Kya-kya Surabaya Dibuka Lagi 17 Agustus

Menikmati masa lalu Surabaya di malam hari di antaranya mengunjungi Kya-kya Surabaya.

Kya-kya Surabaya atau lebih dikenal sebagai lokasi wisata pecinan kya-kya akan dibuka kembali oleh Pemerintah Kota Surabaya. Pembukaannya akan dilakukan pada Ulang Tahun Republik Indoesia ke 77 pada 17 Agustus tahun ini.

Kya-kya Surabaya

Wisata Kya-kya di Jalan Kembang Jepun, sehingga terkadang disebut pula wisata Kembang Jepun, pertama kali diresmikan pada 31 Mei 2003. Pembangunan Kya-kya Surabaya awalnya diinisiasi Dahlan Iskan, yang saat ini mempin sebuh grup media di Surabaya. Dengan tujuan awal untuk membangun pusat jajanan (food court) terbesar di Indonesia. Khususnya di malam hari.


Sebagai kawasan pasar malam, Kya-kya Surabaya selalu ramai pengunjung saat itu. Jalan sepanjang 730 meter dan lebar 20 meter itu bisa menampung 200 pedagang, 2.000 kursi, dan sekitar 500 meja. Tidak hanya jajanan, di sana ada pula pedagang yang menjual pernak-pernik khas Tionghoa, hingga lapak ramalan jodoh, karier, dan kesehatan.

Kya-kya Surabaya menjadi salah satu destinasi kuliner malam di Surabaya pada 2003 hingga 2008.
Suasana malam hari saat Kya-kya Surabaya masih buka dulu. Foto: Milik Bappeko.Surabaya.Go.id


Karena dimaksudkan sebagai pusat wisata pecinan, di sana selalu ramai orang berwisata kuliner. Ada pedangan makanan halal dan, tentu saja, ada yang non-halal. Selain itu, ada pula pernak-pernik khas Cina, bahkan peramal-peramal Tionghoa. Lapak peramal ini kono selalu laris, karena banyak yang penasaran.

Sayangnya seiring waktu dan kontrak lokasi, Kya-kya Surabaya meredup setelah lima tahun beroperasi. Pada 2008, tempat ini pun tutup. Ada dua-tiga lokasi yang kemudian mencoba menjadi tempat wisata pecinan, namun Kya-kya memang sebuah fenomena buat ibukota Jawa Timur ini.

Kya-Kya Kembang Jepun ini adalah tempat yang dulunya sangat ramai sebagai pasar malam yang berada di kawasan pecinan di kota Surabaya. Di sepanjang jalan trotoar jalan kembang Jepun berdiri kios kios yang menjual berbagai makanan, baik makanan Tionghoa, maupun berbagai makanan lainnya. Kata “kya-kya” sendiri diambil dari dialek bahasa Tionghoa yang berarti jalan-jalan.

Kembang Jepun Surabaya, sebelum Kya-Kya Surabaya dibuka memang mempunyai akar sejarah yang sangat panjang, sepanjang perjalanan sejarah Surabaya. Banyak pedagang dari pihak asing yang berlabuh di lokasi sekitar Kembang Jepun.

Perjalanan sejarah seakan menorehkan Jalan Kembang Jepun segaris membujur dari timur ke barat kota. Lurus dengan sungai Kalimas, jalan Kembang Jepun lantas menjadi ikon Kota Surabaya yang silih berganti tampilan dengan membawa perannya.

Pada Zaman Belanda, pemerintahan colonial saat itu membagi wilayah ini menjadi dua Kawasan, yaitu Pecinan di selatan sungai Kalimas, dan Kawasan kampung Arab dan Melayu di Utara Sungai Kalimas. Ke dua Kawasan dibatasi oleh Jalan Kembang Jepun Bangsa Belanda sendiri tinggal di Barat Kalimas yang kemudian mendirikan komunitas “Eropa Kecil”.

DI era pemerintahan kolonial Belanda, Jalan Kembang Jepun dulunya disebut sebagai Handelstraat. Handel ini berarti perdagangan dan straat yang berarti jalan. Wilayah ini

kemudian tumbuh sangat dinamis.

Pada zaman pendudukan Jepang lah nama Kembang Jepun menjadi begitu terkenal. Nama Kembang Jepun identik dengan masa itu.

Ketika banyak serdadu Jepang, yang dipanggil warga lokal dengan sebutan Jepun memiliki teman-teman wanita (kembang) di sekitar daerah ini. Pada era di mana banyak pedagang Tionghoa menjadi bagian dari napas dinamika Kembang Jepun, sebuah gerbang kawasan yang bernuansa arsitektur Tionghoa pernah dibangun di depan jalan ini. Kemudian banyak fasilitas hiburan didirikan.

Letak Kembang Jepun atau yang pernah disebut sebagai Kya Kya Surabaya berada di samping Jembatan Merah. Ini tidak jauh dari Kawasan wisata Religius Makam Sunan Ampel.

Setelah sekitar 12 tahun redup, kini pemerintah Kota Surabaya mencoba menghidupkan kembali Kawasan wisata Pecinan ini. Ini seiring dengan pengembangan wisata Kota Tua Surabaya. Kya-kya Surabaya menjadi bagian dari rencana tersebut.

Bagian-bagian kecil yang ada di kawasan Kembang Jepun akan dicoba dioptimalkan, sehingga Agustus nanti bisa buka. Selain dilakukan penataan, kawasan hiburan Kya-Kya juga akan dilengkapi dengan kuliner khas Tionghoa serta hiburan seni dan budayanya. Pertunjukan yang disiapkan ini dikemas dengan konsep ala Pecinan.

Nantinya, akan tersedia alat transportasi becak untuk melayani para wisatawan. Pengunjung akan diantar untuk menikmati rute destinasi wisata malam di kawasan Kya-Kya hingga Kota Tua.

Dalam perencanaannya, nanti kan ada pula becak yang bisa melayani pengunjung rute destinasi wisata dari Kya-Kya ke Jalan Karet dan Jalan Gula. Jadi, selain street food juga ada kesenian yang kita tampilkan. Misalnya pertunjukan Barongsai, Liang-Liong dan musik ala chinese.

Kya-kya Surabaya akan terkoneksi dengan wisata kota tua Surabaya.
Ilustrasi Nasi empal. Foto: Dok. shutterstock

Untuk kuliner, saat ini di Kawasan Kembang Jepun masih ada jajanan seperti Bakwan Pak Di, atau ada pula Sate Gule Kambing Kembang Jepun. Atau jika mau jalan sedikit ke Jalan Kapasan, yang satu jalur dengan Kembang Jepun, ada pula Warung Asrep yang dikenal dengan Nasi Lodehnya atau Nasi Empalnya. Di daerah ini juga ada Rawon Greget.

Jadi jika Kya-kya Surabaya nanti dibuka lagi pada 17 Agustus 2022, jangan lupa agendakan wisata kulinermu ke tempat ini.

agendaIndonesia

*****

4 Satai Leker Khas Lombok

Sate Rembiga di Lombok

4 satai leker khas Lombok ini adakah yang sudah mencobanya? Lombok di Nusa Tenggara Barat mungkin lebih dikenal dengan kuliner ayam Taliwang-nya. Ternyata kuliner di pulau ini tak cuma itu. Mereka juga menyimpan masakan khas berupa sate.

Ada berbagai macam jenis satai. Ada yang dari daging sapi, ayam, satai jerohan, bahkan dari ikan. Mereka jenis kuliner Lombok yang pantas dipertimbangkan untuk dicoba saat berada di Lombok.

4 Satai Leker Khas Lombok

Pedas Manis Satai Sapi

Asap memenuhi Warung Sate Rembiga yang berada di pusat Kota Mataram ini. Daging sapi yang sudah dibumbui bertemu dengan bara api, menyebar wangi yang membangkitkan selera. Ketika satai beralas daun dan piring bambu tersaji pun tidak perlu aba-aba lagi, langsung tandas meski rasa pedas tak tertahan. Beruntung berbaur rasa manis. Paduannya adalah lontong. Bila ditambah plecing kangkung, lidah benar-benar bakal terbakar.

Rembiga merupakan daerah di mana sejumlah penduduknya membuka usaha warung satai. Salah satunya Warung Rembiga milik Ibu Sinaseh yang memulai usahanya 28 tahun lalu. Sebenarnya bumbunya sederhana, yaitu cabai rawit, terasi, bawang putih, garam dan gula, selain bahan utama daging sapi yang dipotong-potong. Ramuan yang pas dan bumbu yang meresap ke dalam daging, itulah yang membikin nikmat. Per tusuk Rp 2.000. Selain satai dan plecing kangkung, ada pula urap dan sop balungan.

