Pesta Sakura, 1 Pesta Hari Raya di Liwa

Pesta Sakura sebagai tradisi Idul Fitri di Liwa, Lampung

Pesta Sakura, ini tak ada kaitannya dengan musim bunga di Jepang. Juga tidak terlait dengan bunga khas matahari terbit itu. Ini adalah tradisi perayaan di saat Idul Fitri yang dilakukan masyarakat di Kabupaten Lampung Barat, Lampung.

Pesta Sakura

Kabut masih menggulung di depan kamar hotel yang terletak di salah satu jalan utama di Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Memang masih pukul 06.00 lewat beberapa menit, tapi suara anak-anak begitu nyaring terdengar. Saya membuka gorden sedikit dan terlihat sekelompok anak sekolah dasar dan menengah. Beberapa tampak tengah membalut dirinya dengan kain panjang bercorak batik. Baik bagian wajah maupun badan. Pesta sakura atau sering disebut sekura segera dimulai.

Pesta Sakura adalah tradisi merayakan Idul Fitri atau Syawalan di Lampung Barat.
Pesta topeng Sakura menjadi tradisi di Liwa, Lampung Barat. Foto: Dok. shutterstock

Memang bukan Hari Raya Idul Fitri seperti lazimnya acara sakura digelar yang umumnya pada 2-10 Syawal. Namun, seperti diungkapkan Bupati Liwa Drs Muchlis Basri dalam pembukaan perayaan ulang tahun kabupaten ini, sakura kini tak hanya setahun sekali, tapi juga diadakan saat perayaan ulang tahun Liwa. Meski hanya melalui parade di pusat kota dan lebih ingin menikmati kesukariaan itu, saya pun bergegas keluar. Sinar mentari perlahan muncul dan hawa mulai menghangat.

Dikelilingi pegunungan dan tak hanya dikenal sebagai penghasil kopi dan sayuran, Liwa juga lekat oleh tradisi seni topeng sakura. Seni ini melekat di beberapa kecamatan, seperti di Belalau, Batu Brak, Liwa, dan Sukau.

“Datang pas Lebaran, sekuraan (perayaan sakura atau pesta sakura) di kampung-kampungnya ramai sekali,” ucap Udin, warga yang saya temui di Batu Brak. Sembari menunjuk gang kecil di antara rumah panggung, ia menyebutkan, “Orang-orang keluar dari gang kemudian keliling pekon (desa).”

Biasanya dimulai pada pagi hari. Satu kelompok akan bergabung dengan kelompok lain hingga keriuhan pun tak terhindarkan. Banyak juga yang menonton. Udin menjelaskan, orang yang bersakura itu tak hanya berjalan, tapi juga berjingkrak-jingkrak dan menari-nari. “Lucu-lucu kadang-kadang,” ucapnya sembari tersenyum.

Sakura juga disebut topeng kayu, tapi kini penutup wajah dibuat lebih bermacam-macam. Selain kayu, ada kain, kertas, dan dedaunan. Tanpa harus ditata sehingga tercipta bentuk indah. Justru dibuat tak beraturan agar terkesan aneh atau lucu, sehingga bisa menghibur. Walhasil, selendang, sarung, daun pisang kering, daun pohon sagu, dan rok perempuan pun bisa dilekatkan pada tubuh orang yang bersakura itu.

Yang ambil bagian bisa anak-anak dan orang tua. Yang pasti ialah kaum Adam. Tak mengherankan di Museum Nasional Lampung bisa ditemukan sakura anak, topeng yang berbentuk kecil dengan wajah seperti menangis, dan sakura tuha yang menunjukkan ekspresi orang sepuh.

Keragaman itu membuat sakura terbagi atas dua jenis. Pagi itu saya menemukan anak-anak sekolah berbalut kain bersih. Inilah yang disebut dengan sakura helau atau betik yang berarti bersih—sakura dengan kain bersih dan rapi.

Selain itu, ada sakura kamak yang dikenal sebagai sakura kotor. Biasanya menggunakan pakaian dan topeng dari tanaman. Pakaian yang dikenakan bak orang bekerja di ladang atau sawah. Hiasannya yang ditempel pun memberi kesan kotor. Sering juga lebih menonjolkan kelucuan, seperti pria dengan gaya ibu hamil.

Salah satu ciri lain dari sakura adalah tingkah polahnya selama berjalan keliling kampung. Orang yang bersakura berniat menarik perhatian orang dan menghibur. Mereka menari-nari, bertingkah lucu, dan kerap juga bergaya seperti binatang. Tak mengherankan ditemukan topeng kayu dengan bentuk hewan beruk yang merupakan peninggalan masa lalu dan kini tersimpan di Museum Negeri Lampung.

Pesta sakura biasanya diakhiri oleh panjat pinang. Nah, sakura kamak-lah yang akan ambil bagian dalam atraksi ini. Sebaliknya, sakura betik hanya menjadi penonton atau penggembira. Yang bersekura betik pada masa lalu adalah pria yang belum menikah atau mekhanai. Sedangkan sekura kamak bisa pria lajang ataupun sudah beristri (khagah).

Pesta Sakura dilaksanakan setiap tanggal 2 hingga 10 Syawal.
Pesta Sakura biasa dilaksanakan antara tanggal 2 hingga 10 Syawal. Foto: Dok. shutterstock

Dalam sebuah pawai karnaval, saya juga menemukan sakura cakak buah. Ditampilkan oleh sebuah sekolah dasar, rupanya sakura yang satu ini merupakan bagian dari sakura kamak. Mereka membawa beberapa buah-buahan seperti yang biasa dibuat untuk panjat pinang. Ada pula kelompok orang bersakura dengan gaya yang superlucu seperti dandanan ala perempuan yang membuat saya tersenyum sendiri. Kreasi orang bersakura memang bermacam-macam. Dan, yang paling penting bisa memancing perhatian orang.

Kata sakura sendiri berasal dari kata sakukha yang berarti penutup muka atau penutup wajah. Tujuan pesta sekura selain menghibur ialah bersilaturahmi dan berakhir pada panjat pinang yang sifatnya bergotong royong atau beguai jejama. Akhir dari pesta siang itu, orang-orang yang bersakura langsung berkumpul di lapangan. Di sana sudah berdiri beberapa pohon pinang dengan hadiah bergelantungan di atas. Keriuhan kembali meruap.

Keahlian memanjat dan kerja sama yang baik membuat benda-benda di atas pohon pun beralih tangan dengan cepat. Wajah-wajah penuh senyum pun bubar. Pesta usai. l

Dua Versi

Masyarakat Liwa meyakini sakura merupakan seni paling tua peninggalan leluhurnya, yakni buay tumi. Pada saat itu, suku tersebut menganut animisme dan sakura pun merupakan salah satu bentuk pemujaan terhadap penguasa alam dan roh-roh nenek moyang yang cenderung berwajah jelek serta berbusana dari dedaunan atau seadanya.

Jejak dari suku pertama di wilayah Lampung Barat ini adalah Ratu Sekarmong yang memimpin masyarakat buay tumi pada akhir pengaruh Hindu. Pada masa itu, sakura digelar saat panen ataupun bulan purnama, meski tak seorang pun bisa memastikan awal kemunculan tradisi sakura ini.

Namun, selama ini, sakura terkait dengan perayaan Idul Fitri atau datangnya bulan Syawal, sehingga ada peneliti yang memperkirakan sakura di daerah ini muncul pada zaman Islam. Islam menyebar di pesisir Barat Lampung ini sekitar abad ke-13 hingga sakuraan pun diperkirakan dimulai pada masa itu. Sakuraan menjadi ungkapan untuk rasa syukur ketika bulan Syawal datang dan sukacita menyambut hari suci dan besar.

Sementara itu, peneliti yang berbeda memperkirakan sakura dimunculkan pada Hari Idul Fitri setelah masyarakat Liwa menganut Islam, yang sempat terhenti sebelumnya. Seperti diungkapkan salah tokoh masyarakat setempat Habbibur Rahman Lekat Haiman Sukri seperti dikutip dari Penelitian Sejarah Sekala Bekhak Lampung Barat yang dikeluarkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Liwa.

Ia menyatakan sakura pernah tidak memunculkan karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Namun akhirnya dihadirkan kembali saat Idul Fitri karena dinilai tepat sebagai acara silaturahmi atau ngejalang sesama warga. l

agendaIndonesia/TL/Rita N.

