Rawon Surabaya, Ini 5 Resto Paling Enak

Rawon Surabaya terkenal dengan sebutan black soup. Foto: dok. liputa6

Rawon Surabaya adalah masakan tradisional khas kota Pahlawan yang terkenal dengan cita rasa gurih dan kuahnya yang berwarna hitam pekat. Sejarah rawon Surabaya sendiri kabarnya sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit bahkan ada yang menyebut sudah ada sejak 1000 tahun lampau, namun lebih populer pada masa kolonial Belanda.

Rawon Surabaya

Soal asal-usul nama rawon Surabaya ada sejumlah versi. Satu versi menyebut nama “rawon” berasal dari bahasa Jawa “rau” yang berarti daging dan “wan” yang berarti matang. Awalnya, rawon hanya dimasak pada acara-acara adat tertentu seperti saat upacara potong gigi, namun kini telah menjadi salah satu makanan yang paling terkenal di Surabaya.

Versi lain berdasar sebuah catatan menyebut rawon Surabaya ini sudah ada sejak 1.000 tahun lalu. Ini bedasar penemuan sebuah prasasti bernama Prasasti Taji. Dalam prasasti tersebut rawon disebut sebagai hidangan dengan nama rarawwan.

Hal tersebut tercantum dalam prasasti Taji, tercatat pada 901 Masehi  yang ditemukan di dekat Ponorogo Jawa Timur. Dalam prasasti itu, rawon disebut dengan rarawwan atau sayur rawon.

Rawon Surabaya kono sudah berusia lebih dari 1000 tahun.
Rawon kabarnya sudah berusia lebih dari 1000 tahun. Foto: shutterstock

Karena dicatat pada sebuah prasasti, bisa disimpulkan bahwa sajian ini dulunya hanya disantap oleh kalangan kerajaan yang mengeluarkan prasasti Taji itu.

Bukti sejarah tentang keberadaan rawon sebagai santapan kuliner kerajaan juga datang dari catatan dalam Serat Wulangan Olah-olah Warna-warni. Ini merupakan catatan resep koleksi Istana Mangkunegaran Surakarta yang dicetak pada 1926.

Rarawwan ini adalah rawon yang saat ini kita kenal. Ternyata, hidangan rawon ini juga memiliki banyak jenisnya, dengan sentuhan khas berbeda di masing-masing wilayahnya.

Bahan utama dalam pembuatan rawon Surabaya adalah daging sapi yang dipotong kecil-kecil dan dimasak dengan bumbu khas seperti kluwek (buah yang berasal dari pohon keluak), lengkuas, jahe, bawang putih, dan bawang merah.

Kuahnya yang berwarna hitam pekat dihasilkan dari campuran kluwek dan rempah-rempah tersebut. Biasanya, rawon Surabaya disajikan dengan nasi putih, tauge, daun bawang, emping, sambal dan telur asin.

Dalam sejarahnya, rawon Surabaya menjadi populer di kalangan masyarakat Jawa pada masa kolonial Belanda karena daging sapi yang menjadi bahan utamanya hanya dijual pada toko-toko yang dimiliki oleh orang Eropa. Namun, saat ini rawon Surabaya bisa ditemukan di berbagai tempat makan dan restoran di seluruh Indonesia.

Saking populernya pada Februari 2021 lalu, rawon menempati posisi pertama sebagai sup terenak se-Asia tahun 2020 versi TasteAtlas. Masyarakat barat menyebutnya sebagai black soup.

Rawon Surabaya di Banyuwangi.
Rawon meski terkenal dari Surabaya,bisa ditemui di banyak kota di Jawa Timur. Foto: shutterstock

Jika melakukan jalan-jalan ke Surabaya dan ingin menyoba kuliner ini, berikut ini adalah lima rumah makan rawon paling terkenal dan enak di Surabaya.

Rawon Setan Bu Kris

Ini merupakan salah satu rumah makan rawon yang paling terkenal di Surabaya. Tempatnya yang sederhana dan ramai, tetapi rasa rawonnya sangat lezat dan khas.

Rawon Setan Bu Kris; Jalan Kayoon Nomor 46B, Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya

Jam buka: 09.00 – 21.00 WIB

Rawon Pak Pangat

Kalau yang ini merupakan rumah makan yang legendaris di Surabaya dan telah beroperasi selama lebih dari 60 tahun. Rawon yang disajikan memiliki citarasa khas yang membuatnya menjadi favorit di kalangan warga Surabaya.

Rawon Pak Pangat; Jalan Ketintang Baru Selatan I Nomor 15, Ketintang, Kecamatan Gayungan, Surabaya

Jam buka: 08.00 – 21.00 WIB

Rawon Kalkulator

Rumah makan yang terkenal dengan konsep uniknya, yaitu menyajikan rawon dengan menggunakan kalkulator sebagai alat untuk menghitung harga pesanan. Rasa rawonnya sangat lezat dan cocok untuk dinikmati bersama teman atau keluarga.

Rawon Kalkulator; Sentra PKL Tamam Bungkul, Jalan Raya Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya

Jam buka: 07.00 – 17.00 WIB

Rawon Nguling

Ini rumah makan yang terkenal dengan rasa rawon yang pedas dan gurih. Tempatnya yang nyaman dan bersih membuat pengunjung betah untuk berlama-lama di sana.

Rawon Nguling; Jalan Rajawali Nomor 110, Perak Timur, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya

Jam buka: 07.00 – 16.00 WIB

Rawon Ibu Soepinah

Rumah makan yang sudah ada dari 1966 ini menyediakan sajian rawon yang begitu lezat ketika mendarat di lidah. Campuran rawon, nasi, dan empal srundeng akan membuat para penyantapnya ingin kembali lagi ke Surabaya.

Rawon Ibu Soepinah; Jalan Pasar Kembang Nomor 85, Wonorejo, Kecamatan Tegalsari, Surabaya

Semua jam buka tersebut dapat berubah sewaktu-waktu, jadi disarankan untuk mengkonfirmasi kembali alamat dari rumah makan yang ingin dikunjungi sebelum pergi ke sana. Ayo main ke Surabaya dan agendakan menyantap rawon.

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

Hujan Locale di Sriwedari Nomor 7 Ubud

Hujan Locale di Ubud, Bali

Hujan Locale, ya nama restoran di kawasan Ubud, Gianyar, Bali ini memang demikian. Entahlah, adakah nama itu terinspirasi dari hujan yang cukup sering turun di kawasan Ubud, ataukah itu makna kiasan yang terdengar unik saja. Namun, ini bisa jadi pilihan untuk nongkrong di Ubud.

Hujan Locale di Ubud

Di tengah keramaian tak jauh dari Pasar Ubud,Bali, saya menemukan juga Jalan Sri Wedari. Tidak terlalu lebar, ukuran dua mobil. Yang saya cari ternyata tidak jauh dari mulut jalan. Berada di sisi kiri, saya pun melihat rumah lawas bertingkat dengan jendela yang terbuka. Ada tulisan jelas “hujan” yang begitu jelas di dindingnya dalam warna putih, kemudian di bagian bawah baru ada tulisan ‘Locale”, yang tidak terlalu tampak karena warna tulisannya cokelat, serupa dengan dinding.

Hujan Locale Ubud, suasana restonya

Hujan Locale, nama yang unik untuk sebuah restoran. Saya pun menerka menu yang akan disajikan. Ubud siang itu terbilang panas hawanya. Meski masih terhitung di musim penghujan. Staf resto yang ramah yang pertama memberi kesegaran, kemudian buah- buahan tropis yang menghiasi dinding dalam warna hitam-putih, interior yang klasik, juga tentu jendela-jendela yang lebar dan terbuka membuat saya segera melupakan udara panas yang menyergap.

Siang itu, tentu saya datang untuk makan siang. Bertemu dengan Dinar dari Sarong Group. Ia telah menunggu di lantai dua, ruangan terbuka dengan lampu-lampu klasik dan kursi rotan di bagian ujung berupa bar. Kehangatan khas lokal pun terasa.

