4 Kuliner Tasikmalaya Pilihan Saat Perjalanan

Prasmanan Nini Anteh

4 kuliner Tasikmalaya ini bisa menjadi pilihan saat melintasi kota di Jawa Barat itu saat perjalanan ke arah Jawa Tengah. Atau sebaliknya. Tentu ada banyak restoran yang juga terkenal di jalur tersebut, namun empat tempat ini bisa menjadi alternatif. Pilihannya mulai dari yang ringan seperti keong sawah atau biasa disebut tutut, hingga nasi tutug oncom yang mengenyangkan.

4 Kuliner Tasikmalaya

Melintasi atau khusus berkunjung ke Tasikmalaya tak hanya dibikin senang dengan pilihan belanja berupa barang-barang kerajinan tangannya yang beragam. Seperti kelom geulis, atau payung kertas, dan wayang glek. Selepas berbelanja, wisatawan perlu sajian untuk sekadar isi perut atau eksplorasi kuliner khas.

Kupat Tahu Esah

Kupat tahu ada di banyak kota, namun ada juga yang merupakan sajian khas Tasik. Di kota ini, ada warung kupat tahu yang sudah buka sejak 1958, yakni warung Kupat Tahu Hj. Esah. Penyajiannya sama seperti umumnya. Tahu dan ketupat dibelah, lalu dicampuri bumbu kacang tanah. Selain tahu dan ketupatnya, yang membedakan kupat tahu Hj Esah dengan yang lain adalah bumbunya,. ” Ada rasa tersendiri dan beda dari yang lain,” ujar seorang pengunjung warung tersebut.

Tahu yang disajikan tergantung permintaan konsumen, bisa digoreng garing, setengah matang, ada pula yang meminta tahu hanya sebentar digoreng lalu disajikan. “Ada yang minta tahu tanpa ketupat dan ketupatnya saja,” kata Asep Suja’i, anak kandung Hj Esah. Seporsi kupat tahu dibanderol Rp 15 ribu. Warungnya berada di pertigaan Jalan Empang dan Jalan Pemuda atau 150 meter dari bekas kantor Bupati Tasikmalaya.

Kupat Tahu Esah

Jalan Empang Nomor 24

Tasikmalaya


Tutut Gule Nini Anteh
Olahan dari tutut alias  keong sawah atau siput air sekarang mulai dikenal. Bila Anda penggemar siput ini, saat berkunjung ke Tasik bisa mampir ke Rumah Makan Nini Anteh, yang dikenal dengan olahan tutut gule alias gulai tutut. Pengelola Nini Anteh, , awalnya pesimistis tutut gule akan diminati pengunjungnya.Ternyata, tamu tua dan muda menyukainya.

Saat ini, Rumah Makan Nini Anteh mengolah minimal 5 kilogram tutut per hari. Untuk bahan baku, tutut masih banyak ditemukan di daerah Tasikmalaya dan Ciamis. “Dikirim dari Ciamis dan Gunung Galunggung,” kata seorang pengelola. Cara makannya pun cukup unik, yakni diseruput. Bisa saja tutut diambil dengan cara dicongkel dengan tusuk gigi. “Tapi seni makan tutut itu dikecrok atau diseruput,” ucap seorang pengunjung.


Selain tutut gule, kuliner Sunda zaman dulu juga disajikan di Rumah Makan Nini Anteh. Pengunjung bisa melahap angeun poloy atau talas, oseng ampas tahu, dan oseng jantung pisang. Menariknya, bangunan rumah makan ini merupakan bekas ruang kepala stasiun zaman Belanda. Kursi, meja, dan lemari yang digunakan pun buatan zaman baheula.

RM Prasmanan Nini Anteh
Jalan Dewi Sartika Nomor 14

Tasikmalaya



Tutug Oncom Kalektoran
Sajian yang tidak boleh terlewat saat mengunjungi Tasikmalaya adalah nasi tutug oncom. Makanan ini terdiri atas nasi putih yang dicampur oncom, yang sudah disangrai dan dibumbui. Tempat makan tutug oncom, yang cukup terkenal adalah Kalektoran. Nasi tutug oncom di sini terkenal karena kenikmatan oncom yang disajikan. Selain itu, ada sambal sebagai penambah kenikmatan tutug oncom. Nasi tutug oncom cocok disajikan dengan gorengan, telur ceplok, dan ayam goreng.


Tutug Oncom Kalektoran awalnya berlokasi di pinggir Jalan Kalektoran. Kini, tempat makan tersebut sudah memiliki bangunan permanen. “Awalnya di pinggir jalan sekitar 1999, tapi kami kemudian pindah ke sini,” kata Sumartini, pemilik Kalektoran.

TO Kalektoran
Jalan Kalektoran (100 meter dari Masjid Agung Kota Tasikmalaya)


Es Sirop Bojong Ibu Momoh
Setelah menyantap makanan khas Tasikmalaya, kini giliran mencicipi minuman khas, yakni es campur. Warung dikenal dengan nama Es Sirop Bojong Ibu Momoh yang sudah dijual sejak 1972. Es campur ini terdiri atas cincau hitam, tape ketan hitam, nangka, nanas, kelapa muda, alpukat, dan durian. Bahan-bahan tersebut ditambah santan, gula, dan es. Bahkan ad yang dicampur dengan durian, tentu ini bagi yang menggemarinya.

Penikmat es sirop Bojong ini berasal dari kalangan muda dan tua. Kalangan tua banyak yang mencicipi es ini untuk sekadar nostalgia. “Mereka ingin membandingkan ada perubahan rasa atau tidak. Insya Allah kami menjaga dan mempertahankan cita rasa,” kata Dodi, pemilik Kedai Es Sirop Bojong.


Es Sirop Bojong Ibu Momoh

Jalan Ampera Barat Nomor 207,  Panglayungan

Tasikmalaya

******


Bakpao Unik di Kastil Dimsum Sarinah Lt 2

Bakpao unik di Kastil Dimsum di Sarinah Jaya Lantai 2. Foto: Dok. Kastil Dimsum.

Bakpao unik seperti durian memang tidak biasa, meskipun sudah ada yang mencoba mengkreasikannya. Tapi, bakpao yang bentuknya seperti buah durian dan ketika digigit isinya juga durian beberapa waktu ini sedang hip di Jakarta. Ya ini atraksi yang masih baru di Kastil Dimsum.

Bakpao Unik

Sesungguhnya ini bukan resto yang baru banget, sebab ini adalah bagian dari kelompok usaha Imperial Group Culinary Concept. Jaringan usaha kuliner yang sudah berdiri sejak 1993 ini sudah banyak tersebar di Jakarta. Ada yang berupa resto, ada yang bentuknya cakery.

Produk baru mereka ini, Kastil Dimsum, tampaknya menarik perhatian penggemar kulineri. Terlebih lokasinya juga di tempat yang sedang hip, Sarinah Jaya Lantai 2 di Jalan MH Tamrin, Jakarta Pusat. Yang beredar di banyak grup percakapan digital adalah bakpao unik sebagai bagian dari sajian dimsum mereka.

Bakpao unik yang bentuknya seperti durian dan isinya durian ada di Kastil Dimsum.
Suasana interios Kastil Dimsum di Sarinah. Foto: Dok. Kastil Dimsum

Mungkin gerai ini dibuka pada waktu yang tepat, yakni ketika pemerintah mulai melonggarkan pertemuan tatap muka bagi masyarakat. Mereka yang selama dua tahun tak melakukan kopi darat, seperti mendapat pilihan tempat nongkrong dan ngobrol sesame kawan dan kerabat.

Kastil Dimsum tampaknya juga jeli memanfaatkan lokasi dan kondisi bangunan. Mereka menyedian ruang makan di dalam bangunan, namun juga menyediakan area luar ruang yang lebih bebas. Terutama untuk kumpul dan makan di sore hingga malam hari. Tentu jika tidak hujan.

