Perempuan Sasak Dan Syarat 3 Kain Tenun

Perempuan Sasak menginang di Teras Rumahnya

Perempuan Sasak punya keistimewaan sekaligus keterampilan wajib sebelum menikah. Mereka harus menenun tiga kain. Karena menenun melatih kesabaran dan ketelatenan.   

Perempuan Sasak dan 3 Kainnya

Pagi itu hanya ada Ina Dangker, atau ibunya Dangker, yang asyik dengan alat tenun gedogan di Desa Adat Ende di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Perempuan lain berkumpul di dapur, memasak bersama-sama. Karena hari itu kaum pria tengah bergotong-royong membuat bangunan, jadilah kaum hawa bertugas memasak. Siang tiba, mereka pun begibung atau makan bersama.

“Saya kebetulan memang kurang bisa,” begitu pengakuan perempuan yang pelan-pelan mengatur benang-benang warna-warni itu tentang kepiawaiannya bermain dengan berige. Namun Ina Dangker mengaku masih terus semangat menenun, atau menyesek dalam bahasa Sasak. Maklum, setiap perempuan suku Sasak memang wajib mahir menenun sebelum menikah. Paling tidak, sebelum menikah, mereka harus membuat tiga kain tenun sebagai syarat, yakni kain untuk dirinya, suami, dan mertua perempuannya.

Walhasil, tak ada perempuan Sasak yang tak bisa menyesek. Para penenun pun bisa ditemukan di sejumlah desa. Tak jauh dari Desa Adat Ende, ada Desa Adat Sade. Desa adat yang satu ini terkenal dengan kain tenun lebar pendek yang digandrungi para turis. Selendang khas Sade pun menjadi ciri khas sebagai oleh-oleh. Setelah menyusuri gang-gang kecil yang memisahkan rumah tradisional satu dengan yang lain di kampung ini, wisatawan pun melenggang pulang dengan selendang di leher.

Tak jauh dari Bandar Udara Internasional Lombok, ada lagi desa penenun yang namanya sudah dikenal. Desa Sukarara, dicapai hanya dalam 20 menit dari bandara yang berada di Kecamatan Praya, Lombok Tengah, tersebut. Siang itu perjalanan saya lanjutkan ke sana, dan kendaraan berhenti di sebuah halaman yang dipenuhi bus dan kendaraan lain. Pengunjung bertebaran di berbagai sudut. Patuha Cooperative, nama yang terpampang dalam papan nama di bagian depan. Dua orang perempuan suku Sasak yang terpaku dengan alat tenun tradisional, gedogan, berada di bagian depan gerai tenun khas Lombok tersebut.

Di tengah hiruk pikuk pengunjung, Amin, pemilik gerai tenun sasak itu masih menyempatkan diri menyambut saya dan kawan-kawan. Senyumnya  mengembang, bahkan langsung sepakat ketika saya dan kawan ingin mengintip para penenun yang ada di rumah-rumah. “Mari,” ucap pria berusia 45 tahu itu, sembari menunjukkan setapak yang sudah tertutup rapi oleh rangkaian paving block.

Sore itu jadilah saya berkeliling Dusun Belong Lauk, Desa Sukarara, Jonggat, Lombok Tengah. Kampung nan  teduh dan bersih. Menemui para perempuan di bale-bale memintal benang dan menatanya dengan alat tenun tradisional. Amin pun bertutur, di kampungnya sempat digelar aksi 1.000 penenun untuk memecahkan rekor MURI. Yang datang, ia sebut, hingga 2.000 orang. Saking banyaknya, jalan-jalan kecil itu pun dipenuhi para penenun. Saya bisa membayangkan keramaian yang terjadi.

Kembali ke gerai tenun sasak, saya mendekati Ibu Par, tampaknya tertua di antara tiga penenun di sana. Berusia 70 tahun, Par masih lincah mengatur benang membentuk sebuah motif. Nenek yang satu itu sudah asyik dengan perlengkapan menenun, seperti jajak, berire, batang jajak, dan pengiring sejak remaja, seperti umumnya perempuan Sasak.

Di depan bangunan sisi kanan, ada pula penenun muda. Dewi, 35 tahun, yang mengaku belajar menenun sejak usia 10 tahun. Pilihan yang tak bisa ditolak baginya karena harus bisa menenun dulu baru nikah. “Kalau tidak, ya, ditunda nikahnya,” ujarnya. Ia pun bertutur, menenun bagi kaum perempuan Sasak sebenarnya melatih kesabaran dan menjadikannya lebih telaten.

Memang ada juga kaum pria yang menenun. Meski ada juga yang berpendapat pria dilarang menenun. “Bala buat kaum laki-laki karena terlalu lama duduk kan bisa impoten,” kata Dewi sembari tersenyum. Maklum, aktivitas menenun bisa membuat seseorang duduk hingga tujuh jam tanpa banyak bergerak. Karena itu, ibu satu anak itu menyebut kaum Adam kebanyakan pergi ke sawah. “Kalaupun mereka menenun, biasanya kaum perempuan yang membuat motif, jadi yang pria hanya tinggal menenun. Karena membuat motif saja sampai dua hari,” ia menjelaskan.

Amin mengungkapkan, ada dua alat tenun yang biasa digunakan, yaitu alat tenun tradisional gedogan dan alat tenun bukan mesin (ATBM).  “Biasanya laki-laki yang pakai ATBM,” katanya. Dengan ATBM, posisi penenun duduk lebih nyaman karena duduk di bangku saat menjalin helai demi helai benang tenun. Berbeda dengan gedogan, di mana penenun duduk di bawah dan seperti terkungkung dengan bilah kayu di belakang dan di depannya.

“Menenun bukan pekerjaan sehari (selesai),” ucap Dewi. Perlu proses panjang. Awalnya menyusun motif yang biasanya perlu waktu dua hari. Semakin sulit motif bisa dilihat dari jumlah bambu yang digunakan. Semakin banyak, berarti tingkat kesulitannya semakin tinggi.

Paling tidak satu helai kain berukuran 2 meter x 60 sentimeter ia rampungkan dalam dua minggu hingga satu bulan, tergantung tingkat kesulitan. “Karena tidak tahu berapa lama (pembuatannya) dan sulit itu maka ada motif subahnale,” kata Amin.

Subahnale berasal dari rangkaian kata “subhanallah”, yang artinya Maha Suci Allah. Salah satu corak lawas berupa susunan geometris segi enam, biasanya di dalamnya diberi corak bunga.

Biasanya dijadikan corak untuk kain tenun songket berbenang emas. Kain ini dikenakan saat mengikuti acara-acara khusus, termasuk saat menjadi pengantin.

Amin menyebut, corak tenun Sasak terus berkembang, baik yang menggunakan benang katun maupun yang bercampur benang emas alias songket. “Motif lama masih banyak, cuma dengan modifikasi,” ujarnya. Beberapa motif lama, seperti subahnale, ragi genap, lepang, dan keker (burung), masih bermunculan.

Selain itu, menurut Amin, kain tenun Sasak banyak memunculkan corak tanaman dan bunga. Ia pun menunjukkan corak itu pada selembar kain songket, jenis motif suluran, dan kembang. Namun, ia menyatakan, sekarang yang tengah digandrungi adalah motif rangrang atau berarti jarang-jarang. Motif ini dulu ditaruh di pinggir, sekarang dimodifikasi dengan ditempatkan di tengah. Corak geometris segitiga dan belah ketupat dengan banyak warna dalam satu kain.

Soal harga, memang kain tenun Sasak tergolong tinggi, apalagi bila dibuat dengan gedogan. “Harga tenunan gedogan dua kali lipat tenunan ATBM,” ucap Amin. Yang paling tinggi, tentunya yang menggunakan benang emas. Untuk selembar kain songket dengan benang emas dijual mulai Rp 3,5 juta. Bila lengkap dengan selendang, bahkan ada yang mencapai Rp 7,5 juta. Harga yang sepadan untuk kesulitan yang tinggi dan proses yang panjang. l

EMPAT PERANGKAT TENUN

Jajak, dua bilah kayu panjang sebagai kaki-kaki alat tenun.

Berire, kayu panjang pipih dengan ujung lancip pembentuk motif tenun. Ujungnya yang lancip akan memudahkan penenun memasukkan setiap helai benang. 

Batang jajak, penahan serta penyambung alat tenun, yang melekat dengan punggung penenun. 

Pengiring, alat penggulung benang bahan.

MOTIF DAN TRADISI

Masa Hindu, corak pada kain tenun Sasak banyak memunculkan pucung rebung yang berbentuk deretan segitiga. Motif ini melambangkan Dewi Sri. Selain itu, ada motif berupa hewan.

Masa Islam, motif lebih banyak memunculkan tanaman, seperti suluran, pepohonan, dan kembang-kembang. Motif hewan yang muncul di masa Hindu diganti dengan kaligrafi Arab di masa ini.

Jenis benang yang digunakan, selain benang katun, benang emas atau perak, yang sudah tentu harganya menjadi lebih tinggi.

