kepada setiap pengunjung, sehingga selalu hidup dari masa ke masa.

Di salah satu sisi pulau juga ditemukan beberapa patung pendeta dan pendekar Tiongkok. Ada pula bangunan kelenteng baru dengan pulasan merah menyala. Bulan ini tentunya Pulau Kemaro akan lebih terang dengan hiasan lampion merah saat perayaan Cap Go Meh.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Wihara Gunung Timur Medan Berusia Hampir 1 Abad

Wihara Gunung Timur Medan merupakan kelenteng Tao atau Tionghoa yang usianya hampir 100 tahun. Tempat peribadatan ini bermula dari rumah berukuran petak, kini kelenteng ini berada di atas lahan satu hektare.

Wihara Gunung Timur Medan

Seorang teman menyarankan saya mampir ke Wihara Gunung Timur, di Jalan Hang Tuah 16, Medan.  “Kalau sudah ke bangunan tua dan bersejarah lain, jangan lewatkan kelenteng ini,” ujarnya.

Kelenteng Tao tersebut merupakan kelenteng yang terbesar di Medan, bahkan konon di seluruh Sumatera, dan sudah berdiri sekitar 90 tahunan. Wihara dengan nama Mandarin Tong Yuk Kuang ini hadir dengan arsitetural bangunan yang khas. Bangunannya yang luas di atas lahan satu hektare dapat menampung banyak pengunjung. Tidak saja bagi meeka yang hendak beribadah, namun juga yang memang tertarik untuk mengetahui kisah dan sejarah tempat ibadah ini.

Di bagian atas wihara, terdapat patung naga yang saling berhadapan, dan menjadi corak tradisional Tionghoa yang autentik. Selain itu, terdapat beragam arca yang melambangkan agama Buddha di wihara ini. Seperti altar Buddha, Buddha Maitreya, dan Dewi Kwan Im. Sedangkan di sisi kanan kelenteng, terdapat altar Toa Pek Kong (Da Bo Gong) dan Thay Suei. Ada pula arca Thien Kou (Anjing Langit) dan Pek Ho Kong (Harimau Putih) yang mengawal Tho Te Kong (Dewa Tanah).

Dengan latar belakang seperti itu, siang itu saya pun menyempatkan singgah ke Wihara Gunung Timur. Semula yang terlihat hanya bangunan abu-abu berbentuk kotak yang kaku, saya pun terheran-heran dan mencari wujud kelentengnya. Di bagian belakang ada sebuah bangunan merah yang tertangkap mata.

Wihara itu menghadap ke Sungai Babura, sehingga dinilai mempunyai fengsui yang baik. Sungai tersebut, menurut kepercayaan para penganut taoisme, memberikan kekuatan positif dalam komposisi alam semesta. Siang yang sepi dan hanya ada para pengurus kelenteng di bagian belakang. Saya berdiri di halaman yang luas dan mencoba mencermati tempat ibadah ini.

Dua singa hitam dan dua singa putih yang berada di bagian depan bangunan menjadi pasukan penjaga. Lampion merah dengan tali kuning berbaris bergantung di bagian depan atap. Di puncak atap, berhadapan dua naga panjang yang dipulas warna hijau-merah. Pilar-pilar besar yang beberapa di antaranya berhiaskan kepala naga menjadikan bangunan tersebut benar-benar unik.  Ada pula patung Dewa Kang Jian Jun yang berdiri tegak di sisi kanan pintu masuk.

Setelah sepi beberapa saat, akhirnya datang juga orang beribadah. Aroma dupa semakin kencang tercium. Tak jauh dari patung singa, yang merupakan penangkal hal negatif, ditempatkan juga dua wadah model tempayan untuk menaruh hio atau kemenyan. Saya pun melangkah lebih dekat dan mengintip bagian dalam. Nuansa merah terasa kian kental. Selain itu, ada warna kuning keemasan pada beberapa bagian—dua warna itu merupakan simbol keberuntungan.

Patung menghiasi beberapa titik kelenteng. Di antaranya patung Dewa Jing Shen Ru Shen Zai dan Dewa Zhu Sen Da Di. Altarnya tak hanya satu. Sebab, ada juga altar Buddha Sidarta Gautama yang didampingi patung Buddha Meitreya dan Dewi Kwan Im. Kemudian, ada juga altar yang diisi beberapa dewa dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa, yakni Toa Pek Kong, Thay Suei, dan patung lainnya. Spanduk kecil yang berisikan huruf-huruf Cina digantung di beberapa titik. Ternyata rangkaian huruf itu menyebutkan nama-nama dewa. Altar pun berhiaskan dupa dan lilin. Ada pula sebuah beduk yang biasanya digunakan dalam atraksi barongsai yang digelar pada perayaan hari-hari tertentu.