*****

Road Trip, 1 Cara Liburan Akhir Tahun

3 Pertimbangan menyewa mobil untukRoad Trip.

Road Trip menjadi salah satu trend perjalanan wisata yang naik daun sejak pandemi COVID-19 pada 2020 lalu. Alternatif wisata satu ini sangat cocok dilakukan bersama keluarga dengan menggunakan kendaraan pribadi, khususnya mobil. Ini terutama sejak infrastruktur jalan tol sudah menghubungkan hampir semua kota di Jawa, dan nantinya Sumatera dan pulau lain.

Road Trip

Secara sekilas trend ini mirip dengan tradisi mudik lebaran di Indonesia di mana orang menggunakan mobil untuk melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman. Hanya saja jika mudik Lebaran perjalanan dilakukan dengan menuju ke kampung halaman, maka road trip liburan betul-betul murni perjalanan liburan.

Saat mudik lebaran ini wajar saja dilakukan juga untuk liburan atau jalan-jalan wisata, mengingat di sekitar rute yang kerap dijadikan jalur mudik terdapat banyak destinasi wisata yang menarik untuk disinggahi. Hitung-hitung melakukan mudik sambil road trip sebagai sarana pelepas penat saat berjam-jam di jalan.

Road Trip memiliki banyak pilihan rute dan pilihan tempat untuk dikunjungi.
Perjalanan liburan akhir tahun via jalan darat seperti berpetualang. Foto: unsplash

Lebaran tahun 2022 memang sudah lewat, namun liburan ala-ala road trip bukan tidak mungkin dilakukan. Waktunya bisa dilakukan kapan saja sesungguhnya, namun bisa dicoba untuk menikmati libur akhir tahun ini. Ya, kenapa tidak?

Lalu jalur mana yang layak dicoba untuk jalan-jalan liburan dengan berkendara mobil? Berikut ini ada beberapa pilihan, lupakan sejenak jalan tol dan nikmati jalur konvensional.

Jalur Darat Selatan Jawa

Jalur darat liburan di selatan Pulau Jawa ini memiliki panjang 1.547 kilometer dan melewati 23 Kabupaten. Titik awal Jalur Selatan dimulai dari Kabupaten Serang di Provinsi Banten dan berakhir di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Selama menempuh jalur perjalanan darat Selatan Jawa ini, ada beberpa spot wisata yang layak dikunjungi. Misalnya saja Pantai Pangandaran di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bisa dijajaki untuk menginap. Ada beberapa hotel dan penginapan yang layak tinggal di sini.

Selain itu, ketika sudah masuk wilayah Jawa Tengah, wisatawan bisa mengunjungi Baturaden di wilayah Kebumen. Kawasan ini menawarkan ragam wisata, seperti air terjun, hutan pinus, kolam pemandian, hingga spot bunga warna-warni. Cocok sekali dijadikan tempat untuk melepas lelah.

Road Trip bisa memilih tempat untuk berhenti di spot wisata yang dikehendaki. Misalnya Air Terjun Tumpak Sewu.
Air Terjun Tumpak Sewu di Lumajang, Jawa Timur. Foto: unsplash

Tidak jauh dari Kebumen ada pula Gua Seplawan di Purworejo yang menjadi lokasi penemuan patung emas Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Semakin ke Timur tentu tak perlu disebutkan di jalur ini ada Yogyakarta, Solo atau di selatannya ada Wonogiri terus ke Pacitan. DI Lumajang, Jawa Timur wisatawan dapat singgah ke Air Terjun Tumpak Sewu, yang sekilas menyerupai tirai mirip Air Terjun Niagara.

Jalur Darat Utara Jawa

Jalur Utara Jawa memiliki panjang sekitar 1.300 kilometer dan menjadi salah satu rute terpadat selama ini di Jawa. Jalur ini melewati lima provinsi, yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Road Trip selain perjalanan juga menikmati buadaya seperti batik Trusmi di Cirebon.

Salah satu wisata budaya di rute road trip ini adalah Kampung Batik Trusmi di Cirebon, jawa Barat. DI sini wisatawan dapat mampir belanja batik dengan harga yang lebih miring, sekaligus belajar cara membuat batik. Lumayan untuk kenang-kenangan dari perjalanan liburan.

Lebih ke Timur wisatawan akan melintasi rute ke Pekalongan, satu spot batik terkenal lainnya. Dari Pekalongan rute mengarah ke Semarang dengan ikon bangunan bersejarahnya Lawang Sewu. Keindahan objek wisata ini terletak pada desain interior dan eksterior yang sangat khas bangunan Belanda. Menarik sekali untuk dikunjungi.

Jalur Darat Jawa-Sumatera

Jalur darat ini harus menyeberang pulau menggunakan kapal, namun jalur Jawa-Sumatera juga memiliki beragam destinasi wisata yang menarik. Destinasi wisata pertama yang bisa dikunjungi saat road trip melewati rute Jawa-Sumatera adalah Pantai Krui, Lampung. Menghadap langsung ke samudra, Pantai Krui ini konon memiliki ombak nomor tujuh tertinggi di dunia. 

Semakin ke Barat, Sobat Parekraf akan melintasi daerah Kabupaten Kerinci. Di sini ada Danau Gunung Tujuh yang membawa kita sekilas seperti berada di atas awan. Lalu lanjutkan road trip mudik melewati Kota Bukittinggi, dengan salah satu ikon populernya Jam Gadang dan tentunya kuliner yang lezat.

Jalur Darat Jawa-Bali-Nusa Tenggara

Rute road trip satu ini yang juga mengandalkan transportasi laut untuk menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Bali. Namun, sebelum menyebrang ke Bali Sobat Parekraf singgah dulu di Banyuwangi dan mengunjungi Hutan De Djawatan. Destinasi wisata ini seakan membawa kita masuk ke dalam hutan Fangorn ala film The Lord of The Rings.

Road trip membawa benefit lain, misalnya mengunjungi tempat-tempat yang tida tejangkau kendaraan umum.
Trees and bale at Kebun Raya Bali – Bali Botanical Garden in Bedugul, Tabanan, Bali, Indonesia.

Setelah memasuki wilayah Bali, destinasi wisata pertama yang bisa disinggahi adalah Taman Nasional Bali Barat yang berada tidak jauh dari pelabuhan Gilimanuk. Hutan satu ini menjadi habitat asli kera dan burung jalak Bali yang sudah mulai langka. 

Kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Pelabuhan Padang Bai dengan pemandangan berupa pantai-pantai yang indah. Setelah itu menyeberang kembali menggunakan kapal laut ke Nusa Tenggara Barat. Salah satu destinasi yang tengah naik daun sudah pasti Mandalika dengan pemandangan laut dan perbukitan yang indah.

Jika mau terus ke Timur, perjalanan bisa dilanjutkan hingga Nusa Tenggara Timur dan menyebarangi sejumlah selat. Bahkan bisa hingga ke Labuan Bajo.

agendaIndonesia/Sumber Kemenparekraf

*****

Museum Kereta Ambarawa, Perjalanan 148 Tahun

Museum Kereta Ambarawa pada 2021 berusia 178 tahun

Museum Kereta Ambarawa di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, rasanya sudah banyak yang tahu. Begitupun, jika ditanya pernahkan mampir mengunjunginya? Rata-rata orang menggelengkan kepala.

Museum Kereta Ambarawa

Itu bisa dipahami, karena museum kereta api yang tahun ini berusia 148 tahun tersebut, terletak di kota kecamatan kecil dan tidak berada di jalur utama jalan raya yang menghubungkan Semarang dengan Magelang.

Terlebih saat sekarang, di mana sudah ada fasilitas jalan tol dari ibukota Jawa Tengah itu ke Solo dan Jawa Timur. Mereka yang biasanya menuju ke Yogyakarta melalui jalur Magelang kini banyak yang beralih melalui Boyolali dan Kartasura. Ambarawa rasanya semakin terasa jauh. Entah nanti pada 2024-2025 saat sudah ada jalur tol Semarang-Yogyakarta.

Awalnya, museum ini adalah stasiun kereta api biasa yang melayani rute-tute pendek di Jawa Tengah. Belakangan stasiun ini dialihfungsikan. Sejak pertengahan 2013, stasiun yang berlokasi di pusat Kota Ambarawa atau sekitar 15 kilometer dari Ungaran, Kabupaten Semarang, dan 35 kilometer dari Kota Semarang ini tidak lagi terbuka untuk umum. Ia dijadikan museum perkeretaapian pertama di Indonesia.

Sebelum ditutup, museum ini melayani perjalanan wisata menggunakan kereta atau lori dengan trayek Ambarawa-Bedono. Waktu tempuh menuju Stasiun Bedono sekitar 1 jam untuk 35 kilometer dengan sajian panorama lembah hijau antara Gunung Ungaran dan Merbabu di sepanjang lintasan.

