Oleh-oleh dari Medan, 3 Yang Dari Kebun

Oleh-oleh dari Medan, Sumatera Utara, memiliki banyak macamnya. Oleh-oleh kreasi warga Medan pun terus berkembang. Tidak lagi hanya sirop markisa, bika Ambon, dan bolu Merant,i tapi juga tersedia pilihan hasil kebun yang menyegarkan.

Oleh-oleh dari Medan

Manisan, jus buah, dan kopi membikin mata serta pikiran langsung terbuka. Medan memang surga segala jenis hidangan. Dari sajian untuk sarapan hingga hidangan laut yang biasa dikonsumsi malam hari. Berbagai hasil perkebunan di sekitar Sumatera diramu untuk menggoda selera. Hasil olahan menyegarkan tersebut termasuk kopi. Cairan hitam ini tak kalah nikmat, apalagi jika aromanya sudah menggoda hidung.

Manisan Buah Yenny

Yenny sudah dikenal sebagai pembuat manisan jambudi Medan sejak 1980-an. Ia bekerja dengan suaminya membuat olahan ini. Hasilnya berupa manisan jambu renyah yang ia sebut tidak bisa tahan lama. Selain menggunakan gula asli, olahan ini tanpa pengawet. Para wisatawan lazimnya mampir ke toko ini sebelum menuju bandara untuk pulang ke daerah masing-masing. “Hanya tahan dua hari, di lemari es paling empat hari,” Yenny mengungkapkan.

Yenny menggunakan jambu klutuk atau jambu biji hasil perkebunan di Berastagi. Pembuatannya paling singkat dibanding dengan jenis manisan lain, hanya dikupas kemudian dimasukkan ke cairan gula sebentar.

Bentuknya dibiarkan bulat, dengan warna asli bagian luar kehijauan dan daging yang putih. Rasanya segar dan renyah. Buah ini paling pas dikunyah siang hari di tengah hawa Kota Medan yang panas. Ada beberapa lokasi yang menjadi pusat penjualan manisan jambu klutuk. Hanya, bila Anda ingin membawanya sebagai oleh-oleh, lebih baik menuju Jalan S. Parman. Tidak jauh dari Museum dan Galeri Rahmat, ada sebuah jalan kecil yang dikenal sebagai Gang Pasir. Tepat di ujung gang, ada dua toko. Nah, di sisi kanan berdiri Toko Manisan Yenny.

Berada di provinsi yang memiliki lahan perkebunan luas, Medan menyodorkan banyak olahan manisan buah. Yenny mengaku mencari jenis buah terbaik dan menggunakan gula asli. Proses pengolahan manisan ini cukup panjang, bahkan hingga satu minggu agar rasa manis benar-benar meresap pada buah.

Selain jambu biji, buah lain yang digunakan untuk manisan adalah buah khas Sumatera Utara, seperti mangga Medan, yang berukuran kecil. Diolah ketika mangga masih muda, manisan yang dijual per kilogram ini terasa asam manis. Jika masih ingin mencicipi yang segar-segar, pengunjung bisa memilih manisan asam gelugur, yang dipatok seharga Rp 50 ribu per kilogram. Ada juga manisan kedondong, pepaya, dan cabai, yang harganya cukup tinggi.

Manisan Yenny; Jalan S. Parman Gang Pasir No 21; Medan

oleh-oleh dari Medan tak sedikit yang merupakan produk perkebunan.
Juise buah bisa menjadi oleh-oleh dari Medan, salah satunya juice Terong Belanda. Foto: Dok. shutterstock

Jus Buah Asli

Banyak orang mengenal oleh-oleh Medan berupa sirop markisa dan terung Belanda. Sirop itu memiliki aroma yang kuat, meski rasa markisanya sudah berkurang. Penggemar buah ini bisa menemukan produk tersebut di toko manisan, di antaranya gerai milik Yenny. Selain menjual jus markisa dan terung Belanda, serta campuran keduanya yang disebut martabe, toko ini menjajakan beragam jus buah.

Ada jus jeruk Kietna dalam botol untuk ukuran 600 mililiter. Ada pula jus markisa, martabe, dan jus kedondong yang menyegarkan. Bagi penggemar sirsak, tersedia pula jus buah tersebut dalam botol.

Manisan Yenny; Jalan S. Parman Gang Pasir No 21; Medan

Oleh-oleh dari Medan ada yang berasal dari olehan perkebunan, di antaranya kopi.
Kopi di Oppal Coffee, selain yang bisa dibawa dalam bentuk biji atau serbuk, juga bisa dinikmati di tempat. Foto: Dok. TL/Dhemas

Kopi Beraroma Mantap

Kopi tentu menjadi oleh-oleh yang tak kalah menyegarkan dari Medan. Kopi Sidikalang salah satunya. Ada banyak produk minuman sedap ini karena memang Sumatera Utara gudangnya kopi. Namun jika benar-benar penikmat kopi, dan ingin memilih yang berkualitas ekspor, Anda bisa mencicipi produk Opal Coffee.

Kopi ini dikeluarkan oleh PT Sari Makmur Tunggal Mandiri, yang memiliki lahan sekitar 500 hektare di Sidikalang. Kopi yang diolah 100 persen hasil lahan sendiri. Ada 15 varietas kopi yang ditanam, sehingga pembeli bisa memilih sesuai dengan selera. Menurut Michael Wonggo, Operation Manager Opal Coffee Division, kopinya juga menjadi langganan hotel-hotel berbintang di Medan.

Beberapa jenis kopi dari Opal Coffee bisa ditemukan di kafe yang dikelola perusahaan ini di Medan. Berlokasi di Griya Riatur, beraneka kopi Sumatera dan daerah lain dijual pada kisaran Rp 200 ribuan per kilogram, baik yang masih berupa butiran maupun hasil sangrai dadakan.

Opal Coffee Café & Resto; Kompleks Griya Riatur Blok C-56; Medan

Rita N./ Dhemas RA/TL/agendaIndoensia

*****

Suguhan Fusion 3 Bangsa di Ebisu Restaurant

Ebisu Mercure Surabaya RK

Suguhan fusion 3 bangsa di Ebisu Restaurant Grand Mecure Mirama Surabaya menyuguhkan hidangan Jepang dengan bumbu Korea dan Cina plus interior hangat khas Negeri Sakura. Ini merupakan alternatif kuliner saat ingin menikmati hidangan internasional selagi berada di Surabaya, Jawa Timur. Berada di dalam hotel berbintang, namun bisa dinikmati tanpa harus menginap.

Suguhan Fusion 3 Bangsa

Senja baru tenggelam. Di luar, Jalan Raya Darmo, Tegalsari, Surabaya, masih dipadati kendaraan. Menepi sejenak ke Mercure Grand Miramar—hotel bintang empat yang memiliki empat restoran—bisa menjadi pilihan untuk mengusir keroncongan perut. Apalagi ada gerai yang tergolong baru dengan sajian olahan dari Negeri Sakura. Doyan akan kehangatan udon, atau ngemil sushi, yang sekali suap ke mulut rasanya tak perlu dipikir panjang.

Berada di bagian perluasan hotel, saya langsung menangkap kehangatan khas Jepang. Tetamu akan dengan mudah mengenali resto ini karena di bagian depan dipasang mon atau gapura khas Jepang yang kerap ditemukan di sejumlah kuil. Dua tiang bulat yang menjadi penyangga dipulas dengan warna merah menyala sehingga begitu kentara. Di tengah gapura ada tulisan Ebisu yang dibikin kaligrafi mirip huruf Kanji.

Sebelum gerbang, ada pula meja bagi staf resto. Uniknya, meja dilapisi kertas dekorasi berupa koran Jepang, demikian juga dinding di dekatnya. Sementara di dinding tengah resto terpampang gambar lebar Dewa Ikan. Ternyata, Ebisu memang nama Dewa Ikan. Tak mengherankan bila di menu bertebaran nama-nama penghuni laut, meski tetap ada olahan dari daging sapi dan ayam.

Warna merah lain muncul di bagian atas dengan hiasan lampu-lampu model lampion. Selebihnya, kehangatan muncul karena penggunaan kayu-kayu dengan warna alami. Tempat duduk dibagi dalam tiga baris. Di bagian pinggir, diisi sofa warna hijau dipadu dengan kursi tunggal di depannya, sementara di bagian tengah tertata meja dan kursi panjang berbahan kayu.

Suguhan fusion 3 bangsa di Ebisu Mercure Surabaya

Belum menikmati kelezatan suguhannya, saya sudah merasakan sambutan hangat dari interiornya. Langkah saya kali ini menuju bagian ujung ruangan. Menuju meja tempat para juru masak beraksi. Ada seorang koki yang menunjukkan kepiawaian membuat sushiCalifornia maki. Aksi menggulung pun terjadi dan hasilnya terlihat begitu menggoda. Di bagian dalam antara lain ada alpukat dan kepiting, sedangkan di bagian luar bertaburan tobiko—telur ikan terbang—yang membuat tampilan sushi seharga Rp 68 ribu itu terlihat kinclong. Selain menyajikan California maki, masih ada pilihan gulungan sushi lain. Semisal ebi tempura maki yang berisi udang goreng tempura, shake maki dengan irisan ikan salem segar, dan lain-lain.

