Jajanan Enak Kelapa Gading, 5 Jadi Pilihan

Jajanan enak Kelapa Gading, dari yang tradisional sampai yang legendaris.

Jajanan enak Kelapa Gading pilihannya bisa berlimpah. Mulai dari yang tradisional hingga yang melegenda.

Jajanan Enak Kelapa Gading

Jarum jam menunjukkan pukul 12.20. Matahari semestinya sedang gagah memperlihatkan kekuatannya. Namun siang itu awan kelabu menutupi keperkasaan matahari. Di tengah suasana mendung, di sepanjang Jalan Boulevard Raya, Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara, orang-orang mampir dengan penuh semangat. Kendaraan beroda empat menyesaki pelataran parkir di deretan rumah makan di kawasan tersebut. Hampir tak ada rumah makan yang sepi pengunjung di lingkungan 1001 kuliner. Ada beragam menu dan setiap orang punya pilihan sesuai dengan selera masing-masing. Namun ada beberapa menu yang diburu sebagian besar penggemar kuliner. Empat di antaranya diulas di bawah ini.

Iga Penantang

Daging iga sapi bakar dengan siraman bumbu kacang di atasnya benar-benar menantang untuk disantap. Saat dipotong dengan sendok, dagingnya relatif mudah dipisahkan dari tulang. Maklum saja, sebelum dibakar, daging iga sapi yang masih dilengkapi tulang itu direbus dengan bumbu-bumbu selama tiga jam. Alhasil, selain empuk, bumbu meresap ke dalam daging iga.

Menu seharga Rp 50 ribuan ini dilengkapi kuah sop konro secara terpisah. Kuahnya terlihat lebih encer ketimbang coto Makassar. Menurut sang pemilik, menu ini paling banyak dipesan. Padahal, menu masakan Makassar lainnya juga tersedia. Ia mengaku dalam sehari dapat menghabiskan 500 kilogram iga sapi.

Sop Konro Karebosi;Jalan Boulevard Raya TA II/38;Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

Jajanan enak Kelapa gading kita bisa mencicipi kwetiau goreng Pontianak yang legendaris di kawasan ini.
Kwetiau goreng Pontianak di Kelapa Gading. Foto: Dok. TL

Jagoan Nila

Lain lagi dengan rumah makan Ikan Nila Pak Ugi. Sesuai dengan namanya, rumah makan ini memang mengandalkan ikan nila sebagai menu utama. Tersedia beragam menu, mulai nila bakar, nila goreng, nilai saus Padang, hingga nila telur asin. Dari semua olahan tersebut, yang paling banyak dipesan nila bakar. Saya pun mencoba pilihan terbanyak itu.

Saat ikan dibakar, aroma harum langsung tercium dan menggoda selera. Setelah setengah matang, ikan nila yang telah dipotong dan dibersihkan itu diberi bumbu racikan Pak Ugi. Saat bumbu meresap, ikan dibakar sampai matang dengan siraman kecap. Rupanya, di situlah letak rahasia kenikmatannya. Pantas saja nila bakar itu sanggup membuat lidah bergoyang.

Ikan Nila Pak Ugi; Jalan Boulevard Raya FX I/1;Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

Dim Sum

Sajian dim sum lengkap biasanya hanya ditemui di restoran-restoran besar. Tapi di Kelapa Gading, olahan khas dari Negeri Tirai Bambu ini dapat ditemukan di warung rumahan. Sang pemilik warung memanfaatkan teras rumah sebagai area makan. Ia menyodorkan menu pilihan dim sum yang mayoritas banyak disukai, seperti siomay, chicken pou, hakau, lumpia udang, pangsit udang, dan ceker ayam.

Meski dijual ala rumahan, rasa sajian yang biasa disantap saat sarapan ini boleh diadu. Daging ayam atau udang dicincang setengah halus. Tak mengherankan jika setiap gigitan menimbulkan sensasi tersendiri. Harganya dihitung per porsi dan tidak terlalu mahal. Sebagai pendamping makanan, Anda bisa memesan secangkir kopi Sumatera asal Sidikalang. Kenikmatan kopi bisa diteguk dengan membayar Rp 5.000 per cangkir.

Jajanan enak Kelapa Gading kita bisa mencoba sop konro atau konro bakar Karebosi Makassar di daerah Kelapa Gading Boulevard.
Sop Konro from Makassar Indonesia. Foto: shutterstock

Kwetiau Kawakan

Bicara kwetiau, mungkin, Anda tidak boleh melupakan kwetiau khas Pontianak yang satu ini. Sejak 1991 hingga sekarang, rumah makan ini konsisten menyajikan kwetiau saja. Jadi, jangan harap menemukan menu lain di tempat ini. Mungkin karena itu pula banyak yang sudah mengenalnya.

Sekadar menyegarkan ingatan, rumah makan ini hanya menyediakan tiga pilihan olahan kwetiau: kwetiau goreng, kwetiau siram, dan kwetiau kuah. Setiap sajian itu dipatok dengan harga yang sama, yaitu Rp 32 ribu per porsi. Kokinya juga dari dulu belum berganti. Masih orang yang sama dan dengan teknik memasak yang sama pula. Ia memasukkan telur ayam saat masakan sudah setengah matang.

Kwetiau Sapi Hayam Wuruk 61; Jalan Boulevard Raya TN II/30-31; Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

Bubur Sapo

Tak usah khawatir bila tengah malam perut Anda keroncongan. Jika kebetulan berada di Kelapa Gading Permai, Anda dapat mengunjungi rumah makan yang buka 24 jam ini. Ada beberapa menu ala Singapura yang dapat dijadikan pilihan. Namun menu bubur tetaplah menjadi pilihan favorit pengunjung.

Memiliki keunikan tersendiri. Bubur tidak dihidangkan di mangkuk biasa. Tetapi disajikan dalam sapo, yaitu mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Mungkin karena itu sajian ini kemudian disebut bubur sapo. Penggunaan sapo menjadikan bubur tetap hangat hingga suapan terakhir. Harga bubur ayam dipatok Rp 30 ribu per porsi.

Bubur Sapo Bun Ong; Jalan Boulevard Raya WB I/30; Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

agendaIndonesia/Andry T./TL/shutterstock

*****

Pulau Kemaro Palembang dan Perayaan Hari Ke 15

Pulau Kemaro Palembang menjadi salah satu daya tarik saat Imlek dan Cap Go Meh.

Pulau Kemaro Palembang, Sumatera Selatan, ramai dikunjungi peziarah dan pelancong. Selain pada hari-hari biasa, paling ramai didatangi saat Imlek dan puncaknya ketika perayaan Cap Go meh, atau hari ke 15 setelah Hari Raya Imlek setiap tahun.

Pulau Kemaro Palembang

Deru mesin perahu motor menandai dimulainya pelayaran saya ke Pulau Kemaro dari tepi Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Daratan seluas lima hektare ini sesungguhnya hanya berjarak sekitar enam kilometer dari Benteng Kuto Besak, sehingga bisa dicapai dalam waktu singkat. Cukup dengan membayar Rp 15 ribu, saya bisa mengunjungi pulau itu.

Kemaro berarti kemarau, atau musim panas. Meski air sungai meluap, menurut cerita warga setempat Pulau Kemaro tidak pernah kebanjiran. Saya memilih menyewa perahu karena ingin melihat sekeliling pulau dan juga sisi lain sungai yang membelah ibu kota Sumatera Selatan ini. Sebenarnya ada juga bus air, yang mengantar anak-anak berseragam pulang dari sekolah. Tapi ini tentu khusus anak sekolah dan “trayeknya” lebih tertentu. Dengan sewa perahu, selain lebih leluasa, rasanya tak melanggar hak anak-anak sekolah itu.

Tak lama perahu motor membelah air Sungai Musi, pulau yang saya tuju tampak di depan mata. Saya naik ke dermaga yang posisinya cukup tinggi. Di mana-mana terlihat pepohonan, sehingga tidak terasa hawa panas. Pedagang makanan dan minuman menyambut di bawah kerindangan pohon. Ketika kaki melangkah lebih jauh, tampak sekeliling pulau seperti hutan kecil. Jalan pun berujung pada sebuah rumah ibadah yang berupa pagoda.

Sebenarnya, pagoda berlantai sembilan itu baru dibangun pada 2006. Semula, ini Kelenteng Soei Goeat Kiong, yang lebih dikenal sebagai Kelenteng Kwan Im. Didirikan pertama kali pada 1962, kini tempat itu telah menjelma pagoda bertingkat didominasi warna merah dan kuning serta hiasan naga. Bangunan pagoda tinggi menjulang, tampak unik di tengah pepohonan. Ada pelataran dengan dua patung penjaga berwarna hitam di pintu masuk utama.

