3 Menu Minahasa Nan Pedas dan Berempah

Cakalang Fufu di Minahasa

3 menu Minahasa nan pedas dan berempah ini layak untuk diburu saat kita pergi ke Manado dan sekitarnya.

3 Menu Minahasa Aroma laut

Melancong ke Sulawesi Utara memang tak lengkap rasanya kalau tidak menjajal olahan hasil baharinya. Di tanah yang kondang dengan sebutan Celebes itu, beragam jenis ikan bisa ditemui. Sebut saja ikan cakalang, roa, dan nike. Bila diolah dengan bumbu-bumbu lokal yang khas—pedas dan berempah—nikmatnya bakal menggoyang lidah. Berikut 3 pilihannya.

Cakalang Fufu Ahmad Yani

Bila melintas di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Sario—kurang lebih 2,7 kilometer dari Zero Point—mata akan disegarkan dengan deretan penjual yang menjajakan cakalang fufu. Mereka membuka lapaknya di pinggir-pinggir jalan. Dagangannya dibiarkan terpajang di atas meja. Orang lewat akan tergoda melihat olahan ikan yang dibumbui garam dan bubuk soda, diasap, dan dijepit kerangka bambu itu. Tampilan yang cokelat keemasan dan aroma anyir laut yang merebak tak mampu ditampik.

Di sana, cakalang fufu ditawarkan dalam aneka ukuran, mulai 500 gram hingga 2 kilogram. Harganya pun dibanderol mulai Rp 50 ribu untuk ikan yang paling kecil hingga Rp 200 ribu untuk yang paling besar. Meski bisa dimakan langsung, menjadi makanan pendamping nasi, atau diolah lagi. Misalnya dimasak woku, dengan komplemen bumbu khas Minahasa. Enak juga dipotong kecil-kecil dan dimakan dengan nasi hangat. Tentu plus sambal roa atau dabu-dabu.

Cakalang fufu bisa dijadikan alternatif oleh-oleh untuk kerabat di luar kota. Sebab, teksturnya kering dan tidak berair. Bila disimpan di tempat sejuk, bisa tahan sampai satu pekan. Tak cuma bisa menemui cakalang fufu, di sepanjang Jalan Ahmad Yani, pelancong bisa berbelanja sambal roa dan terasi ikan, yang diproduksi langsung dari Buton.

Oleh-oleh Cakalang Fufu

Jalan Ahmad Yani, Sario, Manado, Sulawesi Utara

Buka pukul 09.00-21.00 Wita

Perkedel Nike Raja Oci

Olahan nike, ikan yang hanya hidup di Danau Tondano Tomohon—dan Sungai Bone Gorontalo—menjadi makanan yang dicari para pelancong tatkala mereka bertandang ke Manado. Salah satu restoran yang menyajikan masakan ikan mungil berwarna transparan ini adalah Raja Oci, yang beralamat di Jalan Sudirman. Orang beramai-ramai datang ke kedai makan yang telah buka sejak 1994 tersebut.

Fajar Anggun Putra, si pemilik restoran, berhasil mengenalkan perkedel nike yang membuat pengunjung ketagihan. Rasanya unik. Sedikit amis, tapi tidak membuat eneg. Teksturnya lebih keras daripada perkedel perkedel kentang atau perkedel daging. Namun rasanya jauh lebih gurih. Ada aroma ikan yang khas, yang tidak bisa ditemui di olahan perkedel pada umumnya. Bentuknya pun tak bundar, namun gepeng layaknya bakwan jagung.

Perkedel nike cocok dinikmati bersama pakis tumis pepaya, goropa atau kerapu woku, dan oci atau ikan gembung bakar. Tentu makin lezat bila dicocol sambal dabu-dabu yang pedas menggugah selera, plus nasi putih hangat. Harga seporsi perkedel, isi lima, Rp 30 ribu.

Raja Oci

Jalan Jendral Sudirman Nomor 85, Pinaesaan, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara

Buka pukul 11.00-22.00 Wita

Mujair Woku Si Neleyan

Masakan woku memang tak bisa dilepaskan dari budaya makan masyarakat Minahasa. Sajian berkuah kuning kental ini selalu berhasil menggoda penikmat kuliner untuk menjajalnya sewaktu berkunjung ke Sulawesi Utara. Salah satu yang patut dicoba adalah masakan woku di restoran milik Wali Kota Tomohon Jimmy Eman. Lokasinya di Tomohon, satu jam waktu perjalanan dari Zero Point Manado.

Bila biasanya bahan utama woku adalah ikan laut, di restoran berkapasitas 200 orang ini, woku disajikan menggunakan air tawar. Ikannya menggunakan mujair yang segar lantaran langsung dijaring dari kolam yang berlokasi di samping warung tersebut. Mujair diolah matang, namun tak terlalu masak. Tekstur ikannya tidak rusak. Bagian-bagian tubuhnya pun masih utuh, tak ada yang meluruh atau larut dengan bumbu. Ikan seberat 500 gram itu lantas disiram dengan kuah kuning. Warna kuning berasal dari kunyit.

Kala dihirup, aromanya kental dengan rempah-rempah. Yang paling menyengat adalah daun woka– daun lontar yang umum dipakai untuk membungkus nasi. Aroma lain, yang berasal dari daun jeruk, daun pandan, dan jahe, melengkapi dan menyeimbangkan, menghasilkan wewangian yang khas, lagi harmonis. Tak ada yang terlalu tajam dan membikin eneg.

Mujair woku ini dibanderol dengan harga Rp 60 ribu, bisa dinikmati bersama dua orang lainnya. Makannya disandingkan dengan kangkung bunga pepaya untuk menyamarkan bau amis dan perkedel jagung untuk memberikan sensasi kriuk. Tak lupa disantap dengan nasi putih hangat.

Si Neleyan

Jalan Raya Tomohon, Talete 1, Tomohon, Sulawesi Utara

Buka pukul 09.00-21.00 Wita

F. Rosana/A. Prasetyo

3 Suguhan Warisan Kuliner Bagansiapiapi

Soto Bagan di Bagansiapiapi

3 suguhan warisan kuliner Bagansiapiapi menjadi pelengkap saat mengunjungi kota di Provinsi Riau ini. Kota ini mungkin nyaris tak terdengar, hingga beberapa tahun lalu ketika tradisi Bakar tongkangmenjadi  sebuah tradisi yang makin dilirik sebagai atraksi pariwisata Indonesia.

3 Suguhan Warisan Kuliner Bagansiapiapi

Awalnya tradisi ini hanya menjadi atraksi masyarakat Bagansiapi-api, Provinsi Riau. Namun, beberepa tahun terakhir ia menjadi wisata bakar tongkang yang makin banyak diminati untuk disaksikan. Bahkan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia, juga wisatawan manca negara.

Kota ini tak ubahnya sebuah muara pertemuan budaya antara Tionghoa dan Melayu. Beragam peninggalan masa lampau bersisa. Kuliner adalah salah satunya. Jenis makanan, cara masak, dan kaidah menyajikan menjadi warisan yang turun-temurun dapat dinikmati penduduk asli, juga pelancong yang sengaja bertandang.

Sepiring Kenikmatan Kwetiau Melayu

“Saya Chinese dan suami saya Bugis. Warung ini dimiliki oleh keluarga dengan latar belakang kultur yang sangat berbeda.” Indrawati meracik kwetiau sambil berkisah. “Sedangkan kami tinggal di tanah Melayu. Makanya punya masakan dengan cita rasa campuran,” tuturnya, membuka obrolan. “Sreeng….” Bau wangi merebak. Muasalnya dari bumbu, kaldu udang, telur, dan potongan mi khas Tionghoa.

Di kota kecil Bagansiapiapi, yang dihuni mayoritas warga keturunan Fujian, Cina Selatan, memang gampang ditemukan warung kwetiau semacam ini. Maklum, masakan tersebutlah yang sejatinya paling mula diperkenalkan orang Hokkian dan Tio Ciu di kota itu. Meski banyak saingan, warung Indrawati dan suami, yang diberi nama warung Wira—Wira adalah nama anaknya—termasuk yang paling ramai lantaran punya cita rasa khas, lagi halal. Orang-orang menyebutnya warung kwetiau Melayu. “Yang makan pun kebanyakan orang Melayu,” katanya.