Ingin menambah kehangatan dengan menyantap hidangan berkuah panas? Pilihan bisa berupa udon atau ramen. Ada beragam udon, di antaranya seafood udon senilai Rp 158 ribu. Mi khas Jepang itu dipadu dengan beragam ikan laut, yakni udang, salem, kakap, dan kepiting. Jika ingin yang berasa daging sapi, ada niku udon dan niku sobai. Untuk ramen, pilihannya berupa shoyu ramen. Saat saya datang, ada suguhan spesial di bulan tersebut berupa cheese ramen yang gurih karena rasa keju yang kental. Dipatok seharga Rp 78 ribu, memang suguhan satu itu berbeda dari yang lain.

Masih ada menu khas Jepang lain, seperti yakiniku, tepanyaki set menu, teishoku set, dan yakimono atau hidangan panggang. Ada pula curry rice, bento, dan sejumlah hidangan kuah panas—nabemono. Namun jangan kaget bila dalam daftar menu ada yang beraroma Korea, seperti beef kimchi itame yang tak lain merupakan beef kimchie set. Ebisu Restaurant memang memilih menyuguhkan olahan fusion. Hidangan Jepang pun dipadu dengan bumbu dari Korea dan Cina.

Dewa Ikan Ebisu tanpanya memang tak mau tanggung-tanggung, segala suguhan bisa disajikan di ruang makan yang lokasinya tak jauh dari lobi hotel ini. Dari yang digoreng, kuah panas, dipanggang, sampai yang dingin. Di tengah kehangatan, sushi, ramen, dan tempura pun membuat perut penuh terisi. Jalan sedikit mulai lenggang, saatnya untuk beranjak. Peraduan sudah menunggu, terbayang tidur lelap dengan perut terisi penuh.

Ebisu Japanese Restaurant, Mercure Grand Miramar Surabaya

Rita N./R. Kesuma/Dok. TL

Sepeda Bambu, Sudah Nggowes Sejak 2013

Sepeda bambu merek Spedagi merupakan karya anak Indonesia. Foto: dok. Spedagi.com

Sepeda bambu menjadi popular tak kala Presiden Joko Widodo mengajak Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menggunakannya di Istana Bogor, Jawa Barat, 6 Juni lalu. Keduanya rupanya memilih melakukan pembicaraan dengan nggowes bareng.

Sepeda Bambu

Awalnya mungkin banyak yang menganggap sepeda yang dipergunakan ke dua pemimpin negara tersebut adalah sepeda road bike biasa. Belakangan, pihak Istana mengabarkan bahwa sepeda yang dipakai ke dua pemimpin adalah Spedagi, alias sepeda berbahan bambu karya anak Indonesia.

Dari informasi yang sama, diketahui bahwa sepeda bambu yang digunakan Presiden Jokowi dan PM Albanese itu memang dirancang untuk digunakan di jalan raya. Masuk kategori road bike. Banyak yang penasaran dengan sepeda Spedagi tersebut? Produk barukah?

Sepeda bambu sudah diekspor ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, bahkan Prancis.
Salah satu tipe Spedagi. Foto: spedagi.com

Spedagi adalah sepeda bambu asli buatan Indonesia. Sepeda ini dirancang Singgih S. Kartono yang berasal dari Temanggung, Jawa Tengah. Nama “Spedagi” berasal dari kata “sepeda pagi”, yaitu kegiatan yang rutin dilakukan oleh Singgih untuk menjaga kesehatan.

Berlatar belakang sebagai desainer yang hobi sepedaan, membuat Singgih tertarik dengan berbagai desain sepeda, salah satunya sepeda bambu dari Amerika. Ia dibuat takjub dengan sepeda bambu karya Craig Calfee dari AS. Tidak hanya terbuat dari bambu, tapi sepeda tersebut juga dibuat dengan metode kerajinan tangan.

Dari ketertarikan tersebut dan berkat stok bambu yang melimpah di Indonesia, Singgih terdorong untuk membuat dan mengembangkan desain sepeda bambu asli Indonesia. Hingga akhirnya, pada awal 2013 Singgih mulai mengembangkan desain dan memulai produksi sepeda bambu.

Dengan tujuan menemukan jenis bambu yang tepat, desain frame sepeda yang kuat, nyaman, serta estetik. Akhirnya dipilihlah Bambu Petung (Dendrocalamus asper), yaitu salah satu jenis bambu terkuat dan tersedia melimpah di pedesaan. Bambu dengan diameter besar dan dinding tebal ini selain kuat, juga memungkinkan untuk membuat batang rangka sepeda dengan ukuran yang seragam

Untuk menjaga kualitas dan kenyamanan saat bersepeda, sepeda bambu dibuat dengan menggunakan jenis bambu yang tepat. Tujuannya agar sepeda bambu tetap kuat, nyaman, dan pastinya terlihat estetik.

Sepeda bambu merek Spedagi menggunakan bahan bambu petung.

Seperti sepeda pada umumnya, Spedagi kemudian dikembangkan dengan beberpa pilihan desain. Ini dilakukan agar pembeli bisa memilih sesuai kebutuhannya. Singgih paham kalau penggiat sepeda ada yang senang berjalan di jalan raya, di sekitar perumahan saja dan sebagainya.

Karena itu, untuk mereka yang senang bersepeda santai di jalan raya dan trek agak keras khas pedesaan ada produk yang dinamakan Spedagi Dwiguna, atau dual track. Sedangkan jika ingin mencari yang nyaman di jalan panjang yang mulus, pecinta sepeda bisa memilih produk Spedagi Dalanrata. Ini jenis road bike.

Singgih tampaknya cukup mengenal kesukaan para goweser. Ia juga melihat banyak pesepeda di Indonesia yang jenisnya funbiker, bersepeda untuk santai dan senang-senang di sekitar perkotaan. Untuk itu ia merancang jenis Spedagi Gowesmulyo dan Spedagi Rodacilik. Dari namanya rasanya orang bisa menebak sepeda jenis apa ke duanya. Ke duanya menggunakan roda kecil.

Meski tampilannya terlihat sederhana dan berbahan bamboo, Spedagi nyaman dipergunakan. Dan, menariknya, sepeda bambu Spedagi bahkan sudah lolos uji kendaraan Jakarta-Madiun dengan jarak 750 kilometer, dan menanggung total beban 90 kilogram, dan tanpa kerusakan apapun.

Karena keunikannya, sepeda bambu Spedagi sudah banyak dilirik dan dibeli banyak orang. Tidak saja para pecinta sepeda di dalam negeri, namun juga mereka yang menggilai sepeda dari luar negeri.Yang membanggakan, 95 persen produk Spedagi karya Singgih dan timnya itu bahkan terserap oleg pasar internasional. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Brazil, Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Singapura, Australia, Selandia Baru, juga beberapa negara Eropa sudah mengimpornya.

Spedagi, sepeda bambu oroduk asli Indonesia asal Temanggung sudah merambah ke negara Eropa seperti Prancis. Selain itu, karya Singgih ini juga mendapatkan penghargaan dari berbagai pihak, termasuk dari mancanegara. Salah satunya pada 2017, Spedagi mendapatkan penghargaan Good Design Award oleh Asean-Japan Centre.

Tertarik untuk memilikinya? Ada beberapa tipe sepeda bambu karya Singgih ini.

  • Dwiguna (DG-R-26), adalah sepeda bambu tipe MTB dengan harga mulai dari Rp5,5 juta.
  • Gowesmulyo (joy bike), adalah sepeda yang dirancang untuk alat transportasi jarak dekat, harga mulai dari Rp5,5 juta.
  • Rodacilik, adalah sepeda tipe minivelo, sepeda dewasa dengan ukuran ban 20”, harga mulai dari Rp6 juta.
  • Dalanrata, adalah sepeda ramping dan ringan, cocok untuk jalanan yang rata, harga mulai dari Rp6,5 juta.

agendaIndonesia

*****

5 Oleh-oleh Medan Yang Memikat dan Nikmat

5 oleh oleh Medan bolu meranti

5 oleh-oleh Medan ini kian hari kian memikat dan tetap nikmat. Bika Ambon masih jadi sesuatu yang khas, tapi tidak lagi hanya itu, karena pilihan terus bertambah.

5 Oleh-oleh Medan

Tak mengherankan jika ada orang Medan yang menyebutkan, kalau sudah pulang kampung, berat badan langsung naik. Di Medan, memang begitu mudah ditemukan sajian yang menggoda. Bila Anda bersiap meninggalkan Medan, tapi masih ingin mencecap sajian kota itu, tidak ada salahnya membawa oleh-oleh. Paling tidak, dalam beberapa hari Anda masih bisa menikmati sajian khas Sumatera Utara. Mulai yang sudah lama dikenal seperti sirop markisa, sirop terung Belanda, bika ambon, manisan jambu, dodol duren, hingga yang kini digandrungi: bolu gulung Meranti dan pancake durian. Semua bisa dikemas agar siap dibawa langsung ke bandara.