Tidak jauh dari sana, saya menemukan rumah penjaga pagoda yang ternyata sudah puluhan tahun turun-temurun tinggal di Pulau Kemaro. Seorang ibu tua yang berasal dari Pulau Jawa bertugas membersihkan lingkungan tersebut. Ibu itu lantas bercerita bagaimana pulau ini paling ramai dikunjungi ketika acara Cap Go Meh, perayaan 15 hari setelah Tahun Baru Imlek. Pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan negara lain.

Bagi muda-mudi, ada obyek wisata yang unik, yakni pohon cinta. Pohon dengan beberapa cabang ini diyakini bisa membantu menyatukan cinta. Caranya, cukup dengan mengukirkan nama kedua pasangan, maka keinginan untuk menikah akan kesampaian. Kisah cinta memang mencuat di pulau ini. Di sebuah batu, bisa dibaca legenda Pulau Kemaro. Berupa kisah percintaan antara putri Kerajaan Sriwijaya dan saudagar dari Cina, yakni Siti Fatimah dan Tan Bun An.

Pulau Kemaro Palembang dikenal dengan kisah cinta antara Tan Bun An dan Siti Fatimah. Ramai dikunjungi di hari ke 15 setelah tahun baru musim semi.
Batu Prasasti tentang Pulau kemaro, Palembang, Sumatera Selatan. Foto: shuterstock

Kisahnya, berdasar cerita ibu penjaga dan beberapa pengunjung setempat juga batu prasasti, suatu hari sang putri diajak ke Negeri Tiongkok. Saat pulang, mereka dibekali sejumlah guci. Di Sungai Musi, di dekat Pulau Kemaro, Tan Bun An memeriksa guci-guci tersebut. Ternyata cuma berisi sayuran. Pria Cina itu pun membuang semua guci ke sungai karena kesal. Salah satu guci pecah, dan terlihatlah kepingan koin emas. Ia kaget dan menyesal, lalu menyuruh pengawalnya melompat ke sungai untuk mengambil guci yang telah dibuang. Karena sang pengawal itu tak kunjung muncul kembali, ia pun ikut terjun ke dalam sungai. Langkah ini dilakukan pula oleh Siti Fatimah. Sayangnya ketiganya tak muncul lagi.

Delta kecil yang menjadi daratan awal Pulau Kemaro itu pun meluas, sehingga dianggap sebagai kuburan sang putri dan lambang cinta keduanya. Masyarakat menyebutnya tempat keramat. Legenda itu terus didengungkan kepada setiap pengunjung, sehingga selalu hidup dari masa ke masa.

Di salah satu sisi pulau juga ditemukan beberapa patung pendeta dan pendekar Tiongkok. Ada pula bangunan kelenteng baru dengan pulasan merah menyala. Bulan ini tentunya Pulau Kemaro akan lebih terang dengan hiasan lampion merah saat perayaan Cap Go Meh.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Wihara Gunung Timur Medan Berusia Hampir 1 Abad

Wihara Gunung Timur Medan merupakan kelenteng Tao atau Tionghoa yang usianya hampir 100 tahun. Tempat peribadatan ini bermula dari rumah berukuran petak, kini kelenteng ini berada di atas lahan satu hektare.

Wihara Gunung Timur Medan

Seorang teman menyarankan saya mampir ke Wihara Gunung Timur, di Jalan Hang Tuah 16, Medan.  “Kalau sudah ke bangunan tua dan bersejarah lain, jangan lewatkan kelenteng ini,” ujarnya.

Kelenteng Tao tersebut merupakan kelenteng yang terbesar di Medan, bahkan konon di seluruh Sumatera, dan sudah berdiri sekitar 90 tahunan. Wihara dengan nama Mandarin Tong Yuk Kuang ini hadir dengan arsitetural bangunan yang khas. Bangunannya yang luas di atas lahan satu hektare dapat menampung banyak pengunjung. Tidak saja bagi meeka yang hendak beribadah, namun juga yang memang tertarik untuk mengetahui kisah dan sejarah tempat ibadah ini.

Di bagian atas wihara, terdapat patung naga yang saling berhadapan, dan menjadi corak tradisional Tionghoa yang autentik. Selain itu, terdapat beragam arca yang melambangkan agama Buddha di wihara ini. Seperti altar Buddha, Buddha Maitreya, dan Dewi Kwan Im. Sedangkan di sisi kanan kelenteng, terdapat altar Toa Pek Kong (Da Bo Gong) dan Thay Suei. Ada pula arca Thien Kou (Anjing Langit) dan Pek Ho Kong (Harimau Putih) yang mengawal Tho Te Kong (Dewa Tanah).

Dengan latar belakang seperti itu, siang itu saya pun menyempatkan singgah ke Wihara Gunung Timur. Semula yang terlihat hanya bangunan abu-abu berbentuk kotak yang kaku, saya pun terheran-heran dan mencari wujud kelentengnya. Di bagian belakang ada sebuah bangunan merah yang tertangkap mata.

Wihara itu menghadap ke Sungai Babura, sehingga dinilai mempunyai fengsui yang baik. Sungai tersebut, menurut kepercayaan para penganut taoisme, memberikan kekuatan positif dalam komposisi alam semesta. Siang yang sepi dan hanya ada para pengurus kelenteng di bagian belakang. Saya berdiri di halaman yang luas dan mencoba mencermati tempat ibadah ini.

Dua singa hitam dan dua singa putih yang berada di bagian depan bangunan menjadi pasukan penjaga. Lampion merah dengan tali kuning berbaris bergantung di bagian depan atap. Di puncak atap, berhadapan dua naga panjang yang dipulas warna hijau-merah. Pilar-pilar besar yang beberapa di antaranya berhiaskan kepala naga menjadikan bangunan tersebut benar-benar unik.  Ada pula patung Dewa Kang Jian Jun yang berdiri tegak di sisi kanan pintu masuk.

Setelah sepi beberapa saat, akhirnya datang juga orang beribadah. Aroma dupa semakin kencang tercium. Tak jauh dari patung singa, yang merupakan penangkal hal negatif, ditempatkan juga dua wadah model tempayan untuk menaruh hio atau kemenyan. Saya pun melangkah lebih dekat dan mengintip bagian dalam. Nuansa merah terasa kian kental. Selain itu, ada warna kuning keemasan pada beberapa bagian—dua warna itu merupakan simbol keberuntungan.

Patung menghiasi beberapa titik kelenteng. Di antaranya patung Dewa Jing Shen Ru Shen Zai dan Dewa Zhu Sen Da Di. Altarnya tak hanya satu. Sebab, ada juga altar Buddha Sidarta Gautama yang didampingi patung Buddha Meitreya dan Dewi Kwan Im. Kemudian, ada juga altar yang diisi beberapa dewa dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa, yakni Toa Pek Kong, Thay Suei, dan patung lainnya. Spanduk kecil yang berisikan huruf-huruf Cina digantung di beberapa titik. Ternyata rangkaian huruf itu menyebutkan nama-nama dewa. Altar pun berhiaskan dupa dan lilin. Ada pula sebuah beduk yang biasanya digunakan dalam atraksi barongsai yang digelar pada perayaan hari-hari tertentu.

Wihara Gunung Timur Medan atau Wihara Tao merupakan kelenteng terbesar di Medan bahkan di pulau Sumatera.
Wihara Gunung Timur Medan di bagian dalamnya. Foto: Dhemas/Dok. TL

Bangunan kotak yang saya temui di sebelahnya ternyata merupakan tempat  penyimpanan logistik wihara. Sedangkan saya bertemu dengan beberapa petugas di bagian belakang yang  menyimpan perlengkapan sembahyang. Seorang petugas menyebutkan yang sembahyang di wihara ini tak hanya penganut Tao, melainkan juga agama Tri Dharma, yakni campuran agama Buddha, Khong Hu Chu, dan Tao.

Sang penjaga menyebutkan bahwa wihara ramai saat ada perayaan. Namun setiap hari pasti ada yang datang untuk sembahyang dan kelompok turis yang datang sekadar untuk berkunjung. Wihara didirikan bersama-sama sekelompok etnis Tionghoa. Pembangunan tidak terhenti pada satu masa, tapi berlanjut terus hingga kelenteng yang hanya seukuran rumah petak ini sekarang memiliki halaman luas dan mempunyai bangunan lainnya. Luas totalnya sekarang mencapai satu hektare.

agendaIndonesia/Rita N./Dhemas RA/TL

*****

Kampoeng Kopi Banaran, Ngopi Dari 1911

Kampoeng Kopi Banaran menawarkan liburan lengkap. Foto: Dok KKB

Kampoeng Kopi Banaran tak selamanya cuma berarti tempat minum kopi. Saat ini boleh dibilang ini adalah salah satu destinasi agrowisata yang masih diminati banyak wisatawan, terutama bagi para pecinta kopi. Sebuah tempat yang awalnya berupa kebun kopi yang disulap menjadi tempat penginapan dan rekreasi unik.