Hujan Locale memang masih kreasi dari Chef Will Meyrick, juru masak yang gandrung berkeliling Asia, sudah tentunya di Indonesia, untuk mencari tahu hidangan asli setempat. Ia lantas mengolah hidangan orisinal dari berbagai daerah ini untuk menu spesial di restorannya. Hujan Locale salah satunya, dan yang satu ini ternyata benar-benar merupakan buah tangannya berkeliling Indonesia. Sebab, menunya mayoritas khas Nusantara.

Dipilih nama “hujan” karena kata ini bermakna pada kemakmuran, masa panen, keberuntungan. “Hujan Locale sebuah apresiasi terhadap para petani yang telah mendukung resto di bawah Sarong Group selama ini. Konsepnya Indonesia sekali,” ujar Dinar.

Pilihan menunya sangat lokal. Anda bisa mencicipi bakso dan bebek Madura, seperti yang saya nikmati siang itu. Bebek yang empuk dengan sambal hijau yang menambah nafsu makan. Diberi label Madura crispy duck with sambal mango sambal hijau ikan asin manis and lemon basil, sajian yang dipatok seharga Rp 150 ribu ini memang terasa segar karena paduan lengkap tersebut.

Masih banyak kreasi lain tentunya di restoran yang dibuka pada akhir 2014 ini. Doyan olahan dari Aceh? Silakan pilih ayam tangkap, ayam dalam balutan daun pandan. Tak hanya itu, ada pula olahan kari khas Aceh, seperti Acehnese curry of sea bass with tomato okra belimbing wuluh asam kandis and curry leaf, selain udang dengan kuah kari. Penggemar daging kambing, bisa mencicipi tengkleng cingcang ala Yogya. Sedangkan penyuka dapur Minang, di sini ada pilihan berupa rendang.

Untuk yang gemar sayuran, ada olahan hijau dengan nama stir fried Asian green alias kumpulan sayuran hijau yang ditumis. Diberi tempat berupa wajan hitam membuat sajian sederhana ini menjadi menarik. Olahan dari Bali tentunya juga tak ketinggalan, seperti Karangasem sambal udang yang lagi- lagi ditata berbeda karena disajikan dalam piring kaleng yang sudah somplak bagian pinggirnya.

Anda datang sekadar untuk ngobrol sambil ngemil? Jagung bakar yang telah dipipil dan disajikan dalam piring kaleng bisa jadi teman yang asik. Bila ingin yang rasa lokal dan dingin, coba kreasi minuman bersantan dari Chef Will Meyrick.

 Diberi label coco lychee crush, minuman seharga Rp 35 ribu ini tergolong unik karena merupakan perpaduan buah leci, lemon, dan santan. Pilihan lain yang berasal dari kelapa adalah mojito coconut, yang merupakan perpaduan rum, air kelapa, lemon, dan dua daun mint. Kelapa memang banyak memberi inspirasi sang juru masak.

Untuk penutup pun Chef Will tak ingin melepaskan ciri khas lokal. Lihat saja kreasinya berupa durian panacota with white sticky rice and vanila ice cream. Idenya kemungkinan dari Sumatera, 
di mana masyarakatnya terbiasa memadukan durian dengan ketan uli. Ehmm… ditambah es krim, tentu rasanya menjadi lebih segar. 


HUJAN LOCALE; Jalan Sri Wedari No 7, Ubud Gianyar, Bali

Operasional : Pukul 12.00-23.00

Rita N./Dok. TL

Tauto Pekalongan, Ini 5 Warung Topnya

Tauto Pekalongan adalah masakan soto khas kota Pekalongan, Jawa Tengah.

Tauto Pekalongan adalah kuliner soto versi kota batik di Jawa Tengah ini. Ia adalah kembangan dari masakan berkuah dari Tiongkok yang dibawa warganya yang berimigrasi ke Indonesia.

Tauto Pekalongan

Masakan tauto Pekalongan memang berasal dari nama makanan Tiongkok yang bernama Caudo. Makanan berkuah ini pertama kali dipopulerkan di wilayah Semarang, ibukota Jawa Tengah. Lambat laun orang Jawa menyebut caudo menjadi Soto yang berasal dari homofon tjaudo atau caudo.

Di Indonesia masakan ini berkembangan dan beradaptasi dengan lidah masyarakat setempat. Namanya pun kemudian mengalami penyesuaian sesuai lidah masyarakat setempat. Di Makassar masakan ini disebut coto, di Banyumas namanya sroto, sedangkan di Pekalongan disebut tauto.

Awalnya makanan ini memang hanya dikonsumsi oleh kalangan peranakan Tionghoa, tetapi seiring  waktu, warga lokal pun menjadikan makanan ini sebagai bagian dari kuliner mereka. Tak terkecuali masyarakat Pekalongan yang menikmati dan menyesuaikan olahan caudo ini dengan bumbu-bumbu khusus agar pas dengan lidah mereka.

Kota Pekalongan
Salah satu landmark kota Pekalongan. Foto; Dok DPMTPST

Dulunya, tauto Pekalongan dijajakan dengan dibopong atau dipikul para pedagang Tionghoa keluar-masuk kampung. Pesebaran soto di Nusantara memang tak lepas dari pengaruh para pedagang Tionghoa. Bukti antropologis menyebutkan bahwa soto sebagai sajian berkuah yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa ke Jawa Tengah sekitar pertengahan abad ke-18 Masehi.

Masakan ini mulai menyebar ketika orang-orang Jawa yang pada saat itu menjadi para pembantu bagi penjual caudo ikut keliling memikul dagangan. Seiring berkembangnya zaman karena tidak ada generasi keturunan Tionghoa yang mau meneruskan usaha ini, akhirnya warga pribumi berinisiatif untuk meneruskan usaha kuliner yang khas ini.

Kekhasan tauto yang diracik masyarakat lokal  Pekalongan adalah dengan menggunakan mie putih atau soun. Ini kemudian ditambah bumbu sambal goreng (tauco) yang berbahan dasar kedelai serta menggunakan bahan daging kerbau, bukan daging sapi

Tauco Fermentasi Kedelai shutterstock
Taudo adalah fermentasi dari kedelai. Foto: shutterstock

Tauto Pekalongan hadir di setiap sudut wilayah kota dan kabupaten yang dikenal sebagai salah satu sentra batik ini. Wisatwan dapat menemukannya di warung-warung pinggiran jalan pantura, pusat kota, ataupun pedagang keliling dari kampung ke kampung yang menjajakan soto yang unik dan khas ini.

Hampir semua lidah masyarakat Pekalongan, baik dari kalangan elit pejabat, artis maupun masyarakat non-elite, baik etnis Jawa, Arab, maupun Tionghoa yang tinggal di wilayah Pekalongan sangat menerima dan menyukai soto yang diramu dengan bumbu khasnya yakni tauco.
Bila mudik lewat Pekalongan, Jawa Tengah, tak salah jika mampir sebentar untuk mencicipi soto tauto Pekalongan sebagai pilihan untuk berwisata kuliner. Soto dengan pilihan daging kerbau, sapi atau ayam ini diberi bumbu khas yaitu penggunaan tauco. Berikut lima warung tauto Pekalongan yang bisa menjadi pertimbangan.
Tauto Klego Haji Kunawi

Warung H. Kunawi adalah pilihan yang mantap jika pelancong mencari Tauto Pekalongan. Bumbu tauco pada kuah begitu terasa dan kental. Apalagi saat wisatawan menikmatinya dengan irisan tempe goreng.

Pengunjung biasanya akan mendapatkan satu mangkuk tauto ditambah dengan sepiring nasi. Segera nikmati selagi masih hangat. Soal tempat memang tidak terlalu luas, namun cukup bersih dan nyaman.