Wihara Gunung Timur Medan atau Wihara Tao merupakan kelenteng terbesar di Medan bahkan di pulau Sumatera.
Wihara Gunung Timur Medan di bagian dalamnya. Foto: Dhemas/Dok. TL

Bangunan kotak yang saya temui di sebelahnya ternyata merupakan tempat  penyimpanan logistik wihara. Sedangkan saya bertemu dengan beberapa petugas di bagian belakang yang  menyimpan perlengkapan sembahyang. Seorang petugas menyebutkan yang sembahyang di wihara ini tak hanya penganut Tao, melainkan juga agama Tri Dharma, yakni campuran agama Buddha, Khong Hu Chu, dan Tao.

Sang penjaga menyebutkan bahwa wihara ramai saat ada perayaan. Namun setiap hari pasti ada yang datang untuk sembahyang dan kelompok turis yang datang sekadar untuk berkunjung. Wihara didirikan bersama-sama sekelompok etnis Tionghoa. Pembangunan tidak terhenti pada satu masa, tapi berlanjut terus hingga kelenteng yang hanya seukuran rumah petak ini sekarang memiliki halaman luas dan mempunyai bangunan lainnya. Luas totalnya sekarang mencapai satu hektare.

agendaIndonesia/Rita N./Dhemas RA/TL

*****

Kampoeng Kopi Banaran, Ngopi Dari 1911

Kampoeng Kopi Banaran menawarkan liburan lengkap. Foto: Dok KKB

Kampoeng Kopi Banaran tak selamanya cuma berarti tempat minum kopi. Saat ini boleh dibilang ini adalah salah satu destinasi agrowisata yang masih diminati banyak wisatawan, terutama bagi para pecinta kopi. Sebuah tempat yang awalnya berupa kebun kopi yang disulap menjadi tempat penginapan dan rekreasi unik.

Kampoeng Kopi Banaran

Dulunya, tempat ini adalah sebuah kebun kopi bernama Kebun Kopi Getas Afdeling Assinan, yang telah eksis sejak 1911. Perkebunan ini merupakan penghasil jenis kopi robusta yang lazim dikenal sebagai kopi Banaran.

Kopi tersebut dinamai demikian karena dulu biji kopi hasil perkebunan tersebut diolah di pabrik yang terletak di salah satu dusun di kawasan Semarang, bernama dusun Banaran. Dari situ, kenikmatan kopi ini semakin mengemuka, baik di dalam maupun luar negeri.

Ini disebabkan kopi Banaran disebut-sebut memiliki cita rasa yang khas dibanding kopi-kopi lain. Campuran unik antara rasa pahit, asam dan legit khas mocha membuatnya diburu banyak orang. Tak heran, kopi ini kerap dijuluki ‘Java Mocha’.

Kampoeng Kopi Banaran awalnya adalah perkebunan Kopi Getas Afdeling Assinan.
Taman Buah sebagai bagian dari Kampoeng Kopi Banaran. Foto: KKB

Salah satu faktor penyebabnya adalah lokasi perkebunan kopi yang tergolong ideal. Kebun kopi ini berada di ketinggian sekitar 480-600 mdpl, dengan suhu udara berkisar dari 23 hingga 27 derajat Celsius, sehingga sangat cocok untuk membudidayakan kopi dengan kualitas tinggi.

Merawat pohon-pohon kopi di sini juga diperhatikan secara seksama, dengan pemilihan pupuk yang digunakan secara spesifik. Saat panen pun, tenaga kerja setempat yang didominasi oleh kaum Hawa sudah terbiasa memilihkan biji kopi dengan kualitas terbaik.

Mayoritas dari hasil perkebunan seluas 400 hektare tersebut menjadi komoditi ekspor ke beberapa negara, seperti Italia, Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok. Panen dilakukan setiap setahun sekali, dengan hasil kurang lebih mencapai 2.000 ton biji kopi.

Karena hasil panen yang cukup melimpah itu, tercetus keinginan PT Perkebunan Nusantara IX selaku pengelola perkebunan pada saat itu untuk menggenjot penjualan dalam negeri. Caranya dengan membangun area agrowisata di sekitar perkebunan.

Pengunjung diharapkan dapat menikmati pemandangan perkebunan kopi berlatarkan gunung Telomoyo dan Rawa Pening yang indah dan asri, sambil menikmati kopi hasil perkebunan. Atau pengunjung juga bisa membeli produk kopi yang sudah dikemas sebagai oleh-oleh.

Dari ide tersebut, Kampoeng Kopi Banaran pun didirikan pada 2002. Setelah sebelumnya dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara IX, kini tampuk pengelolaan diambil alih oleh PT. Dyandra Banaran Nusantara yang merupakan anak perusahaan grup Kompas Gramedia.