Ada juga rute Ambarawa-Tuntang dengan jarak ke Stasiun Tuntang relatif dekat, hanya 7 kilometer. Di sepanjang lintasan akan ada suguhan lanskap sawah dan ladang berlatar Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, serta Rawa Pening. Untuk menikmati kedua perjalanan singkat tersebut, masing-masing penumpang dikenai biaya Rp 50 ribu (kereta wisata) dan Rp 10 ribu untuk lori atau kereta bak.

Museum Kereta Ambarawa dikembangkan dari Stasiun Willem I yang sudah tidak beroperasi lagi.
Bangunan sisa peninggalan dari Stasiun Willem I di Ambarawa, Jawa Tengah. Foto: dok. shutterstock

Awalnya, lokasi yang ditempati dan menjadi Museum Kereta Api ini stasiun tua yang dialihfungsikan. Dibangun di masa pemerintahan kolonial Belanda pada 21 Mei 1873 atas perintah Raja Willem I, stasiun tua yang kini berusia 148 tahun itu tampak tetap begitu terjaga kecantikannya.

Pada 1970, setelah sebuah gempa besar, stasiun ini ditutup dan mengakibatkan putusnya lalu lintas kereta antara Magelang, Semarang, dan Yogyakarta. Kereta-kereta api juga tidak bisa bergerak ke arah Magelang pada 1972 karena terjadinya banjir lahar akibat erupsi Gunung Merapi.

Penutupan jalur kereta api rute Yogyakarta-Magelang-Secang pada 1975 membawa dampak pada jalur ini. Sejak itu, PT Kereta Api Indonesia, atau saat itu masih bernama Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) menutup jalur kereta api ini.

Selain soal rute, pada 1970-an lokomotif-lokomotif uap yang beroperasi di kawasan ini mulai berguguran karena faktor usia. Banyak yang dirucat, dipindahtangankan, atau bahkan dijadikan barang rongsokan. Karena prihatin dengan hal itu, maka pada 8 April 1976, Gubernur Jawa Tengah saat itu, Soeparjo Rustam, beserta Kepala PJKA Eksploitasi Tengah, Soeharso, memutuskan untuk membuka sebuah museum kereta api yang direncanakan akan mengoleksi barang-barang antik era lokomotif uap. Sejak itu fungsi Stasiun Willem I berubah menjadi museum.

Koleksi yang dimiliki oleh Museum Kereta Api Ambarawa tak kalah menarik. Di halaman menuju bangunan utama stasiun, tampak beberapa lokomotif uap yang sudah tidak beroperasi, seperti B2510 (produksi Hartmann tahun 1911, awalnya bertugas di Stasiun Cirebon untuk perjalanan menuju Tegal, Purwokerto, dan Kudus), BB1012 (produksi Hartmann, 1906, awalnya bertugas di daerah Banjar untuk perjalanan ke sekitar Cijulang dan Rangkasbitung), dan B2014 (produksi Bayer Peacock, 1905).

Museum Kereta Ambarawa memiliki sejumlah koleksi lokomotif uap kuno.
Lokomotif Uap kuno sebagai salah satu koleksi Museum Kereta Api Ambarawa. Foto: Dok. shutterstock

Di sisi kanan bangunan Stasiun Willem I ini berderet pula beberapa lokomotif tua lain. Di sisi kiri, tampak bergandengan gerbong kereta kayu bernomor GW152002 dengan gerbong bernomor GW152013 dan gerbong terbuka di atas rel.

Jika berjalan berbalik arah melintasi lingkaran besar turntable (perangkat untuk memutar arah jalan lokomotif), pengunjung akan melihat pula garasi terbuka yang dipenuhi beberapa lokomotif dan gerbong kereta api tua. Sebut saja Boni (lokomotif uap bernomor B2502) dan Bobo (lokomotif uap bernomor B2503). Keduanya diproduksi oleh Esslingen—perusahaan teknik Jerman yang khusus memproduksi lokomotif, trem, kereta api, dan peralatan atau perangkat pendukung jasa kereta api—pada 1902.

Dengan sejumlah pengembangan yang kekinian, rasanya museum ini akan menarik minat banyak warga masyarakat untuk mengunjungi. Jika nanti jalan tol Semarang-Yogyakarta sudah beroperasi, Museum Kereta Api Ambarawa bisa jadi alternatif untuk ngaso buat mereka yang melakukan perjalanan dari Jakarta atau kota lainnya.

Museum Kereta Api Ambarawa; Jalan Stasiun Nomor 1, Ambarawa, Kabupaten Semarang

TL/agendaIndonesia

*****

4 Tempat Kongkow Keren di Bandung

Pillow Talk Coffee and Comfy2

4 tempat kongkow keren di Bandung ini bisa jadi alternatif menghabiskan malam-malam saat berada di kota kembang. Terutama bagi mereka yang berjiwa muda.

4 Tempat Kongkow Keren

Bumi Priangan makin berwarna dengan kehadiran kafe-kafe modern. Nongkrong barang sebentar di sana akan membuat pikiran kembali segar. Bila butuh rehat sejenak, beberapa tempat di bawah ini, rasanya bakal cocok. 

 

1. Pillow Talk Coffee and Comfy

Di tengah hiruk-pikuk Kota Kembang Bandung, Pillow Talk, sebuah kafe berkonsep klasik dengan dominasi interior putih, menjadi tempat yang tepat untuk menepi. Kafe yang konon milik pengusaha Rina Herkiamto bersama kawan bisnisnya, yang juga aktor, Rizki The Titans, ini menawarkan suasana yang adem. 

Seperti namanya, Pillow, yang artinya bantal, tempat ngopi di bilangan Coblong ini nyaman disinggahi untuk sekadar nongkrong. Si empunya kafe mengajak pengunjung menyesap kopi seperti di rumah sendiri. 

Hampir seluruh bagian ruangan didesain artistik. Ada kursi-kursi kayu yang berhadapan dengan sang barista. Hampir semua tempat terkoneksi sehingga suasana hangat bakal menyergap saat tamu ramai berdatangan. 

Bagian luar kafe ini tediri atas taman dengan rumput hijau dan lampu-lampu tumblr. Saat malam menjelang, lampu-lampu itu akan berpendar. Suasana tak pelak bakal dramatis. Karena konsepnya seperti garden party, tak jarang kafe tersebut menjadi spot untuk momen spesial, seperti pernikahan, lamaran, tunangan, atau ulang tahun. 

Soal menu, di sini tersedia beragam jenis sajian. Mulai penganan ringan hingga berat. Ada makanan ala western seperti pasta dan toast bread. Tapi juga tersedia menu Nusantara, layaknya soto, sop buntut, sop iga, dan lain-lain. Harga tiap-tiap menu dibanderol mulai Rp 25 ribu. 

Alamat: Jalan Haji Hasan no 12, (Taman Panatayuda, Dipatiukur), Lebakgede, Coblong, Kota Bandung

Buka: 09.00 – 23.00 (weekend), 09.00 – 22.00 (weekdays) 

Web: instagram.com/pillowtalkcafe/?hl=id

 

2. Please Please Please Bandung 

Terdengar unik dan cukup mudah untuk diucapkan: please please please. Rasanya seperti orang minta tolong. Namun barangkali tak bakal diartikan secara harfiah. Kafe ini belakangan kesohor lataran memiliki ikon berupa logo unicorn atau kuda poni di salah satu sisinya. Ikon itu menyala dengan lampu berwarna neon. 

Kafe yang berlokasi di Jalan Progo nomor 37, Citarum, Bandung, tersebut mulai hits sejak tahun lalu. Pengunjung menjadikannya tempat nongkrong baru di Kota Kembang. Bagian-bagian ruangan dalam kafe itu mengangkat konsep kafe ala Mexico era 1950-an yang membuat interior terasa berkelas ketika dipandang. 

Biasanya, anak muda yang suka konsep gemerlap dan glamor akan menyukai tempat semacam Please, Please, Please. Kafe ini menarik dipotret dari sisi mana pun karena menyajikan latar yang classy dan fabolous.

Untuk dapat nongkrong di sini, pengunjung kudu mengeluarkan bujet minimal Rp 25 ribu untuk minum, belum termasuk pajak. Adapun menu yang bisa disantap di antaranya terdiri atas menu Nusantara. Menu-menu itu ialah nasi ayam kremes, soto ayam, nasi jeruk, nasi begana, nasi ayam penyet, dan lain-lain. Harga masing-masing menu dibanderol mulai Rp 30 ribu. 

Alamat: Jalan Progo Nomor37, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40115

Jam buka: 10.00-23.00 (weekdays), 10.00-00.00 (weekend)

Telepon: (022) 20512715

Google Maps: https://goo.gl/GPQ4Xi 

Please Please Please Bandung3
Salah satu sajian di Please Please Please Bandung (ist.)