Tauto Klego Haji Kunawi;  Klego Gang 5, Pekalongan Timur, Kota Pekalongan
Warung Tauto Pak Tjarlam

Di sekitaran Pasar Senggol Pekalongan ada warung tauto yang legendaris. Pemiliknya mengaku jika tempat jualannya itu telah buka sejak tahun 60-an. Pengunjung bisa menyebutnya sebagai Warung Pak Tjarlam.

Sebelumnya warung ini ada di salah satu sudut Alun-Alun Pekalongan, namun saat ini pindah ke dekat Pasar Senggol. Kepemilikan diwariskan pada generasi ke dua, yaitu anaknya yang bernama Amat. Kalau soal rasa sudah jelas enak.Terbukti Tauto ini masih tetap eksis hingga sekarang.

Warung Tauto Pak Tjarlam, Kios Pasar Senggol Sugih Waras, Jalan Dr Cipto, Kelurahan Kauman, Kota Pekalongan

Sambal Tauco shuterstock
Sambal tauco. Foto: shutterstock


Warung Tauto Bang Dul

Yang juga ada di urutan pertama untuk dipilih untuk menikmati tauto Pekalongan adalah Bang Dul. Ini memang menjadi salah satu kuliner legendaris di Kabupaten Pekalongan, dan menjadi tempat tauto paling favorit di Kabupaten Pekalongan. Di warung Tauto Bang Dul pengunjung bisa memilih ingin menggunakan campuran daging sapi, daging ayam, ataupun jeroan. Untuk rasa memang Soto Tauto Bang Dul sangat lezat, gurih, dan manis menjadi perpaduan yang sempurna saat disantap.

Warung Tauto Bang Dul; Jalan Doktor Sutomo, Gamer, Kabupaten Pekalongan.

Kedai Tauto Rochmani

Tauto Rochmani yang berada di kawasan Mataram, Pekalongan, ini memang ada di lokasi strategis, dan berada dipinggir jalan. Tempatnya juga luas, cocok untuk yang lagi cari tempat makan bersama teman-teman, ataupun keluarga. Warung Rochmani ini memang menyajikan tauto yang memiliki rasa gurih, manis, dan dagingnya lembut. Harga yang ditawarkanpun bersahabat, cocok untuk yang cari kuliner enak namun harganya bersahabat di Kabupaten Pekalongan.

Kedai Tauto Rochmani; Jalan Kurinci No.40, Bendan, Kabupaten Pekalongan.

Tauto PPIP Bu Bawon

Masakan tauto PPIP Bu Bawon yang terdiri dari daging ayam yang lembut, kuah kaldu gurih dengan campuran tauco, memang sangat khas. Rasanya agak berbeda dengan tauto lainnya di Kabupaten Pekalongan. Karena Tauto PPIP Bu Bawon memiliki rasa yang gurih dan sangat lezat dinikmati dengan nasi atau lontong.

Warung Tauto PPIP Bu Bawon ini bolehlah menjadi pilihan untuk dicicipi saat berada di Kabupaten Pekalongan. Kedai Bu Bawon ini selalu ramai dengan pengunjung setiap harinya.

Warung Tauto PPIP Bu Bawon; Jalan Dokter Wahidin Nomor 83, Noyontaan, Pekalongan

agendaIndonesia

*****

Kuliner di Pantai Seger, 40 Kilo dari Mataram

Kuliner di Pantai Seger di Spice Market Novotel

Kuliner di pantai Seger di kawasan Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, bisa menjadi pilihan segar selama jalan-jalan di Lombok. Meskipun berada di dalam hotel dengan posisi di pinggir pantai tak menghalangi pengunjung non-tamu bersantap sambil menikmati pantai.

Kuliner di Pantai Seger

Bangunan tradisional khas Lombok yang terbuka itu terasa hangat me- nyambut. Beratap ilalang kering dengan dominasi kayu dalam interiornya, termasuk lantainya. Setelah menikmati nuansa cokelat di sekeliling, bukan sajian yang pertama saya lirik. Melainkan pasir putih di depan restoran dan debur ombak yang nyaring terdengar. Pantai Putri Nyale atau Seger memang ada di depan mata. Pantai ini berada tepat di sebelah Pantai Kuta, Lombok Tengah.

Kala pagi, kehangatan terasa. Ketika bergeser ke siang, panas agak terasa menyengat, khas hawai pantai. Namun sepoi-sepoi angin membuat duduk di kursi-kursi kayu tetap terasa nyaman. Teguklah Fruit Punch atau Virgin Mochito nan segar untuk membuat tubuh adem.

Malam hari tentunya akan terasa lebih romantis. Menikmati sajian dengan iringan debur ombak. Pilihan atmosfer yang berbeda-beda memang bisa dirasakan di restoran di Novotel Lombok Resort & Villas, yang berada di Mandalika Resort Pantai Putri Nyale, Kuta, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ini. Tak perlu menjadi tamu hotel untuk menikmati sajian mereka.

Berada tak jauh dari bibir pantai,resto ini mempunyai suguhan istimewa yang alami. Khas daerah pesisir pulau ini; pasir putih yang lembut, dengan perbukitan di sekelilingnya. Untuk sajian di meja makannya, tak kalah beragam. Sajian lokal, tentunya mendapat tempat khusus. Authentic Ayam Taliwang, salah satunya. Paduan ayam panggang dengan nasi dan sayuran ini dipatok Rp 140 ribu. Tak ada gambar cabai yang menjadi simbol pedas dalam menu. Saat dicicipi, memang tak ada rasa menyengat. Rupanya, soal pedas tergantung permintaan. Maklum, sebagian besar tamu datang dari mancanegara. Namun bumbu khas Lombok melekat kental pada ayam tersebut.

Dengan mengusung nama Spice Market, beragam suguhan Indonesia yang kaya rempah pun menjadi pilihan. Hidangan juara dunia dari Sumatera Barat pun bisa dicicipi di sini. Padang’s Beef Rendang yang dihargai Rp 155 ribu itu cukup mengenyangkan karena mengandung 540 kalori. Rasa rendang aslinya tetap terasa kuat. Di tepi laut, sering kali yang dicari orang adalah menu berbahan ikan laut. Doyan ikan bakar? Ada pilihan Grilled Mahi Mahi dengan sambal matah atau Grilled Baby Fish dengan sambal dabu-dabu yang terasa segar.

kuliner di pantai Seger Lombok Tengah, Spice Market Lombok

Sate yang menjadi hidangan khas Indonesia pun masuk daftar menu. Sate kambing, ayam, dan sapi dipadu dalam sebuah wadah dengan kuah kacangnya plus asinan. Penggemar bebek bisa mencicipi Bebek Betutu yang menjadi khas pulau di seberang Lombok. Semua sajian lokal dipadu dengan nasi. Ikan tawar pun ada dalam daftar menu, di antaranya Ikan Nila Goreng Lalapan, yang dibanderol Rp 95 ribu.

Untuk yang gemar sayuran, ada plecing kangkung, gado-gado Lombok, Seafood Nyale Beach Salad, serta salad lain, seperti Thai Chicken Noodle Salad, Papaya Salad, Green Garden Salad, dan lain-lain. Sebagian tamu yang da- tang adalah keluarga. Suguhan pun ada yang dibuat untuk kelompok anak-anak. Ada pilihan sandwich dan burger, dengan isi beragam, mulai ikan, daging sapi, ayam, hingga kambing. Selain itu, ada pizza dengan berbagai topping.


Di malam hari, ingin yang berkuah dan hangat, bisa mencicipi Lombok Oxtail Soup, Soto Ayam, Thai Tom Yam Goong yang terasa pedasnya, Wonton Soup, atau Cream of Mushroom Soup. Selain itu, tersedia beragam steak. Terlihat memang ada beberapa tamu yang berpasangan. Berada di pulau yang menjadi destinasi halal ini, menurut seorang sales & marketing hotel bintang empat ini, hidangan yang tersedia merupakan sajian halal.

