Ubud Bali, Keselarasan Hidup di 14 Desa

Desa Tegallalang Bali menjadi tempat untuk menikmati alam.

Ubud Bali adalah keselarasan manusia dan alam, melalui capaian seni dan budaya. Pasti bukan hanya Elizabeth Gilbert, penulis buku Eat, Pray, Love yang mengamini itu.

Ubud Bali

Sempat dinobatkan majalah travel Amerika Condé Nast Traveler sebagai tujuan wisata terbaik di dunia, Ubud memang sangat kuat memberikan harmoni. Baik yang terlihat mata dan telinga, juga yang tertangkap oleh rasa. Ubud adalah pedesaan di Kabupaten Gianyar, Bali, merupakan paduan 14 desa berbalut hutan dan sawah terasering yang teduh menghijau, di mana seni dan laku spiritualitas menjadi denyut nadinya yang sangat kuat.

Begitulah, jauh di masa lampau, tepatnya pada abad ke 8, desa Ubud bahkan diyakini lahir dari kata “ubad” yang berarti “obat” karena di sinilah pusat meditasi dan penyembuhan pada zaman itu. Ada satu kisah, seorang resi terkemuka hijrah dari Jawa ke daerah ini untuk bermeditasi di muara sungai Campuan dan membangun kehidupan baru di Bali.

Warisan sebagai pusat spiritualitas di masa lalu tersebut membuat Ubud kaya dengan balian (para penyembuh tradisional) maupun seniman dengan karya masterpiece-nya. Paduan kearifan dari masa lampau dan kekinian secara unik berpadu di Ubud dengan harmonis, menjadikan daya tarik wisata kawasan ini yang tak akan cukup dijelajahi hanya dengan satu atau dua hari kunjungan.

Ubud bukanlah Kuta yang bising dengan wisatawan “anak pantai”-nya. Kawasan ini rasanya lebih teduh dan kerap turun hujan di sore hari pada sepanjang musim penghujan (Oktober hingga Maret). Itu sebabnya banyak pelancong lebih banyak mencari wisata budaya dan spiritual di sini. Tak heran, kegiatan retreat dengan yoga dan meditasi menjadi salah satu paket wisata yang banyak berkembang di Ubud.

Kegiatan para wisatawan di Ubud biasa dimulai dengan yoga di alam terbuka pada awal hari. Salah satu pusat retreat, yoga serta meditasi di Ubud adalah Yoga Barn. Acara di pagi hari bisa dilanjutkan dengan berjalan-jalan menikmati pertokoan dan butik yang artistik di pusat kota, menikmati Pasar Seni Ubud, atau mengunjungi ratusan monyet yang seolah setia menjaga Pura Dalem Padangtegal di Wanara Wana yang kini lebih dikenal dengan nama Monkey Forest.

 Ubud juga sohor dengan wisata treking dan bersepeda menyusuri sawah dan bukit. Di antara jasa tur sepeda di Ubud yang kerap dicari wisatawan manca negara adalah Bali Baik, Bali on Bike (BoB) dan Banyan Tree. Bersepeda sekitar 5 km dari Ubud menuju Tegal Lalang, suatu pusat seni kerajinan kayu, bisa dilakukan dengan melalui rute Dusun Ceking untuk bisa menikmati panorama sawah yang memesona. Tak jauh dari Tegal Lalang adalah desa Pakudui di Sebatu yang sohor dengan  patung dan ukiran kayu aneka jenis dan harga.

Pada sisi timur Pakudui terdapat Pura Gunung Kawi, Sebatu, yang anggun. Pengunjung dapat memasuki pura dengan memakai busana yang sopan dilengkapi kain kamen (sarung) yang bisa disewa di gerbang.  Pura lain di Ubud yang wajib dikunjungi adalah Pura Taman Saraswati yang dibangun anggun di tengah kolam penuh teratai. Pura ini dapat dinikmati pada pagi hari untuk sekadar berfoto di bibir keindahannya  sedangkan pada malam harinya ada pertunjukan tari. Pengunjung juga bisa menikmati tarian yang selalu dipentaskan kecuali pada Jumat malam.

 Salah satu sumber seni dan budaya di Ubud adalah adanya keraton Puri Agung yang menjadi jantung kehidupan di Ubud. Setiap hari pelancong dapat menyaksikan anak-anak yang berlatih menari dan juga pementasannya di Puri Agung. Bahkan pada Jaba Puri, yang menjadi semacam balairung keraton, setiap tahunnya digunakan untuk membuka pekan sastra internasional Ubud Writers and Readers festival.

Sebagai pusat seni, budaya dan spiritual, Ubud menjadi rumah berbagai kegiatan sejenis, baik untuk tingkat lokal hingga internasional. “Setiap tahun di Ubud diselenggarakan Bali Meditation Festival dan Bali Spirit Festival,” ungkap Noviana Kusumawardhani, warga Ubud. Selain dua festival besar itu  juga terdapat berbagai kegiatan spiritualitas nyaris setiap hari di Ubud. Kegiatan spiritualitas lain yang banyak dicari di Ubud adalah retreat dan melakukan meditasi.

Sejenak meninggalkan dunia spiritualitas, untuk mengagumi keunikan alam bisa dilakukan di di Desa Petulu yang  merupakan habitat burung bangau atau kokokan. Di desa peraih Kalpataru yang berada 2,5 km di sebelah utara Ubud tersebut terdapat ratusan bangau yang bersarang pada pepohonan di sepanjang jalan pedesaan.

Setiap pagi, kokokan berangkat bersama-sama matahari terbit untuk terbang mencari makan dan kembali bersama-sama ke sarang mereka selepas pukul lima petang. Wisatawan, terutama penggemar fotografi telah bersiap pada pukul 5 sore untuk mengabadikan pemandangan bangau yang menjejakkan kaki dari udara untuk hinggap ke sarangnya.

Lukisan seolah menjadi keharusan sebagai oleh-oleh dari Ubud. Pecinta seni akan sangat dimanjakan oleh aneka pilihan lukisan dari berbagai aliran. Adanya lima museum utama di Bali yang juga menyediakan galeri yang memperjual belikan lukisan dan deretan art shop di sepanjang Jalan Raya Ubud dan Jalan Monkey Forest tak akan cukup dijelajahi hanya dalam waktu satu atau dua hari. Selain lukisan, pahatan dan ukiran, Ubud juga sohor dengan karya fashion dan accesories.

Ubud Bali salah satu yang perlu dikunjungi adalah Pasar ubud

Terdapat pula Pasar Ubud yang eksotik bagi para wisatawan manca. Di sini pengunjung dapat menemukan aneka sarung Bali, aneka barang seni dan jajanan dengan seni tawar menawar yang seru. Jika hendak mengunjungi Pasar Ubud disarankan untuk menghindari pasar ini pada tengah hari lantaran menjadi waktu favorit untuk mampirnya bis berisi rombongan turis dari luar kota yang membuat pasar kecil tersebut menjadi sesak.

Jika pengunjung mengikuti tur harian dari Denpasar ke Ubud, biasanya sang pemandu akan mengajak mampir ke berbagai desa seni yang  dilewati. Ubud memang dikelilingi banyak desa seni yang menjual karya langsung dari sang seniman. Desa Batubulan, misalnya, adalah rumah para pemahat batu yang menyediakan aneka rupa stone-carving penghias rumah. Selepas Batubulan, akan tiba di desa Celuk yang sohor dengan kerajinan perak. Wisatawan dari Denpasar ke Ubud biasanya juga menyempatkan diri untuk mampir di Pasar Seni Sukawati, mencari lukisan tradisional di desa Batuan, dan ukiran kayu di desa Mas.

Jika pengunjung  ingin membeli sesuatu yang lebih personal,  terdapat pula para seniman yang membuka workshop dan pelatihan, misalnya di Chez Monique. Pada studio pembuatan perhiasan perak milik I Wayan Sunarta dan istrinya, Monique, di rumah sekaligus bengkel mereka di Jalan Dewi Sita, Ubud, tersebut tersedia pelatihan dasar membuat perhiasan dari perak, selama sekitar 4 jam.

Tertarik? Ayo agendakan perjalananmu ke Ubud.

*****

Resto Da Maria, 1 Sentuhan Naples di Seminyak

Resto Da Maria andi prasetyo

Resto Da Maria menawarkan sejumlah menu Italia. Kesan Osteria menonjol pada ruangan dan menu diolah dengan cara tradisional Italia.

Resto Da Maria

Pesan pendek Joseph Oliver mendarat di ponsel ketika mobil kami terjebak di antrean kemacetan Jalan Raya Seminyak, Bali. “Sudah sampai mana?” tuturnya dalam pesan itu. “Tak usah dibalas dulu, kita sebentar lagi sampai. Lokasi restorannya cuma di muka jalan ini,” ujar Priyo, pria Jawa tulen yang kini berdomisili di Bali, kala mengantar kami menuju Da Maria.

Sekitar 15 menit seusai pesan Joseph terbaca, mobil berpelat DK itu memasuki halaman kecil sebuah gedung bergaya minimalis. Tembok pagarnya dipenuhi tumbuhan merambat. Di ujung kanan dan kiri gedung, terdapat ayunan besi, mirip yang umumnya ditemukan di resor mewah.

