Jajanan Indonesia, Ini 13 Yang Lezat

Jajanan Indonesia ada beraneka macam, dari yang manis, asin hingga pedas. Foto: shutterstock

Jajanan Indonesia selalu menjadi teman masyarakat Indonesia menikmati hari-harinya. Ada yang sehari-hari ada dan banyak dijual di kedai-kedai kudapan, ada yang khusus tersedia di momen-momen khusus, Imlek, Lebaran, atau Natal.

Jajanan Indonesia

Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki jajanan, makanan kecil atau kudapan khas. Jenis jajanan Indonesia tidak hanya asin, manis, atau pedas, banyak yang menawarkan cita rasa luar biasa memanjakan lidah, juga dilengkapi dengan berbagai varian rasa khas Indonesia yang menggugah selera.

Di negara-negara Barat, jajanan identik dengan makanan penutup. Sementara jajanan Indonesia makanan-makanan ini lebih dikenal dengan kudapan yang bisa dikonsumsi kapan saja, termasuk sebagai camilan.

Jajanan Indonesia bisa ditemui dari Sabang sampai Merauke.
Aneka Jajanan Idonesia yang mengudang selera Foto: shutterstock

Apa saja jajanan Indonesia yang banyak digemari masyarakatnya? Berikut pilihannya:

Klepon

Kudapan khas Nusantara satu ini merupakan kuliner warisan leluhur. Klepon adalah Jajanan Indonesia manis khas Jawa yang terbuat dari tepung beras, pandan, dan juga gula merah di bagian dalamnya. Bentuknya yang bulat kecil diselimuti parutan kelapa memberikan cita rasa gurih di lidah. Kejutannya ada saat kita menggigit klepon, cairan gula Jawa langsung lumer di dalam mulut.

Di Jawa Tegah dan Yogyakarta, makanan ini banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional.

Onde-onde

Onde-onde terkenal sebagai camilan klasik khas peranakan. Kue yang sudah dianggap sebagai jajanan Idonesia ini bentunya menyerupai bola, dengan taburan wijen yang rata di permukaan. Isian onde-onde klasik adalah kacang hijau yang dihaluskan. Namun, kita bisa berkreasi membuat onde-onde isi keju, cokelat, bahkan ubi.

Di Indonesia umumnya onde-onde berbentuk bulat, berwarna coklat dan berlapis wijen. Sedangkan di Padang, Sumatera Barat, onde-onde disajikan dalam bentuk bulat, berwarna hijau, kenyal, ditaburi kelapa, dan di dalamnya ada gula merah cair.

Timpan Pisang Kudapan Aceh shutterstock
Timphan Aceh biasa disajikan saat hari raya. Foto: shutterstock

Kue Timpan Aceh

Kue timphan atau timpan adalah kue tradisional khas Aceh. Kue ini jadi jajanan pasar yang dinikmati orang Aceh sambil minum kopi. Bentuk kue ini pipih, panjang dan dibungkus daun pisang muda.

Di Aceh, timphan umumnya disajikan saat lebaran atau hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Timphan dibuat 1 atau 2 hari sebelum lebaran dan daya tahannya bisa mencapai lebih kurang seminggu. Timphan adalah menu hidangan utama buat tamu yang berkunjung ke rumah saat lebaran. Kini timphan dapat dijumpai di setiap warung kopi Aceh di banyak daerah di Indonesia.

Lemper Ayam

lemper ayam jajanan Indonesia shutterstock
Ketan dengan isian daging mirip dengan bakcang. Foto: shutterstock

Lemper adalah makanan ringan yang terbuat dari  ketan, biasanya berisi cincangan daging ayam dan dibungkus dengan daun pisang. Lemper terkenal di Indonesia dan disantap sebagai pengganjal lapar sebelum memakan makanan utama. Lemper sering dijadikan menu favorit dalam kotak kudapan di antara kue-kue tradisional lainnya.

Jadah Tempe Bacem

Jadah tempe adalah salah satu makanan tradisional khas yang berasal dari Sleman, Yogyakarta. Belum lengkap rasanya datang ke Kaliurang tidak mencicipi makanan ini. Makanan ini tidak akan anda temui di sembarang tempat di kota Yogyakarta karena makanan ini khas Kaliurang dan sangat terkenal hanya ada di sekitar tempat wisata yang berada di lereng Gunung Merapi ini.

jadah tempe mbah carik
Jadah tempe bacem Mbah Cari khas Yogyakarta.

Kue Cucur

Makanan berwarna cokelat dengan bentuk bulat pipih ini merupakan makanan khas Betawi. Perpaduan tepung beras, tepung terigu, dan gula merah merah menghasilkan tekstur padat dan empuk, pinggiran yang renyah, serta rasa yang manis. Agar semakin komplet, kue cucur paling nikmat disantap sambil menyeruput secangkir teh hangat.

Serabi atau Surabi

Di antara jajan Indonesia ada serabi atau beberapa kalangan menyebutnya surabi. Kue serabi merupakan salah satu makanan tradisional yang sangat eksis sampai saat ini. Banyak orang melakukan pengembangan makanan ini dengan beraneka bahan baru. Serabi di Indonesia yang terkenal yaitu serabi Bandung dan serabi Solo.

Ada beberapa hal yang membuat kue serabi dari keduanya berbeda, salah satunya ketebalan kuenya. Serabi bandung lebih tebal daripada serabi solo tetapi serabi solo tidak kalah dari serabi bandung dalam hal rasa.

Bika Ambon

Meskipun ada kata “Ambon”, namun ini bukan berasal dari Ambon atau Maluku melainkan dari Medan, Sumatera Utara. Nama bika ambon muncul karena kudapan ini pertama kali dijual di Jalan Ambon, Medan.

Termasuk kategori kue basah, bika ambon memiliki tekstur kenyal, empuk, dan memiliki pori-pori di bagian dalamnya. Perpaduan antara gula, telur, tepung, dan santan menghasilkan aroma harum yang khas, serta rasa manis yang bikin ketagihan.

Amparan Tatak

Tidak hanya Jawa dan Sumatera, Kalimantan juga punya jajanan khas yang harus dicicipi yaitu amparan tatak. Makanan ini terbuat dari tepung beras, santan, dan pisang yang dikukus selama satu jam. Uniknya, amparan tatak memiliki tekstur lembut dan tidak mudah hancur. Kombinasi rasa gurih dari santan dengan rasa manis dari pisang menghasilkan rasa yang lezat.

Bubur Kampiun

Kudapan khas Indonesia ini agak sedikit berat, yakni bubur kampiun dari Sumatera Barat. Sesuai dengan namanya, kuliner Nusantara satu ini merupakan perpaduan berbagai jenis bubur yang disajikan di dalam mangkuk.

Seporsi bubur kampiun terdiri dari ketan, bubur sumsum, pisang, hingga kacang hijau yang disiram dengan kuah santan. Untuk rasa tidak perlu diragukan, pasalnya bubur kampiun memiliki cita rasa manis nan gurih. Cocok sebagai menu sarapan maupun makanan penutup.

Selendang Mayang

Selendang mayang merupakan minuman. Ini merupakan kuliner khas Betawi yang terdiri dari kue lapis: terbuat dari tepung kanji, gula, dan pewarna makanan.

Kue tersebut dipotong tipis melebar dengan tekstur kenyal saat disantap. Uniknya, potongan kue tersebut akan dicampur dengan gula merah, es batu, lalu disiram kuah santan. Perpaduan tersebutlah yang akan menghasilkan rasa manis, gurih, dan menyegarkan.

Es Goyobod

Varian jajanan menyegarkan khas Indonesia selanjutnya adalah es goyobod. Keunikan dari minuman khas Jawa Barat ini adalah isiannya yang terbuat dari adonan tepung hunkwe, yang dipotong kecil-kecil layaknya jelly bertekstur kenyal.

Secara keseluruhan es goyobod terdiri dari potongan roti tawar, pacar cina, tapai singkong, dan daging buah kelapa, yang disiram dengan kuah santan serta susu kental manis. Saat dicampur perpaduan tersebut menghasilkan rasa gurih, manis, dan menyegarkan ketika disantap.

Es Palu Butung

Bukan hanya di Pulau Jawa, Makassar juga memiliki kudapan khas yang harus dicicipi, yaitu es palu butung. Meskipun terlihat mirip dengan es pisang hijau, namun ada perbedaan yang cukup signifikan dari keduanya.

