Tugu Golong Gilik Dibangun Sultan HB 1

Tugu Golong Gilik menjadi simbol kota Yogyakarta. Foto: Kemenparekraf

Tugu Golong Gilik atau wisatawan sering menyederhanakan dengan sebutan Tugu Yogyakarta merupakan sebuah monumen yang dipakai sebagai lambang dari kota pelajar ini. Selain ke dua sebutan itu, ada juga penamaan sebagai Tugu Pal Putih.

Tugu yang terletak tepat di tengah perempatan Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Margo Utomo (dahulu bernama Jalan Mangkubumi) Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro, mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, kraton Jogja dan gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tetenger ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi.

Tugu Golong-Gilig ini awalnya dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta, pada 1755. Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan.

Tugu Golong Gilik saat ini bentuknya sudah berubah dari ketika dibangun pertama kali.
Suasana malam di Yogyakarta. Foto: shutterstock

Tugu Golong-gilik disebut demikian karena puncaknya berbentuk golong (bulat), dan gilig (silinder). Tugu tersebut tingginya 25 meter. Tugu golong-gilig berfungsi sebagai tetenger (penanda) kota dan titik konsentrasi ketika Sultan Hamengku Buwana I bermeditasi di Bangsal Manguntur Tangkil.

Tugu ini menyimbolkan keberadaan raja dalam menjalani proses kehidupannya yang dilandasi manembah manekung (menyembah secara tulus) kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan disertai satu tekad menuju kesejahteraan bersama rakyat (golong gilig).

Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.

Semuanya berubah pada 1867. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877), tepatnya 10 Juni 1867 (4 Sapar Tahun 1796 J), terjadi gempa tektonik berskala besar di Yogyakarta. Beberapa bangunan runtuh, termasuk Tugu tersebut.

Pilar tugu patah kurang lebih sepertiga bagian. Peristiwa ini dikenang dalam candra sengkala yang berbunyi Obah Trus Pitung Bumi (tujuh bumi terus berguncang), menunjuk pada angka 1796 tahun Jawa.

Tugu Pal Putih Kemenparekraf

Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tersebut runtuh. Selama beberapa tahun Tugu Golong Gilig sempat terbengkelai.

Keadaan benar-benar berubah pada 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tersebut. Renovasi ini dilakukan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII dengan mengubah bentuk dan tinggi yang berbeda dengan aslinya.

Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih. Ditengarai, desain baru ini merupakan strategi pemerintah Belanda untuk menghilangkan simbol kebersamaan raja dan rakyat yang ditunjukkan oleh desain tugu sebelumnya.

Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu.

Prasasti pada setiap sisi tugu yang baru tersebut, keempat-empatnya merekam proses pembangunan kembali. Di sisi barat terdapat prasasti yang berbunyi, “Yasan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Kaping VII”. Prasasti ini menunjukkan bahwa tugu tersebut dibangun (kembali) pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

Di sisi timur terdapat prasasti yang berbunyi, “Ingkang Mangayubagya Karsa Dalem Kanjeng Tuwan Residhen Y. Mullemester”. Prasasti ini menyebutkan bahwa Y. Mullemester, Residen Yogyakarta waktu itu, menyambut baik pembangunan tugu tersebut. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Belanda tidak terlibat dalam pendanaan.

Di sisi selatan terdapat prasasti yang berbunyi, “Wiwara Harja Manggala Praja, Kaping VII Sapar Alip 1819”. Wiwara Harja Manggala Praja merupakan sengkalan yang menandai selesainya pembangunan Tugu Golong Gilig yang baru. 

Wiwara berarti gerbang, mewakili angka sembilan. Harja bermakna kemakmuran, mewakili angka satu. Manggala bermakna pemimpin, mewakili angka delapan. Sementara Praja bermakna negara, mewakili angka satu. Dapat diartikan bahwa perjalanan menuju gerbang kemakmuran dimulai dari pemimpin negara. Sengkalan ini menunjuk pada angka 1819, sesuai dengan tahun yang ditulis di bawahnya.

Di atas tulisan tersebut terdapat lambang padi dan kapas dengan tulisan HB VII, juga lambang mahkota Belanda di puncaknya. Lambang ini adalah lambang resmi yang dipakai oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VII.

Di sisi utara terdapat prasasti yang berbunyi, “Pakaryanipun Sinembadan Patih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danureja Ingkang Kaping V. Kaundhagen Dening Tuwan Ypf Van Brussel. Opsihter Waterstaat”. Prasasti ini menyebutkan bahwa pelaksanaan pembangunan tugu dipimpin oleh Patih Danurejo V (1879-1899), dan arsitektur tugu dirancang oleh YPF Van Brussel, seorang petugas Dinas Pengairan Belanda yang bertugas di Yogyakarta.

Tugu Khas Yogyakarta Kemenparekraf

Pada 2015, sebuah miniatur Tugu Golong Gilig dibangun pada sudut perempatan sebelah tenggara tugu. Miniatur ini dibangun sesuai desain awal tugu dan dilengkapi dengan keterangan mengenai sejarah perjalanan tugu sebagai salah satu simbol penting di Kesultanan Yogyakarta.

Pembuatan miniatur ini menjadi jalan tengah bagi kebutuhan masyarakat untuk memahami sejarah dan falsafah dari bentuk tugu hasil rancangan pendiri Yogyakarta, dan kelestarian tugu hasil desain orang Belanda yang kini telah menjadi bangunan cagar budaya sekaligus landmark kota Yogyakarta.

Tugu Yogyakarta ini kini menjadi salah satu spot objek wisata yang banyak diminati ketika wisatwan berkunjung ke kota ini. Banyak sekali para wisatawan yang selalu mengabadikan momen dengan berfoto di depan Tugu Pal Putih ini.

agendaIndonesia

*****

Buah Tangan Semarang, 5 Alternatif Pilihan

Kampung tematik Semarang menjadi andalan kota ini menarik wisatawan.

Buah tangan Semarang, Jawa Tengah, bisa disebut punya segudang oleh-oleh bagi mereka yang berkunjung ke sana. Bahkan sebagian sudah menjadi andalan pariwisata daerah ini, sebab banyak yang dicari oleh mereka yang sekadar melewati kota ini.

Buah Tangan Semarang

Di Semarang ada begitu banyak pilihan untuk sahabat maupun kerabat yang mungkin punya memori atas kota ini. Berikut ada lima pilihan oleh-oleh, mulai wingko, bandeng, dan moaci yang sudah terkenal sampai dengan batik dan kopi Semarang. Silakan dipilih.

Landmark-Naturalis

BATIK Indonesia tak hanya dari Solo dan Yogyakarta. Kota-kota lain di Tanah Air ini juga punya batik yang khas. Semarang, misalnya. Motif batiknya identik dengan landmark dan naturalis. Motif naturalis tersebut terinspirasi dari buah asem arang dan burung blekok. Konon nama Semarang diambil dari pohon asem yang tumbuhnya saling berjauhan tersebut. Sementara itu, motif burung blekok dicuplik dari keberadaan habitat blekok liar yang dulu banyak nangkring di kawasan Srondol, Semarang.

Sedangkan landmark menunjukkan tempat-tempat yang menjadi ikon Kota Semarang, seperti Gedung Lawang Sewu dan Tugu Muda. Belakangan, batik semarangan mengalami perkembangan yang pesat, baik

motif maupun warnanya. Di sentra batik Semarang, selembar kain batik dijual dengan harga bervariasi atau tergantung tingkat kesulitan, bahan, dan teknik yang digunakan. Batik tulis, misalnya, dihargai mulai Rp 175-950 ribu.

Batik Temawon; Kampung Batik Gedong No. 239, Semarang

Aneka Bandeng

RASANYA kurang afdal jika berkunjung ke Semarang tak membeli bandeng. Kota ini memang terkenal dengan bandengnya sejak dulu. Selain bandeng presto yang sudah terkenal, kini olahan bandeng lebih beraneka, seperti bandeng presto rasa teriyaki, sate bandeng boneless, bandeng dalam sangkar, bandeng otak-otak, bandeng duri lunak, bandeng asap duri lunak, hingga bandeng vakum.

Penggemar olahan bandeng dapat mampir wajib mampir ke pusat oleh- oleh, seperti Bandeng Juwana di Jalan Pandanaran 57 dan Jalan Pamularsih 70, Semarang. Di tempat ini, wisatawan seakan masuk ke ”surga” aneka olahan ikan bandeng yang menggoda selera. Harganya dari Rp 45-145 ribu per kilogram. Jika pembeli tak ingin repot membawanya sendiri, tersedia pula layanan pengiriman antarkota se- Indonesia.