Bika Ambon

Sepanjang Jalan Majapahit, Medan, sudah lama menjadi sasaran turis ataupun warga Medan untuk mendapati oleh-oleh khas bika ambon. Mulai ramai sejak 1990-an, hingga kini deretan toko yang menjual oleh-oleh semakin bertambah. Ada sekitar 20 toko. Mungkin karena bika ambon dari tahun ke tahun selalu diburu sebagai oleh-oleh. Dengan kreativitas, bahkan bika ambon tersedia dalam berbagai rasa, dari yang orisinal berwarna kuning hingga muncul rasa pandan, keju, cokelat, vanila, nangka, dan durian.

Nama kue ini bika. Tapi konon, karena awalnya ada pemuda Ambon yang setiap kali makan kue ini selalu dengan lahap, disebutlah bika ambon. Kue berpori-pori dengan rasa legit ini bisa ditemukan dalam berbagai ukuran. Semula memang dijual dalam ukuran kecil, tapi kue setebal 5-6 sentimeter itu kini kebanyakan diproduksi dalam ukuran besar.

Ada dua merek yang cukup dikenal, yakni Bika Ambon Zulaikha dan Bika Ambon Ati. Bika Ambon Ati disebut sebagai yang pertama membuka usaha penganan tersebut di jalan ini. Adapun pemilik bika ambon Zulaikha membuka tokonya pada 2003, meski pembuatan bika ambon sudah dilakukannya sejak 2000. Rata-rata per loyang besar dihargai Rp 50 ribu. Kue yang terbuat dari tepung sagu dan telur ini bahkan dikemas khusus jika hendak dibawa naik pesawat, sehingga bika ambon pun aman di perjalanan. Di toko Bika Ambon Zulaikha juga bisa ditemukan beragam oleh-oleh khas Medan lainnya.

Bika Ambon Ati; Jalan Majapahit Nomor 11; Medan

Bika Ambon Zulaikha; Jalan Majapahit 96-D-E-F; Medan

Bolu Meranti

Kini jenis bolu gulung ini seperti menjadi oleh-oleh wajib bagi para pengunjung Kota Medan. Gerai yang lebarnya sekitar 6 meter itu pun selalu dipenuhi pengunjung. Di dinding dipajang foto-foto artis yang pernah mampir dan berbelanja di Bolu Meranti, di Jalan Kruing, Sekip, Medan.

Ada beragam rasa bolu gulung di sini, seperti stroberi, cokelat, moka, kopi, vanila, blueberry, pandan, dan ada campuran dua rasa: cokelat-stroberi, moka-kopi, cokelat-moka, dan lain-lain. Ada juga yang dibubuhi keju, kacang, atau meses.

Toko itu didirikan pada 2005, dan menggunakan nama Meranti, karena semula menjualnya di Jalan Meranti, meski pembuatnya tinggal di Jalan Kruing. Ciri khas bolu ini adalah teksturnya yang lembut. Selain itu, ada lapis legit, brownies, dan kue sus. Cuma kebanyakan yang dicari sebagai oleh-oleh bolu dan lapis legit. Selain bolu Meranti, kini bermunculan jenis bolu yang sama tapi dengan merek lain.

Bolu Meranti; Jalan Kruing Nomor 2-K; Medan

Sirop Markisa & Terung Belanda

Pertanian di sekeliling Medan tumbuh subur. Alhasil, dalam soal sayuran dan buah-buahan, kota ini mempunyai banyak pilihan. Salah satu pemasok besar datang dari dataran tinggi Tanah Karo dan Berastagi. Kedua daerah ini berada di kaki Gunung Sibayak. Untuk buah-buahan, selain ada jeruk, tersedia markisa dan terung Belanda. Sirop markisa sudah lama menjadi oleh-oleh dari Medan. Dengan semakin banyaknya hasil pertanian berupa terung Belanda, buah berwarna ungu ini pun diolah menjadi sirop.

Ada beberapa merek untuk kedua jenis sirop ini, di antaranya Pyramid Unta, Pohon Pinang, Noerlen, dan Sarang Tawon. Harganya berkisar Rp 18-33 ribu. Setelah meneguk jus buah aslinya, ada baiknya Anda membawa oleh-oleh berupa siropnya, yang tentu juga tetap menyegarkan karena terbuat dari buah asli dan mengandung sejumlah manfaat bagi tubuh. Markisa disebutkan memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi dan vitamin A, B, serta C. Terung Belanda, yang berbentuk lonjong, berasa asam, dan dikenal mengandung vitamin A, B, C, dan E, ditambah lagi protein, kalsium, fosfor, zinc, zat besi, dan lain-lain. Sirop ini bisa didapat dengan mudah di toko oleh-oleh.  

5 Oleh oleh Medan di antaranya pancake durian

Pancake Durian

Durian umumnya lebih puas dinikmati di Medan. Apalagi jenis buah ini dilarang dibawa masuk ke dalam pesawat terbang. Namun rupanya orang Medan mempunyai trik agar durian tetap bisa dibawa sebagai oleh-oleh tanpa mengganggu penumpang lain. Durian pun dibuat lebih ringkas dengan mengolahnya menjadi pancake durian. Dibentuk dalam ukuran kecil untuk sekali makan dan dikemas dalam sebuah kotak kecil yang terdiri atas 10 pancake. Untuk membawanya ke dalam pesawat, si penjual biasanya membubuhkan kopi hingga aroma menyengatnya tidak muncul.

Untuk memuaskan pencinta durian, ada sebuah toko yang menjual macam-macam penganan dari durian, yakni Durian House. Aroma durian memenuhi ruangan, seperti pewangi ruangan rasanya. Pancake durian ini terbuat dari durian asli yang dibalut dengan kulit dari tepung. Rasa duriannya tetap kuat. Semakin mantap jika dimasukkan ke dalam lemari es terlebih dulu dan dikonsumsi dalam keadaan dingin.

Selain itu, di Durian House bisa ditemukan dodol durian, penganan yang sudah lama melekat dengan kota yang terkenal dengan duriannya ini. Juga bolu duren, roti puding durian, dan lain-lain. Bila ingin menikmati pancake durian di tempat, bisa mampir ke Taipan Chinese Restaurant di Jalan Putri Hijau Nomor 1, atau Restoran Sari Laut Nelayan di Merdeka Walk atau Jalan Putri Merak Jingga.

Durian House; Jalan Sekip Nomor 67-H, Medan

Manisan Jambu

Manisan jambu klutuk Medan sudah dikenal sejak dulu. Rasanya segar dan manis. Sebenarnya, selain jambu, di Medan aneka manisan memang sudah biasa diolah. Masyarakat Melayu Deli-lah yang mempunyai tradisi membuat manisan untuk sajian tamu saat Lebaran. Jenis buah yang sering dibuat manisan adalah salak, buah kana, asam jawa, tomat, nanas, mangga, plum, jambu, jambu biji, belimbing, pepaya, kedondong mini, jeruk kasturi, mangga samosir (mangga berukuran kecil-kecil), bahkan cabai. Hanya kemudian yang menjadi ciri khas untuk oleh-oleh adalah manisan jambu.

Ukuran jambu yang cukup besar, renyah, dan segar mungkin yang membuat orang menyukainya. Proses pembuatan manisan jambu juga membutuhkan waktu lebih singkat ketimbang jenis manisan lain yang memerlukan proses fermentasi. Pusat pembuatan manisan, sekaligus tokonya, ada di Gang Pasir, Jalan S. Parman. Anda bisa melihat pembuatannya, dan bisa juga memesan sebelum dibawa terbang ke kota asal. Kebanyakan pembuat manisan sudah turun-temurun, seperti toko manisan milik A Hai.

Rita N./Toni H./Dok. TL

Desa Mas Ubud, Mengukir Patung Sejak 1920

Desa Mas ubud pusat kerajinan ukiran patung Bali. Foto: Dok. Marriot Bonvoy

Desa Mas Ubud seperti tak pernah habis pesonanya. Saat jalan-jalan ke kawasan ini, selain menikmati pemandangan indah nan asri, sempatkan juga mampir ke desa Mas. Desa wisata di Kabupaten Gianyar ini kondang sebagai sentra kerajinan patung ukir dari kayu di Bali.

Desa Mas Ubud

Desa Mas terletak di bagian selatan Ubud, berjarak sekitar 23 kilometer dari Denpasar. Dari ibukota Bali ini waktu tempuhnya kurang lebih 30 menit dengan kendaraan pribadi. Selain bertani, sebagian besar warga desa ini memang berprofesi sebagai pengrajin patung ukir.