Selain itu pilihan variasi sajian yang ditawarkan juga cukup lengkap. Selain masakan-masakan oriental seperti disajikan di Imperial Kitchen lainnya, salah satu yang menjadi andalan di  gerai Sarinah ini adalah aneka dimsum.

Seperti disebut di muka, salah satu andalan yang menjadi daya tarik publik adalah aneka jenis bakpao. Keunikannya tidak saja dalam penyajian bentuknya saja, namun juga sensasi rasa yang ditawarkan. Serba bakpao unik.

Ada aneka bakpao yang bentuknya beraneka, mulai dari buah-buahan atau sayuran seperti durian tadi, jagung bakar, bit, jambu, atau lainnya. Ada pula yang bentuknya seperti tea set, cangkir dan tekonya. Diisi susu cair yang bisa dituang ke dalam cangkir, lalu cangkir yang sudah berisi susu tinggal kita …lep.. masuk mulut. Aneka bakpao ini bisa dipilih pada menu Kastil Windsor.

Bakpao unik di Kastil Dimsum juga ada yang berbentuk sepasang panda.
Kastil Paraha, siomao dan hakau dalam penyajian yang unik. Foto: dok. Kastil Dimsum

Pilihan lain adalah dimsum Kastil Praha. Ini juga disusun seperti undakan di kastil dengan aneka pilihan dimsum siomay dan hakau yang bentuknya seperti money bag. Bentuknya tak terlalu besar, tapi cukup mengenyangkan jika satu set dimakan sendiri.

Tapi, seperti kebiasaan santapan dimsum, di mana pengunjung memilih sejumlah menu dan menyantapnya bersama-sama kerabat dan handai taulan seraya berbagi cerita. Dimsum bukanlah menu tunggal untuk makan siang atau malam. Bentuk yang beraneka menjadikan kelucuan saat nongkrong bersama kawan-kawan.

Misalnya saja memilih menu bakpao unik yang diberi nama bakpao oreo. Dari Namanya pasti sudah bisa menebak varian isinya. Bentuknya lucu, dua panda dengan isiannya oreo lumer. Ada sedikit remahan oreo juga untuk mempercantik tampilannyanya. Rasanya ini cocok untuk mereka yang sudang nge-date. Untuk lucu-lucuan.

Bagi yang ingin makan besar, pilihannya cukup bervariasi. Mulai dari bubur hingga bebek peking. Yang terakhirnya ini seperti kebanyakan chinesse food resto, bebeknya disajikan sesuai keinginan pengunjung. Bisa juga disajikan dalam pilihan kungpao sedikit pedas.

Dari seluruh menu yang ditawarkan umumnya memang enak, tapi yang khas dan masih menjadi perhatian orang adalah bakpao uniknya. Dengan tempat yang sedang hit, resto ini masih terus didatangi pelanggan. Karena itu, jika ingin ke tempat ini, pilih waktu yang tak biasa. Hindari jam-jam orang makan atau nongkrong, karena sudah pasti penuh. Melakukan reservasi adalah pilihan yang bijak jika tak ingin kecewa karena tak dapat tempat.

Dari soal harga, rasanya buat mereka yang sudah biasa bersantap di Imperial Kitchen tak akan terkejut. Masih cukup aman buat kantong. Satu set Kastil Windsor, misalnya, dipatok Rp 58 ribu. Rata-rata orang mengabiskan Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu untuk bersantap di sini.

Jadi sebelum kudet dengan kuliner Jakarta, ayo agendakan nongkrong di Dimsum Kastil. Ada juga pilihan lain di Sarinah.

agendaIndonesia

*****

5 Kudapan Enak Khas Kota Semarang

5 kudapan enak khas kota Semarang rasanya hampir semua orang sudah tahu. Tapi tidak ada salahnya kita bahas satu-satu keunikan jajanan kota yang sering disebut juga kota Atlas, ini sebutan di tahun 80-an yang artinya: aman, tertib, lancar, asri dan sehat.

5 Kudapan Enak Khas Kota Semarang

Rasanya semua traveler setuju, salah satu keasyikan melakukan perjalanan ke kota-kota lain adalah mencicipi jajanan khas di kota tersebut. Dan, sejumlah kota di Jawa termasuk yang kaya dengan pilihan kudapannya. Ibu kota Jawa Tengah ini mempunyai pilihan berlimpah kalau soal camilan. Pengunjung bisa berkeliling mencari gerai-gerai penjaja makanan ringan, dari lapak di pinggir jalan hingga restoran.

Berikut ini ada lima pilihan camilan enak khas kota Semarang, bisa menjadi alternatif saat main ke kota jamu ini, sebutan ini mengacu pada banyaknya industri besar jamu di Indonesia.

Es Krim Jadul di Oen

Restoran ini termasuk ikon Semarang, sering dipenuhi turis dari luar negeri yang asyik mengobrol santai sambil makan. Menjadi tempat pilihan bersantap bagi orang yang ingin mengenang masa lalu. Restoran Oen konsisten menjajakan kudapan khas Belanda sejak 1936. Ada poffertjes, kaasstengel, janhagel, kattetong, dan sebagainya. Semuanya enak, tapi yang sering jadi pilihan utama adlah es krimnya dalam berbagai rasa. Setelah berwisata di kawasan kota tua Semarang, mampir ke resto lawas di Jalan pemuda, dekat dengan kota tua.

Yang tergolong paling laris adalah es krim Tutti Fruti dan Oen’s Symphony. Satu potong es krim Tutti Fruti dengan taburan sukade benar-benar terasa segar. Demikian pula Oen’s Symphony, yang terdiri atas empat sendok es krim dengan rasa berbeda-beda dan krim serta hiasan kue lidah kucing di bagian atas.

Restoran Oen; Jalan Pemuda Nomor 52, Semarang

5 kudapan enak khas kota Semarang yang layak buat dicicipi saat mampir ke kota ini.
Tahu Pong Semarang, tahu goreng kosong dengan tambahan bakwan udang dan telur rebus goreng. Foto: Dok. shutterstock

Tahu Pong dan Gimbal

Tahu goreng ini dinamakan tahu pong karena kopong atau kosong. Dikenal sejak 1930-an di Semarang, tahu ini tampak padat di luar. Namun setelah digigit, Anda akan menemukan bagian yang berlubang di tengah tahu. Camilan satu ini memiliki beberapa cara penyajian. Anda bisa menambahkan nasi jika menginginkannya sebagai salah satu menu makan berat.

Begitupun, tanpa nasi pun sebenarnya seporsi tahu pong sudah sangat mengenyangkan. Apalagi jika Anda memilih menu dengan tambahan gimbal, semacam bakwan goreng dengan udang goreng tepung, dan telur rebus yang juga digoreng. Untuk penyedap rasa, tahu pong dihidangkan dengan kuah petis hitam lengkap dengan sepiring acar. Tambahkan cabe rawit yang diulek jika Anda suka pedas. Walhasil, rasanya lengkap: asin, gurih, dan pedas.

Tahu Pong; Jalan Gajah Mada Nomor 63; Semarang

Pisang Plenet

Bila tahu pong masih satu keluarga dengan tahu gejrot di Cirebon, pisang plenetbisa jadi merupakan saudara dari jajanan pisang epe di Makassar. Namun orang yang menjajakan pisang plenet tidak sebanyak penjual pisang epe di Pantai Losari. Bahkan, istilahnya, sudah bisa dihitung dengan jari orang yang masih setia menjajakan pisang plenet. Kuliner jalanan ini bisa ditemukan pada malam hari.

Penganan ini terbuat dari pisang kepok yang sangat manis. Pisang itu dibakar di atas bara arang. Setelah agak kecokelatan, pisang bakar ini di-plenet atau ditekan-tekan hingga tipis. Penampakannya langsung berubah menyerupai pancake, saking gepengnya. Taburan di atas pisang bisa beragam, dari keju, cokelat meises, hingga selai buah-buahan. Pisang plenet makin nikmat disantap selagi hangat.

