Seruit Dan 3 Jenis Sambal Lampung

Seruit dan 3 sambal

Seruit dan 3 jenis sambal Lampung adalah acara makan bersama dengan sajian ikan dan sambal yang khas.

Mencari makanan khas Lampung tergolong sulit. Ketika menyusuri rumah makan atau restoran yang berada di Bandar Lampung atau Teluk Betung, kebanyakan yang ada ialah hidangan dari daerah lain, bisa khas Jawa atau Padang. Hingga saya menemukan kata yang mungkin terbilang cukup asing dan bikin penasaran; seruit.

Seruit dan 3 Jenis Sambal

Inilah rupanya hidangan asli di Provinsi Lampung dan disantap secara turun-temurun. Beruntung masih ada restoran yang menyajikannya, meski mencarinya memang tergolong jarang.

Sajian seruit lazimnya dimakan bersama-sama. Kenikmatan dan kebersamaan memberi warna pada nyeruit atau makan seruit.  Terdiri atas tiga sajian, yakni ikan, sambal, dan lalapan, selain tentunya nasi hangat. Tapi yang tersaji tampak begitu berlimpah karena pilihan ikannya beragam. Demikian juga sambal dan lalapannya.

Ragam Ikan

Untuk prosesnya, terdiri atas dua pilihan; digoreng atau dibakar. Untuk rasa yang gurih, tentu lebih baik digoreng. Ikan bakar pun memiliki aroma khas yang menggundang selera. Jenis ikan umumnya ikan besar penghuni sungai yang banyak ditemukan di provinsi ini, semisal ikan belida, baung, layis, dan ikan mas yang lebih mudah ditemukan saat ini. Saya pertama kali mencicipi sajian seruit dengan ikan mas. Beruntung kemudian mencicipi ikan baung yang memang khas daerah ini.

Proses pembuatannya, setelah dibersihkan, ikan diberi bumbu yang dihaluskan. Bumbu terdiri atas bawang putih, garam, kunyit, dan jahe. Setelah itu, ikan dibakar selama 10 menit. Saat sudah setengah matang, ikan diolesi kecap manis dan campuran bawang putih, garam, serta ketumbar.

Tiga Jenis Sambal

Terasi, Mangga, dan Tempoyak. Tiga jenis sambal ini bikin bersantap seruit menjadi meriah. Ketiganya menggoda. Sambal terasi ialah campuran dari cabe merah, cabe rawit, garam, dan terasi bakar. Aroma terasinya menggoda. Apalagi rasa pedas membuat nafsu makan meningkat. Warna merahnya pun cukup menggoda.

Sambal tempoyak tak kalah soal aroma. Aromanya khas durian. Tempoyak memang hidangan khas di meja makan penduduk Pulau Sumatera, tidak terkecuali di Lampung. Sambal ini terbuat dari buah durian yang sudah difermentasi. Daging durian matang yang telah diberi garam dan cabe disimpan dalam stoples tertutup kurang lebih selama 4 hari. Lebih baik menyimpannya di dalam ruangan dengan suhu stabil, bukan di lemari es.

Tempoyak berumur 4-5 hari cocok dijadikan sambal karena sudah terasa asam, tapi juga masih ada manisnya. Membuat sambal tempoyak cukup mudah. Siapkan irisan bawah merah dan bawang putih serta cabe merah, kemudian digoreng dan tambahkan tempoyak. Bisa ditambahkan sedikit gula, tergantung selera.

Sambal mangga, terlihat dengan irisan mangga yang kelihatannya begitu segar. Sambal ini menggunakan kuini muda sehingga rasa asamnya benar-benar terasa. Bahannya seperti pada umumnya sambal, yakni cabe merah, bawang merah, terasi bakar, sedikit garam dan gula, serta buah kuini yang dicincang kasar. Cabe dan bawang merah diulek kasar, baru diberi bumbu lain dan campurkan dengan kuini.

Pelengkap lain selain ikan dan sambal serta nasi hangat adalah lalapan. Selain berupa sayuran umum, seperti daun kemangi, jengkol, selada air, dan daun jambu monyet, ada yang unik, yakni terong bakar.

Kebanyakan rumah makan menyajikan ikan dengan sambal secara terpisah. Namun sesungguhnya tradisi menyantap seruit ialah mencampurkan ikan dengan sambal. Setelah digoreng atau dibakar, ikan dipilih dagingnya, lalu dicampurkan ke dalam sambal.

Pilihan Rumah Makan

1. Rumah Makan Rusdi Gendut

Jalan Pangeran Tirtayasa Sukabumi, Bandar Lampung.

Karena di Lampung sangat jarang rumah makan yang menjual makanan khas Lampung, Rusdi pun berusaha untuk memulainya. Ia ingin melestarikan tradisi makan seruit. 

2. Dapoer Tatu

Jalan Putri Balau no 24, Kedamaian

Bandar Lampung

Rumah makan dijalankan oleh sebuah keluarga, pasangan Sunda-Lampung, dengan bentuk bangunan berupa saung-saung yang nyaman.

Kisaran Harga

Seruit kerap dijual dalam bentuk paket sehingga Anda tidak perlu repot-repot memilih menu. Paket seruit meliputi nasi, ikan, beberapa jenis sambal, dan lalapan yang dipatok pada kisaran Rp 45 ribu.

Rita N/A. Probel

Nasi Liwet Yu Sani, Gurihnya Sejak 1980

Nasi Liwet Yu Sani solo adalah salah satu legenda kuliner khas kota ini.

Nasi Liwet Yu Sani selama bertahun-tahun menjadi salah satu ikon kuliner tradisional Solo, Jawa Tengah. Dari sejak masih berjualan keliling hingga menjadi tenda kaki lima di tepi jalan, penggemarnya tak pernah surut dan kini selalu diburu wisatawan penggemar kuliner.

Nasi Liwet Yu Sani

Berbicara soal nasi liwet, sebenarnya ada dua jenis nasi liwet yang dikenal umum di Indonesia, yakni nasi liwet ala Sunda dan Jawa. Nasi liwet di Solo sendiri merupakan jenis nasi liwet Jawa, yang mirip dengan nasi uduk karena dimasak menggunakan santan.

Pertama, nasi dimasak dengan santan sehingga terasa lebih pulen dan harum. Selain itu, nasi juga dibumbui dengan beberapa rempah-rempah seperti pala, jahe, daun salam, daun serai dan kayu manis agar aroma dan cita rasanya semakin kuat.

Nasi Liwet Yu Sani cuma memiliki dua cabang. Dua-duanya selalu diserbu penggemarnya.
Ilustrasi nasi liwet Solo. Foto: dok. milik sajiansedap.id

Setelah jadi, nasi kemudian diguyur kuah dan sayur labu siam hangat yang memberikan sensasi gurih pedas. Dan sebagai pelengkap, nasi kemudian ditambahkan lauk pauk seperti ayam suwir dan telur pindang rebus.

Salah satu ciri khas nasi liwet Solo lainnya adalah cara penyajiannya. Secara tradisional, nasi liwet di Solo biasanya disajikan dengan menggunakan pincuk daun pisang, yang dibuat berbentuk kerucut.

Bagi warga Solo sendiri, nasi liwet sudah menjadi bagian dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kuliner tradisional ini masih menjadi salah satu favorit warga kota batik ini untuk sarapan, santap siang maupun malam. Warung-warung penjaja nasi liwet pun mudah untuk ditemukan.

Bahkan, nasi liwet merupakan salah satu makanan yang banyak beredar kala gelaran Grebeg Maulud, perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang sudah menjadi tradisi setiap tahunnya di Solo.

Disinyalir, salah satu alasan mengapa nasi liwet sangat populer pada perayaan tersebut adalah karena pada masa lalu, perayaan Grebeg Maulud diwarnai dengan pembuatan nasi samin, alias nasi yang dibuat menggunakan minyak samin.

Nasi samin disebut-sebut merupakan salah satu makanan favorit Rasulullah pada masanya. Namun, karena sulitnya mendapatkan minyak samin di Solo masa itu, akhirnya sebagai alternatif nasi dimasak dengan menggunakan santan yang lebih terjangkau.