Buah pisang di es palu butung tidak dibalut tepung, namun pisang hanya dikukus dan langsung disajikan menjadi beberapa potong. Es palu butung biasanya disajikan dengan bubur sumsum, sirup merah, dan es batu.

agendaIndonesia

*****

Kipo, Penganan Kotagede Dari Abad 16

Kipo merupakan warisan kuliner Mataram Islam sejak abad 16.

Kipo rasanya banyak yang belum pernah mendengar nama ini, bahkan sebagian masyarakat Yogyakarta. Padahal ini adalah salah satu kuliner khas Yogyakarta. Makanan ini berukuran tak lebih besar dari ukuran ibu jari orang dewasa.

Kipo

Ya, makanan ini saat ini mungkin hanya dapat ditemui di Kotagede, kawasan yang berada di bagian tenggara wilayah Kota Yogyakarta. Produk ini dibuat dengan bahan lokal seperti tepung ketan, gula kelapa, daging kelapa, dan daun suji. Bahan-bahan baku itu sesungguhnya tak sulit ditemui di pasar-pasar tradisional yang ada di manapun.

Makanan yang memiliki rasa manis dan legit ini cukup banyak digemari tidak saja masyarakat lokal Yogyakarta, Kipo juga disukai oleh wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke kota Pelajar ini. Namun entah kenapa, makanan ini semakin langka.

Kipo merupakan penganan manis yang disukai oleh Sultan Agung.
Kipo di antara pengananan jajan pasar lainnya. Foto: dok. shutterstock

Kalau merunut sejarahnya, makanan ini sudah ada pada abad ke-16. Pada waktu itu, konon kipo menjadi makanan favorit Sultan Agung.

Selain itu, makanan ini memiliki sejarah yang panjang. Makanan ini disebutkan dengan nama “Kupo” dalam Serat Centhini. Dan dipercaya menjadi kudapan favorit raja-raja Mataram Islam. Namun, seiring perjalanan waktu, makanan ini sempat hilang peredarannya sehingga keberadannya sempat dilupakan.

Ya, bahkan kini, meski ada upaya untuk mengangkatnya kembali, ia telah menjadi satu dari banyaknya makanan khas Jogja yang sudah mulai langka. Banyak orang pasti akan sulit menemukan makanan khas satu ini.

Sekarang ini, salah satu yang masih bertahan menjajakan Kipo ini adalah Bu Djito. Ia memang sejak puluhan tahun lamanya menjajakan penganan ini. Lokasinya berada di Jalan Mondorakan Nomor 27, Kotagede. Selain Kipo sebagai menu andalannya, di kios ini juga terdapat aneka camilan yang disajikan dalam etalase.

Kue tradisional ini yang telah ada dari masa kerajaan Mataram Islam ini pernah mengalami masa punah. Bahkan hingga tahun 1940-an orang sudah tidak membuatnya lagi seiiring dengan kebudayaan kerajaan Mataram yang runtuh.

Setelah bertahun-tahun hilang, makanan ini kembali dipopulerkan oleh Mbah Mangun Irono pada tahun 1946 bersama teman-temannya. Namun karena hanya dia yang telaten membuat Kipo, Mbah Mangunlah yang terus berjualan kue tersebut di Jalan Mondokaran yang dulunya menjadi pasar tiban -pasar kaget kalau di Jakarta, saat pagi hari.

Saat Mbah Mangun sudah lanjut usia, usaha kipo-nya kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Paijem Djito Suhardjono. Ia berjualan di depan rumahnya. Sebab jika menunggu hari pasaran, waktu berjualannya hanya lima hari sekali. 

Namun, jika hari pasaran, Paijem membawa kipio ke Pasar Legi di Kotagede. Mungkin karena terbatasnya tempat berjualan ini, pada waktu itu kipo hanya dikenal di kalangan masyarakat kelas bawah saja.

Pasar Legi yang merupakan pasar awal mula penjualan Kipo kini telah berubah wajah menjadi pasar Kotagede. Pasar yang masih menjalanan aktivitas jual beli hingga saat ini. Di pasar ini, kadang ada warga yang ikut berjualan kipo.

Toko dan pasar ini lah yang akhirnya mengenalkan kembali kipo kepada masyarakat Yogyakarta. Paijem dan keluarganya terus mempertahankan usaha kue tradisonal satu ini.

Selain nama kupo dari sejarahnya, ketika dikenalkan kembali ke masyarakat oleh mbah Mangun, banyak pembeli kue yang bertanya seraya menunjuk kue ini, “Iki opo”. Pertanyaan itu dalam Bahasa Indonesia artinya, “ini apa?”

Pertanyaan yang kerap muncul tersebut akhirnya menjadikan lebel kue unik ini dan bisa diterima oleh masyarakat Jogja. “Nah dari awal itulah mungkin mereka yang belum pernah melihat baru itu, oh makanan tradisional yang notabene lucu karena bentuknya yang kecil, orang juga belum pernah merasakan. Mereka kan terus bertanya ‘iki opo’, kemudian tercetus nama kipo,” terang Paijem. 
Kipo memiliki bentuk lonjong, dengan tekstur kenyal, dan juga warnanya yang kehijauan serta isiannya yang terdiri dari parutan kepada dan gula jawa cair. Bahan utama dari kue ini adalah tepung beras yang dicampur tepung ketan. Adonannya kemudian dicampur dengan parutan kelapa, daun suji, dan pewarna hijau alami serta daun pandan. Tujuannya untuk menimbulkan aroma harum khas makanan unik ini.

Adonannya kemudian dicetak pada piring tanah liat lalu dipanggang dengan alas daun pisang. Setelah hampir masak, adonan parutan kelapa dimasukan bersama dengan gula jawa dan dilipat menjadi dua lalu dipanggang lagi hingga matang. Jika diingat lagi mungkin mirip dengan penganan klepon.

Murdijati Gardjito, peneliti di Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, menyebut bahwa kipo adalah jajanan asli Yogyakarta yang tidak terkontaminasi kudapan asing. Kesederhanaan cara pembuatannya juga teknik memasaknya, membuat makanan ini cukup berat harus bersaing melawan kue-kue yang dioleh dengan teknik yang canggih.

Tapi kipo pernah rebound dan menarik perhatian masyarakat. Rasanya kita harus mengagendakan mencicipi kipo jika berkunjung ke Kotagede.

agendaIndonesia

*****

3 Serangkai Palembang: Ampera, Musi, dan Benteng Kuto Besak

Liburan ke Palembang selama 3 hari 2 malam banyak di sekitar sungai Musi.

3 serangkai Palembang, yakni jembatan Ampera, Sungai Musi, dan Benteng Kuto Besak menjadi ikon pariwisata ibukota Sumatera Selatan. Ditambahkan kulinarinya, ia menjadi perjalanan yang menentramkan hati.

3 Serangkai Palembang

Bayangan menikmati Sungai Musi sembari menyeruput kuah pindang sudah terbayang ketika check in di bandara Sukarno Hatta, Tangerang. Penerbangan yang tergolong pendek dari Ibu Kota negeri untuk bisa menjejakkan kaki di wilayah yang dulu merupakan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 ini.

Hanya mengudara tak sampai 60 menit, maka Sungai Musi, Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, dan tentunya sederet hidangan khasnya, bisa mengisi liburan. Ketiga hal memang menjadi tiga serangkai yang lekat dengan Palembang, Sumatera Selatan. Ketiganya berada saling berdekatan.

Begitu menjejakan kaki di Palembang, pengemudi taksi, setelah bertanya tujuan utama, langsung menawari rute perjalanan menyeberangi jembatan Ampera. Jika tak terburu-buru, tawaran ini layak disambut.

Berada di pusat kota, Jembatan Ampera memang menjadi ikon kota ini. Bahkan pernah menjadi kebanggaan Indonesia. Penghubung dua sisi kota itu menyimpan sejarah, karena merupakan hadiah dari Presiden Sukarno untuk masyarakat Palembang. Jembatan yang dibangun pada 1962 dan diresmikan pada 1965 tersebut menggunakan dana hasil pampasan perang Jepang. Berciri warna merah dan memunculkan kerlip keindahan lampu di malam hari.

Berdiam di tepian Sungai Musi memandang jembatan ini menjadi kenangan indah selama di kota tersebut. Apalagi bila menjajal menyusuri Sungai Musi dengan perahu, melihat kesibukan masyarakat di sepanjang tepiannya. Anak-anak yang bermain menikmati sore di Kampung Kapiten, kesibukan umat muslim di masjid yang juga berada di tepian sungai. Sebuah kenikmatan senja yang mengasyikkan dari sini.