Pisang Plenet; Pasar Malam Pecinan, Semawis

Pisang Plenet Pak Turdi; Jalan Pemuda, depan Pasaraya Sri Ratu dekan Oen, Semarang

5 kudapan enak khas kota Semarang, salah satunya kue leker Paimo, makanan pinggir jalan yang layak dicoba.
Kue leker Paimo, kudapan ringan pinggiran jalan yang sering bikin kangen penikmatnya. Foto: Dok. shuterstock

Leker Paimo yang Lezat

Terbuat dari adonan tepung dan telur, kue leker memang cukup dikenal sebagai camilan yang sedap. Umumnya, kue ini berisi cokelat meises, potongan pisang, susu kental manis, dan keju. Nah, Leker Pak Paimo berupaya menyajikan kenikmatan yang lain. Diambil dari bahasa Belanda, yang berarti enak, leker memang lezat untuk disantap sore hari. Apalagi Pak Paimo cukup kreatif mengolah menu ini.

Siapa sangka, lapak mini yang berada di depan salah satu sekolah menengah favorit di Semarang itu tak pernah sepi dijejali pembeli, baik tua maupun muda. Kompor yang beroperasi hanya satu, sehingga pengunjung harus sabar antre. Yang menarik, di sini tersedia leker dengan berbagai macam isi. Dari yang standar, seperti selai atau cokelat, hingga jagung rebus, sosis, telur, sayuran, keju mozzarella, dan potongan tuna.

Leker Pak Paimo; Jalan Karanganyar; Depan SMA Kolese Loyola; Semarang

5 kudapan enak khas kota Semarang, yang paling terkenal tentu saja loenpia, makanan peranakan yang menjadi ikon kota ini.
Loenpia Goreng Semarang, makanan peranakan yang menjadi ikon ibukota Jawa tengah ini. Foto: Dok. shutterstock

Loenpia Basah & Kering

Semarang hampir selalu identik dengan kudapan satu ini. Aslinya, lumpia merupakan makanan khas bangsa Tionghoa yang dibawa oleh para pendatang ke kota ini di masa silam. Banyak orang mengingat kekhasan camilan ini pada irisan rebungnya. Memang lunpia (loenpia) atau kemudian dikenal sebagai lumpia terdiri atas campuran rebung, telur, sayuran, daging, dan ikan laut yang digulung dalam adonan tepung gandum sebagai kulit pembungkus.

Biasanya, semakin mahal isinya, semakin tinggi pula harganya. Harga lumpia isi udang dan kepiting tentu tidak sama dengan isi rebung. Harga standarnya sekitar Rp 15 ribuan. Lumpia juga menjadi oleh-oleh andalan dari Semarang karena bisa dibeli dalam bentuk yang belum digoreng. Jadi, ada lumpia basah dan lumpia kering. Dikudap di kedai penjual pun lumpia terasa pas dengan guyuran saus tauco dan acar mentimun.

Loenpia Gang Lombok; Gang Lombok Nomor 11; Kranggan, Semarang

Loenpia Mbak Lin; Jalan Pemuda; seberang Sri Ratu, Semarang

Loenpia Cik Meimei; Jalan Gadjahmada, Semarang

agendaIndonesia

*****

Serba Pisang di Makassar Ini 6 Yang Lezat

Serba pisang dari Makassar, ini 6 makanan yang lezat berbahan pisang.

Serba pisang di Makassar memberi gambaran beragamnya camilan lezat dari kota anging Mamiri ini. Beberapa jenis makanan menjadi pilihan saat berbuka puasa di bulan Ramadhan. Ada pula yang bisa tiap sore dinikmati sembari menikmati ibu kota Sulawesi Selatan ini.

Serba Pisang di Makassar

Pisang tergolong jenis bahan pangan yang memiliki gizi hampir sempurna lantaran mengandung air, gula, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Selain itu, karena rasanya yang enak, pisang disukai semua kalangan, anak-anak hingga orang dewasa. Tumbuh di daerah beriklim tropis, yang panas dan lembap, terutama di dataran rendah, pisang banyak ditemukan di Nusantara. Salah satunya di Sulawesi Selatan. Dengan hasil buah yang melimpah, masyarakat Sulawesi Selatan bisa menghasilkan beragam olahan dari pisang. Tak hanya manis, tapi juga ada hidangan yang gurih.

Es Pisang Ijo

Penampilannya cukup menggoda dengan warna hijau yang khas. Karena warna itu pula sajian ini disebut pisang ijo. Tampilannya terlihat semakin cantik dalam rendaman vla santan putih dan sirop DHT Pisang Ambon berwarna merah muda. Serutan es batu yang dituangkan ke dalamnya benar-benar membikin segar, apalagi bila dinikmati saat cuaca panas. Penganan yang satu ini juga cocok menjadi menu berbuka puasa.

Bahan utamanya adalah pisang raja yang dibungkus dengan adonan hijau berbentuk seperti kulit pisang. Warna hijau berasal dari perasan daun pandan, yang juga menimbulkan aroma wangi. Vla dibuat dari campuran tepung beras, santan, gula pasir, dan garam. Rasa manisnya lebih dominan dibanding dengan gurih.

Biasanya pisang ijo disajikan di atas piring, tapi ada juga kreasi yang berbeda. Di toko Kue dan Es Krim Mama, misalnya, pisang ijo ditawarkan dalam bentuk yang lebih mungil dengan ditemani cendil serta bubur hitam. Meski dipadukan dengan hidangan Jawa, cita rasa kebangsawanan Bugis-Makassar tetap terasa dalam pisang ijo tersebut.

 Pallubutung Nan Legit

Tampilannya agak mirip pisang ijo. Terbuat dari pisang plus vla putih nan manis. Bedanya, pallubutung menggunakan pisang kepok. Pisang itu dikukus terlebih dulu. Setelah masak, kulitnya dikupas, lalu pisang dipotong-potong serong. Irisan pisang kemudian dimasukkan ke dalam vla. Pallubutung bisa dinikmati dalam kondisi hangat, tapi jauh lebih enak jika dihidangkan dingin dengan tambahan serutan es batu. Jika tak suka dengan rasa polos alias orisinal, Anda bisa menambahkan susu kental manis dan sirop DHT Pisang Ambon. Penganan ini pun menjadi salah satu menu favorit untuk berbuka puasa.

serba pisang di Makassar memperlihatkan bagaimana buah ini bisa menjelma menjadi camilan-camilan yang lezat.
Barongko, makanan tradisional dari Makassar yang berbahan dasar dari pisang. Foto: Dok. shutterstock

 Kue Barongko

Kue ini menjadi salah satu menu wajib dalam kegiatan pesta dan upacara adat masyarakat Bugis-Makassar. Ada banyak kafe dan toko kue yang menjajakan barongko. Sebab, kue ini memang diminati banyak orang. Karena memiliki rasa yang manis dan segar, kue ini pun kerap disantap saat berbuka puasa.

Bahan dasarnya sama dengan pallubutung, tapi pisang kepoknya dihaluskan dan dicampur dengan gula, telur, dan santan. Adonan tersebut diaduk hingga rata, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus kurang-lebih 30 menit. Barongko paling pas dinikmati dalam kondisi dingin, dengan memasukkannya ke lemari es terlebih dulu. Kadang kala diberikan variasi berupa irisan nangka dan cincangan kenari sebelum dikukus. Aroma nangka, pisang, dan, daun pisang menyatu, sementara kenari memberikan sensasi gurih di antara rasa manis yang dominan.

Serba pisang di Makassar salah satunya adalah pisang epe yang banyak dijumpai di kawasan pantai Losari.
Pisang bakar khas Makassar, pisang epe, yang mudah ditemui di kawasan pantai Losari. Foto: Dok. shutterstock

 Pisang Epe, Digepuk dan Dibakar

Menikmati sore sambil menunggu mentari tenggelam di Pantai Losari tak akan lengkap tanpa ditemani sajian pisang epe alias banana press—sebagian orang menyebutnya demikian karena pisang ini ditekan-tekan agar gepeng setelah dibakar. Bahan utama yang digunakan adalah pisang kepok. Pisang yang telah gepeng itu lalu disirami vla gula merah atau gula aren. Di musim durian, vla biasanya ditambahi daging durian, sehingga aromanya lebih menggoda.