Kampoeng Kopi Banaran sejak awal kemunculannya telah memfokuskan diri sebagai objek agrowisata yang menawarkan one stop tourism. Artinya, ada banyak cara untuk menikmati tempat ini, baik secara rekreasi, culinary maupun edukasi.

Salah satu daya tarik utama tempat ini tentu adalah fasilitas rekreasinya. Banyak kegiatan outdoor yang bisa dilakukan di sini, misalnya berkeliling sekitar kebun kopi dengan menggunakan sepeda, all terrain vehicle (ATV), berkuda atau sambil jogging.

Selain disediakan jogging track, pengunjung juga dapat menyewa sepeda, ATV atau kuda untuk menjelajahi tempat ini. Harga sewanya berkisar Rp 30 ribu untuk ATV, Rp 35 ribu untuk sepeda, dan Rp 50 ribu untuk kuda.

Coffee Camp di Banaran Kampoeng Kopi Banaran
Coffee Camp di Kampoeng Kopi Banaran. Foto: KKB

Kemudian terdapat pula area outbond dengan pilihan permainan seperti flying fox, panahan, trampolin, paint ball dan lain sebagainya. Kolam renang dengan area bermainnya juga dapat ditemukan di sini, dengan harga tiket masuk Rp 15 ribu.

Serta beberapa fasilitas lainnya seperti area peternakan kelinci, taman buah yang menjadi tempat pelestarian beberapa jenis buah yang langka, atau lapangan tenis yang disewakan. Harga sewa lapangan tenis per jamnya adalah Rp 40 ribu.

Lalu, daya tarik lainnya dari Kampoeng Kopi Banaran adalah hidangan kopinya, beserta ragam pilihan kuliner yang tersedia. Saat ini terdapat dua restoran utama, Banaran 9 Resto dan Banaran Sky View.

Banaran 9 Resto mengusung konsep arsitektur ala rumah Jawa tradisional dengan saung-saung kecil di area outdoor. Sajian menu seperti tempe mendoan dan wedang uwuh menjadi teman bersantai sambil menikmati suasana sejuk di tempat ini.

Adapun Banaran Sky View menawarkan pengalaman santap siang atau malam ditemani pemandangan alam ke arah gunung Telomoyo dan Rawa Pening. Terlebih dengan pendaran lampu-lampu di malam hari yang menambah hangat suasana.

Tak kalah menariknya adalah wisata edukasi yang ditawarkan tempat ini. Pengunjung bisa berkeliling kebun kopi menggunakan golf cart atau menyewa kereta wisata seharga Rp 85 ribu, sambil melihat pohon-pohon kopi dan bagaimana biji kopi dipanen.

Pengunjung kemudian akan dibawa menuju ke pabrik tempat biji kopi kemudian diolah dan dikemas menjadi produk kopi. Terdapat juga museum yang menjelaskan sejarah kebun kopi ini, beserta sejarah dan hal-hal terkait kopi secara umum.

Di akhir tur, biasanya pengunjung bisa langsung membeli produk kopi dalam kemasan sebagai oleh-oleh. Dalam isi kemasan berisi sekitar 100 gram itu, harga per kemasannya mulai dari Rp 15 ribu.

Coffee Camp
Suasana dalam Coffee Camp Kampoeng Kopi Banaran. Foto: Dok. KKB

Sesuai dengan semangatnya sebagai one stop tourism, Kampoeng Kopi Banaran tentunya juga menyediakan fasilitas menginap bagi yang ingin staycation di sini. Ada beberapa opsi bagi yang ingin menginap, mulai dari hotel, villa hingga fasilitas untuk glamour camping alias glamping.

Untuk hotel, satu kamar dapat mengakomodasi dua orang dengan pilihan kamar Deluxe dan Grand Deluxe. Tarif kamar Deluxe seharga Rp 550 ribu per malam, sedangkan kamar Grand Deluxe Rp 700 ribu per malam.

Tersedia pula villa yang dapat menampung empat orang, dengan fasilitas dua lantai, dua kamar tidur, ruang tamu dan teras depan yang cukup luas. Untuk harga sewa per malamnya dihargai Rp 1,25 juta.

Dan bagi yang ingin merasakan sensasi glamping, disediakan area dan fasilitas glamping Coffee Camp. Dengan panorama alam rawa Pening, tenda terbagi untuk isi dua orang atau empat orang, dengan tarif sewa berkisar dari Rp 700 ribu hingga Rp 850 ribu.

Akses untuk menuju ke lokasi tergolong mudah karena berada di tepi jalan raya Semarang-Solo, bagi yang melalui tol pun hanya berjarak 200 meter dari pintu tol Bawen. Untuk masuk ke dalam dikenakan tiket masuk Rp 5 ribu per orang, namun untuk parkir kendaraan gratis.