Bandeng Juwana; Jalan Pandanaran No 57-59, Semarang

buah tangan Semarang sangat beragam, kadang harus keluar kota sedikit, misalnya ke Banaran, untuk mencicipi kopi khas daerah ini.
Kopi Banaran di Kabupaten Semarang. Foto: Nita/Dok TL

Kopi Banaran

DI KABUPATEN Semarang terdapat perkebunan kopi Banaran dengan
luas sekitar 45 hektare. Perkebunan kopi milik PT Perkebunan Nusantara IX itu kini juga dijadikan agrowisata bagi wisatawan, lengkap dengan penginapan. Setelah melepaskan penat dan menambah pengetahuan soal kopi di perkebunan ini, pengunjung dapat pula membeli bubuk kopi di tempat tersebut sebagai buah tangan.

Bubuk kopi dikemas dalam berbagai jenis dan harga. Jenis robusta dengan aroma moka hanya dibanderol Rp 18.500 untuk kemasan 250 gram. Sementara itu, Banaran Gold Classic Blend yang terdiri dari arabika dan robusta dengan komposisi masing- masing 50 persen dijual Rp 19.500 untuk kemasan seberat 230 gram. Yang paling mahal adalah kopi luwak. Dalam kemasan 80 gram, kopi luwak Banaran dibanderol Rp 528 ribu.

Kampoeng Kopi Banaran; Jalan Raya Bawen-Solo Km 1,5 Kabupaten Semarang

Wingko Kereta

MAKANAN yang terbuat dari ketan, gula pasir, kelapa, garam, dan air ini memang sudah dikenal sebagai ikon kulinernya Semarang. Kini wingko babad yang mulai diperkenalkan pada 1946 ini dengan mudah ditemui hampir di semua toko penjual oleh-oleh khas Semarang.

Tak hanya rasa original, penganan khas Semarang itu kini menyediakan berbagai varian rasa, seperti wingko rasa nangka, wingko rasa cokelat, wingko rasa durian, dan wingko rasa pisang. Harganya dari Rp 2.400 per buah. Selain dijual per buah, wingko itu biasanya dijual pula dalam dua paket kemasan, yaitu dus kecil seharga Rp 37 ribu dan dus besar seharga Rp 56 ribu.

Wingko Babad Kereta Api; Jalan Cenderawasih 14, Semarang

Bulat Renyah

BENTUKNYa bulat dan lembut. Saat dimakan, ada kejutan gurih, renyah, dan legit. Sekilas mirip dengan moci asal Sukabumi. Tapi moci khas Semarang ini berisikan lebih banyak kacang tanah. Kalau dulu hanya ada rasa original yang bertaburkan bubuk tepung, moci kini tersedia dalam beberapa rasa baru. Ada rasa talas, stroberi, durian, cokelat, dan pandan. Selain itu, untuk taburan luarnya, ada yang menggunakan wijen.

Pembuatannya yang tanpa menggunakan bahan pengawet ini hanya mampu membuat kue ini bertahan selama satu minggu saja. Tapi kalau disimpan di dalam lemari pendingin bisa bertahan hingga 2 minggu. Per dusnya dihargai dari Rp 16 ribu (isi 10 buah), Rp 25 ribu (isi 16 buah), dan Rp 32 ribu (isi 25 buah).n

Moaci Gemini; Jalan Kentangan Barat No 101 Semarang

agendaIndonesia

*****

Keunikan Rumah Adat Sasak Sejak Tahun 1089

Dola ke Lombok harus main ke rumah adat Sasak.

Keunikan rumah adat Sasak di Dusun Ende dibangun di desa dengan jumlah kepala keluarga yang tak pernah berubah. Rumah juga dibangun dengan memperhatikan sistem kekerabatan dalam menentukan lokasi.

Keunikan Rumah Adat Sasak

Dari Bandara Lombok Internasional di Praya, Lombok Tengah, hanya dalam hitungan 20 menit, pengunjung sudah bisa sampai di Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, NUsa Tenggara Barat. Desa yang masih mempertahankan kampung adatnya. Bahkan menjadi tujuan wisata yang populer. Rumah-rumah suku Sasak—suku asli yang menghuni pulau ini kentara dari luar. Salah satu keunikan rumah adat Sasak bagian atap yang terbuat dari alang-alang seperti menutup bagian utama rumah. Adapun bagian ujungnya hanya 1,5-2 meter dari atas tanah.

Wisatawan bisa minta janjian dengan seorang pemandu untuk menyusuri jalan-jalan kecil dari bebatuan yang memisahkan satu rumah dengan yang lain. Cukup padat. Ada beberapa perempuan yang tengah menenun dan menjual beragam suvenir khas pulau ini. Pengunjung bisa mencermati dinding rumah yang berbahan utama bambu, demikian juga tiang penyangganya.

Jika dizinkan, cobalah memasuki sebuah rumah. Meski harus menunduk di bagian pintu masuknya, ternyata terasa lega juga di bagian dalamnya. Lubang pintu yang rendah juga ternyata mengandung filosofi, yakni para tamu hormat kepada tuan rumah.

Meski tampak sederhana, ternyata sarat akan filosofi kehidupan. Ruang utama terlihat terbagi dalam dua bagian: depan dan belakang yang posisinya lebih tinggi ketimbang depan.

Ada tiga tangga untuk menuju bagian belakang atau bale dalem sebagai salah satu keunikan rumah adat Sasak. Tangga tersebut melambangkan lahir, berkembang, dan mati serta merupakan simbol keluarga (ayah, ibu, dan anak). Ada pula pembagian ruangan yang sesuai dengan fungsinya. Seperti ruangan khusus sang ibu yang melahirkan dan khusus tempat tidur. Bahkan ada tempat khusus menyimpan harta benda dan  dapur yang terdiri atas dua tungku yang menyatu dengan lantai.

Lantainya yang berwarna abu-abu terasa adem. Menurut sang pemandu, lantai dibuat dari campuran batu bata, abu jerami, dan getah pohon. Hanya, yang khas lantai akan dilumuri dengan kotoran hewan yang mereka miliki, baik itu kerbau maupun sapi, yang sudah dibakar dan dihaluskan. Justru trik tradisional itu yang membuat lantai terasa adem dan tidak mudah retak. Selain itu, dipercaya bisa mengusir rombongan nyamuk yang ingin bertandang.

Keunikan rumah adat Sasak memiliki makna setiap detailnya.
Salah satu sudut rumah adat Sasak. Foto: Dok. shutterstock

Bukan hanya rumah dengan bentuk khas, suku Sasak juga mempunyai lumbung padi dengan bangunan yang khusus. Atap seperti gunungan dan tentu juga seperti atap rumah yang ditutupi dengan alang-alang. Bentuknya memang lebih unik ketimbang rumah.

Selain atap gunungan dengan bagian puncaknya yang tumpul dan bagian bawahnya yang mencuat, bale-bale yang terbuka di bagian bawahnya dapat kita temukan. Menjadi tempat penghuni dan keluarga bercengkerama. Di bale-bale itu ada tangga untuk masuk ke bagian penyimpanan padi. 

Yang unik lagi, ada pula khusus rumah mungil untuk pengantin baru. “Setelah menikah, mereka akan tinggal di sana,” ujar sang pemandu. Ia menunjuk sebuah rumah yang hanya terdiri atas satu kamar.

Pengunjung pasti merasakan keunikan pasangan baru itu yang seperti berada dalam sebuah kurungan. Ada pula tradisi lama yang unik menyangkut pernikahan. Si pria atau dikenal dengan sebutan teruna akan menculik calon istrinya. Benar-benar tidak boleh diketahui oleh orang tua, seperti menculik sungguhan. Beberapa hari kemudian, keluarga pria mendatangi keluarga wanita.

Berkeliling kampung selama beberapa menit membuat pengunjung tak hanya mengenal rumah suku Sasak, tapi juga sejumlah tradisinya.

Keunikan rumah adat Sasak tak hanya di Ende. Dalam perjalanan ke Senaru, ada pula desa dengan model rumah serupa. Konon rumah tertua dari rumah adat Sasak sudah ada sejak 1089.

Keunikan rumah adat Sasak di Desa Ende.
Rumah Adat Sasak di Sengkol, Lombok. Foto: Dok: TL/Fran

Berjarak sekitar 75 km dari Mataram, Dusun Senaru tidak sepadat Dusun Sade dan tak ramai dengan turis seperti di Lombok Tengah. Desa adat Senaru di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, ini cenderung sepi. Ada gerbang yang menunjukkan kompleks rumah tersebut merupakan desa adat. Saya menemukan keheningan di sana, yakni jarak satu rumah dengan rumah lain tidak terlalu berdempetan seperti di Sade.