Sejurus kemudian, pramusaji membawa kami ke bagian dalam restoran yang sangat luas, bisa menampung lebih dari 200 orang. Kesan Osteria langsung menyapa pandangan. Reinterpretasi kontemporer keramahan Italia klasik menjadi kekuatan yang ditonjolkan. Interior bergaya Eropa modern, mulai besi autentik di kursi, meja yang memberi sentuhan klasik-elegan, hingga penataan sendok-garpu-piring-pisau yang mengesankan konsep formal dinning, dikonsep begitu rapi dalam komposisi dan tatanan yang pas.

Ruangan ini dibagi menjadi dua bagian, yakni dalam dan luar. Di bagian dalam, restoran menyajikan kesan cukup formal—tempat orang-orang bersantap dengan momen yang cukup serius. Sedangkan di luar, orang bisa mengobrol lebih santai. Kursi dan mejanya dibuat berbentuk seperti ayunan.

Di tengah ruang—tempat yang membelah bar, sisi luar dan dalam, ditempatkan air mancur mini. Bila diingat, tatanannya mirip dengan konsep ruang dansa di kastil milik Pangeran Irakus dalam kartun Cinderella. Air mancur ini sederhana, namun klasik. Inspirasinya datang dari biara Santa Chiara di Naples. Tujuannya memberikan ketenangan kala orang tengah bersantap. Di samping air mancur bergaya Romawi itu, Joseph Olive duduk menunggu. Tangannya melambai.

“Naik mobil di Bali memang kurang asyik sekarang. Pasti kena macet di jalanan,” tutur public relations itu membuka perbincangan. Tak banyak basa-basi, pria oriental ini lantas menyodorkan buku menu. Tak hanya bangunan yang bergaya Italia, menu pun begitu. Maurice Terzini dan Adrian Reed, si pemilik Da Maria, juga pesohor di bidang kuliner internasional, terinspirasi gaya restoran Maurice Terzini yang berlokasi di Australia ketika membangun usaha kulinernya di Bali. Karena itu, menu utamanya adalah pizza.

Berlainan dengan pizza Amerika, yang punya daging tebal, pizza di sini dimasak lebih tipis. Cara memanggangnya masih tradisional, menggunakan oven kuno. Tak cuma itu, resepnya khusus memakai komplemen tradisional yang kerap digunakan masyarakat yang tinggal di jantung Laut Mediterania tersebut.

Selain itu, secara alami, pizza difermentasi selama 24 jam. Cara ini terinspirasi gaya memasak Neapolitan yang memanfaatkan oven lava lokal. Ada macam-macam pizza dengan taburan yang berbeda. Semisal, Antica Margherita, berisi fior di latte, basil, dan parmesan. Ada pula Marinara berisi black olive, white anchovy, oregano, juga garlic. Selanjutnya, Capricciosa berisi fior di latte, mushroom, artichoke, dan olive. Yang paling spesial, yakni Gamberetto berisi prawn, zucchini, fior di latte, juga chilli; Salami berisi salami, fior di latte, dan artichoke; serta Da Maria berisi goats cheese, roasted peppers, fior di latte, juga pinenuts. Pizza dibanderol antara Rp 90-150 ribu.

Ada pizza, tentu ada pula pasta. Kala itu, yang direkomendasikan Joseph adalah primi  ber-topping tonnarelli al nero, clams, spicy sausage, dan parsley. Pasta berbentuk spageti ini dimasak dengan gaya aglio olio. Kental dengan kekhasan Italia, spageti diolah dengan bumbu sederhana yang mengandalkan bawang putih dan minyak. Rasanya plain, ringan, juga pedas lantaran dibubuhi cabai kering. Cita rasa semacam ini cocok buat lidah orang Eropa. Primi dibanderol mulai Rp 100-160 ribu per porsi. Ukurannya tak terlalu besar. Hanya bisa disantap satu sampai dua orang. Berbeda dengan pizza yang bisa dikudap empat hingga enam orang.

Tak cukup dengan olahan gandum, pramusaji mendaratkan sepiring la panarda. Orang Indonesia menyebutnya sate. Daging yang digunakan adalah daging domba muda yang masih empuk, segar, dan merah. Orang-orang Italia menyajikan makanan ini umumnya saat menggelar upacara tradisional. Mereka menamainya dengan perayaan mengudap makanan terpanjang sedunia.

Domba itu dipanggang sampai masak, namun tetap tak menghilangkan tekstur dagingnya. Aroma amisnya hilang lantaran dibubuhi rosemary salt dan lemon segar. Sepiring la panarda berisi 10 tusuk daging. Cukup disantap dua hingga tiga orang.

Sembari memburu makanan bergaya Eropa, mata disegarkan dengan desain klasik arsitek Romawi—Lazarini Pickering—yang menyoroti keragaman makanan, anggur, musik, mode, dan seni yang padu. Gemerencing bunyi gelas sparkling wine dengan bowl tinggi dan ramping, bertubrukan dengan botol anggur, turut menjadi pelengkap yang membawa pengunjung serasa bersantap di daratan Eropa. Tawa renyah mayoritas tamu berkulit putih dan bermata biru membuat kami lupa kalau siang itu tengah berada di jantung Dewata, bukan di pesisir Amalfi, Italia. l

Da Maria

Jalan Petitenget Nomor 170, Kerobokan Kelod, Kuta Utara

Denpasar, Bali

Operasional

Buka pukul 12.00–02.00

F. Rosana/Andi P./Dok. TL

Liburan ke Cilacap, Menikmati Tradisi Sejak 1875

Ini 5 tempat Wisata asyik di Cilacap yang ada di jalur mudik selatan salah satunya bisa menikmati spot wisata di sekitar Cilacap

Liburan ke Cilapacap, Jawa Tengah, pengunjung bisa menikmati atraksi sedekah laut. Ebuah tradisi yang sudah berjalan lebih hampir 150 tahun. Selain itu, masih ada Teluk Penyu dan Benteng Pendem menjadi kegiatan wisata yang mencuri perhatian wisatawan. Cilacap Tak lagi hanya dikenal karena Pulau Nusakambangan.

Liburan ke Cilacap

Bulan Suro dalam penanggalan Jawa memiliki makna penting bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap, Jawa Tengah. Bagaimana tidak, sebagai masyarakat bahari, warga Cilacap memiliki kalender rutin sedekah laut. Ini merupakan upacara adat nelayan berupa prosesi Larung Sesaji yang disebut Jolen ke Laut Selatan sebagai wujud rasa syukur serta permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan nelayan dapat makmur sentosa.

Liburan ke Cilacap salah satunya mennikmati rangkaian tradisi larung sesaji.
Larung Sesaji, tradisi memberikan melarung sesaji di Cilacap sejak 1875. Foto: Dok. shutterstock

Merunut sejarah, kegiatan tersebut bermula dari perintah Bupati Cilacap III, Kanjeng Adipati Raden Bei Tjakrawerdana III (1873-1877) kepada sesepuh nelayan Pandanarang yang bernama Ki Ansa Manawi untuk melarung sesaji atau Jolen ke Laut Selatan pada Jumat Kliwon di bulan Suro tahun 1875. Tujuannya, untuk menjaga keselamatan warga Cilacap.

Tetapi tradisi tersebutsempat terhenti danbaru dihidupkan kembalipada masa Bupati Poedjono Pranjoto pada tahun 1982 hingga saat ini terus dilestarikan sebagai salah satu atraksi budaya di Kabupaten Cilacap yang dilaksanakan tiap Jumat atau Selasa Kliwon di Bulan Sura.

Rangkaian gelar budaya sedekah laut diawali dengan berziarah ke Karang Bandung di Pulau Nusakambangan oleh para sesepuh nelayan, sehari sebelum prosesi larungansesaji. Pada malam harinya dilakukan tasyakuran di Pendopo Wijayakusuma Sakti Kab. Cilacap yang dihadiri para nelayan dan pejabat di lingkungan Pemkab Cilacap. Prosesi Larunganpada upacara ini berlangsungdi Pantai Selatan Cilacap dan meriah karena melibatkan banyak kelompok nelayan dan masyarakat sekitar.

Iring-iringan kirab tersebut terdiri dua perempuan berkuda, barisan prajurit bertombak, barisan umbul-umbul, 14 putri domas,14 putri pengiring, kereta kuda yang membawa Bupati Cilacap dan istri serta pejabat lainnya, sejumlah becak, dan prajurit pembawa jolen. Prosesi dimulai dari pelepasan iring-iringan kelompok nelayan yang dipimpin Tumenggung Duta Pangarsa dengan membawa Jolen (sesaji berupa kepala kerbau yang dihias meriah) oleh Bupati Cilacap dari Pendopo Kabupaten menuju Pantai Teluk Penyu. Di Pantai Teluk Penyu, Tumenggung Duta Pangarso meminta izin kepada Bupati untuk memerintahkan para nelayan melarung jolen di Laut Selatan (sebelah selatan Pulau Nusakambangan).

Liburan ke Cilacap, selain menikmati tradisi lama, juga ada wisata pantai di teluk Penyu.
Panorama pantai Teluk Penyu di Cilacap, Jawa, Tengah. Foto:: Dok. shutterstock

Keunikan budaya di Cilacapitu tak bisa dipisahkan dari geografis wilayahnya yang berada di Jawa Tengah, tapi berbatasan pula dengan Provinsi JawaBarat. Sehingga budaya yang berakulturasi yaitu Jawa dan Sunda begitu lekat di Cilacap Ini. Pesona alamnya yang sebagian berada di pesisir pantai selatan memiliki keindahan luar biasa. Di antaranya Pantai Teluk Penyu yang berlatarkan Pulau Nusakambangan yang eksotis dan misterius.