 

3. Pinisi Resto Ciwidey

Berbentuk kapal pinisi, restoran ini benar-benar menyita perhatian. Keberadaannya eksis di tepi Danau Situ Patenggang, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Restoran Pinisi bukan sekadar tempat makan, namun kini telah menjadi alternatif wisata bagi turis. Musababnya, selain menghadap ke danau, restoran itu berada di tengah hamparan kebun teh. 

Berhektare-hektare pohon teh menjadi sajian menarik bila wisatawan makan di restoran. Tak khayal, restorn ini menjadi lokasi baru untuk pre-wedding dan perayaan momen-momen khusus. 

Di sekitar restoran terdapat tempat menginap dengan konsep glamping. Glamping dikenal sebagai hotel bergaya kemping, namun memiliki fasilitas yang lengkap. Tempat itu cocok untuk menepi, mencari ketenangan diri dengan bersatu dengan alam. Namun dengan cara yang tak repot. 

Alamat: Patengan, Rancabali, Bandung, Jawa Barat 40973

Jam buka: 24 jam

Web: pinisicamprancabali.com

Telepon: (022) 85924493

 

Pinisi Resto Ciwidey
Phinisi Resto di Ciwidey (Ist.)

4. One Eighty Coffee

Pernah menyaksikan orang-orang menongkrong di kafe sambil berendam di kolam renang? Di sinilah tempatnya, yakni one eighty coffee. Kafe di kawasan Coblong, Kota Bandung, ini lain dari kafe pada umumnya. Kafe tersebut berada di tengah-tengah kolam renang. Pengunjung akan rela basah-basahan saat menyantap makan atau minum di One Eighty Coffee. Namun justru di sinilah sensasinya. Maka itu, tak heran bila kafe tersebut belakangan hits di kalangan anak muda. Mereka bukan hanya ingin menikmati mengudap sajian yang nikmat sambil bersantai, tapi juga kepingin berfoto. Tak cuma menyajikan kafe dengan nuansa air, tempat itu menawarkan konsep lokas nongkrong yang asri. Pasalnya, hampir semua meja dan kursi terbikin dari kayu. Juga terdapat tanaman-tanaman hijau yang tumbuh di sekitarnya. Suasana alami pun makin kentara dan terasa. 

Alamat: Jalan Ganeca Nomor3, Lb. Siliwangi, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat 40132

Jam buka: 08.00-23.00 (weekdays), 08.00-00.00 (weekend)

Telepon: 0822 1800 0155

Google Maps: https://goo.gl/aCUWKZ 

 

One Eighty Coffee
Suasana One Night Coffee (Ist.)

 

Soto Kadipiro, Sruputan Nikmat Sejak 1921

Soto Kadipiro Yogyakarta adalah kuliner legendaris kota pelajar ini. Foto: gudegnet

Soto Kadipiro selama puluhan tahun sudah menjadi salah satu ikon khasanah kuliner Yogyakarta. Boleh dibilang, warung soto ini adalah salah satu yang tertua dan paling legendaris di kota pelajar ini.

Soto Kadipiro Yogyakarta

Soto tentu sudah menjadi makanan yang tidak asing lagi di lidah orang Indonesia. Meskipun terbagi menjadi beragam jenis pada tiap daerah di seluruh penjuru negeri, pada dasarnya soto merupakan kuliner berkuah yang dibuat dari rebusan daging bahannya.

Daging bahan baku soto bisa bermacam-macam, dari daging ayam, sapi, kambing, hingga kuda. Daging tersebut kemudian direbus dengan racikan bumbu hingga menjadi kaldu yang gurih. Soto kemudian disajikan dengan potongan dagingnya plus sayuran, seperti taoge dan kubis.

Konon, makanan ini dinamakan soto karena berasal dari istilah dialek Hokkian ‘shao du’, yang secara harafiah kurang lebih artinya ‘jeroan berempah‘. Ini merujuk kepada cara memasak daging atau jeroan dengan bumbu rempah hingga menjadi kaldu harum dan gurih.

Sato Kadipiro Yogyakarta awalnya dijual pikulan.
Soto, termasuk soto kadipiro, dipercaya mendapat pengaruh dari kuliner Tionghoa. Foto: shutterstock

Soto sendiri dipercaya merupakan makanan yang dibawa oleh para pendatang dari Tiongkok pada sekitar abad ke-19. Awalnya soto populer di kawasan pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, sebelum menyebar ke daerah lain dan berkembang dengan ciri khasnya masing-masing.

Salah satu soto yang sudah eksis sejak lama, bahkan dari era pra-kemerdekaan adalah soto Kadipiro. Soto ini populer dengan nama demikian karena mengambil nama daerah warung soto ini pertama kali berdiri.

Awal kemunculan soto ini berasal dari seorang penjual soto keliling bernama Karto Wijoyo. Sejak 1921, ia sudah berjualan soto keliling dengan pikulan. Barulah pada 1928 ia mampu mendirikan warung soto yang kini dikenal luas sebagai soto Kadipiro.

Hingga kini, sudah sekitar 100 tahun lebih warung soto ini melayani pembeli dan pecintanya. Setelah Karto berpulang pada 1972, operasional warung soto ini terus dilanjutkan oleh anak-anaknya dan cucu-cucunya. Hingga kini sudah generasi ke tiga bahkan ke empat soto ini menjadi dari bisnis keluarga tersebut.

Beberapa kerabat keluarga mereka pun turut mendirikan warung-warung lain bertajuk soto Kadipiro, dengan resep yang kurang lebih sama. Maka jangan heran, bila terdapat cukup banyak warung soto Kadipiro lainnya yang bertebaran di Yogyakarta.

Mungkin agak sulit bagi orang awam bisa memahami mengapa soto ini bisa begitu legendaris. Secara bahan dan pembuatannya, soto Kadipiro terlihat cukup mirip seperti soto ayam lainnya.

Warung Soto Kadipiro Yogya
Warung soto di jalan Wates ini masih mirip saat pertama berdiri. Foto: Istimewa

Warungnya yang asli pun juga cenderung tua dan sederhana, dengan papan tulisan penanda warung soto Kadipiro di bagian depan warung yang masih dipertahankan hingga kini. Rumah berarsitektur tua dengan pintu dan tiang kayunya juga sejak dulu tak banyak berubah.

Di dalamnya terdapat jejeran kursi dan meja, namun yang cukup unik adalah meja serta kursi yang menghadap langsung ke tempat penyajian soto tersebut. Karyawan yang bertugas akan menyajikan soto dari gentongnya ke hadapan pengunjung yang duduk di situ.

Berbagai keunikan serta ciri khas itulah yang bisa jadi alasan mengapa warung soto ini terus eksis dan digandrungi hingga kini. Bagi mereka yang sudah berumur banyak, warung soto ini menjadi ajang nostalgia zaman dulu, baik bersama keluarga maupun teman.

Namun, ada lagi satu keunikan soto Kadipiro yang mampu membuat yang tua selalu datang kembali dan yang muda ikut penasaran untuk mencoba. Soto ayam di warung ini beda dengan kebanyakan karena hanya dibuat dari ayam kampung.

Disebutkan bahwa penggunaan ayam kampung ini menjadikan kuah kaldu soto tersebut menjadi begitu gurih dan unik. Bahkan konon semakin banyak daging ayam yang direbus untuk menjadi kaldu, maka semakin lezat pula hasil kuah kaldunya.

Tak hanya itu, ayam yang digunakan untuk bahan baku soto ini juga selalu disembelih dan dipotong setiap pagi untuk memastikan kualitas daging selalu fresh, serta cita rasa kuah kaldu yang selalu gurih dan nikmat.

Untuk memasaknya pun masih menggunakan kuali dari tanah liat dan kayu bakar. Metode tradisional ini masih terus dipertahankan hingga kini, demi menjaga aroma dan cita rasa khas dari soto ini.

Di dalam semangkok soto ini, dapat ditemukan isian berupa potongan daging ayam, taoge, kubis, seledri dan bawang goreng. Pengunjung kemudian bisa memesan sendiri soto yang sudah dicampur atau dipisah dengan nasinya.

Interior Warung Soto Kadipiro Bantulpedia
Warung Kadipiro milik generasi ke dua. Foto: Bantulpedia

Sebagai teman makan soto, biasanya disediakan lauk seperti perkedel kentang, tahu dan tempe bacem, ati ampela goreng, serta sate telur puyuh. Selain itu, bisa juga meminta suwiran ayam kampung goreng dengan bawang goreng serta kecap yang menambah unik cita rasa.