Sayur Labu Siam shutterstock
Sayur labu siam menjadi pendamping wajib nasi liwet Solo. Foto: shutterstock

Menurut keterangan resmi pemerintah kota Solo, nasi liwet Solo pertama kali dibuat oleh warga Desa Menuran, Kabupaten Sukoharjo. Resep tersebut kemudian dijual kepada umum, termasuk warga Solo.

Ternyata, kuliner ini disukai banyak orang dan terus populer hingga kini. Bisa jadi, selera warga Solo yang cenderung menyukai kuliner dengan cita rasa gurih menjadi salah satu alasan mengapa nasi liwet begitu populer dan menjadi salah satu ikon kuliner kota Solo.

Di Solo mungkin banyak penggemar kuliner mengenal nasi liwet adanya di kawasan Keprabon. Penjualnya yang terkenal adalah Wongso Lemu. Belakangan, banyak penjual menempelkan kata “Wongso Lemu” pada gerainya. Ini membuat keraguan konsumen.

Tak heran penjual nasi liwet di Solo begitu menjamur. Jika sudah pernah mencoba di Keprabon, tak ada salahnya mencoba salah satu yang bisa dibilang juga legendaris, yakni nasi liwet Yu Sani. Yang kini berjualan di kawasan jalan Veteran, tak jauh dari Alun-alun Kidul/Selatan Solo.

Usut punya usut, Yu Sani termasuk sang perintis usaha ini. Dulunya ia berjualan nasi liwet dengan berkeliling kota Solo. Dari tempat tinggalnya di desa Baki, selatan kota Solo, ia berjalan keliling kota menjajakan nasi liwet buatannya sejak 1980.

Telur Pindang shutterstock
Telur pindang adalah lauk nasi liwet selain ayam suwir. Foto: shutterstock

Setelah semakin populer dan digemari, ia akhirnya membuka warung tenda kaki lima di jalan Veteran. Belakangan, terdapat pula satu cabang di area Solo Baru, tepatnya di jalan Ir. Soekarno, dusun II Langenharjo, Kabupaten Sukoharjo.

Yang cukup unik di nasi liwet Yu Sani adalah ketika disajikan, nasinya juga diguyur santan kental, yang tentunya semakin menambah cita rasa gurih. Tambahan lauk pauknya pun beragam, mulai dari telur pindang rebus, tahu dan tempe bacem, usus, ati ampela, dan lain lain.

Ayam yang digunakan pun berjenis ayam kampung, begitu pula telurnya. Pengunjung nantinya bisa memilih tambahan bagian tubuh dari ayam yang disuwir, mulai dari sayap, tepong/dada, paha, kepala, uritan, hingga jeroan, hingga brutu.

Masuk ke dalam warung tenda Nasi Liwet Yu Sani, pengunjung akan disambut dengan baskom-baskom pilihan lauk pelengkap nasi liwet. Untuk pilihan tempat duduk, disediakan area meja dengan kursi, atau area lesehan.

Yang tak kalah menarik, salah satu daya tarik utama nasi liwet Solo yang membuatnya populer adalah harganya yang ekonomis. Satu porsi nasi liwet dengan lauk ayam suwir saja harganya hanya Rp 9 ribu.

Kalau mau menambah ayam suwiran, harganya berkisar antara Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu. Sedangkan dengan menambah lauk seperti telur, usus, tahu dan tempe, harganya mulai dari Rp 11 ribu hingga Rp 14 ribu.

Maka jangan heran, kendati warung nasi liwet Yu Sani biasa buka dari jam 17.00 hingga jam 23.00, sering kali makanan sudah ludes terjual sebelum jam tutup. Maklum, sejak warung dibuka pun pengunjung kerap sudah mengantre, sehingga disarankan untuk datang lebih awal.

Nasi Liwet Yu Sani

Jl. Veteran, Solo

Jl. Ir. Soekarno no. 8, Solo Baru

agendaIndonesia/audha alief P

*****

Hangat-hangat ala Bandung, 4 Minuman Asyik

hangat-hangat ala bandung, minuman yang membuat badan tidak kedinghinan

Hangat-hangat ala bandung saat udara mulai terasa dingin ketika memasuki musim hujan, ada pilihan asik, yakni bandrek, bajigur, ronde, atau sekoteng. Keempatnya bisa menjadi teman nongkrong yang menyenangkan.

Hangat-hangat ala Bandung

Di saat musim hujan dan masa liburan di Bandung, rasanya ada yang bisa dilakukan selain diam . Tapi, ayo cari penghdi kamar hotel. Minuman hangat tersebar di beberapa titik di kota Kembang ini. Ada beberapa minuman khas Parahyangan yang sengaja disajikan untuk membuat tubuh tisa diserak lagi kedinginan. Sebut saja bandrek yang bisa diseruput sambil nongkrong berdua bersama teman.

hangat-hangat ala Bandung menjadi pilihan saat memasuki musim hujan.
Bandrek, minuman hangat khas masyarakat tanah Pasundan. Foto: dok. shutterstock

 Bandrek di Hutan Pinus

Sekelompok pengendara sepeda motor trail memacu tunggangannya melintasi jalan berkelok, melewati beberapa orang yang mengayuh sepeda perlahan. Mereka berada di antara pohon pinus dataran tinggi Bandung bagian utara Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Tujuan mereka sama, yakni menuju warung bandrek Ibu Ipah di sekitar hutan pinus Tahura Ir. H. Djuanda yang buka sejak 2004.

Minuman hangat ini merupakan campuran jahe, cabai Jawa (cabe areuy dalam bahasa Sunda), gula aren, kolang-kaling, dan serutan kelapa. Ada dua jenis bandrek yang disajikan. Pertama, bandrek orisinal dengan rasa jahe yang dominan seharga Rp 10 ribu per gelas. Bila tidak terlalu suka rasa jahe yang kuat, Anda bisa memilih jenis kedua. Jenis kedua merupakan bandrek spesial dengan tambahan susu kental manis seharga Rp 12 ribu per gelas. Kudapan yang paling pas berupa aneka gorengan (pisang, peuyeum, tahu isi) seharga Rp 2 ribuan, atau tape ketan hitam yang dibungkus daun jambu.

Warung Bandrek Ibu Ipah; Tahura Ir. H. Djuanda, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan,

Bandung

Bandrek Sejak 1958

Bajigur adalah minuman hangat asli Tanah Pasundan, perpaduan antara santan, gula Jawa, dan kolang-kaling. Santan cukup dominan dengan rasa manis dan gurih. Harganya Rp 10 ribu per gelas. Teman untuk menikmatinya ialah gorengan. Berada di pusat kuliner Jalan Cilaki, Bandung, warung ini menyediakan gorengan tahu, pisang, nangka, dan nanas dengan harga satuan  Rp 2 ribuan.Warung bajigur Hj Siti Maemunah tergolong warung bajigur tertua yang masih bertahan di Bandung.

Dirintis oleh Maemunah sejak 1958, tak heran jika warung bajigur ini memiliki banyak pelanggan fanatik dari beberapa kota besar. Dulu, warung ini dikenal dengan nama Bajigur Supratman karena awalnya dibuka di Jalan Supratman. Setelah ada penataan kawasan, warung pindah ke Jalan Cilaki. Karenanya, kini terkenal dengan nama Warung Bajigur Hj. Siti Maemunah. Setelah Maemunah wafat, warung ini dikelola oleh anak-anaknya dan menjadi salah satu ikon kuliner malam Kota Bandung. Lokasi warung ini hanya sekitar 300 meter dari Gedung Sate.

Warung Bajigur Hj. Siti Maemunah; Jalan Cilaki, Bandung

hangat-hangat ala Bandung menjadi ciri kota yang ng berhawa dingin ini.cenderu
Sekoteng Bandung, bisa dipesan dingin, bisa pula dibuat yang hangat. Foto: Dok. shutterstock

Denting Tukang Sekoteng

Dentingan mangkok yang khas di malam hari kerap menjadi penanda penjaja sekoteng mulai berkeliling menyusuri jalanan, meski ada juga yang mangkal di tempat keramaian. Sekoteng terdiri atas air jahe dan campuran rempah lain, air gula, lalu diberi taburan potongan roti tawar berbentuk dadu, pacar cina, kacang tanah, dan kue simping manis. Menurut salah seorang pedagang sekoteng keliling yang sudah berjualan sejak 1975, jarang ada tukang sekoteng mangkal.

