Menikmati Pangandaran Dalam 1 hari

Pantai Timur Pangandaran juga berada di lintasan jalur mudik selatan

Menikmati Pangandaran dalam 1 hari rasanya memang sulit saat ini, sebab jaraknya yang lumayan jauh dari Jakarta. Namun, ketika infrastruktur jalan tol lintas selatan sudah selesai, mungkin kesulitan itu memudar. Larut dalam legenda gua, kuliner laut, serta keindahan pantai, plus mentari terbenam.

Menikmati Pangandaran Dalam 1 Hari

Menempuh perjalanan sekitar 400 kilometer dari Jakarta ke Pangandaran, Jawa Barat, sangat melelahkan. Namun rasa lelah langsung sirna setibanya di Pantai Pangandaran. Betapa tidak, obyek wisata alam andalan di kabupaten itu beragam dan lokasinya berdekatan. Pilihannya pun tak melulu pantai. Ada cagar alam, gua, dan tentu sajian kuliner khas pesisir. Bahkan pelancong dapat menikmati keindahan mentari terbit dan tenggelam di tempat yang sama. Tinggal mencari posisi yang paling tepat untuk menjemput dan mengantar sang surya kembali ke peraduan.

Menjemput Mentari

Pantai Timur Pangandaran menjadi tujuan pertama yang harus saya kunjungi pagi ini untuk menyaksikan terbitnya sang mentari. Sempat terpikir untuk naik sepeda atau sepeda listrik yang banyak disewakan. Berhubung jaraknya relatif tidak terlalu jauh, saya pun memutuskan berjalan kaki saja. Hitung-hitung berolahraga.

Benar saja tebakan saya. Sekitar 10 menit, saya sudah tiba di pinggir pantai. Sang surya sudah mulai bersinar menampakkan keperkasaannya. Kemilau jingganya mulai menyapu laut dan perahu-perahu yang bersandar. Pantai Timur memang sudah dari dulu menjadi tempat bersandarnya perahu-perahu nelayan Pangandaran. Yang menarik perhatian saya, ketika melihat para nelayan saling bekerja sama menarik jala dari laut ke daratan. Ikan laut beraneka jenis terjerat di jala-jala itu. Lumayan hasil jeratannya.

Di Pantai Timur ini tersedia pula sarana rekreasi air yang bisa memuaskan adrenalin para wisatawan, seperti banana boat, aqua glade flyfish, tornado, dansederet nama lain yang menggoda. Tapi saya kurang begitu tertarik. Saya lebih terpikat dengan cagar alam yang menyimpan banyak kisah.

Menyusuri Cagar Alam

Hanya berjalan beberapa ratus meter dari pusat rekreasi air dan melewati kios-kios suvenir khas pantai yang masih tutup, tiba-lah saya di gerbang Cagar Alam Pangandaran. Petualangan dimulai setelah membayar tiket masuk. Jalan setapak yang saya lalui terlihat rapi. Jauh berbeda dibandingkan pada 1990-an saat saya pertama kali menjejakkan kaki di cagar alam ini. Sejak resmi dimekarkan pada 25 Oktober 2012, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, tampaknya terus berbenah.

Belum jauh kaki melangkah, Gua Panggung di sebelah kiri jalan seakan sudah menyambut. Berdasarkan keterangan di bagian depan, disebut Gua Panggung karena kondisinya menyerupai panggung. Di dalamnya terdapat sebuah makam bernama Embah Jaga Lautan. Konon beliau bertugas menjaga lautan di daerah Jawa Barat.

Sekitar 100 meter dari gua tersebut, ada Gua Parat. Dalam bahasa Sunda, ‘parat’ berarti tembus. Gua ini memang bisa dilewati hingga mulut gua yang menghadap Laut Selatan. Sama halnya dengan Gua Panggung, Gua Parat juga memiliki petilasan yang menyimpan kisah tersendiri. Tak ada kesan mistis yang membuat takut. Yang ada justru kekaguman pada relief dinding gua yang indah.

Selain dua gua tersebut, Cagar Alam Pangandaran memiliki gua lain, seperti Gua Sumur Mudal, Gua Lanang, Gua Cirengganis, dan Gua Jepang. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri, serta ada informasi yang dipasang di depan tiap pintu masuknya. Sehingga pengunjung mendapat detail tentang gua tersebut. Sungguh mengasyikkan bisa larut dalam legenda gua-gua tersebut. Apalagi selama perjalanan banyak ditemui kera dengan tingkah pola yang menggemaskan. Terkadang mengkhawatirkan jika kera-kera itu akan menyerang. Beruntung, tak ada satu pun kera yang “nakal”.

Mengantar Surya

Lewat tengah hari, rasa lapar mulai mendera. Mengelilingi Cagar Alam Pangandaran memang lumayan menguras energi. Ke luar dari kawasan tersebut, saya menemukan kuliner khas pesisir di tempat ini dengan mudah. Maklum saja, banyak berdiri rumah makan yang menawarkan aneka makanan laut. Saya mampir di salah satu rumah makan dan memesan cumi asam-manis. Ehmm, nikmatnya.

Setelah perut terisi dan cukup beristirahat, saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Barat. Pantai yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Pantai Timur. Berada di semenanjung, posisi Pangandaran memang strategis. Diapit oleh dua pantai; Pantai Timur dan Barat.

Berbeda dengan Pantai Timur, suasana wisata pantai lebih terasa di Pantai Barat ini. Wisatawan dapat berenang, bermain pasir, dan bermain sepak bola atau voli. Bahkan ada yang berkuda di sepanjang pantai, serta ada pula yang mencoba bermain ombak dengan papan selancar mini. Tak hanya itu, turis juga dapat menyewa perahu untuk mengelilingi taman laut.

Waktu tak terasa cepat berlalu. Senja mulai menjelang. Bersandar di kursi kayu dengan ditemani kelapa muda dan semilir angin pantai, saya mengantar sang surya masuk ke peraduannya kembali. l

Andry T./P. Mulia/Dok. TL

Serba Pisang di Makassar Ini 6 Yang Lezat

Serba pisang dari Makassar, ini 6 makanan yang lezat berbahan pisang.

Serba pisang di Makassar memberi gambaran beragamnya camilan lezat dari kota anging Mamiri ini. Beberapa jenis makanan menjadi pilihan saat berbuka puasa di bulan Ramadhan. Ada pula yang bisa tiap sore dinikmati sembari menikmati ibu kota Sulawesi Selatan ini.

Serba Pisang di Makassar

Pisang tergolong jenis bahan pangan yang memiliki gizi hampir sempurna lantaran mengandung air, gula, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Selain itu, karena rasanya yang enak, pisang disukai semua kalangan, anak-anak hingga orang dewasa. Tumbuh di daerah beriklim tropis, yang panas dan lembap, terutama di dataran rendah, pisang banyak ditemukan di Nusantara. Salah satunya di Sulawesi Selatan. Dengan hasil buah yang melimpah, masyarakat Sulawesi Selatan bisa menghasilkan beragam olahan dari pisang. Tak hanya manis, tapi juga ada hidangan yang gurih.

Es Pisang Ijo

Penampilannya cukup menggoda dengan warna hijau yang khas. Karena warna itu pula sajian ini disebut pisang ijo. Tampilannya terlihat semakin cantik dalam rendaman vla santan putih dan sirop DHT Pisang Ambon berwarna merah muda. Serutan es batu yang dituangkan ke dalamnya benar-benar membikin segar, apalagi bila dinikmati saat cuaca panas. Penganan yang satu ini juga cocok menjadi menu berbuka puasa.

Bahan utamanya adalah pisang raja yang dibungkus dengan adonan hijau berbentuk seperti kulit pisang. Warna hijau berasal dari perasan daun pandan, yang juga menimbulkan aroma wangi. Vla dibuat dari campuran tepung beras, santan, gula pasir, dan garam. Rasa manisnya lebih dominan dibanding dengan gurih.

Biasanya pisang ijo disajikan di atas piring, tapi ada juga kreasi yang berbeda. Di toko Kue dan Es Krim Mama, misalnya, pisang ijo ditawarkan dalam bentuk yang lebih mungil dengan ditemani cendil serta bubur hitam. Meski dipadukan dengan hidangan Jawa, cita rasa kebangsawanan Bugis-Makassar tetap terasa dalam pisang ijo tersebut.