Pisang epe mudah ditemukan di kawasan Pantai Losari, seperti di Jalan Penghibur, Jalan Ujung Pandang, Jalan Maipa, dan Jalan Lamaddukelleng. Pilihannya juga semakin bervariasi. Ada rasa cokelat, keju, atau kombinasi, selain rasa orisinal dengan vla gula merah.

Sanggara Pep’pe nan Gurih

Tampilannya agak mirip dengan pisang epe. Namun, untuk membuat hidangan ini, pisang kepok harus digoreng, lalu ditumbuk agar berbentuk gepeng. Sanggara memang berarti digoreng, sementara pep’pe dipukul-pukul. Meski tampilannya mirip dengan pisang epe, rasanya jauh berbeda. Jika pisang epe identik dengan manis, sanggara pep’pe menonjolkan rasa gurih. Penganan satu ini biasanya dinikmati dengan sambal.

Roko-Roko Unti Nan legit

Rasanya yang legit benar-benar memanjakan lidah. Roko-roko unti (bungkus-bungkus pisang) tak jauh berbeda dengan kue nagasari. Lagi-lagi berbahan utama pisang. Dalam hidangan ini, pisang disembunyikan di tengah adonan vla putih yang gurih dan kental. Adonan itu dimasak dengan cara dibungkus daun pisang, kemudian dikukus. Nah, ada banyak jenis pisang bisa digunakan untuk membuat roko-roko unti, tapi pisang kepok dan pisang raja menjadi pilihan utama. Biasanya, hidangan ini dijual dengan harga Rp 4.000 per bungkus.

Bagi yang sedang  main ke Makassar dan ingin mencicipi makanan-makanan tersebut, coba main ke tempat-tempat ini

Café Mama; Jalan Seruni dan Jalan Bougenville, Makassar

Kios Bravo; Jalan Andalan No 154, Makassar

Kios Hawai; Jalan Ranggong, Makassar

Pisang Epe; Kawasan Pantai Losari

TL/agendaIndonesia

*****

Ayam Goreng Mbah Karto, Lezat Sejak 1960

Ayam Goreng Mbah Karto menjadi salah satu kuliner andalan kota SOlo.

Ayam Goreng Mbah Karto di Solo atau mungkin aslinya yang di Sukoharjo, Jawa Tengah, mungkin belum setenar ayam goreng Suharti atau Mbok Berek di Yogyakarta. Namun buat pecinta kuliner, khususnya ayam goreng, nama Mbah Karto adalah jaminan mutu ayam goreng yang enak.

Ayam Goreng Mbah Karto

Perjalanan rumah makan ini pun tidak pendek. Ia telah eksis bahkan sejak tahun 1960-an. Ayam goreng Mbah Karto menjadi favorit banyak kalangan, bahkan Presiden Joko Widodo dan keluarga pun menggemarinya.

Ayam Goreng Mbah Karto, kadang dikenal juga dengan sebutan Ayam Kampung Goreng Mbah Karto Tembel, memulai perjalanannya dari Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Rumah makan pertamanya berlokasi di Jalan Jaksa Agung Raya Suprapto Nomor 8, Gabusan, Jombor, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo.

Ayam Goreng Mbah Karto Tembel hanya berjualan ayam kampung goreng sejak dahulu.
Warung Ayam Goreng Mbah Karto. Foto” Milik Tribun Solo

Untuk yang kurang paham posisi geografis, warung pertamanya ini kadang disebut juga sebagai berada di kota Solo. Karena sesungguhnya tempat tersebut memang berimpitan dengan kota batik tersebut.

Rumah makan pertama tersebut boleh dikata sangat sederhana bernuansa Jawa. Mirip dengan rumah pinggiran Solo. Ini terlihat dari ruang makan utama yang berupa pendopo kayu. Seperti pada warung pada umumnya, meja dan kursi kayu disediakan supaya pelanggan lebih nyaman saat makan.

Walaupun sederhana, tetapi Ayam Goreng Mbah Karto berhasil bertahan melampui zaman dan masih ramai dikunjungi penggemar ayam goreng sampai sekarang. Tempat makan legendaris ini sekarang dikelola oleh generasi ke dua keluarga Mbah Karto.

Walaupun sudah dikelola oleh generasi ke duanya, menurut pecintanya, menu dan racikan Ayam Goreng Mbah Karto tetap sama dengan generasi pertama. Menu andalan mereka tetap ayam goreng kampung.

Sri Sukarni, pemilik dan pengelola rumah makan tersebut saat ini mengatakan sejak dahulu tempatnya memang hanya menyediakan satu varian menu. “Di sini cuma ada ayam goreng saja sama sambalnya,” kata Sri sambil menjelaskan itu sesuai ketika masih dikelola orang tuanya.
Dengan logat bicara Jawa, Sri menjelaskan bahwa mungkin senang dengan masakan warungnya karena beberapa keunggulan ayam goreng racikannya. Gurih legit daging ayam kampung ini karena diolah dari ayam segar.


“Kami pakainya hanya ayam kampung segar, jadi setekah disembelih langsung diolah, digoreng,” jelas Sri seraya menyebut pihaknya tidak pernah menyimpan ayam ke dalam lemari pendingin. Semua ayam yang dipotong hari itu harus habis hari itu juga.

Ia lantas menceritakan rahasia kelezatan ayam goreng Mbah Karto. Menurutnya itu karena pemilihan ayamnya sampai bumbunya. Ayam yang dipakai adalah ayam kampung muda, lebih kurang berusia tiga bulan.


Setelah dipotong, ayam kampung diberi bumbu bacem, bawang putih, dan rempah lainnya. Ayam lalu diungkep dalam wadah di atas kompor kayu bakar. Setelah diungkep, barulah digoreng.

Untuk membuat daging ayam kampung empuk dan lezat, Sri menjelaskan, proses memasaknya ayam direbus dengan bumbu dan santan kelapa. “Proses ini memakan waktu hingga 1,5 jam,” katanya.


Setelah ayam empuk dan bumbu meresap, kemudian ayam diangkat dan digoreng hingga matang. Sementara bumbu santannya tetap dimasak hingga mengental dan menjadi hitam gelap. Sari dari santan inilah yang kemudian dijadikan sambal blondho.


Blondho inilah kunci lain kelezatan ayam goreng Mbah Karto. Sambal blondho terbuat dari ampas minyak endapan santan kental atau areh matang. Untuk penyajiannya, blondho yang berwarna hitam gelap ini bisa ditampilkan sendiri, namun bisa juga dicampur dengan sambal bawang.

Ayam Goreng Mbah Karto
Banyak yang ingin membawa pulang.

Hal lain yang istimewa dari rumah makan ayam goreng Mbah Karto adalah pengunjung tak harus membeli satu ekor ayam utuh. Mereka bisa memilih ayam 1/4 ekor atau bagian kepala, hati, dan ampela. Untuk dapat menikmati satu porsi Ayam Goreng Mbah Karto potongan siapkan budget lebih kurang Rp 24 ribu.

Sedangkan jika ingin membeli utuh siapkan uang Rp 107 ribu. Itu sudah termasuk kepala dan cekernya.

Selain sambal blondho dan sambal bawang, pengunjung juga bisa menikmati lalapan, sayur urap, dan tentunya nasi putih. Sebagai pedamping makan, pengujung juga bisa memesan minuman jamu khas Ayam Goreng Mbah Karto seperti es beras kencur, es kunyit asam, dan lainnya.

