Gerai Teguk 1 Di New York City Dibuka

Gerai Teguk 1 di New York City resmi dibuka. Foto: Dok Teguk.

Gerai Teguk 1 resmi dibuka di New York City, Amerika Serikat, Sabtu 17 September 2022. Informasi soal gerai pertama di Amerika Serikat ini sudah pernah disampaikan CEO Teguk Indonesia Maulana Hakim pertengahan Agustus lalu di Jakarta. Kini rencana itu terealisasikan.

Gerai Teguk

Teguk, perusahaan minuman kekinian dengan, membuka gerai di New York, Amerika Serikat. Sebagai bagian dari ide “Teguk akan goes to New York”. “Gerainya sudah ada, di sentral kota New York, tidak jauh dari Time Square,” kata Maulana secara virtual sebagaimana dikutip Kompas.com, Kamis 18 Agustus 2022.

Gerai Teguk pertama di New York City sekaligus di Amerika Serikat ini berada di Mott Street di seputaran kawasan Manhattan. Sebuah jalan yang tak terlalu besar namun sangat sibuk. Masyarakat New York sering menyebutnya “jalan utama” Chinatown kota tersebut.

Gerai Teguk 1 di New York City memberikan pengalaman kuliner ala anak muda Indonesia di dunia.
Layanan Konsumen di Gerai Teguk New York. Foto: Dok. Teguk Indonesia

Saat pembukaan, Gerai Teguk pertama ini melakukan promo dengan free trial atau cicip gratis minuman boba kreasi mereka. Dari video yang diperoleh, terlihat anak-anak muda New York yang cukup surprise dengan tawaran cicip gratis ini. Mereka terlihat menikmatinya. Saat pembukaan, gerai Teguk ini juga mendapat kunjungan Amanda dan Sandi, staf desk ekonomi Konsulat Jendral Republik Indonesia di New York.
Soal Teguk, Maulana mengatakan, upaya dan kerja keras yang dilakukan timnya dari awal mula bisnis minuman Teguk pada 2018. Hingga kini akhirnya Teguk bisa mulai ekspansi ke luar negeri.

Gerai Teguk pertama di New York City, Amerika Serikut, membuka jalan produk ini go internasional.
Kunjungan Staf Deks Ekonomi KJRI New York. Foto: Dok. Teguk Indonesia

Ia menceritakan, awalnya Teguk merupakan gerai penjual thai tea. Ia mengatakan dasar pendirian produknya berawal dari perilaku masyarakat yang terbiasa membeli minuman dalam kemasan. Dia bilang banyak orang pada saat itu juga sudah membeli minuman dalam kemasan cup untuk dibawa ke rapat, belajar, dan berbagai acara lainnya. Namun kala itu, kebanyakan produk minuman kemasan cup berharga mahal
Adalah Najib Wahab Mauluddin, seorang pengusaha muda di banyak sektor bisnis, mulai dari Energy, Infrastruktur, Logistik, alat berat, hingga F&B. Ia kemudian bersama-sama Maulana Hakim, yang kemudian bertindak selaku CEO Teguk Indonesia, merancang bisnis minuman kekinian tersebut.

Ke dua sosok inilah yang menjadi pelopor dan membuat Teguk menjadi besar. Bisnisnya sendiri berawal saat merebaknya fenomena minuman boba kekinian di Indonesia. Terutama bagi kalangan muda, mulai dari millennial hingga generasi Z. Dari masyarakat kelas bawah hingga kelas atas.

“Ini berawal dari keinginan saya agar masyarakat di kelas bawah juga bisa merasakan minuman mewah tetapi tidak perlu mahal. Dari situ saya ciptakan Teguk,” kata Najib dalam siaran persnya di Jakarta, 23 Agustus lalu.

Dengan tren tersebut, Teguk hadir dengan membidik masyarakat menengah ke bawah. Di sisi lain, tingkat belanja konsumen menengah ke bawah saat itu juga sedang tinggi, sehingga membuka kesempatan bagi Teguk mengoptimalkan potensi pasar.

Saat itu, pasar didominasi dengan tren minuman cup dari luar negeri dengan harga yang cukup tinggi, baik kopi maupun non kopi. Di sisi lain, untuk usia 18-25 sudah memiliki kemampuan yang konsumtif, dan itu menjadi dasar Teguk berkembang. “Teguk saat itu mengeluarkan produk teh yang terjangkau dengan value yang lebih tinggi,” ujar dia.

Gerai Teguk awalnya hadir dengan produk Thai Tea seharga Rp 5 ribu dengan konsep open kitchen sehingga pembeli bisa melihat bahan baku pembuatan produk. Mulai dari produk teh impor dan diramu dengan bahan-bahan lainnya.
Pertumbuhan penjualan yang terus meningkat mendorong Maulana untuk melakukan inovasi. Ia mulai mencoba menjual minuman jenis kopi dan coklat. Tak hanya itu, ia juga menambahkan makanan seperti roti untuk turut dijual di gerai Teguk.

“Keberhasilan itu merambat ke kategori lain, ada kopi, coklat dan lain-lain. Konsepnya, bahan baku kita tidak kalah dengan yang premium, tapi dengan harga yang terjangkau. Kita juga menjual makanan yang unik dan khas, seperti odading misalnya,” kata dia.

Sepanjang setahun mengembangkan bisnis, Teguk masih menggunakan sistem pemasaran konvensional. Dia percaya, jika pelanggan menikmati dan suka dengan produknya, akan secara langsung akan membuat kostumer kembali lagi untuk membeli
Namun di tengah era digital yang tumbuh pesat, penjualan secara online juga tidak kalah diminati oleh pelanggan mereka. Pada 2019, mereka melebarkan kanal penjualan online.

Awalnya konsumen Teguk hanya sekitar 25 ribu orang, sehingga dirasakan untuk berkembang perlu adanya transformasi. Maulana mengakui, mereka termasuk yang agak telat masuk ke kategori online atau gofood ini.

Pada 2019 mereka coba-coba dengan penjualan online dan hasilnya cukup mengejutkan. “Basis penjualan kami naik signifikan. Ternyata online ini bisa membeli lebih banyak dari rumah,” ungkapnya sambal bercerita Teguk yang semakin membesar.

Angkanya lebih dari 200 persen dibanding penjualan 2019 lalu.

“Penjualan kita di online cukup bagus dan kontribusinya cukup besar, sehingga kami merasa langkah selanjutnya adalah go international,” kata Maulana.

agenda Indonesia

*****

Kota Pontianak, Kota Multietnik di Garis Lintang 0

Pontianak Tugu Khatulistiwa

Kota Pontianak adalah kota yang tepat dilewati garis Khatulistiwa atau equator, atau garis lintang 0 derajat. Ia berada di tengah-tengah titik utara dan titik selatan bumi. Memiliki banyak tradisi Melayu, kota ini kaya dengan warisan kuliner Tionghoa.

Kota Pontianak

Menuju ibukota Kalimantan Barat ini tentu saja paling mudah melewati jalur udara melalui Bandara Supadio. Dari Bandara Soekarno Hatta memerlukan penerbangan dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Supadio sendiri berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat kota Pontianak.

AgendaIndonesia berkesempatan mengunjungi kota ini akhir tahun lalu. Sesungguhnya agak nanggung datang ke Pontianak pada bulan Desember, sebab saat itu kotanya sedang tak terlalu ramai. Kota ini ramai justru saat perayaan Imlek, dan dua minggu setelahnya, yakni perayaan Cap Go Mei. Maklum saja, sekitar 32 persen warga kotanya adalah masyarakat keturunan Tionghoa. Lebih besar dari warga Melayu yang sekitar 26 persen.

Saat Imlek, yang biasanya jatuh di akhir Januari atau awal Februari, suasana kota sungguh meriah. Cobalah pada hari-hari itu mampir ke pasar-pasar tradisional. Warna-warni merah mendominasi suasana pasar. Dan, sama seperti ketika Lebaran di kota-kota di Jawa, saat Imlek banyak warga saling mengunjungi.

Agama tak menghalangi tradisi saling kunjung dan makan besar. Meskipun banyak warga Tionghoa yang sudah memeluk agama Katolik, selain Budha dan Konghucu, Imlek adalah perayaan tahun baru semi. Dirayakan oleh semuanya. Di kota ini bahkan warga non-tionghoa pun ikut saling mengunjungi. Sungguh suasana kekeluargaan yang hangat.

Tapi sudahlah, karena bukan saat perayaan Imlek, ketika sampai Pontianak, dengan mencarter mobil, kami berpikir untuk pertama-tama mengunjungi ikon kota ini: Tugu Khatulistiwa. Dari Bandara kami menuju ke wilayah Sungai Raya atau warga setempat menyebutnya Sei raya. Saat ini sudah ada dua jembatan yang menghubungkan wilayah Pontianak kota dan Pontianak Utara. Keduanya membentang sepanjang sekitar setengah kilometer, 420 meter dan 560 meter. Jembatan I dulunya adalah jembatan tol, namun pada 1990-an dibuka untuk umum tanpa berbayar.

Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dan Sungai Landak. Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia yang melintasi 5 kawasan, termasuk Pontianak. Panjang sungai ini mencapai 1.143 kilometer, sedangkan lebarnya sekitar 70-250 meter. Sebutan sungai Kapuas diambil dari daerah Kapuas Hulu yang mengaliri aliran sungai tersebut.

Dulunya, sebelum tahun 1982, warga Pontianak Kota yang ingin pergi ke wilayah lain di Kalimantan Barat harus menyeberangi Kapuas dengan kapal feri menuju wilayah Siantan. Dari sana baru perjalanan darat menuju Singkawang, Sambas, atau Kapuas Hulu dilanjutkan.

Tugu Khatulistiwa ini rasanya wajib kunjung, karena sesuai julukannya, Pontianak dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena posisinya dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang dilalui garis lintang nol derajat bumi.

Tugu Khatulistiwa bentuknya sederhana saja, sebuah menara dari bahan kayu belian berwarna hitam dengan dua lingkaran di mana salah satunya memiliki anak panah yang menandakan lintasan titik 0 derajat lintang bumi. Menara ini dibangun oleh tim ekspedisi geografi yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda.

Sesungguhnya tugu atau menara Khatulistiwa ini biasa saja. Namun, memang ada sensasi lucu ketika berdiri di bawahnya. Berdiri tepat di tengah-tengah lingkaran utara-selatan bumi. Sayangnya belum ada penelitian, adakah efek berada di titik 0 bagi manusia. Jika ada, dan positif, bisa jadi daerah ini akan makin ramai mendatangkan wisatawan.

Dari tugu, kami kembali ke kota. Hari itu kami cuma berencana menikmati kuliner Pontianak. Pertama-tama tentu saja kwetiau, atau masyarakat Pontianak menyebutnya mi tiau. Sama saja, keduanya merujuk pada bakmi dari tepung beras berwarna putih dan pipih lebar.

Kota Pontianak di  Pusat oleh olehnya

Ada beberapa pilihan restoran yang kondang di kota ini, tapi kami memilih Kwetiau Antasari. Dari namanya pasti sudah bisa diduga kalau lokasi berjualan rumah makan ini sekaligus menjadi nama atau branding dari rumah makannya ada di Jalan Antasari. “Ini sudah buka sejak aku kelas 2 SD,” kata Uke, seorang kawan yang menemani makan siang, itu artinya merujuk pada tahun 1972.

Kami siang itu memesan menu andalan, yakni kwetiau goreng spesial. Kata spesial ini merujuk pada kondimen yang terdiri dari bakso sapi gepeng, daging sapi, daging babat, sayuran hijau, tauge, kikil dan ditambahkan lagi telur mata sapi di atas kwetiau gorengnya. “Itu belum termasuk telur yang dicampur dalam gorengannya,” kata Uke sambil bercerita, jika pesan bungkus, maka bungkusannya masih menggunakan daun jati. Persis seperti puluhan tahun lampau.

Jika ingin mencoba kwetiau atau mitiau lain, ada pilihan Kwetiau Seroja Baru, juga Kwetiau Apolo. Yang terakhir ini, yang kami coba besoknya, terlihat lebih gelap karena faktor kecap.

Usai makan, kami lanjut ke tempat lain yang tak kalah terkenalnya di Pontianak: es krim Angi atau lebih dikenal dengan sebutan es krim Petrus, karena dengan dengan SMA Petrus. Tadinya mau mencoba kopi Asiang yang dekat dari Antasari, tapi warungnya penuh. Dan di tengah panas siang hari, es krim rasanya asik.

Es Krim Petrus ini ternyata juga sudah melegenda, sebab sudah melayani pelanggan sejak tahun 1950-an. Para pelanggan menyebut rasa es krimnya tidak berubah sejak pertama kali. Dan itulah yang menjadi daya tarik penikmatnya untuk kembali lagi dan lagi. Satu hal yang membuat banyak orang datang kembali untuk mencecap es krimnya adalah cara penyajiannya dengan menggunakan kelapa muda. Pilihan rasanya cukup banyak, mulai dari durian, cempedak, strawberi, nangka, vanila, coklat, dan beberapa lainnya.

Kami sempat mengunjungi hutan kota (Arboretum Sylva Untan) yang berlokasi di kawasan Universitas Tanjungpura. Hutan seluas 3,2 hektare ini memiliki koleksi tanaman khusus dari Kalimantan Barat, yaitu 190 jenis pohon, 86 anggrek, 176 perdu, dan tumbuhan bawah, dan sebagainya. Ada juga sarana untuk berlari, bersepeda, ekowisata, dan aktivitas outbound.

Sore menjelang malam hari, kami meluncur ke pinggiran sungai Kapuas, ada atraksi menarik berupa air mancur warna-warni. Untuk menikmati Kapuas, mampirlah ke Taman Alun Kapuas yang berlokasi di tepi Sungai Kapuas. Di tempat ini, pelancong bisa menikmati embusan angin Sungai Kapuas dan keindahan mentari tenggelam. Jangan risaukan urusan perut, sekitar Alun Kapuas banyak makanan jalanan yang lumayan.

Usai menikmati Kapus, bagi penikmat kopi, jangan lewatkan deretan kedai kopi di Jalan Gajah Mada. Salah satunya, Warung Kopi Liem yang buka dari malam hingga pagi.

*****

Nasi Gandul Pati, Ada Yang Sejak 1955

Nasi Gandul Pati adalah makanan khas Pati.

Nasi gandul Pati mungkin tak sepopular sejumlah masakan berkuah di sepanjang pantai utara Jawa Tengah seperti soto, nasi pindang atau garang asem. Padahal dari segi rasa, masakan ini tak kalah kelezatannya.

Nasi Gandul Pati

Pati sendiri merupakan salah satu kabupaten di jalur pantai utara pulau Jawa di wilayah Jawa Tengah. Ada banyak kuliner khas Pati yang layak untuk dicicipi, salah satunya nasi gandul. Makanan satu ini berupa nasi dengan empal daging berkuah, kemudian disajikan beralaskan daun pisang. Enak banget disantap saat masih hangat.

Nasi gandul Pati menjadi salah satu makanan khas Jawa Tengah. Makanan ini terdiri dari nasi yang dimasak dengan cara yang khas dan disajikan dengan kuah yang gurih dan beraroma khas.

Disajikan dengan menggunakan daun pisang supaya nasi tetap hangat dan lezat. Ciri khas lainnya yaitu penjual yang tetap meletakkan dagangannya di pikulan. Sebab, dahulu para penjual nasi gandul menjajakan dagangan dengan berkeliling dan menggunakan pikulan.

Nasi Gandul Pati disajikan dengan kuah dan daging.
Nasi Gandul juga ada yang menggunakan jerohan. Foto: Dok. jatenggov.go.id

Sejarah dari nasi gandul Pati tidak terdokumentasikan secara resmi, tetapi diperkirakan makanan ini telah ada sejak zaman kerajaan di Jawa Tengah. Nama “gandul” berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang berarti “menggantung” atau “tidak menapak”.

Dari cerita mulut ke mulut, istilah gandul tersebut mengacu pada dua pengertian. Pertama pada tekstur nasi yang sedikit kering dan diletakkan pada daun bukan langsung di piring. Sementara pengertian ke dua mengacu kepada istilah “gandul” yang dalam bahasa Jawa berarti “menggantung”.

Tapi bukan nasinya yang disajikan menggantung, melainkan cara berjualannya. Jadi, konon dulu penjual nasi gandul Pati menjajakan dagangannya dengan digantung pada pikulan. Dari situlah kemudian muncul nama “nasi gandul”.

Nasi gandul Pati terbuat dari beras yang dicuci bersih dan dimasak dengan air yang diberi sedikit minyak goreng dan garam. Setelah nasi matang, nasi diaduk secara perlahan hingga terlihat kering dan terpisah satu sama lain.

Kuah gandul yang khas terbuat dari daging sapi atau ayam yang dimasak dengan rempah-rempah seperti jahe, lengkuas, dan kacang merah. Setelah matang, kuah ini dihaluskan dan dicampur dengan santan, kemudian disajikan dengan nasi dan ditambahkan irisan daun bawang dan kerupuk udang.

Beberapa istimewa dari nasi gandul Pati antara lain tekstur nasi yang kering dan tidak lengket membuat nasi gandul ini berbeda dengan nasi pada umumnya. Kuah gandul yang khas memiliki rasa yang gurih dan kaya rempah. Sajian ini biasanya disajikan dengan kerupuk udang yang renyah, menambahkan rasa dan tekstur yang berbeda.