Erat dengan tradisi. Seperti kebanyakan masyarakat Nusantara, kain Sasak pun identik dengan tradisi. Seperti untuk baru lahir dibuatkan kain tenun umbag yang bercorak garis-garis dengan rumbai yang ujungnya diikatkan kepeng berlubang. Benda tersebut menjadi lambang kasih sayang. Kain-kain tertentu juga digunakan pada upacara peraq api atau puput pusar, berkuris—mencukur rambut bayi, besunat (khitanan), dan sorong serah aji krama—penyerahan kain tenun dari keluarga mempelai pria kepada mempelai wanita.

R. Nariswari/Frann/Dok. TL/unsplash

Pesona 3 Danau di Kaki Gunung Lemongan

Pesona 3 danau di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, bisa menjadi alternatif liburan dan mengunjungi alam pedesaan.

Pesona 3 danau di kaki Gunung Lemongan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih jarang ada yang meliriknya. Danau atau ranu dalam istilah setempat kalah popular dari Ranu Kumbolo di jalur pendakian Gunung Semeru, yang juga berada di kabupaten Lumajang.

Pesona 3 Danau

Asal tahu saja, tiga per empat wilayah Gunung Semeru berada di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sisanya ada di Kabupaten Malang. Karenanya, Lumajang kerap dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki pesona alam terbaik di Jawa Timur, selain Malang.

Pesona 3 danau di kawasan Gunung Lemongan, Lumajang tak kalah indah dengan Ranu Kumbolo yang juga berada di Kabupaten Lumajang.
Matahari terbit Ranu Pakis di Lumajang. Foto:: Dok shutterstocj

Itu tentu termasuk danau-danau alamnya. Ada pesona 3 danau di Kabupaten Lumajang di Gunung Lemongan, meskipun kalah popular dibandingkan gunung Semeru.

Gunung Lemongan adalah sebuah gunung berapi tipe maar, di Jawa Timur. Gunung ini merupakan bagian dari kelompok pegunungan Iyank, di mana puncaknya adalah disebut Puncak Tarub dengan ketinggian 1.651 meter. Gunung Lemongan termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yaitu Lumajang dan Probolinggo.

Pesona 3 danau memiliki atraksi kemegahan matahari terbit. Tontonan ini bisa dinikmati dari tiga kawasan danau yang saling berdekatan, yaitu: Ranu Klakah, Ranu Bedali, dan Ranu Pakis.

Jarak tempuh antara Ranu Bedali ke Ranu Pakis berkisar 7 kilometer. Sedangkan jarak tempuh Ranu Bedali ke Ranu Klakah sekitar 6 Km dan semuanya bisa dijangkau dengan mudah. Seperti apa sih gambaran ketiga danau ini?

Ranu Klakah

Terletak di Desa Tegal Randu Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, sekitar 20 kilometer dari arah utara Kota Lumajang. Ranu klakah memiliki pesona yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Pesona 3 danau merupakan atraksi menarik utujk menyaksikan matahari terbit di Lumajang,
Ranu Klakah dengan latar belakang Gunung Lemongan. Foto: milik Lumajang Satu.com

Danau yang terbentuk akibat aktivitas vulkanis ini membentang seluas 22 hektare. Sedangkan kedalamannya mencapai 28 meter. Dalam sekilas pengamatan, danau itu tampak tenang dan tak beriak. Tak terlihat ada aktivitas makhluk hidup apa pun di dalamnya.

Namun, diam-diam, ranu atau danau maar yang letaknya 10 kilometer di utara kota ini ternyata menjadi habitat hidup bagi ribuan ikan mujair. Tempat ini memang menjadi tempat budi daya ikan air tawar.

Ranu Klakah terpatri abadi, tepat di muka Gunung Lemongan. Seperti lukisan, pada pagi hari, cahaya matahari yang kemerahan akan mengantung di atas danau berlatar gunung itu. Pantulan sinarnya membikin danau kemilauan, bak cermin hidup yang menimbulkan refleksi. Gunung dan bayangannya di ekor Ranu Klakah pun seperti dua segitiga yang bertaut.

Ranu Pakis

Lokasi wisata Ranu Pakis berada di Desa Ranu Pakis, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang. Namun dari pusat kota butuh menempuh jarak sekitar 20 ,5 kilometer atau kurang lebih 45 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Rute menuju Ranu Pakis dari pusat kota Lumajang melewati jalur utama penghubung antara Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo. Ketika memasuki pusat kecamatan Klakah, di sekitar pasar, belok ke arah timur atau ambil jalan ke arah Desa Tegal Randu menuju Ranu Klakah.

Dari Ranu Klakah perjalanan lanjut sekitar satu kilometer hingga menemui pintu masuk menuju Ranu Pakis. Akses jalan cukup baik dan bisa dilewati kendaraan roda dua ataupun empat. 

Ranu Pakis ini memiliki warna air biru kehijau-hijauan yang berbeda dengan Ranu Badeli. Di sini airnya terlihat berwarna hijau segar. Ranu Pakis memiliki ketinggian 600 meter di atas permukaan laut , dengan luas sekitar 50 hektare, dan kedalaman 26 meter.

Selain memiliki keindahan yang unik, di Ranu Pakis biasanya para penduduk juga membudidayakan ikan air tawar. Contoh ikan yang di budidayakan adalah mujahir dan nila. Kadang bila berkunjung ke Ranu Pakis, wisatwan disuguhi atraksi nelayan yang sedang menjaring ikan.

Ranu Bedali

Ranu Bedali adalah sebuah danau di Kecamatan Ranuyoso, Lumajang, dan merupakan salah satu tempat wisata alami yang ada di kabupaten ini. Letaknya sekitar kurang lebih 15 kilometer di sebelah utara kota Lumajang. Danau ini tempatnya mudah dijangkau dengan berbagai macam kendaraan pribadi, tidak terlalu ramai pemandangannya indah cocok untuk liburan keluarga.

Ranu Lumajang shutterstock edit
Air terjun di Ranu Bedali. Foto: Dok. shutterstock

Ranu Bedali merupakan rangkaian dari pesona 3 danau, yaitu Ranu Bedali, Ranu Klakah dan Ranu Pakis. Sebagai rangkaian kawasan Segitiga Ranu, dengan jarak 7 Km dari Ranu Pakis atau 6 kilometer dari Ranu Klakah. Objek wisata Ranu bedali ini mempunyai keinggian 700 meter di permukaan laut dengan luas danau 25 hektare dengan kedalaman 28 meter.

Di Ranu Bedali  terdapat air terjun yang memiliki debit air yang cukup besar dan jernih, sehingga menambah keindahan alam. Keindahan di Ranu Bedali yang masih asri beserta tambahan fasilitas yang menunjang lainnya bisa menarik banyak wisatawan.

agendaIndonesia

*****

Abhayagiri Resto, 1 Senja di Timur Yogya

Abhayagiri Resto

Abhayagiri Resto, ini sebuah jamuan lengkap di senja hari di Yogyakarta. Menu istimewanya, lanskap segaris antara Abhayagiri, Candi Prambanan, dan Gunung Merapi.

Abhayagiri Resto, Menikmati Sunset

 Di pelataran restoran Abhayagiri, Yogyakarta, turis dari beragam latar belakang saling berjumpa. Mereka berganti-gantian memincing spot foto. Meja-meja makan yang berantakan ditinggalkan begitu saja tatkala burit mulai muncul. Maklum, di seberang utara, pemandangan Gunung Merapi disapu langit oranye dibelah atap-atap rumah warga menjadi primadona. Tak ketinggalan Candi Prambanan yang bertengger gagah tepat di muka “ancala”, menyempurnakan amatan.

Setengah bagian Yogyakarta, beserta ikon-ikonnya, sore itu sukses dibingkai dengan gangsar dari atas bukit. Ya, Abhayagiri memang bernaung di salah satu babakan tertinggi di “nagari kesultanan”, sebaris dengan Bukit Boko. Sesuai dengan namanya, abhaya berarti tidak ada bahaya atau aman, sedangkan giri artinya bukit atau gunung. Jadi Abhayagiri merupakan tempat di atas bukit yang tenang, jauh dari kerawanan.

Untuk menjangkaunya, perlu berkendara lebih-kurang 40 menit dari pusat kota melewati jalan menanjak dan berkelok, searah dengan tujuan Candi Boko dan Candi Ijo. Tak mengherankan, kalau banyak pengunjung, sengaja ingin menepi di tempat ini untuk sekadar menikmati kudapan, menjangkau ketenangan, lalu berswafoto dengan latar belakang panorama yang apik.

Di salah satu sudut yang menghadap ke barat daya, sebuah beranda petak beralas kayu dikelilingi lampu taman dengan penerangan temaram menjadi titik yang paling banyak diincar, khususnya untuk memotret. Sebab, di sana, tamu akan menghadapi jamuan pandang yang langka, yakni lanskap segaris antara Abhayagiri, Candi Prambanan, dan Gunung Merapi.