Untuk yang ingin mencoba mengagendakan menyantap ayam goreng Mbah Karto, bisa langsung menuju rumah makan pertamanya berada di Jalan Jaksa Agung Raya Suprapto No. 8, Gabusan, Jombor, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo. Mereka buka mulai pukul 7 dan tutup pada jam 8 malam. Warung Ayam Goreng Mbah Karto ini berada di Sukoharjo berjarak lebih kurang 12 kilometer dari pusat Kota Solo

Buat yang ingin tak terlalu jauh untuk menikmatinya, bisa mampir ke gerai Ayam Kampung Goreng Mbah Karto di Jalan Kepatihan No. 7, Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Solo. Bukanya mulai pukul 8 pagi dan tutup jam 7 malam.

agendaIndonesia/audha alief P.

*****




8 Suguhan Laut Sulawesi di Jakarta

Makan bareng saat diet perlu memberhatikan tiga hal ini. Foto: Fran TL

8 suguhan laut Sulawesi bisa dinikmati di Jakarta. Semua bahan utama didatangkan dari Celebes atau Sulawesi. Dan kerinduan menikmati kuliner khas Sulawesi pun terobati.

8 Suguhan Laut Sulawesi

Segelas jus dari sirop markisa mendarat di meja kayu. Warnanya jingga cerah, serona layung yang melungsur di balik bangunan-bangunan jangkung di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Bila diaduk, di bagian atasnya mengapung buih-buih putih alami, membentuk gradasi warna yang cukup membuat mata kepincut. “Sirop ini asli Makassar dan dibuat secara manual, dari buah asli, bukan sari,” tutur salah seorang pramusaji Restoran Sulawesi, memecah konsentrasi.

Di Sulawesi@Mega Kuningan, rumah makan premium yang baru buka pada Juni 2016—hasil ekspansi dari Restoran Sulawesi—hampir semua bahan utama yang mereka olah didatangkan langsung dari pulau berjuluk Celebes. Pemiliknya, Darmawan Halim dan keluarga, ingin membumikan kenikmatan penganan khas Sulawesi, khususnya Makassar, di kota-kota urban, layaknya Jakarta.

Tak heran kalau sirop markisa, yang sejatinya bisa ditemukan di mana pun, harus didatangkan langsung dari daerah asalnya. “Karena rasanya pasti berbeda. Yang dibeli langsung di Makassar punya cita rasa lebih segar dan orisinal,” ujar Diah, karyawan di resto ini. Memang lidah tak bisa menepis. Rasa markisa yang meluncur ke dalam mulut punya karakter kuat. Manisnya alami dan tak bikin tenggorokan sakit.

Segelas minuman autentik ini baru jadi pembuka untuk rentetan menu khas Sulawesi yang bakal dipesan selanjutnya. Pelayan yang ramah merekomendasikan beberapa kudapan andalan, yang juga umum digemari pengunjung. “Biasanya, tamu memilih seafood,” kata salah satu pramusaji.

Memang jagoan piring di sini adalah para penghuni laut. Ada beragam jenis ikan yang disajikan, seperti sukang, kaneke, baronang, katamba, kudu-kudu, papakulu, gelama, sunu, dan leccukan. Kedengarannya asing karena jenis itu umumnya hanya ditemukan di perairan timur Indonesia.

Sebagai awalan, keneke bakar tradisional menjadi pilihan. Ikan yang disajikan kala itu berukuran lebih-kurang 1,3 kilogram. Cukup disantap ramai-ramai sekitar lima orang. Cara pembakaran yang menggunakan arang batok membikin aroma ikan makin mencagun, menggelitik nafsu untuk segera melibasnya. Tekstur dagingnya tak rusak karena waktu pembakarannya pas.

Ikan ini nikmat disantap dengan tiga sambal khas yang ditata di sebelahnya, yaitu dabu-dabu, mangga camangi, dan petis. Meski judulnya sambal, rasa pedasnya tak terlalu mencuat dan tidak merusak rasa asli ikan.

Menu selanjutnya sukang rica. Ikan itu cukup berdaging dan tak banyak duri. “Memang makan di sini tak perlu ripuh memilah daging dengan duri,” ucap pramusaji tadi lagi. Selain gampang menyantapnya, bumbu khas yang disiram di atas ikan membikin lidah tak berhenti bergoyang. Ada dua bumbu yang bisa dipilih, yakni rica (pedas) dan parepe (manis).

Bumbu manis dibikin dari bawang putih, gula aren, dan bumbu rahasia lain. Meski bawang terlihat mendominasi, aromanya tak mencolok dan tidak membuat mulut bau. Selain berfungsi sebagai penyelaras, keberadaannya berjasa memperkaya tekstur dengan serat yang ditimbulkan dari tumbukan kasar. Sedangkan bumbu pedas dikhususkan bagi pecinta sambal. Cabai yang digunakan berjenis rawit. Aroma dan warnanya segar serta menggugah selera makan.

Bila sukang dan keneke cocok diolah dengan bumbu khas Makassar, kudu-kudu tak demikian. Ikan jenis ini lebih nikmat dimakan dengan ramuan populer, layaknya goreng asam manis. Sebab, ketika sedang menyantapnya, bukan bumbu yang dinikmati, tapi teksturnya yang unik. Dagingnya kenyal dan lentur. Cara membunuhnya juga harus dengan teknik tertentu supaya tidak muncul aroma anyir. Misalnya, menusuk ujung kepala ikan dengan besi khusus hingga terkena bagian sarafnya.

Waktu menyantap jenis ikan-ikanan pun selesai. Selanjutnya, sebagai teman menikmati langit meredup, menyaksikan lampu Ibu Kota yang mulai berpendar, dan mengintip para raja jalanan menyemut di sepanjang jalur Prof Dr Satrio, yang tampak dari jendela restoran yang bertengger di lantai dua Menara BTPN Mega Kuningan, kepiting woku lantas menjadi pilihan.

Woku merupakan bumbu khas Manado. Rasa dan aromanya cukup tebal karena dipadukan dengan rempah-rempah beraneka ragam. Untuk yang tak biasa, mereka bakal merasa enek setelah menyantapnya. Namun yang disajikan di sini lain dari biasanya. Ahli masak mengontrol jumlah rempah-rempah sehingga tak ada yang berlebihan dan tidak terasa ada salah satu bahan yang mendominasi.

Meski perut sudah penuh, keinginan mengeksplorasi menu masih menjadi-jadi. Udang bakar bumbu tradisional dan menu-menu berkuah pun dipilih. Di antaranya udang sitto xl tradisional, sop pallu basa (yang serasi dinikmati bareng buras), dan mi titi. Ditambah lagi dengan nasi goreng merah seafood dengan cita rasa istimewa.

Yang spesial dari sup pallu basa adalah kuahnya yang berpadu dengan kelapa parut ditambah pala, rempah-rempah, dan bumbu istimewa sehingga memunculkan wewangian khas yang selalu dijumpai pada masakan Nusantara. Sedangkan sunu kuah asam menjadi favorit lantaran ikan yang digunakan masih segar. Irisan tomat dan cabai menguatkan aroma kaldu, apalagi ketika kuah masih mengepul.

Keenakan mengecap satu per satu para penghuni laut yang sudah tak berdaya di piring bidang, larut ternyata makin luruh. Alunan jazz Ain’t No Sunshine versi saksofon lantas membikin mata sedikit-sedikit mulai mengatup. Saat seperti ini lebih asyik dimanfaatkan untuk menikmati suasana malam Jakarta yang bisa diintip jelas dari dalam restoran. Di sisi lain, para tamu lain masih sibuk memburu kenikmatan. Bangku-bangku berkapasitas 150 orang malam itu tampak penuh. Sehari-harinya pun begitu.

F. Rosana/Frann/Dok TL

*****

Melawat Senja di Potato Head, Best Beach Bars 2013

Melawat senja di Potato Head, Pantai Petitenget, Bali.

Melawat senja di Potato Head yang berlokasi di Pantai Petitenget, Kabupaten Badung, Bali. Tempat kongkow dan bersantap dengan desain bangunan mirip kolesium. Pengunjung bisa memilih di dalam, atau di luar ruangan untuk menikmati senja yang asyik.