Kampoeng Kopi Banaran

Dulunya, tempat ini adalah sebuah kebun kopi bernama Kebun Kopi Getas Afdeling Assinan, yang telah eksis sejak 1911. Perkebunan ini merupakan penghasil jenis kopi robusta yang lazim dikenal sebagai kopi Banaran.

Kopi tersebut dinamai demikian karena dulu biji kopi hasil perkebunan tersebut diolah di pabrik yang terletak di salah satu dusun di kawasan Semarang, bernama dusun Banaran. Dari situ, kenikmatan kopi ini semakin mengemuka, baik di dalam maupun luar negeri.

Ini disebabkan kopi Banaran disebut-sebut memiliki cita rasa yang khas dibanding kopi-kopi lain. Campuran unik antara rasa pahit, asam dan legit khas mocha membuatnya diburu banyak orang. Tak heran, kopi ini kerap dijuluki ‘Java Mocha’.

Kampoeng Kopi Banaran awalnya adalah perkebunan Kopi Getas Afdeling Assinan.
Taman Buah sebagai bagian dari Kampoeng Kopi Banaran. Foto: KKB

Salah satu faktor penyebabnya adalah lokasi perkebunan kopi yang tergolong ideal. Kebun kopi ini berada di ketinggian sekitar 480-600 mdpl, dengan suhu udara berkisar dari 23 hingga 27 derajat Celsius, sehingga sangat cocok untuk membudidayakan kopi dengan kualitas tinggi.

Merawat pohon-pohon kopi di sini juga diperhatikan secara seksama, dengan pemilihan pupuk yang digunakan secara spesifik. Saat panen pun, tenaga kerja setempat yang didominasi oleh kaum Hawa sudah terbiasa memilihkan biji kopi dengan kualitas terbaik.

Mayoritas dari hasil perkebunan seluas 400 hektare tersebut menjadi komoditi ekspor ke beberapa negara, seperti Italia, Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok. Panen dilakukan setiap setahun sekali, dengan hasil kurang lebih mencapai 2.000 ton biji kopi.

Karena hasil panen yang cukup melimpah itu, tercetus keinginan PT Perkebunan Nusantara IX selaku pengelola perkebunan pada saat itu untuk menggenjot penjualan dalam negeri. Caranya dengan membangun area agrowisata di sekitar perkebunan.

Pengunjung diharapkan dapat menikmati pemandangan perkebunan kopi berlatarkan gunung Telomoyo dan Rawa Pening yang indah dan asri, sambil menikmati kopi hasil perkebunan. Atau pengunjung juga bisa membeli produk kopi yang sudah dikemas sebagai oleh-oleh.

Dari ide tersebut, Kampoeng Kopi Banaran pun didirikan pada 2002. Setelah sebelumnya dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara IX, kini tampuk pengelolaan diambil alih oleh PT. Dyandra Banaran Nusantara yang merupakan anak perusahaan grup Kompas Gramedia.

Kampoeng Kopi Banaran sejak awal kemunculannya telah memfokuskan diri sebagai objek agrowisata yang menawarkan one stop tourism. Artinya, ada banyak cara untuk menikmati tempat ini, baik secara rekreasi, culinary maupun edukasi.

Salah satu daya tarik utama tempat ini tentu adalah fasilitas rekreasinya. Banyak kegiatan outdoor yang bisa dilakukan di sini, misalnya berkeliling sekitar kebun kopi dengan menggunakan sepeda, all terrain vehicle (ATV), berkuda atau sambil jogging.

Selain disediakan jogging track, pengunjung juga dapat menyewa sepeda, ATV atau kuda untuk menjelajahi tempat ini. Harga sewanya berkisar Rp 30 ribu untuk ATV, Rp 35 ribu untuk sepeda, dan Rp 50 ribu untuk kuda.

Coffee Camp di Banaran Kampoeng Kopi Banaran
Coffee Camp di Kampoeng Kopi Banaran. Foto: KKB

Kemudian terdapat pula area outbond dengan pilihan permainan seperti flying fox, panahan, trampolin, paint ball dan lain sebagainya. Kolam renang dengan area bermainnya juga dapat ditemukan di sini, dengan harga tiket masuk Rp 15 ribu.

Serta beberapa fasilitas lainnya seperti area peternakan kelinci, taman buah yang menjadi tempat pelestarian beberapa jenis buah yang langka, atau lapangan tenis yang disewakan. Harga sewa lapangan tenis per jamnya adalah Rp 40 ribu.

Lalu, daya tarik lainnya dari Kampoeng Kopi Banaran adalah hidangan kopinya, beserta ragam pilihan kuliner yang tersedia. Saat ini terdapat dua restoran utama, Banaran 9 Resto dan Banaran Sky View.

Banaran 9 Resto mengusung konsep arsitektur ala rumah Jawa tradisional dengan saung-saung kecil di area outdoor. Sajian menu seperti tempe mendoan dan wedang uwuh menjadi teman bersantai sambil menikmati suasana sejuk di tempat ini.

Adapun Banaran Sky View menawarkan pengalaman santap siang atau malam ditemani pemandangan alam ke arah gunung Telomoyo dan Rawa Pening. Terlebih dengan pendaran lampu-lampu di malam hari yang menambah hangat suasana.

Tak kalah menariknya adalah wisata edukasi yang ditawarkan tempat ini. Pengunjung bisa berkeliling kebun kopi menggunakan golf cart atau menyewa kereta wisata seharga Rp 85 ribu, sambil melihat pohon-pohon kopi dan bagaimana biji kopi dipanen.

Pengunjung kemudian akan dibawa menuju ke pabrik tempat biji kopi kemudian diolah dan dikemas menjadi produk kopi. Terdapat juga museum yang menjelaskan sejarah kebun kopi ini, beserta sejarah dan hal-hal terkait kopi secara umum.

Di akhir tur, biasanya pengunjung bisa langsung membeli produk kopi dalam kemasan sebagai oleh-oleh. Dalam isi kemasan berisi sekitar 100 gram itu, harga per kemasannya mulai dari Rp 15 ribu.

Coffee Camp
Suasana dalam Coffee Camp Kampoeng Kopi Banaran. Foto: Dok. KKB

Sesuai dengan semangatnya sebagai one stop tourism, Kampoeng Kopi Banaran tentunya juga menyediakan fasilitas menginap bagi yang ingin staycation di sini. Ada beberapa opsi bagi yang ingin menginap, mulai dari hotel, villa hingga fasilitas untuk glamour camping alias glamping.

Untuk hotel, satu kamar dapat mengakomodasi dua orang dengan pilihan kamar Deluxe dan Grand Deluxe. Tarif kamar Deluxe seharga Rp 550 ribu per malam, sedangkan kamar Grand Deluxe Rp 700 ribu per malam.

Tersedia pula villa yang dapat menampung empat orang, dengan fasilitas dua lantai, dua kamar tidur, ruang tamu dan teras depan yang cukup luas. Untuk harga sewa per malamnya dihargai Rp 1,25 juta.

Dan bagi yang ingin merasakan sensasi glamping, disediakan area dan fasilitas glamping Coffee Camp. Dengan panorama alam rawa Pening, tenda terbagi untuk isi dua orang atau empat orang, dengan tarif sewa berkisar dari Rp 700 ribu hingga Rp 850 ribu.

Akses untuk menuju ke lokasi tergolong mudah karena berada di tepi jalan raya Semarang-Solo, bagi yang melalui tol pun hanya berjarak 200 meter dari pintu tol Bawen. Untuk masuk ke dalam dikenakan tiket masuk Rp 5 ribu per orang, namun untuk parkir kendaraan gratis.

Jam operasional wahana dan tur wisata mulai dari jam 09.00 hingga jam 18.00, walaupun untuk ticketing biasanya sudah tutup dari jam 16.30. Sementara jam buka restoran mulai dari jam 10.00 hingga jam 21.00.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 08112721771, atau via email info@kampoengkopibanaran.id, serta mengunjungi situs resmi kampoengkopibanaran.id dan akun resmi Instagram @kampoengkopibanaran.id.

Kampoeng Kopi Banaran

Jl. Raya Semarang-Solo Km. 35, Bawen

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Semarang Kota Soto, Ini 5 Soto Yang Maknyus

Liburan di musim hujan saat nya menikmati kuliner khas yang lenih nikmat disanpat saat hujan turun.

Semarang Kota Soto rasanya tidak ada yang akan protes. Penjual soto bertebaran di segala penjuru ibukota Jawa Tengah ini. Semua enak dan semua mempunyai pelanggan yang fanatik.

Semarang Kota Soto

Soto termasuk jenis makanan yang mudah ditemukan di Semarang. Pedagang soto bertebaran. Anda tinggal pilih. Sepertinya tak berlebihan jika Semarang kita juluki sebagai Kota Soto, selain Kota Lumpia.