Dari titik itu pula, kawasan restoran yang lapang membentang dan terbagi atas beberapa paruhan tampak gamblang. Di sisi kanan, ada rumah joglo beralas rumput sintetis, juga kolam renang. Pengunjung, yang umumnya keluarga, mengobrol asyik sembari berseloroh di bawah bangunan persegi panjang dengan dominasi elemen kayu.

Di bagian rusuk atau tengah, segaris dengan beranda pandang, terhampar halaman dengan kursi serta meja yang ditata rapi mengitari sebuah batu besar. Batu itu tak pernah disingkirkan oleh pihak restoran, mulai proses pembangunan hingga Abhayagiri berdiri pada 2012—tentu sampai sekarang. Justru keberadaannya memperdalam kesan natural.

Di titik ini, pasangan-pasangan muda mengobrol intim. Suasana romantis terbangun dari pemandangan lampu-lampu kota yang mengitari, hawa dingin yang langsung menerpa kulit, serta tumbuhnya ilalang yang mendramatisasi keadaan.

Sementara itu, di bibir kiri, terhampar sebuah panggung alam, tempat pentasnya pergelaran seni Ramayana yang dihelat pada waktu-waktu tertentu. Panggung ini terbuat dari bebatuan. Letaknya menghadap tepat ke candi. Bangunan kuno tersebut sungguhan, bukan rekaan. Namanya serupa dengan lokasi bernaungnya restoran: Sumberwatu. Dalam papan keterangan tertulis, benda sejarah yang diperkirakan dibangun pada abad ke-9 oleh para penganut agama Buddha tersebut telah dikonservasi lembaga warisan budaya setempat pada 2013.

Keberadaannya membangkitkan sangkaan magis, sekaligus menguatkan kesan kejawen.

Petang tiba. Cokekan, musik tradisional asli Jawa Tengah—jenis kesenian yang kini nyaris punah—mengiramakan malam. Larasnya berpadu dengan bunyi tonggeret atau garengpung—atau nama ilmiahnya Cicada.Karena itu, griya tempat berkudap sekalian berkongko yang dibangun di atas lahan 3 hektare ini seketika jadi riuh. Bukan hanya karena musiknya yang membubung, melainkan juga makin sesaknya pengunjung.

“Biasanya tak seramai sekarang. Hari ini, semua bangku sudah ludes direservasi. Mungkin karena bertepatan dengan hari libur atau juga karena kami sedang menggelar promo menu buffet,” tutur Dewi, perempuan berparas njawani yang menjadi pramusaji itu.

Memang, di momen-momen tertentu, seperti akhir tahun, restoran yang dilengkapi fasilitas vila dan hotel ini memasang menu khusus. Kala Travelounge bertandang pun, Abhayagiri sedang menawarkan promosi all-you-can-eat seharga Rp 150 ribu per orang dengan waktu kunjungan maksimal 120 menit. Dengan demikian, kudapan bergaya lokal dan western yang kesohor, semisal Chicken Steak Teriyaki, Abhayagiri Duck Speciale, Pan Roasted Salmon, Apple Crumble, Nasi Campur, Archila Churros, dan Beef Black Pepper, tak tersaji.

Sementara itu, hidangan yang bebas dilahap tamu adalah menu-menu yang umumnya disajikan kala masyarakat Jawa Tengah punya hajat, semisal soto ayam, rawis (juga dikenal dengan sebutan karedok), bakmi Jawa, dan dori goreng tepung untuk menu utama. Tersedia pula hidangan cuci mulut, seperti brownies, mini pie,dan cake green tea kukus yang menyandang predikat jawara.

Umumnya, rasa masakan yang tersaji kurang menggelitik lidah. Semisal bakmi Jawa, kuah yang dihidangkan terlalu asin. Hidangan lain, seperti soto ayam, pun tak terlalu berkarakter. Namun hal itu tak diambil hati oleh para pengunjung karena umumnya mereka datang dengan tujuan utama menikmati pemandangan, bukan buat berselancar lidah. l

Abhayagiri Restaurant

Sumberwatu Heritage Resort, Sumberwatu RT 02 RW 01

Sambirejo, Prambanan,

Sleman, DI Yogyakarta

Operasional

Setiap hari pukul 11.00-22.00

Menu

Abhayagiri Chicken Steak

Beef Black Pepper

Bakmi Jawa

Soto Ayam

Harga

Antara Rp 35 ribu hingga Rp 200 ribu.

F. Rosana/Hindra/Dok-TL

Taman Nasional Sembilang, 1 Singgah Burung

Burung Migrasi di Taman Nasional Sembilang

Taman Nasional Sembilang, ini taman nasional yang unik. Dia menjadi satu tempat persinggahan burung-burung yang bermigrasi dari Siberia menuju ke selatan di Australia. Dan sebaliknya.

Taman Nasional Sembilang

Berada di ujung pesisir barat Kabupaten Banyuasin, provinsi Sumatera Selatan, Taman Nasional  Sembilang ini terdiri atas hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan hutan riparian atau tepi sungai. Total luasnya mencapai 205,7 ribu hektare. Posisinya berhadapan langsung dengan pulau Bangka.

Pemandangan alamnya yang eksotis membuat tempat ini menarik kunjungan banyak wisatawan. Tapi di luar itu, flora dan fauna yang hidup di dalamnya membuat taman nasional menjadi tujuan utama mahasiswa atau ilmuwan, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk melakukan penelitian.

Sayangnya memang perjalanan menuju taman nasional ini belum cukup mudah. Akses utama menuju kawasan ini biasanya menggunakan kendaraan air. Hal ini disebabkan karakteristik dan lokasi Sembilang kebanyakan merupakan perairan. Sungai dan rawa-rawa.

daris ali mufti ROn1Dx3eSbk unsplash
Kawasan di Banyuasin, Sumatera Selatan. Foto: unsplash

Untuk sampai ke Taman Nasional ini memang tidak mudah. Butuh sedikit pengorbanan, baik dari sisi waktu maupun tenaga. Pertama-tama, tentu saja, adalah surat izin masuk kawasan taman nasional. Sebab, ini bukanlah kawasan wisata umumnya. Ada banyak hal yang dilindungi. Tapi jangan khawatir, urusan izin ini administrasi saja. Sepanjang jelas tujuan perjalanan, surat izin sangat mudah diperoleh.

Untuk mengunjungi Sembilang, pengunjung harus mendapatkan surat izin masuk. Wisatawan lokal bisa mendapatkannya dari Kantor Balai Taman Nasional di Jalan AMD, Talang Jambe, Kota Palembang, sedangkan pengunjung asing dapat memperolehnya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Masyarakat Palembang, juga pengunjung lainnya, biasanya untuk menuju ke taman nasional Sembilang berangkat dari ibukota Sumatera Selatan itu dengan menumpang speedboad. Dari Dermaga Benteng Kuto Besak menuju Sembilang akan memakan waktu perjalanan sekitar 4 jam.

Alternatif lain adalah menggunakan perjalan campuran: darat dan air. Jika memilih menggunakan cara ini, pengunjung bisa menggunakan kendaraan darat dari Palembang menuju Simpang PU atau Parit 5 yang letaknya ada di Jalan Raya Tanjung Api-Api. Perjalanan akan memakan waktu sekitar dua jam. Dari lokasi itu, perjalanan dilakukan dengan speedboad menuju Sembilang dengan menyusuri sungai Musi dan waktu tempuhnya sekitar dua jam.

aldino hartan putra vtvwsA82aJE unsplash
Hutan Mangrove di Sumatera. Foto: unsplash

Jangan khawatir dengan lamanya waktu perjalanan. Sebab selama perjalanan menuju Taman Nasional Sembilang, mata akan disuguhi pemandangan sungai, laut dan beragam jenis tumbuhan Sesekali, akan ditemui burung-burung yang melintas di atas kepala atau ikan yang melompat akibat terjangan perahu. Yang paling banyak tentu saja kawasan mangrove.

Taman Nasional Sembilang memang terkenal dengan kelestarian tanaman mangrovenya yang membuat kawasan ini tetap terasa alami. Konon, Sembilang adalah habitat mangrove terbesar untuk kawasan Indonesia Barat.

Di beberapa titik sungai, pengunjung akan melewati perkampungan penduduk yang dibangun di atas rawa. Dari atas rumah bertiang, mereka hidup kompak dengan menggantungkan hidupnya mencari nafkah di air. Mereka amat ramah setiap kali kedatangan tamu, jadi jangan sungkan untuk menyapa mereka. Salah satu kampung nelayan ini merupakan sentra industri terasi udang, yang produknya dipasarkan sampai ke luar daerah, bahkan menjadi pemasok utama di Pulau Bangka.

Lalu bagaimana untuk menginap? Saat ini yang tersedia adalah rumah-rumah penduduk di sekitar taman nasional itu. Ini haruslah dianggap sebagai bagian dari petulangan atau tamasya alam. Penduduk setempat sudah biasa didatangi dan menerima tamu untuk menginap. Tentu dengan biaya pengganti sepantasnya. Tahun lalu, pemerintah Kabupaten Banyuasin berencana akan membangun vila laut di kawasan ini. Namun, tampaknya rencana ini sedikit tertunda.