 Pallubutung Nan Legit

Tampilannya agak mirip pisang ijo. Terbuat dari pisang plus vla putih nan manis. Bedanya, pallubutung menggunakan pisang kepok. Pisang itu dikukus terlebih dulu. Setelah masak, kulitnya dikupas, lalu pisang dipotong-potong serong. Irisan pisang kemudian dimasukkan ke dalam vla. Pallubutung bisa dinikmati dalam kondisi hangat, tapi jauh lebih enak jika dihidangkan dingin dengan tambahan serutan es batu. Jika tak suka dengan rasa polos alias orisinal, Anda bisa menambahkan susu kental manis dan sirop DHT Pisang Ambon. Penganan ini pun menjadi salah satu menu favorit untuk berbuka puasa.

serba pisang di Makassar memperlihatkan bagaimana buah ini bisa menjelma menjadi camilan-camilan yang lezat.
Barongko, makanan tradisional dari Makassar yang berbahan dasar dari pisang. Foto: Dok. shutterstock

 Kue Barongko

Kue ini menjadi salah satu menu wajib dalam kegiatan pesta dan upacara adat masyarakat Bugis-Makassar. Ada banyak kafe dan toko kue yang menjajakan barongko. Sebab, kue ini memang diminati banyak orang. Karena memiliki rasa yang manis dan segar, kue ini pun kerap disantap saat berbuka puasa.

Bahan dasarnya sama dengan pallubutung, tapi pisang kepoknya dihaluskan dan dicampur dengan gula, telur, dan santan. Adonan tersebut diaduk hingga rata, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus kurang-lebih 30 menit. Barongko paling pas dinikmati dalam kondisi dingin, dengan memasukkannya ke lemari es terlebih dulu. Kadang kala diberikan variasi berupa irisan nangka dan cincangan kenari sebelum dikukus. Aroma nangka, pisang, dan, daun pisang menyatu, sementara kenari memberikan sensasi gurih di antara rasa manis yang dominan.

Serba pisang di Makassar salah satunya adalah pisang epe yang banyak dijumpai di kawasan pantai Losari.
Pisang bakar khas Makassar, pisang epe, yang mudah ditemui di kawasan pantai Losari. Foto: Dok. shutterstock

 Pisang Epe, Digepuk dan Dibakar

Menikmati sore sambil menunggu mentari tenggelam di Pantai Losari tak akan lengkap tanpa ditemani sajian pisang epe alias banana press—sebagian orang menyebutnya demikian karena pisang ini ditekan-tekan agar gepeng setelah dibakar. Bahan utama yang digunakan adalah pisang kepok. Pisang yang telah gepeng itu lalu disirami vla gula merah atau gula aren. Di musim durian, vla biasanya ditambahi daging durian, sehingga aromanya lebih menggoda.

Pisang epe mudah ditemukan di kawasan Pantai Losari, seperti di Jalan Penghibur, Jalan Ujung Pandang, Jalan Maipa, dan Jalan Lamaddukelleng. Pilihannya juga semakin bervariasi. Ada rasa cokelat, keju, atau kombinasi, selain rasa orisinal dengan vla gula merah.

Sanggara Pep’pe nan Gurih

Tampilannya agak mirip dengan pisang epe. Namun, untuk membuat hidangan ini, pisang kepok harus digoreng, lalu ditumbuk agar berbentuk gepeng. Sanggara memang berarti digoreng, sementara pep’pe dipukul-pukul. Meski tampilannya mirip dengan pisang epe, rasanya jauh berbeda. Jika pisang epe identik dengan manis, sanggara pep’pe menonjolkan rasa gurih. Penganan satu ini biasanya dinikmati dengan sambal.

Roko-Roko Unti Nan legit

Rasanya yang legit benar-benar memanjakan lidah. Roko-roko unti (bungkus-bungkus pisang) tak jauh berbeda dengan kue nagasari. Lagi-lagi berbahan utama pisang. Dalam hidangan ini, pisang disembunyikan di tengah adonan vla putih yang gurih dan kental. Adonan itu dimasak dengan cara dibungkus daun pisang, kemudian dikukus. Nah, ada banyak jenis pisang bisa digunakan untuk membuat roko-roko unti, tapi pisang kepok dan pisang raja menjadi pilihan utama. Biasanya, hidangan ini dijual dengan harga Rp 4.000 per bungkus.

Bagi yang sedang  main ke Makassar dan ingin mencicipi makanan-makanan tersebut, coba main ke tempat-tempat ini

Café Mama; Jalan Seruni dan Jalan Bougenville, Makassar

Kios Bravo; Jalan Andalan No 154, Makassar

Kios Hawai; Jalan Ranggong, Makassar

Pisang Epe; Kawasan Pantai Losari

TL/agendaIndonesia

*****

Ayam Goreng Mbah Karto, Lezat Sejak 1960

Ayam Goreng Mbah Karto menjadi salah satu kuliner andalan kota SOlo.

Ayam Goreng Mbah Karto di Solo atau mungkin aslinya yang di Sukoharjo, Jawa Tengah, mungkin belum setenar ayam goreng Suharti atau Mbok Berek di Yogyakarta. Namun buat pecinta kuliner, khususnya ayam goreng, nama Mbah Karto adalah jaminan mutu ayam goreng yang enak.

Ayam Goreng Mbah Karto

Perjalanan rumah makan ini pun tidak pendek. Ia telah eksis bahkan sejak tahun 1960-an. Ayam goreng Mbah Karto menjadi favorit banyak kalangan, bahkan Presiden Joko Widodo dan keluarga pun menggemarinya.

Ayam Goreng Mbah Karto, kadang dikenal juga dengan sebutan Ayam Kampung Goreng Mbah Karto Tembel, memulai perjalanannya dari Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Rumah makan pertamanya berlokasi di Jalan Jaksa Agung Raya Suprapto Nomor 8, Gabusan, Jombor, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo.

Ayam Goreng Mbah Karto Tembel hanya berjualan ayam kampung goreng sejak dahulu.
Warung Ayam Goreng Mbah Karto. Foto” Milik Tribun Solo

Untuk yang kurang paham posisi geografis, warung pertamanya ini kadang disebut juga sebagai berada di kota Solo. Karena sesungguhnya tempat tersebut memang berimpitan dengan kota batik tersebut.

Rumah makan pertama tersebut boleh dikata sangat sederhana bernuansa Jawa. Mirip dengan rumah pinggiran Solo. Ini terlihat dari ruang makan utama yang berupa pendopo kayu. Seperti pada warung pada umumnya, meja dan kursi kayu disediakan supaya pelanggan lebih nyaman saat makan.

Walaupun sederhana, tetapi Ayam Goreng Mbah Karto berhasil bertahan melampui zaman dan masih ramai dikunjungi penggemar ayam goreng sampai sekarang. Tempat makan legendaris ini sekarang dikelola oleh generasi ke dua keluarga Mbah Karto.

Walaupun sudah dikelola oleh generasi ke duanya, menurut pecintanya, menu dan racikan Ayam Goreng Mbah Karto tetap sama dengan generasi pertama. Menu andalan mereka tetap ayam goreng kampung.

Sri Sukarni, pemilik dan pengelola rumah makan tersebut saat ini mengatakan sejak dahulu tempatnya memang hanya menyediakan satu varian menu. “Di sini cuma ada ayam goreng saja sama sambalnya,” kata Sri sambil menjelaskan itu sesuai ketika masih dikelola orang tuanya.
Dengan logat bicara Jawa, Sri menjelaskan bahwa mungkin senang dengan masakan warungnya karena beberapa keunggulan ayam goreng racikannya. Gurih legit daging ayam kampung ini karena diolah dari ayam segar.


“Kami pakainya hanya ayam kampung segar, jadi setekah disembelih langsung diolah, digoreng,” jelas Sri seraya menyebut pihaknya tidak pernah menyimpan ayam ke dalam lemari pendingin. Semua ayam yang dipotong hari itu harus habis hari itu juga.