Mayoritas penjajanya menggunakan tambahan embel-embel nama penjualnya, seperti Soto Pak Man, Soto Pak No, Soto Mbak Lin, Soto Bangkong, dan sebagainya. Ciri lain dari soto di Semarang ialah dalam satu mangkuknya sudah tercampur nasi dan daging ayam sebagai bahan baku utamanya. Harganya yang relatif murah menjadikan soto sebagai pilihan untuk sarapan, makan siang, atau makan malam. Pada Ramadan ini cocok juga untuk berbuka puasa karena menghangatkan sekaligus mengenyangkan.

Soto Tanpa Santan

Soto Pak Man tampaknya paling ramai dikunjungi para pembeli di Semarang. Bahkan mulai pukul 10.00 hampir semua kursi sudah penuh terisi. Entahlah, mereka makan pagi atau makan siang. Tak penting juga bukan, yang penting makan soto. Soto disajikan dalam sebuah mangkuk yang berisi potongan daging ayam, soun, seledri, daun bawang, taoge, dan bawang goreng. Tak ketinggalan nasi  di dalamnya.

Harga per porsi ialah Rp 15 ribu. Sebagai temannya bisa pilih tempe goreng, perkedel, berbagai jenis sate, dari harga Rp 2.000 per buah. Ciri khas soto Pak Man ini tidak menggunakan santan dalam kuahnya.

Soto Pak Man; Jalan Pamularsih No. 32; Semarang

Soto Legendaris

Rumah makan soto ini memang didominasi warna hijau tua. Namun bukan karena catnya yang menyebabkan rumah makan ini dinamakan “soto idjo”. Atau bukan pula karena sotonya yang berwarna hijau. Menurut Purwadi, sang pemilik, rumah makan miliknya itu mengalami masa kejayaan pada era 1980-an dan banyak pembeli yang berasal dari kalangan tentara. Karena itulah, banyak yang menjulukinya sebagai soto idjo.

Rasa sotonya juga tak kalah enak dengan soto-soto yang lain. Isinya juga masih sama. Ada potongan daging ayam, soun, seledri, daun bawang, taoge, dan bawang goreng. Bahkan soto idjo menyediakan peyek udang, selain tahu goreng, tempe goreng, perkedel, dan satai. Harga per porsinya juga relatif murah.

Soto Idjo; Jalan Dr. Cipto No. 102; Semarang

Soto Buka 24 Jam

Saat berkeliling di Kota Semarang, beberapa kali saya menemukan rumah makan soto yang menggunakan nama dagang “Soto Pak No”. Beruntung, sopir yang mengantar saya selama di Semarang tahu keberadaan Soto Pak No yang asli. Pak Fauzi, nama sang pengemudi, memang sudah lama tinggal di Semarang. Dia tahu seluk-beluk soal kota ini. Setibanya di rumah makan yang dituju, terpampang spanduk yang bertuliskan Soto Ayam Asli RM Pak No.

Menurut seorang pelayan, kata RM bisa berarti rumah makan atau bisa juga inisial dari nama anak Pak No, yaitu Rokhmat dan Maryamah. Soto yang disajikan dalam mangkuk mungil ini juga tak berbeda dengan soto yang lain. Ada taoge, soun, daging ayam, seledri, bawang goreng, dan nasi putih. Harga per porsi terbilang murah. Yang membedakan dari rumah makan ini, yakni jam bukanya hingga 24 jam.

Soto Pak No; Jalan M.H. Thamrin No 28; Semarang

Semarang kota Soto ditandai dengan banyaknya warung soto yang legendaris di kota ini. Semuanya enak dan punya pelanggan yang fanatik.
Rumah makan Soto Mbak Lin di Jalan Kimangun Sarkoro, Semarang. Foto: Nita D./TL

Soto Rasa Kudus

Jika penjual soto yang lain di Semarang mayoritas kaum pria, lain halnya dengan rumah makan soto yang satu ini. Penjual soto ini justru pemiliknya perempuan. Tengok saja namanya, Soto Mbak Lin. Yang juga tak kalah laris dan punya pelanggan tersendiri.

Meski berjualan di Semarang, Soto Mbak Lin ini justru berasal dari Kudus. Seperti soto khas Kudus lain, kaldu kuahnya terasa lebih kental dan gurih. Soal isi tak jauh berbeda. Ada taoge, soun, daging ayam, seledri, bawang goreng, dan nasi putih. Harga per porsinya mirip dengan tempat lain. Sate kerang seharga Rp 3.500 per tusuk boleh dicoba.

Soto Mbak Lin; Jalan Kimangun Sarkoro; Semarang

Semarang kota soto karena kota ini memiliki begitu banyak warung soto legendaris dengan masakan yang enak.
Soto Bangkong, salah satu legenda soto di Semarang. Foto: shutterstock

Soto Bersantan

Soto yang terletak di ujung Jalan Brigjen Katamso, Semarang, ini porsinya tak berbeda dengan soto-soto lain. Mulai soun, taoge, seledri, bawang goreng, daging ayam, dan nasi putih tercampur dalam setiap mangkuknya. Bedanya hanya kuah santannya.

Selain itu, perbedaannya lagi, gorengan seperti tempe dan perkedel disajikan dengan cara ditusuk. Walhasil, dinamakan satai tempe dan satai perkedel. Satai kerang dan satai telur juga tak luput disajikan. Harganya mulai Rp 1.500 per tusuk. Harga soto di tempat ini relatif lebih tinggi dibanding yang lain, yakni Rp 15 ribu per porsi. Soal rasa tak jauh berbeda dengan yang lain.

Soto Bangkong; Jalan Brigjen Katamso No I; Semarang

agendaIndonesia/Andry T./Nita D./TL/shutterstock

*****

Asam Gurih Khas Sipirok, 5 Kuliner Enak

Asam gurih khas Sipirok menjadi agenda saya ketika mengunjungi Medan, Sumatera Utara. Ini soal kulinari. Ada berbagai macam masakan khas daerah ini yang terkenal enak. Berbahan daging dan tulang kerbau atau ikan dengan rempah-rempah asli setempat.

Asam Gurih Khas Sipirok

Sebagian masyarakat Medan, Sumatera Utara, tentu sepakat jika hidangan Sipirok memiliki cita rasa yang jempolan. Terbukti, sebuah rumah makan Sipirok di Medan menjadi salah satu tempat sajian kuliner favorit warga kota tersebut dan bahkan diburu para turis. Menu dari tulang kerbau membuat pecinta sajian kuliner selalu ingin kembali. Beruntung saya berkesempatan menikmati langsung sajian tersebut langsung di daerah asalnya di Sipirok, Tapanuli Selatan. Di kota yang tahun lalu menggelar Festival Kopi ini, bukan hanya sumsum tulang kerbau pilihannya, tapi ada juga daging bakar dan hidangan dari ikan.

Daging Bakar Sambal Asam

Selintas menu ini mirip dendeng balado yang biasa disajikan di rumah makan Padang. Tapi daging bakar khas Sipirok ini memiliki potongan daging yang lebih mungil. Potongan-potongan kecil daging bakar berupa kerbau atau sapi ini disajikan dengan saus sambal asam dengan rajangan bawang  merah.

Rasa asam muncul dari perasan jeruk nipis. Sedangkan sambalnya yang sangat pedas menggunakan cabai rawit asal daerah tersebut. Dalam proses pengolahannya, daging sapi atau kerbau dibakar lalu dikukus. Agar menjadi lembut, hanya digunakan daging bagian dalam yang ada di antara pinggul dan paha. Satu porsinya Rp 20 ribu.

RM Siang Malam; Jalan Merdeka No 37; Sipirok, Tapanuli Selatan

Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, di antaranya  ikan mas Sinyarnyar.
Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, menjadi cita rasa kuliner yang dirindukan. Foto: Andri/dok. TL

Ikan dengan Sinyarnyar

Menu ikan bakar ini berbeda dengan sajian ikan bakar lain. Ada tambahan khusus berupa bumbu sinyarnyar atau yang disebut andaliman. Salah satu jenis makanan khas dari Sipirok itu terlihat berminyak dengan bintik-bintik hitam sinyarnyar. Ikan mas digunakan sebagai bahan baku utamanya.

Begitu mencicipi, rasa sedikit pedas langsung menyengat. Selanjutnya, lidah akan tersengat getah sinyarnyar yang menjadi bumbu utama ikan bakar tersebut. Anehnya, ”sengatan” itu justru memancing suapan berikutnya. Rajangan bawang merah dan perasan jeruk nipis kian menambah nafsu makan. Harga per porsinya hanya Rp 25 ribu.

RM Ikan Bakar; Jalan Tarutung; Sipirok, Tapanuli Selatan

Kikil Kaki Kerbau

Di sekitar alun-alun Pasar Sipirok, ada sebuah warung makan yang relatif cukup ramai didatangi pengunjung saat makan siang tiba. Hampir sebagian besar pengunjung rupanya memesan sup kikil kaki kerbau yang memang menjadi andalan warung makan tersebut.