Tapi, soal penginapan jangan sampai menghalangi keinginan untuk menikmati kekayaan alam Indonesia. Yang pertama tentu hewan-hewan langka khas Sumatera. Taman nasional ini merupakan habitat binatang eksotis Sumatera yang mulai langka. Sebut saja harimau Sumatera, gajah Asia, tapir Asia, siamang, kucing emas, rusa Sambar, buaya muara, ikan sembilang, penyu air tawar raksasa, lumba-lumba air tawar, dan berbagai spesies burung.

jakub pabis GXtjXPCt0NM unsplash

Selain hewan langka, berbagai macam tanaman darat dan air tumbuh di sini, termasuk gajah paku (Acrostichum aureum.), nipah (Nypa fruticans.),
cemara laut (Casuarina equisetifolia.), pandan (Pandanus tectorius.), laut waru (Hibiscus tiliaceus.), nibung (Oncosperma tigillaria.), jelutung (Jelutung), menggeris (Koompassia excelsa), gelam tikus (Syzygium inophylla), Rhizophora sp., Sonneratia alba., dan Gimnorrhiza bruguiera. Termasuk Kandelia Candel, bunga nasional yang juga dibudidayakan di Sembilang ini.

Keindahan Taman Nasional Sembilang tak hanya terletak pada hutannya. Jika berkunjung ke sini, wisatawan juga bisa menyaksikan parade cantik kawanan burung migran. Taman nasional ini merupakan salah satu tempat singgah migrasi puluhan spesies burung dari Siberia di utara Asia ke Australia.

Fenomena ini biasanya berlangsung di akhir tahun, mulai Oktober hingga Desember. Formasi burung migran ini menarik pencinta fotografi untuk datang ke TN Sembilang untuk mengabadikanburung-burung jenis Anis Siberia (Zoothera Sibirica) terbang bergerombol memenuhi angkasa.

Biasanya, untuk menghindari predator, burung-burung yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu itu akan terbang membentuk formasi bergerombol. Sesekali, burung-burung itu melakukan atraksi yang menarik. Nikmati pula suara gemuruh kawanan burung tersebut saat terbang bersamaan hingga menutupi suara debur ombak Selat Bangka.

Tertarik mengagendakan Sembilang? Ayo agendakan Indonesia-mu.

N. Adhi-TL

Taman Safari Bali, Satwa di 40 Hektare

Taman Safari Bali wahana wisata dan edukasi di Bali.

Taman Safari Bali atau dikenal juga sebagai Bali Safari and Marine Park adalah tempat wisata yang berisi aneka satwa dari berbagai penjuru dunia yang habitatnya didesain mendekati aslinya. Kawasan ini merupakan objek wisata yang dibangun di atas lahan seluas 40 hektare.

Taman Safari Bali

Bali Safari & Marine Park ini seperti juga Taman Safari di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, menyediakan tempat bagi satwa liar seperti di habitat aslinya. Di Bali ini taman safarinya  dibangun dengan perpaduan kebudayaan masyarakat Bali dan cocok untuk dikunjungi untuk segala usia. 

Bali Safari & Marine Park ini ada di Jalan Bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Lokasinya menempati atau berada di tiga desa di Gianyar, yaitu Desa Lebih, Desa Serongga, dan Desa Medahan. Sama dengan yang di Bogor atau di Jawa Timur, Taman Safari Bali dimiliki dan dikelola oleh Taman Safari Indonesia. Taman Safari Indonesia, memang ahli dalam konservasi hewan dan terkenal dalam menyelenggarakan eksebisi serta pertunjukan binatang.

Taman Safari Bali petulangan kecil di habitan satwa.

Taman Safari Indonesia, memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam hal penyediaan wahana taman safari. Pengalaman tersebut membuat Taman Safari Bali, menjadi salah satu taman safari terbaik di Indonesia dan menjadi tempat wisata untuk anak-anak ketika liburan di pulau dewata.

Bali Safari Marine Park juga dijadikan tempat pengembangbiakan bagi satwa yang terancam punah. Harimau Putih dari India yang sangat langka sedang dicoba dikembangbiakkan agar terjaga keberadaannya.

Tempatnya ada di Tigers of Ranthambore yang merupakan tiruan dari benteng kuno yang berada di India. Benteng ini menjadi tempat berdiamnya harimau putih yang sangat langka tadi.

Selain Harimau Putih, di sini ada berbagai jenis satwa langka yang berasal dari tiga negara yaitu Indonesia, India dan Afrika. Ini terdiri dari 60 species dan 400 ekor satwa langka yang berasal dari Indonesia, misalnya Jalak Putih, Burung Hantu, Tapir, Buaya, Babi Rusa dan Harimau Sumatra.

Dari India, selain Harimau Putih, ada lainnya yaitu Rusa Tutul, Beruang Himalaya, Nilgai dan Black Buck. Satwa langka dari Afrika juga tidak ketinggalan seperti Kuda Nil, Burung Unta, Singa, Babbon, Zebra dan Blue Wildebeest.

Taman Safari Bali juga memiliki petualangan berkeliling pada malam hari.
Night Safari, berkeliling dengan kendaraan khusus. Foto: dok. BSMP

Selain mempelajari hewan yang mulai langka dan upaya konservasinya, anak-anak ketika main ke Taman Safari Bali dapat menikmati beberapa pertunjukan. 

Atraksi utama tentu saja 4×4 Safari Package. Wisatawan dapat melihat satwa liar dari dekat menggunakan jeep  4×4. Kendaraan ini sudah dilengkapi perlengkapan khusus sehingga aman bagi pengunjung.  Melalui wahana ini, wisatawan bisa merasakan sensasi berinteraksi langsung dengan satwa di alam bebas. 

Selain itu ada Animal Education show di Hannuman Stage. Ini adalah Taman Hanuman dengan sebuah panggung yang terdapat pertunjukan satwa yang juga memberikan pengetahuan tentang satwa langka.

Atraksi yang juga menarik buat anak-anak, bahkan orang dewasa, adalah Elephant Conservation & Education Show di Kampung Gajah. Ini merupakan area dengan museum gajah, kandang gajah, tunggang gajah, souvenir, dan, warung gajah.

Elephant Bathing di Taman Ganesha di mana taman ini memiliki sebuah patung Ganesha setinggi sembilan meter yang merupakan pintu masuk menuju Bali Theater. Di taman ini pengunjung bisa berinteraksi secara dekat dengan gajah-gajah yang sedang mandi.

Pada malam hari pengunjung dapat melihat satwa liar yang berkeliaran di habitatnya. Ada harimau yang naik ke kendaraan kerangkeng khusus pengunjung. Lumayan memacu adrenalin.

Ada juga restoran yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman. Uniknya ada resto untuk sarapan yang berdekatan dengan kandang macan. Jangan khawatir, pengunjung restoran dipisahkan dengan panel kaca yang aman dari para raja hutan tersebut.

Sarapan dengan Singa di Safari Bali BSMP
Sarapan di depan singa. Foto: dok. BSMP

Untuk menikmati pengalaman sarapan unik ini, pengunjung harus menginap di Mara River Safari Lodge yang berada di kompleks Taman Safari Bali. 

Namun Taman Safari Bali tentu tak cuma interaksi dengan hewan. Ada atraksi lainnya. Kegiatan lainnya adalah Balinese Holy Water Procession di Tirta Sulasih. Tirta Sulasih adalah tempat pemandian suci dengan nuansa kebudayaan Bali. Pengunjung bisa menyaksikan kegiatan sehari-hari masyarakat Bali dengan budayanya.

Bagi yang ingin belanja oleh-oleh, berbagai barang kerajinan khas Bali dan aksesoris berbentuk binatang banyak dijual di areal pertokoan yang dikenal dengan nama Peken Bali. Atau ada pula kelas menari Bali dan memainkan alat musik gambelan Bali di Bale Banjar.

The Bali Agung Show Taman Safari Bali juga menyajikan pertunjukkan seni yakni The Bali Agung Show. Pertunjukan ini merupakan perpaduan seni teater tradisional dan modern yang menampilkan lebih dari 150 penari dan pemusik Bali.

Taman Safari Bali dilengkapi pula beberapa fasilitas antara lain, Kawasan Fun Zone yang disediakan khusus untuk anak-anak berusia maksimal 10 tahun. Ada berbagai permainan dengan tarif Rp 10 ribu untuk setiap permainan seperti, Mery Go Round, Clumbing Car dan Go Go Bouncer.

Di sini juga terdapat kuda poni maupun onta tunggangan dengan tarif Rp 20 ribu per orang sedangkan untuk berkeliling dengan menunggang gajah selama 30 menit dikenai tarif Rp 100 ribu. Seperti di taman safari lainnya juga, pengunjung bisa berfoto dengan beberapa binatang dengan tarif Rp 20 ribu.