Sudah 14 tahun Indrawati rutin meladeni pesanan mi tebal berbahan tepung beras itu. Jadi, meski sambil mengobrol, konsentrasinya tak bakal buyar. Satu per satu bumbu dapur—bawang, merica, dan komplemen lain—tak terlewat masuk wajan. Masakannya yang terkenal nikmat dan kepiawaiannya menjamu tamu menjadi modal utama untuk mengundang pelanggan. “Rahasianya hanya bawang putih. Asal bisa memperkuat rasa bawang putihnya, tanpa berlebihan, masakan akan jadi enak. Plus harus ramah,” ucapnya sembari berseloroh.

Tentu, kenikmatannya memuncak dengan campuran udang khas Bagan yang punya cita rasa gurih. Tak perlu menambah daging sapi atau ayam buat membikin rasa menjadi kaya. “Ya, kekuatannya memang juga berasal dari udang Bagan, tak perlu lain-lain lagi,” tuturnya. Kalau sedang musim pasang mati, mereka akan menyimpan udang sebanyak-banyaknya supaya tak kehabisan stok.

Sepiring kwetiau racikan Indrawati dihargai Rp 13 ribu. Murah dan lezat. Plus, ditambah dengan kopi Bagan, keasyikan menikmati kota tua itu makin komplet. Tak heran kalau nama perempuan separuh baya berkulit putih dan bermata sipit ini belakangan kerap mejeng di halaman berita lokal.

Warung Kwetiau Wira

Buka pukul 06.00-12.00 (cabang Wira II buka sampai malam)

Alamat: Jalan Pahlawan, Bagansiapiapi, Riau

Sate kerang bagansiapiapi
Sate kerang Bagansiapiapi. Dok. A. Prasetyo-TL

Wangi Asap Pembakaran Kerang

Olahan kerang memang umum ditemui di pesisir, tak terkecuali Bagansiapiapi. Kerang bisa dimasak segala rupa. Namun salah satu yang paling kesohor dan populer di kalangan wisatawan yang mengunjungi Bagan, juga masyarakat sekitarnya, ialah olahan sate. Sebetulnya, secara spesifik, yang terkenal adalah sate kerang di warung sederhana milik Ismini. Perempuan keturunan Melayu itu namanya selalu disebut-sebut oleh pelancong kalau mereka menyambangi gerbang sisi barat Provinsi Riau ini.

Gerobak Ismini memang bukan gerobak yang masih berusia hijau muda. Sudah 17 tahun keberadaannya nangkring di Jalan Perdagangan, di sebuah ruko di persimpangan. Di sana, ia berbagi tempat bersama sejumlah penjaja makanan lain.

Warung Ismini mulai hidup sore hingga malam. Sejak pukul 16.00 hingga 23.00, asap dari pembakaran selalu mengepul. Aromanya merebak. Bebauan wangi laut bercampur arang menjadi ucapan selamat datang buat pengunjung. Kala rombongan kami berkunjung, Ismini sedang asyik menyiramkan kuah kacang ke piring berisi sepuluh tusuk sate kerang. Saya memesan satu porsi dan sejurus kemudian sudah mendarat di meja.

Tampilannya tak berlainan dengan sate ayam. Hanya, dagingnya lebih hitam sehingga terkesan gosong. Tatkala masuk mulut, kerang bercampur bumbu kacang itu seakan pecah. Krispy, namun tetap juicy. Bau amis sudah hilang, tersaru bumbu kacang yang digiling tak terlalu halus. Yang membikin enak adalah lontongnya. Lontong berpotongan dadu ini punya tekstur kenyal, mirip dengan gendar atau puli, tak umum seperti yang biasanya dibikin penjaja sate. Sepiring kenikmatan sate kerang bisa dibayar hanya dengan Rp 12 ribu.

Sate Kerang Ismini

Alamat: Jalan Perdagangan, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 16.00-23.00

Bihun Goreng dalam Semangkuk Soto Bagan

Dalam semangkuk soto, yang umum dijumpai adalah bihun rebus bersama daging ayam atau sapi, kol, dan tauge. Namun tak demikian dengan soto yang ditemui di Bagansiapapi. Kasman, pegiat budaya asal Pekanbaru, yang mengatarkan kami berkeliling di kota kecil itu, mengharuskan saya mencicipi soto autentik yang berlokasi di Jalan Perdagangan.

Sekilas, kala masuk ke warung sederhana bergaya ruko kuno ini, atmosfernya sama seperti kedai-kedai lain. Saat menengok gerobak di tempat itu, racikan dan bumbu-bumbu yang terpampang pun selayaknya gerobak soto di berbagai tempat. Namun, saat Subardi—ipar si empunya warung—meraup bihun, saya cukup tercengang. “Nah, di sini khasnya memang soto dengan isi bihun goreng,” kata Kasman. Bihun itu ditaburkan ke mangkuk hingga penuh, bahkan menutupi komplemen lain. Setelahnya, kuah santan kental bercampur bumbu soto, seperti bawang merah, bawang putih, dan ketumbar, disiramkan ke dalam mangkuk.

Sejurus kemudian, asap langsung mengepul. Bihun goreng yang semula chrispy berubah menjadi lembek dan berbuih. Di sinilah sensasi menikmati soto Bagan mencapai puncaknya. Dalam keadaan hangat hampir panas, bihun goreng yang sudah lembek masih menyisakan tekstur garing kala dikunyah. Gurihnya gorengan bercampur santan memunculkan rasa yang harmonis. Bila dirasa-rasa, kuahnya cukup mirip dengan soto Medan. Hanya, lebih kuat aroma kunyitnya.

Tak heran, sejak dibuka pukul 06.00, warung yang sudah berdiri 12 tahun ini selalu ramai. Orang-orang gemar menyantap keunikan rasa, juga harga yang murah. Seporsi soto Bagan dihargai Rp 15 ribu, plus nasi.

Soto Bagan

Jalan Peradagangan, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 06.00-23.00

F. Rosana/A. Prasetyo/Dok. TL

Mie Koclok Mang Sam, Gurih sejak 1951

Mie Koclok Mang Sam Cirebon, kuliner legendaris kota Udang.

Mie Koclok Mang Sam harus diakui sebagai salah satu kuliner kota Cirebon, Jawa Barat, yang paling diburu para pendatang. Wujudnya yang berkuah kental, serta disajikan saat hangat membuatnya jadi makanan yang kerap disantap warga setempat saat malam hari atau hujan.

Mie Koclok Mang Sam

Kita mungkin sudah pernah melihat atau menyantap ragam masakan mie berkuah, seperti mie rebus Jawa ala Yogyakarta, mie kocok Bandung, atau mie celor khas Palembang. Mie koclok sendiri agak mirip secara wujud, namun dalam penyajiannya memiliki keunikan tersendiri.

Mie yang digunakan adalah mie kuning telur yang dimasak dengan cara direbus seraya dikocok di dalam air panas selama beberapa saat. Konon, hal inilah yang menjadi alasan mengapa ia kemudian kondang disebut sebagai mie koclok.

Mie Koclok Mang Sam menjadi salah satu ikon Cirebon, selain Tari Topeng Cirebon
Tari Topeng Cirebon salah satu budaya kota ini. Foto: shutterstock

Cara memasaknya sebetulnya agak mirip dengan mie kocok Bandung, namun ada beberapa hal yang membedakannya. Kalau mie kocok didominasi bahan pelengkap dari sapi seperti kikil dan babat, maka bahan pelengkap mie koclok meliputi kol, taoge, ayam suwir, dan telur rebus.

Sementara itu, kuah hangat yang digunakan pada mie koclok berasal dari paduan kaldu ayam dan tepung tapioka, yang membuatnya terlihat lebih kental. Berbeda dengan mie kocok yang kuahnya menggunakan kaldu sapi dan terlihat bening.

Kuahnya yang cenderung bertekstur kental lantas menjadi keunikan tersendiri, ditambah racikan bumbunya yang memberikan sensasi rasa gurih. Terkadang, mie koclok juga dihidangkan dengan cabe, sambal atau merica, agar menambah cita rasa pedas di dalamnya.

Karena karakternya tersebut, maka tak heran bila kuliner satu ini umumnya lebih populer disantap kala malam hari. Kuah hangatnya dengan cita rasa gurih akan mampu menghangatkan tubuh. Dipadu dengan mie yang kenyal, membuatnya terasa pas dan nikmat di lidah.

Kuliner ini disinyalir sudah beredar di sekitaran kota udang tersebut sejak awal era kemerdekaan pada tahun 1945. Bahkan, warung mie koclok Mang Sam sendiri adalah salah satu warung penjual mie koclok tertua di Cirebon, karena sudah berdiri sejak tahun 1951 silam.