Jika dilihat tampilannya memang kurang terlalu meyakinkan. Namun jangan salah. Silakan coba dulu. Kuah supnya yang hangat begitu terasa rempah-rempahnya. Belum lagi kikilnya yang lunak. Menurut sang pemilik, proses perebusan butuh waktu sekitar 3 jam agar membuat kikil empuk. Kemudian, dimasukkan rempah-rempah, seperti lengkuas, cengkeh, bawang putih, tomat, dan lain-lain. Harga per porsinya hanya Rp 25 ribu—sudah termasuk nasi.

RM Sibualbuali; Jalan Tengah; Sipirok, Tapanuli Selatan

Kesegaran Terong Belanda

Saat melanjuti perjalanan dari Sibolga menuju Sipirok, saya sempat mampir di sebuah warung untuk melepaskan dahaga. Mata saya tertumbuk pada satu susunan buah berbentuk bulat telur di lemari etalase yang disebut terong Belanda. Isinya yang berwarna oranye kekuningan inilah yang diambil dan kemudian diblender atau dihancurkan.

Dengan tambahan es batu, jus terong Belanda ini terasa menyegarkan dan menjadi manis dengan penambahan gula dan susu. Memang ini bukan minuman khas Sipirok, tapi terkenal di Sumatera Utara. Harganya yang Rp 8.000 sudah mampu melepaskan dahaga. Ehm, benar-benar menyegarkan.

Rumah Bu Nengsih; Jalan Padang Sidimpuan; Sibolga, Tapanuli Tengah

Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, yang tercermin pada kulinarinya yang serba enak.
Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, di antaranya sumsum kerbau. Foto: Andri/Dok TL

Sup Sumsum Kerbau

Saat pertama kali mendatangi rumah makan ini, saya terpaksa harus menggigit jari. Pasalnya, sup sumsum kerbau khas Sipirok yang tersohor itu sudah habis terjual. Mau tidak mau, keesokan harinya saya harus kembali datang untuk mencoba sup yang terkenal hingga ke Medan itu. Dan beruntung, kali itu masih ada.

Pesanan sup sumsum kerbau pun datang dan disajikan dalam sebuah piring besar. Tulang kerbau kira-kira berukuran 25 sentimeter dibiarkan terbaring di atas piring dan lengkap dengan kuahnya. Selain pisau, disediakan pula sedotan untuk menyeruput sumsum yang ada di dalam tulang. Rasa sumsumnya mirip dengan sumsum sapi, tapi ini lebih kental. Harganya Rp 70 ribu per porsi. Sajian ini sebaiknya segera disantap saat panas.

RM Siang Malam; Jalan Merdeka No 37; Sipirok, Tapanuli Selatan

agendaIndonesia/Andry T./TL

Taman Bunga Nusantara, Agrowisata di 8 Zona

Taman Bunga Nusantara di kawasan Puncak CIanjur menjadi destinasi agrowisata. Foto:antaranews

Taman Bunga Nusantara mungkin belum bisa menjadi wisata kembang-kembang khas Indonesia, seperti layaknya menikmati bunga tulip di Keukeunhof, Belanda. Namun ini merupakan salah satu objek wisata yang telah bertahun-tahun menjadi pilihan destinasi berlibur di kawasan Puncak, Cianjur. Asri dan indahnya pemandangan di sekeliling taman ini adalah salah satu alasan utamanya.

Taman Bunga Nusantara

Sesuai namanya, taman ini berisikan beragam jenis bunga dan tanaman hias yang dibagi menjadi beberapa zona. Dibangun sejak 1992 dan diresmikan pada 1995, tempat ini bisa dikatakan sebagai taman bunga pertama yang eksis di Indonesia.

Berada di area dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 750 mdpl, membuat suhu di sekitar taman ini pun cenderung sejuk, berkisar dari 20 hingga 26 derajat Celsius. Tingkat curah hujannya pun terhitung cukup tinggi.

Taman Bunga Nsantara memiliki lahan seluas 35 hektare. Dari area tersebut, 23 hektare di antaranya diisi oleh beragam bunga, pohon serta tanaman hias. Kemudian tersedia area wahana permainan seluas 7 hektare, dan 3 hektare lainnya untuk area restoran dan ruang pertemuan.

Kemudian 2 hektare sisanya digunakan khusus sebagai lahan pembibitan dan percobaan. Ini merupakan wujud kontribusi Taman Bunga Nusantara dalam riset dan penelitian di bidang flora, khususnya bunga dan tanaman hias di Indonesia.

Taman Bunga Nusantara juga diperuntukkan sebagai lapangan kerja bagi warga sekitar.
Taman Bunga Nusantara didirikan untuk meningkatkan minat agrowisata. Foto: DOk Taman Bunga Nusantara

Taman Bunga Nusantara sendiri memang didirikan untuk meningkatkan minat agrowisata di tanah air, menjadi sarana edukasi dan penelitian, serta pelestarian bermacam-macam varietas bunga dan tanaman hias, khususnya yang langka dan dilindungi.

Serta taman ini juga diperuntukkan sebagai lapangan kerja bagi warga sekitar, terutama yang menggeluti bidang pertanian. Dengan demikian, taman ini pun diharapkan mampu turut mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Taman Bunga Nusantara sendiri memiliki konsep ‘museum kehidupan’. Dalam artian, di taman ini kita dapat melihat siklus kehidupan dari tunas yang kemudian tumbuh dan mekar menjadi bunga, hingga gugur dan berganti tunas yang baru.

Seperti disebutkan di atas, taman ini dibagi menjadi beberapa zona. Setidaknya ada delapan zona utama yang dibedakan berdasarkan tata ruang dan varietas bunga dan tanaman hias yang terdapat di zona tersebut.

Misalnya di Taman Bali, pengunjung langsung disambut dengan gapura dan patung bergaya khas Bali. Di zona ini, terdapat beberapa jenis bunga dan tanaman hias lokal seperti bunga sepatu, bunga kamboja, heliconia dan sebagainya.

Lalu, di Taman Mediterania terdapat beragam jenis kaktus yang tumbuh di area yang kering dan didominasi oleh pasir serta batu seperti di sekitar perairan Mediterania.  Beberapa di antaranya dikembangkan di dalam rumah beratap kaca dan lahan berpasir putih.

Selanjutnya adalah Taman Mawar yang merupakan salah satu zona yang cukup populer di sini. Sesuai namanya, taman ini berisikan beragam bunga yang kerap disebut flos florum alias bunga dari segala bunga.

Yang menarik, bunga mawar secara umum adalah bunga yang tumbuh dan berkembang di wilayah empat musim. Hal ini dikarenakan siklus mereka yang ‘beristirahat’ dan meluruhkan dedaunannya di musim dingin, agar dapat mekar dengan indah kembali di musim panas.

Taman Bunga Nusantara tak hanya soal bunga tapi juga tanaman lain seperti aneka palem.
Ada 8 zona di dalam taman bunga ini. Foto: Dok. Taman Bunga Nusantara

Karena Indonesia adalah negara beriklim tropis yang hanya mengenal dua musim, maka perlu perlakuan khusus dalam merawat bunga mawar ini, sebab tidak adanya masa istirahat seperti saat musim dingin.

Maka dari cara penyiraman dan penyiangan bunga mawar di taman ini telah diukur dan ditata secara seksama. Pupuk yang digunakan pun dikhususkan agar bunga tersebut dapat tumbuh kuat dan mekar dengan indah.

Taman Palem juga tak kalah menarik. Di zona ini terdapat lebih dari 100-an varietas tumbuhan palem dari berbagai belahan dunia, dari Meksiko, Kuba, Madagaskar hingga Australia. Tumbuhan palem sendiri umumnya tumbuh di daerah beriklim tropis yang hangat.

Zona yang juga sayang untuk dilewatkan adalah Taman Prancis. Zona ini lebih mengedepankan penataan desain taman yang terinspirasi dari era renaissance di abad ke-17. Untuk dapat menikmati pemandangan secara keseluruhan, disarankan untuk melihat dari menara pandang.

Menara pandang ini memiliki tiga lantai dengan ketinggian kurang lebih sekitar 29 meter. Tak hanya Taman Prancis saja, pengunjung bahkan juga dapat melihat zona-zona taman lainnya lewat menara ini.

Begitu pula Taman Jepang yang desainnya terinspirasi dari penataan taman tradisional di Jepang. Banyak elemen kayu dan batu yang ditata secara sederhana, ditambah dengan kolam yang memberikan nuansa damai dan rileks.

Sedangkan Taman Air diperuntukan bagi jenis-jenis bunga dan tanaman yang hidup di atas air. Contohnya seperti bunga seroja, bunga teratai, serta papyrus yang lazim dikenal sebagai bahan baku pembuatan kertas papir.