Ia lantas menceritakan rahasia kelezatan ayam goreng Mbah Karto. Menurutnya itu karena pemilihan ayamnya sampai bumbunya. Ayam yang dipakai adalah ayam kampung muda, lebih kurang berusia tiga bulan.


Setelah dipotong, ayam kampung diberi bumbu bacem, bawang putih, dan rempah lainnya. Ayam lalu diungkep dalam wadah di atas kompor kayu bakar. Setelah diungkep, barulah digoreng.

Untuk membuat daging ayam kampung empuk dan lezat, Sri menjelaskan, proses memasaknya ayam direbus dengan bumbu dan santan kelapa. “Proses ini memakan waktu hingga 1,5 jam,” katanya.


Setelah ayam empuk dan bumbu meresap, kemudian ayam diangkat dan digoreng hingga matang. Sementara bumbu santannya tetap dimasak hingga mengental dan menjadi hitam gelap. Sari dari santan inilah yang kemudian dijadikan sambal blondho.


Blondho inilah kunci lain kelezatan ayam goreng Mbah Karto. Sambal blondho terbuat dari ampas minyak endapan santan kental atau areh matang. Untuk penyajiannya, blondho yang berwarna hitam gelap ini bisa ditampilkan sendiri, namun bisa juga dicampur dengan sambal bawang.

Ayam Goreng Mbah Karto
Banyak yang ingin membawa pulang.

Hal lain yang istimewa dari rumah makan ayam goreng Mbah Karto adalah pengunjung tak harus membeli satu ekor ayam utuh. Mereka bisa memilih ayam 1/4 ekor atau bagian kepala, hati, dan ampela. Untuk dapat menikmati satu porsi Ayam Goreng Mbah Karto potongan siapkan budget lebih kurang Rp 24 ribu.

Sedangkan jika ingin membeli utuh siapkan uang Rp 107 ribu. Itu sudah termasuk kepala dan cekernya.

Selain sambal blondho dan sambal bawang, pengunjung juga bisa menikmati lalapan, sayur urap, dan tentunya nasi putih. Sebagai pedamping makan, pengujung juga bisa memesan minuman jamu khas Ayam Goreng Mbah Karto seperti es beras kencur, es kunyit asam, dan lainnya.

Untuk yang ingin mencoba mengagendakan menyantap ayam goreng Mbah Karto, bisa langsung menuju rumah makan pertamanya berada di Jalan Jaksa Agung Raya Suprapto No. 8, Gabusan, Jombor, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo. Mereka buka mulai pukul 7 dan tutup pada jam 8 malam. Warung Ayam Goreng Mbah Karto ini berada di Sukoharjo berjarak lebih kurang 12 kilometer dari pusat Kota Solo

Buat yang ingin tak terlalu jauh untuk menikmatinya, bisa mampir ke gerai Ayam Kampung Goreng Mbah Karto di Jalan Kepatihan No. 7, Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Solo. Bukanya mulai pukul 8 pagi dan tutup jam 7 malam.

agendaIndonesia/audha alief P.

*****




8 Suguhan Laut Sulawesi di Jakarta

Makan bareng saat diet perlu memberhatikan tiga hal ini. Foto: Fran TL

8 suguhan laut Sulawesi bisa dinikmati di Jakarta. Semua bahan utama didatangkan dari Celebes atau Sulawesi. Dan kerinduan menikmati kuliner khas Sulawesi pun terobati.

8 Suguhan Laut Sulawesi

Segelas jus dari sirop markisa mendarat di meja kayu. Warnanya jingga cerah, serona layung yang melungsur di balik bangunan-bangunan jangkung di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Bila diaduk, di bagian atasnya mengapung buih-buih putih alami, membentuk gradasi warna yang cukup membuat mata kepincut. “Sirop ini asli Makassar dan dibuat secara manual, dari buah asli, bukan sari,” tutur salah seorang pramusaji Restoran Sulawesi, memecah konsentrasi.

Di Sulawesi@Mega Kuningan, rumah makan premium yang baru buka pada Juni 2016—hasil ekspansi dari Restoran Sulawesi—hampir semua bahan utama yang mereka olah didatangkan langsung dari pulau berjuluk Celebes. Pemiliknya, Darmawan Halim dan keluarga, ingin membumikan kenikmatan penganan khas Sulawesi, khususnya Makassar, di kota-kota urban, layaknya Jakarta.

Tak heran kalau sirop markisa, yang sejatinya bisa ditemukan di mana pun, harus didatangkan langsung dari daerah asalnya. “Karena rasanya pasti berbeda. Yang dibeli langsung di Makassar punya cita rasa lebih segar dan orisinal,” ujar Diah, karyawan di resto ini. Memang lidah tak bisa menepis. Rasa markisa yang meluncur ke dalam mulut punya karakter kuat. Manisnya alami dan tak bikin tenggorokan sakit.

Segelas minuman autentik ini baru jadi pembuka untuk rentetan menu khas Sulawesi yang bakal dipesan selanjutnya. Pelayan yang ramah merekomendasikan beberapa kudapan andalan, yang juga umum digemari pengunjung. “Biasanya, tamu memilih seafood,” kata salah satu pramusaji.

Memang jagoan piring di sini adalah para penghuni laut. Ada beragam jenis ikan yang disajikan, seperti sukang, kaneke, baronang, katamba, kudu-kudu, papakulu, gelama, sunu, dan leccukan. Kedengarannya asing karena jenis itu umumnya hanya ditemukan di perairan timur Indonesia.

Sebagai awalan, keneke bakar tradisional menjadi pilihan. Ikan yang disajikan kala itu berukuran lebih-kurang 1,3 kilogram. Cukup disantap ramai-ramai sekitar lima orang. Cara pembakaran yang menggunakan arang batok membikin aroma ikan makin mencagun, menggelitik nafsu untuk segera melibasnya. Tekstur dagingnya tak rusak karena waktu pembakarannya pas.

Ikan ini nikmat disantap dengan tiga sambal khas yang ditata di sebelahnya, yaitu dabu-dabu, mangga camangi, dan petis. Meski judulnya sambal, rasa pedasnya tak terlalu mencuat dan tidak merusak rasa asli ikan.

Menu selanjutnya sukang rica. Ikan itu cukup berdaging dan tak banyak duri. “Memang makan di sini tak perlu ripuh memilah daging dengan duri,” ucap pramusaji tadi lagi. Selain gampang menyantapnya, bumbu khas yang disiram di atas ikan membikin lidah tak berhenti bergoyang. Ada dua bumbu yang bisa dipilih, yakni rica (pedas) dan parepe (manis).

Bumbu manis dibikin dari bawang putih, gula aren, dan bumbu rahasia lain. Meski bawang terlihat mendominasi, aromanya tak mencolok dan tidak membuat mulut bau. Selain berfungsi sebagai penyelaras, keberadaannya berjasa memperkaya tekstur dengan serat yang ditimbulkan dari tumbukan kasar. Sedangkan bumbu pedas dikhususkan bagi pecinta sambal. Cabai yang digunakan berjenis rawit. Aroma dan warnanya segar serta menggugah selera makan.

Bila sukang dan keneke cocok diolah dengan bumbu khas Makassar, kudu-kudu tak demikian. Ikan jenis ini lebih nikmat dimakan dengan ramuan populer, layaknya goreng asam manis. Sebab, ketika sedang menyantapnya, bukan bumbu yang dinikmati, tapi teksturnya yang unik. Dagingnya kenyal dan lentur. Cara membunuhnya juga harus dengan teknik tertentu supaya tidak muncul aroma anyir. Misalnya, menusuk ujung kepala ikan dengan besi khusus hingga terkena bagian sarafnya.

Waktu menyantap jenis ikan-ikanan pun selesai. Selanjutnya, sebagai teman menikmati langit meredup, menyaksikan lampu Ibu Kota yang mulai berpendar, dan mengintip para raja jalanan menyemut di sepanjang jalur Prof Dr Satrio, yang tampak dari jendela restoran yang bertengger di lantai dua Menara BTPN Mega Kuningan, kepiting woku lantas menjadi pilihan.