Bahkan ada tanah cukup luas hingga 2 meter buat anak-anak berlari-lari. Tidak ada riuh mobil yang lalu-lalang karena desa adat ini berada di kaki Gunug Rinjani. Hawa sejuknya terasa, siang yang sepi karena sebagian besar para pria pergi ke ladang.

Sekitar 90 persen warganya adalah petani. Tepat di sebelah gerbang desa adat, pengunjung bisa menemukan kebun kakao. Siang itu, yang ada hanya seorang kakek dan beberapa anak-anak. Akhirnya, ada ibu-ibu di bagian belakang. Merekalah yang menerangkan beberapa fungsi bangunan.

Desa adat hanya dihuni oleh 20 kepala dan dipertahankan dalam jumlah tersebut, sehingga desa adat tidak berubah menjadi padat. Ukuran rumahnya lebih besar dibanding di Dusun Sade, tapi bentuknya sama.

Dinding rumah juga terbuat dari anyaman bambu dan tanpa jendela. Ruangan terbagi atas ruang utama atau induk (inan bale), yang terdiri atas ruang tidur (bale dalam) dan bale luar yang mempunyai beberapa fungsi, seperti ruang ibu melahirkan, menyimpan harta benda, dan tempat jenasah disemayamkan. Di bagian bale dalam juga ada dapur, tempat penyimpanan makanan, dan perlengkapan.

Atapnya terbuat dari alang-alang dan bentuknya yang menggapai hingga ke bawah dengan bagian puncak datar diilhami oleh Gunung Rinjani yang bisa dicapai dari jalan setapak dekat dusun. Gunung tertinggi di Pulau Lombok ini bernilai sakral bagi suku Sasak. Di Danau Segara Anak, yang berada di Gunung Rinjani, suku Sasak kerap melakukan sejumlah upacara.

Meski berada di kaki gunung, desa adat ini berada di tanah datar. Letak rumah berdasarkan sistem kekerabatan dan orientasi matahari. Rumah satu sama lain yang berhadapan menghadap ke timur adalah hunian saudara yang lebih tua—bermakna penghormatan bagi sang kakak untuk mendapat siraman mentari pagi.

Di bagian tengahnya didirikan bangunan yang disebut berugak. Di sinilah biasanya keluarga berkumpul. Sebenarnya merupakan penghormatan atas rezeki yang diberikan Tuhan, tapi juga difungsikan sebagai ruang keluarga dan menerima tamu. Berugak bertiang empat merupakan simbol syariat Islam: Al-Quran, hadis, ijma, dan qiyas. Benar-benar sarat makna.

agendaIndonesia/TL/Rita N

*****

Reog Ponorogo, Titisan Seni Abad 11

Reog Ponorogo merupakan seni tari sejak abad 11. Foto: shutterstock

Reog Ponorogo selalu menjadi pertunjukan yang menakjubkan. Terutama ketika penari Barongan utamanya muncul dan ‘ndadi’, untuk memperlihatkan ia melakukan aksi yang “agak” tak masuk akal. Misalnya dengan topengnya yang sangat besar, dan pasti berat itu, di sisi kepala masih mengangkat seorang penari. Kata orang ada unsur magisnya.

Reog Ponorogo

Betulkah demikian? Kesenian yang berasal dari Ponorogo, sebuah kota dan kabupaten di sisi barat Provinsi Jawa Timur ini memang unik. Seni pertunjukan reog Ponorogo diyakini telah ada sejak abad ke-11, tepatnya pada masa kerajaan Kediri.

Kata ‘reog’ sendiri dianggap berasal dari istilah ‘angreok’ yang ditulis Mpu Prapanca dalam naskah sastra gubahannya, Nagarakertagama. ‘Angreok’ merupakan istilah yang kurang lebih merujuk kepada sebuah pertunjukan tradisional yang dulunya ditujukan sebagai penyemangat, suri teladan dan hiburan bagi rakyat. Beberapa unsur dan detail dalam pertunjukan tersebut dipercaya sebagai asal usul reog.

Reog Ponorogo memiliki berbagai versi sejarahnya. Salah satunya dimulai dari zaman Majapahit.
Festival Reog Ponorogo menjadi agenda tahunan Pemerintah Daerah Ponorogo. Foto” Pemkab Ponorogo

Jalan cerita sendratari dalam pertunjukan reog Ponorogo disebut sebagai representasi sikap protes Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan Majapahit. Ia merasa gamang atas kondisi kerajaan yang digerogoti korupsi, dan pengaruh Tiongkok, setelah raja menikahi putri Campa dari Tiongkok.

Melihat situasi tersebut, ia mulai khawatir jika Majapahit tak lama lagi akan runtuh. Dari kekhawatirannya tersebut, ia kemudian mendirikan padepokan dan merekrut anak-anak muda untuk belajar ilmu kebatinan dan bela diri.

Harapannya, anak-anak muda ini akan menjadi bibit-bibit yang mampu menumbuhkan kembali Majapahit bila suatu saat nanti benar-benar runtuh. Kendati demikian, ia masih merasa jumlah murid asuhannya masih tak cukup banyak bilamana terjadi pertempuran.

Oleh karena itu, ia berusaha untuk memobilisasi rakyat lewat pertunjukan seni yang memuat nilai dan pesan politis mengenai kondisi kerajaan kala itu. Beberapa penokohan yang terdapat di pertunjukan ini kemudian menjadi cikal bakal unsur kesenian reog kini.

Dalam pertunjukan tersebut, terdapat penari Barongan dengan topeng singa yang memiliki bulu-bulu merak, sehingga menyerupai kipas. Ini merupakan representasi dari raja dan kerajaan yang sedang banyak dipengaruhi oleh kepentingan orang-orang asing.

Kemudian ada penari Jathilan, yang tampil dengan menggunakan kuda-kudaan, sebagai representasi pasukan kerajaan. Mereka digambarkan bertarung melawan penari Warok, yang berdandan serba hitam dengan topeng, sebagai simbol Ki Ageng Kutu dan muridnya.

Pertunjukan sendratari ini terbukti populer dan sangat diterima oleh rakyat pada saat itu, hingga terdengar oleh kerajaan. Mengetahui potensi niat pemberontakan, pertempuran pun pecah dan Ki Ageng Kutu beserta muridnya mampu dikalahkan.

Festival Reog Ponorogo Kemenparekraf
Salah satu pertunjukan Reog Ponorogo. Foto: Kemenparekraf

Namun demikian, kesenian tersebut telah mendapat tempat di hati rakyat. Sehingga pada perkembangannya, pertunjukan seni ini terus diadakan walaupun terdapat modifikasi pada alur cerita dan penokohannya.

Ada pula versi yang menyebut bahwa kesenian serupa reog yang berasal dari era kerajaan Kediri dan memiliki jalan ceritanya sendiri. Versi ini menyebut bahwa kisah sendratari ini terinspirasi dari kisah antara kerajaan Kediri dan Bantarangin.

Diceritakan, Prabu Klanasewandana adalah raja dari kerajaan Bantarangin yang bermaksud untuk mempersunting Dewi Sanggalangit, putri dari kerajaan Kediri. Tetapi pihak kerajaan Kediri pada saat itu masih merasa tak berkenan dan enggan memberi restu.

Akhirnya mereka mengajukan syarat, siapapun yang ingin menikahi sang putri harus mengalahkan pasukan Singo Barong, yang digambarkan berwujud singa berbulu merak. Prabu Klanasewandana lantas menghadapinya dengan pasukan Jathilan dan Warok.

Jathilan digambarkan sebagai pasukan kerajaan yang kewalahan melawan para Singo Barong, sedangkan Warok disebut memiliki ilmu kebatinan yang mampu menandingi dan membantunya mengalahkan Singo Barong tersebut. Ada pula tokoh Bujang Ganong sebagai patih kerajaan.

Prabu Klanasewandana kemudian membawa beberapa Singo Barong tersebut sebagai mas kawin. Akhirnya ia mendapat restu dan pesta pernikahan pun dilangsungkan. Versi cerita inilah yang boleh dibilang paling lazim dipentaskan dalam setiap pertunjukan reog saat ini.

Reog Ponorogo terdiri dari Singo Barong, Warok dan jathilan.
Penari Jathilan pada Reog Ponorogo. Foto: Kemenparekraf

Ada pula kepercayaan warga Ponorogo bahwa reog merupakan kesenian yang berlandaskan ritual penolak bala. Kepercayaan ini menganggap bahwa seni tari dengan menggunakan topeng berwujud setengah singa setengah harimau dapat menghalau hal-hal buruk.

Wujud topeng tersebut adalah representasi dari roh ‘penjaga’ yang telah ada sejak Ponorogo masih berupa hutan belantara dulu. Sehingga dalam perkembangannya, ritual ini berevolusi dan dilestarikan menjadi kesenian reog.