Ada pilihan menarik sambil menikmati sore di Sungai Musi, yakni menikmati hidangan di atas rumah makan terapung. Tentunya dengan hidangan khas berupa beragam pindang ikan yang rasanya segar.

Bila ingin hidangan tanpa nasi tapi tetap khas setempat dengan bahan-bahan ikan penghuni sungai, tentunya ada pilihan lain. Apalagi kalau bukan pempek, dan kawan-kawannya. Bisa dengan mudah ditemukan dari pedagang keliling hingga berbagai rumah makan. Pempek dan rekan-rekannya saja sudah cukup banyak pilihan, belum lagi olahan dari ikan lainnya, seperti burgo, laksa, dan celimpungan. Selain itu, ada mi celor yang gurih tapi menggoda. Soal perut, sudah pasti akan terpuaskan selama berlibur di kota ini.

Tak jauh dari Sungai Musi, jangan lupa juga menengok Benteng Kuto Besak yang dulu menjadi pusat Kesultanan Palembang Darussalam, yang diprakarasi oleh Sultan Mahmud Badaruddin I. Benteng ini dibangun pada 1780 dan menjadi saksi perlawanan masyarakat Sumatera Selatan pada masa penjajahan Belanda. Di malam hari, permainan lampu dari benteng tersebut pun membuahkan keindahan tersendiri yang bisa dinikmati ketika berada di tepian Sungai Musi.

Palembang dan sekitarnya menjadi destinasi unggulan yang dijual dalam paket pemasaran pariwisata Indonesia. Ia bergandengan dengan enam destinasi lainnya (Jakarta, Jakarta dan sekitarnya, Palembang dan Sumatera Selatan, Bali, Pulau Komodo, serta Banyuwangi).

Selain kawasan Musi yang biasanya menjadi pilihan utama jalan-jalan, ada destinasi lain yang ditawarkan Palembang, yakni Pasar 26 Ilir. Buat para pemburu kuliner, pasar ini dikenal sebagai sentra makan-makan. Sebuah pasar yang merupakan pusat souvenir dan makanan sehingga wisatawan yang berkunjung ke Palembang dapat dengan mudah membeli oleh-oleh dan mengisi perut.

3 serangkai Palembang, yang layak dicoba pempek Lala di pasar Ilir palembang

Posisinya, lagi-lagi, tak jauh dari Jembatan Ampera, jembatan yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang terpisahkan oleh Sungai Musi. Lokasi pasarnya sesungguhnya tak jauh  dari jembatan, mungkin sekitar 500–an meter, namun jika menggunakan kendaraan roda empat, lalu lintasnya harus sedikit memutar.

Bila wisatawan hendak menyusuri pasar, ada beberapa rekomendasi jenis kuliner dan tempat makan terpopuler yang bisa dipilih. Setidaknya ada tiga pilihan makanan di pasar tersebut: pempek, mi celor, dan es kacang merah.

Pertama, tentu saja, pempek. Jika pengunjung tak fanatik dengan merek tertentu yang sudah kondang di Palembang, seperti Pempek Candy atau Pak Raden, Pasar 26 Ilir adalah sentra pempek. Sepanjang gang pasar itu terdapat penjual pempek. Salah satu yang populer adalah pempek Lala.

Pempek Lala terletak di bagian tengah gang Pasar 26 Ilir, tepatnya di Jalan Mujahidin nomor 23, Talang Semut, Palembang. Warung ini termasuk yang paling ramai saban harinya di antara warung-warung lainnya. Tempatnya tampak seperti bangunan sederhana, meja-kursinya adalah meja-kursi panjang yang terbuat dari kayu. Namun selalu penuh dari pagi sampai sore hari.

3 serangkai Palembang dan menikmati kuliner pempek Lala
Wisata Palembang ke Pasar Ilir dan menikmati pempek Lala.

Pengunjung yang ingin menikmati kuliner pempek Lala harus sabar mengantre. Kadang-kadang antreannya bisa sampai 30 menit. Keunggulan pempek Lala adalah cukonya yang kental dan sangat khas aroma ikannya. Harganya pun murah. Sebutir pempek dibanderol Rp 2.000-an. Bila ingin membawa pulang untuk oleh-oleh, terutama pada masa-masa liburan, sebaiknya pengunjung memesan dulu sehari sebelumnya. Bila langsung datang, mereka umumnya akan kehabisan kardus untuk pengepakan pempek.

Ada pempek, pasti ada es kacang merah. Es ini selalu menjadi teman santap yang cocok bagi penganan berkuah cuko tersebut. Maka itu, di semua warung pempek di Palembang, termasuk Pasar 26 Ilir, pasti tersedia es kacang merah.

Es kacang merah sebenarnya seperti es campur. Hanya, tak ada buah-buahan dalam mangkuk es tersebut. Semua isinya adalah kacang merah. Sedangkan manisnya es kacang merah berasal dari sirup dan susu kental manis. Es kacang merah di hampir seluruh warung di Pasar 26 Ilir dibanderol dengan harga yang sama, yakni Rp 7.500.

Makanan ke tiga yang harus dicoba adalah mi celor. Mi celor menjadi salah satu kuliner idaman para wisatawan saat mengunjungi Palembang. Mi ini biasa disantap untuk sarapan dan makan siang. Di Pasar 26 Ilir, mi celor pun jadi primadona selain pempek dan es kacang merah.

Mi celor merupakan mi kuning dengan kuah santan dicampur dengan kaldu yang kental. Mi kuning yang digunakan untuk memasaknya adalah mi khusus dengan diameter yang lebih besar dibandingkan dengan mi pada umumnya. Mirip penampakannya dengan mi Aceh.

Mi celor dimasak dengan kuah susu. Penyajiannya pun hanya dengan telur rebus dan suwiran ayam. Namun rasanya teramat gurih. Kuliner ini bisa dijumpai di warung HM Syafei di kompleks Jalan Mujahidin, Pasar 26 Ilir.

Lain kali agendaindonesia akan cerita soal pempek, tapi sudah pernahkan Anda berkunjung ke Palembang?

F. Rosana

Nostalgia Pasar Baru Dengan 4 Kulinernya

Nostalgia Pasar Baru dan menikmati kulinernya

Nostalgia Pasar Baru bisa dimulai dengan menjajal empat makanan yang dulu pernah menjadi hit orang Jakarta. Ayo sekali-kali main ke Pasar Baru di Jakarta Pusat, dan nikmati suguhan legendaris di pusat keramaian Jakarta tempo dulu.

Nostalgia Pasar Baru

Bakmi Kelinci

Gang Kelinci, tak hanya ngetop karena ada lagu lawas yang dibawakan penyanyi Lilis Surjani. Tapi juga dikenal karena ada rumah makan yang berdiri sejak 1957, dengan suguhan bakmi. Awalnya, hanya warung kecil dengan gerobak, kini menjadi restoran dengan daya tampung 140 orang dan memiliki delapan cabang di Jakarta.

Salah satu menu favorit, bakmi ayam cah jamur. Semangkuk bakmi kuning yang jumlahnya berlimpah, dipadu dengan suwiran ayam, jamur merang, dan caisim. Tentunya plus kuah dengan dua butir bakso. Kali pertama diseruput, rasa rempah-rempahnya sangat pekat. Sandy, kepala karyawan di Bakmi Gang Kelinci, menyebutkan, kekuatan sajian ini juga terletak pada bakso sapi yang mereka buat sendiri. “Tak pesan di luar, 100 persen isinya daging,” ujarnya. Ditambah pangsit goreng yang renyah. Semangkuk bakmi ayam cah jamur bakso dibanderol Rp 31.500. Jangan lupa memesan jus semangka yang pas disantap bersama hidangan yang gurih ini.

Bakmi Gang Kelinci (Pusat)

Jalan Kelinci Raya Nomor 1-3, Pasar Baru, Jakarta Pusat

Harga makanan Rp 25-40 ribu, minuman Rp 4-16 ribu.

Buka pukul 07.00-21.00

Bakmi Aboen

Tepat di samping Bakmi Gang Kelinci, ada jalan setapak yang hanya muat dilalui satu sepeda motor. Di ujung jalan, terdapat warung makan legendaris Bakmi Aboen. Dari luar, bangunannya khas Cina. Papan namanya berwarna kuning keemasan, terlihat menyala. Di atapnya terdapat patung katak hijau. Menurut warga sekitar, katak itu merepresentasikan kebaikan.

Ruang tak cukup besar, hingga tamu harus rela berbagi meja. Namun justru di sinilah asyiknya.