Nasi gandul Pati sering dianggap sebagai makanan yang sarat nutrisi karena mengandung banyak protein dari daging dan kacang merah serta karbohidrat dari nasi.

Nasi Gandul Pak Meled Kemendikbud
Nasi Gandul Pak Meled. Foto: Dok kemendikbud.go.id


Di Pati terdapat beberapa restoran dan warung yang terkenal dengan nasi gandulnya, di antaranya:

Nasi Gandul Pak Meled – terletak di Jalan Krajan Gajah Mati, Kecamatan Pati, Pati. Warung ini menjadi salah satu yang paling terkenal di Pati dan sudah berjualan sejak 1955. Harganya cukup terjangkau dan rasanya dijamin enak.

Nasi Gandul Romantis – terletak di Jalan Panunggulan, Krajan Gajah Mati, Kecamatan Pati, Pati. Warung ini juga dikenal sebagai tempat yang menyajikan nasi gandul yang lezat dengan harga yang terjangkau.

Nasi Gandul Khas Pati – terletak di Jalan Kiai Saleh, Kaborongan, Kecamatan Pati, Pati. Warung ini menyajikan nasi gandul dengan bumbu yang kaya rempah dan daging sapi yang empuk.

Nasi Gandul Warsimin – terletak di Jalan Roro Mendut, Semampir, Kecamatan Pati, Pati. Warung ini terkenal dengan nasi gandulnya yang nikmat dan disajikan dengan sambal khas.

Setiap warung memiliki ciri khas dan rasa yang berbeda-beda, sehingga Anda bisa mencoba beberapa warung untuk mencari nasi gandul yang paling Anda sukai.

Di Indonesia, terdapat beberapa masakan yang memiliki kemiripan dengan nasi gandul dari Pati, Jawa Tengah. Sepintas jika diperhatikan nasi rawon, nasi gandul, dan nasi pindang memiliki kesamaan.

Rawon Surabaya terkenal dengan sebutan black soup. Foto: dok. liputa6

Ke tiga kuliner tanah Jawa ini berkuah kehitaman dengan rasa rempah yang gurih. Baik rawon khas Surabaya, nasi pindang khas Kudus, dan nasi gandul khas Pati sama-sama memiliki kuah hitam encer akibat kluwak, dengan potongan daging sapi dan penyajiannya disatukan dengan nasi.
Namun jika diteliti lebih dalam, ke tiganya memiliki ciri khas dari daerahnya masing-masing. Seperti nasi pindang Kudus yang menggunakan daun melinjo muda sebagai pendamping kuahnya. Sedangkan rawon menggunakan sayur tauge untuk pendamping kuahnya. Beda nasi pindang, nasi gandul sama rawon itu di santan sama daun melinjonya.


Meskipun memiliki kemiripan dalam bahan dan cara penyajian, tetapi setiap masakan khas daerah memiliki ciri khas dan bumbu yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan rasa dan aroma yang berbeda pula.

agendaIndonesia

*****

Sate Ponorogo Tukri Sobikun, Manis 70 Tahun

Sate Ponorogo H. Tukri Sobikun salah satu kuliner khas Ponorogo.

Sate Ponorogo Tukri Sobikun disinyalir merupakan salah satu pelopor kepopuleran kuliner sate ayam di kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ini. Lewat resep yang sudah diramu sejak sekitar 70 tahun lalu, mereka telah menahun jadi standar cita rasa sate ayam khas kota reog itu.

Sate Ponorogo Tukri Sobikun

Bagi yang mengaku penggemar kuliner sate, tentu sudah pernah mendengar tentang nikmatnya sate Ponorogo. Maklum, sate ayam Ponorogo punya beberapa karakteristik yang membuatnya punya cita rasa unik dibanding sate-sate di segala penjuru nusantara lainnya.Salah satu keunikan sate ayam khas Ponorogo dapat dilihat dari cara penyajiannya.

Kalau sate kebanyakan dibuat dengan memotong daging ayam pada bentuk dan ukuran yang padat dan tebal, sate Ponorogo dibuat dengan mengiris daging ayam hingga cenderung berbentuk pipih.Dari penggunaan teknik ini, kemudian didapatkan irisan daging ayam yang lebih bebas dari lemak.

Sate Ponorogo Tukri Sobikun adalah salah satu ikon kulner kota Ponorogo.
Tumpukan sate ayam Ponorogo Tukri Sobikun sedang dibakar. Foto: IG

Sebelum dibakar, irisan daging ini direndam terlebih dulu ke dalam bumbu, agar rasa dari bumbu tersebut dapat meresap lebih baik ke dalam daging.Bumbu ini, yang biasa disebut sebagai bumbu bacem, terbuat dari rempah-rempah seperti ketumbar, merica, laos, kunyit, kemiri, jahe, dan gula Jawa. Rempah-rempah tersebut diolah menjadi bumbu dengan cara diulek dan direbus, hingga berwujud bumbu cair.

Setelah itu, barulah irisan daging tersebut dipasangkan dengan masing-masing tusuknya dan kemudian dapat mulai dibakar, selama sekitar tiga sampai lima menit. Selama proses pembakaran, sate kembali diolesi dengan bumbu untuk menambah kuat rasa.Keunikan lainnya ada ketika sate telah disajikan. Umumnya, sate ayam Ponorogo bisa dimakan dengan tambahan bumbu kacang tanah yang kental, namun sejatinya bila sate dimakan tanpa bumbu pun dagingnya sudah terasa nikmat berkat bumbunya yang meresap.

Ketika dipadu dengan bumbu kacangnya, maka sensasi rasa manis dan pedas dari bumbu plus gurih dan empuknya daging sate membuatnya begitu mengundang selera. Keunikan tersebut membuatnya menjadi varian sate di Indonesia yang punya banyak penggemar.

Di Ponorogo sendiri, kehadiran resep sate ayam tersebut konon sudah muncul sejak era abad ke-15. Sate ini disebut menjadi salah satu penganan favorit para warok, alias tokoh-tokoh figur publik yang terkait dengan politik, sosial, seni dan budaya pada tatanan masyarakat kala itu.

Bertahun dan berabad setelahnya, resep sate ini terus dilestarikan dan menjadi salah satu penganan yang lazim dijajakan untuk masyarakat umum. Mayoritas pedagang sate saat itu banyak yang berjualan sambil berkeliling memikul sate dagangannya, beserta alat memasaknya.Salah satu pedagang sate keliling tersebut adalah H. Tukri Sobikun, yang sudah merintis usahanya sejak sekitar tahun 1950-an. Seiring berjalan waktu, sate racikannya mulai meraih reputasi sebagai salah satu sate ayam terenak di Ponorogo.

Warung Sate Ponorogo H. Tukri Sobikun IG
Kedai Sate Ayam Ponorogo H. Tukri Sobikun. Foto: IG

Setelah meraih cukup banyak pelanggan, ia lantas menetap di area trotoar jalan Ahmad Yani pada 1970-an. Dari situ, popularitas sate buatannya terus meningkat, tak hanya dari kalangan warga Ponorogo tetapi juga pelancong dari luar kota.

Maka pada tahun 1995 ia membuka kedai kecil berukuran empat meter persegi di area garasi rumahnya sendiri di jalan Lawu. Pada lokasi inilah kedai sate Ponorogo Tukri Sobikun hingga kini berjualan, dengan usaha saat ini sudah dijalankan oleh generasi ketiga.

Yang unik, area jalan Lawu ini sekarang juga kerap dikenal sebagai “gang sate”, lantaran di area tersebut juga terdapat berbagai kedai sate ayam Ponorogo lainnya. Bahkan ada yang menyebut bahwa gang ini merupakan salah satu sentra penjual sate terbesar di Indonesia.Usut punya usut, banyak warga di sekitar jalan tersebut juga sudah lama menyambung hidup dengan berjualan sate. Seperti halnya H. Tukri Sobikun, beberapa di antaranya juga pernah menjajakan satenya sambil berjalan keliling kota.

Sejak kemunculan kedai sate Ponorogo H. Tukri Sobikun di area tersebut, beberapa pedagang sate mulai ikut-ikutan mendirikan kedai sate serupa. Sehingga area jalan tersebut mulai akrab dengan sebutan “gang sate”.

Namun, bisa dikatakan kedai sate Ponorogo Tukri Sobikun merupakan salah satu yang tertua, serta yang paling populer dan turut menaikkan pamor sate ayam Ponorogo. Sate buatan mereka juga disebut-sebut punya keunggulan tersendiri dibanding sate ayam Ponorogo lainnya.

Cara mereka meracik sate memang cukup spesifik dan terus dijaga hingga saat ini, demi menjaga cita rasa asli. Semisal dari bagaimana daging yang sudah dibumbui kemudian diasapi terlebih dulu sebelum bisa dibakar, agar kadar lemak di dalam daging dapat ternetralisir.