Pantai Teluk Penyu initerletak sekitar 2 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Cilacap ke arah selatan. Kondisi pantainya landai, dan jika dilihat dari atas berbentuk seperti bulan sabit dengan pemandangan Pulau Nusakambangan serta kapal-kapal nelayan, dengan latar belakang Benteng Pendem Cilacap. Dinamakan Teluk Penyu karena konon, dahulu banyak terdapat penyu di sekitar teluk ini. Sedikit berbeda dengan pantai selatan pada umumnya yang memiliki ombak besar, Pantai Teluk Penyu karena terlindung Pulau Nusakambangan dari arah Samudera Hindia, maka ombaknyapun tidak terlalu besar.

Berbagai atraksi dan rangkaian kegiatan besar pariwisata sering diselenggarakan di Pantai Teluk Penyu diantaranya Gelar Budaya Adat Nelayan Sedekah Laut setiap Selasa atau Jumat Kliwon di bulan Sura, Festival Perahu Naga (Dragon Boat Race Open Tournament) tiap Maret dan Festival Layang-layang tingkat Nasional tiap September.

Di dekat pintu masuk dan sepanjang Pantai Teluk Penyu terdapat aneka cenderamata serta makanan khas hasil laut yangdapat dinikmati sambil merasakan sejuknya semilir angin laut selatan di bawah pohon waru atau di payung-payung pantai yang terdapat di sepanjang pantai tersebut.

Liburan ke Cilacap orang bisa menikmati Benteng Pendem peninggalan Belanda.
Benteng Pendem peninggalan zaman Belanda yang masih tersisa di Cilacap. Foto: Dok. shutterstock

Berwisata ke Cilacap, tak lengkap tanpa berkunjung ke Benteng Pendem Cilacap atau dalam bahasa Belanda disebut “Kusbatterij op de Landtong te Tjilatjap” terletak 0,5 km arah selatan Pantai Teluk Penyu. Benteng ini merupakan peninggalan Hindia Belanda yang dibangun rentang 1861 – 1879 sebagai benteng pertahanan dengan luas 10,5 hektare. Keseluruhan bangunan benteng ini masih dipertahankan seperti bentuk aslinya yang terdiri dari barak atau ruang prajurit, klinik, terowongan, penjara, ruang amunisi, ruang akomodasi, dan landasan meriam, yang dikelilingi parit dengan kedalaman 3 meter.

Sejak selesai dibangun mulai 1861 hingga 1942, benteng ini dipergunakan sebagai markas tentara Belanda untuk pertahanan pantai Pulau Jawa di bagian selatan karena letaknya yang strategis dan terlindung oleh Pulau Nusakambangan. Kemudian pada 1942 sampai 1945 Benteng Pendem dimanfaatkan sebagai Markas Tentara Dai Nippon (Jepang) di era penjajahan Jepang.

Setelah Jepang kalah perang, antara 1945-1950 Benteng Pendem itu diambil alih kembali oleh tentara Belanda sampai 1950.

Selanjutnya, Benteng Pendem tidak berfungsi apapun, hingga pada 1952-1965 dijadikan markas TNI/Pasukan Banteng Loreng
dan dalam perkembangannya dimanfaatkan sebagai tempat latihan pasukan RPKAD (sekarang Kopassus) sampai 1965 dan meninggalkan bangunan monumen dua peluru di pintu gerbang selatan. Kemudian, sekitar 21 tahun setelah itu, Benteng Pendem terlantar tanpa ada yang memanfaatkannya.

Benteng Pendem baru mulai kembali dimanfaatkan keberadaanya pada 1986 dengan sebagian areal Benteng Pendem seluas 4 hektare untuk dibangun dermaga kapal dan kantor serta tangki-tangki minyak area 70. Hingga akhirnya pada 26 November 1986, seorang warga Cilacap bernama Ady Wardoyo (Pemilik CV. Wardoyo) mencoba menggali dan menata kembali lingkungan Benteng Pendem dan mulai 28 April 1987 secara resmi dibuka sebagai tempat wisata sampai saat ini.

Benteng Pendem Cilacap kini telah dilengkapi dengan fasilitas berupa gazebo, ayunan atau tempat bermain, area pemancingan, perahu bebek, motor ATV, mushola, panggung hiburan dan toko cenderamata. Berbagai kegiatan pariwisata sering dilaksanakandi tempat ini antara lain lomba menggambar dan mewarnai, memancing, festival musik, tari dan calung Banyumasan.

agendaIndonesia

*****

Gerai Teguk 1 Di New York City Dibuka

Gerai Teguk 1 di New York City resmi dibuka. Foto: Dok Teguk.

Gerai Teguk 1 resmi dibuka di New York City, Amerika Serikat, Sabtu 17 September 2022. Informasi soal gerai pertama di Amerika Serikat ini sudah pernah disampaikan CEO Teguk Indonesia Maulana Hakim pertengahan Agustus lalu di Jakarta. Kini rencana itu terealisasikan.

Gerai Teguk

Teguk, perusahaan minuman kekinian dengan, membuka gerai di New York, Amerika Serikat. Sebagai bagian dari ide “Teguk akan goes to New York”. “Gerainya sudah ada, di sentral kota New York, tidak jauh dari Time Square,” kata Maulana secara virtual sebagaimana dikutip Kompas.com, Kamis 18 Agustus 2022.

Gerai Teguk pertama di New York City sekaligus di Amerika Serikat ini berada di Mott Street di seputaran kawasan Manhattan. Sebuah jalan yang tak terlalu besar namun sangat sibuk. Masyarakat New York sering menyebutnya “jalan utama” Chinatown kota tersebut.

Gerai Teguk 1 di New York City memberikan pengalaman kuliner ala anak muda Indonesia di dunia.
Layanan Konsumen di Gerai Teguk New York. Foto: Dok. Teguk Indonesia

Saat pembukaan, Gerai Teguk pertama ini melakukan promo dengan free trial atau cicip gratis minuman boba kreasi mereka. Dari video yang diperoleh, terlihat anak-anak muda New York yang cukup surprise dengan tawaran cicip gratis ini. Mereka terlihat menikmatinya. Saat pembukaan, gerai Teguk ini juga mendapat kunjungan Amanda dan Sandi, staf desk ekonomi Konsulat Jendral Republik Indonesia di New York.
Soal Teguk, Maulana mengatakan, upaya dan kerja keras yang dilakukan timnya dari awal mula bisnis minuman Teguk pada 2018. Hingga kini akhirnya Teguk bisa mulai ekspansi ke luar negeri.

Gerai Teguk pertama di New York City, Amerika Serikut, membuka jalan produk ini go internasional.
Kunjungan Staf Deks Ekonomi KJRI New York. Foto: Dok. Teguk Indonesia

Ia menceritakan, awalnya Teguk merupakan gerai penjual thai tea. Ia mengatakan dasar pendirian produknya berawal dari perilaku masyarakat yang terbiasa membeli minuman dalam kemasan. Dia bilang banyak orang pada saat itu juga sudah membeli minuman dalam kemasan cup untuk dibawa ke rapat, belajar, dan berbagai acara lainnya. Namun kala itu, kebanyakan produk minuman kemasan cup berharga mahal
Adalah Najib Wahab Mauluddin, seorang pengusaha muda di banyak sektor bisnis, mulai dari Energy, Infrastruktur, Logistik, alat berat, hingga F&B. Ia kemudian bersama-sama Maulana Hakim, yang kemudian bertindak selaku CEO Teguk Indonesia, merancang bisnis minuman kekinian tersebut.

Ke dua sosok inilah yang menjadi pelopor dan membuat Teguk menjadi besar. Bisnisnya sendiri berawal saat merebaknya fenomena minuman boba kekinian di Indonesia. Terutama bagi kalangan muda, mulai dari millennial hingga generasi Z. Dari masyarakat kelas bawah hingga kelas atas.

“Ini berawal dari keinginan saya agar masyarakat di kelas bawah juga bisa merasakan minuman mewah tetapi tidak perlu mahal. Dari situ saya ciptakan Teguk,” kata Najib dalam siaran persnya di Jakarta, 23 Agustus lalu.

Dengan tren tersebut, Teguk hadir dengan membidik masyarakat menengah ke bawah. Di sisi lain, tingkat belanja konsumen menengah ke bawah saat itu juga sedang tinggi, sehingga membuka kesempatan bagi Teguk mengoptimalkan potensi pasar.

Saat itu, pasar didominasi dengan tren minuman cup dari luar negeri dengan harga yang cukup tinggi, baik kopi maupun non kopi. Di sisi lain, untuk usia 18-25 sudah memiliki kemampuan yang konsumtif, dan itu menjadi dasar Teguk berkembang. “Teguk saat itu mengeluarkan produk teh yang terjangkau dengan value yang lebih tinggi,” ujar dia.

Gerai Teguk awalnya hadir dengan produk Thai Tea seharga Rp 5 ribu dengan konsep open kitchen sehingga pembeli bisa melihat bahan baku pembuatan produk. Mulai dari produk teh impor dan diramu dengan bahan-bahan lainnya.
Pertumbuhan penjualan yang terus meningkat mendorong Maulana untuk melakukan inovasi. Ia mulai mencoba menjual minuman jenis kopi dan coklat. Tak hanya itu, ia juga menambahkan makanan seperti roti untuk turut dijual di gerai Teguk.