“Hampir semuanya keliling, tapi sekarang semakin jarang. Mungkin orang-orang sekarang tidak terlalu suka ya,” ujarnya. Dengan harga Rp 15 ribu per mangkok, pedagang sekoteng lain tetap setia menyusuri jalanan kota. Sesekali mereka berhenti di tempat-tempat ramai, seperti Gedung Sate atau taman-taman kota yang kerap dikunjungi warga.

Tukang Sekoteng Keliling; Sekitar Gedung Sate, Bandung

Ronde Jahe Alketeri

Nyempil di mulut gang dengan suasana warung kuno sederhana justru menjadi ciri khas dan daya tarik sendiri dari Warung Ronde Jahe Alketeri  di Jalan Alketeri, Bandung. Area warung sangat sempit dan memanjang sekitar 5 x 2 meter. Kondisinya masih sama seperti pertama kali buka pada 1984. Nyonya Guat, 83 tahun, masih tetap setia menyapa para pelanggannya. Ia juga meracik pesanan dengan sabar.

Ronde jahe atau wedang ronde buatannya berupa ronde dari tepung beras ketan yang dibentuk bulat tanpa isi. Ada pula yang bulat besar dengan isi kacang. Ronde disiram air jahe panas, air pandan, dan gula aren. Bagi yang tidak suka gula aren, bisa diganti dengan gula pasir cair. Rasanya enak dengan tekstur empuk kenyal dan air jahe yang manis, segar, sera harum. Harganya Rp 20 ribu per mangkok. Nyonya Guat tinggal di kawasan ini sejak 1940-an. Ia pernah berganti-ganti usaha, mulai warung nasi, warung sate, hingga akhirnya menemukan usahanya yang pas dan tetap bertahan hingga kini, yaitu ronde jahe.

Ronde jahe Alketeri kini dikenal sebagai salah satu warisan kuliner Bandung yang wajib dicicipi para pemburu kuliner. Hasil kerja keras Nyonya Guat kini berbuah 11 cabang yang tersebar di beberapa pusat perbelanjaan modern di Bandung dan satu cabang di Palembang.

Ronde Jahe Alketeri; Jalan Alkateri Bandung

TL/agendaIndonesia

*****

Keju Lokal Indonesia, Ini 5 Yang Creamy

Produk keju menjadi penguat rasa pada resep-resep masakan.

Keju lokal Indonesia pasti sudah banyak yang sering mengkonsumsinya. Mungkin tanpa sadar mengetahui jika itu adalah produk buatan sejumlah daerah di Indonesia, karena membelinya di jaringan supermarket dunia.

Keju Lokal Indonesia

Keju memang bukan makanan asli Indonesia, ia masuk dan dikenal di negeri ini karena dibawa orang-orang Belanda pada zaman kolonial. Produk ini merupakan salah satu makanan yang terbuat dari susu.

Untuk konsumsinya, keju dapat disantap langsung atau dijadikan bahan campuran pada hidangan. Cita rasa keju umumnya manis dan asin. Rasa ini dapat ditemukan di banyak produk pastry dan kue seperti puff pastry, cheese cake, roti isi , atau masakan-masakan pasta Italia. 


Bertahun lamanya, masyarakat Indonesia memahaminya kalau keju adalah buatan luar negeri. Produk impor, atau setidaknya jika diproduksi di Indonesia ia menggunakan merek luar negeri.

Keju lokal Indonesia ada berbagai macam jensnya dari cheddar, mozarella, hingga keju danke.


Ternyata beberapa daerah di Indonesia sudah dikenal memproduksi keju  dengan mengandalkan bahan-bahan lokal. Meski mungkin keju Eropa masih mendominasi pasar dunia, tapi keju lokal Indonesia juga merupakan produk  berkualitas. Pabriknya tersebar di beberapa daerah.


Keju lokal Indonesia punya kualitas yang tak kalah baik. Produsen keju lokal ini tak main-main soal kualitas dan rasa. Berikut lima keju lokal Indonesia yang patut dicoba dan menjadi pilihan utama.


Keju Indrakila Boyolali
Di Boyolali, Jawa Tengah, selain jadi sentra susu sapi, juga ada produsen keju yang cukup terkenal. Indrakila adalah pabrik keju pertama di Jawa Tengah, pendirinya pemuda asli Boyolali bernama Noviyanto.


Keju Indrakila ini mulai dibuat pada 2009 lalu dan kini produksinya sudah terbilang besar. Dalam sehari, pabrik mampu menghasilkan 50 kilogram keju dari sembilan varian berbeda. Keju Indrakila bahkan membuat keju jenis Boyobert yang berasal dari kata Boyolali Camembert.

Keju Lokal Indonesia dari Boyolali jenis mozarella
Keju MOzarella Indrakila dari Boyolali.

Berawal memanfaatkan kelebihan produksi susu sapi di daerahnya, Noviyanto kemudian mengolahnya menjadi produk keju dengan nama Indrakila. Keju Indrakila mempunyai kualitas yang tak kalah dari produk keju buatan luar negeri.

Pembuatan keju Indrakila ini  menggunakan 99 persen susu sapi segar lokal yang sudah dipanaskan dicampur dengan garam dan bakteri Lactobacillus untuk mengasamkan susu dan bakteri Streptococcus untuk menggumpalkan susu.

Salah satu varian keju Indrakila adalah jenis mozzarella diakui sebagai keju dengan rasa yang paling mendekati keju mozarella impor.

Keju Baros Sukabumi
Di kawasan Sukabumi juga ada pabrik keju bernama Baros. Keju yang dihasilkan awalnya jenis keju gouda dengan empat varian. Selain memproduksi keju, pabrik ini juga menyediakan paket tur untuk pengunjung yang ingin mengetahui proses pembuatan keju.

Bagipenggemar keju, keju gouda bukan jenis yang asing. Namanya mengacu pada Kota Gouda, Belanda, yang tak lain merupakan asal mula produk keju jenis ini. Keju gouda berwarna kuning tua, termasuk dalam golongan keju semi padat (semi hard cheese) hingga padat (hard cheese).

Rachmantio adalah nama pengusaha keju lokal Indonesia dengan bendera PT Bukit Baros Cempaka di Sukabumi. Pengusaha kelahiran Cirebon ini mengolah dan memproduksi keju gouda dengan masa pemeraman antara 1,5 bulan hingga lebih dari empat bulan.

Keju Baros Sukabumi IG
Keju gouda Baros dari Sukabumi.

Berkat ketekunannya, produk keju gouda bermerek Baros sejajar dengan produk-produk keju impor di rak-rak supermarket. Ia mengaku memilih gouda, dan bukan cheddar, karena kualitasnya.

Awalnya, Keju Baros fokus memproduksi jenis keju gouda. Belakangan mereka juga memproduksi keju jenis lain.

Agar rasa dan kualitasnya sama seperti keju asal kota Gouda, perusahaan ini sempat mendatangkan  ahli keju Gouda dari Belanda untuk mengajarkan cara pembuatan keju kepada karyawannya. Susu sebagai bahan utamanya berasal dari sapi Friesian Holstein yang didatangkan langsung dari Belanda.

Keju Lembang Bandung
Keju yang diproduksi di Bandung ini punya merek Keju Lembang. Usaha produksi keju skala mikro ini didirikan sejak 2013 di kawasan Lembang yang terkenal sebagai salah satu pusat susu Indonesia.


Produk keju mozzarella di pabrik ini terkenal dengan kualitasnya yang lezat dan mirip seperti keju Italia. Kualitas keju produksi ini bahkan diawasi langsung oleh ahli keju di bawah supervisi akedmisi dari Teknik Kimia, ITB.