Harganya pun tergolong terjangkau. Satu mangkok soto ayam campur dihargai Rp 15 ribu, sedangkan yang pisah biasanya sedikit lebih mahal sekitar Rp 3-4 ribu. Lauk-lauknya juga hanya sekitar Rp 2 ribu hingga Rp 12 ribu.

Untuk yang ingin potongan ayam kampung, harganya mulai dari Rp 12 ribu sampai Rp 21 ribu, tergantung dari bagian ayam mana yang diinginkan. Tersedia pula ragam minuman seperti teh dan jeruk panas maupun dingin, soda gembira dan es tape hijau, dengan harga mulai dari Rp 3,5 ribu.

Pada hari biasa, warung soto ini bisa menghabiskan 75 hingga 80 ekor ayam. Tetapi di kala akhir pekan, warung tersebut bisa menggunakan 120 hingga 150 ekor ayam. Tak heran, pengunjung di akhir pekan biasanya memang begitu membludak.

Sehari-harinya saja, warung soto ini normalnya buka dari jam 08.00 hingga sekitar jam 14.30. Tetapi dari setelah jam makan siang pun – sekitar jam 13.00 – sering kali soto yang dijajakan sudah laris manis terjual.

Oleh karena minat pengunjung yang tak pernah surut, warung soto Kadipiro ini umumnya selalu buka setiap hari. Terkadang warung akan tutup pada hari besar seperti Idul Fitri, namun biasanya hanya akan tutup sekitar 2-3 hari, dan setelahnya akan buka kembali.

Memang, beberapa warung soto Kadipiro yang lain di sekitar daerah itu ada yang mungkin buka lebih lama dengan stok soto lebih banyak. Tapi kalau mau mencoba nuansa dan cita rasa warung soto Kadipiro yang asli, disarankan untuk datang lebih awal agar tak kehabisan. Jika sotonya habis, biasanya di muka warung ada papan tulis kecil dengan tulisan “Soto Habis”.

Soto Kadipiro (Asli)

Jl. Wates no. 33, Yogyakarta

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Pulau Cinta di Gorontalo yang Asyik

Pulau Cinta di Gorontalo

Pulau Cinta di Gorontalo semakin populer sebagai alternatif tempat liburan. Bukan sekadar dikunjungi, tapi pilihan menginap yang asyik. Kota yang bisa dicapai dalam enam jam berkendara dari Manadovia Jalan Trans Sulawesi ini, tengah menjadi incaran para pencandu perjalanan.

Pulau Cinta di Gorontalo

Pulau Cinta di Gorontalo semakin populer sebagai alternatif tempat liburan. Bukan sekadar dikunjungi, tapi pilihan menginap yang asyik. Kota yang bisa dicapai dalam enam jam berkendara dari Manadovia Jalan Trans Sulawesi ini, tengah menjadi incaran para pencandu perjalanan. Gorontalo yang menjadi provinsi ke-32 setelah berpisah dengan Sulawesi Utara pada 2000, ternyata menyimpan destinasi yang tak kalah menggoda. Destinasi yang tengah melambung dari daerah penghasil jagung ini adalah Pulau Cinta.

Sesuai dengan namanya, pulau ini memiliki simbol cinta. Simbol tersebut terbentuk dari 15 cottage yangmengelilingi pulau dan pada lekukannya menunjukkan tanda cinta. Berlibur di sini, pelancong bisa benar-benar menikmati suasana laut sepenuhnya karena lokasi pulau tersebut yang berada di tengah laut. Dikelilingi perairan, antar-cottage di resor yang berada di Patoameme, Butomoito, Kabupaten Boalemo, ini dihubungkan dengan jalan setapak dari kayu yang berada di atas air.

Kebanyakan orangmembayangkankeberadaan Pulau Cinta serupa dengan resor yang berada di Maladewa, yang memang dikenal sebagai tujuan liburan wisatawan dunia.Keberadaan Pulau Cinta bukan satu-satunya pesona, bila ingin yang serupaada jugaPulau Saronde di Gorontalo Utara. Pulau satu ini juga sudah menjadi incaran para turis yang datang.

Obyek wisata di provinsi ini tersebar di setiap kabupaten. Bila kebetulan sampaike Kabupaten Bone Bolango,ada juga pilihan lain, yakni Pantai Botutonuo.Di pantai itulah, turis bisa menikmati keindahan matahari tenggelam. Untuk bisa sampai ke pantai yang tak jauh dari pusat kota Gorontalo itu, hanya dibutuhkan waktu 30 menit dengan mengendarai kendaraan roda empat. Tak jauh dari Botutonuo, ada juga pantai lain, yakni Olele yang bisa ditempuh dalam satu jam, serta Bolihutuo yang harus ditempuh sekitartiga setengah jam.

Jika ingin berputar-putar di kota, turis juga bisa menemukan peninggalan sejarah yang dikenal dengan namaBenteng Otanaha. Berada di atas bukit di Kelurahan Dember 1, Kecamatan Kota Barat, Gorontalo, ini bisa dicapai dalam 20 menit dari pusat kota. Bangunan yang didirikan pada 1522 ini, terdiri dari tiga bagian yang masing-masing membentuk lingkaran dengan diameter berbeda. Kini, Benteng Otanaha hanya menyisakan bagian dinding-dindingnya saja.

Dari puncak bukit ini juga bisa terlihat pemandangan kota Gorontalo yang berada di bawahnya. Tentu pagi atau sore hari menjadi waktu yang cocok untuk menuju bukit ini, ketika matahari tak terlalu terik. Tak jauh dari benteng, bisa ditemukan juga Danau Limboto yang memiliki kedalaman lima sampai delapanmeter. Di sana pelancong bisa sekadar menjadikan Danau tersebut sebagai obyek kamera, menjajal memancing, atau berperahu.Untuk mengangkat destinasi yang satu ini digelar juga Festival Danau Limboto.

Di tepi danau juga bisa dijumpai Museum Pendaratan Soekarno, yang didirikan untuk mengenang kedatangan presiden pertama Republik Indonesia tersebut dengan pesawat amfibi dan mendarat di Danau Limboto pada 1950 dan 1956. Jangan lupa, tentunya pelancong harus menikmati sajian khas, semisal binte biluhuta yang berbahan jagung, ikan, serta sayuran. Sedap!

 

FLIGHT

 Garuda Indonesia. Penerbangan dari Bandar Udara (Bandara) Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang, menuju Bandara Jalaluddin, Gorontalo, dilayani maskapai nasional ini dalam satu kali setiap harinya, yakni pukul 07.15. Penerbangan yang tidak langsung atau transit satu kali di Makassar ini,berlangsung 4 jam 45 menit. Sedangkan untuk rute sebaliknya dijadwalkan pukul 13.50 dengan tempat transit yang sama yakni Makassar.

 

Batik Air. Perusahaan dari Lion Group ini menjadi pilihan untuk penumpang yang ingin melakukan penerbangan langsung atau tanpa transit. Jadwal dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Jalaluddin pada pukul 02.10 setiap harinya dan frekuensi hanya satu kali dalam sehari untuk penerbangan langsung ini. Dengan waktu penerbangan selama tiga jam, pesawat akan mendarat pada pukul 01.30 di pulau Sulawesi. Untuk penerbangan dari Gorontalo yang juga berlangsung selama tiga jam, dijadwalkan pada pukul 06.55 dan tiba di Cengkareng, Tangerang, pada pukul 08.55.

 

Citilink. Maskapai dengan logo berwarna hijau ini pun hanya menawarkan penerbangan dengan transit terlebih dulu di Makassar selama 2 jam 25 menit. Keberangkatan setiap harinya dijadwalkan pada pukul 04.30dan pesawat akan mendarat di Gorontalo pada pukul 07.55.Untuk penerbangan kembali ke Tangerang, dijadwalkan pada pukul11.00 setiap harinya.

Pesona Teluk Mandeh, 1 Keindahan Sumatera

Pesona Teluk Mandeh di Sumatera Barat layak dilirik wisatawan.

Pesona Teluk Mandeh rasanya masih jarang dibicarakan jika orang mengobrolkan soal wisata Sumatera Barat. Padahal kawasan wisata ini memiliki sederet pulau kecil dan teluk yang tenang tanpa ombak yang indah. Berikut ini kisah perjalanan ke Mandeh.

Pesona Teluk Mandeh

Kapal motor Barakuda perlahan meninggalkan Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Pagi di akhir April, cuaca begitu cerah. Satu per satu kapal-kapal besar yang membuang jangkar di tengah laut terlampaui. Rombongan hari itu menyasar ke Kawasan Mandeh yang sudah ditetapkan sebagai kawasan wisata baharí beberapa tahun lalu.