Mulanya, warung ini berjualan di area pasar Balong kini berada. Seiring pembangunan pasar Balong yang berlangsung pada sekitar tahun 1970-an, warung tersebut lantas berpindah tempat ke kawasan jalan Pekiringan, yang tidak jauh dari pasar Balong.

Mi Koclok Khas Cirebon IG Cynthchevyll
Kuah yang kental menjadi salah satu ciri khas mie koclok Cirebon. Foto: dok milik IG Cynthchevyll

Lokasinya berada di sebuah gang kecil yang berseberangan dengan Apotek Pasar Balong. Kendati sempat didapati beberapa warung mie koclok dengan nama serupa, nyatanya warung mie koclok Mang Sam yang asli tidak membuka cabang di tempat lain.

Lebih dari tujuh puluh tahun berselang, warung tersebut kini dikelola oleh generasi ketiga dari pendiri usaha tersebut. Namun nyatanya animo pengunjung masih terus tinggi, lantaran cita rasanya yang senantiasa konsisten terjaga.

Sejak dulu hingga kini, mereka masih mempertahankan metode memasak dengan menggunakan arang. Kuah mie koclok buatan mereka juga disebut-sebut tak terlalu kental dan pas dengan selera kebanyakan orang, sehingga tak membuat enek saat disantap.

Seiring berjalan waktu, warung mie koclok Mang Sam kemudian juga mulai bereksperimen dengan beberapa menu-menu baru nan unik yang turut menarik perhatian konsumen. Salah satunya adalah Mie Gado-gado, yang memadukan gado-gado dengan mie koclok.

Sebelumnya, mereka sudah sempat berjualan gado-gado di samping mie koclok seperti biasanya. Karena menu gado-gado tersebut cukup diterima baik, mereka kemudian mulai berinovasi dengan menggabungkan kedua menu itu.

Secara mendasar, hidangan ini merupakan perpaduan lontong, sayuran dan bumbu kacang selayaknya gado-gado pada umumnya. Namun gado-gado kemudian ditambahkan mie, ayam suwir, telor rebus dan guyuran kuah kental nan hangat ala mie koclok.

Sebagai pemanis, di atasnya diberikan remahan emping dan kerupuk udang. Ternyata, respons pengunjung terbilang positif terhadap eksperimen ini, dengan perpaduan antara kuah kentalnya dengan bumbu kacang gado-gado yang disebut unik dan berbeda dari yang lain.

Harga menu-menu tersebut pun terbilang cukup terjangkau, setiap seporsinya dihargai Rp 25 ribu. Bagi pengunjung yang lebih suka menyantap bihun ketimbang mie, warung mie koclok Mang Sam juga menyediakan pilihan menu-menu tersebut dengan menggunakan bihun putih.

Karena umumnya populer sebagai kuliner favorit ketika malam hari, maka salah satu teman makannya adalah menu minuman hangat seperti wedang ronde. Lain dari itu, tersedia pula beragam minuman dingin dan juice buah segar.

Jam buka warung pun biasanya mulai dari jam 15.00 hingga tengah malam. Tentunya ini untuk mengakomodasi konsumen yang umumnya ramai berdatangan untuk makan malam, atau hanya sekedar mencari kudapan hangat di tengah malam.

Mie Koclok Mang Sam

Jl. Pekiringan no. 110, Cirebon

agendaIndonesia/audha alief p.

****

Masakan Makassar, 5 Menu Untuk Makan Siang

Wisata kuliner memang asyik, tapi awa dengan metabolisme tubuh. Foto shutterstock

Masakan Makassar selalu menggoda selera. Kota yang pernah menjadi pusat transit perdagangan rempah-rempah terbesar pada masa kolonial, memiliki beragam warisan kekayaan. Salah satunya kuliner. Rasanya semua bahan pangan ada di kulinari kota Angin Mamiri ini.

Masakan Makassar

Segala jenis olahan yang kaya bumbu terdapat di kota yang dulunya bernama Ujung Pandang itu. Misalnya rica-rica, coto, atau konro. Kekayaan kuliner dengan paduan bumbunya yang royal dihimpun dari perpaduan budaya masak berbagai bangsa melalui para pedagang yang konon pernah mampir di Makassar.

Buat orang Jakarta, untuk menyantap kuliner otentik Makassar tentu tak perlu jauh-jauh pergi ke Sulawesi Selatan. Kuliner itu sekarang sudah bisa ditemui di banyak kota. Termasuk Jakarta.

Ada sejumlah restoran yang khusus menyediakan kuliner Makassar dengan bahan-bahan masakan asli yang didatangkan dari Sulawesi Selatan. Ada restoran Sulawesi@Megakuningan yang berlokasi di Kawasan Mega Kuningan. Ada Sop Konro Karebosi di Jalan Boulevard Raya, Kelapa Gading. Semuanya enak.

Cobalah sekali-kali agendakan makan siang dengan menjajal beragam masakan di resto-resto dengan menu khas masakan Makassar. Berikut ini masakan kuliner khas Makassar yang bisa menjadi pilihan dan cocok untuk makan siang.

Ikan Kaneke Bakar Tradisional

Kaneke adalah ikan khas perairan Celebes dan Papua. Saat disajikan di restoran, ikan yang juga dikenal dengansebutan sweetlips ini umumnya dipilih yang memiliki ukuran besar dengan kisaran berat mencapai1,7 kilogram. Menyantapnya pun ramai-ramai, bahkan bisa untuk 10 orang.

Ikan kaneke dibakar menggunakan arang batok. Sistem pembakaran alami membuat aroma makin harum. Tekstur kaneke tidak rusak oleh pembakaran lantaran waktu memasaknya tidak terlalu lama, yakni berkisar 20 menit.

Ikan kaneke nikmat disantap dengan tiga sambal khas, yakni dabu-dabu, mangga camangi, dan petis. Meski judulnya sambal, rasa pedasnya tak terlalu menyiksa. Bila dicocol, pedasnya sambal juga tidak merusak rasa asli ikan.

Sukang Rica Parape

Ikan sukang atau dikenal juga dengan sebutan ikan kambing-kambing juga berasal dari perairan Sulawesi. Ikan ini cukup berdaging dan tak banyak durinya. Jadi kalau makan masakan Makassar ikan sukang tak perlu repot memilah daging dengan durinya.

Masakan Makassar sangat lengkap, dari ikan laut hingga olahan daging sapi.
Ikan Sukang Rica. Foto: Dok. shutterstock

Selain gampang disantap, bumbu khas yang disiram di atas ikan membikin lidah tak berhenti bergoyang. Menariknya, dalam sekali penyajian, ikan ini dihidangkan dengan dua bumbu yang bisa dipilih, yakni rica (pedas) dan parepe (manis).

Bumbu manis berasal dari bumbu bawang putih, gula aren, dan resep rahasia lainnya. Bawang, meski terlihat mendominasi, aromanya tak mencolok, juga tidak membuat mulut bau.

Sementara itu, bumbu rica pedas dikhususkan bagi pecinta sambal. Cabai yang digunakan ialah yang berjenis rawit. Aroma dan warnanya segar, menggugah selera makan.

Coto Makassar

Belum makan masakan Makassar rasanya kalau belum makan coto. Masakan ini sekilas tak ada bedanya dengan soto santan daging sapi. Namun kuahnya lebih keruh dan mlekoh. Ini karena kuahnya juga memanfaatkan kacang tanah.

Masakan Makassar yang terkenal tentu saja coto Makassar. Awalnya menggunakan jerohan sapi, kini banyak yang menyajikan daging juga.
Coto Makassar cocok disantap dengan buras. Foto: Dok. shutterstock

Mirip dengan soto Betawi, awalnya coto Makassar dimasak dengan jerogan sapi. Namun dalam perkembangannya banyak yang menawarkan daging sapi.

Orang-orang Makassar asli biasanya menyantap coto dengan buras. Buras mirip dengan ketupat, namun bentuknya persegi panjang dan ukurannya lebih kecil. Namun buat yang tak biasa menyantap buras, masakan ini bisa dimakan dengan nasi putih biasa.

Mie Titi

Mie titi adalah mi kering asli Makassar. Mie ini disajikan bersama kuah sagu yang kental. Kuahnya sendiri terasa kenyal dan gurih. Jika tak memiliki bayangan soal masakan Makassar ini, bisa membayangkan ifumi di resto-resto Chinese food. Mie-nya digoreng kering lalu disiram dengan masakan sayuran.