Para pengunjung mayoritas memesan bakmi non-halal. Namun saya tergoda bakmi ayam jamur—semangkuk mi, lengkap dengan cacahan daging ayam, sawi hijau, dan jamur merang. Ditambah pangsit rebus daging babi dengan tekstur yang kenyal. Semangkuk bakmi ayam dihargai Rp 25 ribu dan pangsit kuah setengah porsi (berisi lima) dibanderol Rp 15 ribu. Cocok disantap bersama es kelapa jeruk nan segar seharga Rp 21 ribu.

Bakmi Aboen

Belakang Kongsi Nomor 16, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Harga bakmi Rp 27.500-44 ribu.

Buka pukul 07.00-20.00 (Senin-Sabtu)

Pukul 07.00-17.30 (Minggu)

Nostalgia Pasar Baru dan nikmati kulinernya seperti Eskrim Tropik

Es Krim Tropik

Lelah menyusuri pertokoan, saatnya mencicipi es krim legendaris di RestoranTropik. Tak jauh dari gerbang utama Pasar Baru, menurut Mayti Imelda, anak Hartono—pendiri restoran— nama resto dipilih sesuai dengan iklim di Indonesia. Tak ada papan nama di depannya. “Papan namanya memang sedang kami lepas. Pelanggan sudah tahu karena restoran kami tak pernah berpindah tempat,” tutur Mayti. Tempat es krim legendaris ini hadir sejak 1950-an. Menu utamanya tutty frutty, es krim berbentuk balok yang bermuatan cokelat, moka, dan vanila. Sayangnya, sewaktu saya mampir, menu andalan itu sedang habis. Maklum, mereka membuatnya tak dalam jumlah besar. Hanya lima hari sekali Mayti dan dua saudaranya memproduksinya, berhubung tanpa menggunakan pengawet.

Alhasil, saya memesan combinasi, berupa tiga scoop es krim vanila, teh hijau, dan stroberi. Dipermanis dengan wafer cokelat dan buah kaleng. Teksturnya terasa lembut dengan stroberi yang kental. Manisnya pun tak berlebihan. “Ya, memang, karena susunya murni, langsung dari peternak sapi,” ujar Mayti. Bahan alami inilah yang membuat es krim gampang mencair. Hanya beberapa menit, bunga-bunga es berubah menjadi air susu, tapi tetap enak dinikmati. Sayangnya, rasa teh hijau dan vanilanya tak sekuat stroberi. Es krim combinasi dijual Rp 38 ribu, sedangkan satu scoop es krim plus buah dihargai Rp 28 ribu. Selain es krim, tersedia menu Indonesia dan Oriental, seperti cap cay dan gado-gado.

Restoran Tropik

Kompleks Pasar Baru 28A, Jakarta Pusat

Harga es krim Rp 18-38 ribu, harga makanan Rp 12-45 ribu

Buka pukul 10.00-20.00 (Senin-Sabtu) dan 10.00-16.00 (Minggu)

Cakue Ko Atek

Ada sebuah lapak mungil berukuran sekitar 2×4 meter bercat hijau yang ramai dikerumuni orang. Mereka sedang menunggui laki-laki berusia 60-an mengulur-ulur adonan tepung. “Sreeng…” begitu bunyinya kala Koh Atek, pemilik warung, mencelupkan adonan ke minyak panas. Yang satu ini memang tak terlalu lawas karena bisnis keluarga ini dimulai pada 1971. Tapi termasuk yang banyak diburu.

“Cakue ini rahasianya ada di kualitas tepung sama tarikannya. Sayangnya, belakangan ini kualitas tepung menurun. Padahal mereknya sama,” tutur Koh Atek. Saya kemudian mencicipi penganan yang dijual Rp 4.000 per buah itu. Kulitnya garing, tapi dalamnya basah dan empuk saat dikunyah. Ketika ditambahkan saus sambal, saya makin tahu kenapa cakue ini amat terkenal. Sausnya memang tak biasa, pedas, gurih, dan asin jadi satu. Cakue dijual dengan kue bantal. “Menurut tradisi Cina memang begitu, enggak boleh dipisah antara cakue dan kue bantal. Tidak elok namanya,” ucapnya.

Cakue dan Kue Bantal Koh Atek

Gang Kelinci, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Buka pukul 07.00-16.00

Harga cakue dan kue bantal Rp 4.000

F. Rosana/Charisma A./Dok. TL

Sei Sapi NTT, Daging Asap Jawara API 2020

Sei sapi NTT (Nusa Tenggara Timur) menjadi makanan tradisional dari Indonesia terpopular dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 yang diumumkan akhir Mei 202 lalu. Dalam puncak acara pengumuman para pemenang yang dipusatkan di Hotel Inaya Bay, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sejumlah potensi wisata di provinsi tersebut memenangi kategorinya.

Sei Sapi NTT

Anugerah Pesona Indonesia atau API 2020 merupakan rangkaian kegiatan tahunan yang diadakan untuk membangkitkan apresiasi masyarakat terhadap pariwisata di Indonesia. Kegiatan ini sekaligus mendorong peran serta berbagai pihak, terutama pemerintah daerah, untuk lebih berupaya mempromosikan pariwisata di daerah masing-masing. Sei sapi sendiri menang sebagai makanan tradisional terpopular.

Sei sapi sendiri merupakan salah satu sajian khas Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya Kabupaten Rote Ndao. Dilansir dari situs resmi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ‘sei’ sendiri dalam bahasa Rote artinya daging yang disayat dalam ukuran kecil memanjang. Daging ini kemudian diasapi dengan bara api. Biasanya kayu yang dipakai untuk asap apinya untuk memanggang adalah kayu pohon kesambi.

Sepanjang dua tiga tahun terakhir, popularitas masakan daging sei sapi meluas tidak saja di kawasan Nusa tenggara Timur, namun juga hingga Jakarta dan sejumlah kota lain di Indonesia. Ia langsung saja menjadi makanan berbahan sapi yang popular. Mulai menyusul popularitas rendang dan sate.

Lalu, kapan sesungguhnya sei sapi mulai dibuat oleh masyarakat NTT? Hingga saat ini belum ada penjelasan yang pasti mulai kapan pengolahan daging menjadi sei ini dimulai. Namun, diketahui jika sei merupakan teknik memasak tradisional yang dilakukan selama berhari-hari oleh suku Molo, masyarakat Kepulauan Timor, atau kini Nusa Tenggara Timur, khususnya wilayah pulau Timor Barat dan Timor Tengah Selatan. Suku Molo tinggal di Pegunungan Mutih, pulau Timor di wilayah Tengah Selatan.

Sei menggunakan teknik mematangkan daging dengan menggunakan arang yang diletakkan jauh dari tempat pemanggangannya. Jarak daeging dan bara api bisa mencapai dua meter. Tujuannnya, daging bisa masak tanpa ada aroma asap yang merasuk ke dalamnya.

Tungku untuk bara api posisinya terpisah dengan tempat mematangkan daging. Sementara bara api harus terus menyala tanpa dikipasi agar tidak menghasilkan asap. Supaya bara pada arang awet, Suku Molo menggunakan kayu kosambi yang tebal dan besar. Mereka juga menggunakan daun kosambi sebagai penutup daging agar matang sempurna. Daun kosambi berfungsi sebagai penahan panas saat daging sedang disei sekaligus menjaga rasa dan warna asli daging.

Awalnya, masyarakat setempat menggunakan daging babi hutan untuk membuat sei. Salah satu yang dikenal adalah sei babi dari Teunbaun, daerah yang terletak kurang lebih 40 kilometer dari Kupang.

sei sapi NTT keluar sebagai jawara pada Anugerah pesona Indonesia 2020 sebagai makanan terpopular.
Masakan berbahan sei sapi dari Nusa Tenggara Timur yang sudah dimasak bergaya kekinian. Foto: Dok. shutterstock

Seiring berjalannya waktu, masakan ini mengalami asimilasi. Masyarakat pendatang di NTT mengganti daging babi dengan daging sapi agar halal dan bisa dikonsumsi lebih banyak orang. Selain menggunakan daging sapi, kini bahan sei juga banyak yang menggunakan daging ayam hingga ikan.

Lewat proses seperti diceritakan di atas, daging sei punya keunikan tersendiri, selain aroma dan rasanya yang khas, pengolahan dengan cara tersebut membuat daya tahan dagingnya lebih lama. Dengan demikian, daging bisa awet disimpan lebih lama.
Sei yang asli diasap tanpa menggunakan garam. Alasannya, Suku Molo yang tinggal di wilayah pegunungan tidak mengenal garam. Garam dibawa orang pesisir. Untuk rasa, pada awalnya sei biasanya dihidangkan dengan sambal khas NTT yang disebut sambal luat, ini terdiri dari irisan bawang putih, bawang merah, dan cabai.