Asal-usul desa Mas Ubud disebut berasal dari kisah seorang Brahmana dari kerajaan Majapahit bernama Dang Hyang Nirartha. Ia diundang untuk pindah ke Bali oleh beberapa arya-arya kerajaan Majapahit. Setelah berhasil menduduki wilayah Bali, mereka memutuskan menetap karena merasa kondisi Majapahit sedang menurun dan terancam runtuh.

Dang Hyang Nirartha kemudian memutuskan untuk pindah. Di Bali ia disambut Raden Mas Willis, salah seorang dari arya tersebut. Pada prosesnya, mereka kemudian memiliki hubungan sebagai guru dan murid, utamanya dalam hal agama, sosial dan seni budaya.

Hingga suatu ketika, Dang Hyang Nirartha dinikahkan oleh Raden Mas Willis dengan putrinya. Setelahnya, keturunan mereka disebut sebagai Brahmana Mas, yang hingga saat ini tinggal di desa tersebut.

Raden Mas Willis pun kemudian dinobatkan oleh Dang Hyang Nirartha sebagai Pangeran Manik Mas, pemimpin daerah tersebut. Dari situlah, daerah tersebut kemudian dipanggil sebagai desa Mas.

Masih menurut kisah yang sama, Dang Hyang Nirartha juga diceritakan pernah menancapkan sebatang kayu, yang konon kini menjadi pohon Tangi yang berada di area Pura Taman Pule Mas. Ia kemudian bersabda bahwa warga desa Mas akan sejahtera dari hasil kerajinan kayu.

Desa Mas Ubud Bali kini akrab disebut sebagai Home of the Wood Carvers, rumah para pemahat kayu.
Pelbagai karya ukir patung kayu khas Desa Mas ubud. Foto: DOk. Balitoursclub.net

Namun desa Mas Ubud yang kini akrab disebut sebagai Home of the Wood Carvers atau rumah para pemahat kayu, justru tidak serta merta identik dengan seni patung ukirnya. Dulunya, seni tersebut lebih banyak diperuntukkan sebagai persembahan bagi para raja di Bali.

Adalah maestro seni pahat Ida Putu Taman yang mempopulerkan budaya seni mematung kepada warga desa Mas pada 1920-an. Berkerajinan patung ukir tidak lagi dipandang secara eksklusif, melainkan sesuatu yang datang dari hati.

Seni mematung lantas dipandang sebagai wujud rasa iman dan syukur kepada sang Pencipta. Maka tak heran, ada beberapa hasil patung ukir dari desa Mas Ubud yang juga berfungsi sebagai alat sembahyang, atau terinpirasi dari kisah-kisah pewayangan dan kehidupan warga Bali sehari-hari.

Karya-karya tersebut merupakan representasi dari imajinasi para perajinnya. Mereka menganggap, patung-patung itu menjadi wujud respon mereka terhadap filosofi dan dinamika dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya tersebut, yang kemudian disebut dengan istilah ‘ngayah’, berhasil mendorong warga untuk lebih aktif berkarya dan melestarikan seni patung ukir. Oleh karena itulah, desa Mas perlahan mulai dikenal dengan seni patung ukirnya pada era 1930-an.

Desa Mas Ubud kini memeiliki ribuan warga yang berprofesi sebagai pengukir patung.
Seorang pemahat patung dari Desa Mas Ubud, Bali. Foto: DOk. Kemenparekraf

Memasuki era pasca kemerdekaan, seni kerajinan patung ukir kemudian juga berkembang secara komersial. Para perajin mulai memperjualbelikan patung hasil kerajinannya, ini seiring dengan berkembangnya pariwisata di Bali.

Ketenaran desa Mas semakin mencuat karena Presiden Soekarno saat itu beberapa kali datang berkunjung. Kebetulan, lokasi desa tersebut berada di tengah rute antara bandar udara Ngurah Rai dan istana kepresidenan Tampaksiring.

Lewat publisitas tersebut, peluang bisnis patung ukir semakin terbuka karena semakin banyak wisatawan dalam dan luar negeri yang tertarik berkunjung dan membeli kerajinan tersebut sebagai souvenir. Sehingga pada periode 1970-an hingga 1990-an kerajinan patung ukir desa Mas mencapai masa jayanya.

Namun pada perjalanannya bisnis dan kerajinan ini tidak selamanya mulus. Ketika industri pariwisata Bali diguncang tragedi bom Bali pada 2002 dan 2005, merosotnya jumlah wisatawan yang datang turut mencekik perekonomian para perajin patung ukir. Banyak dari mereka terpaksa banting setir mencari pekerjaan lain demi menghidupi keluarganya.

Butuh waktu lama untuk industri kerajinan patung ukir dapat bangkit kembali, terlebih dengan ketatnya persaingan dengan kerajinan serupa dari tempat lainnya. Hingga pada era 2010-an jumlah pengrajin patung ukir mulai naik kembali hingga ribuan.

Di tengah berbagai tantangan berat, para perajin di desa Mas Ubud terus mempertahankan eksistensinya dengan konsistensi dan kualitas. Salah satunya diwujudkan dengan pemilihan jenis kayu berkualitas, dari kayu bonggol jati, suar, meranti, eboni, waru dan sebagainya yang didatangkan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Filosofi mereka dalam berkarya juga terus dipertahankan. Ada sebuah paham yang dianut oleh warga setempat, yakni Tri Hita Karana; keharmonisan antara hubungan antar manusia (Pawongan), manusia dengan Tuhan (Parahyangan) serta manusia dengan alam (Palemahan).

Paham tersebut yang senantiasa menjadi konsep berkesenian perajin desa Mas, yang kemudian dituangkan ke dalam karya patung-patung yang memadukan desain modern dan kontemporer.

Secara umum ada dua jenis patung ukir yang dibuat, yaitu realis dan surealis. Realis merupakan jenis patung yang menyerupai bentuk dan postur tubuh manusia atau makhluk hidup lainnya, sementara surealis bentuk dan posturnya bisa lebih hiperbola dan imajiner.

Sekarang di desa tersebut tak sulit untuk menemukan jejeran artshop di sepanjang jalan utama, menawarkan beragam jenis patung ukir. Di desa ini, tiap warganya – terutama yang wanita – sudah diajarkan teknik memahat dan memoles patung kayu sejak anak-anak.

Tak jarang wisatwan bisa melihat secara langsung pengrajin patung ukir yang mengerjakan karyanya. Pengunjung pun juga dapat berkesempatan merasakan belajar membuat patung ukir sendiri.

Harga patung-patung ukiran tersebut sangat bervariasi. Tingkat kerumitan sangat berpengaruh, selain juga lama pengerjaan serta jenis dan kualitas kayu yang digunakan. Ada yang harganya ratusan ribu, ada juga yang sampai menyentuh ratusan juta rupiah.

Hal ini disebabkan proses pengerjaan yang begitu mendetail. Lama pengerjaan setiap patung berkisar antara satu hingga empat bulan lebih. Pengukiran patung dilakukan dalam berbagai tahapan, dimulai dari pembuatan bentuk pahatan secara kasar.

Setelahnya baru dirapikan detail-detailnya dengan sayatan pisau atau pahatan-pahatan kecil. Terakhir, patung yang sudah jadi dihaluskan dengan amplas, terkadang juga dipoles sesuai pesanan.

Yang tak kalah unik, karya satu perajin bisa memiliki ciri khas tertentu dibanding perajin lainnya. Kekhasan itulah yang membuat patung ukir buatan desa Mas begitu diminati. Selain diburu oleh wisatawan domestik dan mancanegara, patung ukir mereka juga diekspor ke berbagai belahan dunia, baik negara-negara di benua Asia, Eropa, maupun Amerika.

Selayaknya sebuah desa wisata, anda juga dapat menemukan beragam kerajinan lainnya seperti topeng dan wayang Bali. Dan lokasinya terhitung strategis karena cukup berdekatan dengan spot wisata lain seperti Kintamani, Gua Gajah dan beberapa museum di sekitar kawasan tersebut.

Tersedia juga beberapa pilihan penginapan, serta pilihan tur wisata di kawasan desa tersebut. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 081237250266, via email ke info@desawisatamas.com atau kunjungi situs resmi desawisatamas.com.

Desa Wisata Mas

Jl. Raya Mas no. 110, Desa Mas, Ubud, Bali

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Resto J Sparrows, 1 untuk Penghuni Samudra

Resto J. Sparrows untuk hidangan seafood

Resto J Sparrows memunculkan aneka menu berbahan ikan laut. Mulai dari makanan pembuka hingga utama hingga main course.

Resto J Sparrows

Biasanya matahari berada tepat di atas kepala kala jarum panjang-pendek yang terpampang di jam tangan bertubrukan. Namun kali ini tidak. Langit bulan kesepuluh di Ibu Kota ibarat padang guram yang hanya menyimpan mega serta halimun. Sekali ditegur angin, titik-titik air tumpah membasahi tanah.