Masakan Makassar juga ada yang berupa bakmi kering dengan sayuran.
Mie Titi mirip dengan ifumi. Foto: dokumentasi milik Resep Koki

Sayurannya sendiri di dalamnya terdapat jamur hitam, bakso ikan, sawi putih, cumi-cumi, dan udang. Bila kuah disiram ke mie, tekstur mi yang kering akan melembek.

Ayam Topalada

Ayam topalada sebenarnya merujuk pada masakan ayam cabai merah. Namun bumbunya lebih royal karena dicampur dengan sereh dan rempah-rempah lainnya.

Ayam topalada merupakan alternatif bagi tamu yang tak suka olahan-olahan seafood. Merahnya ayam tak cuma berasal dari cabai, tapi juga saus merah. Bukan saus pabrikan, saus merah itu didatangkan langsung dari Makassar.

Tentu saja masih banyak masakan Makassar lain yang cocok disantap untuk makan siang. Ada konro, sop, atau palubasa. Semuanya enak.

Di Jakarta, selain di Sulawesi@MegaKuningan, pecinta kuliner Makassar juga bisa menemukan masakan Makassar serupa di beberapa restoran di Jakarta. Misalnya di Pondok Ikan Bakar Ujung Pandang. Restoran ini terletak di Jalan Gandaria 1, Jakarta Selatan. Menu yang tersaji pun serupa. Ada ikan kaneke, sukang, juga coto Makassar dan mie titi.

Bila ingin menyantap masakan khas Makassar dengan suasana yang lebih santai, Anda dapat melipir ke kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Daeng Tata, dengan kedainya  Mamink Daeng Tata, menjajakan menu-menu khas Makassar. Warung pinggir jalan ini menjajakan coto Makassar dan sop konro khas Sulawesi Selatan. Disediakan juga menu ikan. Namun, jenis yang tersedia tak cukup komplet.

agendaIndonesia/Rosana

*****

Nasi Jamblang Cirebon, 2 yang Legendaris

Nasi Jamblang Cirebon shutterstock

Nasi jamblang Cirebon sudah menjadi klangenan bagi mereka yang pernah mencobanya. Tidak saja untuk masyarakat Cirebon sendiri, namun juga mereka yang pernah melawat ke kota udang di Jawa Barat ini.

Nasi Jamblang Cirebon

Nasi jamblang barangkali mirip seperti nasi uduk yang lekat dengan Jakarta atau nasi kucing dengan warga Yogyakarta. Aslinya, nasi Jamblang punya ciri khas dengan bungkus daun jati. Tapi belakangan, mungkin karena alasan kepraktisan, ada yang menggantinya dengan daun pisang, bahkan tak kurang yang memilih menggunakan piring saja.

Asal usul nasi yang lezat untuk sarapan ataupun makan siang ini berasal dari  Desa Jampang, Kabupaten Cirebon. Karena unik dan juga murah, nasi jamblang akhirnya populer dan menyebar ke seantero Cirebon. Lauknya, antara lain ikan asin, sate kerang, perkedel, tahu sayur, tempe, aneka pepes, ayam goreng dan lauk yang paling khas seperti tumis cumi hitam dan paru goreng yang renyah dan gurih.

Jika Anda sesekali melawat ke Cirebon, atau melewatinya saat perjalanan dari Jakarta ke arah timur, atau sebaliknya, dan ingin menikmati kuliner khas Cirebon berikut dua pilihan nasi Jamblang yang legendaris.

Nasi Jamblang Pelabuhan

Lokasinya mungkin agak nyempil, di ujung gang senggol di Jalan Pasuketan, Panjunan Lemahwungkuk, Cirebon. Masyarakat setempat menyebutnya nasi Jamblang Pelabuhan. Petunjuk menuju tempat ini hanyalah sebuah papan nama kecil. Di sampingnya ada tanda panah yang mengarahkan orang menuju jalan setapak—jalan masuk ke warung itu.

Memang cukup sulit mencari papan penanda warung sederhana yang sudah buka sejak 1970 ini. Apalagi, kadang-kadang, papan nama nasi jamblang pelabuhan tertutup barisan mobil yang berjejalan parkir di depan gang.

Namun, kesulitan tersebut sebanding dengan rasa santapan yang didapat ketika pelancong sudah sampai di depan meja panjang yang digelar Asneri, penerus kedua warung nasi jamblang itu. Di meja tersebut tersedia berbagai menu rumahan yang tampak nikmati, lagi menggairahkan.

Ada tempe goreng, telur dadar, oseng kerang, daging sapi, dan yang paling spesial: sontong serta semur tahu. Semua menu itu dikemas sederhana, tapi punya cita rasa bintang lima.

Lauk-pauk selengkap ini nikmat disantap bersama nasi yang istimewa, yakni nasi jamblang. Nasi jamblang adalah nasi yang dibungkus daun jati dengan ukuran mini. Nasi jamblang umum menjadi menu sarapan sehari-hari orang Cirebon.

Nasi jamblang pelabuhan milik keluarga Asneri menjadi favorit lantaran punya aroma yang wangi. Musababnya, daun yang dipakai untuk membungkus adalah daun jati yang masih muda. Daun jati muda memberi aroma khas dan mempengaruhi citarasa. Tekstur nasinya juga pas, tak dimasak terlalu pulen, dan empuk seperti ketan.

Keunikan rasa nasi Jamblang miliki keluarga Asneri sudah diakui oleh orang luar maupun orang asli Cirebon. Kata Asneri, resep masakan yang dipakai untuk mengolah bumbu adalah resep temurun dari keluarga yang dipertahankan, waktu demi waktu.

Nasi Jamblang Mang Dul

Pilihan lain untuk menikmati nasi Jamblang di Cirebon adalah legenda yang lain, nasi Jamblang Mang Dul. Uhan, Mang Dul sudah buka sejak tahun 1970. Sama seperti nasi jambalng PelabWarung yang berlokasi di Jalan DR. Cipto Mangunkusumo Nomor 8, Pekiringan, Kesambi, Cirebon, ini lumayan lega. Meski tak luas sekali, warung makan yang berkapasitas tak lebih dari seratus pengunjung ini, setiap pagi riuh dipenuhi tamu.

Tamu dari beragam daerah datang pada pukul 08.00-09.00, yakni pada jam-jam sarapan. Kursi-kursi yang ditata memanjang, sejajar, dan berhadap-hadapan tak pernah lowong. Memang, nasi Jamblang yang kesohor lantaran merupakan langganan bekas Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, itu.

Nasi Jamblang Mang Dul sama seperti nasi Jamblang yang dijual ditempat lain: dikemas kecil-kecil, dibungkus dengan daun jati, dan dihidangkan dengan beragam lauk. Yang membedakan adalah rasa olahan lauk-pauknya yang seolah lebih berbumbu dan nasinya yang punya aroma lebih wangi. Bila berkunjung ke sini, cobalah nikmati tahu semur, sotong, dan sambal merahnya. Tapi jika ingin yang lain, pilihannya ada banyak.

Saat masuk ke warung, pelanggan akan langsung tertuju pada tempat pengambilan nasi yang disajikan secara prasmanan. Nasinya ditata dalam bungkusan-bungkusan daun jati yang khas. Penggunaaan daun jati ini, konon, terinspirasi sejak jaman Belanda, saat mengerjakan jalan raya Pos. Dan ini terus dilestarikan. Mungkin sebagai pembeda dengan nasi-nasi campur di daerah lain.

Pengunjung di warung ini bisa memilih berbagai lauk yang beraneka ragam. Pembeli dapat langsung mengambil sendiri lauk pilihannya. Dari sambal goreng, daging sapi dendeng, hati sapi, tahu kuah, tempe, telor dadar, perkedel, paruh, dan banyak lainnya.

Selain untuk sarapan, nasi Jamblang juga menjadi santapan favorit selama bulan Ramadhan. Banyak pengunjung yang datang sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga sambil mencicipi menu kaya akan lauk ini. Ramainya memang pas berbuka puasa. Kadang tak sedikit yang menikmatinya untuk sahur.

Nah, kapan punya agenda ke Cirebon? Yuk, agendakan Indonesia-mu.

RITA N/F. ROSANA/SHUTTERSTOCK

Bihun Bebek Asie, Legenda Medan Sejak 1930

Bihun Bebek Asie di Medan sudah berjualan sejak 1930.