Woku merupakan bumbu khas Manado. Rasa dan aromanya cukup tebal karena dipadukan dengan rempah-rempah beraneka ragam. Untuk yang tak biasa, mereka bakal merasa enek setelah menyantapnya. Namun yang disajikan di sini lain dari biasanya. Ahli masak mengontrol jumlah rempah-rempah sehingga tak ada yang berlebihan dan tidak terasa ada salah satu bahan yang mendominasi.

Meski perut sudah penuh, keinginan mengeksplorasi menu masih menjadi-jadi. Udang bakar bumbu tradisional dan menu-menu berkuah pun dipilih. Di antaranya udang sitto xl tradisional, sop pallu basa (yang serasi dinikmati bareng buras), dan mi titi. Ditambah lagi dengan nasi goreng merah seafood dengan cita rasa istimewa.

Yang spesial dari sup pallu basa adalah kuahnya yang berpadu dengan kelapa parut ditambah pala, rempah-rempah, dan bumbu istimewa sehingga memunculkan wewangian khas yang selalu dijumpai pada masakan Nusantara. Sedangkan sunu kuah asam menjadi favorit lantaran ikan yang digunakan masih segar. Irisan tomat dan cabai menguatkan aroma kaldu, apalagi ketika kuah masih mengepul.

Keenakan mengecap satu per satu para penghuni laut yang sudah tak berdaya di piring bidang, larut ternyata makin luruh. Alunan jazz Ain’t No Sunshine versi saksofon lantas membikin mata sedikit-sedikit mulai mengatup. Saat seperti ini lebih asyik dimanfaatkan untuk menikmati suasana malam Jakarta yang bisa diintip jelas dari dalam restoran. Di sisi lain, para tamu lain masih sibuk memburu kenikmatan. Bangku-bangku berkapasitas 150 orang malam itu tampak penuh. Sehari-harinya pun begitu.

F. Rosana/Frann/Dok TL

*****

Tana Toraja dan Keajaiban 400 Tahun Ke’te kesu

Tana Toraja

Tana Toraja di Sulawesi Selatan adalah daerah dengan kekayaan adat budaya yang luar biasa. Ia adalah salah satu keajaiban yang dimiliki Indonesia dari rangkaian Sabang sampai Merauke. Toraja adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi di negeri ini.

Tana Toraja dan Keajaibannya

Dari Makassar, jika tak membawa kendaraan sendiri, ada bus-bus antarkota yang berangkat hampir sepanjang hari. Sejak pukul 9 pagi, hingga jam 9 malam. Waktu tempuh untuk jarak sekitar 320-an kilometer dibutuhkan sekitar 8 jaman. Harga tiket bus yang berangkat pagi biasanya lebih murah jika dibandingkan yang berangkat malam. Masing-masing dengan kelebihannya.

Untuk menuju Tana Toraja bagi tentu saja kita harus menuju Makassar terlebih dahulu. Tentu, bagi mereka yang tinggal di Palu, Sulawesi Tengah, ada jalur darat yang tak perlu harus ke ibukota Sulawesi Selatan itu dulu. 

Jika memilih berangkat pagi, wisatawan bisa menikmati keindahan kota-kota yang dilintasi. Juga pemandangan alam yang mempesona. Biasanya sampai di Toraja wisatawan akan langsung tidur terlebih dahulu sebelum keesokannya menikmati ragam budaya tempat itu. Sementara itu, jika memilih perjalanan malam hari, praktis sepanjang perjalanan akan dipakai untuk tidur.

Sesungguhnya ada penerbangan dari Makassar menuju Tana Toraja. Dari Bandara Hasanuddin mendarat di Bandara Pongtiku yang terletak di Rantepao, sekitar 10 kilometer dari kota Makale. Hanya saja, hingga saat ini, jadwal penerbangannya belum setiap hari. Umumnya Selasa dan Jumat. Itu pun hanya satu penerbangan per hari.

Tana Toraja lazimnya ramai dikunjungi wisatawan antara Juni-Desember. Pada masa itu ada ritual Rambu Solo’, yakni ritual penghormatan bagi mereka yang sudah meninggal diselenggarakan di Desa Ke’te Kesu. Ini merupakan desa tradisional kuno unik yang tersembunyi di wilayah pegunungan TanaToraja, Sulawesi Selatan. Ia terletak di tengah hamparan sawah luas dan merupakan desa tertua di Kecamatan Sanggalangi.

Usia Desa Ke’te kesu diperkirakan sudah mencapai 400 tahun. Uniknya, ia tidak pernah mengalami perubahan sejak pertama kali berdiri. Jika melihat keadaannya saat ini, bisa dibilang desa ini menjadi semacam museum hidup. Orang yang mengunjunginya dapat secara langsung melihat budaya dan tradisi unik dari masyarakat Toraja.

AgendaIndonesia beruntung pernah berkunjung ke TanaToraja. Desa Ke’te Kesu biasanya menerima penghunjung mulai pukul 8 pagi. Ada retribusi masuk yang dikenakan bagi wisatawan lokal sebesar Rp 10 ribu dan dua kali lipat untuk turis asing. Bagi peminat arsitektur permukiman tradisional Indonesia, Ke’te Kesu akan membuat betah. Detail-detail rumah adat Toraja, yang biasa disebut tongkonan, yang berusia ratusan tahun dapat dinikmati detail dan filosofinya, seraya berbincang dengan masyarakat setempat.

Selain tongkonan, di Ke’te Kesu pengunjung dapat melihat beberapa makam adat meski tidak semuanya. Beberapa peti mati tua berbahan kayu atau disebut erong dengan berbagai bentuk segera menyita perhatian di sisi kanan tangga naik.

Selain mengunjungi Ke’te Kesu, masih terkait dengan ritual penghormatan kepada arwah, kita juga bisa mengunjungi Desa Bori, Kecamatan Sesean. Di sini terdapat Rante, yakni lapangan tempat upacara pemakaman untuk kaum bangsawan tertua di Tana Toraja. Lokasinya berjarak sekitar lima kilometer arah utara Rantepao. Mata dipuaskan dengan hamparan batuan menhir tegak yang disusun dan dibentuk sedemikian rupa setiap kali ada jenasah dimakamkan. 

Di Bori Kalimbuang, wisatawan bisa melihat 102 menhir yang berasal dari era megalitikum. Batu menhir ini dipasang berdiri tegak sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang. Sebanyak 54 menhir kecil, 24 berukuran sedang, dan 24 lain berukuran lebih tinggi daripada manusia tersebar di Bori Kalimbuang. Tempat ini diperkirakan telah ada sejak 1718, di mana menhir pertama didirikan pada 1657.

Perjalanan ke TanaToraja yang tak kalah penting adalah Lo’ko’ Mata di lereng Gunung Sesean, di ketinggian 1.400 mdpl, di sisian perlintasan Lembang Tonga Riu, berjarak sekitar 30 kilometer dari Rantepao. Bentuknya yang bundar mirip kepala manusia yang menyebabkan dinamai Lo’ko’ Mata. Batu kubur alam berdiameter sekitar 20 meter yang digunakan sebagai makam tersebut lebih dikenal sebagai Dassi Dewata atau Burung Dewa. Sebab, liang-liang yang ada di sana sering ditempati berbagai jenis burung dengan bulu warna-warni dan suara khas. Hingga saat ini, di area seluas kurang-lebih satu hektare itu sudah ada sekitar 60 liang.

Di Lo’ko’ Mata kita bisa memutari sudut-sudut seutuhan batu dan memperhatikan beberapa tau-tau, yakni patung kayu yang mewakili orang yang dimakamkan, serta ornamen-ornamen pada pintu liang dan tongkonan-tongkonan mini yang menarik perhatian.

Kunjungan selanjutnya adalah Londa. Berbeda ketika ke Ke’te Kesu, Londa seperti lemari arsip kisah  Toraja yang lain lagi. Ada dua gua di sini. Di gua pertama sebaran erong serta serakan tulang dan tengkorak berpadu dengan kegelapan. Gua kedua lebih dalam, sekitar 1,5 kilometer, di mana di pintu masuknya dihiasi satu erong berhiaskan pa’ barre allo (ukiran matahari bulat utuh) di kanan-kiri. Balkonnya ramai dengan tau-tau pelbagai usia.

tana Toraja dengan Patung Yesusnya

Setelah kunjungan ke tempat-tempat perziarahan kuno, sejak 2015 TanaToraja juga memiliki tempat perziarahan baru yang gigantik. Ini khususnya bagi umat kristiani. Di sana juga ada patung Yesus Buntu Burake yang konon disebut tertinggi di dunia.