Di luar gedung-gedung gergasi kawasan Mega Kuningan, orang-orang kantoran bergegas mencari tempat berteduh. Padahal baru beberapa langkah menjamah jalanan. Cuaca demikian membuat pekerja gamang bepergian, apalagi sekadar untuk makan siang. Saya pun begitu. Malas basah-basahan, restoran terdekat dari tempat berjejak lantas menjadi incaran—kala itu saya sedang berada di gedung Noble House.

Kebetulan ada restoran anyar yang belum genap sebulan buka. Dari dekat, nama restoran terpampang jelas: J Sparrow’s. Sekilas mirip-mirip dengan nama tokoh bajak laut dalam film trilogi Pirates of the Caribbean. Namun, alih-alih menemukan properti para perompak kapal, yang saya temukan deretan botol wine tertata apik.

Ruangan berkapasitas lebih dari 100 orang itu tak jua terlihat seperti kapal yang dijarah. Malahan terpandang rapi, klasik, nyaman, dan asri. Kursi-kursi kayu ditata acak di tengah ruangan. Di bagian pinggir, terdapat bar membujur lurus ke counter rum—minuman beralkohol hasil fermentasi dan distilasi molase. Sedangkan di bagian pojok, sejumlah sofa abu-abu disusun berhadapan. Warna cokelat akrab menyapa sejauh mata memandang.

Saya kemudian memilih duduk di sofa agar bisa menikmati pemandangan luar. Namun tak jarang kepala menuruti hasrat untuk tur visual: menengok ke belakang, kanan-kiri, dan atas-bawah. Bila dicermati, bagian atapnya mirip bentuk langit-langit Kapel Sistina karya Michelangelo. Bedanya, tak terdapat lukisan di sini.

“Desainer interiornya Martha dan Andrew, yang juga mendesain Bluegrass Bar and Grill di Bakrie Tower Rasuna Said. Kebetulan Bluegrass dan J Sparrow’s satu manajemen,” tutur staf public relations untuk manajemen tersebut, yang kebetulan mendampingi kala itu. J Sparrow’s memang dibangun dengan konsep Eropa klasik.

Tak lama duduk di salah satu sudut restoran, bau olahan dari penghuni laut menggoda penciuman. Wanginya khas dan memantik hasrat untuk segera memesan makanan. Staf resto begitu tanggap, dan buku menu pun lantas dengan cepat mendarat di hadapan. Ternyata sajian andalan di restoran ini memang berbahan ikan laut. Ada yang berbahan dasar kepiting, cumi-cumi, udang, hingga lobster.
 

Untuk pembuka pilihan saya jatuhkan pada Tuna Tartare. Hadir dalam cetakan bulat. Dari luar tampak seperti puzzle daging tuna berwarna pink segar bercampur mangga kecil-kecil. Di lidah, rasanya amat segar. Perpaduan asam dan manis mendominasi. Bikin selera makan langsung melonjak.

Selanjutnya, giliran Frutti di Mare yang ada di depan mata. Sepintas seperti carbonara, hanya rasanya lebih datar. Pasta yang digunakan dibuat sendiri—disebut pasta signature—rasanya lebih empuk dan tidak terlalu kenyal. Tambah nikmat ketika disantap dengan daging udang yang segar.

Sajian selanjutnya yang mendarat di meja saya adalah Killpatrick. Bahan utamanya kerang dengan cangkang berkapur. Kerang itu dimasak menggunakan saus worcestershire dibubuhi daun peterseli. Yang satu ini, ada yang ditambah bacon atau daging babi asap, ada juga tanpa potongan daging yang satu itu.

Hidangan andalan cukup berlimpah. Satu lagi adalah New York Shower, yang wujudnya seperti menara tiga tingkat. Ada udang segar di atas tumpukan bongkahan-bongkahan es bercampur potongan lemon. Yang satu ini, khusus bagi penyuka hidangan laut mentah.

Setelah itu, datang Cajun Mud Crab. Menelusup daging kepiting yang bersembunyi di balik cangkang jadi kenikmatan sendiri. Asyiknya disantap beramai-ramai jadi seru. Kepiting berukuran jumbo itu dilengkapi dengan sosis ayam dan sapi. Satu lagi yang tak kalah menggoda adalah The Lobster. Daging lobster dibiarkan merekah di balik cangkang yang dibiarkan terbuka. Warnanya keemasan, sedangkan cangkangnya berona merah matang. Harumnya merayu minta segera disantap. Saya mengiris daging itu dengan pisau. Ternyata, daging di bagian dalam berwarna putih bersih. Bumbu yang pas tidak merusak rasa aslinya. Juga teksturnya.

Beragam menu yang mengenyangkan ini enaknya ditutup dengan yang manis. Royal Bermuda Yacht Club jadi pilihan yang tepat, konsepnya seperti kapal karam. Bongkahan cokelat lokal yang manis berbentuk kapal akan cair kala disiram white spicy chocolate sauce. Rasanya nano-nano, manis dan mint bercampur jadi satu. Petualangan kuliner saya kali ini pun diakhiri dengan sajian cocktail yang segar. Rum yang menjadi andalan mengalir dalam kerongkongan, menghangatkan badan dan menyelimuti dari udara yang dingin siang itu. l

J Sparrow’s

Noble House Building, Lantai Dasar

Jalan Mega Kuningan Barat, Kuningan, Jakarta

F. Rosana/Dhemas RA/Dok TL

Bakmi Jawa Pak Rebo, 1 Yang Otentik

Bakmi Jawa Pak Rebo adalah salah saru kuliner bakmi otentik khas Yogyakarta.

Bakmi Jawa Pak Rebo layak jadi pilihan pecinta kuliner yang sedang mencari santapan khas Yogyakarta. Cita rasa dan otentisitasnya tak perlu diragukan lagi, lantaran sudah teruji dan disukai warga kota pelajar tersebut sejak masa pra kemerdekaan.

Bakmi Jawa Pak Rebo

Kalau berbicara soal kuliner khas Yogyakarta, maka sudah pasti salah satu yang disebut adalah gudeg atau bakmi Jawa. Kuliner yang terakhir ini umumnya muncul di kala sore menuju malam hari dan menyajikan masakan mie dan nasi dengan kearifan lokal dan selera khas lidah orang Jawa.

Jenis masakannya pun cukup beragam. Ada mie goreng, mie godog atau rebus, mie nyemek, nasi goreng, serta magelangan, alias masakan mie dan nasi yang dicampur dan digoreng bersamaan. Dalam masakannya terdapat pelengkap seperti ayam kampung, telur bebek, dan sebagainya.

Bakmi Jawa Pak Rebo adlah pilihan ketika akan menikmati bakmi Jawa yang otentik.
Warung Bakmi Pak Rebo di Yogyakarta. Foto: istimewa

Cara memasaknya pun kebanyakan masih menggunakan anglo tua dan arang, ketimbang kompor modern. Alasannya, suhu yang digunakan untuk memasak lebih pas, serta memberikan aroma khas tersendiri setelah masakan jadi dan dihidangkan.

Yang unik, karena metode memasak itu pula, kerap kali setiap pesanan dimasak satu per satu karena wajan yang digunakan pun tidak besar. Maka terkadang menunggu pesanan tiba bisa sedikit lama, tetapi di sisi lain pengunjung bisa memesan detail pesanan secara personal.

Hal itu tak pernah menyurutkan animo warga Yogyakarta pada kuliner yang disinyalir sudah ada sejak masa pra kemerdekaan ini. Bahkan, tak jarang wisatawan yang mampir ke kota gudeg ini hanya untuk sekedar mencicipi dan menyantap sepiring hangat bakmi Jawa.

Tak sulit pula untuk mencari pedagang bakmi Jawa di kota ini, dengan segala resep dan keunikannya masing-masing. Beberapa di antaranya bahkan sudah berjualan sejak sekian dekade lamanya, seperti halnya bakmi Jawa pak Rebo.

Diceritakan bahwa pak Rebo sudah berjualan bakmi Jawa sejak tahun 1940-an. Ia menjajakan dagangannya sambil memikul alat masaknya dan berkeliling kota, khususnya di sekitar jalan Brigjen Katamso, tempat warung bakmi Jawa pak Rebo sekarang berada.

Warung itu sendiri berdiri pada tahun 1960-an. Hingga kini, wujudnya tak banyak berubah. Dari luar terlihat kecil, bahkan hingga tertutupi oleh gerobak masaknya, sehingga mudah untuk terlewatkan kalau tidak hapal atau tidak melihat spanduknya.

Di spanduknya, tertuliskan “Bakmi Jawa Pak Rebo Kintelan”, karena di belakang warung tersebut merupakan sebuah kampung yang bernama Kintelan. Penanda lainnya yang memudahkan, adalah warung ini berdekatan dengan area wisata Purawisata/Mandira Baruga.

bakmi Jawa Sedang dimasak saru per satu.