Keju Yogyakarta
Dari kota pelajar Yogyakarta ada juga produsen keju artisan yang menarik. Keju dengan label Mazaarat ini mengusung tagline sebagai keju alami yang sehat dan berkualitas. Total ada 14 jenis keju yang dibuat di pabrikan ini. Mulai dari keju mozzarella, halloumi, feta, ricotta hingga keju gouda. Keju di tempat ini diproduksi dalam skala kecil namun tetap mengandalkan kualitas premium.


Bahan utama keju Mazaraat Artisan Cheese adalah susu kambing dan sapi namun organik. Artinya, sapi dan kambing tersebut dipastikan hanya memakan rumput yang bebas pestisida atau pupuk kimiawi serta bebas dari suntikan hormon antibiotik pemacu produksi susu.

Selain itu, keju Mazaraat Artisan Cheese tidak mengandung bahan pengawet, aditif, perasa buatan, pewarna kimiawi atau bahan GMO (genetically modified organism) sehingga tidak bisa disimpan terlalu lama

Keju Rosalie Bali
Rosalie Cheese menciptakan keju spesial dengan sentuhan unik pada rasa lokal. Produsen keju yang pabriknya berada di Denpasar, Bali, ini menggunakan bahan-bahan alami, tanpa pengawet dan pewarna. Susu yang digunakannya pun berasal dari kambing etawa dan saanen yang diambil dari peternak di Kecamatan Negara, Bali.

Salah satu alasan menggunakan susu kambing adalah karena kambing beranak dan melahirkan secara natural dan tidak perlu disuntik seperti sapi.

Selain itu, susu kambing juga lebih mudah dicerna tubuh manusia serta cocok untuk mereka yang intoleransi terhadap laktosa.

Rosalie Cheese menyediakan beberapa varian antara lain black-pepper goat, plain goat feta, black and white cheese, camembert dengan moringa (daun kelor), serta crotting cheese dengan bungkus daun anggur.

Ayo mulai mengkosumsi keju lokal Indonesia yang creamy-nya tak kalah dengan keju impor.

agendaIndonesia

*****

Ayam Goreng Pak Supar, Gurihnya Sejak 1974

Ayam Goreng Pak Supar sudah memanjakan lidah orang sejak 1974.

Ayam goreng Pak Supar Semarang mungkin tenggelam di antara nama-nama besar kuliner di ibukota Jawa Tengah itu. Maklum saja, di kota ini ada begitu banyak makanan enak. Sebut saja aneka soto yang begitu banyak dijajakan, atau tahu pong dan babat gongso. Pokoknya semua makanan enak.

Ayam Goreng Pak Supar

Di antara rimba kuliner enak itu, terselip satu kedai ayam goreng yang sesungguhnya sudah lama menjajakan menu andalannya. Nama kedainya Ayam Goreng Sop Buntut Pak Supar.

Pak Supar sudah menjajal kebolehannya memasak sejak 1974. Awalnya, ia menjajakan masakannya dengan gerobak dorong. Dalam perjalanan waktu, dagangannya laris dan terus berkembang. Saat ini ia sudah mempunyai sebuah rumah makan yang selalu membuat para penggemarnya mengantri.

Ayam goreng Pak Supar bisa jadi kulner, tapi alau oleh-oleh bisa ke kampoeng semarang
Kampung Semarang, pusat oleh-oleh.

Kedai ayam goreng Pak Supar tempatnya tidak terlalu luas, mungkin kapasitas tempat duduknya sekitar 50 orang saja. Jadi jika pecinta kuliner tengah mampir ke Semarang dan ingin mencicipi ayam goreng atau sop buntut di sini, bersiaplah dengan antrian pengunjung yang memenuhi bagian depan tempat makan.

Peminat sajian andalan Pak Supar ini seolah tak ada habisnya. Terlebih pada jam makan siang atau makan malam. Selain kadang harus antre, jika sudah duduk pun jarak antarmeja pun tak terlalu longgar.

Meski bukan makanan khas kota ini, ayam goreng Pak Supar digemari banyak penikmatnya. Bukan pemandangan yang aneh saat menjelang makan siang atau malam, pengunjung harus antre hingga satu jam untuk mendapatkan kursi.

Tak sedikit pengunjung yang kemudian memilih untuk membawa pulang ayam goreng atau sop buntutnya. Begitupun tak sedikit pula yang rela untuk menunggu demi mencicipi langsung hidangan ayam kampung goreng dan sop buntut andalan kedai ini.

Menurut para pelayannya, hidangan kedai ini yang menjadi incaran para pelanggannya sudah pasti adalah ayam goreng dan sup buntut. Untuk hidangan ayam goreng, pihak kedai hanya menggunakan ayam kampung dengan umur tertentu.

Ayam Goreng Pak Supar Semarang Legendaris shutterstock

Ayam itu kemudian diolah dengan bumbu khas mereka yang berbeda dari kedai ayam goreng yang lain. Menurut pelayannya, setelah pembumbuan, ayamnya digoreng hingga tenggelam dalam minyak. “Seperti direbus minyak, jadi empuk,” kata salah seorang pelayan.

Salah satu yang juga berbeda dengan tempat makan ayam goreng lainnya, di Ayam Goreng Pak Supar ini, jika ada tamu datang dan duduk makan pelayan akan datang dan bertanya pesanannya.

Jika memesan ayam goreng, biasanya tidak ditanya jumlah potongan yang dipesan. Biasanya pelayan akan menghitung jumlah pembeli lalu nantinya akan membawa satu piring berisi ayam goreng sejumlah pembeli.

Untuk penyajian ayam disesuaikan dengan jumlah yang datang. Jika pengunjung datang beramai-ramai, pelayan akan menyajikan sepiring penuh ayam, yang nanti akan dihitung seberapa banyak yang dihabiskan pelanggan. Namun jika datang sendirian, biasanya disajikan sepotong dada, paha dan sepasang ati ampela.

Soal rasa? Benar saja, saat dicoba, ayam kampung yang umumnya lebih liat dibandingkan ayam negeri menjadi amat empuk. Bisa jadi ini karena proses penggorengan yang terendam minyak.

Sebagai pendamping, pengunjung bisa memilih tiga jenis sambal, yakni sambal manis, yang biasanya langsung disajikan bersama lalapan dan ayam. Selain itu tamu bisa memesan sambal bawang –kadang disebut juga sebagai sambal korek, atau sambal terasi dengan harga Rp 5 ribu/cobek.

Dari ke tiga jenis sambal tersebut, yakni sambal korek, sambal terasi, juga sambal manis khas kedai ini, umumnya rasanya cenderung manis. Untuk yang suka pedas direkomendasikan memilih sambal korek yang paling pedas di antara ketiganya.

Sebelum makan ayam goreng, ada baiknya makan pembuka berupa sup buntut. Dihidangkan masih mengepu panas, sungguh hidangan ini menggoda selera. Daging buntut yang tersaji cukup banyak, dan dipotong besar-besar. 
Saat disesap kuahnya, kaldu pun begitu terasa di mulut. Daging buntut yang empuk sambil sesekali menyesap potongan serat daging yang menempel pada tulangnya.

Besar dan banyaknya daging buntut yang empuk menjadi alasan kepuasan pelanggan di sini. Dalam sehari, Ayam Goreng Pak Supar bisa menghabiskan 10 kilogram daging buntut sapi dan 40-50 kilo daging sapi bagian lainnya.

Daging buntut dipresto sampai dua jam sehingga menjadi empuk. Sedangkan untuk membuat kaldunya, kedai ini menggunakan rebusan tulang yang amat banyak sehingga terasa kental dan keruh.
Jadi kalau dolan ke Semarang dan bingun mau makan apa, bisa jadi Ayam Goreng Pak Supar bisa jadi alternatif.

Ayam Goreng Sop Buntut Pak Supar

Lokasi di Jalan Moh.Suyudi Nomor 48, Miroto, Semarang Tengah, Jawa Tengah.

Buka mulai pukul 10.00 – 22.30 WIB

agendaIndonesia

*****

Makan Beramai Ala Botram, 4 Pilihannya

Makan beramai ala botram mulai menjadi tren publik pada 2017.