Patung Yesus Memberkati ini berada di atas puncak bukit Buntu Burake yang berketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut. Tinggi badannya diperkirakan sekitar 45 meter dan dibuat dari perunggu. Patung ini yang dibangun pada Mei 2015 dan memakan biaya sekitar Rp 22 miliar.

Jadi, pernah mengunjungi TanaToraja? Ayo agendakan Indonesia-mu.

*****

Pantai Lingal, 1 Keindahan Dari Alor

Pantai LingAl Alor

Pantai Lingal atau Ling’Al di Alor semakin dikenal banyak penggila pantai dengan pasir putih. Sebelum 2018-an, pantai di Nusa Tenggara Timur ini seolah tenggelam dari kebesaran nama pulau Rinca,  Labuan Bajo, juga Sumba. Padahal, banyak orang menyebut pantai ini sebagai salah satu pantai terindah di provinsi ini.

Pantai Lingal Alor

Labuan Bajo dan Sumba sudah banyak dikenal dan dikunjungi para wisatawan. Baik lokal maupun mancanegara. Namun, ada pulau di ujung timur NTT, tepatnya di Kabupaten Alor, yang juga menawarkan banyak keindahan alam, terutama lautnya. Selain itu kita juga bisa menikmati wisata budaya dan sejarah di sana.


Kabupaten yang memiliki luas 2.864,6 kilometer persegi ini hanya dapat diakses melalui jalur udara dan laut. Begitupun, transportasi menuju Alor masih terbilang cukup mudah, karena ada penerbangan setiap hari dan kapal laut yang juga hampir setiap hari. Untuk ke sana, kita harus melalui ibukota NTT, Kupang.

Kepulauan di Alor terdiri dari dua pulau besar, Alor dan Pantar, yang mengapit gugusan pulau-pulau kecil di kawasan Selat Kumbang. Selat ini terletak di Desa Alor kecil dan Pulau Kepa. Ada beberapa pulau yang dijejaki di kabupaten yang terdiri atas beberapa pulau ini.

Ada beberapa rute yang bisa dijalani untuk menuju pantai Lingal. Pertama jalan darat dari kota Kalabahi, ibukota kabupaten Alor. Sesungguhnya jaraknya tak terlalu, hanya sekitar 30 kilometer. Namun, karena medannya, jarak itu harus ditempuh dalam waktu 4-5 jam. Hanya saja, harus menggunakan kendaraan yang siap untuk medan berat. Pilihannya mobil dengan penggerak 4 roda.

Pilihan lainnya menggunakan jalur laut dari demaga di Kalabahi. Dengan perahu kita bisa mencapai pantai Lingal kurang lebih 3 jam perjalanan. Bisa juga mengkombinasikan darat dan laut, misalnya jika ingin menikmati pemandangan darat. Dari Kalabahi kita bisa menuju ke Desa Alor Kecil selama 2-3 jam dan menginap semalam di sana. Esoknya disambung dengan kapal menuju pantai Ling’Al selama 1,5 jam.

Pantai Lingal terletak di Desa Halerman, Alor Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Jalur yang manapun yang dipilih, pantai ini tak akan mengecewakan. Panorama pantainya tak akan mengecewakan.

Jika tak punya halangan menikmati perjalanan laut, cobalah menuju ke Ling’Al dengan perahu. Dari Alor Kecil perahu bisa disewa seharga Rp 750 ribu-850 ribu. Perahu bisa dipakai seharian. Perjalanan berperahu dua jaman pun tak terasa jauh, malahan begitu mengasyikkan. Jika berangkat pagi, cuaca tak terlalu panas, kita bisa melanjutkan tidur di perahu yang bisa diisi sekitar 10 orang itu.

Saat mendekati Pulau Pura, kadang kita akan mendapat suguhan bonus, yakni sekawanan lumba-lumba menyambut perahu yang kita tumpangi. Hewan yang tergolong terpintar di laut itu mendongakkan moncongnya ke atas permukaan laut, lalu menghilang lagi ke dalam air. Benar-benar menggoda!

Dari atraksi itu, tak lama, bibir pantai di sisi barat Pulau Alor pun sudah terlihat. Dari jauh, pesona Pantai Lingal sudah terpancar. Hanya ada pasir putih di sepanjang permukaan pantai yang melengkung itu. Kira-kira panjangnya mencapai tiga kilometer. Airnya yang jernih bergradasi ketika perahu semakin mendekat ke pantai, warna biru semakin pudar hingga benar- benar putih tepat di bibir pantai. Dulunya, pantai ini cuma menjadi persinggahan nelayan untuk berteduh sambil menjemur ikan hasil tangkapan.

Di musim tertentu, di mana ombak begitu tenang dengan bentuk bibir pantai seperti teluk, pantai ini terlihat seperti kolam super besar. Satu-dua tahun belakangan, pantai ini mulai populer dan pelancong
pun berdatangan. Para pemuda Desa Halerman mengutip Rp 50 ribu dari setiap rombongan yang datang. Menurut salah satu pemuda desa yang hanya dihuni belasan keluarga itu, pungutan mereka serahkan untuk dana kas desa.

Perbukitan hijau di sekeliling pantainya yang biru membuat pemandangan kontras Pantai Lingal ini jadi salah satu yang favorit di Pulau Alor. Pantainya sendiri berbentuk seperti teluk kecil, sehingga tidak memiliki ombak yang besar. Untuk menikmati pantai dari sisi yang berbeda, wisatawan bisa mendaki bukit dan menikmati eksotisme pantai Lingal dari ketinggian. Bukitnya tak terlalu tinggi, hanya sekitar 30-an meter dan bisa didaki sekitar 15-an menit.

pantai lingal di Alor dan Batu Bolong
Batu Bolong di Alor


Wisatawan bisa menginap di pantai ini. Warga setempat ada yang menyewakan tenda. Tapi jika tidak ingin di tenda, boleh saja menginap di rumah warga setempat.

Jika puas dengan pantai Lingal dan masih punya waktu, wisatawan bisa mengunjungi sejumlah pantai lain di sekitar pantai tersebut. Sebutlah pantai Pasir Panjang yang landai, berbatasan dengan bukit berpadang rumput. Namun, harus hati-hati jika berenang di Pantai Pasir Panjang. Meski dangkal, gelombang lautnya lumayan kencang.

Ada pulau Kepa, pulau kecil di Barat Laut Alor ini pasir pantainya halus serta lautnya yang biru dan jernih menjadi daya tarik tersendiri. Di pulau ini juga banyak disediakan pondok-pondok wisata khas NTT bagi yang mau menginap di sini. Di sekitar Kepa, banyak juga spot snorkeling maupun diving dengan keindahan alam bawah laut yang cantik.

 Pilihan lainnya adalah pantai Sebanjar, dengan pasirnya yang berwarna putih-pink dan pemandangan pulau-pulau indah di sekelilingnya ini. Bermalas-malasan di pantai pada sore hari sembari menikmati deburan ombak dan pemandangan matahari terbenam adalah sungguh hal yang tak terlupakan. Di sini juga terdapat penginapan yang cukup nyaman.

Atraksi lain di sekitar pantai Lingal adalah bati-batu karang besar di pantai Batu Lobang. Ini istilah masyarakat setempat untuk karang yang bolong. Melihat bebatuan tinggi menjulang dengan bagian bawahnya berlubang karena dihantam ombak terus-menerus.

*****

Melawat Senja di Potato Head, Best Beach Bars 2013

Melawat senja di Potato Head, Pantai Petitenget, Bali.

Melawat senja di Potato Head yang berlokasi di Pantai Petitenget, Kabupaten Badung, Bali. Tempat kongkow dan bersantap dengan desain bangunan mirip kolesium. Pengunjung bisa memilih di dalam, atau di luar ruangan untuk menikmati senja yang asyik.