Warung Sate Rembiga Utama

Jalan Wahadin Sudirohusodo Nomor 5, Mataram

Buka pukul 09.00-23.00

Bumbu Kacang Plus Santan

Di Taman Udaya, Mataram, yang menjadi tempat nongkrong di malam hari, bisa ditemukan sajian satai lain, yakni satai bulayak. Makannya pun lesehan di bawah pepohonan. Satai ini sesungguhnya khas Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Bahannya berupa ayam atau sapi, terkadang diberi jeroan, yang ditusuk dengan lidi pohon aren.

Yang berbeda dibanding satai dari daerah lain adalah bumbu kacangnya. Kacang tanah yang sudah disangrai, ditumbuk, lalu direbus dengan santan dan bumbu dapur lain sehingga aromanya sedap. Bumbunya antara lain cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kemiri, merica, dan garam. Sapi atau ayam pun sebelum dibakar diberi bumbu seperti ini. Satai pun jadi terasa gurih dan pedas. Paduannya adalah lontong yang dibalut melingkar dengan daun aren. Nah, lontong inilah yang disebut bulayak. Satu porsi Rp 20 ribu, untuk 10 tusuk satai, termasuk bulayak.

Sate Bulayak

Taman Udayana

Jalan Udaya Nomor 4 Mataram

Buka pukul 18.00-24.00

Lembutnya Satai Ikan

Di Kabupaten Lombok Utara, tepatnya Kecamatan Tanjung, ada lagi satai yang khas. Dikenal sebagai satai tanjung, yang tak lain berarti satai ikan. Sebagai daerah pesisir, beragam ikan dengan mudah didapat dalam kondisi segar. Pedagang berjajar di dekat terminal atau pasar. Ada satu wadah tempat potongan ikan yang sudah dibumbui hampir semalaman. “Kadang tidak hanya satu jenis ikan, tapi dua ikan yang dicampur,” kata salah satu pedagang. Umumnya cakalang, tapi bisa juga jenis ikan lain.

Campuran ikan tersebut berwarna kuning, karena ikan yang telah diambil dagingnya itu dicampur dengan santan, merica, bawang putih, dan rempah-rempah lain. Ketika dibakar, aroma sedap langsung menyebar. Satai ikan ini terasa lembut dengan gurih. Harga per tusuk Rp 1.000. Para pedagang berjualan mulai pukul 16.00, dan kadang pukul 18.00 sudah habis terjual. Namun ada pula yang bertahan hingga pukul 21.00. l

Sate Tanjung

Sekitar Pasar Tanjung atau Terminal Tanjung

Jalan Raya Tanjung

Lombok Utara

Buka pukul 16.00-19.00

Satai Campuran Kelapa Muda

Seperti kebanyakan satai di Lombok yang menggunakan bumbu berlimpah. Jenis satai ini bisa ditemukan di rumah makan atau restoran yang menyajikan makanan khas Lombok. Bahannya bisa daging sapi atau ikan laut, semisal ikan tenggiri. Bila menggunakan daging, diolah dengan cara diiris tipis, kemudian direndam bumbu. Sedangkan ikan harus dihaluskan terlebih dulu.

Kemudian, ikan diberi campuran bumbu utama, seperti parutan kelapa muda dan merica, ketumbar, cabai merah, gula, garam, terasi, juga kemiri. Karena sudah kaya dengan bumbu, satai disajikan tanpa bumbu kacang atau sejenisnya.

RM Suranadi

Jalan Taman Wisata Nomor 7

Kecamatan Narmada

Lombok Barat

Buka pukul 11.00-21.00

Rita N./Zulkarnain/Dok. TL

Petik Laut Banyuwangi, Melarung Sejak 1900

Petik Laut Banyuwangi merupakan tradisi para nelayan mengucapkan syukur atas hasil tangkapan mereka. Foto: AntaraFoto

Petik laut Banyuwangi, atau sering pula disebut petik laut Muncar, karena pelabuhan di Banyuwangi itu berada di Muncar, senantiasa ramai. Baik mereka yang terlibat dalam ritualnya, maupun para pelancong yang ingin melihat upacara melepas sesaji ke laut, seraya berucap syukur, berharap rezeki, dan jauh dari mara bahaya.

Petik Laut Banyuwangi

Petik Laut adalah simbol tradisi budaya pesisir nelayan Jawa yang mengandung makna memohon doa sekalius berucap terima kasih dari para nelayan yang memetik, mengambil, atau memperoleh hasil laut berupa ikan.

Petik Laut Banyuwangi melarung sesaji sebagai puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perlindungan dan rezeki yang diberikan.
Melarung githik ke laut. Foto: milik AntaraFoto

Tradisi serupa bisa ditemukan juga di beberapa wilayah pesisir Indonesia dengan istilah dan cara yang beragam. Misalnya saja, Simah Laut di KotawaringinTimur, Kalimantan Tengah, atau Pararakan Laut di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Di Muncar, yang berjarak 35 kilometer dari pusat kota Banyuwangi, Jawa Timur, menurut masyarakat setempat, tradisi petik laut Banyuwangi ini sudah berlangsung sejak masyarakat mendiami Muncar pada 1900. Dan berlangsung hingga kini.

Awalnya, petik laut Banyuwangi digelar dengan hitungan pranata mangsa—penentuan musim menurut kebiasaan pemahaman suku Jawa, khususnya dari kalangan petani dan nelayan. Namun kemudian disepakati dalam hitungan pasti, yaitu setiap tanggal 15 bulan Syura penanggalan Jawa.

Upacara ini mempunyai makna rasa syukur atas rahmat Tuhan dengan berlimpahnya hasil penangkapan ikan. Upacara ini juga harapan untuk perlindungan dari mara bahaya. Kabarnya, Petik Laut Banyuwangi di Muncar termasuk yang paling meriah dari kegiatan sejenis di Jawa. Maklum, Muncar adalah pelabuhan nelayan penghasil ikan terbesar di Indonesia setelah Bagan Siapiapi. Komoditas laut yang dihasilkan antara lain ubur ubur, lemuru, dan tongkol. Umumnya diekspor ke pasar internasional.

Ritual ini biasanya berawal dari Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. Selain warga local, ada wisatawan domestik dan pelancong asing yang datang khusus untuk menyaksikan upacara petik laut.

Kesibukan petik laut sebenarnya sudah berlangsung sejak malam sebelumnya. Masyarakat Muncar melakukan tirakatan di tempat pembuatan sesaji. Tirakatan yang berupa doa bersama bertujuan agar nelayan dijauhkan dari musibah serta diberi kemudahan dalam mencari rezeki.

Di beberapa surau dan rumah juga diadakan pengajian atau semaan. Kegiatan ini berlangsung sampai pagi sebelum githik yang dipersiapkan di rumah pawang kemudian diarak keliling perkampungan nelayan mulai jam 6 pagi dengan diiringi kesenian terbangan dan gandrung.

Githik adalah replika perahu kayu berukuran 5 meter yang di dalamnya berisi aneka sesajen, seperti nasi tumpeng, nasi gurih, nasi lawuh, 44 jenis kue, buah-buahan, kinangan sirih, serta dilengkapi kepala kambing “Kendit”, dan dua ekor ayam hidup. Githik itulah yang nanti akan dilarung ke laut.

Ritual pagi itu dimulai dengan penyelipan pancing emas ke lidah kepala kambing oleh kepala daerah. Hal ini bermakna pemimpin diberi amanah mewakili rakyatnya untuk memohon diberi hasil ikan melimpah.

Petik Laut Banyuwangi dilakukan dengan melepaskan githik yang berisi berbagai sajian.
Githik yang akan dilepaskan ke lautan. Foto: Dok. TL

Setelah itu, githik secara perlahan digotong menuju kapal utama yang bersandar di dekat panggung. Perahu tersebut akan berlayar ke tengah laut mengomandoi ratusan kapal lain. Mulai jenis jukung yang paling kecil hingga slereg yang paling besar.

Pagi itu pengunjung menyemut di sekitar Pelabuhan Muncar.Jumlahnya mungkin ribuan. Maklum, ini menjadi hajatan terbesar di pesisir timur Jawa.

Puluhan kapal sudah bersandar di dermaga. Mereka umumnya dihias dengan meriah, dengan. umbul-umbul warna-warni. Tidak sedikit yang dilengkapi pengeras suara bertenaga besar yang memekikkan irama musik, menggiring warga bergoyang-ria di atas dek kapal. Benar-benar sebuah pesta di tengah lautan.