Makan beramai ala botram sangat menyenangkan dan beberapa tahun terakhir menjadi trend. Tidak saja resto yang membuat gaya ini, tapi juga ketika ada acara-acara keluarga di rumah-rumah pribadi. Masing-masing orang membawa makanan sendiri, untuk kemudian saling bertukar dan mencicipi makanan satu sama lain dan makan beramai ala botram.

Makan Beramai Ala Botram

Beberapa lembar daun pisang terhampar di atas lantai. Di atasnya digelar tempe goreng, tahu, ikan asin, ikan gurame, dan ayam goreng bertumpuk-tumpuk mengelilingi nasi putih hangat yang disusun memanjang. Di sana-sini tersaji sambal dan beragam dedaunan sebagai lalapan.

Makanan sebanyak itu disiapkan oleh sejumlah orang secara bergotong-royong untuk kemudian dinikmati bersama. Itulah yang disebut botram atau makan beramai ala botram.

Makan beramai ala botram juga dibuat paket menu makan ala-ala di sejumlah restoran.
Resto Alas Daun, salah satu penyaji makan ala botram. Foto: dok Javalane

Orang kerap kesulitan membedakan istilah botram, liwetan, dan balakecrakan. Balakecrakan adalah kegiatan makan bersama, sedangkan liwetan lebih mengacu pada jenis makanan dan cara penyajiannya. Sementara botram merupakan cara penyiapan makanan yang dibawa oleh masing-masing peserta.

Tidak ada istilah tuan rumah dalam konsep makan beramai ala botram. Semua peserta makan adalah setara. Masing-masing membawa makanan sendiri, lalu nantinya saling bertukar makanan dan saling mencicipinya. Juga tak ada ketentuan pasti harus membawa seberapa banyak. Hal ini mencerminkan sifat masyarakat Sunda yang menganut moralitas egaliter, yaitu bahwa semua manusia diciptakan sama dan sederajat.

Tradisi makan beramai ala botram umumnya diselenggarakan ketika sebuah keluarga atau komunitas sedang berkumpul, seperti saat rekreasi, arisan, atau menyambut bulan Ramadan. Lokasinya pun bervariasi, dari di dalam rumah, halaman, ladang, atau kebun. Jika mengacu pada aspek sejarahnya, nasi liwet khas Sunda berasal dari masyarakat perkebunan yang membekali dirinya dengan nasi untuk makan dari pagi sampai siang di ladang. Karena itu, makan ala botram di tengah kebun merupakan pilihan tepat untuk mendapatkan atmosfer masyarakat Sunda masa silam.

Dago Panyawangan
Dago Panyawangan yang juga menyedian makan beramai ala botram.

Setelah lama tenggelam, tradisi ini kembali mencuat, bahkan sempat viral pada 2017. Saat itu foto orang yang makan bersama dengan alas daun pisang berseliweran di media sosial. Kehadiran media sosial dan keunikan tradisi menjadi faktor yang memicu botram kembali naik ke permukaan.

Sejumlah restoran di Jawa Barat bahkan menyediakan paket menu botram bagi pengunjung. Di Bandung misalnya, ada restoran Moza Cafe, Maka Gallery Cafe, Kelapa Lagoon, Alas Daun, Dago Panyawangan, dan Pinch of Salt. Sementara di Caringin, Kabupaten Bogor, ada penginapan Land Of Blessing Farmstay yang menawarkan sensasi makan botram di tengah areal persawahan.

Virus botram juga melanda warung makan di luar Jawa Barat, terutama Jakarta. Beberapa di antaranya adalah Warung Teteh di Jalan Petogogan, Warung Sunda Ceu Kokom di Jalan Raya Pos Pengumben, dan Bebek Asap Balcon di Kebon Jeruk. Sejumlah nama kemudian sempat hilang ketika pandemi Covid19 sejak 2020 lalu.

Tentu esensi botramnya hilang karena semua makanan disediakan oleh pihak restoran. Namun paling tidak jenis makanan dan cara penyajiannya tetap mempertahankan gaya liwetan khas Sunda.

Nasi liwet Sunda berbeda dengan nasi liwet khas Jawa Tengah. Saat melakukan teknik liwet, orang Jawa mencampur beras dengan santan, sedangkan liwet Sunda tidak menggunakan santan. Nasi liwet Sunda biasanya memakai bumbu garam, bawang merah, bawang putih, daun salam, sereh, lengkuas, cabai, santan, minyak kelapa, atau ikan asin, sesuai selera masing-masing.

Land Of Blessing Farmstay
Land of Farmstay, menikmati alam Sunda.

Untuk lalapannya tak ada aturan baku. Namun biasanya yang paling sering muncul adalah daun sawi, kemangi, dan mentimun karena murah dan mudah ditemukan. Duo lalapan sedap tapi berbau menyengat, jengkol dan petai, juga menjadi ciri khas dari acara makan ini. Pada beberapa rumah makan di Jawa Barat umumnya masih bisa ditemukan lalapan unik, seperti bunga honje atau kecombrang.


Selain berbagi makanan, orang-orang yang makan juga berbagi cerita dan lelucon. Namun ada semacam aturan tak tertulis yang melarang kita untuk berbagi cerita sedih karena akan merusak suasana. Pasalnya, inti dari kegiatan makan bersama ini adalah terwujudnya keceriaan dan silaturahmi yang berujung pada semakin eratnya ikatan kekeluargaan.

Berikut empat pilihan untuk menikmati makan beramai ala botram

  • Alas Daun

Jam buka: Setiap hari, pukul 10.00–22.00

Alamat: Jalan Citarum No.34, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung

  • Dago Panyawangan

Jam buka: Setiap hari, pukul 10.00–23.00

Alamat: Jalan Ir. H.Djuanda No.127, Lebak Siliwangi, Coblong, Kota Bandung

  • Land Of Blessing Farmstay

Jam buka: Berdasarkan perjanjian

Alamat: Jl. Curug Kalong RT 01 RW 04, Desa Tangkil, Caringin,Bogor

  • Waroeng Botram Cianjur

Jam buka: 11.00–21.00 (Senin-Jumat) dan 11.00–22.00 (Sabtu-Minggu)

Alamat: Jalan Masjid Agung No. 126, Pamoyanan, Cianjur

agendaIndonesia

*****

Soto Tangkar Betawi, Ini Dia 5 Jawaranya

Soto tangkar Betawi bermula dari iga sapi yang tak dimakai dalam masakan meneer Belanda.

Soto tangkar Betawi mungkin kalah pamor sedikit dibandingkan kuliner khas masyarakat Betawi lainnya, soto Betawi. Padahal dari segi rasa, tak kalah nikmatnya.

Soto Tangkar Betawi

Soto tangkar pada awalnya adalah soto berkuah gurih dengan isian berupa tangkar atau tulang iga. Dari Kuliner Betawi: Selaksa Rasa dan Cerita karya Akademi Kuliner Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama, dalam bahasa Betawi tangkar artinya tulang iga.

Lalu apa bedanya dengan soto Betawi? Warna kuah soto tangkar sedikit lebih kemerahan dan rasanya lebih ringan dibanding soto Betawi. Penyebabnya, soto tangkar menggunakan air asam jawa, kencur, dan lengkuas yang membuat rasanya lebih segar.

Saat ini, selain menggunakan tangkar atau iga, ada pula pedagang soto tangkar yang mencampur isian soto dengan potongan daging. Ada pula yang menambahkan kelapa sangrai halus sehingga kuahnya jadi lebih gurih dan kental.

Soto tangkar Betawi biasanyaisiannya  disipakan dalam mangkok-mangkok dan baru disiram kuah saat akan dihidangkan.


Soto tangkar Betawi sendiri punya sejarah yang cukup panjang, bahkan hingga ke masa kolonial Belanda. Kala itu masyarakat hanya mampu membeli bagian tangkar yang punya sedikit daging dan lebih murah dari pada daging sapi.