Bali Safari & Marine Park buka mulai pukul 09:00 – 17:00. Untuk dapat memasuki Bali Safari & Marine Park, pengunjung dikenakan biaya tiket masuk. Harga tiket masuk Taman Safari Bali untuk wisatawan domestik: pengunjung dewasa (di atas 12 tahun), Rp 150 ribu/orang; anak-anak (umur 3 – 12 tahun) Rp 135 ribu/orang. Sedangkan untuk bayi di bawah 3 tahun dihitung gratis.

Dengan membayar tiket masuk sesuai dengan harga tiket tersebut pengunjung akan mendapatkan satu kali safari journey, menonton animal show; dan elephant show.

agendaIndonesia

*****

Kampung Adat Pulo Dan Kisah 7 Bangunannya  

Kampung adat Pulo di Garut memiliki tradisi dan keunikan adat.

Kampung adat Pulo di Kabupaten Garut sekilas tak beda jauh dengan kampung-kampung lain. Bangunan di kampung yang tak terlalu besar, jika tidak dibilang kecil, terlihat cukup modern. Lantas apa yang membuat mereka istimewa secara adat?

Kampung Adat Pulo

Pulo adalah sebuah kampung adat yang booleh disebut sebagai penanda penyebaran agama Islam di Garut. Kampung adat tersebut berada di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Letaknya berada di kompleks Candi Cangkuang, persis sebelum pintu masuk candi tersebut.


Desa ini baru diresmikan sebagai Desa Wisata Situ Cangkuang pada pertengahan 2021. Desa Cangkuang jaraknya sekitar 46 kilometer dari pusat kota Bandung atau sekitar 2 jam berkendara lewat darat.

Kampung adat Pulo cuma boleh memiliki tujuh bangunan. Enam rumah da satu mushola.
Rumah-rumah Kampung Adat Pulo dan pengunjung. Foto: Dok. Javalane

Nama cangkuang diambil dari nama pohon yang tumbuh di sekitar makam Embah Dalem Arif Muhammad, orang yang diangggap membangun desa ini. Cangkuang merupakan sejenis pohon pandan dan di desa ini juga terdapat danau dan candi bernama sama.

Ditetapkan sebagai desa wisata, karena memiliki daya tarik wisata, seperti candi hingga situ atau danau, potensi tersebut yang kita optimalisasikan sebagai upaya kebangkitan ekonomi nasional berbasis desa wisata. Salah satu daya tarik Desa Wisata Situ Cangkuang adalah mencoba naik rakit menyusuri Situ Cangkuang.

Tak perlu khawatir saat menikmatinya, sebab kondisi air danau seluas 15 hektare itu cenderung tenang dan memiliki pemandangan perbukitan di sekelilingnya. Setelah itu, pengunjung juga bisa berkeliling desa, menikmati pemandangan Gunung Batur, dan melihat keberadaan Candi Cangkuang dengan keunikannya.

Namun daya tarik utama Desa Cangkuang bukan saja keindahan alamnya, namun adaanya sebuah perkampungan adat yang ada di dalamnya. Kampung adat Pulo. Ada cerita rakyat yang begitu melekat mengenai kampung ini.

Ceritanya, mada masa lalu masyarakat kampung tersebut dulunya memeluk agama Hindu. Kemudian, ketika seorang pengikut Sultan Agung bernama Embah Dalem Arif Muhammad singgah di kampung tersebut setelah kekalahan pada penyerbuan pasukan Mataram terhadap Belanda di Batavia.

Ia lantas memilih tidak kembali ke Mataram lantaran malu juga takut kepada Sultan Agung. Ia pun mulai menyebarkan agama Islam di Kampung Pulo. Bersama kawan-kawannya, ia menetap di sana sampai meninggal dan dimakamkan di kampung tersebut.

Ia meninggalkan enam anak perempuan dan satu laki-laki. Hal ini dapat terlihat di Kampung Pulo ada enam buah rumah adat dan sebuah masjid atau mushola.

Kampung adat Pulo merupakan kampung yang mengambangkan agama Islam di Garut, Jawa Barat,
Masjid atau mushola adat Kampung Pulo. Foto: Dok. Javalane

Sejak abad ke-17 itu, kampung tersebut terdiri dari dari enam rumah dan satu mushola tersebut. Rumah-rumah tersebut diperuntukan bagi anak perempuannya. Sementara mushola untuk anak laki-laki satu-satunya.

Sampai sekarang bangunannya hanya ada tujuh, dan tidak boleh ditambah bangunan dan kepala keluarga. Itu simbol putra-putri Embah, memiliki tujuh anak. Saat ini Kampung Pulo ditempati oleh genereasi ke delapan, ke sembilan, dan ke sepuluh turunan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad.


Pada 2018, total warganya terdiri dari 23 orang di antaranya 10 perempuan dan 13 laki-laki. Di Kampung Pulo tidak boleh menambah kepala keluarga. Karena itu jika ada anak dari salah satu kepala keluarga menikah. Paling lama dua minggu di sana, lalu pasangan pengantin baru itu harus keluar kampung.

Kalau ibu bapak sudah meninggal, anak yang menjadi pewaris bisa masuk lagi (ke Kampung Pulo) untuk mengisi kekosongan. Prinsipnya tetap aka nada tujuh kepala keluarga. Jadi yang tinggal di sana tidak boleh keluar meninggalkan kampung. Uniknya di Kampung Pulo, semua anak dalam keluarga bisa menerima waris. Bukan hanya anak laki-laki.

Meski zaman sudah semakin modern, ada beberapa aturan yang masih berlaku di Kampung adat Pulo. Antara lain dilarang berziarah pada hari Rabu, bentuk atap rumah harus memanjang, tidak boleh memukul gong besar, dan tidak boleh beternak hewan berkaki empat.

Soal tak boleh menabuh gong, ini rupanya berkaitan dengan kematian anak laki-laki satu-satunya Eyang Embah Dalem. Ceritanya, saat si anak disunat dan diadakan pesta besar. Acara itu dilengkapi arak-arak sisingaan yang diiringi gamelan menggunakan gong besar. Namun, saat itu ada angin badai yang membuat gong menimpa anak tersebut. Ini menyebabkan si anak laki-laki itu meninggal dunia.


Sementara itu soal hewan berkaki empat, aturannya masyarakat boleh memakan atau menyebelih hewan besar berkaki empat seperti kambing, kerbau, dan sapi. Namun mereka tidak diperkenankan untuk beternak. Pertimbangannya, karena masyarakat Kampung Pulo mencari nafkah dengan bertani dan berkebun, dikhawatirkan hewan-hewan tersebut merusak sawah juga kebun mereka dan makam yang tersebar di berbagai area kampung.

Meski semuanya memeluk Islam, pada pola hidup sehari-harinya penduduk Kampung Pulo masih melestarikan sejumlah tradisi Hindu. Misalnya, dengan memandikan benda pusaka, syukuran, serta ritual lainnya. 

Berkunjung ke kawasan ini akan memberikan beragam pengalaman sekaligus, dari wisata budaya, sejarah, hingga pesona magis Kampung Pulo yang seolah-olah terisolasi oleh Situ Cangkuang.

agendaIndonesia

*****

Gong Factory, 1 Peninggalan Zaman Kolonial

Gong Factory, pabrik gong di Bogor Jawa Barat

Gong Factory, siapa sangka pabrik gong di Bogor, Jawa Barat, ini berdiri sejak zaman kolonial. Gemanya telah terdengar hingga ke mancanegara. Tak hanya memproduksi gong untuk gamelan kesenian Sunda dan Jawa, tapi juga untuk alat musik Batak, Aceh, juga Minang.

Gong Factory Bogor

Lidah api itu menari-nari. Saling berkejaran menjilat ke udara lalu lenyap sekejap. Lantas muncul dengan cepat lidah api baru. Silih berganti tiada henti. Panas yang sangat menyergap seakan tak dihiraukan oleh seorang pekerja di sudut ruangan itu. Matanya mantap tertuju pada sebuah loyang yang sedang mencairkan logam tembaga dan timah. Seorang pekerja lainnya, yang posisinya agak jauh, bertugas menjaga api agar tetap membara. Campuran kedua bahan logam ini nantinya akan dibentuk menjadi lempengan yang siap ditempa menjadi gong.

Kegiatan serupa juga ditemui di tengah ruangan pabrik Gong Factory, Bogor, Jawa Barat. Namun pekerjanya lebih banyak. Setidaknya ada sekitar lima orang. Mereka inilah yang menempa lempengan logam campuran tadi menjadi sebuah gong. Seorang pekerja bertugas menjaga bara api dengan alat pengembus angin (blower). Sementara itu, satu orang pekerja lagi, bertugas meletakkan lempengan logam campuran tadi di tengah bara dengan menggunakan potongan kayu panjang.