Jam operasional wahana dan tur wisata mulai dari jam 09.00 hingga jam 18.00, walaupun untuk ticketing biasanya sudah tutup dari jam 16.30. Sementara jam buka restoran mulai dari jam 10.00 hingga jam 21.00.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 08112721771, atau via email info@kampoengkopibanaran.id, serta mengunjungi situs resmi kampoengkopibanaran.id dan akun resmi Instagram @kampoengkopibanaran.id.

Kampoeng Kopi Banaran

Jl. Raya Semarang-Solo Km. 35, Bawen

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Taman Bunga Nusantara, Agrowisata di 8 Zona

Taman Bunga Nusantara di kawasan Puncak CIanjur menjadi destinasi agrowisata. Foto:antaranews

Taman Bunga Nusantara mungkin belum bisa menjadi wisata kembang-kembang khas Indonesia, seperti layaknya menikmati bunga tulip di Keukeunhof, Belanda. Namun ini merupakan salah satu objek wisata yang telah bertahun-tahun menjadi pilihan destinasi berlibur di kawasan Puncak, Cianjur. Asri dan indahnya pemandangan di sekeliling taman ini adalah salah satu alasan utamanya.

Taman Bunga Nusantara

Sesuai namanya, taman ini berisikan beragam jenis bunga dan tanaman hias yang dibagi menjadi beberapa zona. Dibangun sejak 1992 dan diresmikan pada 1995, tempat ini bisa dikatakan sebagai taman bunga pertama yang eksis di Indonesia.

Berada di area dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 750 mdpl, membuat suhu di sekitar taman ini pun cenderung sejuk, berkisar dari 20 hingga 26 derajat Celsius. Tingkat curah hujannya pun terhitung cukup tinggi.

Taman Bunga Nsantara memiliki lahan seluas 35 hektare. Dari area tersebut, 23 hektare di antaranya diisi oleh beragam bunga, pohon serta tanaman hias. Kemudian tersedia area wahana permainan seluas 7 hektare, dan 3 hektare lainnya untuk area restoran dan ruang pertemuan.

Kemudian 2 hektare sisanya digunakan khusus sebagai lahan pembibitan dan percobaan. Ini merupakan wujud kontribusi Taman Bunga Nusantara dalam riset dan penelitian di bidang flora, khususnya bunga dan tanaman hias di Indonesia.

Taman Bunga Nusantara juga diperuntukkan sebagai lapangan kerja bagi warga sekitar.
Taman Bunga Nusantara didirikan untuk meningkatkan minat agrowisata. Foto: DOk Taman Bunga Nusantara

Taman Bunga Nusantara sendiri memang didirikan untuk meningkatkan minat agrowisata di tanah air, menjadi sarana edukasi dan penelitian, serta pelestarian bermacam-macam varietas bunga dan tanaman hias, khususnya yang langka dan dilindungi.

Serta taman ini juga diperuntukkan sebagai lapangan kerja bagi warga sekitar, terutama yang menggeluti bidang pertanian. Dengan demikian, taman ini pun diharapkan mampu turut mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Taman Bunga Nusantara sendiri memiliki konsep ‘museum kehidupan’. Dalam artian, di taman ini kita dapat melihat siklus kehidupan dari tunas yang kemudian tumbuh dan mekar menjadi bunga, hingga gugur dan berganti tunas yang baru.

Seperti disebutkan di atas, taman ini dibagi menjadi beberapa zona. Setidaknya ada delapan zona utama yang dibedakan berdasarkan tata ruang dan varietas bunga dan tanaman hias yang terdapat di zona tersebut.

Misalnya di Taman Bali, pengunjung langsung disambut dengan gapura dan patung bergaya khas Bali. Di zona ini, terdapat beberapa jenis bunga dan tanaman hias lokal seperti bunga sepatu, bunga kamboja, heliconia dan sebagainya.

Lalu, di Taman Mediterania terdapat beragam jenis kaktus yang tumbuh di area yang kering dan didominasi oleh pasir serta batu seperti di sekitar perairan Mediterania.  Beberapa di antaranya dikembangkan di dalam rumah beratap kaca dan lahan berpasir putih.

Selanjutnya adalah Taman Mawar yang merupakan salah satu zona yang cukup populer di sini. Sesuai namanya, taman ini berisikan beragam bunga yang kerap disebut flos florum alias bunga dari segala bunga.

Yang menarik, bunga mawar secara umum adalah bunga yang tumbuh dan berkembang di wilayah empat musim. Hal ini dikarenakan siklus mereka yang ‘beristirahat’ dan meluruhkan dedaunannya di musim dingin, agar dapat mekar dengan indah kembali di musim panas.