“Keberhasilan itu merambat ke kategori lain, ada kopi, coklat dan lain-lain. Konsepnya, bahan baku kita tidak kalah dengan yang premium, tapi dengan harga yang terjangkau. Kita juga menjual makanan yang unik dan khas, seperti odading misalnya,” kata dia.

Sepanjang setahun mengembangkan bisnis, Teguk masih menggunakan sistem pemasaran konvensional. Dia percaya, jika pelanggan menikmati dan suka dengan produknya, akan secara langsung akan membuat kostumer kembali lagi untuk membeli
Namun di tengah era digital yang tumbuh pesat, penjualan secara online juga tidak kalah diminati oleh pelanggan mereka. Pada 2019, mereka melebarkan kanal penjualan online.

Awalnya konsumen Teguk hanya sekitar 25 ribu orang, sehingga dirasakan untuk berkembang perlu adanya transformasi. Maulana mengakui, mereka termasuk yang agak telat masuk ke kategori online atau gofood ini.

Pada 2019 mereka coba-coba dengan penjualan online dan hasilnya cukup mengejutkan. “Basis penjualan kami naik signifikan. Ternyata online ini bisa membeli lebih banyak dari rumah,” ungkapnya sambal bercerita Teguk yang semakin membesar.

Angkanya lebih dari 200 persen dibanding penjualan 2019 lalu.

“Penjualan kita di online cukup bagus dan kontribusinya cukup besar, sehingga kami merasa langkah selanjutnya adalah go international,” kata Maulana.

agenda Indonesia

*****

Kota Pontianak, Kota Multietnik di Garis Lintang 0

Pontianak Tugu Khatulistiwa

Kota Pontianak adalah kota yang tepat dilewati garis Khatulistiwa atau equator, atau garis lintang 0 derajat. Ia berada di tengah-tengah titik utara dan titik selatan bumi. Memiliki banyak tradisi Melayu, kota ini kaya dengan warisan kuliner Tionghoa.

Kota Pontianak

Menuju ibukota Kalimantan Barat ini tentu saja paling mudah melewati jalur udara melalui Bandara Supadio. Dari Bandara Soekarno Hatta memerlukan penerbangan dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Supadio sendiri berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat kota Pontianak.

AgendaIndonesia berkesempatan mengunjungi kota ini akhir tahun lalu. Sesungguhnya agak nanggung datang ke Pontianak pada bulan Desember, sebab saat itu kotanya sedang tak terlalu ramai. Kota ini ramai justru saat perayaan Imlek, dan dua minggu setelahnya, yakni perayaan Cap Go Mei. Maklum saja, sekitar 32 persen warga kotanya adalah masyarakat keturunan Tionghoa. Lebih besar dari warga Melayu yang sekitar 26 persen.

Saat Imlek, yang biasanya jatuh di akhir Januari atau awal Februari, suasana kota sungguh meriah. Cobalah pada hari-hari itu mampir ke pasar-pasar tradisional. Warna-warni merah mendominasi suasana pasar. Dan, sama seperti ketika Lebaran di kota-kota di Jawa, saat Imlek banyak warga saling mengunjungi.

Agama tak menghalangi tradisi saling kunjung dan makan besar. Meskipun banyak warga Tionghoa yang sudah memeluk agama Katolik, selain Budha dan Konghucu, Imlek adalah perayaan tahun baru semi. Dirayakan oleh semuanya. Di kota ini bahkan warga non-tionghoa pun ikut saling mengunjungi. Sungguh suasana kekeluargaan yang hangat.

Tapi sudahlah, karena bukan saat perayaan Imlek, ketika sampai Pontianak, dengan mencarter mobil, kami berpikir untuk pertama-tama mengunjungi ikon kota ini: Tugu Khatulistiwa. Dari Bandara kami menuju ke wilayah Sungai Raya atau warga setempat menyebutnya Sei raya. Saat ini sudah ada dua jembatan yang menghubungkan wilayah Pontianak kota dan Pontianak Utara. Keduanya membentang sepanjang sekitar setengah kilometer, 420 meter dan 560 meter. Jembatan I dulunya adalah jembatan tol, namun pada 1990-an dibuka untuk umum tanpa berbayar.

Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dan Sungai Landak. Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia yang melintasi 5 kawasan, termasuk Pontianak. Panjang sungai ini mencapai 1.143 kilometer, sedangkan lebarnya sekitar 70-250 meter. Sebutan sungai Kapuas diambil dari daerah Kapuas Hulu yang mengaliri aliran sungai tersebut.

Dulunya, sebelum tahun 1982, warga Pontianak Kota yang ingin pergi ke wilayah lain di Kalimantan Barat harus menyeberangi Kapuas dengan kapal feri menuju wilayah Siantan. Dari sana baru perjalanan darat menuju Singkawang, Sambas, atau Kapuas Hulu dilanjutkan.

Tugu Khatulistiwa ini rasanya wajib kunjung, karena sesuai julukannya, Pontianak dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena posisinya dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang dilalui garis lintang nol derajat bumi.

Tugu Khatulistiwa bentuknya sederhana saja, sebuah menara dari bahan kayu belian berwarna hitam dengan dua lingkaran di mana salah satunya memiliki anak panah yang menandakan lintasan titik 0 derajat lintang bumi. Menara ini dibangun oleh tim ekspedisi geografi yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda.

Sesungguhnya tugu atau menara Khatulistiwa ini biasa saja. Namun, memang ada sensasi lucu ketika berdiri di bawahnya. Berdiri tepat di tengah-tengah lingkaran utara-selatan bumi. Sayangnya belum ada penelitian, adakah efek berada di titik 0 bagi manusia. Jika ada, dan positif, bisa jadi daerah ini akan makin ramai mendatangkan wisatawan.

Dari tugu, kami kembali ke kota. Hari itu kami cuma berencana menikmati kuliner Pontianak. Pertama-tama tentu saja kwetiau, atau masyarakat Pontianak menyebutnya mi tiau. Sama saja, keduanya merujuk pada bakmi dari tepung beras berwarna putih dan pipih lebar.

Kota Pontianak di  Pusat oleh olehnya

Ada beberapa pilihan restoran yang kondang di kota ini, tapi kami memilih Kwetiau Antasari. Dari namanya pasti sudah bisa diduga kalau lokasi berjualan rumah makan ini sekaligus menjadi nama atau branding dari rumah makannya ada di Jalan Antasari. “Ini sudah buka sejak aku kelas 2 SD,” kata Uke, seorang kawan yang menemani makan siang, itu artinya merujuk pada tahun 1972.

Kami siang itu memesan menu andalan, yakni kwetiau goreng spesial. Kata spesial ini merujuk pada kondimen yang terdiri dari bakso sapi gepeng, daging sapi, daging babat, sayuran hijau, tauge, kikil dan ditambahkan lagi telur mata sapi di atas kwetiau gorengnya. “Itu belum termasuk telur yang dicampur dalam gorengannya,” kata Uke sambil bercerita, jika pesan bungkus, maka bungkusannya masih menggunakan daun jati. Persis seperti puluhan tahun lampau.

Jika ingin mencoba kwetiau atau mitiau lain, ada pilihan Kwetiau Seroja Baru, juga Kwetiau Apolo. Yang terakhir ini, yang kami coba besoknya, terlihat lebih gelap karena faktor kecap.

Usai makan, kami lanjut ke tempat lain yang tak kalah terkenalnya di Pontianak: es krim Angi atau lebih dikenal dengan sebutan es krim Petrus, karena dengan dengan SMA Petrus. Tadinya mau mencoba kopi Asiang yang dekat dari Antasari, tapi warungnya penuh. Dan di tengah panas siang hari, es krim rasanya asik.

Es Krim Petrus ini ternyata juga sudah melegenda, sebab sudah melayani pelanggan sejak tahun 1950-an. Para pelanggan menyebut rasa es krimnya tidak berubah sejak pertama kali. Dan itulah yang menjadi daya tarik penikmatnya untuk kembali lagi dan lagi. Satu hal yang membuat banyak orang datang kembali untuk mencecap es krimnya adalah cara penyajiannya dengan menggunakan kelapa muda. Pilihan rasanya cukup banyak, mulai dari durian, cempedak, strawberi, nangka, vanila, coklat, dan beberapa lainnya.

Kami sempat mengunjungi hutan kota (Arboretum Sylva Untan) yang berlokasi di kawasan Universitas Tanjungpura. Hutan seluas 3,2 hektare ini memiliki koleksi tanaman khusus dari Kalimantan Barat, yaitu 190 jenis pohon, 86 anggrek, 176 perdu, dan tumbuhan bawah, dan sebagainya. Ada juga sarana untuk berlari, bersepeda, ekowisata, dan aktivitas outbound.

Sore menjelang malam hari, kami meluncur ke pinggiran sungai Kapuas, ada atraksi menarik berupa air mancur warna-warni. Untuk menikmati Kapuas, mampirlah ke Taman Alun Kapuas yang berlokasi di tepi Sungai Kapuas. Di tempat ini, pelancong bisa menikmati embusan angin Sungai Kapuas dan keindahan mentari tenggelam. Jangan risaukan urusan perut, sekitar Alun Kapuas banyak makanan jalanan yang lumayan.

Usai menikmati Kapus, bagi penikmat kopi, jangan lewatkan deretan kedai kopi di Jalan Gajah Mada. Salah satunya, Warung Kopi Liem yang buka dari malam hingga pagi.