Melawat Senja di Potato Head

Hal yang kadang sedikit membingungkan ketika berlibur ke Bali adalah memilih satu dari sekian banyak tempat nongkrong. Hampir setiap tempat kongkow di Pulau Dewata mempunyai keunikan tersendiri. Tetapi ada satu yang memiliki daya tarik khusus. Berlokasi di Seminyak, tempat hang-out ini membuat pelancong bisa menikmati wisata seni, panorama mentari tenggelam, dan wisata kuliner. Ya, itulah tawaran dari Potato Head Beach Club.


Terletak di Pantai Petitenget, Seminyak, Bali, tempat ini dimiliki oleh Ronald Akili dan Jason Gunawan, yang menunjuk Andra Matin sebagai arsiteknya. Konsep bangunan yang diusung serupa kolesium modern dengan aksen susunan jendela-jendela lawas dari berbagai tempat di Indonesia. Sungguh unik. Jumlah jendela tersebut juga menakjubkan banyaknya.

Melawat senja di Potato Head Bali, kemewahan kongkow di pantai Bali sembari menikmati matahari tenggalam.
Suasana di dalam Potato Head Beach Bars, Bali. Foto: Dok TL/Arcaya M.


Selain nilai seni arsitektur yang unik, beach club ini dinobatkan sebagai The Best Bars and Beach Bars in The World pada 2013 oleh majalah Condé Nast. Memang nominasi tersebut tidak berlebihan. Atmosfer yang dibangun sangat mendukung dan penataan ruang di lahan seluas 500 meter persegi ini dipikirkan dengan matang. Arena yang terletak agak jauh dari kebisingan jalan raya dan berada persis di pinggir pantai ini seperti mengajak saya memasuki daerah yang mempesona.


Sore itu, sebelum memasuki area utama Potato Head Bar, saya melewati sebuah lorong sempit yang sisi kanan-kirinya ditutupi jendela-jendela beragam warna sampai bagian atap. Setelah tiba di ujung lorong, terhampar pemandangan rumput hijau yang terlihat empuk. Debur ombak pun terdengar. Musik chill-out, kolam renang, gelegak tawa para pengunjung, dan siluetpohon kelapa lengkap dengan awan biru memukau saya.


Ada beberapa tempat yang menjadi incaran saya untuk menikmati senja sore itu. Dari kursi pantai di pinggir kolam renang, lesehan di rumput, bar dengan meja panjang, kursi empuk di area sekitar rumput, hingga bar utama. Namun untuk merasakan kursi pantai di pinggir kolam renang, pengunjung perlu merogoh kocek sekitar Rp 500 ribu. Akhirnya, saya memilih berada di bar utama.
Sebenarnya, beach club ini juga bisa menjadi tempat wisata keluarga. Sebab, ada kolam renang untuk anak-anak dan area yang cukup luas sebagai tempat bermain. Selain itu, Anda bisa memilih turun bermain ke pantai yang eksklusif untuk pengunjung Potato Head.

melawat senja di Potato Head Bali, menyeruput minuman dan mengudap makanan kecil sambil menyaksikan malam datang di pulau Dewata.
Suasana di luar ruang Potato Head Beach Bars Bali. Foto: Dok. TL/Arcaya M.


Apabila Anda ingin mencicipi wisata kuliner yang mengesankan, Potato Head juga menyediakan dua pilihan tempat, yakni Lilin dan Tapping Shoes. Untuk menikmati kuliner dengan meja panjang di tempat terbuka, Anda bisa memilih area Lilin. Menu yang disajikan kebanyakan berupa tapas alias camilan dan masakan khas Asia dengan bahan-bahan makanan dari laut. Sedangkan untuk Tapping Shoes, yang berada di lantai dua, ada sajian Eropa dengan interior yang lebih serius dan mengarah ke suasana fine dining.


Namun tidak berarti Potato Head Bar tak mempunyai makanan andalan. Hidangan yang terkenal di sini adalah Wagyu Beef Burger lengkap dengan kentang goreng, Philly Steak Sandwich, dan Tacos Prawn. Sedangkan untuk minuman cocktail, ada Potato Head Bloody Mary, Majito, Big Bang, dan Kookaburra.


Tetapi saya sedang tidak terlalu ingin bertualang mencoba minuman dan makanan karena tujuan ke sini hanya untuk menikmati senja di Pulau Dewata sembari kongkow dengan teman. Akhirnya, saya memesan Tacos Prawndan bir dingin, lalu mendarat di rumput hijau yang empuk dan segar tanpa alas. Bagi saya hal ini sudah cukup mewah. Kapan lagi saya bisa menikmati senja dan ngobrol dengan teman sambil lesehan di rumput pinggir pantai pulau para dewa?


Alunan musik chill-out dan suara debur ombak membuat senja sore itu sempurna. Setiap hari, selalu ada live performance dari disc jockey internasional. Tidak jarang, para musikus dunia juga diundang tampil di sini. Pernah ada DJ terkenal, Fatboy Slim, mengentakkan musiknya di Pulau Bali, atau suatu kali musikus John Legend tampil di sana.

Matahari sudah memburaikan jingga. Cahaya lampu mulai mengisi ruangan. Tempo musik pun berubah menjadi cepat untuk menghangatkan suasana. Selain buat nongkrong sembari menikmati senja, beach club ini asyik disinggahi ketika malam. Apalagi saat bulan purnama. Jika Anda betah, saat sebelum pandemi, tempat ini buka sampai pukul 2 dinihari. Namun seberapa pun Anda merasa kerasan, jangan nekat berkemah di sini…. Ha ha ha …

Arcaya M./TL/agendaIndonesia

*****

3 Jam Mengarungi Sungai Cijulang

3 jam mengarungi sungai cijulang dengan Tubing Sungai

3 Jam mengarungi Sungai Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, sungguh sebuah kegiatan yang penuh kegembiraan. Relief dinding sungai alami dan lingkungan asri meredakan adrenalin yang bergejolak.

3 Jam Mengarungi Sungai Cijulang

Matahari pas bertengger di atas kepala. Berteduh di saung bambu memang pilihan yang sangat tepat. Apalagi nasi liwet khas Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, yang dinamakan “Jolem” (kejo pelem) sudah terhidang di depan mata. Ehm… benar-benar menggoda. Dalam bahasa Sunda, kejo pelem berarti nasi pulen. Saat disantap, “Jolem” ini memang pulen dan nikmat.

Belum lagi minuman penutup tambahan berupa kelapa muda yang langsung dipetik langsung dari pohonnya, semakin menyempurnakan makan siang saya di hari itu. Setelah istirahat sejenak, kantuk langsung menyergap. Rasanya semakin berat saja mata ini untuk tetap terjaga.

Namun kantuk harus segera lenyap. Saya masih harus mengarungi Sungai Cijulang. Aliran Sungai Cijulang yang melintasi Dusun Pangancraan di Desa Margacinta itu merupakan aliran terusan dari Ciwayang menuju Green Canyon. Belum lama ini dimanfaatkan menjadi obyek wisata arung jeram terbaru, Cijoelang Rafting. “Sungai Cijulang sangat potensial dijadikan obyek wisata,” ujar Kepala Desa Margacinta H. Edi Supriadi.

Mobil berpenggerak empat roda yang saya tumpangi, perlahan tapi pasti, mulai menyusuri jalan desa yang bergelombang. Tubuh saya sempat terguncang. Seakan memulai sebuah petualangan.

Hanya sekitar 15 menit, tibalah saya di posko Cijoelang Rafting. Teman-teman dari Cijoelang Rafting, yang sudah dikabari sebelumnya, menyambut kedatangan kami. Tidak ada pengunjung lain hari itu. Setelah cukup bertegur sapa, saya segera berganti pakaian. Di saat yang sama, mereka menyiapkan life jacket (jaket pelampung), helm, dan ban dalam. Hah, ban dalam? Seingat saya, dulu ketika berarung jeramdi daerah Sukabumi, Jawa Barat, menggunakan perahu karet. Tidak menggunakan ban dalam.

Rupanya tren terus berkembang. Arung jeram kini bisa menggunakan ban dalam untuk arus yang tidak terlalu deras dan jeram yang tidak terlalu ekstrem. “Aktivitas seperti ini dinamakan river tubing. Ada juga yang disebut body rafting. Bedanya, body rafting tidak menggunakan ban,” ujar Ucup Yusup, Koordinator Cijoelang Rafting.