Lantas, untuk tamu yang tinggal dalam jangka panjang pun, tak bakal dibikin bosan dengan pilihan hidang- annya. “Setiap hari dibuat tema khusus untuk buffet di malam hari. Juga ada hiburan spesial,” katanya. Seperti pada hari Minggu, ditawarkan Seafood Beach Barbeque dengan Romantic Beach Bonfire. Pada Rabu, disajikan Italian Buffet dengan hiburan Novotel Band, sedangkan Selasa, prasmanan berupa Unlimited BBQ dengan suguhan budaya tari sasak Lombok.

Bahkan, ia menyebutkan, untuk membuat kemeriahan di restoran, karyawan hotel dan restoran pun kadang dilibatkan. Misalnya, pada Jumat, selain disajikan hidangan prasmanan berupa All American Buffet, dihadirkan hiburan dari para karyawan yang dikemas sebuah acara pencarian bakat. Dibikin meriah sehingga tamu dan karyawan sama-sama merasakan kegembiraan.

Spice Market Restaurant

Novotel Lombok Resort & Villas Mandalika Resort Pantai Putri Nyale Kuta, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat

Operasional

Sarapan: pukul 07.00-10.30; Makan Siang: pukul 12.00-17.00; Makan Malam: pukul 18.30-20.30

Kapasitas

120 orang

Rita N./Frann/Dok. TL

Toko Oen Semarang, Nostalgia 90 Tahun

Toko Oen Semarang adalah kulinari peninggalan zaman Belanda.

Toko Oen Semarang hingga kini masih menjadi salah satu tempat klangenan bagi warga Semarang dan para pelancong yang datang berlibur. Hingga kini di usianya yang sekitar 90 tahun. Usaha keluarga turun temurun ini pun masih menawarkan hidangan otentik dengan nuansa kolonial yang kental.

Toko Oen Semarang

Sejatinya, meski bernama Toko Oen, tempat ini merupakan kedai makan yang awalnya menjajakan aneka kudapan seperti es krim, roti-rotian dan kue kering. Seiring berjalan waktu, kini mereka juga menawarkan ragam masakan Indonesia, Belanda dan Tiongkok.

Yang unik lagi, meski kini identik sebagai spot kuliner Semarang, namun toko ini justru muncul pertama kali di Yogyakarta pada 1910. Usaha ini diprakarsai oleh sepasang suami istri, Oen Tjoen Hok dan Liem Gien Nio.

Mulanya, mereka berjualan kudapan seperti es krim, kue kering dan aneka olahan roti yang saat itu disukai oleh orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia. Nama ‘Oen’ sendiri berasal dari panggilan mereka sehari-hari, opa dan oma Oen, dari istilah Belanda untuk yang ditetuakan.

Gerai Kue kue Kering IG Toko Oen
Toko Oen Semarang dengan gerai kue-kue keringnya. Foto: IG Toko Oen

Karena semakin banyak pelanggan dan bisnis semakin maju, belakangan mereka juga menjajakan beragam makanan besar ala Indonesia, Belanda dan Tiongkok. Tak hanya itu, mereka kemudian membuka beberapa cabang di kota-kota lain.

Cabang pertama mereka dibuka di Jakarta pada 1934, dan kemudian di Malang sekitar dua tahun setelahnya. Tak lama, mereka juga membuka cabang di Semarang setelah membeli gedung restoran milik seorang pengusaha asal Inggris, yang terletak di jalan Pemuda.

Toko terakhir itulah yang kemudian terus menjadi usaha keluarga dan sudah dikelola oleh generasi ke tiga hingga kini. Bahkan, Toko Oen Semarang bisa dikatakan sebagai salah satu usaha kuliner milik keluarga pribadi yang tertua di Indonesia.

Pun demikian, usaha ini bukannya tanpa pasang surut. Toko di Yogyakarta sudah tutup sejak 1937 agar berfokus pada tiga cabang baru, sementara pada 1973 cabang di Jakarta akhirnya dijual untuk dijadikan gedung perkantoran bank ABN (Algemene Bank Nederlands).

Toko cabang di Malang kemudian turut dijual pada 1990. Rencana pembangunan ulang dilarang oleh pemerintah kota Malang, dengan alasan gedung tersebut dianggap sebagai salah satu cagar budaya penting di kota apel itu.

Belakangan gedung tersebut justru digunakan kembali sebagai kedai makanan seperti semula, dan juga menggunakan nama ‘Oen’. Namun yang perlu diingat, toko ini sudah tidak lagi menjadi bagian dari usaha keluarga toko Oen yang asli.

Kendati begitu, lewat Oen Foundation yang merupakan lembaga pelestarian cagar budaya era kolonial di Indonesia, sekaligus perwakilan toko Oen yang asli, kemudian membolehkan usaha tersebut berjalan. Syaratnya, gedung beserta detail arsitekturnya tetap dipertahankan.

Bisa dibilang, otentisitas toko Oen Semarang lantas menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjungnya. Pelanggannya pun beragam, mulai dari warga lokal Semarang, hingga wisatawan lokal, mancanegara, serta mereka yang pulang kampung dan ingin bernostalgia.

Toko oen poffertjes
Poffertjes atau apem Belanda yang khas di resto ini. Foto: IG Toko Oen

Secara umum, menu yang ditawarkan masih sama sejak dulu dan terus dipertahankan. Menu makanan ringan seperti poffertjes, bitterballen, kroket, risoles dan lumpia masih jadi pilihan favorit bagi pengunjung yang sekedar ingin kudapan ringan sambil menikmati suasana.

Untuk yang ingin makan besar, tersedia menu utama dari dalam dan luar negeri, utamanya masakan otentik Belanda dan Tiongkok. Semisal chicken cream soup, kekian goreng, kit lian hai (udang goreng saus tomat), huzarensla (salad daging ala Belanda), aneka bistik, dan lainnya.

Ragam jenis es krimnya juga sayang untuk dilewatkan. Beberapa menu es krim yang cukup populer di sini misalnya napolitaine, chipolata, tutti frutti, mocca dan nutella nougatine, vruchten sorbet, tiramisu, rum raisin, kopyor, dan lain sebagainya.

Yang cukup unik, es krim di toko Oen Semarang hingga kini masih dibuat menggunakan mesin pembuat es krim dari Italia, yang konon sudah ada sejak 1920-an. Serta sebagai catatan, beberapa varian seperti rum raisin juga mengandung alkohol.

Toko Oen Semarang Ice Cream IG Toko Oen
Ice Cream Toko Oen masih dibuat dengan mesin Italia. Foto: IG Toko Oen

Selain itu, pengunjung juga bisa memesan es krim dalam ukuran satu liter dengan berbagai pilihan rasa untuk disantap beramai-ramai. Dan ada pula opsi untuk memesan es krim yang dipadu dengan poffertjes atau pannekoek.

Last but not least, mereka juga masih menawarkan aneka kue kering yang juga cocok sebagai oleh-oleh. Strawberry sprits, chocolate sprits, vanilla sprits, soes kering, kaasstengel, lidah kucing, ananas dan boterkrantjes merupakan beberapa kue kering favorit.

Setiap kue kering tersebut kemudian ditampilkan dalam jejeran toples dari kaca yang berukuran cukup besar. Pengunjung dapat melihat-lihat sambil mencicipi berbagai jenis kue kering yang beberapa di antaranya sudah mulai jarang dijual dan sulit untuk dicari.

Untuk ukuran restoran otentik, harga menunya pun terbilang cukup reasonable. Menu makanan ringan seperti poffertjes, bitterballen, risoles, kroket dan lumpia harganya berkisar dari Rp 17 ribu hingga Rp 35 ribu.

Kemudian untuk menu-menu seperti sup, salad, serta masakan Indonesia dan Tiongkok rata-rata berada di kisaran Rp 30 ribu-an sampai Rp 60 ribu-an. Sedangkan aneka ragam bistik dan bebakaran barbecue harganya di atas Rp 100 ribu.