*****

Candi Sukuh, Candi Hindu Terakhir Abad 15

Candi Sukuh di Kabupaten Karanganyar merupakan candi Hindu terakhir di pulau Jawa.

Candi Sukuh diketahui sebagai candi Hindu terakhir yang ada di pulau Jawa. Sekaligus menandai dimulainya masa perkembangan awal agama Islam di pulau ini. Kompleks candi Hindu yang tidak terlalu besar ini memiliki pengaruh era Megalitikum di lereng Gunung Lawu.

Candi Sukuh

Terletak di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Candi Sukuh tidak sulit untuk dicapai jika pengunjung menggunakan transportasi umum. Dari Terminal Tirtonadi, Solo, pengunjung bisa naik bus jurusan Tawangmangu, yang membawa ke Terminal Karangpandan. Di masa normal, sebelum pandemi Covid19, bus jurusan ini umumnya beroperasi mulai pukul 6 pagi. Di hari biasa, bus itu penuh dengan penumpang anak sekolah dan pegawai kantor. Ongkos bus tak mahal, sekitar Rp 10 ribu per orang dewasa, dan sekitar 60 menitan sampai di Karangpandan.

Perjalanan ke lereng barat Gunung Lawu dilanjutkan dengan bus-bus kecil atau minibus dengan tujuan Desa Kemuning. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 20 menit untuk  tiba di pertigaan Nglorok. Dari sini, pengunjung bisa memilih dua pilihan untuk menuju Candi Sukuh, yakni naik ojek atau berjalan kaki selama kurang lebih 45 menit di jalan aspal sepanjang dua kilometer.

Komp.leks candi ini pada hari-hari biasa tidak cukup banyak dikunjungi wisatawan. Ia baru agak ramai pada hari-hari akhir pekan atau libur sekolah. Kadang ada pula rombongan anak sekolah

Memasuki kompleks candi Sukuh ini, pengunjung akan disambut Gapura Paduraksa—gapura beratap menuju teras pertama. Di bagian atasnya terdapat pahatan kepala Kala, yang menyambut dengan senyum seringai. Di dinding kiri-kanan terdapat relief raksasa sedang menggigit ekor ular dan memakan manusia. Konon, kedua pahatan itu merupakan sandi angka, biasa disebut sengkalan dalam tradisi Jawa kuno. Ini biasanya diperkirakan menunjukkan tahun selesainya pembuatan candi, yakni 1359 Saka atau 1437 Masehi.

Candi Sukuh
Relief di Candi Sukuh banyak menyiratkan secara gamblang hunungan pria dan wanita. Foto: Dok. shutterstock

Sepintas, tanpa memperhatikan detail relief, bangunan utama Candi Sukuh tampak seperti bangunan pemujaan ala suku Maya di Meksiko. Candi yang menghadap ke barat pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut ini dibangun pada akhir abad ke-15. Candi tersebut menurut sejumlah keterangan dikategorikan sebagai candi Hindu dengan arsitektur yang, konon, menyimpang dari ketentuan kitab Wastu Widya.

Pengaruh budaya pra-Hindu (Megalitikum) tampak jelas dari teras berundak di kompleks candi tersebut, di mana titik paling suci ditempatkan pada bagian paling tinggi dan paling belakang. Ada dugaan Candi Sukuh dibangun dengan tujuan sebagai tempat meruwat untuk melepaskan kekuatan buruk yang dimiliki seseorang.

Saat ini pengunjung tidak dapat lagi melintasi Gapura Paduraksa untuk masuk ke teras pertama. Para wisatawan kini harus memutar dari sisi kanan. Pintu gapura utama tersebut ditutup agar pahatan yang berfungsi sebagai Mantra Ruwatan, yang ada di lantai gapura, tetap terlindungi. Karya tersebut diperkirakan menggambarkan persatuan lingga dan yoni, sebuah lambang kesuburan. Mantra itu dipasang konon untuk menyucikan setiap tubuh yang masuk ke kompleks candi.

Tak banyak yang dapat dinikmati di halaman teras pertama. Pemandangan paling mencolok, selain Karanganyar dari ketinggian, adalah tiga batu yang masing-masing bergambar lelaki berkuda diiringi pasukan bertombak, sepasang lembu, dan lelaki penunggang gajah. Di belakang ketiga batu tersebut terdapat semacam bangku batu dan meja.

Teras kedua dapat dicapai setelah melalui tangga batu yang diapit Gapura Bentar. Sama sekali kosong di sini, sehingga dapat dipastikan pengunjung akan bersegera menuju teras ketiga. Teras tertinggi itu diyakini sebagai pelataran paling suci. Terdapat banyak arca dan batu bergambar di sana. Di sayap kanan, perhatian pengunjung akan tersita oleh tiga arca manusia bersayap. Anak-anak bisa jadi akan berimajinasi tengah bertemu dengan malaikat. Pada bagian belakang, tampak dua dari tiga arca memiliki pahatan aksara Kawi. Sedangkan di sayap kiri terdapat beberapa arca berbentuk lembu dan gajah, di mana kisah Sudamala dimulai tepat setelah relief gajah terakhir. Relief itu menggambarkan kisah keberhasilan Sadewa—anggota Pandawa bersaudara—meruwat Dewi Uma, yang dikutuk oleh Batara Guru menjadi Durga.

Pengunjung biasanya tak mau melewatkan kesempatan untuk naik ke bangunan utama di teras ketiga setinggi 6 meter. Tidak ada ruangan di dalamnya. Kosong pula bagian atapnya. Hanya ada lingga tanpa yoni dengan beberapa batang dupa wangi dan canang sesaji. Kadang-kadang, pengunjung meletakkan uang dalam jumlah tak terlalu besar di sana. l

TL/agendaIndonesia

*****

Yangko Kotagede, Kisah Oleh-oleh 101 Tahun

Yangko Kotagede oleh-oleh yang sudah diproduksi sebagai oleh-oleh sejak 1921. Foto shutterstock

Yangko Kotagede bagi sebagian orang mungkin kalah popular dibandingkan bakpia. Tapi, kudapan tradisional khas Kotagede, Yogyakarta, ini bisa jadi alternatif bagi yang mencari oleh-oleh selain bakpia, gudeg dan lain lain.

Yangko Kotagede

Yangko Kotagede merupakan makanan cemilan yang terbuat dari ketan. Di dalamnya diberi isian berupa kacang yang dicincang. Sedang bagian luarnya dibalut tepung dan gula, memberi sensasi manis dan gurih di https://www.jogjakota.go.id/mulut.

Umumnya yangko secara fisik berbentuk kotak-kotak dan padat, namun terasa kenyal. Pada perkembangannya, cemilan ini kemudian dimodifikasi menggunakan beragam jenis isian dan pemanis rasa agar dapat menarik selera konsumen masa kini.

Yangko Kotagede konon sudah ada sejak zaman Pangeran Dipenogoro. Dibawa untuk bekal perang.
Jalanan di Kotagede, Yogyakarta. Foto: DOk, Unspalsh

Sejarah kemunculan makanan ini bisa ditarik hingga ke masa kerajaan Mataram Islam, yang kebetulan berpusat di Kotagede pada kala itu. Di masa itu penganan ini lebih populer sebagai kudapan raja, kaum bangsawan dan priyayi.

Nama yangko sendiri konon berasal dari kata ‘kiangko’ dari bahasa Mandarin, karena resepnya disinyalir dibawa orang-orang dari Tiongkok yang datang ke Indonesia saat itu. Mulut orang Jawa yang sulit melafalkannya kemudian menyingkatnya menjadi yangko. Ada pula anekdot yang menyebut nama ini adalah  singkatan dari ‘tiyang Kotagede’, bahasa Jawa dari ‘orang Kotagede’.

Kala itu, tidak semua orang yang bisa menikmatinya, karena dianggap makanan mahal. Walau demikian, nyatanya yangko menjadi penganan favorit Pangeran Diponegoro yang selalu dibawa kala bergerilya memimpin perang.  Alasannya, ia termasuk makanan yang awet dan tahan lama.

Selepas era tersebut, resep yangko masih dipertahankan oleh segelintir orang, salah satunya oleh Muhammad Alif serta ayahnya yang akrab dipanggil mbah Ireng. Sejak tahun 1921, mereka mulai membuat dan menjual produksinya sendiri.

Pada 1939, raja Kasunanan Surakarta Sri Susuhunan Pakubuwono X mangkat. Kala itu, salah satu prosesi pemakamannya dilakukan di masjid Kotagede. Momen itu dimanfaatkan sang ayah dan anak untuk turut menyediakan konsumsi dengan membawakan makanan produknya pada acara tersebut.

Ternyata, kerabat keraton yang hadir menyukai penganan buatan mereka, dan mulai turut mempopulerkannya. Sejak saat itu, nama penganan ini mulai terangkat sebagai kudapan tradisional di kalangan masyarakat luas, serta sebagai oleh-oleh bagi wisatawan.

Hingga kini, usaha mereka pun terus dilanjutkan oleh Suprapto, cucu dan cicit mereka dengan menggunakan merek Yangko Pak Prapto. Merek tersebut pun jadi salah satu yang paling legendaris dan tersohor saat ini.

Proses pembuatan yangko Kotagede bermula dari beras ketan yang dikukus dan kemudian dikeringkan. Setelahnya, ketan lalu digiling dan disangrai (dimasak tanpa menggunakan minyak). Setelah itu digiling kembali sampai berupa tepung halus agar dapat dibuat adonan.