Pesona Teluk Mandeh bisa dinikmati dengan jelas dari puncak bukit.
Lanskap Teluk Mandeh dilihat dari ketinggian bukit. Foto: Dok. shutterstock

Terletak di Pantai Carocok, Tarusan, di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, pesona Teluk Mandeh ini terdiri atas teluk yang berlekuk-lekuk dan pulau-pulau kecil di sekelilingnya. Penuh keindahan, airnya bening biru kehijauan, terumbu karang berlimpah, dan pasirnya putih menggoda.

Buat masyarakat yang tinggal di Padang, rasanya pasti mengenal Mandeh. Orang bisa menjajal jalur darat. Jaraknya harus ditempuh dalam satu jam yang kemudian disambung perahu kecil untuk mencapai pulau-pulaunya. Kali ini, mencoba merasakan rute laut langsung. Dari Pelabuhan Bungus yang hanya dalam 30 menit perjalanan, kapal mulai melewati satu per satu pulau-pulau kecil yang termasuk dalam kawasan wisata yang luasnya mencapai 18 ribu hektare ini.

Kemudian, kapal melewati Pulau Pasumpahan dan Pulau Sikuai. Pulau Sikuai sudah dikelola sejak 1994. Di antara jejeran pulau kelapa di pulau ini terlihat puluhan cottages yang dibangun dari pantai hingga bukit-bukit. Ini merupakan pesona Teluk Mandeh.

Sempat menjadi primadona turis lokal maupun asing. Keindahan sekaligus fasilitasnya cukup lengkap. Bahkan ada jalur trekking ke puncak bukit tempat wisatawan bisa menikmati matahari terbenam. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir berhenti beroperasi karena ada masalah dalam pengelolaan.

Masih banyak pulau tak berpenghuni di sekitar Pulau Sikuai, seperti Pulau Sirandah dan Pulau Bintangor. Saat melewati Pulau Pagang terlihat beberapa penginapan sederhana dengan dermaga kecil.

Kapal juga melewati sebuah tanjung yang menjorok ke laut, nyaris seperti sebuah pulau. Itulah Tanjung Pamutusan. Diberi nama demikian karena memang nyaris putus dari daratan Sumatera dan hanya terhubung dengan pantai sempit berpasir putih, seperti semua jalan ke daratan. Sebuah dermaga kecil dibangun di sana. Begitupn ini merupakan bagian dari pesona Teluk Mandeh.


Di kejauhan juga terlihat Pulau Marak. Enam tahun lalu, pulau itu pernah menjadi kawasan konservasi siamang oleh kelompok konservasi Kalawet. Namun, akhirnya, hewan itu dipindahkan ke daratan Sumatera  karena takut terkena bencana tsunami.

Kapal kembali mengarungi kawasan Mandeh dengan melewati Pulau Cubadak—pulau terluas di kawasan ini. Mencapai 706 hektare, di pulau ini berdiri resor Cubadak Paradiso Village yang dikelola warga Prancis.


Kebanyakan wisatawan Eropa berlibur di sana. Mereka umumnya berburu ketenangan Mandeh sembari menjajal beragam aktivitas. Misalnya, bermain kayak keliling pulau, menyelam, berenang, dan tentu saja menikmati matahari terbenam dari puncak bukit batu di Pulau Cubadak  setiap sore.

Pesona Teluk Mandeh terdisi dari pantai-pantai berpasir putih yang masih sepi, pulau-pulau kecil dan lainya.
Pulau Pagang di kawasan Teluk Mandeh dari atas. Foto: Dok. shutterstock

Masih ada pulau-pulau kecil lain, yakni Pulau Traju, Pulau Sironjong Besar, Sironjong Kecil, Pulau Setan Besar, dan Pulau Setan Kecil. Pada Maret lalu, saya sempat menjejakkan kaki di Pulau Setan Besar—pulau yang tidak terlalu besar. Pantainya berpasir putih serta ditumbuhi berbagai vegetasi mangrove. Di bagian barat pulau terdapat bukit batu.

Akhirnya, di Teluk Mandeh, kapal membuang jangkar. Melalui jalur laut langsung dari Pelabuhan Bungus memerlukan waktu 1,5 jam atau lebih cepat 30 menit dibanding via darat.  Tujuannya adalah Nagari Mandeh dan perjalanan dilanjutkan dengan perahu kecil. Melewati muara sungai yang penuh mangrove. Sekitar 15 menit menyusuri sungai, wisatawan tiba di Mandeh—nama Nagari yang dijadikan nama kawasan wisata ini. Sebenarnya ada tujuh nagari dalam kawasan tersebut.

Rumah-rumah penduduk yang membelakangi tepian sungai kebanyakan terbuat dari kayu. Keasrian begitu kental. Sungai yang jernih dan bukit-bukit dipadati pepohonan. Pengunjung bisa mengamati pembuatan kapal bagan yang biasa digunakan nelayan untuk menangkap ikan.

Kapal itu ternyata dibuat sendiri oleh warga setempat dari kayu. Bentuknya yang unik terdiri atas sepasang perahu setinggi 2 meter dengan panjang 10 meter yang tersambung berjajar dan di kedua sisinya menggunakan cadik.
Pada malam hari, kapal-kapal bagan ini terlihat anggun di tengah laut dengan dilengkapi lampu-lampu petromaks untuk menarik perhatian ikan-ikan. Di Teluk Mandeh ada lokasi kapal tenggelam.

Situs Shipwreck atau kapal tenggelam itu adalah kapal dagang Belanda dengan nama Boelongan Nederland yang dibuat pada 1915. Kapal ini mengangkut hasil bumi Nusantara untuk keperluan Belanda. Kapal itu dibombardir tentara Jepang pada 28 Januari 1942 saat sedang bersembunyi di Teluk  Mandeh. Situs ini bisa dikunjungi para penyelam yang ingin mencermati kapal yang patah dua dengan dinding-dindingnya yang berlubang karena peluru.

Dari teluk, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Carocok. Tujuannya memang Puncak Mandeh yang bisa dicapai dari dermaga dengan mobil dalam 15 menit. Jalanan mendaki menuju panorama satu Puncak Mandeh, yang berada di sebuah bukit yang tinggi dan menghadap ke teluk.

Lokasi ini dibangun pemerintah daerah seukuran tiga kali lapangan voli dan bisa digunakan untuk tempat parkir serta memandang lepas ke laut Mandeh. Beberapa pohon pun menjadi peneduh.

Lanskap Mandeh pun terbentang indah di depan mata. Laut tenang dikelilingi bukit-bukit yang berlekuk-lekuk menyerupai pulau. Padahal masih bagian dari daratan Sumatera. Di depannya ada gugusan pulau-pulau kecil yang tersebar. Tak ada ombak di teluk itu karena bukit dan pulau-pulau kecil menghalangi kedatangan ombak dari Samudera Hindia. Teluk itu seperti kolam raksasa dengan air hijau kebiruan. Saat sang surya tepat berada di atas kepala, gradasi warna antara biru dan hijau terlihat lebih jelas.

agendaIndonesia/TL

*****

Tur Dua Hari Ke Cirebon (Bagian 2)

Kerajjnan Cirebon ternyata banyak macamnya, ada yang dari kaca.

Tur dua hari ke Cirebon mungkin banyak yang belum meliriknya. Padahal, lokasinya tak jauh dari Jakarta atau Bandung. Dengan dua jam perjalanan, wisatawan bisa mengunjungi kota Cirebon dan menikmati kekayaan budaya masa lalu. 

Tur Dua Hari ke Cirebon

Selama ini kota Cirebon hanya dikenal sebagai tempat persinggahan ketika orang melakukan perjalanan panjang dari Jawa Tengah atau Jawa Timur menuju Jawa Barat atau Jakarta, juga sebaliknya. Padahal, kota ini memiliki potensi wisata yang tak kalah dengan daerah lain di Pulau Jawa. Maka itu, ada baiknya bila sampai di kota ini, pelancong memperpanjang waktu singgah dan menyempatkan barang dua hari untuk bereksplorasi.

Hari 2

Keraton Kasepuhan

Kira-kira 3 kilometer dari Balai Kota Cirebon, dengan waktu tempuh 12 menit berkendara, keraton yang berlokasi di Jalan Kasepuhan, Lemahwungkuk, ini berdiri. Keraton Kasepuhan menjadi favorit wisatawan kalau mereka bertandang ke kotanya para wali tersebut. Sebab, kawasannya tampak rapi, tertata, bersih, dan terawat. Wisatawan yang datang akan diantar oleh guide yang telah ditunjuk oleh pihak keraton. Mereka lantas akan diajak berputar ke beberapa area.