Taman Bunga Nusantara tak hanya soal bunga tapi juga tanaman lain seperti aneka palem.
Ada 8 zona di dalam taman bunga ini. Foto: Dok. Taman Bunga Nusantara

Karena Indonesia adalah negara beriklim tropis yang hanya mengenal dua musim, maka perlu perlakuan khusus dalam merawat bunga mawar ini, sebab tidak adanya masa istirahat seperti saat musim dingin.

Maka dari cara penyiraman dan penyiangan bunga mawar di taman ini telah diukur dan ditata secara seksama. Pupuk yang digunakan pun dikhususkan agar bunga tersebut dapat tumbuh kuat dan mekar dengan indah.

Taman Palem juga tak kalah menarik. Di zona ini terdapat lebih dari 100-an varietas tumbuhan palem dari berbagai belahan dunia, dari Meksiko, Kuba, Madagaskar hingga Australia. Tumbuhan palem sendiri umumnya tumbuh di daerah beriklim tropis yang hangat.

Zona yang juga sayang untuk dilewatkan adalah Taman Prancis. Zona ini lebih mengedepankan penataan desain taman yang terinspirasi dari era renaissance di abad ke-17. Untuk dapat menikmati pemandangan secara keseluruhan, disarankan untuk melihat dari menara pandang.

Menara pandang ini memiliki tiga lantai dengan ketinggian kurang lebih sekitar 29 meter. Tak hanya Taman Prancis saja, pengunjung bahkan juga dapat melihat zona-zona taman lainnya lewat menara ini.

Begitu pula Taman Jepang yang desainnya terinspirasi dari penataan taman tradisional di Jepang. Banyak elemen kayu dan batu yang ditata secara sederhana, ditambah dengan kolam yang memberikan nuansa damai dan rileks.

Sedangkan Taman Air diperuntukan bagi jenis-jenis bunga dan tanaman yang hidup di atas air. Contohnya seperti bunga seroja, bunga teratai, serta papyrus yang lazim dikenal sebagai bahan baku pembuatan kertas papir.

Dan terakhir yang mungkin paling unik dari semuanya adalah Taman Rahasia, atau Taman Labyrinth. Zona ini berupa taman yang didesain dan dipangkas dengan rapi menjadi wahana labirin untuk anda bermain mencari jalan keluarnya.

Zona ini terinspirasi dari konsep arsitektur di zaman renaissance pada abad ke-16, di mana labirin dibentuk sebagai jalan masuk menuju istana atau tempat-tempat penting lainnya. Taman kemudian dibuat berkelok-kelok dan panjang seakan tiada ujungnya.

Taman Bunga Nusantara 03
Pengunjung bisa duduk-duduk di taman dan menikmati keindahannya. Foto: Taman Bunga Nusantara

Untuk bermain di wahana ini, pengunjung dapat langsung masuk dan mencoba mencari jalan sendiri, atau membeli peta seharga Rp 2 ribu yang berisi petunjuk menuju jalan keluar. Di akhir labirin, terdapat area taman yang didesain spesial sebagai tanda pengunjung telah berhasil keluar.

Di luar zona tersebut, terdapat pula beberapa area khusus lainnya. Misalnya area rumah kaca seluas 2.000 m2 yang dibuat dari sekitar 3.000 panel kaca. Area ini diperuntukkan bagi jenis bunga dan tanaman yang sulit untuk hidup di iklim tropis.

Sehingga area rumah kaca ini dibuat sedemikian rupa untuk dapat mengatur hal-hal seperti suhu, kelembaban udara dan intensitas cahaya agar bisa mengakomodir bunga dan tanaman tersebut. Untuk dapat masuk ke dalam rumah kaca, pengunjung dikenakan biaya Rp 5 ribu.

Namun tak hanya keindahan flora saja yang dapat disaksikan di sini. Di taman ini juga terdapat danau angsa yang menjadi habitat beberapa jenis angsa seperti angsa putih dari Eropa, dan angsa hitam dari Australia. Di danau tersebut juga terdapat beragam jenis ikan.

Selain taman-tamannya yang menjadi daya tarik wisatawan, Taman Bunga Nusantara juga menjadi tempat yang menarik bagi pengunjung untuk sekedar piknik menikmati nuansa alam. Oleh karenanya, disediakanlah beberapa area untuk piknik, beserta saung-saungnya.

Tak kurang sekitar delapan ruang umum untuk piknik yang tersedia, berikut dengan 18 saung yang tersebar di area tersebut. Terdapat pula camping ground yang menyediakan sekitar 10 tenda dengan fasilitas memadai bagi yang ingin menginap, dengan tarif Rp 325 ribu per malam.

Ini menjadikan Taman Bunga Nusantara sebagai tempat yang sesuai untuk mengadakan acara seperti karya wisata sekolah, outbond dan gathering. Selain itu, acara resepsi pernikahan outdoor juga bisa dilangsungkan di sini.