Bihun Bebek Asie atau kadang disebut juga sebagai Bihun Bebek Kumango Medan adalah salah satu kulinari ibu kota Sumatera Utara itu yang umurnya lebih tua dari usia Indonesia. Ya, inilah salah satu spot kuliner legendaris Medan, rumah makan ini sudah ada sejak 1930.

Bihun Bebek Asie

Medan, kita tahu, adalah kota yang terkenal dengan berbagai destinasi kulinernya. Tidak saja rasanya enak, kota ini juga banyak memiliki tempat dan makanan yang hanya bisa ditemukan di sini. Bihun Beberk Asie Kumanggo adalah salah satu yang terkenal di sini. 

Bayangkanlah bihun yang ditaburi dengan daging bebek. Masakan ini memang merupakan salah satu kuliner Medan, Sumatra Utara yang populer. Sajian khas ini terdiri dari bihun, daun selada, daun bawang, dan daging bebek rebus yang dijamin empuk.

Istana Maimun Medan menjadi salah satu ikon ibu koya Sumatera Utara ini.

Aslinya warung makan ini adalah juga sebuah kedai kopi. Orang Medan menyebutnya kedai Bihun Bebek Asie atau kadang secara gampangan orang juga menyebutnya kedai kopi Kumango karena berada di Jalan Kumango, atau tepatnya berada di belakang kantor Harian Analisa.

Orang menyebut bihun bebek Asie karena pemilik kedai ini bernama Asie. Bihun bebek Asie terletak di deretan ruko-ruko tua dengan jendela-jendela lebar di bagian depannya. Tempatnya cukup mencolok karena paling ramai dengan deretan mobil-mobil di depannya.

Asie sudah berjualan di sini selama puluhan tahun dan mempunyai pelanggan yang setia, selain wisatawan dari luar kota yang ingin mencoba mencicipi gurihnya bihun bebek di sini.

Kedai di Jalan Kumango Medan itu sesungguhnya tampilannya sederhana saja. Namun tempatnya selalu ramai. Menu andalannya, dan satu-satunya menu makanan yang tersedia adalah bihun bebek.

Dan asal tahu saja, bihun bebek yang satu ini terkenal sebagai yang termahal di kota Medan. Per porsi bihun bebek di sini sejak akhir 2022 lalu dibandrol Rp 100 ribu.

Lantas apa ciri khas yang paling menonjol dari bihun bebek di sini? Pertama dan utama adalah porsi bihun dan daging bebeknya yang selalu melimpah.

Karena itu, jika ada yang bertanya kenapa harganya tidak dibuat murah atau lebih murah agar bisa dinikmati lebih banyak kalangan? Jawaban pemiliknya sederhana: orang sejak lama sudah mengenal mereka dengan porsi yang melimpah.

Bihun yang dipergunakan di kedai ini memiliki tekstur yang mirip dengan tanghun lantaran memanfaatkan tepung beras dan tepung kanji. Salah satu bagian terbaik tentu saja adalah daging bebeknya yang empuk namun tidak terlalu lembek.

Tidak ketinggalan taburan bawang goreng di atasnya yang menambah kenikmatan bihun bebek khas Medan ini. Biasanya, bihun bebek disajikan dengan dua macam pilihan kuah, yakni kuah rempah dan kuah kaldu bebek.

Bihun Bebek Medan shutterstock
Ilustrasi Tampilan bihun bebek pada umumnya. foto: shutterstock

Keunggulan Bihun Bebek Asie ini adalah resep mengolah kaldu bebeknya sampai kental dan super enak rasanya. Kuahnya sangat tajam dengan aroma kaldu bebek tapi minim minyak dan lemak. Jernih dan ringan rasanya, dengan taburan kucai tanpa aroma amis daging bebek. 

Dengan perpaduan bahan-bahan tersebut, rasanya para pecinta kuliner dapat merasakan citarasa yang begitu sedap. Sambelnya terasa sedikit dan samar-samar ada rasa asam juga. Bagian terbaik dari hidangan ini tentu saja suwiran daging bebek yang melimpah. Pengunjung juga diperkenankan memesan lauk tambahan, misalnya saja hati atau ampela.

Jalan-jalan ke kota Medan belum lengkap rasanya jika belum mencicipi bihun bebek satu ini. Di Medan, Bihun Bebek Asie memang di daulat menjadi kedai yang menyediakan bihun bebek yang paling enak.

Kedai ini mulai buka dan melayani pembeli Senin hingga Jumat mulai pukul 07.00 WIB. Warga Medan biasa mengunjungi kedai ini untuk menyantap sarapan.

Bihun Bebek Asie IG %40madeyogasudharma
Bihun Bebek Asie. Foto: milik IG Made Yoga Sudharma

Jadi sejak pagi sekali, kedai ini  sudah sangat ramai orang yang antri buat beli bihun bebeknya. Saran saja untuk pengunjung dari luar kota, agar bisa mendapat seporsi bihun ini, datanglah sebelum pukul 8 pagi. Atau akan kehabisan.Menu bihun di sini akan habis dalam beberapa jam saja.

Juga jangan datang Sabtu atau Minggu. Karena mereka melayani banyak pelanggan di hari biasa, kedai ini tutup saat weekend

Kedai Bihun Bebek Asie Kumango, Jalan Kumango Nomor 15, Kesawan, Medan.

agendaIndonesia

*****

Toko Roti Sidodadi, Jadul Sejak 1954

Toko Roti Sidodadi satu legenda kuliner Bandung.

Toko Roti Sidodadi Bandung adalah kenang-kenangan kota Paris van Java ini sejak awal kemerdekaan Indonesia. Toko roti ini dibuka sekitar 1954, setahun sebelum Konferensi Asia Afrika diselenggarakan di kota ini.

Toko Roti Sidodadi

Untuk banyak orang, Toko Roti Sidodadi merupakan prasasti bagi hidup mereka. Berusia sekitar 70 tahun, banyak pelanggan mereka yang sudah sepuh, namun mereka tetap berkunjung ke toko ini jika mampir ke ibukota Jawa Barat ini.

Awalnya, Toko Sidodadi ini hanya memproduksi kue carabikang yang terbuat dari tepung beras. Hingga kini, kue tersebut masih dibuat. Setiap pengunjung bisa menyaksikan langsung pembuatan carabikang secara tradisional di bagian depan toko.

Toko Roti Sidodadi sudah ada sejak tahun 1954, setahun sebelum KTT Asia Afrika.
Jalan Oto Iskandar Dinata, Bandung. Foto: unsplash

Baru pada 1960-an, Sidodadi membuat roti yang dibuat secara tradisional dengan tangan. Mereka juga membuatnya tanpa bahan pengawet, sehingga rotinya hanya bisa bertahan 3-4 hari.

Proses pembuatan adonan rotinya menghabiskan waktu satu malam. Sementara pemanggangannya dilakukan pada pagi hari. Jadi selalu fresh. Mereka memanggang dua kali, pagi-pagi sekali untuk dijajakan pada pukul 10 pagi, dan pemanggangan siang untuk dijajakan pada pukul 4 sore.

Dalam perkembangannya, toko ini kemudian juga memproduksi roti-roti dan kue-kue yang lain. Aneka jajanan roti disediakan di sini, mulai dari roti manis dan asin. Tak hanya itu, mereka juga menyajikan berbagai makanan gorengan dan jajanan pasar.

Untuk roti rasa manisnya, ada roti cokelat, susu, kopi, kismis, nanas dan rasa manis lainnya. Sedangkan untuk rasa asinnya ada roti sosis, bakso sapi, smoked beef, bakso ayam dan roti kornetnya. Masing-masing memiliki penggemarnya.

Toko Roti Sidodadi kompas
Toko Sidodadi di Bandung. Foto: Milik kompas.com

Toko Roti Sidodadi ini tetap bertahan menjadi toko roti favorit di Bandung. Ini bisa terlihat dari ramainya pelanggan yang berasal dari berbagai kalangan yang mengantre untuk memesan roti di sini.

Toko Roti Sidodadi itu sendiri merupakan usaha roti keluarga. Sejak awal mengambil lokasi di Jalan Otto Iskandar Dinata Nomor 255, Kecamatan Astanaanyar, Bandung. Letaknya yang tidak jauh dari Alun-Alun Kota Bandung menjadikan toko roti ini menjadi pilihan favorit masyarakat Bandung dan mereka yang pernah tinggal di kota ini.