Dan terakhir yang mungkin paling unik dari semuanya adalah Taman Rahasia, atau Taman Labyrinth. Zona ini berupa taman yang didesain dan dipangkas dengan rapi menjadi wahana labirin untuk anda bermain mencari jalan keluarnya.

Zona ini terinspirasi dari konsep arsitektur di zaman renaissance pada abad ke-16, di mana labirin dibentuk sebagai jalan masuk menuju istana atau tempat-tempat penting lainnya. Taman kemudian dibuat berkelok-kelok dan panjang seakan tiada ujungnya.

Taman Bunga Nusantara 03
Pengunjung bisa duduk-duduk di taman dan menikmati keindahannya. Foto: Taman Bunga Nusantara

Untuk bermain di wahana ini, pengunjung dapat langsung masuk dan mencoba mencari jalan sendiri, atau membeli peta seharga Rp 2 ribu yang berisi petunjuk menuju jalan keluar. Di akhir labirin, terdapat area taman yang didesain spesial sebagai tanda pengunjung telah berhasil keluar.

Di luar zona tersebut, terdapat pula beberapa area khusus lainnya. Misalnya area rumah kaca seluas 2.000 m2 yang dibuat dari sekitar 3.000 panel kaca. Area ini diperuntukkan bagi jenis bunga dan tanaman yang sulit untuk hidup di iklim tropis.

Sehingga area rumah kaca ini dibuat sedemikian rupa untuk dapat mengatur hal-hal seperti suhu, kelembaban udara dan intensitas cahaya agar bisa mengakomodir bunga dan tanaman tersebut. Untuk dapat masuk ke dalam rumah kaca, pengunjung dikenakan biaya Rp 5 ribu.

Namun tak hanya keindahan flora saja yang dapat disaksikan di sini. Di taman ini juga terdapat danau angsa yang menjadi habitat beberapa jenis angsa seperti angsa putih dari Eropa, dan angsa hitam dari Australia. Di danau tersebut juga terdapat beragam jenis ikan.

Selain taman-tamannya yang menjadi daya tarik wisatawan, Taman Bunga Nusantara juga menjadi tempat yang menarik bagi pengunjung untuk sekedar piknik menikmati nuansa alam. Oleh karenanya, disediakanlah beberapa area untuk piknik, beserta saung-saungnya.

Tak kurang sekitar delapan ruang umum untuk piknik yang tersedia, berikut dengan 18 saung yang tersebar di area tersebut. Terdapat pula camping ground yang menyediakan sekitar 10 tenda dengan fasilitas memadai bagi yang ingin menginap, dengan tarif Rp 325 ribu per malam.

Ini menjadikan Taman Bunga Nusantara sebagai tempat yang sesuai untuk mengadakan acara seperti karya wisata sekolah, outbond dan gathering. Selain itu, acara resepsi pernikahan outdoor juga bisa dilangsungkan di sini.

Tak hanya itu, kini Taman Bunga Nusantara juga menyediakan area bursa bunga dan tanaman. Berada di dekat area parkir, pengunjung dapat melihat-lihat beragam jenis bunga dan tanaman hias yang dijual dan membelinya untuk dibawa pulang.

Untuk masuk ke area taman, pengunjung dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 50 ribu. Namun itu belum termasuk biaya parkir bagi yang membawa kendaraan pribadi. Untuk motor tarifnya sebesar Rp 10 ribu, sedangkan mobil Rp 15 ribu.

Satu hal yang perlu dicatat, karena luasnya area taman ini, maka pengelola taman juga menyediakan fasilitas mobil dan trem bagi yang ingin berkeliling wilayah taman secara menyeluruh namun dengan waktu lebih singkat.

Untuk fasilitas mobil dapat mengangkut sekitar 14 orang dengan biaya sewa Rp 20 ribu. Sedangkan trem memiliki kapasitas 16 hingga 20 orang, dengan jadwal keberangkatan kurang lebih setiap 30 menit. Untuk menaikinya, perlu membayar tiket seharga Rp 60 ribu.

Taman Bunga Nusantara buka setiap hari dari jam 08.00 sampai jam 17.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0263) 581617/581618, via email di tamanbunganusantara@yahoo.co.id atau kunjungi situs resmi tamanbunganusantara.com serta akun resmi Instagram @tamanbunganusantara.

Taman Bunga Nusantara

Jl. Mariwati Km. 7, Cianjur

agendaIndonesia/Audha Alief P

*****

Berakhir Pekan di Balikpapan Selama 3 hari

Berakhir pekan di Balikpapan, Kalimantan Timur, tampaknya bukan merupakan hal yang menarik. Bagi kebanyakan orang, yang tergambar hanyalah kilang minyak. Namun, sebenarnya kota ini memiliki deretan daya tarik dari wisata alam hingga sajian kuliner. Udaranya pun tak terbilang panas untuk kota pantai. Ada daerah perbukitan dan kehijauan di beberapa titik. Cukup tiga hari atau liburan akhir pekan yang panjang untuk bisa menikmati kota ini.

Berakhir Pekan di Balikpapan

Hari Pertama: Pasar Kebun Sayur, Pantai dan Kepiting
Bandara Sepinggan dengan bangunan yang tergolong masih baru bisa dijejaki setelah penerbangan selama 2 jam dari Bandara Soekarno-Hatta. Dengan memilih penerbangan pukul 06.00, saya sudah bisa sarapan di kota ini. Sepiring nasi kuning dan ketupat H. Daud di dekat Kantor Pos Kebun Sayur dengan cepat terhidang di hadapan saya. Padahal pagi itu warung sudah ramai. Sebagai kota yang dihuni banyak pendatang, nasi kuning ini sebenarnya khas Banjarmasin. Tapi sudah melekat dengan kota kilang minyak ini. Sepiring nasi kuning atau lontong ditambah ikan dipatok pada kisaran Rp 20 ribuan. Jangan datang terlalu siang, karena olahan dengan cepat terjual habis.

Karena sudah berada di Kebun Sayur, tidak ada salahnya mampir ke pasar atau plaza yang berada di depannya. Inilah salah satu pusat belanja aneka oleh-oleh. Terbilang lengkap, karena ada aneka makanan, kerajinan khas Dayak dari rotan maupun bambu hingga batu warna-warni yang sekarang banyak digandrungi. Bagi yang doyan belanja, Anda perlu waktu panjang agar benar-benar puas mengitarinya.  

Hari pertama sebaiknya dilakukan untuk menikmati kota agar tidak terasa lelah. Setelah berbelanja, sebaiknya Anda menuju hotel untuk istirahat sejenak. Sore hari adalah waktu yang pas untuk menikmati kota, menyusuri perbukitan, dan mencecap keindahan laut, ombak, serta mentari tenggelam di pusat kota dengan ditemani jagung bakar atau hidangan lain. Pantai Melawai dan Kemala bisa menjadi pilihan. Terletak di Jalan Jenderal Sudirman, dari pantai pada siang atau sore hari bisa terlihat kesibukan dermaga.

Malam hari bisa bergeser untuk menikmati makan malam berupa kepiting yang diguyur dengan saus yang menggoda. Pilihannya bisa di Rumah Makan Dandito atau RM Kenari yang lokasinya hanya  berseberangan dan berada di Jalan Marsma R. Iswahyudi. Dijamin, makan malam akan mengenyangkan sekaligus mengesankan. Jangan lupa mereservasi, karena jumlah tamu berlimpah setiap harinya.

Hari Kedua: Bangkirai dan Orang Utan

Bangunlah pagi-pagi agar Anda bisa menyambangi dua obyek wisata yang membuat perjalanan ke Balikpapan berbeda dengan wisata ke kota lain. Selain itu, menjajal wisata alam yang keduanya berada di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Namun dari Balikpapan bisa dicapai dengan mudah. Konservasi orang utan di Samboja Lestari hanya berjarak sekitar 40 km dari pusat kota atau bisa dicapai dalam kendaraan sekitar satu jam.

Di pintu gerbang, pengunjung biasanya harus berganti dengan kendaraan operasional dari Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS) yang mengelola konservasi. Anda akan dibawa melalui jalur tanpa aspal dengan kiri-kanan pohon besar hingga menemukan kelompok orang utan di pulau-pulau buatan. Tersedia penginapan bagi yang ingin merasakan sensasi menginap di tengah hutan. Jika tidak, dapat mencermati dulu orang utan dan kawanan beruang madu (Helarctos malayanus) di lahan yang luas. Siang hari Anda bisa meninggalkan lokasi dan menuju Taman Nasional Bangkirai yang lokasinya juga di Kecamatan Samboja, Kutai Kertanegara.  