Yangko Kotagede saat ini sudah dengan bangak variasi rasa dan isi. Originalnya berisi kacang tanah yang dirajang.
Adonan yangko yang belum dipotong-potong. Foto: dok. shutterstock

Adonan tersebut lantas dicampur dengan pemanis rasa tertentu, air gula, serta isiannya. Adonan yang telah tercampur kemudian dimasak lagi, sebelum didinginkan, dibentuk kotak-kotak dengan ukuran kurang lebih sekitar 2 x 2 cm dan ditaburi tepung agar tidak lengket.

Makanan ini kemudian dikemas menggunakan kertas minyak dan ditaruh di dalam kotak. Satu kotak yang dijual di toko biasanya berisi 20 hingga 30 buah. Seperti dijelaskan di atas, yangko tergolong penganan yang cukup tahan lama, dengan ketahanan paling tidak sampai 15 hari dalam suhu ruangan, dan lebih lama lagi jika disimpan di kulkas.

Beberapa hal yang membuat penganan ini digemari adalah cita rasanya yang manis nan legit bercampur gurih, serta teksturnya yang walaupun padat tapi kenyal saat dikunyah. Selain itu, aromanya yang khas juga harum dan menggugah selera.

Yangko Kotagede yang asli biasanya berwarna abu-abu kecoklatan pekat dengan rasa kacang di dalamnya. Tetapi dewasa ini ia juga dibuat warna warni dengan berbagai rasa lain seperti coklat, nanas, nangka, durian, strawberry, cocopandan, frambozen dan sebagainya.

Sekarang oleh-oleh ini cukup mudah ditemui di sekeliling pusat oleh-oleh Yogyakarta, terutama tentunya di Kotagede. Ambil contoh Toko Roti Ngudi Roso misalnya. Toko penganan oleh-oleh tersebut didirikan oleh Harjo Soekarto, salah seorang kerabat Muhammad Alif.

Toko Ngudi Roso saat ini memproduksi dan menjual penganan oleh-oleh seperti roti jahe, wajik, ukel, sagon dan lainnya, termasuk yangko. Hanya berjarak 500 meter dari Pasar Kotagede, toko itu sudah lebih dari 50 tahun menjajakan penganan khas Kotagede itu.

Dengan resep yang sudah turun temurun dalam keluarga pengusaha tersebut, hingga kini makanan ini masih jadi salah satu jualan utama mereka. Kendati sekarang bersaing dengan merek-merek baru lain, buatan mereka yang sekotak dijual Rp 18 ribu rupiah masih banyak pelanggan setianya.

Selain Kotagede, yangko juga kini diproduksi di lokasi-lokasi lain, seperti misalnya di Banguntapan, Kabupaten Bantul. Di kawasan selatan Yogyakarta ini, ada beberapa merek produksi rumahan seperti Yangko Bu Cip dan Yangko Mawar Sari.

Bisnis rumahan ini pun sudah berjalan lebih dari 30 tahun. Mengikuti perkembangan jaman, yangko buatan mereka juga tersedia dalam aneka rasa dan dihargai sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. Biasanya, produk-produk tersebut dijual di pasar-pasar seperti Pasar Godean, Pasar Pleret, Pasar Beringharjo dan lain lain.

Bahkan merek-merek yang sudah dikenal membuat produk penganan oleh-oleh lain juga ikut menawarkan produk yangko. Kencana, misalnya, merek penganan oleh-oleh yang lebih dikenal dengan bakpianya, kini juga menjajakan makanan Kotagede itu.

Serta tentu merk yang paling ikonik adalah Yangko Pak Prapto. Sekarang mereka berpusat produksi dan toko di kawasan Umbulharjo. Usaha kini dijalankan oleh kedua anak Suprapto, Gatot dan Galuh, generasi ke empat dalam keluarga tersebut. Sekotak Yangko Pak Prapto isi 30 harganya mulai dari Rp 19 ribu.

Demikian banyaknya pilihan, maka rasanya yangko Kotagede perlu jadi alternatif bagi wisatawan yang mencari oleh-oleh penganan Kota Pelajar tersebut. Kudapan tradisional unik dan sarat sejarah yang sayang untuk dilewatkan.

Toko-toko Penjual Yangko

Yangko Pak Prapto: Jl. Pramuka no. 82, Umbulharjo, Yogyakarta

Telp. (0274) 380757

Toko Roti Ngudi Roso: Jl. Masjid Besar no. 9, Kotagede, Yogyakarta

Telp. (0274) 380700

Yangko Bu Cip: Jl. Balong Kidul, Banguntapan, Bantul

Telp. 088802735413

Bakpia dan Yangko Kencana:

Jl. C. Simanjuntak no. 41B, Terban, Yogyakarta

Telp. (0274) 551445

Jl. Laksda Adisucipto no. 17, Sleman, Yogyakarta

Telp. 08122937575

Jl. Wates km. 6, Gamping, Yogyakarta

Telp. 089687815758

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Nasi Gandul Pati, Ada Yang Sejak 1955

Nasi Gandul Pati adalah makanan khas Pati.

Nasi gandul Pati mungkin tak sepopular sejumlah masakan berkuah di sepanjang pantai utara Jawa Tengah seperti soto, nasi pindang atau garang asem. Padahal dari segi rasa, masakan ini tak kalah kelezatannya.

Nasi Gandul Pati

Pati sendiri merupakan salah satu kabupaten di jalur pantai utara pulau Jawa di wilayah Jawa Tengah. Ada banyak kuliner khas Pati yang layak untuk dicicipi, salah satunya nasi gandul. Makanan satu ini berupa nasi dengan empal daging berkuah, kemudian disajikan beralaskan daun pisang. Enak banget disantap saat masih hangat.

Nasi gandul Pati menjadi salah satu makanan khas Jawa Tengah. Makanan ini terdiri dari nasi yang dimasak dengan cara yang khas dan disajikan dengan kuah yang gurih dan beraroma khas.

Disajikan dengan menggunakan daun pisang supaya nasi tetap hangat dan lezat. Ciri khas lainnya yaitu penjual yang tetap meletakkan dagangannya di pikulan. Sebab, dahulu para penjual nasi gandul menjajakan dagangan dengan berkeliling dan menggunakan pikulan.

Nasi Gandul Pati disajikan dengan kuah dan daging.
Nasi Gandul juga ada yang menggunakan jerohan. Foto: Dok. jatenggov.go.id

Sejarah dari nasi gandul Pati tidak terdokumentasikan secara resmi, tetapi diperkirakan makanan ini telah ada sejak zaman kerajaan di Jawa Tengah. Nama “gandul” berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang berarti “menggantung” atau “tidak menapak”.

Dari cerita mulut ke mulut, istilah gandul tersebut mengacu pada dua pengertian. Pertama pada tekstur nasi yang sedikit kering dan diletakkan pada daun bukan langsung di piring. Sementara pengertian ke dua mengacu kepada istilah “gandul” yang dalam bahasa Jawa berarti “menggantung”.

Tapi bukan nasinya yang disajikan menggantung, melainkan cara berjualannya. Jadi, konon dulu penjual nasi gandul Pati menjajakan dagangannya dengan digantung pada pikulan. Dari situlah kemudian muncul nama “nasi gandul”.

Nasi gandul Pati terbuat dari beras yang dicuci bersih dan dimasak dengan air yang diberi sedikit minyak goreng dan garam. Setelah nasi matang, nasi diaduk secara perlahan hingga terlihat kering dan terpisah satu sama lain.

Kuah gandul yang khas terbuat dari daging sapi atau ayam yang dimasak dengan rempah-rempah seperti jahe, lengkuas, dan kacang merah. Setelah matang, kuah ini dihaluskan dan dicampur dengan santan, kemudian disajikan dengan nasi dan ditambahkan irisan daun bawang dan kerupuk udang.

Beberapa istimewa dari nasi gandul Pati antara lain tekstur nasi yang kering dan tidak lengket membuat nasi gandul ini berbeda dengan nasi pada umumnya. Kuah gandul yang khas memiliki rasa yang gurih dan kaya rempah. Sajian ini biasanya disajikan dengan kerupuk udang yang renyah, menambahkan rasa dan tekstur yang berbeda.

Nasi gandul Pati sering dianggap sebagai makanan yang sarat nutrisi karena mengandung banyak protein dari daging dan kacang merah serta karbohidrat dari nasi.

Nasi Gandul Pak Meled Kemendikbud
Nasi Gandul Pak Meled. Foto: Dok kemendikbud.go.id


Di Pati terdapat beberapa restoran dan warung yang terkenal dengan nasi gandulnya, di antaranya:

Nasi Gandul Pak Meled – terletak di Jalan Krajan Gajah Mati, Kecamatan Pati, Pati. Warung ini menjadi salah satu yang paling terkenal di Pati dan sudah berjualan sejak 1955. Harganya cukup terjangkau dan rasanya dijamin enak.

Nasi Gandul Romantis – terletak di Jalan Panunggulan, Krajan Gajah Mati, Kecamatan Pati, Pati. Warung ini juga dikenal sebagai tempat yang menyajikan nasi gandul yang lezat dengan harga yang terjangkau.

Nasi Gandul Khas Pati – terletak di Jalan Kiai Saleh, Kaborongan, Kecamatan Pati, Pati. Warung ini menyajikan nasi gandul dengan bumbu yang kaya rempah dan daging sapi yang empuk.