Setelah selesai menggunakan segala perlengkapan, saya bersama teman-teman Cijoelang Rafting mulai menyusuri jalan setapak. Jalan setapak bersemak dan lingkungan yang benar-benar sunyi. Bagaikan sebuah perjalanan memulai sebuah ekspedisi pengarungan sungai sesungguhnya.

Tak berapa lama, kami sudah sampai di bibir sungai. Arus sungai terlihat deras menantang. Satu per satu kami turun ke pinggir sungai dengan berpijak pada batu besar. Air sungai yang sejuk cenderung dingin mulai menyapa. Agak sulit juga rupanya untuk bisa duduk di atas ban dalam yang terapung karena belum terbiasa. Untungnya, teman-teman Cijoelang Rafting sigap membantu.

Wuss… petualangan river tubing pun dimulai. Mengapung dan mengarungi Sungai Cijulang. Pemandangan di sekitarnya sungguh menakjubkan. Serasa mengarungi sungai perawan. Saat menengok ke atas, pohon tropis membentuk kanopi alami. Sedangkan relief dinding sungai begitu eksotik. Pahatan alam nan indah yang terbentuk selama ratusan tahun.

Ketenangan dan kekaguman itu tidak berlangsung lama. Jeram pertama yang dinamai Jog-Jogan sudah menghadang di depan mata. Pemandu langsung mengarahkan saya dan yang lainnya agar tetap berada di jalur dan tidak menghantam batu besar. Byurrr…Jeram pertama terlewati. Adrenalin mulai bergejolak, tapi aneh, malah menimbulkan sensasi riang.

Arus sungai kembali tenang. Pemandu mengajak kami membentuk barisan dengan cara saling mengaitkan kaki satu sama lainnya. Terkadang, kami membentuk lingkaran dengan saling berpegangan tangan. Berputar sembari terapung-apung dan melupakan kepenatan sejenak.

Barisan mulai dipisahkan saat kami akan melewati jeram Kedung Kerti, Leuwi Bunder, dan Kedung Badak. Masing-masing jeram memberi sensasi berbeda. Rombongan berhenti saat tiba di Curug Parung Sombeng. Peserta yang ingin menguji adrenalin lebih diperkenankan lompat dari batu besar di sisi air terjun. Sedangkan yang ingin sekadar menyaksikan dapat bersandar pada dinding sungai. Lokasi ini biasanya dijadikan spot foto menarik.

Sekadar mengingatkan, saat hendak melompat dari ketinggian ini, tali pengaman life jacket yang melewati selangkangan sebaiknya dilepaskan saja. Sebab, jika tidak, tali akan tertarik saat tubuh menyentuh air. Tak terasa, sudah hampir 3 jam kami mengarungi Sungai Cijulang. Sungai perawan yang telah memamerkan pesona keindahannya, sekaligus memicu adrenalin. l

Andry T./P. Mulia/Dok. TL

Kopi Klotok Yogya, Kopi di Kilometer 16

Kopi Klotok 01

Kopi Klotok Yogya adalah ikon baru kuliner kota pelajar ini sepanjang empat-lima tahun terakhir. Sesungguhnya, suguhan kopinya bukan sejenis kopi dari kafe-kafe yang menjual kopi single origin perkebunan tertentu. Namun warung kopi ini menjual “paket lengkap” menikmati kopi.

Kopi Klotok Yogya

Warung Kopi Klotok sendiri lokasinya ada di Jalan Kaliurang di kilometer 16, Pakem, Yogyakarta. Warung jadul bergaya Jawa tersebut jadi hip foto-fotonya ramai diunggah para penikmat kuliner di media sosial berbagi gambar Instagram.

Bangunan joglo khas rumah tradisional Jawa Tengah menjadi daya tarik bagi warung itu. Apalagi, letaknya tepat berada di tepi sawah. Suasana ndeso pun langsung terasa ketika pengunjung datang.

AgendaIndonesia sempat menyambangi Kopi Klotok sebelum masa pancemi tahun lalu. Sesuai tips sejumlah teman, jika datang di akhir pekan atau masa liburan sekolah, kita harus pagi-pagi benar sampai di tempat ini. Dan benar, pukul 07.00, warung tepi sawah itu sudah buka. Puluhan kendaraan pun sudah terparkir di halaman. Bahkan, bus-bus rombongan juga sudah mulai memenuhi jalan masuk warung.

“Ini masih terhitung sepi. Kalau akhir pekan atau libur panjang, jangan harap langsung dapat tempat duduk,” kata Ruli, seorang teman yang sudah jadi pelanggan Kopi Klotok, saat menemani menyambangi warung tersebut.

Waktu terbaik mengunjungi Kopi Klotok memang pagi hari. Menjelang siang, apalagi saat hari libur, pengunjung akan sulit mencari tempat duduk lantaran penuh wisatawan.

Ruli memilih duduk bersila di atas amben kayu di teras belakang, dan langsung  asyik menyeruput kopinya. Tangan kirinya memegang lepek, atau tatakan gelas kopi,  sementara tangan kanannya mendekatkan gelas ke mulutnya. “Aahhh..,” katanya seakan melepas kenikmatan. Hawa sekitar lokasi lumayan sejuk, meski konon tak sedingin 10-12 tahun lalu.

Sesungguhnya datang dan langsung ngopi di warung ini jarang dilakukan pengunjung. Sebab, meskipun nama warungnya Kopi Klotok, kebanyakan pengunjung datang ke sini justru untuk menikmati makan besar yang menjadi signature mereka: nasi putih, sayur lodeh, telur dadar, dan tempe garit. Yang terakhir ini tempe yang proses pembuatannya menggunakan daun jati dan ketika akan digoreng dua sisinya digaris-garis dengan pisau sebelum dicelupkan ke bumbu garam-bawang lalu digoreng kering.

Di warung ini, pengunjung biasanya langsung masuk ke warung melalui pintu kayu yang rendah. Beberapa pengunjung yang cukup jangkung mesti sedikit menunduk jika melewatinya. Dalam filosofi Jawa, hal ini memiliki makna bentuk penghormatan dan sopan-santun tamu terhadap pemilik rumah.

Tiba di ruangan pertama, pengunjung akan langsung menemui sebuah ruangan yang lapang. Di sisi kanan terdapat meja panjang dengan beragam lauk. Ada sayur lodeh, sayur lombok ijo, telur, tempe, tahu, dan masakan rumahan khas Jawa lainnya. Pengunjung bisa langsung memilih.

Menurut Ruli, sayur lodeh adalah favorit pelanggan. Kabarnya, sayur ini sudah habis menjelang sore. Padahal Kopi Klotok sendiri masih buka sampai malam. “Jadi kalau datang malam, hanya kebagian lauk telur tanpa sayur,” tuturnya.

Setelah mengambil makan ala prasmanan, pengunjung akan memilih tempat duduk. Bisa di dalam rumah joglo, di serambi belakang, atau di luar, yakni lesehan di tepi sawah. Orang-orang biasanya berebut tempat di serambi belakang. Sebab, tempat tersebut paling strategis. Sambil makan, pengunjung bisa menikmati hamparan sawah dan pohon-pohon kelapa.

Di dalam rumah joglo itu dipajang ornamen pernak-pernik tempo dulu yang unik. Ada radio lawas, sepeda onthel, dan lampu teplok. Sedangkan bangku dan meja yang digunakan ialah yang tergolong perabot lawasan. Model kursi set babon angrem dengan anyaman rotan ialah salah satu contohnya.

Setelah kelar makan, umumnya pengunjung tak langsung pulang. Mereka akan memesan kopi dan pisang goreng. Dua menu ini adalah andalannya. Kopi yang disajikan ialah kopi hitam. Boleh memilih yang pahit tanpa gula atau manis. Sedangkan pisang goreng akan dihidangkan hangat-hangat.

Suasana pedesaan yang sejuk, kopi hangat ditambah pisang goreng dan jadah, membuat penikmatan kopi semakin sempurna. Kopi Klotok seolah menjawab kerinduan para tamu akan kampung halaman.