Bukit Bangkirai merupakan hutan konservasi dengan luas sekitar 1.500 hektare dengan koleksi tanaman tropis Kalimantan Timur. Selain jenis tanaman, daya tariknya adalah jembatan gantung sepanjang  64 meter pada ketinggian 30 meter di atas tanah. Di atas jembatan yang menghubungkan lima pohon itu, Anda bisa melihat keindahan alam sekitar. Kawasan hutan itu juga dilengkapi dengan penginapan yang dikelola PT Inhutani Balikpapan.

Bila Anda datang pada musim buah lai, jangan lupa mencicipinya. Selintas sama dengan durian: kulitnya cokelat dan berduri. Ketika dibuka, warna dagingnya kuning menggoda. Tapi rasanya jauh berbeda dengan durian. Durian lebih maknyus. Penjaja buah ini bisa ditemukan saat Anda mengarah kembali ke Balikpapan jika sedang musimnya. Tiba di hotel, saatnya beristirahat.

Berakhir pekan di Balikpapan selama 3 hari, jangan lupa membawa oleh-oleh dari sini. Salah satu yang terkenal adalah krupuk kuku macan.
Oleh-oleh khas Balikpapan dan Kalimantan Timur, krupuk ikan atau biasa disebut kuku macan. Foto: Rully K/Dok. TL

Hari Ketiga: Oleh-oleh, Buaya, dan Manggar

Kota ini tak hanya memiliki daya tarik orang utan dan beruang madu, tapi juga buaya. Ada penangkaran buaya yang tidak jauh dari pusat kota. Terletak di Kelurahan Teritip atau sekitar 27 km dari pusat. Ada sebanyak 1.500 ekor buaya yang menempati lahan seluas 5 hektare. Terdiri atas tiga jenis: buaya muara, supit, dan air tawar. Pengunjung bisa datang pada pukul 08.00-17.00. Selain itu, tersedia beragam produk dari kulit buaya bila Anda berminat.

Tapi pada hari terakhir ini sebaiknya Anda pergi untuk berbelanja oleh-oleh dulu sebelum memulai perjalanan mengunjungi dua obyek wisata terakhir. Toko oleh-oleh bisa ditemukan di pusat kota dengan pilihan camilan dari kepiting serta aneka kerupuk termasuk kuku macan dan dodol durian. Setelah urusan buah tangan beres, saatnya meluncur ke penangkaran buaya. Setelah menyimak perilaku kumpulan buaya, Anda bisa menghabiskan sore di Pantai Manggar Segarasari yang berjarak sekitar 9 km dari bandara. Lokasinya berada di Kelurahan Manggar dan Teritip—pantai berair bersih dan pasir putih. Kembali ke Jakarta, Anda bisa pilih penerbangan pada malam hari pada pukul 19.00-21.50. Tiga hari yang menegangkan sekaligus menyenangkan!

agendaIndonesia/Rita N./Rully K./TL

Kuliner Unik Banyuwangi, 2 Hidangan Jadi 1

Kuliner unik Banyuwangi, Jawa Timur, dua hidangan yang kita kenal masing-masing sebagai masakan khas dihadirkan sebagai satu kesatuan. Bagi yang tak terbiasa, ini mungkin terasa aneh. Namun, setelah satu dua suap, lidah pun mulai beradaptasi dan merasakan kenikmatannya. Ini mungkin cerminan karakter khas masyarakat daerah ini.

Kuliner Unik Banyuwangi

Untuk mengetahui karakter masyarakat di satu daerah sebenarnya mudah. Coba tengok sajian kulinernya. Di Banyuwangi, sebagian besar sajiannya merupakan hasil kolaborasi  cita rasa dari berbagai daerah. Dua atau tiga olahan daerah lain dipadukan sehingga lahir sajian baru yang khas. Rasanya, seperti disebut di muka, awalnya agak lucu, tapi pada akhirnya yang ada adalah masakan yang jempolan.  

Pecel Plus Rawon

Nasi pecel rawon mungkin sudah akrab bagi sebagian besar masyarakat Banyuwangi. Namun bagi pelancong menu ini justru mengundang penasaran. Sebab, selama ini lebih dikenal nasi rawon atau nasi pecel. Sajian ini ternyata benar-benar nasi pecel yang diberi kuah rawon.

Nasi diberi rebusan sayuran seperti bayam, taoge, dan kacang panjang yang disiram bumbu kacang. Tak cukup di situ saja, makanan tersebut lantas disiram dengan kuah rawon. Dalam satu piring, menu seharga Rp 20-25 ribu itu terbilang amat lengkap. Ada bakwan jagung, empal, rempeyek kacang, rempeyek udang, dan dendeng sapi. Perpaduan rasa antara pecel dan rawon benar-benar unik: rasa gurih kacang bercampur dengan kaldu rawon yang kaya rempah.

Rumah Makan Pecel Ayu; Jalan Adisucipto No. 55, Banyuwangi

Kuliner unik Banyuwangi yang memadukan dua masakan menjadi satu. Awalnya terasa aneh, namun kemudian terasa lezatnya.
Kuliner unik Banyuwangi, Jawa Timur, di antaranya Rujak Soto yakni Soto yang dihidangkan bersama rujak. Foto: shutterstock

Rujak dan Soto

Rujak sudah terkenal sebagai sajian kuliner khas Surabaya. Demikian juga dengan soto yang variannya dimiliki hampir seluruh daerah di Indonesia. Di Banyuwangi, dua sajian kuliner itu dikolaborasikan menjadi menu baru: rujak soto. Pemerintah Banyuwangi memilih rujak soto sebagai ikon sajian kuliner karena kemunculannya paling tua.

Rujak soto ini tanpa nasi, hanya lontong yang dipadukan dengan kangkung, taoge, irisan mentimun, dan kacang panjang. Aneka sayuran tersebut disiram dengan bumbu rujak berbahan kacang. Giliran kuah soto hangat berisi kulit sapi disiram hampir memenuhi bibir mangkuk. Terakhir, irisan telur asin, tempe, tahu, dan kerupuk udang ditabur di bagian atasnya. Sajian seharga Rp 25 ribuan itu cukup gurih dan segar untuk menu makan siang.

Pondok Rujak Soto “Murah Meriah”; Jalan Basuki Rahmat No. 43, Banyuwangi

Pecel dengan Kare

Kare atau kari ayam adalah hidangan umum di Asia Selatan seperti India. Di Jawa, varian kare lebih mirip hidangan opor ayam. Pedagang Banyuwangi menyatukan keduanya hingga lahir pecel kare yang dikreasikan pada 2000-an setelah rujak soto dan pecel rawon. Rasa kare yang gurih berpadu dengan sedikit pedas bumbu pecel.

Pecel kare terdiri atas nasi yang diberi taburan potongan kacang panjang, taoge, tempe, dan tahu yang kemudian disiram bumbu pecel. Terakhir, seluruh nasi digerojokkare berisi ayam yang kuahnya berwarna kuning. Hidangan seharga Rp 20 ribuan tersebut harus disantap bersama rempeyek kacang yang renyah.

Rest Area Istana Gandrung; Jl Raya Rogojampi, Kecamatan Kabat;Banyuwangi

Rujak Campur Bakso

Bakso telah menjadi santapan umum orang Indonesia. Tapi kalau rujak bakso yang saya santap hanya ada di Banyuwangi. Ya, seperti namanya, sajian kuliner ini memang campuran rujak dan bakso. Rujaknya adalah olahan rujak cingur khas Surabaya. Rujak yang kaya sayur dan pedas dipadu dengan segarnya kuah bakso.

Olahan rujak diulekjadi satu di dalam cobek. Isinya: lontong, taoge, sayur genjer, selada, bayam, serta potongan cingur. Rujak kemudian dipindah ke sebuah mangkuk, lalu diguyur dengan kuah bakso hangat dan dilengkapi empat bakso sapi. Dengan membayar Rp 15 ribu, saya bisa menyantap hidangan bakso yang berbeda: bakso yang “ramai” dan kental.

Warung Bu Mur; Jalan Raya Srono 100, Kecamatan Srono, Banyuwangi

Sego Cawuk

Sego dalam bahasa Banyuwangi adalah nasi. Sedangkan cawuk tak lain makan dengan tangan. Cara ini lazim dipakai orang Banyuwangi sebelum ada sendok. Sego cawuk merupakan varian makanan bersantan. Namun santannya menyertakan parutan kelapa, mentimun yang dipotong dadu kecil, dan serutan jagung muda. Rasanya gurih dan sedikit asin.

Bila menyukai pedas, nasi bersantan tersebut bisa disiram bumbu rujak yang berisi dendeng. Agar lebih nikmat, saya menambahkan lauk berupa telur, pepes cumi, dan pepes teri plus kerupuk rambak alias kulit sapi. Hidangan yang cocok untuk sarapan ini seharga Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung pada lauk yang ditambahkan.