Bangunan Toko Roti Sidodadi hingga kini masih terlihat kuno. Di sisi depannya ada tulisan cukup besar bertuliskan “Toko Sidodadi” dengan huruf berwarna merah.

Bangunannya praktis tak banyak berubah sejak dulu. Di bagian luar toko, atau di pinggir jalan, masih terlihat pedagang-pedagang kecil buah atau penganan ikut menjajakan dagangan mereka dengan ember atau baskom.  

Suasana di dalam toko pun masih mirip masa lalu. Ia bukanlah bakery-bakery modern yang berhawa sejuk. Jejeran showcase-nya juga masih terlihat model lama. Pendek kata, bagi mereka yang pernah datang ke toko ini 30 tahun lalu akan mendapatkan kesan yang sama.

Menariknya, rasa roti dari toko yang satu ini tidak berubah dari zaman dahulu kala. Teksturnya empuk, rasanya yang enak menjadikan toko Roti Sidodadi selalu dipenuhi para pengunjung atau pelanggan setianya.

Toko Roti Sidodadi saat ini telah dikelola oleh generasi ke tiga dari pendiri awalnya. Penamaan “Toko Sidodadi” itu sudah ada sejak zaman awal toko tersebut berdiri. 

Tak ada penjelasan kenapa nama itu yang diambil dan mengapa dalam bahasa Jawa. Nama yang berarti “Jadi Dilakukan” atau “Jadi Dibuat” dalam bahasa Jawa.

Produk Roti Toko Sidodadi IG wa.nk
Roti dan kemasan Toko Sidodadi. Foto: Dok. IG wa.nk

Tak hanya itu keunikan toko roti ini. Hal lain yang tak berubah dari sejak awal toko ini beroperasi adalah kemasannya yang melegenda. Bungkus atau packaging rotinya sangat terkesan jadul.

Terbuat dari plastik berwarna putih dengan gambar berwarna merah seorang perempuan membawa roti tawar. Di bagian atas gambar terdapat tulisan nama toko roti dan alamatnya.

Selain itu tertera pula bahan baku yang digunakan serta nomor perizinan. Di paling bawah kemasan terdapat imbauan bertuliskan “Jadilah Peserta KB Lestari” dan “Buanglah Sampah pada Tempatnya”.
Kemasan ini menambah kesan klasik dari roti Sidodadi. Sang pemilik sepertinya ingin mempertahankan kesan atau image itu. Citra bahwa roti atau toko roti mereka adalah legenda kuliner Bandung, yang bahkan kemasannya pun tak berubah sejak dulu.


Ayo sekali-kali agendakan jajan roti di Sidodadi. Dengan harga yang terjangkau, para pelanggan dapat merasakan roti legendaris di Kota Bandung dengan berbagai varian rasa yang tidak kurang dari 30 pilihan rasa.

agendaIndonesia

*****

Bakmi Mbah Hadi, Di 1 Sudut SPBU Terban

Bakmi Mbah Hadi salah satu ikon kuliner di Yogyakarta.

Bakmi Mbah Hadi bisa jadi menjadi satu cerita tentang bakmi Jawa dari kota Yogyakarta yang bertahan puluhan tahun. Gumbreg Hadisumarto pemilik sekaligus perintis warung ini bahkan hampir lupa kapan ia mulai berjualan. Yang jelas bakmi ini sudah ada sejak sebelum tahun 1990.

Bakmi Mbah Hadi

Mbah Hadi, begitu ia biasa dipanggil, sama seperti cerita banyak kuliner legendaris di Indonesia, memulai usahanya dari kecil. Dulu sekali ia membuka usahanya dengan gerobal dorong yang kemudian mangkal di bagian depan terminal bus kecil di kawasan Terban, atau di sisi barat Jalan C. Simanjuntak.

Ketika itu gerobaknya hanya dilengkapi satu meja dan dua bangku panjang. Kebanyakan pembeli membawa pulang, karena hampir pasti tak mendapat tempat duduk.

Bakmi mbak Hadi di Yogya lokasinya ada di dalam SPBU, menjadi slah satu ikon bakmi Jawa seperti Tugu Pal Putih
Tugu Pal Putih Yogya, landmark kota pelajar. Foto: shutterstock

Bakmi Jawa memang merupakan salah satu makanan khas dan favorit masyarakat di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Bakmi Jawa atau mi Jawa awalnya dikenal sebagai bakmi rebus atau dalam bahasa jawa disebut bakmi godhog yang dimasak dengan bumbu dan rempah yang khas masakan Jawa.

Meskipun awalnya pembeli umumnya memilih memesan bakmi godhog, bakmi jawa memiliki banyak variasi masakannya. Ada bakmi rebus yag berkuah, bakmi goreng, bakmi nyemek, ini kembangan dari bakmi godhog yang kuahnya sudah hampir habis.

Penjual bakmi jawa di Yogyakarta biasanya  juga menjual nasi goreng. Dan yang tak kalah unik adalah gaya magelangan di dalam menu masakannya. Ini adalah nasi goreng yang dicampur dengan mie goreng.

Keistimewaan bakmi jawa adalah pada cara pengolahannya. Penjualnya masih memasak menggunakan anglo yakni tungku dari tanah liat dan api dari arang. Setiap pembeli bakmi jawa meskipun memesan dengan jumlah posri yang banyak, namun penjual bisanya membuatnya tetap satu per satu porsi.

Demikian juga yang dilakukan di warung bakmi Mbah Hadi. Mereka memasak satu er satu setiap pesanan. Saat ini mereka menggunakan tiga juru asak dengan tiga anglo agar pembeli bisa cepat terlayani.

bakmi Mbah Hadi sedang dimasak  dengan anglo.
Bakmi Jawa biasanya dimasak porsi demi porsi dengan anglo dari tembikar. Foto: shutterstock

Keistimewaan bakmi Mbah Hadi adalah pada suwiran daging ayam kampung dan telur bebek sebagai bahan membuatnya. Rasa yang akan diperoleh dari bahan-bahan tersebut akan membuat rasa bakmi Jawa menjadi khas.

Penjual bakmi Jawa umumnya berasal dari Desa Piyaman, Wonosari, Gunung kidul, Yogyakarta. Dulu penjualnya juga biasanya mulai menjajakan dagangannya mulai senja dengan menggunakan gerobak tempat memasak bakmi di depan tempat usaha mereka.

Waktu berlalu, Terminal bus Terban direvitalisasi dan warung gerobag bakmi mbah Hadi pun terpaksa tersingkir. Sesungguhnya ia bisa saja berjualan di tempat lain, namun orang Yogya kadung mengenal bakminya juga dengan sebutan bakmi Terban.

Mbah Hadi dan keluarganya pun kemudian berupaya mencari lokasi di sekitar tempat lama. Kebetulan stasiun pompa bensin umum Terban yang terletak di sekatan terminal juga tengah direvitalisasi, jadilan warung bakmi Mbah Hadi mendapat tempat di belakang SPBU Terban ini.

Warung bakmi ini memang terletak di dalam area SPBU, tepatnya di pojok utara. Jadi untuk menuju ke sini adalah masuk ke dalam SPBU. Jangan kaget kalau warung mbah Hadi ini berupa bangunan mungil yang cukup modern.

Selain di dalam warung, pengunjung juga bisa memilih area luar ruangan yang berada di belakang. Banyak yang suka dengan yang di luar, sebab di sini ada pemandangannya. Suasana Kali Code dan kerlap-kerlip lampu kota.

Bakmi Godog Jogja shutetrstock
Kuah bakmi godhog enak ketika disruput, hangatnya sampai ke seluruh badan. Foto: shutterstock

Porsi masakan bakmi di warung ini cukup besar. Jadi sesungguhnya cukup memesan satu porsi untuk satu orang. Namun kadang ada pula pelanggan yang memasan dua secara bergantian: godhog dulu, lalu disusul dengan yang goreng.

Dengan tiga tungku dan tiga pemasak berikut tiga asisten masak (mereka bertugas mengatur kipas, mengisi arang, dan menyiapkan piring), pelayanannya cukup cepat. Meski pada jam-jam sibuk, orang tetap harus sabar mengantre.

Kuah bakmi rebusnya benar-benar enak dan gurih. Pemakaian telur bebeknya membuat kuahnya betul-betul terasa istimewa. Belum lagi bumbunya yang cukup berani. Satu hal lagi yang menarik adalah tekstur bakminya yang kenyal dan besar. Benar-benar pas untuk disantap dengan bumbu-bumbu yang digunakan.