Nasi Gandul Warsimin – terletak di Jalan Roro Mendut, Semampir, Kecamatan Pati, Pati. Warung ini terkenal dengan nasi gandulnya yang nikmat dan disajikan dengan sambal khas.

Setiap warung memiliki ciri khas dan rasa yang berbeda-beda, sehingga Anda bisa mencoba beberapa warung untuk mencari nasi gandul yang paling Anda sukai.

Di Indonesia, terdapat beberapa masakan yang memiliki kemiripan dengan nasi gandul dari Pati, Jawa Tengah. Sepintas jika diperhatikan nasi rawon, nasi gandul, dan nasi pindang memiliki kesamaan.

Rawon Surabaya terkenal dengan sebutan black soup. Foto: dok. liputa6

Ke tiga kuliner tanah Jawa ini berkuah kehitaman dengan rasa rempah yang gurih. Baik rawon khas Surabaya, nasi pindang khas Kudus, dan nasi gandul khas Pati sama-sama memiliki kuah hitam encer akibat kluwak, dengan potongan daging sapi dan penyajiannya disatukan dengan nasi.
Namun jika diteliti lebih dalam, ke tiganya memiliki ciri khas dari daerahnya masing-masing. Seperti nasi pindang Kudus yang menggunakan daun melinjo muda sebagai pendamping kuahnya. Sedangkan rawon menggunakan sayur tauge untuk pendamping kuahnya. Beda nasi pindang, nasi gandul sama rawon itu di santan sama daun melinjonya.


Meskipun memiliki kemiripan dalam bahan dan cara penyajian, tetapi setiap masakan khas daerah memiliki ciri khas dan bumbu yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan rasa dan aroma yang berbeda pula.

agendaIndonesia

*****

Sate Ponorogo Tukri Sobikun, Manis 70 Tahun

Sate Ponorogo H. Tukri Sobikun salah satu kuliner khas Ponorogo.

Sate Ponorogo Tukri Sobikun disinyalir merupakan salah satu pelopor kepopuleran kuliner sate ayam di kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ini. Lewat resep yang sudah diramu sejak sekitar 70 tahun lalu, mereka telah menahun jadi standar cita rasa sate ayam khas kota reog itu.

Sate Ponorogo Tukri Sobikun

Bagi yang mengaku penggemar kuliner sate, tentu sudah pernah mendengar tentang nikmatnya sate Ponorogo. Maklum, sate ayam Ponorogo punya beberapa karakteristik yang membuatnya punya cita rasa unik dibanding sate-sate di segala penjuru nusantara lainnya.Salah satu keunikan sate ayam khas Ponorogo dapat dilihat dari cara penyajiannya.

Kalau sate kebanyakan dibuat dengan memotong daging ayam pada bentuk dan ukuran yang padat dan tebal, sate Ponorogo dibuat dengan mengiris daging ayam hingga cenderung berbentuk pipih.Dari penggunaan teknik ini, kemudian didapatkan irisan daging ayam yang lebih bebas dari lemak.

Sate Ponorogo Tukri Sobikun adalah salah satu ikon kulner kota Ponorogo.
Tumpukan sate ayam Ponorogo Tukri Sobikun sedang dibakar. Foto: IG

Sebelum dibakar, irisan daging ini direndam terlebih dulu ke dalam bumbu, agar rasa dari bumbu tersebut dapat meresap lebih baik ke dalam daging.Bumbu ini, yang biasa disebut sebagai bumbu bacem, terbuat dari rempah-rempah seperti ketumbar, merica, laos, kunyit, kemiri, jahe, dan gula Jawa. Rempah-rempah tersebut diolah menjadi bumbu dengan cara diulek dan direbus, hingga berwujud bumbu cair.

Setelah itu, barulah irisan daging tersebut dipasangkan dengan masing-masing tusuknya dan kemudian dapat mulai dibakar, selama sekitar tiga sampai lima menit. Selama proses pembakaran, sate kembali diolesi dengan bumbu untuk menambah kuat rasa.Keunikan lainnya ada ketika sate telah disajikan. Umumnya, sate ayam Ponorogo bisa dimakan dengan tambahan bumbu kacang tanah yang kental, namun sejatinya bila sate dimakan tanpa bumbu pun dagingnya sudah terasa nikmat berkat bumbunya yang meresap.

Ketika dipadu dengan bumbu kacangnya, maka sensasi rasa manis dan pedas dari bumbu plus gurih dan empuknya daging sate membuatnya begitu mengundang selera. Keunikan tersebut membuatnya menjadi varian sate di Indonesia yang punya banyak penggemar.

Di Ponorogo sendiri, kehadiran resep sate ayam tersebut konon sudah muncul sejak era abad ke-15. Sate ini disebut menjadi salah satu penganan favorit para warok, alias tokoh-tokoh figur publik yang terkait dengan politik, sosial, seni dan budaya pada tatanan masyarakat kala itu.

Bertahun dan berabad setelahnya, resep sate ini terus dilestarikan dan menjadi salah satu penganan yang lazim dijajakan untuk masyarakat umum. Mayoritas pedagang sate saat itu banyak yang berjualan sambil berkeliling memikul sate dagangannya, beserta alat memasaknya.Salah satu pedagang sate keliling tersebut adalah H. Tukri Sobikun, yang sudah merintis usahanya sejak sekitar tahun 1950-an. Seiring berjalan waktu, sate racikannya mulai meraih reputasi sebagai salah satu sate ayam terenak di Ponorogo.

Warung Sate Ponorogo H. Tukri Sobikun IG
Kedai Sate Ayam Ponorogo H. Tukri Sobikun. Foto: IG

Setelah meraih cukup banyak pelanggan, ia lantas menetap di area trotoar jalan Ahmad Yani pada 1970-an. Dari situ, popularitas sate buatannya terus meningkat, tak hanya dari kalangan warga Ponorogo tetapi juga pelancong dari luar kota.

Maka pada tahun 1995 ia membuka kedai kecil berukuran empat meter persegi di area garasi rumahnya sendiri di jalan Lawu. Pada lokasi inilah kedai sate Ponorogo Tukri Sobikun hingga kini berjualan, dengan usaha saat ini sudah dijalankan oleh generasi ketiga.

Yang unik, area jalan Lawu ini sekarang juga kerap dikenal sebagai “gang sate”, lantaran di area tersebut juga terdapat berbagai kedai sate ayam Ponorogo lainnya. Bahkan ada yang menyebut bahwa gang ini merupakan salah satu sentra penjual sate terbesar di Indonesia.Usut punya usut, banyak warga di sekitar jalan tersebut juga sudah lama menyambung hidup dengan berjualan sate. Seperti halnya H. Tukri Sobikun, beberapa di antaranya juga pernah menjajakan satenya sambil berjalan keliling kota.

Sejak kemunculan kedai sate Ponorogo H. Tukri Sobikun di area tersebut, beberapa pedagang sate mulai ikut-ikutan mendirikan kedai sate serupa. Sehingga area jalan tersebut mulai akrab dengan sebutan “gang sate”.

Namun, bisa dikatakan kedai sate Ponorogo Tukri Sobikun merupakan salah satu yang tertua, serta yang paling populer dan turut menaikkan pamor sate ayam Ponorogo. Sate buatan mereka juga disebut-sebut punya keunggulan tersendiri dibanding sate ayam Ponorogo lainnya.

Cara mereka meracik sate memang cukup spesifik dan terus dijaga hingga saat ini, demi menjaga cita rasa asli. Semisal dari bagaimana daging yang sudah dibumbui kemudian diasapi terlebih dulu sebelum bisa dibakar, agar kadar lemak di dalam daging dapat ternetralisir.

Mereka juga masih menggunakan tungku pemanggang dari semen yang sama sejak dulu. Ketika ada bagian yang rusak pun, pasti akan sebisa mungkin diperbaiki. Mereka percaya bahwa penggunaan tungku ini turut memberikan cita rasa tersendiri pada sate.

Bahkan arang yang digunakan spesifik menggunakan arang dari pohon asam. Arang dari pohon asam disebut memiliki daya panas yang lebih tahan lama. Ini dipadu dengan penggunaan tungku tersebut, agar cita rasa gurih yang diinginkan tercapai dan tidak menjadi terlalu asin.

Selain itu, cara pembakarannya pun sedikit rumit, karena sate dibakar berulang kali sambil diolesi bumbu, dengan tingkat kematangan yang terukur. Ini dilakukan agar rasa bumbu dapat betul-betul meresap, sekaligus menghilangkan aroma amis dari daging.

Mungkin karena tingkat kesulitan itu pula, harga jualnya mencapai Rp 37 ribu per porsi, dengan pasangan nasi atau lontong. Tidak terlalu murah, terlebih harga naik saat hari libur. Tetapi menimbang rasa yang unik dan nikmat, tak mengherankan bila kedai ini terus ramai dikunjungi.

Sate Ponorogo H. Tukri Sobikun untuk Oleh oleh IG
Sate Ayam Ponorogo H. Tukri Sobikun menyediakan paket untuk oleh-oleh. Foto: IG

Dari yang dulu awalnya hanya menghabiskan sekitar lima sampai sepuluh potong ayam, kini kedai sate Ponorogo Tukri Sobikun bisa menghabiskan seratus potong ayam untuk memenuhi permintaan sehari-hari. Angka ini bisa meningkat kala akhir pekan atau hari libur.

Pelanggannya pun tak sembarangan. Tercatat, presiden Joko Widodo dan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi sosok figur publik yang turut menggemari sate mereka. Konon, sate buatan mereka pernah beberapa kali dipesan untuk Istana Negara.