Tak hanya itu, sejak dulu hingga kini mereka hanya melayani pengunjung dengan dua anglo untuk memasak, itu pun setiap pesanannya dimasak satu per satu. Sehingga jangan heran kalau sejak warung buka pukul 16.00, sudah banyak pengunjung yang mengantri menunggu pesanan.

Kendati begitu, tetap saja pengunjung silih berganti ramai berdatangan, bahkan kadang-kadang dagangan sudah terjual ludes sebelum jam tutup. Salah satu menu andalan mereka yang paling banyak dicari adalah mie nyemek.

Sejatinya, mie nyemek merupakan varian masakan bakmi Jawa yang berwujud seperti perpaduan antara mie goreng dan mie rebus. Nyemek sendiri dalam istilah bahasa Jawa kurang lebih berarti ‘agak basah’, atau tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering.

Mie nyemek dimasak sedemikian rupa sehingga hanya menyisakan sedikit kuah kental di bawahnya, sehingga mie di atasnya cenderung lebih kering. Sebuah kompromi bagi mereka yang ingin mie goreng dengan sedikit kuah, atau yang ingin mie rebus dengan kuah dikurangi.

Satu hal yang cukup unik di bakmi Jawa pak Rebo adalah beragam opsi yang bisa dipilih mengenai bagaimana mie dimasak. Opsi pertama yang bisa dipilih adalah untuk menggunakan atau tidak menggunakan kecap.

Umumnya, bakmi Jawa dimasak menggunakan kecap untuk memadukan rasa manis dengan rasa gurih racikan bumbunya. Tetapi, di warung ini ada opsi mie yang dimasak tanpa kecap dan hanya mengandalkan rasa gurih dari kaldu dan telur bebeknya.

Ini sedikit berbeda dari kebanyakan bakmi Jawa yang lebih umum dengan lidah warga Yogyakarta yang menyenangi penganan bercita rasa manis. Tetapi, keunikan ini justru membuatnya punya banyak pelanggan tersendiri.

Bakmi Jawa Goreng shutterstock
Bakmi Jawa Goreng. Foto: shutterstock

Cita rasa gurih tersebut berpadu apik dengan pelengkap seperti suwiran ayam kampung, sayur sawi dan bawang goreng. Pengunjung juga dapat menambahkan ekstra bawang goreng dan acar untuk menambah sedap rasa.

Opsi lainnya yang bisa diambil adalah memesan mie goreng, rebus atau nyemek spesial. Di pilihan ini, pengunjung dapat memilih tambahan suwiran ayam yang akan ditambahkan ke dalam masakan, seperti paha, dada, sayap, kepala, ati, ampela, brutu dan uritan.

Sepiring porsi bakmi Jawa pak Rebo dihargai Rp 22 ribu, sedangkan untuk yang spesial dengan tambahan potongan ayam dibandrol Rp 29 ribu. Sebagai catatan, pengunjung juga bisa memilih ingin menggunakan mie atau bihun dengan harga yang sama.

Beberapa pilihan minuman di sini juga cukup menarik. Selain teh, jeruk, tape dan secang panas atau dingin seharga Rp 4 ribu hingga Rp 6 ribu, tersedia beragam wedang hangat seperti wedang sere, wedang jahe, dan wedang uwuh dengan kisaran harga Rp 6 ribu sampai 8 ribu.

Bakmi Jawa pak Rebo buka setiap hari dari jam 16.00 hingga jam 22.00. Namun seperti disebutkan di atas, karena warung hampir selalu ramai oleh pengunjung, maka untuk menghindari kehabisan sebaiknya datang lebih awal dari jam makan malam.

Bakmi Jawa Pak Rebo

Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta

agedandaIndonesia/audha alief praditra

*****

Kota Lama Padang, Terbesar di Abad 19

Kota Lama Padang bisa dinikmati di sekitar Jembatan Siti Nurbaya.

Kota lama Padang merupakan bagian kuno dari ibukota Sumatera Barat. Dulunya ia menjadi tanda kebesaran Padang sebagai kota perdagangan di zaman kolonialisme Belanda di Indonesia. Sayangnya kini, akibat waktu dan gempuran gempa, sebagian bangunan semakin terbengkalai dan tidak terawat.

Kota Lama Padang

Hampir sepanjang abad ke-19, Padang boleh disebut menjadi kota terbesar di luar Pulau Jawa. Kota ini tumbuh menjadi pusat perdagangan, sekaligus “markas” militer Hindia Belanda, dalam hal ini diwakili oleh kongsi dagang VOC, untuk menaklukkan dan mempertahankan daerah-daerah di Sumatera. Tidak hanya dibangun oleh penguasa saat itu, kota ini juga tumbuh berkat partisipasi pihak swasta yang berasal dari berbagai bangsa, seperti Minangkabau, Belanda, Cina, India, dan Arab.

Sisa-sisa arsitektur masa keemasan zaman itu masih bisa dilihat di kawasan Padang Kota Lama. Lokasinya di sekitar Muara Padang, Jalan Batang Arau, dan Pasar Gadang. Namun akibat gempa besar 7,9 skala Richter, yang terjadi pada 30 September 2009, banyak bangunan rusak dan hanya beberapa yang bisa diperbaiki. Menikmati sisa-sisa kejayaan kolonial kota ini paling tepat dilakukan dari atas Jembatan Siti Nurbaya, yang terbentang di atas Sungai Batang Arau. Dari jembatan ini lanskap Kawasan Padang Kota Lama terlihat lebih jelas.

Kota Lama Padang menyimpan bukti kebesaran kota ini di masa lampau.
Sungai Batang Arau yang membelah kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Jalan Batang Arau terletak di sisi kanan Sungai Batang Arau, dekat muara. Di sana berderet puluhan bangunan tua dan besar menghadap ke jalan serta Sungai Batang Arau. Dulu, bangunan ini digunakan untuk kantor pemerintahan, perbankan, dan kantor dagang. Bangunan yang menonjol adalah Nederlansche Handels-Maatschappij (NHM), Padangsche Spaarbank, De Javansche Bank, dan NV Internatio, yang didirikan sebelum 1920. 

Atap bangunan bergaya arsitektur neo-klasik ini setinggi 24 meter, sementara dindingnya berbentuk gambrel dengan dua cerobong pada bagian puncak. NHM adalah kantor dagang swasta yang juga menjadi tempat bisnis beberapa perusahaan. Kini, kantor itu dijadikan gudang oleh PT Panca Niaga dan tampak tidak terawat.

Namun, ada juga bangunan yang masih terawat, seperti yang sekarang digunakan Bank Indonesia. Dulu, gedung ini dimanfaatkan De Javasche Bank, yang berlokasi di seberang NHM. Dibangun sekitar 1930, bangunan ini berarsitektur tropis dengan kubah kecil di bagian atas mirip atap masjid.

Kota Lama Padang memiliki sejumlah gedung kuno yang merupakan peninggalan Belanda dengan arsiteturnya yang khas.
Sebuah gedung kuno peninggalan Belanda di Padang yang masih sering dikunjungi wisatawan. Foto: Dok. shutterstock

Gedung lain yang menonjol adalah Padangsche Spaarbank, yang didirikan pada 1908. Gedung berlantai dua setinggi 35 meter yang berdiri membelakangi sungai ini bergaya neoklasik. Tampaknya bangunan tersebut terpengaruh arsitektur art-deco dengan gaya mahkota di bagian depan atas bertulisan “1908”. Bangunan ini sempat menjadi Hotel Batang Arau, yang banyak dikunjungi turis asing yang ingin berselancar di Mentawai.

Sejak gempa 2009, gedung itu kosong dan terlihat tidak terawat. Di sebelahnya terdapat gedung NV Internatio, yang dibangun sekitar 1910. Dengan gaya arsitektur neoklasik-modern, yang berkembang sebelum 1920, bangunan tersebut kini dimiliki Badan Usaha Milik Negara Cipta Niaga.

Selain di Jalan Batang Arau, ada banyak bangunan tua di tiga kawasan yang pada abad ke-19 menjadi pasar itu. Posisi pasar tersebut bersebelahan dengan Jalan Batang Arau, yakni Pasar Gadang (Pasar Hilir), Pasar Mudik, dan Pasar Tanah Kongsi. Bahkan, Pasar Gadang sampai pertengahan abad ke-19 menjadi urat nadi perekonomian kota. Pasar Gadang dipengaruhi arsitektur kolonial Belanda bercampur corak tradisional Cina. Sedangkan ukiran ornamen dinding dan atap pada beberapa bangunan di sana pengaruh arsitektur Minangkabau dan Melayu.


Pasar Mudik dibangun pertengahan abad ke-19 oleh perusahaan dagang Badu Ata & Co. Beberapa bangunan menonjol di sini adalah Hotel Nagara dan Gedung Juang 45. Gedung-gedung di Pasar Mudik berupa ruko serangkai. Pengaruh arsitektur Cina, Arab, India, dan Minang terlihat di bagian atapnya.