Selain itu, ada cerita lain yang mengatakan bahwa para pejabat dan tuan-tuan Belanda jika mengadakan jamuan makan masak makanan mewah dari daging sapi. Bagian lain seperti iga dan jeroan sapi akan diberikan kepada para pekerja lokal. Bagian-bagian inilah kemudian yang dimasak dengan bumbu tradisional, salah satunya soto tangkar Betawi.


Soto tangkar Betawi juga disebut mengalami percampuran budaya antara banyak bangsa yang datang ke Batavia. Misalnya saja dari budaya kulinari Tionghoa. Tak hanya Tionghoa, soto tangkar juga mengalami percampuran budaya India dan Arab yang masuk melalui penggunaan minyak samin dalam soto tangkar dan soto Betawi. Percampuran selera Betawi dan lokal, pengaruh Tionghoa, Arab, dan India menyatu.
Saat ini masyarakat semakin mudah mendapatkan soto tangkar. Selain menikmati masakan dari warung yang legendaris, misalnya, yang berpusat di daerah Pasar Pagi Glodok, Jakarta Barat.Orang juga bisa menikmati warung-warung kecil yang mulai menjajakannya.

Perbedaan soto-soto tangkar legendaris dengan soto-soto tangkar baru biasanya pada komposisi campuran susu dan santennya. Di warung-warung terkenal biasanya lebih banyak susunya, bahkan ada yang tanpa santan. Selain itu, semuanya mirip. Dalam semangkuk soto, selain  daging sapi terdapat potongan tomat, daun bawang, babat, kikil dan jeroan sapi.

soto tangkar Betawi mirip dengan soto Betawi namun berbeda dalam bumbu dan ketebalan kuahnya.
Soto Tangkar Betawi mempunyai kuah yang berwarna orange dengan iga sapi dan daging sapi. Foto: shutterstock

Soto Tangkar Haji Diding

Bagi warga Jakarta dan para peminat soto tangkar pasti sudah tak asing lagi dengan gerai soto tangkar ini. Memiliki banyak cabang, pusatnya Soto Tangkar H. Diding berada di Pasar Pagi Lama.

Soto tangkar di sini sangat menjaga keasliannya dari waktu ke waktu. Maka tak heran jika peminat soto tangkar Haji Diding juga terus bertambah seiring berjalannya waktu. Tak hanya soto tangkar, di sini pecinta kuliner juga dapat mencicipi sate kuah dengan daging sapi empuk. 

Lokasi di Jalan Pasar Pagi II, RT.2/RW.2, Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. 

Soto Tangkar Jumanta

Pilihan lainnya, jika sedang melewati kawasan Glodok, mampirlah ke Gang Kalimati yang di dalamnya terdapat soto tangkar Pak Jumanta. Sudah berjualan sejak 1970-an, soto tangkar Pak Jumanta masih eksis hingga kini.

Sebaiknya datang waktu pagi hari karena sekitar jam 12 siang soto tangkarnya biasanya sudah terjual habis. Untuk dapat menyantap semangkuk soto tangkar, pengunjung hanya perlu menyiapkan uang kurang lebih Rp 25 ribu.

Lokasi di Jalan Pancoran Gang Kalimati, Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta.

Soto Tangkar Jakarta shutterstock
Ini merupakan campuran budaya lokal, Tionghoa, India dan Arab. Foto: shutterstock

Soto Tangkar Omah Sendok

Kalau yang Ini merupakan sebuah restoran yang menyediakan soto tangkar dengan kuah yang lebih merah dan kental. Untuk soal rasa, soto tangkar omah sendok ini sudah tak dapat diragukan lagi, karena memang sangat enak. Isiannya pun sangat berlimpah. Mulai dari daun bawang, potongan tomat, sampai daging yang lunak, dan gurih berlimpah. 

Lokasi di Jalan Empu Sendok No. 45, RT.8/RW.3, Jakarta Selatan

Soto Tangkar Tanah Tinggi

Kedai ini sudah dibuka sejak 1946. Warung soto tangkar ini didirikan pak Haji Ikhsan.

Keunikan dari soto tangkar di sini adalah kuahnya yang kental serta berwarna kemerahan. Isiannya pun sangat komplit, mulai dari daging sapi, babat, paru, iso, kikil, tulang muda dan tulang rawan telinga. 

Lokasi di Jalan Tanah Tinggi III No. 15, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat. 

Soto Tangkar Gunawan

Ini pilihan soto tangkar yang enak lainnya. Kedainya terletak di pinggir jalan dengan gerobak tradisional namun rasa dari soto tangkar di sini tak kalah dengan yang terdapat di restoran. Jika ingin menyantap semangkuk soto tangkar di sini, usahakan hindari makan siang, karena tempat ini akan dikerubungi pelanggan saat jam makan siang tiba. 

Lokasi di Jala Warung Jati Barat No. 48, Kalibata, Jakarta Selatan.

agendaIndonesia

*****

Goyang Lidah ala Temanggung, 5 Yang Unik

Goyang lidah ala temanggung, Jawa Tengah di antaranya ada sego gono.

Goyang lidah ala Temanggung mungkin belum banyak yang hapal luar kepala. Maklum, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah masih belum menjadi destinasi utama. Kota kecil ini biasanya cuma dilewati jika orang hendak menuju Wonosobo dan Dataran Tinggi Dieng.  

Goyang Lidah ala Temanggung

Temanggung mungkin lebih dikenal sebagai salah satu penghasil kopi. Ya, sebagai penikmat kopi, Temanggung tentu tak asing. Kabupaten ini dikenal sebagai penghasil kopi terbesar di Jawa Tengah. Kopinya juga dipertimbangkan masyarakat dunia saat berhasil masuk delapan besar festival kopi di Swedia dan dipamerkan di pergelaran bertajuk Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Atlanta, Amerika Serikat. 

Menyeruput secangkir kopi tentu lebih nikmat jika dipadu dengan camilan, entah ringan maupun berat. Dan Temanggung punya punya padanan untuk kopinya. Tertarik? Ini ada 5 yang bisa jadi pilihan.

Sego Gono

Inilah makanan khas Temanggung yang kini jarang ditemukan di pasar-pasar tradisional. Namun, penganan ini bisa ditemukan di perhelatan tertentu. Sego gono disajikan ala kadarnya, tapi cita rasanya sama sekali tak sekadarnya. Nasi kukus berbumbu ini dilengkapi mbayung (daun lembayung, daun dari kacang panjang), kubis, tempe, teri, kacang, dan parutan kelapa muda. Aromanya begitu menggoda. Saat disantap hangat-hangat, rasanya jempolan.

Bila ditambahkan ikan asin goreng atau rempeyek, hmm… semakin enak. Kenikmatan ini bisa jadi timbul karena kesungguhan juru masaknya. Bisa juga karena menggunakan dandang gerabah dan kukusan bambu. Atau bisa jadi karena teknik mengukus dengan memperhatikan urutan, seperti nasi-sayuran-nasi-sayuran-dan seterusnya. Tak perlu merogoh kantung lebih dari Rp 5 ribu untuk dapat menikmati seporsi sego gono.

Pasar Papringan; Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kabupaten Temanggung

Pasar Entho; Jalan Diponegoro, Parakan,Kabupaten Temanggung

Goyang lidah ala Temanggung masih jarang ditengok orang, padahal banyak yang bisa jadi teman ngopi.
Kupat tahu dari Temanggung hampir mirip dengan saudaranya di Magelang. Foto: Dok. shutterstock

Kupat Tahu

Jarak Magelang ke Temanggung tak lebih dari satu jam perjalanan. Tak ayal,  kulinernya pun terpengaruh. Salah satunya ditandai dengan keberadaan kupat tahu. Penganan ini berisi potongan ketupat, tahu goreng, dan tauge, sama seperti yang disajikan di Magelang.

Selain itu, seporsi kupat tahu dilengkapi dengan bakwan sayur, potongan kol, cincangan kubis atau seledri, guyuran bumbu kacang setengah cair dengan rasa lebih manis dan gurih–karena dipadukan dengan gula merah cair, dan bawang goreng. Nah, seporsi kemewahan kupat tahu yang disajikan diganjar tak lebih dari Rp 15 ribu. 