Tak hanya itu, kini Taman Bunga Nusantara juga menyediakan area bursa bunga dan tanaman. Berada di dekat area parkir, pengunjung dapat melihat-lihat beragam jenis bunga dan tanaman hias yang dijual dan membelinya untuk dibawa pulang.

Untuk masuk ke area taman, pengunjung dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 50 ribu. Namun itu belum termasuk biaya parkir bagi yang membawa kendaraan pribadi. Untuk motor tarifnya sebesar Rp 10 ribu, sedangkan mobil Rp 15 ribu.

Satu hal yang perlu dicatat, karena luasnya area taman ini, maka pengelola taman juga menyediakan fasilitas mobil dan trem bagi yang ingin berkeliling wilayah taman secara menyeluruh namun dengan waktu lebih singkat.

Untuk fasilitas mobil dapat mengangkut sekitar 14 orang dengan biaya sewa Rp 20 ribu. Sedangkan trem memiliki kapasitas 16 hingga 20 orang, dengan jadwal keberangkatan kurang lebih setiap 30 menit. Untuk menaikinya, perlu membayar tiket seharga Rp 60 ribu.

Taman Bunga Nusantara buka setiap hari dari jam 08.00 sampai jam 17.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0263) 581617/581618, via email di tamanbunganusantara@yahoo.co.id atau kunjungi situs resmi tamanbunganusantara.com serta akun resmi Instagram @tamanbunganusantara.

Taman Bunga Nusantara

Jl. Mariwati Km. 7, Cianjur

agendaIndonesia/Audha Alief P

*****

Berakhir Pekan di Balikpapan Selama 3 hari

Berakhir pekan di Balikpapan, Kalimantan Timur, tampaknya bukan merupakan hal yang menarik. Bagi kebanyakan orang, yang tergambar hanyalah kilang minyak. Namun, sebenarnya kota ini memiliki deretan daya tarik dari wisata alam hingga sajian kuliner. Udaranya pun tak terbilang panas untuk kota pantai. Ada daerah perbukitan dan kehijauan di beberapa titik. Cukup tiga hari atau liburan akhir pekan yang panjang untuk bisa menikmati kota ini.

Berakhir Pekan di Balikpapan

Hari Pertama: Pasar Kebun Sayur, Pantai dan Kepiting
Bandara Sepinggan dengan bangunan yang tergolong masih baru bisa dijejaki setelah penerbangan selama 2 jam dari Bandara Soekarno-Hatta. Dengan memilih penerbangan pukul 06.00, saya sudah bisa sarapan di kota ini. Sepiring nasi kuning dan ketupat H. Daud di dekat Kantor Pos Kebun Sayur dengan cepat terhidang di hadapan saya. Padahal pagi itu warung sudah ramai. Sebagai kota yang dihuni banyak pendatang, nasi kuning ini sebenarnya khas Banjarmasin. Tapi sudah melekat dengan kota kilang minyak ini. Sepiring nasi kuning atau lontong ditambah ikan dipatok pada kisaran Rp 20 ribuan. Jangan datang terlalu siang, karena olahan dengan cepat terjual habis.

Karena sudah berada di Kebun Sayur, tidak ada salahnya mampir ke pasar atau plaza yang berada di depannya. Inilah salah satu pusat belanja aneka oleh-oleh. Terbilang lengkap, karena ada aneka makanan, kerajinan khas Dayak dari rotan maupun bambu hingga batu warna-warni yang sekarang banyak digandrungi. Bagi yang doyan belanja, Anda perlu waktu panjang agar benar-benar puas mengitarinya.  

Hari pertama sebaiknya dilakukan untuk menikmati kota agar tidak terasa lelah. Setelah berbelanja, sebaiknya Anda menuju hotel untuk istirahat sejenak. Sore hari adalah waktu yang pas untuk menikmati kota, menyusuri perbukitan, dan mencecap keindahan laut, ombak, serta mentari tenggelam di pusat kota dengan ditemani jagung bakar atau hidangan lain. Pantai Melawai dan Kemala bisa menjadi pilihan. Terletak di Jalan Jenderal Sudirman, dari pantai pada siang atau sore hari bisa terlihat kesibukan dermaga.

Malam hari bisa bergeser untuk menikmati makan malam berupa kepiting yang diguyur dengan saus yang menggoda. Pilihannya bisa di Rumah Makan Dandito atau RM Kenari yang lokasinya hanya  berseberangan dan berada di Jalan Marsma R. Iswahyudi. Dijamin, makan malam akan mengenyangkan sekaligus mengesankan. Jangan lupa mereservasi, karena jumlah tamu berlimpah setiap harinya.