Pada era sekarang ini, reog Ponorogo dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama adalah reog obyog, yakni reog yang cenderung lebih sederhana dan tidak terlalu berpaku pada satu versi cerita. Biasanya reog obyog banyak ditemukan di pedesaan, misalnya pada hari besar atau hajatan tertentu.

Versi yang kedua adalah reog festival, yaitu reog yang biasanya sudah dilatih untuk mengikuti salah satu versi, serta umumnya lebih profesional, utamanya dari segi peralatan. Reog jenis ini tampil pada acara resmi, misalnya pada gelaran Festival Reog.

Festival Reog sendiri adalah acara yang digelar setahun sekali sejak 1997 oleh pemerintah kota Ponorogo. Tujuannya tentu untuk memberi panggung bagi para penampil reog dan mempromosikan kesenian reog sebagai jati diri Ponorogo.

Walaupun punya jenis dan tafsiran yang berbeda-beda, namun secara umum ada beberapa hal yang serupa bagi semua versi. Misalnya, penari Warok biasanya adalah laki-laki berjumlah minimal enam hingga delapan orang, berdandan serba hitam dan bertopeng.

Sedangkan penari Jathilan adalah perempuan berjumlah minimal enam hingga delapan orang, dengan aksesoris kuda-kudaan. Dulu Jathilan diperankan laki-laki dengan dandanan dan tarian yang feminin, namun seiring perkembangan jaman peran ini kini dilakoni oleh perempuan.

Adapun Singo Barong memiliki topeng yang terbuat dari bulu burung merak dan kulit harimau. Ukurannya sangat besar, dengan ukuran panjang sekitar 2,25 meter dan lebar kurang lebih 2,30 meter. Bobotnya pun tergolong berat, berkisar antara 50 sampai 80 kg.

Yang menarik, topeng ini ditopang oleh penarinya dengan gigi. Penari Singo Barong biasanya sudah sangat terlatih, bahkan konon diwajibkan untuk memperdalam ilmu spiritual dengan cara berpuasa, bertapa dan lain sebagainya.

Untuk mengiringi pertunjukan reog, musik pun dimainkan menggunakan beragam alat musik tradisional. Mulai dari kenong, saron, bonang, kempul, gong, kendang, ketipung, angklung, dan slompret.

Hingga saat ini, reog Ponorogo masih terhitung sebagai salah satu kesenian tari tradisional Indonesia yang paling populer. Bahkan populasi di negara lain seperti Malaysia dan Suriname yang notabene masih keturunan Jawa, juga didapat membawa dan mementaskan kesenian ini.

Maka tak heran bila organisasi kebudayaan PBB yakni UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan reog Ponorogo sebagai salah satu warisan budaya nonbenda. Sebuah kesenian yang hingga kini lekat sebagai ikon kota Ponorogo.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Bau Nyale, Saat Hari Ke-5 Purnama Kalender Sasak

Bau Nyale adalah sebuah perayaan tentang cacing atau nyale merupakan perwujudan putri yang menyerahkan diri dan cintanya kepada rakyat.

Bau Nyale

Pantai Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, yang pernah saya singgahi beberapa tahun lalu, terasa berbeda kali ini. Keramaian ada di mana-mana. Wajar saja jejeran pantai dari Tanjung Aan hingga Kuta itu terasa riuh. Sebab, saya datang menjelang Upacara Bau Nyale. Ritual tahunan yang digelar saat bulan purnama antara Februari dan Maret bahkan telah dikemas menjadi satu festival. Bau dalam bahasa Sasak berarti menangkap, sedangkan nyale bermakna cacing. Kegiatan utamanya memang memburu cacing saat air laut surut.

Tradisi menangkap cacing yang muncul dari lubang-lubang karang di Pantai Seger maupun Kuta ini bermula dari legenda masyarakat di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Pada zaman dulu, Kerajaan Mandalika, yang berada di daerah itu, memiliki seorang putri yang elok dan memikat sejumlah pangeran. Namun sang putri tidak mau menimbulkan pertumpahan darah akibat masalah cinta.

Ia memutuskan untuk terjun ke laut dari bukit yang berada di Pantai Seger atau dikenal juga sebagai Pantai Mandalika. Lokasinya bersebelahan dengan Pantai Kuta. Dengan cara itu, ia bisa membagi dirinya untuk pangeran yang mencintainya dan juga rakyatnya. Setelah tubuh Putri Mandalika ditelan ombak, muncullah cacing berwarna-warni dari batu karang. Masyarakat setempat meyakini cacing itu jelmaan sang putri.

Nah, setiap tahun, perwujudan sang putri itu selalu muncul di laut pada hari kelima purnama bulan 10 kalender Sasak. Tahun ini, Upacara Bau Nyale digelar pada 19-20 Februari. Namun kini lebih berfokus pada masa Bau Nyale Poto (akhir bau nyale) daripada Bau Nyale Tunggak (awal bau nyale) seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sebenarnya acara menangkap cacing dilakukan juga di sejumlah pantai di Lombok. Setidaknya, ada 16 titik untuk menjaring nyale. Hanya, karena legendanya tumbuh di Pantai Seger, festival selalu dipusatkan di kawasan Kuta. Sebelumnya, sejumlah kegiatan dan ritual digelar. Para tarune (pemuda) menjajal aneka lomba tradisional, di antaranya, bertarung dalam presean—sejenis bela diri dengan senjata sebilah tongkat rotan. Dilengkapi juga dengan tameng dari kulit sapi. Presean digelar di tepi pantai. Suasananya riuh karena teriakan orang berbaur dengan gendingpengiring pertarungan yang terdiri atas dua gendang dan masing-masing satu set petuk, rencek, gong, dan seruling.

Tidak jauh dari Tanjung Aan, yang berada di sebelah Pantai Seger, saya menemukan pacuan kuda anak-anak. Areanya yang besar membikin saya lebih leluasa menyaksikan pacuan kuda dari jauh. Rasanya miris juga menyimak dari dekat. Tanpa pelana dan perlindungan ala kadarnya, sejumlah bocah berusia 9-13 tahun memacu kuda. Peserta datang dari berbagai desa, bahkan juga dari Sumbawa.

Esoknya, saya menemukan keriuhan lain di lobi sebuah hotel di kawasan Kuta. Dung-dung-dang-dang-jreng! Suara tersebut begitu nyaring tertangkap telinga. Terlihat rombongan pria berbalut seragam berupa pakaian tradisional suku Sasak. Mereka rupanya menyambut tetamu hotel. Masing-masing membawa perangkat musik. Mulai gendang beleq (besar), gendang kecil, gong, hingga seruling. Kebanyakan grup gendang beleq terdiri atas belasan kru, dengan semua pemain laki-laki.

Menjelang Festival Bau Nyale, keramaian memang tak putus-putus. Di kampung-kampung pun warga membuat penyambutan. Mereka memotong ayam, lalu memanggang dan memadukannya dengan ketupat. Ini suguhan wajib yang telah menjadi tradisi. Sore hari, suasana kian ramai di sepanjang Pantai Tanjung Aan hingga Kuta. Warga dari berbagai penjuru Lombok berdatangan. Turis-turis pun tak mau kalah ikut nimbrung.

Langit semakin gelap, saya melihat air laut surut semakin jauh. Meski perburuan cacing yang dikenal dengan nama nyale oleh warga setempat mulai dilakukan dinihari, obor-obor di tepi pantai sudah terlihat. Ada juga orang yang mencari peruntungan lebih awal. “Kadang memang nyale sudah mulai bermunculan pas matahari tenggelam, tapi yang benar-benar banyak nanti pukul 03.00 atau 04.00 gitu,” ujar Adi, warga Desa Rimbitan, Pujut, yang setiap tahun ikut berburu nyale.

Saya pun memilih beristirahat agar benar-benar bisa ambil bagian dalam perburuan cacing yang memiliki nama Latin Polychaeta dan hidup di dasar laut itu. Jenis cacing ini muncul ke permukaan laut atau muara setahun sekali untuk berkembang biak. Namun warga Lombok mengaitkannya dengan legenda Putri Mandalika.

Festival Bau Nyale telah menjadi sarana promosi wisata Lombok Tengah, sehingga tradisi pun dikemas dengan rangkaian hiburan. Tidak hanya dendang khas suku Sasak dan drama tentang Putri Mandalika, tapi juga ada penyanyi-penyanyi dari luar kota. Setelah berbagai keramaian di panggung, warga berburu cacing pada pukul 04.00. Di tengah kegelapan, saya ikut beramai-ramai dengan warga menuju Pantai Seger.