Mereka juga masih menggunakan tungku pemanggang dari semen yang sama sejak dulu. Ketika ada bagian yang rusak pun, pasti akan sebisa mungkin diperbaiki. Mereka percaya bahwa penggunaan tungku ini turut memberikan cita rasa tersendiri pada sate.

Bahkan arang yang digunakan spesifik menggunakan arang dari pohon asam. Arang dari pohon asam disebut memiliki daya panas yang lebih tahan lama. Ini dipadu dengan penggunaan tungku tersebut, agar cita rasa gurih yang diinginkan tercapai dan tidak menjadi terlalu asin.

Selain itu, cara pembakarannya pun sedikit rumit, karena sate dibakar berulang kali sambil diolesi bumbu, dengan tingkat kematangan yang terukur. Ini dilakukan agar rasa bumbu dapat betul-betul meresap, sekaligus menghilangkan aroma amis dari daging.

Mungkin karena tingkat kesulitan itu pula, harga jualnya mencapai Rp 37 ribu per porsi, dengan pasangan nasi atau lontong. Tidak terlalu murah, terlebih harga naik saat hari libur. Tetapi menimbang rasa yang unik dan nikmat, tak mengherankan bila kedai ini terus ramai dikunjungi.

Sate Ponorogo H. Tukri Sobikun untuk Oleh oleh IG
Sate Ayam Ponorogo H. Tukri Sobikun menyediakan paket untuk oleh-oleh. Foto: IG

Dari yang dulu awalnya hanya menghabiskan sekitar lima sampai sepuluh potong ayam, kini kedai sate Ponorogo Tukri Sobikun bisa menghabiskan seratus potong ayam untuk memenuhi permintaan sehari-hari. Angka ini bisa meningkat kala akhir pekan atau hari libur.

Pelanggannya pun tak sembarangan. Tercatat, presiden Joko Widodo dan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi sosok figur publik yang turut menggemari sate mereka. Konon, sate buatan mereka pernah beberapa kali dipesan untuk Istana Negara.

Yang cukup unik, mereka kini juga melayani penjualan sate untuk dibungkus dalam besek sebagai oleh-oleh, dengan bumbu mentahan layaknya bumbu lekas jadi untuk gado-gado dan sejenisnya. Sate yang sudah dibakar dan matang diklaim mampu bertahan hingga satu pekan.

Dan satu hal yang menarik pula, sate Ponorogo Tukri Sobikun sehari-harinya buka dari jam 06.00 sampai jam 20.00. Ternyata, mereka sudah bersiap-siap untuk berjualan sejak subuh dan buka dari jam 06.00, lantaran banyak pelanggan yang datang sejak pagi untuk sarapan sate. 

Sate Ponorogo Tukri Sobikun

Jl. Lawu no. 43K, Gang Sate, Ponorogo

Instagram: sateayamtukrisobikun 

agendaIndonesia/audha alief praditra 

*****

Café Two Stories Bogor , 1 Dinding Mengabadikan Cerita

Cafe Two Stories Bogor Menu

Café Two Stories Bogor belum lama hadir di kota hujan ini. Baru sekitar dua tahun. Namun ia layak dijadikan pilihan menuliskan kisah Anda.

Cafe Two Stories Bogor

Sore menuju petang di kota hujan, Bogor, lampu-lampu mulai berpendar. Jalanan tak ubahnya sebuah etalase manusia yang lalu-lalang dengan kendarannya. Deru klakson tak henti menghantam kuping, membuat pendengaran kebal kebisingan.

Kala itu, awal tahun ini, Bogor tampak padat aktivitas. Setelah hampir menyerah menyusuri Jalan Raya Pajajaran, kendaraan saya membelok ke sebuah gang besar menuju suatu kompleks. Suasananya ramai, tapi tak padat. Belum jauh berkendara, di tepi kanan, tampak sebuah bangunan asimetris yang unik.

Gedung itu penuh unsur kotak-kotak, seperti lego raksasa yang ditumpuk tak beraturan. Di temboknya terpampang susunan batako yang rapi. Di tengahnya ada lingkaran kecil bertuliskan Two Stories Café & Lounge. Tampaknya bangunan ini adalah kedai kekinian, tempat muda-mudi nongkrong.

Saya memarkir kendaraan di lahan yang cukup luas, lantas memasuki bangunan kafe yang lebih mirip fine dining restaurant. Ada dua bagian lantai di dalamnya. Lantai pertama yang saya singgahi mula-mula menawarkan konsep lawas.

Ada kesan rustic dan industrial yang berbaur menjadi satu. Di hampir semua sisi, tampak meja dan kursi yang terbuat dari kayu. Cat warna cokelat natural dipoleskan pada interior. Rona ini langsung memunculkan kesan natural.

Adapun temboknya dibiarkan polos tanpa cat dan dihiasi macam-macam karikatur karakter kelinci. Tampak seperti lukisan tinta hitam yang digambar oleh anak-anak, kemudian dialihwahanakan dari kertas menuju dinding. Lantainya tak kalah artistik. Tampak tegel kunci tempo dulu yang sarat motif bunga-bunga. Tegel ini seperti yang pernah saya jumpai di rumah-rumah milik bangsawan di keraton.

Di beberapa bagian, terlihat rak-rak tua dibiarkan menyekat meja demi meja, menciptakan kesan pemisah. Pada rak tersebut dipajang sejumlah hiasan botol-botol kaca atau tanaman rambat. Bagi yang awam desain interior, penataan ini tampak sangat estetis.

Lantai satu banyak dipilih tamu yang membawa serta keluarganya untuk makan malam. Penampakan ini tentunya meruntuhkan hipotesis awal saya yang menyebut bahwa Two Stories Café & Lounge adalah tempat nongkrongnya muda-mudi.

Saya lantas beranjak ke lantai dua. Bangunan di lantai dua jauh berbeda dengan ruangan yang saya masuki sebelumnya. Ada kesan lebih muda. Tatanannya eye catching. Kursi-kursinya pun beragam, ada yang berbentuk rotan, ada pula kursi kayu yang dicat warna-warni.

Ruangan lantai dua terpisah atas dua bagian, yakni dalam dan luar ruangan. Di bagian dalam, ruangan bak terbungkus dinding-dinding kaca. Namun tamu di dalamnya bisa melihat suasana luar.

Cafe Two Stories


Sementara di bagian luar, tertampil sebuah lanskap lokasi nongkrong yang seru, fancy, dan asyik. Apalagi ada tulisan yang sangat ikonis, yakni “TELL YOUR STORY”. Tulisan itu terdapat di tembok yang terbuat dari batu bata. Dinding ini konon menjadi lokasi favorit para pengunjung untuk berfoto lantaran sangat Instagenic.

Lukisan TELL YOUR STORY seakan mengajak pengunjung untuk mengungkapkan apa saja yang ingin diceritakannya kepada kawan-kawan nongkrongnya. Dinding ini membingkai suasana menjadi hangat dan akrab.

Usut punya usut, kafe ini dirancang oleh Robert Wanasida dari Gagareska Urban Arsitektura. Ia menerapkan dua gaya desain yang berbeda di tiap lantainya. Lantai bawah yang non-smoking tentu berbeda dengan lantai atas.Peruntukannya pun berlainan. Lantai bawah untuk keluarga, sedangkan lantai atas untuk muda-mudi.

Soal menu, kafe ini menyediakan pilihan yang cukup beragam. Mulai makanan ala western sampai Asia. Sebagai menu pembuka, misalnya, tersedia pilihan salad dan sup. Ada salad sayur dan buah yang harganya berkisar Rp 25 ribu per porsi. Ada pula sup ayam dan jamur yang dibanderol Rp 20-30 ribuan.

Untuk makanan utama, jika datang beramai-ramai, memilih pizza rasanya tepat. Terdapat pilihan pepperoni pizza sampai pizza khusus vegetarian dengan harga Rp 40-80 ribuan. Sedangkan untuk menu Asian, Anda dapat memilih berbagai macam masakan udon dan nasi goreng ala Jepang yang dibanderol Rp 40 ribuan.

Kalau emoh bergelut dengan menu-menu luar, Anda bisa memilih makanan Nusantara. Terdapat pilihan sop iga hingga nasi goreng kampung yang berkisar Rp 40-80 ribuan. Sementara itu untuk minuman, Anda bisa memilih beragam olahan teh, kopi, cokelat, atau bir.Harganya pun masuk di kantong, tak lebih dari Rp 50 ribu.

Two Stories Café and Lounge; Jalan Pajajaran Indah 5 Nomor 7, Bogor Timur, Bogor

Buka setiap hari pukul 10.00-23.00

Dataran Dieng, 2100 Meter Di Atas Tanah Jawa

Dataran Dieng disebut sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa

Dataran Dieng, di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, biasanya orang akan langsung teringat dengan keindahan alam pegunungan, di atas ketinggian 2.093 meter di atas permukaan laut. Tidak salah memang, karena sebagian dari Dieng masuk di wilayah kabupaten ini. Beberapa obyek wisata unggulan pun terdapat di kawasan berudara dingin tersebut.