Hal yang menarik juga dari mbah Hadi adalah di sini pembeli bisa mengajukan permintaan khusus untuk campuran bakmiya. Di warung bakmi jawa ini, misalnya, pengunjung bisa meminta daging ayam yang dipakai adalah brutu atau kepala. Sepanjang masih ada, permintaan akan dilayani.

Warung bakmi Jawa Mbah Hadi ini buka antara pukul 18.00 – 23.00 WIB. Jika ingin lebih nyaman, hindari datang pada pukul 19.00 hingga 21.00, karena itu adalah puncak keramaian. Meski buka hingga pukul 23, mereka menerima pesanan terakhir pada pukul 22.

Warung Bakmi Jawa Mbah Hadi;  Jalan C. Simanjuntak Nomor 1 (di dalam SPBU Pertamina Terban), Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. 

agendaIndonesia

*****

3 Nasi Campur Pamekasan Buat Sarapan

3 nasi campur buat sarapan di pamekasan

3 nasi campur Pamekasan buat sarapan rasanya menjadi menu yang banyak ditemukan di kota penghasil garam di Madura ini. Nasi pulen itu dipadu dengan beragam lauk yang kebanyakan berbahan dari sapi. Meski ada juga yang menawarkan sajian dari ayam.

3 Nasi Campur Pamekasan

Nah, bila ingin sarapan khas, setidaknya bisa pilih dari tiga jenis nasi campur yang banyak diburu di Pamekasan, Madura, Jawa Timur ini. Uniknya, meski sama-sama nasi campur, nama dan rasanya berbeda-beda.

Nase Jhejhen Dendeng Ragi

Sembari menelusuri Jalan Jokotole, saya sudah membayangkan nase jhejhen atau nasi jajan. Untung pencarian tak perlu waktu lama. Saya temukan juga gang di sebelah gedung ruang pamer Toyota , Pamekasan. Dari mulut gang, setelah bertanya kepada kaum ibu yang sedang mengerubungi tukang sayur, saya diarahkan ke sebuah warung sederhana. Saya langsung menuju dapur, menemui Ibu Hamiyah, 75 tahun. Ia telah menjalankan usaha yang diwariskan mertuanya ini selama 50 tahun. “Dulu buka restoran di depan, jualannya macam-macam, nasi rawon, kaldu, dan lain-lain,” tuturnya.

Sejak mertuanya tidak tinggal di kota ini, atau pada 1985, ia memilih berjualan di dalam gang dan hanya berjualan nase jhejhen dengan lauk dendeng ragi, semur daging, telur petis ola, sambal goreng kentang, dan sambal. Per porsi dipatok Rp 10 ribu. “Tapi mau beli berapa juga bisa, anak-anak kadang cuma Rp 5.000 atau Rp 8.000,” ujarnya. Dalam menjalankan usahanya, ia dibantu anaknya, Emi. Yang menjadi ciri khas adalah dendeng ragi yang ditaburi serundeng. Ia mengolah dendeng dan parutan kelapa dipanggang di oven hingga kering, jadi tidak tergantung sinar matahari. Rasanya yang garing dan gurih bikin banyak orang yang pesan. Ia patok Rp 300 ribu per kilogram. Uniknya, karena berjualan di rumah, setiap kali habis, ia membuat lagi menu untuk nase jhejhen. Padahal, sebagai menu sarapan, orang sudah berdatangan sejak pukul 05.30.

Nase Jhejhen

Jalan Jokotole

Kawasan Parteker

Pamekasan

Buka pukul 05.30-habis

Nase Jamila Lauk Meriah

Nasi campur yang satu ini memilih nama orang yang pertama kali menjualnya, yakni Jamila. Sekarang perempuan itu sudah tiada dan diteruskan oleh menantunya, Sutri. Jamila memulai usahanya pada 1953, sedangkan sang menantu menjalankan usaha ini sekitar 25 tahun. Ada beberapa wadah dari kaleng dengan olahan yang berbeda-beda di depan ibu dengan empat anak ini setiap paginya. Tentunya, membuat air liur tak tertahankan sekaligus bingung karena pilihan begitu beragam. Bayangkan otak goreng, limpa goreng, pepes tongkol, semur ati sapi, telur rebus, perkedel, paru dan hati goreng, juga sambal terasi. Harga tergantung pilihan menu, dengan tiga jenis lauk, harganya berkisar Rp 25 ribu. Bumbunya begitu kental, membuat sarapan lezat yang mengenyangkan untuk memulai hari. Setiap hari buka pukul 05.00-pukul 09.30, dan menurut Sutri, ia menghabiskan sekitar 10 kilogram beras.

Nase Jamila

Jalan Agus Salim Nomor 46

Pamekasan

Buka pukul 05.00-09.30

Nase Ramoy Usus Sapi

Nase Ramoy
3 nasi campur Pamekasan buat sarapan, salah satunya adalah nase ramoy.

Jenis nasi campur ini bisa ditemukan di beberapa tempat. Maklum, nase ramoy sudah membuka cabang. Cuma, jangan cari papan nama nase ramoy, karena olahan nasi campur yang buka hingga malam hari ini berada di sejenis warung tegal dengan nama Warung Barokah. Saya menemukannya di Jalan Pintu Gerbang, tak jauh dari Pasar Batik Tradisional Pamekasan atau Pasar 17 Agustus. Bangku panjang terisi penuh siang itu, saya pun menunggu sejenak, hingga dua orang beranjak.

Aroma khas menggoda tiba-tiba tercium. Ternyata berasal dari olahan usus yang menjadi menu khas di warung ini. Jeroan sapi itu diolah di atas tungku kayu, membuat masakan terasa nikmat. Pantas bila kebanyakan kaum pria di sekeliling saya begitu lahap menyuap nasi usus. Selain usus, ada pilihan menu lain, seperti otak goreng, ayam goreng, serta olahan dari sapi lainnya. Olahan ini dimasak oleh Hajah Aisyah, 60 tahun. Saya bertemu dengan menantunya Nabila, 35 tahun, yang bertugas di lini depan, melayani para pembeli. Nasi usus hanya dipatok Rp 5.000, sedangkan nasi usus plus otak goreng Rp 10 ribu. Harga tergantung lauk yang dipilih. Anda tak hanya bisa memilihnya untuk sarapan, tapi juga makan siang dan malam karena warung buka hingga malam. Uniknya, minuman yang disediakan berupa air putih hangat dengan rasa jahe, disiapkan dalam gelas kaleng jadul. Konon, jenis air ini untuk menghilangkan lemak yang menempel di bibir dan lidah.

Warung Barokah

Jalan Pintu Gerbang 130 A

Pamekasan

Buka pukul 05.30-20.00

Rita N./R. Kesuma/Dok. TL

Soto Betawi Enak, 5 Legenda Jakarta

Soto Betawi enak tersebar di seluruh sudut Jakarta. Foto: shutterstock

Soto Betawi enak banyak diemui di Jakarta. Hampir di banyak sudut ibukota Indonesia ini. Tapi yang enak banget dan legendaris sudah pasti tak terlalu banyak.

Soto Betawi Enak

Sebelum mengulik yang legendris, sesungguhnya apa sih Batasan soto Betawi enak itu? Dari begitu banyak pecintanya, ternyata semua mengatakan sama. Enaknya itu tak bisa dibedakan meskipun berbeda warung yang menjajakannya. Semua punya ciri khasnya.

Soto Betawi enak adalah salah satu kuliner kha Jakarta. Ada pilihan kuah bersantan, memakai susu, atau yang bening.
Soto Betawi. Foto: Dok. Shutterstock

Begitupun, tentu ada yang istimewa. Itu bisa dilihat dari warung-warung soto Betawi yang melegenda. Cirinya: dikenal banyak orang, sudah buka puluhan tahun, dan jika jam makan sering orang harus rela untuk mengirasnya. Soal rasa? Kan sudah dibilang sepertinya semua soto Betawi enak.

Padahal dari sejarahnya, soto Betawi ini dibuat masyarakatnya diracik oleh penduduk asli Betawi saat masa penjajahan Belanda. Ketika itu orang Betawi tak mampu membeli daging, karena harga yang mahal. Alhasil, mereka lantas memanfaatkan jeroan sapi seperti paru, digunakan kaum tuan kala itu.

Orang Betawi mengolah jeroan itu dengan memadukannya bersama santan disajikan bersama daun bawang, bawang goreng, dan emping. Ini merupakan isian wajib untuk soto Betawi. Selain itu, soto Betawi bisa ditambahkan dengan kentang atau perkedel dan tomat. 