Jalan menuju pantai bukan pasir nan mulus seperti dua pantai di sebelahnya, Kuta dan Tanjung Aan. Berada di antara bukit kecil, jalannya agak berliku. Pantainya penuh dengan batu karang. Ketika air surut, pulau kecil di depannya bisa dicapai dengan berjalan kaki. Dan saat surut itulah dari batu karang muncul cacing berwarna-warni, seperti hijau dan kuning.

Seolah diberi aba-aba, warga semakin maju ke tengah pantai. Mereka membungkuk, mengorek-ngorek batu karang, lalu menjumput cacing dan memasukkannya ke botol, ember, atau wadah lain yang dibawa. Kebanyakan warga mengolah cacing ini dengan cara dipepes. Ketika mentari mulai muncul, sedikit demi sedikit orang mundur dengan ember atau botol berisi cacing. “Kalau dapatnya sedikit, nanti di pasar juga suka ada yang jual,” ujar Adi, sembari menyebutkan bahwa hidangan dari cacing ini rasanya memang luar biasa. Waaah! l

Lokasi lain untuk berburu nyale

1. Pantai Kaliantan, Lombok Timur

2. Pantai Sekongkang, Sumbawa Barat

3. Pantai Wanukaka, Sumba Barat

Info

1. Akomodasi saat digelar Festival Bau Nyale di Lombok Tengah selalu penuh. Jadi, pesanlah kamar sejak jauh-jauh hari agar bisa mendapatkan hotel yang lokasinya tidak jauh dari pantai tempat festival digelar.

2. Deretan Pantai Tanjung Aan, Seger, dan Kuta berada di Lombok Tengah, yang bisa dicapai dari Bandara Internasional Lombok dalam 30 menit.

3. Datanglah minimal tiga hari sebelum festival, sehingga Anda bisa menyaksikan berbagai atraksi tradisional. Di sekitar kawasan Kuta juga terdapat beberapa pantai lain yang layak dikunjungi, seperti Pantai Mawun, Teluk Gerupuk, Pantai Selong Belanak, dan Pantai Mawi. Selain itu, ada Desa Sade dan Desa Sukarara, yang dikenal dengan adat dan kerajinan tradisionalnya.

agendaIndonesia/Rita N./Subekti/Dok. TL

*****

Kunstkring, Galeri dan Resto di Teuku Umar Nomor 1

Kunstkring, atau dahulu lengkapnya Bataviasche Kunstkring, adalah bangunan bersejarah dilestarikan. Bangunan yang dipergunakan untuk seni dan galeri. Kini dipadu antara pertunjukan seni dan hidangan jadul.

Kunstkring

Mencari bangunan lawas di daerah Menteng, Jakarta Pusat, bukan lah hal yang sulit. Namun gedung yang terletak di Jalan Teuku Umar Nomor 1 ini memang berbeda. Berada di pojok jalan tak jauh dari rel kereta api Gondangdia, di bagian depan tertera namanya Tugu Kunstkring Paleis. Di bagian bawah tertulis, Gallery & Shop, Dining & Lounging, Bread Corner, Tea House. Di masa lalu dikenal sebagai Kantor Imigrasi Jakarta. Kemudian sempat ngetop di kalangan muda dan gedung lawas itu tetap digunakan meski berganti nama.

Menurut catatan Wikipedia, Bataviasche Kunstkring adalah organisasi seni yang didirikan pada zaman Pemerintah Hindia Belanda yang sangat menonjol akivitasnya pada tahun 1920-an . Di sini diposisikan sebagai pusat dari semua Kunstkring yang tersebar di Batavia atau Jakarta, Bandung dan Surabaya serta beberapa kota besar lain.

Bataviasche Kunstkring kerap menyelenggarakan pameran yang merupakan kulminasi reputasi seni dari daerah-daerah. Bahkan mengadakan pameran bond kunstkring, atau pameran bersama dari berbagai kunstkring. Kunstkring beranggotakan seniman-seniman Belanda atau Eropa yang berdiam di Indonesia.

Pameran pertama menampilkan karya-karya pelukis Belanda kelahiran Indonesia. Ruang-ruang yang luas dipergunakan untuk pertunjukkan musik dan ceramah, antara lain dari Prof. Djajadiningrat dan H.P. Berlage. Perpustakaan menyediakan buku-buku kesenian untuk kalangan umum.

“Kini diberi nama Bataviasche Kunstkring. Dalam bahasa Belanda “kunst” berarti seni dan “kring” bermakna lingkaran. Karena di masa penjajahan Belanda, gedung ini difungsikan sebagai balai seni Jakarta, di mana seniman-seniman Belanda memamerkan karyanya,” kata Manajer Humas Tugu Kunstkring Paleis. Tentunya, seniman Indonesia kala itu tidak mendapat tempat di gedung ini.

Kunstkring, galeri dan resto yang menggunakan gedung kuno di Jalan Teuku Umar Nomor 1, Jakarta
Interior Tugu Kunstkring Paleis di Teuku Umar No. 1, Jakarta. Foto: Dok. Kunstkring

Tak hanya menawarkan sajian dengan gaya fine dining, Tugu Kunstkring Paleis juga menjadi tempat asik buat berkumpul bagi kaum sosialita. Yang tak kalah mengejutkan dalam operasionalnya, Kunstkring pun tetap setia pada seni budaya dan sejarah. Nilai-nilai sejarah tetap dipertahankan, sementara operasional resto berjalan seperti lazimnya sebuah usaha.

Hal ini ditunjukkan dengan hadirnya galeri seni, ruang pamer dan ruang-ruang privat dengan tema-tema yang berbeda-beda. Semuanya diharapkan bisa memberi kontribusi pada pelestarian sejarah, seni dan budaya.

Untuk para tamu, ada pilihan 85 tempat duduk mewah di ruang makan utama di lantai pertama. Disebut Ruang Dipenogoro, dengan ciri lukisan 4×9 meter saat penangkapan Pangeran Dipenogoro. Namun pemilik Tugu Grup, Anhar Setjadibrata, pemilik Tugu Group menyebutnya The Fall of Java.

Menu di resto ini pun kental dengan unsur budaya dan sejarah. Menyajikan makanan Indonesia jaman dulu, Asia Tenggara dan Barat, saat saya berkunjung tiga menu pun menjadi pilihan. Yakni, steamed salmon ravioli topped with crispy smoked beef bacon yang disajikan dengan saus kepiting. Harganya Rp 98 ribu. Ada juga garnaal mielie, crisp beer-battered fried prawn yang disajikan dengan spinach gnocchi, tomato and green salad senilai Rp158 ribu. Untuk penutup, saya mencoba coconut crème brulee (Rp 62 ribu) dan segelas Mystique Mocktail (Rp45 ribu). Yang menjadi juara, saya memilih udang goreng.

Kunstkring Jakarta selain menjadi tempat pameran dan pertunjukan seni juga menjadi resto.
Menu Udang Goreng di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta. Foto: Rully K/Dok. TL

Bagi yang ingin sesuatu yang bermakna sejarah, coba gaya makanan zaman kolonial Belanda, yakni ala rijsttafel. Sejumlah pelayan akan menyajikan sederet hidangan khusus Betawi dalam satu meja. “Di Kunstkring, kami ingin menghidupkan lagi budaya rijsttafel. Dengan jumlah tamu minimal lima orang, kami pun bisa menyajikan menu Betawi Grand Rijsttafel yang terdiri dari 12 jenis hidangan. Semua sajian itu disajikan pelayan dengan menggunakan pikulan, sementara ada beberapa orang yang menari untuk menghibur para tamu. Dipilih Betawi karena sajian lokal ini makin tergusur,” jelas manajer humasnya.

Restoran juga kerap menggelar pameran berskala besar dan pertunjukan seni. Tahun 1936 dibuka museum yang menyajikan lukisan-lukisan berkelas internasional yang dipinjam dari berbagai museum di Eropa, antara lain karya Marc Chagall, Van Gogh dan Picasso. Tahun 1935 diselenggarakan pertunjukkan Peralatan Perak.

Atau pada Juni 2015 lalu, misalnya, Tugu Kunskring Paleis bekerja sama dengan Ballet.id mengadakan “Reviving the Glory of Kunstkring”,  dengan suguhan repertoire balet klasik Rusia, yang diadaptasi dari tarian tradisional Indonesia dengan interpretasi balet Hong Kong “Suzie Wong”. Rasanya, benar-benar di Tugu Kunstkring Paleis, kita bisa mencicipi budaya, seni, sejarah dan makanan di satu tempat.

agendaIndonesia/Fiz R./Rully K./TL

*****

D’Lempis, Lemparan Penuh Etika Sejak 1987

D'lempis adalah komunitas pemilik hobi yang unik: melempar pisau

D’Lempis sebuah komunitas yang unik: mereka yang hobi melempar pisau. Namun, ini bukan aksi sok pamer, melainkan justru cara melatih konsentrasi yang mengasyikkan.