Adapun untuk harga es krim berkisar dari Rp 20 ribu hingga Rp 45 ribu. Kalau ingin memesan es krim dengan poffertjes atau pannekoek harganya Rp 40 ribu. Sementara untuk es krim ukuran satu liter dijual mulai dari Rp 300 sampai 375 ribu, tergantung dari pilihan rasanya.

Selain dari beragam pilihan makanan otentik tersebut, daya tarik terbesar toko Oen Semarang tentulah nuansa kolonialnya yang kuat. Selain karena bangunannya yang lawas masih dipertahankan, dekorasi serta ornamen yang digunakan di dalam juga semakin menguatkan vibe tersebut.

Terdapat beragam barang-barang antik, foto-foto lama serta furnitur dari kayu dan rotan yang menampilkan kearifan lokal tempo dulu. Cocok bagi mereka yang ingin klangenan bersama keluarga dan teman, atau mereka yang ingin sekedar merasakan suasana ala masa kolonial.

Toko Oen Semarang biasa buka setiap hari dari jam 10.00 hingga jam 22.00. Yang menarik, umumnya saat ini toko Oen lebih ramai dikunjungi saat jam makan siang, ketimbang pada jam makan malam. Kala sore pun terkadang cukup ramai, utamanya mereka yang hanya ingin bersantai sambil ngemil.

Toko Oen Semarang

Jl. Pemuda no. 52, Semarang

Telp. (024) 3541683

Instagram: tokooen

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Bir Pletok Betawi, 1 Minuman “Wine” Lokal

Bir pletok Betawi sebuah minuman khas Indonesia

Bir pletok Betawi tidak diketahui kapan persisnya ditemukan atau dibuat, namun minuman ini punya standardisasi proses pembuatannya. Banyak yang menyebut bahwa minuman lokal ini muncul sebagai ‘perlawanan’ terhadap tradisi minum wine di zaman kolonial Belanda.

Bir Pletok Betawi

Minuman bir pletok menurut ceritanya diciptakan masyarakat Betawi sebagai substitusi atau pengganti dari anggur merah (wine) yang dibawa orang-orang Belanda dari Eropa. Pengganti, karena masyarakat Betawi umumnya memeluk agama Islam yang tidak mengkonsumsi alkohol.

Meskipun diberi nama bir, bir pletok Betawi sama sekali tidak mengandung alkohol. Minuman ini memang bisa berfungsi sebagai penghangat badan, tapi halal. Pada masanya, ia juga dihidangkan dalam pesta-pesta masyarakat Belanda untuk menghormati warga muslim.

Penamaan minuman ini punya cerita sendiri. Dikutip dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, bir pletok muncul sejak era kolonial Belanda. Orang Eropa yang menetap di Jakarta sering meminum bir dan wine di waktu senggang untuk menghangatkan badan. Tak mau kalah, masyarakat betawi pun menciptakan minuman mereka sendiri yang fungsinya hampir sama. Hanya saja tak mengandung alkohol.

Bir Pletok Warisan Budaya shutterstock
Kini bir pletok Betawi bisa diminum dingin menyegarkan. Foto: shutterstock

Penggunaan kata ‘bir’ tidak merujuk pada minuman beralkohol, melainkan ‘sumber mata air’ yang disadur dari bahasa Arab birun atau abyar. Sementara kata ‘pletok’-nya memiliki beberapa pemahaman.

Pertama, minuman ini dulu dikemas dalam tabung bambu sebelum diminum. Ada beberapa asumsi dan pendapat mengenai nama ‘pletok’ dalam sajian minuman tradisional ini. Pertama karena bunyi pletok yang keluar saat orang Belanda membuka botol wine. Agar melengkapi istilah bir-nya, kata pletok pun disematkan untuk melengkapi.

Pengertian ke dua karena yang menyebut karena akibat bunyi pletok yang berasal dari kulit secang yang merupakan salah satu bahan minuman ini. Sementara itu ada pula yang menyebut pletok adalah bunyi yang keluar dari tabung bambu dari es batu dalam bumbung atau selongsong bambu ketika mencampur minuman. Akhirnya, jadilah bir pletok.

Sebagai minuman tradisional, bir pletok tentu diolah dari bahan pokok yang ada di sekitar masyarakat. Rempah-rempah yang digunakan untuk membuat minuman ini adalah jahe, kapulaga, pandan wangi, dan serai. Beberapa bir pletok juga ditambahkan dengan kayu secang untuk membuat warnanya menjadi merah alami seperti wine.

Kombinasi rempah-rempah ini menghasilkan cita rasa yang unik: sedikit pedas, manis, dan hangat. Selain itu, penggunaan pandan wangi juga menyumbang aroma yang harum. Tak ayal, penikmat bir pletok begitu mencintai minuman khas dan berkhasiat ini.

Bir Pletok Betawi shuttrstock

Pada masa kolonial, minuman ini sering dikonsumsi malam hari. Namun, kini bir pletok diminum kapan saja, sebagai penghangat di malam hari sebagai penyegar tubuh di siang hari dengan campuran es batu.

Walaupun pada zaman dahulu bir pletok menjadi minuman yang merakyat yang dijajakan oleh pedagang keliling, kini keberadaannya mungkin agak sulit didapati. Begitupun jika wisatawan ingin mencicipi minuman tradisional khas Betawi ini, dapat mengunjungi beberapa perkampungan Betawi.

Cara pembuatan bir pletok Betawi sendiri juga cukup mudah. Pertama geprek jahe dan serai kemudian rebus air hingga mendidih. Setelah itu masukkan bahan lainnya, lada, kapulaga, daun jeruk purut, daun pandan, kayu manis, cengkeh, dan kulit kayu secang. Jangan lupa ditambahkan gula pasir sesuai selera. Setelah mendidih sekitar 10-20 menit, angkat dan bir pletok Betawi sudah bisa dinikmati.

Yang paling khusus dalam proses pembuatannya adalah kapan bahan secang dimasukkan. Pada zaman sekarang banyak orang memasukkan seluruh bahan dalam air dan direbus bersamaan. Menurut sesepuh Betawi, cara itu kurang tepat.

Menurut mereka, secang harus dimasak atau direbus tersendiri. Bahan inilah yang menghasilkan warna merah. Dengan merebusnya dahulu, akan diperoleh warna merah di tingkat yang diinginkan.

Ramuan Bir Pletok shutterstock

Bisa pula sebaliknya, dengan menggodok semua bumbu terlebih dulu, baru ketika sudah mendidih, kemudian masukkan secang agar bisa menakar kadar warna yang ingin dihasilkan. Warna merah ini dianggap cukup penting karena dari sejarahnya minuman ini untuk menggantikan wine merah.

Dengan warna merah yang mirip dengan wine merah, ketika disajikan dalam pesta tidak terlihat perbedaan mereka yang minum minuman beralkohol, dan yang tidak.

Kini minuman ini sering disajikan dalam pesta pernikahan atau khitanan orang Betawi. Atau jika datang sebagai wisatawan, bisa mengunjungi kawasan wisata masyarakat Betawi di Setu Babakan. Bisa juga datang ke Pekan Raya Jakarta saat ulang tahun Jakarta. 

Pada masa kolonial, minuman ini sering dikonsumsi malam hari, mengingat cuaca Jakarta yang panas di sing hari dan dingin di malam hari saat itu. Tapi kini bir pletok Betawi bisa diminum kapan saja, sebagai penghangat di malam hari sebagai penyegar tubuh di siang hari dengan campuran es batu. Mau mencoba?

agendaIndonesia

*****

3 Selera Sedap Medan Penggugah Semangat

3 selera sedap medan seperti Gulai Ikan Salai

3 selera sedap Medan, Sumatera Utara, bisa menjadi pilihan saat berkunjung ke kota ini. Semuanya sedap, dan membuat orang ingin menyantapnya lagi. Dan lagi.