Kapal-kapal ini akan segera bertolak menuju titik larung yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari pelabuhan. Dalam hitungan menit, hampir semua kapal sudah dijejali penumpang tambahan hingga penuh sesak.

Terdengar musik bertalu-talu, tanda iring-iringan githik yang telah diarak keliling lingkungan perkampungan nelayan sejak pagi tiba di lokasi upacara pelepasan sesaji ini.


Satu kapal bisa disesaki sekitar 100 orang. Beberapa awak memberi isyarat supaya warga tidak berlompatan ke kapal. Jika tak dibatasi, makin banyak warga yang mencoba ikut. Akibatnya bisa berbahaya buat kapal. Meskipun, akhirnya kapal tetap penuh sesak.


Bunyi mesin disel kapal pun menderu membelah ombak. Semua kapal melaju cepat. Semua bersemangat. Tak ada aroma kecemasan dengan kapasitas yang melebihi daya tampung. Yang terlihat hanya pancaran kegembiraan dari semua wajah yang memenuhi setiap jengkal dek.
Ritual dilakukan di sebuah lokasi yang disebut Plawangan, yaitu perairan tenang, dekat Semenanjung Sembulungan. Setelah tiba, semua perahu berhenti sejenak.

Dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak. Belasan warga menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan sesaji. Nelayan juga menyiram air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. Konon mereka mempercayai air tersebut menjadi pembersih malapetaka.


Dari Plawangan, sebagian perahu bergerak menuju Tanjung Sembulungan. Di tempat ini, nelayan melarung sesaji ke dua. Hanya saja jumlahnya lebih sedikit. Konon sesaji ini berkaitan dengan kepercayaan akan “penguasa” kawasan ini.

Rombongan juga mampir di Pantai Sembulungan, tempat terdapat makam Sayid Yusuf, yang dikenal sebagai tetua masyarakat Muncar. Tempat ini dipakai sebagai persinggahan akhir rangkaian upacara Petik Laut.

Pada masa hidupnya, Sayid Yusuf diceritakan menyukai tarian gandrung, sehingga kuburannya disebut dengan makam gandrung. Kesenian gandrung pun dipentaskan di sini. Para penari gandrung terbaik yang telah dipilih menari di sekitar makam diiringi alunan musik gamelan klasik suku Osing.


Menjelang sore, setelah berziarah, upacara disudahi dengan selamatan dan doa. Perahu-perahu kemudian kembali ke Pelabuhan Muncar. Saat berlabuh, beberapa perahu terlihat disiram dengan air laut sebagai bentuk harapan akan berkah dari Shang Hyang Iwak sebagai Dewi Laut.
Petik laut Banyuwangi betul-betul sebuah pesta bagi para nelayan merayakan hasil laut yang menghidupi mereka.

agendaIndonesia

*****

Medan Baru, Legenda Kuliner Sejak 1971

Medan Baru, rumah makan yang legendaris di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Medan Baru, ini nama rumah makan yang pasti bisa menjadi pilihan bagi yang sedang ingin bersantap masakan-masakan tradisional sedap khas Sumatra. Kelezatannya sudah terbilang melegenda, bahkan Presiden Joko Widodo pun mampir dan makan siang di restoran ini.

Medan Baru

Meskipun restoran ini dinamakan Medan Baru, namun secara mendasar makanan-makanan yang tersedia di sini tidak semata berasal dari Sumatra Utara saja. Resep-resep tradisional khas Aceh dan Minang pun juga dapat ditemukan di restoran ini.

Semua bermula dari Ibrahim Abdullah, seorang pria kelahiran Kutaraja yang merantau ke ibu kota untuk mengadu nasib. Sebelumnya, ia sudah pernah bekerja sebagai koki sebuah restoran masakan Padang di Medan, Sumatera Utara.

Saat itu, ia menyadari bahwa di Jakarta belum banyak restoran yang menyediakan masakan otentik dari tanah kelahirannya. Maka pada tahun 1971, ia mendirikan sebuah kedai makan yang kemudian menjadi cikal bakal restoran ini.

Medan Baru adalah restoran yang menunya perpaduan masakan Aceh, Medan, dan Minang.
Tampak depan rumah makan ini seperti restoran Padang, padahal berbeda. Foto: google strees view-kompas

Oleh karena itu, sebagai putra daerah asli Aceh, ia berkeinginan untuk mengenalkan dan mempopulerkan perpaduan masakan Aceh, Minang dan Sumatra Utara yang mungkin belum banyak dikenal khalayak luas. Ternyata, banyak orang yang suka dan bisnis pun berkembang.

Kedainya yang didirikan di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, mulai dibanjiri pengunjung baru dan pelanggan setia. Kini tempat itu telah menjadi restoran yang cukup luas, bahkan memiliki ruang tersendiri kala tamu spesial seperti Presiden Jokowi mampir.

Yang unik, cara pelayanan restoran ini sangat mirip dengan restoran masakan Padang pada umumnya. Makanan-makanan ditampilkan pada etalase di kaca depan restoran, serta pengunjung tinggal masuk dan duduk, sambil menunggu pramusaji membawakan makanannya.

Namun alih-alih makanan ala Padang pada umumnya, yang disajikan adalah beberapa resep khas yang jarang ditemui di restoran lainnya. Salah satu yang menjadi primadona dan paling dicari pelanggan adalah gulai kepala kakap.

Kalau biasanya di restoran lain bagian kepala ikan bukanlah menjadi sajian utama dari sebuah masakan, maka kali ini kepala ikan justru menjadi masakan utamanya. Ikan yang digunakan adalah kakap putih yang dipasok langsung dari Lampung.

Gulai Kepala Kakap shutterstock
Salah saru keistimewaan Medan Baru adalah menu Gulai Kepala Kakap. Foto: DOk. shutterstock

Yang cukup mengejutkan, ternyata kepala ikan merupakan bagian yang begitu sedap untuk disantap. Utamanya adalah bagian pipi serta bibirnya, yang begitu lembut dan kenyal. Bahkan tak perlu dikunyah, bagian tersebut dengan mudah akan lumer di mulut.

Kepala kakap khas Medan Baru tersebut disajikan dengan bumbu gulai dengan paduan warna kuning dan oranye. Untuk membuat makanan ini, bumbunya diracik terlebih dulu dengan bahan baku seperti santan, asam sunti, belimbing wuluh dan cabe.

Setelah bumbu sudah diracik dan matang, barulah kepala ikan dimasukkan dan didiamkan selama kurang lebih setengah jam. Setelahnya, kepala ikan dikeluarkan dan baru akan dicelupkan lagi sebelum dihidangkan, agar tidak menjadi hancur dan lebur dengan bumbu.

Uniknya, menu gulai kepala kakap di Rumah Makan Medan Baru ini terbagi berdasarkan ukurannya, yakni kecil, sedang dan besar. Semakin besar ukuran kepalanya, semakin lama pula proses memasaknya. Biasanya, ukuran kecil dan sedang adalah yang paling laku dan cepat habis.

Selain itu, masakan otentik yang terkenal dari restoran Medan Baru ini adalah burung punai gorengnya. Sejatinya, burung punai merupakan salah satu spesies burung merpati yang habitatnya banyak ditemukan di Sumatra Barat.

Yang menarik, meskipun berukuran kecil tetapi daging burung punai ini sangat lezat dan mirip seperti daging ayam. Tekstur dan serat dagingnya yang lembut membuatnya terasa empuk di mulut, dan setelah matang dimasak ada sensasi rasa gurih yang unik di lidah.

Rumah Makan Medan Baru Burung Punai
Menu andalan lain rumah makan ini adalah burung Punai goreng.

Cara memasaknya hampir mirip seperti memasak ayam, yaitu dengan diungkep bersama bumbu racikan yang terbuat dari rempah seperti kunyit, cengkeh dan pala. Setelah diungkep selama sekitar satu jam, burung baru digoreng jika akan disajikan.

Sebagai catatan, menu-menu seperti gulai kepala kakap dan burung punai goreng baru akan keluar setelah dipesan. Menyantap makanan-makanan tersebut memang dianjurkan saat masih hangat, sehingga lebih terasa nikmat.

Sebagai teman makan, restoran ini juga menyediakan menu pelengkap lain seperti sayur daun pepaya, sambal merah, sambal asam udang, dan lain lainnya. Menu minuman seperti es timun dan jus terong belanda juga tergolong unik.

Restoran ini bahkan juga menyediakan sop buntut yang cukup berbeda dari masakan sejenis yang ditawarkan restoran lain. Kuah yang terbuat dari tomat yang direbus hingga lebur terasa kental dengan rasa asam dan gurih yang sedap, ditambah daging buntutnya yang empuk membuatnya menarik untuk dicoba.