Dataran Dieng

Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Jawa Tengah, keberadaan hotel mulai kelas melati hingga hotel berbintang boleh jadi salah satu indikator sebagai daerah tujuan wisata baik wisatawan dalam maupun luar negeri. Di saat akhir pecan, suasana Kecamatan Wonosobo, pusat pemerintahan kabupaten ini terasa lebih ramai. Mereka kebanyak- kan wisatawan yang menginap dikota Wonosobo untuk berwisata ke kawasan Dieng.

Wisata alam merupakan satu dari sekian banyak keunggulan pariwisata kabupaten ini. Kawasan Dieng menjadi pusat wisata alam. Serunya, aktivitas wisata alam di Kabupaten Wonosobo sudah bisa lakukan sejak dinihari dengan menikmati terbitnya matahari (sunrise) di Bukit Sikunir, Desa Sembungan.

Desa Sembungan berada di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Bukit Sikunir menjadi tempat untuk menikmati saat terbitnya matahari dengan latar pegunungan. Desa yang disebut sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa ini (2.300 meter di atas permukaan laut) hampir tidak pernah sepi dari wisatawan. Bukit Sikunir pun menjadi lokasi favorit para pemburu foto lansekap.

Untuk bisa menikmati keindahan sunrise di Bukit Sikunir harus bersiap mulai jelang subuh, jika berangkat dari kawasan Dieng, pukul 4 sudah harus meninggalkan penginapan, sementara jika menginap di kota Wonosobo aktivitas harus sudah dimulai sejak pukul 3 pagi.

Selain menyiapkan diri dengan jaket tebal, sepatu khusus trekking, kaus tangan dan penutup kepala, stamina pun harus dalam kondisi prima, maklum untuk mencapai Bukit Sikunir harus dilalui dengan jalan kaki menanjak yang cukup menguras tenaga. Namun semua perjuangan itu akan terbayar lunas saat detik-detik matahari mulai menampakkan wujudnya. Semburat jingga mentari pagi bakal muncul indah dibalik kokohnya Gunung Sindoro, Sumbing, dan Gunung Slamet.

Puas menikmati dan mengabadikan keindahan matahari terbit, setelah turun bukit, istirahat sejenaklah di Danau Cebong. Hamparan air dengan latarbelakang perbukitan menjadi pe- mandangan yang cukup menyegarkan, sinar tipis matahari pagi semakin menghangatkan suasana.

Dataran Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, merupakan salah satu pusat kunjungan wisata terkenal di Indonesia.
Telaga Cebong di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Foto: Dok. shutterstock

Biasanya setelah menyaksikan sunrise dan menikmati segarnya suasana Danau Cebong, perjalanan wisata dilanjutkan dengan mengunjungi Telaga Warna. Keindahan salah satu obyek wisata unggulan Kabupaten Wonosobo ini sudah sangat popular. Saat akhir pekan wisatawan asal Yogyakarta, Semarang, Jakarta, hingga wisatawan asing banyak yang berkunjung ke telaga ini.

Danau ini disebut sebagai Telaga Warna karena memiliki keunikan air telaga ini sering berubah terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni mirip pelangi. Kandungan sulfur yang cukup tinggi merupakan salah satu faktor mengapa air telaga ini bisa berubah saat terkena sinar matahari.

Suasana damai juga senantiasa melingkupi kawasan telaga warna, tidak heran jika banyak wisatawan yang betah berlama-lama menikmati suasana di obyek wisata ini. Selain itu rimbun pepohonan yang mengelilingi telaga menambah suasana semakin damai. Berdekatan dengan Telaga Warna ada Telaga Pengilon dengan air jernih dan suasana alam sekitarnya yang juga menenangkan.

Dataran Dieng di ketinggian 2100 meter di atas permukaan laut memiliki beberapa danau, salah satunya Telaga Warna.
Telaga Warna di Dataran Tinggi Dieng. Foto: Dok. shutterstock

Jangan pernah melewatkan pula Dieng Plateu Theater (DPT). Inilah pusat informasi tentang Dieng. Segala po- tensi alam dan budaya masyarakat di dataran tinggi Dieng tesaji di sini. Bios- kop mini dengan kapasitas sekitar 100 orang ini memutar film dokumenter yang memaparkan sejarah dan ke- hidupan di Dataran Tinggi Dieng. Film berjudul “Dieng Negeri Khayangan” tersebut berdurasi sekitar 23 menit.

Meski terbilang singkat, namun film tersebut mampu merangkum dan memberikan informasi lengkap mulai kejadian geologi, seni dan budaya, obyek wisata, kehidupan sosial masyarakat Dieng hingga fenomena rambut gimbal anak-anak Dieng, termasuk informasi mengenai embun salju yang turun pada musim kemarau atau biasa disebut “embun upas”.

Sempatkan juga untuk mempir ke Telaga Menjer. Luas telaga ini mencapai 70 hektare dengan latar elakang bukit berhiaskan hijaunya pepohonan. Telaga ini terletak di Desa Maron, Kecamatan Garung. Air telaga ini dimanfaatkan menjadi sumber tenaga bagi pembangkit tenaga listrik.

Wonosobo masih memiliki obyek wisata Taman Rekreasi dan Olahraga Kalianget. Destinasi wisata ini merupakan tempat pemandian air panas. Taman Rekreasi dan Olahraga Kalianget jarangat hanya sekitar tiga kilometer dari pusat kota Wonosobo. Ada dua tempat di pemandian ini yakni berupa kolam besar dan pemandian kamar- kamar.

Kandungan air panas di Kalianget berasal dari aliran sungai kecil, kandungan sulfurnya cukup tinggi dan bermanfaat untuk obat bagi yang meiliki masalah kesehatan kulit. Sumber air hangat di Kalianget sangat melimpah, memanfaatkan potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Wonosobo sekarang ini sedang mengembang-
kan wisata kesehatan dengan konsep rumah sehat.

Puas menikmati semua keindahan alam Wonosobo, tentunya mencicipi kuliner khas kabupaten ini tidak boleh terlewatkan. Mie Ongklok, salah satu makanan khas merupakan ikon wisata kuliner Wonosobo. Mie ini memiliki cita rasa yang gurih.

Mie ongklok disajikan dengan kuah yang kental bercampur sayuran segar ditemani dengan tusukan-tusukan sate daging sapi yang diiris kecil-kecil. Rasa sate yang manis gurih menambah sedapnya rasa Mie Ongklok. Warung makan yang menyajikan menu Mie Ongklok cukup banyak di Wonosobo

Larung Sukerto

Larung Sukerto merupakan tradisi yang unik dan masih dipertahankan masyarakat di Kabupaten Wonosobo. Kata Larung artinya terapung dibawa air, dan Sukerto memiliki arti masalah. Jadi secara haraah tradisi ini memiliki arti membuang segala masalah. Tradisi membuang masalah ini dilambangkan dengan menghanyutkan berbagai macam sesaji ke Sungai Semagung.

Upacara adat ini sudah dilakukan secara turun-temurun. Tidak ada literature yang pasti sejak kapan tradisi ini dimulai. Larung Sukerto dilaksanakan setiap malam 1 Syuro (penanggalan jawa). Tradisi ini dimulai tepat pada pukul 00.00 tempuran.

Tenong Suran

Ritual tradisional ini dilaksanakan sebagai upacara menyambut hari jadi Dusun Gianti di Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto. Tenong Suran dilaksanakan setiap Syura (Muharam). Prosesi upacara tenongan diawali ziarah ke makam sesepuh desa Adipati Mertoloyo yang dipercaya sebagai pembuka Dusun Giyanti.

Ratusan warga mengenakan pakaian khas Jawa membawa makanan dalam tempat makan yang disebut tenong. Prosesi ini juga diiringi dengan kesenian seperti lengger, barongan, serta kuda kepang. Setelah prosesi upacara kegiatan dilanjutkan dengan pagelaran seni tradisional semalam suntuk di desa yang mendapat julukan sebagai Dusun Wisata tersebut.

agendaIndonesia

*****

Soto Pak Sholeh, Sudah 70 Tahun Segarnya

Soto Sholh al barokah Yogyakarta sebagai legenda kulner kota pelajar.

Soto Pak Sholeh layak disebut sebagai salah satu spot kuliner, utamanya bagi pecinta soto, yang sayang untuk dilewatkan kala melancong ke Yogyakarta. Soto berbahan dasar daging sapi ini sudah 70 tahun lebih menjadi salah satu legenda kuliner kota pelajar tersebut.

Soto Pak Sholeh

Kedai bernama lengkap Soto Pak Sholeh Al Barokah ini sudah menahun jadi salah satu rekanan utama bagi warga Yogyakarta dalam khasanah kuliner soto mereka, terutama soto daging sapi. Saat jam makan siang, tempat ini jadi primadona dan selalu penuh pengunjung.