Kesederhanaan hingga kejujuran, menjadi suasana yang khas sekaligus ingin diciptakan di Kopi Klotok. Dapur yang perapiannya masih konsisten memakai kayu bakar, penataan pisang-pisang yang digantung memenuhi sekitar para-para, agar pisang lebih cepat matang. Dinding-dinding dapur kehitaman dan berjelaga. “Namun, justru nuansa seperti ini yang sudah tidak bisa ditemukan lagi di kota,” kata Ruli.

Dan di bilik seberang, dua orang barista lincah dan tekun melayani permintaan kopi. Nugraha, salah seorang pengurus Kopi Klotok, menjelaskan bahwa kopi di warungnya adalah kopi dengan penyajian sederhana. Kopi bubuk dimasak dalam panci panas tanpa air. Setelah beraroma sedikit gosong barulah disiram air hingga mendidih. Dari proses tersebut munculah nama klotok yang berasal dari Bahasa Jawa “nglotok” atau mengelupas. Proses mengelupasnya kopi adalah saat air disiramkan ke panci yang lengket dengan kopi yang dimasak tanpa air tadi.

Menu-menu di Kopi Klotok tergolong murah. Satu paket nasi sayur plus lauk dibanderol Rp 12.500. Sedangkan kopi klotok Rp 5.000 per gelas dan pisang goreng Rp 2.500 per porsi. Warung ini buka mulai pukul 07.00 hingga 22.00.

Faktor lain yang menurut Ruli mengatakan menjadi kekhasan Kopi Klotok, di sini ada upaya menciptakan edukasi tentang sebuah kejujuran. Setiap tamu yang datang boleh hilir-mudik di dalam rumah, pergi ke dapur mengambil sendiri makan dan menu lainnya. “Jadi, kita seperti lagi di rumah sendiri. Penyaji dan pengurus Kopi Klotok juga tidak pasang muka curiga, sehingga kami kayak diberi kepercayaan. Kami harus jujur,” jelasnya sambil menyeruput lagi kopi hitamnya.

F. Rosana

*****

Uluwatu Bali, Debur Ombak Di Antara 70 Penari Kecak

Uluwatu Bali, dikenal wisatawan sebagai salah satu magnet dari Kabupaten Badung pulau Dewata ini. Selain tepi lautnya yang memang eksotis, juga ada atraksi tarian rakyat Bali yang berbasis dari cerita pewayangan dengan puluhan orang yang memainkan. Cak, atau kecak, yang dinamis dan atraktif.

Uluwatu Bali

Sekitar 70 pria telanjang dada itu memasuki arena tengah yang dikelilingi tempat dudu para penonton.  Tubuh bagian bawahnya ditutupi kain kotak-kotak hitam dan putih. Ada seutas tali merah di pinggangnya. Para penonton terkesima, semua mata memandan  kumpulan lelaki itu. Tebing yang mengelilingi arena serta debur ombak di bawahnya untuk sementara tidak menjadi pusat perhatian.

Langit masih terang, sekitar pukul 18.00, pertunjukan tari kecak di Uluwatu itu dimulai. Dibuka dengan doa oleh pandita — pemuka agama dalam agama Hindu Bali — yang memercikkan air suci kepada para penari. Setelah itu, baru kelompok pria yang membuat lingkaran dengan bagiannya tengahnya api itu beraksi.Badan setengah tiduran, kemudian duduk kembali tapi kedua lengan dinaikkan ke atas. Sambil bergerak terus, dari bibir mereka terucap satu kata yang terus diulang-ulang dengan cepat dan keras. Cak .. cak … cak … cak…

Langit yang semula terang pun perlahan menggelap. Warna keemasan dan kemerahan pun muncul, memberi efek dramatis pada pertunjukan yang tengah digelar. Para penonton pun semakin larut. Tidak hanya penari kecak yang beraksi. Karena tarian ini dipadu dengan kisah Ramayana, muncul juga Rama dan Shinta, dan tentu juga Hanoman—monyet putih – yang juga menarik perhatian ketika menari di tengah lingkaran api.

Tontonan yang berlangsung selama sejam pun tidak terasa usai, ketika langit sudah gelap. Kebanyakan penonton melemparkan senyum, menandakan mereka puas dan terkesan dengan pertunjukan yang bisa dinikmati dengan tarif sekitar Rp 100 ribu bagi turis lokal dan lebih mahal sedikit untuk turis asing. Karena memadukan pertunjukan dengan latar belakang alami, sebaiknya datang 30 menit sebelum acara dimulai agar mendapatkan posisi tempat duduk yang paling prima. Sebenarnya, menyaksikan tarian ini bisa menjadi akhir dari perjalanan wisata dari Kuta hingga Uluwatu. Biasanya untuk mencapai Uluwatu dari Kuta diperlukan waktu sekitar satu jam. Namun dengan persinggahan ke sejumlah obyek wisata, setidaknya diperlukan setengah hingga satu hari.

Uluwatu Bali di selatan pulau Dewata ini memiliki pantai-pantai yang menarik.
Salah satu pantai di Uluwatu, Kabupaten Badung, dengan hamparan pasir putih yang eksotik. Foto: Dok. unsplash

Berada di paling selatan di Pulau Bali, sebelum mencapai Uluwatu, bisa ditemukan beberapa pantai yang asik disinggahi. Kebanyakan turis mampir ke Pantai Dreamland yang berada di Pecatu, sebelum mengakhiri perjalanannya di Uluwatu. Sebenarnya sejajaran dengan Dreamland, ada beberapa pantai lain. Sebelum Dreamland, bisa temukan Pantai Balangan. Pantai ini merupakan lokasi yang banyak diburu oleh para peselancar. Pantai bisa dicapai dari jalan utama di Ungasan, berada di posisi kanan, bila melangkah dari arah Jimbaran. Dreamland sudah lebih banyak dikenal, dicapai setelah melalui areal Pecatu Graha Indah

Setelah Dreamland, lebih banyak lagi pilihan. Seperti Pantai Bingin – pantai berpasir putih yang berada di selatan Dreamland, sedikit repot menemukannya karena tidak ada tanda berukuran besar. Jalannya tidak terlalu lebar, namun menawarkan panorama pantai yang memukau. Berada satu arah ketika menuju Pantai Padang-padang. Pantai yang juga disukai para peselancar. Pantainya berpasir putih, tapi tidak terlalu landai.

Dari Pantai Padang-padang ini, Pura Uluwatu sudah dekat. Di Uluwatu, sebelum menyaksikan pertunjukan bisa mampir ke pura. Untuk memasukinya wisatawan harus membayar tiket masuk. Tidak hanya mengenal salah satu pura dari enam pura yang paling penting di Bali, tapi juga menikmati alam sekitarnya. Debur ombak yang cukup keras menghantam tebing, dan keindahan tebing-tebing yang sebagian ditutupi tumbuhan hijau.

Uluwatu Bali di Kabupaten Badung memiliki pesona alam yang indah dan atraksi kesenian yang menarik.
Garuda Wisnu Kencana yang berada di kawasan Uluwatu Bali. Foto: Dok. Unsplash

Pura Uluwatu berada di atas tebing curam setinggi 70 meter. Di salah satu sisinya, terlihat juga di bagian bawah pantai dan para pesalancar beraksi. Di sekitar pura ada penghuni khas yakni monyet. Hati-hati, jangan mengundang perhatiannya hingga terkena ulah jailnya.  Obyek wisata lain di Bali Selatan adalah Garuda Wisnu Kencana yang sering disingkat GWK. Taman budaya seluas 240 hektar memiliki sejumlah sarana, terutama untuk panggung teater. Terbuka untuk umum antara pukul 08.00-20.00 dengan tiket masuk yang bervariasi untuk wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara.

Lokasinya di bukit Ungasan, sehingga sebaiknya di awal perjalanan menuju Uluwatu. Selain menikmati alam, dan keindahan mentari terbit dan terbenam, taman budaya ini juga memiliki sederet program. Di antaranya berupa pertunjukan tari,seperti tari kecak, barong, palegongan, dan pertunjukan musik.

Rita N./TL/agendaIndonesia

*****