Melawat Senja di Potato Head

Hal yang kadang sedikit membingungkan ketika berlibur ke Bali adalah memilih satu dari sekian banyak tempat nongkrong. Hampir setiap tempat kongkow di Pulau Dewata mempunyai keunikan tersendiri. Tetapi ada satu yang memiliki daya tarik khusus. Berlokasi di Seminyak, tempat hang-out ini membuat pelancong bisa menikmati wisata seni, panorama mentari tenggelam, dan wisata kuliner. Ya, itulah tawaran dari Potato Head Beach Club.


Terletak di Pantai Petitenget, Seminyak, Bali, tempat ini dimiliki oleh Ronald Akili dan Jason Gunawan, yang menunjuk Andra Matin sebagai arsiteknya. Konsep bangunan yang diusung serupa kolesium modern dengan aksen susunan jendela-jendela lawas dari berbagai tempat di Indonesia. Sungguh unik. Jumlah jendela tersebut juga menakjubkan banyaknya.

Melawat senja di Potato Head Bali, kemewahan kongkow di pantai Bali sembari menikmati matahari tenggalam.
Suasana di dalam Potato Head Beach Bars, Bali. Foto: Dok TL/Arcaya M.


Selain nilai seni arsitektur yang unik, beach club ini dinobatkan sebagai The Best Bars and Beach Bars in The World pada 2013 oleh majalah Condé Nast. Memang nominasi tersebut tidak berlebihan. Atmosfer yang dibangun sangat mendukung dan penataan ruang di lahan seluas 500 meter persegi ini dipikirkan dengan matang. Arena yang terletak agak jauh dari kebisingan jalan raya dan berada persis di pinggir pantai ini seperti mengajak saya memasuki daerah yang mempesona.


Sore itu, sebelum memasuki area utama Potato Head Bar, saya melewati sebuah lorong sempit yang sisi kanan-kirinya ditutupi jendela-jendela beragam warna sampai bagian atap. Setelah tiba di ujung lorong, terhampar pemandangan rumput hijau yang terlihat empuk. Debur ombak pun terdengar. Musik chill-out, kolam renang, gelegak tawa para pengunjung, dan siluetpohon kelapa lengkap dengan awan biru memukau saya.


Ada beberapa tempat yang menjadi incaran saya untuk menikmati senja sore itu. Dari kursi pantai di pinggir kolam renang, lesehan di rumput, bar dengan meja panjang, kursi empuk di area sekitar rumput, hingga bar utama. Namun untuk merasakan kursi pantai di pinggir kolam renang, pengunjung perlu merogoh kocek sekitar Rp 500 ribu. Akhirnya, saya memilih berada di bar utama.
Sebenarnya, beach club ini juga bisa menjadi tempat wisata keluarga. Sebab, ada kolam renang untuk anak-anak dan area yang cukup luas sebagai tempat bermain. Selain itu, Anda bisa memilih turun bermain ke pantai yang eksklusif untuk pengunjung Potato Head.

melawat senja di Potato Head Bali, menyeruput minuman dan mengudap makanan kecil sambil menyaksikan malam datang di pulau Dewata.
Suasana di luar ruang Potato Head Beach Bars Bali. Foto: Dok. TL/Arcaya M.


Apabila Anda ingin mencicipi wisata kuliner yang mengesankan, Potato Head juga menyediakan dua pilihan tempat, yakni Lilin dan Tapping Shoes. Untuk menikmati kuliner dengan meja panjang di tempat terbuka, Anda bisa memilih area Lilin. Menu yang disajikan kebanyakan berupa tapas alias camilan dan masakan khas Asia dengan bahan-bahan makanan dari laut. Sedangkan untuk Tapping Shoes, yang berada di lantai dua, ada sajian Eropa dengan interior yang lebih serius dan mengarah ke suasana fine dining.


Namun tidak berarti Potato Head Bar tak mempunyai makanan andalan. Hidangan yang terkenal di sini adalah Wagyu Beef Burger lengkap dengan kentang goreng, Philly Steak Sandwich, dan Tacos Prawn. Sedangkan untuk minuman cocktail, ada Potato Head Bloody Mary, Majito, Big Bang, dan Kookaburra.


Tetapi saya sedang tidak terlalu ingin bertualang mencoba minuman dan makanan karena tujuan ke sini hanya untuk menikmati senja di Pulau Dewata sembari kongkow dengan teman. Akhirnya, saya memesan Tacos Prawndan bir dingin, lalu mendarat di rumput hijau yang empuk dan segar tanpa alas. Bagi saya hal ini sudah cukup mewah. Kapan lagi saya bisa menikmati senja dan ngobrol dengan teman sambil lesehan di rumput pinggir pantai pulau para dewa?


Alunan musik chill-out dan suara debur ombak membuat senja sore itu sempurna. Setiap hari, selalu ada live performance dari disc jockey internasional. Tidak jarang, para musikus dunia juga diundang tampil di sini. Pernah ada DJ terkenal, Fatboy Slim, mengentakkan musiknya di Pulau Bali, atau suatu kali musikus John Legend tampil di sana.

Matahari sudah memburaikan jingga. Cahaya lampu mulai mengisi ruangan. Tempo musik pun berubah menjadi cepat untuk menghangatkan suasana. Selain buat nongkrong sembari menikmati senja, beach club ini asyik disinggahi ketika malam. Apalagi saat bulan purnama. Jika Anda betah, saat sebelum pandemi, tempat ini buka sampai pukul 2 dinihari. Namun seberapa pun Anda merasa kerasan, jangan nekat berkemah di sini…. Ha ha ha …

Arcaya M./TL/agendaIndonesia

*****

Kopi Klotok Yogya, Kopi di Kilometer 16

Kopi Klotok 01

Kopi Klotok Yogya adalah ikon baru kuliner kota pelajar ini sepanjang empat-lima tahun terakhir. Sesungguhnya, suguhan kopinya bukan sejenis kopi dari kafe-kafe yang menjual kopi single origin perkebunan tertentu. Namun warung kopi ini menjual “paket lengkap” menikmati kopi.

Kopi Klotok Yogya

Warung Kopi Klotok sendiri lokasinya ada di Jalan Kaliurang di kilometer 16, Pakem, Yogyakarta. Warung jadul bergaya Jawa tersebut jadi hip foto-fotonya ramai diunggah para penikmat kuliner di media sosial berbagi gambar Instagram.

Bangunan joglo khas rumah tradisional Jawa Tengah menjadi daya tarik bagi warung itu. Apalagi, letaknya tepat berada di tepi sawah. Suasana ndeso pun langsung terasa ketika pengunjung datang.

AgendaIndonesia sempat menyambangi Kopi Klotok sebelum masa pancemi tahun lalu. Sesuai tips sejumlah teman, jika datang di akhir pekan atau masa liburan sekolah, kita harus pagi-pagi benar sampai di tempat ini. Dan benar, pukul 07.00, warung tepi sawah itu sudah buka. Puluhan kendaraan pun sudah terparkir di halaman. Bahkan, bus-bus rombongan juga sudah mulai memenuhi jalan masuk warung.

“Ini masih terhitung sepi. Kalau akhir pekan atau libur panjang, jangan harap langsung dapat tempat duduk,” kata Ruli, seorang teman yang sudah jadi pelanggan Kopi Klotok, saat menemani menyambangi warung tersebut.

Waktu terbaik mengunjungi Kopi Klotok memang pagi hari. Menjelang siang, apalagi saat hari libur, pengunjung akan sulit mencari tempat duduk lantaran penuh wisatawan.

Ruli memilih duduk bersila di atas amben kayu di teras belakang, dan langsung  asyik menyeruput kopinya. Tangan kirinya memegang lepek, atau tatakan gelas kopi,  sementara tangan kanannya mendekatkan gelas ke mulutnya. “Aahhh..,” katanya seakan melepas kenikmatan. Hawa sekitar lokasi lumayan sejuk, meski konon tak sedingin 10-12 tahun lalu.