Kupat Tahu Batoar; Jalan Gilingsari Pandean, Kabupaten Temanggung

Bakso Lombok Uleg

Bakso seoertinya hanya sajian biasa. Namun, di Temanggung, lain ceritanya. Ada bakso lombok uleg yang dikenal sejak 1950-an dan telah melekat dengan daerah tersebut. Tak sulit ditemukan. Jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer arah timur Alun-alun Temanggung, tepat di ruas Jalan Sudirman. Warung Bakso Lombok Uleg Pak Di, demikianlah warung itu dikenal.

Seporsi bakso lombok uleg seharga Rp 14 ribu terlihat punya tampilan berbeda. Hal yang pertama dilakukan penjual setelah pelanggan memesan menu adalah menghaluskan (uleg, dalam bahasa Jawa) cabai rawit di mangkuk. Tingkat kepedasannya dapat disesuaikan, yakni lima cabai untuk kategori sedang dan sepuluh cabai untuk kategori pedas. Setelah itu, potongan-potongan ketupat, tahu, dan bakso dimasukkan, lantas  disiram kuah kaldu panas. Pelengkapnya adalah kecap, bukan saus atau sambal.

Bakso Lombok Uleg Pak Di; Jalan Sudirman Nomor 48 A, Kabupaten Temanggung

Goyang lidah ala Temanggung ternyata banyak ragamnya, dari yang berkuah atau berbumbu kacang.
Pecel khas Temanggung dengan daun selada air. Foto: Dok. shutterstock

Pecel Kenci Pikatan

Jika ingin menikmati olahan selada air atau kenci–sebutan masyarakat Temanggung untuk selada air, seporsi pecel kenci Pikatan bisa jadi jawabannya. Di Pelataran Parkir Pikatan Water Park yang berada sekitar 3 kilometer arah tenggara pusat Kota Temanggung, beberapa warung makan sederhana menyajikan menu itu. Kenci Pikatan disajikan bersama mi kuning dan bumbu kacang yang sudah ditumbuk halus dengan tingkat pedas sesuai dengan selera. Seporsi pecel mi dihargai Rp 6 ribu. Bila tambah nasi putih, harganya menjadi Rp 10 ribu. 

Meski tampilannya biasa, manfaat mengkonsumsi kenci tidak main-main. Selain kaya akan kandungan vitamin sayuran rendah kalori ini mengandung fitonutrien alami yang berperan sebagai antioksidan. 

 Pecel Kenci Pikatan; Pikatan Water Park; Jalan Raya Pikatan Mudal, Kabupaten Temanggung

Jajan Pasar Temanggung

Bila singgah di Pasar Entho yang berjarak sekitar 10 kilometer arah barat laut dari Kota Temanggung, kemungkinan Anda akan teringat dengan Pasar Gang Baru di kawasan Pecinan, Semarang. Meski barang dagangan yang dijajakan berbeda, penampakannya hampir sama. Lantas, apa yang membuat Pasar Entho ini istimewa? Bisa jadi karena beragam penganan tradisional khas Temanggung yang dijual di sini, mulai Rp 1.000. 

Sebut saja entho cotot (singkong yang telah dihaluskan, kemudian diisi gula pasir dan digoreng), ndas borok (terbuat dari parutan singkong/ketela pohon, kelapa, dan gula jawa yang kemudian dikukus), pipis kopyor (berisikan roti tawar, pisang, kelapa kopyor, dilengkapi kuah santan), cetot (singkong yang digiling halus kemudian dicampur dengan kelapa parut sebelum dikukus, dimakan bersama srundeng manis), ketan jali (terbuat dari ketan dengan bulir besar, diolah dengan santan, dimakan dengan parutan kelapa yang sudah dimasak dengan gula merah), buntil daun lumbu (daun talas yang diisi dengan teri, petai Cina, tempe, kelapa parut), dan masih banyak lagi.

Pasar Entho; Jalan Dipenogoro, Parakan, Kabupaten Temanggung

TL/agendaIndonesia

*****

3 Resto, 3 Menu di Manggarai Barat

andi prasetyo DSC06586

Apa kuliner yang bisa dinikmati di labuan Bajo? Hasil laut selalu menjadi menu dan pilihan utama di kawasan wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sementara kopi menjadi minuman yang selalu tersaji. Di mana wisatwan bisa menikmati sajian laut dan kopi yang asyik di kawasan ini? Berikut tiga pilihan resto dan tiga menu yang bisa dipertimbangkan untuk dicicipi selagi bermain di wilayah ini.

insan ramadhan ZtH3nn7QAMw unsplash
Senja di Manggarai Barat. Foto: unsplash

Kuliner di Manggarai Barat

Kuah Asam Arema Sari Laut

Siang itu, Billy sumringah mendapati warungnya disambangi orang luar pulau. “Biasanya yang ke sini hanya guru-guru pulang mengajar yang melintas atau sopir yang hendak melakukan perjalanan ke Lembor,” katanya. Tangannya langsung cekatan mengeluarkan beragam jenis ikan segar yang baru dibeli dari pengepul di Tempat Pelelangan Ikan Labuan Bajo. 

“Hari ini, kami punya ikan cepa, kerapu batu, dan ketamba,” tutur pria Nusa Tenggara Timur yang menikah dengan perempuan asal Malang—itulah sebabnya warung tersebut dinamai Arema—ini dengan lantang. Masakan andalannya adalah ikan kuah asam. Dia menamai masakannya sop ikan kemato (kemangi, asam, dan tomat). 

Yang spesial, proses masaknya masih mempertahankan cara tradisional. Itu juga yang membikin kuah merebakkan wangi khas. Tak amis, juga tidak enek. Warung yang sudah berdiri selama 10 tahun ini buka mulai pagi hingga sore. Bisa ditempuh lebih-kurang 15 menit berkendara dari Bandar Udara Komodo, di sinilah orang bisa menemukan keautentikan masakan ikan kuah asam khas daerah setempat. 

Arema Sari Laut

Kaper (Jalan Trans Flores Labuan Bajo-Ruteng)

Labuan Bajo, Manggarai Barat

Buka pukul 11.00-17.00

Harga per porsi (plus nasi) Rp 40 ribu

Tenda Seafood Kampung Ujung

Lebih-kurang 300 meter dari Pelabuhan Penyeberangan Labuan Bajo, berjejer tenda-tenda kaki lima. Lokasinya tepat di pinggir pantai, di samping jalan utama menuju Kampung Tengah. Di depan tenda-tenda, terpampang beragam jenis ikan, udang, cumi-cumi, dan kerang yang masih segar. Pengunjung boleh memilih sendiri para calon “mangsanya”. 

Asap-asap olahan laut membumbung, menggelitik penciuman orang-orang yang lewat. Ada lebih dari sepuluh kios bisa disinggahi. Semua sama saja, baik dari cara masak maupun harga ikannya. Rata-rata Rp 70 ribu per ekor dengan berat lebih dari 2 kilogram untuk ikan kerapu dan kue, Rp 80 ribu untuk cumi-cumi ukuran besar, serta Rp 50 ribu per kilogram untuk udang. 

Pengunjung dapat memilih cara memasaknya. Yang paling terkenal adalah olahan bakar, goreng tepung, dan kuah asam. Ditambah dengan sambal masak khas Labuan Bajo yang menggunakannggurus, cabai kecil yang terkenal pedas tak terkira. Makan pun makin nikmat, apalagi diiringi dendangan ombak yang menyaru dengan irama angin malam. 

Seafood Kampung Ujung

Kampung Ujung, Labuan Bajo, Manggarai Barat

Buka pukul 19.00-04.00

Harga per porsi mulai Rp 50 ribu

Kopi dan Kompyang

Budaya minum kopi orang Nusa Tenggara Timur sudah melekat. Kala tamu datang pun, suguhannya berupa minuman lokal bercita rasa pahit dan asam tersebut. Namun itu tak mengherankan karena kopi menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat setempat. Selain itu, di daratan Flores, banyak ditemui warung-warung yang menjajakan kopi, selayaknya Kopi Mane yang dibuka pada 2015—kopi mane berarti kopi sore. Pemiliknya, Wenti Romas, meneruskan usaha ayahnya yang sudah lebih dulu dibuka di daerah Ruteng, Manggarai. 