Untuk urusan harga, bisa dibilang harganya tidak terlalu mahal dan cukup komparatif dibanding restoran masakan Padang atau sejenisnya. Burung punai goreng misalnya, satu porsinya dibandrol seharga Rp 25 ribu. Atau sop buntut yang harganya Rp 75 ribu.

Adapun harga gulai kepala kakap disesuaikan berdasarkan ukurannya. Untuk ukuran kecil dihargai Rp 150 ribu, ukuran sedang Rp 250 ribu, dan ukuran besar Rp 360 ribu. Sedangkan menu minuman seperti es timun dihargai Rp 21 ribu, serta jus terong belanda Rp 31 ribu.

Berkat kesuksesan usahanya, sejak 1996 Ibrahim mampu membuka cabang-cabang lainnya. Saat ini terdapat dua cabang Medan Baru lainnya, yang terletak di kawasan Sunter dan Puri Kembangan.

Masing-masing cabang kini merupakan restoran yang cukup besar yang mampu menampung ratusan pengunjung. Tiap bangunan berformat serupa ruko yang memiliki dua hingga tiga lantai, dengan ruangan-ruangan yang dibagi untuk yang merokok dan tidak merokok.

Sehari-harinya, restoran ini mampu menjual sekitar 1.000 ekor burung punai dan 300 kepala kakap. Tak hanya ludes disantap pengunjung yang ramai berdatangan, pesanan-pesanan dari luar restoran pun kerap deras berdatangan.

Maka dari itu, bagi yang tertarik untuk mampir disarankan untuk datang saat waktu makan siang. Salah satu kebijakan restoran ini adalah hanya memasak sekali untuk sehari, sehingga saat malam hari kadang-kadang beberapa menu sudah habis.

Rumah Makan Medan Baru buka setiap hari dari jam 09.00 sampai jam 21.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (021) 3844273 untuk cabang Pasar Baru, (021) 6404105 untuk cabang Sunter, dan (021) 5806207/5806208 untuk cabang Puri Kembangan.

Rumah Makan Medan Baru

Jl. Raya Krekot Bunder no. 65, Jakarta Pusat

Jl. Griya Agung no. 62, Komplek Griya Inti Sentosa Blok N3/18, Jakarta Utara

Jl. Pesanggrahan no. 168 D-E, Jakarta Barat

agendIndonesia/Audha Alief P.

*****

Keraton Cirebon dan Jejak Raja 1 Dari Wali Sanga

Keraton Cirebon dan jejak Wali Sanga

Keraton Cirebon memiliki sejarah yang sangat panjang. Ia tak cuma warisan budaya, namun juga jejak dari penyebaran agama Islam di wilayah barat pulau Jawa.

Keraton Cirebon

Suatu siang di bangsal Pesambangan, kompleks makam Sunan Gunung Jati, Gunung Sembung, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Suara orang melafalkan “La Ilaha Ilallah” menggema. Mereka duduk bersila, menghadap ke arah pintu Lawang Gedhe, lurus ke arah kuburan Sunan Gunung Jati di puncak gunung. Mereka percaya, roh Sunan Gunung Jati yang dimakamkan di sana, dapat membantu mendekatkan diri dengan Tuhan, memberikan berkah, dan melapangkan jalan hidup. Sementara ribuan peziarah lain, membaca Al Quran, bersedekah, juga berdesak-desakan antre untuk menabur bunga, berbaur dengan ratusan pengemis dan para juru kunci makam.

Tak hanya untuk berwisata dan beribadah, tapi mereka juga berharap mendapat karomah obat mujarab bagi yang sakit. Jadi ditaruh-lah satu botol air di depan pintu Lawang Gedhe, dengan harapan, selama ritual doa berlangsung, air di dalam botol itu akan mendapatkan limpahan energi spiritual. Sehingga kalau diminum, akan memberi kesembuhan.

Sunan Gunung Jati (1478-1568), atau Syarif Hidayatullah, yang mereka ziarahi itu adalah wali paling berpengaruh di wilayah barat Pulau Jawa ini. Ia juga pendiri dan raja pertama Kasultanan Cirebon. Kompleks makam seluas lima hektare itu telah berusia lebih dari enam abad. Namun wisatawan hanya diizinkan berkunjung sampai bangsal Pesambangan, di depan pintu Lawang Gedhe, di pintu keempat.

Yang menarik, banyak juga keturunan Cina yang datang berziarah. Mereka berdoa, membakar hio, dan bersedekah kepada para pengemis di sekitar lokasi. “Salah satu istri Sunan Gunung Jati, yang bernama Ong Tien Nio, adalah putri kaisar Yung Lo dari Cina. Jadi kehadiran warga Cina ke sini untuk menziarahi leluhur mereka juga,” ujar juru kunci permakaman Sunan Gunung Jati. Para peziarah pribumi berdoa di depan pintu Lawang Gedhe, sedangkan peziarah Cina berdoa dan membakar dupa di bilik depan pintu Lawang Merdhu.

Di dalam kompleks juga terdapat Masjid Dog Jumeneng, atau Masjid Agung Sunan Gunung Jati, yang berkapasitas 3.000 orang. Masjid ini dulu dibangun orang-orang Keling atau India Tamil setelah mereka takluk dalam usaha penyerangan yang gagal terhadap kekuasaan Sunan Gunung Jati. Terdapat pula Paseban Besar, tempat menerima tamu; Paseban Soko, tempat musyawarah; Gedung Jimat, tempat penyimpanan guci-guci keramik kuno dari era Dinasti Ming, Cina, juga keramik-keramik gaya Eropa, khususnya Belanda.

Tur ke Cirebon memang identik dengan berziarah ke situs-situs peninggalan Sunan Gunung Jati. Tak hanya kompleks makamnya di Gunung Sembung, tapi juga berbagai situs peninggalannya yang tersebar di seantero Cirebon. Ini memang tak lepas dari sejarah Cirebon. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu karya besarnya, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005), mengisahkan, Cirebon muncul dalam arus utama sejarah Nusantara baru sejak masuknya Islam yang dibawa pedagang pribumi. Di masa kejayaan Hindu, Cirebon kurang penting. Cirebon masuk peta sejarah tak lepas dari kisah dan peranan Sunan Gunung Jati. Jejak-jejak wali penyebar ajaran Islam itulah yang kini menjadi tujuan ziarah ribuan wisatawan. l

Obyek Wisata Pilihan

Keraton Kasepuhan

Memiliki arsitektur perpaduan Sunda, Jawa, Islam, Cina, dan Belanda, Keraton Kasepuhan merupakan istana tertua di Cirebon. Didirikan pada 1529 oleh Pangeran Mas Mohammad Arifin II, cicit Sunan Gunung Jati. Ada banyak bangsal dengan fungsi masing-masing. Di antaranya bangsal Prabayaksa, dindingnya dibangun dari keramik Dinasti Ming, Cina, tahun 1424 dan keramik Delf Blue dari Delf, Belanda, 1745. Museum Keraton Kasepuhan menyimpan aneka koleksi bernilai tinggi.

Keraton Kanoman

Didirikan pada 1588 oleh Sultan Kanoman I atau Sultan Badridin. Museum keraton ini menyimpan banyak peninggalan Sunan Gunung Jati di antaranya kereta Paksi Naga Liman dan Paksi Jempana, yang dulu dipakai langsung oleh Sunan Gunung Jati.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Tak jauh dari Keraton Kasepuhan, di Alun-Alun Cirebon, terdapat masjid keramat dan salah satu masjid tertua di Jawa yang dibangun pada 1489 oleh Wali Songo. Masjid ini mempunyai bentuk atap limasan dan di atasnya tidak dipasang mahkota masjid.

Petilasan Sunan Kalijaga

Salah satu Wali Songo ini pernah menjejakkan kaki di Cirebon. Tepatnya di barat Sungai Sipadu, di Jalan Pramuka, Desa Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Dikenal juga sebagai Taman Kera. Menurut kepercayaan, Sunan Kalijaga pada abad ke-15 pernah bertapa dan tinggal di sana untuk turut membantu Sunan Gunung Jati dalam mendirikan Kerajaan Cirebon.

Makam Syekh Siti Jenar

Makam sosok kontroversial dalam sejarah Wali Songo yaitu, Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang, dipercaya berada di Desa Kemlaten, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Tak jauh dari situs petilasan Sunan Kalijaga, yang merupakan salah satu musuh besarnya. Makam itu sederhana, hanya berupa satu cungkup kuburan 180 x 90 sentimeter yang dipayungi kelambu putih.