Kira-kira ada dua kompleks yang membagi keraton, yakni kompleks bangunan bersejarah bernama Dalem Agung Pakungwati yang didirikan pada 1430 oleh Pangeran Cakrabuana dan kompleks Pakungwati yang didirikan oleh Pangeran Mas Zainul Arifin pada 1529. Bangunan di dua kompleks itu masih asli, dengan ciri khas rumah adat Jawa Barat. Keraton juga dibentengi oleh bata-bata merah yang dibentuk menyerupai candi.

Di depan keraton terdapat alun-alun, yang dulu dinamakan Sangkala Buana. Alun-alun ini pada masa lampau menjadi arena latihan prajurit. Selain itu, alun-alun dimanfaatkan sebagai tempat untuk menggelar pentas seni yang bisa dinikmati semua masyarakat. Di samping lapangan, berdiri sebuah masjid yang dibangun para wali.

 

Museum Pusaka

Berlokasi di Kompleks Keraton Kasepuhan, museum ini menampilkan benda-benda pusaka, seperti keris, juga barang-barang peninggalan Padjajaran akhir, Sunan Gunung Jati, Panembahan (panca sunan), sampai benda-benda yang dikeramatkan pada masa kesultanan Sultan Sepuh I hingga Sultan Sepuh XIV. Di dalam museum ini, dipajang juga kereta kencana peninggalan keraton dan lukisan Prabu Siliwangi dengan mata yang tampak bisa bergerak, mengikuti orang yang memandangnya. Dulunya, benda-benda pusaka tersebut disimpan dalam Keraton Kasepuhan. Namun, mulai awal September 2017, keberadaannya dipindah ke museum, yang baru saja dibangun. Untuk masuk ke museum, pengunjung perlu membayar tiket masuk Rp 25 ribu.

 

Taman Sari Gua Sunyaragi

Lima kilometer dari Balai Kota Cirebon, terdapat sebuah taman seluas 15 hektare yang menjadi lokasi favorit wisatawan untuk berfoto. Di dalamnya bercokol beberapa gua yang terbikin dari karang padas, dinamai Gua Sunyaragi, yang sudah ada sejak 1703. Menurut sejarah, Sunyaragi didirikan oleh Pangeran Kararangen, cicit Sunan Gunung Jati.

Gua tersebut dibentengi oleh pagar-pagar candi, seperti layaknya yang terdapat di Bali. Di depannya kini dibangun sebuah panggung pertunjukan yang menghadap langsung ke gua. Panggung ini dimanfaatkan warga sekitar untuk menampilkan seni daerah, seperti tari topeng, di malam-malam libur. Tiket masuk Gua Sunyaragi dibanderol Rp 10 ribu.

 

Sunyaragi Cirebon
Sunyaragi, Cirebon (Rosana)

Masjid Merah

Menjelang sore, saatnya kembali ke kota. Namun, jangan lupa mampir ke Masjid Panjunan, atau yang populer disebut Masjid Merah. Masjid ini berlokasi di Desa Panjunan, Lemahwungkuk. Arsitektur tempat beribadah umat muslim ini cukup unik, memadukan budaya Arab, Tionghoa, dan Nusantara. Seluruh bangunannya terbuat dari bata merah. Di dinding-dindingnya tertempel piring-piring peninggalan orang Arab dan Cina.

Kabarnya, masjid itu didirikan pada 1480 oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan. Dia merupakan keturunan Arab yang memimpin imigran dari Baghdad. Ia lantas menjadi murid Sunan Gunung Jati. Dulu, pada masa kolonial Belanda, masjid ini digunakan para wali untuk mengadakan pertemuan tertutup. Karena itu, ada sebuah ruang khusus yang tak tampak dari depan masjid.

Selain unik lantaran bentuk bangunannya yang mengangkat akulturasi, kebiasaan yang berlaku di masjid ini juga tak bisa. Di sini, tak pernah diadakan salat Jumat.

 

Toko Oleh-oleh Yetti

Sebelum pulang ke kota asal, ada baiknya membawa buah tangan untuk kerabat di rumah. Ada banyak toko yang menjajakan oleh-oleh di Cirebon. Namun, salah satu rekomendasi yang murah, juga lengkap, ada di deretan kios di Pasar Kanoman. Salah satunya toko oleh-oleh Yetti. Ia sudah 20 tahun berjualan di sana. Sebab itu, segala penganan yang menjadi favorit pelancong pun dihapalnya.

Menurut perempuan 40 tahun tersebut, buah tangan yang paling laris adalah emping, kue gapit, teh upet, rengginang, sirup Tjampolay, tape ketan daun jambu, kerupuk melarat, dan terasi. Harga yang dijual di sini umumnya lebih rendah dibandingkan dengan di toko oleh-oleh yang terdapat di sekitar kota.

 

 

TRANSPORTASI

  • Dari Jakarta menuju Cirebon tersedia beberapa kereta api dari Stasiun Gambir, yakni Argo Muria, Argo Dwipangga, Taksaka, Argo Bromo Anggrek, Tegal Bahari, Cirebon Ekspres, Bangunkarta, Argo Sindoro, Bima, Argo Jati, Gajayana, Sembrani, Purwojaya.

 

Desa Adat Tenganan, Tradisi Bali Aga Sejak Abad 11

Desa Adat Tenganan, tradisi Bali Aga dari abad 11

Desa Adat Tenganan Pegringsingan, bagi sebagian wisatawan yang pernah berkunjung, identik dengan upacara adat Perang Pandan. Sebuah tradisi yang digelar rutin setiap tahun.

Desa Adat Tenganan

Desa ini terletak di Kecamatan Mangis, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, desa ini hanya berjarak 10 kilometer dari obyek wisata Candi Dasa. Dekat juga dengan Pelabuhan Padang Bai.

Lokasinya memang tersembunyi di balik bukit dan hutan, tapi hal tersebut tidak menyurutkan niat wisatawan untuk berkunjung. Apalagi Tenganan adalah satu dari sedikit desa yang masih memegang teguh aturan adat Bali Aga, yang disebut Awig-awig. Sejak abad ke-11, peraturan itu diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Kekunoan ini menarik rasa penasaran orang awam untuk bertandang.

Desa Adat Tenganan, Bali, merupakan salah satu desa dengan tradisi Bali Age.
Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Bali, bagian dari adat Bali Age. Foto: Dok. shutterstock

Saat ini, terdapat tiga desa Bali Aga. Selain Tenganan, ada Trunyan dan Sembiran. Bali Aga merupakan sebutan bagi desa yang masih mempertahankan aturan tradisional yang diwariskan nenek moyang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk soal bentuk dan besar bangunan serta pekarangan. Posisi bangunan dan pura pun dibuat dengan mengikuti aturan yang berlaku turun-temurun itu.

Setiap tahun, desa ini sesak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara saat digelar Perang Pandan atau dalam bahasa setempat disebut Mekare-kare. Ini adalah prosesi kultural paling ekstrem yang pernah saya saksikan. Dengan bertelanjang dada, bersarung, dan mengenakan udeng khas Bali, dalam sebuah lingkaran kecil dua pemuda saling menyabet punggung lawan menggunakan pandan berduri. Meskipun tangan lain memegang tameng rotan untuk pertahanan, luka dan darah tidak terhindarkan.

Tradisi ini memang tak pernah menyebabkan pertengkaran ataupun memicu dendam berkepanjangan. Sebab, semua merupakan bagiandari upacara Usaba Sambah, yang rutin dilakukan oleh penduduk Desa Tenganan setiap tahun pada sasih kalima penanggalan Bali. Mekare-kare dilakukan sebagai lambang pemujaan dan penghormatan terhadap Dewa Indra, sang Dewa Perang.

Sebagian wisatawan lain mungkin akan mengingat Desa Tenganan sebagai penghasil kain tenun Pegringsingan yang sangat cantik dan bernilai ekonomi tinggi. Sama halnya dengan berbagai daerah lain di Indonesia, proses penenunan bukanlah sesuatu yang mudah dikerjakan dalam waktu singkat. Maka, tak mengherankan jika harga kerajinan ini terkadang membuat mulut menganga. Terlebih, penduduk desa adat ini harus menaati berbagai pakem walaupun hanya untuk membuat sehelai kain.

Kain tenun Pegringsingan dibuat berdasarkan nilai-nilai spiritual Bali Aga, yang mereka anut. Nilai itu diekspresikan dalam warna merah, hitam, dan putih serta motif-motif khas. Pegringsingan atau Gringsing dalam bahasa setempat bermakna “tidak sakit”. Jadi, dalam sehelai kain ini ada doa dan kepercayaan untuk hidup sehat alias waras. Sering kali, kain ini dikenakan para gadis desa saat melangsungkan upacara adat.