Saking melegendanya, banyak pula yang datang karena bernostalgia kala pulang kampung. Beberapa di antara pengunjung tersebut juga merupakan wisatawan yang mendengar cerita-cerita mengenai nikmatnya menyantap soto daging yang segar, empuk dan gurih tersebut.

Soto Pak Sholeh Al Barokah di Yogyakarta khusus dengan daging sapi.
Soto dan ditemani tempe dan es tape ketan yang segar. Foto: agendaIndonesia

Menilik dari namanya, kemudian diketahui bahwa usaha ini bermula dari seorang pria bernama Muhammad Sholeh yang sudah berprofesi sebagai pedagang soto sejak 1952. Waktu itu, ia masih kerap berjualan dengan berkeliling jalan kaki sambil memikul dagangannya.

Dari berjualan keliling, Sholeh lantas mampu perlahan-lahan membangun bisnis dan reputasi sebagai salah satu pedagang soto paling digandrungi warga kota gudeg itu. Hingga akhirnya ia dapat membuka sebuah kedai soto rumahan di kawasan Tegalrejo.

Kedai itulah yang kemudian menjadi cabang pusat soto Pak Sholeh. Sejak saat itu, kedai tersebut nyaris tak pernah sepi pengunjung. Bahkan pada akhir pekan dan hari libur, tak mengherankan bila pengunjung kedai tersebut kerap penuh membludak.

Sehingga pada 2003, dibuka pula cabang lainnya yang terletak di area stadion Kridosono. Hingga kini Soto Pak Sholeh memiliki delapan cabang yang selalu dipenuhi pengunjung.

Sepeninggal Sholeh yang menghadap sang Khalik pada 2004 silam, bisnis ini terus dijalankan oleh anak dan cucunya. Sampai sekarang, tak banyak yang berubah dari pilihan menu dan makanan yang disajikan, demi terus mempertahankan reputasi.

AI Soto Sholeh Al Barokah Kridosono
Cabang di Stadion Kridosono Yogyakarta. Foto: agendaIndonesia

Sejatinya, secara isi dan tampilan soto daging racikan pak Sholeh tak terlalu berbeda dari soto daging kebanyakan. Tetapi yang menjadi beberapa alasan mengapa soto ini begitu disukai banyak pelanggannya adalah dagingnya yang sangat empuk serta rasanya yang gurih manis.

Untuk mencapai karakter daging sapi yang empuk tersebut, ada beberapa kriteria yang mereka miliki dalam memilih daging yang akan dimasak. Misalnya, daging sapi yang biasanya mereka gunakan adalah sapi yang diternakkan di Jawa.

Selain itu, mereka juga selalu memasak daging yang diambil dari penyalurnya pada hari itu juga. Pada dini hari, sebelum mereka memasak dan berjualan, daging sapi sudah dipilihkan dan diambil untuk kemudian dimasak.

Mereka juga hanya mengambil jatah daging yang akan habis dimasak pada hari itu juga, karena mereka tidak akan menyisakan daging lagi dan menyimpannya untuk esok hari. Itulah mengapa mereka kerap hanya berjualan hingga siang atau sore hari setelah ludes terjual.

Usut punya usut, ternyata itu merupakan salah satu metode yang digunakan demi menjaga kualitas soto yang mereka hidangkan. Menurut mereka, daging sapi yang fresh dari sejak disembelih akan lebih mudah dimasak hingga empuk, ketimbang yang disimpan di kulkas.

Tak hanya itu, mereka percaya bahwa daging sapi yang langsung dimasak menjadi soto setelah dipotong akan memberikan cita rasa tersendiri pada kuahnya. Konon, kalau daging sapi yang dimasak sudah disimpan dari hari sebelumnya, rasa soto menjadi cenderung hambar.

Metode inilah yang mampu menjadikan soto Pak Sholeh begitu mahsyur dan senantiasa dicari banyak pecinta kuliner hingga kini. Dagingnya yang begitu empuk saat disantap membuatnya nyaman untuk dikonsumsi siapapun.

Keunikan soto Pak Sholeh tak berhenti di situ. Sedikit berbeda dari soto kebanyakan yang cenderung memiliki paduan rasa antara gurih dan asin pada kuah kaldunya, soto Pak Sholeh disebut mempunyai perpaduan rasa gurih dan manis.

Lauk di Soto Sholeh
Ada tambahan lauk daging. Foto soto pak sholeh IG

Perpaduan cita rasa ini diklaim karena menyesuaikan selera warga Yogyakarta pada umumnya yang memang punya kecenderungan lebih menyukai kuliner bercita rasa manis. Pada prosesnya, ini juga menjadi keunikan tersendiri bagi soto tersebut.

Dan tentunya daya tarik lainnya selayaknya hidangan soto, adalah harganya yang cukup terjangkau. Semangkok soto daging dihargai Rp 20 ribu, dengan pilihan teman makan seperti daging empal, olahan otak, paru, dan lidah yang dibacem, serta aneka kerupuk dan rempeyek.

Soto yang disajikan berisikan nasi, daging, taoge dan potongan kubis, meski bisa meminta soto dan nasi yang dipisah. Kalau dagingnya masih dirasa kurang, bisa meminta tambahan daging empal yang sudah dipotong-potong kecil.

Soto Pak Sholeh buka setiap hari dari jam 07.00 sampai sore, biasanya jam 15.00 atau jam 16.00. Tetapi perlu diperhatikan, sering kali karena begitu ramainya pengunjung dan mereka hanya memasak untuk porsi jualan hari itu, soto sudah habis sejak setelah jam makan siang.

Terkadang pula, dalam kondisi seperti saat bulan suci Ramadhan, kedai bisa buka hingga lepas waktu Maghrib untuk menerima pengunjung yang hendak berbuka puasa. Namun secara umum tetap disarankan untuk datang lebih awal, utamanya saat makan siang, agar tidak kehabisan.

Soto Pak Sholeh Al Barokah

Jl. Wiratama no. 84, Yogyakarta

Jl. Yos Sudarso no. 28, Parkir Stadion Kridosono, Yogyakarta

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Sate Ambal Pak Kasman, Legenda Sejak 1963

Sate Ambal Pak Kasman Kebumen yang legendaris. Foto: Dok. Budaya-Indonesia.org

Sate Ambal Pak Kasman identik dengan kulinari Kebumen, Jawa Tengah. Buat yang sering melakukan perjalanan darat via jalur selatan biasanya melalui kota ini. Rasanya nama sate ambal Pak Kasman sudah menjadi alternatif utama untuk mampir makan.

Sate Ambal Pak Kasman

Namun bagi pelancong yang hobi makan sate dan belum pernah mampir Kebumen, rasanya perlu menambahkan Sate Ambal Pak Kasman ke dalam daftar wajip kunjung satenya. Resep kuliner legendaris dari Kebumen ini terbilang unik dan berbeda dari sate-sate kebanyakan.

Sate ini merupakan jenis sate ayam yang berasal dari desa Ambalresmi, sebuah daerah di tepi pesisir selatan Kebumen, Jawa Tengah. Yang membuatnya unik dari sate ayam kebanyakan, ia tidak dibumbui dengan bumbu kacang atau kecap seperti biasanya, melainkan bumbu yang terbuat dari tempe.

Sate Ambak pak Kasman sudah terkenal sejak 1963 dan terus menjadi pilihan kuliner khas Kebumen.
Bumbunya dibuat dari tempe. Foto: dok limakaki

Jadi bumbunya terbuat dari tempe yang direbus. Setelah matang, tempe kemudian dihaluskan dan dicampur dengan gula merah, cabe, bawang putih dan bawang merah hingga menjadi bumbu layaknya bumbu kacang.

Sementara daging ayam yang akan dibakar dibumbui dengan campuran bawang putih, bawang merah, ketumbar, kemiri, merica, kunyit, pala dan jahe yang sudah dihaluskan. Kemudian daging didiamkan selama sekitar 2 jam agar bumbunya meresap.

Sate kemudian disajikan dengan ketupat, alih-alih dengan lontong sebagaimana biasanya. Lagi-lagi, ini menambah sensasi rasa yang unik dan berbeda. Sate kemudian ditambahkan irisan timun, tomat, bawang merah, cabe rawit dan taburan bawang goreng.

Hasilnya, sate dengan bumbunya terlihat kuning kecoklatan, dengan rasa manis, gurih dan pedas yang bercampur. Konon katanya, resep ini sudah ada sejak abad 19, ketika pemimpin daerah setempat ingin daerahnya memiliki resep kuliner yang unik dan khas.

Di sana warung-warung sate Ambal kini sudah menjamur, terutama banyak ditemui di sekitar jalan raya Daendels di wilayah Kebumen. Bahkan, mayoritas warga sekitar desa Ambalresmi kini hidup dari berjualan sate.