Kelenteng Dewi Welas Asih

Di Cirebon juga terdapat kelenteng Dewi Welas Asih atau Tiau Kak Sie, yang merupakan kelenteng tertua dan tempat penziarahan masyarakat keturunan Cina. Dibangun pada 1595, kelenteng berada di Jalan Kantor Nomor 2, Desa Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Tak jauh dari wilayah Keraton Kasepuhan. Terdapat sebuah jangkar sepanjang dua meter yang dipercaya sebagai jangkar bekas peninggalan armada Laksamana Cheng Ho, yang pernah berkunjung ke Cirebon sekitar 1430-1433.

Trusmi, Sentral Batik

Sekitar lima kilometer dari pusat kota, terdapat Kampung Trusmi, Kecamatan Weru, yang terkenal sebagai pusat batik dan cendera mata Cirebon. Kehadiran Trusmi tak lepas dari jejak Sunan Gunung Jati. Ki Gede Trusmi adalah pengikut setia Sunan Gunung Jati pada abad ke-16, yang menyebarkan Islam sembari mengajarkan seni membatik kepada warga setempat.

Dari Jakarta

Ke Cirebon, bila sembari mampir selama perjalanan, memang asyiknya membawa kendaraan sendiri. Tapi bila ingin beristirahat sepanjang jalan, bisa pilih kereta api. Ada cukup banyak pilihan kereta dan waktu keberangkatan. Misalnya, Cirebon Ekspres seharga Rp 90 ribu, hingga yang bertarif Rp 300 ribu-an, seperti Gajayana, Bangunkarta, Sembrani, dan Argo Anggrek Malam. Lama perjalanan mulai 2,5 jam.

Wahyuana/Tony H./Dok. TL

Dolan Ke Malino, 5 Atraksi Asyik

Dolan ke Malino Highlands dan menikamti sejumlah atraksi menarik.

Dolan ke Malino di Sulawesi Selatan, selain menikmati hawa sejuk pegunungan, wisatawan juga bisa asyik dengan sejumlah atraksi yang ada di sini. Mulai dari menyruput teh langsung dari perkebunan teh di kawasan ini, juga menikmati pemandangan alamnya yang indah.

Dolan Ke Malino

Sulawesi tidak hanya memiliki pemandangan bawah laut yang menakjubkan, pulau ini juga disebut-sebut sebagai surganya wisata dataran tinggi. Pesona alam dataran tinggi Sulawesi yang paling fenomenal adalah Malino Highlands.

Malino Highlands terletak di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Untuk mencapai destinasi ini wisatawan memerlukan waktu kendara 2-3 jam dari Kota Makassar, dengan jarak tempuh sekitar 80 kilometer.

Perkebunan Teh Malino Kemenparekraf
Ataksi utama di Malino Highlands tentu saja adalah menikmati alah satu tek kualitas terbaik. Foto: Kemenprekraf

Meskipun terdengar cukup jauh, namun wisatawan yang berniat mengunjungi atau dolan ke Malino Highlands tidak akan kecewa selama di perjalanan. Pasalnya, jalur menuju Malino Highlands ini didominasi dengan panorama cantik khas dataran tinggi Makassar.

Secara geografis, Malino Highlands berada di ketinggian 1.200 mdpl. Jika ditotal, luas wilayah Malino Highlands mencapai 200 hektar. Di sini wisatawan dapat menikmati panorama hamparan perkebunan teh nan luas dengan udara sejuk khas pegunungan. Karena keindahannya, banyak pihak yang memasukkan dolan ke Malino Highlands sebagai salah satu lokasi yang cocok untuk relaksasi.

Racikan Teh ala Malino Highlands

Menurut cerita masyarakat setempat, area kebun teh di Malino Highlands dulunya memiliki luas 900 hektare, dan bisa menyuplai teh ke seluruh daerah Sulawesi. Meski saat ini areanya menyempit, namun teh Malino tetap menjadi komoditas teh unggulan di Indonesia.

Bahkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, menyebutkan jika teh dan kopi ala Perkebunan Teh Malino merupakan salah satu teh terbaik di dunia.

Bagi wisatawan menyeruput teh saat berwisata dolan ke Malino Highlands memang tidak boleh dilewatkan. Pasalnya, diterpa udara dingin, kehangatan teh bisa menjadi obat paling ampuh untuk memberikan kenyamanan pada tubuh.

Tak perlu bingung, di destinasi wisata ini terdapat beberapa kafe yang menyajikan teh-teh terbaik khas Malino. Wisatawan dapat mencoba berbagai varian teh tersebut ditemani dengan kudapan khas setempat. Selain itu, wisatawan pun bisa membeli teh khas Malino sebagai oleh-oleh dolan ke Malino.

Malino tidak hanya menyuguhkan keindahan khas perkebunan teh saja. Destinasi wisata ini juga memiliki beragam wisata lainnya yang tidak kalah menarik. Beberapa jenis daya tarik wisata yang berada di wilayah Malino Highlands.

Wisata Air Terjun

Tidak jauh dari lokasi perkebunan teh wisatawan bisa menikmati keindahan dua air terjun sekaligus. Air terjun tersebut adalah Air Terjun Takapala dan Air Terjun Ketemu Jodoh. Masing-masing berjarak 600 dan 800 meter menyusuri jalan menurun dari puncak perkebunan teh Malino.

Taman Bunga Malino

Masih berada di kawasan Malino Highlands, wisatawan yang dolan ke Malino bisa menikmati bunga warna-warni yang cantik memanjakan mata. Lokasi ini disebut dengan Taman Bunga Malino. Bukan sekadar taman bunga biasa, lokasi ini juga menjadi sentra penelitian tanaman bunga yang dijadikan komoditi ekspor.

Dolan ke Malino selain menyruput tek juga menikmati alam yang indah.
Trek di kawasan perkebunan bisa dipakai untuk bersepeda Foto: dok. shutterstock

Kawasan Hutan Pinus

Seperti yang sempat disinggung di awal, Malino Highlands dikelilingi oleh panorama hutan pinus nan eksotis. Keindahannya membawa nuansa magis yang menenangkan bagi wisatawan yang datang untuk berekreasi. Deretan pohon pinus ini bisa dinikmati tidak jauh dari lokasi perkebunan teh Malino Highlands.

Wisata Memacu Adrenalin

Selain destinasi wisata di atas, pihak pengelola Malino Highlands juga menyiapkan beragam atraksi wisata yang bisa dinikmati oleh pengunjung. Atraksi wisata ini meliputi beragam aktivitas seru yang didesain khusus untuk wisatawan yang ingin memacu adrenalin.

Aktivitas ini berupa paralayang, menunggang kuda, bungee jumping, trampolines, cross country running, bersepeda, taman satwa, outbond, jalur tracking, hingga teropong untuk melihat benda-benda angkasa. Di lokasi ini juga terdapat mini zoo yang dilengkapi dengan berbagai koleksi satwa.

Malino Highland malinohighlands com
Trekking dan bersepeda bisa menjadi pilihan.

Untuk pengunjung yang ingin bermalam di area Malino Highlands tersedia berbagai akomodasi penginapan. Lengkapnya fasilitas di destinasi ini tidak bisa dilepaskan dari upaya pemerintah daerah setempat untuk mengembangkan potensi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Malino.

Jadi, tertarik menikmati pemandangan dan suasana khas perkebunan teh Malino?

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Kepulauan Mentawai Dan 72 Titik Surfing

Untaian 213 pulau eksotik di mentawai dengan pasir putih dan tarian ombak.

Kepulauan Mentawai mungkin ramai diperbincangkan orang saat gempa bumi 2019 lalu. Sejatinya, kepulauan ini sudah menjadi buah bibir banyak orang karena ombak lautnya. Ia menjadi salah satu spot pilihan peselancar dunia di Indonesia. Selain G-land di Banyuwangi, Jawa Timur.

Kepulauan Mentawai

Masyarakat Mentawai, dan sejumlah peselancar, dengan berani menyebut Kepulauan Mentawai sebagai King of Surfing Spot di Indonesia. Mereka menunjuk sejumlah referensi dari majalah surfing internasional menyebutkan tantangan gulungan ombak di perairan Mentawai sebagai kelas dunia.

Kabupaten Mentawai di Provinsi Sumatera Barat ini terkenal sebagai salah satu lokasi surfing terbaik di dunia sejak 1993. Kepulauan ini dikunjungi sedikitnya empat ribu peselancar asing setiap tahunnyan pada musim ombak, yakni mulai Maret hingga September. Terdapat 72 spot ombak surfing di sini. Dua titik ombak, yang dinamai oleh para peselancar sebagai spot Lances Right dan Macaronies, disebut-sebut sebagai 10 titik terbaik di dunia. Ombaknya selalu konsisten.