3 Selera Sedap Medan

Sumatera Utara terdiri atas 26 kabupaten/kota madya, yang tersebar dari ujung Daerah Istimewa Aceh dan Sumatera Barat. Rasa makanan dari daerah yang berlainan tentu berbeda. Ada yang terkena pengaruh santan dan pedas dari Sumatera Barat, ada pula yang memunculkan kekhasan dapur suku Batak. Tapanuli Selatan, yang berdekatan dengan Sumatera Barat, mempunyai pilihan menu dengan santan kental. Sebaliknya dengan Tapanuli Utara, yang banyak menawarkan sajian tanpa kuah.

Dengan keberagaman itu, rumah makan daerah pun memiliki ciri sendiri. Jenis rumah makan tersebut kini semakin menjadi daya tarik wisata di Medan. Dan beberapa yang ramai dikunjungi antara lain Rumah Makan Sipirok, Rumah Makan Sibolga, dan Rumah Makan Padang Sidempuan. Namanya sudah langsung menunjukkan daerahnya, dan ketiganya menyuguhkan menu halal.

Sup Sumsum Superbesar

Pukul 11.00 kami sudah berada di Jalan Sunggal No. 34-A, tempat parkiran Rumah Makan Sipirok masih memberi ruang. Kursi pun masih banyak yang kosong. Kami sengaja datang lebih awal untuk sebuah makan siang karena santer kabar beredar bahwa kesiangan sedikit saja, maka semangkuk sup sumsum atau iga kerbau tak bakal bisa Anda cicipi. Atau Anda harus lebih bersabar karena tepat pukul 12.00, rumah makan sudah penuh.

Sup dari kota yang berada di antara Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara ini memang sudah kondang. Ada beragam sajian, namun yang menjadi andalan dua jenis sup ini. Dan jangan kaget dengan sajian sup sumsum karena tulang kerbau itu akan disajikan secara utuh dan tamu bisa mengorek sumsumnya atau bahkan menyeruputnya. Tidak seperti sup iga, yang disajikan dalam potongan tulang-tulang kecil.

Menu dari Sipirok ini termasuk yang aman bagi muslim karena halal. Selain dua jenis sup yang benar-benar bikin keblenger itu, ada juga udang kecepe sambal pati, gulai ikan sale, sambal teri, dan daging bakar disiram sambal pedas. Rasanya semua bikin jatuh hati. Untuk pilihan sayuran, ditawarkan rebusan daun ubi, tumis bunga pepaya dan daun ubi tumbuk yang memang khas Sumatera Utara. Ada jenis sambal khas Sipirok. Terbuat dari cabai giling halus, jeruk nipis, dan irisan bawang merah. Rasanya cukup asam tapi segar.

Uniknya lagi, untuk pembayaran, Zulfikar, sang pemilik, langsung mendatangi tamu. Dialah yang menghitung dan menerima uang dari tamu. Tak mengherankan kalau ikat pinggang berfungsi sebagai dompet baginya. Dan, pada saat makan siang tiba, itulah saat yang paling repot bagi pria ramah ini karena ia mendatangi setiap meja. Hasil olahan istrinya itu dipatok dari Rp 3.000, harga tertinggi tentunya sup sumsum superbesar itu, yakni Rp 30 ribu. Kami bertiga dengan pesanan dua piring nasi, dua mangkuk sup iga, satu sup sumsum, ditambah dua menu lain mesti mengeluarkan Rp 105 ribu. Tentunya ditambah teh. Jadi rata-rata per orang kurang-lebih Rp 35 ribu.

Rumah Makan Sipirok

Jalan Sunggal No. 34-A Medan

Jam Operasional pukul 11.00-15.00.

(Hanya sajian untuk makan siang)

Sedapnya Gulai Ikan Salai

Sibolga merupakan kota yang memiliki gunung dan laut. Namun, dari kota yang berada di tepian Teluk Tapian Nauli ini, makanan yang terkenal adalah menu pesisirnya. Dan sajian khas pesisir itulah yang disuguhkan di Rumah Makan Nasrul Sibolga di Jalan Sisingamangaraja, Medan. Yang tidak boleh terlewatkan ketika Anda mampir ke sini adalah gulai ikan salai atau ikan lele asap. Aroma asapnya yang menyebar menguarkan rasa sedap, dan gulainya yang tidak terlalu kental membuat bibir menyeruput tanpa henti.

Santan yang cair justru membuat sajian tidak memicu enek. Kuah gulai pun diguyurkan ke nasi. Lantas lele asap digigit hingga aroma asapnya langsung terhirup, benar-benar menambah selera. Penyajian seperti di rumah makan Padang. Begitu tamu datang, piring-piring langsung memenuhi meja. Selain gulai ikan salai, ada daun ubi tumbuk alias daun singkong yang ditumbuk halus, udang kecil dengan kuah gulai kental, gulai kepala ikan, gulai sontong, sambal petai, ikan kembung isi, ikan teri. Semuanya membuat lapar mata.

Berada tak jauh dari Masjid Raya Medan, rumah makan milik H Abdul Latief ini saat makan siang juga selalu dipenuhi tamu. Berdiri sejak 1972, Abdul Latief bisa ditemui di balik meja kasir. Rumah makan berlantai dua yang menyuguhkan sajian ikan segar itu bisa didatangi untuk makan siang maupun makan malam.

RM Nasrul Sibolga

Jalan Sisingamangaraja

Medan

Sambal Ikan Haporas

Padang Sidempuan pernah menjadi bagian dari Kota Tapanuli Selatan sebelum akhirnya pada 2001 menjadi kota sendiri. Dalam soal sajian di meja makan, olahan Padang Sidempuan ini memiliki kekhasan sendiri. Beberapa yang menjadi kekhasannya adalah gulai ikan salai, sambal ikan haporas, arsik ikan mas, sambal belut, sambal petai, daun ubi tumbuk.

Gulai ikan salai menjadi favorit, selain karena kuah gulainya yang ringan, lantaran aroma asapnya yang terasa sekali karena sebelum digulai, lele asap itu diasap kembali. Ikan asap memang menjadi ciri khas dari Tapanuli Selatan. Sambal petai tak boleh dilewatkan juga. Tampilannya tidak seperti sambal yang lazimnya berlumuran cabai merah. Sambal yang satu ini justru seperti kuah gulai yang kental. Ternyata terbuat dari pati santan sehingga muncul seperti gulai. Selain aroma gurih dari santan, bau petai yang khas juga membuat air liur menetes.

Tak hanya hidangan gurih yang disuguhkan di rumah makan dengan ruang terbuka ini, ada juga teri berbalut cabai merah. Cukup pedas. Ada pula jenis sambal lain, terbuat dari ikan haporas. Ikan kecil ini pun diasap sehingga sambal pun beraroma khas. Lantas, sama seperti di Rumah Makan Sipirok dan Nasrul Sibolga, daun ubi tumbuk pun tak ketinggalan. Sari kehijauan daun singkong yang berbaur dengan santan memunculkan kuah berwarna agak hijau. Tak kalah menggoda juga.

Rumah Makan Padang Sidempuan

Jalan Darussalam simpang Sei Belutu

Medan

Rita N./Toni H./Dok. TL

Surabi Bandung, 100 Tahun Kudapan Sedap

Surabi Bandung dengan kuah kinca adalah varian paling popular. Foto: shutterstock

Surabi Bandung atau yang terkadang juga disebut serabi, bisa disebut salah satu warisan budaya tradisional Bandung, utamanya dalam hal kuliner. Konon, makanan cemilan mirip pancake ini sudah dinikmati masyarakat kota ini sekitar satu abad lamanya.

Surabi Bandung

Kudapan ini disebut atau dituliskan sebagai ‘surabi’ karena berasal dari istilah Bahasa Sunda ‘sura’, yang kira-kira artinya besar atau agung. Penamaan demikian dikarenakan makanan ini dulunya lebih umum disajikan kepada kaum kerajaan dan bangsawan.