Yang cukup unik, mereka kini juga melayani penjualan sate untuk dibungkus dalam besek sebagai oleh-oleh, dengan bumbu mentahan layaknya bumbu lekas jadi untuk gado-gado dan sejenisnya. Sate yang sudah dibakar dan matang diklaim mampu bertahan hingga satu pekan.

Dan satu hal yang menarik pula, sate Ponorogo Tukri Sobikun sehari-harinya buka dari jam 06.00 sampai jam 20.00. Ternyata, mereka sudah bersiap-siap untuk berjualan sejak subuh dan buka dari jam 06.00, lantaran banyak pelanggan yang datang sejak pagi untuk sarapan sate. 

Sate Ponorogo Tukri Sobikun

Jl. Lawu no. 43K, Gang Sate, Ponorogo

Instagram: sateayamtukrisobikun 

agendaIndonesia/audha alief praditra 

*****

Karawang Bekasi, Eksplorasi 2 Kota

Rumah Pohon Bekasi

Karawang Bekasi rasanya tak ada yang terpikir untuk main-main di dua kota di sekitar Jakarta ini. Ke duanya seperti bukan “tujuan wisata”. Tapi cobalah sekali-kali menengoknya. Ada beberapa tempat yang layak dikunjungi.

Karawang Bekasi

Dua kota di Jawa Barat yang tak jauh dari Jakarta, yaitu Bekasi dan Karawang, memiliki destinasi yang layak disambangi untuk liburan singkat. Tak melulu mal atau pusat perbelanjaan, tempat melancong yang berada di Bekasi dan Karawang, ini dapat dieksplorasi di akhir pekan. Cobalah habiskan libur akhir pekan Anda selama dua hari di kota ini.

Hari pertama 

Rumah Pohon Bekasi 

Layaknya destinasi digital di kota-kota lain yang mengunggulkan wahana-wahana Instagramable, rumah pohon yang berlokasi di Jalan Raya Parpostel, Jatiasih,memiliki keutamaan sebagai destinasi berfoto. Di tengah kota, kompleks kawasan wisata alam ini menawarkan pemandangan asri berupa lansekap hijau alami. Di antara pohon-pohon, dibangun rumah-rumah kayu. 

Rumah tersebut bisa dimanfaatkan untuk aktivitas luar ruang. Selain itu, menjadi lokasi menongkrong sambil menikmati udara segar. Benar-benar seperti tak sedang berada di kota. 

Di sana tersedia flying fox, jembatan gantung, dan panjat dinding yang menantang adrenalin. Untuk dapat merasakan wahana ini, pengunung harus membayar Rp 70 ribu per orang. Bila kepingin yang lebih memacu adrenaline, pelancong juga bisa menikmati wahana All Terrain Vehicle (ATV). Tiket ATV dibanderol Rp 40 ribu per orang. 

Alamat: Rumah pohon Bekasi, Jalan Raya Parpostel, Bekasi

Telepon: 021-32700780

Taman Rusa Kemang Pratama 

karawang bekasi di antaranya mengunjungi taman rusa kemang pratama

Rusa tak hanya ‘bermukim’ di Bogor. Di kampung tetangga dekatnya, Bekasi, hewan yang ikonik karena tanduknya itu juga dapat dijumpai. Tepatnya di Taman Rusa Kemang Pratama. Lokasinya di Jalan Niaga, Sepanjang Raya, Bojong Rawalumbu, Bekasi. Jenis rusa yang hidup di sini adalah rusa-rusa tutul. 

Tempat ini cocok untuk lokasi berwisata bersama keluarga. Para orang tua dapat mengajak anak-anaknya piknik sembari menggelar tikar dan melihat rusa. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari, saat matahari belum terlalu tinggi. Selain menjadi alternatif untuk berlibur, taman rusa kerap dimanfaatkan sebagai lokasi untuk berolahraga. Semisal lari pagi atau senam. Di sana tersedia fasilitas lintasan lari. 

Alamat: Jalan Niaga Raya Blok C nomor 3, Sepanjang Jaya, Rawalumbu, Bojong Rawalumbu, Bekasi

Lokasi: https://goo.gl/maps/QCBs9e55QSJ2

Pantai Muara Gembong

Tak disangka, Bekasi memiliki pantai. Bahkan ada sejumlah pantai di kota tersebut yang menarik untuk disambangi. Salah satunya Pantai Muara Gembong. Lokasi pantai ini berada di Muara Gembong, Bekasi. Muara Gembong menyajikan panorama lepas pantai khas yang menyejukkan mata. Tak jauh dari Jakarta, lansekap demikian memang jarang ditemui.

Layaknya pantai untuk wisata di daerah lainnya, pelancong akan ramai menyambangi Muara Gembong saat akhir pekan. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Mulai berfoto hingga menyusuri hutan bakau. Ya, Pantai Muara Gembong memang memiliki kawasan hutan bakau. Tersedia kapal motor bila pengunjung ingin mengeksplorasi wilayah hijau tersebut. Sembari menyusuri sungai berair payau, pelancong bisa membidik foto lansekap yang hijau. 

Jika ingin menginap, warga setempat telah menyediakan penginapan sederhana. Wisatawan yang ingin menjajal sensasi bermukim di desa sejenak bisa menginap barang semalam. Adapun untuk akses, pengunjung disarankan untuk membawa kendaraan pribadi. Hanya dibutuhkan waktu dua jam untuk menjangkau Pantai Muara Gembong dari kawasan Kota Bekasi.

Alamat: Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat 17730

Webhttps://goo.gl/maps/g5FgCXpAvQ82

Hari kedua 

Curug Bandung Karawang

Saatnya menjelajahi Karawang pada hari kedua. Kota industri ini terkenal dengan curug alias air terjunnya. Ada sejumlah curug yang menarik dikunjungi, baik yang memiliki daya pikat untuk beratraksi di air maupun sekadar berfoto. Salah satunya Curug Bandung. Meski bernama Bandung, Curug ini bertempat di Karawang. 

Posisi Curug Bandung tepat di Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Karawang. Di kaki Gunung Sanggabuana setinggi 1920 meter di atas permukaan laut (mdpl), air terjun ini mengucur pada ketinggian 25 meter. Curug Bandung terhitung sebagai curug terbesar dari rangkaian tujuh curug di Karawang—dimulai dari Curug Peuteuy hingga Curug Picun. 

Hanya, perlu perjuangan lebih untuk menjangkau curug. Wisatawan kudu berjalan kaki sepanjang 3 kilometer dengan medan yang cukup licin. Adapun dari kota, curug itu bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Sebab, medan jalannya telah beraspal kendati rusak di beberapa ruas. 

Curug Bandungan berada dalam satu jalur dengan lokasi wisata lainnya. Di antaranya Kampung Wisata Cigentis, Curug Cigentis, Batu Tumpeng, Curug Peuteuy, Curug Cipanundaan, dan Curug Cikarapyak. 

Alamat: Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang

Lokasihttps://goo.gl/maps/aVNBsSoMt4K2

Kampung Wisata Cigentis 

Saatnya membayar rindu pada panorama hijaunya persawahan dan semili angin sepoi-sepoi di Kampung Wisata Cigantis. Tempat menepi di Karawang Selatan ini menyajikan harmoni alam di kaki Gunung Sanggabuana. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, ranum padi akan menyapa. Keberadaannya cocok untuk para keluarga yang kepingin menikmati suasana perdesaan. 

Di Kampung Wisata Cigentis itu terdapat saung-saung berdiri di tengah sawah. Di sana, pelancong dapat makan bersama keluarga, kerabat, atau menjalankan sejumlah kegiatan menarik. Tempat ini bisa didatangi dalam lingkup liburan keluarga maupun liburan komunal atau beramai-ramai. 

Di lokasi melancong tersebut, terdapat sejumlah fasilitas untuk kegiatan luar ruangan. Misalnya rumah balon, flying fox, bunge jumping, waterpark, perahu bebek, hingga lapangan futsal.

Alamat: Karawang Selatan, Wargasetra, Parakan Badak, Mekarbuana, Tegalwaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat 17550

Telepon: 082299881745

Vihara Shia Jin Ku 

Tak hanya curug dan atraksi alam, Karawang juga punya vihara. Vihara yang kerap disambangi turis adalah Vihara Shia Jin Ku. Vihara ini tergolong yang tertua di Karawang karena telah dibangun sejak 1770. Konon, vihara itu menjadi tempat untuk rombongan dari Cina ketika mendarat di Teluk Ujung Karawang, tepatnya di Muara Cabangbungin. Dalam rombongan itu, terdapat orang-orang suku Khouw, Lauw, dan Tjiong. 

Vihara itu konon dibangun oleh tiga marga tersebut. Namun, pada perjalanannya, vihara ini mengalami pembangunan yang cukup masif. Renovasi dilakukan di sisi vihara yang dekat dengan Sungai Citarum. Sungai itu memisahkan Karawang dan Bekasi. 

Vihara Sian Jin Ku Poh saat ini dikelola oleh Yayasan Sian Djin Ku Poh. Pengelola acap menggelar kegiatan saat agenda-agenda besar dalam peringatan kalender Cina berlangsung. Misalnya akan dihadirkan Barongsai atau Liong. Pertunjukan ini kerap memikat wisatawan.

Alamat: Jalan Muhamad Toha nomor 9, Karawang 41316

Lokasi: https://goo.gl/maps/QtruUwVBJYK2