Dalam perkembangannya, soto Betawi juga menambahkan pilihan daging sapi. Pembeli bisa memilih jenis isiannya sesuai selera. Sebab umumnya bahan sapi ini tidak dicampurkan ke dalam kuah, namun bahan sapi yang sudah matang disiapkan tersendiri. Ia baru diiris-iris ketika ada pesanan.

Selain tambahan pilihan daging, salah satu pelengkap masakan soto Betawi adalah pilihan kuahnya. Ada penjual yang menggunakan santan, ada juga yang menggantikan santan dengan susu. Begitupun ada pula yang tak menambahkan santan atau susu.

Kombinasi ain yang kadang disediakan adalah pilihan nasi sebagai pendamping. Ada nasi putih, ada pula nasi uduk. Yang pasti, semua enak atau enak banget.

Soto Betawi enak biasanya menggunakan jerohan sapi, meskipun di saat ini umumnya juga menyediakan daging sapi.
Soto Betawi awalnya hanya mengunakan jerohan sapi. Foto: shutterstock

Berikut sejumlah warung soto Betawi enak yang mejadi pilihan banyak orang.

Soto Betawi H Ma’ruf
Ini salah satu soto Betawi enak yang paling tua. Cikal bakal soto ini sudah ada sejak akhir masa penjajahan. Pada tahun 40-an Haji Ma’ruf yang merupakan orang Betawi asli Cikini bekerja serabutan. Ketika tak ada tawaran menjadi sopir atau kuli bangunan, ia memilih berjualan soto dengan cara dipikul dan berkeliling.


Barulah pada tahun 60-an, Ma’ruf mulai ‘ngetem’ di Pasar Kembang Cikini. Ia  mulai mendirikan tenda yang bertahan hingga tahun 80-an sebelum digusur dan pindah ke depan Kelurahan Cikini. Tak berlangsung lama di tempat itu, Soto H Ma’ruf kemudian menetap di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini. Kini, selagi TIM tengah direvitalisasi, Soto Betawi Haji Ma’ruf dapat dinikmati di cabang di Pramuka, Gondangdia, dan sejumlah mal.

Hingga saat ini, soto di sini masih menjaga resep yang diturunkan pendahulunya. Muti, sebagai generasi ketiga, mendapatkan mandat tidak boleh mengganggu resep aslinya. Dia hanya diperkenankan untuk berkreasi dengan menambah menu lain di warung makan tersebut.
Paduan santan bersama jeroan dan daging yang diracik dengan rempah-rempah tanpa menggunakan MSG membuat soto ini memiliki rasa yang autentik. Soto ini juga tidak menggunakan tambahan lain seperti kentang dan tomat, hanya bawang goreng, daun bawang, dan emping.
Soto Haji Ma’ruf, Jalan Pramuka Nomor 64, Jakarta
Soto Betawi Haji Mamat

Ini juga soto Betawi enak yang legendaris dan berusia tua. Saat ini berpusat di Jalan Raya Rawabuntu, Serpong, Tangerang. Soto Betawi Haji Mamat berdiri menjelma menjadi gerai kuliner yang legendaris kelezatannya sejak pertengahan 1960.

Cita rasa sotonya yang lezat dan segar, mudah membuat siapa pun jatuh hati.

Tak heran, sebab rasanya memang nikmat, gerai soto ini dapat ditemukan dimana pun, dan nyaris tak pernah sepi pengunjung.

Saat ini kurang lebih terdapat sekitar 25 gerai resmi Soto Betawi Haji Mamat yang tersebar di seantero Jabodetabek dan Bandung. Salah satu menu andalan yang wajib dicicipi di gerai legendaris ini yakni soto oseng-oseng.

Kita pun dapat memilih varian tampilannya, baik kuah santan maupun bening

Salah satu menu andalan yang wajib dicicipi di gerai legendaris ini yakni soto oseng-oseng. Atau pengunjung dapat memilih varian tampilannya, baik kuah santan maupun bening

Soto Betawi Haji Mamat, Jl. Labak.Bulus Raya 1 No.5, Cilandak, Jakarta Selatan

Soto Betawi Haji Husein

Yang satu ini termasuk yang paling laris juga. Sotonya selalu ludes terjual dalam hitungan jam. Soto Betawi H. Husein masuk ke dalam jajaran tempat makan soto legendaris di Jakarta. Kalau mau makan di sini harus siap antri untuk dilayani.
Meskipun terhitung masih cukup muda, buka sejak 1988, racikan sotonya tidak pernah berubah. Kuah soto Betawi H. Husein ini termasuk tim kuah kuning, ini berbeda dengan umumnya soto Betawi yang berkuah putih. Menggunakan paduan santan dan susu.
Untuk pilihan menunya ada soto daging serta soto campur, yang terdiri dari jeroan, babat hingga paru. Kisaran harga satu porsinya sekitar Rp 32 ribu.


Penikmat soto sudah ramai berdatangan silih berganti sejak pagi ke warung kecil Soto Betawi Haji Husen yang sederhana tapi legendaris di Jalan Padang Panjang, Manggarai. Di warung depan warung terdapat spanduk besar bergambar Haji Husen yang menutupi sebagian warung.
Para pelanggan seolah tak ingin kehabisan soto Betawi berkuah kental kekuningan ini. Maklum, soto yang dibuka mulai pukul 7 pagi dan selalu habis setelah makan siang. Paling lama, porsi terakhir soto ini bertahan hingga pukul 14.00 WIB. Sebanyak 1 kwintal campuran daging sapi dan jeroan ludes terjual setiap harinya.


Soto Betawi H. Husein, Jl. Padang Panjang No. 6B-6C, Manggarai, Jakarta Selatan
Soto Betawi Sambung Nikmat

Soto enak ini masih di sekitaran Jakarta Selatan, tepatnya di daerah Kebayoran Lama. Enak dan legendaris juga, sayang untuk dilewatkan. Namanya Soto Betawi Sambung Nikmat, yang sudah buka sejak 1972.


Sama seperti tempat makan soto Betawi lainnya. Di sini masih menggunakan konsep rumah makan yang sederhana. Ciri khas sotonya terletak pada penggunaan kuah santan tanpa susu, dengan tekstur kental sedikit merah.


Potongan dagingnya juga royal dengan pilihan paru, babat hingga kikil untuk pelengkapnya. Untuk kisaran harga menu nasi dan soto Betawinya sekitar Rp 75 ribu.
Soto Betawi Sambung Nikmat, Jl. Ciputat Raya No. 2, Jakarta Selatan


Soto Jakarta Bang Madun
Soto yang satu ini meskipun memilih memakai nama soto Jakarta ketimbang soto Betawi, namun tetap masuk dalam ‘keluarga’ soto Betawi. Yang membuatnya unik dan berbeda adalah tambahan bumbu kacang yang berminyak dan dibuat tanpa garam.


Meja dan kursi di warung ini di susun berdempetan mengelilingi area tempat meracik soto. Lokasi yang kecil membuat warung ini hanya cukup menampung 20-25 pembeli. Alhasil, jika sedang ramai terutama saat makan siang, pengunjung mesti bersabar antri.  


Paduan kuah santan dan kacang memberikan rasa sedap dan gurih yang dominan dari kacang. Pedas juga terasa dari bumbu kacang.
Aneka jeroan seperti babat, ampela, dan paru terasa lembut dan tidak amis maupun menggumpal. Rasa daging dan jeroan menyatu dengan racikan kuah santan dan bumbu kacang.


Resep yang kini ada di tangan generasi ketiga ini diciptakan keluarga Bang Madun yang merupakan orang Betawi asli dari Cakung yang pindah ke Gandaria. Usaha soto ini dimulai dengan berjualan dengan dipikul, lalu menggunakan gerobak, dan membuka warung pertama kali di Mayestik di sekitaran Taman Puring pada 1975. Sebelum menetap di Jalan Barito.
Warung Soto Jakarta Bang Madun, Jalan Barito No. 1, Jakarta Selatan

Soto Betawi enak  bertambah lezat dengan tambahan irisan tomat, kentang, daun bawang, juga emping goreng.
Soto Betawi semuanya enak, jangan lupa tambahan irisan tomat, kentang dan empingnya. Foto: Dok. shutterstock

Seperti disebut di muka, manapun pilihannya, jika ingin menyantap soto Betawi, semuanya pasti enak.

agendaIndonesia

*****