D’Lempis

Kakinya melangkah mantap memasuki arena. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. Sedangkan di pinggangnya tergantung sebuah sarung kulit yang memuat tiga bilah pisau. Langkah pria bernama Ellen Ramlan itu terhenti sekitar 2 meter di depan target lingkaran. Ia langsung memasang kuda-kuda.

Matanya menyorot tajam target di depannya. Sebilah pisau kini sudah berada dalam genggamannya dan siap dilempar. Clebs… Pisau menancap tepat di tengah target lingkaran. Begitu pula dengan pisau kedua dan ketiga. Clebs dan clebs.

Selintas terlihat mudah. Saya pun tertarik mencobanya. Hasilnya? Sungguh sangat mengecewakan. Tak ada satu pun pisau yang tepat sasaran. ”Memang harus sering berlatih,” ujar Ellen Ramlan, Ketua D’ Lempar Pisau Indonesia (D’Lempis) di Bandung, Jawa Barat.

Seorang pemula, kata pria yang akrab disapa Chief oleh rekan-rekannya itu, membutuhkan waktu paling tidak 30 menit agar lemparan pisau dapat tertancap pada target. ”Hanya tertancap dan belum tepat mengenai sasaran. Dibutuhkan latihan, konsentrasi, kondisi fisik, serta psikis pelempar yang prima,” ia menjelaskan.

Menurut Ellen, ada beberapa teknik memegang pisau yang harus dikuasai. Sebab, hal tersebut berkaitan erat dengan jarak lempar. Pegangan pada gagang cocok untuk jarak ganjil, misalnya 3 meter, 5 meter, 7 meter, dan seterusnya. Adapun pegangan pada bilah pisau (blade) cocok untuk jarak genap, seperti 2 meter, 4 meter, 6 meter, dan seterusnya.

”Posisi kaki juga harus diperhatikan,” ucap Ellen, mengingatkan. Jika si pelempar terbiasa menggunakan tangan kanan, kaki kiri harus berada di depan. Begitu pula sebaliknya. Hal ini dilakukan guna meminimalkan risiko kaki terluka jika pisau terlepas atau jatuh.

Meski selintas terlihat menyeramkan, olahraga lempar pisau ini justru melatih konsentrasi dan memberikan keasyikkan tersendiri. ”Banyak efek positif yang dapat diraih, di antaranya adalah melatih konsentrasi, emosi, dan koordinasi gerak tubuh. Ya, mirip dengan olahraga biliar dan golf,” kata Arri Alkatiri, bagian humas D’Lempis.

D'Lempis sebuah komunitas penghobi melempar pisau di Indonesia.
Anggota D’Lempis dalam sebuah acara di Bandung, Jawa Barat. Foto: Dok. D’Lempis

Tak mengherankan jika animo penggemar lempar pisau tumbuh sangat pesat. Selain pusatnya berada di Bandung,  Arri menyebutkan chapter D’ Lempis ada di Lampung, Jakarta, Bekasi, Yogyakarta, Kolaka (Sulawesi), Tasikmalaya, Cilegon, Solo, Malang, Samarinda, dan Manokwari.

Para anggota terdiri atas berbagai profesi, mulai mahasiswa, karyawan, dosen, guru, fotografer hingga ibu rumah tangga! Hah, ibu rumah tangga? Ya, salah seorang yang sempat saya temui adalah Lily Hitler. Perempuan berusia 50 tahun ini awalnya mengaku hanya mengantar anaknya, Zulfikar Aria Ramadhan, untuk berlatih lempar pisau. Namun saat mencobanya, dia mengaku ketagihan. ”Olahraga ini selain melatih ketangkasan, juga mampu melepaskan kejenuhan,” ujarnya.

Pembentukan komunitas ini, kata Ellen, memang sengaja dilakukan guna merangkul orang-orang yang memiliki hobi melempar pisau. Melalui wadah ini pula, ia menambahkan, setiap anggota bisa saling berbagi berbagai hal mengenai dunia melempar pisau, dari trik melempar, jarak melempar pisau, pemahaman tentang cara memegang pisau dengan benar, hingga meminimalkan penggunaan pisau untuk kejahatan.

Ke depan, Ellen berharap olahraga lempar pisau ini dapat menjadi salah satu cabang olahraga yang resmi dipertandingkan baik di tingkat nasional maupun internasional. Komunitas ini sejatinya sudah berdiri sekitar 1987. Awalnya, komunitas ini didirikan oleh para mahasiswa seni rupa Institut Teknologi Bandung yang mengisi waktu luang setelah kuliah. Lama-kelamaan hobi tersebut berkembang dan terbentuklah komunitas D’Lempis.

Kegiatan demikian sempat vakum lama dan baru mulai aktif lagi pada  2010. ”Pada saat itu juga, D’Lempis membuka anggota untuk umum,” kata  Arri. Hingga saat ini, baik calon anggota maupun anggota komunitas D’Lempis sudah lebih dari 1.000 orang. Dalam menyaring anggota, D’Lempis cukup ketat. Calon anggota akan dinilai dalam tiga bulan pertama. ”Penilaian meliputi dedikasi, peningkatan kemampuan, hingga kejiwaan,” kata dia.

Menurut Arri, penilaian faktor kejiwaan sangat penting. Sejak awal dibuat aturan tegas untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Para anggota didoktrin untuk tidak melukai makhluk hidup ataupun yang menyerupai makhluk hidup dengan menggunakan pisau lempar atau alasan apa pun. ”Bahkan, kami melarang setiap anggota melempar pisau ke pohon,” tuturnya.

Setelah lulus, calon anggota akan resmi dilantik menjadi anggota dalam komunitas yang resmi terdaftar dan diakui oleh International Knife Throwers Hall of Fame yang bermarkas di Austin, Texas, itu. Pada saat itu pula, kata Arri, mereka telah resmi menjadi “warga negara logam”.

agendaIndonesia/Andry T./Prima M./TL/Lempis

Sate Lilit Bali, 5 Warung Layak Dicoba

Sate lilit Bali dagingnya dililitkan ke tusuk yang dari sereh. Foto: iStock

Sate lilit Bali kabarnya menjadi salah satu menu yang disajikan pada perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, November 2022. Selain, tentu saja menu ayam betutu. Sate sudah menjadi salah satu menu kuliner Indonesia yang mendunia, layaklah dinikmati para tamu negara.

Sate Lilit Bali

Sate lilit memang salah satu makanan khas Bali. Sate lilit Bali awalnya adalah makanan khas wilayah Klungkung. Namun saat ini sate lilit bisa ditemukan di seluruh wilayah di Bali lainnya seperti Badung, Gianyar, dan Denpasar. Bahkan di sejumlah daerah lain di Indonesia ada resto-resto yang menyajikannya.

Dirangkum dari berbagai sumber, sate lilit Bali dulunya hanya dihidangkan saat ada upacara-upacara keagamaan saja. Kini, masakan ini bisa ditemukan di berbagai kesempatan dan di rumah makan atau bahkan pedagang pinggir jalan.
Awalnya sate lilit oleh masyarakat Bali hanya dibuat dari daging babi dan ikan laut. Tentu hal ini karena mayoritas penduduk Pulau Bali memeluk agama Hindu dan untuk mereka daging babi halal dikonsumsi.

Sate Lilit bali awalnya terbuat dari daging babi dan ikan, kini sudah mempunya varian yang beraneka dan halal.
Sate lilit Bali cocok dimakan dengan sambal matah. Foto: shutterstock

Namun, sesuai perkembangan zaman, di mana makin banyak orang dari luar Bali yang berkunjung ke daerah ini dan tidak mengkonsumsi daeging tersebut, saat ini masakan tersebut juga ada yang buat dari daging ayam, sapi, kambing, bahkan kura-kura sebagai pengganti.

Sate lilit Bali sendiri memiliki filosofi yakni menyimbolkan masyarakat yang selalu bersatu. Masakan ini juga menjadi simbol ‘kejantanan’ pria. Bukan perkara yang itu. Namun, alasannya, sate lilit sejak dulu hanya boleh dikerjakan oleh para kaum pria. Mulai dari menyembelih hewannya, meracik adonan hingga proses membakar atau pemanggangan juga hanya boleh dilakukan kaum pria. Jika seorang pria tidak bisa membuat sate lilit, maka akan dipertanyakan kejantanannya.


Dahulu, karena dibuat untuk keperluan acara keagamaan, sate lilit Bali selalu dibuat dalam jumlah banyak atau skala besar. Bisa sampai melibatkan 100 orang pria untuk membuatnya.