Sedangkan sisanya, tiga pekerja, sudah bersiap dengan palu kayu di tangan masing-masing. Setelah lempengan logam yang masih merah menyala diletakkan di tanah, mereka dengan sigap memukulnya bergantian. Hantaman palu berkali-kali itu tidak langsung membentuk gong. Lempengan tadi masih harus dibakar lagi dan ditempa lagi. Begitu seterusnya.

Bara masih menyala. Sambil menunggu lempengan logam dibakar, seorang pekerja berujar kepada saya. ”Palu ini beratnya sekitar 8 kilogram,” katanya. Wow! Terbayang dalam benak saya betapa sulitnya membuat sebuah gong. Mereka harus menghantamkan palu seberat itu berulang kali. Tak mengherankan jika peluh sudah membasahi tubuh mereka di siang itu.

Sekitar tiga jam lamanya, lempengan logam tadi sudah berubah bentuk menjadi gong walaupun warnanya masih menghitam akibat proses pembakaran tadi. Namun proses itu belum terhenti di sana. ”Kita harus mencari nada,” jelas Hidayatullah, seorang pekerja yang diminta menjadi juru bicara dadakan oleh rekan pekerja siang itu.

Dibantu rekan-rekannya, Dayat–begitu ia akrab disapa–kembali menghantam gong dengan palu yang agak ringan. Ya, lebih ringan hantamannya kali ini. Gong tersebut kemudian diangkat dan diketuk sehingga mengeluarkan bunyi. ”Sedikit lagi,” katanya. Proses pencarian nada ini pun berlangsung berulang kali. ”Ini baru dapat nadanya,” ujarnya sembari tersenyum.

Proses pengerjaan gong berdiameter 40 cm dengan berat 4 kg itu, kata Dayat, membutuhkan waktu sekitar sehari. Sebab, setelah ketemu nadanya, gong masih harus dipoles agar muncul warna keemasan. Dalam sehari, Dayat dan rekan-rekan mampu mengerjakan sekitar 2 buah gong berukuran 40 cm. Lain halnya jika harus membuat gong berukuran lebih besar lagi. Tentu butuh waktu yang lebih lama.

Menurut Dayat, Gong Factory biasa membuat pesanan pembuatan gong dengan berbagai diameter, yaitu mulai 25 hingga 60 cm. ”Dari Nong (gong terkecil), Bonang, Saron, Jengglong, sampai gong besar,” paparnya.

Mengenai harga, sebuah gong ditentukan oleh beratnya. Sebagai contoh, gong kecil dengan berat sekitar 3 kg dikenai Rp 900 ribu, ukuran 7 kg seharga Rp 2 juta. Gong berukuran besar dengan berat 10 kg dijual dengan harga Rp 3 juta, sedangkan yang berukuran 20 kg dijual seharga Rp 6 juta.

Pabrik gong yang berada di pinggir jalan raya ini tidak hanya membuat gong Sunda dan Jawa, tapi juga gong Batak, Aceh, dan Minang. Pembelinya tersebar di seluruh Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke. Bahkan, pesanan dari mancaranegara juga dilayani, seperti dari Malaysia, Singapura, Brunei, Austalia, Belanda, dan Amerika.

Tak hanya melayani pembuatan gong, lanjut Dayat, pabrik ini juga sering dikunjungi wisatawan asing yang ingin melihat proses pembuatan gong dan kemudian membelinya untuk oleh-oleh pulang ke negaranya. Turis-turis yang datang beragam, dari berbagai belahan benua, seperti Asia, Eropa, dan Amerika. “Namun yang paling banyak adalah yang berasal dari Amerika Serikat.”

Mungkin, kata Dayat, karena pabrik gong ini sudah lama berdiri. Pabrik gong turun-menurun yang masih tradisional itu kini dikelola oleh generasi ke-6. Pemiliknya bernama Haji Sukarna yang kini berusia lebih dari 80 tahun. Dayat juga meyakini jika pabrik gong tempatnya bekerja merupakan satu-satunya pabrik yang ada di Jawa Barat. Sebagian masyarakat Bogor mengenalnya sebagai Gonghom.

Pabrik gong yang buka setiap hari mulai pukul 8.00 -15.00, kecuali Jumat, ini pun tak pernah berpindah lokasi sejak pertama kali di zaman kolonial. Bangunan pabriknya kini memang sudah menua dan sederhana. Namun hasil karya gong dari Pancasan ini sudah menggema hingga ke mancanegara.

Andry Triyanto-Dok. TL

Seren Taun, Harmoni Angka 18 dan 22

Seren Taun adalah harmoni antara angka 18 dan 22. Mungkin belum banyak paham makna angka-angka tersebut. Namun, rasanya sudah banyak yang tahu jika ritual ini adalah upaya harmonisasi manusia dan alamnya. Sebuah kearifan lokal.

Seren Taun, Harmoni Angka 18 dan 22

Pagi itu, ratusan orang berkerumun di pinggir Jalan Raya Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Mereka menanti rombongan yang mengarak hasil bumi seperti padi, buah-buahan, dan umbi-umbian menuju halaman paseban. Itulah sepenggal perayaan Seren Taun, upacara adat masyarakat Sunda sebagai wujud syukur sekaligus harapan untuk musim panen yang akan datang. Kini acara ini menjadi salah satu kekuatan wisata adat Sunda.

Meski mengusung makna yang sama, prosesi Seren taun berbeda-beda dari satu desa ke desa lainnya. Namun secara umum, masyarakat mempersembahkan hasil bumi dengan membawanya berkeliling kampung dan dilanjutkan dengan ritual menumbuk padi bersama-sama.

Puncak perayaan Seren Taun selalu dilakukan setiap tanggal 22 Rayagung, yakni bulan terakhir pada sistem penanggalan Sunda di Jawa Barat. Jika diselaraskan dengan kalender Masehi, biasanya jatuh sekitar bulan September. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada tanggal 18 Rayagung, ritual dimulai dengan prosesi damar sewu alias seribu lentera. Ketika malam tiba, satu obor besar akan dinyalakan, dilanjutkan dengan menyalakan obor-obor lain di sepanjang jalan desa sebagai simbol penerang jiwa.

Ritual selanjutnya bernama pesta dadung, yakni kegiatan menari dan menyanyi sambil memegang dadung atau tali pengikat kerbau atau sapi. Tradisi ini menjadi ungkapan cinta petani dalam mengelola sawah dan ternak dari segala gangguan (hama). Pesta dadung kerap dibarengi upacara membuang hama ke Situ Hyang.

Berbeda dengan pertanian modern yang menggunakan pestisida, masyarakat agraris konvensional memiliki kearifan untuk sekadar memindahkan hama agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Dengan begitu, baik cacing, belalang, wereng, katak, tikus, ular, maupun manusia sendiri dapat hidup dalam harmoni tanpa ada yang punah atau berlebihan jumlahnya.

Berikutnya adalah malam kidung spiritual sebagai aktivitas sakral dari berbagai agama, adat, dan kepercayaan. Maka tak heran jika dalam upacara Seren Taun biasanya turut hadir para pendeta, pastor, biarawati, kiai, pandita, dan biksu. Selain itu, ada pula para raja dan sultan dari kerajaan lain, seperti Sultan Yogyakarta, Sultan Demak, Raja Sinjai, Raja Nusa Tenggara Timur (NTT), Raja Nusa Tenggara Barat (NTB), Raja Luwu, Raja Agung Tapanuli, dan Ratu Sumatera Utara.

Sementara ritual terakhir sebagai puncak Seren Taun terdiri atas persembahan kesenian, ngajayak atau persembahan hasil bumi, babarit atau tembang rohani, dan rajah pawahaci atau rangkaian doa. Sebagai penutup, ada kegiatan tumbuk padi (nutu) dan makan bersama. Aktivitas nutu diawali dengan pemberkatan aluoleh ketua adat, kemudian diserahkan oleh para pejabat dan undangan khusus.

Pada pesta makan bersama, semua peserta boleh ikut makan nasi tumpeng, tanpa kecuali. Prosesi ini mengabaikan segala sekat dan perbedaan status sosial. Maka untuk kesekian kalinya, Seren Taun kembali mengajarkan pentingnya menyelaraskan segala macam kebinekaan, tanpa menyeragamkannya.

Muasal Seren Taun

Dalam Bahasa Sunda, seren artinya serah, seserahan, atau menyerahkan, sedangkan taun berarti tahun. Maka Seren Taun dapat dimaknai sebagai penyerahan hasil panen selama setahun sebagai wujud syukur kepada Tuhan dan harapan agar panen tahun mendatang akan lebih baik.

Tradisi ini sudah dilakukan turun-temurun sejak era kerajaan Sunda purba, ketika masyarakat masih menganut agama nenek moyang yang berbasis kehidupan agraris. Seorang tokoh bernama Kiai Madrais kemudian merumuskan pola ajaran ini dan menerapkannya ke dalam berbagai ritual Seren Taun. Sekarang setelah kebanyakan masyarakat Sunda memeluk agama Islam, di beberapa desa adat Sunda seperti Sindang Barang, ritual Seren Taun dilaksanakan dengan doa-doa Islam.