Sejumlah peselancarprofesional menuturkan, ketinggian ombak di Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan mencapai 4 meter dengan pecahan gelombang enam kali. Ada 72 titik surfing yang menjadi favorit para peselancar dunia dari Australia, Selandia Baru, Jepang, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Amerika Latin, dan lain-lain.

Setiap Musim surfing,
yakni Maret-September, ribuan peselancar
datang via Padang ke Desa Tuapejat, Pulau Sipora. Jumlahnya lebih banyak wisatawan asing dibandingkan wisatawan domestik. Perbandingannya lebih dari 7.000 wisatawan asing per tahun, sedangkan turis domestik berkisar 2.000 orang.

Ada dua jalur untuk menuju Mentawai. Pertama jalur laut. Selama ini ada Kapal Cepat MV Mentawai yang berangkat dari pelabuhan laut kota Padang ke Pulau Sipora. Jadwal kapal ini tiga kali sepekan dengan daya tampung 200 penumpang untuk satu trip. Dengan tarif tiket sekitar Rp 250-300 ribu per orang, perjalanan menuju Sipora sekitar 3 jam. Bisa pula menggunakan jalur udara dari bandara Minangkabau di Padang menuju Bandara Rokot di Sipora. Sayangnya tiket lebih mahal dan jumlah maskapai dan jadwalnya lebih terbatas.

Penginapan atau akomodasi berupa resor dan homestay juga bermunculan di Mentawai. Sayangnya, masyarakat setempat memang belum banyak berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi yang berkenaan dengan bidang pariwisata. Dari total 30 resor, 50 persen di antaranya milik asing. Masyarakat lokal lebih banyak memanfaatkan bisnis turunannya seperti warung makan dan penyewaan kendaraan bermotornya.

Ada juga sejumlah wisata
minat khusus lain yang tersedia
di Mentawai, seperti fishing di 43 titik, trekking di Desa Madobak Hutan Taman Nasional Siberut, dan mengamati satwa penghuni hutan bakau. Sisi kebudayaan
juga menyajikan kepercayaan tradisional Sabulungan yang berbasis animisme dan budaya tato di kalangan Sikerei (tabib), yang telah ada sejak 1.500 sebelum Masehi atau termasuk yang tertua di dunia.

Masyarakat Mentawai memang sangat dekat dan menghormati alam sekitar mereka. Mereka mempercayai ada tiga roh yang mereka percaya melindungi kehidupan alam Kepulauan Mentawai. Ketiganya ialah Tai Ka Manua sebagai penjaga langit, Tai
 Ka Bagat Koat sebagai penjaga laut, dan Tai Ka Leleu sebagai penjaga hutan dan pegunungan. Dalam praktek kehidupan sehari-hari, peraturan tidak tertulis melarang penduduk Mentawai menebang pohon sembarangan. Penebangan pohon harus melalui ritual khusus. Membuang sampah atau kotoran manusia ke sungai juga hal yang tabu.

Dalam kepercayaan tradisional Mentawai, pohon, sungai, dan seluruh isi alam adalah kehidupan yang patut dihormati. “Penghormatan terhadap kehidupan alam ini yang membuat sungai-sungai di Siberut masih terjaga kejernihannya,” ujar seorang warga lokal. Jika terjadi ketidakseimbangan antara ketiga kehidupan alam tersebut, masyarakat setempat percaya salah satu roh penjaga dapat menunjukkan kemarahannya.

Dinas Pariwisata setempat juga tengah mengembangkan paket Desa Wisata di Madobak dan Simatalu, bagian Barat Pulau Siberut, yang menjadi domisili suku asli Mentawai. Kedua desa itu tengah diusulkan sebagai kawasan konservasi budaya. Paket wisata lain yang juga dirancang adalah wisata herbal karena banyak tanaman herbal di Hutan Taman Nasional Siberut.

Pulau Siberut menjadi satu-satunya pulau di Mentawai yang masih didiami sikerei atau tabib atau ahli pengobatan tradisional. Uma atau rumah tradisional, tempat kediaman sikerei beserta keluarganya juga telah diusulkan kepada UNESCO menjadi warisan budaya dunia. Di uma ini, sikerei melakukan segala aktivitas kehidupannya, seperti menggelar upacara kelahiran dan kematian, pertunjukan tarian budaya, membuat tato di tubuh, mengukir gigi, dan lain-lain

Di jalur trekking di Taman Nasional Siberut, turis bisa melihat langsung satwa endemik, seperti monyet, tupai, musang, tikus, 150 jenis burung termasuk burung hantu, ular, kadal, kura-kura, kodok dan serangga. Sedangkan flora di dalam taman nasional ialah jelutung, gaharu, anggrek, rotan, dan bunga bangkai.

Hampir seluruh wilayah Mentawai memiliki potensi wisata. Jika satu wilayah tidak memiliki gulungan ombak yang menantang, masih ada pantai berpasir putih, taman laut di Teluk Pokai dan Teluk Kaurai, hutan mangrove,
air terjun, dan perbukitan.

Pantai Mapadeggat salah satu pantai yang indah di Pulau Sipora. Pantai hanya jarak 6 km dari Dermaga Tuapeijat. Pantainya panjang dengan pasir yang putih. Sangat alami dengan barisan pohon kelapa yang menambah keindahannya. Di sini kita bisa berenang, snorkeling atau sekadar belajar surfing.

Meski dibalut dengan keterbatasan, penduduk
dan segenap pemangku kepentingan di Mentawai tetap menyambut terbuka seluruh turis lokal dan asing dengan keramahtamahannya.

agendaIndonesia.com

Waterfront Bajo, 1 Ikon Baru Labuhan Bajo

Waterfront Bajo menjadi ikon baru wisata di Labuhan Bajo, Manggarai Barat, NTT.--Fptp Kemenparekraf

Waterfront Bajo menjadi ikon baru di Labuhan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Ini merupakan salah satu dari program penataan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo. Saat ini infrastrukturnya telah rampung dibangun, siap digunakan dan telah dilengkapi dengan fasilitas kelas dunia dan berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Waterfront Bajo

Banyak wisatawan lokal mengaku kagum dengan pembangunan Waterfront City Labuan Bajo. Selama ini, mereka hanya melihat bangunan megah berkelas dunia tersebut di televisi dan internet. Kini, warga Labuan Bajo dan sekitarnya, bisa melihat langsung tempat yang indah nan megah di Labuan Bajo.

Waterfront Bajo juga menjadi hub bagi mereka yang ingin mengunjungi Pulau Padar.
Pukau Padar sebagai salah satu destinasi ketika wisatawan mengunjungi Labuhan Bajo. Foto: shutterstock

Sejak rampung pembangunan Waterfront City atau kini juga sering disebut Waterfront Bajo  di Labuan Bajo tempat itu menjadi magnet baru bagi warga dan wisatawan. Terlebih setiap sore hari, tempat yang disebut sebagai titik nol kota Labuan Bajo itu selalu dipadati wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Para wisatawan tampak berfoto di atas tangga-tangga Waterfront dengan latar belakang pantai dan gugusan pulau-pulau mungil di sekitar kota Labuan Bajo.

Sore hari saat menjelang matahari tenggelam, pelabuhan Bajo dengan latar pulau-pulau kecil seperti Pulau Bajo atau pulau Monyet. Sungguh pemandangan yang ikonik.

Ada juga, misalnya, wisatawan yang datang untuk sekadar nongkrong santai bersama keluarga dan kerabat. Mereka duduk-duduk santai sambil menunggu saat matahari tengggelam seraya menikmati kopi khas Manggarai. Ini banyak dijajakan penjual kopi keliling.

Wajah baru Pantai Marina Bukit Pramuka ini memang menjadi magnet baru bagi warga dan wisatawan, selalu ramai pengunjung apalagi di saat sore hari. Bukannya tanpa alasan, kota pinggir pantai ini adalah titik nol kota Labuan Bajo yang tiap harinya penuh dengan aktifitas seni dan promosi UMKM yang dapat mengembangkan pariwisata dan perekonomian Labuan Bajo.

Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Shana Fatina menyatakan, adanya wisata baru tersebut sebagai satuan kerja di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (Flores) memegang fungsi koordinasi lintas dalam rangka mempercepat pembangunan pariwisata di Labuan Bajo.