Pada perkembangannya, surabi Bandung masa kini juga terinspirasi dari pancake yang disukai orang-orang Belanda di zaman kolonial dulu. Sehingga surabi kemudian tidak hanya muncul sebagai makanan khas Bandung saja, tetapi juga daerah-daerah lainnya di tanah air.

Kendati demikian, masing-masing serabi memiliki beberapa perbedaan dan ciri khasnya sendiri. Serabi Solo misalnya, cenderung mempunyai rasa yang manis dengan adonan yang tipis, sementara surabi Bandung bercita rasa gurih dengan adonan yang lebih tebal.

Pun begitu, pada dasarnya serabi-serabi tersebut merupakan kudapan yang terbuat dari bahan-bahan yang kurang lebih sama, seperti tepung beras, santan dan parutan kelapa. Bahan-bahan tersebut dibuat menjadi adonan yang kemudian dimasak di atas tungku kayu bakar atau arang.

Surabi Bandung dibuat dengan tembikar yang cukup tebal di atas api.
Pembuatan surabi Bandung. Foto: shutterstock

Surabi Bandung sendiri selain dimasak dengan cara demikian, juga menggunakan cetakan berbentuk mangkok dari tanah liat untuk adonannya. Dengan menggunakan cetakan ini, surabi biasanya cenderung lebih gosong di bagian bawah dan lembut di bagian atasnya.

Cara memasak surabi ini secara umum masih coba terus dipertahankan hingga kini. Alasannya, serabi yang dibuat dengan metode demikian memiliki tekstur, bentuk, aroma serta rasa yang khas. Cita rasa ini sangat sulit didapatkan jika menggunakan peralatan masak yang modern.

Keunikan surabi Bandung yang asli adalah rasanya yang cenderung gurih dan kerap menggunakan pelengkap seperti abon atau oncom. Alhasil, cita rasanya lebih mengarah ke gurih, asin dan bahkan pedas.

Walau demikian, seiring perkembangan jaman surabi juga memiliki beragam variasi baru untuk dapat mengikuti selera konsumen hingga kini. Surabi kinca misalnya, merupakan varian yang menggunakan topping kinca atau gula merah cair.

Surabi Bandung shutterstock
Aneka surabi dengan toppingnya. Foto: shutterstock

Selain itu, banyak pedagang-pedagang surabi Bandung yang kini mulai berkreasi dengan bermacam jenis tambahan topping lainnya. Mulai dari keju, coklat, vanilla, bakso, sosis, mayonnaise, buah-buahan seperti pisang, durian dan lain-lainnya.

Kalau tertarik untuk mencoba serabi di sekitar kota kembang, ada beberapa rekomendasi tempat yang mungkin bisa jadi pilihan menarik. Salah satunya adalah Surabi Cihapit yang berada di Jalan Sabang, kawasan Bandung bagian timur.

Surabi Cihapit boleh dibilang merupakan salah satu kedai serabi yang paling terkenal di Bandung. Sejak 1993, mereka sudah berjualan surabi dengan menggunakan gerobak, hingga kini memiliki kedai sendiri.

Layaknya penjual surabi kaki lima lainnya, awalnya mereka lebih banyak berjualan serabi tradisional. Namun seiring berjalan waktu, mereka kini juga turut menawarkan beragam jenis varian serabi seperti keju, coklat, pisang, kismis, abon, sosis dan sebagainya.

Biasanya mereka berjualan pada dua sesi, setiap pagi pada jam 6 sampai 12 serta sore pada pukul 15 hingga 21. Namun khusus pada hari Minggu, Surabi Cihapit hanya beroperasi pada pagi hari.

Harganya pun tergolong cukup terjangkau. Kalau ingin mencoba jenis surabi tradisional dengan oncom atau kinca, satu porsinya sekitar Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu. Sedangkan ragam varian lainnya berkisar dari Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu.

Surabi Bandung Oncom shutterstock
Surambi oncom yang gurih dan enak. Foto: shutterstock

Tempat lain yang tak kalah menarik untuk dicoba adalah Surabi Kinca Suji Ekarasa. Terletak di area Jalan Burangrang, surabi yang mereka jajakan terkenal dengan aroma dan cita rasa pandan yang khas, dengan warna kehijauan dan tekstur yang lembut.

Seperti namanya, surabi yang menjadi jualan utama di tempat ini adalah surabi kinca. Namun beberapa jenis surabi lain seperti serabi oncom, atau serabi durian dengan paduan rum juga dapat ditemukan di sini. Harganya pun bersahabat, mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 9 ribu.

Kedai surabi Bandung lainnya yang sayang untuk dilewatkan adalah Surabi Radja. Berlokasi di Jalan Pluto Selatan II, kedai ini memang baru mulai berjualan sejak tahun 2006, tetapi dengan cepat mereka berhasil meraih banyak pelanggan.

Salah satu alasannya adalah penggunaan telur pada proses pembuatannya, yang kemudian membuat tekstur surabi yang begitu lembut sampai terasa lumer di mulut. Pengunjung akan mendapat pilihan surabi yang dibuat dengan atau tanpa telur.

Tak hanya itu, varian yang ditawarkan juga begitu banyak, mulai dari kinca, oncom, pisang, coklat, keju, sosis, abon, strawberry, serta beragam perpaduan dari pilihan topping tersebut. Ditambah lagi, harganya juga terbilang murah dibanding kedai-kedai serabi Bandung lainnya.

Satu porsi dengan satu pilihan topping berkisar dari Rp 4 ribu hingga Rp 7,5 ribu. Kalau ingin memadukan dua atau tiga jenis pelengkap, harganya mulai dari Rp 4,5 ribu sampai Rp 12 ribu. Surabi Radja buka setiap hari pada pagi (06.30 – 09.00) dan sore hari (16.30 – 21.00).

Akhirnya, satu hal yang perlu diperhatikan bagi yang ingin mencoba adalah serabi pada umumnya merupakan makanan yang tidak begitu tahan lama. Maka disarankan untuk menyantapnya langsung selagi hangat atau setidaknya dihabiskan pada hari itu juga.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Tahu Bungkeng Sumedang, 1 Abad Sejarah Tahu

Tahu Bungkeng Sumedang cikal bakal tahu Sumedang

Tahu Bungkeng Sumedang, yang usianya kini sudah lebih dari satu abad, bisa dibilang merupakan saksi sejarah terciptanya salah satu kudapan favorit masyarakat Indonesia dewasa ini, yakni tahu sumedang. Lewat sejarahnya yang panjang, ia turut mempopulerkan jajanan rakyat tersebut.

Tahu Bungkeng Sumedang

Di masa sekarang, akan terhitung cukup mudah untuk menemukan tahu Sumedang. Dari beragam penjual aneka gorengan di pinggir jalan, hingga toko-toko makanan seperti kue basah dan sejenisnya, kerap ditemukan tahu Sumedang yang turut dijajakan.

Populernya kudapan ini bukanlah tanpa sebab. Tahu Sumedang sendiri merupakan jenis olahan tahu yang memiliki ciri-ciri seperti bentuk yang relatif kecil, bagian kulit yang agak garing, isi di dalamnya yang cenderung kosong serta rasa yang gurih.

Karakteristik tersebut membuatnya mudah dan enak untuk dikonsumsi dalam beragam kesempatan, seperti saat ingin ngemil makanan ringan ataupun sebagai hidangan pembuka sebelum makan siang atau malam. Apalagi tahu terasa semakin nikmat saat disantap hangat.

Gerai Tahu Bungkeng IG Tahu Bungkeng
Pembeli di depan gerai Tahu Bungkeng. Foto: IG Tahu Bungkeng

Seperti namanya, tahu Sumedang memang terlahir di salah satu kabupaten provinsi Jawa Barat tersebut, sekitar 45 kilometer dari kota Bandung. Begitu identiknya tahu sebagai identitas dan makanan khas mereka, Sumedang lantas juga kerap dikenal sebagai kota tahu.