Secara otentik, sei sapi kian lezat jika disantap bersama jagung olahan khas Pulau Timor, yaitu jagung bose. Namun di restoran-restoran di perkotaan atau masakan sei yang sudah sampai pulau Jawa, sei dinikmati bersama nasi daun jeruk dan sambal luat. Bahkan tak sedikit restoran-restoran sei di Jawa yang mengolahnya menjadi masakan beraneka. Tertarik?

Jika kebetulan mampir di Kupang, NTT, dan ingin mencicipi sei sapi, berikut pilihannya. Bagi yang muslim, ada baiknya bertanya dulu soal pilihannya.

Sei Oom Bai; Desa Baun, 25 kilometer dari Kupang

Restoran Bambu Kuning; Jl. Perintis Kemerdekaan No. 1, Kupang

Restoran Aroma, Jl. Shooping Center, Fatutuli, Kupang

agendaIndonesia

*****

Cabuk Rambak, Irisan Kupat Dalam 1 Pincuk

Cabuk Rambak menjadi kuliner Solo yang semakin langka. Foto: shutterstock

Cabuk rambak mungkin semakin dilupakan orang. Bagi kebanyakan orang, kuliner ini mungkin begitu sederhana: irisan ketupat tipis-tipis yang diletakkan pada pincuk daun pisang dan disiram dengan saus kacang wijen.

Cabuk Rambak

Bagi mereka yang sering menikmati masakan-masakan tradisional dengan resep-resep yang cukup rumit, cabuk rambak praktis bukan pilihan utama. Ia bahkan lebih sederhana dibandingkan dengan ketupat tahu di Magelang atau ketupat opor.

Namun, cabuk rambak punya ikatan sejarah yang panjang dengan masyarakat kota Solo. Dari cerita sejumlah pedagang makanan ini yang juga semakin sedikit, cabuk rambak berawal dari kuliner di dalam Kraton Surakarta. Awalnya ini adalah makanan sela yang ringan, namun cukup untuk mengisi perut.

Dulu sekali, makanan ini dijajakan ketika berlangsung Sekaten di alun-alun Kraton. Ada pedagang yang berjualan khusus ini selama sebulan, lantas menghilang ketika Sekaten selesai.

Bisa jadi karena kesederhanaan tampilan dan cara membuatnya, membuat makanan ini tidak cukup popular untuk masyarakat luar Solo. Kalah pamor dibandingkan dengan selat Solo, sate buntel, atau thengkleng kambing.

Makanan tradisional ini memang tergolong mulai langka di Kota Solo. Hanya di tempat-tempat kuliner maupun dipasar-pasar tradisional yang akan dapat pengunjung jumpai makanan ini.

Nama cambuk rambak memang terdengar sedikit aneh, bumbu dan bahan yang digunakan juga cukup unik. Penyajiannya, seperti disebut di muka,  memiliki ciri khas sendiri, yaitu menggunakan daun pisang yang dibentuk atau lebih sering dikenal dengan nama pincuk. Satu porsi makanan ini berisi irisan ketupat yang disiram saus berwarna cokelat pucat.

Cabuk Rambak berasal dari kata “Cabuk” dan “Rambak”. Cabuk mengacu pada wijen yang merupakan bahan u2782tama saus atau bumbunya. Sedangkan Rambak sejatinya adalah krupuk yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau.

Pada awalnya, dulunya cabuk rambak ini memang dihidangkan bersama krupuk kulit atau rambak. Namun, karena harga rambak semakin mahal maka krupuk kulit ini diganti dengan krupuk nasi (karak) yang kemudian krupuk nasi ini juga disebut dengan nama “Rambak”.

Satu porsi cabuk rambak berisi irisan ketupat yang disiram saus berwarna cokelat pucat, terbuat dari wijen dan parutan kelapa yang disangrai. Rasa cabuknya sendiri cenderung gurih.

Saos  wijen atau yang disebut dengan cabuk adalah campuran dari wijen yang disangrai serta kelapa muda yang diparut. Kedua bahan itu dimasak dengan ditambah bumbu yang dihaluskan, yaitu daun jeruk purut, bawang putih, kemiri, kencur, lada bubuk serta gula dan garam. Cara memasak saos tersebut dengan menambahkan air dan mengaduknya hingga saos mengental.

Cabuk artinya ampas wijen yang telah diambil minyaknya. Akan tetapi cabuk yang digunakan saat ini sebagai saos adalah wijen utuh tanpa diambil minyaknya terlebih dahulu. Ini karena saat ini sudah jarang orang yang membuat minyak wijen secara tradisional sehingga cukup sulit mencari ampas wijen.

Saat berkunjung ke Solo, wisatawan wajib mencicipi kuliner tradisional yang makin susah ditemui ini. Umumnya, cabuk rambak bisa ditemukan di penjual nasi liwet. Buat penjajanya sendiri, mungkin perlu ada modifikasi dari resepnya. Misalnya, ada tambahan telur pindang atau irisan tahu dan tempe bacem. Ini agar cabuk rambak tak berhenti menjadi pilihan kuliner saat wisatawan mampir ke Solo.

Bila ada yang berkunjung ke Solo dan ingin mencicipi masakan tradisional ini, cobalah menujulah kami ke kawasan Jalan Yos Sudarso. Menjelang malam, penjual nasi liwet dan cabuk rambak berjejeran di sepanjang jalan ini.

DI sana pengunjung bisa juga datang ke Bu Parni Nasi Liwet Dan Cabuk Rambak. Tempat ini buka mulai jam 5 sore hingga lewat tengah malam. Berada di emper jalan, tempatnya biasanya selalu penuh terutama jika akhir pekan. Jika tidak terlalu ingin menikmati malam, bisa beli dibungkus dan dinikmati di penginapan atau hotel.

Tempat lain yang juga menjual cabuk rambak adalah Warung Lesehan Cabuk Rambak Bu Tuminah. Lokasinya di Jalan Menteri Supeno, Stadion Manahan, dan buka mulai pagi menjelang siang. Sekitar pukul 11.

Pilihan lainnya adalah Cabuk Rambak Bu Sastro di Jalan Untung Suropati, Pasar Kliwon. Yang ini biasanya justru buka pada pagi hari. Sehingga cocok untuk sarapan sambal jalan-jalan pagi.




agendaIndonesia

*****

Kuliner Nasi Gurih, 8 Yang Khas dan Enak

Kuliner nasi gurih di Indonesia bergitu beragam, berikut 8 macam yang popular.

Kuliner nasi gurih di Indonesia sangat banyak, dari berbagai macam daerah ada yang memiliki masakan jenis ini. Mulai dari Aceh hingga Indonesia Timur. Di Jawa Barat dan Tengah rasanya banyak ragamnya.

Kuliner Nasi Gurih

Hal ini terjadi karena hampir setiap masakan di Indonesia pasti disajikan dengan nasi. Wajar saja karena nasi menjadi salah satu makanan pokok sebagian masyarakat Indonesia. Menariknya, setiap daerah di Indonesia memiliki berbagai macam olahan nasi dengan cita rasa khas yang menggugah selera. Salah satu olahan nasi populer di Indonesia adalah nasi gurih.

Nasi gurih adalah nasi yang dimasak dengan santan, dan dicampur berbagai rempah-rempah berkualitas khas Indonesia. Sehingga menghasilkan rasa nasi yang gurih dan beraroma harum.

Meskipun ada banyak jenis kuliner nasi gurih di Indonesia, namun setiap daerah seakan punya keunikan dan ciri khas dari olahan nasi gurih yang disajikan. Bahkan kita tidak akan menemukan nasi gurih yang sama di daerah lain.

Kuliner nasi gurih bisa dinikmati untuk sarapan, maka siang, hingga makan malam.
Nasi Uduk Betawi sangat dikenal oleh masyarakat. Foto: DOk. shutterstock

Nasi Uduk Betawi

Salah satu kuliner nasi gurih khas Betawi yang cukup populer. Dimasak dengan santan, daun salam, serta berbagai bumbu dan rempah khas Indonesia, sehingga nasi uduk memiliki cita rasa gurih dan lezat.

Sama halnya dengan nasi putih biasa, nasi uduk bisa disantap dengan berbagai macam lauk, seperti orek tempe dan sambal kentang. Namun, ciri khas nasi uduk khas Betawi adalah paduan lauk semur jengkol dan empal yang siap menggoyang lidah sejak suapan pertama. Ciri khas lainnya adalah sambal kacang sebagai penambah selera.