Hari Kedua: Bangkirai dan Orang Utan

Bangunlah pagi-pagi agar Anda bisa menyambangi dua obyek wisata yang membuat perjalanan ke Balikpapan berbeda dengan wisata ke kota lain. Selain itu, menjajal wisata alam yang keduanya berada di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Namun dari Balikpapan bisa dicapai dengan mudah. Konservasi orang utan di Samboja Lestari hanya berjarak sekitar 40 km dari pusat kota atau bisa dicapai dalam kendaraan sekitar satu jam.

Di pintu gerbang, pengunjung biasanya harus berganti dengan kendaraan operasional dari Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS) yang mengelola konservasi. Anda akan dibawa melalui jalur tanpa aspal dengan kiri-kanan pohon besar hingga menemukan kelompok orang utan di pulau-pulau buatan. Tersedia penginapan bagi yang ingin merasakan sensasi menginap di tengah hutan. Jika tidak, dapat mencermati dulu orang utan dan kawanan beruang madu (Helarctos malayanus) di lahan yang luas. Siang hari Anda bisa meninggalkan lokasi dan menuju Taman Nasional Bangkirai yang lokasinya juga di Kecamatan Samboja, Kutai Kertanegara.  

Bukit Bangkirai merupakan hutan konservasi dengan luas sekitar 1.500 hektare dengan koleksi tanaman tropis Kalimantan Timur. Selain jenis tanaman, daya tariknya adalah jembatan gantung sepanjang  64 meter pada ketinggian 30 meter di atas tanah. Di atas jembatan yang menghubungkan lima pohon itu, Anda bisa melihat keindahan alam sekitar. Kawasan hutan itu juga dilengkapi dengan penginapan yang dikelola PT Inhutani Balikpapan.

Bila Anda datang pada musim buah lai, jangan lupa mencicipinya. Selintas sama dengan durian: kulitnya cokelat dan berduri. Ketika dibuka, warna dagingnya kuning menggoda. Tapi rasanya jauh berbeda dengan durian. Durian lebih maknyus. Penjaja buah ini bisa ditemukan saat Anda mengarah kembali ke Balikpapan jika sedang musimnya. Tiba di hotel, saatnya beristirahat.

Berakhir pekan di Balikpapan selama 3 hari, jangan lupa membawa oleh-oleh dari sini. Salah satu yang terkenal adalah krupuk kuku macan.
Oleh-oleh khas Balikpapan dan Kalimantan Timur, krupuk ikan atau biasa disebut kuku macan. Foto: Rully K/Dok. TL

Hari Ketiga: Oleh-oleh, Buaya, dan Manggar

Kota ini tak hanya memiliki daya tarik orang utan dan beruang madu, tapi juga buaya. Ada penangkaran buaya yang tidak jauh dari pusat kota. Terletak di Kelurahan Teritip atau sekitar 27 km dari pusat. Ada sebanyak 1.500 ekor buaya yang menempati lahan seluas 5 hektare. Terdiri atas tiga jenis: buaya muara, supit, dan air tawar. Pengunjung bisa datang pada pukul 08.00-17.00. Selain itu, tersedia beragam produk dari kulit buaya bila Anda berminat.

Tapi pada hari terakhir ini sebaiknya Anda pergi untuk berbelanja oleh-oleh dulu sebelum memulai perjalanan mengunjungi dua obyek wisata terakhir. Toko oleh-oleh bisa ditemukan di pusat kota dengan pilihan camilan dari kepiting serta aneka kerupuk termasuk kuku macan dan dodol durian. Setelah urusan buah tangan beres, saatnya meluncur ke penangkaran buaya. Setelah menyimak perilaku kumpulan buaya, Anda bisa menghabiskan sore di Pantai Manggar Segarasari yang berjarak sekitar 9 km dari bandara. Lokasinya berada di Kelurahan Manggar dan Teritip—pantai berair bersih dan pasir putih. Kembali ke Jakarta, Anda bisa pilih penerbangan pada malam hari pada pukul 19.00-21.50. Tiga hari yang menegangkan sekaligus menyenangkan!

agendaIndonesia/Rita N./Rully K./TL

Keunikan 3 Sungai di Indonesia

Keunikan 3 sungai di Indonesia karena kondisi alaminya.

Keunikan 3 sungai di Indonesia ini menyelip di antara sungai-sungai lain yang selama ini dikenal masyarakat. Indonesia memiliki banyak sungai yang secara data geografis sangat gigantik.

Keunikan 3 Sungai

Sebut saja sungai Kapuas di Kalimantan Barat yang panjangnya membentang sepanjang provinsi ini. Dari data yang ada, panjang Kapuas mencapai lebih dari 1.100 kilometer. Dari Pengunungan Muller di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur hingga bermuara di Teluk Karimata.