Lalu kenapa disebut dengan nama lilit? Tidak seperti sate yang lain yang proses pemanggangannya daging ditusuk oleh potongan bambu, sate lilit berasal dari kata ‘lilit’ yang artinya ‘dibelit’. Sesuai namanya, hidangan yang satu ini dagingnya direkatkan ke tusuk bambu berbentuk pipih ataupun sereh.


Sate lilit Bali menjadi hidangan andalan yang sering diburu turis saat mengunjungi Pulau Dewata. Sate ini memiliki tampilan yang khas, yakni berwarna kuning yang menggugah selera. Warna tersebut berasal kunyit dari bumbu basa genep yang dicampur dengan adonan daging dan kelapa parut.


Sate lilit memiliki cita rasa yang gurih, manis, dan sedikit pedas. Cara menikmati sate lilit tidak perlu memakai bumbu kacang seperti sate pada umumnya. Wisatawan bisa langsung menikmati sate lilit saja atau bisa ditambah dengan sambal matah dan hidangan lain.

Sate lilit Bali disebutkan menjadi simbol kejantanan para pria.
Sate lilit disimbolkan sebagai lambang kejantanan para pria. Foto: shutterstock


Lalu di manakah bisa menikmati sate lilit Bali yang enak jika berkunjung ke pulau ini? Saat ini banyak tempat menyediakan hidangan ini, namun lima tempat makan ini bisa dicoba.

Sate Lilit Muslim Pekambingan

Warung Muslim Sate Lilit Pekambingan karena tempat ini hanya menyediakan daging halal bagi warga muslim. Tempat makan sate lilit halal di Denpasar ini menawarkan menu sate lilit yang terbuat dari ikan dengan harga sekitar Rp 1.500 per tusuknya.

Berada di Jalan Pulau Buru Nomor 10, Dauh Puri, Kota Denpasar, warung ini buka dari pukul 06.30-15.00 WITA. Selain Sate Lilit, ada menu lainnya seperti Tum Ayam, Pepes Ikan, dan Sate Plecing Ikan yang bisa dicoba dicicipi.

Ayam Betutu Mbok Iwuk

Nama yang ‘djual’ memang menu atam betutu, namun Ayam Betutu Mbok Iwuk yang berada di Jalan Taman Sekar IX Nomor 4, Padangsambian, Kota Denpasar, ini juga menyedikan sate lilit. Buka sejak pukul 08.00-16.00 WITA, warung ini menyediakan menu sate lilit halal dengan harga sekitar Rp 15 ribu per 10 tusuknya. Selain itu, ada menu lawar Bali yang bisa dipesan dengan harga Rp 25 ribu per beseknya.
Warung Wardani

Warung Wardani ini berlokasi di Jalan Yudistira Nomor 2, Dangin Puri Kauh, Denpasar. Mereka buka dari pukul 08.00-16.00 WITA. Ada menu Nasi Campur dengan isian Nasi, Telor, Ayam Suwir, Udang, Sate Tusuk, Sate Lilit, Sayur, dan Sambal dengan harga sekitar Rp 38 ribu. Jika ingin menambah sate lilit, bisa dipesan terpisah dengan isian lima tusuk seharga Rp 15 ribu
Warung Sari Alit

Warung Sari Alit berada di Jalan WR Supratman Nomor 332, Kesiman Kertalangu, Denpasar. Tempat makan sate lilit di Denpasar ini menawarkan sate dengan olahan ikan seperti Sate Lilit, Pepes Ikan Laut, Sate Tusuk Ikan Laut. Harganya mulai dari Rp 1.000 per tusuknya.
Warung Ari
Warung ini berlokasi di Jalan Tukad Pakerisan Nomor 6, Panjer, Dauh Puri Klod, Denpasar. Buka dari pukul 06.30-16.00 WITA. Di sini, pengunjung bisa menikmati sate lilit enak di Denpasar dengan harga sekitar Rp 82 ribu untuk 50 tusuk. Cocok untuk menu makan bersama keluarga atau teman.

agendaIndonesia

*****

Kuliner Sungai Kahayan, 5 Yang Unik

Kuliner Sungai Kahayan

Kuliner Sungai Kahayan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, rasanya banyak yang belum cukup mengenalnya. Selain daerah ini belum cukup diserbu wisatawan, pilihan yang khas mungkin memang masih sedikit.

Kuliner Sungai Kahayan

Spot kunjungan paling terkenal di Kalimantan Tengah tentu saja masih Taman Nasional Tanjung Putting. Habitat penting orang utan di Indonesia. Rasanya banyak orang berkunjung ke provinsi ini untuk menuju spot tersebut. Kulinernya?

Kuliner Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah, setelah berkunjung ke Tanjung Puting.
Orang Utan di Taman Nasional Tanjung Puting. Foto: Dok. Unsplash

Saat menyambangi kota-kota di Provinsi Kalimantan Tengah, mulai dari ibukotanya Palangkaraya, Sampit atau Pangkalan Bun, Biasanya orang terbayang untuk mencicipi hidangan khas suku Dayak daerah ini. Sayangnya, cukup sulit ditemukan sajian khas yang dimaksud. Walhasil perburuan santapan otentik menjadi tak mudah.

Tak seperti masakah Padang atau Jawa yang memasang kata-kata menu atau masakan yang khas daerah-daerah itu, rumah makan yang menyajikan masakan khas masyarakat Dayak memilih menjual nama umum saja.

Namun, jika pengunjung cukup jeli dan rajin bertanya, sebenarnya ada beberapa rumah makan yang melestarikan kuliner warisan leluhur masyarakat Dayak. Umumnya menu lokal didominasi ikan-ikan sungai, termasuk udang sungai yang terkenal itu. Namun, tak hanya olahan udang dan ikan sungai, ada pula masakan sayuran. Bahkan ada sayuran yang berbahan rotan yang menjadi menu khas di Palangkaraya.

Supaya memudahkan pencarian, mungkin ada baiknya kami pilihkan dulu restorannya untuk menikmati kuliner Sungai Kahayan, Yang pertama ada Rumah Makan Kampung Lauk yang terletak di Jalan Bukit Rawi, Pahandut Seberang, Pahandut, Palangkaraya. Restoran ini sudah berdiri sejak 2006. Rumah makannya terdiri atas 37 saung yang berada di tepi Sungai Kahayan sehingga pemandangannya memanjakan mata. Saat ini, rumah makan tersebut menjadi salah satu tujuan wisata kuliner, baik masyarakat lokal maupun interlokal. Walhasil, setiap hari selalu ramai.

Pilihan ke dua ada Rumah Makan Samba yang berlokasi di Jalan R.T.A Milono nomor 15, Palangka Raya. Rumah makan ini menjadi salah satu rujukan bagi pemburu sajian khas tradisional Kalimantan Tengah. Berdiri sejak 1996, hingga sekarang pemilik rumah makan tetap konsisten menyajikan sajian khas suku Dayak. Menu andalannya adalah ikan bakar. Sebaiknya tidak datang terlalu sore karena sajian sudah ludes.
Pilihan lain adalah berkunjunga ke Rumah Makan Pelangi di Jalan G. Obos, Palangka Raya. Berdiri sejak 2000, rumah makan ini sudah beberapa kali pindah tempat. Menunya cukup beragam, mulai ikan-ikan sungai hingga udang galah. Menu favoritnya lais bakar, udang galah asam manis/sop/bakar, jelawat bakar, ayam bakar madu, dan sop ikan nila.

Lalu menu apa yang wajib dicoba jika mengunjungi Palangkaraya dan ingin mencicipi masakan khas masyarakat Dayak? Berikut lima yang menarik dicoba.


Sayur Umbut Rotan

Kuliner Sungai Kahayan di antaranya adalah sayur umbutt rotan
Sayur Umbut Rotan khas Kalimantan Tengah. Foto: Dok. TL

Orang biasanya terperanjat mendengar namanya. Tak terbayang bagaimana rasanya menggigit rotan. Namun rotan yang satu ini beda dengan rotan bahan anyaman. Kuliner Sungai Kahayan yang disebut “juhu singkah” dalam bahasa Dayak Ngaju ini terbuat dari tunas rotan yang masih muda. Durinya dibersihkan terlebih dulu, kemudian kulitnya dibuang. Tersisa bagian dalamnya berwarna putih, kemudian dipotong-potong kecil.

Rotan muda diolah dengan direbus untuk mengurangi rasa pahit dan melunakkan batangnya. Sesudah diaduk dengan berbagai bumbu, sayur pun siap dihidangkan. Biasanya olahan ini disajikan bersama terong asam, ubi keladi, dan tomat. Memang sedikit pahit, tapi tetap nikmat di lidah. Apalagi wanginya khas dan cukup menggoda. Menurut warga setempat, lebih sedap bila disantap dengan ikan bakar, seperti patin atau baung.