Warung kopi milik Wenti menjajakan beragam jenis arabika dan robusta. Ada Manggarai, Juriah, Yellow Caturra, dan Lanang. Kopi yang menyimpan rasa paling istimewa adalah Juriah. Kopi ini dipanen 2 tahun sekali di atas ketinggian 1.300 mdpl. Belanda yang pertama kali membawa biji kopi tersebut di Ruteng. Rasanya berbeda dengan kopi-kopi lain. After taste-nya menggambarkan karakter karamel, cokelatdan tembakau yang kuat. 

Segelas Juriah atau kopi lain biasa disantap bersama kompyang, roti tradisional yang dibuat dari tepung beras dengan ditaburi wijen. Sebelum disajikan, kompyang harus digoreng hingga kecokelatan. Meneguk kelezatan kopi dan mencecap kompyang sembari menikmati sore adalah kebahagiaan sederhana di warung yang istimewa. 

Kopi Mane

Jalan Utama Bandara Komodo Labuan Bajo, Flores

Buka pukul 09.00-21.00

Harga kopi mulai Rp 20 ribu, kompyang Rp 2.500

F. Rossana/A, Prasetyo

Empal Gentong Cirebon, 5 Yang Maknyus

Empal gentong Cirebon adalah kuliner legendaris kota Udang.

Empal gentong Cirebon menjadi salah satu kuliner yang wajib disantap ketika mampir ke kota udang itu. Meskipun kini orang dapat menemukan empal gentong Cirebon di daerah lain cukup mudah, namun mencicipinya langsung dari daerah asalnya akan berbeda cita rasanya.

Empal Gentong Cirebon

Ya, makanan khas ini memang populer hingga ke penjuru negeri. Rasanya yang nikmat membuat banyak orang menyukainya. Jika dilihat sekilas akan banyak yang mengiranya sebagai gulai. Ke dua makanan tersebut memang tampilan sekilasnya mirip, namun sebenarnya sangat berbeda, baik dari bumbu juga cara memasaknya.

Empal gentong Cirebon sendiri memiliki nilai historis cukup panjang. Bagaimana cerita di balik manakan lezat yang menggoda selera ini?

Sejarah Empal Gentong Cirebon dalam sejumlah catatan diperkirakan muncul pada abad ke 15 masehi dan dipercaya sebagai salah satu media penyebaran agama Islam di Cirebon, juga Jawa Barat. Meskipun belum ditemukan catatan otentikny, namun hal itu cukup diyakini masyarakat.

Empal gentong Cirebon dulu dijadikan sarana untuk menyebaran agama ISlam.

Keyakinan tersebut salah satunya diperkuat dari bahan utamanya. Pada awal kemunculannya, empal gentong dibuat dengan menggunakan daging kerbau.

Pemilihan jenis daging ini memeiliki pertimbangan pada masa itu masyarakat Cirebon banyak menganut agama Hindu. Sementara sapi merupakan hewan sakral di agama tersebut sehingga tidak boleh dikonsumsi.
Empal gentong Cirebon sendiri merupakan hasil perpaduan budaya Jawa, Arab, India, dan Cina yang berakulturasi dengan baik. Dilihat dari ciri makanannya, empal gentong memiliki kuah seperti gulai yang merupakan makanan dengan pengaruh Arab dan India.

Sedangkan bumbu-bumbunya banyak berasal dari budaya Cina dan lokal. Selain itu, di dalam makanan ini biasanya dicampur jeroan, bahan yang sering dijumpai pada makanan khas Tionghoa.

Daerah Cirebon memang menjadi pelabuhan tempat singgahnya pedagang dari berbagai negara, tak heran jika akhirnya semua budaya berakulturasi.

Sumber lain menyebutkan bahwa nama empal gentong diambil dari cara memasaknya yang dibuat di dalam kuali atau perik tanah liat atau gentong. Kemudian dimasak di atas tungku dengan bahan bakar kayu.

Cirebon merupakan kota pelabuhan yang didatangi banyak pedagang dan pelaut dari pelbgai negara.
Pantai Kejawanan, Cirebon (Rosana)


Sejak zaman Sunan Gunung Jati, sekitar awal 1400-an, di wilayah barat Cirebon sebelah utara Jamblang ada Desa Situwinangun yang dikenal sebagai pembuat anjun atau gerabah yang terbuat dari tanah liat diantaranya gentong dan padasan.

Kabarnya empal gentong khas Cirebon ini tercipta berawal dari kreativitas masyarakat Cirebon pada zaman dahulu yang memanfaatkan gentong sebagai media untuk memasak empal.

Dengan berlimpahnya kayu dan pohon asam, masyarakat Cirebon memanfaatkannya sebagai kayu bakar untuk memasak empal gentong Cirebon. Menurut masyarakat Cirebon memasak dengan menggunakan kayu bakar dari pohon asam dipercaya memiliki aroma yang khas pada masakan.

Meskipun belum ada sumber yang tepat mengenai asal usul empal gentong Cirebon ini, namun masyarakat percaya bahwa makanan ini menjadi salah satu taktik penyebaran agama Islam yang dilakukan Sunan Gunung Jati pada waktu itu.

Manapun cerita tentang asal-usul empal gentong ini, yang pasti masakan ini enak dan menjadi kuliner wajib jika berkunjung ke kota di Jawa Barat ini. Lalu mana tempat makan empal gentong yang paling maknyus?

Empal Asem shutterstock
Selain epal gentong yang bersantan, ada pula empal asem yang berkuah bening. Foto: shutterstock

Ketika dolan ke Cirebon, ada beberapa tempat makan empal gentong Cirebon yang sangat terkenal. Berikut ini lima rekomendasinya.

Empal Gentong H. Apud

Warung makan yang satu ini bukan saja terkenal namun juga legendaris. Penjual empal gentong Cirebon terkenal ini sudah ada sejak 1994. wisatawan bisa menemukan tenpat ini di Jalan Tujuh Pahlawan Revolusi, Jalan Juanda, atau di kawasan Batik Trusmi.

Dagingnya empuk, dan bumbunya menyatu dengan daging. Untuk mencicipi makanan ini, pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp 23 ribu untuk satu porsi. 
Empal Gentong Amarta

Warung empal gentong Amarta tak kalah legendarisnya dibanding Haji Apud. Tempat ini sudah ada sejak 1997. Lokasinya ada di Jalan Ir. H. Juanda Battembut, Kabupaten Cirebon. Harga empal gentong di tempat ini Rp 24 ribu per porsinya. Rasanya maknyus dengan bumbu khas dan tekstur daging yang empuk.

Empal Gentong Krucuk

Wisatawan juga bisa mencicipi empal gentong Cirebon di tempat makan yang terletak di Jalan Slamet Riyadi ini. Di sini makanannya disajikan dengan kuah kuning serta taburan bawang merah dan kucai yang membuat rasanya semakin sedap.  Satu porsi empal gentong Rp 20 ribu sudah termasuk dengan nasi.

Empal Gentong Bu Darma

Rumah makan empal gentong yang satu ini sudah ada sejak 1980. Lokasinya juga terletak di Jalan Slamet Riyadi, Cirebon. Dengan membayar Rp 22 ribu, pengunjung sudah bisa merasakan sensasi menikmati empal gentong.
Empal Gentong Hj. Dian

Tempat makan empal gentong Cirebon terkenal selanjutnya adalah warung Hj. Dian. Lokasinya di Jalan Raya Ir. H. Juanda Tengah Tani, Cirebon. Restoran ini salah satu tempat makan incaran para wisatawan yang ingin mencicipi makanan khas Cirebon. Harga satu porsi empal gentong di sini Rp 25 ribu.

Selain empal gentong yang kuahnya bersantan, wisatawan juga bisa menanyakan ke para penjual tersebut masakan empal asem. Sama-sama masakan daging, kuahnya bening dan ada sensasi rasa asem karena menggunakan belimbing wuluh yang segar.

agendaIndonesia

*****