Badan Otoritas Labuan Bajo dan Flores (BOLBF) bersama beberapa lembaga dan pemangku kepentingan telah merampungkan pembangunan Waterfront City pada Februari 2022 lalu. Waterfront City Labuan Bajo terdiri dari lima zona.

Terdapat lima zona yang bisa dikunjungi dari mulai kulineran, jalan santai, nonton pertunjukkan seni, hingga cinderamata yang unik semua ada disini. Ke limanya yaitu Zona 1 (Bukit Pramuka) sebagai tempat untuk pejalan kaki; Zona 2 (Kampung Air), berupa zona terbuka dengan tema Tangga Bajo; Zona 3 (dermaga, plaza dan ruang publik), Zona 4 (Marina dan bagian dari plaza hotel), dan Zona 5 (struktur kantilever).

Setiap zona akan dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung lainnya. Satu yang menjadi sorotan adalah pembangunan Tourist Information Center (TIC) yang berada di Zona 4. Bekerjasama dengan Kementrian Perhubungan, TIC ini dibangun dan dikelola bersama guna membantu pengunjung yang datang dalam pencarian informasi terkait pariwisata di Labuan Bajo.

Pembangunan Waterfront City Labuan Bajo sangat mengutamakan keterlibatan penduduk sekitar. Misalnya saja sejak awal mula mendesain Zona 2 dan 3 yang dibangun di Kampung Air, BPOLBF berembuk dengan masyarakat setempat agar pembangunan ini sesuai dengan ekspektasi mereka. Selain itu, Kampung Air juga akan menjadi wilayah heritage (tradisi) dan beberapa rumah di sana akan direnovasi menjadi homestay, kios dan kafe yang akan dibina langsung melalui program BPOLBF.

Waterfront Bajo dibangun menjadi ikon baru dari Labuhan Bajo.
. Puncak Waringin sebagai creative hub di Labuhan Bajo. Foto: Shuttestock

Di dekat waterfront Bajo pemerintah juga membangun creative hub Puncak Waringin. Dibangun di atas lahan seluas 1700 meter persegi, creative Hub Puncak Waringin terdiri dari dua bangunan utama. Pertama Rumah Tenun dan kedua Rumah Souvenir.

Bangunan Rumah Tenun terdiri dari area kios kuliner, hingga berbagai workshop subsector kriya. Sementara Rumah Souvenir adalah sebuah bangunan yang terdiri dari ruang pameran sekaligus menjual cindera mata karya pelaku ekonomi kreatif lokal.

Waterfront Bajo adalah ruang publik. Jadi siapapun boleh menggunakan area waterfront untuk aktivitas, baik itu aktivitas dari komunitas dan bisa diisi oleh event-event selama mendapat izin dari pihak pengelola waterfront, menjaga kebersihan, dan menjaga segala fasilitas yang dibangun tersebut. Sebagai bangunan yang didesain sebagai ruang publik, BPOLBF bersama kementerian dan lembaga terkait berupaya untuk selalu melibatkan masyarakat lokal dan mengenalkan salah satu bangunan ikonik Labuan Bajo itu ke dunia.


Dengan hadirnya Waterfront City, Shana berharap Labuan Bajo bisa menjadi destinasi wisata yang dapat memberikan pengalaman penuh tentang Labuhan Bajo dan Nusa Tenggara Timur melalui berbagai pilihan wisata alam, budaya dan aktivitas lainya. Waterfront City Labuan Bajo merupakan salah satu simbol kesiapan BPOLBF untuk pariwisata yang lebih baik di Nusa Tenggara Timur sebagai Destinasi Super Prioritas.

agendaIndonesia

*****

Keliling Asia Afrika di 1 Lokasi Bandung? Wow …

Keliling Asia Afrika dalam 1 hari di kota Bandung

Keliling Asia Afrika bisa dinikmati dalam satu hari dan tak perlu jauh-jauh lompat antar-negara, cukup datang ke Bandung. Di ibu kota Jawa Barat ini sejak 8 Desember 2019 punya sebuah spot wisata menarik: The Great Asia Africa. Sempat ditutup saat awal pandemi Covid-19, namun pertengahan Juni 2020 dibuka kembali dengan protokol kesehatan yang ketat.

Keliling Asia Afrika

The Great Asia Africa berlokasi di Lembang, Bandung. Lokasinya yang berada di kawasan wisata berudara sejuk membuat spot wisata yang termsuk baru ini perlu dipertimbangkan masuk dalam daftar kunjung saat main ke kota kembang ini.

Sesuai namanya, tempat wisata ini menyatukan konsep wisata kekinian, alam, sekaligus edukasi tentang sejumlah negara di benua Asia dan Afrika. Wisatawan bisa melihat dan menikmati bangunan-bangunan ikonik di sejumlah negara. Selain itu, tempat ini memiliki daya tarik lainnya.

Tempat wisata yang tepatnya berada di kawasan Lembang ini terkenal karena menawarkan sensasi keliling tujuh negara tanpa harus berangkat ke negeri-negeri tersebut. Ini karena terdapat miniatur destinasi wisata terkenal dari tujuh negara itu. Para pengunjung bisa melihat beberapa landmark terkenal di negara-negara seperti Thailand, Korea Selatan, Jepang, India, serta negara dari Afrika dan kawasan Timur Tengah dan tentu saja Indonesia.

Keliling Asia Afrika bisa dilakukan dengan mengunjungi The Great Asia Africa di Lembang, Bandung.
Keliling Asia Afrika di Bandung salah satunya ke negeri Korea Selatan. Foto: dok. shutterstock


Sejumlah landmark negara-negara tersebut dibangun dan ditata sedemikian rupa hingga mirip aslinya. Salah satunya, misalnya, duplikat Fushimi Inari Taisha, kuil Shinto yang berada di Fushimi-ku, Kyoto, Jepang. Atau, pengunjung juga bisa menyambangi miniatur desa tradisional di Korea Selatan. Jika berkunjung ke area tersebut, wisatawan seakan sedang berlibur ke Bukchon Hanok Village atau Kampung Utara di Seoul, Korea Selatan.

Tak kalah jika dibandingkan saat berwisata di Jepang, Korea, India atau negara lain. Di kawasan-kawasan masing-masing negara, pengunjung juga bisa menjajal pakaian tradisional negara-negara itu. Selain miniatur negara berupa bangunan, The Great Asia Afrika juga menghadirkan berbagai budaya dari tujuh negara seperti kostum khas hingga tradisi yang biasa digelar di negara-negara Asia Afrika tersebut.

Pengunjung, misalnya, bisa menyewa pakaian adat Lehenga Choli yang dikenal berasal dari Rajasthan, India. Pakaian ini sering dipakai pada saat festival, pernikahan, atau acara khusus di India. Usai menyewa, pengunjung bisa langsung foto di salah satu spot miniatur kota Jaipur.

Tak hanya berfoto dan berkeliling, ada fasilitas transportasi kereta derek untuk berkeliling. Pengunjung bisa menggunakan fasilitas kereta derek. Kereta ini akan memudahkan untuk berkeliling ke setiap landmark yang ada. Pengelola The Great Asia Afrika telah menyediakan dua buah kereta derek yang siap mengantarkan pengunjung menjelajahi tujuh negara.

Selain mencoba pakaian tradisional masing-masing negara, pengunjung juga bisa menikmati tradisi lainnya. Misalnya tradisi kulinernya. Ada tradisi minum teh ala Jepang, ada pula cara membuat kimchi dan lainnya dari Korea Selatan. Ada pula sate khas Afrika yang dijajakan dengan potongan pisang. Jadi pengunjung ada pengalaman merasakan tradisi dari negara luar tanpa harus datang langsung ke negeri tersebut.


Ada pula atraksi-atraksi khas negara-negara tersebut. Misalnya saja ada penampilan penari-penari India. Juga Thailand. Pengunjung juga bisa membeli makanan, suvenir, dan belajar kebudayaan dari masing-masing negara.


Sejak dibuka kembali 13 Juni 2020, The Great Asia Afrika Lembang Bandung mempunyai waktu operasional mulai pukul 09.00-18.00 WIB setiap harinya. Pengelola melakukan protokol kesehatan yang cukup ketat. Terdapat beberapa protokol kesehatan yang wajib ditaati seluruh pengunjung dan petugas The Great Asia Afrika Lembang di antaranya menggunakan masker, menjaga jarak, mengecek suhu tubuh, dan rajin mencuci tangan.

Pihak pengelola The Great Asia Afrika Lembang juga sempat hanya mengkhususkan menerima pengunjung untuk mereka yang ber-KTP Jawa Barat saja. Namun mulai 9 Juli 2020, pengunjung asal luar Jawa Barat atau bukan KTP Jawa Barat sudah bisa berkunjung kembali–tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Semua tetap dengan tiket masuk sebesar Rp 50 ribu per orang.