Nasi Ulam

Selain nasi uduk, olahan kuliner nasi gurih khas Betawi yang tidak kalah populer adalah nasi ulam. Perbedaan nasi ulam dan nasi uduk ada pada proses memasaknya, yakni tidak menggunakan santan.

Untuk memberikan rasa lezat, harum, dan gurih, nasi ulam dimasak dengan campuran serai, jahe, lengkuas, dan daun salam. Ciri khas nasi ulam disajikan dengan taburan bubuk kacang tanah, serundeng, bihun, kemangi, emping, serta berbagai lauk lainnya seperti telur, tahu, tempe, dan perkedel.

Nasi Liwet Solo

Kuliner nasi gurih selanjutnya adalah nasi liwet. Ada dua versi nasi liwet yang bisa dicoba, yaitu nasi liwet versi Sunda dan nasi liwet versi Solo.

Nasi liwet versi Sunda biasanya dimasak langsung dengan ikan teri asin, cabe merah, dan pete, serta berbagai bumbu dan rempah-rempah. Lauknya juga sangat beragam, mulai dari tahu, tempe, ayam goreng, dan lalapan.

Sementara itu nasi liwet khas Solo nasinya dimasak tanpa ikan asin. Sebagai pelengkap, nasi liwet khas Solo disajikan bersama telur areh, sayur labu siam, dan ayam suwir yang telah diungkep.

Penyajiannya pun berbeda, biasanya nasi liwet khas Sunda disajikan di panci kastrol, sedangkan nasi liwet khas Solo disajikan di pincuk daun pisang.

Nasi Kuning

Jenis nasi gurih yang tidak kalah lezat berikutnya adalah nasi kuning. Perbedaannya dengan nasi gurih lainnya adalah nasi kuning dikukus pakai santan, serai, dan campuran kunyit untuk memberikan warna kuning cerah.

Sebagai pelengkap, nasi kuning disajikan bersama lauk kering kentang balado, telur rebus, dan ikan masak kecap atau sambal. Nah, menariknya nasi kuning juga kerap dijadikan sebagai nasi tumpeng dengan berbagai macam lauk, yang melambangkan kemakmuran dan kekayaan. Ada beberapa daerah yang memiliki sajian nasi kuning, seperti Samarinda dan Balikpapan di Kalimantan Timur, juga Makassar di Sulawesi Selatan.

Nasi Tutug Oncom

Jauh berbeda dengan kuliner nasi gurih lainnya, nasi tutug oncom khas Jawa Barat tak kalah lezat. Perpaduan antara nasi hangat yang dicampur oncom menghasilkan cita rasa yang unik. Semakin nikmat ditambah bawang goreng, irisan telur dadar, sambal terasi, dan ikan asin!

Bagi yang belum tahu, oncom adalah makanan fermentasi yang terbuat dari campuran kapang, bungkil kacang tanah, serta ampas tahu, kedelai, dan kelapa.

Nasi Jamblang Cirebon shutterstock
Nasi gurih khas Cirebon adalah nasi Jamblang. Foto: dok. shutterstock

Nasi Jamblang

Masih dari Jawa Barat, tepatnya daerah Cirebon. Kalau diamati, sebenarnya nasi jamblang mirip dengan nasi pada umumnya, yang disajikan dengan sambal goreng, tahu, tempe, perkedel, hingga sate jeroan.

Hanya saja, salah satu ciri khas dan pembeda nasi jamblang dengan nasi gurih lainnya terletak di penyajiannya, yaitu dibungkus menggunakan daun jati. Sehingga, akan menghasilkan rasa yang lebih gurih dan wangi pada nasinya.

Nasi Timbel shutterstock

Nasi Timbel

Perbedaan nasi timbel dengan nasi gurih lainnya ada pada proses memasaknya. Nasi timbel dimasak dengan cara dikukus dengan berbagai bumbu rempah dan dibungkus daun pisang.

Kuliner yang banyak ditemukan di tataran Sunda ini disajikan dengan ayam goreng, sayur asem, sambal terasi, dan tak lupa lalapan. Perpaduan nasi gurih, lauk yang lezat, serta sambal terasi pedas menyatu sempurna dan bikin ketagihan.

Nasi Guri Aceh

Aceh juga memiliki kuliner berupa nasi gurih yang disebut bu guri. Seporsi nasi gurih khas Aceh atau bu guri adalah nasi yang dimasak dengan santan dengan tambahan bumbu dari rempah-rempah. Karenanya rasanya menjadi gurih dan aromanya rempahnya kuat.
Untuk lauknya, nasi gurih disajikan dengan kering kentang, kacang goreng, rendang, ayam tangkap, tumisan sayur, sambal dan lainnya. Nah, nasi gurih banyak ditawarkan oleh warung makan dan restoran Aceh.

Bagaimana, sekarang sudah bisa membedakan berbagai macam kuliner nasi gurih khas Indonesia, bukan?

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Camilan Kecil Bagansiapiapi, 3 Yang Khas

Kue Denderam

Camilan kecil Bagansiapiapi bisa menjadi pilihan untuk dinikmati ketika Anda mampir ke kota ini menikmati atraksi budaya Bakar Tongkang tiap tahunnya.

Camilan Kecil Bagansiapiapi

Bagansiapiapi, sebuah kota tua di muara Sungai Rokan, pesisir utara Kabupaten Rokan Hilir, Riau, yang menyimpan berlaksa hikayat, menjadi saksi mata masuknya aktivitas perdagangan dari negeri seberang ke Nusantara. Alkisah, di kota ini pula, akulturasi menjadi sebuah peristiwa yang melahirkan berbagai fenomena kultural. Peninggalan tempo dulu—tak hanya gedung—kuliner pun masih banyak tertinggal.

Si Legit dari Semenanjung Malaysia

Pada 1910-1918, Inggris membawa para pekerja perkebunan karet dan pertambangan timah dari India Selatan menuju Malaysia. Sebuah artikel yang dimuat media The Star menyebut, masuknya kaum buruh ke tanah Melayu pada masa itu meninggalkan beberapa warisan yang masih terlacak sampai sekarang, salah satunya kuliner. Yang populer dan mudah ditemui di berbagai tempat adalah kuih atau kue denderam.

Kue ini bak penganan egalitarian yang umum disantap siapa pun, mulai pekerja akar rumput hingga kaum bangsawan. Pada masa lampau, masyarakat menyebutnya sebagai kuih keling lantaran warnanya tampak cokelat berkilau. Bahkan, penyebutan itu masih digunakan sampai si keling bercita rasa legit ini masuk ke daratan Sumatera bagian tengah melalui sebuah daerah kecil bernama Bagansiapiapi. Lantaran diduga merujuk pada kaum tertentu, penamaan kue keling berangsur-angsur tak lagi digunakan. Maka itu, penamaannya memakai julukan semula, yakni denderam.

Denderam, seperti yang berasal dari tanah asalnya, menjadi penganan wajib yang harus disantap kalau wisatawan datang ke Riau, khususnya Bagansiapiapi. Kue yang terbikin dari gula merah dicampur dengan tepung beras itu adalah bukti nyata terjadinya akulturasi budaya antara Melayu, India, dan Chinese di tanah Bagan. Salah satu penjual denderam yang masih eksis hingga kini, Lisa, menjelaskan, bahan untuk mengolah serta cara memasak denderam tak boleh main-main.

Ia mencoba membikin kue berbentuk bunga lima jari sesuai dengan resep asli. “Harus pas betul komposisi gula dan tepungnya. Gula harus lebih banyak daripada tepung,” katanya kala ditemui Travelounge di Bagansiapiapi beberapa waktu lalu. Bentuk pun tak diubah. Selain karena tak ingin kehilangan keaslian, Lisa pingin pembeli merasakan betul sensasi menyantap kue denderam menyerupai yang dijual di tempat asalnya. Pun, menilik sejarahnya, ia menghormati keberadaan kue yang dulunya dimasak untuk upacara-upacara keagamaan itu. Sebiji kue dihargai Rp 1.000.

Kue Denderam Lisa

Kampung Ramadan (khusus Ramadan), Jalan Merdeka, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 16.00-19.00

camilan kecil Bagansiapiapi seperti kue KasmaKue Kasma
Kue Kasma khas bagansiapiapi.