Warung Bu Mantih; Jalan Stasiun No 43, Desa Prejengan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi

Tertarik mencobanya? Jika kondisi telah memungkinkan, agendakan perjalannanmu ke Banyuwangi, dan cicipi keunikan dua masakan Jawa Timur yang dipadukan ini.

agendaIndonesia

*****

Rabeg Haji Naswi, Eksperiman Abad 1500-an

Rabeg Haji Naswi menjadi salah satu kuliner Banten sejak abad 15.

Rabeg Haji Naswi layak jadi salah satu rekomendasi utama kala sedang berpetualang mencicipi kuliner khas kota Serang, Banten. Masakan ini sudah hadir di tengah-tengah warga kota itu sejak era Kesultanan Banten.

Rabeg Haji Naswi

Sesungguhnya dari khasanah kulinernya, Serang masih memiliki beberapa makanan khas yang belum banyak terekspos dan dikenal publik. Beberapa yang sudah dikenal di antara seperti sate bandeng, pecak bandeng, dan nasi sumsum.

Begitu pula dengan rabeg, yang punya sejarah panjang dalam kehadirannya di tengah kehidupan warga ibu kota provinsi Banten tersebut. Disinyalir, makanan ini merupakan hasil sebuah eksperimen pada masa Kesultanan Banten di pertengahan tahun 1500-an.

Rabeg Haji Naswi dihasilkan dari eksperimen mencari masakan yang mirip dari tanah Arab ketika Sultan Maulana pergi ke sana.
Kota Serang di malam hari. Foto: dok. Kesbangpol Kota Serang

Dikisahkan bahwa Sultan Maulana Hasanudin, yang berkuasa pada saat itu, hendak melaksanakan ibadah haji dan kemudian berlayar menuju Tanah Suci. Sesampainya di sana, ia berlabuh di sebuah kota di tepi Laut Merah bernama Rabigh.

Di kota tersebut, ia sempat mencoba sebuah kuliner asli setempat, yang berupa olahan daging kambing dengan kuah yang sedap nan gurih. Makanan sejenis ini lazim disebut thareed, yakni racikan sayur dan daging berkuah di Arab yang konon adalah salah satu kuliner kesukaan Rasulullah SAW.

Ternyata, Sultan Maulana begitu menyukai makanan tersebut, hingga terus terbayang olehnya setelah selesai beribadah dan berlayar kembali ke Tanah Air. Sekembalinya, ia menitahkan juru masak istana untuk mencoba membuatkan masakan yang serupa.

Namun, tak mudah untuk mendapatkan hasil masakan yang serupa, karena perbedaan bumbu dan rempah nusantara dengan Arab. Hingga pada satu percobaan, ia mencicipi masakan tersebut dan merasa bahwa inilah yang paling mendekati dengan makanan yang ia coba.

Masakan tersebut pun menjadi salah satu hidangan favorit sang Sultan. Bahkan ada yang meyakini bahwa ia lebih suka hasil eksperimen tersebut ketimbang aslinya. Sebagai penghormatan, ia menyebutnya sebagai ‘rabeg’, alias masakan ala-ala kuliner kota Rabigh.

Rabeg Haji Naswi adalah olahan masakan menggunakan daging kambing, belakangan dipakai juga daging sapi.
Rabeg daging kambing. Foto: Milik Kecap Bango

Dari hidangan kaum bangsawan dan priyayi di istana, lambat laun resep tersebut juga turun kepada masyarakat luas. Dan nyatanya, mereka pun ikut menyukai kuliner tersebut, sehingga sejak saat itu pula rabeg menjadi kuliner yang identik dengan warga Banten, khususnya Serang.

Pada perkembangannya, rabeg menjadi salah satu hidangan yang dibuat pada acara hajatan dalam adat Banten, seperti acara pernikahan, akikah atau khitanan. Selain itu, ada pula adat menyantap rabeg di bulan suci Ramadhan dengan ketan bintul, atau ketan dengan serundeng.

Menurut sejarahnya, adat ini bermula dari kebiasaan Sultan Maulana Hasanudin yang gemar menyantap rabeg dengan ketan bintul sebagai santapan saat berbuka puasa. Selain itu, tamu-tamu istana juga kerap dijamu dengan sajian tersebut.

Secara filosofis, ketan bintul sendiri dengan wujudnya yang lengket dianggap punya nilai luhur keraketan, atau yang kurang lebih berarti melekatkan. Sehingga diharapkan dengan menyantap makanan tersebut bersama-sama dapat mendekatkan dan menyatukan sesama manusia.

Rabeg sendiri secara umum merupakan olahan daging dan jeroan kambing, atau kemudian juga menggunakan daging sapi, yang dimasak dengan kuah berbumbu rempah seperti jahe, bawang merah, laos, ketumbar, lada, kayu manis dan sebagainya. Cita rasanya merupakan perpaduan dari manis, pedas dan gurih.

Berbeda dengan gulai, rabeg tidak menggunakan santan dalam pembuatannya. Secara sepintas, ia mungkin terlihat cenderung mirip seperti tongseng, tengkleng atau semur. Namun, secara aroma dan rasanya, ia diklaim lebih kuat dan berkarakter.

Karena keeratannya dengan budaya warga Banten, maka tidaklah mengherankan jika pedagang rabeg cukup menjamur di kawasan ini. Banyak dari mereka yang sudah berjualan kuliner ini sejak bertahun-tahun lamanya.

Salah satunya adalah rabeg Haji Naswi, yang jika ditelusuri sudah eksis sejak tahun 1952. Haji Sani, generasi pertama dari usaha ini, mulanya berjualan rabeg di banyak perhelatan hiburan rakyat, seperti pasar malam, pertunjukan tari Jaipong, layar tancap atau wayang golek.

Selama ini Banten dikenal dengan sate bandengnya.
Sate bandeng khas Banten. Foto: shutterstock

Usaha ini terus berlanjut hingga era 1970 dan 1980-an, kala usaha dikelola oleh generasi kedua dan ketiga, Hj. Jenah dan H. Naswi. Dari sini, mereka mulai menetap di warung semi permanen yang dinamakan rabeg Haji Naswi sebagai penanda dan pembeda dari penjaja rabeg lainnya.

Hingga kini, warung di kawasan jalan Mayor Safei itu masih eksis dan jadi salah satu pilihan bagi warga lokal maupun wisatawan yang ingin menyantap kuliner khas ini. Lokasinya yang berseberangan dengan Rutan Serang juga membuatnya cukup mudah ditemukan.

Usaha kini dilanjutkan oleh anak-anak H. Naswi, dengan tetap mempertahankan beberapa keunggulan yang dimiliki oleh rabeg buatan mereka. Seperti misalnya cita rasa yang otentik dengan rasa dan aroma jahe yang kuat, serta daging kambing yang empuk dan tidak bau.

Menurut resep turun temurun keluaga ini, cita rasa jahe adalah salah satu kunci membuat rabeg yang otentik. Diyakini, bahwa rasa jahe yang pedas dan hangat di tubuh ini menjadi pembeda rabeg dengan makanan sejenis, seperti tongseng atau semur.

Meskipun diakui pula bahwa kuah rabeg buatan mereka kini dibuat lebih cair ketimbang dulu untuk menyesuaikan selera pelanggan, tetapi mereka mengantisipasinya dengan selalu memberi ekstra jahe demi cita rasa yang kuat.

Selain itu, daging kambing haruslah empuk dan tidak berbau. Untuk mencapai hal ini, ada beberapa tahapan yang mereka lewati, seperti pemilihan jenis kambing yang spesifik, serta usia kambing yang tak boleh terlalu muda maupun tua.

Saat daging dicuci pun, harus benar-benar sampai bersih dari kotoran dan darah. Bahkan, setelah daging masuk proses perebusan, akan tetap dicek apakah masih berbau. Jika masih ada sisa bau amis, air rebusan akan diganti dan daging direbus ulang hingga hilang baunya.

Kombinasi kuah bercita rasa kuat nan unik, daging yang empuk tanpa bau, dengan sepiring nasi hangat serta tambahan seperti emping dan sebagainya itulah yang membuat rabeg Haji Naswi begitu disukai penggemarnya dan diburu oleh pemburu kuliner.

Satu porsi rabeg Haji Naswi dihargai Rp 31,5 ribu, dengan pilihan daging saja atau dengan tulangnya. Tersedia pula menu-menu pelengkap untuk menemani pengunjung menyantap rabeg, seperti sate kambing, sapi atau ayam yang harganya berkisar dari Rp 40-50 ribu.

Rabeg Haji Naswi buka dari jam 10.00 hingga jam 24.00. Meski warungnya berukuran cukup kecil dan berada di pinggir jalan, namun tersedia area untuk parkir. Mulai dari sore jam 16.00, tempat ini juga dipakai untuk berjualan nasi uduk, nasi timbel, ayam goreng dan bebek goreng.

Rabeg Haji Naswi

Jl. Mayor Safei no. 30, Serang

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****