Adapun Pasar Tanah Kongsi didirikan warga keturunan Tionghoa. Karena itu, selain gaya kolonial Belanda, ada campuran arsitektur tradisional Cina. Gedung yang menonjol di sini adalah kelenteng yang dibangun pada abad ke-17 dan gedung Himpunan Bersatu Teguh (HBT). 

Di Kawasan Padang Kota Lama, ada juga Kelenteng See Hin Kiong, yang dijadikan tempat ibadah sejak 151 tahun lalu. Di luar kawasan ini, gedung-gedung tua juga tersebar di lokasi lain kota itu, seperti Balai Kota Padang, Kapel Susteran St Leo, dan Katedral. Sayangnya, Pemerintah Kota Padang belum memperlihatkan upaya untuk memulihkan Kawasan Padang Kota Lama. Gedung-gedung tua warisan zaman kolonial itu tampak kian telantar. Bisa dikatakan Kawasan Padang Kota Lama ini berada di ujung senja, seperti menunggu kehancuran saja.

TL/agendaIndonesia

****

Danau Toba Dan Sekitarnya Dalam 5 Hari

Menparekraf dan menhub bertemu nahas 5 dsp, salah satunya Danau Toba

Danau Toba di Sumatera Utara makin hari makin menarik perhatian pelancong. Selain sudah adanya bandara Silangit di dekat danau ini, perjalanan dari Medan pun makin mudah dan mengasyikan.

Danau Toba

Ketenaran Samosir, pulau kecil di Danau Toba, tak disangsikan lagi. Namun kebanyakan orang yang melancong hanya singgah sebentar ke Pelabuhan Tomok atau Tuktuk. Setelah itu, kembali lagi ke Pelabuhan Ajibata di Parapat. Selebihnya menghabiskan waktu di hotel di Parapat dan memandang Samosir dari kejauhan. Padahal banyak situs sejarah dan obyek budaya bisa dieksplorasi jika kita berkeliling kabupaten seluas 206.905 hektare ini. Apabila dipadu dengan kunjungan ke Berastagi, berwarnalah perjalanan Anda di Sumatera Utara. Waktu yang dibutuhkan cukup lima hari. Perjalanan tentunya dimulai dari Medan.

Hari pertama. Bila tiba di Medan tidak terlalu pagi, untuk kenyamanan, mulailah perjalanan dengan jalur pendek, yakni dari Medan ke Berastagi—berjarak 66 kilometer. Jalanan kecil dan berkelok. Diperlukan waktu sekitar dua jam. Berastagi adalah kota kecamatan yang berada di Kabupaten Karo. Bila tiba siang hari di Berastagi, masih ada waktu untuk menatap Gunung Sinabung dari dekat, jadi melajulah ke Lau Kawar.

Dari Berastagi, temukan Tugu Perjuangan, kemudian Anda tinggal belok ke kanan menuju Kecamatan Simpang Empat. Jarak ke obyek wisata ini sekitar 27 kilometer dari Berastagi. Di sepanjang jalan, kebun berjajar. Sayuran dan buah-buahan dapat dengan mudah ditemui, termasuk jeruk dan markisa, yang merupakan buah khas Berastagi. Akhirnya tiba juga di danau yang berada di Desa Kutagugung Kecamatan Naman Teran. Gunung Sinabung tak hanya menawarkan udara yang sejuk, tapi juga lingkungan yang tenang. Begitu hening jika Anda datang bukan pada akhir pekan. Kabut sering turun, sehingga membuat hawa dingin dan suasana sepi. Di pinggir danau ada kios makanan dan minuman, ada pula lahan untuk berkemah.

Bila masih terang, cobalah berperahu ke seberang. Temukan tanaman kantong semar, jenis tanaman yang melahap serangga, seperti kupu-kupu, lipan, dan kalajengking. Di pinggir danau, Anda bisa mencari pemilik kapal sekaligus pemandu untuk menemukan tanaman unik ini. Setelah menikmati danau hingga sore, bila hendak melihat perkampungan dan rumah adat Karo berusia ratusan tahun, mampirlah ke Desa Lingga. Ketika hendak kembali ke Berastagi, sebelum tiba di perempatan Tugu Perjuangan, ada jalan menuju ke kanan. Hanya, kondisi rumahnya memang banyak yang sudah tidak terawat. Atau jika Anda penyuka alam, bisa juga sore itu melaju ke Bukit Gundaling. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari Berastagi. Di bukit ini, Anda bisa menemukan tempat untuk menikmati Berastagi dari ketinggian.

Hari Kedua. Pagi-pagi tinggalkan dinginnya Berastagi. Melajulah ke Kecamatan Merek untuk mengitari Taman Simalem Resort. Kawasan resor seluas 206 hektare yang terdiri atas kebun buah-buahan, termasuk yang langka, seperti biwa. Selain itu, ada buah markisa dan jeruk. Ada pula sarana lodge, perkemahan, kafe, restoran, hingga paket untuk trekking dan bertualang di hutannya. Dari tempat yang satu ini, Anda bisa juga memandang Danau Toba, selain bukit-bukit gundul yang, mau tidak mau juga, tampak jelas dari sini. Resor yang bisa ditempuh sekitar 35 menit dari Berastagi ini juga memiliki kuil Buddha yang megah menjulang di atas bukit. Untuk memasuki kawasan ini, tiket masuk Rp 150 ribu per mobil.

Bila masih mempunyai tenaga untuk menuruni ratusan anak tangga, singgahlah pula ke air terjun Sipiso-piso di Desa Tongging, Kecamatan Merek. Tinggi air terjunnya sekitar 120 meter, jarak dari Berastagi sekitar 35 kilometer. Dari sini, Danau Toba dan Samosir terlihat. Lokasinya akan terlewati jika Anda menuju Parapat. Bisa juga langsung ke Parapat, yang berjarak 110 kilometer dari Berastagi atau sekitar tiga jam perjalanan. Bila sudah terlalu sore tiba di Parapat, pilihannya tentu saja menginap. Pilihan akomodasi berlimpah di Parapat, yang menjadi pusat wisata Danau Toba.

Hari Ketiga, menyeberang dari Pelabuhan Ajibata ke Tomok. Berbeda dengan Berastagi yang dingin, udara panas langsung menerpa saat menginjak kaki di Samosir. Obyek wisata terdekat dari Pelabuhan Tomok adalah makam Raja Sidabutar. Makam ini terbuat dari batu utuh tanpa sambungan yang dipahat untuk tempat peristirahatan Raja Sidabutar, yang menjadi penguasa pada masa silam.

Di Samosir, kita bisa mempelajari tradisi pada Batak kuno. Salah satunya tradisi tarian Sigale-gale di Museum Huta Bolon Simanindo, Ambarita. Lokasinya 20 kilometer dari Tomok, lebih dekat ke Kecamatan Pangururan. Setiap hari pada pukul 11.00 rutin digelar pertunjukan Sigale-gale dengan alat musik tradisional dan berbagai tarian tradisional Batak Karo. Penonton dipersilakan duduk di rumah-rumah Batak. Pertunjukan diakhiri dengan tarian Tor-tor bersama. Koleksi museumnya di antaranya terdiri atas kain ulos, peralatan memasak, dan perlengkapan masyarakat Batak pada masa silam.

Bila sudah tiba di sini, mampirlah sejenak ke wisata air panas di Pangururan. Ini merupakan kota kecamatan di mana rumah makan bisa ditemukan lebih mudah, terutama hidangan Padang, yang pas untuk muslim. Pemandian air panas berjarak 3 kilometer dari Pangururan. Tepatnya di kaki Pusuk Buhit. Airnya mengandung belerang. Di kota kecamatan ini pula kita bisa melihat bahwa Samosir sebenarnya bukanlah pulau sesungguhnya karena antara Samosir dan sisi lain Danau Toba itu terhubung, sehingga bisa dicapai lewat darat.

Sehabis berendam, saatnya ke Tuktuk Siadong, yang tidak jauh dari Tomok. Ada gerbang yang menunjukkan kawasan berbentuk tanjung yang menjadi pusat wisata. Ada deretan hotel dan penginapan di sini. Rata-rata di pinggir Danau Toba. Di sini pula ada gedung kesenian, studio kerajinan ukiran, sekaligus pelabuhan langsung ke Ajibata atau Tiga Raja. Alat transportasi berupa perahu penumpang, dengan lama perjalanan hanya 30 menit.

Berada di Tuktuk seperti berada di tempat lain dari Samosir. Lingkungannya khas turis. Ada penyewaan sepeda bagi yang ingin berkeliling menggunakan sepeda. Dan ada perlengkapan untuk bermain di Danau Toba di hotel bila ingin menikmati sore dengan bermain perahu, berenang. Sore hari saatnya menikmati danau dari Tuktuk. Demikian juga esok paginya, menunggu mentari terbit, sambil menatap hamparan air nan luas.