Tapi butuh waktu hampir satu abad hingga sate Ambal mulai laris dijual sebagai penganan khas, kala pria bernama H. Kasman sukses berjualan dan mempopulerkan resep sate ini. Ia adalah generasi ketiga dari keluarga yang memprakarsai kulinari ini.

Ayah dan kakeknya, Sabar dan Samikin, disebut sebagai tokoh-tokoh di balik terciptanya sate ambal. Pada awalnya, sang ayah dan kakek menjajakan sate sambil memikul dagangannya berkeliling daerah sekitar sejak akhir 1890-an.

Berpuluh tahun kemudian, pada 1963 keluarga mereka akhirnya mampu mendirikan warung dan mulai berjualan di situ. Dari situlah, Kasman meneruskan resep keluarga tersebut dan ikut membantu berjualan warung makan sate Ambal.

Ternyata warung sate ini jadi ramai peminat, terlebih bagi para pelancong yang tengah bepergian melewati jalur pantai selatan tersebut. Lambat laun, sate Ambal mulai meraih populeritas dan pada tahun 1970-an mulai bermunculan lagi warung-warung sate lainnya.

Kendati demikian, ada beberapa keistimewaan yang membuat sate buatan Kasman spesial dan warung satenya selalu ramai oleh pengunjung. Misal, daging ayamnya selalu dipilih yang banyak gajihnya, seperti daging ayam betina.

Selain itu, tusuk sate yang digunakan menggunakan sodo atau lidi daun kelapa. Konon katanya, sodo dapat menambah aroma dan cita rasa dari sate tersebut. Bahan baku tempe pun selalu dipilih yang terbaik agar kualitas rasa terjaga.

Kini warung sate miliknya sudah punya setidaknya sekitar tujuh cabang, yang kini juga dikelola anak dan cucunya, seperti warung sate Pak Alip dan Bu Klendet. Namun demikian, warung pertama yang terletak di jalan raya Daendels hingga kini masih tetap dipenuhi pengunjung.

Di depan warung terdapat papan bertuliskan “Sate Ayam Ambal Pak Kasman Pertama”, menandakan inilah warung yang pertama kali berdiri. Di dalamnya dapat menampung sekitar 70 sampai 80 pengunjung, dan pengunjung dapat memilih duduk di bangku dan meja panjang atau lesehan.

Dalam satu porsi, pengunjung bisa memilih sate 10 tusuk, 20 tusuk atau memesan satuan per tusuk sesuai selera. Biasanya sate disajikan dengan ketupat, tetapi pengunjung juga bisa memesan sate dengan nasi. Selain sate ambal, ada juga pilihan menu lain seperti sate kambing dan sup ayam.

Harga sate Ambal di sini bervariasi dari porsinya, dan hari biasa atau libur. Pada hari biasa, sate 10 tusuk dihargai Rp 18 ribu, sementara 20 tusuk seharga Rp 35 ribu. Tetapi pada hari libur, terutama seperti saat lebaran, harganya bisa naik menjadi Rp 22,5 ribu untuk 10 tusuk dan Rp 45 ribu untuk 20 tusuk.

Adapun harga menu seperti sate kambing berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu, serta sup ayam sekitar Rp 17 ribu sampai Rp 20 ribu. Harga tersebut juga tergantung dari hari biasa atau hari libur.

Sate Ambal Pak Kasman buka setiap hari dari jam 07.00 sampai jam 23.00. Untuk info lebih lanjut, bisa menghubungi 081390028657 (cabang Pak Alip), 082225195190 (cabang Bu Klendet) atau mengunjungi laman Instagram resmi @sate_hkasmanpertama dan @sateambal.h.kasman.

Sate Ambal Pak Kasman

Warung Pertama: Jl. Daendels, Desa Ambalresmi, Kebumen

Cabang Kutowinangun: Jl. Kutowinangun, Kebumen

Cabang Pak Alip 1; Jl. Pahlawan no. 128, Kebumen

Cabang Pak Alip 2: Jl. Lingkar Selatan, Kebumen

Cabang Pak Alip 3: Jl. Urut Sewu, Kebumen

Cabang Bu Klendet 1: Jl. Ambal – Ketawang, Kebumen

Cabang Bu Klendet 2: Jl. Ambal – Petahanan, Kebumen

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Resto Brick And Barrel, Tempat Nongkrong Sejak 2014

Brick & Berrel Bistro Bandung

Resto Brick And Barrel Bandung punya interior yang dibubuhi benda-benda vintage, dengan gaya rustic yang hangat. Selain enak untuk nongkrong, juga asyik buat makan malam yang hangat.

Resto Brick And Barrel Bandung

Saya tiba menjelang sore di bistro yang terletak di Jalan Sersan Bajuri, Bandung, ini. Boleh dibilang makan siang yang terlambat. Suasana kafe terlihat sepi, membuat saya dan kawan-kawan ragu masuk. Namun ciri tong kayu besar, sesuai dengan namanya, barrel, di bagian luar memang mengundang untuk menengok lebih dalam. Ternyata, di saat makan siang ataupun sore, area makan dan kongko ini buka meski cenderung sepi. “Sore tamu mulai datang, malam baru ramai,” ujar Dian, salah satu staf.

Bistro ini menjadi tempat nongkrong sembari menikmati ragam minuman hasil kreasi bartender. Bar diposisikan di bagian tengah, di antara tiga ruang yang ada di dalam bistro. Lounge dengan bentuk tong kayu berada di sisi kanan. Di bagian tengah terdapat jendela kaca besar sehingga pengunjung bisa melihat kehijauan, tempat yang asik untuk menyantap makanan. Posisinya lebih tinggi daripada ruang lain, dan ada tangga tepat di depan bar. Di sisi lain, dengan sebagian ruang terbuka, tampaknya banyak dipilih tamu yang datang untuk nongkrong.

Masih terlalu sore, tapi saat itu saya memang berniat mengisi perut yang keroncongan setelah berkeliling Bandung Barat. Jadilah saya langsung melihat daftar hidangan. Dalam menu, untuk sajian yang mengenyangkan ada dua pilihan, olahan lokal dan Barat. Jadi pilih sesuai selera. Menurut salah satu staf, yang menjadi andalan adalah steak, terutama lamb chop steak. 

Bila tak doyan kambing, ada beragam steak dengan bahan berbeda, seperti chicken steak, tenderloin steak, sirloin steak, dan T-bone steak. Lantas, ada pula grilled ribs dan grilled salmon. Harga rata-rata berkisar Rp 100 ribu, tertinggi hanya lamb chop steak, yang dipatok Rp 115 ribu. Bagi yang doyan pasta juga ada pilihan berupa spaghetti with meatball and tomato sauce, fettucini carbonara, chili tuna spaghetti, meat lasagna,dan pumpkin lasagna

Karena perut benar-benar keroncongan, saya memilih yang mengenyangkan, alias sajian dengan kandungan karbohidrat tinggi. Merupakan khas menu Sunda pula, yakni nasi tutug oncom. Ada pula nasi timbel. Untuk penggemar hidangan berkuah, ada sop buntut, atau buntut goreng, juga buntut bakar. Dengan perut kenyang, saatnya duduk santai melihat kehijauan dari balik kaca. Di sekeliling saya ada sofa yang simpel, kursi kayu, dinding tak berlapis semen, dan lantai kayu yang berkesan rustic tapi hangat.

Bila ingin menghabiskan malam hari untuk mengisi perut sekaligus nongkrong, cobalah pilih Senin malam. “Ada promo barbeque hanya Rp 20 ribu, dengan pilihan delapan menu, dari tenderloin, squid (cumi), ayam, sampai kambing,” kata Dian. Ia menambahkan, mulai Senin hingga Kamis, di malam hari ada suguhan yang asyik dinikmati, yakni penampilan para pemain akustik. Di malam-malam tertentu ada juga program musik yang spesial dan lebih menghentak. Semua serba menghangatkan!

Tong Kayu & Batu Bata

resto Brick and Berrel Bandung, salah satu sudut interior

Brick & Barrel Bistro, namanya sudah menunjukkan jelas gaya interior dan konsepnya. Salah satu ruangan, yakni lounge, dibentuk seperti sebuah tong kayu yang biasanya pada masa lalu menjadi tempat penyimpanan bir, atau menunjukkan ukuran dari bir seperti halnya galon. Sedangkan brick alias bata merah memang menjadi gaya interior ruangannya. Di sebagian dinding sengaja ditunjukkan bata merah tanpa lapisan semen yang bikin unik.

Sebenarnya bukan area baru buat nongkrong. Label ini baru dibeli pada 2014, tapi sebelumnya sudah muncul dengan nama lain, yakni Balcony. Hanya konsepnya memang jauh berbeda. Konsep Balcony berupa fine dining, sedangkan konsep terbaru lebih padabistro dengan atmosfer lebih santai, nyaman, dan bisa merangkul kalangan lebih luas. Bisa untuk kumpul-kumpul sembari makan, tapi asyik juga untuk tempat nongkrong melepas kejenuhan. 