Kasma, Kue dari Tanah Si Panda

Tak cuma menjual kue bergaya fusi, Lisa juga menjajakan penganan khas peranakan. Salah satunya kue kasma. Lantaran masyarakat Bagansiapiapi mayoritas dihuni warga Tionghoa, menu-menu camilan ringan pun banyak yang berbau Negeri Bambu, seperti yang mengandung kacang hijau. Begitu juga dengan kasma.

Kue ini komplemen utamanya memang polong-polongan. Hal itu terbukti dari penampilan luarnya. Lisa menjelaskan, kasma, yang berbentuk bulat pipih, terbikin dari pulut yang direbus, lalu dikukus, lantas dilumuri dengan tepung panir dan bubuk kacang hijau. Bagian dalamnya tak kalah. Isinya tak lain tak bukan ialah kacang hijau yang diolah bercampur gula merah. Teksturnya lembut sekaligus kenyal, hampir mirip dengan sagu yang dimasak.

Manisnya kasma, kata Lisa, cocok disantap sambil menyeruput teh kala sarapan atau menikmati sore di beranda. Tentu mirip dengan budaya masyarakat Tionghoa yang gemar meminum teh hijau. Apalagi, suasana di Bagansiapiapi yang kental ciri peranakannya membawa ingatan pada kota lama Taiwan yang lekat dengan romansanya. Kue kasma tak kalah murahnya dengan denderam, yakni Rp 1.000.

Kue Kasma Lisa

Kampung Ramadan (khusus Ramadan), Jalan Merdeka, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 16.00-19.00

Udang Bagan di Balik Tepung dan Obrolan Hokkien

Lohan Ki tengah mengaduk-aduk adonan tepung berisi kangkung, bawang putih, jeruk nipis, dan udang Bagan kala kami sampai di kedai bergaya arsitektur Tionghoa kuno miliknya. Setumpuk heci yang baru mentas dari penggorengan mendarat di meja sebelah perempuan paruh baya berwajah peranakan itu. “Sebentar, pesanan banyak, antre ya,” tuturnya. “Mau lim (minum) kopi dulu ha?” katanya dengan logat Hokkien. Saya lantas mengiyakan sembari menunggu gorengan yang katanya legendaris ini tersedia.

Kasman, profesor sekaligus pegiat budaya yang mengajak kami berkeliling Bagansiapiapi, mengisahkan betapa kesohornya warung yang sudah belasan tahun itu berdiri. Pantas saja, setiap hari, deretan kursi di kedai selalu penuh oleh warga, yang datang sekadar untuk mengicip heci dan menyesap seseruput kopi Bagan. “Apa bedanya heci di sini dengan bakwan di Jawa Tengah atau ote-ote di Jawa Timur?” tutur Kasman, mengetes. Berbarengan dengan pertanyaan yang membikin bingung itu, sepiring gorengan tepung yang telah dipotong kecil-kecil berbentuk dadu dihidangkan. “Ini jawabannya,” kata Kasman sembari menusuk udang yang terpisah dengan tepung.

 Ya, menurut akademikus itu, yang membikin spesial adalah aroma udang asli Selat Malaka yang gurih bercampur aroma bawang dengan karakternya yang kuat. Belum lagi gorengannya yang kering, namun menyisakan tekstur juicy di bagian dalamnya. Dominasi rasa yang kaya bumbu dan cara masak yang tepat membikin heci terasa tak sia-sia masuk mulut. Sepiring heci bisa disantap beramai-ramai bersama teman nongkrong. Pun harganya sangat murah, yakni Rp 20 ribu. Sembari mengunyah penganan yang renyah itu, obrolan-obrolan dengan irama Hokkien memenuhi ruangan. Suara racikan kopi dengan penyeduhan bergaya tarik dengan teko-teko tradisional turut menjadi irama yang merdu.

Heci Lohan Ki

Jalan Perdagangan, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 18.00-00.00

F. Rosana

Dawet Ayu Banjarnegara, Minuman Juara API 2020

Dawet Ayu Banjarnegara tahun ini keluar sebagai juara kategori minuman dalam API 2020.

Dawet Ayu Banjarnegara menjadi minuman tradisional juara Anugerah Pesona Indonesia 2020 atau API 2020. Ia mengalahkan Kopi Semendo dari Kabupaten Muara Enim di Sumatera Selatan yang sedang naik daun dan Air Mata Bejando dari Kabupaten Pelalawan di Provinsi Riau yang mulai dikenal masyarakat.

Dawet Ayu Banjarnegara

API 2020 menobatkan dawet ayu sebagai minuman tradisional terpopuler di Indonesia. Ini adalah kuliner jenis minuman yang berasal dari Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Agung Yusianto, kepada tempo.co, mengatakan bahwa kemenangan dawet ayu membuktikan minuman tradisional ini cita rasanya diterima masyarakat Indonesia. Tidak saja bagi masyarakat Banjarnegara di mana minuman ini berasal, tapi juga secara luas di lidah masyaeakar dari daerah lain.

Pengumumnan pemenang Anugerah Pesona Indonesia 2020 sendiri berlangsung di Hotel Inaya Bay Komodo, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis 20 Mei 2021 malam. Tak hanya menyandang predikat sebagai minuman tradisional terpopuler, menurut Agung, dawet ayu juga menjadi juara favorit Pesona Indonesia 2020 .

Agung berharap penghargaan terhadap dawet ayu di API 2020 ini menjadi mendorong dan menginspirasi para pelaku usaha kuliner dan UMKM di Banjarnegara untuk terus berkreasi dan berkembang. Ia juga diharapkan makin memperkenalkan Banjarnegara ke seluruh Indonesia.

Dawet Ayu Banjarnegara menjadi juara favorit dalam anugerah Pesona Indonesia (API) 2020.
Dawet Ayu Banjarnegara dijual dengan cara gerobak atau pikulan. Foto: Dok. unsplash

Meskipun baru menang di API 2020, dawet ayu Banjarnegara, Jawa Tengah, ini sesungguhnya sudah lama dikenal masyarakat hampir di seluruh Indonesia. Bahkan minumannya sudah beredar di banyak kota di Indonesia. Mengutip harian Kompas, penyebaran dawet ayu ke sejumlah daerahini  terjadi karena ada mobilisasi masyarakat Jawa Tengah pada 1980-an ke banyak wilayah.
Penyebaran ini terjadi karena perpindahan alamiah, maupun adanya program transmigrasi pada masa itu. Orang-orang Banjarnegara dan Banyumaslantas  diduga membuat dawet di tempat tinggal baru mereka. Dari sanalah kemudian dawet ayu Banjarnegara bisa terkenal. Penjual dawet ayu di daerah-daerah itu belum tentu dari Banjarnegara, tetapi nama produknya tetap dawet ayu khas Banjarnegara.

Lalu dari mana asal muasal minuman dawet ayu ini bermula sesungguhnya? Apa pula bedanya dengan es cendol yang juga dikenal oleh banyak orang.

Asal usul dawet ayu masih simpang siur dan punya banyak versi. Salah satu versinya menyebut, dawet Banjarnegara bisa popular konon berawal dari lagu yang diciptakan seniman Banjarnegara bernama Bono. Lagu berjudul “Dawet Ayu Banjarnegara” ini dipopulerkan kembali oleh Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol pada 1980-an. Grup ini terkenal di Karesidenan Banyumas pada era 1970-1980-an.

Selain versi tersebut, ada pula versi sastrawan asal Banyumas, Ahmad Tohari, yang mengatakan bahwa berdasarkan cerita tutur turun temurun, ada sebuah keluarga yang berjualan dawet sejak awal abad ke-20.
Sementara soal pembuatannya, ss dawet dibuat dari rebusan tepung beras. Sedangkan warna hijaunya diperoleh dari perasan daun pandan. Ada pula yang menyebut warna hijau itu dibuat dari daun suji.

Secara umum proses produksinya mirip dengan pembuatan cendol. Mungkin orang senang membandingkan ke duanya, selain bentuknya mirip, juga karena popularitas lagu campur sari milik almarhum Didi Kempot. “Cendol, dawet, cendol, dawet…” sepotong syair lagu Pamer Bojo milik Didi yang populer dikalangan sobat ambyar, sebutan bagi penggemar pemusik ini.