Ikan Jelawat Bakar
Ragam ikan air tawar mendominasi sajian khas di kota yang berada di tepian Sungai Kahayan ini. Dulu memang mudah ditemukan sehingga menjadi santapan utama masyarakat Dayak. Saat ini, seiring dengan tercemarnya sungai, ikan pun sulit didapat. Ikan-ikan yang dihidangkan sekarang sebagian besar adalah hasil budi daya.

Kuliner Sungai Kahayan tentu saja banyak yang berrbahan dari sungai tersebut.
Ikan Jelawat Bakar. Foto: Dok. TL

Ikan bakar biasanya disajikan dengan nasi putih dan sambal. Jenisnya patin, jelawat, lais, haruan atau gabus, dan baung. Salah satu yang spesial adalah ikan jelawat. Ikan ini hanya ditemukan di sungai-sungai Kalimantan. Dagingnya terkenal gurih dengan teskstur sedikit berminyak, mirip ikan patin. Biasanya dimakan bersama sambal bawang Banjar. Namun, saat menyantap, harap berhati-hati karena durinya besar dan menyebar.

Udang Galah Sungai
Udang sungai atau udang galah merupakan salah satu primadona olahan di Kalimantan, khususnya Palangka Raya. Ukurannya lebih besar dari jenis udang lain. Rasanya pun gurih. Selain dibakar dan digoreng, bisa dijuga disajikan dalam bentuk kuah sup atau asam manis.


Sambal Kandas Sarai
Berbeda dengan sambal di daerah lain, sambal khas masyarakat Dayak Ngaju ini bukan sebagai hidangan pelengkap, tapi sajian utama. Ini salah satu kuliner Sungai Kahayan yang khas. Sambal ini berbahan dasar serai, yang dibakar di atas bara, kemudian diiris kecil-kecil. Setelah halus, dicampur dengan berbagai bumbu rempah serta suwiran ikan air tawar panggang atau goreng yang telah dibuang tulangnya. Biasanya jenis ikan yang digunakan ialah ikan tak bersisik, seperti baung, lais, patin sungai, atau lele. Saat disajikan, sepintas seperti abon. Tatkala dicecap, rasanya terasa pedas dan cenderung asam.


Sayur Kelakai
Kalakai adalah jenis pakis yang banyak ditemukan di hutan tropis Kalimantan. Tanaman ini dikenal memiliki banyak khasiat sehingga dimanfaatkan masyarakat untuk pengobatan. Sayuran ini kerap dijadikan santapan harian. Rasanya gurih. Umumnya bagian yang diambil adalah pucuk. Sebab, teksturnya lebih lunak. Biasanya dibuat sup, sayur bening, atau oseng. Bahkan kini banyak diolah jadi camilan, seperti keripik untuk oleh-oleh.

agendaIndonesia/TL

*****

Minuman Dingin Bandung, 5 Yang Segeeer

Minuman dingin Bandung sepertinya tidak pas, karena ibu kota Jawa Barat masih dipersepsi sebagai kota dengan hawa yang sejuk. Betulkah demikian? Anggapan bahwa hawa kota Bandung selalu sejuk sepertinya tak sepenuhnya benar. Di malam hariu bisa jadi ia dingin, namun di kala siang, saat matahari berada pada puncaknya, Bandung sama saja panasnya dengan Jakarta.

Minuman Dingin Bandung

Walhasil, minuman dingin pun kerap dicari. Apalagi di bulan Ramadan, berbuka puasa dengan minuman yang menyegarkan tentu menjadi pilihan banyak orang. Tidak sulit untuk menemukan sajian serba dingin. Tersedia hidangan tradisional dan modern. Meski demikian, semuanya punya satu kesamaan, yaitu dingin-dingin empuk.

Es Goyobod

ADA satu kedai es goyobod yang terkenal di Bandung, namanya Gokil— singkatan dari Goyobod Kliningan. Julukan itu mengacu pada alamat kedai di Jalan Kliningan, Bandung. Menurut sang pemilik kedai, nama tersebut diberikan oleh para pengunjung.

Minuman yang berisi agar-agar, mutiara, roti, santan, sirup, dan susu ini sebenarnya berasal dari Garut, Jawa Barat. Namun pada tahun 2000 pemiliknya membuka usaha di Bandung dan melakukan berbagai modifikasi. Salah satunya dengan menambahkan es serut di atasnya dengan susu kental manis. Harga per gelas hanya Rp 7.000.

Es Goyobod Kliningan; Jalan Kliningan Nomor B9 Turangga, Lengkong; Bandung

Minuman dingin Bandung yang segeer makin cocok dengan hawa Bandung yang panas di siang hari.
Es Alpukat tumbuk ala Rumah Makan Linggar Jati, Bandung, Jawa Barat. Foto: Prima M./Dok TL

Alpukat Tumbuk

BIASANYA alpukat disajikan dengan cara dibikin jus. Namun lain halnya di tempat ini. Alpukat mentega yang di- pilih tidak dilumatkan dengan blender, melainkan ditumbuk sampai halus.

Tak mengherankan jika hidangan itu dikenal dengan nama alpukat tumbuk. Saat berkunjung ke Bandung beberapa waktu lalu, saya pun mencicipinya.

Penumbukan dilakukan untuk mencegah daging alpukat mengeluarkan air berlebih, sehingga tidak mempengaruhi rasa minuman. Sebagai topping, diberi serutan es batu yang disiram dengan sirup moka dan susu kental manis. Rasanya memang benar-benar berbeda. Harga Rp 28 ribu per gelas rasanya setimpal dengan kepuasan yang diberikan.

RM Linggarjati; Jalan Balonggede Nomor I, Bandung

Nyendol di Elizabeth

SEPERTINYA semua orang sudah kenal cendol. Minuman khas Indone- sia yang terbuat dari tepung beras serta disajikan dengan santan, es serut, dan gula merah cair ini memang menyegar- kan. Istilah cendol diduga berasal dari kata “jendol”, merujuk pada sensasi jendolan yang dirasakan ketika memi- num es cendol.

Di daerah Sunda, istilah nyendol digunakan untuk kegiatan meminum cendol. Warna hijaunya khas karena menggunakan bahan alami dari daun suji. Di Bandung, es cendol sangat mudah didapatkan, terutama di pusat kota. Dari yang dijual di gerobak hingga di kedai khusus. Pilihannya juga beragam. Ada es cendol ketan hitam, nangka, alpukat, dan es krim. Harganya relatif murah, mulai Rp 6.000 per gelas. Salah satu yang legendaris tentu Es Cendol Elizabeth, yang awalnya memang buka di toko tas bernama Elizabeth.

Es Cendol Elizabeth; Jalan Otto Iskandardinata (Otista) Nomor 518, Bandung


Jus Strobery

LELAH sehabis mengelilingi factory outlet (FO) di kawasan Dago, Bandung, Jawa Barat? Silakan mampir ke Pojok Stroberi, yang juga berada di sekitar daerah tersebut. Sembari melepaskan dahaga, kita dapat melepaskan lelah di sana. Sesuai dengan namanya, tempat ini memang menjagokan buah stroberi sebagai bahan minuman menyegarkan.

Namun tidak seperti jus stroberi yang biasanya lebih banyak mengandung air atau susu, minuman satu ini benar- benar terasa stroberi. Jadi, tidak perlu jauh-jauh lagi datang ke kebun stroberi jika hanya ingin menikmati jusnya. Cukup membayar Rp 20 ribu per gelas, Anda sudah dapat menyegarkan diri. Semakin terasa nikmat untuk buka puasa.

Sam’s Strawberry Corner; Jalan Ir H Djuanda Nomor 315, Bandung

Cincau Wale

UMUMNYA dikenal dua jenis es cincau, yakni hitam dan hijau. Cincau hijau tampaknya kurang populer ketimbang cincau hitam. Padahal, cincau hijau dipercaya dapat menurunkan suhu badan dan mencegah gangguan pencernaan. Di Bandung, Jawa Barat, tak banyak yang menjual cincau hijau. Salah satunya Warung Lela di Rancak- endal.

Warung ini tutup hingga pukul 21.00. Selain untuk berbuka, es cincau hijau bisa menjadi hidangan penutup. Es cincau disajikan dalam gelar besar. Isinya campuran antara cincau, santan, sirup, dan es batu. Kekenyalan cincau hijau dan seratnya yang khas benar-benar membawa kita bernostalgia. Satu gelasnya hanya dipatok Rp 17 ribu.

Warung Lela (Wale); Jalan Kupa Nomor 6 Rancakendal, Bandung

agendaIndonesia

*****