Selain dinding berbatu bata tanpa lapisan semen, ada dinding-dinding dengan papan tulis hitam dan tulisan dari kapur. Juga dinding kaca yang memberi kesan ruangan luas, sehingga tamu bisa melihat kehijauan di luar. Bistro ini banyak menggunakan kayu, seperti pada lantai, juga perangkat kursi dan mejanya, dalam bentuk segi empat dan bundar. Ditempatkan sofa-sofa yang simpel, ditambah hiasan bergaya vintage, seperti tumpukan koper jadul di salah satu sisi.

Brick & Barrel Bistro 

Jalan Sersan Bajuri Nomor 100, Bandung 

Operasional 

Pukul 10.00-24.00 

Menu 

Lamb Chop Steak 

Fettucini Carbonara 

Spaghetti with Meatball and Tomato Sauce 

Meat Lasagna 

Oxtail Soup 

Grille Oxtail 

Nasi Tutug Oncom 

Nasi Liwet 

Rita N./Rully K./Dok. TL

Taman Nasional Baluran, 1 Lanskap Afrika

Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur, sering disebut Africa van Java. Foto: shutterstock

Taman Nasional Baluran di Jawa Timur menjadi alternatif wisata alam dan konservasi flora dan fauna Indonesia. Tempat ini kerap dijuluki Africa van Java karena bentang alamnya yang mirip dengan padang sabana Afrika dan terletak di kawasan desa Wonorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Taman Nasional Baluran

Nama Baluran karena kawasan taman nasional tersebut juga merupakan lokasi Gunung Baluran. Meski berada di wilayah kabupaten Situbondo, tetapi lingkup wilayahnya yang begitu luas membuatnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Banyuwangi.

Diresmikan pada 6 Maret 1980, Taman Nasional Baluran memiliki luas sekitar 25 ribu helktare, yang mayoritas merupakan padang sabana seluas 10 ribu hektare. Ini merupakan padang sabana terluas di Pulau Jawa.

Taman Nasional Baluran selain masuk Kabupaten Situbondo, sebagain juga masuk Kabupaten Banyuwangi.
Kawanan Fauna di Taman Nasional Baluran. Foto: Dok. shutterstock

Awalnya tempat ini ditetapkan sebagai area suaka margasatwa pada jaman pendudukan Belanda di tahun 1937. Sebelum akhirnya pada 6 Maret 1980, bertepatan dengan Hari Strategi Pelestarian Sedunia dan Kongres Taman Nasional Sedunia di Bali, pemerintah menetapkan statusnya sebagai taman nasional.

Wilayah Taman Nasional Baluran terdiri dari padang sabana, hutan bakau, pantai dan pegunungan, yang menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna di dalamnya. Sekitar 40 persen atau lebih dari sepertiga lahannya merupakan padang sabana.

Tercatat sekitar 444 jenis flora yang dapat ditemukan di sini, yang meliputi 265 tumbuhan obat, 24 tumbuhan eksotik dan 37 jenis tumbuhan mangrove. Contohnya seperti Pilang, Mimba, Asam Jawa, Kemiri, Salam, Kepuh, Api-api dan lain sebagainya.

Sedangkan jenis-jenis fauna yang ada meliputi 28 jenis mamalia, 155 jenis burung, serta beberapa jenis serangga, reptil dan ikan lainnya. Dari jenis-jenis fauna tersebut, sekitar 47 di antaranya termasuk spesies langka yang dilindungi.

Beberapa fauna yang dapat ditemui semisal kijang, kancil, banteng, kera abu-abu ekor panjang, macan tutul Jawa, kucing bakau, burung merak, burung rangkong, burung bangau tongtong, ayam hutan dan lain lain. Banteng sendiri menjadi maskot dari Taman Nasional Baluran.

Selain berfungsi sebagai tempat konservasi flora dan fauna, serta tempat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan alam, Taman Nasional Baluran juga menjadi spot ekspedisi dan wisata alam. Ada beberapa titik-titik lokasi yang bisa anda kunjungi di sini.

Taman Nasional Baluran menjadi tempat untuk mempelajari ratusan flora dan fauna yang khas pulau Jawa.
Dabana Bekol sebagai landmark Baluran. Foto: Dok. shutterstock

Salah satunya adalah Gua Jepang, yang berada di dekat pintu masuk Taman Nasional ini. Dinamai demikian karena dulunya gua ini digunakan sebagai gudang amunisi dan benteng pertahanan tentara Jepang pada masa pendudukan Jepang.

Gua seluas 12 meter persegi ini kini sering menjadi tempat burung merak untuk kawin, biasanya pada sekitar Oktober hingga November. Selain itu, tempat ini juga kerap menjadi lokasi untuk berkemah.

Masuk lebih ke dalam, wisatawan akan menemukan hutan Evergreen. Sesuai namanya, hutan ini selalu terlihat hijau dan rimbun sepanjang tahun karena tanahnya yang subur dan dialiri air. Melewati hutan ini dengan mobil, pengunjung bisa menemui beberapa satwa liar di dalamnya seperti kijang, burung merak, macan tutul Jawa, dan ayam hutan.

Selepas melewati hutan Evergreen, maka pengunjung akan tiba di Padang Sabana Bekol. Ini adalah salah satu bagian utama dari Taman Nasional Baluran. Pemandangan padang rumput yang begitu luas, dengan beberapa pohon besar dan latar belakang pegunungan, menjadi daya tarik utama area ini.

Tersedia menara pandang setinggi 30 meter untuk bisa melihat sekitar Padang Sabana Bekol dengan daya pandang lebih baik. Kawanan kijang, banteng dan lain-lain bisa terlihat di sini. Ada juga area wisma penginapan bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman menginap di alam liar.

Taman Nasional Baluran menjadi tempat wisata keluarga termasuk untuk menginap, berkemah atau treking.
Sabana Bekol dengan latar belakang pegunungan layaknya Afrika. Foto: shutterstock

Satu yang perlu dicatat, di Padang Sabana Bekol ini juga terkadang bisa terlihat ular yang melintas. Maka setiap pengunjung diharapkan agar tetap berhati-hati dan menjaga jarak agar tidak mengganggu.

Tidak jauh dari Padang Sabana Bekol, berjarak sekitar tiga kilometer pengunjung bisa menemukan pantai Bama dan Balanan. Pantai-pantai ini dikenal dengan pemandangan pasir putih dan hutan mangrove yang indah. Selain itu, pantai ini juga jadi habitat kucing bakau, burung rangkong dan kera abu-abu berekor panjang.

Tak hanya itu, di pantai-pantai tersebut wisatawan juga bisa melakukan aktivitas seperti memancing dan snorkeling sambil melihat hamparan terumbu karang dan beragam biota laut yang cantik. Tersedia pula penginapan bagi yang ingin menikmati suasana pantai yang masih alami dan berombak tenang.

Selain tempat-tempat tersebut, masih ada spot wisata lainnya seperti Air Kacip dan Manting, yaitu sumber air alami yang tak pernah habis sepanjang tahunnya. Ada juga Curah Tangis, area khusus bagi yang ingin berolahraga panjat tebing, dengan tebing setinggi 10-30 meter.

Jika berminat untuk datang, ada beberapa hal yang perlu diingat. Misalnya, jangan membawa makanan untuk diberikan kepada satwa liar. Pengunjung juga disarankan membawa topi dan payung, agar lebih terlindung dari terik panas dan hujan. Yang membawa mobil juga perlu berhati-hati dan tidak ngebut sembarangan.

Harga tiket masuknya dibedakan bagi wisatawan domestik dan manca negara. Untuk wisatawan domestik tiket masuk pada hari biasa seharga Rp 16,5 ribu, sementara hari libur Rp 18,5 ribu. Adapun turis asing perlu membayar ekstra, pada hari biasa dikenai Rp 150 ribu dan hari libur Rp 225 ribu.

Bagi yang membawa kendaraan bermotor, tarif parkir juga dibedakan. Untuk hari biasa pengendara motor membayar Rp 5 ribu, mobil Rp 10 ribu dan bus Rp 50 ribu. Sedang pada hari libur pengendara motor bertarif Rp 7,5 ribu, mobil Rp 15 ribu dan bus Rp 75 ribu.

Taman Nasional Baluran buka untuk umum setiap hari dari jam 07.30 sampai jam 16.30. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0333) 461650, via email di balurannationalpark@gmail.com atau kunjungi situs resmi balurannationalpark.id dan laman resmi Instagram @btn_baluran.

Taman Nasional Baluran

Jl. Raya Banyuwangi-Situbondo km 35, Desa Wonorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur

Telp. (0333) 461650

Email balurannationalpark@gmail.com

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****