Keliling Asia Afrika berwisata sambil menikmati tradisi dan kuliner negeri-negeri Asia dan Afrika.
Salah satu sudut di Great Asia Africa Bandung. Foto: dok. shutterstock


Pembukaan wahana wisata ini di Bandung tentu saja tak lepas dari sejarah kota ini menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika. Makanya disini menampilkan bangunan dan budaya dari sebagian negara Asia Afrika tersebut.


Suasana di negara-negara yang berbeda, membuat The Great Asia Afrika memiliki banyak spot Instagramable. Bangunan dan ornamen unik di sana sangat mendukung untuk menghasilkan foto-foto dokumentasi yang maksimal dan layak dipamerkan ke handai taulan.

Jangan lupa pula untuk mengunjungi toko oleh-oleh di The Great Asia Africa. Mulai dari aksesoris, kerajinan tangan, kerajinan kayu, hingga alat musik dari negara-negara tersebut tersedia .

agendaIndonesia

*****

Pulau Kenawa Sumbawa, 1 Savana dan 1 Bukit

Kapal phinisi komodo bisa hop in-hop off, salah satunya ke Pulau Kenawa

Pulau Kenawa Sumbawa, 1 savana, 1 bukit, dan nyaris tanpa penghuni. Bisakah dibayangkan mencoba petualangan di sebuah pulau tanpa penghuni? Kedengarannya asyik dan menantang. Bukan saja karena harus bertahan hidup tanpa listrik dan tinggal di tenda tanpa penerangan, tapi juga mesti menempuh perjalanan menyeberang lautan yang penuh tantangan.

Pulau Kenawa Sumbawa

Adalah pulau Kenawa di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, sebuah pulau kecil yang masih tanpa penghuni. Pulau ini memang belum sepopuler pulau-pulau kecil lain di sekitar pulau Lombok seperti Gili Trawangan atau Gili Air. Namun sejatinya, ia punya lanskap alam yang tak kalah elok dibanding dua pulau tersebut.

Pulau ini luasnya hanya 13 hektare. Di sana nihil penerangan dan kehidupan manusia. Hanya ada padang savana dan sebuah bukit. Tempat ini rasanya cocok untuk menyepi. Sebuah liburan yang tenang. Biasanya untuk berkemah dan snorkeling.

Menuju ke Kenawa pengunjung, tentu, harus menggunakan moda perahu nelayan atau kapal-kapal kayu milik penduduk setempat. Kapal kayu banyak dijumpai di tepi Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Besar. Dari Lombok Timur, pertama kita menyebarang ke a pulau Sumbawa. Biaya per orang sekitar Rp 17 ribu. Dari dermaga feri Poto Pano di Sumbawa, kita tinggal menuju ke dermaga penduduk, di mana perahu-perahu mereka ditambatkan. Jaraknya sekitar 500 meter dari dermaga feri

Di dermaga penduduk, kita harus menemui pemilik kapal. Biasanya ada yang mau disewa utuh, namun jika beruntung kita bisa share sewa dengan pengunjung lain. Jadi lebih murah. Satu perahu cadik untuk sekitar 6 orang biasanya bisa disewa Rp 300-400 ribu untuk pulang pergi. Namun, jika kita hendak menginap atau berkemah dan minta dijemput keesokan harinya kita harus tawar-menawar lagi.

Untuk menuju Kenawa, pengunjung harus menyusuri laut di perairan Sumbawa ke arah barat laut pulau itu. Kapal penduduk yang kami pakai, milik Jaharudin,  seperti kapal kayu nelayan lainnya: kapal kayu dengan dua cadik di sisi kanan dan kiri.

Di lambung kapal terdapat tempat duduk kayu. Tempat duduk itu berhadap-hadapan. Penumpang biasanya diminta duduk berhadapan, supaya seimbang kanan dan kirinya. Cek juga soal ketersediaan pelampung. Maklum kapal penduduk yang rata-rata memang mahir berenang, tapi wisatawan?

Belakangan rata-rata pemilik kapal sudah menyediakan pelampung yang tersedia di dekat tempat duduk karena sering disewa pengunjung. Jumlah pelampung itu cukup banyak. Kira-kira lebih dari delapan. Jumlah yang melebihi kapasitas penumpang. Jika ingin aman, pengunjung bisa memakai pelampung sejak awal.

Kapal kayu umumnya tak melaju terlalu kencang, sebab cuma dengan satu mesin. Suara deru kapal langsung memekak. Badan kapal berjalan bergelombang, naik dan turun megikuti gelombang laut. Byar..byar… Suara cadik keras menabrak ombak.

Kapal itu tak berdinding. Kami bisa menyaksikan pemandangan sekeliling 360 derajat. Tangan kami juga bisa menyentuh laut. Cukup dijulurkan dan badan merunduk sedikit. Air laut berwarna biru agak tua, itu menandakan perairan tersebut agak dalam.

Makin ke tengah laut, warna air makin biru tua. Gelombang pun makin tinggi dan percikan air makin banyak masuk ke badan kapal. Tas penumpang tak ayal basah. Karena itu, sebaiknya tas dibalut rain cover supaya isinya tak ikut kuyup.

Perjalanan menyusuri laut lepas menuju pulau tak berpenghuni itu berlangsung 45 menit jika gelombang laut agak tinggi. Jika laut sedang tenang, perjalanan akan ditempuh sekitar 30 menitan. Meski menantang, pengalaman ini mahal harganya. Butuh keberanian dan kepercayaan terhadap nakhoda, juga kerendahan hati pada alam.

Tiba di Kenawa, ada satu dermaga untuk kapal merapat. Namun kadang, tak sedikit pengunjung yang memilih turun langsung ke air. Maklum airnya bening dan tak dalam, seakan memanggil untuk diterjuni.

Tak ada permukiman di Kenawa. Namun, saat ini ada sebuah warung yang dihuni penduduk lokal daratan bernama Ibu Nur. Ia tinggal di gubuk di pinggir pulau, kadang kembali ke daratan besar di Sumbawa. Bu Nur ini menyewakan tenda buat tamu-tamu yang ingin menginap. Tenda disewakannya dengan harga mulai Rp 30 ribu, sesuai ukuran besar dan kecilnya.

Bu Nur tentu saja juga menjual bermacam-macam makanan. Namun, tak ada salahnya, jika pengunjung membawa bekal yang cukup jika hendak main ke Kenawa. Terutama jika hendak menginap. Bawa bekal yang cukup, termasuk perlengkapan P3K. Dan jangan lupa minta nomor kontak di Poto Tano ketika lapor hendak menyebrang, untuk jaga-jaga jika ada kondisi tidak diinginkan.

Di Kenawa, pelancong akan langsung disuguhi komposisi alam yang harmonis, puluhan gradasi warna laut, karang-karang hidup, dan beragam jenis ikan yang menari-nari tak jauh dari sandaran kapal. Air yang jernih serupa kaca memudahkan pandangan wisatawan menemukan ikan-ikan nemo yang sembunyi di balik koral.

Di sisi barat, kalau langit cerah, pengunjung akan memperoleh pemandangan Gunung Rinjani. Di tengah-tengah pulau Kenawa sendiri, terdapat sebuah bukit cukup tinggi yang berbentuk seperti kerucut. Bukit ini menjadi ikon Kenawa.

Jika pengunjung mendakinya, dari puncak orang-orang dapat menyaksikan seluruh sisi Kenawa, mulai muka hingga punggungnya. Namun, meski tak terlampau tinggi, bukit tersebut cukup sulit didaki. Jalurnya yang terjal dan licin membuat kaki sulit berpijak.

Di kanan-kiri jalur pendakian menuju bukit, tak ada pepohonan. Memang, pulau ini tak ditumbuhi pepohonan tinggi. Hanya rerumputan dan beberapa tanaman bakau.

Bila angin berembus, suara rumput yang bergesekan satu sama lain terdengar seperti lagu alam yang membuat pikiran menjadi tenang. Bahkan suaranya lebih mirip dengan instrumen pengantar meditasi. Ditambah lagi dengan gemericit burung yang bertengger di ranting-ranting kering atau lalu-lalang di atas pulau.

Sewaktu matahari terbit dan terbenam, rerumputan di Pulau Kenawa akan berubah warna menjadi kemerahan oleh pantulan cahaya matahari. Pemandangan tersebut membuat pulau makin sempurna menjadi tempat untuk mendamaikan diri.

Tertarik? Ayo agendakan Indonesia-mu.

F. Rosana/shutterstock