Hari Keempat, mempelajari sejarah Batak Toba belumlah usai. Sejarah dan tradisi raja di daerah ini bisa disimak di Batu Persidangan Siallagan. Tak jauh dari Tuktuk, obyek wisata yang tertata ini terdiri atas beberapa rumah Batak Toba, makam raja, serta seperangkat meja dan batu. Yang terakhir inilah yang disebut Batu Persidangan. Di kursi batu itulah raja bersama penasihat membahas hukuman untuk seseorang yang berbuat kejahatan. Hukumannya bisa berupa hukuman pancung. Siallagan tak lain adalah nama sebuah marga. Pemimpinnya Siallagan. Huta atau kampung Siallagan di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, dikelilingi oleh batu besar, yang juga berfungsi sebagai benteng.

Puas melihat detail rumah Batak dan sejarah panjang Raja Siallagan, Anda bisa melangkah ke rumah penenun ulos, yang tersebar di beberapa desa. Kebanyakan berada tak jauh dari Pangururan, seperti Desa Lumban Suhi-suhi. Selain itu, di sepanjang jalan menuju Pangururan, bisa ditemukan penenun perorangan. Bila ingin berbelanja ulos, bisa langsung ke perajin di sini. Sore hari saatnya menikmati kembali Danau Toba. Ada beberapa sisi dari Danau Toba yang muncul seperti landai sehingga tak salah jika penduduk setempat menyebutnya pantai. Ada Pantai Pasir Putih dan Pantai Ambarita. Silakan menikmati pantai berair non-asin!

Hari Kelima, setelah kembali menikmati mentari terbit dari pinggir danau dan sarapan, saatnya bersiap-siap meninggalkan Samosir. Ada banyak obyek wisata alam yang belum sempat disinggahi, tapi mungkin untuk kunjungan berikutnya. Penyeberangan feri berlangsung sekitar satu jam. Kali ini jalur kembali tidak lewat Berastagi, melainkan melalui Pematang Siantar. Dengan pemandangan kiri-kanan kebun karet dan kelapa sawit. Melewati Serdang Bedagai, lalu Medan. Perjalanan sekitar empat jam. Lebih singkat, jalan lebih datar, dan pilihan obyek untuk disinggahi pun tak beragam. Tiba di Medan, Anda bisa langsung mengambil penerbangan sore menuju Soekarno-Hatta.

Rita N./Toni H./Dok TL

Mutiara Lombok, Salah 1 Yang Terbaik

Mutiara Lombok kabarnya merupakan salah satu yang teraik di dunia. Foto: shutterstock

Mutiara Lombok adalah salah satu yang diminta menjadi oleh-oleh jika ada kerabat atau sahabat liburan ke Nusa Tenggara Barat, khususnya Pulau Lombok. Tahukah Anda bahwa mutiara Lombok diakui sebagai salah satu jenis mutiara paling indah di dunia? Budidaya lokal satu ini telah berhasil menarik perhatian begitu banyak peminat tak hanya dari dalam, namun juga luar negeri.

Mutiara Lombok

Sejak lama, mutiara dianggap sebagai simbol kemurnian dan kesempurnaan. Dari peradaban Roma hingga Hindu kuno, memiliki atau menggunakan barang yang terbuat dari mutiara punya nilai gengsi tersendiri.

Selain keindahan wujudnya, ia tergolong barang mahal karena tak mudah menemukannya. Di masa lalu, para pencari mutiara bertaruh nyawa menyelam hingga ke dasar laut mencari kerang-kerang. Itu dilakukan dengan minimnya teknologi dan perlengkapan penunjang.

Oleh karena itu, bagi pemiliknya, mutiara lebih banyak digunakan untuk acara dan keperluan spesial, atau bagi golongan tertentu. Misalnya perhiasan bagi kaum kerajaan dan bangsawan, atau perhiasan yang digunakan pada adat pernikahan Hindu kuno.

Mutiara sendiri terbuat dari proses alami kerang yang memiliki sistem pertahanan diri dari partikel-partikel mikro yang masuk ke dalam tubuh (cangkang) mereka, misalnya pasir, plankton dan lain-lain. Caranya, kerang akan mengeluarkan cairan yang mengandung kalsium karbonat, yang kemudian akan menyelimuti partikel tersebut hingga berkristalisasi.

Mutiara Lombok saat ini lebih banyak hasil budidaya, baik di darat dan di air laut. Keduanya merupakan mutiara yang bagus.

Proses itu dapat berlangsung lama, bahkan hingga bertahun-tahun. Itulah sebabnya, seekor kerang biasanya hanya dapat membuat sebutir mutiara. Bahkan dari setiap seribu kerang, mungkin hanya hitungan jari saja yang dapat ditemukan dengan mutiara.

Oleh sebab itu, orang kemudian membudidayakan mutiara dengan cara memasukkan partikel mikro tersebut secara sengaja ke dalam kerang, agar ia dapat membuahkan mutiara. Dengan demikian, proses dapat dipersingkat dan probabilitas panen mutiara menjadi lebih besar.

Dari situ, mutiara kemudian dibedakan menjadi mutiara jenis laut dan air tawar. Jenis laut biasanya lebih jarang ditemukan, dan kerang biasanya hanya membuat satu butir saja. Proses terbuatnya pun bisa hingga bertahun-tahun. Maka populasinya jarang dan jika dijual harganya mahal.

Sedangkan jenis air tawar biasanya punya jangka waktu panen yang lebih singkat. Selain itu, kerang bisa memproduksi mutiara lebih dari satu. Populasinya pun lebih banyak dan harganya lebih murah.

Mutiara jenis laut secara asalnya terbagi lagi menjadi tiga jenis. Yang pertama adalah mutiara laut Tahiti, yang terdapat di perairan pulau Tahiti dan French Polynesia. Kemudian ada juga mutiara laut Akoya, yang terdapat di area perairan Jepang.

Terakhir adalah mutiara laut selatan, yang kebanyakan berada di kawasan perairan Asia Pasifik seperti Filipina, Australia dan Indonesia, termasuk di Lombok. Selain Lombok, lokasi budidaya lainnya meliputi Sumbawa dan Papua.

Di Lombok, budidaya mutiara dilakukan baik di laut maupun air tawar. Kendati jenis laut rata-rata berkualitas lebih bagus dan lebih mahal, secara umum mutiara Lombok dikenal dengan butirannya yang berukuran besar dan kilaunya yang khas. Inilah alasan mengapa mutiara Lombok dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Ciri khas lainnya adalah warnanya secara alami. Jenis air tawar biasanya berwarna alami putih, merah muda dan ungu. Sedangkan jenis laut memiliki warna alami putih, emas, silver, dan kadang-kadang hitam.

Mutiara Lombok kemudian dijual sebagai perhiasan, atau dijual per butiran. Misal, jenis air tawar biasanya dihargai sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per butir. Sedang jenis laut bisa mencapai Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Biasanya mutiara dijual butiran berdasarkan bobot per gramnya.

Harga jual per butirannya juga tergantung dari grade mutiara tersebut. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi, seperti luster (kilau), shape (bentuk), surface (permukaan), size (ukuran) dan nacre (lapisan warna).

Dari situ, grading biasanya dibagi menjadi beberapa kategori, dari yang terbaik sampai yang kurang baik. Misalnya, grade AAA punya kilau bagus, bentuk sempurna, tingkat cacat permukaannya maksimal 10 persen.

Kemudian grade AA berkilau sedang, bentuk hamper sempurna dan tingkat cacat permukaannya maksimal 25 persen. Dan di bawahnya ada grade A dengan kilau rendah, bentuk kurang sempurna dan tingkat cacat permukaan maksimal 50 persen.

Selain itu, tentu mutiara juga dijual sebagai beragam jenis perhiasan, seperti kalung, gelang, cincin, bros dan lain-lain. Harganya pun beragam, dari kisaran Rp 200-250 ribu hingga jutaan, bahkan puluhan juta rupiah.

Yang perlu dicatat, saat ini penting untuk mengetahui ciri-ciri utama mutiara yang asli. Hal ini disebabkan makin maraknya mutiara imitasi yang terbuat dari plastik, kaca atau keramik yang beredar di pasaran.

Ada beberapa cara untuk mengecek keaslian mutiara. Contohnya, mutiara asli jika disentuh awalnya akan terasa dingin. Barang imitasi tidak terasa demikian, bahkan sudah cenderung hangat sejak pertama disentuh.

Cara lainnya, jika digosok atau dikikis mutiara yang asli akan terasa berpasir, yang palsu hanya akan terasa licin dan halus. Yang asli juga akan memiliki bobot yang lebih berat dan variatif per butirnya. Kilau dan refleksi cahayanya pun lebih alami ketimbang yang palsu.

Bagi yang berminat, penting untuk memperhatikan ciri-ciri tersebut agar tak tertipu produk palsu. Mutiara Lombok juga biasanya disertakan dengan sertifikat resmi dari asosiasi penjual mutiara Lombok.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****