Ada pula beberapa sungai yang saking panjangnya hingga melewati lebih dari satu provinsi. Sungai Bengawan Solo, misalnya, yang meski panjangnya cuma hampir 600 kilometer, tapi melewati Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada pula sungai Barito yang panjangnya sekitar 900 kilometer dan melintasi Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Selatan sebelum berakhir di Laut Jawa. Sungai Barito juga merupakan sungai terlebar di Indonesia. Lebar muaranya mencapai satu kilometer.

Tapi kali ini kita tak bercerita tentang sungai-sungai yang gigantik itu. Di antara sungai-sungai yang secara ukuran menakjubkan itu, ada beberapa sungai yang unik karena kondisi alaminya.

Keunikan 3 sungai di Indonesia, salah satunya sungai Cisolok di Sukabumi yang memiliki semburan air panas.
Keunikan 3 sungai di Indonesia, salah satunya sungai Cisolok di Sukabumi. Foto: Dok. Tempo/Eko ST

Sungai Cisolok

Adalah sungai Cisolok di kawasan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang di tengah aliran airnya memiliki beberapa batu yang menyemburkan air panas. Tempat ini berdekatan dengan pantai Pelabuhan Ratu, kurang lebih jaraknya hanya 15 kilometer.

Sungai di lokasi wisata air panas Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, ini benar-benar unik. Sebab, di tengah-tengah sungai terdapat semburan air panas. Menyembur dari dalam tanah, suhu air bisa mencapai 80 derajat Celsius. Ada tiga titik semburan air yang tidak mengandung belerang. Semua semburan berasal dari geyser, air panas yang melewati lapisan kerak bumi.

Tumpukan batu yang diatur sedemikian rupa oleh pengelola membuat air memancar kian tinggi. Saking panasnya air tersebut, wisatawan dapat merendam telur di sungai hingga matang dalam waktu relatif singkat. Namun jangan sesekali menaruh tangan di atas semburan air. Selain tekanannya kencang, suhu air cukup tinggi. Tetesannya saja dapat membuat kulit pedih.

Ombak Sungai Kampar

Sungai Kampar, yang terdapat di Desa Teluk Merantim, Kabupaten Palalawan, Provinsi Riau, juga tak kalah unik. Sungai ini berhulu di Bukit Barisan, sekitar Sumatera Barat dan bermuara di pesisir timur Pulau Sumatera di wilayah provinsi Riau. Sungai ini merupakan pertemuan dua buah sungai yang hampir sama besar, yang disebut dengan Kampar Kanan dan Kampar Kiri.

Lalu uniknya? Bagaimana tidak, sungai ini memiliki ombak yang biasa dijadikan tempat berselancar atau surfing. Pada waktu-waktu tertentu akan timbul ombak besar. Tingginya dapat mencapai 6-7 meter. Panjang gelombangnya lebih dari 300 meter. Penduduk lokal menyebutnya Gelombang Bono.

Gelombang Bono tercipta dari pertemuan arus sungai dan laut, dengan angin dan tebing di kanan-kiri. Gelombang ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi para peselancar ataupun pelancong.

Periode terbaik untuk mengunjunginya pada awal dan akhir musim hujan. Sebab, saat itulah gelombang meninggi. Tepatnya Februari, Maret, Oktober, dan November. Suara empasan gelombang akan membuat bulu kuduk berdiri. Ada dua “pintu” akses ke Kawasan Palalawan. Dari Batam, Anda bisa menyeberang pakai perahu bermotor. Atau, cara lainnya, bisa juga naik kendaraan darat selama empat jam dari Pekanbaru.

Sungai Tamborasi nan Pendek

Berbanding terbalik dengan Sungai Nil di Afrika, yang menjadi sungai terpanjang di dunia, Sungai Tamborasi diklaim sebagai salah satu yang terpendek di dunia. Sungai di Kecamatan Tamborasi, Kolaka, Sulawesi Tenggara, ini hanya memiliki panjang sekitar 20 meter.

Sungai ini cuma lebih pendek tujuh meter dibandingkan Sungai Reprua di Georgia, Eropa, yang disebut memiliki panjang hanya 27 meter. Panjangnya itu dihitung dari mata air karst di gua hingga mencapai Laut Hitam.

Tamborasi tidak terlihat seperti sungai, lebih mirip danau kecil. Sebab lebarnya hanya 15 meter. Namun adanya aliran air di sini menguatkan dugaan bahwa Tamborasi memang sungai. Hanya saja hulu dan hilirnya berdekatan. Di hulu sungai atau di sekitar mata air, suhunya terasa sangat dingin dan segar. Akan tetapi di hilir, airnya justru hangat. Sungai Tamborasi, yang berbatasan langsung dengan Pantai Tamborasi, memiliki pasir putih yang kian memperindah pemandangan.

agendaIndonesia

*****