Selain doa-doa, bagian upacara lain yang menjadi daya tarik ritual Seren Taun adalah pertunjukan tarinya. Masing-masing daerah dapat menampilkan tarian yang berbeda. Namun umumnya terdapat tiga tarian yang selalu muncul, yaitu:

  • Tari Pwah Aci Sanghyang Sri

Nyai Pwah Aci Sanghyang Sri atau lebih dikenal dengan sebutan Dewi Sri merupakan dewi kesuburan yang selalu hadir dalam tradisi masyarakat agraris Nusantara. Tari ini ditujukan untuk menghormati Sang Dewi yang telah memberikan welas asih berupa pangan bagi kelangsungan hidup manusia. Karena tergolong sakral, tarian berkisar pada gerakan tangan mengarah pada mata, hidung, mulut, dan telinga untuk menetralisir rohdalam tubuh manusia agar dapat rataatau seimbang.

  • Tari Ngareremokeun

Berbeda dengan tari lainnya, Ngareremokeun dipentaskan oleh para lelaki dengan ritme yang ringan dan penuh penghayatan. Mereka menari sambil melantunkan kidung pujian diiringi angklung. Setelah itu, satu per satu duduk bersimpuh lalu menggosok gigi dengan sirih dan pinang.

  • Tari Buyung

Tarian ini menggunakan buyung dan kendi sebagai instrumennya. Buyung adalah benda yang biasa digunakan untuk mengambil air di sungai, sedangkan kendi merupakan tempat air sebelum dituang ke cangkir atau gelas. Para gadis harus melenggang di atas kendi, sembari menyunggi buyung di atas kepalanya. Mereka harus bergerak dengan penuh konsentrasi agar tidak jatuh atau menjatuhkan buyung. Atraksi ini menyiratkan pentingnya keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

Selain ketiga tarian di atas, upacara yang berlansung selama berhari-hari memungkinkan masyarakat menampilkan banyak tarian Sunda lainnya, seperti Tari Jamparing Apsari dan Puragabaya yang lebih rancak.

Makna di Balik Angka

  • 18

Ritual Seren Taun dimulai sejak tanggal 18 bulan Rayagung. Dalam bahasa Sunda, bilangan 18 diucapkan dalapan welas. Kata ini identik dengan ungkapan welas asih yang berarti cinta kasih dan kemurahan Tuhan yang telah menganugerahi kehidupan bagi umat-Nya.

  • 22

Tanggal penyelenggaraan Seren Taun adalah 22 bulan Rayagung. Bilangan ini sama dengan jumlah padi yang diarak, yaitu 22 kuintal. Pembagiannya, 20 kuintal ditumbuk serta dibagikan ke penduduk dan 2 kuintal dijadikan benih. Dilansir dari situs kuningankab.go.id, angka 20 merefleksikan jumlah anatomi tubuh manusia, sedangkan angka 2 mengacu pada dualitas kehidupan, seperti siang-malam, baik-buruk, dan sebagainya.

Lokasi Perayaan Seren Taun

Setiap tahunnya, upacara Seren Taun berlangsung semarak di berbagai desa adat Sunda. Ratusan orang tumpah ke jalanan setiap hari, padahal rangkaian acara dilakukan selama 5 – 7 hari. Tak hanya melulu dari penduduk daerah di Jawa Barat, Seren Taun bahkan sudah menarik perhatian turis domestik dan mancanegara. Tertarik untuk ikut menyaksikan? Inilah beberapa desa adat Sunda yang menggelar Seren Taun pada setiap bulan September.

  • Kampung Adat Sindang Barang

Kampung Sindang Barang terlatak di Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Kampung Sindang Barang disinyalir merupakan kampung tertua yang berada di Bogor, diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Sunda sekitar abad XII. Di sinilah kebudayaan Sunda Bogor bermula dan bertahan, salah satunya upacara adat Seren Taun yang sesuai dengan mata pencaharian utama warganya, yakni petani.

  • Desa Cigugur

Desa Cigugur berada di lereng Gunung Ceremai, tepatnya di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Perayaan Seren Taun di sini adalah salah satu yang paling meriah. Awal munculnya perayaan Seren Taun di Desa Cigugur adalah ketika Kiai Madrais menetapkan tanggal 1 Muharam sebagai waktu diadakannya upacara Seren Taun. Menurut ajaran Madrais, Sanghyang Sri atau Dewi Padi perlu dihormati dengan upacara religius daur ulang penanaman padi untuk mengendalikan hawa nafsu dan menyelamatkan hidup.

  • Kampung Adat Ciptagelar

Ritual Seren Taun di Kabupaten Sukabumi terselenggara di pelataran alun-alun Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok. Alun-alun kasepuhan selalu ramai oleh warga dan tamu dari berbagai daerah pada puncak acara Seren Taun yang sudah dilakukan sejak 646 tahun silam.

  • Kasepuhan Pasir Eurih

Warga Kasepuhan Pasir Eurih menggelar ritual Seren taun di Desa Sindanglaya, Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Ritual Seren Taun juga menjadi ajang silaturahmi antara warga sesama masyarakat Desa Sindanglaya. Dimulai dengan ziarah kubur, dilanjutkan dengan pembacaan dongeng tentang leluhur Pasir Eurih, dan berdoa untuk para leluhur. Puncaknya adalah ngariung, yaitu membawa nasi atau hasil bumi ke kasepuhan kemudian berzikir dan makan bersama.

Dok. TL

Artjog2022, Yogyakarta Merayaan Seni

Artjog 2022 sedang berlangsung di Yogyakarta mulai 7 Juli hingga 4 September 2022.

Artjog2022 digelar sebagai perayaan atas seni dan kesenian Yogyakarta. ArtJog adalah festival, pameran, dan pasar seni kontemporer yang digelar tahunan. Tahun ini digelar mulai 7 Juli hingga 4 September 2022.

Artjog2022

Acara ini pertama kali diadakan pada 2008 dengan nama Jogja Art Fair yang merupakan bagian dari rangkaian acara Festival Kesenian Yogyakarta XX. Pada 2009, Jogja Art Fair tidak lagi menjadi bagian dari Festival Kesenian Yogyakarta. Ini lalu berlanjut pada 2010 namanya berubah menjadi ArtJog. 

artjog2022 berlangsung Jogjakarta Nasional Museum dari 7 Juli hingga 4 September di
Artjog2022 berlangsung di Jogjakarta National Museum. Foto Badan Otorita Borobudur-Kemenpaekraf

ArtJog awalnya digelar di lokasi Taman Budaya Yogyakarta. Ini berlangsung sampai 2015. Tahun selanjutnya, 2016, acaranya mengambil tempat di Jogja National Museum (JNM). Dan masih di sana hingga 2022 ini.

Tahun ini, Artjog2022, atau penyelenggara dalam artjog.id menuliskannya ARTJOG MMXXII, mengambil tema Arts in Common – Expanding Awareness. Tema ini mengakhiri seri ARTJOG arts-in-common yang sejak 2019 membingkai ketiga pameran dalam triplet tematik ‘ruang’ – ‘waktu’ – ‘kesadaran’.

Tema ini dimaknai sebagai upaya perluasan kesadaran yang akumulatif dan resiprokal antara seniman dan khalayak dengan merefleksikan realitas yang kini, masa depan, serta harapan-harapan yang harus diwujudkan.

Salah satu agenda utama dalam Expanding Awareness adalah memberikan perhatian pada kesenian yang mendukung inklusivitas. Hal yang diimplementasikan pada seleksi kuratorial, program-program, dan penyelenggaraan secara lebih luas. ARTJOG arts-in-common bukan melulu soal ‘kesenian untuk semua’, tapi juga tentang cita-cita terwujudnya sebuah dunia bersama.

Kesuksesan Artjog tidak lepas dari peran penting seorang seniman bernama Heri Permad. Pemad sendiri dalam bahasa slank Yogya bisa diartikan “edan”. Berawal dari kegelisahan Heri Permad yang melihat bahwa seniman tidak dikenal cukup luas oleh khalayak.

ArtJog diselenggarakan oleh Heri Pemad Art Management yang berbasis di Yogyakarta.

Dari tribunnewswiki, disebutkan Heri merasa banyak masyarakat Indonesia yang berkompeten dalam bidang seni. Dari penggiat seni, kolektor seni, kurator, hingga seniman.

Selain itu, Heri merasa infrastruktur seniman masih kurang, serta galeri yang belum tersebar luas. Hingga pada akhirnya, Heri Permad memiliki ide untuk mendirikan Jogja Art Fair di Taman Budaya Yogyakarta. Ia kemudian mengajak seluruh seniman yang dikenal untuk berpartisipasi. Tak disangka, ratusan seniman ingin berpartisipasi di Jogja Art Fair.

Saat ini ArtJog2022 bisa disebut sebagai satu diantara pameran seni rupa berskala besar di Indonesia yang paling konsisten penyelenggaraannya. Ia adalah perhelatan yang dinanti oleh banyak kalangan, dari kancah lokal maupun internasional.