Sesungguhnya datang dan langsung ngopi di warung ini jarang dilakukan pengunjung. Sebab, meskipun nama warungnya Kopi Klotok, kebanyakan pengunjung datang ke sini justru untuk menikmati makan besar yang menjadi signature mereka: nasi putih, sayur lodeh, telur dadar, dan tempe garit. Yang terakhir ini tempe yang proses pembuatannya menggunakan daun jati dan ketika akan digoreng dua sisinya digaris-garis dengan pisau sebelum dicelupkan ke bumbu garam-bawang lalu digoreng kering.

Di warung ini, pengunjung biasanya langsung masuk ke warung melalui pintu kayu yang rendah. Beberapa pengunjung yang cukup jangkung mesti sedikit menunduk jika melewatinya. Dalam filosofi Jawa, hal ini memiliki makna bentuk penghormatan dan sopan-santun tamu terhadap pemilik rumah.

Tiba di ruangan pertama, pengunjung akan langsung menemui sebuah ruangan yang lapang. Di sisi kanan terdapat meja panjang dengan beragam lauk. Ada sayur lodeh, sayur lombok ijo, telur, tempe, tahu, dan masakan rumahan khas Jawa lainnya. Pengunjung bisa langsung memilih.

Menurut Ruli, sayur lodeh adalah favorit pelanggan. Kabarnya, sayur ini sudah habis menjelang sore. Padahal Kopi Klotok sendiri masih buka sampai malam. “Jadi kalau datang malam, hanya kebagian lauk telur tanpa sayur,” tuturnya.

Setelah mengambil makan ala prasmanan, pengunjung akan memilih tempat duduk. Bisa di dalam rumah joglo, di serambi belakang, atau di luar, yakni lesehan di tepi sawah. Orang-orang biasanya berebut tempat di serambi belakang. Sebab, tempat tersebut paling strategis. Sambil makan, pengunjung bisa menikmati hamparan sawah dan pohon-pohon kelapa.

Di dalam rumah joglo itu dipajang ornamen pernak-pernik tempo dulu yang unik. Ada radio lawas, sepeda onthel, dan lampu teplok. Sedangkan bangku dan meja yang digunakan ialah yang tergolong perabot lawasan. Model kursi set babon angrem dengan anyaman rotan ialah salah satu contohnya.

Setelah kelar makan, umumnya pengunjung tak langsung pulang. Mereka akan memesan kopi dan pisang goreng. Dua menu ini adalah andalannya. Kopi yang disajikan ialah kopi hitam. Boleh memilih yang pahit tanpa gula atau manis. Sedangkan pisang goreng akan dihidangkan hangat-hangat.

Suasana pedesaan yang sejuk, kopi hangat ditambah pisang goreng dan jadah, membuat penikmatan kopi semakin sempurna. Kopi Klotok seolah menjawab kerinduan para tamu akan kampung halaman.

Kesederhanaan hingga kejujuran, menjadi suasana yang khas sekaligus ingin diciptakan di Kopi Klotok. Dapur yang perapiannya masih konsisten memakai kayu bakar, penataan pisang-pisang yang digantung memenuhi sekitar para-para, agar pisang lebih cepat matang. Dinding-dinding dapur kehitaman dan berjelaga. “Namun, justru nuansa seperti ini yang sudah tidak bisa ditemukan lagi di kota,” kata Ruli.

Dan di bilik seberang, dua orang barista lincah dan tekun melayani permintaan kopi. Nugraha, salah seorang pengurus Kopi Klotok, menjelaskan bahwa kopi di warungnya adalah kopi dengan penyajian sederhana. Kopi bubuk dimasak dalam panci panas tanpa air. Setelah beraroma sedikit gosong barulah disiram air hingga mendidih. Dari proses tersebut munculah nama klotok yang berasal dari Bahasa Jawa “nglotok” atau mengelupas. Proses mengelupasnya kopi adalah saat air disiramkan ke panci yang lengket dengan kopi yang dimasak tanpa air tadi.

Menu-menu di Kopi Klotok tergolong murah. Satu paket nasi sayur plus lauk dibanderol Rp 12.500. Sedangkan kopi klotok Rp 5.000 per gelas dan pisang goreng Rp 2.500 per porsi. Warung ini buka mulai pukul 07.00 hingga 22.00.

Faktor lain yang menurut Ruli mengatakan menjadi kekhasan Kopi Klotok, di sini ada upaya menciptakan edukasi tentang sebuah kejujuran. Setiap tamu yang datang boleh hilir-mudik di dalam rumah, pergi ke dapur mengambil sendiri makan dan menu lainnya. “Jadi, kita seperti lagi di rumah sendiri. Penyaji dan pengurus Kopi Klotok juga tidak pasang muka curiga, sehingga kami kayak diberi kepercayaan. Kami harus jujur,” jelasnya sambil menyeruput lagi kopi hitamnya.

F. Rosana

*****

Warkop Di New York, 1 Lokal Warna Global

Warkop di New York, milik orang Indonesia. Menjual kopi gula aren dan Indomie telur kornet rasa Amerika.

Warkop di New York, rasanya ini biasa saja. Banyak tempat ngopi di kota tersibuk di dunia itu. Coffe Shop bertebaran di hamper tiap sudut kota. Tapi, warung kopi Indonesia dengan segala menu lokal Indonesia di New York?

Warkop Di New York

Awal tahun 2022 ini, masyarakat di Indonesia karena pemberitaan di media konvensional juga pesan di media sosial, heboh dengan informasi pembukaan Warkop di New York atau Warkop NYC yang berada di jantung kota New York, Amerika Serikat. Tepatnya di Kawasan Hell’s Kitchen, Manhattan, New York.

Yang membuat ‘heboh’ karena mereka mengusung konsep warung kopi dan warmindo (warung Indomie) ala Indonesia. Jadi Warkop NYC ini menyajikan berbagai makanan dan minuman khas Indonesia. Kopi dari merek-merek di Indonesia, juga mie instan.

Segera saja Warkop ini berhasil mencuri perhatian warganet. Terlebih untuk Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di New York, mereka menyambut baik warkop di New York tersebut. Ada harapan rasa kangen tanah air yang terobati.

Warkop di New York menjadi semacam destinasi baru orang Indonesia yang mampir ke New York.
Omar Karim di depan Warkop NYC miliknya. Foto: Instagram Warkop NYC


“Kami merasa, warkop ini merupakan everyday place for everyone di Indonesia. Ini cocok dengan karakter kota New York yang punya fast pace dan juga melting point,” kata Omar Karim Prawiranegara, founder sekaligus owner dan pengelola Warkop New York ini.
Selain soal peluang usaha, Omar dan sejumlah temannya melihat ada hal lain: memperkenalkan kuliner dan budaya Indonesia. Dan ini bisa dilakukan di mana saja.

Mereka memilih dari sebuah tempat “kecil” di sebuah sudut kota besar di Amerika Serikat pada 3 Maret 2022 lalu. Tiga orang berkawan, Omar Karim Prawiranegara, Teguh Chandra, dan Cut Lakeisha, serta Ditto “Percussion” dan istrinya yang bergabung sebagai investor, menyuarakan tentang kopi Indonesia.

Warkop NYC sukses merepresentasikan warung kopi khas Indonesia yang sederhana, tapi kental dengan kearifan lokal. “Kami merasa, warkop itu everyone’s place,” kata Omar sambal berverita konsep yang mereka usung cocok dengan gaya hidup warga kota New York.

Awalnya, kata Omar, ketika berniat membuat Warkop NYC, ia mengaku tidak mengenal siapa-siapa dan benar-benar mulai dari nol. Dirinya lantas bercerita, mencari tempat dan mengurus proses izin adalah hal yang tersulit. Meski begitu, Omar berhasil menghadirkan Warkop NYC secara mandiri, berdiri sendiri, dan belum ada sentuhan bantuan dari lembaga Indonesia waktu itu.

“Kami sangat senang, karena respons yang kami dapatkan sangat baik. Bahkan, sebulan setelah pembukaan Warkop NYC, masih banyak orang yang mengantre. Semua orang penasaran dan mau mencoba menu yang kami sediakan,” ucap Omar.