Dawet Ayu Banjarnegara secara tampilan mirip dengan Cendol yang banyak dkenal masyarakat di Jawa Barat.
Minuman Es Cendol di Jawa Barat yang tampilannya mirip dengan es Dawet Ayu. Foto: Dok. Unsplash

Minumannya sendiri, secara sekilas jika dilihat, cendol dan dawet ini tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama dihidangkan dengan larutan gula merah sebagai pemanis dan diguyur dengan santan cair. Begitupun, oleh para pemerhatu kulinari, ada perbedaan yang menonjol antara cendol dan dawet, yakni bahan bakunya. Cendol dan dawet sama-sama terbuat dari tepung, tetapi meggunakan jenis tepung yang berbeda. Namun, campurannya sama, pemanisnya menggunakan gula kelapa, dan santannya alami dari perasan buah kelapa segar.
Beda dengan dawet, cendol menggunakan tepung kacang hijau atau hunkwe.
Es cendol sendiri disebut-sebut berasal dari kata jendol, yang dalam bahasa Sunda artinya jendolan. Hal ini merujuk pada tekstur butiran cendol yang bentuknya tak beraturan. Asal ke dua minuman yang mirip ini ternyata yang berbeda. Jika dawet ayu dari Banjarnegara, Jawa Tengah, sedangkan cendol berasal dari Jawa Barat.

Para penjual dawet ayu biasanya menggunakan pikulan yang khas untuk berjualan. Pikulan tersebut disebut angkringan dawet ayu atau angdayu. Ada dua gentong besar yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri pikulan. Isinya masing-masing adalah santan dan dawet. Gentong besar tersebut dibuat dari tanah liat yang dipercaya bisa menjaga suhu dawet dan santan tetap dingin sehingga pedagang tak perlu lagi menggunakan es batu.

Kini, mungkin karena perubahan iklim yang membuat hawa lebih gerah, banyak juga penjual dawet yang menggunakan es. Sekarang juga semakin banyak pedagang yang menjual dawet dengan gerobak dan menggunakan ember plastik ketimbang gentong tanah liat. 

Jika Anda punya kesempatan mampir ke Banjarnegara, berikut ada beberapa tempat es dawet ayu yang terkenal di kota ini.

Bakso dan Dawet Ayu Asli Hj. Munardjo

Jl. M.T. Haryono No.12-22, Krandegan, Kecamatan Banjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah

Es Dawet Ayu Asli Banjarnegara

Jl. Stadion Selatan, Parakancanggah, Kecamatan Banjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah

Dawet Ayu Banjarnegara Pak Sunardi

Jl. Sunan Gripit, Rejasa, Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah

agendaIndonesia

*****

5 Sajian Khas Pasundan Di Lintas Selatan

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Jawa Barat

5 Sajian khas Pasundan di Lintas Selatan Jawa Barat ke Jawa Tengah ini bisa menjadi pilihan jika tengah melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi. Mulai ayam bakar bambu hingga pindang ikan.

5 Sajian Khas Pasundan

Jalur selatan merupakan jalur utama transportasi darat yang menghubungkan sebagian besar kota-kota di Jawa Barat. Bahkan, jika menggunakan kendaraan pribadi, jalur ini terkadang dijadikan alternatif untuk menuju kota-kota di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Mengingat kondisinya yang sangat strategis, melewati Bandung, Garut, Tasik, hingga Ciamis, tak mengherankan jika di sepanjang jalur selatan banyak ditemukan rumah makan. Mayorita tentu menyajikan masalan ala Sunda.

Ayam Bakar Bambu

Rumah makan ala Sunda di Ciamis, Jawa Barat, ini menawarkan hidangan menggiurkan, mulai patin bakar bambu, gurame bakar cobek, hingga ayam bambu ala Cibiuk. Pilihan saya jatuh pada sajian yang terakhir. Menu ini berupa potongan-potongan kecil ayam kampung yang diberi bumbu dan dibungkus daun pisang. Setelah itu dimasukkan ke sebilah bambu, kemudian dibakar.

Penyajiannya cukup unik karena potongan bambu ikut dihadirkan. Untuk dapat menikmatinya, kita cukup mengambil bungkusan ayam dalam daun pisang tadi melalui lubang bambu. Saat dikunyah, potongan ayam terasa lunak dan bumbunya begitu terasa. Satu porsi menu ini dihargai Rp 75 ribu.

RM Cibiuk

Jalan Raya Sindangkasih Nomor 90

Ciamis, Jawa Barat

Buka pukul 08.00-22.00

Pindang Ikan Mas

Selepas pintu Tol Cileunyi dari arah Jakarta, jalur selatan mulai membentang. Rumah makan pun  ramai menyambut. Banyak pilihan di daerah ini. Namun pilihan saya jatuh pada rumah makan yang konon terkenal dengan menu pindang ikan mas. Layaknya olahan pindang lain, pindang ikan mas yang satu ini juga berwarna cokelat, tapi cenderung kehitaman. Dalam satu piring, disajikan dua ekor ikan mas.

Sekilas, tampilannya terlihat kurang menggiurkan. Tapi jangan salah. Saat dicoba, daging ikan terasa lunak. Duri-duri halus ikan mas, yang dikenal banyak, tak terasa. Bahkan tulang bagian tengah ikan terasa renyah. Rasa menu seharga Rp 20 ribu ini cukup manis dan tidak tercium bau amis.

Mak Ecot 2

Jalan Nagrek Km 36

Kabupaten Bandung

Buka: pukul 07.00-24.00

5 sajian khas pasundan salah satunya di Rumah Makan Gentong
Interior Rumah makan Gentong di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Nasi Liwet Gepuk

Bagi yang pernah melewati jalur selatan Jawa Barat, mungkin pernah melihat rumah makan yang satu ini. Tapi tahukah jika salah satu menu andalan rumah makan yang berada di sisi jalan ini adalah nasi liwet gepuk? Olahan nasi liwet sebenarnya sama seperti nasi biasa. Bedanya, nasi liwet telah diberi bumbu sebelum ditanak sehingga rasanya lebih gurih. Nasi tersebut disajikan lengkap dengan gepuk atau daging sapi goreng, sayur asam, tahu-tempe goreng, sepotong ikan asin jambal, lalapan, dan sambal. Menu ini, untuk porsi satu orang, dihargai Rp 36 ribu.

Jika ingin porsi yang lebih banyak karena datang bersama keluarga, tak ada salahnya memilih paket nasi liwet kendil. Paket ini cukup untuk tiga orang. Sesuai dengan namanya, nasi liwet dihidangkan dengan kendil. Pilihan menunya bisa berupa gepuk, ayam goreng/bakar, atau pepes ayam/ikan, tergantung selera.

RM Gentong

Jalan Raya Gentong Nomor 16

Ciawi, Tasikmalaya

Buka: pukul 07.00-21.00

Nasi Tutug Oncom

Rumah makan ini juga masih berada di Tasikmalaya. Lumayan ramai pengunjungnya saat saya mengunjunginya siang itu. Awalnya, saya mengira rumah makan ini hanya menyediakan berbagai olahan dari buah stroberi, sesuai dengan namanya. Ternyata dugaan saya meleset. Rumah makan ini justru menyediakan berbagai masakan ala Sunda. Salah satunya nasi tutug oncom.

Di tempat ini, nasi putih tak dicampur dengan oncom saja, tapi juga dengan emping yang menjadi ciri khas. Selain itu, dalam setiap porsi, menu seharga Rp 38 ribu itu telah dilengkapi ayam goreng, tahu goreng, tempe mendoan, sayur asem, potongan ikan asin jambal, lalapan, dan sambal.

Liwet Astro (Asep Stroberry)

Jalan Raya Ciawi Nomor 5

Tasikmalaya

Buka: 24 jam

Aneka Ayam

Saat melintasi perbatasan Ciamis-Banjar, saya mendapati rumah makan dengan bentuk bangunan berupa rumah panggung dengan warna merah mencolok. Umbul-umbul yang terpasang di sisi jalan juga semakin menambah penasaran. Saya pun tertarik menyambanginya. Sesuai dengan namanya, menu yang diandalkan memang beragam olahan ayam. Ada ayam goreng, ayam bakar, ayam rica-rica, dan lainnya. Pilihannya tersedia dalam beberapa paket, yakni paket A, B, dan C. Paket ini menunjukkan besar ukuran ayam. Untuk paket A, ayamnya berukuran kecil. Sedangkan paket C, ayam berukuran besar.

Saya lantas memesan paket ayam bakar paket A. Satu porsi relatif lengkap. Selain ada nasi putih dan ayam bakar, ada pula lalapan dan sambal. Bumbu ayam bakarnya cukup terasa dan daging ayamnya lumayan empuk. Harga per porsi mulai  Rp 13 ribu.

Ayam Fresh

Jalan Raya Banjar

Ciamis, Jawa Barat

Buka: pukul 08.00-22.00

Andry T./Prima M/Dok. TL