Hingga 2010, ketika terjadi perubahan nama baru menjadi ArtJog, boleh dikatakan peserta Artjog masih lingkup nasional. Hingga pada akhirnya, Artjog mulai melebarkan sayap ke dunia internasional. Sejak saat itu, Artjog menyajikan berbagai bingkai kuratorial yang spesifik dan seleksi yang lebih ketat.

Tak hanya sekadar pameran seni kontemporer yang menyajikan karya seni yang dapat dipajang. ArtJog juga memiliki program-program menarik antara lain exhibitiondaily performancemarchandise project, dan fringe.

Dalam program exhibition Artjog memiliki tiga kategori yaitu Special Project, Special Invitation, dan Young Artist Award. Pada kategori Special Project, Artjog membuka ruang untuk presentasi seni lintas disiplin.

Selanjutnya pada kategori Special Invitation, Artjiog akan menampilkan karya-karya terbaik dari para seniman undangan yang karyanya berkaitan dengan tema yang diusung. ArtJog juga membuka kesempatan bagi seniman dan publik berusia di bawah 35 tahun untuk berpartisipasi dalam pameran melalui panggilan terbuka untuk dikurasi. Kategori Young Artis Award dirancang sebagai wujud apresiasi dan menggali potensi seniman muda.

artjog2022 cara masyarakat Yogya merayakan seni.
Artjog2022 merupakan salah satu cara masyarakat Yogyakarta merayakan seni. FotoL BAdan Otorita Borpobudur-Kemenparekraf

Tak hanya menyajikan seni kontemporer dalam bentuk gambar saja, Artjog juga memberikan keberagaman bentuk seni lainnya seperti seni musik, seni pertunjukkan, dan seni tari.

Selain itu Artjog mengundang seniman dan pekerja kreatif untuk membuat dan memasarkan produk agar dapat ditemui oleh publik. Hingga saat ini terdapat 62 produk yang bergabung dengan Artjog.

Dalam soal standardisasi dan edukasi, ArtJog memiliki program bernama Curatoral Tour. Di sini pengunjung akan diajak untuk berkeliling ruang pameran dengan dipandu oleh tim curator Artjog.

Pada program Meet The Artist, Artjog memfasilitasi publik untuk bertemu dan berbincang langsung dengan seniman yang terlibat dalam pameran Artjog. Program ini memberikan pertukaran pengetahuan dan dialog antara seniman dan publik.

ARTJOG MMXXII

7 Juli-4 September 2022

Jogjakarta National Museum

Jl. Prof. DR. Ki Amri Yahya No.1, Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55167

agendaIndonesia

*****

Kopi Merapi, 1 Peninggalan Kolonial Belanda

Kopi Merapi di Cangkringan, Yogyakarta

Kopi Merapi adalah satu peninggalan kolonial Belanda. Mungkin di sekitar tahun 1930-an ia mulai ditanam, tapi baru belakangan setelah erupsi gunung Merapi pada 2010 tempat ini menjadi omongan dan belakangan jadi tujuan wisata.

Kopi Merapi, Peninggalan Kolonial

Kopi yang ditanam di lereng Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta ini bukan cuma mengharumkan nama kopi Nusantara, namun juga menjadi catatan bangkitnya perekonomian penduduk lokal dari erupsi besar-besaran yang terjadi 10 tahun lalu.

Kini saat liburan ke kawasan Kaliurang dan sekitarnya, ada satu warung kopi yang tak boleh dilewatkan. Kopi Merapi, begitu namanya, terletak di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman. Di warung ini pengunjung dapat menikmati seduhan biji kopi yang ditanam langsung di tanah vulkanik lereng Merapi, baik jenis arabika maupun robusta.

Sebelum erupsi, warga yang terhimpun dalam Koperasi Merapi memiliki lahan seluas 800 hektare. Namun, sewaktu fenomena alam itu terjadi, lahan tersebut tertutup abu hingga lahan yang tersisa tinggal 50 hektare. “Warga mulai menanam kembali kopi dan kini sudah sekitar 500 hektare lahan bisa dimanfaatkan kembali,” kata Ketua Koperasi Merapi Sumijo di Kaliurang, Yogyakarta.

Kopi Merapi pun mulai diproduksi dan dikirim ke luar daerah, seperti Jakarta, Bandung, Bogor, dan Tangerang. Saatmengunjungi koperasi tersebut dan menyaksikan berkarung-karung biji kopi siang sangrai ditumpuk di gudang. “Ini pesanan,” kata Juwanto, pegawai koperasi Kopi Merapi yang ditemui di tempat yang sama.

Pada zaman dulu, cerita Sumijo, kopi hasil perkebunan di sekitar Merapi dikenal dengan sebutan kopi meneer. Disebut demikian sebab awalnya tanaman kopi di lereng Merapi itu diperkenalkan pada masa kolonial Belanda. Orang-orang Belanda yang tinggal di Jawa Tengah dan sekitar Yogyakarta melihat lereng Merapi yang sejuk cocok untuk ditanami kopi.

Selain kopi meneer atau menir, kopi Merapi pernah pula disebut sebagai kopi Turgo. Ini merujuk pada lokasi perkebunannya di dekat wilayah Desa Turgo. Namun, tentu saja,  nama Turgo jarang orang yang tahu. Kecuali saat terjadi erupsi Merapi yang lalu. Akhirnya, mereka kemudian menyebut nama komoditas mereka sebagai kopi Merapi.

Begitupun, perjalanan kopi merapi sebagai komoditas tidaklah meroket. Bahkan nyaris jarang diketahui orang. Bahkan bagi masyarakat Yogyakarta, yang posisinya di kaki gunung Merapi, keberadaan kopi Merapi tak banyak dikenal.

Baru beberapa tahun belakangan ini, masyarakat mengenal adanya Kopi Merapi. Ini bisa dipahami, sebab meski sudah mulai diperkenalkan sebagai tanaman sejak zaman kolonial, warga sekitar lereng Merapi mulai menanam secara intensif pada sekitar 1984-an. Kopi yang ditanam berjenis Robusta. Sedangkan kopi Arabika mulai dikembangkan di sini sejak 1990-an awal.

Selain itu, kopi hasil panen kebun-kebun kopi di sekitar Merapi, yang kawasannya tak terlalu besar itu, oleh para petaninya lebih banyak dijual dalam bentuk mentah atau biji basah. Hal ini membuat penghasilan dari menanam kopi menjadi tak maksimal.

Baru pada 2004, menurut Sumijo, dirinya mencoba membuat rintisan Koperasi Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama Kebun Makmur. KUB didirikan untuk menyiasati agar harga kopi yang dijual para petani harganya stabil dan tak dimainkan para tengkulak.

Berbagai inovasi pernah mereka lakukan supaya harga kopinya bisa mengalami peningkatan ekonomi. Setelah sekian “percobaan’,  akhirnya koperasi membuat kopi kemasan atau siap saji. Mereka kemudian juga mencoba menjual biji kopi kering maupun kopi serbuk dalam bungkus kiloan dan sachet.

Selain membuat berbagai olahan produk kopi, Sumijo juga membuat sebuah warung Kopi Merapi di daerah Cangkringan. Pada 17 November 2012, Sumijo dan Sukirah istrinya, secara resmi membuka warung kopi Merapi di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Sumijo menjelaskan konsep yang diusung di warung Kopi Merapi miliknya adalah tradisional. Artinya cara pengolahan biji kopi semua dengan cara tradisional nenek moyang zaman dulu.

Kopi Merapi memiliki jenis arabika dan robusta. Keduanya ditanam di ketinggian 700-1.200 mdpl. Kopi ini hidup di kawasan Kaliadem, tepat di kaki gunung.

Menjelang Mei, petani setempat bersiap menyambut panen raya kopi. Biji-biji yang telah dipanen lalu akan diproses di Koperasi Merapi, yakni di Jalan Kaliuran KM 20, Sleman. Wisatawan yang datang pun dapat melihat proses lengkapnya. Mulai penjemuran kopi, sangrai, hingga penggilingan.

Pada saat-saat panen, pengunjung bisa menyaksikan kopi yang baru mulai dipanen itu diproses di koperasi. Lantas, berkesempatan pula untuk menjajal rasa asli kopi arabica. Kopi Merapi memiliki keistimewaan after taste atau rasa yang tertinggal dengan karakter fruitty alias buah-buahan yang kuat.  Sebab, kopi ini ditanam di dekat tanaman cokelat, mangga, kelapa, dan buah-buahan lainnya.

Bila diminum tanpa gula, seteguk kopi Merapi pun akan terasa lembut. “Bodinya ringan,” kata Sumijo.

Wisatawan bisa membawa pulang kopi Merapi sebagai buah tangan. Per 250 gram arabica, kopi Merapi dijual RP 50 ribu, sedangkan robusta Rp 30 ribu. Selain bisa menikmati kopi, pelancong yang datang ke koperasi dapat bermain-main di kebun kopi. Letaknya tepat di belakang gedung koperasi.

F. Rosana