Ketika Warkop NYC buka pertama kali, pengunjung yang datang hampir 80 persen adalah orang Indonesia. Kini, variasi pengunjung sudah berimbang 50:50, antara Diaspora dengan warga lokal.

Ini tentu tidak luput dari liputan media lokal New York, seperti eater dan NY Times. Hal tersebut membuat warga lokal datang dan mencoba. Rata-rata per hari warkop ini bida didatangi 8-100 pengunjung. Jumlahnya bisa naik dua kali lipat saat akhir pekan.

Lalu menu apa yang menarik warga lokal dari Warkop New York ini? Salah satu menu terlaris di Warkop NYC adalah internet. Orang Indonesia sudah tahu dong menu ini singkatan mi instan yang disajikan dengan telur dan kornet. Mereka biasanya makan sambal menyeruput es kopi susu aren.  Selain dua produk itu, Omar dan timnya juga menambah variasi menu baru seperti bubur kacang ijo.

Warkop di New York menyediakan minuman-minuman siap konsumsi yang disukai warga lokal.
Produk ready to drink dari Warkop NYC. Foto: instagram warkop NYC

Meski baru berdiri beberapa bulan, kehadiran Warkop NYC cukup menyita perhatian warga lokal dan menjadi viral di Indonesia. Salah satu keunikan dari Warkop NYC adalah dengan menghadirkan “kearifan lokal” Indonesia, seperti bungkus sachet bubuk minuman yang digantung dan ruangan dengan warna khas warkop pada umumnya.

Tidak ada kursi nyaman khas kafe-kafe modern, pelanggan duduk di kursi plastik yang sering disediakan di warkop-warkop di Indonesia. Praktis dan khas.

Mendapatkan begitu banyak perhatian, Omar ingin apa yang dia capai juga bisa menular kepada pelaku industri kuliner lainnya, khususnya yang ingin membuka restoran di luar negeri. Untuk itu, Omar juga berharap pemerintah Indonesia bisa memberikan dukungan yang lebih baik lagi untuk pelaku bisnis kuliner Indonesia agar semakin berkembang.

Bagi beberapa orang indonesia yang berkunjung kebetulan berkunjung ke kota New York, Warkop NYC kini justru menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat destinasi wisata. Nongkrong di warkop di Big Apple.

agendaIndonesia

*****

Ngopi Luwak di Tegallalang Nomor 1

Ngopi luwak di Tegallalang Bali

Ngopi luwak di Tegallang adalah sebuah kemewahan menikmati Bali. Bagaimana rasanya menikmati kopi di kedai kopi yang menyuguhkan pemandangan saah terasering, deretan cangkir dan keindahan alam.

Ngopi Luwak di Tegallalang

Di Tegallalang, Gianyar, tak hanya hamparan sawah yang banyak diburu para turis. Tak jauh dari daerah Ceking, tempat undakan sawah menjadi pemikat wisatawan, bercangkir-cangkir kopi dan teh turut menggoda untuk dicicipi. Saya pun dibikin penasaran. Salah satu kedainya hanya berjarak 5 menit dari pesawahan tersebut, yakni Bali Pulina Agrotourism. Di halamannya sudah berderet kendaraan. Beruntung masih ada ruang.

Hujan belum lama mengguyur Banjar Pujung Kelod, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang. Memasuki gerbang Bali Pulina, daun-daun pohon kopi dan cokelat pun terlihat begitu segar. Kesejukan amat terasa. Para tamu, termasuk saya, langsung disambut seorang staf. Dengan tenang, staf bernama Budi itu menerangkan proses pembuatan kopi luwak. Sore hari, luwak-luwak sebesar kucing itu asik tidur .

Sawah Terasering di Tegallala ngpatrick craig unsplash

Agrowisata ini mempunyai 20 ekor luwak dengan pakan berupa kopi, mangga, dan pisang. “Diberi jenis kopi arabika yang sudah matang dan seterusnya, binatangnya sendiri yang pilih kopi mana yang mau dimakan,” ujar pria muda tersebut. Tak hanya diajak menonton luwak yang tengah tidur, saya dibawa ke area tempat kopi hasil fermentasi kopi luwak dicuci dan dijemur selama 6-7 hari. “Jika langit mendung, perlu waktu lebih lama,” ucapnya.

Proses selanjutnya mirip kulit ari yang dibuang, kemudian disangrai, yang menjadi sebuah atraksi menarik. Apalagi proses ini dilakukan secara tradisional. Penyangraian dengan penggorengan dari gerabah di atas tumpukan kayu bakar itu berlangsung sekitar 45  menit untuk kopi 1 kilogram. Saat masih hangat, biji kopi langsung ditumbuk dan disaring agar didapat bubuk kopi terbaik.

Perjalanan di agrowisata yang didirikan pada 19 Januari 2011 ini berakhir di ruang santap yang dibuat sederhana seperti warung zaman dulu. Para pengunjung akan mendapatkan delapan cangkir mini yang disajikan di atas nampan kayu. Setiap cangkir berisi teh atau kopi dengan rasa berbeda. Semisal lemon tea, teh jahe, kopi Bali, kopi ginseng, kopi jahe, cokelat, kopi cokelat, dan kopi vanila. Disajikan cuma-Cuma. Hanya, bila ingin mencicipi kopi luwak, secangkirnya dipatok Rp 50 ribu. Selain itu, Anda bisa memesan kopi Bali. Tentu saya tak ingin melewatkan secangkir kopi luwak yang pekat, setelah tubuh disiram hujan sepanjang jalan.

Menyeruput kopi pun ditemani camilan khas Bali, seperti pisang rai dan jaje lukis atau kue lupis. Ada juga pisang goreng. Uniknya, Bali Pulina membuat suasana semakin nyaman. Bukan hanya bangunan dan mebel sederhana model lawas, deck dari kayu pun membuat tamu menikmati alam lebih leluasa.  Deck berbentuk daun itu berada di tiga level yang berbeda. Di sana, para turis berfoto sebelum mencicip kopi dan camilan lain.

Sore itu, Bali Pulina, yang buka pukul 08.00-19.00, benar-benar dipenuhi turis, baik lokal maupun mancanegara, dari berbagai daerah. Sebelum beranjak pulang, saya sempat singgah di kedai khusus oleh-oleh yang menawarkan beragam kopi.  Saya penasaran dengan suguhan dan keberadaan kedai kopi lain saat melanjutkan perajalan ke arah Kintamani. Setelah melewati berbagai agrowisata, akhirnya saya memutuskan singgah di Bhuana Asri Luwak yang baru beroperasi 4 bulan.

Saya disambut Wayan, yang sore itu sudah bersiap pulang. Sebab, kedai kopi yang satu ini hanya buka hingga pukul 5 sore. Namun, dengan sabar, ia mencoba menerangkan agrowisata yang berada di Banjar Tegal Suci, Desa Sebatu, Tegallalang, tersebut.

Seperti halnya di Bali Pulina, di Bhuana Asri saya langsung disuguhin bercangkir-cangkir kecil beragam minuman teh dan kopi. Ada beberapa hal yang berbeda, yang membuat saya kembali mencoba kopi satu per satu. Yang tergolong unik adalah coconut coffee. “Parutan kelapa yang dikeringkan, lalu dicampur gula dan krim,” tutur Wayan, menjelaskan. Rasa kelapa cukup kental membuat kopi tersebut benar-benar berbeda dan unik. Selain itu, ada teh rasa manggis.

Ehmmm…. dengan hawa Kintamani yang semakin sejuk, saya duduk di bangku bambu panjang. Suguhan lain di depan mata adalah bukit hijau. Area untuk duduk dan bersantai tak terlalu luas. Belum disediakan camilan untuk menemani aneka minuman tersebut. Maklum,  pemain baru. Masih ada pilihan kedai lain, seperti Alam Bali Agrowisata dan Alas Harum Agrotourism. l

Rita N./B. Rahmanita/Dok. TL