Desa Adat Tenganan salah satu dari 3 desa Bali Age di Karangasem, Bali.
Gadis-gadis Desa Tenganan bersiap membawakan tari Rejang Tenganan. Foto: dok. shutterstock

Sunyi dan damai adalah impresi kedua saat saya bertandang ke Desa Tenganan di kala tidak ada ritual tradisional apa pun. Ketika itu, saya memang iseng bergerak ke timur
Bali dengan sepeda motor dari Ubud bersama kawan. Transportasi umum menuju Desa Tenganan memang minim. Biasanya, wisatawan menyewa kendaraan dari Denpasar dan menempuh perjalanan selama 2-3 jam.

Setelah memarkir kendaraan, pengunjung wajib mengisi buku tamu terlebih dulu tepat di sebelah gapura desa. Meskipun tak sedang menggelar prosesi, mesin penenun tetap berputar dan tangan- tangan lincah para perajin masih setia melukis di atas daun lontar.

Tanpa riuh wisatawan, saya lebih bisa menikmati arsitektur kuno Tenganan, yang masih bertahan hingga zaman serba digital ini. Penduduk desa itu memang tak banyak. Mereka tinggal di rumah beratap tumpukan daun rumbia. Para penenun, di bagian pintu masuk rumah, akan menggantung beberapa kain tenun untuk menarik perhatian pengunjung yang datang.

Jika diperhatikan, rumah-rumah ini berukuran relatif sama, pun dengan bentuk dan tata ruang di dalamnya. Hampir semua bangunan dibuat menggunakan batu bata merah dan tanah. Tentu, dalam hal pem- bangunan tempat tinggal, pasti ada aturan adat yang telah disepakati secara turun-temurun.Pada beberapa titik, pengunjung akan melihat beberapa tanda larangan keras untuk memburu burung dan ikan di sekitar desa adat. Sebagai penganut teguh ajaran Tri Hita Karana, masyarakat Desa Tengana memang selalu berusaha menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam

TL/agendaIndonesia

****

Tur Dua Hari di Cirebon (Bagian 1)

Nasi lengko haji Barno merupakan salah satu 'landmark' kota Cirebon.

Tur dua hari di Cirebon mungkin bisa menjadi alternatif liburan ketika waktu untuk perjalanannya terbatas. Salah satu kota di Provinsi Jawa Barat ini memiliki banyak peninggalan sejarah yang sayang untuk dilewatkan.

Tur Dua Hari di Cirebon

Cirebon selama ini hanya dikenal sebagai tempat persinggahan ketika orang melakukan perjalanan panjang dari Jawa Tengah atau Jawa Timur menuju Jawa Barat atau Jakarta, juga sebaliknya. Padahal, kota ini memiliki potensi wisata yang tak kalah dengan daerah lain di Pulau Jawa. Maka itu, ada baiknya bila sampai di kota ini, pelancong memperpanjang waktu singgah dan menyempatkan barang dua hari untuk bereksplorasi. Berikut itinerary yang bisa dipilih jika ingin melakukan tur ke Cirebon.

 

Hari 1

Pasar Kanoman

Setelah menyantap bubur, jalan-jalan di pasar sembari mengamati kehidupan masyarakat Cirebon menjadi ide terbaik untuk membuka waktu pelancongan di kota tua ini. Bila berjalan ke arah pelabuhan, kira-kira 10 menit berkendara dari Balai Kota Cirebon, wisatawan bisa menemui sebuah pasar yang memiliki nilai historis tinggi, yakni Pasar Kanoman. Pasar yang sudah ada sejak 1800-an ini berdiri gagah di depan Keraton Kanoman. Dulu, pada masa kolonial, pasar sengaja dibangun Belanda untuk menggembosi kekuatan keraton dan memagari warga supaya sulit mengakses pusat kesultanan. Maka itu, bangunan pasar didesain memiliki dinding-dinding yang tinggi, menyerupai kawasan Pojok Benteng di Yogyakarta.

Dari dulu sampai sekarang, segala aktivitas jual-beli di Cirebon berpusat di sini. Penjaja menjual beragam jenis barang. Ada sembako, makanan dan minuman khas Cirebon yang sudah siap santap, produk kerajinan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Pertama kali masuk ke pasar itu, kita akan mendengar orang-orang berbicara bahasa Sunda bercampur Jawa dengan logat ngapak, yang terdengar sebagai sebuah kekayaan lingustik. Dari situ, wisatawan bisa memotret keaslian masyarakat setempat.

 Keraton Kanoman

Tak sampai 50 kali melangkah dari beranda belakang Pasar Kanoman, pelancong bisa menemukan sebuah keraton tua yang dari gerbang muka tampak sedikit tak terawat. Keraton ini sudah berdiri sejak 1678, dibangun oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I. Keraton Kanoman bisa diakses oleh siapa pun, bahkan warga biasa yang tak memiliki hubungan kekerabatan dengan sultan. Mereka bisa masuk dan melihat rumah sultan, mengunjungi tempat-tempat ritual yang biasa dipakai untuk upacara, sampai berkomunikasi dengan kerabat sultan, penghuni keraton tersebut.

Keraton Kanoman yang berdiri di lahan seluas 6 hektare ini terdiri atas tiga bagian. Bagian depan ialah tempat yang biasa dipakai untuk pentas. Di sana terdapat bangsal yang dimanfaatkan untuk tempat menyimpan gamelan dan alat-alat pentas milik kesultanan. Bangsal tersebut dikepung oleh pagar bumi dengan ornamen piring-piring peninggalan bangsawan Cina yang ditempel di dinding-dindingnya. Sementara bagian tengah, terdapat bangunan bernama Jinem. Bangunan ini seperti joglo yang dipakai untuk penobatan sultan.

Sedangkan di bagian belakang, terdapat rumah sultan dan bangunan keputran, yakni tempat tinggal para putra-putri kerajaan, yang bentuk aslinya masih sangat dipertahankan. Ada pula Witana, yakni tempat untuk permandian kerabat kerajaan—karenanya di sana terdapat sumur tua yang dijaga—juga tempat untuk mengadakan ritual khusus.

 

Sultan Kanoman Cirebon 1
Bangsal Dalem Keraton Kasultanan Kanoman Cirebon (Rosana)

 

Pantai Kejawanan

Memang tak banyak pantai yang dapat dibanggakan di Cirebon, meski kota ini merupakan daerah pesisir. Rata-rata pantai di sana berpasir hitam dengan air laut yang sudah tercemar oleh limbah-limbah kapal. Namun, meski begitu, tak berarti pantai di Cirebon tak layak dikunjungi. Pantai Kejawanan, misalnya. Pantai ini menjadi spot terbaik untuk menikmati matahari terbenam. Ada sebuah dermaga menjorok ke laut yang mengantarkan pengunjung lebih dekat dengan garis pantai. Di sampingnya, berlabuh kapal-kapal pengangkut logistik, juga batu bara.

Kala matahari melungsur, kapal-kapal itu berubah warna menjadi merah-hitam, terkena pantulan lembayung. Kadang-kadang, bulatan surya mengintip di cerobong asap kapal, atau di sela dek, menghasilkan sebuah lanskap yang eksotis. Kalau ingin melihat matahari tenggelam bulat-bulat, tersedia kapal-kapal nelayan yang siap mengangkut wisatawan menuju tengah laut. Biayanya berkisar kurang lebih Rp 50 ribu per orang.

 

Alun-alun Kejaksaan

Menjelang malam, alun-alun yang bersebelahan dengan Masjid Raya At-Taqwa ini kian ramai disambangi muda-mudi, juga keluarga. Tempat tersebut seolah menjadi magnet kehidupan malam di Kota Cirebon. Lampu-lampu taman yang berkedip warna-warni menimbulkan suasana meriah. Di bawah lampu-lampu itu, duduk bergerombol teruna-teruni yang asyik mengobrol. Juga keluarga muda yang tengah mengajak anak-anaknya bermain.

Di lapangan yang luas, menghadap ke arah masjid, terdapat sejumlah permainan bocah, misalnya odong-odong, mobil-mobilan, arena memancing buatan. Di sekelilingnya digelar beragam tenda kuliner. Para penjaja menyediakan bermacam-macam jenis penganan. Yang paling top dan jadi incaran pelancong kalau datang ke Cirebon adalah es durian. Durian yang dipakai beberapa pedagang didatangkan langsung dari Bengkulu atau Medan. Tak heran kalau rasanya membikin ketagihan.

 

Rosana

 

…bersambung Hari ke 2