Yang menarik, tahu Sumedang ternyata merupakan resep yang dibawa dari Tiongkok. Semua berawal pada awal tahun 1900-an, ketika seorang imigran dari Tiongkok bernama Ong Kino datang ke Indonesia untuk pindah dan menetap.

Setelah tiba di Sumedang, ia kemudian memutuskan tinggal di sana bersama keluarganya. Masa-masa awal kepindahan mereka ke Tanah Air terasa agak sulit, lantaran istrinya yang merasa homesick dan kangen dengan masakan tradisional Tiongkok.

Sebagai usaha untuk mengatasi kerinduan tersebut, Ong Kino kerap mencoba memasak beberapa makanan-makanan khas Tiongkok yang biasa mereka santap dulu. Salah satu resep yang ia buat adalah olahan tahu yang kemudian menjadi cikal bakal tahu Sumedang.

Tahu, atau doufu/tofu dalam bahasa Mandarin, memang merupakan salah satu makanan yang populer bagi masyarakat Tiongkok. Berkat cara pengolahannya yang mudah serta harganya yang ekonomis, tahu disinyalir sudah populer dikonsumsi rakyat Tiongkok sejak tahun 950 Masehi.

Biasanya, mereka membuat tahu dari olahan kacang kedelai yang direndam air sekitar 4-6 jam, kemudian digiling, direbus, disaring dan diendapkan sehingga berbentuk padat. Setelahnya, tahu kemudian dipotong-potong lebih kecil, umumnya dengan bentuk kotak-kotak.

Awalnya, resep tersebut hanya dibuat oleh Ong Kino untuk sang istri, serta beberapa tetangga, kerabat dan sanak saudara sesama imigran di kala perayaan hari raya etnis Tionghoa. Ternyata, banyak dari mereka yang menyukai tahu buatannya tersebut.

XClFGYSu Tahu Bungkeng Sumedang IG tahu Bungkeng

Usut punya usut, tahu buatan Ong Kino dinilai mempunyai cita rasa gurih yang unik, yang membuatnya dianggap lebih nikmat dari tahu-tahu kuning dan putih yang umumnya beredar saat itu. Dari testimoni positif tersebut, ia memberanikan diri untuk menjualnya untuk umum.

Kebetulan, setelah pindah ke Sumedang, ia mencari nafkah sebagai penjual ragam makanan ringan seperti keripik singkong dan tapioka. Tempatnya berjualan di kawasan jalan Sebelas April, hingga kini menjadi lokasi toko Tahu Bungkeng.

Meskipun terhitung mendapatkan respon positif dari pembelinya, saat itu tahu buatannya belumlah mencapai popularitas puncaknya. Hingga pada 1917, salah satu anaknya bernama Ong Boenkeng menyusul datang ke Indonesia untuk membantunya berbisnis.

Salah satu langkah besar yang dilakukan Ong Boenkeng dalam membantu bisnis ayahnya, adalah dengan memodifikasi resep tahu tersebut. Setelah tahu sudah jadi, ia mencoba bereksperimen dengan cara menggorengnya.

Caranya menggoreng tahu pun terhitung unik. Ia mencoba menggoreng tahu-tahu itu dengan api yang cukup besar, sehingga hasilnya tahu menjadi garing di bagian kulitnya dan kopong di bagian dalamnya. Ini kemudian menjadi karakteristik utama dari tahu Sumedang.

Suatu ketika bupati Sumedang saat itu, Pangeran Aria Soeriaatmadja, yang kebetulan melintas di depan toko, mencium aroma harum dari tahu yang sedang dimasak. Ia kemudian memutuskan untuk singgah dan mencoba tahu yang dimasak oleh Ong Boenkeng kala itu.

Sang bupati ternyata sangat menyukai tahu tersebut, dan mendorongnya agar terus berjualan dan meraih kesuksesan. Sejak saat itu, dari mulut ke mulut popularitas tahu Bungkeng Sumedang semakin meningkat dan pelanggan semakin bertambah, bahkan dari luar kota dan luar negeri.

Setelah Ong Boenkeng mengambil alih usaha dari sang ayah pada tahun 1940-an, orang-orang pada umumnya kemudian menyebut tokonya sebagai tahu Bungkeng atau tahu Bungkeng Sumedang, yang pada prinsipnya merupakan pelafalan namanya secara kearifan lokal.

Nori Tofu IG Tahu Bungkeng

Pada saat usaha dikelola oleh generasi ketiga Ong Yoekim di kisaran tahun 1970 hingga 1980-an, tahu Bungkeng Sumedang meraih puncak kesuksesan dengan rata-rata produksi 2.000 hingga 3.000 tahu per hari. Bahkan saat permintaan memuncak toko bisa memproduksi sampai 7.000 tahu.

Meski demikian, sejak tahun 1990-an mulai banyak toko-toko yang menjual tahu sejenis, bahkan beberapa di antaranya merupakan usaha dari mantan pegawai di toko tahu Bungkeng Sumedang. Sejak itu, orang-orang mulai menyebut tahu tersebut secara umum sebagai tahu Sumedang.

Walaupun tahu Sumedang sudah menjadi jajanan yang umum dan mudah ditemukan di mana pun, bukan berarti pamor tahu Bungkeng meredup total. Bagaimana pun, status mereka sebagai pionir tahu Sumedang yang asli membuatnya senantiasa spesial dan diburu wisatawan.

Oleh Ong Chechiang alias Suriadi, bersama dengan anak-anaknya sebagai generasi keempat dan kelima dari usaha ini, toko tahu Bungkeng Sumedang hingga kini masih terus berjualan dan menjadi kepingan sejarah tempat lahirnya kudapan rakyat khas Sumedang tersebut.

Cita rasa asli tahu Bungkeng sebagai sang pelopor tahu Sumedang selalu dipertahankan, lewat penggunaan kacang kedelai jenis lurik yang dinilai punya sari pati lebih bagus dan banyak, serta metode memasak tahu dan kualitas air untuk mengolah kedelai yang senantiasa dijaga.

Alhasil, ciri khas tahu yang gurih, berkulit garing serta isian yang kopong pun selalu konsisten. Bahkan ada anggapan, harus mencoba tahu Bungkeng untuk merasakan cita rasa tahu Sumedang yang asli, karena konon tahu lainnya terkadang kalah gurih, bahkan cenderung asam.

Satu ciri khas lainnya yang unik adalah tahu yang disajikan bisa dipasangkan dengan sambal yang diracik menggunakan cabe rawit, tomat dan tauco. Rasa pedas dan segar berpadu apik dengan tahu hangat yang bercita rasa gurih.

Selain itu, tahu Bungkeng juga bisa disantap dengan lontong atau nasi. Harga tahu per potongnya pun hanya sekitar Rp 1 ribu, dengan tambahan Rp 1 ribu untuk lontong, Rp 5 ribu untuk nasi dan Rp 3 ribu untuk sambalnya.

Seiring perkembangannya, tahu Bungkeng pun senantiasa berinovasi dengan ragam produknya. Seperti tahu gehu alias tahu isi, atau Nori Tofu yang sejatinya merupakan tahu Sumedang dengan tambahan nori atau olahan rumput laut ala Jepang.

Wisatawan yang datang untuk membeli sebagai oleh-oleh juga dapat membeli tahu yang masih mentah. Jika membeli yang sudah dimasak, bisa memesan dari 10 hingga 100 tahu dalam satu kemasannya, dengan perkiraan awet sekitar satu setengah hingga dua hari.

Dan untuk menjangkau lebih banyak konsumen, tahu Bungkeng kini memiliki dua cabang tambahan. Satu di antaranya terletak di kawasan jalan Jendral Sudirman, Bandung. Setiap cabangnya buka dari jam 07.00 sampai jam 18.00.

Tahu Bungkeng

Jl. Sebelas April no. 53, Sumedang

Jl. Mayor Abdurachman no. 80, Sumedang

Jl. Jendral Sudirman no. 393, Bandung

Instagram: tahu.bungkeng

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****